Ugly Wife – Bab 1

Comments 5 Standard

 

Bab 1

 

Setelah membereskan meja makan, Shafa menyiapkan bekal untuk dirinya sendiri. hari ini akan menjadi hari yang melelahkan karena akan ada beberapa tanaman baru yang datang ke tempat kerjanya. Mungkin ia akan pulang sore, atau mungkin ia tidak akan pulang. Shafa merasa senang jika kenyataan terakhir itu yang terjadi. Setidaknya, ia tidak akan bertatap muka dengan suaminya yang selalu menatapnya dengan tatapan jijik dan merendahkan.

Tiga bulan lamanya ia sudah menikah dengan lelaki yang mendatanginya siang itu di toko bunga miliknya. Lelaki yang bernama Elang Abraham. Lelaki yang ia ketahui sebagai seorang yang sudah menghancurkan hidup dan mimpinya.

Ya, ternyata lelaki itu adalah lelaki yang dulu menabraknya. Membuat kakinya cacat, ibunya meninggal ditempat, dan membuatnya kehilangan semuanya. Awalnya, Shafa tak ingin lagi berurusan dengan lelaki itu setelah lelaki itu menceritakan semuanya siang itu juga, tapi Shafa tak bisa berbuat banyak, ia sudah terikat dengan lelaki itu. Mereka sudah dinikahkan saat itu untuk membuat lelaki itu bertanggung jawab atas ulahnya. Istilahnya, mereka sudah kawin gantung selama bertahun-tahun yang lalu.

Saat itu, Shafa masih berusia Tujuh tahun, sedangkan Elang baru berusia Lima belas tahun. Di usianya yang ke lima belas, Elang mendapatkan hadiah mobil dari orang tuanya. Mobil yang seharusnya hanya digunakan untuk mengantar jemput Elang saat sekolah, bukan untuk digunakan lelaki itu. Tapi Elang saat itu adalah pemuda nakal seperti kebanyakan pemuda lainnya, ingin mencoba sesuatu yang baru. Hingga suatu hari, ia memaksa supirnya untuk mengajarinya mengemudikan mobil.

Tragisnya, Elang menabrak dua orang pejalan kaki di atas trotoar. Seorang meninggal ditempat, dan yang satunya kritis. Itu adalah Shafa dan ibunya. Elang tidak bisa dihukum karena masih dibawah umur, sedangkan Ayah Shafa menuntutnya untuk bertanggung jawab. Apalagi saat tahu bahwa Shafa tak akan kembali seperti dulu lagi. Istrinya meninggal sedangkan anaknya akan cacat seumur hidup. Saat itulah ayah Shafa menuntut Elang dan keluarganya untuk bertanggung jawab. Dan tanggung jawab yang setimpal adalah menikahi Shafa.

Mereka dikawin gantung saat itu juga, membuat masalah tersebut selesai dengan cara kekeluargaan. Tapi Ayah Shafa tak tahu, bahwa menikahkan mereka merupakan sebuah masalah baru untuk Shafa kedepannya. Ia tidak suka dijodohkan, ia tidak suka dilihat sebagai orang yang memaksa untuk dinikahi. Apalagi dengan lelaki seperti Elang, lelaki dingin arogan dan tak berpesaraan.

Meski begitu, Shafa mencoba mengendalikan dirinya, menekan perasaannya, mengendalikan egonya, ketika ia mengingat bagaimana janji terakhirnya dengan Sang Ayah sebelum ayahnya meninggal dua tahun yang lalu.

“Dia akan datang untukmu. Kamu akan bahagia dengannya.”

“Aku nggak tahu apa maksud Ayah.” Shafa tidak mengerti, dan ia tak mau mengerti, karena saat ini yang paling ia pikirkan adalah kondisi ayahnya yang semakin memburuk.

“Berjanjilah dengan Ayah, bahwa kamu akan memenangkan hatinya. Jangan lepaskan dia. Jangan membuatnya menjadi mudah untuknya. Dia sudah menghancurkan hidup dan mimpimu, jadi kamu berhak memiliki seluruh hidupnya sebagai imbal baliknya.”

Shafa menggelengkan kepalanya. Ia masih tak mengerti apa yang dikatakan ayahnya.

