Mengenangnya (With Sani)

Comments 2 Standard

Mengenangnya (With Sani)

Mengenangnya [With Sani]

 

 

Halo.. ketemu sama aku lagi. Hehehehe oke, alasan pertama kenapa aku menulis ini, karena ternyata kemaren banyak yang baca kisahku dengan Kai, bahkan nada beberapa Reader yang inbox atau chat aku tanya apa sih hadiah yang di berikan Kai untukku? tapi maafffff bgt, aku nggak bisa bilang.. wkwkwkwkkwkwk

Sebagian dari mereka juga penasaran dengan kisahku yang lainnya dengan Sani, atau bahkan Alif. So, aku akan coba bercerita seingatku ya…

ya, ini nyata, kisah nyata tapi ku ceritakan dengan bumbu drama hingga kalian bisa menikmatinya….. dan aku bercerita semampu kepalaku mengingat.

Aku lupa, tepatnya kapan aku kenal dengan Sani. Yang pasti saat itu aku masih SMA kelas 1 di sebuah sekolahan Islam menengah atas di daerah rumahku –yang di desa-. Biasanya, ketika aku berangkat sekolah atau pulang sekolah, aku mengendarai motorku dengan membonceng temanku. Kami biasanya bergantian, misalnya hari ini aku bawa motorku, maka besok temanku itu membawa motornya. Dan bukan hanya satu teman, tapi kami bergantian dengan Lima temanku lainnya.

Setiap kali aku pulang sekolah dengan temanku yang bernama Dewi, pasti aku tidak langsung pulang. Dewi selalu mengajakku mampir ke sebuah peternakan ayam yang memang tidak jauh dari sekolah kami. Untuk apa? Tentu saja untuk menemui kekasihnya.

Dewi, temanku yang satu itu terkenal dengan kecaantikannya, banyak sekali yang menyukai temanku itu, bahkan rela di jadikan yang kedua atau ketiga. Ahh mengenangnya, aku jadi merindukan sosok Dewi. Tentu saja saat ini dia sudah menikah dan sudah memiliki seorang putera yang tampan.

Balik lagi ke cerita. Dewi mengajakku ke sebuah peternakan untuk menemui seseorang. Namanya Sani. Ahh, namanya benar-benar tidak seperti orangnya.

Sani memiliki wajah yang biasa-biasa saja, rambutnya sedikit panjang, beranting, serta memiliki beberapa tato. Ketika itu aku belum mengenal lelaki sebelumnya, dan saat pertama kali melihat Sani, aku takut.

Ya, tentu saja. Dia terlihat seperti preman. Dan astaga, aku masih nggak percaya kalau aku pernah menyukainya. Ooppss…

Sekali dua kali aku bertemu dengan Sani, aku merasa biasa-biasa saja. Bahkan aku memasang wajah cuek dan jutekku seakan tidak ingin mengenal dia atau teman-temannya. Tapi ketika aku melihatnya berkali-kali, yang kurasakan adalah rasa Iba untuknya.

Sani benar-benar menyukai Dewi. Aku tahu itu. Apapun yang di inginkan Dewi, pasti di turutin oleh Sani. Dewi sendiri terlihat hanya memanfaatkan Sani, karena saat ku tanya apa hubungan mereka, Dewi hanya bilang jika mereka tak lebih dari teman. Hanya saja… Ah, Sani terlalu menuruti apa mau Dewi. Aku kasihan terhadapnya.

Suatu malam, saat aku dan teman-temanku berkumpul bersama di rumah Dewi, Sani datang dengan seseorang.

Dia terlihat tampan di mataku, dan… pendiam.

Namnya Alif. Ya, Dia Alif. Lelaki yang kini sudah sah menjadi suamiku dan ayah dari puteri kecilku.

Kembali lagi ke cerita, saat itu aku terkejut, karena tiba-tiba teman-temanku meninggalkanku hanya berdua dengan Alif. Ada apa ini? Pikirku saat itu, dan dua hari kemudian aku baru tahu jika mereka memang sengaja menjodohkanku yang masih Jomblo ini dengan seorang Alif.

Astaga, jangan di tanya bagaimana suasana pertamaku dengan Alif saat itu. Dia pendiam, super pendiam malah, dan aku benar-benar tidak tahu harus membahas apa dengannya saat itu.

Ahh lupakan!!! Aku malu kalau mengingatnya. Hahahhaha.

Dua hari kemudian, Sani menghubungiku. Aku terkejut saat mendapati dia mempunyai nomor ponselku saat itu. Dan ternyata dia memang sengaja meminta nomorku dari Dewi.

Aku tahu, Sani hanya berbasa-basi saja saat itu, karena setiap kali nomornya menghubungiku, maka yang berbicara bukanlah Sani, tapi Alif. Ya, Alif memang selalu numpang pada Sani saat meneleponku. Dia tidak memiliki Handphone saat itu.

***

Malam itu, seingatku mungkin saat itu tengah malam. Nomor Sani kembali menghubungiku. Kupikir itu adalah Alif yang meminjam Hp Sani, tapi ternyata, itu benar-benar Sani yang berbicara denganku.

“Jen, sedang apa?”

“Sedang apa lagi? Tidur lah.” jawabku ketus

“Aku mau cerita.” Aku mengerukan kening ketika mendengar suara Sani yang sedikit aneh. Ahh dia seperti orang yang…. Mabuk.

“Aku ngantuk San, besok aja.” Aku kembali menjawab dengan nada ketus.

“Kenapa semua menjauhiku?” tanyanya yang seketika itu juga membuatku tercenung.

“Semuanya? Apa maksudmu?”

“Dewi, kamu, dan semuanya tidak ada yang peduli padaku, kenapa?”

“Udah ah, aku mau tidur, kamu mabuk, aku malas ngomong sama kamu.”

“Aku hanya menyukainya, apa dia tidak bisa sedikit membalas cintaku?” aku kembali terdiam cukup lama dan membiarkan Sani berceloteh tentang kisahnya.

Satu hal yang kusadari malam itu, jika Sani ternyata sangat menderita. Cintanya tak terbalas, dia ingin melupakan Dewi, tapi nyatanya dia tidak bisa, dan itu menumbuhkan suatu rasa di dalam dadaku yang entah aku sendiri tidak tahu rasa apa itu. Hingga kini, aku benar-benar menyesalinya karena telah menumbuhkan rasa itu.

***

Malam itu bukanlah malam terakhir Sani menghubungiku, karena setelah itu, hampir tiap malam dia meneleponku hingga jam 3 dini hari.

Nenekku bahkan tidak berhenti mengomel ketika Sani meneleponku tengah malam. Tentunya Sani meneleponku tanpa sepengetahuan Alif. Aku benar-benar merasa dekat dengannya. Di balik sosoknya yang seperti preman, ternyata dia adalah orang yang penyayang.

Sani masih terus mengejar Dewi, sedangkan aku sendiri masih dalam masa pendekatan dengan Alif. Hingga suatu hari, Alif menyatakan perasaan cintanya padaku. Entah itu cinta beneran atau hanya pura-pura. Tapi yang ku lakukan saat itu hanyalah menerimanya.

Ya, akhirnya aku jadian dengan Alif.

Sosok Sani tiba-tiba menjauhiku. Dia tak pernah lagi menghubungiku. Dan akupun mulai melupakannya.

***

Waktu berlalu cepat. Alif meninggalkanku, kemudian sosok Kai hadir menemani hari-hariku.

Entah apa yg saat itu terjadi pada Alif hingga dia pergi. Dia hanya pernah bercerita jika dia memiliki masalah dengan keluarganya. Tapi saat kutanya masalah apa? sampai saat inipun dia tak pernah mau menjawabnya.

Kai hanya mampir sekejap dalam hidupku. Dia pergi dan kembali menorehkan luka di hatiku. Aku kembali patah hati, dan salah satu temanku lagi-lagi mengenalkanku dengan seseorang.

Dia Randy.

Aku biasa memanggilnya Kak Ran. Dalam waktu dekat kami sangat akrab karena saat itu dia juga sedang dalam masa patah hati dan katanya, aku adalah teman yg baik ntuk mengalihkan rasa patah hatinya. Dia lelaki yang baik, tapi bagiku, dia sedikit Psyco, dan menakutkan bagiku hingga kini.

Ketika aku dekat dengan Kak Ran, Sani kembali mengusik hidupku. Setiap malam dia tidak berhenti menghubungiku, bercerita banyak padaku, dia seakan mendekatiku dan yang paling gila, setiap kali mabuk, dia menuju ke rumahku. Oh yang benar saja. Saat itu, aku yang hanya tinggal dengan nenekku (karena ibu dan ayahku sudah lebih dulu merantau ke samarinda) benar-benar ingin menghilang dari muka bumi ini. Bisa di bayangkan, bagaimana reaksi nenek ku yang memiliki sikap kuno. Ahh, dia tidak berhenti marah dan mengomel padaku.

Aku benar-benar membenci Sani atas kejadian itu. Dia gila, dan aku juga kembali gila karenanya.

Meski saat itu aku sedang dekat dengan Kak Ran, tapi Sani mencuri kembali hatiku, aku benar-benar dibuat gila oleh para lelaki di dekatku.

Alif masih sesekali menghubungiku. Aku masih menyukainya, aku tahu itu. Tapi ketika aku bersama dengan kak Ran, pikiran tentang Alif menghilang. Sedangkan Sani, astaga, dia selalu membuat jantungku cenat-cenut ketika mengingatnya.

Suatu malam, aku masih ingat dengan jelas. Saat itu hari jum’at malam. Sani datang ke rumah temanku yang bernama Lilis. Tentunya dia datang ke sana karena ingin menemuiku yang saat itu sedang belajar kelompok di sana.

