Sleeping with my friend – Bab 6

Comments 2 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 6

 

Waktu berlalu cukup cepat. Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh Jessie. Sepertinya baru beberapa jam yang lalu ia melihat Steve memotreti para modelnya dengan gaya yang tak biasa, tapi lelaki itu tentu selalu mempesona ketika bekerja. Ya, setidaknya itulah pendapat Jessie selama ini.

Steve tampak sangat menarik saat lelaki itu konsentrasi pada objek tangkapan lensa kamerannya. Ketika lelaki itu memutar fokus lensanya, saat lelaki itu mengerutkan keningnya, saat lelaki itu tampak begitu serius mengambil gambar di hadapannya, Jessie menyukai saat melihat Steve yang seperti itu. Baginya, Steve tampak bertanggung jawab dengan pekerjaannya, tampak dewasa dengan ekspresi seriusnya. Tentu sangat berbeda dengan Steve yang selama ini ia kenal.

Jessie tak memungkiri jika beberpa kali jantungnya berdebar tak menentu saat melihat Steve melakukan pekerjaannya dulu sebelum malam sialan itu terjadi. Meski begitu, Jessie tak akan pernah mengakui bahwa ia terpana ketika melihat Steve bekerja dengan begitu profesional.

Kini, tak terasa hari sudah semakin sore. Bahkan para kru dan beberapa model sudah meninggalkan tempat pemotretan mereka yang terletak di dalam gedung studio foto milik Steve. Hanya tertinggal beberapa pegawai Steve yang sibuk merapikan bekas-bekas pemotretan, dua bawahannya yang sibuk merapikan gaun-gaunnya, dan juga Steve yang kini sudah berada di dalam ruangannya.

Jessie akan menuju ke dalam ruangan tersebut tapi ada sesuatu keraguan yang tiba-tiba saja menyergapnya. Hubungannya dengan Steve kini sedang tidak baik, sedang retak, dan Jessie takut jika hubungan mereka hancur karena suatu yang seharusnya tak terjadi. Tapi Jessie harus ke sana, berpamitan dengan Steve agar semuanya terlihat normal dan baik-baik saja meski sebenarnya ada banyak hal yang harus mereka bicarakan setelah malam dan pagi sialan itu.

Dengan menghela napas panjang, Jessie menuju ke arah ruangan Steve. Ia bukan seorang yang pengecut, maksudnya, mungkin cukup Tiga minggu ini ia menjadi pengecut karena beberapa kali menghindari pertemuannya dengan Steve. Ia ingin semua kembali normal dan itu harus diawali saat ini.

Setelah dua kali mengetuk pintu ruangan tersebut, Jessie membukanya. Ia tahu bahwa Steve tak menguncinya. Dengan sedikit ragu ia melangkahkan kakinya masuk dan menyapa “Hai” pada Steve.

Lelaki itu yang tadinya cukup serius di depan layar laptopnya, kini mengangkat wajahnya dan tampak terkejut dengan kehadiran Jessie. Apa Steve berharap ia tak perlu masuk ke dalam ruangan lelaki itu? Seketika itu juga Jessie merasa menyesal karena harus memasuki ruangan tersebut.

“Oh, Hai.” Steve berdiri seketika.

Sedikit tak nyaman Jessie berkata. “Sebenarnya, aku hanya berpamitan. Akan sangat tidak sopan jika aku dan para pekerjaku pergi begitu saja tanpa pamit.” Jessie berkata seformal mungkin. Seperti sedang bercakap dengan partner kerjanya. Demi Tuhan! Ia sudah mengenal Steve bahkan sejak bayi, mereka sudah sering berbagi banyak hal. Semuanya terasa hancur setelah malam sialan itu. Jessie tak tahu kenapa ia harus secanggung ini bahkan bersikap seformal ini pada Steve, padahal, sebelumnya ia tak pernah bersikap seperti ini, bahkan memikirkannya saja tidak.

“Oh. Begitu.” Jessie melihat Steve memasukan telapak tangannya pada saku celananya sendiri. “Kau tak ingin melihat ini sebentar?” tawar Steve.

“Ada masalah?” mau tidak mau Jessie melangkahkan kakinya menuju ke arah meja Steve.

Lelaki itu kembali duduk dan hal itu membuat Jessie lega karena menambah keberanian Jessie untuk mendekat ke arah lelaki tersebut.

Biasanya, mereka memang akan memeriksa hasil tangkapan kamera Steve saat mereka bekerja sama seperti sekarang ini. Memilih gambar yang paling bagus dan cocok. Atau, jika tidak ada, mereka akan melakukan sesi tambahan di hari berikutnya. Jessie merasa saat-saat seperti itu sudah cukup lama tidak mereka lalui. Tentu sejak malam sialan itu.

“Tidak. Kupikir semuanya bagus. Tapi aku juga perlu pendapatmu seperti sebelum-sebelumnya.” Ucap Steve sembari menunjukkan hasil tangkapan lensanya tadi.

Dengan seksama Jessie melihat satu demi satu gambar tersebut. Seperti biasa, ia tampak terpesona dengan hasilnya. Steve memang berbakat dalam hal ini, tak heran, jika lelaki ini menjadi salah satu fotografer dengan tarif termahal di New York, meski begitu, lelaki ini tak pernah sepi klien.

“Bagiku ini luar biasa. Kau melakukannya dengan baik.”

Jessie tak pernah memuji Steve sampai seperti itu. Oh, mereka sering saling ejek satu sama lain, tapi memuji dengan formal seperti ini sama sekali tak pernah terjadi diantara mereka.

“Gaunmu juga menjadi salah satu objek yang membuat hasinya indah dan menakjubkan.” Bahkan Jessie juga tak pernah mendengar Steve memuji hasil rancangannya seperti itu.

Steve memang mengagumi apapun rancangan Jessie, tapi biasanya lelaki itu akan berkarta ‘kau membuat aku ingin meniduri modelnya’ atau ‘Rancanganmu membuatku terangsang.’  Ya, seperti itulah khas seorang Steven Morgan. Tapi kini, pujian formal itu membuat Jessie tidak nyaman. Ia tidak suka dengan perubahan Steve, ia juga tidak suka dengan perubahan dirinya sendiri, hingga kemudian, Jessie tersentak dari lamunannya ketika jemari Steve mendarat tepat di atas telapak tangannya yang sedang bertumpu di meja lelaki itu.

Sebuah gelenyar kembali menerpanya, membuat Jessie menatap ke arah Steve seketika saat lelaki itu kini sedang mendongak menatap intens ke arahnya.

“Jess. Aku tak suka dengan suasana seperti ini. kita perlu bicara.”

Ya, tentu saja. Jessie tahu itu. Tapi ia tidak suka membayangkan jika percakapan mereka akan berakhir seperti rabu siang ketika Steve datang ke butiknya dan berakhir saling mengumpat satu sama lain. Jessie tak ingin hal itu terjadi.

Jessie menggelengkan kepalanya. “Kupikir sebaiknya kita melupakan semuanya.”

“Jess. Aku tidak suka hubungan kita jadi seperti ini.”

“Kau pikir aku menyukainya?” nada suara Jessie mulai meninggi. Jika yang dipikirkan Steve adalah hanya lelaki itu yang frustasi tentang kedekatan mereka, maka lelaki itu salah. Jessie juga sama frustasinya. Dan demi apapun juga, Jessie rela menukar apa saja untuk mengembalikan hubungan mereka agar seharmonis dulu.

“Oke.” Steve berdiri. Ia melirik ke arah jam tangannya. “Kita akan membicarakannya nanti, mungkin aku akan ke apartmenmu besok.”

“Kau tak perlu melakukannya.”

“Jess kita harus.” Steve menggenggam kedua belah telapak tangan Jessie. “Setiap bulan, kita akan pulang. Orang rumah akan mengetahui masalah kita jika kita tetap bersikap seperti ini.”

“Mungkin kita tidak perlu pulang bersama lagi. Cukup untuk mengendalikan situasi, bukan?”

“Kau menghindariku?”

“Steve…”

“Oke.” Steve mengangkat kedua tangannya. “Kita memang harus berbicara Jess. Dengan atau tanpa persetujuanmu, besok malam aku akan datang. Aku tidak ingin kita saling menghindar lagi.” Jessie mendesah panjang. Ia tidak mungkin menolak keinginan seorang Morgan. Lelaki itu pemaksa, meski menolaknya, Jessie tahu bahwa besok malam lelaki itu akan datang ke apartmennya.

***

Kencan yang membosankan.

Itulah yang dirasakan Steve malam ini. ia dan Donna Simmon hanya makan malam di sebuah restoran mewah, dan membunuh waktu dengan saling bercakap-cakap. Steve bahkan hanya sedikit menyimak apa yang diceritakan oleh Donna.

Wanita itu bekerja sebagai konsultan di salah satu perusahaan di New York. Hanya itu saja yang Steve tangkap. Bahkan Steve seakan tak ingin mengetahui lebih lanjut tentang wanita itu. Bukan karena tampangnya. Demi Tuhan! Hank adalah teman yang sangat baik karena mengenalkan dirinya pada sosok bidadari seperti Donna Simmon, tapi hanya itu saja. Donna hanya cantik, tapi kosong. Tak ada sesuatu yang menarik bagi Steve untuk dikencani.

Wanita itu terus bercerita tentang siapa saja teman kerjanya, apa saja yang ia lakukan, dari mana saja kliennya datang dan lain sebagainya. Sedangkan Steve memilih hanya diam, sesekali melemparkan senyuman padahal ia tidak tahu apa yang sedang dibahas wanita itu.

Steve hanya ingin waktu segera berlalu. Ia tidak sabar menunggu besok malam, ketika ia kembali bertemu dengan Jessie dan membicarakan tentang hubungan mereka berdua.

“Jadi, apa yang kau lakukan sepanjang hari ini?” tanya Donna kemudian yang merasa bahwa Steve sejak tadi tampak bosan dengan ceritanya.

Steve menyesap minumannya. “Aku? Aku bekerja sepanjang hari. Ada sebuah pemotretan untuk majalah fashion. Dan hanya itu.”

“Kau, bertemu dengan banyak artis?”

“Jika maksudmu karena pekerjaan, maka ya. Kebanyakan hanya model.”

“Woww, hebat sekali. Aku jadi tertarik untuk datang ke tempat kerjamu.”

“Boleh saja. Tapi kadang, saat aku bekerja, akan sangat berkonsentrasi. Aku hanya tak ingin kau terabaikan saat di sana.”

