Sang Pemilik Hati – Chapter 3 (“Kita akan berkencan”)

Comments 3 Standard

Sang Pemilik Hati

“Tapi saya punya syarat untuk kamu, untuk menjadi penutup mulut saya.” Lanjut Yoga yang seketika itu juga membuat Nana menatap Yoga dengan penuh tanya.

Syarat? Syarat apa? Kenapa lelaki yang baru di kenalnya itu mengajukan syarat padanya? Yang benar saja.

“Syarat? Syarat apa, Mas?”

Entah dari mana Nana berani memanggil lelaki itu dengan panggilan ‘Mas’, selama ini Nana hanya memanggil kakaknya dengan penggilan itu, tidak ada lagi lelaki yang di panggilnya dengan panggilan tersebut, tapi dengan Yoga, entah kenapa ia ingin memanggil lelaki itu dengan panggilan yang menurutnya lebih akrab di dengar.

“Nana.”

Lelaki itu kembali memanggil nama Nana dengan suara yang lebih berat dari sebelumnya. Dan itu membuat Nana menatap penuh tanya pada lelaki tersebut.

“Jadilah kekasih saya.”

Dan tiga kata tersebut sontak membuat Nana membulatkan matanya seketika. Menjadi kekasihnya? Kekasih seorang Prayoga yang memiliki ketampanan di atas rata-rata? Kekasih Prayoga, yang ternyata kakak dari orang yang kini menjadi pacarnya? Oh apa lagi ini? Tidak cukupkah kehidupan di sekolahannya berantakan karena seorang Rino Permana? Dan kini seakan Tuhan menambah lagi sesosok Prayoga untuk kembali membuat hidupnya semakin jungkir balik karenanya. Apa ia memiliki kesalah di masa lampau hingga Tuhan menghukumnya dengan cara menggelikan seperti ini? Oke, ini berlebihan. Tapi demi Tuhan, seorang Rino saja sudah mampu membuat jantungnya jumpalitan tidak keruan, apalagi di tambah dengan seorang Prayoga?

***

Chapter 3

-“Kita akan berkencan”-

 

Nana masih membatu karena ucapan lelaki yang duduk di sebelahnya tersebut. ‘Jadilah kekasih saya’ , apa maksudnya? Pacaran?

“Kamu mendengar saya, kan, Na?” tanya Yoga lagi.

“Uum, itu, anu.”

“Apa?” tanya Yoga sambil tersenyum lembut, dan Nana semakin di buat salah tingkah dengan senyuman yang di berikan Yoga padanya.

“Mas Yoga kok ngomong gitu.”

“Ngomong apa?”

“Tadi, yang ‘jadilah kekasih saya’. Nana nggak ngerti.”

“Maksudnya, Mas pengen kamu jadi pacar Mas Yoga.”

“Tapi kan, Nana sudah punya-”

“Ya, saya tahu. Tapi apa saya nggak boleh berharap sedikit saja?” Yoga masih tersenyum ketika mengucapkan kalimat tersebut.

“Tapi-”

“Pikirkan saja dulu.” Pungkas Yoga. “Ngomong- ngomong, kamu beneran pacaran sama Rino?”

“Uum, aku nggak tahu Mas, Kak Rino memaksaku gitu aja, padahal kami tidak saling kenal dekat sebelumnya.” Nana menundukkan kepalanya.

“Tapi kamu suka sama dia, kan?”

“Uum…” Nana tidak tahu harus berkata apa. Ia memang sempat menyukai Rino dulu, tapi entah dengan sekarang.

“Tidak apa-apa. Saya tidak memaskamu untuk berhenti menyukainya. Saya bahkan senang kalau dia mendapatkan gadis seperti kamu.”

Nana tampak bingung. Lalu apa yang sebenarnya di inginkan lelaki di hadapannya tersebut? Kenapa lelaki itu menginginkan ia menjadi kekasihnya dan di sisi lain mendukungnya menjadi kekasih adiknya? Benar-benar membingungkan.

“Tapi Nana, maukah kamu menemani Mas Yoga ketika Mas ada di Jakarta saat weekend seperti sekarang ini?”

“Maksud Mas Yoga?”

“Saya tinggal di Surabaya, dan hanya ke Jakarta saat Weekend seperti ini, jadi, maukah kamu jadi kekasih saya saat saya berada di Jakarta seperti saat ini?”

“Uum.”

“Pikirkan saja, besok saya kembali main ke sini lagi.”

Pada saat bersamaan, Bian datang. “Jadi, apa saja yang kalian bicarakan?” tanya Bian yang terlihat ingin tahu.

“Gue hanya tanya tentang sekolahnya.”

“Hanya itu?” Bian kemudian tertawa lebar. “Kapan lo majunya, Ga?”

Yoga berdiri seketika, “Udah, gue mau pulang, sudah malam. Besok ke sini lagi.”

“Nggak pamitan nih, sama Nana?” goda Bian.

Yoga tersenyum kemudian menatap Nana dengan tatapan lembutnya. “Mas pulang dulu, besok ke sini lagi.” Pamitnya dengan suara lembut. Sedangkan Nana hanya mampu mengangguk tanpa menghilangkan rona merah di pipinya.

***

Malamnya, Nana sudah tidak bisa tidur lagi. Pikiran tentang Yoga menyeruak dalam ingatannya. Cara lelaki itu bicara, cara lelaki itu tersenyum, cara lelaki itu menatapnya dengan tatapan lembutnya benar-benar membuat Nana terpengaruh.

Suara lelaki itu seakan menggema di telinganya, ia tak dapat melupakan setiap kata yang terucap dari bibir lelaki tersebut.

‘Jadilah kekasih saya.’

Kata itu di ucapkan dengan begitu sopan dari bibir Yoga. Oh, apa ia harus menerima permintaan Prayoga? Menjadi kekasih lelaki tersebut saat Weekend tiba? Bisakah? Lalu bagaimana dengan Rino? Ahh, persetan dengan lelaki itu. Lelaki itu bahkan selalu memperlakukannya dengan kasar.

Nana bahkan yakin jika rasa sukanya pada Rino kini semakin terkikis karena perlakuan semena-mena dari lelaki tersebut. Berbeda sekali dengan Yoga yang selalu memperlakukannya dengan sangat lembut. Ahh, Yoga lagi.

Nana menutup wajahnya dengan sebuah bantal kemudian berguling ke sana kemari. Jantungnya masih tak berhenti berdebar kencang. Astaga, kenapa bisa seperti ini?

***

Prayoga masih tidak berhenti menyunggingkan senyuman yang membuatnya terlihat semakin tampan. Malam ini adalah malam yang sangat membahagiakan untuknya, akhirnya setelah sekian lama, ia dapat menyatakan perasaannya pada Nana. Menjadikan Nana sebagai kekasihnya meski hanya saat akhir minggu seperti sekarang ini.

