Secret Wife – Chapter 4 (Pengalaman Pertama)

Comments 4 Standard

Secret Wife

 

Selamat bermalam mingguan, ini adalah updetan terakhirku di tahun 2017 yaa, lanjut lagi 2018 yeaayy, selamat tahun baru semuanya… 

 

Chapter 4

-Pengalaman pertama-

 

Satu minggu setelah kejadian di dalam kamar Alden, Alden benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Naura sempat bingung, ketika tiba-tiba Alden mengajaknya keluar dari rumahnya. Keduanya ternyata menuju ke sebuah hotel, dimana disana sudah terdapat penata rias lengkap dengan penata busananya.

“Ini, ada apa?” Naura masih bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh Alden.

Alden tersenyum, jemarinya mengusap lembut pipi Naura, dan ia berkata “Kita akan menikah hari ini.”

“Apa? Maksudnya?”

“Ya.” Alden melirik ke arah jam tangannya, “Tiga jam lagi penghulunya akan datang.”

“Penghulu? Al, kupikir kamu nggak serius dengan hal ini.”

“Aku serius, makanya aku melakukan semua ini untukmu, kita benar-benar akan menikah sore ini.”

“Lalu bagaimana dengan keluarga kita?”

Alden terdiam sebentar. “Aku akan memberitahukannya nanti.” Pada detik itu, Naura merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Alden, dan entah kenapa, ia mulai merasa ragu dengan lelaki itu.

***   

“Sah.”

“Sah.”

“Sah.”

Suara-suara itu masih terngiang di telinga Naura. Suara seorang penghulu yang baginya masih cukup muda, lalu beberapa saksi yang disiapkan oleh Alden, dan juga beberapa teman-teman Alden yang datang di sana. Tak ada yang Naura kenali disana kecuali Alden dan beberapa teman lelaki itu yang pernah dikenalkan padanya.

Dan kini, dirinya sudah seperti orang linglung ketika ia sibuk memikirkan apa yang baru saja terjadi dengannya.

“Hei, apa yang kamu pikirkan?” sentuhan jemari Alden di pundaknya membuatnya terlonjak seketika. Dengan spontan Naura menjauh, lalu ia menatap Alden yang ternyata sudah selesai mandi dan hanya mengenakan kimononya saja.

“Kenapa? Ada yang kamu pikirkan? Kamu, tampak takut denganku.”

“Uum, enggak. Aku hanya masih sulit menerima kenyataan ini.”

Alden mendekat “Kenyataan kalau kamu sudah menjadi istriku?”

“Al, kupikir, ini salah. Seharusnya kalau kita menikah, kita harus melibatkan orang tua, dan-”

Alden menangkup kedua pipi Naura seketika “Aku akan memberitahukan pada mereka nanti.”

“Kapan?”

“Setelah aku siap.”

“Apa yang membuatmu tidak siap? Apa karena status sosialku?”

Alden diam seketika. “Lalu apa yang kamu inginkan? Kamu ingin aku menarik kata-kataku didepan penghulu tadi? Dengar Na, apapun yang kamu pungkirin sekarang, kamu sudah menjadi istriku, pernikahan kita sah di mata Agama.”

Naura hanya menunduk, dan ia tak dapat membantah apapun. Ya, mereka memang sudah menikah, dan statusnya kini sudah berubah menjadi seorang istri dari Alden Revaldi.

“Maaf, kalau aku sudah membuatmu takut, atau membuatmu tidak nyaman. Aku hanya ingin membuat ini mudah untuk kamu, dan aku.”

Mudah? Mudah dalam hal apa? Pikir Naura, tapi ia tentu tidak dapat menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.

Alden kembali mengusap lembut pipi Naura, kemudian ia mengangkat dagu Naura. “Jadi, kamu mau memaafkan aku, kan?” tanya Alden memastikan.

Naura menatap Alden, dan mau tidak mau ia tersenyum kemudian mengangguk lembut pada sosok di hadapannya tersebut.

Alden semakin mendekat, bahkan ia sudah menempelkan tubuhnya pada tubuh Naura. “Jadi, apa aku sudah boleh meminta ‘Hakku’?”

Sungguh, pertanyaan yang terlontar dari bibir Alden tersebut segera membuat Naura bimbang. Apa karena ini Alden menikahinya secara diam-diam? Hanya karena lelaki itu ingin memiliki tubuhnya tanpa kata dosa yang membayanginya?

***   

Alden masih menyesap minuman di hadapannya. Meski ia sudah setengah mabuk karena sudah berjam-jam berada di bar tersebut, nyatanya ia belum juga ingin pulang. Kedatangannya tadi ke tempat ini adalah untuk menemui temannya yang bernama Dirga. Ia mendengar kabar jika lelaki itu baru saja melakukan pernikahan, dan ia tidak menyangka jika akan menemukan temannya itu dalam keadaan yang terlihat sedikit frustasi di tempat ini.

Setelah puas beberapa jam minum bersama dan saling bercerita, akhirnya Dirga memutuskan untuk pulang, tapi Alden memutuskan untuk tetap berada di tempatnya saat ini.

Alden menghela napas panjang, Dirga memang tampak sudah berbeda. Ya, meski lelaki itu tidak menunjukkan secara gamblang jika ia mencintai istri yang baru ia nikahi, tapi Alden dapat melihat dengan jelas jika Dirga mencintai wanita itu.

Lalu, apakah yang ia rasakah pada Naura sama dengan apa yang dirasakan Dirga pada istrinya?

Oh, tentu saja tidak!

Dulu, ia hanya tertarik secara fisik saja dengan sosok Naura, dan hal itu pulalah yang terjadi dengannya saat ini. Ia hanya tertarik secara fisik dengan perempuan itu, tidak lebih. Ia tidak akan pernah punya cinta, karena baginya, cinta hanya sebuah ilusi, cinta hanya sebuah kegilaan yang akan membuatnya jauh dari kewarasan, dan Alden tidak ingin mengalaminya.

Alden kembali menegak menuman di hadapannya, lalu ia bangkit. Membayar tagihannya setelah itu ia berjalan pergi. Mungkin, ia akan singgah ke rumah bordil untuk mencari perempuan yang dapat memuaskan hasratnya malam ini. Ya, tentu saja ia sangat berhasrat, dan dirinya harus mendapatkan pelepasan malam ini juga.

***

Sesekali mengumpat kasar, Alden menatap sebuah rumah sederhana yang entah sudah berapa jam lamanya ia tatap. Kakinya ingin melangkah ke sana, tapi sebagian kewarasannya mencegah.

Ya, itu adalah rumah Naura, entah kenapa mobilnya berjalan dengan sendirinya ke arah rumah wanita tersebut, padahal ia sangat ingin melupakan wanita itu malam ini. Ia ingin memakai jasa wanita penghibur untuk memuaskann hasratnya malam ini, tapi tetap saja, tak dapat dipungkiri jika tubuh Nauralah yang membuatnya membara seperti saat ini.

Ya, ia hanya ingin menyeret tubuh wanita itu ke atas ranjangnya, ia hanya menginginkan wanita itu, bukan yang lainnya.

Alden akhirnya keluar dari dalam mobilnya, dengan langkah sedikit terhuyung, ia menuju ke arah pintu rumah Naura. Alden mengetuknya dengan keras sambil memanggil-manggil nama perempuan itu.

“Na, Na, buka pintunya.”

Lagi dan lagi, Alden mengetuk sambil memanggil-manggil nama Naura, hingga tak lama, pintu tersebutpun dibuka dari dalam.

Naura benar-benar terkejut saat mendapati Alden yang tiba-tiba saja terhuyung ke arahnya, lelaki itu tampak ingin memeluknya, tapi lebih terlihat seperti orang yang sedang mabuk, yang tak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya.

“Tuan, apa yang tuan Alden lakukan di sini?”

“Menemui istriku.”

“Tuan, jangan seperti ini.”

“Biarkan aku masuk, Na. aku merindukanmu, aku menginginkanmu.” Lalu tanpa di duga, Alden mendorong tubuh Naura masuk ke dalam, tak lupa ia juga menutup pintu di belakangnya dengan kakinya.

“Tuan, apa yang Anda-” Naura tak dapat melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba bibirnya disambar oleh bibir Alden. Alden melumatnya dengan panas, mencumbunya penuh dengan gairah, hingga Naura kembali luluh dengan apa yang dilakukan lelaki tersebut.

Alden mendorong sedikit demi sedikit tubuh Naura ke dalam sebuah ruangan yang ia yakini sebagai kamar Naura, karena memang ruangan tersebut tadi terbuka dan tampak ranjang Naura terbentang di sana.

Masuk kedalam ruangan tersebut, Alden menutupnya dengan sebelah kakinya, sama seperti saat ia menutup pintu depan rumah Naura tadi.

Sedikit demi sedikit, Alden mulai melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Naura, sedangkan Naura masih terbuai dengan cumbuan yang diberikan Alden padanya.

