Future Wife – Chapter 3 (Teman Tidur)

Comments 7 Standard

Future Wife

 

Follow IG : @Zennyarieffka

Like Fanspage Facebook : Zenny Arieffka- Mamabelladramalovers

untuk mendapatkan informasi updatetan terbaru yaa…

 

 

Chapter 3

-Teman Tidur-

 

Mata Tiara membulat seketika. Dengan spontan kakinya mundur menjauhi Evan. Lengannya ia silangkan di depan dadanya. Astaga, bagaimana mungkin lelaki ini berkata seperti itu? Menjadi teman tidur? Apa maksudnya?

“Jangan takut.” Evan berkata cepat.

“Dua menit yang lalu saya tidak takut, tapi setelah Pak Evan berkata seperti itu, saya berpikir untuk segera lari dari hadapan Pak Evan.” Tiara menjawab dengan jawaban polosnya.

Evan tersenyum lembut. “Saya hanya memberi solusi.”

“Itu bukan solusi, Pak Evan memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan.”

Well, saya tidak memaksa kamu, saya hanya memberikan pilihan, karena kebanyakan orang memilih cara instan walau dia tahu itu merugikannya. Tak ada salahnya jika saya mencoba menawarkannya pada kamu, kan?”

“Tapi saya bukan kebanyakan orang. Saya akan kerja keras semampu saya, tanpa harus menjual tubuh saya.”

Lagi-lagi Evan tersenyum, kali ini sambil menganggukkan kepalanya. “Untuk seorang yang kesusahan, kamu ternyata masih memiliki harga diri yang tinggi.”

“Jika saya sudah tidak memiliki harga diri, saya tidak akan bekerja dengan Bu Sherly, tapi akan bekerja di rumah Bordil.” Tiara menjawab dengan ketus. Sugguh, ia tidak suka dengan sikap Evan yang berpikir bahwa dirinya bisa dibeli dengan uang. Ya, meskipun ia tidak memiliki apapun yang bisa dibanggakan, setidaknya ia memiliki sesuatu yang akan ia simpan hingga pangerannya nanti datang padanya dengan cinta.

“Baiklah.” Evan hanya tertawa. Lalu berjalan pergi meninggalkan Tiara, tapi sebelum itu, ia berpesan “Tapi kalau kamu berubah pikiran, datang saja sama saya, tawaran saya masih berlaku sampai kamu mampu melunasi hutang-hutang kakakmu.”

Setelahnya, Evan pergi dengan masih dengan senyum terukir di wajahnya, sedangkan Tiara mulai kesal dengan sikap Evan. Ya, senyum Evan itu, terlihat seperti senyum nakal, dan Tiara tidak suka saat melihatnya.

***

Masuk ke dalam kamar, Evan menutup pintu kamarnya lalu menguncinya dari dalam. Setelah itu ia menyandarkan tubuhnya pada pintu kamarnya. Jemarinya meraba dada kirinya yang tiba-tiba saja berdebar tak menentu, dan sial! Evan sadar jika kini pangkal pahanya sudah berdenyut nyeri.

Ia menginginkan Tiara, ya, ia menginginkannya. Dan apa-apaan ini? Padahal, ia tak pernah mengingnkan perempuan hingga terasa nyeri seperti saat ini.

Sejak kecil, perasaannya hanya tumbuh untuk sosok Karina, rasa cinta yang murni. Setelah dewasa, Evan memang sesekali tergoda untuk memiliki diri Karina, ia ingin menyentuh wanita itu dengan sentuhan intim, tapi rasa cintanya yang begitu besar membuatnya melupakan hasrat primitifnya pada sosok Karina. Evan memilih mengubur hasrat-hasrat panas tersebut dan memupuk rasa cintanya. Tapi kini, saat ia bertemu dengan sosok Tiara, hasrat-hasrat tersebut seakan membeludak di dalam dadanya. Menghantarkan sengatan aneh yang menyerang seluruh syaraf-syarafnya.

Evan menginginkan sebuah pelesapas.

Ahh sial! Kenapa jadi begini?

Ia bahkan belum pernah melakukan hubungan badan sekalipun dengan wanita manapun, tapi tadi, ia bersikap seolah-olah menjadi seorang berengsek yang hanya memikirkan selangkangannya.

Bagaimana bisa Tiara membuatnya seperti ini?

Evan akhirnya memilih masuk ke dalam kamar mandinya, melucuti semua pakaiannya, lalu menyalakan air shower. Sepertinya, mandi air dingin adalah solusi yang baik. Ia tidak mungkin membiarkan pangkal pahanya menegang sepanjang malam akibat keinginannya yang tidak terpenuhi.

Sial! Ia benar-benar sudah mulai gila.

***

Paginya, Evan keluar dari dalam kamarnya saat ia sudah rapih. Berharap jika ia melihat Tiara yang masih sibuk di dapurnya dan mengamati wanita itu lagi secara diam-diam. Tapi ketika ia menuju ke arah dapur, semuanya sudah sepi. Tak ada Tiara di sana. Evan melirik sekilas ke arah meja makan, rupanya di sana sudah tersedia sarapan untuknya, lengkap degan secangkir kopi dan juga koran paginya.

Evan menuju ke arah meja makan tersebut, tampak sebuah note yang berisi :

“Sarapan, kopi, dan koran paginya sudah saya siapkan, Pak. Saya berangkat kerja dulu.”

Evan melirik jam tangannya, waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi, seharusnya Tiara belum berangkat. Tapi kenapa wanita itu berangkat pagi-pagi sekali?

Satu-satunya alasan adalah bahwa wanita itu sedang menghindarinya. Tiara pasti enggan bertatap muka dengannya lagi karena pengajuan yang tak masuk akal darinya tadi malam.

Ahhh, wanita itu benar-benar membuat Evan gemas.

Evan tersenyum, ia duduk menyesap kopinya lalu meraih koran di hadapannya. Baru juga ia membaca tajuk utama dalam koran tersebut, ia sudah menaruhnya kembali. Terasa ada yang kosong, tapi apa?

Evan menghela napas panjang. Selama ini, ia memang tak pernah hidup jauh dari keluarganya. Tapi karena Karina, ia memilih mengasingkan diri, hidup dengan kekosongan, kesepian. Lalu kemarin, ketika ia bangun tidur, ia sudah mendapati Tiara yang sibuk di dapurnya, mengingatkannya kembali pada saat-saat dimana ia hidup dengan keluargnya, tidak sendirian.

Lalu tadi malam, dengan bodohnya ia mengacaukan semuanya. Tiara pasti ketakutan, dan tampak juga raut marah dan tersinggung dari wajah wanita itu semalam. Ah, benar-benar bodoh!

Evan menatap hidangan di hadapannya dengan tak berselera, ada nasi goreng seperti kemarin, yang pastinya rasanya sama enaknya, tapi entah kenapa Evan tak nafsu memakannya. Akhirnya Evan bangkit kembali, ia akan ke rumah Davit, dan mencari tahu, apa Tiara benar-benar di sana, atau mungkin wanita itu kabur karena takut dengan ucapannya semalam.

***

Setelah beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya pintu di hadapannya di buka. Evan mendapati Sherly berdiri di ambang pintu dengan menggendong puteri kecilnya.

“Loh, Van, kok tumben pagi-pagi ke sini?”

“Uuum, ini, mau minta gula.” Evan memang datang dengan membawa cangkir kopinya. Ia harus memiliki alasan, tidak mungkin ia bilang jika dirinya ke sana untuk mencari tahu dimana Tiara.

“Ohh, masuk aja, ikut sarapan sekalian.” tawar Sherly.

“Memangnya kamu masak?”

“Enggak, mana mungkin aku bisa masak kalau Cinta lagi rewel gini.” Sherly menimang-nimang putri kecilnya yang belum genap berusia satu tahun. “Tiara yang masak sarapan, nggak tahu, tumben dia datang pagi-pagi banget.”

Evan tersenyum penuh arti, “Ahh, ya, tentu saja, aku mau sarapan gratis di sini.”

Evan masuk ke dalam dan segera menuju ke arah ruang makan yang memang menyatu dengan dapur. Senyumnya kembali tersungging saat mendapati Tiara sedang sibuk dengan pekerjaannya. Wanita itu bahkan tidak menyadari jika kini Evan sedang menatapnya dari belakang.

Evan berjalan pelan, menuju ke arah Tiara, lalu ia berbisik “Pagi.” Hingga membut Tiara berjingkat seketika.

“Pak Evan?” ucapnya tak percaya.

“Ya.”

“Ke-kenapa?”

“Saya sedang minta gula.” Jawab Evan santai sambil mencari-cari letak gula di dapur rumah Davit.

“Tapi, kopinya tadi sudah saya kasih-”

“Pagi Van.” Sapaan Davit, sontak memotong kalimat Tiara.

Evan menolehkan kepalanya ke belakang. “Pagi.”

“Cari apa lo di sana?”

“Cari gula.”

Davit tertawa lebar. “CEO macam apa lo sampek-sampek nggak punya gula.”

Evan juga akhirnya ikut tertawa. “Sialan. Gue bangkrut, karena baru saja bayarin hutang seseorang.” Evan menjawab dengan sedikit menyindir. Tiara tentu tahu jika yang dimaksud Evan adalah hutang-hutang kakaknya.

“Bangkrut? Yang bener aja, lo. Mending lo ikutan bisnis kuliner sama gue.” Davit duduk di kursinya, menyesap kopi yang memang sudah tersedia di sana tanpa memperhatikan Evan lagi. Ia memilih meraih koran paginya sembari memakan selembar roti tawar.

Sedangkan Evan, ia berpura-pura meraih gula dan memasukkannya ke dalam cangkir kopi yang ia bawa dari rumah. Tak lupa, ia juga berbisik pelan ke arah Tiara.

“Saya tahu kamu sedang menghindari saya.”

“Maaf?” Tiara tidak mengerti apa yang dikatakan Evan.

“Sayangnya, kamu tidak akan bisa lari dari saya.” Evan berkata lagi masih dengan menuangkan gula pada cangkir kopinya.

“Saya tidak bermaksud-”

“Tiara.” Panggilan dari Sherly menghentikan kalimat Tiara.

“Iya, Bu.”

“Bisa tolong Dirly sebentar? Ini Cinta nggak mau di tinggal.”

“Baik Bu.” Dan akhirnya Tiara memilih pergi meninggalkan Evan.

Evan sendiri memilih menuju ke arah meja makan, dimana di sana masih terlihat Davit yang serius dengan koran paginya.

“Serius amat, ada berita apa?”

“Nggak penting.” Davit menjawab cepat. “gimana kerjaan lo? Dan yang paling penting, apa lo sudah dapat gandengan?”

“Lo apaan sih? Nggak penting banget yang di tanyain.”

“Van, lo sudah hampir Tiga puluh tahun, Anak gue sudah dua, si Dirga sudah nikah, bahkan adek lo aja udah nikah. Lo kapan?”

Evan memilih diam dan hanya mengaduk-aduk kopinya, ia tidak ingin membahas masalah pribadi itu dengan Davit.

“Lo sudah nggak mikirin Karin lagi, kan?”

Ya, Davit tentu saja sudah tahu tentang masalah Evan, karena beberapa saat yang lalu, Karina masuk rumah sakit, dan di sana, Karin bercerita semua tentang masalahnya dengan Evan dan juga Darren.

“Enggak.”

“Terus, apa yang lo tunggu?”

“Lo pikir cari pasangan hidup itu segampang ngupil?”

“Ya.” Davit menjawab cuek. “gue hanya perlu sebulan untuk jadian sama Sherly, dan lima bulan untuk melamarnya.”

“Jangan samakan sama pengalaman lo.”

“Lalu?”

“Sudah ah, jangan bahas lagi.” Evan meminum kopinya, tapi kemudian ia segera menyemburkannya kembali sambil mengumpat “Sialan!”

“Kenapa?”

“Kemanisan.” Ucap Evan sambil membersihkan bibirnya dengan tissue yang tersedia. Sedangkan Davit hanya bisa tertawa lebar menertawakan temannya tersebut.

***

Di tempat lain.

“Ayolah Pa, Papa pasti punya kenalan, kan? Mama nggak tega lihat Evan hidup menyendiri di sana. Kalau Evan sudah ada istri, pasti dia bisa balik hidup di sini tanpa ada kecanggungan lagi dengan Karina maupun Darren.” Tampak, seorang perempuan paruh baya sedang membujuk suaminya.

“Kenalan sih banyak, Ma, tapi kan nggak semua kenalan Papa memiliki anak perempuan yang siap nikah, dan kalaupun ada, belum tentu dia mau di jodohkan. Evanpun demikian, belum tentu dia mau dijodohkan.”

“Tapi nggak ada salahnya mencoba, kan Pa?”

“Ma, jangan gegabah, Papa nggak mau anak-anak menikah karena paksaan. Biarlah Evan mencari kebahagiaannya sendiri dulu.”

“Ahhh, Papa ini, biar mama saja nanti yang tanya-tanya sama teman-teman arisan Mama.”

“Ma.”

“Pa, Mama hanya kasihan saat melihat Evan sedih ketika melihat kebersamaan Darren dan Karin di rumah ini. Mama ingin semuanya segera kembali normal dan Evan bisa balik ke rumah ini lagi tanpa kecanggungan-kecanggungan diantara mereka.”

Lelaki paruh baya itu menghela napas panjang. “Baiklah, atur bagaimana baiknya, tapi kalau dia nggak mau, jangan dipaksa.”

Perempuan paruh baya itu tersenyum senang, akhirnya, ia bisa berbuat sesuatu untuk putera kesayangannya.

***

Tiga hari berlalu.

Sore itu, Tiara sedang menemani Dirly main di dalam kamarnya. Keduanya sedang asyik bermain sampai tidak sadar jika Sherly sedang menatap keduanya dengan penuh senyuman.

“Sayang, kemarilah.” Davit yang memang tidak berangkat kerja dan memilih menghabiskan waktunya di depan televisi sesorean ini memanggil Sherly untuk segera menghampirinya.

“Ada apa?” Sherly datang menghampiri Davit.

Davit menyaringkan volume TV di hadapannya. “Itu, bukannya kakaknya Tiara?” Davit menunjuk ke arah TV.

Sherly menatap ke layar datar di hadapannya, mengamatinya dengan seksama, Sherly menajamkan pendengarannya hingga ia dapat mencerna berita apa yang sedang ia lihat.

Penggerebekan tempat hiburan malam, beberapa tamu terciduk sedang menggunakan ganja. Begitulah yang ia dengar, hingga ia segera menatap ke arah suaminya.

“Astaga, gimana dengan Tiara?” tanyanya khawatir pada Davit. Ya, tentu saja, Tiara sudah seperti adik kandungnya sendiri. Melihat pemberitaan tersebut tentu membuat Sherly mengkhawatirkan kehidupan Tiara selanjutnya.

“Ada apa, Bu?” suara Tiara yang tiba-tiba terdengar itu membuat Sherly terkejut. Rupanya Tiara sudah keluar dan dia mendengar apa yang diucapkan Sherly barusan. Tiara menatap ke arah TV yang memang masih menyiarkan berita tersebut.

Tiara hanya bisa ternganga melihatnya, matanya berkaca-kaca seketika saat melihat berita penggerebekan di sebuah tempat hiburan malam yang juga melibatkan kakaknya.

“Bang Radit.” Lirihnya.

***

Hanya bisa menangis sesenggukan saat melihat sang kakak ada di balik kaca pembatas ketika malam itu juga Tiara mengunjungi kakaknya. Sang kakak menampilkan wajah santainya, seperti tak terjadi apapun, padahal Taira sudah menangis sesenggukan membayangkan bagaimana nasib mereka kedepannya.

“Ngapain kamu kesini? Bukannya kamu sudah senang sama orang kaya itu?”

“Apa?”

“Orang yang menahanmu kemarin sudah cerita sama aku, kataya kamu sudah di tebus oleh laki-laki kaya raya. Bagaimana bisa? Karena kamu menjadi simpanannya?”

“Bang, bagaimana mungkin Bang Radit berpikir seperti itu? Pak Evan adalah orang yang baik, dia menolongku saat Bang Radit menjualku, aku harus bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumahnya agar bisa melunasi hutang-hutang kita, Bang.”

Radit malah tersenyum mengejek. “Oh ya? Memangnya kamu bisa melunasinya? Asal kamu tahu, hutangku pada si tua bangka itu sebanyak Seratus Juta, sedangkan si tua bangka itu menjualmu pada dia sebanyak Lima ratus juta. Kamu bisa mencicilnya? Dengan apa? Sampai matipun kamu nggak akan bisa membayarnya.”

Tiara membungkam mulutnya dengan kedua belah telapak tangannya. Ia tidak menyangka jika Evan akan mengeuarkan uang sebanyak itu untuk menyelamatkannya, dan astaga, apa ia bisa membayarnya?

“Dengar. Sekarang, kamu hanya sendirian di luar sana. Jika kamu bisa mengeluarkanku dari sini, kita bisa melunasi hutang-hutang itu bersama-sama.”

Tiara menggelegkan kepalanya. Ia tentu ingin mengeluarkan kakaknya dari sana, tapi bagaimana caranya? Ia bahkan tidak memiliki apapun untuk dijadikan jaminan kebebasan sang kakak.

“Lakukan apa saja untuk mengeluarkanku dari sini.”

Tiara masih menangis, ia menggelengkan kepalanya tanpa bisa membalas ucapan sang kakak. Ya, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

“Maaf, waktunya habis.” Seorang penjaga datang dan membawa Radit kembali menuju sel tahanan.

“Keluarkan aku dari sini, Tiara. Masa depan kita tergantung sama kamu.” Pesan Radit sebelum menghilang di balik pintu.

Tiara menangis, ia bangkit lalu keluar dari sana. Menuju ke mobil Davit yang berada di parkiran. Ya, Davitlah tadi yang mengantarnya, dan Davit memilih menunggu Tiara di luar dengan alasan tak mau mengganggu pertemuan Tiara dengan kakaknya.

“Hei, sudah balik?” tanya Davit yang segera menghampiri Tiara yang sudah msuk ke dalam mobilnya.

Tiara tidak menjawab karena dia masih sibuk dengan tangisannya. Davit sendiri mengerti apa yang dirasakan Tiara. Tiara sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini, kecuali kakak berengseknya. Dan sekarang, mereka harus dipisahkan karena kasus ini. Davit memilih masuk ke dalam mobilnya. Dan segera menjalankan mobilnya. Mungkin Tiara masih shock, lebih baik ia mengantar Tiara pulang supaya wanita itu segera istirahat di rumahnya.

***

“Kamu yakin berani tinggal sendiri?” tanya Davit memastikan ketika sudah sampai di rumah Tiara dan wanita itu keluar dari dalam mobilnya.

Tiara hanya mengangguk, air matanya masih menetes dengan sendirinya.

“Kamu bisa tinggal di rumah kami sementara selama kasus kakak kamu berlangsung, kami sangat tidak keberatan. Dirly juga pasti akan sangat senang.” Davit menawarkan. Karena sungguh, ia tidak tega mendapati Tiara hidup sebatang kara saat kakak berengseknya menjalani hukuman di dalam sel tahanan.

“Tidak apa-apa, Pak. Saya baik-baik saja.”

Davit menghela napas panjang. “Baiklah, kalau ada apa-apa, hubungi saya atau Sherly secepatnya, oke?”

Tiara tersenyum dan hanya bisa mengangguk patuh. Akhirnya Davit menyalakan mesin mobilnya, lalu mengemudikannya meninggalkan Tiara sendiri di depan rumahnya.

Tiara masih mematung di halaman rumahnya, ia menatap rumahnya dan tangisnya kembali menjadi. Tuhan, apa yang harus ia perbuat selanjutnya? Ia kini sendiri, sang kakak entah berapa lama berada di dalam tahanan, sedangkan hutang-hutangnya…. Astaga, apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia perbuat agar kakaknya segera keluar dari dalam tahanan?

Hujan tiba-tiba saja turun, menguyur tubuh Tiara yang masih mematung di halaman rumahnya. Oh, dirinya kini berada pada titik terendah dalam hidupnya, Tiara bahkan berpikir jika tak ada gunanya lagi ia hidup di dunia ini.

Tiara mendongakkan wajahnya ke arah langit, membiarkan wajahnya tertimpa derasnya air hujan. Ia ingin berteriak, meneriakkan semua kegalauan hatinya, tapi semuanya seakan tercekat di dalam tenggorokan. Yang bisa Tiara lakukan hanya menangis… menangis… menangis…. Lalu, bayangan itu datang.

“Datang saja sama saya, tawaran saya masih berlaku sampai kamu mampu melunasi hutang-hutang kakakmu.”

Tiara membuka matanya seketika. Apa ia harus meminta bantuan lelaki itu? Menjadi teman tidurnya? Tanpa pikir panjang lagi, Tiara melangkahkan kakinya, berlari secepat mungkin sebelum pikirannya berubah.

Ya, hanya Evan yang mampu membantunya, hanya Evan yang mampu menariknya dari semua masalah pelik yang sedang menimpanya.

***

Tiara mengabaikan tubuhnya yang sudah basah kuyub karena hujan, ia bahkan tidak menghiraukan tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan, yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya agar cepat sampai di rumah Evan, dan cara satu-satunya adalah ia harus berlari secepat mungkin mengabaaikan hujan yang tak berhenti mengguyurnya.

Akhirnya, sampailah juga Tiara di depan rumah Evan, tanpa ragu sedikitpun, Tiara mengetuk pintu rumah tersebut, berharap Evan belum tidur dan segera membukakan pintu untuknya. Dan benar saja, tak berapa lama, pintu di hadapannya di buka mendapati Evan yang berdiri di ambang pintu.

“Tiara?” Evan tampak tertkejut dengan apa yang dia lihat.