Tapi itu bukan masalah, Yoga bahhagia, meski sebenarnya hatinya sedikit menyimpan rasa gundah. Rasa gelisah tentang hubungan Nana dengan Rino, adiknya sendiri. Ia merasa menjadi orang yang paling jahat karena sudah menusuk adiknya dari belakang. Tapi bagaimana lagi, bukankah yang namanya cinta tidak bisa memilih?

Yoga tahu benar jika dirinya memang sudah mencintai Nana jauh sebelum Rino mengenal gadis tersebut, hanya saja ia kalah langkah. Rino lebih dulu memiliki gadis itu, dan itu membuat Yoga mau tidak mau menyembunyikan perasaannya pada sosok Nana Erieska.

Yoga membelokkan mobil yang ia kendarai masuk ke dalam sebuah pelataran rumah mewah, rumah Rino. Ya, meski kini itu juga menjadi rumahnya, baginya rumah itu hanya tempat singgahnya sementara waktu. Ia ingin keluar dari rumah tersebut dan tinggal di rumahnya sendiri nantinya ketika ia sudah memiliki cukup uang. Meski uang yang ia kumpulkan berasal dari perusahaan ayah Rino, setidaknya uang tersebut adalah hasil dari kerjanya, bukan dari meminta-minta pada ayah tirinya.

Sebenarnya Yoga sangat ingin tinggal di rumah tersebut hingga tua bersama dengan keluarga Rino. Ayah Rino sangat menyayangi dirinya dan juga ibunya, begitupun dengan Kesha, adik tirinya tersebut juga sangat menyayanginya, hanya saja, Rino seakan selalu mencari alasan untuk membencinya. Bukan salah Rino, bagaimanapun juga itu salah ia dan ibunya.

Setelah menghentikan mobilnya di garasi rumahnya, Yoga keluar, dan seketika itu juga sosok manja menghambur dalam pelukannya, siapa lagi jika bukan Kesha.

“Mas Yoga dari mana saja? Nggak seru ah, masa Kesha di tinggal.” Gadis manja itu memanyunkan bibirnya.

“Dari jalan sebentar, masa mas Yoga nggak boleh jalan, sih?”

“Boleh, sih, tapi aku kan juga pengen ikut.”

“Ya sudah, nanti mas ajak kamu jalan, deh.” Dan akhirnya keduanya masuk ke dalam rumah.

“Mas, tadi aku nggak sengaja lihat pintu kamar Mas Yoga kebuka, terus aku masuk. Kupikir mas Yoga ada di dalam, tapi ternyata nggak ada. Tapi aku sempat lihat ada foto.”

Tubuh Yoga menegang seketika. “Foto apa?”

“Uum, itu, kok ada foto pacar mas Rino di sana.”

“Oh, mungkin kamu salah lihat.”

“Aku nggak mungkin salah lihat, Mas.”

Yoga menghentikan langkahnya. “Kesha, harusnya kamu tidak masuk ke dalam kamar mas, bagaimanapun juga itu melanggar privasi orang.”

“Aku kan nggak sengaja, Mas. Masa gitu aja mas Yoga marah. Saat itu aku juga nggak sengaja lihat mas Rino masuk kamar mas Yoga, tapi mas Yoga biasa saja tuh sama mas Rino.” Kesha sedikit menggerutu kesal karena Yoga terkesan marah padanya.

“Tunggu dulu, Rino? Masuk ke dalam kamarku? Kapan?”

“Nggak tahu, aku sudah lupa.”

“Kesha, kamu beneran lihat Rino masuk sana atau itu hanya karangan kamu saja?” Yoga benar-benar tampak serius dengan pertanyaannya.

“Ya, memangnya kenapa kalau gue masuk sana?” suara tersebut membuat Yoga dan Kesha menolehkan kepalanya menuju sumber suara tersebut. Di sana sudah ada Rino yang berdiri penuh dengan keangkuhan.

“Ngapain kamu ke kamarku?” Yoga bertanya dengan nada dinginnya.

“Bukan urusan lo.” Dan Rino pergi begitu saja, tapi Yoga tidak tinggal diam. Ia menyusul adiknya tersebut hingga keduanya kini berada di balkon lantai atas rumah mereka.

“Apa yang kamu lakukan di kamarku?” tanya Yoga lagi ketika keduanya sudah sampai di balkon lantai dua.

“Kenapa? Lo khawatir gue tahu kalau lo naksir cewek gue?”

Yoga hanya membatu dengan apa yang di katakan Rino. “Aku nggak bermaksud suka dengan perempuan yang kamu sukai, aku menyukai Nana sejak lama.”

“Ya, gue tahu, tapi sekarang dia sudah jadi milik gue.”

Yoga terdiam sebentar. “Tunggu dulu, kamu tahu? Jadi kamu tahu kalau aku suka dengan Nana, tapi kamu tetap menjadikan dia sebagai pacar kamu?”

Rino tidak menjawab, dia hanya tersenyum miring dengan apa yang di katakan Yoga.

“Atau jangan-jangan kamu sengaja memacarinya karena tahu aku menyukainya?”

“Bukan urusan lo.” Rino bersiap pergi meninggalkan Yoga, tapi kemudian langkahnya terhenti saat mendengar apa yang di katakan Yoga.

“Aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti Nana, kalau kamu benar-benar menyukainya, maka lanjutkan, tapi kalau kamu mendekati dia hanya untuk membuatku sakit hati, maka lupakan. Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Nana.” Yoga memperingati Rino dengan penuh penekanan.

***

Rino membanting pintu kamarnya keras-keras. Rasa kesal selalu menyelimuti ketika ia berhadapan dengan Yoga, kakak tirinya. Dendam karena keretakan rumah tangga orang tuanya serta kematian ibunya masih menghantui dirinya. Membuat Rino tidak bisa bersikap sedikit lebih ramah pada Yoga.

Sial! Apa saja akan ia lakukan demi membuat kakaknya itu hancur.

Rino sebenarnya sudah tahu jika Yoga menyukai Nana. Saat itu, ia memang sengaja memasuki kamar Yoga ketika Yoga masih berada di Surabaya. Bukan tanpa alasan, ia memang ingin menjatuhkan kakak tirinya tersebut dengan cara apapun. Tapi ketika ia memasuki kamar lelaki tersebut, tidak ada apa-apa di sana yang bisa membuat Rino menjatuhkan Yoga.

Yoga adalah lelaki yang pintar, ia tidak pernah melakukan sedikit kesalahan karena suatu kecerobohannya, dan itu membuat Rino sulit untuk menjatuhkan kakak tirinya tersebut. Hingga kemudian, ia melihat foto itu, foto yang terpajang di meja kecil tepat di sebelah ranjang Yoga.

