The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 6 (Hanya Kamu)

Comments 8 Standard

011The Maried Life (Lady killer 2)

Chapter 6

-Hanya Kamu-

 

Dhanni mengawasi Nessa dengan matanya. Istrinya tersebut tampak shock dengan jawabannya. Pasti Nessa sedang berpikir yang tidak-tidak padanya. Dengan santai Dhanni mengusap lembut kening Nessa yang berkerut.

“Kamu mikir Apa?? Jangan berpikir yang aneh-aneh.” Ucap Dhanni kemudian.

“Enggak.. aku hanya…”

“Hanya apa??”

“Kak Dhanni masih suka sama wanita itu?? Kenapa Kak Dhanni ingin mengawasi wanita itu?? Kenapa Kak Dhanni….” Nessa tak dapat melanjutkan kalimatnya ketika kedua telapak tangan Dhanni menangkup kedua pipinya.

“Dengar, Dia bukan siapa-siapa untukku, dan dia tidak ada apa-apanya di bandingkan kamu. Aku memberitahumu yang sebenarnya supaya kamu tidak kepikiran, dan tidak salah paham suatu saat nanti.”

“Tapi kak Dhanni mengawasinya.”

Dhanni meminum jus di hadapannya lalu mulai bercerita pada Nessa.

“Erly dulu adalah wanita yang baik. Penampilannya polos, dan aku salah sudah mempermainkan dia dulu. Sekarang, dia sudah berubah. Penampilannya berubah drastis, begitupun dengan sikapnya. Dia bahkan tak tau malu lagi mengakui perasaannya padaku, Aku hanya khawatir dia merencanakan sesuatu. Karena aku belum menemukan alasan kenapa dia kembali saat ini padaku.”

“Mungkin karena dia masih suka sama Kak Dhanni.” Jawab Nessa dengan nada yang sudah ketus.

Dhanni tersenyum melihat tingkah istrinya tersebut.  di raihnya telapak tangan Nessa yang  berada di atas meja, di kecupnya lembut punggung tangan istrinya tersebut .

“Aku suka sekali saat melihat kamu yang merajuk seperti ini.”

“Aku nggak merajuk.”

“Ya, kamu merajuk dan cemburu.” Ucap Dhanni dengan nada menggoda.

“Kak.. Aku serius.”

Dhanni tertawa. “Oke, Oke. Dia memang mengakui kalau dia masih suka denganku. Dia bahkan tak canggung-canggung lagi menggodaku. Tapi sayang, percaya sama aku. Sedikitpun aku tak pernah merasa tertarik padanya.”

“Kak Dhanni yakin??” tanya Nessa dengan memicingkan matanya.

“Kalau kamu tidak percaya, besok kunjungi aku di kantor sambil bawa makan siang.”

“Kenapa aku harus ke sana??”

“Supaya kamu tau bahwa tak ada apapun yang ku sembunyikan darimu Ness. Lagi pula aku ingin menunjukkan pada semua orang yang berada di sana jika hanya ada satu wanita yang ku cintai, siapa lagi jika bukan istriku yang paling cantik.” Ucap Dhanni sambil mencubit gemas hidung Nessa. sedangkan Nessa hanya mampu tersenyum bahagia.

***

Jonathan menutup pintu ruang kerjanya. Tubuhnya merosot ke bawah lalu turduduk menyadar pintu. Matanya memejam seakan mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

Nessa, wanita yang di cintainya itu ternyata memiliki seorang suami yang ternyata adalah lelaki yang sangat di cintai kakaknya. Kenapa semua jadi semakin membingungkan untuknya??? Jonathan berpikir, bisa saja ia mengacaukan hubungan rumah tangga Nessa. membuat Nessa berpisah dengan suaminya lalu ia bisa mendapatkan wanita itu dan kakaknya bisa mendapatkan lelaki yang di cintainya, tapi nyatanya ia tak bisa.

Jonathan dapat melihat dengan jelas di mata Nessa. wanita itu sudah berubah. Sangat jelas terlihat di mata Nessa jika wanita itu sangat mencintai dan memuja suaminya. Bukankah itu tandanya ia sudah tak memiliki kesempatan lagi?? Lalu, apa ia harus menyerah?? Bagaimana dengan kakaknya??

Jonathan memijit pelipisnya. Kepalanya terasa pusing memikirkan semua yang terjadi. Ia sangat mencintai Nessa dan ingin memiliki wanita itu, tapi di sisi lain, ia yakin jika ia memaksakan kehendaknya, ia akan menyakiti wanita yang di cintainya, dan ia tak bisa melihat Nessa tersakiti. Cintanya benar-benar tulus pada wanita tersebut.

Apa ia harus mengalah?? Jonathan memejamkan matanya kembali dan mencoba berpikir jernih. Ya, ia harus mengalah, mungkin Nessa memang bukanlah jodohnya.

***

Nessa keluar dari sebuah mobil yang mengantarnya menuju kantor tempat Dhanni bekerja. Dhanni ternyata tak bohong. Tadi pagi, seorang supir dan asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan rumahnya telah datang. Mengingat itu Nessa tersenyum sendiri. Ahhh suaminya itu benar-benar perhatian. Nessa kemudian berjalan masuk ke dalam lobi kantor Dhanni. Menuju ke meja resepsionis.

“Maaf ibu, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang wanita di bagian resepsionis tersebut.

“Saya mau bertemu dengan  Pak Dhanni Revaldi.” Ucap Nessa kemudian.

“Maaf sebelumnya, ibu sudah ada janji??” wanita itu bertanya lagi dengan ramah.

“Sudah, saya mau mengantar makan siang untuk pak Dhanni.”

Sang resepsionis tersebut tampak mengerutkan keningnya. “Dengan ibu siapa ya kalau boleh tau??”

“Nessa Revaldi.”

Si Resepsionis membulatkkan matanya seketika. “Ohh maaf ibu, Ibu istrinya Pak Dhanni?? Mari saya antar ke ruangan beliau.” Ucap wanita tersebut sambil keluar dari balik meja resepsionis.

Akhirnya Nessa pun di antar oleh wanita tersebut masuk ke dalam lift menuju ke lantai paling atas. Ini memang pertama kalinya ia masuk ke dalam kantor Dhanni. Dhanni sebenarnya selalu menyuruhnya sekedar mengunjungi lelaki itu di kantornya, tapi tentu saja Nessa menolaknya. Alasannya masih sama, ia tak ingin menjadi pusat perhatian dan mendapat tatapan membunuh dari para wanita fans dari Dhanni, si Lady killer.

Tak lama, sampailah mereka di lantai paling atas. Sejak tadi Nessa benar-benar sangat risih dengan tatapan si resepsionis yang menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Apa ada yang salah dengan penampilannya saat ini???

“Mbak Hani.  Ada istri pak Dhanni mau ngantar makan siang.” Ucap Resepsionis itu pada seorang wanita lainnya yang duduk di balik mejatepat di sebelah pintu besar di hadapan mereka.

“Ohh… Ibu Nessa ya, tadi Pak Dhanni sudah pesan, mari saya antar masuk.” Ucap wanita yang bernama Hani dengan ramah dan penuh senyuman.

Sedangkan Nessa sendiri mengernyit tak suka. Jadi setiap hari seperti ini?? Dhanni selalu di kelilingi wanita-wanita cantik?? Yang benar saja. Awas saja kalau lelaki itu berani bermain api di belakangnya.

Pintu besar berwarna hitam legam itu pun di buka dan menampilkan sosok Dhanni yang duduk dengan  ekspresi seriusnya di balik meja kerjanya.  Ruangan tersebut sangat luas dan lebar. Terdapat meja panjang di ujung ruangan dengan banyak kursi-kursi di sana, mungkin itu ruangan untuk rapat pribadi atau apalah, Nessa sendiri tak tau. Tapi yang membuatnya tertarik adalah di salah satu kursi tersebut terdapat seorang wanita yang sedang sibuk membuka-buka berkas di sana. Siapakah wanita itu?? Apa itu adalah Erlyta paraswati?? Mantan kekasih suaminya??

“Pak.. Bu Nessa sudah datang.” Ucap Hani yang sontak membuat Dhanni mengangkat kepalanya menatap ke arah Nessa.

Dhanni berdiri sambil tersenyum lembut ke arah Nessa. pun dengan Nessa yang kemudian melemparkan senyuman lembut pada suami yang sangat di cintainya tersebut.

“Sudah datang sayang??” Ucap Dhanni sambil berjalan menuju ke arah Nessa sambil merenggangkan kedua tangannya.

Nessa pun sontak menghambur ke dalam pelukan suaminya tersebut. Entahlah, ia hanya ingin semua orang tau jika Dhanni hanyalah suaminya, miliknya seorang. Nessa benar-benar tak suka jika suaminya tersebut bekerja dengan di kelilingi banyak wanita-wanita cantik.

“Kamu boleh keluar Hani.” Ucap Dhanni kemudian yang kali ini sudah mengusap lembut rambut panjang milik Nessa.

Hani menganggukkan kepalanya kemudian berbalik dan pergi meninggalkan ruangan Dhanni. Sedangkan di sudut ruangan lainnya, sepasang mata menatap kedekatan Dhanni dan Nessa dengan berkaca-kaca. Erly, wanita itu seakan tak kuat menanggung rasa sakit di hatinya ketika melihat lelaki yang di cintainya tampak bahagia dengan wanita lain.

***

Dhanni memakan dengan lahap masakan Nessa. tanpa mempedulikan tatapan aneh yang di berikan istrinya tersebut.

“Kenapa menatapku seperti itu??” Tanya Dhanni masih dengan menyuapkan makan siangnya.

“Kak Dhanni senang ya kerja di sini. Di kelilingi cewek-cewek cantik.” Gerutu Nessa dengan nada yang di buat ketus.

Dhanni melirik ke arah Nessa, wanita itu menampilkan ekspresi cemberutnya. “Kamu cemburu??” Tanya Dhanni secara terang-terangan.

“Tentu saja aku cemburu.” Jawab Nessa dengan terang-terangan yang kemudian membuat Dhanni tertawa lebar.

Dhanni kemudian mencubit gemas pipi Nessa. “Terimakasih sayang sudah cemburu, tapi perlu kamu tau, satu-satunya wanita yang ku cintai di dunia ini hanyalah Kamu. Sejak tiga belas tahun yang lalu.” Ucap Dhanni penuh penegasan.

Wajah Nessa memerah seketika karena ucapan suaminya tersebut. “Kak Dhanni yakin nggak akan tergoda wanita lain??”

“Tentu saja.” Jawab Dhanni dengan pasti.

“Walau nanti perutku sudah membesar kembali??” tanya Nessa lagi kali ini sambil mengusap perutnya yang masih rata.

Dhanni kembali tertawa. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Nessa. menggesekkan hidungnya dengan hidung mancung milik istrinya tersebut, kemudian membawa telapak tangan Nessa untuk menyentuh dada kirinya.

“Bagaimana pun bentuk tubuh dan wajahmu dulu atau nanti, rasa sayang ku tetap sama Ness. Hanya kamu.. Ya.. Hanya kamu wanita yang berada di sini. Wanita yang membuat jantungku seperti ini.”

Nessa ternganga mendengar ucapan manis dari suaminya tersebut. ia juga merasakan betapa jantung suaminya itu berdebar keras seakan ingin meledak. Debaranya sama dengan debaran saat itu, saat pertama kali ia menyentuh dada Dhanni di kamarnya pada malam mereka bertunangan.

“Lagi pula, Orang hamil itu lebih seksi dan menggairahkan tau.” Dhanni kemudian mengecup singkat bibir Nessa.

“Kak Dhanni.” Pekik Nessa karena terkejut dengan kelakuan suaminya tersebut. sedangkan Dhanni hanya mampu menertawakan ekspresi istrinya yang selalu tersipu-sipu ketika mendengar kalimat-kalimat manisnya. Ahhh Nessa ternyata masih sama, wanita yang selalu malu-malu saat mereka berada dalam momen-momen manis berdua.

“Ehhem” suara deheman tersebut memaksa ke duanya menoleh ke arah seorang wanita yang berdiri tak jauh dari tempat duduk mereka.

Itu Erly. Wanita itu tampak berwajah sendu dengan membawa beberpa berkas-berkas kerjanya.

“Saya.. Sudah memeriksa laporan-laporan seperti yang pak Dhanni perintahkan.” Ucap Erly dengan suaranya yang terdengar sedikit tercekat.

“baiklah, kamu boleh keluar.” Ucap Dhanni dengan wajah datarnya.

Erly pun keluar dari ruangan Dhanni. Dan setelah itu Nessa mencubit lengan Dhanni, membuat Dhanni mememkik kesakitan.

“Ada apa sayang??”

“Ada apa?? Kamu keterlaluan Kak. Lihat, matanya bahkan sudah berkaca-kaca.”

“Aku nggak pedui. Aku hanya ingin Erly tau jika hanya kamu wanita yang ada di hatiku. Setidaknya itu akan membuatnya mundur teratur.”

“Mundur teratur?? Kalaiu dia semakin menjadi-jadi gimana??”

“Nggak akan. Kalau kamu sering-sering ke sini, bahkan setiap hari ke sini aku jamin, dia akan sadar jika apa yang di lakukannya untuk mendekatiku hanyalah buang-buang waktu.”

“Benarkah?? Ohh.. jadi kak Dhanni ingin aku ke sini hanya untuk membuat cemburu wanita itu??”

Dhanni tersenyum. Ia kemudian menarik tubuh Nessa dan memposisikan supaya duduk di atas pangkuannya.

“Tentu tidak sayang, Aku hanya ingin mereka semua tau, jika tak ada wanita lain selain kamu yang bisa memiliki hatiku. Dan tentunya, aku ingin kamu ke sini setiap hari untuk mengurangi rasa kangenku sama kamu.” Ucap Dhanni sambil sesekali mengecup lembut tengkuk leher Nessa.

“Dasar lebbay.” Ucap Nessa sambil menjauhkan diri tapi kemudian Dhanni kembali menarik tubuhnya mendekat dan  memeluk erat-erat tubuh wanita yang di sangat di cintainya tersebut.

***

Erly masuk ke dalam sebuah toilet untuk wanita. Ia tak dapat menahan kesedihannya lagi. Ia mnangis di sana.

Dhanni… Bagaimana mungkin lelaki itu memperlakukannya seperti tadi??

Ia sangat ingin berada di posisi istri Dhanni tersebut, tapi bagaimana caranya?? Dhanni ahkan seakan sudah tak sudi lagi untuk memandangnya. Apa ia harus mundur??

Tidak.

Ia tak boleh mundur. Sudah banyak perubahan yang ia lakukan samapi seperti ini demi mendapatkan Dhanni kembali, dan ia tak akan mundur hanya karena wanita biasa-biasa saja seperti Nessa. pungkasnya dalam hati.

***

“Aku kangen Brandon.” Ucap Nessa sambil bergelayut mesra di lengan Dhanni.

“Mereka belum kembali ke jakarta sayang.Video Call aja ya..”

“Tapi aku pengen gendong dia.”

“Ya, tapi nanti kalau dia sudah balik, Oke?  ingat, kamu nggak boleh banyak pikiran dan kecapekan.”

Nessa hanya menganggukkan kepalanya tanpa menghilangkan ekspresi merajuknya. Tiba-tiba ponsel Nessa berbunyi. Secepat kilat Nessa merogoh ponsel di dalam tas nya. Berharap jika yang menelepon itu mamanya dan Brandon ingin berbicara dengannya, tapi nyatanya, Jonathanlah peneleponnya.

Nessa menatap Dhanni dengan tatapan anehnya.

