Sleeping with my Friend – Bab 11

Comments 3 Standard

 

“Jangan.” Ucapnya sembari menahan tubuh Jessie. “Aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku akan menahannya. Sumpah! Aku hanya ingin tidur memelukmu seperti dulu. Meski aku harus menahan kesakitan sepanjang malam.”

Jessie tersenyum mendengar ketulusan Steve. “Terimakasih.” Ucap Jessie kemudian.

“Untuk apa?”

“Karena mau memeluku lagi seperti dulu, dan mengesampingkan gairahmu.”

Steve tersenyum. Ia kembali mengecupi puncak kepala Jessie. Kemudian dengan spontan ia berkata. “Menikahlah denganku, Jess.”

Tubuh Jessie membatu seketika. Mereka sudah sepakat untuk tidak membahas masalah pernikahan dulu. Dan kini, Steve kembali mengungkitnya. Tidak, lelaki itu sedang melamarnya. Lalu apa yang akan Jessie lakukan selanjutnya? Haruskah ia menerima lamaran Steve?

Bab 11

 

“Kau mendengarku?” tanya Steve ketika ia tidak mendapatkan respon dari Jessie. “Menikahlah denganku. Dan aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu, serta ayah yang hebat untuk anak kita. Kumohon. Menikahlah denganku.” Lanjut Steve dengan nada lirih.

“Kita sudah sepakat untuk tidak membahas tentang hal ini, Steve.”

“Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Jess.”

“Kenapa tidak?” Jessie melepaskan pelukan Steve lalu menatap lelaki itu dengan sungguh-sungguh. “Bukankah selama ini komitmen atau pernikahan tak pernah mampir dalam pikiranmu? Kenapa sekarang Steve?”

“Sebab seluruh warga Pennington akan tahu bahwa kau hamil dan akan memiliki anak. Mereka harus tahu siapa ayahnya, dan itu adalah aku.”

“Kau ingin menikah karena bayi ini?”

“Jess. Aku tidak pernah seserius ini sebelumnya. Meski bayi itu adalah alasan utama, tapi bukan hanya karena itu aku memutuskan untuk mengakhiri masa lajangku. Aku merasa, kau adalah orang yang sangat tepat, yang mengerti semua tentangku, dan tentunya, kita juga cocok dalam urusan ranjang.”

“Jika kau kembali membahas masalah ranjang, maka aku akan menendang bokongmu dari tempat tidurku.”

Steve terkikik geli. Sepertinya sudah sangat lama ia tidak mendengar kemarahan Jessie yang membuatnya semakin ingin menggoda wanita itu.

“Oke. Aku akan serius.” Kali ini Steve menghilangkan tawanya seketika. “Menikahlah denganku. Kumohon. Demi bayi kita, demi hubungan kita, demi keluarga kita.”

“Lalu, apa lagi yang akan terjadi jika kita sudah menikah?” tanya Jessie kemudian.

“Aku juga tidak tahu, Jess. Aku belum menikah sebelumnya.”

“Maksudku, hubungan kita…..”

“Jika yang kau tanyakan adalah hubungan ranjang, maka aku akan menyentuhmu layaknya seorang suami yang menyentuh istrinya. Aku tidak akan membuat peraturan-peraturan sialan atau menerima peraturan-peraturan sialan untuk hidup selibat jika kau mengajukannya. Jika aku menikahimu, maka kau adalah istriku sepenuhnya, di dalam atau diluar kamar.”

“Steve. Hubungan ini tak akan berhasil?”

“Apa yang kau takutkan, Jess?”

Jessie tak tahu. Ia hanya tak mau jika semuanya akan berakhir dengan buruk lalu ia benar-benar kehilangan Steve.

“Kau tahu, aku juga takut. Aku tak pernah berkomitmen sebelumnya. Tapi aku akan berusaha untuk membuat hubungan kita berhasil. Aku akan berusaha, Jess. Dan aku ingin, kau juga berusaha bersamaku.”

“Kau tidak mencintaiku, Steve. Bagaimana mungkin pernikahan….”

“Aku mencintaimu. Aku menyayangimu.” Jawab Steve cepat.

Tentu saja Jessie tahu apa maksud Steve. Dalam hal ini, Steve memang mencintai dan menyayanginya. Tapi sebagai teman, bukan kekasih. Mereka tidak sedang memadu kasih. Tidak ada keromantisan diantara mereka, dan hal itulah yang membuat Jessie sangsi dengan hubungan mereka kedepannya.

“Dengar.” Steve menangkup kedua pipi Jessie. “Kita akan melewati semuanya. Kita bisa melewati semuanya, oke. Semua akan baik-baik saja. Aku akan menyayangimu sebagai istriku, dan sebaliknya, kaupun akan menyayangiku sebagai suami. Sederhana, bukan?”

Ya. Sangat sederhana jika diucapkan. Tapi ketika dilakukan, ada banyak hal yang membuatnya rumit.

Steve kembali memeluk tubuh Jessie. “Aku benar-benar ingin menikahimu, Jess. Pikirkanlah lagi. Tolong.” Ucapnya sesekali mengecup lembut puncak kepala Jessie.

Jessie mengangguk. “Baiklah. Kita akan menikah.” Desahnya yang seketika itu juga membuat Steve menatap Jessie tak percaya. “Kenapa?” tanya Jessie kemudian.

“Kau menjawabnya sekarang? Kau benar-benar menerima lamaranku?”

“Kau ingin aku menolaknya?” Jessie bertanya cepat.

“Tidak! Tentu saja tidak!” Steve juga menjawab dengan cepat dan tegas. “Oh, Jess. Kita benar-benar akan menikah. Aku akan mengabari Mom dan Dad. Mereka pasti akan sangat senang menyiapkan pesta pernikahan kita.”

“Steve.” Jessie memotong kalimat Steve. “Kupikir, lebih baik kita menikah di kantor catatan sipil saja.”

“Apa? Kenapa?” tanya Steve dengan wajah terkejutnya.

“Uum, aku, aku tidak ingin terlalu memberikan banyak harapan pada keluarga kita tentang pernikahan kita.”

“Kau gila. Kita memang harus berharap banyak dengan pernikahan kita.”

“Tapi Steve, jika kita gagal, bukan hanya kita yang hancur, tapi keluarga kita.”

“Jess. Ketika aku sudah memutuskan untuk menikahimu, maka aku akan melakukannya sampai akhir. Aku tak akan membiarkan hubungan kita gagal dan berhenti ditengah jalan. Tidak akan pernah.”

“Steve…”

“Tolong. Jika kita akan menikah, maka pernikahan itu harus diadakan di Pennington. Di tanah kelahiran kita.”

Seperti yang dikatakan Steve, Jessie tak akan mungkin dapat menolak keinginan lelaki itu. Ia terlalu lemah untuk berdebat. Lagi pula, ia hanya perlu menuruti saja apapun yang dikatakan oleh lelaki itu, bukan?

***

Beberapa hari kemudian, Semuanya berjalan dengan baik. Steve sudah mengatakan rencana pernikahan mereka yang disambut dengan suka cita oleh keluarga mereka. Patty bahkan sudah menyiapkan segala sesuatunya tentang pernikahan mereka. Mereka akan menikah di lumbung yang berada di belakang rumah Steve. Sampai saat ini, Steve dan Jessie tak pernah berpikir jika mereka akan menikah di sebuah lumbung.

Kini, Jessie dan Steve memiliki waktu seminggu untuk menyelesaikan urusan mereka di New York sebelum kembali lagi ke Pennington.

Steve membuka pintu sebuah Suv baru yang terparkir di basement. Jessie mengerutkan keningnya, meski begitu, ia masuk saja ke dalam Suv tersebut.

“Milik siapa?” tanya Jessie ketika Steve sudah masuk dan duduk di depan kemudi.

“Milikku.” Jawabnya pendek. Steve bahkan memilih memasangkan sabuk pengaman untuk Jessie daripada harus menatap wanita yang kini sedang melemparkan pandangan penuh tanya padanya. “Ada apa?” akhirnya, Steve tak kuasa menahan pertanyaannya ketika Jessie menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

“Maksudmu, kau membeli Suv ini?”

“Ya. Kenapa?”

“Tapi, aku mengenalmu, Steve. Kau lebih menyukai super car, mobil sport, dan sejenisnya. Kenapa kau membeli Suv ini?”

“Well, kupikir, aku butuh ruang untuk kereta bayi dan segala perlengkapannya jika aku dan istriku nanti pergi piknik bersama.”

“Kau, kau, membelinya karena aku?” Sungguh, Jessie tak percaya.

Steve hanya melihatnya dan menyunggingkan senyuman khasnya. “Kenapa? Kau keberatan? Kau tidak menyukai modelnya.”

Jessie menggeleng. “Bukan.”

“Lalu?”

Tiba-tiba Jessie memalingkan wajahnya ke luar jendela. Matanya berkaca-kaca seketika. Jessie tak tahu kenapa ia sangat mudah sekali tersentuh secara emosional hingga berkaca-kaca seperti ini. dan ia benar-benar tak suka Steve melihatnya seperti ini.

“Hei, kenapa? Kau menangis? Kau tidak suka naik Suv? Apa Suv ini membuatmu mual?”

“Tidak. Steve.”

“Lalu?” Steve bingung. Sangat malah.

“Aku tidak tahu, aku hanya ingin menangis. Mungkin hormonku saja yang perlu disalahkan.”

“Kau, benar-benar baik-baik saja, bukan? Aku tidak ingin kau tertekan karena hal ini.”

Jessie menatap Steve seketika. “Aku baik-baik saja. Sungguh. Aku hanya…. Aku hanya…” Jessie tak tahu apa yang ingin ia katakan, bahkan ia sendiri tak mengerti apa yang sedang ia rasakan terhadap lelaki yang duduk di sebelahnya itu.

Dengan spontan, Steve merengkuh Jessie dan memeluk wanita itu. Sesekali Steve mengecupi puncak kepala wanita tersebut.

“Aku tahu, kau pasti kurang nyaman. Tapi kita akan segera melewati semuanya, kita akan baik-baik saja, oke.”

Ya. Itulah yang dirasakan Jessie. Ada sebuah rasa tidak nyaman, tapi juga bercampur dengan rasa haru yang membahagiakan, hingga Jessie sendiri tidak mengerti bagaimana cara ia melukiskan apa yang ia rasakan saat ini. Steve benar, semuanya akan berlalu, dan Jessie harus yakin jika mereka bisa melewati semuanya.

***

Sampai di butiknya, Steve memperlakukan Jessie dengan begitu manis hingga Jessie merasa bahwa kini Steve sedang bersandiwara dihadapan para bawahannya.

Dan benar saja, Miranda sempat mengerutkan keningnya sembari menatapnya penuh tanya ketika Steve bersikap seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.

Miranda dan yang lainnya tentu belum tahu tentang rencana pernikahan Jessie dengan Steve. Bahkan Jessie tak berniat untuk memberitahunya. Bagi Jessie, pernikahan mereka hanya karena kehamilannya, dan kemungkinan besar akan berakhir. Jessie hanya ingin, tak banyak orang tahu tentang kegagalannya dalam berumah tangga.

“Ada masalah?” tanya Jessie ketika ia akan masuk ke dalam ruangannya melewati Miranda yang masih menatap kebersamaannya dengan Steve yang tampak berbeda dari biasanya.

“Tidak.” Miranda mencoba mengendalikan diri agar rasa keingin tahuanya tidak terlalu tampak. “Kupikir kau belum masuk kerja hari ini.” karena selama Jessie tidak masuk, butiknya memang tetap buka dan hanya melayani pembelian model yang sudah ada di sana. Dan hal tersebut cukup bisa ditangani oleh Miranda dan pegawainya yang lain.

“Aku harus menyelesaikan urusan-urusan disini, karena minggu depan akan menjadi minggu yang sibuk untukku. Kemungkinan kalian akan mendapatkan cuti.”

“Kenapa? Kau tidak sakit, bukan?” Miranda tampak khawatir.

“Tidak. Aku hanya….”

“Hamil. Kau hamil.” Steve menyahut. Steve hanya tidak ingin jika Jessie menutupi kehamilannya dan menyebut hal itu sebagai masuk angin atau penyakit lainnya.

“Jadi, dia sudah tahu?” Miranda bertanya.

Steve menatap Miranda dengan penuh tanya juga. “Kaupun sudah tahu?” Steve bertanya pada Miranda.

“Mr. Morgan, akulah orang pertama yang tahu, karena aku yang membawanya ke rumah sakit saat dia pingsan sebulan yang lalu dan dokter mengatakan bahwa dia hamil.”

“Kau pingsan?” kali ini Steve menatap Jessie penuh tanya.

“Aku terlalu stress saat itu.”

“Tapi kau tidak mengatakan apapun padaku.”

“Hubungan kita tidak sebaik ini saat itu, Steve. Astaga, bisakah kita berhenti membahas masalah itu?”

“Oke.” Steve mengangkat kedua belah telapak tangannya. “Dan kau, Miranda. Kuharap, kau dan teman-temanmu dapat menghadiri pernikahan kami di Pennington minggu depan.”

“Steve!” Jessie berseru keras.

“Apa lagi?”

“Kalian akan menikah?” miranda bertanya.

“Ya, tentu saja. Dia mengandung anakku, jadi kami akan menikah.” Jawab Steve dengan santai bahkan dia sudah menggandeng Jessie dengan mesra.

“Astaga Steve. Kau benar-benar menyebalkan.” Dan Jessie segera meninggalkan Steve masuk ke dalam ruangannya.

Jessie masih tak habis pikir kenapa Steve mengatakan semua itu pada Miranda. Ia tidak suka. Pertama, karena Miranda dan yang lain tahu bahwa sebelumnya ia bertunangan dengan Henry. Akan sangat tidak msuk akal jika saat ini ia mengandung bayi Steve dan menikah dengan lelaki itu, setidaknya, mungkin itu yang ada di dalam pikiran Miranda dan yang lainnya. Itu pulalah yang menjadi kekhawatiran Jessie jika ingin menceritakan hubungannya dengan Steve. Reaksi mereka, atau mungkin pandangan mereka terhadapnya.

Jessie tentu tak ingin dilihat sebagai perempuan murahan yang gampang tidur dengan banyak pria karena ia tdak seperti itu.

Yang kedua adalah, karena Jessie berpikir bahwa pernikahannya dengan Steve tak akan berlangsung lama. Semakin sedikit orang yang tahu maka semakin baik.

Dengan kesal Jessie menuju ke arah kursi kerjanya dan ia menyadari bahwa Steve mengikutinya sampai ke dalam.

Jessie berbalik dan seger menyembur lelaki itu dengan pertanyaannya. “Apa yang kau pikirkan dengan mengatakan semua itu pada mereka, Steve?”

“Apa? Apa aku salah mengundang mereka di hari kebahagiaan kita?”

“Jangan membohongi dirimu sendiri. pernikahan itu bukan seperti yang kita inginkan.”

Steve mendekat. “Mungkin kau tidak menginginkannya, tapi aku ingin.” Steve menjawab penuh penekanan.

“Aku hanya…. Aku hanya tidak ingin mereka melihat kegagalan kita.” Desah Jessie kemudian.

“Kegagalan?” Steve menatap Jessie penuh tanya. “Apa maksudmu?”

“Kita menikah demi bayi ini. Jadi kupikir, setelah bayi ini lahir, kita akan….”

“Jess, dengar.” Steve memotong kalimat Jessie. “Jika aku memutuskan untuk menikah, maka aku akan melakukannya sampai akhir. Tidak akan ada perpisahan diantara kita. Kau mengerti?”

