Bianca – Chapter 8 (Gugup dan salah tingkah)

Comments 2 Standard

 

Chapter 8

-Gugup dan Salah tingkah-

 

Aldo berjalan mondar-mandir di depan UGD sebuah klinik yang tak jauh dari tempat konser band Jason. Sesekali ia tampak menghubungi seseorang, tapi yang membuat ekspresinya keras adalah, orang yang ia hubungi tidak mengangkat telepon darinya sekalipun.

Tak lama, seorang suster keluar dan Aldo segera menghampirinya. “Bagaimana istri saya?” tanya Aldo kemudian.

“Istri bapak baik-baik saja, mungkin sedikit kelelahan.” Jawab suster tersebut sembari mempersilahkan Aldo masuk.

Saat Aldo masuk, ia sudah mendapati Sienna yang ternyata sudah duduk dan tersenyum ke arahnya. Aldo tahu, senyum apakah itu. Apa Sienna sedang mengerjainya? Seperti dulu yang pernah dilakukan istri usilnya itu padanya?

“Hai, kak.” Sapa Sienna sembari mengangkat tangannya.

“Kamu, baik-baik saja, kan?” tanya Aldo yang masih tampak khawatir dengan keadaan Sienna.

Sienna menunggu para suster keluar dari bilik tempatnya duduk di sebuah ranjang UGD. Setelah suster tersebut pergi dari sana, Sienna terkikik sendiri. Ia merengkuh jemari Aldo kemudian berkata “Maaf, aku harus melakukan ini. Habisnya kamu mau gangguin Bianca sama Kak Jason.” Ucap Sienna dengan nada yang dibuat semanja mungkin.

Mata Aldo membulat seketika. “Jadi kamu nggak apa-apa? Nggak ada yang sakit?”

“Ya, maaf, ya…”

“Sienna!” Aldo mendengus sebal. Ia tidak menyangka jika Sienna akan berbuat seperti ini lagi. Menggunakan calon bayi mereka untuk membohonginya. “Apa kamu nggak tahu bagaimana khawatirnya aku? Kita sudah pernah kehilangan calon bvayi kita, bisa-bisanya kamu membuat lelucon ini.” Aldo benar-benar sangat kesal dengan sikap Sienna. Masalahnya, dulu, mereka sudah pernah kehilangan calon buah hati mereka, jadi bisa dibayangkan bagaimana khawatirnya Aldo dengan keadaan Sienna saat ini.

“Kak, aku hanya ingin kamu memberikan Bianca sedikit kebebasan.”

“Kebebasan berciuman di depan umum? Yang benar saja. Dulu, saat Felly menjalin hubungan dengan berandalan itu, aku sangat tidak suka. Dan kini, aku tidak akan membiarkan adikku jatuh ke tangannya.”

“Kak Aldo. Jangan lebay deh. Bianca itu hanya gadis bunga malam ini. Mereka nggak ada hubungan apapun.”

“Jadi dia di cium di depan umum hanya untuk keperluan konser sialan itu?” tanya Aldo yang tampak semakin emosi dengan penjelasan Sienna.

“Enggak kak. Astaga, aku bingung bagaimana jelasinnya. Makanya, kak Aldo jangan terlalu kuno, dong.”

“Apa kamu bilang? Kuno? Di saat-saat seperti ini kamu masih ngolokin aku?”

Kali ini Sienna yang mendengus sebal. “Terserah Kak Aldo deh, aku malas ngomong sama Kak Aldo lagi.” Ucap Sienna dengan kesal sambil membaringkan diri memunggungi Aldo. Sungguh, tak ada gunanya beradu argumen dengan suaminya pada saat seperti ini. Aldo memang sedang emosi, dan ketika lelaki itu sedang emosi, maka tak akan ada yang bisa menenangkannya kecuali Sienna dengan jurus andalannya yaitu merajuk.

“Kamu merajuk? Hei, aku marah dengan berandalan sialan itu, kenapa kamu yang merajuk?” Aldo tak bisa berbuat banyak. Saat Sienna sudah merajuk maka tak ada yang bisa ia lakukan selain mengalah dengan istrinya tersebut.

Sienna tidak mengindahkan perkataan Aldo, ia masih terbaring miring memunggungi suaminya, tapi dalam hati ia tertawa penuh dengan kemenangan. Ya, dengan begini Aldo tak dapat berkutik lagi, dan Sienna berharap jika lelaki itu tak akan lagi membahas apapun tentang ciuman yang terjadi antara Jason dan Bianca di atas panggung tadi.

Ciuman? Astaga, Sienna bahkan baru mengingat hal itu. Bocah nakal sialan itu ternyata menonton konser Jason tanpa sepengatahuannya. Dan entah kenapa, Sienna malah suka dengan kenyataan tersebut.

***

Pagi itu, adalah pagi yang cukup aneh untuk Bianca. ia merasa kurang nyaman dengan tubuhnya. Dan ketika dirinya membuka mata, Bianca baru sadar jika dirinya tidur dalam keadaan telanjang bulat.

Bianca segera duduk, lalu meraih selimut yang melorot hingga pinggangnya. Kemudian sebuah sapaan lembut dari Jason membuat Bianca mengingat, bagaimana panasnya hubungan mereka semalam.

“Pagi, Babee.”

Bianca menatap ke arah Jason. Rupanya lelaki itu sudah mengenakan kimononya, dan lelaki itu sudah tampak tampan dan segar. Mungkin karena baru saja mandi. Bianca merutuki dirinya sendiri, berharap jika saat ini dirinya tidak tampak berantakan. Tapi sepertinya, itu hanya sebuah harapan semu.

Dengan sedikit salah tingkah, Bianca hanya membalas sapaan Jason dengan “Hai.”

Bianca merasakan pipinya memanas, mungkin kini sudah merah merona. Dan astaga, Bianca benar-benar merasa gugup dan salah tingkah ketika berada di hadapan Jason saat ini.

Jika sebelumnya Bianca bisa mengontrol dirinya, maka tidak dengan pagi ini, tidak ketika ia mengingat bagaimana panasnya hubungan mereka semalam. God! Jason tampak sangat berkuasa, dan Bianca benar-benar suka saat membayangkan bagaimana panasnya Jason ketika berada di atasnya.

Sedangkan Jason sendiri, kini hanya bisa menahan senyumnya. Ia tersenyum karena Bianca tampak berbeda dari biasanya. Wanita itu tampak memerah, malu, bercampur dengan gugup. Kenapa? Padahal sebelumnya, Bianca merupakan gadis yang sangat percaya diri bagi Jason. Dan kini, wanita itu benar-benar tampak menggemaskan untuknya.

“Cokelat panasmu.” Ucap Jason sembari memberikan sebuah cangkir yang sejak tadi berada dalam tangannya.

Bianca menerimanya begitu saja, ia bahkan tidak berani menatap mata Jason dengan terang-terangan. Entahlah. Bagi Bianca, ada sebuah gelenyar panas yang seketika merayapi tubuhnya ketika mata mereka saling menatap satu sama lain.

Jason lalu duduk di pinggiran ranjang. Ia mencoba mengabaikan Bianca yang membenarkan letak selimut untuk menutupi tubuh telanjang wanita itu. Astaga, Jason mencoba mengendalikan diri setenang mungkin, padahal saat ini, dirinya sedang menegang kembali karena tergoda dengan keberadaan Bianca di hadapannya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya dengan nada lembut.

“Baik.” Ucap Bianca sembari menundukkan kepalanya. Bianca bahkan memilih menatap ke arah cokelat yang berada di dalam tangannya ketimbang harus menatap ke arah Jason yang begitu mempengaruhinya.

“Tidak perlu malu-malu begitu.” Ucap Jason dengan mata yang tak berhenti menatap ke arah wajah Bianca yang memerah.

“Malu-malu kenapa? Aku nggak malu-malu, kok.” Bianca mencoba mengelak dan hal itu membuat Jason semakin gemas dengan sosok Bianca.

Jason mendekat, dan dengan spontan dia mengecup puncak kepala Bianca hingga membuat Bianca mematung seketika. Bianca merasakan jika jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak ketika Jason mengecup puncak kepalanya.

Astaga, kenapa lelaki ini bisa semanis ini? pikir Bianca saat itu.

“Bee, kamu milikku sekarang.” Jason mengungkapkan kepemilikannya atas diri Bianca.

Bianca mengangkat wajahnya. Ia menatap Jason dengan wajah tak mengertinya. “Maksudmu?”

“Sekarang, kamu benar-benar menjadi kekasihku yang sesungguhnya. Jangan menolakku, jangan tinggalkan aku, dan jangan menyakitiku. Kamu akan menjadi satu-satunya wanita yang kusayangi.”

Bianca tersenyum.  Dan hal itu membuat Jason mengerutkan keningnya.

“Kenapa tersenyum? Kamu nggak suka dengan apa yang kukatakan?”

“Bukannya begitu. Kamu sudah mengambil apa yang kupunya. Bukankah seharusnya aku yang mengatakan kalimat itu? Jangan tinggalkan aku, karena semuanya sudah menjadi milikmu.”

“Kamu belum mengenalku, Bee.” Jason menghela napas panjang. “Sebelum ini, aku pernah mencintai seseorang begitu dalam. Dan dia mematahkan hatiku seketika, aku terluka, aku tersakiti. Benar-benar sangat sakit. Dan aku tidak ingin mengalami hal itu untuk kedua kalinya denganmu.”

Bianca menaruh cokelat panasnya di atas nakas, lalu jemarinya terulur menggenggam erat telapak tangan Jason.

“Aku tidak akan menyakitimu, Jase.”

“Apa ini sebuah janji?”

Bianca tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

Setelah itu, Jason mendekatkan wajahnya pada wajah Bianca sedangkan Bianca segera memejamkan maytanya. Ia tahu bahwa Jason akan menciumnya. Tapi ketika bibir mereka hampir saja saling menyentuh, suara ketukan pintu menyadarkan keduanya.

Jason menghentikan aksinya. Ia menatap ke arah Bianca, sedangkan Bianca sendiri segera membuka matanya mendapati Jason yang menatapnya dengan tatapan aneh. Keduanya lalu tersenyum satu sama lain.

Jason mengacak poni Bianca, sebelum ia bangkit dan membuka pintu kamarnya.

“Mungkin sarapan pesananku.” Ucapnya sembari meninggalkan Bianca. Bianca hanya tersenyum menanggapinya. Ia melihat Jason pergi menuju ke arah pintu.

Saat Jason membuka pintu kamar hotelnya, rupanya yang datang bukanlah pelayan hotel yang membawakan sarapan pesanannya, melainkan salah seorang personil The Batman, Troy. Untuk apa temannya itu datang pagi-pagi buta seperti ini?

“Sial, lo Jase. Kemana aja semaleman? Elo nggak keliatan setelah konser selesai.”

Jason mendengus sebal. Ia membuka sedikit pintu kamarnya agar Troy bisa melihat apa yang ada di dalam kamarnya. Dan benar saja, kepala Troy melonggok ke dalam dan ia mendapati Bianca yang masih berbalutkan selimut tebal dari hotel. Wanita itu tampk asik menikmati sesuatu di atas ranjang Jason, dan hal itu segera membuat Troy mengumpat keras.

“Berengsek!”

Jason segera mendorong tubuh Troy keluar, dan dirinya sendiri ikut keluar dari kamarnya sebelum menutupnya agar Bianca tidak mendengar umpatan khas dari temannya itu.

Troy tertawa lebar. “Elo benar-benar bajingan ya. Gerak cepet banget lo.”

“Udah, nggak perlu basa-basi. Sekarang kenapa elo ke sini?”

“Produser dan yang lain ngajak meeting pagi ini. Yang lain sudah nunggu di resto.”

Jason menghela napas panjang. Ia tidak suka kebersamaannya dengan Bianca pagi ini terganggu. Lagi pula, tumben sekali produsernya itu mengajak meeting pagi-pagi. “Oke, gue ganti baju dulu.” Jason bersiap masuk, tapi kemudian perkataan Troy membuatnya menghentikan langkahnya.

“Elo, nggak nganggep dia kayak cewek-cewek yang gue sediain selama ini, kan Jase?” tanya Troy dengan sedikit serius.

Jason mengerutkan keningnya, ia membalikkan tubuhnya dan menatap temannya tersebut. “Kenapa elo tanya begitu?”

“Gue hanya nggak mau elo salah jalan. Fine! Gue memang berengsek karena ngajarin elo yang enggak-enggak selama ini. Tapi, setidaknya, wanita yang selama ini elo tidurin dan elo campakan setelahnya adalah wanita bayaran, bukan wanita kayak Bianca.”

“Tenang saja, dia berbeda.”

Troy menepuk-nepuk pundak Jason. “Oke, kalau gitu, gue bisa lega.”

“Elo, nggak ada maksud lain, kan?” tanya Jason kemudian.

“Maksud lo?” Troy bertanya balik karena tidak mengerti.

“Bianca, elo ngga sedang tertarik sama dia, kan?”

Troy tertawa lebar. “Lo gila? Gue nggak akan pernah macarin cewek temen gue sendiri.”

“Kalau mantan?” tanya Jason kemudian.

Troy tersenyum penuh dengan kemisteriusan. “Gue nggak janji, makanya, jangan sampai buat dia jadi mantan elo. Hahahaha.” Jawab Troy sembari tertawa lebar dan meninggalkan Jason di depan pintu kamarnya.

“Sialan!” Yang bisa Jason lakukan hanya mengumpati kelakukan temannya itu. Mantan? Tidak, ia tidak akan membiarkan Bianca menjadi mantan kekasihnya. Tidak dalam waktu dekat.

***

Jason sarapan bersama dengan teman-teman dan juga official The Batman. Meski dirinya berada di sana, tapi pikiran Jason seakan masih tertinggal di kamarnya. Ditempat Bianca berada. Apa Bianca menghabiskan sarapannya? Apa Bianca sudah mandi? Sudah berpakaian? Apa dia bosan? Dan entah apalagi pertanyaan-pertanyaan tentang Bianca yang kini sedang menari-nari di kepalanya.

Raga, selaku Produser The Batman tampak memperhatikan gelagat Jason. Dan hal itu membuatnya bertanya “Apa yang sedang kamu pikirkan?”

Jason menatap Raga seketika. “Oh, tidak ada.”

“Konser kalian berjalan dengan sangat sempurna tadi malam. Pagi ini, semua media memberitakan tentang konser kalian. Video gadis bunga di youtube bahkan menjadi trending hanya dalam semalam.”

Jason hanya memainkan kopi di hadapannya sembari menganggukkan kepalanya.

“Siapa gadis itu, Jase?” pertanyaan Raga membuat Jason menatap ke arah produsernya tersebut seketika.

Sebenarnya, dalam Band mereka memang ada kontrak yang menyatakan jika semua personel The Batman tidak boleh memiliki kekasih dalam waktu yang sudah ditentukan. Tapi nyatanya, mereka semua memiliki kekasih. Raga, selaku Produser yang mengorbitkan mereka tentu mengetahui hal itu. Tapi Raga tampak enggan mengurus masalah sepele itu. Yang penting, mereka tidak menampakkannya di depan umum dan juga yang penting hal itu tidak berpengaruhi pasar atau image The Batman sendiri. Tapi kini, Raga seakan memiliki keingin tahuan pada hubungan Jason dengan Bianca. Hal tu yang membuat Jason merasa tidak nyaman.

“Ayolah, dia hanya gadis acak yang di pilih Jason. Bukan begitu, Jase?” Troy membela Jason.

Raga bersedekap. “Aku cuma nggak mau timbul gosip yang tidak-tidak tentang kalian, terutama kamu, Jase. Gosip-gosip tentang kamu Gay saja sudah cukup memusingkan.”

“Itu karena peraturan sialan di managemen, lagian, kita bisa dengan mudah menepis gosip itu dengan cara Jason mengenalkan perempuan sebagai kekasihnya.”

“Tidak!” Raga berseru dengan ide yang diungkapkan Ken. “gosip itu sebenarnya cukup menguntungkan pasar kita. Anggap saja itu sebagai bahan promosi album baru kalian nanti. Selagi para media belum mendapatkan bukti yang konkrit maka kalian akan sering di beritakan. Anggap saja itu sebagai promosi gratis.” Raga lalu menatap Jason dengan mata tajamnya. “Lagi pula, aku nggak mau, kalau sampai gadis itu yang akan dikenalkan Jason di depan publik.”

Mata Jason menatap tajam ke arah Raga. “Kenapa?” sungguh, Jason bingung dengan keinginan lelaki yang duduk di hadapannya tersebut. Sedikit informasi, bahwa Raga memang belum pernah sekalipun bertatap muka secara langsung dengan Bianca. Bianca memang selalu memani Jason saat konser selama dua bulan terakhir, tapi Bianca belum pernah bertemu dengan Raga secara langsung.

“Kamu tidak perlu tahu alasannya, kamu bisa mencari gadis lain, tapi tidak dengan dia.”

Mata keduanya saling menatap dengan tatapan tajam masing-masing. Meja mereka tampak hening, suasana terasa tidak enak, hingga kemudian, Troy merasa jika dia harus kembali mencairkan suasana.