“Pak.” Hanya itu yang diucapkan Tiara, semuanya seakan tercekat di tenggorokan, hanya matanya yang kembali berkaca-kaca seakan ingin menumpahkan semua kesedihan di hadapan Evan.

“Apa yang kamu lakukan? Masuklah.” Evan menarik pergelangan tangan Tira hingga Tiara masuk ke dalam rumahnya. Evan menutup pintu rumahnya kemudian ia kembali fokus pada Tiara. “Kenapa kamu baru pulang? Kenapa kamu hujan-hujanan begini?” tanya Evan lagi.

“Pak.”

“Apa kamu tahu kalau saya kelaparan karena tidak ada yang menyiapkan makan malam untuk saya?”

“Maaf, Pak, tapi saya…”

“Cukup! Sekarang masuk dan gantilah bajumu, pakaianmu yang basah membuatku tidak fokus.” Gerutu Evan yang segera membalikkan tubuhnya membelakangi Tiara dan segera pergi meninggalkan Tiara.

“Pak, tunggu.” Dengan begitu berani, Tiara meraih pergelangan tangan Evan. Evan menghentikan langkahnya lalu menatap pergelangan tangannya yang sedang digenggam oleh Tiara. “Maaf, saya nggak bermaksud.” Tiara melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Evan.

“Ada apa? Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Evan penasaran.

“Uuum, saya menerima tawaran Pak Evan.”

Evan mengangkat sebelah alisnya. “Apa maksud kamu?”

“Saya mau menjadi ‘Teman Tidur’ Pak Evan.”

Evan sempat ternganga dengan apa yang dikatakan Tiara, tapi kemudian ia segera menguasai dirinya kembali, dan secara spontan, Evan menangkup kedua pipi Tiara lalu secepat kilat, ia menyambar bibir ranum Tiara, bibir yang sudah cukup lama menggodanya….

-TBC-

Advertisements

Sweet in Passion – Epilog

Comments 8 Standard

wattpadsipSweet in Passion

#Epilog

Hari demi haripun berlalu, hingga tidak terasa sudah tujuh tahun Febby menjadi istri seorang Randy Prasaja. Randy yang dulunya hidup sebagai seorang selebritis kini berubah total. Dirinya kini menjadi seorang CEO dari perusahaan milik keluarganya, menggantikan sang ayah untuk meneruskan usaha keluarganya yang sudah turun temurun tersebut.

Randy lega dengan hal itu, karena kini dirinya tidak perlu repot-repot mengenakan pakaian untuk penyamaran lagi jika jalan-jalan bersama istri dan anaknya. Meski masih ada beberapa produser yang tertarik dengannya tapi Randy tetap menolak untuk masuk kembali dalam dunia pertelevisian.

Kegiatan Febbypun masih sama, dirinya kini masih menjadi dokter spesialis anak, meski terkadang ia juga mengajak putra pertamanya, Darren Prasaja, ikut ke rumah sakit menemaninya. Febby sangat bersyukur dengan keadaan yang dialaminya saat ini. Memikiki suami tampan yang menyayanginya dan juga putra yang lucu dan menggemaskan, hidupnya terasa sangat bahagia, terkecuali satu hal. Kakak kandungnya, Dea.

Saat ini Febby sedang berdiri menghadap sebuah kaca transparan yang didalamnya terdapat seorang wanita yang sedang memeluk guling sambil bernyayi-nyanyi. Wanita itu tidak lain adalah Dea, kakak kandung Febby yang kini sedang menjalani perawatan di sebuah rumah sakit jiwa.

Ya, Dea saat ini tengah gila karena di tinggal pergi oleh suami dan anaknya. Beberapa bulan yang lalu, Leo, suami Dea, mengalami kecelakaan saat menjemput putrinya pulang dari sekolah. Suami dan puterinya itupun tewas seketika di tempat kecelakaan tersebut, sedangkan Dea yang saat itu berada di rumah tidak dapat menerima kabar buruk tersebut, hingga pada akhirnya dirinya mengalami depresi berat hingga harus di masukkan kedalam rumah sakit jiwa.

“Bagaimana, apa kamu sudah menjenguknya?” tanya Randy yang kini sudah berdiri tepat di sebelah Febby.

Febby lalu mengangguk. “Ran, kapan dia bisa sembuh?” tanya Febby lirih masih dengan menatap ke arah kakaknya yang ada di dalam ruangan tersebut.

“Tenang saja, aku yakin dia pasti sembuh, walau mungkin butuh waktu yang lumayan lama.” jawab Randy kemudian. “Aku tidak menyangka jika kamu masih mengkhawatirkannya setelah apa yang sudah dia lakukan terhadapmu.”

“Dia tetap kakakku, walau dia pernah bersalah, tapi aku sudah memaafkannya.”

“Tapi mungkin Tuhan belum memaafkannya, mungkin ini akan menjadi sebuah pelajaran hidup bagi kita nanti kedepannya supaya bisa lebih baik lagi.” ucap Randy dengan bijak.

Febby mengangkat sebelah alisnya, lalu menatap Randy dan tersenyum simpul. “Sejak kapan kamu menjadi lelaki tua yang suka mengucapkan kata-kata bijak seperti tadi?”

“Aku belum tua,  dan apa kamu baru menyadarinya? Bukankah sejak dulu aku sudah bijak?”

“Bijak? hahaha yang benar saja.” kata Febby sambil tertawa mengejek. “Ayo kita pulang, mungkin Darren sudah telalu lama menunggu kita di rumah Mama.” Ajak Febby sambil menarik lengan Randy dan berjalan menjauhi ruang perawatan Dea.

“Hei, biarkan saja dia di sana, sementara itu kita bisa melakukan hal-hal yang dilakukan suami istri pada umumnya.” Randy berkata dengan nada sedikit menggoda.

“Hal-hal yang dilakukan suami istri pada umumnya?” Febby masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Randy. Tapi Febby kemudian membulatkan kedua bola matanya saat mengerti apa yang dimaksud Randy.

“Hei! Dasar! Apa kamu bisa menghilangkan otak mesummu itu sehari saja? Kamu mesum sekali!” teriak Febby sambil sesekali memukul lengan Randy dengan tasnya.

“Hei, hei, berhenti berteriak dan memukuliku.”

“Aku tidak peduli! Kamu lelaki paling mesum yang pernah kutemui.” Febby berkata masih dengan memukuli lengan Randy dengan tasnya sambil berjalan di lorong-lorong rumah sakit, sedangkan Randy sendiri hanya bisa terkikik dan berusaha menghindar dari pukulan-pukulan kecil istrinya tersebut.

Dan seperti itulah kehidupan rumah tangga mereka sekarang dan seterusnya. Akan selalu ada pertikaian-pertikaian kecil dalam rumah tangga mereka berdua. Febby sangat bahagia memiliki suami seperti Randy, meskipun Randy tidak jarang menggoda Febby hingga membuat Febby kesal dan marah, tapi itu seakan menjadi pupuk untuk membuat rasa cinta Febby terhadap suaminya tersebut tumbuh tinggi dan abadi selamanya.

Begitupun dengan Randy, Randy juga sangat bahagia memiliki Febby sebagai istrinya. Istri yang sama sekali tidak terbayangkan oleh pikirannya dahulu. Seorang dokter spesialis anak yang kaku dan membosankan, tapi Randy sangat mencintainya, bahkan Randy tidak yakin jika dirinya akan sebahagia seperti sekarang ini jika bukan Febby yang menemaninya dan menjadi istrinya.

 

 

–The End–

pendek aja yaa epilognya.. hahhahahaha wajar lah.. hahhahha oke makasih bgt buat yang udah baca dari awal sampai akhir, makasih bgt buat yang mau beli Pdfnya. aku bener-bener nggak nyangka ada yang mau beli. untuk yang pengen punya versi bukunya, jangan di hapus dulu dari library kalian yaa, mana tahu aku berminat cetak, hehhehe oke itu aja. jangan lupa baca juga cerita-ceritaku yang terbaru. aku tunggu vote dan komennya di cerita selanjutnya yaa.. *KissKiss

promo

Sweet in Passion – Chapter 15 (End)

Comments 3 Standard

wattpadsipSweet in Passion

Cukup lama keduanya terdiam dengan posisi Randy memeluk Febby dari belakang. Keduanya sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing.

“Aku sudah berpisah dengannya.” Randy berkata lirih memecah keheningan membuat tubuh Febby bergetar hanya karena mendengar perkataan pengakuan Randy.

“Dan itu demi dirimu, aku ingin memulai semuanya dari awal denganmu, aku meninggalkannya demi dirimu. Jadi aku mohon, maafkan aku, dan jangan tinggalkan aku.”

Astaga,  jantung Febby berdebar lebih cepat saat mendengar pernyataan Randy itu.

Febby lalu membalikkan badannya hingga menghadap Randy sepenuhnya. Lalu iapun memberanian diri untuk bertanya.

“Kenapa kamu meninggalkannya demi aku?”

“Karena aku mencintaimu.”

Randy mengatakannya dengan tegas seakan-akan tidak ingin di tolak dan tidak bisa di ganggu gugat. Febby yang mendengarnya hanya terganga, ia tidak menyangka jika Randy akan mengucapkan kata cinta kepadanya dengan setegas itu. Lalu bagaimana dengan dirinya? Apa dirinya mampu mengucapkan kata cinta untuk Randy?

 

Chapter 15(End)

 

Apa kamu mendengarku? Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, aku bahkan bisa gila jika tidak melihatmu.” kata Randy lagi dengan penuh penegasan.

“Tidak! Mana mungkin kamu, kamu-” Febby tidak dapat berkata-kata lagi.

“Ya, itu memang tidak mungkin untuk Randy yang dulu, tapi Randy yang berada di hadapanmu adalah Randy yang berbeda. Randy yang bodoh, yang bisa dengan mudahnya jatuh ke dalam pesonamu. Randy yang gila hanya karena tergoda olehmu, Randy yang bisa mati hanya karena tidak bersamamu. Aku mencoba menyembunyikan semuanya darimu, tapi sepertinya aku gagal, perasaanku benar-benar tidak bisa terbendung lagi, apalagi ketika aku melihatmu dengan lelaki lain.” jelas Randy panjang lebar.

Lagi-lagi Febby tak dapat berkata apa-apa. Dirinya terlalu sibuk mengatur debaran jantungnya yang seakan-akan ingin meledak karena pernyataan cinta yang sedang di ungkapkan oleh Randy.

“Febb, maafkan aku, aku tahu aku bersalah, mari kita mulai semuanya dari awal, aku mohon.” Randy menggenggam telapak tangan Febby dan memohon dengan tulus.

“Tidak! Aku tidak bisa.” jawab Febby sambil melepaskan genggaman tangan Randy dan berpaling membelakangi Randy.

Randy benar-benar sangat terkejut dengan penolakan yang di berikan oleh Febby. Baru kali ini dirinya ditolak mentah-mentah oleh seorang wanita.

“Aku tidak bisa memulainya dari awal karena itu tandanya aku harus menghapus dan melupakan semua waktu yang sudah kita lalui selama ini, aku tidak bisa, karena semua waktu itulah yang membuatku mencintaimu.” kalimat terakhir Febby membuat tubuh Randy menegang dan kaku seketika.

Febby lalu membalikkan badannya kembali untuk menghadap Randy. Ia kemudian mendaratkan telapak tangannya tepat pada dada bidang Randy.

“Aku tidak bisa melupakan semuanya, aku hanya bisa melanjutkan apa yang sudah kita mulai, dan aku pikir, aku tidak akan bisa mengakhirinya nanti.” ucap Febby dengan sedikit menunduk dan masih merabakan kedua telapak tangannya pada dada Randy.

Febby terlihat sangat malu mengatakan kalimat-kalimat yang tadi baru saja ia ucapkan. Astaga, seumur hidupnya ia tidak pernah mengatakan kata-kata menggelikan seperti itu.

Berbeda dengan Randy, perkataan Febby tersebut membuat Randy semakin tidak dapat menahan diri. Diraihnya pinggang Febby lalu disambarnya bibir Febby, mengulumnya, menuntutnya seakan-akan Randy hanya bisa bertahan hidup dengan ciuman Febby.

Febby sendiri mulai mengerang, mendesah hanya karena ciuman yang di berikan oleh Randy. Randy  benar-benar mempengaruhinya. Lelaki di hadapannya  ini benar-benar terlihat panas dan menggoda,

Astaga, sejak kapan Febby menjadi semesum ini? Sejak kapan di dalam otaknya hanya terpikirkan kata bercinta, bercinta dan bercinta saja? Apa karena hormon kehamilan yang mempengaruhinya? Ya, tentu saja karena hormon sialan itu. Pikir Febby.

Randy mulai menjalankan jari jemarinya di seluruh punggung Febby, menggodanya, membuat Febby merinding hanya karena sentuhan yang di berikan oleh Randy.

Randy lalu mulai membuka resleting baju Febby yang berada di punggung belakangnya. Sedikit demi sedikit tanpa melepaskan ciumannya. Randy mulai mencumbui rahang hingga leher Febby, dan itu membuat Febby semakin menggila.

“Kamu, Uuggh, mau apa?” Tanya Febby yang masih memejamka matanya, menikmati semua cumbuan dari Randy.

“Mau apa lagi? tentu saja kita akan bercinta.” jawab Randy dengan santai masih dengan mencumbui tengkuk leher Febby.

“Apa? Astaga, Ran.” Febby terlihat seakan-akan susah berkata-kata.

“Hemm.” Hanya itu jawaban Randy yang saat ini sudah mulai menurunkan baju Febby. Dan meremas gundukan yang berada pada dada Febby.

“Kita,  tidak boleh, melakukannya.. eemmpptt..” Febby  menggigit bibir bawahnya sendiri untuk menahan gairahnya.

“Kenapa?”

“Karena aku, hamil.” Kata Febby dengan susah payah.

Randy menghentikan cumbuannya seketika dan mulai memandang Febby dengan tatapan tajamnya.

“Apa orang hamil dilarang bercinta?” tanya Randy  penuh dengan penekanan.

Febby yang sudah setengah telanjangpun akhirnya salah tingkah dengan tatapan yang di berikan oleh Randy.

“Uum, tidak, hanya saja-” Febby tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi ketika Randy kembali menyambar bibirnya.

Randy lalu melepaskan ciumannya “Kita hanya main-main sebentar, aku yakin itu tidak akan mengganggunya.” Kata Randy yang saat ini sudah meloloskan seluruh pakaiannya membuat Febby berpaling dari pandangan indah di hadapannya itu.

“Uum, tapi itu kurang bagus, karena usia kandunganku masih rawan.”

“Astaga,kita hanya sebentar sayang, aku janji tak akan menyakitimu.”

“Tapi-”

“Demi Tuhan Febb. apa kamu ingin membuatku gila? Aku sudah hampir meledak, dan astaga,  jika menikahi dokter akan sesulit ini aku tidak akan pernah mau menikahi dokter lagi.” Gerutu Randy dengan kesal.

“Baiklah.” Febbypun akhirnya mengalah. “Sekarang bagaimana? apa kita disini?” tanya Febby sedikit canggung dan gugup.

Randy tersenyum menyeringai. “Tentu tidak sayang, kita butuh suasana baru.” Kata Randy yang lalu mengangkat tubuh Febby dan  membuat Febby terpekik karenanya.

Randy menurunkan Febby di ruangan khusus yang di sediakan Randy untuk memajang koleksi-koleksi pakaiannya, tepat di depan kaca besarnya. Randy lalu melucuti satu persatu pakaian yang melekat di tubuh Febby dengan sensual hingga saat ini Febby berdiri dihadapannya tanpa sehelai benangpun sama seperti dirinya. Randy menatapi setiap jengkal dari tubuh Febby, membuat Febby salah tingkah karenanya.

“Apa yang sedang kamu lakukan?”

“Aku hanya sedang mengamati makananku.”

“Apa? Makanan?”

Randy lalu tersenyum melihat ekspresi Febby. “Aku ingin bercinta denganmu, dengan menggunakan perasaan, aku tidak hanya menginginkan seks. Jadi kumohon nikmatilah semua ini.” Kata Randy sambil mendekatkan diri pada diri Febby dan mulai mencumbu Febby penuh dengan gairah. Jari jemari Randypun sudah menggoda kedua payudara sintal Febby, membuat Febby semakin menikmati permainan ini.

Cukup lama keduanya saling mencumbu saling menyentuh satu sama lain membuat keduanya semakin bergairah dengan permainan ini. Randy lalu membalikkan tubuh Febby hingga membelakanginya, dan menghadapkan tubuh mereka berdua pada kaca besar yang berada di hadapan mereka. Randy  lalu mencumbui setiap jengkal punggung halus Febby, dan meninggalkan jejak-jejak basah di sana.

Tanpa menunggu lagi Randy mengangkat Sebelah paha Febby lalu menenggelamkan diri sepenuhnya pada pusat diri Febby dari belakang, membuat Febby terpekik karena sensasi yang di rasakannya.

“Astaga, uugh, Apa yang kamu lakukan? Astaga.”

Randy sedikit tersenyum menggoda Febby. “Aku ingin percintaan kita kali ini menjadi percintaan yang paling erotis. Lihat dihadapanmu, aku ingin kamu melihat betapa seksinya dirimu dan betapa panasnya diriku saat berada didalam dirimu.” kata Randy sambil menunjuk kaca di hadapan mereka.

“Aku ingin kita berdua sama-sama menyaksikan apa yang sedang kita lakukan.” lanjut Randy lagi sambil memulai aksinya membuat Febby mendesah tak keruan.

Febby sudah tak dapat berkata-kata lagi. Ia terlalu sibuk dengan peraasaan dan gairah yang bercampur aduk didalam dirinya. Astaga, Randy benar, bercinta di depan kaca benar-benar sangat seksi dan erotis, membuat Febby tak dapat menahan dirinya sendiri. Satu tangan Randy mulai menggenggam jemari Febby yang berpegangan pada kaca di hadapannya. Randy juga masih mencumbui punggung dan tengkuk Febby tanpa menghentikan aksinya.

“Bagaimana menurutmu?” Tanya Randy di sela-sela cumbuannya.

“Astaga, ini, uugghh, ini benar-benar seksi.” desah Febby dengan susah payah.

“Apanya yang seksi, sayang?” Randy tak mau berhenti menggoda.

“Tubuhmu, yang berkeringat.”

“Kamu menyukainya?”

“Sangat suka.”

Randy lalu tersenyum. “Istriku yang nakal.” dan Randy akhirnya mempercepat lajunya masih dengan mencumbui punggung serta pundak Febby. Yang dilakukan Febby hanyalah mendesah pasrah sambil memejamkan matanya, menikmati setiap detik percintaan panasnya dengan Randy. Astaga, Randy benar-benar membuat Febby gila dan liar saat ini.

“Aku akan Sampai.” kata Randy lagi lalu dia menolehkan kepala Febby ke belakang dan melumat habis bibir Febby tanpa ampun ketika gelombang kenikmatan itu datang menghantam mereka.

Randy masih melumat bibir Febby meski mereka sudah tak menyatu lagi dengan tubuh wanita tersebut. Febby bahkan sudah terengah-engah hampir kehabisan napas. Dilepasnya cumbuan tersebut, dilihatnya Febby yang penuh dengan keringat yang astaga, membuat Randy menegang dan  menginginkannya kembali.

“Sialan!!” umpat Randy. Febby mengernyit mendengar umpatan Randy. “Aku tidak mengumpat terhadapmu, sayang, aku mengumpat pada diriku sendiri.”

“Dan apa kamu bisa menghentikan umpatan-umpatan itu dihadapanku? itu tak baik untuk bayi kita.”

“Astaga, aku bahkan hampir lupa jika kamu sedang hamil dan  kita akan memiliki bayi.”

“Ya, karena kamu terlalu sibuk dengan selangkanganmu” gerutu Febby sambil bergegas menjauhi Randy, tapi baru berapa langkah, Febby hampir terjatuh jika Randy tidak meraihnya.

“Apa kamu bisa lebih berhati-hati?”

“Ini semua salahmu! kamu membuatku hampir tidak bisa jalan karena lemas.”  Febby berbalik memarahi Randy.

Randy menghela napas panjang, mulai saat ini sepertinya dirinya harus lebih sabar meghadapi sikap Febby.

“Baiklah, aku memang bersalah Nyonya Prasaja, maafkan aku.” kata Randy yang kali ini sudah mengangkat tubuh Febby dan menggendongnya menuju ke atas ranjang di kamarnya.

“Kamu mau apa?”

“Mau apa lagi, tentu saja menidurkanmu.”

“Aku bisa tidur sendiri.”

“Hei, kamu tidak perlu gugup seperti itu. Kita sudah saling mengungkapkan perasaan masing-masing Jadi jangan berharap aku membiarkanmu memungkiri perasaanmu sendiri lagi.” Lalu Randy akhirnya membaringkan tubuh Febby di ranjang dan menyelimutiya. “Istirahatlah dulu, aku akan membuatkanmu makanan lalu aku akan membersihkanmu nanti.” lanjut Randy.

“Kenapa kamu perhatian sekali?”

“Astaga, apa bisa kamu tak banyak tanya dan hanya menikmati semua ini?”

“Tapi kamu terlihat aneh.” kata Febby sambil tersenyum.

“Ya, sekarang aku memang aneh. Karena aku menjadi lelaki bodoh yang tunduk dengan istrinya, apa kamu puas?”

Dan Febbypun hanya tersenyum mendengar pernyataan Randy. Randypun dengan santainya mengecup kening Febby, membuat Febby dirayapi oleh perasaan aneh di sekujur tubuhnya. Astaga, Randy manis sekali.

***

Setelah memasak dan mandi bersama Randypun membawakan Febby sebuah nampan yang penuh dengan makanan. Ada sebuah sup jagung, salad buah,  dan beberapa makanan lainnya. Randy tak lupa membuatkan Febby segelas susu. Astaga, sejak kapan Randy berubah menjadi lelaki yang perhatian dan manis seperti sekarang ini?