“Tapi…”

Steve segera meraih tubuh Jessie, memeluk wanita itu dengan lembut. “Aku tahu, hormonmu sedang kacau, pikiranmu sedang labil. Seharusnya aku lebih mengerti hal itu. Aku membuatmu semakin tidak nyaman. Tapi kau harus tahu satu hal, Jess. Bahwa aku bersungguh-sungguh dengan pernikahan ini. Jangan pernah berpikir bahwa ini hanya permainanku yang akan selesai saat aku sudah bosan. Kita tidak akan pernah selesai, Jess. Dan aku tak akan pernah bosan jika itu tentangmu.” Steve berkata dengan sungguh-sungguh.

Bohong, jika Jessie mengabaikan semua pernyataan lelaki itu. Steve tak pernah seserius ini sebelumnya, dan entah kenapa hal tersebut membuat Jessie semakin tidak nyaman dengan sikap lelaki itu yang banyak berubah terhadapnya.

***

“Jadi, kau benar-benar akan menikah dengannya?” tanya Miranda yang saat ini sudah menyuguhkan teh herbal di meja Jessie.

“Menurutmu bagaimana?” Jessie bertanya balik.

“Kau meminta pendapatku?” tanya Mirada tak percaya.

Sedangkan Jessie hanya mengangguk. Ia tidak tahu harus bercerita pada siapa, ia tidak ingin lagi menceritakan masalahnya kepada si berengsek Frank. Kakaknya itu tentu akan mendukung Steve. Atau paling tidak, kakaknya itu pasti akan mengolokinya habis-habisan.

Well, itu luar biasa. Demi Tuhan! Steven Morgan itu salah satu bujangan yang paling diinginkan di New York. Dia tampan, mapan, memiliki koneksi banyak dari kalangan atas, dan dia seksi. Kau bodoh jika menolaknya.”

“Seksi?” tanya Jessie tak percaya bahwa Miranda menggunakan kata itu untuk menggambarkan tubuh Steve.

“Ayolah, jangan menutup mata atau membohongi dirimu sendiri. Mr. Morgan itu seksi, sangat seksi malah. Kau mengandung anaknya, kau tentu tahu bagaimana…”

“Cukup.” Jessie memotong kalimat Miranda. “Jika kau ingin membahas hubungan ranjang kami, maka itu tak akan berhasil.”

Miranda tertawa lebar. Jessie memang orang yang cukup tertutup dengan hubungan asmaranya. “Baiklah. Tapi aku hanya mengatakan dari sudut pandangku. Mungkin, kau akan merasa tidak nyaman karena reputasinya selama ini. Tapi kau lebih mengenalnya, dan kupikir dia orang baik. Kau akan baik-baik saja jika bersamanya.”

“Masalahnya, aku tak yakin dengan pernikahan ini, Miranda. Aku selalu merasa tak nyaman jika memikirkannya.”

“Kau tahu, Jess. Menikah bukan hanya tentang cinta. Ada juga orang menikah hanya karena gairah, ada lagi yang menikah karena tanggung jawab, ada juga yang menikah karena sebuah pengorbanan. Banyak alasan bagi seseorang untuk menjalani sebuah pernikahan. Dan tidak semua alasan tersebut berakhir mengenaskan dengan kata perpisahan.”

“Kau berbicara seolah-olah kau ahli dalam bidang ini.”

Lagi-lagi, Miranda tertawa lebar. “Aku memiliki teman seorang penulis fiksi, jadi aku cukup tahu pengalaman itu ketika membaca buku-bukunya.”

“Jadi, apa yang kau katakan padaku tadi sesuai dengan buku fiksi? Astaga, perlu kau tahu, bahwa pernikahan di dalam novel dengan pernikahan sungguhan itu sangat berbeda! Bahkan aku berani jamin jika adegan ranjangnya juga sangat berbeda.”

Miranda benar-benar tergelak tawanya. “Kau mengatakan itu seolah-olah kau ahli dalam bidang seks.”

“Oh Miranda, aku hamil, ingat. Jadi aku sudah melakukannya.”

“Berapa kali?” pancing Miranda.

“Meski itu hanya satu malam, tapi kami bercinta berkali-kali secara gila-gilaan.” Jawab Jessie dengan spontan. Tapi setelah itu ia membungkam bibirnya sendiri. “Astaga, apa yang sudah kukatakan padamu?”

Sungguh, Jessie tak mampu menahan rasa malunya. Ia tak percaya jika dirinya mengatakan hal tersebut pada Miranda. Sedangkan Miranda, wanita itu tak berhenti tertawa lebar menertawakan Jessie yang tak berhenti merona karena malu.

“Sudah-sudah. Lebih baik kau keluar. Kau membuatku malu setengah mati.” Jessie berkata pada Miranda.

Masih dengan tertawa, Miranda akhirnya bangkit. “Baiklah. Tapi Jess, perlu kau tahu, bahwa aku mendukungmu. Mr. Morgan tampaknya adalah orang yang baik. Dia perhatian denganmu, jadi kupikir, menikah dengannya bukan suatu kesalahan.” Ucap Miranda sambil berlalu.

Jessie hanya menganggukkan kepalanya. Terlepas dari sikap Steve yang menyebalkan dan kekanakan, apa yang dikatakan Miranda memang benar. Steve orang yang sangat perhatian terhadapnya. Dan ia cukup mengenal lelaki itu. Mungkin tak ada salahnya untuk mencoba dan menganggap semuanya normal seperti pernikahan pada umumnya. Akhirnya Jessie bangkit dan memanggil Miranda kembali ketika wanita itu sampai di pintu ruang kerjanya.

“Miranda. Kau akan datang?”

“Ya?”

“Uuumm, itu pernikahanku di Pennington minggu depan.”

Miranda tersenyum. “Kau mengundangku?”

“Ya, tentu saja. Kau mau datang? Ajaklah pegawai lainnya. Kau juga boleh mengajak pasanganmu.” Ucap Jessie dengan antusias.

“Oh Jess. Terimakasih. Aku akan mengajak yang lainnya. Untuk pasangan, sepertinya tidak. Tapi, bolehkah aku mengajak temanku si penulis yang tadi baru saja kuceritakan padamu.”

“Ahhh ya, kau boleh mengajaknya.”

“Bagus. Carla pasti senang ikut denganku.”

Jessie tersenyum. “Aku akan senang mengenalnya.” Keduanya saling tersenyum, kemudian Miranda keluar dari ruang kerjanya. Jessie menghela napas panjang. Berbicara dengan Miranda membuat Jessie membulatkan tekadnya, bahwa menikah dengan Steve sepertinya tidak salah. Ia hanya perlu bersikap senormal mungkin, menyikapi semuanya dengan normal dan tidak berlebihan. Tapi bisakah ia melakukananya?

Advertisements

(Mini Story) – Wedding Day (Sleeping with my Friend)

Comments 9 Standard

Haiiii mini story tentang Steve dan Jess nihhh… ingat yaaa Scene mini Story ini gak ada di dalam novel…. hahhahahhaa happy reading… muwaahhhh

 

 

(Sleeping with my Friend) – Wedding Day

 

Jessica Summer

 

“Mencintai dalam susah maupun senang, sehat maupun sakit, akan tetap bersama hingga maut memisahkan.”

Ucapan Steve membuatku tersenyum. Aku senang mendengarnya mengatakan kalimat tersebut, ketika aku berada di sisinya. Meski sebenarnya, aku tahu, bahwa hal ini hanya untuk latihan drama disekolah yang akan diselenggarakan akhir bulan nanti.

Ya, kami didaulat menjadi pemeran utama. Steve sangat senang. Ia tampak antusias, begitupun denganku.

Sudah sejak lama aku memendam perasaan ini pda Steve, temanku. Aku tidak tahu, hal ini terjadi sejak kapan. Intinya, aku tak berhenti berdebar ketika dia berada di sekitarku. Steve mampu mempengaruhiku, Steve mampu membuatku salah tingkah.

Dengan polos, aku pernah menceritakan hal ini pada Frank, dan Frank berkata kemungkinan besar aku sedang jatuh cinta. Cinta pertamaku jatuh pada seorang Steven Morgan. Temanku sendiri. Astaga, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya.

Steve kemudian mengecup keningku, dan semuanya bertepuk tangan. Latihannya sudah berakhir, tapi aku masih merasakan kehangatan dari perkataan Steve tadi. Oh, andai saja hal ini benar-benar terjadi. Menikah dengan Steve? mungkin aku akan menjadi wanita yang paling bahagia di muka bumi ini.

***

Tiga hari berlalu….

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa tiba-tiba Steve bersikap aneh terhadapku. Dia sedkit menjauhiku, dan aku tidak tahu, apa salahku.

Aku menghampirinya ketika kami berada di rumahnya. Mencoba bersikap natural seperti tak terjadi apapun, dan dengan begitu menyebalkan, Steve menghindariku.

Astaga, apa yang terjadi dengannya?

Akhirnya aku mendekatinya lagi, kemudian aku bertanya “Apa yang terjadi denganmu?”

Steve menjawab. “Tak ada.”

“Kau menghindariku, aku merasakannya.”

Steve memutar bola matanya jengah. “Dengar, Jess. Sebenarnya aku tak ingin mengatakan hal ini padamu. Tapi Frank sudah mengatakannya padaku, bahwa kau, kau menyukaiku?”

“Astaga!” aku berseru keras. Tak percaya bahwa Frank akan mengkhianatiku.

“Kami minum saat itu, dia mabuk dan dia meracau.”

“Kalau begitu jangan percaya apa yang dikatakannya.”

“Orang mabuk biasanya mengatakan hal yang sebenarnya.”

“Tapi tidak dengan Frank! Dia gila!” aku mencoba mengelak. Ya Tuhan Frank! Aku tak akan memaafkannya.

“Maksudmu, kau… Kau… tidak memiliki perasaan lebih terhadapku, bukan?”

“Tentu saja Tidak! Kau bukan tipeku, Morgan!” Ya, aku harus berbohong, jika hal itu mengembalikan sikap Steve kapadaku. Pertemananku dengan Steve terlalu berharga untuk dikorbankan dengan perasaan cinta.

Lagipula, kupikir perasaan ini hanya sementara. Semua akan hilang dengan berjalannya waktu. Tapi aku tidak ingin pertemananku dengan Steve hancur karena masalah ini. aku rela memendam semuanya asalkan hubungan kami kembali normal. Aku tidak ingin Steve menghindariku lagi.

Steve tertawa lebar. Aku tahu bahwa dia lebih memercayaiku ketimbang Frank, dan aku bersyukur karena hal itu. Dia kembali, Steveku telah kembali…

“Dan kau juga bukan tipeku, Miss Summer.” Steve berucap dengan santai. Meski dia berkata diiringi dengan senyuman lebarnya, tapi tetap saja, aku tersakiti karena perkataannya.

“Kau tahu, aku lebih suka gadis pirang. Dan tentunya, berpayudara besar.” Lagi perkataan Steve seakan seperti tombak yang menghancurkan hatiku. Aku tak memiliki rambut pirang. Mungkin aku bisa mendapatkannya dengan cara mewarnai rambutku, tapi itu tak bisa menarik hati Steve, karena akupun tak memiliki sepasang payudara besar seperti apa yang dia katakan.

“Aku tahu.” Aku bersungut-sungut.

Steve lalu menangkup kedua bahuku, menghadapkan diriku ke arahnya. Kemudian dia berkata dengan sungguh-sungguh. “Jess, kau mungkin bukan tipe wanita yang ingin kukencani, tapi percayalah, hanya kau wanita yang paling special yang pernah kukenal. Kau selalu menempati salah satu tempat di sudut hatiku, dan tempat tersebut tak akan tergantikan oleh siapapun.”

Aku kembali menghangat dengan ucapan Steve. Steve benar, meski aku bukan tipenya, meski aku tak akan pernah menjadi teman kencannya. Tapi aku cukup senang dengan status kami. Dengan kedekatan kami. Ya, aku cukup senang dengan hal itu…..

***

Semua kejadian itu sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu. Aku tak menyangka jika kini, hari itu benar-benar terjadi. Hari dimana aku akan menikah dengan temanku sendiri, Steven Morgan.

Semua berawal ketika aku menghabiskan sebuah malam dengan Steve, kemudian aku hamil. Mungkin pernikahan ini hanya karena kehamilanku. Mungkin Steve melakukan semua ini karena kewajiban bertanggung jawab terhadapku maupun dengan bayiku, tapi bolehkah aku bahagia karena hal ini? karena kejadian tak masuk akal ini?

Mataku tak berhenti menatap ke arah Steve. saat ini, dia sedang berdiri di atas panggung dan memberikan kata sambutan. Menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan.

“Dulu aku berkata bahwa Jess bukanlah tipe wanita yang ingin kukencani. Ya, itu memang benar. Bahkan hingga kinipun sama. Karena Jess bukan wanita yang ingin kukencani, tapi dia adalah wanita yang ingin kunikahi.”

Suara tepuk tangan meledak setelah ucapan Steve itu. Wajahku memanas seketika. Aku tahu bahwa Steve mengatakan hal itu agar terlihat manis saja. Dia tak ingin  menikahiku jika bukan karena bayi ini. tapi aku tetap menikmati sandiwaranya. Bagaimanapun juga, dia memang terlihat manis.

Entah, dia berkata apa lagi, aku tak tahu, dan aku tak ingin tahu. Aku hanya takut perasaanku yang dulu sudah pupus kembali tumbuh untuknya. Steve bukanlah lelaki yang cocok untuk dicintai. Bahkan aku yakin, dia tidak mengenal apa itu cinta. Aku hanya tidak ingin mengalami patah hati lagi seperti beberapa tahun yang lalu. Jadi aku memilih menjaga diriku agar tidak jatuh terlalu dalam pada seorang Steven Morgan.

Kemudian, tanpa kuduga, Steve bernyanyi. Ya ampun, apa yang sedang dia lakukan? Setahuku, Dia tidak memiliki suara bagus, bahkan sejak dulu, Steve paling benci menyanyi. Tapi kini, dia menyanyi, untukku? Tidak! Itu tidak mungkin! (Kalian bisa putar lagu dibawah sambil baca. ini lagu yg dinyanyiin Steve)

I found a love for me

Darling just dive right in

And follow my lead

Aku tak menyangka dia menyanyikan lagu itu. Ini adalah salah satu lagu favoritku. Dan Steve menyanyikannya di sini, dihadapan semua orang, pada pernikahan kami.

Well I found a girl beautiful and sweet

I never knew you were the someone waiting for me

Steve turun dari panggung dan dia menuju ke arahku.

‘Cause we were just kids when we fell in love

Not knowing what it was

I will not give you up this time

Dia menarikku agar berdiri dan akupun ikut berdiri bersamanya. Musik mulai mengalun dengan lembut mengiringi lagunya. Jemari Steve terulur mengusap lembut pipiku. Dia kembali bernyanyi.

But darling, just kiss me slow, your heart is all I own

And in your eyes you’re holding mine

Steve mulai mengajakku menari. Kaki kami bergerak seirama dengan musik yang mengalun lembut dan terdengar romantis. Steve tetap melanjutkan lagunya, dan aku benar-benar tak menyangka jika dia bisa menyanyi dengan begitu baik seperti ini.

Baby, I’m dancing in the dark with you between my arms

Barefoot on the grass, listening to our favorite song

When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath

But you heard it, darling, you look perfect tonight

Pada saat itu, kening Steve menempel pada keningku. Bahkan setelah dia menyelesaikan bait terakhir, sekilas dia menyapu lembut bibirku, hanya sekilas tapi itu mampu membuatku bergetar. Suara tepuk tangan pecah. Tapi aku tak menghiraukannya.

Aku lebih fokus dengan debaran jantungku. Dan entah perasaanku saja atau memang benar bahwa Steve juga sama berdebarnya dengan apa yang kurasakan. Oh Tuhan! Tidak! Ini tak bisa seperti ini.

