The Big Family – The Bad Boys vs The Soulmate (Special Thanks)

Comments 10 Standard

Untitled-1

The Big Family (The Bad Boys Vs The Soulmate)

 

Kamera itu menyala, lalu menampilkn sosok tampan dengan garis wajah Kokohnya..

“Halo… Kalian masih ingat aku kan?? Awas kalau lupa..” Ucap Sosok tersebut lengkap dengan senyuman Khasnya.

Kemudian Kamera tersebut terlihat sedang di rebut seseorang dan oreng tersebut mengarahkan Kamera pada dirinya sendiri. Tampak Wanita cantik dengan tubuh seksinya dan juga senyuman mempesonanya.

“Aisshhh.. Kak Dhanni, Ayo kenalan dulu, siapa tau mereka belum mengenal kita.” Ucap wanita tersebut.

“Oke.. Oke…” Lelaki tadi terlihat mengalah. Kamera lalu di hadapkan kembali pada Lelaki tersebut. Dengan tersenyum hangat,, Lelaki tersebut pun menyapa ke arah kamera.

“Halo.. Aku Dhanni Revaldi, kalau kalian pernah membaca Novel The Lady Killer Karya Author sama dengan Novel ini, Pasti kalian sudah mengenalku, Secara Aku Lelaki yang paling tampan dan Cool Ciptaan Author Zenny.. hahhaha”  ucap lelaki tersebut dengan percaya dirinya lengkap dengan tawa lebarnya.

“Issshh dasar kepede an.” Ucap Wanita di sebelahnya. “Halo.. Aku Nessa Arriana, Orang paling Apes yang menjadi pasangannya Kak Dhanni.” Wanita yang mengaku bernama Nessa itu pun akhirnya terkikik Geli.

“Apes? Ayolah sayang… Jangan menejelek-jelekkanku seperti itu, bahkan Author pencipta kita pun mengakui jika aku adalah Cinta pertamanya di antara sosok-sosok yang di ciptakannya.”

“Ya.. elah Kak… Itu mah karena Author kita aja yang lebbay, lagian wajar ding Kak Dhanni Jadi  Cinta pertama Author, secara Kita adalah karya pertamaa beliau..”

“Kalian sedang meributkan apa sih??” Kali ini suara lelaki lain datang dari arah pintu masuk. Kamera akhirnyaa mengarah pada lelaki tersebut. Tampak sosok yang tampan dengan wajah kalemnya. Itu Renno Handoyo.

“Kak Renno, Sini deh.. kita sedang membuat dokumentasi.” Ajak Nessa,

Renno mengangkat sebelah alisnya, ia lalu menoleh ke belakang sambil sedikit berteriak. “Sayang.. Ayo sini, Dhanni dan Nessa sedang membuat video dokumentasi.”

Kemudian munculah sosok cantik nan anggun tepat di belakang Renno, Dia Allea. “Wah.. dokumentasi untuk apa?”

“Untuk Author dan para readers tersayang kita..” Ucap Nessa sambil terkikik.

“Hemm… tadi enakan hanya kita berduaa, kenapa ngajak mereka sih??” Ucap Dhanni dengan nada Cuek nya.

“Astaga.. Lo serakah banget sih Dhan.. mentang-mentang Fans nya banyak, Di plagiat berkali- kali, di bikinkan Season dua lagi sama Authornya.” Gerutu Renno.

Dhanni tertawa lebar ke arah Kamera. “Ahh yaa.. mumpung kalian melihatku, Aku ingin mengucapkan sesuatu pada kalian, jangan lupa nanti nantikan Kisah keduaku, Judulnya masih sama, ‘The Lady killer 2 –The Married Life-‘.. “

“Malah Promosi lagi nih Anak.” Gerutu Renno. Renno lalu merampas paksa kamera yang di genggam Dhanni kemudian mengarahkan kamera tersebut pada wajahnya sendiri.

“Halo Readers.. masih ingat Aku?? Awas kalo Lupa,” renno mulai menyapa. “bagaimana.,?? Because it’s You cukup menghibur kalian kan?? Setidaknya cerita itu lebih bagus dari pada The Lady Killer kan???” Ejek Renno.

“Heiii.. enak saja, The lady killer yang paling bagus.” Dhanni bersungut-sungut.

“Alahhh.. Kalian jelek semua, yang paling bagus itu My Everything.” Suara lantang memaksa Dhanni Renno Nessa Dan Allea menoleh ke belakang mereka, tepat di dekat pintu terdapat Sosok yang tampan dengan wanita cantik di sebelahnya.

“Sialan Lo Ram.. Cerita Lo yang paling banyak Kritikan.”Ucap Renno dengan nada mengejek. Dan meledaklah tawa semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut..

Lalu Dengan sanatainya Ramma merampas kamera yang berada di tangan Renno. “Halo para Readers apa lagi Readers yang Jones?? Masih ingat Aku kan?? Yaa Aku bad boys yang paling buruk di antara kami bertiga, ramma Aditya, Hahhahaha”

“Nggak usah gitu juga kali Mas..” Ucap Wanita cantik tepat di sebelahnya yang bernama Shasha.

“Ayolah sayang.. kamu jangan cemburu, kita Cuma seru-seruan aja kok.” Kata Ramma pada Shasha. Lalu ramma kembali menatap ke arah Kamera. “Bagaimana My Everything??  Apa sudah cukup Hot?? Hahahah Sorry karena Aku terlalu banyak mengumpat di cerita itu, tapi ya begini lah aku yang sebenarnya. Hahhahahha”

“Heii.. ternyata para orang tua ada di sana.” Siuara tengil itu memaksa menua yang berada di dalam ruangan tersebut menoleh ke Arah pintu. Ternyata di sana sudah ada segerombolan anak muda dengan pasangannya masing-masing. Brandon-Alisha, Reynald-Clara, dan juga Aaron-Bella.

“Dasar Bocah tengil, Kita jadi orang tua kan hanya di novel, ingat, semua sudah tamat, kita seumuran.” Sembur dhanni pada Aaron. Dan semuanya tertawa.

Aaron kemudian meminta kamera yang berada di tangan dhanni, Ia kemudian mengarahkan Kamera ke arah dirinya sendiri.

“Halo.. Aku Aaron, Kalian biasa memanggilku si tengil bukan?? Ohh tapi kalian salah, Aku nggak se tengil yang di tulis Author kok.. hahhahaha” Aaron kemudian mengarahkan Kamera ke arah Wanita di sebelahnya. “Ini Issabella Aditya, Si Putri dingin. Untung saja aku berjodoh sama dia hanya di novel, kaloi di dunia nyata, aku mau sama Authornya aja. Hahhahaha “

Aaron mendapat hadiah jeweran di telinganya dari Bella. “Dasar, memangnya siapa yang duluan suka..?? Awas yaa.. nanti malam nggak ada jatah.” Gerutu Bella.

“Jangan gitu dong sayang, Aku Cuma bercanda.”

Kemudian saat aaron sedang sibuk bertengkar dengan Bella, Kamera di rampas Oleh Reynald.

“Halo.. masih ingat Aku?? Kalian biasa memanggilku Bang Rey..” Reynald tersenyum lalu melanjutkan kalimatnya. “Terimakasih uantuk yang sudah ngasih dukunyan berima Like dan Coment untuk Cerita That Arrogant Princess, mengingat cerita itu sedikit fenomenal saat penggarapannya. Hahhahaha”.

“To the point aja, nggak usah basa basi.” Wanita di sebelah reynald akhirnya ikut menyela dengan nada angkuh khas nya.

“Aisshhh jangan cemberut gitu dong sayang, Ayoo sapa para Readers..” Reynald merayu Clara, sedangkan Clara masih memalingkan wajahnya. “Kamu mau di cap sombong lagi sama mereka??” Tanya Reynald pada Clara.

“Mereka sudah tau siapa aku, untung aja Author nggak kasih lihat Fotoku saat masih kecil, kalo itu terjadi, aku nggak mau lagi lanjutin That Arrogant princess kemarin.” Clara masih menggerutu lengkap dengan bibir manyunnya.

“Astaga.. Wanita ini kalau nggak di gigit pasti nggak akan baikan Moodnya…” Ucap Reynald, dan pada saat itu Reynald memberikan kameranya pada sosok tampan di sebelahnya.

“Halo Readers… Ingat Aku?? Yaa Aku abang paling mesum yang di ciptakan Author Zenny, Siapa lagi jika bukan Bang Brandon si tukang cium sembarangan.. hahahhaha” Ucap Brandon sambil melirik ke arah Alisha di sebelahnya, sedangkan Alisha hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Dasar nggak tau malu..” Ucap Alisha pada Brandon.

“Kamu seperti ayahmu Brand.. “ kata Ramma mengejek.

“Setidaknya aku nggak seperti Om ramma… hahahhaha” dan meledaklah semua yang berada di dalam ruangan tersebut.

“Sialann..Bocah ini..!!” Umpat Ramma yang langsung mendapat cubitan dari Shasha.

“Sudah.. sudah… Sini Kameranya…” ucap Dhanni, Lalu Brandon memberikan kamera tersebut pada Dhanni.

“Halo Readers… Kami di sini mewakili Author untuk mengucapkan banyak terimakasih atas sambutan hangatnya terhadap cerita-cerita yang di buat oleh Author tentang kisah cinta kami…” ucap Dhanni sambil sesekali mengarahkan kamera pada masing-masing pasangan yang berada di dalam ruangan tersebut..

Kamera tersebut berhenti pada Renno dan Allea . “mungkin cerita kami memang sudah tamat, Atau mungkin suatu saat terhapus, atau terlupakan oleh kalian, tapi setidaknya kami berterima kasih, karena kalian sempat menyisihkan sebagian kecil tempat di hati kalian untuk meresapi setiap kisah dari kami.” Ucap Renno dengan  senyuman mempesonanya.

“Dan kami tau, Kisah kami masih banyak sekali kekurangan, Karena memang author yang menciptakan kami masih dalam proses belajar, Lagi pula, Bukankah tak ada yang sempurna di dunia ini?? Itu juga berlaku untuk Kisah kami dan author kita.” Kali ini ramma yang berkata dengan mimik seriusnya.

“Sok serius..” Ucap Shasha di sebelahnya.

“Baiklah, hanya itu saja, terimakasih.. terimakasih dan terimakasihh banyak sekali untuk kalian semua..” Dhanni melanjutkan kalimatnya..

“Heii.. heii heiii… kalian sedang apa ini..” Suara wanita dari arah belakang merekapun membuat semua kepala menoleh ke belakang. Dan tampaklah sosok itu.

“Authoooooooorrrrrrrrrrrr…” teriak para lelaki yang ada di ruangan tersebut sambil menghambur ke arah seorang wanita yang mereka panggil sebagai Author.

Si author itu pun di peluk oleh Dhanni, Renno, Ramma, Brandon, Reynald dan juga Aaron. Sedangkan para wanita yang berada di dalam ruangan tersebut hanya melongo melihat kelakuan para lelakinya. –Aseekkk aku di pelukk jangan iri yaaa.. hahhahahahha-

“Sudah-sudah.. lepaskan.. kalian membuatku sesak.”

“Alah.. Author  alesannya aja, padahal seneng banget kita peluk.” Ucap Dhanni.

“Ahahhahah iyaa suka syekalee…” Ucap si author tersebut.

“Thor.. kenalin diri dong..” kali ini si tengil Aaron yang meminta.

“Baiklah.. demi kalian para laki ganteng yang aku cintai aku akan mengenalkan diriku.” Ucap si wanita tersebut sambil berdiri tegak membenarkan pakaian yang di kenakannya.

“Halo semua.. pasti sudah tau aku kan.. Aku adalah orang yang menciptakan semua Lelaki mesum yang ada di ruangan ini hahhahaha kenapa mesum?? Karena sebenarnya otakku sendiri yang mesuk.. hahhahhaah”  Wanita tersebut tertawa sendiri sedangkan semua yang berada di ruangan tersebut hanya melongo saling pandang tidak mengerti apa yang di tertawakan oleh Author mereka.

“Heeiii kenapa kalian pada melongo?? Ayoo ketawa.” Ucap wanita tersebut. Dan semua yang berada di ruangan tersebut mencoba tertawa meski tidak tau apa yang sedang mereka tertawakan.

‘Dasar Gila…’ Pikir Ramma dalam hati sambil menggelengkan kepalanya. Ia sungguh tidak habis pikir, bagaimana bisa dirinya di ciptakan oleh sosok gila seperti wanita di hadapannya tersebut. Begitu pun dengan Dhanni, Renno, Brandon, Reynald dan Aaron.

“Baiklah, langsung aja, Aku mengumpulkan mereka semua di sini sebenernya Cuma untuk mengucapkan banyak terimakasih.. benar-benar dehh aku nggak nyangka kalau coretan pertamaku yang Judulnya ‘The Lady Killer’ akan membawaku pada kebiasaan menulis seperti saat ini. Komentar kalian.. Vote kalian..  dan semua yang kalian apresiasikan untuk tulisan-tulisan gajeku benar-benar membuatku tersentuh, ingin nangis.. dan seakan aku tidak bisa berhenti untuk menulis lagi dan lagi…”

“Aku menciptakan mereka semua dengan cinta.. karena ku harap kalian bisa menangkap apa yang ingin ku sampaikan. Aku mencintai Kak Dhanni dengan sikap cueknya.. Aku mencintai Mas Renno dengan sikap tanggung jawabnya, Aku mencintai Mas Ramma dengan kegilaannya.. Bang Brandon dengan sifat mesumnya, Bang Reynald dengan sikap pendiamnya, dan juga Bang Aaron dengan ketengilannya. Aku mencintai mereka semua seperti aku mencintai suamiku sendiri.. jadi, Semoga saja rasa cinta ku itu tersampaikan pada kalian.. kalian juga dapat merasakan apa yang di rasakan setiap karakter yang aku ciptakan.”

“Terimakasih.. terimakasih.. dan terimakasihhh sekali ku ucapkan sampai tak terhingga karena sudah mau menerima tulisan2 gajeku ini.. hikkss.. benar2 terharu saya..”

“Sudah yaa thor,, jangan sedih, kamu masih bisa bertemu sama Aku kok.” Ucap Dhanni sambil kembali memeluk Author.

“Ya.. dan walau kita nggak akan bertemu lagi, kita masih tetap setia berada di hati author dan semua readers kok..” Kali ini Renno ikut berbicara.

“Iyaa.. kalian semua akan selalu ada di hatiku.” Si author merenggangkan tangan dan semuanya kembali memeluk Author tersebut. –Ahhahahah enak bgt di peyuk lagi..-

“Oke.. kalau begitu aku tutup dulu yaa..” Ucap Dhanni sambil mengarahkan kamera ke arahnya sedangkan semua orang yang berada di ruangan tersebut tepat berdiri di belakng Dhanni.

“Readers.. kami dari keluarga besar The Bad boys dan juga The Soulmate, mengucapkan banyak terimakasih atas partisipasinya untuk membaca cerita kami.. astaga.. aku tidak bis berhenti berterimakasih, sungguh.”

“Ahh yaa.. dan jangan lupa yaa baca juga Hurt Love Serises, MBA series dan cerita – cerita gaje yang ku buat lainnya.. hahahha” Teriak si Author.

“Dan jangan lupa juga, baca cerita ‘The Married life’ Lady Killer 2.” Ucap Dhanni mengingatkan. “Akhir kata.. kami semua mengucapkan banyak terimakasih dan sampai jumpa di lain waktu….”

Semua orang yang berada di sana menatap ke arah kamera melambaikan tangan masing-masing dengan senyum bahagia masing-masing… lalu… gelap.. kemera itu pun di matikan..