“Kenapa??” Tanya Dhanni kemudian, sedangkan Nessa hanya mampu memperlihatkan layar ponselnya pada Dhanni. “Angkat saja.” Ucap Dhanni kemudian.

“Halo.” Akhirnya Nessa mengangkat telepon dari  Jonathan.

“Hai.. Maaf ganggu Ness, kamu masih ingat Cici dan Ervan??”

Nessa tampak berpikir sebentar, lalu ekpresinya berubah seketika. “Ahh ya.. ada apa dengan mereka?”

Cici merupakan salah satu teman Nessa saat SMA di jogja, sedangkan Ervan sendiri sahabat Jonathan, dulu, Ervan sering mngucapkan rasa sukanya pada Cici, tapi saat itu Cici dengan terang-terangan menolak Ervan.

“Mereka sudah nikah beberapa bulan yang lalu, dan mereka ada di jakarta.”

“Ahh yang benar??”

“Ya, Besok mereka akan mengunjungi kafeku, kalau kamu berminat bertemu dengan mereka, kamu bisa ke sini.”

Nessa melirik ke arah Dhanni sebentar. “Oke, aku akan ke sana. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Cici.”

“Oke, ku tunggu Ness.” Dan telepon pun di tutup.

“Dia mau apa?” Tanya Dhanni dengan nada yang tak enak di dengar.

“Teman SMA ku ada yang ke kafenya besok, aku boleh ke sana kan??”

Dhanni tampak memicingkan matanya ke arah Nessa. “Itu bukan sekedar alasan dia untuk bertemu kamu kan??”

Nessa menggeleng cepat. “Kak Jo yang ku kenal bukan seorang pembohong, Cici dan Ervan pasti benar-benar ke sana.” Ucap Nessa mencoba meyakinkan suaminya tersebut.

“Oke, kamu boleh ke sana.” Kali ini Dhanni menjawab dengan perasaan ragunya. Jika boleh jujur, ia sangat tak suka Nessa berhubungan dengan lelaki bernama Jonathan tersebut. Walau Dhanni belum tau apa sebenarnya hubungan Nessa dengan Jonathan, tapi Dhanni dapat melihat dengan jelas di mata lelaki itu jika lelaki itu menginginkan istrinya tersebut, dan Dhanni tak suka dengan itu.

“Terimakasih.” Nessa merangkul leher Dhanni seketika kemudian mengecup lembut pipi lelaki tersebut.

***

Siang itu, Nessa akhirnya menuju ke kafe milik Jonathan. Jonathan sendiri menyambut dengan senang kehadiran Nessa. ia sangat senang saat tau bahwa ada alasan untuk dirinya bertemu dengan wanita yang sangat di cintainya tersebut.

Tak lama, tamu yang mereka tunggu pun akhirnya datang juga. Nessa benar-benar tak menyangka akan bertemu lagi dengan teman SMA nya dalam keadaan seperti saat ini.

“Kamu makin cantik Ness.. Pantas saja Jo nggak bisa berpaling darimu.” Ucap Cici kemudian menyesap kopi di hadapannya.

Nessa mengerutkan keningnya kemudian melirik ke arah Jonathan di sebelahnya yang tampak tersenyum bahagia.

“Dan kapan kalian akan menyusul kami??” Tanya Ervan kemudian yang membuat Nessa semakin bingung. Menyusul?? Menyusul kemana??

Dan tanpa di duga, Jonathan seakan sudah tak canggung lagi meraih pinggang Nessa yang duduk di sebelahnya, menarik Nessa mendekat hingga menempel pada tubuhnya.

“Tenang saja, kami akan segera menyusul kalian, tunggu saja undangannya.”

Ucapan Jonathan tersebut yang sontak membuat Nessa menatap ke arah lelaki itu dengan mata membulatnya. Nessa benar-benar tak mengerti apa maksud Jonathan, kenapa Jonathan berbicara seakan mereka adalah sepasang kekasih yang akan melaksanakan pernikahan?? Apa maksud lelaki itu?? Apa tujuannya?? Dan masih banyak sekali pertanyaan yang membuat Nessa bingung dengan pernyataan lelaki tersebut.

 

-TBC-

Nantikan kiah selanjutnya yaa.. hehehhe

Advertisements

SAYA BENCI PLAGIATOR (The Lady Killerku Di Plagiat)

Comments 9 Standard

Aaplagiat1

 

Haii… maaf hari ini aku nggak update Cerita tapi malah curhat.. nggak papa yaa…  kenapa aku nulis dengan judul di atas??? pasti sebagian dari teman-teman sudah tau kan kenapa aku nulis tentang hal ini mengingat baru kemarin hari aku mengalaminya.

Yuuppsss… salah satu ceritaku yang mungkin pernah teman-teman baca ternyata Di Plagiat, di Jiplak, Di Copast, atau apapun itu namanya, dengan DUA orang sekaligus. Hebat kan..??? Hebat..??? Hebat dari HOngkong..?? Rasanya tuhh sakiiiiiiiitttttt bangett… Aku udah capek2 ngetik, kadang sampek begadang, kadang juga saat jualan aku menyempatkan diri buka Laptop jika ada ide tulisan yang tiba-tiba muncul, kadang jenuh saat tiba-tiba menemui jalan buntu dan enggan melanjutkan itu cerita. tapi DUA orang itu seenaknya menCOPAST tulisanku dan -Secara tidak langsung- mengaku jika itu Karyanya.

Kalian mungkin pernah membaca Novelku yang berjudul “The Lady Killer”. Novel dewasa bergenre Metropop dengan Cast Dhanni Revaldi dan Nessa Arriana. Yuuppss… itulah Novelku yang sedang di jiplak oleh seseorang…
dhannesss-1_Tlk Cover new12321303_1096393880379258_6013373791260930497_n  dhanness2  tlknewCovertlk

Di atas Adalah Cover2 The Lady Killer Real Entah itu versi di Blog Di wattpad, di E-Book Playstore maupun versi buku novelnya.

1453916080380  Screenshot_2016-01-28-15-32-00

Sedangkan ini Adalah salah satu Lady Killer Bentuk Plagiatnya.. bisa dibilang Versi Instagramnya karena dia Copast dan di Share di Instagram. Bagaimana kasus ini bisa terkuak..???? Awalnya beginii…

Kemaren.. Rabu sore, Aku mendapat Inbox di wattpad dari salah satu pembacaku. Aku sebut namanya disini yaa… Namaya @AyuPutriWulandari (Sekali lagi makasih bgt buat kamu jika kamu membaca Artikelku ini) Dia Inbox bertanya tentang asal-usul cerita The lady killer, tentu saja aku menjawab Kalau itu karyaku sendiri bahkan sudah terbit di sebuah penerbit E-Book di Playstore (Yang Belom Download, Harus Download yaa.. #Maksa #LohhMalahNgelantur) dengan Nama penulis ZENNY ARIEFFKA. Akhirnya dia bercerita jika ternyata dia pernah membaca ceritaku ini di sebuah aku di Instagram dengan Nama pemain berbeda. Saat itu aku masih santai tuhh.. kupikir ahh mungkin cuma sama ide cerita karena Ide The Lady Killer ini kan ide cerita yang sangat umum, tentang perjodohan dan cinta segitiga. tapi Akhirnya entah kenapa perasaanku kok jadi nggak enak yaa…

Aku korek2 terus tuh inFo dari Ayu ini.. ayu Cerita katanya Cerbung (Di Instagram Novel The Lady Killer ini dijadikan Cerbung Oleh Plagiatornya) The lady Killer ini Bagus Bgt.. Banyak yang Komen dan menungu Updatan selanjutnya. Bahkan Ayu ini sangat suka dengan Cerbung tersebut. Saat itu Ayu iseng2 baca Di Wattpad dan ternyata nggak sengaja ketemu dengan ceritaku. Ayu sedikit Heran dengan judul yang sama, akirnya ayu Coba sedikit membaca Dan ternyata….. Boooommm Sama Persisss….

Ayu kembali ke IG dan komen bahkan DM @Cerbungaudimrs (Orang yang Plagiat The Lady Killer di Instagram). Bertanya keaslian Cerita The lady killer, apa Karyanya atau dia menjiplak, karena disitu tidak ada Nama SAYA selaku penulis Asli The Lady Killer. Hasilnya Si Atyu ini malah di Bully ama Yang Komen di sana Dan @Cerbungaudimrs membalas jika memang ide cerita dapat dari Wattpad dan itu sebagai Referensi dia menulis. Tapi ayu nggak percaya, Lalu Ayu kembali menghubungiku dan melapor jika Karyaku sudah di Jiplak dan di Publish di IG. Sebenarnya saat itu aku sedikit nggak percaya. Mana mungkin sihh ada orang yang mau menjiplak Karya abal-abal Saya… Akhirnya karena saya penasaran saya minta Tuhh alamat IG si plagiat tersebut. Ehhhh setelah saya cari ternyata IGnya sudah Di Private. Saya sedikit curiga dari situ. Jika dia benar-benar menerbitkan Cerbung Karyanya sendiri, kenapa dia Harus Memprivate IGnya..?? Bukankah itu sama saja menghalang pembaca untuk membaca ceritanya…???

akhirnya aku menghubungi Ayu lagi. aku tanya, apa Ayu yakin dengan tuduhannya itu. Lalu Ayu minta Contak Line aku, dan mengirimiku beberapa Gambar Screenshoot  IG si Plagiator tersebut.

1453916080380  ini gambar Kiriman Ayu, Saat kulihat sedikit terkejut, judulnya sama, apa mungkin ceritanya sama juga yaa… Rabu malam aku sudah nggak bisa tidur memikirkan Hal ini. Gimana cara buka IG itu Orang.. Plisss aku hanya ingin melihat saja. Lalu aku coba otak-atik itu IG, ternyata walau di Private aku masih bisa kirim Pesan buat si dia.. akhirnya aku coba kirim pesan Sesopan mungkin tanpa marah2 nggak jelas.

Screenshot_2016-01-28-07-37-48          Screenshot_2016-01-28-07-38-10

Apa bisa baca tulisan Screenshootku diatas, kalau nggak bisa karena kekecilan nggak papa, lupakan saja.. hhahahah yang jelas isinya aku ingin tau apa Benar IG dia memuat Cerita Novel karyaku. Akhirnya dengan mudah dia mengakuinya. dan dia langsung meminta maaf dengan pada Aku.. Okk.. Setelah itu aku minta untuk diijinkan melihat Isi dari IGnya dengan cara menerima Following ku. ternyata dia malah MemFollow akunku lalu ptak lama aku diterima sebagai Followingnya. Dari situlahh semua kesedihanku dimulai…. ini ScreenShootnya silahkan Dilihat sama persis atau tidak.

Screenshot_2016-01-28-15-32-00  ===>>  Screenshot_2016-01-28-15-34-54

Screenshot_2016-01-28-15-32-46  ===>>  Screenshot_2016-01-30-01-04-09

Kalau kalian bisa membuka gambar diatas pasti tau jika ini benar2 PLAGIATISME. Dia mengcopast semuanya dan baru sampai Chapter 12 (kalau ada didalam Novel)… Parahnya lagi dia mengganti nama pemeranku dengan nama Idolanya. Dhanni jadi Billy (Billy davidson) Nessa jadi Icha (Audi Marisha), dan Renno jadi Azof (Rangga Azof). keterlaluan memang. apalagi saat membaca para komentatornya yang rata2 penggemar AudiBilly.. Lalu aku minta sama @Cerbungaudimrs untuk menyertakan Namaku di dalam Ceritanya, dan juga menyertakan Nama penerbit sekaligus Link Downloadnya. dia pun menurutinya bahkan mengajak para pembacanya untuk mendownload NOvelku di Playstore. Kalian taau apa reaksi para pembacanya itu..?? Ada yang Comen “Kak.. Aku lebih suka baca disini dari pada di tempat lain, ayoo lanjut..” Ada juga yang komen “Aku sudah Download, tapi nggak asik.. nggak seru karena pemainnya Bukan Billy.” Dan banyak lagi komen menyakitkan dari parapembacanya..

Hellooooooo… Buat kamu-kamu yang pernah membaca cerita ini Di IG tersebut, dan komen disana dan nggak sengaja ketemu Artikel saya Ini TOLONG DENGARKAN YAAA….

“Saya Menulis Novel ini Ketika saya Membayangkan SOSOK KAK DHANNI, bukan Sosok BILLY, The Lady Killer Ada Karena Saya SELALU MEMBAYANGKAN SOSOK KAK DHANNI.. Jika Kamu nggak suka Maka Nggak usah Baca Itu Cerita The Lady Killer. Bikin saja cerita sendiri dengan pemeran siapapun yg kamu mau. Apa Kamu nggak Malu, Jelas2 Kamu membaca Hasil dari PLAGIATISME, tapi kamu masih menghina Karya Aslinya hanya karena Cast yang tidak sesuai dengan yang kamu Harapkan. Itu namanya Kamu mendukung seseorang untuk menjadi Plagiat. Dan Satu Lagi. Sampai Kapanpun Lady Killer Dalam Novel THE LADY KILLER hanya cocok diperankan Oleh KAK DHANNI Alias Chinawut Indracusin (Nama aslinya).”

Screenshot_2015-06-30-20-22-04-1 Screenshot_2015-06-30-20-24-13-1 tumblr_m5q04fFsAN1ryhc5ho4_r1_250

Jadi emosi saya saat mengingat komentar2 mereka di IG itu. huffttt…

lalu ternyata saya mendapat Inbox dari penerbit saya di Playstore, katanya itu cerita tetap harus di hapus walau sudah menyertakan nama penulis, penerbit, bahkan alamat Downloadnya… akhirnya saya memberi tau @Cerbungaudimrs jika dia tetap harus menghapus postingannya tersebut. Dan Alhamdulillah @Cerbungaudimrs mau menghapus Ceritaku tersebut dalam Akun IG nya (Terimakasih untuk kamu siapapun itu @Cerbungaudimrs).

@Cerbungaudimrs bahkan cerita sama aku katanya dia melihat cerita itu pertama kali di Fansbase CJR di Fb, dan cerita itu udah END disana. Saat itu dia baca salah satu komen yang mengatakan jika pernah membaca Cerita ini di Wattpad Akhirnya @Cerbungaudimrs ikutan meluncur ke wattpad dan bukannya pelapor padaku dia malah ikutan Mempagiat Cerita The Lady killer ku di IG.. Hadeehhh…

Satu fakta aku temukan ternyata ada Plagiatisme lain di FB.. Aku ubek2 tuhh Fansbase CJR di FB, dan sampai sekarang nggak ketemu. Aku juga meminta tolong dengan @Cerbungaudimrs untuk membantuku mencari Fansbase teersebut karena dia memang -Katanya- sudah tidak berhubungan dengan Fansbase tersebut. Namanya susah diingat, dan judulnyapun di ganti dengan judul bahasa indonesia.. Tapi @Cerbungaudimrs janji akan memberi tauku jika dia menemukan Akun tersebut….

