The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 8 (Saat Dia Pergi)

Comments 7 Standard

TLK2The Married Life (Lady Killer 2)

Haiii.. Kak Dhanni hadir lagi siang ini dear.. maaf agak ngaret yaa,… walaupun sering telat update, tapi aku akan tetap lanjutin sampai kata ending kok, jadi tenang aja.. hehehehhe kalau di draft kasarnya mungkin cerita ini hanya sampek chapter 15, tapi bisa kurang dan lebih yaa…  okay happy reading… 😉 😉

-Typonya banyak sekali.. iyaa banyak sekali.. jadi maklumin aja yaa,, nggak sempat edit.,hhahaha-

Chapter 8

Saat Dia Pergi-

 

Nessa masih menundukkan kepalanya. Hari ini hatinya terasa sedih. Dhanni akan pergi beberapa hari ke luar kota, dan itu membuatnya semakin tak nyaman. Nessa merasa jika kini Dhanni masih marah terhadapnya, meski sikap suaminya itu sudah melembut, tapi Nessa merasakan jika suaminya itu sedikit berbeda dari biasanya.

Nessa merasakan telapak tangannya di genggam oleh Dhanni. Ia kemudian mengangkat wajahnya lalu mendapati sepasang mata lembut yang kini sedang menatapnya.

Dhanni menyunggingkan senyumannya. Ia menarik telapak tangan Nessa untuk menyentuh permukaan bibirnya. Mengecupnya lembut penuh dengan kasih sayang.

“Kamu murung sekali.” Ucap Dhanni dengan suara lembutnya.

“Aku nggak mau Kak Dhanni pergi.”

“Sayang, aku hanya beberapa hari.”

“Tapi aku nggak tenang Kak..” Rengek Nessa. Nessa bahkan tak peduli jika ada beberapa orang di sekitarnya kini yang sedang asik memperhatikan mereka berdua.

Dhanni dan Nessa kini memang sedang berada di bandara internasional Soekarno Hatta. Nessa sejak pagi merengek ingin mengantar Dhanni sampai ke bandara. Akhirnya Dhanni memperbolehkan istrinya tersebut. Kini mereka masih menunggu kedatangan Ramma dan juga Hani, Asisten pribadi Dhanni.

“Selamat pagi pak.” Sapa Seorang wanita yang akhirnya memaksa Dhanni dan Nessa mengangkat wajahnya menatap wanita tersebut. Itu Hani, maka kini tinggal menunggu kedatangan Ramma saja.

“Pagi.” Jawab Dhanni. “Kita tunggu Pak Ramma dulu.” Ucap Dhanni dengan wajah datarnya.

Dhanni masih setia menggenggam telapak tangan Nessa, bahkan lelaki itu tak segan-segan mengecup telapak tangan istrinya tersebut.

Tak lama, datanglah Ramma dengan seorang wanita di sebelahnya. Siapa lagi jika buka Zoya.

“Lo berangkat sama dia?” tanya Dhanni sambil melirik ke arah Zoya.

“Tentu saja.” Jawab Ramma dengan seringaiannya. “Lo sendiri ngajak Nessa?”

“Enggak,” Jawab Dhanni sambil menatap Nessa. “Dia cuma ngantar sampai di sini.”

Ramma kemudian melirik ke arah jam tangannya. “Oke, ayo kita chek in.”

Ramma, Zoya, dan Hani akhirnya mulai berjalan masuk. Sedangkan Dhanni sendiri masih merasa tak tega dengan Nessa yang akan di tinggalnya sendiri.

“Aku pergi ya.” Ucap Dhanni dengan suara lembutnya.

Nessa hanya bisa mengerucutkaan bibirnya. Ia tidak suka di tinggal. Apalagi mengingat jika suaminya akan bepergian dengan mantan kekasihnya.

“Aku ikut.” Ucap Nessa dengan manja.

“Sayang… ingat Babby kita.” Dhanni mengusap lembut perut datar Nessa.

“Tapi aku nggak suka mengingat Kak Dhanni akan pergi dengan mantan pacar Kak Dhanni yang terlihat agresif itu.”

Dhanni tersenyum melihat tingkah istrinya tersebut. “Erly nggak ikut, aku sudah memecatnya.” Akhirnya Dhanni jujur pada Nessa.

“Apa?? Kak Dhanni nggak bohong kan??”

Dhanni menggelengkan kepalanya. “Apa kamu tadi lihat ada Erly? Enggak kan? Dia sudah ku pecat sejak kemarin, jadi kamu nggak perlu khawatir lagi.”

“Tapi kemarin Kak Dhanni bilang kalau Kak Dhanni akan pergi dengan wanita itu.”

Dhanni tertawa lebar. “Aku hanya ingin membuatmu kesal. Aku terlalu emosi melihat istriku di peluk-peluk oleh lelaki lain, apalagi saat aku tahu jika lelaki itu adalah mantan kekasihnya.”

Nessa membulatkan matanya seketika. “Kak Dhanni.. Kak Dhanni tau hubunganku dengan Kak Jo dulu??”

“Ya. Semuanya aku sudah tau. Dan kamu berhutang penjelasan padaku.”

Nessa menundukkan kepalanya seketika. “Maaf, aku nggak bermaksud menyembunyikan semuanya, aku hanya nggak ingin Kak Dhanni tau lalu hal itu mengganggu pikiran Kak Dhanni. Aku benar-benar nggak memiliki perasaan apapun dengan Kak Jo saat ini. Makanya, ku pikir aku tidak perlu bercerita, karena semuanya hanya masa lalu.”

Dhanni menangkup kedua pipi Nessa, mengangkat wajah istrinya tersebut hingga menatapnya. “Sayang.. ada banyak hal yang harus kita bicarakan. Tapi nanti, setelah aku menyelesaikan pekerjaanku. Dan sampai saat itu tiba, ku harap kamu mau menceritakan semuanya tanpa ada yang kamu tutupi dariku.”

Nessa menganggukkan kepalanya dengan pasti. “Aku janji akan cerita semuanya sama kak Dhanni nanti.”

Tanpa banyak bicara Dhanni mendaratkan bibirnya pada bibir lembut milik Nessa, melumatnya sebentar, kemudian mengecupnya penuh dengan kasih sayang.

“Aku sayang kamu, jaga Babby kita. Nanti kalau sudah sampai aku hubungi kamu.” Pesan Dhanni sebelum pergi meninggalkan Nessa.

Ketika Dhanni sudah agak jauh, Nessa kembali memanggil Dhanni.

“Kak..”

Dhanni membalikkan badannya, kemudian mendapati tubuh istrinya itu memeluknya erat-erat.

“Nessa, aku hanya beberapa hari.”

“Aku tahu.. tapi aku hanya ingin bilang, bahwa aku cuma sayang sama Kak Dhanni, dan hanya Kak Dhanni, jadi ku mohon, percaya denganku.”

“Iya sayang, aku percaya kamu.”

Nessa melepaskan pelukannya, Kemudian berjinjit dan mengecup lembut pipi suaminya tersebut. “Aku ingin di telepon setiap jam.”

Dhanni tersenyum. “Ya, aku akan melakukannya.”

Dhanni akhirnya pergi sembari melambaikan tangannya pada Nessa. Terasa berat, karena ini pertama kalinya ia meninggalkan Nessa sendiri dalam keadaan hamil. Khawatir, tentu saja. Tapi mau bagaimana lagi. Lagian ia sudah membayar beberapa orang untuk mengawasi dan menjaga istrinya tersebut dari jauh. Nessa akan aman, tapi apa hati wanita itu juga akan aman?? Dhanni mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran buruk pada istrinya tersebut.

***

Dengan khawatir Jonathan menatap sang kakak yang terbaring lemah seakan tak berdaya. Mata kakaknya tersebut terpejam, tapi bibirnya tak berhenti memanggil nama sialan yang selama ini mau tak mau mmebuatnya kesal. Nama siapa lagi jika bukan nama seorang Dhanni Revaldi.

Setelah berdebat sengit dengannya tadi malam, sang kakak tak lagi keluar dari kamarnya. Kakaknya tersebut memilih mengunci diri di dalam kamarnya, dan itu membuat Jonathan khawatir.

Akhirnya Jonathan membuka paksa pintu kamar kakaknya tersebut dan mendapati kakaknya yang sudah terbaring lemah dan meracau tak jelas seperti saat ini.

“Bagaimana Dok keadaan kakak saya?” Tanya Jonathan pada seorang Dokter keluarganya yang baru saja selesai memeriksa Erly.

“Untuk fisiknya, mungkin dia hanya mengalami demam biasa, tapi sepertinya psikisnya yang terganggu. Dia tak berhenti menyebut nama Dhanni, dan saya harap kamu memiliki solusi untuk masalah yang mungkin saja terjadi antara kakakmu dengan Dhanni tersebut.”

“Kalau dia seperti ini terus, apa yang akan terjadi?” Jonathan bertanya kemungkinan terburuknya.

“Jo, kakak kamu punya psikiater kan? Lebih baik ajak dia kembali terapi dengan psikiaternya, saya hanya takut, depresi yang dulu sempat dia alami kembali kambuh. Kakakmu memiliki psikis yang sangat lemah.”

Jonathan tercenung mendengar setiap kata yang terucap dari Dokter tersebut. Lalu apa yang harus ia lakukan selanjutnya?? Mampukah ia bersikap egois untuk menyelamatkan kakaknya dan menyakiti hati wanita yang sangat di cintainya tersebut??

***

Nessa menatap makanan di hadapannya dengan tak berselera. Ini sudah dua hari sejak kepergian Dhanni, dan entah kenapa suasana hati Nessa semakin memburuk setiap harinya. Tak lama, Nessa mendengar suara telepon berbunyi, itu pasti Dhanni…

Suaminya itu selalu menepati janjinya, hampir setiap ada waktu luang, lelaki itu meneleponnya. Dengan semangat Nessa mengangkat telepon dari suaminya tersebut.

“Halo..”

“Pagi sayang..” Suara lembut di seberang benar-benar membuat Nessa berbunga-bunga.

“Pagi.. Kak Dhanni lagi apa? Sama siapa?”

“Aku lagi minum kopi, sendiri di balkon hotel. Kamu sudah sarapan?”

“Belum, aku mual muntah terus sepagian ini.”

“Kamu harus makan sayang..”

Nessa menghela napas panjang. “Ya, Aku akan makan nanti. Tapi, Kak Dhanni kapan pulang?”

“Mungkin besok sore. Ini masih ada sekali pertemuan lagi.”

“Janji yaa.. besok sore sudah pulang.”

Iya aku janji.” Ucap Dhanni dengan lembut. “Kamu mau di bawain apa?”

“Cukup Kak Dhanni pulang, aku sudah senang.”

Terdengar tawa Dhanni di seberang. “Ya sayang, aku akan segera pulang. Dan ingat, kamu harus siapin diri kamu untuk menjawab semua pertanyaanku.”

“Ya, aku akan menjawabnya kak..”

“Baiklah kalau begitu.” Hening sejenak, kemudian Dhanni melanjutkan kalimatnya. “Aku sayang kamu Ness, dan hanya kamu.. Jadi kamu nggak perlu berpikir macam-macam lagi yaa sayang.”

“Ya Kak, Aku tau. Dan… Aku juga hanya sayang sama Kak Dhanni, nggak ada siapapun selain kak Dhanni.”

“Ya.. Aku tau.. Baiklah kalau begitu, aku mau siap-siap buat meeting terakhir ya.. Ingat, kamu harus makan.”

Nessa tersenyum mendengar perintah dari suaminya tersebut. “Baik boss.”

“Aku ingin di Kiss.”

Nessa terkikik geli. “Emmmuaachh…”

“Terimakasih sayang.. Emmmuaachh..” balas Dhanni. Lalu kemudian sambungan telepon tersebutpun mati.

Nessa tersenyum bahagia saat mengingat hubungannya dengan Dhanni sudah membaik. Ya, kuncinya hanyalah komunikasi, Nessa bertekad jika nanti ia akan menceritakan semuanya pada Dhanni saat lelaki itu pulang. Nessa tak ingin menyembunyikan apapun lagi dari suaminya tersebut.

***

Jonathan menatap lurus pintu di hadapannya. Haruskah ia melakukan niatnya?? Di sisi lain Jonathan takut jika Nessa sedih, tapi di sisi lain, Jonathan tak kuasa melihat penderitaan kakaknya tersebut. Akhirnya di mantapkannya hatinya untuk mengetuk pintu di hadapannya tersebut.

Setelah beberapa kali mengetuk pintu di hadapannya tersebut, akhirnya pintu itu di buka dan menampilkan sosok cantik yang selama ini berada di dalam pikirannya. Nessa Arianna…

“Kak Jo??” Nessa tampak terkejut melihat kehadiran Jonathan di apartemennya.

“Hai.. Boleh aku masuk?”

Nessa tampak ragu. “Emm maaf, tapi di dalam nggak ada orang, ku pikir kurang pantas kalau kita hanya berdua di dalam.”

Jonathan menganggukkan kepalanya. “Ya, aku mengerti.. Emm.. mau ikut aku keluar sebentar??”

Nessa mengernyit, “Kemana?”

“Ada sesuatu yang ingin ku perlihatkan padamu. Please… ini benar-benar penting dan menyangkut nyawa seseorang.”

“Nyawa seseorang? Tapi aku…”

“Please Ness… aku nggak akan nyakitin kamu, aku janji.”

Nessa berpikir sebentar, dan akhirnya ia menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan ikut, tapi aku ganti baju dulu.” Dan Jonathan hanya mampu menganggukkan kepalanya penuh semangat. Ia tak menyangka jika Nessa masih sebaik dulu. Wanita itu masih sepolos dulu.

***

Nessa mengerutkan keningnya saat Jonathan mengemudikan mobilnya masuk ke dalam sebuah rumah mewah dengan pagar besi tingginya.

“Kak, ini rumah siapa? Kenapa kita ke sini?”

“Ini rumahku dan kakakku, ada yang mau ku tunjukkan sama kamu.”

“Apa?” Jujur saja, saat ini Nessa benar-benar merasa tak nyaman.

Jonathan mengentikan mobilnya kemudian mematikan mesinnya. “Ayo keluar.” Ajaknya. Dan Nessa hanya mampu menuruti apa yang di katakan Jonathan.

Mereka masuk ke dalam rumah tersebut. Jonathan membimbing Nessa menaiki anak tangga menuju ke lantai dua. Mereka kemudian berhenti di depan sebuah pintu berwarna putih. Tak menunggu lama, Jonathan akhirnya membuka pintu tersebut.

Itu kamar seorang wanita, Nessa tau itu. Tatapan mata Nessa tertuju pada sebuah ranjang yang di sana sudah terbaring seorang wanita dengan tubuh yang terlihat sangat lemah.

Nessa membulatkan matanya ketika mengetahui siapa wanita tersebut. Itu Erly, mantan kekasih Dhanni, suaminya. Dengan spontan Nessa menolehkan kepalanya pada Jonathan yang masih berdiri di sebelahnya.

“Kak.. Dia.. Dia…”

“Ya, namanya Erlyta, dia kakakku.”

“Bagaimana mungkin??”

Jonathan mengangkat kedua bahunya. “Aku juga nggak mengerti apaa yang terjadi dengan kita berempat. Kakakku adalah mantan kekasih suamimu, dan kamu adalah mantan kekasihku.”

Nessa kemudian kembali menatap ke arah Erly yang tampak lemah tak berdaya. “Apa yang terjadi dengannya??”

Jonathan menghela napas panjang kemudian mulai bercerita. “Dia begitu mencintai suamimu.” Perasaan Nessa bagaikan di iris sembilu. Bagaimana mungkin ia merelakan suaminya di cintai begitu dalam oleh wanita lain??

“Tapi kak..”

“Dhanni adalah cinta pertama kakakku.” Jonathan memotong kalimat Nessa. “Kak Erly sangat mencintainya dengan tulus, tapi nyatanya suamimu itu hanya mempermainkannya. Dhanni mencampakan kakaku begitu saja, meninggalkannya dengan rasa sakit hati yang teramat sangat. Dan itu membuat Kakakku berakhir depresi.” Jonathan mengehela napas panjang. “Ya.. dia pernah depresi lalu terapi dengan psikiater.”

“Kamu bercanda kan?” Nessa menatap Jonathan dengan tatapan tak percayanya.

“Lihat aku Ness, apa aku terlihat bercanda? Empat hari yang lalu suami sialanmu itu memecat kakakku, mencampakannyaa sekali lagi, dan lihat, kondisinya kini memburuk seperti saat ini.”

Nessa menggelengkan kepalanya, “Itu bukan salah kami kak.”

“Salah kalian!!” Seru Jonathan dengan nada meninggi. “Kalau saja Dhanni nggak masuk dalam ke hidupan kakakku, mungkin saat ini tidak akan seperti ini, kalau saja Dhanni nggak memepermainkan perasaan kakakku, maka kakakku nggak akan seperti ini.”

Jonathan kemudian menatap Nessa. Matanya sudah berkaca-kaca, dan tanpa basa-basi lagi, Jonathan berlutut di hadapan Nessa. Nessa sendiri benar-benar terkejut dengan apa yang di lakukan Jonathan saat ini.

Jonathan memeluk erat perut Nessa. Dan mulai memohon di sana.

“Please.. kasih kami kesempatan Ness… Kakakku akan bahagia dan membahagiakan suami kamu kalau kamu mau melepaskannya. Sebagai gantinya, aku akan mencintaimu melebihi apapun di dunia ini, aku akan menyayagimu, dan juga anak-anakmu…”

Nessa meneteskan air matanya seketika. Apa Jonathan sedang menyuruhnya untuk berpisah dengan suaminya sendiri?? Apa Jonathan sedang bersikap egois memisahkan suaminya dengan anak-anaknya?? Apa Jonathan berpikir ia akan meninggalkan Dhanni setelah mengetahuio keadaan mereka?? Jika itu yang di pikirkan Jonathan, maka lelaki itu salah besar.