“Udahlah, kalian kenapa bahas masalah gak penting ini sih. Mending kita bahas tema konser selanjutnya. Ya nggak?” tanyanya sembari menyikut Ken.

“Bener banget kata Troy.” Ken setuju. Lalu semuanya kembali membahas konser selanjutnya yang akan datang.

Meski begitu, hal tersebut tidak membuat Jason mengenyahkan semua perkataan Raga tadi. Ia merasa ada yang aneh dengan produsernya itu. Biasanya, Raga hanya akan membahas tentang pasar dan sejenisnya. Bukan tentang masalah pribadinya seperti saat ini. Lagi pula, Raga itu siapa? Lelaki itu baru menjadi Produsernya selama setengah tahun terakhir setelah menggantikan kakaknya yang pensiun dini. Kenapa pria itu tampak ingin sekali mengurusi masalah pribadinya?

***

Setelah menghabiskan sarapan paginya dengan lahap. Bianca memilih membuka ponselnya sembari berguling-guling manja di ranjang hotel. Ia mendapati banyak sekali missed call dari Aldo, kakaknya. tapi Bianca malah memilih mengabaikannya.

Bianca membuka sosial medianya. Membuka akun Jason, dan melihat begitu banyak lelaki itu di tandai dalam berbagai macam foto di akun instagramnya.  Yang membuat Bianca kaget adalah, bahwa kebanyakan foto-foto tersebut menampakkan saat Jason berciuman dengannya di atas panggung.

Jason dengan Gadis bunga, tadi malam.

Ceweknya gendut dan jelek.

Jason sangat manis.

Jalang sialan! Menjauh dari pacarku!

Membaca-baca berbagai macam caption dan komentar yang dituliskan para peggemar Jason membuat Bianca kesal.

“Gendut? Astaga, apa matanya rabun?” Bianca menanggapi caption itu dengan kesal.

Dia akan menjadi pelacur Jason.

Jangan cium suamiku!

Bitch!

Dan banyak lagi caption-caption dan juga komentar-komentar yang membuat Bianca kesal. Akhirnya, Bianca tak kuasa menahan diri. Ia membalas sesuatu di kolom komentar di salah satu postingan fans Jason yang membuatnya sangat kesal.

Dia bukan jalang, dia hanya gadis yang beruntung.

Setelah itu, Bianca mengeluarkan diri dari sosial medianya, melemparkan ponselnya ke sembarang arah dan menenggelamkan wajahnya diantara bantal yang tersedia di sana. Ia benar-benar kesal. Dan mungkin ia tidak akan lagi menanggapi komentar-komentar menyakitkan  dari fans fanatik Jason. Bianca menghela napas panjang. Sungguh, ia menyesal menjadi stalker akun sosial media kekasihnya itu.

“Ada apa?” suara itu membuat Bianca mengangkat wajahnya. Ia tidak menyangka jika Jason sudah kembali dari meetingnya bersama dengan para officialnya.

“Hai.” Bianca duduk seketika. Ia bahkan segera merapikan rambut pirangnya agar tidak terlihat berantakan di mata Jason. Astaga, kenapa ia merasa gugup dan salah tingkah seperti ini saat berhadapan dengan Jason?

“Sudah habis sarapannya?” tanya Jason sambil duduk di pinggiran ranjang.

“Ya, itu sudah habis.”

“Kenapa kayak kesal gitu?”

Dengan nada merajuk, Bianca menjawab “Fans kamu tuh, ngeselin. Masa aku dibilang gendut dan jelek.”

Jason tertawa lebar. Ia mengulurkan jemarinya mengacak poni Bianca, hal yang saat ini sangat ia gemari. “Mereka hanya cemburu.”

“Tapi mereka keterlaluan. Aku dibilang jalang lah, pelacur lah.”

“Maafkan aku, Bee. Seharusnya aku nggak melakukan itu di depan umum tadi malam.”

“Enggak, itu bukan salah kamu. Maksudku, penyanyi luar juga sering melakukan itu.”

“Itu kan budaya luar, bukan budaya kita. Dulu, memang sering ada gadis bunga, tapi aku hanya memberinya bunga, mempersilahkan dia mengecup pipiku, lalu memeluknya dengan kasih sayang. Hanya itu. Tidak sampai menciumnya seperti yang kulakukan padamu tadi malam. Tapi di hadapanmu, aku tidak dapat menahannya. Akhirnya, kamu yang kena bully.”

“Enggak Jase, sungguh, aku nggak menyesali hal itu.”

Jason tersenyum. “Aku tahu.” Lalu dia menghela napas panjang sebelum berkata “Bee, maafkan aku, aku belum bisa mengungkapkan hubungan kita di depan publik.” Ucap Jason dengan serius.

Bianca hanya tersenyum dan mengangguk. Ia tahu, apa konsekuensi yang harus ia terima saat memutuskan untuk menjalin kasih dengan seorang superstar. Dan ia akan bertahan. Ya, bukankah dirinya adalah gadis yang kuat?

***

Di lain tempat…

Aldo mengangkat panggilan di ponselnya yang berdering. Sedikit mengereutkan keningnya ketika ia mendapati siapa si pemanggil. Rupanya itu salah seorang teman SMAnya yang sudah cukup lama tidak saling menyapa. Ada apa? Apa mereka akan mengadakan reuni?

“Hei, Ga. Apa kabar?” tanya Aldo dengan sedikit basa basi.

“Baik. Elo sendiri gimana kabarnya?”

“Baik juga. Ada apa? Tumben elo hubungin gue.”

“Al, gue mau tanya. Uuum, Bianca, adek elo sudah pulang dari Inggis, Ya?” tanya suara di seberang.

Aldo mengerutkan keningnya. Oh ya, dulu, temannya ini memang sempat naksir dengan adiknya yang saat itu masih SMP. Dan Aldo masih tidak menyangka jika temannya ini masih ingat dengan Bianca dan menanyakan tentang Bianca secara terang-terangan.

“Ya, dia sudah balik dari beberapa bulan yang lalu. Kenapa Ga? Astaga, jangan bilang kalau elo masih naksir adek gue.”

“Hahahahha” terdengar suara tawa di seberang. “Al, kapan-kapan, kita ngopi bareng. Mau kan?”

“Hahhaha oke, oke. Gue tunggu undangan elo.”

Dan setelah itu panggilan di tutup. Aldo hanya menggelengkan kepalanya. Lelaki itu adalah Raga, temannya dulu semasa SMA dan di bangku perguruan tinggi. Raga sendiri pernah mengaku tertarik dengan Bianca. tapi itu dulu. Dan Aldo tidak menyangka jika sekarang, setelah cukup lama tak saling menyapa, Raga malah menghubunginya lebih dulu dan menanyakan tentang Bianca.

Apa ini tandanya bahwa ia harus mencomblangkan adiknya itu dengan temannya? Sejauh yang Aldo tahu, Raga adalah sosok yang baik. Jadi, kenapa tidak mencobanya saja.

-TBC-

Advertisements

Bianca – Chapter 7 (first night with Bee)

Comments 2 Standard

 

Haiiii aku balik lagi nih… hehehhehe maaf bgt kemarin gak update karena aku tutup malem. huwaaa oke langsung saja yaa. Ehhh BTW, sedikit infi kalau FUTURE WIFE sudah aku hapus sebagian seperti yang sudah aku rencanakan Yaa,… maafffff bgt. hehehehhe

 

 

Chapter 7

-First Night with Bee

 

Aldo berdiri dan bersiap berjalan menuju ke arah panggung. Tapi kemudian, Sienna menghentikannya.

“Kak, kamu apa-apaan sih?” tanya Sienna dengan sedikit kesal.

“Apa-apaan bagaimana? Itu Bianca. Dan si Berengsek sialan itu sedang menciumnya di depan umum.”

Aldo masih bersiap pergi, tapi kemudian Sienna memeluk tubuh Aldo dari belakang. Berharap jika Aldo menghentikan langkahnya. Dan benar saja, Aldo menghentikan langkahnya.

“Apa yang kamu lakukan, Si?”

“Tolong, jangan ganggu mereka.”

“Apa maksudmu?” tanya Aldo tak mengerti.

Sienna melepaskan pelukannya “Kak, hal seperti ini wajar dilakukan saat konser. Mungkin ini hanya keberuntungan bagi Bianca, karena dia yang terpilih sebagai gadis bunga. Kalau Kak Aldo ke sana dan mengacaukan semuanya, bisa-bisa Kak Aldo di keroyok sama keamanan karena mengganggu jalannya konser.”

“Aku nggak peduli.”

“Kak.” Sienna kembali memeluk Aldo kembali.

“Sienna…”

“Ahhh, perutku, perutku sakit.” Sienna lalu tergeletak begitu saja, dan hal tersebut membuat Aldo panik dan memanggil-manggil nama istrinya tersebut.

***

Di atas panggung.

Setelah bercumbu mesra dengan Bianca tanpa menghiraukan para fansnya. Jason akhirnya melepaskan tautan bibir mereka setelah ia merasa napas Bianca hampir habis. Jemarinya terulur mengusap lembut pipi Bianca yang merah merona.

Bianca tampak sangat mengoda, apalagi saat wanita itu tak  berhenti menggigit bibir bawahnya sendiri.

“Tunggu aku di ruang ganti.” Bisik Jason ditengah-tengah riuhnya para Fans yang histeris dengan ulahnya.

Bianca hanya tersenyum. Ia mengagguk. Lalu turun dari bangku yang ia duduki. Kemudian Jason mengajaknya menuruni panggung dan menuju ke arah Official. Setelah itu, Jason kembali naik ke atas panggung dan melanjutkan konsernya.

Bianca hanya menatap lelaki itu. Lelaki yang baru saja menciumnya di depan umum. Lelaki yang baru saja memberinya sebuah ciuman pertama. Astaga, ciuman pertama?

Jika saat ini Bianca tak sedang berada di tempat umum, mungkin ia sudah bersorak sorai seperti orang gila karena ciuman pertamanya jatuh pada seorang yang begitu keren seperti Jason. Astaga, Bianca benar-benar tak dapat menahan kebahagiaan yang membuncah di hatinya.

***

Setelah menungggu cukup lama, Bianca akhirnya mendapati pintu ruang ganti Jason terbuka menampilkan lelaki yang sejak tadi ia tunggu. Jason kembali dengan keringat di wajahnya, dengan kaus tanpa lengannya. Dan sial! Lelaki itu benar-benar tampak panas untuk Bianca.

“Hai.” Bianca berdiri seketika sambil menyapa Jason.

“Ayo ikut aku.”  Jason meraih hoodynya, lalu menyambar pergelangan tangan Bianca, kemudian mengajak Bianca keluar dari dalam ruang gantinya dengan mengenakan hoddy yang baru saja ia ambil dari ruang gantinya.

“Kita mau kemana?” tanya Bianca sedikit bingung. “Kamu, sudah selesai konsernya?” lanjutnya lagi.

“Ya, sudah. Ikut saja kemanapun aku pergi.” Dan yang bisa Bianca lakukan hanya menuruti apapun yang dikatakan Jason padanya.

***

Keduanya menuju ke arah hotel yang memang tak jauh dari tempat konser Jason. Jantung Bianca tak berhenti berdebar kencang apalagi saat keduanya masuk ke dalam lift yang hanya mereka tumpangi berdua.

Jason tak berhenti menggenggam erat jemari Bianca, dan hal itu membuat Bianca semakin gugup merasakan perasaan yang sulit ia artikan.

Keluar dari dalam lift, Jason membimbing Bianca menuju ke arah kamarnya. Meski konser tersebut di adakan di kota yang sama, tapi penyelenggara konser memang menyediakan kamar hotel untuk masing-masing personel The Batman beserta officialnya. Dan kini, Jason sedang mengajak Bianca menuju ke kamar hotelnya.

Masuk ke dalam kamar tersebut, Jason mengunci diri mereka berdua di dalam kamar itu. Bianca sempat tak mengerti apa yang akan dilakukan Jason selanjutnya. Tapi ketika Jason membalikkan tubuhnya untuk menatap lelaki itu, Bianca tahu, jika kini Jason sedang menginginkan sesuatu darinya.

Mata lelaki itu tampak berkabut, dan menurut yang ia baca, saat seorang lelaki menatap seorang perempuan dengan mata berkabutnya, maka itu tandanya bahwa lelaki itu sedang menginginkan sesuatu dari wanita di hadapannya. Sesuatu yang intim tentunya.

“Jase….” Bianca memanggil nama Jason, karena mata Jason tampak tak berkedip menatap ke arahnya.

Jemari Jason tiba-tiba terulur, mengusap lembut pipi Bianca. Mata Bianca terpejam ketika merasakan kelembutan Jason yang membuat tubuhnya bergetar seketika.

“Jase… hemmm.” Racau Bianca saat ibu jari Jason mengusap lembut bibir bawahnya.

“Apa kamu tahu, kamu membuatku tergoda.” Bisik Jason dengan suara seraknya. “Aku harus bagaimana, Bee?” tanya Jason kemudian.

Bianca membuka matanya, kemudian ia bertanya balik pada Jason. “Apa yang kamu inginkan dariku?” suara Bianca bahkan sudah ikut serak, pelan, hampir tak terdengar.

“Kamu, aku menginginkan kamu.” Jason menjawab dengan lembut, sebelum ia mendaratkan bibirnya pada bibir Bianca. mencumbunya dengan panas menggoda.

Bianca sendiri tidak menolak. Ia bahkan mengalungkan lengannya pada leher Jason, membalas cumbuan Jason tersebut.

Keduanya larut dalam gairah. Jason merasakan pusat gairahnya menegang, semakin sesak ingin dibebaskan. Sedangkan Bianca merasa basah seketika hanya dengan cumbuan panas yang mereka lakukan.

Astaga, Jason benar-benar pandai berciuman, dan hal itu membuat Bianca tak kuasa untuk menolak keinginan dari lelaki tersebut.

Jason melepaskan tautan bibir mereka. Lalu ia menatap Bianca dengan matanya. “Bee, aku benar-benar menginginkanmu.” Ucap Jason sekali lagi. Berharap jika Bianca mengerti apa yang ia inginkan, dan wanita itu mengizinkan untuk menyentuhnya.

“Maka lakukanlah.” Jawab Bianca yang memang tak dapat menolak permintaan Jason.

Ya, Bianca sempat lama tinggal di luar negeri. Ia tahu pasti bagaimana pergaulan di sana. Seks bebas di luar nikah tentu bukan hal yang tabu di sana. Meski begitu, ia belum pernah melakukannya sekalipun. Bianca lebih asyik dengan dunianya sendiri, baginya, tak ada satupun lelaki yang tampak hot seperti tokoh di dalam novel-novel yang pernah ia baca. Tapi dengan Jason, pandangan tersebut berubah. Jason sudah seperti visualisasi dari tokoh-tokoh dalam novel impiannya. Tampan, panas, menggoda, dan Bianca rela memberikan semuanya pada lelaki ini.

“Kamu yakin?” tanya Jason sekali lagi.

Selama ini, Jason memang sering meniduri wanita. Tapi wanita-wanita itu adalah wanita bayaran. Bukan wanita seperti Bianca yang merupakan wanita baik-baik dengan keluarga terhormat. Setidaknya, itu yang Jason tahu. Maka dari itu, Jason ingin memastikan sekali lagi. Karena dia tidak ingin, ada penyesalan dengan diri Bianca nantinya.

“Ya, lakukanlah.” Bianca menjawab dengan mantap.

Jason tersenyum. Ia kembali mengusap lembut pipi Bianca sebelum kemudian jemarinya turun dan mulai membuka T-shirt yang dikenaka Bianca.

“Sejak di atas panggung, aku sudah menahannya. Kamu membuatku tidak fokus.”

Bianca tersenyum dengan ucapan Jason. Ia tidak menyangka jika Jason akan mengucapkan kalimat itu. Membuatnya semakin berdebar dengan perkataan lelaki tersebut.

Jason menurunkan rok pendek yang dikenakan Bianca. lalu ia terpaku sebentar menatap keindahan yang terpampang di hadapannya.

“Kamu sangat indah.” Ucap Jason dengan suara seraknya.

Jemari Bianca terulur, meraba dada Jason, lalu dengan penuh percaya diri, ia membuka Hoody yang dikenakan lelaki di hadapannya tersebut.

“Aku yakin, kamu juga sama indahnya.” ucapnya sembari membuka kaus tanpa lengan yang  dikenakan Jason.

Jason berdiri telanjang dada, sedangkan Bianca hanya mengenakan dalamannya saja.

“Kupikir, kita akan cocok, Bee.”

“Ya, tentu saja.” Bianca setuju.

Sambil menelan ludah dengan susah payah, Jason membalikkan tubuh Bianca hingga berdiri membelakanginya. Kemudian, ia mendaratkan bibirnya, mencumbu pundak Bianca, lalu turun, menuruni punggung wanita tersebut.

Bianca hanya bisa memejamkan matanya sembari menahan gelenyar panas yang menghantamnya. Jason benar-benar mampu memancing gairah seseorang.

