Future Wife – Chapter 8 (Bunga)

Comments 3 Standard

 

Chapter 8

-Bunga-

 

Dengan kesal Evan merebahkan tubuhnya di atas sofa tepat di sebelah Davit. Davit sendiri masih asyik dengan tayangan sepak bola yang ia tonton. Jadi ceritanya, TV dia yang di ruang tengah sedang rusak. Davit tidak mungkin menumpang nonton bola di kamar Dirly, karena puteranya itu sudah tidur, dan tak mungkin juga ia menonton bola di kamarnya karena disanapun ada Sherly yang tidur dengan puteri kecil mereka. Sedangkan Davit tak bisa menonton tanpa berteriak-teriak seperti orang gila. Ya, ia memang penggila olah raga.

Dengan bosan dan kesal, Evan menemani Davit. Ia tidak mungkin kembali masuk ke dalam kamarnya dan mencurahkan hasratnya pada Tiara, mengingat ia adalah orang yang ‘vokal’ dalam bercinta. Ia tidak mungkin membiarkan Davit mendengarkan erangan kenikmatan yang keluar denngan spontan dari bibirnya.

Sial! Bahkan membayangkannya saja membuat Evan semakin nyeri menahan hasratnya.

Dengan gelisah, Evan menggerak-gerakkan tubuhnya hingga mau tidak mau membuat Davit menatap ke arahnya.

“Lo kenapa sih?” tanya Davit sedikit risih dengan Evan yang tampak tak dapat diam.

“Lo kapan pulangnya?”

“Lo gila ya? Belum juga dapet setengah permainan, masa lo sudah ngusir gue?”

“Berengsek, gue mau meledak.” Evan melirih pelan.

“Apa?” Davit tidak sempat mendengar apa yang dikatakan Evan.

“Nyaringkan Tvnya, dan demi Tuhan, jangan beranjak dari tempat duduk lo.”

“Lo mau ngapain sih?” tanya Davit tak mengerti.

Evan tidak menjawab, ia bangkit meraih remote TVnya, menaikkan volume suaranya, lalu ia segera pergi meninggalkan Davit. Davit hanya menaikkan sebelah alisnya menatap temannya itu, lalu ia kembali fokus pada pertandingan sepak bola tim kesayangannya.

****

Setelah berlari cepat menuju ke arah kamarnya, Evan masuk lalu mengunci diri. Ia melihat Tiara yang ternyata sudah menunggu. Wanita itu masih setia duduk di pinggiran ranjangnya, dan Evan segera menghampirinya.

“Siapa Pak?” tanya Tiara.

“Davit, numpang nonton bola.”

“Apa?”

“Ya. Sudahlah, lupakan dia, sekarang, kita selesaikan urusan kita.” Ucap Evan sambil meraih pergelangan tangan Tiara.

“Tapi pak Davit.”

“Nggak usah pikirin Davit, dia masih asyik sama dunianya, asal kita nggak berisik, kita aman.”

Dan Tiara mengikuti saja apa rencana Evan. Ia mengikuti ketika Evan menariknya masuk ke dalam kamar mandi. Tiara pasrah saat tiba-tiba Evan menyerangnya, menghimpitnya di antara dinding. Evan segera melucuti pakaiannya sendiri lalu melucuti pakaian Tiara hingga keduanya kini sudah berdiri sama-sama polos.

“Saya hampir gila karena karena memikirkan ini.” Bisik Evan sembari mengangkat sebelah kaki Tiara lalu mencoba menyatukan diri tanpa melakukan pemanasan apapun. Ya, sepertinya sudah tidak perlu pemanasan lagi. Tiara sudah basah, siap menyambutnya. Begitupun dengan dirinya yang sudah tegang, padat, dan siap dipuaskan.

Tiara mengerang, tapi secepat kilat Evan membungkam bibir Tiara dengan telapak tangannya hingga erangan wanita itu tertahankan.

“Kita tidak bisa berisik.” Bisiknya serak.

“Tapi, Pak.” Tiara benar-benar tak dapat menahan erangannya. Tubuh Evan terasa panas membakarnya. Oh, percintaan mereka kali ini benar-benar panas. Dan entah kenapa itu membuat Tiara semakin bergairah. Sejak kapan ia menjadi wanita nakal seperti  ini? Pikirnya dalam hati.

“Baiklah, maka jangan salahkan saya, kalau saya tidak berhenti mencumbu kamu.” Ucap Evan sebelum kemudian ia mendaratkan bibirnya pada bibir Tiara, mencumbunya dengan panas tanpa menghentikan pergerakannya. Ya, rasanya luar biasa, hingga Evan merasa jika dirinya tidak akan cukup melakukannya dalam satu kali pelepasan.

Sial! Tiara benar-benar sudah membuatnya gila. Gila karena tubuh wanita itu.

***

Evan kembali ke tempat Davit yang masih asyik dengan tontonan bolanya. Kali ini, Evan sudah tak lagi menahan kesakitan atau gairahnya lagi. Wajahnya pun tak lagi menegang, yang ada hanya senyuman-senyuman aneh yang membuatnya tampak bodoh karena tersenyum sendiri mengingat kejadian padan di dalam kamar mandinya.

Oh, Evan merasa jika dirinya sedang mencuri-curi kesempatan, seperti Davit adalah orang tua Tiara, dan ia sedang memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan. Itulah yang membuat Evan tak berhenti tersenyum sendiri.

“Lo kenapa? Senyum-senyum nggak jelas.” Tanya Davit yang memang merasa sedikit aneh dengn Evan yang kembali dengan ekspresi menggelikannya. Wajah temannya itu tak berhenti menyunggingkan senyumannya, belum lagi rona merah diwajah Evan membuat Davit merasa geli sendiri.

“Nggak apa-apa, emangnya kenapa?”

“Kayak orang abis main sabun.”

“Sialan.” Evan mengumpat sambil tertawa. “Gimana bolanya? Menang?”

“Berengsek! Real Madrid kalah. Gue kalah taruhan sama anak buah gue. Sialan!”

Evan tertawa lebar menertawakan kekesalan Davit. “Kan belom selesei.”

“Kurang beberapa menit lagi, nggak akan bisa nyusul. Lo dari mana sih?” tanya Davit yang sontak membuat Evan sedikit salah tingkah.

“Cuci baju di belakang.”

“Kenapa nggak di laundrykan aja? Lo kan CEO.”

“CEO apaan?” Evan mendengus sebal. “Lagian enak dicuci sendiri sambil olah raga.” ucap Evan penuh arti. Astaga, ia kembai teringat Tiara. Sedang apakah wanita itu saat ini? Apa sudah selesai mandi? Apa wanita itu segera tidur? Lamunannya buyar saat Davit kembali mengumpat kasar sambil berdiri.

“Berengsek! Duit 5 juta gue raib.”

Evan mengerutkan keningnya. “Maksud lo?”

“Lo nggak lihat, Bolanya sudah selesai. Gue kalah telak sama anak-anak.”

Evan tahu, anak-anak yang dimaksud Davit adalah anak buahnya di restoran. Tapi Evan masih tidak habis pikir jika Davit akan mengeluarkan uang cukup banyak untuk membayar taruhan konyolnya.

“Gue pulang. Jangan bilang-bilang kalau gue taruhan. Kalo Sherly tahu gue taruhan gini, gue bisa dibunuh.”Evan hanya tertawa lebar, ia ikut bangkit, dan mengantar Davit hingga ke depan pintu rumahnya.

Saat Davit akan pergi, matanya menangkap sebuah rak sepatu yang berada di sebelah pintu rumah masuk rumah Evan, tak ada yang aneh memang, tapi ia menatap sepasang sendal perempuan yang tampak sedikit familiar untuknya. Sendal perempuan? Bukannya Evan tinggal sendiri?

Davit tidak bertanya, karena ia memilih diam. Mungkin Evan memang sedang berhubungan dengan seorang wanita, dan itu memang bukanlah menjadi urusannya. Akhirnya Davit memilih pergi meski dalam hati ia sedikit penasaran dengan sikap aneh Evan sepanjang malam.

***

Hari Sabtu akhirnya tiba juga, hari dimana Evan harus kembali ke Jakarta dan menjemput seseorang di bandara sesuai dengan apa yang diperintahkan ibunya. Evan sebenarnya sudah curiga jika ia akan dijodohkan dengan wanita itu. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak, mungkin, setelah bertemu dengan wanita itu, ia akan berunding dengan wanita itu, agar wanita itu mau menolak perjidohan mereka.

Tapi kini, sudah hampir Dua jam lamanya Evan menunggu wanita itu, tapi ia tak juga  menemukannya. Mamanya tadi juga tidak sepat memberi tahu, naik pesawat apakah wanita itu, dan dari mana. Sial! Evan benar-benar merasa jika dirinya menjadi orang tolol hari ini.

Semuanya tentu karena tadi pagi, ketika ia sengaja berpamitan pada Tiara dengan sesekali menggoda wanita itu.

Tadi pagi….

“Apa yang Pak Evan lakukan?” tanya Tiara yang terdengar tidak nyaman saat Evan tiba-tiba memeluknya dari belakang dan mendaratkan jemarinya pada sebelah payudara Tiara. Evan bahkan sudah mendaratkan bibirnya pada tengkuk Tiara.

“Enggak, saya cuma mau ngabisin pagi ini dengan begini.”

“Kenapa?”

“Saya mau pulang ke Jakarta, hari ini. Mungkin baru balik senin sore.”

“Kok mendadak?”

“Kenapa? Kamu nggak suka jauh dari saya?”

“Bu-bukan begitu.” Tiara sedikit salah tingkah.

“Lalu?” tanya Evan yang sedikit memancing reaksi Tiara.

“Uuum, Kenapa tiba-tiba pulang? Ada masalah sama keluarga Pak Evan?”

“Nggak ada, kayaknya saya mau dijodohin sama seseorang.” Evan merasakan tubuh Tiara sedikit menegang. Kenapa? Apa Tiara tidak suka? “Kenapa? Kamu nggak suka?”

“Uuum, itu kan bukan urusan saya.”

“Ya, benar sekali. Tapi saya akan mengusahakan supaya wanita itu mau menolak perjodohan kami. Rasanya menggelikan kalau menikah dengan orang yang nggak kita kenal.”

“Kalau wanita itu tidak mau menolak?” tanya Tiara kemudian.

“Kami akan menikah.”

“Lalu?”

“Kamu akan tetap menjadi milik saya, menghiasi ranjang saya, dan melayani saya seperti biasanya.”

“Dan bagaimana dengan wanita itu?”

“Saya akan mengurusnya.”

“Pak…”

“Saya tidak ingin dibantah. Begini saja, saya suka seperti ini.” Lanjut Evan lagi yang saat ini sudah kembali mencumbui sepanjang leher Tiara. Tiara sendiri kembali diam, ia tak bisa berbuat banyak. Ya, Evan memang berkuasa, dan dirinya tidak bisa pergi dari sisi lelaki itu sebelum lelaki itu sendiri yang membuangnya.

 

Lamunan Evan buyar saat ia merasakan ponselnya bergetar di dalam saku celana yang ia kenakan. Evan merogohnya, sedikit mengernyit saat mendapati nomor baru di sana. Siapa? Akhirnya Evan mengangkatnya.

“Halo?”

“Hai, Evan Pramudya?” tanya suara lembut di seberang telepon.

“Ya, ini siapa?”

“Safriana. Panggil saja Ana. Orang yang kamu jemput siang ini.”

“Ah ya, dimana? Saya sudah nunggu kamu hampir dua jam.” Ucap Evan sembari melirik jam tangannya.

Terdengar suara tawa di seberang telepon hingga membuat Evan mengangkat sebelah alisnya.

“Ada apa?” tanya Evan penasaran, karena ia merasa jika dirinya tidak sedang melucu.

“Maaf, saya sudah di dalam kamar pacar saya, tadi dia yang jemput saya, tapi saya belum sempat menghubungi Anda.”

“Apa?” sungguh, Evan tidak mengerti cara berpikir perempuan ini.

“Saya harap Anda tidak mengungkapkan hal ini pada keluarga kita, bagaimanapun juga, saya masih ingin menikah dengan Anda, terimakasih, sampai jumpa lain waktu.” Lalu sambungan telepon ditutup begitu saja hingga membuat Evan ternganga.

Apa-apaan ini?

***

Akhirnya Evan memilih pulang ke rumahnya. Sampai di rumah, ia disambut dengan hangat oleh sang Mama dan juga…. Karina. Ya, wanita yang coba ia lupakan, dan Evan baru menyadari, jika memang beberapa hari terakhir, ia tak lagi memikirkan tentang Karina.

“Akhirnya kamu pulang.” Nyonya Pramudya berkata sembari bergelayut di lengan Evan.

“Ma, kan cuma di bandung.”

“Tetep aja, mama kangen, kamu nggak pernah pulang, dan kamu nggak pernah biarin mama main ke sana.”

“Evan sibuk, Ma.” Evan lalu menatap ke arah Karina. Wanita itu sedikit pucat, seperti biasa, ia segera merasa khawatir dengan wanita muda di hadapannya tersebut.

“Kamu, sakit? Kok pucat.”

Karina tersenyum. “Enggak kok, Kak.”

“Biasa, wanita hamil kan memang tampak pucat, apalagi Karin sering anemia.”

“Oh ya? Darren harus lebih perhatian sama kamu.” Ucap Evan dengan lembut, penuh perhatian.

“Tentu saja.” Suara di belakangnya membuat Evan menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Darren berdiri di sana dengan seikat bunga dan juga sebuah kotak. “Aku keluar untuk menuruti apa maunya.” Ucap Darren sembari menyodorkan kotak dan bunga yang dibawanya.

“Oh ya?”

“Ya, ngidam yang aneh, bunga dan cokelat? Yang benar saja.” Darren sedikit menyunggingkan senyumannya sembari menatap Karina, sedangkan Karina hanya menunduk malu-malu.

Evan yang melihatnya merasa sedikit terusik. Ya, bagaimanapun juga, rasa itu masih ada untuk Karina, meski tak sebesar dulu.

Tak sebesar dulu?

“Karin memang ngidamnya aneh, Van. Masa hari-hari dia minta dibeliin bunga sama Darren.” Ucap yang mama yang membuat wajah Karina semakin memerah karena malu.

Evan sendiri hanya tersenyum, ia merasa suasana diantara mereka tak lagi tegang seperti beberapa bulan yang lalu. Mungkin Darren sudah mengerti kalau ia tidak akan mungkin merebut Karina dari sisi adiknya tersebut, mungkin juga Karin sudah melupakan tentang semua yang pernah terjadi diantara mereka, dan mungkin juga, ia sudah merelakan wanita yang dicintainya itu bahagia dengan adiknya.

Benarkah ia sudah merelakannya?

“Kenapa harus bunga?” tanya Evan penasaran.

Darren tidak menjawab, ia membiarkan Karina yang menjawab pertanyaan Evan.

“Nggak apa-apa, kayak manis aja.” Jawab Karina masih dengan wajah memerah.

“Apa semua wanita suka dikasih bunga?” tiba-tiba Evan bertanya dengan spontan.

“Kenapa? Lo mau ngasih seseorangbunga?” Darren bertanya balik.

“Safriana? Kamu mau ngasih dia bunga, kan? Tadi kamu sudah ketemu sama dia, kan? Gimana?” sang Mama segera menyerbu Evan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

“Safriana? Siapa dia?” tanya Darren sedikit penasaran.

“Calon istri Evan.” Sang Mama menjawab cepat.

“Ma.” Evan ingin meralat ucapan Mamanya.

“Jadi lo mau nikah?” tanya Darren yang tampak senang dengan berita tersebut. Evan tak dapat menjawab banyak, masalahnya, hubungannya dengan Safriana bukan seperti itu. Wanita itu bahkan terdengar suka main-main saat tadi meneleponnya.

Lagi pula, ia bertanya tentang bunga bukan untuk Safriana, tapi untuk….. Sial! Kenapa juga ia memikirkan wanita itu saat seperti ini?

“Sudah-sudah, mending kita masuk dan membahas semua di dalam. Kamu, nginep sini kan malam ini?” sang Mama bertanya pada Evan.

“Aku, pulang Ma.” Entah apa yang membuat Evan menjawab dengan spontan pertanyaan mamanya.

“Pulang? Ini kan rumah kamu.”

“Maksudku, pulang ke Bandung. Besok, aku lagi ada urusan, Ma.”

“Tapi besok kan minggu, Van.”

Evan hanya bisa tersenyum “Maaf, Ma.” Ucapnya dengan sesal.

Ya, sebenarnya ia tak memiliki urusan apapun, tapi Evan merasa jika dirinya ingin segera pulang ke Bandung. Apa karena ada yang menunggunya? Ya, mungkin saja.

Meski kecewa, tapi sang mama mencoba mengerti. Yang pasti, suasana diantara mereka tak lagi setegang dulu, dan itu membuat Nyonya Pramudya dapat menghela napas lega. Rupanya, ide menjodohkan Evan bukanlah hal yang buruk. Pikirnya.

****

Evan tak berhenti menatap setangkai mawar merah buatan yang berada di atas dashboard mobilnya. Bunga itu tadi ia beli ketika diperempatan lampu merah. Saat ada beberapa anak kecil yang menjajakan jualannya berupa suvenir termasuk bunga buatan yang ia beli itu.

Tiba-tiba saja perkataan Karina tadi terngiang di telinganya.

“Nggak apa-apa, kayak manis aja.”

Evan tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Apa Tiara akan menganggapnya lelaki yang manis setelah ia memberikan bunga ini pada wanita itu? Apa Tiara akan merona-rona merah seperti Karina saat menerima bunga dari Darren.

Gila! Ini benar-benar gila! Kenapa juga ia memikirkan reaksi Tiara?

Sial! Sepertinya apa yang ia lakukan ini hanya sebuah manifestasi dari perasaannya terhadap Karina yang ia salurkan untuk Tiara. Ya, mungkin hanya itu. Lagi pula itu tidak salah. Baginya, kehadiran Tiara bukan hanya untuk memuaskan hasratnya, tapi juga untuk mencurahkan rasa yang ingin ia curahkan pada sosok Karina. Tidak salah bukan?

Evan menghela napas panjang, sebelum ia keluar dari dalam mobilnya, lalu masuk ke dalam rumahnya. Semoga saja Tiara belum tidur, karena tentunya, ia ingin menghabiskan malam yang panas bersama dengan wanita itu. Ya, apalagi yang ia cari jika bukan tubuh Tiara hingga memilih kembali pulang ke bandung ketimbang menginap di rumah orang tuanya.

Evan membuka pintu rumahnya, masuk, lalu menutup dan mengunci pintu rumahnya. Ia segera mencari Tiara, mungkin wabita itu ada di kamarnya, dan benar saja, saat Evan masuk ke dalam kamarnya, Tiara rupanya baru saja selesai mandi. Wanita itu hanya mengenakan handuk yang membalut tubuh mungil wanita tersebut. Rambutnyapun masih tertutup dengan handuk mungil di kepalanya. Dan ekspresi wanita itu tampak terkejut dengan kedatangan Evan.

“Pak Evan, kok pulang?”

Evan tidak menjawab, ia memilih melangkahkan kakinya dengan pelan tapi pasti ke arah Tiara. Tiara sendiri memilih mundur, menghindar saat Evan mendekat ke arahnya.

“Pak…” Tiara menahan dada Evan yang semakin mendekat, sedangkan kini tubuhnya sudah terhimpit dengan dinding di belakangnya.