Itu Nana, gadis yang dulu sempat di gosipkan menyukainya. Apa Yoga menyukai gadis tersebut? Bagaimana bisa? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepalanya saat itu.

Akhirnya Rino memutuskan menyusun rencananya sendiri, rencana untuk membuat Yoga tersakiti. Rino sangat yakin jika Nana adalah orang yang special untuk Yoga, jika tidak, maka tidak mungkin lelaki itu memasang foto Nana di kamarnya. Lalu ia memutuskan mendekati Nana, bahkan memaksa gadis itu menjadi pacarnya untuk mencari tahu, sebenarnya ada hubungan apa antara Nana dan Yoga.

Dan kini, Rino hampir mengetahui semuanya. Dari yang terlihat dalam ekspresi kakak tirinya tadi, Yoga terlihat seperti orang yang rela memberikan seluruh hidupnya untuk Nana. Apa Nana adalah gadis yang di cintai lelaki tersebut? Apa Nana adalah sumber kebahagiaan lelaki tersebut? Jika iya maka Rino akan menghancurkan semuanya, ia akan membuat Nana menderita jika itu juga dapat membuat Yoga menderita.

Rino tersenyum miring ketika berbagai macam rencana licik  menari di kepalanya. Tidak, itu terlalu mudah untuk Yoga jika ia hanya membuat Nana menderita, bagaimana jika ia bermain-main sebentar dengan gadis tersebut? Mengacaukan perasaannya mungkin, ah, pasti menyenangkan sekali melihat Yoga tidak berdaya ketika melihat gadis yang di cintai lelaki tersebut di permainkan oleh adiknya sendiri.

***

Besok sorenya…

Yoga benar-benar datang kembali ke rumah Nana. Ia masih mengenakan kemeja yang sangat rapih, dengan wajahnya yang berseri, apa karena akan bertemu lagi dengan Nana makanya ia tak berhenti berseri-seri? Mungkin saja.

Setelah cukup lama ia duduk di ruang tamu rumah Nana dengan Bian, akhirnya datang juga gadis yang di nanti-nantinya tersebut. Nana turun dari lantai dua, gadis itu tampak sangat cantik dan manis dengan jumpsuit pendek ala anak remaja pada umumnya. Rambut Nana di ikat dengan sebuah pita, tapi gadis itu juga mengenakan bandana cantiknya hingga membuat gadis itu tampak begitu imut dan manis.

Wajah gadis itu merah merona, mungkin karena tatapan yang di berikan Yoga padanya. Tapi Yoga tidak peduli, yang ia pedulikan adalah jantungnya yang berdebar semakin menggila, napasnya yang memburu begitu saja, dan juga aliran darahnya yang seakan di aliri oleh ribuan voltase listrik. Oh, bagaimana mungkin ia merasakan perasaan seperti ini hanya pada seorang Nana Erieska?

“Woi, malah bengong lagi, yuk ah, berangkat, nanti filmnya keburu mulai.” Ajak Bian. Dan Yoga baru sadar jika sejak tadi dirinya melamun sembari menatap ke arah Nana tanpa berkedip sedikitpun.

“Oke, kita berangkat sekarang.” Jawab Yoga.

Bian sudah berjalan lebih dulu, sedangkan Yoga memang berniat menunggu Nana. Malam ini mereka memang  berniat menonton bersama di bioskop. Nana dengan Yoga, sedangkan Bian dengan Friska, kekasihnya.

Nana menundukkan kepalanya ketika berada di hadapan Yoga. Ia sedikit salah tingkah ketika mendapati Yoga yang tidak berhenti menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.

“Kamu cantik.”

Ucapan Yoga membuat Nana mengangkat wajahnya seketika. Matanya terpaku pada mata Yoga yang terlihat berbinar, senyuman lelaki tersebut benar-benar menggetarkan hati siapapun yang melihatnya. Nana terpesona dengan ketampanan yang terpahat sempurna di wajah lelaki di hadapannya tersebut.

“Terimakasih.” Hanya itu jawaban Nana sembari menundukkan kepalanya kembai.

Tanpa meminta izin pada Nana, Yoga meraih jemari Nana, menggenggamnya erat-erat, kemudian mengajak Nana berjalan menyusul Bian ke luar rumah.

“Ayo.” Ajak Yoga.

Nana terpaku melihat jemarinya yang di genggam erat oleh lelaki tersebut, kemudian dengan spontan ia bertanya, “Kita akan kemana?”

Yoga menoleh kembali ke arah Nana kemudian tersenyum lembut pada Nana sembari menjawab. “Kita akan berkencan.”

Dan setelah kalimat Yoga tersebut, debaran jantung Nana mulai menggila kembali. Berkencan? Dengan lelaki yang super sempurna ini? Apa ini hanya mimpi? Pikirnya.

 

-TBC-

Advertisements

Sang Pemilik hati – Chapter 2 (“Jadilah kekasih saya.”)

Comments 4 Standard

sph2Sang Pemilik hati

Ketika Yoga mulai dapat mengendalikan dirinya, sosok cantik yang mengintip dari balik tubuh adikny itu membuyarkan semua pengendalian dirinya. Sosok manis yang sudah menarik perhatiannya sejak Empat tahun yang lalu. Sosok yang menjadi salah satu alasan kenapa ia masih mau pulang ke Jakarta.

Sosok itu…. Nana Erieska. Kenapa Nana di sini? Kenapa Nana bisa bersama denga Rino, adiknya? Apa hubungan keduanya?

***

Chapter 2

-“Jadilah kekasih saya.”-

 

Keempatnya masih terdiam, saling menatap dengan tatapan terkejut masing-masing, tentuya kecuali Kesha. Kesha tampak biasa-biasa saja, bahkan tampak senang karena bertemu dengan Rino. Kesha bahkan seakan tidak menyadari ketegangan di antara ketiganya.

“Mas Rino kok di sini?” pertanyaan Kesha membuat suasana sedikit mencair.

“Lagi jalan.” jawab Rino sedikit cuek, sedangkan tatapan matanya masih terpaut pada sosok Yoga.

“Mas nggak sekolah?” tanya Kesha dengan waah polosnya.

“Kamu juga nggak sekolah.” Rino kembali menjawab dengan nada cuek. Sikap Rino memang seperti itu, dan itu membuat Kesha tampak biasa-biasa saja dengan sambutan kakaknya yang tidak ramah itu.

Kesha kemudian melirik ke arah Nana yang masih berdiri di belakang Rino. Kemudian beberap pertanyaan menggelitik pikirannya.

“Mas, Mas sama siapa?” tanyanya sambil menatap Nana dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Rino menoleh sebentar ke arah Nana, kemudian menjawab dengan cuek, “Pacarku.”

“Wah, Mas Rino udah punya pacar.”