Jika Steve selalu memperlakukanku dengan semanis ini, maka perasaanku yang dulu akan kembali tumbuh. Atau, apa memang perasaan itu sudah tumbuh tanpa kusadari?

Astaga, apa yang harus kulakukan selanjutnya?

Bagaimana ini?

Aku…. Astaga…. Apa benar, bahwa aku… Aku sudah kembali mencintainya?

-End-

Bonus Pict

 

 

 

 

 

Sleeping with my Friend – Bab 10

Comments 4 Standard

 

Bab 10

 

Setelah dicumbu habis-habisan oleh temannya, ralat, mantan temannya, ralat lagi, ayah dari bayi yang ia kandung, akhirnya Jessie tak kuasa untuk menahan rona merah di pipinya. Masalahnya, meski ia ingin menolak, nyatanya ia menikmati apa yang dilakukan Steve. Jessie bahkan membalas cumbuan dari Steve.

Jujur saja, Jessie tak pernah dicumbu dengan begitu bergairah hingga membuatnya nyaris basah seperti yang dilakukan Steve. Tidak dengan Henry, tidak juga dengan mantan kekasihnya yang lain.

Atau mungkin, ini perasaan Jessie saja? Entahlah. Yang pasti, cumbuan Steve begitu menuntut hingga Jessie yakin jika mereka saat ini berada di dalam sebuah kamar, maka kejadian panas malam itu akan kembali terulang.

Dalam hati Jessie sempat bersyukur karena Steve mencumbunya di dalam lift, karena jika saja mereka saling mencumbu di dalam apartmennya, Jessie tak yakin dapat menolak lelaki itu jika lelaki itu menuntut lebih kepadanya.

Lengan Jessie masih setia mengalung, sedangkan wajahnya yang merah padam ia tenggelamkan ke dalam dada bidang lelaki itu.

Ketika Steve keluar dari dalam lift, lelaki itu menghentikan langkahnya ketika seorang lelaki berdiri tepat di hadapannya. Itu adalah Frank, dan Jessie benar-benar merasa sial karena harus kepergok kakaknya ketika digendong Steve seperti saat ini.

Masalahnya, kakaknya itu pasti akan mengoloknya habis-habisan. Dan saat ini Jessie sedang dalam mode tak ingin diolok sama sekali.

“Kalian baru datang?” Frank menyapa.

“Kau sendiri, kenapa ada di sini?” Jessie mencoba mengabaikan posisinya yang masih digendong oleh Steve. Kalaupun ia ingin diturunkan, lelaki itu tak akan melakukannya.

“Aku ke tempatmu. Kupikir kau sudah pulang. Ada masalah?”

Ya, bahkan saat Jessie masuk rumah sakit di Pennington kemarin, tak ada yang mengabari Frank. Mungkin semua terlalu kalut, terlalu sibuk dengan keterkejutan yang diumumkan Jessie tentang dirinya, bayinya dan juga hubungannya dengan Steve.

“Ya, ada sedikit insiden.” Ucap Jessie dengan pelan.

“Kau, baik-baik saja bukan?” meski kadang suka menyebalkan, Jessie tahu bahwa Frank adalah sosok yang sangat perhatian kepadanya.

“Lebih baik kita masuk. Jess harus banyak istirahat.” Steve angkat bicara.

“Kau sudah tahu tentang keadaannya?” tanya Frank pada Steve.

“Jika yang kau maksud adalah tentang kehamilannya, maka Ya, aku dan semua warga Pennington sudah tahu.”

“Woww. Kau hebat sekali, Baby girl.”

Jessie mendengus sebal. “Aku sedang tidak ingin bercanda, Frank.”

“Baiklah, baiklah. Aku ikut masuk karena aku ingin mendengar ceritanya dari kalian.” Dan setelah itu, mereka bertiga bergegas masuk ke dalam apartmen Jessie.

***

Sampai di dalam, Steve menurunkan Jessie di sofa panjang tepat di depan televisi. Kemudian lelaki itu masuk ke dalam kamar Jessie entah mengambil apa. Sedangkan Frank, ia memilih mendekati adiknya dan bersiap untuk menginterogasinya.

“Jadi, dia sudah tahu semuanya?”

“Ya.” Jessie menjawab pendek.

“Kau yang memberitahunya?”

“George memaksaku, dan mau tak mau aku harus memberitahunya.”

“Bagaimana reaksinya?” Frank masih tak ingin tinggal diam.

“Dia mungkin sama terguncangnya denganku. Dan dia marah.” Jawab Jessie lemah.

“Dia marah karena kau hamil?” Frank mulai tak suka ketika membayangkan tentang hal itu. Bagaimanapun juga, mereka menikmati prosesnya. Jika Steve marah karena Jessie mengandung, maka Frank akan memukuli Steve hingga babak belur.

“Lucu sekali. Kalian menggosipkan seseorang yang jelas-jelas masih satu ruangan dengan kalian.” Steve datang membawa selimut tebal serta bantal dan guling untuk Jessie. Dengan penuh perhatian ia meminta Jessie untuk berbaring dengan nyaman di sofa panjang tersebut kemudian menyelimuti tubuh wanita itu. “Ingat, kata Dokter kau harus banyak istirahat.”

“Dokter? Apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa berada di dokter?” Frank yang masih tak mengerti akhirnya tak kuasa menahan rasa ingin tahunya.

“Sedikit pendarahan karena stress dan kelelahan.” Jessie menjawab kekhawatiran kakaknya.

“Astaga. Kau baik-baik saja bukan? Bayinya bagaimana? Apa ini karena dia?” tanya Frank yang semakin tampak khawatir dengan keadaan adiknya tersebut.

“Frank, semua baik-baik saja. Bayinya juga baik-baik saja. Aku sudah memberitahu Steve dan-”

“Biar kukoreksi.” Steve memotong kalimat Jessie. “Dokter yang meberitahuku, bukan kau.” Steve berkata dengan kesal. Jika Steve mengingat tentang hanya dia sendiri yang belum tahu tentang keadaan Jessie, maka lelaki itu akan kembali dalam mode kesalnya.

“Kau masih kesal karena hal itu?”

“Sangat.” Steve menjawab cepat. “Biar kuperjelas agar kedepannya tidak salah paham. Aku tidak marah karena kehamilanmu. Aku marah karena hanya aku sendiri yang tidak tahu tentang keadaanmu ketika semuanya sudah mengetahuinya bahkan bermaksud untuk menikahkan kita.”

“Steve, kau tak perlu berlebihan. Bibi Patty dan Paman Paul juga baru mengetahuinya.”

“Apa maksudnya, Jess?” Frank yang bingung akhirnya kembali bertanya.

“Semua orang sudah tahu tentang kehamilanku.”

“Ya. Semua orang di Pennington.” Steve mengangguk setuju. “Dan para orang tua sedang menyiapkan pernikahan kami.”

“Kita sudah sepakat bahwa tidak akan ada pernikahan, Steve!” Jessie berkata tajam.

“Aku menyetujui apapun keinginanmu, Sayang. Tapi aku tidak bisa mencegah orang tua kita ketika tiba-tiba mereka mengadakan pesta dan mengundang semua orang di distrik Pennington untuk merayakan pernikahan kita.” Steve berkata dengan tenang dan santai. Suasana kembali mencair tapi tidak dengan Jessie.

Frank berdiri dan menggandeng bahu Steve. “Hebat sekali. Jadi kalian akan menikah tanpa memberitahuku?”

“Kau sedang di sini ketika kami sedang membahas masalah ini, Frank.” Steve menjawab dengan wajah datarnya.

“Hahaha setidaknya, aku senang. Setelah ini aku akan memiliki teman minum dan juga teman untuk bermain kartu. Bukan dengan dokter yang kaku itu.”

“Frank! Hentikan omong kosongmu.” Jessie berseru keras. “Lebih baik kalian keluar. Kalian membuat kepalaku semakin pusing.”

Steve duduk berjongkok di hadapan Jessie. Ia mengusap lembut puncak kepala Jessie. “Aku akan pergi sebentar, tapi aku akan kembali lagi. Tidurlah.”

Jessie hanya mendengus sebal apalagi ketika ia melihat Frank menatapnya dengan tatapan mengolok. Astaga, menggelikan sekali. Ia tak pernah mendapati Steve selembut ini padanya, Jessie senang, tapi disisi lain, ia tidak suka ketika kelembutan Steve dijadikan bahan olokan Frank pada dirinya nanti. Benar-benar menyebalkan.

Akhirnya, Jessie bisa istirahat dengan tenang beberapa menit kemudian setelah Steve dan juga Frank meninggalkan apartmennya.

***

Steve dan Frank duduk di sebuah bar dengan sesekali bersulang. Frank merasa senang jika pada akhirnya nanti Jessie akan menikah dengan Steve. Frank cukup mengenal Steve bahkan sejak kecil hal itulah yang membuat Frank setuju jika nanti keduanya berakhir dengan sebuah pernikahan. Tapi tampaknya, Frank tak melihat hal serupa pada diri Steve.

“Kau, tampak tidak suka dengan keadaan ini.”Frank membuka suara.

Jika boleh jujur, Steve lebih nyaman berbicara dengan Hank, temannya. Ketimbang dengan Frank. Ia memang mengenal Frank sejak kecil, tapi tetap saja, lelaki itu adalah kakak Jessie. Akan sangat tidak nyaman jika dirinya membicarakan hubungannya dengan Jessie pada Frank.

“Maksudmu?”

“Kau tahu, hubunganmu dengan Jess.”

Steve menghela napas panjang. “Bukan aku tidak suka. Aku hanya terlalu terkejut dan kurang bisa menyesuaikan keadaan. Aku akan jadi ayah, dan jujur saja, aku sedikit tertekan.”

Frank mengangguk dan menepuk bahu Steve. “Jika aku berada di dalam posisimu, maka aku akan merasakan hal yang sama.”

Steve menegak minumannya. “Kau tahu. Jess akan selalu menjadi wanita special di hidupku. Dia sangat istimewa. Teman kencanku tak ada yang bisa menggeser posisinya. Tapi setelah malam itu. Sial! Aku bahkan tak mengerti apa yang sedang terjadi denganku.”

“Kau melihatnya sebagai teman kencanmu?” tanya Frank sembari mengangkat sebelah alisnya.

“Bukan. Sial Frank! Jessie tentu sangat berbeda dengan mereka. Tidak ada implan, tidak ada silikon..”

“Woow, wow, wow, kau membicarakan bagian tubuh adikku?”

“Maaf, maksudku. Dia berbeda, dan, dan, dia seakan membuatku candu, terikat dengan tali yang tak terlihat. Aku tidak bisa melihatnya sebagai temanku lagi, Frank. Aku melihatnya sebagai wanita sungguhan, yang, yang, membuatku selalu tergoda.” Steve menjelaskan sengan terpatah-patah karena ia tidak yakin kata apa yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang ia rasakan pada Jessie.

“Kau, mencintainya?” tanya Frank dengan hati-hati.

“Tidak.” Steve menjawab cepat. “Maksudku, aku tidak yakin apa itu cinta. Jika kau bertanya apa aku ingin memilikinya, maka Ya. Aku ingin.” Steve mengoreksi.

“Maka jalan yang paling benar adalah menikahinya.”

“Aku ingin. Demi Tuhan! Aku tidak menolak gagasan itu. Tapi Jessie menolakku mentah-mentah. Dia tidak ingin menikah, dan aku tidak bisa memaksanya dalam keadaan seperti ini.”

“Kau hanya perlu berusaha. Dan yakinkan dia kalau semua ini untuk kebaikan kalian bersama.”

Steve mengangguk. Ia meminum kembali minumannya, kemudian bertanya pada Frank. “Bicara tentang menikah, kau pun tak kunjung menikah. Kau Tiga tahun lebih tua dari pada aku, Frank.”

Frank tertawa lebar. “Menikah tidak ada dalam kamusku, Steve. Aku ingin melajang seumur hidup.”

“Kau bercanda? George akan membunuhmu karena kau tidak memberikan keturunan keluarga Summer.”

“Jika yang diinginkan George adalah bayi, maka aku hanya perlu menyewa rahim seorang perempuan dan membayarnya untuk melahirkan anakku. Tanpa hubungan intim, tanpa pernikahan dan hal-hal yang rumit lainnya.”

“Kau benar-benar gila, Frank.”

“Well. Aku penulis fiksi. Aku tak ingin fantasiku rusak karena kehadiran istri apalagi anak.” Ucapnya dengan nada canda.

Sedangkan Steve hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka jika Frank memiliki pemikiran seperti itu. Steve tahu, bahwa untuk dirinya sendiripun, menikah bukanlah pioritasnya. Tapi ia juga tidak seperti Frank yang tampak menentang sebuah pernikahan.

***

Steve kembali saat hari sudah malam. Ia sempat ke apartmennya untuk mengambil beberapa potong pakaian ganti sebelum kembali ke apartmen Jessie. Steve tersenyum saat membuka pintu apartmen Jessie. Rupanya, wanita itu masih menggunakan password lamanya.

Di dalam sana, Jessie tampak masih meringkuk di atas sofa panjangnya. Terlihat juga kotak pizza yang didalamnya masih tersisa tiga potong Pizza dengan topping irisan sosis dan daging asap. Steve membereskan sisa-sisa makanan tersebut kemudian kembali pada Jessie.

Tanpa banyak bicara, Steve mengangkat tubuh Jessie menuju ke arah kamar wanita tersebut. Jessie tidak terbangun, wanita itu hanya bergerak-gerak sedikit seakan membuat tubuhnya dalam posisi senyaman mungkin.

Setelah membaringkan Jessie di atas ranjangnya. Steve bangkit, berdiri dan menatap wanita yang tengah tertidur pulas tersebut. Ada sebuah rasa yang sulit ia jelaskan. Rasa untuk memiliki wanita itu seutuhnya. Tapi rasa tersebut seakan tertutup dengan sebuah kabut ketakutan.

Ya, Steve takut dengan sebuah penolakan. Steve takut jika Jessie akan lari meninggalkannya saat ia memaksakan kehendaknya pada wanita itu. Ia tahu betul bagaimana karakter Jessie. Wanita itu keras kepala, dan butuh usaha ekstra untuk membuatnya luluh.

Steve melepaskan pakaiannya kemudian ia naik ke atas ranjang Jessie. Tidur memeluk tubuh Jessie. Oh, Steve sangat merindukan saat-saat seperti ini. Saat ia dengan Jessie bisa tidur bersama tanpa gairah, tanpa seks, dan hanya tidur, damai sebagai teman. Ia benar-benar merindukan saat-saat seperti ini.

***

Dini hari, Jessie terbangun saat merasakan kandung kemihnya penuh. Astaga, kehamilannya bahkan belum genap Empat bulan, tapi sepertinya toilet sudah menjadi teman akrabnya.

Jessie bangun dan merasakan sebuah lengan memeluknya. Ia menatap lengan tersebut, menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Steve tengah tertidur pulas.

Jessie bahkan baru ingat jika tadi saat tidur, ia berada di sofa bukan di atas tempat tidurnya. Steve pasti yang sudah memindahkan dirinya ke sini. Lalu Jessie tersenyum. Ia merindukan masa-masa seperti ini, ketika mereka tidur bersama tanpa gairah mempengaruhi. Apakah hubungan mereka bisa kembali seperti semula?

“Steve.” Jessie memanggil nama Steve, membangunkan lelaki itu. Tapi tak ada pergerakan yang berarti dari lelaki tersebut. “Steve bangung. Aku mau ke toilet.”

