Beautiful Escape – Prolog

Comments 2 Standard

Beautiful Escape

 

Karena banyak yang reques, dan aku ada sedikit ide, maka aku buatkan ceritanya Davit (Kembaran Dirga) sama Sherly, istrinya yaa.. ini adalah kisah mereka dari sebelum menikah, semoga suka…

 

Beautiful Escape

 

*Davit Prasetya

*Sherly Amanda

 

 

Prolog

 

 

Davit menatap dua orang perempuan yang baru saja masuk ke dalam kelas bela diri yang sudah mulai sejak setengah jam yang lalu. Alisnya terangkat begitu saja ketika salah satu perempuan yang baru datang tersebut menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat.

Ada apa? Kenapa perempuan itu tampak menatapnya dengan penuh kebencian?

Davit akhirnya berjalan menuju ke arah dua perempuan yang baru datang tersebut, tapi ketika dirinya semakin dekat, perempuan yang menatapnya dengan tatapan tak bersahabat itu malah membalikkan badannya dan bersiap pergi dari hadapannya.

“Hei, tunggu, ada apa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Davit bertanya dengan spontan. Jemarinya bahkan sudah meraih pergelangan tangan perempuan tersebut.

Perempuan itu menolehkan kepalanya ke arah Davit, tatapan matanya menajam seketika, dan Davit tahu jika tatapan tajam itu untuknya.

“Maaf.” Ucap Davit sembari melepaskan cengkeraman tangannya pada peregelangan tangan perempuan tersebut. Perempuan itu lalu melanjutkan langkahnya, berjalan pergi, keluar dari ruangan tempat Davit mengajar kelas bela diri karate.

Davit hanya ternganga melihat kepergian perempuan itu, perempuan cantik dengan tatapan kebenciannya. Ahhh, kenapa ia jadi penasaran karenanya?

***

Sherly terus saja berjalan pergi, melangkah meninggalkan tempat latihan karate yang seharusnya menjadi ia masuki karena ia sudah mendaftar untuk menjadi salah satu murid kelas tersebut mulai hari ini.

Ya, sebenarnya Sherly bukanlah gadis tomboy, seperti temannya, Nina yang mengajaknya ke kelas tersebut. Ia mendaftar kelas tersebut karena ingin mengisi kekosongan hari-harinya. Ia ingin meninggalkan kebiasaan buruk yang sudah dua minggu terakhir menjangkiti dirinya. Kebiasaan buruk melamun dan menangis tidak jelas hanya karena patah hati terhadap lelaki berengsek bernama Dirga Prasetya.

Astaga, bahkan Sherly tidak mengerti, apa yang membuatnya patah hati begitu dalam dengan sosok tersebut. Dirga tak lebih dari laki-laki berengsek yang menganggap kesucian wanita hanya sebagai sebuah mainan. Lelaki itu menduakannya, lalu memutuskannya begitu saja ketika ia menolak untuk di ajak bercinta.

Sangat berengsek, bukan?

Dan tadi, lelaki itu datang menghampirinya seperti seorang tolol yang tidak mengenalinya. Oh, andai saja Sherly memiliki kekuatan super, mungkin ia sudah menendang keras-keras selangkangan lelaki tersebut.

“Sher, mau kemana? Kamu kenapa? Astaga, sampek di hampirin ama pelatih.” Nina menghentikan langkahnya.

Sherly mengerutkan keningnya “Pelatih?” tanyanya sedikit bingung. Ya, setahunya Dirga adalah orang yang suka berkelahi, tapi ia tidak tahu jika lelaki itu menjadi pelatih di kelas bela diri. Dan astaga, Sherly baru sadar, bahwa selama pacaran dengan lelaki tersebut, ia sama sekali tidak mengetahui apapun tentangnya.

“Ya, Kak Davit itu pelatih kita.”

Sherly menatap Nina seketika. “Apa kamu bilang? Davit?”

“Iya, emangnya kenapa?”

Sherly termenung sebentar, lalu memukul kepalanya sendiri seperti orang bodoh. Astaga kenapa ia bisa lupa? Bisa jadi lelaki yang menghampirinya tadi itu adalah kembaran Dirga. Meski Dirga tak banyak bercerita tentang dirinya semasa pacaran dengan Sherly, tapi Sherly sedikit mendengar kabar di kampus mereka, jika Dirga memiliki saudara kembar yang juga kuliah di kampus yang sama hanya saja berbeda fakultas.

“Kamu yakin, nama dia Davit?”

Nina mendengus sebal. “Aku sudah dilatih sama dia sejaak enam bulan yang lalu, kamu pikir selama ini aku salah menyebut namanya?”

“Uuum, dia, dia mirip sama Dirga.”

“Apa? Kamu jangan bercanda ahh.”

Ya, Nina memang belum pernah melihat Dirga, karena mereka berdua bersahabat saat masih SMA ketika keduanya sama-sama tinggal di Bandung, sedangkan ketika di bangku perguruan tinggi, mereka berbeda kampus. Sering kali Sherly bercerita pada Nina tentang Dirga hingga membuat Nina ikutan naik darah, hanya saja, sampai saat ini, Nina belum pernah sekalipun melihat tampang Dirga.

“Iya, kupikir, kupikir… mereka saudara kembar.”

Nina ternganga dengan apa yang baru saja diucapkan Sherly. Begitupun dengan Sherly yang juga masih sibuk mencerna apa yang sedang terjadi.

Davit? Kembaran Dirga? Lalu apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Haruskah ia tetap melaksanakan niatnya untuk menjalani kelas bela diri dengan Davit sebagai pelatihnya? Bisakah ia melihat lelaki itu tanpa mengingat sosok Dirga yang sudah menyakiti hatinya?

 

-TBC-

Davit pas latihan.

 

 

 

 

 

Advertisements

Bintangku (Side Story of Robby) – Part 3(End)

Comments 15 Standard

romantic-boyfriend-girlfriend-whatsapp-dp-profile-pic-2Bintangku (Robby Story)

Haii haii.. maap ngaret yaa.. hahahha tadi malam aku asih gonta ganti tampilan blog biar yg baca blog ini nggak bosen, ehh akhirnya aku ketiduran.. buahaahhaha jadi baru sempat Up siang ini deh… happy reading aja dehh kalo gitu… di bawah link untuk part 1 dan part 2 nya yaa…

Bintangku (Side Story of Robby) – Part 1

Bintangku (Side Story of Robby) – Part 2

“Katakan Bintang, kenapa kamu membohongiku?”

“Maaf.” Hanya itu jawabanku dengan suara yang sedikit ercekat di tenggorokan.

“Aku tidak akan mengampunimu Bintang. Aku tidak akan mengampunimu.” Dan setelah itu kurasakan sesuatu yang basah menyambar bibirku, melumatnya dengan panas dan juga kasar. Mas Robby menciumku secara membabi buta. Dan aku dapat merasakannya, rasa frustasi bercampur aduk dengan rasa rindu dalam ciumannya. Dan yang dapat ku lakukan hanyalah membalas apa yang sudah dia lakukan terhadapku saat ini.

***

Part III

-Bintang-

 

Lumatan itu semakin melembut. Mengirimkan gelenyar aneh yang merayapi sekujur tubuhku. Ciuman ini semakin intens, membuatku sesekali mendesah saat menikmatinya.

Mas Robby melepaskan cekalan tangannya pada tanganku, kini kedua telapak tangannya menangkup kedua pipiku, sedangkan bibirnya masih tak berhenti mencumbuku. Oh, aku benar-benar merindukan dia, merindukan ciumannya, sentuhannya, dan kasih sayangnya, bolehkah aku berharap supaya dia kembali padaku?

Tiba-tiba bayangan seorang anak laki-laki kecil dengan seorang wanita menghampiri pikiranku. Bagaimana mungkin aku kini berciuman dengan sorang laki-laki yang mungkin saja saat ini sudah beristri? Meski dia dulu belum menceraikanku, tapi ku pikir kami sudah berpisah setelah lebih dari Lima tahun tak bertemu. Apalagi kenyataan jika Mas Robby memiliki seorang putera, pasti kini dirinya sudah memiliki seorang istri.

Sekuat tenaga kudorong dada Mas Robby menjauh dari tubuhku, melepaskan pangutannya pada bibirku dengan napas yang sudah terengah.

“Kita tidak bisa melakukan ini.” Ucapku dengan suara yang sudah bergetar. Kumohon, jangan menangis sekarang Bintang. Lirihku dalam hati.

“Kenapa? Kamu masih menyangkal masalalu kita?” tanyanya dengan kening yang berkerut seperti sedang menahan suatu kesakitan.

Aku melihat mas Robby memijit pelipisnya sendiri. Apa dia sedang sakit?

“Dengar Bintang, walau aku belum dapat mengingat dengan jelas bagaimana hubungan kita, tapi aku cukup tahu, kalau… kalau…” Mas Robby tak dapat melanjutkan kalimatnya karena tubuhnya lebih dulu ambruk ke lantai. Dia pingsan, dan aku berteriak panik.

***

Aku menatap lelaki yang kini terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Astaga, hal ini terulang lagi. Masih teringat jelas di dalam otakku ketika menatap mas Robby yang terbaring tak berdaya lima tahun yang lalu. Saat itu aku di paksa untuk meninggalkan dia. Dan aku benar-benar pergi meninggalkannya.

Kini, setelah aku membangun hidup beru dengan Bulan, kenapa dia kembali bertemu denganku? Apa takdir belum puas mempermainkanku?

Aku menjauh darinya. Pergi ke Jakarta dan hidup di lingkungan kumuh. Tapi aku tidak pernah menyangka jika lagi-lagi aku akan bertemu dengannya.

Aku mengusap air mataku yang tidak berhenti menetes. Lima tahun berlalu dan hatiku tetap sama, aku tidak bisa berpaling pada laki-laki lain, dan jujur saja, aku tidak dapat membayangkan jika Mas Robby memiliki wanita lain.

Tuhan, aku harus bagaimana? Aku harus seperti apa? Aku tidak bisa membiarkan dia berada di dekatku saat aku tahu jika semua itu akan menyakiti hati wanita lain. Dengan tekad bulat aku berdiri dan bersiap meninggalkannya. Tapi ketika kakiku akan melangkah pergi, pergelangan tanganku di cekal oleh Mas Robby.

“Jangan pergi.” Lirihnya.

Aku menatap ke arah Mas Robby seketika. Matanya sudah terbuka, dan tampak berkaca-kaca.

“Aku sudah mengingatmu, jangan pergi.” Ucapnya lagi dengan suara nyaris tak terdengar. Dan dengan spontan aku menghambur ke arahnya untuk memeluknya erat-erat.

“Aku merindukanmu Bintang. Aku merindukanmu.”

Aku menangis sesenggukan saat mendengar ucapannya.

“Kenapa kamu tidak mencariku? Kenapa kamu meninggalkanku? Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.” Lanjutnya yang kini ku yakini jika mas Robby sudah ikut menangis denganku.

***

-Robby-

 

Ini sudah tiga hari aku di rawat di rumah sakit. Semua ingatkanku tentang Bintang sudah kembali pulih. Bintang istriku, dan aku berniat untuk menikahinya lagi nanti ketika aku sudahg sembuh. Selama tiga hari terakhir, Bintanglah yang merawatku di rumah sakit.

Ibuku bahkan tidak tahu jika aku sakit dan ingatanku sudah kembali pulih. Aku hanya menghubungi Ibu di malam pertama aku di rawat di rumah sakit, memberikan alasan jika aku harus keluar kota selama seminggu lamanya. Ya, dengan begitu Ibu tidak akan curiga saat aku sudah kembali bersama dengan Bintang.

Hubunganku sendiri dengan Bintang sudah kembali membaik. Bintang tak lagi menyangkal masa lalu kami. Dia bahkan membantu merawatku selama tiga hari terakhir. Sedangkan Bulan, ia titipkan sementara di rumah tantenya.

Aku melihat pintu ruang inapku di buka seseorang. Itu pasti Bintang. Saat sore seperti saat ini, dia memang datang, dan menemaniku hingga pagi. Bintang masuk, dia terlihat sedang membawakan sesuatu untukku.

“Sudah baikan Mas?” tanyanya sambil meletakkan rantang mungil di mejat tepat sebelah ranjang yang sedang ku baringi. Kepalanya tak berhenti menunduk, dan aku tahu jika dia masih bersikap canggung terhadapku.

“Belum.” Jawabku dengan suara parau.

“Kata dokter kamu sudah boleh pulang hari ini.”

“Tapi aku tidak ingin pulang.”

“Kenapa?”

“Di rumah tidak ada yang merawatku seperti kamu merawatku. Aku ingin kamu selalu perhatian seperti sekarang ini, meski aku harus sakit dulu.”

“Kamu nggak boleh ngomong gitu Mas, istri dan anak kamu pasti bingung nyariin kamu.”

“Kamu istriku, Bulan anakku.” Jawabku cepat.

“Mas, jangan begini. Oke, aku sudah mengakui jika kita memiliki masa lalu, tapi kumohon, jangan membawa masalalu untuk menghadapi masa yang akan datang. Aku sudah bahagia dengan Bulan, dan aku yakin kamu juga sudah bahagia dengan istri dan puteramu.”

“Bintang.”

“Mas, ini terakhir kalinya aku ke rumah sakit menjengukmu. Aku tidak mau merasa bersalah karena sudah menyakiti hati wanita lain.”

“Wanita lain?” Aku bangun seketika. “Bintang, kamu salah paham. Aku tidak memiliki wanita lain.”

“Jangan bohong Mas, lalu bagaimana bisa ada Ivander kalau kamu tidak memiliki istri?”

“Astaga, jadi aku belum bercerita denganmu? Ivander adalah anak yang ku adopsi dari salah satu panti asuhan di Bandung. Usianya bahkan lima bulan lebih tua daripada Bulan. Kalau dia anakku sendiri, itu tandanya aku sudah menghianatimu ketika kita masih bersama dulu, Bintang.”

Aku melihat raut terkejut yang di tampilkan Bintang. Jadi selama ini dia salah paham terhadapku? Dia menyangka jika aku sudah menikah dan bahagia dengan wanita lain? Yang benar saja. Meski aku hilang ingatan, tapi hatiku seakan tidak kehilangan memorinya. Hatiku selalu menolak jika aku dekat dengan wanita lain, dan kini aku baru sadar jika semua itu karena hatiku sudah menyisihkan tempat abadi untuk seorang Bintang, meski ketika otakku tak dapat mengingatnya.

Secepat kilat kuraih pergelangan tangan Bintang kemudian menariknya hingga kini Bintang duduk di atas ranjang rumah sakit dengan posisi membelakangiku. Aku memeluk tubuh Bintang seketika lalu menyandarkan daguku pada pundaknya.

“Mas.”

“Kenapa kamu ninggalin aku? Kenapa kamu pergi dariku?”

“Uum, aku..”

“Apa ibu yang menyuruhnya?” tanyaku penuh selidik.

“Mas, bukan begitu. Saat itu aku perlu dana untuk operasi kamu. Dan aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa selain pada keluarga kamu.”

“Jadi kamu benar-benar datang kerumah ibu dan meminta pertolongan padanya?”

Bintang hanya menganggukkan kepalanya.

“Apa Ibu memaksamu pergi?”

Bintang menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak, tapi aku cukup tahu diri karena aku merasa bersalah sudah membuat hidupmu sesah saat bersamaku, Mas. Aku nggak mau melihat kamu menderita.”

“Tapi tidak dengan meninggalkanku Bintang. Aku memang hilang ingatan, tapi hatiku selalu merasakan perasaan sesak tak nyaman, seperti ada sesuatu yang nggak seharusnya aku lupakan.”

“Maafkan aku.” Hanya itu yang di ucapkan Bintang.

Aku menghela napas panjang. “Oke, aku akan memaafkanmu, asalkan kamu mau menikah kembali denganku.”

Bintang membulatkan matanya seketika. “Mas. Aku nggak bisa.”

“Kenapa?”

“Ibu tidak akan merestui kita.”

“Aku tidak peduli. Aku tetap akan menikahimu kembali.” Tegasku tak terbantahkan.

***

Aku akhirnya pulang, dengan Bintang dan Bulan bersamaku. Bintang terlihat gugup, dan tampak sekri raut ketakutan di wajahnya. Hanya saja aku selalu menggenggam tangannya, menenangkannya suapaya dia tidak gugup.

Sampai di rumah Ibu, aku lantas masuk masih dengan menggenggam telapak tangan Bintang. Sedangkan Bulan sudah tertidur dalam gendonganku.

“Robby, akhirnya kamu..” kalimat ibu menggantung ketika melihatku yang sudah berdiri dengan Bintang di sebelahku.

“Kenapa.. Kenapa..” Suara ibu terpatah-patah.

“Harusnya aku yang tanya Bu, kenapa ibu tega memisahkan kami?” tanyaku dengan suara yang kubuat setenang mungkin, padahal kini emosiku sudah memuncak di kepala.

“Robby, Ibu nggak memisahkan.”

“Oh ya? Tapi kupikir dengan tidaak menceritakan tentang Bintang saat aku hilang ingatan, itu sama saja memisahkanku dengan Bintang Bu, lihat, aku sudah memiliki seorang puteri yang berusia lebih dari lima tahun, dan aku baru mengetahui kenyataan itu kemarin? Ibu pikir bagaimana perasaanku?”