“Maaf kak, aku nggak bisa.” Jawab Nessa dengaan tegas.

Jonathan mengangkat wajahnya menatap ke arah Nessa. “Ness.. Please..”

“Kak Jo bisa berbuat egois memisahkan aku dengan Kak Dhanni, tapi aku juga akan bersikap egois untuk tetap mempertahankan kak Dhanni di sisiku dan di sisi anak-anakku apapun yang terjadi.”

“Nessa…”

“Kak… Akun memiliki putera yang berusia Tiga tahun.” Nessa kemudian meraih telapak tangan Jonathan laalu mendaratkannya di perutnya sendiri. “Dan kini aku sedang mengandung bayi kedua kami yang baru berusia dua bulan, apa kak Jo berpikir aku akan membiarkan suamiku pergi meninggalkanku dan anak-anakku?” Nessa menggelengkan kepalanya. “Enggak, apapun yang terjadi, aku nggak akan membiarkan dia pergi, aku membutuhkannya begitupun anak-anakku yang pasti akan sangat membutuhkan kasih sayang ayahnya.”

Jonathan membatu seketika, tangannya bergetar hebat. Bayangan Nessa berdiri dengan perut besarnya bersama dengan seorang anak berusia Tiga tahun menari-nari dalam kepalanya. Ia tidak akan tega melihat wanita yang di cintainya menderita seperti itu. Tidak, ia tak akan bisa melihat Nessa seperti itu.

Jonathan mengusap wajahnya dengan frustasi. “Aku minta maaf… aku minta maaf. Aku benar-benar egois.” Ucap Jonathan yang kini sudah terduduk di lantai.

Nessa berjongkok tepat di hadapan Jonathan, kemudian ia menangkup kedua pipi lelaki di hadapannya tersebut. “Aku mengerti apa yang kak Jo rasakan, Kak Jo hanya terlalu menyayangi Erly. Aku mau membantu, tapi bukan dengan meninggalkan suamiku dan mendorongnya pada wanita lain, karena sampai kapanpun juga, aku tidak bisa melakukan itu.”

Jonathan mengangguk lemah.

“Aku akan membujuk Kak Dhanni supaya dia mau menjenguk Erly, supaya kak Dhanni mau memberi pengertian pada Erly bahwa cinta memang tak harus memiliki.”

Jonathan kembali mengangguk lemah, dan tanpa banyak bicara lagi lelaki itu memeluk erat tubuh Nessa. “Terimakasih Ness.. terimakasih..”

Nessa menganggukkan kepalanya. “Ya, sama-sama.”

***

Saat ini Dhanni baru saja sampai di restoran hotel untuk makan malam dengan Ramma, Zoya, dan Hani. Hari ini adalah hari terakhir mereka di Bali. Besok semuanya akan kembali ke Jakarta, dan Dhanni benar-benar sudah tak sabar ingin kembali bertemu istri tercintanya tersebut.

Ya, ia sangat merindukan Nessa, istrinya. Nessa benar-benar membuat Dhanni semakin gila. Dhanni bahkan menyadarei jika dirinya tak akan mungkin bisa marah terlalu lama dengan istruinya tersebut.

“Lo senyum-senyum kayak orang gila.” Ucap Ramma yang memang sudah duduk menunggunya sejak tadi.

“Lo juga akan sama gilanya dengan gue kalo Lo sudah nikah nanti.”

Ramma tertawa lebar. “Nikah?? Dalam mimpi..!!!” Ucap Ramma masih dengan tawa lebarnya.

Sedangkan Dhanni hanya mampu tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Dhanni kemudian merasakan ponselnya bergetar di dalam saku celananya, ia merogoh ponselnya tersebut kemudian melihat siapa yang sedang menghubunginya.

Dhanni mengernyit saat menyadari jika itu telepon dari pengawal yang ia sewa untuk mengawasi Nessa dari jauh.

“Halo??”

“Pak, saya sudah mengirim beberapa foto pada Pak Dhanni via email, tolong di buka. Ibu Nessa masih di dalam rumah tersebut, dan saya masih menunggu perintah selanjutnya dari Pak Dhanni.”

Dhanni mengerutkan keningnya tak mengerti apa yang di bicarakan orang suruhannya tersebut. “Baiklah, saya periksa dulu foto-fotonya.” Ucap Dhanni kemudian lalu mematikan sambungan teleponnya.

Dhanni lantas membuka emailnya. Dan benar saja, ada sebuah inbox yang melampirkan beberapa foto Nessa dengan seorang lelaki. Itu Jonathan.

Rahang Dhanni mengeras seketika. Nessa sedang bersama dengan Jonathan, ada juga beberapa foto yang memperlihatkan jika mereka memasuki sebuah rumah besar. Apa rumah itu yang di maksud pengawalnya tadi??

“Ada apa Dhann?” tanya Ramma yang sedikit penasaran dengan perubahan ekspresi Dhanni.

Bukannya menjawab, Dhanni malah kembali menggesek-gesel layar ponselnya seperti sedang menghubungi seseorang.

“Halo pak??”ucap suara di seberang.

“Tunggu di sana saja, jangan lakukan apapun. Saya akan pulang malam ini juga.” Ucap Dhanni dengan nada dinginnya kemudian menutup telepon tersebut begitu saja.

Dhanni berdiri, bersiap meninggalkan meja makannya bersama Ramma, Zoya dan juga Hani.

“Lo mau kemana?” tanya Ramma yang sudah ikut berdiri.

“Gue akan kembali ke Jakarta malam ini juga.”

“Ada yang terjadi di sana?” tanya Ramma yang kini sudah menghaampiri tepat di sebelah Dhanni.

Dhanni hanya menunjukkan foto-foto yang di kirim orang suruhannya tersebut pada Ramma. Ramma membulatkan matanya seketika.

“Sejak siang dia berada di dalam rumah itu, gue harus pulaang malam ini juga.” Geram Dhanni menahan amarahnya.

“Lo jangan terbakar emodi Dhann, belum tentu apa yang lo lihat ini sama dengan kenyataannya.”

“Gue bisa ngendalikan emosi gue.”

Ramma menepuk bahu Dhanni. “Gue percaya sama Lo. Lo memang yang paling dewasa di antara gue dan Renno. Tapi ada saatnya kita tidak bisa mengendalikan emosi saat melihat apa yang tidak kita inginkan. Jadi saran gue, Lo harus berpikir lebih dingin.”

Dhanni menganggukkan kepalanya. “Ya, thanks nasehatnya.”

Ramma menganggukkan kepalanya kemudian hanya bisa melihat sahabatnya tersebut pergi begitu saja.

***

Lewat dari jam sepuluh malam, Dhanni sudah sampai di apartemennya. Ternyata Nessa belum juga pulang. Tadi, orang yang di surunya untuk mengawasi Nessa meneleponnya kembali, dan berkata jika Nessa dan Jonathan baru saja keluar dari rumah tersebut. Aakhirnya kini Dhanni memilih menunggu Nessa di dalam apartemennya.

Lampu apartemennya masih di matikan hingga membuat apartemen tersebut gelap dan hanya meninggalkan cahaya remang dari laampu mungil di sudut ruangan. Dhanni sendiri memilih duduk di sofa ruang tamunya. Duduk termenung sendiri sambil menunggu kedatangan istrinya tersebut.

Nessa… apa wanita itu kembali tergoda dengan cinta lamanya?? Apa wanita itu tak bisa mencintai dirinya seutuhnya?? Hanya dirinya seorang??? Dulu cinta Nessa padanya terbagi dengan Renno, sahbatnya sendiri, apa kini cinta wanita tersebut terbagi dengan Jonathan??

Dhanni memejamkan matanya frustasi saat membayangkan hal-hal yang tak di inginkannya menari-nari dalam kepalanya.

Tak lama, Dhanni mendengar pintu apartemennya di buka, Dhanni mengangkat wajahnya dan mendapati bayangan tubuh istrinya di sana.

Dhanni mengamati dalam diam. Nessa terlihat masuk kemudian kembali menutup pintu apartemen mereka, lalu wanita itu tampak meraba tombol lampu yang menempel di dinding tak jauh dari pintu. Dan ketika lampu tersebut menyala terang, tatapan Nessa membulat seketika saat mendapati dirinya yang sudah duduk penuh dengan keangkuhan di sofa ruang tamu mereka.

“Kak Dhanni??” ucap Nessa dengan nada tak percayanya. Wanita itu masih membatu di seberang ruangan.

Dhanni lantas berdiri. Tatapan matanya tajam seakan dapat menusuk apapun yang ada di hadapannya. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah Nessa, seperti seekor singa yang sedang mengitari mangsanya.

Saat sampai tepat di hadapan Nessa, Dhanni mengulurkan telapak tangannya pada pipi Nessa, kemudian mengusap lembut pipi istrinya tersebut.

“Bagaimana kencannya sayang??” Suara Dhanni terdengar lembut tapi penuh dengan penekanan, seakan siapapun yang mendengarnya tak dapat mengelak dari pertanyaan tersebut.

Tubuh Nessa bergetar seketika, ia tau jika kini dirinya sedang dalam sebuah masalah. Kak Dhanni.. apakah suaminya itu akan kembali marah terhadapnya dan tak mau mendengarkan penjelasannya???

 

-TBC-

Komentarnya jangan lupa.. huehehhehe

Advertisements

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 7 (Pilihan yang sulit)

Comments 12 Standard

TLK2

The Married Life (Lady Killer 2)

Haii… udah pada kangen ama kak Dhanni yaa… hayooo mana nih yang kangen kak Dhanni?? wwkkwkwkwk maaf baru bisa lanjut yaakkk… hahhahahaha happy reading… 🙂 😉 Ehhh yaa.. info juga nih.. mulai sekarang, Cerita ini hanya di Update di Blog, jadi di wattpad nggak aku Update yaa.. huehehheheeh 

 

“Tenang saja, kami akan segera menyusul kalian, tunggu saja undangannya.”

Ucapan Jonathan tersebut yang sontak membuat Nessa menatap ke arah lelaki itu dengan mata membulatnya. Nessa benar-benar tak mengerti apa maksud Jonathan, kenapa Jonathan berbicara seakan mereka adalah sepasang kekasih yang akan melaksanakan pernikahan?? Apa maksud lelaki itu?? Apa tujuannya?? Dan masih banyak sekali pertanyaan yang membuat Nessa bingung dengan pernyataan lelaki tersebut.

 

***

Chapter 7

-Pilihan yang sulit-

 

“Kak Jo apaan sih?? Apa coba maksud kak Jo dengan bilang kalau kita akan menyusul mereka??” Ucap Nessa dengan nada marahnya. Ia benar-benar marah sepanjang pertemuannya dengan Cici dan Ervan tadi, tapi tentu saja Nessa mencoba bersikap biasa-biasa saja di hadapan mereka. Kini saat Civi dan Ervan sudah pulang, Nessa akhirnya tak dapat menahan kemarahannya lagi di hadapan Jonathan.

“Maaf..” hanya itu yang di ucapkan Jonathan.

“Maaf?? Kak, ini itu masalah serius, bagaimana  kalau tiba-tiba mereka menagih undangan pernikahan kita??”

“Ya kita buatkan saja.”  Jawab jonathan dengan enteng.

“Buatkan??” Nessa membelalakkan matanya. “Nggak lucu tau nggak.” Ucap Nessa dengan ketus lalu Nessa bergegas pergi meninggalkan Jonathan. Tapi baru sampai di teras kafe milik Jonathan, pergelangan tangan Nessa di genggam erat oleh Jonathan. Dengan kurang ajarnya Jonathan bahkan menarik tubuh Nessa hingga masuk ke dlam pelukannya.

“Jangan pergi dulu Ness.. Please..” Ucap Jonathan sambil memeluk tubuh Nessa dari belakang.

“Lepasin aku.. Lepasin aku.” Nessa meronta, tapi Jonathan masih saja memeluk erat tubuh Nessa.

“Aku nggak akan lepasin kamu selama kamu masih marah denganku.” Ucap Jonathan masih dengan mengeratkan pelukannya pada tubuh Nessa.

“Kak, di lihat orang kak..” Ucap Nessa masih dengan meronta, tapi Jonathan seakan menulikan telinganya.

“ Apa yang kamu lakukan dengan istriku?” sura yang terdengar begitu dingin itu membuat Nessa dan Jonathan mau tak mau mengangkat kepalanya menghadap ke arah si pemilik suara.

Di sana sudah berdiri Dhanni dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celananya. Dhanni terlihat santai dengan kemeja panjang serta dasi yang sudah sedikit di longgarkan. Tapi ketika menatap raut wajahnya, lelaki itu benar-benar terlihat tegang. Tatapan matanya tajam membunih, dan Nessa sadar jika kini ndirinya sedang dalam sebuah masalah.

Secepat kilat Jonathan melepaskan pelukannya pada tubuh Nessa. membuat Nessa mendesah lega serta sedikit menjauh dari tempat Jonathan berdiri.

“Emm.. Kak Dhanni kok ke sini?”

“Aku khawatir denganmu.”

“Emmm.. aku.. aku nggak apa-apa kak.”

Dhanni melirik Nessa dengan tatapan tidak sukanya. “Sepertinya bukan itu yang ku lihat.”

“Kak….”

“Kita pulang sekarang.” Ucap Dhanni dengan nada dinginnya sambil meninggalkan Nessa begitu saja di hadapan Jonathan.

Nessa menatap Jonathan dengan tatapan kecewanya. Ia benar-benar kecewa dengan apa yang di lakukan Jonathan, karena kini, secara tak langsung, Jonathan lah yang membuat Suaminya itu marah padanya karena salah paham.

“Maafkan aku.” Ucap Jonathan kemudian, tapi Nessa tak menghiraukan. Nessa memilih segera berbalik pergi meninggalkan Jonathan menuju ke arah mobil Dhanni.

***

Di dalam mobil.

Dhanni diam seribu bahasa. Tatapan matanya lurus ke depan. Nessa bahkan melihat jika lelaki itu sesekali mencengkeram kemudi mobilnya. Suaminya itu sedang marah, Nessa tau itu.

“Kak.. aku mau jelasin sesuatu.”

“Aku akan keluar kota.” Dhanni berujar cepat. Nessa menatap Dhanni dengan tatapan tanda tanyanya.

“Emm.. kenapa tiba-tiba?”

“Bukan tiba-tiba. Hal ini sebenarnya sudah lama, tapi aku baru sempat meberitahunya hari ini.” Ucap Dhanni dengan nada datarnya.

Nessa menundukkan kepalanya. Ada yang berbeda dengan suaminya tersebut. Nessa tau itu. “Kak Dhanni marah kan??” Ucap Nessa dengan suara pelannya.

“Jangan campur adukkan masalah Ness.”

“Aku tau kak Dhanni marah saat melihat kedekatanku dengan kak Jo.”

“Suami manapun akan marah ketika melihat istrinya di peluk oleh lelaki lain Nessa.” Ucap Dhanni cepat dengan nada kesalnya.

“maaf..” lirih Nessa.

“Tak perlu minta maaf, karena hanya  itu yang bisa kamu ucapkan sejak dulu.” Dhanni berkata dengan nada yang benar-benar tak enak di dengar. Nessa tau apa maksud Dhanni. Dhanni seakan mengingatkan dengan masalah mereka dulu saat bersama dengan Renno.

***

Malam itu, Nessa makan sendiri di dalam apartemennya. Tadi siang setelah mengantarnya pulang, Dhanni kembali ke kantor. Dan hingga saat ini, lelaki itu belum juga kembali. Hanni pasti benar-benar sedang marah.

Nessa hanya dapat mendesah pasrah. makanan di hadapannya terasa hambar, dan ia pun merasa tak berselera makan. Mungkin bayi yang di kandungnya mengerti jika ayah dan ibunya kini sedang dalam masalah.

Tak lama, pintu apartemennya di buka oleh seseorang. Nessa mengangkat wajahnya dan mendapati wajah lelah dari suaminya tersebut.

“Kak Dhanni baru pulang?” Tanya Nessa sambil berdiri menuju ke arah Dhanni.

Dhanni hanya diam. Ia bahkan memilih berjalan masuk ke dalam kamar tanpa mempedulikan istrinya tersebut.

“Kak..” Panggil Nessa lagi, tapi lagi-lagi Dhanni hanya diam tak menghiraukannya.

Nessa mengikuti kemanapun Dhanni pergi. Lelaki itu masuk ke dalam kamar mereka, menggantung jas yang sejak tadi berada di lengannya kemudian membuka pakaiannya dan langsung menuju ke kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Itu benar-benar membuat Nessa tak suka.

Nessa kemudian memilih duduk di pinggiran ranjang sambil meremas tangannya. Sedangkan tatapan matanya sesekali menatap ke arah pintu kamar mandi. Perutnya terasa perih, karena sejak tadi siang ia belum memakan apapun. Pikirannya kacau dan nafsu makannya tentu terganggu karena itu.

Nessa kembali memikirkan keadaan yang menimpanya. Jonathan.. Astaga.. apa ia harus menceritakan pada suaminya jika Jonathan adalah mantan kekasihnya?? Tidak, Dhanni pasti akan sangat marah padanya, dan kesalahpahaman mereka akan semakin parah.

Cukup lama Nessa berdiam diri menunggu Dhanni keluar dari kamar mandi. Dan lelaki yang di tunggunya itu pun akhirnya keluar juga. Dhanni tampak segar. Lelaki itu sudah mengenakan kaus dalamnya dan juga celana pendek santainya. Rambut lelaki itu masih basah dan sesekali di gosoknya dengan handuk kecil. Namun ekspresi lelakiitu masih sama datarnya dengan tadi.