“Jangan lepaskan dia, Shafa. Jangan lepaskan dia…”

 

Kini, Shafa tahu apa maksud dari ayahnya. Ayahnya hanya tak mau bahwa Elang dan keluarganya bisa cuci tangan begitu saja. Melenggang pergi setelah menghancurkan hidup mereka. Ayahnya ingin, Elang hidup dengan rasa bersalahnya setiap hari, karena itulah ayahnya meminta Shafa untuk tidak menyerah.

Dan sekarang, baru tiga bulan lamanya mereka mengesahkan pernikahan mereka, tapi Shafa sudah hampir tak sanggup dengan perlakuan suami dan keluarganya. Ia diperlakukan seperti sampah, seperti orang yang menjijikkan. Apa mereka tidak ingat bahwa semua ini karena ulah mereka?

Setelah membereskan bekalnya, dengan langkah tertatih seperti biasanya, Shafa meninggalkan area dapur. Baru saja beberapa langkah ia meninggalkan dapurnya, sosok yang ada dalam kepalanya tersebut rupanya sudah berdiri di hadapannya. Jika Shafa tidak fokus dengan langkahnya, ia mungkin sudah menabrak lelaki itu.

Shafa menghentikan langkahnya kemudian wajahnya mendongak menatap lelaki yang jauh lebih tinggi darinya tersebut.

“Ikut aku.” Ucapnya sembari menyambar pergelangan tangan Shafa kemudian menyeretnya menuju ke sebuah ruangan. Shafa hanya bisa pasrah, lelaki ini memang sasngat suka berbuat sesuka hatinya.

Sampai di dalam ruangan tersebut, cekalan tersebut dihempaskan degan begitu kasar. Lelaki itu menatapnya dengan tatapan marahnya. Menyisingkan kemejanya yang masih rapih hingga sesikunya.

“Jawab pertanyaanku, apa hubunganmu dengan supir sialan itu?”

Shafa ternganga dengan apa yang dipertanyakan oleh suaminya tersebut.

Leo, adalah supir pribadi yang disiapkan oleh Elang untuk dirinya. Shafa tidak memiliki hubungan apapun dengan lelaki itu, tapi Shafa tak pernah melihat Leo sebagai bawahannya atau hanya sekedar sebagai supirnya. Ia memperlakukan Leo sebagai orang yang setara dengannya. sebagai seorag teman. Jika ia ingin menikmati secangkir kopi di starbuck, maka ia akan mengajak Leo atau pegawai tokonya untuk menemaninya. Dan kini, kenapa Elang mempertanyakan hal itu padanya?

“Aku nggak tahu apa maksud kamu?”

“Kamu memiliki hubungan yang special dengan dia, kan? Kamu pikir aku nggak tau?”

“Kenapa kamu menuduhku seperti itu?”

“Karena aku sudah mengawasi apapun yang sudah kamu lakukan di dalam maupun di luar rumah ini.”

“Kami hanya berteman, dan mengawasi apapun yang kulakukan, bukankah itu berlebihan?”

“Oh benarkan? Apa itu juga yang terjadi antara kamu dengan para pelanggan tokomu yang pria? Atau dengan para pegawai tokomu yang pria? Kalian berteman? Seberapa jauh?”

“Aku nggak ngerti apa yang kamu maksud. Para pegawaiku bekerja secara profesional, dan aku hanya menjual apa yang diinginkan para pelangganku.”

“Seperti menjual kesenangan? Berapa mereka membayarmu?”

Mata Shafa berkaca-kaca seketika dengan tuduhan tersebut. Sebenarnya, Shafa sangat bingung dengan reaksi Elang. Selama ini, Elang tidak pernah menunjukkan sikap seperti ini terhadapnya. Lelaki itu dingin dan datar-datar saja tanpa ingin tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Tapi pagi ini, kenapa sikap lelaki ini berubah seratus delapan puluh derajat?

“Sebenarnya, apa yang terjadi sama kamu? Bukankah selama ini kita baik-baik saja tanpa mengurusi urusan pribadi masing-masing?” tanya Shafa kemudian. Ia masih bingung dengan sikap Elang pada pagi ini.

Hubungannya dengan Elang selama tiga bulan terakhir memang jauh dari kata baik. Elang memang sering menyentuhnya, lebih tepatnya, lelaki itu meminta haknya sebagai seorang suami untuk dipuaskan. Tapi hanya itu, diluar dari itu semua, hubungannya dengan Shafa jauh dari kata baik.