Lelaki tersebut bergerak, lengannya terangkat hingga Jessie bisa bangkit. Jessie duduk dan menatap Steve yang tengah mengucek matanya. Lucu, seperti anak kecil, menggemaskan.

“Ada yang kau inginkan?” tanya Steve dengan suara parau.

“Aku ingin ke kamar mandi, dan tanganmu menghalangiku.”

“Oh. Oke.” Hanya itu tanggapan Steve. Akhirnya Jessie segera bangkit dan menuju ke arah kamar mandi. Mungkin, Steve akan kembali tertidur, pikirnya. Tapi saat Jessie kembali dari kamar mandi, lelaki itu sudah duduk di pinggiran ranjang menunggunya.

“Kau bangun?”

“Ya, kupikir kau membutuhkan sesuatu.”

“Tidak, aku hanya buang air kecil.”

“Baguslah. Sekarang mari kita tidur kembali.” Ajaknya.

“Kau tidak pulang?” tanya Jessie kemudian.

“Kau ingin mengusirku.”

“Aku tidak-”

“Dengar, Jess.” Steve memotong kalimat Jessie. “Aku tidak akan pergi kemanapun. Sekarang, kembalilah kemari dan ayo kita tidur.”

Jessie menurut, ia naik ke atas ranjang. Terbaring, kemudian merasakan Steve ikut naik ke sebelahnya dan lelaki itu mulai memeluknya.

“Apa perlu berpelukan seperti ini?” tanya Jessie sedikit canggung.

“Aku ingin memelukmu, dan ketika aku ingin, maka aku akan melakukannya tanpa meminta izinmu.”

Jessie menghela napas panjang. “Aku juga ingin dipeluk.” Ya, Jessie jujur. Ia ingin seperti dulu, meski sebenarnya mungkin semua itu mustahil terjadi lagi.

Steve mengeratkan pelukannya. Sesekali kepalanya mengecup lembut puncak kepala Jessie. “Kau tahu, Jess. Saat tidur, aku tak pernah merasa senyaman ketika memelukmu. Aku suka kehangatanmu, aku suka aroma rambutmu. Semuanya membuatku nyaman dan tenang.” Steve bahkan tak mengerti apa yang sedang ia ucapkan.

“Aku juga senang saat tidur di pelukanmu, Steve. Aku merasa nyaman dan terlindungi.”

Steve kembali mengecup lembut puncak kepala Jessie. “Perasaan nyaman tersebut sekarang ternodai dengan perasaan yang lainnya, Jess.” Kali ini suara Steve menjadi serak.

“Apa maksudmu?” Jessie mengangkat wajahnya menatap penuh tanya ke arah Steve.

Steve tersenyum, senyum yang dipaksakan. “Kau tentu merasakannya. Aku bergairah. Gairah yang dulu tak pernah ada ketika aku memelukmu saat kita tidur bersama sebagai teman.”

Jessie segera sadar. Tentu saja ia segera merasakan ereksi lelaki itu. Jessie berusaha menjauh, tapi Steve menahannya.

“Jangan.” Ucapnya sembari menahan tubuh Jessie. “Aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku akan menahannya. Sumpah! Aku hanya ingin tidur memelukmu seperti dulu. Meski aku harus menahan kesakitan sepanjang malam.”

Jessie tersenyum mendengar ketulusan Steve. “Terimakasih.” Ucap Jessie kemudian.

“Untuk apa?”

“Karena mau memeluku lagi seperti dulu, dan mengesampingkan gairahmu.”

Steve tersenyum. Ia kembali mengecupi puncak kepala Jessie. Kemudian dengan spontan ia berkata. “Menikahlah denganku, Jess.”

Tubuh Jessie membatu seketika. Mereka sudah sepakat untuk tidak membahas masalah pernikahan dulu. Dan kini, Steve kembali mengungkitnya. Tidak, lelaki itu sedang melamarnya. Lalu apa yang akan Jessie lakukan selanjutnya? Haruskah ia menerima lamaran Steve?

-TBC-

Sleeping with My Friend – Bab 9

Comments 4 Standard

 

Bab 9

Steve berhenti di halaman rumah Jessie ketika mendapati Suv tua milik George terparkir di halaman rumah Jessie. George mungkin akan pergi karena Steve melihat mesin Suv tersebut menyala seperti sedang dipanaskan. Dengan cepat Steve menuju ke sana, membuka Suv tersebut kemudian mendudukkan Jessie di kursi penumpang.

“Apa yang terjadi?” George menghampiri Steve dan bertanya.

“Dia kesakitan, aku akan membawanya ke rumah sakit.”

“Apa?” George tampak terkejut dan ikut panik. “Kau baik-baik saja, Jess?” tanyanya pada puterinya tersebut.

“Aku baik-baik saja, Dad.”

“Kau ingin aku ikut?” tanyanya lagi.

“Tidak.” Jessie menjawab cepat. Ia melihat ke arah Steve dan berkata “Aku ingin, hanya Steve yang mengantarku.”

George hanya mengangguk. Ia tahu bahwa Jessie mungkin ingin menyelesaikan masalahnya saat ini hanya bersama dengan Steve. Dan George akan mendukung apapun keputusan Jessie.

***

Steve kembali dari mengurus administrasi ketika seorang dokter menghampirinya dan berkata “Miss Summer baik-baik saja. Dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan.”

Steve menghela napas lega dan ia menjawab. “Terimakasih, Dokter.”

“Dia harus dirawat dua atau tida hari di sini sebelum kembali pulang.”

“Oh. Kupikir itu hanya masuk angin biasa, rupanya dia harus dirawat inap.” Jessie sempat berkata di dalam mobil tadi bahwa wanita itu memang sedang tidak enak badan, masuk angin dan stress. Dan Jessie meminta agar Steve tidak khawatir terhadapnya.

“Masuk angin? Dia sedang mengandung, Mr. Morgan. Dan dia kelelahan, stress hingga mengalami sedikit pendarahan.”

“Mengandung apa?”

Dokter tak tahu harus menjelaskan seperti apa pada Steve. “Mengandung, bayi. Ya, dia sedangan hamil.”

Dan wajah Steve memucat seketika karena keterkejutan yang amat sangat. Jessie hamil? Apakah itu anaknya? Tapi kenapa Jessie tidak mengatakan apapun padanya? Apa Jessie sengaja menyembunyikan semua itu darinya? Kenapa?

***

Pintu ruang inap dibuka dengan kasar ketika Jessie baru saja mencoba memejamkan matanya. Ia harus banyak istirahat jika ingin mempertahankan bayinya, itulah yang dikatakan Dokter tadi. Tapi tatapan tak bersahabat dari Steve membuat Jessie tahu bahwa ia tak akan beristirahat sebelum menjelaskan semuanya pada lelaki itu.

“Katakan apa yang sebenarnya terjadi?” Steve membuka suara dengan nada tinggi. Lelaki itu marah, Jessie tahu itu. Marah kenapa? Karena ia sudah menyembunyikan kebenarannya? Atau karena Steve tak suka kenyataan tentang kehamilannya?

“Aku…”

“Apa maksudmu dengan masuk angin? Kau hamil! Astaga, kau hamil!” Steve tidak dapat menahan emosinya.

Tadi, saat di dalam mobil. Jessie memang sempat menyebutkan bahwa dirinya sedang masuk angin. Hal itu secara spontan saja ia mengatakannya. Mungkin karena ia terbiasa menganggap kehamilannya sebagai penyakit masuk angin.

“Kau tidak perlu berseru seperti itu. Aku tahu bagaimana keadaanku.” Jessie mendengus sebal.

“Jika kau tahu, kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku? Sampai kapan kau ingin menyembunyikannya? Sampai kau melahirkan? Atau mungkin sampai anak itu besar, lalu menikah dan memintaku mengantarkan dirinya berjalan menuju altar?” pertanyaan itu seperti tamparan keras untuk Jessie

“Kau tidak perlu mendramatisir hingga seperti itu.”

“Aku tidak mendramatisir! Kenyataan bahwa kau menyembunyikannya benar-benar membuatku marah.” Steve masih tidak ingin menurunkan nada bicaranya.

“Aku akan mengatakannya padamu, Steve.”

“Kapan?! Setelah kau melahirkan? Demi Tuhan! Itu sudah tiga bulan yang lalu, Jess. Kau punya banyak waktu untuk mengatakannya padaku.”

Ya, hubungan intim mereka memang sudah Tiga bulan yang lalu, tapi Jessie baru mengetahui kehamilannya sejak lebih dari sebulan terakhir. Ia memang mengalami tanda-tanda kehamilan, tapi Jessie memilih tak peduli dan mencoba mengingkari dirinya tentang tanda-tanda tersebut. Ia takut bahwa dirinya benar-benar hamil. Hingga ketika ia pingsan di butiknya pada suatu hari dan memaksa Miranda membawanya ke rumah sakit, Jessie baru tahu keadaaannya saat itu. Ia hamil, bukan masuk angin. Tapi ia masih ingin mengingkari kenyataan itu.

“Aku baru mengetahuinya kemarin.” Jessie menundukkan kepalanya.

“Itu tidak masuk akal!” Steve masih tak mau mengalah.

Jessie tahu apapun yang dikatakannya pasti tak akan membuat Steve percaya. Lagi pula, lelaki itu sedang dalam mode emosi yang mengerikan, ia cukup mengenal Steve. Hal ini mengingatkan dirinya pada beberapa bulan yang lalu, ketika Jessie memberitahu Steve tentang pertunangannya dengan Henry. Saat itu, memang hanya Steve yang terakhir tahu, kemarahan Steve hempir sama seperti saat ini. Steve bahkan tidak ingin berbicara dengannya selama dua minggu jika bukan ia yang merangkak dan memohon agar lelaki itu mengakhiri kegilaannya.

Ketika suasana diantara mereka masih tegang dan belum sedikitpun mencair. Pintu ruang inap Jessie kembali dibuka dan menampilkan tiga sosok paruh baya, yaitu, George, Paul, dan Patty.

Baiklah, apa lagi ini? pikir Steve.

“Oh, sayangku. Aku bersyukur kau baik-baik saja.” Patty menghambur ke arah Jessie. “Aku sempat bertemu dengan perawat Louise, menanyakan keadaanmu. Katanya kau dan bayimu baik-baik saja. Dan kau dirawat di ruangan ini.”

Steve mengerutkan keningnya. “Mom, apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya dengan tajam.

“Apa maksudmu menanyakan itu? Jess sedang mengandung cucuku, tentu saja aku khawatir dengan keadaannya.”

“Dad?” Jessie menatap ayahnya dengan tatapan tajamnya. Sungguh, Jessie tidak menyangka jika ayahnya akan mengatakan hal ini dengan keluarga Morgan.

“Aku khawatir denganmu. Jadi aku mengajak mereka kemari.”

“Bagus.” Steve bahkan bertepuk tangan. “Hebat sekali, Jess. Jadi hanya aku yang tidak mengetahuinya?”

Keadaan semakin runyam. Jessie tahu itu.

“Steve, aku minta maaf. Aku hanya..”

“Kau tidak perlu meminta maaf, sayang.” Patty memotong kalimat Jessie. “Jika ada yang harus meminta maaf. Dialah orangnya.” Patty bahkan menunjuk ke arah Steve.

“Aku?” Steve tidak mengerti jalan pikir ibunya.

“Ya, kau. Kau sudah menghamili puteri George. Seharusnya kau segera menikahinya, bukan malah membawa si pirang itu pulang.” Patty tampak sangat marah.

“Aku bahkan baru tahu tentang kehamilannya, Mom.”

“Bibi.” Jessie membuka suaranya. “Ini bukan salah Steve. Aku bahkan belum sempat mengatakan padanya. Dan, dia tak perlu menikahiku karena hal ini.”

“Apa maksudmu?” Patty tampak tak setuju dengan ucapan Jessie.

“Karena dia bermaksud untuk tetap menikahi kekasih Gaynya itu!” Steve menuduh dengan marah. Semua yang ada di sana menatap Steve dengan mata membulat masing-masing.

Lama ruangan itu hening, hingga kemudian, Paul, Ayah Steve membuka suara “Sepertinya, kita harus mencari kopi, George.”

George tahu apa maksud Paul “Ya. Kopi akan lebih baik.” Kedua lelaki itu akhirnya keluar.

“Jaga ucapanmu, Steve!” Patty berseru keras pada puteranya. Ia lalu menatap Jessie dengan tatapan lembutnya. “Apa yang dia katakan tidak benar, bukan? Kau tidak akan melanjutkan pernikahanmu dengan Henry, bukan? Maksudku, bukankah tadi malam George berkata jika kalian sudah putus?”

“Kau putus dengannya?” kali ini Steve bertanya. Steve menurunkan nada bicaranya untuk pertama kalinya sejak lelaki itu mengetahui kabar tentang kehamilan Jessie.

Jessie menatap Ibu Steve dengan lembut. “Ya, Bibi. Kami sudah putus. Jadi, kau tidak perlu khawatir. Sekarang, bolehkah aku beristirahat? Aku sangat lelah.”

“Oh, Ya. Tentu saja, Sayang. Kau harus istirahat.” Patty setuju.

“Kau juga, Steve. Aku ingin istirahat dengan tenang.”

“Aku tidak akan kemanapun.” Steve berkata penuh penekanan. Dan Jessie tidak bisa berbuat banyak karena hal itu. Lelaki itu masih marah, yang dapat ia lakukan hanya mengalah.

***

Jessie bangun jam Tujuh malam. Ia melirik ke sekeliling ruangan. Hanya terdapat Steve yang masih tertidur pulas di sofa panjang ruang inapnya. Lelaki itu sudah mengganti pakaiannya dengan T-shirt santai dan juga celana jeans. Tampak sangat keren padahal lelaki itu sedang dalam posisi tidur.

Tidak adil! Dalam hati Jessie berseru. Dalam beberapa bulan kedepan, tubuhnya akan membengkak, sedangkan Steve masih sama, keren dan mempesona seperti itu.

Saat Jessie sibuk dengan pikirannya sendiri, pintu ruang inapnya di buka. Sosok Emily datang menghambur ke arahnya.

“Jess. Astaga. Aku benar-benar terkejut mendengar kabar itu. Bagaimana keadaanmu?”

Jessie tersenyum. “Sangat baik.” Ia melirik sekilas kearah Steve dan lelaki itu masih tertidur pulas.

“Dia sama sekali tak ingin keluar dari ruangan ini. Aku yang membawakan pakaian ganti untuknya tadi.”

Jessie hanya menghela napas panjang.

“Katakan, bahwa apa yang dikatakan Mom benar. Kau, mengandung anaknya?” tanya Emily dengan antusias.

“Ini tidak seperti yang kau bayangkan, Lily.”

“Apa lagi? Astaga, sejujurnya, aku kurang setuju dengan Donna. Maksudku, dia memang cantik, tapi aku tidak benar-benar menyukainya. Satu-satunya hal yang membuatku senang adalah akhirnya Steve mengajak atau mengenalkan seseorang ke rumah. Dan jika disuruh memilih antara dia atau kau, tentu saja aku memilihmu. Kau temanku.”

Jessie tersenyum lembut. “Aku sudah berkata jika ini bukan seperti yang kau pikirkan.”

“Lalu apa?” Emily mendesak. “Katakan, apa yang terjadi diantara kalian.”

Jessie menunduk malu. “Kau, dokter. Kau tentu tahu proses untuk menjadi hamil.”

“Oh lucu sekali. Kau pikir aku ingin tahu detail prosesnya? Yang benar saja. Maksudku, apa yang terjadi diantara hubungan kalian? Bagaimana bisa kau mengandung anaknya?”

Jessie semakin malu, rupanya yang ditanyakan Emily bukanlah proses secara biologisnya, melainkan tentang hubungan mereka. “Ceritanya panjang, aku tidak tahu kenapa bisa serumit ini.”