Akhirnya Kasus ditutup dengan damai.. hehhehhe. Akun IG @Cerbungaudimrs pun sekaran sudah nggak ada. sebelum menghapus akun tersebut dia bahkan berpamitan dulu dengan ku,,, yaaa setidaknya suatu saat nanti dia berjanji akan menghubungiku dengan akun aslinya. dan saat itu tibaa aku mau berteman dengannya, membantunya kembali membuat Cerbung2 menarik tanpa harus memplagiat karya orang… Aku tunggu itu yaa @Cerbungaudimrs…

Dan untuk para pembaca.. aku mita tolong bgt yaa.. kalau pernah baca salah satu ceritaku di Akun lain selain blog ini, Playstore, Wattpad yang semuanya dan tidak dengan nama penulis ZENNY ARIEFFKA, Tolong kasih tau aku yaaa… Sebenarnya, aku sangat senang jika ceritaku di Remake Orang… karena aku pernah dengar dari seseorang, ‘Jika ceritamu di Remake Orang, atau karyamu di Plagiat seseorang, itu tandanya Cerita atau Karya yang kamu buat adalah Karya yang menarik.’ oke.. lupakan kalimat tersbut, karena menurutku pada dasarnya Ceritaku hanya cerita Roman yang biasa2 saja dan masih banyak banget kekurangannya. tapi tolong, Jika kalian ingin Meremake sesuatu karya Tulis entah itu karyaku atau karya author yang lainnya, TOlong Minta Izin terlebih dahululah pada si penulis aslinya.. Kalian nggak tau betapa sakit hatinya seorang penulis saat Cerita mereka dimuat disuatu media dengan Nama orang lain, Saat ada komentar membahagiakan datang dari seorang pembaca tapi bukan untuk pemnulis aslinya, saat Beberapa pembaca membandingkan dengan karya Aslinya… Rasanya sakitt,,, sedihh dan kecewa… jujur aja, kemaren aku sampek nggak makan lohh… da sesekali menangis.. terlihat Lebbay mungkin, tapi itulah yang kurasain saat itu….

Dan alhaamdulillah semuanya sudah selesei sekarang… Tinggal yang di Fansbase FB itu.. tapi sudah lah… nanti mereka juga akan kena batunya sendiri jika terus2an memplagiat Karya orang.

Pesanku adalah.. Seberapa bagus pujian yang kalian dapat, seberapa banyak Like yang kalian peroleh, semuanya hanya Sia-sia Jika Karya yang kalian tulis Tidak Lebih dari Karya Orang lain yang Kalian Plagiat… Aku lebih memilih Tidak memiliki banyak pembaca, tidak ada yang Like ceritaku, tidak ada yang Komen bagus dalam Ceritaku, tapi Ada kebanggaan tersendiri saat mengingat itu cerita terlahir dari pikiranku, Dari keringatku saat siang hari, dan juga dari rasa kantukku saat tengah malam….

Sekian dan terimakasih Dariku.. semoga ceritaku ini memberikan pelajaran bagi kita semua bahwa apapun itu perbuatan kita entah itu baik atau buruk, suatu saat nanti pasti ada imbal baliknya… apapun itu yang kita tutupi, jika itu tidak benar pasti akan terbuka juga….

#SalamSayang #KissHugFromAuthorGaje #AntiPlagiatisme

Camera 360

    Zenny Arieffka

The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 18(End)

Comments 6 Standard

dhanness2

The Lady Killer

NB : yeeee.. akhirnya End juga nihh coretan yang gak jelas… hehheeh meskipun Endnya nggak seperti yang di bayangkan dan nggak se sweet yang di inginkan tapi aku tetep berterimakasih sekali karena sudah mau membaca coretan gk jelas ini dari awal hingga akhir… terimakasih untuk semua yang sudah membaca komen ataupun ngasih dukungan yaa…. tanpa kalian saia buan apa-apa… cie.. cie… #Lebbay #abaikan.

 

Chapter  18

Happy Ending – mungkin..

 

Saat aku berusaha menenangkan pikiranku, aku mendengar kaca mobilku diketuk seseorang, dia Dewi. Aku lalu membuka pintu mobil dan langsung memeluknya masih dengan menangis, aku butuh sebuah pelukan.

“Nes, kamu kenapa? Apa yang terjadi?”

Aku menggeleng. “Aku nggak tahu, Wi. Kenapa,… kenapa Kak Dhanni ke sini? Aku takut kalau ada apa-apa sama dia.”

“Udah, udah, jangan dipikirin dulu. Mendingan kita masuk dulu, kita cari tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Dewi menenangkan aku.

Aku pun hanya mengangguk. Lalu kami pun masuk, bertanya pada seorang suster yang berjaga di depan tentang pasangan yang beru saja masuk. Lalu suster itupun menunjukkan arah jalannya. Kami pun mengikuti arah yang ditunjuk suster tersebut.

Kami melewati lorong yang lumayan panjang. Aku cukup lega ketika melihat papan informasi di ujung lorong, ternyata itu bukan Lorong buat orang sakit keras seperti kanker dan lain-lain seperti yang kupikirkan tadi. Tapi aku juga sedikit heran karena ini lorong untuk spesialis kandungan. Dan pertanyaan selanjutnya adalah untuk apa Kak Dhanni dan Farah ke spesialis kandungan?

Rasa mual langsung menghampiriku saat beberapa pikiran aneh mampir di otakku. Mungkinkah Farah hamil? Dan mereka ke sini untuk memeriksakan kandungan Farah? Dan lebih parahnya lagi mungkinkah anak itu adalah anak Kak Dhanni?

Hampir saja aku terjatuh lemas jika Dewi tak membantuku. Yah, badanku memang masih lemah, dehidrasi yang berkepanjangan disertai demam ditambah lagi efek mual muntah dari hamil membuatku tak memiliki tenaga. Aku stres memikirkan semua ini.

“Nes, kamu nggak apa-apa kan? Kita pulang aja yuk.” Dewi terlihat sangat khawatir.

“Enggak, Wii. Kita belum tahu apa yang terjadi.” Aku masih tak mau mengalah.

“Tapi, kamu….”

“Lebih baik kita sembunyi, mungkin aja Kak Dhanni sudah mau keluar dari ruangan itu.”

Akhirnya kami pun bersembunyi. Sekitar 15 menit kemudian Kak Dhanni dan Farah Keluar dari ruangan yang bertuliskan Dokter Tony SpOg. Dan mereka tentunya keluar dengan raut bahagianya. Bagaimana jika apa yang ada di dalam otakku tadi benar-benar menjadi kenyataan jika Kak Dhanni akan mempunyai anak dari wanita lain?

“Sekarang apa yang akan kita lakukan, Nes?” tanya Dewi kemudian.

“Aku akan masuk.”

“Tapi, Nes,”

“Aku juga akan memeriksakan kandunganku, dan akan sedikit bertanya pada dokter tersebut.”

“Kamu sudah gila ya, dokter itu nggak akan mungkin ngasih tahu keadaan pasiennya ke orang lain.”

“Setidaknya aku mencoba Wii,” kataku lirih.

Dewi hanya bisa mengangguk. “Ok. Aku temani kamu,” katanya kemudian.

Akhirnya kami pun masuk. Kukira yang namanya Dokter Tony itu gendut dan botak lengkap dengan perut buncitnya, tapi ternyata aku salah besar, dia gagah, tampan dan masih muda, mungkin seumuran Kak Dhanni. Dan astaga, kenapa aku jadi gugup seperti ini? Kalau gitu aku nggak akan mau periksa kandungan kepada dokter segagah ini. Malu pastinya, siapa yang nggak malu ketika diperiksa seorang yang tampan setampan Dokter Tony. Bahkan dia tak segan-segan merabakan tangannya ke perutku, bahkan Kak Dhanni yang suamiku saja belum pernah meraba perutku seperti ini.

Meraba? Helloo, Nes, dia sedang memeriksamu, bukan meraba-raba. Aku juga tiba-tiba sangat jengkel dengan Dewi yang sejak tadi menyikut-nyikut aku. Aku tahu sebenarnya dia juga ingin kenal sama Dokter Tony, dasar genit.

Dan astaga, aku benar-benar hampir lupa, tujuanku ke sini kan mencari tahu hubungan antara Kak Dhanni dan si wanita ular itu, tapi sekarang aku kok malah keganjenan sama dokter muda di hadapanku saat ini? Siall..!

“Ibu Nesa kebanyakan pikiran dan stres. Keadaan Ibu sangat buruk, seharusnya Ibu minta ditemani suami Ibu. Bahkan saya ingin ibu di-opname di sini selama beberapa hari,” kata Dokter Tony dengan raut khawatir.

“Saya nggak apa-apa, Dok, saya masih kuat,” jawabku kemudian. Tapi Dokter Tony masih saja menatapku dengan tatapan anehnya, seperti tatapan yang sangat khawatir, Dan juga aku melihat sepertinya dokter Tony ingin melakukan sesuatu tapi ragi-ragu.

“Dokk, saya boleh tanya sesuatu nggak?” Dan akhirnya setelah selesai pemeriksaan, aku akan mulai menginterogasi dokter ini. Dia lalu menatapku dengan tatapan lembut.

“Iya, silahkan Bu Nesa, ada yang bisa saya bantu?”

“Emm, laki-laki dan perempuan yang kemari tadi sedang ngapain ya, Dok?”

“Yang mana ya, Bu? Kebetulan pasien saya semua perempuan dan membawa suaminya, Bu.”

“Yang tadi, Dok, yang tinggi-tinggi ganteng, yang baru saja keluar terus saya masuk,” kataku mencoba menjelaskan.

“Oohh Ibu Farah sama Pak Dhanni?” Aku mengangguk antusias. “Tentu saja sedang memeriksakan kandungannya Bu Farah. Dan Pak Dhanni sendiri yang menemani istrinya yang sedang hamil itu.”

“Apa?” teriakku dan Dewi bersamaan. Aku yakin saat ini tubuhku sedang terbakar karena aku baru saja merasakan Petir menyambar tubuhku. Tidak, ini tidak mungkin. Mengapa si Farah mengaku sebagai istri Kak Dhanni? Mengapa Kak Dhanni mau menemaninya memeriksakan kandungannya? Dan apakah mungkin mereka sudah benar-benar menjadi suami istri di belakangku dengan kata lain Kak Dhanni menduakanku tanpa sepengetahuanku? Enggak, ini nggak mungkin. Kak Dhanni nggak akan sejahat itu terhadapku.

Dengan linglung aku berdiri dari kursi tempat dudukku tadi. Air mataku tak ada henti-hentinya menetes dengan sendirinya tanpa kusadari, pikiranku kosong saat menerima kenyataan tadi, sekilas aku melihat Dokter Tony dan Dewi sedikit panik dan khawatir terhadapku, mereka seperti sedang mengatakan sesuatu, tapi aku tak bisa mendengarnya, aku tak bisa mencernanya, pikiranku terlalu kosong, perasaanku terlalu sakit menghadapi kenyataan ini.

Hingga aku merasakan sakit, sakit yang amat sangat di bagian perutku. Seperti ada ribuan jarum-jarum kecil yang menancap di sana, aku meringis kesakitan sambil meremas perutku. Aku sudah kehilangan Kak Renno Dan Kak Dhanni apakah aku harus kehilangan dia juga? Tidak, Tuhan. Aku mohon jangan ambil dia dariku, jangan hukum aku seperti ini.

“Astaga.. Nesa.. Nesa…” Suara panik Dewi Sedikit membuatku tetap sadar.

“Nes, kamu bertahan ya.” Itu suara Dokter Tony, tapi kenapa dia tidak mengucapkan kata-kata formal seperti tadi? Dia terlihat tak kalah paniknya dari Dewi. “Sialan, Lo. Cepat balik. Istri lo gawat.” Samar-samar aku mendengar Dokter Tony berbicara di telepon dengan seseorang. Siapa? Apa Kak Dhanni? Apa mereka saling kenal sebelumnya? Dan aku tak bisa berpikir apa-apa lagi ketika kesadaranku sedikit demi sedikit menghilang…

***

“Maafin aku… maafin aku..”

Hanya kata-kata itu yang terdengar di telingaku. Seperti suara Kak Dhanni, tapi lebih serak, dan terdegar lebih lirih. Aku merasakan tanganku di genggam erat oleh seseorang, Kak Dhanni kah itu? Aku pun mulai mengumpulkan kesadaranku. Membuka mataku dengan perlahan.

Yang pertama kali kulihat adalah ruangan yang serba putih. Dimanakah ini? Apakah aku sudah di surga? Tidak, aku tak boleh mati terlebih dahulu. Aku masih harus berjuang demi bayiku. Bayi? Aku bahkan tidak tahu apakah dia masih bersamaku atau juga pergi meninggalkanku. Mengingat hal itu tangisku langsung pecah, aku terisak-isak hingga membangunkan orang yang tidur di sebelahku sambil menggenggam tanganku. Kak Dhanni.

“Sayang, Sayang, kamu sudah sadar,” katanya kemudian.

Aku melihat dia sangat berantakan, bajunya kusut, rambutnya acak-acakan, matanya bahkan sembab seperti orang yang selesai menangis. Apa Kak Dhanni tadi habis menangis?

“Bayiku, bayiku…. Aku kehilangan dia,” kataku masih sambil menangis sesenggukan.

“Nes, Nesa, dengarkan aku dulu,” kata Kak Dhanni menenangkanku.

“Enggak aku nggak mau denger. Kak Dhanni jahat, Kak Dhanni sudah ninggalin aku.” Kali ini aku sudah berteriak histeris. Entah dari mana tenaga ini yang jelas saat ini aku ingin memaki-maki lelaki di hadapanku ini. Aku membencinya.

“Astaga, Nes. Aku bisa jelasin semuanya, kamu tenang dulu ya.”

“Enggak. Aku nggak mau. Kak Dhanni pergi.. pergi. Aku nggak mau liat Kak Dhanni lagi..”

Lalu tiba-tiba pintu dibuka. Itu adalah Dokter Tony. “Nesa, kamu harus tenang, jika tidak kamu akan pendarahan lagi,” katanya menenangkanku. Apa? Pendarahan lagi? Jadi, jadi aku masih hamil?

Aku langsung menghentikan tangisanku “Jadi saya masih—” tannyaku dengan bingung kepada Dokter Tony.

“Iya, bayi kamu selamat, kamu calon ibu yang kuat. Tapi kamu harus istirahat total dan kamu harus bed rest selama kurang lebih 2 minggu,” jelas Dokter Tony padaku. “Dan Lo Dhann, Lo gila ya, hampir aja gue mati ketakutan gara-gara ngikutin rencana sinting Lo itu.”

“Sorry,” kata Kak Dhanni kepada Dokter Tony tapi tatapan matanya tetap tertuju padaku. “Mending sekarang Lo keluar, ada yang pengen gue omongin sama istri Gue,” kata Kak Dhanni sambil mendorong Dokter Tony keluar.

“Berengsek Lo.!” umpat Dokter Tony. Aku baru tahu jika Dokter bisa mengumpat kasar seperti itu. “Inget, jangan buat dia stres,” lanjut Dokter Tony lagi sebelum Kak Dhanni menutup pintu ruang rawatku.

Kak Dhanni lalu mendekatiku, duduk di pinggiran ranjang rumah sakit yang sedang kubaringi ini. Lalu dia menggenggam dan mengecup punggung tanganku. Jika saat ini aku tidak marah dan kesal padanya mungkin aku sudah meleleh dengan tingkah lakunya yang sweet ini.

“Maafin aku ya. Aku benar-benar keterlaluan,” katanya masih dengan mengecupi seluruh permukaan telapak tanganku.

Aku memalingkan wajahku. “Kalau Kak Dhanni nggak suka sama aku kenapa kita nggak cerai aja? Apa Kak Dhanni tahu kalau Kak Dhanni sudah nyakitin perasaanku,” kataku lirih. Air mataku kembali menetes ketika mengingat Kak Dhanni bersama dengan wanita itu.

“Nes, kamu ngomong apa sih? Kita nggak akan pernah cerai.”

“Lalu bagaimana dengan Farah dan anakmu yang dia kandung Kak?” Kali ini aku mulai berteriak kembali sambil menatapnya tajam.

“Nes, plis, tenangkan diri kamu, aku nggak mau terjadi apa-apa lagi sama kamu dan anak kita.”

