Pasion Of Love – Chapter 12

Comments 6 Standard

pol2Passion Of Love

maaf aku ganti judul ya… soalnya kayaknya judulnya lebih sopan gini deh.. hahhahahaha

Chapter 12

Siang itu, Sheila membawakan makan siang untuk Ben. Semua itu tentunya karena ide dari Fiona. Fiona berpikir jika mungkin saja hubungan Sheila dan Ben akaan membaik ketika keduanya sering di pertemukan…

“Kak, Ayo makan siang dulu.” Ajak Sheila yang kini sudah duduk di sofa ruang kerja Ben dengan menyiapkaan makan ssiang untuk lelaki tersebut.

“Aku tidak lapar, makanlah dulu.” Ucap Ben dingin tanpa memperhatikan raut wajah Sheila yang sudah kecewa.

“Kak, apa kak Ben nggak suka kalau aku yang ngantar makan siang ini, bukan Fiona?”

“Perasaanmu saja.”

“Kak.. Lihat aku..” Sheila merengek, ia tak suka Ben berbicara padanya tanpa mau memandangnya.

Ben pun kemudian menatap ke arah Sheila. “Sheila, hubungan kita sudah berakhir, aku hanya bisa melihatmu sebagai adik, jadi tolong, lupakan semuanya.” Ben menatap Sheila dengan taatapan frustasinya. Ia benar-benar tertekan jika mengingat harus memilih antara Sheila dan Fiona.

“Kak.. Please, jangan seperti ini padaku, kita akan menikah..” Sheila memohon dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

“Tidak.. Kita tak akan pernah menikah dan aku pun tak akan pernah menikah dengn siapapun.” Jawab Ben dengan tegas.

“Kak..” Sheila hanya bisa merengek seperti anak kecil.

“Aku ada rapat, selesaikan makan siangmu.” Ben melepaskan paksa rangkulan Sheila pada lengannya lalu meninggalkan Sheila sendiri di dalam ruangannya dengan berlinang air mata.

***

“Kamu mau kemana? apa kamu akan pulang? kamu sakit? Mau ku antar?” Tanya Angga saat melihat Fiona yang sudah rapi dan berada di ruangannya.

Kafe tempat kerja Fiona adalah milik Angga, dan angga memang tak setiap hari berada di kafenya tersebut, tapi sore itu, Angga memang sengaja seharian berada di dalam kafenya, entah kenapa i merasa rindu dengan sosok Fiona, ia ingin lama-lama memandangi wanita itu..

Sebenarnya Angga tak tega membiarkan Fiona bekerja di kafenya apalagi setelah tau Fiona sedang hamil, makanya beberapa hari ini Angga menyempatkan diri untuk berada di kafenya. Sejauh ini, perasaan Angga sendiri masih sama untuk Fiona meski dia tau kini Fiona sudah berubah terhadapnya.

“Maaf kak.. bukannya aku nggak mau.. aku sedang punya janji. Aku ingin meminta izin keluar dua jam saja, nanti aku akan tambah waktu kerjaku selama dua jam.”

“Dengan Ben?” Selidik Angga.

Fiona hanya tersenyum. “Bukan Kak… hanya teman lama.” Kali ini Fiona berbohong, karena sebenarnya Sore ini Fiona akan bertemu dengan ibu dari Ben.

“Baiklah.. apa kamu yakin tidak perlu ku antar?”

“Tidak Kak.. aku akan berjalan kaki.”

Angga mnyipitkan matanya ke arah Fiona. “Aku nggak akan membiarkanmu berjalan kaki sendiri.”

“Tempatnya dekat Kak, hanya beberapa Blog dari sini, aku juga nggak enak dengan karyawan lainnya.” Ucap Fiona masih dengan senyumannya.

“Aku nggak peduli.” Angga kemudian berdiri. “Ayoo kita berangkat.” Katanya lagi sambil meraih tangan Fiona. Sedangkan Fiona sendiri hanya mampu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Angga maasih lelaki yang sama, lelaki baik yang selalu melindunginya.

***

Merekapun akhirnya sampai di restoran tempat Fiona dan ibu Ben janjian.Sebuah restoran yang menyediakan aneka masakan Korea.

“Apa Kak Angga juga ingin masuk?” Tanya Fiona sedikit heran karena melihat Angga yang masih berada di belakangnya saat Fiona sudah di depan pintu restoran tersebut.

“Tentu saja, Bulgogi disini sangat terkenal enaknya, jadi aku akan menyempatkan makan mumpung sudah di sini.”

“Tapi Kak…”

“Kamu tenang saja… aku akan pesan meja sendiri.”

Lalu merekapun masuk, entah kenapa setelah melangkahkan kaki kedalam Restoran perut Fiona terasa penuh, mualpun menyertainya. Bau daging panggang serta beberapa aroma makanan menusuk hidungnya, wajahnya berubah pucat pasi. Menyadari itu, Anggapun sedikit panik.

“Kamu kenapa? apa kamu sakit?”

“Enggak kak, aku baik-baik saja.”

“Apa kamu yakin?” Angga masih tidak percaya.

“Kak, aku baik-baik saja.” Kata Fiona sambil berusaha tersenyum. Lalu Fiona melayangkan pandangannya dan bertemu dengan sepasang mata yang ternyata sejak tadi menatapnya. Fionapun menganggukan kepala sambil tersenyum kepada wanita yang sudah menunggunya tersebut. “Itu orangnya, aku akan kesana Kak.”

Angga mengarahkan pandangannya ke arah yang di tunjuk Fiona, kepada seorang wanita yang sedang duduk memandanginya dengan penuh selidik. “Dia siapa?”

Fiona tersenyum, “Kak angga nggak perlu tau..”

“Baiklah, aku akan duduk di sana, kalau ada apa-apa hubungi aku, oke.” lalu tanpa di sangka-sangka Angga mendaratkan ciumannya di kening Fiona. Fionapun terkejut, dan hanya terperangah menatap kepergian Angga.

Fiona melangkahkan kaki ke arah wanita yang sedari tadi memandangnya, dan itu membuat Fiona semakin gugup, belum lagi rasa mual yang entah kenapa sore ini tiba-tiba kambuh lagi.

‘Aku mohon jangan saat ini..’ Fiona memohon dalam hati supaya dia tidak mual bahkan muntah di hadapan Ibu Ben.

“Selamat sore tante, maaf saya terlambat.” Sapa Fiona sambil sedikit menganggukkan kepalanya penuh hormat.

“Tidak apa-apa, duduklah.” Dengan santai Wulan mempersilahkan Fiona duduk dihadapannya. “Siapa Pria itu.?” Tanyanya sambil menunjuk kearah Angga yang sejak tadi memang tak pernah lepas untuk memandang Fiona.

“Eemm.. dia hanya teman yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri. Dan juga bos di tempat saya bekerja.” Jawab Fiona sesopan mungkin.

“Benarkah..? kalian sepertinya punya hubungan pribadi.” Wulan menebak sembari mengangkat sebelah alisnya.

“Tidak tante, beliau sudah sepeti kakak saya sendiri.” Ucap Fiona sambil tersenyum.

“Baiklah.. Apa kamu mau memesan makanan, Bulgogi di sini sangat enak.” Lalu Wulan mengambil sepotong daging iris di hadapanya dan memanggangnya di panggangan kecil yang sudah di sediakan.

Bau dari asap panggangan itu membuat Fiona mual. Astaga.. jangan sekarang.. Jangan sekarang… Fiona memohon dalam hati.

“Emmm sebenarnya apa hubunganmu dengan anakku Ben?” tanpa basa-basi lagi, Wulan menanyakan pertanyaan tersebut pada intinya. Dan pertanyaan itu entah kenapa membuat Fiona semakin mual. Sontak Fiona membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

“Permisi.. maafkan saya..” lalu Fionapun berlari menuju ke toilet dan memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya.

***

Sudah hampir setengah jam Fiona berada di dalam toilet, setelah dirasa sudah baikan, diapun keluar dari toilet, dan betapa kagetnya saat ia berada di meja tempat ibu Ben menunggunya , semua makanan yang tadi di pesan ibu Ben sudah tak ada di sana.

“Emm.. maafkan saya jika saya menghilangkan selera makan Tente..”

“Tidak apa-apa, Seharusnya saya tahu kalau kamu nggak suka mencium bau-bau seperti ini.” Jawab Wulan lalu meminum Teh di depannya. “Minumlah.. itu akan menyegarkanmu.” Ucap Wulan sambil menunjuk secangkir Teh mint yang sudah di pesankannya untuk Fiona..

“Terimakasih..” Akhirnya Fionapun meminumnya.

“Sudah berapa bulan?”

Fiona tak mengerti apa yang di tanyakan oleh wanita di hadapannya. “Maaf.. maksud tante?”

“Kandunganmu sudah berapa bulan?”

Dan Fionapun hanya mampu membulatkan matanya seketika saat menyadari jika Ibu Ben sudah mengetahui bagaimana keadaannya saat ini. apa ia harus jujur terhadap wanita di hadapannya tersebut?? atau ia harus mengelak dan menyembunyikan semuanya sampai nanti??

***

“Rapat yang sangat membosankan.” Gerutu Ben.

Vano yang sejak tadi memperhatikannya hanya tersenyum masam melihat tingkah laku Ben.

“Apa yang salah denganmu?” Tanya Ben heran dengan Vano yang sejak tadi mengamatinya dengan tersenyum sendiri. Tanpa di sangka-sangka Vano malah duduk dengan santainya di sofa ruangan kerja Ben.

Ya.. Vano memang bawahannya, sekertaris pribadinya, namun ada waktunya saat mereka sudah seperti sahabat bahkan saudara sendiri, karena mereka tumbuh bersama-sama dan Ben tak mempunyai teman dekat lain selain Vano yang sekarang menjadi Sekertaris Pribadinya.

“Kau.” Jawab Vano singkat.

“Aku? memangnya ada apa denganku? apa ada yang salah?” Ben masih tak mengerti.

“Iyaa.. aku merasa kamu sedikit berubah, Ben.”

