Ugly Wife – Bab 3

Comments 2 Standard

 

Bab 3

 

Cumbuan dari Elang begitu kuat, seakan lelaki itu tak ingin melepaskan diri Shafa sedetikpun. Sedangkan Shafa, ia masih meronta sekuat tenaga. Shafa tahu bahwa secara fisik dan kekuatan, ia kalah telak dengan Elang, tapi setidaknya, ia ingin menunjukkan bahwa dirinya akan memberikan lelaki itu perlawanan ketika Elang memperlakukannya dengan semena-mena.

Ketika keduanya masih bergulat dengan cumbuan mereka, pintu kamar mereka di buka begitu saja dari luar. Gadis yang tadi memeluk Elang berdiri di ambang pintu dan menatap keduanya dengan keterkejutan yang amat sangat.

“Maaf.” ucapnya dengan spontan.

Elang melepaskan cumbuannya pada bibir Shafa. Sedangkan Shafa segera menjauh dan membungkam bibirnya sendiri. suasana canggung menyeruak diantara mereka.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Elang pada gadis tersebut.

“Uum, Maaf, aku ganggu.” Gadis itu menggaruk tengkuknya.

Elang mendengus sebal. Ia lalu menatap ke arah Shafa, perempuan itu masih menundukkan kepalanya, mungkin malu karena baru saja kepergok berciuman dengannya.

“Lain kali, ketuk pintunya dulu.”

“Aku sudah ketuk, tahu. Dan kulihat pintunya nggak dikunci, jadi aku buka aja. Lain kali, kunci pintunya sebelum…”

“Bunga.” Elang memotong kalimat gadis itu. “Katakan, apa yang kamu mau?”

“Aku kan pengen kenal sama kakak iparku, masa nggak boleh.”

Shafa mengangkat wajahnya seketika. Ya Tuhan, bahkan Shafa baru ingat kalimat Elang tadi yang menyebutkan tentang dirinya yang ingin merebut hati adik Elang. Apa gadis ini adalah adik Elang? Kenapa ia sampai tidak tahu?

Jika dipikir-pikir, Shafa memang tak begitu mengenal dekat keluarga Elang. Padahal mereka sudah menikah hampir empat bulan lamanya. Ada beberapa foto keluarga yang tergantung di dinding-dinding rumah Elang. Di sana terlihat kedua orang tua Elang dan juga seorang gadis berkaca mata. Shafa tidak tahu siapa gadis itu, tapi Shafa sempat berpikir mungkin itu adalah Adik Elang.

Shafa tidak pernah menanyakan lebih, pada siapapun. Karena ia tahu, bahkan kehadirannya di rumah itu saja tidak diharapkan, jadi Shafa tidak berniat bertanya pada siapapun. Ia hanya berspekulai sendiri. dan jika di lihat-lihat, gadis di dalam foto tersebut memang sedikit mirip dengan gadis di hadapannya saat ini, hanya berbeda wana rambut serta gaya berpakaiannya saja, serta tampak lebih dewasa.

Elang mendekat pada Bunga dan berkata “Lebih baik kamu keluar.” ucapnya dingin.

“Kak El apaan sih.” Bunga tampak enggan menuruti permintaan Elang.

Pada saat itu, Shafa mendekat, dan berkata “Kita bisa ke kebun samping rumah.”

Hal itu membuat Elang menatap tajam ke arahnya. “Urusan kita belum selesai.” desisnya tajam.

“Setauku, kita tidak memiliki urusan yang lebih penting daripada urusan masing-masing.”

“Sial!” Elang mendesis tajam. Ia tidak percaya bahwa Shafa berani melawannya saat ini, di hadapan Bunga. Sedangkan diantara mereka, Bunga tampak tersenyum melihat reaksi keduanya. Bunga bertepuk tangan seketika hingga membuat Elang dan Shafa menatap ke arahnya.

“Apa yang kamu lakukan?” Elang bertanya dengan nada jengkel.

“Aku senang karena kulihat Kak El punya lawan yang sepadan.”

“Apa?” Elang tidak mengerti apa maksud adiknya tersebut.

Tanpa banyak bicara, Bunga mengapit lengan Shafa kemudian menariknya keluar dari kamar. “Pokoknya, aku mau ada perlu sama Kak Shafa.” Dan sebelum Elang menanggapi ucapan Bunga tersebut, Safa sudah diseret keluar oleh adiknya yang manja itu.

Sial!

***

“Jadi, kakak yang nanem bunga-bunga ini?” bunga bertanya pada Shafa ketika mereka sudah sampai di kebun bunga kecil yang tak jauh dari area kolam renang. Meyirami beberapa tanaman mawar yang sudah tampak bermekaran di sana.

“Iya, aku bawa dari toko bungaku.”

“Wah, keren. Jadi bikin aku betah di rumah.”

Shafa menatap ke arah Bunga. Sejauh ini, hanya Bungalah yang bersikap sangat baik dan ramah padanya. Berbeda dengan perlakuan Elang dan keluarga yang lainnya.

“Kamu, tinggal di mana?”

“Memangnya Kak El nggak ngasih tau ya? Aku kan kuliah di Inggris, Kak. Ini pun aku libur paling nggak sampek satu bulan.” Bunga tampak menggerutu.

Shafa hanya tersenyum menanggapi jawaban manja dari gadis di hadapannya tersebut. Andai saja Bunga tinggal di rumah ini, mungkin mereka bisa menjadi teman yang baik.

“Kak Shafa sendiri gimana? Betah tingga di sini?”

“Aku…”

“Kak El nggak jahat, kan?”

Shafa tersenyum. Jahat sih enggak, tapi bagi Shafa, Elang sudah seperti paket komplit pria biadab yang tak seharusnya bersinggungan dengan dirinya.

“Aku tuh ya, dulu sering dengar cerita tentang Kak Shafa loh.”

Shafa menatap Bunga seketika. “Benarkah?”

“Iya. Sebenarnya, Papa sih yang lebih sering ngingetin sama Kak El, kalo Kak El punya Kak Shafa. Awalnya aku nggak ngerti apa maksudnya, tapi aku tahu sejak Kak El jemput aku pulang sekolah. Dia ngajak mampir ke suatu tempat yang kuyakini adalah toko bunga milik Kak Shafa.”