Mau tak mau aku menemuinya. Dan ketika aku bertatap muka dengannya, dua kata itu terucap dengan jelas di dari bibirnya.

“Kamu sialan!!!”

Dia mengumpat tepat ke arahku. Rahangnya mengeras, bibirnya menipis, pipinya sedikit berkedut, tatapan matanya menajam, serta tangannya mengepal. Oh apa yg terjadi? Kenapa dia memeperlakukanku seperti itu?

Dua kata itu membuatku tersentak. Aku tidak mengerti apa yg terjadi dengan Sani, kenapa dia terlihat sangat marah denganku?

“Kamu kenapa?” Tanyaku dengan wajah bingung.

Dengan spontan Sani menarik lenganku dan memaksaku menaiki motornya, akhirnya aku mengikuti apa maunya.

Sani memboncengku menuju sebuah jembatan yang cukup sepi. Dia berhenti kemudian berteriak keras di sana. Apa dia gila? Kalau iya aku mau pulang. Karena aku sangat malu saat ada orang lalu-lalang di jalan dan melihat ke arah kami.

“Sani, kamu kenapa? Ada masalah sama Dewi?”

“Dewi, dewi, dewi. ini bukan tentang Dewi, ini tentang kamu Sialan!!!”

Kenapa sama Aku?

Sani mencengkeram rahangku dengan kasar. “Kenapa kamu menyembunyikan semuanya?”

“Apa? Menyembunyikan apa?”

“KALAU KAMU PERNAH SUKA SAMA AKU!!!” Serunya dengan nada yg lantang dan benar-benar kasar.

Aku menangis, cengkraman Sani terasa sakit di kedua pipiku. Sikapnya membuatku takut, belum lagi kenyataan jika dia sedang mabuk. Aku harus bagaimana?

Astaga, dan dari siapa juga dia tahu semua ini? Apa Nana yg bercerita? Karena seingatku, aku hanya bilang sama Nana kalau aku pernah mengagumi sosok Sani.

“Kenapa kamu nggak bilang Jen? Kenapa?”

“Kenapa kamu bilang? Kamu adalah pacar Dewi, mana mungkin aku bilang kalau aku suka dengan pacar Dewi?”

“Pacar?”

“Ya, setidaknya umumnya seperti itu. Dan kamu menjodohkanku dengan Alif, lalu apa kamu pikir aku cukup tidak tahu malu kalau aku meneruskan perasaanku padamu?”

“Aku nggak mau tahu!!! Mulai malam ini kamu jadi punyaku.”

Aku terbelalak dengan ucapan Sani saat itu. “Enggak!!!!”

“Kenapa? Karena si Randy? Aku akan nyuruh teman-teman mukulin dia kalau kamu masih dekat sama dia.”

“Sani, aku nggak mau! Aku sudah nggak suka sama kamu.”

Tiba-tiba Sani melembut. Keningnya di tempelkan pada keningku. dan berkata pelan di sana.

“Aku akan membuatmu suka sama aku lagi. Aku janji.”

Dan pada detik itu aku sadar, jika aku tidak bisa menolak kemauan Sani untuk menjadikan dia sebagai kekasihku.

***

Hari-hari yang ku alami semakin berat. Tidak ada hari selain melihat pertengkaran Sani dengan Randy, mereka bahkan beberapa kali akan adun hantam. dan jika itu terjadi, aku yakin bahwa aku akan berada dalam sebuah masalah.

Alif sendiri sangat jarang menghubungiku, mungkin dia hanya seminggu sekali menghubungiku. Perasaanku padanyapun mulai terkikis. Apa Alif sudah memiliki kekasih lain? Mungkin saja.

Fokusku kini hanya untuk Sani yang semakin gila dan Randy yang memperburuknya. Hingga kemudian, aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya, mengakhiri hubunganku dengan para lelaki itu.

Aku memutuskan berangkat ke kalimantan, tepatnya di samarinda, dan melanjutkan Sekolah SMAku di sana.

Sani murka. Benar-benar murka!

Dia semakin gila hingga pernah menyusulku ke sekolahan dalam keadaan mabuk. Oh jangan di tanya bagaimana reaksi teman-temanku saat itu saat mendapati Sani mengomel di sana.

Teman-teman bahkan takut menyapa atau membuat masalah padaku karena aku saat itu di kenal sebagai ‘pacar preman’. Oh ya, tentu saja. Aku tidak peduli! Toh aku mau meninggalkan semuanya.

Dewi sendiri sedikit menjauhiku ketika melihat kedekatanku dengan Sani. Dan aku semakin bingung karenanya.

***

Aku ingat, malam itu hari kamis malam, karena jumat pagi aku sudah harus berangkat ke Samarinda.

Sani datang ke rumahku…. dan mau tak mau aku menemuinya. Kamu bertemu di teras rumah yang memang sepi dan sedikit remang karena terhalang pohon-pohon mangga depan rumah.

Dia tidak mabuk, dan dia hanya diam tanpa sedikitpun membuka suara. Tiba-tiba jemarinya terulur menggenggam telapak tanganku.

“Kamu benar-benar akan pergi?” Tanyanya dengan pelan.

“Sepertinya gitu.”

“Jangab pergi Dek, aku… aku sayang kamu.”

Aku mematung dengan apa yang baru saja di katakan oleh Sani. Dia memanggilku dengan panggilan ‘Dek’ seperti yang di lakukan Kai, Alif, maupun Randy. Dan dia bilang sayang?

Sayang???

Please, jangan percaya Jeni…

“Maaf, aku tetap pergi.”

“Kenapa? Karena Alif? Kamu mau ketemuan sama dia di sana?”

“Mana mungkin aku bisa ketemuan? Aku masih sekolah, dan Samarinda Bontang itu jauh. Lagian ngapain juga aku nemuin orang yang nggak benar-benar sayang sama aku.”

“Kalau gitu tetap di sini, Jen, aku sayang kamu. Jangan pergi.” Dan aku masih membatu. Sisa malam itu ku habiskan dengan Sani yang menggenggam telapak tanganku sesekali menciumi jemariku.

Oh aku masih ingat dengan jelas malam itu…

***

Di Samarinda….

Pertama kalinya aku bepergian jauh hingga membuatku langsung sakit ketika menginjak kota Samarinda. Cuacanya yang bisa di bilang ekstrim membuat daya tahan tubuhku menurun hingga aku sakit selama tiga hari saat itu sampai memegang Hppun sulit.

Ketika aku sembuh dan mulai memainkan Hpku, berbagai macam pesan masuk, yang kebanyakan dari Sani. Dia khawatir, dia marah, dia kesal, karena selama tiga hari itu aku tidak menghubunginya.

Akhirnya aku meneleponnya. Meminta maaf padanya dan betapa terkejutnya aku ketika dia bilang jika saat itu dia sudah berada di Jakarta.

‘Untuk apa aku berada di sana lagi, jika di sana sudah nggak ada kamu? Aku ke jakarta cari uang besar, biar bisa ngelamar kamu nanti saat kamu lulus sekolah, kamu mau, kan?’

Hingga kini kata-kata itu masih dapat ku ingat dengan jelas. Sani mengucapkannya, tapi kemudian dia mengkhianatiku. Dia mengingkari janjinya untuk melamarku.

Entah berapa minggu setelah aku tinggal di Samarinda, Sani sudah mulai jarang menghubungiku, begitupun dengan Alif. Ya, nyatanya Alif masih menghubungiku hingga saat itu, meski aku tidak bisa menamai apa status hubungan kami. Dia jarang –amat sangat jarang menghubungiku.

Aku ingat hari itu minggu malam, karena paginya aku tidak sekolah. Alif Meneleponku. Aku mengangkatnya dengan sangat bahagia. Ya, entah kenapa di telepon Alif merupakan sesuatu yang sangat membahagiakan untukku, dan aku tidak tahu jika malam itu adalah akhir dari semuanya.

Alif meneleponku, tapi secara bersamaan, dia menambahkan panggilannya pada Sani. (Ya, aku sangat ingat. Saat itu memang sedang trend telepon menyambung seperti itu, jadi misalnya aku di Samarinda, Alif di Bontang, dan Sani di Jakarta, kami bisa teleponan dalam satu sambungan, dengan cara, Alif meneleponku, lalu dia menyambungkan juga dengan Sani. Dan akhirnya kami bertiga bisa ngobrol bersama.)

Alif masih tidak tahu jika aku ada hubungan dengan Sani. Yang dia tahu, sahabatnya itu adalah teman dekatku, penjagaku supaya aku tidak di pacarin lelaki lain. Tapi aku mengkhianatinya, aku juga menjalin kasih dengan Sani. Dan Sani mengatakan hubungan kami pada Alif saat itu.

Percakapan yang tadinya bersahabat berubah menjadi saling mengumpat, Alif tidak berhenti misuh2 (Mengumpat ala orang jawa) ketika Sani berkata jujur jika kami menjalin hubungan di belakangnya. Alif menuntut hubungan Sani dan aku segera putus, dan aku bingung. Aku memilih mengakhiri telepon sambungan tersebut karena tidak tahan dengan cara bicara Alif dan Sani yang sama-sama kasar dan saling mengumpati satu dengan yang lainnya.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Ingin menelepon salah satu di antara mereka, tapi aku tidak berani. Hingga kemudian, besok sorenya Alif menghubungiku kembali.

“Aku sudah bicara sama dia.” Suara Alif benar-benar tidak enak di dengar.

“Bicara apa, Mas?”

“Sani, Kalian sudah nggak boleh saling berhubungan lagi.”

