Sleeping with my Friend – Bab 10

Comments 4 Standard

 

Bab 10

 

Setelah dicumbu habis-habisan oleh temannya, ralat, mantan temannya, ralat lagi, ayah dari bayi yang ia kandung, akhirnya Jessie tak kuasa untuk menahan rona merah di pipinya. Masalahnya, meski ia ingin menolak, nyatanya ia menikmati apa yang dilakukan Steve. Jessie bahkan membalas cumbuan dari Steve.

Jujur saja, Jessie tak pernah dicumbu dengan begitu bergairah hingga membuatnya nyaris basah seperti yang dilakukan Steve. Tidak dengan Henry, tidak juga dengan mantan kekasihnya yang lain.

Atau mungkin, ini perasaan Jessie saja? Entahlah. Yang pasti, cumbuan Steve begitu menuntut hingga Jessie yakin jika mereka saat ini berada di dalam sebuah kamar, maka kejadian panas malam itu akan kembali terulang.

Dalam hati Jessie sempat bersyukur karena Steve mencumbunya di dalam lift, karena jika saja mereka saling mencumbu di dalam apartmennya, Jessie tak yakin dapat menolak lelaki itu jika lelaki itu menuntut lebih kepadanya.

Lengan Jessie masih setia mengalung, sedangkan wajahnya yang merah padam ia tenggelamkan ke dalam dada bidang lelaki itu.

Ketika Steve keluar dari dalam lift, lelaki itu menghentikan langkahnya ketika seorang lelaki berdiri tepat di hadapannya. Itu adalah Frank, dan Jessie benar-benar merasa sial karena harus kepergok kakaknya ketika digendong Steve seperti saat ini.

Masalahnya, kakaknya itu pasti akan mengoloknya habis-habisan. Dan saat ini Jessie sedang dalam mode tak ingin diolok sama sekali.

“Kalian baru datang?” Frank menyapa.

“Kau sendiri, kenapa ada di sini?” Jessie mencoba mengabaikan posisinya yang masih digendong oleh Steve. Kalaupun ia ingin diturunkan, lelaki itu tak akan melakukannya.

“Aku ke tempatmu. Kupikir kau sudah pulang. Ada masalah?”

Ya, bahkan saat Jessie masuk rumah sakit di Pennington kemarin, tak ada yang mengabari Frank. Mungkin semua terlalu kalut, terlalu sibuk dengan keterkejutan yang diumumkan Jessie tentang dirinya, bayinya dan juga hubungannya dengan Steve.

“Ya, ada sedikit insiden.” Ucap Jessie dengan pelan.

“Kau, baik-baik saja bukan?” meski kadang suka menyebalkan, Jessie tahu bahwa Frank adalah sosok yang sangat perhatian kepadanya.

“Lebih baik kita masuk. Jess harus banyak istirahat.” Steve angkat bicara.

“Kau sudah tahu tentang keadaannya?” tanya Frank pada Steve.

“Jika yang kau maksud adalah tentang kehamilannya, maka Ya, aku dan semua warga Pennington sudah tahu.”

“Woww. Kau hebat sekali, Baby girl.”

Jessie mendengus sebal. “Aku sedang tidak ingin bercanda, Frank.”

“Baiklah, baiklah. Aku ikut masuk karena aku ingin mendengar ceritanya dari kalian.” Dan setelah itu, mereka bertiga bergegas masuk ke dalam apartmen Jessie.

***

Sampai di dalam, Steve menurunkan Jessie di sofa panjang tepat di depan televisi. Kemudian lelaki itu masuk ke dalam kamar Jessie entah mengambil apa. Sedangkan Frank, ia memilih mendekati adiknya dan bersiap untuk menginterogasinya.

“Jadi, dia sudah tahu semuanya?”

“Ya.” Jessie menjawab pendek.

“Kau yang memberitahunya?”

“George memaksaku, dan mau tak mau aku harus memberitahunya.”

“Bagaimana reaksinya?” Frank masih tak ingin tinggal diam.

“Dia mungkin sama terguncangnya denganku. Dan dia marah.” Jawab Jessie lemah.

“Dia marah karena kau hamil?” Frank mulai tak suka ketika membayangkan tentang hal itu. Bagaimanapun juga, mereka menikmati prosesnya. Jika Steve marah karena Jessie mengandung, maka Frank akan memukuli Steve hingga babak belur.

“Lucu sekali. Kalian menggosipkan seseorang yang jelas-jelas masih satu ruangan dengan kalian.” Steve datang membawa selimut tebal serta bantal dan guling untuk Jessie. Dengan penuh perhatian ia meminta Jessie untuk berbaring dengan nyaman di sofa panjang tersebut kemudian menyelimuti tubuh wanita itu. “Ingat, kata Dokter kau harus banyak istirahat.”

“Dokter? Apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa berada di dokter?” Frank yang masih tak mengerti akhirnya tak kuasa menahan rasa ingin tahunya.

“Sedikit pendarahan karena stress dan kelelahan.” Jessie menjawab kekhawatiran kakaknya.

“Astaga. Kau baik-baik saja bukan? Bayinya bagaimana? Apa ini karena dia?” tanya Frank yang semakin tampak khawatir dengan keadaan adiknya tersebut.

“Frank, semua baik-baik saja. Bayinya juga baik-baik saja. Aku sudah memberitahu Steve dan-”

“Biar kukoreksi.” Steve memotong kalimat Jessie. “Dokter yang meberitahuku, bukan kau.” Steve berkata dengan kesal. Jika Steve mengingat tentang hanya dia sendiri yang belum tahu tentang keadaan Jessie, maka lelaki itu akan kembali dalam mode kesalnya.

“Kau masih kesal karena hal itu?”

“Sangat.” Steve menjawab cepat. “Biar kuperjelas agar kedepannya tidak salah paham. Aku tidak marah karena kehamilanmu. Aku marah karena hanya aku sendiri yang tidak tahu tentang keadaanmu ketika semuanya sudah mengetahuinya bahkan bermaksud untuk menikahkan kita.”

“Steve, kau tak perlu berlebihan. Bibi Patty dan Paman Paul juga baru mengetahuinya.”

“Apa maksudnya, Jess?” Frank yang bingung akhirnya kembali bertanya.

“Semua orang sudah tahu tentang kehamilanku.”

“Ya. Semua orang di Pennington.” Steve mengangguk setuju. “Dan para orang tua sedang menyiapkan pernikahan kami.”

“Kita sudah sepakat bahwa tidak akan ada pernikahan, Steve!” Jessie berkata tajam.

“Aku menyetujui apapun keinginanmu, Sayang. Tapi aku tidak bisa mencegah orang tua kita ketika tiba-tiba mereka mengadakan pesta dan mengundang semua orang di distrik Pennington untuk merayakan pernikahan kita.” Steve berkata dengan tenang dan santai. Suasana kembali mencair tapi tidak dengan Jessie.

Frank berdiri dan menggandeng bahu Steve. “Hebat sekali. Jadi kalian akan menikah tanpa memberitahuku?”

“Kau sedang di sini ketika kami sedang membahas masalah ini, Frank.” Steve menjawab dengan wajah datarnya.

“Hahaha setidaknya, aku senang. Setelah ini aku akan memiliki teman minum dan juga teman untuk bermain kartu. Bukan dengan dokter yang kaku itu.”

“Frank! Hentikan omong kosongmu.” Jessie berseru keras. “Lebih baik kalian keluar. Kalian membuat kepalaku semakin pusing.”

Steve duduk berjongkok di hadapan Jessie. Ia mengusap lembut puncak kepala Jessie. “Aku akan pergi sebentar, tapi aku akan kembali lagi. Tidurlah.”

Jessie hanya mendengus sebal apalagi ketika ia melihat Frank menatapnya dengan tatapan mengolok. Astaga, menggelikan sekali. Ia tak pernah mendapati Steve selembut ini padanya, Jessie senang, tapi disisi lain, ia tidak suka ketika kelembutan Steve dijadikan bahan olokan Frank pada dirinya nanti. Benar-benar menyebalkan.

Akhirnya, Jessie bisa istirahat dengan tenang beberapa menit kemudian setelah Steve dan juga Frank meninggalkan apartmennya.

***

Steve dan Frank duduk di sebuah bar dengan sesekali bersulang. Frank merasa senang jika pada akhirnya nanti Jessie akan menikah dengan Steve. Frank cukup mengenal Steve bahkan sejak kecil hal itulah yang membuat Frank setuju jika nanti keduanya berakhir dengan sebuah pernikahan. Tapi tampaknya, Frank tak melihat hal serupa pada diri Steve.

“Kau, tampak tidak suka dengan keadaan ini.”Frank membuka suara.

Jika boleh jujur, Steve lebih nyaman berbicara dengan Hank, temannya. Ketimbang dengan Frank. Ia memang mengenal Frank sejak kecil, tapi tetap saja, lelaki itu adalah kakak Jessie. Akan sangat tidak nyaman jika dirinya membicarakan hubungannya dengan Jessie pada Frank.

“Maksudmu?”

“Kau tahu, hubunganmu dengan Jess.”

Steve menghela napas panjang. “Bukan aku tidak suka. Aku hanya terlalu terkejut dan kurang bisa menyesuaikan keadaan. Aku akan jadi ayah, dan jujur saja, aku sedikit tertekan.”

Frank mengangguk dan menepuk bahu Steve. “Jika aku berada di dalam posisimu, maka aku akan merasakan hal yang sama.”

Steve menegak minumannya. “Kau tahu. Jess akan selalu menjadi wanita special di hidupku. Dia sangat istimewa. Teman kencanku tak ada yang bisa menggeser posisinya. Tapi setelah malam itu. Sial! Aku bahkan tak mengerti apa yang sedang terjadi denganku.”

“Kau melihatnya sebagai teman kencanmu?” tanya Frank sembari mengangkat sebelah alisnya.

“Bukan. Sial Frank! Jessie tentu sangat berbeda dengan mereka. Tidak ada implan, tidak ada silikon..”

“Woow, wow, wow, kau membicarakan bagian tubuh adikku?”

“Maaf, maksudku. Dia berbeda, dan, dan, dia seakan membuatku candu, terikat dengan tali yang tak terlihat. Aku tidak bisa melihatnya sebagai temanku lagi, Frank. Aku melihatnya sebagai wanita sungguhan, yang, yang, membuatku selalu tergoda.” Steve menjelaskan sengan terpatah-patah karena ia tidak yakin kata apa yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang ia rasakan pada Jessie.

“Kau, mencintainya?” tanya Frank dengan hati-hati.

“Tidak.” Steve menjawab cepat. “Maksudku, aku tidak yakin apa itu cinta. Jika kau bertanya apa aku ingin memilikinya, maka Ya. Aku ingin.” Steve mengoreksi.

“Maka jalan yang paling benar adalah menikahinya.”

“Aku ingin. Demi Tuhan! Aku tidak menolak gagasan itu. Tapi Jessie menolakku mentah-mentah. Dia tidak ingin menikah, dan aku tidak bisa memaksanya dalam keadaan seperti ini.”

“Kau hanya perlu berusaha. Dan yakinkan dia kalau semua ini untuk kebaikan kalian bersama.”

Steve mengangguk. Ia meminum kembali minumannya, kemudian bertanya pada Frank. “Bicara tentang menikah, kau pun tak kunjung menikah. Kau Tiga tahun lebih tua dari pada aku, Frank.”

Frank tertawa lebar. “Menikah tidak ada dalam kamusku, Steve. Aku ingin melajang seumur hidup.”

“Kau bercanda? George akan membunuhmu karena kau tidak memberikan keturunan keluarga Summer.”

“Jika yang diinginkan George adalah bayi, maka aku hanya perlu menyewa rahim seorang perempuan dan membayarnya untuk melahirkan anakku. Tanpa hubungan intim, tanpa pernikahan dan hal-hal yang rumit lainnya.”

“Kau benar-benar gila, Frank.”

“Well. Aku penulis fiksi. Aku tak ingin fantasiku rusak karena kehadiran istri apalagi anak.” Ucapnya dengan nada canda.

Sedangkan Steve hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka jika Frank memiliki pemikiran seperti itu. Steve tahu, bahwa untuk dirinya sendiripun, menikah bukanlah pioritasnya. Tapi ia juga tidak seperti Frank yang tampak menentang sebuah pernikahan.

***

Steve kembali saat hari sudah malam. Ia sempat ke apartmennya untuk mengambil beberapa potong pakaian ganti sebelum kembali ke apartmen Jessie. Steve tersenyum saat membuka pintu apartmen Jessie. Rupanya, wanita itu masih menggunakan password lamanya.

Di dalam sana, Jessie tampak masih meringkuk di atas sofa panjangnya. Terlihat juga kotak pizza yang didalamnya masih tersisa tiga potong Pizza dengan topping irisan sosis dan daging asap. Steve membereskan sisa-sisa makanan tersebut kemudian kembali pada Jessie.

Tanpa banyak bicara, Steve mengangkat tubuh Jessie menuju ke arah kamar wanita tersebut. Jessie tidak terbangun, wanita itu hanya bergerak-gerak sedikit seakan membuat tubuhnya dalam posisi senyaman mungkin.

Setelah membaringkan Jessie di atas ranjangnya. Steve bangkit, berdiri dan menatap wanita yang tengah tertidur pulas tersebut. Ada sebuah rasa yang sulit ia jelaskan. Rasa untuk memiliki wanita itu seutuhnya. Tapi rasa tersebut seakan tertutup dengan sebuah kabut ketakutan.

Ya, Steve takut dengan sebuah penolakan. Steve takut jika Jessie akan lari meninggalkannya saat ia memaksakan kehendaknya pada wanita itu. Ia tahu betul bagaimana karakter Jessie. Wanita itu keras kepala, dan butuh usaha ekstra untuk membuatnya luluh.

Steve melepaskan pakaiannya kemudian ia naik ke atas ranjang Jessie. Tidur memeluk tubuh Jessie. Oh, Steve sangat merindukan saat-saat seperti ini. Saat ia dengan Jessie bisa tidur bersama tanpa gairah, tanpa seks, dan hanya tidur, damai sebagai teman. Ia benar-benar merindukan saat-saat seperti ini.

***

Dini hari, Jessie terbangun saat merasakan kandung kemihnya penuh. Astaga, kehamilannya bahkan belum genap Empat bulan, tapi sepertinya toilet sudah menjadi teman akrabnya.

Jessie bangun dan merasakan sebuah lengan memeluknya. Ia menatap lengan tersebut, menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Steve tengah tertidur pulas.

Jessie bahkan baru ingat jika tadi saat tidur, ia berada di sofa bukan di atas tempat tidurnya. Steve pasti yang sudah memindahkan dirinya ke sini. Lalu Jessie tersenyum. Ia merindukan masa-masa seperti ini, ketika mereka tidur bersama tanpa gairah mempengaruhi. Apakah hubungan mereka bisa kembali seperti semula?

“Steve.” Jessie memanggil nama Steve, membangunkan lelaki itu. Tapi tak ada pergerakan yang berarti dari lelaki tersebut. “Steve bangung. Aku mau ke toilet.”

Lelaki tersebut bergerak, lengannya terangkat hingga Jessie bisa bangkit. Jessie duduk dan menatap Steve yang tengah mengucek matanya. Lucu, seperti anak kecil, menggemaskan.

“Ada yang kau inginkan?” tanya Steve dengan suara parau.

“Aku ingin ke kamar mandi, dan tanganmu menghalangiku.”

“Oh. Oke.” Hanya itu tanggapan Steve. Akhirnya Jessie segera bangkit dan menuju ke arah kamar mandi. Mungkin, Steve akan kembali tertidur, pikirnya. Tapi saat Jessie kembali dari kamar mandi, lelaki itu sudah duduk di pinggiran ranjang menunggunya.

“Kau bangun?”

“Ya, kupikir kau membutuhkan sesuatu.”

“Tidak, aku hanya buang air kecil.”

“Baguslah. Sekarang mari kita tidur kembali.” Ajaknya.

“Kau tidak pulang?” tanya Jessie kemudian.

“Kau ingin mengusirku.”

“Aku tidak-”

“Dengar, Jess.” Steve memotong kalimat Jessie. “Aku tidak akan pergi kemanapun. Sekarang, kembalilah kemari dan ayo kita tidur.”

Jessie menurut, ia naik ke atas ranjang. Terbaring, kemudian merasakan Steve ikut naik ke sebelahnya dan lelaki itu mulai memeluknya.

“Apa perlu berpelukan seperti ini?” tanya Jessie sedikit canggung.

“Aku ingin memelukmu, dan ketika aku ingin, maka aku akan melakukannya tanpa meminta izinmu.”

Jessie menghela napas panjang. “Aku juga ingin dipeluk.” Ya, Jessie jujur. Ia ingin seperti dulu, meski sebenarnya mungkin semua itu mustahil terjadi lagi.

Steve mengeratkan pelukannya. Sesekali kepalanya mengecup lembut puncak kepala Jessie. “Kau tahu, Jess. Saat tidur, aku tak pernah merasa senyaman ketika memelukmu. Aku suka kehangatanmu, aku suka aroma rambutmu. Semuanya membuatku nyaman dan tenang.” Steve bahkan tak mengerti apa yang sedang ia ucapkan.

“Aku juga senang saat tidur di pelukanmu, Steve. Aku merasa nyaman dan terlindungi.”

Steve kembali mengecup lembut puncak kepala Jessie. “Perasaan nyaman tersebut sekarang ternodai dengan perasaan yang lainnya, Jess.” Kali ini suara Steve menjadi serak.