Mata Nessa seketika berkaca-kaca ketika mendapati suaminya itu masih bersikap acuh padanya. Nessa tau jika dirinya salah, tapi di acuhkan seperti itu membuat Nessa semakin kesal dengan dirinya sendiri.

Dhanni kemudian keluar dari kamarnya tanpa menghiraukan Nessa dan itu benar-benar membuat Nessa sakit. Nessa meneteskan air matanya begitu saja. Suaminya itu benar-benar marah, dan Nessa takut jika Dhanni sudah marah.

***

Dhanni keluar dari kamarnya manuju ke arah dapur. Ia mengambil sebotol air mineral di dalam lemari pendingin. Kemudian menegaknya. Matanya terarah pada meja makan yang di sana masih tersaji menu makan malam. Dhanni mendekat. Di lihatnya piring Nessa masih penuh. Istrinya itu pasti belum makan. Dan apa sejak tadi wanita itu belum makan??

Dhanni menggeram kesal. Ia ingin marah, tapi tak mungkin marah dengan Nessa. istrinya itu kini sedang hamil. Dan kata dokter ia harus menjagaentah itu secara fisik maupun mentalnya.

Tadi siang, Dhanni dapat kabar dari seorang pesuruhnya. Kabar tersebut benar-benar membuat Dhanni murka. Ternyata Jonathan itu adalah kekasih dari Nessa saat di jogja. Hubungan Jonathan dan Nessa terputus saat Jonathan memutuskan untuk menimba ilmu di luar negeri. Dan menurut kabar yang di dapat, Jonathan kembali pulang untuk mencari Nessa sekaligus ingin memperistri wanita tersebut.

Sialan!! Kenapa juga Nessa tak jujur dan harus berbohong padanya??

Dhanni ingin meminta penjelasan tersebut pada Nessa, tapi nyatanya tadi siang kenyataan lain ia dapatkan. Istrinya itu malah terlihat sedang di peluk oleh laki-laki sialan yang bernama Jonathan. Dan itu benar-benar membuat Dhanni murka.

Dhanni marah. Tentu saja, ia merasa di hianati dengan Nessa. Ia bahkan jujur tentang hubungan masa lalunya dengan Erly, tapi kenapa Nessa tak jujur dengan hubungan masalalunya dengan Jonathan?? Apa Nessa ingin kembali lagi dengan laki-laki sialan itu?? Mengingat itu kepala Dhanni berdenyut nyeri.

Akhirnya, tadi siang ia memutuskan untuk pergi ke luar kota beberapa saat untuk mengurus bisnisnya yang baru ia rilis bersama Renno dan Ramma sahabatnya. Harusnya cukup Renno dan Ramma yang berangkat ke sana. Tapi beberapa hari terakhir Renno tampak gila. Sahabatnya itu tampak selalu murung dan uring-uringan. Sedangkan Ramma sendiri terlalu menganggap enteng urusan mereka, sikapnya yang hanya memikirkan wanita dan bercinta membuat Dhanni mau tak mau ikut mengawasi cara kerja Ramma. Lagi pula ia akan menenangkan pikirannya sejenak dari Nessa.

Mengingat nama itu, Dhanni kembali menghela napas panjang. Nessa sedang hamil, dan wanita itu butuh perhatian darinya. Jadi kini mau tak mau ia harus mengalah.

Dhanni kembali melangkah masuk ke dalam kamarnya. Di lihatnya Nessa yang masih duduk di pingiran ranjang sambil terisak. Wanita itu menangis. Dhanni menuju ke arah Nessa kemudian duduk berjongkok di hadapan wanita tersebut.

“Kamu belum makan?” Tanya Dhanni dengan nada lembutnya.

Nessa tak menjawab. Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya lemah.

“Kamu harus makan. Dia juga butuh nutrisi dari ibunya.” Ucap Dhanni sembari mengusap lembut perut datar milik Nessa.

“Aku nggak lapar.”

“Jangan bohong, ayo, ku temani makan malam.”

Nessa kembali menggelengkan kepalanya.

Tanpa di duga, Dhanni memeluk perut Nessa, membuat Nessa sedikit terpekik karena tingkah laku Dhanni.

“Maafkan aku. Aku keterlaluan.” Ucap Dhanni dengan lembut. “Kamu harus makan sayang, demi babby kita.” Lagi-lagi Dhanni mencoba membujuk Nessa.

“Kak Dhanni jahat. Aku nggak suka di cuekin. Dan aku nggak suka lihat kak Dhanni bersikap datar.”

“Ya, karena itu aku minta maaf.” Dhanni masih mencoba mengalah.

Nessa lemudian memeluk kepala Dhanni. “Jangan tinggalin aku. Aku nggak mau kak Dhanni pergi ke luar kota.”

“Aku ada kerjaan sayang..”

“Enggak, kak Dhanni hanya mengindar.”

“Ness.. Please, semua ini bukan karena aku menghindar, aku benar-benar ada kerjaan.” Dhanni kembali menggeram kesal. Ia sudah menahan diri untuk tidak marah terhadap Nessa, tapi kini seakan Nessa yang menunjukkan sikap kekanakannya  hanya karena tidak suka di tinggal oleh Dhanni.

“Maaf..” Ucap Nessa sambil menundukkan kepalanya.

Dhanni kembali menghela napas panjang. “Lupakan saja semuanya. Kamu harus makan sayang, ingat, kamu lagi hamil. Apapun itu masalah kita, kamu nggak boleh mengesampingkan kesehatan kamu.”

Nessa menganggukkan kepalanya. “Aku mau makan, tapi dengan kak Dhanni.”

“Ya, aku akan menemanimu..” Dhanni meraih telapak tangan Nessa kemudian mengecupnya lembut telapak tangan istrinya tersebut. Dhanni kemudian membantu Nessa berdiri dan menuntun wanita tersebut menuju ke ruang makan.

Sesampainya di ruang makan, Dhanni membantu Nessa mengambil nasi dan lauk di piringnya. Dhanni bahkan tak segan-segan untuk menyuapi Nessa walau dengan ekspresi yang masih datar.

“Em.. kapan kak Dhanni ke luar kota?”

“Lusa.” Hanya itu jawaban dari Dhanni.

“Berapa lama?”

“Mungkin tiga sampai lima hari.”

“Dengan siapa?” tanya Nessa lagi masih mengunyah makanannya.

“Dengan Ramma.”

“Hanya kak Ramma??” Tanya Nessa penuh selidik.

“Ya, dan asisten pribadi kami tentunya.”

“Emm… Jadi… Jadi.. Erly juga ikut?” Tanya Nessa dengan terpatah-patah.

Dhanni mengamati ekspresi dari istrinya tersebut. Nessa tampak tak suka dan itu membuat sudut bibir Dhanni sedikit terangkat karena senang melihat ekspresi istrinya tersebut.

“Ya, tentu dia ikut. Dia kan asisten pribadiku.”

“Emm.. Bisakah… Dia di gantikan orang lain saja?” Tanya Nessa lagi.

“Kenapa sayang?? Kamu nggak suka membayangkan kami akan tinggal satu hotel selama lima hari kedepan??”

Nessa benar-benar salah tingkah. Ia meremas-remas kedua telapak tangannya sendiri. Tentu saja ia tak suka melihat suaminya dekat dengan wanita lain, apalagi ia tahu jika wanita tersebut adalah mantan kekasih suaminya tersebut.

“Ness..” Panggil Dhanni sambil mengangkat dagu istrinya tersebut. “Aku bisa menjaga diri, nggak akan ada apa-apa di antara kami. Kamu bisa pegang omonganku.”

Nessa menganggukkan kepalanya. “Baiklah.. aku percaya kak Dhanni.”

Dhanni kemudian mengecup singkat kening Nessa, “Ayo, makan lagi.” Ucap Dhanni sambil kembali menyuapkan makanan untuk Nessa.

***

Erly sedang sibuk melamun di teras rumah. Ia terlihat seperti orang linglung. Memeluk lututnya sendiri, sedangkan matanya menatap jauh ke depan dengan tatapan kosongnya.

Dhanni… Mengingat nama itu Erly memejamkan matanya. Bagaimana membuat lelaki itu kembali menjadi miliknya lagi?? Erly sudah melakukan apapun untuk menggaet kembali hati Dhanni, tapi nyatanya lelaki itu kini hanya terpaku dengan sosok cantik yang statusnya lebih tinggi dari pada dirinya.

Istri Dhanni benar-benar menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini bagi Erly. Dhanni mencurahkan semua kasih sayang lelaki tersebut hanya untuk istrinya seorang, dan itu benar-benar membuat Erly semakin sakit hati.

Tak lama Erly merasakan sebuah pelukan dari belakang. Itu pasti Jonathan, adiknya. Erly hanya diam terpaku tanpa menghiraukan kehadiran Jonathan.

Jonathan sendiri langsung pindah duduk tepat di sebelah Erly. Jonathan terlihat mengeluarkan sesuatu dari saku belakang celananya ketika merasa duduknya kurang nyaman.

“Kak.. Kakak sudah makan?” tanya Jonathan pada Erly. Jonathan hanya khawatir jika Erly kembali jatuh dan depresi hanya karena satu orang, siapa lagi jika bukan Dhanni Revaldi??

“Sudah.” Hanya itu jawaban dari Erly.

“Kenapa kakak murung? Ada yang salah?” tanya Jonathan dengan lembut.”

Tanpa di duga, Erly kemudian menangis sesenggukan, dan itu benar-benar membuat Jonathan takut.

“Kak.. apa yang terjadi??” tanya Jonathan lagi.

“Dia memecatku..” Ucap Erly masih dengan menenggelamkan wajahnya pada kedua lengannya. Jonathan sendiri hanya mengangkat sebelah alisnya. Ia kemudian melirik ke arah amplop putih yang berada di atas meja tepat di hadapannya.

Jonathan meraih dan membuka amplop tersebut. ternyata itu adalah surat pemecatan untuk kakaknya yang di tanda tangani langsung oleh Dhanni Revaldi. Jonathan kemudian meremas surat tersebut kemudian menggenggamnya erat-erat di dalam kepalan telapak tangannya.

“Lupakan dia kak.. kak Erly bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dari pada dia.”

“Tapi aku mencintainya Jo.. Aku mencintainya dan aku nggak bisa hidup tanpa dia..”

Jonathan sendiri hanya diam membatu, ia tak tau harus berkata apa dengan kakaknya tersebut, karena nyatanya, apa yang di rasakan kakaknya itu ternyata sama dengan apa yang di rasakannya saat ini.

Ia masih sangat mencintai Nessa, seakan tak dapat hidup tanpa wanita tersebut. bahkan jauh dalam hatinya yang paling dalam, Jonathan sangat ingin merebut Nessa dari genggaman Dhanni Revaldi. Tapi nyatanya, ia tak bisa egois, ia tidak ingin melihat wanita yang di cintainya hancur karena ulahnya.

Jonathan akhirnya memilih berdiri dan meninggalkan kakaknya sendiri. Mungkin kakaknya itu kini masih ingin menyendiri, jadi Jonathan tak ingin mengganggunya sementara waktu.

Erly sendiri masih diam, sesekali meneteskan air matanya.  Dhanni sudah memecatnya, itu tandanya tak ada harapan lagi untuk bisa mendapatkan lelaki itu. Ketika Erly hendak berdiri menuju ke kamarnya, ia melihat sesuatu tepat di kursi sebelahnya.

Itu dompet Jonathan, mungkin adiknya itu lupa membawa serta dompetnya tersebut hingga ketinggalan di kursi itu. Erly meraih dompet tersebut kemudia tanpa sengaja membukanya. Dan Erly berakhir tercengang saat melihat foto di dalam dompet tersebut.

Itu adalah foto Jonathan saat SMA, yang membuatnya tercengang adalah  adiknya tersebut sedang menggandeng mesra seorang wanita dan sama-sama tertawa bahagia menghadap ke arah kamera. Wanita itu adalah wanita sangat ia kenali. Karena dia adalah wanita yang secara tak langsung sudah merebut Dhanni dari sisinya.

Itu adalah Nessa, istri dari Dhanni.

Lalu bagaimana Jonathan bisa mengenal Nessa?? apa hubungan adiknya tersebut dengan Nessa? tiba-tiba Erly ingat saat dulu Jonathan selalu bercerita tentang seorang gadis yang sangat di cintainya, bahkan saat Jonathan kembali ke indonesia, Jonathan menghabiskan waktu untuk mencari wanita itu. Apakah Nessa yang di maksud oleh Jonathan?? Apa adiknya itu mencintai istri dari Dhanni Revaldi??

Dengan gusar Erly bangkit kemudian beranjak menuju ke kamar Jonathan. Erly menggedor pintu kamar Jonathan lebih keras dari biasanya.

“Jo.. Buka pintunya Jo..” Erly sedikit berteriak tak sabar.

Tak lama Jonathan membuka pintu kamarnya. Seketika itu juga Erly melemparkan dompet tersebut pada dada Jonathan.

“Kamu mengenalnya?? Kamu mengenal Dhanni dan Nessa?” Tanya Erly terang-terangan.

“Aku nggak ngerti apa maksud kak Erly.”

“Jangan bohong Jo!” Teriak Erly. “Bagaimana mungkin kamu membela mereka, membiarkan mereka bahagia dan kita menderita seperti ini?? Kamu mengianatiku Jo.!!”

Jonathan mendekat ke arah Erly, kemudian sedikit memeluk tubuh rapuh kakaknya tersebut. “Bukan begitu kak.. Aku memang mencintai Nessa, sangat mencintainya, tapi aku tahu, jika aku memaksakan kehendakku, maka aku akan menyakitinya. Aku akan membuatnya menderita kak..”

“Lalu apa kamu memilih untuk menyakitiku?? Kakakmu sendiri?? Jo, aku sakit karena pilihanmu. Secara tidak langsung kamu lebih memilih menyakitiku dari pada wanita sialan itu.”

Jonathan menggelengkan kepalanya. “Bukan begitu kak..”

“Kalau begitu Please… bantu aku… aku butuh bantuanmu.. Aku ingin kembali mendapatkan Dhanniku, dan kamu akan kembali mendapatkan Nessamu..”

Jonathan membatu dengan ucapan kakaknya tersebut. ia memang sangat ingin mendapatka Nessa kembali di sisinya, secara tak langsung ia juga meluruskan jalan kakaknya untuk mendapatkan lelaki yang di cintainya tersebut. tapi di sisi lain, ia tak bisa, karena Jonathan tahu, jika ia melakukan hal itu, Nessa pasti akan sangat tersakiti karena ulahnya. Lalu bagaimana ia harus memutuskan?? Itu pilihan yang sulit, Jonathan tak akan bisa memilih di antara Nessa dengan kakaknya, karena keduanya merupakan orang–orang yang sangat di cintainya.

 

-to  be continue-

ayoo yang baca jangan jadi sider yaa.. huaahahahah

 

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 6 (Hanya Kamu)

Comments 8 Standard

011The Maried Life (Lady killer 2)

Chapter 6

-Hanya Kamu-

 

Dhanni mengawasi Nessa dengan matanya. Istrinya tersebut tampak shock dengan jawabannya. Pasti Nessa sedang berpikir yang tidak-tidak padanya. Dengan santai Dhanni mengusap lembut kening Nessa yang berkerut.

“Kamu mikir Apa?? Jangan berpikir yang aneh-aneh.” Ucap Dhanni kemudian.

“Enggak.. aku hanya…”

“Hanya apa??”

“Kak Dhanni masih suka sama wanita itu?? Kenapa Kak Dhanni ingin mengawasi wanita itu?? Kenapa Kak Dhanni….” Nessa tak dapat melanjutkan kalimatnya ketika kedua telapak tangan Dhanni menangkup kedua pipinya.

“Dengar, Dia bukan siapa-siapa untukku, dan dia tidak ada apa-apanya di bandingkan kamu. Aku memberitahumu yang sebenarnya supaya kamu tidak kepikiran, dan tidak salah paham suatu saat nanti.”

“Tapi kak Dhanni mengawasinya.”

Dhanni meminum jus di hadapannya lalu mulai bercerita pada Nessa.

“Erly dulu adalah wanita yang baik. Penampilannya polos, dan aku salah sudah mempermainkan dia dulu. Sekarang, dia sudah berubah. Penampilannya berubah drastis, begitupun dengan sikapnya. Dia bahkan tak tau malu lagi mengakui perasaannya padaku, Aku hanya khawatir dia merencanakan sesuatu. Karena aku belum menemukan alasan kenapa dia kembali saat ini padaku.”

“Mungkin karena dia masih suka sama Kak Dhanni.” Jawab Nessa dengan nada yang sudah ketus.

Dhanni tersenyum melihat tingkah istrinya tersebut.  di raihnya telapak tangan Nessa yang  berada di atas meja, di kecupnya lembut punggung tangan istrinya tersebut .

“Aku suka sekali saat melihat kamu yang merajuk seperti ini.”

“Aku nggak merajuk.”

“Ya, kamu merajuk dan cemburu.” Ucap Dhanni dengan nada menggoda.

“Kak.. Aku serius.”

Dhanni tertawa. “Oke, Oke. Dia memang mengakui kalau dia masih suka denganku. Dia bahkan tak canggung-canggung lagi menggodaku. Tapi sayang, percaya sama aku. Sedikitpun aku tak pernah merasa tertarik padanya.”

“Kak Dhanni yakin??” tanya Nessa dengan memicingkan matanya.

“Kalau kamu tidak percaya, besok kunjungi aku di kantor sambil bawa makan siang.”

“Kenapa aku harus ke sana??”

“Supaya kamu tau bahwa tak ada apapun yang ku sembunyikan darimu Ness. Lagi pula aku ingin menunjukkan pada semua orang yang berada di sana jika hanya ada satu wanita yang ku cintai, siapa lagi jika bukan istriku yang paling cantik.” Ucap Dhanni sambil mencubit gemas hidung Nessa. sedangkan Nessa hanya mampu tersenyum bahagia.

