My Sex(y) Partner – Bab 1

Comment 1 Standard

yeaayyyy mana yang nungguin Troy dan kawan2 bejatnya?? hahahhahah untuk Jiro dan Ken, sabar yaa… aku cuma mau pamerin Prolognya aja dulu, karena aku mau pokus kalian gak banyak terbagi. hahahahahah Yang nunggu Mr. Morgan di Sleeping with my friend, bakal aku update insha allah malam minggu yaa… yeaaayyyyyy happy reading. muaahhhhh

 

Bab 1  

 

Sambil mengetatkan gerahamnya, Troy mendekap wanita setengah telanjang yang berada di hadapannya tersebut. Hari sudah semakin sore, tapi pemotretan sialan ini belum juga rampung. Troy benar-benar kesal karena beberapa jam terakhir dirinya mengetat nyeri tak tertahan. Semua tentu karena keindahan sempurna yang terpampang jelas di hadapannya. Dan yang lebih menjengkelkan lagi adalah, bahwa wanita di hadapannya ini malah tampak tak terpengaruh sama sekali dengan kehadiran dirinya.

One, two, three, oke. Sip.” Akhirnya, si fotografer sialan di hadapannya itu menyatakan jika tangkapan kameranya yang terakhir selesai.

Troy menghela napas panjang, dan secepat kilat ia melepaskan tubuh si wanita seksi di hadapannya kemudian dengan terburu-buru, ia keluar dari dalam kamar tersebut lalu menuju ke arah kamar mandi.

“Elo mau ngapain Troy?” tanya salah seorang kru dengan nada mengejek.

“Berengsek!” Troy hanya menjawab dengan sebuah umpatan khasnya.

***

Setelah pekerjaan tersebut selesai, semuanya menuju ke sebuah restoran untuk makan malam bersama. Sejak tadi, mata Troy tak pernah lepas menatap ke arah wanita yang sejak tadi pagi sudah membuatnya tergoda, wanita yang yang bernama Alice Philips. Wanita yang membuatnya mau tak mau mencapai klimaks di dalam kamar mandi dengan dibantu oleh jemarinya sendiri. Sialan! Dan yang lebih membuat Troy penasaran dengan wanita tersebut adalah, bahwa wanita itu tampak sama sekali tak memperhatikannya.

Kenapa? Apa wanita itu tak tahu siapa dirinya?

Pada saat bersamaan, wanita itu menatap ke arahnya. Troy mengangkat sebelah alisnya kemudian mengangkat gelas anggurnya, seakan mengajak wanita itu bersulang.

***

Alice, yang berada di seberang meja, akhirnya ikut mengangkat gelasnya yang berisi Jus jeruk saat ia melihat Troy mengangkat gelas anggur ke arahnya. Alice tersenyum, lalu menenggak jus tersebut, matanya lalu menatap ke arah lain, mencoba mengalihkan perhatiannya dari sosok yang sejak tadi mempengaruhinya.

Ya, Alice tentu tahu dengan siapa dia berhadapan. Awal tahu bahwa ia akan disandingkan dengan seorang Troy untuk berpose panas di salah satu majalah dewasa saja membuat Alice ragu, apa akan melakukannya atau membatalkannya. Tapi karena didorong oleh kebutuhan yang mendesak, akhirnya Alice melakukannya dan mencoba melupakan jika lawan mainnya dalam berpose panas adalah seorang Troy, mantan Drumer terpanas di negeri ini.

Tak sulit bagi Alice untuk mengetahui latar belakang atau bisa dibilang, keberengsekan-keberengsekan lelaki itu dimasalalu. Entah ketika lelaki itu masih menjadi anak band, atau saat lelaki itu berkarir sendiri seperti saat ini. Tak sedikit gosip buruk yang pernah ia dengar tentang Troy. Bahkan, beberapa teman seprofesinya mengaku pernah ditiduri Troy dan dicampakan begitu saja oleh lelaki itu setelah lelaki itu puas mendapatkan beberapa kali pelepasan.

Sangat Berengsek, bukan?

