My Beautiful Mistress – Prolog

Comments 8 Standard

 

Tittle : Beautiful Mistress

Cast : James Drew Robbert (Jiro The Batman) & Ellisabeth William

Genre : Romance Adult

Seri : The Batman Area!

 

Prolog

 

Jiro mengerang saat mendapatkan sebuah kenikmatan yang ia dapatkan dari seorang wanita yang kini sedang berada dibawahnya. Wanita itu layaknya seorang boneka yang mau melakukan apapun seperti yang ia inginkan. Kadang, Jiro merasa kesal karena wanita itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya tanpa mengucapkan apapun. Kenapa? Apa karena wanita itu tidak suka dengan hubungan mereka?

Jiro mempercepat lajunya. Menghujam lagi dan lagi lebih cepat dari sebelumnya, lebih intens lagi, hingga tak malam, sampailah ia pada puncak kenikmatan yang entah sudah berapa kali ia dapatkan malam ini dari tubuh wanita tersebut.

Napas Jiro memburu, setelah itu, Jiro menarik diri, dan membiarkan tubuh wanita itu terkulai seperti biasa di atas ranjangnya.

“Apa nggak ada sepatah katapun yang mau kamu ucapkan sebelum aku pergi?” tanyanya sembari memunguti pakaiannya.

Wanita itu hanya menggeleng lemah.

Jiro mendengus sebal. Sungguh. Ia sangat kesal dengan sikap wanita itu yang selalu tampak dingin. Bahkan, kadang Jiro sangat sulit membaca apa yang diinginkan wanita itu sebenarnya.

“Apa aku buat kesalahan lagi?” tanya Jiro sekali lagi.

“Tidak.” Jawab wanita itu sembari menarik selimutnya menutupi tubuh telanjangnya, kemudian wanita itu memilih tidur memunggungi Jiro.

Jiro mendesah panjang. “Kamu pasti melihat berita itu, kan?” tanya Jiro kemudian.

Tak ada jawaban dari wanita itu, hingga Jiro berada pada batas kesabarannya.

“Dengar, Ellie. Aku tidak harus menjelaskan semuanya padamu. Aku memang mencium perempuan malam itu, tapi hanya itu saja. Aku tidak menidurinya, karena ada…”

“Aku yang siap melayanimu di rumah, kan?” wanita yang bernama Ellie itu melanjutkan kalimat Jiro.

“Sebenarnya, apa yang terjadi denganmu?” tanya Jiro dengan kesal.

Ellie membalikkan diri ke arah Jiro. Ia duduk dan mengabaikan ketelanjangannya karena nyatanya saat ini dirinya sudah siap meledakkan apa yang sudah bersarang di dalam kepalanya selama bertahun-tahun.

“Pulangkan aku ke Inggris!” serunya keras.

Seruan Ellie sempat membuat Jiro ternganga tak percaya. Empat tahun lamanya ia menikahi wanita ini, empat tahun lamanya ia memaksa wanita ini untuk tinggal di negaranya. Dan selama itu, wanita ini tak pernah sekalipun melawannya, tak pernah menuntutnya. Dan kini, wanita itu ingin dipulangkan ke negaranya. Yang benar saja. Jiro tak akan melakukan hal sebodoh itu.

Jiro meraih dagu Ellie dan dia berkata “Dengar Ellie, kamu nggak akan kemanapun. Hanya di sini, di rumah ini. kamu nggak akan bisa pergi kemanapun.” Setelah itu, Jiro bergegas pergi meninggalkan Ellie memasuki kamar mandi.

Sedangkan wanita yang bernama Ellie tersebut hanya bisa menangis seperti biasanya. Ya, hanya itu yang bisa ia lakukan selama ini. saat Jiro mencampakannya, saat lelaki itu melecehkannya, hanya menangis yang dapat ia lakukan. Bagaimanapun juga, Jiro adalah suaminya, meski posisinya lebih mirip sebagai seorang simpanan ketimbang dengan seorang istri, nyataya Ellie menikmati perannya saat ini. ia harus bisa lebih sabar, ia harus bisa lebih menahan diri, demi dirinya sendiri, demi cinta terpendamnya pada lelaki itu, dan juga demi sebuah nyawa yang kini sedang menggantungkan hidup di dalam rahimnya. Ellie harus kuat, ia harus lebih sabar lagi untuk menghadapi suaminya. Karena ia yakin, suatu saat, Jiro akan melihat keberadaannya, dan dirinyalah yang akan keluar sebagai pemenangnya. Ellie yakin itu.

-TBC-

Advertisements

Future Wife – Chapter 2 (Cara Instan)

Comments 4 Standard

Future Wife

 

“Bang, Bang Radit. Bang..” Tiara juga ikut berteriak memanggil-manggil nama kakaknya ia tentu tidak ingin di tinggalkan dengan orang-orang asing yang tidak ia kenal. Belum lagi fakta jika dirinya kini menjadi milik orang tersebut. “Bang, jangan tiggalin Tiara, Bang.. Bang Radit….”

Dan ketika Tiara tak juga diam dari rengekannya, sepasang kaki berjalan menuju ke arah mereka. “Permisi.” Suara itu membuat Tiara menghentikan rengekannya, lalu menolehkan kepalanya ke arah suaraa tersebut. Tiara ternganga mendapati siapa yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Anda siapa?” tanya lelali paruh baya itu pada pria yang baru datang menghampirinya.

Pria itu sedikit tersenyum, lalu mengulurkan jemarinya. “Saya Evan Pramudya, kekasih wanita ini.”

***

 

Chapter 2

-Cara instan-

 

Tiara ternganga setelah mendengar kalimat yang diucapkan oleh Evan. Apa maksudnya? Dan kenapa bisa lelaki ini berada di tempat seperti ini? Saat Tiara masih bingung mencerna semua kejadian itu di otaknya, lelaki paruh baya yang kini memilikinya itu tertawa lebar menertawakan keberanian Evan.

“Hahaha Anda jangan asal bicara, wanita ini sudah menjadi milik saya karena kakaknya sudah menjualnya dengan saya!”

“Saya akan menebusnya.” Evan berkata dengan santai tanpa ekpresi.

“Berapa uang yang kamu punya, anak muda? Sampai kamu berani-beraninya mau menebus dia dariku?”

Evan tidak menjawab, ia hanya mengeluarkan dompetnya kemudian memberi lelaki paruh baya itu kartu namanya. Lelaki paruh baya itu menerimanya, membacanya, lalu matanya membulat seketika ke arah Evan.

“Saya pikir, uang saya lebih dari cukup untuk menebus kekasih saya.” Evan berkata dengan nada dingin tanpa ekspresi, hingga siapapun yang menatapnya pasti terintimidasi dengan sikap dan perkataannya.

Lelaki paruh baya itu tampak salah tingkah. Lalu ia mencoba menguasai dirinya dengan berkata “Saya ingin transaksinya di lakukan malam ini juga, di sini, kalau tidak…”

“Anda takut saya berbohong?” Evan memotong kalimat lelaki paruh baya itu. “Anda bisa menemui saya di kantor cabang saya yang di bandung. Jika anda menolak kompromi saya, saya bisa menuntut anda dengan tuntutan perdagangan manusia.”

“Tunggu dulu, apa-apaan ini? Kenapa jadi bawa-bawa hukum?”

“Anda ingin uang? Saya akan memberi Anda sebanyak yang Anda inginkan asalkan Anda mau melepaskan kekasih saya. Tapi tidak sekarang, karena saya tidak menyimpan uang sebanyak itu di kantong saya saat ini. Anda sudah menyimpan kontak saya, saya tidak akan lari.”

Setelah kalimat panjang lebarnya tersebut, Evan meraih pergelangan tangan Tiara dan bersiap mengajak Tiara pergi dari tempat tersebut, tapi kemudian langkahnya di hadang oleh anak buah lelaki paruh baya tersebut. Evan lalu menatap lelaki paruh baya itu sekali lagi dengan tatapan mengintimidasinya, lalu si lelaki paruh baya itu memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan Evan dan juga Tiara. Evan melangkah pergi sambil menyeret Tiara.

“Saya akan menagih ke kantor kamu, nanti!” lelaki paruh baya itu berseru keras pada Evan dan Tiara. Namun Evan tidak mengindahkan seruan lelaki paruh baya itu. Ia tetap berjalan keluar dari tempat tersebut masih dengan menyeret Tiara.

***

Evan menyesap anggur yang ada di dalam sebuah gelas yang berada di tangannya. Pikirannya melayang memikirkan apa yang baru saja ia lakukan, astaga, apa ia sudah gila?

Semua itu berawal dari sebuah buku yang ia baca. Buku tentang bagaimana cara melupakan sosok masa lalu yang membayangi. Dalam buku tersebut, tertulis jika ia harus mencari sebuah pelarian, ia harus tetap berjalan kedepan, bahkan mungkin berjalan di luar garis aman. Dengan kata lain, ia harus mencoba hal-hal baru yang mungkin tidak ia sukai hingga ia mampu melupakan permasalahannya.

Maka dari itulah, tadi, ia berada di sebuah tempat yang memang tidak pernah ia datangi sebelumnya. Tempat yang baginya sangat bising dengan suara musiknya dan juga lampu kerlap kerlipnya. Belum lagi bau rokok tercium di sudut manapun dari tempat tersebut.

Ya, tempat hiburan malam menjadi tujuan pertamanya saat itu. Ia hanya ingin mencoba minum di tempat asing seperti itu, karena sebelumnya, ia memang tak pernah ke tempat sejenis itu. Evan lebih suka menghabiskan waktunya di bar-bar café yang lebih tenang, bukan di tempat hiburan malam seperti itu.

Lalu ketika Evan sudah tidak tahan dengan kebisingan tempat tersebut, ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu, dan ketika ia akan pergi dari sana, ia mendengar sebuah kegaduhan tak jauh dari tempatnya berdiri. Rasa keingintahuannya begitu besar hingga kakinya melangkah dengan spontan ke arah kegaduhan tersebut, ia sedikit terkejut saat mendapati siapa yang ada di sana.

Itu Tiara, wanita pendiam yang mengasuh anak-anak Davit. Evan tertarik dengan apa yang dilakukan Tiara disana. Kenapa wanita itu meronta? Berteriak memanggil-manggil seseorang? Akhirnya Evan memutuskan untuk mencari tahu dengan mendekat. Lalu semuanya terjadi begitu cepat, ketika tanpa pikir panjang lagi ia memutuskan untuk menolong perempuan itu dengan cara menebusnya, padahal ia tidak yakin apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Kini, perempuan itu masih berada di dalam kamar mandinya, sedangkan ia menunggu perempuan itu keluar dan meminta penjelasan tentang apa yang sedang dialami oleh perempuan trsebut.

Evan menyesap anggurnya sekali lagi, sebelum kemudian ia mendengar pintu kamar mandinya dibuka dan mendapati Tiara sudah berdiri di sana dengan wajahnya yang sudah segar. Perempuan itu mengenakan T-shirt miliknya, dengan handuk yang membalut kepalanya yang basah. Entah kenapa Evan merasakan sesuatu yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.

“Kemarilah.” Dengan sedikit canggung, Evan memanggil Tiara dan mengajak Tiara untuk duduk di hadapannya.

Tiara tidak menolak, ia menuruti apa yang dikatakan Evan, meski sebenarnya Tiara juga dilanda kecanggungan yang sama besarnya dengan yang dirasakan Evan.

“Berceritalah.”

“Maaf?” Tiara tidak mengerti.

“Ceritakan apa yang terjadi denganmu tadi. Kenapa kamu bisa sampai ditempat seperti itu dan dengan orang-orang seperti itu.”

Tiara menunduk, ia meremas kedua belah telapak tangannya sendiri, ia tidak tahu harus darimana menceritakan semuanya, dan ia tidak yakin jika dia mampu menceritakan semuanya pada Evan. Apakah masuk akal jika ia bercerita tentang kehidupan pribadinya dengan lelaki yang cukup asing seperti Evan? Tapi, disisi lain, Tiara juga sadar, jika Evan harus mengetahui semuanya, mengingat lelaki itu akan mengeluarkan banyak uang untuk menebusnya.

Tiara menghela napas panjang, sebelum kemudian ia mulai membuka suara. “Bang Radit, kakak saya, dia punya banyak hutang karena bermain judi. Dan dia, menjadikan saya sebagai pelunas hutangnya.”

“Lalu dimana kakak berengsekmu itu?”

“Mungkin di rumah, karena anak buah orang itu tadi menyeretnya keluar.”

Evan mendengus sebal. “Kakak seperti apa yang tega menjual hidup adiknya sendiri?”

“Pak Evan tidak mengerti apa yang terjadi dengan kehidupan kami.”

“Saya tahu saya tidak mengerti, dan saya tidak seharusnya ikut campur dengan masalah kalian. Tapi menjual keluarga sendiri itu benar-benar tidak termaafkan.”

Tiara hanya menunduk, ia terdiam cukup lama, tak berani mengangkat wajahnya apalagi membalas ungkapan kekesalan yang terlontar dari mulut Evan tadi.

“Uum, bagaimanapun juga, saya berterimaksih sekali dengan apa yang sudah pak Evan lakukan. Saya tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Mungkin saya harus bekerja ekstra untuk membayar hutang-hutang kami pada pak Evan.” Tiara lalu berdiri, ia merasa kurang nyaman dengan kedekatannya bersama Evan. “Uum, jika berkenan, saya mau izin pulang dulu.”

Evan ikut berdiri seketika. “Tunggu, siapa yang bilang kamu boleh pulang?”

“Maaf?” Tiara menatap Evan dengan wajah bingungnya.

“Kalau kamu pulang, kakak kamu akan berpikir jika dirinya tak perlu susah payah menebus kamu lagi, dan kemungkinan, kamu akan dijual kembali dengan pria hidung belang yang lainnya. Tinggallah di sini, sampai kakak kamu bisa melunasi hutangnya.”

Mata Tiara membulat seketika. “Apa? Sampai kapan? Bang Radit tidak mungkin bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam satu atau dua tahun.”

“Setidaknya di sini kamu aman, daripada di tenpat lelaki hidung belang tadi.” Dan setelah kalimatnya itu, Evan pergi meninggalkan Tiara. Tiara hanya bisa menatap kepergian Evan dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Ia akan menjadi tawanan lelaki itu, ya, sepertinya begitu. Tapi bukankah ini lebih baik? Setidaknya Evan tidak macam-macam, dan lelaki itu tidak tampak seperti lelaki berengsek yang ada di tempat hiburan malam tadi.

***

Paginya, Tiara bangun lebih pagi dari biasanya. Bukan tanpa alasan, karena semalaman ia sudah memikirkan semuanya. Ia berpikir untuk bekerja paruh waktu dengan Evan. Ya, mengurus rumah lelaki itu dan menyiapkan segala keperluannya sepertinya bukan hal yang sulit. Ia akan melakukannya, dan berbicara dengan Evan supaya lelaki itu mau mempertimbangkan pekerjaannya tersebut sebagai sedikit potongan dari hutang mereka.

Tiara cukup lega, karena ternyata Evan memiliki bahan masakan yang bisa dimasak. Hingga Tiara saat ini menghabiskan paginya di dapur rumah Evan. Menyiapkan sarapan tentu bukan hal baru untuk Tiara, tapi yang menjadi masalahnya adalah, apakah lelaki itu mau menikmati masakannya? Apa lelaki itu memiliki selera makan yang sama dengan seleranya? Mengingat itu hati Tiara menciut.

Tapi ia tidak peduli, yang paling penting adalah, ia akan melakukan apapun yang dapat ia lakukan untuk meringankan hutangnya terhadap Evan.

Saat Tiara masih asik di depan kompor, ia tidak menyadari jika kesibukannya memasak sarapan untuk Evan ternyata diperhatikan lelaki itu dari jauh.

