My Beautiful Mistress – Epilog

Comment 1 Standard

 

Epilog

 

 

 

Ellie sedang sibuk menggendong puteranya, Cedric Devian Robberth, ketika sebuah rombongan yang terdiri dari Jason, Bianca, Ken dan juga Troy datang mengunjungi dirinya ke dalam ruang inapnya di sebuah rumah sakit.

Ya, ia baru saja melahirkan Cedric tadi malam, dan pagi ini teman-teman suaminya datang menjenguknya.

“Hai… ya ampun, lucu sekali.” Bianca menghambur ke arahnya. Wanita itu tapak berharap diperbolehkan menggendong bayi mungil yang ada atas pangkuan Ellie.

“Kamu mau menggendongnya?” tawar Ellie.

“Ya. Tentu saja.” Dan akhirnya Ellie memberikan puteranya untuk digendong oleh Bianca.

Bianca dan Jason sendiri sudah menikah beberapa minggu yang lalu, pernikahannya sangat meriah, dan Ellie cukup senang karena di sana mereka juga disuguhi oleh penampilan The Batman. Kini, kehamilan Bianca sudah semakin terlihat, dan Ellie juga senang karena pertemanan Jiro dengan Jason membuat Ellie dan Bianca ikut berteman baik dan semakin dekat seperti saat ini.

“Jiro mana?” tanya Jason kemudian.

“Kenapa nyari gue?” suara itu berasal dari kamar mandi yang baru saja dibuka. Jiro tampak segar karena baru saja selesai mandi. Sangat tidak adil, padahal kini, Ellie merasa tampak berantakan karena belum bisa beranjak dari tempat tidurnya.

Jiro menuju ke arah sofa panjanng yang tersedia di ujung ruangan. Jason, Ken dan Troy mengikuti lelaki tersebut sesekali saling menggoda satu sama lain.

“Sialan, elo sudah jadi bapak-bapak ya sekarang.” Goda Troy.

“Brengsek! Elo kapan nyusul?” Jiro balik menggoda.

“Gue? Yang bener aja. Tuh, si Jase yang bentar lagi nyusul. Lagian gue masih suka main-main.” Ucap Troy penuh canda.

Semua yang ada di sana tertawa, tapi Jiro sempat melihat bahwa tawa Ken tak sama seperti tawa mereka semua, seakan temannya itu tertawa karena sebuah keterpaksaan.

“Ken, elo sendiri gimana?” tanya Jiro kemudian.

“Gue? Kenapa sama gue?”

“Katanya elo mau keliling dunia dulu, ngabisin tabungan sebelum mulai solo karir?”

Ken mengangguk. “Ya, minggu depan gue berangkat.”

“Sendiri?” pancing Jiro.

“Iya lah, memangnya sama siapa lagi?” Ken mencoba tertawa tapi tawanya tampak hambar.

Jiro kemudian mendekat ke arah Ken. Ia lalu berbisik “Gue nggak sengaja ketemu Kesha kemarin, keadaannya menyedihkan.”

Ken tampak sedikit menegang. Kemudian lelaki itu mencoba mengendalikan dirinya dan membalas ucapan Jiro dengan sedikit tertawa. “Elo apaan sih, gue kan sudah putus sama dia, mau dia ngapain juga terserah.”

Jiro menghela napas panjang, kemudian ia menepuk bahu Ken. “gue hanya berharap, elo mendapatkan kebahagiaan elo, seperti gue, seperti Jase. Elo akan menemukan perempuan yang tepat, Ken.”

Ken hanya mengangguk dengan pasti.

“Elo nggak berharap gue bahagia gitu, kayak kalian?” tanya Troy kemudian.

Jiro tertawa lebar. “Kayaknya elo selalu bahagia, jadi gue nggak perlu berharap lebih tentang kehidupan elo.”

“Brengsek lo!” setelah umpatan Troy tersebut, semua yang ada di sana tertawa penuh dengan kebahagiaan.

Jiro bahagia dengan kehidupan barunya bersama dengan Ellie dan juga putera pertama mereka, Cedric. Jason bahagia dengan Bianca karena mereka juga sedang menantikan buah hati pertama mereka. Troy juga bahagia, karena melihat semua temannya berbahagia membuat Troy ikut merasakan kebahagiaan tersebut. Begitupun dengan Ken, bedanya, meski Ken juga bahagia karena kebahagian yang didapatkan oleh teman-temannya, dalam hatinya yang paling dalam, Ken masih tak dapat mengobati luka patah hatinya.

Ya, siapa lagi dalangnya jika bukan Kesha.

Ketika Ken melihat ke arah Ellie dan juga Bianca, Ken mendapati bayangan Kesha di sana. Seharusnya, Kesha berada di antara mereka, bahagia bersamanya. Tapi, semuanya hancur dalam sekejap mata, menyisakan sebuah kesakitan yang amat sangat, menyisakan sebuah dendam yang tak akan pernah reda dahaganya, dan semua itu karena pengkhianatan kekasihnya, Kesha Kirana.

Ya Tuhan! Ken ingin melupakan wanita itu. Ken ingin merasakan kebahagiaan yang sempurna seperti yang dirasakan oleh Jiro dan juga Jason. Tapi bisakah ia merasakannya?

***

Ellie dan Jiro beruntung karena malam ini Cedric tidak rewel. Padahal seharusnya Cedric dikembalika ke ruang bayi tadi sore, tapi Ellie memohon pada suster agar Cedric tidur di kamar inapnya saja  malam ini, mengingat sepanjang sore tadi masih banyak tamu berdatangan untuk menjenguknya dan melihat bagaimana tampannya Cedric.

Mei bahkan berkata bahwa Cedric adalah perpaduan sempurna dari Jiro dan Ellie. Bayi itu, jika dewasa nanti pasti akan sangat tampan. Mei bahkan berseloroh bahwa dia akan menunggu Cedric hingga dewasa dan menikahinya sendiri. Ya Tuhan, perempuan itu ada-ada saja.

Tapi apa yang dikatakan Mei memang benar adanya, putera mereka memang sangat tampan, hingga Ellie seakan tak ingin mengalihkan pandangannya satu detikpun dari wajah putera kecilnya tersebut.

“Hemm, jadi, aku mulai diduakan, ya?”

Ellie kemudian menatapke arah Jiro. “Maksudnya?” Ellie tak mengerti apa yang dikatakan Jiro padanya.

“Dia.” Jiro mengusap lembut pipi Cedric. “Mulai mencuri hatimu, kan?”

Ellie lalu tertawa lebar. “Ya ampun, James. Jadi kamu cemburu pada puteramu sendiri?”

“Ya. Karena dia sudah merebut hati wanita yang kucintai.”

“Astaga…” Ellie tergelak tawanya. Dan akhirnya, Jiro juga ikut tertawa.

Cukup lama keduanya saling tertawa, hingga kemudian suasana kembali hening. Jiro menatap Ellie dengan intens. Wanita itu tampak lebih cantik dari sebelumnya, tampak bercahaya dan semakin memukaunya. Hingga kemudian, dengan spontan Jiro berkata “Ellie, terimakasih sudah memberiku semua ini. Aku mencintaimu.”

Ellie yang sejak tadi fokus dengan Cedric akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Jiro seketika. “Kupikir, aku tidak akan pernah mendengar kalimat itu lagi.”

Ya, sejak malam dimana Jiro menyatakan perasaannya, Ellie memang tak lagi mendengar kalimat seperti itu terucap dari bibir Jiro. Ellie tidak akan memaksa ataupun menuntut lebih, karena sebelumnya Jiro juga mengatakan bahwa ia hanya akan mengatakannya sekali. Tapi kini, lelaki itu mengatakannya lagi.

“Kamu akan mendengarnya, sesering mungkin.”

“Ohh, jadi suamiku sudah berubah, ya?” goda Ellie.

“Tidak. Aku hanya semakin mencintaimu lagi dan lagi, hingga rasa ini penuh dan membuncah, dan aku tak dapat menahan diri untuk mengungkapkannya.”

“Ya ampun, manis sekali.”

Jiro lalu tersenyum. “Jadi, apa yang kamu rasakan padaku?”

“Apa?” Ellie bersikap seolah-olah tak mengerti apa yang ditanyakan Jiro, padahal ia tahu pasti apa maksud lelaki itu.

“Perasaanmu.” Jiro mendesak. Ia ingin Ellie mengatakannya lagi, mengakui perasaannya sekali lagi, karena Jiro rindu sensasi yang terjadi akibat ungkapan cinta yang dilontarkan Ellie kepadanya.

Ellie tersenyum lembut, kemudian ia berkata “Aku mencintaimu, James, sampai kapanpun, aku akan mencintaimu.” Dan benar saja, sensasi yang dirasakan Jiro masih seluar biasa dulu, saat pertama kali Ellie menyatakan perasaan wanita itu padanya beberapa bulan yang lalu.

Jiro mendekatkan diri kemudian  mengecup lembut puncak kepala Ellie. “Terimakasih, Sayang.” Keduanya kemudian larut dalam sebuah keharuan, dalam sebuah kebahagiaan, dan juga dalam sebuah cinta yang abadi dan tak akan pernah mati….

 

 

-The End-

Advertisements

My Beautiful Mistress – Bab 20

Comment 1 Standard

 

Bab 20

 

 

 

Buuugghhh…

Jiro jatuh tersungkur setelah ayahnya, Mr. Robberth, mendaratkan pukulannya pada Jiro. Jiro tahu bahwa hal ini akan terjadi. Orang tuanya akan murka saat tahu bahwa ia sudah memperlakukan Ellie dengan begitu tak adil. Dan hal ini, benar-benar terjadi.

Selama ini, Jiro hampir tak pernah mengajak Ellie berkunjung ke rumah orang tuanya dengan alasan sibuk. Lagi pula kedua orang tuanya juga jarang berada di negeri ini. mereka lebih sering ke luar negeri mengurus bisnis dan lain sebagainya. Maka Jiro cukup tenang ketika ada beberapa gosip buruk dan keluarganya tak ada yang mengetahui tentang gosip-gosip tersebut. Tapi kini, semuanya terbuka, dan kemurkaan ayahnya menjadi tanggungannya.

Jiro mencoba bangkit, tapi kemudian ayahnya menghampirinya, mencengkeram kerah kaus yang ia kenakan.

“Aku menjodohkan kamu dengannya bukan dengan tujuan agar kamu bisa menyakiti hatinya!” seru Sang Ayah. “Dia adalah puteri dari sahabatku, dia sudah kuanggap sebagai puteri kandungku sendiri. bagaimana mungkin kamu memperlakukan dia sekejam itu?!”

Tadi, Jiro memang sempat bercerita kepada kedua orang tuanya tentang apa yang sedang terjadi. Dan mungkin sebelumnya Ellie juga sudah bercerita tentang masalah mereka hingga kini ayahnya menjadi murka terhadap Jiro. Meski begitu, Ellie tidak salah, selama ini memang dirinyalah yang salah, jadi ia memang pantas mendapatkan semua ini.

“Aku… aku hanya…”

“Kamu tidak suka menikah dengannya? jika karena alasan itu, maka aku bisa menceraikan dan memutuskan hubungan kalian berdua.”

“Tidak!” Jiro berkata dengan cepat. “Jangan. Sampai kapanpun aku tidak ingin menceraikan Ellie.”

“Lalu kenapa kamu melakukan ini? Ya Tuhan! Jika ayahnya tahu, mau ditaruh dimana muka ayahmu ini?!”

“Maaf.” Jiro melirih. Ia memang salah, satu-satunya cara untuk menebus semuanya adalah dengan memperbaiki hubungannya dengan Ellie, memperlakukan wanita itu sebaik mungkin sesuai dengan hak-haknya. Tapi, apakah ia masih berkesempatan untuk melakukan hal tersebut?

Mr. Robberth melepaskan cekalannya pada kerah kaus Jiro, kemudian ia bangkit dan memunggungi Jiro. “Kamu tidak perlu meminta maaf padaku. Seharusnya kata itu kamu ucapkan pada Ellie.”

“Ayah…”

“Semoga saja dia masih mau memaafkanmu.” Ucapnya sebelum pergi meninggalkan Jiro.

Jiro hanya tertunduk lesu. Ya, ia tidak tahu apa Ellie masih mau memaafkannya, atau minimal mendengarkan penjelasannya. Jiro tidak tahu bagaimana jadinya jika nanti tak ada lagi kesempatan untuk dirinya.

***

Ellie mendengar ketukan pintu ketika ia sedang asyik mengamati album foto masa kecil Jiro. Ia tidak tahu siapa yang datang, apa itu Mei atau Ibu Jiro, karena sepanjang sore, Ellie menghabiskan waktunya di dalam kamar Jiro.

Banyak sekali barang-barang berharga milik lelaki itu, foto-foto masa mudanya, dan lain sebagainya. Hingga detik ini, Ellie tidak mendapati sesuatu apapun yang special tentang seorang perempuan. Bahkan foto-foto Jiro di masa mudanya kebanyakan foto dengan teman laki-lakinya atau paling tidak sendiri. tak ada suatu yang patut dicemburui. Apa memang seperti itu karakter suaminya? Sulit dekat dengan lawan jenis?

Ellie menutup album tersebut dan beralan menuju ke arah pintu. Ellie sangat berharap bahwa yang datang adalah Jiro. Tapi sepertinya tidak mungkin, Jiro tak akan tahu bahwa ia sedang kabur ke rumah orang tua lelaki tersebut.

Jadi tadi siang, setelah melihat gosip yang beredar, Mei dan Ellie segera mencari tahu darimanakah asal mula foto tersebut. Rupanya foto itu berasal dari salah satu akun fansbase Vanesha yang hobby menjodohkan Vanesha dengan Jiro. Ditambah lagi caption yang dibuat seolah-olah keduanya memang sedang  memadu kasih bersama di sebuah hotel.

Sungguh, Ellie merasa panas dibuatnya. Tapi kemudian ia mencoba berpikir lebih positif lagi dari sebelumnya. Bukan hanya sekali ini Jiro terlibat skandal, bukan kali ini saja Jiro digosipkan yang tidak-tidak dengan seorang wanita. Sering kali Jiro digosipkan seperti itu. Tapi mungkin kali ini yang paling parah hingga memunculkan foto syur keduanya. Yang dengan mudah dikenali Ellie sebagai foto editan.

Bagaimana Ellie tahu jika itu adalah foto-foto editan? Ada sebuah foto yang tampak menunjukkan tubuh telanjang bagian atas si lelaki, dan Ellie tak mendapati ukiran namanya di sana.