Entah apa lagi yang di ucapkan Kesha, Nana tidak tahu karena Nana hanya bisa menunduk ketika ia melihat mata memikat di hadapannya itu mulai menunjukkan sinar redupnya.

Cukup lama Kesha dengan mulut cerewetnya bertanya jawab dengan Rino yang menjawab pertanyaan Nana dengan nada-nada cueknya, hingga kemudian pertanyaan Rino membuat suasana kembali menegang.

“Lo suka sama cewek gue? Kenapa lihatin dia kayak gitu?” Pertanyaan tidak bersahabat yang di ajikan Rino pada Yoga tentunya.

Kesha menatap Yoga dengan tatapan bingungnya, Nana sendiri seketika mengangkat wajahnya, ia menatap Rino dengan tatapan tak percayanya, bagaimana mungkin Rino mengatakan hal itu? Mana mungkin juga lelaki di hadapannya itu menyukainya, sedangkan mereka  mungkin saja baru bertemu hari ini.

“Kenapa kamu bilang seperti itu?” Yoga berbalik bertanya dengan setenang mungkin, padahal kini perasaannya sedang tak karuan.

Nana, adalah gadis yang membuat hidupnya lebih bersemangat sejak Empat tahun yang lalu. Setelah pertemuan pertamanya hari itu, Yoga selalu saja menanyakan tentang Nana pada Bian, kakak Nana. Entah itu tentang kehidupan Nana, atau tentang apapun yang di lakukan Nana di rumah. Yoga seakan sudah terpaut pada gadis mungil itu. Bian, temannya yang tak lain adalah kakak Nana, bahkan sampai menggelengkan kepalanya, bagaimana mungkin Yoga tertarik dengan anak yang usianya baru dua belas tahun?

Hari demi hari Yoga lewati, hingga kemudian dirinya lulus perguruan tinggi dan memilih bekerja di Surabaya, di kantor cabang milik ayah tirinya, ayah Rino. Ketika Weekend tiba, Yoga memilih pulang, bertemu dengan sang ibu dan juga keluarganya, termasuk Rino, tapi yang paling dia nantikan adalah ketika mendengar kabar tentang Nana dari Bian.

Bian bahkan menyebut Yoga gila, jika Yoga menyukai Nana, kenapa tidak langsung menemui Nana saja? Kenapa harus mencuri-curi pandang seperti seorang maling yang takut ketahuan? Yang yang bisa Yoga jawab adalah, ia takut jika Nana lari ketakutan karena dirinya yang begitu tergila-gila pada gadis tersebut.

Kini, kenyataan di depannya sunggu di luar dugaan. Kenapa bisa Rino berpacaran dengan Nana? Kenapa Bian tidak pernah bercerita jika Nana memiliki seorang kekasih? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang menari-nari di kepalanya.

“Lo nggak berhenti lihatin dia.”

“Melihat belum tentu suka.”

“Oh ya? Gue bakal ingat apa yang lo bilang hari ini.” ucap Rino sambil tersenyum miring.

Yoga hanya mampu menatap adiknya itu dengan tenang dan datar, tanpa sedikitpun terlihat emosi. Selama ini Rino selalu memperlakukan Yoga dan ibunya seperti hama yang membuat keharmonisan rumah tangga Mama dan Papanya hencur hingga berujung kematian Mamanya. Dan Yoga hanya mampu diam tanpa melawan adiknya itu

Memangnya apa yang perlu ia lawan? Nyatanya memang seperti itu. Ibunya datang merusak hubungan Mama dan Papa Rino, membuat Mama Rino yang sudah sakit semakin parah, dan wanita itu meninggal, meninggalkan Rino dengan dendam yang sepertinya tak akan pernah padam di dadanya. Yoga menyadari, jika ia di posisi Rino, mungkin ia juga akan melaukan hal yang sama. Karena itulah Yoga selalu menyadari posisinya yang selalu salah di mata adik tirinya itu.

Mengenyahkan pikiran-pikiran yang membelit di kepalanya, Yoga melirik ke arah arloji yang melingkat di tangan kirinya.

“Kesha, sudah sore, kita pulang ya?” tanya Yoga sambil menatap lembut ke arah adiknya.

“Kok pulang sih, Mas?”

“Mas ada kerjaan setelah ini.”

“Ini kan weekend,  harusnya kalau sudah di Jakarta Mas jangan lagi mikirin pekerjaan.” Gerutu Kesha.

Yoga tersenyum lembut. “Mas lagi ada janji, Sha.”

Kesha mendesah panjang kemudian menganggukkan kepalanya. “Ya sudah, aku sama Mas Yoga pulang dulu ya, Mas Rino kapan-kapan ajak pacarnya main ke rumah dong.”

“Pasti.” Hanya itu jawaban Rino.

“Hore, dan kakak, semoga betah sama sikap Mas Rino.” ucap Kesha pada Nana yang seketika di balas Nana dengan senyuman lembutnya.

Yoga dan Kesha akhirnya pergi meninggalkan Rino dan Nana. Seketika itu juga Rino melepaskan genggaman tangannya yang entah sejak apan sudah menggenggam telapak tangan Nana.

“Siapa mereka?” meski Nana dapat sedikit menebak hubungan Rino dengan dua orang tadi, tapi Nana belum puas jika belum mendapat penjelasan sendiri dari Rino.

“Bukan siapa-siapa.” jawab Rino dengan cuek.

“Ihh, ngeselin, di tanya baik-baik juga.” gerutu Nana.

“Adikku, apa kau puas?”

“Kalau yang satunya?”

Rino menatap Nana dengan tatapan tajamnya. “Kenapa kamu tanya tentang dia? Kamu suka?”

“Bertanya belum tentu suka, kan? Ngeselin banget.”

“Lupain aja, dia bukan siapa-siapa.” Kemudian Rino berjalan pergi begitu saja meninggalkan Nana yang mau tak mau mengikutinya walau dengan menggerutu di dalam hati.

***

Entah sudah berapa lama Yoga duduk di pinggiran ranjangnya. Sesekali ia memijit pangkal hidungnya karena merasakan nyeri di kepalanya. Yoga melirik ke sebuah meja kecil yang ada di sebelah ranjangnya, di sana ada foto seorang gadis sedang tertawa lebar, siapa lagi jika bukan Nana Erieska? Di raihnya foto tersebut di tatapnya dengan mata sendunya.

Nana, bagaimana ungkin gadis itu berpacaran dengan adiknya sendiri? Yang benar saja, Yoga tidak akan bisa mendekati Nana lagi jika kekasih Nana adalah Rino, dan Rino, Astaga, vagaimana mungkin adiknya itu tertarik dengan gadis polos seperti Nana Erieska?

Yoga memejamkan matanya frustasi, kemudian ia bangkit ddan bergegas pergi mencari udara segar. Mungkin ia harus bertemu dengan Bian, dan tentunya mmencari tahu kabar tentang Nana. Oh sial! Yoga benar-benar tidak bisa berpaling lagi dari sosok Nana Erieska.