“Aku nggak peduli.”

“Nes, aku akan jelasin semuanya.”

“Aku nggak perlu penjelasan, aku bahkan sudah lihat dengan mata kepalaku sendiri.”

“Astaga, Nes, semuanya hanya sandiwara,” teriak Kak Dhanni frustrasi.

“Bohong.. Aku nggak percaya lagi sama Kak Dhanni”

Ok fine. Kalau kamu nggak percaya, mereka yang akan jelasin sama kamu,” katanya sambil berlalu pergi dan menutup pintu kembali dengan kasar hingga suara dentuman terdengar sangat keras. Kelihatannya sikap kasar dan pemarahnya kembali lagi.

Kak Dhanni keluar cukup lama, lagi-lagi aku memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di antara kami, kenapa Kak Dhanni tadi bilang jika semuanya hanya sandiwara? Tiba-tiba pintu dibuka, menampilkan sosok yang sangat kubenci. Siapa lagi jika bukan Farah si wanita ular itu.

“Haii, Nes. Akhirnya kita ketemu lagi,” katanya lembut sambil tersenyum dan melambaikan tangannya. Dia tidak sendiri, dia bersama Kak Dhanni dan dokter Tony, apa yang terjadi? Kenapa Dokter Tony juga ikut masuk?

“Aku perkenalkan lagi, dia Farah, sahabatku, dan itu Dokter Tony, suaminya,” kata Kak Dhanni datar. Aku melihat mereka dengan tatapan tak percaya. Sedangkan Dokter Tony hanya tersenyum dan mengangguk.

“Loh, tapi tadi Dokter Tony bilang—”

“Semuanya rencanaku,” kata Kak Dhanni datar dan cuek.

“Apa?”

“Hahaaha iya, Nes, semua rencana Dhanni, kami nggak ada apa-apa kok. Dhanni cuma pengen tahu seberapa besar kamu sayang sama dia.”

“Udah lah, Far, nggak perlu panjang lebar, ceritakan saja kalau kita nggak ada hubungan apa-apa,” potong Kak Dhanni kemudian.

“Iya, yang penting kami nggak ada hubungan apa-apa, Dhanni cuma sayang sama kamu tapi dia—”

“Cukup. Kayaknya kamu sudah banyak ngomong deh,” kata Kak Dhanni memotong kalimat Farah.

“Hahaah akui aja Dhann kalo Lo emang cinta tapi Lo takut ngungkapinnya, karena Lo nggak tahu perasaan Nesa ke Lo, makanya Lo pake cara sialan ini buat bikin Nesa cemburu,” kata Dokter Tony sambil menahan tawanya.

“Berengsek Lo!” umpat Kak Dhanni.

Ok. Sekarang aku jadi semakin bingung. Jadi semua ini hanya sandiwara? Sandiwara buat bikin aku cemburu dan mengungkapkan perasaanku kepada Kak Dhanni? Gila. Apa dia nggak mikir kalau ini hampir saja membuat kami kehilangan bayi kami?

“Ok. Sekarang kalian pergi, gue mau selesein ini lagi.” Lagi-lagi Kak Dhanni mengusir Dokter Tony yang saat ini bersama dengan Farah, istrinya.

“Sialan Lo. Terus ngapain tadi Lo panggil kita?”

“Dia nggak percaya sama Gue. Sudah sana pergi,” usir Kak Dhanni lagi dengan cueknya.

Dokter Tony pun pergi lengkap dengan umpatan dan sumpah serapahnya kepada Kak Dhanni, sedangkan Farah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat kelakuan dua lelaki dewasa di hadapannya yang mirip dengan kucing dan tikus.

“Gimana, kamu sudah percaya kan?” tanya Kak Dhanni kemudian sambil duduk di pinggiran ranjang yang kutiduri. Aku hanya memalingkan wajahku, entah kenapa ada perasaan bahagia saat mengingat ini sandiwara hanya karena Kak Dhanni tak berani mengungkapkan rasa sayangnya padaku. Tapi tetap saja aku merasa kesal karena dia benar-benar keterlaluan.

“Nes, maafin aku ya. Aku benar-benar keterlaluan, aku sayang sama kamu tapi aku pikir kamu masih cinta sama Renno,” kata Kak Dhanni lirih sambil menggenggam tanganku. Apa dia sedang menembak aku? hahaha nembak apanya, kami bahkan akan mempunyai bayi.

“Ya, aku memang masih cinta sama Kak Renno,” jawabku jujur. Dan sekilas aku melihat wajah Kak Dhanni memucat. “Tapi aku lebih cinta sama Kak Dhanni, jadi plis jangan lakuin ini lagi, Kak,”lanjutku kemudian. Dan tanpa kusangka dia langsung memelukku menciumi leher dan tengkukku.

“Aku janji aku nggak akan ngelakuin ini lagi,” katanya sambil menatapku tajam, dan dia pun langsung mendaratkan bibirnya yang seksi itu tepat di bibirku, melumatnya secara halus membuatku bergetar hanya karena ciumannya.

“Ingat dia harus Bed Rest selama 2 minggu,” kata Dokter Tony yang tiba-tiba muncul di balik pintu dengan senyumannya.

“Berengsek Lo!” umpat Kak Dhanni yang langsung dapat cubitan dariku. “Aww, kamu kenapa sih?” lanjutnya lagi sambil menatapku.

“Apa Kak Dhanni bisa berhenti menyumpah? Dia dokter, Kak.”

“Dokter apanya?”

“Kak….”

“Ok. Ok. Kamu menang. Aku akan berhenti menyumpah, apa kamu puas?”

Dan aku pun hanya menyunggingkan senyuman kemenanganku.

***

Pagi ini aku terbangun dengan Kak Dhanni yang tidur di sebelahku, kami tidur seranjang di ranjang rumah sakit tapi kami tak melakukan apa pun, ingat, kami harus bed rest selama 2 minggu, jadi jangan berpikir yang macam-macam ya. Dia memelukku dan aku merasa sangat nyaman dengan ini. Ya Tuhan, kenapa aku bisa begitu sangat mencintai lelaki yang tidur di sebelahku saat ini?

Ini benar-benar sangat nyaman saat berada di dada bidangnya, sesekali aku mengecup dadanya dan menghirup aromanya. Astaga, benar-benar sangat memabukkan.

“Kamu membangunkanku,” katanya dengan suara yang sangat serak dan parau.

“Maaf, ayoo tidur lagi, ini masih pagi,” ajakku kemudian.

“Bukan bangun itu yang kumaksud,” lanjutnya lagi. Dan seketika itu juga aku mengerti apa yang dia maksud dan itu membuatku langsung menjauhkan diri dari pelukannya. “Kamu ngapain?” tanyanya heran saat aku melepaskan diri dari pelukannya.

“Kak Dhanni tahu kan kalau aku harus bed rest?”

“Hemm, iya, iya. Maaf. Ayoo tidur lagi, aku masih ngantuk,” katanya kemudian lalu dia memelukku kembali dan tertidur kembali.

Begitu pun denganku yang saking nyamannya karena pelukan Kak Dhanni membuatku tertidur kembali.

***

Siangnya aku terbangun dengan Kak Dhanni yang sudah tak ada di sampingku, aku merasa kehilangan, kenapa dia pergi tanpa pamit denganku? Tapi ketika mataku menyapu seluruh penjuru ruangan betapa terkejutnya aku melihat ‘dia’ duduk di Sofa ruangan rawat inapku. Duduk dengan santai dan matanya terpejam, sepertinya dia ketiduran. Aku kangen melihat wajah tampannya. Dia Kak Renno.

“Kak Renno,” ucapku lirih. Aku terkejut, bagaimana dia bisa sampai di sini? Dan bukankah dia membenciku? Mengapa dia sekarang malah menungguiku? Apa ini hanya mimpiku saja? Atau apakah dia salah masuk kamar tadi?

Dia terbangun dan mengucek-ucek matanya. Lalu dia memandangku dengan menyunggingkan senyuman khasnya, senyuman yang mampu menggoyahkan hatiku hingga tanpa sadar aku sudah mencintainya. Senyuman yang sangat kurindukan.

“Kamu sudah bangun?” katanya sambil menuju ke arahku.

“Kak…, Kak Renno kenapa bisa,” tanyaku tergagap-gagap.

“Papaku dirawat di sini, dan aku nggak sengaja ketemu Dhanni tadi, dia yang menyuruhku kemari,” katanya dengan nada lembut, sangat berbeda dengan nada dingin yang diucapkannya kemarin saat kami bertemu di Kampus. “Maafin aku, Nes,” katanya lirih.

“Enggak, Kak, harusnya aku yang minta maaf sama Kak Renno.”

“Kamu nggak salah, aku yang salah karena aku sudah maksa kamu.”

“Aku yang salah karena aku yang mau dipaksa,” jawabku tak mau mengalah.

“Aku yang salah karena aku sudah lancang mencintaimu.”

Aku lalu menggeleng. “Aku juga salah karena tanpa sadar aku membalas cintamu.” Kali ini aku tak bisa menahan tangisku kembali. Kak Renno lalu memelukku. Dan aku merasakan punggungnya bergetar.

Dia juga menangis….

Oh Tuhan, beginikah jalan hidupku? Kenapa kau buat malaikat seperti Kak Renno bersedih seperti ini? Dan lebih parahnya kenapa sumber kesedihan itu berasal dariku? Aku berterima kasih karena kau pernah menghadirkannya di dalam hidupku, tapi aku sangat memohon padamu, hadirkanlah wanita yang seratus kali lebih baik dari pada aku untuk menggantikan posisiku di hatinya. Aku ingin dia bagaia.

Dia melepaskan pelukannya, kami berpelukan cukup lama tadi. Dia memandangku, dan aku hanya bisa menunduk. “Apa kamu bahagia?” tanyanya kemudian. Aku hanya mngangguk. Yah, aku memang mencintai Kak Renno, tapi tak bisa dipungkiri jika aku sangat bahagia bersama Kak Dhanni. “Ok, aku senang jika kamu bahagia, aku jadi bisa pergi dengan tenang,” lanjutnya lagi.

“Pergi? Memangnya Kak Renno mau pergi ke mana?” tanyaku heran.

“Aku akan mengurus usaha Papa yang ada di Ingris.”

“Berapa lama?”

“Aku nggak tahu, mungkin beberapa tahun, mungkin juga nggak kembali lagi.”

“Apa? Jadi kita nggak akan ketemu lagi?” tanyaku dengan kaget.

Kak Renno lalu tersenyum, dia menggenggam telapak tangan kananku yang lemah. “Nes, walaupun kita nggak akan ketemu lagi, tapi kamu masih tetap di sini, masih berada di sini, dan masih punya tempat tersendiri di sini,” katanya sambil membawa telapak tanganku ke dadanya. “Dan aku juga yakin jika aku kan selalu berada di sini.” Kali ini dia berkata sambil menyentuh dadaku. “Aku selalu menyayangimu, Nes,” lanjutnya kemudian. “Apa aku boleh menciummu untuk yang terakhir kalinya?” Pertanyaannya benar-benar membuat jantungku seakan mau meledak.

Aku tak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya dengan Kak Renno. Aku hanya mengangguk.

Dia lalu menciumku dengan singkat. Bukan ciuman, itu hanya sebuah kecupan hangat di bibir, kecupan perpisahan. Yah, aku tahu ini yang terbaik buat kami, kami harus berpisah dan saling menjauh, jika tidak aku tak yakin perasaanku akan sama dan tidak berkembang untuk Kak Renno. Aku tak bisa mencintai dua orang lelaki sekaligus. Begitu pun Kak Renno, dia tak bisa selalu mencintaiku yang notabene adalah istri dari sahabat karibnya sendiri. Dia harus melangkah maju, mencari wanita yang lebih baik dariku. Mungkin ini akan menyaitkan untuk kami, tapi aku yakin jika waktu akan menyembuhkan semua luka ini.

“Ok, jaga dirimu baik-baik, jika Dhanni menyakitimu bilang sama aku,” katanya kemudian.

“Aku tak akan menyakitinya,” kata seseorang dengan nada datar. Dan aku baru sadar jika orang itu Kak Dhanni yang sudah berdiri menyandarkan punggungnya di pintu. Astaga, sejak kapan dia berada di situ? Apa dia sudah melihat semuanya? “Apa sudah selesai telenovelanya? Kalian mello sekali,” katanya sambil melompat duduk di sofa tunggu ruang inapku. Astaga, ekspresi apa itu? Kenapa dia tidak marah?

“Berengsek Lo,” umpat Kak Renno sedikit tersenyum pada Kak Dhanni.

“Ayoo kita sarapan dulu, gue sudah laper,” kata Kak Dhanni kemudian. Apa dia sudah melupakan kejadian tadi?

“Gue mesti balik. Jam 1 gue sudah harus chek in.”

“Lo pergi hari ini juga?” tanya Kak Dhanni dengan terkejut, dia lalu berdiri menghampiri Kak Renno.

“Iya. Gue kemarin pulang cuma buat ngurus beberapa berkas sama jenguk Papa yang lagi sakit aja kok,” jawab Kak Renno. “Jaga dia baik-baik, Dhann.”

“Sialan, Lo. Lo nggak nyuruh juga gue sudah jaga.” Dan mereka pun sama-sama tersenyum.

Lalu tanpa kuduga ‘Buuuggghh.’ Pukulan Kak Renno tepat mengenai ujung bibir Kak Dhanni membuat Kak Dhanni memar dan sedikit berdarah. “Itu untuk Lo karena Lo sudah ngerebut cewek gue,” kata Kak Renno kemudian.

“Berengsek Lo. Gue sudah cinta sama dia sejak sepuluh tahun yang lalu,” kata Kak Dhanni dengan tersenyum. Dia tidak Marah?

Da. ‘Buuuuggghh…’ kali ini pukulan keras Kak Dhanni tepat juga mengenai ujung bibir Kak Renno. Astaga, apa mereka akan berakhir dengan pertumpahan darah di sini?

“Itu buat Lo yang sudah nyium istri gue.”

“Sialan Lo!” umpat Kak Renno. Keduanya lalu tertawa bersama. Dan saling berpelukan. Astaga, mereka benar-benar hampir membuat jantungku seakan mau copot. Kukira mereka akan bertengkar.

“Sering-sering hubungi Gue Renn. Gue sama Ramma pasti kangen sama Elo,” kata Kak Dhanni kemudian.

“Elo nggak usah Lebay deh Dhann,” kata Kak Renno dengan tertawa

“Berengsek Lo!” umpat Kak Dhanni.

Dan akhirnya aku mengembuskan napas legaku karena mereka sudah berbaikan. Seperti ada rasa ‘plong’ di hatiku saat bisa mengungkapkan rasa maaf sekaligus rasa cintaku terhadap Kak Renno. Aku jadi bisa lebih lapang saat melepaskannya pergi.

Kak Dhanni akhirnya kembali dari mengantar Kak Renno. Dia berjalan ke arahku. “Maafin aku, Kak. Aku—”

“Kamu nggak salah, salahkan waktu dan keadaan,” katanya kemudian lalu dia memelukku. Aku tahu Kak Dhanni juga tersakiti karena ini.

Aku lalu melepaskan pelukannya. “Apa ini sakit?” tanyaku kemudian sambil memegang luka di ujung bibirnya.

Dia menggeleng. “Aku pantas mendapatkannya,” lanjutnya kemudian. Dan dia memelukku kembali.

***

Ini adalah hari pertama aku pulang ke rumah. Mama dan Mami sangat senang mendengar kabar kehamilanku. Tapi Mami tak ada henti-hentinya mengomel pada Kak Dhanni karena kelakuan konyolnya aku hampir saja kehilangan bayiku.

