Sleeping with My Friend – Bab 19

Comments 2 Standard

“Aku benar-benar tidak menyangka. Astaga… jadi kau, kau sama sekali tak tertarik denganku? Kau hanya… Ya Tuhan! Aku tidak percaya.” Donna bersiap pergi. Ia malu, tentu saja. Ia berharap terlalu banyak dan ia terlalu salah menerka keadaan. Donna merasa sangat malu, ia menganggap dirinya sendiri begitu istimewa untuk seorang Steven Morgan, tapi kenyataan yang ia dapat adalah sebaliknya, bahwa Steven Morgan TIDAK benar-benar tertarik dengannya.

“Donna.” Steve ingin menenangkan wanita itu.

“Tidak! Steve. Jangan!” napas Donna memburu karena kekesalan yang memuncak dikepalanya. “Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.” Setelah perkataannya tersebut, wanita itu pergi.

Oke, sempurna. Setidaknya Donna Simmon tak akan mengganggu kehidupannya lagi. Tapi bukan seperti itu yang dirasakan Steve. Ia merasa menjadi orang yang sangat brengsek. Membuat wanita itu berharap lebih, membuat wanita itu salah paham dan lebih parah lagi memanfaatkan kehadiran wanita itu untuk  menyembunyikan perasaannya sendiri kepada Jessie, perasaan yang selalu ingin ia pungkiri. Sejak lama…..

 

Bab 19

Jessie sudah bulat pada keputusannya, bahwa ia akan pulang ke Pennington sementara waktu. Memang terlihat sangat kekanakan, tapi ia tidak bisa selalu memikirkan tentang Steve dan Donna Simmon lalu berakhir stress dan membahayakan kandungannya. Jessie ingin menenangkan diri di rumah Sang ayah.

Tadi siang, setelah berperang dengan batinnya sendiri, Jessie berinisiatif untuk menemui Steve lebih dulu. Ia ke tempat kerja lelaki itu, dan di sana, Jessie mendapati Steve  sedang menerima tamunya.

Tamu istimewa tentunya.

Jessie bahkan sempat melihat posisi wanita itu yang duduk dengan berani di meja kerja Steve, dengan jemari yang menggoda dada Steve. Tentu Jessie belum sempat mendengar apa yang mereka bahas, karena Jessie memilih untuk kembali pergi setelah membuka sedikit pintu ruang kerja Steve dan mendapati pemandangan tersebut.

Mungkin, mereka baru saja membahas tentang malam panas mereka semalam, mungkin mereka sedang membahas waktu untuk bercinta lagi selanjutnya. Jessie tidak tahu dan demi Tuhan, ia tidak ingin tahu!

Pikiran tersebut keluar dengan sendirinya di kepalanya, terputar lagi dan lagi, lalu Jessie mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk seperti perpisahannya dengan Steve, nasib anaknya yang tidak akan memiliki ayah sebelum ia dilahirkan, dan banyak lagi. Jessie tidak tahu kenapa ia sampai berpikir kesana, Jessie bahkan merasa bahwa dirinya tidak akan dapat berpikir secara realistis lagi jika itu menyangkut hubungannya dengan Steve.

Jessie menghela napas panjang. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil sewaan yang ia tumpangi.

Memasuki kawasan Pennington, ponsel Jessie berbunyi. Jessie melirik sekilas, rupanya Steve yang meneleponnya. Jessie memutuskan untuk tak mengangkatnya, karena ia sendiri tidak tahu harus memberikan alasan apa untuk lelaki itu.

Ponselnya lalu berbunyi lagi dan lagi, dan Jessie tetap memilih untuk tidak mengangkatnya. Lalu pesan singkat Steve sempat membuat Jessie membatu.

Steve : Apa kau sedang tidur? Aku hanya ingin mengabari bahwa aku pulang cepat, dan aku akan membawa makan malam. Jangan masak.

Ya Tuhan! Apa ia harus kembali ke New York sekarang? Tidak! Ia tidak akan kembali hanya karena pesan singkat dari lelaki itu. Jessie tidak menjawab pesan tersebut dan memilih mengabaikannya.

Ia memilih bersiap-siap untuk menghadapi ayahnya. Ya, beberapa meter lagi ia akan sampai, dan ia tahu bahwa George tak akan berhenti bertanya padanya sebelum ia jujur tentang apa yang sedang menimpa hubungannya dengan Steve hingga membuatnya kabur dari rumah.

***

Tepat jam Enam sore, steve sampai di apartmen Jessie dengan beberapa bingkisan makan malam mereka. Sedikit heran karena ia mendapati apartmen wanita itu kosong. Apa Jessie belum pulang dari butiknya?

Lalu bayangan tentang kebersamaan Jessie dengan Henry kemarin malam membuat Steve kesal. Apa jessie kembali menemui kekasihnya itu?

Tak ingin menebak-nebak keadaan, Steve memilih menghubungi Jessie. Tapi teleponnya tak diangkat. Bahkan sejak sore tadi, Jessie tak mengangkat teleponnya, pesannya pun tak dibalas. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan wanita itu? Dimana dia?

Akhirnya Steve memilih menghubungi Frank. Mungkin Frank tahu dimana keberadaan Jessie dan apa yang terjadi dengan wanita itu.

“Ada apa, Steve?” Akhirnya Frank menjawab teleponnya.

“Frank, kau tahu dimana Jessie?”

“Kenapa kau mencarinya ditempatku?”

“Aku tidak tahu harus mencarinya kemana, Frank. Dia tidak mengangkat teleponku, tidak membalas pesanku. Dan dia tidak ada di apartmen.”

“Kau sudah mencarinya di butik?”

“Belum. Dan aku tidak ingin mencarinya kesana.”

“Ayolah, Steve. Jangan kekanakan. Kalaupun kau mendapati Henry datang menemui Jess lagi di sana, tandanya mereka tak ada hubungan apapun. Karena jika mereka berniat bermain dibelakangmu, mereka tak akan bertemu di butik Jess. Kau harus lebih realistis.” Frank menyarankan.

Sebenarnya, Steve sudah bercerita tentang Henry yang datang menemui Jessie pada Frank. Entah kenapa Steve memilih bercerita pada Frank daripada dengan Hank temannya.

“Entahlah. Aku hanya tidak ingin mendapati kenyataan buruk.”

Frank terdengar mendengus sebal. “Jadi, apa maumu?”

“Bisakah kau menghubungi Jessie? Jika dia mengangat teleponmu, berarti dia memang sedang menghindariku. Dan tolong, tanya dimana dia berada. Aku benar-benar mengkhawatirkannya.”

Frank tertawa lebar. “Ya Tuhan! Lelaki dewasa dengan Ego dan Cintanya. Sepertinya aku akan menulis kisah cinta kalian menjadi novel.”

“Brengsek Frank! Aku sedang tidak ingin bercanda!”

Lagi-lagi terdengar tawa lebar dari Frank. “Baiklah, aku akan meneleponnya. Jika aku sudah mendapat kabar, aku akan segera menghubungimu agar kau tidak gila karena gelisah.”

“Sialan!” Steve mengumpat. Kemudian telepon ditutup.

Steve lalu melemparkan diri di sofa ruang tengah apartemen Jessie. Meski sudah meminta bantuan Frank, tapi Steve belum bisa tenang sebelum tahu dimana Jessie dan kenapa wanita itu tidak ingin mengangkat telepon darinya.

Dua puluh menit kemudian, ponsel Steve berdering. Steve segera mengangkatnya saat mendapati nama Frank sebagai si pemanggil.

“Ada kabar?” tanyanya dengan segera saat mengangkat telepon.

“Ya. Dia mengangkat teleponku. Dan dia sedang berada di Pennington.”

“Apa? Apa yang dia lakukan di sana?”

Frank menghela napas  panjang. “Steve. Sepertinya kalian harus bicara baik-baik. Kau ingin aku menjadi penengah diantara kalian?”

“Tidak. Aku tidak mengerti, Frank. Kenapa dia meninggalkanku? Astaga! Apa dia memang tidak ingin melanjutkan pernikahan ini?”

“Demi Tuhan, Steve! ini tidak akan selesai jika kau tidak membuang ego dan emosimu. Lagi pula, membahas di telepon tak akan menyelesaikan masalah.” Frank terdengar kesal. Tapi lelaki itu benar.

“Jadi, apa yang harus kulakukan?” tanya Steve kemudian.

“Jika aku jadi kau, maka aku akan menyusulnya.”

“Frank. Astaga, aku tidak pernah melakukan itu pada wanita sebelumnya. Merendahkan harga diriku hingga seperti itu, yang benar saja.”

“Kau juga tak pernah ingin menikahi perempuan sebelumnya jika bukan dengan Jess. Dan jangan lupakan fakta bahwa kau tidak pernah begitu mencintai perempuan seperti mencintai Jess.”

“Jangan bersikap sok tahu, Frank!”

“Sialan! Kau pikir aku buta setelah semalaman menemanimu mabuk dan merengek seperti anak kecil.”

“Brengsek!” Steve mengumpat keras. Ya, Frank memang brengsek. Tapi apa yang dikatakan kakak iparnya itu memang benar. Ia tidak pernah menginginkan orang seperti menginginkan Jessie, ia tidak pernah berharap memiliki masa depan yang bahagia selain dengan Jessie. Jadi jika ia ingin mempertahankan hubungan mereka, maka saran Frank adalah yang paling benar.

Ya Tuhan! Steve tidak percaya jika ia akan bertekuk lutut seperti ini dengan seorang Jessica Summer.

“Bagaimana? Kau mau menyusulnya?”

Steve mendesah panjang. “Ya. Aku akan melakukannya.”

“Good job, Brother.” Ucap Frank dengan senang. “jika kau ke sana, aku akan menemanimu. Oke?”

“Aku akan melakukannya sendiri.”

“Tidak. Aku tahu itu akan semakin kacau. Aku akan menemanimu.”

Frank benar. Mereka tidak akan bisa bicara berdua dengan kepala dingin. Jadi harus ada penengahnya. Dan menunjuk Frank sepertinya bukan ide buruk.

“Frank.” Tiba-tiba saja Steve ingin menanyakan sesuatu pada lelaki itu.

“Ya?”

“Kau yakin jika aku benar-benar mencintainya?” tanya Steve kemudian.

Sial! Ia benar-benar merasa seperti orang idiot setelah bertanya pada Frank tentang hal sesensitif itu.

Bukannya menjawab dengan serius, Frank malah tertawa lebar. Baiklah, Steve merasa sangat menyesal karena sudah menanyakan hal itu pada si Brengsek Frank Summer.

“Dengar, Brother. Hal itu hanya bisa dijawab oleh dirimu sendiri. Tanyakan pada hatimu, tanyakan ke dasar hatimu yang paling dalam, apa yang paling kau inginkan didunia ini. Jika jawabannya adalah ingin bahagia bersama dengan Jessie, maka Ya, kau benar-benar sedang jatuh cinta padanya.”

Steve hanya mengangguk. “Kau tampak sangat berpengalaman. Aku jadi penasaran, siapa wanita yang mengajarimu tentang kata sialan itu.”

Lagi-lagi, Frank tertawa lebar. “Aku memiliki banyak istri Steve.”

“Sial! Aku tidak sedang bercanda.”

“Aku juga tidak sedang bercanda. Kau tahu, seorang penulis bisa menjadi apa saja dan siapa saja seperti yang ia kehendaki. Bagiku, semua tokoh utama perempuan dalam novel yang kuciptakan adalah istriku, karena aku ingin membangun sebuah keintiman dengan mereka agar pembacaku merasakan apa yang dirasakan oleh para tokoh yang kuciptakan.”

“Sepertinya, butuh imajinasi yang tinggi untuk berbicara denganmu tentang hal ini.”

“Tentu saja.” Jawab Frank masih dengan tawa lebarnya. “Jadi, kapan kita ke Pennington?” tanya Frank kemudian.

“Jika kau tidak keberatan, aku ingin ke sana malam ini juga.”

“Baiklah. Aku akan bersiap-siap.”

Dan setelah itu, telepon di tutup. Steve menghela naps panjang. Ya, semuanya harus ia selesaikan malam ini juga. Semuanya tak boleh berlarut-larut. Bagaimanapun juga, ia ingin semua segerah selesai dengan baik-baik tanpa menimbukan masalah kedepannya.

***

Jam Delapan malam, Steve dan Frank sampai di Pennington. Keduanya disambut hangat oleh George, dan Steve sempat kecewa karena tidak mendapati Jessie berada di sana.

“Dia di rumahmu, dan mungkin tidur di sana karena seharian aku bertanya padanya apa yang terjadi. Mungkin karena risih, dia pergi meninggalkanku.”

Steve menghela napas panjang. “Aku akan menemuinya.”

Steve segera bergegas, tapi George segera menghadang Steve. “Kupikir, biarkan saja dia sendiri. aku tidak pernah melihat Jess sesendu dan sebingung itu.”

“Bingung? Apa yang dia bingungkan? Bukankah seharusnya aku yang bingung? Kenapa dia meninggalkanku disaat seperti ini?”

“Steve, kau sudah berjanji akan mengendalikan emosimu.” Frank mengingatkan.

“Tapi aku tidak mengerti, Frank.” Steve mengusap rambutnya kasar. “Sial! Aku melihatnya berpelukan dengan mantan tunangannya. Bukankah seharusnya aku yang marah? Seharusnya aku yang bingung dengan keadaan kami.”

“Sepertinya kau butuh minum, Nak.” George yang berkata. Lelaki paruh baya itu bahkan sudah menuju ke arah bar mini di ujung rumahnya, menuangkan sesuatu di sebuah gelas dan memberikannya pada Steve.

“Dad, kau sudah berjanji tak akan minum lagi.” Frank mengingatkan.

“Ya, aku tak akan minum, itu untuk Steve. dia butuh minum untuk menenangkan pikirannya.”

Steve menerimanya, meminumnya, dan benar apa yang dikatakan George, bahwa anggur olahannya segera membuat steve tenang.

“Dengan Marina dulu, aku juga sering menghadapi beberapa masalah serius.” George mulai bercerita, lelaki itu menuju ke arah tempat duduk, berharap dua lelaki muda di hadapannya mengikutinya dan mendengarkan ceritanya. “tapi kami selalu bisa menyelesaikan masalah kami dengan kepala dingin. Mengesampingkan ego dan harga diri kami demi cinta dan kasih.”

“Aku sudah mengatakan hal itu padanya, Dad.” Frank menyahut.

“Frank, kau belum mengalaminya. Karena itu, kau bisa mengatakannya dengan mudah. Jika kau berada dalam posisi Steve, maka aku yakin, kau juga sama bingungnya dengan dia. aku pernah mengalaminya.”

“Jadi pertanyaannya adalah, apa yang harus kulakukan?” tanya Steve kemudian.

“Wanita adalah makhluk yang unik. mereka selalu mengatakan jika kita, kaum pria adalah kaum yang tidak peka, saat kita bertanya apa kesalahan kita, bukan menjelaskan, mereka akan semakin marah.”

“Karena itulah aku tak ingin berurusan dengan perempuan nyata.” Frank berkomentan.

“Tapi selain itu, mereka memiliki sisi yang sangat lembut. Tak peduli, berapapun kau melakukan kesalahan, jika wanita itu benar-benar mencintaimu, maka dia akan memaafkanmu.”

“Semudah itu?” Frank bertanya.

“Tidak juga. Jika kau mendapat seorang wanita yang kuat dan tegar, jangan harap jalan mendapatkan maaf darinya akan mudah-mudah saja.”

“Oh. Sepertinya aku memang tak harus berurusan dengan para wanita-wanita itu.” Lagi, Frank berkomentar.

“Jadi menurutmu, aku harus mengalah saat aku tidak tahu apa kesalahanku?” tanya Steve pada George.

George mengangguk. “Aku tahu, kadang itu berbenturan dengan ego kita untuk melindungi harga diri kita sebagai seorang lelaki. Tapi tak ada salahnya mengalah untuk menang. Jess tak mungkin tiba-tiba bersikap seperti itu tanpa alasan. Aku tahu dia memiliki alasan yang kuat. Hanya saja, caranya untuk menghadapi masalah adalah cara yang salah. Kau, sebagai suaminya, harus bisa lebih mengalah. Saat pikiran kalian sudah sama-sama mendingin, saat itulah kalian bisa mulai membahas masalah kalian dengan akal sehat.”

Steve menganggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan George memang benar. Apalagi mengingat kondisi Jessie yang labil. Apapun yang ia lakukan pasti akan salah di mata wanita itu, jadi jalan yang paling benar adalah mengalah terlebih dahulu untuk mendapatkan hati wanita itu, jika semuanya sudah membaik, ia akan membahas masalah mereka tanpa emosi.

Tapi bisakah ia melakukannya?

“Apa aku sudah boleh menemuinya?” tanya Steve kemudian.

“Ya, tentu saja. Tapi ingat pesanku.” Ucap George kemudian.