Masih mengenakan celana piyamanya dengan bertelanjang dada, Evan melangkahkan kakinya dengan spontan mendekat ke arah meja dapur. Memperhatikan Tiara dari belakang. Perempuan itu benar-benar mirip dengan Karina ketika Karina berada di dapur. Tiara pasti pandai memasak juga, dan entah karena apa, Evan merasa sejuk saat melihat Tiara sibuk di dapurnya.

Mencoba menghilangkan kecanggungan, Evan berjalan menuju ke arah lemari pendingin sembari menyapa Tiara. “Pagi.”

Tiara menatap ke arah Evan, lalu ia membalikkan tubuhnya memunggungi Evan saat ia mendapati Evan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana piyama saja.

Evan mengerutkan keningnya saat melihat tingkah aneh dari Tiara. “Kenapa?” tanyanya bingung.

“Maaf, Pak. Apa nggak sebaiknya Pak Evan pakai baju dulu? Nanti takutnya masuk angin.”

Evan sempat ternganga mendengar kalimat Tiara, tapi setelah itu ia tertawa lebar menertawakan kepolosan Tiara. “Saya sudah biasa telanjang dada seperti ini, jadi mulai sekarang kamu harus membiasakan diri melihatnya.”

“Uum, tapi Pak-”

“Sudahlah, sekarang lanjutin saja masakannya, saya sudah lapar.” Dengan santai dan cuek, Evan berjalan menuju ke meja makan. Sesekali ia masih melirik ke arah Tiara yang tampak mengenyahkan kepergiannya. Ahh, rupanya wanita itu lucu juga, polos dan menggemaskan.

Evan meraih sebuah koran, lalu membacanya sembari menunggu masakan Tiara siap. Meski ia mencoba berkonsentrasi, nyatanya tanpa ia sadari, matanya sesekali melirik ke arah Tiara bahkan tanpa perintah otaknya.

Tak lama, Tiara sudah menyuguhkan sarapan untuknya. Nasi goreng special, tak lupa ia juga membuatkan kopi untuk Evan. Evan melirik ke arah masakan Tiara, tampak enak, dan Evan tak sabar mencicipinya.

“Kopi untuk saya harus dikasih krim yang banyak.” Evan berkomentar.

“Baik, Pak. Saya tambah dulu.”

Evan mengangguk, ia mulai mencoba masakan Tiara, dan ia benar-benar menyukai rasanya.

“Kamu pinter masak.” Evan berkomentar. “Saya jadi inget masakan Karina.” Dengan spontan Evan berkata seperti itu tanpa bisa ia cegah.

“Karina?” Tiara tampak bingung.

Evan sedikit salah tingkah. “Uum, dia adik ipar saya, istri adik saya.” Tiara hanya mengangguk, tak menanggapi lagi apa yang dikatakan Evan tadi. “Kenapa kamu tiba-tiba memasak untuk saya?” tanya Evan yang seketika itu juga membuat Tiara tak enak hati.

“Sebelumnya, saya mau minta maaf, karena sudah membuat berantakan dapur pak Evan.”

“Saya nggak mempermasalahkan hal itu.”

“Uum, jadi begini, saya bisa sambil kerja di sini, mencuci, bersih-bersih bahkan mengurus semua keperluan Pak Evan kalau Pak Evan mengizinkan, supaya, uum, itu hutang kakak saya sedikit lebih ringan.”

Evan tampak berpikir sebentar. “Jadi, kamu akan menyicil hutang dengan tubuhmu?”

“Maaf?” sungguh, Tiara berharap jika ia salah dengar. Apa yang dikatakan Evan tadi membuatnya berpikir yang tidak-tidak.

Tapi Evan malah tertawa lebar. “Ayolah, saya cuma bercanda, jangan terlalu kaku.”

Pipi Tiara merona seketika. Ia menunduk dan tersenyum malu, ia tidak menyangka jika Evan juga memiliki sisi humoris, meski baginya sisi tersebut masih terlalu dipaksakan.

“Oke, itu terserah kamu saja, tapi bukannya kamu juga harus bekerja di rumah Davit?”

“Ya, saya berangkat jam delapan, dan pulang jam Enam sore, sepertinya saya bisa menyelesaikan tugas saya tanpa mengurangi waktu kerja saya di tempat Bu Sherly.”

“Oke, atur bagaimana baiknya, nanti saya akan ngasih kamu daftar apa aja yang harus kamu lakukan.” Tiara mengangguk patuh, dan suasana di antara mereka berdua kembli hening penuh dengan kecanggungan. Sungguh, Evan ingin membunuh seluruh kecanggungan yang ada diantara mereka. Tapi bagaimana??

***

Di kantor…

Evan mencoba menyibukkan diri dengan pekerjaannya, padahal sejak siang tadi pikirannya menjurus pada sosok yang seharusnya tidak pernah mengganggu kepalanya, siapa lagi jika bukan Tiara.

Tadi siang, lelaki paruh baya yang tadi malam bermasalah dengan Tiara dan kakaknya datang ke kantornya. Untuk apa lagi jika bukan untuk menagih uang untuk menebus Tiara.

Tadi siang….

“Lima ratus juta.”

Evan mengangkat sebelah alisnya. “Anda mau memeras saya? Hutang anak itu tidak mungkin sebanyak itu.”

Lelaki paruh baya itu tersenyum menyeringai. “Ya, memang tidak sebanyak itu. Itu adalah Lima kali lipat dari hutang kakaknya.”

“Dan kenapa Anda melipat gandakannya?”

“Karena kamu bukan hanya membayar hutangnya, tapi juga menebus ‘pelunasnya’.”

“Apa?”

Lelaki paruh baya itu berdiri dan tertawa lebar. “Kamu pikir saya tidak tahu? Sebenarnya dia bukan kekasih kamu, kan? Evan Pramudya, Anda baru dua mingguan pindah ke kota ini, mana mungkin Anda menjalin hubungan special dengan perempuan macam dia dalam waktu sesingkat itu?”

“Itu bukan urusan Anda.” Evan ikut berdiri, ia sedikit kesal karena nyatanya lelaki paruh baya itu mampu mengetahui semuanya.

“Ya, bukan urusan saya. Saya hanya mau uang saya.”

Evan menghela napas panjang. Ia mengambil sebuah cek di dalam laci meja kerjanya, menulis nominal yang diinginkan lelaki paruh baya itu, lalu memberikannya begitu saja.

“Jangan ganggu dia lagi.” Evan mendesis tajam.

Lagi-lagi, lelaki paruh baya itu tersenyum miring. “Kenapa kamu mau membayar mahal untuknya? Kamu sedang merencanakan sesuatu? Menginginkan tubuhnya, mungkin.”

“Jaga mulut Anda.”

“Hahahaha.”

Evan mendengus sebal karena ditertawakan.

“Meskipun dia orang miskin, tapi dia cukup cantik, kulitnya putih mulus, membuat lelaki manapun ingin mendaratkan bibirnya pada permukaan kulit lembut wanita itu.”

Evan mengetatkan gerahamnya. Ia tidak suka cara lelaki paruh baya itu mendiskripsikan tubuh Tiara.

Kembali tertawa lebar, lelaki itu menepuk-nepuk pundak Evan. “Kamu menginginkannya, terlihat dari gelagatmu, anak muda.” Lalu lelaki itu berjalan pergi menuju ke arah pintu ruang kerja Evan. “Bagaimanapun juga, senang berbisnis denganmu.” Ucapnya sebelum menghilang di balik pintu.

 

Berbisnis? Apa-apaan dia? Dan astaga, menginginkan tubuh Tiara? Yang benar saja. Evan menggelengkan kepalanya cepat. Tiba-tiba ia merasa kepanasan, hingga ia meraih gelas yang ada di atas meja kerjanya, menenggak airnya hingga tandas. Evan lantas melonggarkan dasi yang entah kenapa terasa mencekiknya. Sial! Apa yang sedang terjadi dengannya? Apa yang sedang terbayang-bayang dalam pikirannya? Akhirnya Evan memilih bangkit. Entah kenapa ia ingin segera pulang, apa yang membuatnya ingin segera pulang?

***

Evan menenggak minuman kaleng yang berada dalam genggaman tangannya, sesekali ia menyibak gorden jendela rumahnya, rupanya, Tiara belum juga pulang dan astaga, untuk apa juga ia menunggu Tiara?

Saat Evan sibuk dengan pikirannya sendiri, pintu rumahnya diketuk. Evan bangkit dan segera menuju ke arah pintu depan rumahnya, lalu membukanya. Tampak Tiara sudah berdiri di sana.

“Hei, baru pulang?”

Tiara mengangkat sebelah alisnya. Sungguh, ia sedikit tidak nyaman saat mendengar Evan menyapanya dengan kata ‘pulang’. Seakan-akan, itu adalah rumahnya, rumah mereka berdua.

Oh Tiara, apa yang sudah kamu pikirkan?

“Ya.” Hanya itu yang diucapkan Tiara, seperti biasa, ia hanya menunduk dan tak berani mengangkat wajahnya terlalu lama.

“Masuklah, sebelum Davit keluar dan melihatmu ada di depan rumah saya.”

Tiara menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke dalam rumah Evan. “Uum, Pak. Apa saya boleh pulang sebentar? Saya mau mengambil pakaian saya.”

“Kalau kamu pulang, kakak kamu akan tahu kalau kamu bisa bebas sesuka hati. Setidaknya biarkan dia berpikir kalau hidup kamu disini susah, maka dia akan berusaha lebih keras untuk membayar hutangnya.”

“Lalu, pakaian saya?”

“Sementara, pakai saja T-shirt milik saya, nanti kita akan keluar carikan kamu pakaian santai.”

“Tapi Pak, bukannya itu nanti malah menambah hutang kami?”

“Enggak, anggap saja itu saya yang belanjakan.”

“Pak Evan tidak perlu berlebihan.”

“Dan kamu juga jangan terlalu banyak membantah. Sekarang, cepat, buatkan saya makan malam. Saya sudah lapar.” Evan pergi meninggalkan Tiara, sedangkan Tiara hanya bisa ternganga menatap kepergian Evan.

Apa-apaan lelaki itu?

***

Tiara membersihkan dapur serta piring-piring kotor bekas makan malam Evan. Ia sibuk dengan pekerjaannya tersebut hingga tidak sadar jika sejak tadi Evan sudah mengamatinya dari belakang.

Evan sendiri kini sedang memakan buah apel, berdiri di sebelah meja makan dengan sebuah kertas di tangannya. Matanya tak berhenti menatap Tiara dari ujung rambut hingga ujung kakinya.

Untuk ukuran seorang pembantu rumah tangga, Tiara adalah pembantu yang cantik, dan sialnya, dia juga tampak seksi.

Astaga, apa yang sudah ia pikirkan???

Seksi? Sial! Tiara bahkan memiliki ukuran tubuh mungil dan lebih cocok disebut kurus, bagaimana mungkin ia berpikir jika perempuan itu seksi? Dan lagian, dia masih Dua puluh tahun, sepertinya kurang cocok dengannya yang sudah berumur hampir Tiga puluh tahun.

Evan menggelengkan kepalanya. Sepertinya pikirannya sudah mulai gila. Setelah ia menghabiskan apel dalam genggaman tangannya, kakinya melangkah secara pasti menuju ke arah Tiara.

“Kamu, nggak makan malam?” pertanyaan Evan sontak membuat Tiara menoleh sekilas ke arah Evan, lalu perempuan itu kembali memfokuskan diri pada cucian di hadapannya.

“Saya sudah makan malam di rumah Bu Sherly.”

Evan menggangguk, “Ini, catatan apa saja yang harus kamu lakukan untuk saya.” Evan memberikan kertas yang tadi baru saja ia ambil dari dalam kamarnya setelah ia menghabiskan makan malamnya.

Tiara menghentikan pekerjaannya, ia membilas tangannya yang penuh dengan busa, lalu mengeringkannya dengan lap yang tersedia. Tiara meraih kertas tersebut kemudian membacanya dengan teliti.

Sedangkan Evan, pikirannya kembali menggila. Ia mengamati wajah Tiara yang entah kenapa tampak begitu indah dimatanya. Alis perempuan itu tampak tebal, namun terukir dengan rapih, kulitnya putuh bersih, bahkan sedikit terlihat rona merah di pipinya, apa perempuan itu sedang mengenakan Blush On? Tidak mungkin. Bulu mata Tiara juga tampak panjang dan lentik, padahal Evan tahu jika itu bukan bulu mata palsu. Dan bibir wanita itu, astaga, tampak penuh dengan warna merahnya.

Sial! Evan menegang seketika.

Apa-apaan ini? Padahal Evan yakin, jika Tiara tidak sedang berdandan. Perempuan itu tampak berantakan dengan baju sederhananya, belum lagi rambutnya juga yang tampak berantakan seperti belum di sisir, tapi entah kenapa Evan menginginknnya, menginginkan perempuan itu, meski Evan tak yakin, kenapa dirinya tiba-tiba memiliki keinginan menggelikan yang menggebu-gebu seperti ini.

“Jadi, hanya….” Tiara menghentikan kalimatnya ketika ia mengangkat wajahnya dan mendapati Evan tampak serius memperhatikannya. “Pak?” Tiara memanggil Evan, karena sedikit tidak nyaman, ia berpikir Evan sedang melamun. Belum lagi tatapan lelaki itu yang fokus ke arahnya, dan jarak mereka berdua sudah sangat dekat.

“Ya.” Sial! Evan merasa jika tiba-tiba suaranya sudah menjadi serak.

“Ada apa?” tanya Tiara yang sudah mundur satu langkah. Tidak suka, ya, ia tidak suka ditatap seperti itu.

“Tiara. Saya memiliki cara instan, agar kamu bisa segera meluasi hutang kakak kamu, hingga kamu bisa cepat lepas dari genggaman tangan saya.”

“Uumm, cara instan? Seperti apa, Pak?”

Evan menelan ludahnya dengan susah payah, sebelum menjawab, “Jadilah teman tidur saya, maka saya akan menganggap semuanya sudah lunas.”

-TBC-

The Married life (Lady killer 2) – Epilog

Comment 1 Standard

tlkpoThe Lady Killer 2

Horaayyy.. akhirnya selesei juga perjalanan kisah kak Dhanni dan Nessa dalam The Married life (Lady killer after marriage) setelah aku update chapter Epilog ini. hehhehehe. so, hutang aku udah lunas ya. semoga setelah ini aku bene2 bisa Move on dari kak Dhanni hahahhahaha. eh, btw, maaf bgt nih buat beberapa reader yang udah ku janjiin Because its you (After Marriage) dan My Everything (After Marriage) karena aku nggak jadi bikin cerita2 tersebut, kenapa? karena project ceritaku masih banyak bgt dan kupikir mendingan konflik2nya ku jadikan cerita baru aja, hehehhehe. so, cerita kak Renno dan Mas Ramma cukup sampai di sana saja ya, nggak ada lanjutannya lagi. dan juga satu lagi, nantikan The lady killer 1 versi terbaru terbitan BukuOryzaee dan juga The Lady killer 2 ini cersi Pdf di playbook terbitan Diandra kreatif. yeaaay.

#Epilog

-Nessa-

Hari minggu telah tiba. Seperti biasa, kesibukanku menjadi berkali-kali lipat ketika hari minggu, tentunya itu tak lepas dari tiga jagoanku yang tidak berhenti menghambur rumah ketika sabtu malam tiba.

Ini sudah lima tahun setelah kelahiran Aaron, dan selama ini keluarga kami menjadi lebih baik setiap harinya. Aku berusaha menjadi istri yang baik untuk kak Dhanni, dan juga menjadi ibu yang lebih baik lagi untuk Bandon dan juga Aaron. Meski yang ku yakini, ketiga jagoanku –Termasuk kak Dhanni, itu lebih sering mengerjaiku dan membuat kepalaku pusing ketika bermain di dalam rumah dan menghamburkan semua mainan-mainan mereka.