Ya, Tatto Jiro dengan huruf yunani kuno yang disebut Jiro sebagai ukiran nama Ellie tersebut tak ada di sana. Padahal Jiro berkata jika tatto tersebut sudah cukup lama berada di sana, meski tempatnya sedikit tertutupi dengan tatto-tatto lainnya, dan Ellie baru mengetahui beberapa bulan terakhir.

Saat mengetahui tentang hal itu, Ellie tahu bahwa itu hanya foto hasil dari editan seorang yang jahil, kalaupun foto itu asli, Ellie tahu bahwa lelaki itu bukan Jiro.

Meski begitu, Mei tak ingin tinggal diam. Mei berkata bahwa Jiro harus diberi pelajaran karena hal ini. semua ini terjadi tentu karena ketidak tegasan Jiro dalam mengungkapkan status hubungannya dengan Ellie. Dan Ellie merasa bahwa hal itu ada benarnya juga. Lagi pula, Ellie ingin tahu bagaimana reaksi Jiro saat lelaki itu tahu bahwa dirinya pergi meninggalkan suaminya tersebut. Apa Jiro akan mencarinya? Atau, apa Jiro mengabaikannya? Ellie hanya ingin tahu, seberapa berarti dirinya untuk lelaki tersebut.

Ellie membuka pintu di hadapannya, dan alangkah terkejutnya ketika ia mendapati Jiro berdiri menjulang di hadapannya.

“James?”

Tanpa banyak bicara lagi, Jiro menghambur memeluknya. Erat, begitu erat seakan takut jika Ellie pergi meninggalkannya. Ellie bahkan merasakan napasnya sesak akibat pelukan erat dari Jiro tersebut.

“James! Lepaskan.” Ellie meronta, dan akhirnya Jiro melepaskan pelukannya pada tubuh Ellie.

“Ellie. Maafkan aku, sumpah, aku bisa menjelaskan semuanya. Tolong maafkan aku.” Jiro menggenggam erat kedua belah telapak tangan Ellie.

Ellie ingin tertawa tapi ia mencoba menahan dirinya. Ya Tuhan! Jiro tampak sangat lucu dan manis ketika memohon padanya seperti saat ini. Dengan berani, Ellie menghempaskan cekalan tangan Jiro, ia lalu bertanya dengan nada yang dibuat seketus mungkin.

“Apa yang ingin kamu jelaskan, James? Aku sudah tahu semuanya.”

“Tolong. Itu hanya skandal yang diciptakan oleh pihak management Vanesha untuk menaikkan namanya. Sama sekali tak berhubungan denganku. Aku memang pernah menciumnya, tapi demi Tuhan! Aku tidak pernah menidurinya.”

Ellie berkacak pinggang. “Kamu yakin dengan sumpahmu, James?”

“Ellie, aku memang berengsek, sikapku memang bajingan, tapi aku tak pernah tidur dengan perempuan manapun kecuali istriku sendiri.”

“Jadi, kalau Vanesha istrimu, kamu juga akan menidurinya?”

“Aku tidak menikah dengan sembarang orang. Aku hanya menikah satu kali, dan itu hanya denganmu, Ellisabeth Julia Williams.” Jiro menjawab penuh dengan penekanan. Sungguh, Jiro tak menyangka jika Ellie akan berpikir sejauh itu. Menikahi Vanesha? Yang benar saja. Selama ini ia tidak pernah intim dengan perempuan manapun kecuali dengan Ellie. Ya, hanya dengan wanita itu.

Karena tak dapat menahan senyumnya, Ellie memilih membalikkan tubuhnya memunggungi Jiro lalu berjalan menuju ke arah ranjang Jiro. Ellie meraih kembali album foto masa remaja Jiro dan membuka serta melihat-lihat kembali. Hal tersebut tak luput dari tatapan mata Jiro.

Jiro akhirnya mendekat, ia merasa aneh karena Ellie tampak mengabaikan permasalahan mereka, sebenarnya ada apa? Apa Ellie tidak ingin lagi memercayainya?

Jiro akhirnya memilih berjongkok dihadapan Ellie, ia menutup paksa dan menyingkirkan album foto yang ada di pangkuan Ellie, kemudian menggenggam erat kedua telapak tangan wanita tersebut.

“Tolong, jangan abaikan aku seperti ini.” lirih Jiro. Ia sungguh takut jika Ellie benar-benar mengabaikannya. Ia tidak ingin hal itu terjadi.

“Aku tidak mengabaikanmu, aku hanya fokus melihat foto-foto ini.” Ellie menjawab dengan ekspresi polosnya.

“Ellie…” Sungguh, Jiro merasa gila karena sikap Ellie. Jika Ellie harus marah, maka Jiro akan menerima kemarahan Ellie. Tapi jika perempuan ini bersikap seperti tak terjadi apapun, maka Jiro merasa semakin bersalah pada perempuan di hadapannya ini. “Kamu mau marah? Oke, marah saja. Mau mukulin aku? Ayo, pukul saja. Tapi jangan bersikap seperti ini. Jangan mengabaikanku.”

Ellie bersedekap. “Jadi aku boleh mukul kamu?”

“Ya. Jika itu membuatmu lebih lega.”

“Beneran?” pancing Ellie.

Jiro tidak menjawab, ia memilih mendekatkan wajahnya kemudian memejamkan matanya agar Ellie segera menjatuhi hukuman sebuah tamparan diwajahnya. Jiro memilih ditampar Ellie berkali-kali asalakan wanita itu mau memercayainya lagi. Tapi, tanpa diduga….

Cuppp…

Jiro merasakan bibir lembut Ellie menempel pada pipinya. Jiro membeku seketika, ia tidak menyangka jika Ellie akan mengecup lembut pipinya. Bukankah seharusnya wanita ini marah? Jiro membuka matanya dan mendapati wajah Ellie yang begitu cantik di hadapannya, cantik dengan senyuman lembut mempesonanya.

“Ellie?” sungguh, Jiro merasa tak mengerti apa yang sedang dirasakan perempuan di hadapannya ini.

“Aku percaya sama kamu, James. Aku percaya.”

“Tapi, aku belum cukup menjelaskan semuanya.”

“James.” Ellie menangkup pipi Jiro. “Aku hanya percaya bahwa itu bukan kamu.”

“Dari mana kamu bisa percaya? Maksudku… seharunya, kamu…”

Dengan paksa Ellie memberdirikan tubuh Jiro, sedangkan Jiro mengikuti saja apapun yang dilakukan istrinya tersebut. Ellie juga membuka paksa kaus yang dikenakan Jiro, menariknya keatas melewati kepala dan tangan Jiro hingga kemudian Jiro bertelanjang dada di hadapannya.

“Ini…” Ellie menyentuhkan jemarinya pada ukiran huruf yunani kuno, “Tidak ada ini di foto-foto itu, jadi aku tahu bahwa foto itu bukan kamu.”

“Kamu yakin?” Jiro tak percaya jika Ellie akan sejeli itu.

“Ya. Aku sudah melihat semua foto-fotonya.”

“Astaga Ellie…” Secepat kilat Jiro menngkup kedua pipi Ellie kemudian mencumbunya dengan panas. Kerinduannya seakan terobati, padahal belum Dua puluh empat jam Ellie meninggalkannya, tapi Jiro benar-benar merasa hampa.

Jiro lalu melepaskan tautan bibirnya kemudian bertanya dengan wajah bingungnya pada Ellie. “Lalu, kenapa kamu kabur ke sini?”

Pipi Ellie merona seketika. Ia menundukkan kepalanya dan menjawab, “Jadi, semua ini rencana Mei, dia hanya ingin melihat reaksi kamu, apa kamu merasa kehilangan atas kepergianku, apa kamu merasa gila karena hal itu.”

“Sialan Mei! Aku tidak bisa berpikir jernih lagi ketika aku mendapati kamar kosong tanpa kamu dan juga barang-barangmu di dalam saja. Aku merasa gila, aku ketakutan Ellie.”

Ellie tersenyum lembut. “Apa yang membuatmu takut?”

“Aku takut kamu benar-benar pergi meninggalkanku dan tak akan memaafkanku lagi. Itu menjadi hal yang paling mengerikan yang pernah terbayangkan dalam kepalaku.”

“Jangan berlebihan, James.” Ellie Mendorong dada Jiro.

“Aku tidak berlebihan.” Jiro mengecup lembut bibir Ellie. “Mungkin, aku terlambat mengatakannya, tapi aku akan mengatakannya sekarang. Aku mencintaimu, aku benar-benar takut kehilanganmu.”

Ellie ternganga mendengar pernyataan cinta dari suaminya tersebut.

“Aku tidak pandai dalam hal ini. aku bukan seorang pria yang romantis dan suka mengumbar kata cinta pada pasangannya. Jika kamu menginginkan hal itu, maka bukan aku orang yang kamu inginkan. Aku hanya akan mengatakan ini satu kali. Aku mencintaimu, Ellisabeth Julia Williams, entah sejak kapan aku tidak tahu. Yang kutahu bahwa saat ini, aku sudah jatuh hati padamu.”

Mata Ellie berkaca-kaca seketika. Ia tidak menyangka bahwa penantiannya selama ini akan berbuah manis. James Drew Robberth akhirnya jatuh cinta padanya, dan ia benar-benar keluar sebagai pemenangnya.

“Hei, kenapa menangis?” Jiro menangkup pipi Ellie, ia bahkan menghapus setetes air mata yang jatuh begitu saja dari pelupuk mata istrinya tersebut.

“Tidak. Aku hanya terlalu senang.” Jawab Ellie dengan senyuman mengembang di wajahnya.

“Benarkah?”

Ellie mengangguk dengan antusias. “Aku senang karena aku menang.”

“Menang?” Jiro tampak bingung dengan jawaban Ellie.

Tanpa diduga, Ellie malah memeluk erat tubuh Jiro. “James, aku sudah jatuh cinta denganmu sejak lama, tapi aku mencoba menguburnya. Selama ini, kupikir, jika kamu adalah milikku, maka itu sudah cukup. Tapi aku salah, aku salah karena jika hanya aku yang mencintaimu, maka itu tak akan ada bedanya. Aku hanya mencintai, bahkan banyak orang di luaran sana yang juga mencintaimu, tak ada bedanya aku dengan mereka. Akhirnya, aku memutuskan untuk berjuang, berjuang dan berperang agar kamu juga jatuh mencintaiku. Dan kini, aku keluar sebagai pemenangnya.”

Jiro tersenyum mendengar pernyataan Ellie tersebut. “Ya Tuhan! Darimana datangnya istriku ini? aku sudah mengabaikanmu, tak mempedulikan keberadaanmu, tapi kamu masih setia mencintaiku. Kamu benar-benar jelmaan malaikat.”

Ellie melepaskan pelukannya, ia tersenyum lembut penuh arti, sedangkan wajahnya tak berhenti merona merah karena pujian yang terlontar dari bibir suaminya tersebut.

“Ellie. Berjanjilah, kamu tidak akan meninggalkan aku lagi seperti ini, oke?”

Ellie mengangguk lembut. “Aku berjanji, dengan syarat, kamu juga harus janji padaku.”

“Janji apa?”

“Bahwa kamu akan selalu ada di sisiku, menemaniku, selamanya.”

“Ya Tuhan! Tentu saja. Aku berjanji padamu, Ellie.” Setelah itu, Jiro menggapai bibir Ellie, mencumbunya dengan lembut penuh cinta. Astaga, Jiro tak pernah merasa secinta ini dengan seseorang, ia tak pernah merasa sedalam ini mencintai seseorang hingga ia sendiri tidak sanggup mengukur kedalamannya.

***

Dua minggu kemudian…

Ini adalah pertama kalinya dan mungkin akan menjadi terakhir kalinya Ellie menemani Jiro tampil di sebuah acara. The Batman memang di undang di sebuah acara tersebut, dan ini akan menjadi penampilan terakhir dari The Batman karena sebelumnya mereka sudah memutuskan untuk vakum selamanya dan hanya akan melanjutkan kontrak yang memang tak dapat dibatalkan seperti acara pada siang ini.

Jika biasanya Ellie hanya menyaksikan penampilan Jiro dan The Batman dari Tv atau dari Youtube, maka siang ini Ellie memiliki kesempatan untuk menyaksikannya secara live perfome, dan menjadi salah satu official dari The Batman.

Sebenarnya, Ellie tak mengerti apa tujuan Jiro. Ia sempat tak percaya saat Jiro mengajaknya untuk menyaksikan penampilan lelaki itu secara langsung. Pasalnya, hingga kini, Jiro belum mendeklarasikan hubungan mereka dihadapan publik, dan Elliepun tak lagi menuntut hal itu. Ellie hanya khawatir jika nanti akan ada wartawan yang memergoki kebersamaan mereka. Meski Ellie tak peduli, tapi Ellie takut jika itu akan menimbulkan skandal baru pada akhir dari karir Jiro dan The Batman.

Ellie mencoba mengabaikan kerisauan hatinya, karena kini ia memilih menikmati penampilan Jiro dan juga The Batman. Rupanya, penampilan mereka begitu memukau. Banyak fans yang turut serta menyaksikan penampilan mereka secara langsung. Ellie merasa beruntung karena ia sempat menyaksikan penampilan Jiro secara langsung sebelum The Batman benar-benar vakum dari dunia hiburan. Ia merasa terharu, tersentuh, apalagi ketika The Batman menyanyikan salah satu lagu melankolis mereka.

Hingga tak terasa, penampilan mereka benar-benar telah usai. Jiro, Jason, Ken dan juga Troy sempat berpamitan pada semuanya. Saat itu, Ellie tak mampu lagi membendung air matanya. Ya, semuanya telah usai, The Batman benar-benar telah berakhir. Meski begitu Ellie tahu bahwa hubungannya dengan Jiro baru saja memasuki babak baru. Babak dimana mereka akan berperan sebagai suami istri yang sesungguhnya, tanpa takut diusik oleh media dan juga yang lainnya.

Ellie menuju ke sebuah ruangan tempat dimana Jiro dan yang lainnya berkumpul setelah selesai tampil. Dan saat Jiro datang, Jiro segera menuju ke hadapan Ellie.

“Bagaimana penampilanku tadi?” tanyanya.

“Kamu keren.” Ucap Ellie sembari mengusap keringat yang berada di dahi Jiro dengan handuk kecil.

“Sialan! Mentang-mentang bawa istri saat pentas, Si Jiro pamer kemesraan ama kita-kita.” Troy mengumpat sebal.