“Berubah? Berubah bagaimana?”

“Entahlah.. Aku pikir dari dulu rapat memanglah membosankan, dan kamu nggak pernah mengeluh karena itu. Tapi akhir-akhir ini kukira kamu kurang fokus dengan rapat atau pekerjaan.” Kata Vano dengan santainya mengkritik atasannya tersenut.

“Hei.. Sialan!! Kamu mengkritik kinerjaku..”

“Hahahaha bukan seperti itu… aku pikir kamu hanya sedang memikirkan sesuatu selain pekerjaan.”

Ben menghela nafas panjang, merebahkan diri di sandaran kursinya dan sedikit memijit keningnya, “Entahlah.. Aku hanya ingin cepat pulang..” jawabnya kemudian.

“Cepat pulang dan bertemu dengan istri tercinta??” Goda Vano.

“Sialan!! Apa yang kau bicarakan??” Ben berkata dngan wajah terkejutnya. Ia tak menyangka jika Vano akan mengucapkan kalimat seperti itu.

“Aku sudah mengenalmu lama Ben, Apa kamu pikir aku nggak tau kalau kamu8 sedikit memiliki rasa untuk Fiona? Kamu nggak pernah seperti ini sebelumnya dengan seorang wanita Ben..” Jelas Vano. “Dan lebih baik kamu memikirkan hubungan kalian selanjutnya bagaimna.” Lanjutnya lagi.

Ben mengangkat sebelah alisnya, “Hubungan kami selanjutnya? maksudmu?”

“Menikah.” Jawaban Vano mampu membuat Ben membelalakkan matanya sketika.

“Kamu ngila, mana mungkin aku menikah dngannya? Dan aku nggak akan menikah dngan wanita manapun.”

“Sekarang apa lagi yang kamu tunggu Ben? Dia sudah menjadi milikmu, mengandung anakmu, lalu? apalagi yang kurang?”

Mendengar saran Vano, Ben langsung merebahkan dirinya kembali ke Sandaran kursinya. “Ini nggak sesederhana itu…”

“Aku tau kalau kamu masih terauma dengan komitmen karena masalah Sheila dulu, tapi bukankah Fiona dan Sheila adalah orang yang berbeda? pribadi yang berbeda? jika kamu nggak mencobanya kamu nggak akan tau..”

Ben memejamkan matanya sejenak, meresapi setiap nasehat dari temannya itu. “Kamu tau kan masalalu Fiona seperti apa?” Tanya Ben kemudian.

Vano hanya menganggukkan kepalanya.

“Dia tidak seperti kebanyakan wanita yang menginginkan cinta. Kupikir yang ada dalam fikirannya adalah bagaimana caranya bertahan hidup, dan bagaimana nanti jika dia bertemu dengan lelaki yang lebih dari pada aku, bukan tidak mungkin kalau dia akan meninggalkanku.”

“Maksudmu dia mata duitan?”

“Bukan itu.. dia memang nggak pernah meminta sesuatu yang aneh-aneh terhadapku, aku hanya berfikir dia memperlakukan semua lelaki sama. Bahkan aku… Aku kira dia memperlakukanku nggak lebih dari pelanggan pribadinya.” Wajah Ben sedikit sendu saat mengatakan hal itu. “Dia bukanlah wanita yang memiliki cinta, wanita yang ingin di cintai maupun mencintai.

Vano menghampirinya dan menepuk bahu Ben. “Kamu jangan asal menerka-nerka perasaan orang, aku pikir Fiona memperlakukanmu special karena kalau dia memperlakukanmu sama, saat ini dia tak akan mungkin mau mengandung anakmu tanpa mau memberi tahumu.”

Ben tak menanggapinya dan hanya menghela nafas. Menenangkan fikirannya. “Aku nggak tau.. Aku hanya belum berani memikirkan sampai kesitu. Aku hanya belum bisa mempercayainya seutuhnya..”

Tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk seseorang, Ben dan Vano saling pandang.

“Masuk” Tihtahnya kemudian.

Ben mengangkat sebelah alisnya ketika tau Ibunya yang berada di ambang pintu ruangannya. “Ibu..” Sontak Ben berdiri. Apa yang dilakukan ibunya sore-sore begini datang ke kantornya, sedangkan Vano pun terlihat kaget dan heran dengan kedatangan Ibu dari Ben.

“Baiklah, aku pergi dulu, hubungi aku jika ada sesuatu.” Ucap Vano kemudian. “Tante.. saya pamit dulu.” Vano beramitan dengan Ibu Ben, karena saking akrabnya dengan Ben, Vano Bahkan memanggil ibu Ben dengan panggilan Tante, bukan nyonya.

“Iya.. hati-hati di jalan.” Lalu Vano hanya menganggukkan kepalanya dan sedikit membungkukkan badannya saat melewati Ibu Ben.

“Ada masalah apa Bu? Kenapa datang sore-sore sperti ini? Aku sudah akan pulang.”

“Ibu ingin membicarakan sesuatu, apa pekerjaanmu sudah selesai?”

“Ya.. semuanya sudah selesai. Ada apa Bu?”

“Dia Hamil,.. Apa kamu tahu jika dia Hamil..?” Wulan menatap Ben dengan tatapan tajamnya.

Ben terkejut dengan apa yang dibicarakan ibunya, apa yang dimaksud ibunya adalah Fiona? bagaimana Ibunya bisa tau? Ben bertanya-tanya dalam hati.

“Kenapa kamu diam saja Ben? apa kamu mendengarku? Fiona, wanita simpananmu itu Hamil.” Nada bicara Wulan sedikit meninggi.

“Ibu.. dia bukan wanita simpanan.” Bantah Ben dengan penuh penekanan.

“Lalu aku harus menyebutnya apa Hahh,,? Diam-diam kamu mengajaknya tinggal seatap denganmu, padahal jelas kamu tau bahwa kamu memiliki Sheila sebagai tunanganmu.” Wulan sudah tak dapat menahan emosinya lagi.

“Aku dan Sheila sudah selesai Bu..”

PLaakkkkkk..

Telapak tangan Wulan mendarat sempurna di pipi putranya itu hingga wajah Ben terlempar kesamping.

“Ingat Ben.. Aku menyayangi Sheila sudah seperti putriku sendiri. Tidak akan ku biarkan siapapun menyakiti hatinya termasuk itu kamu Ben, Sampai kapanpun hanya dia yang akan menjadi pendampingmu, hanya dia yang akan menjadi Menantuku.”

Lalu Wulan pergi meninggalkan Ben yang masih berdiri membatu meresapi apa yang telah dikatakan ibunya tersebut.

Ben kemudian terduduk lemas di kursi kerjanya sesekali mengacak rambutnya dengan frustasi.

“Fiona… apa yang harus ku lakukan padamu?” Lirih Ben dengan wajah sendu penuh dengan kesedihan.

***

“Kapan kamu akan memberitahukannya padaku?” Fiona terkejut, ketika Ben sudah terbangun dan masih setengah telanjang menghampirinya, memeluk pundaknya dari belakang dan mengecupi lehernya.

“Hemmb.. Apa maksudmu?” Fiona menjawab dengan memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya, menikmati kembali setiap sentuhan yang di berikan oleh Ben.

“Dia.. Kapan kamu akan memberitahukan keberadaannya kepadaku??” Suara Ben terdengar Serak, Ben masih mengecupi leher Fiona, namun kali ini tangannya sudah membelai lembut perut Fiona.

Fionapun mengerjap seketika, ia membuka matanya lebar-lebar, lalu berbalik memandang Ben dengan tatapan terkejutnya.

Ben… Kamu… Kamu…” saking kagetnya Fiona tak dapat lagi melanjutkan kata-katanya lagi.

Ben lalu memegang kedua bahu Fiona, mencium bibir Fiona dengan lembut, “Ya, aku sudah tau..” Ben lalu memeluk tubuh Fiona dengan sangat erat, seakan takut jika wanita yang di peluknya kini pergi meninggalkannya.

Sedangkan Fiona sendiri masih bingung dengan sikap Ben. Benarkah Ben mengetahui keadaannya yang sudah mengandung bayi dari lelaki tersebut.

Ben kemudian menghela napas panjang. “Fiona… Kita… Menikah saja.”

-to be continue-

Advertisements

Passion Of Love – Chapter 10

Comments 7 Standard

Skkm

Sang Kupu-kupu malam

Banyak perbaikan di chapter ini dari versi Fansfic.. hahhaha

Chapter  10

 

Di sebuah  restoran, seorang wanita seorang wanita paruh baya sedang bercakap-cakap dengan seorang lelaki yang mengenakan setelan hitamnya. Itu adalah Wulaan, dengan seorang yang di bayarnya untuk menyelidiki tentang Fiona.

“Pokoknya saya mau tau apapun tentang wanita itu, entah asal-usulnya, atau apapun yang terjadi padanya hingga dia sampai tinggal dengan puteraku.”

Lelaki mengenakan setelan hitam itu mengaggukkan kepalanya. “Baiklah Nyonya.”

“Segera laporkan hasilnya, dan jangan sampai siapapun tau termasuk Ben.”

Lelaki itu kembali menganggukkan kepalanya.

Wulan mendesah dalam hati. Ben… Apa yang terjadi denganmu nak?? Apa wanitaa itu yang mempengaruhimu?? Apa wanita itu yang membuatmu jauh dari kami?? Pikir Wulan dalaam hati.

***

Ben berdiri menunduk dan mengetuk-ngetukkan sepatunya di sebelah mobil mewahnya. Malam ini hujan turun, Tapi Ben sudah seperti orang Gila menunggu seseorang ditengah-tengah hujan lebat seperti ini dengan sebuah payung yang melindungiya dari hujan.

Dingin.

Ya.. tentu saja, tapi Ben tak peduli, dan tak tau kenapa Ben  masih melakukannya, apa itu karena Fiona? Ben tak tau, tapi yang jelas malam ini ia ingin menjemputnya, padahal Fiona sudah melarangnya karena hujan sedang turun di malam ini. Tapi  Ben seakan tak ngin membiarkan wanita itu pulang sendiri. Apalagi setelah perkataannya dua hari yang lalu. Perkataan kasar yang seakan mengingatkan Fiona akan posisinya.