“Robby, Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kamu.”

“Dan yang terbaik untukku hanya bersama dengan Bintang, Bu. Tolong Ibu mengerti.” Aku semakin mengeratkan genggaman tanganku pada Bintang. Sedangkan dari sudut mataku, kulihat Bintang semakin menundukkan kepalanya.

“Bu, hanya dia yang mampu membuatku melupakan Allea, hanya dia yang mampu membuatku jatuh cinta lagi. Jadi kumohon, jangan memaksaku untuk meninggalkan dia.”

“Robby.”

“Aku akan kembali menikah dengannya. Dan keluar dari rumah ini dengan Ivander.”

“Mas.” Ucap Bintang. “Kamu nggak perlu lakuin itu.”

“Kenapa? Aku hanya ingin hidup bersama dengan orang yang kucintai, bersama istri dan anak-anakku.”

“Tapi kamu nggak bisa kembali menentang ibu, lalu berakhir mengerikan seperti lima tahun yang lalu. Aku nggak sanggup melihat kamu hidup susah Mas.”

“Kamu pikir aku sanggup melihatmu dan Bulan hidup susah seperti sekarang ini? Kamu pikir aku dapat memaafkan diriku sendiri saat tahu jika aku sudah melupakan kalian selama lima tahun terakhir?”

Bintang hanya diam, Dia menundukkan kepalanya menyadari jika perkataanku memang benar.

“Aku akan tetap pergi dari rumah ini jika Ibu masih tak dapat menerima hubungan kita.” Tegasku sekali lagi, lalu menyeret paksa Bintang masuk menuju ke kamarku.

***

Lima bulan berlalu…

Aku akhirnya bisa hidup bersama lagi dengan Bintang, Bulan, dan juga Ivander. Malam itu ketika aku pulang kerumah membawa Bintang dan Bulan, aku langsung pergi begitu saja meninggalkan rumah dengan membawa Ivander bersamaku.

Tiga hari setelahnya, aku kembali melakukan pernikahan dengan Bintang. Dan pernikahanku itu lagi-lagi tanpa restu orang tuaku.

Aku tidak mengetahui lagi bagaimana kabar Ibu. Mengingatnya membuatku sedih. Aku tidak bisa bersikap kasar pada Ibu, dan sebenarnya aku juga tak bisa meninggalkannya, tapi bagaimana lagi, aku juga tak dapat meninggalkan Bintang dan Bulan. Mereka terlalu berharga untukku. Dan mereka membutuhkanku. Akhirnya kini, kami hidup bersama sebagai keluarga kecil di dalam rumah kontrakannya.

Tentang pekerjaan, aku tetap bekerja di kantor Renno. Tentu saja aku membutuhkan pekerjaan yang bagus, mengingat kini aku memiliki dua orang anak yang harus di cukupi kebutuhannya. Beruntung Renno masih menerimaku dengan senang hati.

Berkali-kali Renno menasehatiku, menyuruhku untuk pulang. Tapi aku tak pernah mengindahkan sedikitpun nasehatnya. Yang ku ingin hanya satu, Ibu merestui hubunganku dan juga Bintang, sesederhana itu, maka aku akan kembali pulang. Tapi jika Ibu masih bersikukuh pada keinginannya, maka sampai kapanpun aku tidak akan pulang.

Aku melangkah, menuju ke sebuah kamar tempat Bulan dan Ivander tertidur nyenyak. Di sana masih ada bintang yang merapikan baju sekolah yang akan mereka kenakan besok.

Tanpa banyak bicara lagi, kupeluk erat tubuh Bintang dari belakang, sesekali mengecupi tengkuk lehernya.

“Sudah malam, kamu nggak istirahat?” tanya ku dengan suara parau.

“Sebentar lagi selesai. Aku harus menyiapkan semuanya supaya besok mereka tidak telat.”

“Istriku sangat rajin.” Aku kembali menggodanya, telapak tanganku kini bahkan sudah menyusup masuk di balik baju yang ia kenakan.

“Mas..”

“Aku merindukanmu.” Bisikku parau. Dan tanpa banyak bicara lagi aku memutar tubuh Bintang hingga menghadapku seutuhnya. Lalu kulumat habis bibirnya, mencumbu dengan panas hingga dia terengah. Ohh Bintang, kamu membuatku gila.

Akhirnya aku membimbingnya keluar dari kamar anak-anak menuju ke kamar kami. Sampai di dalam kamar, aku kembali menarik tubuhnya hingga menempel pada tubuhku, lalu kembali mencumbu bibir ranumnya, menggodanya hingga dia kewalahan dengan gairah yang berasal dariku. Sampai kemudian kami berakhir dengan tubuh menyatu, mengerang satu sama lain, dan saling menatap dengan tatapan penuh cinta masing-masing.

***

Keesokan harinya…

Aku melihat Bintang masih sibuk menyiapkan bekal anak-anak di dapur, tapi aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengodanya. Dengan santai aku memeluknya dari belakang. Aku bahkan tidak menghiraukan Bulan dan Ivander yang sedang sibuk menyantap sarapannya di meja makan.

“Mas, aku nggak enak di lihat anak-anak.”

“Memangnya kenapa? Mereka pasti mengerti kalau Papanya sangat mencintai Mamanya.”

“Ya, aku tahu, tapi tidak perlu mempamerkan kemesraan kita di depan mereka.”

“Biarlah, toh mereka asik dengan urusannya sendiri kan?” Bulan hanya menghela napas panjang, tanda jika dia mengalah dengan perdebatan kecil kami.

Tiba-tiba, ponselku berbunyi. Aku mengerutkan kening ketika mendapati nomor baru yang menghubungiku.

“Halo?” akhirnya kau mengangkat telepon tersebut, karena ku pikir mungkin itu hal penting.

“Mas, cepat ke rumah sakit Centra Medika, ibu kena serangan jantung.” Tubuhku menegang seketika. Itu Tannia, adikku. Suaranya terdengar panik dan ketakutan. Dan astaga, dia bilang ibu terkena serangan jantung?

Aku tercengang cukup lama, hingga kau beru sadar ketika Bintang memanggil-manggil namaku.

“Ada apa Mas?”

“Kita harus ke rumah sakit.”

“Siapa yang sakit?”

“Ibu kena serangan jantung.” Bintang terkejut dengan jawabanku, secepat kilat ia membereskan peralatan dapur. Kemudian membereskan keperluan Bulan dan Ivander.

“Aku akan menghubungi guru mereka kalau hari ini mereka ijin.” Aku menganggukkan kepalaku begitu saja. Pikiranku terlalu kosong. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Ibu? Apa yang harus ku lakukan? Aku benar-benar anak yang durhaka.

***

-Bintang-

Mas Robby terlihat sangat ketakutan. Aku tahu apa yang di rasakannya. Tentu dia takut kehilangan ibunya sebelum ia meminta maaf dengan apa yang sudah di lakukannya selama ini. Dia memilihku di bandingkan dengan ibunya sendiri, dan kini ibunya masuk rumah sakit. Tentu Mas Robby takut terlambat dan kehilangan ibunya.

Mas Robby kini masih duduk di kursi tepat sebelah ranjang Ibunya, dengan mata yang sudah basah karena menangis. Sedangkan Ibu sendiri masih belum ingin membuka matanya. Astaga, aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika ada apa-apa dengan Ibu Mas Robby.

Tiba-tiba Tannia duduk tepat di sebelahku. Sedangkan suaminya masih berdiri tepat di sebelah pintu masuk. Ya, Tannia, Adik Mas Robby memang sudah menikah dan hidup bahagia dengan suaminya sejak dua tahun yang lalu.

“Bagaimana kabarmu, Kak?” Aku terkejut mendengar sapaan yang di lontarkan Tannia yang terdengar ramah di telingaku. Kupikir dia tidak menyukaiku, tapi kenpa dia bersikap ramah padaku?

“Ba, baik.” Jawabku tergagap.

“Anak-anak gimana?” tanyanya lagi.

Aku meirik ke arah Bulan yang duduk tepat di sebelahku dengan memainkan mainannya bersama dengan Ivander.

“Baik juga.” Jawabku lagi.

Tannia kemudian meraih telapak tanganku kemudian menggenggamnya erat-erat. Aku menatapnya dan wanita itu berkaca-kaca.

“Maafkan aku Kak, dulu aku tidak mengerti apapun, dan aku hanya bisa bersikap egois. Sekarang aku mengerti apa itu cinta, aku mengerti kalian saling mencintai, dan tidak seharusnya aku dan Ibu memisahkan Mas Robby dan kak Bintang dulu.” Lirihnya dengan tulus.

Tanpa banyak bicara lagi ku peluk tubuh Tannia, dan aku ikut menangis dengannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Tannia, yang ku tahu adalah dia saat ini benar-benar tulus, aku merasakan ketulusannya.

“Maafkan Ibu juga Kak. Aku yakin, Ibu juga menyesali perbuatannya dulu, hanya saja, Ibu terlalu malu untuk mengakuinya.”

Aku menggelengkan kepalaku. “Kalian nggak salah, aku mengerti kenapa aku dulu harur pergi meninggalkan Mas Robby, kalian nggak salah, karena aku tahu, kamu dan Ibu hanya ingin yang terbaik untuk Mas Robby.”

“Tetap saja kami salah, Kak. Maafkan kami.”

Kali ini aku menganggukkan kepalaku. Mengalah dengan kekeraskepalaan Tannia. Ahhh, beginikah bahagianya mendapat restu dari sang adik?

***

Dua hari kemudian, ibu akhirnya membuka matanya. Dia belum bisa melakukan apapun, yang hanya bisa dia lakukan hanyalah menangis sambil menatap ke arah Mas Robby.

Aku memberanikan diri untuk mendekat dengan Bulan dan Ivander. Ibu yang melihatnya langsung mengulurkan jemarinya, mengusap lembut pipi Bulan dan mencubit gemas hidung Ivander. Aku tersenyum meski pipiku masih basah karena airmataku yang tidak berhenti menetes.

Ibu menatap ke arahku, kemudian mengisyaratkan supaya aku mendekat ke arahnya. Akhirnya aku mendekat, kemudian berbisik di telinga Ibu.

“Ibu harus sembuh. Kalau ibu sembuh, aku akan pergi meningglkan Mas Robby. Aku bahkan akan meninggalkan Bulan untuk kalian. Ibu harus sembuh.”

“Jangan pergi.” Dan jawaban serak dari Ibu, benar-benar membuatku mematung tak bergerak sedikitpun. Hanya dua kata tapi efeknya begitu dahsyat pada diriku.

***

Tiga bulan kemudian…

 

“Ayo, cepat pakai sepatunya sendiri-sendiri, periksa bukunya kembali, jangan sampai ada yang ketinggalan.” Ucapku sambil meninggalkan kamar Bulan dan Ivander.

Aku berjalan masuk ke dalam kamarku sendiri, dan mendapati Mas Robby masih berantakan di sana. Maksudku, dia masih telanjang dada dengan handuk kecil di pinggulnya.

“Mas, kamu kok belum siap-siap sih? Anak-anak sudah hampir siap.” Ucapku dengan nada sedikit kesal.

Mas Robby hanya tersenyum. “Kemarilah.” Dia meraih pergelangan tanganku kemudian memaksaku duduk di atas pangkuannya.

“Apa yang kamu lakukan?” pekikku ketika dia mulai memelukku erat dari belakang.

“Aku mencintaimu.” Ucapnya dengan nada menggoda.

“Sudah ah, jangan nggombal terus.”

“Kok Nggombal sih?”

“Ucapan cinta kalau di ucapin terus menerus akan jadi membosankan dan tidak memiliki maknanya lagi.”

“Itu menurut kamu, tidak menurutku.” Jawabnya dengan mengerucutkan bibir. Aku tersenyum.

“Sudah, ayo siap-siap. Nanti telat ke kantornya.”

“Aku mau di siapkan.” Jawab Mas Robby dengan nada menggoda. Dan aku hanya mampu menggelengkan kepalaku.

Aku bangkit, kemudian menuju ke arah lemari, menyiapkan bahkan memakaikan kemeja untuk Mas Robby. Setelah dia selesai berganti dengan kemeja dan juga celananya. Dia memaksaku memakaikan dasi untuknya.

“Aku naik jabatan.” Bisiknya.

“Benarkah?”

Dia mengangguk pasti. “Renno benar-benar baik. Dia menaikan jabatanku. Bahkan dalam waktu dekat, dia memberikan sebuah aset perusahaan Handoyo Grup menjadi atas namaku.”

“Ya, dia benar-benar baik. Sangat pantas bersanding dengan Allea yang seperti malaikat.” Jawabku. Aku memang mengenal Allea, karena beberapa kali kami bertemu pada acara keluarga.

“Kamu nggak sedang cemburu kan?” Mas Robby menggodaku.

“Enggaklah, kenapa aku cemburu?”

“Mungkin saja.” Jawabnya sembari mengangkat kedua bahunya. Dan aku hanya mampu tersenyum. Aku memang tahu, bagaimana hubungan rumit Mas Robby dulu yang menyukai Allea, tapi tentu itu tak lantas membuatku cemburu. Bagiku itu dulu, sekarang kami sudah bahagia, dan aku tidak peduli tentang masa lalu Mas Robby.

“Sayang, aku mau..”

“Mas, aku belum ngurusin Ibu. Nah, sudah rapi sekarang. Jadi aku mau ke kamar Ibu dulu ya.” Ucapku cepat sambil bergegas pergi. Tapi saat aku melangkah pergi, Mas Robby kembali menarik pergelangan tanganku dan tanpa banyak bicara lagi, dia menyambar bibirku dan melumatnya sebentar.

“Aku selalu menginginkan itu.” Ucapnya sambil mengerlingkan mata. Dasar penggoda!!! Umpatku dalam hati.

***

Pagi itu akhirnya kami sarapan bersama seperti biasanya. Hubunganku dengan Ibu Mas Robby sudah membaik. Sangat baik malah. Ibu ingin aku sendiri yang merawatnya selama dia dalam masa pemulihan, dan itu membuatku mengenalnya lebih baik dan lebih dekat.

Tannia sudah kembali tinggal di rumah suaminya. Dan akhirnya hanya ada Aku, Ibu, Mas Robby, Ivander dan Bulan lah yang tinggal di rumah ini dengan beberapa pengurus rumah.

Hidupku kini terasa begitu sempurna, begitu bahagia dengan orang-orang yang ku kasihi. Ahh.. semoga ini bukan hanya mimpi.

Setelah sarapan bersama, Ibu mengantar para cucunya untuk menuju ke halaman rumah dan bersiap berangkat ke sekolah dengan Mas Robby. Sedangkan aku sendiri masih sibuk membereskan bekal untuk mereka bertiga.

Kurasakan lengan Mas Robby meraih tubuhku hingga menempel pada tubuhnya.

“Kamu apaan sih Mas? Nggak enak di lihat mereka.” Bisikku sambil melirik ke arah beberapa pengurus rumah yang kini sedang sibuk membersihkan dapur.

“Kamu rajin sekali.”

“Tentu saja, aku menantu di rumah ini.”

“Hahaha, istriku mulai sombong.” Godanya. Dan aku hanya dapat tersenyum malu. Mas Robby mendekatrkan bibirnya pada telingaku, lalu berbisik di sana.

“Aku ingin memberikan Bulan dan Ivander seorang adik.” Aku membulatkan mataku seketika pada Mas Robby, sedangjkan dia hanya memasang cengiran khasnya.

“Nanti malam, kita akan memulai ritualnya.” Ucapnya lagi dan yang bisa ku lakukan hanyalah ternganga dengan kelakuannya. Astaga, sejak kapan dia berubah menjadi tukang penggoda seperti itu?

***

-Robby-

Bahagia…

Itulah yang ku rasakan saat ini dengan Bintang. Ibu sudah menerima kehadiran Bintang, dan tidak ada yang membahagiakanku selain hal itu. Bintang sangat menyayangi Ibu, begitupun sebaliknya, meski Ibu terlihat biasa-biasa saja dengan Bintang, tapi aku tahu, jika ibu sangat perhatian dengan istriku tersebut.

Bulan dan Ivander akhirnya masuk ke dalam mobil dengan di antar oleh Ibu. Setelah itu Ibu kembali masuk ke dalam rumah. Tinggallah aku yang hanya berdua dengan Bintang di halaman rumah.

Aku menghadap ke arahnya, sesekali mengecup bibir mungilnya.

“Pikirkan baik-baik rencanaku tadi.” Ucapku dengan suara serak. Ya, aku ingin menambah seorang adik untuk Bulan dan Ivander. Ah, pasti menyenangkan sekali jika banyak anak-anak di dalam rumah.

“Ya, Aku sudah memikirkannya.” Ucap Bintang sembari memainkan dasiku.

Aku mengangkat sebelah alisku. “Jadi…”

“Ya, kita akan menambah seorang adik untuk Bulan dan Ivander.”

Aku tersenyum lebar. Ku tarik tubuh bulan hingga menempel pada tubuhku, kemudian kulumat habis bibir mungilnya dengan ciuman penuh hasratku, membuatnya sesekali mengerang dalam ciuman panas kami.

“Papa… Papa, kami sudah telat tahu. Papa..”

Suara cerewet dari dalam mobil menghentikan aksiku. Itu Bulan dan Ivander yang sepertinya memang sengaja menggangguku. Ahh dasar anak-anak nakal. Aku menatap Bintang, dia masih terengah karena ciuman panas kami, dan begitupun denganku.