Kini, Alice tentu tak ingin hal tersebut menimpanya. Tujuannya tinggal di negeri ini adalah karena ia ingin mempelajari budaya negeri ini, bukan untuk main-main lalu jatuh hati pada pria berengsek seperti Troy.

Ya, Alice yang merupakan warga negara asing, memang sangat tertarik dengan Indonesia. Ayah ibunya tinggal di LA Carlifornia. Dulu, keduanya pernah berpelesir ke negeri ini, kemudian tak sengaja bertemu satu sama lain di pulau Bali, memadu kasih saat itu juga, lalu berakhir bersama hingga kini. Dan kedua orang tua Alice tak pernah melupakan pengalamannya tersebut. Hingga saat Alice lahir, keduanya selalu bercerita lagi dan lagi tentang pengalaman keduanya hingga membuat Alice tertarik dengan Indonesia.

Saat dirinya besar, ketertarikan itu semakin nyata, apalagi saat Alice pertama kalinya datang ke negeri ini. Ia jatuh cinta seketika, dengan budayanya, dengan alamnya, dengan orang-orangnya. Bagi Alice, ke Indonesia sama saja dengan pulang. Hingga sejak Tiga tahun terakhir, ia lebih sering menghabiskan waktunya di Indonesia dari pada di LA. Tentu saja hal itu membutuhkan biaya lebih, mengingat orang tuanya bukanlah orang yang berkelebihan harta. Beruntung Alice memiliki kenalan di Indonesia yang menawarinya pekerjaan menjadi model. Pekerjaan itu tentu sangat begus untuk Alice, ia bisa mendapatkan biaya tambahan selama hidup di sini, sehingga dirinya bisa menikmati kecintaannya pada negeri ini tanpa membebankan biaya pada kedua orang tuanya yang ada di LA.

Kembali lagi pada Troy. Alice tentu tak ingin terlibat dengan lelaki di hadapannya tersebut, tapi demi Tuhan! Lelaki itu memang sangat menggoda. Sialnya, jadwal pemotretannya dengan Troy tak hanya berakhir hari ini saja. Karena masih ada beberapa scene tambahan yang akan diambil besok.

Tiba-tiba, Alice melihat Troy berdiri membawa minumannya, mata lelaki itu tak berhenti menatap ke arahnya. Kemudian, langkah kaki lelaki itu mendekat ke arah mejanya.

Seorang yang duduk tepat di sebelah Alice akhirnya berdiri ketika Troy secara terang-terangan meminta orang tersebut bangkit dan menggantikan tempatnya.

“Boleh duduk di sini, kan?” tanya Troy dengan nada yang dibuat mengggoda. Alice tahu, bahwa mungkin saat ini Troy sedang menjalankan aksinya untuk membawa Alice ke atas ranjang lelaki itu. Tapi Troy salah, Alice sudah cukup tahu bagaimana bejatnya lelaki itu, jadi Alice tak akan masuk ke dalam perangkap yang dibuat oleh Troy.

“Silahkan saja. Ini kan tempat umum.” Alice menjawab dengan nada yang dibuat cuek dan ketus.

“Woww. Bukan cewek gampangan, ehh?” goda Troy sembari menyesap apapun itu yang ada di dalam gelas yang dibawah lelaki itu.

Alice tidak mengindahkan apapun itu perkataan Troy. Karena ia memilih melirik ke arah jam tangannya kemudian berkata pada orang disebelahnya. “Aku akan pulang, sudah malam.” Ucapnya sembari berdiri. Alice menatap sekilas ke arah Troy lalu tersenyum singkat pada lelaki itu. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkan mejanya secepat mungkin.

Sedangkan Troy, ia tersenyum masam, menenggak semua isi dari gelas yang dibawanya kemudian bangkit dan segera menyusul wanita yang sudah sejak tadi siang tadi menggodanya.