Mereka tidak akan saling bicara jika tak ada hal penting yang ingin dibicarakan. Tidak saling menyapa, bahkan menurut Shafa, mungkin Elang tak pernah mempedulikan tentangnya. Jadi saat Elang berkata bahwa lelaki itu mengawasinya dari jauh, maka Shafa merasa terkejut, tak percaya dengan apa yang dikatakan lelaki itu. selama ini Elang hanya cuek-cuek saja terhadapnya, dan kenapa sekarang Elang seperti orang yang sedang…. Cemburu?

Tidak mungkin. Pikirnya.

Elang mendekat, menghimpit tubuh Shafa diantara dinding terdekat. “Aku hanya tidak suka berbagi dengan orang lain. Kalau aku sudah memilih tidur denganmu, maka aku tidak akan membiarkan orang lain menidurimu.”

“Apa? Aku tidak pernah tidur dengan lelaki lain.”

“Belum. Kita tidak tahu nanti.”

“Aku bukan perempuan seperti itu.” Ya, Elang tahu. Ia bahkan merasakan bahwa Shafa masih perawan ketika ia menyentuh wanita itu untuk pertama kalinya. Tapi sikap Shafa yang ramah dan membuat siapa saja terpesona, membuat Elang tidak suka. Elang benci kenyataan bahwa Shafa terlihat menarik bagi siapa saja dengan sikap ramah yang ditampilkan wanita itu.

Itu hanya akting.

Elang selalu memarahi dirinya sendiri ketika dirinya mulai terpesona dengan sikap ramah yang ditampilkan Shafa di hadapannya.

Elang melangkah mendekat, dengan penuh penekanan dia berkata “Aku nggak peduli. Leo akan dipecat, dan toko bungamu, cepat atau lambat aku akan membuatnya tutup.”

Setelah ucapannya tersebut, Elang pergi begitu saja, sedangkan Shafa, ia hanya ternganga dengan apa yang baru saj diucapkan oleh suaminya tersebut. Apa masalahnya? Kenapa tiba-tiba Elang jadi ikut campur dengan semua urusan pribadinya? Dan menutup toko bunganya? Siapa dia? toko bunga itu adalah satu-satunya hal yang ditinggakan oleh kedua orang tuanya, bagaimana mungkin Shafa rela menutupnya?

***

Elang benar-benar melakukan apa yang dia katakan pada Shafa kemarin. Dan Shafa masih tidak menyanga bahwa lelaki itu akan bersikap searogan itu. Memberhintikan seorang dari pekerjaannya hanya karena sebuah kecurigaan yang tak masuk akal.

“Aku benar-benar tidak menyangka bahwa Elang akan benar-benar memecatmu.” Ucap Shafa pada Leo. Saat ini keduanya sedang berada di dalam toko bunga milik Shafa, menikmati kopi mereka. Siang itu suasana toko cukup sepi. Shafa terkejut ketika mendapati Leo mendatanginya. Karena tadi pagi supirnya ini sudah tidak ada di rumahnya. Bahkan menuju ke tokonya saja, Shafa harus naik taksi.

“Saya juga bingung, kenapa tuan tiba-tiba memecat saya.”

Shafa merasa kasihan dengan Leo. Ia tahu bagaimana susahnya lelaki itu. Selama bekerja di tempatnya, hubungan mereka memang cukup dekat. Shafa selalu menganggap Leo sebagai temannya. Karena selama ini, Leolah yang menemaninya kemana-mana. Sesekali lelaki itu bercerita tentang keluarganya. Mereka hidup kesusahan, jadi Shafa merasa kasihan jika tiba-tiba Leo diputus kerja secara sepihak oleh Elang.

“Begini saja, aku kan juga butuh tenaga kerja di toko ini, dibagian taman belakang. Kamu bisa kerja sama aku.” Usul Shafa.

Memang, jika menyangkut pekerjaan di rumah, Elang dan keluarganya berkuasa untuk memecat siapa saja. Tapi ini adalah toko bunga miliknya, tak akan ada yang bisa memecat siapapun dari sini kecuali dirinya sendiri.

“Mbak Shafa yakin? Saya takut nanti Tuan tahu terus marah.”

“Ini bukan lagi urusan Elang. Kamu kan kerja sama saya, bukan sama dia.”

“Tapi kalau Tuan tahu nanti….”