Mata Shafa membulat seketika ke arah Bunga. “Kalian ke sana? Benarkah?”

“Iya, cuman numpang parkir doang. Nggak tau tuh, sampai sekarang aku nggak tau alasannya kenapa dulu Kak El suka banget parkir mobil di dekat toko Kak Shafa.”

“Suka?” lagi-lagi Shafa tampak tak percaya dengan ucapan Bunga.

“Loh, Kak Shafa memangnya nggak tau ya? Soalnya aku aja sudah beberapa kali nemani dia ke sana saat itu.”

Shafa hanya terpaku mendengar jawaban dari bunga. Pikirannya melayang entah kemana. Benarkah dulu Elang sering melakukan apa yang dikatakan Bunga? Untuk apa?

***

Di lain tempat, Elang mengamati interaksi antara Bunga dan Shafa dari jauh. Ia menatap keduanya dengan tatapan tak suka. Bunga tampak nyaman berada di sekitar Shafa bahkan keduanya tampak akrab satu sama lain. Hal itu membuat Elang tidak suka.

Entahlah, ia memang selalu tidak suka jika melihat Shafa dekat dengan siapapun bahkan dengan keluarganya sendiri. Saat tatapan mata Elang tak lepas dari dua orang wanita muda itu, saat itulah ibunya datang.

Virna menghampiri Elang dan bertnya “Apa yang kamu lakukan di sana?”

“Cuma lihat kolam.” Elang menjawab pendek tanpa mengalihkan pandangannya pada Shafa dan Bunga. Virna mengikuti arah pandang puteranya, dan ia berakhir berdecak.

“Kamu ngapain lihatin adikmu dan istrimu sampai seperti itu?”

“Dia perempuan yang berbahaya, Ma.”

“Maksudmu?”

“Lihat, Bunga dengan mudah terpengaruh padanya.”

“El. Mama mau kasih tau sesuatu sama kamu. Sepertinya, Shafa itu tulus, dia nggak seperti yang kita kira, dia baik, dia pernah nolong mama waktu nggak ada orang di rumah dan Asma mama kumat.”

“Kok mama jadi belain dia? Cuma karena itu? dia sudah mengancurkan masa depanku, Ma.”

“Tapi masa depan dia juga hancur karena semua ini, El. Dia juga terpaksa dengan pernikahan kalian.”

Elang mengepalkan kedua telapak tangannya. “Aku yang paling dirugikan di sini.” desisnya tajam.

“Mama nggak ngebelain dia, tapi dia hampir kehilangan kakinya, dia masih mau menerima kamu, dan bersikap baik sama kita.”

Elang kembali menatap Virna dengan mata tajamnya. “Terserah Mama kalau mau bersikap baik sama dia. Tapi aku, aku nggak akan pernah melakukannya.” Setelahnya, Elang pergi dan Virna hanya menggelengkan kepalanya menatap kepergian putera keras kepalanya tersebut.

Virna kembali menatap ke arah Shafa dan Bunga. Awalnya, ia memang tidak menyukai keberadaan Shafa. Tentu saja, siapa yang mau melihat puteranya terikat dengan perempuan seperti Shafa. Tapi semakin kesini, Virna sadar, ia melihat bagaimana perempuan itu menampilkan ketulusannya. Kekurangan Shafa seakan tertutupi dengan sikap baik yang selalu ditampilkan oleh perempuan itu. Padahal jelas-jelas Virna tahu, bahwa kekurangan yang menimpa Shafa adalah kekurangan yang diberikan oleh puteranya.

***

Makan malam dalam keadaan canggung. Biasanya, Shafa tidak akan ikut makan di meja makan jika Ayah mertuanya tak ada seperti sekarang ini. karena selama ini, hanya Tuan Abrahamlah yang cukup perhatian padanya dan memperlakukannya sebagai seorang menantu. Sayang sekali, pria paruh baya itu memang amat sangat jarang berada di rumah ini karena sibuk dengan pekerjaannya.

Kini, Shafa duduk di meja makan karena permintaan Bunga. Gadis itu tadi bahkan menyeret Shafa dan mengajaknya makan malam bersama.

“Jadi ini juga Kak Shafa yang masak?”

“Tadi cuma ikut bantu sedikit.”

“Wah, keren. Kakak serba bisa. Pantesan Kak El seneng.”

Elang memutar bola matanya ke arah Bunga. Tampak tak suka dengan kalimat terakhir yang keluar dari bibir adiknya tersebut.

Bunga mengabaikan reaksi dari Elang, dan ia memilih membahas masalah lain. “Ngomong-ngomong, besok kita belanja yuk Kak. Kan aku butuh gaun buat datang ke pestanya Bang Nanda. Kak Shafa sudah punya gaunnya?”

“Dia nggak ikut.” Elang menjawab cepat dan dengan nada dingin.

“Dih, apaan sih. Bang Nanda kan sepupu kita, dan salah satu orang terdekat Kak El. Masa dia tunangan, kak Shafa nggak ikut sih..”

Elang mendengsus sebal “Baru sehari kamu di rumah, dan kamu sudah buat pusing. Shafa nggak ikut, dia akan tetap berada di rumah dan tidak akan pergi ke manapun.” Elang berdiri kemudian meninggalkan meja makan.

“Apa-apaan dia? dih, jangan dengarin Kak El. Besok, aku akan ngajak Kak Shafa belanja.” Bunga bersikeras. Ia tidak akan mendengarkan larangan kakaknya. Baginya, tak ada yang bisa melarang Shafa untuk datang ke pesta keluarga mereka.

***

“Apapun yang terjadi, kamu nggak bisa datang ke pesta itu.” Elang berkata dengan lantang karena saat ini dirinya sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi. Sedangkan Shafa sedang berada di dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.

Shafa keluar, wanita itu sudah mengenakan piyamanya, wajahnya sudah segar, sedangkan rambutnya masih dia gelung, menampilkan leher jenjangnya hingga mau tidak mau hal itu menarik perhatian Elang.

Bagaimanapun juga, Elang adalah pria dewasa yang memiliki kebutuhan biologis yang harus dipenuhi. Tak jarang, Elang menegang hanya karena melihat lekuk leher Sang istri, atau hanya karena melihat bibir ranum maupun kulit lembut istrinya tersebut.

Elang menelan ludah dengan susah payah saat melihat leher jenjang Shafa yang tampak menggodanya.

