My Beautiful Mistress – Bab 16

Comment 1 Standard

 

Bab 16

 

Masih mencoba mengendalikan dirinya akibat dari ucapan Ellie tadi, Jiro mengajak Ellie masuk ke dalam rumah sakit tersebut. Mereka menuju ke ruang inap Bianca dan disambut dengan ramah oleh Jason dan juga Bianca.

“Elo belum pulang dari kemarin?” tanya Jiro yang segera mendekat ke arah Jason dan juga Bianca.

“Belum. Paling besok gue pulang sebentar terus balik lagi. Bee masih harus banyak istirahat.” Jawab Jason sembari menatap lembut ke arah Bianca. sedangkan Bianca hanya bisa menyunggingkan senyuman manisnya.

Kemudian, Jason menatap ke arah Ellie dan bertanya “Jadi ini….” ucapnya menggantungkan kalimat.

“Ellisabeth, istriku.” Dengan penuh percaya diri Jiro memperkenalkan Ellie pada Jason.

Jason tersenyum dan bertepuk tangan “Wow, wow, keren sekali, Bro.” goda Jason. Selama ini, Jiro memang tak mau membahas apapun tentang masalah pribadinya, tapi kemarin, temannya itu jujur dengan statusnya, dan kini, temannya itu memperkenalkan istrinya pada dirinya dan juga Bianca.

“Halo, Ellie. Aku Jason, panggil saja Jase.” Ucap Jason sembari mengulurkan telapak tangannya. Ellie menyambutnya dengan menyebutkan namanya. “Dan ini, Bianca, tunanganku.”

“Hai..” Bianca menyapa dengan ceria, meski wajah wanita itu masih tampak pucat.

Semua terjadi begitu cepat, Jason mengajak Jiro duduk di sofa panjang ujung ruangan, sedangkan Bianca meminta Ellie untuk tetap berada di dekatnya dan membahas tentang kehamilan.

“Uum, James bilang, kamu juga sedang hamil.” Ucap Ellie mencoba mencairkan suasana canggung. Bagaimanapun juga, mereka baru saling mengenal, jadi Ellie tidak tahu apa yang harus dibahas selain tentang kehamilan mereka.

“Iya. Aku juga baru tahu kemarin sebelum kecelakaan. Bahkan aku belum sempat memberitahu Jase.”

“Ohh.” Ellie menganggukkan kepalanya.

“Jadi, kamu benar-benar istri Jiro, ya?”

Ellie tersenyum, ia tidak tahu harus menjawab apa. “Apa kurang pantas?” tanyanya kemudian.

“Oh tidak, tentu saja tidak. Maksudku, Jiro yang selama ini kukenal adalah pria pendiam, misterius, dan kupikir dia tipe orang yang sangat serius. Aku masih nggak nyangka kalau selama ini dia menyembunyikan suatu rahasia yang sangat besar.”

Ellie kembali menganggukkan kepalanya. “Aku juga tidak tahu, bagaimana bisa aku bertahan selama ini. diperlakukan seperti seorang simpanan yang hanya dikunjungi saat perlu.”

“Benarkah dia memperlakukanmu seperti itu?” Bianca tampak terkejut.

“Ya. Aku tinggal di rumah kami, dan dia tinggal di apartmennya. Hanya beberapa bulan terakhir saja dia tinggal di rumah kami. Itupun tidak setiap hari.”

“Ohh, itu benar-benar menyebalkan.”

“Sangat.” Ellie setuju dengan ucapan Bianca.

“Tapi Ellie. Mungkin dia melakukan itu untuk kebaikanmu juga.”

“Maksudmu?”

“Dulu, aku juga tidak mengerti kenapa Jase menyembunyikan tentang hubungan kami. Jase hanya bilang bahwa itu bertentangan dengan kontrak mereka dengan management. Kemudian, karena rasa posesifnya yang berlebihan, Jase tetap mempublikasikan hubungan kami. Kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya? Berbagai serangan datang padaku.”

“Kamu pasti bercanda.” Ellie tidak percaya.

Well. Kamu bisa melihat akun sosial mediaku yang sekarang menjadi sarang haters yang tak lain adalah fans Jase yang tidak suka Jase akan mengakhiri masa lajangnya.”

“Ya Ampun, sampai seperti itu?”

Bianca tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Jadi, pandai-pandailah mengerti. Kadang, mereka melakukan apa yang tidak kita suka untuk kebaikan kita.”

Ellie menganggukkan kepalanya. “Kalau boleh jujur, aku sudah tidak berminat tentang publikasi hubungan kami. James sudah berhenti jadi artis, bagiku itu sudah cukup.”

“Jadi, kamu mendukung keputusannya?”

“Sebenarnya, aku kurang suka dengan profesinya saat ini. tapi, ada satu sisi dimana aku mengaguminya sebagai seorang artis papan atas.”

“Ya. Mungkin itu akan menjadi kebanggaan tersendiri untuk kita. Banyak perempuan di luar sana yang berharap bisa mengenal ataupun dekat dengan mereka, dan mereka memilih kita.” Ucap Bianca dengan pasti. “Ngomong-ngomong, kamu sudah berapa bulan?” tanya Bianca sembari melirik ke arah perut Ellie.

Ellie mengusao lembut perutnya. “Tujuh bulan.”

“Sudah mendekati masa persalinan, ya.” Ellie hanya mengangguk. Kemudian keduanya melanjutkan obrolan mereka tentang kehamilan masing-masing.

Di sudut lain ruang inap Bianca, Jason dan Jiro sedang membahas hal lainnya berdua, hingga keduanya tak sempat mendengarkan obrolan dari Bianca dan juga Ellie.

“Jadi, benar-benar The Danger ya, pelakunya?” Tanya Jiro sembari meneguk soda kaleng di hadapannya.

“Ya. Sudah ketangkep. Kamu tahu siapa? Cinta.”

Jiro tersedak seketika. “Apa? Jadi selama ini….”

“Ya, dia dalangnya.” Jason menghela napas panjang. Nama itu tentu tidak asing untuk Jiro. Cinta merupakan salah satu teman dekat Jason, Ken dan Troy, teman sejak sekolah. Dan Jiro benar-benar tidak mengerti untuk apa Cinta mendirikan sekumpulan fans fanatik untuk The Batman.

“Ini bukan pertama kalinya dia bertindak sesuka hatinya sendiri.”

“Maksudmu?”

“Dia dulu juga ngasih sesuatu di minuman Felly, dan ya, lo tau sendiri berakhir seperti apa.”

“Sialan! Gue nggak tahu apa rencara perempuan itu.”

“Sepertinya, dia cuma nggak mau gue dimilikin oleh seorang perempuan. Karena itulah dia ngelakuin hal yang nekat.”

Jiro menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Matanya menatap ke arah Ellie yang tampak asyik saling bercerita dengan Bianca. “Tapi sekarang semuanya sudah berakhir, Jase. Kita sudah selesai, jadi, nggak akan ada lagi fans-fans brutal seperti mereka kedepannya.”

“Ya, gue harap juga gitu.” Lalu Jason ikut menatap arah pandang Jiro. “Elo nggak marah kan, kalau kita benar-benar selesai?” tanya Jason kemudian. Ia tahu bahwa yang paling berambisi dan serius dengan The Batman selama ini adalah Jiro.

“Enggak, kenapa harus marah?”

“Gue pikir, diantara kita semua, elo yang hanya mikirin masa depan The Batman. Gue nggak nyangka kalau elo juga setuju untuk berhenti.”

Jiro tersenyum sedikit. “Kontrak gue sama The Batman sebenarnya tinggal Tiga sampai Lima bulan lagi. Dan gue memang sengaja untuk menyudahinya setelah kontrak berakhir. Dengan atau tanpa adanya masalah elo ini. Tapi ternyata, Tuhan berkehendak lain. Dengan adanya masalah ini, gue hanya bisa mempercepat masa pensiun gue dari The Batman.

“Kenapa elo memilih berhenti?”

“Kemarin, gue kan sudah bilang. Gue mau fokus jagain dia.”

“Hanya itu?”

“Jase, Gue sudah membuat Ellie menunggu terlalu lama. Gue nggak tahu, sampai kapan dia memiliki kesabaran untuk gue. Gue hanya ingin berhenti sebelum kesabarannya habis.”

“Elo takut kehilangan dia? atau, dia ninggalin elo?”

Jiro mengangkat kedua bahunya. “Takut ditinggal sih enggak. Asal elo tahu, dia di sini sendiri, memangnya dia bisa ninggalin gue kemana?” ucapnya dengan nada sombong sembari sedikit tersenyum. “Tapi gue merasa sakit, saat dia berhenti peduli sama gue, gue kesal saat dia mengabaikan gue. Gue nggak mau itu terjadi.”

Jason menepuk bahu Jiro. “Berarti apa yang elo lakuin sudah benar. Perjuangkan dia.” ucapnya.

Jiro mengangguk dengan pasti. “Ya. Gue pasti akan lakuin itu.” Lalu Jiro menghela napas panjang. “Elo sendiri, apa yang akan elo lakuin selanjutnya?”

“Gue sudah bilang kemarin, Gue akan nikahin Bianca, lalu fokus sama usaha orang tua gue.”

Well, sepertinya, kita satu jalan.”

Jason tertawa lebar, Jiropun demikian. Keduanya lalu bersulang dengan minuman soda dalam kaleng yang berada di hadapan mereka dengan mata yang masing-masing menatap kepada perempuan yang mereka cintai di hadapan mereka.

***

Jiro dan Ellie sampai di rumah mereka pukul sepuluh malam. Keadaan di dalam rumah sepi, mungkin Mei pulang karena tahu bahwa Jiro malam ini pulang dengan Ellie, sedangkan dua pengawal yang ditugaskan Jiro untuk berjaga di luar rumah tentu sudah memiliki tempat istirahatnya sendiri yang tempatnya terpisah dengan bangunan utama rumah mereka.

Mengingat jika mereka hanya berdua, entah kenapa suasana diantara mereka menjadi canggug. Jiro tidak tahu apa yang terjadi dengannya, ia tidak pernah merasa secanggung ini dengan perempuan, apalagi perempuan itu adalah Ellie.

Maksudnya, selama ini, ialah yang selalu membuat Ellie malu-malu hingga pipi wanita itu merona-rona. Ia tidak pernah salah tingkah saat dihadapan Ellie apalagi memiliki kecanggungan hingga taraf setinggi ini.

Sial! Jiro sadar jika wanita ini semakin mampu mempengaruhinya. Apa Ellie sudah mengutuknya? Tidak! Yang Jiro tahu adalah bahwa semuanya berubah setelah Ellie menyatakan perasaan cintanya tadi dengan Jiro saat sebelum masuk ruang inap Bianca.

Bukannya Jiro tidak suka, hanya saja, Jiro merasa sedikit terganggu. Ia merasa bahwa ia ingin, Ellie tetap mencintainya. Ia tidak ingin berbuat salah sedikitpun di hadapan Ellie hingga membuat Ellie berhenti jatuh cinta padanya. Hal itulah yang membuat Jiro sedikit berubah.

Mengabaikan kecanggungannya, Jiro hanya berjalan tepat di belakang Ellie. Mengikuti kemana saja kaki mungil itu melangkah. Ellie rupanya segera menuju ke arah kamar mereka dan Jiro hanya mengikuti saja. Hingga ketika Ellie masuk dan akan menyalakan lampu kamar mereka, Jiro menghentikan pergerakannya dengan cara mencekal pergelangan tangan Ellie.

“Ada apa?” Ellie menatap Jiro dengan penuh tanya.

“Jangan dinyalakan.” Ucap Jiro dengan suara yang sudah serak. Kamar mereka memang tak gelap gulita, ada sebuah lampu tidur yang menyala di atas meja di dekat ranjang.

Ellie bingung apa yang diinginkan Jiro, tapi kemudian ia tahu apa maksud lelaki itu ketika lelaki itu mendekat ke arahnya. Jemarinya terulur mengusap lembut pipi Ellie, dan tampak, Jiro sedang menatapnya dengan mata berkabut. Jiro sedang menginginkan ‘jatahnya’ Ellie tahu itu.

“James.” Ellie menahan Jiro dengan mendaratkan telapak tangannya pada dada lelaki itu.

Jiro tidak mempedulikan Ellie yang manahannya. Lelaki itu tetap mendekat, merapatkan diri dengan tubuh Ellie. “Katakan sekali lagi, aku ingin mendengarnya.” Bisiknya dengan suara serak.

“Apa?” Ellie benar-benar tidak tahu apa yang dimaksud Jiro.

Jiro tidak menjawab, ia memilih menundukkan kepalanya dan mendaratkan bibirnya pada bibir ranum Ellie, mengecupnya dengan lembut, melumatnya dengan penuh gairah. Jiro mencumbu bibir Ellie hingga mau tak mau Ellie larut terbawa oleh pusaran gairah yang diciptakan oleh suaminya tersebut.

Ya Tuhan! Ellie tidak mampu menolak Jiro, tidak salah bukan, jika ia lagi-lagi jatuh terlena dengan pesona suaminya tersebut?

-TBC-

Advertisements

My Beautiful Mistress – Bab 15

Comments 2 Standard

Bab 15  

 

Jason, Jiro, Ken dan Troy duduk bersama dengan Fahri dan juga pendamping mereka. Di hadapan mereka terdapat sebuah meja panjang dengan berbagai macam mikrofon dari berbagai stasiun televisi.

Semua yang berada di sana merasa gugup, tapi kemudian, Farhi mulai membuka suara, menyapa semua media yang berada di sana dan kemudian sedikit mencairkan suasana.

“Jadi, tujuan kami untuk mengumpulkan semuanya di sini adalah untuk melakukan jumpa pers terakhir dari band kami, The Batman.” Semua yang ada di sana masih hening, karena ingin tahu apa selanjutnya yang akan diutarakan oleh Fahri. “The Batman akan vakum, selamanya.”

Setelah kalimat terakhirnya, suasana di ruangan tersebut menjadi riuh. Para wartawan memberondong mereka dengan berbagai macam pertanyaan, dan karena mereka tak tertib, maka tak ada satu pertanyaanpun yang mampu di dengar dengan sempurna oleh pihak The Batman.

Akhirnya, Jason berinisiatif membuka suara. Ia mengambil alih mikrofon yang digunakan oleh Fahri tadi lalu mulai membuka suaranya.

“Mohon untuk tenang, kami akan menjelaskan kepada kalian. Dan mungkin akan menjawab beberapa pertanyaan kalian.”

Setelah perkataannya tersebut, awak media akhirnya kembali tenang.

“Jadi, apa ini fakta? Atau hanya sensasi kalian semata untuk persiapan album baru kalian?” Seorang wartawan memberanikan diri untuk bertanya seperti itu.

“Ini fakta. The Batman benar-benar vakum. Tidak akan ada lagi album baru, atau konser-konser baru. Kami hanya akan melanjutkan beberapa kontrak yang ada yang memang tidak bisa dibatalkan seperti tampil di beberapa acara dalam waktu dekat dan melanjutkan sisa kontrak menjadi brand ambasador beberapa produk.”

“Lalu bagaimana dengan karir kalian? Bagaimana dengan fans-fans kalian?”

“Aku tau ini akan menyakiti penggemar kami. Tapi kami sudah sepakat. The Batman tidak akan ada lagi. Kami sudah memutuskan untuk berhenti. Aku dan Jiro akan fokus dengan kehidupan pribadi kami. Sedangkan Troy dan Ken akan tetap di dunia hiburan dengan bersolo karir.”

“Apa ini ada hubungannya dengan rumor The Danger yang mencelakai kekasihmu?”