“Rumit? Ayolah. Ini tidak rumit. Kau hanya perlu menikah dengannya.”

“Tidak!” Jessie menjawab cepat. “Kau tidak mengerti, Lily.”

Ya, tak akan ada yang mengerti. Ia tidak ingin menikah hanya karena sebuah kecelakaan. Ia tidak ingin mengikat Steve dalam suatu hubungan hanya karena kehamilannya. Jika mereka harus menikah, maka mereka harus menikah dengan cinta. Tapi sepertinya itu tidak mungkin.

Sedangkan Emily, ia mengerti apa yang dirasakan Jessie. Hubungan pertemanan wanita itu dengan kakaknya begitu kental. Pasti akan sangat aneh jika diantara pertemanan mereka hadir seorang bayi yang akan merubah semuanya. Akhirnya, Emily mulai mengubah topik pembicaraan. Bagaimanapun juga ia mengerti bahwa Jessie tidak boleh banyak pikiran.

***

Steve keluar dari dalam kamar mandi ketika Emily sudah meninggalkan ruang inap Jessie. Emily berkata jika dirinya ada kencan malam ini, jadi ia harus pulang lebih cepat.

Suasana canggung terasa saat Steve bukannya mendekat ke arah Jessie, tapi malah kembali ke arah sofa panjang yang tadi sempat ia tiduri. Jessie hanya memperhatikan apa yang dilakukan Steve. Ia tahu bahwa lelaki itu masih marah padanya.

“Kau, tidak makan?” tanya Jessie memecah keheningan.

“Kau bertanya padaku?” Steve bertanya balik dengan nada menyindir.

Jessie mendengus sebal. Steve benar-benar kekanakan. “Kau tahu, aku minta maaf atas semua ini. Tapi kau tidak perlu bersikap kekanakan seperti ini padaku, Steve.”

“Baiklah.” Akhirnya Steve bangkit. Ia kemudian berjalan menuju ke arah Jessie, dan sialnya hal itu benar-benar mempengaruhi Jessie.

Steve duduk di sebuah kursi yang tersedia di sebelah ranjang Jessie, ia menariknya mendekat hingga jarak diantara dirinya dan juga Jessie sangat dekat. Steve mencoba mengendalikan keinginannya untuk mendekap tubuh Jessie. Bagaimanapun juga, percintaan panas mereka pada malam itu masih mempengaruhi Steve. Dan Steve tahu bahwa pengaruh itu akan ia rasakan sampai kapanpun ketika berada di dekat Jessie.

“Kita perlu bicara. Dengan kepala dingin, tanpa emosi.” Steve mulai membuka suara.

Entah sudah berapa kali Steve berkata bahwa mereka perlu bicara. Nyatanya, setiap kali mereka bicara, keadaan menjadi memburuk. Ego masing-masing mempengaruhi hingga membuat emosi tak terelakkan lagi.

“Bicaralah.” Ucap Jessie kemudian.

“Sejak kapan kau tahu bahwa kau hamil?”

“Entah. Mungkin lebih dari tiga minggu yang lalu.” Jawab Jessie dengan jujur. “Sejujurnya, aku mencoba mengingkari hal ini. Aku merasakan tanda-tandanya sebulan setelah malam itu. Tapi aku mengabaikannya.”

“Kau apa? Kau tidak berpikir kalau akan menyakitinya?”

“Apa maksudmu?”

“Kau mengabaikan jika kemungkinan besar kau hamil. Bagaimana jika saat itu kau melakukan sesuatu yang membahayakannya? Minum bir atau bahkan mungkin bercinta dengan pria lain. Dan jangan lupakan Sampanye yang dibawa oleh Frank.”

“Aku tidak semurahan itu! Dan Sampanye, aku hanya minum dua gelas.” Jessie berseru keras.

Steve memejamkan matanya mencoba mengendalikan emosinya.

“Ini tak akan berhasil kalau kau selalu menuduhku yang tidak-tidak.” Jessie mendengus sebal. “Aku hanya takut, Steve. Seharusnya kau mengerti. Aku takut karena aku tidak pernah seperti ini. Hormonku kacau, aku merasa sendiri, dan diabaikan.”

Steve meraih telapak tangan Jessie kemudian menggenggamnya erat. “Maaf. Aku keterlaluan.” Ia mengecup lembut telapak tangan Jessie. “Baiklah. Sekarang, aku ingin tahu. Kau, tidak tidur dengan Henry setelah malam itu?”

“Kenapa kau menanyakan hal itu? Jika kau ragu bahwa ini anakmu, maka lebih baik kau pergi saja dari sini.”

“Jess, aku tidak ragu, aku hanya…”

“Hanya apa? Aku tidak tidur dengan siapapun, dan aku tidak akan bisa tidur dengan siapapun setelah malam itu.” Ya, karena Jessie tahu bahwa lelaki yang paling ingin ia tiduri hanya Steve, bukan laki-laki lagi. Sial!

“Maaf. Aku hanya perlu membuatnya menjadi jelas. Aku ingin bayi ini. Jadi aku hanya ingin memperjelasnya saja.”

Hening diantara mereka. Steve merasa bahwa Jessie cukup berubah. Emosi wanita ini meledak-ledak, seperti seorang yang sedang tertekan. Apa Jessie tertekan karena kehamilannya? Jika iya, maka seharusnya Steve lebih mengalah.

“Kau, benar-benar sudah putus dengan Henry?” tanya Steve dengan serius.

“Ya. Seminggu yang lalu.”

“Benar-benar putus?” tanya Steve sekali lagi.

“Dia tidak menghubungiku lagi. Dan aku tidak memiliki keberanian untuk menghubunginya.”

Steve mengangguk. “Baiklah. Kita sudah sampai pada sebuah kesepakatan.”

“Kesepakatan? Apa maksudmu?” tanya Jessie tak mengerti.

“Kita akan menikah. Secepatnya.”

“Apa? Tidak! Aku tidak mau.”

“Jess. Aku tidak sedang meminta persetujuanmu.”

“Pokoknya, aku tidak ingin menikah sekarang.”

“Jadi kau ingin menikah saat perutmu sudah sebesar bola basket?”

“Ini tidak lucu, Steve!”

“Kau pikir aku sedang bercanda?”

Jessie menutup wajahnya sendri dengan kedua belah telapak tangannya. “Oh. Steve. Menikah bukan jalan keluarnya.”

Steve merasa kepalanya ingin meledak. Tapi ia mencoba mengendalikan emosinya. “Lalu kau ingin aku berbuat apa?” tanya Steve dengan pelan.

“Aku tidak tahu.” Ya, Jessie sendiri tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Melanjutkan kehamilannya dan membesarkan anaknya tentu menjadi pioritasnya. Yang ia bingungkan adalah, bagaimana menempatkan Steve di dalam kehidupannya setelah ini? bagaimana posisi lelaki itu dalam kehidupannya, bagaimana hubungan mereka kedepannya. Hanya itu yang membuat Jessie bingung.

Tanpa diduga, Steve bangkit dari duduknya kemudian lengannya terulur memeluk tubuh Jessie. “Jangan khawatir, aku tidak akan memaksamu. Pikirkan saja baik-baik tawaranku. Jangan khawatir.”

Entah perasaan Jessie saja atau saat ini, Steve menjelma menjadi sosok dewasa yang begitu lembut. Jessie tak pernah melihat Steve yang seperti ini. tapi Jessie sangat menikmatinya. Menikmati pelukan lembut lelaki itu yang membuatnya merasa begitu nyaman.

***

Tiga hari setelahnya, Jessie dan Steve kembali ke New York. Meski keluarga mereka memaksa untuk segera mengadakan pernikahan, nyatanya mereka belum memutuskan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

Jessie pulang dengan Steve. Menumpang pada mobil sport lelaki itu. Karena Steve mendesak bahwa Jessie tidak diperbolehkan keluar sendiri lagi. Sedangkan mobilnya ia tinggal di rumah orang tuanya.

Tentang Donna, wanita itu pulang pagi-pagi sekali setelah pesta di rumah Steve malam itu, bahkan Donna pergi sebelum Steve berangkat bersepeda dan berakhir di rumah sakit dengan Jessie. Steve belum mengabari wanita itu hingga kini, bahkan mengingatnya saja tidak. Saat ini yang ada di dalam kepalanya hanya Jessie dan bayi mereka, tak ada yang bisa membuat Steve khawatir seperti ini selain Jessie dan bayinya.

Jessie dan Steve saling berdiam diri ketika berada dalam perjalanan kembali ke New York. Melewati George Washington Bridge, Jessie menghela napas panjang, menolehkan kepalanya ke samping melihat sungai Hudson yang membentang. Ia tampak bosan dengan keadaan disekitarnya.

Hingga kemudian, Steve bertanya. “Ada yang kau inginkan?”

Jika melompat kedalam sungai Hudson bisa mengembalikan suasana dan juga pertemanannya dengan Steve seperti sedia kala, maka Jessie ingin melakukannya.

“Tak ada.” Jawabnya pendek.

“Kau tampak tak senang.”

Ya, tentu. Jessie tertekan, dan ia masih terguncang dengan kejadian demi kejadian yang menimpanya belakangan ini. meski begitu, ia tidak bisa menyalakan siapapun. Jessie bahkan tidak tahu apa yang membuatnya seperti ini, dan ia sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang ia inginkan.

“Aku hanya terlalu lelah.” Jawabnya masih enggan menatap ke arah Steve.

“Tidurlah. Nanti aku akan membangunkanmu.”

Jessie tidak menjawab, karena ia memilih memejamkan matanya. Ia lelah, dan ia butuh istirahat seperti yang disarankan oleh dokter.

***

Jessie membuka matanya ketika merasakan tubuhnya mengambang di udara. Ia terkejut ketika mendapati posisinya saat ini. Steve sedang menggendongnya, dan jika dilihat sekitarnya, mereka sedang berada dalam sebuah lift.

“Steve, apa yang kau lakukan? Kau bisa membangunkanku.” Jessie berusaha agar Steve mau menurunkannya.

“Berhenti merengek dan meronta. Aku akan menggendongmu sampai di dalam apartmenmu.”

“Kau tak perlu melakukannya, Steve. Aku lebih berat dari sebelumnya.”

“Jika kau tak keberatan, aku akan mengingatkanmu bahwa berat badanmu saat ini ada hubungannya denganku.” Pipi Jessie merona seketika saat tanpa sengaja ia mengingat tentang kejadian malam panas saat itu. “Lagi pula, kau belum seberat yang kau pikirkan.”

“Tapi aku bisa jalan sendiri.”

“Dan aku tidak akan membiarkanmu jalan sendiri.”

“Steve! Turunkan aku.” Jessie masih meronta.

“Jika kau masih tidak mau diam, aku akan menciummu.” Steve mengancam tapi wajahnya masih datar tak berekspresi.

“Hahaha, lucu sekali. Kau pikir aku takut dengan ancaman-” Jessie tak bisa melanjutkan kalimatnya karena Steve benar-benar menjalankan ancamannya. Menyambar bibir Jessie dan melumatnya tanpa ampun seakan lelaki itu sudah sangat lama menahan diri untuk melakukannya.

Ya, sejak malam itu, tubuh Jessie menjadi obsesinya, bibir wanita itu menjadi ambisinya. Hingga ketika Steve memiliki kesempatan untuk melakukannya, maka ia tidak akan membuang-buang waktu lagi.

Lagi pula, apa juga yang ia khawatirkan? Persahabatan mereka sudah benar-benar hancur. Dan ketika persahabatan itu tak bisa ia kembalikan lagi, maka Steve akan mencoba membangun hubungan baru yang lebih intim lagi dengan wanita ini.

-TBC-

Jadi…. apakah mereka akan berakhir dengan pernikahan? bagaimana dengan Henry dan Donna??? wakkakakkak selamat berpenasaran riaaa.. muwaaaahhhhh

Sleeping with my Friend – Bab 8

Comments 2 Standard

 

 

Bab 8

“Bisakah kau berhenti menangis? Jika tidak, maka aku akan ke apartmenmu sekarang juga.” Frank berkata penuh penekanan ketika mendengar suara isakan dari Jessie.

Ini sudah jam sebelas malam. Tadi, saat Frank asyik memeriksa beberapa naskah yang akan diterbitkan oleh Summer Media, ia mendapati telepon rumahnya berbunyi dan Jessie sudah menangis. Adiknya itu mengatakan bahwa ia dan Henry, kekasihnya, sudah putus. Lalu, berceritalah Jessie tentang kehamilannya. Sungguh, Frank tak menyangka jika semuanya akan berakhir seperti ini.

“Maaf, aku memang sering menangis akhir-akhir ini.”

“Oke. Lalu, apa rencanamu selanjutnya?”

“Kupikir, aku akan pindah dari apartmen ini.” ucap Jessie.

Ya, tak lama lagi, perutnya akan terlihat. Ia tidak ingin Steve mengetahuinya. Hubungan mereka sudah hancur, ia tidak mau menjadikan kehamilan sebagai alat untuk menarik lelaki itu kembali. Lagi pula, Jessie berpikir bahwa Steve memang sudah bahagia dengan kekasih barunya. Beberapa kali Jessie melihat Steve membawa seorang wanita berambut pirang ke apartmennya. Menggandengnya dengan mesra. Mungkin, jika Steve hanya mengajaknya sekali dua kali, maka Jessie akan berpikir jika wanita itu hanyalah wanita bayaran atau teman kencan semalam Steve. Tapi nyatanya, wanita itu sudah beberapa kali berkunjung ke apartmen Steve.

Itu bukan urusannya, tentu saja.

Tapi, hal itu membuat Jessie semakin membulatkan tekadnya, bahwa Steve tak perlu tahu tentang keadaannya yang menyedihkan ini.

“Kau gila? Bagaimana dengan Steve?”

“Dia tak perlu tahu.”

“Ayolah Jess. Dia ayahnya.” Frank tampak menuntut. “Kau bisa dituntut jika dia mengetahui nanti dan dia tidak terima dengan keputusan sepihakmu.”

“Aku akan mengatakan bahwa ini milik Henry.”

“Kau pikir dia percaya? Kau tidak tidur dengan banyak pria. Aku tahu itu, dan Steve juga tahu. Lagi pula kau sudah putus dengan Henry, jika kau mengandung anaknya, kalian tak akan putus. Itulah yang akan ada dalam pikiran Steve.”

Frank benar, tapi Jessie tetap tak ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Steve.

“Aku tetap akan bungkam sebisaku.”

“Ayolah, baby girl…” Frank mendesah. “Lagi pula, kau tak akan bertahan lama. Ingat, minggu depan kita harus pulang menghadiri pesta perayaan Emily. Kau tidak lupa, bukan?”

“Aku bisa mencari alasan untuk tidak datang.”

“Kau gila? Kau sudah tidak pulang selama dua bulan terakhir, Jess. Kau ingin George mendatangimu ke sini?” George adalah ayah mereka. Dan Jessie tak ingin membuat ayahnya khawatir hingga datang mengunjungi mereka di New York. Meski jarak Pennington ke New York kurang dari delapan puluh Mil, tapi tetap saja, membuat George Summer yang berusia hampir Tujuh puluh tahun mendatanginya karena ia tidak pulang sepertinya bukan hal yang baik.

“Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.” Jessie lagi-lagi ingin menangis.

“Dengarkan aku. Kau harus memberi tahu Steve. Mungkin sekarang kau belum siap, tapi kau harus memberitahunya, Jess.”

“Aku tidak yakin.”

“Kau ingin aku yang mengatakannya?”

“Tidak!” Jessie berseru keras. “Kau gila? Aku yang akan mengatakannya sendiri.”