***

Setelah makan malam dengan kedua orang tuanya, Nana lekas beranjak menuju kamarnya. Jika biasanya ia akan bersenda gurau terlebih dahulu dengan kakaknya di teras rumah, maka malam ini tidak. Bian, kakakya itu pergi sejak sore an belum juga kembali, padahal sudah lewat jam makan malam. Semakin sering seperti itu setelah kakaknya itu mengenalkan kekasihnya, Friska, pada keluarga mereka.

Nana menghela napas panjang. Jika nanti kakaknya itu menikah, ia tentu merasa kehilangan. Bian memang  sering usil padanya, tapi kakaknya itu selalu melindunginya, dan Nana sangat menyayangi kakaknya itu, begitupun sebaliknya.

Nana melemparkan diri di atas ranjang mungilnya. Jemarinya meraih sebuah novel yang tadi baru ia baca beberapa lembar dan ia tinggal begitu saja di atas ranjangnya ketika sang ibu memanggilnya untuk makan malam. Dibacanyaa lagi novel tersebut, tapi kemudian ia berakhir merutuki dirinya sendiri karena sama sekali tidak bisa berkonsentrasi terhadap apa yang ia baca.

Konsentrasinya terpecah dengan keadaan yang tadi siang ia alami. Rino, kakak kelasnya yang sangat menyebalkan, tapi dia suka, dan juga, lelaki itu. Oh, kenapa lagi ia memikirkan lelaki itu? Memangnya siapa dia? Kalaupun lelaki itu benar-benar teman kakaknya, memangnya kenapa? Tidak! Nana tidak ingin lagi memikirkan lelaki yang memiliki mata memikat itu.

Ketika Nana sibuk menggelengkan kepalanya karena menepis semua bayang-bayang dari sepasang mata yang memikatnya, ia mendengar ketukan pintu kamarnya. Siapa? Biasanya sang ibu sudah tidak akan mengganggunya ketika Nana sudah masuk ke dalam kamar setelah makan malam. Apa itu kakaknya? Dan jika itu kakaknya, maka Nana tidak ingin membuka pintu tersebut, kakaknya pasti sedang mengganggunya, atau menjailinya seperti biasanya, dan saat ini, Nana sedang tidak ingin di jahili.

Tapi pintu tersebut di ketuk semakin keras dan Nana mendengar sang kakak memanggil-manggil namanya seakan ada hal penting yang ingin disampaikan kakaknya tersebut.

Dengan enggan Nana bangkit dan membuka pintu kamarnya. Ia mendapati sang kaka sedang berdiri dengan cengiran khasnya.

“Ada apa sih, Mas?”

“Ayo, ikut Mas turun.” Bian menyeret Nana keluar dari kamarnya, sedangkan Nana hanya bisa menuruti apa mau Bian walau dengan menggerutu kesal karena ia kini hanya mengenakan baju tidur tipisnya.

“Mas, kita mau kemana?” tanya Nana sedikit kesal karena ternyata Bian mengajak Nana mmenuju ke teras rumah mereka.

Nana tercengang ketika berada di teras rumah mereka. Di sana ada Friska, kekasih Bian, dan juga lelaki itu, lelaki dengan mata memikatnya, wajah tampannya, dan suara beratnya.

Lelaki itu berdiri seketika saat melihat kedatangan Nana, keduanya saling pandang cukup lama dan berhenti ketika Bian mengganggu suasana caanggung di antara ereka.

“Kalian ngapain pandang-pandangan gitu?”

Pertanyaan Bian sontak mengalihakan pandangan Nana dan juga Yoga ke arah lain. Salah tingkah satu sama lain hingga membuat Bian tertawa lebar dan mendapatkan hadiah cubitan dari Friska, kekasihnya.

“Oke, Na, Mas Bian nyuruh kamu turun sebentar untun nemani teman Mas sebentar. Namanya Yoga.”

“Kok aku?”

“Mas mau ngantar kak Friska pulang dulu. Nggak enak kan kalau ad tamu dan di tinggal?”

Nana mengerucutkn bibirnya. Bukannya Nana tidak ingin, tapi Nana benar-benar merasa canggung di sekitar lelaki itu, lelaki yang dulu sering i bayangkan ketika dirinya masih SMP. Dan astaga, lelaki ini ternyata lebih tampan dari bayangannya.

Nana menggelengkan kepalanya cepat saat menyadari jika pikirannya mulai ngelantur kemana-mana.

“Kenapaa geleng-geleng gitu? Ngelamunin Boyband favorit kamu ya?”  tanya Bian dengan mengejek.

“Apaan sih Mas.”

“Hahaha ya sudah, aku tingal dulu. Temanin bentar ya, Na.” Nana hanya menganggukkan kepalanya. Ia mulai berjalan mendekat ke arah lelaki yang bernam Yoga tersebut, kemudian duduk di sebelah lelaki itu ketika bayangan kakaknya dan juga Friska menghilang dari balik gerbang pintu rumahnya.

Tiba-tiba Nana melihat lelaki di sebelahnya itu mengulurkan telapak tangannya. Nana melihat jari  jemari lelaki itu yang terlihat panjang dan lebih besar jadi pada jemarinya. Kemudian pandangan Nana teralih pada wajah lelaki itu. Lelaki itu menampakan senyuman yang paling mempesona, senyuman yang seakan mampu membuat perut Nana terasa mulas karena kepakan dari ribuan kupu-kupu yang bersarang di sana.

“Prayoga.”

Oh, suaranya. Terdengar sangat maskulin. Apa ini yang di sebut dengan suara bariton pada novel-novel romantis yang pernah ia baca? Jika iya, maka lelaki di hadapannya itu adalah jelmaan dari lelaki yang ada di dalam novel yang pernah ia baca.

Masih dengan ternganga karena terpesona dengan ketampanan yang terpahat sempurna pada wajah lelaki di hadapannya itu, Nana membalas uluran tangan lelaki tersebut.

“Nana.” Hanya itu yang dapat Nana ucapkan. Ya Tuhan, bagaimana mungkin ia bisa sekikuk ini dengan lelaki yaang baru aja di temuinya?

“Jadi, Nana, kamu yang tadi siang bolos dengan adik saya, eh?” tanya Yoga dengan senyuman lembutnya.

Nana mendelik seketika. Oh sial, ia bahkan lupa tentang kejadian membolos tadi siang karena terlalu sibuk dengan keterpesoaannya pada sosok adonis di hadapannya itu. Bagaimanapun juga lelaki di hadapannya itu adalah teman kakaknya, bagaimana jika lelaki itu mengadukan aksi membolosnya tadi siang pada sang kakak? Oh, Bian pasti akan sangat marah. Apalagi mengingat jika dirinya membolos dengan seorang pria. Dan apa tadi dia bilang, Adik? Jadi Rino benar-benar adik dari lelaki tersebut? Tapi kenapa sikap Rino begitu kurang ajar dengan lelaki itu tadi siang?