Bodoh!!! bagaimana mungkin ia bisa berkata seperti itu pada Fiona? Wanita itu pasti sangat sakit hati dengan perkataannya.

Tiba-tiba Ben melihat Fiona keluar dari kafe tempat Fiona bekerja. Astaga… semakin hari Fiona semakin terlihat seksi di mata Ben.. Apa semua wanita hamil akan terlihat seperti itu? Atau apa ini hanya fikirannya saja? Ya, mengingat sejak Ben mengetahui kehamilan Fiona, Ben tak pernah menyentuh tubuh Fiona dalam tanda kutip. Entahlah, yang Ben rasakaan adalah takut menyakiti Fiona, karena Ben tau bagaimana dirinya ketika di atas ranjang.

Mungkin kini Ben terlalu rindu dengan Fiona. Ben pikir wanita hamil akan terlihat menjijikkan seperti kecebong, namun saat melihat Fionaa, Ben tak akan keberatan jika seluruh wanita di dunia ini hamil. Fiona benar-benar terlihat sangat menakjubkan.

Ben melihat Fiona berlari kearahnya. Hidung wanita itu terlihat merah, bibirnya sedikit biru, apa Fiona kedinginan??. Dan apa yang Fiona pikirkan? Wanita itu hanya mengenakan jaket biasa dan tak menggunakan mantel tebal. Apa wanita itu tidak takut kedinginan dan sakit karena hujan??  Pikir Ben ketika terpaku melihat penampilan Fiona yang sudah berdiri di hadapannya dengan payung mungil yang di bawa wanita tersebut.

Saat Ben terpaku melihat Fiona, tiba-tiba Ben merasakan tangan hangat wanita itu menyentuh pipinya.

“Ben.. apa yang kamu lakukan di sini? kamu bisa menungguku di dalam. Kamu akan mati kedinginnan jika terlalu lama berdiri disini.” Apa Fiona baru saja menghawatirkannya? benar-benar wanita bodoh.

“Tolong pegangkan payungku.” Ucap Ben dengan datar. Dan Fiona melakukan apa yang diperintahkan oleh Ben.

Ben kemudian menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya lalu ia menempelkannya pada kedua pipi Fiona. Fiona hanya menatap Ben dengan tatapan kosongnya. “Apa kamu nggak sadar, kamu yang kedinginan, hidungmu sudah merah.” Ucap Ben kemudian.

“Aku baru keluar, jadi aku tidak mungkin kedinginan.” Fiona mencoba mengelak.

Tanpa di duga, Ben lalu memeluk erat tubuh Fiona. Entah kenapa Ben ingin sekali memeluk tubuh yang terlihat rapuh di hadapannya tersebut. Setelah memeluknya Ben memandangi wajah Fiona lekat-lekat,  dan entah sejak kapan Ben sudah menempelkan bibirnya pada bibir dingin milik Fiona. Mereka berciuman dengan lembut dan intens, berbeda dengan ciuman-ciuman sebelumnya, di tengah-tengah hujan yang turun dengan deras dan hawa dingin malam tersebut.

Ben tak tau kenapa ia bisa berakhir mencium Fiona. Dan jujur saja, Ben tak pernah berciuman dengan seseorang selembut seperti saat ini, seakan-akan tak akan ada lagi hari esok, dan Ben tak ingin mengakhirinya.

Tiba-tiba Ben merasakan Fiona mendorong dadanya untuk mejauh, dan….

Haaiiisshhyymm..’

Ben tercengang, Apa Fiona baru saja bersin? Ben tak bisa menahan tawanya lagi, baru kali ini ada seorang wanita bersin setelah ia cium. Dan Fiona pun ikut tersenyum malu, pipi wanita itu terlihat memerah.. dan itu membuat Fiona terlihat semakin menggemaskan di mata Ben. ya, Ben sangat suka saat melihat wanita itu tersipu-sipu seperti saat ini.

“Lihat, kamu benar-benar kedinginan.” Ucap Ben yang masih setengah tersenyum.

Ben lalu membuka Jas yang sejak tadi menempel padaa tubuhnya, kemudian memakaikannya pada tubuh Fiona. Lagi-lagi Ben melihat Fiona terpaku menatapnya.

“Emm.. kamu nggak perlu…”

“Aku harus.” Ucap Ben singkat memotong kalimat Fiona.

“Tapi kamu akan kedinginan dengan hanya memakai kemeja ini.”

Ben tersenyum masam, Apa yang Fiona fikirkan?? Setelah mencium wanita itu tadi seluruh tubuh Ben bahkan terasa panas, mungkin Ben akan terbakar oleh gairah malam ini jika sampai rumah ia tak langsung mandi air dingin. Astaga.. Ben benar-benar menginginkan Fiona. Semua yang dibawah sana sudah menegang, apa wanita itu tak merasakannya saat Ben memeluknya tadi?? Ben benar-benar merindukan desahan-desahan dari Fiona saat berada di atas ranjang bersamanya.

Stop it  Ben.!! Sekarang bukan waktunya kau memikirkan hal-hal mesum itu, kau harus bisa mengendalikan perasaanmu sebelum kau terjatuh semakin dalam dan sebelum kau tersesat semakin jauh. Gerutu Ben pada dirinya sendiri.

Tapi sepertinya hal itu sudah benar-benar terjadi. Ben kini sudah terjatuh semakin dalam hingga tak bisa kembali lagi. Ahh sial!! Apa yang harus ia lakukan selanjutnya??

“Emmm aku rasa sebaiknya kita masuk ke dalam mobil kalau nggak mau kedinginan di sini.” Fiona menyadarkan Ben dari laamunannya.

“Baiklah.” Ucap Ben yang kemudian membukakan pintu mobil untuk Fiona.

***

Di dalam mobil.

“Kita akan kemana?” Fiona bertanya, suara wanita itu lembut, dan itu mengingatkan Ben atas setiap desahan yang biasanya keluar dari bibir ranum Fiona saat mereka bercinta.

Cukup Ben, kenapa sampai kesitu lagi?

“Aku akan mengajakmu ke restoran Itali.. kamu pasti ingin makan pasta kan?” Pasta lagi.? Ya, Ben hanya tau jika makanan kesukaan Fiona adalah pasta. Dan hanya itu, Ben tak tau selebihnya karena selama ini yang di pikirkan Ben dari Fiona hanya satu, yaitu tubuh wanita tersebut. Sial!!

“Emmm aku nggak mau makan pasta.”

“Kenapa??”

“Aku nggak tau, mungkin aku merasa bosan, yang pasti aku nggak mau memakannya selama beberapa bulan kedepan.”

‘Hormon Kehamilan’

Ya, sekarang Ben tau kalau hamil sudah sedikit merubah kebiasaan Fiona. Fiona tak lagi suka pasta’ Ben harus ingat itu. “Lalu apa yang ingin kamu makan malam ini?”

“Entah lah…Ku pikir aku merindukan sup tulang kambing buatan tante Fani.”

“Apa?? Sup tulang kambing??” Sial! Kenapa harus itu? mendengar namanya saja Ben ingin muntah.

“Aku tau, kamu pasti nggak suka makanan seperti itu, apa lagi memakannya di sana. Emm… lebih baik kita pulang saja, aku bisa membuat makanan sederhana yang lainnya.”

“Tidak, Kita akan ke restoran tempat tante Fanimu itu.” Ucap Ben singkat. Dan Fiona tersenyum, apa ada yang salah? Apa kini ia terlihat lucu bagi wanita itu? “Kenapa tersenyum??” Tanya Ben kemudian.

“Ben, kita nggak akan ke restoran. Tante Fani tidak sekaya yang kamu pikirkan.”

“Apa maksudmu? lalu kita akan kemana?”

“Apa kamu yakin mau mengantarku kesana?”

“Tentu saja,,” Demi kamu dan anakku.. Lanjut Ben dalam hati.

“Baiklah.. kamu hanya perlu jalan terus dan berhenti di depan sebuah kedai kecil sebelum perempatan kedua.”

“Apa? Kedai? maksudmu kita akan makan di sebuah rumah makan kecil di pinggir jalan?” Ben memohon agar Fiona menjawab tidak.

“Ya.”

“Tidak, aku nggak akan  pernah makan di warung kecil di pinggir jalan. itu tidak higeinis, lagi pula ini dingin, kita akan membeku di sana.” Ben benar-benar tak mengerti arah fikir wanita di sebelahnya ini. Ia mengajak wanita itu ke restoran mewah, tapi wanita itu malah mengajaknya ke sebuah rumah makan kecil di pinggir jalan, yang benar saja.

“Ben.. Aku hanya ingin makan sup tulang buatan tante Fani, dan tante Fani hanya menjualnya di sana, tempatnya bersih dan hangat, walau tidak senyaman di restoran mewah, tapi aku yakin kamu mau duduk menemaniku di sana.” Ben hanya diam menatap lurus ke depan. “Tapi kalau kamu nggak mau nggak apa-apa, kita pulang saja.”

“Kita akan kesana.” Ucap ben cepat dengan ekspresi datarnya, Sial!! Ben benar-benar sudah tunduk di hadapan wanita tersebut.

“Beneran?? Aahhh terimakasih.” Fiona tersenyum lebar, dan Ben sangaat suka melihatnya tersenyum. “Emm tapi aku ingin satu hal lagi.”

“Apa itu?”

“Ice cream.”

“Apa? Fiona, ini sedang hujan, memakan ice cream saat dingin sepeti ini bisa membuatmu sakit.”

“Tapi aku benar-benar menginginkannya..” tanpa canggung lagi Fiona merengek dan Ben lagi-lagi tak bisa berkutik.

Hormon Kehamilan sialan.!!!

“Baiklah..” hanya itu yang bisa Ben katakana sembari menghela napas panjang.