“Maaf, aku datang dengan Bunga. Jadi kamu tidak perlu khawatir, kamu tidak perlu malu karena aku sebisa mungkin akan menghindar dari kamu agar kamu tidak malu berada di sekitar orang cacat sepertiku.”

“Sial.” Elang mengumpat pelan nyaris tak terdengar. Ia mendekat ke arah Shafa, sedangkan Shafa masih berdiri menatapnya seakan tak gentar dengan tatapan membunuh yang dilemparkan Elang.

“Aku tidak mengizinkan kamu datang.” ucap Elang penuh penekanan.

“Kenapa?”

“Karena kamu tidak pantas berada di sana.” Jawabnya dengan penuh penghinaan.

Shafa merasa sakit karena jawaban tersebut. “Bunga yang mengajakku datang.”

“Aku tidak mau tahu pokoknya kamu tidak boleh ikut.”

Shafa tak bisa lagi menjawab. Ya, apa gunanya juga ikut jika dirinya tidak pernah dianggap di sana. Shafa bisa memberi alasan pada Bunga bahwa ia tidak enak badan. Beres bukan?

Ketika Shafa masih sibuk dengan pikirannya sendiri, dia tidak sadar bahwa sejak tadi Elang sudah mengamatinya dengan mata laparnya. Elang bahkan sudah melangkah mendekat. Jemarinya terulur mengangkat dagu Shafa, membuat Shafa tersadar sepenuhnya dari lamunannya.

“Kamu, jangan terus-terusan menggodaku seperti ini.” Elang mendesis tajam.

“Aku nggak ngerti.”

“Apa kamu diciptakan untuk menggodaku?”

“Apa?”

“Buka bajumu, dan kita selesaikan apa yang tertunda tadi siang.” titahnya penuh keangkuhan. Belum sempat Shafa mencerna apa yang baru saja diucapkan suaminya, Elang sudah lebih dulu menundukkan kepalanya, meraup bibir ranumnya, menggodanya, hingga mau tidak mau Shafa kembali terjerumus pada godaan mematikan dari seorang Elang Abraham.

-TBC-

Advertisements

Ugly Wife – Bab 2

Comments 3 Standard

Yeaaayyy aku seneng bgt dehhh karena ada yang nunggu cerita ini. hohoho, so, selamat membaca… muwaaahhhhhhh

 

Bab 2

 

Sore itu, Shafa merasa tubuhnya sangat lelah. Mungkin karena sepanjang hari ramai pengunjung toko bunga miliknya. Shafa duduk di sebuah kursi, dekat dengan salah satu pot besar tanaman palm. Sesekali ia memijit kakinya sendiri, dan hal itu tak luput dari perhatian Leo.

Leo datang menghampiri Shafa, dan bertanya “Ada yang sakit, Mbak?” tanyanya dengan sopan.

Shafa tersenyum dan menggeleng. Padahal, Shafa sudah berkata pada Leo bahwa lelaki itu hanya perlu memanggil nama saja tanpa perlu embel-embel yang lainnnya. Tapi lelaki ini sangat baik hingga ia menolaknya dengan alasan bahwa Shafa adalah bossnya.

“Aku baik-baik saja. Kamu belum pulang?” tanyanya. Padahal, Shafa melihat pegawainya yang lain sudah pulang. Tinggallah ia hanya berdua dengan Leo di tempat tersebut. Dan mungkin beberapa orang yang ada di bagian pembuatan pot.

Toko bunga milik Shafa memang bukan toko bunga biasa. Tempatnya besar, dan sangat luas. Terdapat sebuah rumah kaca kecil di sana, kemudian ada juga sebuah bangunan bersih yang menghadap ke jalan raya. Disana, Shafa biasanya menyambut para pelanggannya dengan berbagai bunga yang kebanyakan sudah dirangkai. Di belakang bangunan itu ada beberapa bangunan lagi, seperti bangunan untuk membuat pot-pot, beberapa kebun kecil, dan yang lainnya.

Shafa dan keluarganya memanglah bukan dari kalangan orang tak punya, mereka hanya hidup sederhana dengan apa yang mereka sukai. Ayah dan ibu Shafa lebih suka berkebun, karena itulah mereka menghabiskan waktu mereka di toko bunga ini. Bahkan, Ayah Shafa sengaja menjual rumahnya untuk memperlebar area toko bunga dan tanaman miliknya ini.

Letak toko bunganya memang bukan ditengah-tengah kota, tapi untuk pelangan, tak perlu diragukan lagi. Toko bunga keluarga Shafa memang sudah memiliki banyak pelangggan sejak dulu. Dan kebanyakan mereka adalah pelanggan setia.

“Belum. Beberapa tanaman palm akan datang sore ini, dan mungkin sedikit telat.”

Shafa mengangguk. Sudah hampir satu bulan Leo bekerja dengannya, dan selama itu, Shafa benar-benar merasa terbantu. Ia memang kekurangan tenaga kerja, apalagi dibagian belakang, untuk mengurus tanaman dan yang lainnya. Dan beruntung ia mendapatkan pegawai seperti Leo.

Seseorang datang saat Shafa dan Leo sedang bercakap-cakap. Seseorang dengan tatapan mata tajamnya. Siapa lagi jika bukan Elang.

Shafa berdiri seketika, ia bahkan megabaikan nyeri di kakinya yang sejak tadi ia rasakan. Baginya saat ini yang terpenting adalah, Elang tidak mengetahui bahwa Leo sedang bekerja dengannya. Shafa tak munafik, Elang memiliki segalanya, lelaki itu bisa melakukan apa saja keinginannya, dan Shafa takut, bahwa salah satunya adalah menyingkirkan Leo dari hadapannya.

“Kenapa dia masih di sini?” tak ada basa-basi, Elang bertanya langsung pada intinya.

Dengan spontan, Shafa menarik Leo ke belakang tubuhnya, hingga ia menghadap suaminya secara langsung. Ada ketakutan dalam diri Shafa, tapi ia tak akan pernah menunjukkan hal itu pada suaminya.

“Dia bekerja denganku.”

“Ohh, bagus sekali. Jadi setelah dipecat dari rumah, kamu memperkerjakan dia?”

“Dia orang baik dan rajin, aku membutuhkan tenaganya.”