“Kamu berniat menggoda saya?”

“Apa?”

Evan menelan ludahnya dengan susah payah. “Saya tidak bisa berpikir jernih lagi saat melihat kamu setengah telanjang begini.”

“Maaf, kalau begitu, biar saya pakai baju dulu.”

“Nggak perlu.” Evan menjawab cepat.

“Lalu?”

Evan terdiam cukup lama. Ia ingin segera menyerang Tiara karena hasrat yang ia rasakan semakin membumbung tinggi. Tapi, ia tidak ingin Tiara melihatnya seperti seorang maniak yang hanya memikirkan selangkangannya. Bagaimanapun juga, Evan ingin terlihat lebih manis dihadapan Tiara, ya, setidaknya itu menyamarkan sikap berengseknya yang sudah memanfaatkan kepolosan wanita ini.

“Ini, buat kamu.” Evan memberikan setangkai bunga yang ia beli tadi.

“Bunga? Buat apa?”

“Oleh-oleh, dari Jakarta.”

“Ke-kenapa ngasih saya oleh-oleh?”

“Karena saya ingin imbalan baliknya.”

“Imbalan balik?” Tiara tidak mengerti. Lalu ia baru mengerti ketika jemari Evan merayap pada sampul handuk yang ia kenakan.

“Kamu, nggak akan menolak saya, bukan, saat saya sudah memberikan kamu bunga?”

Ya, tentu saja Tiara tidak bisa menolaknya. Meski itu hanya bunga buatan yang sederhana, tapi tetap saja, Evan adalah lelaki pertama yang memberinya bunga, dan bagi Tiara, itu adalah sesuatu yang sangat manis dan romantis.

“Ya.” Tanpa sadar Tiara mengucapkan kalimat tersebut. Ia tergoda dengan keromantisan yang diberikan Evan. meski ia tidak tahu, kenapa lelaki ini bersikap seperti ini padanya. Tapi karena bunga ini, Tiara seakan membuka dan membiarkan Evan menyentuh hatinya.

“Kalau begitu, beri saya imbalannya.” Bisik Evan serak sebelum mengangkat wajah Tiara dan mendaratkan bibirnya pada bibir Tiara, melumatnya dengan lembut, mencumbunya penuh dengan gairah, hingga Evan tidak sadar jika apa yang ia lakukan saat ini mampu mengubah perasaan yang dirasakan Tiara terhadapnya…

-TBC-

Advertisements

Future Wife – Chapter 7 (Pengganggu!)

Comments 6 Standard

Future Wife

 

Chapter 7

-Pengganggu!-

 

 

Evan masih tidak berhenti tersenyum, dengan tatapan mata yang sesekali melirik ke arah Tiara. Tiara sendiri sepertinya lebih memilih menyibukkan diri dengan sarapannya ketimbang harus meladeni lirikan-lirikan mata Evan yang benar-benar mengganggunya. Ia masih kesal dengan apa yang dilakukan Evan tadi pagi. Ya, meski ia tidak merasakan sakit, tapi tetap saja, Evan tidak menghormati keinginannya.

“Jadi, kamu masih marah?” tanya Evan dengan nada menggoda.

“Saya kesal karena Pak Evan bisa berbuat sesuka hati.”

Evan tertawa lebar. “Ayolah, nikmati saja permainan ini.”

Permainan? Sungguh, Tiara tidak mengerti apa yang dimaksud Evan. Jadi lelaki itu hanya menganggap semuanya adalah sebuah permainan? Oh, yang benar saja.

“Sepertinya saya sudah selesai, saya mau berangkat kerja dulu.” ucap Tiara sambil membawa piringnya menuju ke arah bak cuci piring lalu mencucinya sebelum ia berangkat pergi. Ia tidak ingin terlalu lama dihadapan Evan, karena itu membuatnya semakin kesal dengan sikap Evan yang Bossy terhadapnya. Tapi baru saja beberapa langkah ia berjalan, tubuhnya di rengkuh oleh sebuah lengan hingga tubuh belakangnya membentur dada bidang Evan.

“Pak.” Tiara memekik seketika.

“Saat kamu ketus, Saya jadi semakin gemas.”

“Tolong lepaskan. Saya mau kerja.”

“Kamu sekarang juga lagi kerja sama saya.”

“Pak, tolong.” Tiara memohon, sungguh, ia tidak mengerti apa yang dilakukan Evan terhadapnya.

Akhirnya Evan melepaskan rengkuhannya pada tubuh Tiara. Lalu tanpa diduga, ia berkata “Maaf, saya minta maaf sama kamu.”

Tiara menatap Evan seketika. Ia tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi dengan Evan. Kadang, ia melihat Evan sangat baik seperti seorang malaiakat, tapi di sisi lain, Tiara melihat Evan tampak seperti seorang iblis.

“Jangan marah lagi, oke? Saya janji, saya tidak akan melanggar poin Enam lagi.” Evan berkata dengan begitu lembut, dan terkutuklah karena Tiara luluh hanya dengan janji manis Evan tersebut.

“Baiklah, Pak Evan saya maafkan.” Ya, akhirnya Tiara tak ada pilihan lain selain memaafkan Evan. Lagi pula, ia cukup tahu diri dengan posisinya. Tidak mungkin ia bersikap kekanakan dengan selalu membenci Evan atau tidak mau memaafkan lelaki itu.

Tanpa diduga, Evan malah mengulurkan jemarinya mengusap lembut puncak kepala Tiara. “Terimakasih, kamu memang kucing kecil yang sangat patuh.”

Meski tidak suka dengan julukan tersebut yang terdengar seperti ia adalah seekor peliharaan Evan, tapi Tiara tidak membantah. Lagi-lagi, ia hanya bisa pasrah menerima keadaannya.

“Saya hanya belum pandai menahanannya. Kamu harus mengerti.”

Lagi-lagi Tiara hanya diam, tak ada yang bisa ia jawab, karena ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Evan tahu saat Tiara sudah kembali bersikap normal padanya. Ya, saat wanita itu banyak diam dan tidak membantahnya, bagi Evan, saat itulah wanita itu kembali normal.

“Baiklah, lanjutkan pekerjaan kamu, sudah setengah delapan.” ucap Evan sambil kembali duduk ke tempat duduknya di ruang makan. Dan Tiara memilih kembali dengan kesibukannya sebelum ia pergi berangkat kerja. Ya, setidaknya Evan sudah janji tidak akan bersikap curang lagi padanya, meski Tiara tidak tahu apa lelaki itu akan menepati janjinya atau tidak.

***

“Ma, mama apa-apaan?” Evan berdiri seketika saat mengangkat telepon dari sang mama. Saat ini, ia sedang berada di ruang kerjanya. Dan tiba-tiba sang mama menghubunginya, memintanya untuk menemui seseorang.

Ya, sepertinya ia akan dijodohkan. Sial! Padahal Evan sedang tidak ingin memikirkan tentang perjodohan atau masa depan lainnya. Ya, tentu saja semua itu karena cintanya pada Karina yang tak terbalas. Lagi pula, kini ia sudah memiliki mainan baru.

“Kamu hanya menjemputnyadi bandara.”

“Tapi aku tidak mengenalnya, Ma. Tidak, aku tidak mau.”

“Evan, kamu mau buat mama malu? Mama sudah janji kalau kamu yang akan jemput dia.”

Evan menghela napas panjang. Ya, sepertinya ia tidak bisa menolak. “Hanya menjemput, aku tidak mau lebih. Kapan?”

“Sabtu nanti. Sekalian, pulanglah ke Jakarta. Mama khawatir sama kamu.”

Lagi-lagi, Evan menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan pulang.” Lalu sang mama melanjutkan ceritanya, tapi Evan tidak dapat berkonsentrasi dengan apa yang diceritakan sang mama, karena kini, pikirannya kembali pada sosok yang dulu membuatnya jatuh cinta, sosok yang secara tak langsung membuatnya memilih hidup menjauh dari keluarganya.

Ya, Karina Prasetya. Kenapa mengingat nama itu saja membuat jantungnya kembali berdebar? Apa ia masih belum bisa melupakan wanita itu? Apa ia sanggup melihat kebahagiaan Karina dengan Darren nantinya?

***

Saat makan siang tiba, Evan benar-bnar merasa bosan, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Lalu ia teringat bekal yang disiapkan Tiara tadi pagi. Ah, ya, wanita itu benar-benar menggemaskan.

Evan mengeluarkan bekalnya, membukanya, tampak dua potong roti isi tertata rapi di sana, Evan lalu menatapnya sebentar. Ia kembali teringat saat masih tinggal di Jakarta, Karinalah yang menyiapkan bekal makan siang untuknya.

Huuh, Karin lagi. Evan mendengus sebal. Sampai kapan ia akan selalu memikirkan wanita itu?

Akhirnya dengan tak berselera, Evan kembali menutup bekal buatan Tiara. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursinya. Sangat bosan!

Akhirnya, Evan berinisiatif membuka akun jejaring sosialnya. Sepertinya sudah cukup lama ia tidak membukanya. Kemudian rasa penasaran mengusik dirinya saat ingat tentang Tiara. Apa Tiara memiliki akun sosial media? Ya, mengingat wanita itu baru dua puluh tahun, pasti wanita itu memilikinya.

“Tiara.” Evan mencoba mencari di kolom pencarian. Tapi sepertiya nihil, memang banyak nama-nama tersebut, tapi tak satupun ia mendapati wajah Tiara menjadi foto profilnya. Ah sial!  Benar-benar membosankan.

Dengan kesal ia kembali, hampir saja ia menekan tombol keluar sebelum ia melihat postingan foto Davit terbaru di berandanya.

‘Makan siang.’ Captionnya bertuliskan seperti itu. Tapi fotonya yang menarik perhatian Evan. Tampak Tiara berada di dalam foto tersebut, Tiara sedang menyuapi Dirly, putra pertama Davit, sedangkan Davit dan Sherly tampak asyik dengan puteri kecil mereka. Semuanya berada di sebuah tempat yang diyakini Evan adalah restoran milik Davit.

Evan berdiri seketika. Ya, siang ini mungkin akan kembali bersemangat saat ia bisa sesekali menggoda Tiara. Melihat rona merah di wajah wanita itu, kegugupanya, atau mungkin caranya merajuk yang membuat Evan gemas. Ia akan ke sana, ia akan menemui Tiara di sana.

***

Tiara ada di halaman restoran Davit sembari menjaga Dirly yang sedang asyik bermain mobil-mobilan. Ya, hari ini, Sherly mengajaknya makan siang bersama di restoran suaminya, dan kini, wanita itu masih asyik bersama sang suami saat selesai makan siang.

Sesekali Dirly mengajak Tiara memainkan mobil-mobilannya menggunakan remote control, tapi memang dasar Tiaranya yang tidak bisa maka mobil-mobilan Dirly malah menabrak sepasang kaki pengunjung restoran yang baru saja turun dari mobilnya.

Tiara berlari mendekat. “Maaf, saya…” kalimatnya menggantung saat tahu siapa pemilik sepasang sepatu yang tampak mahal itu. Ya, itu Evan, teman tidurnya. Astaga, untuk apa lelaki ini datang kemari?

“Hai.” Evan malah menyapa dengan sedikit menyunggingkan senyumannya. Ya, senyuman misterius menurut Tiara.

“Pak Evan, kenapa ke sini?”

“Saya mau makan siang. Saya tidak mungkin ke sini untuk nemuin kamu apalagi ‘minta jatah’ sama kamu.”

Oh ya, jadi lelaki ini sudah berani mengeluarkan kalimat-kalimat dalam tanda kutip di depan umum? “Uum, maksud saya, tadi saya kan sudah bawakan bekal makan siang.”

“Ini.” Evan menunjukkan bekal yang disiapkan Tiara tadi. “Saya akan makan ini di sini sambil ngopi. Nggak apa-apa kan?”

Ya, sebenarnya itu terserah Evan. Mau lelaki itu menginap di restoran Davitpun bukan urusan Tiara, hanya saja, Tiara kurang nyaman saat berada di ruang publik dengan Evan di sekitarnya.

“Jadi, apa saya harus izin kamu dulu?”

“Maaf?” Tiara tidak mengerti.

Evan melangkah mendekat, Tiara dengan spontan mundur ke belakang. “Kamu, terlihat tidak suka saya ada di sini.”

“Uuum, kenapa saya tidak suka? Saya biasa-biasa saja.” Tiara mencoba mengendalikan diri agar tidak tampak seperti orang tolol dihadapan Evan.

“Kamu gugup?”

Ya, Tiara memang akan selalu gugup jika Evan selalu menatapnya seperti itu. Oh, apa yang harus ia lakukan?

“Om Epan, masuk sana, ngapain di sini?” Dirly tiba-tiba datang menengahi Evan dan Tiara. Evan menunduk, menatap sekilas ke arah Dirly lalu menatap Tiara dengan mengangkat sebelah alisnya.

“Kamu menduakan saya?”

“Apa?”

“Poin Lima, kamu nggak sedang melanggarnya, kan?”

Tiara ternganga dengan ucapan Evan. Astaga, Dirly hanya seorang balita, dan Evan berkata seolah-olah bocah itu adalah kekasihya? Sebenarnya lelaki ini kenapa sih? Apa dia sedang kehabisan obat?

“Loh, Van, kamu kok di sini?” Suara Sherly membuat Dirly, Evan, dan Tiara menatap ke arah wanita tersebut yang baru saja keluar dari dalam restoran Davit.

“Ya, cari kopi, sambil makan siang.” Jawab Evan dengan santai.

“Oh, masuk aja, ngapain kamu di sana?”

“Om Epan gangguin tante Tiara, Mah.” Dirly yang menjawab.

Mata Evan melirik ke arah Dirly seketika. Sialan! Bocah cilik ini ternyata benar-benar mengibarkan bendera perang kepadanya.

Mata Sherly memicing ke arah Tiara dan Evan seketika. “Gangguin? Gangguin gimana?”

Evan segera menghampiri Sherly dan dengan sok dekatnya ia menggandeng pundak Sherly sembari mengajak wanita itu kembali masuk ke dalam restoran. “Ahh, anak kamu ada-ada aja. Udah, ayo masuk.” Ajak Evan. Evan sempat menolehkan kepalanya ke belakang menatap Dirly dengan tatapan mengancamnya, tapi bukannya takut, bocah cilik itu malah mengolok Evan dengan menjulurkan lidahnya.

Benar-benar sialan!

“Dirly kamu nggak boleh gitu sama Om Evan, dia kan lebih tua dari kamu.” Tiara menegur Dirly saat Evan dan Sherly sudah masuk ke dalam restoran.

“Kamu belain Om Epan, kamu pacaran sama Om Epan ya?”

Tiara tidak bisa menjawab, pipinya tiba-tiba merona seketika. Ahhh anak ini, sepertinya ia dan Evan harus lebih berhati-hati dalam bersikap, meski itu hanya di hadapan Dirly.

***

Evan asyik memakan bekal makan siangnya, sesekali matanya menatap dengan spontan ke arah Tiara yang maih tengah asyik bermain bersama dengan Dirly. Wanita itu ternyata tidak semenyedihkan saat bersamanya, senyumnya tampak indah, dan Tiara tampak lebih cantik ketika tersenyum.

Cantik?

Apa-apaan ini?

Evan menyesap kopinya saat Davit datang menghampirinya. Sedangkan Sherly sibuk menidurkan puteri kecil mereka di ruangan Davit.

“Lo tumben ke sini?”

“Kenapa? Nggak boleh? Sumpek makan siang di kantor sendirian.”

“Makanya cari cewek, biar ada yang nemenin makan siang.”

“Udah punya.” Evan menjawab singkat.

“Beneran? Bukan cewek-cewek malam kan?” tanya Davit dengan wajah yang lebih serius lagi.

“Lo nggak lihat gue sedang bawa bekal? Lo pikir gue nyiapin ini semua sendiri?”

Davit tertawa lebar. “Oohh, jadi lo kesini cuma mau pamer bekal makan siang?”

“Sialan.” Evan mengumpat pelan pada temannya itu. Matanya kembali menatap ke arah Tiara dan Dirly secara spontan tanpa bisa ia cegah, dan itu membuat Davit ikut menatap ke arah dua orang yang tengah asyik bermain tersebut.

“Gue seneng lihat dia bisa ketawa.” Davit mendesah panjang. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, matanya masih menatap ke arah Tiara dan juga Dirly, Puteranya. Keduanya tampak bahagia, tertawa bersama.

Evan mengangkat sebelah alisnya sembari menatap ke arah Davit. “Maksud lo?”

“Tiara, dia masih muda, tapi kehidupannya sudah sangat menyedihkan, gue seneng lihat dia ketawa seperti itu.”

Evan memicingkan matanya ke arah Davit. “Lo, nggak sedang suka sama dia, kan?”

Davit menatap Evan seketika. “Berengsek lo. Gue kan udah ada Sherly, Sialan!” Davit menghela napas panjang. “Dia sedang banyak masalah, kakaknya kemarin masuk penjara. Gue sama Sherly nggak tega lihat dia tinggal sedirian di luar sana. Menurut lo, gue mesti gimana? Apa gue bantu dia dengan cara cariin pengacara?”

“Nggak perlu.” Evan menjawab cepat.

“Kenapa?”

“Bajingan seperti kakaknya itu lebih pantas membusuk di penjara. Lagian lo ngapain sih ngurusin dia? Lo mau Sherly cemburu dengan Tiara karena lo terlalu perhatian sama dia?”

“Gue cuma selalu ingat Karin kalau lagi lihat dia. Jadi gue anggap dia sudah kayak adek gue sendiri. Dan asal lo tahu, Sherly nggak akan pernah cemburu sama Tiara. Yang ada, mungkin pacarnya yang bakal cemburu sama gue. Hahahhaha .” Davit tertawa lebar, sampai ia tidak menyadari kalau wajah Evan sudah mengeras karena ucapannya.

“Jadi, dia sudah punya pacar?”

Davit mengangkat kedua bahunya. “Entahlah, gue kan nggak 24 jam selalu sama dia, lagian dia masih sangat muda, walau dia hampir menghabiskan semua harinya untuk kerja di rumah gue, tapi dia punya beberapa waktu untuk dirinya sendiri, sangat wajar kalau dia punya pacar, Tiara baik, dan dia cantik.”

Evan menegakkan tubuhnya seketika, tidak suka saat Davit menyebut Tiara cantik. “Cantik?” tanyanya.

“Ya, lo nggak bisa lihat kalau dia cantik? Untuk seukuran pembantu rumah tangga, dia sangat cantik.”

Evan mendengus sebal. “Lebih baik lo cuci mata lo deh, takut katarak itu mata.” Dengan kesal Evan berdiri, menuju ke arah tempat cuci tangan. Sedangkan Davit hanya bisa tertawa lebar menertawakan kelakuan Evan.

Kenapa dengan temannya itu?

***

Tiara sedang memasak makan malam saat ia mendengar pintu depan di buka. Ia tahu jika itu pasti Evan. Dan tumben Evan datang lebih lambat dari biasanya. Tiara menyibukkan diri, seakan tidak peduli dengan kedatangan Evan. Ya, seperti itu lebih baik, memangnya harus bagaimana lagi.

Tapi kegugupan tiba-tiba melanda Tiara ketika ia mendengar langkah demi langkah kaki itu mendekat ke arahnya. Evan mendatanginya, ia tahu itu.

Tiara memberanikan diri membalikkan tubuhnya menatap ke arah Evan yang sepertinya sudah berdiri di belakangnya, dan benar saja, lelaki itu memang sudah berdiri menatapnya dengan tangan yang sudah bersedekap.