“Apa maksudmu?” Jessie mengangkat wajahnya menatap penuh tanya ke arah Steve.

Steve tersenyum, senyum yang dipaksakan. “Kau tentu merasakannya. Aku bergairah. Gairah yang dulu tak pernah ada ketika aku memelukmu saat kita tidur bersama sebagai teman.”

Jessie segera sadar. Tentu saja ia segera merasakan ereksi lelaki itu. Jessie berusaha menjauh, tapi Steve menahannya.

“Jangan.” Ucapnya sembari menahan tubuh Jessie. “Aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku akan menahannya. Sumpah! Aku hanya ingin tidur memelukmu seperti dulu. Meski aku harus menahan kesakitan sepanjang malam.”

Jessie tersenyum mendengar ketulusan Steve. “Terimakasih.” Ucap Jessie kemudian.

“Untuk apa?”

“Karena mau memeluku lagi seperti dulu, dan mengesampingkan gairahmu.”

Steve tersenyum. Ia kembali mengecupi puncak kepala Jessie. Kemudian dengan spontan ia berkata. “Menikahlah denganku, Jess.”

Tubuh Jessie membatu seketika. Mereka sudah sepakat untuk tidak membahas masalah pernikahan dulu. Dan kini, Steve kembali mengungkitnya. Tidak, lelaki itu sedang melamarnya. Lalu apa yang akan Jessie lakukan selanjutnya? Haruskah ia menerima lamaran Steve?

-TBC-

Advertisements

Sleeping with My Friend – Bab 9

Comments 4 Standard

 

Bab 9

Steve berhenti di halaman rumah Jessie ketika mendapati Suv tua milik George terparkir di halaman rumah Jessie. George mungkin akan pergi karena Steve melihat mesin Suv tersebut menyala seperti sedang dipanaskan. Dengan cepat Steve menuju ke sana, membuka Suv tersebut kemudian mendudukkan Jessie di kursi penumpang.

“Apa yang terjadi?” George menghampiri Steve dan bertanya.

“Dia kesakitan, aku akan membawanya ke rumah sakit.”

“Apa?” George tampak terkejut dan ikut panik. “Kau baik-baik saja, Jess?” tanyanya pada puterinya tersebut.

“Aku baik-baik saja, Dad.”

“Kau ingin aku ikut?” tanyanya lagi.

“Tidak.” Jessie menjawab cepat. Ia melihat ke arah Steve dan berkata “Aku ingin, hanya Steve yang mengantarku.”

George hanya mengangguk. Ia tahu bahwa Jessie mungkin ingin menyelesaikan masalahnya saat ini hanya bersama dengan Steve. Dan George akan mendukung apapun keputusan Jessie.

***

Steve kembali dari mengurus administrasi ketika seorang dokter menghampirinya dan berkata “Miss Summer baik-baik saja. Dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan.”

Steve menghela napas lega dan ia menjawab. “Terimakasih, Dokter.”

“Dia harus dirawat dua atau tida hari di sini sebelum kembali pulang.”

“Oh. Kupikir itu hanya masuk angin biasa, rupanya dia harus dirawat inap.” Jessie sempat berkata di dalam mobil tadi bahwa wanita itu memang sedang tidak enak badan, masuk angin dan stress. Dan Jessie meminta agar Steve tidak khawatir terhadapnya.

“Masuk angin? Dia sedang mengandung, Mr. Morgan. Dan dia kelelahan, stress hingga mengalami sedikit pendarahan.”

“Mengandung apa?”

Dokter tak tahu harus menjelaskan seperti apa pada Steve. “Mengandung, bayi. Ya, dia sedangan hamil.”

Dan wajah Steve memucat seketika karena keterkejutan yang amat sangat. Jessie hamil? Apakah itu anaknya? Tapi kenapa Jessie tidak mengatakan apapun padanya? Apa Jessie sengaja menyembunyikan semua itu darinya? Kenapa?

***

Pintu ruang inap dibuka dengan kasar ketika Jessie baru saja mencoba memejamkan matanya. Ia harus banyak istirahat jika ingin mempertahankan bayinya, itulah yang dikatakan Dokter tadi. Tapi tatapan tak bersahabat dari Steve membuat Jessie tahu bahwa ia tak akan beristirahat sebelum menjelaskan semuanya pada lelaki itu.

“Katakan apa yang sebenarnya terjadi?” Steve membuka suara dengan nada tinggi. Lelaki itu marah, Jessie tahu itu. Marah kenapa? Karena ia sudah menyembunyikan kebenarannya? Atau karena Steve tak suka kenyataan tentang kehamilannya?

“Aku…”

“Apa maksudmu dengan masuk angin? Kau hamil! Astaga, kau hamil!” Steve tidak dapat menahan emosinya.

Tadi, saat di dalam mobil. Jessie memang sempat menyebutkan bahwa dirinya sedang masuk angin. Hal itu secara spontan saja ia mengatakannya. Mungkin karena ia terbiasa menganggap kehamilannya sebagai penyakit masuk angin.

“Kau tidak perlu berseru seperti itu. Aku tahu bagaimana keadaanku.” Jessie mendengus sebal.

“Jika kau tahu, kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku? Sampai kapan kau ingin menyembunyikannya? Sampai kau melahirkan? Atau mungkin sampai anak itu besar, lalu menikah dan memintaku mengantarkan dirinya berjalan menuju altar?” pertanyaan itu seperti tamparan keras untuk Jessie

“Kau tidak perlu mendramatisir hingga seperti itu.”

“Aku tidak mendramatisir! Kenyataan bahwa kau menyembunyikannya benar-benar membuatku marah.” Steve masih tidak ingin menurunkan nada bicaranya.

“Aku akan mengatakannya padamu, Steve.”

“Kapan?! Setelah kau melahirkan? Demi Tuhan! Itu sudah tiga bulan yang lalu, Jess. Kau punya banyak waktu untuk mengatakannya padaku.”

Ya, hubungan intim mereka memang sudah Tiga bulan yang lalu, tapi Jessie baru mengetahui kehamilannya sejak lebih dari sebulan terakhir. Ia memang mengalami tanda-tanda kehamilan, tapi Jessie memilih tak peduli dan mencoba mengingkari dirinya tentang tanda-tanda tersebut. Ia takut bahwa dirinya benar-benar hamil. Hingga ketika ia pingsan di butiknya pada suatu hari dan memaksa Miranda membawanya ke rumah sakit, Jessie baru tahu keadaaannya saat itu. Ia hamil, bukan masuk angin. Tapi ia masih ingin mengingkari kenyataan itu.

“Aku baru mengetahuinya kemarin.” Jessie menundukkan kepalanya.

“Itu tidak masuk akal!” Steve masih tak mau mengalah.

Jessie tahu apapun yang dikatakannya pasti tak akan membuat Steve percaya. Lagi pula, lelaki itu sedang dalam mode emosi yang mengerikan, ia cukup mengenal Steve. Hal ini mengingatkan dirinya pada beberapa bulan yang lalu, ketika Jessie memberitahu Steve tentang pertunangannya dengan Henry. Saat itu, memang hanya Steve yang terakhir tahu, kemarahan Steve hempir sama seperti saat ini. Steve bahkan tidak ingin berbicara dengannya selama dua minggu jika bukan ia yang merangkak dan memohon agar lelaki itu mengakhiri kegilaannya.

Ketika suasana diantara mereka masih tegang dan belum sedikitpun mencair. Pintu ruang inap Jessie kembali dibuka dan menampilkan tiga sosok paruh baya, yaitu, George, Paul, dan Patty.

Baiklah, apa lagi ini? pikir Steve.

“Oh, sayangku. Aku bersyukur kau baik-baik saja.” Patty menghambur ke arah Jessie. “Aku sempat bertemu dengan perawat Louise, menanyakan keadaanmu. Katanya kau dan bayimu baik-baik saja. Dan kau dirawat di ruangan ini.”

Steve mengerutkan keningnya. “Mom, apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya dengan tajam.

“Apa maksudmu menanyakan itu? Jess sedang mengandung cucuku, tentu saja aku khawatir dengan keadaannya.”

“Dad?” Jessie menatap ayahnya dengan tatapan tajamnya. Sungguh, Jessie tidak menyangka jika ayahnya akan mengatakan hal ini dengan keluarga Morgan.

“Aku khawatir denganmu. Jadi aku mengajak mereka kemari.”

“Bagus.” Steve bahkan bertepuk tangan. “Hebat sekali, Jess. Jadi hanya aku yang tidak mengetahuinya?”

Keadaan semakin runyam. Jessie tahu itu.

“Steve, aku minta maaf. Aku hanya..”

“Kau tidak perlu meminta maaf, sayang.” Patty memotong kalimat Jessie. “Jika ada yang harus meminta maaf. Dialah orangnya.” Patty bahkan menunjuk ke arah Steve.

“Aku?” Steve tidak mengerti jalan pikir ibunya.

“Ya, kau. Kau sudah menghamili puteri George. Seharusnya kau segera menikahinya, bukan malah membawa si pirang itu pulang.” Patty tampak sangat marah.

“Aku bahkan baru tahu tentang kehamilannya, Mom.”

“Bibi.” Jessie membuka suaranya. “Ini bukan salah Steve. Aku bahkan belum sempat mengatakan padanya. Dan, dia tak perlu menikahiku karena hal ini.”

“Apa maksudmu?” Patty tampak tak setuju dengan ucapan Jessie.

“Karena dia bermaksud untuk tetap menikahi kekasih Gaynya itu!” Steve menuduh dengan marah. Semua yang ada di sana menatap Steve dengan mata membulat masing-masing.

Lama ruangan itu hening, hingga kemudian, Paul, Ayah Steve membuka suara “Sepertinya, kita harus mencari kopi, George.”

George tahu apa maksud Paul “Ya. Kopi akan lebih baik.” Kedua lelaki itu akhirnya keluar.

“Jaga ucapanmu, Steve!” Patty berseru keras pada puteranya. Ia lalu menatap Jessie dengan tatapan lembutnya. “Apa yang dia katakan tidak benar, bukan? Kau tidak akan melanjutkan pernikahanmu dengan Henry, bukan? Maksudku, bukankah tadi malam George berkata jika kalian sudah putus?”

“Kau putus dengannya?” kali ini Steve bertanya. Steve menurunkan nada bicaranya untuk pertama kalinya sejak lelaki itu mengetahui kabar tentang kehamilan Jessie.

Jessie menatap Ibu Steve dengan lembut. “Ya, Bibi. Kami sudah putus. Jadi, kau tidak perlu khawatir. Sekarang, bolehkah aku beristirahat? Aku sangat lelah.”

“Oh, Ya. Tentu saja, Sayang. Kau harus istirahat.” Patty setuju.

“Kau juga, Steve. Aku ingin istirahat dengan tenang.”

“Aku tidak akan kemanapun.” Steve berkata penuh penekanan. Dan Jessie tidak bisa berbuat banyak karena hal itu. Lelaki itu masih marah, yang dapat ia lakukan hanya mengalah.

***

Jessie bangun jam Tujuh malam. Ia melirik ke sekeliling ruangan. Hanya terdapat Steve yang masih tertidur pulas di sofa panjang ruang inapnya. Lelaki itu sudah mengganti pakaiannya dengan T-shirt santai dan juga celana jeans. Tampak sangat keren padahal lelaki itu sedang dalam posisi tidur.

Tidak adil! Dalam hati Jessie berseru. Dalam beberapa bulan kedepan, tubuhnya akan membengkak, sedangkan Steve masih sama, keren dan mempesona seperti itu.

Saat Jessie sibuk dengan pikirannya sendiri, pintu ruang inapnya di buka. Sosok Emily datang menghambur ke arahnya.

“Jess. Astaga. Aku benar-benar terkejut mendengar kabar itu. Bagaimana keadaanmu?”

Jessie tersenyum. “Sangat baik.” Ia melirik sekilas kearah Steve dan lelaki itu masih tertidur pulas.

“Dia sama sekali tak ingin keluar dari ruangan ini. Aku yang membawakan pakaian ganti untuknya tadi.”

Jessie hanya menghela napas panjang.

“Katakan, bahwa apa yang dikatakan Mom benar. Kau, mengandung anaknya?” tanya Emily dengan antusias.

“Ini tidak seperti yang kau bayangkan, Lily.”

“Apa lagi? Astaga, sejujurnya, aku kurang setuju dengan Donna. Maksudku, dia memang cantik, tapi aku tidak benar-benar menyukainya. Satu-satunya hal yang membuatku senang adalah akhirnya Steve mengajak atau mengenalkan seseorang ke rumah. Dan jika disuruh memilih antara dia atau kau, tentu saja aku memilihmu. Kau temanku.”

Jessie tersenyum lembut. “Aku sudah berkata jika ini bukan seperti yang kau pikirkan.”

“Lalu apa?” Emily mendesak. “Katakan, apa yang terjadi diantara kalian.”

Jessie menunduk malu. “Kau, dokter. Kau tentu tahu proses untuk menjadi hamil.”

“Oh lucu sekali. Kau pikir aku ingin tahu detail prosesnya? Yang benar saja. Maksudku, apa yang terjadi diantara hubungan kalian? Bagaimana bisa kau mengandung anaknya?”

Jessie semakin malu, rupanya yang ditanyakan Emily bukanlah proses secara biologisnya, melainkan tentang hubungan mereka. “Ceritanya panjang, aku tidak tahu kenapa bisa serumit ini.”

“Rumit? Ayolah. Ini tidak rumit. Kau hanya perlu menikah dengannya.”

“Tidak!” Jessie menjawab cepat. “Kau tidak mengerti, Lily.”

Ya, tak akan ada yang mengerti. Ia tidak ingin menikah hanya karena sebuah kecelakaan. Ia tidak ingin mengikat Steve dalam suatu hubungan hanya karena kehamilannya. Jika mereka harus menikah, maka mereka harus menikah dengan cinta. Tapi sepertinya itu tidak mungkin.

Sedangkan Emily, ia mengerti apa yang dirasakan Jessie. Hubungan pertemanan wanita itu dengan kakaknya begitu kental. Pasti akan sangat aneh jika diantara pertemanan mereka hadir seorang bayi yang akan merubah semuanya. Akhirnya, Emily mulai mengubah topik pembicaraan. Bagaimanapun juga ia mengerti bahwa Jessie tidak boleh banyak pikiran.

***

Steve keluar dari dalam kamar mandi ketika Emily sudah meninggalkan ruang inap Jessie. Emily berkata jika dirinya ada kencan malam ini, jadi ia harus pulang lebih cepat.

Suasana canggung terasa saat Steve bukannya mendekat ke arah Jessie, tapi malah kembali ke arah sofa panjang yang tadi sempat ia tiduri. Jessie hanya memperhatikan apa yang dilakukan Steve. Ia tahu bahwa lelaki itu masih marah padanya.

“Kau, tidak makan?” tanya Jessie memecah keheningan.

“Kau bertanya padaku?” Steve bertanya balik dengan nada menyindir.

Jessie mendengus sebal. Steve benar-benar kekanakan. “Kau tahu, aku minta maaf atas semua ini. Tapi kau tidak perlu bersikap kekanakan seperti ini padaku, Steve.”

“Baiklah.” Akhirnya Steve bangkit. Ia kemudian berjalan menuju ke arah Jessie, dan sialnya hal itu benar-benar mempengaruhi Jessie.

Steve duduk di sebuah kursi yang tersedia di sebelah ranjang Jessie, ia menariknya mendekat hingga jarak diantara dirinya dan juga Jessie sangat dekat. Steve mencoba mengendalikan keinginannya untuk mendekap tubuh Jessie. Bagaimanapun juga, percintaan panas mereka pada malam itu masih mempengaruhi Steve. Dan Steve tahu bahwa pengaruh itu akan ia rasakan sampai kapanpun ketika berada di dekat Jessie.

“Kita perlu bicara. Dengan kepala dingin, tanpa emosi.” Steve mulai membuka suara.

Entah sudah berapa kali Steve berkata bahwa mereka perlu bicara. Nyatanya, setiap kali mereka bicara, keadaan menjadi memburuk. Ego masing-masing mempengaruhi hingga membuat emosi tak terelakkan lagi.

“Bicaralah.” Ucap Jessie kemudian.

“Sejak kapan kau tahu bahwa kau hamil?”

“Entah. Mungkin lebih dari tiga minggu yang lalu.” Jawab Jessie dengan jujur. “Sejujurnya, aku mencoba mengingkari hal ini. Aku merasakan tanda-tandanya sebulan setelah malam itu. Tapi aku mengabaikannya.”

“Kau apa? Kau tidak berpikir kalau akan menyakitinya?”

“Apa maksudmu?”

“Kau mengabaikan jika kemungkinan besar kau hamil. Bagaimana jika saat itu kau melakukan sesuatu yang membahayakannya? Minum bir atau bahkan mungkin bercinta dengan pria lain. Dan jangan lupakan Sampanye yang dibawa oleh Frank.”

“Aku tidak semurahan itu! Dan Sampanye, aku hanya minum dua gelas.” Jessie berseru keras.

Steve memejamkan matanya mencoba mengendalikan emosinya.

“Ini tak akan berhasil kalau kau selalu menuduhku yang tidak-tidak.” Jessie mendengus sebal. “Aku hanya takut, Steve. Seharusnya kau mengerti. Aku takut karena aku tidak pernah seperti ini. Hormonku kacau, aku merasa sendiri, dan diabaikan.”

Steve meraih telapak tangan Jessie kemudian menggenggamnya erat. “Maaf. Aku keterlaluan.” Ia mengecup lembut telapak tangan Jessie. “Baiklah. Sekarang, aku ingin tahu. Kau, tidak tidur dengan Henry setelah malam itu?”