“Uum, itu, saya.”

“Kamu tidak perlu takut, saya tidak akan bilang sama Bian.”

Nana menghela napas lega saat mendengar penjelasan Yoga. Ya, Yoga terlihat seperti sosok yang baik ketika di lihat dari wajahnya, Yoga tentu tidak mungkin mengadukannya pada sang kakak.

“Tapi saya punya syarat untuk kamu, untuk menjadi penutup mulut saya.” Lanjut Yoga yang seketika itu juga membuat Nana menatap Yoga dengan penuh tanya.

Syarat? Syarat apa? Kenapa lelaki yang baru di kenalnya itu mengajukan syarat padanya? Yang benar saja.

“Syarat? Syarat apa, Mas?”

Entah dari mana Nana berani memanggil lelaki itu dengan panggilan ‘Mas’, selama ini Nana hanya memanggil kakaknya dengan penggilan itu, tidak ada lagi lelaki yang di panggilnya dengan panggilan tersebut, tapi dengan Yoga, entah kenapa ia ingin memanggil lelaki itu dengan panggilan yang menurutnya lebih akrab di dengar.

“Nana.”

Lelaki itu kembali memanggil nama Nana dengan suara yang lebih berat dari sebelumnya. Dan itu membuat Nana menatap penuh tanya pada lelaki tersebut.

“Jadilah kekasih saya.”

Dan tiga kata tersebut sontak membuat Nana membulatkan matanya seketika. Menjadi kekasihnya? Kekasih seorang Prayoga yang memiliki ketampanan di atas rata-rata? Kekasih Prayoga, yang ternyata kakak dari orang yang kini menjadi pacarnya? Oh apa lagi ini? Tidak cukupkah kehidupan di sekolahannya berantakan karena seorang Rino Permana? Dan kini seakan Tuhan menambah lagi sesosok Prayoga untuk kembali membuat hidupnya semakin jungkir balik karenanya. Apa ia memiliki kesalah di masa lampau hingga Tuhan menghukumnya dengan cara menggelikan seperti ini? Oke, ini berlebihan. Tapi demi Tuhan, seorang Rino saja sudah mampu membuat jantungnya jumpalitan tidak keruan, apalagi di tambah dengan seorang Prayoga?

 

-TBC-

Adakah yang menunggu cerita ini?? semoga ada hahhahahha

Sang Pemilik Hati – Chapter 1 (Bertemu dia)

Comments 6 Standard

sph2Sang Pemilik Hati

Chapter 1

-Bertemu Dia-

 

Empat  tahun kemudian

Nana mengendap-endap ketika keluar dari dalam kelasnya. Jam istirahat biasa ia habiskan di dalam perpustakaan, atau duduk sendirian di bangku taman belakang sekolah. Tapi semuanya berubah sejak dua minggu yang lalu, sejak ia berstatuskan sebagai kekasih seorang yang populer di sekolahannya tersebut.

Nana Erieska, seorang gadis biasa yang tidak memiliki kelebihan apapun. Tidak pandai bergaul dan terkesan nyaman dengan dunianya sendiri. Saat itu, Nana tidak sengaja bertabrakan dengan kakak kelasnya yang bernama Rino Permana. Salah satu murid laki-laki yang populer di sekolahnya. Nana terpesona, hingga tanpa ia sadari, ia mulai menyukai laki-laki tersebut.

Tapi sikap lelaki itu yang menyebalkan membuat Nana mengenyahkan segala perasaannya, membuatnya memungkiri apa yang ia rasakan pada lelaki tersebut.

Rino adalah pemuda tampan yang selalu berwajah murung. Sikapnya pendiam, dan itu membuat Rino di idolakan oleh banyak murid perempuan di sekolah tersebut. Tapi di balik sikap diamnya itu, Rino tak segan-segan mempermalukan orang yang tidak di sukainya. Termasuk Nana.

Saat itu, mungkin sekitar tiga bulan yang lalu, Nana tidak sengaja menabraknya, lalu menumpahkan ice capucinonya pada seragam Rino. Rino saat itu hanya bisa menggeram kesal, tapi kemudian, tak lama ia memiliki jalan untuk membalas kekesalannya dengan mempermalukan Nana di hadapan banyak orang.  Ketika Rino mendapatkan surat yang di berikan Nana lewat sepupunya yang bernama Intan –teman sekelas Nana, dan Rino tak segan-segan membaca surat tersebut di hadapan umum, lalu menempelkannya di mading sekolah, membuat seluruh anak sekolah tahu jika Nana menyukai Rino, dan Rino mempermalukan Nana dengan menolak Nana mentah-mentah.

Alangkah malunya Nana saat itu, Nana bahkan enggan masuk sekolah lagi. Sungguh, meski Nana sempat menyukai Rino, tapi Nana tidak pernah menuliskan surat cinta untuk lelaki tersebut, memangnya dia gila apa? Lalu siapa yang menuliskan surat cinta tersebut? Satu-satunya yang terpikirkan dalam kepala Nana hanyalah ‘Rino yang hanya membuat berita palsu untuk mempermalukannya.’

Dasar pria tidak tahu diri! Bisa-bisanya dia mempermalukanku dengan cara curang seperti itu? Pikir Nana. Dan sejak saat itu, Nana bersumpah jika Rino Permana adalah lelaki yang paling dia benci di dunia ini meski nyatanya ia masih mengagumi lelaki tersebut.

Bagaikan mimpi di siang hari, Dua minggu yang lalu Rino tiba-tiba mengungkapkan rasa sukanya pada Nana, dan yang paling menyebalkan adalah, Rino yang memaksa Nana untuk menjadi kekasihnya. Ada apa sebenarnya dengan lelaki itu? Berkali-kali Nana menanyakan pertanyaan tersebut dalam pikirannya.

Kini, hidup Nana di dalam sekolah berubah seratus delapan puluh derajat, saat istirahat tiba, dengan super menyebalkannya Rino menyeretnya  untuk makan siang bersama di kantin. Lelaki itu tidak bersikap lembut seperti orang yang sedang jatuh cinta pada pasangannya, Rino bahkan bersikap sebaliknya, seakan menjadikan Nana sebagai kekasih hanyalah sebuah jalan untuk memuluskan rencananya.

Ketika Nana berjalan mengendap-endap sambil menundukkan kepala, tiba-tiba ia berhenti ketika matanya menatap pada sepasang sepatu yang yang berada tepat di depan sepatunya. Nana mengangkat wajahnya dan mendapati Rino yang sudah berdiri tepat di hadapannya.

“Mau kemana, Nana?”