Steve segera bergegas. “Ya. Tentu saja.” Jawabnya sebelum pergi.

“Aku akan menemanimu.” Frank akan menyusul, tapi George menghadang anak lelakinya tersebut.

“Tidak, Frank. Karena aku ingin membahas sesuatu denganmu.”

“Apa?” tanya Frank sedikit curiga.

“Tentang perkataanmu, bahwa kau tak ingin berurusan dengan yang namanya perempuan.”

“Oh, ayolah Dad. Aku hanya bercanda.”

“Tidak, kau tidak sedang bercanda, Frank. Dan karena kau tidak sedang bercanda, maka aku akan memberimu beberapa nasihat.”

Frank memutar bola matanya. Ini tak akan baik, Frank kurang suka dinasehati, apalagi jika tentang perempuan. Demi Tuhan! Ia merasa lebih berpengalaman dengan yang namanya perempuan, meski perempuan-perempuan itu hanya perempuan khayalannya dalam novel yang ia tulis.

***

Steve memasuki rumahnya dan disambut oleh ibunya. Sang Ibu sempat terkejut dengan kehadiran Steve. karena sebelumnya, Jessie berkata bahwa Steve sedang sibuk dengan pekerjaanya karena itu Jessie hanya pulang ke Pennington sendiri. Patty tentu tidak tahu bahwa Jessie sedang memiliki masalah serius dengan Steve.

“Kupikir kau tidak datang.”

“Tentu aku datang, aku akan menjemputnya pulang.”

“Ada masalah?” Patty bertanya.

“Mom. Biarkan aku menyelesaikannya sendiri.”

“Tidak! Kau selalu payah dalam menyelesaikan masalah.”

“Mom!” Steve bahkan berseru pada ibunya. “Aku benar-benar ingin bicara dengan Jessie dan menyelesaikannya hanya berdua. Tolong.”

Patty menghela napas panjang. “Baiklah. Mungkin dia sudah tidur, di kamarmu.”

Dan tak ingin membuang waktu lagi, Steve segera menuju ke arah kamarnya, menemui Jessie dan menyelesaikan semuanya. Ya, semuanya sampai tuntas.

-TBC-

Advertisements

My Beautiful Mistress – Bab 13

Comment 1 Standard

 

Bab 13

 

Pagi itu, Jiro masih menunggu Ellie keluar dari dalam kamarnya. Sejak semalam, wanita itu tidak mau membuka pintu kamarnya padahal ada hal yang ingin Jiro bahas mengenai hubungan mereka. Jiro merasa tak tahan lagi, Jiro merasa tak sanggup lagi saat membayangkan setiap hari Ellie semakin dekat dengan pria lain sedangkan wanita itu semakin menjaga jarak dengannya.

Jiro memang berengsek, karena sudah ingkar janji. Ia memiliki kesempatan untuk mengatakan di depan umum tentang hubungan mereka dua minggu yang lalu saat jumpa pers. Tapi Jiro tak melakukannya. Entah apa yang membuatnya ragu untuk mengungkapkan statusnya di depan umum.

Tidak! Bukan karena ia ingin dilihat sebagai seorang lajang. Percayalah bukan itu alasan utama Jiro. Ia hanya tidak ingin media mengorek tentang masalah pribadinya. Belum lagi kenyataan bahwa Ellie sudah beberapa kali mendapatkan tawaran iklan. Jiro tidak bisa membiarkan Ellie ikut masuk ke dalam dunia sialan yang membesarkan namanya. Dan juga, jangan lupakan fakta bahwa Jiro dan The Batman memiliki fans fanatik yang mendekati gila.

Jiro masih berjalan mondar-mandir di ruang makan. Sesekali ia melirik ke arah jam tangannya. Ia sudah telat, karena ia memiliki janji dengan para personel The Batman lainnya.

Sebenarnya Jiro tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan sekarang dengan The Batman. Ia sudah merasa cukup. Konser akbar dua bulan yang lalu berjalan dengan sukses. The Batman disebut-sebut sebagai band paling fenomenal tahun ini, mereka sudah berada pada puncak tertinggi popularitasnya. Tak ada lagi yang diinginkan Jiro saat ini. tapi ia juga tidak bisa meninggalkan The Batman begitu saja. Ada beberapa kontrak yang masih harus berjalan, entah kontrak pribadi maupun kontrak dengan personel The Batman lainnya.

Jiro mendengus sebal, sesekali ia memijit pelipisnya. Jiro benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Mundur dari The Batman? Ya Tuhan, apa ia bisa melakukannya?

Sekali lagi Jiro melirik jam tangannya. Waktu sudah semakin siang, Ellie pasti sengaja tidak keluar dari dalam kamarnya. Tak ada gunanya menunggu, mungkin nanti malam mereka bisa bicara bersama dengan baik-baik dan juga dengan kepala dingin. Dan setelah itu, Jiro memutuskan untuk pergi menuju ke studio The Batman.

***

Istirahat dari latihan, Jiro tak banyak bicara ketika Troy sesekali bercerita. Meski lelaki itu tidak bercerita tentang Ellie, tapi Jiro merasa sebal dengan Troy karena sudah lancang mengajak Ellie pergi keluar.

Troy memang tak salah, temannya itu tidak tahu tentang status hubungannya dengan Ellie. Ia yang salah karena pernah menyebut Ellie sebagai adiknya. Jadi bukan salah Troy jika Troy ingin mendekati adiknya. Tapi demi Tuhan! Troy tidak buta. Ellie bahkan sedang hamil besar, bagaimana mungkin Troy bisa tertarik dengan perempuan hamil?

Tanpa diduga, Troy berjalan menuju ke arah Jiro. Dan dengan sok akrab lelaki itu bertanya “Jadi, gimana masalah elo sama Ellie?”

Jiro tak menjawab, ia memilih bungkam dan memainkan bassnya.

“Ayolah, masa elo ngambek karena gue deketin adek elo sih.” Troy kembali membuka suaranya.

“Gue sudah bilang, jangan ikut campur masalah gue.” Jiro memperingatkan dengan nada tajam.

“Oke.” Troy mengangkat kedua belah tangannya sembari mundur menjauh. “Tapi, gue harap semalem gue salah denger.” Ucap Troy lagi dengan wajah seriusnya. Jiro menarap Troy, ia tidak tahu apa yang dimaksud oleh lelaki tersebut. Sedangkan Troy, Sial! Meski mencoba memungkiri pemikirannya sendiri, nyatanya pernyataan Jiro semalaman mampu membuat ia susah tidur.

‘Rumah tangga gue’ Brengsek Jiro jika itu benar-benar sebuah kenyataan.

Pada saat bersamaan, ponsel Jason berbunyi. Jason bangkit, mengangkat teleponnya. Kemudian wajah lelaki itu memucat setelah mendapatkan kabar dari seberang telepon.

“Bianca? kecelakaan?” tanyanya dengan wajah tak percaya.

Semua yang ada di ruangan trsebut menatap ke arah Jason. Jason tampak ketakutan, lelaki itu tampak begitu khawatir. Dan semua berjalan cepat ketika Jason melesat keluar dari studio tempat mereka latihan.

***

Malam ini, Jiro kembali tidak pulang. Ia menelepon Ellie, tapi ketika Ellie mendengar suaranya, wanita itu menutup teleponnya.

Sialan!

Akhirnya mau tidak mau Jiro menelepon Mei. Teleponnya diangkat pada deringan kedua. Mei bahkan menjawab telepon dari Jiro dengan nada sedikit ketus. Sial! Apa yang terjadi dengan wanita itu?

“Mei, bisakah kamu pindah sementara ke rumahku?”

“Enggak. Kenapa aku harus pindah? Aku memang menyayangi Ellie, tapi yang seharusnya berada di sana dan menemani masa kehamilannya adalah kamu, Jiro. Bukan aku.”

“Mei, Tolong. Situasi sedang tidak kondusif.”

“Apa maksudmu dengan situasi yang tidak kondusif? Kamu jangan mencari-cari banyak alasan untuk membenarkan apa yang sedang kamu lakukan.”

“Aku tidak mencari banyak alasan, Mei!” Jiro berseru keras. “Apa kamu tahu, siang ini, Bianca masuk rumah sakit? Dia ditabrak oleh perempuan gila yang mengaku sebagai fans fanatik kami. Kamu pikir aku mau kejadian itu menimpa Ellie?”

“Astaga.” Mei tampak sangat terkejut.

“Ada banyak hal yang harus aku jelaskan Mei, aku memiliki alasan kenapa aku menolak membawa Ellie masuk terlalu jauh ke dalam duniaku.”

“Jiro.”

“Tapi aku bukan tipe orang yang pandai bicara. Aku tidak tahu harus menjelaskan seperti apa dan darimana.”

“Maaf, aku mengerti.” Akhirnya Jiro mendengar suara Mei tanpa keketusan dari wanita itu.

“Sekarang kumohon, pindahlah sementara ke rumahku. Jangan pernah tinggalin Ellie sendiri. mungkin, aku tidak akan pulang beberapa hari kedepan. Tolong, hanya kamu yang bisa kupercaya untuk merawat Ellie melebihi siapapun.”

Terdengar helaan napas panjang dari seberang. “Ya. Aku akan lakukan apa yang kamu mau. Tapi Jiro, apapun itu, kamu harus ingat, bahwa Ellie begitu membutuhkanmu. Hubunganku dengannya memang sangat dekat, tapi tak ada yang dia inginkan kecuali selalu berada di sisimu setiap saat. Kamu harus mengerti hal itu, Jiro.”

“Ya. Aku mengerti, dan aku sedang berusaha untuk mewujudkannya.”

“Maksudmu?”

“Mungkin aku akan mengundurkan diri dari The Batman, secepatnya, bahkan sebelum kontrakku berakhir.”

“Jiro!” Mei berseru keras. “Itu akan menjadi hal yang paling keren yang pernah kamu lakuin. Kalau kamu melakukannya.”

“Ya. Aku akan melakukannya. Untuk Ellie.”

Mei bersorak gembira. Jiro bahkan menjauhkan ponselnya dari telinganya. “Ya ampun, kamu benar-benar jatuh cinta sama Ellie, ya?”

“Enggak.”

“Ayolah…”

“Mei, secara teknis aku ini boss kamu. Sekarang, dari pada kamu membahas masalah pribadiku, lebih baik segeralah pindah ke rumahku.”

“Oke. Ya ampun, nggak tahu kenapa aku seneng banget.”

Jiro menggelengkan kepalanya, dan tanpa basa-basi ia mematikan ponselnya begitu saja. Jiro menghela napas panjang. Benarkah jalan ini yang harus ia ambil? Melepaskan semuanya untuk seorang Ellisabeth Julia Williams? Jika dengan ini Ellie percaya lagi dengannya, jika dengan keluar dari The Batman membuat wanita itu kembali lagi ke sisinya, maka Jiro akan melakukannya. Ya, ia akan melakukan apapun agar Ellie setia berada di sisinya.

***

Setelah Bianca masuk rumah sakit, situasi semakin tak terkendali. Jason seperti orang stress yang bahkan tak mau melangkahkan kakinya keluar dari ruang inap Bianca sebelum wanita itu sadar. Sedangkan media semakin menggila. Sosial media gempar dan viral tentang kabar simpang siur tentang fans The Batman yang brutal dan lain sebagainya.

Hal tersebut membuat Jiro, Ken dan Troy harus menghindar sementara dari publik. Beberapa jadwal mereka batal karena Jason dengan seenaknya sendiri menolak untuk hadir dan menjadi orang yang paling tidak profesional.

Meski begitu, para personel The Batman lainnya cukup mengerti keadaan Jason. Mungkin Jason merasa bersalah, mungkin Jason merasa tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi hal serius yang akan menimpa Bianca. karena jika Jiro berada di posisi Jason, maka Jiro akan melakukan hal yang sama.

Malam ini, setelah dua hari berlalu, Jiro, Ken dan Troy memutuskan untuk mengunjungi Bianca dan juga Jason. Mungkin sedikit menghibur temannya itu agar tidak terlalu tenggelam dalam rasa bersalahnya.

“Kalian kesini?” pertanyaan itu terucap dari Jason yang tampak terkejut dengan kehadiran mereka. Jiro melihat wajah Jason yang tampak lelah, temannya itu seperti baru bangun dari tidurnya dengan posisi duduk di sebelah ranjang rawat inap Bianca.

“Ya. Mau nemenin elo.” Jiro yang menjawab. Ia mendekat ke arah Jason dan menatap Bianca yang masih terkulai tak sadarkan diri di atas ranjangnya.

“Kok kalian bisa masuk? Jam besuk kan sudah habis.” Tanya Jason lagi, sembari melirik jam tangannya.

“Apa gunanya jadi terkenal kalau nggak bisa membujuk satpam atau suster yang jaga.” Troy yang menjawab, dan jawaban tersebut sedikit mencairkan suasana.

“Gimana keadaannya?” tanya Ken yang juga ikut mengamati Bianca yang masih tak bergerak sedikitpun.

“Sudah dua hari. Tapi dia belum sadar juga.” Ucap Jason dengan nada putus asa.

“Jase.” Troy menepuk bahu Jason, seakan memberikan kekuatan untuk temannya itu.

“Dia sedang hamil, Troy. Dia sedang mengandung anak gue. Dan dia celaka karena gue.” Jason sungguh tak dapat mengenyahkan rasa bersalahnya.

Sejak Dokter mengatakan keadaan Bianca yang sebenarnya, rasa bersalah Jason meningkat berkali-kali lipat. Beruntung, tak ada sesuatu yang serius terjadi dengan kehamilan Bianca. hal itu pulalah yang membuat Jason bahkan tak ingin beranjak dari kamar inap Bianca. Padahal Papa dan Mama Bianca meminta Jason pulang tapi Jason menolaknya. Jason juga sudah tak peduli lagi dengan jadwalnya menjadi publik figur, yang ia pedulikan saat ini hanya Bianca, ia berjanji tak akan keluar dari ruangan tersebut sebelum Bianca membuka matanya.

“Sial! Perempuan-perempuan itu benar-benar gila!” Troy mengumpat kesal.

“Terus, keadaan dia gimana?” kali ini Jiro yang bertanya.

“Bayinya baik-baik aja. Tapi Bee belom sadar juga dari kemarin.”

“Elo harus tenang, Jase. Elo harus sabar. Semua akan baik-baik saja, oke?” Ken menenangkan Jason.

Jason berdiam sebentar, lalu ia menatap intens pada diri Bianca yang masih menutup matanya rapat-rapat.

“Gue sudah memikirkan semuanya.”

“Tentang?” Jiro bertanya.

Jason menghela napas panjang. “Gue akan berhenti dari The Batman. Gue akan fokus sama dia, nikahin dia, jagain dia. Gue nggak mau profesi gue ngebahayain dia. Kalian tetap bisa lanjut, cari pengganti gue dengan warna suara yang sama. Lagu-lagu gue, kalian bisa pakai, karena gue nyiptain semua itu untuk The Batman.” Lalu Jason menggelengkan kepalanya. “Tapi gue nggak bisa lanjut lagi. Gue rasa, semuanya sudah cukup. Gue akan berhenti.”

Jiro, Troy dan Ken sempat kaget dengan keputusan Jason. Mereka memang ingin membahas tentang Band mereka nanti setelah keadaan Bianca membaik dan Jason sudah kembali lagi pada keadaan semula. Tapi Jiro, Ken dan Troy tak menyangka jika Jason akan mengambil keputusan seberani dan secepat ini.

“Elo yakin, Jase? Maksud gue, gue nggak mau elo nyesel nantinya.” Troy mengingatkan.

“Ya, gue sangat yakin. Gue sudah mikirin dari kemarin. Gue rasa sudah cukup apa yang gue dapetin selama ini dari The Batman.”

Jiro menepuk bahu Jason. “Kalau elo berhenti, gue juga akan berhenti dari The Batman.” Entah kenapa, mendengar Jason ingin berhenti dari The Batman membuat Jiro semakin memantapkan hatinya, bahwa ia juga harus segera mengakhiri semuanya.

“Jiro. Apa maksud elo?” tanya Jason tak mengerti. Jason bahkan sempat terkejut dengan pernyataan Jiro. Selama ini, Jirolah yang selalu tampak serius, sungguh-sungguh dengan karir mereka. Jadi Jason dan yang lain tak mengerti kenapa lelaki itu mengambil keputusan yang sama dengan dirinya.

“The Batman adalah milik elo. Elo sudah punya band itu sejak sekolah. Gue nggak akan lanjut pakai The Batman.”

“Tapi yang lain….”

“Gue juga akan berhenti.” Ken angkat suara.

Setelah menatap Ken, Jason lalu menatap ke arah Troy. “Well, nggak mungkin kan kalau gue nge-band sendiri? gue akan dukung apapun mau kalian.”

Guys, kalian nggak perlu sampai kayak gini. Kalian bisa lanjut tanpa gue.” Jason masih berharap jika teman-temannya tetap melanjutkan karir mereka.