Alden kemudian melepaskan tautan bibir mereka, ia menatap Naura yang sudah setengah telanjang di hadapannya. Perempuan itu menunduk, dan tampak raut penyesalan di wajah wanita tersebut.

Alden mengangkat dagu Naura, hingga wajah wanita itu menatap ke arahnya. “Apa kamu tahu kalau aku begitu merindukanmu?” bisik Alden dengan suara seraknya.

“Jangan lanjutkan, kumohon, aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti dulu.”

“Tidak ada kesalahan yang sama, Na.” Karena tidak ingin beradu argumen lagi, Alden kembali mencumbu bibir Naura, melakukannya dengan lembut dan menggoda, hingga membuat Naura mau tidak mau jatuh kembali ke dalam lubang yang sama, lubang kesalahan yang di buat oleh Alden, persis dengan kejadian beberapa tahun yang lalu…

***

“Kamu akan menyukainya.” Suara Alden terdengar lembut, terdengar seperti mantera yang mampu menenangkan hati Naura.

Saat ini, keduanya masih berada di dalam kamar hotel yang sudah disewa oleh Alden, kamar yang akan menjadi saksi penyatuan antara dua insan yang tengah dimabuk asmara.

Naura sudah terbaring di atas ranjang tanpa sehelai benangpun. Begitupun  dengan Alden yang juga sudah telanjang dengan posisi menindih tubuh Naura. Keduanya sudah sama-sama panas, sama-sama bergairah karena pemanasan yang sudah cukup lama dilakukan oleh Alden terhadap tubuh Naura.

Namun, saat Alden akan menyatukan dirinya, ia melihat ketakutan yang tampak jelas dimata Naura, hingga kemudian ia mengatakan pada Naura jika semua akan baik-baik saja.

“Aku tidak akan menyakitimu, Na. Percayalah.” Lagi, Alden mencoba meyakinkan Naura.

“Uum, ini, ini, pengalaman pertama untukku, jadi aku takut-”

“Tidak ada yang perlu kamu takutkan.” Alden memotong kalimat Naura dengan cepat. “Aku akan membuat ini menjadi indah untuk kita berdua.” ucapan Alden terdengar seperti sebuah sumpah, hingga membuat Naura kembali terpana, ia mengganggukkan kepalanya begitu saja, lalu tak lama, ia merasakan pusat gairah Alden menyentuh titik sensitifnya.

Naura merasa tidak nyaman, ya, tentu saja. Masalahnya ini adalah pertama kalinya ia melakukan hal seintim ini dengan seorang lelaki. Memperlihatkan setiap jengkal dari tubuhnya terhadap lelaki tersebut, walau kenyataannya mereka baru saja melakukan sebuah pernikahan kilat, namun tetap saja, itu tak mengurangi ketidaknyamanan Naura pada kejadian ini.

Naura mengerang, ketika merasakan Alden mencoba menyatukan diri dengannya, lelaki itu tampak kesulitan, tapi tak ada yang dapat Naura lalukan selain mengerang kesakitan.

Lalu Alden menghentikan aksinya, ia kembali menatap wajah Naura dan tersenyum lembut kepadanya. “Jangan tegang, aku tidak akan bisa melakukannya kalau kamu saja tidak menerimaku sepenuhnya.”

“Lalu, apa yang harus kulakukan?”

“Nikmati saja.”

“Rasanya tidak nyaman.”

Jemari Alden terulur,mengusap lembut bibir ranum Naura. “Aku akan membuatmu lebih nyaman, aku akan membuatmu menerimaku sepenuhnya.” Setelah ucapannya tersebut, Alden kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Naura, melumatnya dengan lembut, hingga membuat Naura melupakan ketidaknyamanannya. Naura tergoda, Naura kembali merasakan gairahnya terbangun, hingga ia tidak sadar jika Alden kembali memasukinya sedikit demi sedikit.

Alden mencoba sepelan mungkin, agar ia tidak menyakiti diri Naura. Alden bahkan melupakan gairahnya sendiri yang seakan ingin meledak karena melihat tubuh panas Naura. Tiba saatnya ketika Alden menemukan penghalang di antara mereka, dengan pelan tapi pasti, Alden mendorong lebih keras lagi, hingga tubuh mereka menyatu dengan sempurna.

Naura mengerang kesakitan, Alden tahu itu. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan karena memang seperti itulah prosesnya. Yang bisa Alden lakukan hanyalah menenangkan Naura kembali, membangun gairah primitif dari wanita tersebut dengan cara mengecupi sepanjang kulit halusnya.

Apa yang dilakukan Alden nyatanya tidak sia-sia, ketika ia mendengar erangan Naura berubah menjadi desahan demi desahan pendek yang menggoda. Naura kembali bergairah, Alden tahu itu, dan Alden memutuskan untuk menggerakkan tubuhnya sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti, mencari kepuasan untuk dirinya dan juga diri Naura. Oh, betapa indahnya pengalaman pertama mereka, pengalaman pertama yang membuat tubuh keduanya candu akan sentuhan satu dengan yang lainnya.

***  

Paginya, Alden terbangun dan merasakan kepalanya sedikit pusing karena efek alkohol. Ia sedikit mengerjap saat mendapati dirinya tidak terbangun di ranjang besarnya, di kamar mewahnya, melainkan disebuah ranjang mungil di dalam sebuah kamar sederhana.

Alden melirik ke arah tubuhnya sendiri yang ternyata masih telanjang dengan selimut yang berada pada pinggangnya. Ia menolehkan kepalanya ke samping, dan mendapati tubuh Naura yang ternyata masih sama telanjangnya dan terbaring miring memunggunginya.

Sial!

Ia benar-benar melakukannya lagi dengan Naura.

Secara implusif, Alden mengulurkan jemarinya menyentuh pundak Naura. “Na, kamu, baik-baik saja, Kan?”

“Jangan sentuh aku.” Suara Naura terdengar serak ditelinga Alden. Wanita itu menangis.

“Na, jangan berlebihan, kita hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh suami istri pada umumnya.”

Naura bangun seketika, ia bahkan tidak menghiraukan ketelanjangannya di hadapan Alden.

“Kita bukan suami istri pada umumnya! Hubungan kita tidak normal, jadi jangan lakukan ini lagi!” Naura berseru keras. Sungguh, ia benar-benar tidak megerti jalan pikiran Alden.

Alden sempat terdiam sebentar, tapi ketika Naura bangkit dan mengenakan pakaiannya, Alden berkata “Lalu apa yang kamu inginkan? Kamu ingin hubungan kita seperti suami istri pada umumnya? Jika iya, maka aku akan melakukannya, aku akan menikahimu kembali.”

“Tidak!” Naura menatap Alden, matanya berkaca-kaca seketika. “Aku hanya ingin kamu melupakanku, Aku sudah bahagia dengan lelaki lain, aku bahkan akan menikah awal tahun depan dengannya, jadi kumohon, jangan lakukan ini lagi.”

Jemari Alden mengepal seketika, sungguh, ia tidak menyukai kenyataan tesebut, ia tidak suka saat Naura berkata jika wanita itu sudah bahagia dengan lelaki lain, sedangkan dirinya? Sial! Ia jauh dari kata bahagia.

Alden berdiri seketika, ia meraih pergelangan tangan Naura, dan akan kembali beradu argumen dengan wanita tersebut, tapi sebelum ia membuka suaranya, suara ketukan pintu depan membuat keduanya terpaku dan saling pandang satu sama lain.

“Ra, kamu sudah siap? Aku tunggu di sepan.”

Naura membulatkan matanya seketika ke arah Alden. Itu adalah suara Panji yang kini sudah menunggu untuk menjemputnya. Ya, setiap pagi Panji memang menyempatkan diri untuk menjemput Naura ketika lelaki itu tidak ada rapat mendadak atau tidak sedang kesiangan, dan kini? Ahh kenapa harus hari ini?

Wajah Naura memucat seketika ketika membayangkan jika mungkin saja Panji tidak sabar dan masuk begitu saja ke dalam rumahnya atau bahkan ke kamarnya dan mendapati Alden dan dirinya berada di sana dalam keadaan sama-sama telanjang. Sungguh, Naura tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tanpa diduga, pada saat itu juga, Alden segera meraih pakaiannya, lalu mengenakannya dengan cepat. Oh, apa yang akan dilakukan lelaki itu? Mengingat siapa Alden membuat Naura berpikir jika mungkin saja lelaki itu akan memanfaatkan keadaan ini untuk membuat Panji salah paham.

“Kamu mau apa?” tanya Naura masih bingung dengan apa yang harus ia lakukan.

“Mau apa lagi? Aku akan menemuinya, dan menunjukkan bagaimana seriusnya hubungan kita.”

“Apa?”

Tidak! Alden tidak boleh melakukannya. Lelaki itu tidak boleh menghancurkan semua impiannya lagi. Cukup impian indah yang ia rajut bersama Alden yang dihancurkan sendiri oleh lelaki itu dulu, tidak sekarang, tidak impiannya bersama dengan Panji.