Kini, aku memang sudah tidak tinggal di apartemen kak Dhanni lagi. Kami semua sudah pindah ke mansion milik keluarga Revaldi, dan semua ini tidak merubahku menjadi pemalas karena sudah banyak pelayan di rumah ini, alasannya tentu karena suamiku yang menyebalkan, dia tidak ingin makan jika bukan aku sendiri yang memasak, dia tidak ingin memakai baju jika bukan aku sendiri  yang menyiapkannya, bagaimana? Menyebalkan bukan? Dan kebiasaan itu menurun pada kedua putera kami yang super bandel.

Ketika aku sibuk merapikan letak-letak baju Brandon dan Aaron di dalam kamarnya, tiba-tiba kurasakan sebuah lengan melingkari pinggangku dari belakang. Pelakunya tentu saja kak Dhanni.

“Ada apa kak? Aku masih sibuk.” ucapku sedikit malas.

“Aku kangen kamu.”

“Kangen? Setiap hari kita sudah bertemu.”

“Bukan kangen itu.” bisiknya serak.

“Lalu?”

“kamu tentu tahu apa yang aku inginkan sayang.” Kak Dhanni berkata sembari menempelkan tubuh bagian depannya pada tubuh bagian belakangku, dan aku mengerti apa yang ia inginkan.

“Kak, masih pagi, dan ini di kamar anak-anak.”

“Aku tidak peduli.”

“Astaga, yang benar saja, kenapa semakin tua kamu jadi semakin mesum?”

“Mesum katamu? Sayang, aku tidak mesum, ini hanya kebutuhan biologisku.”

“Ya, tapi setidaknya kamu harus menahannya, Kak.”

“Tidak bisa.” Dan seketika itu juga kak Dahnni membalik tubuhku kemudian menyambar bibirku dan menciumnya penuh dengan gairah. Yang bisa ku lakukan hanyalah mengerang sembari menikmati sentuhan yang di berikan oleh suamiku ini.

Kucengkeram erat T-shrit yang menempel di dadanya sambil membalas cumbuan yang di berikan oleh kak Dhanni. Kak Dhanni menjalankan jemarinya untuk meremas pinggulku, ia kemudian naik, menggoda punggungku dan astaga, itu mampu membangkitkan gairah dari dalam tubuhku.

Tak lama, kudegar pintu di gedor dari belakang. Oh ya, siapa lagi jika bukan Bandon dan Aaron? Keduanya memang sering menganggu momen bergairah antara aku dan kak Dhanni.

Kak Dhanni melepaskan cumbuannya kemudian berakhir mengumpat karena hasratnya tidak tersalurkan. Ya, memangnya salah siapa bercumbu mesra pada jam-jam seperti sekarang ini?

“Mereka mau apa sih?” gerutu kak Dhanni lengkap dengan kekesalannya.

“Mau apa? Mereka tentu banyak maunya saat jam-jam seperti sekarang ini.”

“Kan di rumah ini banyak pelayan, kenapa tidak meminta pada pelayan saja?”

Aku tersenyum dan mencubit gemas hidung kak Dhanni. “Karena mereka seperti kamu.”

“Kok Aku?”

“Ya, kamu yang cerewet dan banyak maunya.”

Kak Dhanni memicingkan matanya padaku. “Aku nggak peduli! Kita harus melakukannya saat ini juga.”

“Kak.”

“Nessa, apa kamu tidak merasakannya?” Kak Dhanni meraih telapak tanganku dan menyentuhkannya pada bukti gairahnya yang terasa berdenyut ketika ku sentuh.

Aku menarik tanganku seketika. “kamu gila, kak.”

“Ya, aku gila karenamu.” Dan Kak Dhanni kembali menyambar bibirku, memagutnya lagi penuh dengan gairah hingga aku tak mampu menolaknya.

Pintu kembai di ketuk, kali ini bahkan lebih keras seperti sebuah gedoran. Dan aku tahu jika edua jagoanku itu sudah mulai marah karena menunggu lama.

Dengan sisa-sisa kesadaranku, kudorong dada kak Dhanni hingga ciuman kami terputus dan tubuhnya sedikit menjauh.

“Ku mohon, nanti malam aku akan menuruti apapun mau kak Dhanni, tapi sekarang-”

“Aku maunya sekarang!” ia sedikit menggeram.

Aku tersenyum kemudian mengusap lembut pipinya yang sedikit di tumbuhi bulu-bulu halus. Apa dia lupa bercukur tadi pagi? Mungkin saja.

“Kak, aku milikmu, kapanpun aku selalu menjadi milikmu, tapi, saat ini mungkin saja kedua jagoan kita membutuhkanku, jadi, kamu mau mengalah sedikit saja untuk mereka, bukan?”

Kak Dhanni menghela napas panjang. Ya, jika menyangkut Brandon, Aaron, dan juga aku, kak Dhanni memang selalu mengalah.

“Oke, tapi nanti malam aku menagih janjimu.”

“Tentu saja sayang.” Ucapku sambil berjinjit dan mengecup lembut pipinya lalu pergi membuka pintu. Aku yakin jika saat ini kak Dhanni tak berhenti mengumpat dalam hati saat setelah menerima kecupan lembutku tadi, dan aku hanya bisa menertawakannya dalam hati.

***

-Dhanni-

 

Sial!

Jika tadi yang mengganggu momen bergairahku dan Nessa benar-benar Brandon dan Aaron, mungkin aku tidak akan sekesal ini. Nyatanya, yang mengganggu momen tersebut adalah si Brengsek Jonathan yang datang ke rumah kami, meminta Brandon dan Aaron untuk segera menggangguku dan Nessa. Sial! Memangnya apa yang dia inginkan sampai bertamu sepagi ini ke rumah kami?

Aku tak berhenti mengumpat dalam hati apalagi saat melihat keakraban Jonathan dan Nessa. Sial!

Hubungan kami dengan Jonathan memang sudah membaik. Jonathan kembali ke negeri ini satu tahun yang lalu, dia kembali sendiri karena Erly sudah menikah dengan seorang bule saat masih di luar negeri, dan kemungkinan dia tidak akan kembali ke negeri ini.

Jonathan sendiri kini sudah memiliki kekasih, beberapa kali dia datang ke rumah kami dengan kekasihnya dan kami juga sempat menghadiri pesta pertunangan mereka. Meski mengetahui Jonathan tak sendiri lagi, tapi tetap saja, rasa cemburu itu ada, mengingat Nessa bisa tertawa lepas di hadapan Jonathan. Oh sial! Ada apa sebenarnya denganku? Harusnya aku sadar jika Nessa tetaplah menjadi milikku, dan hanya milikku. Sial!

“Kak, apa kamu mendengarku?” suara Nessa menyadarkanku dari lamunan.

“Ah ya, sayang, kamu bilang apa tadi?” tanyaku lagi, karena sungguh, aku sama sekali tidak memperhatikan arah bicara mereka. Aku hanya terlalu fokus mengendalikan kejantanan sialanku yang tidak berhenti berdenyut nyeri, dan juga rasa cemburuku yang semakin menggila.

“Kak Jo mengundang kita ke pesta pernikahannya yang akan di adakan akhir minggu ini. Kita akan datang bersama, kan?”

“Oh ya. Tentu saja kami akan datang.” Jawabku cepat.

“Terimakasih Dhann, aku sangat senang kalau kalian akan datang. Kak Erly kemungkinan akan pulang, jadi aku yakin, jika kita bisa berteman lebih baik lagi setelah ini.”

Aku mengangguk pasti. “Terimakasih kembali karena sudah mengundang.” Ucapku.

Jonathan menganggukkan kepalanya, kemudian dia berdiri dan mulai berpamitan denganku dan juga Nessa.

“Aku permisi dulu, karena aku juga akan mengunjungi dan mengundang teman-teman yang lain.”

Nessa dan aku ikut berdiri, kami menganggukkan kepala kemudian mengantar Jonathan sampai ke depan pintu rumah. Tanpa kuduga, Brandon dan Aaron berlari menuju ke arah Jonathan dan dengan akrabnya Jonathan menyambut kedua puteraku tersebut. Ya, Joanthan memang dekat dengan Brandon dan Aaron, karena setiap kali bertemu, Jonathan tidak lupa memberi keduanya permen atau bahkan membelikan keduanya mainan.

“Om Jo pulang? Nanti main ke sini lagi?” tanya Brandon.

“Ya, Om nanti ke sini lagi.”

“Aaron minta permen.” pinta Aaron dengan wajah polos. Dan Jonathan tertawa lebar ketika melihat ekpresi menggemaskan yang di tampilkan Aaron.

Aku dan Nessapun yang memandangnya dari jauh ikut tertawa. Kuraih jemari Nessa, dan ku genggam erat jemari tersebut. Itu membuat Nessa mengangkat wajahnya dan menatapku dengan tatapan tanda tanyanya.

Aku menatapnya dan tersenyum lembut padanya, seakan memberi tahu Nessa jika aku sangat bahagia saat ini, bahagia ketika aku masih bisa bersama dengannya, bahagia karena aku memiliki dua jagoan yang tampan dan sangat menggemaskan. Dan ku pikir, Nessa mengerti maksudku ketika ku angkat jemarinya kemudian kukecup lembut punggung tangannya. Kulihat Nessa memerah seperti biasanya, lalu dia tersenyum sambil menundukkan kepalanya. Dia mencintaiku, dan dia bahagia bersamaku, aku tahu itu meski kini dia tidak mengucapkannya. Dan akupun sama, aku mencintanya dan aku sangat bahagia bersamanya, Nessa tahu itu meski aku tidak mengucapkannya saat ini.

 

***The End***

 

sekali lagi terimakasih banyak sudah mebaca cerita gaje ini. bye and See you next story.. KissKiss

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 12 (End) (Kebahagiaan Baru)

Comments 9 Standard
the lady killer 2

the lady killer 2

 

Chapter 12 (End)

-Kebahagiaan Baru-

 

Nessa merasakan jemari Dhanni menggenggam telapak tangannya. Lelaki itu mengemudikan mobilnya hanya dengan sebelah tangannya, sedangkan sebelahnya lagi sibuk menggenggam tangan Nessa. Nessa sendiri bukannya risih, tapi malah senang karena suaminya itu begitu perhatian kepadanya. Brandon sendiri kini sudah tertidur pulas di atas pangkuannya, sesekali Nessa mengecup kening putera pertamanya tersebut penuh dengan kasih sayang.

“Kamu capek?” Tanya Dhanni yang pandangannya masih lurus ke depan.

“Enggak, aku baik-baik saja kak.”

“Kita mampir cari minum dulu, ya?”

Nessa hanya menganggukkan kepalanya. Akhirnya Dhanni mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah kafe.

Sesampainya, dengan cepat Dhanni keluar dari dalam mobilnya, kemudian menuju ke arah Nessa lalu mengambil alih Brandon hingg kini dalam gendongannya.

Mereka berdua masuk ke dalam sebuah Kafe tersebut, tapi ketika sampai di dalamnya, keduanya melihat sepasang kekasih yang tengah asik berbicara di sudut ruangan kafe tersebut.

Itu Renno dan Allea.

Nessa dan Dhanni memang sudah mengenal Allea sejak beberapa bulan yang lalu. Ahh, ternyata wanita itu yang mampu membuat Renno bertekuk lutut di hadapannya. Nessa sendiri sangat mengenal Allea dengan baik, karena keduanya beberapa kali bertemu bersama. Bahkan saat itu, ketika Allea memiliki masalah dengaan Renno, wanita itu memilih kabur ke apartemennya.

“Kalian di sini?” Tanya Dhanni yang kini sudah berdiri tepat di sebelah Renno.

“Hai, kalian juga di sini?” Renno tampak sedikit terkejut dengan kedatangan keduanya.

“Tadi kami dari bandara.” Jelas Dhanni.

“Ayo, duduk di sini saja.” ajak Allea, akhirnya Dhanni dan Nessa  sepakat untuk duduk di sana dan mengobrol bersama.

Renno dan Allea ternyata sedang sibuk menyebarkan undangan pernikahan mereka yang akan mereka laksanakan minggu depan. Nessa menyambut baik pernikahan Renno dan Allea, Nessa pikir, Allea memang orang yang sangat pantas mendapatkan Renno mengingat Renno sudah pernah setengah gila ketika Allea meninggalkannya saat itu.

“Bagaimana persiapan pernikahanya?” tanya Nessa.

“Hampir selesai.” Allea menjawab dengan lembut. “Kalian benar-benar akan datang, bukan?”

“Ya, tentu saat aku akan datang.” Janji Nessa.

“Aku senang punya teman baik seperti kamu.”

“Kamu juga sangat baik.” Nessa kembali memuji Allea dengan senyuman lembutnya. Ahh, ternyata Tuhan benar-benar mengbulkan do’anya saat itu. Do’a ketika Renno meninggalkannya karena dirinya lebih memilih hidup bersama dengan Dhanni. Do’a supaya lelaki itu mendapatkan wanita yang seribu kali lebih baik dari pada dirinya. Tuhan benar-benar sudah mengabulkannya.

Mereka berempat akhirnya saling mengobrol bersama sesekali  melempar candaan bahagia satu dengan yang lainnya.

***

Malam itu, Dhanni terbangun dalam tidurnya. Ia mendengar seseorang yang sedang menangis terisak. Dhanni mengerutkan keningnya ketika melirik kearah Nessa yng sudah meringkuk memunggunginya dengan punggung yang bergetar. Kenaa dengan istrinya itu?

“Sayang? Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Dhanni dengan menepuk pundak Nessa.

Ternyata Nessa menangis. Secepat kilat Dhanni membalik tubuh Nessa untuk menghadapnya. Ada apa dengan istrinya tersebut? Kenapa tiba-tiba istrinya itu menangis.

“Nessa, kamu kenapa? Ada yang sakit?” Tanya Dhanni dengan khawatir.

Nessa menggelengkan kepalanya. Secepat kilat wanita itu memeluknya ert-erat.

“Aku mimpi buruk.” Jawab Nessa masih sedikit terisak.

“Mimpi apa?”

“Kak Dhanni pergi meninggalkanku. Dan aku sendiri.”

Dhanni tersenyum mendengar penjelasan polos dari strinya tersebut. “Aku tidak akan meninggalkanmu, sayang.”

“Mimpi itu sangat nyata. Aku hanya takut.”

“Hei, Dengar. Aku tidak akan meninggalkanmu, tidak akan pernah. Entah sudah berapa ribu kali aku berkata kalau aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

“Aku tahu, tapi banyak wanita di luar sana yang begitu tergila-gila dengan kak Dhanni, aku hanya takut kak Dhanni tergoda.”

“Tidak!!!” Jawab Dhanni cepat. “Kalau aku tergoda, aku akan tergoda sejak dulu. Tapi lihat, aku tidak pernah tergoda sedikitpun. Malah aku yang khawatir kalau kamu yang akan tergoda dengan lelaki yang lebih muda dariku.”

Nessa akhirnya dapat tersenyum dengan pekataaan Dhanni. “aku nggak akan tergoda.”

“Ya, aku percaya. Dan aku mohon. Kamu harus percaya dengan apa yang aku katakan. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Nessa menganggukkan kepalanya. “Maafkan aku, aku terlalu takut. Mungkin bawaan hamil juga makanya aku jadi cengeng.”

Dhanni mengusap lembut rambut Nessa. “Ya, aku mengerti sayang. Sekarang tidurlah.”

Nessa menggeleng cepat. “Aku nggak mau tidur.”

“Lalu?”

“Aku ngga bisa tidur. Apa kak Dhanni mau bercerita utukku?”

Dhanni terkikik geli. “Kamu mau aku membacakan cerita untukmu seperti yang kulakukaan saat menidurkan Brandon?”

Nessa mengangguk antusias.

“Oke, kamu mau aku bercerita apa?”

“Apa saja asal menarik.” Nessa berkata sambil memposisikan dirinya meringku ke dalam pelukan Dhanni.