“Gue mau jaga istri gue.” Ucap Jiro tiba-tiba. Semua yang berada di sana menatap ke arah Jiro seketika. Tentu saja, selama ini Jiro adalah orang yang paling misterius. Meski belakangan ini banyak gambar dan gosip yang menunjukkan bahwa Jiro tinggal atau sering mengunjungi seorang perempuan hamil, nyatanya sampai sekarang ini Jiro tidak pernah mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki istri.

Jiro hanya mengaku bahwa wanita itu adalah adiknya. Bahkan Troy sedang gencar mendekati adik Jiro tersebut. Tapi, pengakuan lelaki itu saat ini benar-benar membuat semua yang ada di ruangan tersebut tercengang, ternganga tak percaya bahwa apa yang dikatakan Jiro adalah kenyataan. Telebih lagi Troy, Ya Tuhan! Troy berharap bahwa Jiro sedang bercanda.

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 12

Comment 1 Standard

Bab 12

 

Dua minggu berlalu setelah kejadian menegangkan di malam itu. Ellie benar-benar melakukan apa yang wanita itu katakan. Ellie sama sekali tak peduli dengan Jiro. Bahkan wanita itu memilih tidak mempedulikan keberadaan Jiro saat Jiro sedang berada di rumah.

Semua semakin menyebalkan ketika Jiro tahu, bahwa Mei bersikap sama seperti sikap Ellie. Bahkan beberapa kali secara terang-terangan Ellie mengajak Mei dan Marvin makan-makan di rumahnya tanpa mengajak Jiro yang nyata-nyatanya berada dirumah tersebut.

Belum lagi kenyataan menyebalkan seperti yang dikatakan Troy, bahwa temannya yang brengsek itu rupanya beberapa kali sudah bertemu dengan Ellie, membuat Jiro geram saat secara terang-terangan Troy menceritakan pertemuannya tersebut kepada Ken saat mereka sedang latihan bersama.

Arrggghhh… Jiro merasa kepalanya nyaris pecah hanya karena memikirkan satu nama, yaitu Ellisabeth Julia Williams. Istrinya yang beberapa bulan terakhir menjelma sebagai sebuah virus yang merusak akal sehatnya.

Jiro mendengus sebal. Saat ini, Jiro tidak bisa banyak bertindak, ia hanya bisa diam bahkan ketika Ellie tak berhenti menyindirnya dan memojokkannya. Jiro memiliki sebuah alasan, dan ia akan berusaha mengendalikan dirinya agar tak ada yang mengerti, apa alasan sebenarnya ia tidak ingin mengakui Ellie didepan publik.

Jiro masuk ke dalam sebuah ruangan. Hari ini, ia memang dipanggil oleh manager The Batman. Ada sesuatu yang ingin dibahas oleh managernya tersebut dengannya. hanya dia, bukan dengan personel lain. Hal itu membuat Jiro bertanya-tanya, apa ia terlibat dalam sebuah masalah?

Fahri, si Manager meminta Jiro duduk di depan meja kerjanya. Kemudian lelaki itu mulai membahas apa yang baginya cukup penting hingga meminta Jiro menemuinya Empat mata.

“Lihatlah.” Fahri memberikan sebuah map. Jiro membukanya dan map tersebut berisi beberapa surat pengajuan. “Ada tawaran lagi.” Setelah perkataan managernya tersebut, Jiro menutup map sialan tersebut lalu mengembalikannya pada Fahri.

“Sudah kubilang. Aku menolaknya.”

“Jiro, tak bisakah kamu memikirkannya lagi?”

Jiro berdiri seketika. “Dengar. Aku bahkan ingin segera mengakhiri karir sialan ini karena terasa mencekikku. Jadi aku tidak akan membiarkan Ellie ikut terjun didalamnya.”

“Kamu yakin? Bukannya kamu dulu sangat berambisi untuk menjadi populer?”

“Aku sudah mendapatkannya. The Batman sudah berada dipuncak. Jadi setelah kontrak selesai, aku tidak akan memperpanjangnya.”

“Jiro, tolong.” Fahri memohon. “Aku tahu bahwa kamu tidak memerlukan uang lagi. Kepopuleran sudah tidak berarti untukmu. Tapi setidaknya, beritahu Ellie, bahwa dia memiliki kesempatan untuk menjadi seorang selebriti.”

“Dia tidak tertarik. Aku tahu bahwa dia tidak akan tertarik.”

“Jiro.” Fahri masih tak ingin mengalah.

“Demi Tuhan! Dia sedang hamil. Tak bisakah kalian berhenti mengganggunya?!” Jiro benar-benar murka.

Ini bukanlah pertama kalinya Jiro diminta untuk datang ke ruangan managernya dan membahas tentang Ellie, istrinya. Entah sudah berapa kali Ellie mendapatkan tawaran sejak foto-foto dan video wanita itu berdar di akun sosial media. Wajah Ellie yang rupawan tentu menarik minat beberapa produsen untuk menjadikannya seorang model dari brandnya. Dan Jiro tak akan membiarkan hal itu terjadi.

Ellie, wanita itu hanya miliknya. Kecantikan wanita itu hanya boleh ia nikmati, karena itulah Jiro tak ingin membaginya dengan publik.

“Bagaimana setelah melahirkan.”

“Tidak, Fahri!” Jiro berseru keras. “Sebagai suaminya, aku melarang keras. Jangan pernah menawarkan hal itu lagi padaku.” Jiro memperingatkan.

Fahri menghela napas panjang. Ia tidak bisa berbuat banyak. “Baiklah. Tapi ini…” Fahri menyodorkan map lainnya pada Jiro.

“Apa lagi?”

“Karena kontribusi Vanesha saat itu hingga membuat beritamu dan juga The Batman terangkat hingga mempengaruhi penjualan albummu, maka pihak management Vanesha menuntut timbal balik.”

Jiro mengerutkan keningnya. “Timbal balik? Bukankah saat itu kami sudah sama-sama diuntungkan? Dia bermain film saat itu.”

“Tapi filmnya tidak ramai, dan jauh dari kata sukses.”

“Itu bukan menjadi urusanku.”Jiro berkata dengan nada tajam.

“Jiro, kamu tidak bisa berbuat seenaknya. Mereka akan membongkar semuanya dan menyudutkan pihak kita.”

“Aku tidak peduli. Aku ingin segera lepas dari kontrak-kontrak sialan ini. Jadi, aku tak akan menerima lagi kontrak-kontrak baru lainnya.”

“Jiro.” Fahri masih tak ingin mengalah.

“Fahri, aku sudah menganggapmu sebagai temanku. Aku tidak ingin memperkeruh semuanya. Ellie sudah sangat membenciku karena aku belum bisa mempublikasikannya di depan umum. Bagaimana mungkin kamu memintaku untuk kembali berpura-pura mengencani Vanesha?”

“Kamu memiliki kesempatan untuk mengatakan hal itu seminggu yang lalu saat kita preskon. Tapi kenapa kamu tidak mengatakannya? Kenapa kamu memilih diam?”

“Karena aku tidak ingin media mengusik kehidupan pribadi kami.”

“Itu tidak masuk akal, Jiro! Kamu seorang selebritis, kamu harus siap dengan media-media yang usil. Katakan saja, bahwa kamu hanya tidak ingin mempublikasikan diri Ellie di hadapan publik. Kenapa? Kenapa kamu melakukannya?”

Jiro hanya diam. Ia tidak ingin menjawab. “Aku memiliki alasan yang tepat. Tapi itu tidak ada hubungannya denganmu.”

“Jiro…”

“Fahri. Bisakah sekali ini saja hormati keinginanku?”

Fahri menghela napas panjang. “Oke. Kontrakmu masih beberap bulan lagi. Setelah selesai, apa yang ingin kamu lakukan?”

“Menghilang.”

“Tidak mungkin. Kamu tidak akan mungkin bisa melakukannya.”

“Tapi aku akan melakukannya. Aku akan menghilang dari media.”

“Tidak adakah yang ingin kamu katakan pada para fansmu? Jiro, kamu tidak bisa selamanya menyembunyikan Ellie.”

Jiro hanya terdiam. Kemudian ia memilih segera pergi. Baginya, urusannya dengan Fahri sudah berakhir. Tak ada yang perlu dibicarakan lagi tentang tawaran untuk Ellie atau tawaran untuk skandal yang dibuat management tentang hubungannya dengan Vanesha. Jiro tak ingin membahasnya lagi.

***

Ellie merasa sebal saat ini.  Bagaimana tidak? Hari ini, ia merasa sedang di permainkan oleh Mei, karena tanpa sepengetahuannya, Mei menerima ajakan Troy untuk nonton dan makan malam bersama dengan lelaki itu. Padahal Ellie sudah jelas-jelas menolak permintaan Troy beberapa hari yang lalu.

Sejak lelaki itu mengantarnya pulang pada siang hari saat itu, Troy memang secara terang-terangan menunjukkan minatnya pada Ellie. Ketertarikan lelaki itu begitu jelas dan hal itu membuat Ellie tidak suka. Astaga, apa Troy sudah buta dengan keadaanya yang sedang berbadan dua saat ini? tapi di sisi lain, Ellie cukup merasa senang karena kehadiran Troy mampu membuat Jiro kelabakan.

Beberapa kali Jiro bertanya secara terang-terangan pada Ellie, apa Ellie jalan dengan Troy, dan dengan santai Ellie menjawab Ya. Padahal, Ellie dan Troy hanya bertemu beberapa kali, dan mereja tidak melakukan apapun karena mereka bersam dengan Mei juga. Malah, Ellie lebih banyak diam karena kurang suka dengan sosok Troy yang secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Ellie.

Meski begitu, hal tersebut mampu membuat Jiro murka. Ellie tidak tahu kenapa reaksi Jiro akan sekeras itu. Di satu sisi Ellie merasa bahwa Jiro begitu cemburu dengan kedekatannya dengan pria lain, entah itu Marvin atau Troy, tapi disisi lain, Ellie merasa bahwa Jiro tak peduli padanya dan tak memiliki perasaan apapun padanya. Hal itu cukup membut Ellie bingung.

“Jadi, kita ke mana lagi?” Troy yang bertanya ketika lelaki itu baru saja menghabiskan makanan penutupnya.

“Kita pulang saja, aku capek.” Ellie menjawab.

Mei berbisik kepada Ellie seketika. “Kamu yakin? Mungkin Jiro belum pulang. Dia nggak akan tahu kalau kamu jalan sama Troy.”

“Aku nggak peduli, Mei. Aku capek.” Ellie membalas pelan.

Mei menghela napas panjang. Mei benar-benar berharap bahwa setiap kali mereka jalan keluar dengan Troy atau Marvin, Jiro melihatnya. Mei tahu bahwa Ellie sebenarnya tidak suka dan kurang nyaman melakukan hal ini pada Jiro. Karakter Ellie dia sudah mengenalinya. Tapi setidaknya Mei ingin, Jiro paham bahwa Ellie sangat berharga dan patut untuk diperjuangkan, bukan diabaikan seperti sekarang ini.

“Ya sudah, kita pulang saja.” Akhirnya mau tidak mau, Mei setuju dengan perkataan Ellie.

Meski berat, Troy pun akhirnya menuruti keinginan dua perempuan di hadapanya tersebut. Setidaknya, Troy  senang karena hari ini ia bisa kembali jalan dengan Ellie, bisa mengenal wanita itu lebih dekat lagi meski sebenarnya Troy tak mendapatkan apapun karena Ellie nyatanya tampak sedikit terpaksa keluar bersamanya.

***

Troy mengantar Ellie hingga di halaman rumah wanita itu setelah ia lebih dulu menurunkan Mei di rumah perempuan itu tadi. Pada saat bersamaan Troy melihat mobil Jiro baru saja memasuki halaman rumah tersebut. Troy keluar dan pada saat bersamaan, Jiro juga keluar dari dalam mobilnya.

Secepat kilat Jiro menghampiri Troy dan bertanya dengan nada yang tak enak didengar. “Dari mana saja kalian?”

“Ayolah, Kita cuma nonton aja. Jangan jadi kakak yang posesif.” Troy menjawab dengan santai.

Sialan! Hampir saja Jiro mengatakan bahwa ia adalah suami Ellie bukan kakak Ellie, jika Ellie tidak keluar dari dalam mobil Troy dan menatapnya dengan tatapan tak suka. Jiro memilih mengabaikan Troy dan berjalan menuju ke arah Ellie.

“Sejak kapan kamu suka nonton sama dia?” tanya Jiro dengan nada tajamnya.

“Sejak suamiku kembali mengabaikanku seperti dulu.” Ellie menyindir.

“Ellie.” Sungguh, Jiro tidak ingin bertengkar dengan Ellie di hadapan Troy.

“Kenapa? Kamu hanya kakakku, jadi jangan ikut campur masalah pribadiku.”

“Aku bukan kakakmu! Aku…..” Jiro tak dapat melanjutkan kalimatnya. Ia teringat jika Troy masih berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Tidak! Ini belum saatnya ia mengatakan kebenaran tersebut. Belum saatnya….

“Kenapa? Kamu tidak berani mengatakannya?”

“Ellie, kita bisa membahas ini di dalam.”

“Tidak ada yang perlu dibahas, James. Aku lelah.” Dan setelah itu, Ellie memilih meninggalkan Jiro masuk ke dalam rumahnya.

“Oke, gue mau pulang, gue nggak mau ikut campur masalah kalian berdua.” Troy berkomentar sembari bersiap masuk ke dalam mobilnya.

“Ya. Elo memang nggak berhak ikut campur dengan urusan rumah tangga gue.” Setelah itu jiro pergi menyusul Ellie masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Troy, lelaki itu sempat membeku sesaat setelah mendengar pernyataan yang keluar dari bibir Jiro.

“Sial! Gue pasti salah dengar.” Troy menggumam sendiri sembari masuk ke dalam mobilnya. “Ya, gue pasti salah denger.” Lanjutnya lagi sebelum menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan halaman rumah Ellie.

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 11

Comments 2 Standard

Pertama-tama, aku terimakasih sekali karena masih ada yang menunggu atau membaca di blog aku ini. terimakasih banyak. karena itu, aku akan menghidupkan kembali blog ini dengan cara rutin Update. aku usahakan setiap hari 1 bab aku update setiap selesai jualan sampai hutangku lunas. btw, aku banyak nulis tapi memang banyak yang belum aku post di sini. jadi aku harap kalian mau baca yaa…..

 

“Ellie. Sebentar lagi akan ada konser besar yang akan ditayangkan secara langsung di beberapa stasiun Tv nasional. Mungkin bagi kamu atau yang lain, konser ini tak berarti, tapi bagiku, konser ini sangat berarti. Aku ingin fokus dan menyukseskan konser ini. karena bagiku, konser ini seperti titik balik saat The Batman berada di puncak kepopuleran.”

“Lalu?”

Jiro mengusap lembut pipi Ellie. “Setelah semuanya selesai, mungkin aku akan mengaku didepan publik.”

“Kamu yakin?” Ellie tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jiro.

“Mungkin.” Jiro masih kurang yakin dengan apa yang ia katakan “Ada beberapa kontrak yang tidak bisa dilanggar. Konsekuensinya aku harus membayar denda dan kontrak dibatalkan. Itupun kita harus mendiskusikannya dengan pihak management dan juga para personel The Batman lainnya.”

“Dan jika mereka menolak atau tidak sepemikiran denganmu?”

Jiro menghela napas panjang. “Maka aku harus keluar.”

Mata Ellie berbinar seketika. Jujur saja, Ellie memang kurang suka dengan pekerjaan suaminya yang menjadi anak band. Apalagi semenjak Jiro terkenal, Ellie merasa semakin jauh dengan lelaki ini. belum lagi kenyataan bahwa mereka tidak bisa kemanapun tanpa ada yang mengenali. Hal itu benar-benar membuat Ellie risih. Membayangkan bahwa Jiro akan vakum dari menjadi artis membuat Ellie senang. Tapi benarkah Jiro akan melakukannya? Membuang ambisinya selama ini hanya demi mengakui dirinya dan juga bayi mereka di depan publik?

***

 

 

 

Bab 11

 

Jiro menatap Ellie. Sebelah alisnya terangkat, menilai apa yang sedang bersarang di kepala cantik istrinya tersebut. “Kamu, terlihat senang.”

“Tentu saja.” Ellie menjawab dengan jujur. “Kalau boleh jujur, Aku memang senang jika kamu berhenti menjadi anak band.”

“Kenapa? Kupikir, banyak wanita yang ingin suaminya populer menjadi artis.”

“Tapi wanita itu bukan aku. Aku lebih suka memiliki suami dari kalangan orang biasa. Jadi aku bisa kemanapun sesuka hati dengannya tanpa merasa risih atau cemburu jika ada yang terang-terangan mengaguminya.”

“Hanya itu?”

“Dan setidaknya, jika suamiku orang biasa, aku tidak perlu disembunyikan seperti seorang simpanan.”