-TBC-

Maasih banyak kejanggalan-kejanggalan dan juga rahasia yang belum terungkap, jadi, selamat menunggu yaaa.. wakakakkak

Advertisements

Secret Wife – Chapter 3 (Terikat Denganku)

Comments 2 Standard

Secret Wife

 

Chapter 3

-Terikat denganku

 

Paginya, Alden menikmati sarapannya dengan tenang, meski saat ini ia hanya sendiri di meja makan, tapi ia seperti tidak berselera untuk mengganggu Naura seperti apa yang ia lakukan kemarin. Naura sudah menolaknya, dan itu benar-benar melukai harga dirinya.

Alden hanya bisa sesekali melirik ke arah Naura yang tampak menyibukkan diri dengan pekerjaannya di dapur. Ia tidak bisa berbuat banyak sebelum ia tahu apa yang terjadi dengan Naura, siapa tunangannya, dan apa hubungan mereka benar-benar dilandasi dari cinta atau tidak.

Sial!! Kenapa juga ia terlalu memikirkan tentang perempuan itu? Bukankah yang harus ia pikirkan hanyalah cara bagaimana membawa perempuan itu kembali ke atas ranjangnya? Ya, seharusnya hanya itulah yang ia pikirkan, bukan yang lainnya.

“Pagi.” Alden tersentak saat tiba-tiba Angel menyapanya dengan manja.

“Pagi.” Balas Alden singkat.

“Wooww, sekarang Kak Alden bangunnya pagi-pagi yaa, kenapa? Apa selama tinggal di luar negeri, Kak Alden sudah terbiasa bangun sepagi ini?”

“Tentu saja, di sana aku kerja, mana bisa malas-malasan.” Alden menjawab cuek. Lalu ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. “Aku nggak lihat mama sepagian ini, kemana?”

“Tadi malam papa dapat telepon dari saudara yang di Jogja, katanya ada yang meninggal, jadi mereka ke sana tadi malam.”

“Kok aku nggak tahu?”

“Kak Alden kan keluar, lagian mereka nggak lama kok, mungkin cuma tiga harian di sana.”

“Baru juga pulang, tapi sudah di tinggal pergi.” Alden menggerutu sebal.

“Oh iya, dan aku juga mau menginap di rumah Mikaela, nanti sore aku berangkat.”

“Kenapa harus menginap di sana?”

“Dia patah hati, Kak. Ayolah, ini urusan wanita.”

“Patah hati?” Alden lalu menggelengkan kepalanya. “Aku nggak nyangka kalau kalian sudah pada tumbuh dewasa.”

“Ya, dan aku nggak nyangka kalau kak Alden masih kayak anak-anak.” Angel tertawa lebar, sedangkan Alden mendengus sebal.

“Kayak anak-anak? apa maksud kamu?”

“Ayolah Kak, jangan berlagak bodoh. Aku hanya ingin segera memiliki kakak ipar, begitupun dengan mama dan papa yang selalu menanyakan kapan kak Alden pulang dengan membawa seorang menantu.”

“Kamu sudah memilikinya.” Alden menjawab dengn ekspresi datarnya.

Bukannya terkejut, Angel malah tertawa lebar, “Hahhahaha jangan ngaco, deh.” Setelah itu Angel bangkit dengan membawa segelas susunya, ia kembali masuk ke dalam kamarnya.

“Kamu sudah memilikinya, Angel. Meski sekarang dia masih memungkiri statusnya.” Lagi, Alden berkata pelan dan penuh penekanan. Ya, kata-katanya itu tentu ditunjukkan untuk seseorang yang berada di dalam ruangan tersebut, siapa lagi jika bukan Naura.

***

Tujuh Tahun yang lalu….

Naura terpekik, saat merasakan sebuah lengan melingkari perutnya dari belakang. Ia menolehkan kepalanya dan alangkah terkejutnya dirinya ketika mendapati Alden berada tepat di belakangnya.

Astaga, apa yang dilakukan lelaki ini? Pikirnya.

Naura sedikit meronta, memohon supaya Alden melepaskannya. Sungguh, ia tidak enak hati jika nanti ada orang yang melihat mereka. Meski sebenarnya Naura tahu jika tak akan ada yang melihat mereka karena kini dirinya sedang berada di loteng, tempat ia menjemur pakaian.

“Tuan, tolong jangan seperti ini.” Naura berkata dengan sedikit canggung.

“Tuan? Aku sudah bilang sama kamu tadi malam, kalau kita sudah menjadi sepasang kekasih.”

“Tapi Tuan….”

“Al. panggil saja Alden.” Alden melepaskan pelukannya, lalu memutar tubuh Naura hingga menghadap ke arahnya. “Kenapa kamu begitu sulit menerima kenyataan ini?” tanya Alden sambil menatap Naura dengan intens, sedangkan Naura memilih menundukkan kepalanya, seakan enggan menatap mata Alden.

“Saya, saya hanya nggak ngerti, kenapa kamu melakukan ini.”

“Karena aku tertarik denganmu, apa itu kurang?”

“Tapi saya cuma….”

“Jangan teruskan. Ayolah, kita bisa menjalani ini. Oke, kalau kamu belum siap, kita bisa menjalaninya secara diam-diam seperti ini. Bolehkah?”

Naura hanya diam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Alden seperti sedang mendesaknya, dan ia tentu tidak bisa secara terang-terangan menolak permintaan Alden.

Tanpa diduga, tiba-tiba Alden meraih dagunya, mengangkatnya hingga mau tidak mau wajah Naura terangkat menghadap ke arah Alden.

“Kamu sungguh manis, membuatku ingin selalu mencicipi rasamu.” Dan setelah kalimatnya tersebut, Alden segera menundukkan kepalanya, mendaratkan bibirnya pada bibir ranum Naura. Seperti yang terjadi di malam sebelumnya, Naura sempat terkejut, tapi karena kelembutan Alden, ia menikmati cumbuan tersebut, ia membalasnya, meski dengan ciuman seadanya, karena ia juga tidak pandai berciuman sebelumnya.

 

Naura menggeleng pelan saat bayangan tujuh tahun yang lalu menghantui kepalanya. Mereka bercumbu mesra untuk kedua kalinya di sini, di tempat ini, ketika ia selesai menjemur pakaian seperti sekarang ini. Oh, rasanya Naura ingin menghapus semua kenangan bersama Alden saat itu, kenangan yang membuat dadanya nyeri ketika mengingatnya.

Ketika Naura akan turun, ponselnya berbunyi, ia segera merogoh ponsel yang berada dalam sakunya, melihat sekilas siapa si pemanggil tersbut, lalu senyumnya terukir secara spontan saat mendapati nama Panji di sana.

Panji merupakan pria yang statusnya kini sebagai tunangan Naura. Mereka bertunangan sejak beberapa bulan yang lalu, dan merencanakan pernikahan tahun depan. Meski begitu, perasaan Naura pada Panji tak sebesar perasaan Naura pada pria pertamanya dulu.

Naura segera mengangkat telepon tersebut sebelum ponselnya berhenti berdering. “Halo.”

“Hai, kamu di mana sekarang? Sudah makan siang?”

Naura tersenyum. Panji memang sangat perhatian padanya. “Aku di loteng, habis jemur pakaian, dan aku sudah makan siang. Kamu sendiri lagi ngapain?”

“Aku di kantin kantor. Lagi makan siang.”

“Kok telepon aku? Harusnya kamu ngabisin waktun makan siang kamu dengan makan dan istirahat.”

“Nggak tau kenapa, aku kangen saja. Tadi pagi aku nggak bisa ngantar kamu ke tempat kerja, jadi sekarang aku kangen.”

Naura tertawa lepas. “Sudah pandai ngerayu, ya?”

“Ngerayu tunangan sendiri nggak apa-apa, kan?”

“Iya, iya, nggak apa-apa. Ya sudah, kamu lanjutin makannya, aku masih ada kerjaan lain.”

“Oke, nanti malam kujemput.”

“Iya.”

“Ra, aku sayang kamu.”

Naura terdiam sebentar, sebelum ia membalas ucapan Panji, “Ya, Aku juga sayang kamu.” Lalu sambungan itu terputus. Naura menghela napas panjang sebelum ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku baju yang ia kenakan.

Naura membalikkan tubuhnya, dan bersiap pergi dari tempat itu, tapi kemudian ia terlonjak saat mendapati Alden yang ternyata sudah berdiri santai dengan menyandarkan punggungnya pada dinding. Lengan lelaki itu bersedekap, tapi tatapannya menajam, dan Naura tidak tahu apa yang akan dilakukan lelaki itu di sini.

Naura memilih mengenyahkan keberadaan Alden, mungkin lelaki itu berada di sana karena keperluan lain, pikirnya. Padahal, dalam hati Naura yang paling dalam, ia tahu, jika Alden berada di sana karenanya.

Naura mencoba berjalan keluar melewati Alden, tapi ketika sampai di hadapan lelaki tersebut, lelaki itu meraih pergelangan tangannya. Naura menatap Alden seketika, ia tidak ingin jika Alden lagi-lagi membahas hubungan mereka.