“Pak Evan sudah datang?” sebenarnya Tiara enggan menyapanya, tapi mau bagaimana lagi. Ia harus sopan, bagaimanapun juga Evan adalah atasannya.

“Ya.” Evan menjawab pendek. Ia menatap Tiara dari ujung rambut hingga ujung kakinya.

Tiara merasa risih dengan tatapan mata Evan, hingga mau tidak mau dia bertanya “Ada apa, Pak?”

Evan menggeleng. “Saya hanya bingung, apa yang membuat kamu terlihat cantik di mata Davit?”

“Apa?” Tiara berharap ia salah dengar.

Evan tidak menjawab, ia masih sibuk menatap Tiara seperti sedang menelanjangi wanita itu. Sugguh, sepanjang siang ini, pikiran Evan terganggu dengan perkataan Davit yang menyebut jika Tiara cantik. Dan ia benar-benar tidak suka saat Davit atau orang lain melihat kecantikan Tiara yang baginya cukup tersembunyi.

Sedangkan Tiara sendiri, ia semakin merasa tidak nyaman karena tatapan mata Evan yang benar-benar sangat mengganggunya.

Evan mendekat, sedangkan Tiara dengan spontan mundur menjauh. “Dan satu lagi, kamu punya pacar? Kamu benar-benar melanggar poin lima?”

“Pak Evan ngomong apa? Pacar apa?”

“Kalau begitu, beri tahu saya nama akun sosial media kamu, Facebook? instagram?”

Tiara meggelengkan kepalanya. “Saya tidak punya.”

“Kamu yakin?”

“Ya, Pak. Lagi pula kenapa pak Evan tiba-tiba tanya tentang hal itu?”

“Karena saya tidak suka diduakan.”

“Saya tidak mungkin menduakan Pak Evan.”

Evan menghela napas panjang. “Baiklah.” Evan melirik sekilas ke arah masakan Tiara. “Masak apa? Lanjutkan saja masakan kamu, saya mau mandi dulu.” Tiara hanya mengangguk menanggapi perkataan Evan.

Astaga, sebenarnya apa yang terjadi dengan lelaki itu?

***

Keduanya makan malam dalam diam. Evan tidak banyak bicara, ia memang sengaja makan secepat mungkin agar dapat mengajak Tiara naik ke atas ranjangnya. Ya, entahlah, gairahnya terbangun begitu saja saat melihat Tiara. Apa itu juga yang dirasakan Davit pada Tiara?

Sial! Membayangkan hal itu membuat Evan kesal.

Evan menatap ke arah Tiara yang sudah bangkit dari duduknya. Wanita itu membawa piring kotornya menuju ke arah tempat pencuci piring lalu mencucinya di sana. Evan dengan spontan bangkit, lalu mengikuti Tiara. Ia berdiri tepat di belakang Tiara, dan tanpa banyak bicara, Evan mengulurkan lengannya memeluk tubuh Tiara dari belakang.

“Pak.”

“Cuci tanganmu dan ikut saya.”

“Ke-kemana?”

“Puaskan saya.”

“Pak…”

Tanpa banyak bicara, Evan meraih jemari Tiara yang penuh dengan busa, lalu mencucinya dengan bersih, sebelum kemudian ia mengajak Tiara masuk ke dalam kamarnya.

Ya, sebut saja ia maniak, Evan tidak peduli. Nyatanya Evan benar-benar sudah candu dengan sentuhan tubuh Tiara.

Setelah menutup pintu kamarnya, Evan segera menyerang Tiara. Bibirnya mencumbu habis bibir Tiara, melumatnya dengan panas. Sedangkan tubuhnya sudah mendesak tubuh Tiara dengan dinding.

Tiara pasrah. Ya, ia sadar jika dirinya sudah menjadi milik Evan sepenuhnya. Ia memang memiliki hak untuk menolak, tapi entah kenapa saat ini ia sedang tidak ingin menolak. Evan sangat mempengaruhinya, lelaki itu begitu mengintimidasi hingga membuat Tiara kepanasan hanya karena tatapan-tatapan tajam dan juga sentuhan-sentuhan panas lelaki tersebut.

Tiara mengerang, saat Evan membuka paksa pakaian yang ia kenakan. Jemari lelaki itu menangkup sebelah payudaranya, lalu bibirnya segera mendarat pada puncak payudaranya. Evan bermain di sana, menggodanya, melumatnya, seakan sangat mendamba payudara ranum milik Tiara.

Evan sendiri menggeram. Menikmati setiap jengkal dari tubuh Tiara. Sial! Bagaimana mungkin ia menjadi sangat bergairah ketika berdekatan dengan Tiara? Ia melepaskan bibirnya pada puncak payudara Tiara, lalu membuka T-shirt yang ia kenakan. Dengan cepat Evan membuka celananya karena ia memang tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Tapi belum juga celananya lolos, Evan mendengar bell rumahnya berbunyi.

Napasnya memburu, menatap Tiara karena bingung apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Sugguh, ia sudah menegang, membengkak hampir meledak karena gairah yang sudah menyelimuti dirinya. Tapi ia tidak mungkin mengesampingkan orang yang telah membunyikan bell rumahnya.

“Sial! Siapa yang malam-malam begini datang?” geramnya dengan kesal.

Evan mendengus sebal. Ia membenarkan letak celananya, menegakkan tubuhnya, sebelum kemudian berpesan pada Tiara. “Tunggu di sini, saya mau cek siapa yang datang.”

Tiara hanya mengangguk, ia pun membenarkan letak pakaiannya. Dan membiarkan Evan keluar. “Pak, bajunya?” Tiara mengingatkan Evan jika lelaki itu masih bertelanjang dada dengan tubuh yang penuh dengan keringat.

“Biarin, sebentar saja kok.” Akhirnya, Evan keluar. Dan Tiara menghela napas panjang setelah ia ditinggalkan di dalam kamar Evan sendirian.

***

Masih dengan menggerutu, Evan berjalan menuju ke arah pintu depan rumahnya. Sial! Siapa yang berani mengganggu kesenangannya? Astaga, ia merasa tersiksa saat ini karena pangkal pahanya tak berhenti berdenyut nyeri karena ingin dipuaskan. Andai saja si penekan Bell membunyikan bell rumahnya sepuluh menit kemudian, mungkin ia tidak akan sekesal ini.

Dengan kesal Evan membuka pintu rumahnya, dan sedikit terkejut saat ia mendapati Davit berdiri di depan pintu rumahnya.

“Lo? Ngapain kesini?” tanya Evan dengan spontan yang tampak kental dengan kekesalannya.

“Lo nggak suka gue ke sini?”

“Bukan nggak suka, inikan malam, lo nggak ngapain gitu sama Sherly?”

“Ngapain? Memangnya mau ngapain?” Davit tidak mengerti apa yang diucapkan Evan. “Lo sendiri ngapain malam-malam telanjang keringetan gitu?”

Evan sedikit salah tingkah dengan pertanyaan Davit. “Gue habis olah raga.” Mau tidak mau Evan berbohong.

“Gue mau numpang nonton bola.”

“Apa?” Evan hanya ternganga saat Davit dengan begitu menjengkelkannya masuk ke dalam rumahnya tanpa ia persilahkan.

Pengganggu! Sial! Davit benar-benar menjadi seorang pengganggu yang pastinya sukses membuatnya kesakitan sepanjang malam.

-TBC-

Future Wife – Chapter 6 (Kontrak dan Kesepakatan)

Comments 4 Standard

Future Wife

 

Chapter 6

-Kontrak dan Kesepakatan-

 

Evan dan Tiara kini sudah kembali dari tempat dokter dimana keduanya baru saja berkonsultasi tentang hubugan mereka. Akhirnya sudah diputuskan, bahwa Tiara akan mengonsumsi pil pencegah kehamilan. Selain karena usia Tiara yang masih sangat muda, pil pencegah kehamilan juga tidak banyak memiliki efek buruk ketimbang kontrasepsi lainnya.

Interaksi diantara mereka kembali terasa canggung, saat tak ada satu orangpun diantara mereka yang mau membuka suaranya. Sebenarnya, Tiara ingin membahas masalahnya dengan Evan, tapi ia tidak enak jika harus mengungkapkan kegundahan hatinya terlebih dahulu. Akhirnya, yang bisa Tiara lakukan hanya diam dan meremas kedua belah telapak tangannya.

“Jadi, apa yang ingin kamu sampaikan?” tanya Evan pada Tiara tanpa menatap ke arah wanita itu karena kini dirinya lebih memilih berkonsentrasi pada jaanan di hadapannya.

Tiara menatap Evan seketika. Apa ini saatnya ia berbicara tentang masalahnya? “Uum, itu, Bang Radit.”

“Kenapa dengan kakak kamu?”

“Dia, masuk penjara.” Tiara menundukkan kepalanya saat menjawb pertanyaan Evan, subgguh, ia malu memiliki kakak yang seperti itu. Malu dengan kelakuannya.

“Apa? Kenapa bisa?”

“Jadi, kemarinada razia ditempat Bang Radit biasa nongkrong, lalu dia kedapatan sedang membawa barang itu.”

“Narkoba? Ckk, apa coba yang dipikirkan kakak kamu itu? Hidup kalian sudah susah, bagaimana mungkin ia membuatnya lebih susah dengan terjerumus dalam hal-hal seperti itu?”

Tiara tidak menjawab apa yang diucapkan Evan, karena apa yang diucapka Evan memang benar. Mereka sudah kesusahan, seharusnya Abangnya berpikir sebeluk ikut-ikutan masuk dalam lingkaran obat-obatan terlarang.

“Maaf, bukannya saya ingin menggurui, saya hanya sedikit kecewa dengan apa yang dilakukan kakak kamu. Sepertinya, dia memang lebih pantas berada di sana agar tidak semakin menyusahkan kamu.”

“Tapi Pak, salah satu alasan saya memenuhi apa yang Pak Evan inginkan adalah supaya pak Evan mau membantu saya untuk membebaskan Bang Radit.”

“Apa kamu pikir saya adalah orang yang memiliki wewenang untuk membebaskan dia? Hukum tidak bisa dibeli seenaknya, Tiara.”

“Lalu, saya harus bagaimana, Pak?” Tiara melirih. Entahlah, ia mulai merasa putus asa.

Evan menghela napas panjang. “Saya akan coba menelepon pengacara saya, siapa tahu dia bisa bantu untuk meringankan hukuman kakak kamu.”

Dengan spontan, Tiara merangkul lengan Evan. “Pak Evan serius?” tanyanya dengan sedikit kegirangan sampai ia lupa dengan apa yang sedang ia lakukan.

Evan melirik jemari Tiara yang merangkul lengannya, pun dengan Tiara yang juga baru sadaar jika ia sudah merangkul lengan Evan, secepat kilat ia melepaskan rangkulan tangannya tersebut.

“Maaf, saya tidak bermaksud.” Tiara menundukkan kepalanya.

“Kamu seperti sedang menggoda saya.”

“Maaf?” tanya Tiara  tidak mengerti.

“Sentuhan kamu membuat saya terbakar, sial! Sepertinya saya harus mempercepat laju mobil ini.” Dan ketika Evan mempercepat laju mobilnya, Tiara segera mengerti apa yang dimaksud Evan. Ya, ia telah membangunkan singa yang sedang tidur, dan ketika singa itu sudah bangun, ia harus siap menjadi hidangan utamanya.

***

“Aarrgggh.” Tiara mengerang, ketika pergerakan Evan mulai cepat dari sebelumnya. Menghujam lagi dan lagi ke dalam tubuhnya.

Saat ini, keduanya sedang berada di dalam kamar mandi Evan, di bawah guyuran shower dengan posisi Tiara berdiri membelakangai Evan, sedangkan lelaki itu menyatukan diri dari belakang sembari sesekali mengecupi pundak telanjang Tiara.

Evan menghujam lagi dan lagi, sesekali ia menggeram, seperti seekor singa yang sangat berkuasa. Ia sangat menikmati percintaannya dengan Tiara, apalagi saat ia menyatukan diri tanpa alat pengaman. Tubuh Tiara terasa sangat lembut, sesak menghimpitnya. Seakan menyedotnya ke dalam tanpa ingin ditinggalkan.

Jemari Evan meraba puncak payudara Tira, memijatnya, memainkannya hingga Tiara tak mampu menahan diri untuk mengerangkan namanya ketika wanita itu sampai pada puncak kenikmatan. Akhirnya, Evan tak menunggu lama lagi, iaa meledakkan semua gairahnya ke dalam tubuh Tiara.

Aahhhhh, rasanya benar-benar sangat luar biasa, bagaimana mungkin ia tidak pernah merasakan kenikmatan seperti ini sebelumnya? Benar-benar kolot!

Napas keduanya memburu, Tiara bersandar pada dinding kamar mandi Evan yang dilapisi marmer, terasa sangat dingin tapi ia menimpatinya, tubuhnya tetap terasa panas membakar karena tubuh Evan yang masih berkedut di dalamnya.

Evan lalu menarik dirinya, membalikkan tubuh Tiara untuk menghadapnya, sebelum kemudian ia mencumbu bibir ranum Tiara tanpa ampun.

“Terimakasih, sekarang, bisakah kamu menggosok punggung saya?” tanya Evan setelah mencumbu habis bibir Tiara.

Tiara merona, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya sembari memungkiri ketelanjangan mereka berdua. Astaga, bagaimana mungkin ia segila ini??

***

Malam itu, setelah Tiara selesai menyiapkan semua perlengkapan yang akan digunakan Evan besok paginya, Evan memanggilnya ke dalam ruang kerja lelaki itu. Akhirnya Tiara menurut, seperti biasanya.

Tiara dipersiahkan duduk di sebuah sofa panjang dengan Evan di sebelahnya. Dihadapan mereka sudah ada beberapa berkas yang Tiara sendiri tidak mengerti berkas apakah tersebut.

“Baca saja dulu, kalau ada yang kurang jelas, saya akan menjelaskan, kalau ada yang keberatan, kita bisa mempertimbangkannya bersama.”

“Ini apa, Pak?”

“Kontrak kerja, anggap saja begitu.”

“Kerja?”

“Ya, anggap saja kamu sedang bekerj dengan saya.”

Tiara meraih berkas-berkas tersebut lalu mulai membaca poinnya satu demi satu, sedangkan Evan memilih menatap Tiara dengan matanya. Tatapan yang begitu intens hingga Tiara saja mampu merasakan tatapan tersebut.

“Uuum, Pak, poin ini ‘pihak pertama akan menanggung semua beban hidup pihak kedua selama masa kontrak berlaku’.”

“Ya, kenapa dengan itu?”

“Uum, Pak Evan tidak perlu berlebihan, saya, hanya ingin hutang kami lunas, dan Pak Evan membantu kasus kakak saya, Pak Evan tidak perlu menanggung semua biaya hidup saya.”

Evan tersenyum miring. “Kamu tetap akan saya tanggng, suka tidak suka.”

Dan Tiara tidak bisa membantah, ia melanjutkan membaca poin-poin dalam kertas tersebut. “Poin Lima, Tidak ada pria lain dalam kehidupan pihak kedua, tapi pihak pertama dapat dengan bebas membawa perempuan lain atau bahkan menjalin hubungan dengan perempuan lain dihadapan pihak kedua atau dihadapan publik.”

“Kenapa dengan poin itu?”

“Uuum, sepertinya kurang adil.” Tiara menjawab pelan.

Evan tertawa lebar. “Saya laki-laki, gampang bosan, dan saya adalah pihak pertama yang dalam hal ini mengeluarkan materi untuk kamu. Sangat adil untuk saya karena saya memiliki wewenang lebih atas hal ini.”

Tiara menghela napas panjang. Ia akhirnya melanjutkan membaca poin-poin tersebut lagi tanpa membantah dengan jawaban Evan tadi. Ya, lagi pula, pria mana juga yang mau dekat dengannya saat ini? Poin Lima sepertinya bukan masalah yang serius untuknya, karena ia juga tidak sedang ingin menjalin hubungan dalam hal asmara dengan lawan jenis.

Lalu ia berhenti pada poin Tiga belas. “Pak, apa maksudnya poin Tiga belas? Tidak boleh sampai terjadi kehamilan, dan jika sudah terlanjur hamil….”

“Kenapa?”

“Saya kan sudah pakai kontrasepsi, apa poin ini harus ditulis sedangkan saya nggak mungkin hamil?”

“Kontrasepsi hanya usaha untuk mencegah kehamilan, dalam beberapa kasus, ada wanita yang bisa tetap hamil padahal dia sudah menggunakan kontrasespsi, jadi saya tidak bisa mengambil resiko.”

Tiara menampilkan wajah ngerinya. Ya, tentu saja, ia masih Dua puluh tahun, dan ia tidak ingin hamil dengan status hubungan yang seperti ini. “Jadi, saya masih ada kemungkinan untuk hamil?”

“Semua perempuan yang memiliki sel telur dan rahim, masih memiliki kemungkinan hamil jika ‘dibuahi’. tapi tentu saja presentasenya sangat kecil mengingat kita sudah mencegahnya dengan kontrasepsi, jadi kamu tenang saja.”

Tiara menelan ludah dengan susah payah, ia tidak bisa membayangkan jika dirinya akan hami. Tidak! Ia tidak boleh mengalami hal itu dengan Evan.

“Dan jika sudah terlanjur hamil, maka pihak pertama akan mengizinkan pihak kedua melahirkan bayinya dengan syarat, setelah dilahirkan, sang bayi harus dititipkan pada panti asuhan terbaik di kota ini.” Tiara menatap Evan seketika. “Saya tidak bisa menyetujui poin ini.”

“Kenapa? Kamu tidak mau melahirkan? Saya bukan orang jahat yang bisa mengizinkan atau bahkan memaksa orang menggugurkan kandungannya, saya tidak sejahat itu, meski anak itu masuk ke dalam panti asuhan, saya pastikan kalau saya akan menanggung biaya hidupnya.”

Benar-benar sombong, sombong dan arogan! Pikir Tiara.

“Maaf Pak, tapi maksud saya, saya tidak bisa membiarkan bayi saya dirawat oleh orang lain, apalagi di panti asuhan.”

“Lalu apa yang kamu inginkan? Kamu mau saya menikahi kamu? Ckk, yang benar saja.”

Sakit hati, itulah yang dirasakan Tiara. Rupanya Evan juga bisa merendahkannya seperti saat ini.

“Saya akan merawatnya sendiri.” Tiara menjawab dengan begitu berani.

“Saya tidak akan mengizinkan, karena ujung-ujungnya, kamu akan meminta pertanggung jawaban.”

“Tolong, ganti saja poinnya dengan ‘Pihak kedua yang akan merawat anak tersebut tanpa boleh memberitahukan pada siapapun tentang status anak tersebut’ Saya janji akan tutup mulut, Pak Evan bisa pegang omongan saya.”

Evan menatap Tiara dengan intens, ada ketulusan di dalam sana, ketulusan bercampur dengan kemarahan, yang entah kenapa membuat Evan luluh seketika.

“Baiklah, saya akan menggantinya.” Evan mengalah. Ya, dan Tiara bisa menghela napas lega. Setidaknya, jika nanti ia benar-benar hamil –tapi semoga saja tidak, ia tidak akan dipisahkan dengan calon bayinya.