“Oh, kau perhatian sekali.” Donna merasa tersanjung, dan Steve hanya tersenyum menanggapinya. Donna memang seperti kebanyakan wanita yang pernah dekat dengannya. Wanita itu gampang sekali tersanjung, dan ingin selalu ikut campur tentang kehidupannya. Tidak seperti Jessie.

Sial! Lagi-lagi nama itu. Steve mendengus sebal.

***

Kencan berakhir begitu saja setelah Steve mengantarkan Donna hingga sampai apartmen wanita itu. Donna mengundangnya masuk, tapi Steve menolak. Ia tidak sedang ingin meniduri wanita itu, jadi ia berpikir bahwa lebih baik ia pergi saja.

Lagi pula, tujuannya menjalin hubungan dengan Donna adalah untuk menjalin sebuah pertemanan yang sangat dekat, bukan hanya dalam hal asmara. Ia ingin Donna mampu menggantikan sosok Jessie, ketika wanita itu nanti benar-benar pergi menghindar selama-lamanya, maka Steve tak perlu khawatir.

Tapi sepertinya, semuanya gagal total. Donna tak pantas untuk menggantikan tempat Jessie, bahkan keduanya tak memiliki kemiripan sama sekali. Donna lebih asik dengan dunianya sendiri, lebih suka menceritakan tentang dirinya sendiri. sangat berbeda dengan Jessie yang tak akan membuka suara jika tidak ditanya apa yang sedang terjadi dengan wanita itu.

Steve mengemudikan mobilnya cepat hingga sampailah ia pada gedung apartmennya. Ia mendapati Cody duduk di sebuah kursi dekat dengan pintu masuk. Menyapanya sebentar dan segera masuk ke dalam gedung tersebut. Entahlah. Steve hanya ingin segera pergi ke kamar tidurnya. Tidur kemudian menunggu besok malam. Ia akan mengutarakan sebuah niat pada Jessie, ia akan membuat hubungan mereka berbeda.

Ya, Steve tahu bahwa pertemannya dengan Jessie sedang terancam, bahkan mungkin sudah hancur. Ia tahu pasti bahwa apapun itu, ia tak akan bisa memperbaiki semuanya. Pandangannya terhadap Jessie sudah berubah, begitupun yang dirasakan wanita itu padanya. Jessie memang tak mengakuinya, tapi sangat jelas terasa ketika mereka berdekatan. Ketegangan selalu terasa, bukan hanya secara seksual tapi juga secara emosional.

Steve tahu bahwa malam itu bukan sekedar malam panas. Ada sebuah emosi yang terlepas di sana. Ketika mereka bercinta di kamar mandi dan bercinta kembali di atas ranjang, Steve tahu bahwa itu bukan hanya tentang sebuah kepuasan. Dan bodohnya ia baru menyadari hari ini, hampir satu bulan setelahnya.

Bagaimanapun juga, ia harus merundingkan semuanya pada Jessie, ia ingin membahas semuanya sampai tuntas. Menawari Jessie dengan sesuatu yang cukup masuk akal. Dan ketika wanita itu menolaknya, maka lebih baik mereka tidak pernah bertemu lagi dan Steve akan melanjutkan kencannya dengan Donna Simmon yang cukup membosankan untuknya.

Begitulah niat Steve. Tapi benarkah ia akan mengutarakan niatnya pada Jessie? Beranikah ia mengatakannya? Siapkah ia dengan penolakan wanita itu? Entahlah. Steve hanya akan menunggu sampai besok malam.

***

Esoknya….

Steve menyelesaikan sisa pekerjaannya secepat mungkin, karena ia ingin mmepersiapkan diri untuk menghadapi Jessie.

Baiklah. Ia sudah memikirkan semalaman. Persetan dengan pertunangan Jessie dengan si Gay Henry. Yang pasti, Steve akan mengutarakan bahwa mereka sudah tidak bisa berteman lagi. Lebih tepatnya, Steve akan menganggap bahwa mereka kini adalah sepasang kekasih.

Mungkin Jessie akan menganggapnya gila, wanita itu pasti akan melemparinya dengan perabotan rumah tangga. Tapi Steve tak peduli. Nyatanya seperti itulah yang ia rasakan hampir sebulan terakhir. Ia merasa bahwa Jessie adalah kekasihnya, bukan sekedar temannya. Dan hal itu sudah tidak bisa dirubah lagi.

Kecanggungan diantara mereka membuat Steve semakin yakin, bahwa tidak hanya seks yang ada di malam itu. Tidak sekedar pemuasan fisik. Tapi secara emosional, mereka juga terlibat.

Jam Enam sore, Steve sudah siap di apartmennya. Tapi ia menahan diri untuk tidak turun. Demi Tuhan! Ini masih sore. Jessie pasti akan mengerutkan keningnya saat mendapati dirinya berkunjung sore-sore seperti ini. Bahkan mungkin, wanita itu baru pulang dari butiknya.

Akhirnya, Steve memilih menghabiskan waktu di ruang tengah apartmennya sembari kembali memikirkan semuanya. Semakin ia berpikir, semakin ia yakin. Kepercayaan dirinya meningkat saat membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja akan terjadi, seperti Jessie menyetujui pendapatnya. Wahh, pasti akan sangat membahagiakan. Mereka benar-benar akan menjadi sepasang kekasih, berbagi ranjang kembali dengan begitu panas. Seks maraton setiap hari.

Sial!

Steve mengumpat pada ereksinya.

Bagaiamana mungkin ia segera terangsang saat memikirkan hal itu? Otaknya benar-benar sudah dikendalikan oleh Jessie. Dan hal itu membuat Steve semakin yakin bahwa ia harus segera menyelesaikan semuanya dengan Jessie.

Jam Delapan jantung Steve berdebar lebih cepat dari sebelumnya. Perutnya seperti diperas saat ia melangkah keluar dari apartemennya menuju ke arah lift. Turun Lima lantai hingga berada pada lantai apartmen Jessie.

Steve keluar dari dalam Lift dengan sesekali membenarkan tata rambutnya. Tapi baru tiga langkah, ia berhenti.

Bayangan Jessie dengan seorang lelaki saling menautkan bibir satu sama lain dengan begitu lembut tepat di depan pintu apartmen waita itu membuat Steve hanya ternganga menatapnya.

Takk… takk… taakkk…

Steve merasakan sesuatu retak di dalam dadanya. Dengan spontan ia merabanya, terasa nyeri tapi tak mengeluarka darah. Ada apa ini? apa yang terjadi dengannya? Apa ia memiliki kelainan jantung?

Sepanjang hari Steve sudah membayangkan jika ia akan menjadikan Jessie sebagai kekasihnya. Ia tak bisa melihat wanita itu sebagai temannya lagi, ketertarikan seksual serta emosional selalu terpantik ketika mereka berdekatan, dan hal itu cukup bagi Steve untuk menjadikan Jessie sebagai kekasihnya.

Dengan begitu bodohnya, Steve berpikir bahwa Jessie akan menerimanya begitu saja. Wanita itu pasti tak akan mengingkari pesonanya, Steve terlalu percaya diri. Ia melupakan satu hal, bahwa Jessie memiliki cinta untuk tunangannya, dan hal itu tidak dimiliki oleh Steve.

Seberapa panas hubungan mereka, seberapa tegang ketertarikan fisik diantara mereka, maka akan tetap dikalahkan oleh cinta sialan yang dimiliki Jessie dengan kekasihnya.

Dengan kecewa, dengan marah, dan demi Tuhan! dengan terluka, Steve membalikkan tubuhnya bersiap kembali memasuki lift sebelum Jessie melihatnya berdiri di sana seperti seorang idiot yang sedang patah hati.

Patah hati? Sial! Steve tidak ingin mengakuinya.

Tapi saat pintu lift terbuka, Steve seakan berada pada puncak kesialannya ketika ia mengetahui siapa yang ada di dalam sana.

“Steve? Kau dari tempat Jessie?” tanyanya yang kini bahkan sudah mengamati Steve, melihat rahang Steve yang mengetat karena kemarahan, melirik ke arah telapak tangan Steve yang saling mengepal karena emosi yang meluap-luap. Lelaki itu keluar dari dalam lift, dan ia dapat melihat Jessie masih asik bercumbu dengan sang Kekasih.

Dan lelaki itu tersenyum.

“Aku akan pergi.” Ucap Steve dengan dingin.

“Woww, wooww.” Lelaki itu menahan pundak Steve. “Aku bahkan membawakan Sampanye untuk merayakan Bukuku yang akan di filmkan.”

Brengsek, Frank! Kenapa bajingan ini harus datang disaat yang tak tepat?

Itu adalah Frank Summer, kakak Jessie. Mereka tentu sudah saling mengenal sejak kecil. Frank orang yang baik, tapi yang membuat Steve kesal adalah karena lelaki itu terlalu ikut campur dengan urusannya dan Jessie. Frank bahkan sempat mengusulkan untuk menikahkan mereka ketika mereka sedang berada dalam pertemuan keluarga bulanan, meski lelaki itu mengatakannya dengan gurauan, tapi tetap saja, Frank adalah seorang berengsek yang mengganggu ketenangannya dengan Jessie.

“Aku sibuk.”

“Benarkah?” Frank tak percaya. “Akui saja, bung. Kau cemburu melihat mereka.”

“Brengsek kau Frank!” Steve mengumpat keras pada lelaki yang usianya Tiga tahun lebih tua dibandingkan dirinya. Sedangkan lelaki itu tertawa lebar menertawakan umpatan khas yang keluar dari mulut Steve.

Dan pada saat itu, suara Jessie mengejutkn keduanya.

“Frank? Steve? Apa yang kalian lakukan di sana?”

Oh, Steve tak bisa mengelak, ia tak bisa pergi begitu saja dan berpura-pura tak melihat semuanya. Semua ini tentu karena si bajingan Frank Summer. Mata Steve menatap mata Frank dengan tatapan membunuhnya. Berharap jika Frank tak mengatakan apapun tentang apa yang telah mereka lihat tadi.

“Hai Jess. Aku sengaja mengajak Steve ke sini untuk merayakan bukuku yang akan diangkat ke layar lebar.”

“Oh Astaga, itu hebat. Ayo. Kita masuk dan berpesta.” Ajak Jessie.

Frank menatap Steve dengan sedikit menyunggingkan senyumannya, kemudian ia mengajak Steve untuk menuju ke apartmen Jessie dan masuk ke sana. Bagimanapun juga, Steve merasa bahwa Frank tak ingin ia pergi. Dan Steve merasa berterimakasih karena secara tak langsung, Frank mencegahnya menjadi seorang pengecut.