“Berikan ponsel kamu.”

“Untuk apa?”

“Berikan atau aku akan merebutnya.”

Naura hanya diam, ia tentu tidak akan mematuhi apa yang dikatakan oleh Alden. Mungkin dulu ia akan menurutinya karena ia terlalu bodoh, tapi sekarang, tidak akan.

Tapi secepat kilat Alden merebut ponsel yang berada dalam sakunya. “Tuan, Apa yang anda lakukan?”

Alden tidak menghiraukan Naura, ia sibuk membuka isi dari ponsel Naura, mencari tahu siapa yang tadi menghubungi Naura karena ia sempat mendengar percakapan mereka yang terdengar mesra menurutnya.

Alden menemukannya, di bagian panggilan masuk. Tampak sebuah kontak bernama Panji. Alden menatap Naura seketika. “Siapa Panji?” tanyanya dengan suara menajam.

Naura tidak menjawab, ia memilih diam karena baginya, tidak ada yang perlu ia jelaskan dengan Alden. Ya, hubungannya dengan Alden sudah benar-benar berakhir, dan ia tidak ingin kembali terjerumus dalam hubungan asmara dengan lelaki itu.

“Katakan, siapa dia? Apa dia tunanganmu?” tatapan mata Alden semakin menajam seiring sikap diam yang ditampilkan Naura padanya. Dengan spontan Alden memutar tubuh Naura dan menghimpitnya diantara dinding.

“Dengar, Na. Kamu masih milikku, kamu masih istriku.”

Naura menggeleng pelan. “Kita nggak pernah nikah.”

“Ya, kita pernah nikah.”

“Itu hanya main-main, Al.” Naura melirih.

“Tapi aku tulus melakukannya, Na. aku sungguh-sungguh.”

“Kita sudah selesai sebelum kamu pergi ke luar negeri.”

“Belum.” Alden menjawab cepat. “Tidak ada kata selesai diantara kita.” Alden semakin mendekatkan wajahnya, berharap ia dapat meraih bibir Naura dan melumatnya seperti apa yang ia lakukan kemarin malam. Tapi Naura segera memalingkan wajahnya, menolak secara halus apa yang akan dilakukan Alden padanya.

Sekali lagi, harga diri Alden terlukai, ia tidak pernah ditolak sebelumnya, apalagi dengan wanita yang selama ini masih ia anggap sebagai miliknya. Dengan putus asa, Alden melepaskan tubuh Naura.

“Kamu, sudah benar-benar menganggap hubungan kita selesai?” tanya Alden memastikan.

“Kita sudah selesai sejak aku tahu kalau kamu hanya main-main denganku.”

“Aku tidak pernah main-main.” Alden menggeram kesal. “Dan aku akan membuktikannya ketika aku mampu memenangkan hatimu kembali.” Setelah kalimatnya tersebut, Alden segera pergi meninggalkan Naura.

Mata Naura memejam seketika. Ia takut, sungguh takut, tapi bukan takut dengan Alden, melainkan takut dengan perasaannya sendiri yang mungkin saja akan kembali jatuh pada pesona Alden seperti dulu. Naura menghela napas panjang, saat bayang-bayang masa lalu kembali mengusik pikirannya, bayangan dimana ia masih buta dalam menilai, apakah Alden benar-benar menyayanginya, atau hanya memanfaatkannya saja.

 

“Dimana orang rumah?” Naura yang tadi sibuk mencuci peralatan dapur akhirnya membalikkan tubuhnya saat mendengar pertanyaan tersebut. tampak Alden sedang berdiri mengawasinya di seberang ruangan.

“Bu Alisha keluar sama Angel, ibu ada di atas, lagi jemur pakaian, yang lain sibuk bersih-bersih di ruang lain.”

“Jadi…. Saat ini… kita hanya berdua, di dapun ini?” tanya Alden dengan nada menggoda, lelaki itu bahkan sudah berjalan mendekat ke arah Naura.

“Jangan macam-macam.” Naura kembali membalikan tubuhnya, tak ingin Alden melihat rona merah dipipinya akibat godaan dari lelaki tersebut.

Saat ini, sudah Enam bulan lamanya mereka menjalin hubungan secara diam-diam, dan Naura tidak memungkiri, jika kini Alden sudah mampu mencuri seluruh isi hatinya.

“Ayo, ikut aku.”

Seperti biasa, Alden memperlakukan Naura seenaknya seakan-akan lelaki itu adalah pemilik dari diri Naura. Dan Naura tak bisa menolak, ketika Alden meraih pergelangan tangannya kemudian menyeretnya masuk ke dalam kamar lelaki tersebut.

Ketika keduanya sudah berada di dalam kamar Alden, Alden segera memeluk tubuh Naura. “Aku kangen sama kamu.” ucapnya dengan spontan.

“Kangen? Kita ketemu setiap hari.” jawab Naura yang tidak menolak pelukan dari Alden, entahlah, ia merasa nyaman saat berada dalam pelukan seorang Alden Revaldi.

“Ya,tapi kita tidak bisa melakukan ini.” Alden lalu melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Naura dengan intens, matanya turun pada bibir Naura yang tampak penuh menggoda, kemudian, ia tidak dapat mengelak lagi, jika dirinya begitu menginginkan wanita tersebut.

Alden menyambar bibir Naura, melumatnya penuh gairah, sedangkan Naura hanya bisa membalas lumatan tersebut. Naura tidak memungkiri jika dirinya juga merindukan Alden, merindukan sentuhan lelaki itu yang tampak begitu menyayanginya, jadi Naura membalas semua perlakuan Alden dengan penuh kasih sayang.

Alden semakin menjadi. Ia mendorong sedikit demi sedikit tubuh Naura hingga terbaring di atas ranjangnya. Lalu ia menindih tubuh Naura tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Bibir Alden lalu turun, merambah ke arah dagu Naura, lalu turun lagi mengecupi sepanjang leher jenjang Naura.

“Al…” Naura mendesah. Mendengar desahan Naura sembari memanggil namanya membuat Alden tersenyum senang. Karena bagi Alden, saat Naura memanggilnya dengan hanya menggunakan namanya saja, ia merasa tak ada jarak sedikitpun antara dirinya dan juga Naura.

“Hemm.” Alden tidak menjawab, ia hanya menggeram sembari mengecupi sepanjang kulit halus Naura.

“Kita nggak boleh…” Naura menahan erangannya, astaga, apa yang sedang terjadi dengnnya?

Alden menghentikan aksinya, lalu mengangkat wajahnya ke arah Naura. “Kenapa?” tanyanya bingung.

“Uum, kita nggak boleh melakukan lebih.”

“Kenapa? Karena kita belum nikah?” tanya Alden lagi.

“Ya, itu salah satu alasannya.”

Alden mendengus, sebelum kemudian ia bangkit dan duduk di pinggiran ranjangnya. “Ayo kita menikah.” Ajakan Alden mengejutkan Naura, tapi kemudian Naura dapat menguasai dirinya saat menyadari jika Alden pasti hanya bercanda.

Naura bangun dan duduk di sebelah Alden ia tersenyum kemudian meraih jemari Alden. “Menikah bukan hal yang gampang, lagi pula, bukannya kamu harus ke luar negeri tahun depan?”

“Ya, tapi aku bisa menikahimu sebelum aku pergi.”

“Al, bukannya aku menolak, tapi-”

Alden berlutut seketika di hadapan Naura yang masih duduk di pinggiran ranjangnya. Ia meremas jemari Naura dan berkata “Kita akan menikah dalam waktu dekat, dan kamu akan tetap menjadi milikku, terikat denganku meski aku tidak berada di sisimu.” Kesungguhan yang terdengar dari kata-kata Alden membuat diri Naura luluh seketika, ia terpana dengan ketulusan yang tampak pada diri Alden. Benarkah Alden akan menikahinya dalam waktu dekat? Sunguhkah?

-TBC-

Secret Wife – Chapter 2 (Tanda Jadi)

Comments 4 Standard

Secret Wife

 

Haii, maaf bgt yaa baru update, jadi ceritanya kemarin itu leppynya Mom Hardiscnya rusak, hikks jadi mom belom bisa lanjut, huaaa,,,,, dan sekarang mom baru bisa lanjut lagi nih, happy reading yaa.. hehehheheh. oh, iya, selamat datang juga buat pendatang baru, yang baca Via PC, jangan Horor yaa dengerin backsound suara mommy hahahhahaha. btw, kalian juga boleh Requez lagu lohh buat ganti backsoundnya, hihihi. untuk yang baca via Hp, maap anda belum beruntung, hahhahahah udahh ahh ahppy reading aja wakakakkaka.

 

 

Chapter 2

-Tanda Jadi-

 

Naura menikmatinya, tentu saja. Bibir itu membelai lembut bibirnya, seperti dulu, menggodanya hingga mau tidak mau Naura menikmati apa yang dilakukan oleh Alden, meski sebenarnya ia tahu jika hal tersebut salah.

Salah?