Yahh, bisa dibayangkan sendiri betapa ramai dan ribetnya mereka, bahkan Mami dengan lebaynya sudah menyiapkan kamar bayi dan beberapa barang dan baju untuk calon bayi kami. Astaga, aku tahu ini cucu pertama buat mereka, tapi aku pikir mereka terlalu berlebihan.

Bukan hanya itu, Kak Dhanni juga berubah menjadi super menjengkelkan karena aku tak boleh makan ini itu, dan harus melakukan ini itu. Dia sudah mirip dengan nenek-nenek cerewet yang menasehati cucunya. Bahkan dia pun sudah mengajukan cuti kuliah untukku beberapa semester ke depan.

“Gimana? Apa ini nyaman?” tanyanya saat dia membaringkanku di atas ranjang. Yah, bahkan untuk ke kamar mandi pun aku harus digendong Kak Dhanni, jika aku berjalan bahkan berdiri sendiri dia akan marah dan ngomel tanpa henti. Sial!

Aku hanya mengangguk.

“Ok. Aku tinggal dulu ya. Aku mau mandi, ini sudah lengket,” katanya kemudian. Aku tahu dia sangat capek karena mengurusiku beberapa hari ini.

“Kak….” panggilku lembut.

“Hemmb..” Hanya itu jawabannya sambil menoleh ke arahku.

Kurenggangkan kedua tanganku. Aku ingin dipeluk olehnya. Aku ingin hanya aku yang memilikinya, dan aku juga ingin hanya dia yang memilikiku. Dia memandangku dengan mengangkat sebelah alisnya, dan juga menyunggingkan senyuman miring licik khasnya yang sudah lama tak kulihat. Dia lalu berjalan ke arahku dan memelukku.

“Ada apa?” tanyanya serak.

“Aku mencintaimu, Kak. Aku pikir aku harus mengatakannya.”

“Hemmbb. Aku juga mencintaimu.”

“Benarkah?” godaku.

“Apa kamu perlu bertanya lagi?”

“Waktu di rumah sakit Kak Dhanni bilang kalau sudah punya perasaan itu sejak sepuluh tahun yang lalu, apa maksudnya?” tanyaku sedikit heran. Masak iya siih Kak Dhanni sudah cinta padaku sejak sepuluh tahun yang lalu? Kayaknya nggak mungkin.

Lalu Kak Dhanni melepaskan pelukannya, dan meninggalkanku menuju ke arah meja kerjanya yang berada di ujung kamar kami. Dia mengeluarkan sesuatu yang berada di dalam laci meja kerjanya tersebut. Lalu membawanya kepadaku.

“Aku mencintaimu sejak melihat fotomu yang ini,” kata Kak Dhanni sambil menunjukkan padaku sebuah foto gadis kecil yang aku tahu itu adalah fotoku saat aku berusia sekitar 12 tahun. Kenapa dia bisa punya fotoku? “Kamu nggak percaya?” tanyanya kemudian.

Dan aku hanya menggeleng. Apa dia bercanda? Dia nggak mungkin langsung jatuh cinta padaku hanya karena melihat fotoku yang masih belia.

“Itu hak kamu untuk nggak percaya, tapi aku benar-benar mencintaimu sejak saat itu. Sampai-sampai aku pernah mengintaimu di Jogja hanya karena aku nggak bisa menahan diri,” lanjutnya kemudian.

“Mengintai? Jangan-jangan Kak Dhanni adalah orang gila tampan yang dimaksud teman-teman dan Satpam kampusku waktu itu?”

“Orang gila Tampan?”

“Iya, mereka bilang ada orang gila tampan yang sedang mengikuti kami dengan mobil sport-nya.. Apa itu benar-benar Kak Dhanni?”

“Sialan, mereka belum tahu aja gimana kerennya orang gila yang mereka sebutin itu.” Aku pun tertawa mendengar kata-kata Kak Dhanni tersebut. Kak Dhanni pun ikut tertawa bersamaku.

Lalu tiba-tiba Kak Dhanni memegang daguku, mendekatkan diri dan kami pun berciuman dengan sangat lembut. Ciuman yang mampu membakarku seketika. Astaga, dia benar-benar mampu membuatku basah hanya karena berciuman.

Dia melepaskan ciuman saat kami sudah sama-sama kehabisan napas. “Aku mencintaimu Nes, dari dulu sampai sekarang hanya kamu,” katanya kemudian.

“Aku juga mencintai Kak Dhanni, walau sekarang perasaanku masih terbelah dengan Kak Renno, tapi aku lebih mencintai Kak Dhanni. Dan aku yakin suatu saat nanti aku hanya akan mencintai Kak Dhanni tak ada siapa pun lagi di hatiku selain Kak Dhanni,” jawabku jujur.

“Aku tahu itu,” katanya lalu dia mulai menciumiku kembali, kali ini dengan penuh hasrat. Tapi tidak lama dia melepaskan ciumannya kembali. “Tony sialan,” umpatnya lagi-lagi kepada Dokter Tony.

Aku hanya menggeleng. “Kenapa sih Kak Dhanni benci banget sama Dokter Tony?”

“Dia nyuruh kamu bed rest Selama 2 minggu, memangnya kamu pikir aku mampu menahan selama itu?”

“Astaga, ini kan demi anak kita.”

“Omong kosong. Dia cuma mau ngerjain aku,” gerutunya. Aku hanya tertawa melihat tingkah lakunya. “Kenapa kamu tertawa?” tanyanya kemudian.

“Kak Dhanni kayak anak kecil,” jawabku masih dengan tertawa.

“Anak kecil? Hei berani-beraninya kamu mengatai suamimu seperti itu?” Katanya kemudian sambil menerjangku menggelitik dan mencumbuiku secara bersamaan, membuatku merasa geli.

“Hahaaaha, maaf, maaf,” kataku masih dengan tertawa.

“Aku nggak butuh maaf,” kata Kak Dhanni yang masih menggelitikiku dan mencumbuiku.

Astaga, aku benar-benar bahagia. Aku berterima kasih padamu Tuhan karena sudah menyatukan kami, aku berterima kasih pada Oma dan Opa karena sudah memberikan jodoh yang baik untukku. Aku berterima kasih pada Kak Renno, karena sudah mau mengalah demi kebahagiaan kami.

Ini akhir yang sempurna untukku dan Kak Dhanni walau sebenarnya ini bukan akhir yang sempurna untuk hubungan kami bertiga, tapi aku berharap semoga pada saatnya nanti Kak Renno juga akan merasakan kebahagiaan dan memiliki akhir yang sempurna dengan orang yang dicintainya seperti kebahagiaan yang kurasakan saat ini bersama Kak Dhanni. Dan ketika saat itu terjadi aku harap aku menjadi orang pertama yang menyaksikan kebahagiaannya.

Semoga saja……

____END____

The Lady Killer BISA  di DOWNLOAD LANGSUNG DI PLAYSTORE DENGAN JUDUL ‘Novel Dewasa The Lady Killer.’ Atau bisa juga pesan Versi buku novelnya kepada Author secara langsung….

12321303_1096393880379258_6013373791260930497_n
ini Cover untuk Versi Playstore nya yaa…
10439011_1293259477357265_6028376023068747189_n

 

Nahh yang di atas itu untuk Versi buku novelnya,,, sekali lagi maaf dan terimakasih untuk semuanya… 🙂

The Lady Killer (Novel Online) – Epilog

Comments 9 Standard

dhanness2

The Lady Killer

NB ; untuk Epilog The Lady Killer ini sebenarnya berhubungan dengan buku selanjutnya yaitu ‘Because It’s You‘ kisah cinta Renno Handoyo… jadi yang mau baca silahkan yang enggak juga nggak papa.. hahhahaha

 

*Epilog

Tiga tahun kemudian….

“Sayang… Sayang… Dia pipis sembarangan lagi..” Aku menggeleng mendengar suara manja Kak Dhanni. Pagi ini dia benar-benar sangat menyebalkan. Sudah berapa kali aku masak hanya karena dia tidak selera makan dan menyuruhku memasak masakan lainnya. Jika merawat nenek-nenek Jompo yang sudah pikun menjengkelkan maka Merawat Kak Dhanni yang sedang sakit akan 10 kali lipat lebih menjengkelkan lagi.

Belum lagi Brandon, Putra pertama kami yang nakalnya sudah sepetrti iblis. Ok, aku memang keterlaluan karena menyamakan anakku sendiri dengan iblis, tapi demi tuhan… Brandon benar-benar sangat nakal dan bandel. Kata mami brandon sudah seperti jelmaan Kak Dhanni saat kecil. Yaahhh.. memang, tampang dan kelakuannya pasti mirip sekali dengan papanya.

“Astaga sayang… apa kamu nggak bisa sedikit membantuku..? aku benar-benar sangat capek.” Yahh.. aku memang sangat capek menghadapi kelakuan mereka berdua yang sepertinya kompak mengerjaiku. Kak Dhanni sepertinya sudah sembuh tapi dia enggan kemana-mana seakan-akan dia nggak mau sembuh dan hanya ingin bermanja-manjaan denganku.

“Yaudah,, aku bantu kamu..” katanya mengalah. Kak Dhanni yang sekarang memang sudah berubah, dia jadi semakin dewasa, meskipun sikap cuek dan sikap menjengkelkannya yang lain sering kambuh. Tapi bagiku dia menjadi sosok ayah yang sempurna untuk Brandon.

“Sayang, nanti sore anterin aku yaa..” hahaha kalian jangan kaget jika aku memanggil Kak Dhanni dengan sebutan sayang, itu sudah kulakukan sejak 2 tahun yang lalu.

“Kemana..? enggak ahh.. kita di rumah aja.” Tolak Kak Dhanni.

“Ke apotek di ujung jalan, dekat apartemen kita..” jawabku kemudian. Yah.. saat ini kami memang tinggal di apartemen bukan di Mansion milik kak Dhanni, kata kak Dhanni biar kami bisa hidup lebih mandiri.

“Mau ngapain ke apotek..?”

“Aku sudah telat dua minggu, aku fikir…”

“Apa,,,? Kamu hamil..?” tanyanya mengagetkanku.

“Enggak.. aku juga nggak yakin..”

“Ok,, nanti sore aku antarin kamu, sekarang kamu istirahat aja, biar aku yang beresin semuanya.” Katanya kemudian.

“Kak Dhanni kan masih sakit,..”

“Enggak Kok, aku sudah sembuh.” Nah Lohh.. benar kan apa yang aku duga, Kak Dhanni sudah sembuh Cuma dia sedang ngerjain aku aja. Dasar.

Akupun langsung menjewer kupingnya. “Aww.. aww.. aw.. sayang.. kamu ngapain sihh..”

“Ini hukuman buat Kak Dhanni karena udah ngerjain aku.”

“Astaga.. kalo aku nggak pura-pura sakit mungkin kamu nggak akan mau manja-manja sama aku.” Katanya membela diri.

“Trus bagaimana kalau aku benar-benar hamil dan kejadian hampir keguguran seperti dulu terulang lagi gara-gara aku kecapekan..? Apa Kak Dhanni mau aku Bed Rest selama dua minggu lagi..?”

“Kamu gila, Enggak,, aku nggak mau, kalau kamu hamil akan aku pastikan bukan Tony yang nanganin kamu,jadi dia nggak bisa ngasih aturan sialan itu untuk kita.”

“Kak.. Kak Dhanni udah janji kan nggak akan menyumpah di hadapan Brandon..?”

“Oo iyaa.. aku lupa.. maaf..” katanya sambil cengengesan, dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku.

Sorenya…..

Setelah aku memilih beberapa alat tes kehamilan, akupun bergegas ke kasir dan membayarnya. Kak Dhanni memang mengantarku, tapi dia hanya munungguku di dalam mobil dengan Brandon. Katika aku keluar betapa kagetnya aku melihat pemandangan yang ada di hadapanku. Kak Dhanni sedang menggendong Brandon dan sedang berbicara dengan seseorang. Orang yang sudah 3 tahun ini tak kutemui. Dia Kak Renno.

Aku senang bisa bertemu dengannya lagi. Jika kalian bertanya bagaimana perasaanku padanya saat ini aku akan menjawab jika aku bahagia bisa bertemu dengannya lagi. Perasaan ini bukan perasaan cinta yang pernah kurasakan padanya dulu. Ini lebih seperti perasaan sayang. Kak Renno selalu ada di hatiku dan menempati tempat yang tak akan tergantikan siapapun meski itu Kak Dhanni. Tapi untuk perasaan cinta, aku sudah lama menghapusnya. Cintaku kini hanya murni untuk Kak Dhanni, suamiku. Sedangkan Kak Renno lebih kepada perasaan sayang kepada seorang Kakak. Ini sama seperti kalian yang menganggap salah satu mantan pacar kalian sebagai orang yang special tapi bukan dalam hal cinta. Aku harap Kak Renno juga sudah merasakan hal yang sama kepadaku jadi tak akan ada rasa sakit saat kami bertemu seperti ini.

“Haii..” sapanya padaku dengan sedikit kaku.

Dan tanpa basa-basi lagi aku langsung memeluknya. Kurasakan dia sedikit menegang, mungkin karena kaget. Kak Dhanni hanya memperhatikan kami dengan tersenyum. Dia tidak akan marah, karena dia tau betapa aku sangat mencintainya, dia juga tau jika aku sangat merindukan Kak Renno.

“Kak Renno kapan datang..?” tanyaku kamudian

“Sudah beberapa bulan yang lalu.”  Jawabnya. Lalu tanpa kuduga ada seseorang yang menabrakku dari belakang hingga orang itu jatuh terpental. Obatnyapun berserahkan.

“Maaf.. maaf.. saya tidak sengaja..” katanya kepada kami lalu dia memunguti obat-obatannya. Akupun membantunya. Aku memungut sebuah obat, bukan obat, itu prenatal, sejenis vitamin untuk ibu hamil. Astaga.. wanita ini sedang hamil..? dan dia terjatuh tadi,,?

Akupun langsng membantunya berdiri, “Mbak, embak sedang hamil..? embak nggak apa-apa kan..?” tanyaku khawatir padanya.

Tapi bukannya menjawab, wanita itu malah menatap Kak Renno dengan tatapan terkejutnya, begitupun Kak Renno yang ternyata sudah menatap wanita tersebut dengan tatapan tegangnya. Ada apa..?Apa mereka saling mengenal..?

“Maaf.. saya harus pergi.. permisi..” katanya lembut lalu berlari pergi dan menghilang dibalik tikungan jalan. Aku melihat kak Renno yang melihat kepergian wanita itu dengan tatapan tak terbacanya.

“Kak Renno kenal sama dia..? mungkin dia hamil Kak, dia meninggalkan ini.” Kataku sambil memberika Vitamin Prenatal yang tadi kupungut dan belum sempat kuberikan pada wanita itu.

“Aku pergi dulu yaa… nanti aku akan mampir kerumah kalian, Dhann Gue Cabut dulu..” katanya dengan tergesah-gesah. Belum sempat kami menjawab Kak Renno sudah berlari meninggalkan kami kearah yang sama dengan wanita tersebut. Aku curiga jika kak Renno benar-benar mengenal wanita tersebut.

“Ada apa dengannya..?” tanya Kak Dhanni kemudian.

“Aku nggak tau,, mungkin ada hubungannya dengan wanita itu.” Jawabku.

“Apa Kamu sudah dapat barangnya..?” tanyanya kemudian.

“nih..” kataku sambil menunjukkan bungkus plastik yang berisi beberapa Testpack.