Jason menghentikan aksinya ketika bibirnya sampai pada pangkal punggung Bianca. lalu jemarinya membuka tautan bra yang dikenakan Bianca. Jason melepaskan bra tersebut kemudian mengirup aromanya.

“Harum.” Bisiknya.

Jason membalikkan tubuh Bianca hingga wanita itu berdiri telanjang dada tepat di hadapannya. Jemari Jason menangkup payudara Bianca kemudian menggodanya.

Bianca memejamkan matanya, sesekali menggigit bibir bawahnya saat Jason melakukan hal tersebut. Ia tergoda, ia bergairah, dan semua itu karena seorang Jason.

Tanpa di duga, Jason mendaratkan bibirnya pada puncak payudara Bianca. Menggoda puncak tersebut dengan bibirnya, memainkan dengan lidahnya, hingga tak kuasa membuat Bianca mengerang dengan ulahnya.

Setelah cukup lama menggoda kedua payudara Bianca, dengan nakal jemari Jason turun, menelusup memasuki panty yang masih dikenakan Bianca, mencari-cari pusat diri Bianca dan mulai memainkannya.

“Ohhh, astaga…” dengan spontan Bianca mengalungkan lengannya pada leher Jason. Meminta lelaki itu agar tidak menghentikan aksinya, karena Bianca sangat menyukainya, ya, sangat suka.

Tapi Jason berpikir lain. Ia sudah cukup lama menahan diri, jadi ia tak ingin menahan terlalu lama lagi.

Jason menghentikan semua aksinya hingga membuat Bianca menatapnya dengan kecewa. Jason tersenyum dengan tatapan Bianca tersebut. Kemudian ia berkata “Jangan kecewa, aku hanya akan memulainya lebih cepat dari yang kuinginkan.”

“Kenapa?”

“Aku tak bisa menahannya terlalu lama.” Jawab Jason sembari membuka celana yang ia kenakan.

Bianca tersenyum, lalu ia menyadari keadaannya yang masih perawan, apa ia harus mengatakan pada Jason tentang kenyataan tersebut? Bagaimana jika Jason memilih untuk menghentikan aksinya karena takut?

“Uuum, Jase. Aku boleh bilang seuatu?” tanya Bianca sedikit ragu.

“Ya, apa? Jangan bilang kalau kamu berubah pikiran.”

Bianca tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Uumm, aku, aku masih perawan.” Ucap Bianca dengan jujur.

Jason terpaku seketika. Ia menatap Bianca dengan tatapan tak percayanya. Dan hal itu membuat Bianca tidak nyaman.

“Uum, aku tahu ini akan menggelikan untuk kamu. Tapi aku benar-benar ingin melakukan ini. Dan aku mengatakannya padamu supaya kamu tidak kecewa karena kamu baru tahu kalau aku tidak pandai di atas ranjang.” Ucap Bianca panjang lebar dengan wajah merona karena malu.

Bukannya merasa takut dengan apa yang dikatakan Bianca, Jason malah segera menangkup kedua pipi Bianca kemudian menyambar bibir Bianca tanpa basa basi lagi.

Bianca terkejut dengan apa yang dilakukan Jason. Bahkan kini Jason sudah mengangkat tubuh Bianca dan membaringkan wanita tersebut di atas rajangnya. Jason menindih tubuh Bianca, tanpa menghentikan cumbuannya. Jemarinya mencoba melepaskan celana dalamnya sendiri dan berusaha untuk tidak melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Bianca.

Tak berapa lama, Jason sudah terbaring tanpa sehelai benangpun. Segera ia menurunkan pakaian dalam Bianca yang masih tersisa di tubuh wanita tersebut, hingga kemudian, keduanya sudah sama-sama polos dan siap dengan hubungan panas yang akan mereka lakukan.

“Aku, akan memulainya, Bee.” Bisik Jason dengan suara seraknya.

Bianca hanya menganggukkan kepalanya. Matanya menatap intens mata Jason yang juga sedang menatapnya. Keduanya saling beradu pandang. Mata Jason yang menyiratkan sebuah keberanian, sebuah tanggung jawab yang hanya bisa di artikan oleh lelaki itu sendiri. Sedangkan mata Bianca terpancar sebuah kepercayaan, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Jason tidak akan menyakitinya dan Bianca percaya dengan hal itu.

Jason mencoba menyatukan diri. Awalnya sangat sulit, tapi setelah mencoba beberapa kali, akhirnya, Jason dapat menyatukan diri dengan sempurna. Bianca mengerang, tak pernah berpikir bahwa melepaskan kehormatannya akan terasa begitu sakit. Sakit tapi sangat intim.

Jemari Jason bahkan menenangkan Bianca dengan cara mengusap lembut pipi Bianca, ibu jarinya mengusap bibir bawah Bianca, dan hal tersebut memancing sebuah gelenyar dari dalam tubuh Bianca.

“Aku akan bergerak, aku akan bergerak.” Ucap Jason berulang kali. Berharap jika Bianca dapat meredakan rasa sakitnya dan mereka bisa segera memulai permainan panas di atas ranjang.

Bibir Jason lalu menyapu puncak payudara Bianca, sedangkan yang di bawah sana mulai bergerak menghujam dengan begitu lembut tapi pasti.

Bianca mengerang, mendesah dengan kenikmatan yang di berikan oleh Jason. Astaga, bahkan rasa sakit yang tadi ia rasakan kini menghilang entah kemana, digantikan dengan rasa aneh yang membuatnya dengan spontan ingin meneriakkan nama lelaki diatasnya tersebut.

“Jase… ohh…” Bianca mengerang. Dan karena erangan Bianca yang terdengar erotis di telinga Jason, Jason segera menghentikan aksinya. Ia kembali ke arah Bianca, dan menatap lembut wanita tersebut.

“Apa, aku menyakitimu?” tanya Jason dengan tubuh yang masih menyatu tapi tanpa pergerakan sedikitpun.

Bianca menggelengkan kepalanya. “Lakukan lagi, astaga, lakukan lagi.” Pereintah Bianca, bahkan kini, wanita itu sudah mencengkeram kedua pundak Jason.

“Kamu suka?” tanya Jason lagi.

“Ya, ya, ya. Aku suka.” Bianca menjawab dengan antusias.

Dan karena jawaban Bianca tersebut, Jason tersenyum. Ia meraih kedua tangan Bianca yang mencengkeram pundaknya, lalu memenjarakan tangan tersebut ke atas kepala Bianca dengan sebelah tangannya. Sedangkan sebelah tangan Jason yang lainnya mencoba mengarahkan wajah Bianca pada wajahnya. Jason kemudian mencumbu bibir Bianca dengan panas, pada saat bersamaan, tubuhnya mulai bergerak kembali, menghujam lagi dan lagi untuk mencari kenikmatan.

Keduanya hanyut dalam suasana panas dan intim. Jason merasa bahwa Bianca adalah wanita yang sangat luar biasa. Menggoda, menggairahkan dan tentunya memuaskan untuknya dalam hal di atas ranjang. Sedangkan Bianca sendiri, ia merasa bahwa Jason benar-benar panas, panas hingga membuatnya basah seketika dan memohon agar lelaki itu segera menyentuhnya.

Astaga, bagaimana mungkin Bianca bisa berpikir seperti itu? Bagaimana bisa seorang Jason mampu membuat fantasinya menjadi sebuah kenyataan?”

-TBC-

Bianca – Chapter 6 (Gadis Bunga)

Comments 2 Standard

 

Chapter 6

-Gadis Bunga-

Jason mengantar Bianca pulang saat jarum jam menunjukkan pukul Delapan malam. Sebenarnya, Jason ingin sekali masuk ke dalam rumah Bianca dan menyapa Ibu Bianca seperti tadi pagi. Tapi Bianca berkata jika tidak perlu.

“Kenapa?” tanya Jason yang saat ini sudah membuka helmnya. Ia menghentikan motornya tepat di depan pintu pagar rumah Bianca seperti yang diinginkan gadis itu. “Mama kamu baik, aku ingin menyapanya lagi. Lagi pula, nggak pantas kalau kamu pulang sendirian.” Jelas Jason.

Bukan tanpa alasan Bianca melarang Jason turun dan masuk ke dalam rumahnya. Masalahnya, ini sudah malam, yang artinya Papanya sudah pulang. Bianca tidak mau Jason bertemu dengan Papanya dengan penampilan seperti ini. Sedikit informasi, bahwa Mike, Ayah Bianca merupakan sosok yang keras, seperti Aldo, kakaknya. Bianca tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, seperti Sang Papa tidak menyukai Jason karena penampilannya, mungkin.

“Papa sudah pulang, jadi, kamu pulang saja.”

“Memangnya kenapa dengan papamu? Dia galak? Aku nggak takut.” Jason menjawab dengan serius.

Bianca tersenyum. “Aku nggak meragukan keberanianmu, tapi aku belum mau aja mengenalkanmu dengan ayahku.”

“Kenapa? Kamu malu?” tanya Jason penuh selidik.

“Apa yang harus membuatku malu? Pacarku adalah seorang superstar. Satu-satunya alasan adalah, bahwa aku nggak mau hubungan kita menjadi serius dan membosankan karena orang tuaku ikut campur didalamnya.”

“Ikut campur?” Jason mengangkat sebelah alisnya.

“Papaku orang yang sangat mengerikan.” Bisik Bianca. Dan setelah itu, ia tertawa lebar. “Sudah ah, pokoknya, cepat balik.” Lanjut Bianca.

“Oke, tapi ingat, besok malam, kita ada kencan lagi.”

“Oke.” Bianca menyetujui apa yang dikatakan Jason. Kemudian, tanpa di duga, ia menjinjitkan kakinya, dan mengecup singkat pipi Jason. “Selamat malam.” Ucapnya sembari berlari pergi memasuki gerbang rumahnya.

Jason hanya ternganga menatap kepergian Bianca. Gadis itu tampak berlari dengan ceria memasuki rumahnya. Ketika Bianca sudah menghilang di balik pintu pagar rumahnya, Jemari Jason mengusap lembut pipinya sendiri bekas kecupan Bianca di sana.

Ketika Jason sibuk dengan perasaannya sendiri, ponselnya berbunyi. Jason merogohnya dan mengangkat panggilan tersebut saat tahu siapa yang sedang meneleponnya.

“Hai, Li.” Itu Lili, sahabat lamanya yang hubungannya sempat renggang, namun kini hubungan mereka sudah kembali membaik saat kesalahpahaman diantara mereka sudah terselesaikan.

“Jase, maukah kamu menjemputku?” tanya Lili yang terdengar sedikit ragu.

Jason tersenyum “Tentu saja, dimana?” tanyanya kemudian.

“Di kafe, tempat kerjaku. Kutunggu, Jase.”

“Oke, segera meluncur kesana.” Dan setelah itu. Sambungan teleponnya diputus. Jason kembali menatap singkat ke arah rumah Bianca. Ia tersenyum sendiri sebelum kembali mengenakan helmnya dan mulai menyalakan mesin motornya. Jason melaju dari rumah Bianca dengan perasaan campur aduk.

Sial, apa ini? tanyanya dalam hati.

***

Jason menunggu di sebuah ruangan yang memang sudah disiapkan. Ruangan khusus untuk dirinya. Kafe tempat Lili bekerja memang sering mendatangkan Jason sebagai bintang tamu untuk bernyanyi di sana, bernyanyi sendiri, bukan dengan teman-teman Bandnya. Si pemiliknya memang kenal dekat dengan Jason, jadi ketika Jason datang ke tempat tersebut, Jason sudah disediakan tempat sendiri.

Saat ini, Jason sedang sibuk memeriksa ponselnya, dimana dia mendapati banyak sekali komentar di akun sosial medianya. Kadang, Jason berpikir, bagaimana jadinya ketika ia memposting sesuatu tentang wanita di akun jejaring sosialnya. Apa para fansnya akan menggila?

Saat Jason masih sibuk dengan ponselnya sendiri, pintu ruangan tersebut di buka dari luar. Jason mengangkat wajahnya dan mendapati Lili sedang masuk ke dalam ruangan tersebut.

Lili merupakan teman Jason sejak SMA, dia bekerja sebagai penyanyi sekaligus waiters di kafe tersebut. Hubungannya dengan Lili dulu sempat memburuk karena sebuah kesalah pahaman, tapi beberapa minggu terakhir, hubungan mereka sudah kembali membaik.

“Hai.” Jason berdiri seketika dan menyapa Lili dengan sedikit canggung. Masalahnya, saat Felly memutuskan hubungannya dengan Jason beberapa minggu yang lalu, Felly juga sempat mengatakan jika Lili memiliki perasaan lebih terhadap Jason. Dan hal tersebut membuat Jason canggung.

Jason sendiri tidak pernah menganggap lebih hubungannya dengan Lili. Lili adalah teman terbaiknya dulu sejak SMA, sejak dirinya belum terkenal. Dan hanya teman dekat, tidak lebih. Tapi di sisi lain, ia juga tidak ingin menyakiti perasaan temannya itu dan membuat hubungan mereka kembali merenggang.

“Hai, kamu datang dari tadi?” tanya Lili yang kini sudah berada tepat di hadapan Jason.

“Ya, kamu baru selesai?” Jason bertanya balik.

“Harusnya dari tadi, tapi mereka ingin aku menyanyikan sebuah lagu lagi.”

“Woww, rupanya sudah ada punya penggemar, ehh.” Godan Jason.

“Tetap saja, tidak sebanyak kamu.” Pipi Lili memerah karena godaan Jason tersebut.

Jason tertawa lebar. “Oke, oke, sekarang, ayo kuantar pulang.”

Lili mengangguk, lalu ia berkata “Terimakasih sudah mau menjemputku.”

“Kalau nggak sibuk, apapun yang kamu inginkan, akan kuturuti.” Jawab Jason sembari keluar dari kafe tersebut.

“Aku senang, kamu masih sama dengan Jason yang dulu. Padahal sekarang, karir kamu semakin menanjak.” Lili yang mengekor di belakang Jason berkomentar.

Jason tersenyum. “Karir tidak akan mempengaruhi kehidupan pribadiku. Li.” Jason menanggapi pernyataan Lili.

Pada saat bersamaan, ia sudah memakai penutup wajahnya sebelum keluar dari dalam kafe tersebut. Jason lalu menuju ke arah motornya, memakai helmnya dan memberikan Lili helm.

“Kamu habis keluar? Sama siapa?” tanya Lili kemudian.

“Ya, tadi nonton sama seseorang.”

“Pacar?” tanya Lili yang ingin Ttahu.

Jason tersenyum ia menatap ke arah Lili dan menjawab “Bukan.” Tentu saja Jason tak akan menceritakan tentang Bianca pada Lili. Lili akan sakit hati dengannya, dan ia tidak ingin hubungannya dengan Lili kembali merenggang.

“Ohh, kirain.” Ucap Lili sembari menaiki motor Jason. Keduanya berlalu dari halaman kafe tersebut meninggalkan sepasang mata yang sejak tadi mengawasi mereka.

***

Jason menatap bayangan di hadapannya. Sesekali ia menghela napas panjang, mengatur perasaannya agar ia tidak merasakan demam panggung.

“Apa kamu deg-degan?” pertanyaan Bianca membuat jason menatap ke arah bayangan wanita itu. Bianca kini memang sedang berdiri di belakangnya. Jason menatap bayangan Bianca dari cermin yang sama.

“Ya, ini sudah biasa.” Jawab Jason mencoba mengendalikan dirinya.

Saat ini, memang sudah tiba waktunya konser band The Batman. Seharusnya Jason tak perlu merasakan deg-degan lagi, karena ini bukan pertama kalinya ia melakukan konser. Hanya saja, kehadiran Bianca saat ini membuat Jason merasa bahwa ia harus membuat wanita itu terkesan nantinya.

Ini sudah lebih dari dua bulan lamanya Jason menjalin hubungan dengan Bianca. dan dalam jangka waktu tersebut, Bianca benar-benar mampu membuat dirinya melupakan sosok Felly. Setidaknya itu yang dirasakan Jason saat ini.

Bianca benar-benar memberikan dampak positif untuk Jason, Jason jadi lebih sering tersenyum dan lebih ceria ketika Bianca berada di sekitarnya. Hal itu membuat semua personel The Batman ikut senang. Troy bahkan terang-terangan memuji Bianca, bahkan temannya itu pernah berkata jika Jason nanti selesai dengan Bianca, maka Troy mau menjadi pengganti Jason untuk Bianca.

Benar-benar berengsek temannya itu.

“Kalau gitu, jangan diem gitu dong. Semangat.” Bianca memberi semangat Jason, dan yang bisa dilakukan Jason hanya tersenyum sembari mengacak poni pirang milik Bianca.

“Kamu duduk di tempat penonton lagi?” tanya Jason kemudian.

“Ya, kan aku juga beli tiket.” Bianca mempamerkan tiketnya.

“Bodoh, aku kan sudah pernah bilang, lain kali nggak usah beli. Kamu bisa duduk di tempat official.”

“Nggak asik, enakan teriak-teriak bareng sama fans-fans kamu.” Jawab Bianca dengan ceria.