Jiro sedikit tersenyum. “Kamu mulai lagi, Ellie.”

“Mulai apa?”

“Menyindir dengan mulut manismu.” Jiro menghela naps panjang. Ia menatap ke arah langit-langit kamarnya. “Aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan. Tinggal selangkah lagi. Setelah The Batman menyelesaikan konser akbar nanti, maka kupikir, semua sudah tuntas. Aku sudah sangat puas berada pada titik tertinggi pencapaian yang ingin kucapai.”

“Jadi, kamu benar-benar ingin berhenti?” tanya Ellie masih dengan tak percaya.

Jiro menatap Ellie seketika. Ia bahkan sudah menggenggam telapak tangan Ellie. “Dengar. Aku butuh kamu untuk mendukungku. Menuju konser, aku akan sangat sibuk. Dan setelahnya, aku akan menyelesaikan semuanya.”

Ellie terpana dengan janji yang diberikan Jiro. “Kamu janji, James?” tanyanya lagi.

Jiro menganggukkan kepalanya. “Ya, aku janji, Ellie. Aku janji, asalkan kamu mau bersabar, sedikit lagi.” Ucap Jiro dengan lembut.

Ellie tersenyum manis. “Tenntu saja. Aku akan bersabar. Aku akan bersabar lebih lama lagi untukmu, James.”

Dan setelah itu, Jiro tak kuasa menahan diri untuk mencumbu bibir ranum istrinya. Ranum dan manis. Jiro senang, dan Ellie menikmatinya. Keduanya berciuman, bercumbu mesra dengan lembut dan penuh kebahagiaan.

***

Dua bulan kemudian…

Konser yang dikatakan Jiro sudah berakhir sekitar sebulan yang lalu, tapi tetap saja, Jiro belum melaksanakan janjinya hingga kini. Ellie sendiri tidak tahu apa yang ditunggu lagi oleh lelaki itu. Padahal, malam itu Jiro berkata bahwa Jiro akan segera mengumumkan statusnya dihadapan publik, bahkan jika konsekuensinya ia harus keluar dari The Batman. Tapi nyatanya?

Hal itu membuat Ellie sebal. Apalagi kenyataan jika Jiro sepertinya kembali menjadi sosok yang menyebalkan. Lelaki itu kembali jarang pulang dengan alasan kesibukan. Ellie benar-benar kesal. Sesekali Ellie mengusap perutnya yang sudah semakin besar. Usia kandungannya sudah hampir Tujuh bulan. Semakin mendekati masa persalinan membuat Ellie semakin gelisah. Apalagi saat ia berpikir bahwa ia sendiri. Ellie merasa bahwa Jiro tak benar-benar setia berada di sisinya.

Ellie menghela napas panjang, hal itu membuat Mei yang berada di sebelahnya menatap ke arahnya.

“Ada apa?” Mei bertanya. Mei khawatir jika Ellie merasa sakit atau sejenisnya. Akhir-akhir ini, Ellie memang sering murung. Padahal saat itu, Ellie sempat bercerita pada Mei jika wanita ini akan mendukung Jiro hingga lelaki itu vakum dari The Batman.

“Enggak.” Ellie menjawab pendek.

“Kalau kamu capek, biar aku senidri yang turun dan belanja.”

Ya, saat ini memang waktunya Ellie dan Mei belanja kebutuhan mingguan di salah satu supermarket langganan mereka.

“Aku ikut.” Dan akhirnya, saat mereka sudah sampai di parkiran supermarket, Ellie memilih ikut keluar dan ikut berbelanja bersama dengan Mei. Ya, setidaknya dengan belanja bersama, Ellie bisa melupakan kegalauan hatinya untuk sementara waktu, melupakan tentang Jiro tentang hubungan rumit mereka.

***

Troy sedang bersama dengan asisten pribadinya yang bernama Miko saat mereka akan menuju ke tempat meeting. Sial! Meeting kali ini tentu untuk membahas tentang The Batman. Karena Jason yang sesuka hati mengumumkan tentang lamarannya di konser mereka kemaren, Jason dan yang lain diburu oleh wartawan untuk menggali kebenaran berita itu. Bahkan hal itu membuat gosip tentang Jiro dengan seorang perempuan di ancol meredup.

Mereka akan membahas beberapa masalah, tentang kontrak dan ketentuan sialan dalam management mereka yang melarang tentang publikasi hubungan dengan lawan jenis kecuali management sendiri yang sengaja menciptakan skandal itu seperti skandal Jiro dan Vanesha.

Kemungkinan, pihak management akan memberikan kelonggaran, dan membiarkan mereka mempublikasikan hubungan mereka dengan pasangannya dengan beberapa kebijakan. Hal itu tentu tak berpengaruh dengan Troy, karena ia tidak memiliki hubungan special dengan lawan jenis. Ia tidak memiliki pasangan. Berbeda dengan Jason yang memiliki Bianca, dan juga Ken yang memiliki Kesha.

Troy mendengus sebal. “Mik, mampir ke supermarket. Kita beli rokok.” Dan akhirnya, Miko menuruti kemauan Troy.

Sampai di sebuah supermarket, Miko turun dan masuk ke dalam supermarket tersebut. Sedangkan Troy memilih di dalam mobil sembari memainkan ponselnya. Beberapa menit berselang, Miko tak juga kembali, rupanya supermarket tersebut sedang ramai pengunjung, terlihat dari parkirannya yang penuh. Saat troy mengamati parkiran supermarket tersebut, saat itulah ia melihat sosok itu.

Sosok tersebut terlihat berbeda dengan rambut berwarna kuning kemerahannya. Kulitnya putih pucat, dan tubuhnya terlihat mungil. Troy juga melihat dengan jelas perut buncit wanita itu. Rupanya wanita itu benar-benar sedang hamil.

Itu adalah sosok yang Troy kenal sebagai adik Jiro. Beberapa bulan yang lalu Troy sempat melihat gosipnya di salah satu akun gosip populer di sosial media. Troy masih mengingatnya dengan jelas. Dan saat itu, Jiro mengonfirmasi jika itu adalah adiknya yang sudah bersuami.

Meski tampang dan perawakan wanita itu tak mirip dengan Jiro, tapi Troy percaya dengan apa yang dikatakan temannya itu karewa wanita itu adalah wanita bule, seperti Jiro. Lagipula, Jiro tak mungkin sudah menikah seperti yang digosipkan sampai mereka tak tahu menahu tentang istrinya itu, yang benar saja. Wanita mana yang mau disembunyikan bertahun-tahun lamanya apalagi dalam keadaan hamil seperti itu.

Akhirnya, Troy bersiap keluar. Persetan dengan status wanita itu yang sudah menikah, persetan dengan keadaannya yang tengah hamil besar, dan juga persetan tentang banyak orang yang akan memperhatikannya nanti. Nyatanya, Troy tak dapat membohongi dirinya sendiri jika dirinya tertarik dengan wanita itu. Dan ketika Troy sudah tertarik, maka ia akan berusaha untuk mendapatkannya.

Sembari mengenakan kacamata hitamnya, Troy keluar dari dalam mobilnya kemudian ia menuju ke arah perempuan berambut kuning kemerahan tersebut. Rupanya wanita itu sedang bersama dengan wanita lainnya dan sedang kesusahan karena ban mobil mereka kempes.

“Haduuhh, kenapa sih pas saat seperti ini?” perempuan berambut kuning kemerahan itu mengeluh.

Troy sedkit menyunggingkan senyuman miringnya karena merasa bahwa dewi fortuna sedang berpihak padanya. Troy mendekat kemudian bertanya “Ada yang bisa kubantu?”

Kedua wanita itu menatap ke arah Troy dengan wajah ternganga masih-masing. Sungguh, jika saat ini Troy tak sedang bersikap sok cool, maka ia akan tertawa terbahak-bahak menertawakan ekspresi kedua wanita di hadapannya tersebut. Lucu, sangat lucu dan menggemaskan.

***

“Troy?” Mei yang membuka suaranya setelah ia sadar dari keterkejutannya.

“Ya, aku.” Troy menjawab. Troy bahkan sudah melirik ke arah Ellie, dan Ellie memilih membuang mukanya ke arah lain.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Mei kemudian.

“Aku beli rokok, dan aku melihatnya di sini. Maka aku menghampiri kalian.” Ucap Troy sembari menunjuk ke arah Ellie.

“Kamu kenal dia?” tanya Mei lagi.

“Ya.” Troy yang menjawab.

“Tidak.” Ellie juga ikut menjawab. Keduanya menjawab secara bersamaan hingga membuat Mei mengerutkan keningnya. Memicingkan mata ke arah keduanya.

“Aku nggak pernah merasa kenal sama kamu.” Ellie berkata dengan nada ketusnya.

“Tapi aku mengenalmu. Jiro sudah menceritakan tentang dirimu pada kami.”

Ellie menatap Troy seketika. “Jangan bohong.”

“Aku nggak bohong, kalau tidak, ngapain aku susah-susah menghampiri kalian di depan umum dan menjadi bahan perhatian pengunjung supermarket?”

Ellie dan Mei segera mengarahkan pandangannya ke seluruh penjuru. Rupanya, apa yang dikatakan Troy benar. Banyak yang sedang mengamati mereka, bahkan terang-terangan memotret kebersamaan mereka. Hal itu membuat Ellie semakin kesal.

“Lagi pula, kamu ngapain repot-repot mendatangi kami? Bikin susah aja.”

“Kan aku sudah bilang, itu karena aku sudah mengenalmu dari Jiro. Karena aku lihat kalian sedang kesusahan, makanya aku mendatangi kalian untuk membantu.”

“Bagus kalau begitu.” Mei bersorak. “Kamu bisa antar Ellie pulang duluan, biar aku cari bantuan untuk mengganti ban mobil ini. kasihan, Ellie pasti lelah.”

“Well, itu memang yang kuinginkan.”

“Mei, kamu apaan sih? Aku nggak mau. Lagi pula, kenapa nggak minta tolong sama dia saja buat gantiin Ban nya?” Ellie mendengus sebal.

“Ellie, dia artis papan atas. Gila aja kalau minta dia gantiin Ban di tempat seperti ini.” Mei berbisik pada Ellie.

“James juga artis papan atas, tapi aku yakin jika dia tidak akan malu dan menolak melakukan hal itu.”

“Tapi sepertinya ide Mei lebih praktis, mengingat saat ini publik semakin ramai, artinya kita harus segera meninggalkan tempat ini.” ucap Troy sembari mengingatkan Ellie tentang orang-orang di sekitar mereka yang semakin ramai memperhatikan keberadaan mereka.

“Kalau kamu pergi, mereka juga akan pergi. Jadi pergi saja sana. Aku akan menunggu Mei di sini.” Ellie berkata dengan nada ketus.

Troy tersenum. “Kamu yakin sekali. Tentu saja mereka nggak akan pergi. Kamu kan adiknya Jiro, tentu mereka ingin tahu banyak tentang kakak kamu yang sama populernya denganku.”

“Apa?” Ellie berharap dia salah dengar. Adik? Apa lelaki ini sinting?

“Ya. Ada yang salah dengan ucapanku?”

“Kenapa kamu bisa mengira bahwa aku adalah adiknya James?”

“Sudah aku bilang, bahwa Jiro sudah mengenalkanmu pada kami, teman-teman sebandnya. Bahwa kamu adalah adiknya yang sudah bersuami dan tengah hamil. Apa salah kalau aku memcoba membantu adik dari temanku sendiri?”

Wajah Ellie memucat seketika. Ia tidak menyangka jika Jiro akan melakukan hal itu. Mengenalkan dirinya sebagai adik pada teman-temannya. Ellie mengerti jika Jiro belum siap mengakuinya di depan publik, tapi di depan teman-teman sebandnya? Ellie benar-benar tidak mengerti, kenapa Jiro harus menutupi statusnya hingga seperti ini? apa Jiro benar-benar ingin terlihat sebagai seorang lajang di depan semua orang?

***

Ellie masih termenung dalam duduknya. Sesekali ia mengusap perutnya yang sudah semakin membesar. Dan hal itu tak luput dari perhatian Troy. Troy ingin membuka suara tapi sejak tadi Ellie tampak menampilkan ekspresi tak bersahabatnya. Hal itu membuat Troy ragu dengan apa yang akan ia perbuat.

Troy akhirnya memilih mengemudikan mobilnya. Persetan dengan Miko yang akan kebingungan mencarinya. Tadi, ia meninggalkan supermarket tanpa sepengetahuan Miko, untung saja si Miko tak serta membawa kunci mobilnya hingga Troy bisa pergi sesuka hati dengan Ellie yang duduk di sebelahnya.

“Jadi, mau langsung pulang, atau kita mampir makan dulu?” Troy mulai membuka suara. Ia bukan tipe pendiam seperti Jiro maupun Ken. Ia suka bicara, ia suka melakukan apapun yang ia inginkan. Dan saat ini, Troy ingin menjalin hubungan lebih dekat dengan perempuan hamil di sebelahnya. Sialan! Sejak kapan perempuan hamil masuk dalam daftar perempuan yang menarik hatinya?

“Pulang saja.” Ellie menjawab pendek.

“Kamu tampak tidak suka. Kamu benci banget sama aku kayaknya. Apa kakak kamu sering cerita yang enggak-enggak tentang aku?” tanya Troy yang seketika itu juga membuat Ellie menatap ke arah lelaki itu.

Kakak? Lagi-lagi Troy menyebut Jiro sebagai kakaknya. Ellie benar-benar kesal dengan kenyataan itu.

“James, nggak pernah bercerita tentang kalian.”

“Lalu, kenapa kamu tampak membenciku?”

“Kamu tampak seperti seorang perayu, dan aku tidak suka dirayu. Aku sudah bersuami.”

Troy tersenyum. “Wah, tipe kesukaanku.” Komentarnya. “Dan, mana suamimu?”tanya Troy kemudian.

Ellie membuang wajahnya ke arah lain. “Dia meninggalkanku.” Hanya itu yang dapat dikatakan oleh Ellie. Jika Jiro tak ingin mengakui dirinya di depan teman-teman lelaki itu, maka Ellie juga tak ingin menunjukkan bahwa Jirolah suaminya. Ya, itu yang terbaik.

***

Siang itu, Troy benar-benar merasa lega, karena setelah kemarin ia dan semua kru dan juga personel The Batman melakukan meeting, management memutuskan bahwa mereka diperbolehkan mengumumkan hubungan mereka dengan pasangan mereka di depan publik. Nyatanya, hanya Jason yang melakukannya.

Jason mengumumkan bahwa temannya itu sudah memiliki kekasih bernama Bianca, bahkan sudah melamar Bianca dan lamarannya diterima. Sedangkan Ken tidak mengatakan apapun. Pun dengan Jiro. Hingga gosip tentang Jiro yang sudah menikah tentu hanya sebuah bualan semata. Jika Jiro benar-benar memiliki istri, lelaki itu pasti akan mengumumkannya pada momen tadi siang. Nyatanya Jiro hanya diam. Dan Ellie, sudah pasti bukan istri Jiro seperti yang digosipkan. Hal itulah yang membuat Troy merasa lega.

Ellie berkata jika suami wanita itu meninggalkannya, dan Troy merasa bahwa Troy ingin mengenal lebih dekat sosok Ellie yang merupakan adik Jiro tersebut.

Saat Troy menuju ke studio musik tempat mereka latihan, saat itulah ia berjalan berdampingan dengan Jiro.

“Suntuk banget muka elo.” Troy berkomentar. Meski Jiro jauh lebih tua dibandingkan dirinya, nyatanya Troy tetap menganggap bahwa mereka seumuran.

“Elo nggak usah ganggu gue.”

Troy tertawa lebar. “Hahaha siapa juga yang mau gangguin elo. Mending ganggu adek elo.”

Jiro menghentikan langkahnya seketika. Apa maksud Troy? Kemudian dengan cepat Jiro menyusul Troy dan dia bertanya dengan nada tajamnya. “Apa maksud elo dengan ganggu adek gue?”

“Ellie. Namanya Ellie, kan?” goda Troy.

Dengan segera Jiro mencengkeram kerah kaus yang dikenakan Troy. “Sialan! Dari mana elo tahu? Jangan coba-coba…”

“Bung.” Troy melepas paksa cengkeraman tangan Jiro. “Gue nggak seberengsek yang elo kira. Gue Cuma pengen kenal dia lebih dekat, apa salah?”

“Salah! Dia sudah bersuami.”

“Gue tahu.”Troy menjawab cepat. “Dia sudah bilang. Lagian, suaminya brengsek karena sudah ninggalin dia. apa salah kalau gue datang untuk mengobatinya?”

“Elo jangan sok tahu!” Jiro semakin murka.

“Hahahaha, sok tahu? Gue dengar sendiri dari mulutnya.” Dengan santai troy menuju ke arah kursi drummernya. “Dan Elo sebagai kakak, Sialan! Elo nggak ada hak buat ngelarang dia bahagia dengan lelaki lain dan melupakan suaminya yang brengsek itu.” Lanjut Troy lagi.