“Aku mencintaimu.” Ucapku begitu saja tanpa sadar.

Bintang memejamkan matanya sebentar, berjinjit lalu mengecup lembut pipiku. “Aku mencintaimu juga.” Bisiknya.

Aku kembali tersenyum. “Baiklah, aku berangkat.” Ucapku sambil membalikkan tubuh lalu pergi menuju ke arah mobil, tapi baru beberapa langkah, aku kembali lagi dan secepat kilat aku mengecup lembut kening Bintang.

Aku kembali berbalik dan nuju ke arah mobil sembari berteriak. “Tunggu aku nanti malam.” Bintang hanya terlihat tersenyum, dia menertawakan kelakuanku. Begitupun dengan kedua bocah yang duduk di jok belakang mobilku. Keduaanya terlihat menggerutu kesal karena terlalu lama menungguku.

“Mau ice cream?” tanyaku saat mulai menyalakan mesin mobil.

“Mau, mau, mau.” Teriak Bulan dan Ivander secara bersama-sama.

“Baiklah, nanti Papa belikan ice cream yang banyak, dengan syarat, nanti malam harus bobok dengan Oma dan tidak boleh mencari-cari Mama, oke?”

“Oke, Pa.” lagi-lagi keduanya menjawab serentak. Dan aku hanya bisa tertawa dalam hati.

Ku jalankan mobilku keluar dari halaman rumahku, sesekali aku menatap ke arah Bintang. Dia tampak bahagia dan melambaikan tangannya pada kami hingga mobil yang ku tumpangi menjauh dari rumah. Aku masih melihat bayangan Bintang dari kaca spion mobilku.

Ahh wanita itu. Wanita sederhana yang mampu membuatku jatuh cinta. Terimakasih Bintang, sudah memberikan kebahagiaan ini untukku, terimakasih, sudah kembali hadir dalam hidupku… dan terimakasih, karena masih bersedia menjadi Bintangku…

 

***The End***

thank you udah membaca dan makacih bgt responnya.. ahhh nggak nyangka banyak yang suka kisahnya mas Robby heheheheh See you next story… *KissKiss

Bintangku (Side Story of Robby) – Part 2

Comments 14 Standard

romantic-boyfriend-girlfriend-whatsapp-dp-profile-pic-2Bintangku (Robby story)

Yang belom baca part 1 silahkan klik di sini

Bintangku (Side Story of Robby) – Part 1

“Ada apa Robb?”

“Eemm, apa dulu aku mengenal wanita yang bernama Bintang?”

Pertanyaanku sontak membuat Ibu membulatkan matanya seketika. Terlihat dengan jelas jika ia sangat terkejut dengan pertanyaanku. Kenapa? Apa dulu aku memang mengenal wanita yang bernama Bintang? Karena jujur saja, aku tidak merasa asing dengan nama itu, dan melihat Bintang, Ibu dari Bulan, aku merasakan jika ada sesuatu yang salah di antara kami. Apa ini hanya perasanku saja?

***  

 

Part II

-Robby-

 

“Ke, kenapa kamu bertanya tentang nama itu?” tanya Ibu dengan wajah yang sudah memucat. Aku tahu kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku.

“Ada apa Bu? Ibu terlihat panik.”

“Ibu nggak panik. Tapi kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang Bintang?”

“Bintang itu Ibu dari Bulan, teman baru Ivander. Dan kupikir, aku merasakan sesuatu saat kami bertemu tadi.”

Ibu tampak shock dengan penjelasanku. Ada apa ini?

“Robby, Bintang itu bukan siapa-siapa, jadi kamu tidak perlu lagi bertemu dengannya. Lagian, nggak bagus terlalu dekat dengan orang asing.”

“Aku hanya merasakan sesuatu Bu.”

“Perasan kamu saja!!!” Ibu bahkan menjawab pertanyaanku dengan sedikit berteriak. Aku hanya hilang ingatan, aku tidak bodoh. Ada yang ibu sembunyikan dariku tentang wanita yang bernama Bintang. Entah Bintang Ibu dari Bulan, atau Bintang yang lainnya.

Aku hanya diam, sedangkan Ibu memilih pergi meninggalkanku setelah mengelak dari semua pertanyaan yang ku ajukan.

Bintang… siapa sebenarnya kamu?

***

Aku kembali memparkirkan mobilku di bawah pohon beringin di pinggiran jalan. Keluar dari dalam mobil, aku memasuki sebuah gang kecil, dimana di sana terdapat sebuah rumah mungil yang di tinggali Bintang dan Bulan.

Aku berjalan menuju ke rumah itu. Tampak sepi, dan aku hanya mampu menatapnya dari jauh. Lama aku berdiri di halaman rumah kecil itu, hingga kemudian pintu rumah tersebut terbuka dan terlihat sosok wanita dari dalam.

Dia Bintang. Dan jantungku berdebar seketika.

Bintang tampak terkejut menatap keberadaanku. Matanya terpaku menatap mataku, da kupikir, dia sedikit berkaca-kaca.

“Ke, kenapa anda di sini?” tanyanya.

“Ada yang ingin saya bicarakan.” Jawabku sembari sedikit mendekat ke arah Bintang.

“Maaf, saya sibuk.”

“Bintang.” Panggilku. Memanggil namanya saja kembali membuatku bergetar. Sebenarnya ada apa ini? Apa yang terjadi?

“Tolong, jangan lagi temui saya.”

“Kita benar-benar pernah saling mengenal dulu, kan?” kucekal pergelangan tangan Bintang sedangkan tubuhku berjalan semakin mendekat kearahnya.

“Saya mohon. Jangan seperti ini.” Rontanya. Tapi aku tak beduli. Kuseret Bintang masuk ke dalam rumahnya lalu ku tutup pintu rumahnya dan menguncinya.

“Apa yang anda lakukan?!” tanyanya dengan suara yang di buatnya keras.

“Saya tidak ingin mempersulit kamu Bintang, saya hanya ingin tahu kebenarannya. Apa kita pernah mengenal sebelumnya atau tidak?”

“Saya sudah menjawab, kalau kita tidak pernah saling mengenal.”

“Tapi tubuh kamu tidak berkata begitu.” Ucapku dengan nada dingin.

“Kamu tahu, apa yang saya rasakan ketika pertama kali saya membuka mata dan mendapati seluruh ingatan saya hilang? Semuanya Hampa Bintang. Saya merasa jika diri saya adalah orang terbodoh di dunia ini. Saya tidak mengingat apapu, tidak dapat merasakan perasaan apapun. Tapi satu hal yang saya rasakan saat itu. Perasaan sesak di dada yang entah kenapa membuat saya berpikir jika ada sesuatu yang salah di sini. Ada sesuatu hal besar yang harusnya tidak pernah saya lupakan. Dan ketika melihat kamu untuk pertama kalinya, perasaan seperti itu kembali muncul. Hati saya seakan mengingat kamu, tapi tidak dengan kepala saya.” Jelasku sungguh-sungguh.

Bintang hanya ternganga mendengar penjelasanku.

“Jadi saya mohon. Tolong jujur, apa kita pernah mengenal sebelumnya, atau tidak.”

Aku melihat Bintang menangis. Dia pernah mengenalku, aku tahu itu. Hanya saja aku tidak yakin apa yang membuatnya mengingkari kenyataan itu.

“Maaf, tapi kita benar-benar tidak pernah bertemu sebelumnya.” Ucapnya sambil menundukkan kepala.

“Kamu berkata seperti itu tanpa berani menatapku. Dan aku tahu itu semua karena kamu berbohong.”

“Saya tidak bohong.”

“Kalau begitu tatap aku dan bilang kalau kamu tidak pernah mengenalku.” Desisku tajam.

Bintang masih menangis sesekali menggelengkan kepalanya. Aku tersenyum dan bersiap meninggalkannya.

“Terimakasih. Dengan begini aku mengerti, dan aku akan mencari tahu sendiri tentang kamu dan masalaluku.” Ucapku penuh dengan nada ancaman lalu melangkah pergi meninggalkan Bintang begitu saja.

***

Aku keluar dari dalam gang rumah Bintang lalu menuju ke arah mobilku yang masih terparkir di pinggir jalan. Sampai di sana, aku berdiri mengusap wajahku dengan kasar sesekali merutuki kebodohanku. Bodoh!!! Harusnya aku tidak perlu bersikap kurang ajar pada Bintang.

Ketika aku akan masuk ke dalam mobil, seorang laki-laki paruh baya memanggil namaku.

“Mas Robby, kan?

Aku mengerutkan kening ketika menatap laki-laki tersebut. Dia sudah sedikit lebih tua, mungkin seusia ayahku jika ayahku masih hidup. Penampilannya sederhana dan kini dia sedang membawa kotak sol sepatunya.

Ya, dia Tukang Sol Sepatu. Bagaimana bisa dia mengenalku?

“Uum, maaf, apa kita pernah mengenal sebelumnya?” tanyaku.

Bapak tersebut tampak terkejut. Wajahnya lalu memerah dan berkata. “Oh, maaf, mungkin saya salah orang. Maaf Pak.” Jawab bapak tersebut sambil permisi untuk pergi.

Aku berpikir sebentar. Kulihat pakaian yang ku kenakan serta mobil mewah yang berada di hadapanku. Apa mungkin tukang sol sepatu tersebut mengenalku? Lalu kenapa dia pergi? Apa dia berpikir aku bukan orang yang di kenalnya? Tapi dia bisa dengan tepat memanggil namaku.

Sial!!! Dengan cepat aku berlari mengikuti tukang sol sepatu tersebut lalu memintanya untuk berhenti.

“Pak, bapak kenal saya?” tanyaku lagi.

“Maaf mas, sepertinya saya salah orang.”

Aku menggelengkan kepalaku cepat. “Nggak mungkin, nama saya memang benar-benar Robby. Bapak kenal saya sebelumnya?” tanyaku lagi. Dan bapak tukang sol sepatu tersebut tampak bingung.

“Begini pak, saya kehilangan semua ingatan saya. Jadi bukan maksud saya bersikap sombong tidak mengenal bapak, tapi saya memang benar-benar hilang ingatan. Jadi saya mohon, kalau bapak mengenal saya sebelumnya, tolong ceritakan seperti apa saya yang dulu.”

Bodoh!!! Aku benar-benar seperti orang yang bodoh. Bahkan bisa di bilang aku Tolol. Ya, mau bagaimana lagi. Kehilangan ingatan memang membuatku menjadi bodoh. Bahkan jika ada orang yang sengaja membodohiku, mungkin aku akan percaya. Tapi entahlah, ku pikir tidak ada salahnya aku mempercayai laki-laki paruh baya di hadapanku ini.

“Jadi Mas Robby benar-benar hilang ingatan?” tanyanya dengan ekspresi terkejut.

Aku mengangguk lemah. “Ya, saya kehilangan ingatan sejak lima tahun yang lalu.”

“Oh, pantas saja saat itu saya tidak pernah melihat Mas Robby kembali pulang dengan mbak Bintang.”

Mataku membulat seketika, tubuhku menegang ketika laki-laki itu menyebut nama Bintang. Dia mengenalku, dia mengenal Bintang. Dan aku yakin, dia mengetahui semua masalaluku.

“Bapak mengenal Bintang juga?” tanyaku dengan wajah penuh harap.

“Tentu saja Mas, kita dulu kan tetangga saat di bandung.”

“Kita? Tetangga? Di Bandung?” tanyaku semakin bingung. “Kita perlu bicara pak.” Tegasku penuh dengan semangat.

***

Aku melirik kanan kiriku dengan sedikit tidak nyaman. Tadi aku mengajak mang Dadang, tukang sol sepatu tersebut ke sebuah restoran, tapi Mang Dadang menolak dan lebih memilih mengajakku ke sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan.

“Nggak nyaman mas? Maaf ya, dulu kita sering ngopi seperti ini saat masih di Bandung.” Aku termangu mendengar penjelasan mang Dadang. Benarkah dulu gaya hidupku seperti itu?

“Mas pasti makin bingung ya? Begini, saya mulai cerita saja apa yang saya tahu.”

Mang Dadang menyeruput kopi di hadapannya kemudian mulai bercerita padaku.

“Dulu, saya, istri dan anak saya tinggal di Bandung. Saya punya tetangga yang namanya Mbak Bintang, orangnya cantik Mas, tapi nggak lama, Mbak Bintang menikah, dan suaminya ikut tinggal di sana. Dan suaminya itu adalah Mas Robby.”

Tubuhku kembali menegang. Jantungku berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Aku? Suami Bintang adalah Aku?

“Penampilan awal Mas robby saat itu seperti sekarang ini, rapi, gagah, seperti orang kaya raya pada umumnya. Saya pikir saat itu mas Robby orang yang sombong, tapi ternyata enggak. Malah Mas Robby mau ikut saya kerja bangunan saat itu.”

“Kerja bangunan?” tanyaku dengan terkejut.

“Iya, kita dulu kan sering pindah-pindah kerja mas saat itu. Sampai kemudian Mas Robby jatoh dari lantai dua. Haduh, saya nggak tahu lagi mau gimana ceritain Mas. Mbak Bintang sedih banget. Pas dia pulang sendiri, saya pikir Mas Robby nggak selamat.”

“Saya parah?” tanyaku terpatah-patah.

“Iya, Mas kan harus operasi saat itu. Saya kasihan sama Mbak Bintang. Dia hamil besar saat itu mas. Dan butuh dana banyak buat biaya Mas Robby.”

Aku kembali tercengang. Tubuhku kembali menegang. Hamil? Jadi Bulan anakku?

“Nggak lama, Mbak Bintang pindah, saya nggak tahu kemana, tapi setahun setelah itu, saya juga pindah karena area rumah kita dulu kena penggusuran. Saya merantau ke jakarta sampai saat ini menjadi tukang sol sepatu…”

Mang Dadang terus bercerita, tapi aku sudah tak mampu lagi menerima cerita yang keluar dari mulutnya. Kepalaku terada berdentum, seakan puluhan, bahkan ratusan jarum kecil menusuk-nusuk otakku. Bayangan-bayangan itu berkelebat dalam ingatanku.

 

“Menikah? Yang benar saja.” bintang tampak terkejut dengan ucapanku.

“Ya, mari kita menikah, karena aku menyukaimu.”

“Enggak. Kita cuma pura-pura pak.”

“Dulu, tidak sekarang. Aku benar-benar menyukaimu Bintang.”

“Pak menikah bukan pekara mudah.”

“Dan aku akan membuatnya mudah untuk kita.”

***  

“Apa kita nggak salah melakukan ini?” Bintang bertanya dengan wajah sendunya ketika prosesi pernikahan kami selesai di selenggarakan.

“Enggak.”

“Tapi orang tua kamu tidak merestui kita, Pak.”

“Pak? Berhenti memanggil saya dengan panggilan ‘Pak’, saya suami kamu, bukan atasan kamu lagi.”

“Tapi pak…”

“Mas, Mas Robby.” Wajah Bintang memerah seketika mendengar permintaanku.

***  

“Bintang… aku mencintaimu.”

Ungkapan cintaku pada bintang terucap pertama kalinya ketika tubuhku berhasil menyatu dengan tubuhnya, tubuh istriku. Bintang, sejak kapan kamu membuatku jatuh bertekuk lutut mencintaimu?

“Aku juga mencintaimu.” Ucapnya dengan sedikit parau.

Ku kecup lembut bibir Bintang, bibir yang terasa manis saat indra perasaku menyentuhnya. Kulumat lagi dan lagi, seakan aku tak ingin berhenti membuainya dalam sentuhan penuh cinta.

“Aku mencintaimu Bintang, aku mencintaimu, aku mencintaimu.” Lagi dan lagi aku merapalkan kalimat tersebut sepanjang malam ketika bercinta dengan Bintang. Wanita yang sangat ku cintai.

***  

Aku memijit pelipisku ketika memori itu kembali hadir. Kepalaku semakin terasa nyeri. Dan aku tak dapat menahannya lagi. Dengan spontan aku berdiri, membuat semua yang ada di sekitarku menatapku dengan tatapan terkejut mereka, termasuk Mang Dadang.

“Ada apa mas?”

“Saya harus pergi.”

“Loh, tapi..”

Aku mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetku dan memberikannya pada Mang Dadang. “Pak, tolong nanti ke alamat sini, temui saya. Saya akan membantu bapak sebisa saya, dan terimaksih untuk ceritanya.”

Aku pergi begitu saja setelah selesai memberikan kartu namaku pada Mang Dadang. Ya, Mang Dadang pasti menolak jika aku memberinya uang, maka aku hanya bisa memberinya pekerjaan yang lebih layak untuknya.

Dengan sedikit terhuyung, aku memasuki mobilku, menyalakan meminnya kemudian melaju cepat, memutar balik ke arah rumah Bintang. Aku harus menemuinya, aku harus menemui Bintang, istriku…

***

-Bintang-

 

Aku takut.

Aku takut jika tiba-tiba Mas Robby mengetahui semuanya lalu memutuskan merebut bulan dariku. Tidak!! Aku tidak bisa membiarkan itu.

Dengan cepat aku memasukkan pakaianku kedalam tas-tas besar. Aku harus pindah rumah secepatnya. Saat ini Bulan masih berada di sebuah tempat les melukis. Ya, meski masih TK, tapi Bulan memperlihatkan bakat terpendamnya.