Ini memang bukan pertama kalinya Bianca menonton konser Jason setelah hubungan mereka resmi menjadi sepasang kekasih Dua bulan yang lalu. Jason sudah beberapa kali melakukan konser, karena jadwal konsernya kini sedang cukup padat. Dan pada saat-saat itu, Bianca meluangkan waktunya untuk menemani Jason, dan menjadi penonton setia diantara ratusan bahkan ribuan fans-fans The Batman.

Hubungan mereka masih tersimpan dengan rapih, bahkan Bianca tidak pernah menceritakan apapun dengan orang-orang terdekatnya, termasuk Sienna.

“Jangan teriak terlalu kencang, tenggorokanmu nanti sakit.”

“Kan biar kamu bisa lihat aku.”

Jason tertawa. “Makanya, duduk saja di Official, atau di barisan depan. Maka aku bisa melihatmu dengan mudah.” Ya, karena selama ini, Jason memang tidak bisa menemukan dimana Bianca berada ketika menyanyi di atas panggung.

“Yee, berusaha mencariku, dong. Nanti aku kasih hadiah.”

“Apa?” tanya Jason penasaran.

Bianca terkikik geli, ia bangkit dan berkata. “Temukan aku, maka aku akan memberimu hadiah.” Setelah itu, Bianca pergi begitu saja dari ruang ganti Jason sembari melambaikan tangannya pada lelaki itu.

Jason hanya tersenyum melihat kepergian Bianca. pada saat bersamaan, Troy masuk ke dalam ruang gantinya. Troy sempat merasa heran dengan Jason yang tersenyum sendirian dalam ruangannya, tapi kemudian, Troy tahu, bahwa semua itu karena Bianca, karena ia baru saja mendapati Bianca keluar dari dalam ruang ganti Jason.

“Jase, elo sudah siap?”tanya Troy kemudian.

“Ya, Tentu saja.”

“Karena Bianca, ya?” pancing Troy.

“Elo apaan, sih.” Jawab Jason dengan tawa lebarnya.

“Jase, gue hanya bisa ngingetin. Jangan terlalu dalam menyukai seseorang, kalau elo nggak mau tersakiti lagi nantinya.” Ucap Troy sembari menepuk-nepuk bahu Jason.

Jason hanya mengangguk. Ia membenarkan apa yang dikatakan Troy. Ya, Jason tak akan membiarkan dirinya jatuh cinta lagi pada seorang wanita. Cukup seorang Fellysia saja yang membuatnya patah hati dan tersakiti. Tidak dengan wanita lain. Tapi Bianca? ahhh, apa yang ia rasakan pada Bianca hanya sebuah ketertarikan sekilas. Ya, hanya sebuah ketertarikan sekilas yang membantunya mendapatkan sebuah kesenangan. Tidak lebih. Pikir Jason dalam hati.

***

Konsernya berjalan dengan begitu meriah. Bahkan tempat tersebut penuh dengan para fans dari The Batman. Mungkin karena ini akhir pekan, atau mungkin karena popularitas The Batman yang semakin menanjak setiap harinya.

Bianca tak berhenti berteriak, memanggil-manggil nama Jason diantara banyak wanita yang mengidolakan lelaki itu. Kadang Bianca berpikir, rupanya, gosip jika Jason Gay tak mempengaruhi wanita-wanita di sekitarnya ini. nyatanya, mereka tetap saja mengeluh-eluhkan nama Jason dengan sesekali berteriak histeris.

Bianca tersenyum memikirkan hal itu. Kemudian ia kembali meneriakkan nama Jason agar lelaki itu dapat menemukan dirinya diantara ratusan fans The Batman. Dan betapa beruntungnya dia, pada detik itu, mata Jason menatap ke arah Bianca.

Bianca melambai-lambaikan tangannya dengan semangat. Jason tersenyum ke arahnya. Lalu Bianca mendengar Jason menyanyikan lagu ‘Pujaan Hatiku’ kali ini aransemennya dirubah menjadi lebih romantis, tidak menyakitkan seperti pertama kali ia mendengar Jason menyanyikan lagu tersebut.

Bianca melihat Jason melompat turun dari panggung. Beberapa bodyguard segera mengamankan diri Jason dari anarkisme para fans The Batman. Yang tidak dipercaya Bianca adalah, bahwa lelaki itu kini sedang berjalan menuju tempatnya berdiri.

Bianca ternganga, ia segera membungkam bibirnya sendiri ketika Jason benar-benar berada di hadpaannya. Lelaki itu masih menyanyi, sedangkan jemarinya yang lain terulur, seperti sedang mengajak Bianca untuk berjalan bersamanya.

Dengan jantung yang berdebar-debar tak karuan, Bianca menyambut uluran tangan Jason. Kemudian ia ikut berjalan disisi lelaki itu dengan diiringi teriakan histeris oleh para penggemar The Batman.

Wahai Gadis cantikku…

Pujaan hatiku…

Aku mencintaimu…

Sungguh sungguh mencintaimu…

Wahai gadis manisku…

Teman dalam candaku….

Aku mencintaimu…

Wahai pujaan hatiku….

Jason masih saja bernyanyi hingga mereka sampai di atas panggung. Bianca bahkan baru sadar jika di atas panggung sudah di siapkan sebuah kursi untuk ia duduki. Bianca akhirnya duduk di sana saat setelah Jason menyelesaikan lagunya.

“Baiklah, sepertinya sudah sangat lama aku tidak melakukan ini.” Jason berkata dengan para penggemarnya. Semua penggemar berteriak histeris setelah mendengar ucapan Jason.

Bianca sendiri masih tak mengerti apa yang akan dilakukan Jason padanya di depan umum. Lalu lelaki itu tampak sedang memanggil seseorang. Dan benar saja, ada seorang panitia konser tersebut yang datang memberikan Jason seikat bunga.

“Malam ini, dia akan menjadi gadis bungaku.” Jason berkata dengan lembut sembari memberikan bunga tersebut pada Bianca. Mata Jason bahkan menatap Bianca dengan begitu intens. Oh, Bianca merasa jika jantungnya akan meledak saat itu juga.

Mengesampingkan dadanya yang terasa nyeri karena debaran jantungnya yang memukul-mukul begitu keras, Bianca menerima bunga tersebut. Jason kembali bernyanyi, kali ini tanpa diiringi dengan musik yang pelan namun terdengar begitu romantis, bernyanyi mengitari kursi yang di duduki Bianca. Lalu lelaki itu menunjuk pipinya sendiri, seakan ingin jika Bianca mendaratkan kecupan lembut di sana.

Bianca menggelengkan kepalanya. Pipinya memerah seperti tomat. Ia tak pernah diperlakukan begitu manis seperti ini, apalagi di depan umum.

Masih dengan bernyanyi, Jason meraih telapak tangan Bianca. ia mendaratkan telapak tangan Bianca pada dadanya. Seakan menunjukkan pada Bianca jika jantung lelaki itu kini sedang berdebar menggila. Bianca yang merasakannya segera mematung, matanya menatap tepat pada mata Jason.

Jason lalu membawa jemari Bianca pada pipinya, seakan meminta Bianca untuk menyentuh pipinya. Sesekali lelaki itu mengangguk, mengisyaratkan agar Bianca menuruti apa maunya.

Dengan setengah melamun karena terbawa suasana, Bianca mendekatkan wajahnya ia memejamkan matanya dan bersiap mengecup lembut pipi Jason. Tapi kemudian, Bianca tersentak, ketika tiba-tiba Jason menghentikan nyanyiannya, menangkup kedua pipinya kemudian menautkan bibirnya pada bibir Bianca.

Mata Bianca terbuka seketika, membulat karena tak percaya jika dirinya akan di cumbu dihadapan banyak orang. Teriakan para fans The Batman tidak menghentikan keduanya saling mencumbu mesra satu sama lain.

Astaga, apa yang sudah terjadi? Pikir Bianca dalam hati.

***

Di sisi lain…

“Apa-apaan itu? Sialan!” Aldo bersiap maju meninggalkan tempat duduknya.

Saat ini, Aldo memang sedang menemani Sienna, istrinya, menonton konser yang baginya tidak masuk akal. Aldo memang bukan tipe orang yang suka hal-hal seperti ini. bahkan Aldo kerap kali melarang Sienna untuk menonton konser-konser seperti ini. Tapi hari ini, ia menuruti kemauan Sienna karena istrinya itu berkata jika sedang mengidam ingin menonton konser The Batman.

Dan kini, saat ia menuruti permintaan tersebut, sebuah fakta menggelikan ia dapatkan. Sang adik, Bianca, kini sedang berada di atas panggung, dan dengan begitu berengseknya si Jason mencium adiknya itu di hadapan banyak orang.

Apa-apaan lelaki itu? Bukankah itu sebuah pelecehan? Aldo tak akan membiarkannya. Sejak dulu Aldo tidak pernah suka dengan sosok Jason, dengan penampilan lelaki itu yang sudah seperti berandalan.

Dan sampai kapanpun, Aldo tidak akan pernah menyukainya!

-TBC-

Next, Part 7 di cerita Bianca adalah ‘First Night with Bee’ hayookkkkkk mikir apa.. hahahhahaa selamat menunggu yaaa…

Bianca – Chapter 5 (My Muse)

Comments 2 Standard

 

Chapter 5

-My Muse-

Sampai di studio musik tempat Jason latihan. Bianca di sambut hangat oleh teman-teman Jason. Ada Troy, yang memegang Drumer The Batman. Jiro yang memegang Bass, dan juga Kenzo yang memegang Gitar. Ketiganya berdandan seperti Jason. Tapi yang membuat Bianca senang adalah sikap ketiganya yang hangat menyambutnya.

Apalagi ketika Jason dengan terang-terangan menyebut bahwa Bianca adalah kekasihnya. Ketiganya bersorak bahagia sesekali menggoda Jason.

“Jadi, Jase, lo bener-bener punya pacar sekarang?” Troy bertanya sekali lagi untuk meyakinkan jika telinganya tidak salah dengar saat Jason mengumumkan hubungannya dengan Bianca tadi.

“Ya, kenapa Troy? Elo juga pengen punya cewek?” Jason bertanya balik.

Semua yang ada di dalam ruangan tersebut tertawa lebar. “Bung, pacar? Sial! kata itu nggak ada dalam kamus gue.” Jawab Troy sembari tertawa lebar.

“Kenapa?” Bianca bertanya dengan spontan.

“Bee, dia Gay.” Jiro menjawab cepat.

“Berengsek Lo!” Troy mengumpat hingga membuat yang ada di dalam studio tersebut kembali tertawa.

“Udah, udah, mending kita latihan. Konser selanjutnya sudah semakin dekat.” Jason menengahi. Akhirnya mereka menuju ke posisi masing-masing, sedangkan Bianca, ia memposisikan dirinya duduk senyaman mungkin di sebuah sofa panjang yang memang tersedia di ujung ruangan.

Sambil bersantai, ia menikmati pertunjukan Jason dan teman-temannya. Bianca suka saat mendengar suara lelaki itu. Bianca suka saat melihat aksi panggungnya, dan astaga, Bianca menyukai semua yang ada pada lelaki itu.

Bagaimana ini?

***

Tiba saatnya makan siang.

Bianca sempat berpikir jika mereka akan makan siang di sebuah restoran mewah atau mungkin di tempat seru lainnya. Mengingat mereka masih muda dan mereka sudah mencapai kesuksesannya jadi mereka bisa melakukan apa saja yang ingin mereka lakukan.

Tapi ternyata, mereka hanya memesan makanan cepat saji yang akan dimakan di studio tersebut. Tak ada yang special, hingga membuat Bianca bertanya-tanya, beginikah kehidupan sang Superstar?

“Kenapa nggak dimakan? Kamu nggak suka?” tanya Jason yang saat ini duduk di hadapan Bianca sembari menikmati makanannya.

“Enggak, aku hanya ingin bertanya, apa kalian melakukan ini setiap hari?” Bianca bertanya balik.

“Apa? Latihan?”

“Ya, latihan dan makan-makan seperti ini.”

“Ya, kami melakukannya setiap hari, kecuali saat konser dan hari minggu tiba.” Jason meminum minuman bersoda di hadapannya. “Kenapa?” tanyanya kemudian.

“Enggak, aku heran saja sama kalian. Kalian keren, punya banyak uang, pastinya. Tapi kalian memilih menghabiskan waktu kalian di dalam Studio ini setiap hari. Apa kalian nggak bosan?”

Jason menghela napas panjang. “Bosan pastinya. Tapi ini konsekuensi yang harus kami terima saat kami sudah terkenal.”

“Maksudnya?”

“Bee, ketika kami keluar, kami seakan tidak memiliki privasi lagi. Orang-orang –terutama remaja, akan dengan mudah mengenali kami, mengajak kami berfoto bersama, memeluk, mencium, bahkan ada yang terang-terangan minta ditiduri.”

Bianca membungkam bibirnya seketika. “Kamu yakin sampai segitunya?”

“Ya, kalau itu Troy, dia bisa menerima dengan senang hati, tapi tidak denganku atau yang lainnya.”

“Sialan, Lo!” Troy yang berada di seberang ruangan mendengar dan segera mengumpat pada Jason.

Jason tertawa. “Itu harga yang harus kami bayar utuk menjadi seorang superstar, Bee. Kehidupan kami seperti tidak memiliki privasi. Lalu, kami juga memiliki peraturan yang diatur oleh pihak management kami. Seperti, tidak boleh menikah, memiliki pacar, atau beberapa peraturan gila lainnya.”

“Jadi, kalian semua selama ini menjomblo?” Bianca bertanya denga raut wajah tak percayanya.

“Enggak semuanya. Ken punya pacar kok, tapi pacarnya nggak boleh keluar di publik. Itupun yang terjadi denganmu nanti.”

Oke, sekarang Bianca baru mengerti, kenapa Jason tidak ingin hubungan mereka kedepannya tercium oleh publik, dan kenapa lelaki itu sampai digosipkan Gay, karena ternyata managemen mereka memang melarang untuk mempublikasikan hubungan pribadi pada personelnya.

“Tapi, tadi pagi kamu keluar menjemputku.”

“Nggak akan ada yang tahu, aku pakai helm dan menutup hampir seluruh wajahku. Siapa yang tahu kalau itu Jason Vokalis The Batman.”

Bianca mengangguk setuju. Rupanya kehidupan Jason dan teman-temannya cukup menyedihkan. Bahkan bisa dibilang membosankan karena harus mengikuti peraturan management mereka layaknya anak yang masih sekolah yang harus disiplin dengan peraturan sekolah.

Tiba-tiba, Jason menggenggam jemari Bianca, hingga membuat Bianca sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Jason terhadapnya.

“Oleh karena itu, aku memilihmu. Kupikir, kamu berbeda dengan sosok gadis kebanyakan. Aku nggak mau menghabiskan hariku dengan begitu membosankan. Aku harap kamu mampu memberi warna tersendiri untukku, dan bisa menginspirasiku untuk menciptakan lagu-lagu baru.”

Woowww menginspirasi? Bianca benar-benar merasa terhormat dengan hal tersebut.

“Jase, itu terdengar keren. Menginspirasimu, ya?” Bianca menanggapi dengan sedikit bodoh. “Lalu, siapa selama ini yang sudah menginspirasimu membuat lagu-lagu keren itu?”

Tubuh Jason menegang. Ia sedang tidak ingin membahas tentang hubungan asmaranya yang sial, apalagi dengan Bianca.

“Aku suka banget saat dengerin kamu nyanyi lagu apa itu, ‘Pujaan hatiku’ ya?” tanya Bianca pada Jason untuk meyakinkan dirinya sendiri.

‘Pujaan Hatiku’, adalah judul lagu Jason yang memiliki irama melankolis. Cukup berbeda dengan lagu-lagu The Batman lainnya yang kebanyakan iramanya ngeRock. Lagu tersebut merupakan ciptaan Jason sendiri yang saat itu sengaja ia ciptakan untuk seseorang. Siapa lagi jika bukan Felly.

“Kenapa kamu suka dengan lagu itu?” Jason bertanya tanpa ekspresi. Jika boleh jujur, saat ini Jason tidak ingin lagi menyanyikan lagu tersebut. Ia ingin mengubur kenyataan bahwa Felly merupakan Sang Pujaan Hatinya.

“Nggak tahu, rasanya aku pengen ikutan nangis saat lihat dan dengar kamu nyanyi lagu itu.”

Jason menanggapi ucapan Bianca dengan sebuah anggukan. Lagu tersebut memang cukup Booming diantara lagu The Batman yang lain. Jika dicermati, nada dan liriknya cukup menyayat hati. Menunjukkan kesakitan yang teramat dalam oleh seseorang yang memiliki cinta bertepuk sebelah tangan.

“Apa itu lagu ciptaanmu?” tanya Bianca tiba-tiba.

“Ya, kenapa? Menggelikan, ya?”

“Menggelikan? Ayolah. Itu adalah salah satu lagu kesukaanku. Maksudku, selama ini aku suka lagu-lagu bernada Rock, keras, dan sejenisnya. Tapi lagu itu terdengar sangat lembut ditelingaku. Aku seperti sedang merasakan apa yang kamu nyanyikan saat itu.” Komentar Bianca panjang lebar. “Kalau itu benar-benar ciptaanmu, berarti ada seseorang yang menginspirasimu menciptakan lagu tersebut. Benar bukan?”