“Kalau gitu, elo bawa istri elo gih, biar impas.” Ken menyahut, dan semua yang ada di sana tertawa, sedangkan Troy hanya bisa mengumpat seperti biasanya.

***

Tak menunggu acara usai, semua personel dan official The Batman sudah diperbolehkan pulang karena mereka memang sudah selesai tampil saat itu. Saat mereka keluar dari area acara tersebut, banyak sekali fans yang menunggu mereka, memberikan banyak sekali hadiah sebagai penghormatan terakhir.

Ellie yang sejak tadi jemarinya digenggam erat oleh Jiro dan berjalan di sebelah lelaki tersebut akhirnya membiarkan Jiro menghampiri para fansnya. Tak ada rasa cemburu, yang ada hanya rasa haru, tak menyangka bahwa suaminya bisa disayangi begitu banyak orang.

Ya, setelah pernyataan cinta Jiro pada malam itu, Ellie semakin percaya dengan Jiro. Bahwa lelaki itu hanya mencintainya, jadi Ellie tidak akan membuang waktunya untuk bercemburu ria dengan para fans dari suaminya tersebut.

Setelah puas menyapa dan menghampiri para fansnya, Jiro akhirnya kembali pada Ellie. Ia menggenggam erat telapak tangan Ellie lalu mengajak istrinya itu berjalan menuju ke arah mobil mereka.

Ellie tersenyum,ia tampak senang dengan sikap Jiro yang perhatian dan padanya, seakan menunjukkan pada para fansnya bahwa ia adalah milik dari lelaki tersebut. Astaga, Jiro manis sekali.

Tapi kemudian, senyum Ellie lenyap ketika sekumpulan wartawan datang menghadang mereka. Ellie sempat panik dan meminta Jiro untuk berbalik arah lagi, tapi Jiro menenangkan Ellie dan berkata pada Ellie bahwa ia akan menghadapi semuanya saat ini.

“Jiro, bagaimana perasaanmu tentang penampilan terakhir The Batman?”

“Kamu datang dengan siapa?”

“Apakah benar ini adalah istrimu?’

“Sudah berapa lama kalian menikah?”

“Jiro, apa status hubungan kalian?”

“Apa ini istrimu?”

Bukannya segera menuju ke arah mobil, Jiro malah menghentikan langkahnya. Ia tersenyum pada semua yang ada di sana. Sangat Jarang Jiro bersikap ramah tamah seperti ini pada awak media. Lebih mengejutkan lagi ketika tiba-tiba Jiro mengangkat telapak tangan Ellie yang sedang ia genggam kemudian mengecupnya lembut dihadapan semua nya.

“Ya. Dia istriku.” Hanya tiga kata, cukup tiga kata, dan semuanya bungkam seakan terpana dengan apa yang baru saja dilakukan dan juga diucapkan oleh Jiro.

Begitupun dengan Ellie, iapun terpana dengan apa yang baru saja dilakukan dan juga diucapkan oleh Jiro. Hingga ketika Jiro melanjutkan langkahnya membelah para wartawan, yang dilakukan Ellie hanya ikut saja kemanapun kaki lelaki itu melangkah.

“Aku merasa puas.” Ucap Jiro saat setelah mereka berada di dalam mobil.

“Puas? Puas kenapa?” Ellie bingung dengan apa maksud Jiro.

Jiro tersenyum, ia menangkup pipi Ellie kemudian berkata “Aku puas setelah menunjukkan pada dunia, bahwa kamu milikku. Ellisabeth Julia Williams adalah istri dari Jiro, Bassis The Batman.”

Ellie tersenyum. “Seharusnya bukan seperti itu.”

Jiro mengangkat sebelah alisnya. “Lalu?”

“Beritanya akan menjadi seperti ini ‘Jiro, Bassis terkenal sudah beristri, atau sudah dimiliki oleh perempuan berambut merah bernama Ellisabeth Julia Williams.’ Itu yang lebih cocok.”

Jiro terkikik geli dengan ucapan Ellie. “Persetan dengan beritanya. Yang pentig aku sudah menunjukkan pada dunia bahwa kamu adalah milikku. Hanya itu yang ingin aku tegaskan.”

“Wooww, suamiku orang yang tegas ya sekarang.” Goda Ellie dengan nada menyindir. Dan hal tersebut sontak membuat Jiro mencubit gemas pipi Ellie.

Keduanya tertawa bahagia di dalam mobil, seakan tak menghiraukan kegaduhan yang ada di luar mobil akibat dari ucapan dan tindakan Jiro yang begitu mencengangkan tadi.

Jiro tak peduli, begitupun dengan Ellie, karena kini, yang mereka pedulikan hanya kebahagiaan mereka berdua tanpa memikirkan media ataupun yang lainnya.

-END-

My Beautiful Mistress – Bab 19

Leave a comment Standard

Bab 19

 

 

 

“Jiro, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” pertanyaan Ken menyadarkan Jiro dari lamunan. Bayangan manis yang terjadi tadi pagi sungguh membuat hati Jiro diliputi sebuah kepiluan.

Bagaimana jika Ellie benar-benar pergi meninggalkannya? Bagaimana jika wanita itu tak mau lagi memaafkan dirinya karena kesalahpahaman sialan ini? sungguh, Jiro sangat menyesal.

Selama ini, ia sudah sangat banyak berbuat salah. Meski yang terakhir ini hanya sebuah kesalah pahaman, dan Jiro bersumpah bahwa ia tidak tahu menahu tentang viralnya gosip yang beredar, tapi hal itu tak mengurangi ketakutan Jiro bahwa Ellie benar-benar meninggalkannya. Masalahnya adalah, bahwa selama ini, ia tidak cukup banyak meminta maaf pada Ellie, ia meremehkan bahkan cenderung tak memikirkan perasaan wanita itu. Yang Jiro tahu adalah bahwa Ellie seorang yang sangat sabar dan cukup pemaaf, dan kini, Jiro takut, tak akan ada lagi kata maaf untuknya.

“Jiro.” Ken memanggil nama Jiro lagi karena Jiro tampak tak fokus dengan dirinya.

“Mei bilang Ellie pergi, dia kembali ke inggris.”

“Tidak mungkin!” Troy menyahut cepat. “Mana ada penerbangan yang mau menerimanya. Maksud gue, dia sudah hamil besar, kalaupun ada penerbangan yang mau menerimanya, prosesnya tak akan semudah penerbangan biasa. Apalagi ini ke luar negeri.”

“Troy benar. Mei mungkin hanya menggertak. Sekarang yang terpenting adalah, bagaimana mengakhiri gosip murahan ini.”

Ya, Ken dan Troy benar. Ellie tidak mungkin pergi jauh darinya. Meski ia kini tidak tahu kemana wanita itu pergi, tapi ia harus tetap berpikir realistis. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah menyelesaikan kerumitan ini.

“Jiro?” Ken kembali memanggil nama Jiro, seakan menunggu keputusan dari temannya tersebut.

“Kita akan ke tempat Vanesha.” Jiro berkata dengan sungguh-sungguh.

“Elo yakin? Maksud gue, dalam keadaan seperti ini, Vanesha juga mungkin sedang diteror oleh awak media. Kalau sampai  awak media tahu elo ketemu sama dia, itu hanya akan memperkeruh gosip.” Troy berpendapat.

“Kita ke kantor managementnya saja. Lebih formal kan?” Ken mengusulkan.

“Ya. Elo benar.” Jiro menjawab cepat. “Gosip ini, pasti berhubungan dengan orang-orang di management Vanesha.”

“Maksud lo?” Troy bingung.

“Beberapa minggu yang lalu, Fahri ingin gue dan Vanesha menciptakan skandal lagi, untuk mengangkat nama Vanesha lagi, meski saat itu gue menolak mentah-mentah, gue curiga kalau rencana itu tetap mereka lakukan tanpa persetujuan dari gue.”

“Brengsek! Kalau itu benar-benar terjadi, mungkin Fahri juga ikut campur. Apa kita ke tempat dia juga?” Troy merasa ikut marah, karena ia merasa jika mereka hanya dijadikan ladang bisnis untuk kepentingan pribadi beberapa orang.

“Menurut gue, kita memang harus menghubungi Fahri.” Ken kembali megusulkan.

“Ya. Kita akan kesana, sebelum ke tempat management Vanesha.” Itulah keputusan yang diambil Jiro. Ellie, mungkin ia akan berhenti mencari wanita itu sebentar. Jiro tahu Mei berbohong, Ellie pasti sedang bersama dengan Mei, dan ketika wanita itu bersama dengan Mei, maka tak ada yang perlu ia khawatitrkan. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana menyelesaikan masalahnya ini  agar tidak berlarut-larut.

***

Jiro semakin tak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia, Ken dan juga Troy sudah menemui Fahri, tapi lelaki itu menegaskan bahwa semua pemberitaan tak ada hubungannya dengan lelaki tersebut. Fahri sendiri tidak tahu bahwa akan timbul skandal lainnya tentang Jiro.  Ia sudah menolak tawaran dari management Vanesha jadi tak ada alasan pihak management Vanesha untuk membawa Jiro dalam drama skandal yang mereka ciptakan.

Fahri kini bahkan sudah ikut serta menuju ke tempat management Vanesha, meluruskan bahwa seharusnya hal ini tak terjadi.

Sudah hampir seperempat jam, kempatnya berada di ruang tunggu, hingga kemudian tak lama orang yang mereka tunggu akhirnya tiba juga. Toni, si Manager Vanesha menyambut mereka dengan ramah. Keempatnya bahkan sudah dipersilahkan masuk ke ruangan lelaki tersebut. Belum lama mereka masuk, Vanesha juga datang dan ikut bergabung di ruangan tersebut.

“Sepertinya ada hal serius hingga kalian semua datang kemari.” Toni membuka suara.

“Bukan tentang gosip yang beredar, kan?” Vanesha menambahi.

“Toni, kita berdua sudah sepakat, bahwa tak akan ada skandal lagi. Jiro dan The Batman sudah berada di penghujung karir mereka, bagaimana mungkin kalian menciptakan skandal baru hingga viral seperti ini?” Fahri yang menjelaskan karena lelaki itu yang mampu mengendalikan emosinya saat ini. sedangkan Jiro, Jiro tampak hanya diam, kedua telpak tangannya mengepal, saat ingat bahwa masalah ini membawa dampak buruk bagi kehidupan rumah tangannya dengan Ellie.

“Maaf, tapi kami tidak memiliki cara lain lagi agar nama Vanesha kembali terangkat.”

Jiro menggebrak meja di hadapannya seketika hingga membuat semua yang ada di sana menatapnya dengan penuh kengerian.

“Bajingan kalian semua! Apa kalian nggak mikir kalau gosip murahan ini sangat ngerugiin gue?!” Jiro berseru keras. Selama ini, Jiro dikenal sebagai orang yang dewasa, yang paling bisa mengendalikan dirinya, tapi kini, pandangan itu seakan lenyap seketika.

“Jiro, tenang.” Ken menenangkan temannya.

“Gue nggak bisa tenang jika ini menyangkut tentang masa depan gue dengan Ellie, Ken!” Jiro kembali berseru keras. “Hubungan gue dengan Ellie sangat rawan, banyak retakan-retakan kecil yang nggak sengaja gue ciptain sejak empat tahun yang lalu. Dan kini, semuanya seakan hancur karena masalah sialan ini. Dia Ninggalin Gue!” Jiro benar-benar tak dapat menahan dirinya lagi dari emosi yang meluap-luap didalam dirinya.

“Siapa Ellie?” Vanesha membuka suaranya.

“Istriku. Perempuan yang menyambutmu di apartmenku.” Bahkan Jiro sudah tak peduli jika nanti management Vanesha membocorkan hal ini didepan publik.

“Jadi, elo benar-benar sudah nikah?” Toni tak percaya dengan apa yang dikatakan Jiro.

“Ya. Dan sekarang istri gue sedang kabur karena berita murakan yang elo buat.” Sungguh, Jiro benar-benar sangat marah dengan pihak management Vanesha.

“Jiro, maaf, kami nggak bermaksud membuat seperti iu, kami hanya…”

“Gue nggak perlu kata maaf dari kalian!” Jiro memotong kalimat Toni. “Yang gue perlukan adalah, agar kalian segera menyelesaikan kekacauan ini tanpa membawa nama gue terlalu jauh.”

“Tapi ini akan sulit. Maksudnya, foto itu sudah viral, meski itu ahanya sebuah editan, akan sulit untuk mengklarifikasinya.”

“Kita hanya perlu membuat preskon.” Troy membuka suaranya.

“Lagi?” Ken menatap Troy penuh tanya. Ken benar-benar muak dengan acara seperti itu. Acara dimana media akan mengorek tentang mereka.

“Bukan kita, tapi pihak Vanesha.” Jawab Troy.

“Lalu? Kita akan mengaku kalau itu hanya sebuah editan untuk menaikkan namaku? Yang benar saja.” Vanesha menyahut.

“Kalau begitu kalian hanya perlu mencari kambing hitamnya.” Lanjut Troy. “Siapa akun pertama yang mengunggah foto itu? Kalian hanya perlu bekerja sama dengannya.”

“Pengunggahnya adalah fansbase kami. Dan, memang kami yang meminta mengunggah foto tersebut dengan caption profokatif.”

“Sempurna.” Troy bertepuk tangan. “Kalian hanya perlu mengatakan pada media kalau itu hanya ulah iseng fans Vanesha, tidak ada kejadian dan juga skandal seperti itu. Selesai, kan?”

“Tidak akan semudah itu, Troy!” Vanesha tidak setuju. “Bagaimana dengan  imageku? Aku nggak mau disebut-sebut sebagai satu-satunya orang yang berharap adanya hubungan ini.”

“Ya. Apalagi jika suatu saat nanti Jiro mengumumkan tentang status pernikahannya, media dan publik akan mengusik atau bahkan menghujat Vanesha karena sudah menggoda suami orang.” Toni menambahi.

“Kalau begitu kalian hanya perlu menunjukkan bahwa Vanesha memiliki kekasih lain, dan itu bukan Jiro. Gosip tentang Vanesha dan Jiro hanya dari sebuah fansbase yang berkembang menjadi spekulasi publik. Gampang, bukan?”

“Masalahnya, aku nggak punya kekasih, Troy.”

“Punya.” Troy menjawab cepat. “Aku mau mendampingimu.” Lanjutnya lagi.

“Troy?” Jiro menatap Troy penuh tanya.