Dia pandai sekali dan suka sekali melukis. Akhirnya sejak tiga bulan yang lalu aku memasukkannya di sebuah tempat les untuk melukis rekomendasi dari guru TK nya.

Bulan adalah anak yang sangat lucu, dan dia sangat pintar. Aku tidak mungkin memberikannya pada siapapun meski itu ayahnya sendiri yang memintanya.

Tadi apagi aku terkejut ketika mendapati Mas Robby berdiri di depan rumah kontrakanku. Darimana dia mengetahui aku dan Bulan tinggal di sini? Astaga, jika dia tahu, maka tidak menutup kemungkinan ia akan tahu masalalu kami dan status Bulan.

Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Bulan hanya puteriku dan dia tidak bisa di pisahkan dariku. Ketika aku sivbuk dengan berbagai macap pikiran di kepalaku, aku mendengar pintu depan rumah di buka dengan keras dari depan. Apa yang terjadi? Pikirku sembari bangkit dan menuju ke ruang tengah.

Tapi ketika aku sampai disana, tubuhku kaku seketika saat mendapati mas Robby yang sudah berdiri dengan tatapan tajam membunuhnya. Tidak, kumohon jangan bilang kalau dia sudah mengetahui semuanya tentang aku dan Bulan.

Tanpa banyak bicara lagi Mas Robby menutup pintu rumahku, lalu dia berjalan cepat ke arahku, mendorong tubuhku dan mengimpitnya di antara dinding.

“A, apa yang anda lakukan?” tanyaku dengan sedikit terpatah-patah.

“Kenapa kamu berbohong?”

Tuhan, pertanyaan itu seakan menghunus jantungku. Dia sudah mengetahui semuanya, dia sudah tahu tantangku dan juga Bulan. Apa dia sudah mengingat semua tentang masalalu kami?

Mas Robby mendekatkan wajahnya pada wajahku, bibirnya kini bahkan hampir menempel pada bibirku, dan yang bisa ku lakukan saat ini hanya menutup mataku.

“Katakan Bintang, kenapa kamu membohongiku?”

“Maaf.” Hanya itu jawabanku dengan suara yang sedikit ercekat di tenggorokan.

“Aku tidak akan mengampunimu Bintang. Aku tidak akan mengampunimu.” Dan setelah itu kurasakan sesuatu yang basah menyambar bibirku, melumatnya dengan panas dan juga kasar. Mas Robby menciumku secara membabi buta. Dan aku dapat merasakannya, rasa frustasi bercampur aduk dengan rasa rindu dalam ciumannya. Dan yang dapat ku lakukan hanyalah membalas apa yang sudah dia lakukan terhadapku saat ini.

 

-TBC-

Part 3 insha allah besok  malam yaa.. heheheh di bawah ini sedikit quote untuk part 3… ahh mas Robby ganteng bgt di sini.. jiaahahhahahah

Robby Hermawan

Robby Hermawan

Bintangku (Side Story of Robby) – Part 1

Comments 16 Standard

romantic-boyfriend-girlfriend-whatsapp-dp-profile-pic-2Bintangku (Robby Story)

Tittle : Bintangku (Robby Story)

Genre : Romance, Hurt

Part : I

Author : Zenny Arieffka

Note : Uhhuuk, kalian masih ingat Robby Hermawan kan? Ya, dia adalah cowok yang suka dengan Allea di cerita Because its you. Dia juga sepupu Renno dan kakak dari Tannia. Yang sudah baca Because its you pasti tau lah ya.. hahahhahaha Betewe, Awalnya aku nggak ada niat bikin cerita dia, cuman saat itu ada salah satu teman Chat yang ternyata dia kesemsem sama karakter Mas Robby ini. – Hallo Ahbib An Nisa, iya, cerita ini riques dari kamu..- hehehehhe. Dia berharap aku mau bikin ceritanya Robby saat itu, dan aku nggak janji. Tapi kemaren, tiba-tiba ide bersliweran gitu aja. Dan sayang kalo nggak di tulis, lagian aku juga sedang suntuk dengan masalah Revisi dan Editing ceritaku yang mau naik cetak, so, aku anggap ini sebagai pelarian aja biar aku nggak stress, hahahhahah. Hanya 3 part kok, dan semuanya udah selesei aku tulis, aku akan Update secara berkala yaa… buat yang tanya “Thor, kenapa nggak lanjut cerita yang masih On going dulu sih?” hahhahahah kaliaan tau Mood? Ya, semua itu karena Mood. Bukannya aku nggak mau lanjut, aku gampang bosan, dan terkadang aku butuh pelarian untuk melawan kebosananku.. hahahhaha. Lagian cerita2 itu udah ending ku tulis kok, iya, My beloved Man dan The lady killer 2 udah habis ku tulis. Tinggal nunggu update setelah aku selesei nyetor naskah My Young Wife ke redaksi penerbitan dulu yaakk hahahhahahaha. Maapkeun.. maapkeun.. hahhahahah BTW, curhatku kepanjangan. Udah gitu aja, happy reading dahh…

PART I

Bintang-

Aku berjalan dengan langkah tergesah sembari membawa sebuah bingkisan besar. Bingkisan besar untuk puteri kecilku. Namanya Bulan. Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke lima. Ah, tak terasa jika aku sudah membesarkan seorang puteri selama lima tahun terakhir. Aku kembali menatap bingkisan tersebut lalu tersenyum puas. Bulan selalu menginginkan hadiah ini, sebuah boneka teddy bear berukuran besar. Tentu saja aku tak mampu membelikannya mengingat pekerjaanku hanya sebagai seorang penjahit biasa. Aku melangkahkan kakiku lebih cepat lagi, seakan tak sabar sampai ke sekolahan puteri kecilku tersebut.

Saat sampai di sekolahnya. Ku lihat sekolahan itu sudah sepi. Sedikit khawatir mengingat aku tak pernah terlambat menjemput Bulan sebelumnya. Akhirnya aku menuju ke pos satpam, menanyakan keberadaan Bulan. Biasanya jika semua murid sudah pulang dan aku belum menjemputnya, Bulan akan menungguku di pos satpam tersebut.

“Maaf pak, emm, anak-anak sudah pulangan ya?”

“Oh, iya Mbak, mungkin sejak sekitar lima belas menit yang lalu.”

“Lalu anak saya di mana pak?”

“Neng Bulan?”

“Iya, Bulan pak.”

“Loh, tadi Neng Bulan sudah di jemput sama seseorang Mbak, saya kira ayahnya.”

Aku membulatkan mataku seketika. Bagimana mungkin Bulan di jemput seseorang? Ayahnya? Bulan bahkan tak memiliki Ayah. Tanganku gemetar, mataku berkaca-kaca. Oh, Bulanku, kamu kemana nak..

“Mbak, Mbak kenapa?”

“Pak, anak saya nggak mungkin di jemput ayahnya. Itu pasti penculik.” Rengekku yang sudah tak bisa menahan tangis. Astaga, siapa sih yang tega menculik puteri mungilku?

“Penculik Mbak?” Si pak satpam tersebut tampak terkejut. “Kayaknya nggak mungkin Mbak, si mas yang bawa Neng Bulan itu orang baik kok, bahkan sering menemui Neng Bulan di sini.”

“Lalu siapa dia Pak? Saya tidak memiliki satupun saudara, dia tidak mungkin saudara kami.” Aku masih menangis. Astaga, Bulan, aku tidak ingin kehilangan kamu nak…

Tak lama, sebuah mobil sedan berhenti tepat di depan pos satpam tersebut. Dan dari dalam mobil tersebut keluarlah puteri kecilku dengan berbagai macam bingkisan di tangannya. Dia berlari ke arahlku sambil berteriak memanggilku.

“Ibuuuuuuuuu……”

Aku berjongkok lalu memeluknya erat-erat. Oh Bulanku. Bulan yang menerangi malam-malam gelapku, akhirnya kamu kembali nak. Aku memeluknya sangat erat, seakan tak ingin Bulan pergi meninggalkanku. Hingga kemudian ku rasakan bulan terbatuk-batuk karena pelukan eratku.

“Mungkin anda memeluknya terlalu erat.”

Aku membulatkan mataku seketika saat mendengar suara itu. Suara yang tentunya tak asing di telingaku. Itu suara…….

Mataku menatap ke atah sepasang sepatu yang mahal tepat di hadapanku, sedikit demi sedikit aku mengangkat wajahku dan mendapati wajah itu, wajah tampan yang sangat mempesona, wajah yang dengan menatapnya saja mampu membuatku jatuh hati lagi dan lagi. Dia… Dia… kenapa ada di sini???

1362643141-1688685968

Robby Hermawan

***

“Pak ini kopinya.” Ucapku sesopan mungkin.

“Terimakasih.” Jawabnya datar.

Dasar muka tembok!! Pikirku. Ini sudah Tiga bulan atasanku yang bernama Robby Hermawan di pindah tugaskan ke kantor ini. Sialnya aku di angkat menjadi sekertaris pribadinya. Pak Robby benar-benar sangat datar, dan aku tidak suka. Entah apa yang terjadi dengannya tapi seharusnya ia tidak bersikap seperti itu pada kami bawahannya.

“Bintang, nanti malam temani saya makan malam dengan klien.”

Aku mengangguk hormat. “Baik pak.”

Dan hanya itu saja. Lalu dia kembali sibuk dengan pekerjaannya. Oh, sebenarnya apa yang terjadi dengan lelaki itu?

***  

Malam itu akhirnya aku menemaninya makan malam bersama dengan beberapa kliennya. Di sana ada Pak Renno Handoyo, CEO dari Handoyo Group, perusahaan pusat tempatku bekerja, ada juga klien tua bangka yang memang sejak tadi tidak berhenti melirikku. Oh, aku ingin pergi dari pada harus di pandang seperti itu. Akhirnya Pak Robby melihat ketidak nyamanannku.

“Maaf Mr. Edward, saya pikir anda tidak berhenti melirik ke arah wanita saya.” Aku tersedak seketika saat Pak Robby mengakuiku sebagai wanitanya. Apa dia salah makan obat? Dan semuanya tiba-tiba berjalan cepat. Pak Robby dengan gamblangnya mengenalkanku sebagai kekasihnya. Ayolah, apa ini mimpi? Jika iya, maka bangunkan aku.

Sepanjang makan malam, akhirnya aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk, aku tak kmungkin bilang di hadapan semua orang jika Pak Robby berbohong.

Saat pulang..

“Biar saya antar.” Ucapnya lagi-lagi datar.

“Saya bisa pulang sendiri, Pak.”

“Kamu kekasih saya, ingat.” Dan aku diam seketika lalu menuruti apapun kemauannya. Oh Kekasih? Yang benar saja.

***  

“Kenapa anda melamun?” suara itu menyadarkanku dari lamunan. Air mataku menetes begitu saja ketika aku mengingat saat pertama kali aku terikat dengan seorang Robby Hermawan, ayah dari Bulan. Dan kini, lelaki itu ada di hadapanku, duduk memandangiku dengan tatapan anehnya.

“Ah, tidak.” Hanya itu jawabanku.

Ada apa denganmu Mas? Kenapa kamu tidak mengingatku? Lirihku dalam hati.

Tadi, pertama kali aku melihatnya kembali, aku benar-benar shock. Dia berbeda, dan dia sama sekali tak mengenaliku. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Dan yang membuatku sedih adalah fakta jika Mas Robby juga sudah memiliki seorang Putera yang seumuran dengan Bulan. Apa saat bersamaku dulu, dia juga bersama dengan wanita lain?

“Anda terlihat memikirkan sesuatu, dan juga terlihat mengamati saya, apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

Astaga… haruskah aku bercerita jika kita pernah menikah bahkan dia belum menceraikanku?

“Umm, saya hilang ingatan sejak Lima tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan. Jadi saya tidak dapat mengingat siapapun yang ada di masa lalu saya.” Jelasnya, dan aku kembali termangu.

Hilang ingatan semenjak lima tahun yang lalu? Apa karena kecelakaan saat itu? Kecelakaan yang mengharuskanku meninggalkan dia?

Lima tahun yang lalu…

Aku masuk ke dalam sebuah rumah kontrakan kecil dengan napas terengah. Astaga, hamil sembilan bulan benar-benar membuatku kelelahan dan sangat sulit sekali bergerak. Tapi aku tidak boleh manja, aku harus bekerja keras, aku tidak ingin membiarkan Mas Robby sendiri yang bekerja keras untuk menghidupiku.

Hidup dia sudah sangat kesusahan. Aku tahu kalau dia tidak pernah susah. Dia dari kalangan berada. Dia adalah keponakan pemilik perusahaan Handoyo Group yang besar itu, tentu dia bukan dari kalangan biasa. Tapi aku masih tidak mengerti, kenapa dia memilihku.

Aku hanya pegawai rendahan saat itu yang beruntung naik jabatan menjadi sekertaris pribadinya. Hubungan kami yang mulanya hanya karena terpaksa, lama-lama membaik. Mas Robby bahkan terang-terangan mengakui perasaannya padaku, dan ingin menikahiku.

Aku sendiri sudah yatim piatu sejak kecil. Ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan, sedangkan aku besar karena didikan dari tanteku. Setelah mampu menghasilkan uang sendiri, aku memilih mengontrak sebuah rumah kecil, dan aku masih tidak menyangka jika Mas Robby memilihku sebagai wanita yang pantas bersanding dengannya.

Hubungan kami saat itu sangat sulit. Orang tua Mas Robby –Ibunya- tentu sangat menolak hubungan kami,begitupun dengan Tannia, adik semata wayang mas Robby. Aku cukup sadar diri karena aku tahu dimana posisiku. Tapi Mas Robby masih setia bersamaku, dia bahkan tetap menjalankan rencananya untuk menikahiku meski tanpa restu ibu dan adiknya.

Kami akhirnya menikah, dan Mas Robby memutuskan untuk keluar dari rumah. Ia tidak lagi bekerja di perusahaan Handoyo Group dan memilih hidup sederhana di kontrakan kecilku.

Dia meninggalkan ruangan nyamannya, kemeja bersihnya, sepatu mahalnya, serta bolpoin yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi, dan memilih hidup denganku di kontrakan sempit serta menjadi buruh bangungan serabutan.

Tidak jarang aku menangis ketika melihatnya pulang dengan peluh di dahinya, kulitnya yang sedikit menghitam, tangannya yang putih bekas dari bahan-bahan bangunan, serta tubuhnya yang selalu basah dengan keringat maupun air hujan.

Dia merelakan kehidupan sempurnanya demi aku, dan itu membuatku terharu sekaligus sedih. Oh, aku benar-benar sangat mencintai Robby Hermawan.

Ku usap lembut perut buncitku sambil membayangkan wajah Mas Robby. Entahlah, akhir-akhir ini aku selalu merindukannya saat ia berangkat kerja, mungkin karena bayi kami yang tidak ingin jauh dari ayahnya.

Ketika mas Robby kerja, aku memilih menghabiskan waktu untuk menjahit. Mas Robby memang melarangku, tapi aku tak peduli. Dia sudah bekerja keras, dan aku ingin membantunya.

Ketika aku baru duduk di sofa, pintu depan di ketuk oleh seseorang. Aku mengerutkan keningku, ini masih jam dua siang, tidak mungkin itu Mas Robby yang pulang. Akhirnya aku berdiri kembali lalu membuka pintu tersebut.

“Mbak, anu, itu masnya..”

Itu adalan Mang Dadang, tetangga sebelah yang mengajak Mas Robby bekerja di salah satu proyek pembangunan. Dia tampak panik, dan kebingungan, apa yang terjadi?

“Ada apa Mang?” tanyaku.

“Itu, Mbak jangan kaget ya, Mas Robby jatoh dari lantai dua, sekarang di rumah sakit.”

Aku membulatkan mataku seketika. Tubuhku hampir saja ambruk jika Mang Dadang tak segera membantuku.

“Mbak, yang sabar, dan jangan berhenti berdoa, kita ke rumah sakit ya mbak.”

Aku hanya menganggukkan kepalaku dengan linglung. Mas.. jangan tinggalin aku, jangan tinggalin anak kita. Dia bahkan belum pernah melihatmu. Kumohon, bertahanlah. Do’aku dalam hati.

***  

Aku masuk ke dalam sebuah rumah besar setelah seorang pelayan rumah tersebut mempersilahkanku masuk. Ini adalah rumah Mas Robby. Setelah memiliki masalah dan pindah dari jakarta, Mas Robby tinggal di sini dengan ibu dan adiknya. Dan kedatanganku kemari memang untuk bertemu dengan mereka.

Aku membutuhkan dana.

Dokter bilang Mas Robby harus menjalani operasi. Sedangkan tempatnya bekerja tidak mau menanggung biaya rumah sakitnya karena memang Mas Robby bukan buruh tetap kontraktor mereka. Mas Robby memang berpindah-pindah pekerjaan, pekerjaannya serabutan, dan ketika ada masalah seperti ini, kami sendiri yang harus menanggungnya.

Selain itu, tadi dokter juga berkata jika Mas Robby kekurangan banyak darah. Darahnya bukan darah yang langka, tapi kata dokter lebih baik mengajak orang terdekat ke sana, karena siapa tahu saja darah mereka cocok dan berguna.