“Apa ini berhubungan dengan gosip Jiro yang ternyata sudah menikah?”

“Tolong.” Jason berdiri. “Ini keputusan kami bersama. Aku akan menikah dan akan melanjutkan usaha keluargaku. Teman-temanku mendukung. Mereka tidak bisa berkarir lagi dengan The Batman tanpa aku karena kesetiaan mereka yang patut dihargai. Karena itulah kami memutuskan untuk berhenti. The Batman akan menjadi sebuah nama, sebuah cerita, sebuah kenangan indah untuk kita bersama. Tolong, jangan lagi timbul gosip yang tidak-tidak.”

Jason dan yang lain  benar-benar berharap, bahwa tak akan ada lagi timbul gosip-gosip yang tidak diinginkan. Bagaimanapun juga mereka ingin mengakhiri semuanya dengan baik-baik tanpa ada skandal atau kontroversi yang mengirinya.

***

“Jiro, apa benar alasanmu berhenti karena kamu sudah memiliki istri?”

“Jiro, Tolong dong, komentarnya.”

“Jiro, bagaimana komentarmu tentang The Danger?”

“Jiro, bagaimana dengan Vanesha?”

Dari dalam layar televisi, tampak Jiro sedang dikerubungi oleh banyak wartawan, begitupun dengan para personel lainnya. Tapi Jiro tampak enggan membuka mulutnya. Lelaki itu hanya sesekali menampakkan senyumannya tapi tetap melenggang masuk meninggalkan tempat dimana mereka melakukan jumpa pers.

Mei yang melihatnya sempat kesal. Ia bahkan menggerutu sendiri ketika melihat tayangan ulang tersebut.

“Aku masih nggak nyangka kalau kamu tenang-tenang saja, Ellie. Dia tidak mengungkapkan hubungan kalian.” Ucap Mei dengan nada kesal sedangkan Ellie masih asyik mengupas jeruk yang ada di tangannya.

“Aku tidak peduli, Mei. Yang kupedulikan adalah, bahwa dia menepati janjinya untuk selalu berada di sisiku.”

“Tapi itu mungkin akan menjadi kesempatan terakhir untuknya, Ellie. Kesempatan terakhir untuk menunjukkan kamu dihadapan publik.”

“Itu sudah tidak berarti untukku lagi, Mei. James sudah berhenti dari dunia hiburan, jadi untuk apa dia mempublikasikan hubungan kami? Kupikir itu sudah tidak diperlukan lagi. Beberapa bulan kedepan, dia akan menjadi orang biasa, bukan artis yang setiap pergerakannya akan dipantau oleh kamera.”

“Kamu pikir akan semudah itu?”

“Ya.” Ellie menjawab dengan santai.

“Ellie…”

“Mei, bagiku dia sudah pulang, dia sudah kembali padaku, itu sudah cukup.”

Mei menghela napas panjang. “Kadang aku bingung. Sebenarnya apa yang kamu inginkan, dan apa yang kamu rasakan, Ellie?”

Ellie tersenyum. Ia menyantap satu sisir buah jeruk yang ada di genggamannya. “aku hanya mencintainya, Mei. Kemarin, aku ingin sebuah pengakuan karena James adalah artis populer, dan aku tak mau dia dikenal sebagai seorang lajang. Kini, dia sudah memutuskan untuk berhenti, dia akan menjadi orang biasa, jadi kupikir pengakuan itu tak lagi penting.”

“Aku hanya nggak mau kamu tersakiti lagi, Ellie. Kamu sudah seperti saudaraku sendiri, jika Jiro menyakitimu, akupun merasa sakit karena perlakuannya padamu.”

Ellie tersenyum lembut. “Astaga, Mei. Kamu manis sekali.” Godanya.

Mei mendengus sebal. “Aku sedang tidak bercanda tahu.” Gerutunya.

“Iya. Aku mengerti, Mei.” Lalu Ellie bergegas menuju ke arah Mei dan memeluk tubuh wanita di hadapannya tersebut. “Terimakasih, kamu selalu ada untukku dan selalu mendukungku, Mei.”

Mei tersenyum. “Tentu saja. Kamu sudah seperti saudaraku sendiri, Ellie.” Keduanya saling berpelukan satu sama lain. Ellie merasa senang dan sangat beruntung karena sudah memiliki sosok Mei, sosok yang selalu berada di sisinya, mendukungnya dalam keadaan apapun.

***

Siang itu, Ellie diminta untuk bersiap-siap karena Jiro akan mengajaknya ke suatu tempat. Ketika Ellie bertanya akan kemana? Dengan santai Jiro menjawab bahwa nanti, Ellie akan tahu kemana mereka akan pergi.

Akhirnya Ellie menuruti saja apapun keinginan Jiro. Mereka berhenti pada sebuah gedung tunggal yang tak cukup besar. Jiro keluar dari dalam mobilnya dan meminta Ellie untuk keluar bersamanya.

“Ini dimana?” tanya Ellie saat mereka berada di depan pintu gedung tersebut.

“Ini Studio musik milik Jason, kami biasanya nongkrong dan latihan di sini?”

“Oh ya? Lalu, kenapa kamu mengajakku ke sini?” Ellie tampak bingung.

“Aku akan mengenalkanmu dengan teman-temanku.”

“Apa?” sungguh. Ellie terkejut dengan apa yang dikatakan Jiro. Dengan penuh perhatian Jiro meraih telapak tangan Ellie, mengecupnya singkat kemudian menggenggamnya erat.

“Ayo masuk.” Ajaknya. Dan Ellie menuruti saja apapun yang akan dilakukan lelaki itu terhadap dirinya.

Mereka memasuki gedung tersebut, lalu berjalan dan berhenti di ruangan paling ujung. Jiro menatap Ellie sebelum ia membuka pintu ruangan tersebut.

Di dalam studio sudah ada Ken dan juga Troy. Ellie hanya bisa menundukkan kepalanya ketika mendapati dua lelaki itu menatap ke arahnya.

“Jiro?” Ken terkejut saat Jiro datang dengan seorang perempuan di sisinya. Ken segera menatap ke arah Troy, tapi tampaknya Troy tak mempermasalahkan kedatangan Ellie. Lelaki itu tampak santai dengan keadaan ini.

“Ya.” Hanya itu yang diucapkan Jiro. “Jase mana? Masih di rumah sakit?” tanyanya kemudian.

“Ya. Dia masih di sana.” Jawab Ken kemudian. “Dia hanya keluar saat kita ketemu media dua hari yang lalu, setelah itu dia balik lagi ke rumah sakit dan nggak keluar lagi. Kabarnya, pagi ini Bianca sudah sadar.”

“Syukurlah kalau dia sudah sadar.” Jiro lalu menarik Ellie mendekat. “Gue cuma mau kenalin dia sama kalian.”

Troy mendekat, lengkap dengan senyumannya. “gue sudah kenal.” Ucapnya.

“Troy.” Ken mengingatkan. Ia tidak ingin mereka berakhir seperti malam itu saat di parkiran rumah sakit.

“Ellie, adik elo, kan?”

“Istri. Dia istri gue.” Ralat Jiro penuh penekanan.

Troy tertawa lebar. Seperti orang gila, lelaki itu melemparkan diri ke sofa panjang yang berada di ujung ruangan.

“Ya ampun Jiro. Elo lucu banget sih. Elo takut banget ya, kalau Ellie gue terkam. Hahahahha.” Ucap troy masih dengan tawa lebarnya.

“Brengsek!” mau tak mau Jiro mengumpat. Tapi kemudian ketegangan segera menguap. Jiro tahu bahwa Troy menghormatinya. Lelaki itu hanya menggodanya dan membuatnya kesal. Troy pasti tak akan berbuat macam-macam dengan Ellie, karena Jiro cukup tahu bahwa Troy tidak akan main-main dengan perempuan baik-baik seperti Ellie.

Ken kemudian tersenyum. Ia merasa lega karena tak ada ketegangan lagi diantara mereka. Ken lalu mendekat dan mengulurkan jemarinya pada Ellie.

“Jadi ini, istrinya Jiro si Misterius?” tanyanya. “Kenzo. Panggil aja Ken.” Ucapnya sembari memperkenalkan diri.

“Ellie.” Ellie membalas uluran tangan Ken.

Ellie dipersilahkan duduk, dan Ellie menurut saja. Dengan perhatian Ken mengambilkan sebotol air dingin untuk Ellie. Ya, diantara mereka Ken memang personel yang paling baik dan menghormati sosok perempuan. Ellie berterimakasih, ia masih tidak menyangka jika dirinya disambut dengan baik oleh teman-teman Jiro.

“Ellie, maaf. Karena aku sempat terang-terangan ngedeketin kamu. Kalau si brengsek ini jujur dari awal, mungkin aku nggak akan ngelakuin itu.” Troy berujar.

“Iya, aku mengerti.” Ellie membalas.

“Jadi, sejak kapan kalian nikah?” Ken yang bertanya. Sebenarnya Ken sudah pernah mendengar dari Jiro tentang berapa lama usia pernikahan mereka, tapi Ken ingin mendengar sendiri dari bibir Ellie.

Ellie menatap Jiro, sedangkan Jiro tampak menyerahkan semua jawaban pada Ellie. “Sudah lebih dari Empat tahun yang lalu.” Jawab Ellie kemudian.

“Dan selama itu, kamu mau disembunyikan?” tanya Ken lagi.

“Ya.” Jawab Ellie dengan nada lirih.

“Apa bedanya elo sama Kesha? Elo juga nyembunyiin hubungan elo dengan Kesha selama ini.” Jiro akhirnya membela diri.

“Beda.” Ken menjawab dengan cepat. Tubuhnya menegang ketika nama perempuan itu disebut oleh Jiro. “Kesha dan gue cuma pacaran. Lagian kalian tahu status kami, hanya media yang nggak tahu. Dan jangan lupakan fakta, kalau gue sudah putus.”

“Tunggu dulu.” Troy memotong kalimat Ken. “Jadi elo benar-benar putus sama dia?”

“Ya.” Ken menjawab dengan cepat dan pasti.

“Sialan. Bukannya elo cinta mati sama dia.”

“Dia yang mutusin gue! Brengsek, Troy!”

Jiro dan Troy saling pandang, kemudian keduanya tertawa terbahak-bahak. Tak pernah ia melihat Ken bersikap seperti ini. Ken adalah tipe pria yang kalem, tapi sekarang, lihat, temannya itu tampak berapi-api.

“Sinting kalian berdua.” Akhirnya Ken memilih bangkit dan menjauh, menuju ke arah gitarnya.

Ellie yang melihat interaksi dan kedekatan diantara mereka bertiga hanya bisa tersenyum simpul. Jika dulu, Ellie enggan mengenal salah satu dari personel The Batman, maka kini, Ellie ingin mengenal mereka semua dan berteman dengan mereka semua seperti Jiro.

Ellie tahu, bahwa ia salah karena ia pernah membenci The Batman dan para personelnya karena baginya, band itulah yang membuat Ellie jauh dengan Jiro. Tapi kini, sepertinya Ellie tak perlu membenci mereka semua. Jiro sudah kembali padanya, Jiro sudah melepaskan semuanya untuk dirinya.

***

“Kenapa kita ke rumah sakit?” tanya Ellie ketika Jiro memarkirkan mobilnya di tempat parkir sebuah rumah sakit.

“Kenapa? Kamu nggak mau? Kamu lelah?” Jiro malah bertanya balik pada Ellie.

“Tidak. Aku hanya bingung, kenapa kita ke rumah sakit.”

“Aku mau ngenalin kamu sama satu lagi personel The Batman. Jason, dialah yang punya The Batman. Dan dia sedang menunggui tunangannya di dalam.”

“Oohh, yang tadi kalian bahas ya? Jadi, tunangan Jason benar-benar ditabrak oleh perempuan gila itu?” tanya Ellie. Tadi, Jiro memang sempat membahas masalah ini dengan Ken dan Troy. Ellie sedikit mengabaikannya karena tidak tahu apa yang sedang mereka bahas.

Jiro membuka sabuk pengamannya, kemudian ia membantu Ellie membuka sabuk pengaman yang dikenakan wanita tersebut. “Ya, mereka menyebut dirinya sebagai The Danger. Perempua-perempuan gila yang fanatik dengan The Batman.”

“Terus gimana?”

“Sudah ditangkap karena kasus Bianca ini. Bee nggak sekali dua kali mereka teror. Tapi ini yang terparah. Sampai dia masuk rumah sakit, padahal lagi hamil. Itu juga menjadi salah satu alasan kenapa aku nggak mau ngenalin kamu di depan publik.” Ucap Jiro sembari mengusap lembut pipi Ellie.

“James.” Entah kenapa tiba-tiba Ellie ingin memeluk Jiro. Ia merasa terharu, ia merasa tersentuh dengan pernyataan Jiro tersebut. Ia tidak tahu bahwa Jiro berpikir sampai kesana, dan hal itu benar-benar membuat Ellie tersentuh.

“Ada apa?” Jiro bingung dengan sikap Ellie yang tiba-tiba berubah menjadi semanja ini.

“Aku mencintaimu, James. Aku mencintaimu….”

Deggg….

Deggg….

Deggg….

Jiro tak tahu apa yang terjadi, kenapa ia merasakan jantungnya berdebar, memukul rongga dadanya hingga terasa sakit. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan perasaan seperti ini, Ya Tuhan! Apa yang sedang terjadi? Apa ia juga jatuh cinta pada wanita ini??

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 14

Comment 1 Standard

 

Bab 14

 

“Elo?” Jason menatap Jiro penuh tanya.

Jiro menganggukkan kepalanya. “Gue sudah nikah, sejak lama. Sekarang dia lagi hamil, dan butuh gue di sampingnya. Gue mau jagain dia.” perkataan Jiro benar-benar membuat Jason dan yang lainnya terkejut. Troy bahkan sudah memucat mendengar pernyataan tersebut. Tapi kemudian, suasana hening setelah pernyataan Jiro tersebut segera berakhir saat Ken mengungkapkan alasannya.

“Gue akan bersolo karir.” Kali ini Ken berkata. “Mungkin, gue akan vakum sementara sebelum mulai lagi karir gue. Gue stress karena masalah percintaan sialan gue. Jadi gue mau menghilang sebentar dari dunia hiburan.”

“Elo lagi ada masalah sama Kesha?” tanya Jason kemudian. Jason dan yang lain  baru sadar jika selama beberapa minggu terakhir, mereka sangat jarang bahkan hampir tak pernah melihat Kesha di studionya untuk menemani Ken latihan.

“Kami putus.”

Ruangan tersebut kembali hening, tapi kemudian Troy mencairkannya kembali.

“Woww, ada apa dengan kalian semua?” Troy yang membuka suara. “Oke, mungkin di sini gue yang nggak punya masalah. Gue berhenti karena gue tahu, nggak akan ada lagu yang bisa gue iringin jika bukan lagu-lagu The Batman. Gue nggak mau ngiringin band lain. Jadi gue akan berhenti dan memilih karir lain.”

“Misalnya?” tanya Jason.

“Model. Elo tahu sendiri kan, diantara kalian gue yang paling sering dipanggil buat pemotretan majalah-majalah panas? Dan gue bener-bener menikmatinya. Disana gue bisa kenal banyak perempuan, tentunya.”  Semuanya tersenyum dengan perkataan Troy. “Tapi gue mau, kita tetap kompak. Sekali dua kali ketemu buat latihan. Kalian masih mau, kan? Bagaimanapun juga, musik adalah hidup gue.” Lanjut Troy lagi.

“Studio gue akan selalu menyambut kalian semua.” Jason menjawab. “Gue juga berharap kita masih sering main di sana walau nanti sudah nggak eksis lagi.”