“Aahh terimakasih Ben, malam ini kamu benar-benar baik..” Lalu tanpa di duga, bibir lembut milik Fiona mengecup singkat pipi Ben. Seketika itu juga tubuh Ben kaku, kejantananya menegang seketika hanya karena kecupan lembut yang di berikan Fiona di pipinya. Apa kini Ben sudah gila?? Bagaimana mungkin hanya karena kecupan di pipi ia bisa begitu bergairah seakan tak dapat di tahan lagi?? Sial!! Ben harus bisa mengendalikan pikirannya, kalau tidak, itu akan membuatnya jatuh semakin dalam hingga takdapat tertolong lagi.

***

Sesampainya di dalam kedai..

Bagi Ben,tempat itu memang tak sedingin yang ia bayangkan. Tapi tetap saja, baginya tempat itu benar-benar tak nyaman. Hanya ada sepetak ruangan dan dengan dua meja panjang. Di sana semua pembeli berbaur menjadi satu. Dan itu benar-benar membuat Ben tidak suka.

Kedai tante Fani ini ternyata sebenarnya hanya tempat minum bagi kalangan bawah. Sup tulang kambing yang di maksud Fiona sebenarnya hanya menu tambahan saja, karena nyatanya lebih banyak orang minum minuman memabukkan di sini dari pada memakan sup tulang kambing yang di maksudkan Fiona.

“Hai sayang.. Astaga.. lama sekali kamu nggak mampir ke sini.” Sapa wanta paruh baya yang tanpa aba-aba langsung memeluk tubuh Fiona.

“Aku sibuk tante..”

“Sibuk apa?? Dua bulan yang lalu, aku ke tempat kerjamu, membawakan sup tulang kesukaanmu, tapi kata Jonas, kamu sudah keluar. Apa yang terjadi?? Bahkan di kontrakanmu pun sudah di tempati orang lain.” Ucap tante Fani sambil sedikit meirik ke arah Ben.

“Emm.. aku memang sudah behenti bekerja di sana.”

“Ya, kemarin aku tidak sengaja bertemu dengan Marsha, dan dia menceritakan semua tetang keadaan kalian. Apa dia lelaki itu??” tanya tante Fani secara terang-terangan.

“Ahh ya tante, ini Ben, orang yang sudah menebusku dari Mr. Jonas.”

“Ahh.. lelaki yang tampan.” Gumam tante Fani sambil mengamati penampilan Ben. “Dan sepertinya… dia sekelas dengan Evan.” Lanjutnya lagi membuat Ben mengangkat sebelah alisnya.

“Tante..” dengan cepat Fiona memanggil tante Fani. Ia berharap jika tante Fani tak banyak cerita lagi tentang Evan.

“Oke, baiklah, tante tinggal sebentar. Akan tante siapkan Sup yang enak untukmu.” Ucap tante Fani sembari meninggalkan Fiona dan Ben.

“Siapa Evan??” Tanya Ben secara langsung.

“Emm kamu penasaran dengan dia??”

“Jawab saja siapa lelaki itu?”

“Emm dia hanya salah satu pelangganku.”

“Kenapa tante Fani mengenalnya??”

“Aku sering mengajaknya ke sini.” Ucap Fiona cepat.

“Hanya itu??”

“Ya.”

Ben kemudian menganggukan kepalanya. “Jadi, dari mana kamu kenal tante Fani??”

“Emmm.. waktu itu aku pulang dari kerja, mungkin sekitar jam empat pagi. Dengan setengah mabuk tentunya. Dan di jalan, ada segerombolan anak muda yang menggangguku. Aku hampir saja di perkosa oleh mereka jika tante Fani tak berada di sana.”

Ben menatap wajah Fiona, ia seakan menilai apa yang di rasakan wanita itu saat ini. “Kamu nggak canggung sedikitpun saat bercerita tentang masa lalumu??”

Fiona tersenyum masam. “Untuk apa aku canggung? Aku memang seorang wanita bayaran Ben, kamu tau itu dan aku tak perlu menutupi semua itu darimu.”

Ben menanggukkan kepalanya. “Mr. Jonas berkata jika kamu memiliki banyak hutang. Tapi ku pikir kehidupanmu masih saja kekurangan. Apa yang kamu lakukan terhadap uang-uang hasil menghutang dari tua bangka sialan itu??”

“Aku tidak tau. Yang ku tau aku hanya di jual oleh orang tua angkatku kepada seorang renternir lalu aku di paksa ke rumah bordir milik Mr. Jonas. Dan satu tahun setelahnya, aku baru tau jika aku memiliki banyak sekali hutang dengan dia.” Fiona menjelaskan dengan ekspresi sedihnya. “Kamu sendiri, kenapa bisa menebusku? Setauku, Mr. Jonas tak pernah melepaskan aku, berapapun tebusan yang di berikan orang tersebut.”

“Sudah pernah ada yang menebusmu sebelumnya?”

Fiona menganggukkan kepalanya. “Kak Angga pernah melakukannya, dan di tolak mentah-mentah oleh Mr. Jonas. Begitupun dengan beberapa pelanggan setiaku.”

“Kamu punya pelanggan setia?”

Fiona tersenyum. “Kenapa? Kamu cemburu?? Aku memiliki pelanggan setia, tapi tentu berbeda denganmu.”

Kali ini Ben yang tersenyum mendengar ucapan Fiona. “Aku memiliki sesuatu yang Mr. Jonas inginkan. Dan itu cukup untuk menebusmu.”

“Apa itu??”

“Kamu nggak perlu tau.”

“Ayolah Ben, aku hanya ingin tau hargaku.” Rengek Fiona.

“Sebuah Hotel.” Jawaban Ben membuat Fiona membulatkan matanya seketika.

“Ben.. aku tidak semahal itu.” Ucap Fiona masih tak percaya dengan apa yang di ucapkan Ben.

“Mungkin, tapi Mr. Jonas benar-benar menginginkan Hotel yang berada tepat di sebelah Club malam miliknya yang lain. Dan kebetulan, Hotel itu milikku.”

Fiona menggelengkan kepalanya masih tak percaya. “Kamu gila. Astaga… Aku benar-benar tidak menyangka.”

Ben menyunggingkan senyuman miringnya. “Lupakan saja, yang penting aku puas dengan apa yang ku beli.”

“Ben..” Panggil Fiona. Fiona ingin bertanya tapi entah kenapa ada sedikit rasa takut untuk menanyakan pertanyaan tersebut. “Emm.. Apa ada kemungkinan jika kamu akan melepaskanku nantinya?” tanya Fiona dengan hati-hati.

Ben menatap Fiona dengan tatapan tajamnya. “Aku tidak yakin. Aku adalah orang yang gampang bosan, tapi untuk saat ini, aku belum pernah berpikir akan melepaskanmu.”

“Emm… bagaimana jika aku ingin pergi??”

“Aku tidak akan pernah melepaskanmu.” Ucap Ben penuh penekanan.

Percakapan mereka kemudian terpotong oleh kedatangan tante Fani yang membawakan mereka sebuah nampan berisi satu porsi sup tulang dengan beberapa botol minuman.

“Emm.. tante, aku hanya menginginkan supnya.” Ucap Fiona cepat. Ia tentu tak mungkin meminum minuman yang di bawakan oleh tante Fani. Minuman itu adalah berbagai macam jenis arak. Dan tentunya wanita hamil seperti dirinya tidak di perbolehkan meminum minuman tersebut.

“Ya, aku sudah tau semuanya dari Marsha. Sup ini buat mu. Dan araknya untuk Ben, dia tak akan menolak ajakanku untuk minum kan??”

Ben mengernyit. Kedatangannya ke tempat ini sebenarnya hanya untuk mengantar Fiona, bukan untuk makan atau minum-minuman memabukkan. Lagi pula ia tak pernah meminum minuman seperti arak yang di bawa oleh tante Fani.

“Maaf, saya tidak pernah meminumnya.”

“Ayolah, jangan jadi pengecut. Ini hanya arak jawa, kamu nggak akan maabuk hanya karena sekali tenggak.” Ucap Tante Fani dengan seringaiannya.

Ben kemudian menganggukkan kepalanya. Biarlah, tak ada salahnya bukan jika ia meminum arak tersebut?? akhirnya Ben meraih gelas mungil yang di dalamnya sudah di tuangkan arak. Kemudian Ben menegaknya hingga tandas.

Rasanya sama dengan minuman beralkohol yang biasa ia minum. Hanya saja, rasanya lebih tajam, dan terasa begitu membakar di tenggorokannya hingga membuat Ben mengerutkan keningnya.

“Kenapa?? Kamu nggak suka??” Tanya Fiona sedikit khwatir.

“Rasanya aneh, baru kali ini aku mencobanya.”

“Hahhaaha inilah Winenya orang miskin seperti kami Ben.” Ucap tante Fani.

“Kamu sering meminumnya??” Tanya Ben pada Fiona kemudian.

“Ya, tentu saja. Aku sering ke sini dan meminumnya hingga mabuk. Kamu tentu tau kalau aku tidak akan mampu membeli minuman beralkohol yang ada di tempat kerjaku.”

Ben mengangguk. “Tapi ini tidak terlalu buruk.” Ucap Ben sambil kembali menuang minuman tersebut ke dalam gelasnya kemudian menegaknya kembali.

“Ya, aku bahkan sangat suka. Sayang, aku nggak bisa meminumnya saat ini.” Ucap Fiona yang kembali memakan sup di hadapannya.

“Tentu saja, arak tidak baik untuk kehamilan.” Ucap tante Fani dengan spontan

Perkataan tante Fani itu sontak membuat Ben membatu tak bergerak sedikitpun. Matanya melirik ke arah Fiona. Fiona pun demikian. Wanita itu terlihat shock dengan aapa yang di katakan tante Fani.

Dengan spontan Fiona memeluk perutnya sendiri. Bagaimana jika Ben tau keadaannya?? Bagaimana jika kemudian Ben memaksanya untuk menggugurkan bayi yang sedang di kandungnya?? Astaga… kenapa juga tante Fani bisa mengucapkan kalimat tersebut di saat seperti ini??