“Gue ngelakuin semua ini buat elo.” Ucap Troy pada Jiro. “Gue tahu, elo tulus dengan Ellie, elo hanya nggak tahu bagaimana cara nunjukinnya. Gue hanya bisa bantu dengan cara seperti ini, sisanya, elo harus berusaha sendiri.” ucap Troy sembari menepuk bahu Jiro.

“Tapi, elo akan terjerat dengan gosip-gosip ini kedepannya, Troy.”

“Gampang saja. Nanti, kita hanya perlu klarifikasi kalau kita sudah putus.” Troy menatap Vanesha seakan meminta dukungan. Sedangkan Vanesha hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia tidak bisa berbuat banyak. Lagi pula, apa bedanya Troy dengan Jiro? Tak ada. Keduanya sama-sama bersinar dengan The Batman, jadi, dalam keadaan seperti ini, ia masih diuntungkan.

“Oke, kalau begitu, kita sepakat untuk mengadakan klarifikasi malam ini juga.” Fahri membuka suaranya. “Dan elo.” Fahri menunjuk ke arah Toni. “Gue harap elo nggak ngelakuin hal seperti ini lagi. Kalau elo bukan temen gue, mungkin elo sudah gue tuntut karena pencemaran nama baik.”

Bukannya takut, Toni malah tertawa lebar. “Iya, iya, sorry. Ini yang terakhir kalinya.”

Semua merasa senang, karena menemukan solusi untuk permasalahan tersebut. Tapi tidak dengan Jiro, masalahnya dengan Ellie belum selesai. Ia tidak yakin bahwa Ellie mau mempercayainya lagi. Lagi pula, ia belum menemukan keberadaan wanita itu. Ya Tuhan! Dimana Ellie berada?

***

 

Tepat jam sebelas malam, Jiro sampai di kamarnya. Kamarnya yang sudah kosong tanpa Ellie di sana. Jiro meleparkan diri di atas ranjang. Kemudian menatap langit-langit kamarnya.

Klarifikasi tadi berjalan dengan lancar. Semua pertanyaan awak media sudah terjawab. Meski hingga kini, Jiro belum buka mulut tentang status pernikahannya dengan Ellie. Jiro tidak mau mengaku dalam keadaan terdesak seperti ini. jika ia kan mengaku, maka ia akan mengaku karena ia ingin, bukan karena terdesak.

Kebanyakan, tadi Troy yang membuka suara. Temannya itu mungkin bisa dianugrahi awards atas aktingnya yang cemerlang. Sedangkan Jiro hanya diam. Ia tidak berkata sepatah katapun. Banyak pertanyaan yang ditunjukkan padanya, tapi Jiro memilih bungkam.

Jiro menghela napas panjang. Ia duduk, mengusap wajahnya dengan kasar. Ellie… kemana perginya wanita itu? Astaga, Jiro bisa gila jika tidak segera menemukannya.

Kemudian Jiro berinisiatif menghubungi Mei lagi, semoga saja perempuan itu mau mengangkat teleponnya.

“Halo.” Jiro sangat bersyukur karena dalam deringan kedua, Mei mengangkat telepon darinya.

“Mei! Ya Tuhan!” Jiro benar-benar berharap bahwa Mei kembali bersikap baik padanya.

“Ada apa lagi? Kamu nggak tahu kalau ini sudah malam?”

“Mei. Kumohon. Tolong. Katakan dimana Ellie.”

“Maaf, Jiro.”

“Mei. Please…” Astaga, Jiro tak pernah memohon seperti ini pada seseorang. “Aku nggak bisa tenang saat aku belum tahu dimana dia berada. Tolong, katakan padaku dimana dia.”

“Jiro. Kamu sudah terlalu banyak…”

“Aku tahu.” Jiro memotong kalimat Mei. “Aku sudah terlalu banyak membuat salah. Aku hanya ingin tahu dimana dia berada. Tolong, aku ingin menebus semuanya, Mei. Tolong….” Jiro benar-benar merendahkan harga dirinya untuk memohon pada sosok Mei. Ya Tuhan, ia benar-benar tak pernah berbuat seperti ini sebelumnya.

Terdengar helaan napas dari seberang. “dia di rumahmu.” Ucap Mei kemudian.

Jiro mengerutkan keningnya. Ia bangkit seketika dan mencari keberadaan Ellie. “Jangan bercanda, Mei! Aku sudah mencari hingga ke sudut rumah ini, tapi aku tidak menemukan dimana dia berada.”

Mei mendengus sebal. “Dia di rumahmu yang lainnya, Jiro. Rumah orang tuamu.” Jiro membulatkan matanya seketika. Ia tidak percaya bahwa Ellie akan kabur ke rumah orang tuanya. Sial! Ini tak akan menjadi sesederhana yang ia pikirkan jika orang tuanya ikut campur didalam urusan rumah tangga mereka nantinya.

Jiro akan mati, ya, ia akan mati ditangan ayahnya.

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 18

Leave a comment Standard

 

Bab 18

 

 

 

Siang itu, Ellie sedang bersantai di rumah dengan ditemani Mei. Jiro sedang keluar, karena ada acara dengan personel The Batman. Jika sebelumnya, Ellie merasa sebal karena alasan tersebut, maka kini, Ellie tidak merasakan perasaan tersebut.

Ellie hanya berpikir bahwa Jiro mungkin sedang melakukan kewajiban terakhirnya sebelum benar-benar vakum dari dunia hiburan. Dan hal itu bukanlah sebuah masalah untuk Ellie, mengingat Jiro sudah menepati janjinya untuk selalu berada di sisi Ellie.

Ya, selama beberapa hari terakhir, hubungan mereka berdua memang semakin dekat. Jiro selalu pulang ke rumah mereka, selalu memeluk Ellie ketika malam, perhatian dengan Ellie, dan seakan tidak mempedulikan jika mungkin saja ada media yang sedang menguntitnya atau mencari tahu tentangnya.

Jiro kembali memposisikan diri sebagai suami dan calon ayah yang perhatian, bagi Ellie, hal itu sudah cukup. Meski Jiro tak akan pernah mempublikasikan hubungan mereka di depan umum, Ellie tak akan menuntut lebih andai saja Jiro melakukan hal ini sejak dulu.

Ellie menyantap bubur gandum buatanya, ketika Mei mulai mengajaknya bergosip ria di ruang tengah didepan televisi.

“Jadi beneran ya kalau Bianca itu sedang hamil juga?”

“Iya.” Ellie menjawab cuek karena ia memilih fokus dengan bubur gandumnya.

“Gila, instagramnya penuh hujatan.” Ucap Mei setelah kemarin ia sempat berkunjung ke halaman akun sosial media milik Bianca.

“Itu sudah resikonya menjadi kekasih selebritis.”

“Kalau kamu ada di posisi Bianca, bagaimana?”

“Aku tidak punya sosial media. Bagaimana aku bisa ada di posisinya?”

“Ya Tuhan Ellie! Ini kan perumpamaan saja.” Sungguh, Mei merasa sebal dengan jawaban Ellie yang polos dan terkesan cuek.

“Ya, mau bagaimana lagi, mungkin aku akan menutup semua akun sosial mediaku.”

“Rupanya kamu tidak sekuat Bianca, ya?” Ejek Mei.

“Jangan salah, aku lebih kuat dari dia. Buktinya aku bisa bertahan selama ini dengan orang seperti James.”

Mei tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Ellie. Ellie memang benar, Ellie adalah perempuan terkuat versi dirinya. Kemudian, tawa Mei lenyap seketika saat ia melihat berita di Tv yang ada di hadapan mereka.

“Vanesha, apa komentar kamu tentang hal ini?”

“Bagaimana bisa foto-foto syur kalian tersebar?”

“Bagaimana komentar kamu tentang Jiro yang katanya sudah beristri?”

Pertanyaan tersebut dilontarkan lagi dan lagi oleh beberapa wartawan pada sosok cantik berkacamata hitam yang tampak fokus berjalan dan bungkam, seakan tak mengindahkan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

“Apa yang terjadi?” tanya Mei sembari menyaringkan volume Tv  di hadapannya.

“….. Foto-foto Syur seorang perempuan dan seorang lelaki di dalam hotel yang diduga mirip dengan Vanesha dan Jiro The Batman beredar luas di sosial media pagi ini. hal itu membuat gempar warga Net. Jiro sendiri belum dapat dihubungi untuk mengonfirmasi berita yang beredar. Pasalnya, sejak gosip tentang dirinya yang sudah menikah beredar luas, Bassis The Batman itu sudah sangat sulit untuk ditemui para awak media. Sedangkan Vanesha sendiri masih bungkam seribu bahasa dan memilih pergi ketika awak media berbondong-bondong menyerbunya ketika keluar dari gedung managementnya…”

 Kalimat tersebut menjadi backsoud dari kolase potongan foto-foto yang ditampilkan oleh acara gosip tersebut.

Mei segera menatap ke arah Ellie, dan Ellie sudah memucat dengan wajah ternganga ketika melihat berita di hadapannya tersebut.

“Ellie, jangan mudah percaya.” Mei berkata dengan cepat, padahal Mei sendiri tidak yakin, apa Jiro tidak melakukan semua itu.

“Bagaimana bisa? Bagaimana bisa mereka berfoto seperti itu?” Ellie bertanya-tanya. Matanya sudah berkaca-kaca, dan Mei tahu bahwa hal ini tak akan baik untuk kelanjutan hubungan Ellie dengan Jiro.

“Ellie Tolong.” Mei mendekat ke arah Ellie, menggenggam erat telapak tangan wanita tersebut. “Kita akan cari tahu dulu kebenarannya, oke? Jangan dipikirkan.”

“James, bagaimana mungkin dia melakukan hal itu….”

***

Jiro baru saja selesai kumpul dengan Troy dan Ken di sebuah kafe yang sangat privat, dan membicarakan penampilan terakhir mereka nanti di sebuah acara musik. Mereka ingin jika acara tersebut berjalan dengan sukses, dan tak ada kendala. Karena penampilan mereka di acara tersebut akan menjadi penampilan terakhir yang akan dilihat oleh publik.

Jason masih fokus dengan Bianca, dan rencana pernikahan mereka, tapi Jiro dan yang lain tak mempermasalahkannya. Bagaimanapun juga, mereka sudah memutuskan untuk berhenti, meski ada beberapa hal yang tetap harus mereka selesaikan.

Ketika Jiro, Ken dan Troy keluar dari dalam kafe tersebut, para awak media sudah menyerbu mereka. Sial! Pasti ada salah seorang pelayan kafe yang membocorkan keberadaan mereka di depan wartawan.

Lagi pula, apalagi yang mereka inginkan? Bukankah semua sudah dijelaskan saat jumpa pers beberapa hari yang lalu?

Jiro, Ken dan Troy memilih bungkam dan tetap berjalan menuju ke arah mobil mereka. Mereka memang bertemu di studio Jason dan ke kafe tersebut dengan satu mobil. Tapi kemudian, pertanyaan seorang wartawan mampu menghentikan langkah Jiro seketika.

“Bagaimana tanggapanmu tentang foto-foto syur yang diduga milikmu dan juga Vanesha tersebar dan viral di media sosial pagi ini?”

Jiro menghentikan langkahnya seketika dan menatap wartawan tersebut dengan keterkejutan yang amat-sangat. “Apa?”

“Apa kamu belum tahu tentang berita tersebut?”

“Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”

“Jadi benarkah Vanesha adalah kekasihmu?”

“Bagaimana dengan perempuan yang dicurigai sebagai istrimu?”

Jiro masih membeku, ia bahkan tak mampu mencerna pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan media kepadanya, ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, ia tidak mengerti kenapa beritanya jadi seperti ini. Dan tentang foto, foto apa maksudnya?

Saat Jiro tak mampu menggerakkan badannya karena keterkejutan tersebut, saat itulah ia merasakan Troy menggelandangnya dengan paksa untuk segera masuk ke dalam mobil mereka.

“Brengsek! Apa-apaan itu.” Troy mengumpat keras saat ketiganya sudah ada di dalam mobil tersebut.

“Jiro, apa yang sedang terjadi?” Ken menatap Jiro penuh tanya, sedangkan Jiro masih membatu, mencoba mencerna semuanya.

Foto-foto syur tersebut, bagaiamana rupanya? Sepanjang pagi ia memang tidak membuka sosial media. Jiro bukan orang atau artis yang diperbudak oleh sosial media, sangat jarang ia membuka akun sosial medianya. Dan kini, Jiro ingin membukanya.

Secepat kilat Jiro mengeluarkan ponsel pintarnya, membuka sosial medianya, dan seketika itu juga matanya membulat mendapati feednya dipenuhi oleh berita-berita tentang dirinya dan juga Vanesha.

“Apa-apaan ini?” Jiro mendengus sebal. Ia masih membuka lagi dan lagi berita tentang dirinya dan juga Vanesha. Benar-benar menggemparkan Warga Net.

“Jiro, elo masih beneran berhubungan sama dia? Ya Ampun, setelah gue bilang kalau gue pernah nidurin dia?” Troy masih tak percaya jika Jiro mengiyakan pertanyaannya.

“Enggak.” Jiro menjawab cepat. “Gue nggak ada hubungan apapun sama Vanesha.”

“Kalau gitu, kenapa bisa ada foto-foto itu? Sial! Elo nggak mikirin perasaan Ellie apa?”

“Ellie?” Ya Tuhan! Jiro bahkan baru mengingat tentang istrinya tersebut. Jiro sangat berharap bahwa Ellie tidak melihat atau mendengar tentang berita murahan ini. hubungan mereka selama beberapa hari terakhir sudah sangat bagus, mereka sudah layaknya sepasang suami istri yang normal. Jiro tak ingin semuanya hancur dalam sekejap mata karena hal ini.

“Gue harus pulang.” Ucap Jiro kemudian.

Troy dan Ken setuju. Akhirnya mereka memutuskan untuk segera mengantar Jiro pulang ke rumahnya.

***

Sampai di rumah, Jiro segera keluar dari dalam mobil dan melesat masuk ke dalam. Ia memanggil-manggil nama Ellie sembari mencari-cari keberadaan wanita itu. Tapi nihil, Ellie tidak ada di sana.

“Ellie…” lagi, Jiro memanggil-manggil nama Ellie. Jiro bahkan sudah mencari Ellie di kamar mereka. Tapi Ellie benar-benar tak ada di sana, rumah itu kosong.

Jiro membuka lemari pakaian yang ada di sana, dan tubuhnya bergetar hebat ketika mendapati lemari-lemari itu kosong. Ellie benar-benar pergi, wanita itu membawa semua pakaiannya. Tapi pergi kemana?