***

Jonathan menutup pintu ruang kerjanya. Tubuhnya merosot ke bawah lalu turduduk menyadar pintu. Matanya memejam seakan mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

Nessa, wanita yang di cintainya itu ternyata memiliki seorang suami yang ternyata adalah lelaki yang sangat di cintai kakaknya. Kenapa semua jadi semakin membingungkan untuknya??? Jonathan berpikir, bisa saja ia mengacaukan hubungan rumah tangga Nessa. membuat Nessa berpisah dengan suaminya lalu ia bisa mendapatkan wanita itu dan kakaknya bisa mendapatkan lelaki yang di cintainya, tapi nyatanya ia tak bisa.

Jonathan dapat melihat dengan jelas di mata Nessa. wanita itu sudah berubah. Sangat jelas terlihat di mata Nessa jika wanita itu sangat mencintai dan memuja suaminya. Bukankah itu tandanya ia sudah tak memiliki kesempatan lagi?? Lalu, apa ia harus menyerah?? Bagaimana dengan kakaknya??

Jonathan memijit pelipisnya. Kepalanya terasa pusing memikirkan semua yang terjadi. Ia sangat mencintai Nessa dan ingin memiliki wanita itu, tapi di sisi lain, ia yakin jika ia memaksakan kehendaknya, ia akan menyakiti wanita yang di cintainya, dan ia tak bisa melihat Nessa tersakiti. Cintanya benar-benar tulus pada wanita tersebut.

Apa ia harus mengalah?? Jonathan memejamkan matanya kembali dan mencoba berpikir jernih. Ya, ia harus mengalah, mungkin Nessa memang bukanlah jodohnya.

***

Nessa keluar dari sebuah mobil yang mengantarnya menuju kantor tempat Dhanni bekerja. Dhanni ternyata tak bohong. Tadi pagi, seorang supir dan asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan rumahnya telah datang. Mengingat itu Nessa tersenyum sendiri. Ahhh suaminya itu benar-benar perhatian. Nessa kemudian berjalan masuk ke dalam lobi kantor Dhanni. Menuju ke meja resepsionis.

“Maaf ibu, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang wanita di bagian resepsionis tersebut.

“Saya mau bertemu dengan  Pak Dhanni Revaldi.” Ucap Nessa kemudian.

“Maaf sebelumnya, ibu sudah ada janji??” wanita itu bertanya lagi dengan ramah.

“Sudah, saya mau mengantar makan siang untuk pak Dhanni.”

Sang resepsionis tersebut tampak mengerutkan keningnya. “Dengan ibu siapa ya kalau boleh tau??”

“Nessa Revaldi.”

Si Resepsionis membulatkkan matanya seketika. “Ohh maaf ibu, Ibu istrinya Pak Dhanni?? Mari saya antar ke ruangan beliau.” Ucap wanita tersebut sambil keluar dari balik meja resepsionis.

Akhirnya Nessa pun di antar oleh wanita tersebut masuk ke dalam lift menuju ke lantai paling atas. Ini memang pertama kalinya ia masuk ke dalam kantor Dhanni. Dhanni sebenarnya selalu menyuruhnya sekedar mengunjungi lelaki itu di kantornya, tapi tentu saja Nessa menolaknya. Alasannya masih sama, ia tak ingin menjadi pusat perhatian dan mendapat tatapan membunuh dari para wanita fans dari Dhanni, si Lady killer.

Tak lama, sampailah mereka di lantai paling atas. Sejak tadi Nessa benar-benar sangat risih dengan tatapan si resepsionis yang menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Apa ada yang salah dengan penampilannya saat ini???

“Mbak Hani.  Ada istri pak Dhanni mau ngantar makan siang.” Ucap Resepsionis itu pada seorang wanita lainnya yang duduk di balik mejatepat di sebelah pintu besar di hadapan mereka.

“Ohh… Ibu Nessa ya, tadi Pak Dhanni sudah pesan, mari saya antar masuk.” Ucap wanita yang bernama Hani dengan ramah dan penuh senyuman.

Sedangkan Nessa sendiri mengernyit tak suka. Jadi setiap hari seperti ini?? Dhanni selalu di kelilingi wanita-wanita cantik?? Yang benar saja. Awas saja kalau lelaki itu berani bermain api di belakangnya.

Pintu besar berwarna hitam legam itu pun di buka dan menampilkan sosok Dhanni yang duduk dengan  ekspresi seriusnya di balik meja kerjanya.  Ruangan tersebut sangat luas dan lebar. Terdapat meja panjang di ujung ruangan dengan banyak kursi-kursi di sana, mungkin itu ruangan untuk rapat pribadi atau apalah, Nessa sendiri tak tau. Tapi yang membuatnya tertarik adalah di salah satu kursi tersebut terdapat seorang wanita yang sedang sibuk membuka-buka berkas di sana. Siapakah wanita itu?? Apa itu adalah Erlyta paraswati?? Mantan kekasih suaminya??

“Pak.. Bu Nessa sudah datang.” Ucap Hani yang sontak membuat Dhanni mengangkat kepalanya menatap ke arah Nessa.

Dhanni berdiri sambil tersenyum lembut ke arah Nessa. pun dengan Nessa yang kemudian melemparkan senyuman lembut pada suami yang sangat di cintainya tersebut.

“Sudah datang sayang??” Ucap Dhanni sambil berjalan menuju ke arah Nessa sambil merenggangkan kedua tangannya.

Nessa pun sontak menghambur ke dalam pelukan suaminya tersebut. Entahlah, ia hanya ingin semua orang tau jika Dhanni hanyalah suaminya, miliknya seorang. Nessa benar-benar tak suka jika suaminya tersebut bekerja dengan di kelilingi banyak wanita-wanita cantik.

“Kamu boleh keluar Hani.” Ucap Dhanni kemudian yang kali ini sudah mengusap lembut rambut panjang milik Nessa.

Hani menganggukkan kepalanya kemudian berbalik dan pergi meninggalkan ruangan Dhanni. Sedangkan di sudut ruangan lainnya, sepasang mata menatap kedekatan Dhanni dan Nessa dengan berkaca-kaca. Erly, wanita itu seakan tak kuat menanggung rasa sakit di hatinya ketika melihat lelaki yang di cintainya tampak bahagia dengan wanita lain.

***

Dhanni memakan dengan lahap masakan Nessa. tanpa mempedulikan tatapan aneh yang di berikan istrinya tersebut.

“Kenapa menatapku seperti itu??” Tanya Dhanni masih dengan menyuapkan makan siangnya.

“Kak Dhanni senang ya kerja di sini. Di kelilingi cewek-cewek cantik.” Gerutu Nessa dengan nada yang di buat ketus.

Dhanni melirik ke arah Nessa, wanita itu menampilkan ekspresi cemberutnya. “Kamu cemburu??” Tanya Dhanni secara terang-terangan.

“Tentu saja aku cemburu.” Jawab Nessa dengan terang-terangan yang kemudian membuat Dhanni tertawa lebar.

Dhanni kemudian mencubit gemas pipi Nessa. “Terimakasih sayang sudah cemburu, tapi perlu kamu tau, satu-satunya wanita yang ku cintai di dunia ini hanyalah Kamu. Sejak tiga belas tahun yang lalu.” Ucap Dhanni penuh penegasan.

Wajah Nessa memerah seketika karena ucapan suaminya tersebut. “Kak Dhanni yakin nggak akan tergoda wanita lain??”

“Tentu saja.” Jawab Dhanni dengan pasti.

“Walau nanti perutku sudah membesar kembali??” tanya Nessa lagi kali ini sambil mengusap perutnya yang masih rata.

Dhanni kembali tertawa. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Nessa. menggesekkan hidungnya dengan hidung mancung milik istrinya tersebut, kemudian membawa telapak tangan Nessa untuk menyentuh dada kirinya.

“Bagaimana pun bentuk tubuh dan wajahmu dulu atau nanti, rasa sayang ku tetap sama Ness. Hanya kamu.. Ya.. Hanya kamu wanita yang berada di sini. Wanita yang membuat jantungku seperti ini.”

Nessa ternganga mendengar ucapan manis dari suaminya tersebut. ia juga merasakan betapa jantung suaminya itu berdebar keras seakan ingin meledak. Debaranya sama dengan debaran saat itu, saat pertama kali ia menyentuh dada Dhanni di kamarnya pada malam mereka bertunangan.

“Lagi pula, Orang hamil itu lebih seksi dan menggairahkan tau.” Dhanni kemudian mengecup singkat bibir Nessa.

“Kak Dhanni.” Pekik Nessa karena terkejut dengan kelakuan suaminya tersebut. sedangkan Dhanni hanya mampu menertawakan ekspresi istrinya yang selalu tersipu-sipu ketika mendengar kalimat-kalimat manisnya. Ahhh Nessa ternyata masih sama, wanita yang selalu malu-malu saat mereka berada dalam momen-momen manis berdua.

“Ehhem” suara deheman tersebut memaksa ke duanya menoleh ke arah seorang wanita yang berdiri tak jauh dari tempat duduk mereka.

Itu Erly. Wanita itu tampak berwajah sendu dengan membawa beberpa berkas-berkas kerjanya.

“Saya.. Sudah memeriksa laporan-laporan seperti yang pak Dhanni perintahkan.” Ucap Erly dengan suaranya yang terdengar sedikit tercekat.

“baiklah, kamu boleh keluar.” Ucap Dhanni dengan wajah datarnya.

Erly pun keluar dari ruangan Dhanni. Dan setelah itu Nessa mencubit lengan Dhanni, membuat Dhanni mememkik kesakitan.

“Ada apa sayang??”

“Ada apa?? Kamu keterlaluan Kak. Lihat, matanya bahkan sudah berkaca-kaca.”

“Aku nggak pedui. Aku hanya ingin Erly tau jika hanya kamu wanita yang ada di hatiku. Setidaknya itu akan membuatnya mundur teratur.”

“Mundur teratur?? Kalaiu dia semakin menjadi-jadi gimana??”

“Nggak akan. Kalau kamu sering-sering ke sini, bahkan setiap hari ke sini aku jamin, dia akan sadar jika apa yang di lakukannya untuk mendekatiku hanyalah buang-buang waktu.”

“Benarkah?? Ohh.. jadi kak Dhanni ingin aku ke sini hanya untuk membuat cemburu wanita itu??”

Dhanni tersenyum. Ia kemudian menarik tubuh Nessa dan memposisikan supaya duduk di atas pangkuannya.

“Tentu tidak sayang, Aku hanya ingin mereka semua tau, jika tak ada wanita lain selain kamu yang bisa memiliki hatiku. Dan tentunya, aku ingin kamu ke sini setiap hari untuk mengurangi rasa kangenku sama kamu.” Ucap Dhanni sambil sesekali mengecup lembut tengkuk leher Nessa.

“Dasar lebbay.” Ucap Nessa sambil menjauhkan diri tapi kemudian Dhanni kembali menarik tubuhnya mendekat dan  memeluk erat-erat tubuh wanita yang di sangat di cintainya tersebut.

***

Erly masuk ke dalam sebuah toilet untuk wanita. Ia tak dapat menahan kesedihannya lagi. Ia mnangis di sana.

Dhanni… Bagaimana mungkin lelaki itu memperlakukannya seperti tadi??

Ia sangat ingin berada di posisi istri Dhanni tersebut, tapi bagaimana caranya?? Dhanni ahkan seakan sudah tak sudi lagi untuk memandangnya. Apa ia harus mundur??

Tidak.

Ia tak boleh mundur. Sudah banyak perubahan yang ia lakukan samapi seperti ini demi mendapatkan Dhanni kembali, dan ia tak akan mundur hanya karena wanita biasa-biasa saja seperti Nessa. pungkasnya dalam hati.

***

“Aku kangen Brandon.” Ucap Nessa sambil bergelayut mesra di lengan Dhanni.

“Mereka belum kembali ke jakarta sayang.Video Call aja ya..”

“Tapi aku pengen gendong dia.”

“Ya, tapi nanti kalau dia sudah balik, Oke?  ingat, kamu nggak boleh banyak pikiran dan kecapekan.”

Nessa hanya menganggukkan kepalanya tanpa menghilangkan ekspresi merajuknya. Tiba-tiba ponsel Nessa berbunyi. Secepat kilat Nessa merogoh ponsel di dalam tas nya. Berharap jika yang menelepon itu mamanya dan Brandon ingin berbicara dengannya, tapi nyatanya, Jonathanlah peneleponnya.

Nessa menatap Dhanni dengan tatapan anehnya.

“Kenapa??” Tanya Dhanni kemudian, sedangkan Nessa hanya mampu memperlihatkan layar ponselnya pada Dhanni. “Angkat saja.” Ucap Dhanni kemudian.

“Halo.” Akhirnya Nessa mengangkat telepon dari  Jonathan.

“Hai.. Maaf ganggu Ness, kamu masih ingat Cici dan Ervan??”

Nessa tampak berpikir sebentar, lalu ekpresinya berubah seketika. “Ahh ya.. ada apa dengan mereka?”

Cici merupakan salah satu teman Nessa saat SMA di jogja, sedangkan Ervan sendiri sahabat Jonathan, dulu, Ervan sering mngucapkan rasa sukanya pada Cici, tapi saat itu Cici dengan terang-terangan menolak Ervan.

“Mereka sudah nikah beberapa bulan yang lalu, dan mereka ada di jakarta.”

“Ahh yang benar??”

“Ya, Besok mereka akan mengunjungi kafeku, kalau kamu berminat bertemu dengan mereka, kamu bisa ke sini.”

Nessa melirik ke arah Dhanni sebentar. “Oke, aku akan ke sana. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Cici.”

“Oke, ku tunggu Ness.” Dan telepon pun di tutup.

“Dia mau apa?” Tanya Dhanni dengan nada yang tak enak di dengar.

“Teman SMA ku ada yang ke kafenya besok, aku boleh ke sana kan??”

Dhanni tampak memicingkan matanya ke arah Nessa. “Itu bukan sekedar alasan dia untuk bertemu kamu kan??”

Nessa menggeleng cepat. “Kak Jo yang ku kenal bukan seorang pembohong, Cici dan Ervan pasti benar-benar ke sana.” Ucap Nessa mencoba meyakinkan suaminya tersebut.

“Oke, kamu boleh ke sana.” Kali ini Dhanni menjawab dengan perasaan ragunya. Jika boleh jujur, ia sangat tak suka Nessa berhubungan dengan lelaki bernama Jonathan tersebut. Walau Dhanni belum tau apa sebenarnya hubungan Nessa dengan Jonathan, tapi Dhanni dapat melihat dengan jelas di mata lelaki itu jika lelaki itu menginginkan istrinya tersebut, dan Dhanni tak suka dengan itu.

“Terimakasih.” Nessa merangkul leher Dhanni seketika kemudian mengecup lembut pipi lelaki tersebut.

***

Siang itu, Nessa akhirnya menuju ke kafe milik Jonathan. Jonathan sendiri menyambut dengan senang kehadiran Nessa. ia sangat senang saat tau bahwa ada alasan untuk dirinya bertemu dengan wanita yang sangat di cintainya tersebut.

Tak lama, tamu yang mereka tunggu pun akhirnya datang juga. Nessa benar-benar tak menyangka akan bertemu lagi dengan teman SMA nya dalam keadaan seperti saat ini.

“Kamu makin cantik Ness.. Pantas saja Jo nggak bisa berpaling darimu.” Ucap Cici kemudian menyesap kopi di hadapannya.

Nessa mengerutkan keningnya kemudian melirik ke arah Jonathan di sebelahnya yang tampak tersenyum bahagia.

“Dan kapan kalian akan menyusul kami??” Tanya Ervan kemudian yang membuat Nessa semakin bingung. Menyusul?? Menyusul kemana??

Dan tanpa di duga, Jonathan seakan sudah tak canggung lagi meraih pinggang Nessa yang duduk di sebelahnya, menarik Nessa mendekat hingga menempel pada tubuhnya.

“Tenang saja, kami akan segera menyusul kalian, tunggu saja undangannya.”

Ucapan Jonathan tersebut yang sontak membuat Nessa menatap ke arah lelaki itu dengan mata membulatnya. Nessa benar-benar tak mengerti apa maksud Jonathan, kenapa Jonathan berbicara seakan mereka adalah sepasang kekasih yang akan melaksanakan pernikahan?? Apa maksud lelaki itu?? Apa tujuannya?? Dan masih banyak sekali pertanyaan yang membuat Nessa bingung dengan pernyataan lelaki tersebut.

 

-TBC-

Nantikan kiah selanjutnya yaa.. hehehhe

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 5 (“Dia Mantanku”)

Comments 5 Standard

TLK2

The married life (Lady killer 2)

 

Mari merapat yang udah kangen Kak Dhanni… panas-panas gini baca cerita panas.. makin gosong euuyyy.. hahahhahah Happy reading.. semoga suka yaa.. heheheheh

 

 

Chapter 5

-“Dia mantanku.”-

 

Dhanni mengecupi sepanjang punggung mulus wanita yang kini meringkuk di dalam pelukannya. Gairahnya kembali tumbuh hanya karena kecupan-kecupan basahnya pada pundak wanita yang kini sedang di peluknya. Astaga… Bahkan belum ada tiga jam yang lalu ia mencapai gelombang kenikmatan bersama dengan Nessa, Istrinya tersebut, tapi kini ia seakan terpancing kembali. Seakan ia tak ingin berhenti jika sudah menyentuh tubuh istrinya tersebut.

“Kak… Geli..”  Ucap Nessa dengan parau sambil sedikit menjauh karena geli dengan tingkah Dhanni.