 

-to be continue-

Semoga masih ada yang mau menunggu cerita ini.. hueehehhehe

Passion Of Love – Chapter 9

Comments 4 Standard

SkkmSang Kupu-Kupu Malam

 

Chapter 9

                        

Fiona merasakan matanya berat untuk terbuka, akhir-akhir ini ia memang senang sekali tidur dan bermalas-malasan, mungkin karena kehamilannya yang membuatnya cepat lelah. Untung saja Fiona hanya mual-mual biasa dan tak sampai muntah parah seperti kebanyakan wanita hamil pada umumnya, jadi Fiona bisa dengan gampangnya menyembunyikan kondisi kehamilanya dari orang-orang di sekitarnya.

Fiona merasakan lengan kekar yang masih memeluknya dengan posesif mulai meninggalkannya dan meraba-raba kulit halusnya. Kemudian Fiona merasakan sesuatu yang basah menyentuh lehernya, membuatnya merinding hampir saja berjingkat karena terkejut.

“Ben..” Fiona mengerang masih dengan menutup mata.

“Hemmbb…” Hanya itu balasan dari Ben.

“Aku masih ingin tidur, jangan lakukan itu lagi..”

“Aku sangat menyukai lehermu..” Ucap Ben masih dengan mengecupi leher Fiona, “Bangun pemalas… kamu mau tidur sampai kapan?” Ucapnya lagi.

“Aku masih ngantuk..”

“Sudah hampir jam 9 siang..”

Mata Fiona seketika terbuka lebar, sontak Fiona terduduk, “Apa? Kenapa kamu nggak membangunkanku?”

Ben pun ikut bangun dan duduk di sebelah Fiona. “Aku sudah membangunkanmu sejak tadi, tapi kamu terlihat kelelahan, Apa yang terjadi? apa kamu sakit? apa mau ke dokter?” Tanya Ben dengan penuh kekhawatiran.

“Ti.. Tidak.. aku baik-baik saja.” Jawab Fiona dengan tergagap-gagap.

“Apa kamu yakin?” tanya Ben lagi.

“Iya… aku akan membuatkan sarapan untukmu.” Lalu Fiona mulai berdiri dan akan bergegas ke dapur tapi kemudian tangan Ben sudah meraih pergelangan tangan Fiona dan menariknya ke dalam pelukan .

“Aku sudah membuat masakan.” Ucap Ben sambil menatap lembut pada Fiona.

“Apa? Emmm tapi… bukankah seharusnya kamu sudah berangkat kerja sekarang?”

“Mulai saat ini aku akan berangkat jam satu siang setelah mengantarmu kerja di kafe.” Ben lalu mencium kening Fiona. Dan menggosok-gosokkan hidungnya ke hidung Fiona.

“Kenapa..??” Tanya Fiona sedikit heran dengan sikap Ben

“Aku pemilik perusahaan, jadi terserah kapan saja aku masuk, semua terserah padaku.”

“Tapi…”

“Tak ada tapi, sekarang cepat mandilah dan kita sarapan..” Ben memotong kalimat Fiona. Namun sebelum Fiona bangun Ben sudah terlebih dulu menciumnya, Fiona hanya mampu terperangah menerima ciuman dari Ben. Apa Ben memberinya Morning Kiss? Apa yang terjadi dengan lelaki itu? Fiona bertanya-tanya dalam hati.

***

 

Ben benar-benar sudah tak dapat mengendalikan perasaannya lagi. apa lagi saat melihat Fiona. Pagi ini Fiona terlihat sangat seksi di mata Ben, padahal Fiona baru bangun tidur dan lagi-lagi hanya mengenakan T-shrit kebesaran milik Ben. Tapi ketika Ben melihatnya, Ben tak dapat menahan Rasa untuk mencumbui Fiona tanpa henti. Apa matanya sudah rabun? Kenapa bisa jantungnya berdetak seakan mau meledak hanya karena melihat Fiona baru bangun tidur? Ben merasa jika dirinya Benar-benar sudah gila.

“Bagaimana rasanya?” Pagi ini Ben memasak pasta untuk Fiona karena Ben tau jika Fiona sangat suka dengan pasta. Tapi kelihatannya pastanya hari ini agak berbeda, Ben melihat Fiona makan sesuap lalu wanita itu hanya membungkam mulutnya dengan kedua tangannya, apa ada yang salah dengan pastanya pagi ini? “Apa tidak enak?” Ben tak dapat menahan pertanyaan itu keluar dari mulutnya.

“Maafkan aku..” Fiona berdiri, kemudian lari kedalam kamar mandi. Ben akhirnya mengikuti Fiona dari belakang, dan sesampainya di kamar mandi Ben melihat Fiona memuntahkan semua pasta buatannya.

Morning Sickness

Apakah itu yang sedang di alami Fiona..? apa separah itu,,? Atau apa memang karena pasta buatannya tak enak…? Ben kemudian mendekat ke arah Fiona, ia mengusap-usap punggung Fiona dengan lembut. Fiona kini terlihat pucat, dan entah kenapa Ben tak bisa melihat wanita itu kesakitan seperti  sekarang ini.

“Apa kamu baik-baik saja? apa mau ke dokter?”  Ben bertanya pada Fiona ketika wanita itu sudah baikan.

“Tidak.. ini tidak perlu..” Ucap Fiona dengan kekeras kepalaannya.

“Kamu mau sesuatu?”

Fiona menatap Ben dengan tatapan anehnya, “Apa kamu akan menuruti semua kemauanku?” Fiona bertanya balik.

“Jika tidak macam-macam tentu saja aku akan menurutinya.” Jawab Ben sambil mengecup lembut telapak taangan Fiona. Ben memaang sangat menyukai aroma yang keluar dari kulit lembut Fiona.

“Entahlah… Aku hanya ingin sesuatu yang manis dan dingin.”

“Kamu mau jus? Akan kubuatkan.” Ben akan bergegas membuatkan Jus untuk Fiona namun Fiona menarik lengan atas Ben dengan telapak tangan mungilnya.

“Ben… bu.. bukan itu..” Ucap Fiona dengn sedikit terpatah-patah.

“Lalu?”

“Emmm.. Aku ingin.. Sesuatu yang seperti…. Ice cream..”

“Apa?” saking kagetnya Ben tak sadar jika ia sudah sedikit membentak Fiona. “Kamu ingin makan Ice Cream?”

“Aku hanya ingin memakan itu sekarang.” Fiona mulai merengek. Dan sejak kapan Fiona berani merengek padaku??

“Tapi ini masih pagi, kemana aku harus mencarinya?” Fiona melepaskan lengan Ben seketika, kemudian wanita itu berjalan menjauh.

Oh Shit..!!!, Ben melihat mata Fiona yang sedikit berkaca-kaca, wanita itu pasti akan menangis, dan Ben benci sekali melihat wanita menangis. Ada apa dengan Fiona? Kenapa wanita itu berubah menjadi semanja ini dengannya? satu-satunya yang bisa di salahkan adalah  Hormon Kehamilan. Sedikit banyak Ben pernah mendengar tentang itu.

Ben kemudian meraih tangan Fiona lalu memeluknya kembali tubuh yang terlihat rapuh itu di hadapannya. “Baiklah… akan kucarikan ice cream untukmu.” Ucap Ben dengan sedikit melembutkan nada bicaranya sambil sedikit mengecup puncak kepala Fiona.

“Benarkah..?” tanya Fiona dengan mata berbinar menatap ke arah Ben.

“Hemm..” hanya itu yang dapat di ucapkan Ben sambil menganggukan kepalanya. Sialan. Dia sudah dapat mempengaruhiku, menyuruhku, mungkin sebentar lagi aku akan jadi budaknya. Bodoh,, Lelaki dewasa yang Bodoh!!! Ben mengumpat dirinya sendiri dalam hati.

***

Senang.

Itulah yang di rasakan Fiona pagi ini. Bibir Fiona bahkan tak henti-hentinya menyunggingkan senyuman. Kenapa? apa karena sikap Ben yang aneh pagi ini? Ya, seperti itulah… Ben bersikap sangat manis terhadapnya pagi ini, dan itu membuat Fiona begitu senang.

Sebenarnya Fiona sedikit khawatir kalau Ben akan curiga dengan keadaannya saat ini. Dimulai dengan Morning Sickness pagi ini yang sukses membuat Ben menyebut kata ‘Dokter’dan membuat dirinya gelisah setengah mati. Fiona benar-benar belum siap memberi tahu Ben tentang kehamilannya saat ini.

Belum lagi masalah Hormon Kehamilan yang makin hari makin sulit untuk Fiona kendalikan. Jujur saja, Fiona bukan seorang penggila Ice Cream, tapi sejak beberapa minggu yang lalu Fiona mulai ingin memakannya kapanpun, dimanapun dirinya berada. Apa ini keinginan dari bayinya? Entah lah..

Fiona kini juga sangat ingin selalu bermesra-mesraan dengan Ben, untung saja pada dasarnya Benlah yang mengajaknya bermesraan terlebih dahulu sehingga Fiona dapat menutupi keinginannya untuk menyentuh Ben penuh dengan hasrat.

Kebiasaan buruk yang terakhir saat Fiona hamil adalah setiap malam ia sangat ingin memcium telapak tangan Ben dan menaruh telapak tangaan besar itu di pipinya, Fiona akan susah untuk tidur bahkan bermimpi buruk jika ia tak melakukan itu. Jadi sebisa mungkin Fiona melakukan kebiasaan buruknya itu saat Ben sudah tidur terlelap.

Fiona tak tau apa yang akan ia lakukan jika Ben sudah bosan terhadapnya dan akan meninggalkannya suatu hari nanti. Memikirkannya saja membuat Fiona ingin menangis. Dan astaga… satu lagi pengaruh buruk dari “Hormon Kehamilan”  yang kini ia rasakan adalah, Fiona sangat mudah sekali menangis. Emosinya jadi semakin labil. Jika ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, Fiona pasti akan berkaca-kaca dan langsung menangis. Sungguh kekanak-kanakan.