Jiro tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya ia memukuli wajah temannya yang sok kegantengan itu, tapi Jiro berusaha mengendalikan dirinya. Ia ingin mendengar sendiri dari Ellie. Apa benar Ellie sudah bertemu dengan Troy? Apa benar Ellie sudah mengatakan hal itu pada Troy? Mengatakan bahwa ia sudah meninggalkannya?

***

Jiro sampai di rumahnya saat hari sudah gelap. Ia tidak mendapati siapapun di sana, hanya ada dua orag pengawal yang memang ia sediakan untuk berjaga di area rumahnya. Kemana Ellie?

Jiro memilih menghubungi Mei dan mencari tahu tentang keberadaan wanita itu.

“Kalian dimana?”

“Kami makan malam.” Mei menjawab dengan santai.

“Cepat pulang, aku sudah di rumah.”

“Dih, apaan sih. Suka banget ngatur-ngatur.” Mei berkomentar kemudian telepon di tutup begitu saja.

Sialan! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Mei seakan sedang memusuhinya?

***

Ellie pulang saat jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Ia tidak bersama dengan Mei, dia pulang sendiri dengan Marvin yang mengantarnya. Hal itu tak luput dari perhatian Jiro yang menatapnya dari dalam jendela ruang tengahnya. Dan Jiro semakin murka ketika menyadari hal tersebut.

Ellie masuk ke dalam rumah, sedangkan Jiro segera menghampiri Ellie dengan wajahnya yang sangar. “Dari mana saja kamu?” tanyanya dengan nada tajam.

“Kamu sudah telepon Mei, kan? Kami makan malam.” Ellie menjawab dengan nada ketus. Ia bahkan memilih meninggalkan Jiro. Dan saat melewati suaminya tersebut, Jiro menghadangnya, mencengkeram pergelangan tangannya. “Ada apa lagi?” tanya Ellie kemudian.

“Dimana Mei? Kenapa kamu hanya berdua dengan si brengsek itu?”

“Dia mabuk, sudah pulang duluan. Makanya Marvin yang nganterin aku.”

“Mabuk? Kalian minum?” Jiro semakin murka.

“Apa aku terlihat seperti orang yang sudah minum-minum?” tantang Ellie. “Lagi pula, ini sudah bukan urusan kamu, James. Lepaskan aku.”

“Ini urusanku! Kamu istriku!” Jiro berseru keras.

Ellie menatap Jiro dan tersenyum mengejek kepada suaminya tersebut. “Istri ya? Lalu kenapa kamu bilang pada teman-temanmu bahwa aku hanya adikmu? Kenapa kamu tidak mengatakan kenyataan itu pada media tadi siang? Kenapa kamu hanya diam saja, James?!” Ellie menghempaskan cengkraman tangan Jiro. Entah ia memiliki kekuatan dari mana melakukan hal tersebut.

Jiro membisu dengan pertanyaan telak tersebut.

“Aku masih ingat, malam itu kamu berjanji, bahwa setelah konser sialanmu, kamu akan menyelesaikan semuanya. Tapi mana buktinya? Katakan padaku mana buktinya, James?!” Ellie mendorong dada Jiro sekuat tenaga agar lelaki itu menjauh darinya.

Jiro sendiri masih membatu, ia tidak bisa membalas apalagi menjawab apa yang dipertanyakan Ellie.

“Sekarang. Aku sudah berhenti peduli tentang karir sialanmu! Aku tak mau tahu lagi, dan aku harap, kamu melakukan hal yang sama.” Setelah ucapannya tersebut, Ellie memilih segera pergi meninggalkan Jiro masuk ke dalam kamarnya. Jiro hanya menatap kepergian istrinya itu dengan sebuah rasa aneh di dadanya. Rasa sakit, seperti ada sesuatu yang retak di sana. Ellie akan berhenti peduli padanya, dan ia diminta untuk melakukan hal yang sama. Bagaimana mungkin ia bisa melakukannya setelah apa yang sudah terjadi diantara mereka selama beberapa bulan terakhir?

-TBC-

Apa yang akan terjadi??? btw, My Beautiful mistress ini sudah tamat lohh, dan bisa dijumpai di google playbook. silahkan merapat kesana yang mau beli yaa….

My Beautiful Mistress – Bab 10

Comment 1 Standard

 

Bab 10

Sampai di rumah, Ellie segera bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia menuju ke arah lemari, mengambil baju santainya sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Ellie ingin membersihkan diri sebelum naik ke atas ranjang untuk beristirahat. Ia bahkan mengabaikan keberadaan Jiro yang sedang memperhatikan setiap gerak-geriknya.

Mungkin sekitar setengah jam kemudian, Ellie baru keluar dari kamar mandi. Wanita itu sudah tampak segar karena berendam cukup lama untuk menghilangkan rasa lelahnya. Berbeda dengan Jiro yang masih tampak tegang karena menunggu Ellie keluar dari dalam kamar mandi.

Jiro bangkit seketika saat melihat Ellie duduk di depan meja riasnya. “Sudah segar?” tanya Jiro sembari mendekat.

“Ya.” Ellie menjawab pendek. Ellie lebih memilih mengeringkan rambutnya sendiri di depan meja riasnya. Ia bahkan tidak mempedulikan Jiro yang mulai berjalan mendekat ke arahnya.

“Aku bingung, kenapa tiba-tiba sikapmu berubah seperti ini.”

“Berubah bagaimana?”

“Kupikir, kamu tadi sudah senang setelah aku mengajakmu jalan-jalan. Tapi tiba-tiba kamu berubah lagi. Apa aku membuat salah?”

Ellie menatap Jiro seketika. “Kesalahan utama kamu adalah, bahwa kamu tidak tahu dimana letak kesalahanmu.”

“Kamu marah karena aku tidak merasa bersalah?” Ellie tidak menjawab. Ia memilih membalikkan tubuhnya kembali menatap ke arah cermin. Tapi secepat kilat Jiro duduk di sebelah Ellie. Memutar kursi yang di duduki Ellie hingga menghadap ke arahnya. “Jika kamu marah tentang Vanesha, aku bisa menjelaskannya.”

Oh, Ellie bahkan melupakan tentang wanita itu padahal Jiro belum menjelaskan apapun tentang wanita itu. Kemarin, Ellie memang kesal karena wanita itu, tapi saat ini, bukan hal itu yang membuat Ellie kesal. Ellie sendiri tidak tahu bagaimana caranya mengatakan masalahnya pada Jiro.

“Vanesha mengira apartmenku adalah milik Troy, karena mereka pernah berkencan di sana. Dia mencari Troy di sana. Dan masalah kontrasepsi itu, semuanya milik Troy.”

“Tapi, bukannya dia kekasih kamu, ya? Aku sudah melihat gosipnya. Jadi kamu tidak perlu mengelak.”

“Ada beberapa gosip yang sengaja di buat oleh pihak management untuk menaikkan pamor artisnya. Saat itu, The Batman sedang mengeluarkan album baru, dan Vanesha sedang bermain Film layar lebar. Jadi, sangat tepat jika…”

“Aku tidak peduli, James.” Ellie menjawab cepat.

Jiro menggenggam kedua telapak tangan Ellie. “Aku sudah mengatakan, bahwa aku ingin kamu peduli.” Ucap Jiro penuh penekanan.

“Kenapa kamu menjelaskan semuanya padaku? Bagiku, tak ada bedanya, entah kamu benar-benar selingkuh dengan perempuan itu atau tidak. Nyatanya, aku hidup seperti seorang simpanan.”

“Nyatanya kamu bukan simpanan. Kamu istriku.”

“Katakan itu pada publik.” Ellie menantang.

Jiro membatu seketika. Jiro tak percaya jika secara terang-terangan Ellie menuntutnya sampai seperti ini. Jiro tidak bisa melakukannya, tidak sekarang, dan mungkin tidak akan selamanya.

Jiro menangkup kedua pipi Ellie. “Aku tidak bisa.” Jawabnya dengan jujur.

“Kalau begitu, lupakan.” Ellie akan memutar tubuhnya kembali, tapi Jiro menghadangnya, dan dengan kurang ajar, lelaki itu segera menyambar bibir Ellie. Mencumbunya, berharap Ellie melupakan kemarahannya.

Tapi sekuat tenaga, Ellie mendorong keras tubuh Jiro hingga tautan bibir mereka terputus.

“James!” Ellie berseru keras.

“Kenapa? Kamu berani menolakku sekarang?”

“Aku tidak pernah takut dengan kamu, James.” Ellie menjawab dengan tegas. “Tapi aku hanya diam selama ini. Seakarang, aku akan menyuarakan apa yang kuinginkan dan apa yang tidak kuinginkan.” lanjutnya.

“Jadi, apa kamu menolak ini.” Jiro kembali menangkup pipi Ellie lalu mencumbunya kembali.

Ellie mendorog lagi dan berseru sekali lagi “James!” tapi Jiro tak mau kalah, ia kembali menangkup pipi Ellie kemudian mencumbunya dengan penuh gairah. Jiro memang tidak suka saat Ellie bersikap membangkang padanya, tapi di sisi lain, Jiro tergoda dengan sikap Ellie yang berani seperti itu. Membuat Jiro tertantang, membuat Jiro menginginkan lebih.

Jiro masih mencumbu meski ia melihat Ellie meronta. Ia tidak akan menyakiti Ellie tapi ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan meski Ellie menolaknya. Jiro bahkan sudah memaksa Ellie berdiri tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Jemarinya dengan paksa sudah menelusup memasuki pakaian yang dikenakan Ellie, kemudian menggoda istrinya itu agar tidak lagi meronta. Dan benar saja, setelah gigih menggoda Ellie, akhirnya pertahanan Ellie runtuh.

Ellie menikmati setiap sentuhan Jiro, setiap cumbuan dari suaminya tersebut. Jiro tahu bahwa Ellie juga menginginkannya. Istrinya itu pasti dipengaruhi oleh gairah yang ia berikan, belum lagi hormon kehamilan yang membuatnya Ellie labil dan terpancing gairahnya. Ellie hanya berusaha menolak bukan karena tak ingin, tapi karena wanita itu ingin membuatnya kesal. Jiro tahu. Tapi Ellie salah, Jiro tak akan kesal, karena Jiro akan menuruti permainan wanita tersebut.

Sedikit demi sedikit, Jiro membawa tubuh Ellie menuju ke dekat ranjang mereka. Tanpa melepaskan tautan bibirnya, Jiro mulai membuka pakaian yang tadi baru saja dikenakan oleh Ellie. Ellie menuruti saja apapun yang dilakukan Jiro, Ellie benar-benar telah dipengaruhi oleh sebuah gairah yang tak dapat ia tolak.

Jiro melepaskan tautan bibir mereka saat dirasanya napas Ellie sudah terputus-putus. Ia kemudian tersenyum, menunduk, menempelkan keningnya pada kening Ellie.

“Aku benar-benar menginginkanmu, Ellie.”bisiknya dengan suara serak. “Jangan menolakku.”

Dengan spontan Ellie mengalungkan lengannya pada leher Jiro, kemudian ia berkata “Tidak. Aku tidak akan menolak.”

Ya. Jiro kembali merasa menang. Ellie tak dapat menolaknya, dan Jiro tak akan membuang waktu lagi sebelum pikiran wanita itu berubah dan kembali menjadi sosok pembangkang, penyindir dan juga pendiam yang membuat Jiro kesal.

Dengan cepat Jiro melucuti pakaiannya senidri satu persatu, ia juga membantu Ellie melucuti pakaian wanita itu sebelum kembali menyambar bibir ranum Sang istri.

Oh, Ellie begitu nikmat. Membuat Jiro merasa bodoh karena selama ini hampir tak pernah menikmati permainan panasnya. Ya, ia hanya akan melampiaskan hasrat seksualnya, tanpa menikmati prosesnya, hanya itu. Dan kini, Jiro tak ingin lagi seperti itu lagi.

Jika ia membutuhkan sebuah pelepasan, maka ia akan menikmati keseluruhan prosesnya seperti sekarang ini.

Bukannya mengajak Ellie naik ke atas ranjang mereka, Jiro memilih mendorong wanita itu menuju ke arah dinding terdekat. Jiro menghimpit Ellie diantara dinding. Mengangkat tubuh wanita itu agar sejajar dengan tinggi tubuhnya.

Ellie merasa bahwa Jiro begitu kuat, lelaki itu mengengkatnya dengan begitu perkasa, seperti Ellie seringan kapas. Padahal Ellie tahu bahwa bobot tubuhnya saat ini mulai bertambah karena kehamilannya. Hal itu semakin membuat Ellie mengagumi Jiro, membuat Ellie ingin selalu memiliki lelaki ini di sisinya untuk melindungi dirinya dan juga bayi mereka. Ahhh, andai saja Jiro sepeka itu.

Bibir Jiro masih mencumbu Ellie, sesekali melepaskan cumbuannya kemudian beralih pada leher jenjang Ellie. Dan ketika Jiro tak mampu menahan gairahnya lagi, ia mulai menyatukan diri masih dengan posisi berdiri.

“Ohhhh…” Ellie melenguh panjang ketika merasakan Jiro penuh mengisinya.

“Apa, aku menyakitimu?” tanya Jiro sedikit khawatir. Selama ini, Ellie bahkan tampak sulit mengekspresikan dirinya ketika mereka bercinta. Dan kini, Jiro melihat Ellie tampak kewalahan dengan gairah yang telah ia berikan.

Ellie menggelengkan kepalanya. “Tidak.” Jawabnya setengah mendesah.

“Kalau begitu, aku akan melakukannya.”

“Ya. Lakukanlah.”

“Lebih keras dari sebelumnya.” Ucap Jiro dengan mata yang menatap tajam ke arah Ellie.

“Apa?” Ellie tidak mengerti apa artinya lebih keras dari sebelumnya.

“Aku tidak bisa terlalu lama menahan diri.” Kemudian Jiro mulai menghujam keras, membuat Ellie mengerang seketika. “Aku begitu menginginkanmu, hingga rasanya nyaris meledak.” Jiro meracau. Sedangkan Ellie lebih memilih menikmati hujaman keras dari Jiro.

Biasanya, Jiro melakukanya dengan lembut, kadang dengan cepat, tapi tak pernah sekeras ini, seperti lelaki itu tidak bisa mengendalikan dirinya. Meski begitu, Ellie tidak merasakan sakit. Sensasinya membuat Ellie merasa terbakar, gairahnya semakin membumbung tinggi. Ya Tuhan! Ellie tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.

“Ellie.” Tanpa menghentikan pergerakannya, Jiro mencengkeram rahang Ellie kemudian menghadapkan wajah wanita itu ke arahnya. “Kamu hanya milikku! Kamu hanya miliku!” Serunya berkali-kali sebelum kembali menyambar bibir ranum Ellie, melumatnya dengan panas dan membawa diri mereka terbang ke puncak gairah yang tiada duanya…

***

Setelah percintaan panas mereka dan mendapatkan beberapa kali pelepasan, keduanya tertidur. Menjelang tengah malam, Ellie terbangun. Ia kelaparan karena melewatkan jam makan malamnya. Saat tengah gelisah di atas ranjangnya, Jiro terjaga dari tidurnya.

“Kamu bangun?” tanyanya dengan suara serak.

“Aku lapar.” Ellie menjawab dengan nada polos membuat Jiro tersenyum kemudian bangun dan segera bangkit.

“Mau pesan makan?”

“Tengah malam begini mana ada orang jualan?” Ellie menggerutu sebal. Ia benar-benar merasa kelaparan.

“Kalau begitu, aku akan membuatkanmu sesuatu.” Jiro bergegas pergi meninggalkan Ellie, sedangkan Ellie segera mengikuti lelaki itu. Tak lupa, Ellie mengenakan pakaian tidurnya karena ia tidak mungkin mengikuti Jiro dalam keadaan telanjang bulat.

Ellie sampai di dapur saat Jiro sudah mengeluarkan beberapa bahan makanan dari lemari pendingin. “Hanya ada telur dan sosis. Kamu mau dibuatkan apa?”

“Omlet saja.” Jawab Ellie sembari duduk di bangku yang ada di depan meja dapur.

“Yakin hanya itu? Nasi goreng nggak mau?”

“Tidak ada nasi. Kalau menunggu masak nasi dulu, aku keburu mati kelaparan.”

Jiro tersenyum sekilas. Hanya sekilas saja, kemudian ia kembali menampilkan wajah tanpa ekspresinya. “Baiklah, aku akan membuatkanmu Omlet.” Lalu Jiro mulai sibuk dengan masakannya, sedangkan Ellie memilih mengamati suaminya itu dari belakang.

Entah sudah berapa kali Ellie mengatakan bahwa Ellie benar-benar mengagumi sosok Jiro. Meski lelaki itu tampak mengabaikannya, nyatanya bagi Ellie, Jiro adalah satu-satunya lelaki yang ia kagumi. Ketampanan lelaki itu, kegagahannya, belum lagi sikapnya yang sedikit misterius membuat Ellie benar-benar jatuh pada sosok suaminya tersebut. Apalagi saat kini, Jiro memposisikan sebagai suami yang baik dan perhatian, sebagai calon ayah yang siaga, membuat Ellie seakan tak mampu berpaling dari sosok tersebut.