Tampak, rahang elang mengetat, tatapannya menajam membuat siapa saja bergidik ngeri ketik melihatnya. Elang amat sangat tidak suka dengan kalimat yang terlontar dari bibir istrinya. Shafa membela lelaki lain di hadapannya dan itu membuat Elang murka.

Tanpa banyak bicara, Elang meraih pergelangan tangan Shafa, menyeretnya keluar dari tempat tersebut dengan kasar.

Leo yang berada di sana tak bisa melihat Shafa diperlakukan seperti itu. ia segera menyusul Shafa dan Elang, kemudian meraih tangan Shafa yang lainnya, membuat Elang menghentikan langkahnya, menatap cekalan tangan Leo lalu menatap lelaki itu dengan mata marahnya.

“Berani kamu menyentuhnya?” desisnya tajam.

“Anda sudah bersikap sangat kasar, Tuan.”

Tanpa banyak bicara, Elang segera melepaskan cekalannya pada tangan Shafa kemudian mendaratkan pukulan kerasnya pada Leo hingga lelaki itu tersungkur ke tanah.

“Elang!” Shafa berteriak histeris ketika melihat kejadian tersebut.

Beberapa pegawai Shafa yang masih di gudang belakang akhirnya keluar. Melihat kejadian tersebut membuat mereka maju, tapi dengan spontan Shafa menghadangnya karena tak ingin mereka berakhir memukuli suaminya.

“Bu, ada apa?” tanya salah satunya.

Shafa menggelengkan kepalanya. Ia akan membuka suaranya, tapi Elang seakan tidak mengizinkan hal itu terjadi. Secepat kilat dia kembali menyeret Shafa, menuju ke arah mobilnya, memaksa Shafa masuk dan dirinya juga ikut masuk sembari meninggalkan tatapan mata membunuhnya ke arah para pegawai Shafa.

Tanpa banyak bicara, Elang menginjak pedal gasnya, mobilnya melaju cepat meninggalkan area toko bunga milik Shafa.

***

“Bedebah!” Shafa tidak tahu apa yang terjadi, kenapa Elang tidak berhenti mengumpat kasar di dalam mobilnya. Padahal seharusnya, disini dialah yang marah. Elang dengan seenaknya menyeret Shafa, memukuli Leo yang jelas-jelas tidak memiliki kesalahan apapun.

Meski begitu, Shafa hanya diam. Ia tidak tahu apa yang sedang ingin dilakukan Elang. Mungkin lelaki itu memiliki masalah di kantornya dan berakhir dengan melampiaskan kemarahan padanya. Ya, bukankah selama ini memang seperti itu?

Tanpa diduga, tiba-tiba saja Elang menghentikan mobilnya, membuat Shafa terkejut dengan apa yang telah dilakukan suaminya itu.

“Katakan padaku. Apa yang sudah kamu lakukan sama dia?” desisnya tajam.

“Aku masih tidak mengerti arah dari pembicaraanmu?”

“Oh, apa kurang jelas? Sudah berapa jauh hubungan kalian? Ciuman? Bercinta?”

“Jangan samakan aku dengan kamu. Meski pernikahan kita hanya sebuah ikatan tanpa perasaan apapun, tapi aku tetap menjaga kesetiaanku dengan orang yang menjadi suamiku.”

“Setia katamu? Begitukah bentuk kesetiaanmu pada suamimu? Berduaan dengan pria yang jelas-jelas sudah dipecat dan di usir dari rumah suamimu?”

“Aku tidak tahu apa yang terjadi dengamu. Kenapa kamu jadi mengurus hal sepele ini?”

“Brengsek!” Elang mengumpat kasar. Ia marah karena sadar bahwa apa yang dipertanyakan Shafa memang benar. Kenapa dia jadi peduli dengan wanita cacat ini? “Cepat atau lambat, aku akan membuat toko bungamu ditutup.”

“Elang…”

“Aku nggak butuh rengekanmu.” Setelahnya, Elang kembali menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya kembali. Sedangkan Shafa, dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Elang memiliki segalanya, Shafa tahu bahwa ketika Elang menginginkan sesuatu, maka pria itu dapat dengan mudah mendapatkannya, termasuk membuat toko bunganya tutup selamanya.

***

Sampai di rumah, Elang masih menekuk wajahnya. Ia keluar dari dalam mobilnya dan berjalan begitu saja meninggalkan Shafa. Shafa hanya menatap kepergian suaminya itu penuh tanya.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan lelaki itu?

Shafa mengabaikan pertanyaannya, ia keluar dari dalam mobil, dan menyusul Elang masuk ke dalam rumah, tapi baru beberapa langkah, ia menghentikan langkahnya saat mendapati seorang gadis muda menghambur memeluk suaminya.

Shafa hanya ternganga melihat pemandangan itu. memang, bukan sekali ini saja ia melihat kedekatan Elang dengan wanita lain. Sudah beberapa kali. Bahkan suaminya itu mengenalkan dirinya dengan kekasihnya sejak hari pertama mereka menikah. Keterlaluan bukan?

Belum lagi kenyataan bahwa setiap kali pesta, Elang selalu pergi sendiri, berkata padanya dengan kalimat menyakitkan, bahwa ia tidak mungkin membawa Shafa ikut serta pesta bersamanya dengan keadaannya yang memiliki kekurangan.

Shafa juga cukup tahu diri, ia juga tidak ingin bergaul dengan teman-teman maupun keluarga Elang yang lain. Ibaratnya, mereka memiliki dunia yang berbeda. Shafa hanya tidak ingin berakhir di hina oleh salah satunya.

Selama ini, Shafa merasa baik-baik saja dengan hal itu, hubungannya dengan Elang yang seakan memiliki dinding pembatas. Elang enggan menariknya lebih jauh ke dunia lelaki itu, dan Shafa juga enggan masuk ke dalamnya. Semuanya baik-baik saja ketika mereka hanya melakukan kewajiban masing-masing tanpa ikut campur urusan pribadi masing-masig. Tapi kini, kenapa Elang mencampuri urusan pribadinya? Shafa hanya merasa bahwa semua itu tak adil untuknya.

Mengabaikan hal itu, Shafa kembali melangkahkan kakinya, menuju ke dalam rumah. Mau tidak mau ia melewati Elang dengan gadis muda yang masih setia memeluk suaminya tersebut.