Randy masuk ke dalam kamar mendapati Febby duduk santai di atas ranjang masih dengan mengenakan kimono tidurnya.

“Ayo buka mulutmu, Haa…” Kata Randy yang saat ini sudah duduk di pinggiran ranjang dengan tangan yang sudah siap menyuapi Febby layaknya seorang ibu yang menyuapi anaknya.

Febby yang melihat tingkah laku Randy hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.  “Kamu menggelikan sekali.”

“Menggelikan? Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu.”

“Kamu tidak perlu seperti ini,  lagi pula aku hanya hamil, bukan sakit keras, jadi aku bisa makan sendiri.”

“Aku hanya ingin menjadi suami yang baik untukmu, apa kamu tidak ingin kita menjadi pasangan suami istri romantis seperti pada umumnya?”

“Sepertinya itu tidak akan terjadi, aku bukan tipe wanita romantis.”

“Benar, karena kamu wanita yang sangat kaku dan membosankan.” Kata Randy sambil tersenyum menggoda, sedangkan Febby hanya bisa membulatkan kedua matanya ke arah Randy. “Tapi aku mencintaimu, aku mencintaimu karena kamu kaku dan membosankan.” lanjut Randy lagi yang langsung membuat kedua pipi Febby memerah.

“Kamu tidak perlu mengucapkan kalimat itu lagi.” Kata Febby dengan malu-malu.

“Kenapa memangnya?”

“Kamu tahu? Aku malu saat kamu mengatakan ‘aku mencintaimu, aku mencintaimu,’ dan itu membuat jantungku seakan-akan ingin meledak.”

Dan tertawalah Randy dengan lebarnya saat mendengar pernyataan Febby.

“Febb, aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu.” Kata Randy masih dengan tertawa.

Lalu setelah itu keduanyapun sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Ran.” Febby mulai membuka suara.

“Hemm..” Jawab Randy sambil menatap Febby dengan penuh perhatian.

“Bagaimana hubunganmu dengan Marsela?” Febby  mencoba untuk bertanya tentang masalah pribadi Randy, karena baginya masalah pribadi Randy sekarang juga akan menjadi masalah pribadinya.

“Aku sudah mengatakan padamu jika kami sudah berpisah. Aku tidak bohong mengenai itu.”

“Tapi kamu akan menyaitinya.”

“Lebih baik aku menyakitinya sekarang dari pada nanti, dan aku juga tak ingin menyakitimu, menyakiti hatiku, dan juga menyakiti hati orang yang mencintai Marsela.”

Febby mengangkat sebelah alisnya. “Orang yang mencintai Marsela?”

“Kamu tidak perlu tahu, tapi kuharap mereka nanti bisa bersatu dan bahagia.”

“Tapi, apa kamu benar-benar tidak menyesal memutuskannya? Maksudku, apa kamu tak takut jika perasaanmu ini hanya sementara saja denganku?”

“Apa kamu gila? Perasaan ini benar-benar perasaan nyata, aku bahkan sudah merasakan perasaan ini selama beberapa bulan terakhir, hanya saja aku terlalu malu mengakuinya padamu. Dan kumohon percayalah, perasaan ini benar-benar nyata untukmu.”

Febby lagi-lagi  hanya ternganga mendengar pernyataan dari Randy. Ini sudah seperti mimpi baginya, menikah dengan Randy karena dijodohkan, Febby tak pernah berfikir mereka akan berakhir saling mencintai mengingat sifat keduanya yang sama-sama keras kepala bahkan selalu bertengkar bagaikan kucing dan tikus.

“Lalu, bagaimana hubunganmu dengan lelaki bajingan itu?” tanya Randy dengan nada sedikit menyindir.

“Astaga, apa kamu bisa berhenti menyebutnya lelaki bajingan? Brian orang yang sangat baik, tahu!”

“Aku tidak peduli.”

Febby menghela napas panjang. “Kami tidak ada hubungan apa-apa.” kata Febby jujur.

“Benarkah?” Randy masih tak percaya.

“Dia memang menyatakan cinta terhadapku, tapi aku sudah mengatakan padanya jika aku mencitaimu, dan aku hanya menganggapnya sebagai teman atau saudara saja.”

“Tapi kamu pernah mengatakan jika kamu dan dia pernah berciuman. Apa itu benar?” Randy masih mendesak seakan menuntut kebenaran.

Febby menelan ludahnya dengan susah payah karena tak tahu harus menjawab apa.

“Hehehehe,  itu, karena aku terlalu terbawa suasana.” kata Febby  pelan  sambil sedikit menyunggingkan senyuman anehnya.

“Apa?! Jadi kalian benar-benar sudah berciuman?!” teriak Randy.

“Iya, maafkan aku.”

“Kamu benar-benar keterlaluan!” Randy berkata dengan nada yang di buatnya marah.

“Hei, bukankah kamu lebih parah? Kamu bahkan bercinta dengan wanita lain saat kita sudah menjadi suami istri.” kali ini Febby yang pura-pura marah terhadap Randy.

Kini giliran Randy yang menelan ludahnya dengan susah payah, sepertinya ia memang harus mengalah menghadapi Febby, jika tidak, Febby akan gampang sekali meledak-ledak.

“Aku kan sudah minta maaf.” ucap Randy memelas.

“Baiklah, berarti kita sudah impas. Lagi pula aku benar-benar tidak ada hubungan yang spesial kok dengan Brian.” kata Febby kemudian. “Lalu bagaimana dengan film terbarumu dengan Marsela? Apa hubungan kalian sekarang tidak akan mengganggu film itu?”

Randy lalu memeluk Febby. “Kamu tenang saja, film itu masih tetap berlanjut, aku akan tetap berakting dengannya seprofesional mungkin. Apa kamu tau, ini bukan yang pertama untukku?”

Febby mengerutkan keningnya. “Bukan yang pertama? Apa maksudmu?”

“Dulu aku sering bercinta dan menjalin hubungan dengan lawan mainku dalam sebuah film, hubungan kamipun berakhir sebelum film itu selesai di garap, dan aku bisa menyelesaikan semuanya dengan baik.”

“Apa? Jadi kamu sudah bercinta dengan banyak wanita?!” Teriak Febby sambil  melepaskan pelukan Randy membuat Randy terpekik kaget dengan perubahan suasana hati Febby.

“Apa kamu bisa berhenti berteriak? Lagi pula bukankah kamu sudah membaca semua gosip tentang skandalku?” kata Randy santai.

“Pergi dari sini! Pergi! Pergi!” ucap Febby yang kini sudah memukul-mukul Randy dengan bantal dan guling mereka.

“Hei, apa yang kamu lakukan? Aku hanya berusaha jujur padmu.”

“Aku tidak peduli, pergi! Pergi!” Febby masih saja memukuli Randy dengan bantal. Membuat keduanya terlihat seperti anak kecil yang sedang main perang-perangan.

***

Beberapa bulan kemudian…..

Febby merasa sangat gugup ketika dirinya berada dalam situasi seperti saat ini. Dalam keadaan perut buncit dengan seluruh mata tertuju padanya, Randy yang berjalan di sebelahnya menggenggam tangan Febby dengan erat seakan-akan mengatakan jika semua akan baik-baik saja.

Mereka berdua kini sedang menghadiri acara pemutaran perdana film “Passion of Love”, Film yang dibintangi Randy dan Marsela.

Febby gugup karena setelah pemutaran perdana nanti, akan ada sesi konferensi pers para pemainnya terutama Randy, dan mau tak mau Febby ikut dalam konferensi pers tersebut karena ia istri Randy. Belum lagi kabar yang belakangan ini ramai di gosipkan karena kedekatannya dengan rival Randy, yaitu Brian.

Ya, gosip kedekatan Febby dan Brian belum juga menghilang dari permukaan karena baik Febby atau Brian memilih bungkam tak memberikan komentar atau klarifikasi apapun mengenai itu. Randy melarang Febby untuk melakukan klarifikasi karena itu mungkin saja akan mengganggu kehamilan Febby. Randy bahkan berkata jika dirinyalah nanti yang akan melakukan konferensi pers terkait kabar kedekatan Febby  dengan Brian.

Akhirnya pemutaran perdana itupun selesai juga, Febby sedikit kesal melihat adegan demi adegan mesra yang dilakukan Randy dengan Marsela, mungkin karena hormon kehamilannya yang membua Febby menjadi lebih sensitif dengan keadaan di sekitarnya.

Saat ini mereka sudah duduk menghadap puluhan wartawan yang sedang meliput mereka, pertanyaan demi pertanyaanpun di jawab dengan baik oleh para pemain tak terkecuali Randy. Hingga akhirnya pertanyaan itupun  keluar dari salah seorang wartawan, wartawan yang bernama Amar, wartawan yang selalu mengorek apapun kabar kehidupan pribadi Randy, Randy bahkan sempat berpikir, apa wartawan itu terlalu mengidolakannya hingga selalu mencari masalah terhadapnya? Yang benar saja.

“Randy, bagaimana hubunganmu dengan Marsela? Kami pikir kalian ada dalam suatu hubungan.” Randy sedikit menegang dengan pertanyaan tersebut, sebenarnya ia tak tahu harus menjawab apa, ia tidak mau menyakiti perasaan Febby ataupun Marsela.

“Aku pikir semuanya sudah jelas jika aku dan Randy tidak ada hubungan apa-apa, kami sebatas rekan kerja.” kata Marsela yang tiba-tiba menjawab pertanyaan wartawan tersebut dengan tegas,  membuat Randy dan seluruh yang ada di ruangan tersebut terkejut dengan jawabannya.

“Ran, apa aku boleh sedikit bercerita dengan mereka?” tanya Marsela pada Randy dengan sedikit menyunggingkan senyuman.

Randy melihat Febby seakan-akan ingin meminta persetujuan dengan Febby, dan Febbypun hanya bisa mengangguk menyetujui permintaan Marsela.

Dan Marsela akhirnya mulai bercerita. “Sebenarnya kalian benar, dulu kami memang sempat menjalin kasih, tapi hubungan kami itu sudah lama retak dan berakhir. Jadi aku mohon berhenti membuat skandal tentang kami, Randy sudah bahagia bersama istrinya yang baik, dan akupun sudah bahagia bersama dengan pasanganku. Jadi sekali lagi kumohon berhenti membuat gosip tentang kami.”

“Lalu di mana pasanganmu saat ini, Marsela?” tanya seorang wartawan lagi.

“Ya, kami tidak akan percaya begitu saja sebelum ada bukti nyatanya.” Tambah seorang wartawan lagi. Dan ruangan itupun semakin gaduh dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kekasih Marela. Wajah Marsela memucat karena ia mulai merasa tersudutkan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, Marsela tahu jika dirinya tidak akan mampu menjawab satupun pertanyaan  yang dilontarkan wartawan tersebut karena mungkin saja Chiko tidak mau hubungannya dengan Marsela terekspos di depan publik. Ya, Marela mulai menjalin hubungan dengan Chiko, meski ia sendiri tidak yakin, hubungan apa itu namanya.

“Akulah kekasihnya.” Dan suara gaduh itupun berhenti ketika seorang Chiko Febrian datang menghampiri Marsela dan meraih pinggang Marsela sambil mengatakan kalimat tersebut dengan tenang.

“Chiko Febrian? Itu, itu sepertinya tidak mungkin. Bukankah anda seorang-” salah seorang wartawan berkata dengan terpatah-patah saking terkejutnya.

“Aku tidak peduli apapun yang kalian gosipkan, tapi aku dan Marsela memang sedang menjalin suatu hubungan, bahkan kami akan melaksanakan pernikahan akhir tahun nanti.”

“Apa?” Banyak arang di ruangan tersebut saling pandang tak percaya dengan pernyataan Chiko yang mengejutkan tersebut. Marselapun demikian sama terkejutnya dengan pernyataan Chiko. Menikah? Yang benar saja.

“Wah, bagus sekali, ini benar-benar kabar yang membahagiakan, selamat Big bro.” kata Randy sambil berdiri dan tersenyum lebar serta menyalami Chiko. Randy merasa berterima kasih dengan hadirnya Chiko, dengan begitu dia tak lagi di sangkut pautkan dengan Marsela. Astaga, enak sekali hidupnya.

Dan semua orang di dalam ruangan itupun bertepuk tangan memberikan selamatnya pada Marsela dan Chiko. Tapi ada seorang wartawan yang sejak tadi memperhatikan ekspresi kurang nyaman dari Febby, siapa lagi jika bukan Amar, wartawan yang gemar sekali membuka skandal orang di hadapan publik.

“Nona Febby, sepertinya kali ini giliran anda untuk menjawab, ada hubungan apa anda dengan Brian Winata? Seperti yang di kabarkan beberapa bulan terakhir, apa benar jika anda memiliki skandal dengan penyanyi tersebut?” tanya wartawan tersebut yang sontak membuat seluruh isi ruangan kembali hening dan mengalihkan pandangan ke arah Febby.

“Uumm, saya, saya.-” Febby  benar-benar terlihat gugup.

Randy lalu menggenggam telapak tangan Febby seakan-akan memberi kekuatan untuk Febby.

“Istriku tidak ada hubungan apapun dengan Brian.” jawab Randy dingin dan dengan ekspresi kerasnya membuat siapapun yang memandangnya bergidik.

“Tapi,  kejadian waktu itu-” kata seorang wartawan yang seketika menghentikan kalimatnya saat Randy menatapnya dengan tatapan sangarnya.

“Mereka hanya berteman, saat itu Febby dan aku memiliki masalah, dan Febby hanya berusaha untuk bercerita dengan Brian tentang masalah kami. Akhirnya Brianlah yang membantu menyatukan kami kembali.” Randy mau tak mau sedikit berbohong dengan pernyataannya kali ini.

“Membantu? Bukankah kalian adalah Rival?”

“Hahaha siapa yang bilang seperti itu? Bukanya kalian sendiri yang mengabarkan seperti itu. Kami menjadi Rival hanya dalam Film ‘Lady Killer’, Sebenarnya aku dan Brian adalah teman akrab.” kata Randy sesantai mungkin lengkap dengan tawa mengejeknya.

“Teman akrab? Apa itu benar?” banyak yang menyangsikan, tentu saja.

“Tentu saja benar, bahkan lusa aku dan Febby berencana untuk menonton konser Brian bersama-sama. Benar, kan sayang?” tanya Randy pada Febby. Febby sendiri hanya sedikit tak percaya dengan pernyataan Randy tersebut.

Febby memang sudah mengidamkan untuk melihat konser solo Brian yang akan dilaksanakan lusa, Febby bahkan sudah meminta Randy menemaninya tapi Randy menolaknya mentah-mentah. Tapi kenapa pernyataan Randy saat ini berbanding terbalik? dan Febbypun hanya bisa mengangguk pesrah dengan pertanyaan Randy tadi.

“Tapi menurut kabar kalian kan tidak akur? ini terlihat seperti sandiwaramu saja.”

“Terserah apa kata kalian, lagi pula tidak ada gunanya juga aku bersandiwara di depan kalian. Karena setelah film ini, aku vakum selamanya dari dunia pertelevisian.”

Dan setelah penyataan Randy tersebut semua orang yang di dalam ruangan tersebut menjadi sedikit gaduh, banyak dari mereka yang bertanya-tanya apa benar apa yang dikatakan Randy barusan.

“Ran, apa yang kamu bicarakan? Kamu tidak perlu sejauh ini.” lirih Febby sedikit berbisik ke arah Randy.

“Tenang saja, semuanya sudah kupikirkan masak-masak.” Randy kembali berbisik ke arah Febby. “Terimakasih untuk para teman-teman semua, para kru-kru yang pernah membantuku, para fansku, dan juga para wartawan yang selalu memperhatikanku. Terimakasih atas bantuannya selama ini.” kata Randy dengan tulus dan penuh hormat sambil menyunggingkan senyumannya.

“Randy, apa benar yang tadi anda sebutkan jika anda akan berhenti selamanya dari dunia hiburan.” tanya salah satu wartawan lagi untuk memastikan.

“Ya, saya benar-benar akan berhenti.” jawab Randy sambil menarik tangan Febby ntuk mengikutinya pergi.

“Permisi..” lanjutnya sambil berjalan keluar dari ruangan tersebut.

“Ran, lalu bagaimana dengan kontrak-kontrak kerjamu?”

“Ran, apa alasanmu berhenti?”

“Ran, bisakah anda jelaskan secara detail kenapa anda berhenti?”

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan wartawan yang  di abaikan begitu saja oleh Randy, Randy sendiri sudah tak peduli dengan apa yang akan ditulis wartawan tentang dirinya nanti, yang terpenting, ia akan menata kembali kehidupan rumah tangganya bersama dengan Febby dan calon bayinya tanpa adanya skandal murahan yang akan menggaanggu keharmonisan keluarga kecil mereka nantinya.

***

“Apa kamu tidak apa-apa? kenapa kamu diam saja?” tanya Randy yang saat ini sudah berada di dalam mobil.

“Uum, aku hanya tidak habis pikir denganmu.”

“Apa ada yang salah denganku?”

“Tidak, hanya saja, apa benar kamu akan berhenti dari dunia yag membesarkan namamu itu?”

“Kamu pikir aku bercanda? Aku benar-benar akan berhenti.”

“Tapi kenapa?”

“Tentu saja karena perusahaan keluargaku sudah membutuhkanku. Kamu tahu sendiri, bukan,  jika Kakakku tidak mungkin mau mengurus perusahaan  tersebut, jadi jika bukan aku siapa lagi?  Lagi pula bukankah ini tujuan keluargaku saat menjodohkan kita? Aku hanya ingin berterimakasih dengan Papaku, karena dia, aku memiliki istri yang baik dan cantik sepertimu.” Kata Randy sambil mencubit pipi Febby dan itu membuat Febby tersipu malu dengan pujian Randy. “Dan tentuya, istri yang seksi dan panas saat di ranjang.” lanjut Randy  lagi dengan tertawa cekikikan.

“Hei! Apa kamu bisa sekali saja menghilangkan otak mesummu itu, Mr. Prasaja?” Dan Randypun hanya tertawa melihat ekspresi Febby yang merah padam karena perkataannya.

***

“Randy, minta fotonya dong.”

“Ran, boleh minta tanda tangan?”

“Astaga, kamu tampan sekali.”

“Ya ampun, manis sekali.”

“Ran, aku penggemar setiamu.”

Astaga, Randy bisa gila karena di kerumuni oleh para fansnya. Saat ini dirinya sedang menonton konser solo Brian. Konser tersebut di adakan di sebuah ruangan yang sangat besar hingga mampu menampung ribuan penonton. Brian baru saja mengeluarkan mini album, dan saat ini lelaki itu sedang mengadakan konser solonya.

Randy tak habis pikir, bukannya ini konser Brian? kenapa para fans Brian malah meminta foto dengannya?

“Ahh,  menyebalkan sekali, membuat lelah saja.” gerutu Randy.

“Salah sendiri, kenapa juga kamu menjadi artis terkenal.”  jawab Febby cuek dan masih dengan memakan cemilannya.

“Hei, aku bukan artis lagi. Lagi pula apa ini? Kekanak-kanakan sekali. Kamu  kan sudah tua, dan apa kamu tidak lihat perutmu sudah besar begitu, pakai ikut acara seperti ini, membosankan sekali.” kata Randy sambil melempar poster Brian yang di bawanya serta bando lampu berbentuk tanduk setan yang berada di kepalanya dan di kepala Febby.

“Hei! Jangan di lepas. Ini kan permintaan dari anakmu.” Kata Febby sambil memakaikan kembali bando tersebut di kepalanya dan kepala Randy. “Lagian ini kan konser Brian, wajar kalau kita membawa poster Brian, dan nggak lucu kalau aku membawa postermu.”

“Setidaknya poster-posterku lebih panas dan lebih bagus dari pada poster sialan ini.” Randy tak berhenti menggerutu kesal.

Akhirnya tak lama Brianpun tampil membawakan lagu-lagu andalannya. Seluruh penonton berteriak histeris tak terkecuali Febby.

“Brian!! Astaga, dia keren sekali!!!” teriak Febby sambil berdiri seperti penonton lainnya.

“Hei, kamu tidak perlu ikut-ikutan berteriak seperti itu, menggelikan sekali.” kata Randy sambil menarik tangan Febby, tapi Febby tak peduli, dia masih saja berteriak-teriak seperti penonton lainnya.

“Dasar! Kamu benar-benar, kamu harus ingat dengan perut besarmu itu.” Randy lagi-lagi menarik tangan Febby, ia tentu tidak suka dengan sikap Febby yang terlihat sangat antusias dengan penampilan Brian.

“Kamu ini kenapa? untuk apa kita menonton konser  jika kita hanya berdiam diri seperti ini?” Febby sedikit kesal dengan  Randy. Tapi kemudian Febby  kembali berteriak-teriak histeris layaknya  para fans yang sedang menonton konser idolanya.

Dengan cemberut, Randy akhirnya mengalah dari pada dirinya bertengkar kembali dengan Febby. Tapi tanpa di sangka-sangka, Brian yang sedang menyanyikan sebuah lagu berjalan menuju ke arah Febby, lalu meraih dan menggenggam tangan Febby, membuat semua mata tertuju pada Brian dan Febby, sedangkan Randy yang duduk di sebelah Febby hanya ternganga melihat keberanian Brian mendekati Febby di hadapan publik. Sialan! apa yang dia lakukan? gerutu Randy dalam hati.

Tepat pada saat itu, lagu yang dinyanyikan Brian selesai. Dengan mengatur napasnya Brian mulai berkata-kata dihadapan semua orang yang berada dalam ruangan tersebut, dan itu tak luput dari beberapa media yang menyiarkan acara tersebut secara langsung, maupun beberapa wartawan yang memang berada di lokasi tersebut.