Dhanni kembali menatik tubuh Nessa ke dalam dekapannya. Ia sedikit menyunggingkan senyumannya. Bukannya berhenti, ia malah menggoda Nessa. Menghadiahi Nessa dengan gigitan-gigitan kecil pada telinga wanita tersebut.

“Kak..”

“Iya sayang..” jawab Dhanni dengan  suara seraknya.

“Aku ngantuk.”

“Tapi aku enggak.” Kali ini telapak tangan Dhanni sudah menggoda puncak payudara Nessa. membuat Nessa memekik.

Nessa menolehkan kepalanya ke belakang sambil menatap Dhanni dengan tatapan membunuhnya.“Kak.. tadi sudah..”

“Itu tadi.. Aku butuh sesi kedua sayang.”

Lalu tanpa banyak bicara lagi Dhanni mengangkat sebelah kaki Nessa kemudian menyatukan diri dengan tubuh istrinya tersebut dari belakang.

“Sial..!!!” Ucap Dhanni ketika tubuhnya menyatu seutuhnya dengan tubuh istrinya tersebut, sedangkan Nessa sendiri hanya mampu mendesah panjang.

“Kak..” ucap Nessa di sela-sela desahanya.

“Hemm??” Dhanni kembali mengecupi sepanjang punggung Nessa dengan kecupan-kecupan basahnya. “Aku nggak bisa berhenti sayang…” Lanjut Dhanni lagi.

Sedang Nessa sendiri seakan kewalahan dengan apa yang di lakukan Dhanni. Kedua telapak tangan Dhanni memainkan kedua payudaranya yang padat berisi. Bibir Dhanni tak berhenti mengucap kata-kata lembut sesekali mengecupi punggung mulusnya.

“Jangan tinggalin Aku Ness.. Aku nggak bisa tanpa kamu.”

“Aku pun sama Kak…”

Nessa menolehkan kepalanya ke belakang, dan seketika itu juga Dhanni kembali melumat bibir ranum milik istrinya tersebut tanpa menghentikan pergerakannya. Dhanni bahkan mempercepat lajunya, membuat Keduanya berada di ambang kenikmatan yang nyata. Hingga kemudian desahan panjang dari keduanya menandakan jika permainan baru saja selesai.

Dhanni kembali memeluk erat tubuh polos istrinya dari belakang, sedangkan bibirnya sendiri tak berhenti mengucapkan kalimat cinta yang membuat Nessa di buai asmara hingga kesadaran mulai merenggutnya kembali.

***

“Kamu di rumah saja yaa… aku nggak mau kamu pingsan lagi kayak kemarin.” Ucap Dhanni sambil mengusap lembut pipi Nessa dengan ibu jarinya.

Nessa sendiri yang kini masih sibuk membenarkan dasi milik Dhanni seakan tergoda dengan kelembutan sang suami, entah kenapa ia ingin bermanja-manja ria dengan Dhanni.

“Aku bosan di rumah Kak, aku boleh ke kafe Dewi kan??”

“Ingat Babby kita sayang..”

“Aku tau, tapi bosan bisa membuat stres loh, please.. aku hanya duduk-duduk saja di sana kok.” Nessa memohon tapi Dhanni masih terlihat tak ingin mengijinkannya.

Nessa kemudian menarik dasi yang sudah bertengger rapi di leher Dhanni hingga membuat lelaki itu membungkuk ke arahnya.

“Please sayang…” Goda Nessa sambil mengecup lembut bibir Dhanni.

Dhanni tersenyum melihat tingkah istrinya tersebut. “Kamu mau menggodaku??”

“Ya, supaya Kak Dhanni mengijinkanku.”

“Oke, tapi kita berangkat bareng, dan nanti siang aku akan makan siang di sana.”

“Yeayy… Terimakasih banyak kak..” Nessa mengecup lembut pipi Dhanni sambil bersorak bahagia.

***

Sesampainya di depan kafe milik Dewi, dhanni keluar dari dalam mobilnya lalu membukakan pintu mobilnya untuk Nessa.

Nessa keluar dengan wajah senyum bahagianya. Dhanni kemudian merarik pinggang Nessa supaya mendekat ke arahnya.

“Nggak enak di lihat orang Kak.” Ucap Nessa sambil melirik ke arah sekitarnya karena kini mereka sedang berada di parkiran kafe milik Dewi yang letaknya tepat di sebelah jalan raya.

“Biar saja, mereka tentu tau kalau kita sepasang kekasih,”

“Kekasih?? Sok muda,”

Dhanni terkikik geli. “Tentu saja, kita masih muda.”

Nessa tersenyum manis. Ia kemudian merapikan kemeja milik Dhanni yang sedikit kusut di bagian dadanya.  “Kak Dhanni nggak boleh nakal dan harus selalu ingat aku dan juga Brandon.”

Dhanni mengusap pipi Nessa dengan lembut. “Kamu kembali manja kayak pas lagi hamil Brandon dulu.”

“Memangnya kenapa?? Nggak boleh??”

“Bukan nggak boleh, Aku bahkan semakin suka.”

“Huhh.. dasar.” Gerutu Nessa.

“Kamu tenang saja sayang, nggak aku nggak akan nakal kok. Kamu dan Brandon dan juga babby kita adalah yang nomer satu di hatiku.” Ucap Dhannni sambil mengusap lembut perut Nessa yang masih datar.

Dhanni kemudian mengecup dengan lembut kening Nessa, membuat Nessa memejamkan matanya saat menikmati sentuhan lembut suaminya tersebut.

“Aku pergi sayang, nanti siang kita makan siang bareng di sini.”

“Bawakan aku mangga muda.” Pesan Nessa dengan suara yang sedikit merengek.

“Ya, akan ku bawakan.” Tanpa di duga, Dhanni mengecup singkat bibir Nessa, membuat Nessa terpekik.

“Kak Dhanni….”

“Itu hadiahku karena sudah membuatmu puas tadi malam.” Ucap Dhanni yang sudah berada di dalam mobilnya sambil menggoda Nessa dengan mengerlingkan matanya.

“Dasar mesum.” Ucap Nessa yang kemudian membuat Dhanni tertawa lebar di dalam mobilnya. Dhanni pun akhirnya berlalu, sedangkan Nessa sendiri kemudian masuk ke dalam kafe milik Dewi.

Keduanya tidak tau jika sejak tadi ada sepasang mata yang mengawasi tingkah manis keduanya, sepasang mata sendu penuh dengan kesedihan yang berada di seberang jalan.

***

Dengan serius Dhanni memeriksa berkas-berkas di hadapannya ketika tiba-tiba pintu ruangannya di buka begitu saja oleh seseorang tanpa permisi. Dhanni menatap orang tersebut dengan wajah sangarnya.

“Kamu pikir ini kantor pribadimu hingga kamu bisa seenaknya keluar masuk tanpa permisi??” Dhanni bertanya dengan nada dinginnya. Ia benar-benar tak suka dengan sikap Erly yang terkesan seenaknya sendiri.

“Aku hanya ingin penjelasan. Kenapa kamu memiliki dua sekertaris pribadi??”

“Bukan urusanmu.” Jawab Dhanni dengan datar.

“Dhan.. Aku mengesampingkan semua urusan hidupku untuk masuk ke dalam kantormu, menjadi sekertaris pribadimu, dekat kembali denganmu, tapi kamu..”

“Aku tidak pernah memintamu melakukan itu Erly. Dan asal kamu tau, Aku ingin Kamu bersikap profesional di dalam kantorku.”

Mata Erly berkaca-kaca, ia tak menyangka jika lelaki yang sangat di cintainya tersebut akan memperlakukannya secara dingin seperti saat ini.

Tak lama, pintu ruangan Dhanni di ketuk seseorang.

“Masuk.” Ucap Dhanni dengan datar tanpa menghiraukan keberadaan Erly yang masih berdiri di hadapannya.

Seorang wanita cantik lainnya masuk. “Pak Dhanni memanggil saya??” tanya wanita tersebut dengan hormat. Wanita itu sedikit mengernyit pada sosok Erly yang berdiri tak jauh dari meja kerja atasannya tersebut.

“Hani, tolong bawa kan berkas ini ke kantor Pak Ramma, dan beri tau dia jika saya tidak bisa menemuinya siang ini.” Ucap Dhanni pada Hani, sekertaris pribadi barunya. Ya, setelah dia memiliki Erly menjadi sekertaris pribadinya, Dhanni segera mencari sekertaris pribadi baru lainnya supaya komunikasinya dengan Erly sedikit berkurang.

“Baik pak, apa hanya itu??”  tanya Hani lagi.

“Ahh ya, saya hampir lupa. Carikan Mangga muda buat istri saya. Dia sedang ngidam.” Ucap Dhanni lagi kali ini dengan sedikit menyunggingkan senyuman miringnya.

“Baik pak, saya permisi.”

Akhirnya Hani keluar dari ruangan milik Dhanni. Dan hanya tinggalah Dhanni dan juga Erly di sana.

“Kenapa kamu masih di sini?? Saya membayar kamu bukan untuk menatap wajah saya,” Ucap Dhanni dengan datar.

“Kamu keterlaluan.” Kali ini Erly berkata dengan suara yang sedikit serak karena menahaan tangisnya. Erly bersiap pergi dari hadapan Dhanni tapi kemudian Dhanni kembali memanggilnya dan membuat Erly menghentikan langkahnya.

“Erly,” Panggil Dhanni kemudian. “Tolong cancel semua jadwal saya siang ini, Saya akan makan siang bersama dengan istri.” Ucap Dhanni seakan sengaja memberi tahu Erly bahwa wanita itu sudah tak memiliki kesempatan lagi di hatinya.

Erly sendiri hanya mampu melanjutkan langkahnya sambil sedikit terisak. Ia sakit, sangat tersakiti dengan sikap Dhanni, lelaki yang sagat di cintainya.

***

Nessa mengaduk-aduk jus jeruk di hadapannya dengan sedotan.  Sesekali ia masih mendengar rengekanDewi yang memintanya untuk mencari tau lebih banyak lagi tentang Kafe di seberang jalan yang tak lain adalah kafe milik Jonathan, mantan kekasih sekaligus orang yang kini di hindarinya.

“Enggak Wi, berapa kali kamu minta, aku nggak akan mau ke sana lagi.”

“Astaga.. belum tentu juga ia berada di sana Ness.”

“Ya, tapi kemungkinan besar Dia ada di sana.” Jawab Nessa dengan datar.

Pada saat bersamaan, seorang pengunjung kafe tiba-tiba datang menghampiri mereka. Dewi bahkan ternganga mendapati sosok tampan di hadapannya. sedangkan Nessa sendiri menatap Dewi dengan tatapan bingungnya. Dan ketika Nessa menolehkan wajahnya ke samping, ia baru tau jika ada sosok tampan berdiri di sebelahnya.

“Apa saya mengganggu waktu kalian??” tanya lelaki itu dengan sopan.

Belum sempat Dewi menjawab, Nessa sudah berdiri  dan berbalik bertanya pada lelaki tersebut. “Kak Jo sedang apa di sini??” tanya Nessa yang sudah tidak nyaman dengan tatapan mata yang di berikan jonathan.

“Aku hanya tidak sengaja mampir dn bertemu kamu di sini.” Ucap Jonathan sambil menyunggingkan senyumannya. “Em.. maaf sebelumnya, apa bisa meninggalkan kami sebentar??” tanya Jonathan pada Dewi yang sejak tadi masih fokus dengan ketampanan yang terpahat sempurna pada wajah Jonathan.

“Ahh.. ya, silahkan.” Ucap Dewi  sambil bergegas berdiri lalu pergi meninggalkan Nessa dan Jonathan dengan tatapan yang masih tak ingin berpaling dari wajah lelaki itu.

“Jadi, kamu pemilik kafe ini??” tanya Jonathan pada Nessa saat mereka sudah kembali duduk saling berhadapan.

“Bukan, ini milik Dewi, wanita yang tadi duduk di situ.”

“Ohh..” Jawab Jonathan tanpa mengalihkan tatapan matanya pada wajah Nessa. “Kenapa kamu nggak pernah angkat telepon dariku?” tanya Jonathan lagi.

“Emm… Aku sibuk.” Hanya itu jawaban Nessa.

“Sibuk ngurus suami kamu??” ada nada sinis yang terdengar dri ucapan Jonathan.

“ku pikir itu bukan  urusan Kak Jo. Ingat, kita hanya berteman.” Nessa mencoba mengendallikan dirinya agar tak terpengaruh dengan sosok Jonathan.

“Oke, tapi ku pikir aku memiliki hak sebgai teman kamu.”

“Hak?? Hak apa??”

“Hak untuk selalu mendapat jawaban telepon darimu.”

“Kak.. Aku punya suami dan anak yang harus di urus, jadi aku tak bisa selalu menjawab telepon Kak Jo.”

Jonathan menggelengkan kepalanya. “Itu bukan alasan kamu Ness.. Kamu nggak mau mengangkat teleponku hanya karena kamu takut kembali jatuh hati padaku.”

Kali ini Nessa yang tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Enggak kak, percayalah. Aku tidak takut itu terjadi, karena aku yakin tidak akan jaatuh hati pada lelaki lain selain suamiku sendiri.”

Wajah Jonathan tampak  mengeras. “Apa yang tadi pagi mengantarmu kemari itu suamimu??”

“Kak Jo tau??”

“Ya, Aku melihat kalian.”

“Ya, itu saya, suaminya.” Suara dingin penuh penekanan tersebut memaksa Nessa menolehkan kepalanya ke belakang. Dan tampaklah sosok Dhanni yang sudah berdiri dengan wajah sangarnya.

Jonathan membulatkan matanya seketika. Ia bukannya takut karena bertemu dengan Dhanni, Suami dari wanita yang di cintainya. Tapi ia benar-benar tak menyangka jika suami wanita yang di cintainya tersebut adalah lelaki yang sama dengan lelaki yang sangat di cintai kakaknya sendiri. Ada rasa panas dalam dada Jonathan. Seakan ada sesuatu yang menyulut emosinya.

Nessa berdiri seketika lalu menyambut kehadiran Dhanni. “Kak Dhanni kok sudah balik??”

“Aku kangen kamu sayang.” Ucap Dhanni sambil mengecup singkat bibir Nessa, seakan menunjukkan pada Jonathan jika wanita di hadapannya itu adalah miliknya seorang. “Jadi, siapa dia??” tanya Dhanni secara langsung pada Nessa.

“Ohh.. Emm.. ini Kak Jo, yang kemarin telepon dan kmu yang angkat. Kak Jo ini kakak kelasku saat SMA di  Jogja.”

Dhanni menatap Jonathan dengan tatapan menyelidiknya. Kemudian ia mengulurkan tangannya pada Jonathan. “Dhanni, Suami Nessa.” Ucap Dhanni memperkenalkan diri sambil menekankan kepemilikan atas diri Nessa.

“Jonathan.” Ucap Jonathan sambil membalas uluran tangan Dhanni.

“Jadi.. Hanya kakak kelas bukan??”

“Iya Kak.” Nessa menjawab cepat. “Kebetulan kafe seberang jalan adalah milik Kak Jo, jadi mungkin kami akan sering bertegur sapa.” Jelas Nessa. sedangkan Dhanni hanya menganggukkan kepalanya.

Jonathan kemudian melirik ke arah jam tangannya, “Ness, Aku pergi dulu, kapan-kapan kita ketemu lagi.”

“Kenapa buru-buru??” lanjut Dhanni seakan dirinya tak ingin Jonathan cepat pergi dari sana.

“Ada janji dengan seseorang.” Jawab Jonathan. Kemudian ia berpamitan lalu pergi meningalkan Dhanni dan Nessa.

“Jadi… mau main belakang hemm??” tanya Dhanni dengan nada menggoda pada Nessa, sedangkan lengan Dhanni sudah menarik tubuh Nessa agar menempel pada tubuhnya.

“Kak.. di lihat orang.”

“Nggak ada yang lihat, Kafenya sepi.” Ucap Dhanni sambil lalu mengecup lembut pipi Nessa. “Aku kangen kamu.”

“Astaga.. Baru juga beberapa jam kita nggak ketemu. Jangan lebbay deh.”

Dhanni tertawa renyah. “Hemm.. jadi kalau aku merayu sekarang di bilang lebbay, tapi kamu mau juga di rayu sama lelaki yang lebih muda dariku.” Sindir Dhanni.

“Astaga Kak.. Kak Jo itu hanya teman, kami nggak ada apa-apa kok.”

Dhanni akan menjawab kalimat Nessa tapi kemudian Ponselnya berbunyi. Dhanni merogoh ponselnya dan mendapti nomer baru di sana.

“Sebentar sayang, aku angkat telepon dulu.” Ucap Dhanni sambil menjauhkan diri dari Nessa. Nessa sedikit heran dengan kelakuan suaminya tersebut. di lihatnya Dhanni menuju ke tempat sepi di samping kafe.

Ahh mungkin itu dari klien yang membahas tentang pekerjaan, pikir Nessa kemudian. Akhirnya Nessa memilih menyiapkan kopi untuk Dhanni di dapur kafe Dewi.

***

Cukup lama Nessa berkutat dengan kopi dan Dewi di pantry. Akhirnya Nessa kembali dengan membawa kopi dan makan siang untuk suaminya tersebut. di lihatnya bangku tempat mereka duduk tadi, tapi Dhanni masih juga tak ada di sana.

Akhirnya Nessa berinisiatif menyusul Dhanni ke teras samping kafe milik Dewi. Dan benar saja, suaminya tersebut ternyata masih di sana dan terlihat serius berbicara dengan seseorang di ponselnya.

“Oke, baiklah kalau begitu. Ahh satu lagi, Saya juga ingin kamu mengawasi seseorang.” Nessa menghentikan langkahnya ketika samar-samar ia mendengar percakapan suaminya tersebut.

“Dia wanita, namanya Erlyta Paraswati. Nanti saya akan mengirimkan datanya.”