Seorang gadis cantik datang menghampiriku. “Kamu ngapain kesini?” tanyanya dengan nada yang tak enak di dengar.

Itu Tannia, adik dari Mas Robby.

“Uumm, ibu ada?”

“Ibu? Sejak kapan kamu berani memanggil saya ibu?” kali ini suara seorang wanita paruh baya yang menyahut. Itu ibu Mas Robby.

Aku meremas kedua telapak tanganku. Tuhan, berikan aku kekuatan untuk menceritakan semuanya pada mereka.

“Maaf kalau saya lancang Bu, tapi, Uumm, itu Mas Robby..”

“Saya tidak menyangka kalau kamu masih berani kemari setelah kamu membawa kabur putera saya.”

“Bu, bukan itu maksud saya.”

“Kamu pikir dengan kehamilanmu bisa merubah keputusanku? Kamu salah. Saya tetap tidak akan merestui pernikahan kalian, sampai kapan pun!!”

“Mas Robby kecelakaan saat bekerja.” Lirihku sambil menundukkan kepala. Air mataku menetes begitu saja. Tuhan, jika aku harus mengemis, aku kan melakukannya demi lelaki yang sangat ku cintai.

“Apa?”

“Dia, Dia harus di operasi, tapi saya tidak memiliki biayanya. Dan dia juga butuh banyak darah.”

“Perempuan tidak berguna!!! Lihat, kamu sudah membuat puteraku sengsara. Apa kamu tidak bisa membuka mata? Dia meninggalkan semuanya untukmu, dan sekarang dia sekarat karena hidup denganmu.”

“Saya minta maaf, Bu.”

“Saya tidak akan pernah memaafkan kamu.”

“Bu, Mas Robby membutuhkan Ibu, dia harus segera di tangani.”

“Dengar, walau kamu nggak memohonpun, saya akan tetap menolong anak saya sekuat yang saya bisa. Tapi tolong, pikirkan baik-baik perkataan saya. Harusnya kamu tahu diri. Lihat, dia meregang nyawa hanya karena kamu. Semua ini terjadi karena kamu. Dia tidak pernah bahagia saat hidup denganmu, harusnya kamu sadar itu!!!” dan aku hanya mampu menangis ketika ibu mertuaku ini menyalahkanku lagi dan lagi.

“Saya akan mengurus semuanya, tapi dengan syarat, kamu harus angkat kaki dari kehidupan putera saya.”

Aku megangkat wajahku seketika. Air mataku deras menetes dengan sendirinya. Dengan spontan telapak tanganku mengusap perut besarku. Meninggalkanya? Apa aku bisa?

***  

Kejadian pahit lima tahun yang lalu terputar kembali di otakku. Setelah dari rumah Mas Robby, aku kembali ke rumah sakit. Tapi tidak sekalipun aku mendekatinya. Aku hanya bisa menatapnya dari sebuah kaca transparan kecil di pintu. Ibu dan Tannia tidak membiarkan aku masuk. Hingga kemudian aku memutuskan untuk benar-benar pergi.

Aku merantau ke Jakarta. Lebih tepatnya, aku meminta bantuan pada teman tanteku. Jadwal kelahiran Bulan saat itu hanya kurang dua minggu lagi, dan aku di hadapkan kenyataan jika aku sudah kehilangan suamiku saat itu.

Bulan tak pernah melihat ayahnya. Bahkan fotonyapun aku tidak punya. Sebisa mungkin aku menghapus semua memori tentang Mas Robby. Tapi ketika aku mulai melupakannya, kenapa dia datang kembali?

Lelaki itu masih setia menatapku seakan meminta penjelasan dariku. Dia benar-benar sangat tampan, mungkin istrinya yang saat ini selalu merawatnya dengan baik. Mengingat itu, hatiku terasa teriris. Aku kembali menangis, kembali lemah seperti dulu, dan aku tidak suka.

Secepat kilat aku berdiri, lalu menuju ke area bermain yang di sana masih ada Bulan yang sedang bahagia bermain dengan Ivander –Putera Mas Robby-

Aku menarik tangan Bulan untuk ku ajak pulang. Tapi kemudian aku merasakan sebelah tanganku di raih seseorang.

“Kenapa anda bersikap seperti ini? Apa anda mengenal saya sebelumnya?”

Aku menggelengkan kepalaku cepat. Sedangkan tangaku masih sibuk menarik tangan Bulan.

“Ayo sayang, kita harus pulang.” Ucapku sedikit lebih keras, karena Bulan tampak tidak suka dengan ajakanku.

“Please, tolong jelaskan jika ada masalalu di antara kita yang membuatmu sedih. Saya minta maaf karena tidak bisa mengingat apapun di masa lalu.”

“Maaf tuan, anda salah sangka. Kita tidak pernah bertemu sebelumnya, kita tidak saling mengenal. Jadi saya mohon, lepaskan tangan saya.”

“Lalu kenapa anda bersikap seperti ini terhadap saya?”

“Saya hanya memiliki sedikit masalah. Dan saya sedang menyiapkan sesuatu kejutan ulang tahun puteri saya, makanya saya ingin cepat-cepat mengajaknya pulang.” Jawabku dengan cepat.

“Benarkah?”

Aku hanya menganggukkan kepalaku. Kulepaskan paksa genggaman tangan Mas Robby, lalu kutarik paksa tangan Bulan untuk mengikutiku. Aku harus menjauh darinya, aku harus menghindarinya.

Maafkan aku Mas.. Maafkan Mama Bulan..

***

 

 

-Robby-

Gadis mungil itu bernama Bulan. Dia bersekolah di sebuah taman kanak-kanak sederhana tepat di sebelah taman kanak-kanak tempat Ivander bersekolah.

Beberapa hari yang lalu, Ivander bercerita jika dia memiliki teman baru yang baik saat membeli sebuah Ice Cream di depan puntu gerbangnya. Saat itu, Ivander akan membeli Ice Cream, tapi Ice cream itu habis, dan teman barunya itu memberikan Ice Creamnya untuk Ivander.

Namanya Bulan. Seorang anak yang usianya mungkin sekitar lima tahun, sama dengan usia Ivander, tapi bagiku dia sudah seperti anak yang memiliki hati mulia. Ivander benar-benar senang berteman dengannya. Hingga kemudian hari ini aku mengajak anak tersebut ke sebuah toko mainan yang letaknya tak jauh dari sekolah mereka. Ketika mengantarnya kembali, ternyata ibu dari Bulan sudah menunggu di sana.

Hatiku berdenyut seketika. Seperti ada sesuatu di dalam sana yang menghantam-hantap dinding hatiku. Aku baru merasakan perasaan ini ketika bertemu dengan Ibu Bulan. Kenapa seperti ini? Siapa dia? Apa aku pernah mengenalnya dulu?

Lima tahun yang lalu, aku terbangun seperti orang bodoh yang tidak dapat mengingat apapun. Sangat kesal, jengkel dan lain sebagainya. Bahkan mengingat namaku sendiripun aku tidak bisa. Semuanya terasa kosong, terasa hampa, dan aku membenci semua itu.

Aku berubah menjadi sosok yang pendiam, padahal kata Ibu, aku bukan orang seperti itu, dulu. Aku suka menyendiri, dan tidak berkembang sama sekali. Ingin rasanya aku mengingat semua masalaluku, tapi seperti ada kabut tebal yang menyelimuti ingatanku dan membuatku lelah untuk mencoba mengingatnya.

Hingga kemudian, Ibu menyrankan supaya aku keluar, mengenal beberapa gadis, menikahinya dan memberikannya keturunan. Aku melakukan apapun perintah ibu, keluar, berkenalan dengan gadis, tapi entah kenapa hatiku tak dapat bergerak untuk tertarik dengan salah satunya. Seperti ada sesuatu yang menguruh hatiku untuk mendekati mereka. Dan akhirnya aku tak dapat menuruti kemauan Ibu.

Suatu hari, aku menuju ke salah satu panti asuhan untuk mengadopsi seorang anak laki-laki. Dan kini dia yang selalu berada di dekatku. Ivander Hermawan. Putera adopsiku.

Tapi melihat Bulan dan ibunya entah kenapa membuat jantungku berdegup kencang. Membuat hatiku terasa pilu karena sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti apa itu. Kenapa mereka bisa membuatku seperti itu?

“Papa, kok kita ke sini?” Suara Ivander membuatku tersadar dari lamunan. Ku lihat seorang wanita dengan seorang gadis kecil masih berjalan di atas trotoar.

“Uum, Papa hanya ingin tahu, di mana Bulan tinggal.”

“Yeaay, jadi nanti Ivander bisa berteman dan main sama Bulan kapanpun kan Pa?” Tanyanya dengan wajah riang.

Aku hanya menganggukkan kepalaku. “Iya.”

Tuhan, apa rencanamu selanjutnya? Apa yang kau sembunyikan dariku? Siapa mereka? Siapa Bulan dan Bintang? Kenapa mereka membuatku seperti ini?

***

Sampai di rumah, Ivander berlari menghambur ke arah neneknya. Sedangkan aku hanya dapat tersenyum melihanya.

“Oma, Ivan pengen ketemu Ibu.”

Tubuhku menegang seketika saat mendengar ucapan dari Ivander. Sudah lima tahun berlalu sejak pertama kali aku mengadopsinya sebagai puteraku, dan ini adalah pertama kalinya dia bertanya tentang Ibu. Kenapa sekarang?

Ibu menatapku dengan tatapan bingungnya. Tentu dia sama bingungnya denganku.

“Ivan, kenapa kamu bertanya tentang Ibu?”

“Ivander pengen punya ibu seperti Bulan. Ibu yang cantik.”

“Bulan? Siapa Bulan?”

“Teman baru Ivander.” Ucapnya dengan polos.

“Uum, Ibumu sedang kerja, nanti akan pulang dan membawakanmu mainan yang banyak. Jadi jangan bertnya tentang Ibu lagi ya.” Bujuk Ibuku.

“Kalau Ivan menganggap Ibu Bulan sebagai Ibu Ivan, apa boleh?”

Ibu menatapku dengan tatapan tanda tanyanya sedangkan aku hanya mampu menganggukkan kepalaku.

“Ya, boleh saja.”

Ivander bersorak gembira. Ia berlarian menuju ke arah kamarnya di ikuti pengasuhnya.kini, tinggalah aku yang hanya berdua dengan Ibu.

“Siapa Bulan? Perasaan dia tidak seberapa akrab dengan teman-teman sekelasnya.” Tanya Ibu secara langsung padaku.

“Hanya seorang anak perempuan kecil yang pernah memberinya ice cream.” Jawabku. “Ibu.” Aku kembali memanggil ibu dan ingin menanyakan sesuatu padanya.

“Ada apa Robb?”

“Eemm, apa dulu aku mengenal wanita yang bernama Bintang?”

Pertanyaanku sontak membuat Ibu membulatkan matanya seketika. Terlihat dengan jelas jika ia sangat terkejut dengan pertanyaanku. Kenapa? Apa dulu aku memang mengenal wanita yang bernama Bintang? Karena jujur saja, aku tidak merasa asing dengan nama itu, dan melihat Bintang, Ibu dari Bulan, aku merasakan jika ada sesuatu yang salah di antara kami. Apa ini hanya perasanku saja?

-TBC-

Lanjut besok yaa.. hahahah jangan lupa tinggalin komentar… hahahha

My Mate (Dina & Alex Story) – Part 3 (End)

Comments 7 Standard

MyMate

My Mate

Sekali lagi typo bertebaran yaa.. hhahhha semoga suka… 

 

PART III 

-Alex-

 

Tubuhku menegang seketika ketika aku mendengar kalimat itu. Dina mengucapkanya, mengucapkan jika dia menyayangiku. Apa memang begitu kenyataannya?? Atau dia mengucapkan kalimat tersebut hanya karena tidak ingin aku meninggalkannya???

Entahlah…

Aku meraskan napasnya mulai teratur. Dia tertidur… dengan pelan aku bangun. Ku lihat sepanjang kulitnya penuh dengan jejak kemerahan akibat cumbuanku. Kemudian aku mengangkat tubuhnya, menidurkannya di atas ranjang. Dan Aku pun ikut berbaring di sebelahnya. Ku rengkuh tubuh rapuhnya dalam pelukanku.

Aku menyakiti hatinya, Aku tau itu. Aku melihat matanya saat ia memohon supaya ku sentuh, aku merasakan Airmatanya saat jatuh dan menempel di pipiku. Dia tersakiti karena sikapku.

Maafkan Aku Dina.. Maafkan Aku.. Karena Kamu juga tidak sadar, Bahwa kamu juga sudah menyakiti hatiku, Kamu Tidak mencintaiku, tapi Kamu memanfaatkanku, itu yang membuatku Sakit.

Tapi betapa pun aku tersakiti karenamu, Cintaku tidak pernah hilang sedikitpu. Aku tak tau kenapa bisa seperti itu, Aku mencintaimu, Sungguh, dari hatiku yang paling dalam. Bisakah kamu membalas Cintaku dan melupakan masa lalumu???

Kini, Mataku kemudian terpejam, Lalu kemudian kesadaran mulai hilang dariku..

***

Siangnya, aku merasakan Dina semakin bergelung di dalam pelukanku, Seakan tubuhku menghangatkannya, membuatnyanya nyaman, dan Aku pun memeluknya semakin erat.

“Kamu sudah bangun??” Suara serak itu membuatku menundukkan kepala dan mendapati mata indah itu menatapku.

“Ya.. Aku tidak bisa tidur terlalu lama, mengingat ini siang hari.”

Aku melihat dia kembali menenggelamkan wajahnya dalam dadaku. Pipinya memerah. Apa dia mengingat kejadian tadi pagi di antara kami?? Dan sialnya, setelah mengingat itu, Aku kembali menegang seutuhnya.

Aku menjauhkan diri darinya. “Aku mandi dulu.” Ucapku memberinya Alasan, Aku tidak mungkin berdekatan dengannya terus, jika aku melakukan iu, mungkin aku tidak akan bisa berhenti menyentuhnya.

Ketika aku berbalik dan hendak berdiri meninggalkannya, Dia tiba-tiba memelukku dari belakang.

“Kamu menghindariku??”

Aku membatu seketika. “Kenapa Kamu berpikir seperti itu??”

“Karena Aku mersakannya. Kamu menghindariku..”

Suaranya sudah bergetar. Dia menangis, aku tau itu. Aku membalikkan tubuhku, kemudian memeluknya erat-erat.

“Aku tidak menghindarimu, Aku hanya tidak tau bagaimana harus bersikap padamu.”

Dia menjauhkan diri dari ku kemudian menatapku dengan tatapan tanda tanyanya. “Kenapa bisa nggak tau??”

“Dina, Aku sudah tau semuanya. Semua tentang Kamu dan Reynald. Dan juga tentang hubungan kita.” Lirihku.

Dina membulatkan matanya, Seakan Ia terkejut dengan apa yang ku katakan. “Aku… Aku..”

“Kamu nggak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Aku sudah tau. Dan Kamu nggak perlu berpura-pura lagi di hadapanku.” Ucapku sambil melepaskannyaa dan bergegas berdiri untuk meninggalkannya.

“Alex..” Panggilnya yang kemudian menghenikan langkahku. “Kamu nggak tau apa-apa tentangku, Kamu nggak tau apa yang ku rasakan dulu dan sekarang… Tapi kalau memang Kamu lebih percaya dengan apa yang kamu dengar atau apa yang Kamu lihat, Aku menyerah. Aku menyerah untukmu.” Ucapnya yang kemudian membuat hatiku bergetar.

Dina… Sebenarnya apa yang Kamu rasakan padaku???

***

-Dina-

 

Dia sudah tau semuanya. Tau tentangku dan juga tentang Mas Rey.. Tau tentang Aku yang hanya memanfaatkan keberadaannya. Tapi dia tidak tau apa yang kini ku rasakan.

Ini Sudah tiga minggu setelah pagi panas yang kami lalui berdua saat itu. Dan kami, tidak lagi melakukannya. Hubungan kami benar-benar mendingin, merenggang. Tak ada tegur sapa sedikitpun jika itu tidak penting.

Dia sakit hati karena ulahku yang memanfaatlkannya, tapi dia tidak tau bagaimana sakit hatinya Aku saat dia menghindariku. Yang ku sadari saat ini adalah, Aku mulai mencintainya, mencintai seperti aku mencintai Mas rey dulu.

Rasa ini rasa yang sama dengan rasa yang kurasakan pada Mas Rey dulu. Aku menginginkannya, menginginkan Alex, Suamiku, Tapi dia menghindariku. Setiap malam, aku tidak berhenti menangis ketika menyadari dia lebih memilih tidur di sofa dari pada di sebelahku. Alex benar-benar menghindariku.

“Kamu sakit??” Pertanyaannya membuatku mengangkat wajah ke arahnya.

Aku menggelengkan kepalaku kemudian kembali menatap Piring yang berisi nasi dan lauk di hadapanku. Yaa.. kini kami memang sedang sarapan pagi bersama.

“Kamu terlihat kurus, dan pucat.” Ucapnya lagi.

Tentu saja. Aku tidak nafsu makan saat melihat Sikapmu Alex.. kenapa Kamu tidak mengerti??

“Nafsu makan ku menurun, itu saja.”

“Makanlah yang banyak, Supaya Kamu bisa menghadapai bulan depan.” Ucapnya dengan datar.