“Pasti kalian akan menganggap jika aku dan wanita ini memiliki hubungan special. Ya, kami memang memiliki hubungan special. Dia temanku, bahkan aku menganggapnya lebih dari pada teman. Aku menyayanginya seperti aku menyayangi saudara kandungku sendiri, karena dia istri dari temanku.” Kata Brian panjang lebar sambil melirik ke arah Randy. Ruangan tersebut mendadak sunyi karena penjelasan yang di berikan Brian.

Randy sendiri tidak percaya dengan apa yang sudah di katakan Brian, dia tidak menyangka jika Brian akan bersedia mengkonfirmasi hubungannya dengan Febby dan membunuh opini buruk publik tentang apa yang terjadi di antara mereka beberapa bulan terakhir.

Randy  lalu berdiri dan berbisik pada Brian. “Terimaksih karena kamu mau membantuku.” ucap Randy dengan nada penuh sahabat, ia bahkan menggunakan kata ‘Aku-kamu’ bukan ‘Gue-lo’ seperti sebelum-sebelumnya.

Brian tersenyum menyeringai.

“Gue nggak bantuin lo, gue cuma bantu wanita yang gue cintai.” Brian membalas bisikan Randy dengan bisikan yang sangat pelan hingga hanya Randy yang dapat mendengarnya.

“Sialan!” umpat Randy.

Lalu Brian hanya tertawa. “Anggap saja ini sebagai ucapan terimakasih karena lo sudah angkat kaki dari dunia hiburan ini.” Kata Brian pada Randy, lalu Brian kembali menatap Febby. “Berbahagialah, Aku akan selalu mendoakanmu supaya kamu bahagia.”  Kata Brian kepada Febby lalu pergi meninggalkan Febby dan Randy menuju kepanggungnya untuk bernyanyi kembali.

“Apa kalian ingin aku menyanyi lagi?!” tanyanya pada seluruh penonton saat kembali ke panggung besarnya.

Suara sorak sorai dari para penonton kembali pecah di ruangan tersebut, berbeda dengan Febby dan Randy yang saling menggenggam telapak tangan satu sama lain dan hanya diam membatu menatap ke arah Brian dengan perasaan masing-masing.

“Terimakasih,” bisik Febby pelan masih dengan menatap ke arah Brian dengan matanya yang sudah berkaca-kaca karena haru.

Randy menoleh ke arah Febby, kemudian merengkuh tubuh Febby ke dalam pelukannya. “Jangan menangis.” Bisik Randy.

“Aku menangis karena bahagia.”

“Benarkah? Apa karena aku?”

Febby mengangguk pasti dalam pelukan Randy. “Ya, karenamu, karena semua yang sudah terjadi padaku, aku bahagia, Ran.”

Randy memejamkan matanya sembari menghela napas panjang. Beginikah rasanya bahagia karena cinta? Pikirnya.

Randy menganggukkan kepalanya. “Ya, aku juga sangat bahagia.” jawabnya pasti. Dan keduanya berakhir dengan saling berpelukan, penuh dengan cinta dan kasih sayang, di iringi dengan lagu merdu yang di nyanyikan oleh Brian.

 

-End-

Belom end sepenuhnya, masih ada Epilog…

Sweet in Passion – Chapter 14

Comments 5 Standard

wattpadsipSweet in Passion

Chapter 14

 

Randy masih menatap Marsela yang kini sedang duduk menundukkan kepala di hadapannya. Pikirannya kacau, antara tega dan tidak tega untuk memutuskan hubungannya dengan Marsela. Bagaimanapun juga, ia masih menyayangi Marsela walau kini ia yakin jika Marsela tidak ada lagi di hatinya.

“Aku ingin bicara sesuatu denganmu.” Kata Randy membuka suara.

“Aku tidak ingin membahas itu.” Jawab Marsela sambil menggelengkan kepalanya.

“Marsela, ku mohon padamu jangan membuatku sulit.”

“Aku tidak pernah menginginkan semua ini menjadi sulit, Ran!” Marsela  mulai menangis dan berteriak histeris. Untung saja Randy sudah memilih kafe di dekat rumahnya yang menyediakan tempat yang privat hingga Randy tidak khawatir lagi jika ada wartawan dan lain sebagainya untuk mengawasi mereka.

“Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa meninggalkan Febby.” jawab Randy kemudian.

“Ran, apa kamu sudah benar-benar mencintainya?” Marsela mencoba memberanikan diri menanyakan pertanyaan tersebut. Randy hanya terdiam seakan tidak mampu menjawab pertanyaan dari Marsela.

“Aku bertanya padamu Ran,  apa kamu sudah mencintainya?!” kali ini kekesalan Marsela tidak dapat di bendung Lagi. Dia semakin berteriak histeris.

“Ya.  Aku mencintainya.” jawab Randy dengan tenang dan tegas.

“Apa?” Marsela tercengang dan tampak tak percaya.

“Aku mencintainya. Aku mencintainya hingga seakan-akan aku bisa gila tanpanya. Dia membuatku candu, dia membuatku frustasi hanya karena tidak berada disisinya. Aku tidak tahu sejak kapan dia mulai masuk ke dalam hatiku, menggantikan posisimu, dan menolak untuk mengembalikannya padamu. Yang aku tahu saat ini aku benar-benar mencintainya, aku tidak bisa hidup tanpanya. Bahkan aku tidak bisa lagi berpaling kepada wanita lain walau wanita itu adalah dirimu, Marsela.”

‘Plaaakkkkk’

Tangan Marsela mendarat sempurna di pipi Randy.

“Kamu benar-benar keterlaluan  berbicara seperti itu padaku.”

“Maafkan aku, aku hanya ingin kamu mengerti  kalau kita tidak bisa bersama lagi.” Kata Randy kemudian. Keduanya lalu sama-sama terdiam, hanya sesekali terdengar isakan dari Marsela.

“Marsela, maafkan aku,  aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa supaya kamu mau memaafkanku.” Lanjut Randy.

Marsela masih saja menangis. Menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Randy mulai gelisah, belum Lagi dia memikirkan Febby yang saat ini mungkin sudah amat sangat marah terhadapnya.

“Maafkan aku Marsela,  aku akan meninggalkanmu sekarang.” Kata Randy sambil berdiri dan akan bergegas pergi.

Marsela yang mengetahuinya seketika meraih tangan Randy dan memeluknya.

“Jangan pergi,  aku mohon jangan tinggalkan aku.” Rengek Marsela sambil memeluk lengan Randy.

“Maafkan aku, tapi aku harus pergi.”

“Aku membutuhkanmu, Ran.”

“Febby lebih membutuhkanku. Aku minta maaf.” Kali ini Randy berkata sambil melepas paksa rangkulan Marsela. Lalu pergi tanpa mempedulikan tangis Marsel yang semakin menjadi.

Randy berlari kembali ke arah rumahnya sambil menghubungi seseorang.

“Halo?” kata suara di seberang.

“Chik,  jemput  Marsela di kafe Louis dekat rumah gue.”

“Apa yang terjadi? Kenapa gue yang jemput? Lo kemana?”

“Jangan banyak tanya, gue sudah putus sama dia, tolong jemput dia.” Randy menjawab  masih dengan berlari. Dirinya harus segera sampai di rumah untuk bertemu Febby dan menjelaskan semuanya. Dengan cepat Randy menutup teleponnya begitu saja tidak mempedulikan Chiko  yang berteriak dan mengumpat terhadapnya.

Akhirnya Randypun sampai di rumahnya dengan napas yang sudah terputus-putus. Dibukannya pintu rumahnya dengan Kasar.

“Febb, Febby..” teriak Randy sambil mencari-cari keberadaan Febby. Tapi dia tidak menemukannya.

Randy masih saja mencari Febby di setiap sudut rumahnya, tapi tetap saja dirinya tak menemukan Febby, astaga, kemana perginya wanita itu? Randypun akhirnya memeriksa lemari pakaian Febby, dan sedikit lega karena pakaian Febby masih lengkap di sana.

Randy lalu menyandarkan tubuhnya di lemari  pakaian tersebut. Sambil mengacak-acak rambutnya sesekali Randy menyumpahi dirinya sendiri. Sialan! dirinya benar-benar sangat Bodoh. Harusnya ia tidak meninggalkan Febby terlalu lama tadi.

***

Febby masih berjalan tak tentu arah di atas trotoar. Dirinya tidak tahu harus pergi kemana. Rumah orang tuanya berada di luar kota. Tidak mungkin dirinya pergi kesana. Begitupun dengan rumah sakit. Kemaren setelah dirinya sadar dari pingsan  di rumah sakit, dirinya mengajukan cuti hamil sejak dini karena dirinya sudah tidak dapat menerima aroma khas rumah sakit lagi.

Febby juga masih belum ingin kembali ke rumah Randy. Hatinya benar-benar sakit. Randy benar-benar tak berperasaan. Lagi-lagi air mata itu jatuh kembali, membuat  Febby menertawakan dirinya sendiri. Sebodoh inikah dirinya hingga bisa jatuh cinta dengan lelaki seperti Randy Prasaja?

Ya, dirinya memang telah jatuh cinta. Jatuh cinta yang sangat parah,  hingga ia tidak tahu harus berbuat apa nanti ketika lelaki itu pergi meninggalkannya.

Febby lalu duduk di bangku halte pemberhentian Bus. Ia menunduk  dan menangis tersedu-sedu, tidak memperdulikan orang yang berlalu-lalang memperhatikannya.

“Hei,  apa yang terjadi? Kenapa kanu disini?” suara itu sontak mengagetkan Febby, membuat Febby mengangkat kepalanya dan tampaklah wajah tampan yang sudah berlutut dihadapannya. Itu Brian.

“Brian.” dan tanpa pikir panjang lagi Febby melemparkan dirinya ke dalam pelukan Brian sambil menangis tersedu-sedu. Sedangkan Brian sendiri walau masih sedikit terkejut, ia tetap membalas pelukan Febby dan tidak memperdulikan orang-orang yang sudah mengerumuni mereka bahkan tak sedikit yang mengabadikan foto mereka.

***

Febby masih setengah sadar ketika Brian menggendongnya dan membawa ke apartemen lelaki tersebut. Tadi ketika mereka berpelukan, orang-orang yang mengenali Brian sontak mengerumuni mereka, dan semakin bertambah. Hingga Brian tadi sempat meminta tolong kepada managernya untuk mengirim Bodyguard ke tempat mereka.

Bahkan tadi Brian masih setia memeluk Febby walau mereka sudah di dalam mobil hingga membuat Febby merasa nyaman dan tertidur di pelukan Brian. Astaga, seandainya saja Randy seperti Brian, mungkin Febbby tak akan mau melepaskan apalagi meninggalkan Randy seperti saat ini.

Febby  mengernyit ketika merasakan kepalanya berdenyut pusing karena memikirkan Randy. Brian yang melihatnya sedikit tersenyum melihat ekspresi yang sedikit aneh dari wajah Febby.

“Apa kamu sudah bangun?” Tanya Brian kemudian.

Febby hanya menggeliat sedikit, nyaman dengan Brian yang masih setia menggendongnya. Brian lagi-lagi tersenyum melihat tingkah Febby.

“Apa kamu ingin menggodaku? Jika itu yang kamu inginkan, selamat, Kamu sudah berhasil menggodaku.” Kata Brian lagi sambil membaringkan Febby di ranjangnya dan langsung menindihnya.

Febby pun sontak ontak membuka matanya, terkejut dan tak menyangka jika Brian akan melakukan ini terhadapnya.

“Brian! Apa yang kamu lakukan?!” teriak Febby setengah marah. Tapi kemarahan Febby itu berubah seketika menjadi tawa geli ketika Brian mulai menggelitk sambil mengecupi leher Febby.

“Hentikan Brian, hentikan, hahahahaha,kamu bisa membunuhku, astaga, hentikan.” Febby memohon karena geli dengan Brian yang masih menggelitiknya.

Brian yang merasakan tubuh Febby semakin lemas akhirnya menghentikan aksinya tersebut.

“Baiklah, aku berhenti, tapi ceritakan padaku apa yang terjadi denganmu.” Kata Brian sambil membenarkan duduknya.

Dan entah kenapa Febby dibuat semakin gugup saat Brian di dekatnya dan menatapnya tajam. Ada apa ini? Kenapa dirinya jadi gugup di hadapan seorang Brian Winata? bukankah selama ini Febby tidak pernah merasakan perasaan aneh seperti ini terhadan seorang Brian? Apa karena ciuman saat itu? Ohh sial!! Mau tak mau Febby harus mengaakui jika itu adalah ciuman yang sangat menggairahkan untuk Febby.

Dan ketika mengingat ciuman itu entah kenapa Febby langsung tersulut oleh sesuatu. Di dekatkannya bibirnya ke arah bibir Brian. Dan tanpa permisi seketika Febbymenempelkan bibirnya pada  bibir Brian dan menciumnya dengan ciuman panasnya.

Brian sebenarnya sangat terkejut dengan apa yang sudah dilakukan Febby, tapi dia menikmatinya. Tidak ada orang yang mampu menolak  ciuman dari seseorang yang dicintainya.

Ciuman Febbypun semakin menjadi. Brian bahkan sesekali mendengar desahan dari bibir Febby disela-sela cumbuan mereka. Ada apa ini? ada apa dengan Febby? dan sumpah demi apapun juga jika Febby tidak menghentikan ini, Brian tidak akan dapat menghentikannya sebelum  mereka berdua mencapai kepuasan masing-masing.

Akhirnya dengan terengah-engah, Febby menghentikan ciumannya. Wajahnya merah padam karena malu, dirinya hanya bisa menundukkan kepalanya dihadapan Brian. Dia beruntung karena Brian dapat menahan gairahnya.

“Maafkan aku.” ucap Febby di sela-sela napasnya yang terenga-engah.

“Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu seperti ini?” tanya Braian sambil mengangkat dagu Febby hingga dirinya dapat memandang wajah Febby.

“Aku hamil. Mungkin ini harena hormonku yang sedang kacau.” jawab Febby dengan jujur.

Brian sedikit terkejut dengan pengakuan Febby, tapi tetap saja, kehamilan Febby tidak akan menghilangkan sedikitpun rasa cintanya terhadap Febby, entahlah, Febby benar-benar membuatnya tergoda.

“Lalu dimana Randy? kenapa kamu menangis disana sendiri tadi?”

“Kami bertengkar.” Febby menjawab sambil menundukkan wajahnya. Lagi-lagi air matanya menanti untuk keluar dari pelupuk matanya.

“Bukankah kamu pernah bilang kalau setiap kari kalian selalu bertengkar?”

“Kali ini berbeda, kami benar-benar bertengkar.” Kata Febby  yang mulai terisak.

Brian lalu memeluk tubuh Febby, mengusap-usap punggungnya. “Sudah, jangan menangis lagi, itu tidak baik untuk kondisimu.”

“Aku mencintainya, Brian, tapi aku tidak sanggup hidup bersamanya lagi, aku ingin kami berpisah.” Febby berkata di sela-sela tangisannya.

Tubuh Brian seketika kaku mendengar pernyataan Febby. Sedikit senang mendengar Febby ingin berpisah, tapi tetap saja Brian tidak bisa menyembunyikan kesakitannya saat mendengar Febby mencintai Randy, bukan dirinya.

“Tenanglah, aku yakin semuanya akan membaik.”

“Dia mencintai wanita lain, dia tega meninggalkanku demi wanita itu.” Febby masih saja terisak di dalam pelukan Brian.

“Tenanglah, aku disini, aku disini bersamamu, aku tidak akan meninggalkanmu.” Kata Brian yang semakit mengeratkan pelukannya terhadap tubuh Febby.

***

“Apa yang terjadi?” Marsela mengangkat wajahnya dan menemukan wajah tampan bercampur dengan ekspresi khawatir dari Chiko.

Marsela tidak bisa berkata-kata Lagi ketika Chiko mulai memeluknya dengan erat. Ada apa dengan lelaki ini? Pikir Marsela dalam hati.

Sedangkan Chiko sendiri setelah memeluk Marsela, tanpa pikir panjang lagi langsung menggenggam tangan Marsela dan  menyeretnya keluar dari kafe tersebut. Marsela yang masih sedikit linglung tidak menolaknya, dia hanya mengikuti kemana perginya Chiko.

***

Lama mereka saling berdiam diri di dalam mobil. Akhirnya sampailah mereka pada apartemen milik Chiko.

“Kenapa kita ke sini?” Tanya Marsela yang tampak heran.

“Kupikir kamu belum ingin kembali ke apartemenmu dan sendiri meratapi nasib percintaanmu.”

Entah kenapa Marsela sedikit tersenyum mendengar perkataan Chiko dengan nada sedikit menyindir itu.

Di akui oleh Marsela, jika dirinya sedikit gugup saat ini ketika hanya berdua bersama Chiko. Entah kenapa mungkin karena pernyataan cinta Chiko beberapa hari yang lalu yang membuat Marsela seakan salah tingkah di hadapan Chiko saat ini.

Marsela mengakui jika dulu dia sempat pernah menyukai Chiko  sebelum menjalin hubungan dengan Randy. Namun perasaan itu dipendamnya dalam-dalam. Chiko yang saat itu sudah menjadi penyanyi  top negeri ini tidak akan mungkin melirik artis pendatang baru seperti dirinya, apalagi saat itu Marsela masih belum memiliki nama dan masih di ragukan bakatnya. Akhirnya perasaan itu di kubur Marsela dalam-dalam, dan Marselapun akhirnya memulai hubungan baru dengan beberapa teman prianya dan Randy salah satunya.

Tapi pernyataan Chiko Kemarin seakan-akan membuka kotak pandora yang sudah lama disimpan dan dikubur Marsela dalam-dalam di dasar hatinya, kotak pandora yang berisi rasa cintatak tersampaikan pada sosok yang kini duduk di sebelahnya.

Benarkah Chiko mencintainya?

Jika benar, Marsela mungkin saja tidak akan bisa menolaknya. Siapa yang sanggup menolak cinta dari Seorang  Chiko Febrian? Penyanyi papan atas negeri ini? yang kehidupan pribadinya sangat misterius di mata publik. Satu kalipun Chiko tidak pernah terlihat menggandeng wanita di acara formal maupun non formal. Chiko juga selalu menggunakan pemain pengganti saat melakukan adegan ciuman dengan semua lawan mainnya di dalam film yang pernah dibintanginya. Itu membuat para fans dan media semakin penasaran dengan sosok Chiko Febrian, tak terkecuali Marsela. Bahkan beberapa media dengan kurang ajarnya menyebut jika Chiko adalah seorang Gay karena tak pernah berdekatan dengan seorang wanitapun. Tapi sepertinya dikabarkan Gay lebih bagus menurut Chiko, dari pada digosipkan dekat dengan beberapa wanita.

“Chik, terimakasih kamu mau membawaku kemari.” Kata Marsela yang saat ini sudah duduk manis di ruang tamu Chiko.

“Randy yang meneleponku. Dia ingin aku menjemputmu.” wajah Marsela sedikit menegang mendengar nama Randy disebut. “Kamu mau minum apa?” Tanya Chiko yang saat ini sudah berada di dalam dapur apartemennya.

“Uum, aku tidak yakin, tapi apa kamu punya bir? Aku ingin meminumnya.”

“Bir? Astaga,  ini bahkan belum siang hari, dan aku tidak memiliki Bir. Kalau kamu mau anggur aku akan mengambikannya untukmu.” Tawar Chiko kemudian.

“Terserah kamu saja, anggur juga boleh, aku hanya ingin minum pagi ini.”

Dan Chiko pun akhirnya kembali ke ruang tamu dengan membawa sebotol anggur dan dua buah gelas kosong. Mereka Akhirnya minum bersama.

“Kenapa kamu juga ikut minum?” tanya Marsela tak mengerti.

Chiko lalu tersenyum manis. “Aku minum untuk menemanimu, sekaligus merayakan putusnya hubunganmu dengan Randy.” Jawab Chiko dengan jujur.

“Kenapa kamu seperti itu? Kenapa kamu bahagia saat melihat aku menangis?”

“Aku tidak bahagia saat melihatmu menangis, aku hanya bahagia karena aku tahu jika ini akan menjadi tangismu yang terakhir, karena setelah ini aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi.” Jawab Chiko dengan pasti.

“Chik, apa yang kamu bicarakan kemarin benar-benar nyata?” tanya Marsela yang ternyata masih penasaran dengan isi hati Chiko.

“Kamu perlu bukti? Kemarilah, aku akan memberikanmu bukti.” Kata Chiko sambil menarik tangan Marsela ke sebuah kamar.

Kamar yang sangat maskulin, yang berarti itu adalah kamar Chiko. Marsela terpana saat melihat kamar megah tersebut. Perabotannya, dekorasinya, dan..  apa itu adalah dirinyaa? Sebuah foto besar memenuhi dinding di atas kepala ranjang Chiko. Foto seorang wanita yang sedang berpose seksi.

Ya, Marsela jelas tahu jika itu foto dirinya. Salah satu foto yang diambil untuk cover majalah dewasa. Dan bagaimana mungkin Chiko bisa mempunyainya bahkan mencetaknya sebesar ini?

“Ya, itu dirimu, maaf jika aku tidak meminta ijin untuk memasang foto seksimu disini. Tapi aku benar-benar mengidolakanmu, bahkan lebih. Aku tidak bisa tidur jika belum melihat wajahmu.” Kata Chiko  yang kini sedang memperhatikan raut wajah terkejut Marsela.

“Bukan hanya itu, di sana masih banyak lagi.” Kata Chiko lagi sambil menunjuk sebuah lemari yang berisi beberapa buku dan album-album foto. “Setiap kali kamu melakukan pemotretan, aku akan meminta salinannya kepada managerku. Dan semua itu hanya aku dan dia yang tahu, maka dari itu hingga sekarang media tidak tahu apa yang kurasakan terhadapmu. Memang sedikit gila, aku sudah seperti seorang Psycopat yang terobsesi denganmu. Tapi beginilah aku. Aku mencintaimu sejak dulu, bahkan sebelum kamu mulai debut.” Kata Chiko kemudian.