“Yaa udah sekarang ayoo kita pulang.” Katanya kemudian.  Akupun menganngguk dan mengikuti Kak Dhanni masuk kedalam mobil.

Sesekali aku masih memikirkan tentang Kak Renno dan wanita tadi. Ya tuhan.. apapun masalah yang sedang di hadapi Kak Renno saat ini, aku berharap dia bisa menyelesaikannya dengan baik dan bisa berakhir manis seperti aku dan Kak Dhanni saat ini.

*****

 PS : Nantikan kisah Renno dan pasangannya di serial Kedua ‘The BadBoys’ dengan judul “Because it’s You” yaa…. heheheheh

allrenn3 

*Because It’s You Cover…

The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 17

Comments 6 Standard

dhannesss-1_Tlk Cover new

The Lady Killer

Nb ; Sebenernya rencananya aku mau bikin 3 chapter lagi… tapi kayaknya ceritanya nggak memungkinkan dan takutnya yang baca terlalu bosan karena berputar-putar ceritanya.. heheheh jadi ini the lady killer cuma sampai Chapter 18 aja yaa… niat hatiku akan memposting 2 chapter terakhir sekaligus tpi ada beberapa temen yang udah penasaran, jadi aku posting yang chapter 17 dulu yaa… untuk Chapter 18 (End) ingsya alloh akan aku posting bareng dengan Prolog Dan Epilog nya The Lady killer,, jadi sabar yaa,,, 😉 😉 Happy reading… :* :*

 

Chapter  17

Apa yang sebenarnya terjadi…???

 

Aku masih saja mondar-mandir di dalam kamarku. Sesekali menengok ke arah jendela, Kak Dhanni belum pulang. Ini sudah jam 11 malam. Entah kenapa pikiranku jadi tak enak. Aku masih terpikirkan tentang wanita yang digandenganya tadi siang. Sepertinya aku pernah melihat wanita tersebut, tapi dimana? Aku berusaha mengingat-ingat tapi kosong, tak ada yang bisa kuingat.

Saat aku menengok lagi ke arah jendela, aku melihat sebuah mobil baru saja datang. Aku tahu itu mobil Kak Dhanni, haruskah aku menanyakan tentang wanita itu terhadapnya? Aku pun semakin gelisah saat menunggunya.

Tak lama pintu kamar pun terbuka. Kak Dhanni masuk dan sedikit terkejut melihatku yang masih terjaga. “Kamu belum tidur?” sapanya.

Dan astaga, aku tahu kalau saat ini dia baru pulang dari minum. Baunya menyeruak sampai ke seluruh ruangan membuatku mual hanya karena mencium aromanya. Sial!

Aku berlari ke arah kamar mandi memuntahkan seluruh makan malamku tadi. Aku merasakan dia mengikutiku dari belakang. “Sayang, kamu kenapa?” tanyanya dengan lembut dengan mengusap-usap punggungku. Dia bertanya dengan sangat lembut, berbeda dari biasa-biasanya. Ada apa?

Aku pernah dengar dari seseorang, jika tiba-tiba pasanganmu berbuat baik terhadapmu (padahal biasanya tidak) itu hanya karena dua alasan, pertama, mungkin karena dia merencanakan sesuatu terhadapmu atau yang kedua mungkin karena dia merasa bersalah terhadapmu. Dan entah kenapa pikiranku jatuh kepada alasan yang nomer dua, dia merasa bersalah kepadaku. Dan pikiran itu entah mengapa membuatku ingin meledak-ledak.

“Kak Dhanni pergi deh, ngapain sih ke sini,” kataku sambil sedikit mendorong-dorong tubuhnya.

“Aku mau bantuin kamu,” jawabnya kemudian.

“Bantuin apa, aku nggak perlu.”

“Nes….”

“Kak Dhanni sadar nggak sih kalo Kak Dhanni yang bikin aku mual.”

“Apa? Tapi…”

“Kak Dhanni itu abis minum tahu nggak, sudah sana,” usirku kemudian. Entahlah aku juga bingung kenapa aku semarah ini dengannya.

“Ok. Aku keluar, tapi aku akan balik lagi.”

“Nggak ada balik lagi, tidur di kamar sebelah sana.”

“Astaga, Sayang, kamu kenapa sih?” tanyanya sambil memegang kedua bahuku.

“Aku nggak apa-apa, sudah deh, Kak Dhanni pergi sana.” Lagi-lagi aku mendorongnya. Aku ingin bertanya tentang wanita tadi siang, tapi sepertinya nggak usah. Aku malu, nanti aku disangkanya cemburu dan lain-lain lagi, malu dong, mau di taruh di mana muka ini..

Kak Dhanni pun pergi dengan langkah lunglainya. Aku menatap punggungnya sambil menggelengkan kepala. Kenapa dia sekarang begitu menurut terhadapku?

Walau Kak Dhanni sudah pergi, perutku masih saja terasa mual. Aku kembali memuntahkan seluruh isi dalam perutku hingga habis, sampai kurasakan kaku di dalam perutku. Kakiku pun sampai lemas, ada apa denganku? Aku tak pernah merasakan sesakit ini. Tiba-tiba aku mengingat sesuatu, sesuatu yang sudah lebih dari satu bulan ini tak mendatangiku, yaaa apa lagi jika bukan tamu bulanan. Aku memang tidak kaget, karena aku memang tidak pernah tepat waktu, kadang satu bulan sekali, kadang tidak sama sekali.

Tapi, sepertinya jika mengingat emosiku akhir-akhir ini, dan kecintaanku terhadap batagor yang tiba-tiba, aku harus curiga dengan keadaanku.

Entah sudah berapa lama aku terduduk lemas di kamar mandi, hingga aku merasakan seorang masuk ke dalam kamar mandi, Kak Dhanni. Dia sudah ganteng seperti biasanya karena selesai mandi, aroma alkohol pun sudah menghilang dari tubuhnya. “Sayang, kamu kenapa? Kamu sakit?” tanyanya lembut.

Aku hanya menggeleng. “Jangan pulang kayak gitu lagi, aku nggak suka,” kataku ketus. Astaga, bahkan sekarang aku bisa berbicara dengan nada ketus terhadapnya? Benar-benar aneh, Aku harus memeriksakan keadaanku besok.

“Kita ke dokter ya, kamu sepertinya sakit lagi.”

“Nggak usah. Aku mau tidur.” Dan lagi-lagi suaraku masih terdengar ketus.

Akhirnya aku pun berbaring miring di ranjang dengan posisi membelakangi Kak Dhanni. Entah kenapa aku masih merasa kesel aja sama dia.

“Kamu marah ya sama aku?” tanyanya kemudian.

Helloooo… siapa yang nggak marah saat memergoki suaminya jalan mesra dengan seorang wanita? rasanya aku ingin meneriakkan kata-kata itu, tapi… tentu saja gengsi ini masih lebih besar dari pada keberanianku menanggung malu karena ketahuan cemburu. Oopps.. memangnya aku cemburu yaa?

“Nggak,” jawabku cuek secuek dia. Rasain.. emangnya enak di cuekin kayak gini..

“Kamu bohong, kamu pasti marah,” lanjutnya lagi.

“Udah deh, Kak. Aku capek, aku mau tidur.”

“Nggak ada yang boleh tidur sebelum kamu jelasin kenapa marah sama aku.”

“Aku nggak marah.”

“Kamu marah, aku tahu itu,” jawabnya kemudian. “Maafin aku, tadi Ramma ada acara, jadi kita minum bareng,” lanjutnya kemudian.

FffuuiiihhAku marah bukan karena kamu minum, Kak, tapi karena kamu jalan bareng sama wanita sialan itu. Aku marah karena aku terlalu jadi pengecut untuk menanyakan itu semua kepadamu.

“Aku janji nggak akan lakuin itu lagi,” lanjutnya lagi.

Apa kamu akan janji nggak akan jalan bareng wanita lain lagi selain aku? Enggak kan? Sudah menjadi kodratmu jika kamu selalu dikelilingi wanita-wanita cantik bahkan meskipun kamu sudah beristri. Harusnya kamu mikirin bagaimana perasaanku, harusnya kamu tahu apa yang kurasakan karena kamu pernah merasakannya saat aku berduaan dengan Kak Renno.

Sial! Lagi-lagi nama itu yang kubawa. Ok. Aku memang sudah gila, aku ingin menumpahkan semua unek-unek kekesalanku kepada Kak Dhanni, tapi tidak bisa. Aku hanya bisa marah dalam hati. Aku hanya terdiam tak menanggapi omongan Kak Dhanni tadi.

“Nes,” panggilnya lagi.

“Iya aku maafin,” jawabku ketus.

“Kalo dimaafin tidurnya hadap sini dong,” katanya dengan nada menggoda.

Aku tahu apa yang dia inginkan, tapi maaf saja, walaupun aku juga menginginkannya tapi untuk malam ini aku nggak akan membiarkan dia menyentuhku. Enak saja, tapi omongan hanya sekadar omongan. Setelah aku membalikkan tubuhku untuk menghadapnya tiba-tiba saja bibirnya bertemu dengan bibirku, menggodaku, seaka-akan tak ingin melepaskanku. Dan aku merutuki diriku sendiri karena dengan mudahnya aku terperosok ke dalam pesonanya. Siall…..!!!

***

Pagi ini aku lagi-lagi muntah hebat, entah apa yang membuatku muntah seperti ini, Kak Dhanni pun khawatir. Padahal tadi malam aku belum sempat memakan apapun. Kak Dhanni hanya membuatkanku susu cokelat panas setelah kami selesai bercinta. Yah, akhirnya dia berhasil juga menggodaku, meluluhkan hatiku, dan menghancurkan benteng pertahananku dengan cumbuan-cumbuannya. Aku bahkan sama sekali tak mengingat kejadian saat Kak Dhanni menggandeng mesra teman wanitanya tersebut. Shitt!

“Kita ke dokter ya. Sepertinya kamu parah,” katanya khawatir.

Aku hanya menggeleng, jika tadi malam keyakinanku hanya 50%, maka saat ini aku yakin 80% jika aku sedang hamil. Entah apa yang membuatku seyakin itu, tapi aku memang merasa jika aku tak sendiri lagi sekarang ini.

“Ok, sekarang kamu mau apa? Aku akan cari’in buat kamu,” katanya kemudian.

Saat ini aku sedang duduk lemas di atas closet, dengan Kak Dhanni berjongkok di lantai di hadapanku sambil memegang tanganku. Astaga, aku merasa sangat diperhatikan jika dia seperti ini. Dan entah kenapa rasanya aku ingin mengerjainya. Biar saja, hitung-hitung sebagai hukuman karena berani selingkuh di belakangku.

“Aku pengen batagor yang ada di sebelah kampus kita,” jawabku asal dan datar.

“Apa? Kamu ngarang ya, ini masih jam 7 pagi, mana ada orang jual batagor, lagian kan dia bukanya jam 1 siang, yang lain aja ya.”

“Pokoknya aku mau batagor itu titik.” Aku masih tak mau mengalah.

Aku mendengar dia mendesah lama. “Kamu kenapa sih, kayaknya kamu sengaja ngerjain aku. Apa aku ada salah sama kamu?” tanyanya kemudian.

“Aku cuma pengen makan batagor.”

“Beri aku alasan yang jelas kenapa aku harus nuruti mau kamu.”

“Ya udah kalau gitu nggak usah,” kataku sambil meninggalkannya menuju ke lemari mencari baju ganti.

“Nes….”

“Hemmbb..”

“Kamu mau ke mana? Kamu kan sakit.”

“Ya ke kampus, Kak. Emangnya mau ke mana lagi?”

“Jangan masuk hari ini, kamu sakit,” larangnya.

“Aku akan tetap masuk,” kataku sambil menuju ke kamar mandi. Mood-ku sangat buruk pagi ini. Dan aku beruntung jika Kak Dhanni menghadapiku lebih sabar, kupikir dia sekarang lebih sedikit dewasa. Tapi, tetap saja penyakit playboy-nya belum saja hilang.

***

“Surat lagi?” tanya Dewi padaku. Dan aku pun hanya mengangguk.

Yah, setelah pengumuman aku jadi istri seorang Dhanni Revaldi itu beberapa anak kampus berubah. Kukira mereka akan bertindak jahat padaku, tapi nyatanya tidak. Beberapa dari mereka malah memberikanku surat cinta yang ditaruh di lokerku. Hahahaha aneh-aneh saja mereka. Kebanyakan mereka kagum terhadapku. Tentu saja itu sebagian dari anak cowok di kampus ini. Berbeda dengan yang cewek. Astaga, mereka selalu berpandangan sinis terhadapku. Meskipun tak ada yang menyakitiku tapi tetap saja jika aku agak tak nyaman dengan pandangan mereka.

“Ayoo coba, kita buka bareng, siapa tahu dari cowok yang lebih ganteng dari pada Kak Dhanni,” kata Dewi sambil mengerlingkan matanya. Dasar genit.

Aku tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalaku. “Kamu gila, mana ada cowok yang lebih ganteng dari pada Kak Dhanni.”

“Iyaaa, iya, aku tahu yang lagi kena Penyakit SDL.”

Aku mengernyit. “SDL? Apa itu SDL?”

“Syndrome Dhanny Lovers. Hahahaa,jawabnya sambil tertawa.

“Gila!” umpatku sambil ikut tertawa.

Tapi ketika aku membuka amplop surat itu, tawaku langsung hilang seketika, itu bukan Surat cinta. Tapi sebuah surat yang penuh dengan foto-foto Kak Dhanni bersama wanita lain. Wanita yang sama saat di parkiran cafe kemarin, karena bajunya pun sama. Dan ketika aku melihat sebuah foto yang memperlihatkan wajah wanita tersebut, aku baru sadar jika aku mengenalnya.

Itu Farah. Si wanita ular yang dulu pernah tak sengaja bertemu denganku dan Kak Dhanni saat di Bandung. Wanita yang kata Kak Dhanni adalah sahabatnya.

Bulshiiiitt…!!!

Mereka bahkan tak seperti sedang sahabatan. Jadi tadi malam Kak Dhanni minum bersama si wanita ular itu? Ya meskipun Kak Dhanni tak sepenuhnya bohong tentang kak Ramma, karena di foto tersebut aku juga melihat Kak Ramma dengan wanita jalangnya. Siall..! Jadi mereka tadi malam berpesta bersama?

Dewi yang melihat perubahan ekspresiku langsung menyambar surat yang ada di tanganku. Dan Ekspresinya pun sekarang sama dengan Ekspresiku, ekspresi tak percaya.

“Nes, jangan mudah percaya sama yang ginian ya. Kak Dhanni belum tentu….”

“Kita nggak tahu apa yang dia lakuin di luar sana.” Aku memotong kata-kata Dewi dengan lirih.

“Tapi ini juga belum tentu benar, Nes.”

Aku hanya terdiam, aku tahu jika sebenarnya Dewi hanya ingin menengahiku tapi tetap saja perasaan ini tak bisa dibohongi. Aku pun bergegas pergi keluar dari kantin. Entah kenapa bagiku semua terasa semakin sesak. Aku tak bisa menerima kenyataan jika memang Kak Dhanni ada wanita lain selain aku. Aku benci itu.

Aku berjalan keluar tanpa menghiraukan Dewi yang sudah berteriak-teriak memanggilku. Hingga aku tersadar saat kakiku berhenti dengan sendirinya ketika aku melihat sosok di hadapanku. Sosok yang selama ini kurindukan. Saat ini dia memunggungiku, tapi aku sangat mengenalnya, aku tahu itu dia, Kak Renno.

Aku berjalan lebih cepat untuk menghampirinya.

“Kak,” panggilku lirih.