“Yang penting, kamu mau apa tidak kerja sama saya di sini?” tanya Shafa lagi. Ia tidak ingin memaksa, ia hanya mau membantu sebisa yang ia lakukan.

Leo tampak berpikir sebentar, kemudian ia mengangguk setuju. “Saya mau.” Shafa tersenyum senang. Ia tahu bahwa Leo adalah orang baik, dan ia akan mempertahankan orang-orang baik untuk bekerja dengan dirinya.

***

Di lain tempat…..

“Brengsek! Berani-beraninya wanita itu.” Elang mengumpat kasar setelah ia menerima telepon dari seorang pesuruhnya yang ia bayar untuk  mengawasi Shafa, istrinya.

Elang sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Sebenarnya, Elang cukup muak dengan sikap sok ramah yang ditampilkan Shafa pada semua orang. Hal itu membuat Shafa seolah-olah bagaikan malaikat. Sedangkan ia menjadi iblisnya. Elang tak suka.

Kenyataan bahwa perempuan itu mampu memikat hati siapa saja yang dikenalnya membuat Elang kesal.

Contohnya saja, dulu, pertama kali ia membawa Shafa pulang ke rumahnya, Ibunya amat sangat tidak suka dengan sosok Shafa. Pertama, karena bagi ibunya, Shafa dan keluarganya adalah tipe orang yang suka memanfaatkan keadaan. Memang benar bahwa Elang bersalah karena sudah menabrak Shafa dan ibu wanita itu. Membuat Shafa kehilangan ibunya dan wanita itu cacat seumur hidupnya. Tapi bagi ibu Elang, tak seharunya puteranya dipaksa bertanggung jawab untuk menikahi wanita cacat itu. Itulah yang membuat Ibu Elang sempat membenci kehadiran Shafa. Tapi kini, ibunya itu malah sesekali membela Shafa.

Elang berpikir, mungkin ini semua karena sikap ramah yang selalu ditampilkan Shafa meski wanita itu sedang diinjak-injak. Tak memungkiri juga, beberapa kali Elang merasa bahwa dirinya terjerat dalam pesona istrinya tersebut, tapi secepat kilat Elang mencoba mengendalikan dirinya.

Shafa hanya akting, tak ada perempuan sebaik dan seramah itu apalagi saat perempuan itu diperlakukan sebagai seorang rendahan. Pikir Elang.

Elang mendengus sebal. Ia tidak akan termakan oleh akting perempuan itu. Bagaimanapun juga, perempuan itu sudah menghancurkan dirinya dengan cara memaksa dirinya menikahi perempuan itu. Sangat wajar jika kini dirinya merasa sangan membenci sosok Shafa, bukan?

Ketika Elang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, saat itulah pintu ruang kerjanya dibuka oleh seseorang. Wanita cantik dan seksi itu masuk dan segera menghambur ke arahnya, mengecup sisi kanan dan kiri pipi Elang. Seketika itu juga suasana hati Elang berubah. Yang tadinya dia ingin marah-marah karena memikirkan istrinya, kini berubah seketika, membara dengan kehadiran kekasih hatinya.

Namanya Salsabilah. Salsa sendiri awalnya hanya partner kerja Elang. Karena mereka sering bertemu dan saling menghabiskan waktu bersama karena pekerjaan, akhirnya benih-benih cinta tumbuh diantara mereka. Mereka sudah cukup lama menjalin kasih, bahkan sejak sebelum Elang menikahi Shafa secara sah.

Meski Salsa tahu bahwa Elang kini sudah meiliki istri, nyatanya hal itu tak menyurutkan niatnya untuk memiliki hati lelaki di hadapannya itu sepenuhnya. Salsa cukup tahu bagaimana ceritanya hingga Elang harus menikahi perempuan cacat itu.

“Sepertinya kamu sedang bad mood.” Salsa berkomentar masih dengan mengalungkan lengannya pada leher Elang.

“Ya. Sedikit.”

“Mau kuobati?” tawarnya.

Elang tersenyum, ia tahu apa maksud dariucapan kekasinya ini. “Dimana?” tanyanya secara langsung tanpa basa-basi.

Jemari Salsa menggoda dada Elang, “Kamu maunya dimana? Di sini, atau kita cari hotel terdekat sambil makan siang bareng?”

“Hotel saja.” Dan akhirnya, keduanya kembali bercumbu mesra sebelum keluar dari ruang kerja Elang.

-TBC-

Advertisements