Saat melihat kedatangan Shafa, gadis itu lantas segera melepaskan pelukannya pada Elang. Menatap Shafa dengan tatapan menilai. Mengamati dari ujung rambut hingga ujung kaki Shafa.

Biasanya, jika yang melakukan itu adalah orang-orang terdekat Elang, seperti keluarga atau teman lelaki itu, Shafa harus mempersiapkan diri dengan ucapan sinis yang akan keluar dari bibir orang tersebut. Seperti, bahwa Shafa harus bersyukur karena sudah memiliki suami sempurna seperti Elang, yang dalam arti lain adalah bahwa Elang cukup sial karena sudah menikahinya. Biasanya juga, Shafa hanya tersenyum dan mengabaikannya. Toh, yang membuatnya cacat seperti ini adalah Elang, bukan? Jadi seharusnya, mereka berdua sama-sama impas, kan?

Shafa mencoba mengabaikan tatapan mata itu. Ia memilih tersenyum, mengangguk dan terus berjalan masuk ke dalam rumah. Saat ini, Shafa berada pada titik tak ingin mendengar komentar ataupun penghinaan untuk dirinya.

“Dia, Istri Kakak?” disisi lain, gadis itu bertanya pada Elang.

“Lupakan saja.” Elang menjawab enggan.

“Kok gitu. Kak El lagi marahan, ya?”

Elang memutar bola matanya jengah. “Jadi kamu pulang hanya untuk mengurus masalah kakak?” tanyanya dengan nada jengkel.

Gadis itu malah tertawa lebar. “Ternyata Kak El masih kayak dulu ya. Suka marah-marah. Awas cepat tua loh… Nanti kalau tua ditinggalin sama istrinya.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, gadis itu berlari masuk ke dalam rumah. Sedangkan Elang hanya bisa menyerukan nama gadis itu dengan nada kesal.

***

Setelah membersihkan diri, Shafa mengganti pakaiannya, lalu duduk di pinggiran ranjang. Sesekali ia memijit kakinya yang kembali terasa nyeri. Mungkin ia memang sedikit kelelahan, mungkin juga karena Elang yang tadi menyeretnya dengan kasar. Shafa tidak tahu, ia hanya merasa pegal hari ini.

Mencoba mengabaikan rasa pegalnya, Shafa bangkit, ia akan keluar dari dalam kamarnya dan menyambangi tanamannya yang ia tanam di kebun kecil tepat di samping rumah Elang. Memang, saat di rumah, hanya dengan tanaman-tanaman itulah Safa merasa lebih baik.

Dulu, saat pertama kali pindah ke rumah Elang dengan status seorang istri dan menantu di rumah ini, Shafa merasa tidak kerasan. Pertama, tentu karena perlakuan kurang bersahabat yang ia dapatkan dari keluarga Elang dan Elang sendiri, sisanya, karena Shafa tidak terbiasa jauh dari tanaman-tanamannya.

Karena itulah, saat Shafa melihat kebun kecil yang tak terawat di samping rumah Elang, di dekat area kola renang, Shafa berinisiatif membawa tanaman-tanaman bunga kesukaannya satu persatu ke sana.

Kini, kebun kecil itu menjadi tempat paling favorite di rumah ini untuk Shafa. Ya, hanya di kebun kecil itu Shafa bisa merasakan kebahagiaan di rumah ini.

Ketika Shafa membuka pintu kamarnya, pada saat bersamaan Elang masuk, hingga dengan spontan wajah Shafa membentur dada bidang suaminya tersebut.

Postur tinggi Elang mau tidak mau membuat Shafa mendongkakkan wajahnya, mendapati wajah Elang sedang menunduk menatapnya dengan begitu dekat. Secara sponta, Shafa kembali menundukkan kepalanya, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya yang tiba-tiba saja menyembul keluar tanpa tahu malu hanya karena tatapan mata dari Elang.

“Mau kemana?” Elang bertanya dengan nada dingin. Seperti biasa.

“Melihat tanamanku.”

“Berpikir untuk mencuri hati adikku?”

Shafa mengangkat wajahnya seketika menatap Elang penuh tanya. “Aku tidak mengerti apa maksud kamu.”

“Lagi-lagi kamu berpura-pura polos. Kamu pikir aku lupa dengan apa yang sudah kamu lakukan pada Ibuku?”

“Aku nggak ngerti.”

Elang melangkah mendekat, sedangkan Shafa dengan spontan ia mundur.

“Sikapmu yang sok baik, sok polos, sok ramah, seperti malaikat itu membuatku muak.” Elang mendekat lagi, sedangkan Shafa masih mundur karena terintimidasi dengan ulah suaminya.

“Aku selalu bersikap seperti itu pada siapapun, dan itu bukan suatu kepura-puraan.”

Elang tersenyum menyeringai. “Itu senjatamu untuk membuat banyak orang tertarik. Tapi tidak denganku.”

“Aku tidak bermaksud membuat orang tertarik denganku.”

“Kalau begitu berhenti bersikap sok polos dan sok ramah.”

“Kamu tidak bisa melarang orang bersikap baik. Sikapku sudah seperti ini sejak dulu, jadi bukan kapasitasmu untuk merubahku.”

Tampak sebuah kemarahan di mata Elang. Shafa tidak tahu kenapa Elang tampak sangat marah padanya. Apa ia salah? Shafa tidak merasa bersalah sama sekali, karena itulah Shafa mencoba memasang wajah tak gentar di hadapan suaminya tersebut.

Lalu, tanpa diduga, dengan gerakan secepat kilat, Elang sudah menangkup kedua pipi Shafa, mengangkat ke arahnya, kemudian menyambar bibir ranum Shafa yang entah kenapa sejak tadi sudah menggodanya.

Shafa terkejut, matanya membulat seketika, meski begitu ia belum sempat menghindar dari Elang. Ketika Elang mencumbu habis bibirnya, yang bisa Shafa lakukan hanya meronta.

Bukannya Shafa menolak, tidak. Meski ia belum memiliki perasaan apapun dengan Elang, tapi sebisa mungkin Shafa memposisikan dirinya sebagai istri lelaki itu. Shafa selalu memenuhi kebutuhan biologis suaminya, tidak pernah menolaknya, meski mereka melakukan hal tersebut tanpa cinta. Tapi saat ini, Shafa hanya ingin bahwa Elang melakukannya dengan baik, bukan dengan kasar seperti ini. Hal itu membuat Shafa tidak suka.