“Tapi bagaimana bisa?”

“Aku terpesona oleh suaramu, Dan saat audisi, aku sendirilah yang memilihmu untuk masuk kedalam management kami. Tapi setelah kamu masuk, sepertinya kamu tidak tertarik denganku.” Kata Chiko dengan sedikit tersenyum pahit.

“Aku hanya bisa mengubur perasaanku, aku senang saat melihat kamu sukses meski kini kamu lebih memilih menjadi model dan bintang film daipada menjadi penyanyi, aku bahagia saat melihatmu bahagia  dengan para kekasihmu, tapi setelah Randy berkata dia tidak dapat membahagiakanmu lagi, aku pikir, aku bisa mengajarimu untuk mencintaiku supaya aku bisa membahagiakanmu.”

Marsela ternganga mendengar penjelasan Chiko. Benarkah apa yang dikatakan lelaki ini?

“Marsela, apa kamu bersedia untuk kuajari mencintaiku?” Tanya Chiko memberanikan diri. Dan tanpa pikir panjang lagi Marsela mengangguk. Astaga, apa ini nyata untuknya? Seorang Chiko Febrian menyatakan cinta untuknya?

Dan dengan ekspresi bahagianya Chiko memeluk tubuhMarsela dengan erat. Lalu dilepaskannya pelukan tersebut, dan perlahan-lahan Chiko mendekatkan bibirnya ke arah bibir Marsela, semakin dekat, semakin dekat, hingga menempelah bibir tersebut dengan sempurna ke bibirnya. Sedangkan Marsela sendiri sudah memejamkan matanya. Menikmati setiap lumatan yang diberikan oleh Chiko.

Ciuman lembut tersebut sedikit demi sedikit berubah menjadi panas, dan semakin panas. Chiko bahkan  sudah mendorong Marssela sedikit demi sedikit ke ranjangnya, membaringkannya dan menindihnya tanpa melepaskan ciuman tersebut.

Marsela sendiri sudah hilang kendali. Dia sudah mendesah dan mengerang nikmat. Melupakan semua sakit hatinya terhadap Randy. Kenapa bisa secepat ini luka hatinya terobati? Apa karena anggur yang dia minum tadi? Apa karena kenikmatan yang diperolehnya dari Chiko? atau apa karena Chiko yang sudah menggantikan posisi Randy dengan cepat dan mudahnya?

Arrgghhh… Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, yang jelas saat ini dirinya merasa bahagia, bukan sedih seperti orang yang sedang patah hati.

***

Randy terbangun dari tidurnya yang pulas. Dikuceknya matanya sambil melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya. Astaga, ini sudah pukul Tujuh malam, ia ketiduran berjam-jam di kamar Febby setelah lelah seharian mencari keberadaan istrinya tersebut.

‘Dimana Febby?!’  Batin Randy seakan meneriakkan pertanyaan tersebut.

Randy tadi sudah ke rumah sakit, tapi Febby tidak ada di sana. Suster penjagapun bilang jika Dokter Febby sudah mengajukan cuti hamil sejak dini karena tidak tahan dengan aroma rumah sakit.

Randy  juga sudah mencarinya ke rumah orang tuanya yang ternyata di sana masih ada Mira, kakaknya. Randy berpikir siapa tahu saja Febby mencari Kak Mira ke rumah orang tuanya. Tapi bukannya mendapatkan Febby di sana, ia malah dipukuli dan dimarahi habis-habisan dengan Kakaknya tersebut karena telah membuat Febby pergi, bahkan kakaknya tadi sempat memanggilnya dengan sebutan ‘Bajingan Bodoh’ di depan anaknya sendiri.

‘Astaga, kamu di mana Febb?’ desah Randy dalam hati.

Randy lalu bangun dan bergegas ke arah dapur, mengambil sekaleng Bir yang selalu tersedia di lemari pendinginnya lalu meminumnya. Kepalanya sedikit pusing memikirkan semuanya. Mungkin dengan sedikit minum akan mengurangi beban pikirannya. Tak lama teleponnya berbunyi. Di layar teleponnya terpampang nama Alvin. Dengan malas Randy mengangkat teleponnya.

“Apa yang terjadi? Lo dimana?” tanya suara di seberang.

“Gue di rumah, Ada apa?” tanya Randy dengan malas.

“Coba lihat televisi. Apa yang tejadi dengan kalian?”

Randy  lalu mematikan teleponnya kemudian menuju ke ruang tengah untuk melihat televisi. Di gantinya chanel demi chanel, dan dia berhenti pada sebuah chanel yang mengabarkan tentang dirinya, lebih tepatnya kehidupan rumah tannganya. Kabar itu berjudul ‘Istri aktor papan atas berpelukan dengan Aktor lainnya.’

Mendengar dan melihat kabar tersebut membuat Randy semakin meradang, apalagi dengan jelas terlihat gambar Febby sedang berpelukan dengan si Brengssek Brian. Dilemparnya remote televisi tersebut dan tanpa pikir panjang lagi Randy bergegas pergi untuk menemui Brian dan Febby.

***

Febby menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu milik Brian, ia kekenyangan sehabis makan malam bersama Brian. Astaga, disini benar-benar nyaman, di tambah lagi Brian yang memanjakan lidahnya dengan aneka macam masakan lezat ala lelaki tersebut. Ya, Brian pandai sekali memasak.

“Apa kamu menginginkan sesuatu?” tanya Brian kemudian.

“Tidak, aku hanya ingin istirahat dan tidur. Aku sangat kenyang.”  Jawab Febby sambil tersenyum dan mengusap lembut perutnya.

“Baiklah, istirahatlah, aku akan membersihkan sisa makanan kita tadi terlebih dahulu.”

Dan Febby tidak membalas perkataan Brian lagi, karena matanya sudah sangat berat. Dia akhirnya tertidur di sofa ruang tamu Brian.

Tapi tiba-tiba, pintu apartemen Brian di gedor oleh seseorang. Febby  yang tadinya sudah setengah tertidur akhirnya bangun kembali. Astaga, siapa yang malam-malam begini mengetuk pintu dengan keras seperti itu?

Febby melihat Brian yang akan bergegas ke arah pintu untuk membukanya tapi Febby melarangnya.

“Biar aku saja yang membukanya.” Kata Febby  kemudian karena memang dirinya yang lebih dekat dari pintu tersebut dari pada Brian yang masih berdiri di ruang makan.

Akhirnya di bukanya pintu tersebut dan tampaklah sosok yang sangat ingin ia hindari hari ini, sosok itu  berdiri dengan gagah dan tampang sangarnya. Febby tentu saja tampak sangat terkejut melihat kedatangan Randy yang kini sudah berada tepat dihadapannya.

“Apa yang kamu lakukan disini? Ayo kita pulang.” geram Randy sambil mencekal pergelangan  tangan Febby.

Febby menghempaskan cekalan tangan Randy. “Lepaskan aku, aku tidak mau pulang!” Febby masih mencoba melepas paksa cekalan tangan Randy  tapi Randy tidak akan melepaskannya begitu saja.

“Lepaskan dia.” Kata Brian yang sudah berdiri tepat di sebelah Febby.

Randy lalu melangkah tepat dihadapan Brian. “Lo nggak punya hak untuk nyuruh gue. Dia Istri gue, gue berhak ngapain aja sama dia.” Randy berkata dingin dan tajam tepat dihadapan Btian.

“Lo nyakitin dia.”

“Gue nggak akan pernah nyakitin dia.” Ucap Randy penuh penekanan, kemudian meninggalkan apartemen Brian sambil menyeret Febby yang masih sedikit meronta minta dilepaskan.

Sedangkan Brian sendiri hanya terdiam terpaku meratapi kekalahannya. Ya, Bria tahu jika dirinya sudah kalah, Febby bukan miliknya, Febby bahkan tidak mencintainya.

***

Randy mengendarai mobilnya dengan sangat cepat tanpa sedikitpun berbicara. Tampangnya benar-benar sangat sangar dan menakutkan untuk Febby. Tidak pernah Febby melihat tampang menyeramkan dari Randy seperti sekarang ini. Randy mungkin benar-benar sangat marah terhadapnya saat iti.

Entah kenapa itu membuat Febby seakan ingin menangis. Astaga, sejak kapan dirinya menjadi wanita yang super cengeng seperti sekarang ini? dan melihat Randy saat ini bukan kemarahan yang muncul di benak Febby. Tampang sangar dan ekspresi marah dari Randy entah kenapa membuat Randy  terlihat lebih Hot dan karismatik di mata Febby, membuat Febby seakan basah hanya karena melihatnya. Membuat Eun Hye menginginkan untuk melakukan seks dalam keadaan marah, mungkin itu akan terasa lebih panas dari pada biasa-biasanya, pikirnya.

Dan astaga, apa ini? bahkan disaat-saat genting seperti ini Febby memikirkan untuk bercinta dalam keadaan marah dengan Randy? Gila!! Febby benar-benar merasa dirinya seperti wanita jalang.

Tak lama Randy akhirnya memarkirka mobilnya di tempat parkir rumahnya. Cukup lama keduanya berada di dalam mobil tanpa saling pandang atau saling melempar kata.

“Apa hubunganmu dengan dia.” Randy membuka suaranya yang terdengar sangat dingin di telinga Febby.

“Bukan urusanmu.” Febby menjawabnya dengan cuek.

Randy lalu menatap ke arah Febby dengan tajam.

“Febb, aku ingin ini semua selesai malam ini. Jadi jawab pertanyaanku dengan jujur,  ada hubungan apa antara kamu dengan lelaki bajingan itu?” tanya Randy lagi dengan penuh penekanan.

Entah kenapa Febby seakan-akan ingin meledak mendengar perkataan Randy.

“Apa kamu tahu, dia bukan bajingan, kamulah yang Bajingan!” teriak Febby tepat dihadapan Randy sambil menunjuk-nunjuk dada Randy. Lalu tanpa pikir panjang lagi Febby keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan Randy yang mengejarnya dan memanggil-manggil namanya.

Randy  yang mengetahui emosi Febby sedang tidak stabil seketika mengejar Febby dan mencoba untuk mengalah. Diraihnya pergelangan tangan Febby lalu dipeluknya tubuh Febby dari belakang.

“Maafkan aku, maafkan aku, aku memang bersalah, maafkan aku.” ucap Randy masih dengan memeluk Febby dari belakang.

Febby benar-benar terkejut dengan perilaku apa yang di lakuka Randy. Tubuhnya kaku mendengar permintaan maaf yang terdengar tulus dari bibir Randy.

“Aku hanya tidak ingin kehilanganmu, maafkan aku.” Lagi-lagi pernyataan Randy semakin membuat tubuh Febby tidak bisa bergerak. Randy tidak ingin kehilangan dirinya? Bagaimana bisa? Bagaimana dengan perempuan itu? pikiran Febby tak keruan menanggapi pernyataan Randy.

Cukup lama keduanya terdiam dengan posisi Randy memeluk Febby dari belakang. Keduanya sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing.

“Aku sudah berpisah dengannya.” Randy berkata lirih memecah keheningan membuat tubuh Febby bergetar hanya karena mendengar perkataan pengakuan Randy.

“Dan itu demi dirimu, aku ingin memulai semuanya dari awal denganmu, aku meninggalkannya demi dirimu. Jadi aku mohon, maafkan aku, dan jangan tinggalkan aku.”

Astaga,  jantung Febby berdebar lebih cepat saat mendengar pernyataan Randy itu.

Febby lalu membalikkan badannya hingga menghadap Randy sepenuhnya. Lalu iapun memberanian diri untuk bertanya.

“Kenapa kamu meninggalkannya demi aku?”

“Karena aku mencintaimu.”

Randy mengatakannya dengan tegas seakan-akan tidak ingin di tolak dan tidak bisa di ganggu gugat. Febby yang mendengarnya hanya terganga, ia tidak menyangka jika Randy akan mengucapkan kata cinta kepadanya dengan setegas itu. Lalu bagaimana dengan dirinya? Apa dirinya mampu mengucapkan kata cinta untuk Randy?

-TBC-

Sweet in Passion – Chapter 13

Comments 4 Standard

wattpadsipSweet in Passion

 

 

Chapter 13

 

Febb, Aku menginginkanmu.” tanpa di sangka perkataan itu melucur dengan sempurna dari bibir Brian, dan itu membuat Febby membulatkan matanya seketika  karena terkejut dengan perkataan yang di lontarkan oleh Brian.

Febby seketika melepaskan diri dan menjauh saat  mendengar perkataan Brian, ia tahu jika ini tidak benar, ini salah, dan dia harus mengakhirinya sebelum terlambat.

“Brian, maafkan aku.” Kata Febby Lirih.

“Aku tahu.” jawab Brian dengan nada  kecewa. “Baiklah, aku akan mengantarmu pulang.” Lanjut Brian lagi. Sedangkan Febby hanya mengangguk patuh.

***

Randy berjalan mondar-mandir di depan pintu Rumahnya, dia sedang menunggu seseorang, siapa lagi jika bukan Febby, istrinya.  Tadi siang Randy berniat kerumah sakit untuk menjenguk Febby yang sedang bekerja sekalian untuk mengajaknya makan siang. Namun ketika sampai di rumah sakit, lagi-lagi dirinya di kecewakan karena Febby tidak berada di sana, lebih parahnya lagi Febby keluar dengan orang yang selama ini membuatnya cemburu yaitu si Brengsek Brian.

Lama Randy menunggu kedatangan Febby  di rumah sakit, tapi Febby  tak juga kembali padahal hari sudah mulai sore. Apa selalu seperti itu? Apa Febby  selalu bertemu secara sembunyi-sembunyi dengan Brian? Bukankah Febby saat itu sudah berjanji jika akan menghindari Brian? Mengapa Febby mengingarinya?

Akhirnya dengan kesal Randy memutuskan untuk pulang dan menunggu Febby di rumah. Seperti Saat ini, Randy belum tenang jika belum mendapat kabar tentang Febby.

Tak lama orang yang di tunggu-tunggupun akhirnya datang. Randy tak dapat membendung amarahnya lagi ketika melihat Febby pulang bersama dengan lelaki bajingan itu. Randy menatap Febby dengan tatapan membunuhnya.

Febby sedikit bergidik melihat tatapan membunuh yang di lemparkan Randy padanya, namun Febby tak menghiraukannya, ia masih kesal dengan Randy  yang selama ini sudah membohonginya.

“Baiklah, terimakasih karena kamu sudah bersedia mengantarku pulang.” kata Febby dengan Ramah.

Brian yang memang tidak keluar dari dalam mobilnya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu diapun kembali menancap pedal gasnya dan menghilang dibalik tikungan jalan.

Febby lalu membalikkan badan dan berjalan dengan santainya menuju ke arah pintu rumah tanpa sedikitpun mengindahkan keberadaan Randy  yang menatapnya dengan tatapan membunuhnya.

“Kamu sedang apa diam disitu? Kamu lupa membawa kunci rumah lagi?” tanya Febby dengan nada santainya.

“Apa kamu tidak melihat jika aku sedang menunggumu?” desis Randy dengan menahan amarahnya.

“Menungguku? Yang benar saja, memangnya untuk apa kamu menungguku?”

Randy sedikit tidak mengerti dengan sikap Febby yang tiba-tiba seperti sedang kesal dengannya. Bukankah seharusnya dirinyalah yang kesal terhadap Febby?

“Kita harus bicara, penting.” Kata Randy kemudian.

“Sudahlah, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku lelah.” Jawab Febby kemudian.

Tapi Randy tidak menyerah begitu saja, dan dia langsung To the Point menanyakan pertanyaan yang sudah lama menari-nari di pikirannya.

“Apa hubunganmu dengan si Brian?” tanya Randy  tajam dengan mencekal pergelangan tangan Febby.

“Bukan urusanmu.” Jawab Febby datar sambil melepaskan cengkraman tangan Randy.

“Febb, aku tidak akan bertanya dua kali dan jangan membuatku marah.” ancam Randy dengan suara penuh penekanan.

Febby menghela napas dengan kasar kemudian mejawab pertanyaan Randy.

“Kami keluar bersama, makan bersama, kami kencan kami ciuman apa itu sudah cukup?” Febby berkata dengan nada sedikit mengejek.

“Apa? Kalian-” Randy  tak dapat melanjutkan kata-katanya karena masih terkejut dengan apa yang dikatakan Febby. Febby berkencan dengan lelaki bajingan itu? Dan apa? Mereka berciuman?

“Kamu punya kehidupan pribadi sendiri dan aku memiliki kehidupan pribadi sendiri, jadi kita berdua sama-sama impas.” Jelas Febby lagi.

“Apa? Apa maksudmu?” Randy benar-benar tak mengerti.

“Kamu pikir aku wanita bodoh, aku dan seluruh warga negeri ini juga tahu kalau  kamu mempunyai hubungan khusus dengan wanita itu!” Jawab Febby dengansedikit berteriak, entaah kenapa tiba-tiba emosinya mulai tersulut begitu saja.

“Hei, ada apa denganmu? Aku tidak sedang membicarakan hubunganku dengan wanita lain.”

“Dan aku juga tidak suka membicarakan hubunganku dengan lelaki lain.” jawab Febby sambil bergegas masuk kedalam kamarnya tapi lagi-lagi Randy mencekal pergelangan tangannya.

“Kita sudah sama-sama janji akan menghindari mereka, tapi kenapa kamu mengingkarinya?” tanya Randy dengan tajam dan masih penuh dengan penekanan.

“Aku? Mengingkarinya? Seharusnya aku yang berkata seperti itu, kamu memang berjanji akan menghindari wanita jalang itu, tapi di belakangku kamu malah melakukan sebaliknya, bahkan kamu juga bermain film bersama tanpa sepengetahuanku!” Kali ini Febby sudah mulai berteriak. Febby  tidak tahu kenapa dirinya bisa sesensitif ini, rasanya ia ingin selalu meledak-ledak.

Randy  terkejut dengan pernyataan Febby. “Dari mana kamu tahu tentang film sialan itu?”

“Itu bukan urusanmu. Yang pasti aku tahu bahwa Kamu.Sudah.Membohongiku.”  Febby berkata dengan penuh penekanan di setiap katanya sambil menunjuk-nunjuk dada Randy.

Randy menghela napas panjang sambil memejamkan matanya. “Kita harus bicara baik-baik, aku tidak ingin bertengkar denganmu.” Kata Randy pelan, sepertinya ia harus mengalah jika melawan sikap keras kepala Febby.

“Maaf, aku lelah. Aku ingin istirahat.” Febby menjawab tanpa bisa di ganggu gugat sambil meninggalkan Randy  yang masih berdiri membatu.

***

Febby  keluar dari kamarnya  dengan tergesa-gesa. Ini belum jam Enam pagi, tapi Febby sudah siap berangat ke rumah sakit. Bahkan Randy  saja belum keluar dari kamarnya. Dirinya terlalu malas untuk bertemu dengan Randy pagi ini.

Febby menjalankan mobilnya sendiri dengan pelan dan santai sambil menikmati suasana pagi di kota Jakarta. Tiba-tiba pikirannya kembali lagi kepada Randy. Astaga, apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka nanti? Febby sepertinya sudah tidak sanggung hidup bersama dengan Randy  lagi. Apa  mereka harus berpisah? Bagaimana dengan Bayi? Ahh, lagi pula sampai saat ini dirinya belum hamil, bukan? jadi belum terlambat untuk berpisah. Pikirnya.

Febby menghentikan laju mobilnya. Ia lalu menyandaran kepalanya pada kemudi sambil menangis terisak. Kenapa Randy melakukan ini padanya? Kenapa Randy  tak bisa membuka hati untuk dirinya? Apa ada yang kurang dari dirinya dibandingkan wanita sialan itu? Batin Febby.

***

Siang ini Randy benar-benar dalam Mood yang buruk. Sepagi ini dia uring-uringan tak jelas. Bagaimana tidak, tadi malam setelah bertengkar hebat dengan Febby, dirinya tidak bisa tidur. Bayangan akan melakukan seks dengan marah dan kasar menari-nari di otak mesumnya. Febby terlihat semakin seksi dan menggoda saat sedang marah.

Sialan! bahkan saat bertengkar saja Randy  tidak bisa menghilangkan bayangan tubuh telanjang Febby dari dalam pikiran kotornya. Alhasil pagi ini ia bangun kesiangan dan mendapati Febby sudah tidak ada di dalam kamarnya. Sial!!

Semua Crew di lokasi syuting menjadi pelampiasan kemarahannya. Belum lagi kebosanan yang melanda dirinya karena harus menunggu si pemain pengganti yang sejak tadi mengulang-ulang adegan ranjang dengan Marsela karena kurang mendapat chemistery.

Sialan! Akhirnya Randy berdiri dengan sangar dan menyuruh si pemeran pengganti pergi.

“Adegan itu aku sendiri yang melakukannnya.” Kata Randy dengan tegas. Membuat semua orang yang berada di sana terperangah tak percaya menatap ke arahnya.

Adegan itu cukup panas. Film itu berjudul “Passion of Love”. Berkisah tentang Benny Andrean, seorang CEO muda yang ternyata tertarik dengan Fiona Adelia, yang hanya seorang wanita penghibur. Bisa di bayangkan berapa banyak adegan ranjang yang akan mereka mainkan nantinya. Randy sendiri berperan sebagai Benny Andrean, si CEO muda, sedangkan Marsela berperan sebagai Fiona Adelia, si wanita penghibur.

Randy akhirnya melakukan adegan itu. terlihat sangat  panas dan penuh gairah, membuat sutradara ikut ternganga. Apa yang terjadi dengan Randy? Dia bahkan bisa melakukan adegan yang sempat di tolaknya hanya dalam sekali Take dan itu tadi benar-benar sangat sempurna. Ekspresi yang di tampilkan Randy  benar-benar seperti seorang yang sedang kehausan bahkan terobsesi terhadap seorang wanita. Sangat cocok dengan karakter Benny Andrean yang terobsesi dengan tubuh seorang Fiona Adelia dalam Film tersebut.