Jiro melesat keluar, menuju ke arah kedua pengawal yang ada di luar rumahnya. Dan bertanya pada mereka.

“Dimana Ellie?!” Jiro bahkan tak bisa menahan emosinya. Ia berseru keras karena masih tak percaya bahwa Ellie benar-benar meninggalkannya.

“Maaf, maksud Tuan?”

Jiro segera mencengkeram kerah Si Pengawal. “Dengar! Ellie pergi! istriku pergi dari rumah! Apa yang sudah kalian kerjakan sepanjang hari sampai kalian tidak tahu bahwa dia pergi dari rumah?!”

“Jiro. Apa yang terjadi?” Ken bertanya, ia dan Ken segera mendekat ke arah Jiro yang tampak tak dapat mengontrol emosinya.

“Nyonya memang keluar, tapi dengan Nona Mei.”

“Oh ya? Kemana mereka pergi? Apa kalian tahu?” tantang Jiro. Tapi kedua pengawalnya itu hanya menundukkan kepalanya saja.

“Jiro.” Ken masih mencoba menenangkan Jiro.

Jiro lalu melepaskan cengkeramannya pada kerah baju yang dikenakan Si pengawal. Lalu ia mengusap rambutnya sendiri dengan kasar. “Dia pergi, dia benar-benar pergi.”

“Apa maksud elo?” kali ini Troy yang bertanya.

“Ellie, dia pergi. Semua pakaiannya tidak ada di dalam lemari. Dia benar-benar pergi. Sial!” sungguh. Jiro tampak tak dapat menahan emosinya. Lelaki itu tampak sangat kacau. Padahal sebelum-sebelumnya, Troy dan Ken tak pernah melihat Jiro sekacai ini. Jiro selalu bersikap dewasa dan bisa mengendalikan dirinya. Tapi sekarang…

“Dia pergi dengan Mei. Apa nggak bisa kita hubungi Mei saja? Atau, kita langsung ke rumahnya.”

Tanpa banyak bicara, Jiro mengeluarkan ponselnya. Ia mencoba menghubungi Mei, tapi Mei tidak mengangkatnya. Tentu saja Jiro tahu bahwa Mei akan selalu berada di kubu Ellie ketika ia bermasalah dengan Ellie seperti saat ini. satu-satunya cara untuk mengetahui dimana keberadaan Ellie adalah ia harus mendatangi rumah Mei. Semoga saja ia mendapati Ellie di sana.

Akhirnya, Jiro memutuskan untuk menuju ke rumah Mei ditemani dengan Troy dan juga Ken saat itu juga. Semoga saja Ellie ada di sana. Jika tidak, Jiro tidak tahu harus mencari Ellie kemana lagi.

***

Sampai di rumah Mei, tak ada tanda-tanda jika wanita itu ada di rumahnya. Rumah tersebut kosong, tak tampak juga mobil Mei di garasi rumahnya, pertanda jika memang Mei tak ada di sana. Jiro semakin bingung di buatnya.

Jiro kembali mencoba menghubungi Mei. Tapi berkali-kali ia menghubungi wanita itu, berkali-kali pula panggilannya ditolak.

“Brengsek Mei!” Sungguh, Jiro tak pernah merasa semarah ini. ia tak pernah merasa segila ini. ia harus segera menemukan Ellie, secepatnya.

“Tenang. Coba gue hubungi pakai nomor gue.” Ken mencoba menenangkan Jiro. Ia mulai menghubungi Mei. Satu kali, dua kali, dan pada panggilan ketiga, wanita itu akhirnya mengangkat teleponnya.

“Siapa?”

“Mei, ini…”

“Brengsek Mei!” belum sempat Ken melanjutkan kalimatnya, Jiro sudah merampas ponselnya kemudian mengumpat keras pada wanita di seberang. “Dimana Ellie? Katakan dimana istriku?!”

“Oohh…” dengan begitu menjengkelkan Mei hanya menjawab dengan nada enggan.

“Sial! Aku tidak sedang bercanda. Katakan, dimana dia?!”

“Dia pergi.” Lagi-lagi Mei menjawab dengan nada enggan.

“Sialan! Katakan! Kemana dia pergi?!”

“Dia pulang. Ke negaranya. Apa kamu puas?”

Jiro membeku seketika. “Apa? Enggak. Nggak mungkin!” Ya. Ellie tidak mungkin pergi meninggalkannya, meninggalkan negara ini dalam keadaan hamil besar. Logikanya, tak akan ada penerbangan yang mau menerimanya. “Kamu jangan mengada-ngada. Dimana dia?!”

“Yang pasti dia tidak sedang bersamaku.” Setelah itu panggilan ditutup.

“Mei! Mei! Sialan!” Jiro berseru keras. Sungguh, Emosinya tak dapat terbendung lagi. Ia menenggelamkan wajahnya pada kedua belah telapak tangannya kemudian menyesali apa yang sedang terjadi.

Ya Tuhan! Kenapa jadi seperti ini? Jiro ingat dengan jelas bagaimana hari-hari terakhir ia lalui dengan Ellie. Ellie begitu menyayanginya, wanita itu sangat mendukung apa yang akan ia lakukan karena wanita itu tahu bagaimana semua ini akan berakhir. Mereka akan berakhir bersama sebagai suami istri yang sesungguhnya. Ia akan selalu menemani Ellie, merawat wanita itu dan juga anak mereka, mersama-sama. Tapi kini…..

Jiro ingat, bagaimana sikap manja Ellie tadi pagi, sebelum ia pergi meninggalkan wanita itu…

“James….” Jiro merasakan lengan Ellie melingkari perutnya dari belakang. Jiro menegang seketika. Beberapa hari terakhir, hubungan mereka memang sudah sangat dekat, lebih dekat dari sebelum-sebelumnya, tapi ia tidak pernah merasakan Ellie semanja ini dengannya.

“Ada apa?” tanya Jiro sembari menahan diri. Saat ini, Jiro baru saja selesai mandi. Hanya mengenakan kaus dalam dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya.

“Kamu mau pergi lagi, ya?” Ellie bertanya dengan nada manjanya.

“Iya. Ada janji sama Ken, sama Troy.”

Ellie terdiam, tapi wanita itu masih setia memeluknya dari belakang. Hal tersebut membuat Jiro melepas paksa pelukan Ellie, lalu berbalik menatap ke arah istrinya tersebut.

Jiro meraih dagu Ellie kemudian mengangkatnya hingga membuat Ellie mendongak ke arahnya. “Katakan, apa yang kamu inginkan?” tanyanya dengan suara yang entah kenapa sudah serak.

Jiro tahu bahwa saat ini dia sudah tersulut gairahnya karena sikap manja yang ditunjukkan Ellie padanya. Ellie tak pernah bermanja-manja ria dengannya seperti tadi, dan entah kenapa. Sikap manja yang ditampilkan wanita itu membuat Jiro tertarik, tersulut gairahnya hingga menegang dan ingin segera dipuaskan.

“James, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi denganku, tapi aku hanya tahu bahwa aku menginginkan kamu.” Ellie berkata dengan jujur, dengan ekspresi polosnya. Hal itu tak mampu membuat Jiro untuk menahan diri lagi.

Secepat kilat Jiro menundukkan kepalanya kemudian mencumbu lembut bibir Ellie. Bibir yang selalu menggodanya. Ellie membalas cumbuan tersebut, dengan berani ia bahkan sudah melepaskan handuk yang melilit di pinggul suaminya hingga kini Jiro sudah berdiri setengah telanjang hanya mengenakan kaus dalamnya saja.

Jiro melepaskan tautan bibir mereka. Ia menatap tubuh bagian bawahnya sendiri, lalu tersenyum dan menatap ke arah Ellie.

“Jadi, istriku sekarang mulai berani, ehh?”

Ellie terkikik geli, wajahnya merah padam. Ia sendiri juga tak menyangka bisa melakukan hal seberani itu. “Uuum, aku… aku….”

Ellie tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena secepat kilat Jiro meraih dagunya, mencumbunya kembali hingga keduanya kembali tersulut oleh gairah, tenggelam dalam kenikmatan yang mereka ciptakan.

-TBC-

My Pretty Girlfriend – Bab 2

Leave a comment Standard

 

Bab 2

 

Kesha kembali ke rumahnya saat waktu sudah menunjukkan pukul Enam sore. Saat dirinya baru saja mengganti pakaiannya, ponselnya berbunyi. Kesha melirik sekilas, dan terdapat nama Ken di sana.

Setelah mendesah panjang, Kesha akhirnya mengangkat panggilan tersebut.

“Dimana?” tanya Ken tanpa basa-basi lagi.

“Di rumah.” Kesha menjawab pendek.

“Temui aku.”

“Ken, aku…”

Aku tidak akan menidurimu.” Terdengar suara lelaki itu sedikit menahan kemarahan. “Temui aku di sebuah kafe. Akan kukirimkan alamatnya lewat pesan.”

“Tapi Ken…” panggilan ditutup. Kesha tahu bahwa Ken sedang tidak ingin ditolak. Setelah mendesah panjang lagi, Kesha bangkit, mengganti pakaiannya, kemudian bergegas setelah ia mendapati pesan Ken yang menunjukkan dimana letak tempat Ken menunggunya.

***

Restaurant itu sepi. Itulah kesan pertama yang ada dalam pikiran Kesha. Apa Ken sedang mengerjainya?

Seorang pelayan datang menghampiri Kesha, dan Kesha di bimbing menuju ke sebuah ruangan yang cukup Privat. Rupanya, Ken sudah menunggunya di sana.

Lelaki itu sudah duduk dengan gagah di sebuah kursi, sedangkan meja di hadapannya sudah penuh dengan bergabai macam menu makanan.

Apa Ken sedang mengadakan pesta?

Kesha akhirnya mendekat, dan ketika Ken memepersilahkan Kesha duduk, yang dapat Kesha lakukan adalah menuruti kemauan lelaki itu.

“Makanlah.”

Suara Ken terdengar begitu dingin, perintahnya seakan tak ingin dibantah, dan yang dapat Kesha lakukan adalah menuruti apapun kemaua lelaki itu.

Kesha duduk dengan tenang, tapi ia belum juga menyentuh makanannya. Hal ini sedkit aneh. Ken begitu membencinya tapi kenapa Ken melakukan hal ini padanya? Seakan memanjakan dirinya dengan banyak makanan enak bahkan di restaurant yang mewah dengan privat.

“Kenapa tidak makan?” tanya Ken dengan nada dinginnya.

“Apa yang kamu rencanakan?” Kesha bertanya dengan terang-terangan.

“Ckk, jadi kamu mencurigai niat baikku?” Ken mendesis sinis. “Makan dan habiskan semua makanan di hadapanmu. Aku tidak suka melihat tubuhmu yang semakin hari semakin kurus.”

Dalam diam, Kesha menuruti saja apapun yang diperintahkan Ken padanya. Tak ada gunanya melawan lelaki ini. Lebih baik ia menuruti kemauan Ken setelah itu ia bisa pergi dari hadapan lelaki ini secepatnya.

Disisi lain, Ken manatap Kesha dengan tatapan menyelidik. Jemarinya meraih wine di hadapannya, menggoyangkan gelasnya sebelum menyesap isinya,. Matanya masih mengamati Kesha yang tampak memakan hidangan dihadapan mereka tanpa selera.

“Kalau kamu nggak suka sama makanannya, kamu bisa memesan yang lain.” Ken berkomentar, tapi Kesha tak menghiraukannya. Wanita itu hanya makan seperti yang diperintahkan Ken meski matanya tak tampak menikmati hidangan dihadapannya. Hal itu membuat Ken kesal.

Ken kembali bungkam dan memilih hanya menatap Kesha yang masih setia menyantap hidangan makanan di hadapan mereka.

Tak lama, Kesha menghabiskan makanan di hadapannya, dia meminum air putih yang tersedia di sebelah piringnya, mengelap ujung bibirnya dengan kain yang sudah disediakan. Kemudian wanita itu berdiri.

“Aku sudah selesai, terimakasih makan malamnya.” Kesha berharap dirinya bisa pergi meninggalkan Ken secepatnya, tapi ia salah.

“Duduklah kembali.”

“Apa yang kamu inginkan?”

“Aku belum selesai. Duduklah kembali.” Ken tidak meminta, kalimat itu lebih terdengar sebagai sebuah perintah.

Kesha menuruti saja apa yang diinginkan Ken.

Lalu lelaki itu mulai membuka suaranya kembali. “Aku butuh asisten pribadi.”

“Maaf, aku nggak bisa.” Kesha menjawab cepat. Jika Ken ingin ia bekerja lagi dengan lelaki itu, maka Kesha akan menolaknya. Bukan karena ia tidak menyukai pekerjaan tersebut, tapi karena ia memang tidak bisa melakukannya.

Sudah cukup Kesha merasa sesak saat harus bekerja dengan Ken di atas ranjang lelaki itu. Kesha tak ingin hari-harinya ia habiskan dengan Ken dan membuat hatinya pilu mengingat masa lalu mereka. Kesha tak ingin hal itu terjadi.

Well, sayangnya, aku sedang tidak memintamu untuk melakukannya.”

“Lalu?”

“Lebih tepatnya, aku memaksamu.”

“Aku sudah kerja, Ken. Aku tidak bisa menjadi asisten pribadimu lagi.”

“Sayangnya, besok aku akan membuatmu dipecat dari pekerjaanmu itu.”

“Tidak!” Kesha berseru keras. “Jangan lakukan itu. Aku menyukai pekerjaanku.” Lanjut Kesha lagi. Ya, dengan bekerja di salon, setidaknya ia memiliki sedikit penghasilan untuk kebutuhan hidupnya. Kesha juga bisa melupakan kehidupan kelamnya karena berinteraksi dengan orang baru setiap harinya, dan yang terpenting, Kesha memiliki Mr. X di sana. Seorang yang selalu mengirim minuman manis dan membuat harinya sedikit lebih manis.

“Dan aku sudah membayar di muka.”

Kesha mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?”

“Lima puluh juta sebulan pada ibumu, dan kamu akan tinggal bersamaku.”

“Tidak, Ken.”

“Ya. Dia sudah menandatangani kontraknya, dan jika kamu menolak, maka aku bisa menjebloskannya ke penjara.”

“Tidak, kamu tidak akan sekejam itu, Ken.”

“Jika Ken yang dulu kamu kenal memang ya, dia tak akan sekejam itu. Tapi Ken yang ada di hadapanmu adalah Ken yang berbeda. Ken yang sudah dicampakan oleh perempuan jalang hingga membuatnya nyaris gila.” ucapnya penuh arti.