 

‘Terimakasih untuk semuanya… Enam pasang hati yang ku ciptakan dan ku satukan… kalian semua akan selalu ada di hatiku…’

30-06-2016

Zenny Arieffka

Advertisements

My Everything (Novel Online) – Epilog

Comments 8 Standard

mecover1My Everything

#Epilog

 

 

Tiga bulan kemudian…
Aku keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk dan Rambut yang masih basah, Shasha pasti akan mengomel jika melihatku saat ini karena aku sudah membasahi karpet Hello kittynya dengan rambut basahku. Hahha biarlah… aku sangat suka saat melihatnya mengomel.
Tiga bulan pernikahan kami benar-benar sangat membahagiakan, jika tau menikah akan seperti ini aku akan Menikah sejak dulu. Bagaimana tidak, Setiap saat Shasha selalu menghubungiku, menanyakan keadaanku, setiap pagi selalu mebantuku menyiapkan diri keekantor, setiap sore selalu menyambutku, dan Setiap malam selalu bercumbu mesrah layaknya pasangan muda yang di buai asmara –Walau tak setiap malam berakhir dengan bercinta-.
Kehidupanku benar-benar sangat berubah 180 derajat. Jika dulu dalam pikiranku hanya main, bercinta, main, dan Bercinta, maka kini dalam otakku hanya Kerja dan pulang menemui istri cantikku. Beginikah yang dirasakan Dhanni dan Renno..?? Ahhh sialan..!!! Mau tak mau aku harus mengakui jika aku saat ini sama Bodoh dan lembeknya dengan Mereka.
Mengingat nama Renno, aku jadi teringat tentang kejadian beberapa saat yang lalu. Ketika aku dan Shasha mengabarkan kehamilannya untuk pertama kali. Ekspresi Renno saat itu benar-benar sangat lucu, dia menatapku dengan tatapan ‘Sialan..!!! Gue Kecolongan’ dan aku benar-benar tak dapat menahan tawaku saat itu. Hubungan kami semaakin membaik, meski tak ada rasa canggung atau hormat sebagai Saudara, Aku suka itu. Renno sudah sepenuhnya percaya padaku, percaya jika aku benar-benar mencintai adiknya.
Zoya..? tak ada kabar lagi darinya, dan akupun tak mau lagi mendengar kabar darinya atau dari wanita lain mantan kekasihku dulu. Shasha saat ini menjadi wanita pencemburu dan sedikit Rewel, aku tau itu karena kehamilannya, makanya aku tak mau mengambil Resiko dia ngambek karena mengetahui aku masih berhubungan dengan wanita lain.
Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, sejak setahun yang lalu, Aku sudah berhenti menjadi Fotografer, tapi tentu saja aku masih sering membawa kamera meski itu hanya untuk Memotret Shasha yang masih tidur pulas atau memotret kemesraan kami untuk koleksi pribadi.
Perubahan sekarang juga terjadi pada Kamarku. Kamar yang saat ini kutinggali adalah kamarku di rumah Mama, yaa.. aku tinggal di rumah Mama. Keseluruhan warnanya menjadi warna Pink, mulai dari karpet, selimut, Sarung bantal, BedCover, hingga Gorden semuanya berwarna Pink. Aku tak bisa menolaknya karena entah kenapa jika Shasha yang meminta maka aku hanya akan mengangguk dan Takhluk dengan permohonannya. Sial..!!
Masalah Masakan.. Dia masih belum bisa memasak. Masakannya masih aneh. Tapi mama dengan sabar mau mengajarinya untuk memasak, dan aku tau suatu saat nanti dia akan menjadi Istri dan ibu yang sempurna untukku dan anak kami.
Aku meelihat pintu kamar kami di buka menampilkan sossok cantik dengan perut besarnya masuk membawa beberapa barang dari luar.
“Heii apa yang kamu lakukan..? kenapa nggak minta baantuan aku.?” Kataku menghampirinya sambil membawa barang tersebut.
“Kamu saja belum pakek baju Mas, mau bantuin dari mana..? dan ya tuhan… ini sudah jam delapan, kita akan telat nanti.” Dia mulai mengomel.
Saat dia hendak meninggalkanku, aku memeluknya dari belakang. “Kita nggak usah ikut yaa… dirumah saja.”
Dia melepas paksa pelukanku lalu menghadap kearahku. “Kita harus tetap ikut, aku mau piknik Mas.. Sumpek di rumah terus.”
“Tapi aku kasihan sama dia.” Kataku sambil mengusap perut buncitnya.
“Ini permintaan dia, pokoknya kita harus ikut Piknik, titik.” Katanya dengan bibir mengerucut.
Dan aku tak bisa menahannya lagi. Kusambar bibir itu, melumatnya hingga dia terengah-engah. Masalah gairah, jangan ditanya lagi. Kami akan selalu bergairah jika hanya berduaan meski lagi-lagi tak berakhir dengan bercinta. Sial..!!! namun kali ini sepertinya berbeda. Aku menginginkannya saat ini juga, dan dia tak boleh menolak.
Kulepaskan pangutanku dan berbisik di telinganya. “Aku ingin kamu menaikiku saat ini juga.” Dia terlihat sangat terkejut dengan ucapan sensualku, tapi sebelum dia berbicara dengan cerewet lagi aku kembali memangut bibir Seksinya, mencumbunya hingga dia tak mampu menolak permintaanku tersebut.
***
Siang ini kami berada di sebuah taman yang rindang dengan banyak pepohonan dan juga lengkap dengan Danau buatanya. Sejuk dan sangat sejuk. Apa lagi ditemani dengan orang-orang yang kita sayangi.
Disebelah kiri aku melihat Dhanni yang sedang sibuk bermain Bola dengan Jagoan pertamanya, Brandon Revaldi, sedangkan istrinya Nessa, sedang asying menggendong Jagoan kedua Mereka Aaron Revaldi.
Didepaanku, Di jalan setapak dekat Danau, aku melihat Renno sedang mengajari Jagoannya Reynald Handoyo untuk berlari-lari kecil. Reynald Memang sudah bisa berjalan tapi masih sedikit tertatih-tatih. Sedangkan Allea istrinya sibuk menyiapkan makan siang kami. Yaaa… Allea memang bisa diandalkan, dia pandai memasak.
Sedangkan aku sendiri, Ya tuhan… saat ini aku sudah menjadi seorang budak karena sedang memijat betis istriku yang berperut buncit. Dia berdalih, katanya Aktifitas kami tadi pagi sebelum Piknik membuat kakinya pegal. Dan aku hanya bisa menurutinya. Sungguh, aku benar-benar berubah menjadi lelaki Bodoh saat di hadapannya. Sesekali aku mengusap Perutnya, membuat putri kami menendang-nendang. Putri..?? Yaa.. ternyata Anak pertamaku kemungkinan besar adalah seorang Putri. Dan aku bertekat akan menjadikannya Putri terkuat melebihi jagoan-jagoan Dhanni dan Renno.
Aku Sangat bahagia….
Melihat Akhir seperti ini benar-benar membahagiakan untukku. Berkumpul dengan sahabat-sahabatku, berbahagia dengaan orang-orang yang kami sayangi, adalah Hal yang sangat harus di syukuri meski sebenarnya kami tak pernah bersyukur dengan keadaan kami.
Aku tau… Aku Dhanni dan Renno adalah lelaki Brengsek yang tak pantas bersanding dengan malaikat-malaikat kami saat ini. Kami masih banyak memiliki kekurangan mengingat kami bukan lelaki baik-baik. Tapi aku yakin jika Kami akan berubah, kekurangan kami akan tertutupi dengan kelebihan Wanita kami. Karena pada dasarnya tak ada manusia yang sempurna, kita hidup saling berpasangan untuk melengkapi dan menyempurnakan pasangan kita. Itulah yang terjadi denganku Dhanni dan Renno saat ini.
Cinta saat ini bukan menjadi ‘Zona Bahaya’ Bagi kami, kami sekarang menyebutnya sebagai ‘Zona Bahagia’ karena kami bahagia dengan Cinta yang berada di sisi kami saat ini.

 

******

 

Huaaa…. Akhirnya lunas juga nihhh janjiku untuk menyelesaikan Trilogi ini.. Hufft… #NgelapKeringat Cukup panjang yaa perjalanan Dhanni Renno daan Ramma.  Ooo iyaa untuk yang Nungguin My Everything di Playstore, maaf banget yaa… My Everything nggak akan ada Di Playstore karenaa Genrenya Erotis, dan aku akan membuat Versi buku novelnya mulai dari Dhanni Renno dan Ramma.. jadi yang berminat bisa Pesan di aku nanti yaaa (Add fbku atau Like Halaman Fb Dengan Nama Mamabelladraamalovers – Zenny Arieffka )…. hehehe

   10553363_1240602369289643_5792808083769134030_n  Nahhh untuk yang disebelah ini aku kan belum cerita siapa mereka, Merekaa adalah Brandon (Anak Dhanni) Reynald (Anak Renno) dan Aaron (Anak kedua Dhanni). Semogaa aku masih punya banyak waktu penjaang supaya bisa mnyelesaikan kisah mereka. OOppss untuk anak Ramma sendiri tenang.. pasti ada kok… hheheheh. Tapi tentunya nunggu PSWM sama MBE selesai dulu yaaa.. biar yang baca dn yang nulis nggaak pusing 7 keliling.. hahahahha okkk terima kasih banyakk udah mau mampir ke blog ini.. See You Next Story… #KissHugFromAuthor

https://bronzeaid-a.akamaihd.net/BronzeAid/cr?t=BLFF&g=9e33cc87-030f-472d-a74a-348db3f1f264

My Everything (Novel Online) – Chapter 15 (End)

Comments 11 Standard

mecover1My Everything

NB : ye.. ye… ye… Congrulations… Akhirnya ME tamat juga yaa… Walau nggak sekeren atau semanis yang kalian bayangkan, tapi aku cukup senang karena bisa mengEksekusi ME ini dengan sebaik-baiknya (Setidaknya bagiku sendiri hahah). Aku mau ngucapin terimakasih bangett sama yang sudah mau Baca cerita-cerita nggak jelas ini, Yang sudah Rela ngasih Like Atau Coment buat Cerita ini, Yang sudah mau nunggu bahkan membuang tenaga untuk berbaper2an Ria dengan Cerita ini, yang sudah baca Dari Buku pertama hingga Buku terakhir Serial The Badboys ini (mulai dari Dhanni Renno dan Ramma), Yang mau ngasih masukan-masukan dan juga semangat-semangat untukku. terima kasihhhhh bangettt… tanpa kalian aku bukan apa-apa.. Hikksss… 😥 Okk Langsung saja kalau begitu… Ehhyaa… masih ada Epilognya yaa… jadi tunggu Epilognya juga yaaa.. heheheh

Chapter 15

 