“Tentu saja.” Jiro mengiyakan, sedangkan Ken hanya tersenyum dan mengangguk setuju.

Jason tampak senang saat akhirnya ia mendapatkan sebuah kesepakatan dengan yang lainnya, padahal dalam hati, Jason masih berharap jika mereka tetap melanjutkan karir walau tanpa dirinya. Tapi jika teman-temannya itu memilih berhenti seperti dirinya, maka Jason tak dapat berbuat banyak.

Begitupun dengan Jiro, ia tidak menyangka bahwa The Batman akan berakhir seperti sekarang ini. Jiro memang sempat berpikir akan mengundurkan diri, tapi ia masih tidak percaya bahwa yang lain juga memikirkan hal yang sama. Mereka jenuh, mereka cukup lelah dengan kepopuleran mereka, dan mereka ingin kehidupan lama mereka kembali lagi. Itulah yang dirasakan Jiro saat ini.

***

Sampai di parkiran rumah sakit, Troy mendekati Jiro ketika Jiro akan masuk ke dalam mobilnya.

“Gue pengen ngomong.” Ucap Troy kemudian. Jiro tahu apa yang akan dibicarakan Troy. Temannya itu pasti akan membahas status yang baru saja ia ungkap, dan itu pasti berhubungan dengan Ellie.

Ken yang tak jauh dari sana akhirnya ikut mendekat. Ken takut ada hal serius yang terjadi. Karena Ken cukup tahu apa masalah Jiro dengan Troy. Troy sering bercerita tentang adik Jiro, Troy sedang mendekati wanita itu, dan tadi dengan begitu mengagetkan, Jiro mengakui statusnya yang sudah menjadi seorang suami dan calon ayah. meski Jiro tak mengatakan secara gamblang siapa wanita itu, tapi Ken bukan orang bodoh yang tak dapat menerka siapa orangnya.

“Ada apa lagi, Troy? Ini sudah malam, gue mau pulang.”

“Gue cuma mau memperjelas. Lo beneran sudah nikah?”

“Ya.” Jiro menjawab seadanya.

“Sejak kapan?”

“Lebih dari Empat tahun yang lalu.”

“Brengsek lo!” Troy mengumpat keras. “Dan selama itu elo nyembunyiin istri elo?”

“Troy. Ini bukan urusan elo. Ini masalah pribadi gue.” Jiro akan pergi, tapi Troy kembali menghadangnya.

“Satu lagi.”

“Apa?” Sungguh, Jiro merasa enggan membahasnya, apalagi dengan Troy.

“Apa perempuan itu adalah Ellie?” tanpa basa-basi, Troy bertanya. Jiro tampak tak ingin menjawab, tapi Troy kembali mendesaknya. “Katakan, Jiro! Apa istri elo itu adalah Ellie?”

Dengan sebal Jiro menjawab, “Kalau iya kenapa?”

Dan secepat kilat bogem mentah Troy mendarat pada wajah Jiro. Ken yang berada di sana segera menengahinya, memaksa Troy untuk mundur menjauh dari Jiro.

“Elo apa-apaan Troy?” Sungguh, Ken tak percaya bahwa Troy akan mendaratkan pukulannya pada Jiro. Bukankah seharusnya Jiro yang melakukan hal itu? Troy sudah terang-terangan mendekati istri Jiro, kenapa jadi Troy yang memukuli Jiro?

“Itu hadiah yang sepadan untuk orang yang sudah mengabaikan istri seperti Ellie.”

“Sial Troy! Elo sudah gila?” Ken masih tak habis pikir.

“Gue pernah bersumpah kalau gue akan memukuli suami Ellie kalau gue ketemu, dan gue sudah melakukannya saat ini.”

“Brengsek! Gue juga bersumpah akan mematahkan kaki dan tangan siapa saja yang berani nyentuh seujung rambut istri gue, dan itu juga berlaku untuk elo.” Setelah perkataannya tersebut, secepat kilat Jiro menerjang tubuh Troy. Jiro bahkan mengabaikan keberadaan Ken. Ia membabi buta, saling baku hantam dengan Troy dan juga Ken, hingga kemudian, satpam rumah sakit merelai ketiganya.

***

Malam itu, Jiro pulang ke rumahnya. Setelah ia, Ken dan juga Troy diamankan di pos satpam rumah sakit, ketiganya dilepaskan karena ketiganya sudah menunjukkan sikap baik mereka.

Jiro sudah menahan emosinya, begitupun dengan Troy yang emosinya pun sudah menguap entah kemana. Mereka bahkan sempat saling berbicara sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah sakit.

“Jadi benar-benar Ellie, ya?” tanya Troy yang masih kurang yakin dengan apa yang ia dengar tadi.

“Ya.”

“Sial! Kalau sejak awal elo bilang, gue nggak mungkin dekatin istri teman gue sendiri.”

“Elo pikir mengakui semua itu gampang?” Jiro bertanya pada Troy.

“Apa susahnya ngakuin semua itu sama kita? Kita semua temen elo. Lo pikir kita bakal buka mulut ke Lambe Turah? Yang bener aja.”

“Sial!” Jiro mengumpat. Apa Troy sedang melemparkan sebuah lawakan?

“Denger, kita semua bakal dukung elo.” Ken yang membuka suara. “Punya istri atau tidak, elo bakal tetap menjadi bagian dari The Batman. Kita gak mungkin buka rahasia elo di depan umum.”

“Kalian nggak ngerti.”

“Kalau begitu buat kami supaya ngerti.” Troy menjawab cepat. “Elo pikir ada perempuan yang mau disembunyikan selama itu? Gue bersikap seperti ini bukan hanya karena gue peduli sama Ellie, tapi karena apa yang elo lakuin emang salah. Elo beruntung punya istri sesabar dia.”

“Gue hanya nggak mau menarik dia terlalu jauh ke dalam urusan gue di dunia intertain.”

“Itu bukan alasan yang masuk akal. Elo nikahin dia sejak elo belum jadi artis. Kalau elo berpikir seperti itu, kenapa elo memutuskan menjadi artis setelah nikah sama dia?” Troy tak mengerti apa maksud Jiro karena itulah ia kekeh bertanya apa alasan Jiro memperlakukan Ellie seperti itu selama ini.

“Ketertarikan gue dengan dia tidak sebesar sekarang, Troy! Elo nggak akan ngerti.” Jiro mengusap rambutnya kasar.

“Maksud elo?” kali ini Ken yang bertanya.

“Gue nikahin dia hanya karena perjodohan. Gue nggak ada perasaan apapun sama dia. dia hanya sebatas cantik dan menarik hati gue. Hanya itu. Dan sekarang, semua berubah. Dia menjelma menjadi sosok yang begitu mempengaruhi diri gue. Gue hanya nggak mau melibatkan dia terlalu jauh dengan urusan-urusan gue yang memusingkan.”

“Tapi dengan elo nyembunyiin dia, elo juga menyakitinya, Jiro.” Ken berkomentar. “Benar apa yang dikatakan Troy, nggak seharusnya elo ngelakuin hal ini, minimal, biarkan dia mengenal kita, agar dia tenang, bahwa suaminya tidak berbuat macam-macam di luar.”

Jiro menganggukkan kepalanya. “Gue akan kenalin dia sama kalian.”

“Gue udah kenal.” Troy menjawab cepat dengan raut kesalnya.

“Sebagai adik gue.” Jiro meralatnya. “Gue akan ngenalin dia sebagai istri gue pada kalian.”

 

Jiro menghela napas panjang, kakinya melangkah menuju ke arah kamar. Membuka pintunya dan bersyukur karena Ellie tidak mengunci dari dalam kamar tersebut.

Tanpa menyalakan lampu kamarnya, Jiro masuk ke dalam, ia berjalan mendekat ke arah ranjang, kemudian menatap tubuh Ellie yang tampak tertidur pulas, meringkuk memeluk sebuah guling. Jiro merasa perasaannya seperti diremas-remas ketika menatap bayangan itu. Ellie tampak menyedihkan, wanita itu tampak kesepihan, tidur sendiri memeluk gulingnya. Jiro merasa menjadi suami yang paling brengsek di dunia ini.

Mei benar, Ellie tidak membutuhkan apapun. Ellie hanya membutuhkan dirinya untuk berada di sisi wanita itu, menemani melewati masa kehamilannya. Ellie tak butuh penjagaan, Ellie tak butuh fasilitas, Ellie hanya butuh dirinya.

Apa yang dikatakan Troy juga benar. Tak ada perempuan yang mau disembunyikan status pernikahannya, dikenalkan sebagai seorang adik, dicampakan dan diperlakukan layaknya seorang simpanan, hanya Ellie yang bisa menerima hal itu, hanya Ellie yang mampu bersabar dengan keegoisannya.

Ya Tuhan! Jiro benar-benar merasa bersalah.

Dengan spontan, Jiro melepaskan T-shirt yang ia kenakan, bertelanjang dada kemudian ia naik ke atas ranjang. Jiro memposisikan dirinya tidur miring menghadap ke arah Ellie. Jiro mengamati wajah istrinya, jemarinya terulur mengusap lembut pipi Ellie.

Halus, dan lembut. Putih, mendekati pucat. Jiro merasakan sebuah kedamaian. Ia tidak tahu bahwa menatap Ellie sedekat ini membuatnya begitu damai.

Kemudian, Jiro terkejut saat mendapati Ellie membuka matanya. Jemari Jiro membatu pada pipi Ellie saat wanita itu menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

“James? Apa yang kamu lakukan?” Ellie bertanya dengan suara seraknya.

Sial! Jiro tergoda.

Ya Tuhan! Padahal Jiro tahu bahwa ia harus bicara, ia harus meminta maaf kepada Ellie, ia harus mengatakan pada Ellie bahwa kini dirinya sudah siap meninggalkan semuanya untuk wanita itu. Tapi Jiro tak mampu mengatakannya. Ia bukan tipe lelaki yang pandai berbicara, ia hanya akan melakukan hal tersebut tanpa banyak omong.

Bukannya menjawab pertanyaan Ellie, Jiro malah mendekatkan diri, mengangkat dagu Ellie kemudian mencumbu bibir lembut istrinya tersebut. Ohh, Jiro merindukan cumbuan ini, Jiro merindukan menyentuh Ellie. Ia terbuai dengan kelembutan bibir Sang Istri, tapi kemudian Jiro tersadar dari buaiannya ketika Ellie dengan paksa melepaskan tautan bibirnya kemudian mendorong Jiro menjauh.

“James. Kamu kenapa?” Sungguh, Ellie merasa bingung. Kenapa Jiro tiba-tiba datang dan memperlakukannya seperti itu.

“Aku… menginginkanmu.”

Jiro berbisik dengan suaranya yang sudah parau, kemudian ia kembali mencumbu bibir Ellie, melumatnya dengan lembut, hingga kemudian, Ellie tak mampu menolak apa yang akan dilakukan oleh suaminya tersebut.

***

Setelah melakukan percintaan panas, Ellie segera memposisikan dirinya miring memunggungi Jiro. Jika boleh jujur, Ellie merasa malu. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menolak Jiro, ia berusaha untuk tidak mempedulikan Jiro, tapi ketika Jiro menyentuhnya dengan lembut, Ellie tak mampu menolaknya.

Ellie terbawa dengan pusaran gairah yang dibawa oleh lelaki tersebut, Ellie tergoda, Ellie tidak mampu untuk menahan diri agar tidak tertarik dengan sosok Jiro. Ya Tuhan! Ellie merasa kalah.

Sembari mengeratkan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya, Ellie berusaha untuk memejamkan matanya, ia berharap bahwa Jiro segera tidur tanpa mengucapkan sepatah katapun, karena Ellie benar-benar merasa malu ketika mungkin saja Jiro akan membahas tentang hubungan tak masuk akal mereka.

Nyatanya, itu hanya harapan Ellie saja. Ellie merasakan bahwa Jiro mendekat ke arahnya. Lelaki itu mulai membuka suaranya hingga mau tidak mau Ellie berhadapan dengan rasa malunya.

“Besok, akan ada jumpa pers lagi.” Jiro membuka suaranya.

Ellie mendengus sebal. Jika Jiro ingin membahas tentang karir sialannya dengan The Batman, maka sumpah, Ellie tidak mau tahu.

“Aku tidak peduli, James.” Ucapnya dengan nada ketus.

“Kami akan vakum.” Tiga kata itu membekukan diri Ellie. “Kami sudah memutuskan kalau kami akan berhenti.” Lanjut Jiro lagi.

Ellie segera membalikkan tubuhnya, ia menatap Jiro, mencari-cari kebohongan di saja. Jika boleh jujur, Ellie memang sudah kehilangan kepercayaan dengan Jiro sejak lelaki itu mengingkari janjinya untuk mempublikasikan hubungan mereka setelah konser The Batman saat itu. Dan kini, Ellie tak mendapatkan sedikitpun kebohongan di mata Jiro.

“Kenapa?” dengan spontan Ellie bertanya.

“Mungkin kami sudah lelah.”

“Ke –kenapa sekarang?” tanya Ellie lagi.

Jemari Jiro terulur, mengusap lembut pipi Ellie. “Mungkin, sekarang adalah saat yang tepat untuk mengakhiri semuanya.”

“James…” Ellie melirih, ia melihat dengan jelas raut sedih di wajah suaminya. Musik mungkin adalah hidup Jiro, dan lelaki itu kini sedang melepaskan semuanya.

“Ellie.” Jiro menyebut nama Ellie dengan begitu lembut. “Maafkan aku. Aku sudah membuatmu menunggu begitu lama.”

Ellie menggelengkan kepalanya, lagi-lagi Ellie kembali luluh dengan lelaki ini.

“Aku memang belum bisa mengatakan semuanya di depan media. Tapi aku akan berhenti, dan aku akan menghabiskan waktuku untuk menemanimu. Apa itu sudah cukup untukmu?”

Ellie tersenyum dan mengangguk dengan antusias. “Apa kamu tahu, James. Aku tidak perlu pengakuan itu andai saja kamu selalu berada di sisiku dan memperlakukan aku dengan benar.” Ya, jika saja Jiro memperlakukan Ellie dengan benar, maka Ellie akan bersabar, lebih banyak bersabar. Yang membuat Ellie kecewa adalah, bahwa selama ini selain tidak diakui, Jiro juga hanya memperlakukannya layaknya seoreang simpanan. Hal itulah yang membuat Ellie menuntut Jiro lebih ketika ia mengandung bayi dari lelaki tersebut.

“Aku akan melakukannya, Ellie. Aku akan melakukannya. Kita akan hidup dengan normal sebagai suami istri dan orang tua yang baik.”

“Aku… ingin percaya, tapi aku takut kecewa….”

Jiro menggelengkan kepalanya. “Kali ini, tolong, percayalah denganku.”

Mata Ellie berkaca-kaca seketika. Ia ingin percaya, sungguh, tapi ia benar-benar takut untuk dikecewakan lagi oleh suaminya tersebut, suami yang begitu ia cintai…

Dengan spontan Jiro meraih tubuh Ellie, menariknya masuk ke dalam pelukannya. “Percayalah denganku lagi, Ellie. Percayalah, aku akan mengakhiri semuanya dan kembali padamu…”

***

Sore itu, akhirnya semua personel The Batman beserta Tim Management mengadakan jumpa pers kembali.

Tadi pagi, Jiro dan teman-temannya sudah menghadap pada Fahri selaku manager The Batman dan juga dengan penasehat hukum managementnya. Jason juga hadir, meski Bianca belum sadar, tapi Jason harus datang untuk menyelesaikan semuanya.