“Aku akan bercerita ketika aku bertemu denganmu pertama kali di Jogja.”

Nessa mendongak, menataap ke arah Dhanni dengan mata berbinarnya. “Benarkah?”

Dhanni menganggukkan kepalanya kemudian mulai bercerita.

-Dhanni-

Aku menunggunya sepeti orang gila. Astaga, aku bahkan baru sadar jika aku menyusulnya ke Jogja. Menyusul Wanita yang bahkan belum pernah ku temui. Bagaimana jika nanti dia tidak seindah seperti yang di dalam foto? Jika seperti itu, maka aku akan membatalkan perjodohan sialan itu saat ini juga.

Nessa Ariana, wanita yang beberapa tahun terakhir membuat duniaku jungkir balik. Aku melihatnya pertama kali ketika usianya dua belas tahun. Dan aku melihatnya hanya dari foto yang di berikan Mami padaku. Oh, Sialnya aku tertarik dengan gadis mungil itu. Kenyataan jika dia di jodohkan denganku membuat semuanya semakin sulit. Ada sebuah rasa yang aku sendiri tak tahu itu apa yang membuatku sangat dan sangat ingin memilikinya. Ya, Nessa hanya milikku.

Kini, setelah beberapa tahun berlalu, rasa rinduku pada sosok Nessa membuatku menjadi semakin gila. Dan lihat, saat ini aku bahkan dengan bodohnya menyusul gadis itu ke Jogja. Berdoa saja jika gadis itu tidak seperti yang kubayangkan, supaya aku bisa cepat melupakannya.

Tapi ketika pintu gerbang besar itu di buka. Jantungku berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Itu Nessa, yang baru keluar dari dalam rumah Neneknya. Dan sial!!! Tuhan tidak mengabulkan doa seorang yang brengsek sepertiku.

Dia tampak menakjubkan, bahkan lebih menakjubkan dari pada di dalam foto.

Aku hanya dapat mengamatinya dari dalam mobil. Kulihat dia dari jauh, tampak sempurna.

Sial!!! Aku semakin menginginkannya.

Nessa berdiri seperti menunggu seseorang. Lalu berhentilah seorang dengan motor sialanya tepat di hadapan Nessa. Apa itu pacarnya? Atau hanya sekedar tukang ojek?

Darahku seakan mendidih ketika mendapati Nessa naik ke atas motor tersebut. Jika itu adalah tukang ojek, maka aku akan memaafkannya, tapi jika itu kekasihnya? Maka jangan salahkan aku jika aku akan menyeretnya ke Jakarta dan menikahinyaa saat ini juga.

Hei, apa yang kau bicarakan Dhan? Menikah? Sejak kapan kau berpikir tentang menikah?

Sial!!!

Akhirnya aku kembali fokus mengemudikan mobilku dan mengikuti Nessa kemanapun dia dia pergi dengan pengemudi motor sialan tersebut. Dia ternyata berangkat ke kampusnya. Dan aku baru  mampu menghela napas lega ketika mendapati jika ternyata pengemudi motor tersebut hanya seorang tukang ojek. Sial!!! Apa aku baru saja cemburu dengan tukang ojek? Oh yang benar saja.

Nessa turun, lalu tatapan matanya terarah ke padaku. Kami saling pandang cukup lama, mungkin dia merasa aneh dengan keberadaanku. Atau mungkin dia tidak merasakan apapun karena aku yakin dia pasti belum mengetahui keberadaanku yang di jodohkan dengannya.

Tak lama, beberapa teman Nessa datang, aku melihat Nessa sedikit berbicara ke arah mereka, lalu mereka ikut menatap ke arahku. Sial!! Apa mereka sedang membicarakanku? Untuk pertama kalinya aku merasa salah tingkah di hadapan wanita.

Mereka semua sedikit terkikik geli. Mungkin karena melihat tingkah bodohku? Atau mungkin hanya aku yang terlalu percayaa diri jika mereka sedang memperhatikanku. Sial!! Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dan akhirnya peperangan batin ini berakhir ketika mereka masuk ke dalam gerbang kampus mereka.

Bukannya pergi. Aku malah memutuskan menunggu Nessa di sana seperti orang tolol. Ya, aku memang benar-benar sudah tolol. Jika Renno dan Ramma melihatku seperti ini, mungkin mereka akan menertawakanku, dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

***  

Lama aku menunggu Nessa hingga kemudian ku lihat dia dengan beberapa temannya yang tadi keluar dari dalam kampusnya. Mata Nessa kembali terarah ke arah mobilku. Apa dia merasa aneh saat aku masih ada di sana? Tentu saja bodoh!! Rutukku pada diriku sendiri.

Nessa dan teman-temannya memutuskan pergi. Dan lagi-lagi aku kembali menjadi pengecut tolol yang lebih memilih mengikutinya diam-diam di belakang mereka dari pada langsung menyapanya. Menyapa? Oh yang benar saja.

Mereka menuju ke sebuah mall terdekat. Yah, para gadis, mall dan belanja. Sepertinya bukan hal yang aneh. Nessa ternyata sama dengan gadis-gadis pada umumnya, tapi itu tidak mengurangi sedikitpun rasa penasaranku padanya.

Aku masih saja mengikutinya seperti orang bodoh, bahkan ketika dia berakhir di sebuah kafe dan mengobrol cukup lama dengan teman-temannya.

Aku tidak tahu apa yang dia bicarakan. Yang ku lihat saat itu adalah, gadis yang sangat ceria, tawanya begitu terdengar hangat di telingaku, senyumnya mampu menyejukkan mataku, dan ekspresinya yang berbinar bahagia mampu meluluhlantakkan hatiku.

Oh yang benar saja? Apa yang terjadi denganku? Aku memegangi dadaku yang terasa nyeri karena  jantungku yang degupannya semakin kencang seakan mampu terdengar di seluruh penjuru ruangan. Nessa benar-benar membuatku gila. Dan dia adalah orang pertama yang ku yakni mampu menarikku ke dalam  Zona Bahaya. Ya, aku sadar jika aku sudah jatuh ke dalam Zona sialan itu, meski sekuat tenaga aku mencoba memungkirinya.

***

Nessa terkikik geli ketika Dhanni menyelesaikan ceritanya. Ia tidak menyangka jika suaminya itu akan melakukan hal yang menggelikan sseperti membuntutinya kemanapun ia pergi saat itu.

“Kenapa kamu tertawa?” tanya Dhanni dengan tajam.

“Kak Dhanni benar-benar melakukan itu? Mengikutiku sampai di kafe saat itu?”

Dhanni menghela napas panjang. Tangannyaa terulur mengusap lembut rambut Nessa. “Bukan hanya sampai di kafe. Aku bahkan menunggumu sampai kamu pulang. Dan kalau boleh jujur, aku ketiduran di dalam mobil tepat di depan rumahmu, hingga pagi.”

“Apa?”

“Ya, aku melakukannya. Gila kan?”

Nessa memeluk erat tubuh Dhanni. “Itu tidak gila.”

“Ya, sangat gila. Kalau kamu tahu mungkin kamu akan lari ketautan saat melihat betapa gilanya aku saat itu.”

Nessa kembali tekikik. Jemarinya terulur mengusap lembut pipi Dhanni. “Jadi suamiku ini sudah gila karena jatuh cinta padaku?”

“Ya, lebih tepatnya sangat gila. Jadi istriku, tolong. Jangan ragukan aku lagi. Seberapa banyak wanita yang menginginkanku, sedikitpun tidak akan mampu membuatku berpaling dan menginginkan mereka, karena yang ku inginkan sudah berada tepat di hadapanku. Hanya kamu sayang.”

Nessa merasakan hatinya menghangat ketika mendapat lagi dan lagi pernyataan cinta dari suaminya.

“Ya, aku mengerti.”

“Jangan takut, dan jangan ragu, oke?”

“Iya, sayang.” Jawab Nessa dengan mencubit gemas kedua pipi Dhanni.

“Baiklah, karena kamu sudah baikan, apa boleh aku….” Dhanni menggantung kalimatnya.

“Apa?”

Tapi sepertinya Nessa tak membutuhkan jawabannya ketika Dhanni mulai membalik tubuhnya kemudian mendaratkan sebuah cumbuan penuh hasrat di bibirnya. Dhanni mencumbunya cukup lama sesekali jemari lelaki itu menelusup ke dalam daster yang ia kenakan.

“Aku tidak akan mengganggunya, bukan?” bisik Dhanni serak sembari mengusap lembut perut Nessa yang sudah semakin membesar.

Nessa menggelengkan kepalanya. “Kurasa tidak.” Jawab Nessa dengan malu-malu.

“Baiklah, kalau begitu aku akan melakukannya selembut mungkin.” Dhanni kembali mendaratkan cumbuannya pada bibir Nessa. Sedangkan jari semarinya mulai melaksanakan tugasnya untuk melucuti satu persatu kain yang melekat pada tubuhnya dan juga tubuh istrinya tersebut.

Dhanni kembali memperdalam ciumannya, bahkan kini cumbuannya bergerak turun mencicipi setiap inci dari tubuh istrinya tersebut. Ohh, Nessa masih terasa sama. Meski istrinya itu sudah memberinya seorang putera dan sedang hamil besar seperti saat ini, tapi itu tidak sedikitpun mematikan gairah primitif dari seorang Dhanni Revaldi. Gairahnya selalu tebangun, meletup-letup bagaikan kembang api yang tak pernah padam ketika menatap ke arah istrinya.

“Apa yang kamu lakukan padaku sayang? Kamu benar-benar membuatku gila.” Dhanni berkata serak sembari menyentakkan tubuhnya hingga menyatu seketika dengan Nessa.

“Uugghh..” Nessa hanya mengerang panjang ketika ia menerima penyatuan sempurna dari suaminya.

Nessa merasakan Dhanni terasa begitu pas di dalam tubuhnya, begitu penuh dan terasa sesak, hingga Nessa bahkan dapat merasakan denyutan-denyutan aneh di dalam sana.

Pun dengan Dhanni yang tidak berhenti mengertakkan giginya ketika menahan seluruh gairah yang seakan ingin meledak saat itu juga. Istrinya itu begitu sempit menghimpitnya, hingga membuat Dhanni seakan ingin berteriak frustasi untuk memuaskan hasratnya sendiri.

“Sayang, kamu benar-benar membunuhku.” Desis Dhanni.

“Ahhh ya, bicara saja terus, sampai kak Dhanni lupa kalau kita sudah menyatu.”

“Lupa? Sialan! Aku tidak mungkin lupa saat semua yang di bawah sana mencengkeram erat seakan mencekikku dan membuatku ingin meledak saat ini juga.”

“Lalu kenapa kak Dhanni tidak muai bergerak?”

“Aku hanya ingin… Astaga, lebih lama lagi. Tapi sepertinya…” Suara Dhanni terputus-putus karen menahan gelombang gairah yang datang menghantamnya lagi dan lagi.

“Bergeraklah.” Desah Nessa.

Dhanni menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan bergerak sepelan mungin.” Ucap Dhanni yang kini di sertai dengan gerakan pelan mengujamnya.

Keduanya saling mengerang panjang, saling menatap dengan mata berkabut masing-masing. Bibir keduanya sesekali tebuka dan mengucapkan kalimat cinta, kalimat-kalimat memuja, hingga membuat percintaan tersebut bukan hanya terasa panas, tapi juga terasa hangat penuh dengan cinta.

***

-Dhanni-

 

Mataku kembali menatap ke arah Nessa. Istriku itu tampak kepayahan. Napasnya terputus-putus, sedangkan peluhnya tidak berhenti menetes dari dahinya. Keningnya mengerut, matanya sesekali terpejam karena berkaca-kaca. Aku tahu dia kesakitan. Tuhan, andai saja aku dapat menggantikannya, maka aku ingin menggantikan rasa sakitnya.

Nessa sudah terbaring  telanjang dengan seorang dokter berada di bawahnya. Beberapa suster membantu, sedangkan aku sendiri setia berada di sebelahnya untuk menggenggam tangannya.

Ya, dia sedang berjuang untuk melahirkan putera kedua kami.

Perutku terasa ikut mulas. Mataku juga tidak berhenti berkaca-kaca ketika melihatnya kesakitan. Ketika kelahiran Brandon dulu, aku juga menemaninya. Tapi entahlah, walau ini sudah yang kedua kalinya, tapi tetap saja rasa takut itu masih datang menghampiriku.

Aku takut jika Nessa tidak bisa bertahan dan pergi meninggalkanku… apa jadinya aku tanpa dia?? Tuhan, aku tidak bisa membayangkannya.

Aku menundukkan kepalaku, mengecup lembut puncak kepalanya kemudian membisikan kata-kata di sana. “Sayang, kamu harus kuat, demi aku, demi Brandon, demi bayi kita. Aku yakin kamu bisa bertahan. Aku mencintaimu.” Bisikku dengan tulus.

Nessa termangu menatap ke arahku. Aku yakin jika dia melihat ketulusan di dalam mataku, karena aku benar-benar tulus mengungkapkannya.

“Aku mencintaimu juga, Kak.” Bisiknya parau. Kemudian Nessa kembali mendorong sekuat tenaga. Berteriak semampunya, sedangkan tangannya masih setia mencengkeram erat lenganku hingga buku-buku jarinya memutih.

“Ayo Bu, kepalanya sudah hampir keluar. Pak Dhanni mau melihatnya?” tanya Dokter yang kini masih berada di bawah tubuh Nessa.

Aku menatap Nessa penuh harap. “Bolehkah aku menjadi orang pertama yang melihatnya?”

Nessa menganggukkan kepalanya penuh antusian. Ku kecup lembut puncak kepalanya, kemudian pungung tangannya.

“Aku akan melihatnya, sayang. Berjanjilah kamu akan tetap kuat.”

Nessa menganggukkan kepalanya. “Aku janji.” Bisiknya.

Aku kemudian menuju ke arah Dokter. Dan melihat sendiri bagaimana keajaiban itu hadir. Nessa kembali mendorongnya dengan kuat, hingga aku dapat melihat dengan sangat detail bagaimana detik demi detik putera keduaku di lahirkan.

Ini memang pengalaman keduaku menemani Nessa melahirkan putera kami, tapi ini pengalaman pertama saat aku menyaksikan sendiri bagaimana seorang bayi di lahirkan dengan proses sedetail ini. Dulu ketika Brandon lahir, Nessa tidak membiarkan aku pergi darinya. Nessa selalu mencengkeram erat lenganku hingga Brandon lahir dan di berikan pada kami. Tapi kini, ketika putera kedua kami lahir, aku dapat menyaksikan dengan jelas bagaimana proses kelahirannya.

Kakiku gemetar seketika menatap pemandangan di hadapanku. Dokter menarik tubuh bayi kami, membersihkan lubang hidungnya, kemudian sesekali menepuk lembut pahanya, hingga keluarlah tangisan pertama bayi kedua kami.

Aku memejamkan mataku seketika. Rasa lega kurasakan ketika mendengar bayiku menangis serta melihat istriku tersenyum dengan air mata di pipinya.

“Laki-laki, dan sehat.” Ucap sang dokter.

“Bolehkah saya..”

“Sebentar ya pak, biar di bersihkan dulu.” Ucap Dokter tesebut. Dan aku hanya mampu mengangguk patuh. Aku kembali menuju ke arah Nessa mengecup bibirnya lagi dan lagi.

“Apa dia tidak memiliki kekurangan apapun?”

“Ya, dia tampak sempurna dan menakjubkan.”

“Apa dia tampan?”

Aku tertawa lebar. “Tentu saja, dia tampan sepertiku.”

“Oh yang benar saja, ini curang.” Rengeknya.

“Curang? Dia bayiku, apa kamu ingin dia mirip orang lain? Renno? Atau Jonathan mungkin?”

“Kak Dhanni, bukan itu maksudku. Brandon sudah sangat mirip dengan kak Dhanni, apa tidak bisa bayi kedua kita mirip denganku?”