“Uum, itu, umm.”

“Ayo ikut aku.”

Dengan kasar Rino menyambar pergelangan tangan Nana lalu menyeret Nana begitu saja ke arah kantin seperti biasanya.

“Lepasin Kak, aku nggak mau.” Nana meronta.

“Aku nggak peduli, pokoknya setiap istirahat, kamu harus menemaniku makan siang.”

“Tapi aku nggak mau!”

Dan setelah seruan Nana tersebut, Rino menatap Nana dengan tatapan sangarnya, membuat Nana diam seketika tak berani membantah seorang Rino permana. Ya, tentu saja, siapa yang berani membantah tatapan sepasang mata tajam yang seakan dapat membunuh siapapun yang membantahnya?

***

Prayoga baru keluar dari dalam kamarnya ketika waktu menunjukkan pukul sepuluh siang. Saat ia pulang ke rumah keluarga besarnya seperti saat ini, ia memang memilih menghabiskan waktunya di kamar, alasannya simpel, itu karena ia tidak ingin bertemu dengan adik tirinya dan membuat adik tirinya itu kesal hanya karena menatapnya.

Prayoga Abidzar putera, seorang pria muda dengan usia yang sudah menginjak 24 tahun. Memiliki tampang yang tampan nan rupawan, mampu membuat wanita manapun terpikat ketika melihat ketampanan yang terpahat sempurna di wajahnya.

Setelah lulus perguruan tinggi, Yoga memilih membantu ayah tirinya mengendalikan salah satu perusahaan keluarga yang berada di luar kota, tepatnya di kota Surabaya, dan itu membuat Yoga menghabiskan waktunya di Surabaya dan  hanya pulang ke jakarta saat weekend seperti sekarang ini. Hubungannya yang kurang baik dengan salah seorang adik tirinya membuat Yoga memilih pilihan tersebut. Ia tidak mungkin selalu tinggal di rumah keluarga besarnya sepeti saat ini ketika ia selalu mendapatkan tatapan kebencian dari adik tirinya itu.

Saat Yoga keluar dari kamarnya, ia mendapati sesosok gadis yang sudah berdiri tepat di pintu kamarnya. Namanya Kesha Permana, salah seorang adik tirinya yang cantik dan mungil. Tapi kenapa adiknya itu berada di situ saat ini? Bukankah ia harusnya masih sekolah?

“Mas.” Kesha menghambur ke dalam pelukan Yoga. Yoga sedikit terkejut dengan kelakuan gadis 14 tahun tersebut, tapi kemudian ia membalas pelukan adiknya itu.

“Hei, kamu nggak sekolah?”

“Enggak, aku sengaja bolos.”

“Kok bolos?”

“Tadi pagi mama bilang kalo Mas Yoga pulang, jadi aku memilih bolos, lagian ini hari sabtu, hanya ada pelajaran olah raga saja di sekolah.”

“Kok gitu? Mas Yoga nggak suka kalau Kesha suka bolos.”

“Kan aku bolosnya demi Mas Yoga.”

Yoga mencubit gemas hidung Kesha. “Sama saja tahu, namanya bolos itu nggak baik.”

Kesha mengerucutkan bibirnya ketika Yoga mulai menasihatinya. “Kan aku punya tujuan saat akan bolos.”

“Memangnya apa tujuan kamu?”

“Ngajakin Mas belanja.” jawab Kesha manja.

“Dasar.” gerutu Yoga sambil menyunggingkan senyumannya. “Baiklah, kalau gitu ayo kita belanja.”

“Yeaay.” teriak Kesha kegirangan. Dan Yoga hanya bisa terenyum sambil menggelengkan kepalanya. Kesha, Yoga memang sangat menyayangi adik tirinya tersebut, begitupun sebaliknya, tapi kenapa adik tirinya yang satunya lagi tidak bisa menerimanya menjadi kakak seperti Kesha menerimanya? Kenapa Rino selalu melemparkan tatapan kebencian pada dirinya? Ya, adik yang sangat membencinya adalah seorang Rino Permana.

***

Nana tidak berhenti menggerutu kesal saat Rino tak berhenti menyeretnya ke sebuah Mall  yang tempatnya tak jauh dari sekolah mereka. Bukannya apa-apa, hanya saa ini pertama kalinya Nana membolos.

Saat istirahat tadi, Rino tidak menyeret Nana ke kantin seperti biasanya, tapi dia malah menyeret Nana ke arah parkiran motor di depan kantin sekolah, lalu menuju motornya dan memaksa Nana ikut serta dengannya. Kini, keduanya sudah berada di sebuah Mall dengan Rino yang masih menyeretnya menuju ke sebuah kafe.

“Kamu mau pesan apa?” tanya Rino sedikit acuh ketika sudah duduk di sebuah bangku di ujung ruangan kafe.

Nana hanya menggelengkan kepalanya.

“Jangan membosankan. Cepat pesan makan siang.”

“Aku nggak lapar, aku mau balik, nanti kita ketinggalan pelajaran.”

“Kita nggak akan balik.” Pernyataan Rino membuat Nana membulatkan matanya seketika pada Rino. “Aku sudah meminta temanku mengambil tas  kamu yang ada di kelas, jadi kita nggak perlu kembali ke sekolah.”

“Nggak perlu kembali?”

“Ayolah, jangan membosankan, sekali-kali bolos kan nggak apa-apa.”

“Tapi aku nggak pernah bolos, Kak.”

Rino menyondongkan  kepalanya mendekat ke arah Nana. “Sekarang, aku yang akan mengajarimu untuk membolos.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, dengan menjengkelkannya Rino mulai memesan makan siang untuk dirinya dan juga Nana.

Sepanjang makan siang, pikiran Nana sedikit gelisah. Tentu saja karena ini pengalaman pertamanya membolos. Bagaimana jika mereka tidak sengaja ketahuan oleh guru sekolah mereka? Bagaimana jika nanti mereka di hukum? Atau lebih buruknya sang guru mengirim surat pada orang tuanya? Oh Nana tidak bisa memikirkan hal itu.

“Na, kamu masih mau makan?” pertanyaan Rino membuat Nana mengangkat wajahnya menatap ke arah Rino. Lelaki itu tampak selesai memakan makan siangnya, sedangkan Nana sendiri masih sibuk mengacak-acak makanan di hadapanya karena gelisah.

“Enggak, aku mau cepat balik.”

“Oh, maaf, kita nggak akan balik ke sekolah.”

“Tapi kak.”

“Kamu harus nemanin aku.” Dan lagi-lagi Nana tak dapat menolak permintaan Rino. Oh sebenarnya apa yang di inginkan Rino darinya?