God Job!! Bagus sekali, itu tadi benar-benar keren.” Kata Sang sutradara sambil menepuk-nepuk bahu Randy.

Randy yang masih membenarkan kimono tidurnya  –kostum yang dikenakan untuk syuting, hanya mendengus sebal.

“Terserah apa katamu, setelah ini, aku hanya ingin kalian menaikkan gajihku.”  Jawab Randy cuek lalu meninggalkan lokasi syuting tersebut begitu saja.

***

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Chiko yang saat ini sudah duduk di Marsela.

“Aku baik-baik saja,  aku hanya tidak menyangka jika Randy tadi mau melakukan adegan itu, padahal beberapa hari yang lalu dengan tegas dia menolaknya.”  Marsela berkata dengan pipi yang sudah merona, ia masih terinat adegan tadi ketika Randy tidak berhenti mencumbunya, entah kenapa itu membuat Marsela merindukan sentuhan dari lelaki tersebut yang sepertinya sudah lama sekali tidak ia rasakan.

“Dia aneh pagi ini, dia seperti orang yang sedang kesetanan.” Kata Chiko kemudian.

Marsela lalu tersenyum. “Aku tak peduli,  aku hanya bahagia bisa sedekat itu lagi dengannya walau hanya dalam adegan film.”

“Marsela.” lirih Chiko.

Marsela lalu memandang Chiko dengan tatapan tanda tanyanya. Kenapa lelaki dihadapannya ini berekspresi sepeti ini? Seakan-akan dia tersiksa dan tidak punya semangat lagi dalam dirinya.

“Iya?” tanya Marsela penuh dengan perhatian.

“Lupakan Randy.”  Chiko berkata dengan tegas.

“Kenapa kamu ngomong gitu?” Marsela sendiri tak percaya dengan apa yang sudah dikatakan Chiko.

“Dia sudah tidak mencintaimu lagi, aku hanya tidak ingin kamu terluka karenanya.”

Marsela lalu berdiri dan bersiap untuk meninggalkan Chiko, tapi Chiko lebih cepat menangkap pergelangan tangan Marsela.

“Jangan pergi, aku membutuhkanmu.” Lirih Chiko.

Marsela diam membatu, tak mengerti dengan apa yang dikatakan Chiko.

“Chiko, apa yang kamu bicarakan? Kenapa kamu seperti ini?” tanya Marsela yang masih tampak bingung dengan apa yang di katakan Chiko.

Chiko lalu berdiri, dan tanpa di sangka-sangka  ia memeluk erat tubuh Marsela.

“Marsela, Aku mencintaimu.” Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari bibir Chiko, dan itu membuat tubuh Marsela kaku, bibirnya ternganga, sedangkan pikirannya terasa kosong seketika.

***

Febby  berlari secepatnya ke ruang IGD. Pagi ini ada seorang ibu dan anaknya yang sedang mengalami kecelakaan, Si anak harus menjalani pembedahan di kakinya sedangkan Dokter bedah baru datang sekitar jam Sebelas siang. Akhirnya Febby yang datang membantu pembedahan pada kaki si anak.

Tapi entah kenapa sesampainya di IGD perasaan Febby benar-benar tidak enak, tapi Febby mengesampingkan perasaannya tersebut. Di dalam IGD sudah ada bebebrapa dokter muda yang masih magang menjalani serangkaian tindakan untuk ibu dan anak tersebut.

Febby bergegas cepat ke arah ranjang si anak. Dan mendapati Dua dokter muda sudah memberi beberapa tindakan. Ketika salah satu dokter mulai membedah kaki si anak yang terluka tersebut entah kenapa tiba-tiba perut Febby terasa penuh. Bayangan darah segar dan juga bau anyir dari darah tersebut seketika menusuk indera penciumannya. Membuat Febby mual hebat di dalam Ruang IGD tersebut.

Seluruh Dokter dan suster yang berada di dalam IGD tersebut langsung menghentikan aksinya masing-masing dan saling menatap satu sama lain. Sedangkan Febby  yang sudah tidak tahan lagi dengan bau darah tersebut seketika lari meninggalkan ruang IGD dan menuju ke toilet terdekat untuk memuntahkan seluruh isi dalam perutnya.

Lama Febby berada di dalam toilet hingga ketika keluar dirinya sudah dalam keadaan lemas. Seorang suster kemudian datang menghampiri Febby.

“Dokter Febby, ada yang bisa saya bantu? Anda pucat sekali.”

Febby  hanya menggeleng lemas, belum sempat ia menjawab dirinya sudah jatuh terkapar tak sadarkan diri. Si susterpun seketika berteriak meminta pertolongan ketika mendapati tubuh Febby ambruk karena pingsan.

***

Febby membuka matanya mencoba untuk duduk tapi rasa pusing kembali menyerang kepalanya. Bau macam-macam obat-obatan di ruangan itu begitu menusuk indera penciumannya, kenapa ini? kenapa dirinya jadi tidak tahan dengan bau-bauan tersebut?

Seorang dokter cantik datang menghampirinya, Dokter Desty, dokter spesialis kandungan. Kenapa dirinya ditangani oleh Dokter Desty? tanyanya dalam hati.

“Sore Dokter Febby, bagaimana keadaan anda? Astaga, anda menggemparkan seluruh rumah sakit hari ini, bagaimana bisa seorang Dokter akan muntah hebat bahkan pingsan setelah melihat darah?” Dokter Desty berkata sempari sedikit  tertawa mengejek.

“Saya juga tidak tahu Dok, kenapa bisa seperti itu.” jawab Febby sambil memijit-mijit kepalanya.

“Faktor Kehamilan.”

“Apa?” teriak Febby tak percaya.

“Iya Dok, anda hamil dan usia kehamilannya sudah Tujuh minggu, selamat.” Dokter Desty berkata  lagi kali ini dengan menyunggingkan senyuman manisnya.

Febby hanya terdiam tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Bagaimana ini? bagaimana bisa seperti ini? bukankah ia memikirkan untuk berpisah dengan Randy tadi pagi? tapi jika dirinya hamil itu tidak akan memungkinkan untuk meminta berpisah dengan Randy. Arrgghhh, kenapa semuanya jadi seperti ini?

***

Akhirnya Febby pulang dengan di antar oleh salah seorang pegawai rumah sakit. Dengan kondisi Febby yang masih lemah taidk memungkinkan dirinya untuk pulang menggunakan mobil sendiri.

Randy yang malam ini lagi-lagi menunggu Febby di depan pintu rumahnya mengerutkan keningnya, ia heran, kenapa Febby pulang dengan diantar salah satu pegawai rumah sakit?

“Apa yang terjadi? kenapa dia mengantarmu?” tanya Randy.

Febby yang pada dasarnya masih kesal dengan Randy akhirnya menjawab pertanyaan Randy dengan datar.

“Aku tidak bisa pulang sendiri.” jawab Febby sambil bergegas masuk.

Randy masih mengikuti dibelakang Febby. “Kenapa? Apa kamu sakit?” tanya Randy dengan nada Khawatir.

“Aku hamil.” Jawab Febby dengan nada datar dan cueknya. Lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya meninggalkan Randy  yang berdiri ternganga begitu saja.

Randy tidak bisa memikirkan apa-apa lagi, pikirannya penuh dengan kebahagiaan karena akan memiliki bayi bersama Febby. Astaga, dirinya benar-benar sangat bahagia, kenapa bisa seperti ini?

Diketuknya pintu kamar Febby dengan pelan.

“Febb, buka pintunya, aku mau bicara sesuatu denganmu.” Kata Randy dengan lembut tidak meledak-ledak seperti biasanya.

“Tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku lelah aku ingin tidur!” teriak Febby dari dalam kamarnya.

Jika biasanya Randy ikut berteriak dan melawan Febby, maka berbeda untuk kali ini. Randy berusaha untuk mengalah, Febby mungkin sedang sensitif karena kehamilannya, lagi pula Febby tidak akan bisa lari kemana-kemana, apa lagi meninggalkannya, karena mereka akan memiliki seorang bayi, seorang pengikat hubungan mereka. Pikir Randy dalam hati.

Dengan menyunggingkan senyum baghagianya Randy masuk ke dalam kamarnya dan kembali membawa sebuah bantal dan sebuah selimut tebal. Malam ini dirinya akan tidur di sofa ruang tengah tepat di depan pintu kamar Febby, Randy melakukan itu untuk berjaga-jaga siapa tahu Febby menginginkan sesuatu pada tengah malam.

Sial! Apa kini dirinya sudah menjadi suami siaga? Randy lagi-lagi tersenyum bahkan menertawakan dirinya sendiri, Astaga, betapa menggelikannya dirinya saat ini.

***

Pagi ini Febby kembali terbangun karena perutnya yang terasa penuh dan mual hebat. Astaga, bahkan kemarin hari saja dirinya tidak merasakan apapun efek dari kehamilan ini, kenapa sekarang sangat terasa sekali efeknya.

Febby mencium sesuatu aroma yang memicunya muntah pagi ini, aroma itu berasal ladi dapur. Dan ketika Febby masuk kedalam dapur dirinya melihat Randy yang sudah super sibuk dengan kompor dan peralatan lainnya di dalam dapur mereka.

“Apa yang sedang kamu masak?” tanya Febby dengan menutup hidungnya.

“Aku membuatkanmu sup ayam dengan rempah-rempah yang baik untuk nutrisi ibu hamil, tadi Mama sudah ku beritahu kabar bahagia ini dan dia menyuruhku memasakkanmu masakan ini.” Kata Randy  dengan semangat.

“Astaga, cepat buang masakanmu itu! Aku benar-benar tidak tahan menghirup aromanya.”

“Apa? Aku bangun pagi-pagi sekali untuk belanja dan memasakkanmu ini, tapi kamu-”

“Aku tidak menyuruhmu memasak, bukan? dan astaga, aroma masakanmu itu benar-benar membuatku mual dan ingin muntah hebat pagi ini.” jawab Febby dengan sedikit kesal.

Randy menghela napas panjang. Sepertinya dirinya harus ekstra sabar untuk mengahadapi Febby, Dan dirinya juga harus mengerti keadaan Febby saat ini. Di buangnya masakan buatannya tersebut tanpa membantah Febby lagi.

Febby yang melihatnyapun merasa tidak enak terhadap Randy.

“Maafkan aku, aku hanya terlalu sensitif.” Lirih Febby.

“Aku mengerti.” Jawab Randy dengan penuh kelembutan. “Apa yang ingin kamu makan pagi ini? Aku akan mencarikannya.” Randy berkata dengan semangat.

“Aku tak yakin, tapi mungkin Roti tawar akan bisa mengisi perutku.”

“Kamu yakin hanya ingin makan roti tawar?”

“Setidaknya roti tawar tidak beraroma dan tak menyulut rasa mualku.” Jawab Febby dengan pasti.

“Baiklah, aku akan mencarikanmu roti tawar.” Kata Randy sambil bergegas pergi.

“Hei, kamu mau kemana? Bersihkan itu dulu hingga tidak berbau.” Perintah Febby sambil menunjuk ke arah bekas-bekas masakan Randy tadi.

Randy mendengus sebal. “Jika membuatmu hamil akan merubahmu menjadi wanita cerewet yang menyebalkan, maka aku bersumpah tidak akan menghamilimu lagi.” gerutu Randy kemudian. Tapi Febby tidak menghiraukan dan malah pergi melemparkan diri di sofa depan televisi dan bersantai di sana.

***

Febby sedikit senang karena dirinya bisa memakan roti tawar yang dibelikan Randy dengan selamat tanpa mengeluarkannya kembali pagi ini. Dirinya sedikit berpikir untuk memaafkan Randy yang sudah membohonginya, mengingat perhatian Randy yang berikan terhadapnya pagi ini. Tapi, Aaahhh sepertinya jangan dulu. Febby masih ingin mengerjai Randy dahulu.

Tiba-tiba bell pintu rumah mereka berbunyi. Febby bergegas membuka pintu tersebut dan tampaklah sesosok wanita yang amat sangat di bencinya Saat ini.

Marsela.

Untuk apa dia kemari? tanya Febby dalam hati.

“Untuk apa kamu datang kemari?” tanya Febby dengan nada ketus tak sopannya.

“Aku hanya ingin bertemu dengan Randy.” Jawab Marsela dengan santainya. Belum sempat Febby menjawab, Randy sudah keluar dengan wajah terkejutnya.

“Marsela? Kenapa kamu kemari sepagi ini?” tanya Randy dengan wajah sedikit terkejut.

Marsela sedikit meringis karena rasa nyeri dihatinya, dia tidak suka dengan panggilan Randy yang tidak mesrah seperti biasanya.

“Aku hanya ingin berbicara denganmu.” jawab Marsela kemudian. “Bisakah kita keluar sebentar?” tanya Marsela dengan tatapan penuh harap.

Randy menatap ke arah Febby, seperti seorang yang sedang meminta ijin. Sial!! sejak kapan ia meminta ijin kepada seseorang hanya untuk menemui kekasihnya sendiri?

“Kalau kamu meminta ijin denganku untuk keluar bersamanya, aku tidak akan mengizinkanmu.” Jawab Febby dengan tegas membuat Randy dan Marsela tak percaya dengan perkataan Febby tersebut.

“Febb, Aku hanya-”

“Ran, kamu hanya harus memilih. Pergi Bersamanya atau tetap disini bersamaku.” Kata Febby dengan tegas.

Randy lalu menurunkan bahunya dengan lemas. Dirinya tak mungkin meninggalkan Febby dalam keadaan seperti ini, tapi di sisi lain dirinya juga harus menyelesaikan masalahnya dengan Masela secara tuntas.

“Maafkan aku” Kata Randy  terhada Febby sembari megusap lembut pipi Febby sebentar. “Aku hanya pergi sebentar.” Lanjutnya lagi kali ini sambil mencengkeram pergelangan tangan Marsela dengan kasar dan mengajaknya pergi begitu saja dari hadapan Febby.

Febby sendiri terlihat tak percaya dengan apa yang di lihatnya, ia merasa sangat terpukul. Bagaimana mungkin Randy tetap memilih Marsela dibandingkan dirinya yang saat ini sedang mengandung bayi lelaki tersebut?

Secinta itukah Randy teradap Marsela? Apa memang dirinya tak berarti sama sekali di mata Randy? pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar dalam pikiran Febby, membuat Febby semakin marah dan kesal terhadap Randy,  hingga kemudian beberapa bulir air mata itu jatuh dengan sendirinya dari mata indah milik Febby.

 

-TBC-

Sweet in Passion – Chapter 12

Comments 6 Standard

wattpadsipSweet in Passion

Dan Randypun sama. Ia masih tak habis pikir, kenapa ia mencetuskan ide gila itu? Hidup bersama tanpa cinta? Seks bersama tanpa cinta? Dan memiliki bayi bersama tanpa cinta? itu hampir tak mungkin. Bagaimana mungkin dirinya melakukan semua itu tanpa sedikitpun perasaan yang ikut campur tangan? itu hampir mustahil. Apa dirinya sudah mulai terpengaruh oleh Febby? Apa Febby kini sudah mulai membuatnya candu? Randy sendiri tidak tahu, yang jelas untuk saat ini ia masih ingin memiliki Febby di sisinya, bersamanya, dan ia masih belum ingin melepaskan Febby hingga tercetuslah ide gila tersebut yang ia yakini suatu saat nanti akan semakin menyesatkannya.

***

Chapter 12

 

Randy mulai menjalankan aksinya. Kali ini dicumbuinya wanita yang sudah berada dibawahnya dengan sangat panas. Dia mulai menghisap, melumat, bahkan menggigit bibir bawah wanita tersebut. Lidahnya juga mulai menari-nari bersama dengan lidah wanita tersebut. Ohh astaga, bercumbu dengan orang yang dicintainya memang sangatlah nikmat. Pikirnya kemudian. Apalagi mengingat mereka sudah hampir tak pernah melakukannya.

Sedangkan Marsela, wanita yang sudah di tindihnya tersebut hanya bisa mendesah nikmat. Menggeliat kesana kemari, membuat Randy semakin tak bisa menahan dirinya.

Namun tiba-tiba saja bayangan wanita itu muncul begitu saja di benaknya. Wanita yang mungkin saat ini sedang memasak makan malam untuknya, wanita yang selama beberapa bulan terakhir selalu menemani hari-harinya. Membuat malam-malamnya terasa panas meski sebenarnya suasana di sekitarnya dingin karena musim hujan. Randy  tiba-tiba menghentikan aksinya, menatap ke arah Marsela dengan tatapan tak terbacanya. Sialan! kenapa semua jadi sesulit ini? pikirnya kemudian.

“Cut!” Teriakan itu menyadarkan Randy. Dia sadar bahwa dirinya harus melakukan adegan tersebut dari awal lagi. Sial!!

“Ran, kamu ada masalah? Aktingmu tadi benar-benar bagus, tapi kenapa kamu menghentikannya sebelum ku suruh?!” Teriakan sang sutradara membuat Randy semakin frutasi.

“Aku sudah pernah bilang padamu kalau aku nggak bisa melakukannya.” Desis Randy dengan tajam.

“Aku tidak peduli. Ulangi lagi hingga sebagus dan sealami mungkin.” Lanjut Sutradara itu lagi.

“Terserah apa katamu.” Randy berujar dengan dingin lalu meninggalkan lokasi syuting tersebut. Marsela yang melihatnya langsung mengikutinya dari belakang.

Akhirnya Randy sampai di ruang ganti, ia tidak menyadari jika Marsela sudah mengikutinya dari belakang dan menutup pintu ruang ganti tersebut.

“Apa yang kamu lakukan?” Randy terlihat sangat tidak suka dengan apa yang sudah di lakukan Marsela.

“Kenapa kamu bersikap seperti ini padaku?” Tanya Marsela dengan nada lirih dan mulai menangis sesenggukan.

Randy benar-benar mulai merasa tak nyaman dengan suasana di sekitarnya. Dia juga tak tau kenapa dirinya bisa seperti ini.

Ini sudah dua bulan sejak dia mengusulkan ide gila itu kepada Febby. Ide untuk tetap berhubungan seksual walau tanpa cinta, ide untuk mempunyai seorang bayi diantara pernikahan mereka. Dan kini Randy sadar jika hal itu mulai mempengaruhi hidupnya. Bayangan akan diri Febby kini selalu menari-nari di pikirannya. Tak ada lagi Marsela, alasan utama Randy saat menikahi Febby.

Saat ini pikirannya sudah berbelok kearah lain. Tujuannya tak lagi lurus seperti semula. Apakah hatinya juga seperti itu? Apa Hatinya juga sudah berbelok tanpa ia sadari? Ahhh Entah lah, yang jelas Randy sekarang ini tidak mampu berdekatan dengan wanita lain bahkan jika itu hanya sekedar adegan dalam Film.

“Ran..” Panggil Marsela lagi karena tak ada jawaban dari Randy.

“Maafkan aku, aku hanya tidak ingin menyakiti hati Febby.” Jawab Randy dengan pelan.

“Apa? Tapi kamu menyakiti hatiku!” Marsela mulai berteriak kesal.

“Aku minta maaf.” Kata Randy lagi.

“Apa kamu mencintainya?” Tanya Marsela kemudian. Randy hanya diam membatu. “Randy, aku bertanya padamu apa kamu mulai mencintainya?!” Marsela kembali berteriak.

“Maafkan aku, aku tidak yakin.”

“Kamu jahat! Kamu menghianatiku.” Kata Marsela yang kini sudah menangis.

“Marsela, aku tidak tahu jika ini akan menjadi serumit ini.” Kata Randy sambil menggenggam kedua telapak tangan Marsela.

“Lepaskan aku!!”  Marsela menghempaskan tangan Randy, dan mulai berbalik meninggalkan Randy sendiri.

***

“Astaga, ini benar-benar membuatku gila.” Gerutu Febby masih dengan menenggelamkan wajahnya diantara lengannya. Kali ini Febby sedang duduk memeluk lututnya diatas closet. Ia menunggu sesuatu yang membuat jantungnya seakan melompat dari tempatnya.

Test Pack…

Ya, dirinya saat ini sedang menunggu alat itu bekerja sesuai dengan fungsinya. Akhir-akhir ini Febby  memang merasa sedikit aneh dengan tubuhnya. Dia gampang lelah dan suka tidur sebarangan. Meski dia tidak merasakan mual seperti wanita hamil pada umumnya tapi entah kenapa dirinya yakin kalau saat ini dia sedang berbadan dua.

“Ya, sudah Lima menit, kita lihat bagaimana hasilnya, semoga ini berhasil.” Dan mulailah ia melihat satu persatu hasil di Test Pack Tersebut dan…

Kecewa…

Hasilnya Negatif.

“Sialan, kenapa bisa Negatif?” Gerutunya dalam hati. “Haiishh, aku benar-benar bisa gila.” katanya sambil mengacak-acak rambutnya.

Tiba-tiba Bell pintu rumahnya berbunyi. Akhirnya dia bergegas menuju ke arah pintu dan membukanya.

“Hai.” Kata wanita cantik yang kini sudah berada di hadapannya. Dialah Miranda. Kakak perempuan Randy.

“Kak Mira? sedang apa kakak di sini?”

“Apa memang seperti itu caramu menyambut kedatanganku?”

“Ah, maaf, Ayo masuklah, kak.” Ajak Febby kemudian.

“Ada apa? Kamu terlihat berantakan sekali tidak seperti biasanya.” Mira bertanya heran karena mendapati rambut Febby  yang sedikit berantakan.

“Ah, tidak ada apa-apa kak, apa yang ingin kak Mira minum?”

“Nggak usah repot-repot, ayo temani aku berbelanja.”