Tiara melanjutkan membaca poin-poin tersebut. ia berhenti di poin terakhir “Kontrak berlaku selamanya hingga pihak pertama bosan dan memutuskan untuk mengakhiri kontrak dengan surat yang sudah dilegalisir. Maksudnya? Saya akan terikat selamanya?” tanya Tiara tidak percaya dengan apa yang sudak ia baca.

“Jangan berlebihan, saya sudah bilang kalau pria itu gampang bosan, jadi itu tidak mungkin berlaku selamanya.” Evan menjawab dengan santai.

“Tapi, kalau Pak Evan tidak bosan?”

Evan mengangkat kedua bahunya. “Ya terpaksa, kamu akan lebih lama bersama dengan saya.”

Astaga… darimana datangnya lelaki ini? Evan tampak baik, bijaksana, dan kalem di luar, tapi entah kenapa Tiara merasa jika ada sisi mengerikan yang tersembunyi di dalam sifat santai dan kalemnya itu.

“Jika pihak kedua melanggar poin-poin di atas, maka kontrak berakhir dan pihak kedua harus membayar denda sebesar materi yang telah dikeluarkan oleh pihak pertama.”

Tiara kembali menatap ke arah Evan.

Tiara menggelengkan kepalanya. “Ini benar-benar tidak adil untuk saya, Pak.”

“Apa yang membuatnya tidak adil?”

“Saya sudah memberikan apa yang saya punya, harga diri saya, tubuh saya, kehormatan saya, bagaimana mungkin saya harus membayar lagi? Itu merugikan saya.”

“Itu kalau kamu melanggar poin-poinnya, kalau tidak, maka kamu tidak perlu takut untuk membayar. Saya tidak memikirkan materi dendanya, tapi saya memikirkan bagaimana supaya kamu tidak melanggar poin-poin yang ditulis dalam kontrak tersebut.”

Tiara marah, ya, sangat marah, matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Ia tidak menyangka jika Evan akan memperlakukannya seperti ini. Tiara berpikir, bahwa Evan dalah sosok penolong yang sebenarnya, tapi nyatanya, lelaki itu tak lebih dari seorang pemangsa yang membabat habis semua buruannya.

Akhirnya dengan sangat kesal, Tiara menandatangani surat-surat tersebut. kontrak dan kesepakatan yang menurut Tiara sangat tidak adil untuknya. Ya, meski begitu, ada beberapa poin-poin yang memang menguntungkan baginya.

Tiara tidak bisa berbuat banyak, bagaimanapun juga, ia ada dipihak orang yang meminta, sedangkan Evan dipihak orang yang berkuasa, bersyukur jika Evan tidak memaksanya yang tidak-tidak. Bahkan ada beberapa poin yang sepertinya disiapkan Evan untuk meringankan bebannya.

Setelah menandatangani surat tersebut. dengan kesal Tiara bangkit. Ia bersiap p[ergi meninggalkan Evan, tapi langkahnya terhenti saat Evan bertanya padanya.

“Mau kemana? Saya belum selesai. Saya ingin bercinta di sofa ini.” Dengan begitu arogannya, Evan mengucapkan kalimat tersebut tanpa kecanggungan sedikitpun.

Tiara menghela napas panjang. Sebelum kemudian ia membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Evan dengan tatapan marahnya. “Poin Enam, pihak kedua diperbolehkan menolak ajakan berhubungan intim dengan pihak pertama jika sedang merasa tidak ingin.” Tiara mengingatkan.

Bukannya marah karena ditolak, Evan malah tertawa lebar, dengan santai ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa sebelum berkata “Jadi, kamu sudah berani melawan saya?”

“Saya hanya menginginkan waktu sendiri.” Tiara memberanikan diri, meski sebenarnya ia tidak berani melawan Evan, tapi sesekali lelaki itu harus diberi pelajaran karena sudah memperlakukannya seperti ini.

Evan berdiri seketika, lalu melangkah menuju ke arah Tiara, Tiara sempat mundur satu langkah saat Evan mendekatinya, dan itu benar-benar membuat Evan suka. Ia sangat suka saat melihat Tiara ketakutan dibawah tatapannya. Seperti seekor kucing kecil yang kehilangan induknya.

“Poin Tujuh, Pihak kedua tidak boleh menolak ajakan berhubungan intim dengan pihak pertama sebanyak tiga kali berurut-urut.” Kali ini Evan yang mengingatkan dengan suara seraknya. “Maka nikmatilah kesendirian kamu selagi kamu bisa.” Lanjut Evan dengan nada mengancam.

Tiara segera pergi, menjauh dari Evan, ia segera keluar dari tempat kerja Evan dengan sedikit kengerian yang tampak diwajahnya. Astaga, bagaiaman mungkin lelaki itu bersikap seperti itu padanya? Bagaimana mungkin ia akan terikat dengan iblis berbentuk seperti malaikat seperti seorang Evan Pramudya?

Sedangkan Evan sendiri hanya bisa tersenyum menatap ketakutan Tiara. Sial! Apa yang terjadi dengannya? Kenapa ia berubah menjadi seperti ini? Inikah yang disebut dengan melakukan hal-hal diluar garis amannya? Dapatkah ia melakukannya? Melanjutkan semua kegilaannya bersama dengan Tiara?

***

Paginya, Tiara terbangun dan sedikit terkejut saat mendapati dirnya yang sudah telanjang bulat dibawah selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya. Ia masih tidur di ruang tamu, karena tadi malam ia tidak ingin disentuh oleh Evan. Tapi yang membuatnya terkejut adalah ketika mendapati Evan yang juga sudah sama-sama telanjang di bawah selimut yang sama dengannya, lelaki itu bahkan sudah memeluknya dari belakang dengan sesekali memainkan jemarinya pada sebelah puncak payudaranya.

“Pak, apa yang terjadi?” tanya Tiara sambil sedikit menjauh.

Evan malah menarik Tiara mendekat lalu secepat kilat ia membalik tubuh mereka hingga kini ia sudah dalam posisi menindih tubuh Tiara. “Saya mau menagih hak saya.” Evan berbisik dengan suara paraunya.

“Tapi pak, saya kan menolak, dan poin nomor Enam…”

“Persetan dengan poin-poinnya. Lagi pula, tidak ada poin yang mengatur jika pihak pertama tidak boleh melanggar poin-poin tersebut.” Evan tersenyum menyeringai.

Curang! Ya, Tiara benar-benar merasa di curangi. Astaga, bagaimana mungkin ia sebodoh ini. Bagaimana mungkin ia kurang teliti dalam membaca surat kontrak tersebut?

“Dan sekarang, saya sedang melanggar poin ke Enam.”

“Pak, ini curang!”

“Saya tidak peduli.” Dan setelah tiga kata tersebut, Evan segera menyambar bibir Tiara, melumatnya dengan panas. Sedangkan yang dibawah sana sudah memposisikan diri untuk memasuki diri Tiara. Ohh, penyatuan yang sejak semalam sudah membayang-bayangi diri Evan hingga ia menahan rasa nyeri sepanjang malam.

Sial! Bagaimana mungkin Tiara bisa merubahnya menjadi maniak seks seperti ini? Kapan ia akan bosan? Kapan ini akan berakhir?

-TBC-

Secret Wife sudah tersedia di google play lohh hehehhe bisa dibeli pakai pulsa. yeaayyy

 

Future Wife – Chapter 5 (Godaan mematikan)

Comments 7 Standard

Future Wife

 

“Saya hanya terlalu bingung, Pak. Saya butuh bantuan.”

“Maka apa yang kamu lakukan sudah benar, saya akan membantu kamu, sebisa saya. Kamu membutuhkan bantuan saya, dan saya membutuhkan sentuhan kamu.” Jemari Evan tiba-tiba terulur, meraih jemari Tiara, lalu membawanya pada bukti gairahnya yang ternyata sudah kembali mengeras, menegang ingin dipuaskan. “Kita saling membutuhkan, tidak ada yang salah dengan hubungan kita.” Dan setelah kalimatnya tersebut, Evan kembali mencumbu bibir Tiara, melumatnya hingga Tiara kembali terbuai dengan cumbuannya.

Ya, Tiara tidak bisa mundur lagi, ia tidak punya jalan untuk kembali, semuanya sudah menjadi milik Evan, dan ia tidak akan bisa mengambil kembali apa yang sudah ia berikan pada lelaki itu.

***

Chapter 5

-Godaan mematikan-

 

Paginya….

Tiara menyibukkan diri di dalam dapur, ia tidak tahu bagaimana harus bersikap di hadapan Evan nantinya. Astaga, lelaki itu begitu panas, dan Tiara benar-benar terpengaruh dengan lelaki tersebut.

Tiara menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh terpesona lagi dan lagi dengan Evan. Ia harus ingat jika hubungan mereka hanya sebagai hubungan timbal balik. Ia membutuhkan Evan untuk membantu kesusahannya, sedangkan Evan membutuhkannya untuk memuaskan diri lelaki tersebut, jadi, tak seharusnya ia terpesona apalagi harus terbawa suasana dengan apa yang dilakukan Evan.

Saat Tiara sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba ia merasakan sebuah lengan memeluknya dari belakang. Tiara mematung dengan apa yang ia rasakan. Ia tentu tahu jika lengan tersebut adalah milik Evan. Kemudian, ia merasakan sesuatu yang basah membelai leher belakangnya, sebelum ia mendengar sapaan serak yang terdengar dari bibir Evan.

“Pagi.”

Tiara ingin menjawab, tapi bibirnya terasa kelu karena kegugupan melandanya. Akhirnya ia hanya mengangguk pasrah.

Jemari Evan tiba-tiba merayap masuk ke dalam baju yang dikenakan Tiara, menyusupkan diri ke dalam bra yang dikenakan Tiara, lalu menangkup sesuatu yang berada di dalam sana. Satu erangan lolos begitu saja dari bibir Tiara. Astaga, apa yang dilakukan lelaki ini?

“Pak..” Tiara melirih pelan.

“Ya?”

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Saya, belum biasa.”

“Maka mulai sekarang biasakanlah.” Evan membelai lembut, menggodanya, hingga mau tidak mau Tiara memejamkan matanya karena frustasi dengan rasa aneh yang diberikan Evan padanya. Sungguh, apa yang sudah terjadi dengannya?

“Kamu membuat saya menegang kembali pagi ini.” Evan berbisik serak. Ia bahkan tidak sadar apa yang sudah ia bisikkan pada Tiara.

“Pak, saya harus berangkat jam delapan nanti.”

Evan menolehkan kepalanya ke arah jam dinding yang ada di belakangnya. “Masih jam Tujuh, masih ada satu jam, saya bisa melakukannya kurang dari satu jam.”

“Tapi Pak.” Tiara tak dapat melanjutkan kalimatnya lagi saat tiba-tiba kepalanya ditolehkan ke belakang lalu bibirnya disambar oleh bibir Evan. Evan melumatnya dengan panas, sepanas tadi malam, dan tubuh Tiara terasa terbakar seketika karena lumatan panas tersebut.

Evan lalu melepaskan pelukannya, ia memposisikan diri Tiara untuk bersandar pda meja dapurnya, mengangkat tubuh mungil wanita itu dan mendudukkannya di atas meja dapurnya. Bibirnya kembali meraih bibir Tiara, memagutnya. Sedangkan tubuhnya kini sudah berada diantara paha Tiara.

“Hemmmm nikmat.” Evan mengerang ketika bibirnya mulai turun merayapi sepanjang leher jenjang milik Tiara.

Tiara sendiri melemparkan kepalanya ke belakang, ia tergoda dengan kenikmatan yang diciptakan oleh Evan. Evan segera membuka paksa baju yang dikenakan Tiara, mendaratkan bibirnya pada puncak payudara Tiara, lalu menghisapnya. Sedangkan jemarinya kini sudah merayap ke bawah, mencari-cari pusat diri Tiara dan mencoba menggodanya.

“Pak…” Tiara mengerang saat jemari Evan mulai menari diantara pangkal pahanya.

“Ya? Hemmm?” Evan bahkan tidak mempedulikan erangan Taira. Ia melanjutkan aksinya, menecupi dan menggoda puncak payudara Tiara dengan bibirnya, sedangkan jemarinya masih tak berhenti menari di bawah sana.

“Pak, tolong.”

“Ya, tolong apa?”

“Pak..” Tiara hanya mengerang lagi dan lagi. Dan ketika Evan merasa jika Tiara sudah siap dan cukup basah untuknya, ia segera menghentikan aksinya.

Evan segera menurunkan celana yang ia kenakan, membebaskan bukti gairahnya yang sudah menegang dan siap untuk dipuaskan. Tak lupa, ia mengambil bungkusan foil yang berada di dalam saku celananya. Ya, rupanya sebelum menggoda Tiara pagi ini, Evan sudah menyiapkannya. Evan merobeknya, kemudian memasangkannya pada bukti gairahnya, sebelum kemudian ia mulai memasuki diri Tiara.

Tiara mengernyir, merasa tidak nyaman karena belum terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Pun dengan Evan, Ia memang tak pernah melakukan seks sebelumnya kecuali dengan Tiara, dan hanya dengan Tiara, ia ingin mencoba hal-hal baru yang berhubungan dengan seks.

Evan mendorong lagi dan lagi, berusaha menyatukan diri, tapi ternyata masih sangat sulit. Hingga kemudian, ia memilih kembali menggoda Tiara. Mencumbunya kembali, melumatnya dengan lumatan panas hingga Tiara kembali membuka dirinya dan mulai menerima Evan sepenuhnya.

Evan menghentak sekali lagi, hingga tubuh mereka menyatu sepenuhnya. Tiara terasa rapat membungkusnya, sangat kesat hingga membuat Evan merasa sesak.

“Tolong, kamu bisa membunuh saya dengan ini.” Evan berbisik pelan. Ia mencoba menggerakkan dirinya, sedangkan bibirnya kembali meraih puncak payudara Tiara.

Tiara mendesah, napasnya tak beraturan. Oh, ia bahkan tak pernah memikirkan jika akan melakukan hal sepanas ini dengan seorang lelaki, lelaki yang baru saja ia kenal. Astaga, apa yang sudah ia lakukan?

“Pak…” Erangan Tiara semakin keras ketika Evan memompa lebih cepat lagi dari sebelumnya. Iramanya semakin cepat hingga membuat Tiara tak mampu lagi menahan diri dari hantaman gelombang kenikmatan.

Tiara melenguh panjang, pun dengan Evan yang segera meledakkan dirinya di dalam badai kenikmatan yang sedang menghantamnya.

Napas keduanya memburu, saling bersahutan satu sama lain, seakan menandakan jika apa yang baru saja mereka lakukan adalah suatu yang sangat dahsyat dan menakjubkan. Evan melepaskan pelukannya, menarik diri lalu menatap Tiara sejenak. Dengan spontan ia mengecup singkat bibir Tiara kemudian tertawa menertawakan apa yang baru saja mereka lakukan.

Pun dengan Tiara yang segera menunduk malu sambil menyunggingkan senyuman lembutnya.

“Saya benar-benar sudah gila.” Evan berujar seakan mengatai dirinya sendiri. “Saya akan mandi, dan kita akan sarapan bersama.” Ucap Evan sambil membuang bekas pengaman ke dalam tong sampah.

Tiara turun dari atas meja dapur, membenarkan pakaiannya dan alangkah terkejutnya saat Evan kembali mencondongkan tubuhnya yag tinggi itu kepada Tiara hingga Tiara kembali mundur ke belakang.

“Kita bisa mandi bareng supaya menghemat waktu.”

“Saya, mandi di kamar mandi sana saja, Pak.” Tiara dengan gugup menunjuk kamar mandi yang letaknya di sebelah dapur.

Evan melirik sekilas. “Kamu yakin?” Tiara mengangguk pelan masih dengan kegugupan yang melandanya. “Baiklah, saya juga sangsi kalau tidak akan melakukan sesi tambahan saat kita berada di dalam kamar mandi bersama-sama.” Evan menatap Tiara dengan tatapan yang sulit di artikan, bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyuman misterius yang hanya bisa diartikan oleh dirinya sendiri, lalu iapun berjalan pergi meninggalkan Tiara.

Tiara menghela napas panjang ketika Evan sudah tidak berads di sekitarnya. Sungguh, lelaki itu sangat mempengaruhinya, dan Tiara tidak yakin jika ia dapat menahan godaan demi godaan yang diberikan Evan padanya.

***

Keduanya sarapan dalam diam. Tiara sebenarnya ingin mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya. Tentu saja tentang kakaknya dan juga semua hutang-hutangnya, tapi sepertinya ini bukanlah waktu yang tepat.

Evan tampak cerah pagi ini, dan Tiara tidak ingin mengusik kecerahan hati sang penolongnya tersebut.

“Kamu, sepertinya ada yang inginkamu katakan?” tanya Evan sembari menyesap kopinya.

“Ahh, enggak, Pak.”

“Jadi, apa kita akan membahas hubungan intim kita pagi ini?”

Tiara tersedak seketika saat Evan menyebut kata ‘hubungan intim kita’. Entahlah, sepertinya kedekatan mereka tidak termasuk dalam sebuah keintiman.

“Kamu, nggak apa-apa, kan?”

“Tidak pak.” Tiara meminum air putih di hadapannya.

“Jadi?”

“Uum, sepertinya bukan saat yang tepat untuk membahasnya, Pak.” Tiara melirik ke arah jam dinding yang kini sudah menunjukkan hampir pukul delapan. “Dan tidak akan sempat juga.”

“Baiklah, kita akan membahasnya nanti malam.”

Tiara mengangguk patuh, dan keduanya kembali sibuk dengan pikiran masing-masing, menghabiskan sarapan mereka dalam diam. Ya, kecanggungan kembali menyeruak diantara mereka, dan entah Tiara maupun Evan tak akan mampu menepis kecanggungan tersebut begitu saja.

***

Siang itu, Tiara masih asyik bermain dengan Dirly di ruang bermain. Ia sudah kembali ceria, entah karena apa. Bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyuman-senyuman lembut yang entah kenapa tersungging dengan sendirinya. Kenapa? Apa karena Evan?

Tak berapa lama, Sherly datang dengan Cinta yang berada di dalam gendongannya. “Ada apa, Tiara? Kamu sepertinya ceria sekali hari ini.”

Tiara menatap Sherly seketika, ia tersenyum lembut dan pipinya meraah padam dengan sendirinya. “Ahh, mungkin perasaan Bu Sherly saja.”

“Sebenarnya saya sangat khawatir, tadi malam pak Davit pulang dan bercerita kalau kamu tampak sangat terpukul, saya bahkan menyuruhnya kembali menjemput kamu, tapi dia bilang kamu butuh waktu sendiri.”

Tiara menunduk dan mengangguk pelan.

“Bagaimana dengan kakak kamu?”

Ya, bahkan Tiara melupakan nasib kakaknya karena rasa yang telah diciptakan Evan untuknya sejak semalam hingga saat ini.

“Bang Radit baik.”

“Lalu, apa rencana kamu selanjutnya? Kamu bisa tinggal di sini sesuka hati kamu.”

Tiara menatap Sherly seketika. “Tidak Bu, saya tinggal di rumah saja.”

“Kamu yakin berani tinggal di sana sendiri?”

Tiara mengangguk dengan ragu. Astaga, ia hampir tak pernah berbohong sebelumnya, dan ia bukanlah pembohong yang handal.

“Baiklah, jadi, apa yang membuatmu senyum-senyum sepanjang pagi ini?” gida Sherly lagi hingga kembali membuat pipi Tiara merona.

“Tidak ada, Bu.”