Jason tak ingin membahasnya. Sungguh.

Muse, biasanya kami memanggilanya dengan sebutan Muse.”

“Apa itu?” Bianca sedikit bingung.

Muse adalah sebutan untuk seseorang atau sesuatu yang menjadi sumber inspirasi untuk pekerja seni. Dalam hal ini, aku sebagai pencipta lagu.”

“Wooow, jadi, kamu sudah memiliki seorang Muse? Siapa dia? Apa dia mantan pacarmu dulu?” tanya Bianca yang tampak begitu antusias dengan apa yang akan diceritakan oleh Jason.

Muse tidak harus menjadi seorang pacar atau kekasih. Muse bisa jadi siapa saja. Orang tua, saudara, guru, atau bahkan seseorang yang kamu lihat dijalanan.”

“Lalu, siapa Muse kamu ketika kamu menciptakan lagu ‘Pujaan hatiku’?” tanya Bianca sekali lagi. Ia tidak ingin mengalah. Ia ingin mengenal lelaki di hadapannya ini sedalam yang ia bisa. Karena entah kenapa, Bianca merasakan, ketika ia mengenal Jason lebih dalam lagi, maka ia seperti sedang menyelami sebuah dunia baru yang lebih menantang ketimbang dunianya yang selama ini cukup membosankan.

Jason meringis perih, ia menatap makan siang di hadapannya dengan tak berselera. “Hanya seorang teman biasa.” Jawabnya pendek.

Dengan ceria, Bianca menopang dagunya dengan sebelah tangannya lalu menatap Jason dengan tatapan menyelidik. “Teman biasa, ya? Teman biasa yang kamu cinta?” goda Bianca.

“Lupakan. Lebih baik cepat habiskan makan siangmu.” Pungkas Jason dengan wajah yang sudah ditekuk. Ia tidak suka ketika seseorang mengorek masa lalunya yang begitu menyedihkan. masa yang seharusnya segera ia lupakan.

Sedangkan Bianca, ia tertawa melihat keketusan Jason. Bianca semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada Jason. Jason sedikit menampilkan sisi rapuhnya. Bianca yakin jika lagu tersebut sangat berarti untuk Jason. Begitupun seseorang yang menginspirasinya. Meski begitu, Bianca menghormati keputusan Jason untuk tidak bercerita padanya. Bagaimanapun juga, ia hanya seorang kekasih baru, atau lebih tepatnya teman dekat baru Jason. Ia tidak akan memaksa Jason atau menuntut lebih dari lelaki itu.

***

“Bee, apa kamu tahu? Ini gila.” Jason berkomentar.

Saat ini Jason sedang berada di sebuah gedung bioskop dengan Bianca di sebelahnya. Bianca malah asyik menikmati minuman yang baru saja ia beli. Sedangkan Jason, ia sedikit khawatir jika ada yang mengenalinya nanti.

Ya, setelah menjadi terkenal dan dipuja-puja banyak gadis di negeri ini, Privasi Jason dan teman-temannya menjadi suatu yang mahal untuknya. Jason sangat jarang sekali pergi ke tempat-tempat ramai seperti ini. jika itu tidak penting. Dan kini, Bianca mengajaknya ke tempat seperti ini hanya dengan sebuah topi dan juga kumis palsu. Semoga saja tak ada yang mengenalinya.

“Ayolah, Jase. Nggak akan ada yang mengenalimu. Mereka ke gedung ini untuk menonton film, bukan untuk menonton konsermu. Mungkin aku sedikit kasar, tapi meskipun kamu amat sangat terkenal, ada beberapa orang yang mungkin saja tidak peduli atau bahkan tidak mengenalimu. Contohnya, aku.”

“Kamu yakin?”

“Ya, aku tidak tahu siapa kamu atau The Batman sebelum kakak ipar manjaku itu menyeretku dengan paska ke konser kalian saat itu.”

“Ohh, jadi sebenarnya, kamu ini fans dadakan, Ya?” tanya Jason sembari menatap Bianca dengan wajah datarnya.

“Hahhaha mungkin bisa dibilang, Fans karbitan.” Bianca membenarkan ucapan Jason sembari tertawa lebar. “Ayo masuk, filmnya sudah mau mulai.” Ucap Bianca yang kini sudah mengapit lengan Jason dan menyeret Jason masuk ke dalam sebuah ruangan dimana film yang akan mereka tonton akan diputar.

Dengan spontan Jason menatap Bianca. Gadis ceria, dan etah kenapa ia suka. Jason tidak memungkiri jika sejak tadi, Bianca mampu membuatnya tersenyum dan terhibur. Setidaknya, ia bisa melupakan masalahnya, ia bisa mengabaikan sakit karena patah hati. Dan Jason membutuhkan hal ini untuk bertahan.

Mereka duduk deretan tengah. Bianca masih setia mengapit sebelah lengan Jason, seakan mereka adalah sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara. Sedangkan Jason sendiri, sesekali ia menatap ke arah Bianca dengan sedikit gugup.

Apa yang membuatnya gugup? Bahkan Bianca tampak santai dan biasa-biasa saja.

“Bee, apa kamu sering melakukan ini?” tanya Jason kemudian. Ya, Jason sempat berpikir, jika mungkin saja Bianca memang sering melakukan hal ini, berhubungan dengan lelaki tanpa menggunakan perasaannya hingga Bianca selalu tampak santai dan biasa-biasa saja seperti ini.

“Melakukan apa?” tanya Bianca dengan sedikit bingung.

“Hubungan tanpa perasaan. Kupikir, kamu tampak menikmatinya.”

Bianca tersenyum. “Jase, kalau boleh jujur, kamu adalah pria pertama yang menjadi kekasihku.”

“Apa? Nggak mungkin.” Ya, jika ia pria pertama, maka seharusnya Bianca menampilkan sikap malu-malu kucingnya. Bukan malah tampak biasa-biasa saja seperti sering melakukannya.

“Ya, kamu adalah pria pertamaku. Aku nggak perlu menjelaskannya padamu. Lagipula itu nggak penting.”

“Tapi kamu tampak santai dan seperti sudah pernah melakukan ini sebelumnya.” Jason masih menatap Bianca dengan raut wajah herannya. “Kamu benar-benar berbeda dengan gadis kebanyakan, Bee. Dan aku suka.”

Bianca tersenyum “Jadi, sekarang, kamu mulai menggunakan perasaanmu, ya?” goda Bianca.

“Jika itu bisa membuatku lebih baik, maka aku akan melakukannya, Bee.”

“Oke, kalau begitu, kita sudah sepakat.”

“Sepakat apa?” tanya Jason bingung.

“Kalau kita akan menyukai satu sama lain. Boleh, kan?”

Kali ini Jason yang tersenyum. “Ya, tentu saja.” Jason lalu menggenggam erat jemari Bianca, ia mengecupnya singkat dan berkata. “Bee, aku ingin menjadikanmu sebagai Museku.”

Bianca ternganga dengan ucapan Jason. Senang? Tentu saja. Ia tidak menyangka jika Jason akan secepat ini menjadikannya sebagai seorang Muse, seorang yang akan menginspirasi lelaki itu untuk menciptakan lagu-lagu baru. Tapi, bisakah ia melakukannya? Mampukah ia membuat Jason menciptakan lagu-lagu yang lebih bagus lagi dari sebelumnya?

***

Pujaan hatiku – The Batman

Kisah yang dulu pernah ada…

Bukan sebuah kisah cinta…

Namun aku bahagia…

Memiliki sebuah rasa untuknya…

Rasa ini sungguh suci…

Terpatri didalam hati…

Meski gadisku selalu memungkiri…

Apa yang tlah kurasakan selama ini..

Wahai Gadis cantikku…

Pujaan hatiku…

Aku mencintaimu…

Sungguh sungguh mencintaimu…

Wahai gadis manisku…

Teman dalam candaku….

Aku mencintaimu…

Wahai pujaan hatiku….

-TBC-

Bianca – Chapter 4 (Seorang Pelarian)

Comments 2 Standard

 

Haiii haiii haiiiii…. kali ini aku  bakal ingetin kalian tentang Bee dan Jase dalam cerita Bianca. hayooo merapat merapat…. yang lupa bica cek link di bawah ini yaa

Prolog Bianca

Bianca Chapter 1 

Bianca Chapter 2

Bianca Chapter 3

Nahhh, Chapter2 di atas sebenarnya versi lama sih, sedngkan Bianca yang saat ini aku tulis adalah Bianca versi baru, tapi gak banyak juga yang berubah, hanya sebagin kecilnya aja. jadi kalo gak sinkorn yaa mohon dimaklumin yaa karena aku belom edit Chapter2 di atas di blog ini hehhehehe udah, langsung aja, happy reading… Btw sedikit info, kalo saat ini aku sedang cinta2nya ama Jason, jadi cerita ini aku kebut nihh hahahhaha enjoy reading yaa.. muaacchhhh

 

Chapter 4

-Seorang Pelarian-

Bianca masih duduk di sebuah kursi di ujung ruang apartemen milik Jason. Sedangkan Jason sendiri, sejak tadi belum keluar dari dalam sebuah ruangan yang diyakini Bianca sebagai ruang ganti baju.

Di hadapan Bianca, terdapat segelas anggur. Jason sendirilah tadi yang tadi memberikannya pada Bianca sebelum dia masuk kembali untuk mengganti pakaiannya. Bianca hanya mengamati anggur tersebut, mengangkat gelasnya, lalu menghirup aromanya.

Pada saat bersamaan, Jason keluar dari dalam ruang gantinya. Ia tersenyum melihat tingkah aneh Bianca yang tampak polos di matanya.

“Itu anggur dari Paris.” Mendengar suara Jason, Bianca segera meletakkan anggur tersebut pada tempat semula. “Di produksi dan di datangkan langsung dari sana. Kamu mau mencobanya?” tanya Jason sembari mendekat ke arah Bianca.

Bianca hanya menggelengkan kepalanya. Ia sempat melihat bagaimana kerennya Jason saat ini. lelaki itu mengenakan kaus tanpa lengan, yang dipadukan dengan celana jeans pendek dengan beberapa robekan di bagian pahannya.

Astaga, kenapa lelaki ini tak pernah terlihat jelek?

“Kenapa?” tanya Jason yang saat ini sudah mengambil sebuah gelas, lalu menuangkan anggur ke dalam gelasnya.

“Aku nggak biasa minum-minuman seperti itu.”

“Lalu, apa yang biasa kamu minum?” tanya Jason yang kini sudah mendekat dan duduk tepat di sebelah Bianca. Jason menggoyang-goyangkan gelas anggurnya, menghirupnya sebentar sebelum menyesap isinya.

“Jus, ice cream, teh, dan sejenisnya.” Bianca menjawab tanpa ragu sedikitpun.

Jason tertawa melihat kepolosan Bianca yang tampak tak biasa.

“Ada yang lucu?” tanya Bianca kemudian.

“Kamu, sangat lucu.” Jason kembali menyesap anggurnya, lalu ia mengangkat gelas Bianca kemudian memberikannya pada Bianca. “Cobalah, kamu pasti suka.”

Bianca menerima gelas berisikan anggur pemberian Jason. Ia meminum begitu saja anggur tersebut hingga tandas. Bianca mengernyit karena kurang suka dengan rasanya, dan hal tersebut membuat Jason kembali tertawa.

“Hei, bukan begitu. Kamu nggak akan bisa menikmati sensasinya. Ikuti aku, seperti ini.” Jason menuang kembali anggur ke dalam gelas Bianca. Lalu mengajari Bianca cara meminum anggur yang benar.

“Begini, goyangkan sebentar.”

“Kenapa harus di goyangkan?”

“Supaya lemas.” Jawab Jason asal. Bianca mengerutkan keningnya, dan hal tersebut kembali membuat Jason tertawa lebar. “Untuk meningkatkan intensitas aromanya.” Jawab Jason lagi.

Bianca mendengus sebal. Rupanya, Jason juga tipe orang yang suka bercanda.

“Hirup aromanya.” Lanjut Jason. “Kamu bisa merasakan aromanya.”

Bianca mengendusnya. “Kupikir sama saja, aromanya agak aneh, begitupun dengan rasanya.” Bianca kembali meminum anggur tersebut, dan ia kembali mengerutkan keningnya saat tak suka dengan rasa minuman yang baru saja ia minum.

Jason kembali tertawa. “Oke, sepertinya kamu nggak cocok minum anggur.”

“Ya, memang. Aku lebih suka meminum jus atau minuman manis lainnya.” Bianca menaruh sembarangan gelas kosongnya pada meja Jason. “Jadi, apa yang membuatmu mengundangku ke apartemenmu yang mewah ini?” tanya Bianca secara langsung.

Sebenarnya, Bianca cukup terintimidasi dengan keberadaan Jason di sekitarnya, tapi ia tak mau kalah apalagi sampai salah tingkah.

“Jadi, aku mau memberikan sebuah penawaran untukmu.” Ucap Jason sembari menaruh gelasnya pada meja di hadapan mereka. Jason mencondongkan tubuhnya ke arah Bianca, “Kamu mau tahu apa penawaranku?” tanyanya kemudian.

“Ya, memangnya apa?”

“Bee, kupikir, kamu adalah kandidat yang tepat untuk menjadi kekasihku.”

Mata Bianca membulat seketika. Apa ia salah dengar? Apa ia sedang dipermainkan oleh lelaki ini? kenapa tiba-tiba lelaki ini ingin menjadikannya sebagai seorang kekasih?

“Kamu bercanda?” tanya Bianca masih dengan raut wajah tak percayanya.

“Memangnya kenapa? Kamu nggak mau?” Jason bertanya balik.

“Bukannya gitu, kita kan baru saja ketemu, bahkan aku belum seberapa mengenalmu.”

“Kamu bisa mencari informasi tentangku di akun-akun gosip di sosial media, di koran, majalah maupun di acara gosip di televisi. Kamu akan menemukan dan mengenal, siapa aku.”

“Aku sudah melakukannya. Tapi sepertinya, kamu sosok yang cukup misterius untuk mereka. Dan, hanya gosip kalau kamu Gay saja yang kudapatkan.”

Jason tertawa lebar. Ia bahkan bertepuk tangan dan berkata “Wooww, rupanya kamu sudah mencari tahu semua tentangku, ya?” tanyanya dengan nada menyindir. “Lalu, apa kamu percaya dengan kabar itu?”

“Sedikit.” Jawab Bianca sembari menyunggingkan senyumannya. “Tapi kupikir, tidak ada seorang Gay yang memiliki penampilan panas menggoda sepertimu.” Bianca terkikik geli.

Sedangkan Jason menanggapinya dengan tertawa lebar. “Jadi, bagaimana dengan tawaranku? Kamu mau jadi kekasihku?”

Bianca berpikir sebentar. Sebenarnya ia mau, sangat mau malah. Tapi ia juga berpikir, jika ia menerima tawaran Jason begitu saja, maka ia terlihat seperti perempuan murahan. Tapi tawaran tersebut cukup menggiurkan. Masalahnya, Jason bukanlah lelaki biasa, dia adalah vokalis papan atas yang dipuja hampir seluruh wanita di negeri ini. kapan lagi ia mendapatkan tawaran seperti itu?

“Oke, aku menerimanya.” Dengan spontan Bianca menjawab. Bianca bahkan tidak mempedulikan alasan Jason yang tiba-tiba mengajaknya menjalin kasih.

“Kamu yakin, Bee?” tanya Jason sekali lagi.

“Ya, kapan lagi menerima tawaran emas seperti ini? diajak menjalin kasih oleh laki-laki populer di negeri ini. Jika aku menolaknya, maka aku menjadi wanita terbodoh yang pernah ada.”

“Kamu, nggak mikirin perasaanmu? Biasanya, kebanyakan wanita sangat rumit. Mereka banyak menuntut dan sibuk memikirkan perasaannya sendiri.”

“Bung, aku bukan wanita membosankan seperti itu. Lagi pula kupikir sepertinya cukup keren kalau aku mengingat bahwa aku akan menjadi kekasih lelaki terpanas di negeri ini.”

Jason tersenyum. “Begitukah gambaranmu tentang diriku?”

“Ya. Gambaran semua gadis-gadis di negeri ini, lebih tepatnya.”

“Hahahha, kupikir mereka termakan dengan gosip murahan itu. Oke.” Jason menegakkan tubuhnya. “Jadi, mari kita mulai peraturannya.”

“Peraturan?” Bianca mengerutkan keningnya.

“Ya, sedikit peraturan agar hubungan kita tidak membosankan seperti hubungan kebanyakan.”

Bianca mengangkat sebelah alisnya. Ia tidak mengerti apa yang di maksud Jason. Tapi ia tidak bisa mundur. Bianca sudah mengambil keputusan. Dan ia akan maju terus apa pun yang terjadi.