“Kenapa Ken? Kenapa? Apa tujuanmu sebenarnya?” lirih Kesha.

Ken bangkit, ia mengitari menja dan berhenti tepat di belakang kursi yang diduduki Kesha. Ken lalu memenjarakan tubuh Kesha di hadapannya. Lengannya yang kokoh bertumpu pada meja di hadapannya. Tubuhnya sedikit membungkuk, membuat Kesha mau tidak mau terintimidasi dengan apa yang dilakukan lelaki itu padanya.

“Kamu tahu tujuanku, Kei.” Bisik Ken dengan serak, ia kembali memanggil Kesha dengan panggilan sayangnya dulu, hanya Ken dan ibunya yang memanggilnya dengan panggilan tersebut. “Aku ingin kamu merasakan apa yang kurasakan selama dua tahun terakhir. Rasanya sakit, dan sesak, seperti jiwaku dipaksa untuk meninggalkan ragaku. Aku nyaris gila saat kamu meninggalkanku demi pria lain. Dan aku akan membalaskan apa yang kurasakan saat itu padamu, Kei…”

Kesha bergidik ngeri dengan ucapan Ken yang pelan, penuh penekanan serta sarat akan sebuah ancaman mengerikan. Ken tampak begitu dendam dengannya. Sedalam itukah kebencian lelaki ini padanya?

Ken lalu menegakkan tubuhnya kembali, dengan dingin dia berkata “Sekarang, ambil barang-barangmu secukupnya, mulai malam ini, kamu akan tinggal di tempatku.”

Kesha menggelengkan kepalanya, meski sebenarnya ia tahu bahwa ia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan Ken. Ya, jika tidak, Ken benar-benar akan menjebloskan ibunya ke penjara, dan Kesha tidak ingin hal itu terjadi.

***

Ken memarkirkan mobilnya di halaman gedung apartmen tempat dimana Kesha dan ibunya tinggal. Meski Kesha tampak miskin dan menyedihkan, wanita itu memang tinggal di kawasan apartmen yang cukup mewah. Itu adalah gaya hidup ibunya sejak dulu. Sedikit banyak Ken tahu karena dulu, sejak sekolah, Kesha sering bercerita dengan Ken tentang hal ini.

Kedekatannya dengan Ken memang begitu intim, bahkan ketika mereka tidak pernah bercinta sekalipun saat masih berpacaran dulu, kedekatan mereka lebih intim dari pasangan lainnya. Ken tahu semua tentang Kesha begitupun sebaliknya. Hingga kemuidan, wanita itu berubah dan pergi meninggalkannya. Ken tidak akan pernah melupakan masa-masa itu.

“Ambil pakaian seperlunya saja.” Ucap Ken dengan dingin.

Kesha hanya diam dan ia hanya menurut saja apapun yang dikatakan Ken. Dengan sedikit lemas, Kesha keluar dari dalam mobil lelaki itu lalu memasuki gedung apartmen tersebut. Ken yang berada di dalam mobilnya hanya menatap punggung Kesha yang semakin jauh dari pandangannya.

Hatinya terasa sakit, bahkan ketika ia mencoba membalaskan kesakitan hatinya pada sosok Kesha, Ken tetap merasa sakit. Apa yang terjadi? Seharusnya Ken puas karena kini Kesha berada dalam genggaman tangannya. Tapi saat melihat wanita itu menurut seakan tak memiliki jiwa, Ken hancur.

Ken ingat dengan jelas, saat itu, dua tahun yang lalu, ia berada di parkiran ini. Malam itu mendung, tak ada satupun bintang yang menampakan sinarnya. Ken tidak tahu bahwa malam itu akan menjadi malam terakhir ia memiliki perasaan yang bernama cinta…..

Ken keluar dari mobilnya. Ia masih mencoba menghubungi Kesha, meminta agar wanita itu turun dan menemuinya, untuk menyelesaikan masalah mereka.

Masalahnya bermula saat kemarin siang, tiba-tiba Kesha mengundurkan diri dari team Ken. Kesha memang bekerja sebagai salah satu asisten pribadi Ken. Menyiapkan segala keperluan Ken ketika Ken akan manggung dan sejenisnya. Tapi tiba-tiba, wanita itu berkata bahwa dia ingin berhenti.

Ken mencoba berpikir positif, mungkin Kesha lelah, dan ia ingin memberi Kesha waktu untuk liburan. Tapi siapa sangka, bahwa sorenya, Kesha dengan dingin berkata bahwa ia tidak bisa lagi menjadi kekasih Ken. Hubungan yang mereka bangun sejak SMA Kesha putuskan begitu saja tanpa alasan yang jelas. Ken Shock, bahkan ia tidak sempat mengejar Kesha saat wanta itu pergi meninggalkannya.

Hingga kemudian, malam ini ia datang ke tempat wanita itu untuk membahas masalah mereka. Jika Kesha memutuskannya karena wanita itu lelah akibat teror-teror dari fans fanatiknya atau dari hatersnya yang curiga dengan kedekatan hubungan mereka, maka Ken akan mencarikan jalan terbaik untuk mengatasinya asalkan mereka tidak putus. Jika Kesha memutuskannya karena wanita itu tidak sanggup menjadi kekasih gelap sang gitaris populer, maka Ken akan mengumumkan pada dunia jika ia memiliki kekasih, dan kekasihnya itu adalah Kesha, Kesha tak akan menjadi kekasih gelap Ken lagi. Bahkan jika Kesha memutuskannya karena wanita itu lelah dengan hubungan mereka yang monoton karena kesibukannya sebagai seorang artis, maka Ken akan memilih berhenti dari dunia hiburan. Ken berada pada titik dimana ia tidak bisa berpisah dengan sosok Kesha. Ia akan melakukan apapun agar wanita itu tidak meninggalkannya.

Entah dalam deringan keberapa, panggilannya akhirnya diangkat oleh Kesha. Wanita itu terdengar terisak. Ada apa? Apa Kesha menangis? Apa wanita itu juga terpaksa berpisah dengannya? Jika iya, seharusnya wanita itu tidak perlu mengusulkan untuk berpisah.

“Sayang, aku ada di parkiran. Tolong, temui aku, kita bicara baik-baik. Oke?” ucap Ken dengan lembut.

“Maaf, Ken, aku nggak bisa.”

“Kei, Aku akan nunggu kamu di sini sampai kamu nemuin aku.”

“Tolong jangan.”

“Aku tetap menunggu, Kei.” Setelah itu Ken memutuskan sambungan teleponnya. Ken tahu pasti Kesha tidak akan tega membiarkannya berada sepanjang malam di parkiran apartmen. Wanita itu terlalu lembut hatinya untuk mengabaikan keberadaan dirinya. Ken tahu itu.

Ken masih setia menunggu, hingga tak lama, ia melihat sosok itu. Kesha datang menemuinya, dan wanita itu tidak sendiri.

Seorang pria mengikuti tepat di belakang Kesha, Kesha tampak meminta pria itu berhenti dengan jarak yang cukup jauh dari Ken dan mobilnya, lalu Kesha melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ken sendiri.

“Sayang…” Ken segera meraih kedua belah telapak tangan Kesha.

“Ken, jangan.” Kesha menampik genggaman tangan Ken. Ken mengerutkan keningnya, bingung dengan sikap aneh Kesha.

“Sayang, apa yang terjadi? Tolong, jangan begini.”

Kesha berdiri dan hanya diam cukup lama, sebelum ia mulai membuka suaranya. “Kamu tahu pria di belakangku itu?” tanya Kesha kemudian. “Aku mencintainya. Maaf, aku sudah mengkhianati cinta kita.”

Bagaikan tersambar petir saat itu juga, Ken hanya ternganga, tak percaya dengan apa yang dikatakan Kesha. Ken mundur dan menggelengkan kepalanya.

“Tidak mungkin, kamu tidak mungkin melakukannya.”

“Ya, aku melakukannya. Aku sudah pacaran sama dia dibelakang kamu. Rasa cintaku kini semakin besar bahkan lebih besar lagi daripada kepadamu. Aku merasa bosan hidup menjadi kekasihmu. Kita tidak bisa berkencan, kita tidak bisa nonton bareng, dan sejenisnya. Aku tidak bisa lagi mendapatkan hal itu darimu, dan aku mendapatkan hal itu darinya.”

“Kamu nggak mungkin mutusin aku hanya harena hal sepele ini, Kei! Kamu mendukungku sejak awal, sejak kita masih sekolah dulu! Sejak aku bukan artis seperti sekarang ini. Tapi kenapa kamu berubah?!” Ken mulai berseru keras.

“Karena aku usah jenuh, Ken. Aku benci kehidupan selebritimu. Aku benci tidak bisa berkencan dengan normal, aku benci disembunyikan, dan aku paling benci dihujat sama ribuan fans-fans atau haters kamu yang sok tahu itu.”

“Kalau masalahnya hanya itu, aku akan berhenti, Kei. Aku akan berhenti demi kamu. Kembalilah padaku, kumohon.”

Kesha menggelengkan kepalanya. Mata wanita itu tampak berkaca-kaca, dan dengan reflek wanita itu mundur menjauhi Ken. “Nggak bisa. Aku sudah nggak bisa.”

“Kenapa?”

“Karena…” Kesha menggantung kalimatnya, tapi kemudan wanita itu melanjutkannya “Karena aku sudah terlanjur jatuh cinta dengan pria lain. Dia Dafa, pria yang sedang mengamati kita di belakangku.”

Ken menggelengkan kepalanya. “Jangan begini, Kei, tolong. Beri aku kesempatan lagi buat merebut cintamu. Pikirkan apa yang sudah kita miliki selama ini, Kei.”

Kesha menggelengkan kepalanya, air matanya tumpah dan dia mulai membalikkan tubuhnya. “Maaf.” Hanya itu yang diucapkan Kesha.

Tampa diduga, Ken bahkan sudah menekuk lututnya, membuang harga dirinya sebagai seorang lelaki demi cinta dan kasihnya pada seorang Kesha Kirana. “Demi Tuhan, Kei. Jangan lakukan ini. Aku sangat mencintaimu. Kamu, kamu boleh jatuh cinta pada pria lain, tapi jangan tinggalkan aku. Kumohon.”

Ken melihat Kesha tidak berbalik padanya, wanita itu hanya membatu dan tampak sesenggukan sebelum kemudian pergi begitu saja meninggalkannya, mengabaikan permintaannya, dan juga mencampakan cinta dan kasihnya. Ken tak percaya bahwa Keshanya akan melakukan hal ini padanya. Mencampakaannya hingga seperti ini.

Ken merasa hancur, jiwanya tersasa tercabut saat itu juga,. Dan seakan belum lengkap penderitaaannya, hujan tiba-tiba turun, mengguyur tubuh Ken, menyamarkan airmata lelaki itu. Ken tetap di sana, dalam posisi berlutut, dengan hujan mengguyurnya, mengikis semua perasaan cintanya, hingga pagi menjelang….

***  

Kesha memasukkan beberapa potong bajunya. Dari sudut matanya, Lira, Sang Ibu menatapnya sembari menyandarkan tubuhnya pada pintu, sesekali menyesap batang rokok sialannya.

“Dia pria baik, Mama tahu itu.”

“Dia adalah pria yang kejam.” Kesha meralat.

“Dia tampak mencintaimu, Kei. Kamu nggak bisa lihat matanya?”

“Yang kulihat dia begitu membenciku, Ma.” Kesha benar-benar merasa kesal dengan Ibunya. Bagaimana mungkin Ibunya melakukan hal ini padanya? Menjualnya dengan Ken?

“Mama butuh uang, Kei. Kamu harus mengerti.”

Kesha menghentikan aksinya, ia menatap ibunya dengan tatapan nanar. “Kita semua butuh uang, Ma. Tapi kita harus menyesuaikan kebutuhan kita dengan kemampuan kita. Mama nggak butuh uang sebanyak itu setiap bulannya.”

“Anggap saja ini sebagai bayaran buatku setelah aku melahirkan dan membesarkanmu.”

Oh, Kesha sudah kalah jika Ibunya sudah membahas hal itu. Kesha tahu karena Ibunya sering membahas masalah ini dengannya. Ibunya sering melimpahkan semua kesalahan padanya. Semuanya karena ibunya hamil, pacarnya pergi, ibunya sendirian melahirkan dan membesarkannya, dan setelahnya, Kesha tidak bisa menyalahkan ibunya. Selalu seperti itu jika ia dan ibunya bertengkar. Kesha selalu salah.

Lira mendekat “Dengar, Mama sudah menghabiskan separuh hidup mama untuk kamu. Tidak bisakah kamu membalasnya hanya dengan hal ini?”

“Hanya? Ini berat untukku, Ma.”

“Apa yang membuatnya berat? Dia melukaimu? Tidak bukan? Dia hanya membutuhkanmu, dan dia harus membayar karena kebutuhan itu.”

Mata Kesha berkaca-kaca. Jika sudah begini, apa bedanya ia dengan ibunya? Kesha menggelengkan kepalanya “Mama nggak ngerti, mama nggak akan ngerti apa yang pernah aku dan Ken miliki.”

“Yang mama tahu adalah bahwa apa yang kalian miliki sudah berakhir, sekarang, kamu bisa memilikinya lagi.”

Ibunya salah, Ya, ibunya salah besar. Kesha tak akan pernah memiliki cinta Ken lagi. Lelaki itu selalu menatapnya dengan tatapan kebencian, selalu memandangnya dengan tatapan merendahkan. Di mata Ken, tak ada lagi cinta untuknya. Hanya dendam dan kemarahan yang ada di mata lelaki itu. Dan Kesha tak sanggup melihat hal itu setiap harinya.

***

Kesha masuk lift saat seorang memanggil namanya. Tapi telat, lift sudah tertutup jadi orang tersebut tidak sempat mengejarnya. Orang tersebut memilih mengejar Kesha melalui tangga darurat. Ketika Kesha sudah sampai di lobi, orang tersebut memanggil-manggil nama Kesha hingga Kesha menolehkan kepalanya ke arah panggilan tersebut.

“Kesha.” Itu Dafa, lelaki itu berlari menghampirinya.

“Hai.” Hanya itu yang diucapkan Kesha. Kesha tidak menyangka akan bertemu Dafa pada saat seperti ini. “Kamu di rumah?” tanyanya.