Sekuat tenaga Shafa meronta, mendorong-dorong tubuh suaminya yang lebih tinggi dan lebih besar dari tubuhnya. Hingga kemudian tautan bibir mereka terlepas. Napas keduanya memburu. Shafa mengusap bibirnya bekas dari cumbuan panas Elang, sedangkan Elang, ia menatap Shafa masih dengan tatapan marahnya.

“Kamu menatapku seolah-olah apa yang kulakukan adalah hal yang menjijikkan.” desis Elang dengan marah.

“Kamu melakukannya dengan kasar dan tanpa permisi.”

“Oh, apa kamu cukup pantas kuperlakukan dengan sopan?”

Shafa kesal dengan pertanyaan tersebut. Tak ada gunanya lagi ia beradu argumen dengan Elang. Sembari bersiap pergi, Shafa berkata “Sepertinya, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi.”

Baru beberapa langkah ia melewati Elang, dan lelaki itu segera menyambar pergelangan tangannya, menariknya, kemudian berkata “Kita belum selesai, aku sedang menginginkan hakku.” Setelah ucapannya yang penuh penekanan tersebut, Elang kembali mencumbu paksa bibir Shafa, melumatnya dengan panas, mencecap rasanya dengan penuh paksaan. Rasa marah dan gairah sedang bercampur aduk menjadi satu di dalam diri Elang, dan ketika hal itu terjadi, maka tak ada penolakan yang bisa diterima oleh lelaki itu.

-TBC-

Ugly Wife – Bab 1

Comments 5 Standard

 

Bab 1

 

Setelah membereskan meja makan, Shafa menyiapkan bekal untuk dirinya sendiri. hari ini akan menjadi hari yang melelahkan karena akan ada beberapa tanaman baru yang datang ke tempat kerjanya. Mungkin ia akan pulang sore, atau mungkin ia tidak akan pulang. Shafa merasa senang jika kenyataan terakhir itu yang terjadi. Setidaknya, ia tidak akan bertatap muka dengan suaminya yang selalu menatapnya dengan tatapan jijik dan merendahkan.

Tiga bulan lamanya ia sudah menikah dengan lelaki yang mendatanginya siang itu di toko bunga miliknya. Lelaki yang bernama Elang Abraham. Lelaki yang ia ketahui sebagai seorang yang sudah menghancurkan hidup dan mimpinya.

Ya, ternyata lelaki itu adalah lelaki yang dulu menabraknya. Membuat kakinya cacat, ibunya meninggal ditempat, dan membuatnya kehilangan semuanya. Awalnya, Shafa tak ingin lagi berurusan dengan lelaki itu setelah lelaki itu menceritakan semuanya siang itu juga, tapi Shafa tak bisa berbuat banyak, ia sudah terikat dengan lelaki itu. Mereka sudah dinikahkan saat itu untuk membuat lelaki itu bertanggung jawab atas ulahnya. Istilahnya, mereka sudah kawin gantung selama bertahun-tahun yang lalu.

Saat itu, Shafa masih berusia Tujuh tahun, sedangkan Elang baru berusia Lima belas tahun. Di usianya yang ke lima belas, Elang mendapatkan hadiah mobil dari orang tuanya. Mobil yang seharusnya hanya digunakan untuk mengantar jemput Elang saat sekolah, bukan untuk digunakan lelaki itu. Tapi Elang saat itu adalah pemuda nakal seperti kebanyakan pemuda lainnya, ingin mencoba sesuatu yang baru. Hingga suatu hari, ia memaksa supirnya untuk mengajarinya mengemudikan mobil.

Tragisnya, Elang menabrak dua orang pejalan kaki di atas trotoar. Seorang meninggal ditempat, dan yang satunya kritis. Itu adalah Shafa dan ibunya. Elang tidak bisa dihukum karena masih dibawah umur, sedangkan Ayah Shafa menuntutnya untuk bertanggung jawab. Apalagi saat tahu bahwa Shafa tak akan kembali seperti dulu lagi. Istrinya meninggal sedangkan anaknya akan cacat seumur hidup. Saat itulah ayah Shafa menuntut Elang dan keluarganya untuk bertanggung jawab. Dan tanggung jawab yang setimpal adalah menikahi Shafa.

Mereka dikawin gantung saat itu juga, membuat masalah tersebut selesai dengan cara kekeluargaan. Tapi Ayah Shafa tak tahu, bahwa menikahkan mereka merupakan sebuah masalah baru untuk Shafa kedepannya. Ia tidak suka dijodohkan, ia tidak suka dilihat sebagai orang yang memaksa untuk dinikahi. Apalagi dengan lelaki seperti Elang, lelaki dingin arogan dan tak berpesaraan.

Meski begitu, Shafa mencoba mengendalikan dirinya, menekan perasaannya, mengendalikan egonya, ketika ia mengingat bagaimana janji terakhirnya dengan Sang Ayah sebelum ayahnya meninggal dua tahun yang lalu.

“Dia akan datang untukmu. Kamu akan bahagia dengannya.”

“Aku nggak tahu apa maksud Ayah.” Shafa tidak mengerti, dan ia tak mau mengerti, karena saat ini yang paling ia pikirkan adalah kondisi ayahnya yang semakin memburuk.

“Berjanjilah dengan Ayah, bahwa kamu akan memenangkan hatinya. Jangan lepaskan dia. Jangan membuatnya menjadi mudah untuknya. Dia sudah menghancurkan hidup dan mimpimu, jadi kamu berhak memiliki seluruh hidupnya sebagai imbal baliknya.”

Shafa menggelengkan kepalanya. Ia masih tak mengerti apa yang dikatakan ayahnya.

“Jangan lepaskan dia, Shafa. Jangan lepaskan dia…”

 

Kini, Shafa tahu apa maksud dari ayahnya. Ayahnya hanya tak mau bahwa Elang dan keluarganya bisa cuci tangan begitu saja. Melenggang pergi setelah menghancurkan hidup mereka. Ayahnya ingin, Elang hidup dengan rasa bersalahnya setiap hari, karena itulah ayahnya meminta Shafa untuk tidak menyerah.