***

Di dalam mobil, Bianca masih memikirkan apa saja yang dikatakan Jason padanya tadi. Peraturan tentang hubungan mereka kedepannya. Sebenarnya tak banyak, Jason hanya tidak ingin hubungan mereka diketahui publik. Publik, atau wartawan tak boleh tahu tetang siapa Bianca sebenarnya, dan sepertinya itu tidaklah sulit untuk Bianca.

Hanya saja, Bianca masih bingung, kenapa tiba-tiba Jason mengajaknya berkencan? Kenapa lelaki itu memutuskan untuk menjalin hubungan dengannya? Apa ada yang jason sembunyikan?

Seharusnya, Bianca tak perlu memikirkan semua itu. Toh, ia hanya suka dengan Jason, tak lebih. Hanya suka karena Jason keren dan populer. Bukan cinta seperti wanita lembek pada umumnya. Jadi, Bianca berpikir, itu tidaklah sulit, jika suatu saat hubungan mereka berakhir.

Bianca mendengus sebal. Sebenarnya, ia ingin sekali mempamerkan hubungannya dengan Sienna, atau mungkin dengan Felly. Pasti mereka tidak menyangka kalau ia benar-benar akan menjalin hubungan dengan Jason. Tapi, ia teringat janjinya tadi dengan Jason, bahwa hubungan mereka harus dirahasiakan di depan publik.

Ada rasa tertantang dari dalam diri Bianca, tapi di sisi lain, ia juga merasa kesal karena tak dapat menunjukkan bahwa ia bisa mendapatkan lelaki yang lebih panas ketimbang suami dari Sienna dan Felly.

Saat Bianca sibuk dengan pikirannya sendiri, ponselnya berbunyi. Bianca segera mengangkatnya ketika melihat nama Sang Pemanggil adalah Jason.

“Hai, ada apa?” sapanya.

“Sudah sampai rumah?” tanya Jason kemudian.

“Belum, masih di jalan, tadi aku mampir ke supermarket sebentar.”

“Oh, aku cuma mau ngingetin, kalau besok, kencan kita sudah dimulai.”

“Oh ya? Jadi, kita akan mulai dari mana?” tanya Bianca menantang.

“Kamu bisa datang ke studio musikku, aku akan mengenalkanmu dengan teman-teman Band ku.”

Bianca membungkam bibirnya sendiri agar ia tidak berteriak histeris. Sungguh, satu orang rocker macam Jason saja bisa membuatnya kepanasan, bagaimana jika ia dikenalkan oleh semua personel The Batman? Bisa-bisa Bianca tak dapat menjernihkan pikirannya dari hal-hal yang tidak-tidak.

“Bee, kamu masih di sana?” tanya Jason karena ia tidak mendengar tanggapan Bianca.

“Ya, aku masih di sini.”

“Kamu, mau kan ke studio musik untuk nemanin aku latihan?”

“Ya, tentu saja.” Jawab Bianca dengan penuh percaya diri.

“Oke, kalau gitu, sampai jumpa.” Ucap Jason yang kemudian memutus sambungan teleponnya begitu saja.

Bianca hanya menatap ponselnya, kurang suka dengan sikap Jason yang tak berbasa-basi padanya. Tapi di sisi lain, ia tetap senang, karena mulai besok, statusnya sebagai kekasih Sang Rocker akan segera di mulai. Apakah akan menyenangkan?

***

Besok siangnya…

Jason benar-benar menjemputnya.

Sebenarnya, tadi pagi, Jason sempat menguhubungi Bianca dan berkata jika akan menjemput wanita itu. Tapi Bianca sempat berpikir jika mungkin saja Jason menyuruh seseorang untuk menjemput Bianca. Tapi rupanya, lelaki itu benar-benar menjemputnya sendiri. Bahkan Jason menjemput Bianca langsung ke rumahnya seperti saat ini.

“Jadi, kamu benar-benar menjalin hubungan dengan lelaki itu?” Hana, Ibu dari Bianca bertanya sekali lagi pada Bianca ketika Bianca sibuk menyiapkan diri di dalam kamarnya.

“Kenapa Ma? Ganteng ya? Keren ya? Panas ya?” Bianca malah menggoda ibunya.

“Bee, Mama serius. Dia tampak seperti seorang berandal. Pakaiannya robek-robek, gaya rambutnya seperti anak Punk, belum lagi anting dan Tattonya. Untung saja Papa kamu nggak ada di rumah. Kalau dia lihat kamu di jemput cowok kayak gitu, mungkin dia akan di usir sebelum masuk rumah kita.”

“Ma, jangan nilai seseorang dari penampilannya, Ya. Asal Mama tahu, Jason itu penyanyi papan atas negeri ini loh.”

“Mama nggak peduli, mama cuma nggak suka sama penampilannya, dan kebanyakan orang yang berpenampilan seperti itu, pergaulannya sangat bebas. Mama khawatir-“

“Ma, Please. Bianca bisa jaga diri. Lagian, kami cuma teman kok.” Bianca meyakinkan Sang Mama. Ia tentu tidak ingin mamanya khawatir terhadapnya.

Hana menghela napas panjang. “Ya sudah, cepat keluar, dia nunggu kamu.”

Bianca kembali membetulkan riasanya, lalu meraih tas mungilnya sebelum kemudian ia mengecup lembut pipi Sang Mama dan berkata “Aku pergi dulu, Ma. Ingat, jangan bilang siapa-siapa tentang dia.” Pesannya sebelum ia berlari keluar dari dalam kamarnya.

Hana hanya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan puteri bungsunya tersebut. Semoga saja apa yang dikatakan Bianca benar, bahwa pria yang sedang menunggu puterinya tersebut merupakan pria baik.

***

Bianca sangat senang. Pasalnya, ini adalah pertama kalinya ia dibonceng dengan sepeda motor besar dan si pengemudinya adalah seorang Rocker. Penampilan Jason siang ini benar-benar keren. Setidaknya, itu bagi Bianca. Mungkin bagi mamanya tadi, Jason tampak mengerikan seperti seorang berandalan, tapi bagi Bianca, lelaki ini sangat keren.

Suara bising motor Jason membuat Bianca ingin berteriak bahagia. Gaya mengemudi Jason yang sedikit ugal-ugalan bukan membuat Bianca takut, tapi malah menantang adrenalin di dalam diri Bianca hingga membuat Bianca merasakan sensasi yang berbeda.

Bianca merasa bebas, Ia suka seperti ini, ia suka dengan gaya hidup Jason, gaya berpakaian lelaki itu, gaya mengemudinya, dan astaga, Bianca menyukai semua yang ada dalam diri lelaki itu.

“Kamu suka?” Jason sedikit meneriakkan pertanyaannya agar Bianca mampu mendengar pertanyaan tersebut.

“Ya, aku suka.”

“Suka apa?” Jason bertanya lagi.

“Nggak tahu, memangnya, kamu tadi tanya apa?” Bianca bertanya balik.

“Asal tanya aja.” Jawab Jason pendek sembari terkikik geli.

Bianca ikut terkikik dengan kekonyolan mereka. Lalu ia berkata “Jase, Kamu keren siang ini. aku menyukainya.”

Jika Jason tadi tertawa lebar dengan kekonyolan mereka, maka setelah mendengar kalimat sederhana Bianca tersebut, tawa Jason lenyap seketika. Ada sebuah rasa di dalam dirinya yang berpikir jika apa yang ia lakukan saat ini adalah salah.

Menjadikan seorang gadis ceria ini sebagai pelariannya adalah hal yang salah. Meski Jason yakin, jika Bianca bukanlah gadis lembek pada umumnya, tapi Jason takut, jika suatu saat nanti ia mampu membuat Bianca benar-benar jatuh hati padanya lalu berubah menjadi gadis melankolis seperti kebanyakan gadis yang sedang jatuh hati. Jason tak ingin sampai mematahkan hati Bianca.

Ia hanya ingin mengobati lukanya, tapi bisakah ia melakukannya tanpa menyakiti hati yang lainnya?

-TBC-

 

Bianca – Chapter 3 (Lebih panas dari sang CEO)

Comments 13 Standard

Bianca

Haiii maapp baru sempat up cerita ini, dan maap bgt karena kemaleman, hahahah iya karena aku lagi asyik nonton bang Mario Maurer A.k.a bang Ramma Aditya yang lagi main Pee mak di trans 7. hhahahah oke. gitu aja, happy reading, semoga suka yaa.. hheheheh

 

Jason sendiri langsung menaiki motornya, lalu mengenakan helmnya. Ia kembali sedikit melirik ke arah Bianca. Bianca masih berdiri di sana dengan wajah lucunya. Ahh, wajah itu sedikit mirip dengan Felly, tapi sikapnya sangat mirip dengan Sienna. Jason kemudian menyalakan mesin motornya dan melaju meninggalkan Bianca begitu saja dengan berbagai macam pikiran di kepalanya. Bolehkan ia menjadikan gadis tadi sebagai pengobat luka patah hatinya?

Ketika Jason sudah pergi dari hadapannya, Bianca mulai membalikkan tubuhnya, masih dengan sedikit linglung karena pertemuan tak terduga tadi, Bianca melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu toko ice cream milik Felly. Tapi baru berapa langkah, ia kembali membalikkan tubuhnya saat mendengar suara motor Jason kembali di belakangnya.

Bianca menatap Jason dengan heran, kemudian ia melihat Jason membuka kaca helm yang ia kenakan, lalu pria itu bertanya. “Bolehkah aku menyimpan nomor ponselmu?”

***

Chapter 3

-Lebih panas dari sang CEO-

 

Jason keluar dari dalam kamar mandi, berharap kegilaannya sudah luntur saat setelah ia mandi dan menggosok seluruh permukaan kulitnya. Nyatanya, ketika ia keluar dari dalam kamar mandinya, ia masih mendapati seorang perempuan dengan tubuh telanjangnya dan berselimutkan bedcover miliknya. Kenapa perempuan itu belum pergi? Pikirnya.

“Pagi.” Si perempuan menyapanya dengan manja.

“Kenapa kamu masih di sini?” tanyanya dengan nada dingin. Sungguh, ia tidak suka mendapati perempuan yang habis ditidurinya masih berada di atas ranjangnya ketika pikirannya sudah mulai waras seperti saat ini.

“Kenapa bagaimana? Memangnya aku harus apa?”

“Pakai bajumu dan keluar dari sini.” Oh, Jason bahkan tak mengenali dirinya sendiri saat ini. Sial! Ini semua tentu karena si Troy. Temannya yang sudah setengah gila. Dan kenapa juga ia ikutan gila seperti si Troy?

Seminggu terakhir ia lalui dengan sangat berat. Pertama, karena hubungannya yang sudah benar-benar putus dengan Felly. Seminggu yang lalu, Jason kembali menemui Felly di toko ice cream milik perempuan itu. Berharap jika hubungannya akan membaik, meski ia tahu jika tak ada harapan lagi karena Felly sudah menikah dan sedang mengandung bayi pria lain. Tapi Jason mencoba tidak peduli. Rasa cintanya terlalu dalam, perasaannya sudah dibutakan oleh cinta kepada perempuan tersebut. Jason bahkan menawarkan diri untuk menjadi yang kedua untuk Felly, tapi dengan tegas, perempuan itu menolaknya.

“Maaf, Jase, Aku nggak bisa. Tidak akan ada orang kedua untukku. Karena yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya, hanya satu orang, yaitu kak Raka. Aku tidak bisa menduakannya dengan laki-laki lain.”

Begitulah jawaban Felly yang hingga kini masih mendengung di telinganya, masih terputar di kepalanya, hingga membuat Jason sakit saat mengingatnya.

Sejak detik itu, Jason tahu jika ia sudah tak mungkin lagi bersatu dengan Felly. Felly sudah menolaknya dan menutup semua kesempatan untuknya. Yang bisa Jason lakukan hanyalah mencoba melupakan perempuan itu. Tapi bagaimana caranya?

Saran Troy adalah satu-satunya solusi dari semua masalahnya. Ya, temannya itu menyarankan untuk mencari pelarian, mengencani banyak wanita hingga membuatnya dapat membunuh rasa cinta di hatinya. Tapi bisakah?

Hingga hari ini, entah sudah berapa banyak perempuan yang ia tiduri selama seminggu terakhir. Perempuan-perempuan bayaran yang disediakan oleh Troy, tentu saja perempuan itu sudah diharuskan tutup mulut tentang skandal yang sudah ia lakukan ini.

Hati Jason berkata, jika semua ini salah, tak seharusnya ia melakukan hal ini, ia harus segera mengakhirinya, tapi ia tidak ingin bayang Felly kembali menghantuinya.

Jason menatap ke arah perempuan yang berada diatas ranjangnya, perempuan itu berdiri dengan tubuh telanjangnya. Mungkin berharap jika Jason akan tergoda karena ketelanjangannya. Tapi perempuan itu salah. Demi Tuhan, Jason sama sekali tak tergoda, Jason bahkan memalingkan wajahnya karena muak melihat pemandangan di hadapannya.

“Kamu berbeda dengan semalam.” Perempuan itu berkomentar, karena merasa dicampakan, perempuan itu segera memunguti pakaiannya lelu mengenakannya dengan cepat.

“Semalam hanya efek Alkohol, jadi lupakan.”

Jawaban Jason benar-benar membuat perempuan itu kesal. Ya, walau ia hanya perempuan bayaran, tapi tetap saja, Jason adalah pria tampan dengan karir cemerlangnya, siapa yang tidak ingin berhubungan dengan dia? Apalagi saat mengingat bagaimana panasnya lelaki itu saat di atas ranjang. Perempuan itu bahkan bersedia untuk diajak naik ke atas ranjang Jason untuk kedua kalinya meski tidak di bayar.

“Jadi, semua artis seperti ini, Ya? Kupikir kamu berbeda.”

“Semua sama. Kami berengsek seperti yang diberitakan. Sekarang keluarlah, sebelum pengawalku menyeretmu keluar dari kamar ini.”

Dengan wajah memerah karena malu diperlakukan seperti itu, perempuan itu segera pergi keluar dari dalam kamar hotel yang disewa Jason. Jason sendiri menghela napas panjang setelah perempuan tersebut keluar dari kamarnya. Ia menuju ke sebuah sofa panjang di dalam kamar tersebut. Jason lalu meraih ponselnya dan membuka-buka semua sosial medianya.

Benar-benar membosankan. Tak ada yang bisa ia lakukan saat akhir minggu seperti ini ketika ia tak ada jadwal manggung. Karena tentunya teman-teman sebandnya lebih sibuk dengan pasangan masing-masing.

Cukup lama Jason membuka-buka sosial medianya dan berakhir dengan bosan karena tidak ada yang ia lakukan. Membalas pesan-pesan dari fansnyapun tidak ia lakukan karena pesan tersebut sudah menumpuk puluhan ribu, belum lagi komentar-komentar mereka.

Akhirnya Jason menyerah dengan kebosanannya dan memilih mencari nomor ponsel Troy, menghubungi temannya itu siapa tahu saja temannya itu kenal dengan salah seorang perempuan yang dapat diajaknya untuk menghabiskan hari yang membosankan ini.

Tapi ketika ia membuka kontak di ponselnya, pada baris teratas ia mendapati nama ‘Babee’, Jason mengangkat sebelah alisnya, mengingat siapakah pemilik nomor ponsel tersebut. Karena seingatnya, ponselnya hanya berisi nomor-nomor orang-orang terdekatnya saja. Ujung bibirnya tertarik saat mengingat siapa pemilik kontak bernama ‘Babee’ tersebut.

Itu Bianca, perempuan yang tak sengaja bertemu dengannya seminggu yang lalu saat ia keluar dari dalam toko ice cream milik Felly. Perempuan yang tampaknya akan asyik untuk diajak menghabiskan hari yang begitu membosankan untuknya saat ini.

Jason berpikir sebentar, apa tidak apa-apa menghubungi gadis itu saat ini? Apa ia akan mengganggu? Atau, apa gadis itu akan sama membosankan seperti gadis-gadis kebanyakan? Jason ragu, ya, karena ini adalah pertama kalinya ia akan menghubungi perempuan yang cukup asing baginya, menghubungi hanya untuk mengajaknya main, bukan tidur bersama seperti perempuan-perempuan murahan yang pernah ia hubungi sebelumnya.

Jason menghela napas panjang sebelum kemudian mengambil langkah untuk benar-benar menghubungi Bianca.

***

Satu minggu berlalu setelah kejadian hari itu. Hari dimana seorang Jason Febrian, vokalis tampan dengan aurah panasnya meminta nomor ponsel Bianca. Bianca tentu tidak menyianyiakan hal tersebut. Dengan segera ia memberi Jason informasi kontaknya. Namun nyatanya, seminggu berlalu, pria itu tak kunjung menghubungi Bianca.

Kesal, tentu saja. Apalagi hari-hari pertama setelah Bianca memberikan nomor ponselnya pada Jason. Setiap menit Bianca menyempatkn diri mengecek ponselnya, siapa tahu saja Jason menghubunginya, nyatanya, hingga satu minggu berlalu, yang didapatkan Bianca hanya sebuah kekecewaan.