“Saya ingin Melamar Shasha Oom.”
Setelah perkataanku itu semuanya tampak hening. Tak ada yaang bersuara satupun.Ada apa.. Apa tak ada yang mau menerimaku sebagai menantu di rumah ini..?
“Oom. Bagaimana..? Saya benar-benar ingin menikahi Shasha Oom.” Kataku lagi karena tak ada sedikitpun Respon dari semua orangyang berada di dalam ruangan ini.
“Nak Ramma yakin dengan ucapan Nak Ramma.?”
“Saya yakin Oom.” Kataku dengan pasti.
“Apa yang membuat nak Ramma yakin.?”
“Saya mencintainya.”
“Hanya itu.?”
“Saya tidak bisa hidup tanpanya.”
“Bagaimana denganmu Sha..?” Kali ini Oom Handoyo menatap Shasha yang kini sedang meremaas tanganku.
“Aku.. Aku sayang Mas Ramma Pa..”
“Pa.. Apa Cinta cukup untuk menjadi modal berumah tangga.?” Kali ini Renno mulai berbicara. Sialan.. dia pasti mengacaukan semuanya.
“Maksud kamu apa Renn.?”
“Aku nggak akan terima dia jika dia hanya melamar bermodalkan Cinta.”
“Lalu.. Apa mau kamu.?” Oom Handoyo masih tak mengerti arah pembicaraan Renno.
“Aku hanya butuh bukti dan kepercayaan.” Jawabnya tegas sambil menatapku dengan tatapan membunuhnya.
“Papa masih tak mengerti.”
“Shasha adalah sesuatu yang sangat berharga di dalam keluarga ini. Aku nggak akan membiarkan seorangpun menyakitinya. Aku hanya butuh bukti bahwa dia berubah dan tak akan menyakiti Shasha lagi..” katanya dengan pasti.
“Saya akan membuktikannya Oom.” Kataku pada Oom Handoyo tapi tatapan mataku terarah pada Renno.
“Dengan Apa.?” Kali ini Renno menantang.
Aku berdiri tepat di hadapannya. “Lo Akan tau, tapi saat Gue sudah memenuhi Syarat Lo, Gue akan tagih Janji Lo ntuk merestui hubungan Kami.”
Renno mengangguk pasti. Aku tau dia tak akan ingkar janji.
Akhirnya malam menegangkan itu di tutup dengan kepergianku. Meski aku belum mendapat jawaban pasti, setidaknya aku senang karena Renno mau memberiku kesempataan untuk membuktikan padanya jika aku bisa berubah.
***
Siang ini aku berada di sebuah Butik langganan Mamaku untuk mengambil baju untuk resepsi pernikahanku besok. Resepsi pernikahan..? Yaaa… Akhirnya besok, hari yang kutunggu-tunggu itu tiba juga.
Ini Sudah setahun setelah kejadian dimalam Aku melamar Shasha di hadapan kedua orang tuanya. Apa kalian fikir aku mendapatkan Shasha dengan begitu mudah..? Seperti Dhanni yang hanya mengandalkan Perjodohan kunonya untuk mendapatkan Nessa..? Atau seperti Renno yang hanya mengandalkan Keadaan yang membuatnya harus bertanggung jawab terhadap Allea..? Ayolah… ini tak sesederhana itu. Bisa di bilang waktu setahun terakhir ini adalah Waktu dimana aku memasuki Neraka. Sialan..!!
Aku benar-benar berusaha sangat keras untuk mendapatkan kepercayaan dari keluarga Shasha terutama Kakak Sialannya itu. Dimulai dari berbenah diri, Aku memutuskan semua kontakku terhadap para wanita-wanita yang dekat denganku entah itu Model atau sekertaris-sekertaris Seksi yang sering kutemui. Aku berhenti menjadi Fotografer, mungkin ini terdengar lebih berani, tapi aku sudah bertekat akan melakukan apapun demi mendapatkan Shasha.
Belum lagi Kantor pribadiku yang saat ini sudah seperti Asrama Pria karena tak ada seorang wanitapun yang bekerja disana. Sialan…!!!
Tak hanya itu. Tak Jarang Renno memperburuk suasana dengan mengadakan Rapat santai disebuah Pub atau mengadakan acara-acara minum bersama disebuah Club dengan wanita bayaran untuk menemani minum disebelah kami. Aku tau dia hanya mengujiku, bahkan mungkin mengerjaiku. Dan aku berusaha sekuat tenaga jika aku tak akan tergoda meski sebenarnya tubuhku berkata lain. Yaa tentu saja aku tergoda dan berakhir Mastrubasi didalam kamar mandi. Sial…!!!
Renno juga membatasi pertemuanku dengan Shahsa, kami hanya bertemu seminggu duaa kali dan itupun harus di ruang tamu mereka.
Shiitt…!!! Dia benar-benar membunuhku.
Larangan Renno hanya berlaku beberapa bulan bagiku, sisanya tentu saja aku melanggarnya. Dengan diam-diam dan mengendap-endap seperti seorang pencuri, aku memasuki kamar Shasha yang berada di lanta dua. Tentu saja aku menyuap beberapa pelayan dan penjaga rumah mereka. Aku tak peduli lagi dengan Syarat Sialan Renno yang terakhir itu.
Pada akhirnya, Dua bulan yang lalu Renno menyerah dan menyetujui Lamaranku. Dia mengakui bahwa kini aku sudah berubah. Yahh tentu saja sudah berubah, berubah total malah. Tak ada kata wanita atau Seks lagi dalam hidupku setahun terakhir ini.
“Ramma..” Suara lembut itu mengalihhkan pikiranku. Jangan bilang kalau itu mantanku.
Aku menoleh kebelakang dan mendapati sosok wanita yang cukup lama tak kutemui. “Nadia.” Yah.. dia Dokter Nadia teman Zoya.
“Heii… lama Nggak ketemu, apa kabar.?” Sapanya.
“Aku baik, kamu sendiri.?”
“Seperti yang kamu lihat, Aku juga baik.” Jawabnya kemudian. “Ramma, apa kita bisa ngopi sebentar.? Ada yang pengen aku omongkan.” Kataanya kemudian.
Aku melihat jaam tanganku, sepertinya ada cukup waktu. “Baiklah, tapi aku tak bisa lama.” Kataku kemudian lalu kami menuju kesebuah Cofee shop dissebelah Butik langganan mamaku.
***
“Kamu ngapain kebutik itu sendirian.?” Tanyanya saat kami sudah duduk menikmati Cofee pesanan kami.
“Aku mengaambil baju pesanan Mama untuk resepsi pernikahanku besok.”
“Apa..? Kamu menikah.? Sama Shasha..?” Tanyanya dengan raut terkejut.
“Kamu tau dari mana tentang aku dan Shasha.?”
“Kamu kan pernah mengajaknya ketempatku untuk memasang kontrasepsi.” Dan aku mengangguk, sejujurnya aku sudaah lupa.
“Ramm, Bagaimana kabar Zoya.?”
Sontak aku menatap mta Nadia. “Harusnya kamu yang tau kabarnya, kamu kan sahabatnya. Aku nggaak tau apa kabarnya dan aku nggak mau tau.”
“Kamu pikir sejak kejadian itu dia mau mengaanggapku sebagai temannya lagi.?”
Aku mengangkat kedua bahuku. “Mungkin.”
Nadia menggeleng. “Dia sangat marah kepadaku karena secara tak langsung aku yang membuat hubungan kalian putus.”
Aku tersenyum hambar. “Sialan..!!! Harusnya dia sadar jika da sendiri yang menghancurkan hubungan kami.” Gerutuku.
“Kupikir dia sekarang berada di rumahnya di Singapore, Apa kamu nggak mau menemuinya..?”
“Untuk apa..? hubungan kita sudah selesai malam itu juga. Aku terlalu muak dengannya apa lagi saat mengingat jika selama ini dia sudah membohongiku.”
Nadia hanya terdiam dambil sesekali memainkan cangkir Cofeenya.
“Nad.. apa benar jika Zoya sebenarnya masih cinta dengan suaminya walau sudah hidup bersamaku saat itu.?”
Nadia menghembuskan nafas panjang. “Sejujurnya aku juga tak tau bagaimana perasaannya, aku hanya berpikir bahwa dia belum mau berpisah dengan Ardi karena setauku Dia masih sering menemui Ardi.”
Sial..!! Ternyata wanita itu benar-benar sudah menipuk selama ini.
“Ramma.. apa nggak sebaiknya kamu berbaikan dengannya, walau kalian nggak mungkin bersama tapi setidaknya hubungi dia, aku benar-benar merasa tak enak dengannya.”
“Maaf Nad.. Aku nggak bisa, aku nggak akan mau mengenalnya lagi.” Kataku dengan pasti. “Emm… Siapa tau kamu nggak ada acara besok, datangah ke resepsi pernikahanku.” Kataku mengalihkan pembicaraan.
Nadia tersenyum. “Aku minta maaf sebelumnya, besok aku juga ada acara lamaran adikku.”
Akupun tersenyum kepadanya. “Baiklah, Sepertinya memang kamu sangat sibuk. Kupikir kita masih tetap bisaberteman walau tanpa Zoya.”
“Tentu saja.” Jawabnya cepat. “Aku masih ingin melihat tampang bodohmu nanti saat kamu mengantar istrimu melahirkan.” Katanya sambil tertawa.
“hahhaha Kamu salah, aku nggak akan memperlihatkan tampang bodohku. Lihat saja nanti.”
Dan begitulah, kami mengobrol sepanjang siang itu… seperti menemukan teman baru. Nadia akan menjadi teman baikku dengan Shasha nantinya, tentunya teman untuk konsultasi masalah Seks dan sebagainya. Sial..!! kenapa aku sudah memikirkan hal itu..??
***
Aku keluar dari kamar Rias mendapati wanita yang sangat kucintai menatapku dengan berlinang air mata. Air mata bahagia tentunya, dia menghampiriku dan memelukku dengan sesenggukan.
“Mama nggak nyangka Kamu sudah gede seperti ini bahkan sudah memiliki istri.” Kata Mama dalam pelukanku. Yaaa wanita itu adalah Mama. Mama tek berhenti menangis haru sejak upacara pernikahan yang terasa sangat sakral tadi pagi. Kini Mama menghampiriku sebelum acara Resepsi dimulai.
“Mama udah Ahh… nanti jelek loh..” kataku menenangkannya.
Mama melepaskan pelukannya. “Ingat, Jadi suami yang baik, janganpernah sakitin istri kamu.”
“Tentu Ma… astaga.. aku bahkan bisa gila saat berusaha mendapatkannya. Aku nggak akan menyia-nyiakannya lagi.” Janjiku pada Mama.
“Permisi, Acara sudah akan dimulai.” Kata seorang yang kuyakini sebagai Wedding Organizer pernikahanku. Aku ngangguk dan mengikuti orang tersebut masuk kedalam Pesta.
Disana sudah ramai sekali orang. Aku melihat Dhanni dengan istrinya sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang yang kuyakini sebagai Klien perusahaan mereka. Dhanni lalu melihat kearahku, dia tersenyum sambil mengangkat Gelasnya. Tak jauh dari sana aku melihat Renno sedang berkumpul dengan keluarga besarnya, yang kini juga sudah menjadi keluarga besarku. Dia menatapku, tersenyum lalu mengangkat gelasnya juga untukku seperti yang dilakukan Dhanni. Aku tersenyum melihat tingkah Mereka.
Tiba-tiba kurasakan tanganku di genggam oleh sebuah tangan Mungil Nan lembut. Menoleh kesebelahku dan aku sudah mendapati Shasha berdiri dengan Anggun dan cantiknya. Sialan..!! dia benar-benar sangat cantik. Dan dia milikku.
Kami menuju ketengah-tengah pesta, Berbaur bersama, berdansa bersama, nuansa hitam menyelimuti ruangan ini karena tema dari resepsi kami adalah ‘Dark Heaven’ jadi seluruh tamu di wajibkan mengenakan pakaian Hitam.
Begitupun dengan aku Dan Shasha. Aku mengenakan Tuxedo hitamku yang kata Mama terlihat sangat gagah saat kukenakan, Dan Shahsa, Ya tuhan.. aku tak dapat berkata-kata lagi. Dia terlihat sempurna. Dan sepertinya aku tak bisa lama-lama berada di dalam Pesta ini.
***
Malam ini aku masih harus pulang kerumah Shasha, dan baru besok pagi kami akan pindah kerumahku. Shasha masih membersihkan diri di kamar mandi, sedangkan aku masih sibuk mengatur peralatan kami kedalam Koper. Tiba-tiba aku mendengar pintu diketuk. Kubuka dan mendapati Sosok itu, Sosok yang beberapa bulan terakhir ini menjadi Sosok yang menyebalkan untukku, Renno.
“Bisa keluar sebentar.?” Ajaknya kemudian, aku tak menjawab, aku hanya mengikutinya dari belakang.
Dia menuju kesebuah Balkon yang berada di tengah-tengaah antara kamarnya Dan kamar Shasha. Mau apa dia mengajakku kemari.? Apa dia ingin memberi Syarat sialannya lagi.?
“Gue nggak nyangka Kalo Lo yang bakalan jadi Adek ipar Gue.” Kata Renno tiba-tiba. Aku hanya Diam mendengarkan semua ocehannya. “Ramm, Shasha sangat berarti buat Gue, Gue Harap Lo….”
“Renn.” Aku memotong kalimatnya. “Shasha juga sangat berarti buat Gue, Gue nggak mungkin ngotot melakukan semuanya sampai saat ini jika Gue nggak benar-benar sayang sama Dia.”
“Gue Ngerti, Gue Cuma…”
“Renn… Gue tau Lo sayang sama Shasha, Lo nggak mau dia tersakiti, Tapi Please… Kali ini pegang janji Gue, Gue nggak akan nyakitin dia, Gue akan berusahaa sekeras mungkin untuk membahagiakanya. Gue janji.” Kataku dengan sungguh-sungguh.
Renno menepuk bahuku. “Gue percaya sama Lo.” Aku menghembuskan nafas lega. “Ramm.. gimana, Apa Lo menikmati siksaan Gue setahun belakang ini..??” Tanyanya yang kali ini disertai dengan senyuman mengejeknya.
“Sialan Lo..!! Gue sudah seperti masuk Neraka.” Dan kamipun lalu tertawa terbahak-bahak bersama. “Thanks Renn.. Lo mau kasih Gue kesempatan.” Kataku lagi dengan serius.
“Itu sebagai imbalan, jadi sekarang kita impas.”
“Imbalan apa maksud Lo..?”
“Imbalan karena Dulu Lo mau minjamin Apartemen Lo ke Gue, dan Akhirnya Gue Bertemu dengan Allea disana.” Aku mengangguk.
“Itu Takdir Renn yang mempertemukan Kalian, Sama seperti Dhanni dan Nessa, atau Gue Dan Shasha. Semua karena takdir.”
“Sialan..!!! Sejak Kapan Lo bisa bicara lebbay kayak gini..? Hhahaha”
“Brengsek Lo.” Umpatku kemudian. “Renn.. Apa Gue harus panggil Lo Kakak..?” Tanyaku dengan wajah sok serius. Kami saling pandang dan terdiam sebentar lalu mulai tertawa terbahak-bahak lagi.
“Hahhaha Brengsek Lo..!!” Kali ini Renno yang mengumpat kepadaku masih dengan tertawa.
“Heiii.. kalian Sedang apa.? Ini sudah malam, Mas… Reynald Nanti bangun kalau kamu teriak-teriak kayak gitu lagi.” Allea menegur kami.
“Ooo iya sayaang aku lupa.” Renno lalu Meninju bahuku. “Gue Balik dulu, istri Gue sudah marah-marah.”
“Ok… Gue juga harus balik, Karena ada Hal yang harus Gue lakuin dengan istri baru Gue.” Kataku sambil menyeringai.
“Sialan Lo..!!” Umpatnya.
***
Aku kembali kekamar, dan sudah mendapati Shasha yang sudah duduk manis dan masih mengenakan Juba mandinya. Dia terlihat segar. Dan Astaga… mengingat ini malam pengantin kami, Gairah langsung menyelimuti tubuhku.
Aku menuju kearahnya dan duduk disebelahnya. Aku menggenggam tangannya dan sesekali mengecupnya. Shiitt…!!! perasaan apa ini.? Kenapa aku jadi segugup ini..? tanpa kusangka tiba-tiba Shasha duduk diatas pangkuanku. Membuka dua kancing atasku. Sialan..!! ini terlihat begitu Erotis, dan dia terlihat begitu menggairahkan.
Aku menggenggam telapak tanganya. “Aku belum mandi sayang..”
“Tidak perlu mandi.”
“Kamu ingin aku melakukannya tanpa mandi..?”
Dia mengangkat sebelah alisnya, “Siapa bilang aku ingin melakukannya.?” Katanya dengan suara manja, “Aku hanya mau menggodamu saja.” Lanjutnya lagi.
“Beneran..?” Kali ini aku yang menggoda.
Dia mengangguk dengan pelan. Aku ingin menjawab namun dia menutup mulutku dengan telunjuknya. “Mas Ramma, Aku tau mungkin kamu akan bosan mendengarkan ini, Tapi aku hanya ingin bilang jika dari dulu aku mencintaimu, tak bisa berpaling darimu, dan kamu sudah seperti segalanya untukku, jadi aku mohon jangan pernah tinggalin aku.” Katanya dengan sungguh-sungguh.
Aku menangkup kedua pipinya. “Harusnya aku yang berkata dan memohon seperti itu. Aku mencintimu sejak dulu, kamu juga sudah seperti segalanya untukku. Jadi sebrengsek apapun aku nanti, aku mohon tetaplah bersamaku, jangan pernah tinggalin aku.”
“Jadi, ini sudah seperti janji kita berdua..?” tanyanya dengan polos.
“Tentu saja sayang.” Jawabku dengan mencubit pipinya. Lalu aku memeluknya, memeluknya dengan erat. “Makasih Sayang.. kamu sudah mau nunggu aku dan mau melalui semua kerumitan ini untukku.”
“Aku juga berterimakasih karena kamu mau kembali padaku Mas,.. Kembali mengakui bahwa kamu memang mencintaiku sejak dulu.”
“Dulu, sekarang dan seterusnya.” Ralatku.
“Baiklah-baiklah… terserah Mas Ramma saja. Tapi ngomong-ngomong, apa bisa pelukannya nggak seerat ini..? Kami nggak bisa bernafas.”
Dan aku tersenyum mendengar pernyataannya. Tapi tunggu dulu, Kami..? Apa maksudnya..? Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya dengan tajam.
“Kami..?” Tanyaku dengan sedikit heran.
Dia meraih telapak tangan kananku lalu membawanya keperutnya. Aku menatapnya dengan ternganga. “Me And Her.”
“Her..?” tanyaku lagi kali ini dengan nada tak percaya.
Yes.. Kupikir dia seorang Princess.” Katanya dengan pasti.
“Princess.?” Aku masih tak percaya dengan apa yang dikatakannya.
Dia tersenyum kearahku. “Kamu nggak Shock Kan Mas..?”
“Maksud Kamu.. Kamu.. Hamil..?”
Dia terkikik melihat ekspresi bodohku. “Yaa… Sudah Dua belas minggu.” Bisiknya ketelingaku.
“Apa..?” aku sedikit berteriak. Menatapnya masih dengan tatapan tak percaya. “Kamu nyembunyiin semua ini dariku..?”
“Aku hanya mau kasih kamu kejutan.”
“Bagaimana dengan yang lain.?”
Dia masih saja tersenyum melihat tingkahku. “Nggak ada yang tau, kamu orang pertama yang kukasih tau.”
Lalu tanpa banyak bicara lagi kupeluk kembali tubuhnya, menciumi leher jenjangnya. “Kamu nakal.” Bisikku di telinganya. Aku melepaskan pelukanku, lalu manatap perut datarnya, mengusapnya dan menciumnya lembut.
Sialan..!!! Aku akan jadi ayah.. Aku akan jadi ayah… dan ini benar-benar sangat membuatku bahagia. Membuatku tak bisa berkata apa-apa lagi.
Aku menatap Shasha penuh dengan kasih sayang, begitupun tatapannya terhadapku. “Terimakasih, Kamu sudah memberikan semuanya untukku. Aku nggak tau harus bilang apa lagi terhadapmu.”
Dia menangkup kedua pipiku. “Kamu cukup bilang mencintaiku setiap Harinya, dan aku akan sangat senang dan berterima kasih terhadapmu Mas..”
“Yaa.. aku akan mengatakannya, aku akan mengatakan itu setiap hari untuk kamu.” Kataku dengan semangat.
“Mengatakan Apa..?”
“Mengatakan Bahwa aku mencintaimu, Nattasha Handoyo.”
Kataku dengan pasti, kaami sama-sama tersenyum, lalu tanpa pikir panjang lagi aku mendekatkan bibirku kepada bibirnya, lebih dekat hingga ciuman ini tak terelakkan lagi. Ciuman Lembut dan manis, seperti kebahagiaan kami saat ini.

 

___END___

 

 

10553363_1240602369289643_5792808083769134030_n

Btw… Ada penampakan Cowok2 ganteng Nihhh… hahhahahah See You Next My Story… 😀 :*

 