Meski begitu, Ellie tak ingin mengakuinya secara gamblang. Bagaimanapun juga, ia ingin membuat Jiro peduli dengannya, ia ingin merebut perhatian Jiro dengan cara yang tak biasa, jadi ia tidak ingin menunjukkan semua perasaannya pada lelaki itu kemudian membuat lelaki itu berrpikir bahwa Ellie tak memiliki kekuatan untuk melawannya. Tidak, Ellie tak ingin Jiro menyepelekannya seperti itu.

Saat Ellie sibuk dengan pemikirannya sendiri, saat itulah Jiro sudah berdiri menghadapnya dengan sebuah omlet yang memenuhi piring yang dibawanya. Jiro menyuguhkannya pada Ellie, tak lupa lelaki itu juga membuatkan Ellie segelas susu hingga membuat Ellie sempat terpana karena perhatian lelaki tersebut.

“Habiskan, lalu kita akan kembali tidur.”

“Kamu tidak lapar?” Ellie bertanya masih dengan wajah polosnya.

“Enggak.” Jiro menjawab pendek.

Karena Jiro berkata tidak lapar, maka Ellie tidak sungkan lagi menyantap omlet buatan Jiro dengan lahap. Sesekali Ellie meneguk susunya. Rasanya sangat enak. Jiro rupanya pandai masak, atau, apa karena ia terlalu senang mendapatkan perhatian seperti ini dari Jiro hingga makanan tersebut terasa sangat enak? Mungkin memang seperti itu.

Saat Ellie asyik manyantap makanannya, saat itulah Jiro kembali memperhatikan Ellie. Wanita di hadapannya itu tampak polos, tapi berani. Bukan perempuan yang mudah dimengerti. Kadang Jiro tak habis pikir, sebenarnya, apa yang sedang dirasakan Ellie? Apa yang diinginkan wanita itu?

“Jadi, apa hubungan Vanesha dengan Troy?” pertanyaan Ellie yang tiba-tiba itu membuat Jiro terkejut. Ellie tadi sempat bilang bahwa wanita itu tak mempedulikan tentang dirinya apalagi tentang Vanesha dan yang lainnya. Tapi kenapa wanita ini tiba-tiba bertanya padanya tentang hal ini? apalagi, Ellie menanyakan kalimat itu dengan santai dan masih menyantap makanannya tanpa menatap ke arah Jiro sedikitpun.

“Aku nggak tahu.”

“Kamu kan temannya Troy. Masa nggak tahu?”

“Dia kan banyak kencan sama perempuan, bukan hanya dengan Vanesha.”

“Wahhh, sepertinya semua anak band sama seperti itu ya?” Ellie kembali menyindir.

“Tidak semuanya. Aku nggak pernah kencan sama perempuan sembarangan.”

“Iya, karena kalau kamu sembarangan kencan, akan menjadi gosip. Suamiku ini kan paling anti digosipkan yang enggak-enggak.” Lagi-lagi Ellie menyindir Jiro.

“Ellie, kadang aku berpikir bahwa mulut kamu sangat tajam.” Jiro berkomentar.

Ellie tersenyum, ia kembali meneguk susunya sebelum berkata “Baguslah, kalau kamu berpikir seperti itu. Jadi kamu bisa berpikir dua kali jika ingin menciumku.”

Tanpa diduga, Jiro segera mengangkat dagu Ellie kemudian menyambar bibir Ellie. Jiro bahkan menggoda Ellie dengan cara menjilati bekas susu yang tertinggal di area bibir Ellie.

“Kamu salah, aku suka mencium bibir-bibir yang tajam.” Ucapnya sebelum melepaskan dagu Ellie.

Pipi Ellie merona seketika. Ia tidak menyangka jika Jiro akan berbuat senakal itu. Tapi Ellie mencoba mengendalikan dirinya. Ia tidak akan membuat Jiro kembali merasa menang lagi dengan perang psikis yang entah sejak kapan terjadi diantara mereka.

“Kenapa diam saja?” Jiro kembali menantang Ellie.

“Enggak.” Ellie kembali memakan omletnya. Sumpah demi apapun juga, Ellie tidak ingin melanjutkan makan malamnya. Astaga, Jiro begitu mempengaruhinya, ciuman lelaki itu serta godaannya tadi membuat Ellie meremang. Tapi di sisi lain, Ellie tidak ingin Jiro sadar bahwa lelaki itu begitu mempengaruhinya.

“Cepat habiskan makananmu, setelah itu kita tidur, sudah sangat malam.” Ucap Jiro sembari meningalkan Ellie menuju ke arah lemari pendingin.

Ellie tidak tahu bahwa Jiro juga terpengaruh dengan kedekatan mereka. Entah kenapa, sekarang setiap kali berdekatan dengan Ellie, Jiro merasa sesuatu terpantik di dalam dirinya. Jiro ingin memiliki Ellie lagi dan lagi, memperlakukan wanita itu dengan manis, membuat wanita itu merona-rona karena ulahnya. Tapi di sisi lain, Jiro ingin menolak perasaan menggelikan itu. Bagaimanapun juga, ia tidak ingin Ellie membuatnya candu. Jiro tak ingin terpengaruh lebih dari ini dan melakukan hal-hal di luar akal sehatnya seperti tadi. Ia adalah lelaki yang realistis, yang tidak ingin terbawa oleh perasaan, meski itu dengan istrinya sendiri. tapi dapatkah Jiro menahannya? Menahan perasaannya yang semakin hari semakin tak terkendali?

***

Saat keduanya sudah berada di ranjang mereka, keduanya tak segera tidur. Tampak sebuah kegelisahan diantara mereka. Ellie ingin membuka suaranya tapi ia tidak tahu apa yang ingin ia katakan dengan Jiro. Begitupun dengan Jiro. Jiro ingin membuka percakapan kemudian keduanya lelah karena saling bercerita dan tidur bersama hingga pagi, tapi Jiro tahu bahwa ia bukanlah tipe yang suka bicara. Jiro adalah tipe pendiam, kalaupun dia berbicara, dia akan berbicara seperlunya saja. Bukan berbasa-basi seperti lelaki kebanyakan.

Akhirnya, ketika Ellie tak dapat menahan rasa bosan dan rasa kesalnya akibat tak dapat tidur, Ellie memilih memiringkan tubuhnya ke arah Jiro kemudian mulai membuka suaranya.

“James, jika kebersamaan kita nanti masuk ke dalam akun gosip, apa yang akan kamu lakukan?” itu hanya pertanyaan iseng, tapi Ellie berharap Jiro menjawabnya dengan jawaban yang berbobot.

“Apalagi? Aku hanya bisa diam.” Ellie memutar bola matanya kesal. Seperti yang diduga, jawaban Jiro benar-benar tidak memuaskan.

“Kalau media ngejar-ngejar kamu bagaimana?” tanya Ellie lagi.

“Tinggal lari dan diam.” Lagi-lagi jawaban Jiro membuat Ellie kesal.

“Kalau mereka tak juga berhenti dan ngejar kamu terus dimanapun kamu berada bagaimana?” Ellie tidak ingin mengalah.

Jiro menatap Ellie seketika. “Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Ellie? Kamu ingin aku jujur dengan mereka? Jika itu yang kamu inginkan, maka itu tak akan terjadi.” Jawab Jiro dengan pasti.

Ellie merasa sakit dengan jawaban jujur tersebut. “Kenapa? Apa aku begitu memalukan untuk menjadi istrimu?”

“Ellie…”

“Kamu selalu meniduriku, James. Aku bahkan sudah mengandung bayimu. Begitukah penghargaan yang kamu berikan pada ibu yang mengandung anakmu?”

“Ellie, dengar. Semua butuh proses.”

“Tapi aku tidak suka prosesnya, James. Aku sudah muak. Aku sudah bosan. Ini sudah Empat tahun dan aku masih tetap jadi simpananmu.”

“Istri.” Jiro meralat. “Kamu istriku, bukan simpananku.”

“Ya, istri rasa simpanan.” Ellie membenarkan. Mata Ellie sudah berkaca-kaca. Bahkan beberapa bulir bening itu sudah jatuh dari pelupuk matanya.

Dengan spontan Jiro menghapus airmata Ellie. “Ada waktunya untuk mengakui semua. Tapi tidak sekarang, Sayang. Tidak saat ini.” Entah perasaan Ellie saja atau saat ini Jiro menjelma menjadi sosok yang sangat lembut. Ellie bahkan tidak dapat mengingat, apa Jiro pernah memanggilnya dengan panggilan ‘Sayang’ atau tidak.

“Lalu kapan? Aku, aku hanya tidak suka kenyataan bahwa kamu dikenal sebagai seorang lajang. Banyak perempuan memujamu, bahkan tak sedikit fans kamu yang menjodohkan kamu dengan artis perempuan lainnya. Aku tidak suka.”

“Ellie. Sebentar lagi akan ada konser besar yang akan ditayangkan secara langsung di beberapa stasiun Tv nasional. Mungkin bagi kamu atau yang lain, konser ini tak berarti, tapi bagiku, konser ini sangat berarti. Aku ingin fokus dan menyukseskan konser ini. karena bagiku, konser ini seperti titik balik saat The Batman berada di puncak kepopuleran.”

“Lalu?”

Jiro mengusap lembut pipi Ellie. “Setelah semuanya selesai, mungkin aku akan mengaku didepan publik.”

“Kamu yakin?” Ellie tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jiro.

“Mungkin.” Jiro masih kurang yakin dengan apa yang ia katakan “Ada beberapa kontrak yang tidak bisa dilanggar. Konsekuensinya aku harus membayar denda dan kontrak dibatalkan. Itupun kita harus mendiskusikannya dengan pihak management dan juga para personel The Batman lainnya.”

“Dan jika mereka menolak atau tidak sepemikiran denganmu?”

Jiro menghela napas panjang. “Maka aku harus keluar.”

Mata Ellie berbinar seketika. Jujur saja, Ellie memang kurang suka dengan pekerjaan suaminya yang menjadi anak band. Apalagi semenjak Jiro terkenal, Ellie merasa semakin jauh dengan lelaki ini. belum lagi kenyataan bahwa mereka tidak bisa kemanapun tanpa ada yang mengenali. Hal itu benar-benar membuat Ellie risih. Membayangkan bahwa Jiro akan vakum dari menjadi artis membuat Ellie senang. Tapi benarkah Jiro akan melakukannya? Membuang ambisinya selama ini hanya demi mengakui dirinya dan juga bayi mereka di depan publik?

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 18

Comment 1 Standard

 

 

“Katakan! Apa kau ingin aku tidur dengannya?” tanya Steve sekali lagi.

“Jika kau ingin menidurinya, maka silahkan saja! Kau pikir aku peduli denganmu?” masih dengan emosi, Jessie menjawab pertanyaan Steve.

Steve mundur satu langkah. “Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku akan melakukannya.”

“Ya. Pergi saja sana!” Jessie berseru keras. Ia bahkan sudah membalikkan tubuhnya membelakangi Steve. sedangkan Steve, ia mundur perlahan, tak menyangka jika dirinya begitu tak berarti untuk Jessie. Haruskah ia melakukan apa yang diinginkan oleh wanita itu?

Bab 18

Menjelang pagi, Steve baru pulang.

Sebenarnya, Steve ingin pulang ke apartmennya sendiri, tapi hatinya tidak bisa berkompromi. Ia terlalu khawatir dengan keadaan Jessie. Akhirnya Steve memilih pulang ke apartmen Jessie.

Masuk ke dalam, Steve mendapati Jessie tertidur di sofa ruang tengah. Kakinya melangkah dengan sendirinya menuju ke arah Jessie, berjongkok di hadapan wanita itu, lalu mengamatinya.

“Sial! Apa kau tidak bisa melihat keberadaanku, Jess? Bagaimana mungkin kau meminta suamimu untuk meniduri perempuan lain? Apa aku begitu tak berarti untukmu?”

Steve menatap Jessie dengan tatapan penuh luka. Baru kali ini ada seorang wanita yang membuatnya sakit hingga seperti ini. baru kali ini ia merasa tidak diinginkan oleh seorang wanita. Kenapa harus Jessie yang melakukannya? Kenapa harus wanita ini yang menyakitinya?

Steve tahu, bahwa sampai kapanpun, ia tidak akan bisa membenci Jessie. Wanita ini akan selalu menjadi wanita istimewa di hatinya, wanita yang akan selalu ia puja dalam diam. Tapi, apa Jessie merasakan perasaan yang sama dengannya?

Tanpa banyak bicara, Steve bangkit lalu meraih tubuh Jessie, menggendong wanita yang masih asyik tertidur pulas itu menuju ke kamar dan membaringkannya di atas ranjang. Jessie terjaga karena hal itu.

“Steve.” panggilnya.

Jessie terduduk, mengucek matanya. Sedangkan Steve segera menjauh, Steve membuka pakaiannya sendiri lalu memutari ranjang dan melemparkan diri di sisi lain dari ranjang tersebut.

Jessie hanya menatap apa yang dilakukan suaminya itu. Bahkan ia melihat Steve tidur miring memunggunginya. Steve tidak seperti biasanya. Kenapa? Apa lelaki itu benar-benar melakukan apa yang ia inginkan?

Sungguh, Jessie berharap jika hal itu tak terjadi. Setelah kepergian Steve tadi malam, Jessie tidak bisa berpikir jernih. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Steve. Apa benar lelaki itu akan menuruti kemauannya? Meniduri Donna Simmon?

Beberapa kali Jessie menghubungi Steve, meminta lelaki itu untuk pulang, tapi ponsel Steve mati. Jessie bingung dengan kegalauannya. Ia tidak bisa memikirkan jika Steve benar-benar tidur dengan wanita lain. Hingga akhirnya, Jessie tertidur di sofa ruang tengah apartmennya.

Kini, sudah menjelang pagi, Steve baru pulang. Tubuhnya bau alkohol, meski Jessie tidak mendapati bau parfum wanita tapi melihat kelakuan lelaki itu membuat Jessie tak tenang. Apa benar Steve melakukan apa yang ia inginkan? Meniduri Donna Simmon?

“Steve.” Jessie kembali melirih. Ia melihat Steve miring memunggunginya.

“Tidurlah, Jess.”

“Kau benar-benar melakukan apa yang kukatakan?” tanyanya nyaris tak terdengar. Jika Steve benar-benar melakukan hal itu, maka Jessie benar-benar hancur.

Tapi tak ada jawaban dari lelaki itu.

“Steve.” sekali lagi Jessie memanggil dengan suara lirihnya.

“Demi Tuhan, tidurlah.” Pinta Steve.

Yang bisa Jessie lakukan hanya menurut. Ia kembali terbaring. Miring memunggungi Steve. lalu air matanya tumpah begitu saja. Steve benar-benar melakukan apa yang ia katakan, Jessie tahu itu.

***

Jessie bangun saat matahari sudah membumbung tinggi. Ia bangun sendiri, tak ada Steve di sisinya. Jessie segera bangkit, ia menuju ke arah kamar mandi, membersihkan diri secepatnya, setelah itu ia keluar dari kamarnya. Jessie berharap setidaknya ia mendapati Steve di dapurnya, atau paling tidak lelaki itu sedang menontonn tv di ruang tengah, tapi nyatanya, lelaki itu tak ada di sana.

Dengan lemas kakinya melangkah menuju ke arah meja makan. Disana sudah disiapkan dua potong sandwich. Jessie tahu bahwa itu buatan Steve, tapi ia tidak mengerti kenapa Steve menghindarinya.

Jessie ingin bicara dengan lelaki itu. Membahas tentang masalah mereka. Ia tahu bahwa semalam ia terlalu emosi. Dirinya terlalu diliputi dengan rasa marah hingga tak sadar apa yang sudah ia ucapkan. Bahkan setelah kepergian Steve, Jessie baru menyadari kesalahannya.

Tak seharusnya ia meminta Steve meniduri wanita lain hanya karena ia merasa tak diistimewakan. Seharusnya ia lebih bisa mengendalikan emosinya. Tapi, setelah dipikir-pikir, semalam memang Steve dulu yang bersikap aneh padanya. Marah-marah tak jelas, dan apa? Astaga, Jessie bahkan melupakan fakta jika Steve menyebut-nyebut nama Henry.