Mereka memutuskan bahwa mereka akan benar-benar vakum dari dunia hiburan. The Batman sudah selesai sampai pada titik ini. Mereka tak akan lagi mengeluarkan lagu atau album baru, tak akan ada lagi konser-konser baru, kontrak-kontrak baru, dan tak akan produktif lagi di dunia hiburan. Meski begitu, mereka menyepakati, bahwa akan menyelesaikan beberapa kontrak yang memang tidak bisa dibatalkan. Seperti misalnya undangan tampil di beberapa acara dalam waktu dekat, kontrak-kontrak menjadi brand ambasador beberapa produk, dan sejenisnya.

Fahri selaku pihak management, benar-benar merasa kehilangan akan hal ini. Tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa berbuat banyak. Andai saja, hanya Jason yang keluar, atau mungkin hanya Jiro, mungkin Fahri akan mencarikan penggantinya dengan masih menggunakan band The Batman. Tapi sayangnya, mereka semua memutuskan untuk berhenti. The Batman adalah milik Jason, Ken, Troy dan Jiro, jika semua personelnya berhenti, maka Fahri tidak bisa mencegahnya, atau lebih bodoh lagi, tetap menggunakan nama The Batman dengan memperbarui semua personelnya. Ia tahu bahwa jika langkah itu yang ia ambil, maka ia akan gagal.

Kini, Sore ini, mereka dihadapkan dengan puluhan media yang sudah menunggu karena undangan dadakan dari pihak managementnya. Mereka akan mengumumkan bahwa mereka akan berhenti. The Batman sudah selesai, The Batman sudah berada di akhir cerita, dan keputusan tersebut tak dapat diganggu gugat.

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 13

Comment 1 Standard

 

Bab 13

 

Pagi itu, Jiro masih menunggu Ellie keluar dari dalam kamarnya. Sejak semalam, wanita itu tidak mau membuka pintu kamarnya padahal ada hal yang ingin Jiro bahas mengenai hubungan mereka. Jiro merasa tak tahan lagi, Jiro merasa tak sanggup lagi saat membayangkan setiap hari Ellie semakin dekat dengan pria lain sedangkan wanita itu semakin menjaga jarak dengannya.

Jiro memang berengsek, karena sudah ingkar janji. Ia memiliki kesempatan untuk mengatakan di depan umum tentang hubungan mereka dua minggu yang lalu saat jumpa pers. Tapi Jiro tak melakukannya. Entah apa yang membuatnya ragu untuk mengungkapkan statusnya di depan umum.

Tidak! Bukan karena ia ingin dilihat sebagai seorang lajang. Percayalah bukan itu alasan utama Jiro. Ia hanya tidak ingin media mengorek tentang masalah pribadinya. Belum lagi kenyataan bahwa Ellie sudah beberapa kali mendapatkan tawaran iklan. Jiro tidak bisa membiarkan Ellie ikut masuk ke dalam dunia sialan yang membesarkan namanya. Dan juga, jangan lupakan fakta bahwa Jiro dan The Batman memiliki fans fanatik yang mendekati gila.

Jiro masih berjalan mondar-mandir di ruang makan. Sesekali ia melirik ke arah jam tangannya. Ia sudah telat, karena ia memiliki janji dengan para personel The Batman lainnya.

Sebenarnya Jiro tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan sekarang dengan The Batman. Ia sudah merasa cukup. Konser akbar dua bulan yang lalu berjalan dengan sukses. The Batman disebut-sebut sebagai band paling fenomenal tahun ini, mereka sudah berada pada puncak tertinggi popularitasnya. Tak ada lagi yang diinginkan Jiro saat ini. tapi ia juga tidak bisa meninggalkan The Batman begitu saja. Ada beberapa kontrak yang masih harus berjalan, entah kontrak pribadi maupun kontrak dengan personel The Batman lainnya.

Jiro mendengus sebal, sesekali ia memijit pelipisnya. Jiro benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Mundur dari The Batman? Ya Tuhan, apa ia bisa melakukannya?

Sekali lagi Jiro melirik jam tangannya. Waktu sudah semakin siang, Ellie pasti sengaja tidak keluar dari dalam kamarnya. Tak ada gunanya menunggu, mungkin nanti malam mereka bisa bicara bersama dengan baik-baik dan juga dengan kepala dingin. Dan setelah itu, Jiro memutuskan untuk pergi menuju ke studio The Batman.

***

Istirahat dari latihan, Jiro tak banyak bicara ketika Troy sesekali bercerita. Meski lelaki itu tidak bercerita tentang Ellie, tapi Jiro merasa sebal dengan Troy karena sudah lancang mengajak Ellie pergi keluar.

Troy memang tak salah, temannya itu tidak tahu tentang status hubungannya dengan Ellie. Ia yang salah karena pernah menyebut Ellie sebagai adiknya. Jadi bukan salah Troy jika Troy ingin mendekati adiknya. Tapi demi Tuhan! Troy tidak buta. Ellie bahkan sedang hamil besar, bagaimana mungkin Troy bisa tertarik dengan perempuan hamil?

Tanpa diduga, Troy berjalan menuju ke arah Jiro. Dan dengan sok akrab lelaki itu bertanya “Jadi, gimana masalah elo sama Ellie?”

Jiro tak menjawab, ia memilih bungkam dan memainkan bassnya.

“Ayolah, masa elo ngambek karena gue deketin adek elo sih.” Troy kembali membuka suaranya.

“Gue sudah bilang, jangan ikut campur masalah gue.” Jiro memperingatkan dengan nada tajam.

“Oke.” Troy mengangkat kedua belah tangannya sembari mundur menjauh. “Tapi, gue harap semalem gue salah denger.” Ucap Troy lagi dengan wajah seriusnya. Jiro menarap Troy, ia tidak tahu apa yang dimaksud oleh lelaki tersebut. Sedangkan Troy, Sial! Meski mencoba memungkiri pemikirannya sendiri, nyatanya pernyataan Jiro semalaman mampu membuat ia susah tidur.

‘Rumah tangga gue’ Brengsek Jiro jika itu benar-benar sebuah kenyataan.

Pada saat bersamaan, ponsel Jason berbunyi. Jason bangkit, mengangkat teleponnya. Kemudian wajah lelaki itu memucat setelah mendapatkan kabar dari seberang telepon.

“Bianca? kecelakaan?” tanyanya dengan wajah tak percaya.

Semua yang ada di ruangan trsebut menatap ke arah Jason. Jason tampak ketakutan, lelaki itu tampak begitu khawatir. Dan semua berjalan cepat ketika Jason melesat keluar dari studio tempat mereka latihan.

***

Malam ini, Jiro kembali tidak pulang. Ia menelepon Ellie, tapi ketika Ellie mendengar suaranya, wanita itu menutup teleponnya.

Sialan!

Akhirnya mau tidak mau Jiro menelepon Mei. Teleponnya diangkat pada deringan kedua. Mei bahkan menjawab telepon dari Jiro dengan nada sedikit ketus. Sial! Apa yang terjadi dengan wanita itu?

“Mei, bisakah kamu pindah sementara ke rumahku?”

“Enggak. Kenapa aku harus pindah? Aku memang menyayangi Ellie, tapi yang seharusnya berada di sana dan menemani masa kehamilannya adalah kamu, Jiro. Bukan aku.”

“Mei, Tolong. Situasi sedang tidak kondusif.”

“Apa maksudmu dengan situasi yang tidak kondusif? Kamu jangan mencari-cari banyak alasan untuk membenarkan apa yang sedang kamu lakukan.”

“Aku tidak mencari banyak alasan, Mei!” Jiro berseru keras. “Apa kamu tahu, siang ini, Bianca masuk rumah sakit? Dia ditabrak oleh perempuan gila yang mengaku sebagai fans fanatik kami. Kamu pikir aku mau kejadian itu menimpa Ellie?”

“Astaga.” Mei tampak sangat terkejut.

“Ada banyak hal yang harus aku jelaskan Mei, aku memiliki alasan kenapa aku menolak membawa Ellie masuk terlalu jauh ke dalam duniaku.”

“Jiro.”

“Tapi aku bukan tipe orang yang pandai bicara. Aku tidak tahu harus menjelaskan seperti apa dan darimana.”

“Maaf, aku mengerti.” Akhirnya Jiro mendengar suara Mei tanpa keketusan dari wanita itu.

“Sekarang kumohon, pindahlah sementara ke rumahku. Jangan pernah tinggalin Ellie sendiri. mungkin, aku tidak akan pulang beberapa hari kedepan. Tolong, hanya kamu yang bisa kupercaya untuk merawat Ellie melebihi siapapun.”

Terdengar helaan napas panjang dari seberang. “Ya. Aku akan lakukan apa yang kamu mau. Tapi Jiro, apapun itu, kamu harus ingat, bahwa Ellie begitu membutuhkanmu. Hubunganku dengannya memang sangat dekat, tapi tak ada yang dia inginkan kecuali selalu berada di sisimu setiap saat. Kamu harus mengerti hal itu, Jiro.”

“Ya. Aku mengerti, dan aku sedang berusaha untuk mewujudkannya.”

“Maksudmu?”

“Mungkin aku akan mengundurkan diri dari The Batman, secepatnya, bahkan sebelum kontrakku berakhir.”

“Jiro!” Mei berseru keras. “Itu akan menjadi hal yang paling keren yang pernah kamu lakuin. Kalau kamu melakukannya.”

“Ya. Aku akan melakukannya. Untuk Ellie.”

Mei bersorak gembira. Jiro bahkan menjauhkan ponselnya dari telinganya. “Ya ampun, kamu benar-benar jatuh cinta sama Ellie, ya?”

“Enggak.”

“Ayolah…”

“Mei, secara teknis aku ini boss kamu. Sekarang, dari pada kamu membahas masalah pribadiku, lebih baik segeralah pindah ke rumahku.”

“Oke. Ya ampun, nggak tahu kenapa aku seneng banget.”

Jiro menggelengkan kepalanya, dan tanpa basa-basi ia mematikan ponselnya begitu saja. Jiro menghela napas panjang. Benarkah jalan ini yang harus ia ambil? Melepaskan semuanya untuk seorang Ellisabeth Julia Williams? Jika dengan ini Ellie percaya lagi dengannya, jika dengan keluar dari The Batman membuat wanita itu kembali lagi ke sisinya, maka Jiro akan melakukannya. Ya, ia akan melakukan apapun agar Ellie setia berada di sisinya.

***

Setelah Bianca masuk rumah sakit, situasi semakin tak terkendali. Jason seperti orang stress yang bahkan tak mau melangkahkan kakinya keluar dari ruang inap Bianca sebelum wanita itu sadar. Sedangkan media semakin menggila. Sosial media gempar dan viral tentang kabar simpang siur tentang fans The Batman yang brutal dan lain sebagainya.

Hal tersebut membuat Jiro, Ken dan Troy harus menghindar sementara dari publik. Beberapa jadwal mereka batal karena Jason dengan seenaknya sendiri menolak untuk hadir dan menjadi orang yang paling tidak profesional.

Meski begitu, para personel The Batman lainnya cukup mengerti keadaan Jason. Mungkin Jason merasa bersalah, mungkin Jason merasa tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi hal serius yang akan menimpa Bianca. karena jika Jiro berada di posisi Jason, maka Jiro akan melakukan hal yang sama.

Malam ini, setelah dua hari berlalu, Jiro, Ken dan Troy memutuskan untuk mengunjungi Bianca dan juga Jason. Mungkin sedikit menghibur temannya itu agar tidak terlalu tenggelam dalam rasa bersalahnya.

“Kalian kesini?” pertanyaan itu terucap dari Jason yang tampak terkejut dengan kehadiran mereka. Jiro melihat wajah Jason yang tampak lelah, temannya itu seperti baru bangun dari tidurnya dengan posisi duduk di sebelah ranjang rawat inap Bianca.

“Ya. Mau nemenin elo.” Jiro yang menjawab. Ia mendekat ke arah Jason dan menatap Bianca yang masih terkulai tak sadarkan diri di atas ranjangnya.

“Kok kalian bisa masuk? Jam besuk kan sudah habis.” Tanya Jason lagi, sembari melirik jam tangannya.

“Apa gunanya jadi terkenal kalau nggak bisa membujuk satpam atau suster yang jaga.” Troy yang menjawab, dan jawaban tersebut sedikit mencairkan suasana.

“Gimana keadaannya?” tanya Ken yang juga ikut mengamati Bianca yang masih tak bergerak sedikitpun.

“Sudah dua hari. Tapi dia belum sadar juga.” Ucap Jason dengan nada putus asa.

“Jase.” Troy menepuk bahu Jason, seakan memberikan kekuatan untuk temannya itu.

“Dia sedang hamil, Troy. Dia sedang mengandung anak gue. Dan dia celaka karena gue.” Jason sungguh tak dapat mengenyahkan rasa bersalahnya.

Sejak Dokter mengatakan keadaan Bianca yang sebenarnya, rasa bersalah Jason meningkat berkali-kali lipat. Beruntung, tak ada sesuatu yang serius terjadi dengan kehamilan Bianca. hal itu pulalah yang membuat Jason bahkan tak ingin beranjak dari kamar inap Bianca. Padahal Papa dan Mama Bianca meminta Jason pulang tapi Jason menolaknya. Jason juga sudah tak peduli lagi dengan jadwalnya menjadi publik figur, yang ia pedulikan saat ini hanya Bianca, ia berjanji tak akan keluar dari ruangan tersebut sebelum Bianca membuka matanya.

“Sial! Perempuan-perempuan itu benar-benar gila!” Troy mengumpat kesal.

“Terus, keadaan dia gimana?” kali ini Jiro yang bertanya.

“Bayinya baik-baik aja. Tapi Bee belom sadar juga dari kemarin.”

“Elo harus tenang, Jase. Elo harus sabar. Semua akan baik-baik saja, oke?” Ken menenangkan Jason.

Jason berdiam sebentar, lalu ia menatap intens pada diri Bianca yang masih menutup matanya rapat-rapat.

“Gue sudah memikirkan semuanya.”

“Tentang?” Jiro bertanya.

Jason menghela napas panjang. “Gue akan berhenti dari The Batman. Gue akan fokus sama dia, nikahin dia, jagain dia. Gue nggak mau profesi gue ngebahayain dia. Kalian tetap bisa lanjut, cari pengganti gue dengan warna suara yang sama. Lagu-lagu gue, kalian bisa pakai, karena gue nyiptain semua itu untuk The Batman.” Lalu Jason menggelengkan kepalanya. “Tapi gue nggak bisa lanjut lagi. Gue rasa, semuanya sudah cukup. Gue akan berhenti.”

Jiro, Troy dan Ken sempat kaget dengan keputusan Jason. Mereka memang ingin membahas tentang Band mereka nanti setelah keadaan Bianca membaik dan Jason sudah kembali lagi pada keadaan semula. Tapi Jiro, Ken dan Troy tak menyangka jika Jason akan mengambil keputusan seberani dan secepat ini.

“Elo yakin, Jase? Maksud gue, gue nggak mau elo nyesel nantinya.” Troy mengingatkan.

“Ya, gue sangat yakin. Gue sudah mikirin dari kemarin. Gue rasa sudah cukup apa yang gue dapetin selama ini dari The Batman.”

Jiro menepuk bahu Jason. “Kalau elo berhenti, gue juga akan berhenti dari The Batman.” Entah kenapa, mendengar Jason ingin berhenti dari The Batman membuat Jiro semakin memantapkan hatinya, bahwa ia juga harus segera mengakhiri semuanya.