“Apa? Sekarang?” Tanya Febby dengan raut kagetnya.

“Tentu saja. memangnya kapan lagi?”

“Baikah, aku ganti pakaian dulu.”  Setelah Lima belas menit berlalu. Febby akhirnya siap untuk keluar bersama Mira, kakak iparnya.

***

“Apa kamu sedang ada masalah dengan Randy?” tanya Mira kemudian ketika mereka berada di sebuah kafe setelah puas berbelanja.

“Uumm, tidak kak, aku tidak punya masalah apapun dengannya.”

“Dia aneh.”

Febby mengerutkan keningnya. “Anek kenapa, kak?”

“Dia ke kantor beberapa hari terakhir ini, apa kamu tahu kenapa dia bisa tergugah untuk mengunjungi kantor kami?”

“Benarkah? bukankah itu bagus, kak?” tanya Febby kemudian.

“Ya, kamu tahu sendiri, bukan alasan orang tua kami menjodohkannya denganmu? Tentu itu berhubungan dengan masa depan Randy sendiri, keluarga kami sebenarnya kurang setuju dengan kehidupan Randy yang menjadi publik figur, kami sangat berharap semoga saja dengan menikah bersamamu pikirannya sedikit demi sedikit  terbuka dan dia lebih memilih perusahaan dari pada kehidupannya sebagai aktor.” Mira kemudian meminum minuman pesanannya lalu kembali bertanya pada Febby. “Apa kalian sudah melakukannya?” tanya Mira kemudian dengan nada menggoda.

“Melakukannya?” tanya Febby kembali karena sedikit bingung. Tapi ketika Febby menyadari apa maksud Mira,  seketika Febby membulatkan matanya. “Kak Mira ngapain bahas itu?”

“Kamu tenang saja,  anggap saja aku sebagai kakakmu sendiri. Lagi pula aku tidak akan bercerita dengan siapapun.” Ucap Mira yang kemudian  membuat Febby menghangat. Febby tak menyangka jika secepat ini ia akan mendapatkan kakak baru, bahkan mungkin lebih baik dari pada kakak kandungnya sendiri. “Berceritalah, apa dia benar-benar sudah melakukannya?” tanya Mira lagi.

“A- apa aku memang harus bercerita pada kak Mira? Ini memalukan sekali.” Febby menggerutu dengan wajah yang sudah memerah karena malu.

“Tentu saja, aku harus mengetahui semua yang dilakukan adik bodohku itu.”

Febby terkikik melihat kelakuan Mira yang sedikit kekanak-kanakan saat membahas tentan Randy. “Baiklah kak, umm, sebenarnya kami sudah melakukannnya, bahkan kami berencana memiliki seorang bayi.” jawab Febby dengan sedikit berbisik.

“Apa?? kalian benar-benar serius?!” Teriak Mira tak percaya dan itu membuat Febby menutup kedua telinganya seketika.

“Kak, kakak nggak perlu berteriak seperti itu.”

“Aku tidak peduli, ini kabar bahagia, dan kenapa kalian tidak membicarakan ini pada kami?” ya, tentu saja kabar ini menjad kabar yang membahagakan untuk Mira, karena Mira jelas tahu kenapa Randy dan Febby bisa menikah. Mereka korban perjodohan seperti dirinya, belum lagi Randy yang saat itu terlihat cinta mati dengan kekasihnya yang berprofesi sebagai seorang model membuat Mira dan suaminya sempat mragukan jika pernikahan Febby dan Randy akan berhasil seperti pernikahannya.

“Kak, aku belum hamil, rencananya aku akan memberitahukan jika hubungan kami semakin membaik ketika aku hamil, tapi sepertinya…”

“Sepertinya apa?” Mira terlihat tak sabar.

“Sepertinya aku memang belum hamil. Astaga, ini benar-benar membuatku jengkel.”

“Tenang saja, bukankah dengan begitu kalian masih akan selalu melakukan ‘itu’?” Mira beerucap dengan senyum menyeringai.

Febby  hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka jika Randy mempunyai kakak dengan karakter unik seperti Mira. Dan Febby menyukainya.

***

“Apa ini?” tanya Alvin kepada Randy yang baru saja memberikan sebuah amplop berwarna cokelat padanya saat di tengah-tengah rapat.

“Surat pengunduran diri dari gue.” Randy menjawab dengan cuek.

“Ran, lo gila? Gue nggak sedang bercanda, ngapain lo ngundurin diri pada saat seperti sekarang ini?”

“Kalo lo nggak nyetujuin gue ngundurin diri, gue cuma mau satu hal, hilangin adegan itu dalam film.”

“Apa? Apa kamu bercanda?” sang penulis sekenario akhirnya ikut bicara dalam rapat tersebut. “Film itu di angkat dari sebuah novel, pembaca novel tersebut akan kecewa jika adegan-adegan tersebut di potong dalam filmnya, padahal adegan-adegan itu adalah poin pentingnya.”

“Poin penting? Kenapa kalian tidak membuat film porno aja sekalian.”

“Randy, jaga ucapan lo.” Geram Alvin karena kesal dengan Randy yang seakan tidak memiliki sopan santun.

“Begini ya, inti ceritanya adalah tentang cinta seorang pelacur, apa masuk akal jika tidak ada adegan-adegan seks dalam film tersebut? Adegan itu bertujuan untuk memperlihatkan bagaimana kehidupan pelacuran yang di alami si pemeran utama.” Jelas si penulis sekenario.

“Saya tidak peduli, sudah sangat jelas saya mengatakan jika saya tidak bisa melakukan adegan itu. Jika kalian tidak mau menghapus adegan itu kenapa kalian tidak mencari pemain pengganti saja?”

Dan semua yang berada di ruang rapatpun terdiam dengan perkataan Randy,  sedangkan Randy memilih pergi begitu saja meninggalkan rapat yang baginya sangat membuatnya jengkel.

***

“Lo kenapa lagi?” Sikut Chiko yang saat ini sudah duduk di sebelah Randy.

“Gue cuma nggak mau timbul gosip-gosip aneh yang membuat keluarga gue nggak tenang.” Jawab Randy kemudian.

Rapat tadi di akhiri dengan keputusan Randy tetap menjadi pemeran utama sedangkan untuk ‘Adegan Ranjang’ Akan tetap di lakukan hanya saja menggunakan pemeran pengganti sesuai dengan permintaan Randy.

“Keluarga? Maksud lo Febby?” tanya Chiko lagi.

“Emangnya salah ya kalo gue mikirin perasaannya? Dia kan istri gue.” Jawab Randy uek.

“Apa lo bener-bener cinta sama dia? Lo tau nggak, kalo sikap lo ini nyakitin hati Marsela.” Ya, Chiko  memang tidak suka jika ada yang menyakiti hati wanita pujaannya itu.

“Gue akan mutusin dia, secepatnya.”

“Apa?” teriak Chiko tak percaya.

“Entahlah, gue pikir, Marsela sudah nggak ada lagi di hati gue.” Randy berkata lirih.

“Ran, eangnya lo nggak inget apa alasan utama lo nikahin Febby? Semuanya karena lo ngelindungi Marsela dari ancaman keluarga lo, tapi kenapa sekarang lo malah ninggalin alasan utama lo?

“Semuanya semakin rumit.”

“Bukan semuanya, tai perasaan lo sendirilah yang rumit, lo nggak bisa ninggalin Marsela setelah dia kesetiaan yang selama ini di berikan pada lo.”

“Chiko, bukannya lo suka sama Marsela? kenapa lo selalu ngedungung Marsela sama gue?” tanya Randy sedikit heran, sedangkan Chiko hanya diam membatu setelah mendengar pertanyaan Randy.

“Lo tahu kalau gue-“

“Tau sejak lama.” Potong Randy cepat.

Chiko menghela napas panjang. “Gue cuma mau melihat dia bahagia walau nggak sama gue.”

“Dan dia nggak akan bahagia kalau selalu bersama orang yang sudah tidak mencintainya lagi. Gue sudah nggak cinta sama Marsela.” Dan jawaban tegas Randy tersebut membuat Chiko ternganga.

Benarkah Randy tidak mencintai Marsela lagi? Dapatkah dirinya menggantikan posisi Randy di hati Marsela? Pikir Chiko dalam hati.

****

“Kamu dimana?!”  teriakan Randy membuat Febby menjauhkan telepon genggamnya dari telinganya.

“Ran, aku akan menutup teleponnya  kalau kamu berteriak seperti itu lagi.” ancam Febby.

“Aku sudah berada di depan rumah, dan aku kelaparan, aku nggak bawa kunci umah karena kupikir seharian ini kamu berada dirumah dan menungguku pulang.” Randy masih saja mengomel.

“Hei, apa aku kurang pekerjaan sampai-sampai  aku menunggumu pulang? Aku di tempat Mama.” Jawab Febby kemudian.

“Mama? Mama siapa?”

“Siapa Lagi? tentu saja Mamamu.”

“Ngapain kamu di sana?”

“Mereka mengundangku makan malam di sini.” Jawab Febby dengan nada cuek.

“Ohh, jadi kamu enak-enakan makan disana sedangkan aku disini kelapara? kamu keterlaluan.”

“Nggak perlu sampai lebay gitu juga kali, kalau kamu lapar lebih baik kemarilah, Mama masak banyak.”

“Tunggu aku dan jangan habiskan makannannya.” kata Randy  yang kemudian diikuti dengan suara ‘Tutt.. tutt.. tutt…’ tanda jika Randy sudah memutus sambungan telepon tanpa permisi.

“Dasar, nggak tahu sopan santun.” gerutu Febby.

***

Tiga puluh menit kemudian akhirnya Randy sampai dirumah orang tuanya, dia langsung bergegas ke arah meja makan. Dis ana  sudah ada kakak iparnya, Andrew, dan Papanya yang duduk di meja makan. Kakaknya, Mira, terlihat sedang sibuk menata makanan. Sedangkan Febby dan mamanya masih terlihat sibuk di dapur sebelah meja makan lengkap dengan celemeknya.

Randy langsung mendaratkan pantatnya di kursi sebelah kakak iparnya tersebut. Dan langsung mengambil sepotong makannan dari meja makan, membuat Mira yang melihatnya langsung memukul tangannya.

“Jorok banget, cuci tangan sana dulu.” Kata Mira kemudian.

“Kasar banget sih.” Gerutu Randy. Dan mendengar suara Randy tersebut, Febby seketika  mangalihkan pandangannya ke arah meja makan.

“Kamu  sudah datang?” tanya Febby pada Randy.

“Ya, baru aja.”

“Bagaimana Shootingnya?” tanya Febby basa-basi dan itu membuat Andrew  tersenyum sambil menyikut Randy.

“Sejak kapan kalian bisa sedekat ini? bahkan kalian menanyakan kabar masing-masing.” Tanya Andrew sambil sesekali tersenyum mengejek.

“Hei, itu hanya dia yang selalu nanyain kabar gue, kalau gue, malas banget nanyain kabarnya.” Jawab Randy cuek.

“Kamu percaya diri banget, aku bertannya seperti itu juga hanya karena ingin berbasa-basi saja denganmu.” Sahut Febby dengan nada sedikit kesal. Dan itu membuat Nyonya Prasaja sedikit tersenyum.

Sepertinya sudah lama mereka tidak berkumpul dan saling mengejek seperti ini. Semuanya sejak ketegangan yang terjadi antara Randy dan Ayahnya, karena Randy lebih memilih menjadi artis di bandingkan meneruskan perusahaan keluarga. Dan semoga saja Febby bisa mengembalikan keutuhan keluarga mereka lagi.

“Sudah, sudah, hentikan omong kosong kalian.” Lerai Nyonya Prasaja. “Ran, ini Mama masakkan khusus untukmu, kamu baik kalau memakan makanan seperti ini.”  Lanjut Nyonya Prasaja ambil menyodorkan semangkuk besar berisi Ikan dan kuah yang panas.

“Apa ini Ma?” Randy bergidik melihat masakan Mamanya tersebut karena baginya masakan itu terlihat sedikit seram.

“Itu adalah Sup ikan Salmon lengkap dengan kacang-kacangannya.” Jawab Nyonya Prasaja kemudian. Tentu saja Randy tahu jika itu adalah Sup ikan, tapi ibunya benar-benar keterlaluan, ikan itu dibiarannya utuh, dan dimasak hanya setengah matang, belum lagi kacang-kacangan yang memenuhi mangkuk itu membuat Sup itu terlihat mengerika untuk Randy.

“Aku tahu Ma, tapi Mama tidak perlu mamasaknya seperti ini, ini terlihat menyeramkan.”

“Hei, Mama sengaja beli ikan yang masih utuh untukmu, itu memang terlihat menyeramkan, tapi itu bagus untuk kesuburanmu.” Jawab Nyonya Prasaja sedikit kesal dengan Randy  yang cerewet.

“Apa? Kesuburan?” Andrew dengan spontan bertanya dengan raut wajah kaget. Sedangkan Randy  sendiri juga terkejut dengan apa yang dikatakan Mamanya.

“Mira bilang jika kalian ingin segera memiliki bayi, jadi Mama memasak makanan untukmu yang di percaya bisa meningkatkan kesuburan kalian masing-masing.”

‘Gleekk…’

Randy menelan ludahnya dengan susah payah. Bagaimana bisa Ibunya tau rencana mereka? ini pasti rencana Mira, kakaknya yang masih suka jahil padanya. Dan Febby kenapa bisa menceritakan itu semua kepada kakaknya si mulut ember tersebut? Sial!! ini benar-benar membuat Randy semakin gila.

***

“Kamu gila? kenapa kamu bisa menceritakan semuanya kepada nenek sihir itu?”  Tanya Randy pada Febby ketika mereka berada di dalam kamar Randy di rumah orang tuanya.

“Kamu keterlaluan kalau menyebut  Kak Mira sebagai Nenek sihir.”

“Biar saja, dia memang seperti nenek sihir.” jawab Randy cuek.

“Kupikir tidak ada salahnya bercerita dengan mereka.”

“Tapi mereka mengejekku.” Lagi-lagi Randy menggerutu, ia jengkel dengan situasi tadi apalagi saat Mira dan Andrew  sama-sama tertawa keras menertawakannya.

“Kamu jangan kekanak-kanakan. Mama hanya ingin kamu mengkonsumsi sup itu.”

“Percuma saja aku mengkonsumsi itu jika kita tidak melakukannnya dengan benar maka tetap saja tidak akan ada bayi.”

Febby mengerutkan keningnya ketika mendengar perkataan Randy dan melihat Randy  berjalan mendekatinya.

“Kamu mau apa?” tanya Febby sedikit panik.

Randy tersenyum menyeringai. “Apalagi? kita akan mencobanya.” kali ini Randy sudah berada dihadapan Febby dan langsung mengecupi leher dan pundak Febby. “Kamu harum, apa kamu tahu kalau  tadi aku sangat bergairah saat melihatmu mengenakan celemek itu di dapur? aku bahkan  berpikir untuk bercinta denganmu di meja makan saat itu juga.”

Randy  benar-benar sudah gila, ia bahkan tidak tahu apa yang sudah di katakannya, berdekatan seperti ini dengan Febby membuat pikirannya semakin tidak waras, dan dia tidak bisa memikirkan apa-apa lagi kecuali bercinta dengan Febby.

Febby  lalu mencengkeram dada Randy dan mendorongnya menjauh. “Hei, Tuan Randy Prasaja, Tidak untuk malam ini.” Febby berkata tegas.

“Ayolah, apa kamu gila? kamu sudah menyulutku.” Randy tampak frustasi.

“Aku tidak bermaksud untuk itu, pikiranmu saja yang terlalu mesum.”

“Febby..”

“Aku tidak peduli! Randy, kita harus melakukannnya dengan benar, dan tidak bagus kalau kamu menyentuhku tiap malam, bukankah kamu mengatakan kalau kamu menginginkan bayi?” Jelas Febby.

“Sialan!! Aku tidak peduli dengan bayi sialan itu. Aku hanya membutuhkanmu.” Dengan spontan Randy berkata tanpa ia sadari.

“Apa? Apa maksudmu?” tanya Febby tak mengerti.

Randy sedikit gelagapan saat menyadari apa yang baru saja ia katakan. “ Aku,  aku hanya…” Randy mencoba mencari-cari alasan tapi tak menemukannya. “Arrggghh… terserah apa katamu, aku akan keluar!” Teriak Randy frustasi.

“Randy! kamu belum menjawabku.”

“Aku tidak peduli.” Dan menghilanglah Randy  dibalik pintu kamar tersebut.

Febby menghela napas panjang.

‘Aku hanya membutuhkanmu.’

Mengingat kata-kata Randy barusan membuat Febby tersenyum sendiri. Benarkah Randy membutuhkannya?

***

Febby  menyandarkan tubuhnya di kursi ruang kerjanya. Hari ini hari yang sangat panjang dan melelahkan, Seorang pasiennya lagi-lagi meninggal dan kali ini karena kanker. Memang anak tersebut bukan pasiennya lagi karena sudah menjadi passien Dokter spesialis Kanker, tapi tetap saja dulunya anak tersebut adalah pasiennya, dan Febby merasa cukup dekat dengan anak tersebut.

Sesekali Febby menghela napasnya panjang. Sampai saat ini dirinya belum juga datang bulan, dan ia merasa badannya semakin lemah, tapi kenapa di Test Pack selalu menunjukkan Negatif? Ahhh mungkin dirinya terlalu stress hingga dirinya telat datang bulan, pikirnya kemudian.

Tiba-tiba telepon di ruang kerjanya berbunyi, Febbypun mengangkatnya. “Ya,  Dokter Febby di sini.”

“Apa anda baik-baik saja? Ada seorang tamu ingin menemui anda, Dokter.”

“Jika itu suamiku, suruh dia kembali, aku belum bisa menemuinya.”

“Tidak Dokter, dia seorang wanita.”

Wanita? Ahh, itu mungkin kak Mira. “Baiklah, suruh dia masuk, aku baik-baik saja.”

Dan tak lama setelah telepon ditutup, masuklah sesosok wanita yang sama sekali tak di sangka oleh Febby. Kenapa dia ada disini? Ada urusan apa dia denganku? Pikir Febby.

“Kamu?” kata Febby tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Ya, Aku, apa aku mengganggumu?” Tanya wanita tersebut yang ternyata adalah Marsela.

“Untuk apa kamu Kemari?”

“Sepertinya itu bukan sambutan yang baik untuk tamu.”

“Duduklah, dan tidak usah basa-basi, apa yang kamu inginkan?” Tanya Febby dengan nada ketus, Entah kenapa dia bisa bersikap seperti itu dengan Marsela, padahal jika di ingat-ingat Marsela tidak pernah bersikap kasar terhadapnya, Marsela hanya kekasih Randy, Suaminya. Dan entah mengapa itu membuatnya mendidih. Kenapa? Apa dirinya sedang cemburu?

“Baiklah, Aku hanya  berharap kamu mau menjauhi Randy.” Kata Marsela kemudian dengan tegas.

“Apa? Apa aku tidak salah dengar? Dia suamiku nona, aku tak mungkin menjauhinya, seharusnya kamu yang menjauhinya.” Entah dari mana datangnya kekuatan Febby untuk melawan Marsela tersebut.

“Dia kekasihku, kami saling mencintai!” seru Marsela dengan tajam.

Dan Febbypun seketika terdiam, ya, memang benar statusnya menguntungkan  karena dirinya sebagai istri sah Randy, tapi masalah cinta, Febby kalah. Randy tidak mencintainya, dan Febby tahu jika dirinya tidak dapat melawan Marsela karena itu.

“Apa kamu tahu, jika kamu sudah mengacaukan semuanya?” Lanjut Marsela lagi.

“Aku?” tanya Febby dengan wajah bingungnya.

“Ya. kamu sudah mengacaukan semuanya, kamu membuatnya tidak bisa konsentrasi saat shooting film, bahkan dia kurang mendalami saat melakukan adegan ranjang denganku.”

“Adegan ranjang denganmu?” Febby tercengang dengan penjelasan yang di berikan Marsela.

“Ya. dia berperan dalam film romantis denganku, dan kamu mengacaukannya. Jadi aku mohon padamu, Jauhi  Randy!”

Febby masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Marsela. Jadi selama ini Randy membohonginya? Randy masih berhubungan dekat dengan Marsela, bahkan bermain dalam sebuah film romantis bersama-sama? Tapi kenapa Randy membohonginya? Apa dirinya terlihat seperti wanita bodoh yang gampang di bohongi? Astaga, Febby tak dapat membayangkan bagaimana kedekatan Randy dan Marsela dalam film tersebut, apalagi jika mengingat Randy dan Marsela juga melakukan adegan Ranjang bersama, Arrgghhh… entah kenapa itu membuat emosiya semakin memuncak.

“Aku tidak akan pernah menjauhi suamiku, Nona, Dan sekarang angkat kakimu dari ruanganku, Sekarang juga!” seru Febby dengan tajam dan menyala-nyala. Sepertinya rasa cemburu sudah menguasainya.

Marsela yang mendapat perlakuan kasar dari Febby seketika pergi sambil sesekali mengumpat. “Dasar Wanita sialan! tidak tahu malu.” gerutunya sambil meninggalkan ruangan Febby.

“Dan anda  wanita jalang murahan.” Balas Febby sambil menutup pintu ruangannnya dengan keras, dia bahkan lupa jika dirinya berada di dalam rumah sakit.

Kepala Febby mendadak pusing, Febby memijit-mijit kepalanya. Astaga, wanita itu benar-benar menambah bebannya.

Tiba-tiba ada seseorang yang masuk kedalam ruangannya. Seseorang yang sudah lumayan lama tak dilihatnya.

“Hei, apa aku mengganggumu?” tanya orang  itu yang tak lain adalah Brian. Astaga, mungkin memang Brian akan menjadi orang yang selalu menyelamatkannya, membuat moodnya membaik.