Tiba-tiba Fiona mendengar bunyi bel dari pintu depan, apakah itu Ben yang sudah pulang dari mencari ice crem? Lalu kenapa dia tidak langsung masuk? Fiona kemudian membuka pintu tanpa melihat pada layar siapa yang berada di depan pintu. Setelah Fiona membuka pintu terebut, Fiona sedikit heran karena yang ia lihat adalah seorang wanita paruh baya yang cantik dan rapi sedang memandanginya dengan tatapan menyelidiki.

Reflek Fiona menganggukkan kepalanya dengan sopan sambil berkata “Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Fiona pada wanita itu. tapi wanita paruh baya tersbut masih saja memandanginya dengan tatapan yang tak biasa, dan itu membuat Fiona sedikit resah. apa ada yang salah dengan pakaian yang ia kenakan? Dan Fiona baru sadar jika kini ia hanya mengenakan T-shirt lengan panjang kebesaran milik Ben yang panjangnya mencapai lututnya, dengan bawahan sebuah hotpant  yang tentunya tertutup T-shirt terebut dan membuat Fiona terlihat tak mengenakan bawahan apapun.

Sejak hamil, Fiona memang suka sekali menghirup aroma tubuh Ben -kecuali parfum yang biasa dia kenakan kekantor- jadi Fiona sering mengenakan kaos T-shirt kebesaran milik Ben. Itu membuatnya nyaman, lagi pula, Ben juga tak marah saat ia mengenakan baju-baju tersebut..

“Apa Kau tinggal di sini?” wanita itu berbalik bertanya.

“I.. Iya.. saya..”

“Apa Ben ada di rumah?” wanita itu memotong jawaban Fiona.

“Emm.. dia sedang keluar sebentar.”

Lalu tiba-tiba wanita itu menyerobot masuk kedalam, Fiona hanya bisa melihatnya dengan heran. Siapa Wanita itu? apa dia orang Ibu dari Ben..?

Lalu tiba-tiba dia menuju ke kamar Ben–kamar mereka berdua-. Membukanya dan melihat seluruh isinya.

“Apa kalian tidur bersama?” Wanita itu bertanya sambil menatap tajam ke araah Fiona. Dan kini Fiona tau jika orang di hadapannya tersebut adalah ibu dari Ben

“Emmm… kami.. kami…” Fiona tak tau harus bagaimana menjelaskan pada wanita tersebut.

“Apa Kau tau kalau  Ben sudah bertunangan, dan dia akan menikah dalam waktu dekat? Berhenti menggoda anak saya.” perkataan itu membuat Fiona ternganga. Fiona merasa seperti ada belati yang menusuk tepat di jantungnya. Matanya kini terasa pedih. Dan ia kini sudah berkaca-kaca.

“Emm… saya.. saya..” suara Fiona bergetar, dan Fiona sepertinya akan menangis saat ini juga.

“Toko ice cream belum buka, jadi Aku hanya membelikanmu ice cream biasa di supermarket, kuharap ini…” Ben datang, dan ia tak bisa melanjutkan kata-katanya saat melihat Fiona dan ibunya diam membatu di depan kamar mereka. “Ibu? apa yang ibu lakukan di sini?” Ben bertanya sedikit tersendat-sendat. Ben lalu menatap ke arah Fiona dan Fiona hanya mampu menundukkan kepalanya.

“Aku hanya mencari anakku, kenapa jam segini dia belum ada di kantor seperti biasanya.” Ucap Wulan dengan nada sinis menyindirnya.

“Ibu, aku berangkat siang.”

“Kenapa? Apa karena wanita ini?”

“Dia tidak ada hubungannya dengan masalahku ibu..” Ben berusaha untuk membela Fiona. Dan Fiona tau, semarah apapun,  dari cara bicaranya, Ben sangat menghormati orang tuanya.

“Kemarilah, aku ingin berbicara denganmu.” Kata ibu Ben, lalu mengajak Ben duduk.

Sedangkan Fiona lebih memilih meninggalkan keduanya menuju ke dapur untuk membuatkan minuman untuk ibu Ben. Dan lagi-lagi Fiona menangis di sana. Ben akan menikah,,? Lalu apa yang harus ia lakukan nanti? Apa ia dapat hidup tanpa kehadiran lelaki tersebut nantinya??

***

 

“Apa yang terjadi padamu nak?” Wulan membelai lembut punggung Ben. “Bicaralah pada ibu” Lanjutnya.

“Ibu? Apa yang Ibu lakukan di sini?” Ben kembali menanyakan pertanyaan yang sama seperti pertanyaannya tadi.

“Sejak pulang dari sini, Sheila tak mau keluar dari kamarnya, Amel berkata semua itu karena Sheila melihatmu bermesraan dengan wanita lain. Apa dia wanita yang di maksud Amel? Apa kalian tinggal bersama?” Wulan menodong puteranya tersebut dengan berbagai macam pertanyaan yang mengganggu di benaknya.

“Fiona, namanya Fiona, Bu.”

“Aku tak peduli siapa namanya. Aku hanya ingin tau kebenarannya.” Wulan mendesak.

“Iya.. kami tinggal bersama.” Akhirnya mau tak mau Ben mengakui kebenarannya.

“Ben. Apa kamu sadar jika yang  kamu lakukan ini salah.? Kamu akan menikahi Sheila, dalam waktu dekat, Jadi kamu harus meninggalkan wanita itu..”  Dan kini Wulan sudah mulai marah denga puteranya tersebut.

“Tidak Bu, Ibu bisa memaksaku menikah dengan siapapun, tapi tidak dengan Sheila.” Jawab Ben dengan rahang yang sudah mengeras.

“Sebenarnya Apa yang terjadi denganmu? Sejak  lima tahun yang lalu kamu sudah berubah menjadi lebih tertutup, dan kamu sama sekali tak mau di sangkut pautkan dengan Sheila lagi, apa yang terjadi Ben..??” Ibunya bingung.

Yahh… sebenarnya Ben tak pernah menceritakan kejadian lima tahun yang lalu dengan siapapun. Bahkan Sheila sendiripun tak tau jika Ben sudah mengetahui belangnya saat wanita itu tinggal di New York.  Jadi tingkah laku Ben yang berubah membuat keluarganya bingung, mengapa Ben jadi seperti itu, berubah menjadi dingin dan jarang sekali kumpul bersama keluarga apalagi setelah tinggal sendiri di apartemennyaa.

“Ibu.. aku sudah tak ada hubungan apapun dengan Sheila. Jadi tolong hormati keputusanku.”

“Kenapa..? apa ini ada hubungannya dengan wanita penggoda itu..?”

“Fiona.. Sekali lagi namanya Fiona, dan dia bukan waanita penggoda” Ben Meralat ucapan ibunya.

“Terserah siapa itu.” Wulan sudah mulai jengkel dengan sikap yang di tunjukkan Ben. Dan pada saat itu Fiona datang membawakan minuman untuk Ben dan ibunya. “Sebenarnya apa hubunganmu dengan putraku..?” Wulan akhirnya tak kuasa untuk menahan pertanyaan yang sejak tadi menari-nari di kepalanya.

“Kami… emm.. kami…” lagi-lagi Fiona tak dapat menjawab pertanyaan dari ibu Ben.

“Dia teman kencanku.” Jawab Ben yang kini  sudah mulai jengkel dengan keberadaan ibunya.

“Terserah apa katamu, yang penting Kau tetap akan menikah dengan Sheila.” Ucap Wulan tanpa mau di bantah sedikitpun. Lalu ia berjalan menuju pintu untuk keluar meninggalkan Ben dan juga Fiona.

Ben hanya terdiam, tapi Fiona kemudian ikut berlari menyusul Wulan. “Ibu… Ibu.. tunggu…” Panggil Fiona. Dan saat mereka ssudah di luar pintu apartemen Ben, langkah Wulan terhenti kemudian membalikkan tubuhnya dan mendapati Fiona yang sudah menyusulnya.

“Apa yang kau lakukan?” Ucap Wulan dengan nada ketusnya paada Fiona saat menyadari jika Fiona mengikutinya.

“Maafkan kami Bu.. kami tak bermaksud…”

“Saya tau” Potong Wulan. Kemudian Wulan mengeluarkan sebuah kertas kecil dari dalam tasnya kemudian menuiskan ssesuatu di sana. “Sabtu Sore, temui saya di sini.” Ucapnya sambil memberi Fiona kertas tersebut.

“Saya??” Ucap Fiona sambil menerima kertas tersebut.

“Ada yang ingin saya bicarakan.” Ucap Wulan lagi masih dengan nada yang di buat seketus mungkin.

“Baa.. baik Bu..” hanya itu yang bisa di katakana Fiona.

Wulan kemudian meninggaalkan Fiona yang masih membatu menatap kepergiannya tak jauh dari pintu apaartemen Ben. Tak lama, Fiona memutukan untuk kembali masuk ke dalam apartemen Ben. Tapi sesampainya di dalam, Fiona mendapatkan tatapan tajam membunuh dari seorang Benny Andrean.

“Apa yang kamu bicarakan dengannya?” Desis Ben dengan raahang yang sudah mengeras. Fiona tau jika Ben kini sedang marah.

“Tidak… aku hanya..”

“Perlu kamu ingat, kamu nggak perlu memiliki urusan apapun dengan keluargaku.” Ben Memotong kalimat Fiona.

“Ben…”

“Fiona. Harunya kamu sadar dengan posisimu.” Ucap Ben dengan spontan karena kemarahan yang sudah mengakar di kepalanya.

Fiona menatap Ben dengan mata yang sudah kembali berkaca-kaca. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, seakan ada sesuaatu yaang tersendat di tenggorokannya.

“Aku tau Ben, Aku tau siapa Aku.” Ucap Fiona kemudian.

Tentu Fiona tau, bukankah ia hanya sebuah alat untuk memuaskan lelaki tersebut? Astaga.. bagaimana mungkin Fiona bisa lupa diri jika dirinya hanyalah seorang pelacur murahan yang beruntung karena di pungut Ben dari tempat terkutuk tersebut. mengingat itu, ada Fiona kembali sesak.