“Jiro. Apa maksud elo?” tanya Jason tak mengerti. Jason bahkan sempat terkejut dengan pernyataan Jiro. Selama ini, Jirolah yang selalu tampak serius, sungguh-sungguh dengan karir mereka. Jadi Jason dan yang lain tak mengerti kenapa lelaki itu mengambil keputusan yang sama dengan dirinya.

“The Batman adalah milik elo. Elo sudah punya band itu sejak sekolah. Gue nggak akan lanjut pakai The Batman.”

“Tapi yang lain….”

“Gue juga akan berhenti.” Ken angkat suara.

Setelah menatap Ken, Jason lalu menatap ke arah Troy. “Well, nggak mungkin kan kalau gue nge-band sendiri? gue akan dukung apapun mau kalian.”

Guys, kalian nggak perlu sampai kayak gini. Kalian bisa lanjut tanpa gue.” Jason masih berharap jika teman-temannya tetap melanjutkan karir mereka.

“Gue mau jaga istri gue.” Ucap Jiro tiba-tiba. Semua yang berada di sana menatap ke arah Jiro seketika. Tentu saja, selama ini Jiro adalah orang yang paling misterius. Meski belakangan ini banyak gambar dan gosip yang menunjukkan bahwa Jiro tinggal atau sering mengunjungi seorang perempuan hamil, nyatanya sampai sekarang ini Jiro tidak pernah mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki istri.

Jiro hanya mengaku bahwa wanita itu adalah adiknya. Bahkan Troy sedang gencar mendekati adik Jiro tersebut. Tapi, pengakuan lelaki itu saat ini benar-benar membuat semua yang ada di ruangan tersebut tercengang, ternganga tak percaya bahwa apa yang dikatakan Jiro adalah kenyataan. Telebih lagi Troy, Ya Tuhan! Troy berharap bahwa Jiro sedang bercanda.

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 12

Comment 1 Standard

Bab 12

 

Dua minggu berlalu setelah kejadian menegangkan di malam itu. Ellie benar-benar melakukan apa yang wanita itu katakan. Ellie sama sekali tak peduli dengan Jiro. Bahkan wanita itu memilih tidak mempedulikan keberadaan Jiro saat Jiro sedang berada di rumah.

Semua semakin menyebalkan ketika Jiro tahu, bahwa Mei bersikap sama seperti sikap Ellie. Bahkan beberapa kali secara terang-terangan Ellie mengajak Mei dan Marvin makan-makan di rumahnya tanpa mengajak Jiro yang nyata-nyatanya berada dirumah tersebut.

Belum lagi kenyataan menyebalkan seperti yang dikatakan Troy, bahwa temannya yang brengsek itu rupanya beberapa kali sudah bertemu dengan Ellie, membuat Jiro geram saat secara terang-terangan Troy menceritakan pertemuannya tersebut kepada Ken saat mereka sedang latihan bersama.

Arrggghhh… Jiro merasa kepalanya nyaris pecah hanya karena memikirkan satu nama, yaitu Ellisabeth Julia Williams. Istrinya yang beberapa bulan terakhir menjelma sebagai sebuah virus yang merusak akal sehatnya.

Jiro mendengus sebal. Saat ini, Jiro tidak bisa banyak bertindak, ia hanya bisa diam bahkan ketika Ellie tak berhenti menyindirnya dan memojokkannya. Jiro memiliki sebuah alasan, dan ia akan berusaha mengendalikan dirinya agar tak ada yang mengerti, apa alasan sebenarnya ia tidak ingin mengakui Ellie didepan publik.

Jiro masuk ke dalam sebuah ruangan. Hari ini, ia memang dipanggil oleh manager The Batman. Ada sesuatu yang ingin dibahas oleh managernya tersebut dengannya. hanya dia, bukan dengan personel lain. Hal itu membuat Jiro bertanya-tanya, apa ia terlibat dalam sebuah masalah?

Fahri, si Manager meminta Jiro duduk di depan meja kerjanya. Kemudian lelaki itu mulai membahas apa yang baginya cukup penting hingga meminta Jiro menemuinya Empat mata.

“Lihatlah.” Fahri memberikan sebuah map. Jiro membukanya dan map tersebut berisi beberapa surat pengajuan. “Ada tawaran lagi.” Setelah perkataan managernya tersebut, Jiro menutup map sialan tersebut lalu mengembalikannya pada Fahri.

“Sudah kubilang. Aku menolaknya.”

“Jiro, tak bisakah kamu memikirkannya lagi?”

Jiro berdiri seketika. “Dengar. Aku bahkan ingin segera mengakhiri karir sialan ini karena terasa mencekikku. Jadi aku tidak akan membiarkan Ellie ikut terjun didalamnya.”

“Kamu yakin? Bukannya kamu dulu sangat berambisi untuk menjadi populer?”

“Aku sudah mendapatkannya. The Batman sudah berada dipuncak. Jadi setelah kontrak selesai, aku tidak akan memperpanjangnya.”

“Jiro, tolong.” Fahri memohon. “Aku tahu bahwa kamu tidak memerlukan uang lagi. Kepopuleran sudah tidak berarti untukmu. Tapi setidaknya, beritahu Ellie, bahwa dia memiliki kesempatan untuk menjadi seorang selebriti.”

“Dia tidak tertarik. Aku tahu bahwa dia tidak akan tertarik.”

“Jiro.” Fahri masih tak ingin mengalah.

“Demi Tuhan! Dia sedang hamil. Tak bisakah kalian berhenti mengganggunya?!” Jiro benar-benar murka.

Ini bukanlah pertama kalinya Jiro diminta untuk datang ke ruangan managernya dan membahas tentang Ellie, istrinya. Entah sudah berapa kali Ellie mendapatkan tawaran sejak foto-foto dan video wanita itu berdar di akun sosial media. Wajah Ellie yang rupawan tentu menarik minat beberapa produsen untuk menjadikannya seorang model dari brandnya. Dan Jiro tak akan membiarkan hal itu terjadi.

Ellie, wanita itu hanya miliknya. Kecantikan wanita itu hanya boleh ia nikmati, karena itulah Jiro tak ingin membaginya dengan publik.

“Bagaimana setelah melahirkan.”

“Tidak, Fahri!” Jiro berseru keras. “Sebagai suaminya, aku melarang keras. Jangan pernah menawarkan hal itu lagi padaku.” Jiro memperingatkan.

Fahri menghela napas panjang. Ia tidak bisa berbuat banyak. “Baiklah. Tapi ini…” Fahri menyodorkan map lainnya pada Jiro.

“Apa lagi?”

“Karena kontribusi Vanesha saat itu hingga membuat beritamu dan juga The Batman terangkat hingga mempengaruhi penjualan albummu, maka pihak management Vanesha menuntut timbal balik.”

Jiro mengerutkan keningnya. “Timbal balik? Bukankah saat itu kami sudah sama-sama diuntungkan? Dia bermain film saat itu.”

“Tapi filmnya tidak ramai, dan jauh dari kata sukses.”

“Itu bukan menjadi urusanku.”Jiro berkata dengan nada tajam.

“Jiro, kamu tidak bisa berbuat seenaknya. Mereka akan membongkar semuanya dan menyudutkan pihak kita.”

“Aku tidak peduli. Aku ingin segera lepas dari kontrak-kontrak sialan ini. Jadi, aku tak akan menerima lagi kontrak-kontrak baru lainnya.”

“Jiro.” Fahri masih tak ingin mengalah.

“Fahri, aku sudah menganggapmu sebagai temanku. Aku tidak ingin memperkeruh semuanya. Ellie sudah sangat membenciku karena aku belum bisa mempublikasikannya di depan umum. Bagaimana mungkin kamu memintaku untuk kembali berpura-pura mengencani Vanesha?”

“Kamu memiliki kesempatan untuk mengatakan hal itu seminggu yang lalu saat kita preskon. Tapi kenapa kamu tidak mengatakannya? Kenapa kamu memilih diam?”

“Karena aku tidak ingin media mengusik kehidupan pribadi kami.”

“Itu tidak masuk akal, Jiro! Kamu seorang selebritis, kamu harus siap dengan media-media yang usil. Katakan saja, bahwa kamu hanya tidak ingin mempublikasikan diri Ellie di hadapan publik. Kenapa? Kenapa kamu melakukannya?”

Jiro hanya diam. Ia tidak ingin menjawab. “Aku memiliki alasan yang tepat. Tapi itu tidak ada hubungannya denganmu.”

“Jiro…”

“Fahri. Bisakah sekali ini saja hormati keinginanku?”

Fahri menghela napas panjang. “Oke. Kontrakmu masih beberap bulan lagi. Setelah selesai, apa yang ingin kamu lakukan?”

“Menghilang.”

“Tidak mungkin. Kamu tidak akan mungkin bisa melakukannya.”

“Tapi aku akan melakukannya. Aku akan menghilang dari media.”

“Tidak adakah yang ingin kamu katakan pada para fansmu? Jiro, kamu tidak bisa selamanya menyembunyikan Ellie.”

Jiro hanya terdiam. Kemudian ia memilih segera pergi. Baginya, urusannya dengan Fahri sudah berakhir. Tak ada yang perlu dibicarakan lagi tentang tawaran untuk Ellie atau tawaran untuk skandal yang dibuat management tentang hubungannya dengan Vanesha. Jiro tak ingin membahasnya lagi.

***

Ellie merasa sebal saat ini.  Bagaimana tidak? Hari ini, ia merasa sedang di permainkan oleh Mei, karena tanpa sepengetahuannya, Mei menerima ajakan Troy untuk nonton dan makan malam bersama dengan lelaki itu. Padahal Ellie sudah jelas-jelas menolak permintaan Troy beberapa hari yang lalu.

Sejak lelaki itu mengantarnya pulang pada siang hari saat itu, Troy memang secara terang-terangan menunjukkan minatnya pada Ellie. Ketertarikan lelaki itu begitu jelas dan hal itu membuat Ellie tidak suka. Astaga, apa Troy sudah buta dengan keadaanya yang sedang berbadan dua saat ini? tapi di sisi lain, Ellie cukup merasa senang karena kehadiran Troy mampu membuat Jiro kelabakan.

Beberapa kali Jiro bertanya secara terang-terangan pada Ellie, apa Ellie jalan dengan Troy, dan dengan santai Ellie menjawab Ya. Padahal, Ellie dan Troy hanya bertemu beberapa kali, dan mereja tidak melakukan apapun karena mereka bersam dengan Mei juga. Malah, Ellie lebih banyak diam karena kurang suka dengan sosok Troy yang secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Ellie.

Meski begitu, hal tersebut mampu membuat Jiro murka. Ellie tidak tahu kenapa reaksi Jiro akan sekeras itu. Di satu sisi Ellie merasa bahwa Jiro begitu cemburu dengan kedekatannya dengan pria lain, entah itu Marvin atau Troy, tapi disisi lain, Ellie merasa bahwa Jiro tak peduli padanya dan tak memiliki perasaan apapun padanya. Hal itu cukup membut Ellie bingung.

“Jadi, kita ke mana lagi?” Troy yang bertanya ketika lelaki itu baru saja menghabiskan makanan penutupnya.

“Kita pulang saja, aku capek.” Ellie menjawab.

Mei berbisik kepada Ellie seketika. “Kamu yakin? Mungkin Jiro belum pulang. Dia nggak akan tahu kalau kamu jalan sama Troy.”

“Aku nggak peduli, Mei. Aku capek.” Ellie membalas pelan.

Mei menghela napas panjang. Mei benar-benar berharap bahwa setiap kali mereka jalan keluar dengan Troy atau Marvin, Jiro melihatnya. Mei tahu bahwa Ellie sebenarnya tidak suka dan kurang nyaman melakukan hal ini pada Jiro. Karakter Ellie dia sudah mengenalinya. Tapi setidaknya Mei ingin, Jiro paham bahwa Ellie sangat berharga dan patut untuk diperjuangkan, bukan diabaikan seperti sekarang ini.

“Ya sudah, kita pulang saja.” Akhirnya mau tidak mau, Mei setuju dengan perkataan Ellie.

Meski berat, Troy pun akhirnya menuruti keinginan dua perempuan di hadapanya tersebut. Setidaknya, Troy  senang karena hari ini ia bisa kembali jalan dengan Ellie, bisa mengenal wanita itu lebih dekat lagi meski sebenarnya Troy tak mendapatkan apapun karena Ellie nyatanya tampak sedikit terpaksa keluar bersamanya.

***

Troy mengantar Ellie hingga di halaman rumah wanita itu setelah ia lebih dulu menurunkan Mei di rumah perempuan itu tadi. Pada saat bersamaan Troy melihat mobil Jiro baru saja memasuki halaman rumah tersebut. Troy keluar dan pada saat bersamaan, Jiro juga keluar dari dalam mobilnya.

Secepat kilat Jiro menghampiri Troy dan bertanya dengan nada yang tak enak didengar. “Dari mana saja kalian?”

“Ayolah, Kita cuma nonton aja. Jangan jadi kakak yang posesif.” Troy menjawab dengan santai.

Sialan! Hampir saja Jiro mengatakan bahwa ia adalah suami Ellie bukan kakak Ellie, jika Ellie tidak keluar dari dalam mobil Troy dan menatapnya dengan tatapan tak suka. Jiro memilih mengabaikan Troy dan berjalan menuju ke arah Ellie.

“Sejak kapan kamu suka nonton sama dia?” tanya Jiro dengan nada tajamnya.

“Sejak suamiku kembali mengabaikanku seperti dulu.” Ellie menyindir.

“Ellie.” Sungguh, Jiro tidak ingin bertengkar dengan Ellie di hadapan Troy.

“Kenapa? Kamu hanya kakakku, jadi jangan ikut campur masalah pribadiku.”

“Aku bukan kakakmu! Aku…..” Jiro tak dapat melanjutkan kalimatnya. Ia teringat jika Troy masih berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Tidak! Ini belum saatnya ia mengatakan kebenaran tersebut. Belum saatnya….

“Kenapa? Kamu tidak berani mengatakannya?”

“Ellie, kita bisa membahas ini di dalam.”

“Tidak ada yang perlu dibahas, James. Aku lelah.” Dan setelah itu, Ellie memilih meninggalkan Jiro masuk ke dalam rumahnya.

“Oke, gue mau pulang, gue nggak mau ikut campur masalah kalian berdua.” Troy berkomentar sembari bersiap masuk ke dalam mobilnya.

“Ya. Elo memang nggak berhak ikut campur dengan urusan rumah tangga gue.” Setelah itu jiro pergi menyusul Ellie masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Troy, lelaki itu sempat membeku sesaat setelah mendengar pernyataan yang keluar dari bibir Jiro.

“Sial! Gue pasti salah dengar.” Troy menggumam sendiri sembari masuk ke dalam mobilnya. “Ya, gue pasti salah denger.” Lanjutnya lagi sebelum menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan halaman rumah Ellie.

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 11

Comments 2 Standard

Pertama-tama, aku terimakasih sekali karena masih ada yang menunggu atau membaca di blog aku ini. terimakasih banyak. karena itu, aku akan menghidupkan kembali blog ini dengan cara rutin Update. aku usahakan setiap hari 1 bab aku update setiap selesai jualan sampai hutangku lunas. btw, aku banyak nulis tapi memang banyak yang belum aku post di sini. jadi aku harap kalian mau baca yaa…..

 

“Ellie. Sebentar lagi akan ada konser besar yang akan ditayangkan secara langsung di beberapa stasiun Tv nasional. Mungkin bagi kamu atau yang lain, konser ini tak berarti, tapi bagiku, konser ini sangat berarti. Aku ingin fokus dan menyukseskan konser ini. karena bagiku, konser ini seperti titik balik saat The Batman berada di puncak kepopuleran.”