“Ehh, Hai.” Febby menyapa balik sambil berusaha tersenyum.

“Ingin makan siang bersama?” Tawar Brian. Dan sepertinya Febby  tidak bisa menolaknya, ia harus menghirup udara segar di luar sana daripada duduk termenung sendirian di dalam ruangannya yang seakan menyesakkan dadanya.

Febby akhirnya mengangguk. “Baiklah, aku  ikut bersamamu.”

***

Entah mengapa Febby merasa nyaman berada di apartemen milik Brian. Saat ini mereka sedang makan bersama dalam diam, entah mengapa suasana mereka jadi canggung seperti sekarang ini. Setelah makan Febby akhirnya membantu Brian membersihkan ruang makan dan dapur bersama-sama.

“Kamu kenapa?” Brian mencoba membuka suara.

“Aku? memangnya aku kenapa?” Febby balik bertanya.

“Kamu lebih pendiam.”

“Aku hanya masih sedih, salah satu pasienku meninggal hari ini.”

“Apa? Maafkan aku, aku turut berduka karena itu.”

“Tidak apa-apa, mungkin itu yang terbaik untuknya dari pada dia harus menanggung kesakitan.”

“Dia sakit apa?”

Febby menghela napas panjang. “Umurnya baru 10 tahun, dan dia sudah mengidap kanker hati sejak 3 tahun yang lalu. Astaga, itu membuatku ingin selalu menangisinya.” Jelas Febby lirih.

Dan tanpa disangka-sangka Brian langsung memeluk tubuhnya. “Aku mengerti, menangislah jika ingin menangis.” Kata Brian menenangan Febby.

Ada perasaan aneh di hati Febby saat ini. Seandainya saja, Randy  yang melakukan ini mungkin Febby  akan lebih bahagia.

Dan tanpa di duga tiba-tiba Brian melepaskan pelukannnya, menatap Febby dengan tatapan penuh kerinduan. Di pegangnya dagu Febby, didekatkannya wajahnya dengan wajah Febby. Dan… didaratkannya bibirnya pada bibir lembut milik Febby.

Astaga, Brian sudah lama memikirkan hal ini, Brian mulai melumatnya, menghisapnya, menikmati manisnya bibir Febby, dan sialnya ini membuat Brian semakin menggila.

Bahkan Febby sendiripun tidak menghentikannya, Febby bahkan membalas ciumannya sambil menutup matanya, Febby juga ikut menikmatinya.

Ciuman itu berbeda dengan ciuman yang diberikan Randy, suaminya. Ciuman itu sangat lembut dan penuh dengan kasih sayang, Febby bahkan meremang dengan aliran aneh yang menjalari tubuhnya saat ini. Ada apa ini? Seharusnya ia tidak melakukannnya, dirinya sudah bersuami. Ia tidak boleh berciuman dengan lelaki lain selain suaminya. Pikir Febby.

Dengan Sisa-sisa kesadarannya Febby melepaskan ciumann tersebut dengan napas yang terengah-engah. Keduanya sama-sama memerah. Entah kenapa mereka bisa berciuman seintens itu.

“Maafkan aku, aku terbawa suasana.” Akhirnya Brian membuka suara.

“Tidak, ini juga salahku, aku juga terbawa suasana.” Jawab Febby sambil menunduk. Ia  bahkan tidak berani menatap mata Brian.

Brian lalu memegang kedua bahu Febby, Membuat Febby  terpekik kaget dan seketika menatap tepat pada manik mata Brian.

“Febb. Aku menginginkanmu.” tanpa di sangka perkataan itu melucur dengan sempurna dari bibir Brian, dan itu membuat Febby membulatkan matanya seketika  karena terkejut dengan perkataan yang di lontarkan oleh Brian.

 

-TBC-

Sweet in passion – Chapter 11

Comments 5 Standard

asipSweet in Passion

Randy masih menikmati makan siangnya ketika tiba-tiba pandangannya teralih ke arah parkiran rumah sakit, tepat pada saat itu ia melihat istri yang ditunggunya itu keluar dari dalam mobil lelaki bajingan yang amat sangat di bencinya.

Jadi mereka makan siang bersama? lalu untuk apa ia menunggu wanita itu di sini seperti orang bodoh? geramnya dalam hati.

Sontak Randy berdiri dari tempat duduknya. Ia ingin menghampiri lelaki bajingan itu dan memukulinya habis-habisan. Tapi untuk apa? bukankah itu akan semakin terlihat jika dirinya sedang cemburu? Apa? Cemburu? Apakah dirinya kini sedang cemburu?

***

Chapter  11

 

Dengan raut bahagia, Febby kembali keruangannya, lalu seorang suster datang menghampirinya dengan wajah sedikit heran.

“Ada apa?” tanya Febby kemudian.

“Kenapa Dokter Febby di sini?” tanya suster tersebut masih dengan wajah herannya.

“Kenapa apanya? Ini kan ruanganku.”

“Tapi bukankah seharusnya Dokter Febby sekarang sedang makan siang bersama suami dokter dikantin?”

“Makan siang? Dengan Randy maksudmu?” Febby berbalik bertanya. Suster itu hanya menganngguk. “Mana mungkin aku makan siang bersamanya di sini. Itu tidak mungkin..”

“Tapi tadi mas Randy menunggu dokter di kantin.” jawab suster itu dengan nada pasti.

“Apa? kamu bercanda? itu tidak mungkin.” bantah Febby tak percaya padahal dalam hatinya berharap itu benar-benar terjadi.

“Kalau Dokter Febby  tidak percaya silahkan bertanya pada teman-teman yang lain atau bisa juga Dokter Febby ke kantin langsung dan-”

Belum sempat suster itu melanjutkan kata-katanya, Febby langsung berlari menuju ke kantin rumah sakit. Entah kenapa ia benar-benar berharap jika Randy berada di sana menunggunya. Tapi sesampainya di kantin, ia sangat kecewa karena orang yang di harapkan tidak ada di sana.

Kamu sungguh bodoh Febb, untuk apa juga seorang Randy menunggumu di tempat seperti ini? Apa dia tidak ada kerjaan lain? lagi pula mungkin suster itu hanya mengerjaimu. Bodoh, bodoh, rutuknya dalam hati.

“Dokter Febby, ada yang bisa saya bantu?” tanya salah satu penjaga kantin tersebut. Febby sedikit ragu, haruskah ia bertanya tengtang Randy kepada penjaga kantin tersebut?

“Ahh, tidak, lupakan saja.” Akhirnya Febby mengurungkan niatnya.

“Apa Dokter Febby ingin menemui suami anda? Sayang sekali dia baru saja keluar dari sini.”

“Apa? Jadi dia tadi benar-benar ke sini?”  Tanya Febby masih dengan wajah tak percayanya.

“Iya, bahkan dia menunggu anda dengan makan siang di kantin ini. Dan sedikit menimbulkan kegaduhan di sini tentunya.” jawab penjaga kantin tersebut dengan sedikit tersenyum.

Febby  hanya ternganga mendengar penjelasan penjaga kantin tersebut.  Untuk apa Randy menunggunya? pertanyaan itu berulang kali, muncul dalam benaknya.

***

Febby baru saja pulang dengan keadaan lelah. Tadi sore ada seorang pasiennya yang meninggal. Seorang anak yang sudah dua bulan lebih dirawat inap di rumahsakit tersebut. Dan Febby sendiri yang merawat anak itu. Astaga, itu benar-benar menguras emosinya.

Ketika ia masuk ke dalam rumah, betapa terkejutnya dia mendapati Randy yang sudah sibuk di dalam dapur. Apa yang sedang dilakukannya di dapur dengan berisik? Akhirnya Febby memutuskan  menghampiri Randy.

“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Febby sambil mendekati Randy.

“Aku membuat makan malam untuk kita.”

“Tumben sekali, apa ada perayaan?” tanya Febby lagi.

“Aku mendapat peran dalam Film baru.”

“Benarkah? Selamat.” Febby berkata sambil mencomot sebuah makanan yang di buat oleh Randy.  “Uumm, lumayan enak.” ucapnya kemudian.

“Masakaanku pastilah enak.”

Pede sekali. Ngomong-ngomong, siapa lawan mainmu nanti?”

Mendengar pertanyaan itu Randy menegang seketika. Haruskah dirinya jujur dengan Febby?

“Ahh, hanya artis pendatang baru.” Dan akhirnya Randy memilih untuk berbohong. Ada apa? kenapa dirinya memilih berbohong?

“Ran, apa benar kalau kamu tadi siang ke rumah sakit menungguku?” tanya Febby tanpa memperhatikan raut wajah Randy.

“Engggak, untuk apa juga aku kesana?” Randy mengelak dengan memasang ekspresi sesantai mungkin.

“Benarkah? tapi kenapa para pegawai rumah sakit bilang kalau-”

“Mungkin mata mereka sudah rabun.” Potong Randy dengan sedikit panik.

“Rabun? Ya sudahlah, lagi pula aku juga tidak suka jika kamu ke rumah sakit.”

“Kenapa kamu tidak suka?”

“Karena kamu menyebalkan.” Febby sambil meninggalkan Randy begitu saja.

“Dasar!! wanita itu benar-benar. Apa dia tidak bisa sedikit bersikap manis kepadaku?” Gerutu Randy.

***

“Masakanmu cukup enak.” Febby kembali memuji Randy masih dengan melahap habis makanannya.

“Aku nggak butuh pujianmu.” jawab Randy cuek. “Sebenarnya kamu ada hubungan apa dengan si Brian?” tiba-tiba saja Randy menanyakan hal itu.

“Kamu nggak perlu tahu.”

“Febb, Aku hanya tidak suka ada gossip diantara kalian nanti, bagaimanapun juga itu akan berimbas pada karirku.”

“Aku juga tidak suka jika ada gosip antara kamu dan Marsela, karena itu akan menjadi bahan perbincangan di rumah sakit, dan aku ikut malu dengan gosip itu.” jawab Febby tak mau kalah.

Randy menghela napas panjang, tanda jika ia sudah menyerah.

“Baiklah. Aku akan menjauhinya, tapi kamu juga harus menjauhi Bian, bagaimana?”

“Kenapa tiba-tiba kamu mau menjauhinya?” Tanya Febby penuh dengan selidik.

“Aku melakukan semuanya hanya demi kebaikan kita bersama.” Lagi-lagi Randy mengelak. Sial!!! Febby benar-benar membuatnya gila. “Gimana? Aku akan menuuti apa maumu, dan kamu harus menuruti apa mauku sebagai gantinya.”

“Demi kebaikan bersama apanya. Tapi baiklah, aku akan menghindar dari Brian.” Kata Febby kemudian. Perkataan Randy memang tidak ada salahnya. Jika ia terlalu sering bertemu dengan Brian maka publik akan berpikir macam-macam, apalagi jika wartawan ikut campur membuat suasana seakan semakin panas. Bagaimanapun juga, Febby tidak dapat membiarkan hal itu terjadi.

Tiba-tiba bell pintu Rumah merekapun berbunyi. “Siapa yang datang malam-malam begini? Mengganggu orang saja.” Gerutu Randy. Sedangkan Febby hanya mengangkat kedua bahunya. Akhirnya Randy yang melangkah ke arah pintu, untuk membukanya.

Betapa terkejutnya Randy ketika mendapati siapa yang berada di balik pintu. Dia Dea dan Leo, kakak Febby dengan suaminya.

“Sedang apa kalian di sini?” Tanya Randy dengan nada yang tak enak di dengar.

“Kami hanya ingin berkunjung.” Dea menjawab dengan  santainya masuk kedalam rumah padahal Randy belum mempersilahkannya. “Hai Feb, bagaimana kabarmu?” tanya Dea pada Febby ketika sampai di ruang makan.

Febby sangat terkejut saat melihat kedatangan Kakaknya..

“Kak Dea ngapain ke sini?”

“Ngapain? Aku cuma mau mengunjungimu, dan hanya ingin memastikan jika kalian… Tidak.. Hanya… Sandiwara….” kalimat terakhir yang di ucapkan Dea bernada menyindir.

“Kamu pikir kami bersandiwara, Hah? menginaplah di sini, dan aku akan tunjukkan padamu betapa panasnya hubungan kami.” Akhirnya Randy pun tersulut emosinya.

“Hei, kamu ngomong apa sih?” Febby sangat kesal dengan apa yang di katakan Randy.

“Biar saja, biar dia mengetahui betapa panasnya hubungan kita.”

“Kamu fikir aku tidak tahu bagaimana skandalmu dengan penyanyi itu?” Kali ini Dea bicara dengan sedikit menantang Randy, sedangkan Leo, suaminya itu hanya diam membatu disebelahnya. “Kamu hanya menggunakan Febby supaya skandal busukmu itu tidak tercium dan kamu, Febby, kamu rela menikah dengan lelaki ini hanya karena ingin menutupi perasaanmu kepada suamiku, benar bukan?”.

Mendengar itu emosi Febby benar-benar tersulut. Dia merasakan darahnya sudah mendidih. Ternyata tak ada  gunanya ia menutupi kemarahannnya selama ini, tak ada gunanya dia mengalah jika kakaknya masih saja berpikiran buruk terhadapnya. Mungkin ini saatnya ia menghadapi kakaknya itu. Biarlah, jika ia harus kehilangan seorang kakak, toh Dea  juga tak akan pernah kembali seperti dulu lagi nantinya.

“Cukup!” Febby berkata tajam dan penuh dengan penekanan.

“Kak, aku tahu dulu aku pernah mencintai suamimu. Tapi  demi tuhan sekarang aku sama sekali tak memikirkannya. Aku mencintai lelaki lain, dan dia adalah suamiku, Randy Prasaja. Seharusnya kamu yang menjaga suamimu baik-baik. Aku tak pernah mendekatinya tapi dia yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Dia selalu memata-mataiku dan diam-diam memperhatikanku dari jauh.” Entah kenapa Randy menegang saat Febby mengucapkan kalimat itu.

“Apa? kamu jangan terlalu percaya diri.” kali ini Dea yang mulai terpancing emosinya.

“Silahkan tanya sendiri pada dia. Bahkan tadi siang dia masih sempat mengikutiku dan mengamatiku dari jauh saat aku ke toko Ice Cream bersama Brian.”

“Apa itu benar?” Dea bertanya kepada Leo dengan penuh penekanan.

“Darimana kamu tahu?” Leo berbalik bertanya pada Febby. Sedangkan Febby sendiri tidak menghiraukan pertanyaan Leo. Ia memilih kembali bicara, mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam di dasar hatinya.

“Kak, selama ini aku berusaha supaya kamu mau menerimaku kembali, seharusnya aku yang marah kepadamu karena kamu yang sudah merebut kekasihku. Kamu yang sudah merebut dia dariku,  kamu yang menghianatiku, seharusnya kamu yang mendapat hukuman, seharusnya kamu yang mengemis permintaan maaf, bukan aku. Tapi aku mengalah kak, aku mengalah karena saat ini aku cukup merasa bahagia dengan kehidupanku. Aku bahagia dengan orang yang kusayangi, tapi kenapa kak Dea masih tidak bisa menerima semua itu?” Seluruh perasaan dan kesakitan yang di pendam oleh Febby selama ini akirnya keluarlah sudah. Febby meneteskan air matanya, sedangkan Dea hanya ternganga mendengar penjelasan adiknya itu.

”Sekarang aku minta kalian pergi dari sini, aku tidak mau kalian mengganggu hidupku lagi. Kak Dea,  selama ini aku diam karena aku masih peduli dan menganggapmu sebagai kakaku, tapi setelah malam ini, maaf, aku sudah tidak memiliki seorang kakak lagi.” Febby berkata setegas yang ia bisa.

Semuanya lalu terdiam. Semuanya tak ada yang menyangka jika Febby akan mengatatakan hal itu pada kakaknya sendiri. Bahkan Randy pun sempat bergidik. Ternyata istrinya itu menyeramkan juga ketika sedang marah.

“Kalian tunggu apa lagi? Bukankah istriku sudah mengusir kalian? Ekarang cepat angkat kaki dari sini atau ku tendang bokong kalian dari sini?” Tambah Randy dengan nada penuh dengan kemenangan.

Dea lalu bergegas pergi dengan kesal dan menghentak-hentakan kakinya, dia masih tak menyangka jika Febby akan melakukan ini terhadapnya. Dan Leo, suaminya itu bahkan sama sekali tak membelanya, apakah yang dikataaan Febby itu benar jika selama ini Leo lah yang masih memiliki perasaan kepada Febby? Tapi bagaimana mungkin? Apa yang kurang dari dirinya di bandingkan Febby?

“Wow,  itu tadi benar-benar keren.” kata Randy sambil bertepuk tangan ketika Dea dan Leo sudah pergi dari rumahnya.

“Keren apanya? yang benar saja.” Jawab Febby dengan muka datarnya.

“Aku lebih menyukaimu saat tegas seperti tadi dari pada kamu yang cengeng seperti kemaren.” lanjut Randy.

“Hei, aku tidak cengeng.” Bantah Febby.

“Tapi-” kali ini Randy berbicara dengan nada sensual dan mulai memepet tubuh Febby.

“Hei, apa yang kamu lakukan?” tanya Febby sedikit heran dengan perubahan tingkah laku Randy.

“Apa benar tadi yang kamu bilang jika kamu, Ehhm, mencintai lelaki lain,  dan dia, Adalah- Aku?” kali ini Randy mengetakan kalimat tersebut dengan nada yang menggoda.

“Hahhahah apa aku sudah gila? mana mungkin aku mencintaimu? itu hanya akting.” Febby mengelak sambil menghindar dari Randy.

“Apa?”

“Kenapa? apa kamu ingin aku bena-benar mencintaimu?” Febby bertanya dengan menantang.

“Ten-tentu saja tidak, pasti sangat merepotkan sekali kalau kamu benar-benar mencintaiku.”

“Benarkah? Baiklah, aku janji tidak akan mencintaimu..”

“Terserah apa katamu. Tapi bagaimana rencana kita untuk memiliki bayi? bukankah alasanmu ingin memiliki bayi hanya karena ingin pembuktian kepada kakakmu, tapi sekarang kamu bahkan tidak memiliki kakak lagi.” tanya Randy lagi.

“Tidak akan ada bayi.” Jawab Febby cuek..

“Hei, bagaimana bisa begitu?!” Randy mulai berteriak. “Kita tetap pada rencana awal, kita akan memiliki bayi bersama.” lanjut Randy lagi.

“Apa kmau sudah gila? Kita tidak bisa melanjutkan rencana gila itu.”

“Memiliki bayi bukanlah rencana gila. Pokoknya aku tidak akan berhenti menjadi dono sperma sebelum kamu hamil.”

“Randy, tapi memiliki bayi bukan lagi menjadi pioritasku.”

“Tapi kini itu yang menjadi pioritasku.” Randy menjawab cepat penuh penekanan.

“Tap-tapi  kenapa tiba-tiba kamu yang ingin memiliki bayi? jangan-jangan..” Febby menggantung kalimatnya dengan nada penuh selidik.

“Jangan-jangan apa? kamu jangan berpikir yang macam-macam.” Randy berkata sambil menyentil kening Febby dan membuat Febby mengaduh.

“Randy, kalau kita memiliki bayi, berarti pernikahan ini adalah pernikahan yang sesungguhnya.”

“Tentu saja, kamu piki ini pernikahan mainan? pernikahan kita memang pernikahan yang sesungguhnya, kita juga melakukan seks dan bercinta dengan panas, apa lagi jika bukan pernikahan yang sesungguhnya.” Jawab Randy enteng.

“Tapi kita tidak saling mencintai.”

“Persetan dengan cinta. Kamu mencintai lelaki lain dan aku mencintai wanita lain, itu tidak akan mengubah apapun. Kita bisa melakukan seks tanpa cinta, begitupun dengan hidup bersama, kau dan aku akan tetap bisa hidup bersama walau tanpa cinta sialan itu. Bagaimana?” tanya Randy lagi.

“Uumm, apa benar ini tidak akan apa-apa?” Febby masih sedikit ragu.

“Tentu saja.” Jawab Randy pasti.

“Baiklah, aku akan mencobanya, lagi pula aku belum mau menjadi janda di usia muda.” Kata Febby kemudian sambil tertawa.

“Baik, berarti sekarag kita sudah memiliki kesepakatan, sekaang ayo lanjutkan makan lagi.” Ajak Randy kemudian.

Keduanya lalu melanjutkan makan malam bersama dengan pikiran masing-masing. Febby masih sedikit bingung dengan sikap Randy yang seakan yang ingin memiliki bayi. Jika mereka nantinya benar-benar memiliki bayi, itu berarti Febby akan terikat selamanya dengan Randy, apa itu yang di inginkan Randy? Mengikat dirinya? ahh sepertinya tidak mungkin. Lalu kenapa ia mau menuruti kata-kata Randy? Apa,  jangan-jangan ia sendirilah yang menginginkan adanya pengikat antara dirinya dan Randy?  Ahh.. tidak! Tidak! itu tidak mungkin. Febby yakin jika terikat dengan seorang Randy Prasaja adalah hal terakhir yang terlintas di kepalanya.

Dan Randypun sama. Ia masih tak habis pikir, kenapa ia mencetuskan ide gila itu? Hidup bersama tanpa cinta? Seks bersama tanpa cinta? Dan memiliki bayi bersama tanpa cinta? itu hampir tak mungkin. Bagaimana mungkin dirinya melakukan semua itu tanpa sedikitpun perasaan yang ikut campur tangan? itu hampir mustahil. Apa dirinya sudah mulai terpengaruh oleh Febby? Apa Febby kini sudah mulai membuatnya candu? Randy sendiri tidak tahu, yang jelas untuk saat ini ia masih ingin memiliki Febby di sisinya, bersamanya, dan ia masih belum ingin melepaskan Febby hingga tercetuslah ide gila tersebut yang ia yakini suatu saat nanti akan semakin menyesatkannya.

 

-TBC-