Ben menghela napas panjang, ia tau jika ia salah bicara. Tapi bagaaimana lagi, ia cukup kesal dengan semua masalah dengan Sheila, ibunya, ataupun dengan Fiona. Dan Ben tak ingin jika Fiona terlibat dalam masalahnya dan juga keluarganya.

“Aku tak ingin berdebat denganmu.” Lalu Ben pergi masuk kedalam kamar begitu saja dan meninggalkan Fiona sendirian terpaku menatap keperginnya.

***

Sorenya…

“APA?? apa katamu?” hampir saja Marsha menyemburkan minumannya Saat ia tau apa yang dikatakan Fiona sore itu di kafe tempat Fiona bekerja.

“Iyaa,,, Aku Hamil.” Dan akhirnya Fiona benaar-benar mengaku pada Marsha.

“Apa kamu sudah gila? Kenapa bisa sampai hamil?? Apa Ben sudah tau keadaanmu??” tanyanya lagi.

Fiona menggeleng. “Dia tidak tahu, dan aku tak berniat memberi tahunya.”

“Apa???” dan Marsha pun berteriak dengan kagetnya.

“Kak… apa tidak bisa kak Marsha tenang dan tidak berteriak-teriak seperti ini…?”

“Apa kamu benar-benar sudah gila..? Dasar gadis bodoh!! harusnya kamu memberi tahu keadaanmu pada Ben.”

“Tidak.. tidak akan..”

“Hei…”

“Kak. Ben tidak akan suka, mungkin dia akan menyuruhku untuk menggugurkan bayi ini, atau lebih buruk lagi, dia akan meninggalkanku seperti…..” Fiona menggantung kalimatnya karena tak ingin mengingatkan kejadian pahit yang menimpa Marsha saat di tinggal pergi keksihnya sat marsha hamil.

“Fiona, Aku tau jika Ben tidak sebrengsek itu.”

Fiona menggelengkan keplanyaa cepat. “Kita tidak mengenalnya kak, kita tak tau apaa yang pernah terjadi padanya, jadi jangan menyimpulkan sesuatu yang belum kita ketahui pastinya.”

“Lalu apa yang akan kamu lakukan? Cepat atau lambat dia akan tau keadaanmu?”

“Entah lah kak… aku hanya berharap dia mau melepaskanku dalam waktu dekat ini.”

“Apa kamu siap berpisah dengannya.?” Tanya Marsha penuh selidik.

“Aku… Aku tak tau… tapi untuk saat ini aku benar-benar tak bisa jauh darinya, dia sudah berubah.” Jawab Fiona sambil menundukkan kepalanya.

“Kamu cinta sama Ben?” tanya Marsha dengan hati-hati.

Tiba-tiba Fiona menangis sesenggukan. “Aku rasa begitu kak…”

“Astaga..” lalu Marsha memeluk Fiona dan menepuk-nepuk punggung Fiona. “Tak apa-apa.. Mencintai orang tidaklah salah. Kamu tidak bersalah..” ucapnya lagi menenangkan Fiona.

Sedangkan Fiona hanya bisa menggangguk pasrah. “Aku harus bagaimana?? Aku harus bagaimana kak..??” Tanyanya lagi masih dengan sesenggukan. Marsha sendiri hanya mampu diam membatu, karena ia juga bingung dan tak tau apa yang harus di lakukan Fiona selanjutnya.

 

-To Be Continue-

Passion Of Love – Chapter 8

Comments 4 Standard

castSang Kupu-kupu malam

 

*Remake fansfic korea The Passionnate of love -Banyak mengandung unsur Dewasa-

 

Chapter 8

 

Hati Fiona terasa sakit melihat pemandangan yang ada di hadapannya, seperti di remas-remas, ia tau kalau mungkin saja Ben memiliki hubungan special dengan gadis itu, entah mengapa seperti tiba-tiba pandangannya berkaca-kaca, ia tau jika sebentar lagi air matanya akan menetes di pipinya.

Cepat-cepat Fiona berbalik dan masuk lagi ke dalam dapur, ia tak mau Ben melihat dirinya sakit hati dan menangis, karena bagai manapun hubungan mereka hanya tak lebih dari Partner seks semata.

Ben yang memang melihat keberadaan Fiona langsung menjauhkan diri dari pelukan Sheila. “A.. Apa yang kamu lakukan di sini?”  Ben bertanya tapi arah pandangannya masih tertuju ke Arah di mana Fiona tadi berdiri.

“Kak Ben, apa kamu nggak kangen sama aku?” Sheila terkejut dengaan reaksi Ben yang seperti orang kebingungan. Apa Ben benar-benar tidak merindukannya??

“Bukan seperti itu, tapi bukannya kamu harusnya masih ada di New york??”

“Studiku sudah selesai kak.. dan aku sudah pulang.” Lalu Sheila kembali memeluk tubuh Ben lagi. Sedangkan Ben hanya bisa diam membatu, ia tak tau apa yang harus ia lakukan.

***

Di dalam dapur.. entah mengapa tangan Fiona bergetar, kakinya terasa lemas, ia seakan tak sanggup untuk berdiri. Terpaksa Fiona duduk di lantai di  sebelah meja dapur, air matanya mulai menetes. Entah mengapa rasanya ia ingin menangis mendengar percakapan Ben dan gadis yang bernama Sheilaa tersebut karena cukup keras hingga terdengar sampai ke dapur.

Astaga.. apa yang akan ia lakukan jika Ben kembali ke sisi wanita tersebut? Bagaimana dengan bayinya nanti?? fikirnya dalam hati. Fiona lalu mengusap air matanya, ia mulai berdiri dan menyelesaikan masakannya. ia ingin segera keluar dari apartemen Ben yang seakan  menyesakkan tersebut.

Ketika Fiona sudah selesai dengan pekerjaannya, ia beriap-siap berangkat ke tempat Marsha. Fiona kemudian  menuju ke ruang tamu untuk berpamitan dengan Ben.

“Ben.. makan malammu sudah siap, mungkin kamu ingin mengajak mereka makan, aku akan keluar dulu.” Fiona berusaha bicara senormal mungkin, berusaha agar suaranya tidak bergetar karena menelan kepahitan.

Ben yang duduk di sebelah Sheila dengan lengan yamg sejak tadi di peluk oleh Sheila langsung berdiri melepas paksa rangkulan tangan Sheila.”Kamu mau kemana? apa perlu ku antar?” Tanya Ben dengan sedikit khawatir.

“Tidak perlu, kamu kan ada tamu.” Jawab Fiona sedikit melirik Amel dan Sheila sambil sedikit tersenyum. “Aku hanya ingin ke tempat kak Marsha.” Lanjutnya.

“Kak. dia siapa?” Amel yang penasaran akhirnya tak bisa menahan pertanyaan itu muncul.

Belum sempat Ben menjawab, Fiona lebih dulu memperkenalkan diri sambil membungkukkan badannya. “Aku Fiona Adelia… Aku teman atau bisa di bilang partner kerja Ben.”

“Aku Amelia, Adik kandung kak Ben, dan ini kak Sheila, kekasih kak Ben.” Amel memperkenalkan diri dengan begitu manis.

“Amel…” Ben mendesis tak suka pada dengan apa yang di kataakan Amel.

“Apa ada yang salah?” Tanya Amel dengan wajah tanpa dosanya. Ben ingin menjawab tapi Fiona mendahuluinya.

“Baiklah.. aku pergi dulu.. kalian baik-baik yaa.. Sampai jumpa” Ucapnya sedikit tersenyum sambil melambaikan tangan dan sedikit membungkukkan badan ke arah Amel dan Sheila, padahal saat ini Fiona sedang ingin menutupi perasaannya yang sedang kalut.

“Tunggu dulu.” Ben kemudian sedikit berlari kearah Fiona.

“Kenapa.?” Tanya Fiona dengan wajah bingungnya.

“Apa kamu nanti pulang malam?” tanya Ben penuh perhatian.

“Sepertinya begitu, aku ingin nonton di bioskop dengan kak Marsha malam ini.”

“Tunggu sebentar.” Ben lalu berlari ke dalam Kamar dan kembali lagi membawa sebuah Coat berwarna coklat dan syal untuk Fiona. “Pakai ini.. tadi hujan, nanti malam di luar pasti sangat dingin.” Ben memakaikan Coat tersebut pada tubuh Fiona dan mengancingkannya, kemudian ia juga memakaikan syal untuk Fiona. Sedangkan Fiona sendiri menatap Ben dengan tatapan anehnya.

Sheila merasa matanya pedih saat melihat pemandangan di hadapannya. Ia tak menyangka jika Ben akan berbuat semanis itu dengan wanita lain di hadapannya

“Terimakasih.” Ucap Fiona sembari mencoba menghilangkan rasa tak enaknya.

Ben hanya mengangguk. “Hati-hati.” Ucap Ben sambil mengantar Fiona ke luar dan menunggu hingga Fiona tak terlihat dari pandanannya.

Ben kemudian kembali masuk dan mendapat tatapan aneh dari Amel dan juga Sheila. “Apa ada yang salah??” tanya Ben ambil megangkat sebelah alisnya.

“Kak.. sebenarnya kak Ben ada hubungan apa dengannya?” Tanya Amel dengan nada tak suka sambil berdiri menuju ke tempat Ben.

“Bukan urusanmu.” Jawab Ben dengan ekpressi datarnya.

“Kak Ben” rengek Amel.

“Apa kedatangan kami mengganggu kalian?” Sheila sendiri sudah tak dapat membendung perasaannya. Ia berdiri dan bertanya pada Ben secara langsung.

“Apa maksudmu?” Ben ingin mengelak.

“Baiklah, mungkin seharusnya kami pulang dulu, kapan-kapan aku kemari lagi kalau Kak Ben nggak keberatan, permisi.” Kata Sheila ketus namun tetap membungkukkan badannya memperlihatkan kesopanannya.

“Kak Sheila..” panggil Amel sambil ikut pergi tepat di belakang Sheila.