Mengingat kata tersebut, Naura seperti tersadarkan oleh sesuatu. Sekuat tenaga, ia mencoba melepaskan tautan bibir Alden dengan bibirnya, mendorong tubuh lelaki itu sekuat tenaga hingga tautan bibir mereka terlepas.

Napas naura terputus-putus karena kemarahan yang sudah memuncak dikepalanya, namun itu tak menyurutkan keinginan Alden untuk kembali meraup bibir Naura. Alden melakukannya dengan sangat cepat hingga Naura tak bisa menghindar dari tindakan tersebut. Bibir mereka kembali bertautan, Alden mencumbunya dengan panas, dengan keras, hingga Naura mengerang kesakitan.

Sekali lagi, dengan sekuat tenaga, Naura mendorong kuat-kuat dada Alden hingga tautan bibir mereka kembali terputus.

“Tolong! Jangan lakukan!” Naura berseru keras saat Alden akan mendekat kembali pada wajahnya.

“Kamu menikmatinya, Na. aku tahu kamu menikmatinya.”

Naura menggelengkan kepalanya. “Jangan lakukan itu lagi, kumohon.”

“Kenapa? Karena kamu memiliki tunangan?” tantang Alden.

Naura menatap Alden seketika, ia tidak percaya jika Alden mengetahui status terbarunya.

“Kamu masih milikku, bahkan ketika aku meninggalkanmu.”

Naura hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin, Alden masih memikirkan tentang masa lalu mereka. Masalalu yang hanya seperti impian bagi dirinya.

“Aku akan mencari tahu siapa pria sialan itu.”

Naura tersentak dengan ucapan Alden. “Untuk apa?”

“Aku akan memberikan pelajaran padanya, karena dia sudah berani melamar istriku.”

Tidak!

Katakan jika semua ini hanya mimpi. Naura tidak suka jika Alden kembali mengusik hidupnya, apalagi membawa masa lalu suram mereka. Dan satu lagi, ia bukan istri dari seorang Alden Revaldi, ia bukan istrinya. Pernikahan mereka hanya main-main, meski sebenarnya, dulu ia menganggap jika hal tersebut benar-benar terjadi, nyatanya itu hanya sebuah rencana busuk dari seorang Alden Revaldi.

***

Tujuh tahun yang lalu…..

 

“Alden.. Alden…”

“Apaan sih Ma?” Alden menjawab panggilan mamanya dengan malas-malas. Sore ini, ia memang sedang asik memainkan game di dalam kamarnya, dan ia kesal ketika mamanya mengganggunya.

“Bangun dan antar adik kamu ke pesta perpisahan sekolahnya.”

“Kenapa nggak sama Naura saja sih, Ma?”

“Naura juga ikut, tapi mereka nggak ada yang ngantar.”

“Supir?”

“Supir jemput Papa yang baru pulang dari Paris. Ayo bangun dan antar mereka.”

Dengan mendengus sebal, Alden bangkit dari tempat tidurnya. Sedikit malas ia mengambil pakaiannya lalu mengganti pakaiannya tersebut dengan pakaian yang lebih rapih. Ah, sangat mengesalkan sekali. Gerutunya dalam hati.

Saat ini, usia Alden sudah memasuki 21 tahun, sedangkan Angel dan Naura sendiri tiga tahun lebih muda daripada dirinya. Kedua gadis itu memang satu sekolah, bahkan satu kelas, yang baru lulus SMA sekitar tiga minggu yang lalu. Bukan tanpa alasan Alden menolak untuk mengantar keduanya, karena memang sejak beberapa bulan terakhir, Alden memutuskan untuk menghindari salah satu dari mereka. Ya, siapa lagi jika bukan Naura.

Entah kenapa, baginya, Naura saat ini sangat berbeda dengan Naura yang dulu. Perempuan itu tampak mempesona untuknya, dan Alden tidak suka kenyataan jika dirinya mulai tertarik dengan perempuan tersebut.

Semua itu berawal dari pesta ulang tahun Angel yang ke Delapan belas, yang di rayakan sekitar Tiga bulan yang lalu. Naura tampak dewasa, dan cantik dengan gaun yang dibelikan oleh mamanya. Ya, Naura memang sudah dianggap anak sendiri oleh mamanya, tapi apa mamanya itu tidak berpikir jika mendandani Naura seperti itu saat itu membuat Alden tergoda? Ahh sial!

Dan kini, kejadian itu akan terulang lagi, saat Alden yakin jika Naura pasti akan berdandan untuk kedua kalinya di pesta perpisahan sekolahnya. Sial! Apa yang akan terjadi dengannya??

Dengan sedikit acuh, Alden turun dari kamarnya yang berada di lantai dua. Ia segera menuju ke garasi, mengeluarkan mobilnya, dan ternyata dua makhluk cantik itu sudah berada di sana menunggunya.

Sungguh, Alden sudah seperti orang tolol saat ini, ketika ia menatapn Naura dari ujung rambut hingga ujung kakinya.

Sial!! Naura sudah seperti bebek jelek yang berubah menjadi angsa yang cantik saat ini. Jika ada orang yang tak mengenal siapa Naura dan melihat penampilan Naura malam ini, maka orang itu tentu akan menganggap jika Naura adalah anak orang kaya.

Kecantikannya setara dengan Angel, adiknya, padahal Alden sangat yakin, jika Naura hampir tidak pernah melakukan perawatan kulit seperti yang dilakukan Angel setiap minggunya. Kecantikan Naura terpancar begitu alami, begitu mempesona hingga membuat Alden secara spontan menelan ludahnya dengan susah payah.

Berengsek!

Untuk pertama kalinya, ia bergairah hanya karena melihat perempuan berdiri dengan pakaian lengkapnya. Benar-benar sialan, bukan!

“Kak, kamu ngapain bengong di sana? Ayo berangkat, kita sudah telat.” Angel memprotes.

Dan masih seperti orang tolol, Alden hanya mengangguk sembari berjalan memasuki mobilnya. Matanya sesekali melirik ke arah Naura yang hanya menundukkan kepalanya. Oh, benar-benar bajingan! Ia mengutuk siapa saja yang telah merubah Naura menjadi secantik saat ini.

Alden menghidupkann mesin mobilnya, lalu ia mulai menjalankan mobilnya. Mencoba berkonsentrasi ia mengemudikan mobilnya, namun dengan spontan, sesekali ia melirik ke arah kaca mobilnya yang memantulkan bayangan Naura yang duduk di jok belakang.

“Siapa yang merias?” dengan spontan Alden bertanya.

Angel yang sejak tadi memainkan ponselnya akhirnya mengangkat wajahnya ke arah Alden. “Apa? Siapa? Aku? Aku dandan sendiri.”

“Dia?” Alden menunjuk Naura dengan dagunya.

“Aku juga.” Angel lalu tertawa lebar.

Sial! Alden mengumpat dalam hati. “Apa itu nggak keterlaluan. Kalian baru lulus SMA, nggak seharusnya kalian dandan seperti ini.”

“Ayolah, Kak. Ini pesta perpisahan, masa iya kami harus pakai T-shirt dan jeans tanpa make up sedikitpun?”

“Seperti itu lebih bagus, tidak mengganggu.” Alden berkata cuek.

“Mengganggu? Memangnya kami mengganggu kak Alden?”

Alden tampak salah tingkah. “Udahlah, lupain.” Sungutnya.

“Kak, di perempatan berhenti ya, pacarku jemput.”

“Pacar apa?” mata Alden membulat seketika ke arah Angel.

“Aku sudah Delapan belas tahun, sudah wajar kalau aku punya pacar.”

“Lalu Naura?”

“Kakak antar aja ke tempat acara.”

Oh ya, sempurna bukan? Dengan begitu ia bisa berduaan dengan Naura dan ia akan semakin gila dengan ketegangan sialan di pangkal pahanya. Hebat sekali adiknya ini. Alden tak berhenti menggerutu dalam hati.

***  

“Kita nggak usah ke acara itu saja.” Tiba-tiba Alden berkata memecah keheningan. Saat ini, Alden memang hanya berdua dengan Naura di dalam mobilnya, sedangkan Angel sudah di jemput oleh kekasihnya beberapa menit yang lalu.

“Uum, kalau kita nggak kesana, kita kemana?”

“Temani aku keluar.”

“Kemana?” Naura bertanya lagi.

“Ke tempat temanku.”

Naura tidak mengiyakan, namun, ia juga tak dapat menolak, masalahnya, Alden memang tak bisa ditolak, dan sepertinya, ia tidak memiliki hak untuk menolak, mengingat saat ini dirinya sedang menumpang di mobil Alden.

Sepanjang perjalanan, Naura hanya diam, mau membuka suarapun ia canggung. Alden tampak serius dan berkonsentrasi sata mengemudikan mobilnya, jadi Naura tidak berani untuk sekedar bertanya akan kemanakah mereka.

“Nanti, jangan membantah apapun yang kukatakan.”

“Apa?” Naura tidak mengerti.

“Kamu sudah punya pacar?” tanya Alden tanpa ekspresi.