“Mirip denganmu? Kamu mau dia cantik? Lemah gemulai? Ayolah sayang. Itu menggelikan.”

“Bukan seperti itu.”

“Lalu?”

Nessa kembali meneteskan air matanya. Senyumnya kembali merekah, dia mengalungkan lengannya pada leherku. Aku merasakan bagaimana emosi bahagianya membuncah ketika memelukku.

“Aku hanya terlalu bahagia hingga tidak bisa mengekspresikannya, Kak. Entah dia mirip dengan kak Dhanni atau denganku, itu bukan masalah, aku hanya terlalu bahagia saat menyadari jika hidup kita begitu sempurna.”

Aku mengangguk, lalu ku kecup singkat bibirnya dan berbisik di sana. “Aku juga sangat bahagia.”

Tak lama seorang suster berjalan mendekat ke arah kami dan meletakkan bayi kami tepat di dada Nessa dengan posisi tengkurap.

“Dia akan mencari puting ibunya.” Ucap suster tersebut.

Aku dan Nessa hanya mampu menatap kehidupan mungil di hadapan kami dengan tatapan takjub masing-masing.

“Dia lucu sekali.” Bisik Nessa.

“Ya, Brandon akan sangat suka dengan adik barunya.” Tambahku. “Ah ya, aku sudah menyiapkan nama, dan namanya adalah..”

“Aaron.” Jawab Nessa cepat.

Aku mengangkat sebelaah alisku saat Nessa memotong kalimatku. “Hei, ingat, menurut kesepakatan saat awal kamu hamil anak pertama kita, kalau laki-laki, aku yang berhak menamainya, sedangkan jika perempuan, maka tugas kamu yang memberikan nama untukknya.”

“Aku tidak peduli dengan kesepakatan itu. Kak Dhanni sudah memberi nama untuk Brandon, maka kali ini aku yang akan memberi nama untuk dia.”

Aku menghela napas pajang. “Oke, oke, aku mengalah. Jangan lupa tambahkan nama Revaldi di belakangnya. Karena dia Puteraku.”

“Ya, tentu saja. Aaron Revaldi, Putera kedua dari seorang Dhanni Revaldi, si penakhluk hati wanita.”

Baiklah, kalimat Nessa yang sarat akan sindiran itu membuatku mau tak mau melemparkan tatapan membunuh ke arahnya, tapi Nessa hanya mambalasnya dengan senyuman mengejeknya.

Oh, wanita ini benar-benar,  aku akan menghukumnya setelah semua ini selesai. Menghukum dengan cinta dan kasih sayang hingga dia sadar, walau aku dapat dengan mudah menakhlukkan banyak hati wanita, tapi hanya dia satu-satunya wanita yang dapat menakhlukkan hatiku, hati seorang Lady killer bernama Dhanni Revaldi.

 

***The End***

Kyaaaaa Akhirnya ending juga Kak Dhanniku… btw, aku mau tanya nih, kalian mau epilog ataau udah bosen ama kak Dhanni? kalau mau, aku akan buatkan sedikit epilognya. klo udah bosen yaa maap, epiognya aku simpan aja. hahahhaah okay itu aja. semoga kalian masih mau membaca ceritaaku yg lainnyaa ya.. uheheheh

The Married life (Lady Killer 2) – Chapter 11 (Merelakan)

Comments 3 Standard

bysj4kvccaajavnThe Lady Killer 2

Chapter 11

-Merelakan-

 

Jonathan melepaskan pelukannya pada tubuh Nessa. Menatap Nessa dengan tatapan lembutnya, lalu mengusap sisa-sisa air mata yang jatuh di pipi wanita tersebut.

“Sudah, jangan nangis lagi, ayo kita masuk, kita temui mereka.”

Nessa menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti Jonathan masuk ke dalam kamar Erly. Di sana, Erly sudah dalam posisi terbaring setengah duduk, wajahnya masih terlihat sendu bahkan sesekali masih terdengar isakan.

“Kak.” Panggil Jonathan pada Erly.

Erly mengangkat wajahnya hingga dirinya bertatapan dengan wajah adiknya tersebut. Lalu tanpa banyak bicara lagi Jonathan menghambur ke arahnya, memeluknya dengan erat.

“Maafin aku, maafin aku Jo.” Ucap Erly kembali menangis.

“Kakak nggak salah.”

Nessa sendiri kembali berkaca-kaca menatap pemandangan di hadapannya. Tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan menggenggam telapak tangannya. Nessa melirik ke arah tangannya tersebut, ternyata sudah ada tangan Dhanni di sana yang sudah menggenggamnya erat-erat. Nessa menatap ke arah Dhanni lalu tersenyum manis terhadap suaminya tersebut.

Pun dengan Dhanni yang tampak menyunggingkan senyumannya pada Nessa. Tampak kelegaan di wajah keduanya. Apa memang akan berakhir seperti ini? Atau akankah ada babak baru di antara mereka berempat? Nessa dan Dhanni sendiri tak tahu.

***

Pulang dari rumah Jonathan, keduanya masih saling berdiam diri. Tadi Dhanni memang sempat ke kantor sebentar, dan meninggalkan Nessa di rumah Jonathan. Lalu Dhanni kembali menjemput Nessa dan kini mereka pulang bersama.

Ada sebuah kecanggungan diantara keduanya. Seakan ada sesuatu yang menghalangi keduanya untuk saling bicara satu sama lain. Meski begitu Nessa merasa sangat nyaman mengingat sejak tadi telapak tangan Dhanni tak berhenti menggenggam telapak tangannya. Suaminya itu bahkan sesekali mengecup lembut punggung tangannya meski hingga kini tak mengucapkan sepatah katapun terhadapnya.

Masuk ke dalam apartemen, Dhanni lantas berjalan tepat di depan Nessa, sedangkan Nessa sendiri memilih mengekor di belakang Dhanni sembari menundukkan kepalanya. Hingga Nessa tak menyadari jika kini mereka sudah berada di dalam kamar mereka.

Dhanni menghentikan langkahnya dan itu membuat Nessa yang tepat di belakangnya menubruk tubuhnya karena tak tahu jika Dhanni tiba-tiba berhenti.

“Maaf.” Hanya itu yang di katakan Nessa sambil menundukkan kepalanya.

Dhanni membalikkan tubuhnya hingga kini menatap Nessa sepenuhnya. Ia sedikit menyunggingkan senyuman khasnya, tangannya lalu terulur mengangkat dagu Nessa, membuat Nessa menatap seketika ke arahnya.

“Kenapa minta maaf?” tanya Dhanni dengan suara seraknya.

Nessa hanya sedikit menggelengkan kepalanya. Dhanni kemudian merenggangkan kedua tangannya.

“Kemarilah.” Ucapnya.

Dengan spontan Nessa menghambur ke dalam pelukan Dhanni. Oh, rasanya benar-benar sangat nyaman, seperti ada sebuah beban yang terangkat dari pundaknya.

“Aku kangen meluk kamu kayak gini.” Ucap Dhanni serak. Bibir Dhanni kemudian menelusuri kulit leher serta pundak Nessa.

“Aku juga kangen meninggalkan kecupan-kecupan basah di sini.” Ucap Dhanni lagi masih dengan menggoda leher tengkuk leher Nessa.

“Aku juga kangen kak Dhanni.”

Dhanni tersenyum mendengar ucapan istrinya tersebut. Di peluknya semakin erat tubuh Nessa, seakan tak ingin membiarkan Nessa menjauh darinya.

“Aku kangen Brandon.”

Ucapan polos Nessa membuat Dhnni terkikik geli. Dhanni kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Nessa dengan tatapan lembutnya.

“Nanti kita telepon Mama supaya mereka cepat pulang, aku juga kangen sama Brandon.”

Nessa tersenyum manis. “Kak Dhanni nggak marah sama aku?”

“Marah? Marah kenapa?”

Nessa mengangkat kedua bahunya. “Entahlah, kupikir Kak Dhanni kesal sama aku karena aku memaksa kak Dhanni kembali dekat dengan Erly.”

“Ya, aku memang sedikit kesal. Dan berjanjilah kalau kamu nggak akan melakukan hal itu lagi.”

Nessa mengangguk cepat. “Aku berjanji. Sebenarnya aku juga sedikit cemburu melihat kedekatan kak Dhanni dengan wanita lain.”

“Lalu, kenapa kamu seakan mendorongku untuk dekat dengan dia kemaren?”

Nessa tersenyum. “Karena aku yakin, walau ku dorong menjauh seperti apapun, kak Dhanni tidak akan pernah meninggalkanku.”

Dhanni mendengus tapi tak dapat menahan senyuman di bibirnya.

“Kamu terlalu percaya diri, sayang.”

“Nyatanya seperti itu bukan?”

“Ya, memang seperti itu, walau kamu mendorongku menjauh, atau memohon padaku untuk meninggalkanmu, aku tidak akan melakukan itu.” Telapak tangan Dhanni terulur mengusap lembut pipi Nessa. “Cuma kamu satu-satunya wanita yang ku cintai, kamu adalah tujuan terakhirku, kamu adalah alasanku untuk hidup, jadi jangan pernah meragukanku lagi, jangan pernah memintaku untuk melakukan hal yang membuatmu tersakiti, karena aku juga akan tersakiti saat melihatmu sedih atau menangis.”

Mata Nessa berkaca-kaca seketika. Mungkin kalimat Dhanni tersedar menggelikan di telinganya, tapi entah kenapa Nessa benar-benar merasakan ketulusan di sana.

“Maafkan aku Kak.”

“Berhenti meminta maaf, semuanya sudah berlalu. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Jonathan?” Tanya Dhanni penuh selidik.

Nessa sedikit tersenyum mendengar pertanyaan Dhanni yang terlihat sedikit menunjukkan kecemburuannya.

“Kak, aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Kak Jo. Aku sudah berhenti memikirkannya sejak aku pindah ke Jakarta dan bertemu denganm Kak Dhanni dan juga kak Renno. Jadi, aku sudah tak memiliki perasaan lebih padanya.”

“Kamu yakin?”

Nessa mengangguk cepat.

“Lalu bagaimana dia menyikapi hal ini?”

“Kak Jo baik, dia seperti Kak Renno. Aku yakin dia dapat menerima semua ini.”

“Oh ya? Dan aku baru ingat kalau sejak tadi kamu bicara tentang Renno lagi.”

Nessa tertawa lebar. “Ayolah Kak, aku sudah tak memiliki perasaan apapun dengan Kak Renno atau mantan pacarku yang lainnya. Apa salah kalau aku hanya menyebut namanya?”

Dhanni mendekatkan diri kemudian berbisik lembut di telinga Nessa.

“Tidak salah, tapi tetap saja aku cemburu saat kamu menyebut nama pria lain di hadapanku.”

Nessa mencubit pipi Dhanni. “Kak Dhanni menggelikan.” Nessa lalu beranjak pergi, tapi kemudian Dhanni menarik tangannya.

“Mau kemana?” tanya Dhanni dengan suara seraknya.

“Mandi.”

Dhanni tersenyum miring. “Boleh aku ikut?”

Nessa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Enggak, nanti kak Dhanni nggak cuma mandi.”

“Memangnya kenapa kalau nggak Cuma mandi?” Tanya Dhanni dengan suara menggoda sembari mendekat kembali pada Nessa.

“Uumm…”

Dhanni menundukkan kepalanya, lalu berbisik di telinga Nessa.

“Aku kangen kamu. Aku ingin menyentuhmu setelah semua ini selesai.”

Nessa mengangkat wajahnya, menatap Dhanni dengan tatapan anehnya. Sedangkan Dhanni hanya tersenyum kemudian membopong tubuh Nessa masuk ke dalam kamar mandi.

***

Di dalam kamar mandi.

Dhanni membuka kemeja yang ia kenakan. Matanya tak pernah lepas menatap sosok di hadapannya yang tampak menunduk malu.

“Kenapa seperti itu?” tanya Dhanni ketika Nessa masih menundukkan kepalanya.

“Enggak.”

“Ini bukan pertama kalinya kita mandi bareng kan?”

“Ya, memang bukan, tapi…”

“Tapi apa? Kamu mau aku yang membuka pakaianmu?”

“Enggak, aku bisa membukanya sendiri.” Ucap Nessa cepat.

“Kemarilah.” Ucap Dhanni, dan ketika Dhanni sudah mengucapkan kalimat itu, maka Nessa tahu jika suiaminya itu ingin menyentuhnya.

Nessa mendekat. Tangan Dhanni terulur membantu Nessa membuka pakaiannya satu persatu hingga istrinya itu polos.

“Kamu masih tetap indah seperti pertama kali aku melihatmu.”

“Jangan menggombal, nyatanya tubuhku sudah berubah.”

Dhanni menggelengkan kepalanya. “Bagiku masih sama.”

“Sebentar lagi bobotku bertambah.” Ucap Nessa sambil mengusap perutnya yang masih rata.

Dhanni tersenyum, lalu ikut mengusap perut datar Nessa. “Biarlah, aku bahkan berharap kamu nanti tetap gendut, biar nggak ada yang suka, dan kamu nggak berpikir untuk ninggalin aku.”

“Oh ya? Lalu bagaimana kalau kak Dhanni yang berpikir untuk ninggalin aku yang sudah gendut.”

“Itu tidak akan terjadi.”

“Kita tidak bisa menebak masa depan, sayang.”

Dhanni tersenyum karena Nessa kembali memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’. “Aku tahu, tapi kamu bisa pegang omonganku, kalau ninggalin kamu adalah hal terakhir yang ingin ku lakukan di dunia ini.”

“Nggombal.” Ucap Nessa sambil mempalingkan wajahnya.

Dhanni menolehkan kembali wajah Nessa ke arahnya. “Aku nggak nggombal, ini kenyataan.” Ucap Dhanni serak kemudian menundukkan kepalanya lalu mencumbu bibir Nessa dengan lembut. Amat-sangat lembut. Nessa bahkan mengerang dalam cumbuan Dhanni.

Dhanni melepaskan cumbuannya ketika mereka sudah cukup lama saling bercumbu mesra. Ia mengusap pipi Nessa yang merona.

“Mau berdiri, atau…”

Nessa menggeleng cepat. Dhanni sendiri mengerti apa yang ada di dalam pikiran istrinya tersebut.

“Baiklah, aku mengerti.”

Dhanni lalu menyalakan air, kemudian masuk ke dalam bathub. Ia duduk santai di dalam sana lalu membimbing Nessa untuk mengikutinya dan duduk tepat di atas pangkuannya.

“Kamu selalu suka posisi seperti ini.” Ucap Dhanni serak sembari mencoba menyatukan diri dengan tubuh di atasnya.

Nessa memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya lalu mengerang panjang ketika Dhanni berhasil menyatukan diri dengan tubuhnya. Matanya kemudian membuka, menatap Dhanni yang kini sedang menatapnya sembari menyunggingkan senyuman miringnya.

Nessa mengulurkan jemarinya, mengusap sebelah ujung bibir Dhanni yang tertarik ke atas.

“Jangan tersenyum seperti itu.” Ucap Nessa dengan napas yang sedikit terputus-putus.

“Kenapa?”

“Jelek tahu!” serunya.

“Oh ya? Kalau jelek, aku nggak akan menyandang gelar sebagai Lady killer.”

Nessa tertawa lebar. “Yang ngasih gelar itu yang lebay. Pokoknya jangan senyum kayak gitu lagi, Babbynya nanti mirip gitu.”

“Biar saja, aku kan ayahnya. Jadi biar saja mirip denganku.”

“Keras kepala.” Ucap Nessa dengan mencubit hidung mancung Dhanni.

“Kamu juga sama.” Dhannipun mencubit gemas kedua pipi Nessa.

“Kak Dhanni nggak bergerak? Apa kita akan seperti ini terus sampai malam?”