Apa Jason sedang sibuk? Atau, apa lelaki itu memang hanya berniat mempermainkannya saja. Sial! Mungkin saja Jason hanya mempermainkannya saja. Ingat Bee, dia artis papan atas, mana mau dia berhubungan denganmu, apalagi dimatanya kamu hanya seorang fans yang sama dengan yang lainnya.

Bianca mendengus sebal. Mau dipungkiri seperti apapun juga, nyatanya ia benar-benar kesal dengan Jason. Jika Jason tidak berniat untuk menghubunginya, seharusnya pria itu tidak perlu meminta nomor ponselnya hingga ia tidak perlu gelisah tak menentu menunggu panggilan atau pesan dari pria itu.

Bianca meminum jus di hadapannya dengan kesal hingga ia berakhir terbatuk-batuk karena tersedak.

“Astaga, kamu kenapa, Bee?” Sienna yang memang kini duduk di sebelahnya memberinya tissue, tapi sialnya, kakak iparnya tersebut juga menertawakan kekonyolannya.

“Kamu kenapa? Aneh banget, sejak tadi aku lihat kamu hanya cemberut melulu.” Sienna bertaya lagi saat Bianca sudah membaik.

Bianca tentu tidak menceritakan pertemuannya dengan Jason pada Sienna maupun Felly. Yang benar saja, Sienna pasti akan mengoloknya habis-habisan saat perempuan itu tahu jika ia sedang berharap-harap cemas dengan telepon dari Jason.

“Nggak apa-apa.” Bianca menjawab dengan cuek.

“Mungkin dia lagi nunggu telepon dari pacarnya, Si.” Felly menyahut, dia datang dengan membawa sebuah nampan yang berisi cemilan untuk Sienna dan Bianca.

Sienna tertawa lebar. “Pacar? Mana mungkin dia punya pacar? Pacarnya kan cuma CEO-CEO di dalam novel, Fell.” Sindir Sienna masih dengan tertawa lebar.

Bianca memberengut kesal. “Enak saja. Aku nggak suka sama CEO kayak suami-suami kalian. Apaan, paling juga nggak HOT.”

“Oh ya? Memangnya cowok yang hot itu seperti apa?” tanya Sienna.

“Yang jelas bukan kayak kak Aldo, apalagi Kak Raka. Yang benar saja, mereka kaku dan membosankan.”

“Hei, tapi kak Aldo panas saat di atas ranjang, tahu. Dan aku yakin kak Raka juga gitu, mengingat Felly langsung hamil dalam semalam.”

“Sienna.” Felly memerah karena ucapan Sienna. Ahh, gadis itu benar-benar.

“Panas tidaknya seseorang tidak dilihat dari apa dia mampu menghamilimu dalam semalam. Lagian, kalian hamil dalam semalam itu karena kak Aldo dan Kak Raka tidak profesional sampai tidak kenal apa yang namanya kondom.”

“Bee. Astaga, ternyata kalian sama saja.” Felly menggelengkan kepalanya lalu ia memilih melangkah pergi menjauh dari kedua kakak beradik yang menurutnya sudah sama-sama gila karena ucapan mereka.

Sienna bukannya marah, ia malah tertawa lebar setelah mendengar kalimat panjang lebar dari Bianca dan juga reaksi Felly akan hal tersebut.

“Kamu sudah gila?” Binca tidak mengerti kenapa kakak iparnya itu tertawa terbahak-bahak karena ucapannya.

“Ya, kita kan sama-sama sudah gila.”

“Enak aja, kamu aja sana yang gila.”

“Ayolah Bee, kamu nggak asik.” Sienna lalu meminum jusnya, sebelum ia berkata lagi “Jadi, menurutmu, pria yang Hot itu seperti apa?”

“Entahlah, mungkin pria yang berlari kesana kemari dengan keringat di tubuhnya, mugkin?”

“Lalu?” Sienna memancing lagi.

“Bertatto.”

“Lalu?” tanya Sienna lagi, padahal ia mulai mengerti arah pembicaraan Bianca meski gadis itu tidak sadar jika kini dirinya sedang di pencing oleh Sienna.

“Yang pasti, dia tampak seperti bad boy dengan penampilannya, dan dia tentu menarik perhatian banyak wanita.” Dengan santai, Bianca meminum jusnya kembali.

Well, sepertinya ciri-ciri yang kamu sebutkan semuanya terdapat pada diri Jason.”

Dengan spontan Bianca menyemburkan jus yang diminumnya tersebut, hingga tak sengaja semburan tersebut terarah pada wajah Sienna yang memang duduk dihadapannya. Bianca terkejut dengan apa yang terjadi, hingga ia hanya ternganga saat melihat wajah Sienna yang penuh dengan semburan jus darinya, sedangkan Sienna segera menjeritkan nama Bianca sekeras-kerasnya karena kesal dengan apa yang dilakukan adik iparnya tersebut.

***

Bianca tak berhenti tertawa lebar saat mengingat bagaimana lucunya wajah Sienna tadi saat ia tak sengaja menyembur kakak iparnya itu dengan jus yaang ia minum. Sienna sangat murka, dan melihat Sienna murka merupakan hal langka untuk Bianca.

Kini, Sienna masih di dalam toilet untuk membersihkan dirinya, sedangkan Bianca masih sesekali tertawa sendiri sepereti orang gila karena mengingat kejadian tadi.

“Bee, kamu keterlaluan.” Felly datang sambil menegur Bianca. Bagaimanapun juga, Sienna adalah kakak ipar Bianca, harusnya Bianca menghormatinya meski usia Sienna jauh lebih muda.

“Astaga, aku nggak sengaja, sumpah.”

“Tapi kamu bisa kan berhenti menertawakannya?”

“Hahahhaha, oke, oke. Ya ampun, dia lucu sekali tadi, aku sampai gemas.”

“Dia kakak iparmu, Bee.”

“Yes, I know. Tapi aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri.” Lagi-lagi Bianca terkikik geli.

Ketika Bianca sibuk dengan tawa cekikikannya, ponselnya berbunyi. Bianca melirik sekilas dan melihat nomor baru sedang menghubunginya. Akhirnya Bianca mengabaikannya. Ya, ia sama sekali tidak suka dengan pemanggil nomor baru, karena biasanya, nomor-nomor tersebut hanya untuk menggodanya saja.

Ketika Bianca membiarkan ponselnya berdering terus menerus, Felly bertanya “Kenapa nggak kamu angkat?”

“Malas, nomor baru, paling cuma missed call aja.”

Felly tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Ya ampun Bee, sejak tadi kamu mantengin ponsel kamu terus, sekarang pas bunyi, kamu malah mengabaikannyaa.”

Oh Sial!! Bianca baru ingat, kalau sejak seminggu yang lalu, ia memang menunggu nomor baru masuk ke dalam panggilannya, nomor yang mungkin saja milik seorang Jason. Dengan segera Bianca meraih ponselnya, tapi ketika ia akan mengangkat telepon tersebut, deringnya sudah mati.

“Yaaahhhh apa-apaan sih ini. Nyebelin banget.” Bianca menggerutu kesal.

“Tuh kan, pasti ada yang kamu tungguin.” Goda Felly.

Bianca mendengus sebal. “Itu Fell…” saat Bianca akan bercerita dengan Felly tentang Jason, ponselnya kembali berdering. Bianca dan Felly sempat saling pandang sebentar karena sama-sama terkejut, lalu secepat kilat Bianca mengangkat panggilan tersebut.

“Halo?” Bianca menyapa penuh harap.

“Hai, Bee.”

Ya, Bianca merasakan jantungnya seakan ingin meledak saat ini juga. Itu Jason, ya, benar-benar Jason. Dan astaga, Bianca masih tak menyangka jika lelaki itu benar-benar menghubunginya, meski sangat terlambat. Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya? Kenapa ia merasa sangat bersemangat saat berhubungan dengan lelaki itu?

***

Dengan langkah ragu, Bianca memasuki sebuah lift di sebuah gedung apartemen. Lift tersebut menuju ke lantai 25. Lantai dimana ia akan bertemu dengan Jason.

Ya, tadi saat Jason menghubunginya, lelaki itu memintanya untuk mendatangi lelaki tersebut di apartemen ini. Apartemen yang keamanannya sangat terjaga, karena untuk memasuki apartemen ini saja Bianca harus melewati beberapa penjagaan. Pantas saja penyanyi sekelas Jason tinggal di apartemen ini.

Jantung Bianca tak berhenti berdebar kencang, saat mengingat jika dirinya akan kembali bertemu dengan sosok Jason. Astaga, sebenarnya ada apa dengan dirinya?

Bianca tak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, tapi melihat Jason yang tampak begitu menggoda malam itu ketika ia melihat aksi panggungnya, Bianca selalu merasa terbakar saat mengingat tentang Jason. Apa-apaan ini?

Bianca menggelengkan kepalanya ketika otaknya mulai berpikir semakin jauh tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi diantara dirinya dengan Jason. Sial! Ini pasti karena novel-novel Romance dewasa yang sering ia baca, hingga ketika ia membayangkan tentang Jason, pikirannya selalu menjurus kepada hal-hal mesum.

Bee, kamu harus mulai menghilangkan kebiasaan burukmu itu! gerutunya pada dirinya sendiri.

Tak lama pintu lift di hadapannya terbuka. Jantung Bianca semakin berdebar kencang. Apalagi saat melihat beberapa laki-laki tinggi tegap berpakaian serba hitam berdiri di ujung lantai tersebut.

Bianca keluar dari dalam lift itu, sesekali ia merapikan rambutnya yang sengaja ia cat pirang. Kakinya melangkah menuju pintu paling ujung. Pintu yang tampak di jaga ketat oleh beberapa laki-laki tinggi tegap yang Bianca yakini adalah Bodyguard Jason. Saat Bianca sudah berada di depan pintu apartemen Jason, seorang Bodyguard bertanya padanya.

“Nona Bianca?”

“Ya, saya.” Bianca menjawab dengan sedikit gugup.

“Silahkan masuk.” ucap sang Bodyguard sembari membukakan pintu tersebut untuk Bianca.

Bianca meganggu, dan kakiya mulai melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Sedikit terkejut ketika ia menolehklan kepalanya ke belakang ternyata pintu masuk di tutup oleh Bodyguard tersebut.

“Hai, Bee, baru sampai?” suara tersebut sontak membuat Bianca menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Dan demi Tuhan! Bianca menyesal karena sudah menolehkan kepalanya ke sana.

Tampak Jason berdiri di depan pintu kamar mandinya dengan tubuh dan rambut yang masih basah. Hanya berbalutkan handuk kecil yang melilit pinggangnya. Sungguh, lelaki itu tampak begitu panas dengan tubuh tegap yang tampak begitu perkasa. Oh, bahkan Bianca mengakui jika Jason lebih panas dari sang CEO di dalam novel-novel romance dewasa yang pernah ia baca sebelumnya. Astaga, bagaimana tubuhnya tak terbakar ketika menatap pemandangan panas di hadapannya seperti saat ini?

 

-TBC-

Bianca – Chapter 2 (Bertemu lagi)

Comments 5 Standard

Bianca

 

Chapter 2

-Bertemu lagi-

 

Lagu itu teralun begitu merdu, padahal tak ada sebuah musikpun yang mengirinya. Hanya suara si penyanyi yang menggema, membuat siapapun merinding saat mendengarnya. Bianca mampu melihat dengan jelas, bagaimana si penyanyi meresapi setiap lirik dari lagu yang ia nyanyikan, seakan-akan, si penyanyi tersebut terluka seperti lirik yang dinyanyikannya.

Kemudian, semua terjadi begitu cepat, ketika si penyanyi menyelesaikan lagu pertamanya. Lampu-lampu di pangung kembali di padamkan seketika, lalu menyala kembali bersamaan dengan suara musik dan juga teriakan para penonton.

Bianca menatap ke sekelilingnya, semuanya bersorak senang, bahagia, saat sang idola menyanyikan lagu yang sangat, sangat, dan sangat berbeda dengan lagu pertama.

Mata Bianca lalu mencari penyanyi tadi, rupanya penyanyi itu masih penyanyi yang sama, hanya saja, penyanyi itu kini sudah menampilkan raut wajah cerianya, ekspresi bahagianya, sangat berbeda dengan ekspresi pada lagu pertama yang sarat akan kesakitan.

“Jasee… Jasee…” penonton di sekitanya mengelu-eluhkan nama sang vokalis. Tak terkecuali Sienna, kakak iparnya yang kini bagi Bianca seperti orang gila.

“Si, bisa nggak sih, kamu nggak berlebihan?” lagi, Bianca menegur kakak iparnya.

“Berlebihan apaan sih? Di konser itu sudah wajar teriak-teriak seperti ini.” Bantah Sienna.

Bianca memutar bola matanya jengah. Ahh, tidak ada gunanya juga menegur Sienna.  Tapi kemudian ia kembali mencari sosok vokalis yang tadi sempat membuatnya terpana.

Sang vokalis rupanya sudah melepas jaketnya, hingga ia hanya mengenakan kaus tanpa lengannya. Penampilannya benar-benar nyertik bagi Bianca, Celananya sobek-sobek, belum lagi tato di sepanjang lengan kirinya. Vokalis itu berlari kesana kemari dengan lincah, menghampiri penggemar-penggemarnya yang berteriak histeris karenanya. Ia juga masih bernyanyi dengan suara emasnya. Keringatnya tampak bercucuran,membuatnya tampak begitu panas dan menggoda.

Wajahnya sangat tampan, tegas dengan tubuh kokoh berototnya. Rahangnya berbulu tipis, rambutnya setengah pelontos, benar-benar mirip seorang rocker sejati.

Jantung Bianca kembali berdebar kencang mana kala si vokalis mentap ke arah tempatnya berdiri, lalu berjalan menuju ke arahnya.

“Kak… kak…..” sedikit terkejut saat tiba-tiba Sienna memanggil-manggil vokalis tersebut sembari mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Kemudian melemparkannya ke atas panggung, tepat di bawah kaki sang vokalis.

Bianca membulatkan matanya seketika saat tahu apa yang dilempar kakak iparnya tersebut.

“Si, apa kamu gila?” tanyanya sedikit kesal.

“Enggak, aku nggak gila.” Jawab Sienna santai. “Kyaaaa, lihat, dia ambil BH kamu.”

Mata Bianca membulat seketika ke arah Sienna. “Apa kamu bilang? BH aku?”

Sienna tertawa lebar. “Hahaha iya, kemaren aku sengaja mencurinya di kamar kamu yang ada di apartemenku.” Ya, selama ini, sesekali Bianca memang menginap di apartemen kakaknya saat kakaknya ada tugas ke luar kota. Untuk menemani Sienna tentunya. Tapi Bianca masih tidak menyangka jika Sienna akan melakukan hal segila itu.

“Kamu benar-benar keterlaluan, Si!” seru Bianca dengan kesal.

Matanya lalu menatap ke arah panggung. Jason, si vokalis itu tampak menghirup aroma BHnya sambil menyanyi, dengan melemparkan sebuah senyuman dan sebuah kerlingan matanya ke arah Sienna, Jason menyimpan kembali BH tersebut di saku belakang celana jeans yang ia kenakan.

Oh sial!

Jantung Bianca tak berhenti berdebar kencang. Pipinya terasa memanas saat melihat kejadian tersebut. Apa Jason tahu jika itu BH itu miliknya? Astaga, apa yang sedang kau pikirkn, Bee?

***

Konser itu akhirnya berakhir juga. Sienna dan Bianca pulang ketika jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Sienna tak berhenti tertawa gembira, sedangkan Bianca hanya bisa diam mengendalikan debaran jantungnya yang hingga kini tak mau berhenti berdebar kencang.

“Kamu banyak diam, Bee. Kenapa? Kaget yaa sama penampilan Jason dan teman-temannya?”

Bianca mendengus sebal. Ia masih kesal dengan Sienna yang mencuri BHnya dan melemparkannya ke atas panggung. “Enggak, biasa aja.” Bianca mengelak.

“Ahhh coba aja aku belum nikah, mungkin aku akan tergila-gila sama Jason. Beneran deh, dulu dia nggak sekeren itu, tapi sekarang, kamu bisa lihat sendiri kalau Jason berubah menjadi pria terpanas di negeri ini.”

“Lebay.” Meski mengucapkan kata tersebut, tapi nyatanya apa yang dikatakan Sienna memang benar. Bianca memang tak menyangka jika ada sebuah Band yang mampu membuatnya terpesona seperti saat ini. Tapi tentu saja ia tidak akan mengucapkan keterpesonaannya pada Sienna. Yang benar saja, Sienna pasti akan mengoloknya habis-habisan.

“Ahhh, sepertinya malam ini aku akan tidur nyenyak dan bermimpi tentang kak Jason.”

“Hei, ingat, kamu sudah bersuami.”

“Dan suamiku sedang keluar kota. Jadi tidak salah bukan jika aku memimpikan pria lain?”

“Benar-benar gila kamu Si.” Bianca masih saja menggerutu hingga mobil yang ia tumpangi dan juga Sienna masuk ke area apartemen Sienna dan kakaknya. Malam ini, ia akan kembali tidur di apartemen Sienna, semoga saja ia bisa tertidur nyenyak dan tidak lagi terbayang tentang si vokalis panas yang sejak tadi tak mau meninggalkan kepalanya.