Aku mengangkat sebelah alisku. “Bulan depan??” Tanyaku dengan nada penuh tanya.

Alex masuk ke dalam kamar, lalu kembali keluar sambil membawa sesuatu. Kemudian memberikannya padaku Sambil berkata. “Ku pikir ini yang terbaik untuk kita. Kita pisah saja..”

Aku ternganga dengan ucapannya. Tanpa sadar Aku bahkan menjatuhkan Sendok yang sedang ku genggam. Dia ingin pisah dengan ku?? Dia menceraikanku???

Mataku mulai berkaca-kaca, dan air mataku menetes begitu saja. Aku memandang Map berwarna merah tersebut yang bahkan belum ku sentuh. Tangan ku sudah gemetar, bahkan Aku sudah mulai terisak.

“Maafkan Aku, Aku hanya tidak ingin membuatmu tersiksa dengan hubungan ini.” Dia berbicara lagi, dan aku hanya mendengarnya, Aku bahkan tidak mampu menatap ke arahnya.

“Ku pikir aku sudah terlalu memaksakan kehendakku, keinginanku. Jadi, Aku ingin mengakhirinya di sini, melepaskanmu dari status yang membuatmu sesak.”

Alex masih saja berbicara sedangkan Air mataku tidak berhenti menetes dari pelupuk mataku. Apa dia tidak melihatku saat kesakitan seperti sekarang ini???

“Tanda tanganlah di sana.. Dan kita akan berpisah secara baik-baik.” Ucapnya kemudian membuat tubuhku semakin gemetar. Aku benar-benar tidak menyangka jika Alex akan melakukan ini terhadapku.

***

Beberapa minggu berlalu. Tubuhku semakin lemah. Kini Aku sudah kembali ke jakarta sejak dua hari yang lalu. Orang tua Alex tidak tau dengan rencana perceraian kami, tapi mereka tentu tau jika kami sedang tidak baik-baik saja.

Aku hampir saja jatuh tersungkur jika Ibu Alex tidak menarik tubuhku.

“Astaga.. Kamu tidak Apa-apa nak??” Tanya nya dengan nada khawatir.

Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku. “Tidak Bu, Saya baik-baik saja.” Ucapku masih dengan membawa keranjang yang berisi baju-baju kotor yang akan ku cuci.

“Istirahatlah.. Kamu terlihat tidak sehat.”

“Saya baik-baik saja.” Ucap ku meyakinkan. Kemudian aku kembali berjalan dan baru dua langkah, kepalaku pening, mataku terasa berat, dan aku tidak dapat mengingat apapun lagi.

***

Aku terbangun di atas ranjang kamarku.  Mendapati Ibu mertuaku yang sudah duduk di pinggiran ranjang sambil menatapku dengan tatapan khawatirnya.

“Aku kenapa Bu..?”

Pertanyaanku di jawab dengan pelukan oleh Ibu mertuaku tersebut. Aku melihat Alex sudah berdiri di belakang Ibu mertuaku, menatapku dengan tatapan kosongnya.

“Astaga sayang.. bagaimana mungkin Kamu tidak tau. Kamu Hamil..”

Mataku membulat seketika. Hamil?? Bagaimana mungkin?? Lalu.. Lalu bagaimana denganku nanti?? Dengan Bayiku?? Bukankah Aku akan bercerai dengan Alex?? Mataku mulai berkaca-kaca, dan aku kembali meneteskan airmata. Kenapa takdir hidupku menyedihkan seperti saat ini??

***

Malamnya, Aku masih belum turun dari ranjang. Tubuhku masih lemah, dan pikiranku masih kacau. Aku melihat Alex berjalan ke arahku sambil membawa sebuah nampan. Dia kemudian duduk di pinggiran ranjang tepat di hadapanku.

“Makanlah.. Kamu harus banyak makan.” Ucapnya dengaan lembut.

Aku hanya diam. Ku raih nampan yang di bawanya. Kemudian aku mulai makan dalam diam. Aku tidak tau harus berbicara apa dengannya. Kepalaku masih pusing memikirkan semua ini.

“Aku sudah memikirkannya.. Kita.. Kita batalkan saja perceraian kita.”

Aku membatu seketika. Apa karena bayinya?? Apa dia membatalkan semuanya karena aku sedang Hamil?? Karena kasihan terhadapku??

“Kita lanjutkan saja.” Ucapku kemudian dengan nada datar.

“Tidak, Kita akan membatalkannya. Aku tidak bisa menceraikanmu saat Kamu sedang mengandung Anak ku.”

“Kalau begitu kita lanjutkan nanti setelah aku melahirkan.” Ucapku masih dengan nada yang ku buat sedatar mungkin. Padahal kini Aku merasa hatiku bagaikan di remas-remas.

“Kamu.. benar-benar ingin berpisah denganku??” Tanyanya dengan nada lirih.

“Bukannya Kamu yang ingin menceraikanku??” Aku berbalik bertanya. Alex termenung karena pertanyaanku.

“Baiklah, Aku yang salah.” Katanya kemudian.

“Alex, Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kamu membuatku seakan menjadi wanita yang paling jahat di muka bumi ini.”

“Tapi memang Aku yang salah Dina.. Aku salah karena sejak Awal Akulah yang memaksakan kehendakku untuk memilikimu.”

Aku melihat Alex berdiri, Dia mengacak kepala seperti oran yang sedang frustasi.

“Saat itu Aku tau kalau Kamu hanya memanfaatkan Aku, kamu masih mencintai Lelaki lain dan Aku tetap bersikeras memperistrimu. Karena Aku terlalu cinta dengan mu Dina.. Aku terlalu sayang Hingga perasaan ini membuatku Gila, Membuatku tidak bisa berpikir jernih kalau hubungan yang di paksakan seperti ini hanya akan menyakiti kita berdua.. Aku yang salah..”

“Lalu apa Aku tidak salah?? Apa aku tidak salah saat menerima lamaranmu padahal hatiku masih untuk lelaki lain?? Apa Aku tidak salah saat membuatmu semakin mencintaiku??”

Alex mendekat ke arahku. Dia menangkup kedua pipiku. “Tidak Ada yang salah denganmu. Akulah yang salah..” Ucapnya lirih.

Kemudian Aku memeluknya. “Ya.. Kamu yang salah, Kamu salah karena kamu hanya percaya dengan apa yang kamu lihat atau yang kamu dengar Dulu.. Kamu tidak memeberiku kesempatan untuk berbicara jika Kini semuanya sudah berubah. Perasaanku sudah Berubah Alex… Aku menyayangimu lebih dari yang ku tau.. Aku menginginkanmu sebesar Kamu menginginkan Aku.. Aku merasa tersiksa bukan karena hubungan ini tapi karena Sikapmu yang selalu menhindariku…” Aku berkata panjang lebar sambil terisak.

Tubuh Alex terasa kaku dalam pelukanku. Kenapa?? Apa dia masih tidak percaya dengan pengakuanku?? Lalu aku harus membuktikannya dengan Apa???

Aku melepaskan pelukanku kemudian menatap tajam ke arahnya. “Kaytakan Sesuatu Alex.. Aku ingin mendengar sesuatu darimu, Jangan Hanya diam..” Ucapku dengan Kesal.

Alex menggelengkan kepalanya. “Aku masih tidak percaya..”

“Kamu ingin bukti apa?? Apa dengan aku pergi kamu baru akan percaya dengan apa yang ku katakan??”

Tanpa ku duga, Alex memelukku dengan sangat erat. “Jangan.. jangan pergi dariku.. Seberapa menjengkelkannya Aku, Ku mohon jangan pernah tinggalkan Aku.”

Aku kembali menangis. “Tapi kamu yang memberiku Surat cerai saat itu.. Kamu yang ingin Aku pergi dari hidupmu..”

“Surat cerainya sudah ku robek sejak lama.. jadi kita lupakan saja permintaan konyolku kemarin.”

“Apa??? Kamu yakin??”

Alex kemudian menangkup kedua pipiku. “Dina, Saat itu aku terlalu gila. Aku tidak berpikir panjang saat memberimu surat sialan itu. Tapi ketika melihatmu menangis dan bergetar saat menandatangani surat tersebut, Hatiku tersentuh. Dengan bodohnya aku merobek surat tersebut malam itu juga, dan aku berpikir akan mencari alasan lain agar kamu tetap mau bersamaku nantinya. Kehamilan Kamu bukanlah alasan kenapa Aku membatalkan perceraian kita, Karena dari dalam hatiku yang paling dalam, Aku tidak menginginkan perceraian tersebut. Aku hanya ingin membuatmu bahagia, tapi jika perceraian itu membuatmu menagis, Untuk apa aku melanjutkannya??”

“Jadi.. Kita tidak jadi cerai??” tanyaku dengan polos.

“Tidak. Tapi kamu harus ingat, Bukan karena Bayinya yang menjadi alasan tapi Bayi itu semakin mengukuhkan Alasasanku supaya tidak menceraikanmu..”

“Lalu apa alasan  mu yang sebenarnya??”

“Karena Aku Cinta Kamu.”

Empat kata itu seakan membuat jantungku meledak saat itu juga.

“Itu alasan utama kenapa Aku membatalkan perceraian kita, Merobek sura-surat sialan tersebut. Karena Aku cinta kamu. Aku tidak ingin melihatmu menagis.. Dan Aku ingin selalu berada di dekatmu. Maaf kalau aku terlalu egois.”

Dan tanpa banyak bicara lagi Aku memeluknya. Memeluk Alex dengan sangat erat. “Aku juga mencintaimu Alex… Cinta yang terlambat untuk ku sadari.. Cinta yang membuatku menerima lamaranmu.. Cinta yang membuatku sedih saat Kamu menghindariku.. Dan Cinta yang membuatku menangis saat mengetahui Kamu ingin berpisah dariku. Aku mencintaimu dan Aku bru menyadarinya.. Maafkan Aku…” Alex membalas pelukanku dengan sangat Erat. Sesekali ia mengecup lembut kepalaku.

“Berhenti minta maaf.. kita sama-sama salah, sama-sama bodoh karena cinta..” Dan Aku hanya bisa mengangguk dalam pelukannya.

***

Beberapa bulan kemudian…

“Ibu Dina duduk saja, Astaga..”  Suara Emi membuatku mengangkat wajah ke arahnya.

“Aahhhh.. hanya menata ini saja, nggak akan capek kok..”

“Tapi Pak Alex pesan..”

“Kamu hanya perlu bilang sama Pak Alex kalau saya sedang butuh olah raga.” Kataku dengan menyunggingkan senyuman.

“Ibu Dina terlalu rajin.” Ucap Emi lagi yang hanya ku balas dengan senyuman.

Saat ini aku memang sedang sibuk menata barang di rak-rak supermarket. Yaa.. ini seakan menjadi kebiasaan baru untukku. Sejak usia kandungaanku empat bulan, Aku sangat betah berada di rak-rak Bagian bahan-bahan pembuatan kue.. entah kenapa Aku sangat menyukai baunya. Dan sejak saat itu, Aku selalu menyempatkan diri berada di sana untuk menata barang atau sekedar menghirup aromanya saja.

Yaa inilah Anehnya orang Hamil. Aku tidak pernah ngidam yang macam-macam. Alex bahkan dengan lucunya memintaku untuk meminta sesuatu yang Aneh darinya, tapi aku tidak pernah meminta hal tersebut. Aku hanya ingin berada di sini, Di rak-rak bagian bahan pembuatan kue, untuk menghirup aromanya. Hanya itulah yang ku inginkan setip harinya hingga usia kendunganku kini mencapai Delapan bulan.

Aku merasakan sebuah lengan memelukku dari belakang. Siapa lagi jika buka Alex, Suamiku yang tak tau malu. Ya.. Alex benar-benar tidak tau malu saat di hadapan karyawan nya. Ia seakan tidak ingin di lihat sebagai atasan, tapi igin di lihat sebagai teman, maka dari itu Ia tidak pernah malu-malu bermesraan denganku di depan karyawannya.

“Kamu kok masih di sini??”

“Aku masih belum puas menghirup aroma pandan ini Alex..”

Aku merasakan Alex tersenyum. “Sepertinya dia perempuan.” Ucapnya sambil mengusap lembut perutku, kemudian aku merasakan bibir basahnya menyentuh kulit leherku.

“Astaga.. harusnya kalian melakukan itu di tempat lain. Dasar nggak tau malu.” Suara Angkuh tersebut memaksa kami berdua menjauhkan diri masing-masing dan menoleh ke arah suara tersebut berasal.

Dan benar saja. Di sana sudah Ada Clara dengan Troli yang di dorongnya beserta Mas Rey yang sedang menggendong Denny, putera pertama mereka.

Aku tersenyum mungkin kini wajahku sudah memerah karena malu. Aku dan Clara kini sudah semakin dekat, itu bermula ketika Aku menjenguk Clara saat melahirkan Denny. Clara benar-benar sudah sangat Berubah. Sikap dan perilakunya berubah, Dan kini kami bisa menjadi teman baik.

Clara sering sekali bertemu denganku, karena hampir tiap hari dia belanja di supermarket kami, dan hampir tiap hari juga aku berada di sini. Kedekatan kami terjalin begitu saja.. Saat bertemu, kami berbicara banyak, tentang kehamilan, tentang bayi.. dan aku suka.. Aku suka dengan Clara yang saat ini. Dia sangat pantas bersanding dengan Mas Rey..

“Kalian mencari sesuatu??” tanya Alex pada Mas Rey dan Clara.

“Aku Cuma mengantarnya mencari bahan Kue..”

“Ku pikir kemarin kamu sudah belanja banyak bahan kue Cla..” Kataku kemudian.

“Bahan-bahan itu habis karena dia selalu gagal membuat Chese Cake yang dia inginkan..” jawab mas Rey dengan wajah datarnya.

“Heeiii Aku tidak akan gagal kalau kamu tidak menggangguku Rey..”

“Yaa.. dan aku tidak akan mengganggu kalau kamu tidak menggodaku.”

“Menggoda?? Dasar..” Clara mulai mencubit-cubit lengan Mas Rey.

Aku dan Alex tersenyum saat melihat mereka berdua saling bertengkar seperti kucing dan tikus. Yaa.. mereka berdua memang sangat aneh, Pasangan aneh tapi manis, aku suka melihatnya.

***

“Kapan-kapan main kerumah kami yaa.. Aku sudah bisa membuat Brownis..” Ucap Clara dengan antusias.

“Aku akan main kesana kalau kamu sudah berhasil membuat Chese Cake.” Ucapku kemudian.

“Baiklah, Aku akan buktikan kalau aku bisa membuatnya” Ucapnya dengan tertawa lebar. Lalu dia berjalan menuju mobil  yang di dalamnya sudah ada Mas Rey. Keduanya kemudian melambaikan tangan padaku dan Alex. Lalu mereka pergi..

Aku menatap Alex dan tersenyum padanya. “Ku pikir hari ini tidak pernah terjadi padaku.”

Alex mengerutkan keningnya. “Hari apa??”

“Hari dimana aku sangat bahagia, saat melihat Cinta pertamaku bahagia dengan Cinta terakhirnya.. Dan Aku sendiri bahagia dengan Cinta terakhirku..”

Alex kemudian membawa tangannya di pinggangku. “Dan Aku juga tidak pernah berpikir hari ini akan terjadi.. Hari dimana Aku sangat bahagia, melihat Wanita yang ku cintai menjadi Cinta terakhirku, Jodoh yang di berikan tuhan untukku.. dan dia bahagia dengan kehadiranku..” Ucapnya sambil menggosok-gosokkan hidung mancungnya pada hidungku.

“Memangnya Aku bahagia dengan kehadiranmu??” Tanya ku menggodanya.

“Jadi kamu nggak bahagia??” Dia mulai merajuk.

Aku kemudian mengalungkan lenganku pada lehernya. “Aku bahagia Alex.. sangat bahagia….”

Alex mengecup keningku lembut. Aku merasakan kelembutannya.. kebahagiaan saat Ia berada di sisiku.. Terimakasih Tuhan.. karena Kau telah menciptakan dia untukku, menuntunnya padaku.. dan membuatnya menjadi Jodoh terakhirku.. Terimakasih….

 

***END***

Akhirnya end juga yaa… makasih semangatnya selama ini yaa.. akhirnya Dina danAlex ikut bahagia seperti yang lainnya,,, hahahha lunas yaa hutangku,,, Next akan ada Oneshoot Daesung Bigbang dengan judul ‘Smiling Angel.’ tunggu aja yaa… *KissKiss

My Mate (Dina & Alex Story) – Part 2

Comments 4 Standard

MyMate

My Mate

PART II

-Dina-  

 

Hari demi hari kulalui dengan sangat tidak nyaman. Ya.. aku tidak nyaman dengan kebohongan yang sudah ku lakukan pada semua orang di sekitarku. Aku berbohong saat aku mengatakan jika aku menyukai Alex. Aku melakukannya karena supaya dia bersedia menjadi kekasihku dan membunuh semua rasa curiga dan rasa cemburu yang di rasakan Clara terhadapku.

Dan semua memang berjalan sesuai rencanaku. Semua orang rumah tau jika Aku dan Alex memiliki hubungan special. Bahkan sikap Clara kini sudah membaik denganku ketika kami tak sengaja bertemu. Dia lebih ramah dan murah senyum. Aku senang.