Pipi Naura memerah seketika. Ia menundukkan kepalanya secara spontan. Selama ini, tak ada yang pernah bertanya tentang hal pribadi seperti ini padanya. Dan Alden menanyakannya dengan santai tanpa ekspresi sedikitpun.

“Kenapa? Kamu belum ada pacar, kan?” tanya Alden lagi memastikan semuanya.

Naura hanya menggeleng pelan. “Siapa juga yang mau pacaran sama saya.” lirih Naura pelan. Ya, siapa juga yang mau berkencan dengannya? Ia hanya anak seorang pembantu, dengan pergaulannya di sekolah yang populer yang hampir seluruh muridnya adalah anak orang berada, Naura tidak berani mendekati murid lain bahkan untuk sekedar berteman.

“Apa salahnya dengan menjadi pacar kamu?”

Pertanyaan Alden membuat Naura mengangkat wajahnya menatap ke arah Alden. Rupanya Alden masih konsentrasi dengan jalanan di hadapannya.

“Kalau begitu, mulai malam ini, kamu sudah menjadi pacarku.”

“Apa?” Naura yakin jika ia hanya salah dengar.

Alden lalu mendaratkan sebelah tangannya pada paha Naura, ia meremasnya pelan sebelum berkata “Ya, kamu jadi pacarku, mulai malam ini. Dan aku tidak terima penolakan.” Dan Naura hanya ternganga menanggapi kalimat Alden tersebut.

 

Itu adalah pertama kalinya Naura menjalin hubungan dengan Alden. Tujuh tahun yang lalu, ketika Naura sedikit demi sedikit mulai jatuh pada pesona seorang Alden Revaldi, sebelum kemudian, lelaki itu menghancurkan semua impian dan harapannya…

***

Alden membanting pintu kamarnya sekeras mungkin. Ia tidak peduli jika apa yang ia lakukan akan membangunkan seisi rumahnya. Alden meremas rambutnya dengan frustasi. Rupanya, Naura sudah berbeda, perempuan itu bukan lagi menjadi perempuan penurut seperti dulu, dan sepertinya, Alden harus bekerja ekstra untuk mendaptkan kembali hati Naura.

Dulu, Naura tidak berani menolaknya, Naura juga tidak berani membantah kata-katanya, tapi kini? Apa mungkin ini ada hubungannya dengan lelaki yang menjadi tunangan perempuan itu? Sial! Tidak bisa dibiarkan. Alden akan mencari tahu siapa lelaki itu dan menyingkirkannya dari kehidupan Naura. Naura hanya miliknya, entah dulu, atau sekarang, perempuan itu tetaplah menjadi miliknya.

Alden lalu melemparkan diri ke atas ranjang besarnya, ia terbaring nyalang, dengan mata yang menatap ke arah langit-langit kamarnya, lalu sekelebat bayang manis masa lalunya dengan Naura menari di kepalanya.

 

“Kenapa Tuan Alden mengenalkan saya sebagai pacar Tuan?”

“Tuan? Kamu kekasihku sekarang, jadi jangan panggil aku tuan.”

“Tapi-”

“Aku tidak ingin dibantah.” Alden masih berkonsentrasi mengemudikan mobilnya. “Al, panggil saja begitu. Kamu bisa memanggilku Tuan di depan banyak orang, tapi ketika kita hanya berdua, panggil saja namaku.”

Naura tidak menjawab, ia masih tidak habis pikir dengan Alden yang tadi baru saja mengajaknya ke tempat teman-temannya. Gilanya lagi, lelaki itu memperkenalkan dirinya sebagai kekasih Alden, dan Naura hanya diam, ia tidak membantah atau meralat ucapan Alden saat itu.

“Kenapa? Kamu nggak suka dengan hubungan kita?”

“Uumm, bukan begitu, saya hanya tidak mengerti, kenapa Tuan-”

“Alden.” Ralat Alden cepat.

“Uum, kenapa kamu melakukan ini sama saya.” Naura masih enggan memanggil Alden dengan namanya saja, dan itu membuat Alden sedikit menyunggingkan senyumannya.

“Karena aku suka sama kamu, apa itu kurang?”

“Uum, tapi bagaimana bisa suka? Saya kan cuma…”

“Aku juga nggak tau kenapa aku bisa menyukaimu, Na! mungkin karena kamu menggodaku, atau mungkin karena pertahananku terlalu lemah saat melihat perempuan secantik kamu.”

Naura tidak menjawab, hanya tampak rona merah di pipinya yang tampak menyala. Oh, perkataan Alden benar-benar membuat pipinya memanas.

“Saya tidak pernah menggoda kamu.”

“Ya, aku ngerti, tapi bagaimana kalau aku tergoda? Ayolah, aku sudah dewasa, dan melihat kamu berkeliaran di dalam rumahku setiap harinya benar-benar menggangguku.”

“Uum, saya minta maaf, nanti saya akan bilang sama ibu untuk mencari rumah kontrakan-”

“Tidak! Bukan itu maksudku, astaga.” Alden mengerang frustasi. Lalu ia menepikan mobilnya, dan ketika mobilnya berhenti, ia segera menatap ke arah Naura. “Maksudku adalah, kamu sudah membuatku tertarik denganmu, mungkin karena keberadaanmu yang selalu berada di sekitarku, atau mungkin karena faktor lain, aku sendiri tidak tahu, tapi yang terpenting, aku tertarik denganmu, dan aku ingin kamu menjadi kekasihku.”

“Tapi saya-”

“Aku nggak terima penolakan. Seperti yang kukatakan di awal.”

Naura hanya menunduk saat Alden menatapnya dengan intens. Kemudian, Naura merasakan jemari Alden meraih dagunya, mengangkatnya hingga wajah mereka saling beradu pandang cukup lama, hingga kemudian Alden berbisik pelan. “Anggap saja ini tanda jadi hubungan kita.” Dan setelah kalimatnya tersebut, Alden mendaratkan bibirnya pada bibir Naura.

Naura sempat terkejut dengan apa yang dilakukan Alden, tapi ia tidak menolak, ia tidak meronta ataupun menghindar. Yang Naura lakukan hanya diam, lalu mengikuti irama bibir Alden yang seakan mengajak bibirnya menari. Menari dengan lembut dan seirama, hingga membuat ciuman pertama mereka terasa begitu manis dan tak kan terlupakan.

Saat setelah bayangan itu menari dalam kepalanya, Alden tersenyum, lalu secara spontan ia meraba bibirnya sendiri. Bibir Naura masih sangat terasa di sana, tapi bukan rasa manis seperti ciuman pertama mereka. Kenapa? Apa karena kini Naura sudah memiliki pria lain yang dicintainya? Atau, karena kesalahan fatalnya di masalalu yang hingga kini membuat Naura belum juga memaafkannya??

-TBC-

btw, ini diapenampakan Alden dan juga Naura yaa.. hehehhe jangaan baper lohh wakakakkakak

Secret Wife – Chapter 1 (Masih Seindah dulu)

Comments 8 Standard

Secret Wife (The Wedding #4)

 

Chapter 1

-Masih seindah dulu-

 

“Kakak.” Panggilan manja itu membuat Alden menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Angel, adiknya berada tak jauh di seberang meja dapur. “Apa yang kakak lakukan di sana?” tanya Angel sembari menatap kedekatan Alden dengan Naura.

“Ahh, aku cuma mau di bikinkan kopi, memangnya apa lagi?” ucap Alden sembari melirik ke arah Naura dengan lirikan melecehkan.

Ya, seperti dulu, seperti biasanya.

Angel berjalan mendekat, mengamati sang kakak dan juga perempuan sederhana di hadapannya. “Kakak masih kenal dia? Ini Naura, anaknya Bibi Tina yang dulu kerja di sini.”

“Ya, kakak masih bisa sedikit mengingatnya.”

Naura hanya mampu menunduk. Ia tidak suka di tatap seperti itu oleh Alden. Tapi mau bagaimana lagi, Alden adalah majikannya, jadi ia tidak dapat memprotes apa yang di lakukan lelaki itu.

“Bi Tina sudah nggak ada, jadi sekarang Naura yang gantiin Bibi kerja di sini.”

“Jadi, dia masih tinggal di sini?” pertanyaan itu mungkin terdengar biasa saja bagi Angel, tapi tentu berbeda dengan Naura. Ada nada mengancam yang terselip dalam setiap katanya, yang entah mengapa membuat Naura terancam atas keberadaan Alden.

“Enggak, Naura nggak tinggal di sini lagi, dia sudah ada rumah kontrakan sendiri, tapi dia kerja di sini sampai malam. Dan aku suka dengan keberadaannya di sini, setidaknya aku tidak kesepihan, bukan begitu kan, Ra?”

Naura hanya mengangguk tanpa berani mengangkat wajahnya.

Well, sepertinya aku juga akan senang dengan keberadaannya di sini.” Lagi-lagi, kalimat itu diucapkan Alden dengan begitu santai. Tapi entah kenapa Naura menangkap maksud lain dalam ucapan lelaki tersebut.