“Kenapa kau menanyakan hal itu? Jika kau ragu bahwa ini anakmu, maka lebih baik kau pergi saja dari sini.”

“Jess, aku tidak ragu, aku hanya…”

“Hanya apa? Aku tidak tidur dengan siapapun, dan aku tidak akan bisa tidur dengan siapapun setelah malam itu.” Ya, karena Jessie tahu bahwa lelaki yang paling ingin ia tiduri hanya Steve, bukan laki-laki lagi. Sial!

“Maaf. Aku hanya perlu membuatnya menjadi jelas. Aku ingin bayi ini. Jadi aku hanya ingin memperjelasnya saja.”

Hening diantara mereka. Steve merasa bahwa Jessie cukup berubah. Emosi wanita ini meledak-ledak, seperti seorang yang sedang tertekan. Apa Jessie tertekan karena kehamilannya? Jika iya, maka seharusnya Steve lebih mengalah.

“Kau, benar-benar sudah putus dengan Henry?” tanya Steve dengan serius.

“Ya. Seminggu yang lalu.”

“Benar-benar putus?” tanya Steve sekali lagi.

“Dia tidak menghubungiku lagi. Dan aku tidak memiliki keberanian untuk menghubunginya.”

Steve mengangguk. “Baiklah. Kita sudah sampai pada sebuah kesepakatan.”

“Kesepakatan? Apa maksudmu?” tanya Jessie tak mengerti.

“Kita akan menikah. Secepatnya.”

“Apa? Tidak! Aku tidak mau.”

“Jess. Aku tidak sedang meminta persetujuanmu.”

“Pokoknya, aku tidak ingin menikah sekarang.”

“Jadi kau ingin menikah saat perutmu sudah sebesar bola basket?”

“Ini tidak lucu, Steve!”

“Kau pikir aku sedang bercanda?”

Jessie menutup wajahnya sendri dengan kedua belah telapak tangannya. “Oh. Steve. Menikah bukan jalan keluarnya.”

Steve merasa kepalanya ingin meledak. Tapi ia mencoba mengendalikan emosinya. “Lalu kau ingin aku berbuat apa?” tanya Steve dengan pelan.

“Aku tidak tahu.” Ya, Jessie sendiri tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Melanjutkan kehamilannya dan membesarkan anaknya tentu menjadi pioritasnya. Yang ia bingungkan adalah, bagaimana menempatkan Steve di dalam kehidupannya setelah ini? bagaimana posisi lelaki itu dalam kehidupannya, bagaimana hubungan mereka kedepannya. Hanya itu yang membuat Jessie bingung.

Tanpa diduga, Steve bangkit dari duduknya kemudian lengannya terulur memeluk tubuh Jessie. “Jangan khawatir, aku tidak akan memaksamu. Pikirkan saja baik-baik tawaranku. Jangan khawatir.”

Entah perasaan Jessie saja atau saat ini, Steve menjelma menjadi sosok dewasa yang begitu lembut. Jessie tak pernah melihat Steve yang seperti ini. tapi Jessie sangat menikmatinya. Menikmati pelukan lembut lelaki itu yang membuatnya merasa begitu nyaman.

***

Tiga hari setelahnya, Jessie dan Steve kembali ke New York. Meski keluarga mereka memaksa untuk segera mengadakan pernikahan, nyatanya mereka belum memutuskan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

Jessie pulang dengan Steve. Menumpang pada mobil sport lelaki itu. Karena Steve mendesak bahwa Jessie tidak diperbolehkan keluar sendiri lagi. Sedangkan mobilnya ia tinggal di rumah orang tuanya.

Tentang Donna, wanita itu pulang pagi-pagi sekali setelah pesta di rumah Steve malam itu, bahkan Donna pergi sebelum Steve berangkat bersepeda dan berakhir di rumah sakit dengan Jessie. Steve belum mengabari wanita itu hingga kini, bahkan mengingatnya saja tidak. Saat ini yang ada di dalam kepalanya hanya Jessie dan bayi mereka, tak ada yang bisa membuat Steve khawatir seperti ini selain Jessie dan bayinya.

Jessie dan Steve saling berdiam diri ketika berada dalam perjalanan kembali ke New York. Melewati George Washington Bridge, Jessie menghela napas panjang, menolehkan kepalanya ke samping melihat sungai Hudson yang membentang. Ia tampak bosan dengan keadaan disekitarnya.

Hingga kemudian, Steve bertanya. “Ada yang kau inginkan?”

Jika melompat kedalam sungai Hudson bisa mengembalikan suasana dan juga pertemanannya dengan Steve seperti sedia kala, maka Jessie ingin melakukannya.

“Tak ada.” Jawabnya pendek.

“Kau tampak tak senang.”

Ya, tentu. Jessie tertekan, dan ia masih terguncang dengan kejadian demi kejadian yang menimpanya belakangan ini. meski begitu, ia tidak bisa menyalakan siapapun. Jessie bahkan tidak tahu apa yang membuatnya seperti ini, dan ia sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang ia inginkan.

“Aku hanya terlalu lelah.” Jawabnya masih enggan menatap ke arah Steve.

“Tidurlah. Nanti aku akan membangunkanmu.”

Jessie tidak menjawab, karena ia memilih memejamkan matanya. Ia lelah, dan ia butuh istirahat seperti yang disarankan oleh dokter.

***

Jessie membuka matanya ketika merasakan tubuhnya mengambang di udara. Ia terkejut ketika mendapati posisinya saat ini. Steve sedang menggendongnya, dan jika dilihat sekitarnya, mereka sedang berada dalam sebuah lift.

“Steve, apa yang kau lakukan? Kau bisa membangunkanku.” Jessie berusaha agar Steve mau menurunkannya.

“Berhenti merengek dan meronta. Aku akan menggendongmu sampai di dalam apartmenmu.”

“Kau tak perlu melakukannya, Steve. Aku lebih berat dari sebelumnya.”

“Jika kau tak keberatan, aku akan mengingatkanmu bahwa berat badanmu saat ini ada hubungannya denganku.” Pipi Jessie merona seketika saat tanpa sengaja ia mengingat tentang kejadian malam panas saat itu. “Lagi pula, kau belum seberat yang kau pikirkan.”

“Tapi aku bisa jalan sendiri.”

“Dan aku tidak akan membiarkanmu jalan sendiri.”

“Steve! Turunkan aku.” Jessie masih meronta.

“Jika kau masih tidak mau diam, aku akan menciummu.” Steve mengancam tapi wajahnya masih datar tak berekspresi.

“Hahaha, lucu sekali. Kau pikir aku takut dengan ancaman-” Jessie tak bisa melanjutkan kalimatnya karena Steve benar-benar menjalankan ancamannya. Menyambar bibir Jessie dan melumatnya tanpa ampun seakan lelaki itu sudah sangat lama menahan diri untuk melakukannya.

Ya, sejak malam itu, tubuh Jessie menjadi obsesinya, bibir wanita itu menjadi ambisinya. Hingga ketika Steve memiliki kesempatan untuk melakukannya, maka ia tidak akan membuang-buang waktu lagi.

Lagi pula, apa juga yang ia khawatirkan? Persahabatan mereka sudah benar-benar hancur. Dan ketika persahabatan itu tak bisa ia kembalikan lagi, maka Steve akan mencoba membangun hubungan baru yang lebih intim lagi dengan wanita ini.

-TBC-

Jadi…. apakah mereka akan berakhir dengan pernikahan? bagaimana dengan Henry dan Donna??? wakkakakkak selamat berpenasaran riaaa.. muwaaaahhhhh

Sleeping with my Friend – Bab 8

Comments 2 Standard

 

 

Bab 8

“Bisakah kau berhenti menangis? Jika tidak, maka aku akan ke apartmenmu sekarang juga.” Frank berkata penuh penekanan ketika mendengar suara isakan dari Jessie.

Ini sudah jam sebelas malam. Tadi, saat Frank asyik memeriksa beberapa naskah yang akan diterbitkan oleh Summer Media, ia mendapati telepon rumahnya berbunyi dan Jessie sudah menangis. Adiknya itu mengatakan bahwa ia dan Henry, kekasihnya, sudah putus. Lalu, berceritalah Jessie tentang kehamilannya. Sungguh, Frank tak menyangka jika semuanya akan berakhir seperti ini.

“Maaf, aku memang sering menangis akhir-akhir ini.”

“Oke. Lalu, apa rencanamu selanjutnya?”

“Kupikir, aku akan pindah dari apartmen ini.” ucap Jessie.

Ya, tak lama lagi, perutnya akan terlihat. Ia tidak ingin Steve mengetahuinya. Hubungan mereka sudah hancur, ia tidak mau menjadikan kehamilan sebagai alat untuk menarik lelaki itu kembali. Lagi pula, Jessie berpikir bahwa Steve memang sudah bahagia dengan kekasih barunya. Beberapa kali Jessie melihat Steve membawa seorang wanita berambut pirang ke apartmennya. Menggandengnya dengan mesra. Mungkin, jika Steve hanya mengajaknya sekali dua kali, maka Jessie akan berpikir jika wanita itu hanyalah wanita bayaran atau teman kencan semalam Steve. Tapi nyatanya, wanita itu sudah beberapa kali berkunjung ke apartmen Steve.

Itu bukan urusannya, tentu saja.

Tapi, hal itu membuat Jessie semakin membulatkan tekadnya, bahwa Steve tak perlu tahu tentang keadaannya yang menyedihkan ini.

“Kau gila? Bagaimana dengan Steve?”

“Dia tak perlu tahu.”

“Ayolah Jess. Dia ayahnya.” Frank tampak menuntut. “Kau bisa dituntut jika dia mengetahui nanti dan dia tidak terima dengan keputusan sepihakmu.”

“Aku akan mengatakan bahwa ini milik Henry.”

“Kau pikir dia percaya? Kau tidak tidur dengan banyak pria. Aku tahu itu, dan Steve juga tahu. Lagi pula kau sudah putus dengan Henry, jika kau mengandung anaknya, kalian tak akan putus. Itulah yang akan ada dalam pikiran Steve.”

Frank benar, tapi Jessie tetap tak ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Steve.

“Aku tetap akan bungkam sebisaku.”

“Ayolah, baby girl…” Frank mendesah. “Lagi pula, kau tak akan bertahan lama. Ingat, minggu depan kita harus pulang menghadiri pesta perayaan Emily. Kau tidak lupa, bukan?”

“Aku bisa mencari alasan untuk tidak datang.”

“Kau gila? Kau sudah tidak pulang selama dua bulan terakhir, Jess. Kau ingin George mendatangimu ke sini?” George adalah ayah mereka. Dan Jessie tak ingin membuat ayahnya khawatir hingga datang mengunjungi mereka di New York. Meski jarak Pennington ke New York kurang dari delapan puluh Mil, tapi tetap saja, membuat George Summer yang berusia hampir Tujuh puluh tahun mendatanginya karena ia tidak pulang sepertinya bukan hal yang baik.

“Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.” Jessie lagi-lagi ingin menangis.

“Dengarkan aku. Kau harus memberi tahu Steve. Mungkin sekarang kau belum siap, tapi kau harus memberitahunya, Jess.”

“Aku tidak yakin.”

“Kau ingin aku yang mengatakannya?”

“Tidak!” Jessie berseru keras. “Kau gila? Aku yang akan mengatakannya sendiri.”

“Baiklah. Kalau begitu, masalah selesai. Aku ingin nanti saat kita bertemu, Steve sudah tahu apa yang terjadi denganmu.”

Frank benar-benar seorang pemaksa. Jessie merasa menyesal karena sudah bercerita dengan kakaknya tersebut. Tapi di sisi lain, ia merasa lega. Kakaknya mendukung apapun keputusannya, dan Jessie tahu, bahwa sikap Frank yang pemaksa itu memang untuk kebaikannya sendiri di masa mendatang.

***

Hari itu akhirnya tiba juga. Hari dimana Jessie pulang ke Pennington New Jersey. Jam Sepuluh siang, Jessie sudah sampai di rumahnya. Tapi George, ayahnya, tak ada di rumah. Mungkin ayahnya itu sedang sibuk mengurus perkebunan Anggur dengan ayah Steve.

Bicara tentang keluarganya, Jessie hanya memiliki seorang kakak, Frank, yang usianya Enam tahun lebih tua dari pada dirinya. Ibunya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, sedangkan ayahnya sangat menikmati kesendiriannya.

Kedua orang tuanya bersahabat baik dengan kedua orang tua Steve, mereka bahkan menjadi partner kerja yang baik dalam usaha mereka dibidang perkebuan anggur. Ya, mereka berkebun dan memproduksi apa saja makanan dan minuman berbahan dasar anggur.

Jessie sangat menyukai rumahnya. Udaranya yang bersih, sejuk, sebuah pohon besar tumbuh di halaman rumahnya, rumput yang hijau, tanaman bunga milik ibunya yang tetap terawat hingga kini, benar-benar membuat suasana hatinya nyaman. Sangat berbeda dengan kehidupan di New York yang selalu ramai dan sibuk. Meski begitu, Jessie juga suka kehidupannya di New York. Ia bisa menggapai apa yang ia cita-citakan yaitu merancang pakaian hingga gaun pengantin.

Jessie segera menuju ke kamar lamanya. Melemparkan diri di sana dan telentang di atas ranjangnya. Secara spontan, kepalanya menoleh ke arah jendela kamarnya. Jendela tersebut tepat berhadapan dengn Jendela kamar Steve. Meski ada pembatas pagar diatara kamar mereka, tapi pagar tersebut sangat rendah hingga memungkinkan Jessie melihat Steve jika lelaki itu ada di sana.

Jessie menghela napas panjang. Apa lelaki itu akan datang nanti malam? Astaga, Jessie tidak tahu harus bersikap seperti apa saat dihadapan Steve dan juga keluarga mereka. Memikirkan hal itu saja Jessie sudah mual.

Ketika dirinya asyik melamun, pintu kamarnya dibuka dan terlihat George Summer berdiri di ambang pintu kamarnya.

“Hai, Dad.” Jessie bangkit kemudian segera menuju ke arah ayahnya. Dengan spontan mereka berpelukan.

“Kau baik-baik saja? Frank sudah bercerita padaku.”

Astaga, Frank. Ia tahu bahwa seharusnya ia tak mengatakan apapun dengan kakaknya itu. Kini, ayahnya sudah tahu, tinggal menunggu waktu saja sampai semua keluarga Morgan tahu.

“Apa dia menceritakan semuanya?” tanya Jessie sembari mengangkat wajahnya menatap ke arah Sang Ayah.

“Ya. Semuanya.” Jawab George dengan sungguh-sungguh. “Kau ingin aku turun tangan menyelesaikan masalahmu.”

“Tidak, Dad.” Jessie menjawab cepat. “Aku tidak ingin semuanya menjadi rumit.”

“Rumit? Semua semakin rumit jika mereka tahu atau mendengar dari orang lain, Jess. Kau ingin hubungan pertemanan kami renggang?”

“Tidak, tentu saja tidak, Dad.”

“Jadi?”

Jessie menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan memberitahu Steve. Tapi tolong, jangan ikut campur. Oke?”

George tersenyum “Tentu, Sayang. Kemarilah.” George memeluk kembali tubuh Jessie. “Aku merindukanmu, kau tahu.”

“Aku juga, Dad.” Jawab Jessie dengan sungguh-sungguh. Keduanya berpelukan dalam keheningan. Jessie tahu, masalah berada di hadapannya, dan mau tak mau ia harus menghadapinya, bukan malah menghindarinya. Tapi bisakah ia menghadapinya?

***

Malam itu akhirnya tiba juga, malam dimana Jessie menghadiri undangan keluarga Morgan. Keluarga Morgan merayakan keberhasilan Emily Morgan, puteri bungsu mereka yang mendapatkan gelar Dokter spesialis kandungan.

Jessie hanya datang berdua dengan ayahnya, sedangkan kakaknya yang sialan, Frank, baru mengabari jika dirinya tidak bisa pulang hari ini karena ada rapat penting mengenai bukunya yang akan difilmkan.

Jessie semakin gugup, perutnya terasa diremas ketika Patty, Ibu Steve, menggiringnya masuk ke dalam rumahnya. Mereka melewati ruang tengah lalu segera menuju ke arah kebun tepat di samping rumah keluarga Morgan. Ya, pesta kecil tersebut dirayakan di kebun yang sudah dihias dengan banyak sekali lampu-lampu kecil hingga membuatnya tampak begitu indah.

“Steve juga sudah datang, dengan kekasihnya.” Tubuh Jessie menegang seketika saat setelah mendengar kalimat Patty. “Hei, lihat siapa yang datang.” Patty berseru keras hingga semua orang yang berada di sana menolehkan kepalanya ke arah Patty, Jessie dan juga George.

Tampak seorang lelaki berdiri dengan seorang perempuan berambut pirang yang tampak setika menggandeng lengannya. Lelaki itu menatap ke arah Jessie dengan tajam, dan yang dapat Jessie lakukan hanya berpaling kearah lain. Sungguh, Jessie tidak bisa beradu pandang dengan Steve dalam keadaan seperti ini, ia tidak bisa karena Steve pasti akan menyadari bahwa ada yang ia sembunyikan dari lelaki itu.

“Jessie. Astaga, aku senang kau datang.” Emily menghambur kearahnya memeluknya degan erat, dan Jessie merasa kaku seketika. Emily melepaskan pelukannya dan menatap Jessie penuh tanya. “Kau ada masalah?” tanyanya karena ia tak pernah mendapati Jessie bersikap aneh seperti saat ini.