Hanya saja saat di dekat Alex, aku merasa tak nyaman. Aku merasa bersalah padanya karena sudah memanfaatkannya. Alex benar-benar sangat baik terhadapku. Dia bahkan sudah mengajak ku berkunjung ke rumahnya. Orang tuanya Baik, Dan aku suka. Hanya saja…..

Aku memekik dalam lamunanku saat subuah telapak tangan menyentuh bahuku. Dia lelaki itu, Alex.

“Sedang melamun apa??” Ucap Alex yang kini sudah duduk di sebelahku.

“Enggak, Aku tidak memikirkan apa pun.”

Aku hanya menunduk. Sungguh, kini saat di hadapan Alex, aku sama sekali tak berani menatap ke arah matanya, entah kenapa ada rasa yang aneh saat aku menatapnya. Dan aku tidak ingin rasa itu mempengaruhiku.

“Ayo.. Aku ingin mengajak mu ke suatu tempat.”

Aku mengernyit. “Kemana??”

“Ayoo ikut saja..” Ucapnya sambil menarik pergelangan tanganku.

Akhirnya mau tak mau Aku mengikuti kemana kaki Alex melangkah. Kami masuk ke dalam supermarket tersebut, lalu menaiki tangga hingga kami berada di atap supermarket tersebut.

“Alex, untuk apa kita kemari??”

“Sudah, ikut saja..” Alex masih menarik pergelngan tanganku hingga kami berada di pinggiran Atap supermarket. Ini benar-benar mengerikan, karena aku adalah orang yang takut ketinggian jadi bagiku ini sangat mengerikan. Sebenarnya Alex mau apa sih??

Dan kemauan Alex akhirnya terlihat juga olehku saat satu persatu karyawan supermarket tersebut keluar sambil membawa kertas bertuliskan huruf-huruf yang di taruh di atas kepala mereka.

‘Ardina.. Menikahlah denganku…’

Begitulah tulisannya. Apa Alex melamarku?? Please.. jangan lakukan ini Alex, Aku bahkan ingin memutuskan hubungan kita karena merasa bersalah denganmu..

“Menikahlah denganku…” Suara itu terdengar lirih. Aku menoleh ke arah Alex, mata nya tampak sendu tapi jelas tersirat ketulusan di sana. Aku merasakannya, aku dapat melihatnya.

Dan entah kenapa aku hanya bisa mengangguk kan kepalaku, aku benar-benar tidak sadar saat melakukan itu. Aku menerima lamaran Alex begitu saja tanpa tau resikonya.

Tuhan, Jika memang ini kehendakmu, Jika Lelaki di hadapanku ini memang jodohku, tunjukkan kami jalan untuk saling mencintai…

***

Seperti mimpi… itulah hidupku saat ini.

Aku menjadi istri seorang Alex yang ternyata dia adalah pemilik dari supermarket langananku. Saat tau, Aku sangat terkejut. Tapi tentu itu tidak mengurangi rasa gelisahku saat menghadapinya.

Ku pikir kini semuanya sudah berubah. Tiga bulan menjalani hidup sebagai Istrinya membuatku mengerti bagaimana sosok Alex yang sebenarnya. Di baik, sangat baik, Sederhana dan dia sangat menyayangiku, setidaknya itu yang bisa ku lihat darinya. Tapi, tentu masih ada yang kurang, hatiku belum sepenuhnya menerimanya, entah kenapa aku juga tak tau, Apa Karena Mas Rey?? Sepertinya bukan. Tapi bagaimana pun juga aku tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk hubungan kami.

Selama tiga bulan menjadi Istri Alex, Aku masih perawan. Ya, Dia sama sekali belum menyentuhku. Aku tidak tau karena apa, Ku pikir saat malam dia sedikit menghindariku. Apa dia memiliki kelaian?? Entahlah, tapi aku cukup lega, karena aku tidak mungkin melakukan hal itu saat hatiku sendiri belum pasti untuk menerima Alex di sisiku.

“Dua hari lagi aku akan keluar kota.” Suara itu membuatku membatu.

Kini Aku sedang merapikan Baju yang akan di kenakan Alex ke Supermarket. Tapi perkataannya membuatku menghentikan semua gerakanku. Keluar kota?? Kenapa tiba-tiba??

Aku membalikkan badan dan mendapati Alex sudah berdiri di hadapnku. “Kenapa tiba-tiba??”

“Ayah memutuskan membangun sebuah supermarket lagi di sana. Jadi Aku harus mengawasinya secara langsung.”

“Aku ikut.” Entah dari mana Aku megucapkan permintaan tersebut.

Aku melihat Alex menggelengkan kepalanya. “Di sana Akan lama.. mungkin sekitar satu sampai tiga bulan.”

“Dan Kamu akan meninggalkanku selama itu?? Tidak, Aku mau ikut Alex.”

Dan aku terkejut dengan tingkahnya. Dia tiba-tiba memelukku. “Baiklah, Siapkan semuanya, Dua hari lagi kita ke jogja..”

Senyuman tersungging begitu saja pada wajahku. Aku senang jika selalu bersama Alex, Aku bahagia jika di dekatnya. Tapi aku masih tidak mengerti, Perasaan apa ini???

***

-Alex-

 

Ardina… Wanita yang kini menjadi Istriku.. Wanita yang benar-benar ku cintai dan ku yakini menjadi jodohku sejak pertama kali aku melihatnya, Dan dia juga wanita yang sudah mematahkan hatiku..

Aku memejamkan mataku ketika kepalaku mulai berdenyut. Saat itu, Aku tidak sengaja mendengarnya. Itu terjadi jauh sebelum aku melamar Dina.

*Flashback

 

Aku keluar dari rumah besar itu.. rumah besar tempat tinggal Dina, Kekasihku. Ya.. Hari ini entah kenapa tiba-tiba Dina mengajakku ke rumah yang di tinggalinya. Senang, tentu saja, ku pikir selama ini hanya Aku yang antusias dengan hubungan kami. Tapi ternyata Dina juga, terbukti dengan dia mengajak ku ke rumah yang selama ini Dia tinggali. Dia mengenalkanku dengan semuanya.

Tapi saat di dalam tadi, Ku pikir Ada yang Aneh. Yaa… Ada sesuatu yang tidak ku ketahui, entah apa itu aku tak tau.

Ibu Allea, Majikan Dina adalah orang yang sangat baik, Ia ramah, sangat ramah. Memiliki seorang Putera bernama Reynald dan juga menantunya yang bernama Clara. Kalau tidak salah, Clara adalah salah satu model papan atas, Aku tau karena wajahnya sering muncul di beberapa Produk yang ada di Supermarketku.

Ketika makan malam selesai. Aku di ajak Dina menuju ke sebuah ruang tengah, Yang disana sudah ada Reynald dan juga Clara. Sekali lagi, Dina mengenalkanku di sana. Seakan menunjukkan Bahwa Aku adalah Kekasihnya, orang yang sangat di cintainya..

Mata Dina tidak berhenti menatap Clara, seakan menilai bagaimana reaksi wanita tersebut. Sedangkan aku sendiri  sibuk memperhatikan Reynald. Reynald tampak senang mengetahui hubungan kami. Begitu pun dengan Clara. Dan di sinilah aku mulai bingung. Untuk Apa Dina mengenalkanku pada Reynald dan Clara?? Bukankah cukup mengenalkanku dengan ibunya Saja??

Aku menghilangkan semua pertanyaan-pertanyaan yang embuat hatiku tidak nyaman. Akhirnya malam itu berakhir dengan saling bercerita di ruang tengah.

Saat Aku pulang, dan baru sampai di perempatan pertama, Aku melupakan sesuatu. Ya.. Aku lupa memberi tau Dina jika Besok giliranku mengajaknya ke rumahku. Aku ingin mengenalkan dia dengan orang tuaku.

Akhirnya aku berbalik Arah dan kembali menuju rumah yang di tinggali Dina. Saat itu, Ibu Allea lah yang membukakan pintu untukku. Aku meminta ijin untuk menemui Dina sebentar. Dan Ibu Allea menunjukkan dimana letak kamar Dina. Akhirnya aku menuju ke sana, dan di sanalah aku mengetahui semunya..

Aku mendengar Dina sedang berbicara dengan seseorang yang ku yakini Adalah Ibunya sendiri..

“Kamu nggak boleh seperti itu Din.. Kasihan Nak Alex.”

“Lalu aku harus bagaimana Bu, Aku tidak mau selalu merasa canggung saat Mas Rey dan Clara berkunjung ke rumah ini.”

“Tapi Memanfaatkan Nak Alex juga tidak baik, Dia Lelaki yang Baik, Ibu bisa melihat ketulusannya, dia benar-benar mencintaimu Din..”

“Tapi aku tidak Bisa Bu.. Hatiku sudah tertutup untuk Cinta, Cukup Mas Rey saja lelaki yang memberiku Cinta dan merenggutnya kembali, Aku tidak ingin lagi….”

Jantungku berdegup tak menentu.. Dadaku terasa panas dan sesak.. Dan pada detik itu aku tau, Jika Dina hanya mencintai Reynald… Aku hanya sebagai alat untuk membuat hubungan mereka semua membaik tanpa ada rasa canggung lagi… Dina memanfatkanku…

 

Aku terkesiap  dari lamunan saat tangan halus itu menyentuh pundakku dengan lembut. Tangan siapa lagi jika bukan tangan Dina.

Kini Aku sudah berada di sebuah Apartemen sewaan di Jogja. Yaa.. sudah tiga Hari kami di sini, Aku harus mengontrol secara langsung membangunan supermarket besar milik keluargaku yang bercabang di jogja.

“Kamu nggak berangkat??” Tanya nya dengan lembut.

Aku menggelengkan kepalaku. Hari ini kepalaku terasa pusing, Dan aku memutuskan untuk Libur seharian.

“Kamu sakit??” Tanyanya penuh perhatian.

Yaa.. Dina memang selalu perhatian, Di benar-benar istri idaman. Tapi… aku tidak bisa membohogi diriku sendiri, Sejak saat itu Hatiku sudah tersakiti karenanya. Aku memutuskan untuk tetap melamarnya, menjadikannya istriku karena Aku benar-benar ingin memilikinya. Terlihat Egois mungkin, tapi biarlah.. Aku benar-benar tulus mencintainya meski aku tau, Tidak ada Cinta darinya untukku.

“Aku hanya sakit kepala.” Jawabku dengan nada selembut mungkin.

Dina kemudian duduk tepat di sebelahku. Tangan rapuhnya menyapu keningku. Dan aku hanya bisa memejamkan mata. Berada di dekat Dina membuatku semakin jatuh dalam perasaan Cinta padanya.

“Alex.. Ada yang kamu sembunyikan dariku??” Tanyanya dengan mata sendunya yang menatap tepat pada manik mataku.

Aku mempalingkan wajahku kearah lain, dan menggelengkan kepala cepat-cepat. “Tidak Ada.”

“Lalu kenapa Kamu memperlakukanku seperti ini???” Dia bertanya dengan suara lirihnya.

Aku menelan ludahku dengan susah payah. “Memperlakukan seperti apa?” tanyaku dengan nada yang ku buat seperti orang bingung.

“Kamu menghindariku..”

“Tidak Dina.. Kenapa aku menghindarimu??” Ucapku selembut mungkin sambil menatapnya lekat-lekat.

“Aku merasakannya Alex, Kamu lebih pendiam dari pada dulu, Kamu terlihat sendu tidak seperti dulu. Kenapa??”

Aku hanya tertunduk tidak berani menatapnya. Dia terlalu menuntut untuk tau apa yang terjadi padaku.

“Aku istrimu Alex, Tapi Kamu tidak pernah sekalipun meyentuhku.. Kenapa??”

Aku masih tertunduk. Kenapa?? Karena aku tau kamu tidak menginginkannya Dina… Kamu tidak menginginkan bersamaku. Kamu hanya terjebak dengan rencanamu sendiri, dan Aku, Bodohnya Aku karena sudah membuat kita sama-sama terjebak dalam hubungan yang menyesakkan ini…

Tanpa ku duga, Dian meraih sebelah tanganku, dan membawanya tepat pada payudaranya. “Sentuh aku..” Kata-katanya sarat dengan nada kesakitan. Aku membulatkan mataku ke arahnya, Wajahnya benar-benar menyiratkan rasa sakit hati yang teramat sangat. Apa Aku sudah menyakitinya???

Aku hanya bisa membatu menatapnya. Dina kemudian mengalungkan lengannya pada leherku. Mendekatkan wajahnya pada wajahku. Kemudian berbisik tepat di depan bibirku.

“Sentuh Aku.. Ku mohon..”

Setelah perkataannya tersebut, Dina menempelkan bibirnya pada bibirku, melumat habis bibirku dengan Ciuman lembut dari dia. Sedangkan aku sendiri masih membatu. Benar-benar tidak menyangka jika Dina melakukan hal ini padaku.

Aku mendengar dia Terisak. Airmatanya meluncur begitu saja dan mengenai pipiku. Dia menangis, tapi tetap menciumku walau aku tak sedikitpun membalasnya. Apa dia menangis karenaku?? Apa aku sudah terlalu menyakiti hatinya???

***

-Dina-

 

Wanita murahan…

Seperti itukah aku saat ini?? Aku seakan menjajakan diriku pada seorang Alex, Suami yang sudah lebih dari tiga bulan ku nikahi, Tapi tak sekalipun dia mau menyentuhku. Dan kini, Aku lah yang memaksanya untuk menyentuhku seperti wanita yang haus akan sentuhan Lelaki.

Aku tau ada yang berbeda dengan Alex. Dia benar-benar berbeda dengan Alex yang dulu, Pemuda yang selalu meggodaku, menempel kemanapun kakiku melangkah saat aku belanja di supermarket tersebut. Aku merindukan Aalex yang itu…

Kini Alex mungkin masih sama, Masih perhatian, lembut dan baik hati. Tapi Aku melihat ada yang berbeda. Seakan Ada sesuatu yang membuatnya sedikit menjauhiku.

Aku kembali melumat bibir Alex, bibir yang sama sekali tidak bergerak seakan tidak tertarik denganku. Tangisku semakin menjadi ketika aku sadar jika Dia tidak menginginkanku. Lalu aku melepaskan pangutanku, tertunduk dan terisak.

Dasar bodoh..!!! Harusnya Aku tau, Alex tidak mau menyentuhku mungkin karena dia tidak tertarik denganku. Lalu kenapa dia menikahiku?? Dan aku tidak bisa berpikir kembali ketika tiba-tiba Alex mengangkat wajahku kemudian mencium bibirku dengan membabi buta. Melumatnya seakan sudah lama sekali dia menahan diri untuk melakukan hal ini padaku.

Aku memejamkan mataku, tubuhku bergetar ketika tangan Alex mulai menjamahku. Membuka satu persaku kancing kemeja yang sedang ku kenakan. Setelah tubuhku polos tanpa sehelai benang pun, Alex mulai mendorongku sedikit demi sedikit hingga tubuhku terbaring sempurna di atas Sofa panjang yang tadi kami duduki.

Setelah tubuh kami sama-sama polos tanpa sehelai benang pun, Alex kembali menindihku. Ia mendaratkan bibirnya di sepanjang puncak Payudaraku. Memujanya, membuatku merasakan rasa aneh yang baru saat ini ku rasakan.

Aku menggigit bibir bawahku, mencoba menahan erangan yang entah kenapa seakan ingin keluar dengan sendirinya dari bibirku.

“Jangan Di tahan.” Bisik Alex dengan suara paraunya. Dan aku merasakan tubuhku semakin memanas saat mendengar suaranyaa yang terdengar berbeda dari biasanya tersebut.

Lama kami berdua saling menyentuh satu sama lain, mencumbu satu dengan yang lainnya, hingga tiba saatnya Alex menyatukan dirinya denganku. Rasanya tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata. Aku menangis, dan Alex memelukku dengan erat, sesekali ia mengecupi permukaan leherku. Kemudian ras sakit itu sedikit demi sedikit menghilang. Dan Aku mulai mendesah kembali, napasku kembali terputus-putus seiring gerakan yang di lakukan oleh Alex.

Tak ada sedikitpun kata di antara Kami. Kami hanya saling memandang satu smaa lain, menyentuh satu sama lain, dan mendesah satu sama lain hingga puncak kenikmatan itu kami capai bersama-sama.

Alex kembali mencumbuku dengan lembut sebelum dia tersungkur di atasku. Napasnya menggebu setelah pencapaiannya, detakan jantungnya menyatu dengan detkan jantungku. Tubuhnya sedikit bergetar, pun dengan tubuhku. Pada detik ini aku sadar, Bahwa perasaan yang kami rasakan sama, Kami menyatu dengan suka rela.. dengan satu rasa yang aku sendiri belum yakin apa itu bisa di sebut dengan rasa Cinta..

Jika memang ini Cinta, Aku ingin mencintainya sampai nanti, sampai umurku menua, berdua, bersamanya..