Darimana lelaki itu tahu bahwa semalam ia bertemu dengan Henry? Apa jangan-jangan, Steve melihat kebersamaannya dengan Henry sore itu? Apa Steve salah paham? Astaga, tak seharusnya Steve salah paham. Bahkan Steve seharusnya berterimakasih dengan Henry karena malam itu Henry membuka kembali mata hati Jessie hingga Jessie menyadari satu fakta, bahwa hingga kini, perasaan Jessie terhadap Steve masih sama sebesar dulu…

“Apa yang terjadi denganmu, Jess? Katakan padaku.” Henry membuka suara ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil lelaki itu. Lelaki itu belum juga menyalakan mesin mobilnya. Mungkin Henry sedang ingin memperjelas semuanya.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku.” Jessie menjawab masih dengan terisak. “Tadi siang, kekasih Steve datang. Dan dia mengatakan kenyataan yang benar-benar menyakitiku.”

“Seperti apa?”

Jessie menggelengkan kepalanya.

“Kau tidak akan membaik jika menyimpan semuanya sendiri. Katakan padaku, apa yang dikatakan wanita itu padamu?”

“Steve meniduriku.” Jessie menghentikan kalimatnya, ia merasa ragu untuk melanjutkannya, tapi kemudian Jessie melanjutkan kalimatnya. “Seperti meniduri teman kencan semalamnya. Sedangkan dia tidak meniduri kekasihnya karena menghormati wanita itu.”

“Kau tidak terima dengan kenyataan itu?”

Jessie menghela napas panjang. “Ya. Aku tidak suka dia mengistimewakan perempuan lain, sedangkan aku dipandang sama dengan perempuan jalang teman kencan semalamnya.”

Henry tampak tersenyum. “Jadi, kau, benar-benar menyukainya, ya?”

Jessie menatap Henry seketika. “Henry, aku memang pernah menyukainya. Tapi itu dulu sekali. Dia cinta pertamaku. Tapi sekarang sudah beda. Maksudku, hubunganku dengannya sangat rumit.”

Henry meraih telapak tangan Jessie. “Kau, hanya memungkiri perasaanmu, Jess.”

“Tidak. Aku tahu apa yang kurasakan.”

“Lalu, apa perasaanmu semarah ini jika aku yang ada dalam posisi Steve? apa jika aku tidak menidurimu tapi meniduri wanita lain, kau merasa senang karena kuistimewakan.”

“Henry, semuanya berbeda.”

“Ya, berbeda Jess. Karena kau tidak mencintaiku sebesar mencintainya.” Henry menyahut cepat. “Kumohon. Jangan membohongi dirimu sendiri dan jangan membuatku menjadi orang tolol karena mencoba membohongi diriku sendiri.”

“Aku tidak bermaksud membuatmu tolol. Aku hanya….”

“Kau hanya takut mengakuinya.” Lagi-lagi Henry menjawab cepat. Kemudian Henry mengembuskan napas panjang. “Sejak awal kau mengenalkanku pada Steven Morgan, sejak saat itu aku sudah menaruh curiga. Hubungan kalian tidak masuk akal. Kalian sekan terikat dengan sesuatu yang tak terlihat. Kadang, aku bahkan merasa bahwa kau memiliki zona yang tak dapat kusentuh, sedangkan dia dengan mudah keluar masuk kedalam zona itu.”

“Henry…”

“Aku cemburu, Jess. Sangat. Dan itu sudah sejak lama. Tapi aku mencoba bertahan. Aku mencoba menelan mentah-mentah kecemburuanku dan bersikap seolah-olah dia adalah kakakmu yang menyebalkan. Tapi semakin hubungan kita serius, semakin aku sadar, bahwa aku tidak ada apa-apanya dimatamu daripada dia.”

Jessie menggelengkan kepalanya, tapi Henry melanjutkan kalimatnya.

“Tidak Jess. Aku sudah merasakan ini sejak lama, dan aku akan mengatakannya sekarang. Aku mencintaimu, sangat. Kau tentu tahu itu. Dan aku tahu, bahwa cintamu tak sebesar yang kumiliki untukmu.”

Jessie mulai meneteskan airmatanya. Henry benar. Ya, lelaki itu benar.

“Katakan dengan jujur, maka aku akan menerimanya. Aku akan menerima perpisahan kita jika kau mengaku bahwa selama ini kau tidak mencintaiku.”

“Tidak.” Jessie berkata cepat. “Aku mencintaimu. Sungguh.” Ya, Jessie jujur. Ia memang mencintai Henry. Karena itulah ia menerima lamaran lelaki itu.

“Tapi rasa cintamu padaku tak sebesar rasa cintamu padanya, Jess. Tolong, berkatalah dengan jujur padaku.”

Jessie hanya menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. “Aku… Aku…”

“Kau mencintainya, kan?”

Jessie memejamkan matanya frustasi. “Ya….” Desahnya.

Kali ini giliran Henry yang memejamkan matanya frustasi. Henry sudah curiga dengan kenyataan itu. Sudah sejak lama. Dan dia baru berani mengutarakan kecurigaannya hari ini. saat hubungan mereka sudah benar-benar berakhir.

“Aku minta maaf, aku hanya…’

“Bagaimana jadinya jika hubungan kita masih tetap berlanjut? Aku tahu bahwa itu tak akan baik. Aku tidak bisa membayangkan jika istriku masih selalu dekat dengan lelaki yang dicintainya. Aku tidak bisa membayangkan hal itu.”

“Maafkan aku…”

Henry menggelengkan kepalanya. “Semua sudah terjadi. Aku tahu ini yang terbaik untuk kita. Terimakasih kau sudah mau berkata jujur padaku.”

“Henry…”

“Jess.” Henry memotong kalimat Jessie. “Sudah malam, aku akan mengantarmu pulang.”

“Kau, akan menemuiku lagi?” jika tadi sore Jessie berpikir bahwa seharusnya Henry tak lagi menemuinya, maka malam ini ia ingin lelaki itu tetap menjadi teman terbaiknya. Astaga, lelaki ini benar-benar sangat baik, Jessie tak ingin kehilangan lelaki ini, meski status mereka hanya sebagai teman.

Henry menggelengkan kepalanya. “Apa yang kau katakan tadi sore benar. Seharusnya, aku tak lagi menemuimu. Itu akan menyakitiku. Jadi, mungkin aku tak akan menemuimu lagi sampai perasaanku benar-benar sembuh.”

“Maafkan aku…” lagi-lagi Jessie melirih.

“Tidak. Kau tidak salah. Mungkin memang seperti ini jalannya.” Lalu Henry mulai menyalakan mesin mobilnya, kemudian mengantar Jessie pulang.

Jessie menghela napas panjang. Ia memijit pelipisnya. Astaga, apa harus Henry yang menyadarkan tentang perasaannya kepada Steve? lagi pula, ini tak adil untuk Jessie, kenapa ia harus mengakui perasaannya ketika hubungan mereka sedang seperti sekarang ini?

Membayangkan bahwa kemungkinan tadi malam Steve meniduri Donna Simmon membuat Jessie tak tenang. Ya Tuhan! Ia harus menemui lelaki itu. Siang ini juga. Ia harus membahas masalah mereka sebelum semuanya semakin rumit.

***

Setelah berkonsentrasi penuh dengan pekerjaannya, akhirnya Steve memilih beristirahat sebentar. Proses pengambilan foto untuk salah satu majalah fashion terbesar di New York memang sedikit rumit. Steve harus berkonsentrasi penuh, ia tidak boleh main-main karena namanya yang akan menjadi taruhannya.

Saat Steve akan berjalan menuju ke ruang kerjanya, saat itulah salah satu krunya datang dengan seorang wanita di sebelahnya. Wanita berambut pirang yang sudah ia putuskan beberapa hari yang lalu, Donna Simmon.

Dengan penuh percaya diri, Donna berjalan ke arah Steve dan mengecup sisi kanan dan kiri pipi Steve. Steve sempat membatu karena ulah Donna, bahkan ia mengangkat sebelah alisnya, tak mengerti kenapa Donna bersikap seperti ini padanya, padahal terakhir kali mereka bertemu saat itu, Donna marah karena ia sudah memutuskan hubungan mereka secara sepihak.

“Aku tidak mengganggumu, bukan?”

“Tidak.” Steve menjawab pendek. “Ada masalah?” tanyanya.

“Bisa kita bicara di tempat lain?”

“Tentu. Ikutlah ke ruanganku.” Dan akhirnya, mereka menuju ke ruang kerja Steve.

***

Sepuluh menit berada di dalam ruangan berdua, dan Donna belum juga mengatakan apa niat wanita itu datang kepadanya. Sesekali Steve melirik ke arah jam tangannya. Hari ini bukanlah hari yang bebas, tapi ia juga tidak enak jika harus mengatakan hal itu pada Donna. Belum lagi suasana hati Steve sedang kacau jika mengingat tentang hubungan rumah tangganya dengan Jessie.

“Kau, tidak akan memulai apa yang ingin kaukatakan?” akhirnya Steve membuka suaranya.

“Sejujurnya…” Donna bangkit. Ia berjalan menuju ke arah Steve, dan duduk di meja kerja lelaki itu, tepat di hadapan Steve. hal itu kembali membuat Steve mengangkat sebelah alisnya.

Apa Donna sedang menggodanya? Demi Tuhan! Ia tidak akan tergoda. Satu-satunya hal yang diinginkan Steve tentang seks adalah tubuh istrinya, bukan wanita lain.

“Apa?” tanya Steve karena Donna terkesan menggantungkan kalimatnya.

“Aku tahu, Steve, apa yang terjadi denganmu.”

Steve mengerutkan keningnya. “Maksudmu?”

Dengan genit, Donna menjalankan telunjuknya pada kemeja yang dikenakan Steve, menelusuri dada Steve dengan jemarinya. “Pernikahanmu dengan istrimu itu. Kau, menikahinya hanya karena dia hamil, bukan?”

“Apa maksudmu?”

“Jujur saja. Kau tahu Steve, aku bahkan rela tetap menjadi kekasihmu. Karena bagiku, menjadi seorang kekasih yang dicintai itu lebih istimewa dibandingkan menjadi istri yang diselingkuhi.”

“Donna tunggu dulu. Apa maksudmu?”

Well. Kau mengakhiri hubungan kita karena kau sudah menikahi Jessie yang tak lain adalah teman semasa kecilmu, keluarga kalian sudah berteman sejak lama. Aku tahu bagaimana posisimu. Kau hanya tak ingin menyakitinya, padahal pernikahan kalian hanya karena bayi, bukan?”

“Donna. Kau salah paham.” Steve menjawab cepat. Ia tidak menyangka jika Donna akan salah paham hingga seperti ini.

“Lalu apa? Kau mencintaiku. Bagimu, aku adalah wanita istimewa, karena itulah kau yang seorang playboy cap kakap berusaha menjalin hubungan serius denganku tanpa seks. Benar begitu bukan?”

“Astaga Donna.” Steve mengusap rambutnya frustasi. Ia tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan semua itu pada Donna. Kepalanya pusing, sungguh. Bagaimana mungkin Donna tidak mengerti apa maksudnya?

“Dengar.” Steve menggenggam kedua pergelangan tangan Donna. “Selama ini aku hanya mengencani wanita jalang, tentu banyak orang tahu kenyataan itu. Kamudian aku memiliki masalah dengan seseorang. Jessie. Ya, aku memiliki masalah dengan dia, dan aku ingin melupakannya. Karena itulah aku meminta Hank untuk mencarikan seorang wanita baik-baik. Dan kaulah orangnya.”

“Lalu, kau tertarik denganku, bukan?”

“Sejujurnya aku mencoba.” Steve menjawab dengan jujur. Ia tidak mau Donna salah paham lagi. “Aku ingin menjalin hubungan sehat, dan aku mencobanya denganmu. Tapi maaf, aku tidak bisa.”

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak tahu.” Steve kembali mengusap rambutnya sendiri. “Intinya adalah, entah aku sudah menikah atau tidak, hubungan kita tak akan berhasil. Kita tetap akan selesai.”

“Tapi kau mengajakku pulang ke rumah keluargamu. Dan menurut ibu dan adikmu, kau tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya.”

“Karena aku ingin… aku…” Steve tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Ya Tuhan! Ia tidak seberengsek itu.

“Katakan. Apa tujuanmu mengajakku ke sana?”

“Aku ingin dia melihatmu.”

Ya. Itulah tujuan Steve. Steve tahu bahwa Jessie akan datang. Karena itulah ia mengajak Donna ke Pennington hari itu. Ia ingin menunjukkan pada Jessie bahwa ia juga bisa memiliki kekasih seperti Jessie yang memiliki Henry. Ia juga bisa berhubungan dengan normal, dan ia ingin melihat reaksi Jessie. Tapi Steve tak mendapatkan apapun setelah mengajak Donna Simmon pulang ke rumah orang tuanya selain kesalah pahaman sialan ini.

“Jadi kau, kau ingin membuatnya cemburu dengan kehadiranku?”

“Donna, aku tahu itu sangat brengsek. Tapi ya, itulah tujuanku.”

“Bajingan kau Steve!” Donna berdiri seketika.

“Maafkan aku. Sungguh.”

“Aku benar-benar tidak menyangka. Astaga… jadi kau, kau sama sekali tak tertarik denganku? Kau hanya… Ya Tuhan! Aku tidak percaya.” Donna bersiap pergi. Ia malu, tentu saja. Ia berharap terlalu banyak dan ia terlalu salah menerka keadaan. Donna merasa sangat malu, ia menganggap dirinya sendiri begitu istimewa untuk seorang Steven Morgan, tapi kenyataan yang ia dapat adalah sebaliknya, bahwa Steven Morgan TIDAK benar-benar tertarik dengannya.

“Donna.” Steve ingin menenangkan wanita itu.

“Tidak! Steve. Jangan!” napas Donna memburu karena kekesalan yang memuncak dikepalanya. “Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.” Setelah perkataannya tersebut, wanita itu pergi.

Oke, sempurna. Setidaknya Donna Simmon tak akan mengganggu kehidupannya lagi. Tapi bukan seperti itu yang dirasakan Steve. Ia merasa menjadi orang yang sangat brengsek. Membuat wanita itu berharap lebih, membuat wanita itu salah paham dan lebih parah lagi memanfaatkan kehadiran wanita itu untuk menyembunyikan perasaannya sendiri kepada Jessie, perasaan yang selalu ingin ia pungkiri. Sejak lama…..

-TBC-

Aku numpang promo dikit yaa… Ebook aku di google play, bisa kalian beli hihihi

Sleeping with my Friend – Bab 17

Comment 1 Standard

 

Nyatanya, setelah melihat kejadian ini, Steve merasa bahwa Jessie hanya berusaha membohongi dirinya. Membuatnya terlihat bodoh dengan rasa cinta yang ia rasakan dan bertepuk sebelah tangan.

Sial!

Cinta?

Ya Tuhan! Kenapa ia harus mengaku jatuh cinta pada saat seperti ini?

Kenapa ia harus jatuh cinta pada Jessie, wanita yang bahkan selalu melihatnya sebagai teman? Kenapa harus seperti ini?

Bab 17

Jessie masih tidak menyangka bahwa Henry akan datang kembali padanya setelah apa yang mereka bahas siang itu di apartmennya. Jessie mengira, bahwa Henry akan membencinya, dan menolak untuk bertemu lagi dengannya. Nyatanya, hati lelaki ini benar-benar seperti malaikat.

Tadi Siang, Jessie cukup terkejut dengan kehadiran Donna Simmon, kekasih Steve, dan dan setelah wanita itu pergi, pikiran Jessie tak bisa lepas dari apa yang dikatakan wanita itu sepanjang siang di hadapannya.

“Aku benar-benar tidak menyangka jika kau akan menggunakan cara selicik ini untuk mengikatnya, Summer!” Jessie melihat mata Donna yang penuh dengan kemarahan. Hingga detik ini, Jessie tidak tahu apa tujuan Donna datang kepadanya. Meski begitu, Jessie tetap menerima Donna sebagai tamunya dan mengurung diri mereka berdua di dalam ruang kerjanya.

“Aku sendiri tidak mengerti apa yang kau maksud.”

“Dengar, aku sudah tahu semuanya! Kau membiarkan dirimu hamil agar kau mendapatkan perhatiannya, bukan? Agar dia menikahimu!”

Oh, perkataan itu sangat menyinggung Jessie.

“Donna, kau tidak tahu apa yang terjadi diantara kami.” Jessie masih berusaha bersikap tenang, ia tak ingin berakhir saling menjambak rambut satu sama lain karena masalah sepele ini.

“Kau yang tidak tahu apa yang sudah kami miliki!” Donna berseru keras. Wanita itu tampak tak dapat mengontrol emosinya. “Dengar, Jess. Dia mencintaiku! Sangat mencitaiku hingga dia memperlakukan aku dengan begitu istimewa!”

Itu bukan hal yang bagus untuk didengar.

“Seistimewa apa?” tantang Jessie. Karena baginya, wanita yang diistimewakan Steve adalah, ibu dan adik lelaki itu, serta dirinya. Setidaknya, dulu itu yang ia tahu.

“Seistimewa dia tak berani menyentuhku! Membawaku ke atas ranjang sialannya sebelum kami menikah!”

Oh… Sudah! Semua selesai! Pikir Jessie.