“Benarkah? Ya sudah. Yang penting saya senang karena kamu sudah bisa tersenyum lagi.”

Tiara mengangguk patuh tanpa bisa menghilangkan rona di wajahnya. Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya sepanjang hari ini?

***

Sorenya…..

Meski sibuk membantu Sherly menyiapkan makan malam, tapi Tiara masih sesekali bermain dengan Dirly yang tak berhenti menggodanya. Yaa, bocah cilik itu memang sesekali bertindak usil terhadap Tiara hingga dapur Sherly sore itu ramai karena Dirly dan Tiara yang sesekali bercanda gurau.

“Makan malam di sini saja nanti.” Suara Davit membuat semua yang berada di sana menatap ke arah lelaki yang baru saja masuk ke area dapur tersebut. Rupanya Davit baru saja pulang dari restoran miliknya. Ya, Davit memang memilih merintis usahanya sendiri di bidang kuliner ketimbang harus meneruskan usaha orang tuanya.

“Sudah datang?” tanya Sherly sambil mendekat dan memberikan Cinta pada Davit.

“Ya, kalian lagi buat apa?”

“Makan malam, sama cemilan.”

“Masak yang banyak sekalian, biar Tiara makan di sini malam ini, Evan tadi juga telepon, katanya dia mau numpang makan.”

Tubuh Tiara kaku seketika saat mendengar nama Evan di sebutkan. Untung saja saat ini dirinya sedang membelakangi Davit dan Sherly, jadi kedua orang itu tidak melihat betapa pucatnya wajah Tiara ketika Davit menyebut nama Evan tadi.

“Ohh, baguslah. Tolong jagain Cinta dan Dirly dulu ya. Duhh dia nggangguin Tiara terus dari tadi.”

“Oke, oke, Dirly.. Ayo, ikut Papa.” Dan bocah cilik itu segera ikut ayahnya menuju ke arah ruang tengah.

“Jadi, kita tambah masak apa lagi? Duh, saya nggak tahu Evan sukanya masakan apa.” Sherly menggerutu tanpa melihat ekspresi Tiara yang masih kaku.

“Kamu, mau makan malam di sini rame-rame, kan?” tanya Sherly lagi ke arah Tiara.

Tiara tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak mungkin menolak, karena Evan saja datang ke rumah ini, masa iya dirinya harus pulang duluan ke rumah Evan, sedangkan jika ia menerima tawaran Sherly, tandanya ia akan satu meja makan dengan Evan, Sherly dan juga Davit, dan Tiara takut jika dirinya tidak bisa mengendalikan diri.

“Gimana? Mau, kan? Ayolah…”Sherly memohon, dan akhirnya, Tiara hanya bisa menganggukkan kepalanya. Astaga, semoga saja Evan tidak mempengaruhinya, semoga saja lelaaki itu tidak membuatnya merah padam dengan jantung yang nyaris melompat dari tempatnya.

***

Makan malam akhirnya tiba juga. Sejak tadi, Tiara hanya bisa diam sembari menundukkan kepalanya, menatap meja makan tanpa banyak kata. Karena dari sudut matanya, ia duh mendapati Evan yang tengah duduk santai dengan Davit.

Entah, keduanya sedang membahas apa, Tiara takut jika Evan akan membahas hubungan mereka dengan Davit. Jika hal itu terjadi, maka Tiara memilih berhenti dari pekerjaannya di rumah Sherly dan Davit karena tentunya pasti sangat memalukan saat dirinya dinilai sebagai perempuan murahan yang menjual tubuhnya hanya untuk hutang.

Tak terasa, semua makanan sudah tertata rapih di atas meja makan. Sherly sudah memanggil Davit dan juga Evan. Keduanya segera menuju ke atah meja makan. Davit duduk di kursi paling ujung, sedangkan Evan duduk di sebelah kiri Davit, Sherlu seperti biasa, duduk di sebelah kanan Davit. Cinta sudah tidur jadi Sherly bisa mengurus Dirly yang ia minta duduk di sebelahnya.

“Tiara duduk saja di sebelah Evan.” Sherly yang meminta.

“Tapu Bu, saya mau nyuapin Dirly.”

“Nggak apa-apa, Dirly sama saya saja, kan Cinta sudah bobok. Udah sana, duduk dan makanlah yang banyak.” Dan akhirnya, mau tidak mau Tiara menuju ke sebelah Evan.

“Ehhemm.” Evan berdehem menetralkan suaranya agar tidak serak. “Sepertinya saya menakutkan sampai-sampai kamu nggak berani duduk di sebelah saya.” Evan menyindir Tiara. Sherly tertawa lebar dengan sindiran tersebut. Padahal ia tidak mengerti apa maksud Evan menyindir Tiara seperti itu.

“Kamu karena terlalu kaku, Van, makanya dia takut gitu.”

“Lalu, gimana biar aku nggak terlihat kaku?” tanya Evan pada Sherly.

“Ajak ngobrol mungkin, biar lebih kenal.” Ketiganya tenggelam dalam percakapan, sedangkan Tiara seakan sibuk mengendalikan dirinya sendiri. Sunggu, perutnya terasa bergejolak karena godaan demi godaan yang dilontarkan Sherly dan juga Evan padanya.

Keempatnya makan dalam suasana hangat. Davit sesekali bercerita tentang seorang pelanggan di restorannya hari ini, sedangkan Evan bercerita tentang perkembangan kantor cabang keluarganya yang sedang ia pimpin.

“Terus, Van, kapan lo bawa cewek kemari?”

Evan tidak bisa menjawab, ia hanya tersenyum karena pertanyaan yang dilontarkan Davit tersebut. Dengan spontan kakinya merayap ke arah kaki Tiara, menggoda betis Tiara dengan jemari kakinya.

Tiara membatu seketika. Rasa geli, rasa terbakar, tumbuh begitu saja di dalam dirinya ketika kulit Evan bersentuhan dengan kulitnya. Sedangkan Evan bersikap biasa-biasa saja seperti tak terjadi apapun di bawah meja makan.

“Nanti lah, gue lagi pengen sendiri dulu.”

“Yakin lo masih seneng sendiri?” tanya Davit sekali lagi.

Bukannya menjawab pertanyaan Davit, Evan malah asyik mencubit betis Tiara dengan jari jemari kakinya hingga Tiara tersedak seketika.

“Minum dulu.” Dengan perhatian Sherly memberi Tiara minum saat melihat Tiara terbatuk-batuk.

Sedangkan Evan berbisik pelan pada Tiara “Kayaknya, kamu sering sekali tersedak saat makan.” Bisikan itu tentu hanya bisa didengar oleh Tiara, hingga membuat Tiara kembali memerah saat mengingat sarapan bersamanya tadi pagi dengan Evan.

“Kamu lagi sakit? Wajahmu merah-merah gitu.” Davit berkomentar ketika melihat wajah Tiara yang merah padam.

“Ya, sejak tadi pagi dia memang gitu, mungkin nggak enak badan atau kenapa?” Sherly menambahi. Ia memang melihat ada yang aneh dengan Tiara, meski wanita itu sesekali tersenyum sendiri, tapi wajahnya juga tak berhenti merah padam. Sherly hanya takut jika ternyata Tiara demam atau yang lainnya.

“Tidak, Bu, saya baik-baik saja.” Tiara menjawab cepat.

“Ya sudah, kita lanjutin makannya.” Akhirnya makan malam kembali berlanjut. Dan kejahilan jari jemari Evan pada betis Tiarapun berlanjut.

***

Akhirnya, Tiara memohon diri setelah makan malam bersama yang ia lalui dengan begitu sulit karena godaan yang diberikan Evan dengan sengaja untuknya. Davit menawarkan diri untuk mengantar Tiara, tapi Tiara menolaknya karena dia tidak mau diantar pulang lalu kembali berjalan kaki ke rumah Evan. Dan ternyata dengan penuh percaya diri, Evan malah menawarkan diri untuk mengantar Tiara, apa maksudnya coba?

Akhirnya, Tiara mengangguk saja. Ia tidak tahu apa yang direncanakan Evan, dan entah kenapa ia percaya saja saat Evan yang meminta untuk mengantarnya.

Kembali merasakan kegugupan ketika ia masuk ke dalam mobil Evan yang berada di halaman rumah lelaki tersebut. Evan sendiri kini sudah duduk di sebelahnya dan menyalakan mesin mobilnya.

“Kamu lucu sekali.” Ucap Evan sambil tersenyum sendiri.

“Saya tidak nyaman saat Pak Evan mengganggu saya di rumah Bu Sherly tadi.”

Evan tertawa lebar. “Kenapa? Saya hanya sedikit main-main. Supaya kamu lebih rileks, kamu terlihat sangat kaku.”

“Tapi itu membuat saya tidak nyaman. Bagaimana kalau Bu Sherly curiga?”

“Sikap kamu yang kaku malah membuat mereka curiga, santai saja, mereka tidak akan tahu hubungan kita.”

“Pak Evan yakin?”

Evan menatap Tiara seketika. “Kenapa? Kamu malu berhubungan badan dengan saya?”

Astaga, dari mana datangnya lelaki ini? Bagaimana mungkin dengan terang-terangan Evan menyebut ‘hubungan badan’ tanpa canggung sedikitpun?

“Saya tidak malu karena itu Pak Evan, saya malu karena saya sudah menjual diri saya untuk sebuah materi. Saya malu dengan diri saya sendiri, dan saya akan lebih malu lagi jika ada orang yang tahu tentang semua ini.”

“Kamu bisa tenang, karena saya tidak akan bercerita dengan siapapun tentang hubungan kita. Semuanya akan aman, tersembunyi dengan rapih tanpa akan ada yang mengetahuinya.”

Tiara menunduk, ia hanya bisa mengangguk menanggapi peryataan Evan. Lalu mobil Evan mulai berjalan. Tiara tidak mengerti Evan akan membawanya kemana.

“Uuum, kita, akan kemana?”

“Memasang kontrasepsi untuk kamu, saya tidak mungkin selalu menggunakan kondom, mengingat itu adalah pemborosan, dan saya juga tidak nyaman menggunakannya.”

Tiara menegakkan tubuhnya seketika. Akan sejauh itukah hubungan mereka sampai-sampai ia harus memasang alat kontrasepsi?

“Kenapa? Kamu tidak suka?” tanya Evan saat melihat gerak gerik tubuh Tiara.

“Uuum, tidak, sya hanya tidak mengangka kalau akan sejauh ini.”

Evan tertawa lebar pada Tiara. “Kamu pikir akan seperti apa? Hanya cukup semalam dan semuanya selesai? Yang benar saja, bahkan seharian ini membayangkan tubuhmu saja saya sudah tergoda. Ya, godaan yang mematikan.” kalimat terakhir diucapkan Evan sambil menatap Tiara dengan sedikit mengerlingkan matanya.

Astaga, apa itu? Apa lelaki ini sedang menggodanya?

“Uuum, seharian ini, tubuh saya juga jadi panas saat mengingat apa yang sudah pak Evan lakukan sama saya.”

“Itu tandanya kita serasi.” Evan menjawab cepat. “Baiklah, kita akan selesaikan ini, lalu membahas masalah kamu, setelah itu, kita bisa menyantap hidangan penutupnya.

Hidangan penutup? Seperti apa? Tiara tak berhenti bertanya-tanya dalam hati. Akankah mereka melakukannya lagi malam ini? Tiap malam? Sampai kapan?

-TBC-

Future Wife – Chapter 4 (Milik Evan)

Comments 5 Standard

Future Wife

Warning!!! Part mengandung adegan dewasa, yang belum cukup umur dilewatin yaa dekk. hehhehehehehe

 

 

Chapter 4

-Milik Evan-

 

Evan berjalan mondar-mandir di dalam rumahnya. Waktu sudah menunjukkan pukul Sepuluh malam, tapi Tiara belum juga pulang. Padahal, setelah malam itu Tiara selalu berangkat pagi sebelum ia keluar dari kamarnya dan pulang sore, sebelum ia pulang dari kantor. Hal itu tentu karena Tiara sengaja menghindarinya. Meski begitu, perempuan itu tidak meninggalkan kewajibannya seperti memasak sarapan, bersih-bersih, atau memasak makan malam untuk Evan.

Tapi hari ini, Evan sedikit heran, saat pulang dari kantor dan mendapati meja makannya masih bersih. Tak ada makan malam di sana, yang artinya Tiara belum pulang. Sepanjang sore, Evan menunggu kedatangan Tiara, tapi hingga sekarang wanita itu belum juga menampakan batang hidungnya.

Evan menyibak gorden jendela rumahnya. Rupanya malam ini hujan deras, apa anak Davit sedang rewel, hingga Tiara tidak bisa pulang?

Evan mendengus sebal. Ia lapar, karena ia memang sengaja tidak makan untuk menunggu Tiara memasakkan makan malam untuknya.

Sial! Apa-apaan ini?

Evan menghela napas panjang. Ia memilih menuju ke arah dapurnya. Sepertinya, malam ini ia akan memakan mie instan, jika ada persediaan mie instan dalam dpurnya, tapi jika tidak, terpaksa ia harus menahan lapas sepanjang malam.

Saat Evan berjalan menuju ke arah dapurnya, pintu depan rumahnya di ketuk oleh seseorang. Siapa? Tidak mungkin jika itu Tiara, karena Tiara sudah memiliki kunci rumahnya, dan tidak perlu lagi mengetuk pintu.

Akhirnya, dengan sedikit malas, Evan berjalan menuju ke arah pintu depan, membukanya, dan alangkah terkejutnya ia ketika mendapati Tiara yang sudah berdiri di sana dengan tubuh yang sudah basah kuyub.

Tampak menyedihkan, seperti seekor anak kucing yang kehujanan dan ditinggalkan oleh induknya. Ingin rasanya Evan merengkuh tubuh mungil Tiara untuk masuk ke dalam pelukannya.

“Tiara?”

“Pak.” Hanya itu yang diucapkan Tiara, mata perempuan itu bahkan tampak berkaca-kaca. Kenapa?

“Apa yang kamu lakukan? Masuklah.” Evan menarik pergelangan tangan Tiara hingga Tiara masuk ke dalam rumahnya. Evan menutup pintu rumahnya kemudian ia kembali fokus pada Tiara. “Kenapa kamu baru pulang? Kenapa kamu hujan-hujanan begini?” tanya Evan lagi.

“Pak.”

“Apa kamu tahu kalau saya kelaparan karena tidak ada yang menyiapkan makan malam untuk saya?”

“Maaf, Pak, tapi saya…”

“Cukup! Sekarang masuk dan gantilah bajumu, pakaianmu yang basah membuatku tidak fokus.” Gerutu Evan yang segera membalikkan tubuhnya  membelakangi Tiara dan segera pergi meninggalkan Tiara.

“Pak, tunggu.” Dengan begitu berani, Tiara meraih pergelangan tangan Evan. Evan menghentikan langkahnya lalu menatap pergelangan tangannya yang sedang digenggam oleh Tiara. “Maaf, saya nggak bermaksud.” Tiara melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Evan.

“Ada apa? Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Evan penasaran.

“Uuum, saya menerima tawaran Pak Evan.”

Evan mengangkat sebelah alisnya. “Apa maksud kamu?”

“Saya mau menjadi ‘Teman Tidur’ Pak Evan.”

Evan sempat ternganga dengan apa yang dikatakan Tiara, tapi kemudian ia segera menguasai dirinya kembali, dan secara spontan, Evan menangkup kedua pipi Tiara lalu secepat kilat, ia menyambar bibir ranum Tiara, bibir yang sudah cukup lama menggodanya.

Tiara sendiri sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Evan. Dirinya diserang begitu saja hingga tak bisa menghindar. Tiara hanya bisa membalas ciuman tersebut dengan apa adanya, karena ini memang ciuman pertama untuknya.

Evan melepaskan tautan hibir mereka. Sial! Bagaimana mungkin ia lepas kendali seperti ini?

“Masuklah.” Tanpa banyak bicara lagi, Evan melangkah lebih dulu menuju ke dalam kamarnya.

Tiara yang masih sedikit shock akhirnya berjalan menuju ke arah kamarnya. Tapi kemudian langkahnya terhenti karena panggilan Evan.

“Apa yang kamu lakukan di sana? Ayo, ikut aku.”

“Tapi, kamar saya kan ke sana?”

“Siapa bilang kamu harus ke kamar kamu? Masuklah ke kamar saya. Karena mulai malam ini, kamu akan menjadi teman tidur saya.”

Tubuh Tiara bergetar seketika. Ia mematung dengan ucapan Evan, tapi kemudian pergelangan tangannya diraih oleh Evan lalu lelaki itu menyeretnya masuk ke dalam kamarnya.

Lagi-lagi, Tiara hanya mematung di tengah-tengah kamar Evan. Ia ragu, apa ia harus membatalkan niatnya? Astaga, apa yang sudah ia lakukan???

Evan kembali menghampiri Tiara sambil memberikan sebuah handuk padanya. “Mandilah dengan air hangat, tubuhmu terlihat menggigil.”

Ya, tentu saja. Tiara meggigil bukan hanya karena tubuhnya yang basah akibat kehujanan, tapi juga karena takut dengan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

“Saya akan buatkan kamu minuman hangat.”

“Pak Evan nggak perlu repot-repot.”

“Nggak repot, kok.” Evan sedikit tersenyum, lalu pergi meninggalkan Tiara.

Tiara menghela napas panjang. Ia memilih masuk ke dalam kamar mandi Evan. Sepertinya, berendam sebentar akan melunturkan semua ketakutannya.

***

Setelah cukup lama berendam, Tiara memilih keluar dari dalam bak mandi. Ia meraih handuk yang diberikan Evan tadi lalu memakainya. Berdiri sebentar di sana, menata hatinya kembali, menyiapkan keberaniannya, apa iya, dirinya harus benar-benar melakukan hal ini?

Keraguan kembali menyeruak dalam benak Tiara. Ahh, betapa bodohnya kamu Tiara, bagaimana mungkin kamu menjual dirimu dan juga harga dirimu seperti ini?

Tiara menghela napas panjang, ia akhirnya membuka pintu kamar mandi dan keluar dari sana. Rupanya, Evan sudah duduk menunggunya di pinggiran ranjang.

Evan menatap Tiara yang baru keluar dari dalam kamar mandi akhirnya berdiri seketika. Secara spontan kakinya melangkah begitu saja menuju ke arah Tiara yang berdiri di depan pintu kamar mandinya. Wanita itu hanya menundukkan kepalanya, sembari memegangi erat-erat sampul handuk yang membalut tubuhnya.

Evan menelan ludah dengan susah payah, ketika melihat bagaimana kulit pundak Tiara yang terekspos di hadapannya. Kaki wanita itu yang telanjang dan terlihat masih basah. Belum lagi, rambut basahnya. Oh, Evan bahkan merasakan jika pangkal pahanya sudah menegang dan siap untuk dibebaskan.

Apa-apaan ini? Sejak kapan ia menjadi lelaki mesum seperti sekarang ini?

Jemari Evan dengan spontan terulur, mengusap lembut pipi Tiara. “Indah.” Gumamnya tanpa sadar.

Tiara mengangkat wajahnya, tampak sendu ekspresinya, tapi tetap saja itu tak mengurangi hasrat sialan di dalam diri Evan. Evan mendekat lagi, lalu kepalanya menunduk, mencari bibir Tiara. Tiara hanya bisa memejamkan matanya ketika bibirnya disapu oleh permukaan bibir Evan.