-TBC-

Advertisements

Sleeping with My Friend – Bab 5

Comments 3 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

 

Bab 5

 

Jessie belum pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Hal itu membuat Miranda menunda kepulangannya hingga sang bossnya itu pulang. Saat Jessie keluar dari dalam ruang kerjanya, ia melihat lampu butiknya masih menyala dan tampak Miranda sedang merapikan sebuah lemari yang penuh dengan renda-renda.

Jessie mengerutkan keningnya dan berjalan menuju ke arah bawahannya tersebut. “Miranda? Kau belum pulang?” tanya Jessie sembari mendekat.

“Ya. Kupikir kau butuh teman.” Miranda menjawab. Selama ini, mereka memang sudah seperti teman baik.

“Tidak, aku baik-baik saja. Seharusnya kau sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu.”

“Aku tidak bisa membiarkanmu sendiri, Jess. Tidak setelah apa yang kulihat.”

“Kau, melihatnya?” Tanya Jessie dengan sedikit malu. Jika yang dimaksud Miranda adalah pertengkarannya dengan Steve, maka Jessie benar-benar tak dapat menahan rasa malunya.

“Jika yang kau maksud tentang vibrator dan vagina, maka ya, aku dan yang lain mendengarnya.”

“Oh astaga…” Jessie menutup wajahnya sendiri.

“Ya ampun Jess, kau bersikap seolah-olah dunia runtuh setelah mengatakan hal itu.”

“Jika boleh jujur, aku tak tahu apapun tentang hal itu.”

Miranda membulatkan matanya kemudian tertawa lebar. “Benarkah? Astaga.” Jessie ikut tertawa melihat Miranda tertawa.

“Sudahlah, lebih baik kita pulang, sudah malam.” Ajaknya. Tentu saja Jessie tak ingin membahas tentang masalahnya dengan Steve. Bagaimanapun juga, Jessie tak ingin lagi membahas kejadian tentang ia tidur dengan temannya itu.

Saat Jessie keluar dari butiknya, saat itulah pandangannya terpaku pada sosok pria yang sudah berdiri di samping pintu mobilnya.

Well, rupanya pangeranmu yang lain menjemput.” Bisik Miranda ketika Miranda melihat Henry berada di sana. “Oke, sepertinya aku pulang dulu.”

“Hati-hati.” Hanya itu yang dapat dikatakan Jessie karena saat ini fokusnya sudah ke arah Henry yang datang ke arahnya. Astaga, apa yang akan terjadi? Apa pria ini akan memutuskan hubungan mereka?

“Hai.” Henry menyapa dengan lembut.

“Hai.” Jessie membalas, entah kenapa ia merasa canggung dengan  kekasihnya ini.

“Pulang bersama?” tawar lelaki itu. Dan Jessie hanya mengangguk. Ia membiarkan saja mobilnya terparkir di depan butiknya, sedangkan dirinya memilih ikut bersama dengan Henry. Bagaimanapun juga, ia ingin membahas tentang masalah mereka, meminta maaf tetang malam itu dan juga membahas tentang hilangnya lelaki itu dua hari terakhir tanpa kabar.

Jessie dibimbing memasuki mobil Henry. Setelah keduanya sudah berada di dalam mobil, kecanggungan kembali terasa.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi, kenapa kita bisa secanggung ini satu sama lain.” Jessie mulai membuka suara.

Henry tersenyum. “Aku tidak canggung, mungkin kau saja yang merasa seperti itu, Sayang.” Ucapnya dengan lembut sembari mengusap puncak kepala Jessie dengan sebelah tangannya.

Jessie merasa suasana sedikit mencair. Henry mulai menyalakan mesin mobilnya kemudian mengemudikannya. Jessie menyandarkan punggungnya dan bersikap sesantai mungkin. Ia tahu bahwa sejak tadi ia terlalu canggung. Mungkin karena tak tahu apa yang harus ia bahas dengan Henry.

“Jadi, apa yang kau lakukan dua hari terakhir?” tanya Jessie mulai membuka suara. Ia hanya ingin mendengar alasan Henry, kenapa lelaki itu tak sempat menghubunginya.

“Kau tahu, ada beberapa kecelakaan lalu lintas di Brooklyn Bridge. Dan aku sangat sibuk dengannya.”

“Benarkah? Bagaimana mungkin aku bisa tidak tahu?”

Well. Mungkin kau tidak menyalakan televisi di rumahmu.” Tentu saja, Jessie terlalu sibuk dengan perasaannya sendiri. ia terlalu kacau setelah memikirkan tentang hubungannya dengan Steve dan juga dengan Henry. Jadi tak akan ada waktu untuk Jessie menonton televisi.

“Separah itukah?”

“Tidak separah dalam film Fantastic Four, tapi cukup parah hingga membuat jembatan itu di tutup sepanjang sore.”

“Woww, apa yang terjadi?” suasana benar-benar mencair. Jessie menyukainya.

“Aku tidak begitu paham, tapi ada yang berkata jika ada sebuah truk pengangkut bahan bakar meledak di sana.” Henry menghela napas panjang. “Kau tahu, rumah sakit sangat sibuk sepanjang hari. Aku bahkan tidak pulang.”

“Oh, aku minta maaf. Seharusnya aku memikirkan tentang kemungkinan itu. Maksudku, aku mengira kalau kau…” Jessie ragu melanjutkan kalimatnya. “Maksudku, kau marah karena malam itu….”

“Jess.” Henry meraih telapak tangan Jessie seketika. Meraihnya kemudian mengecupnya singkat. “Aku mencintaimu, kita akan menikah. Aku tidak mungkin marah hanya karena kau belum siap melakukn hal itu.”

Jessie mendesah panjang. Mungkin jika ia belum tidur dengan Steve, ia akan merasa sangat senang, dan bahagia saat memiliki tunangan seperti Henry. Tapi kini, baginya, semuanya sudah berubah. Jessie merasa ada yang berbeda, dan ia merasa jika apa yang ia rasakan tak lagi sama dengan sebelum malam sialan yang ia habiskan bersama Steve.

Melihat Jessie yang tampak melamun, Henry bertanya “Ada masalah? Kau tampak berbeda.”

Jessie menatap ke arah Henry dan tersenyum lembut. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya meski sebenarnya dalam hatinya ia merasa jika hubungan mereka sedang dalam sebuah masalah.

***

Tubuh mereka meyatu dengan sempurna… Erangan Jessie membuat Steve tak dapat menahan diri. Ia ingin segera menyelesaikan permainan panas mereka, dirinya ingin segera meledak, tapi disisi lain, Steve harus memikirkan Jessie. Ini adalah saat pertama untuk Jessie dan Steve ingin temannya itu mengenang pengalaman pertamanya dengan indah.

Steve menundukkan kepalanya, jemarinya mengusap lembut puncak kepala Jessie, menyingkirkan helaian rambut wanita itu yang menutupi wajahnya. Jessie tampak sangat menakjubkan, wanita itu terlihat begitu cantik dari tempatnya melihat.

“Kau, sangat luar biasa.” Steve berbisik dengan suara seraknya. Steve masih belum bergerak sedikitpun. “Apa aku harus berhenti? Atau bergerak?”

“Persetan apa yang ingin kau lakukan, Steve!” Jessie berseru keras.

Steve bukannya tersinggung, tapi malah tersenyum. Kemarahan Jessie dan juga gairah yang mempengaruhi wanita itu membuat Steve tak kuasa menahan dirinya. Wajah Jessie memerah, pencampuran antara gairah dan juga amarah karena rasa sakit akibat pengalaman pertamanya.

“Kau tahu, Jess. Ini adalah pertama kalinya aku bercinta dengan perawan.”

“Jika kau tak segera menyelesaikan hal ini, maka aku akan mencakar kulitmu.”

Steve lagi-lagi tersenyum. “Oke, oke, Sayang.” Steve kemudian menundukkan kepalanya, lalu ia mencumbu bibir Jessie dan mulai menggerakkan tubuhnya.

“Ohh, Jess. Sialan! Kau ingin membunuhku? Hahh?” racau Steve.

Sedangkan Jessie, ia merasakan sebuah kenikmatan baru. Rasa sakit yang tadi sempat ia rasakan dan sempat membuatnya frustasi, kini berubah menjadi sebuah kenikmatan. Sedikit demi sedikit girahnya terbangun. Jessie bahkan ikut bergerak seirama dengan gerakan dari Steve. Apa ini yang dinamakan bercinta? Tayanya dalam hati.

Steve sendiri masih sibuk mengendalikan dirinya. Ia tahu bahwa ia hampir saja meledak jika dirinya tidak menahannya. Jessie benar-benar menakjubkan. Wanita itu membungkusnya dengan begitu rapat, mencengkeramnya begitu erat, hingga Steve merasa sangat frustasi dengan kenikmatan yang tercipta akibat dari gesekan tubuh mereka berdua.

 Masih dengan bergerak pelan, Steve mencumbu lagi dan lagi bibir Jessie. Demi Tuhan! Jessie harus segera sampai, karena Steve yakin jika dirinya tak bisa menahan lebih lama lagi untuk tidak meledakkan diri. Beruntung, karena cumbuan yang ia berikan pada Jessie membuat gairah wanita itu semakin meningkat.

Steve merasakan tubuh Jessie bereaksi dengan sendirinya. Tubuhnya semakin rapat membungkusnya, kaku, melengkukan punggungnya dan erangan wanita itu….

“Steve… Ohh.. Ohh… Astaga…”

Steve tahu, Jessie sudah sampai pada klimaksnya. Tak menunggu lama, Steve segera melajukan pergerakannya kemudian menyusul Jessie pada puncak kenikmatan.

“Yeahh.. yahh… Jess. Sial!”

Keduanya larut dalam badai gairah. Sibuk mengatur detak jantung masing-masih, sibuk dengan napas masing-masing hingga yang terdengar disana hanya desah napas tak beraturan dari keduanya.

Setelah merasa cukup, Steve menarik diri. Menggulingkan tubuhnya ke samping tubuh Jessie. Keduanya terbaring mentap ke arah langit-langit. Mungkin orgasme masih mempengaruhi mereka hingga tak ada sepatah katapun yang teruap dari keduanya.

Steve lalu menolehkan kepalanya ke arah Jessie, tampak Jessie memejamkan matanya seakan menikmati suasana disekitarnya. Mata Steve turun, tampak dada Jessie naik turun dengan napas yang masih tak beraturan. Kulit wanita itu tampak merona. Rambut cokelatnya jatuh tak beraturan, dan Steve juga masih melihat bahwa tubuh Jessie masih sedikit bergetar. Wanita itu masih menikmati orgasmenya, Steve tahu itu. Dan sialnya, ia kembali berereksi.

Brengsek!

Seharusnya ia tahu diri. Steve harus bisa menahan diri. Bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya untuk Jessie. Ia harus menghormati keperawanan wanita itu yang baru saja ia renggut.