Astaga… tidak! Jangan lagi, jangan lagi seperti dulu.

***

Menyiapkan makan malam memanglah menjadi kebiasaan Naura sebelum dia pulang dari bekerja dirumah sebuah keluarga yang sudah seperti keluarganya sendiri. Keluarga yang ia kenal sejak ia berumur Sepuluh tahun.

Ya, keluarga Revaldi sudah seperti keluarga kedua untuknya. Ketika ayahnya kabur meninggalkannya dan juga ibunya, ia bergantung pada keluarga ini. Ibu Alisha, Nyonya dari keluarga Revaldi benar-benar sangat baik. Wanita itu mau menampungnya di rumah ini, padahal saat itu ia hanya anak dari seorang pembantu rumah tangga di rumahnya. Naura merasa sangat beruntung, karena ia juga disekolahkan oleh keluarga Revaldi hingga lulus SMA. Sungguh, Naura tidak tahu harus membalas kebaikan keluarga itu dengan apa, yang Naura tahu adalah ketika ibunya meninggal dua tahun yang lalu, sang ibu berpesan agar Naura tetap melayani keluarga Revaldi apapun yang terjadi. Dan kini, ia melakukan apa yang dipesankan mendiang ibunya.

Malam ini sangat berbeda dengan malam-malam sebelumnya, jika sebelumnya Naura bisa dengan leluasa menata makan malam dengan pelayan-pelayan lainnya diruang makan, maka malam ini ia merasa kepercayaan dirinya sedang diuji ketika ia merasakan sepasang mata tajam tak berhenti mengamati gerak geriknya.

Mata siapa lagi jika bukan mata seorang Alden Revaldi?

Astaga, Naura bahkan tidak habis pikir, apa yang dilakukan pria itu di ruang makan ketika jam makan malam belum tiba?

Sesekali mata Naura melirik ke arah Alden. Pria itu duduk santai mengawasi apa yang ia lakukan. Mata pria itu masih setajam dulu, rahangnya tampak tegas, dan bibirnya… Ah, bibir yang selalu menyunggingkan senyuman yang tampak melecehkan dimatanya.

Alden masih sama seperti dulu. Seperti enam tahun yang lalu ketika mereka berdua terlibat dalam suatu hubungan gelap hingga membuat Naura tak dapat berpaling dari pria lain selain pria itu.

Naura menggelengkan kepalanya, ketika bayangan masalalu mulai menghantuinya. Bayang masalalu yang terasa indah namun juga begitu menyakitkan ketika ia mengingatnya.

Dengan memberanikan diri dan mencoba tak menghiraukan keberadaan Alden, Naura berjalan menuju ke arah meja makan sembari membawa piring-piring kosong. Ia meletakkan piring-piring tersebut pada tempatnya seperti biasa, hingga ketika Naura meletakkan piring kosong tersebut tepat di hadapan Alden, tubuhnya membatu ketika jemari Alden dengan sengaja menyentuh jemarinya.

Naura melirik ke arah Alden, dan seperti biasa, lelaki itu menatapnya dengan tatapan yang melecehkan. Oh, ia benci sekali dengan tatapan itu.

“Maaf.” Naura mencoba melepaskan jemarinya, tapi jemari Alden semakin erat menggenggamnya. Mata Naura segera mengawasi ke segala penjuru, takut jika apa yang di lakukan Alden di lihat oleh pelayan-pelayan lain, ia dapat menghela napas lega saat pelayan-pelayan lain sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Naura kembali menatap Alden, dan memohon agar Alden melepaskan genggaman tangannya. Sungguh, ia tidak mau jika ada yang melihat tindakan Alden yang tentunya akan membuat orang yang melihatnya bertanya-tanya tentang apa yang terjadi dengan mereka berdua.

“Kamu menghindar, Na?”

Naura hanya menggelengkan kepalanya. Tubuhnya bergetar ketika mendengar Alden memanggilnya dengan panggilan tersebut. Ya, Hanya Alden yang memanggilnya dengan panggilan “Na” bukan “Ra” atau “Naura” seperti yang lainnya.

“Kalau tidak, nanti malam aku tunggu di kamarku.”

Mata Naura membulat seketika ke arah Alden. “Maaf?” tanyanya tak percaya. Ia berharap jika apa yang ia dengar itu salah.

“Kamu mendengarnya, kan? Aku menunggumu di kamarku setelah makan malam.”

“Maaf, tapi…”

“Ambilkan makan malamku, cepat. Aku sudah lapar.” Alden memotong kalimat Naura hingga Naura sadar jika ia tidak memiliki hak untuk menolak majikannya. Ahhh, kenapa selalu seperti ini.

Naura berbalik, meninggalkan Alden dengan perasaan yang sudah campur aduk. Alden memintanya untuk ke kamar lelaki itu nanti, apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia menuruti apa yang diinginkan Alden? Astaga…

***

Hingga jam setengah sepuluh malam, Alden masih menunggu Naura di dalam kamarnya. Tadi, setelah makan malam, ia segera masuk ke dalam kamarnya. Berharap jika naura segera menyusulnya karena ia ingin memberikan sesuatu pada perempuan tersebut.

Alden melirik sebuah kotak kecil di atas meja di sebelah ranjangnya. Meraih kotak tersebut lalu membukanya. Alden berakhir dengan menggelengkan kepalanya sembari tersenyum seakan menertawakan dirinya sendiri.

Sial! Untuk apa juga ia membelikan perempuan itu hadiah mewah seperti itu? Sungguh, barang itu pasti tidak akan cocok dikenakan oleh Naura.

Alden kembali menutupnya, menaruh kotak tesebut di tempat semula. Ia lalu melirik ke arah jam tangannya dan berakhir menghela napas panjang. Alden terpaksa bangkit, mau tidak mau ia harus menyeret Naura untuk masuk ke dalam kamarnya, ia tidak peduli jika akan ada orang di dalam rumah ini yang tahu tentang hubungan mereka, nyatanya, Alden sudah sangat merindukan perempuan tersebut.

Ya, merindukan tubuhnya…

Turun dari kamarnya yang berada di lantai dua, Alden segera menuju ke arah dapur. Rupanya, di dapur sudah sepi, tak ada lagi aktivitas di sana. Alden menuju ke ruang tengah, dimana di sana terdapat Brandon Revaldi, Ayahnya yang kini tengah menonton siaran langsung pertandingan sepak bola.

“Pa, kok sudah sepi.” Alden mencoba mencari tahu tapi tidak ingin terlalu mencolok.

“Hei, kemarilah. Temani papa nonton bola.” Ajak Brandon pada putera pertamanya.

Mau tidak mau Alden duduk di sebelah Brandon. “Yang lain kemana?”

“Adik kamu sudah tidur, mama juga sudah tidur karena tadi merasa kurang enak badan. Jadi papa nonton bola sendirian.”

Ohh, bukan itu yang ingin diketauhi Alden. Ia hanya ingin bertanya, dimana Naura?

“Maksud Alden, para pelayan rumah. Kok sudah sepi.”

“Sudah pada istirahat mungkin, besok kan bangun pagi. Kenapa? Kamu ingin dibuatkan sesuatu?”

Alden menggeleng dengan malas. Sungguh, ia hanya ingin tahu dimana keberadaan Naura.

“Sayang sekali Naura sudah pulang, kalau masih disini, mungkin dia sudah nyiapin cemilan malam untuk kita.”

Alden menatap sang ayah seketika. “Pulang?” Ahh iya, bukankah tadi siang Angel sempat bilang jika Naura sudah mengontrak rumah sendiri? Sial! Berani-beraninya perempuan itu menolak ajakannya dan tak menghiraukan perintahnya.

“Ya, pulang ke rumah kontrakannya.”

Alden menurunkan bahunya sembari menghela napas panjang. Brandon menatap ke arah Alden, sepertinya Alden kecewa dengan jawabannya. Tapi apa yang membuatnya kecewa?

“Kamu kenapa? Ada yang menganggu pikiranmu?” Brandon bertanya lagi.

“Enggak, Pa. tadi cuma mau ngasih oleh-oleh buat Naura.”

Brandon mengangkat sebelah alisnya. “Naura? Kamu, membelikan sesuatu untuk dia?”

Alden sedikit salah tingkah dengan pertanyaan ayahnya, tapi ia mencoba mengendalikan dirinya.

“Uum, ya, aku kan kenal dia sejak kecil. Dan aku tahu dari Angel kalau dia masih bekerja di rumah kita, jadi aku belikan dia sesuatu, Pa.”

Brandon menganggukkan kepalanya seakan mengerti apa yang diucapkan puteranya tersebut. “Ya, Papa ngerti. Kamu bisa ngasih barangnya besok, atau mungkin menyusul ke rumah kontrakannya.”

Alden menatap ayahnya dengan semangat. “Papa tahu dimana rumah kontrakannya?”

“Ya, tentu saja. Keluar dari perumahan, kamu hanya perlu belok kiri, lalu lurus saja, sebelum perempatan pertama, ada sebuah gang besar, kamu masuk saja, rumah kontrakan Naura adalah rumah nomor 5 dari ujung gang.”