“Kamu kok gitu? Kamu kok seenaknya sendiri? Kenapa kamu ninggalin aku kalau aku nggak boleh sama yang lainnya?”

“Kamu boleh sama siapa aja, tapi jangan sama temanku!” Alif terdengar marah.

“Aku nggak peduli, kalau aku sukanya sama Sani memangnya kenapa?”

“Kenapa? Karena kamu nggak boleh suka sama dia. Kamu cuma boleh suka sama aku!”

Tuuttt… tuuutttt… tuuuttt… telepon terputus. Entah pulsanya habis atau apa aku tidak tahu dan aku tidak peduli. Nyatanya itu adalah terakhir kalinya Alif menghubungiku, begitupun dengan Sani yang sudah tidak pernah lagi menghubungiku setelah malam itu.

***

Aku semakin gila…

Kalimat terakhir Alif malam itu seperti mantera yang mengikatku…

‘Kamu nggak boleh suka sama dia. Kamu cuma boleh suka sama aku!’

Setelah malam itu, Alif menghilang. Lost contac denganku selama dua tahun lamanya. Kenapa dia begitu tega padaku? Dia membuat Sani meninggalkanku, tapi kenapa dia juga ikut meninggalkanku? Aku benar-benar seperti orang gila.

Setiap malam aku menulis surat, membentuk surat itu menjadi perahu kecil, kemudian menghanyutkan perahu itu di sungai tepat di bawah rumah kontrakan Ibuku (Ya, rumah kontrakan ibuku di samarinda memang rumah panggung yang bawahnya adalah sungai yang mengalir, jadi kalau hujan deras kami sering kebanjiran hehheheheh) berharap jika surat itu sampai pada Alif, bukan pada Sani…

Ya… Surat itu untuk Alif….

Alifku yang selalu menyakiti hatiku…

Dia…

Kenapa dia meninggalkanku…

Kenapa dia memisahkanku dengan Sani….

Kenapa dia meninggalkanku lagi…..

***

Agustus 2014…..

 

Ini adalah pertama kalinya aku mengajak Bella, puteri kecilku yang hampir berumur satu tahun, pulang ke kampung halamanku di Lamongan, tentunya kami pulang bertiga dengan Alif, suami yang sudah hampir Empat tahun ku nikahi, suami yang sangat ku cintai tapi sepertinya dia tidak mencintaiku, huehehhehehe.

Sangat menyenangkan karena aku kembali bertemu dengan teman-teman di kampung. Aku bertemu dengan Nana, Dewi, Lilis, dan temanku lainnya yang ternyata juga sudah pada punya anak.

Kami saling bertukar cerita hingga kemudian Dewi bercerita tentang pertemuannya dengan Sani.

Sani, lelaki itu ternyata juga sudah menikah dengan seorang wanita keturunan sunda ketika lelaki itu ke Jakarta pada saat itu. Sani kini bahkan sudah memiliki seorang putera kecil, seperti itulah yang di ceritakan Dewi.

Ya, sejak saat itu, aku memang tidak tahu menahu tentang kabar Sani. Lelaki itu hilang begitu saja bak di telan bumi. Bahkan ketika aku kembali ke kampung halaman dan  menikah dengan Alif, lelaki itu tidak menampakan batang hidungnya, padahal aku sangat berharap jika lelaki itu memberikan kami ucapan selamat.

Alif sendiri sama sekali tidak ingin membahas tentang Sani. Alif selalu acuh ketika aku bertanya tentang Sani, ketika aku mengungkit tentang lelaki itu. Bahkan pernah beberapa kali, Alif marah besar hanya karena aku bilang kalo Sani orang yang perhatian.

Oh, ya, suamiku itu memang tipe orang yang pencemburu, bisa di bilang begitu. Dia cuek, tidak seposesif tokoh-tokoh yang aku ciptakan, dia juga sama sekali tak seromantis tokoh2 tersebut. tapi jika aku membahas tentang lelaki lain sedikit saja, pasti emosinya langsung tersulut. Entahlah, dia aneh.

Hari itu, Aku, Alif dan Bella berencana ke rumah orang tua Alif yang memang berbeda desa dengan desa orang tuaku, kami melewati desa tempat tinggal Sani, dan bisa di tebak, kami melihat lelaki itu.

Sani berbeda, rambutnya sudah tidak panjang lagi, dia tampak lebih bersih, bukan seperti preman yang dulu pernah ku kenal. Mungkin karena dia sudah lebih dewasa, karena sudah meiliki istri dan anak.

Jika kalian bertanya apa yang ku rasakan, maka aku jujur, sedikit berdebar, tapi bukan debar-debar asmara karena ketemu dengan sang pujaan hati, percayalah bukan karena itu. Aku hanya berdebar karena takut dengan reaksi yang akan di tampilkan Alif pada Sani.

Nyatanya, Alif tetap santai, ia bahkan terlihat tidak menghiraukan sahabatnya –atau lebih tepatnya, mantan sahabatnya itu.

Kami sampai di rumah orang tua Alif, dan setelah aku turun dari motor, Alif kembali menyalakan mesin motor yang kami tumpangi tadi.

“Loh mas, kamu mau kemana?”

“Ada urusan sebentar.”

“Kamu ke tempat Sani, ya?”

“Enggak.”

“Ayo ngaku.”

“Pokoknya aku nggak ke sana, tenang aja.”

“Aku nggak tenang kalau kamu keluar sama teman-temanmu.” Ya, tentu saja aku nggak tenang. Walau pendiam, Alif adalah tipe orang pemarah. Saat di desa, entah sudah berapa kali aku mendapati Alif pulang dengan muka babak belur karena tawuran. Ya, dia memang suka sekali tawuran-tawuran nggak jelas seperti itu.

“Sudahlah, percaya aja, aku sudah nggak kelahi-kelahi lagi kok. Kamu kan tahu sendiri, aku sudah berhenti minum sejak ada Bella, dan aku juga sudah berhenti kelahi kayak dulu.”

“Nggak percaya.”

“Oke, kalau aku pulang mabuk atau babak belur, kamu boleh nggak ngasih aku jatah seminggu.”

Kucubit hidung mancungnya. “Itu mah curang, kan aku memang lagi dapet, jadi kamu memang nggak dapat jatah seminggu.” Alif hanya tertawa lebar, tapi dia tetap menyalakan motornya.

“Aku nggak lama, nanti balik lagi kok.” Dan dia pergi begitu saja. Sungguh, aku khawatir, aku khawatir karena aku tahu bagaimana dia dan juga bagaimana Sani.

***

Malamnya…

“Dek..”

“Hemm.”

“Besok ke rumah Sani, yuk.”

Aku yang hampir tidur akhirnya bangun seketika. “Ngapain? Enggak, ah!”

“Bagaimanapun juga dia yang ngenalin kita, Dek, harusnya kita ke sana, silaturahmi, berterimakasih.”

“Bukannya kamu yang selama ini nggak pernah mau bahas tentang dia?”

“Ya, aku salah, tapi tadi siang kami sudah baikan, kok, aku sudah ke rumahnya lagi, dan kami banyak cerita.”

“Enggak, aku tetetp nggak mau, kalau mas mau ke sana, ke sana sendiri aja. Bagaimanapun juga bertemu mantan itu canggung, tahu!” Gerutuku.

“Ya sudah. Terserah kamu saja.” Dan kamipun kembali tidur.

***

Sekitar Februari 2015….

Perasaan menggebu, itulah yang kurasakan saat ini, bukan menggebu karena seks, percayalah. Seks itu sudah menjadi makananku sehari-hari dengan Alif, jadi kami tidak menggebu-nggebu seperti ketika pengantin baru dulu, wakakakkakakak. Kali ini perasaan menggebuku hadir untuk hobby baruku, yaitu menulis.

Ya, aku mulai menulis sejak tahun 2014 akhir. Hanya menulis fansfic korea yang aku share di grup-grup saja. Tapi kemudian ada rasa kurang puas. Dan aku memutuskan untuk menulis dengan suasana baru.

Menulis Novel.

Awalnya aku bingung mau menulis tentang apa. Tapi kemudian ide itu muncul begitu saja ketika aku melihat suamiku yang sedang sibuk memainkan gitarnya.

Aku ingat semua kisah yang kulalui bersamanya hingga aku memutuskan untuk menjadikan kisah kami sebagai inti dari cerita pertamaku.

Cinta dan persahabatan…. itulah temanya.

Dan itu kembali mengingatkanku dengan Sani. Aku mulai menulis, dan ketika aku menulis kisah itu, aku kembali mengingat semua kepingan demi kepingan masalaluku yang mulai sedikit terlupakan.

Dhanni, dan Renno. Dhanni sendiri benar-benar mengingatkanku dengan sosok Alif, sosok yang hingga kini masih setia menemaniku. Sedangkan Renno sendiri, ahhh… andai saja hubunganku dengan Sani bisa sebaik hubungan Nessa dan Renno, mungkin akan sangat membahagiakan, tapi namanya kenyataan pasti tak seindah di dalam novel. Heheheheh.

Tapi aku tidak sedih, meski aku tak dapat lagi mengingat wajah Sani, meski aku mungkin tidak akan bertemu dengannya lagi, setidaknya dia abadi dalam tulisanku. Ya, Kak Renno tetaplah Sani untukku, aku akan selalu mengingatnya ketika membaca novel pertamaku tersebut.

Buat Alif, Maafkan aku sayang. Aku mencintaimu, kamu tentu tahu itu. Tapi anggap saja ini satu titik –hanya satu titik dari sisi hatiku yang di tempati oleh lelaki lain.

Lelaki yang bernama Sani, dan juga lelaki lainnya yang pernah singgah di hatiku ketika kamu pergi meninggalkanku.