Tapi memang dasarnya Steve yang tak dapat mengalihkan pandangannya dari Jessie, akhirnya ia pun tak dapat menahan dirinya. Steve bangkit, ia terduduk dan meminta Jessie untuk bangkit juga.

“Ada apa?” tanya Jessie bingung.

“Membersihkan diri, kau tak mau?”

“Bersama? Astaga, aku…”

“Ayolah, aku sudah melihat semuanya. Apalagi yang membuatmu malu?” Steve bertanya dengan nada menggoda. Yang bisa Jessie lakukan hanya mendengus sebal kemudian segera bangkit menuju ke arah kamar mandi Steve.

Steve tersenyum penuh arti, ia kemudian mengikuti Jessie masuk ke dalam kamar mandinya. Di dalam sana, ternyata Jessie sudah berdiri di bawah pancuran, wanita itu berdiri menghadap ke arah dinding dengan air yang mengucur membasahi tubuhnya.

Sial!

Steve yang melihatnya dari belakang hanya bisa ternganga. Tubuh Jessie sangat indah jika dilihat dari belakang. Lekukannya menggoda, dan permukaan kulitnya tampak halus dan kencang. Dengan spontan, kaki Steve berjalan mendekati Jessie. Lengannya terulur begitu saja melingkari perut Jessie. Steve memeluk tubuh Jessie dari belakang, menyandarkan dagunya pada pundak Jessie, hingga mau tak mau membuat Jessie menghentikan pergerakannya seketika.

“Kau sangat indah, Jess.” Steve berbisik dengan serak. Bahkan dengan berani, jemarinya sudah menggapai sebelah payudara Jessie. Jessie tak meronta, wanita itu bahkan tampak menahan kenikmatan, memejamkan matanya karena sentuhan Steve.

Jessie melemparkan kepalanya ke belakang, hingga Steve dengan leluasa bisa menikmati leher jenjang wanita tersebut.

“Ohh Steve…” dengan spontan Jessie mengerang, menyebutkan nama Steve dengan begitu merdu.

Steve kembali menikmati setiap inci dari kulit Jessie. Jemarinya sudah bergerilya dengan bebas, memberikan kenikmatan untuk wanita yang kini sedang berada dalam rengkuhannya. Jessie sendiri tampak pasrah, ia tak menyangka jika akan melakukan hal sepanas ini dengan Steve. Dan ia memilih untuk menikmatinya saja.

Steve menghentikan aksinya karena pangkal pahanya yang semakin membengkak. Akhirnya ia membalikkan tubuh Jessie, memenjarakan wanita itu diantara dinding dengan tubuhnya. Kemudian bersiap untuk memulai permainan panas kedua mereka.

“Kau tahu, seharusnya aku menghormati keperawananmu. Tapi karena kau menggodaku, maka aku akan melupakan rasa hormatku tersebut.”

“Aku tak menggodamu.”

“Tapi aku tergoda, Jess.” Steve menjawab dengan senyuman penuh arti. Ia mengangkat sebelah kaki Jessie lalu berkata “Aku akan memulainya lagi, dan akan kubawakan surga berkali-kali untuk kita berdua.” Kemudian Steve kembali menenggelamkan diri dalah balutan lembut tubuh Jessie.

Jessie mengerang, menikmati penyatuan panas tersebut. Sedangkan Steve, ia tak akan pernah melupakan rasanya, rasa lembut dan nikmat tubuh Jessie yang membungkusnya dengan begitu erat…. 

 

Mata Steve terbuka seketika. Bayangan malam panas saat bersama dengan Jessie kembali menghantui mimpi-mimpinya. Steve bangkit, kemudian memijit pelipisnya.

Sial! Ini sudah lebih dari Tiga minggu lamanya setelah ia mendatangi butik milik Jessie siang itu. Dan sejak saat itu, Steve belum lagi menemui Jessie. Ia tahu bahwa suasana akan memburuk setelah bertemu dengan wanita itu. Ketegangan masih sangat terasa, Steve bahkan tak bisa melupakan sedikitpun bagaimana panasnya diri Jessie malam itu, dan hal itu benar-benar mengganggunya.

Beberapa kali, Steve hampir berhadapan dengan Jessie, ketika keluar masuk gedung apartmen, tapi Steve memilih menjadi pengecut ketika ia memilih berbalik arah menghindari Jessie.

Sial!

Hingga usianya yang sudah menginjak Tiga puluh tahun, Steve tak pernah sekalipun berbalik arah hanya karena menghindari seorang wanita. Hanya Jessie yang mampu membuatnya seperti ini. Sialan perempuan itu. Belum lagi kenyataan bahwa ternyata, Jessie tampak baik-baik saja bahkan tetap melanjutkan hidup bersama dengan kekasih Gaynya itu. Hal itu benar-benar membuat Steve kesal.

Kenapa hanya ia yang mendapatkan efek sialan dari percintaan panas mereka malam itu? Kenapa Jessie tidak?

Dengan kesal Steve berdiri dan segera menuju ke arah kamar mandinya. Ia memilih mengguyur tubuhnya dengan air dingin hingga memadamkan gairah sialan yang terbangun karena memimpikan tentang malam panas bersama dengan Jessie.

Hari ini, jadwalnya cukup padat. Ada beberapa pemotretan yang berhubungan dengan rancangan Jessie. Yang membuat Steve tak khawatir adalah, bahwa Jessie pasti meminta Miranda untuk mengatur pemotretan tersebut hingga mereka tak perlu saling bertatap muka. Setidaknya itulah yang terjadi selama tiga minggu terakhir jika pekerjaan mereka saling bersinggungan. Itu pula yang membuat Steve tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika berhadapan dengan Jessie, karena Steve tahu bahwa Jessie ingin menghindarinya.

Setelah pemotretan, Steve memiliki sebuah kencan dengan Donna Simmon. Wanita berambut pirang yang dikenalkan oleh Hank dua hari setelah ia datang mengunjungi temannya itu.

Donna adalah perempuan cantik, berkelas, seksi, dan sangat memenuhi kriteria Steve. Tapi Steve akan berdiri pada pendiriannya bahwa ia tak akan mengajak Donna Simmon untuk naik ke atas ranjangnya. Ya, ia mencoba kencan yang sesungguhnya, bukan hanya seks. Ia ingin menjalin sebuah hubungan, sebuah komunikasi hingga Donna juga bisa dijadikan sebagai teman seperti Jessie, bukan sekedar kekasih di atas ranjangnya saja.

Oh, Sial! Kenapa juga ia kembali memikirkan Jessie?

Setelah puas membersihkan diri di dalam kamar mandinya, Steve menuju ke arah lemari pakaiannya. Ia hanya mengenakan T-shirt dipadukan dengan celana jeans belel. Sesekali ia bersiul dan memilih-milih pakaian apa yang cocok untuk ia kenakan nanti ketika berkencan dengan Donna, karena nanti ia akan mengganti pakaiannya di studio fotonya agar tak bolak-balik ke apartmennya.

Jika hubungannya dengan Jessie tidak renggang seperti sekarang, mungkin Steve akan meminta Jessie naik lima lantai ke apartmennya saat ini juga hanya untuk meminta pendapat wanita itu.

Berengsek! Kenapa lagi-lagi ia memikirkan Jessie?

Sembari mengusap rambutnya sendiri dengan kasar, Steve berjalan menuju ke arah dapurnya. Mungkin meminum kopi akan membuat pikirannya tenang dan melupakan tentang Jessie. Sial! Ia benar-benar harus melupakan tentang wanita itu, tentang gairahnya, tentang obsesinya terhadap tubuh wanita itu. Ia harus fokus pada pekerjaannya, pada kencannya hari ini dengan Donna Simmon. Ya, tak akan ada Jessie lagi.

***

Sialnya, resncana Steve untuk melupakan Jessie sepertinya akan gagal siang ini. masalahnya adalah, yang datang menata busana si model ternyata bukan Miranda, melainkan Jessie sendiri.

Sial!

Steve tak berhenti mengumpat dalam hati. Kecanggungan kembali terasa diantara mereka, mungkin Steve sendiri yang merasa canggung, atau Jessie yang seakan tak ingin berurusan dengannya kecuali tentang pekerjaan.

Dengan sesekali mengusap tengkuknya, Steve berjalan menuju ke arah Jessie yang kini masih sibuk membenarkan letak beberapa aksesoris di pakaian yang dikenakan si model.

“Hai.” Sedikit ragu Steve menyapa Jessie.

“Hai juga.” Jessie menjawab singkat. Tapi matanya belum teralih dari sesuatu yang ia kerjakan.

“Kupikir, Miranda yang akan datang.”

“Dia cuti hari ini. Jadi aku yang datang.” Jawabnya lagi masih enggan menolehkan kepalanya ke arah Steve.

“Kau, tak perlu datang dan bisa menunda pekerjaan ini jika kau tak ingin berada di sini.”

Akhirnya Jessie mengangkat wajahnya menatap jengkel ke arah Steve. “Aku adalah orang yang profesional. Aku tak akan mencampur adukkan masalah pribadi dan pekerjaan.”

“Oh ya? Baguslah. Aku hanya tidak ingin mendengar tentang vibrator lagi.”

Si model yang berada di antara mereka berdehem seketika. Sedangkan Jessie, ia melemparkan tatapan membunuh ke arah Steve, dan Steve, ia memilih pergi meninggalkan Jessie dengan senyum merekah di wajahnya.

Ketegangan masih ia rasakan, setidaknya, Steve merasa bahwa Jessie tak sesensitif saat di butik wanita itu dua minggu yang lalu. Dan Steve tak dapat menahan diri untuk tidak menggoda wanita itu. Bagaimanapun juga, dalam hati Steve yang paling dalam, ia menginginkan hubungannya dengan Jessie kembali seperti semula, berteman lagi seperti dulu, menggoda wanita itu lagi hingga membuatnya marah, meski sebenarnya, hal itu tak akan mungkin terjadi lagi.

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 4

Comments 3 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 4

 

Siang itu, Jessie menyibukkan diri di dalam butiknya. Hari itu akan ada seorang pelanggan yang memang dijadwalkan mencoba gaun pengantin rancangannya. Miranda, asisten peribadinya juga sibuk membantu Jessie, ketika tiba-tiba telepon di meja Jessie berdering.

“Kau tidak mengangkatnya?” tanya Miranda pada Jessie yang sibuk memberi tanda pada gaun yang sedang ia benarkan.

Jessie hanya menggelengkan kepalanya.