“Ya, aku tadi baru pulang kerja dan melihatmu memasuki lift. Kamu kemana saja? Aku jarang ketemu sama kamu beberapa hari belakangan.”

Kesha tersenyum. “Aku ada sedikit kerjaan.”

Dafa lalu melirik tas besar yang sedang dibawa Kesha. “Kamu pindah? Pindah kemana? Dan ibumu?” tanyanya.

“Sementara aja, aku ada kerjaan.”

“Kerjaan apa?” Dafa mendesak.

Kesha tidak bisa menjawab. Pada saat bersamaan ponselnya berbunyi. Kesha merogoh ponselnya dan melihat si pemanggil. Rupanya itu dari Ken. “Aku harus pergi.” Hanya itu jawaban Kesha sebelum ia pergi meninggalkan Dafa.

Dafa tidak mau mengalah, ia menyusul Kesha hingga sampai di tempat parkiran. Dan rupanya, disana Kesha sudah ditunggu oleh seseorang yang Dafa tahu adalah mantan kekasih Kesha, Ken ex-The Batman. Untuk apa Kesha kembali lagi dengan pria itu?

Disisi lain, rahang Ken mengetat ketika tahu bahwa Kesha keluar dengan disusul oleh seseorang. Itu adalah bajingan yang sudah merebut Keshanya. Apa mereka masih berhubungan? Apa Kesha tinggal dengan bajingan itu?

“Maaf, aku lama.” ucap Kesha saat setelah masuk ke dalam mobil Ken.

“Aku ngerti, pasti berat mengucapkan kata selamat tinggal untuk pacarmu.” Ken berkata dengan nada dingin.

Kesha menatap Ken penuh tanya, kemudian ia menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk gedung apartmennya. Rupanya Dafa menyusulnya hingga keluar, pantas saja Ken mengucapkan kalimat seperti itu. Kesha memilih tidak membalas ucapan Ken, tapi Ken seakan tidak ingin mengakhiri penghinaannya.

“Benar-benar jalang, rupanya selama ini kamu tinggal sama dia.” gerutunya pelan, meski begitu Kesha mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Ken.

“Kupikir itu sudah bukan urusanmu lagi.” Kesha menjawab dengan tenang.

“Ya, bukan. Tapi sekarang, semua akan menjadi urusanku.” ucapnya penuh penekanan. “Ucapkan selamat datang di nerakamu, Kesha.” Lanjutnya sebelum ia menyalakan mesin mobilnya kemudian melesat meninggalkan parkiran.

-TBC-

Sedia Tissue yaa hahahhahaha

My Pretty Girlfriend – Bab 1

Leave a comment Standard

Masih ingat ini? ini kisahnya Ken. dan alhamdulillah aku sudah namatin kisah ini. tinggal di share aja di blog hehheheh ya sudah selamat membaca yaa…

kalo mau baca PROLOGnya, silahkan klik di sini….

 

Bab 1

 

Kesha membiarkan seluruh tubuhnya terguyur oleh air shower. Tubuhnya terasa sakit, begitupun dengan jiwanya. Ken benar-benar memperlakukan dirinya dengan sangat buruk. Kesha bahkan tak ingin mengingat bagaimana kasarnya lelaki itu saat menyentuhnya tadi malam.

Dulu, Ken yang dikenal oleh Kesha adalah Ken yang baik hati. Perhatian, pengertian, dan sangat menghargai yang namanya wanita. Tapi tadi malam, Kesha sama sekali tidak mengenal diri Ken. Apa karena dirinya? Apa ken masih sakit hati dengan putusnya hubungan mereka dua tahun yang lalu?

Kesha memejamkan matanya frustasi. Bayangan masa lalunya bersama dengan Ken tiba-tiba menyeruak dalam ingatannya.

 

“Sayang, apa kamu tau? Kami dapat tawaran dari  suatu label musik.”

“Yang bener? Jangan ngada-ngada.” Kesha menjawab dengan cuek.

“Astaga, masa kamu nggak percaya sih? Kamu lihat aja, beberapa bulan kemudian, tampang kami akan keluar di Televisi.”

“Ahhh, biasa aja.” Kesha masih bersikap cuek. Hingga kemudian Ken memilih menggoda Kesha dengan mencubit gemas hidung Kesha. “Ken!! Sakit tau!” Kesha mengerang kesakitan.

“Abisnya, kamu cuekin aku.”

Kesha menghela napas panjang. “Iya, iya. Maaf, aku hanya takut kalau kamu sudah terkenal nanti, kamu akan lupa denganku.”

“Kamu bercanda? Itu nggak akan terjadi.” Ucap Ken dengan sungguh-sungguh.

“Janji?” Kesha mengulurkan jari kelingkingnya.

“Janji.” Ken menyambutnyaa dengan menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingkin Kesha. Keduanya terikat dengan janji manis saat itu.

 

Kesha menghela napas panjang. Ken memang menepati janjinya. Lelaki itu selalu setia dengannya meski lelaki itu sedang berada di puncak kepopulerannya. Hingga kemudian, masalah itu muncul. Mau tak mau Kesha memilih untuk melepaskan Ken.

Dan kini, Kesha benar-benar tidak menyangka jika akan berada di sisi Ken kembali. Meski Kesha tahu bahwa saat ini posisinya bukan sebagai kekasih Ken lagi, melainkan sebagai musuh lelaki itu untuk membalaskan dendam atas sakit hati yang pernah ia berikan pada lelaki itu.

***

Kesha menuju ke arah balkon, menikmati pagi yang begitu dingin. Ya, hari ini memang mendung, bahkan hujan semalaman mengguyur kota Jakarta. Tapi tentu itu tak membuat malamnya dingin, karena tadi malam, Ken menjamahnya dengan begitu panas.

Kepala Kesha menoleh sebentar ke arah Ken yang ternyata masih tidur telungkup. Kemudian ia mendesah panjang. Tadi malam, Ken begitu kasar dengannya. Apalagi saat lelaki itu menyadari jika ternyata dirinya sudah tak perawan lagi. Ken tampak sangat marah, sesekali lelaki itu bahkan menampar pinggulnya. Mungkin Ken akan berpikir bahwa dirinya adalah seorang perempuan murahan. Tapi apa pedulinya? Hubungan mereka sudah putus sejak dua tahun yang lalu. Kini, hubungan mereka tak lebih dari sekedar jual beli kepuasan.

Ken membayar ibunya Dua puluh juta sebulan, sebagai gantinya, ia harus ikut dengan lelaki itu dan menuruti apapun keinginannya.

Kesha tersenyum masam. Harga dirinya dihargai sangat murah. Dua puluh juta sebulan. Yang lebih menyedihkan lagi adalah, karena si pembeli itu merupakan mantan kekasih yang dulu begitu mencintainya. Sungguh, Kesha seakan tak dapat mengenyahkan rasa malunya di hadapan Ken.

Kesha tahu, bahwa sebenarnya, bisa saja ia menolak. Tapi Kesha sadar dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin kembali bersama dengan Ken, meski itu tandanya ia harus menjadi seorang pelacur di hadapan lelaki itu.

Kesha memejamkan matanya, menikmati hembusan angin pagi menerpa tubuhnya. Pada detik itu, ia merasakan sebuah lengan melingkari tubuhnya dari belakang. Mata Kesha membuka seketika saat mendapati bibir Ken sudah mendarat pada leher jenjangnya.

“Menikmati pagimu, sayang?” sapa Ken dengan nada menggoda.

“Ken.” Ucap Kesha sembari menolehkan kepalanya ke arah Ken.

“Aku masih nggak nyangka kalau kita akan kembali bersama.” Ken berkata dengan nada menggoda.

“Aku tak mengerti apa maksudmu melakukan ini, Ken. Kupikir, kamu sangat membenciku. Tapi kenapa kamu malah melakukan ini? menjadikan aku tawananmu?”

“Memang.” Ken menjawab cepat. “Sangat benci malah.” Kali ini perkataan ken penuh penekanan. “Dan aku berencana untuk membalasnya. Sekarang.” Lagi-lagi Ken mengucapkan kalimat tersebut penuh penekanan sebelum ia menggigit pundak Kesha hingga membuat wanita itu mengerang kesakitan.

“Kamu berbeda, Ken… kamu berbeda…” rintih Kesha sebelum Ken menolehkan kepalanya ke arah lelaki tersebut kemudian mencumbu habis bibirnya. Kesha pasrah dengan apa yang dilakukan Ken. Raganya menikmati sentuhan lelaki itu, meski hatinya tersakiti karenannya.

***

Kesha terbangun sendiri. setelah kembali melakukan hubungan intim, Kesha tertidur karena kelelahan. Ken begitu panas, dan lelaki itu seakan tak berhenti bergairah karenanya. Apa ini Ken yang sekarang?

Dulu, Ken bukan orang yang hanya memikirkan selangkangannya saja. Ken bahkan dengan gentle mengatakan bahwa ia tak akan menyentuh Kesha sebelum mereka menikah. Karena itulah dulu mereka tak pernah bercinta. Ken sangat baik, Ken menjaganya seperti menjaga sebuah permata. Dan kini, lelaki itu berbeda.

Apa yang dipikirkan Ken saat tahu bahwa ia sudah tidak perawan ketika Ken menyentuhnya untuk pertama kalinya kemarin? Mungkin, Ken sangat marah, sangat kecewa, sangat membencinya. Dan seharusnya, Kesha tak perlu ambil pusing. Bukankah lelaki itu sudah membencinya sejak dua tahun yang lalu? Apa bedanya dengan sekarang?

Hanya saja, sampai saat ini, perasaan Kesha kepada Ken masih sama. Ia masih begitu mencintai lelaki itu, hingga ketika Ken melecehkannya seperti kemarin dan tadi, rasa sakit menghantam diri Kesha.

Kesha tak ingin memikirkan hal itu lagi. Ia bangkit, duduk dipinggiran ranjang. Mengamati pakaiannya yang berserahkan. Ken seperti seekor hewan buas, bergairah, membara, keras, dan begitu menakutkan. Kesha tak pernah setakut ini dengan Ken sebelumnya, tapi ia tak bisa selalu menampilkan ketakutannya pada lelaki itu.

Kesha harus ingat, statusnya dengan Ken saat ini bukan lagi sepasang kekasih. Ia sudah seperti pelacur pribadi Ken yang hanya dibayar dua puluh juta setiap bulannya. Dan ia harus menerima itu.

Kesha memejamkan matanya, merasakan kesakitan yang amat sangat di dalam dadanya. Lagi-lagi ia berpikir, sebenarnya, bisa saja ia menolak, tapi jika menjadi pelacur Ken bisa membuatnya berada didekat lelaki itu, maka Kesha akan melakukannya.

Saat Kesha menikmati kesakitannya. Ponselnya berbunyi. Kesha meraihnya dan mengangkat panggilan tersebut.

“Tuan Puteri. Apa kamu sudah bosan kerja di sini?” sial! Itu Bossnya.

“Maaf, aku akan terlambat lagi.”

“Kesha, Kesha. Kamu pikir ini salon milik nenek moyang kamu? Cepat datang dalam Lima menit, jika tidak, kamu akan dipecat!” setelah itu telepon ditutup.

Kesha kembali memejamkan matanya frustasi. Seharusnya tidak begini, seharusnya bukan seperti ini….. Akhirnya, Kesha memilih bangkit, memunguti pakaiannya kemudian segera ia membersihkan diri dan berangkat ke tempat kerjanya.

Ia harus kerja, ia membutuhkan pekerjaan itu. Meski Ken sudah membayarnya sebanyak itu setiap bulan, nyatanya Kesha tak ingin menyentuh sedikitpun uang itu. Uang dari Ken hanya akan masuk ke rekening ibunya, dan Kesha bersumpah tak ingin menyentuh uang hasil melacur dengan mantan kekasihnya itu.

***

Sepanjang sore, Kesha sangat sibuk dengan pelanggan salon. Selama ini, Kesha memang bekerja di sebuah salon kecantikan. Dan pada malam harinya ia bekerja serabutan, kadang membantu tetangganya berjualan, kadang juga menggantikan ibunya bekerja sebagai pengantar minuman di salah satu kafe malam. Hidupnya sudah hancur sejak dua tahun yang lalu, cahaya positif yang dulu selalu bersinar diwajahnya dulu kini sudah pupus. Kesha seakan tak memiliki semangat untuk hidup lagi. Meski begitu, ia tak ingin mengakhiri hidupnya.

Denting dari pintu salon membuat Kesha mengangkat wajahnya. Ia berpikir itu adalah salah seorang pelanggannya, tapi ternyata, bukan. Itu adalah seorang pengantar minuman dingin yang entah sudah sejak berapa lama rutin mengantarkan minuman dingin kepadanya.

Kesha tersenyum dan si pelayan itu memberikan minuman dingin kepada Kesha.

“Mr. X sepertinya mengganti pesanannya. Hari ini, dia memesankanmu Cokelat Strawberry. Kamu suka?” tanya gadis cantik yang sebaya dengannya tersebut.

Kesha tersenyum dan menerimanya. “Terimakasih.”

“Ya, tentu saja.” Kemudian si pengantar minuman tersebut pergi.

Entah, ini sudah keberapa kalinya ia menerima pemberian berupa sebuah minuman dari si pengirim yang cukup misterius ini. Sejak ia bekerja di salon ini hampir dua tahun yang lalu, Kesha mendapatkan minuman ini hampir setiap hari.

Namanya Mr. X. Kesha tak ingin GR bahwa ia memiliki penggemar rahasia, tapi siapapun itu, Mr. X mampu membuat Kesha tersenyum sendiri saat membayangkan siapakah orang itu.

Awal-awal ia bekerja di salon ini, adalah awal yang sangat berat. Dulu, saat masih menjadi kekasih Ken, Kesha bekerja sebagai asisten pribadi lelaki itu. Saat itu, Ken sedang berada di puncak karirnya bersama dengan The Batman. Peraturan management yang melarang hubungan asmara di depan publik membuat Ken berpikir bagaimana caranya tetap berdekatan dengan Kesha tanpa ketahuan publik. Dan ide menjadikan Kesha sebagai asisten pribadinya membuat semuanya menjadi lebih muda.

Kesha digajih dengan pekerjaannya saat itu, meski begitu, Kesha melakukan pekerjaannya dengan senang hati karena selalu dekat dengan Ken adalah kebahagiaan sejati untuknya.

Lalu semuanya berubah, saat Kesha memutuskan hubungan mereka. Kesha juga berhenti dari pekerjaannya tersebut. Beberapa bulan terpuruk, akhirnya Kesha memutuskan melamar pekerjaan di sebuah salon kecantikan. Dan beberapa bulan setelahnya, Mr. X datang dengan minuman-minuman manisnya.