My Everything (Novel online) – Chapter 14

Comments 9 Standard

MEposter1My Everything

Chapter 14

Renno sialan..!!!
Bisa-bisanya dia menarik Shasha begitu saja dari genggamanku, tak peduli dia menangis dan meringis kesakitan. Apa itu yang disebut dengan seorang Kakak..? Aku tau jika Renno melakukan itu untuk melindungi Shasha dariku yang Brengsek, tapi apa Renno tak bisa membuka mata jika aku juga bisa berubah seperti halnya dia dan Dhanni..?? ini tak adil untukku. Dia menghakimiku dengan apa yang sudah kuperbuat selama ini, padahal aku yakin jika aku bisa memperbaiki semuanya jika itu dengan Shasha..
Dan aku.? Apa aku benar-benar sudah berubah menjadi lelaki yang super bodoh karena aku diam saja saat melihat kekasihku diseret dengan paksa oleh Kakak sialannya..? ingin Rasanya saat itu juga aku menghadiahi Renno dengan Bogem Mentahku, tapi aku masih harus ingat, jika aku harus menghormatinya, Bagaimanapun juga aku ingin dia menjadi Kakak iparku kelak. Aku tak punya pilihan lain selain hanya diam dan mengikuti mereka dari belakang.
Aku mengikutinya hingga sampai di depan Mansionnya. Tentu saja aku tak dapat melihat Shasha dari sini. Aku berusaha menghubunginya tapi Ponselnya tak aktif. Ada apa dengannya..?? Aku benar-benar sangat khawatir terhadapnya. Dan pada Akhirnya aku ketiduran disini, didalam mobilku didepan Mansion Shasha hingga pagi.
***
Masih tak mendapat kabar dari Shasha akhirnya pagi ini aku memilih untuk pulang, mandi, ganti baju lalu bergegas menuju kekantor Renno. Sialan..!!! dia benar-benar mengacaukan semuanya. Aku harus menghampirinya dan menjelaskan semuanya terhadap Si Renno.
Lama aku menunggu Renno didalam ruangannya. Sial..!! dia pasti terlambat lagi hari ini. Tapi aku tetap setia menunggunya. Hingga saat inipun tiba, saat dimana Renno datang di hadapanku dan menatapku dengan tatapan membunuhnya.
“Sedang apa Lo disini.? Kita nggak ada Rapat.” Katanya dingin. Sialan..!!
“Ayolah Renn, Lo tau ngapain Gue kesini.”
“Jika itu menyangkut Shasha, Lupain. Mending Lo Keuar dari ruangan Gue.” Kali ini dia berkata sambil dengan santainya duduk di kursi kebesarannya.
“Sialan Lo..!! Gue pengen Ngomong Baik-baik.” Dan aku tak dapat menahan Emosiku lagi.
Dia Menatapku tajam. “Ramm, Lo lupain semua ini, Lo gila, Lo brengsek, Dan Shasha nggak pantes Buat Lo.”
Aku tersenyum mengejek saat mendengar ucapannya. “Apa Lo terlihat bener.? Apa Lo nggak Brengsek..? Apa Lo pantas bersanding dengan Allea.?”
Kini Renno Sudah terpancing oleh perkataanku. Dia menggebrak meja dihadapannya dengan kedua tangannya. “Sialan..!!! Jangan Samakan Hubugan Gue dan Allea dengan Lo, Bagaimanapun juga Gue sudah berubah.”
“Dan apa Lo tau Gue Bisa berubah atau tidak..?” Tanyaku lantang.
Tiba-tiba pintu di buka oleh seseorang. “Kalian kenapa.?” Tanya orang tersebut yang tak lain adalah Dhanni.
“Bawa dia pergi, Gue Malas bicara dengannya.” Kata Renno dengan angkuhnya.
Aku tersenyum miring. “Lo nggak berani nyelesein ini kan..?” Renno hanya terdiam.
“Sebenernya kalian Kenapa.? Sialan..!! kalian sudah seperti anak gadis yang berebut boneka dengan temannya. Nggak malu kalian sama umur.?”
“Gue Cinta Shasha dan dia mempersulit kami.” Kataku terang-terangan.
Kali ini Renno tertawa mengejek. “Sejak kapan Lo kenal Cinta.?”
“Dan Sejak kapan juga Lo kenal Cinta.?” Aku balik bertanya padanya.
Dhanni menghembuskan nafas kasar. “Sialan..!!! Ramma, sejak awal Gue sudah bilang sama Lo, Tinggalin Shasha, dia nggak pantes untuk Lo, dia terlalu lugu.”
“Lalu apa Nessa pantes Untuk Lo..? Apa Allea pantes untuk Dia..? Kalian Nggak Ngaca, kita sama-sama Brengsek. Jika kalian bisa berubah, kenapa Gue enggak.”
“Oke.. Gue Akui, perkataan Lo memang bener, kita bertiga memang sama-sama brengsek, tapi setidaknya Gue Dan Renno bisa membuktikan kalau kami bisa berubah.”
“Dan Gue akan Buktikan pada kalian Kalau Gue juga akan berubah.” Jawabku cepat.
Dengan tersenyum Renno berkata “Gue masih nggak percaya.” Sialan..!! Nampaknya Renno benar-benar berniat untuk mempersulitku.
Aku sudah mengepalkan tanganku. Ingin Rasanya mendaratkan Pukulan kerasku ini tepat diwajahnya. Memukulinya habis-habisan hingga dia minta ampun. Sialann..!!!
“Renn, Lo juga nggak bisa gitu, Bagaimanapun juga kita harus Kasih Ramma kesempatan, Bukankah Allea pernah kasih kesempatan sama Lo saat Lo punya salah padanya..?” Pernyataan Dhanni terdengar sedikit membantuku. “Dan Lo Ramm. Kalo Lo benar-benar Cinta Shasha, Buktikan, Bagaimanapun juga Shasha seperti Adek Gue sendiri, Dan Gue nggak mau Shasha jatuh di tangan Orang yang salah.”
“Gue Akan Buktikan.” Kataku dingin dan tajam lalu meninggalkan mereka begitu saja. Sialan..!! bisa-bisanya mereka berdua Kompak memojokkanku.
Aku merogoh saku dan mengambil Ponselku, Semoga Saja Ponsel Shahsa sudah Aktif. Saat kulihat, aku mendapat pesan dari Shasha.
‘Mas.. Aku di Apartemen.’
Pesan singkat namun Mampu membuatku tersenyum di tengah-tengah emosi yang melandaku.
***
Masuk kedalam Apartemen aku mendapati Shasha sedang berkutat dengan peralatan dapur. Apa dia sedang memasak..? Tanpa banyak bicara lagi kuhampiri dirinya dan kupeluk tubuhnya dari belakang. Dia sedikit terkejut dengan tingkahku.
“Kamu nggak apa-apa Kan.? Apa dia nyakitin kamu.?” Tanyaku Khawatir.
Shasha menggeleng. “Aku hanya tak suka sikap Kasarnya Mas… Mas Renn bahkan tak saling tegur sapa dengan Mbak Allea pagi ini. Dan itu gara-gara aku..” dia menangis.
Aku membalik tubuhnya dan kembali memeluknya, kini dia terisak di dadaku. “Kita akan Menyelesaikan semuanya, kita pasti bisa melewati semua ini.”
“Aku takut.. Aku takut Mas Renn nggak akan membiarkan kita bersama.”
Aku menangkup Pipinya. “Lihat aku. Jika Dia tetap bersikeras tak mengijinkan hubungan kita, aku akan membawamu kabur, Kita kawin Lari.”
Dia terlihat terkejut. “Benarkah..?”
“Kamu Nggak mau.?” Aku bertanya balik.
Dia lalu tersenyum, “Sepertinya itu bukan ide buruk.”
Aku mencubit pipinya, “Nah.. gitu dong.. jangan nangis Lagi.” Lalu aku kembali memeluknya. “Aku akan berusaha semampuku Sha… Walaupun nanti aku Gagal, Aku nggak akan membawamu kawin lari. Aku menghormatimu sebagaimana aku menghormati Kakak sialanmu itu.”
Lalu dia terkikik di dadaku. “Mas Renn Nggak sialan.”
“Yaaa bagiku dia sialan. Dhannipun sama. Tak ada satupun orang yang mendukungku.”
“Aku mendukungmu Mas..”
Lalu aku mencubit hidung mancungnya. “Kamu nggak termasuk sayang..” lalu aku mengecup bibirnya, bibir yang kurindukan. “Ehhh… tunggu dulu, Ngomong-ngomong.. ini bau apa..?”
“Bau..?” Dia nampak berfikir. “Astaga… Ayamku…” Teriaknya sambil menuju kekompor yang tak jauh di belakangnya.
***
Kami kini sudah duduk berhadapan di meja makan dengan Ayam Rica yang sudah gosong di tengah-tengah Meja. Aku menatap wajahnya yang terlihat lucu bagiku. Raut sedih, menyesal, dan malu bercampur menjadi satu membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Aku tersenyum saat melihat gadis di hadapanku ini seakan terlihat merajuk.
“Kenapa malah Ketawa.?”
“Kamu lucu.” Kataku masih dengan tersenyum.
“Aku bodoh, masak ayam saja Gosong.” Runtuknya.
“Itu salahku sayang.. kalau aku nggak nggodain kamu pasti hasilnya nggak kayak gini.”
“Sama aja, kalau aku nggak tergoda juga nggak akan kayak gini.”
Aku menghembuskan nafas panjang. “Oke.. karena kita sama-sama salah, bagaimana kalau kita makan siang diluar saja..?”
“Tapi…”
“Aku yakin kamu pasti suka.”
***
Aku memarkirkan Mobilku dihalaman sebuah Rumah besar bercat putih.
“Rumah siapa Ini Mas..?” Tanya Shasha sedikit heran.
“Rumahku.” Kataku sambil tersenyum. Lalu membuka pintu mobil, keluar, dan membukakan pintu mobil untuk Shasha.
“Katanya tadi mau makan diluar, kok kesini..? Kita mau apa kesini.?”
“Kamu nggak mau kenal sama Orang tuaku.?” Seketika itu juga aku melihat raut gugup dari wajahnya. “Kamu tenang aja, mereka baik kok.”
Dia hanya mengangguk. Dia meremas telapak tanganku yang sedang menggenggamnya, tangannya basah penuh keringat. Astagaa.. aku tau kalau dia gugup. Sangat gugup malah.
“Aku… sepertinya aku..”
“Kenapa.?”
“Entahlah.. perutku terasa penuh.”
Dan aku tertawa mendengar ucapan polosnya. “Kamu gugup sayang. Ini bukan pertama kalinya kamu ketemu sama mereka, jadi santai saja.” Lagi-lagi dia hanya mengangguk.
Kami masuk kedalam Rumah, kukira mama masih terbaring di Kamar karena baru keluar dari rumah sakit. Nyatanya saat ini dia sedang membantu para pelayan menyiapkan makan siang.
“Mama..” Kataku sambil berjalan kearahnya dan Memeluknya.
“Hai sayang.. tumben kamu pulang jam segini.?”
“Aku pulang membawa Calon menantumu.” Kataku sambil menunjuk Shasha dibelakangku yang wajahnya sudah pucat karena perkataanku. Dia lucu..
“Halo sayang, lama tak bertemu. Pasti kamu susah sekali yaa menghadapi Ramma, dia memang begitu, kamu harus banyak sabar.” Celoteh Mama yang langsung memeluk Shasha dengan Akrab. Sedangkan Shasha terlihat sangat Kaku sekali. Sungguh, aku benar-benar ingin tertawa saat melihat Ekspresinya saat ini.
***
“Is My Room.” Kataku sambil mempersilahkan Shasha masuk kedalam kamarku. Dia masuk dan melihat-lihat semua perabotan didalam kamarku.
“Mas Ramma suka Kartun.?” tanyanya sambil melihat-lihat Miniatur Kartun koleksiku. Aku hanya mengangguk. Sambil mengekorinya. Lalu dia berjalan kearah Lemari yang penuh dengan Koleksi Kameraku. “Suka Kamera juga,?” Tanyanya lagi.
Kali ini aku mengangguk sambil tersenyum. “Aku Fotografer, pastinya suka dengan kamera.”
“Oww….” Dia terlihat salah tingkah.
Aku menggenggam tangannya. Mengajaknya kedepan sebuah lemari yang berada di ujung ruangan, membuka lemari tersebut dan mengeluarkan sebuah kardus besar yang ada didalamnya.
“Apa ini..?” Tanyanya tak mengerti.
“Bukalah.”
Dan ketika dia membuka Kardus tersebut, dia ternganga dengan apa yang di lihatnya. Sebuah Kardus besar yang penuh dengan Foto dirinya. Itu Koleksi foto Shasha yang kumiliki yang sudah kubersihkan dan kusimpan rapat-rapat. Dulu tanpa ia Sadari Shasha menjadi objek Fotoku. Aku memotretnya setiap hari setiap waktu, dan au baru sadar jika kebiasaan itulah yang membuatku tak memiliki perasaan ini dan tak bisa jauh dari dirinya.
“Astaga.. kenapa bisa..”
“Masih banyak lagi, sebagian ada di ruangan khusus di Studio fotoku.” Ujarku penuh dengan kejujura.
“Tapi… Mas Ramma kenapa bisa…”
Aku menggenggam tangannya. “Sha… ini salah satu bukti jika aku Mencintaimu dari dulu sekarang dan seterusnya, aku memang pernah menyakitimu dan memungkiri perasaan ini, tapi nyatanya perasaan ini masih sama seperti dulu. Aku tak bisa berpaling darimu Sha..” kataku menjelaskan. “Sha… Aku sungguh-sungguh dengan perkataanku tadi saat makan malam.” Kataku kini sambil menatap tajam bola matanya.
Siang ini dia berada di rumahku, Mama mengajaknya makan siang lalu berbincang hingga Sore. Bahkan tadi Shasha membantu Mama menyiapkan makan malam. Tadi saat makan malam, aku kembali melamar Shasha di hadapan Orang tuaku. Aku ingin dia tau bahwa aku sungguh-sungguh. Mama terlihat sangat senang, begitupun Papa. Sedangkan Shasha masih diam membatu. Aku tak tau apa yang dia fikirkan. Apa kini dia Ragu terhadapku..? padahal aku hanya butuh jawabannya. Jika dia menjawab iya, aku Akan menjalankan Langkah selanjutnya.
“Mas… Hubungan kita Rumit, Mas Renn…”
“Sha… aku butuh jawaban kamu berupa sebuah dukungan.” Aku memotong kalimatya. Aku menatap wajahnya dengan intens. “Sungguh, Aku benar-benar Gila karena kamu, aku nggak bisa jauh darimu. Kamu masih mau kan meneria lamaranku.?” Tanyaku lagi.
“Tapi Mas Renn..”
“Aku akan urus dia, Aku hanya butuh kepastian dari kamu.”
Dia menunduk, lalu menjawab dengan pelan. “Aku mau Mas..”
Dan tanpa banyak bicara Lagi kusambar bibir mungilnya yang sejak tadi sudah menggodaku. Sedikit demi sedikit kudorong tubuhnya kebelakang hingga terjerembab diatas ranjangku. Dia menikmatinya, aku tau itu, dia membalas ciuman panasku sambil sesekali mengacak Rambutku.
“Sial.. Aku menginginkanmu sekarag juga.” Racauku sambil mengecupi rahang dan lehernya.
“Hemmbbb….” Hanya itu jawabannya. Dan tanpa banyak bicara lagi kulanjutkan apa yang sedang kulakukan, mulai melumatnya, menghisapnya dimana-mana. Lalu tiba-tiba aku tersadar jika ini salah. Bukan, Maksudku aku tak bisa bercinta dengannya disini.
Aku melepaskan Cumbuanku membuatnya menatapku dengan tatapan tanda tanya. “Emm… Maaf, Kita nggak bisa melakukannya disini.” Kataku masih dengan suara Parau penuh gairah.
Sial…!!! siapa Suruh tadi aku mencumbunya.? Aku bangun dan duduk di pinggiran ranjang. “Aku tak pernah bercinta di rumah ini, Mama bisa jantungan kalau melihatku ngapa-ngapain kamu disini.” Jelasku.
“iyaa.. aku mengerti.” Jawabnya denganmembenarkan letak bajunya yang berantakan karena ulahku. Sialan…!!!
***
Kali ini giliranku yang Gugup. Keringat dingin tak berhenti keluar dari dahiku. Perutku terasa mulas, tanganku bahkan sedikit gemetar. Kenapa seperti ini..? Malam ini aku mengantar Shasha pulang. Tentu saja aku memiliki tujuan saat mengantarnya.
“Ehh.. Kamu sudah pulang sayang.” Kata wanita paruh baya yang sedang membukakan pintu rumahnya, dia Tante Ria, Mama Renno dan Shasha.
“Lohh.. ada Nak Ramma.” Tante Ria sedikit terkejut saat melihat aku berada di sebelah Shasha, bahkan saat melihat telapak tangan kami saling bertautan satu sama lain.
Aku tersenyum seramah mungkin. “Malam Tante.. Oom nya ada.?”
“Ada.. kebetulan ada di rumah. Nak Ramma ada perlu.?”
“Iya Tante, saya ingin berbicara sesuatu dengan Oom.”
“Ayoo masuk, jangan diluar saja, biar Tante panggil Oom nya.”
Lalu akupun masuk, duduk di ruang tamu dan Shasha masih di sampingku. Dia duduk tak kalah gelisah dariku.
“Ada apa nihh Nak Ramma kok datang malam-malam gini.?” Tanya Oom Handoyo yang kini sudah berada di ruang tamu. Aku berdiri, bersalaman dengannya dan mulai berbicara ketika beliau sudah duduk.
“Ini Oom.. Saya….”
“Ngapain Lo kesini.?” Sial..!!! itu suara Sialannya si Renno. Harusya aku yang tanya, ngapain dia disini. Mengganggu orang saja.
Aku melihat Renno yang menatapku dengan tatapan penuh amarah, apalagi saat melihaat Shasha meremas tanganku seperti orang yang sedang ketakutan.
Tanpa menghiraukan Renno, Aku kembali menatap Oom Handoyo, berkata dengan tegas dan pasti dalam sekali tarikan Nafas. “Saya ingin Melamar Shasha Oom.”

_TBC_

Bagaimana..?? ada yang udah berhenti penasaran…?? heheheh ooiyaaa sedikit info bahwa Next Chapter adalah Chapter terakhir, tapi tenang saja.. masih ada Epilognya kok… jadi masih 2X Post yaa… hehheeheh selamat menunggu…!!! 🙂 😉

My Everything (Novel Online) – Chapter 13

Comments 6 Standard

me12My Everything

Chapter 13
-Shasha-

 

 