Sudah dua hari berlalu, dan Miranda tak pernah melihat Jessie seperti saat ini. atasannya itu tak berhenti bekerja jika tidak sedang waktunya makan siang atau pulang. Miranda tahu jika butik Jessie memang ramai pengunjung, tapi biasanya, Jessie hanya akan fokus pada rancangan-rancangannya, bukan menyibukkan diri dengan hal-hal yang bisa dikerjakan oleh bawahannya seperti saat ini.

“Kau ada masalah, Jess?” tanya Miranda secara terang-terangan.

Jessie memang meminta Miranda dan bawahannya yang lain untuk menganggapnya sebagai teman sendiri. Jadi jika ada yang aneh dengan Jessie, Miranda tak segan-segan menegurnya.

“Tidak, kenapa?” tanya Jessie yang baru mengangkat wajahnya sejak tadi.

“Sudah dua hari, dan kau tak berhenti murung. Apa yang terjadi?”

Jessie hanya mengangkat kedua bahunya. Ini memang sudah dua hari berlalu sejak malam panas yang ia lewati dengan Steve. Selama itu, Jessie belum pernah sekalipun melihat Steve. Lelaki itu tak menampakan batang hidungnya. Bahkan untuk meminta maaf pada Jessie tentang perkataannya pagi itu saja tidak.

Tentang Henry, lelaki itupun tampak hilang ditelan bumi. Jessie sudah tiga kali menghubunginya, tapi ponsel lelaki itu mati. Jadi Jessie memilih untuk tak menghubungi lelaki itu sebelum lelaki itu menghubunginya lagi.

“Teleponmu berbunyi sejak tadi, Jess. Kau benar-benar tak ingin mengangkatnya?”

Jessie menghela napas panjang. “Bisakah kau mengangkatnya untukku?” Jessie bertanya balik.

“Oke.” Miranda berjalan menuju ke arah telepon, kemudian ia mengangkatnya. “Summer Flower di sini.” Ucap Miranda menyebutkan nama butik milik Jessie.

“Miranda? bisakah aku berbicara dengan Jessie?”

“Oh, Mr. Morgan.” Jessie segera menatap ke arah Miranda ketika mendengar Miranda menyebut nama belakang Steve. “Rupanya Kau.” Ucap Miranda. Sedangkan Jessie segera menggelengkan kepalanya, memberi isyarat Miranda bahwa dirinya sedang tak ingin diganggu.

“Tapi maaf, Miss Summer sedang tak berada di tempat.”

“Kau yakin? Aku bahkan melihat mobilnya di depan tokonya.”

“Oh, kau di sini?” Miranda terkejut. Tentu saja. Begitupun dengan Jessie. Jessie bahkan segera mengalihkan pandangannya ke luar butiknya dan ia mendapati  mobil sport milik Steve terparkir tepat di sebelah mobilnya. Jessie menghela napas panjang. Rupanya ia memang tak bisa lari lagi.

“Jadi, apa aku boleh masuk?” tanya Steve kemudian.

Miranda menatap Jessie dengan penuh tanya, dan Jessie hanya menghela napas panjang menandakan jika mau tak mau ia mengizikan lelaki itu masuk.

“Oke, masuklah.” Setelah itu, telepon di tutup.

***

Di dalam mobil, setelah menutup teleponnya, Steve berkali-kali mengambil napas dalam-dalam untuk mempersiapkan dirinya. Ini adalah pertama kalinya ia menemui Jessie setelah pagi sialan saat itu.

Sebenarnya, Steve sudah sangat menahan diri. Setelah pagi itu, ia lantas ke rumah Hank, temannya. Steve tak bisa mengendalikan dirinya untuk tak bercerita kepada Hank. Bagaimanapun juga, malam itu merupakan malam yang luar biasa untuk Steve. Sepanjang pagi, Steve mencoba bersikap sesantai mungkin, padahal ia tahu, bahwa didalam dirinya ada suatu gejolak yang tumbuh ketika berdekatan dengan Jessie.

Steve tak bisa lagi melihat Jessie sebagai temannya setelah malam itu. Well, ia melihat Jessie sebagai wanita dewasa. Meski sebelum-sebelumnya Steve sering kali  melihat Jessie seperti itu, tapi setelah malam panas yang sudah mereka lalui bersama, Steve tak bisa lagi bersikap santai seolah-olah mereka tak pernah melakukan hubungan apapun.

Tanggapan Hank siang itu biasa-biasa saja, tapi setelah Steve menceritakan pertengkarannya dengan Jessie pagi itu, Hank tak berhenti mengumpatinya.

“Kau benar-benar bajingan, Steve! Bagaimana mungkin kau bersikap seperti itu dengan Jessie? Ingat, dia temanmu sejak kecil, bukan perempuan murahan yang kau bayar untuk memuaskan hasrat sialanmu.”

“Tapi aku kesal saat membayangkan dia berencana memiliki bayi dengan si Gay itu.”

“Kenapa? Kau cemburu? Kau kesal karena dia memarahimu saat tahu bahwa kau tidak menggunakan kondom sedangkan dia berencana memiliki bayi dengan kekasihnya? Kau benar-benar kekanakan.”

“Cukup, Hank! Aku kesini bukan untuk mendengarkan omong kosong sialanmu.”

“Well, kau boleh pergi.” Ucap Hank kemudian hingga membuat Steve mendesah panjang.

“Aku hanya bingung dengan apa yang kurasakan, Hank! Bagaimana mungkin Jessie bisa begitu mempengaruhiku?”

“Karena kau menyukainya.”

“Kami hanya berteman!”

“Sejauh yang kulihat, pertemanan kalian tidak masuk akal. Kau selalu mengganggu hubungannya, Steve. Ingat.”

“Aku tidak pernah mengganggu hubungannya dengan pria manapun.”

“Mungkin kau tidak menyadarinya, tapi kau benar-benar seorang pengganggu, Steve. Aku tidak akan terima jika kekasihku memiliki hubungan platonik dengan seorang pria, apalagi pria itu sepertimu.” Pernyataan Hank membuat Steve semakin kesal. “Dan aku tahu, hal itulah yang membuat laki-laki yang ingin dekat dengan Jessie mundur teratur saat tahu bahwa Jessie memiliki hubungan yang tak normal denganmu.”

Pernyataan Hank kembali berputar-putar dalam kepala Steve hingga membuat Steve mendengus sebal. Apa iya, kalau selama ini ia sepefrti seorang pengganggu dalam hubungan percintaan Jessie? Dan astaga, ia tidak menyukai Jessie, mereka hanya berteman. Hank hanya pandai menebak, dan tebakan Hank bukanlah hal yang benar.

Dengan sedikit kesal, Steve keluar dari dalam mobilnya. Dengan pasti ia melangkahkan kakinya memasuki butik milik Jessie. Wanita itu benar-benar sedang menghindarinya, Steve tahu itu. Tapi Steve tak akan tinggal diam. Kedatangannya kemari untuk meminta maaf dengan Jessie tantang keberengsekannya pagi itu.

Masuk ke dalam, Steve di sambut dengan beberapa pegawai Jessie yang memang sudah cukup mengenalnya. Selain karena Jessie adalah temannya yang membuat Steve sering kali ke butik wanita itu, pekerjaan mereka juga sering bersinggungan. Steve sebagai fotografer, dan Jessie terkadang menjadi penata busana Sang model. Itulah yang membuat mereka hampir sering bersama hampir setiap saat.

Steve segera memasuki ruangan Jessie, dan di sana, ia mendapati Jessie yang sedang sibuk dengan sebuah gaun pernikahan. Terdapat juga Miranda, salah seorang pegawai Jessie yang kini sudah melemparkan sebuah senyuman kepadanya.

“Jadi, kau berbohong padaku, Miranda?” tanya Steve dengan nada menggoda.

Pipi Miranda merona seketika. Bukan karena tergoda, tapi karena malu saat ia sudah ketahuan berbohong, meski sebenarnya Jessie lah yang memintanya untuk berbohong.

“Aku minta maaf, Mr. Morgan.” Ucap Miranda dengan sopan tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya.

Kaki Steve melangkah mendekat. “Aku akan memaafkanmu, asal kau mengatakan, apa yang membuatmu berani membohongiku?”

Miranda tentu tak bisa menjawabnya. Ia tak mungkin menjawab bahwa Jessie yang memintanya. Tapi Miranda bersyukur karena pada detik itu, Jessie memintanya secara halus untuk keluar dari dalam ruangan wanita itu.

“Bisakah kau mencarikan tundun kepala yang cocok dipadukan dengan gaun ini?” tanya Jessie pada Miranda. Berharap jika Miranda mengerti dan keluar dari ruangannya.

“Oh, baiklah. Hanya itu saja?”

“Kupikir, sepatunya juga. Si pemilik akan datang jam Tiga sore, aku ingin semua siap saat itu.”

“Oke.” Miranda akhirnya memilih segera pergi, tak lupa ia meninggalkan senyuman lembutnya pada Steve.

Setelah itu, ruangan Jessie sunyi. Steve ingin membuka suaranya, tapi sialan! Kecanggungan tiba-tiba saja menelannya. Jessie sama sekali tak menghiraukan kehadirannya dan itu benar-benar membuat Steve kesal.

“Aku, tidak mengganggu, bukan?” tanya Steve mencoba memulai percakapan.

“Kau tahu, ini masih jam kerja.”

“Kau tidak bekerja di kantor, jadi kau tak perlu sedisiplin itu.”

Jessie mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Steve. Lelaki itu benar-benar berbeda, entah ini cara memandang Jessie saja yang kini berbeda setelah malam sialan itu, atau memang karena Jessie baru menyadari bahwa Steve saat ini sangat mempesona.

“Si pemilik gaun akan dartang jam Tiga, aku hanya memiliki Empat Jam untuk menyelesaikan semuanya. Kau pikir aku bisa santai-santai seperti yang kau lakukan sekarang?”

Pernyataan Jessie sangat keras. Jika sebelulnya Steve tak akan ambil pusing, berbeda dengan saat ini. Masalahnya, hubungan mereka sedang berada dalam kondisi yang tidak baik.

“Baiklah, aku minta maaf jika aku mengganggumu. Tapi aku harus bertemu denganmu dan membicarakan semuanya.”

Jessie kembali menatap gaunnya dan memasang kembali beberapa pernak-pernik di sana. “Jika yang ingin kau bahas adalah tentang pagi sialan itu, maka kau tak perlu membahasnya, aku sudah melupakannya.”

“Tidak, Jess. Bagaimanapun juga, aku sudah bersikap berengsek padamu.”

Jessie tak menjawab. Ia tahu bahwa Steve memang berengsek. Tapi seberengsek apapun lelaki itu, Jessie tak akan bisa membencinya.