Dan sekarang, baru tiga bulan lamanya mereka mengesahkan pernikahan mereka, tapi Shafa sudah hampir tak sanggup dengan perlakuan suami dan keluarganya. Ia diperlakukan seperti sampah, seperti orang yang menjijikkan. Apa mereka tidak ingat bahwa semua ini karena ulah mereka?

Setelah membereskan bekalnya, dengan langkah tertatih seperti biasanya, Shafa meninggalkan area dapur. Baru saja beberapa langkah ia meninggalkan dapurnya, sosok yang ada dalam kepalanya tersebut rupanya sudah berdiri di hadapannya. Jika Shafa tidak fokus dengan langkahnya, ia mungkin sudah menabrak lelaki itu.

Shafa menghentikan langkahnya kemudian wajahnya mendongak menatap lelaki yang jauh lebih tinggi darinya tersebut.

“Ikut aku.” Ucapnya sembari menyambar pergelangan tangan Shafa kemudian menyeretnya menuju ke sebuah ruangan. Shafa hanya bisa pasrah, lelaki ini memang sasngat suka berbuat sesuka hatinya.

Sampai di dalam ruangan tersebut, cekalan tersebut dihempaskan degan begitu kasar. Lelaki itu menatapnya dengan tatapan marahnya. Menyisingkan kemejanya yang masih rapih hingga sesikunya.

“Jawab pertanyaanku, apa hubunganmu dengan supir sialan itu?”

Shafa ternganga dengan apa yang dipertanyakan oleh suaminya tersebut.

Leo, adalah supir pribadi yang disiapkan oleh Elang untuk dirinya. Shafa tidak memiliki hubungan apapun dengan lelaki itu, tapi Shafa tak pernah melihat Leo sebagai bawahannya atau hanya sekedar sebagai supirnya. Ia memperlakukan Leo sebagai orang yang setara dengannya. sebagai seorag teman. Jika ia ingin menikmati secangkir kopi di starbuck, maka ia akan mengajak Leo atau pegawai tokonya untuk menemaninya. Dan kini, kenapa Elang mempertanyakan hal itu padanya?

“Aku nggak tahu apa maksud kamu?”

“Kamu memiliki hubungan yang special dengan dia, kan? Kamu pikir aku nggak tau?”

“Kenapa kamu menuduhku seperti itu?”

“Karena aku sudah mengawasi apapun yang sudah kamu lakukan di dalam maupun di luar rumah ini.”

“Kami hanya berteman, dan mengawasi apapun yang kulakukan, bukankah itu berlebihan?”

“Oh benarkan? Apa itu juga yang terjadi antara kamu dengan para pelanggan tokomu yang pria? Atau dengan para pegawai tokomu yang pria? Kalian berteman? Seberapa jauh?”

“Aku nggak ngerti apa yang kamu maksud. Para pegawaiku bekerja secara profesional, dan aku hanya menjual apa yang diinginkan para pelangganku.”

“Seperti menjual kesenangan? Berapa mereka membayarmu?”

Mata Shafa berkaca-kaca seketika dengan tuduhan tersebut. Sebenarnya, Shafa sangat bingung dengan reaksi Elang. Selama ini, Elang tidak pernah menunjukkan sikap seperti ini terhadapnya. Lelaki itu dingin dan datar-datar saja tanpa ingin tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Tapi pagi ini, kenapa sikap lelaki ini berubah seratus delapan puluh derajat?

“Sebenarnya, apa yang terjadi sama kamu? Bukankah selama ini kita baik-baik saja tanpa mengurusi urusan pribadi masing-masing?” tanya Shafa kemudian. Ia masih bingung dengan sikap Elang pada pagi ini.

Hubungannya dengan Elang selama tiga bulan terakhir memang jauh dari kata baik. Elang memang sering menyentuhnya, lebih tepatnya, lelaki itu meminta haknya sebagai seorang suami untuk dipuaskan. Tapi hanya itu, diluar dari itu semua, hubungannya dengan Shafa jauh dari kata baik.

Mereka tidak akan saling bicara jika tak ada hal penting yang ingin dibicarakan. Tidak saling menyapa, bahkan menurut Shafa, mungkin Elang tak pernah mempedulikan tentangnya. Jadi saat Elang berkata bahwa lelaki itu mengawasinya dari jauh, maka Shafa merasa terkejut, tak percaya dengan apa yang dikatakan lelaki itu. selama ini Elang hanya cuek-cuek saja terhadapnya, dan kenapa sekarang Elang seperti orang yang sedang…. Cemburu?

Tidak mungkin. Pikirnya.

Elang mendekat, menghimpit tubuh Shafa diantara dinding terdekat. “Aku hanya tidak suka berbagi dengan orang lain. Kalau aku sudah memilih tidur denganmu, maka aku tidak akan membiarkan orang lain menidurimu.”

“Apa? Aku tidak pernah tidur dengan lelaki lain.”

“Belum. Kita tidak tahu nanti.”

“Aku bukan perempuan seperti itu.” Ya, Elang tahu. Ia bahkan merasakan bahwa Shafa masih perawan ketika ia menyentuh wanita itu untuk pertama kalinya. Tapi sikap Shafa yang ramah dan membuat siapa saja terpesona, membuat Elang tidak suka. Elang benci kenyataan bahwa Shafa terlihat menarik bagi siapa saja dengan sikap ramah yang ditampilkan wanita itu.

Itu hanya akting.

Elang selalu memarahi dirinya sendiri ketika dirinya mulai terpesona dengan sikap ramah yang ditampilkan Shafa di hadapannya.

Elang melangkah mendekat, dengan penuh penekanan dia berkata “Aku nggak peduli. Leo akan dipecat, dan toko bungamu, cepat atau lambat aku akan membuatnya tutup.”

Setelah ucapannya tersebut, Elang pergi begitu saja, sedangkan Shafa, ia hanya ternganga dengan apa yang baru saj diucapkan oleh suaminya tersebut. Apa masalahnya? Kenapa tiba-tiba Elang jadi ikut campur dengan semua urusan pribadinya? Dan menutup toko bunganya? Siapa dia? toko bunga itu adalah satu-satunya hal yang ditinggakan oleh kedua orang tuanya, bagaimana mungkin Shafa rela menutupnya?