Saat ini aku sedang mengobati luka yang ada di ujung bibirnya. Kami sama-sama diam sejak di dalam mobil tadi. Rasa canggung bercampur dengan gugup di tambah perasaan rindu yang menggebu-nggebu bercampur jadi satu didalam diriku. Aku ingin memeluknya, sungguh… aku benar-benar merindukannya.
Setelah berpisah, aku sama sekali tak tau harus berbuat Apa. Sedikit terkejut saat diaa kembali dan berkata jika dia tak bisa meninggalkan wanita itu. Tapi aku sadar, mungkin ada suatu alasan yang mendasarinya. Aku melepasnya dengan ikhlas meski sebenarnya hatiku sangat berat menerima kenyataan itu.
Aku mendengar kabar jika ternyata dia akan menikahi Wanita itu. Dia mencampakanku dan ingin menikahi wanita itu, Sungguh, hatiku sangat sakit, sakit yang berkali-kali lipat kurasakan dari pada sakit yang telah kupikul beberapa tahun belakangan ini. Tapi tetap saja, aku tak dapat membencinya, Dia membekas dihatiku, Rasa sakit itu seakan menjelma menjadi butiran-butiran cinta Kecil yang lalu menumpuk dalam hatiku, Pada Akhirnya bukan rasa benci yang kurasakan padanya, tapi rasa Cinta yang semakin membumbung tinggi hingga hatiku seakan-akan tak sanggup lagi menerimanya. Aku harus bagaimana..? Apa yang harus kulakukan dengan rasa Cinta sebanyak ini..??
Hari-hari yang kulalui berubah menjaadi Suram, tak ada harapan lagi untukku hidup apalagi mengenal cinta lagi. Separuh jiwanya kubawa pergi tapi dia juga tak sadar jika dirinya juga membawa separuh jiwaku pergi bersamanya. Aku hanya mencoba menjalani hari-hari dengan biasa walau sebenarnya aku sudah sangat putus asa.
Aku tau jika dia mengunjungiku setiap harinya. Kami sama-sama saling menatap, saling melempar senyum, seakan-akan saling mengatakan jika kami baik-baik saja walau sebenarnya kami sama-sama hancur, sama-sama terluka.
Aku tak sadar jika luka ini lama-lama mengikisku, Merubahku menjadi sosok yang berbeda, yang lebih dewasa hingga diriku sanggup menerima semuanya. Mbak Allea selalu bilang, jika Cinta memiliki jalannya masing-masing. Aku percaya, Sungguh aku percaya itu. Tapi bagaimana jika Cintaku menemui jalan Buntu..?? bagaimana jika aku tak sanggup dan aku memilih menyerah ketika aku menemui jalan yang sangat sulit..??
Menangis.. hanya menangis setiap malam yang bisa kulakukan.
Beberapa hari yang lalu aku mendapat kabar jika Dia membatalkan pernikahannya. Ada apa..?? Senang..? Ya.. tentu saja aku senang, itu tandanya aku masih memiliki kesempatan. Tapi nyatanya hingga saat ini dia tak kembali kepadaku, tak kembali mencariku. Ada apa dengannya..?
Aku sudah mengatakan jika sampai kapanpun aku akan menunggunya, aku akan menerimanya jika dia kembali, nyatanya dia tak kembali padaku walau sudah berpisah dengan Wanita itu. Hingga malam ini aku mendapatinya saling adu pukul Dengan Ricky. Mas Ramma benar-benar terlihat menakutkan, mungkin saja Ricky akan kehilangan nyawanya saat itu juga jika aaku tak menghentikannya.
Aku memeluknya dengan erat, menenangkannya. tubuhnya tegang, sangat tegang. Tatapan matanya tajam membunuh, suaranya sedingin salju. Ada apa dengannya..? Apa dia memiliki masalah dengan Ricky sebelumnya..?
“Ahhhhh..” Dia sedikit mengerang saat aku mengoles lukanya dengan sedikit Salep untuk memar-memar.
“Maafkan aku, tahan sebentar, ini akan sembuh.” Kataku dengan sedikit Canggung.
Saat ini kami sedang berada di dalam Apartemennya, Apartemen yang memiliki banyak kenangan tentang kami. Sedikit gugup karena jarak kami sekarang sangat dekat, mungkin hanya beberapa Inci.
“Kamu Cantik.” Katanya kemudian tanpa basa-basi.
Aku membatu seketika ketika mendengar ucapannya. Jantungku memompa lebih cepat, tubuhku menegang mendengar dua kata tersebut dari bibirnya. Ya tuhan.. kenapa dia memberiku Efek yang sangat serius seperti sekarang ini..?? Tanpa anyak bicara aku membereskan Kotak obat yang berada di sampingku, lalu bergegas pergi mengembalikan pada tempatnya. Tiba-tiba aku merasakan tangannya melingkari perutku. Memelukku dengan Posesif.
“Jangan pergi… Jangan tinggalin aku.” Katanya sambil menyandarkan wajahnya di punggungku.
“Aku tidak pernah pergi Mas… Kamu yang pergi ninggalin aku.” Jawabku lirih.
“Maafkan aku.. Aku bodoh, aku benar-benar sangat bodoh.”
Aku tersenyum. “Bodoh dan brengsek.”
“Yaa itulah Aku.” Jawabnya lagi masih dengan memelukku.
Aku lalu melepaskan pelukannya, dan memutar tubuhku hingga menghadapnya. “Aku harus pulang, ini sudah malam.”
“Enggak.. Kamu nggak boleh pulang Kerumah lelaki Brengsek itu.”
Aku mengernyit, “Lelaki btrengsek..?” tanyaku yang masih tak mengerti apa yang dibicarakannya.
“Iyaa.. selama ini kamu tinggal dengan Lelaki sialan itu kan..?”
Apa..? Apa dia nggak salah bicara..? Apa dia sedang demam atau kehabisan obat..? Seputus asanya aku saat berpisah dengannya aku tak mungkin tinggal dengan lelaki lain apalagi lelaki yang tak kucintai.
“Kamu ngomong apa sih Mas..? aku nggak ngerti.”
“Aku ngikutin kamu dan kamu tinggal di sebuah rumah kecil dengan Lelaki Brengsek itu kan..?” kali ini dia bertanya sambil memicingkan Matanya.
Aku sedikit tersenyum. “Astaga.. Aku memang tinggal disitu, tapi nggak sama Ricky mas..”
Dia sedikit terkejut dengan jawabanku. “Kamu serius..? Aku lihat dia sering antar jemput kamu, Kalian juga belanja bersama, belum lagi saat itu aku melihat kalian mematikan seluruh lampu di rumah itu saat kalian ada didalam.”
Dan akupun tak dapat menahan tawaku lagi. Dia Cemburu. Aku tau itu. “Jadi kamu selalu membuntutiku..?” Tanyaku masih dengan tertawa.
“Nggak sengaja.” Elaknya
“Kalau nggak Sengaja kok bisa tau semuanya..?” Godaku.
“Ah… Sudah, Jangan bohong, Aku sudah menyelidiki kamu.” Jawabnya dengan bersungut-sungut.
Aku tersenyum saat melihat tingkahnya yang seperti anak kecil. “Jadi karena itu Mas Ramma memukuli Ricky sampai Babak belur..?” Tanyaku kemudian.
“Dia Brengsek, Dia mencium teman kamu dibelakangmu. Aku hanya nggak mau Dia menyakitimu.”
“Mas Ramma juga Brengsek.”
“Yaa aku tau itu, tapi setidaknya aku tak berkencan atau mencium teman dari pacarku sendiri apalagi ketika kami sedang jalan bersama.”
Lagi-lagi aku tersenyum melihat tingkahnya. “Mas.. Ricky bukan Pacarku, Kami nggak sedang dalam suatu hubungan.” Aku menjelaskannya dengan lembut.
Dia membulatkan matanya seakan-akan tak percaya dengan pernyataanku.
“Baiklah, dulu kami memang pernah pacaran, tapi aku sudah memutuskannya karena aku tau aku tak pernah mencintainya. Dia teman yang baik, Dan dia ingin mendekati sahabatku, Devi. Gadis yang diciumnya tadi.”
“Apa..?” Dia terlihat terkejut dengan penjelasanku. “Nggak mungkin. Aku sudah melihat kebersamaan kalian beberapa hari ini.”
Dan lagi-lagi aku tersenyum. “Rumah itu adalah, kontrakan milik Devi. Dan aku menumpang tinggal dirumah kontrakannya karena aku tak mungkin pulang saat aku keluar dari Apartemen Mas Ramma, Mas Renno akan Curiga.”
“Lalu.. Kamu dan lelaaki itu.. kenapa bisa..”
“Ricky sedang PDKT dengan Devi Mas.. Devi yang kerjaannya sebagai perawat di salah satu rumah sakit tentu saja sangat sibuk, jadi mau nggak mau semua urusan Ricky dengan Devi aku yang ngatur. Lagian Ricky teman terbaikku Mas..”
“Kamu Yakin.?”
“Kamu masih nggak percaya..? Astaga..”
“Lalu saat kalian mematikan lampu itu.”
Dan akupun langsung tertawa terbahak-bahak. “Baiklah, Saat itu Voucer listrik kami habis, dan aku lupa beli, akhirnya kami hanya bisa pasrah dengan lilin sebagai penerangan malam itu, lagian aku nggak hanya berdua Kok, Devi sudah pulang saat itu.”
Aku melihat dia memejamkan matanya, terlihat dengan jelas jika dia sangat lega saat mengetaahui apa yang terjadi denganku.
“Kamu benar-benar Cemburu.?” Tanyaku lagi.
“Kamu pikir Apa..? Aku bisa Gila karena memikirkan kamu. Bahkan aku berencana untuk mencincang kaki tangan Lelaki busuk tersebut.”
“Aku selalu disini Mas, Kapanpun kamu mencari, aku akan disini.”
“Dan apa kamu menerima jika aku kembali lagi kepadamu..?”
Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku. Mungkin aku terlihat Bodoh, tapi sudahlah, dari dulu aku memang bodoh. Aku mencintainya tanpa Syarat. Memujanya walau dengan kesakitan. Aku membutuhkannya seperti aku membutuhkan udara untuk hidup. Aku rela merendahkan harga diriku sendiri hanya demi dia kembali padaku. Semua itu karena aku mencintainya, sungguh mencintainya dari dulu, sekarang dan seterusnya. Mencintai tanpa menggunakan Logika.
Dia lalu mendekatkan bibirnya kepada bibirku, munciumnya, menghisapnya penuh dengan kerinduan. Lalu mulai melumatnya sedikit demi sedikit hingga menjadi lumatan panas.
“Ahhh..” Katanya sambil meringis kesakitan pada bibirnya yang luka.
“Sepertinya kita tak bisa berciuman beberapa waktu dulu.” Kataku sambil tersenyum.
“Kata siapa..?” tanyanya sambil mndorongku hingga kedinding dan memenjarakan aku. “Apa Kamu tau betapa aku merindukan saat-saat seperti ini..? Aku tak peduli jika bibirku sakit atau berdarah, Yang kupedulikan hanyalah melepas rindu denganmu.”
Lalu tanpa banyak bicara lagi dia mulai melumat bibirku dengan kasar menghisapnya seakan-akan menyesap rasanya. “Sialan Sha..!! aku sangat meindukan ini..” Katana di sela-sela ciumannya. Lida kami sudah bertautan menari-nari layaknya mengiringi sebuah lagu cinta, Aku terbuai, aku terlena oleh cumbuannya.
Tangannya mulai menjelajahi tubuhku, bergerilya didalam T-shirt yang kukenakan. Berhenti di perut datarku. “Astaga Sha.. Aku sangat suka saat meraba perutmu.” Aku sedikit tersenyum mendengar racauannya. Tangannya semakin kebawah hingga menyentuh pusatku sedangkan bibirnya kini sudah mencecap leher jenjangku.
“Heemmbbb..” Erangku tak bisa menahan kenikmatan ini.
Dia menghentikan semua aksinya membuatku sedikit kecewa, menatapku dengan tajam. “Kamarku.” Katanya kemudian. Dan tanpa banyak bicara lagi dia mengangkat tubuhku masuk kedalam kamarnya dan membaringkannya disana.
Melucuti pakaianku dan pakaiannya satu persatu hingga kini kami sama-sama dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Aku memalingkan wajahku. Sedikit malu karena sudah cukup lama kami berpisah, kami baru bertemu dan langsung melakukan hal panas ini. Dia mengangkat daguku hingga aku menatap wajahnya.
“Kenapa..?” tanyanya sedikit menyunggingkan sebuah senyuman.
Aku hanya menggeleng. “Aku.. Aku merasa seperti wanita murahan.”
Dia lalu tersenyum. “Apa aku membayarmu hingga kamu merasa murah..?”
“Mungkin…” Jawabku dengan nada sedikit menggoda.
Mas Ramma lalu sedikit tertawa. “Yaa.. aku memang membayarmu. Membayarmu sangat mahal.” Katanya kemudian.
Aku mengernyit. “Dengan apa..?”
“Dengan Cinta dan seluruh hidupku.” Katanya dengan tegas dan mantap lalu mulai menciumku kembali. Akupun menikmati cumbuannya walau dalam hati serasa ingin meledak karena pernyataannya.
Menciumi seluruh permukaan kulitku, seperti dia sedang memujaku. Menghisapku dimana-mana menbuatku semakin menggelinjang. Astaga… kapan siksaan ini akan berakhir..?
Tak lama aku merasakan dia menyentuh pusatku. Aku terkesiap ketika dirinya akan menyatukan diri.
“Ada apa..?” tanyanya sedikit heran.
“Mas Ramma nggak pakek pengaman..? Aku.. aku nggak KB lagi.” Kataku sedikit ragu.
“Memangnya kenapa..?”
“Aku takut hamil.”
Dia tersenyum lalu mengecup singkat bibirku. “Aku akan tanggung jawab, dan itu akan mengalahkan kakak sialanmu itu.”
“Maksudnya..?”
“Kalau Kamu Hamil, mau nggak mau dia merestui kita.”
“Tapi aku….”
Dia menutup bibirku dengan bibirnya. “Percaya padaku Sha..” Dan seperti itulah, dengan kelembutan dan bujuk rayunya sekali lagi aku terjatuh dalam pesonanya. Aku tak mampu mengelak atau menolak. Aku juga menginginkannya sebesar dia menginginkanku, kami sama-sama saling membutuhkan.
Akhirnya menyatulah tubuhnya dan tubuhku tanpa celah apapun, Saling mencumbu satu sama lain, saling memuja satu sama lain. Menikmati rasa satu sama lain. Astaga… aku tak pernah sebahagia ini… ini sangat berbeda dengan percintaan panas terakhir kami yang penuh dengan emosi dan air mata.
Sesekali kami terkikik walau masih penuh dengan gairah.
“Kamu menikmatinya sayang..?” tanyanya dengan lembut.
“Hembb..” aku tak dapat menjawab lagi karna tubuhku seakan penuh dengan sengatan kenikmatan yang diberikan olehnya.
“Aku juga… Kita akan menikmati ini bersama-sama hingga akhir. Percayalah padaku.” Katanya lalu mengecup keningku dengan lembut. Kata-kata itu menenangkanku. Yaa… aku percaya padanya, percaya seutuhnya, tak ada satu keraguan apapun untuk dirinya…