“Dan aku ingin meminta maaf padamu.” Lanjut Steve hingga membuat Jessie mengangkat wajahnya.

Jessie bersedekap dan bertanya “Untuk apa? Karena kau sudah ‘membaptisku’ malam itu? Atau karena kau tidak menggunakan kondom?” Jessie bahkan ikut menggunakan istilah itu untuk menyebutkan kejadian panas yang sudah mereka lakukan malam itu.

“Untuk semuanya.” Ucap Steve dengan penuh sesal.

“Kau bukan satu-satunya yang salah, Steve. Ingat, aku menggodamu.”

“Tapi aku yang meluncurkan ide gila itu.”

“Dan aku yang menyetujuinya.”

“Tapi aku tak mengingatkanmu kembali tentang resikonya.”

“Aku yang datang padamu, Steve! Astaga, apa bisa kita lupakan saja malam itu?!” Jessie berteriak frustasi. “Aku tidak suka melihat penyesalan dan rasa bersalahmu.”

Steve berjalan satu langkah ke arah Jessie. “Aku tidak pernah menyesal.” Ucapnya penuh penekanan.

Jessie menatap tepat pada mata Steve, dan lelaki itu benar. Tak ada penyesalan di sana. Steve tak menyesal karena sudah tidur dengannya.

“Satu-satunya hal yang membuatku tak nyaman adalah, karena aku tidak bisa lagi melihatmu sebagai teman perempuanku.”

“Oh begitu? Jadi kau ingin kita memutuskan pertemanan kita?”

“Aku tidak berkata seperti itu, Jess.” Lagi, Steve berkata dengan penuh penekanan. “Kau tentu tahu apa maksudku.”

“Tidak, aku tidak tahu.” Jessie mencoba menghindar. Entah kenapa ia merasa sesak ketika dekat dengan Steve.

“Kau ingin tahu apa maksudku.” Steve mendekat.

“Tidak, aku tidak ingin tahu.” Jessie mencoba menjauh lagi dan memfokuskan pandangannya pada gaun di hadapannya.

“Aku melihatmu sebagai seorang wanita yang menggairahkan. Bahkan sekarang aku berereksi karena dekat denganmu.”

Jessie menatap Steve seketika dengan rona merah di pipinya. “Kau benar-benar bajingan, Steve! Keluar dari ruanganku!” Jessie berseru keras.

“Akui saja, Jess. Bahwa pandanganmu terhadapku saat ini juga sudah berubah. Kau tidak dapat melupakan malam itu, dan kau melihatku sebagai lelaki panas yang menggairahkan.”

Jessie mendorong keras dada Steve. “Berengsek kau Steve! Keluar dari ruanganku!” Jessie mendorong lagi dan lagi hingga akhirnya mereka sampai di pintu ruangan Jessie.

Sungguh, Jessie sangat marah, ia kesal saat tahu bahwa pandangannya terhadap Steve sudah berubah, dari seorang teman menjadi seorang lelaki yang menggairahkan seperti yang dikatakan lelaki itu. Dan Jessie lebih kesal lagi saat tahu bahwa Steve saat ini juga memandang Jessie seperti wanita-wanita teman kencan lelaki itu, bukan sebagai temannya. Jessie tak suka saat secara tak langsung Steve menatapnya seperti itu.

“Akui saja, Jess. Semakin kau marah, semakin kau menunjukkan bahwa kau menginginkanku.” Steve berkata dengan wajah tengilnya. Dan Jessie benar-benar sangat marah.

Setelah mendorong lelaki itu hingga keluar dari ruangannya, Jessie berkata. “Kau tahu, aku hanya melihatmu sebagai vibrator berjalan. Apa kau puas?”

Steve sempat terkejut dengan ucapan Jessie. Tapi dia mencoba mengendalikan dirinya dan bertanya sesantai mungkin. “Kalau begitu, bolehkan aku melihatmu sebagai vagina berjalan?”

“Bajingan kau Steve!” lagi-lagi Jessie mendorong tubuh temannya itu agar menjauh, setelah itu Jessie membanting pintu ruang kerjanya hingga berdentum. Steve hanya menatapnya dengan tatapan kesalnya. Ia mengusap wajahnya dengan frustasi.

Bukan ini yang ia inginkan saat menemui Jessie, bukan seperti ini akhirnya. Ia ingin semuanya kembali membaik. Tapi sialan! Steve tak dapat mengendalikan diri ketika ia merasakan perasan yang tak biasa saat di dekat Jessie. Ia tidak suka saat Jessie mengacuhkannya, ia tidak suka saat Jessie mencoba menghindarinya, dan ia sangat tidak suka dengan ketegangan seksual yang tiba-tiba muncul ketika dirinya berada di dekat Jessie.

Sial! Apa yang sudah terjadi?

Akhirnya, Steve memilih segera pergi dari sana. Mengabaikan tatapan para pegawai Jessie yang ada di sana. Steve tahu, pasti mereka menyaksikan pertengkaran kekanakannya dengan Jessie, dan pasti mereka mendengar perkataan-perkataan tak masuk akal yang sudah ia dan Jessie lontarkan tentang vibrator maupun vagina. Steve tak peduli, ia mencoba tidak mempedulikannya.

***

“Kau gila, Steve? Kau benar-benar menyebutnya sebagai vagina berjalan?” Hank benar-benar tak percaya. Saat ini, ia sedang menemani Steve minum di salah satu kelab malam. Dan temannya itu minum seperti orang gila.

“Dia menyebutku vibrator berjalan, ingat. Aku sudah merendahkan harga diriku untuk meminta maaf padanya. Tapi dia bersikap ketus padaku.”

“Bukan berarti kau juga harus bersikap seperti itu padanya. Ingat, kau yang salah. Kau yang mengajaknya naik ke atas ranjangmu.”

“Tapi dia menggodaku, dia tidak menolak.”

“Apapun itu, kau salah, Steve. Tak seharusnya kau memperkeruh keadaan.”

“Jadi, apa maumu, Hank? Kau ingin aku bertekuk lutut padanya dan mengakui bahwa aku hanya sebuah vibrator berjalan.”

“Kau tak perlu mendramatisir keadaan, Steve. Kau hanya perlu relax. Kendalikan dirimu, Bung. Masalahmu tak akan selesai jika kau marah-marah seperti ini apalagi padanya.”

“Bagaimana bisa aku mengendalikan diri jika setiap dekat dengannya aku seakan tertarik pada sebuah magnet gairah? Dan jangan lupakan ereksi sialanku yang selalu kambuh saat berdekatan dengannya!” tanya Steve dengan kesal. “Sialan! Sebelum malam itu, aku hanya melihat Jessie sebagai wanita cantik dan spesial. Hanya itu. Tapi sekarang, semua fantasi erotisku ada pada dirinya.”

Hank malah tertawa lebar. “Kau benar-benar kacau, Steve.”

“Ya. Sangat. Dan semua ini karena seorang wanita.” Steve menenggak minumannya hingga tandas. “Kau harus membantuku, Hank. Kau harus membantuku.”

“Dengan apa? Aku bahkan tak tahu apa yang harus kau lakukan untuk menghadapi Jessie.”

Steve menatap Hank dengan tajam “Carikan aku perempuan.”

“Jangan mulai, Steve. Kau tidak sedang dalam mode On untuk seks, kan?”

“Berengsek! Aku ingin perempuan baik-baik. Aku ingin berkencan yang sesungguhnya hingga aku bisa melupakan pertemanan sialanku yang kacau balau dengan Jessie. Aku ingin berkencan, bukan hanya seks!” Steve berkata sungguh-sungguh.

Well, Hank merasa terkejut. Sejauh ia mengenal Steve, temannya itu tak pernah meminta untuk kencan dengan wanita baik-baik. Temannya itu hanya memikirkan selangkangannya saja, tapi sekarang, Hank tak mengerti kenapa Steve ingin berkencan dengan seseorang dalam artian yang sebenarnya? Apa Steve seputus asa itu dengan hubungannya bersama dengan Jessie?

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 3

Comment 1 Standard

 

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Jess! Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Steve lagi. Jessie tahu jika Steve sudah seperti ini, maka ia tak memiliki jalan lain selain jujur dengan lelaki itu.

Jessie menurunkan bahunya, ia mendesah panjang sebelum berkata “Aku butuh minum. Aku butuh teman minum! Apa kau puas?!” serunya dengan kesal dan frustasi.

Steve yang menatap Jessie merasa terketuk hatinya. Ia tidak pernah melihat Jessie sefrustasi saat ini. Kekesalan yang ia rasakan sepanjang hari pada Jessie karena wanita itu lebih membela kekasihnya dibandingkan dirinya kini lenyap begitu saja saat melihat kebingungan yang tampak jelas di wajah wanita itu.

Jessie memiliki masalah, Steve tahu itu. Wanita itu butuh minum, dan ia akan menemani wanita itu minum hingga melupakan masalahnya.

***

 

Bab 3

 

 

“Kau hanya perlu bilang jika kau butuh minum, maka aku akan mengajakmu berpesta dengan wanita-wanita tadi.” Ucap Steve saat ia sudah mempersilahkan Jessie duduk di bar kecilnya dan menuangkan minuman beralkohol untuk Jessie.

“Kau gila? Aku tidak akan mau berpesta dengan kalian. Apalagi sampai melihat kalian telanjang satu sama lain.”

“Itu keterlaluan, Jess. Aku tidak mungkin telanjang di hadapanmu.”

“Tapi kau melakukannya kemarin.” Jessie menjawab cepat sembari menenggak minuman yang dituangkan Steve hingga tandas.

“Wow, wow, wow, Hei, apa yang terjadi denganmu, gadis biara? Kau tak pernah minum sampai seperti ini.”

“Aku benar-benar butuh minum, Steve.” Ucap Jessie lagi kali ini yang sudah menuangkan minuman kembali pada gelasnya. Secepat kilat, Steve menghalangi Jessie hingga mata Jessie menatap ke arah lelaki itu.

“Apa kau sudah gila? Apa yang terjadi denganmu?” tanya Steve dengan raut wajah seriusnya. Ia tak pernah melihat Jessie minum seperti ini. Mungkin mereka pernah minum bir bersama tapi tidak dengan cara bar-bar seperti saat ini.

“Aku mengacaukan semuanya.” Jessie mendesah panjang.

“Apa maksudmu?” tanya Steve kemudian.

 

“Henry. Dia pergi setelah aku menolaknya. Astaga, kami bahkan sudah merencanakan malam ini.”

Steve kesal jika membahasnya, tentu saja. Tapi dia juga senang saat memikirkan bahwa Jessie dan laki-laki bajingan itu tidak jadi melakukan rencana mereka.