“Tidak. Aku baik-baik saja.” Jawab Jessie mencoba mengendalikan diri.

“Kalau begitu, Ayo kita berpesta.” Emily menyeret Jessie menuju ke arah banyak orang.

Pada sudut matanya, Jessie melihat bahwa Steve tampak memperhatikannya. Astaga, apa yang harus ia lakukan?

“Kau tahu, ini adalah pertama kalinya Steve membawa seorang wanita ke rumah.” Emily berkata dengan sangat antusias. “Mom memasak apapun yang dia bisa untuk menyambut kekasihnya. Kau pasti sudah mengenalnya, bukan?”

Emily berhenti dihadapan Steve dan wanita berambut pirang itu.

“Hai, Steve. Apa kabar?” sapa Jessie masih mencoba mengendalikan diri.

Steve hanya tersenyum miring. Ia bahkan memilih memalingkan wajahnya ke arah lain. Lelaki itu masih marah terhadapnya, dan Jessie tak mengerti, bukankah seharusnya dirinya yang marah terhadap lelaki itu?

“Hei, apa kau tidak mendengar Jessie sedang menyapamu?” Emily menyikut kakaknya.

“Kau ada masalah dengannya?” perempuan berambut pirang itu berbisik ke arah Steve.

“Kalian sudah saling mengenal, bukan?” Emily menunjuk pada Jessie dan Donna.

“Belum. Aku sama sekali belum mengenalnya.” Donna menjawab.

“Kau yakin? Mereka tinggal di satu gedung apartmen. Apa dia tidak pernah mengajakmu berkunjung ke tempat Jessie?” tanya Emily sekali lagi pada Donna.

Donna hanya menggelengkan kepalanya. “Kupikir, mereka memang memiliki masalah.”

Jessie mencoba tertawa padahal saat ini ia merasa mual. “Ayolah, kami tidak memiliki masalah apapun. Bukankah begitu, Steve?”

“Ya.” Singkat dan padat. Itulah jawaban Steve. Bahkan lelaki itu tampak enggan menjawab pertanyaan Jessie.

Jessie meremas kedua belah telapak tangannya. Ia tidak suka dengan reaksi Steve, terlebih lagi, ia tidak suka dengan kehadiran wanita berambut pirang yang setia berada di sebelah lelaki itu.

“Baiklah, aku akan menyapa yang lain dulu.” Jessie mencoba untuk menghindar. Ia tidak ingin semalaman berada di sekitar Steve dengan suasana canggung dan tidak enak seperti saat ini.

***

Pulang dari pesta.

Jessie segera menuju ke arah dapur. Tak lupa ia melepaskan sepatu hak tingginya yang membuat tumitnya terasa sakit. Ia mengambil sebotol air dingin kemudian meminumnya. Sedangkan George, tampak mengikutinya dari belakang.

“Kau tahu kalau dia sudah memiliki kekasih?” tanya George dengan sungguh-sungguh.

“Aku tak mengerti apa maksudmu, Dad.”

“Demi Tuhan! Patty dan Paul membicarakan tentang rencana pernikahan Steve sepanjang malam denganku, sedangkan aku tak tahu harus menanggapi seperti apa.”

“Aku tidak peduli dengan pernikahannya, Dad.”

“Tapi aku peduli.” George berkata cepat. “Cepat atau lambat mereka akan tahu kehamilanmu. Jika Patty dan Paul bukan sahabatku, mungkin aku tak akan peduli. Tapi mereka sahabatku. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana kecewanya mereka saat mengetahui semuanya ketika sudah terlambat.”

Jessie menatap ayahnya seketika. “Kau ingin aku menggagalkan pernikahan mereka?”

“Tidak. Aku hanya ingin kau jujur dengan Steve. Aku tidak akan memaksa kalian, atau Steve untuk menikahimu. Ini bukan lagi jaman seperti itu. Banyak wanita yang hamil dan membesarkan anaknya sendiri. Aku hanya ingin kau jujur hingga tak menimbulkan kesalahpahaman kedepannya.”

“Kesalahpahaman seperti apa?”

“Seperti kau seolah-olah sengaja menyembunyikan dan menjauhkan anak itu dari keluarga Morgan.” George mendekat. “Jess, aku tahu ini sulit. Mungkin, kau akan mendapatkan penolakan dari Steve, tapi setidaknya kau sudah berbuat benar dengan memberitahunya. Kau tidak sendiri, kau memiliki aku, dan Frank.” Ucap George dengan nada lembut sembari mengusap puncak kepala Jessie.

Dengan spontan, Jessie memeluk tubuh ayahnya. “Maaf, aku sudah bertindak egois.”

George mengangguk. “Aku tahu, ini sulit untukmu.” Pelukannya semakin erat. “Kau akan memberitahunya?”

“Ya.” Jessie menjawab dengan setengah menghela napas panjang.

“Bagus. Kau tak perlu melakukan apapun. Kau hanya perlu memberitahunya. Serahkan semua keputusan pada Steve.”

Jessie mengangguk patuh. Ayahnya benar. Steve memang harus tahu. Ia tidak ingin membuat kehebohan dimasa mendatang, kemudian ia dan keluarganya dituding sengaja menyembunyikan semuanya. Jika hal itu terjadi, bukan hanya pertemanannya dengan Steve yang hancur, tapi juga pertemanan kedua orang tuanya dengan keluarga Morgan ikut hancur. Dan Jessie tak ingin hal itu terjadi. Ia akan memberitahu Steve, setelahnya, ia menyerahkan keputusan sepenuhnya pada lelaki itu.

***

Pagi harinya….

Jessie sudah bersiap-siap dengan sepedanya. Semalaman ia tidak tidur karena memikirkan nasehat ayahnya. Kini, Jessie sudah bulat pada keputusannya bahwa ia akan memberitahu Steve pagi ini juga.

Biasanya, jika mereka pulang ke Pennington, mereka akan bersepeda di pagi hari bersama. Dan Jessie berharap bahwa Steve akan tetap menjalani kebiasaan itu pagi ini. karena itulah, Jessie sudah bersiap-siap dengan sepedanya pagi ini.

Padahal, pagi ini, ia merasa tidak enak badan. Sesekali Jessie merasa perutnya kram sejak semalam. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia berharap jika tak akan terjadi apa-apa dengan bayinya.

Apa yang diharapkan Jessie benar-benar terjadi. Tak lama ia melihat Steve mengendarai sepedanya melewati depan rumahnya. Yang membuat Jessie sedih adalah bahwa Steve sama sekali tak menoleh ke arah rumahnya. Lelaki itu benar-benar membencinya. Jessie tahu itu.

Dengan segera, Jessie menyusul Steve. Jessie bersyukur bahwa Steve hanya sendiri. lalu, dimana Donna? Apa Donna masih tertidur lemas karena semalaman bercinta dengan Steve?

Jessie menggelengkan kepalanya cepat. Ia tidak tahu kenapa ia berpikir sampai kesana. Lagipula, urusan ranjang lelaki itu bukanlah urusannya. Urusan mereka hanya sebatas tentang penyakit masuk anginnya.

Oke, Jessie akan berhenti menyebutnya seperti itu. Frank dan ayahnya sudah tahu, jadi untuk apa ia terus-menerus mengingkari semuanya? Ia hamil, bukan masuk angin. Sekali lagi, Hamil, titik!

Jessie menghela napas panjang. Ia mengayuh sepedanya lebih cepat lagi sesekali memanggil nama Steve. Tapi lelaki itu bersepeda seperti orang kesetanan hinga Jessie sulit mengejarnya.

“Steve. Kau tidak mendengarku?” dengan sisa-sisa tenaganya, akhirnya Jessie mampu sejajar dengan Steve.

Steve menolehkan kepalanya ke arah Jessie, kemudian ia menghentikan laju sepedanya. Dengan napas terengah, Jessiepun ikut berhenti.

Steve membuka kacamatanya beserta headset yang sejak tadi ia kenakan. Jessie menghela lega. Rupanya Steve tidak menghindarinya, lelaki itu hanya tidak mendengarnya karena sedang mengenakan headset.

“Jess, kau…” Steve menghentikan ucapannya ketika melihat Jessie melepaskan sepedanya hingga roboh.

Jessie tampak terduduk sembari memeluk perutnya sendiri. Stevepun segera mengabaikan sepedanya dan berlari menuju ke arah Jessie.

“Kau baik-baik saja? Ada yang tidak beres?” tanya Steve dengan khawatir. Jessie tampak pucat dan wanita itu tampak kesakitan.

“Aku, aku hanya terlalu stress.” Ucapnya dengan terpatah-patah. Memang, beberapa minggu terakhir menjadi hari-hari yang berat untuk Jessie setelah ia mengetahui tentang kehamilannya. Tak ada hari tanpa berpikir cemas. Keputusanya untuk berpisah dengan Henrypun menambah buruk suasana hatinya, belum lagi kenyataan diluar dugaan bahwa Steve akan menikah dengan seorang wanita seksi berambut pirang bernama Donna Simmon. Jessie stress, ia merasa terguncang.

“Kau bisa bangkit?”

Jessie hampir menangis saat menggelengkan kepalanya. Sial! Ia tidak pernah secengeng ini sebelumnya. “Bawa aku ke rumah sakit, Steve. Tolong.” Ucapnya dengan lemah.

Jessie tak perlu meminta untuk kedua kalinya, karena dalam sekejap mata, ia merasakan tubuhnya mengambang di udara. Steve menggendongnya dengan setengah berlari. Mereka meninggalkan sepeda mereka. Tak mungkin juga membawa Jessie dengan sepeda yang tak memiliki tempat untuk boncengan.

Dengan spontan, Jessie mengalungkan lengannya pada leher Steve. Wajahnya tersembunyi pada dada bidang lelaki itu. Untuk pertama kalinya setelah ia mengetahui tentang kehamilannya, Jessie merasa sangat nyaman. Apa yang membuatnya senyaman ini? apa lelaki ini? apa pelukannya? Atau dada bidangnya? Jessie tak tahu. Tapi yang pasti, ia merasa sangat nyaman ketika tahu bahwa Steve begitu perhatian padanya.

-TBC-

Hayookkkk apa yang akan terjadi selanjutnyaaaa??? wakakakakkakakakakkaka

Sleeping with my Friend – Bab 7

Comments 4 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 7

 

Jessie mengambilkan beberapa gelas untuk sampanye yang dibawakan oleh Frank, kakaknya. Sesekali matanya melirik ke arah ruang tamunya. Disana, Frank duduk dengan santai bersama Steve di sebelahnya, sedangkan Henry memilih duduk di sofa yang lainnya.

Frank memang kurang akrab dengan Henry, karena kekasihnya itu memang jarang bisa diajak kumpul bersama. Tentu saja karena pekerjaan lelaki itu yang tak bisa ditinggal begitu saja.

Saat Jessie menuju ke arah ruang tengah dengan empat gelas dan juga seember es batu, saat bersamaan panggilan kerja Henry berbunyi. Sebuah benda kecil yang akan berbunyi jika ada pasien yang membutuhkan pertolongannya.

Henry menatap Jessie dengan penuh penyesalan. Ia ingin menghabiskan waktunya dengan Jessie dan juga Frank tentunya, tapi apa daya, pekerjaan telah memanggilnya.

“Kau akan pergi?” tanya Jessie kemudian.

Henry berdiri dan menuju ke arah Jessie. “Maaf, sebenarnya aku ingin lebih lama lagi. Kau tentu tahu.”

Jessie mengangguk. Jemari henry terulur mengusap lembut puncak kepala Jessie. Kemudian tanpa canggung sedikitpun ia mengecup singkat bibir Jessie. “Aku benar-benar ingin menghabiskan waktu denganmu, Jess. Aku hanya ingin kau tahu tentang itu.”

Jessie tersenyum. “Aku mengerti.”

Henry lalu menatap ke arah Frank. “Kuharap, kau mengundangku lain kali. Dan kupastikan saat itu aku sedang bebas dari tugas.” Ucap Henry lamah sebelum pamit undur diri.

Beberapa menit kemudian setelah kepergian Henry. Suasana di ruang tengah apartmen Jessie sepi. Jessie sibuk membuka tutup sampanye, Steve sibuk dengan perasaannya, sedangkan Frank memilih mengamati keduanya.

“Apa ada yang kulewatkan disini?” Frank membuka suara hingga Jessie menatap ke arah kakaknya tersebut.

“Apa?” tanya Jessie berpura-pura tak mengerti.

“Hubungan kalian, kenapa jadi secanggung ini?”

Steve masih diam. Ia tak ingin membuka suara. Pikirannya masih jatuh pada kejadian sebelumnya, dimana Jessie dan kekasihnya sedang mencumbu mesra, dimana Steve tahu bahwa mereka saling mencintai sedangkan ia tak memiliki apapun untuk diperjuangkan.

“Frank, bukankah kau datang kemari untuk merayakan bukumu yang lagi-lagi difilmkan? Kenapa kau tidak menceritakan saja buku mana yang akan difilmkan itu.” Jessie mencoba menghindari topik pembicaraan. Ia tidak suka kakaknya ikut campur urusan mereka.

Well, Ya. Salah satu buku misteriku. Dan kau tahu, siapa produser fimnya?” Jessie menggelengkan kepalanya. “Warner Bros.” lanjut Frank.

“Wow, itu keren.” Jessie bertepuk tangan. “Ini memang harus dirayakan, Frank.”

Steve masih memberengut di ujung sofa.

“Kau yakin kalian tidak ada masalah.”

“Ya. Sebenarnya kami baik-baik saja. Mungkin Steve sedang ada masalah di tempat kerjanya.” Jessie mencoba menutupi permasalahan mereka. Lagipula Jessie tak mengerti kenapa Steve memberengut kesal seperti anak kecil. Memang apa salahnya?

“Kami sedang bermasalah.” Steve menjawab cepat. Entah kenapa ia ingin menunjukkan pada Frank tentang apa yang terjadi diantara mereka.

“Steve. Apa yang kau bicarakan?” sungguh, Jessie ingin Steve bisa lebih dewasa lagi menyikapi permasalahan mereka. Itu hanya terjadi diantara mereka. Jessie tak ingin keluarganya ikut campur diantara masalah mereka.

“Kau bisa saja bersikap seolah-olah tak pernah terjadi apapun diantara kita. Tapi aku tidak! Bagaimanapun juga-”

“Steve!” Jessie berseru keras memotong kalimat Steve sembari berdiri.

Steve ikut berdiri “Kenapa? Kau ingin aku diam saja dan tidak mengungkapkan semua kekesalanku?” Steve mulai tak bisa mengendalikan emosinya. Sungguh, bukan ini yang ia inginkan. Tapi mengingat bagaimana Jessie mampu dengan mudah bercumbu dengan pria lain setelah malam panas bersamanya sedangkan dirinya setiap saat gila memikirkan Jessie, benar-benar membuat Steve marah.

Frank yang duduk diantara keduanya hanya membiarkan saja, ia bahkan menuang sampanye dan menyesapnya dengan santai sembari memperhatikan lelaki dan perempuan yang sedang beradu urat di hadapannya.

“Lebih baik kau keluar.”

“Oh, tidak bisa. Aku sudah berjanji bahwa aku akan menyelesaikan semuanya malam ini juga.”

“Apa yang ingin kau selesaikan?” Jessie menantang. Persetan jika Frank mengetahui tentang hubungan mereka.

“Hubungan sialan kita.”

Well. Kita tidak memiliki hubungan kecuali pertemanan. Hanya itu.”

Steve tertawa mengejek. “Benarkah? Kau tidak ingat bahwa aku sudah menidurimu Tiga minggu yang lalu?”

“Bajingan kau, Steve!”

“Ya, aku memang bajingan. Dan kau sialan! Kau tahu, aku tidak ingin lagi berteman denganmu.”

“Terserah kau saja.”

“Kau juga ingin mengakhiri pertemanan ini?” tanya Steve. “Bagus. Ini lebih baik. Jadi aku tak perlu lagi bertemu denganmu.”

“Kalau begitu kau boleh keluar.”

Steve tak percaya. “Kau mengusirku?”

“Apa lagi yang kau inginkan?” nada suara Jessie masih meninggi.

Steve mengusap rambutnya kasar. “Brengsek! Kau pikir aku tahu apa yang kuinginkan? Jika keinginanku sesederhana menidurimu, maka aku tak akan repot-repot datang merangkak padamu untuk memperbaiki hubungan kita.”

“Jadi kedatanganmu kemari untuk memperbaiki hubungan kita? Inikah yang kau sebut memperbaiki hubungan? Kau sudah menghancurkannya, Morgan!” Jessie berseru keras.

“Kau yang lebih dulu menghancurkanku!” Steve tak tahu apa yang sudah dia katakan.

“Apa?” Jessie tak mengerti.

Well. Kupikir kalian perlu bicara baik-baik tanpa mengeluarkan urat.” Frank berdiri menengahi keduanya.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.” Steve berkata penuh penekanan. Matanya masih menatap tajam ke arah Jessie.

“Ya, akupun demikian. Tak ada yang perlu dibicarakan.” Jessie setuju dengan apa yang dikatakan Steve, bagaimanapun juga, Steve keterlaluan karena sudah mengatakan hubungan semalam mereka dihadapan Frank.

Tanpa bicara lagi, Steve meninggalkan apartmen Jessie. Membanting pintuya hingga berdentum. Kemarahan jelas terpancar di wajah lelaki itu. Dan Jessie tak peduli. Ia juga marah terhadap Steve yang tampak sangat kekanakan.