“Lalu?”

Jiro mengusap lembut pipi Ellie. “Setelah semuanya selesai, mungkin aku akan mengaku didepan publik.”

“Kamu yakin?” Ellie tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jiro.

“Mungkin.” Jiro masih kurang yakin dengan apa yang ia katakan “Ada beberapa kontrak yang tidak bisa dilanggar. Konsekuensinya aku harus membayar denda dan kontrak dibatalkan. Itupun kita harus mendiskusikannya dengan pihak management dan juga para personel The Batman lainnya.”

“Dan jika mereka menolak atau tidak sepemikiran denganmu?”

Jiro menghela napas panjang. “Maka aku harus keluar.”

Mata Ellie berbinar seketika. Jujur saja, Ellie memang kurang suka dengan pekerjaan suaminya yang menjadi anak band. Apalagi semenjak Jiro terkenal, Ellie merasa semakin jauh dengan lelaki ini. belum lagi kenyataan bahwa mereka tidak bisa kemanapun tanpa ada yang mengenali. Hal itu benar-benar membuat Ellie risih. Membayangkan bahwa Jiro akan vakum dari menjadi artis membuat Ellie senang. Tapi benarkah Jiro akan melakukannya? Membuang ambisinya selama ini hanya demi mengakui dirinya dan juga bayi mereka di depan publik?

***

 

 

 

Bab 11

 

Jiro menatap Ellie. Sebelah alisnya terangkat, menilai apa yang sedang bersarang di kepala cantik istrinya tersebut. “Kamu, terlihat senang.”

“Tentu saja.” Ellie menjawab dengan jujur. “Kalau boleh jujur, Aku memang senang jika kamu berhenti menjadi anak band.”

“Kenapa? Kupikir, banyak wanita yang ingin suaminya populer menjadi artis.”

“Tapi wanita itu bukan aku. Aku lebih suka memiliki suami dari kalangan orang biasa. Jadi aku bisa kemanapun sesuka hati dengannya tanpa merasa risih atau cemburu jika ada yang terang-terangan mengaguminya.”

“Hanya itu?”

“Dan setidaknya, jika suamiku orang biasa, aku tidak perlu disembunyikan seperti seorang simpanan.”

Jiro sedikit tersenyum. “Kamu mulai lagi, Ellie.”

“Mulai apa?”

“Menyindir dengan mulut manismu.” Jiro menghela naps panjang. Ia menatap ke arah langit-langit kamarnya. “Aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan. Tinggal selangkah lagi. Setelah The Batman menyelesaikan konser akbar nanti, maka kupikir, semua sudah tuntas. Aku sudah sangat puas berada pada titik tertinggi pencapaian yang ingin kucapai.”

“Jadi, kamu benar-benar ingin berhenti?” tanya Ellie masih dengan tak percaya.

Jiro menatap Ellie seketika. Ia bahkan sudah menggenggam telapak tangan Ellie. “Dengar. Aku butuh kamu untuk mendukungku. Menuju konser, aku akan sangat sibuk. Dan setelahnya, aku akan menyelesaikan semuanya.”

Ellie terpana dengan janji yang diberikan Jiro. “Kamu janji, James?” tanyanya lagi.

Jiro menganggukkan kepalanya. “Ya, aku janji, Ellie. Aku janji, asalkan kamu mau bersabar, sedikit lagi.” Ucap Jiro dengan lembut.

Ellie tersenyum manis. “Tenntu saja. Aku akan bersabar. Aku akan bersabar lebih lama lagi untukmu, James.”

Dan setelah itu, Jiro tak kuasa menahan diri untuk mencumbu bibir ranum istrinya. Ranum dan manis. Jiro senang, dan Ellie menikmatinya. Keduanya berciuman, bercumbu mesra dengan lembut dan penuh kebahagiaan.

***

Dua bulan kemudian…

Konser yang dikatakan Jiro sudah berakhir sekitar sebulan yang lalu, tapi tetap saja, Jiro belum melaksanakan janjinya hingga kini. Ellie sendiri tidak tahu apa yang ditunggu lagi oleh lelaki itu. Padahal, malam itu Jiro berkata bahwa Jiro akan segera mengumumkan statusnya dihadapan publik, bahkan jika konsekuensinya ia harus keluar dari The Batman. Tapi nyatanya?

Hal itu membuat Ellie sebal. Apalagi kenyataan jika Jiro sepertinya kembali menjadi sosok yang menyebalkan. Lelaki itu kembali jarang pulang dengan alasan kesibukan. Ellie benar-benar kesal. Sesekali Ellie mengusap perutnya yang sudah semakin besar. Usia kandungannya sudah hampir Tujuh bulan. Semakin mendekati masa persalinan membuat Ellie semakin gelisah. Apalagi saat ia berpikir bahwa ia sendiri. Ellie merasa bahwa Jiro tak benar-benar setia berada di sisinya.

Ellie menghela napas panjang, hal itu membuat Mei yang berada di sebelahnya menatap ke arahnya.

“Ada apa?” Mei bertanya. Mei khawatir jika Ellie merasa sakit atau sejenisnya. Akhir-akhir ini, Ellie memang sering murung. Padahal saat itu, Ellie sempat bercerita pada Mei jika wanita ini akan mendukung Jiro hingga lelaki itu vakum dari The Batman.

“Enggak.” Ellie menjawab pendek.

“Kalau kamu capek, biar aku senidri yang turun dan belanja.”

Ya, saat ini memang waktunya Ellie dan Mei belanja kebutuhan mingguan di salah satu supermarket langganan mereka.

“Aku ikut.” Dan akhirnya, saat mereka sudah sampai di parkiran supermarket, Ellie memilih ikut keluar dan ikut berbelanja bersama dengan Mei. Ya, setidaknya dengan belanja bersama, Ellie bisa melupakan kegalauan hatinya untuk sementara waktu, melupakan tentang Jiro tentang hubungan rumit mereka.

***

Troy sedang bersama dengan asisten pribadinya yang bernama Miko saat mereka akan menuju ke tempat meeting. Sial! Meeting kali ini tentu untuk membahas tentang The Batman. Karena Jason yang sesuka hati mengumumkan tentang lamarannya di konser mereka kemaren, Jason dan yang lain diburu oleh wartawan untuk menggali kebenaran berita itu. Bahkan hal itu membuat gosip tentang Jiro dengan seorang perempuan di ancol meredup.

Mereka akan membahas beberapa masalah, tentang kontrak dan ketentuan sialan dalam management mereka yang melarang tentang publikasi hubungan dengan lawan jenis kecuali management sendiri yang sengaja menciptakan skandal itu seperti skandal Jiro dan Vanesha.

Kemungkinan, pihak management akan memberikan kelonggaran, dan membiarkan mereka mempublikasikan hubungan mereka dengan pasangannya dengan beberapa kebijakan. Hal itu tentu tak berpengaruh dengan Troy, karena ia tidak memiliki hubungan special dengan lawan jenis. Ia tidak memiliki pasangan. Berbeda dengan Jason yang memiliki Bianca, dan juga Ken yang memiliki Kesha.

Troy mendengus sebal. “Mik, mampir ke supermarket. Kita beli rokok.” Dan akhirnya, Miko menuruti kemauan Troy.

Sampai di sebuah supermarket, Miko turun dan masuk ke dalam supermarket tersebut. Sedangkan Troy memilih di dalam mobil sembari memainkan ponselnya. Beberapa menit berselang, Miko tak juga kembali, rupanya supermarket tersebut sedang ramai pengunjung, terlihat dari parkirannya yang penuh. Saat troy mengamati parkiran supermarket tersebut, saat itulah ia melihat sosok itu.

Sosok tersebut terlihat berbeda dengan rambut berwarna kuning kemerahannya. Kulitnya putih pucat, dan tubuhnya terlihat mungil. Troy juga melihat dengan jelas perut buncit wanita itu. Rupanya wanita itu benar-benar sedang hamil.

Itu adalah sosok yang Troy kenal sebagai adik Jiro. Beberapa bulan yang lalu Troy sempat melihat gosipnya di salah satu akun gosip populer di sosial media. Troy masih mengingatnya dengan jelas. Dan saat itu, Jiro mengonfirmasi jika itu adalah adiknya yang sudah bersuami.

Meski tampang dan perawakan wanita itu tak mirip dengan Jiro, tapi Troy percaya dengan apa yang dikatakan temannya itu karewa wanita itu adalah wanita bule, seperti Jiro. Lagipula, Jiro tak mungkin sudah menikah seperti yang digosipkan sampai mereka tak tahu menahu tentang istrinya itu, yang benar saja. Wanita mana yang mau disembunyikan bertahun-tahun lamanya apalagi dalam keadaan hamil seperti itu.

Akhirnya, Troy bersiap keluar. Persetan dengan status wanita itu yang sudah menikah, persetan dengan keadaannya yang tengah hamil besar, dan juga persetan tentang banyak orang yang akan memperhatikannya nanti. Nyatanya, Troy tak dapat membohongi dirinya sendiri jika dirinya tertarik dengan wanita itu. Dan ketika Troy sudah tertarik, maka ia akan berusaha untuk mendapatkannya.

Sembari mengenakan kacamata hitamnya, Troy keluar dari dalam mobilnya kemudian ia menuju ke arah perempuan berambut kuning kemerahan tersebut. Rupanya wanita itu sedang bersama dengan wanita lainnya dan sedang kesusahan karena ban mobil mereka kempes.

“Haduuhh, kenapa sih pas saat seperti ini?” perempuan berambut kuning kemerahan itu mengeluh.

Troy sedkit menyunggingkan senyuman miringnya karena merasa bahwa dewi fortuna sedang berpihak padanya. Troy mendekat kemudian bertanya “Ada yang bisa kubantu?”

Kedua wanita itu menatap ke arah Troy dengan wajah ternganga masih-masing. Sungguh, jika saat ini Troy tak sedang bersikap sok cool, maka ia akan tertawa terbahak-bahak menertawakan ekspresi kedua wanita di hadapannya tersebut. Lucu, sangat lucu dan menggemaskan.

***

“Troy?” Mei yang membuka suaranya setelah ia sadar dari keterkejutannya.

“Ya, aku.” Troy menjawab. Troy bahkan sudah melirik ke arah Ellie, dan Ellie memilih membuang mukanya ke arah lain.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Mei kemudian.

“Aku beli rokok, dan aku melihatnya di sini. Maka aku menghampiri kalian.” Ucap Troy sembari menunjuk ke arah Ellie.

“Kamu kenal dia?” tanya Mei lagi.

“Ya.” Troy yang menjawab.

“Tidak.” Ellie juga ikut menjawab. Keduanya menjawab secara bersamaan hingga membuat Mei mengerutkan keningnya. Memicingkan mata ke arah keduanya.

“Aku nggak pernah merasa kenal sama kamu.” Ellie berkata dengan nada ketusnya.

“Tapi aku mengenalmu. Jiro sudah menceritakan tentang dirimu pada kami.”

Ellie menatap Troy seketika. “Jangan bohong.”

“Aku nggak bohong, kalau tidak, ngapain aku susah-susah menghampiri kalian di depan umum dan menjadi bahan perhatian pengunjung supermarket?”

Ellie dan Mei segera mengarahkan pandangannya ke seluruh penjuru. Rupanya, apa yang dikatakan Troy benar. Banyak yang sedang mengamati mereka, bahkan terang-terangan memotret kebersamaan mereka. Hal itu membuat Ellie semakin kesal.

“Lagi pula, kamu ngapain repot-repot mendatangi kami? Bikin susah aja.”

“Kan aku sudah bilang, itu karena aku sudah mengenalmu dari Jiro. Karena aku lihat kalian sedang kesusahan, makanya aku mendatangi kalian untuk membantu.”

“Bagus kalau begitu.” Mei bersorak. “Kamu bisa antar Ellie pulang duluan, biar aku cari bantuan untuk mengganti ban mobil ini. kasihan, Ellie pasti lelah.”

“Well, itu memang yang kuinginkan.”

“Mei, kamu apaan sih? Aku nggak mau. Lagi pula, kenapa nggak minta tolong sama dia saja buat gantiin Ban nya?” Ellie mendengus sebal.

“Ellie, dia artis papan atas. Gila aja kalau minta dia gantiin Ban di tempat seperti ini.” Mei berbisik pada Ellie.

“James juga artis papan atas, tapi aku yakin jika dia tidak akan malu dan menolak melakukan hal itu.”

“Tapi sepertinya ide Mei lebih praktis, mengingat saat ini publik semakin ramai, artinya kita harus segera meninggalkan tempat ini.” ucap Troy sembari mengingatkan Ellie tentang orang-orang di sekitar mereka yang semakin ramai memperhatikan keberadaan mereka.

“Kalau kamu pergi, mereka juga akan pergi. Jadi pergi saja sana. Aku akan menunggu Mei di sini.” Ellie berkata dengan nada ketus.

Troy tersenum. “Kamu yakin sekali. Tentu saja mereka nggak akan pergi. Kamu kan adiknya Jiro, tentu mereka ingin tahu banyak tentang kakak kamu yang sama populernya denganku.”

“Apa?” Ellie berharap dia salah dengar. Adik? Apa lelaki ini sinting?

“Ya. Ada yang salah dengan ucapanku?”

“Kenapa kamu bisa mengira bahwa aku adalah adiknya James?”

“Sudah aku bilang, bahwa Jiro sudah mengenalkanmu pada kami, teman-teman sebandnya. Bahwa kamu adalah adiknya yang sudah bersuami dan tengah hamil. Apa salah kalau aku memcoba membantu adik dari temanku sendiri?”

Wajah Ellie memucat seketika. Ia tidak menyangka jika Jiro akan melakukan hal itu. Mengenalkan dirinya sebagai adik pada teman-temannya. Ellie mengerti jika Jiro belum siap mengakuinya di depan publik, tapi di depan teman-teman sebandnya? Ellie benar-benar tidak mengerti, kenapa Jiro harus menutupi statusnya hingga seperti ini? apa Jiro benar-benar ingin terlihat sebagai seorang lajang di depan semua orang?

***

Ellie masih termenung dalam duduknya. Sesekali ia mengusap perutnya yang sudah semakin membesar. Dan hal itu tak luput dari perhatian Troy. Troy ingin membuka suara tapi sejak tadi Ellie tampak menampilkan ekspresi tak bersahabatnya. Hal itu membuat Troy ragu dengan apa yang akan ia perbuat.

Troy akhirnya memilih mengemudikan mobilnya. Persetan dengan Miko yang akan kebingungan mencarinya. Tadi, ia meninggalkan supermarket tanpa sepengetahuan Miko, untung saja si Miko tak serta membawa kunci mobilnya hingga Troy bisa pergi sesuka hati dengan Ellie yang duduk di sebelahnya.

“Jadi, mau langsung pulang, atau kita mampir makan dulu?” Troy mulai membuka suara. Ia bukan tipe pendiam seperti Jiro maupun Ken. Ia suka bicara, ia suka melakukan apapun yang ia inginkan. Dan saat ini, Troy ingin menjalin hubungan lebih dekat dengan perempuan hamil di sebelahnya. Sialan! Sejak kapan perempuan hamil masuk dalam daftar perempuan yang menarik hatinya?

“Pulang saja.” Ellie menjawab pendek.

“Kamu tampak tidak suka. Kamu benci banget sama aku kayaknya. Apa kakak kamu sering cerita yang enggak-enggak tentang aku?” tanya Troy yang seketika itu juga membuat Ellie menatap ke arah lelaki itu.

Kakak? Lagi-lagi Troy menyebut Jiro sebagai kakaknya. Ellie benar-benar kesal dengan kenyataan itu.