Evan mencumbunya dengan lembut, dengan penuh penghayatan. Tiara mengikuti ritme dari cumbuan Evan, ia tidak pandai berciuman, jadi yang bisa ia lakukan hanya mengikuti permainan Evan.

Tanpa di duga, tiba-tiba, jemari Evan mendarat pada sampul handuk yang dikenakan Tiara, ia membuka sampul tersebut, hingga handuknya jatuh ke lantai menyisakan tubuh Tiara yang sudah telanjang bulat di hadapannya.

Evan melepaskan tautan bibir mereka, matanya menangkap ketelanjangan Tiara, hingga yang bisa Tiara lakukan hanya menundukkan kepalanya sembari mencoba menutupi ketelanjangannya dengan kedua belah lengannya.

“Tidak apa-apa.” ucap Evan sambil meraih lengan Tiara yang menutupi ketelanjangan tubuhnya.

Evan sedikit tersenyum, matanya berkabut menatap mata Tiara, sedangkan jemarinya sudah mulai membuka kancing kemeja yang ia kenakan. Evan melucuti pakaiannya sendiri satu persatu tanpa meninggalkan tatapan matanya pada mata Tiara, hingga tak lama, Evanpun sudah berdiri tanpa sehelai benangpun tepat di hadapan Tiara.

Evan meraih jemari Tiara, mendaratkan jemari-jemari mungil tersebut pada dada bidangnya, membawanya turun melalui perutnya yang kotak-kotak, lalu turun lagi hingga sampai pada bukti gairahnya.

Tiara sempat ragu dengan apa yang dilakukan Evan, tapi bagaimana lagi, ini adalah pilihannya. Lagi pula, entah kenapa setelah ia melihat Evan yang juga telanjang bulat di hadapannya, sesuatu seakan tersulut didalam dirinya, sesuatu keberanian yang entah datang dari mana.

“Sentuh saya.” Perintah Evan.

Tiara tidak mengerti apa yang harus di sentuh. Ia hanya membelai lembut bukti gairah Evan, memaiankannya dengan rasa takjub. Sedangkan Evan sendiri meraih payudara mungil milik Tiara, menggodanya dan bermain-main di sana dengan jemarinya.

Sebuah gelenyar aneh menerpa diri Tiara, membuat Tiara mengeluarkan erangannya dengan spontan ketika. Evan menghentikan gerakan tangannya.

“Apa ini menyakitimu?” tanyanya dengan suara serak.

Tiara menggeleng pelan. Tidak sakit, tapi rasanya aneh, dan Tiara tidak bisa mengungkapkan hal itu pada Evan.

“Jangan takut, kalau saya menyakiti kamu, kamu hanya perlu bilang ‘berhenti’ maka saya akan berhenti.”

“Baik, Pak.” Tiara mengangguk patuh.

Evan tersenyum, ia melanjutkan apa yang ia lakukan tadi, kepalanya lalu menunduk, dan kembali meraih bibir Tiara. Melumatnya dengan penuh gairah. Evan bahkan samar-samar mengeluarkan erangannya. Astaga, beginikah nikmatnya bercinta.

Belum. Ia bahkan belum menyatukan diri dengan tubuh Tiara, bagaimana mungkin ia sudah berpikir jika dirinya sudah bercinta dengan wanita tersebut? Evan melepaskan tautan bibir mereka, lalu ia mengajak Tiara untuk naik ke atas ranjangnya.

“Tidak bisa menunggu lebih lama lagi.” gumamnya pelan. Evan meraih sesuatu di dalam laci di meja kecil tepat di sebelah ranjangnya. Itu adalah sekotak alat kontrasepsi yang Evan beli beberapa hari yang lalu setelah ia memutuskan untuk keluar dari zona aman. Sebenarnya, Evan sempat menyesal membeli barang itu, karena ia yakin jika tak akan bisa melakukannya dengan wanita-wanita malam, tapi ia benar-benar tidak menyangka jika barang tersebut akan berguna saat ini.

Evan merobek bungkusan foil itu, lalu measangkan isinya pada pusat gairahnya. Tiara yang sudah duduk di pinggiran ranjang hanya menatapnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

“Apa kamu pikir, saya sudah biasa melakukannya?” tanya Evan masih dengan suara seraknya.

Tiara tidak menjawab, ia hanya menatap Evan dengan sedikit bingung.

“Percaya atau tidak, ini adalah yang pertama untuk saya. Anggap saja saya sedang gila.”

Tiara mengangguk pelan. “Ya, saya juga sedang gila.”

Evan tersenyum lembut. “Kalau begitu, tidak salah jika dua orang yang sama-sama gila menghabiskan malam bersama, kan?”

Tiara menatap Evan, dan sedikit senyuman tersungging begitu saja di wajahnya. Ia mengangguk pelan. Ya, setidaknya, setelah ini ada orang yang membantu menghadapi masalahnya. Setidaknya, ia melakukannya dengan lelaki baik-baik seperti Evan, lelaki yang bertanggung jawab, karena lelaki itu bahkan sudah memikirkan resiko sebelum menyentuhnya.

“Kalau begitu, saya akan memulainya.” ucap Evan yang segera mendorong tubuh Tiara hingga telentang di atas ranjangnya.

Evan menindih tubuh Tiara, jemarinya bermain pada pusat diri Tiara, sedangkan bibirnya tak berhenti mencumbu mesra bibir Tiara supaya wanita itu terpancing gairahnya.

“Pak…” Tiara melirih pelan, tak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini.

“Ya.”

“Jangan.” Tiara mengerang.

“Rileks saja, saya nggak akan nyakitin kamu.” Ya, meski berkata begitu, nyatanya Evan tidak yakin apa dirinya benar-benar tak akan menyakiti diri Tiara.

Evan memposisikan diri, menyentuhkan bukti gairahnya pada pusat diri Tiara yang sudah terasa basah dan menggoda. Tiara gelisah tak menentu ketika Evan mencoba mendesak masuk, melakukan penyatuan yang terasa begitu sulit.

“Jangan tegang.” bisik Evan pelan. “Saya tidak akan menyakiti kamu.” Evan berbisik lagi, setelah itu, ia kembali mencumbu bibir Tiara, seakan mencoba menghilangkan ketegangan yang ada. Tiara menikmatinya, menikmati cumbuan Evan yang begitu memabukkan untuknya. Hingga ketika Evan mendorong lebih keras lagi dari sebelumnya, yang bisa Tiara lakukan hanya mengerang dalam cumbuan tersebut saat tubuhnya menyatu sepenuhnya dengan tubuh Evan.

***

Tengah malam, Evan terbangun ketika mendengar isakan seseorang yang terbaring miring memunggunginya. Itu Tiara. Kenapa? Apa wanita itu menyesal karena sudah memberikan kehormatannya pada Evan?

Evan mengulurkan lengannya, untuk memeluk erat tubuh mungil Tiara dari belakang. Bibirnya entah kenapa ingin sekali menggoda sepanjang pundak telanjang Tiara. Evan memberikan kecupan-kecupan lembut di sana, hingga membuat tubuh Tiara kaku seketika.

“Maaf.” Satu kata, penuh arti, entah apa maksud Evan mengucapkan kata tersebut dengan spontan tanpa bisa ia tahan.

Tiara tidak menjawab, ia masih membatu, bahkan isakannya saja sudah tidak terdengar lagi.

“Kamu sudah memilih jalan ini, jadi kamu tidak bisa mundur lagi.”

“Kenapa Pak Evan melakukan ini?” tanya Tiara dengan nada lirihnya.

Evan menghela napas panjang. “Saya mencintai seseorang, dan saya ingin melupakannya.”

“Dengan cara meniduri wanita lain?”

“Ya.”

“Kenapa harus saya, kenapa Pak Evan tidak menawarkan pada wanita lain yang lebih berpengalaman?”

“Tidak ada wanita lain.”

“Pak Evan bisa membayar wanita malam yang lebih berpengalaman.”

“Saya lebih suka membayar kamu.”

Air mata Tiara menetes dengan sendirinya. Ya, ia kini sudah menjadi wanita bayaran, wanita murahan yang dengan mudahnya melemparkan diri ke atas ranjang lelaki ini. Apa bedanya ia dengan perempuan malam lainnya?

“Dengar.” Evan membalikan tubuh Tiara hingga terbaring miring menatap ke arahnya. “Saya tidak pernah memaksa kamu melakukan ini, kamu sendiri yang berlari pada saya, dan saya tidak akan menolak.”

Ya, Tiara tahu, tak seharusnya ia menyalakan Evan, karena pergulatan panasnya tadi dengan Evan terjadi karena tanpa pemaksaan. Ia sendiri yang sudah memutuskan untuk menjadi teman tidur Evan, jadi tak seharusnya ia menangis seperti saat ini.

“Saya hanya terlalu bingung, Pak. Saya butuh bantuan.”

“Maka apa yang kamu lakukan sudah benar, saya akan membantu kamu, sebisa saya. Kamu membutuhkan bantuan saya, dan saya membutuhkan sentuhan kamu.” Jemari Evan tiba-tiba terulur, meraih jemari Tiara, lalu membawanya pada bukti gairahnya yang ternyata sudah kembali mengeras, menegang ingin dipuaskan. “Kita saling membutuhkan, tidak ada yang salah dengan hubungan kita.” Dan setelah kalimatnya tersebut, Evan kembali mencumbu bibir Tiara, melumatnya hingga Tiara kembali terbuai dengan cumbuannya.

Ya, Tiara tidak bisa mundur lagi, ia tidak punya jalan untuk kembali, semuanya sudah menjadi milik Evan, dan ia tidak akan bisa mengambil kembali apa yang sudah ia berikan pada lelaki itu.

-TBC-

Future Wife – Chapter 3 (Teman Tidur)

Comments 7 Standard

Future Wife

 

Follow IG : @Zennyarieffka

Like Fanspage Facebook : Zenny Arieffka- Mamabelladramalovers

untuk mendapatkan informasi updatetan terbaru yaa…

 

 

Chapter 3

-Teman Tidur-

 

Mata Tiara membulat seketika. Dengan spontan kakinya mundur menjauhi Evan. Lengannya ia silangkan di depan dadanya. Astaga, bagaimana mungkin lelaki ini berkata seperti itu? Menjadi teman tidur? Apa maksudnya?

“Jangan takut.” Evan berkata cepat.

“Dua menit yang lalu saya tidak takut, tapi setelah Pak Evan berkata seperti itu, saya berpikir untuk segera lari dari hadapan Pak Evan.” Tiara menjawab dengan jawaban polosnya.

Evan tersenyum lembut. “Saya hanya memberi solusi.”

“Itu bukan solusi, Pak Evan memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan.”

Well, saya tidak memaksa kamu, saya hanya memberikan pilihan, karena kebanyakan orang memilih cara instan walau dia tahu itu merugikannya. Tak ada salahnya jika saya mencoba menawarkannya pada kamu, kan?”

“Tapi saya bukan kebanyakan orang. Saya akan kerja keras semampu saya, tanpa harus menjual tubuh saya.”

Lagi-lagi Evan tersenyum, kali ini sambil menganggukkan kepalanya. “Untuk seorang yang kesusahan, kamu ternyata masih memiliki harga diri yang tinggi.”

“Jika saya sudah tidak memiliki harga diri, saya tidak akan bekerja dengan Bu Sherly, tapi akan bekerja di rumah Bordil.” Tiara menjawab dengan ketus. Sugguh, ia tidak suka dengan sikap Evan yang berpikir bahwa dirinya bisa dibeli dengan uang. Ya, meskipun ia tidak memiliki apapun yang bisa dibanggakan, setidaknya ia memiliki sesuatu yang akan ia simpan hingga pangerannya nanti datang padanya dengan cinta.

“Baiklah.” Evan hanya tertawa. Lalu berjalan pergi meninggalkan Tiara, tapi sebelum itu, ia berpesan “Tapi kalau kamu berubah pikiran, datang saja sama saya, tawaran saya masih berlaku sampai kamu mampu melunasi hutang-hutang kakakmu.”

Setelahnya, Evan pergi dengan masih dengan senyum terukir di wajahnya, sedangkan Tiara mulai kesal dengan sikap Evan. Ya, senyum Evan itu, terlihat seperti senyum nakal, dan Tiara tidak suka saat melihatnya.

***

Masuk ke dalam kamar, Evan menutup pintu kamarnya lalu menguncinya dari dalam. Setelah itu ia menyandarkan tubuhnya pada pintu kamarnya. Jemarinya meraba dada kirinya yang tiba-tiba saja berdebar tak menentu, dan sial! Evan sadar jika kini pangkal pahanya sudah berdenyut nyeri.

Ia menginginkan Tiara, ya, ia menginginkannya. Dan apa-apaan ini? Padahal, ia tak pernah mengingnkan perempuan hingga terasa nyeri seperti saat ini.

Sejak kecil, perasaannya hanya tumbuh untuk sosok Karina, rasa cinta yang murni. Setelah dewasa, Evan memang sesekali tergoda untuk memiliki diri Karina, ia ingin menyentuh wanita itu dengan sentuhan intim, tapi rasa cintanya yang begitu besar membuatnya melupakan hasrat primitifnya pada sosok Karina. Evan memilih mengubur hasrat-hasrat panas tersebut dan memupuk rasa cintanya. Tapi kini, saat ia bertemu dengan sosok Tiara, hasrat-hasrat tersebut seakan membeludak di dalam dadanya. Menghantarkan sengatan aneh yang menyerang seluruh syaraf-syarafnya.

Evan menginginkan sebuah pelesapas.

Ahh sial! Kenapa jadi begini?

Ia bahkan belum pernah melakukan hubungan badan sekalipun dengan wanita manapun, tapi tadi, ia bersikap seolah-olah menjadi seorang berengsek yang hanya memikirkan selangkangannya.

Bagaimana bisa Tiara membuatnya seperti ini?

Evan akhirnya memilih masuk ke dalam kamar mandinya, melucuti semua pakaiannya, lalu menyalakan air shower. Sepertinya, mandi air dingin adalah solusi yang baik. Ia tidak mungkin membiarkan pangkal pahanya menegang sepanjang malam akibat keinginannya yang tidak terpenuhi.

Sial! Ia benar-benar sudah mulai gila.

***

Paginya, Evan keluar dari dalam kamarnya saat ia sudah rapih. Berharap jika ia melihat Tiara yang masih sibuk di dapurnya dan mengamati wanita itu lagi secara diam-diam. Tapi ketika ia menuju ke arah dapur, semuanya sudah sepi. Tak ada Tiara di sana. Evan melirik sekilas ke arah meja makan, rupanya di sana sudah tersedia sarapan untuknya, lengkap degan secangkir kopi dan juga koran paginya.

Evan menuju ke arah meja makan tersebut, tampak sebuah note yang berisi :

“Sarapan, kopi, dan koran paginya sudah saya siapkan, Pak. Saya berangkat kerja dulu.”

Evan melirik jam tangannya, waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi, seharusnya Tiara belum berangkat. Tapi kenapa wanita itu berangkat pagi-pagi sekali?

Satu-satunya alasan adalah bahwa wanita itu sedang menghindarinya. Tiara pasti enggan bertatap muka dengannya lagi karena pengajuan yang tak masuk akal darinya tadi malam.

Ahhh, wanita itu benar-benar membuat Evan gemas.

Evan tersenyum, ia duduk menyesap kopinya lalu meraih koran di hadapannya. Baru juga ia membaca tajuk utama dalam koran tersebut, ia sudah menaruhnya kembali. Terasa ada yang kosong, tapi apa?

Evan menghela napas panjang. Selama ini, ia memang tak pernah hidup jauh dari keluarganya. Tapi karena Karina, ia memilih mengasingkan diri, hidup dengan kekosongan, kesepian. Lalu kemarin, ketika ia bangun tidur, ia sudah mendapati Tiara yang sibuk di dapurnya, mengingatkannya kembali pada saat-saat dimana ia hidup dengan keluargnya, tidak sendirian.

Lalu tadi malam, dengan bodohnya ia mengacaukan semuanya. Tiara pasti ketakutan, dan tampak juga raut marah dan tersinggung dari wajah wanita itu semalam. Ah, benar-benar bodoh!

Evan menatap hidangan di hadapannya dengan tak berselera, ada nasi goreng seperti kemarin, yang pastinya rasanya sama enaknya, tapi entah kenapa Evan tak nafsu memakannya. Akhirnya Evan bangkit kembali, ia akan ke rumah Davit, dan mencari tahu, apa Tiara benar-benar di sana, atau mungkin wanita itu kabur karena takut dengan ucapannya semalam.

***

Setelah beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya pintu di hadapannya di buka. Evan mendapati Sherly berdiri di ambang pintu dengan menggendong puteri kecilnya.

“Loh, Van, kok tumben pagi-pagi ke sini?”

“Uuum, ini, mau minta gula.” Evan memang datang dengan membawa cangkir kopinya. Ia harus memiliki alasan, tidak mungkin ia bilang jika dirinya ke sana untuk mencari tahu dimana Tiara.

“Ohh, masuk aja, ikut sarapan sekalian.” tawar Sherly.

“Memangnya kamu masak?”

“Enggak, mana mungkin aku bisa masak kalau Cinta lagi rewel gini.” Sherly menimang-nimang putri kecilnya yang belum genap berusia satu tahun. “Tiara yang masak sarapan, nggak tahu, tumben dia datang pagi-pagi banget.”

Evan tersenyum penuh arti, “Ahh, ya, tentu saja, aku mau sarapan gratis di sini.”

Evan masuk ke dalam dan segera menuju ke arah ruang makan yang memang menyatu dengan dapur. Senyumnya kembali tersungging saat mendapati Tiara sedang sibuk dengan pekerjaannya. Wanita itu bahkan tidak menyadari jika kini Evan sedang menatapnya dari belakang.

Evan berjalan pelan, menuju ke arah Tiara, lalu ia berbisik “Pagi.” Hingga membut Tiara berjingkat seketika.

“Pak Evan?” ucapnya tak percaya.

“Ya.”

“Ke-kenapa?”

“Saya sedang minta gula.” Jawab Evan santai sambil mencari-cari letak gula di dapur rumah Davit.

“Tapi, kopinya tadi sudah saya kasih-”

“Pagi Van.” Sapaan Davit, sontak memotong kalimat Tiara.

Evan menolehkan kepalanya ke belakang. “Pagi.”

“Cari apa lo di sana?”

“Cari gula.”

Davit tertawa lebar. “CEO macam apa lo sampek-sampek nggak punya gula.”

Evan juga akhirnya ikut tertawa. “Sialan. Gue bangkrut, karena baru saja bayarin hutang seseorang.” Evan menjawab dengan sedikit menyindir. Tiara tentu tahu jika yang dimaksud Evan adalah hutang-hutang kakaknya.

“Bangkrut? Yang bener aja, lo. Mending lo ikutan bisnis kuliner sama gue.” Davit duduk di kursinya, menyesap kopi yang memang sudah tersedia di sana tanpa memperhatikan Evan lagi. Ia memilih meraih koran paginya sembari memakan selembar roti tawar.

Sedangkan Evan, ia berpura-pura meraih gula dan memasukkannya ke dalam cangkir kopi yang ia bawa dari rumah. Tak lupa, ia juga berbisik pelan ke arah Tiara.

“Saya tahu kamu sedang menghindari saya.”

“Maaf?” Tiara tidak mengerti apa yang dikatakan Evan.

“Sayangnya, kamu tidak akan bisa lari dari saya.” Evan berkata lagi masih dengan menuangkan gula pada cangkir kopinya.