***

Jessie berdiri di depan bak cuci piring dengan segelas sampanye. Ia meminumnya lagi dan lagi, dengan sedikit menenangkan pikirannya. Frank masih duduk di ruang tamunya, dan Jessie tak peduli.

Brengsek Steve! Bagaimana mungkin lelaki itu meninggalkannya dalam keadaan seperti ini? Jessie tak tahu bagaimana caranya menghadapi Frank yang pastinya akan menuntut penjelasan tentang apa yang sudah dikatakan Steve tadi.

Meski ia sudah dewasa dan dan Frank tak akan ikut campur tentang masalahnya yang paling pribadi, tapi Jessie tahu, bahwa Frank pasti ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.

“Sampai kapan kau akan berdiri di sana?” tanya Frank yang ternyata sudah duduk di bar dapur, tepat di belakang Jessie.

“Kau, masih disini?” Jessie berharap Frank sudah pergi dan melupakan semuanya.

“Kau berharap aku pergi?” tanya Frank, Jessie hanya mengangkat kedua bahunya. “Dengar, Jess. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu dan Steve. Dan aku tak mau tahu hubungan intim kalian. Hanya saja, kalian sudah dewasa. Kalian menyelesaikan ini seperti anak-anak. Saling memaki dengan emosi masing-masih.”

“Dia yang memulainya dulu, Frank. Kau ada di sana, kau tentu tahu dia dulu yang memulainya.”

“Dan kau tidak tahu kenapa dia marah denganmu?”

“Aku tak peduli. Dia memang selalu marah-marah tak jelas.”

“Jess. Dia melihatmu berciuman dengan Henry di depan pintu.” Frank berkata dengan nada sungguh-sungguh.

“Lalu apa masalahnya? Aku sering melakukan itu. Kami akan menikah, jadi sangat wajar kalau kami saling berciuman.”

“Kau, benar-benar tak mengerti atau pura-pura tak mengerti?”

“Aku tak mau mendengarnya.” Jessie membalikan tubuh membelakangi Frank.

“Dia cemburu, Jess.”

“Tidak.”

“Dia menyukaimu.”

“Hentikan, Frank!” Jessie berbalik dan menatap sengit ke arah kakaknya. “Kau pikir aku gadis kecil yang bisa kau bodohi? Steve hanya suka perempuan berambut pirang dengan payudara yang hampir tumpah dari branya. Aku mengenalnya! Jadi aku tahu siapa dan orang seperti apa yang dia sukai.”

Frank tersenyum miring. “Kau juga menyukainya, Jess.”

“Oh Frank. Tidak bisakah kau meninggalkan aku sendiri? aku ingin sendiri tanpa memikirkan apapun tentang seorang Steven Morgan!”

“Baiklah. Aku akan pergi. Tapi jika ada sesuatu, kau tahu harus kemana. Ingat, aku hanya beberapa blok dari sini. Jadi jangan menyembunyikan apapun dariku. Oke?”

Meski kesal, Jessie merasa sangat senang karena memiliki kakak yang begitu perhatian dengannya. Jessie mengantarkan Frank hingga pintu. Setelah Frank memasuki lift, Jessie segera kembali masuk ke dalam apartmennya. Ia menguncinya kemudian segera menuju ke arah kamar.

Entah Kenapa Jessie ingin menangis. Menenggelamkan diri diantara bantal dan selimutnya. Astaga, semuanya tak bisa tertolong lagi. Pertemanannya dengan Steve tak akan bisa tertolong lagi. Jessie tahu itu.

***

Dua bulan kemudian…

Semuanya menjadi kacau. Jessie berdiri di depan cermin dengan wajah pucatnya. Jemarinya saling meremas satu sama lain karena kegugupan yang melandanya. Ia sudah merias diri secantik mungkin, tapi ia berpikir bahwa malam ini ia sama sekali tidak cantik. Matanya sembab karena menangis berhari-hari. Astaga, apa yang sudah terjadi dengan dirinya?

Dua minggu yang lalu, Jessie bahkan mengurung diri selama beberapa hari dan enggan keluar. Itu karena penyakit barunya, yaitu masuk angin. Ya, Jessie lebih suka menyebutnya seperti itu. Ia masuk angin karena setiap hari harus mual muntah, dan Jessie tahu bahwa tak lama lagi perutnya akan menggembung sebesar bola basket.

Karena hal itulah hari ini ia baru berani memutuskan untuk makan malam bersama kekasihnya. Jessie akan mengakhiri semuanya, karena Jessie tak ingin melanjutkan pernikahannya dengan Henry dalam keadaaan seperti sekarang ini.

Mengingat itu, kegugupan kembali terasa. Astaga, Jessie tak sanggup. Sungguh.

Bajingan Steve! Kenapa lelaki itu harus meninggalkan sebagian dari dirinya untuk tumbuh di dalam perutnya? Lebih bajingan lagi, karena setelah pertengkaran hebatnya dua bulan yang lalu, Steve seperti tak ingin lagi bertemu dengannya.

Beberapa kali, mereka bertemu, di basement, di depan lift, di tempat kerja. Tapi temannya yang bajingan itu tampak enggan menatapnya. Steve tidak berbicara sama sekali dengannya, dan Demi Tuhan! Jessie juga tak ingin berbicara dengan lelaki itu.

Frank berkali-kali menghubunginya dan menanyakan hubungan mereka, tapi Jessie hanya mengatakan bahwa mereka sudah selesai. Nanti, setelah menyelesaikan hubungannya dengan Henry, Jessie akan menelepon Frank dan juga ayahnya, bahwa semuanya benar-benar telah usai.

Jessie menghela napas panjang. Pada saat bersamaan ia mendengar bunyi ketukan pintu. Henry sudah datang, dan Jessie harus benar-benar siap dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

Beberapa menit berlalu, mereka sudah berada di dalam mobil Henry, menuju ke sebuah restoran Prancis. Diam tanpa kata, sunyi, hening, dan hal itu membuat suasana menjadi canggung.

Henry tahu jika ada yang berbeda dengan Jessie, sejak dua minggu yang lalu, wanita ini berubah, dan Henry berharap malam ini berjalan dengan lancar hingga bisa memperbaiki hubungannya dengan Jessie.

Memasuki restoran, keduanya masih saling berdiam diri, bahkan hingga seorang pelayan datang dan memberikan buku menu. Jessie memesan beberapa hidangan utama hingga membuat Henry mengerutkan keningnya.

“Kau kelaparan?” tanyanya setelah si pelayan pergi.

“Mungkin.” Hanya itu jawabannya.

Terdengar helaan napas panjang dari Henry. “Jadi, ada yang ingin kau bahas?”

Tentu saja ada, tapi Jessie merasa bahwa ia takut mengutarakannya. “Lebih baik kita makan dulu. Aku tidak ingin pesanan kita tak termakan setelah aku mengutarakan maksudku.”

Henry merasa bahwa Jessie akan mengatakan sesuatu yang penting hingga wanita itu tampak menyiapkan diri. Apa yang akan dikatakan Jessie padanya.

Makan malam berlangsung dengan hening. Sesekali Henry bertanya tentang apa yang dilakukan Jessie sepanjang hari ini, dan Jessie hanya menjawab tanpa bertanya balik kepada Henry.

Waktu cukup singkat, karena tak ada juga yang mereka bicarakan. Setelah menyantap Raspberry Clafoutis sebagai makanan penutupnya, Jessie merasa bahwa perutnya sudah penuh. Apa perutnya sekarang sudah menggembung? Tidak! Jessie berharap bahwa hal itu tidak terjadi.

Hingga masuk kembali ke dalam mobil Henry, Jessie belum juga mengatakan maksud hatinya. Ia tidak bisa, Demi Tuhan ia tidak bisa mengatakannya. Jessie menyayangi Henry, ia tidak bisa membatalkan pertunagan mereka karena penyakit masuk anginnya ini.

Henry akan sangat hancur, dan Jessie tak bisa melihat hal itu terjadi.

“Jess. Ada yang kau pikirkan?”

Karena melamun sepanjang jalan, Jessie bahkan tidak sadar jika mereka sudah berada kembali di basement gedung apartmennya.

“Ya?”

“Ada yang ingin kau katakan? Kau tampak pucat, dan tertekan.” Ucap Henry dengan lembut.

Jessie ingin menangis, sungguh. Kapan lagi ia memiliki kekasih yang begitu pengertian seperti Henry? Dia adalah lelaki sempurna. Tampan, dokter, pengertian, dan begitu menyayanginya. Dan kini, ia akan mencampakan lelaki itu. Tuhan! Bagaimana mungkin semuanya berakhir seperti ini?

Belaian tangan Henry pada puncak kepalanya membuat Jessie mengangkat wajahnya dan menatap Henry dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia harus, karena ia menyayangi Henry, ia harus memutuskan pertunangan mereka demi lelaki itu.

“Kupikir, kupikir, kita sampai disini saja.” Suara Jessie hampir tak terdengar.

“Apa maksudmu, Jess?”

Jessie tak dapat menahan luapan airmatanya. Beberapa hari terakhir ia memang tak dapat menahan diri untuk tidak menangis. Dan Jessie tahu bahwa ini karena penyakit masuk anginnya.

“Kau menangis. Ada apa, Jess?”

“Henry. Aku ingin semuanya selesai. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi.”

“Tapi kenapa?”

“Karena aku masuk angin, Karena tubuhku akan membengkak beberapa bulan kedepan, karena aku akan, aku akan… Astaga, aku akan memiliki bayi.” Jessie menangis, sedangkan Henry tercengang. Henry merasa baru saja dijatuhi sebuah bom tepat di kepalanya.

Jessie hamil? Dan wanita itu ingin memutuskannya? Ya Tuhan! Henry tak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

 

-TBC-

Sleeping with my friend – Bab 6

Comments 2 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 6

 

Waktu berlalu cukup cepat. Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh Jessie. Sepertinya baru beberapa jam yang lalu ia melihat Steve memotreti para modelnya dengan gaya yang tak biasa, tapi lelaki itu tentu selalu mempesona ketika bekerja. Ya, setidaknya itulah pendapat Jessie selama ini.

Steve tampak sangat menarik saat lelaki itu konsentrasi pada objek tangkapan lensa kamerannya. Ketika lelaki itu memutar fokus lensanya, saat lelaki itu mengerutkan keningnya, saat lelaki itu tampak begitu serius mengambil gambar di hadapannya, Jessie menyukai saat melihat Steve yang seperti itu. Baginya, Steve tampak bertanggung jawab dengan pekerjaannya, tampak dewasa dengan ekspresi seriusnya. Tentu sangat berbeda dengan Steve yang selama ini ia kenal.

Jessie tak memungkiri jika beberpa kali jantungnya berdebar tak menentu saat melihat Steve melakukan pekerjaannya dulu sebelum malam sialan itu terjadi. Meski begitu, Jessie tak akan pernah mengakui bahwa ia terpana ketika melihat Steve bekerja dengan begitu profesional.

Kini, tak terasa hari sudah semakin sore. Bahkan para kru dan beberapa model sudah meninggalkan tempat pemotretan mereka yang terletak di dalam gedung studio foto milik Steve. Hanya tertinggal beberapa pegawai Steve yang sibuk merapikan bekas-bekas pemotretan, dua bawahannya yang sibuk merapikan gaun-gaunnya, dan juga Steve yang kini sudah berada di dalam ruangannya.

Jessie akan menuju ke dalam ruangan tersebut tapi ada sesuatu keraguan yang tiba-tiba saja menyergapnya. Hubungannya dengan Steve kini sedang tidak baik, sedang retak, dan Jessie takut jika hubungan mereka hancur karena suatu yang seharusnya tak terjadi. Tapi Jessie harus ke sana, berpamitan dengan Steve agar semuanya terlihat normal dan baik-baik saja meski sebenarnya ada banyak hal yang harus mereka bicarakan setelah malam dan pagi sialan itu.

Dengan menghela napas panjang, Jessie menuju ke arah ruangan Steve. Ia bukan seorang yang pengecut, maksudnya, mungkin cukup Tiga minggu ini ia menjadi pengecut karena beberapa kali menghindari pertemuannya dengan Steve. Ia ingin semua kembali normal dan itu harus diawali saat ini.

Setelah dua kali mengetuk pintu ruangan tersebut, Jessie membukanya. Ia tahu bahwa Steve tak menguncinya. Dengan sedikit ragu ia melangkahkan kakinya masuk dan menyapa “Hai” pada Steve.

Lelaki itu yang tadinya cukup serius di depan layar laptopnya, kini mengangkat wajahnya dan tampak terkejut dengan kehadiran Jessie. Apa Steve berharap ia tak perlu masuk ke dalam ruangan lelaki itu? Seketika itu juga Jessie merasa menyesal karena harus memasuki ruangan tersebut.

“Oh, Hai.” Steve berdiri seketika.

Sedikit tak nyaman Jessie berkata. “Sebenarnya, aku hanya berpamitan. Akan sangat tidak sopan jika aku dan para pekerjaku pergi begitu saja tanpa pamit.” Jessie berkata seformal mungkin. Seperti sedang bercakap dengan partner kerjanya. Demi Tuhan! Ia sudah mengenal Steve bahkan sejak bayi, mereka sudah sering berbagi banyak hal. Semuanya terasa hancur setelah malam sialan itu. Jessie tak tahu kenapa ia harus secanggung ini bahkan bersikap seformal ini pada Steve, padahal, sebelumnya ia tak pernah bersikap seperti ini, bahkan memikirkannya saja tidak.

“Oh. Begitu.” Jessie melihat Steve memasukan telapak tangannya pada saku celananya sendiri. “Kau tak ingin melihat ini sebentar?” tawar Steve.

“Ada masalah?” mau tidak mau Jessie melangkahkan kakinya menuju ke arah meja Steve.

Lelaki itu kembali duduk dan hal itu membuat Jessie lega karena menambah keberanian Jessie untuk mendekat ke arah lelaki tersebut.

Biasanya, mereka memang akan memeriksa hasil tangkapan kamera Steve saat mereka bekerja sama seperti sekarang ini. Memilih gambar yang paling bagus dan cocok. Atau, jika tidak ada, mereka akan melakukan sesi tambahan di hari berikutnya. Jessie merasa saat-saat seperti itu sudah cukup lama tidak mereka lalui. Tentu sejak malam sialan itu.

“Tidak. Kupikir semuanya bagus. Tapi aku juga perlu pendapatmu seperti sebelum-sebelumnya.” Ucap Steve sembari menunjukkan hasil tangkapan lensanya tadi.

Dengan seksama Jessie melihat satu demi satu gambar tersebut. Seperti biasa, ia tampak terpesona dengan hasilnya. Steve memang berbakat dalam hal ini, tak heran, jika lelaki ini menjadi salah satu fotografer dengan tarif termahal di New York, meski begitu, lelaki ini tak pernah sepi klien.

“Bagiku ini luar biasa. Kau melakukannya dengan baik.”

Jessie tak pernah memuji Steve sampai seperti itu. Oh, mereka sering saling ejek satu sama lain, tapi memuji dengan formal seperti ini sama sekali tak pernah terjadi diantara mereka.

“Gaunmu juga menjadi salah satu objek yang membuat hasinya indah dan menakjubkan.” Bahkan Jessie juga tak pernah mendengar Steve memuji hasil rancangannya seperti itu.

Steve memang mengagumi apapun rancangan Jessie, tapi biasanya lelaki itu akan berkarta ‘kau membuat aku ingin meniduri modelnya’ atau ‘Rancanganmu membuatku terangsang.’  Ya, seperti itulah khas seorang Steven Morgan. Tapi kini, pujian formal itu membuat Jessie tidak nyaman. Ia tidak suka dengan perubahan Steve, ia juga tidak suka dengan perubahan dirinya sendiri, hingga kemudian, Jessie tersentak dari lamunannya ketika jemari Steve mendarat tepat di atas telapak tangannya yang sedang bertumpu di meja lelaki itu.

Sebuah gelenyar kembali menerpanya, membuat Jessie menatap ke arah Steve seketika saat lelaki itu kini sedang mendongak menatap intens ke arahnya.

“Jess. Aku tak suka dengan suasana seperti ini. kita perlu bicara.”

Ya, tentu saja. Jessie tahu itu. Tapi ia tidak suka membayangkan jika percakapan mereka akan berakhir seperti rabu siang ketika Steve datang ke butiknya dan berakhir saling mengumpat satu sama lain. Jessie tak ingin hal itu terjadi.

Jessie menggelengkan kepalanya. “Kupikir sebaiknya kita melupakan semuanya.”

“Jess. Aku tidak suka hubungan kita jadi seperti ini.”

“Kau pikir aku menyukainya?” nada suara Jessie mulai meninggi. Jika yang dipikirkan Steve adalah hanya lelaki itu yang frustasi tentang kedekatan mereka, maka lelaki itu salah. Jessie juga sama frustasinya. Dan demi apapun juga, Jessie rela menukar apa saja untuk mengembalikan hubungan mereka agar seharmonis dulu.

“Oke.” Steve berdiri. Ia melirik ke arah jam tangannya. “Kita akan membicarakannya nanti, mungkin aku akan ke apartmenmu besok.”

“Kau tak perlu melakukannya.”

“Jess kita harus.” Steve menggenggam kedua belah telapak tangan Jessie. “Setiap bulan, kita akan pulang. Orang rumah akan mengetahui masalah kita jika kita tetap bersikap seperti ini.”

“Mungkin kita tidak perlu pulang bersama lagi. Cukup untuk mengendalikan situasi, bukan?”

“Kau menghindariku?”