“Alex.. Aku sayang kamu..”  tanpa sadar aku mengucapkan kalimat itu, kalimat yang benar-benar terucap dari dasar hatiku, bukan kalimat yang sengaja ku rencanakan untuk menjeratnya. Aku benar-benar menyayanginya, Menyayangi Alex, Suamiku…

 

-TBC-

My Mate (Dina & Alex Story) – Part 1

Comments 4 Standard

MyMate

My Mate

 

Halooo… mana yang dari kemaren pengen tau kisah dina dan Alex?? yuukkk mari mampir yaaa.. wkwkwkwk okay.. enjoy reading yaa.. *KissKiss

 

 

Tittle : My Mate…

Cast : Ardina & Alex

Genre : Roman Dewasa

 

Part I

 

-Alex-

 

Pagi ini Aku benar-benar sibuk. Aku harus mengurus beberapa barang yang datang, belum lagi beberapa karyawan baru yang harus melakukan training denganku secara langsung. Yaa tentu saja aku tak begitu mempercayakan pekerjaan kepada orang-orang yang tak jujur. Jadi mau tak mau aku sendiri yang harus menyeleksinya.

Seperti biasa, jakarta pagi ini sangat macet, benar-benar macet seperti hari-hari sibuk biasanya. Pantas saja setiap hari pasti ada saja karyawanku yang telat masuk kerja, mungkin salah satunya karena kemacetan yang semakin parah ini.

Saat aku jenuh dengan kemacetan yang menimpaku, tiba-tiba aku melihat Seorang Nenek yang berjualan buah jambu biji terjatuh tepat ddi pinggiran jalan. Buah-buah si nenek itu berhamburan bahkan ke tengah jalan. Tak ada satu orang pun yang mau membantuunya. Karena kasihan, aku memutuskan untuk keluar dari mobil dan membantu nenek-nenek tersebut, tapi saat aku akan keluar. Aku melihatnya….

Dia seperti cahaya yang menyinari gelapnya malam.. Seperti hujan yang membasahi gersangnya tanah gurun… Wajahnya cantik dan entah kenapa aku merasa dapat melihat kecantikan hatinya juga…

Aku memandangnya, sibuk membantu nenek tua tersebut memunguti buah jambu, padahal kulihat dia juga sedang sibuk membawa barang belanjaannya. Tak ada satu orang pun yang membantu nenek tersebut kecuali wanita itu. Wanita cantik dengan wajah sendunya.

Klakson mobil di belakang mobilku menyadarkanku dari lamunan. Aku harus segera menjalankan mobilku dan meninggalkan pemandangan menyejukkan hati tersebut. Wanita itu…. jika kita bertemu lagi… Ku pastikan Kamulah jodohku…

***

Aku membantu para pegawai pria menurunkan barang-barang yang baru datang dan membawanya ke area Gudang. Yaa, beginilah pekerjaanku. Supermarket ini di dirikan oleh Ayahku. Dulu sekali saat aku masih kecil, supermarket ini hanya sebentuk toko kecil pada Umumnya. Yaa tentu saja, kami bukanlah orang kaya.

Dengan usaha keras Ayahku, sedikit demi sedikit semuanya berubah. Toko kecil kami berubah menjadi lebih besar dan lebih besar lagi hingga seperti saat ini, bahkan setelah aku ikut terjun di dalamnya, Kami membuka beberapa cabang supermarket di kota ini. Karena itulah Aku tak bisa main-main dengan usaha ini. Sebisa mungkin semuanya ku kerjakan sendiri. Bahkan beberapa pelanggan mengira jika aku ini hanya karyawan biasa. Biarlah, aku sangat suka di kira sebagai orang biasa.

Setelah selesai membantu para karyawanku, Aku duduk dengan peluh yang menetes di dahiku. Seragam yang ku kenakan ini pun basah kuyub. Yaa aku juga mengenakan seragam yang sama dengan para karyawanku. Entah kenapa bagiku itu lebih nyaman dibandingkan harus mengenakan setelan dan lain sebagainya.

Saat aku masih terengah karena kelelahan. Mataku menangkap bayangan itu.. Sosok beberapa hari yang lalu yang ku lihat sedang membantu seorang nenek di pinggir jalan. Dia sedang berjalan dengan seorang wanita paruh baya. Berbelanja di tempatku.

Aku tersenyum. Mungkinkah dia benar-benar Jodohku??

Aku berjalan pelan di belakang mereka, sesekali membenarkan barang di  Rak-rak barang. Ku dengar sesekali mereka sedikit bicara.

“Jadi… Bu Allea nanti akan memasaknya dengan ini?”

“Iya Din..  Rey sangat suka saat saya membuatkannya itu.”

“Saya mau di ajari juga cara membuatnya.” Kata wanita itu dengan sedikit malu.

“Benarkah?? Baiklah, nanti kita akan membuatnya bersama.”

Aku melihat ada yang aneh, Wanita itu nampak sangat sopan dan patuh dengan Wanita paruh baya yang sedang mengajaknya berbelanja tersebut. Jika di lihat dari gerak gerik dan cara bicaranya, mereka tentu jelas bukan seorang ibu dan Anak. Lalu… Apa mereka sepasang menantu dan Mertua?? Ahhh jika benar, berarti aku sudah terlambat.

Pikirku ingin mengenyahkan bayangannya dan menghindar pergi, namun nyatanya otak dan syarafku berkata lain. Pandanganku seakan enggan berpaling dari wanita itu, wanita yang hingga saat ini tak kukenal.

Saat setelah mereka sudah keluar dari Supermarketku, aku menghampiri kasir yang tadi melayani mereka.

“Ada apa pak?”

“Emm.. Wanita yang tadi, Apa dia sering belanja kemari, atau baru pertama kali ini??”

“Yang mana Pak??”

“Yang baru saja kamu layani ini tadi.”

“Ohh Mbak-mbak dan ibu yang tadi itu?? Mereka memang sering belanja kemari Pak, Mereka pelanggan tetap kita.”

Aku membulatkan mataku, “Benarkah??”

“Iya pak.. Rumahnya kan tak jauh dari Kontrakan saya. Besar sekali pak..”

Aku mangut-mangut mendengar cerita karyawanku ini. “Terus, Kamu tau nggak apa hubungan mereka? Saya pikir mereka bukan ibu dan Anak.”

“Ohh Bukan Pak, Mbak-mbak yang tadi itu hanya pembantu dari Ibu-ibu yang tadi itu Pak…”

Deg… Deg… Deg…

Jantungku seakan tak berhenti berdetak cepat. Aku tidak kecewa jika dia hanya seorang pembantu, Tidak, Aku malah senang, Lega, dan entahlah… kupikir dia sosok yang selama ini ku cari. Sosok baik, cantik dan sederhana… dan Semoga saja dia benar-benr menjadi jodohku…

 

***

 

-Dina-

 

Hari ini Dia memutuskanku…

Aku tak tau apa yang ku rasakan saat ini. Sakit yang amat sangat hingga aku tak mampu merasakannya lagi.

Mas Rey, Adalah sosok yang sangat sempurna bagi siapapun wanita yang mengenalnya. Dia tampan, Baik, Sayang keluarga, dan dia bukan Lelaki buruk pada umumnya. Aku mencintainya, Sangat mencintainya melebihi apapun di dunia ini. Bukan karena dia kaya, atau dia majikanku dan aku ingin menjadi Nyonya besar di rumah ini, Tidak, bukan karena itu. Aku hanya mencintainya tanpa sarat, Hanya itu saja.

Tapi dia memutuskan untuk menikah dengan orang lain. Mas Rey berkata jika semua itu hanya permainan saja, Dia tidak benar-benar mencintai waita yang akan di nikahinya, dan dia memintaku untuk menunggunya dua tahun kemudian.

Sungguh, Aku ingin melakukannya, menunggunya selama dua tahun dan menjadikannya Milikku seutuhnya. Tapi hatiku berkata lain, pikiranku mengingkarinya. Bagaimana jika Mas Rey berubah sebelum dua tahun berlalu?? Bagaimana jika perasaannya padu hilang dan tergantikan oleh cinta kepada istrinya tersebut?? Bukankah sama saja jika aku sudah kalah??

Yaa.. Aku menyerah, Aku menyerah bahkan sebelum berperang. Ku pikir, Mas Rey memang bukanlah jodohku. Entah kenapa ketika Dia melamarku berkali-kali, Hanya rasa ragu yang kurasakan dan aku berakhir dengan menolaknya. Mungkin karena ini alasannya, Karena dia memang bukanlah jodohku.

Aku kembali menangis, menangis sesenggukan sendiri di dalam kamar kecilku..

***

Siang ini menjadi siang yang menyebalkan untuk ku. Bagaimana tidak, Sejak tadi si pegawai Supermarket yang sedang aku belanjai ini menggangguku terus. Memang tidak bisa di katakan mengganggu, karena dia hanya bersikap ramah padaku. Tapi kelakuannya yang selalu menguntit tepat di belakangku membuatku jengkel.

Aku risih karena sejak tadi Beberapa orang yang sedang belanja di Supermarket langganan ibu Allea ini menatap kearahku dengan rasa keingin tahuan.

Namanya Alex. Dia salah satu pegawai Supermarket yang sudah lama menjadi langganan ibu Allea. Mungkin dia pegawai baru, karena aku baru melihatnya beberapa bulan yang lalu. Dia pernah memberiku kartu nama nya, entah apa maksudnya aku sendiri tidak tau. Dan aku menolaknya.

Yaa.. tentu saja, saat ini bukanlah saat yang tepat untuk mengenal seorang lelaki. Setelah putus dengan Mas Rey beberapa minggu yang lalu, perasaanku kacau, htiku masih terluka, aku masih butuh untuk menyembuhkan luka di hatiku ini. Dan aku tidak ingin mengambil resiko terluka lagi dengan mengenal sosok Lelaki baru.

Alex tidak sala, tentu saja, yang salah adalah waktu. Kami bertemu di waktu yang tidak tepat, dia menggoda ku saat aku sedang ingin sendiri.

Alex adalah Lelaki yang tampan, perawakannya mirip dengan Mas Rey, Tinggi tegap, Wajahnya kalem, terlihat seperti orang yang baik, yaa.. dia memang sangat sopan dan mungkin jika suasana hatiku tidak seperti ini, mungkin aku sudah jatuh hati padanya.

“Biar saya Antar.” Ucapnya yang saat ini masih setia menempel di belakangku.

“Maaf, sudah berapa kali saya bilang, saya bisa pulang sendiri.” Ucapku dengan ketus, aku sendiri tak tau kenapa bisa bersuara dengan nada ketus seperti itu.

“Baiklah, ampai jumpa besok siang.” Katanya dengan ramah.

Aku mengangkat sebelah alisku, “Besok siang?? Anda yakin sekali kalau saya akan kemari lagi besok siang.”

Dia tersenyum, “Tentu saja, Kamu kan sudah menjadi pelanggan setia supermarket ini.” Ucapnya penuh dengan keyakinan. Dan aku tidak bisa menjawab lagi.

Andai saja ini bukan supermarket langganan ibu Allea, mungkin aku sudah belanja di tepat lain. Akhirnya dengan setengah mendengus, aku berjalan keluar. Hari ini aku memang tidak bersama supir rumah, karena pak supir sedang mengantai Ibu Allea ke tempat Adik Pak Renno. Jadi mau tidak mau aku harus naik angkutan umum.

Tapi baru saja sampai di parkiran supermarket, Sebuah kantung belanjaanku yang di dalamnya ada dompetku di rampas begitu saja oleh orang yang tidak ku kenal. Orang tersebut lantas berlari sedamngkan aku hanya mampu berteriak keras-keras.

Sebagian besar pegawai supermarket dan juga pengunjung supermarket tersebut menghambur keluar ke arahku. Tubuhku bergetar hebat, aku tidak pernah kecopetan seperti ini, bagaimana jika tadi Si copet tersebut membawa senjata tajam??

Beberapa orang sudah mengejar copet tersebut, sedangkan aku hanya bisa terduduk lemas.

“Heii… minumlah dulu..”

Itu Alex, dia membawakanku sebotol air mineral dingin, yaa aku memang butuh minum, aku takut. Ku raih botol minuman tersebut dan ku tegak airnya dengan rakus hingga aku tersedak dan terbatuk-batuk seperti orang bodoh.

“Tenanglah, Kami sudah melapor polisi..”

“Aku takut… itu.. itu Uang Ibu allea..” bahkan suaraku pun terdengar bergetar.

Tentu saja, di dalamnya ada beberapa kartu kredit khusus untuk belanja dari ibu Allea, KTP, dan juga kartu ATM satu-satunya yang menjadi milikku yang paling berharga. Bagaimana jika semua itgu hilang?? Dan kemungkinan terburuknya si copet dapat menguras semua uang yang ada di sana.

Tiba-tiba aku ingin menangis…

“Hei.. tenanglah..” Suara Alex menenangkanku, tanpa tau malu lagi aku memeluknya. Astaga…. Aku benar-benar sudah gila.

***

Si pencopet tersebut akhirnya tertangkap. Syukurlah, aku bisa bernapas lega meski tidak mengurangi rasa merinding saat membayangkan wajah si copet tersebut.

Akhinya setelah mengurus semuanya bahkan sampai ke kantor polisi di temani alex, Aku pulang saat malam sudah sedikit larut. Orang-orang rumah pasti mencemaskanku, karena kebetulan ponsel yang ku bawa sudah mati larena kehabisan batrei.

“Ayo naiklah.” Ajak Alex. Saat ini dia sudah di atas sebuah sepeda motor. Wajahnya terlihat lelah, yaa karena sejak tadi memang dia sibuk mengurus segala sesuatunya tentang si pencopet tersebut. Dan entah kenapa, aku merasa nyaman di dekatnya.

“Emm.. aku pulang sendiri saja, kamu terlihat kecapekan.”

“Sudahlah, ayo ku antar, aku nggak tenag saat belum melihatmu sampai di rumah.”

Perkataannya membuatku hangat. Aku merasa di perhatikan kembali, Dia mengingatkan ku pada Mas Rey, Sosok yang selalu perhatian denganku.

“Heii… kenapa bengong?? Ayo, naiklah.”

Dan aku pun menuruti perintahnya. Aku akhirnya menerima tawarannya untuk mengantarku pulang.  Dan aku benar-benar merasa terlindungi oleh kehadiran Alex.

***

Entah sudah berapa minggu berlalu setelah kejadian pencopetan tersebut, Kini hubunganku dengan Alex dan beberapa karyawan di supermarket tersebut semakin dekat. Beberapa diantaranya bahkan menjadi teman dekatku. Aku lebih suka berlama-lama di supermarjet tersebut dari pada di rumah.

Tentu saja, semua ada hubungannya dengan Mas Rey dan juga Clara.  Clara hamil, dan tingkahnya tentu semakin manja. Jujur saja, saat awal mereka menikah, Aku tidak suka, Aku cemburu, dan itu wajar.

Bagaimana jika hal ini menimpa kalian?? Tentu saja kalian akan merasakan apa yang ku rasakan. Benar-benar menyakitkan saat melihat orang yang kita cintai dan mencintai kita menikah dan hidup bersama dengan Wanita lain.

Tapi itu dulu, Saat ini aku senang saat melihat Mas rey bahagia, entah kenapa bisa seperti itu aku juga tidak mengerti. Hanya saja, Clara selalu curiga dengan hubungan kami. Yaa.. aku mengerti apa yang dia rasakan. Siapapun akan tidak suka saat melihat pasangannya dekan dengan mantan kekasihnya. Dan itu membuatku sedikit bingung.

Saat ini Mas Rey dan Clara memang sudah pindah ke rumaah baaru mereka, hanya saja itu tidak mengurangi rasa cemburu Clara padaku apalagi dengn kondisinya yang hamil muda, Hormon mempengaruhinya dan membuat emosinya lebih labil.

Dia tidak suka denganku dan dia terang-terangan memperlihatkaan hal itu padaku. Aku merasa tidak nyaman, dan ku pikir aku harus mengakhiri semua kecurigaan Clara terhadapku.

“Kamu diam aja, ada yang kamu pikirkan??” pertanyaan Alex membuatku gelagapan.

Yaa saat ini aku memang masih berada di supermarket, seperti biasa, setelah belanja kebutuhan dapur, aku menyempatkan diri berhenti sejenak dan menyapa mereka para karyawan supermarket yang kini sudah kenal akrab denganku.

“Iya, hanya sedikit.” Jawabku.

“Cerita saja, Siapa tau aku bisa membantu..” Ucap alex dengan senyuman manisnya. Yaa Alex memang sangat murah senyum dan aku sangat suka melihatnya tersenyum karena dia semakin terlihat manis dan tampan.

Aku berpikir sebentar, lalu ide itu muncul begitu saja dalam pikiranku. Apa aku harus melakukannnya???

“Emmmm Alex, Aku… Aku menyukaimu.” Ucapku kemudian dan aku yakin jika saat ini pipiku sudah merah seperti tomat karena menahan malu.

Alex membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang ku katakan.

“Apa?? Kamu.. kamu yakin??” Tanya nya masih tidak percaya dengan apa yang ku katakan.

Aku mengangguk. “Ya, aku yakin, aku menyukaimu dan ingin, Em….” Ya tuhan, aku tidak sanggup melanjutkan kalimatku lagi.

Tanpa ku duga Alex langsung menyambar tubuhku, mememlukku ke dalam pelukannya. Erat, dia memelukku sangat erat.

“Alex…” lirihku.

“Diamlah… Astaga… terima kasih kamu sudah mau membalas cintaku.” Ucapnya kembali mengeratkan pelukannya pada tubuhku.

Aku membatu dalam pelukannya. Alex… Maafkan aku.. Sungguh maafkan Aku…

 

-TBC-