“Saya tidak bermaksud-”

“Tiara.” Panggilan dari Sherly menghentikan kalimat Tiara.

“Iya, Bu.”

“Bisa tolong Dirly sebentar? Ini Cinta nggak mau di tinggal.”

“Baik Bu.” Dan akhirnya Tiara memilih pergi meninggalkan Evan.

Evan sendiri memilih menuju ke arah meja makan, dimana di sana masih terlihat Davit yang serius dengan koran paginya.

“Serius amat, ada berita apa?”

“Nggak penting.” Davit menjawab cepat. “gimana kerjaan lo? Dan yang paling penting, apa lo sudah dapat gandengan?”

“Lo apaan sih? Nggak penting banget yang di tanyain.”

“Van, lo sudah hampir Tiga puluh tahun, Anak gue sudah dua, si Dirga sudah nikah, bahkan adek lo aja udah nikah. Lo kapan?”

Evan memilih diam dan hanya mengaduk-aduk kopinya, ia tidak ingin membahas masalah pribadi itu dengan Davit.

“Lo sudah nggak mikirin Karin lagi, kan?”

Ya, Davit tentu saja sudah tahu tentang masalah Evan, karena beberapa saat yang lalu, Karina masuk rumah sakit, dan di sana, Karin bercerita semua tentang masalahnya dengan Evan dan juga Darren.

“Enggak.”

“Terus, apa yang lo tunggu?”

“Lo pikir cari pasangan hidup itu segampang ngupil?”

“Ya.” Davit menjawab cuek. “gue hanya perlu sebulan untuk jadian sama Sherly, dan lima bulan untuk melamarnya.”

“Jangan samakan sama pengalaman lo.”

“Lalu?”

“Sudah ah, jangan bahas lagi.” Evan meminum kopinya, tapi kemudian ia segera menyemburkannya kembali sambil mengumpat “Sialan!”

“Kenapa?”

“Kemanisan.” Ucap Evan sambil membersihkan bibirnya dengan tissue yang tersedia. Sedangkan Davit hanya bisa tertawa lebar menertawakan temannya tersebut.

***

Di tempat lain.

“Ayolah Pa, Papa pasti punya kenalan, kan? Mama nggak tega lihat Evan hidup menyendiri di sana. Kalau Evan sudah ada istri, pasti dia bisa balik hidup di sini tanpa ada kecanggungan lagi dengan Karina maupun Darren.” Tampak, seorang perempuan paruh baya sedang membujuk suaminya.

“Kenalan sih banyak, Ma, tapi kan nggak semua kenalan Papa memiliki anak perempuan yang siap nikah, dan kalaupun ada, belum tentu dia mau di jodohkan. Evanpun demikian, belum tentu dia mau dijodohkan.”

“Tapi nggak ada salahnya mencoba, kan Pa?”

“Ma, jangan gegabah, Papa nggak mau anak-anak menikah karena paksaan. Biarlah Evan mencari kebahagiaannya sendiri dulu.”

“Ahhh, Papa ini, biar mama saja nanti yang tanya-tanya sama teman-teman arisan Mama.”

“Ma.”

“Pa, Mama hanya kasihan saat melihat Evan sedih ketika melihat kebersamaan Darren dan Karin di rumah ini. Mama ingin semuanya segera kembali normal dan Evan bisa balik ke rumah ini lagi tanpa kecanggungan-kecanggungan diantara mereka.”

Lelaki paruh baya itu menghela napas panjang. “Baiklah, atur bagaimana baiknya, tapi kalau dia nggak mau, jangan dipaksa.”

Perempuan paruh baya itu tersenyum senang, akhirnya, ia bisa berbuat sesuatu untuk putera kesayangannya.

***

Tiga hari berlalu.

Sore itu, Tiara sedang menemani Dirly main di dalam kamarnya. Keduanya sedang asyik bermain sampai tidak sadar jika Sherly sedang menatap keduanya dengan penuh senyuman.

“Sayang, kemarilah.” Davit yang memang tidak berangkat kerja dan memilih menghabiskan waktunya di depan televisi sesorean ini memanggil Sherly untuk segera menghampirinya.

“Ada apa?” Sherly datang menghampiri Davit.

Davit menyaringkan volume TV di hadapannya. “Itu, bukannya kakaknya Tiara?” Davit menunjuk ke arah TV.

Sherly menatap ke layar datar di hadapannya, mengamatinya dengan seksama, Sherly menajamkan pendengarannya hingga ia dapat mencerna berita apa yang sedang ia lihat.

Penggerebekan tempat hiburan malam, beberapa tamu terciduk sedang menggunakan ganja. Begitulah yang ia dengar, hingga ia segera menatap ke arah suaminya.

“Astaga, gimana dengan Tiara?” tanyanya khawatir pada Davit. Ya, tentu saja, Tiara sudah seperti adik kandungnya sendiri. Melihat pemberitaan tersebut tentu membuat Sherly mengkhawatirkan kehidupan Tiara selanjutnya.

“Ada apa, Bu?” suara Tiara yang tiba-tiba terdengar itu membuat Sherly terkejut. Rupanya Tiara sudah keluar dan dia mendengar apa yang diucapkan Sherly barusan. Tiara menatap ke arah TV yang memang masih menyiarkan berita tersebut.

Tiara hanya bisa ternganga melihatnya, matanya berkaca-kaca seketika saat melihat berita penggerebekan di sebuah tempat hiburan malam yang juga melibatkan kakaknya.

“Bang Radit.” Lirihnya.

***

Hanya bisa menangis sesenggukan saat melihat sang kakak ada di balik kaca pembatas ketika malam itu juga Tiara mengunjungi kakaknya. Sang kakak menampilkan wajah santainya, seperti tak terjadi apapun, padahal Taira sudah menangis sesenggukan membayangkan bagaimana nasib mereka kedepannya.

“Ngapain kamu kesini? Bukannya kamu sudah senang sama orang kaya itu?”

“Apa?”

“Orang yang menahanmu kemarin sudah cerita sama aku, kataya kamu sudah di tebus oleh laki-laki kaya raya. Bagaimana bisa? Karena kamu menjadi simpanannya?”

“Bang, bagaimana mungkin Bang Radit berpikir seperti itu? Pak Evan adalah orang yang baik, dia menolongku saat Bang Radit menjualku, aku harus bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumahnya agar bisa melunasi hutang-hutang kita, Bang.”

Radit malah tersenyum mengejek. “Oh ya? Memangnya kamu bisa melunasinya? Asal kamu tahu, hutangku pada si tua bangka itu sebanyak Seratus Juta, sedangkan si tua bangka itu menjualmu pada dia sebanyak Lima ratus juta. Kamu bisa mencicilnya? Dengan apa? Sampai matipun kamu nggak akan bisa membayarnya.”

Tiara membungkam mulutnya dengan kedua belah telapak tangannya. Ia tidak menyangka jika Evan akan mengeuarkan uang sebanyak itu untuk menyelamatkannya, dan astaga, apa ia bisa membayarnya?

“Dengar. Sekarang, kamu hanya sendirian di luar sana. Jika kamu bisa mengeluarkanku dari sini, kita bisa melunasi hutang-hutang itu bersama-sama.”

Tiara menggelegkan kepalanya. Ia tentu ingin mengeluarkan kakaknya dari sana, tapi bagaimana caranya? Ia bahkan tidak memiliki apapun untuk dijadikan jaminan kebebasan sang kakak.

“Lakukan apa saja untuk mengeluarkanku dari sini.”

Tiara masih menangis, ia menggelengkan kepalanya tanpa bisa membalas ucapan sang kakak. Ya, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

“Maaf, waktunya habis.” Seorang penjaga datang dan membawa Radit kembali menuju sel tahanan.

“Keluarkan aku dari sini, Tiara. Masa depan kita tergantung sama kamu.” Pesan Radit sebelum menghilang di balik pintu.

Tiara menangis, ia bangkit lalu keluar dari sana. Menuju ke mobil Davit yang berada di parkiran. Ya, Davitlah tadi yang mengantarnya, dan Davit memilih menunggu Tiara di luar dengan alasan tak mau mengganggu pertemuan Tiara dengan kakaknya.

“Hei, sudah balik?” tanya Davit yang segera menghampiri Tiara yang sudah msuk ke dalam mobilnya.

Tiara tidak menjawab karena dia masih sibuk dengan tangisannya. Davit sendiri mengerti apa yang dirasakan Tiara. Tiara sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini, kecuali kakak berengseknya. Dan sekarang, mereka harus dipisahkan karena kasus ini. Davit memilih masuk ke dalam mobilnya. Dan segera menjalankan mobilnya. Mungkin Tiara masih shock, lebih baik ia mengantar Tiara pulang supaya wanita itu segera istirahat di rumahnya.

***

“Kamu yakin berani tinggal sendiri?” tanya Davit memastikan ketika sudah sampai di rumah Tiara dan wanita itu keluar dari dalam mobilnya.

Tiara hanya mengangguk, air matanya masih menetes dengan sendirinya.

“Kamu bisa tinggal di rumah kami sementara selama kasus kakak kamu berlangsung, kami sangat tidak keberatan. Dirly juga pasti akan sangat senang.” Davit menawarkan. Karena sungguh, ia tidak tega mendapati Tiara hidup sebatang kara saat kakak berengseknya menjalani hukuman di dalam sel tahanan.

“Tidak apa-apa, Pak. Saya baik-baik saja.”

Davit menghela napas panjang. “Baiklah, kalau ada apa-apa, hubungi saya atau Sherly secepatnya, oke?”

Tiara tersenyum dan hanya bisa mengangguk patuh. Akhirnya Davit menyalakan mesin mobilnya, lalu mengemudikannya meninggalkan Tiara sendiri di depan rumahnya.

Tiara masih mematung di halaman rumahnya, ia menatap rumahnya dan tangisnya kembali menjadi. Tuhan, apa yang harus ia perbuat selanjutnya? Ia kini sendiri, sang kakak entah berapa lama berada di dalam tahanan, sedangkan hutang-hutangnya…. Astaga, apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia perbuat agar kakaknya segera keluar dari dalam tahanan?

Hujan tiba-tiba saja turun, menguyur tubuh Tiara yang masih mematung di halaman rumahnya. Oh, dirinya kini berada pada titik terendah dalam hidupnya, Tiara bahkan berpikir jika tak ada gunanya lagi ia hidup di dunia ini.

Tiara mendongakkan wajahnya ke arah langit, membiarkan wajahnya tertimpa derasnya air hujan. Ia ingin berteriak, meneriakkan semua kegalauan hatinya, tapi semuanya seakan tercekat di dalam tenggorokan. Yang bisa Tiara lakukan hanya menangis… menangis… menangis…. Lalu, bayangan itu datang.

“Datang saja sama saya, tawaran saya masih berlaku sampai kamu mampu melunasi hutang-hutang kakakmu.”

Tiara membuka matanya seketika. Apa ia harus meminta bantuan lelaki itu? Menjadi teman tidurnya? Tanpa pikir panjang lagi, Tiara melangkahkan kakinya, berlari secepat mungkin sebelum pikirannya berubah.

Ya, hanya Evan yang mampu membantunya, hanya Evan yang mampu menariknya dari semua masalah pelik yang sedang menimpanya.

***

Tiara mengabaikan tubuhnya yang sudah basah kuyub karena hujan, ia bahkan tidak menghiraukan tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan, yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya agar cepat sampai di rumah Evan, dan cara satu-satunya adalah ia harus berlari secepat mungkin mengabaaikan hujan yang tak berhenti mengguyurnya.

Akhirnya, sampailah juga Tiara di depan rumah Evan, tanpa ragu sedikitpun, Tiara mengetuk pintu rumah tersebut, berharap Evan belum tidur dan segera membukakan pintu untuknya. Dan benar saja, tak berapa lama, pintu di hadapannya di buka mendapati Evan yang berdiri di ambang pintu.

“Tiara?” Evan tampak tertkejut dengan apa yang dia lihat.

“Pak.” Hanya itu yang diucapkan Tiara, semuanya seakan tercekat di tenggorokan, hanya matanya yang kembali berkaca-kaca seakan ingin menumpahkan semua kesedihan di hadapan Evan.

“Apa yang kamu lakukan? Masuklah.” Evan menarik pergelangan tangan Tira hingga Tiara masuk ke dalam rumahnya. Evan menutup pintu rumahnya kemudian ia kembali fokus pada Tiara. “Kenapa kamu baru pulang? Kenapa kamu hujan-hujanan begini?” tanya Evan lagi.

“Pak.”

“Apa kamu tahu kalau saya kelaparan karena tidak ada yang menyiapkan makan malam untuk saya?”

“Maaf, Pak, tapi saya…”

“Cukup! Sekarang masuk dan gantilah bajumu, pakaianmu yang basah membuatku tidak fokus.” Gerutu Evan yang segera membalikkan tubuhnya membelakangi Tiara dan segera pergi meninggalkan Tiara.

“Pak, tunggu.” Dengan begitu berani, Tiara meraih pergelangan tangan Evan. Evan menghentikan langkahnya lalu menatap pergelangan tangannya yang sedang digenggam oleh Tiara. “Maaf, saya nggak bermaksud.” Tiara melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Evan.

“Ada apa? Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Evan penasaran.

“Uuum, saya menerima tawaran Pak Evan.”

Evan mengangkat sebelah alisnya. “Apa maksud kamu?”

“Saya mau menjadi ‘Teman Tidur’ Pak Evan.”

Evan sempat ternganga dengan apa yang dikatakan Tiara, tapi kemudian ia segera menguasai dirinya kembali, dan secara spontan, Evan menangkup kedua pipi Tiara lalu secepat kilat, ia menyambar bibir ranum Tiara, bibir yang sudah cukup lama menggodanya….

-TBC-

Future Wife – Chapter 2 (Cara Instan)

Comments 4 Standard

Future Wife

 

“Bang, Bang Radit. Bang..” Tiara juga ikut berteriak memanggil-manggil nama kakaknya ia tentu tidak ingin di tinggalkan dengan orang-orang asing yang tidak ia kenal. Belum lagi fakta jika dirinya kini menjadi milik orang tersebut. “Bang, jangan tiggalin Tiara, Bang.. Bang Radit….”

Dan ketika Tiara tak juga diam dari rengekannya, sepasang kaki berjalan menuju ke arah mereka. “Permisi.” Suara itu membuat Tiara menghentikan rengekannya, lalu menolehkan kepalanya ke arah suaraa tersebut. Tiara ternganga mendapati siapa yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Anda siapa?” tanya lelali paruh baya itu pada pria yang baru datang menghampirinya.

Pria itu sedikit tersenyum, lalu mengulurkan jemarinya. “Saya Evan Pramudya, kekasih wanita ini.”

***

 

Chapter 2

-Cara instan-

 

Tiara ternganga setelah mendengar kalimat yang diucapkan oleh Evan. Apa maksudnya? Dan kenapa bisa lelaki ini berada di tempat seperti ini? Saat Tiara masih bingung mencerna semua kejadian itu di otaknya, lelaki paruh baya yang kini memilikinya itu tertawa lebar menertawakan keberanian Evan.

“Hahaha Anda jangan asal bicara, wanita ini sudah menjadi milik saya karena kakaknya sudah menjualnya dengan saya!”

“Saya akan menebusnya.” Evan berkata dengan santai tanpa ekpresi.

“Berapa uang yang kamu punya, anak muda? Sampai kamu berani-beraninya mau menebus dia dariku?”

Evan tidak menjawab, ia hanya mengeluarkan dompetnya kemudian memberi lelaki paruh baya itu kartu namanya. Lelaki paruh baya itu menerimanya, membacanya, lalu matanya membulat seketika ke arah Evan.

“Saya pikir, uang saya lebih dari cukup untuk menebus kekasih saya.” Evan berkata dengan nada dingin tanpa ekspresi, hingga siapapun yang menatapnya pasti terintimidasi dengan sikap dan perkataannya.

Lelaki paruh baya itu tampak salah tingkah. Lalu ia mencoba menguasai dirinya dengan berkata “Saya ingin transaksinya di lakukan malam ini juga, di sini, kalau tidak…”

“Anda takut saya berbohong?” Evan memotong kalimat lelaki paruh baya itu. “Anda bisa menemui saya di kantor cabang saya yang di bandung. Jika anda menolak kompromi saya, saya bisa menuntut anda dengan tuntutan perdagangan manusia.”

“Tunggu dulu, apa-apaan ini? Kenapa jadi bawa-bawa hukum?”

“Anda ingin uang? Saya akan memberi Anda sebanyak yang Anda inginkan asalkan Anda mau melepaskan kekasih saya. Tapi tidak sekarang, karena saya tidak menyimpan uang sebanyak itu di kantong saya saat ini. Anda sudah menyimpan kontak saya, saya tidak akan lari.”

Setelah kalimat panjang lebarnya tersebut, Evan meraih pergelangan tangan Tiara dan bersiap mengajak Tiara pergi dari tempat tersebut, tapi kemudian langkahnya di hadang oleh anak buah lelaki paruh baya tersebut. Evan lalu menatap lelaki paruh baya itu sekali lagi dengan tatapan mengintimidasinya, lalu si lelaki paruh baya itu memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan Evan dan juga Tiara. Evan melangkah pergi sambil menyeret Tiara.

“Saya akan menagih ke kantor kamu, nanti!” lelaki paruh baya itu berseru keras pada Evan dan Tiara. Namun Evan tidak mengindahkan seruan lelaki paruh baya itu. Ia tetap berjalan keluar dari tempat tersebut masih dengan menyeret Tiara.

***

Evan menyesap anggur yang ada di dalam sebuah gelas yang berada di tangannya. Pikirannya melayang memikirkan apa yang baru saja ia lakukan, astaga, apa ia sudah gila?

Semua itu berawal dari sebuah buku yang ia baca. Buku tentang bagaimana cara melupakan sosok masa lalu yang membayangi. Dalam buku tersebut, tertulis jika ia harus mencari sebuah pelarian, ia harus tetap berjalan kedepan, bahkan mungkin berjalan di luar garis aman. Dengan kata lain, ia harus mencoba hal-hal baru yang mungkin tidak ia sukai hingga ia mampu melupakan permasalahannya.

Maka dari itulah, tadi, ia berada di sebuah tempat yang memang tidak pernah ia datangi sebelumnya. Tempat yang baginya sangat bising dengan suara musiknya dan juga lampu kerlap kerlipnya. Belum lagi bau rokok tercium di sudut manapun dari tempat tersebut.

Ya, tempat hiburan malam menjadi tujuan pertamanya saat itu. Ia hanya ingin mencoba minum di tempat asing seperti itu, karena sebelumnya, ia memang tak pernah ke tempat sejenis itu. Evan lebih suka menghabiskan waktunya di bar-bar café yang lebih tenang, bukan di tempat hiburan malam seperti itu.

Lalu ketika Evan sudah tidak tahan dengan kebisingan tempat tersebut, ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu, dan ketika ia akan pergi dari sana, ia mendengar sebuah kegaduhan tak jauh dari tempatnya berdiri. Rasa keingintahuannya begitu besar hingga kakinya melangkah dengan spontan ke arah kegaduhan tersebut, ia sedikit terkejut saat mendapati siapa yang ada di sana.