“….”

“Iya, terimakasih.”

Nessa sedikit tak mengerti dengan arah pembicaraan Dhanni. Erlyta Paraswati?? Memangnya siapa wanita itu?? Kenapa suaminya ingin mengawasi wanita tersebut?? karena terlalu sibuk dengan pikirannya, Nessa bahkan tak sadar jika Dhanni sudah berdiri di hadapannya  dan menatapnya dengan tatapan mendamba.

“Sedang memikirkan apa sayang??”

Nessa tersadar ketika mendengar suara penuh kelembutan yang di ucapkan oleh Dhanni. “Ahh enggak, Ayo masuk, makan siangnya sudah aku siapin.”

Akhirnya mereka berduapun masuk ke dalam kafe Dewi. Dhanni kemudian menyantap makan siang yang di siapjkan Nessa di hadapannya. sesekali ia menatap ke arah istrinya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Kamu nggak boleh stres dan banyak pikiran Ness. Ayo katakan, apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Dhanni secara langsung.

“Aku nggak mikirin apa-apa Kak.”

“Kamu bohong. Ayolah, aku ingin kita saling terbuka. Apa kamu mikirin lelaki tadi??” tanya Dhanni dengan menyelidik.

Nessa menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat kelakuan Dhanni yang terlihat sangat pencemburu. “Aku nggak mikirin Kak Jo. Aku malah sedang mikirin kak Dhanni.”

Dhanni mengernyit. “Aku?? Kenapa denganku??”

“Erlyta Paraswati?? Siapa Wanita itu?? Kenapa Kak Dhanni menyuruh seseorang untuk mengawasinya??”

Dhanni menelan luhadnya dengan susah payah. “Dari mana kamu tau tentang hal itu??”

“Tadi saat memanggil Kak Dhanni, aku nggak sengaja dengar.”

Dhanni menghela napas panjang.  Sepertinya ia harus jujur, lagian tidak ada apa-apa diantara dia dan Erly bukan??

“Erly itu sekertaris pribadi baruku.” Jawab Dhanni dengan santai. “Dan dia mantanku.” Lanjutnya lagi dengan wajah datar tanpa ekspresi.

Nessa yang mendengarnya hanya mampu membulatkan matanya seketika. Jadi suaminya tersebut memiliki sekertaris pribadi baru yang tak lain adalah mantan kekasihnya dulu?? Bagaimana rupa wanita itu?? Kenapa suaminya ini menyuruh seseorang untuk mengawasi wanita itu?? Apa suaminya ini masih memiliki perasaan lebih pada wanita tersebut???

 

-TBC-

Maaf banyak Typo yaa… Vote dan komen selalu di tunggu… semoga masih mau nunggu lanjutannya yaa.. heheheheh

The married life (Lady Killer 2) – Chapter 4 (Tak dapat jujur)

Comments 3 Standard

TLK2

The Married Life (The Lady Killer 2)

 

haiiii… ketemu lagi ama Kak Dhanni Nih… sedikit Note biar kalian nggak bingung.. Setting Waktu ini adalah saat Beberapa Hari atau sekita 1 mmingguan setelah Epilog The Lady Killer 1 yaa… jadi di sini Renno belom ketemu sama Allea, begitu pun Ramma yang masih asik dengan Zoya, okay.. itu aja, kalau ada yang perlu di tanyakan atau bingung, silahkan komen.. wakakakakakak

 

“Siapa Jonathan?”

Pertanyaan Dhanni membuat Nessa menghentikan kalimatnya. Rasa panik langsung menyerangnya begitu saja. Siapa Jonathan?? Tentu saja ia tidak bisa menjawab kalimat suaminya tersebut. Nessa tidak mungkin menjawab jika Jonathan adalah mantan kekasih sekaligus cinta pertamanya, Dhanni bisa membunuhnya jika ia menjawab seperti itu, mengingat sikap suaminya tersebut yang suka seenaknya sendiri. Dan di sisi lain, Nessa tidak mungkin berbohong dan menjawab jika mereka hanya teman, Dhanni tidak akan percaya. Ya, Nessa sangat tau itu. Dan ketika Dhanni tidak percaya, Nessa tau jika Dhanni tidak akan tinggal diam.

 

Chapter 4

-Tak dapat jujur-

 

“Siapa Jonathan?”

Nessa belum juga menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Dhanni. Tubuhnya entah kenapa kaku seketika. Ia membatu masih dengan posisi membelakangi suaminya tersebut.

“Kamu nggak apa-apa kan Ness??”

Suaminya itu curiga, Nessa tau itu. Dhanni yang biasanya memanggilnya dengan panggilan sayang, kini berubah memanggilnya hanya dengan namanya saja.

Nessa membalikkan badannya yang masih terasa kaku, kemudian mencoba tetap tenang dan tersenyum sesantai mungkin. “Aku nggak apa-apa kok kak.”

Dhanni menatapnya dengan tatapan menyelidik. “Jadi.. Jonathan itu siapa?”

Pertanyaan Dhanni lagi-lagi membuat tubuh Nessa gemetar. Entah kenapa bisa seperti itu, Nessa sendiri tak tau. Yang Nessa tau hanyalah, dia tidak ingin suaminya tersebut mengetahui masalalunya bersama dengan Jonathan.

Dhanni mendekat ke arah Nessa, tapi entah kenapa secara reflek Nessa mundur satu langkah. Ada apa dengannya?? Dhanni kembali menatap Nessa dengan tatapan menilainya.

“Ness.. kamu pucat.”

Kemudian Nessa tak dapat mengingat apa-apa lagi ketika tiba-tiba pandangannya mengabur lalu menggelap bersama dengan kesadarannya yang ikut menghilang.

***

Dhanni tak berhenti berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Sesekali tangannya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Matanya menatap ke arah ranjang yang di sana masih terbujur tubuh Nessa yang lemah.

Nessa pingsan. Untung saja tadi Dhanni dengan sigap menangkap tubuh istrinya tersebut. Dokter pun tadi sudah di hubunginya dan sudah selesai memeriksa keadaan Nessa. Kata Dokter,  tidak ada yang salah, semua baik-baik saja, mungkin Nessa hanya kelelahan dan juga banyak pikiran. Memangnya apa yang di pikirkan istrinya tersebut?? Apa ada hubungannya dengan lelaki yang bernama  Jonathan??

Dhanni berpikir keras. Nessa pasti sedang menyembunyikan sesuatu darinya, dan ia harus mencari tau apa sesuatu tersebut.

Untuk saat ini, Dhanni tidak akan mengganggu pikiran Nessa dengan pertanyaan-pertanyaan menekan seperti tadi. Ia akan berusaha bersikap sesantai mungkin di hadapan Nessa, bersikap seolah sudah melupakan hal tadi. Tapi tentu ia tidak akan tinggal diam, ia akan mencari tau sendiri, siapa Jonathan dan apa hubungannya dengan istrinya tersebut.

***

Nessa mengerjapkan matanya ketika kesadaran mulai menghampirinya. Kepalanya masih terasa pusing, bahkan kini ia merasa sedikit mual. Apa yang terjadi dengannya?? Nessa mengedarkan pandangannya dan berakhir pada sebuah jam yang menggantung di dinding kamarnya.

Jarum jam tepat berada pada angka tiga. Nessa mengernyit, jam tiga?? Jam tiga apa?? Kemudian pikirannya buyar ketika mendapati sosok dari balik pintu yang menuju ke arahnya dengan senyuman lembut yang terukir di wajah tampan sosok tersebut.

“Sore sayang, sudah puas tidurnya??” Dhanni menyapanya dengan lembut penuh perhatian.

Nessa masih bingung, sebenarnya apa yang terjadi dengannya?? Kenapa suaminya tersebut tiba-tiba kembali bersikap lembut padanya seakan tidak terjadi apa-apa??

“Aku kenapa Kak??”

Dhanni duduk di pinggiran ranjang. Kemudian mengusap lembut sebelah pipi Nessa. “Kamu pingsan, aku sudah memanggil dokter, katanya kamu kelelahan.”

Nessa sedikit panik, ia khawartir dengan bayi yang ada dalam kandungannya. “Tapi aku nggak apa-apa kan kak?? Bayinya..??”

Dhanni tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Nggak apa-apa sayang, kamu hanya perlu banyak istirahat.”

Nessa menghela napas lega. “Brandon gimana Kak??”

“Tadi mama sudah menjemputnya, dan mereka tetap akan pergi ke luar kota. Selanjutnya, aku memutuskan Brandon sementara akan tingga dengan Mama, aku nggak mau lihat kamu terlalu capek. Dan aku sudah mencari Asisten rumah tangga dan juga supir pribadi untuk kamu.”

“Kak, itu berlebihan.”

Dhanni menggelengkan kepalanya. “Nggak ada yang berlebihan jika itu untuk kamu, lagian aku nggak mau kamu dan bayi kita kenapa-kenapa.”

Nessa menghela napas panjang, “Baiklah.” Kemudian Nessa terdiam sebentar, ia ingin kembali membahas topik tentang Jonathan, apa Dhanni akan marah??

“Kak.. Uuumm.. masalah tadi…” Nessa tampak ragu saat ingin menceritakan semuanya.

“Nggak usah di pikirkan, sekarang ayo makan, kamu pasti lapar.” Ucap Dhanni cepat memotong kalimat Nessa.

Nessa kembali menatap Dhanni dengan wajah bingungnya. Dhanni  seakan mengelak dari pembicaraan yang akan di bahas olehnya. Apa suaminya itu kini sudah melupakan pertanyaannya tentang Jonathan??

“Aku membuatkan Kamu sup ayam bawang, nggak tau bagaimana rasanya.” Ucap Dhanni lagi sambil menyendok sesuap sup yang sejak tadi berada di atas nampan yang sedang di bawanya. “Ayo buka mulutmu..”   ucapnya lagi sambil membawa sendok tersebut tepat di hadapan Nessa.

Nessa tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari suaminya tersebut. kemudian ia membuka mulutnya dan menerima suapan dari Dhanni.

“Kak….” Pekik Nessa kemudian. “Ini asin sekali.” Lanjutnya lagi.

“Ahh Yang bener??”

“Memangnya Kak Dhanni nggak nyoba dulu??”

Dhanni menggelengkan kepalanya cepat. “Kamu tau kan kalau aku nggak suka sayur, itu ada wortel dan teman-temannya, jadi mana mungkin aku mau mencobanya.”

Nessa mendengus kesal. “Terus.. kalau aku keracunan gimana?? Astaga, setidaknya coba kuahnya saja Kak..”

“Oke, kalau gitu biar aku buang saja.”

“Jangan..” larang Nessa cepat.

“Lalu??”

“Aku mau kita makan ini berdua.” Ucap Nessa  sambil menatap Dhanni dengan tatapan memohonnya.

“Enggak, aku nggak suka sup ayam bawang.”

“Ayolah.. please… bayinya sepertinya pengen Mama dan papanya makan sepiring berdua.”

Dhanni kemudian menatap Nessa sambil tersenyum. Ia kemudian mencubit dengan gemas hidung mancung milik Nessa. “Itu Cuma akal-akalan kamu saja.”

“Ayolah.. kita nggak pernah mesra-mesraan seperti dulu Kak..”

Dhanni memicingkan matanya pada Nessa. “Jadi kamu ingin kita bermesra-mesraan?? Kenapa nggak bilang dari tadi.”

Tanpa tau malu lagi Nessa bergelayut mesra pada lengan Dhanni. “Karena aku takut mendapat tatapan seperti itu lagi darimu Kak.”

“Tatapan seperti apa??”

“Tatapan seakan kamu nggak percaya sama aku, seakan kamu menuntut suatu penjelasan dariku.”

Dhanni membatu seketika. “Maafkan aku, dan lupakan soal tadi.”

“Aku bisa jelasin semuanya Kak.”

“Enggak.” Jawab Dhanni cepat. “Dengar Ness, kamu nggak perlu jelasin apa-apa lagi padaku. Lupakan semuanya, kamu nggak boleh terlalu banyak pikiran.”

Nessa terdiam sebentar, lalu menganggukkan kepalanya. Ya, yang palig utama kini adalah kesehatannya dan juga bayi yang berada dalam kandungannya. Nessa tak boleh memikirkan yang lain lagi.

Kemudian tanpa banyak bicara lagi Nessa memeluk tubuh Dhanni erat-erat. “Aku hanya takut kalau Kak Dhanni tidak akan percaya lagi padaku.”

Dhanni tersenyum kemudian mengusap lembut rambut panjang Nessa. “Aku percaya kamu Ness.. Ayo kita makan.”

Dan akhirnya keduanya berakhir dengan makan sepiring berdua.  Walau memang sup buatan Dhanni rasanya asin dan aneh, tapi kesuanya sekan tetap menikmatinya.

***

“Gue butuh  seseorang.” Ucap Dhanni yang saat ini sudah duduk di sebuah kafe dengan Ramma yang duduk di hadapannya.

Ramma memicingkan matanya. “seseorang buat apa?”

“Buat cari tau tentang seseorang.”

“Lo ada masalah??”

Dhanni mengangkat kedua bahunya. “Gue pikir Nessa menyembunyikan sesuatu dari Gue.”

“Dhan, udah deh, mendingan lo tanya langsung sama Nessa, lo nggak perlu cari tau sendiri. Kadang apa yang kita lihat belum tentu benar.”

“Sok bijak Lo.”

“Sialan..!!! Gue Cuma nasehatin Lo.”

Dhanni tertawa hambar. “Renno mana?”

“Dia semakin Gila. Uring-uringan nggak jelas.” Jawab Ramma dengan malas.

Dhanni kemudian berdiri. “Pokoknya gue minta tolong itu sama lo. Carikan gue orang yang bisa cari tau tentang seseorang yang sedang dekat dengan Nessa..”

“Gue akan carikan buat lo.” Ucap Ramma kemudian walau sebenarnya  Ramma sedikit ragu dengan keputusannya membantu Dhanni.

***

“Jadi Kak Dhanni kemana sekarang??” Tanya Dewi yang saat ini sedng sibuk membuat minuman untuk dirinya sendiri di dapur Apartemen Nessa. Dewi memang sering main ke apartemen Nessa begitupun sebaliknya.

“Tadi dia pamit pergi sebentar, aku nggak tau kemana.”

Dewi kemudian duduk tepat di sebelah Nessa.  “Sebenarnya ada apa Ness?? Kamu aneh sejak kemaren, pas balik dari Kafe seberang jalan, kamu jadi pendiam. Apa yang terjadi di sana??”

Nessa berpikir sebentar. Ia ingin bercerita dengan Dewi tapi entah kenapa rasanya sulit sekali membuka masalalu nya bersama dengan Jonathan. Tapi kini ia benar-benar butuh teman untuk bicara.

“Wi… pemilik kafe itu.. namnya Jonathan.”

Dewi mengernyit. “Pemilik kafe?? Aku kan Cuma minta kamu mencari tau bagaimana suasana dan makanan di sana Ness.. bukan cari tau pemiliknya. Lagi pula aku nggak mau tau siapa pemiliknya.”

“Jonathan itu mantan aku Wi..”

Dewi membulatkan matanya seketika. “Apa??”

Nessa memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya. “Enggak, ini Gila.. Astaga.. aku nggak tau apa yang terjadi.”

“Apa maksudmu??”

Nessa menghela napas panjang. “Kak Jo ingin berteman, dan aku menerima pertemanannya. Tapi gimana kalau Kak Dhanni tau?”

“Ness… harusnya kamu jujur sama Kak Dhanni.”

“Tapi dia akan cari tau siapa Kak Jo Wi.. Aku.. Aku nggak bisa jujur sama dia.”

“Kamu nggak perlu takut, lagian bukankah kalian hanya teman?? “

Nessa berpikir sebentar. Apa yang di katakan Dewi ada benarnya juga. Kenapa juga ia menyembunyikan hubungannya dengan Jonathan?? Bukankah mereka tidak ada hubungan apa-apa lagi sekarang?? Semua hanya masa lalu.

“Lagian Ness.. untuk apa sih kamu berteman sama dia? nambah-nambain masalah tau nggak.”

“Aku nggak bisa nolak Wi..”

“Kenapa?? Jangan bilang kamu masih suka sama dia.”

“Ya enggak lah..” Jawab Nessa dengan pasti. Ia yakin jika Cintanya kini hanya untuk suaminya, dan tidak terbagi dengan lelaki lain. “Aku hanya ingin memperbaiki hubungan kami dulu.”

“Cukup dengan saling sapa Ness.. nggak perlu berteman.”

Lagi-lagi Nessa termenung. Ucapan Dewi ada benarnya juga. Ya, ia seharusnya tak perlu berteman dengan Jonathan. Tapi bagaimana?? Bukankah lelaki itu sudah ia beri kontaknya??

***

“Kak Dhanni dari mana tadi?” Tanya Nessa yang kini sudah membantu Dhanni membuka kemeja yang di kenakan suaminya tersebut.

“Nemuin ramma sebentar.”

“Kenapa?? Ada masalah??”

“Kita ada kerja sama, dengan Renno juga.”

“Oh ya??”

“Ya.. jadi nanti aku bakal sering ketemu sama mereka.”

Nessa tersenyum. “Walau nggak ada kerja sama, Kak Dhanni juga masih akan sering ketemu sama mereka.” Gerutu Nessa.

“Kenapa? Kamu nggak suka aku ketemu sama mereka??”

Nessa mengangkat kedua bahunya. “Bukannya nggak suka, Aku takut aja kalau Kak Dhanni ngumpul sama teman-teman Kak Dhanni, nanti akan banyak cewek-cewek yang melirik ke arah kalian.”

Dhanni tertawa seketika kemudian mencubit gemas hidung Nessa. “Istriku sekarang sudah nggak malu ngakuin kalau cemburu ya..”