“Steve…”

“Oke.” Steve mengangkat kedua tangannya. “Kita memang harus berbicara Jess. Dengan atau tanpa persetujuanmu, besok malam aku akan datang. Aku tidak ingin kita saling menghindar lagi.” Jessie mendesah panjang. Ia tidak mungkin menolak keinginan seorang Morgan. Lelaki itu pemaksa, meski menolaknya, Jessie tahu bahwa besok malam lelaki itu akan datang ke apartmennya.

***

Kencan yang membosankan.

Itulah yang dirasakan Steve malam ini. ia dan Donna Simmon hanya makan malam di sebuah restoran mewah, dan membunuh waktu dengan saling bercakap-cakap. Steve bahkan hanya sedikit menyimak apa yang diceritakan oleh Donna.

Wanita itu bekerja sebagai konsultan di salah satu perusahaan di New York. Hanya itu saja yang Steve tangkap. Bahkan Steve seakan tak ingin mengetahui lebih lanjut tentang wanita itu. Bukan karena tampangnya. Demi Tuhan! Hank adalah teman yang sangat baik karena mengenalkan dirinya pada sosok bidadari seperti Donna Simmon, tapi hanya itu saja. Donna hanya cantik, tapi kosong. Tak ada sesuatu yang menarik bagi Steve untuk dikencani.

Wanita itu terus bercerita tentang siapa saja teman kerjanya, apa saja yang ia lakukan, dari mana saja kliennya datang dan lain sebagainya. Sedangkan Steve memilih hanya diam, sesekali melemparkan senyuman padahal ia tidak tahu apa yang sedang dibahas wanita itu.

Steve hanya ingin waktu segera berlalu. Ia tidak sabar menunggu besok malam, ketika ia kembali bertemu dengan Jessie dan membicarakan tentang hubungan mereka berdua.

“Jadi, apa yang kau lakukan sepanjang hari ini?” tanya Donna kemudian yang merasa bahwa Steve sejak tadi tampak bosan dengan ceritanya.

Steve menyesap minumannya. “Aku? Aku bekerja sepanjang hari. Ada sebuah pemotretan untuk majalah fashion. Dan hanya itu.”

“Kau, bertemu dengan banyak artis?”

“Jika maksudmu karena pekerjaan, maka ya. Kebanyakan hanya model.”

“Woww, hebat sekali. Aku jadi tertarik untuk datang ke tempat kerjamu.”

“Boleh saja. Tapi kadang, saat aku bekerja, akan sangat berkonsentrasi. Aku hanya tak ingin kau terabaikan saat di sana.”

“Oh, kau perhatian sekali.” Donna merasa tersanjung, dan Steve hanya tersenyum menanggapinya. Donna memang seperti kebanyakan wanita yang pernah dekat dengannya. Wanita itu gampang sekali tersanjung, dan ingin selalu ikut campur tentang kehidupannya. Tidak seperti Jessie.

Sial! Lagi-lagi nama itu. Steve mendengus sebal.

***

Kencan berakhir begitu saja setelah Steve mengantarkan Donna hingga sampai apartmen wanita itu. Donna mengundangnya masuk, tapi Steve menolak. Ia tidak sedang ingin meniduri wanita itu, jadi ia berpikir bahwa lebih baik ia pergi saja.

Lagi pula, tujuannya menjalin hubungan dengan Donna adalah untuk menjalin sebuah pertemanan yang sangat dekat, bukan hanya dalam hal asmara. Ia ingin Donna mampu menggantikan sosok Jessie, ketika wanita itu nanti benar-benar pergi menghindar selama-lamanya, maka Steve tak perlu khawatir.

Tapi sepertinya, semuanya gagal total. Donna tak pantas untuk menggantikan tempat Jessie, bahkan keduanya tak memiliki kemiripan sama sekali. Donna lebih asik dengan dunianya sendiri, lebih suka menceritakan tentang dirinya sendiri. sangat berbeda dengan Jessie yang tak akan membuka suara jika tidak ditanya apa yang sedang terjadi dengan wanita itu.

Steve mengemudikan mobilnya cepat hingga sampailah ia pada gedung apartmennya. Ia mendapati Cody duduk di sebuah kursi dekat dengan pintu masuk. Menyapanya sebentar dan segera masuk ke dalam gedung tersebut. Entahlah. Steve hanya ingin segera pergi ke kamar tidurnya. Tidur kemudian menunggu besok malam. Ia akan mengutarakan sebuah niat pada Jessie, ia akan membuat hubungan mereka berbeda.

Ya, Steve tahu bahwa pertemannya dengan Jessie sedang terancam, bahkan mungkin sudah hancur. Ia tahu pasti bahwa apapun itu, ia tak akan bisa memperbaiki semuanya. Pandangannya terhadap Jessie sudah berubah, begitupun yang dirasakan wanita itu padanya. Jessie memang tak mengakuinya, tapi sangat jelas terasa ketika mereka berdekatan. Ketegangan selalu terasa, bukan hanya secara seksual tapi juga secara emosional.

Steve tahu bahwa malam itu bukan sekedar malam panas. Ada sebuah emosi yang terlepas di sana. Ketika mereka bercinta di kamar mandi dan bercinta kembali di atas ranjang, Steve tahu bahwa itu bukan hanya tentang sebuah kepuasan. Dan bodohnya ia baru menyadari hari ini, hampir satu bulan setelahnya.

Bagaimanapun juga, ia harus merundingkan semuanya pada Jessie, ia ingin membahas semuanya sampai tuntas. Menawari Jessie dengan sesuatu yang cukup masuk akal. Dan ketika wanita itu menolaknya, maka lebih baik mereka tidak pernah bertemu lagi dan Steve akan melanjutkan kencannya dengan Donna Simmon yang cukup membosankan untuknya.

Begitulah niat Steve. Tapi benarkah ia akan mengutarakan niatnya pada Jessie? Beranikah ia mengatakannya? Siapkah ia dengan penolakan wanita itu? Entahlah. Steve hanya akan menunggu sampai besok malam.

***

Esoknya….

Steve menyelesaikan sisa pekerjaannya secepat mungkin, karena ia ingin mmepersiapkan diri untuk menghadapi Jessie.

Baiklah. Ia sudah memikirkan semalaman. Persetan dengan pertunangan Jessie dengan si Gay Henry. Yang pasti, Steve akan mengutarakan bahwa mereka sudah tidak bisa berteman lagi. Lebih tepatnya, Steve akan menganggap bahwa mereka kini adalah sepasang kekasih.

Mungkin Jessie akan menganggapnya gila, wanita itu pasti akan melemparinya dengan perabotan rumah tangga. Tapi Steve tak peduli. Nyatanya seperti itulah yang ia rasakan hampir sebulan terakhir. Ia merasa bahwa Jessie adalah kekasihnya, bukan sekedar temannya. Dan hal itu sudah tidak bisa dirubah lagi.

Kecanggungan diantara mereka membuat Steve semakin yakin, bahwa tidak hanya seks yang ada di malam itu. Tidak sekedar pemuasan fisik. Tapi secara emosional, mereka juga terlibat.

Jam Enam sore, Steve sudah siap di apartmennya. Tapi ia menahan diri untuk tidak turun. Demi Tuhan! Ini masih sore. Jessie pasti akan mengerutkan keningnya saat mendapati dirinya berkunjung sore-sore seperti ini. Bahkan mungkin, wanita itu baru pulang dari butiknya.

Akhirnya, Steve memilih menghabiskan waktu di ruang tengah apartmennya sembari kembali memikirkan semuanya. Semakin ia berpikir, semakin ia yakin. Kepercayaan dirinya meningkat saat membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja akan terjadi, seperti Jessie menyetujui pendapatnya. Wahh, pasti akan sangat membahagiakan. Mereka benar-benar akan menjadi sepasang kekasih, berbagi ranjang kembali dengan begitu panas. Seks maraton setiap hari.

Sial!

Steve mengumpat pada ereksinya.

Bagaiamana mungkin ia segera terangsang saat memikirkan hal itu? Otaknya benar-benar sudah dikendalikan oleh Jessie. Dan hal itu membuat Steve semakin yakin bahwa ia harus segera menyelesaikan semuanya dengan Jessie.

Jam Delapan jantung Steve berdebar lebih cepat dari sebelumnya. Perutnya seperti diperas saat ia melangkah keluar dari apartemennya menuju ke arah lift. Turun Lima lantai hingga berada pada lantai apartmen Jessie.

Steve keluar dari dalam Lift dengan sesekali membenarkan tata rambutnya. Tapi baru tiga langkah, ia berhenti.

Bayangan Jessie dengan seorang lelaki saling menautkan bibir satu sama lain dengan begitu lembut tepat di depan pintu apartmen waita itu membuat Steve hanya ternganga menatapnya.

Takk… takk… taakkk…

Steve merasakan sesuatu retak di dalam dadanya. Dengan spontan ia merabanya, terasa nyeri tapi tak mengeluarka darah. Ada apa ini? apa yang terjadi dengannya? Apa ia memiliki kelainan jantung?

Sepanjang hari Steve sudah membayangkan jika ia akan menjadikan Jessie sebagai kekasihnya. Ia tak bisa melihat wanita itu sebagai temannya lagi, ketertarikan seksual serta emosional selalu terpantik ketika mereka berdekatan, dan hal itu cukup bagi Steve untuk menjadikan Jessie sebagai kekasihnya.

Dengan begitu bodohnya, Steve berpikir bahwa Jessie akan menerimanya begitu saja. Wanita itu pasti tak akan mengingkari pesonanya, Steve terlalu percaya diri. Ia melupakan satu hal, bahwa Jessie memiliki cinta untuk tunangannya, dan hal itu tidak dimiliki oleh Steve.

Seberapa panas hubungan mereka, seberapa tegang ketertarikan fisik diantara mereka, maka akan tetap dikalahkan oleh cinta sialan yang dimiliki Jessie dengan kekasihnya.

Dengan kecewa, dengan marah, dan demi Tuhan! dengan terluka, Steve membalikkan tubuhnya bersiap kembali memasuki lift sebelum Jessie melihatnya berdiri di sana seperti seorang idiot yang sedang patah hati.

Patah hati? Sial! Steve tidak ingin mengakuinya.

Tapi saat pintu lift terbuka, Steve seakan berada pada puncak kesialannya ketika ia mengetahui siapa yang ada di dalam sana.

“Steve? Kau dari tempat Jessie?” tanyanya yang kini bahkan sudah mengamati Steve, melihat rahang Steve yang mengetat karena kemarahan, melirik ke arah telapak tangan Steve yang saling mengepal karena emosi yang meluap-luap. Lelaki itu keluar dari dalam lift, dan ia dapat melihat Jessie masih asik bercumbu dengan sang Kekasih.

Dan lelaki itu tersenyum.

“Aku akan pergi.” Ucap Steve dengan dingin.

“Woww, wooww.” Lelaki itu menahan pundak Steve. “Aku bahkan membawakan Sampanye untuk merayakan Bukuku yang akan di filmkan.”

Brengsek, Frank! Kenapa bajingan ini harus datang disaat yang tak tepat?

Itu adalah Frank Summer, kakak Jessie. Mereka tentu sudah saling mengenal sejak kecil. Frank orang yang baik, tapi yang membuat Steve kesal adalah karena lelaki itu terlalu ikut campur dengan urusannya dan Jessie. Frank bahkan sempat mengusulkan untuk menikahkan mereka ketika mereka sedang berada dalam pertemuan keluarga bulanan, meski lelaki itu mengatakannya dengan gurauan, tapi tetap saja, Frank adalah seorang berengsek yang mengganggu ketenangannya dengan Jessie.

“Aku sibuk.”

“Benarkah?” Frank tak percaya. “Akui saja, bung. Kau cemburu melihat mereka.”

“Brengsek kau Frank!” Steve mengumpat keras pada lelaki yang usianya Tiga tahun lebih tua dibandingkan dirinya. Sedangkan lelaki itu tertawa lebar menertawakan umpatan khas yang keluar dari mulut Steve.

Dan pada saat itu, suara Jessie mengejutkn keduanya.

“Frank? Steve? Apa yang kalian lakukan di sana?”

Oh, Steve tak bisa mengelak, ia tak bisa pergi begitu saja dan berpura-pura tak melihat semuanya. Semua ini tentu karena si bajingan Frank Summer. Mata Steve menatap mata Frank dengan tatapan membunuhnya. Berharap jika Frank tak mengatakan apapun tentang apa yang telah mereka lihat tadi.

“Hai Jess. Aku sengaja mengajak Steve ke sini untuk merayakan bukuku yang akan diangkat ke layar lebar.”

“Oh Astaga, itu hebat. Ayo. Kita masuk dan berpesta.” Ajak Jessie.

Frank menatap Steve dengan sedikit menyunggingkan senyumannya, kemudian ia mengajak Steve untuk menuju ke apartmen Jessie dan masuk ke sana. Bagimanapun juga, Steve merasa bahwa Frank tak ingin ia pergi. Dan Steve merasa berterimakasih karena secara tak langsung, Frank mencegahnya menjadi seorang pengecut.

-TBC-

Sleeping with My Friend – Bab 5

Comments 3 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

 

Bab 5

 

Jessie belum pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Hal itu membuat Miranda menunda kepulangannya hingga sang bossnya itu pulang. Saat Jessie keluar dari dalam ruang kerjanya, ia melihat lampu butiknya masih menyala dan tampak Miranda sedang merapikan sebuah lemari yang penuh dengan renda-renda.

Jessie mengerutkan keningnya dan berjalan menuju ke arah bawahannya tersebut. “Miranda? Kau belum pulang?” tanya Jessie sembari mendekat.

“Ya. Kupikir kau butuh teman.” Miranda menjawab. Selama ini, mereka memang sudah seperti teman baik.

“Tidak, aku baik-baik saja. Seharusnya kau sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu.”

“Aku tidak bisa membiarkanmu sendiri, Jess. Tidak setelah apa yang kulihat.”

“Kau, melihatnya?” Tanya Jessie dengan sedikit malu. Jika yang dimaksud Miranda adalah pertengkarannya dengan Steve, maka Jessie benar-benar tak dapat menahan rasa malunya.

“Jika yang kau maksud tentang vibrator dan vagina, maka ya, aku dan yang lain mendengarnya.”

“Oh astaga…” Jessie menutup wajahnya sendiri.

“Ya ampun Jess, kau bersikap seolah-olah dunia runtuh setelah mengatakan hal itu.”

“Jika boleh jujur, aku tak tahu apapun tentang hal itu.”

Miranda membulatkan matanya kemudian tertawa lebar. “Benarkah? Astaga.” Jessie ikut tertawa melihat Miranda tertawa.

“Sudahlah, lebih baik kita pulang, sudah malam.” Ajaknya. Tentu saja Jessie tak ingin membahas tentang masalahnya dengan Steve. Bagaimanapun juga, Jessie tak ingin lagi membahas kejadian tentang ia tidur dengan temannya itu.

Saat Jessie keluar dari butiknya, saat itulah pandangannya terpaku pada sosok pria yang sudah berdiri di samping pintu mobilnya.

Well, rupanya pangeranmu yang lain menjemput.” Bisik Miranda ketika Miranda melihat Henry berada di sana. “Oke, sepertinya aku pulang dulu.”

“Hati-hati.” Hanya itu yang dapat dikatakan Jessie karena saat ini fokusnya sudah ke arah Henry yang datang ke arahnya. Astaga, apa yang akan terjadi? Apa pria ini akan memutuskan hubungan mereka?

“Hai.” Henry menyapa dengan lembut.

“Hai.” Jessie membalas, entah kenapa ia merasa canggung dengan  kekasihnya ini.

“Pulang bersama?” tawar lelaki itu. Dan Jessie hanya mengangguk. Ia membiarkan saja mobilnya terparkir di depan butiknya, sedangkan dirinya memilih ikut bersama dengan Henry. Bagaimanapun juga, ia ingin membahas tentang masalah mereka, meminta maaf tetang malam itu dan juga membahas tentang hilangnya lelaki itu dua hari terakhir tanpa kabar.

Jessie dibimbing memasuki mobil Henry. Setelah keduanya sudah berada di dalam mobil, kecanggungan kembali terasa.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi, kenapa kita bisa secanggung ini satu sama lain.” Jessie mulai membuka suara.

Henry tersenyum. “Aku tidak canggung, mungkin kau saja yang merasa seperti itu, Sayang.” Ucapnya dengan lembut sembari mengusap puncak kepala Jessie dengan sebelah tangannya.

Jessie merasa suasana sedikit mencair. Henry mulai menyalakan mesin mobilnya kemudian mengemudikannya. Jessie menyandarkan punggungnya dan bersikap sesantai mungkin. Ia tahu bahwa sejak tadi ia terlalu canggung. Mungkin karena tak tahu apa yang harus ia bahas dengan Henry.

“Jadi, apa yang kau lakukan dua hari terakhir?” tanya Jessie mulai membuka suara. Ia hanya ingin mendengar alasan Henry, kenapa lelaki itu tak sempat menghubunginya.

“Kau tahu, ada beberapa kecelakaan lalu lintas di Brooklyn Bridge. Dan aku sangat sibuk dengannya.”

“Benarkah? Bagaimana mungkin aku bisa tidak tahu?”

Well. Mungkin kau tidak menyalakan televisi di rumahmu.” Tentu saja, Jessie terlalu sibuk dengan perasaannya sendiri. ia terlalu kacau setelah memikirkan tentang hubungannya dengan Steve dan juga dengan Henry. Jadi tak akan ada waktu untuk Jessie menonton televisi.

“Separah itukah?”