Dhanni terkikik sendiri. “Sial!! Aku bahkan lupa kalau sudah berada di dalam dirimu sayang. Aku sangat bahagia, saking bahagianya sampai melupakan percintaan kita.”

Kini Nessa yang terkikik geli. Di kalungkannya lengannya pada leher Dhanni kemudian di kecupnya berkali-kali bibir suaminya tersebut dengan kecupan-kecupan kecinya.

“Bergeraklah dengan bahagia.” Bisik Nessa dengan suara seraknya.

“Ya, aku akan bergerak sayang.” Dhanni kemudian menggerakkan tubuhnya secara berirama, sedangkan Nessa sendiri memilih mengikuti irama permainan dari suaminya tersebut dengan sesekali mengerang.

***

Empat bulan kemudian…

“Brandon, astaga, kalau kamu nakal nanti mama tinggal.” Ucap Nessa dengan bocah laki-laki kecil yang sedang menghamburkan mainanya sendiri.

“Ada apa sayang?” tanya Dhanni yang sudah berpakaian Rapi tepat di belakang Nessa.

“Lihat Kak, dia menghambur mainannya lagi.” Rengek Nessa dengan setengah manja.

“Gampang kan, nanti tinggal di pungutin lagi.”

“Tapi aku capek kak, perutku sudah membesar seperti bola basket. Aku bahkan nggak bisa nunduk-nunduk lagi.”

“Aku yang beresin nanti.” Dhanni melirik jam tangannya. “Sudah siap kan? Ayo berangkat, nanti kita ketinggalan mereka.”

“Baju Brandon kotor lagi.” Lagi-lagi Nessa kembali merengek.

“Sini, biar aku yang ganti bajunya.” Nessa tersenyum dengan pernyataan Dhanni, dan akhirnya ia membiarkan Dhanni mengganti pakaian putera pertama mereka.

***

Dhanni masih setia menggenggam sebelah tangan Nessa sedangkan tangan yang lainnya menggendong Brandon, puteranya. Mereka kini berada di sebuah bandara untuk mengantarkan Erly dan Jonathan yang akan pergi ke luar Negeri.

Dari jauh, terlihat Erly melambaikan tangannya. Meski berwajah sendu, tapi sedikit terlihat enyuman di sana. Nessa tampak berjalan cepat lalu memeluk Erly begitu saja.

Ya, sejak hari itu, hubungan keduanya membaik. Entah apa yang terjadi, meski begitu, Dhanni tidak ingin membuka kesempatan bagi Erly untuk kembali dekat dengannya.

Nessa melepaskan pelukannya pada Erly, lalu beralih untuk memeluk Jonathan, tapi secepat kilat Dhanni menarik Nessa ke belakangnya.

“Cukup bersalaman saja.” Desis Dhanni yang membuat Jonathan dan Erly tersenyum.

“Apaan sih.” Gerutu Nessa. “Kak Dhanni juga harus peluk dia sebagai perpisahan.” Bisik Nessa pada Dhanni.

“Enggak!!” hanya itu jawaban dari Dhanni.

“Aku senang melihat kalian akur.” Jonathan tiba-tiba menyahut.

“Maaf, kalau kami sempat mengganggu hubungan kalian. Aku banyak belajar dengan masalah kemarin.” Kali ini Erly yang berbicara. Dhanni dan Nessa hanya menganggukkan kepalanya.

“Nessa, kamu beruntung mendapatkannya.” Ucap Erly dengan menggenggam telapak tangan Nessa.

“Bukan dia yang beruntung mendapatkanku, tapi aku yang beruntung karena dia mau berada di sisiku.” Ucap Dhanni dengan nada cueknya.

Semua tersenyum mendengar ucapan Dhanni.

“Erly, aku harap kita bisa menjadi teman baik setelah ini. Kamu bisa meneleponku atau mengirimku email jika ada masalah.”

Erly menganggukkan kepalanya. “Terimakasih sudah mengerti.”

Nessa menganggukkan kepalanya. Jonathan lalu melirik ke arah jam tangannya.

“Kak, kita harus masuk.”

Erly menganggukkan kepalanya, kemudian tersenyum pada Dhanni dan Nessa. “Aku pergi. Dan sekali lagi terimakasih sudah membuatku sadar.” Erly membalikkan tubuhnya kemudian pergi begitu saja.

Jonathan menatap Nessa dengan tatapan lembutnya. “Terimakasih Ness, kamu sudah memperbaiki semuanya.” Jonathan kemudian berbalik begitu saja lalu menyusul kakaknya dengan setengah berlari.

“Apa kita sudah jahat kak?” tanya Nessa masih dengan menatap kepergian Jonathan dan Erly.

“Tidak, bukan kita yang jahat. Tapi cinta yang terlalu kejam mempermainkan kita.” Nessa kemudian merangkul lengan Dhanni dan meneteskan air matanya di sana. Ia melihat kesakitan yang terpampang jelas di wajah Erly dan Jonathan tadi. Ahhh mereka benar-benar malang. Pikir Nessa.

***

Erly menatap ke luar jendela pesawat yang berada tepat di sebelahnya. Hanya terlihat awan putih yang indah, tapi Erly seakan tidak menikmati pemandangan tersebut. Tatapannya hanya tatapan kosong, sedangkan air matanya tidak berhenti menetes dengan sendirinya.

Erly merasakan tangannya di genggam erat oleh seseorang. Itu pasti Jonathan, adik yang selalu menguatkannya.

“Its okay, kak. Kita akan melupakan mereka.”

“Kita melakukan hal yang benar, kan Jo?”

“Ya, ini sudah benar.” Jawab Jonathan sambil menghela napas panjang.

“Apa kamu sudah merelakan Nessa?”

Jonathan menggelengkan kepalanya. “Belum saat ini, tapi aku yakin, nanti aku bisa merelakannya. Melihatnya tersenyum dengan lelaki lain entah kenapa membuatku sadar, kalau cinta itu bukan tentang kita memilikinya, tapi tentang bagaimana kita membuatnya bahagia.”

Erly menganggukkan kepalanya. “Aku juga senang melihat Dhanni tersenyum walau itu bukan denganku. Apa aku nanti bisa melupakannya?”

“Pasti bisa kak.”

Erly kemudian memejamkan matanya sembari menghela napas panjang. “Aku akan berusaha Jo, aku akan berusaha.” Ucapnya dengan sungguh-sungguh.

 

-TBC-

Kyaaa… nggak nyangka udah sampek part ini… huuffttt padahal nulisnya tersendat2.. hahahhaha eh ya, kemaren aku bilang hanya sampek chapter 15 kan yaa. uummm sorry, sepertinya nggak sampek ke sana, draftnya ternyata nggak cukup. aku nggak bisa ngembangin ide lagi, so, mungkin Chapter selanjutnya sudah ending. Tapiiiiiiii… jangan sedih dulu, aku ada kejutan buat kalian… apalagi kalo bukannnnnn jrengg… jrengg…. -nanti aja ahh.. hahahahhaha- pokoknya pantengin terus Work ini yaakkk.. kisskisss.

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 10 (“Genggamlah tangannya”)

Comments 8 Standard

tlk2-copyThe Lady Killer 2

Ahhh lama bgt yaa aku gak update.. huehehehe mohon maklum karena kesubukan haahahhaha okay, happy reading aja yaa.. KissKiss

Sialan!! Perempuan Penggoda!!! Umpat Dhanni dalam hati.

Dhanni merasakan hasratnya mulai terbangun, tubuhnya menegang seketika oleh gairah yang tersulut begitu saja karena apa yang baru saja di lakukan Nessa terhadapnya. Secepat kilat Dhanni merubah posisinya menindih Nessa.

“Apa kamu sedang menggodaku?” Tanya Dhanni dengan suara yang sedikit tertahan.

“Aku? Aku nggak bermaksud..”

“Karena saat ini aku sedang tergoda karenamu.” Dhanni memotong kalimat Nessa dengan suara serak penuh gairahnya. Kemudian tanpa memikirkan masalahnya lagi, ia mulai menyambar bibir mungil istrinya tersebut, melumatnya penuh gairah. Oh, bibir yang sangat di rindukannya. Persetan dengan semua permasalahan yang ada, kenyataannya, Nessa hanya memilihnya, mencintainya seorang, bukankah itu yang lebih penting?

***  

Chapter 10

-Genggamlah tangnnya-

 

Lumatan itu semakin memanas. Dhanni sekan tak bisa berhenti melumat bibir istrinya tersebut. Rasa rindu bercampur aduk menjadi satu dengan rasa frustasi. Ahh, wanita ini benar-benar membuatnya kehilangan logika. Harusnya ia masih marah, masih kesal, tapi entah kenapa ada sebuah rasa yang membuat Dhanni menghilangkan rasa marah tersebut.

“Kamu hanya milikku, kamu hanya milikku.” Berkali-kali Dhanni mengucapkan kalimat tersebut tanpa menghentikan pergerakannya menghujam semakin dalam ke dalam tubuh istrinya itu.

“Kak.”

“Jangan banyak bicara.” Perintah Dhanni, dan Nessa hanya mampu menurutinya.

Nessa tak berhenti mengerang saat Dhanni menggodanya. Membuatnya dihantam oleh gelombang kenikmatan lagi dan lagi. Oh, suaminya ini benar-benar pandai menggoda, pandai membuatnya melambung tinggi karena kenikmatan yang di ciptakan oleh suaminya tersebut.

Dhanni mencumbu sepanjang leher Nessa. Menghisap permukaan leher tersebut, menggigitnya seakan memberikan tanda jika Nessa hanya miliknya dan tak boleh di miliki oleh siapapun.

“Kak…” Nessa kembali mengerang ketika merasakan rasa yang sedikit pedih pada lehernya.

“Sakit.” Erangnya lagi.

Dhanni menghentikan aksinya seketika. Ia menatap wajah wanita yang kini sedang berada di bawahnya. Mengusap lembut pipi istrinya tersebut.

“Itu hukuman buat kamu karena sudah membohongiku.” Ucap Dhanni dengan suara seraknya.

“Aku sudah minta maaf.”

“Ya, tapi aku masih kesal dan cemburu, aku ingin kamu tahu kalau kamu hanya milikku.”

Nessa tersenyum melihat keposesifan suaminya tersebut.

“Aku selalu jadi milikmu kak, kamu jangan takut kalau aku akan pergi meninggalkanmu.”

“Aku tidak takut kamu pergi, karena walau kamu pergi, aku akan menyeretmu kembali kepadaku.” Setelah perkataan tersebut, Dhanni kembali melumat kasar bibir Nessa, kembali bergerak berirama mencari-cari kenikmatan untuk tubuh mereka berdua, hingga kemudian sampailah mereka pada puncak kenikmatan tersebut.

***

Paginya, Dhanni bangun lebih pagi dari sebelumnya. Dhanni tahu jika kini mereka masih dalam sebuah masalah. Nessa belum selesai menceritakan semuanya, dan dirinya lebih memilih bercinta dari pada membicarakan semuanya tadi malam.

Sial!!!

Dhanni kemudian mengangkat omlet ke tiga buatannya. Pagi ini, ia yang memasakkan omlet untuk Nessa dan dirinya sendiri. Semoga saja istrinya itu senang saat mendapati dirinya sudah melembut kembali.

Tak lama, Dhanni melihat Nessa keluar dari dalam kamarnya. Wanita itu tampak lebih segar, mungkin sudah selesai mandi. Hanya mengenakan pakaian santainya di dalam rumah seperti biasa dan entah kenapa begitu saja sudah cukup membangkitkan sesuatu dari dalam diri Dhanni.

“Pagi sayang, kemarilah.” Panggil Dhanni yang kini sudah duduk di kursi tempat makan dengan omlet di hadapannya.

Masih dengan sedikit menunduk, Nessa berjalan menghampiri Dhanni. Dhanni kemudian menarik istrinya tersebut hingga duduk tepat di atas pangkuannya.

“Uum, kupikir kak Dhanni sudah berangkat ke kantor.”

“Aku libur.” Ucap Dhanni dengan cuek. “Ayo kita sarapan.” Kali ini dhanni sudah menyuapkan sedikit omlet untuk Nessa. Dengan patuh Nessa memakan masakan suaminya tersebut.

“Uum, ada yang perlu aku bicarakan.” Ucap Nessa dengan hati-hati.

“Ya, kamu memang perlu bicara. Mulailah dari apa yang kamu lakukan di rumah Jonathan.”

“Itu, umm, mereka adik kakak” Ucap Nessa ragu untuk memulai pembicaraan.

“Ya, aku tahu.” Jawab Dhanni dengan datar.

“Kak Dhanni tahu? Kenapa tidak memberitahuku?”

“Karena aku tahu, kalau aku memberitahumu maka kamu akan berpikir yang macam-macam, ingat, kamu nggak boleh terlalu banyak pikiran.” Ucap Dhanni sembari mengusap lembut kerutan di kening Nessa. “Lalu bagaimana lanjutan ceritanya?”

“Erly depresi, dia bahkan tak dapat bangun dari tempat tidurnya.”

“Itu bukan urusan kita.” Ucap Dhanni dengan cueknya.

“Kak, ayolah..”

“Apa? Apa kamu ingin aku kesana dan menjadikannya kekasihku atau bahkan istri keduaku agar dia sembuh? Yang benar saja.”

“Enggak, aku tidak ingin seperti itu, tapi bisahkah kak Dhanni melunakkan hati untuk mengunjunginya sebentar? Dia hanya perlu di ajak bicara baik-baik.”

“Kalau tidak bisa di ajak bicara baik-baik bagaimana? Nessa, setahuku orang yang depresi itu harus mendapat penanganan khusus dari psikiater, atau harusnya dia masuk ke dalam rumah sakit jiwa sekalian, bukan tiduran di rumah. Apa kamu nggak pernah berpikir jika ini hanya rencana mereka?” ucap Dhanni dengan sedikit kesal.

Nessa menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak, ini bukan rencana mereka kak, Erly benar-benar sakit, dan aku dapat melihat kesakitan itu bahkan di mata kak Jo.”

“Ya, ya, ya, mereka membuatmu lemah dengan rasa kasihan.”

“Kak.”

“Sayang, aku tidak ingin kita berputar pada masa lalu sialan itu. Kumohon, kita harus meninggalkan mereka jauh-jauh.”

“Tapi aku tidak ingin rasa bersalah ini menggerogotiku kak, aku tak ingin bahagia di atas penderitaam orang.”

Dhanni memejamkan mata frustasi. Ah, sepertinya tak ada gunanya berdebat dengan istrinya ini. Mau seperti apapun, ia yang akan kalah.

“Oke, sekarang mau kamu apa?”

“Ayo kita ke rumah mereka, kak Dhanni harus melihat sendiri keadaan Erly. Please, ajak dia bicara baik-baik.”

“Setelah itu?”

Nessa tersenyum kemudian mengusap lembut pipi Dhanni. “Kita akan pergi saat mereka sudah menerima kenyataan tentang hubungan kita.”

***

Siang itu juga, Nessa mengajak Dhanni ke rumah Jonathan dan Erly. Jonathan sendiri menyambut hangat keduanya, tapi tidak dengan Dhanni yang tak berhenti menampilkan ekspresi kerasnya.

Mereka masuk menuju ke kamar tidur Erly. Erly sendiri masih terlihat terbaring lemah di sana.

“Duduklah.” Bisik Nessa pada Dhanni seraya memerintahkan Dhanni supaya duduk di pinggiran ranjang. Dan akhirnya Dhanni menuruti apa mau istrinya tersebut.

“Erly, aku bawa kak Dhanni ke sini, apa kamu nggak mau membuka matamu?” Tanya Nessa.

Dhanni sendiri hanya mampu menatap ke arah Nessa. Istrinya itu tampak kuat, tapi Dhanni tentu tahu jika wanita itu tak lebih dari wanita rapuh.

“Genggamlah tanganya.” Bisik Nessa lagi pada Dhanni.

Dhanni menggeleng cepat. “Tidak!!” Serunya dengan tegas.