“Aiisshh.. Kak Dhanni.. sakit tau..”

Dhanni kemudian memeluk tubuh Nessa. “Walau banyak yang melirikku, tapi kamu nggak perlu khawatir sayang. Kak Dhanni Cuma untuk Nessa, bukan untuk yang lain.”

“Isshh… mulai lebbay nya.”

“Nggak lebbay, ini kenyataan.”

“Ya, pasti karena ada maunya kalau udah ngerayu kayak gini.”

Dhanni tersenyum. “Kamu pasti tau apa mauku..”

“Enggak.. aku nggak mau.”

“Benarkah??” tanya Danni dengan nada menggoda. Lalu tanpa banyak bicara lagi Dhanni mengangkat tubuh Nessa begitu saja, membuat Nessa memekik karenba terkejut.

“Kak.. Apa yang Kak Dhanni lakukan?? Turunkan aku…”

Dhanni tertawa melihat ekspresi aneh yang di tampilkan istrinya tersebut. “Ya, aku kan menurunkanmu sayang.. Di sini, Di ranjang kita.” Ucap Dhanni yang kini sudah menurunkan Nessa di ranjang mereka lalu menindih tubuh istrinya tersebut.

Dhanni kemudian mulai menggoda Nessa dengan kecupan-kecupan kecil darinya. Membuat Nessa terkikik geli.

“Kak.. hentikan..”

“Ayolah.. anggap saja ini sebagai pemanasan.”

“Aku nggak mau pemanasan..” Ucap Nessa yang masih tak dapat menahan rasa gelinya saat Dhanni mulai menggoda sepanjang lehernya.

Dhanni menghentikan Aksinya seketika. Kemudian menatap Nessa dengan tatapan anehnya. Sebuah senyuman miring terukir begitu saja di wajah tampannya.

“Nggak mau pemanasan?? Jadi ingin menu utama, hemm??”

Nessa membulatkan matanya ketika tiba-tiba Dhanni bangkit lalu melucuti pakaian yang di kenakannya sendiri hingga lelaki itu polos tanpa sehelai benang pun. Astaga.. Suaminya itu sangat bergairah, bukti gairahnya bahkan terpampang jelas di hadapan Nessa membuat Nessa ternganga menatapnya.

“Kak Dhanniiiiiiiiiiiiii.” Teriak Nessa sambil menutup matanya.

Sedangkan Dhanni hanya mampu tertawa melihat kelakuan istrinya tersebut. tanpa banyak bicara lagi Dhanni kembali naik ke atas ranjang lalu mulai kembali menggoda istrinya tersebut. membuat Nessa kembali luluh karena bujuk rayu manisnya…

 

-TBC-

gimana lanjutannya yaa..??? jangan takut kisahnya jadi semakin rumit, aku juga sebenernya nggak suka kok kisah yang terlalu mbulet, jadi… yaaa tunggu aja lanjutannya.. hahahhahhah

The Married Life (Lady killer 2) – Chapter 3 (Siapa Jonathan?)

Comments 9 Standard

011

The Married Life (Lady Killer 2)

 

Maaf bgt yaaa kalo aku nggak bisa edit2 Draftnya, ternyata memang nggak sempat. ini aja aku update lebih awal takut nanti malam nggak keburu, karena… apa lagi jika bukan kesibukan ini.. hehehhehe jadi mohon maklumi kalo banyak sekali Typonya yaa.. enjoy reading..

 

“Ness.. Aku mencarimu karena aku ingin kita kembali seperti dulu.. Aku ingin Kamu menjadi kekasihku lagi dan Aku akan segera melamarmu menjadi istriku.”

Nessa benar-benar tercengang dengan apa yang Ia dengar. Bagaimana mungkin lelaki di hadapannya ini mengucapkan kalimat seperti itu padanya secara terang-terangan?? Apa Ia masih terlihat seperti seorang Gadis?? Astaga.. Ia sudah bersuami, sudah memiliki jagoan kecil dan kini sedang hamil anak kedua, Bagaimana mungkin mantan pacar nya itu terang-terangan ingin melamar menjadikan Ia sebagai istrinya??

***

Chapter 3

-Siapa Jonathan?-

 

Nessa melepaskan paksa genggaman tangan Jonathan.Sambil tersenyum Ia berkata. “Maaf Kak Jo, Aku nggak bisa.”

“Kenapa Ness?? Apa Kamu sudah nggak sayang lagi sama Aku??”

Nessa menganggukkan kepalanya. “Iya kak. Perasaanku sudah hilang dengan berjalanya waktu. Maaf..”

Nessa kemudian berdiri dan akan meninggalkan tempat tersebut. Tentu saja Ia rtidak ingin terlalu lama berada di sana. Dimana ada Seorang Jonatha, Lelaki yang dulu sangat mempengaruhinya.

“Aku akan membuatku mencintaiku lagi Ness..”

Nessa menggelengkan kepalanya. “Tidak akan bisa Kak, Karena Aku sudah terlanjur Cinta mati dengan seseorang.”

Ekspresi Jonathan tampak mengeras. “Siapa orang itu??”

“Suamiku sendiri.” Nessa kemudian tersenyum kearah Jonathan yang ekspresi wajahnya nberubah memucat karena jawaban dari Nessa. “Bagaimanapun juga, Aku senang bertemu kembali dengan Kak Jo..” Ucap Nessa yang kemudian kembali melangkahkan kakinya untuk pergi dari hadapan Jonathan.

“Ness..” Panggilan lembut itu menghentikan kaki Nessa. “Kita masih bisa berteman bukan??” Nessa membatu seketika. Berteman?? Bagaimana  mungkin???

Nessa kemudian membalikkan badanya dan tersenyum ke arah Jonathan. “Tentu saja Kak..”

Tanpa banyak bicara lagi Jonathan berlari ke arah Nessa dan memeluk Nessa erat-erat. “Thanks Ness..” Sedangkan Nessa hanya mampu diam tanpa sedikitpun menggerakkan tubuhnya.

 

*Back to Reality

Nessa menghela napas panjang  ketika mengingat apa yang terjadi tadi siang dengan Jonathan. Ia kemudian memekik ketika sepasang lengan itu melingkari tubuhnya dari belakang.

Itu Dhanni.. Suaminya.

Dhanni menyandarkan dagunya pada pundak Nessa. Telapak tangannya sesekali mengusap perur Nessa yang masih datar.

“Kamu ada masalah?”

“Enggak kok Kak.”

“Jangan bohong.”

Nessa kemudian membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Dhanni. Mengusap lembut pipi Dhanni sesekali membenarkan tatanan rambut suaminya tersebut.

“Kak Dhanni ganteng.” Ucap Nessa sambil sedikit tersenyum manis.

“Jangan mengalihkan pembicaraan sayang..”

Nessa kemudian terkikik. “Aku nggak ada apa-apa Kak.. Beneran. Mungkin Cuma capek karena bawaan hamil.”

“Capek?? Aku bahkan belum meminta jatah.” Gerutu Dhanni yang kemudian mendapatkan hadiah cubitan dari Nessa.

Dhanni kemudian memeluk erat tubuh Nessa. Sesekali ia mengecup puncak kepalanya dan juga mengusap lembut rambut panjang Nessa.

“Kalau ada apa-apa, bilang saja sayang. Jangan ada rahasia di anatara kita. Ingat, kita sudah jadi satu.”

“Iya kak, Aku mengerti.” Ucap Nessa sambil menghirup dalam-dalam aroma suaminya tersebut.

***

Jonathan melangkahkan kaki menuju ke ranjang besarnya. Ia melemparkan diri di sana sambil sesekali menghela napas panjang. Entah apa yang di rasakannya kini. Bertemu dengan Nessa, wanita yang sangat di cintainya adalah sebuah kebahagiaan untuknya. Tapi bertemu dengan status yang sudah berbeda membuatnya merasa sedih.

Nessa sudah menikah.

Kenyataan itu entah kenapa seakan menyayat hatinya. Mampukah ia melihatb wanita yang di cintainya bahagia dengan lelaki lain??

Jonathan bertemu dengan Nessa saat mereka sama-sama sekolah di salah satu sekolah menengah atas di Jogja. Entah apa yang saat itu membuat Jo melirik pada sosok Nessa. Sosok yang saat itu sangat biasa-biasa saja bahkan terkesan tomboy di matanya.

Hubungan mereka berjalan mulus saat itu. Jo begitu mencintai Nessa dan sebaliknya, Nessa juga terlihat sangat mencintai Jonathan.

Hingga akhirnya, Jonathan harus melanjutkan sekolah di luar negri seperti apa yang di perintahkan orang tuanya. Saat itu mereka masih sama-sama saling menghubungi satu sama lain, tapi dengan berjalannya waktu, hubungan mereka terputus begitu saja. Tidak ada komunikasi secara pasti.

Mungkin saat itu Jo cukup lelah dengan hubungan jarak jauh, atau mungkin juga Nessa yang tak sanggup lagi menunggu kembalinya Jo ke sisinya. Akhirnya, hubungan mereka putus, keduanya sama-sama saling menghilang tanpa kabar masing-masing.

Kemudian sekitar satu tahun yang lalu, ketika  Jo pulang dari luar negri dan menemukan kenangannya kembali bersama dengan Nessa.

Ia merindukan gadis itu….

Jo akhirnya memutuskan untuk kembali mencari Nessa.  Mendapatkan wanita itu kembali dan memperistrinya. Selama ia putus dengan Nessa, ia seakan tidak pernah mendapatkan pasangan yang cocok seperti saat menjalin kasih dengan Nessa. Dan Jo mulai berpikir, jika mungkin saja jodohnya adalah seorang Nessa Arriana.

Berbulan-bulan ia mencari sosok tersebut dengan hasil Nol besar. Nessa seakan menghilang dan tidak bisa lagi ia temukan. Jo kemudian memutuskan untuk tinggal dengan kakaknya di jakarta, mungkin saja di sana ia bisa mendapatkan kabar tentang Nessa.

Kemudian harapan itu kembali datang, ketika tiba-tiba sosok yang ia cari seakan datang menemuinya. Nessa menjelma menjadi sosok yang sangat cantik dengan penampilan yang berbeda. Wanita itu terlihat lebih dewasa, lebih kalem, dan entah kenapa ia melihat sosok keibuan pada diri Nessa yang membuat jonathan tak bisa menahan dirinya saat itu.

Ia ingin memiliki seoarang Nessa Arriana lagi….

Tapi seperti terbang ke awan lalu di hempaskan dengan keras, saat ia mendengar kalimat Nessa saat itu.

“Aku sudah terlanjur cinta mati dengan seseorang…. Suamiku sendiri…”

Kalimat Nessa tersebut seakan selalu terngiang di telinga Jonathan, seakan selalu menari-nari dalam pikirannya. Ia tidak suka dan ia tidak bisa menerima kenyataan itu. Nessa hanya boleh di miliki oleh dirinya, dan ia harus bisa merebut Nessa kembali ke sisinya.

‘Bruuuaaakkk…’

Jonathan terkesiap ketika mendengar suara berisik di sebelah kamarnya, Akhirnya ia bangkit dan menuju ke sumber suara tersebut yang ternyata datang dari kamar sang Kakak.

“Kak.. Kakak sudah pulang??” Tanya Jonathan sambil mengetuk pintu kamar kakaknya tersebut. Jo menguping dan terdengar suara tangis dari dalam. Tangis di sertai dengan sedikit jeritan.

Seketika itu juga Jo panik. Kakaknya itu memang sering sekali seperti itu karena dulu sempat depresi karena di putuskan oleh lelaki yang sangat di cintainya.

Dengan sekuat tenaga, Jo mendobrak pintu kamar kakaknya tersebut. Dan mendapati kakaknya itu sedang menangis di lantai dengan banyak sekali pigura-pigura foto yang pecah berserahkan di sebelahnya.

“Kak Erly..” teriak Jo sambil berlari ke arah kakaknya lalu memeluk kakaknya tersebut. “Apa yang terjadi? Kenapa kakak seperti ini lagi??”

“Dia lebih cinta dengan istrinya Jo… Katakan, aku masih kurang apa?? Kenapa dia masih belum mau kembali padaku??” kakaknya tersebut kembali histeris.

Jonathan hanya mampu menenangkan kakaknya tersebut. Kemudian  ia menatap sebuah foto dimana di sana ada Kakaknya dengan seorang lelaki tampan sedang bergandeng mesra.

“Lupakan dia kak… karena saat kita melupakan seseorang, Tuhan akan menggantikannya dengan yang baru.” Ucap Jonathan pada Erly. Secara tidak langsung, Jonathan juga membisikkan kata tersebut pada dirinya sendiri.

Jonathan tersenyum kecut, seakan menertawakan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia mengatakan hal sebijak itu pada Kakaknya, sedangkan ia sendiri tidak yakin mampu melupakan wanita yang dicintainya karena wanita itu sudah memiliki suami??

***

Nessa masih sibuk memakaikan dasi pada Dhanni sedangkan Dhanni sendiri tidak berhenti menggoda Nessa dengan sesekali menggelitik mesra punggung istrinya tersebut.

“Kak…” Ucap Nessa sambil menatap Dhanni dengan tatapan membunuhnya.

“Aku kangen sayang.”

“Berhenti nggombal.”

“Aku nggak nggombal, aku emang kangen. Sudah lama kita nggak…” Dhanni menggantung kalimatnya.

“Sudah selesai. Ayo keluar.” Ajak Nessa sambil mencoba melarikan diri dari Dhanni.

Tapi kemudian Dhanni dengan sigap meraih tubuh Nessa dalam pelukannya. “Mau kemana sayang..”

“Brandon harus sarapan Kak.”

“Dia belum bangun.”

“Aku akan membangunkannya. Mama sebentar lagi kemari.”

Dhanni mengangkat sebelah alisnya. “Kemari? Untuk apa??”

“Untuk menjemput Brandon, Brandon akan di ajak ke jogja mungkin dua atau tiga minggu, belum pasti juga berapa lamanya.”

Dhanni kemudian menjauhkan dirinya. “Lalu kamu mengijinkannya??”

“Sebenarnya aku melarang, tapi Mama memohon kak, jadi….”

Dhanni sebenarnya tidak suka. Rasa tidak sukanya itu lebih karena rasa khawatir dengan putera pertamanya tersebut. Ia tidak suka Brandon pergi dengan neneknya tanpa dirinya atau Nessa.

“Boleh yaa.. Aku kasian sama Mama kak.. dia sudah memohon.”

Apa boleh buat, Dhanni juga tidak mungkin melarang sang nenek mengajak cucunya sendiri. Tapi kemudian sebuah ide terlintas begitu saja di kepalanya.

“Oke, aku akan mengijinkannya, dengan satu syarat.” Ucap Dhanni kemudian.

“Syarat?? Apa syaratnya??”

“Kamu tidak boleh menolakku nanti malam.” Bisik Dhanni dengan nada sensual tepat di telinga Nessa.

Nessa membulatkan matanya seketika. Astaga.. bagaimana mungkin ia memiliki suami yang super mesum seperti seorang Dhanni Revaldi??

***

Ponsel Nessa seakan tidak berhenti berdering sebelum sang memiliki ponsel tersebut mengangkat teleponnya. Sedangkan Nessa sendiri kini masih sibuk menyuapi Brandon.

“Sayang, siapa yang menelepon?? Berisik sekali.” Gerutu Dhanni yang masih duduk di sofa sambil membaca koran paginya. Ia belum juga berangkat ke kantor karena harus menunggu mertuanya menjemput Brandon.

“Angkat saja Kak, aku sibuk.”

Dengan enggan Dhanni meraih Ponsel Nessa yang berada di meja tepat di hadapannya. Ia mengernyit saat mendapati nomor baru sebagai pemanggilnya.

“Halo..” Ucap Dhanni.

“Halo..!!  Maaf mengganggu, emm Nessa nya ada??” Ekspresi Dhanni mengeras keti ka mendengar suara di seberang. Suara seorang lelaki yang sedang mencari istrinya.

“Ada, ini siapa?”

“Saya Jonathan.”

“Jonathan siapa?”

“Teman sekolah Nessa yang tidak sengaja bertemu lagi dengannya,” ada jeda sebentar lalu suara di seberang tersebut mulai berbicara lagi. “Kalau boleh tau, ini siapa??”

“Saya suaminya.”

“Ohh.. Maaf mengganggu, saya hanya ingin menanyakan sesuatu dengan Nessa.”

“Ya, santai saja. Nessa masih sibuk. nanti bisa telepon lagi.”

“Terimakasih.” Ucap suara di seberang. Kemudian tanpa banyak bicara lagi Dhanni menutup telepon tersebut.

“Siapa Kak??” Tanya Nessa yang sudah selesai menyuapi Brandon.

“Jonathan, teman kamu katanya.” Ucap Dhanni tanpa menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya.

Nessa membatu seketika. Astaga.. Untuk apa juga lelaki itu menghubunginya? Dan Dhanni, kenapa ekspresi suaminya itu kini berubah tak terbaca?? Apa yang di pikirkan suaminya itu??

“Aku menyuruhnya telepon lagi nanti.” Ucap Dhanni lagi masih dengan nada datarnya.

“Oh.. Baiklah.” Jawab Nessa sambil membalikkan tubuhnya. Ia ingin menghindar dari hadapan Dhanni. Entah kenapa ekspresi Dhanni yang seperti itu membuatnya enggan berdekatan. Sudah sangat lama ia tidak melihat suaminya memasang ekspresi datar tak terbaca yang membuat hawa di sekirtarnya terasa mencekam.

“Mau kemana?”

Suara Dhanni membuat Nessa menghentikan langkahnya. “Aku mau menyiapkan perlengkapan Brandon.”

“Tidak, kamu hanya mau menghindariku.” Perkataan dhanni sedikit terdengar tak enak di telinga Nessa.