***

Sial! Troy merasa ada yang salah di sini. Tak biasanya ia begitu tertarik dengan seseorang, hingga saat melihatnya saja membuat pangkal pahanya berdenyut nyeri seketika. Ia sangat menginginkan Alice Philips di atas ranjangya malam ini, dan apapun itu, ia akan melakukannya untuk mendapatkan keinginannya tersebut.

Yang membuat Troy sangat kesal adalah saat Troy tahu bahwa wanita itu tampak tidak tertarik dengannya. Jangankan tertarik, Alice bahkan lebih terlihat enggan berurusan dengannya. Kenapa? Apa Alice Philips tak tahu siapa dia sebenarnya? Apa ia tak tampak seperti seorang lelaki yang panas dan menggairahkan?

Berengsek!

Dengan segera Troy mengikuti Alice keluar dari dalam restoran. Ia mendapati Alice berjalan diatas trotoar sembari mengenakan tundung hoody yang dikenakan wanita tersebut.

Troy berlari mengikuti wanita itu, kemudian dengan spontan ia menarik lengan Alice dan menghentikan wanita itu sembari berkata “Tunggu.”

Alice menghentikan langkahnya kemudian menatap Troy penuh tanya. “Ada apa?” tanyanya dengan ketus.

Troy memiringkan kepalanya. “Ikutlah denganku, aku akan mengantarmu.”

“Aku lebih suka jalan kaki.”

“Nggak baik jalan kaki malam-malam sendiri, apalagi kamu seorang model.”

Alice berkacak pinggang, dengan menantang dia bertanya “Apa hubungannya denganmu?”

Troy sedikit tersenyum dengan reaksi yang ditampilkan oleh Alice. Ia tak menyangka jika Alice akan seberani ini padanya. “Nggak ada.” Jawab Troy dengan santai.

“Kalau begitu, biarkan aku pergi.”

Troy mengangkat kedua tangannya, dengan tersenyum ia mundur teratur. Alice mendengus sebal, lalu wanita itu mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Troy. Tanpa diduga, Troy malah mengikuti Alice. Berjalan kaki di atas trotoar tepat di belakang wanita itu. Entah apa yang ada di dalam pikiran Troy saat ini. Yang jelas, ia sangat ingin memiliki wanita yang kini berjalan di hadapannya tersebut.

Alice yang merasa diikuti akhirnya merasa tak nyaman. Dengan kesal ia membalikkan tubuhnya kemudian bertanya pada Troy “Apa yang kamu lakukan?”

Troy mengangkat kedua bahunya. “Apa? Aku cuma jalan-jalan malam.”

“Sialan!” akhirnya, Alice tak mampu menahan umpatannya, dan hal tersebut membuat Troy tak kuasa menahan senyuman lebarnya. Alice kembali berjalan lagi, dan Troy mengikuti kemanapun kaki wanita itu melangkah.

Gila! Troy benar-benar merasa gila karena penolakan dan sikap ketus yang diberikan Alice Philips padanya. Kenapa wanita itu bersikap seperti itu padanya? Apa sebelumnya ia memiliki salah dengan wanita tersebut?

Pertanyaan itu terputar berkali-kali dalam kepala Troy sepanjang ia menyusuri trotoar bersama dengan Alice Philips di hadapannya.

***

Alice menghela napas panjang, karena tak lama, akhirnya sampailah juga ia ditempat kostnya. Sebenarnya, selama tinggal di Indonesia, ia menyewa sebuah tempat di Bali. Tapi karena pekerjaannya kali ini, ia sementara tinggal di Jakarta sampai pemotretannya selesai.

Alice membalikkan diri, berharap jika Troy sudah tak ada dibelakangnya, tapi ia salah. Nyatanya, Troy masih berada di sana, dengan senyuman miringnya, dengan kearoganannya, dengan kepedean tingkat dewanya, dan sialnya, dengan ketampanan dan kegagahan lelaki itu yang mampu memancing sesuatu di dalam diri Alice.

Dengan mendengus sebal, Alice bertanya pada Troy “Kenapa kamu mengikutiku sampai disini?”