Alden berdiri seketika. “Terimakasih infonya, Pa.” dengan semangat Alden meninggalkan ayahnya. Tapi pertanyaan ayahnya membuat Alden menghentikan langkahnya seketika.

“Kamu, beneran nggak ada apa-apa sama dia, kan?”

Alden tertawa lebar. “Enggak lah, Pa. mana mungkin aku ada apa-apa sama dia, dia kan hanya pelayan di rumah ini.”

“Papa nggak pernah membedakan orang dari statusnya. Papa hanya nggak mau kalau kamu menaruh hati dengan perempuan yang sudah menjadi milik orang.”

Tubuh Alden kaku seketika. “Milik orang? Maksudnya?”

“Naura sudah punya tunangan, jadi lebih baik, kamu jangan terlalu dekat dengannya.” Dan Alden hanya bisa mematung setelah mendengar apa yang di ucapkan ayahnya. Tunangan? Bagaimana mungkin perempuan itu sudah memiliki tunangan?

***

Entah sudah berapa lama, Alden menatap rumah sederhana itu dari dalam mobilnya. Ia ingin turun dan bertamu ke rumah Naura, tapi entah kenapa perkataan ayahnya tadi seakan menghantuinya.

Naura sudah memiliki tunangan, dan mungkin saja perempuan itu sudah bahagia dengan tunangannya. Tapi jujur saja, Alden tidak suka menerima kenyataan itu.

Alden menghela napas panjang sebelum kemudian ia memutuskan untuk keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri rumah Naura. Persetan dengan status Naura, persetan dengan perempuan itu yang mungkin saja sudah bahagia dengan kekasihnya. Nyatanya, ia adalah lelaki pertama dari perempuan tersebut dan ia kembali karena ingin menagih haknya.

Alden mengetuk pintu di hadapannya berkali-kali, tapi si pemilik pintu tak kunjung membukanya. Akhirnya Alden mengetuknya lebih keras lagi, dan tak berapa lama, pintu di buka dari dalam mendapati Naura yang yang sudah berdiri di balik pintu dengan wajah terkejutnya.

“Tuan-”

Naura tak dapat melanjutkan kalimatnya saat tubuhnya sudah di dorong masuk ke dalam oleh Alden. Dengan segera Alden menutup pintu di belakangnya kemudian mengimpit tubuh Naura diantara dinding.

“A-apa yang kamu lakukan?”

“Jadi, kamu berani menolak permintaanku? Berani membantahku, Na?”

Naura tidak menjawab, ia memilih menolehkan kepalanya ke samping ketika Alden menatapnya dengan tatapan mata membaranya. Jemari Alden meraih dagu Naura, menolehkan wajah naura dengan paksa ke arahnya. Lalu jemari itu menelusuri sepanjang garis pipi Naura dengan gerakan menggoda hingga yang bisa Naura lakukan hanya memejamkan matanya sembari menahan napasnya karena kedekatan yang begitu intim antara ia dengan Alden.

“Kamu masih seindah dulu, Na. Dan aku sangat menyukainya.” Lalu tanpa banyak bicara lagi, Alden segera menyambar bibir ranum Naura, bibir yang selalu membayanginya selama enam tahun terakhir. Oh, rasanya masih sama, bahkan Alden merasakan jika bibir tersebut lebih padat dan berisi dari sebelumnya. Nauranya yang dulu masih sama, tapi sedikit berubah, dan perubahan tersebut membuat Alden semakin mengingingkan wanita tersebut.

-TBC-

 

Spoiler part 2

 

Kamu masih milikku, bahkan ketika aku meninggalkanmu.”

Naura hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin, Alden masih memikirkan tentang masa lalu mereka. Masalalu yang hanya seperti impian bagi dirinya.

“Aku akan mencari tahu siapa pria sialan itu.”

Naura tersentak dengan ucapan Alden. “Untuk apa?”

“Aku akan memberikan pelajaran padanya, karena dia sudah berani melamar istriku.”

Tidak!

 

Secret Wife – Prolog

Comments 8 Standard

Secret wife (the weddimh #4)

 

judul : Secret wife

seri : The wedding #4

pemain : Alden Revaldi & Naura Melisa

from author : Oke, harusnya aku update Future Wifenya Evan dulu ya, cuman gimana ya, aku gak bias bohong kalau aku lebih dulu garap cerita ini daripada wedding series #3 jadi nikmatin aja ya… gak kalah seru kok, aku jamin dehh.. hahhahahahhah happy reading.,

 

Prolog

 

Sepasang sepatu mahal itu melangkah dengan pasti. Tubuh tegap itu berjalan dengan gagah, dan wajah tampan itu mampu mengalihkan semua pandangan seluruh orang yang berada di dalam Bandara tersebut ke arahnya. Alden berjalan penuh percaya diri, senyumnya terukir mana kala matanya mendapati seorang gadis muda yang tengah berlari ke arahnya.

“Kakak…” gadis manja itu menghambur memeluknya. Alden hanya bisa tertawa mendapati adiknya itu masih bersikap manja terhadapnya meski usianya tak lagi muda.

“Hei, jelek! Kamu sendiri yang jembut kakak?”

“Jelek? Enak saja. Lihat, aku sudah bisa make up.”

“Ya, aku sudah melihatnya, dan bagiku kamu jelek saat pakai Make up. Mana adikku yang polos dan manis tanpa Make up seperti dulu?”

“Hei, aku sudah besar, jadi wajar pakai Make Up.”

“Oke, oke, terserah kamu. Ngomong-ngomong, mama mana? Nggak ikut jemput?”

“Mama siapin kejutan untuk kakak di rumah.”

“Well, kita lihat saja, kejutan apa yang di siapkan mama untuk puteranya yang sudah hampir delapan tahun tidak pulang ke rumah.”

“Mama menggila, dia masak banyak sekali makanan enak. Katanya Kak Alden sudah terlalu lama hidup di luar, jadi sudah pasti kakak kangen masakan rumah.”

Alden tertawa lebar. “Ya, aku memang merindukan masakan Mama.” Alden menghela napas panjang. “Mom, I’m coming.”

***

Setelah membereskan pekerjaannya yaitu menjepakaian di lantai paling atas, Naura turun. Ia segera menuju ke arah dapur, dimana berada Alisha, nyonyanya yang kini sedang sibuk menyiapkan makanan untuk puteranya yang baru pulang dari luar negeri.

Mengingat itu jantung Naura kembali berdebar. Ia meraba dadanya yang terasa nyeri setiap kali ia mengingat tentang putera sulung dari keluarga Revaldi. Naura menggelengkan kepalanya, ia memilih mengenyahkan pikiran-pikiran aneh yang sedang merayapi dirinya. Naura mempercepat langkahnya, dan segera berhenti tepat di sebelah sang Nyonya.

“Bu, saya bantu apa?” tanyanya sopan.

Ya, sepagi tadi, Alisha sibuk menyiapkn makanan untuk menyambut kedatangan Alden, dan ia tidak memperbolehkan siapapun membantunya, termasuk Naura.

“Haduh, ini belum selesai juga, padahal sebentar lagi Alden datang. Tolong bantu aduk sausnya. Saya mau potongin dagingnya dulu.”

“Baik Bu.” Dan Naurapun melakukan apa yang di perintahkan wanita paruh baya tersebut.

“Mama.” Tiba-tiba, panggilan itu sontak mengagetkan kedua perempuan yang tengah sibuk dengan masakan di hadapan mereka. Naura dan Alisha menolehkan kepalanya dan mendapati Alden sudah berdiri gagah tak jauh dari dapur tempat mereka memasak.

“Alden!!” pekik Alisha yang segera berlari menghambur ke arah putera yang begitu ia rindukan. Berbeda dengan Naura, wanita itu segera memalingkan wajahnya sembari menunduk ketika mendapati siapa yang telah datang.

Naura tak lagi menghiraukan ibu dan anak yang saling melepas kerinduan, yang ia pikirkan saat ini hanyalah perasaannya, hanyalah jantungnya yang seakan tak berhenti berdebar kenjang memukul rongga dadanya yang seketika terasa begitu sakit. Hingga kemudian, sebuah tepukan di pundaknya membuatnya berjingkat seketika.

Dengan spontan Naura membalikkan tubuhnya, dan mendapati dada bidang tepat berada di hadapannya. Naura membatu, wajahnya segera menunduk karena tak berani terangkat dan mendapati sepasang mata memabukkan milik lelaki yang begitu dicintainya.

“Masih ingat aku, Na?”

Mata Naura membulat, tubuhnya gemetaran mana kala ia mendengar pertanyaan lembut namun terdengar sedikit meisterius dari lelaki yang berdiri tepat di hadapannya. Lelaki yang sudah begitu lama tak bertemu dengannya, lelaki yang sudah memiliki dunianya. Lelaki yang bernama Alden Revaldi.

Ohhh, Nerakanya akan di mulai. Ya, Naura tahu jika nerakanya akan kembali di mulai.

-TBC-