“Baiklah. Kalau begitu, masalah selesai. Aku ingin nanti saat kita bertemu, Steve sudah tahu apa yang terjadi denganmu.”

Frank benar-benar seorang pemaksa. Jessie merasa menyesal karena sudah bercerita dengan kakaknya tersebut. Tapi di sisi lain, ia merasa lega. Kakaknya mendukung apapun keputusannya, dan Jessie tahu, bahwa sikap Frank yang pemaksa itu memang untuk kebaikannya sendiri di masa mendatang.

***

Hari itu akhirnya tiba juga. Hari dimana Jessie pulang ke Pennington New Jersey. Jam Sepuluh siang, Jessie sudah sampai di rumahnya. Tapi George, ayahnya, tak ada di rumah. Mungkin ayahnya itu sedang sibuk mengurus perkebunan Anggur dengan ayah Steve.

Bicara tentang keluarganya, Jessie hanya memiliki seorang kakak, Frank, yang usianya Enam tahun lebih tua dari pada dirinya. Ibunya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, sedangkan ayahnya sangat menikmati kesendiriannya.

Kedua orang tuanya bersahabat baik dengan kedua orang tua Steve, mereka bahkan menjadi partner kerja yang baik dalam usaha mereka dibidang perkebuan anggur. Ya, mereka berkebun dan memproduksi apa saja makanan dan minuman berbahan dasar anggur.

Jessie sangat menyukai rumahnya. Udaranya yang bersih, sejuk, sebuah pohon besar tumbuh di halaman rumahnya, rumput yang hijau, tanaman bunga milik ibunya yang tetap terawat hingga kini, benar-benar membuat suasana hatinya nyaman. Sangat berbeda dengan kehidupan di New York yang selalu ramai dan sibuk. Meski begitu, Jessie juga suka kehidupannya di New York. Ia bisa menggapai apa yang ia cita-citakan yaitu merancang pakaian hingga gaun pengantin.

Jessie segera menuju ke kamar lamanya. Melemparkan diri di sana dan telentang di atas ranjangnya. Secara spontan, kepalanya menoleh ke arah jendela kamarnya. Jendela tersebut tepat berhadapan dengn Jendela kamar Steve. Meski ada pembatas pagar diatara kamar mereka, tapi pagar tersebut sangat rendah hingga memungkinkan Jessie melihat Steve jika lelaki itu ada di sana.

Jessie menghela napas panjang. Apa lelaki itu akan datang nanti malam? Astaga, Jessie tidak tahu harus bersikap seperti apa saat dihadapan Steve dan juga keluarga mereka. Memikirkan hal itu saja Jessie sudah mual.

Ketika dirinya asyik melamun, pintu kamarnya dibuka dan terlihat George Summer berdiri di ambang pintu kamarnya.

“Hai, Dad.” Jessie bangkit kemudian segera menuju ke arah ayahnya. Dengan spontan mereka berpelukan.

“Kau baik-baik saja? Frank sudah bercerita padaku.”

Astaga, Frank. Ia tahu bahwa seharusnya ia tak mengatakan apapun dengan kakaknya itu. Kini, ayahnya sudah tahu, tinggal menunggu waktu saja sampai semua keluarga Morgan tahu.

“Apa dia menceritakan semuanya?” tanya Jessie sembari mengangkat wajahnya menatap ke arah Sang Ayah.

“Ya. Semuanya.” Jawab George dengan sungguh-sungguh. “Kau ingin aku turun tangan menyelesaikan masalahmu.”

“Tidak, Dad.” Jessie menjawab cepat. “Aku tidak ingin semuanya menjadi rumit.”

“Rumit? Semua semakin rumit jika mereka tahu atau mendengar dari orang lain, Jess. Kau ingin hubungan pertemanan kami renggang?”

“Tidak, tentu saja tidak, Dad.”

“Jadi?”

Jessie menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan memberitahu Steve. Tapi tolong, jangan ikut campur. Oke?”

George tersenyum “Tentu, Sayang. Kemarilah.” George memeluk kembali tubuh Jessie. “Aku merindukanmu, kau tahu.”

“Aku juga, Dad.” Jawab Jessie dengan sungguh-sungguh. Keduanya berpelukan dalam keheningan. Jessie tahu, masalah berada di hadapannya, dan mau tak mau ia harus menghadapinya, bukan malah menghindarinya. Tapi bisakah ia menghadapinya?

***

Malam itu akhirnya tiba juga, malam dimana Jessie menghadiri undangan keluarga Morgan. Keluarga Morgan merayakan keberhasilan Emily Morgan, puteri bungsu mereka yang mendapatkan gelar Dokter spesialis kandungan.

Jessie hanya datang berdua dengan ayahnya, sedangkan kakaknya yang sialan, Frank, baru mengabari jika dirinya tidak bisa pulang hari ini karena ada rapat penting mengenai bukunya yang akan difilmkan.

Jessie semakin gugup, perutnya terasa diremas ketika Patty, Ibu Steve, menggiringnya masuk ke dalam rumahnya. Mereka melewati ruang tengah lalu segera menuju ke arah kebun tepat di samping rumah keluarga Morgan. Ya, pesta kecil tersebut dirayakan di kebun yang sudah dihias dengan banyak sekali lampu-lampu kecil hingga membuatnya tampak begitu indah.

“Steve juga sudah datang, dengan kekasihnya.” Tubuh Jessie menegang seketika saat setelah mendengar kalimat Patty. “Hei, lihat siapa yang datang.” Patty berseru keras hingga semua orang yang berada di sana menolehkan kepalanya ke arah Patty, Jessie dan juga George.

Tampak seorang lelaki berdiri dengan seorang perempuan berambut pirang yang tampak setika menggandeng lengannya. Lelaki itu menatap ke arah Jessie dengan tajam, dan yang dapat Jessie lakukan hanya berpaling kearah lain. Sungguh, Jessie tidak bisa beradu pandang dengan Steve dalam keadaan seperti ini, ia tidak bisa karena Steve pasti akan menyadari bahwa ada yang ia sembunyikan dari lelaki itu.

“Jessie. Astaga, aku senang kau datang.” Emily menghambur kearahnya memeluknya degan erat, dan Jessie merasa kaku seketika. Emily melepaskan pelukannya dan menatap Jessie penuh tanya. “Kau ada masalah?” tanyanya karena ia tak pernah mendapati Jessie bersikap aneh seperti saat ini.

“Tidak. Aku baik-baik saja.” Jawab Jessie mencoba mengendalikan diri.

“Kalau begitu, Ayo kita berpesta.” Emily menyeret Jessie menuju ke arah banyak orang.

Pada sudut matanya, Jessie melihat bahwa Steve tampak memperhatikannya. Astaga, apa yang harus ia lakukan?

“Kau tahu, ini adalah pertama kalinya Steve membawa seorang wanita ke rumah.” Emily berkata dengan sangat antusias. “Mom memasak apapun yang dia bisa untuk menyambut kekasihnya. Kau pasti sudah mengenalnya, bukan?”

Emily berhenti dihadapan Steve dan wanita berambut pirang itu.

“Hai, Steve. Apa kabar?” sapa Jessie masih mencoba mengendalikan diri.

Steve hanya tersenyum miring. Ia bahkan memilih memalingkan wajahnya ke arah lain. Lelaki itu masih marah terhadapnya, dan Jessie tak mengerti, bukankah seharusnya dirinya yang marah terhadap lelaki itu?

“Hei, apa kau tidak mendengar Jessie sedang menyapamu?” Emily menyikut kakaknya.

“Kau ada masalah dengannya?” perempuan berambut pirang itu berbisik ke arah Steve.

“Kalian sudah saling mengenal, bukan?” Emily menunjuk pada Jessie dan Donna.

“Belum. Aku sama sekali belum mengenalnya.” Donna menjawab.

“Kau yakin? Mereka tinggal di satu gedung apartmen. Apa dia tidak pernah mengajakmu berkunjung ke tempat Jessie?” tanya Emily sekali lagi pada Donna.

Donna hanya menggelengkan kepalanya. “Kupikir, mereka memang memiliki masalah.”

Jessie mencoba tertawa padahal saat ini ia merasa mual. “Ayolah, kami tidak memiliki masalah apapun. Bukankah begitu, Steve?”

“Ya.” Singkat dan padat. Itulah jawaban Steve. Bahkan lelaki itu tampak enggan menjawab pertanyaan Jessie.

Jessie meremas kedua belah telapak tangannya. Ia tidak suka dengan reaksi Steve, terlebih lagi, ia tidak suka dengan kehadiran wanita berambut pirang yang setia berada di sebelah lelaki itu.

“Baiklah, aku akan menyapa yang lain dulu.” Jessie mencoba untuk menghindar. Ia tidak ingin semalaman berada di sekitar Steve dengan suasana canggung dan tidak enak seperti saat ini.

***

Pulang dari pesta.

Jessie segera menuju ke arah dapur. Tak lupa ia melepaskan sepatu hak tingginya yang membuat tumitnya terasa sakit. Ia mengambil sebotol air dingin kemudian meminumnya. Sedangkan George, tampak mengikutinya dari belakang.

“Kau tahu kalau dia sudah memiliki kekasih?” tanya George dengan sungguh-sungguh.

“Aku tak mengerti apa maksudmu, Dad.”

“Demi Tuhan! Patty dan Paul membicarakan tentang rencana pernikahan Steve sepanjang malam denganku, sedangkan aku tak tahu harus menanggapi seperti apa.”

“Aku tidak peduli dengan pernikahannya, Dad.”

“Tapi aku peduli.” George berkata cepat. “Cepat atau lambat mereka akan tahu kehamilanmu. Jika Patty dan Paul bukan sahabatku, mungkin aku tak akan peduli. Tapi mereka sahabatku. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana kecewanya mereka saat mengetahui semuanya ketika sudah terlambat.”

Jessie menatap ayahnya seketika. “Kau ingin aku menggagalkan pernikahan mereka?”

“Tidak. Aku hanya ingin kau jujur dengan Steve. Aku tidak akan memaksa kalian, atau Steve untuk menikahimu. Ini bukan lagi jaman seperti itu. Banyak wanita yang hamil dan membesarkan anaknya sendiri. Aku hanya ingin kau jujur hingga tak menimbulkan kesalahpahaman kedepannya.”

“Kesalahpahaman seperti apa?”

“Seperti kau seolah-olah sengaja menyembunyikan dan menjauhkan anak itu dari keluarga Morgan.” George mendekat. “Jess, aku tahu ini sulit. Mungkin, kau akan mendapatkan penolakan dari Steve, tapi setidaknya kau sudah berbuat benar dengan memberitahunya. Kau tidak sendiri, kau memiliki aku, dan Frank.” Ucap George dengan nada lembut sembari mengusap puncak kepala Jessie.

Dengan spontan, Jessie memeluk tubuh ayahnya. “Maaf, aku sudah bertindak egois.”

George mengangguk. “Aku tahu, ini sulit untukmu.” Pelukannya semakin erat. “Kau akan memberitahunya?”

“Ya.” Jessie menjawab dengan setengah menghela napas panjang.

“Bagus. Kau tak perlu melakukan apapun. Kau hanya perlu memberitahunya. Serahkan semua keputusan pada Steve.”

Jessie mengangguk patuh. Ayahnya benar. Steve memang harus tahu. Ia tidak ingin membuat kehebohan dimasa mendatang, kemudian ia dan keluarganya dituding sengaja menyembunyikan semuanya. Jika hal itu terjadi, bukan hanya pertemanannya dengan Steve yang hancur, tapi juga pertemanan kedua orang tuanya dengan keluarga Morgan ikut hancur. Dan Jessie tak ingin hal itu terjadi. Ia akan memberitahu Steve, setelahnya, ia menyerahkan keputusan sepenuhnya pada lelaki itu.

***

Pagi harinya….

Jessie sudah bersiap-siap dengan sepedanya. Semalaman ia tidak tidur karena memikirkan nasehat ayahnya. Kini, Jessie sudah bulat pada keputusannya bahwa ia akan memberitahu Steve pagi ini juga.

Biasanya, jika mereka pulang ke Pennington, mereka akan bersepeda di pagi hari bersama. Dan Jessie berharap bahwa Steve akan tetap menjalani kebiasaan itu pagi ini. karena itulah, Jessie sudah bersiap-siap dengan sepedanya pagi ini.

Padahal, pagi ini, ia merasa tidak enak badan. Sesekali Jessie merasa perutnya kram sejak semalam. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia berharap jika tak akan terjadi apa-apa dengan bayinya.

Apa yang diharapkan Jessie benar-benar terjadi. Tak lama ia melihat Steve mengendarai sepedanya melewati depan rumahnya. Yang membuat Jessie sedih adalah bahwa Steve sama sekali tak menoleh ke arah rumahnya. Lelaki itu benar-benar membencinya. Jessie tahu itu.

Dengan segera, Jessie menyusul Steve. Jessie bersyukur bahwa Steve hanya sendiri. lalu, dimana Donna? Apa Donna masih tertidur lemas karena semalaman bercinta dengan Steve?

Jessie menggelengkan kepalanya cepat. Ia tidak tahu kenapa ia berpikir sampai kesana. Lagipula, urusan ranjang lelaki itu bukanlah urusannya. Urusan mereka hanya sebatas tentang penyakit masuk anginnya.

Oke, Jessie akan berhenti menyebutnya seperti itu. Frank dan ayahnya sudah tahu, jadi untuk apa ia terus-menerus mengingkari semuanya? Ia hamil, bukan masuk angin. Sekali lagi, Hamil, titik!

Jessie menghela napas panjang. Ia mengayuh sepedanya lebih cepat lagi sesekali memanggil nama Steve. Tapi lelaki itu bersepeda seperti orang kesetanan hinga Jessie sulit mengejarnya.

“Steve. Kau tidak mendengarku?” dengan sisa-sisa tenaganya, akhirnya Jessie mampu sejajar dengan Steve.

Steve menolehkan kepalanya ke arah Jessie, kemudian ia menghentikan laju sepedanya. Dengan napas terengah, Jessiepun ikut berhenti.

Steve membuka kacamatanya beserta headset yang sejak tadi ia kenakan. Jessie menghela lega. Rupanya Steve tidak menghindarinya, lelaki itu hanya tidak mendengarnya karena sedang mengenakan headset.

“Jess, kau…” Steve menghentikan ucapannya ketika melihat Jessie melepaskan sepedanya hingga roboh.

Jessie tampak terduduk sembari memeluk perutnya sendiri. Stevepun segera mengabaikan sepedanya dan berlari menuju ke arah Jessie.

“Kau baik-baik saja? Ada yang tidak beres?” tanya Steve dengan khawatir. Jessie tampak pucat dan wanita itu tampak kesakitan.

“Aku, aku hanya terlalu stress.” Ucapnya dengan terpatah-patah. Memang, beberapa minggu terakhir menjadi hari-hari yang berat untuk Jessie setelah ia mengetahui tentang kehamilannya. Tak ada hari tanpa berpikir cemas. Keputusanya untuk berpisah dengan Henrypun menambah buruk suasana hatinya, belum lagi kenyataan diluar dugaan bahwa Steve akan menikah dengan seorang wanita seksi berambut pirang bernama Donna Simmon. Jessie stress, ia merasa terguncang.

“Kau bisa bangkit?”

Jessie hampir menangis saat menggelengkan kepalanya. Sial! Ia tidak pernah secengeng ini sebelumnya. “Bawa aku ke rumah sakit, Steve. Tolong.” Ucapnya dengan lemah.

Jessie tak perlu meminta untuk kedua kalinya, karena dalam sekejap mata, ia merasakan tubuhnya mengambang di udara. Steve menggendongnya dengan setengah berlari. Mereka meninggalkan sepeda mereka. Tak mungkin juga membawa Jessie dengan sepeda yang tak memiliki tempat untuk boncengan.