Dia menghentikan langkahnya tapi tetap tak berbalik ke arahku. Dia masih mengenali suaraku, aku tahu itu.

“Kak, aku mau ngomong.”

“Sepertinya sudah tak ada yang perlu diomongkan lagi.” Suaranya dingin, sangat dingin, berbeda dengan suaranya dulu yang terdengar hangat di telingaku. Bahkan saat ini dia tak sudi memandangku berbeda dengan dulu yang sepertinya enggan berpaling dariku.

Dia berubah…!!!

Lalu dia pergi meninggalkan aku begitu saja, tanpa sedikitpun menoleh ke arahku. Dia benar-benar membenciku. Seketika itu juga kurasakan dunia di sekitarku berputar, kepalaku sakit, pandanganku mengabur, dan. Aku tak bisa melihat dan mengingat apa-apa lagi.

***

“Ness, Nesa, Nes.” Aku tahu itu suara Dewi, tapi aku masih belum bisa melihatnya. Aku mengerjapkan mataku, mencoba mencari-cari kesadaran saat mataku terbuka sepenuhnya aku melihat raut wajah khawatir dari Dewi.

“Aku kenapa, Wi?” Aku bahkan mendengar suaraku yang sangat lemah. Apa yang terjadi denganku?

“Kau sudah sadar? Astaga, kamu bikin aku takut tahu nggak.”

“Aku di mana?”

“Kita di klinik kampus, untung aja tadi Kak Renno tolongin kamu.”

Aku langsung terduduk saat mendengar nama itu. “Kak Renno? Mana dia?” tanyaku sambil mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan.

“Dia sudah pergi, dia cuma nitipin kamu ke aku.”

Dan saat itu juga tangisku pecah. “Dia membenciku. Tapi dia masih menyayangiku. Aku mesti gimana, Wi,” tanyaku sambil menangis. Dewi lalu memelukku.

“Nes, biarlah waktu yang mengobati semuanya. Kamu harus sabar, kamu harus kuat demi bayi yang sedang kamu kandung.”

“Apa?” Aku mengerjap kaget.

“Iya, kamu hamil. Apa kamu nggak sadar kalau kamu sudah hamil?”

Aku hanya menggeleng.

“Astaga, Nes, kata dokter ini mungkin sudah lebih dari 6 minggu.” Aku hanya tertunduk lesu.

Ini memang kabar bahagia, tapi kenapa pada saat seperti ini? Saat hubunganku dan Kak Dhanni belum jelas karena kedatangan si wanita ular tersebut. Saat aku masih belum sepenuhnya merelakan Kak Renno.

“Wi, kamu mau bantu aku nggak?” tanyaku kemudian.

“Bantu apa?”

“Kita selidiki Kak Dhanni bareng-bareng ya,” pintaku.

“Enggak, kamu ngarang ya. Lebih baik kamu langsung bertanya sama Kak Dhanni, bukan malah diam-diam menyelidikinya.”

“Aku belum siap mendengar jawabanya jika itu benar-benar kenyataan.”

“Astaga, Nes, tapi kadang apa yang kita lihat itu tidak seperti apa yang sedang terjadi, bisa saja itu suatu kebetulan atau apalah.” Dewi memang benar, tapi feelling-ku berkata jika aku harus menyelidiki Kak Dhanni saat di belakangku.

“Ayoolah, Wi.. Pliss..” Aku pun memohon padanya.

Dewi mengembuskan napasnya, aku tahu dia kalah. “Ok. Aku bantu kamu, tapi aku nggak mau diikut-ikutkan kalau misalnya kalian berantem nanti.”

“Ok, siipp,” kataku kemudian.

“Nes, kamu musti banyak makan dan minum, kata dokter tadi kamu dehidrasi.”

Aku mengangguk. “Iya, aku memang susah makan akhir-akhir ini.”

***

Beberapa hari kemudian keadaanku semakin parah. Aku tak tahu jika orang hamil akan mengalami ini. setahuku di TV-TV mereka hanya mual muntah, tapi berbeda denganku. Aku bahkan panas demam juga. Kak Dhanni benar-benar khawatir. Itu terlihat jelas di raut wajahnya. Berkali-kali dia mengajakku ke dokter, tapi aku menolaknya, aku belum mau dia tahu keadaanku yang sedang hamil anaknya.

“Sayang aku pergi dulu ya.” Lalu dia mengecup lembut bibirku. “Kamu baik-baik di rumah ya,” katanya dengan lemah lembut, aku pun hanya mengangguk.

Kak Dhanni memang sedikit berubah, dia jadi lebih lembut dan perhatian. Dan itu membuatku semakin mencurigainya. Pasti ada yang dia sembunyikan dariku.

Aku mengantarnya hingga garasi tempat mobil-mobil mewahnya berjejer rapi. Dia masuk ke salah satu mobil sport-nya, membuka kaca kemudinya dan melambaikan tangan kepadaku. Lalu dia meluncur pergi. Setelah ditinggalkan, bukannya masuk dan istirahat, aku malah mengambil sebuah kunci mobil yang berada di lemari di pojok garasi. Mobil sport Porsche New Cayenne yang menjadi pilihanku. Astaga, sejak kapan aku bisa mengendarai mobil mewah sejenis Porsche ini? Aku tak peduli, yang aku pedulikan hanyalah membuntuti Kak Dhanni ke mana pun dia pergi.

Sudah dua hari ini aku membuntutinya dengan Dewi, dan hasilnya nol besar. Kami tak menemukan hal-hal mencurigakan apapun. Dewi bahkan tak henti-hentinya marah dan mengumpat padaku karena menyia-nyiakan waktunya seperti ini. Tapi untuk pagi ini aku yakin Kak Dhanni bukan hanya bekerja. Pakaiannya lebih seperti orang yang akan berkencan dibandingkan dengan orang yang akan rapat.

Saat Kak Dhanni berhenti di sebuah apartemen mewah, aku juga ikut berhenti. Kutekan nomer telepon Dewi di HP-ku, aku menyuruhnya mengikutiku. Setelah selesai, aku hanya berdiam diri menunggu apa yang akan terjadi dengan jantung yang berdetak semakin keras. Tiba-tiba wanita itu muncul. Farah Si wanita ular. Kak Dhanni tadi memang tak turun dari mobilnya, dan si Farah ini pun langsung masuk begitu saja ke dalam mobil Kak Dhanni, seperti sudah terbiasa. Sialann…!!! Sebenarnya apa hubungan mereka?

Mobil Kak Dhanni melaju lagi, aku mengikutinya dari belakang. Sambil memasang headset untuk menghubungi Dewi di mana posisiku saat ini. Ternyata tujuannya tak jauh. Sebuah rumah sakit yang hanya berjarak beberapa blok dari kompleks apartemen mewah milik wanita sialan itu.

Rumah sakit? Kenapa mereka ke sini? Apa mereka sedang berkencan di sini? Atau, Apa Kak Dhanni sakit dan menyembunyikan semuanya dariku? Enggak, itu nggak mungkin. Kak Dhanni nggak mungkin sakit. Tapi bisa saja kan Kak Dhanni divonis penyakit mematikan terus menyembunyikannya dariku seperti yang ada di novel-novel yang biasa aku baca..

Stop it.

Aku nggak boleh berpikir yang tidak-tidak. Kak Dhanni sehat, dia nggak mungkin sakit. Entah kenapa tiba-tiba saja air mataku menetes. Aku takut menghadapi kenyataan itu jika itu yang benar-benar terjadi. Aku takut kehilangan Kak Dhanni, Aku lebih suka kenyataan pertama yaitu mereka kencan bercinta dan lain sebagainya daripada kenyataan kedua jika Kak Dhanni sakit dan divonis akan mati, yang tandanya adalah meninggalkanku….

Aku tak mau itu terjadi. Aku lebih rela menjadi istri pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya asalkan dia hidup di dunia yang sama, di langit yang sama, menghirup udara yang sama dan menginjakkan kaki di bumi yang sama denganku, daripada aku harus menerima kenyataan jika aku akan hidup sendiri di dunia ini tanpa ada dia di dalamnya.

Aku sangat mencintainya. Aku sangat membutuhkannya.

-TBC-

The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 16

Comments 9 Standard

dhannesss-1_Tlk Cover new

The Lady killer

NB; tambahan Konflik nihh… jangan bosen2 bacanya yaa…. heheheh

 

Chapter 16

Siapa Dia..??

 

 

Aku masih syok, masih kaget dengan apa yang dia lakukan tadi. Apa sebenarnya yang berada dalam pikirannya tersebut. Bukankah tadi malam dia baru saja bilang jika teman-temannya nggak harus tahu tentang hubungan kami? Tapi kali ini dia sendiri yang menyatakan di depan umum jika aku istrinya lengkap dengan panggilan sayangnya.

“Eh, selamat ya, Bro. Gue nggak nyangka.” Satu lagi teman Kak Dhanni ngasih selamat untuk kami, entah sudah berapa orang yang menyalamiku tadi, mereka semua teman-teman Kak Dhanni yang memberikan ucapan selamat.

Jujur saja, lama-lama aku bisa mati bosan di sini, acara wisuda sudah selesai tapi Kak Dhanni masih saja belum mau pulang. Dia masih asyik ngobrol dengan temannya. Mami dan Papi sudah pulang terlebih dahulu. Bukannya apa-apa, aku hanya tak begitu mengenal mereka. Lagian aku juga mulai was-was dengan tatapan beberapa wanita di sini terhadapku.

“Kak, kita pulang yuk,” rengekku sambil sedikit menarik lengannya.

“Bentar ya, nggak enak sama yang lain, lagian ini terakhir kalinya aku ketemu sama mereka.”

Ahh lebay sekali, nanti juga bisa ketemu lagi, rutukku dalam hati.

Dan aku pun hanya menghentakkan kakiku dan memajukan bibirku, apalagi jika bukan ngambek. “Kamu kenapa?” Hufftt, pake nanya lagi.

“Tau ah,” jawabku jengkel.

“Jangan gitu dong.”

“Aku lapar, Kak. Aku cuma pengen makan,” kataku dengan nada ketus.

“Itu kan ada makanan, kamu bisa makan di situ.”

“Aku nggak mau, Kak. Aku pengen makan batagor,” jawabku asal.

“Apa? Kamu ngaco, mana ada orang jual batagor pagi-pagi gini,” katanya kemudian.

“Ini sudah siang.”

“Ayolah, Nes, jangan jadi menjengkelkan seperti ini,” katanya kemudian.

“Pokoknya aku pengen pulang titik. Kalo Kak Dhanni nggak mau antar, aku akan pulang sendiri.” Lagi-lagi aku menjawab dengan asal. Pulang sendiri? yang benar aja, emangnya aku mau pulang jalan kaki? Aku kan tadi sama sekali nggak bawa uang.

“Ya sudah kita pulang, tapi aku pamitan dulu ama yang lainnya,” katanya kemudian. Aku pun tersenyum simpul, lagi-lagi dia mengalah untukku.

***

“Emmm… emangnya Kak Renno ke mana, Kak?” Aku bertanya kepada Kak Dhanni. Pertanyaanku ini benar-benar membuatnya menegang.

“Ngapain kamu nanyain dia lagi?” suaranya berubah mendingin.

“Aku khawatir, Kak. Dia seperti itu karena kita.”

“Dia akan baik-baik aja,” jawabnya cuek.

“Kok Kak Dhanni bisa yakin sih kalo Kak Renno akan baik-baik aja?”

“Karena dia pernah mengalami seperti ini sebelumnya.” Apa? Astaga, jadi Kak Renno pernah patah hati sebelumnya? Dan sekarang aku membuatnya patah hati untuk yang kedua kalinya? Aku tak pantas untuk mendapatkan maafnya.

“Dia jatuh cinta dengan sepupunya sendiri. Dalam keluarga mereka itu sama sekali tak dibolehkan, karena tidak sesuai dengan adat yang mereka yakini,” lanjut Kak Dhanni.

“Apa?” teriakku tak percaya.

“Astaga! Nggak usah berteriak kayak gitu.”

“Terus gimana kisah mereka?” tanyaku penasaran.

“Gimana apanya. Kalo nggak boleh ya nggak boleh.” Aku pun terdiam sejenak, melamunkan kisah Kak Renno. Aku benar-benar kasihan terhadapnya. Dia lelaki yang baik. “Kenapa diem aja? Kamu nyesel putus sama dia?” tanya Kak Dhanni dengan sinis.

“Aku nggak putus kok sama Kak Renno,” jawabku asal.

“Apa kamu bilang?” teriak Kak Dhanni. Aku sedikit tertawa melihat reaksinya yang sedikit berlebihan itu. Akhirnya aku melanjutkan makan siangku dengan tatapan tajam dari Kak Dhanni.

***

Pagi ini jantungku benar-benar berdetak lebih cepat, perasaanku gelisah tak menentu. Aku gugup dan takut. Astaga, apa yang akan dilakukan anak-anak di kampus nanti terhadapku ya? Aku benar-benar tak bisa membayangkannya.

“Kamu kenapa?” tanya Kak Dhanni yang saat ini duduk di sebelahku.

Dia sedang menyetir mobilnya, mengantarku ke kampus. Dan ini pertama kalinya kami ke kampus bersama dan juga menunjukkan hubungan kami terhadap semua orang di kampus.

“Ah, enggak,” jawabku kemudian.

Sebenarnya aku tak mau dia mengantarku ke kampus, tapi dia bilang jika dia memiliki urusan dengan rektor makanya dia sekalian mengantarku. Ah, aku benar-benar gelisah. Ini sudah seperti hari pertama aku masuk dalam sekolah baru, rasanya aku ingin ada gempa bumi dan menelanku hingga hilang begitu saja. Aku benar-benar gugup.

“Kamu nggak usah takut, aku akan selalu melindungimu,” kata Kak Dhanni datar tanpa ekspresi. Aku menatapnya dengan ternganga, tak menyangka jika dia bisa mengucapkan-kata-kata yang membuat hatiku tenang. Apa pagi ini dia kehabisan obatnya? Aku merasa dia menjadi pelindungku, sama seperti Kak Renno. Ah… nama itu lagi. “Nah, akhirnya sudah sampai,” katanya kemudian.

Kak Dhanni lalu memarkirkan mobilnya, dia merapikan penampilannnya dulu sebelum turun dari mobil. Dan astaga… pagi ini dia benar-benar Cool. Aku tak akan pernah bosan memuji kesempurnaan suamiku ini. Aku akui aku benar-benar beruntung memiliki suami seperti dia, ya walaupun kadang dia menjengkelkan karena suka seenaknya sendiri dan menjadi dua kali lipat lebih menjengkelkan ketika penyakit cueknya kambuh.

Pagi ini dia mengenakan T-shirt hitam, celana jeans plus jaket kulit yang menempel pas di badan tegapnya, dia sudah seperti aparat polisi saking tegapnya. Belum lagi kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, membuatnya menjadi lelaki yang paling cool dan paling hot yang pernah aku temui. Hahaahaha, oke anggap saja aku terlalu berlebihan karena mengagung-agungkan suamiku sendiri, tapi faktanya mengatakan jika memang dia adalah lelaki terkeren di kampus ini. Wajar saja dia menjadi seorang playboy, seorang Lady Killer yang kerjaannya membunuh hati para wanita, entah aku harus bangga atau malah cemburu dengan itu.

Kak Dhanni pun keluar dari mobil, lalu dia berlari memutari mobilnya, dan tanpa kusangka dia membukakan pintu mobil untukku. Astaga, kenapa pagi ini dia begitu Sweet? Aku pun keluar dari mobil. Setelah menutup pintu mobilnya dia lalu menggenggam erat tanganku, “Aku antar ke kelas kamu dulu ya,” katanya kemudian, aku terpesona dengan kelembutannya kali ini, dan aku hanya bisa mengangguk pasrah.