Itu Tiara, wanita pendiam yang mengasuh anak-anak Davit. Evan tertarik dengan apa yang dilakukan Tiara disana. Kenapa wanita itu meronta? Berteriak memanggil-manggil seseorang? Akhirnya Evan memutuskan untuk mencari tahu dengan mendekat. Lalu semuanya terjadi begitu cepat, ketika tanpa pikir panjang lagi ia memutuskan untuk menolong perempuan itu dengan cara menebusnya, padahal ia tidak yakin apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Kini, perempuan itu masih berada di dalam kamar mandinya, sedangkan ia menunggu perempuan itu keluar dan meminta penjelasan tentang apa yang sedang dialami oleh perempuan trsebut.

Evan menyesap anggurnya sekali lagi, sebelum kemudian ia mendengar pintu kamar mandinya dibuka dan mendapati Tiara sudah berdiri di sana dengan wajahnya yang sudah segar. Perempuan itu mengenakan T-shirt miliknya, dengan handuk yang membalut kepalanya yang basah. Entah kenapa Evan merasakan sesuatu yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.

“Kemarilah.” Dengan sedikit canggung, Evan memanggil Tiara dan mengajak Tiara untuk duduk di hadapannya.

Tiara tidak menolak, ia menuruti apa yang dikatakan Evan, meski sebenarnya Tiara juga dilanda kecanggungan yang sama besarnya dengan yang dirasakan Evan.

“Berceritalah.”

“Maaf?” Tiara tidak mengerti.

“Ceritakan apa yang terjadi denganmu tadi. Kenapa kamu bisa sampai ditempat seperti itu dan dengan orang-orang seperti itu.”

Tiara menunduk, ia meremas kedua belah telapak tangannya sendiri, ia tidak tahu harus darimana menceritakan semuanya, dan ia tidak yakin jika dia mampu menceritakan semuanya pada Evan. Apakah masuk akal jika ia bercerita tentang kehidupan pribadinya dengan lelaki yang cukup asing seperti Evan? Tapi, disisi lain, Tiara juga sadar, jika Evan harus mengetahui semuanya, mengingat lelaki itu akan mengeluarkan banyak uang untuk menebusnya.

Tiara menghela napas panjang, sebelum kemudian ia mulai membuka suara. “Bang Radit, kakak saya, dia punya banyak hutang karena bermain judi. Dan dia, menjadikan saya sebagai pelunas hutangnya.”

“Lalu dimana kakak berengsekmu itu?”

“Mungkin di rumah, karena anak buah orang itu tadi menyeretnya keluar.”

Evan mendengus sebal. “Kakak seperti apa yang tega menjual hidup adiknya sendiri?”

“Pak Evan tidak mengerti apa yang terjadi dengan kehidupan kami.”

“Saya tahu saya tidak mengerti, dan saya tidak seharusnya ikut campur dengan masalah kalian. Tapi menjual keluarga sendiri itu benar-benar tidak termaafkan.”

Tiara hanya menunduk, ia terdiam cukup lama, tak berani mengangkat wajahnya apalagi membalas ungkapan kekesalan yang terlontar dari mulut Evan tadi.

“Uum, bagaimanapun juga, saya berterimaksih sekali dengan apa yang sudah pak Evan lakukan. Saya tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Mungkin saya harus bekerja ekstra untuk membayar hutang-hutang kami pada pak Evan.” Tiara lalu berdiri, ia merasa kurang nyaman dengan kedekatannya bersama Evan. “Uum, jika berkenan, saya mau izin pulang dulu.”

Evan ikut berdiri seketika. “Tunggu, siapa yang bilang kamu boleh pulang?”

“Maaf?” Tiara menatap Evan dengan wajah bingungnya.

“Kalau kamu pulang, kakak kamu akan berpikir jika dirinya tak perlu susah payah menebus kamu lagi, dan kemungkinan, kamu akan dijual kembali dengan pria hidung belang yang lainnya. Tinggallah di sini, sampai kakak kamu bisa melunasi hutangnya.”

Mata Tiara membulat seketika. “Apa? Sampai kapan? Bang Radit tidak mungkin bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam satu atau dua tahun.”

“Setidaknya di sini kamu aman, daripada di tenpat lelaki hidung belang tadi.” Dan setelah kalimatnya itu, Evan pergi meninggalkan Tiara. Tiara hanya bisa menatap kepergian Evan dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Ia akan menjadi tawanan lelaki itu, ya, sepertinya begitu. Tapi bukankah ini lebih baik? Setidaknya Evan tidak macam-macam, dan lelaki itu tidak tampak seperti lelaki berengsek yang ada di tempat hiburan malam tadi.

***

Paginya, Tiara bangun lebih pagi dari biasanya. Bukan tanpa alasan, karena semalaman ia sudah memikirkan semuanya. Ia berpikir untuk bekerja paruh waktu dengan Evan. Ya, mengurus rumah lelaki itu dan menyiapkan segala keperluannya sepertinya bukan hal yang sulit. Ia akan melakukannya, dan berbicara dengan Evan supaya lelaki itu mau mempertimbangkan pekerjaannya tersebut sebagai sedikit potongan dari hutang mereka.

Tiara cukup lega, karena ternyata Evan memiliki bahan masakan yang bisa dimasak. Hingga Tiara saat ini menghabiskan paginya di dapur rumah Evan. Menyiapkan sarapan tentu bukan hal baru untuk Tiara, tapi yang menjadi masalahnya adalah, apakah lelaki itu mau menikmati masakannya? Apa lelaki itu memiliki selera makan yang sama dengan seleranya? Mengingat itu hati Tiara menciut.

Tapi ia tidak peduli, yang paling penting adalah, ia akan melakukan apapun yang dapat ia lakukan untuk meringankan hutangnya terhadap Evan.

Saat Tiara masih asik di depan kompor, ia tidak menyadari jika kesibukannya memasak sarapan untuk Evan ternyata diperhatikan lelaki itu dari jauh.

Masih mengenakan celana piyamanya dengan bertelanjang dada, Evan melangkahkan kakinya dengan spontan mendekat ke arah meja dapur. Memperhatikan Tiara dari belakang. Perempuan itu benar-benar mirip dengan Karina ketika Karina berada di dapur. Tiara pasti pandai memasak juga, dan entah karena apa, Evan merasa sejuk saat melihat Tiara sibuk di dapurnya.

Mencoba menghilangkan kecanggungan, Evan berjalan menuju ke arah lemari pendingin sembari menyapa Tiara. “Pagi.”

Tiara menatap ke arah Evan, lalu ia membalikkan tubuhnya memunggungi Evan saat ia mendapati Evan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana piyama saja.

Evan mengerutkan keningnya saat melihat tingkah aneh dari Tiara. “Kenapa?” tanyanya bingung.

“Maaf, Pak. Apa nggak sebaiknya Pak Evan pakai baju dulu? Nanti takutnya masuk angin.”

Evan sempat ternganga mendengar kalimat Tiara, tapi setelah itu ia tertawa lebar menertawakan kepolosan Tiara. “Saya sudah biasa telanjang dada seperti ini, jadi mulai sekarang kamu harus membiasakan diri melihatnya.”

“Uum, tapi Pak-”

“Sudahlah, sekarang lanjutin saja masakannya, saya sudah lapar.” Dengan santai dan cuek, Evan berjalan menuju ke meja makan. Sesekali ia masih melirik ke arah Tiara yang tampak mengenyahkan kepergiannya. Ahh, rupanya wanita itu lucu juga, polos dan menggemaskan.

Evan meraih sebuah koran, lalu membacanya sembari menunggu masakan Tiara siap. Meski ia mencoba berkonsentrasi, nyatanya tanpa ia sadari, matanya sesekali melirik ke arah Tiara bahkan tanpa perintah otaknya.

Tak lama, Tiara sudah menyuguhkan sarapan untuknya. Nasi goreng special, tak lupa ia juga membuatkan kopi untuk Evan. Evan melirik ke arah masakan Tiara, tampak enak, dan Evan tak sabar mencicipinya.

“Kopi untuk saya harus dikasih krim yang banyak.” Evan berkomentar.

“Baik, Pak. Saya tambah dulu.”

Evan mengangguk, ia mulai mencoba masakan Tiara, dan ia benar-benar menyukai rasanya.

“Kamu pinter masak.” Evan berkomentar. “Saya jadi inget masakan Karina.” Dengan spontan Evan berkata seperti itu tanpa bisa ia cegah.

“Karina?” Tiara tampak bingung.

Evan sedikit salah tingkah. “Uum, dia adik ipar saya, istri adik saya.” Tiara hanya mengangguk, tak menanggapi lagi apa yang dikatakan Evan tadi. “Kenapa kamu tiba-tiba memasak untuk saya?” tanya Evan yang seketika itu juga membuat Tiara tak enak hati.

“Sebelumnya, saya mau minta maaf, karena sudah membuat berantakan dapur pak Evan.”

“Saya nggak mempermasalahkan hal itu.”

“Uum, jadi begini, saya bisa sambil kerja di sini, mencuci, bersih-bersih bahkan mengurus semua keperluan Pak Evan kalau Pak Evan mengizinkan, supaya, uum, itu hutang kakak saya sedikit lebih ringan.”

Evan tampak berpikir sebentar. “Jadi, kamu akan menyicil hutang dengan tubuhmu?”

“Maaf?” sungguh, Tiara berharap jika ia salah dengar. Apa yang dikatakan Evan tadi membuatnya berpikir yang tidak-tidak.

Tapi Evan malah tertawa lebar. “Ayolah, saya cuma bercanda, jangan terlalu kaku.”

Pipi Tiara merona seketika. Ia menunduk dan tersenyum malu, ia tidak menyangka jika Evan juga memiliki sisi humoris, meski baginya sisi tersebut masih terlalu dipaksakan.

“Oke, itu terserah kamu saja, tapi bukannya kamu juga harus bekerja di rumah Davit?”

“Ya, saya berangkat jam delapan, dan pulang jam Enam sore, sepertinya saya bisa menyelesaikan tugas saya tanpa mengurangi waktu kerja saya di tempat Bu Sherly.”

“Oke, atur bagaimana baiknya, nanti saya akan ngasih kamu daftar apa aja yang harus kamu lakukan.” Tiara mengangguk patuh, dan suasana di antara mereka berdua kembli hening penuh dengan kecanggungan. Sungguh, Evan ingin membunuh seluruh kecanggungan yang ada diantara mereka. Tapi bagaimana??

***

Di kantor…

Evan mencoba menyibukkan diri dengan pekerjaannya, padahal sejak siang tadi pikirannya menjurus pada sosok yang seharusnya tidak pernah mengganggu kepalanya, siapa lagi jika bukan Tiara.

Tadi siang, lelaki paruh baya yang tadi malam bermasalah dengan Tiara dan kakaknya datang ke kantornya. Untuk apa lagi jika bukan untuk menagih uang untuk menebus Tiara.

Tadi siang….

“Lima ratus juta.”

Evan mengangkat sebelah alisnya. “Anda mau memeras saya? Hutang anak itu tidak mungkin sebanyak itu.”

Lelaki paruh baya itu tersenyum menyeringai. “Ya, memang tidak sebanyak itu. Itu adalah Lima kali lipat dari hutang kakaknya.”

“Dan kenapa Anda melipat gandakannya?”

“Karena kamu bukan hanya membayar hutangnya, tapi juga menebus ‘pelunasnya’.”

“Apa?”

Lelaki paruh baya itu berdiri dan tertawa lebar. “Kamu pikir saya tidak tahu? Sebenarnya dia bukan kekasih kamu, kan? Evan Pramudya, Anda baru dua mingguan pindah ke kota ini, mana mungkin Anda menjalin hubungan special dengan perempuan macam dia dalam waktu sesingkat itu?”

“Itu bukan urusan Anda.” Evan ikut berdiri, ia sedikit kesal karena nyatanya lelaki paruh baya itu mampu mengetahui semuanya.

“Ya, bukan urusan saya. Saya hanya mau uang saya.”

Evan menghela napas panjang. Ia mengambil sebuah cek di dalam laci meja kerjanya, menulis nominal yang diinginkan lelaki paruh baya itu, lalu memberikannya begitu saja.

“Jangan ganggu dia lagi.” Evan mendesis tajam.

Lagi-lagi, lelaki paruh baya itu tersenyum miring. “Kenapa kamu mau membayar mahal untuknya? Kamu sedang merencanakan sesuatu? Menginginkan tubuhnya, mungkin.”

“Jaga mulut Anda.”

“Hahahaha.”

Evan mendengus sebal karena ditertawakan.

“Meskipun dia orang miskin, tapi dia cukup cantik, kulitnya putih mulus, membuat lelaki manapun ingin mendaratkan bibirnya pada permukaan kulit lembut wanita itu.”

Evan mengetatkan gerahamnya. Ia tidak suka cara lelaki paruh baya itu mendiskripsikan tubuh Tiara.

Kembali tertawa lebar, lelaki itu menepuk-nepuk pundak Evan. “Kamu menginginkannya, terlihat dari gelagatmu, anak muda.” Lalu lelaki itu berjalan pergi menuju ke arah pintu ruang kerja Evan. “Bagaimanapun juga, senang berbisnis denganmu.” Ucapnya sebelum menghilang di balik pintu.

 

Berbisnis? Apa-apaan dia? Dan astaga, menginginkan tubuh Tiara? Yang benar saja. Evan menggelengkan kepalanya cepat. Tiba-tiba ia merasa kepanasan, hingga ia meraih gelas yang ada di atas meja kerjanya, menenggak airnya hingga tandas. Evan lantas melonggarkan dasi yang entah kenapa terasa mencekiknya. Sial! Apa yang sedang terjadi dengannya? Apa yang sedang terbayang-bayang dalam pikirannya? Akhirnya Evan memilih bangkit. Entah kenapa ia ingin segera pulang, apa yang membuatnya ingin segera pulang?

***

Evan menenggak minuman kaleng yang berada dalam genggaman tangannya, sesekali ia menyibak gorden jendela rumahnya, rupanya, Tiara belum juga pulang dan astaga, untuk apa juga ia menunggu Tiara?

Saat Evan sibuk dengan pikirannya sendiri, pintu rumahnya diketuk. Evan bangkit dan segera menuju ke arah pintu depan rumahnya, lalu membukanya. Tampak Tiara sudah berdiri di sana.

“Hei, baru pulang?”

Tiara mengangkat sebelah alisnya. Sungguh, ia sedikit tidak nyaman saat mendengar Evan menyapanya dengan kata ‘pulang’. Seakan-akan, itu adalah rumahnya, rumah mereka berdua.

Oh Tiara, apa yang sudah kamu pikirkan?

“Ya.” Hanya itu yang diucapkan Tiara, seperti biasa, ia hanya menunduk dan tak berani mengangkat wajahnya terlalu lama.

“Masuklah, sebelum Davit keluar dan melihatmu ada di depan rumah saya.”

Tiara menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke dalam rumah Evan. “Uum, Pak. Apa saya boleh pulang sebentar? Saya mau mengambil pakaian saya.”

“Kalau kamu pulang, kakak kamu akan tahu kalau kamu bisa bebas sesuka hati. Setidaknya biarkan dia berpikir kalau hidup kamu disini susah, maka dia akan berusaha lebih keras untuk membayar hutangnya.”

“Lalu, pakaian saya?”

“Sementara, pakai saja T-shirt milik saya, nanti kita akan keluar carikan kamu pakaian santai.”

“Tapi Pak, bukannya itu nanti malah menambah hutang kami?”

“Enggak, anggap saja itu saya yang belanjakan.”

“Pak Evan tidak perlu berlebihan.”

“Dan kamu juga jangan terlalu banyak membantah. Sekarang, cepat, buatkan saya makan malam. Saya sudah lapar.” Evan pergi meninggalkan Tiara, sedangkan Tiara hanya bisa ternganga menatap kepergian Evan.

Apa-apaan lelaki itu?

***

Tiara membersihkan dapur serta piring-piring kotor bekas makan malam Evan. Ia sibuk dengan pekerjaannya tersebut hingga tidak sadar jika sejak tadi Evan sudah mengamatinya dari belakang.

Evan sendiri kini sedang memakan buah apel, berdiri di sebelah meja makan dengan sebuah kertas di tangannya. Matanya tak berhenti menatap Tiara dari ujung rambut hingga ujung kakinya.

Untuk ukuran seorang pembantu rumah tangga, Tiara adalah pembantu yang cantik, dan sialnya, dia juga tampak seksi.

Astaga, apa yang sudah ia pikirkan???

Seksi? Sial! Tiara bahkan memiliki ukuran tubuh mungil dan lebih cocok disebut kurus, bagaimana mungkin ia berpikir jika perempuan itu seksi? Dan lagian, dia masih Dua puluh tahun, sepertinya kurang cocok dengannya yang sudah berumur hampir Tiga puluh tahun.

Evan menggelengkan kepalanya. Sepertinya pikirannya sudah mulai gila. Setelah ia menghabiskan apel dalam genggaman tangannya, kakinya melangkah secara pasti menuju ke arah Tiara.

“Kamu, nggak makan malam?” pertanyaan Evan sontak membuat Tiara menoleh sekilas ke arah Evan, lalu perempuan itu kembali memfokuskan diri pada cucian di hadapannya.

“Saya sudah makan malam di rumah Bu Sherly.”

Evan menggangguk, “Ini, catatan apa saja yang harus kamu lakukan untuk saya.” Evan memberikan kertas yang tadi baru saja ia ambil dari dalam kamarnya setelah ia menghabiskan makan malamnya.

Tiara menghentikan pekerjaannya, ia membilas tangannya yang penuh dengan busa, lalu mengeringkannya dengan lap yang tersedia. Tiara meraih kertas tersebut kemudian membacanya dengan teliti.

Sedangkan Evan, pikirannya kembali menggila. Ia mengamati wajah Tiara yang entah kenapa tampak begitu indah dimatanya. Alis perempuan itu tampak tebal, namun terukir dengan rapih, kulitnya putuh bersih, bahkan sedikit terlihat rona merah di pipinya, apa perempuan itu sedang mengenakan Blush On? Tidak mungkin. Bulu mata Tiara juga tampak panjang dan lentik, padahal Evan tahu jika itu bukan bulu mata palsu. Dan bibir wanita itu, astaga, tampak penuh dengan warna merahnya.

Sial! Evan menegang seketika.

Apa-apaan ini? Padahal Evan yakin, jika Tiara tidak sedang berdandan. Perempuan itu tampak berantakan dengan baju sederhananya, belum lagi rambutnya juga yang tampak berantakan seperti belum di sisir, tapi entah kenapa Evan menginginknnya, menginginkan perempuan itu, meski Evan tak yakin, kenapa dirinya tiba-tiba memiliki keinginan menggelikan yang menggebu-gebu seperti ini.

“Jadi, hanya….” Tiara menghentikan kalimatnya ketika ia mengangkat wajahnya dan mendapati Evan tampak serius memperhatikannya. “Pak?” Tiara memanggil Evan, karena sedikit tidak nyaman, ia berpikir Evan sedang melamun. Belum lagi tatapan lelaki itu yang fokus ke arahnya, dan jarak mereka berdua sudah sangat dekat.

“Ya.” Sial! Evan merasa jika tiba-tiba suaranya sudah menjadi serak.

“Ada apa?” tanya Tiara yang sudah mundur satu langkah. Tidak suka, ya, ia tidak suka ditatap seperti itu.

“Tiara. Saya memiliki cara instan, agar kamu bisa segera meluasi hutang kakak kamu, hingga kamu bisa cepat lepas dari genggaman tangan saya.”

“Uumm, cara instan? Seperti apa, Pak?”

Evan menelan ludahnya dengan susah payah, sebelum menjawab, “Jadilah teman tidur saya, maka saya akan menganggap semuanya sudah lunas.”

-TBC-