 

-The End-

 

Zenny Arieffka

16 Maret 2017

Advertisements

Mengenangnya (With Kai) – Cerpen True story

Comments 3 Standard

mwkMengenangnya (With Kai)

Note : Hanya Oneshoot yang ku dedikasikan untuk seorang yang pernah berada di masalaluku. ahh entahkah, aku kembali mengingatnya saja beberapa hari terakhir, akhirnya aku menulisnya di sini, Happy reading,,

Mengenangnya (With Kai)

 

Pagi ini aku mendengarkan lagu Radja. aku tidak tahu kenapa tiba-tiba suamiku memutar lagu itu, karena setahuku, lagu kenangan kami adalah lagu dari Wali.

Mendengar lagu itu, sontak aku teringat dengan seseorang. Seseorang yang pernah memiliki hatiku seutuhnya hanya dalam jangka waktu 9 hari.

Yeaah, dia kekasih lamaku selama 9 hari.

Sebut saja namanya Kai.

Aku lupa tepatnya bulan berapa, tapi seingatku, saat itu tahun 2007. Alif ( yg sekarang yg jadi suamiku) pacar pertamaku itu meninggalkanku begitu saja ke pulau seberang, tanpa pamit. Kalian tentu dapat membayangkan bagaimana perasaanku saat itu. Padahal kami baru menjalin kasih selama kurang lebih 2 bulan lamanya.

Sedih? Tentu saja, marah? Sangat dan sangat marah. Tapi aku bisa apa? Melarangnya? Yang benar saja.

Dua hari setelah alif meninggalkanku, sebuah nomor telepon baru menghubungiku. Dia mengaku bernama Kai. Kai, bukanlah orang jelek, jika boleh jujur, dia mantanku yg paling tampan dan kaya (bahkan melebihi alif, suamiku saat ini). Saat itu aku belum pernah bertemu dengannya, karena dia memang masih kuliah di luar kota.

Kami hanya berhubungan lewat telepon. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana rupanya saat itu, hanya saja mendengar suaranya membuatku berdebar-debar seperti di novel-novel yg pernah ku tulis. entah ini perasaanku saja, atau memang aku sudah menjadikan Kai sebagai pelampiasanku karena di tinggalkan Alif.

Dua minggu smsan dan telepon-teleponan. Kai pulang. Kalian tahu apa yang membuatku terkagum-kagum? Kai yg saat itu sekolah di daerah Malang, langsung menuju ke rumahku, masih dengan membawa tas ranselnya, dia tidak pulang ke rumahnya sendiri tapi langsung menuju ke rumahku, dan bertemu denganku untuk pertama kalinya.

Shock?

Tentu saja. Aku anak gadis biasa, tidak memiliki kelebihan apapun. Bahkan di bandingkan teman2ku, aku adalah gadis yg paling culun -dan jelek- tentunya. Dan aku tidak menyangka lelaki sekelas Kai mau repot-repot mendekatiku dan   ingin berkenalah denganku.

“Dek, kok diam saja?”

“Ahh enggak, mas.”

“Aku langsung ke sini tadi, nggak mampir kerumah, pengen ketemu kamu.”

“Ohh.”

“Dek, nggak papa kan kalau aku minta nomer kamu dari temanku?”

“Nggak papa kok, Mas.”

“Alif gimana Dek? Sudah hubungi  kamu?”

“Loh, Mas kenal Mas Alif?”

“Dia temanku dek.”

“Ohh…” hanya itu jawabanku.

“Dek, aku pengen menggantikan posisi Alif.”

“Maksudnya Mas?”

“Ayo di jalani saja, aku nyaman sama kamu, Dek.”

Dan… malam itupun kami resmi jadian. Hingga 9 hari kemudian aku memutuskan mengakhiri semuanya….

***

“Kai…. aku kangen kamu, Mas..”

***
Hari ke 7 aku jadian dengan Kai…

Entah kesialan apa yg terjadi denganku sore itu. Setelah sepanjang siang hujan lebat, akhirnya motor bututku yang ku parkir di pelataran sekolah mogok. Rasanya pengen nangis. Karena itu motorku satu-satunya.

Aku menunggui teman-temanku yang mencoba menyalakan motorku, tapi tidak ada yang berhasil. Hingga kemudian, aku melihat sosok itu datang.

Kai….

Astaga, jangan bayangkan bagaimana malunya aku saat itu. Sudah jelek, kusem, bau asem, muka berminyak, tanpa bedak, jerawat di mana-mana, dan laki-laki yang beberapa hari terakhir dekat denganku datang menemuiku dalam keadaan seperti itu? Ohhh sungguh, aku ingin menghilang saat itu juga.

Dengan santai Kai bertanya. “Motornya kenapa dek?”

Aku hanya bisa menundukkan kepala. “Uumm nggak tahu mas, mogok nih.”

“Sini, biar kubawakan ke bengkel temanku saja.”

“Terus, aku gimana?”

“Aku yang nganter pulang.” Setelah dia bicara seperti itu, dia pergi begitu saja, menuntun motorku menuju ke sebuah bengkel yang memang tak jauh dari sekolahanku.

Teman-temanku bercie-cie ria. Dan aku tidak peduli, yang kupedulikan saat itu adalah degupan jantungku yg seakan menggila.

Kai akhirnya kembali, dan langsung menaiki motornya. Dia menatapku sambil berkata. “Ayo, kenapa nggak naik?”

Teman-temanku dengan ndesohnya semakin menyorakiku dan membuatku ingin menyumpali mulut mereka satu persatu dengan kaos kaki yang kukenakan.

Akhirnya aku pulang, Kai benar-benar mengantarku. Ini pertama kalinya aku di jemput laki-laki saat pulang dari sekolah. Malunya minta ampun. Aku bahkan tidak berani menempel pada tubuh Kai yang aku yakini saat itu sudah wangi, sedangkan aku? aku yakin, bahkan satu meterpun kalian dapat mencium bau keringatku.

Tujuh hari ini, aku memang tak lagi memikirkan Alif. Kai selalu menghubungiku setiap waktu. Dan itu membuatku lupa dengan diri Alif. Hanya saja, saat aku akan tidur, bayangan Alif mencuat di pikiranku, dan itu kembali membuatku menangis.

“Kok diem aja, Dek?”

“Uuum, mas kok tahu motorku mogok tadi?”

“Tadi aku nggak sengaja jalan trus lihat kamu sama teman-temanmu.”

“Yang bener?”

“Iya, sumpah Dek.”

“Mas nggak malu jemput aku?”

“Ngapain malu? Kan jemput pacarku sendiri, bukan pacar orang.”

Dan astaga, kalo aku tidak ada di atas motor, mungkin saat ini aku sudah kejang-kejang karena salah tingkah.

“Mas masih lama di rumah?” Tanyaku lagi mengalihkan pembicaraan.

“Aku setengah bulan di rumah, Dek.”

“Oh…” hanya itu jawabanku.

Akhirnya sampai juga di depan rumahku. Aku turun dari atas motor Kai. Kupikir dia langsung pergi, tapi dia malah ikut aku turun.

“Loh, mas masuk dulu?” Tanyaku bingung.

Aku melihat dia tersenyum dengan sedikit malu-malu.

“Euumm aku mau..” dia mencondongkan tubuhnya bersiap mengecup pipiku. Dan dengan spontan aku membalikkan tubuhku hingga membelakanginya.

Astaga, aku nggak mungkin membiarkan cowok ganteng mencium pipiku yg kusem dan berminyak. Yang benar saja.

Lama kami dalam posisi aku membelakangi Kai. Aku juga tidak tahu apa yg di rasakan Kai saat itu. yang ku pikirkan saat itu adalah perutku yang mulai mulas karena kedekatan kami.

Hingga kemudian, aku mendengar bunyi motor Kai tepat di belakangku.

“Dek, aku pulang.” Ucapnya. Dan dia pergi begitu saja tanpa menungguku berbalik menatapnya.

***

Kai… ingatkah kamu dengan hari itu???

***
Hari ke 8…

Hari itu adalah hari yang benar-benar membuatku gelisah. Sepanjang pagi hingga sore, Kai tidah ada sekalipun menghubungiku. Sms yang biasanya gencar dia lakukan, telepon yang biasanya sering menggangguku, hari itu sama sekali tidak ada.

Aku gelisah, apa Kai sedang marah denganku? marah karena aku menolak saat ia ingin mencium pipiku? Astaga, jika memang karena itu, aku bisa memberi alasan kenapa aku melakukan hal itu.

Aku hanya seorang gadis desa yang sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam berpacaran. Dulu, aku memiliki orang yang kusukai saat SMP, tapi kemudian orang itu secara terang-terangan menolakku di depan semua orang hingga membuat kepercayaan diriku runtuh seketika. Bahkan hingga kini, rasa terauma itu benar-benar membunuhku. membuatku selalu merendahkan diri dan sama sekali tak memiliki kepercayaan diri.

Pacar pertamaku hanyalah Alif. Itupun hanya dalam jangka waktu 2 bulan, sebelum dia meninggalkanku begitu saja. Apa salah jika saat itu aku terkejut dengan apa yang di lakukan Kai? Ya, bisa di bilang Kai adalah orang pertama yang begitu dekat denganku.

Hingga sore, Kai tak kunjung menghubungiku. Nana, temanku menyarankan supaya aku menghubungi dia, tapi itu adalah hal terakhir yang akan ku lakukan. Sumpah demi apapun juga aku tidak akan pernah menghubungi laki-laki lebih dulu, bukan karena aku sombong, tapi aku terlalu takut, jika ternyata aku mengganggunya, atau membuatnya tidak nyaman. Akhirnya, aku membiarkan Kai yang tidak menghubungiku seharian tanpa mencoba menghubunginya.

sorenya, aku pulang sekolah dengan Nana, karena memang aku masih belum berani memakai motorku yang kemaren sempat masuk bengkel.