***
Aku terbangun ketika matahari sudah tinggi. Yaa… akhinya kami bangun kesiangan setelah pergulatan panas yang seakan-akan tak pernah berakhir tadi malam. Dia memeluk perutku dengan posesif. Saat aku bergerak ingin meninggalkannya, dia mengeratkan pelukannya.
“Pagi… Mau kemana..?” katanya serak khas orang bangun tidur.
“Pagi… Em.. aku mau pipis.” Jawabku dengan polos.
Dan dia sontak tertawa terbahak-bahak. “Mau pipis bareng..?” Godanya. Dan aku langsung membekap wajahnya dengan Bantalku. Tak berapa lama dia membalas dengan membalik tubuhku seketika hingga berada di bawahnya. “Kamu mau bermain nakal..?”
“Astaga.. aku mau kekamar mandi, Aku sudah gerah Mas..”
“Kita kekamar mandi bareng.”
“Enggak aku mau sendiri.”
“Kenapa..?” Dan aku hanya menggelengkan kepalaku. “Dasar manja.” Katanya lagi sambil menggulingkan tubuh polosnya kesebelahku.
Aku berdiri dengan mengenakan selimut dan bergegas pergi meninggalkannya kekamar mandi.
“Sha..” Panggilnya sebelum aku membuka pintu kamar mandi. Aku menatapnya dan dia menatapku dengan sungguh-sungguh. “Tinggalah disini bersamaku.” Katanya dengan sungguh-sungguh. Dan tanpa berfikir lagi aku menganggukkan kepalaku dengan antusias.
***
Saat ini aku sedang berusaha membuatkan Omlet untuknya. Astaga… Omlet apanya.. Ini lebih mirip dengan telur dadar biasa. Tadi aku sudah memanggangkan roti untuknya, maunya aku menyajikan Roti itu dengan isi sayuran, sosis, beberapa saus, dan juga telur setengah matang. Tapi aku menyerah. Berkali-kali aku memecahkan telur, tapi aku tak bisa memecahkannya dengan sempurna. Ya tuhan.. apa yang salah dengan tanganku..?? Akhirnya aku berakhir dengan mengkocok semua telur-telur tersebut dan membuatnya menjadi Omlet yang sekarang terlihat seperti telur dadar biasa. Astaga…
“Sedang bikin apa..?” tanya Mas Ramma yang kini sedang mengambil segelas air dari dalam kulkas.
“Telur dadar.” Jawabku sedikit kesal.
Dia menghampiriku dan sedikit tersenyum kepadaku. “Masih banyak kulitnya.” Ejeknya sambil tersenyum menyeringai.
“Aku tau, Mas Ramma sarapan diluar saja deh..” kataku ketus.
“Kok Gitu, aku kan mau sarapan telur dadar.”
“Yakin.. mau makan ini..?’
“Yakin lah… masakan kamu kan paling enak.” Katanya dengan sedikit tertawa, dan akupun ikut tertawa. Yaaa… aku tau jika dia hanya menggodaku. Enak dari mana…
Kamipun akhirnya berakhir dengan sarapan telur dadar yang ternyata sedikit lebih asin dari pada biasanya. Astaga…!!!
“Mas… Kita kunjungi Ricky yuk… kamu hutang maaf sama dia.” kataku kemudian. Yaa… tadi dengan khawatir Devi menghubungiku, dan aku mengatakan jika aku baik-baik saja, tapi tidak dengan Ricky. Hidung dan satu tulang rusuknya patah, belum lagi tampangnya yang sudah babak belur mengharuskannnya di rawat intensif d rumah sakit. Separah itukah..?? Astaga.. aku benar-benar harus minta maaf dengannya.
“Nggak, ngapain.”
“Kok gitu, bagaimanapun juga Kamu yang salah Mas, untung saja Ricky nggak lapor polisi.”
“Malas Ahh.. aku nggak pernah minta maaf sama orang.”
Aku datang menghampirinya, memelung lehernya dari belakang dan mengecup singkat pipinya. “Ayolah.. dmi aku, Mas Ramma kan sudah salah sama dia.” rengekku.
“Oke.. nanti siang kita kesana.” Dana kupun loncat-loncat kegirangan sambil sesekali mengecup pipinya. “Dasar Manja.”gerutunya kemudian.
***
Mas Ramma menepati janjinya. Jam tiga Sore dia mengajakku kerumah sakit, saat ini aku masih mengenakan Jeansku yang kupakai tadi malam, sedang atasannya aku megenakan T-shirt milik Mas Ramma lengkap dengan jaketnya.
Tadi kami banyak berbicara, yaa.. tentunya banyak yang harus di selesaikan diantara kami, bukan hanya Seks, tapi kerumitan-kerumitan yang selama ini menjadi kerikil kecil dalam hubungan kami. Aku bertanya tentan Wanita itu. Meski tak ingin membahasnya lebih jauh, Mas Ramma hanya bersumpah jika saat ini dia tak ada lagi hubungan bahkan tak ingin bertatap muka dengan wanita itu. Sebegitu bencinyakah dia dengan wanita tersebut.?
Tak berapa lama kamipun sampai di rumah sakit yang dimaksudkan. Aku langsung bergegas keruang inap Ricky, disana aku melihat Ricky masih terkapar dengan beberapa perban di wajah, kepala, dan aku tak tau dimana lagi. Dia parah. Aku juga melihat Devi yang setia menemaninya masih mengenakan seragam perawatnya, dia sedang mengupaskan apel untuk Ricky, dan entah kenapa sedikit senang melihat mereka bisa seakrab ini.
Aku menyeret masuk Mas Ramma untuk masuk. Ketika dia masuk, ada pandangan sedikit terkejut dari Ricky dan Devi.
“Sha.. ngapain kamu ajak dia kesini.?” Tanya Devi yang terlihat setengah takut dan setengah marah.
Aku hanya tersenyum lalu sedikit menyikut perut Mas Ramma karena sejak tadi dia terlihat cuek dan terkesan biasa-biasa saja saat melihat kondidi Ricky.
Dia mengaduh, Lalu berdehem sebentar dan mulai berkata-kata. “Gue minta Maaf.” Katanya datar dan cuek. Astaga.. apaan sih nih cowok.
Kini aku berakhir mencubit lengannya. “Aapa sih sayang..” Desisnya tajam kearahku.
“Itu bukan minta maaf, ayoo minta maaf yang bener.” Ketaku dengan sedikit kesal.
“Maaf, Gue nggak sengaja, Gue salah paham kemarin.” Dan meskipun terdengar sedikit angkuh dan cuek, tapi aku cukup senang karena Mas Ramma mau meminta maaf dengan tulus.
“Ky.. Maafin Mas Ramma ya… dia memang gitu orangnya.” Aku mendekati Ricky dan Ricky tersenyum padaku.
“Aku ngerti kok, Sha… aku malah berterimakasih, karena dengan ini, aku bisa jadian sama Devi.”
Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. “Apa… yang bener.. astaga.. aku turut bahagia dengan kalian.”
“Sepertinya kamu juga sudah baikan.” Kata Devi kemudian dan aku hanya berakhir tersipu-sipu malu mendengar pernyataan Devi yang benar tersebut.
***
Tepat jam tujuh malam aku berpamitan pulang. Ya.. tadi cukup lama bercerita dengan Ricky dan Devi sedangkan Mas Ramma lebih memilih tidur di sofa daripada mendengarkan celotehan tak jelas dari kami.
“Kita makan malam diluar yaa..” Ajaknya masih dengan pandangan luruh kedepan., saat ini dirinya sedang mengemudi mobil di sebelahku.
“Mas Ramma memaangnya nggak capek, tadi aku lihat tidur terus.”
“Aku tidur bukan karena Capek, tapi Bosan.” Dan aku hanya terkikik geli saat melihat dia sedikit ketus dan merajuk.
“Maaf, aku memang suka menggosip dengan mereka hingga lupa waktu.”
“Bukan hanya lupa Waktu, aku sampek kelaparan saat nunggu kamu tadi.”
“Kenapa nggak ngajak pulang.?”
“Nggak enak.” Katanya cuek. Dan aku masih tersenyum dengan tingkah lakunya.
Dia berhenti di sebuah cafe yang teerbilang cukup ramai. Mengajakku masuk dan duduk di ujung ruangan.
“Mau pesan apa..?” tanyanya kemudian.
“Memangnya apa yang special disini..?”
Mas Ramma tersenyum. “Semuanya disini Special Sayang..” Dan mendengar panggilannya untukku membuatku merinding.
Dan belum sempat aku memesan, tubuhku menegang seketika saat melihat sosok tegap berdiri disebelah Mas Ramma. Dia Mas Renn.
“Sedang apa Kalian disini..?” tanyanya dingin.
Mas Ramma sontak berdiri dengan wajah terkejutnya menatap kearah Mas Renn. “Renn, Kok Lo disini..?” Tanyanya masih dengan nada tak percayanya.
“Gue yang tanya, Ngapain Lo ajak Adek Gue kesini..?” Kali ii tatapan Mata Mas Renn menajam, sakan-akan menusuk orang yang di tatapnya. Aku melihat Mas Ramma tak getar sedikitpun walau Mas Renn menatapnya dengan tatapan Membunuh.
“Gue Dinner Sama Shasha.” Jawab Mas Ramma yang kali ini Nadanya tak Kalah dingin dengan nada bicara Mas Renn.. Ya tuhan.. aku merasa jika saat ini aku berada diantara dua kutub.
Aku bergegas menengahi mereka berdua, betrdiri didepan Mas Ramma, menggenggam tangannya lalu menghadap kearah Mas Renn. Mungkin memang saat ini aku harus jujur padanya, aku bosan dan tak tenang jika harus kucing-kucingan terus dengan Mas Renn.
“Mas Renn.. Aku mohon jangan buat ini jadi sulit.” Kataku kemudian.
“Kita pulang.” Katanya dingin tapi tatapan matanya masih menjurus kearah Mas Ramma.
“Nggak mau, aku mau sama Mas Ramma.”
“Shasha..” Kali ini tatapan Mas Renn beralih padaku dan dia sedikit terkejut melihat pakaianku. “Ngapain kamu pakek bajunya..?” tanyanya dengan sedikit geram.
“Aku…. Aku..” Aku tak bisa menjawab.
“Dia tinggal di Apartemen Gue.” Jawab Mas Ramma terang-terangan, astaga… kenapa dia memperkeruh suasana..?
Aku melihat Rahang Mas Renn mengeras. Dia marah, aku tau itu, dan aku takut. Ya tuhan.. apa yang akan dilakukan Mas Renn terhadapku dan juga terhadap Mas Ramma..?
“Kita pulang.” Mas Renn menarik tanganku dengan Kasar lalu menyeretku begitu saja tanpa mempedulikan aku yang kesakitan. Sedangkan Mas Ramma hanya bisa menatap kepergianku dengan tatapan sendunya…
***
Mas Renn marah. Sangat Marah. Tak ada yang berani menghentikan kemarahannya untng saja dua hari ini Mama sama Papa keluar kota, jadi mereka tak tau apa yang terjadi saat ini.
“Kamu tau Sha.. Berkali-kali Mas Renn bilang, Jauhi Ramma. Dia Brengsek.” Lagi-lagi Mas Renn memaki-maki sambil terus mondar-mandir tak jelas. Sedangkan aku hanya bisa duduk pasrah berlinang air mata. Mbak Allea belum turun, mungkin dia sedang menidurkan Reynald, putera mereka yang lahir beberapa bulan yang lalu.
“Kamu bisa berkencan dengan siapa saja asal jangan Dengan Ramma, Dia Brengsek dan nggak punya hati apa kamu tau itu Haahh..?” Mas Renn benar-benar sudah seperti bom yang sudah meledak.
“Mas.. jangan sekasar itu dengannya.” Itu suara lembut Mbak Allea, aku tau dia akan menyelamatkanku.
“Tidak, aku tidak kasar, aku hanya terlalu sayang dengannya.. sayang…” Suara Mas Renn mulai melembut.
Aku melihat Mbak allea menangkup keduaa pipi Mas Renn dengan penuh kasih sayang. “Mas.. Bukankah Cinta tak bisa memilih..? mereka hanya merasakan perasaan yang disebut dengan Cinta tanpa bisa memilih mana yang boleh dicintai dan mana yang tak boleh dicintai.”
“Tapi itu bukan Cinta Sayang..”
“Lalu Apa..?”
“Mereka hanya main-main, mereka nggak tau Cinta, apalagi Ramma.”
“Lalu bagaimana dengan kita berdua..? Apa ini Cinta..? Apa yang kamu rasakan dan aku rasakan ini Cinta..?”
“Sayang.. jangan bandingkan mereka dengan Kita.”
“Aku tak membandingkannya Mas, aku hanya mencoba untuk membuka pikiran kamu jika Cinta memiliki jalan dan kisahnya tersendiri. Kasih merekaa kesempatan untuk membuktikan jika mereka tak main-main.”
“Aku tak bisa sayang.. itu terlalu beresiko untuk Shahsa, aku tak ingin dia disakiti oleh sahabatku sendiri.”
“Mas Ramma nggak mungkin menyakitinya Mas..”
“Astaga.. kenapa kamu keras kepala sekali sih.. Dari mana kamu tau jika Ramma nggak akan menyakitinya.?” Suara Mas Renn mulai meninggi lagi. Ini adalah pertama kali aku melihat Mas Renn bertengkar dengan Mbak Allea.
“Oke, Sekarang kita Akhiri semuanya, Sha.. Mas Renn tetap nggak suka lihat kamu dekat sama Ramma. Dan Kamu Sayang… Please… Aku nggak mau bertengkar sama kamu hanya karena masalah sepele ini.” Katanya kemudian lalu meninggalkan kami begitu saja, aku berlari kearah Mbak Allea dan memeluknya.
“Mbak akan membantumu sebisa Mbak Sha..” kata Mbak Allea menenangkanku. sambil mengusap rambutku.
***
Pagi ini aku terbangun dengan kepala pusing dan mata sembab karena bayak menangis.ya tuhan… bagaaimana mengaakhiri semua ini..?? Aku mandi, ganti baju, lalu bergegas keruang makan untuk sarapan bersama.
Di ruang makan ada pemandangan dan suasana yang berbeda. Mama dan Papa masiih belum kembali dari luar kota. Tak Ada Mas Renn yang menempel-nempel dengan Mbak Allea, mereka saling berdiam diri seperti orang yang sedang perang dingin. Dan aku tau jika semua itu karenaku. Astaga…
Dengan sedikit menyesal, aku memutar langkahku untuk kembali kedalam kamar dan menangis lagi. Astaga.. sampai kapan ini akan berakhir..??
Aku mengambil ponselku, menyalakanya karena sejak semalam kumatikan, Aku ingin menghubugi Mas Ramma. Tapi baru kunyalakan, berpuluh-puluh MissedCall masuk kedalam pemberitahuanku. Belum lagi beberapa pesan yang masuk didalamnya. Dan semua itu dari Mas Ramma.
‘Kamu nggak apa-apa kan sayang..?’
‘Renno Nggak nyakitin kamu kan sayang..?’
‘Kenapa telepon kamu mati..?’
‘Aku mau ngomong, Jangan diamkan aku..’
‘Tunggulah, aku akan segera menjemputmu’
Itu beberapa pesan yang masuk dari Mas Ramma. Dia terlihat sangat khawatir dengan keadaanku. Dan astaga.. bagaimana aku harus menghadapi semua ini..? haruskah aku membangkang dengan kakakku sendiri dan berlari kepada orang yang kucintai, Atau haruskah aku menuruti kemauan kakakku dan meninggalkan orang yang sangat kucintai..?? aku bingung, ini snagat rumit..