Bukannya menjawab, Troy malah menyandarkan diri di pagar, mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya yang diyakini Alice adalah sebuah rokok, menyalakan batang sialan itu dan menghisapnya sebelum menjawab “Cuma pengen tau dimana tempat tinggalmu.”

“Memangnya apa urusanmu?”

“Nggak ada, cuma penasaran aja.”

“Dasar sinting!” Alice mengumpat dalam bahasa asing, dan hal tersebut membuat Troy tak mampu menahan tawanya.

Ah ya, satu hal lagi yang disukai Troy adalah, bagaimana logat wanita itu ketika berbahasa indonesia. Hal itu membuat Troy seakan gemas pada seorang Alice Philips.

Alice akhirnya memilih segera memasuki rumah tersebut, kemudian mengunci pintu gerbangnya. Sebelum itu Troy sudah mengucapkan kalimat “Aku tak sabar melihatmu besok siang di kolam renang.” Ejeknya dengan nada menggoda.

“Bajingan!” lagi, Alice mengumpat dengan bahasa asing, dan hal tersebut benar-benar membuat Troy tak kuasa menahan tawanya. Alice tentu mengerti apa maksud Troy saat lelaki itu bilang mengunggunya di kolam renang, karena besok adalah jadwal pemotretan mereka dengan set di area kolam renang. Alice akan mengenakan bikini di sana, tentu saja Alice sangat tahu apa yang ada di dalam otak porno lelaki itu.

Sialan! Jika hari ini Alice mampu menahan dirinya dan bersikap ketus pada Troy, apa besok wanita itu bisa melakukannya lagi? Alice tak tahu. Tapi yang terpenting adalah, ia tak ingin terlibat dalam hubungan dengan seorang Troy Yoseph. Tidak tadi, tidak sekarang, tidak juga nanti.

-TBC-

 

Advertisements

My Pretty Girlfriend – Prolog

Comments 4 Standard

Tittle : My Pretty Girlfriend

Maincast : Kenzo Arya (Ken The Batman) & Kesha Kirana

Seri : The Batman Zone!

 

 

Prolog

 

 

Ken meneggak kembali minuman di dalam gelasnya hingga tandas. Minuman tersebut terasa membakar tenggorokannya. Tapi ia tak peduli. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah perayaan untuk merayakan kesuksesan atas konser solo pertama yang baru saja ia lakukan.

Ya, setelah The Batman memutuskan untuk vakum dari dunia hiburan sejak dua tahun yang lalu, para personilnya sibuk dengan urusan masing-masing. Jason dan Jiro lebih sibuk mengurus usaha keluarga mereka dan juga istri-istri mereka. Troy memilih menjadi model dan pemain Film. Sedangkan Ken memilih untuk bersolo karir. Menjadi penyanyi karena ia juga memiliki suara yang bagus dan unik.

Meski banyak sekali band-band yang ingin mengadopsi dirinya sebagai gitaris dan penyanyi kedua band mereka, nyatanya Ken memilih untuk tidak menermanya. Baginya, kesetiaannya hanya untuk The Batman. Dan itulah yang Ken pegang hingga saat ini.

Konser pertamanya tadi benar-benar sukses. Dan hal itu harus dirayakan seperti saat ini.

Dua tahun terakhir, kehidupan Ken memang berubah drastis. Ia yang dulunya terkenal sebagai good boynya The Batman, kini hanya sekedar kenangan. Sikapnya saat ini bahkan sama berengseknya dengan Troy, temannya. Ia juga tak segan-segan lagi melecehkan wanita yang dikenalnya dalam hubungan semalam. Semuanya tentu karena kehidupan percintaannya dulu yang berakhir dengan mengerikan.

Kesha, kekasih yang begitu ia cintai ternyata memutuskannya secara sepihak. Lebih gilanya lagi, ternyata kekasihnya itu berselingkuh dibelakangnya. Setidaknya, informasi itulah yang ia dapatkan saat itu.