Setelah selesai makan siang, Rino benar-benar mengajak Nana ke mengelilingi segala penjuru Mall tersebut. Rino berjalan santai di depannya sedangkan Nana berjalan dengan menundukkan kepalanya, menatap ujung dari jaket yang ia kenakan, takut kalau-kalau ia bertemu dengan guru sekolah mereka atau orang yang ia kenal. Ahh, ia merasa menjadi maling saat ini.

Tiba-tiba, ia menabrak Rino yang berhenti mendadak tepat di hadapannya. Ada apa lagi sih? Pikir Nana. Nana kemudian mengangkat wajahnya dan menatap sesuatu dari balik tubuh Rino, sesuatu yang membuat Rino menghentikan langkahnya.

Dia…. Dia….

Nana tak dapat berkata apapun, matanya terpesona dengan sosok tampan yang ada di hadapan Rino dan dirinya, sosok tampan dengan mata memikat seperti Empat tahun yang lalu ketika ia bertemu dengan salah seorang teman kakaknya saat di antar sekolah. Bibir Nana ternganga, tak dapat mengatup dengan sendirinya karena terlalu terpana dengan sosok lelaki tersebut.

Apa itu lelaki yang sama dengan lelaki saat itu? Kenapa Nana merasa tidak asing menatap sorot mata itu?

***

Tubuh Yoga menegang ketika mendapati Rino, adik tiri yang sangat membencinya itu tak sengaja berada di tempat yang sama dengannya. Kesha bahkan dengan sikap manjanya menarik lengannya untuk menemui Rino.

Sungguh, bukannya Yoga tidak ingin, tapi kebencian Rino padanya membuat Yoga takut bertatap muka dengan Rino di hadapan umum, takut jika adiknya itu tidak bisa mengontrol emosinya. Yoga tentu tidak ingin menjadi bahan tontonan banyak orang ketika dirinya dan Rino bertengkar seperti biasanya.

Tapi, untuk apa adiknya itu berada di Mall ketika jam pelajaran masih berlangsung? Apa karena bolos?

Ketika Yoga mulai dapat mengendalikan dirinya, sosok cantik yang mengintip dari balik tubuh adikny itu membuyarkan semua pengendalian dirinya. Sosok manis yang sudah menarik perhatiannya sejak Empat tahun yang lalu. Sosok yang menjadi salah satu alasan kenapa ia masih mau pulang ke Jakarta.

Sosok itu…. Nana Erieska. Kenapa Nana di sini? Kenapa Nana bisa bersama denga Rino, adiknya? Apa hubungan keduanya?

 

-TBC-

Sang Pemilik Hati – Prolog (New Version)

Comments 7 Standard

sph1Sang Pemilik Hati

Yuuppss… Aku udah janji ama kalian kan kalo aku bakalan bikin Revisi habis2san untuk SPH.. So, inilah Revisi ku… Sang Pemilik hati akan hadir dengan Versi baru.. Karakternya masih sama, tapi alur Cerita akan sedikit berbeda.. jadi… nikmatin aja yaa… happy reading… -Untuk SPH yang lama udah ku hapus yaa… –

Sang Pemilik Hati New Version

 

 

Prolog

 

-Prayoga-

Aku mengangkat sebelah alisku ketika melihat Bian membawa seorang gadis mungil di atas boncengan motor yang ia kendarai. Gadis itu bertubuh kurus dengan rambut pendeknya. Memiliki kulit kuning langsat tapi terlihat sangat halus terawat.

Aku menelan ludah dengan susah payah ketika melihat gadis tersebut. Astaga.. perasaan apa ini?? Ingat Yoga, dia masih SMP. Aku merutuki diriku sendiri dalam hati.

Ya, tak sulit di tebak, karena memang gadis mungil itu sedang mengenakan seragap putih birunya yang menandakan jika gadis itu masih SMP.

“Ga, gue ngantar adek gue dulu, lo duluan aja.” Ucap Bian padaku. Sedangkan aku hanya memilih diam di balik Helm besar yang sedang ku kenakan. Mataku masih seakan tak ingin berhenti memandang gadis yang ada di hadapanku itu.

Bian akhgirnya pergi, bersama gadis itu… dan entah kenapa aku merasakan sesak di dadaku. Rasa ini adalah rasa yang baru pertama kali ku rasakan. Ada apa denganku??? Bagaimana mungkin jantungku berdebar cepat hanya karena menatap seorang anak kecil seperti adik Bian???

***

 

-Nana-

Aku kesal dengan ayah. Pagi ini ayah meninggalkanku. Dia pergi ke kantor sendiri, akhirnya, mau tak mau aku harus berangkat dengan Mas Bian, kakakku yang super usil ini.

“Na, kita mampir ke tempat nongkrong Mas Bian ya..”

“Enggak ah.. ngapain?? Nanti aku telat sekolah mas.”

“Pokoknya ayo… dari pada kamu jalan kaki sendiri??”

Ahhh sebel..!!! Mas Bian selalu saja suka seenaknya sendiri.

Aku Nana Erieska. Saat ini usiaku sudah dua belas tahun, dan dua bulan yang lalu aku sudah menginjak kelas satu SMP. Bukan orang yang supel, alias tak pandai bergaul. Entahlah.. aku memiliki masalah dengan kepercayaan diri. Aku memiliki seorang kakak laki-laki yang bernama Albiansyah. Dia kakak yang sangat menyebalkan karena selalu menggangguku, tapi aku tau jika dia menyayangiku. Begitupun sebaliknya. Usianya delapan tahun lebih tua dari pada usiaku. Dan Mas Bian, benar-benar kakak yang dapat di andalkan.

“Ga, gue ngantar adek gue dulu, lo duluan aja.” Ucap Mas Bian dengan seorang pemuda yang duduk dengan gagahnya di atas motor besarnya.

Wajah pemuda itu tak terlihat, karena dia mengenakan Helm yang menutupi sebagian besar wajahnya dan hanya menyisakan sepasang mata yang entah kenapa saat melihatnya saja membuat hatiku senjuk.

Pemuda itu tak berhenti menatapku, dan astaga… aku hanya dapat menundukkan kepalaku. Akhirnya tanpa banyak bicara lagi, Mas Bian meninggalkan pemuda tersebut.

Sedikit ku lirik ke belakang dan ternyata pemuda itu masih menatapku.

“Dia siapa Mas?” aku spontan bertanya pada Mas Bian.

“Temanku.”

“Ya, tapi kan punya nama..” Jawabku dengan sedikit kesal.

“Kenapa Tanya-tanya? Kamu suka??”

“emangnya kalau nanya berarti suka?? Enggak kan?”

“Yoga, namanya Prayoga.” Jawab Mas Bian dengan nada datarnya.

Sambil tersenyum, aku menghela napas panjang… Prayoga…. Nama yang bagus untuk seseorang yang memiliki sepasang mata menyejukkan seperti pemuda tadi. Semoga kita bertemu lagi……. Aku berharap dalam hati….

 

-to be continue-