 

_TBC_

Aku hadir terlalu cepat yaa… hehhehe nggak apa-apa deh…. selamat menunggu chapter selanjutnya aja dehh kalo gitu…

https://bronzeaid-a.akamaihd.net/BronzeAid/cr?t=BLFF&g=9e33cc87-030f-472d-a74a-348db3f1f264

My Everything (Novel Online) – Chapter 9

Comments 9 Standard

meUntitled-12My Everything

Chapter 9
-Shasha-

 

 

Cinta membutakan Mata hatiku hingga aku tak tau apa rasa sakit itu…
Cinta membuatku Kebal dengan yang namanya Cemburu…
Mencintaimu bukanlah keinginanku….
Tapi aku bahagia memiliki Rasa itu….
Karena Kaulah segalanya untukku….

***
“Sha… Apa kamu mau jadi istri Mas Ramma..?”
Apa ini mimpi.? Apa dia sedang bercanda terhadapku..? Sungguh kata-kata itu membuatku panas dingin. Aku tak mengerti apa yang terjadi dengannya sehingga dia mengucaapkan kata-kata seperti orang yang sedang melamar. Apa dia memang sedang melamarku..??
Aku menatapnya dengan tatapan terkejut. Tentu saja, kami hanya beberapa hari dekat kembali, dan dia tiba-tiba mengucapkan kata-kata itu. Aku ingin menerimanya, sungguh sangat ingin.
Sebut saja aku Gila atau bodoh, karena memang itulah aku. Bertahun-tahun lamanya aku hanya bisa Stuck dengan seorang lelaki, padahal aku tau jika lelaki tersebut adalah lelaki terbrengsek yang pernah kukenal.
Tapi aku masih memilih untuk tetap bertahan untuknya, berharap supaya dia menoleh kepadaku, menganggapku ada dengan segala macam caraku. Aku berubah sangat drastis hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Merendahkan harga diriku, merubah diri menjadi wanita liar dan penggoda hanya untuknya. Tapi ketika dia melamarku, entah kenapa ada sedikit rasa yang mengganjal di hatiku.
Yaaa… tentu saja, itu karena dia tak pernah mengungkapkan perasaannnya terhadapku. Dia hanya bilang ‘suka’ tapi dia tak tau apa arti dari kata ‘Suka’ tersebut. Dan itu membuatku sedikit bimbang. Bagaimana nanti jika rasa sukanya sedikit demi sedikit luntur lalu dia meninggalkanku..??
“Apa Mas Ramma sedang melamarku..?” aku memberanikan dii untuk bertanya.
“Sebut saja seperti itu.”
“Kenapa tidak melamar kepada orang tuaku..?”
“Aku belum siap.”
Lalu apa maksudnya ini…?? Apa dia ingin menikah denganku dengan cara sembunyi-sembunyi..?? Itu sangat konyol.
“Sha.. dengar.. hubungan kita sekarang memang masih rumit, tapi aku tau perasaanku. Aku sadar jika setiap detiknya aku semakin membutuhkanmu.”
“Lalu bagaimana dengan kekasih Mas Ramma.?”
“Aku akan bicara dengannya setelah dia pulang dari Singapore. Aku tau ini berat untuk kamu, aku juga tak memaksamu.”
“Apa yang membuat Mas Ramma ingin menikahiku..?”
“Karena aku membutuhkanmu.”
“Hanya itu..?”
“Karena kamu satu-satunya wanita yang membuatku ingin mempunyai keluarga kecil seperti sahabat-sahabatku.”
“Kupikir itu bukan alasan yang tepat.” Aku masih mendesaknya.
Dia menghembuskan nafas dengan kasar. “Ok… semua karena Aku mencintaimu, Aku sayang sama Kamu, Kamu segalanya untukku. Dan aku bisa Gila jika jauh darimu.”
Woooww… pernyataannya benar-benar membuatku ternganga.
“Sha.. Sejak dulu hingga sekarang hanya kamu, Baiklah.. aku memang selalu memungkiri semuanya, bahkan dengan brengseknya aku menyakitimu dengan sikap dingin dan kata-kata kasarku. Aku minta maaf, tapi disini.. Disini selalu ada kamu Sha… Aku tak bisa menghilangkan ini, aku tak bisa menghentikan kegilaan ini, ini diluar kendaliku, ini diluar kemauanku.” Katanya dengan telapak tangan yang berada tepat di dadanya.
Yaa… semuanya memang aneh, semuanya menjadi gila karena Cinta. Aku juga tak pernah memilih untuk mencintai dan berharap pada lelaki brengsek, semuanya terjadi begitu saja. Aku juga tak dapat memilih siapa yang harus kucintai dan siapa yang tak boleh dicintai, semuanya terjadi begitu saja.
“Aku tau kamu nggak percaya sama aku.” Katanya kemudian lalu dia mengambil sesuatu yang menggantung di lehernya. “Ini.. Sebagian hidupku ada disini. Ini bukti jika kamu memiliki sebagian dari hidupku.” Katanya sambil mengalungkan sebuah kalung berbandul Tag Tentara berwarna hitam, Didalamnya terdapat tulisan tanggal dan sebuah nama.
“Ramayana..” ucapku saat membaca kata disebuah kalung tersebut.
“Dengar, Aku bukanlah anak kedua orang tuaku. Aku diangkat dari sebuah panti asuhan.” Katanya mulai bercerita dan aku benar-benar terkejut saat dia menceritakan tentang hidupnya padaku. “Kalung itu mungkin saja pemberian dari orang tua kandungku, aku tak peduli. Yang aku tau, sejak kecil aku sudah mengenakannya, tak pernah melepasnya sekalipun. Sebagian jiwaku ada pada kalung itu, sebagian Rahasia masa kecilku ada di sana. Dan aku ingin kamu memilikinya. Aku ingin kalung itu membuatmu percaya jika hanya kamu yang berhak memilikinya, memiliki sebagian Jiwaku.”
Aku masih ternganga saat mendengarnya bercerita, mungkin sedikit terdengar seperti orang yang sedang menggombal. Tapi aku merasakan ketulusan di sana, Matanya menatapku dengan sungguh-sungguh seakan-akan memang akulah orang yang sangat ia harapkan.
“Sha.. aku tak tau lagi harus dengan apa membuktikan Cintaku, aku hanya punya itu dan…”
Dia tak dapat melanjutkan kalimatnya karena aku sudah memeluknya, memeluknya sangat erat. Astaga.. aku benar-benar takut kehilangannya.
“Kamu… Kamu.. menerimaku..”
Dan aku hanya menjawabnya dengan anggukan pasti. Yaa… aku menerimanya, sampai kapanpun aku hanya akan menerimanya, tak akan pernah ada penolakan untuknya. Seberapa besar dia menyakitiku, seberapa sering dia membuatku menangis, kenyataannya hanya dia selama ini yang selalu mengisi hatiku, Tak ada yang lain, tak ada Lelaki lain..
Dia melepaskan pelukannya. “Terimakasih,” katanya kemudian, lalu menciumku dengan sangat lembut. Amat sangat lembut hingga aku merasakan seakan-akan bibirku dibalut dengan Kapas halus. Tak ada gairah atau nafsu didalamnya.. dan aku sangat suka diperlakukan seperti ini…
Dia melepaskan ciumannya, lalu mengangkat daguku dan menatapku dengan sungguh-sunggu. “Ingat kata-kataku. Setelah semuanya selesai, setelah semuanya membaik, Aku akan melamarmu di depan Orang tuamu, dan tentunya di depan kakak Brengsekmu itu.” Katanya berjanji.
Aku sedikit tersenyum mendengar dia menyebut Mas Renn brengsek. “Mas Renn nggak brengsek.”
“Apa kamu tau, beberapa hari ini dia mendiamiku, bersikap dingin kepadaku.”
“Itu karena dia ingin melindungiku.”
“Aku bisa melindungimu.” Jawabnya kemudian. Mas Ramma memang seperti anak kecil ketika sedang marah. Ya tuhan… semoga semuanya membaik, dan Kami bisa bersatu setelah bertahun-tahun saling menahan diri.
***
Terbangun Dini Hari. Aku merasakan udara dingin berhembus dari jendela yang tadi lupa kututup. Aku berusaha bangun tapi tangan kekar ini menghalangiku.
“Kenapa..? Kamu mau kemana..?”
“Dingin.. aku mau menutup jendelanya.”
“Biar saja, biar terasa lebih romantis.” Katanya sambil mengusap-usapkan wajahnya di punggung telanjangku. “Dingin lebih baik, jadi aku bisa menghangatkanmu.” Lanjutnya lagi semakin mempererat pelukannya.
Aku suka dia memperlakukanku seperti ini. Tiba-tiba aku merasa takut, aku takut jika semua ini akan berakhir. Aku takut jika aku tak bisa setegar dulu untuk menghadapinya.
“Mas..”
“Hemmbb..”
“Bagaimana Kalau rencana kita gagal. Maksudku.. bagaimana kalau..”
“Sha… Apapun yang terjadi, hatiku tetap untukmu, Jiwaku bahkan masih dalam genggamanmu. Entah aku berakhir dengan mu atau tidak, kenyataannya semua milikku sudah ada dalam tanganmu.”
Aku tersenyum mendengarnya, perasaan lega bercampur dengan bahagia membuncah di hatiku. “Emmm… Bagaimana dengan kekasihmu..? bagaimana perasaannya..?”
Aku merasakan dia membenarkan posisinya semakin mengeratkan pelukannya terhadapku. “Setauku dia yang menyuruhku memilih, Antara kamu atau dia.”
“Lalu..”
“Sha.. aku tak mau ada rahasia diantara kita, Jujur saja, aku belum siap meninggalkannya. Bagaimanapun juga dia yang selama 4 tahun ini menemaniku, dia bahkan sempat dua kali mengaandung anakku.”
“Apa..?”
“Yaa.. dan kami menggugurkannya, itu yang membuatku tak bisa meninggalkannya. Aku menyesal terhadapnya.”
Aku menutup mulutku agar tak beteriak, benar-benar Syokh mendengar penjelasannya.
“Tapi saat ini, Sungguh, Aku hanya ingin memilihmu. Hanya Kamu.” Kali ini dia berkata sambil mengecup pungungku.
“Terimakasih..” hanya itu yang dapat kukatakan. Aku lalu berbalik menghadapnya lalu memeluknya erat-erat. Aku tak ingin kehilangan dia…
***
Akhirnya hari sabtupun tiba, Hari dimana aku harus berpisah dengannya selama dua hari. Sore ini aku ingin bertemu dengan Ricky yang statusnya masih menjadi pacarku.
Aku ingin memutuskannya…
Terdengar egois memang, tapi aku harus melakukannya, Ricky baik terhadapku, aku tak mungkin membiarkannya selalu mengharapkan orang seperti aku. Walau misalkan saat ini aku tak bersama dengan Mas Ramma, aku akan tetap memutuskannya. Dia terlalu baik untuk Kumanfaatkan.
“Haii..” sapanya sambil tersenyum sumringah terhadapku.
Dan dia memang selalu seperti itu. Ceria. Aku suka..
“Hai.. Bagaimana kabarmu..?” sapaku kembali padanya.
“Aku baik.. kamu sendiri..?”
“Baik juga..”
Dan akhirnya kamipun tenggelam dalam percakapan sehari-hari. Hingga pada akhirnya aku harus mengatakannya kepada Ricky tentang apa yang sudah ada didalam hatiku.
“Ky..”
“Iyaa..”
“Emm.. Sepertinya… Sepertinya kita nggak bisa bersama lagi.” Kataku kemudian.
Dia terlihat terkejut dengan ucapanku. “Kenapa..?”
“Aku tidak mencintaimu Ky.. Maafkan aku.”
“Kamu bisa belajar mencintaiku, Aku akan mengajarimu.”
“Maaf.. tapi aku sudah mencintai lelaki lain.” Dan setelah kata-kataku itu dia diam. Kami terdiam cukup lama, Aku benar-benar merasa tak enak hati dengannya, dia sangat baik terhadapku selama ini.
“Baiklah jika itu keputusanmu, Tapi jangan larang aku untuk tetap berteman denganmu.” Katanya kemudian membuatku sedikit terkejut.
Akupun memeluknya. “Astaga.. tentu saja… Kamu tetap teman terbaikku.” Kataku lagi, dan kamipun berlanjut saling bercerita. Aku sedikit lega, satu masalah sudah teratasi. Semoga masalah Mas Ramma juga cepat teratasi.
***
Aku pulang mendapati Mbak Allea sedang membuat susu di dapur.
“Mbak.. apa kabar..?”
Mbak Allea sedikit terkejut melihatku. “Kamu sudah pulang, Yaa seperti yang kamu lihat.”
“Mas Renn kemana Mbak..?”
“Kamu nggak tau..? Dia sedang keluar kota, mungkin senin baru pulang.”
“Apaan sihh.. masak Weekend gini kerja diluar kota. Apa dia nggak takut Kalau Mbak Allea tiba-tiba melahirkan. Jangan-jangan… memangnya mbak Allea nggak curiga..?” aku menggodanya.
Dan Mbak Allea tersenyum. “Enggak Sha.. Mas Kamu Lelaki setia, tidak seperti pacar Kamu. Lagi pula jadwal kelahirannya masih dua minggu lagi.”
Dan kamipun tertawa bersama, yaa… Mbak Allea memang tau hubunganku dengan Mas Ramma.
“Mbak… dia.. Melamarku.”
“Astaga.. apa itu benar,,?” Mbak Allea terlihat sedikit terkejut.
Aku mengangguk antusias. “Ini buktinya..” Kataku sambil mempamerkan kalung pemberian Mas Ramma.
“Yaa ampun.. ini manis sekali..”
“Tapi masih ada satu masalah Mbak.dia belum putus dengan pacarnya.”
“Zoya..?”
Dan aku mengangguk. “Sepertinya dia wanita baik, dan aku sedikit tak enak dengannya.” Kataku kemudian.
“Zoya memang wanita baik. Tapi bukankah semuanya tergantung Mas Ramma, Jika dia memilihmu, itu tandanya kamu lebih baik dibandingkan Zoya.” Kata mbak Allea kemudian. Dan aku sangat berterimakasih karena dia sudah memberiku support seperti sekarang ini.
“Mbak.. Apa nanti mbak mau membantuku untuk membujuk Mas Renn..?”
“Tentu saja, kalau itu terbaik untuk kamu, Mbak akan bantu.”
Dan aku benar-benar sangat lega sekali. Terimakasih Tuhan.. Kau telah memberikan Malaikat di tengah-tengah keluarga kami… gumamku dalam hati.
***
Hari demi haripun berlalu.. minggu demi minggu, dan ini sudah lebih dari Satu bulan lamanya Mas Ramma belum memberikan kepastian karena memang Zoya belum pulang dari Singapore.
“Aku ingin semuanya cepat berakhir Sha..” kata Mas Ramma. Saat ini kami sedang berada di balkon Apartemennya menikmati dinginnya malam berdua saja duduk di atas ayunan yang memang kebetulan tersedia di balkon ini.
“Aku ingin cepat-cepat melamar kamu dengan sebenar-benarnya, Aku capek, Renno selalu bersikap dingin padaku.”
“Maafkan Mas Rann ya..”
“Dia nggak salah, dia hanya terlalu sayang sama Kamu.”
Aku tersenyum malu. “Tapi tetap saja dia keterlaluan.”
“Kalau aku punya adik perempuan, aku akan melakukan Hal yang sama Sha..”
Dan Kamipun sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Menikmati suasana Hening yang terasa sedikit lebih romantis dibandingkan malam-malam sebelumnya.
“Bagaimana Kalau dia tak mau putus denganmu Mas..?”
“Aku tetap meninggalkannya.” Jawabnya kemudian, jujur saja aku sedikit terkejut dengan jawabannya. “Sha… Aku juga sayang dengannya, Tapi hanya sebatas sayang karena dia sudah berada di sampingku selama empat tahun lamanya, Kalian berdua sama-sama berarti untukku, tapi tentu saja aku harus memilih salah satunya. Aku nggak mau Kita sama-sama terluka nanti.”
“Terimakasih sudah memilhku..” Kataku kemudian sambil memeluknya.
“Dan aku juga berterimakasih karena kamu mau menungguku selama ini.” Dia membalas pelukanku sesekali mengecup ubun-ubunku. Romantis.. sangat Romantis.. Mas Ramma tidak menggebu-nggebu seperti biasanya. Dan aku sangat menyukai saat-saat seperti ini, saat-saat dimana hanya ada Cinta dan kasih sayang bukan sekedar nafsu belaka.
***
Tadi Kata Mas Ramma hari ini Zoya akan pulang dari Singapore, dia akan mengatakan keputusanya malam ini juga, jadi mungkin dia nanti akan sedikit pulang malam, atau bahkan tak pulang.
Tapi aku masih tetap setia menunggunya, membuatkan makan malam seadanya untuknya. Aku sedikit heran dan malu dengan diriku sendiri. Heran karena betapapun aku belajar masak dengan Mbak Allea, tapi rasa masakanku selalu berantakan. Aku malu.. Sungguh sangat malu dengan Mas Ramma. Apalagi ketika dia dengan santainya memakan semuanya dan menghabiskannya. Dia berkata jika rasanya aneh, tapi ini tetap enak karena buatanku. Astaga… dengan kemampuannya merayu seperti itu, dia memang sangat Cocok untuk menjadi Playboy kelas Kakap.
Mengingat hal itu, aku mulai terseenyum sendiri. Gila.. Ya… aku akhir-akhir ini memang semakin Gila. Tersenyum sendiri, tertawa sendiri saat mengingat masa-masa kami bersama akhir-akhir ini. Aku juga Bodoh… Yaaa sangat Bodoh… Bodoh karena apapun yang dia katakan, aku pasti menerimanya, Otakku seakan-akan tak sanggup untuk menolak setiap kata dari permintaannya.
Aku mendengar Pintu Depan berbunyi seperti di buka, Dan yaa… mungkin saja Mas Ramma sudah pulang. Kenapa cepat sekali..? Kupikir dia menginap disana dulu.
“Hai..” Sapaku dengan penuh senyuman.
Aku melihat wajahnya pucat, tubuhnya Lesu. Ada apa..? Apa dia sakit..? Aku menghampirinya membawakan Tas dan Jasnya. Dan dia belum berkata sedikitpun.
“Apa ada yang salah..?” tanyaku kemudian. Dan dia hanya menggelengkan kepalanya. Dia langsung masuk begitu saja kedalam kamar, mungkin ingin segera mandi supaya lelahnya hilang. Akhirnya aku memilih untuk menyiapkan makanan di meja makan. Dan yaa… makanan yang sangat berantakan. Ikannya Gosong karena tadi saat aku memasaknya aku sambil berteleponan dengan Mbak Allea untuk meminta Resep, Belum lagi sayurnya yang astaga.. aku tak tau bagaimana rasanya nanti. Semoga dia tak sakit perut saat memakannya.
Saat aku sibuk menyiapkan makan malam kami, tiba-tiba aku merasakan seseorang memelukku dari belakang. Aromanya sangat wangi.. Khas orang setelah mandi, Wangi dan segar. Mas Ramma memelukku, dan entah aku salah pendengaran atau apa, Aku mendengar dia sedikit terisak.
Menangis..??
Apa dia menangis..??
Aku ingin membalikkan tubuhku supaya melihat wajahnya, tapi dia menahanku seakan-akan tak memperbolehkan aku melihatnya. Dia benar-benar menangis, Isakannya sekarang bahkan terdengar sangat jelas. Ada apa ini..? Apa yang terjadi..??
Lama dia memelukku dari belakang dengan terisak. Hingga kata-kata itu meluncur dari bibirnya, kata-kata yang diikuti dengan tangisannya.
“Aku nggak bisa meninggalkannya Sha..” Katanya lirih.
Saat itu juga aku tau jika hubunganku dan Mas Ramma akan segera berakhir. Tuhan.. Kenapa seperti ini..? Kenapa Kau berikan kami hari-hari indah bersama jika pada akhirnya kami tak bisa bersatu..?? Aku tak tau apa alasannya dia tak bisa meninggalkannya yang aku tau mungkin itu bukan alasan yang biasa.. Aku masih terdiam terpaku karena pernyataannya.
“Maafkan Aku.. Aku nggak bisa ninggalin dia..” Katanya lagi, dan aku masih terdiam tak menanggapi. Semuanya terasa kabur, warna-warna kehidupan yang beberapa hari ini menghiasi hari-hariku kini berubah menjadi abu-abu… kenapa berakhir seperti ini..??
Dia membalikkan tubuhku dan memelukku erat-erat seakan-akan takut jika aku pergi meninggalkannya. Bukankah seharusnya aku yang takut dia pergi meninggalkanku..??
“Tampar Aku Sha.. Marahlah padaku.. Pukul aku… Sumpahi aku… Akubenar-benar lelaki Brengsek, Bajingan yang nggak punya Hati karena sudah mencampakan Kamu.. Buat dirimu membenciku Sha… Buatlah aku supaya sedikit menghilangkan rasa bersalah ini untukmu..” katanya masih dengan memelukku.
Aku lalu melepaskan pelukannya menatapnya dengan tatapan lembut. Kutangkup kedua pipinya dengan keduua telapak tanganku. “Aku percaya padamu Mas.. Kamu bukan Lelaki Brengsek, Apapun keputusanmu, Aku akan mengikutinya, aku tau jika itu yang terbaik untuk semuanya.” Kataku selembut mungkin. Aku ingin selalu terlihat tegar dimatanya.. terlihat bodoh dan lemah… memang itulah aku.. Aku hanya terlalu Cinta dengan lelaki di hadapanku saat ini.
Tiba-tiba dia menyambar bibirku. Menciumku penuh dengan Emosi. Emosi dan gairah bercampur aduk menjadi satu hingga sekejap saja Ciuman ini berubah menjadi Ciuman Panas Nan Erotis.
Saat ini aku bahkan tak menyadari, sejak kapan kakiku melangkah hingga kini aku sudah telentang di ranjangnya dengan dia diatasku. Pakaiankupun di lucutinya satu persatu hingga kini meninggalkan aku yang Polos dibawahnya. Aku juga mencoba untuk membuka Kaosnnya. Setelah kami sama-sama polos tanpa banyak pemanasan Lagi dia memasukiku dengan sempurna. Membuatku sedikit terkejut.
Dia memelukku, menciumi setiap inci dari kulitku, seakan-akan Mengklaim jika aku miliknya, aku hanya terlahir untuknya. Mengingat itu, Aku menangis… Aku mengingat jika ini malam terakhir kami. Dia menghentikan aksinya dan menatapku dengan tatapan sendunya. Dia tersenyum tapi matanya mengeluaran airmata… Tangannya meraih jemariku, menciuminya. Lalu dia mengecup kedua mataku yang sudah penuh airmata.
“Jangan menangis..” Ucapnya serak.
“Mas Ramma juga menangis..” jawabku kemudian.
Lalu dia mencumbu bibirku kembali sambil melanjutkan Aksinya, mencumbu dengan sesekali terisak, dan akupun sama, Kami sama-sama menangis. Bercinta penuh dengan emosi…
Hingga akhirnya gelombang kenikmatan itu menghantam kami… tapi tak lama kami melakukannya lagi.. Lagi dan lagi.. seakan-akan tak ada lagi hari esok… seakan-akan ini adalah terakhir kalinya kami bercinta. Seakan-akan kami tak akan pernah bertemu lagi… Aku bahkan tak tau itu sudah berapa kali, tapi kami sama-sama menikmatinya. Jika bisa menghentikan Waktu, aku akan menghentikan waktu detik ini juga, detik dimana tubuh dan jiwa kami menyatu tak mempedulikan hari esok seperti apa, tak mengkhawatirkan tentang perpisahan… sungguh.. aku ingin menghentikan waktu saat ini juga…

___TBC__

Aku hadir lebih cepat yaa… hehheheh jangan bosan yaaa…. hadehhh kok jadi nyesek gini sihh.. hikkss.. hiksss…. ok makasih udah membaca, selamat menunggu Chapter selanjutnya… 🙂 😉

My Everything (Novel Online) – Chapter 8

Comments 4 Standard

MEposter1My Everything

Chapter 8

 

 