***

Jason melemparkan diri pada kamar hotelnya. Tenaganya terkuras setelah melakukan konser yang baru selesai beberapa jam yang lalu. Harusnya, kini dirinya masih asik dengan semua krunya yang melakukan perayaan atas berhasilnya konser yang baru saja ia selenggarakan, namun nyatanya, ia tidak bergairah untuk sekedar mengikuti pesta perayaan tersebut.

Jason memilih kembali ke kamar hotelnya, menyendiri, dan tidur hingga siang. Tapi ketika sampai di dalam kamar hotelnya, ia sama sekali tak dapat menutup matanya.

Jason bangkit, membuka pakaiannya, hingga meninggalkan dirinya yang hanya telanjang dada dengan celana jeans yang masih membalut tubuh bagian bawahnya. Jemarinya meraba saku belakang celananya, mengambil sesuatu dari sana, dan Jason tersenyum saat mendapati barang itu dari sana.

Seorang fansnya tadi melemparkan sebuah BH padanya. Memang bukan pertama kalinya hal ini terjadi, tapi, yang membuat Jason tak berhenti tersenyum adalah ketika ia tahu siapa yang melemparinya dengan benda tersebut.

Itu Sienna. Ya, jika Jason tak salah lihat, itu adalah Sienna, perempuan manja yang pernah ia temui di toko ice cream milik Felly. Sejauh yang Jason tahu, Sienna merupakan istri dari  sepupu Felly, dan bagaimana mungkin perempuan itu ada di sana tadi? Melemparinya dengan BH? Astaga.

Jason menggelengkan kepalanya, lalu melempar BH itu ke sembarang arah. Ia kembali telentang, menatap langit-langit kamarnya, lalu bayang perempuan yang ia cintai, menyeruak dalam ingatannya.  Bayang ketika ia datang menghampiri perempuan itu dan mendapati kenyataan buruk yang kini menggores luka di dadanya.

 

“Kamu menghindariku?” pertanyaan Jason tersebut sontak membuat Felly mengangkat wajahnya dan tatapan matanya tepat menatap pada mata Jason.

“Ahh enggak, kenapa aku menghindarimu?”

“Sejak tadi kamu menyibukkan diri, dan itu membuatku merasa bahwa kamu sedang menghindariku.”

Ya, tentu saja. Sejak tadi Felly memang menyibukkan diri di toko ice cream miliknya, itu membuat Jason merasa jika perempuan itu berharap Jason melihatnya sibuk, lalu ia akan pergi. Tapi Jason tidak akan pergi, tidak sebelum ia mendapat apa yang ia mau.

“Aku memang selalu sibuk, Jase.”

Jason tidak percaya. Tapi ia menghela napas panjang dan memilih membahas masalah lain dengan Felly.

“Kamu kemana aja selama ini? Aku mencarimu, toko juga tutup lama, apa yang terjadi?”

Felly menundukkan kepalanya. “Emm, aku, aku sudah nikah.”

Seperti tersambar petir di siang hari, begitulah yang dirasakan Jason saat ini. Jason membulatkan matanya seketika. “Menikah? Kamu bercanda?”

“Aku memang sudah menikah, Jase.” Felly menjawab dengan tenang.

Jason menggeram kesal. “Dengan siapa? Kenapa aku nggak tahu?”

“Kak Raka.”

“Apa? Kamu di jodohkan dengan dia? Bukannya dari ceritamu, dia hanya menganggapmu sebagai adiknya?” ya, yang Jason tahu adalah, jika Raka Dan Felly itu saudara angkat, Felly memang terlihat suka dengan Raka, tapi Jason tidak peduli, nyatanya, Raka selalu cuek dengan Felly.

“Jase, aku hamil, dan aku memang harus menikah dengan dia.”

Jason tercengang saat mendengar kalimat yang terucap dari bibir Felly. “Dia, dia hamilin kamu?”

“Jase, ini bukan seperti yang kamu pikirkan, hubungan kami rumit, bahkan aku sendiripun tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi diantara kami.”

Jason tersenyum miring. “Bukankah seharusnya kamu senang, karena ini yang kamu inginkan, bukan? Menikah dengan lelaki yang kamu cintai.” Jason mencibir.

“Jase, aku nggak pernah menginginkan ini semua terjadi. Kamu pikir aku bahagia saat menikah dengan orang yang tidak mencintaiku hanya karena sebuah kesalahan semalam? Aku juga merasa tertekan Jase.”

“Benarkah? Ku pikir kamu bahagia dengan kakak sialanmu itu.”

“Jase, aku nggak tahu apa yang terjadi sama kamu, tapi kamu benar-benar aneh, kamu terlihat seperti orang yang sedang cemburu.”

“Ya, aku memang cemburu. Apa salah jika aku cemburu?” Jason tak dapat menyembunyikan lagi perasaannya. Selama ini, ia terlalu lama memendam rasa tersebut, Felly memintanya untuk berpura-pura menjadi kekasih perempuan itu, padahal, hubungan mereka sebenarnya tak lebih dari teman. Apa salah jika Jason benar-benar jatuh cinta pada sosok Felly?

“Kita hanya teman Jase, nggak lebih.”

Jason menggenggam telapak tangan Felly seketika. “Tapi aku menganggapmu lebih dari teman Fell, apa kamu nggak bisa melihatnya?” ucap Jason dengan lembut tapi penuh penekanan.

Felly menggelengkan kepalanya. “Jangan bicara seperti itu. Kita hanya teman.” lirih Felly.

Jason berdiri seketika. Ia kemudian menuju ke arah Felly, memberdirikan wanita tersebut, lalu mulai memeluknya erat-erat.

“Terserah kamu mau menganggapku apa, tapi aku kumohon, jangan hindarin aku, jangan jauhin aku. Aku nggak bisa jauh dari kamu Fell.”

“Jase, jangan seperti ini, aku sudah bersuami.”

“Jangan seperti ini, aku sudah bersuami….”

“Jangan seperti ini, aku sudah bersuami…”

“Jangan seperti ini, aku sudah bersuami….”

 

Suara Felly seakan menggema dalam kamar tidurnya. Menari-nari dalam kepalanya, hingga membuat Jason terduduk seketika. Jason mengusap rambutnya dengan kasar. Ia mengumpat keras-keras. Lalu, ia mulai menangis.

Ya, ia menangis karena patah hati… apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Bagaimana cara dia melupakan sosok Felly?

***

Kesal. Itulah yang Bianca rasakan saat ini. Saat ini, seharusnya ia masih bersantai-santai ria di pinggir kolam renang di samping rumahnya sembari membaca sebuah novel roman dewasa yang sesekali membuatnya hampir mencapai klimaks karena membaca adegan ranjangnya, tapi kesenangannya tersebut terganggu oleh telepon manja dari Sienna, kakak iparnya yang terdengar sedang tak berdaya karena sakit dan ingin meminta chessecake buatan Felly, sepupunya.

Ketika Bianca berkata “Kenapa nggak minta sama kak Aldo saja, Si?”  dengan manja Sienna menjawab, kalau Aldo, suaminya itu bukanlah pria yng romantis, pria yang mau menuruti istrinya ketika sang istri sedang sakit. Kemudian ditambah dengan curhatan panjang lebar Sienna tentang mereka yang ketahuan nonton konser bersama beberapa hari yang lalu hingga membuat Aldo marah dan enggan lagi menuruti apa mau Sienna hingga saat ini..

Bianca sempat bosan mendengar cerita dari kakak iparnya tersebut, akhirnya Bianca memilih mengiyakan permintaan Sienna meski dengan perasaan yang sungguh sangat kesal.

Kini, dirinya sedang berada di dalam sebuah mobil menuju ke tempat toko ice cream milik Felly, sepupunya. Sedikit bercerita tentang Felly, Felly adalah puteri dari Om Revan, kakak dari ibu Bianca. Meski seharunya ia memanggil Felly dengan panggilan kakak, tapi, Bianca tidak melakukan itu, pun dengan Aldo, kakaknya. Karena nyatanya Felly adalah yang paling muda di antara mereka bertiga.

Felly memiliki sebuah toko ice cream, bisa di bilang bukan toko ice cream biasa, karena di sana juga menyediakan aneka cake, dan juga minuman dan makanan ringan lainnya. Felly sudah menikah beberapa minggu yang lalu dengan Raka, orang yang seharusnya menjadi kakak angkat perempuan tersebut. Bianca sendiri tidak mengerti apa yang terjadi diantara mereka, karena memang sifat dasar Bianca cuek dan tak ingin mau tahu urusan orang jika dirinya  tidak diberi tahu sendiri.

Mobilnya berbelok menuju ke sebuah toko besar yang berada di pinggiran jalan raya. Ternyata, sore hari seperti ini toko itu tidak begitu ramai, membuat Bianca menyunggingkan senyumannya karena itu tandanya jika dirinya bisa sedikit berlama-lama dengan Felly sambil bercerita tentang kejadian yang menimpanya beberapahari terakhir. Kejadian yang berhubungan dengan vokalis panas bernama Jason Febrian.

Ahh, lagi-lagi Bianca mengingat nama itu. Bianca tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Setelah konser tersebut, Bianca merasakan jika bayangan Jason selalu menghantuinya. Tak ada hari yang dilalui Bianca tanpa mencari-cari informasi atau gosip sebanyak-banyaknya dari mesin pencarian di internet tentang Jason. Mengunjungi semua akun sosial media pria itu hingga berakhir dengan rasa penasaran, siapakah perempuan beruntung yang berhasil menaklukkan hati seorang Jason Febrian?

Entah di halaman gosip, atau di akun sosial media lelaki itu, Bianca tidak mmenemukan informasi tentang perempuan-perempuan yang mungkin saja menjalin kasih dengan Jason. Sempat terbesit sesuatu yang menggelikan dalam kepalanya, Apa Jason benar-benar Gay?

Oh, tidak mungkin. Pria Gay tiak akan memiliki aurah panas seperti yang Jason pancarkan. Lalu, apa benar Jason belum memiliki tambatan hati? Atau, apa pria itu yang terlalu pintar menyembunyikan semuanya dari publik?

Ketika Bianca sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, mobilnya sudah berhenti di tempat parkir yang di sediakan toko Felly. Dengan segera Bianca keluar dari dalam mobilnya, berpesan pada sang supir untuk kembali saja, karena Bianca memutuskan untuk ke tempat Sienna sendiri nanti.

Bianca keluar dari dalam mobilnya, dan baru saja beberapa langkah kakinya berjalan, ia menghentikan langkahnya kembali. Berdiri mematung sembari menatap sosok yang baru saja keluar dari dalam toko Felly. Bianca mengerjapkan matanya, siapa tahu saja matanya sudah rabun karena kini ia melihat sosok Jason berada di hadapannya. Apa otaknya sudah mulai terjangkit virus mematikan hingga yang ia lihat hanya Jason, Jason, dan Jason?

Astaga, bahkan beberapa hari terakhir ketika membaca novel-novel roman dewasa kesuakaannya, yang ia bayangkan menjadi tokoh utama dalam novel-novel tersebut adalah Jason. Bagaimana mungkin Jason mampu membuatnya segila ini hanya karena sekali menyaksikan aksi panggung pria tersebut?

Bianca mengucek matanya, mencoba menajamkan kembali pandangannya, berharap jika apa yang ia lihat tidak salah. Dan ya, apa yang ia lihat memang tidak salah. Itu benar-benar Jason, yang baru saja keluar dari dalam toko ice cream milik Felly.

“Hei, kamu Jason, kan? Vokalisnya The Batman? Oh my god, aku nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini? Astaga.” Akhirnya, entah di dorong oleh rasa apa, Bianca menurunkan harga dirinya untuk menyapa Jason lebih dulu.

“Hai juga.” Hanya itu yang bisa dijawab oleh Jason.

Sombong! Itu yang dipikirkan Bianca tentang Jason saat Jason hanya menjawab sapaannya dengan jawaban singkat.

“Suka nongkrong di sini? Ini toko ice cream milik sepupu aku.” Bianca masih tak mau mengalah, ia bahkan mengenyampingkan rasa malunya, dan ia bingung, kenapa dirinya bersikap seperti ini pada orang yang baginya cukup asing.

Jason sedikit menggaruk tengkuknya. “Ya, aku suka kesini.”

Lagi-lagi, Bianca merasa jika Jason terkesan sombong dan terlalu menutup diri. Begitukah seharusnya sikap seorang artis di negeri ini?

“Ahh, kalau Sienna tahu pasti senang sekali.” Bianca mencoba membawa Sienna dalam percakapan mereka karena Bianca ingat jika Sienna sempat bercerita jika kakak iparnya itu kenal dengan Jason.

“Sienna?”

“Ya, kakak iparku. Dia ngefans banget sama kamu. Dia kemaren bahkan secara sembunyi-sembunyi mengajakku menonton konser kamu. Ah, gila!!! Baru satu kali aku melihat aksi panggung kamu, dan aku sudah memutuskan untuk ngefans sama The Batman.”

Persetan jika setelah ini Jason malah ilfeel dengannya. Nyatanya, Bianca merasa jika dirinya menjadi sosok berbeda saat di depan Jason. Ia menjadi lebih berani, lebih agresif, lebih cerewet, dan entahlah, bahkan Bianca merasa tak mengenali dirinya sendiri yang biasanya cuek dengan keadan di sekitarnya.

Jason sedikit tersenyum. “Aku kenal Sienna. Bahkan kami beberapa kali pernah bertemu.”

“Oh ya?” Bianca memasang wajah terkejutnya, padahal ia tidak terkejut sama sekali karena  sudah beberapa kali Sienna bercerita tentang pertemuannya dengan Jason. “Dasar bocah licik, awas saja nanti kalau di rumah.” ucap Bianca dengan nada yang di buat mengancam.

Tanpa diduga, Jason tertawa lalu mengulurkan telapak tangannya. “Jason.” ucapnya memperkenalkan diri. “Aku teman Felly, dan juga Sienna. Kupikir, kita bisa berteman juga nantinya.”

Yess!!!

Bianca merasa dirinya baru saja mendapatkan durian runtuh ketika Jason menghilangkan sikap sombongnya lalu mengajaknya berkenalan, bahkan berteman. Oh, demi apa??

“Ah, tentu saja.” Bianca menjawab dengan sangat antusias, lalu menyambut uluran tangan Jason. “Bianca.” lanjutnya memperkenalkan diri.

“Oke Bian, aku-”

“Tunggu, Bian?” Bianca sangat tersinggung ketika ada orang yang memanggilnya dengan nama panggilan seperti itu. Astaga. “Kamu kira aku cowok?” tanyanya dengan nada dibuat ketus. “Bee, just call me, Bee.” lanjutnya.

“Bee? Kupikir kamu bukan seekor lebah.”

Bianca tertawa lebar dengan lelucon yang di buat oleh Jason. Ahhh, pria ini terjanya bisa melempar sebuah lelucon juga, meski sebenarnya itu sama sekali tidak lucu untuknya.

“Ayolah, itu nama panggilanku, tahu. Semua orang terdekatku memanggilku seperti itu.”

“Jadi, aku termasuk orang terdekatmu?”

“Uum, bukan juga sih, tapi aku nggak mau di panggil Bian.”

“Oke, aku punya panggilan tersendiri buat kamu.”

“Apa?”

“Babee.”  Jason mengucapkan penggilan itu dengan sangat lembut dan entah kenapa tampak menggoda di mata Bianca.

Babee? Baby maksudnya? Kenapa Jason mau memanggilnya Baby? Apa itu sebuah panggilan sayang? Astaga, pipi Bianca merona seketita. Apa ini? Kenapa kini ia merasa jangtungnya jedag-jedug tidak karuan?

“Oke Bee, aku pergi dulu, semoga lain waktu bisa bertemu lagi.”

Bianca yang masih ternganga hanya mampu menganggukkan kepalanya karena benar-benar terpesona dengan sosok lelaki yang ada di hadapannya.

Jason sendiri langsung menaiki motornya, lalu mengenakan helmnya. Ia kembali sedikit melirik ke arah Bianca. Bianca masih berdiri di sana dengan wajah lucunya. Ahh, wajah itu sedikit mirip dengan Felly, tapi sikapnya sangat mirip dengan Sienna. Jason kemudian menyalakan mesin motornya dan melaju meninggalkan Bianca begitu saja dengan berbagai macam pikiran di kepalanya. Bolehkan ia menjadikan gadis tadi sebagai pengobat luka patah hatinya?

Ketika Jason sudah pergi dari hadapannya, Bianca mulai membalikkan tubuhnya, masih dengan sedikit linglung karena pertemuan tak terduga tadi, Bianca melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu toko ice cream milik Felly. Tapi baru berapa langkah, ia kembali membalikkan tubuhnya saat mendengar suara motor Jason kembali di belakangnya.

Bianca menatap Jason dengan heran, kemudian ia melihat Jason membuka kaca helm yang ia kenakan, lalu pria itu bertanya. “Bolehkah aku menyimpan nomor ponselmu?”

-TBC-