“Tidak separah dalam film Fantastic Four, tapi cukup parah hingga membuat jembatan itu di tutup sepanjang sore.”

“Woww, apa yang terjadi?” suasana benar-benar mencair. Jessie menyukainya.

“Aku tidak begitu paham, tapi ada yang berkata jika ada sebuah truk pengangkut bahan bakar meledak di sana.” Henry menghela napas panjang. “Kau tahu, rumah sakit sangat sibuk sepanjang hari. Aku bahkan tidak pulang.”

“Oh, aku minta maaf. Seharusnya aku memikirkan tentang kemungkinan itu. Maksudku, aku mengira kalau kau…” Jessie ragu melanjutkan kalimatnya. “Maksudku, kau marah karena malam itu….”

“Jess.” Henry meraih telapak tangan Jessie seketika. Meraihnya kemudian mengecupnya singkat. “Aku mencintaimu, kita akan menikah. Aku tidak mungkin marah hanya karena kau belum siap melakukn hal itu.”

Jessie mendesah panjang. Mungkin jika ia belum tidur dengan Steve, ia akan merasa sangat senang, dan bahagia saat memiliki tunangan seperti Henry. Tapi kini, baginya, semuanya sudah berubah. Jessie merasa ada yang berbeda, dan ia merasa jika apa yang ia rasakan tak lagi sama dengan sebelum malam sialan yang ia habiskan bersama Steve.

Melihat Jessie yang tampak melamun, Henry bertanya “Ada masalah? Kau tampak berbeda.”

Jessie menatap ke arah Henry dan tersenyum lembut. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya meski sebenarnya dalam hatinya ia merasa jika hubungan mereka sedang dalam sebuah masalah.

***

Tubuh mereka meyatu dengan sempurna… Erangan Jessie membuat Steve tak dapat menahan diri. Ia ingin segera menyelesaikan permainan panas mereka, dirinya ingin segera meledak, tapi disisi lain, Steve harus memikirkan Jessie. Ini adalah saat pertama untuk Jessie dan Steve ingin temannya itu mengenang pengalaman pertamanya dengan indah.

Steve menundukkan kepalanya, jemarinya mengusap lembut puncak kepala Jessie, menyingkirkan helaian rambut wanita itu yang menutupi wajahnya. Jessie tampak sangat menakjubkan, wanita itu terlihat begitu cantik dari tempatnya melihat.

“Kau, sangat luar biasa.” Steve berbisik dengan suara seraknya. Steve masih belum bergerak sedikitpun. “Apa aku harus berhenti? Atau bergerak?”

“Persetan apa yang ingin kau lakukan, Steve!” Jessie berseru keras.

Steve bukannya tersinggung, tapi malah tersenyum. Kemarahan Jessie dan juga gairah yang mempengaruhi wanita itu membuat Steve tak kuasa menahan dirinya. Wajah Jessie memerah, pencampuran antara gairah dan juga amarah karena rasa sakit akibat pengalaman pertamanya.

“Kau tahu, Jess. Ini adalah pertama kalinya aku bercinta dengan perawan.”

“Jika kau tak segera menyelesaikan hal ini, maka aku akan mencakar kulitmu.”

Steve lagi-lagi tersenyum. “Oke, oke, Sayang.” Steve kemudian menundukkan kepalanya, lalu ia mencumbu bibir Jessie dan mulai menggerakkan tubuhnya.

“Ohh, Jess. Sialan! Kau ingin membunuhku? Hahh?” racau Steve.

Sedangkan Jessie, ia merasakan sebuah kenikmatan baru. Rasa sakit yang tadi sempat ia rasakan dan sempat membuatnya frustasi, kini berubah menjadi sebuah kenikmatan. Sedikit demi sedikit girahnya terbangun. Jessie bahkan ikut bergerak seirama dengan gerakan dari Steve. Apa ini yang dinamakan bercinta? Tayanya dalam hati.

Steve sendiri masih sibuk mengendalikan dirinya. Ia tahu bahwa ia hampir saja meledak jika dirinya tidak menahannya. Jessie benar-benar menakjubkan. Wanita itu membungkusnya dengan begitu rapat, mencengkeramnya begitu erat, hingga Steve merasa sangat frustasi dengan kenikmatan yang tercipta akibat dari gesekan tubuh mereka berdua.

 Masih dengan bergerak pelan, Steve mencumbu lagi dan lagi bibir Jessie. Demi Tuhan! Jessie harus segera sampai, karena Steve yakin jika dirinya tak bisa menahan lebih lama lagi untuk tidak meledakkan diri. Beruntung, karena cumbuan yang ia berikan pada Jessie membuat gairah wanita itu semakin meningkat.

Steve merasakan tubuh Jessie bereaksi dengan sendirinya. Tubuhnya semakin rapat membungkusnya, kaku, melengkukan punggungnya dan erangan wanita itu….

“Steve… Ohh.. Ohh… Astaga…”

Steve tahu, Jessie sudah sampai pada klimaksnya. Tak menunggu lama, Steve segera melajukan pergerakannya kemudian menyusul Jessie pada puncak kenikmatan.

“Yeahh.. yahh… Jess. Sial!”

Keduanya larut dalam badai gairah. Sibuk mengatur detak jantung masing-masih, sibuk dengan napas masing-masing hingga yang terdengar disana hanya desah napas tak beraturan dari keduanya.

Setelah merasa cukup, Steve menarik diri. Menggulingkan tubuhnya ke samping tubuh Jessie. Keduanya terbaring mentap ke arah langit-langit. Mungkin orgasme masih mempengaruhi mereka hingga tak ada sepatah katapun yang teruap dari keduanya.

Steve lalu menolehkan kepalanya ke arah Jessie, tampak Jessie memejamkan matanya seakan menikmati suasana disekitarnya. Mata Steve turun, tampak dada Jessie naik turun dengan napas yang masih tak beraturan. Kulit wanita itu tampak merona. Rambut cokelatnya jatuh tak beraturan, dan Steve juga masih melihat bahwa tubuh Jessie masih sedikit bergetar. Wanita itu masih menikmati orgasmenya, Steve tahu itu. Dan sialnya, ia kembali berereksi.

Brengsek!

Seharusnya ia tahu diri. Steve harus bisa menahan diri. Bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya untuk Jessie. Ia harus menghormati keperawanan wanita itu yang baru saja ia renggut.

Tapi memang dasarnya Steve yang tak dapat mengalihkan pandangannya dari Jessie, akhirnya ia pun tak dapat menahan dirinya. Steve bangkit, ia terduduk dan meminta Jessie untuk bangkit juga.

“Ada apa?” tanya Jessie bingung.

“Membersihkan diri, kau tak mau?”

“Bersama? Astaga, aku…”

“Ayolah, aku sudah melihat semuanya. Apalagi yang membuatmu malu?” Steve bertanya dengan nada menggoda. Yang bisa Jessie lakukan hanya mendengus sebal kemudian segera bangkit menuju ke arah kamar mandi Steve.

Steve tersenyum penuh arti, ia kemudian mengikuti Jessie masuk ke dalam kamar mandinya. Di dalam sana, ternyata Jessie sudah berdiri di bawah pancuran, wanita itu berdiri menghadap ke arah dinding dengan air yang mengucur membasahi tubuhnya.

Sial!

Steve yang melihatnya dari belakang hanya bisa ternganga. Tubuh Jessie sangat indah jika dilihat dari belakang. Lekukannya menggoda, dan permukaan kulitnya tampak halus dan kencang. Dengan spontan, kaki Steve berjalan mendekati Jessie. Lengannya terulur begitu saja melingkari perut Jessie. Steve memeluk tubuh Jessie dari belakang, menyandarkan dagunya pada pundak Jessie, hingga mau tak mau membuat Jessie menghentikan pergerakannya seketika.

“Kau sangat indah, Jess.” Steve berbisik dengan serak. Bahkan dengan berani, jemarinya sudah menggapai sebelah payudara Jessie. Jessie tak meronta, wanita itu bahkan tampak menahan kenikmatan, memejamkan matanya karena sentuhan Steve.

Jessie melemparkan kepalanya ke belakang, hingga Steve dengan leluasa bisa menikmati leher jenjang wanita tersebut.

“Ohh Steve…” dengan spontan Jessie mengerang, menyebutkan nama Steve dengan begitu merdu.

Steve kembali menikmati setiap inci dari kulit Jessie. Jemarinya sudah bergerilya dengan bebas, memberikan kenikmatan untuk wanita yang kini sedang berada dalam rengkuhannya. Jessie sendiri tampak pasrah, ia tak menyangka jika akan melakukan hal sepanas ini dengan Steve. Dan ia memilih untuk menikmatinya saja.

Steve menghentikan aksinya karena pangkal pahanya yang semakin membengkak. Akhirnya ia membalikkan tubuh Jessie, memenjarakan wanita itu diantara dinding dengan tubuhnya. Kemudian bersiap untuk memulai permainan panas kedua mereka.

“Kau tahu, seharusnya aku menghormati keperawananmu. Tapi karena kau menggodaku, maka aku akan melupakan rasa hormatku tersebut.”

“Aku tak menggodamu.”

“Tapi aku tergoda, Jess.” Steve menjawab dengan senyuman penuh arti. Ia mengangkat sebelah kaki Jessie lalu berkata “Aku akan memulainya lagi, dan akan kubawakan surga berkali-kali untuk kita berdua.” Kemudian Steve kembali menenggelamkan diri dalah balutan lembut tubuh Jessie.

Jessie mengerang, menikmati penyatuan panas tersebut. Sedangkan Steve, ia tak akan pernah melupakan rasanya, rasa lembut dan nikmat tubuh Jessie yang membungkusnya dengan begitu erat…. 

 

Mata Steve terbuka seketika. Bayangan malam panas saat bersama dengan Jessie kembali menghantui mimpi-mimpinya. Steve bangkit, kemudian memijit pelipisnya.

Sial! Ini sudah lebih dari Tiga minggu lamanya setelah ia mendatangi butik milik Jessie siang itu. Dan sejak saat itu, Steve belum lagi menemui Jessie. Ia tahu bahwa suasana akan memburuk setelah bertemu dengan wanita itu. Ketegangan masih sangat terasa, Steve bahkan tak bisa melupakan sedikitpun bagaimana panasnya diri Jessie malam itu, dan hal itu benar-benar mengganggunya.

Beberapa kali, Steve hampir berhadapan dengan Jessie, ketika keluar masuk gedung apartmen, tapi Steve memilih menjadi pengecut ketika ia memilih berbalik arah menghindari Jessie.

Sial!

Hingga usianya yang sudah menginjak Tiga puluh tahun, Steve tak pernah sekalipun berbalik arah hanya karena menghindari seorang wanita. Hanya Jessie yang mampu membuatnya seperti ini. Sialan perempuan itu. Belum lagi kenyataan bahwa ternyata, Jessie tampak baik-baik saja bahkan tetap melanjutkan hidup bersama dengan kekasih Gaynya itu. Hal itu benar-benar membuat Steve kesal.

Kenapa hanya ia yang mendapatkan efek sialan dari percintaan panas mereka malam itu? Kenapa Jessie tidak?

Dengan kesal Steve berdiri dan segera menuju ke arah kamar mandinya. Ia memilih mengguyur tubuhnya dengan air dingin hingga memadamkan gairah sialan yang terbangun karena memimpikan tentang malam panas bersama dengan Jessie.

Hari ini, jadwalnya cukup padat. Ada beberapa pemotretan yang berhubungan dengan rancangan Jessie. Yang membuat Steve tak khawatir adalah, bahwa Jessie pasti meminta Miranda untuk mengatur pemotretan tersebut hingga mereka tak perlu saling bertatap muka. Setidaknya itulah yang terjadi selama tiga minggu terakhir jika pekerjaan mereka saling bersinggungan. Itu pula yang membuat Steve tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika berhadapan dengan Jessie, karena Steve tahu bahwa Jessie ingin menghindarinya.

Setelah pemotretan, Steve memiliki sebuah kencan dengan Donna Simmon. Wanita berambut pirang yang dikenalkan oleh Hank dua hari setelah ia datang mengunjungi temannya itu.

Donna adalah perempuan cantik, berkelas, seksi, dan sangat memenuhi kriteria Steve. Tapi Steve akan berdiri pada pendiriannya bahwa ia tak akan mengajak Donna Simmon untuk naik ke atas ranjangnya. Ya, ia mencoba kencan yang sesungguhnya, bukan hanya seks. Ia ingin menjalin sebuah hubungan, sebuah komunikasi hingga Donna juga bisa dijadikan sebagai teman seperti Jessie, bukan sekedar kekasih di atas ranjangnya saja.

Oh, Sial! Kenapa juga ia kembali memikirkan Jessie?

Setelah puas membersihkan diri di dalam kamar mandinya, Steve menuju ke arah lemari pakaiannya. Ia hanya mengenakan T-shirt dipadukan dengan celana jeans belel. Sesekali ia bersiul dan memilih-milih pakaian apa yang cocok untuk ia kenakan nanti ketika berkencan dengan Donna, karena nanti ia akan mengganti pakaiannya di studio fotonya agar tak bolak-balik ke apartmennya.

Jika hubungannya dengan Jessie tidak renggang seperti sekarang, mungkin Steve akan meminta Jessie naik lima lantai ke apartmennya saat ini juga hanya untuk meminta pendapat wanita itu.

Berengsek! Kenapa lagi-lagi ia memikirkan Jessie?

Sembari mengusap rambutnya sendiri dengan kasar, Steve berjalan menuju ke arah dapurnya. Mungkin meminum kopi akan membuat pikirannya tenang dan melupakan tentang Jessie. Sial! Ia benar-benar harus melupakan tentang wanita itu, tentang gairahnya, tentang obsesinya terhadap tubuh wanita itu. Ia harus fokus pada pekerjaannya, pada kencannya hari ini dengan Donna Simmon. Ya, tak akan ada Jessie lagi.

***

Sialnya, resncana Steve untuk melupakan Jessie sepertinya akan gagal siang ini. masalahnya adalah, yang datang menata busana si model ternyata bukan Miranda, melainkan Jessie sendiri.

Sial!

Steve tak berhenti mengumpat dalam hati. Kecanggungan kembali terasa diantara mereka, mungkin Steve sendiri yang merasa canggung, atau Jessie yang seakan tak ingin berurusan dengannya kecuali tentang pekerjaan.

Dengan sesekali mengusap tengkuknya, Steve berjalan menuju ke arah Jessie yang kini masih sibuk membenarkan letak beberapa aksesoris di pakaian yang dikenakan si model.

“Hai.” Sedikit ragu Steve menyapa Jessie.

“Hai juga.” Jessie menjawab singkat. Tapi matanya belum teralih dari sesuatu yang ia kerjakan.

“Kupikir, Miranda yang akan datang.”

“Dia cuti hari ini. Jadi aku yang datang.” Jawabnya lagi masih enggan menolehkan kepalanya ke arah Steve.

“Kau, tak perlu datang dan bisa menunda pekerjaan ini jika kau tak ingin berada di sini.”

Akhirnya Jessie mengangkat wajahnya menatap jengkel ke arah Steve. “Aku adalah orang yang profesional. Aku tak akan mencampur adukkan masalah pribadi dan pekerjaan.”

“Oh ya? Baguslah. Aku hanya tidak ingin mendengar tentang vibrator lagi.”

Si model yang berada di antara mereka berdehem seketika. Sedangkan Jessie, ia melemparkan tatapan membunuh ke arah Steve, dan Steve, ia memilih pergi meninggalkan Jessie dengan senyum merekah di wajahnya.

Ketegangan masih ia rasakan, setidaknya, Steve merasa bahwa Jessie tak sesensitif saat di butik wanita itu dua minggu yang lalu. Dan Steve tak dapat menahan diri untuk tidak menggoda wanita itu. Bagaimanapun juga, dalam hati Steve yang paling dalam, ia menginginkan hubungannya dengan Jessie kembali seperti semula, berteman lagi seperti dulu, menggoda wanita itu lagi hingga membuatnya marah, meski sebenarnya, hal itu tak akan mungkin terjadi lagi.

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 4

Comments 3 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 4

 

Siang itu, Jessie menyibukkan diri di dalam butiknya. Hari itu akan ada seorang pelanggan yang memang dijadwalkan mencoba gaun pengantin rancangannya. Miranda, asisten peribadinya juga sibuk membantu Jessie, ketika tiba-tiba telepon di meja Jessie berdering.

“Kau tidak mengangkatnya?” tanya Miranda pada Jessie yang sibuk memberi tanda pada gaun yang sedang ia benarkan.

Jessie hanya menggelengkan kepalanya.

Sudah dua hari berlalu, dan Miranda tak pernah melihat Jessie seperti saat ini. atasannya itu tak berhenti bekerja jika tidak sedang waktunya makan siang atau pulang. Miranda tahu jika butik Jessie memang ramai pengunjung, tapi biasanya, Jessie hanya akan fokus pada rancangan-rancangannya, bukan menyibukkan diri dengan hal-hal yang bisa dikerjakan oleh bawahannya seperti saat ini.

“Kau ada masalah, Jess?” tanya Miranda secara terang-terangan.

Jessie memang meminta Miranda dan bawahannya yang lain untuk menganggapnya sebagai teman sendiri. Jadi jika ada yang aneh dengan Jessie, Miranda tak segan-segan menegurnya.

“Tidak, kenapa?” tanya Jessie yang baru mengangkat wajahnya sejak tadi.

“Sudah dua hari, dan kau tak berhenti murung. Apa yang terjadi?”