Dia membalut luka di tanganku, Aku memperhatikan setiap inci dari wajahnya. Sungguh, aku masih sedikit heran. Sejak kapan Shasha tumbuh menjadi wanita yang sangat menggoda, dan bibirnya.. Sialan.!! Aku tak bisa berkata-kata lagi, bibir itu benar-benar sangat menggoda, akhirnya aku hanya bisa menelan ludah dengan susah payah.
“Kenapa Mas Ramma melukai diri sendiri…?” tanyanya masih dengan membalut lukaku.
“Aku pantas mendapatkannya karena aku brengsek.” Jawabku kemudian.
Dia lalu terseenyum. “Berarti aku wanita paling brengsek karena sudah menggoda lelaki brengsek..”
“Hahhaah .. Jangan bicara seperti itu, kamu gadis baik, bukan wanita brengsek.” Kali ini aku berkata sambil mengecup keningnya.
Setelah selesai membalut lukaku, Kami lalu makan bersama malam ini. Walau rasanya sedikit aneh, tapi aku senang jika semua ini buatan Shasha untukku. Shasha memang bukan Gadis yang panndai masak. Dia hanyalah Gadis manja yang berusaha menjadi wanita dewasa di hadapanku.
“Bagaimana Rasanya..?” tanyanya antusias.
“Ini nggak seperti makanan.” Jawabku asal.
Shasha lalu berjalan kearahku dan bergelung diatas pangkuanku dengan manjanya. “Kok Gitu sih.. padahal aku sudah capek-capek belajar masak Untuk Mas Ramma.” Katanya Manja. Dan astaga… sejak kapan dia berani duduk di pangkuanku dan menjadi wanita penggoda..?
“Jadilah diri sendiri, jangan meniru orang lain. Aku suka kamu yang apa adanya.” Kataku sedikit menegang. Tentu saja.. dia mendudukiku dan ya ampun… baru satu jam yang lalu kami melakukan Seks yang menakjubkan. Aku menginginkannya kembali.. “Sejak kapan kamu berubah menjadi wanita penggoda seperti ini..?”
Dia tersenyum manis, sangat manis. “Aku akan berubah menjadi Apapun asalkan itu bisa mendekatkan diri dengan Mas Ramma..”
Dan akupun tersenyum sesekali mengecup bibir manisnya. “Dan aku lebih suka melihatmu menjadi gadis kecil yang kukenal dulu.”
“Benarkah..?” Tanyanya dengan menaikkan sebelah alisnya. “Lalu kenapa pacar mas Ramma kebanyakan wanita yang sudah berumur..?”
“Karena aku tertarik dengan mereka, bukan suka dengan mereka.”
“Apa bedanya tertarik dengan suka..?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. “Kupikir Tertarik dan suka itu sedikit berbeda, bagiku Tertarik Adalah perasaan suka karena melihat tampilannya, Sedangkan jika Suka berarti yaa hanya suka, tak ada alasan lain kenapa kamu menyukainya” jawabku sambil mengangkatnya dari pangkuanku, sungguh aku tak akan tahan jika dia lebih lama lagi berada diatas pangkuanku.
Dia berdiri dan menatapku dengan tatapan tak terbacanya. “Apa suka itu sama dengan Cinta..?” tanyanya kemudian.
Lagi-lagi aku tertawa. “Ayolah Sayang… jangan bahas Cinta, Mas Ramma nggak tau apa-apa tentang Cinta, Apa belum cukup jika aku bilang bahwa aku suka sama kamu..?.”
“Bagiku belum Cukup.” Jawabnya tegas. Dan aku hanya tersenyum melihat kegigihannya.
“Aku nggak tau apa Cinta itu.” Kataku kemudian.
“Aku akan Mengajari Mas Ramma jika Mas Ramma bersedia.”
“Benarkah..? Memangnya kamu tau apa Cinta itu..?”
Dia mengangguk. “Cinta memiliki banyak Arti, tergantung dari mana kita melihatnya.” Dia mulai menjelaskan. “Bagiku Cinta adalah ketika kita tak mampu lagi berpaling dari seseorang walau orang itu sudah menyakiti kita dan tak pernah mengangggap kita ada.”
Dengan tersenyum aku berkata. “Sepertinya kamu menyindirku.”
“Yaaa Aku memang menyindir Mas Ramma, Karena aku Cinta sama Mas Ramma.” Aku menegang saat mendengar ucapan cintanya. Ada apa ini..?
“Bagaimana jika Aku mencintai wanita lain..?” tanyaku kemudian
“Aku Rela menjadi yang Kedua, Ketiga dan seterusnya.”
“Benarkah..? Kupikir kamu nggak sebodoh itu.”
Dia lalu tersenyum manis. “Kalau aku tak sebodoh itu, saat ini aku nggak akan berada di sini Mas. Aku tak akan mau menjalin hubungan dengan Lelaki yang memiliki kekasih. Tapi sekarang aku tetap melakukannya, aku bahkan rela memberi harta berhargaku Karena itu Kamu.” Jawabnya sambil berjalan kearah dapur membawa piring-piring kotor sisa makan malam tadi.
‘Deg… Deg… Deg…’
Jantungku tak berhenti berdetak keras, Nafasku sesak mendengar penjelasannya. Shasha bahkan sudah mengetahui hubunganku dengan Zoya bahkan mungkin dengan wanita-wanita lainnya. Tapi dia masih berdiri disini denganku. Apa dia tak Cemburu..?
“Apa Kamu nggak Cemburu..?”
Dia mencuci piring lalu menoleh kebelakang dan memandangku lengkap dengan senyumannya. “Sejak beberapa tahun yang lalu kamu yang mengajariku untuk tidak Cemburu.”
Aku..?? Aku benar-benar tak mengerti apa katanya, sejak kapan aku mengajarinya untuk tak Cemburu..?
Melihat wajah bingungku, Shasha lalu tersenyum dan berkata. “Dulu Aku Cemburu saat melihat Mas Ramma dekat dengan Wanita, tapi Seringnya Mas Ramma berdektan dengan wanita membuat kepekaan Rasa Cemburuku itu menghilang sedikit demi sedikit, Hingga kini aku bisa mengontrolnya. Aku bisa memaklumi jika Mas Ramma tak hanya bisa hidup dengan seorang wanita.”
Dan mendengar pernyataannya itu tanpa sadar kakiku melangkah kearahnya, memeluknya dari belakang, menyandarkan kepalaku di pundaknya sesekali menghirup aroma wangi rambutnya. “Sejak kapan kamu berubah menjadi sedewasa ini..?” tanyaku tanpa sadar. Yaaa sejak kapan gadis yang 6 tahun lebih muda dari pada aku ini mempunyai pemikiran sangat dewasa..?? dia bahkan bisa membagiku dengan wanita lain.
“Sejak Kamu menolakku dan bersikap dingin padaku.” Jawabnya kemudian.
Aku membalikkan tubuhnya hingga menghadapku. “Aku minta Maaf, aku benar-benar minta Maaf. Saat itu aku hanya tak ingin hubungan kita hancur hanya karena Cinta sesaat.”
“Nyatanya hubungan kita tetap hancur kan pada saat itu, dan hingga kini kita masih merasakan imbasnya.”
Yaaa… Aku mengangguk pelan. Memang sejak awal salahku. Jika aku mncoba berhubungan dengan Shasha sejak awal mungkin sekarang tak akan serumit ini. Renno juga mungkin tak akan menentang habis-habisan hubunganku dengan Shasha. Dan Zoya.. mungkin aku tak akan mengenalnya.
“Semuanya memang salahku.”
Dia menangkup kedua pipiku. “Salahku juga Mas… Aku terlalu percaya diri untuk mengatakan Cinta di usia dini tanpa memikirkan Resikonya.”
Kata-katanya benar-benar menghangatkan hatiku. Shasha yang kukenal saat ini benar-benar sudah berubah dengan Shasha yang dulu. Dia Dewasa.. Jauh lebih dewasa dari umurnya. Sikap lembutnya mengingatkanku dengan Mama, orang tua angkatku yang sangat kucintai. Aku memiliki rasa Keakraban dengannya, bukan sekedar gairah Seks. Belum lagi tampilan Fisiknya yang menambah nilai Plus.. Sepertinya… sepertinya Aku tak akan sembuh.. Aku semakin parah, Dan jatuh semakin dalam kedalam ‘Zona Bahaya.’ Bagaimana ini..??
Tanpa sadar tenyata aku sudah mengulum bibir manis Shasha, melumatnya penuh dengn gairah nafsu yang membara, Aku mendorongnya kebelakang hingga dia menabrak meja dapur. Sedikit kuangkat tubuhnya dan mendudukkannya di atas meja dapur, masih dengan mengulum bibir manisnya.
“Aku menginginkanmu sekarang..”
“Lakukanlah…” katanya sedikit mendesah.
Dan akupun tak menunggu lama lagi, tanganku yang sejak tadi sudah berada di dadanya kini turun untuk meraba titik sesitifnya, memeriksa apa dia sudah basah dan siap untukku atau belum. “Kamu Basah.. kamu sudaah siap..” kataku sambil mengecupi leher jenjangnya.
Aku meraih saku belakang celana Jeansku, tempatku biasanya menyimpan bungkusan Foil untuk berjaga-jaga. Ternyata tak Ada. Mencari di saku satunya dan ternyata juga tak ada. Akhirnya aku melepaskan cumbuanku. Menatap matanya yang berkabut. “Tunggu sebentar yaa.. Aku akan mengambil..”
Dia memotong kalimatku dengan mencium bibirku. Sialan..!! jika seperti ini aku tak akan tahan walau hanya masuk kekamar sebentar untuk mengambil pengaman. “Lakukanlah sekarang.” Katanya membuatku sedikit terkejut. Dia ingin aku didalamnya tanpa pengaman, apa dia sudah Gila..??
“Tidak Sha… Kamu tau Resikonya..”
“Aku nggak akan Hamil. Ini bukan masa suburku.”
“Kamu yakin..?”
Dia mengangguk pelan, “Percayalah Mas.. Aku nggak akan Hamil.” Dan tanpa banyak bicara lagi kusisipkan diriku hingga masuk sepenuhnya kedalam dirinya.
Dia Mengerang…!! Sialann..!!! Masih sangat Sempit. Dan akubenar-benar bisa Gila karenanya. Bercinta di meja dapur dengan berpakaian lengkap tanpa pengaman benar-benar sangat menggairahkan. Entah itu karena dapurnya, atau karena orangnya, aku tak tau. Yang jelas aku tak pernah merasa sepuas ini saat bercinta dengan seseorang. Sangat puas hingga aku menginginkannya lagi dan lagi.
Dia mengetat, aku tau jika dia akan sampai dan itu semakin menyiksaku. Aku menghujamnya berkali-kali, mencari kenikmatan untuk kami, dia mendesah bahkan mengerang nikmat, dan akupun sama, berkali-kali aku bahkan mengumpat hanya kerena tak tahan dengan semua kenikmatan yang kuterima.
“Aarrggghh..” teriaknya dan aku tau jika dia sudah sampai. Dan tanpa pikir panjang lagi, aku mempercepat lajuku hingga aku menyusulnya di puncak kenikmatan tersebut.
***
Aku terbangun masih dalam keadaan polos, tanpa sehelai benangpun. Kupandangi pundak wanita di sebelahku yang terlihat polos dan memiliki beberapa bercak merah karena jejak-jejak yang kuberikan padanya tadi malam. Sedikit teringat tentaang Zoya, biasanya dia yang menemani pagiku, menyambut saat aku membuka mata. Tapi sekarang Shasha yang menemaniku. Aku mengecup pundaknya berkali-kali. Dan dia masih tak bangun. Mungkin kelelahan. Dasar pemalas.
Akhirnya aku bergegas masuk kedalam kamar mandi. Mandi pagi karena pagi ini ada jadwal Rapat di kantor. Saat aku kembali dari kamar mandi dengan badan yang sudah lebih segar, Aku mendapati Shasha sudah duduk manis menungguku, dia mengenakan kmeja hitam panjangku yang sangat kontras dengan kulit putihnya, membuatku menelan ludah dengan susah payah.
“Emm.. Nggak apa-apa kan kalau aku pakai kemeja Mas Ramma..?” tanyanya dengan malu-malu.
Aku menghampirinya lalu menyambar bibirnya. “Pakailah sesukamu, tapi kumohon… jangan kenakan itu pagi ini.. itu membuatku menginginkanmu lagi, dan demi tuhan.. aku ada rapat pagi ini.”
Dia terkikik karena mendengar permintaanku. “Maaf.. aku hanya ingin mengetahui reaksi Mas Ramma saat aku mengenakan kemeja ini.”
“Jadi kamu niat untuk menggodaku..?” dan dia hanya tersenyum geli.. “Dasar Gadis naakal.. lihat saja nanti malam, aku akan membuatmu tak bisa berjalan hingga meminta ampun dan meminta untuk berhenti.” Kataku dengan sedikit menahan gairah yang sudah hampir meledak.
“Lakukan Saja Weewwkk.. Aku nggak takut.” Katanya sambil menjulurkan lidahnya dan berlari kearah kamar mandi. Sialan…!!1 Gadis Nakal.
Tak lama dia keembali dengan badan yang sudah segar, Aromanya benar-benar menggiurkan. Aku sudah rapi dan sedang berdiri menunggunya sambil memutar-mutar Dasi yang kubawa.
“Apa..?” tanyanya padaku.
“Pasangkan ini, Aku nggak bisa memakai Dasi sendiri.” Kataku manja sambil menghampirinya.
“Beneran Mas Ramma nggak bisa pakai dasi..?”
Aku mengangguk. Jujur saja aku memang tak bisa mengenakan dasi sendiri. Sejak dulu aku terlalu malas untuk mengenakan Dasi. Dulu Mama yang memakaikannya untukku, setelah aku tinggal dengan Zoya, Zoyalah yang memakaikannya untukku. Dan jika tak ada siapapu yang bisa memakaikannya, Aku hanya bisa puas dengan mengenakan Kemeja saja tanpa dasi.
“Sini.. biar aku bantu,” Katanya menrikku mendekat dengannya.
Kulihat wajah seriusnya saat memasangkan dasiku, dan.. Aku terpesona. Sungguh, terpesona dalam arti yang sebenarnya, bukan terpesona kareena mengnginkan Seks. “Siapa yang mengajarimu memasang dasi..?” tanyaku penasaran.
“Setiap pagi Mbak Allea selalu memasangkan Dasi untuk Mas Renn setelah sarapan pagi. Astaga.. mereka benar-benar Mesrah hingga membuatku mual.”
“Kamu iri.”
“Enggak… ngapain aku iri…”
“Hahaha terlihat jelas dari cara kamu bicara.” Tambahku lagi. “Sha.. aku sudah memutuskan sesuatu.”
“Apa..?”
“Nanti Sore kita ketempat temanku. Dia Dokter, Dan aku mau… Kamu menggunakan pengaman.”
Dia sedikit terkejut dengan permintaanku. “Kenapa harus Aku..?”
“Karena aku tak akan mau memasukimu dengan menggunakan pengaman lagi. Sialan..!! tadi malam benar-benar memuaska.” Pipinya bersemu merah, dia malu.
Lalu aku megecup singkat bibirnya. “Aku ingin hubungan kita lebih baik lagi.” Pungkasku kemudian lalu melumat bibirnya kembali.
***
Aku duduk di sebuah Cafe tempatku membuat janji temu dengan Zoya setelah selesai Rapat. Tak lama aku melihatnya datang, wajahnya masih terlihat murung. Sialan..!! dia masih marah.
“Gimana kabar kamu..?” Aku mulai bicara.
“Baik, seperti yang kamu lihat.” Dan sejak kapan sikaapnya menjadi secuek ini terhadapku..?
“Aku sudah melakukannya.” Kataku kemudian. Dia terlihat terkejut, lalu menatapku seakan meminta penjelasan. “Aku sudah meniduri Shasha seperti yang kamu mau, aku sudah memperlakukannya sama seperti aku memperlakukan wanita simpananku lainnya.” Jawabku dengan sedikit ketus.
Dia terlihat senang dan antusias. Sialan..!! Wanita mana yang senang saat mendengar kekasihnya tidur dengan wanita lain..? Zoya benar-benar aneh.
“Benarkah..? Apa kamu serius.?”
“Kamu Gila.” Bentakku kemudian. “Kamu nggak tau apa yang sudah kamu lakuin. Kamu mendorongku supaya aku mau meniduri Shasha supaya dia terlihat sama dengan Kalian, tapi kamu salah, Bagaimanapun juga Shasha tetap berbeda. Dan apa kamu tidak takut jika aku mulai kecanduan dengannya lalu meninggalkanmu..??”
“Itu tidak mungkin, Tunggu saja, setelah sebulan kemudian kamu pasti bosan dengannya.”
“Jika tidak..?”
“Aku akan meninggalkanmu.” Jawabnya dengan pasti.
“Sialan…!!! Enggak… enggak bisa, Aku belum siap kamu ninggalin aku.” Jujur saja, seberapapun Shasha mempengaruhi hidupku, berpisah dengan Zoya adalah hal terakhir yang pernah aku pikirkan. Aku sayang dengannya Meski kini aku sadar perasaanku kepada Shasha tak pernah hilang bahkan semakin tumbuh sangat cepat seperti roket. Aku belum mau berpisah dengan Zoya.
“Kalau begitu, Kamu harus pilih salah satu.”
Dan setelah kata-kata itu aku termenung. Yaa aku memang haus pilih salah satu. Shasha… yang sudah seperti Segalanya untukku, Atau Zoya, Wanita yang banyak mengorbankan diri untukku.
“Aku tidak bisa memilih.” Jawabku lirih sambil menunduk.
“Lalu mau kamu Apa Ramma..??” dia mulai berteriak frustasi tak menghiraukan para pengunjung Cafe yang mulai melirik kearah kami.
“Maaf.. Aku juga bingung dengan perasaanku sendiri.” Yaa aku bingung..benar-benar sangat bingung. Ini sulit. Jika Shasha mau menuruti semua keputusanku, tapi tidak dengan Zoya, Aku tau dia wanita mandiri dan kuat. Dia bahkan memilih berpisah dengan suaminya, lelaki yang dicintainya, hanya karena pekerjaan suaminya tersebut Pilot, dan dia jarang mendapat perhatian.
Jika aku menuruti kemauan Zoya untuk meninggalkan Shasha, tentu saja itu akan menyakiti Shasha, Dan itu juga akan menyiksaku.
Dia lalu berdiri. “Aku akan pergi beberapa minggu ke singapore, Aku harap setelah kembali kamu sudah bosan dengannya dan meninggalkannya. Jika tidak, Aku minta kamu segera mengepak semua barang-barang kamu dari Apartemenku.” Katanya lalu dia berlalu pergi begitu saja.
Sialan..!! Brengsek..!!! Fuck..!!!
Apa tadi..?? Dia mengusirku..? Seorang Ramma Aditya diusir oleh seoang Wanita.? Hell…!!! dan sejak kapan wanita yang lemah lembut seperti Zoya berubah menjadi Macan betina yang ganas.? Apa ini sosok aslinya.? Sialan…!!! dia hanya memberiku waktu beberapa minggu.
***
Aku menunggu Shasha di ruang tunggu rumah sakit. Sore ini aku membawanya ketempat kerja Nadia, teman Zoya. Nadia yang kini kerja di rumah sakit sedikit terkejut karena mendapati aku, kekasih sahabatnya sedang mengantar wanita untuk menggunakan kontrasepsi. Sialan…!! Aku tak peduli dengan tatapan anehnya.
Shasha keluar dengan wajah berserinya. “Sudah selesai..?” tanyaku kemudian.
“Sudah.” Jawabnya santai. “Setelah ini kita kemana..?”
“Ke taman hiburan.” Jawabku cepat. Aku tak tau kenapa tiba-tiba aku ingin kesana aku hanya ingin kencanku dengan Shasha terasa sedikit Spesial, bukan nongkrong di klub malam, atau tidur semalaman di kamar Hotel. Shasha tidak akan kutempatkan pada posisi seperti itu.
“Kenapaa ke taman hiburan..?”
“Aku hanya ingin kesana Saja”
Dan akhirnya meluncurlah kami kesana. Kami banyak memainkan Wahana, Berjalan sambil menikmati Arum manis denga bergandengan tangan, membuatku merasa benar-benar sedang berkencan. Kencan secara Sehat.
“Sha… Apa kamu pernah lupain masa-masa kita dulu..?” tanyaku kemudian saat kami sedang menaiki Wahan Kincir Ria.
“Aku nggak pernah lupa.”
“Aku juga enggak..” jawabku kemudian. “Kalau suatu saat nanti kita berpisah, apa kamu masih akan mengingat masa-masa ini..?”
“Enggak..” Jawabannya membuatku sedikit terkejut. “Aku nggak akan pernah melupakan semua ini.” Lanjutnya lagi mebuatku menghembuskan nafas lega.
“Sha….” entah kenapa pertanyaan ini tiba-tiba terlintas di otakku. “Apa Kamu mau jadi istri Mas Ramma..?”
Dan seketika itu juga kulihat ekspresi terkejutnya, Matanya membulat seakan-akan tak percaya, Bibirnya ternganga, Wajanya pucat pasi. Siapa yang tak terkejut jika tiba-tiba di lamar di tempat tertinggi Di kota ini da dengan pelamar yang Brengsek seperti aku..??
Kuharap dia mau menerimaku.

__TBC__

Maaf agak pendek yaa,, Aku gantuk bgt.. Bye.. Bye… :* 🙂 😉