Kesha sempat membuat Ken terpuruk, frustasi karena rasa sakit hati akibat penghianatan yang dilakukan wanita tersebut. Hingga Ken bersumpah, bahwa Ken tak ingin lagi bertemu dengan wanita itu. Karena Keshalah, sekarang sikap Ken berubah seratus delapan puluh derajat. Ken yang setia, Ken yang baik dan menghormati perempuan, kini berubah drastis menjadi seorang Bad boy dengan keangkuhan yang menjadi aksesorisnya.

Mengingat tentang Kesha membuat Ken sangat marah. Bahkan hingga kini, Ken belum bisa melupakan rasa sakit hatinya pada perempuan itu.

“Ken, mending elo pulang.” Seorang teman menyarankan padanya.

“Kenapa? Ini kan pesta perayaan buat konser gue tadi.” Jawab Ken tidak suka.

“Bukannya apa-apa. Tapi besok elo ada press conference dengan beberapa media. Mending elo pulang dulu, pestanya bisa kita lanjut besok malam.”

“Ahh sialan! Gue pengen banget minum sampai teler.”

“Elo harus nyimpen tenaga elo buat besok.” Dan akhinya, Ken mengangguk ia memilih bangkit dari tempat duduknya kemudian bersiap pergi dari tempat tersebut.

Tapi saat Ken sampai di area parkiran kelab malam tempatnya merayakan pesta dengan beberapa krunya tersebut, Ken melihat seseorang.

Dalam sekali lihat, Ken bahkan mengenal setiap gerak-gerik dari wanita itu. Itu adalah Kesha, mantan kekasih yang dulu pernah menyakitinya. Bukan hanya dulu, bahkan hingga sekarang, Ken masih merasakan dengan jelas bagaimana rasa sakit yang diberikan Kesha padanya.

Kesha tampak berseteru dengan seorang wanita yang lebih tua darinya. Dan hal itu membuat Ken mengamati keduanya.

“Aku nggak mau masuk ke sana!” terdengar Kesha berseru keras.

“Dengar. Kamu hanya mengantarkan minuman di sana. Apa yang membuatmu malu? Aku bekerja di sana sejak mengandungmu, ingat itu!”

“Tapi aku tak mau bekerja seperti Mama.”

Wanita yang dipanggil sebagai mama itupun tertawa lebar, mengejek perkataan Kesha. “Kamu pikir sudah berapa banyak uang yang kukeluarkan untuk kebutuhanmu saat ini? sekarang adalah waktunya kamu, untuk membalasnya. Diawali dengan menjadi pengantar minuman di kelab ini.”

“Aku nggak mau, aku nggak mau.” Kesha menggeleng-gelengkan kepalanya. Tampak tersiksa, dan hal itu membuat Ken tak kuasa menahan senyumnya.

Ya, kesedihan Kesha adalah kebahagiaan untuknya. Ken masih ingat dengan jelas bagaimana wanita itu dulu memutuskan hubungan mereka, kemudian setelahnya, Ken mendapati diri Kesha berkencan dengan pria lainnya. Padahal, selama ini Ken sudah setia terhadap Kesha.

Akhirnya, Ken yang tadi sudah masuk ke dalam mobilnya memilih keluar kembali dari dalam mobilnya, kakinya melangkah menuju ke arah dua orang di hadapannya tersebut sembari berkata “Sepertinya ada yang membutuhkan bantuan disini.” Ucapnya dengan nada arogan.

Kesha menatap ke arahnya seketika dan ternganga sembari berkata “Kenzo?” dengan mata membelalak tak percaya.

Ken tersenyum miring terhadap Kesha. Matanya menatap Kesha dari ujung rambut hingga ujung kakinya dengan tatapan melecehkan. Ya, dulu, Keshanya tak pernah mengenakan pakaian terbuka seperti saat ini, dan kini, wanita itu tampak sangat berbeda.

“Siapa kamu?” perempuan paruh baya di hadapannya bertanya.

“Ken. Kekasihnya.” Jawab Ken dengan enteng.

Si perempuan paruh baya itu tertawa lebar. “Jangan ngaco!”