“James, nggak pernah bercerita tentang kalian.”

“Lalu, kenapa kamu tampak membenciku?”

“Kamu tampak seperti seorang perayu, dan aku tidak suka dirayu. Aku sudah bersuami.”

Troy tersenyum. “Wah, tipe kesukaanku.” Komentarnya. “Dan, mana suamimu?”tanya Troy kemudian.

Ellie membuang wajahnya ke arah lain. “Dia meninggalkanku.” Hanya itu yang dapat dikatakan oleh Ellie. Jika Jiro tak ingin mengakui dirinya di depan teman-teman lelaki itu, maka Ellie juga tak ingin menunjukkan bahwa Jirolah suaminya. Ya, itu yang terbaik.

***

Siang itu, Troy benar-benar merasa lega, karena setelah kemarin ia dan semua kru dan juga personel The Batman melakukan meeting, management memutuskan bahwa mereka diperbolehkan mengumumkan hubungan mereka dengan pasangan mereka di depan publik. Nyatanya, hanya Jason yang melakukannya.

Jason mengumumkan bahwa temannya itu sudah memiliki kekasih bernama Bianca, bahkan sudah melamar Bianca dan lamarannya diterima. Sedangkan Ken tidak mengatakan apapun. Pun dengan Jiro. Hingga gosip tentang Jiro yang sudah menikah tentu hanya sebuah bualan semata. Jika Jiro benar-benar memiliki istri, lelaki itu pasti akan mengumumkannya pada momen tadi siang. Nyatanya Jiro hanya diam. Dan Ellie, sudah pasti bukan istri Jiro seperti yang digosipkan. Hal itulah yang membuat Troy merasa lega.

Ellie berkata jika suami wanita itu meninggalkannya, dan Troy merasa bahwa Troy ingin mengenal lebih dekat sosok Ellie yang merupakan adik Jiro tersebut.

Saat Troy menuju ke studio musik tempat mereka latihan, saat itulah ia berjalan berdampingan dengan Jiro.

“Suntuk banget muka elo.” Troy berkomentar. Meski Jiro jauh lebih tua dibandingkan dirinya, nyatanya Troy tetap menganggap bahwa mereka seumuran.

“Elo nggak usah ganggu gue.”

Troy tertawa lebar. “Hahaha siapa juga yang mau gangguin elo. Mending ganggu adek elo.”

Jiro menghentikan langkahnya seketika. Apa maksud Troy? Kemudian dengan cepat Jiro menyusul Troy dan dia bertanya dengan nada tajamnya. “Apa maksud elo dengan ganggu adek gue?”

“Ellie. Namanya Ellie, kan?” goda Troy.

Dengan segera Jiro mencengkeram kerah kaus yang dikenakan Troy. “Sialan! Dari mana elo tahu? Jangan coba-coba…”

“Bung.” Troy melepas paksa cengkeraman tangan Jiro. “Gue nggak seberengsek yang elo kira. Gue Cuma pengen kenal dia lebih dekat, apa salah?”

“Salah! Dia sudah bersuami.”

“Gue tahu.”Troy menjawab cepat. “Dia sudah bilang. Lagian, suaminya brengsek karena sudah ninggalin dia. apa salah kalau gue datang untuk mengobatinya?”

“Elo jangan sok tahu!” Jiro semakin murka.

“Hahahaha, sok tahu? Gue dengar sendiri dari mulutnya.” Dengan santai troy menuju ke arah kursi drummernya. “Dan Elo sebagai kakak, Sialan! Elo nggak ada hak buat ngelarang dia bahagia dengan lelaki lain dan melupakan suaminya yang brengsek itu.” Lanjut Troy lagi.

Jiro tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya ia memukuli wajah temannya yang sok kegantengan itu, tapi Jiro berusaha mengendalikan dirinya. Ia ingin mendengar sendiri dari Ellie. Apa benar Ellie sudah bertemu dengan Troy? Apa benar Ellie sudah mengatakan hal itu pada Troy? Mengatakan bahwa ia sudah meninggalkannya?

***

Jiro sampai di rumahnya saat hari sudah gelap. Ia tidak mendapati siapapun di sana, hanya ada dua orag pengawal yang memang ia sediakan untuk berjaga di area rumahnya. Kemana Ellie?

Jiro memilih menghubungi Mei dan mencari tahu tentang keberadaan wanita itu.

“Kalian dimana?”

“Kami makan malam.” Mei menjawab dengan santai.

“Cepat pulang, aku sudah di rumah.”

“Dih, apaan sih. Suka banget ngatur-ngatur.” Mei berkomentar kemudian telepon di tutup begitu saja.

Sialan! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Mei seakan sedang memusuhinya?

***

Ellie pulang saat jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Ia tidak bersama dengan Mei, dia pulang sendiri dengan Marvin yang mengantarnya. Hal itu tak luput dari perhatian Jiro yang menatapnya dari dalam jendela ruang tengahnya. Dan Jiro semakin murka ketika menyadari hal tersebut.

Ellie masuk ke dalam rumah, sedangkan Jiro segera menghampiri Ellie dengan wajahnya yang sangar. “Dari mana saja kamu?” tanyanya dengan nada tajam.

“Kamu sudah telepon Mei, kan? Kami makan malam.” Ellie menjawab dengan nada ketus. Ia bahkan memilih meninggalkan Jiro. Dan saat melewati suaminya tersebut, Jiro menghadangnya, mencengkeram pergelangan tangannya. “Ada apa lagi?” tanya Ellie kemudian.

“Dimana Mei? Kenapa kamu hanya berdua dengan si brengsek itu?”

“Dia mabuk, sudah pulang duluan. Makanya Marvin yang nganterin aku.”

“Mabuk? Kalian minum?” Jiro semakin murka.

“Apa aku terlihat seperti orang yang sudah minum-minum?” tantang Ellie. “Lagi pula, ini sudah bukan urusan kamu, James. Lepaskan aku.”

“Ini urusanku! Kamu istriku!” Jiro berseru keras.

Ellie menatap Jiro dan tersenyum mengejek kepada suaminya tersebut. “Istri ya? Lalu kenapa kamu bilang pada teman-temanmu bahwa aku hanya adikmu? Kenapa kamu tidak mengatakan kenyataan itu pada media tadi siang? Kenapa kamu hanya diam saja, James?!” Ellie menghempaskan cengkraman tangan Jiro. Entah ia memiliki kekuatan dari mana melakukan hal tersebut.

Jiro membisu dengan pertanyaan telak tersebut.

“Aku masih ingat, malam itu kamu berjanji, bahwa setelah konser sialanmu, kamu akan menyelesaikan semuanya. Tapi mana buktinya? Katakan padaku mana buktinya, James?!” Ellie mendorong dada Jiro sekuat tenaga agar lelaki itu menjauh darinya.

Jiro sendiri masih membatu, ia tidak bisa membalas apalagi menjawab apa yang dipertanyakan Ellie.

“Sekarang. Aku sudah berhenti peduli tentang karir sialanmu! Aku tak mau tahu lagi, dan aku harap, kamu melakukan hal yang sama.” Setelah ucapannya tersebut, Ellie memilih segera pergi meninggalkan Jiro masuk ke dalam kamarnya. Jiro hanya menatap kepergian istrinya itu dengan sebuah rasa aneh di dadanya. Rasa sakit, seperti ada sesuatu yang retak di sana. Ellie akan berhenti peduli padanya, dan ia diminta untuk melakukan hal yang sama. Bagaimana mungkin ia bisa melakukannya setelah apa yang sudah terjadi diantara mereka selama beberapa bulan terakhir?

-TBC-

Apa yang akan terjadi??? btw, My Beautiful mistress ini sudah tamat lohh, dan bisa dijumpai di google playbook. silahkan merapat kesana yang mau beli yaa….

My Beautiful Mistress – Bab 10

Comment 1 Standard

 

Bab 10

Sampai di rumah, Ellie segera bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia menuju ke arah lemari, mengambil baju santainya sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Ellie ingin membersihkan diri sebelum naik ke atas ranjang untuk beristirahat. Ia bahkan mengabaikan keberadaan Jiro yang sedang memperhatikan setiap gerak-geriknya.

Mungkin sekitar setengah jam kemudian, Ellie baru keluar dari kamar mandi. Wanita itu sudah tampak segar karena berendam cukup lama untuk menghilangkan rasa lelahnya. Berbeda dengan Jiro yang masih tampak tegang karena menunggu Ellie keluar dari dalam kamar mandi.

Jiro bangkit seketika saat melihat Ellie duduk di depan meja riasnya. “Sudah segar?” tanya Jiro sembari mendekat.

“Ya.” Ellie menjawab pendek. Ellie lebih memilih mengeringkan rambutnya sendiri di depan meja riasnya. Ia bahkan tidak mempedulikan Jiro yang mulai berjalan mendekat ke arahnya.

“Aku bingung, kenapa tiba-tiba sikapmu berubah seperti ini.”

“Berubah bagaimana?”

“Kupikir, kamu tadi sudah senang setelah aku mengajakmu jalan-jalan. Tapi tiba-tiba kamu berubah lagi. Apa aku membuat salah?”

Ellie menatap Jiro seketika. “Kesalahan utama kamu adalah, bahwa kamu tidak tahu dimana letak kesalahanmu.”

“Kamu marah karena aku tidak merasa bersalah?” Ellie tidak menjawab. Ia memilih membalikkan tubuhnya kembali menatap ke arah cermin. Tapi secepat kilat Jiro duduk di sebelah Ellie. Memutar kursi yang di duduki Ellie hingga menghadap ke arahnya. “Jika kamu marah tentang Vanesha, aku bisa menjelaskannya.”

Oh, Ellie bahkan melupakan tentang wanita itu padahal Jiro belum menjelaskan apapun tentang wanita itu. Kemarin, Ellie memang kesal karena wanita itu, tapi saat ini, bukan hal itu yang membuat Ellie kesal. Ellie sendiri tidak tahu bagaimana caranya mengatakan masalahnya pada Jiro.

“Vanesha mengira apartmenku adalah milik Troy, karena mereka pernah berkencan di sana. Dia mencari Troy di sana. Dan masalah kontrasepsi itu, semuanya milik Troy.”

“Tapi, bukannya dia kekasih kamu, ya? Aku sudah melihat gosipnya. Jadi kamu tidak perlu mengelak.”

“Ada beberapa gosip yang sengaja di buat oleh pihak management untuk menaikkan pamor artisnya. Saat itu, The Batman sedang mengeluarkan album baru, dan Vanesha sedang bermain Film layar lebar. Jadi, sangat tepat jika…”

“Aku tidak peduli, James.” Ellie menjawab cepat.

Jiro menggenggam kedua telapak tangan Ellie. “Aku sudah mengatakan, bahwa aku ingin kamu peduli.” Ucap Jiro penuh penekanan.

“Kenapa kamu menjelaskan semuanya padaku? Bagiku, tak ada bedanya, entah kamu benar-benar selingkuh dengan perempuan itu atau tidak. Nyatanya, aku hidup seperti seorang simpanan.”

“Nyatanya kamu bukan simpanan. Kamu istriku.”

“Katakan itu pada publik.” Ellie menantang.

Jiro membatu seketika. Jiro tak percaya jika secara terang-terangan Ellie menuntutnya sampai seperti ini. Jiro tidak bisa melakukannya, tidak sekarang, dan mungkin tidak akan selamanya.

Jiro menangkup kedua pipi Ellie. “Aku tidak bisa.” Jawabnya dengan jujur.

“Kalau begitu, lupakan.” Ellie akan memutar tubuhnya kembali, tapi Jiro menghadangnya, dan dengan kurang ajar, lelaki itu segera menyambar bibir Ellie. Mencumbunya, berharap Ellie melupakan kemarahannya.

Tapi sekuat tenaga, Ellie mendorong keras tubuh Jiro hingga tautan bibir mereka terputus.

“James!” Ellie berseru keras.

“Kenapa? Kamu berani menolakku sekarang?”

“Aku tidak pernah takut dengan kamu, James.” Ellie menjawab dengan tegas. “Tapi aku hanya diam selama ini. Seakarang, aku akan menyuarakan apa yang kuinginkan dan apa yang tidak kuinginkan.” lanjutnya.

“Jadi, apa kamu menolak ini.” Jiro kembali menangkup pipi Ellie lalu mencumbunya kembali.

Ellie mendorog lagi dan berseru sekali lagi “James!” tapi Jiro tak mau kalah, ia kembali menangkup pipi Ellie kemudian mencumbunya dengan penuh gairah. Jiro memang tidak suka saat Ellie bersikap membangkang padanya, tapi di sisi lain, Jiro tergoda dengan sikap Ellie yang berani seperti itu. Membuat Jiro tertantang, membuat Jiro menginginkan lebih.

Jiro masih mencumbu meski ia melihat Ellie meronta. Ia tidak akan menyakiti Ellie tapi ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan meski Ellie menolaknya. Jiro bahkan sudah memaksa Ellie berdiri tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Jemarinya dengan paksa sudah menelusup memasuki pakaian yang dikenakan Ellie, kemudian menggoda istrinya itu agar tidak lagi meronta. Dan benar saja, setelah gigih menggoda Ellie, akhirnya pertahanan Ellie runtuh.

Ellie menikmati setiap sentuhan Jiro, setiap cumbuan dari suaminya tersebut. Jiro tahu bahwa Ellie juga menginginkannya. Istrinya itu pasti dipengaruhi oleh gairah yang ia berikan, belum lagi hormon kehamilan yang membuatnya Ellie labil dan terpancing gairahnya. Ellie hanya berusaha menolak bukan karena tak ingin, tapi karena wanita itu ingin membuatnya kesal. Jiro tahu. Tapi Ellie salah, Jiro tak akan kesal, karena Jiro akan menuruti permainan wanita tersebut.

Sedikit demi sedikit, Jiro membawa tubuh Ellie menuju ke dekat ranjang mereka. Tanpa melepaskan tautan bibirnya, Jiro mulai membuka pakaian yang tadi baru saja dikenakan oleh Ellie. Ellie menuruti saja apapun yang dilakukan Jiro, Ellie benar-benar telah dipengaruhi oleh sebuah gairah yang tak dapat ia tolak.

Jiro melepaskan tautan bibir mereka saat dirasanya napas Ellie sudah terputus-putus. Ia kemudian tersenyum, menunduk, menempelkan keningnya pada kening Ellie.

“Aku benar-benar menginginkanmu, Ellie.”bisiknya dengan suara serak. “Jangan menolakku.”

Dengan spontan Ellie mengalungkan lengannya pada leher Jiro, kemudian ia berkata “Tidak. Aku tidak akan menolak.”

Ya. Jiro kembali merasa menang. Ellie tak dapat menolaknya, dan Jiro tak akan membuang waktu lagi sebelum pikiran wanita itu berubah dan kembali menjadi sosok pembangkang, penyindir dan juga pendiam yang membuat Jiro kesal.

Dengan cepat Jiro melucuti pakaiannya senidri satu persatu, ia juga membantu Ellie melucuti pakaian wanita itu sebelum kembali menyambar bibir ranum Sang istri.

Oh, Ellie begitu nikmat. Membuat Jiro merasa bodoh karena selama ini hampir tak pernah menikmati permainan panasnya. Ya, ia hanya akan melampiaskan hasrat seksualnya, tanpa menikmati prosesnya, hanya itu. Dan kini, Jiro tak ingin lagi seperti itu lagi.

Jika ia membutuhkan sebuah pelepasan, maka ia akan menikmati keseluruhan prosesnya seperti sekarang ini.