***

Elang benar-benar melakukan apa yang dia katakan pada Shafa kemarin. Dan Shafa masih tidak menyanga bahwa lelaki itu akan bersikap searogan itu. Memberhintikan seorang dari pekerjaannya hanya karena sebuah kecurigaan yang tak masuk akal.

“Aku benar-benar tidak menyangka bahwa Elang akan benar-benar memecatmu.” Ucap Shafa pada Leo. Saat ini keduanya sedang berada di dalam toko bunga milik Shafa, menikmati kopi mereka. Siang itu suasana toko cukup sepi. Shafa terkejut ketika mendapati Leo mendatanginya. Karena tadi pagi supirnya ini sudah tidak ada di rumahnya. Bahkan menuju ke tokonya saja, Shafa harus naik taksi.

“Saya juga bingung, kenapa tuan tiba-tiba memecat saya.”

Shafa merasa kasihan dengan Leo. Ia tahu bagaimana susahnya lelaki itu. Selama bekerja di tempatnya, hubungan mereka memang cukup dekat. Shafa selalu menganggap Leo sebagai temannya. Karena selama ini, Leolah yang menemaninya kemana-mana. Sesekali lelaki itu bercerita tentang keluarganya. Mereka hidup kesusahan, jadi Shafa merasa kasihan jika tiba-tiba Leo diputus kerja secara sepihak oleh Elang.

“Begini saja, aku kan juga butuh tenaga kerja di toko ini, dibagian taman belakang. Kamu bisa kerja sama aku.” Usul Shafa.

Memang, jika menyangkut pekerjaan di rumah, Elang dan keluarganya berkuasa untuk memecat siapa saja. Tapi ini adalah toko bunga miliknya, tak akan ada yang bisa memecat siapapun dari sini kecuali dirinya sendiri.

“Mbak Shafa yakin? Saya takut nanti Tuan tahu terus marah.”

“Ini bukan lagi urusan Elang. Kamu kan kerja sama saya, bukan sama dia.”

“Tapi kalau Tuan tahu nanti….”

“Yang penting, kamu mau apa tidak kerja sama saya di sini?” tanya Shafa lagi. Ia tidak ingin memaksa, ia hanya mau membantu sebisa yang ia lakukan.

Leo tampak berpikir sebentar, kemudian ia mengangguk setuju. “Saya mau.” Shafa tersenyum senang. Ia tahu bahwa Leo adalah orang baik, dan ia akan mempertahankan orang-orang baik untuk bekerja dengan dirinya.

***

Di lain tempat…..

“Brengsek! Berani-beraninya wanita itu.” Elang mengumpat kasar setelah ia menerima telepon dari seorang pesuruhnya yang ia bayar untuk  mengawasi Shafa, istrinya.

Elang sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Sebenarnya, Elang cukup muak dengan sikap sok ramah yang ditampilkan Shafa pada semua orang. Hal itu membuat Shafa seolah-olah bagaikan malaikat. Sedangkan ia menjadi iblisnya. Elang tak suka.

Kenyataan bahwa perempuan itu mampu memikat hati siapa saja yang dikenalnya membuat Elang kesal.

Contohnya saja, dulu, pertama kali ia membawa Shafa pulang ke rumahnya, Ibunya amat sangat tidak suka dengan sosok Shafa. Pertama, karena bagi ibunya, Shafa dan keluarganya adalah tipe orang yang suka memanfaatkan keadaan. Memang benar bahwa Elang bersalah karena sudah menabrak Shafa dan ibu wanita itu. Membuat Shafa kehilangan ibunya dan wanita itu cacat seumur hidupnya. Tapi bagi ibu Elang, tak seharunya puteranya dipaksa bertanggung jawab untuk menikahi wanita cacat itu. Itulah yang membuat Ibu Elang sempat membenci kehadiran Shafa. Tapi kini, ibunya itu malah sesekali membela Shafa.

Elang berpikir, mungkin ini semua karena sikap ramah yang selalu ditampilkan Shafa meski wanita itu sedang diinjak-injak. Tak memungkiri juga, beberapa kali Elang merasa bahwa dirinya terjerat dalam pesona istrinya tersebut, tapi secepat kilat Elang mencoba mengendalikan dirinya.

Shafa hanya akting, tak ada perempuan sebaik dan seramah itu apalagi saat perempuan itu diperlakukan sebagai seorang rendahan. Pikir Elang.

Elang mendengus sebal. Ia tidak akan termakan oleh akting perempuan itu. Bagaimanapun juga, perempuan itu sudah menghancurkan dirinya dengan cara memaksa dirinya menikahi perempuan itu. Sangat wajar jika kini dirinya merasa sangan membenci sosok Shafa, bukan?

Ketika Elang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, saat itulah pintu ruang kerjanya dibuka oleh seseorang. Wanita cantik dan seksi itu masuk dan segera menghambur ke arahnya, mengecup sisi kanan dan kiri pipi Elang. Seketika itu juga suasana hati Elang berubah. Yang tadinya dia ingin marah-marah karena memikirkan istrinya, kini berubah seketika, membara dengan kehadiran kekasih hatinya.

Namanya Salsabilah. Salsa sendiri awalnya hanya partner kerja Elang. Karena mereka sering bertemu dan saling menghabiskan waktu bersama karena pekerjaan, akhirnya benih-benih cinta tumbuh diantara mereka. Mereka sudah cukup lama menjalin kasih, bahkan sejak sebelum Elang menikahi Shafa secara sah.

Meski Salsa tahu bahwa Elang kini sudah meiliki istri, nyatanya hal itu tak menyurutkan niatnya untuk memiliki hati lelaki di hadapannya itu sepenuhnya. Salsa cukup tahu bagaimana ceritanya hingga Elang harus menikahi perempuan cacat itu.

“Sepertinya kamu sedang bad mood.” Salsa berkomentar masih dengan mengalungkan lengannya pada leher Elang.

“Ya. Sedikit.”

“Mau kuobati?” tawarnya.

Elang tersenyum, ia tahu apa maksud dariucapan kekasinya ini. “Dimana?” tanyanya secara langsung tanpa basa-basi.

Jemari Salsa menggoda dada Elang, “Kamu maunya dimana? Di sini, atau kita cari hotel terdekat sambil makan siang bareng?”

“Hotel saja.” Dan akhirnya, keduanya kembali bercumbu mesra sebelum keluar dari ruang kerja Elang.

-TBC-