“Kak.” Rengek Nessa.

Dhanni berdiri seketika. Raut wajahnya sarat akan kekesalan yang sudah benar-benar memuncak di kepalanya. Ia kemudian keluar begitu saja dari dalam kamar Erly. Mengumpat berkali-kali di ruang tengah rumah Jonathan. Dhanni bahkan tak sadar jika Nessa sudah mengikuti tepat di belakangnya.

“Ini gila!! Aku tidak mungkin menyentuh wanita lain selain istriku, Ness. Jauh dalam lubuk hatimu kamu tahu itu.” Ucap Dhanni tajam saat m2engetahui Nessa sudah berdiri di hadapannya.

“Aku mengerti, tapi apa salahnya menyentuh telapak tangannya sedikit? Siapa tahu itu bisa membantunya.”

“Aku tak akan membantu apapun.” Tegas Dhanni sekali lagi.

“Kak, kumohon, kita belum mencobanya.”

Dhanni tersenyum miring. “Oh ya? Kamu ingin mencobanya? Memberikan suamimu pada mantan kekasihnya?”

“Bukan itu yang ku maksud Kak.”

“Aku akan melakukannya kalau itu maumu. Dan ku harap kamu tidak menyesal memintaku untuk menyentuh wanita lain.” Ucap Dhanni dengan kesal sambil berjalan masuk kembali ke dalam kamar Erly.

Nessa sendiri hanya tercenung mendengar ucapan suaminya tersebut. Bagaimana jika keputusannya ini salah? Bagaimana jika Dhanni kemudian meninggalkannya? Tidak, Dhanni tak mungkin meninggalkannya demi wanita lain. Pikir Nessa dalam hati.

***

Dhanni benar-benar menuruti apa mau Nessa. Ini sudah dua hari setelah cekcok dengan NEssa di rumah Jonathan pada saat itu. Kini hubungannya dengan Nessa sedikit merenggang. Dhanni bahkan tak ingin untuk sekedar menyapa istrinya tersebut.

Pagi ini Dhanni kembali mengunjungi Erly, menggenggam tangannya, dan mengucapkan kata-kata lembut seperti yang di perintahkan Nessa. Rasanya kesal, tentu saja, Dhanni tentu tidak ingin melakukan hal ini, tapi tak ada gunanya melawan kekeraskepalaan sang istri.

Erly sendiri sampai saat ini belum bangun. Kadang Dhnani heran, apa yang membuat wanita ini begitu tergila-gila padanya? Ia sudah menolak habis-habisan, tapi kenapa wanita yang terbaring di hadapannya itu masih saja menyimpan cinta untuknya.

“Erly, bangunlah, apa kamu tahu kalau ini juga menyakitiku? Kamu membuatku menyakiti perasaan wanita yang sangat ku cintai, dan itu benar-benar menyakitkan untukku.” Lirih Dhanni lembut.

Dhanni menghela napas panjang kemudian mulai bercerita.

“Aku mengenalnya saat usiaku Lima belas tahun. Terserah kamu percaya atau tidak. Tapi sejak saat itu hatiku sudah terpaut dengan seorang wanita yang bernama Nessa Arriana. Dia membuatku gila, dia menjungkir balikkan duniaku, dia menarikku kedalam pusaran suatu zona yang dulu ku sebut dengan ‘Zona bahaya.’”

“Mata, hati dan pikiranku semua terpaut pada wanita itu, wanita yang bahkan belum pernah ku temui. Ya, aku mengenalnya hanya dari foto-foto yang di berikan orang tuaku, aku mengenalnya dari cerita yang di ceritakan oleh ibuku, dan aku sudah jatuh cinta padanya karena hal itu. Memang gila, ya, aku benar-benar gila karena seorang Nassa Arriana, hingga kegilaan itu mengubahku menjadi sosok Lady Killer, sosok penakhluk wanita, pembunuh hati wanita seperti yang kulakukan padamu.”

“Erly, aku mengerti apa yang kamu rasakan, melihat orang yang kamu cintai setengah mati mencintai orang lain. Karena aku juga pernah merasakan hal tersebut ketika tahu jika Nessa tak hanya mencintaiku. Tapi bisakah aku memohon padamu untuk tidak memaksakan kehendakmu? Karena walau seperti apapun keadaanmu, perasaanku tetap sama, hanya Nessa wanita yang ku cintai, dan aku tidak akan –Tidak akan pernah- meninggalkannya demi wanita lain.” Lirih Dhanni dengan tulus.

Pada saat bersamaan, Dhanni menatap mata Erly yang mengeluarkan buliran air mata menuruni pelipisnya. Mata tersebut kemudian sedikit bergerak lalu sedikit demi sedikit terbuka. Dengan spontan Dhanni menyunggingkan senyumannya. Senang? Tentu saja.

Erly menatap Dhanni dengan tatapan sendunya. Tampak jelas raut kesakitan di sana, dan entah kenapa Dhanni dapat merasakan hal tersebut.

“Kamu sudah bangun?” Tanya Dhanni dengan suara lembutnya.

Erly menganggukkan kepalanya pelan. “Kamu di sini?” kali ini Erly membuka suaranya. Telapak tangan rapuhnya terulur mengusap lembut pipi Dhanni.

“Ya, aku di sini, bukan karena kamu, tapi karena istriku. Dia yang memaksaku untuk berada di sini menemanimu.”

Tangis Erly semakin deras setelah mendengar ucapan Dhanni.

“Kenapa kamu mengatakan hal itu? Tak bisakah kamu sedikit berbohong padaku dan menyenangkan hatiku?”

Dhanni menggelengkan kepalanya cepat. “Maaf, aku tidak bisa berbohong tentang perasaanku. Karena aku tahu itu akan menyakiti banyak orang nantinya, termasuk kamu. Aku tidak ingin itu terjadi.”

“Aku mencintaimu Dhan.”

“Dan aku mencintai istriku.” Dhanni berkata dengan lembut seakan ingin menjelaskan pada Erly jika wanita itu tak memiliki kesempatan lagi untuk berada di sisinya.

“Kami sudah memiliki seorang putera, dan Nessa kini sudah mengandung bayi kedua kami. Kumohon, mengertilah posisi kami. Apa kamu tak dapat merasakan perasaannya ketika ia membiarkan suaminya kembali dekat dengan mantan kekasihnya? Lihat dia Erly, dia bahkan mendorongku untuk kembali dekat denganmu, karena dia memikirkan perasanmu dan mengesampingkan perasaannya sendiri. Aku tidak bisa menyakitinya terus-menerus seperti ini.” Dhanni berujar dengan tulus. Ia memang benar-benar tak dapat menyakiti perasaan Nessa dengan membiarkan Nessa melihat dirinya dekat dengan wanita lain, meski itu permintaan dari Nessa sendiri.

“Aku tak bisa melupkanmu Dhan.”

“Karena kamu selalu mengingatku, kamu terobsesi denganku. Cobalah untuk melangkah ke depan, jangan pernah menoleh kebelakang untuk melihatku, karena aku sudah bahagia dengan wanita lain.”

Erly hanya termenung mendengar setiap kata yang di ucapkan oleh Dhanni.

“Kamu tahu kenapa aku selalu bersikap dingin atau kasar padamu? Karena aku ingin kamu membenciku dan melupakanku. Kamu harus mencari penggantiku Erly, karena sampai kapanpun juga aku tak akan pernah kembali padamu.”

Erly memejamkan matanya, kembali terisak dengan apa yang di katakan oleh Dhanni. Ah ya, memang selama ini dirinya selalu menoleh kebelakang. Berkaca dengan masalalunya, memperbaiki dirinya hanya dengan tujuan suapaya Dhanni kembali padanya, padahal Erly tahu, dalam hatinya yang paling dalam ia mengerti jika itu salah, dan dirinya tak akan pernah berhasil walau sudah berubah seperti apapun.

“Maaf kalau kata-kataku terlalu kasar dan menyakitimu, tapi aku harus jujur dari sekarang. Kita bisa berteman, sangat bisa, asalkan kamu dapat menghilangkan perasaan cintamu dan mencari penggantiku. Aku tidak bisa berteman atau berhubungan dengan orang yang mencintaiku, karena aku tahu itu akan menyakiti orang tersebut.”

Erly kemudian menganggukkan kepalanya. Ia mencoba bangkit, dan Dhannipun akhirnya membantunya. Erly menatap Dhanni dengan tatapan anehnya.

“Kamu juga tersakiti karena ini?” tanya Erly dengan suara lemahnya.

Dhanni menganggukkan kepalanya. “Aku sakit karena melihat wanita yang ku cintai tersakiti.”

“Sedalam itukah kamu mencintai Nessa?”

Dhanni kembali menganggukkan kepalanya. “Sangat dalam, bahkan ku pikir aku sendiri tak dapat mengukur kedalamannya.”

“Jadi, aku tidak memiliki sedikitpun kesempatan?”

Dhanni tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak untuk kamu ataupun wanita lain.”

Erly menghela napas panjang sembari memejamkan matanya, merasakan rasa sakit yang menusuk hatinya.

“Bolehkan aku memelukmu sekali saja, untuk yang terakhir kalinya?”

Dhanni menggelengkan kepalanya, menolak permintaan Erly.

“Kumohon, setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi.”

Kali ini Dhanni yang menghela napas panjang, kemudian merenggangkan kedua tangannya. Erly akhirnya melemparkan diri ke dalam pelukan Dhanni menangis terisak di sana. Rasa sakit bercampur dengan sediki rasa bahagia membuncah di hatinya.

“Aku akan melupakanmu, aku akan berusaha melupakanmu.”

Dhanni menganggukkan kepalanya. “Kamu harus melakukan itu.” Lirih Dhanni.

Keduanya berpelukan cukup lama, bahkan mereka tak menyadari jika ada seorang wanita di balik pintu yang sedang menatap keduanya tersenyum dan ikut meneteskan airmatanya.

Itu Nessa.

Nessa mengerjap ketika sebuah tangan menebuk bahunya. Ia membalikkan tubuhnya kemudian menatap sosok tinggi yang tampan yang sedang menatapnya.

“Kamu nangis?” Tanya Jonathan sambil mengusap airmata di pipi Nessa.

Nessa menganggukkan kepalanya.

“Karena apa? Sedih atau bahagia?”

“Kedua-duanya.” Jawab Nessa cepat.

“Kenapa bisa?”

“Entahlah, aku hanya baru sadar jika aku memiliki suami yang sangat mencintaiku, dia rela melakukan apapun untukku, dan bodohnya aku tak pernah menyadari hal itu. Aku sedih saat melihatnya dekat dengan wanita lain, tentu saja sedih karena takut jika ada yang merebut dia dariku.”

Jonathan menganggukkan kepalanya. “Kamu beruntung memiliki dia.”

“Ya, sangat beruntung.”

“Terimakasih untuk semuanya Ness.”

Nessa menganggukkan kepalanya. Lalu tanpa di sangka Jonathan memeluk tubuhnya erat-erat, seakan enggan untuk berpisah dengan Nessa, wanita yang sangayt di cintainya.

Ohh kenapa cinta bisa begitu rumit? Kenapa cinta harus saling menyakiti jika kita dapat mengambil jalan tengahnya? Nessa tak mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi satu hal yang ia tahu, bahwa ia ingin selalu bersama dengan Dhanni Revaldi. Lelaki yang sangat di cintainya, lelaki yang juga begitu dalam mencintai dirinya.

 

-TBC-

Tamat?? belom dong… hahahhahaha happy waiting.. tinggal yang manis2nya aja nihh ahahhahhah

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 9 (Marah)

Comments 5 Standard

TLKNew1Lady Killer 2

Dhanni lantas berdiri. Tatapan matanya tajam seakan dapat menusuk apapun yang ada di hadapannya. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah Nessa, seperti seekor singa yang sedang mengitari mangsanya.

Saat sampai tepat di hadapan Nessa, Dhanni mengulurkan telapak tangannya pada pipi Nessa, kemudian mengusap lembut pipi istrinya tersebut.

“Bagaimana kencannya sayang??” Suara Dhanni terdengar lembut tapi penuh dengan penekanan, seakan siapapun yang mendengarnya tak dapat mengelak dari pertanyaan tersebut.

Tubuh Nessa bergetar seketika, ia tau jika kini dirinya sedang dalam sebuah masalah. Kak Dhanni.. apakah suaminyaa itu akan kembali marah terhadapnya dan tak mau mendengarkan penjelasannya???

***

Chapter 9

-Marah-

 

Nessa membuka matanya dan mengernyit saat mendapati dirinya berada di tempat yang asing. Ini bukan kamar tidurnya, tapi kenapa ia bangun di ruang seperti ini? Pikirnya. Tak lama pintu kamar tersebut terbuka dan mendapati sosok Jonathan yang masuk dengan membawakannya sebuah nampan yang berisi aneka makanan. Nessa baru ingat jika dirinya kini masih berada di dalam rumah lelaki tersebut.

Tadi siang, Nessa mendengarkan semua keluh kesah Jonathan. Lelaki itu sangat menyayangi kakaknya, dan lelaki itu terlihat begitu rapuh. Nessa merasa kasihan, akhirnya dengan kelembutan hatinya, ia membatu Jonathan merawat Erly tadi siang. Menyeka seluruh tubuh mantan kekasih suaminya itu, membantu mengganti pakaiannya dan lain sebagainya. Hingga kemudian Nessa kelelahan dan berakhir ketiduran di sofa. Tapi Nessa sedikit bingung saat mendapati dirinya kini bangun di dalam kamar ini.

“Sudah bangun?” tanya Jonathan dengan senyuman lembutnya. Nessa hanya mampu meganggukkan kepalanya.

“Kok aku di sini?”

“Kamu tidur seperti orang pingsan, mungkin kamu kelelahan, jadi aku memindakanmu kemari.”

“Oh ya? Astaga, kebiasaan keduaku saat hamil adalah suka tidur pulas sembarangan.” Nessa terkikik seakan menertawakan dirinya sendiri. Begitupula dengan Jonathan.

Jonathan kemudian duduk di pinggiran ranjang lalu memberikan nampan yang di bawanya untuk Nessa.

“Makanlah, kamu pasti lapar.” Ucapnya sembari menatap Nessa dengan tatapan penuh kasih sayang.

Nessa tampak sedikit salah tingkah. Ia tentu tidak nyaman dengan perhatian yang di berikan oleh Jonathan. Tadi siang, keduanya sudah sepakat untuk berteman baik. Nessa berjanji akan membantu Jonathan untuk membujuk Dhanni supaya mau sedikit lebih lembut terhadap Erly. Memberikan pengertian untuk wanita itu supaya mau melupakan Dhanni.

“Uumm, aku mau pulang.”

“Tidak, kamu nggak boleh pulang sebelum makan.” Ucap Jonathan tanpa bisa di ganggu gugat. Nessa sendiri hanya tersenyum dengan sikap Jonathan yang pengertian padanya.

“Bagaimana kak Erly?” tanya Nessa sambil menyuapkan makanan yang tadi di bawakan oleh Jonathan.

“Tadi dokter sudah memeriksanya seperti biasa. Tapi keadaannya masih sama.”

“Emm, aku akan mencoba membujuk Kak Dhanni supaya mau kemari nanti.”

“Kamu yakin?”

Nessa mengangguk cepat. “Ya, aku akan membujuknya.”

Jonathan tersenyum. Tangannya terulur kemudian mengusap lembut pipi Nessa.

“Aku benar-benar bodoh karena sudah meninggalkanmu dulu.”

Nessa tersenyum. “Bukankah kita sudah sepakat tidak membahasnya lagi?”

“Ya, tapi kamu nggak berhak melarangku untuk menyesali diri sendiri kan? Lagi pula aku tidak akan memaksamu untuk kembali bersamaku.”

Nessa menganggukkan kepalanya. “Anggap saja kita bukan jodoh. Aku yakin kak Jo akan menemukan jodoh kak Jo nantinya.”