Bukannya mengajak Ellie naik ke atas ranjang mereka, Jiro memilih mendorong wanita itu menuju ke arah dinding terdekat. Jiro menghimpit Ellie diantara dinding. Mengangkat tubuh wanita itu agar sejajar dengan tinggi tubuhnya.

Ellie merasa bahwa Jiro begitu kuat, lelaki itu mengengkatnya dengan begitu perkasa, seperti Ellie seringan kapas. Padahal Ellie tahu bahwa bobot tubuhnya saat ini mulai bertambah karena kehamilannya. Hal itu semakin membuat Ellie mengagumi Jiro, membuat Ellie ingin selalu memiliki lelaki ini di sisinya untuk melindungi dirinya dan juga bayi mereka. Ahhh, andai saja Jiro sepeka itu.

Bibir Jiro masih mencumbu Ellie, sesekali melepaskan cumbuannya kemudian beralih pada leher jenjang Ellie. Dan ketika Jiro tak mampu menahan gairahnya lagi, ia mulai menyatukan diri masih dengan posisi berdiri.

“Ohhhh…” Ellie melenguh panjang ketika merasakan Jiro penuh mengisinya.

“Apa, aku menyakitimu?” tanya Jiro sedikit khawatir. Selama ini, Ellie bahkan tampak sulit mengekspresikan dirinya ketika mereka bercinta. Dan kini, Jiro melihat Ellie tampak kewalahan dengan gairah yang telah ia berikan.

Ellie menggelengkan kepalanya. “Tidak.” Jawabnya setengah mendesah.

“Kalau begitu, aku akan melakukannya.”

“Ya. Lakukanlah.”

“Lebih keras dari sebelumnya.” Ucap Jiro dengan mata yang menatap tajam ke arah Ellie.

“Apa?” Ellie tidak mengerti apa artinya lebih keras dari sebelumnya.

“Aku tidak bisa terlalu lama menahan diri.” Kemudian Jiro mulai menghujam keras, membuat Ellie mengerang seketika. “Aku begitu menginginkanmu, hingga rasanya nyaris meledak.” Jiro meracau. Sedangkan Ellie lebih memilih menikmati hujaman keras dari Jiro.

Biasanya, Jiro melakukanya dengan lembut, kadang dengan cepat, tapi tak pernah sekeras ini, seperti lelaki itu tidak bisa mengendalikan dirinya. Meski begitu, Ellie tidak merasakan sakit. Sensasinya membuat Ellie merasa terbakar, gairahnya semakin membumbung tinggi. Ya Tuhan! Ellie tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.

“Ellie.” Tanpa menghentikan pergerakannya, Jiro mencengkeram rahang Ellie kemudian menghadapkan wajah wanita itu ke arahnya. “Kamu hanya milikku! Kamu hanya miliku!” Serunya berkali-kali sebelum kembali menyambar bibir ranum Ellie, melumatnya dengan panas dan membawa diri mereka terbang ke puncak gairah yang tiada duanya…

***

Setelah percintaan panas mereka dan mendapatkan beberapa kali pelepasan, keduanya tertidur. Menjelang tengah malam, Ellie terbangun. Ia kelaparan karena melewatkan jam makan malamnya. Saat tengah gelisah di atas ranjangnya, Jiro terjaga dari tidurnya.

“Kamu bangun?” tanyanya dengan suara serak.

“Aku lapar.” Ellie menjawab dengan nada polos membuat Jiro tersenyum kemudian bangun dan segera bangkit.

“Mau pesan makan?”

“Tengah malam begini mana ada orang jualan?” Ellie menggerutu sebal. Ia benar-benar merasa kelaparan.

“Kalau begitu, aku akan membuatkanmu sesuatu.” Jiro bergegas pergi meninggalkan Ellie, sedangkan Ellie segera mengikuti lelaki itu. Tak lupa, Ellie mengenakan pakaian tidurnya karena ia tidak mungkin mengikuti Jiro dalam keadaan telanjang bulat.

Ellie sampai di dapur saat Jiro sudah mengeluarkan beberapa bahan makanan dari lemari pendingin. “Hanya ada telur dan sosis. Kamu mau dibuatkan apa?”

“Omlet saja.” Jawab Ellie sembari duduk di bangku yang ada di depan meja dapur.

“Yakin hanya itu? Nasi goreng nggak mau?”

“Tidak ada nasi. Kalau menunggu masak nasi dulu, aku keburu mati kelaparan.”

Jiro tersenyum sekilas. Hanya sekilas saja, kemudian ia kembali menampilkan wajah tanpa ekspresinya. “Baiklah, aku akan membuatkanmu Omlet.” Lalu Jiro mulai sibuk dengan masakannya, sedangkan Ellie memilih mengamati suaminya itu dari belakang.

Entah sudah berapa kali Ellie mengatakan bahwa Ellie benar-benar mengagumi sosok Jiro. Meski lelaki itu tampak mengabaikannya, nyatanya bagi Ellie, Jiro adalah satu-satunya lelaki yang ia kagumi. Ketampanan lelaki itu, kegagahannya, belum lagi sikapnya yang sedikit misterius membuat Ellie benar-benar jatuh pada sosok suaminya tersebut. Apalagi saat kini, Jiro memposisikan sebagai suami yang baik dan perhatian, sebagai calon ayah yang siaga, membuat Ellie seakan tak mampu berpaling dari sosok tersebut.

Meski begitu, Ellie tak ingin mengakuinya secara gamblang. Bagaimanapun juga, ia ingin membuat Jiro peduli dengannya, ia ingin merebut perhatian Jiro dengan cara yang tak biasa, jadi ia tidak ingin menunjukkan semua perasaannya pada lelaki itu kemudian membuat lelaki itu berrpikir bahwa Ellie tak memiliki kekuatan untuk melawannya. Tidak, Ellie tak ingin Jiro menyepelekannya seperti itu.

Saat Ellie sibuk dengan pemikirannya sendiri, saat itulah Jiro sudah berdiri menghadapnya dengan sebuah omlet yang memenuhi piring yang dibawanya. Jiro menyuguhkannya pada Ellie, tak lupa lelaki itu juga membuatkan Ellie segelas susu hingga membuat Ellie sempat terpana karena perhatian lelaki tersebut.

“Habiskan, lalu kita akan kembali tidur.”

“Kamu tidak lapar?” Ellie bertanya masih dengan wajah polosnya.

“Enggak.” Jiro menjawab pendek.

Karena Jiro berkata tidak lapar, maka Ellie tidak sungkan lagi menyantap omlet buatan Jiro dengan lahap. Sesekali Ellie meneguk susunya. Rasanya sangat enak. Jiro rupanya pandai masak, atau, apa karena ia terlalu senang mendapatkan perhatian seperti ini dari Jiro hingga makanan tersebut terasa sangat enak? Mungkin memang seperti itu.

Saat Ellie asyik manyantap makanannya, saat itulah Jiro kembali memperhatikan Ellie. Wanita di hadapannya itu tampak polos, tapi berani. Bukan perempuan yang mudah dimengerti. Kadang Jiro tak habis pikir, sebenarnya, apa yang sedang dirasakan Ellie? Apa yang diinginkan wanita itu?

“Jadi, apa hubungan Vanesha dengan Troy?” pertanyaan Ellie yang tiba-tiba itu membuat Jiro terkejut. Ellie tadi sempat bilang bahwa wanita itu tak mempedulikan tentang dirinya apalagi tentang Vanesha dan yang lainnya. Tapi kenapa wanita ini tiba-tiba bertanya padanya tentang hal ini? apalagi, Ellie menanyakan kalimat itu dengan santai dan masih menyantap makanannya tanpa menatap ke arah Jiro sedikitpun.

“Aku nggak tahu.”

“Kamu kan temannya Troy. Masa nggak tahu?”

“Dia kan banyak kencan sama perempuan, bukan hanya dengan Vanesha.”

“Wahhh, sepertinya semua anak band sama seperti itu ya?” Ellie kembali menyindir.

“Tidak semuanya. Aku nggak pernah kencan sama perempuan sembarangan.”

“Iya, karena kalau kamu sembarangan kencan, akan menjadi gosip. Suamiku ini kan paling anti digosipkan yang enggak-enggak.” Lagi-lagi Ellie menyindir Jiro.

“Ellie, kadang aku berpikir bahwa mulut kamu sangat tajam.” Jiro berkomentar.

Ellie tersenyum, ia kembali meneguk susunya sebelum berkata “Baguslah, kalau kamu berpikir seperti itu. Jadi kamu bisa berpikir dua kali jika ingin menciumku.”

Tanpa diduga, Jiro segera mengangkat dagu Ellie kemudian menyambar bibir Ellie. Jiro bahkan menggoda Ellie dengan cara menjilati bekas susu yang tertinggal di area bibir Ellie.

“Kamu salah, aku suka mencium bibir-bibir yang tajam.” Ucapnya sebelum melepaskan dagu Ellie.

Pipi Ellie merona seketika. Ia tidak menyangka jika Jiro akan berbuat senakal itu. Tapi Ellie mencoba mengendalikan dirinya. Ia tidak akan membuat Jiro kembali merasa menang lagi dengan perang psikis yang entah sejak kapan terjadi diantara mereka.

“Kenapa diam saja?” Jiro kembali menantang Ellie.

“Enggak.” Ellie kembali memakan omletnya. Sumpah demi apapun juga, Ellie tidak ingin melanjutkan makan malamnya. Astaga, Jiro begitu mempengaruhinya, ciuman lelaki itu serta godaannya tadi membuat Ellie meremang. Tapi di sisi lain, Ellie tidak ingin Jiro sadar bahwa lelaki itu begitu mempengaruhinya.

“Cepat habiskan makananmu, setelah itu kita tidur, sudah sangat malam.” Ucap Jiro sembari meningalkan Ellie menuju ke arah lemari pendingin.

Ellie tidak tahu bahwa Jiro juga terpengaruh dengan kedekatan mereka. Entah kenapa, sekarang setiap kali berdekatan dengan Ellie, Jiro merasa sesuatu terpantik di dalam dirinya. Jiro ingin memiliki Ellie lagi dan lagi, memperlakukan wanita itu dengan manis, membuat wanita itu merona-rona karena ulahnya. Tapi di sisi lain, Jiro ingin menolak perasaan menggelikan itu. Bagaimanapun juga, ia tidak ingin Ellie membuatnya candu. Jiro tak ingin terpengaruh lebih dari ini dan melakukan hal-hal di luar akal sehatnya seperti tadi. Ia adalah lelaki yang realistis, yang tidak ingin terbawa oleh perasaan, meski itu dengan istrinya sendiri. tapi dapatkah Jiro menahannya? Menahan perasaannya yang semakin hari semakin tak terkendali?

***

Saat keduanya sudah berada di ranjang mereka, keduanya tak segera tidur. Tampak sebuah kegelisahan diantara mereka. Ellie ingin membuka suaranya tapi ia tidak tahu apa yang ingin ia katakan dengan Jiro. Begitupun dengan Jiro. Jiro ingin membuka percakapan kemudian keduanya lelah karena saling bercerita dan tidur bersama hingga pagi, tapi Jiro tahu bahwa ia bukanlah tipe yang suka bicara. Jiro adalah tipe pendiam, kalaupun dia berbicara, dia akan berbicara seperlunya saja. Bukan berbasa-basi seperti lelaki kebanyakan.

Akhirnya, ketika Ellie tak dapat menahan rasa bosan dan rasa kesalnya akibat tak dapat tidur, Ellie memilih memiringkan tubuhnya ke arah Jiro kemudian mulai membuka suaranya.

“James, jika kebersamaan kita nanti masuk ke dalam akun gosip, apa yang akan kamu lakukan?” itu hanya pertanyaan iseng, tapi Ellie berharap Jiro menjawabnya dengan jawaban yang berbobot.

“Apalagi? Aku hanya bisa diam.” Ellie memutar bola matanya kesal. Seperti yang diduga, jawaban Jiro benar-benar tidak memuaskan.

“Kalau media ngejar-ngejar kamu bagaimana?” tanya Ellie lagi.

“Tinggal lari dan diam.” Lagi-lagi jawaban Jiro membuat Ellie kesal.

“Kalau mereka tak juga berhenti dan ngejar kamu terus dimanapun kamu berada bagaimana?” Ellie tidak ingin mengalah.

Jiro menatap Ellie seketika. “Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Ellie? Kamu ingin aku jujur dengan mereka? Jika itu yang kamu inginkan, maka itu tak akan terjadi.” Jawab Jiro dengan pasti.

Ellie merasa sakit dengan jawaban jujur tersebut. “Kenapa? Apa aku begitu memalukan untuk menjadi istrimu?”

“Ellie…”

“Kamu selalu meniduriku, James. Aku bahkan sudah mengandung bayimu. Begitukah penghargaan yang kamu berikan pada ibu yang mengandung anakmu?”

“Ellie, dengar. Semua butuh proses.”

“Tapi aku tidak suka prosesnya, James. Aku sudah muak. Aku sudah bosan. Ini sudah Empat tahun dan aku masih tetap jadi simpananmu.”

“Istri.” Jiro meralat. “Kamu istriku, bukan simpananku.”

“Ya, istri rasa simpanan.” Ellie membenarkan. Mata Ellie sudah berkaca-kaca. Bahkan beberapa bulir bening itu sudah jatuh dari pelupuk matanya.

Dengan spontan Jiro menghapus airmata Ellie. “Ada waktunya untuk mengakui semua. Tapi tidak sekarang, Sayang. Tidak saat ini.” Entah perasaan Ellie saja atau saat ini Jiro menjelma menjadi sosok yang sangat lembut. Ellie bahkan tidak dapat mengingat, apa Jiro pernah memanggilnya dengan panggilan ‘Sayang’ atau tidak.

“Lalu kapan? Aku, aku hanya tidak suka kenyataan bahwa kamu dikenal sebagai seorang lajang. Banyak perempuan memujamu, bahkan tak sedikit fans kamu yang menjodohkan kamu dengan artis perempuan lainnya. Aku tidak suka.”

“Ellie. Sebentar lagi akan ada konser besar yang akan ditayangkan secara langsung di beberapa stasiun Tv nasional. Mungkin bagi kamu atau yang lain, konser ini tak berarti, tapi bagiku, konser ini sangat berarti. Aku ingin fokus dan menyukseskan konser ini. karena bagiku, konser ini seperti titik balik saat The Batman berada di puncak kepopuleran.”

“Lalu?”

Jiro mengusap lembut pipi Ellie. “Setelah semuanya selesai, mungkin aku akan mengaku didepan publik.”

“Kamu yakin?” Ellie tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jiro.

“Mungkin.” Jiro masih kurang yakin dengan apa yang ia katakan “Ada beberapa kontrak yang tidak bisa dilanggar. Konsekuensinya aku harus membayar denda dan kontrak dibatalkan. Itupun kita harus mendiskusikannya dengan pihak management dan juga para personel The Batman lainnya.”

“Dan jika mereka menolak atau tidak sepemikiran denganmu?”

Jiro menghela napas panjang. “Maka aku harus keluar.”

Mata Ellie berbinar seketika. Jujur saja, Ellie memang kurang suka dengan pekerjaan suaminya yang menjadi anak band. Apalagi semenjak Jiro terkenal, Ellie merasa semakin jauh dengan lelaki ini. belum lagi kenyataan bahwa mereka tidak bisa kemanapun tanpa ada yang mengenali. Hal itu benar-benar membuat Ellie risih. Membayangkan bahwa Jiro akan vakum dari menjadi artis membuat Ellie senang. Tapi benarkah Jiro akan melakukannya? Membuang ambisinya selama ini hanya demi mengakui dirinya dan juga bayi mereka di depan publik?

-TBC-