Dengan spontan, Jessie mengalungkan lengannya pada leher Steve. Wajahnya tersembunyi pada dada bidang lelaki itu. Untuk pertama kalinya setelah ia mengetahui tentang kehamilannya, Jessie merasa sangat nyaman. Apa yang membuatnya senyaman ini? apa lelaki ini? apa pelukannya? Atau dada bidangnya? Jessie tak tahu. Tapi yang pasti, ia merasa sangat nyaman ketika tahu bahwa Steve begitu perhatian padanya.

-TBC-

Hayookkkk apa yang akan terjadi selanjutnyaaaa??? wakakakakkakakakakkaka

Rex Spencer – Bab 2

Comments 3 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 2

 

Malam semakin larut,  tapi Renne tak juga dapat memejamkan matanya. Sesekali ia menengok ke belakang, nyatanya, Rex belum juga naik ke atas peraduan mereka.

Setelah makan malam menegangkan tadi, Rex segera pergi tanpa sepatah katapun. Dan hal itu membuat Renne semakin yakin bahwa memang ada yang disembunyikan oleh suaminya tersebut.

Renne segera bangkit dari tempat tidurnya, ia berjalan mondar mandir kesana-kemari dengan sesekali berpikir keras. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi. Kenapa setelah percakapannya dengan perempuan yang berada di telepon Rex tadi siang, Renne merasa bahwa masih banyak sekali sesuatu yang tidak ia ketahui tentang diri Rex.

Ketika Renne masih dalam kebingungannya, suara pintu dibuka membuat Renne mengangkat wajahnya menatap ke arah pintu kamarnya tersebut. Rupanya, Rex sudah berdiri di sana, di ambang pintu dengan tatapan tak biasanya.

“Rex? Kau baru pulang?” tanya Renne sembari berjalan mendekat ke arah Rex, suaminya.

“Kenapa kau belum tidur?” pertanyaan Rex terdengar begitu dingin, hingga menghentikan langkah Renne yang mendekat ke arah lelaki itu.

“Aku, aku tidak bisa tidur.”

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Rex yang saat ini sudah berjalan mendekat ke arah Renne.

Entah kenapa dengan spontan Renne berjalan mundur menjauhi suaminya tersebut. Aurah Rex tampak suram, terasa mencekam, dan Renne dengan spontan ingin menjauhi suaminya tersebut saat ini.

“Tak ada.” Hanya itu Jawaban Renne. Kakinya terus saja mundur ketika Rex tak berhenti berjalan mendekat ke arahnya layaknya singa yang siap memangsa buruannya.

Jemari Rex terulur, berusaha meraih pipi Renne, tapi dengan spontan Renne menghindar. “Kau, menghindariku?” tanya Rex dengan mata yang sudah menajam ke arah Renne.

Satu hal yang selalu Renne ingat tentang diri Rex, bahwa lelaki itu tak pernah terima dengan sebuah penolakan.

“Ti-tidak. Kau, hanya tampak sedikit mengerikan saat ini.” Renne berkata jujur.

Rex tersenyum miring. “Kau takut bahwa aku adalah jelmaan hantu Lucas?”

“Maaf?” sungguh, Renne ingin bahwa ia sedang salah dengan.

“Kau melihatku seolah-olah aku ini adalah hantu.” Rex mengoreksi kalimat yang ia katakan sebelumnya.

“Kau tak terlihat seperti biasanya, Rex. Aku melihat ada yang lain dari dirimu.”

“Karena aku sedang memiliki banyak sekali masalah, Rheinata.” Oh, Renne tahu, ketika Rex sudah memanggil nama panjangnya, maka Rex sedang dalam mode marah. “Tak bisakah kau hanya diam dan menurut saja apa perkataanku? Aku tak menyembunyikan apapun darimu. Dan lupakan tentang telepon sialan dari Kara tadi siang. Dia tak akan mengganggumu lagi.” Jawab Rex kemudian.

“Apa yang kau lakukan dengannya?”

“Tak ada.” Rex menjawab sembari memalingkan wajahnya. Saat itu, Renne tahu bahwa suaminya itu sedang berbohong padanya.

Dengan spontan, Renne mencengkeram kemeja Rex tepat di dada lelaki itu. “Lihat aku, dan jawab. Apa yang sudah kau perbuat padanya, Rex?” Renne tentu tahu bahwa Rex adalah sosok yang tegas dan tak kenal ampun. Lelaki itu pernah memecat puluhan bawahannya sekaligus ketika mendapati pegawai-pegawainya itu merayakan pesta ulang tahun ketika jam kerja. Dan masih banyak lagi kengerian yang dilakukan oleh Rex padahal seharusnya Rex dapat mentolelirnya.

“Aku memecatnya. Apa kau puas?” jawab Rex penuh penekanan.

Cengkeraman Renne lepas sektika. “Apa? Kau tak perlu melakukan itu, Rex! Dia hanya mengangkat teleponmu. Kau…”

“Apa kau suka jika suamimu digoda oleh pelacur jalanan seperti dia?” tanya Rex dengan memotong kalimat Renne.

“A-apa maksudmu?”

“Kau tahu kenapa dia mengatakan yang tidak-tidak padamu? Semua itu karena dia menyukaiku.”

“Tidak mungkin.” Renne mundur dan menggelengkan kepalanya.

“Ayolah, Renne. Berpikirlah secara logis. Aku tentu sangat menarik bagi siapapun apalagi bawahanku sendiri. tak heran jika mereka berlomba-lomba untuk menarik perhatianku.”

Ya, tentu saja. Renne tahu bahwa Rex tentu sangat menggoda untuk siapa saja yang melihat lelaki itu. Parasnya tegas, tampan, dan menyiratkan kemaskulinan sejati. Tubuhnya tinggi tegap dan selalu dibalut dengan pakaian-pakaian mahal yang melekat pas. Belum lagi reputasi lelaki itu dalam bidang bisnisnya. Renne bahkan sudah sempat tertarik dengan Rex saat masih di perguruan tinggi. Namun, Renne memendam perasaannya tersebut karena ia merasa tidak pantas bersanding dengan Rex. Kini, Renne bahkan masih sesekali tak percaya jika dirinya sudah menjadi istri sah dari seorang Rex Spencer.

“Kau, percaya dengan apa yang kukatakan, bukan?” tanya Rex membuyarkan lamunan Renne.

Renne mengangguk pelan. Nada suara Rex sudah melembut, dan hal itu membuat Renne ketakutan Renne sedikit demi sedikit menghilang. “Ya, tapi kau tak perlu memecatnya, Rex.”

“Dia duri didalam daging. Dan pantas kusingkirkan sebelum merusak semuanya.”

Rex tampak takut, Rex tampak panik. Kenapa Rex harus takut jika lelaki itu tak melakukan apapun? Tapi Renne tak mengungkapkan apa yang dia pikirkan kepada Rex, karena ia tahu, Rex pasti akan marah saat ia curiga dengan apa yang sedang disembunyikan lelaki itu.

Tiba-tiba, jemari Rex kembali terulur, mengusap lembut pipi Renne, dan yang bisa Renne lakukan hanya diam, mencoba menikmati sentuhan lembut dari suaminya tersebut.

“Lupakan dia, Sayang. Yang terpenting saat ini adalah, bagaimana kelanjutan hubungan kita.” Bisik Rex dengan suara serak dan nada sensualnya. Renne tahu jika Rex mulai menggodanya.

“Kelanjutan? Maksudmu?” tanya Renne tak mengerti.

Rex tersenyum penuh arti. “Spencer kecil. Bukankah kita sudah sepakat untuk berusaha mendapartkannya secepat mungkin?”

Ahh ya, tentang itu. Renne dan Rex memang sepakat untuk tidak menunda lagi tentang bayi. Tapi tiga bulan berlalu setelah pernikahannya, Renne belum juga mendapati dirinya hamil. Jika dulu dengan Lucas Renne menggunakan kontrasepsi karena Lucas belum siap memiliki bayi, maka dengan Rex, Rex sendirilah yang menginginkan agar mereka segera memiliki bayi untuk menguatkan cinta dan juga hubungan mereka.

“Uuum, aku masih tak yakin. Aku takut jika kita terlalu berharap, maka pada akhirnya, kita akan kecewa.”

“Kau, tak akan mengecewakanku, Sayang. Kau adalah sosok yang tepat untuk mengandung dan melahirkan bayi-bayiku kelak.”

Renne hanya mengangguk. Ia bahagia dengan kepercayaan yang diberikan Rex padanya, tapi disisi lain, Renne takut jika dirinya akan mengecewakan lelaki itu.

Kemudian, Rex mendekat lagi, lelaki itu mengangkat dagu Renne kemudian menundukkan kepalanya, dan yang bisa Renne lakukan hanya memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut dari bibir lelaki yang begitu menggodanya. Lelaki yang kini menjadi suaminya. Renne bahkan membalas setiap cumbuan menggoda dari Rex, membuat Rex tak kuasa menahan diri untuk tidak mengerang diantara cumbuan mereka.

Malam yang menegangkan itu segera berubah menjadi malam yang panas. Renne tahu, bahwa Rex memang sangat pandai mengambil alih siatuasi, lelaki itu sangat pandai menggodanya, membangkitkan gairahnya, hingga Renne yakin, bahwa sampai kapanpun ia tak akan mampu menolak pesona seorang Rex Spencer.

***

Siang itu, Renne berakhir di sebuah kedai burger bersama dengan teman dekatnya, Lucy Bagwell. Lucy adalah satu-satunya teman dekat perempuan yang dimiliki oleh Renne. Perkenalannya dengan Lucy bermula ketika ia menghadiri sebuah pesta amal bersama dengan Lucas. Kemudian mereka saling berkenalan karena ternyata Lucy merupakan istri dari rekan kerja Lucas. Sejak saat itu keduanya sering bertemu hingga terjalinkah hubungan dekat mereka.

Bagi Renne, Lucy tak sekedar teman biasa. Ia merasa bisa menceritakan apapun dengan temannya itu karena Lucy merupakan tipe orang yang sangat pandai menjaga rahasia.

Hingga ketika suasana hati Renne yang sedang galau seperti saat ini, hanya Lucylah yang seakan mengerti tentang apa yang ia rasakan.

Sembari menggigit burger pesanannya, Lucy bertanya “Jadi, kau mulai curiga dengan Rex, begitu?” tanyanya setelah ia mendengar keluh kesah Renne.

“Aku tidak tahu apa yang membuatku curiga. Hanya saja, aku merasa ada sesuatu yaang disembunyikan Rex dariku.”

“Well, mungkin kau terlalu terteka, Renne. Dan kuharap kau tidak memikirkan tentang apa yang dikatakan perempuan itu padamu.” Lucy menyinggung tentang percakapannya siang itu dengan Kara via telepon.

“Sejujurnya, masalah ini bermula karena percakapanku dengan Kara, siang itu.”

“Oh ayolah, kau bahkan tidak mengenalnya.”

“Ya, karena itulah aku berpikir bahwa dia mengatakan yang sebenarnya. Maksudku, kami tak saling mengenal, apa untungnya dia membuatku tak tenang dengan mengatakan hal-hal itu?”

“Renne, bukankah Rex sudah menjelaskan, bahwa perempuan itu hanya ingin hubunganmu dengan Rex renggang. Dia ingin kau berpikiran buruk tentang rex. Dan sepertinya, dia berhasil.”

“Lucy, bukan itu yang kumaksu.” Renne menghela napas panjang, ia tak tahu harus menjelaskan seperti apalagi dengan temannya itu. “Saat itu aku hanya bertanya pada Rex, lalu dia segera merubah ekspresi wajahnya. Dia tampak marah, mengerikan, dan aku benar-benar tak mengenalnya.”

“Jika aku jadi Rex, akupun melakukan hal yang sama. Ayolah, kau menuduhnya membunuh mantan suamimu yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. bagaiman mungkin dia tak marah atau tersinggung dengan ulamu?”

“Aku tidak menuduhnya, Lucy. Bahkan aku belum menjelaskan secara terperinci, apa saja yang dikatakan Kara padaku siang itu.”

“Ya, tapi secara garis besar kau sudah menuduhnya. Dan itu benar-benar bisa menyinggungnya.”

Renne mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh, ia ingin ada yang mengerti perasaannya dan juga kegelisahan hatinya.

Lucy kemudian menggenggam jemari Renne sembari berkata “Kau hanya terlalu tegang. Seharusnya kau bisa berpikir, bahwa Rex bukanlah lelaki biasa. Tentu banyak wanita yang menginginkannya. Tapi dia hanya memilihmu. Dan hal itu membuat para wanita lain ingin menjatuhkan hubungan kalian, bagaimanapun caranya.” Ucap Lucy dengan pelan penuh pengertian.

“Aku hanya takut. Dan aku tak mengerti, darimana asal mula ketakutan ini. akhir-akhir ini, aku memang sering mengalami hal-hal seperti ini. kepalaku sering pusing, dan itu membuatku tidak nyaman.”

“Astaga, apa kau sudah memeriksakan dirimu ke Dokter?” tanya Lucy secara tiba-tiba.

“Untuk apa? Maksudku, aku tidak sakit, Lucy.”

“Astaga, kau ini polos atau bodoh? Maksuku, bisa jadi semua perasaan tidak nyaman yang kau rasakan adalah efek dari hormonmu yang kacau.”

Renne mengerutkan keningnya.

“Maksudmu?”

“Ya. Bisa jadi kau sedang hamil.”

Oh, Tidak. Pasti tidak. Bukannya Renne menolak, tapi Renne tidak ingin kecewa karena terlalu berharap. Ia tidak akan ke dokter sebelum dirinya memastikan bahwa ia benar-benar hamil. Tapi, memikirkan kemungkinan itu membuat dada Renne berdesir. Ia dan Rex sangat menginginkan seorang bayi, dan membayangkan dirinya hamil benar-benar membuat Renne tak kuasa menahan rasa haru di dalam dirinya. Benarkah ia tengah hamil? Benarkah sebagian dari diri Rex kini tengah tumbuh di dalam dirinya?

-TBC-

Wakakakak perasaan ceritaku jadi Baby Love semua dehhh wakakkaka maap yaa… gak tau kenapa kok barengan pada hamil semua ini tokohnya wakakakkakak nikmatin aja yaakkk hahhahaha

 

Sleeping with my Friend – Bab 7

Comments 4 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 7

 

Jessie mengambilkan beberapa gelas untuk sampanye yang dibawakan oleh Frank, kakaknya. Sesekali matanya melirik ke arah ruang tamunya. Disana, Frank duduk dengan santai bersama Steve di sebelahnya, sedangkan Henry memilih duduk di sofa yang lainnya.

Frank memang kurang akrab dengan Henry, karena kekasihnya itu memang jarang bisa diajak kumpul bersama. Tentu saja karena pekerjaan lelaki itu yang tak bisa ditinggal begitu saja.

Saat Jessie menuju ke arah ruang tengah dengan empat gelas dan juga seember es batu, saat bersamaan panggilan kerja Henry berbunyi. Sebuah benda kecil yang akan berbunyi jika ada pasien yang membutuhkan pertolongannya.

Henry menatap Jessie dengan penuh penyesalan. Ia ingin menghabiskan waktunya dengan Jessie dan juga Frank tentunya, tapi apa daya, pekerjaan telah memanggilnya.

“Kau akan pergi?” tanya Jessie kemudian.

Henry berdiri dan menuju ke arah Jessie. “Maaf, sebenarnya aku ingin lebih lama lagi. Kau tentu tahu.”