Kami pulang bersama dengan Nana memboncengku. tapi baru sekitar tiga kilo meter Nana menjalankan motornya dari sekolahan, kami di cegat oleh beberapa orang anak gadis dari sekolahan lain.

Apa Nana sedang membuat masalah? Pikirku saat itu. Akhirnya Nana menghentikan motornya, lalu kami sama-sama turun dan beberpa anak gadis dari SMA sebelah menghampiri kami.

“Ada apa ya?” Tanya Nana.

“Hei, kamu siapanya Kai?” Tanya seorang gadis dengan rambut pendeknya sembari menunjuk ke arahku.

“Aku?” Tanyaku bingung. “Uum, aku, teman.” Aku berbohong.

“Teman? Jangan-jangan kamu yang ngerebut Kai dari Ina?” Tanya gadis itu lagi sambil menunjung gadis lainnya yang mengenakan jilbab dan sedang menundukkan kepalanya.

“Loh, mbak, aku nggak pernah ngerebut siapa-siapa.” Jawabku sedikit tidak terima, karena aku memang tidak merasa pernah merebut Kai dari orang lain. Kai sendirah yang datang padaku saat itu.

“Halah alasanmu saja. Kai itu dulu selalu ngapelin Ina kalo dia pulang dari Malang, sekarang dia nggak lagi ke rumah Ina, dan kemaren kita lihat kamu sedang di bonceng dia lewat sini.”

“Memangnya Kai siapanya Ina?” Kali ini Nana yang ikut bertanya.

“Ya pacarnya lah. Bahkan mereka mau nikah juga, tuh lihatkan cincinmu, Ina.”

Aku hampir menangis saat itu ketika mendapati kenyataan jika Kai memiliki wanita lain di belakangku. Kenapa dia membohongiku? Kenapa dia mendekatiku? Kenapa dia membuatku tersakiti? Kenapa dia membuat luka yang sama seperti yang di berikan Alif padaku?

“Ya sudah, sekarang kamu ngaku nggak, kalau kamu pacarnya Kai?” Tanya gadis itu lagi.

“Enggak mbak!!” Jawabku tegas. “Aku cuma punya satu pacar, namanya Alif, dia sekarang sedang ke kalimantan. Kai cuma temannya, dan dia cuma temanku.” Jawabku setegas mungkin dan berharap suaraku tidak bergetar saat itu.

“Ya sudah. Kalo Kai ke rumahmu lagi, bilang, suruh nemuin Ina. Dan kalau bisa, jangan bolehin dia main ke rumahmu lagi. Kamu nggak kasihan sama Ina yang baik ini?”

“Ti, sudah, aku nggak apa-apa.” Ucap gadis yang bernama Ina itu dengan sedikit menenangkan temannya yang sejak tadi terlihat sedikit emosi.

“Ya sudah mbak. Nanti ku kasih tahu orangnya.” Jawabku setenang mungkin. Padahal saat itu perasaanku sudah tidak karuan.

Aku dan Nana akhirnya melanjutkan perjalanan pulang kami. Sesekali Nana menggerutu tidak percaya dengan apa yang di katakan para gadis itu. Bagi Nana, Kai adalah orang baik-baik.

Ahh ya, aku belum cerita, Kai itu adalah sepupu dari Ale, pacar Nana. Nana tentu kenal dekat dengan Kai, dan dia sama sekali tidak percaya kalau Kai itu memiliki pacar lain selain aku. Sedangkan aku sendiri, sama sekali tidak menghiraukan pendapat Nana, pikiranku terlalu penuh dengan berbagai macam pikiran tentang Kai. Bayangan-bayangan saat Kai mencoba mendekatiku pun mencuat begitu saja.

 

Aku ingat, saat itu adalah hari kedua aku resmi menjadi kekasih Kai. Kai bercerita banyak tentang dirinya semasa hidup di Malang. Dia memiliki banyak Pacar. Tapi seluruhnya bukan wanita baik-baik. Aku tidak percaya, tentu saja. Memangnya aku mau di bodohi sama dia. Lalu besok malamnya ketika kami ketemuan kembali, Kai membawa beberapa Foto kedekatannya dengan beberapa gadis yang di sebut dengan mantannya. dan saat itu aku baru sadar, kalau Kai memang lelaki yang dengan gampang menunjuk mana wanita yang dia inginkan.

Saat aku bertanya. “Kenapa kamu nggak cari wanita baik-baik buat di jadikan pacar Mas?”

Dia menjawab “Wanita baik itu bukan untuk di jadikan pacar. Tapi untuk di jadikan istri.”

Aku tertawa dengan gombalannya. “Lah berarti aku bukan wanita baik-baik dong?”

“Memangnya kamu pacarku?” Pertanyaannya benar-benar membuatku malu. astaga, bagaimana mungkin dengan begitu PDnya aku mengakui diri sebagai pacarnya.

“Uumm, nggak tahu lah.”

“Kalau aku nganggep kamu calon istriku, gimana?”

Tubuhku saat itu kaku seketika. Calon istri? Aku bahkan baru Lima belas tahun saat itu.

 

Aku ingat hari itu kami banyak tertawa, dan berakhir dengan kecanggungan karena Kai membahas tentang calon istri. tapi fokusku saat ini bukan pada bagian percakapan manis kami, tapi lebih pada bagian Kai yang mengaku memiliki banyak kekasih di luar sana.

Kai sudah mengakui sejak awal padaku, jika dia memiliki banyak kekasih di luaran sana, bukan tidak mungkin Ina adalah salah satunya.

Dan astaga, betapa bodohnya aku menaruh hatiku pada seorang Kai…

Ya, tidak bisa di pungkiri jika aku sudah mulai jatuh hati pada sosok Kai, sosok yang mampu mengalihkan perhatianku dari Alif, sosok yang sangat perhatian padaku, sosok yang pada saat itu membantu mengobati lukaku akibat kehilangan seorang Alif.

Ya, dalam waktu singkat, Kai membuatku jatuh cinta padanya.

Tapi aku sadar jika semua ini salah. Kai bukan orang baik untuku, dan aku tidak ingin melanjutkan kesalahan ini, aku tidak ingin tersakiti lebih jauh lagi nantinya, hingga kemudian, aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya keesokan harinya..

Kai… maafkan aku, aku hanya tidak ingin kembali tersakiti… maaf….

***
Malam itu juga aku mengirim pesan pada Kai.

Aku : ‘Mas, aku pengen ketemu besok malam.’

Tak lama, ponselku kembali berbunyi, tanda Kai membalas pesanku.

Kai : ‘Beneran? Kamu kangen? Di mana Dek?’

Aku : ‘Di sekolah SD ku sedang ngadain pentas seni, kita ketemuan di sana saja Mas. Sambil nonton.’

Kai : ‘Ya sudah, ku jemput jam 7, Dek.’

Aku : ‘Jangan, aku di antar Mas Sani nanti.’ (Kalo kalian pernah baca cerita The Lady killer, pasti kenal Renno, nah Sani ini adalah Rennoku dalam dunia nyata hahahahha).

Kai : ‘kok di antar Sani?’

Aku : ‘Ya, aku sekalian ada perlu sama dia.’

Kai : ‘Baiklah. Met Bobok Dek.’

Dan aku tidak lagi membalas SMSnya itu. Aku seakan mencoba memungkiri sikap manis yang di berikan Kai padaku. Maaf Kai, aku tidak ingin jatuh terlalu dalam.

***

Besok malamnya… tepat hari ke 9 aku jadian dengan Kai. Kai menatapku ketika aku sampai di tempat kami janjian saat itu.

Sani yang mengantarku, ikut turun dari motornya lalu berjalan mengikutiku tepat di belakangku. Ahh ya, sedikit cerita tentang Sani, Sani adalah laki-laki yang mengenalkanku dengan Alif. Bisa di bilang, dia mak comblangku. Dia itu naksir berat dengan temanku yang bernama Dewi, tapi sayangnya, Dewi hanya memanfaatkan Sani. Dari situ, aku sempat menaruh hati pada Sani. Ahhh kalian jangan bilang siapa2 yaa.. huehehehehe. Tapi sayang sekali, Sani malah mengenalkan aku dengan Alif, dan mencomblangkanku dengannya. Akhirnya, perasaanku ku kubur begitu saja dan aku belajar mencintai sosok Alif.

Kembali pada permasalahan.

“Loh dek, kita jalan bertiga?” Tanya Kai sambil menatap Sani.

Akhirnya aku menoleh ke belakang dan mendapati Sani masih berdiri di belakangku.

“Kamu kok masih di sini Mas?” Tanyaku pada Sani.

“Aku mau nemenin kamu.”

“Kan sudah ada Aku, San.” Kai menyahut.

“Ingat Kai, Alif yang nyuruh aku jagain dia, bukan kamu.”

Oke, aku bingung. Kenapa mereka bawa-bawa nama Alif?

Aku melihat Kai maju mendekat ke arah Sani.

“Hei, San, kamu juga harus ingat, kalau kamu saat itu nggak mau kan di suruh jagain Jeni buat Alif? Makanya kamu nyuruh aku yang jagain Jeni.”

“Loh, kalian ngomong apa sih?” Aku semakin bingung disini. Jadi, Alif dalang semua ini??

“Gini dek, aku bisa jelasin.” Kai mulai menarik tanganku sedikit menjauh dari Sani, sedangkan Sani hanya bisa menatap kami sedikit lebih jauh.