“Kau, dia hanya menganggapmu seperti perempuan jalang semalamnya, karena itulah dia berani menidurimu.”

“Dia tidak menganggapku seperti itu!”

“Well, nyatanya itu yang terjadi, Jess.” Donna masih menegaskan apa yang wanita itu pikirkan. “Dan kau, dengan tak tahu malu malah menjeratnya dengan hubungan pernikahan. Ya Tuhan! Jika aku jadi dirimu, maka aku akan menenggelamkan diriku ke dasar laut!”

Itu benar-benar kalimat yang sangat menghina. Jessie tak pernah berpikir untuk menjerat Steve dengan sebuah pernikahan. Ia tidak pernah memaksa lelaki itu untuk menikahinya. Kemudian Jessie melihat Donna berdiri dan dengan begitu arogan, wanita itu berkata “Dia akan selalu mencintaiku, dia akan selalu mengistimewakanku, dan kau, kau hanya akan menjadi budak seksnya. Selamat berbahagia, Mrs. Morgan.”

Setelah itu Donna pergi, dan setelahnya, pikiran Jessie berubah menjadi sangat kacau. Donna Simmon benar-benar menghancurkan perasaannya. Ia tidak tahu bahwa Steve menilainya serendah itu. Hal tersebut membuat Jessie marah, tapi disisi lain ia tidak dapat menyalurkan kemarahannya karena Steve memang tak bersalah. Donna benar, ialah yang harus disalahkan karena sudah menggoda lelaki itu. Belum lagi kenyataan bahwa ia sudah teledor karena tidak mengamankan dirinya sendiri dan membiarkan kehamilan ini terjadi. Dan kesalahannya semakin fatal saat ia setuju untuk menikah dengan Steve.

Jessie memijit pelipisya. Sepanjang siang itu ia merasa sangat pusing, perasaannya kacau, dan ia hanya ingin menangis.

Lalu ketika sore tiba, para pegawainya bersiap untuk pulang, saat itu Miranda datang dan mengatakan bahwa ada yang ingin bertemu dengannya.

Henry….

Lelaki itu datang.

Sungguh, Jessie tak menyangka jikaa Henry akan kembali menemuinya setelah ia sudah menyakiti perasaan lelaki itu.

Jessie meminta Miranda untuk pulang saja setelah ia mempersilahkan Henry masuk ke dalam ruangannya. Tak lupa, Jessie juga menyiapkan kopi untuk lelaki itu agar suasana tegang sedikit mencair.

“Aku, sangat terkejut kau mengunjungiku.” Jessie mulai membuka suara.

“Kenapa? Kau ingin aku benar-benar meninggalkanmu dan melupakanmu begitu saja?”

“Henry, aku minta maaf. Tapi aku memang berharap jika kau melakukan hal itu. Ini akan menyakitimu, jika kita tetap bertemu seperti ini.”

Henry menundukkan kepalanya. “Aku sudah tidak bisa lagi memilikimu, Jess. Tak bisakah kau setidaknya menerimaku seperti ini? aku hanya ingin melihatmu, berhubungan baik denganmu, salahkah?”

“Tidak.” Jessie menggelengkan kepalanya. “Tapi ini akan menyakitimu.”

Henry sedikit tersenyum. “Kau tahu, aku memilih kesakitan setiap hari asalkan tetap bisa berjumpa denganmu.”

Astaga, Jessie tak bisa membiarkan Henry kesakitan setiap saat. “Jangan seperti ini.” lirih Jessie. Perasaan Jessie benar-benar kacau, dan kehadiran Henry semakin memperkeruh semuanya.

Pikirannya semakin kacau. Jessie bahkan berpikir pada titik jika semua ini seharusnya tak terjadi. Ia seharusnya tak mengandung anak Steve, mereka tak seharusnya menikah, dan seharusnya, hubungannya dengan Henry masih baik-baik saja bahkan lebih romantis dari sebelumnya.

Tapi bagaimanapun juga, Jessie tidak bisa mengingkari hubungannya saat ini. statusnya sudah jelas, bahwa ia adalah seorang istri. Ia tidak boleh kembali tergoda dengan Henry maupun lelaki lain.

Tapi…

Tapi….

Astaga, Jessie benar-benar bingung. Ia kembali mengingat perkataan Donna Simmon tadi. Hal itu membuat Jessie ingin menangis. Padahal tak seharusnya ia menangis di hadapan Henry. Itu akan sangata memalukan, dan tak masuk akal, tapi Jessie tak mampu menahan tangisnya.

Henry yang melihat segera menghampiri Jessie mendekat ke arah wanita yang tampak sangat tertekan tersebut.

“Hei, maafkan aku. Jika kehadiraanku membuatmu tertekan, maka aku akan pergi.” Henry bangkit, ia bersiap pergi, tapi kemudian Jessie menghentikannya.

Henry menatap pergelangan tangannya yang ditahan oleh Jessie. Wanita itu masih setia menangis, dan Henry tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita itu.

Jessie sendiri tak tahu apa yang sedang menimpanya. Batinnya berperang, antara membiarkan Henry pergi, atau meminta lelaki itu untuk menemaninya. Jessie tak ingin sendiri dan kembali memikirkan tentang perkataan Donna Simmon. Ia ingin ditemani, dan melupakan perkataan perempuan berambut pirang tadi.

“Kau ingin aku tetap di sini?” tanya Henry karena ia tidak mendapati Jessie melarangnya atau mempersilahkan dirinya pergi. Padahal Jessie dengan jelas menahan pergelangan tangannya agar tidak pergi dari sana.

Jessie tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya saja. Dan hal itu cukup membuat Henry kembali duduk di sebelah Jessie. Keduanya diam tanpa kata. Hanya pergelangan tangan Henry yang setia dicekal oleh Jessie. Henry tak tahu apa yang terjadi dengan Jessie dan yang diinginkan wanita tersebut. Yang ia tahu hanyalah, bahwa ia harus berada di sisi Jessie ketika Jessie tampak hancur dan kacau seperti saat ini.

***

Setelah merasa cukup, Jessie memilih untuk segera mengajak Henry pulang. Hari sudah gelap, mungkin Steve akan khawatir terhadapnya karena belum pulang, atau mungkin sebaliknya, lelaki itu tak akan peduli dengan apa yang sedang ia lakukan.

Masih saling berdiam diri, Henry mengikuti tepat di belakang Jessie. Membuat Jessie merasa nyaman, dan merasa lebih baik dengan kehadiran lelaki itu disekitarnya. Meski mereka tak melakukan apapun dan hampir tak membicarakan apapun, tapi kehadiran Henry cukup mengobati suasana hati Jessie yang sedang kacau karena kehadiran Donna Simmon.

Setelah mematikan semua lampu dan mengunci butiknya. Jessie mengikuti Henry menuju ke arah mobil lelaki itu. Steve mungkin tak menjeputnya. Bahkan mungkin saja lelaki itu sedang sibuk dengan kesenangannya sendiri. memikirkan hal itu membuat Jessie kembali sedih.

Astaga, kenapa jadi seperti ini?

Percaya dengan Steve saat ini sudah menjadi hal yang sulit untuk Jessie. Pemikiran buruk tentang Steve selalu bersarang di kepalanya sejak tadi siang. Ya, baginya, Steve bukan orang yang jujur. Padahal, bisa saja Donna mengada-ada, atau sengaja membuat hubungnnya dengan Steve merenggang. Tapi nyatanya Jessie tidak mempercayai kemungkinan itu. Ia lebih mempercayai perkataan Donna Simmon, bahwa Steve mencintai wanita berambut pirang itu, pernikahannya dengan Steve hanya sebuah sandiwara lelaki itu, dan Steve hanya melihatnya sebagai seorang pemuas daripada seorang istri.

Jessie sempat berdiri melamun, dan matanya kembali berkaca-kaca saat mengingat kenyataan itu. Hal itu membuat Henry menolehkan kepalanya ke arah Jessie.

“Jess?”

Panggilan Henry menyadarkan Jessie dari lamunan. Dalam sekejap mata, Jessie menghambur ke arah Henry, memeluk lelaki itu begitu erat, kemudian ia terisak.

Ya Tuhan! Jessie tidak tahu apa yang terjadi dengannya. ia tidak ingin melakukan hal ini, tapi disisi lain, Jessie tak kuasa menahan diri untuk memeluk lelaki itu. Jessie sedang membutuhkan sebuah penopang agar dirinya tidak jatuh terpuruk. Perkataan Donna Simmon, dan kenyataan yang ada membuat Jessie tersakiti. Ia tidak tahu kenapa bisa tersakiti seperti ini. Maksudnya, ia bahkan menikah dengan Steve hanya karena hamil, seharusnya ia tak perlu merasa sesakit ini.

Atau jangan-jangan……

“Kau memiliki masalah dengan Steve?” tiba-tiba saja Henry bertanya seperti itu. Mereka masih saling berpelukan satu sama lain, dan Jessie senang, ia tak harus melihat ekspresi Henry saat ini.

“Kau tak pernah seperti ini saat bersamaku, Jess.” Lirih lelaki itu.

“Maaf….” Ucap Jessie disela isakannya.

“Kau, mencintainya?”

Jessie melepaskan pelukannya seketika. Ia menatap Henry, kemudian mundur satu langkah.

“Kau, mencintainya, Jess?”

“Aku… Aku…” Jessie tak dapat menjawab, ia bahkan tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan saat ini.

“Sudah sejak lama aku ingin bertanya hal ini padamu. Kau, mencintainya, bukan?”

Jessie menggeleng, air matanya jatuh dengan begitu deras. Ia tidak tahu bahwa Henry bisa menebak apa yang ia rasakan. Apa ia begitu tampak mencintai seorang Steven Morgan? Tidak, ia tidak mencintai Steve. maksudnya, ia hanya menganggap Steve sebagai temannya sendiri. mungkin Steve memang merupakan cinta pertamanya, tapi hanya itu, dan itu sudah terjadi Lima belas tahun yang lalu, ia sudah tidak lagi mencintai Steven Morgan.

“Kau, tidak bisa membohongiku, Jess.”

“Henry…”

“Aku sudah merasakan itu sejak lama.”

Jessie masih menggelengkan kepalanya.

“Kau hanya perlu jujur.”

Jessie kembali memeluk Henry, kemudian ia berkata “Maafkan aku..” entah apa yang membuat Jessie meminta maaf. Apa karena sudah membohongi Henry dengan perasaannya?

***

Setelah melihat pemandangan yang mambuatnya panas karena emosi, Steve segera kembali ke apartmen Jessie. Ia membuka jaket yang ia kenakan kemudian membantingnya dengan kesal.

Sekali lagi, Steve tak menyangka jika Jessie akan melakukan itu. Steve tahu bahwa Jessie masih sangat mencintai mantan tunangannya itu, tapi seharusnya Jessie tak perlu berhubungan secara sembunyi-sembunyi dengan lelaki itu. Jessie seharusnya tahu statusnya yang sudah menjadi seorang istri. Kenapa Jessie tega melakukan hal ini padanya?

Seumur hidupnya, Steve tidak pernah merasakan yang namanya diselingkuhi. Dan kini, Steve merasakan perasaan itu saat melihat Jessie berpelukan dengan mantan kekasihnya.

Steve merasa dikhinati, Steve merasa menjadi orang yang paling bodoh karena sudah diduakan. Padahal Steve belum tahu, apa sebenarnya yang telah terjadi. Mata Steve terlalu dibutakan dengan kata cemburu.

Ya, Steve merasa sangat cemburu. Bahkan ia tak pernah merasakan kecemburuan hingga taraf setinggi ini. Steve tak mengerti, kenapa Jessie bisa begitu mempengaruhinya, membuatnya sakit hingga seperti ini.

Saat Steve masih belum dapat mengendalikan emosinya, saat itulah pintu apartmen Jessie dibuka. Menampilkan sosok Jessie yang baru saja masuk ke dalam.

Steve berdiri seketika, ia menatap Jessie dan wanita itu tampak menatapnya dengan tatapan kesal.

Kenapa?

Apa Jessie tidak suka melihatnya berada di apartmen wanita itu? Apa Jessie berharap bahwa yang ada di sana adalah Henry? Sialan!

Steve mendekat, dan ia bertanya. “Kenapa pulang sendiri? mana teman kencanmu?”

Jessie mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Steve. lagi pula, kenapa Steve bersikap seperti ini kepadanya? Bukankah seharusnya ia yang menyembur Steve dengan kata-kata pedasnya?

“Aku tidak mengerti apa maksudmu.”

“Si Gay itu.” Steve mencoba mengendalikan emosinya. “kau pikir aku tidak tahu tentang pertemuanmu dengan dia?”

“Apa?”

“Kau memeluknya!” ya, meledaklah sudah emosinya.

Hening, setelah seruan keras yang dilontarkan Steve pada Jessie. Jessie menatap Steve dengan mata nanarnya, dan Steve masih sibuk mengendalikan kemarahannya. Napas Steve memburu karena emosi yang mempengaruhinya. Ia masih merasa sangat kesal dan marah saat mengingat bagaimana Jessie memeluk lelaki itu tadi.

“Dengar, Steve. kau tidak bisa mengendalikan apa yang ingin kuperbuat.”

“Kenapa tidak bisa? Kau istriku!”

“Kita menikah bukan karena cinta.”

“Persetan dengan cinta, Sialan!”

Steve menjauh ia mengusap wajahnya dengan frustasi. Bukan ini yang ia inginkan. Tapi ia tidak bisa mengendalikan dirinya. Rasa sakit dan rasa marah mempengaruhinya, membuat Steve tidak bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah.

“Dengar, Jess. Dalam sesaat, kau tahu apa yang sudah kupikirkan? Aku berpikir bahwa kau melakukan… kau… Sialan!” Steve tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia tidak dapat mengatakan pikiran buruk apa yang sedang bersarang dikepalanya.

“Katakan saja. Kau pikir aku selingkuh dengannya?” tantang Jessie.

“Ya.”

Jessie mengangguk. Ia tidak menyangka jika Steve berpikiran sejauh itu. “Kau pikir aku tidur dengannya?”

Steve mendekat, dengan spontan ia mencengkeram kedua bahu Jessie. “Katakan kalau kau tidak melakukan itu!” ucapnya penuh penekanan.

“Kalaupun aku membantahnya, kau tetap akan menuduhkau seperti itu, Steve!” Jessie berseru keras. Ia bahkan sudah melepaskan diri dari cengkraman tangan Steve di bahunya. “Aku tidak menyangka bahwa apa yang dikatakan Donna Simmon siang ini adalah suatu kebenaran.”

Steve memicingkan matanya. “Apa maksudmu?”

“Kau, kau melihatku sebagai wanita murahan yang biasa kau kencani, bukan? Karena itulah kau menuduhku serendah ini dan karena itulah kau meniduriku malam itu!” kali ini, giliran Jessie yang tak mampu membendung amarahnya. Semuanya jadi semakin masuk akal. Tuduhan yang diberikan Steve padanya memperkuat apa yang dikatakan Donna Simmon tadi siang.

“Sial! Jess! Aku menidurimu karena kau menyetujui ide gilaku!”

“TAPI KAU TIDAK MENIDURI DONNA SIMMON!” Jessie berseru keras hingga membuat Steve mematung seketika.

“Apa?” Steve tak mengerti apa yang dikatakan Jessie.

Jessie mencengkeram kemeja yang dikenakan Steve. “KENAPA KAU MENIDURIKU TAPI TIDAK DENGAN DIA?!” Jessie masih tak dapat menahan emosinya.

Steve tak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Kau membuatnya terlihat istimewa, Steve. Sedangkan kau membuatku terlihat seperti perempuan murahan yang menjadi teman kencan semalammu.” Jessie memukuli dada Steve. “Kau membuatku tersakiti dengan kenyataan itu.” Dan Jessie tak mampu menahan airmatanya lagi. Tangis yang sejak siang tadi keluar karena perkataan Donna Simmon.

“Kau, kau ingin aku menidurinya?”

Jessie membatu dengan pertanyaan itu. Ia tidak tahu apa yang ia inginkan. Jessie sangat yakin bahwa ia tidak ingin melihat Steve meniduri wanita lain, tapi di sisi lain, apa yang dikatakan Donna Simmon tentang ‘keistimewaan’ wanita itu membuat Jessie kesal.

“Katakan! Apa kau ingin aku tidur dengannya?” tanya Steve sekali lagi.

“Jika kau ingin menidurinya, maka silahkan saja! Kau pikir aku peduli denganmu?” masih dengan emosi, Jessie menjawab pertanyaan Steve.

Steve mundur satu langkah. “Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku akan melakukannya.”

“Ya. Pergi saja sana!” Jessie berseru keras. Ia bahkan sudah membalikkan tubuhnya membelakangi Steve. sedangkan Steve, ia mundur perlahan, tak menyangka jika dirinya begitu tak berarti untuk Jessie. Haruskah ia melakukan apa yang diinginkan oleh wanita itu?

-TBC-

jangan pada darah tinggi yaakkk hahahhaha