“Oke, aku tahu.” Steve mendekatkan kursinya pada Jessie, memutar kursi Jessie hingga wanita itu menghadap ke arahnya. “Sekarang katakan padaku, apa yang membuatmu menolaknya padahal kau sudah merencanakannya?”

“Aku tidak tahu.”

“Jess, masalah tidak akan selesai saat kau sendiri tidak tahu apa yang kau inginkan.”

Jessie kembali mendesah panjang. “Masalahnya, aku merasa belum siap. Dan astaga, aku takut mengecewakannya.”

Steve mendengus sebal. “Kan aku sudah pernah bilang padamu, kalau aku bisa membantumu.”

“Aku tidak sedang bercanda, Steve.” Mata Jessie menatap tajam ke arah Steve.

“Kau pikir aku sedang bercanda? Jika masalahnya adalah kepercayaan dirimu, maka kau bisa meminta bantuan padaku. Kau meragukan pengalamanku?”

Jessie berdiri seketika. “Sepertinya aku salah datang kemari.”

“Jess, Jess.” Steve meminta Jessie duduk kembali. “Oke, aku tidak akan mengatakan apapun tentang ide gila itu lagi.” Steve mengangkat kedua tangannya. “Maaf.” Ucapnya kemudian.

Jessie memutar bola matanya, ia kembali meminum minuman di hadapannya, sedangkan Steve, ia hanya mengamati temannya itu dari tempatnya duduk.

Jessie tampak kacau, tapi sialnya, hal itu tak mengurangi daya tarik dari wanita itu. Jika boleh jujur, bagi Steve, Jessie adalah wanita tercantik yang pernah ia lihat. Sebagai designer, pakaian Jessie tentu selalu fashionable, tapi saat santai di rumah, wanita itu selalu tampak sederhana. Make up yang dikenakan Jessie pun tergolong wajar. Tak seperti kebanyakan teman kencannya yang tampak terlalu tebal. Dan Stve juga berani jamin jika semua yang ada pada diri Jessie adalah asli. Tak mungkin ada silikon di hidung mancung wanita itu, dan tak mungkin juga payudara Jessie yang tampak padat menggoda itu berisi dengan implan-implan sialan seperti milik teman-teman kencannya.

Sial! Kenapa juga ia berpikir tentang implan?

“Kau, benar-benar menyukainya?” tanya Steve kemudian.

“Henry? Jika tidak, aku tak mungkin menerima lamarannya.”

Steve menganggukkan kepalanya. Sedangkan Jessie masih meminum minumannya lagi dan lagi. Steve kembali menatap ke arah Jessie, wanita itu sedang sibuk menatap ke arah minumannya hingga tak sadar jika saat ini Steve sedang mengamati setiap inci dari wajahnya.

“Kau tahu, Steve. Kadang aku merasa iri denganmu.” Ucap Jessie yang saat ini sudah menolehkan kepalanya ke arah Steve. Ia sempat terkejut saat mendapati Steve yang ternyata sedang mengamati wajahnya. Secepat kilat Jessie memalingkan wajahnya. Ia tak pernah melihat Steve menatapnya seperti itu.

“Apa yang membuatmu iri?” tanya Steve kemudian.

Entah perasaan Jessie saja atau memang ia mendengar suara Steve yang sudah terdengar parau di telingannya. “Kau, bisa melakukan apapun sesuka hatimu. Meniduri banyak wanita tanpa beban. Dan aku…”

“Semua itu pilihan, Jess. Lagi pula aku pria. Kau wanita. Aku tidak mau membayangkan jika kau sama bejatnya denganku.”

“Tentu saja aku tidak akan memilih jalan itu. Maksudku, kenapa kau bisa melakukan hal itu? Apa kau tidak merasa berdosa sedikitpun?”

“Tidak. Toh aku tidak tidur dengan perempuan baik-baik.”

Ya, Jessie tahu kenyataan itu. Pacar Steve biasanya bukan wanita baik-baik. Mungkin karena itulah Jessie bisa memaklumi keberengsekan temannya ini.

Jessie kembali meminum minumannya. Pikirannya melayang entah kemana. Ia masih sedih karena rencananya dengan Henry batal. Tapi disisi lain, ia merasa lega karena ada Steve yang menemaninya.

Kemudian Jessie melihat Steve berdiri, lelaki itu tiba-tiba saja membuka pakaiannya sendiri hingga bertelanjang dada. Jessie menelan ludah dengan susah payah. Ia memang sering melihat tubuh telanjang Steve, tapi entah kenapa malam ini ia merasa tubuh itu tampak indah dan menggairahkan.

Steve berjalan menjauhinya, menuju ke arah lemari pendingin. Membungkukkan tubuhnya entah mengambil apa dari sana. Demi Tuhan! Baru kali ini Jessie melihat Steve tampak begitu berbeda.

Jessie merasakan pusat dirinya berkedut seketika. Apa ini ada hubungannya dengan minuman yang baru saja ia minum? Jessie megamati minumannya, berharap bahwa pemikiran kotor yang baru saja melintasi kepalanya segera hilang.

Tapi sialnya, itu hanya harapan Jessie saja. Saat Steve melangkah ke arahnya, pada saat itulah Jessie merasa jantungnya berdebar tak menentu. Ia tidak pernah melihat tubuh Steve setegap itu. Pikir Jessie, dada lelaki itu tidak sebidang saat ini. Jessie juga tak pernah melihat bahwa Steve memiliki otot-otot perut yang tampak menggoda, bahkan lengan lelaki itu, Oh, Jessie tiba-tiba berpikir bagaimana lengan kekar itu melingkari tubuh mungilnya.

Jessie kembali menelan ludah dengan susah payah. Ia tak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Kenapa reaksinya saat melihat Steve seperti itu membuat Jessie kalang kabut. Ini bukan pertama kalinya Steve bertelanjang di hadapannya, tapi kenapa Jessie merasakan perasaan seperti ini untuk yang pertama kalinya?

Segera Jessie memalingkan wajahnya yang sudah memerah karena kepanasan ke arah minumannya. Ia kembali menenggak minumannya, dan hal tersebut membuat Steve mengangkat sebelah alisnya.

“Kau, baik-baik saja, kan?” tanya Steve sembari mendaratkan telapak tangannya pada pundak Jessie.

Pada detik itu, Jessie merasakan aliran listrik bersumber dari telapak tangan Steve. Ia menolehkan kepalanya menatap ke arah telapak tangan temannya itu. Jessie lalu menatap Steve dengan tatapan anehnya.

“Kenapa kau menyentuhku?” tanya Jessie dengan spontan.

“Menyentuh?” tanya Steve tak mengerti. Steve menatap tangannya pada pundak Jessie, lalu mengangkatnya dengan spontan. “Aku tak mengerti apa maksudmu.” Ucap Steve bingung.

Steve melihat wajah Jessie sudah merah merona, seperti sedang kepanasan. Memangnya apa yang sedang terjadi? Steve kembali bangkit mencari remote AC untuk mendinginkan ruangan tengah apartmennya. Tapi saat Steve akan pergi, Jessie dengan spontan menggapai lengan Steve hingga membuat lelaki itu menatap ke arahnya penuh tanya.

Jessie tersenyum malu. “Kau tahu, Steve. Untuk sesaat, aku memikirkan tentang ide gilamu itu.”

“Maksudmu?” dengan spontan Steve bertanya.

Jessie mengangkat kedua bahunya. “Well, tidur bersama. Astaga, apa sih yang sedang kupikirkan?” Jessie akhirnya memalingkan wajahnya ke arah lain karena malu. tapi secepat kilat Steve menangkup kedua pipi Jessie, memaksa wanita itu menghadap ke arahnya, kemudian tanpa banyak bicara lagi, Steve menyambar bibir ranum Jessie.

Oh, Steve tak pernah merasakan bibir selembut itu bahkan di dalam fantasinya. Ia merasakan Jessie membalas cumbuannya, wanita itu bahkan sudah ikut berdiri dan mengalungkan lengannya pada leher Steve.

“Ohh Jess,” Steve mengerang ketika gairahnya mulai terbangun dengan sendirinya.

“Steve… Steven…” Jessie pun ikut mengerang saat ia merasakan gairah yang sama dengan apa yang dirasakan Steve. Keduanya dimabuk oleh gairah, dibutakan oleh rasa primitif yang menghilangkan akal sehat mereka.

***

Pagi sialan yang sangat canggung.

Sebenarnya, Jessie ingin sekali pergi dari meninggalkan kamar Steve saat lelaki itu masih tidur pulas. Tapi nyatanya, lelaki itu seakan tak membiarkan dirinya pergi karena ketika Jessie bergerak, Steve seakan mengeratkan pelukannya pada tubuh telanjang Jessie.

Kini, Jessie merasa terjebak dalam suasana sialan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa sangat canggung saat berhadapan dengan Steve. Bayang-bayang panas kejadian semalam membuatnya tak dapat berkutik. Tapi kenapa Steve seakan tak canggung sedikitpun?

Saat ini, Steve sedang sibuk membuat sesuatu di dapurnya. Lelaki itu bahkan tak malu bertelanjang dada di hadapannya.

Malu? Ayolah Jess, bukankah kau tahu bahwa temanmu itu memang tak punya malu? Kau saja yang terlalu terbawa suasana.

Jessie sempat berpamitan pulang tadi, tapi Steve memaksa dirinya untuk sarapan bersama sebelum pergi. Karena Steve begitu santai, maka Jessie tak bisa menolak dan bersikap sesantai mungkin meski sebenarnya dalam dirinya terjadi bergulatan batin tentang apa yang ia rasakan saat ini terhadap sosok Steve.

Saat Jessie sibuk dengan pikirannya sendiri, saat itulah Steve datang menghampirinya dan menyuguhkan dua potong roti isi bacon panggang, keju dan juga selada.

“Aku hanya memiliki itu di dalam lemari pendingin.” Ucap Steve yang saat ini sudah duduk tepat di hadapan Jessie. “Kuharap kau mau memakannya.”

“Oh Steve, kau tak perlu repot-repot. Aku bisa makan di tempat kerjaku nanti.”

“Tidak segampang itu, Jess. Ada banyak hal yang harus kita bahas.”

Jessie menghela napas panjang. “Apa lagi?”

Steve sedikit tersenyum. “Kau, tampak tak nyaman, Jess. Kenapa? Karena aku sudah ‘membaptismu’ semalam?”

“Ayolah! Berhenti menggodaku. Sekarang katakan, apa yang ingin kau bahas denganku.” Jessie memberengut kesal.