“Saya nggak ngaco. Saya memang pacarnya. Dan kami cuma lagi break dua tahun terakhir. Bukankah begitu, Kei?” tanya Ken pada Kesha dengan nada menggoda.

Kesha tak tahu harus menjawab apa. Ia masih bingung, apa yang dilakukan Ken di tempat ini, dan kenapa lelaki ini datang kepadanya dalam keadaan seperti ini.

“Memangnya kamu bisa ngasih berapa sama anak saya? Kamu tahu kalau kebutuhan perempuan itu nggak murah?”

“Mama!” Kesha berseru keras pada mamanya, sungguh, ia tidak ingin Ken mengetahui semua tentang dirinya atau keluarganya yang berantakan.

“Dua puluh juta sebulan. Kalau kamu bisa membayar itu, maka kamu boleh membawanya.”

“Mama!” lagi-lagi Kesha berseru keras.

Ken tertawa lebar. Seperti sedang mengejek kepada kedua wanita di hadapannya tersebut. Kesha merasa sangat malu, rasa sakit begitu terasa di dadanya.

“Kamu nggak perlu dengerin dia.” ucap Kesha pada Ken. “Kita masuk, Ma. Aku lebih suka menjadi pengantar minuman.” Kesha mengajak Sang mama masuk. Tapi kemudian jemari Ken mencengkeram pergelangan tangannya.

“Aku akan membayarnya.” Ucap Ken dengan penuh penekanan. Mata lelaki itu menyiratkan sebuah kemarahan yang sangat kental hingga entah kenapa membuat Kesha bergidik ngeri seketika.

Apa yang telah direncanakan Ken?

Sedangkan Ken sendiri, ia merasa bahwa waktunya telah tiba. Waktu untuk membalaskan kesakitan hatinya yang ditimbulkan oleh seorang Kesha, kini sudah tiba. Ia akan membalas kesakitan itu, ia akan membuat Kesha jatuh bertekuk lutut padanya, kemudian mencampakan wanita itu seperti apa yang dia lakukan dulu. Sepertinya, sangat menyenangkan saat membayangkannya. Tapi bisakah Ken melakukannya?

-TBC-

 

My Beautiful Mistress – Prolog

Comments 8 Standard

 

Tittle : Beautiful Mistress

Cast : James Drew Robbert (Jiro The Batman) & Ellisabeth William

Genre : Romance Adult

Seri : The Batman Area!

 

Prolog

 

Jiro mengerang saat mendapatkan sebuah kenikmatan yang ia dapatkan dari seorang wanita yang kini sedang berada dibawahnya. Wanita itu layaknya seorang boneka yang mau melakukan apapun seperti yang ia inginkan. Kadang, Jiro merasa kesal karena wanita itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya tanpa mengucapkan apapun. Kenapa? Apa karena wanita itu tidak suka dengan hubungan mereka?

Jiro mempercepat lajunya. Menghujam lagi dan lagi lebih cepat dari sebelumnya, lebih intens lagi, hingga tak malam, sampailah ia pada puncak kenikmatan yang entah sudah berapa kali ia dapatkan malam ini dari tubuh wanita tersebut.

Napas Jiro memburu, setelah itu, Jiro menarik diri, dan membiarkan tubuh wanita itu terkulai seperti biasa di atas ranjangnya.

“Apa nggak ada sepatah katapun yang mau kamu ucapkan sebelum aku pergi?” tanyanya sembari memunguti pakaiannya.

Wanita itu hanya menggeleng lemah.

Jiro mendengus sebal. Sungguh. Ia sangat kesal dengan sikap wanita itu yang selalu tampak dingin. Bahkan, kadang Jiro sangat sulit membaca apa yang diinginkan wanita itu sebenarnya.

“Apa aku buat kesalahan lagi?” tanya Jiro sekali lagi.

“Tidak.” Jawab wanita itu sembari menarik selimutnya menutupi tubuh telanjangnya, kemudian wanita itu memilih tidur memunggungi Jiro.

Jiro mendesah panjang. “Kamu pasti melihat berita itu, kan?” tanya Jiro kemudian.