“Menghindar untuk apa?? Aku nggak ngerti apa yang…”

“Siapa Jonathan?”

Pertanyaan Dhanni membuat Nessa menghentikan kalimatnya. Rasa panik langsung menyerangnya begitu saja. Siapa Jonathan?? Tentu saja ia tidak bisa menjawab kalimat suaminya tersebut. Nessa tidak mungkin menjawab jika Jonathan adalah mantan kekasih sekaligus cinta pertamanya, Dhanni bisa membunuhnya jika ia menjawab seperti itu, mengingat sikap suaminya tersebut yang suka seenaknya sendiri. Dan di sisi lain, Nessa tidak mungkin berbohong dan menjawab jika mereka hanya teman, Dhanni tidak akan percaya. Ya, Nessa sangat tau itu. Dan ketika Dhanni tidak percaya, Nessa tau jika Dhanni tidak akan tinggal diam.

 

-TBC-

Gimana lanjutannya yaa..??? hahahhahaha Baver.. baverrrrr……

 

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 2 (Bertemu Dia)

Comments 4 Standard

011

The Married Life (Lady Killer 2)

 

Nahhh akhirnya aku bisa update lagi.. Mood sudah membaik, tubuh sudah kembali vit, dan keadaan sekitar sudah membaik.. jadi bisa lanjut nusi… yeeeyyy semangatt…. untuk kali ini aku update Kak Dhanni dulu yaa,,,, hahhahahah enjoy reading…. 🙂

 

Chapter 2

-Bertemu Dia-

 

Nessa masih sibuk membersihkan dapur ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ternyata Dewi yang sedang menghubunginya. Temannya itu memang selalu menghubunginya jika ada waktu luang.

Haii Ness..”

“Ada apa lagi?? Aku masih sibuk Wi..”

“Ke Kafe dong.. Aku di sini sendiri.”

“Memangnya si Dimas kemana??”

“Dia sakit jadi nggak bisa datang.”

Dewi, Temannya itu memang sudah menikah dengan Dimas beberapa bulan yang lalu. Mereka berdua membuka sebuah Kafe yang letaknya tidak jauh dari Apartemen yang di tinggali Nessa. Dan Nessa memang sering sekali main kesana jika sedang bosan.

“Brandon masih tidur Wi..”

“Bangunin.. Please…. Ada yang mau ku bicarakan sama kamu.”

Nessa menghela napas panjang. Ia akhirnya mengalah dan memilih datang ke Kafe milik Dewi. “Baiklah, Aku akan ke sana.” Ucap Nessa kemudian yang membuat Dewi bersorak bahagia di seberang sana.

Setelah telepon di tutup, Nessa akhirnya menyelesaikan tugas rumahnya kemudian memperbaiki penampilannya dan juga penampilan Brandon lalu berangkat menuju ke kafe milik Dewi dan Dimas.

***

Siang Itu, tak lupa Nessa menghubungi Dhanni. Ia meminta supaya Dhanni tidak perlu pulang, karena Ia kini sedang berada di Kafe milik Dewi.

“Sayang… Kamu harus banyak istirahat.” Ucap Suara di seberang dengan penuh perhatian.

“Astaga Kak, Cuma santai di Kafe Dewi, aku nggak kemana-mana Kok. Lagian Bosen di rumah.”

“Kan Aku mau pulang, masak Masih Bosen.” Ucap Dhanni dengan suara menggoda.

“Ya tetap bosen, kan ketemu Kak Dhanni terus, pengen juga ketemu yang lain.”

Terdengar suara tawa di seberang. “Awas saja kalau kamu sampai ketemu yang lain.” Ucap Dhanni dengan nada yang di buat mengancam.

“Ya Ampun Kak.. nggak akan ada yang mau sama Aku, perempuan hamil yang sudah menggendong satu anak.”

Lagi-lagi Dhanni terdengar terkikik geli. “Oke.. Oke.. Hati-hati sayang.”

“Iya kak..”

“Kiss nya mana..??”

Nessa menggelengkan kepalanya. “Emmuuacchh.. Sudah kan.”

“Yaa.. tapi sayang tidak terasa.”

“Dasar, Sudah ku tutup teleponnya.”  Ucap Nessa kemudian yang langsung menutup teleponnya tanpa menghiraukan suara di dalam telepon yang memanggil-manggil namanya.

“Kalian mesra banget sih.” Dewi yang sudah berjalan menuju ke tempat duduk Nessa sambil membawa sebuah nampan yang berisi jus jeruk dan juga beberapa muffin kesukaan Nessa.

Nessa tersenyum. “Nggak tau, Kak Dhanni selalu gitu, kadang aku risih.” Ucap Nessa sambil terkikik geli.

Nessa kemudian berjalan ke sebuah ruangan yang di sediakan Dewi, ruang santai kecil tempat dimana Dewi bersantai, dan kini di sana ada Brandon yang sudah kembali tertidur pulas. Nessa kemudian kembali ke tempat duduk nya tadi dimana sekarang ada Dewi yang duduk di sana.

“Tapi bagus tau, Seorang Dhanni Revaldi bisa berubah seperti itu, Kamu pantas dapat penghargaan.”

“Yang benar saja.” Gerutu Nessa. “Ehh.. tumben Kafe kamu sepi, biasanya sudah ramai.” Tanya Nessa sambil memperhatikan sekitarnya yang hanya terdapat satu dua orang yang duduk sntai di sana.

“Keadaannya memang seperti ini sejak beberapa hari yang lalu.” Dewi terlihat tampak sedih.

“Ohh yaa?? Kenapa bisa begini??” Nessa penasaran, ya, Kafe Dewi memang selalu ramai setiap harinya,  selain harga yang di tawarkan lebih murah, menu yang di sajikan pun beragam dan tidak membuat bosan.

“Sini ikut aku.” Dewi menarik tangan Nessa lalu mengajak Nessa keluar. “Kamu lihat Kafe di sana, Nah, mungkin itu yang membuat Kafe ku sepi pengunjung.” Ucap Dewi sambil menunjuk ke sebuah Kafe baru yang ada di seberang jalan.

“Joy’s Cafe..”  Ucap Nessa.

“Ya.. Kafe Ala luar negri, katanya sih gitu.” Ucap Dewi menjelaskan. “Dan Aku.. menyuruhmu ke sini untuk meminta bantuan padamu.”

Nessa memicingkan matanya pada Dewi. “Bantuan?? Bantuan apa??”

“Please.. bantu aku yaa…  emm… Ku pikir kamu mau ke sana dan mencicipi makanan mereka.” Ucap Dewi dengan nada memohon.

Nessa membulatkan matanya. “ Yang benar saja Wi.. Astaga.. enggak.” Nessa menolak mentah-mentah permintaan Dewi.

“Ayolah Ness.. Please… masak kamu nggak mau bantu teman kamu sendiri sih.. Please..”

Nessa menghela napas panjang. “Oke, tapi hanya sekali.”

“Yes… Makasih banget Ness.. kamu memang yang terbaik.” Ucap Dewi sambil memeluk Nessa.

“Jaga Brandon. Awas kalau samnpai dia nangis.” Pesan Nessa.

“Siap boss..”

***

“Kamu Mesra sekali..” Suara itu membuat Dhanni mengangkat wajahnya. Di sana sudah ada Erly yang berdiri dengan senyuman mengejeknya.

“Tentu saja. Dan perlu kamu ingat, Walau Kamu Sekertaris pribadiku, Kamu tidak bisa keluar masuk seenaknya tanpa mengetuk pintu dahulu.” Ucap Dhanni dengan suara penuh penekanan.

“Oh yaa… Ku pikir hubungan kita bukan hanya sekedar bawahan dan atasan.”

Dhanni tersenyum miring. “Sorry kalau menurut kamu begitu, tapi menurutku kita nggak lebih dari Atasan dan Bawahan.”

Ekspresi wajah Erly berubah seratus delapan puluh derajat. “Aku masih kurang apa Dhan?? Aku sudah berubah, lihat Aku??”

“Maaf Erly.. tapi Aku tidak pernah melihat wanita lain selain Nessa, Istriku. Kalau tidak ada yang perlu di bahas, silahkan keluar.” Ucap Dhanni kemudian.

Dengan mata berkaca-kaca, Erly akhirnya kembali keluar meninggalkan Dhanni. Lihat saja Dhan, Aku akan membuatmu jatuh kembali dalam pelukanku. Sumpah Erly pada dirinya sendiri.

Sedangkan Dhanni hanya mampu menghela napas panjang. Sungguh, Ia tidak bisa terlalu lama mempertahankan Erly di kantornya. Bisa saja wanita itu memiliki rencana buruk terhadapnya. Tapi apa alasan untuk memecatnya?? Sial..!!! Kenapa juga kemarin Ia menerima wanita itu kerja di kantornya??

***

Nessa akhirnya memasuki  Joy’s Cafe, melihat-lihat dekorasi ruangannya. Untuk tata letak dan dekorasinya, Joy’s Cafe memang lebih unggul dari pada Kafe milik Dewi, terasa lebih nyaman dan menenangkan. Nessa menghela napas panjang lalu duduk di ujung ruangan.

Seorang pelayan kemudian menghampirinya, membawakan daftar menu yang di sediakan oleh Joy’s Cafe. Nessa mengernyit, ternyata kebanyakan memang masakan dari luar yang Nessa sendiri tidak seberapa suka karena lidahnya yang cenderung menyukai masakan lokal. Akhirnya Nessa hanya memesan sebuah minuman saja.

Tidak ada daftar harga dalam menu tersebut. Sial..!!! Nessa tidak bisa banyak membantu Dewi kali ini. Nessa kembali menelusuri Kafe tersebut dengan matanya. Terasa sejuk, karena banyak sekali tanaman hijau dalam pot yang berada di dalam kafe tersebut. Hingga mata Nessa terkunci pada sesuatu.

Seorang lelaki tampan dengan pakaian Rapinya. Lelaki yang kini juga sedang menatapnya dengan tatapan tak percayanya. Lelaki yang dulu pernah mengisi hari-harinya…

“Nessa..” Ucap Lelaki tersebut sambil berjalan menuju ke arah Nessa.

“Kak Jo..” Ucap Nessa yang kini sudah berdiri.

“Ini beneran Kamu Ness?”

Nessa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dan tanpa di duga Lelaki itu langsung menghambur memeluknya. “Astaga Ness.. Aku nggak nyangka akan ketemu sama Kamu. Aku sudah nyari-nyari kamu di jogja, dan Aku bener-bener nggak nyangka ketemu Kamu di sini.”

Nessa hanya ternganga dalam pelukan Lelaki tersebut, Ia tak menyangka jika Ia Akan Di peluk sedemikian eratnya oleh lelaki lain selain suaminya sendiri. Dan parahnya, Lelaki itu adalah Cinta pertamanya dulu.

Jonathan.. Kakak kelasnya saat SMA ketika Ia sekolah di Jogja, bagaimana mungkin mereka bisa bertemu lagi dalam keadaan seperti sekarang ini?? Pada saat ini??

***

Malamnya…

Dhanni kini menatap Nessa dengan tatapan anehnya, Istrinya itu terlihat lebih pendiam. Ada apa??

“Sayang, Kamu nggak apa-apa kan??” tanya Dhanni dengaan tataapan mata menyelidik.

Nessa yang tersadar dari lamunannya seakangelagapan dengan pertanyaan suaminya terebut. “Ahhh enggak Kok Kak.”

“Kamu Aneh.”

“Aneh?? Aneh kenapa??”

“Kamu jadi pendiam .”

“Mungkin bawaan hamil Kak.” Ucap Nessa sambil berdiri lalu membersihkan piring-piring kotor di meja di hadapannya. “Aku cuci piring dulu.”

Dhanni masih menatap Nessa dengan tatapan menyelididknya. Pasti Ada sesuatu yang terjadi. Nessa tidak pernah seaneh itu.

Sedangkan Nessa sendiri memilih mencuci piring-piring kotor sembari menghindari tatapan aneh dari sang suami. Dhanni benar-benar jeli. Tentu saja saat ini Nessa sedang tidak baik-baik saja. Pikirannya kacau karena kejadian tadi siang. Kejadian dimana Ia bertemu dengan sang mantan kekasih yang nyatanya kembali lagi untuk mencarinya.

 

*Flashback

Nessa duduk dengan tidak nyaman karena Ia merasa kini sedang dalam tatapan mata lelaki yang sedang duduk santai di hadapannya.

“Kamu semakin cantik.” Ucap Jonathan  kemudian ketika Ia menelusuri wajah Nessa dengan tatapan matanya.

“Kak Jo bisa aja.” Ucap Nessa dengan canggung. Nessa bahkan dapat merasakan pipinya memanas karena pujian dari lelaki di hadapannya tersebut.

“Aku jujur Ness.. Aku nggak pernah lihat kamu menggunakan Dress.. dan sekarang saat aku melihatnya, Kamu tampak berbeda, Apa lagi dengan rambut terurai seperti saat ini.” Jonathan masih saja memuji apa yang ada di hadapannya tersebut sambil menatapnya dengan tatapan intens.

Ya.. tentu saja, dulu, saat SMA, Nessa tak mau tau dengan penampilannya, cukup dengan kaus oblong dan celana Jeans pun Ia bisa jalan kemanapun. Tapi tentu kini sudah berbeda. Ia sudah menjadi Ibu dan istri dari seorang Dhanni Revaldi, tidak mungkin Ia berpenampilan seperti dulu. Dress feminim, sepatu hak dan kuas Make Up kini sudah menjadi teman sehari-harinya.

“Kak Jo berlebihan. Kak Jo juga berubah.”

Jonathan melirik dirinya sendiri. “Perubahanku hanya terletak pada kemeja yang sedang ku kenakan. Tidak pada semuanya seperti Kamu.”

Nessa benar-benar tidak tau harus bicara apa. Lelaki di hadapannya ini seakan tidak ingin berhenti untuk menyanjungnya. Ahhh Siall..!!! Jika seperti ini terus, Nessa yakin dirinya akan menjadi kepiting rebus, Memerah karenapujian-pujian lembut itu.

“Emm.. Ngomong-ngomong, Kak Jo kenapa bisa di sini??” Tanya Nessa mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Ini Cafe milikku Ness.. Aku baru membukanya seminggu yang lalu.”

Nessa membulatkan matanya seketika. Astaga.. yang benar saja, Jadi kafe ini miliknya??

“Kenapa Ness?? Ada yang salah??”

Nessa menggelengkan kepalanya cepat-cepat. “Enggak kok kak. Tapi, kenapa bisa di sini?? Maksudku.. bukankah saat itu Kak Jo berpamitan akan melanjutkan sekolah ke Oxford, Kenapa tiba-tiba kembali dan tinggal di jakarta??”

Jonathan tersenyum. “Jadi.. Kamu masih mengingatku?? Mengingat kepergianku??” Tanya Jonathan dengan nada menggoda.

Nessa hanya mampu menganggukan kepalanya.

“Berarti kamunmasih mengingat kalau kita masih terikat dalam suatu hubungan??”

Nessa membulatkan matanya. “Maksud Kak Jo??”

Jonathan tampak menyunggingkan sebuah senyuman. “Kita tidak pernah putus Ness.. ingat itu.”

Yaa.. Nessa tentu tau kalau mereka tidak pernah putus. Mereka berpisah karena keadaan. Jonathan yang memang sudah lulus harus melanjutkan sekolah di Oxford inggris, sedangkan Nessa masih harus melanjutkan sekolahnya di SMA yang sama.

Mereka memang sempat berhubungan jarak jauh, tapi kemudian terputus begitu saja. Nessa tidak tau karena apa Jonathan jadi jarang sekali menghubunginya. Akhirnya Nessa memilih melupakan Jonathan dan melanjutkan hidupnya di jogja. Menerima lelaki lain sebagai kekasihnya hingga Ia melupakan Jonathan lalu pindah ke jakarta dan bertemu dengan Dhanni, suaminya kini.

“Emm ku pikir saat itu kita sudah putus.” Ucap Nessa sambil tersenyum.

“Tidak menurutku Ness.. Kita masih dalam suatu hubungan. Dan Aku kembali karena ingin bertemu denganmu, dan melaanjutkan Apa yang kita mulai dulu.”

Nessa menatap Jonathan dengan tatapan tanda tanya. “Maksud Kak Jo??”

“Aku pulang ke Jogja setahun yang lalu. Dan mencarimu di sana. Rumah Opa dan Oma mu kosong, tidak berpenghuni. Tetangga kalian menyebutkan jika kalian pindah ke jakarta, tapi mereka tidak tau tepatnya di mana. Akhirnya Aku memutuskan pindah ke jakarta. Dan tinggal dengan Kakak ku di sini, sambil sesekali mencarimu. Dan Aku tidak menyangka jika kita benar-benar bertemu lagi.”

“Yaa.. Kita sudah bertemu lagi. Jadi…” Nessa menghentikan kalimatnya karena Ia benar-benar terkejut ketika Jonathan tiba-tiba menggenggam kedua telapak tangannya yang berada di atas meja tepat di hadapan mereka.

“Ness.. Aku mencarimu karena aku ingin kita kembali seperti dulu.. Aku ingin Kamu menjadi kekasihku lagi dan Aku akan segera melamarmu menjadi istriku.”

Nessa benar-benar tercengang dengan apa yang Ia dengar. Bagaimana mungkin lelaki di hadapannya ini mengucapkan kalimat seperti itu padanya secara terang-terangan?? Apa Ia masih terlihat seperti seorang Gadis?? Astaga.. Ia sudah bersuami, sudah memiliki jagoan kecil dan kini sedang hamil anak kedua, Bagaimana mungkin mantan pacar nya itu terang-terangan ingin melamar menjadikan Ia sebagai istrinya??

 

-TBC-

Hayooo siapa yang udah penasaran ama kelanjutannya?? wkwkwkwkwk