“Dek, sebenarnya, Alif nyuruh Sani jagain kamu, biar kamu nggak pacaran atau dekat dengan cowok lain selama dia merantau, tapi saat itu Sani nggak mau, jadi dia nyuruh aku buat jagain kamu Dek.”

Shock. Itulah yang ku rasakan saat itu. M mm mmbmmm mhihgighjhogjmhkhJADI INI SEMUA DALANGNYA SI ALIF????

“Oh, jadi di sini aku cuma mainan kalian?”

“Bukan gitu Dek, Alif itu benar2 sayang sama kamu Dek, dia cuma nggak mau kamu kenapa2 makanya nitipin kamu sama teman2 terdekatnya.”

“KALO DIA SAYANG, DIA NGGAK AKAN NINGGALIN AKU TANPA PAMIT MAS.” Aku berteriak. Ya, aku masih ingat dengan jelas jika saat itu aku berteriak keras ke arah wajah Kai.

“Ninggalin? Dia kan masih hubungin kamu, kamu pikir aku nggak tahu?”

Tububku tegang seketika. Ya, sekitar lima hari entah satu minggu setelah Alif pergi, Alif kembali menghubungiku. Saat itu dia sudah berada di kota Bontang kalimantan timur. Hubungan kami canggung, hanya sebatas tanya kabar, itu saja. Dan aku tidak pernah menceritakan hal ini pada siapapun, entah teman-teman terdekatku, atau Kai sekalipun. Aku hanya bilang kalau Alif meninggalkanku, dan kami sudah putus hubungan, padahal bukan seperti itu. Tapi darimana Kai mengetahui hal itu?

“Mas, darimana bisa tahu kalau Mas Alif masih hubungin aku?”

“Maaf, tapi aku pernah meriksa Hpmu, Dek.”

“Kok, kamu periksa sih? Kenapa?”

“Dek, memang awalnya aku cuman bantu Alif jagain pacarnya, tapi…”

“Tunggu mas, ada yang lebih penting. Ina itu siapa?” Tanyaku secara langsung sebelum keberanianku menghilang.

Kai diam seketika. Tiba-tiba dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Kenapa? Apa dia benar-benar memiliki hubungan serius Dengan Ina?

“Kenapa Mas? Ina pacar kamu?”

Kai masih tidak menjawab.

“Teman-temannya ngelabrak aku kemaren, katanya aku ngerebut kamu dari Ina, jadi Ina beneran pacar kamu?”

“Ya.” Jawabnya dengan santai.

“Kamu kok tega sih Mas, lalu apa bedanya kamu dengan Alif yang nyakitin aku?”

“Kita nggak ada bedanya Dek, kamu juga masih diam-diam smsan dengan Alif di belakangku.”

“Itu karena Alif pacarku.”

“Ina juga pacarku, dia bahkan sudah tunangan denganku!” Kai sedikit membentakku.

Aku terpaku melihat Kai yang terlihat Emosi. Dia benar-benar sudah memiliki tunangan. Dan bagaimana mungkin aku bisa menyukainya? Astaga.

“Gini Dek, kita nggak ada bedanya. Walau kita pacaran, kamu masih hubungan dengan pacarmu si Alif itu, kamu hanya melihatku sebagai pelarianmu Dek, iya kan?”

“Mas, kenapa seakan di sini aku yang salah?”

“Ya, kamu yang salah, kamu yang sudah buat aku berpaling.”

“Berpaling?” Aku masih bingung.

“Ya sudah lah, nggak ada gunanya aku jelasin sama kamu, sekarang mau kamu apa? Aku turutin.”

“Sampai di sini saja, mas.”

Kai menatapku, Dia terdiam cukup lama, hingga kemudian dia kembali bersuara.

“Kamu minta putus karena akan balikan sama Alif?” Aku hanya diam. “Ya sudah, terserah kamu.”

Kai pergi begitu saja, dan yg bisa ku lakukan hanyalah menangis. rasa ini rasa yg sama seperti Alif meninggalkanku.

“Jen.” Suara Saninmembuatku berbalik dan menatap ke arah Sani yang sudah berdiri tepat di belakangku.

“Maafkan aku, aku yg sudah membuatmu kenal dengan  Alif dan juga Kai. Maaf.”

Aku tak menghiraukannya, yang bisa ku lakukan saat itu hanyalahh menangis, menangis dan menangis.

***

Hampir 3 tahun berlalu… tepatnya bulan 7 – 2010

Banyak kejadian yang menimpaku selama kurun waktu hampir 3 tahun terakhir. Setelah putus dengan Kai pada saat itu, aku bukan lagi menjadi diriku sendiri.

Satu hal yang perlu ku ingat dan menjadi pelajaranku saat itu, jika hidup adalah sangat berharga, nikmatilah hidup selagi kamu masih bisa, jangan terlalu terbawa perasaan, keGR-an berlebihan, dan jangan terlalu menyukai orang jika kamu tidak ingin merasakan sakit pada akhirnya.

Aku benar-benar menjadi sosok yang berbeda. Bahkan teman-temanku berkata jika aku terlalu berani.

Setelah putus dengan Kai, aku berpacaran dengan Sani, dengan Randy, dan entah dengan siapa lagi yang semuanya adalah teman dekat Alif. Aku tidak peduli. Yang kupedulikan adalah bagaimana caranya aku melupakan Sosok Alif…

Ya, sosok Alif selalu berputar -putar pada kepalaku. Bahkan ketika kami kembali putus hubungan -benar2 putus Kontak- selama dua tahun.

Beberpa bulan setelah putus dengan Kai, aku memutuskan untuk ikut orang tuaku merantau ke kota Samarinda. Melanjutkan sekolahku disana, dan melupakan semua masalaluku ketika hidup di desa. Hanya saja, Alif masih selalu menghantui pikiranku. Dia seakan tidak ingin pergi dari otakku. Bahkan Kai saja aku sudah lupa bagaimana rupanya, tapi tidak dengan Alif.

Dan kini, bulan 7 – 2010 adalah saat dimana aku kembali lagi pulang ke desa.

Aku lupa, tepatnya itu hari ke berapa aku kembali pulang. Tapi seingatku saat itu aku baru pulang dari tes masuk perguruan tinggi di kota lamongan.

Ponselku berbunyi. Aku mengernyit saat menadpati sebuah sms dengan nomor baru di ponselku tersebut.

‘Apa kabar Dek?’

Aku tidak tahu itu siapa, tapi aku berani jamin jika itu adalah mantan pacarku dulu. Ya, semua mantan pacarku pasti memanggilku dengan panggilan Dek.

‘Ini siapa ya.’ Balasku.

‘Kai.’

Hanya tiga huruf tapi itu sukses membuat jantungku kembali dag dig dug seakan ingin meledak.

Aku terdiam cukup lama. Mencoba mencerna apa yg terjadi. Kai kembali menghubungiku, kenapa? Kenapa pada saat seperti ini? Pada saat aku kembali menjalin kasih dengan Alif?

Ya, aku kembali jadian dengan Alif.

Alif ternyata sudah kembali pulang sejak bulan 5 – 2010. Dia meminta nomer Hp ku pada teman terdekatku. Akhirnya Alif menghubungiku. Sempat kaget saat itu, dan entahlah, bagaimana euforianya hatiku saat itu. Hanya saja aku mencoba meredamnya. Berpisah selama hampir 3 tahun, dan 2 tahun sisanya sama sekali tidak menjalin komunikasi membuatku merasa jauh dengan Alif. Akhirnya kami hanya say hallo, tanya kabar, dan sedikit bercerita. Tapi kemudian dia mengajakku kembali menjalin kasih, dan dengan bodohnya aku kembali menerimanya.

Kini, ketika aku sudah kembali ke kampung tempat asalku, aku kembali bertemu dengan Alif. Dan kami benar2 kembali menjalin kasih.

Tapi kenapa Kai datang pada saat seperti ini?? Karena lama aku tidak membalas Sms darinya, Kai akhirnya meneleponku, dan mau tak mau aku mengangkatnya.

“Kamu sudah pulang, Dek?”

“Ah, ya.”

“Aku tadi nggak sengaja lihat kamu, pas aku nongkrong di toko kaset tempat langganan kamu dulu beli kaset. Kamu beda ya?”

“Beda apanya mas?”

“Sekarang sudah bisa dandan. Dan… cantik.”

Oke, aku ingin berteriak saat itu juga bahwa AKU TIDAK SUKA DI RAYU!!!!

“Ah, biasa saja mas.”

“Kata teman-teman kamu pulang karena mau lanjutin sekolah di kota ya?”

“Iya.”

“Ngambil jurusan apa, Dek?”

“Informatika dan jaringan, Mas.”

“Wah, pinter main komputer dong nanti, mau ngajarin Mas nggak nanti?”

Astaga, aku ingin melempar ponselku saat itu juga. Apa Kai sedang menggodaku?

“Maaf mas, aku sibuk, lain kali lanjut lagi ya.”

“Dek.. dek..” aku menghentikan aksiku yang mau memutuskan telepon Kai ketika aku mendengar panggilannya.

“Apa mas?”

“Aku kangen sampean.” (Bhs. Indo : Aku kangen kamu)

Kai menutup teleponnya begitu saja. Sedangkan aku sendiri masih tecenung mendengar ucapannya barusan. Jen, cuman kangen, ingat, cuma kangen. Nenekmu juga kangen kamu, so what? Bukan masalah penting. Pikirku.

***

Hari berlalu terasa sangat cepat. Hingga tak terasa sudah bulan September 2010.

Aku menikah.