Tak ada jawaban dari wanita itu, hingga Jiro berada pada batas kesabarannya.

“Dengar, Ellie. Aku tidak harus menjelaskan semuanya padamu. Aku memang mencium perempuan malam itu, tapi hanya itu saja. Aku tidak menidurinya, karena ada…”

“Aku yang siap melayanimu di rumah, kan?” wanita yang bernama Ellie itu melanjutkan kalimat Jiro.

“Sebenarnya, apa yang terjadi denganmu?” tanya Jiro dengan kesal.

Ellie membalikkan diri ke arah Jiro. Ia duduk dan mengabaikan ketelanjangannya karena nyatanya saat ini dirinya sudah siap meledakkan apa yang sudah bersarang di dalam kepalanya selama bertahun-tahun.

“Pulangkan aku ke Inggris!” serunya keras.

Seruan Ellie sempat membuat Jiro ternganga tak percaya. Empat tahun lamanya ia menikahi wanita ini, empat tahun lamanya ia memaksa wanita ini untuk tinggal di negaranya. Dan selama itu, wanita ini tak pernah sekalipun melawannya, tak pernah menuntutnya. Dan kini, wanita itu ingin dipulangkan ke negaranya. Yang benar saja. Jiro tak akan melakukan hal sebodoh itu.

Jiro meraih dagu Ellie dan dia berkata “Dengar Ellie, kamu nggak akan kemanapun. Hanya di sini, di rumah ini. kamu nggak akan bisa pergi kemanapun.” Setelah itu, Jiro bergegas pergi meninggalkan Ellie memasuki kamar mandi.

Sedangkan wanita yang bernama Ellie tersebut hanya bisa menangis seperti biasanya. Ya, hanya itu yang bisa ia lakukan selama ini. saat Jiro mencampakannya, saat lelaki itu melecehkannya, hanya menangis yang dapat ia lakukan. Bagaimanapun juga, Jiro adalah suaminya, meski posisinya lebih mirip sebagai seorang simpanan ketimbang dengan seorang istri, nyataya Ellie menikmati perannya saat ini. ia harus bisa lebih sabar, ia harus bisa lebih menahan diri, demi dirinya sendiri, demi cinta terpendamnya pada lelaki itu, dan juga demi sebuah nyawa yang kini sedang menggantungkan hidup di dalam rahimnya. Ellie harus kuat, ia harus lebih sabar lagi untuk menghadapi suaminya. Karena ia yakin, suatu saat, Jiro akan melihat keberadaannya, dan dirinyalah yang akan keluar sebagai pemenangnya. Ellie yakin itu.

-TBC-

My Sex(y) Partner – Prolog

Comments 3 Standard

Tittle : My Sex(y) Partner

Cast : Thomas Ryan Yoseph (Troy The Batman) & Alice Philips

Genre : Romance Adult

Seri : The Batman Area!

 

Prolog

 

Dengan semangat Troy memasuki sebuah gedung dimana akan diadakan sebuah pemotretan untuk sebuah majalah dewasa. Seperti biasa, jika pemotretannya kali ini berhubungan dengan majalah dewasa, maka Troy hampir yakin jika dirinya akan mampu dengan mudah membawa lawan mainnya dalam pemotretan tersebut untuk naik ke atas ranjangnya setelah pemotretan berakhir. Hal itu selalu dilakukan Troy, dan dirinya tidak pernah absen melakukan hal tersebut.

Kali ini, Troy merasa sedikit penasaran dengan lawan mainnya dalam beradu gaya. Masalahnya, lawan mainnya tersebut adalah model wanita yang baginya cukup asing, atau bisa dibilang baru. Namanya Alice Philips. Jika ditilik dari namanya, Troy hampir yakin jika perempuan ini adalah perempuan bule. Bisa saja Troy mencari tahu melalui internet, tapi tentu saja ia tidak melakukannya karena ia lebih suka dengan yang namanya kejutan.