Kehidupan Kesha saat itu benar-benar sedang buruk dan berantakan, tapi minuman-minuman manis dan dingin pemberian Mr. X benar-benar menghiburnya. Dulu sekali, Kesha sempat berpikir jika Mr. X adalah Ken. Tapi itu tidak mungkin, nyatanya, saat Ken sedang disibukkan dengan karir barunya, saat lelaki itu sibuk berlibur ke luar negeri dengan teman-teman kencannya, Kesha tetap mendapatkan minuman tersebut dari Mr. X. itu tandanya jika Mr. X dan Ken adalah orang yang berbeda.

Kadang Kesha ingin bertemu dengan sosok itu. Memaksa si pengantar minuman untuk mengatakan, siapa sebenarnya Mr. X. tapi rupanya ia tidak memiliki kemampuan untuk memaksa gadis itu untuk berterus terang.

Kesha menghela napas panjang. Ia mulai menikmati minuman dinginnya tersebut. Memejamkan matanya, merasakan sensasi kedamaian menerpa jiwanya. Setidaknya, ia memiliki orang yang perhatian dengannya, meski bagi Kesha orang itu malu menunjukkan batang hidungnya. Itulah yang dipikirkan Kesha saat ini hingga membuatnya spontan menyunggingkan senyuman lembutnya.

Ketika Kesha sibuk menikmati minuman tersebut, ia tak menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata tajam mengamatinya dari jauh. Mata itu menatap Kesha dari luar kaca transparan salon tempat Kesha bekerja. Mata itu menatapnya dengan marah, entah karena apa. Mata itu adalah milik Ken.

Astaga, apa yang akan dilakukan lelaki itu selanjutnya?

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 17

Comment 1 Standard

 

Bab 17

 

Jiro semakin memperdalam cumbuannya, tubuhnya semakin mendekat menempel sepenuhnya pada tubuh Ellie. Kejantanannya menegang, berdenyut nyeri menahan desakan gairah yang luar biasa. Tak pernah Jiro merasa seingin ini memiliki seorang wanita, hanya Ellie yang membuatnya seperti ini, hanya wanita itu, istrinya.

Masih dengan bibir yang saling bertaut satu sama lain, Jiro membantu Ellie melepaskan blouse dan bawahan yang dikenakan oleh wanita itu. Ellie tidak membantah maupun menolaknya, hal itu semakin membuat Jiro senang. Jiro ingin menguasai tubuh wanita mungil di hadapannya ini, Jiro ingin menguasai semua isi didalam hati wanita ini.

Jiro lalu melepaskan tautan bibir mereka saat ia merasakan napas Ellie mulai habis karena ulahnya. Ia menatap tajam ke arah wanita yang terengah kehabisan napas di hadapannya tersebut. Sedikit tersenyum, Jiro mulai melucuti pakaiannya sendiri. menarik kausnya ke atas melewati kedua belah telapak tangannya dan juga kepalanya, hingga Jiro hanya bertelanjang dada dengan celananya saja.

Jiro kembali menatap Ellie. Tubuh wanita itu tampak begitu indah. Kehamilannya membuat Ellie tampak mempesona. Dengan cekatan Jiro membantu Ellie melepaskan bra yang dikenakan istrinya itu, hingga dalam sekejap mata, Ellie sudah polos hanya berbalutkan celana dalamnya saja.

Keindahan Ellie benar-benar membuat Jiro tak mampu bertahan. Dengan spontan ia menundukkan kepalanya, mendaratkan bibirnya pada tulang selangka Ellie yang tampak begitu indah di matanya. Jiro mengecupnya lembut, memuja keindahannya, hingga membuat Ellie memejamkan matanya seketika.

“Ya Tuhan! Kamu benar-benar indah, Sayang…” Jiro mengerang diantara kekaguman yang ia rasakan.

Ellie sendiri hanya bisa pasrah ketika Jiro tampak begitu memuja tubuhnya. Ellie merasa begitu dicintai, hingga yang bisa ia lakukan hanya pasrah dengan sesekali mengerang karena godaan yang diberikan Jiro padanya.

Jiro merayap turun, hingga bibir lelaki itu berhenti pada puncak payudaranya. Ellie mengerang seketika saat Jiro mulai menggodanya, mengirimkan kembali getaran panas yang bersumber dari bibir lelaki tersebut.

Oh, Jiro begitu panas, membuat Ellie tak kuasa untuk mengalungkan lengannya pada leher Jiro. Ellie berusaha untuk membuat Jiro agar tak menghentikan apa yang lelaki itu lakukan. Ellie sangat menyukainya, ketika bibir lelaki itu membelai kulitnya, menggoda setiap inchi dari tubuhnya hingga bergetar dan siap untuk dipuaskan.

Ellie mengerang tak tertahankan saat jemari Jiro mengusap lembut perutnya, kemudian dengan nakal jemari itu merayap turun, menelusup masuk ke dalam panty yang ia kenakan. Ya Tuhan! Jiro kembali menggodanya, menggoda dengan bibir dan juga jemari nakal lelaki tersebut.

Ellie melemparkan kepalanya ke belakang, kakinya seakan tak mampu berdiri dengan sendirinya, ia merasa lemas dengan hantaman gairah yang diberikan oleh Jiro lagi dan lagi. Hingga kemudian, Ellie merasa tak sanggup menahannya lebih lama lagi.

“James, Astaga…” erangnya dengan suara tertahan.

Jiro menghentikan aksinya, ia menatap dengan intens ekspresi keenakan yang terpampang jelas di hadapannya. Wajah Ellie memerah, entah karena gairah, atau karena yang lainnya. Mata biru wanita itu tampak berkabut, bibirnya ternganga, terengah karena napas yang tak beraturan. Hingga Jiro tak mampu untuk tidak menyambar bibir tersebut.

Jiro melumat habis bibir Ellie. Jemarinya dengan nakal melepas paksa sisa kain yang membalut tubuh istrinya tersebut. Hingga kini, Ellie sudah berdiri polos tanpa sehelai benangpun.

Masih dengan mencumbu bibir Ellie, Jiro melanjutkan aksinya, mendorong tubuh Ellie sedikit demi sedikit hingga sampai pada ranjang mereka. Jiro membaringkan Ellie di sana, kemudian melepaskan tautan bibir mereka.

Mata Jiro kembali menatap Ellie dengan intens. Sial! Jiro tak akan pernah bosan untuk mengagumi keindahan yang terpampang sempurna di hadapannya.

 

Jiro kemudian bangkit, melucuti sisa pakaian yang membalut tubuhnya sendiri, lalu ia kembali pada Ellie, dan berbisik pelan pada wanita itu.

“Bolehkah aku memulainya?”

Ya Tuhan! Jiro tak pernah melakukan ini sebelumnya, meminta izin dengan begitu lembut pada Ellie. Ellie tak bisa berbuat banyak, ia tidak mungkin menolak Jiro ketika gairahnya sendiri saja sudah sulit untuk dikendalikan. Akhirnya yang bisa Ellie lakukan hanya mengangguk, dan menjawab “Ya. Lakukanlah.”

Jiro tersenyum simpul. Tanpa banyak bicara lagi, ia mulai memposisikan diri untuk menyatu dengan Ellie. Mendesak pelan tapi pasti, hingga kemudian, tubuh mereka menyatu dengan begitu sempurna.

Ellie merasakan kenikmatan yang luar biasa saat Jiro terasa penuh mengisinya, sedangkan Jiro, ia memilih mengendalikan diri agar bisa mengontrol gairahnya yang semakin menggebu saat merasakan Ellie terasa sesak menghimpitnya.

Jiro kembali membungkukan badannya, jemarinya mengusap lembut pipi Ellie, lalu bibirnya sesekali mengecup singkat bibir Ellie. Sedangkan yang dibawah sana tak berhenti bergerak, memompa seirama, mencari kenikmatan dan juga memberikan kenikmatan pada sang empunya.

Di satu sisi, Jiro tak ingin segera mengakhiri percintaannya dengan Ellie. Ia masih ingin memuja setiap inchi dari tubuh istrinya tersebut, Jiro masih ingin mencumbu bibir lembut Ellie yang seperti ceri. Tapi di sisi lain, Jiro tak dapat menahan gairahnya terlalu lama. Ia ingin segera meledak kemudian memulainya lagi dengan Ellie. Dan sepertinya, pemikiran terakhir tersebut menjadi pilihan Jiro.

Tak menunggu lama lagi, Jiro mulai menaikkan ritme permainannya. Bibirnya kembali mencumbu bibir Ellie, melumatnya dengan panas. Pergerakannya semakin cepat, menghujam lagi dan lagi, hingga kemudian, Jiro merasakan Ellie menegang, kewanitaannya mengencang, mencengkeram dengan erat, dan erangan tertahan oleh wanita itu menandakan bahwa Ellie baru saja sampai pada puncak kenikmatannya.

Jiro masih bergerak, lebih cepat dari sebelumnya, mencari kenikmatan untuk dirinya sendiri, hingga tak lama, ia menyusul Ellie sampai pada puncak kenikmatan tersebut.

Jiro menggeram saat bukti cintanya penuh mengisi Ellie, napasnya memburu, begitupun dengan napas Ellie. Keringatnya bercucuran, padahal kamarnya tentu berAC. Sesekali Jiro masih mengecubi bibir Ellie, pipi wanita itu, hingga kemudian ia berinisiatif untuk menarik diri dan menggulingkan tubuhnya ke samping Ellie.

Jiro mendesah panjang. Ia masih mengontrol diri dari gelombang gairah yang baru saja menghantamnya.

Jiro menolehkan kepalanya ke arah Ellie, wanita itu masih terengah, masih kelelahan karena orgasme yang baru saja menghantamnya. Lalu Jiro berinisiatif untuk bangkit meraih kotak tissue yang berada di atas nakas, menarik beberapa lembar untuk membersihkan dirinya, lalu menarik lagi beberapa lembar untuk membersihkan diri Ellie dari sisa-sisa percintaan panas mereka.

Ellie berjingkat seketika saat Jiro kembali menyentuhnya. Ia menatap penuh tanya pada lelaki di sebelahnya.

Jiro sendiri hanya tersenyum dan berkata “Aku akan membersihkanmu.”

“Aku, aku bisa sendiri.” jawab Ellie dengan gugup. Sungguh, tak pernah Jiro melakukan hal seintim ini padanya.

“Jangan. Aku ingin melakukannya untukmu.”

Ya Tuhan! Ellie merasa luluh lantak karena perlakuan lelaki ini. Pada akhirnya, Ellie memilih pasrah. Ia membiarkan Jiro untuk membersihkan dirinya, membersihkan bagian paling intim dari tubuhnya.

Jiro sendiri benar-benar melakukannya, mengusap lembut bagian intim dari tubuh Ellie dengan tissue-tissue tersebut. Membersihkannya dengan gerakan pelan. Tanpa diduga, Jiro mendengar Ellie sesekali mengerang karena ulahnya, hingga kemudian ia menatap Ellie dan bertanya “Ellie?”

Ellie yang tadi memejamkan matanya karena sentuhan Jiro tersebut akhirnya membuka matanya. Ellie tahu bahwa niat Jiro hanya untuk membantunya, tapi Demi Tuhan, sentuhan lelaki itu kembali membangkitkan gairahnya.

“James…” Ellie hanya bisa melirih, dan Jiro masih tidak mengerti apa yang sedang dirasakan oleh istriny tersebut.

“Ada apa?” tanya Jiro sembari mengangkat sebelah alisnya.

“Sentuhanmu membuatku kembali bergairah.” Ellie berkata dengan jujur.

Jiro sempat terkejut dengan kejujuran Ellie tersebut, kemudian ia tersenyum dan menjawab “Kamu ingin lagi?” tawar Jiro.

Ellie tampak bingung, ia harus menjawab apa. “Aku, aku tidak tahu.” Bisiknya nyaris tak terdengar.

“Pasti karena bayinya. Ya?” Jiro menatap perut Ellie yang sudah semakin membesar, mengusapnya lembut, lalu mengecupnya lagi dan lagi.

“Karena kamu juga.” Perkataan Ellie menghentikan aksi Jiro. Jiro mengangkat wajahnya dan menatap Ellie penuh tanya.

“Maksudmu?”

“Uum…” Ellie tampak ragu menjawabnya. “Ini, bukan sekedar karena hormon. Aku, aku menginginkanmu meski mungkin hormonku tidak sekacau saat ini.”

Jiro sempat tercenung mencerna apa yang dikatakan Ellie, tapi kemudian ia mengerti apa yang dimaksud oleh perkataan Ellie tersebut.

“Kamu benar-benar menginginkanku?” tanya Jiro lagi dengan nada yang begitu lembut.

Wajah Ellie kembali merah padam karena malu, tapi ia tidak ingin menolak dan bersikap munafik. Ia memang menginginkan Jiro, sentuhan lelaki itu seakan menggodanya kembali. Akhirnya Ellie hanya bisa mengangguk pasrah.

Jiro tersenyum, mendekat pada wajah Ellie kemudian ia berbisik “Kalau begitu, kamu hanya perlu mengakuinya, maka aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan.”  Setelah itu, Jiro kembali mencumbu lembut bibir Ellie, melumatnya dengan panas, dan kembali membangun gairah untuk mereka berdua.

Jiro tidak tahu, kenapa hubungannya bisa seintim ini dan juga sepanas ini dengan Ellie dalam waktu yang cukup singkat. Maksudnya, selama Empat tahun terakhir, Jiro tidak pernah memperlakukan Ellie seperti ini. Elliepun tidak pernah menampilkan reaksi sepanas ini, tapi kini, keduanya seakan terbuka dengan apa yang mereka inginkan, keduanya seakan membiarkan saja semuanya berjalan dengan sendirinya, mengalir seperti air tanpa ingin menahan diri atau memungkiri diri sendiri. hal itulah yang membuat hubungan keduanya semakin dekat dalam jangka waktu beberapa minggu terakhir.

Kini, Ellie tak hanya cukup menarik untuk Jiro, bukan hanya kecantikan wanita itu yang mampu memikatnya. Tapi semuanya, semua yang ada pada diri Ellie seakan mampu mengikat Jiro hingga Jiro yakin bahwa ia tak akan mungin bisa lari dari diri Ellie.

Ya Tuhan! Bagaimana mungkin seorang Ellie mampu membuat dirinya berada pada titik seperti ini?

 

-TBC-