Ya, aku menikah, bukan dengan Kai, tapi dengan Alif. Banyak hal yang terjadi selama dua bulan terakhir. Dan yang paling tidak bisa ku lupakan hingga kini adalah ketika aku dengan kekeras kepalaanku menyakiti hati kedua orang tuaku, karena aku memilih menikah dengan Brandalan seperti Alif, di bandingkan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.

Alif bukan orang yang dapat di banggakan. Aku tahu itu. Dia pengangguran, tukang mabuk, dan dia sesekali menggunakan obat. -itu dulu- tapi entahlah, sepertinya perasaanku sudah di butakan oleh cinta. Entah apa yang kulihat dari dia hingga aku berani melawan kedua orang tuaku.

Ahhh mungkin Alif memang jodohku… pungkasku.

Tepat tgl 26 September 2010. Kami sah menjadi suami istri. Meski bapak sempat tidak merestui hubungan kami, tapi akhirnya beliau menerima Alif. Bahkan pesta pernikahanku saat itu di selenggarakan dengan sangat meriah.

Semua yg di undang hadir. Tapi ada dua orang yang tidak hadir dalam pernikahanku. Yang pertama, Sani. Dia tidak hadir, entah karena apa. Padahal aku sangat berharap dia hadir. Terlepas dari aku yang pernah menjalin kasih dengan Sani, Sani adalah orang yang sudah mengenalkanku dengan Alif, dia mak comblang kami, tentu saja aku ingin dia hadir. Tapi nyatanya, dia tidak hadir.

Yang kedua, Kai…..

Ya, dia tidak hadir. Kai saat itu memang sudah lulus kuliah, dan kerja di daerah malang, tapi setiap sabtu dan minggu, dia pasti pulang. Dan pernikahanku saat itu memang jatuh pada hari sabtu dan minggu, tapi dia tetap tidak datang. Entahlah, apa yang terjadi dengannya. Tapi ku harap, hubungan kami nanti tetap baik.

Walau hanya menjadi seorang teman.

***

Pagi itu, aku masih ingat, tepat tanggal 27 september 2010. Aku bangun mendapati Alif yang sudah di sebelahku. Astaga, rasa debar-debar itu hadir begitu saja, aku masih tidak percaya jika aku akan berakhir di plaminan dengan Alif.

Aku bangun, lalu mandi. Dan ketika aku kembali masuk ke dalam kamar, Alif sudah duduk menungguku.

“Nggak mandi, mas?”

“Nanti aja.” Jawabnya.

“Pemalas.” Dan alif hanya menampilkan cengirannya.

“Dek, kamu nggak mau bukain itu?” Alif bertanya sembari membuka bungkusan-bungkusan kado yang berada di ujung ruangan.

Aku tersenyum penuh semangat. ahh ya, kata teman-temanku, salah satu yang mengasyikkan ketika menjadi pngantin baru adalah membuka kado dan juga amplop yang di terima dari sanak dan teman yang hadir.. hahahahhaha dan pagi itu, aku berdua dengan Alif sibuk membuka kado dari teman-teman kami.

Sialan!!! Kebanyakan kado berisi barang yang tidak penting. Bahkan bisa di bilang membuat ngakak sampek perutku mulas.

Ada yg memberi sebungkus kondom, pil kontrasepsi, plastik2 bekas, mentimun, mangga muda (apa mereka pikir aku mau buka warung rujak?) Dan masih banyak lagi kado2 tidak masuk akal yg membuat ngakak.

Tapi kemudian, ada sebuah kado yang membuatku tercenung cukup lama sebelum membukanya.

Kado dari Kai…

“Kenapa Dek?” Tanya Alif.

Aku sadar saat Alif bertanya padaku. “Ini, dari Kai, dia ke sini? Kok aku nggak lihat?”

“Dia nggak datang, cuma dia nitip itu aja buat kamu katanya.”

Aku tidak akan menulis di sini apa yang di berikan Kai padaku saat itu. Hanya saja, note yang di tulis Kai masih dapat ku ingat hingga saat ini.

‘Semoga berbahagia dek, aku yakin, Alif yang terbaik untuk kamu. Salam sayang, Kai.’

Alif bahkan ikut membaca note tersebut, dan berakhir tertawa lebar.

“Lebay.” Kata Alif.

Ya, Alif memang bukan orang yang romantis. Dan aku yakin, dia tidak akan pernah memperlakukanku seromantis mantan-mantanku yang lainnya.

“Apaan sih mas.”

“Kamu pernah jadian sama Kai?”

“Kenapa memangnya?” Aku balik bertanya.

“Kai pernah bilang sama aku, pas aku baru pulang bulan 5 kemaren. Dia minta maaf karena pernah jadian sama kamu, dan katanya sih, dia beneran suka sama kamu.”

“Ah yang bener mas?”

“Iya Dek, aku nggak bohong.”

“Tapi kan dia udah punya tunangan mas.”

“Tunangan? Dia udah putus lama kali dek sama tunangannya itu, bahkan sebelum aku berangkat ke kalimantan waktu itu.”

“Terus, kenapa dia nggak bilang sama aku?”

Alif mengangkat kedua bahunya. “Aku nggak tahu. Sudah lupain aja, jangan inget-inget dia lagi.”

“Kenapa?”

“Kok kenapa? Kamu kan sudah punya suami, masa inget-inget cowok lain sih?”

“Hahahha iya, aku lupa.”

Alif menyentil keningku. “Dasar bocah gemblung. Sudah, aku tak mandi dulu.”

Akhirnya Alif keluar dari kamar, dan mandi. Sedangkan aku, hanya mampu menatap bingkisan kertas kado dari Kai dengan mata nanar tapi dengan bibir yang menyunggingkan senyuman.

Kai…. mungkin kita tidak berjodoh. Tapi aku yakin, Tuhan menyiapkan jodoh yang lebih baik untukmu. Terimakasih, sudah pernah mengisi hariku, saat Alif tak berada di sisiku. Terimakasih…..

 

***The End***

Diary Kepenulisan – Part 3 (My Lovely Readers)

Comments 2 Standard

01Diary Kepenulisan

Blog ini sudah seperti duniaku.. aku hanya ingin menulis sebagian dari yang ku rasakan di Blog tercintaku ini.. Apapun yang ku rasakan saat aku mulai menulis kisah-kisah yang menurut kalian Romantis.. So.. inilah Kisahku… Kisah sang Author Gaje…

Part 3

My Lovely Readers

 

Hallo.. ketemu sama aku lagi.. heheheh, nggak taulah, malam ini aku lagi galau sekali, jadi nyempatin bikin diary deh.. huehehehhehe. okay, langsung saja. Judulnya My Lovely Readers. jika di tanya “Readers itu apa sih buat kamu??”

Aku akan menjawab jika mereka adalah penyemangatku. ya, mereka benar-benar seperti suntikan penyemangat untukku. saat aku lelah dengan dunia nyata, aku mencoba membuka beberapaa akun sosmedku atau blog ini lalu membaca komen mereka tentang ceritaku, sungguh, lelah itu hilang sudah. aku jadi senyum2 sendiri seperti orang gila, dan semangatku pun bangkit lagi.

Kalian benar2 penyemangatku…

“Lalu, bagaimana jikaa komennya buruk??”

Aku tidak munafik. rasa kesal dan kecewa itu pasti ada saat mendapat komentar buruk, tapi tentu saja itu menjadikanku sosok yang lebih kuat lagi, sosok yang lebih baik lagi tentunya, so, jangan segan2 berkomentar, tapi ingat, haruss dengan kata2 yang baik dan sopan.

Di wattpad sendiri, banyak sekali macam2 Readers. ada yang sangat ramah, suka vote cerita dan komen, suka nyapa2 author kesukaanya, tapi tak sedikit juga Readers yaang bianya hanya mengkritik nggak jelas tanpa memberikan saran, suka jelek2in penulis lainnya.

Come on Girls.. dunia nyata sudah sangat ruwet bin rumit, masak iyaa dunia khayalan seperti tulis menulis juga di buat ruwet kayak di dunia nyata?? kalo nggak suka, Please, silahkan di tinggalkan, gampang toh?? -Bukan hanya berlaku di ceritaku, tapi di cerita2 yang lain juga-

oke, balik pada tema dan aku nggak ngurusin wattpad lagi. aku nulis diary ini malam ini adalah karena aku sedih baca beberapa review di Google playstore. Tidak, bukan sedih karena komennya buruk, tapi aku sedih sudah mengecewakan My Lovely Readers…

Banyak dari pembaca di Playstore (Di cerita Novel dewasa The Lady Killer) yang menuntut aku untuk segera merilis seri kedua the bad boys, yaitu kisah Renno (Because its you).

Dear… sungguh, aku ingin merilisnya, untuk kalian. tapi aku minta maaf banget, karena aku sudah memutuskan jika Because its you dan My Everything TIDAK akan pernah Rilis di playstore.

Kenapa??

Cukup aku yang tau yaa… memang harusnya Because its you sudah bisa kalian download dari bulan 3 lalu, tapi dengan Egois aku menarik kembali naskahku tersebut dengan alasan yang tak perlu ku jabarkan di sini. So, aku benar-benar minta maaf bgt kalau sudah ngecewain kalian, membuat kalian menunggu sesuatu yang memang tak akan datang.

Jadi, lewat tulisanku kali ini, Aku ingin memberikan informasi. jika dari kalian yang baca diaryku ini nyatanya sedang menunggu Noveku Because its you rilis di Playstore, Please, Jangan menunggu lagi. karena sampai kapanpun Mas Renno dan Mas Ramma nggak akan pernah menyusul Kak Dhanni di Playstore. dan kalian cukup membacanya di sini. di Blog pribadi authornya secara langsung. 🙂

 

Terimakasih sudah membaca catatan Gaje ini..