Jessie mengangguk. Jemari henry terulur mengusap lembut puncak kepala Jessie. Kemudian tanpa canggung sedikitpun ia mengecup singkat bibir Jessie. “Aku benar-benar ingin menghabiskan waktu denganmu, Jess. Aku hanya ingin kau tahu tentang itu.”

Jessie tersenyum. “Aku mengerti.”

Henry lalu menatap ke arah Frank. “Kuharap, kau mengundangku lain kali. Dan kupastikan saat itu aku sedang bebas dari tugas.” Ucap Henry lamah sebelum pamit undur diri.

Beberapa menit kemudian setelah kepergian Henry. Suasana di ruang tengah apartmen Jessie sepi. Jessie sibuk membuka tutup sampanye, Steve sibuk dengan perasaannya, sedangkan Frank memilih mengamati keduanya.

“Apa ada yang kulewatkan disini?” Frank membuka suara hingga Jessie menatap ke arah kakaknya tersebut.

“Apa?” tanya Jessie berpura-pura tak mengerti.

“Hubungan kalian, kenapa jadi secanggung ini?”

Steve masih diam. Ia tak ingin membuka suara. Pikirannya masih jatuh pada kejadian sebelumnya, dimana Jessie dan kekasihnya sedang mencumbu mesra, dimana Steve tahu bahwa mereka saling mencintai sedangkan ia tak memiliki apapun untuk diperjuangkan.

“Frank, bukankah kau datang kemari untuk merayakan bukumu yang lagi-lagi difilmkan? Kenapa kau tidak menceritakan saja buku mana yang akan difilmkan itu.” Jessie mencoba menghindari topik pembicaraan. Ia tidak suka kakaknya ikut campur urusan mereka.

Well, Ya. Salah satu buku misteriku. Dan kau tahu, siapa produser fimnya?” Jessie menggelengkan kepalanya. “Warner Bros.” lanjut Frank.

“Wow, itu keren.” Jessie bertepuk tangan. “Ini memang harus dirayakan, Frank.”

Steve masih memberengut di ujung sofa.

“Kau yakin kalian tidak ada masalah.”

“Ya. Sebenarnya kami baik-baik saja. Mungkin Steve sedang ada masalah di tempat kerjanya.” Jessie mencoba menutupi permasalahan mereka. Lagipula Jessie tak mengerti kenapa Steve memberengut kesal seperti anak kecil. Memang apa salahnya?

“Kami sedang bermasalah.” Steve menjawab cepat. Entah kenapa ia ingin menunjukkan pada Frank tentang apa yang terjadi diantara mereka.

“Steve. Apa yang kau bicarakan?” sungguh, Jessie ingin Steve bisa lebih dewasa lagi menyikapi permasalahan mereka. Itu hanya terjadi diantara mereka. Jessie tak ingin keluarganya ikut campur diantara masalah mereka.

“Kau bisa saja bersikap seolah-olah tak pernah terjadi apapun diantara kita. Tapi aku tidak! Bagaimanapun juga-”

“Steve!” Jessie berseru keras memotong kalimat Steve sembari berdiri.

Steve ikut berdiri “Kenapa? Kau ingin aku diam saja dan tidak mengungkapkan semua kekesalanku?” Steve mulai tak bisa mengendalikan emosinya. Sungguh, bukan ini yang ia inginkan. Tapi mengingat bagaimana Jessie mampu dengan mudah bercumbu dengan pria lain setelah malam panas bersamanya sedangkan dirinya setiap saat gila memikirkan Jessie, benar-benar membuat Steve marah.

Frank yang duduk diantara keduanya hanya membiarkan saja, ia bahkan menuang sampanye dan menyesapnya dengan santai sembari memperhatikan lelaki dan perempuan yang sedang beradu urat di hadapannya.

“Lebih baik kau keluar.”

“Oh, tidak bisa. Aku sudah berjanji bahwa aku akan menyelesaikan semuanya malam ini juga.”

“Apa yang ingin kau selesaikan?” Jessie menantang. Persetan jika Frank mengetahui tentang hubungan mereka.

“Hubungan sialan kita.”

Well. Kita tidak memiliki hubungan kecuali pertemanan. Hanya itu.”

Steve tertawa mengejek. “Benarkah? Kau tidak ingat bahwa aku sudah menidurimu Tiga minggu yang lalu?”

“Bajingan kau, Steve!”

“Ya, aku memang bajingan. Dan kau sialan! Kau tahu, aku tidak ingin lagi berteman denganmu.”

“Terserah kau saja.”

“Kau juga ingin mengakhiri pertemanan ini?” tanya Steve. “Bagus. Ini lebih baik. Jadi aku tak perlu lagi bertemu denganmu.”

“Kalau begitu kau boleh keluar.”

Steve tak percaya. “Kau mengusirku?”

“Apa lagi yang kau inginkan?” nada suara Jessie masih meninggi.

Steve mengusap rambutnya kasar. “Brengsek! Kau pikir aku tahu apa yang kuinginkan? Jika keinginanku sesederhana menidurimu, maka aku tak akan repot-repot datang merangkak padamu untuk memperbaiki hubungan kita.”

“Jadi kedatanganmu kemari untuk memperbaiki hubungan kita? Inikah yang kau sebut memperbaiki hubungan? Kau sudah menghancurkannya, Morgan!” Jessie berseru keras.

“Kau yang lebih dulu menghancurkanku!” Steve tak tahu apa yang sudah dia katakan.

“Apa?” Jessie tak mengerti.

Well. Kupikir kalian perlu bicara baik-baik tanpa mengeluarkan urat.” Frank berdiri menengahi keduanya.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.” Steve berkata penuh penekanan. Matanya masih menatap tajam ke arah Jessie.

“Ya, akupun demikian. Tak ada yang perlu dibicarakan.” Jessie setuju dengan apa yang dikatakan Steve, bagaimanapun juga, Steve keterlaluan karena sudah mengatakan hubungan semalam mereka dihadapan Frank.

Tanpa bicara lagi, Steve meninggalkan apartmen Jessie. Membanting pintuya hingga berdentum. Kemarahan jelas terpancar di wajah lelaki itu. Dan Jessie tak peduli. Ia juga marah terhadap Steve yang tampak sangat kekanakan.

***

Jessie berdiri di depan bak cuci piring dengan segelas sampanye. Ia meminumnya lagi dan lagi, dengan sedikit menenangkan pikirannya. Frank masih duduk di ruang tamunya, dan Jessie tak peduli.

Brengsek Steve! Bagaimana mungkin lelaki itu meninggalkannya dalam keadaan seperti ini? Jessie tak tahu bagaimana caranya menghadapi Frank yang pastinya akan menuntut penjelasan tentang apa yang sudah dikatakan Steve tadi.

Meski ia sudah dewasa dan dan Frank tak akan ikut campur tentang masalahnya yang paling pribadi, tapi Jessie tahu, bahwa Frank pasti ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.

“Sampai kapan kau akan berdiri di sana?” tanya Frank yang ternyata sudah duduk di bar dapur, tepat di belakang Jessie.

“Kau, masih disini?” Jessie berharap Frank sudah pergi dan melupakan semuanya.

“Kau berharap aku pergi?” tanya Frank, Jessie hanya mengangkat kedua bahunya. “Dengar, Jess. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu dan Steve. Dan aku tak mau tahu hubungan intim kalian. Hanya saja, kalian sudah dewasa. Kalian menyelesaikan ini seperti anak-anak. Saling memaki dengan emosi masing-masih.”

“Dia yang memulainya dulu, Frank. Kau ada di sana, kau tentu tahu dia dulu yang memulainya.”

“Dan kau tidak tahu kenapa dia marah denganmu?”

“Aku tak peduli. Dia memang selalu marah-marah tak jelas.”

“Jess. Dia melihatmu berciuman dengan Henry di depan pintu.” Frank berkata dengan nada sungguh-sungguh.

“Lalu apa masalahnya? Aku sering melakukan itu. Kami akan menikah, jadi sangat wajar kalau kami saling berciuman.”

“Kau, benar-benar tak mengerti atau pura-pura tak mengerti?”

“Aku tak mau mendengarnya.” Jessie membalikan tubuh membelakangi Frank.

“Dia cemburu, Jess.”

“Tidak.”

“Dia menyukaimu.”

“Hentikan, Frank!” Jessie berbalik dan menatap sengit ke arah kakaknya. “Kau pikir aku gadis kecil yang bisa kau bodohi? Steve hanya suka perempuan berambut pirang dengan payudara yang hampir tumpah dari branya. Aku mengenalnya! Jadi aku tahu siapa dan orang seperti apa yang dia sukai.”

Frank tersenyum miring. “Kau juga menyukainya, Jess.”

“Oh Frank. Tidak bisakah kau meninggalkan aku sendiri? aku ingin sendiri tanpa memikirkan apapun tentang seorang Steven Morgan!”

“Baiklah. Aku akan pergi. Tapi jika ada sesuatu, kau tahu harus kemana. Ingat, aku hanya beberapa blok dari sini. Jadi jangan menyembunyikan apapun dariku. Oke?”

Meski kesal, Jessie merasa sangat senang karena memiliki kakak yang begitu perhatian dengannya. Jessie mengantarkan Frank hingga pintu. Setelah Frank memasuki lift, Jessie segera kembali masuk ke dalam apartmennya. Ia menguncinya kemudian segera menuju ke arah kamar.

Entah Kenapa Jessie ingin menangis. Menenggelamkan diri diantara bantal dan selimutnya. Astaga, semuanya tak bisa tertolong lagi. Pertemanannya dengan Steve tak akan bisa tertolong lagi. Jessie tahu itu.

***

Dua bulan kemudian…

Semuanya menjadi kacau. Jessie berdiri di depan cermin dengan wajah pucatnya. Jemarinya saling meremas satu sama lain karena kegugupan yang melandanya. Ia sudah merias diri secantik mungkin, tapi ia berpikir bahwa malam ini ia sama sekali tidak cantik. Matanya sembab karena menangis berhari-hari. Astaga, apa yang sudah terjadi dengan dirinya?

Dua minggu yang lalu, Jessie bahkan mengurung diri selama beberapa hari dan enggan keluar. Itu karena penyakit barunya, yaitu masuk angin. Ya, Jessie lebih suka menyebutnya seperti itu. Ia masuk angin karena setiap hari harus mual muntah, dan Jessie tahu bahwa tak lama lagi perutnya akan menggembung sebesar bola basket.

Karena hal itulah hari ini ia baru berani memutuskan untuk makan malam bersama kekasihnya. Jessie akan mengakhiri semuanya, karena Jessie tak ingin melanjutkan pernikahannya dengan Henry dalam keadaaan seperti sekarang ini.

Mengingat itu, kegugupan kembali terasa. Astaga, Jessie tak sanggup. Sungguh.

Bajingan Steve! Kenapa lelaki itu harus meninggalkan sebagian dari dirinya untuk tumbuh di dalam perutnya? Lebih bajingan lagi, karena setelah pertengkaran hebatnya dua bulan yang lalu, Steve seperti tak ingin lagi bertemu dengannya.

Beberapa kali, mereka bertemu, di basement, di depan lift, di tempat kerja. Tapi temannya yang bajingan itu tampak enggan menatapnya. Steve tidak berbicara sama sekali dengannya, dan Demi Tuhan! Jessie juga tak ingin berbicara dengan lelaki itu.

Frank berkali-kali menghubunginya dan menanyakan hubungan mereka, tapi Jessie hanya mengatakan bahwa mereka sudah selesai. Nanti, setelah menyelesaikan hubungannya dengan Henry, Jessie akan menelepon Frank dan juga ayahnya, bahwa semuanya benar-benar telah usai.

Jessie menghela napas panjang. Pada saat bersamaan ia mendengar bunyi ketukan pintu. Henry sudah datang, dan Jessie harus benar-benar siap dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

Beberapa menit berlalu, mereka sudah berada di dalam mobil Henry, menuju ke sebuah restoran Prancis. Diam tanpa kata, sunyi, hening, dan hal itu membuat suasana menjadi canggung.

Henry tahu jika ada yang berbeda dengan Jessie, sejak dua minggu yang lalu, wanita ini berubah, dan Henry berharap malam ini berjalan dengan lancar hingga bisa memperbaiki hubungannya dengan Jessie.

Memasuki restoran, keduanya masih saling berdiam diri, bahkan hingga seorang pelayan datang dan memberikan buku menu. Jessie memesan beberapa hidangan utama hingga membuat Henry mengerutkan keningnya.

“Kau kelaparan?” tanyanya setelah si pelayan pergi.

“Mungkin.” Hanya itu jawabannya.

Terdengar helaan napas panjang dari Henry. “Jadi, ada yang ingin kau bahas?”

Tentu saja ada, tapi Jessie merasa bahwa ia takut mengutarakannya. “Lebih baik kita makan dulu. Aku tidak ingin pesanan kita tak termakan setelah aku mengutarakan maksudku.”

Henry merasa bahwa Jessie akan mengatakan sesuatu yang penting hingga wanita itu tampak menyiapkan diri. Apa yang akan dikatakan Jessie padanya.

Makan malam berlangsung dengan hening. Sesekali Henry bertanya tentang apa yang dilakukan Jessie sepanjang hari ini, dan Jessie hanya menjawab tanpa bertanya balik kepada Henry.

Waktu cukup singkat, karena tak ada juga yang mereka bicarakan. Setelah menyantap Raspberry Clafoutis sebagai makanan penutupnya, Jessie merasa bahwa perutnya sudah penuh. Apa perutnya sekarang sudah menggembung? Tidak! Jessie berharap bahwa hal itu tidak terjadi.

Hingga masuk kembali ke dalam mobil Henry, Jessie belum juga mengatakan maksud hatinya. Ia tidak bisa, Demi Tuhan ia tidak bisa mengatakannya. Jessie menyayangi Henry, ia tidak bisa membatalkan pertunagan mereka karena penyakit masuk anginnya ini.

Henry akan sangat hancur, dan Jessie tak bisa melihat hal itu terjadi.

“Jess. Ada yang kau pikirkan?”

Karena melamun sepanjang jalan, Jessie bahkan tidak sadar jika mereka sudah berada kembali di basement gedung apartmennya.

“Ya?”

“Ada yang ingin kau katakan? Kau tampak pucat, dan tertekan.” Ucap Henry dengan lembut.

Jessie ingin menangis, sungguh. Kapan lagi ia memiliki kekasih yang begitu pengertian seperti Henry? Dia adalah lelaki sempurna. Tampan, dokter, pengertian, dan begitu menyayanginya. Dan kini, ia akan mencampakan lelaki itu. Tuhan! Bagaimana mungkin semuanya berakhir seperti ini?

Belaian tangan Henry pada puncak kepalanya membuat Jessie mengangkat wajahnya dan menatap Henry dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia harus, karena ia menyayangi Henry, ia harus memutuskan pertunangan mereka demi lelaki itu.

“Kupikir, kupikir, kita sampai disini saja.” Suara Jessie hampir tak terdengar.

“Apa maksudmu, Jess?”

Jessie tak dapat menahan luapan airmatanya. Beberapa hari terakhir ia memang tak dapat menahan diri untuk tidak menangis. Dan Jessie tahu bahwa ini karena penyakit masuk anginnya.

“Kau menangis. Ada apa, Jess?”

“Henry. Aku ingin semuanya selesai. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi.”

“Tapi kenapa?”

“Karena aku masuk angin, Karena tubuhku akan membengkak beberapa bulan kedepan, karena aku akan, aku akan… Astaga, aku akan memiliki bayi.” Jessie menangis, sedangkan Henry tercengang. Henry merasa baru saja dijatuhi sebuah bom tepat di kepalanya.

Jessie hamil? Dan wanita itu ingin memutuskannya? Ya Tuhan! Henry tak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

 

-TBC-