Dia masih saja mencengkeram erat telapak tanganku menuju ke kelasku, melewati kelas-demi kelas, lorong demi lorong. Dan hampir semua orang yang berpapasan dengan kami memandang kami dengan tatapan terkejut tak percayanya. Segitu tak pantasnyakah aku dengan Kak Dhanni hingga mereka tak bisa mempercayai kenyataan bahwa aku adalah istri sah Kak Dhanni?

Sedangkan Kak Dhanni sendiri terlihat tak mau ambil pusing dengan tatapan-tatapan aneh mereka. Dia masih saja mencengkeram erat telapak tanganku seakan akan menunjukkan pada semua orang jika aku ini miliknya. Oh God, mengingat hal itu aku jadi tersenyum-senyum sendiri, aku sangat suka jika dia mengklaim aku sebagai miliknya.

“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

“Ah, enggak,” jawabku masih dengan tersenyum.

“Aku tahu apa yang kamu pikirkan di dalam otak kamu itu.”

“Apa emangnya?” tantangku kemudian.

“Pastinya kamu sedang mikirin hal-hal panas yang akan kita lakukan nanti malam,” jawabnya datar.

“Apa? Hal-hal panas?” Aku masih belum mencerna apa yang di katakan Kak Dhanni.

Kak Dhanni lalu tersenyum simpul. “Singkirkan pikiran kotormu itu yang membuatmu terlihat seperti orang bodoh,” katanya kemudian, dan setelah dia mengucapkan kata-kata itu aku tahu jika dia sedang mengejekku karena kelakuanku pagi itu yang menggodanya, astaga, tenggelamkan saja aku di dasar laut dari pada aku harus selalu mendapatkan tatapan seakan-akan aku wanita paling mesum yang pernah dia temui. Sialann!

***

“Jadi kamu benar-benar nikah ama Kak Dhanni?” tanya Dewi padaku saat kami berada di kantin. Dan ya ampun, mungkin ini sudah kesepuluh kalinya dia menanyakan pertanyaan yang sama.

“Iya Wi, kamu mau sampe kapan sih nanyain itu melulu sama aku, lagian apa cincin ini masih kurang sebagai bukti?” jawabku dengan nada jengkel.

“Iya, aku tahu, tapi, bagaimana bisa? Bukannya kamu pacaran sama Kak Renno?” Nama itu lagi yang disebutkan, entah kenapa setiap kali aku ingat atau ada yang menyebut nama itu, rasanya ada yang mengganjal di hatiku, tentu saja karena aku belum sempat meminta maaf dengan Kak Renno.

“Ceritanya panjang, Wi, kamu nggak bakalan ngerti,” jawabku cuek, apa aku sudah tertular penyakit cuek Kak Dhanni?

Ok. Fine, tapi Kak Renno ke mana ya? Aku dengar dia nggak datang di hari wisuda kemarin.” Aku hanya terdiam menanggapi pertanyaan Dewi karena sesungguhnya aku juga tak tahu di mana keberadaan Renno saat ini. “Aku dengar dia pindah keluar negeri,” lanjutnya lagi dan kali ini perkataannya benar-benar mendapatkan perhatiannku seutuhnya.

“Ahh, yang benar, Wi, emangya dia ke mana?” tanyaku penasaran.

“Iya, menurut gosip yang beredar jika dia mengurusi urusan perusahaan keluarganya yang berada di Inggris. Eh, tapi tunggu dulu, kenapa kamu sampe nggak tahu?” tanya Dewi lagi. “Jangan bilang kalau dia pergi gara-gara kamu dan Kak Dhanni?”

Bingo… Ternyata nggak enak ya punya teman yang terlalu pintar. Secepat itu Dewi mencerna permasalahan yang sedang kualami.

“Udah deh, Wi. Mendingan sekarang yuk temenin aku beli pakaian ke mall, oke.” Aku mencoba untuk mengalihkan perhatiannya.

Dewi menatapku dengan tatapan anehnya. “Ok, asal aku dapet jatah,” jawabnya kemudian. Hahahaha Dewi emang paling bisa jika disogok.

“Oke,” kataku kemudian.

***

Akhirnya kami pun saat ini berada di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta. Aku ingin belanja baju, entah kenapa rasanya pengen aja beli baju berenda-renda.

“Nes, kayaknya ini bukan style kamu deh,” komentar Dewi.

“Tapi aku suka, aku ambil ini, Mbak,” kataku kemudian kepada seorang penjaga toko tersebut.

“Apa kamu nggak berlebihan? Apa Kak Dhanni nggak marah kalau kamu belanja kayak gini?” tanya Dewi kemudian. Ya emang sih kayaknya hari ini aku agak berlebihan. Belanja sebanyak ini, tapi entah kenapa aku pengen aja. Lagian Kak Dhanni nggak akan mungkin marah kalau hanya karena belanja.

“Enggak dia nggak akan marah,” jawabku sedikit cuek.

“Eh, eh, Nes, emangnya dia gimana?” tanya Dewi lagi sambil mendekatiku.

“Gimana apanya?” aku tak mengerti arah percakapannya.

“Astagaaa, maksudku gimana dia saat di ranjang?” Aku melotot saat mendengar pertanyaan Dewi. Sangat tak menyangka jika dia akan bertanya tentang hal itu.

“Wii, pikiran kamu benar-benar jorok,” pekikku.

“Ehh kenapa? Wajar kali, bertanya hal itu pada pengantin baru,” jawabnya santai.

“Aku nggak mau jawab,” kataku sambil menutup telinga.

“Eh, kenapa kamu merah gitu?” katanya saat menyadari wajahku yang sudah merah seperti kepiting rebus. “Apa dia hot?”

“Dewiiiiiiiiiii!” teriakku.

***

Saat ini aku baru saja keluar dari kafe langganan Dewi. Setelah puas berbelanja akhirnya aku kembali tekor karena harus memberi jatah Dewi berupa traktiran di kafe langganannya. Sebuah kafe yang lebih mirip dengan restoran mewah. Dewi benar-benar tak tanggung-tanggung saat meminta jatah. Tentu saja harga makanan di sini jauh di atas rata-rata. Sial.

Saat aku menuju ke parkiran, aku melihat seorang dengan badan tinggi tegap sedang menuju ke arah mobilnya. Badan yang sangat kukenali mengingat baru tadi pagi aku memujinya, mobilnya pun sama, mobil yang sangat kukenali karena baru tadi pagi aku menaikinya.

Dia Kak Dhanni. Suamiku.

Dan Saat ini aku melihatnya sedang keluar bersama dengan seorang wanita, menggandengnya dengan mesra. Astaga, kenapa selalu pemandangan seperti ini yang kuterima?

Tadi pagi aku memang sempat heran saat Kak Dhanni bilang akan menemui klien-nya. Jika dia menemui klien-nya, kenapa dia hanya mengenakan T-shirt bukan kemeja rapi? Dan sekarang aku baru tahu jika klien yang dimaksud Kak Dhanni adalah seorang perempuan seksi. Sial.

Apa aku masih kurang untuknya? Kenapa dia melakukan ini terhadapku? Kenapa dia masih tak bisa berubah?

-TBC-

The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 15

Comments 5 Standard

dhannesss-1_Tlk Cover new

The Lady Killer

Nb : Ok.. sebenernya aku nggak ada niat bikin Chapter 15 seperti ini.. heheheh chapter ini Khusus POV Dhanni dan sangat pendek karena cuma 3 Page aja (Inipun aku ngetiknya cuma stengah hari)… kayaknya nggak adil aja selalu liat permasalahan dari POV Nessa, jdi untuk chapter 15 ini Special POV Dhanni. kira-kira apa sihhh yang di rasain pangeran ganteng kita kali ini..??? heheheheh

 

 

Chapter  15

-Dhanni 2-

Jika saat ini kalian mencari seorang lelaki bajingan, kalian sudah menemukannya. Yah, itulah aku. Aku adalah seorang lelaki bajingan dan berengsek karena sudah menyakiti hati seorang yang kucintai.

Rasa cintaku kepada Nesa sungguh sangat besar hingga aku tak mampu mengontrol emosiku saat melihatnya bersama dengan lelaki lain, bahkan ketika lelaki itu adalah sahabatku sendiri. Aku murka, Aku marah, dan aku menjadi buta karena rasa yang selama ini tak pernah kurasakan, cemburu.

Kata itu tepat melukiskan apa yang sedang kurasakan saat melihat Nesa bersama lelaki lain. Sebenarnya aku sangat tak ingin kembali ke Jakarta. Aku suka masa-masa di mana aku hanya berdua saja dengan Nesadi Bandung. Tapi tentu itu tak mungkin. Aku harus menyelesaikan semuanya, memberi tahu Renno yang sebenarnya terjadi antara kami.

Dari awal semua memang salahku. Aku yang menginginkan supaya hubungan kami disembunyikan terlebih dahulu dari anak-anak di kampus termasuk Renno. Seharusnya aku tahu jika itu bukan ide yang bagus. Mengingat semakin hari Renno selalu saja menempel mesra pada Nesa. Hingga aku merasa jika Nesa sudah mulai terpengaruh dengan Keberadaan Renno.

Renno pun demikian. Aku merasa Renno benar-benar mencintai Nesa dengan tulus. Renno tak pernah sesayang itu ketika dengan mantannya yang lain. Dia sepertiku. Selalu membatasi diri terhadap wanita, bedanya, aku membatasi diri karena aku tak mau jatuh cinta dengan wanita lain karena aku tahu jika aku sudah dijodohkan sejak kecil, sedangkan Renno membatasi diri karena dia tak mau jatuh cinta lagi dengan wanita, dia trauma jatuh cinta setengah mati dengan wanita, semua itu karena dia pernah cinta mati dengan wanita yang sebenarnya tak boleh dia cintai, sepupu kandungnya sendiri.

Aku merasa Renno memperlakukan Nesa sama ketika dia memperlakukan sepupunya waktu itu. Sejak saat itu aku tahu jika Renno benar-benar cinta dengan Nesa, istriku.

Apa aku harus diam saja? Tentu saja tidak. Beberapa kali aku berusaha memberitahu Renno tentang hubunganku dengan Nesa, tapi Nesa melarang. Aku tahu jika dia belum siap, karena aku tahu dia juga menyimpan perasaan yang sama untuk Renno sehingga dia tak tega melihat Renno yang marah dan kecewa. Apa dia menyimpan perasaan yang sama untukku? Entahlah, aku tak peduli.

Aku tak peduli entah itu Nesa cinta atau tidak denganku, faktanya Nesa sekarang sudah menjadi milikku. Jika dia tidak mencintaiku, aku bersumpah akan membuatnya mencintaiku seutuhnya dan hanya aku. Kalian pikir aku egois? Yah aku memang egois, oh ayolah… jika kalian berada di posisiku aku yakin kalian juga tak akan menyerahkan istri atau suami kalian untuk pria atau wanita lain. Aku bukan manusia sempurna seperti tokoh utama di drama-drama lembek atau novel-novel melankolis yang rela mengalah untuk orang dicintainya. Itu benar-benar bukan diriku.

Aku yang sebenarnya adalah aku yang akan berjuang untuk mendapatkan apa yang kumau, meskipun awalnya itu akan menyakiti banyak orang. Aku tak peduli. Seperti saat ini. Aku berdiri di sini melihat wanita yang kucintai menangisi lelaki lain karena ulah sialanku. Aku tak bisa menenangkannya, jangankan menenangkannya, melihat wajahku pun dia tak ingin.

Dia membenciku.

Aku memberanikan diriku untuk bertanya apakah dia mencintai Renno? Dan jawabanya bisa kutebak. Dia mencintainya. Meski jawabannya sudah kuduga namun mendengarnya sendiri keluar dari mulut manisnya membuatku sangat sakit. Sakit yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku sudah kalah. Aku bahkan sudah mati ditangan istriku sendiri.

Tak banyak yang bisa kulakukan selanjutnya. Dia mendiamiku selama 3 minggu. Aku pun tak ingin mengganggunya, melihatnya seperti itu benar-benar membuatku marah, marah dan sakit. Akhirnya aku mencari Renno. Aku ingin mengalah, memberikan istri yang kucintai kepada sahabatku sendiri.

Tapi aku terlambat. Renno sudah pergi. Aku yakin, dia pun sama sakitnya seperti yang kurasakan dan yang dirasakan Nesa. Dan semua itu karena ulah bodohku. Karena aku yang tak bisa menahan diriku karena perasaan cemburu. Sial.

Akhirnya Nesa ingin pulang. Dia ingin meninggal­kanku sendiri. Mungkin dia terlalu membenciku. Aku ingin meminta maaf, tapi bagaimana bisa meminta maaf jika setiap kali berhadapan denganku dia selalu meledak-ledak. Akhirnya dengan berat aku menuruti keinginannya.

Setiap hari aku ke rumah Mama hanya untuk mengetahui keadaannya yang menurutku semakin hari semakin memburuk.

Dia sakit.

Dan aku semakin sakit saat melihatnya sakit. Aku ingin menyerah, aku ingin mengalah, tapi Mama bilang jika Nesa seperti ini karena dia mencintaiku. Dia membenciku karena dia juga mencintaiku. Dia marah kepadaku karena dia kecewa.

Perkataan Mama sedikit banyak membuatku semangat kembali, membuatku memperjuangkan Nesa kembali. Aku menginginkannya kembali seperti dulu. Malam itu aku memberanikan diri memasuki kamarnya. Dia terlihat pucat. Tiba-tiba saja dia berlari memelukku.

Dia minta maaf.

Astaga, seharusnya aku yang minta maaf, Sayang. Aku adalah lelaki dewasa yang bodoh dan berengsek karena baru pertama kali merasakan perasaan cemburu. Seharusnya aku yang meminta maaf karena aku sudah membuatmu kecewa dengan tingkahku yang seperti anak kecil. Maafkan aku.

Malam itu juga dia ikut pulang ke rumah. Tapi akhirnya aku membuatnya marah sekali lagi dengan melarangnya ikut ke acara wisudaku. Sebenarnya aku tak melarang, hanya saja aku tak mau hubungan kami di ketahui mereka. Aku hanya takut jika ada beberapa anak di kampus mem-bully Nesa karena hubungannya denganku. Terlebih lagi jika mereka itu adalah gengnya Maria ‘mantan’ pacarku.

Yah, aku memang sudah putus dengan Maria. Tapi dia masih tetap menempel denganku. Aku sudah memberi tahunya jika aku sudah menikah, tapi dia sama sekali tak percaya. Sebenarnya aku khawatir jika dia berbuat sesuatu yang nekat kepada Nesa, makanya aku tak memberitahu siapa pun tentang statusku dan Nesa.

Tapi Nesa salah menangkap semuanya, dia mengira jika aku tak mau memberitahu anak-anak kampus karena aku tak mau putus dengan pacar-pacarku. Astaga, apa dia sudah gila? Untuk apa punya pacar lagi jika sudah mempunyai istri seperti Nesa? Mereka sungguh tak ada apa-apanya dibandingkan Nesa. Aku bahkan rela menyakiti hati Renno sahabatku sendiri hanya untuk bersama dengan Nesa, apa Nesa masih tak bisa melihat betapa besarnya perasaan ini untuknya?

Akhirnya di sinilah aku, di atas panggung dan mengumumkan hubunganku dengan Nesa pada seluruh orang yang hadir di acara ini. Mungkin dengan seperti ini Nesa akan mengerti jika aku tak hanya main-main dengannya. Aku benar-benar menyayanginya.

-TBC-