BigHug

 

ZennyArieffka

 

 

Diary Kepenulisan – Part 1 (Awal mula)

Leave a comment Standard

01Diary Kepenulisan

Blog ini sudah seperti duniaku.. aku hanya ingin menulis sebagian dari yang ku rasakan di Blog tercintaku ini.. Apapun yang ku rasakan saat aku mulai menulis kisah-kisah yang menurut kalian Romantis.. So.. inilah Kisahku… Kisah sang Author Gaje…

Part 1

Awal Mula

 

September – 2014

 

Happy Birthday Mas…” Ucapku pada Seorang Lelaki di hadapanku.

IMG_20140929_235331

“Apa’an sih kamu.. Lebbay.” Dengan menjengkelkannya dia berkata seperti itu. ya ampun.. Dasar nggak romantis.

IMG_20140926_140251 “Ya udah lah, kalo nggak mau kuenya.”

“Kue.. Buat apa?? di makan habis juga.”

“Ehhh jangan salah, kalau aku sih nggak akan ngasih kue aja, aku ada hadiah untuk kamu, iya kalau kamu nggak pernah sekalipun ngasih aku hadiah.”

“Kayak anak muda aja pakek hadiah-hadiahan..”

Dan akhirnya aku keluar, mengambil sebuah Bingkisan untuknya. “Taraaaaa….” Ucapku sambil membawa kardus sedang yaang di dalamnya terdapat hadiahku untuknya.

10403016_981644101852139_5425814570130264405_n

Sebuah laptop baru yang bisa di buat untuk memainkan PS 3.. Yaa suamiku itu memang sedang mendambakan PS 3, tapi karena di rumah udah ada PS 2 yang nganggur dan jarang di pakek, akhirnya aku memilih membelikannya Laptop yang bisa di pakai untuk PS 3 sekaligus dipakai menyimpan data-data kami lainnya.

“Apa ini Dek?” Dia terlihat bingung.

“Sini, aku kemaren udah tanya-tanya ama Mas Dafit, katanya ini Laptop bisa buat PS 3, nanti tinggal tak belikan stik nya aja.”

“Beneran nihh?” Dia bertanya kegirangan.

Aku mengangguk dan dia langsung memelukku kayak anak kecil sambil loncat-loncat. Yaa dia memang begitu. Umurnya 10 taun lebih tua dariku, tapi kelakuannya Jauhh di bawahku. wkwkwkwkwk ini aku jujur bukan mendramatisir atau membagus-baaguskan diriku. tapi memang, Sifat asli Mas ku itu kekanak-kanakan, dan dia selalu seperti anak muda. kalian pasti nggak akan percaya kalau banyak yang mengira jika dia itu adikku. Yaa karena aku sejatinya bertampang Boros alias tampag tua, sedangkan dia Babby Face, alias nggak sesuai ama umurnya, hehehhe. Okay lupakan, kembali keceritaku di awal.

Akhirnya setelah menerima hadiahku, Dan belanja lain sebagainya, Mulailah dia memainkan PS 3 nya di Laptop. Aku juga nggak tau seperti apa persisnya, karena aku memang aslinya cuek, dan terlalu malas ngursin urusan Mas apalagi menyangkut kebutuhan laki-lakiannya seperti PS, Gitar, alat pancing, dan lain sebagainya.

mungkin sekitar beberapa minggu setelah aku memberi hadiah itu, Dengan cueknya dia bilang seperti ini padaku.

“Nah Dek, Jual lagi aja. Mana seru main di situ, Layarnya kecil banget.” Katanya datar sambil memberikan Laptop putih itu padaku.

Sedikit kesal aku berkata “Ya udah lah, buang aja. Kamu itu di beli-belikan, nggak terima kasih malah nyuruh jual.” tapi dia nggaak jawab, dan malah lempeng aja ke kamar belakang. Dasar Kutub. Yaa julukanku padanya itu banyak.hehhehe (Jangan di tiru). Dan pada Akhirnyaa Laptop ini pun menganggur lumayan lama.

Waktu itu entah bulan berapa aku lupa, Saat aku Browsing internet, aku baca-baca gitu dehh fansfiction online, novel-novel online juga. lalu aku berpikir, Aahh enak kali yaa bisa nulis gitu? dan malam itu juga aku mencoba menulis..

Awalnya aku hanya nulis fansfiction korea, Yaa, Aku adalah orang yang sangat menggilai korea.. hehehhe Fansfic pertamaku adalah “The passionnate of love”. Kisah cinta antara Wanita penghibur dengan seorang CEO muda. idenya dari pengalaman pribadi teman di dumay ku. tentunya aku kasih bumbu drama gitu.. hehheheh awal bikin itu, Sumpah, Aku sedikit geli. yaa tentu saja, Itu Fansfic erotis, dan Seorang pemula sepertiku nulis adegan ‘Begituan??‘ Astaga…. Belepotan banget dan pastinya banyak baanget kata-kata joroknya hahhahahaha -maklumi saja yaa…-

Aku hanya Post di Blog baru ku ini. Blog yang dulu menurutku akan tenggelam karena nggak akan ada yang mau melirik apalagi membukanya. hehehhe. Akhirnya Aku nulis, dan nulis, walau dengan bahasa berantakan dan EYD yang tak kalah berantakannya, belum lagi jari yang belum terbiasa ngetik membuat Typo semakin bertaburan hahhahah pikirku, Bodo amat lah. nggak ada yang baca juga, toh aku cuma iseng-iseng aja, dari pada ini laptop nggak kepakek kan..  akhirnya aku lanjutin nulis.

Lalu jenuh juga sih, nulis tapi nggak ada yang baca dan cumaa aku dan aku sendiri yang buka ini Blog ku. Akhirnya aku mencoba menshare ceritaku ini di beberapa grup Fansfiction Korea. Namanya Grup FF Big Bang, dan ada juga yang namanya Grup FF All K-Pop kalo nggak salah waktu itu. Dan dari situlah Ceritaaku mulaai ada yang baca..

Haiii para teman-teman K-Pop yang mengenalku dari Grup yang ku sebutka di atas… terimaakasih sekali yaaa kalian bersedia membuka Blog ku ini untuk membaca lanjutan kisah Cinta Kim Joon dan Kang So Ra. terimakasih banyak, karena setelah membaca komentar kalian, aku jadi semangat nulis.

belum selesai dengan fansfic “The Passionnate Of Love,” Aku mencoba membuat Novel Online denga Genree Metropop. Judulnya “The Lady Killer.” Judul itu aku peroleh dari salah satu novel mbak santhy Agatha yang judulnya “Embrace the Chord”. Menceritakan tentang Jason yang menjadi seorang Lady Killer. Nah.. akhirnya julukan Jason tersebutlah yang ku jadikan judul novel online pertamaku.

Awalnya “Lady killer” itu menceritakan kisah Cinta Dhanni dan Maya, baru aku nulis beberapa Page, tulisanku tersebut Hilang, Ke format dan terhapus semua. Streesss sangat Stress.. aku bahkan sudah men screen shoot dan meng upload ke Akun FB ku, tapi nyatanya aku nggak bissa lanjutin itu cerita karena terhapus, Sialan..!!! Aku mencoba nulis lagi, tapi ku hapus lagi, entah kenapa kayak ada yang kurang. dan saat ku bacaa nama tokohnya, Astaga.. benar saja, Dani dan Maya, seakan mengingatkanku pada pasangan Musisi indonesia yang kini sudah bercerai.

Enggak…

Aku nggak boleh pakek nama itu, aku harus ganti. Dan akhirnya ku gantilah nama Maya itu dengan nama Nessa yang sekarang kalian kenal dengan Dhanni Nessa Couple..dhannesss-1_Tlk Cover new

Akhirnya aku mulai melanjutkan cerita Cinta dari Dhanni Revaldi dengan Nessa Arriana ini beriringan dengan kisah cinta Kim Joon dan juga Kang So Ra.

Aku jugaa mulai mengasah ketrampilanku membuat cerita pendek Berbentuk Oneshoot, lalu juga mulai belajar Photoshop untuk membuat Cover2 yang sampai sekarang pun masih belepotan, hhahahhahaha -Maklumi lagi yaa.. wkwkwkwk-

Semakin hari, aku semakin asik dengan dunia baruku ini, Dunia tulis menulis, Dunia yang dulu tak pernah ku pikirkan apalagi ku impikan.

Yaaa Awal mula aku menulis memang hanya karena tak ingin Laptop yang ku hadiahkan dengan suami ini Mubadzir, tak terpakai. dan aku tidak menyangka, jika hanya berawal dari iseng-iseng inilah sedikit banyak aku bisa menghibur beberapa Orang yang tak sengaja mampir di Blog yang sangat ku cintai ini…..

So, Jika ada yang Bertanya. “Kak, kakak kok pinter banget sih nulisnya?? Nulis sejak kecil yaaa??”

Dengan gamblang aku akan menjawab “Enggak Dek, Aku juga baru, dan masih harus banyak belajar lagi, Aku mulai nulis sekitar awal 2015, dan tulisanku pun masih jauh dari kata bagus, Aku masih harus banyak belajar lagi.”

Okay.. hanya itu saja kisahku pada Part Awal mula ini. Masih banyak lagi kisah-kisahku lainnya dalam dunia kepenulisanku ini, Dunia baru yang bagiku bukan hanya sebagaai Dunia khayalan saja. pelajaraan yang bisa di ambil dari part ini adalah lanjutkanlah apapun itu yang membuat hatimu nyaman, karna kamu tak akan tau hasil akhirnya sebelum kamu mencobanya hingga Akhir..

*Salam Sayang…

Zenny Arieffka.. 😉 🙂