Setelah menaiki lift, akhirnya, sampailah Troy tepat di depan sebuah kamar. Ia dipersilahkan masuk oleh dua orang yang memang berjaga tepat di sebelah pintu tersebut. Kemudian tanpa basa-basi lagi. Troy masuk.

Rupanya, disana sudah ada beberapa kru yang sedang menyiapkan diri. Sedangkan yang lainnya sudah tampak memulai pekerjaannya di dalam sebuah kamar.

“Jadi, Scene pertama di atas ranjang?” tanya Troy saat menatap sebuah script yang disiapkan oleh kru.

Meski itu hanya sebuah pemotretan, tapi biasanya kru-krunya memiliki script atau alur cerita agar para model bisa menyesuaikan diri dengan ekspresi mereka dan supaya gambar mereka dapat ditangkap dengan baik dan terlihat lebih alami lagi.

“Ya, dan elo harus bersikap seolah-olah elo adalah suami yang bergairah.” Jawab salah seorang krunya.

Troy melemparkan kepalanya ke belakang dan tertawa lebar. “Sial! Memang seperti apa sih, penampakan si perempuan?” tanya Troy penasaran.

“Elo belum pernah lihat dia atau mencari tahu tentangnya?” Si Kru berbalik bertanya.

Troy mengangkat kedua bahunya. “Selama ini, para gadis yang selalu mencari tahu tentang gue. Memangnya dia siapa bisa membalikkan keadaan itu?”

Si Kru mendengus sebal dengan kesombongan yang ditampilkan oleh Troy. “Mending elo masuk aja gih. Jangan lupa longgarin itu celana elo, sebelum ‘adek’ elo membengkak tiba-tiba dan merusak resleting celana elo.” Ujar Si Kru dengan setengah menyindir.

Troy benar-benar tak mampu menahan tawa lebarnya. Kakinya melangkah dengan pasti menuju ke arah kamar yang akan menjadi tempatnya menunjukkan keahliannya dalam berpose panas. Tapi baru saja ia sampai di ambang pintu kamar tersebut dan pandangannya menyapu orang-orang di hadapannya, Troy kehilangan tawanya seketika.

Sial! Ia merasa pangkal pahanya berdenyut seketika saat mendapati seorang wanita muda sedang berpose seksi di atas sebuah ranjang. Tatapan wanita itu menatap lurus pada kamera di hadapannya. Wanita itu bertubuh ramping, perutnya datar, namun pinggul dan dadanya berisi padat. Rambutnya terurai berwarna merah kecoklatan, kulitnya putih tapi beberapa bagian tampak merona kemerahan. Wanita itu hanya mengenakan lingerie seksi yang sangat tipis, bahkan mendekati transparan. Troy bahkan dapat melihat dengan mata jelinya bagaimana puncak payudara wanita itu tersembunyi dengan indah dibalik lingerie yang dikenakan wanita tersebut.

Berengsek!

Apa yang dikatakan Krunya tadi benar. Saat ini, Troy merasakan pangkal pahanya membengkak seketika. Seakan celana jeans yang ia kenakat terasa menyempit, sesak dan ingin segera dibuka.

Sial!

Siapa yang yang mendatangkan wanita ini untuk dipasangkan dengannya? Apa ini akan menjadi sebuah berkah karena Troy yakin akan dapat meniduri wanita seksi dihadapannya tersebut? Ataukah ini akan menjadi ebuah kutukan, saat Troy sadar bahwa ia harus menahan hasrat membaranya beberapa jam kedepan atas nama profesionalisme di depan kamera?

Sialan! Entah kenapa saat ini Troy merasa jika sedang dikerjai oleh seseorang yang telah memasangkan dirinya dengan wanita tersebut. Tapi troy tak peduli, sungguh. Yang ia pedulikan saat ini dalah, bagaimana caranya agar pekerjaan sialannya ini segera selesai lalu mengajak wanita itu naik ke atas ranjangnya dan melampiaskan hasrat menggebu-gebuya pada wanita itu. Sungguh! Hanya itulah yang saat ini ada dalam pikiran Troy.

-TBC-