Dengan santai, Steve menyantap roti miliknya. “Yang pertama, kau sungguh luar biasa. Kau tak perlu merasa tak percaya diri lagi saat akan melakukannya dengan Henry nanti. Oke?”

Dan setelah aku tidur denganmu, aku bahkan melupakan tentang Henry. Pikir Jessie dalam hati.

“Tubuhmu, payudaramu, semuanya…”

“Cukup!” Jessie memotong kalimat Steve. “Kau mau memancingku, ya? Jangan bahas apapun tentang bagian tubuhku!” sungguh, Jessie merasa kesal dengan Steve saat temannya itu secara terang-terangan menyebutkan bagian tubuhnya. Jika Steve menceritakan tentang bagian tubuh teman kencannya, Jessie tak akan peduli. Masalahnya, yang dibahas Steve saat ini adalah payudaranya. Hal itu membuat Jessie malu, sangat malu.

Steve mengangkat kedua tangannya. “Oke, oke. Aku hanya ingin mengatakan kalau semuanya asli. Dan pria manapun akan mengagumimu.”

“Memangnya kau pikir aku perempuan yang gemar mengkoleksi implan di tubuhku? Yang benar saja.” Jessie memutar bola matanya jengah. Ia meraih kopinya kemudian meminumnya sedikit.

Steve tak dapat menahan tawanya. “Tapi ada hal serius lagi yang harus kita bahas, Jess.”

“Apa lagi? Kau tidak berharap aku akan melakukan hubungan itu denganmu lagi, bukan?”

Steve tersenyum. “Sejujurnya, aku masih ingin. Kau tahu sendiri bukan, bagaimana gilanya kita semalam. Meski sudah berkali-kali, tapi aku masih ingin.”

“Jangan bermimpi! Aku tidak akan tidur denganmu lagi.” Jessie menjawab dengan ketus.

Steve tertawa lebar. “Ingat, kau yang mengajakku.”

“Sepertinya lebih baik aku pulang.” Jessie sudah berdiri tapi Steve segera menghentikan pergerakan Jessie dengan menyambar pergelangan tangan temannya itu.

“Oke, aku akan bersikap baik dan membahas hal ini dengan serius.”

“Ya. Dan cepat.” Lanjut Jessie. “Demi Tuhan! Aku harus segera ke kantor, Steve.”

Steve menganggukkan kepalanya. Ia meminum kopinya sebelum mulai membuka suaranya kembali. “Kuharap, kau sudah memasang sesuatu di dalam tubuhmu, atau mungkin meminum pil.” Ucapnya dengan serius.

“Apa maksudmu?” tanya Jessie tak mengerti.

Well, karena terbawa suasana, dan terlalu menikmati, aku tidak menggunakan pengaman.”

“Kau apa?” Jessie terperanjat dengan ucapan Steve.

“Dan, berkali-kali.” Lanjut Steve dengan cengiran sialannya.

Jessie berdiri seketika. “Kau gila? Kau adalah playboy cap kakap, Steve! Bagaimana mungkin kau melupakan hal seserius itu?” tentu saja Jessie terkejut. Semalam ia tak memikirkan apapun saat Steve meledak di dalam dirinya. Karena ia terlalu menikmati rasa yang baru saja ia rasakan.

“Aku terlalu menikmatinya, Jess. Dan kupikir kau sudah menyiapkan diri. Mengingat kau akan melakukannya dengan kekasih Gaymu itu.”

“Aku tak mempersiapkan apapun, oke?!” seru Jessie dengan marah sembari mengusap wajahnya dengan frustasi.

Steve ikut berdiri. “Maksudmu, kau membiarkan dirimu tidur dengannya tanpa pengaman dan berharap jika kau akan memiliki bayi bersamanya.”

“Kau terlalu jauh, Steve. Lagi pula, aku tidak tidur dengannya, tapi denganmu!”

“Tapi kau berharap tidur dengannya tadi malam, Jess!” entah kenapa Steve merasa sangat marah. Kenyataan bahwa Jessie tidak mengamankan dirinya sendiri saat sudah merencanakan akan tidur dengan seseorang membuat Steve sangat marah.

Jessie menatap Steve penuh tanya. “Jadi ini adalah salahku?”

“Ya. Kau yang salah karena kau tidak meminum pil-pil sialan itu saat kau sudah merencanakan untuk tidur dengan kekasihmu!” Steve tak bisa menahan emosinya.

Jessie menatap Steve dengan tatapan tak percayanya. Sungguh, ia tak menyangka jika Steve akan seberengsek ini padanya. Tanpa banyak bicara lagi, Jessie memilih membalikkan tubuhnya kemudian meninggalkan Steve begitu saja.

Yang bisa dilakukan Steve hanya berdiri ternganga. Ia bahkan tak mengejar Jessie. Rasa frustasi menyergapnya begitu saja. Dengan spontan, Steve menendang salah satu kursinya karena emosi. Berengsek! Apa yang sudah kau lakukan? Steve mengumpati dirinya sendiri dalam hati.

-TBC-

Sleeping with my Friend – Prolog

Comments 2 Standard

 

 

Tittle : Sleeping with my Friend (SWMF)

Seri : Summer Series #1

pemeran : Jessica Summer & Steven Morgan

Genre : Romance Adult

Seri selanjutnya : Sleeping with my Boss (SWMB)

 

Haiiii serial baruuuu yeaayy… semoga sukaa hhahahhahahahah kalo ada yang nanya, mom kok judul di covernya beda? jadi dulu aku mau kasih judul married gitu, tapi gak jadi, kayaknya bagusan Sleeping, lebih liar aja. hahahhahha pokoknya happy reading yaaa wakakakakakak

 

 

Prolog

 

Jessica masih meremas kedua belah tangannya ketika ia sampai di halaman sebuah rumah. Rumah besar milik keluarga Morgan.Tetangga sekaligus teman dekat dari keluarganya.Ya, malam ini keluarga Morgan memang sedang mengadakan pesta kecil untuk merayakan keberhasilan Emily Morgan –putri bungsu keluarga Morgan, menyandang gelar sebagai Dokter spesialis kandungan.Dan pastinya, malam ini, Jessieakan bertemu dengan lelaki itu. Siapa lagi jika bukan StevenMorgan.Putera pertama keluarga Morgan.

Sebenarnya, Jessie tidak ada masalah apapun dengan lelaki itu.Bahkan bisa dibilang, hubungan Jessie dengan Steve adalah hubungan yang sangat unik. Keduanya menjalin pertemanan yang sangat kental bahkan hingga kini, ketika usia mereka sudah tidak remaja lagi.

Jessie menjadi seorang designer terkenal di New york, sedangkan Steve menjadi fotografer yang sukses. Keduanya sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama di Apartemen masing-masing, karena mereka memang tinggal dalam satu gedung apartemen yang sama. Ya, karena mereka sudah tidak lagi tinggal di rumah keluarga masing-masing sejak keduanya memilih untuk mandiri dan bekerja jauh dari rumah mereka.

Tapi,  hubungan itu seakan berubah sejak Tiga bulan yang lalu. Ketika Jessie terbangun diatas tempat tidurnya dalam keadaan telanjang bulat dengan seorang pria yang juga sama telanjangnya, pria tersebut bahkan merengkuh tubuh Jessie seakan tak ingin melepaskan Jessie dari pelukannya, ya, siapa lagi jika bukan Steve.

Hubungan baik mereka ternodai karena hubungan panas yang terjadi dimalam itu. Dan sejak saat itu, Jessie sadar, jika hubungan mereka tidak akan pernah kembali membaik seperti sebelumnya.

Pintu di buka dan mendapati Nyoya Morgan menyambut hangat kedatangan Jessie bersama ayahnya, George Summer.

“Jessie, astaga, kupikir kau tidak bisa datang.” Bibi Patty –Jessie memanggilnya, memeluk erat tubuh Jessie, seakan wanita itu sangat merindukan kedatangan Jessie di rumahnya.

Ya, biasanya, Jessieakan pulang sebulan sekali, begitupun dengan Steve. Keduanya lalu menghabiskan waktu bersama dengan berkuda bersama, dan lain sebagainya.Tapi sejak tiga bulan yang lalu, Jessie tidak lagi menjalankan aktivitas tersebut.Dia tidak pernah pulang hingga hari ini.

“Aku sibuk, Bibi.Dan hari ini, demi Lily, aku pulang.Dimana dia?”

“Lily di dalam. Kau hanya dengan George?” tanya Patty sembari melirik ke arah George Summer.

“Ya. Frank belum bisa pulang.” George yang menjawab.

“Tidak, maksudku, dimana Henry?”Patty bertanya pada Jessie tentang Henry, lelaki yang sudah menjadi kekasih Jessie Dua tahun terakhir.

“Uuum,” Jessie tidak tahu harus menjawab apa.

“Apa semuanya baik-baik saja, sweetheart?” tanya Patty lagi. Ya, setahu Patty, hubungan Jessie dengan Henry sangat serius, keduanya bahkan akan melangsungkan pernikahan awal musim semi tahun depan.

“Patty, mereka sudah putus.”

“Ayah.” Jessie meminta sang ayah untuk tidak banyak bercerita. Apalagi tentang alasan putusnya hubungan mereka.

“Oh, aku turut bersedih.”Patty membungkam bibirnya.Ia tidak menyangka jika Jessie akan mengalami hal ini. “Mari, masuklah, lebih baik lupakan semuanya dan mari kita berpesta.” Ajak Patty dengan ceria, dan Jessie hanya mengangguk sembari menyunggingkan senyuman lembutnya.

Patty menggiring Jessie dan George masuk ke dalam rumahnya.Mereka melewati ruang tengah lalu segera menuju ke arah kebun tepat di samping rumah keluarga Morgan.Ya, pesta kecil tersebut dirayakan di kebun yang sudah dihias dengan banyak sekali lampu-lampu kecil hingga membuatnya tampak begitu indah.

“Steve juga sudah datang, dengan kekasihnya.”Tubuh Jessie menegang seketika saat setelah mendengar kalimat Patty.“Hei, lihat siapa yang datang.” Patty berseru keras hingga semua orang yang berada di sana menolehkan kepalanya ke arah Patty, Jessie dan juga George.

Tubuh Jessie semakin menegang saat mendapatkan tatapan itu, tatapan mengintimidasi dari seorang pria yang dulu menjadi sahabatnya, tapi tidak sekarang. Oh Steve, apa yang harus ia lakukan pada pria itu? Haruskah ia menceritakan semua yang terjadi dengannya? Tidak! Bahkan membayangkannya saja membuat Jessie mual. Ya, Steve tidak boleh tahu, lelaki itu tak boleh tahu jika ia sudah mengandung bayi dari lelaki itu.

-TBC-