Jessie hanya mengangkat kedua bahunya. Ini memang sudah dua hari berlalu sejak malam panas yang ia lewati dengan Steve. Selama itu, Jessie belum pernah sekalipun melihat Steve. Lelaki itu tak menampakan batang hidungnya. Bahkan untuk meminta maaf pada Jessie tentang perkataannya pagi itu saja tidak.

Tentang Henry, lelaki itupun tampak hilang ditelan bumi. Jessie sudah tiga kali menghubunginya, tapi ponsel lelaki itu mati. Jadi Jessie memilih untuk tak menghubungi lelaki itu sebelum lelaki itu menghubunginya lagi.

“Teleponmu berbunyi sejak tadi, Jess. Kau benar-benar tak ingin mengangkatnya?”

Jessie menghela napas panjang. “Bisakah kau mengangkatnya untukku?” Jessie bertanya balik.

“Oke.” Miranda berjalan menuju ke arah telepon, kemudian ia mengangkatnya. “Summer Flower di sini.” Ucap Miranda menyebutkan nama butik milik Jessie.

“Miranda? bisakah aku berbicara dengan Jessie?”

“Oh, Mr. Morgan.” Jessie segera menatap ke arah Miranda ketika mendengar Miranda menyebut nama belakang Steve. “Rupanya Kau.” Ucap Miranda. Sedangkan Jessie segera menggelengkan kepalanya, memberi isyarat Miranda bahwa dirinya sedang tak ingin diganggu.

“Tapi maaf, Miss Summer sedang tak berada di tempat.”

“Kau yakin? Aku bahkan melihat mobilnya di depan tokonya.”

“Oh, kau di sini?” Miranda terkejut. Tentu saja. Begitupun dengan Jessie. Jessie bahkan segera mengalihkan pandangannya ke luar butiknya dan ia mendapati  mobil sport milik Steve terparkir tepat di sebelah mobilnya. Jessie menghela napas panjang. Rupanya ia memang tak bisa lari lagi.

“Jadi, apa aku boleh masuk?” tanya Steve kemudian.

Miranda menatap Jessie dengan penuh tanya, dan Jessie hanya menghela napas panjang menandakan jika mau tak mau ia mengizikan lelaki itu masuk.

“Oke, masuklah.” Setelah itu, telepon di tutup.

***

Di dalam mobil, setelah menutup teleponnya, Steve berkali-kali mengambil napas dalam-dalam untuk mempersiapkan dirinya. Ini adalah pertama kalinya ia menemui Jessie setelah pagi sialan saat itu.

Sebenarnya, Steve sudah sangat menahan diri. Setelah pagi itu, ia lantas ke rumah Hank, temannya. Steve tak bisa mengendalikan dirinya untuk tak bercerita kepada Hank. Bagaimanapun juga, malam itu merupakan malam yang luar biasa untuk Steve. Sepanjang pagi, Steve mencoba bersikap sesantai mungkin, padahal ia tahu, bahwa didalam dirinya ada suatu gejolak yang tumbuh ketika berdekatan dengan Jessie.

Steve tak bisa lagi melihat Jessie sebagai temannya setelah malam itu. Well, ia melihat Jessie sebagai wanita dewasa. Meski sebelum-sebelumnya Steve sering kali  melihat Jessie seperti itu, tapi setelah malam panas yang sudah mereka lalui bersama, Steve tak bisa lagi bersikap santai seolah-olah mereka tak pernah melakukan hubungan apapun.

Tanggapan Hank siang itu biasa-biasa saja, tapi setelah Steve menceritakan pertengkarannya dengan Jessie pagi itu, Hank tak berhenti mengumpatinya.

“Kau benar-benar bajingan, Steve! Bagaimana mungkin kau bersikap seperti itu dengan Jessie? Ingat, dia temanmu sejak kecil, bukan perempuan murahan yang kau bayar untuk memuaskan hasrat sialanmu.”

“Tapi aku kesal saat membayangkan dia berencana memiliki bayi dengan si Gay itu.”

“Kenapa? Kau cemburu? Kau kesal karena dia memarahimu saat tahu bahwa kau tidak menggunakan kondom sedangkan dia berencana memiliki bayi dengan kekasihnya? Kau benar-benar kekanakan.”

“Cukup, Hank! Aku kesini bukan untuk mendengarkan omong kosong sialanmu.”

“Well, kau boleh pergi.” Ucap Hank kemudian hingga membuat Steve mendesah panjang.

“Aku hanya bingung dengan apa yang kurasakan, Hank! Bagaimana mungkin Jessie bisa begitu mempengaruhiku?”

“Karena kau menyukainya.”

“Kami hanya berteman!”

“Sejauh yang kulihat, pertemanan kalian tidak masuk akal. Kau selalu mengganggu hubungannya, Steve. Ingat.”

“Aku tidak pernah mengganggu hubungannya dengan pria manapun.”

“Mungkin kau tidak menyadarinya, tapi kau benar-benar seorang pengganggu, Steve. Aku tidak akan terima jika kekasihku memiliki hubungan platonik dengan seorang pria, apalagi pria itu sepertimu.” Pernyataan Hank membuat Steve semakin kesal. “Dan aku tahu, hal itulah yang membuat laki-laki yang ingin dekat dengan Jessie mundur teratur saat tahu bahwa Jessie memiliki hubungan yang tak normal denganmu.”

Pernyataan Hank kembali berputar-putar dalam kepala Steve hingga membuat Steve mendengus sebal. Apa iya, kalau selama ini ia sepefrti seorang pengganggu dalam hubungan percintaan Jessie? Dan astaga, ia tidak menyukai Jessie, mereka hanya berteman. Hank hanya pandai menebak, dan tebakan Hank bukanlah hal yang benar.

Dengan sedikit kesal, Steve keluar dari dalam mobilnya. Dengan pasti ia melangkahkan kakinya memasuki butik milik Jessie. Wanita itu benar-benar sedang menghindarinya, Steve tahu itu. Tapi Steve tak akan tinggal diam. Kedatangannya kemari untuk meminta maaf dengan Jessie tantang keberengsekannya pagi itu.

Masuk ke dalam, Steve di sambut dengan beberapa pegawai Jessie yang memang sudah cukup mengenalnya. Selain karena Jessie adalah temannya yang membuat Steve sering kali ke butik wanita itu, pekerjaan mereka juga sering bersinggungan. Steve sebagai fotografer, dan Jessie terkadang menjadi penata busana Sang model. Itulah yang membuat mereka hampir sering bersama hampir setiap saat.

Steve segera memasuki ruangan Jessie, dan di sana, ia mendapati Jessie yang sedang sibuk dengan sebuah gaun pernikahan. Terdapat juga Miranda, salah seorang pegawai Jessie yang kini sudah melemparkan sebuah senyuman kepadanya.

“Jadi, kau berbohong padaku, Miranda?” tanya Steve dengan nada menggoda.

Pipi Miranda merona seketika. Bukan karena tergoda, tapi karena malu saat ia sudah ketahuan berbohong, meski sebenarnya Jessie lah yang memintanya untuk berbohong.

“Aku minta maaf, Mr. Morgan.” Ucap Miranda dengan sopan tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya.

Kaki Steve melangkah mendekat. “Aku akan memaafkanmu, asal kau mengatakan, apa yang membuatmu berani membohongiku?”

Miranda tentu tak bisa menjawabnya. Ia tak mungkin menjawab bahwa Jessie yang memintanya. Tapi Miranda bersyukur karena pada detik itu, Jessie memintanya secara halus untuk keluar dari dalam ruangan wanita itu.

“Bisakah kau mencarikan tundun kepala yang cocok dipadukan dengan gaun ini?” tanya Jessie pada Miranda. Berharap jika Miranda mengerti dan keluar dari ruangannya.

“Oh, baiklah. Hanya itu saja?”

“Kupikir, sepatunya juga. Si pemilik akan datang jam Tiga sore, aku ingin semua siap saat itu.”

“Oke.” Miranda akhirnya memilih segera pergi, tak lupa ia meninggalkan senyuman lembutnya pada Steve.

Setelah itu, ruangan Jessie sunyi. Steve ingin membuka suaranya, tapi sialan! Kecanggungan tiba-tiba saja menelannya. Jessie sama sekali tak menghiraukan kehadirannya dan itu benar-benar membuat Steve kesal.

“Aku, tidak mengganggu, bukan?” tanya Steve mencoba memulai percakapan.

“Kau tahu, ini masih jam kerja.”

“Kau tidak bekerja di kantor, jadi kau tak perlu sedisiplin itu.”

Jessie mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Steve. Lelaki itu benar-benar berbeda, entah ini cara memandang Jessie saja yang kini berbeda setelah malam sialan itu, atau memang karena Jessie baru menyadari bahwa Steve saat ini sangat mempesona.

“Si pemilik gaun akan dartang jam Tiga, aku hanya memiliki Empat Jam untuk menyelesaikan semuanya. Kau pikir aku bisa santai-santai seperti yang kau lakukan sekarang?”

Pernyataan Jessie sangat keras. Jika sebelulnya Steve tak akan ambil pusing, berbeda dengan saat ini. Masalahnya, hubungan mereka sedang berada dalam kondisi yang tidak baik.

“Baiklah, aku minta maaf jika aku mengganggumu. Tapi aku harus bertemu denganmu dan membicarakan semuanya.”

Jessie kembali menatap gaunnya dan memasang kembali beberapa pernak-pernik di sana. “Jika yang ingin kau bahas adalah tentang pagi sialan itu, maka kau tak perlu membahasnya, aku sudah melupakannya.”

“Tidak, Jess. Bagaimanapun juga, aku sudah bersikap berengsek padamu.”

Jessie tak menjawab. Ia tahu bahwa Steve memang berengsek. Tapi seberengsek apapun lelaki itu, Jessie tak akan bisa membencinya.

“Dan aku ingin meminta maaf padamu.” Lanjut Steve hingga membuat Jessie mengangkat wajahnya.

Jessie bersedekap dan bertanya “Untuk apa? Karena kau sudah ‘membaptisku’ malam itu? Atau karena kau tidak menggunakan kondom?” Jessie bahkan ikut menggunakan istilah itu untuk menyebutkan kejadian panas yang sudah mereka lakukan malam itu.

“Untuk semuanya.” Ucap Steve dengan penuh sesal.

“Kau bukan satu-satunya yang salah, Steve. Ingat, aku menggodamu.”

“Tapi aku yang meluncurkan ide gila itu.”

“Dan aku yang menyetujuinya.”

“Tapi aku tak mengingatkanmu kembali tentang resikonya.”

“Aku yang datang padamu, Steve! Astaga, apa bisa kita lupakan saja malam itu?!” Jessie berteriak frustasi. “Aku tidak suka melihat penyesalan dan rasa bersalahmu.”

Steve berjalan satu langkah ke arah Jessie. “Aku tidak pernah menyesal.” Ucapnya penuh penekanan.

Jessie menatap tepat pada mata Steve, dan lelaki itu benar. Tak ada penyesalan di sana. Steve tak menyesal karena sudah tidur dengannya.

“Satu-satunya hal yang membuatku tak nyaman adalah, karena aku tidak bisa lagi melihatmu sebagai teman perempuanku.”

“Oh begitu? Jadi kau ingin kita memutuskan pertemanan kita?”

“Aku tidak berkata seperti itu, Jess.” Lagi, Steve berkata dengan penuh penekanan. “Kau tentu tahu apa maksudku.”

“Tidak, aku tidak tahu.” Jessie mencoba menghindar. Entah kenapa ia merasa sesak ketika dekat dengan Steve.

“Kau ingin tahu apa maksudku.” Steve mendekat.

“Tidak, aku tidak ingin tahu.” Jessie mencoba menjauh lagi dan memfokuskan pandangannya pada gaun di hadapannya.

“Aku melihatmu sebagai seorang wanita yang menggairahkan. Bahkan sekarang aku berereksi karena dekat denganmu.”

Jessie menatap Steve seketika dengan rona merah di pipinya. “Kau benar-benar bajingan, Steve! Keluar dari ruanganku!” Jessie berseru keras.

“Akui saja, Jess. Bahwa pandanganmu terhadapku saat ini juga sudah berubah. Kau tidak dapat melupakan malam itu, dan kau melihatku sebagai lelaki panas yang menggairahkan.”

Jessie mendorong keras dada Steve. “Berengsek kau Steve! Keluar dari ruanganku!” Jessie mendorong lagi dan lagi hingga akhirnya mereka sampai di pintu ruangan Jessie.

Sungguh, Jessie sangat marah, ia kesal saat tahu bahwa pandangannya terhadap Steve sudah berubah, dari seorang teman menjadi seorang lelaki yang menggairahkan seperti yang dikatakan lelaki itu. Dan Jessie lebih kesal lagi saat tahu bahwa Steve saat ini juga memandang Jessie seperti wanita-wanita teman kencan lelaki itu, bukan sebagai temannya. Jessie tak suka saat secara tak langsung Steve menatapnya seperti itu.

“Akui saja, Jess. Semakin kau marah, semakin kau menunjukkan bahwa kau menginginkanku.” Steve berkata dengan wajah tengilnya. Dan Jessie benar-benar sangat marah.

Setelah mendorong lelaki itu hingga keluar dari ruangannya, Jessie berkata. “Kau tahu, aku hanya melihatmu sebagai vibrator berjalan. Apa kau puas?”

Steve sempat terkejut dengan ucapan Jessie. Tapi dia mencoba mengendalikan dirinya dan bertanya sesantai mungkin. “Kalau begitu, bolehkan aku melihatmu sebagai vagina berjalan?”

“Bajingan kau Steve!” lagi-lagi Jessie mendorong tubuh temannya itu agar menjauh, setelah itu Jessie membanting pintu ruang kerjanya hingga berdentum. Steve hanya menatapnya dengan tatapan kesalnya. Ia mengusap wajahnya dengan frustasi.

Bukan ini yang ia inginkan saat menemui Jessie, bukan seperti ini akhirnya. Ia ingin semuanya kembali membaik. Tapi sialan! Steve tak dapat mengendalikan diri ketika ia merasakan perasan yang tak biasa saat di dekat Jessie. Ia tidak suka saat Jessie mengacuhkannya, ia tidak suka saat Jessie mencoba menghindarinya, dan ia sangat tidak suka dengan ketegangan seksual yang tiba-tiba muncul ketika dirinya berada di dekat Jessie.

Sial! Apa yang sudah terjadi?

Akhirnya, Steve memilih segera pergi dari sana. Mengabaikan tatapan para pegawai Jessie yang ada di sana. Steve tahu, pasti mereka menyaksikan pertengkaran kekanakannya dengan Jessie, dan pasti mereka mendengar perkataan-perkataan tak masuk akal yang sudah ia dan Jessie lontarkan tentang vibrator maupun vagina. Steve tak peduli, ia mencoba tidak mempedulikannya.

***

“Kau gila, Steve? Kau benar-benar menyebutnya sebagai vagina berjalan?” Hank benar-benar tak percaya. Saat ini, ia sedang menemani Steve minum di salah satu kelab malam. Dan temannya itu minum seperti orang gila.

“Dia menyebutku vibrator berjalan, ingat. Aku sudah merendahkan harga diriku untuk meminta maaf padanya. Tapi dia bersikap ketus padaku.”

“Bukan berarti kau juga harus bersikap seperti itu padanya. Ingat, kau yang salah. Kau yang mengajaknya naik ke atas ranjangmu.”

“Tapi dia menggodaku, dia tidak menolak.”

“Apapun itu, kau salah, Steve. Tak seharusnya kau memperkeruh keadaan.”

“Jadi, apa maumu, Hank? Kau ingin aku bertekuk lutut padanya dan mengakui bahwa aku hanya sebuah vibrator berjalan.”

“Kau tak perlu mendramatisir keadaan, Steve. Kau hanya perlu relax. Kendalikan dirimu, Bung. Masalahmu tak akan selesai jika kau marah-marah seperti ini apalagi padanya.”

“Bagaimana bisa aku mengendalikan diri jika setiap dekat dengannya aku seakan tertarik pada sebuah magnet gairah? Dan jangan lupakan ereksi sialanku yang selalu kambuh saat berdekatan dengannya!” tanya Steve dengan kesal. “Sialan! Sebelum malam itu, aku hanya melihat Jessie sebagai wanita cantik dan spesial. Hanya itu. Tapi sekarang, semua fantasi erotisku ada pada dirinya.”

Hank malah tertawa lebar. “Kau benar-benar kacau, Steve.”

“Ya. Sangat. Dan semua ini karena seorang wanita.” Steve menenggak minumannya hingga tandas. “Kau harus membantuku, Hank. Kau harus membantuku.”

“Dengan apa? Aku bahkan tak tahu apa yang harus kau lakukan untuk menghadapi Jessie.”

Steve menatap Hank dengan tajam “Carikan aku perempuan.”

“Jangan mulai, Steve. Kau tidak sedang dalam mode On untuk seks, kan?”

“Berengsek! Aku ingin perempuan baik-baik. Aku ingin berkencan yang sesungguhnya hingga aku bisa melupakan pertemanan sialanku yang kacau balau dengan Jessie. Aku ingin berkencan, bukan hanya seks!” Steve berkata sungguh-sungguh.

Well, Hank merasa terkejut. Sejauh ia mengenal Steve, temannya itu tak pernah meminta untuk kencan dengan wanita baik-baik. Temannya itu hanya memikirkan selangkangannya saja, tapi sekarang, Hank tak mengerti kenapa Steve ingin berkencan dengan seseorang dalam artian yang sebenarnya? Apa Steve seputus asa itu dengan hubungannya bersama dengan Jessie?

-TBC-