“Benarkah? Seyakin apa?”

Nessa menganggkat kedua bahunya. “Kak Jo ngingetin aku dengan seseorang.”

“Siapa?”

“Namanya Kak Renno.” Nessa tersenyum mengingat nama tersebut.

Jonathan mengangkat sebelah alisnya. “Ada apa dengan dia? Kamu ada perasaan sama lelaki yang namanya Renno?”

Nessa tertawa sedikit lebih nyaring. “Tentu tidak. Kak Dhanni nggak akan membiarkanku menyukai laki-laki lain selain dia.”

“Lalu?”

“Dulu, dia sangat mencintaiku, dan akupun sepertinya mencintai dia karena aku membiarkan diriku dekat dengannya. Tapi kemudian aku sadar, jika memang tak ada lelaki lain yang mampu menggantikan posisi kak Dhanni di hatiku. Hanya kak Dhanni yang ada di hatiku, sedangkan yang lain hanya bagaikan sebuah ujian.”

“Jadi, aku hanya sebuah ujian untuk cinta kalian?”

Nessa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar.

“Lalu, apa yang terjadi dengan si Renno tadi?”

“Dia pergi, dan mengalah untuk kami.”

“Benarkah?”

Nessa menganggukkan kepalanya. “Dia berkata jika dia bahagia melihatku bahagia dengan sahabatnya, oleh karena itu dia pergi dan mencoba mencari kebahagiaannya sendiri.”

“Jadi aku harus mengikuti jejak Renno? Atau kamu menyuruhku untuk mengikuti jejaknya?”

Nessa terkikik geli dengan pertanyaan Jonathan.

“Kak Jo tentu dapat menyimpulkan sendiri, mana yang terbaik untuk kita semua. Aku hanya tidak ingin kita saling menyakiti.” Ucap Nessa dengan lembut.

“Ya, aku juga berpikir begitu. Aku tidak akan sanggup menyakitimu, tapi di sisi lain, aku juga tidak bisa membiarkan kakakku seperti itu.”

“Maka dari itu aku ingin mencoba membantu kalian. Aku akan coba membujuk kak Dhanni supaya mau memberi pengertian lebih lembut terhadap kak Erly.”

“Kamu yakin itu akan berhasil?”

“Semoga saja. Jika ada yang berkeras hati, maka tidak ada salahnya bukan kalau kita melawan dengan hati yang lembut? Kak Erly hanya butuh pengertian.”

Kali ini Jonathan yang menganggukkan kepalanya. “Ya, mungkin memang begitu. Kita akan mencobanya, dan semoga saja suami kamu mau memberi pengertian dan bersikap lembut pada kakakku.”

Nessa tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan.

***

Nessa akhirnya membiarkan Jonathan mengantarnya hingga tepat di depan pintu apartemen Dhanni. Ahh rasanya sedikit lega, mengingat saat ini hubungannya dengan Jonathan sudah lebih jelas lagi, hubungan hanya sekedar teman yang akan saling membantu untuk kesembuhan Erly.

“Terimakasih kak Jo sudah mau mengantarku sampai sini.”

“Ya, aku kan menjemputmu di sini, maka aku akan mengantarmu sampai sini.”

Nessa tersenyum lembut mendengar jawaban penuh perhatian dari Jonathan. Ahh lelaki itu masih sama seperti dulu, lelaki yang baik dan penuh perhatian terhadapnya.

“Istirahatlah, sudah jam sebelas lebih. Ibu hamil nggak baik tidur terlalu larut.” Ucap Jonathan lagi sambil melirik ke arah jam tangannya.

Nessa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Akhirnya Jonathan pamit pergi. Sedangkan Nessa langsung masuk ke dalam apartemennya.

Di dalam apartemen sangat gelap, Nessa mencoba meraba dinding tepat di sebelah pintu apartemnnya untuk menyalakan lampu. Dan ketika lampu tersebut menyala, betapa terkejutnya Nessa mendapati sosok yang duduk di sofa penuh dengan keangkuhan. Sosok tersebut menyiratkan ekspresi kerasnya, seakan sedang menahan kemarahan.

“Kak Dhanni?” ucap Nessa dengan nada tak percayanya. Nessa membatu di seberang ruangan, seakan mencerna apa yang sedang terjadi. Bagaimana mungkin suaminya itu sudah berada di rumah malam ini?

Dhanni lantas berdiri. Tatapan matanya tajam seakan dapat menusuk apapun yang ada di hadapannya. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah Nessa, seperti seekor singa yang sedang mengitari mangsanya.

Saat sampai tepat di hadapan Nessa, Dhanni mengulurkan telapak tangannya pada pipi Nessa, kemudian mengusap lembut pipi istrinya tersebut. Sedangkan Nessa sendiri masih membatu dengan apa yang akan di lakukan suaminya tersebut.

“Bagaimana kencannya sayang?” Suara Dhanni terdengar lembut tapi penuh dengan penekanan, seakan siapapun yang mendengarnya tak dapat mengelak dari pertanyaan tersebut.

Tubuh Nessa bergetar seketika, ia tau jika kini dirinya sedang dalam sebuah masalah. Nessa merasakan De Javu, seperti dulu ketika ia pulang malam di antar oleh Renno, lalu Dhanni sudah menunggu di dalam kamarnya.

“Umm, kok Kak Dhanni sudah pulang?”

“Kecewa karena aku pulang lebih cepat?” tanya Dhanni dengan nada yang tak enak di dengar.

“Bukan begitu, aku malah senang kalau kak Dhanni…”

“Lupakan saja!” Dhanni memotong kalimat Nessa. “Jadi, bagaimana kencanmu dengan dia?” Tanya Dhanni secara terang-terangan.

“Aku nggak kencan.”

“Oh ya? Lalu untuk apa kamu tinggal di rumahnya seharian ini?!!”

“Tinggal di sana? Aku hanya…” Nessa menghentikan kalimatnya lalu menyadari sesuatu. “Darimana kak Dhanni tahu aku di sana seharian ini?”

“Tidak penting!”

“Kak Dhanni nyuruh orang ngikutin aku? Memata-mataiku?”

“Itu Tidak Penting, Nessa!” Ucap Dhanni lebih keras dan penuh penekanan.

“Itu penting karena itu tandanya kak Dhanni nggak percaya sama aku!” Nessa mulai berteriak frustasi.

“Bagaimana aku bisa percaya kalau kamu tidak pernah bercerita lebih tentang dirimu? Kamu menutupi semuanya, dan aku seperti orang Bodoh yang hanya pura-pura tak tahu.”

“Aku sudah bilang, aku akan bercerita kak, tapi aku menunggu waktu yang tepat.”

“Kapan? Setelah aku mengetahui semuanya dari orang lain?” Dhanni tersenyum penuh ironi. “Aku bahkan nggak nyangka kejadian ini terulang lagi dan lagi. Kejadian di mana Kamu membagi hatimu dengan laki-laki lain.”

“Aku tidak membagi hatiku dengan laki-laki lain!!!” Seru Nessa.

“Oh Ya? Lalu kenapa kamu takut aku mengetahui hubunganmu dengan si Brengsek sialan itu?”

“Aku tidak takut.”

“Kalau begitu ceritakan, apa saja yang kamu lakukan di rumahnya tadi.” Tantang Dhanni.

Mata Nessa sudah berkaca-kaca. Ia tak menyangka jika Dhanni akan memperlakukannya seperti ini. Menuduhnya, tidak mempercayainya, bahkan memberondongnya dengan kalimat-kalimat yang entah kenapa terdengar menyakitkan di telinga Nessa.

“Aku tidak akan menceritakan apapun sekarang. Kak Dhanni sedang emosi, apapun yang aku bicarakan Kak Dhanni nggak akan percaya.”

“Lalu kapan? Apa kamu menunggu sampai sudah ada kata perceraian diantara kita?!!” Dhanni sudah tak dapat menahan emosinya lagi. Entahlah, diamana Dhanni yang selalu bersikap lembut dan dewasa terhadap Nessa.

Nessa membulatkan matanya seketika. Air matanya jatuh begitu saja ketika Dhanni mengucapkan kata ‘perceraian’. Sedangkan Dhanni sendiri terdiam seketika, wajahnya memucat saat sadar dengan apa yang baru saja di katakannya.

‘Sial!! Kau terlalu jauh, Bodoh!!’ Dhanni mengumpati dirinya sendiri dalam hati.

Nessa akhirnya memilih mengakhiri percekcokannya dengan pergi dari hadapan Dhanni. Tapi baru beberapa langkah melewati suaminya tersebut, pergelangan tangannya di cekal oleh Dhanni.

“Kita belum selesai.” Ucap Dhanni dengan suara yang lebih lembut dari pada tadi.

“Ya, memang belum, tapi aku akan menyelesaikannya nanti, setelah kepala kak Dhanni dingin.” Nessa melepas paksa cengkeraman tangan Dhanni lalu berlari menuju ke kamarnya.

Dhanni hanya mampu memejamkan matanya frustasi. Bodoh!! Bagaimana mungkin ia bisa lepas kendali? Melihat Nessa yang meneteskan air mata karena ulahnya sendiri benar-benar membuat Dhanni ingin membunuh dirinya sendiri. Sialan!! Harusnya ia bisa menahan diri, harusnya ia ingat, jika kondisi istrinya itu kini sedang labil karena hormon kehamilan. Bagaimana mungkin ia bisa bersikap kekanakan dan menuduh Nessa begitu saja?? Benar-benar bodoh.

***

Cukup lama Dhanni termenung di bar dapur apartemennya. Lampu dapur ia matikan hingga ia bisa mendinginkan kepalanya dengan duduk sambil sesekali menyesap anggur di tanganya.

Sejak memiliki Brandon, Dhanni bahkan hampir tak pernah menyentuh minuman beralkohol. Ajakan-ajakan Ramma dan teman-temannya untuk minum selalu dia tolak, tapi entah kenapa malam ini ia ingin sekali menenangkan diri dengan kembali meminum-minuman sejenis anggur yang kini berada di tangannya.

Dhanni masih saja tak berhenti merutuki dirinya sendiri dalam hati. Ia tentu tahu jika dirinya kini sudah sangat menyakiti hati istrinya, wanita yang sangat di cintainya. Bagaimana mungkin hanya karena sebuah kecurigaan dan kecemburuan dapat merubahnya menjadi laki-laki yang kasar?

Secepat kilat Dhanni berdiri, kemudian masuk ke dalam kamarnya.

Di dalam kamarnya hanya menyisakan lampu tidur kecil hingga membuat kamar tersebut terlihat temaram. Tampak tubuh Nessa terbaring meringkuk memunggungi dirinya. Dhanni akhirnya mendekat lalu duduk di pinggiran ranjang.

Dhanni menghela napas panjang sesekali melirik ke arah Nessa. Ingin rasanya ia meminta maaf, tapi bibirnya terasa kelu. Akhirnya Dhanni memutuskan untuk berbaring miring dengan posisi memunggungi istrinya tersebut.

Lama Dhanni meringkuk dengan gelisah. Akhirnya setelah menghela napas panjang, ia mulai mengeluarkan suaranya.

“Berceritalah.” Ucap Dhanni dengan nada datarnya.

Tak ada jawaban dari Nessa, sial!! Istrinya itu pasti benar-benar sedang marah terhadapnya.

“Maafkan aku, aku memang terlalu kasar sama kamu.” Akhirnya Dhanni kembali menurunkan harga dirinya untuk meminta maaf. Ya, sampai kapanpun pasti dia yang kan mengalah. Rasa cintanya begitu besar terhadap Nessa dan itu membutakan mata Dhanni, membuat Dhanni lagi-lagi tunduk terhadap istrinya tersebut.

“Ku mohon, jangan mendiamiku seperti ini.” Lirih Dhanni yang kini sudah membalikkan tubuhnya untuk menatap punggung Nessa.

“Kak Dhanni keterlalulan.” Ucap Nessa dengan suara serak dan sedikit bergetar. Dhanni tahu jika istrinya itu kini sedang menangis. Dhanni benar-benar merasa menjadi orang terbrengsek di dunia.

Dengan spontan, Dhanni mengulurkan tangannya untuk merengkuh tubuh Nessa ke dalam pelukannya. Dhanni menenggelamkan wajahnya pada leher dan Rambut Nessa, sedangkan kedua tangannya tak berhenti memeluk erat tubuh istrinya tersebut.

“Aku benar-benar minta maaf, aku hanya terlalu cemburu.” Ucap Dhanni parau.

Nessa hanya mampu membiarkan apapun yang akan di lakukan Dhanni. Oh, lelaki ini benar-benar sangat mencintainya, dan ketika sadar akan hal itu, Nessa seakan tak dapat lagi marah terhadap suaminya tersebut.

Nessa kemudian membalikan tubuhnya hingga menghadap ke arah Dhanni, lalu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya tersebut.

“Jangan kasar seperti itu lagi, aku nggak suka di bentak.” Ucap Nessa dengan manja.

“Ya, aku akan berusaha menahan emosiku.”

Nessa menghela napas panjang, kemudian mulai bercerita.

“Kak Jo, memang pacar pertamaku, Dia cinta pertamaku, dan aku memang sangat mencintainya saat itu.” Tubuh Dhanni menegang seketika saat Nessa mulai bercerita. “Tapi itu dulu, saat masih SMA, sebelum aku mengenal kak Dhanni atau Kak Renno.” Lanjut Nessa.

Dhanni sedikit melonggarkan pelukannya, tangannya kemudian mengusap lembut ramput panjang Nessa yang jatuh di punggung wanita tersebut.

“Dia meninggalkanku sekolah di luar, lalu aku indah ke Jakarta, dan kami putus hubungan begitu saja. Beberapa saat yang lalu, dia kembali, kami tak sengaja bertemu, dan… Dia memang mengajakku untuk kembali padanya.” Jelas Nessa dengan jujur.

Rahang Dhanni mengeras seketika, tubuhnya kembali menegang seiring pengakuan Nessa, pelukannya terhadap tubuh Nessa semakin erat, seakan menyiratkan jika tak ada yang boleh memiliki wanita tersebut selain dirinya sendiri.

“Lalu apa jawaban kamu?” tanya Dhanni dengan penuh penekanan.

“Apa lagi? Tentu aku menolaknya. Aku sudah memiliki kak Dhanni, Brandon, dan bayi kita, aku tidak menginginkan yang lain lagi.” Ucap Nessa lembut sambil mendongakkan kepalanya melihat ekspresi dari suaminya tersebut.

“Kamu yakin? Dia kan cinta pertamamu.” Ucap Dhanni sambil menundukkan kepalanya.

Nessa tersenyum, tangannya terulur mengusap lembut kerutan di kening Dhanni. Kemudian mengecup lembut dan singkat bibir suaminya tersebut lalu berbisik di sana.

“Dia memang cinta pertamaku, tapi aku yakin kalau kak Dhannilah cinta terakhirku.” Ucapnya lembut.

Sialan!! Perempuan Penggoda!!! Umpat Dhanni dalam hati.

Dhanni merasakan hasratnya mulai terbangun, tubuhnya menegang seketika oleh gairah yang tersulut begitu saja karena apa yang baru saja di lakukan Nessa terhadapnya. Secepat kilat Dhanni merubah posisinya menindih Nessa.

“Apa kamu sedang menggodaku?” Tanya Dhanni dengan suara yang sedikit tertahan.

“Aku? Aku nggak bermaksud..”

“Karena saat ini aku sedang tergoda karenamu.” Dhanni memotong kalimat Nessa dengan suara serak penuh gairahnya. Kemudian tanpa memikirkan masalahnya lagi, ia mulai menyambar bibir mungil istrinya tersebut, melumatnya penuh gairah. Oh, bibir yang sangat di rindukannya. Persetan dengan semua permasalahan yang ada, kenyataannya, Nessa hanya memilihnya, mencintainya seorang, bukankah itu yang lebih penting?

 

-TBC-