“Sheila…” Ben pun akhirnya ikut memanggil Sheila, tapi tampaknya wanita itu sudah tak ingin lagi menghiraukannya.

Ben menutup mata sambil menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka kalau hal seperti ini akan terjadi padanya.

***

Ben masih saja tak berhenti berjalan mondar-mandir di apartemennya. Kepalanya terasa berdenyut saat memikirkan apa yang terjadi akhir-akhir ini padanya.

Dua minggu yang lalu, ia tak sengaja bertemu dengan Alice di salah satu restoran saat ia selesai makan siang dengan beberapa rekan bisnisnya. Saat itu Alice tak canggung lagi memberinya selamat atas kehamilan Fiona.

Bagaikan tersambar petir saat itu juga ketika Ben mengetahui kabar kehamilan Fiona dari dokter Alice. Kenapa Fiona tak pernah memberitahunya?? Bahkan sampai sekarang pun Ben masih menunggu Fiona mengabarkan hal itu secara langsung padanya.

Awalnya Ben memang sedikit curiga saat Ben merasakan ada yang aneh pada tubuh Fiona. Wanita itu seakan lebih terlihat cantik dan seksi di matanya, padahal kini Fiona sangat jarang mengenakaan Make Up dan hampir tak pernah mengenakan pakaian seksi seperti saat kerja di dunia malam. Dan akhirnya semua kebingungan Ben terjawab saat ia tak sengaja bertemu dengan dokter Alice.

Shock, tentu saja. Ben tak pernah menghadapi wanita hamil sebeumnya. Dulu saat tau teman kencannya hamil. Ben akan langsung menjauhinya bahkan menekan temannya tersebut hinga mau menggugurkan kandungannya. Tapi dengan Fiona, bukan seperti itu yang ia rasakan. Ia malah ingin melindungi wanita rapuh itu. Sebenarnya, ada apa dengan dirinya?? Apa istimewanya seorang Fiona hingga ia tak dapat jauh dari wanita tersebut??

Kini, Ben masih tak habis pikir, kenapa sampai saat ini Fiona masih belum juga  memberitahukan keadaannya pada diri Ben.

Ben menghela napas panjang saat mengingat kejadian tadi sore. Belum juga masalahnya dengan Fiona memiliki titik terang, kini kembali muncul masalah baru dengan kehadiran Sheila. Wanita yang menjadi wanita teristimewa di hatinya. Tidak, mungkin itu dulu, karena Ben yakin saat ini tak ada lagi nama Sheila di hatinya.

Ben bertemu dengan Sheila sejak Ben berumur 15 tahun, Sheila sudah seperti adik kecilnya saat itu, hingga ketika Ben berumur 20 tahun, ibunya berkata jika Ben dan Sheila sudah di jodohkan dan nantinya akan menikah, sejak saat itu Ben di paksa memandang Sheila sebagai wanita dewasa bukan sebagai adiknya.

Ben mulai menumbuhkan perasaan itu terhadap Sheila, apa lagi ketika Sheila tumbuh semakin cantik, di tambah lagi karena setiap hari mereka bertemu. ibu dan ayah Sheila  meninggal pada suatu kecelakaan dan Sheila menjadi sebatang kara, sebelum meninggal ibu Sheila menitipkan Sheila pada Wulan, Ibu Ben. tentu saja saat itu Sheila kemudian tinggal di rumah Ben. Bahkan perusahaan keluarga Sheila pun di urus oleh ayah Ben sebagai orang yang paling di percayai oleh Ayah Sheila.

Saat itu, Ben sangat menyayangi Sheila hingga tak ada wanita lain selain Sheila, namun hubungan mereka mulai merenggang ketika Sheila memutuskan untuk melanjutkan studinya ke amerika, sedangkan Ben tetap jakarta membantu ayahnyaa mengurus perusahaan.

Mereka hanya berhubungan jarak jauh. Hingga pada suatu hari, sekitar 5 tahun yang lalu, Ben dengan sengaja mengunjungi ke Flat sewaan Sheila di New York untuk memberikan Sheila kejutan. betapa kagetnya saat itu ketika Ben menemukan Sheila setengah telanjang dengan lelaki bule di dalam kamar Flatnya. Dan sejak saat itu Ben mencoba menghapus bayangan Sheila di hati dan pikirannya.

Bagi Ben, hubungan mereka sudah berakhir, meski sebenarnya Sheila belum tau jika Ben sudah melihat kejadian tersebut dan kini menghindarinya. Sheila menodai kepercayaan yang di berikan oleh Ben hingga sampai detik ini Ben tak percaya lagi dengan yang namanya wanita dan kesetiaan. Ben takut berhubungan serius dengan wanita lain lagi, Ben tak ingin menumbuhkan perasaan seperti perasaannya terhadap Sheila dulu. Dan itu merubah Ben menjadi sosok yang dingin, yang tak mudah di tembus oleh wanita-wanita yang ingin mendekatinya.

Semua waktunya Ben habiskan di kantor untuk kerja kerja dan kerja, jika Ben butuh hiburan, Ben hanya akan mencari wanita yang mau ia bayar untuk di tiduri, wanita sejenis Fiona, wanita yang tak mungkin Ben cintai karena Ben tau seperti apa jenis wanita seperti mereka.

Hingga  sekitar tujuh bulan yang lalu semua berubah ketika ia bertemu dengan Fiona dan melihat kaki telanjang wanita tersebut saat berlarian meminta pertolongan untuk temannya. Ben mulai terobsesi hanya dengan Fiona hingga mengabaikan resiko yang kini sudah terlanjur terjadi.

Fiona Hamil.. dan Astaga.. apa yang harus ia lakukan terhadap wanita itu?? Ben mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, pada saat bersamaan pintu apartemen di buka dan sontak Ben berdiri menatap siapa orang yang berdiri dari balik pintu apartemennya.

Itu Fiona..

“Di luar gerimis, dingin sekali.” Ucap Fiona sambil mengganti sepatunya dengan sandal rumahan, Fiona juga sesekali mengusap rambutnya yang sedikit basah karena hujan.

Tanpa terasa kaki Ben sudah mengayun menuju ke tempat Fiona berdiri “Kenapa nggak minta di jemput?” Tanya Ben sambil membantu Fiona membuka coat yang di kenakan Fiona.

“Aku bisa pulang sendiri, aku takut kamu sibuk.” Fiona menatap Ben dengan tatapan lembutnya.

Tiba-tiba Ben merasa ingin sekali memeluk tubuh mungil Fiona, Akhirnya Ben memeluk tubuh Fiona hingga Fiona menghangat kembali. Ben merasakan sedikit gundukan pada perut Fiona, apa itu hanya perasaannya saja?? Secepat kilat Ben melepaskan pelukannya pada tubuh Fiona. Entah kenapa itu membuat Ben semakin menegang. Rasa canggung tiba-tiba saja muncul di sekitarnya, padaha ia tak pernah merasakan canggug di dekat wanita manapun.

“Aku akan menyiapkan air hangat untukmu, mandilah.” Ucap Ben kemudian sambil meninggalkan Fiona begitu saja. Ben terlalu sibuk mengatur debaran jantungnya yang bahkan ia sendiri tak mengerti kenapa bisa seperti itu.

Sedangkan Fiona sendiri hanya mampu ternganga melihat kelakuan Ben yang terlihat aneh di matanya. Ada apa dengan lelaki itu??

***

Di tempat lain…

“Benar Ma. Amel nggak bohong… Kak Ben pasti sudah tinggal serumah dengan wanita itu.” Amel akhirnya tak bisa menahan diri untuk mengadu pada ibunya tentang apa yang di lihatnya tadi siang di apartemen Ben.”Kak Ben bahkan terlihat sangat mesra dengan wanita itu.” lanjutnya lagi.

“Seperti apa wanita itu..?” Wulan, selaku ibu Ben dan juga ibu Amel akhirnya sedikit penasaran.

“Dia kelihatan baik, sederhana, bahkan secantik kak Sheila.” Kalimat terakhir Amel katakan dengan berbisik karena takut kalau-kalau Sheila mendengarnya.

Mereka kini sedang membahas masalah Ben di kamar Amel, sedangkan Sheila sendiri sejak pulang dari apartemen Ben, wanita itu tak lagi keluar dari kamarnya. hal itu yang membuat  Wulan khawatir dan langsung menanyakan pada anak perempuannya apa yang terjadi tadi siang.

Wulan tampak berfikir. “Emm… sepertinya mama akan menghubungi kakakmu.” Ucapnya kemudian.

“Kak Ben terlihat sedikit berbeda..”

“Apa maksudmu?”

“Emm.. Amel pikir kak Ben lebih tertutup sekarang, dia bahkan tak ingin lagi tinggal serumah dengan kita.

“Mungkin dia sedang sibuk dan capek dengan pekerjaannya.”

“Semoga saja,, Amel hanya merindukan kak Ben yang seperti dulu.” Ucap Amel lalu mendapat pelukan dari Wulan, Ibunya.

***

Fiona keluar dari kamar mandi dan terkejut saat mendapati Ben yang sudah duduk di pinggiran ranjang seakan menunggunya.

Apakah Ben malam ini menginginkan Haknya setelah hampir dua minggu lelaki itu tak menyentuhnya?? Bagaimana jika iya?? Bagaimana jika Ben mendapati sesuatu yang aneh pada tubuhnya?

“Ben?” panggilan Fiona sontak membuat Ben mengangkat wajahnya menatap ke araah Fiona.

Ben kemudian berdiri lalu melangkah menuju ke arah Fiona. “Kamu nggak demam kan??” Tanya Ben dengan suara lembut penuh perhatian sambil membawa telapak tangannya pada kening Fiona seakan merasakan suhu tubuh wanita tersebut.

Fiona menggelengkan kepalanya. “Aku.. Aku nggak apa-apa.” Ucap Fiona sedikit canggung. Ia tak pernah melihat Ben memperlakukannya seperti saat ini. Ben benar-benar terlihat sangat perhatian padanya dan itu membuat Fiona sedikit tak nyaman.

Ben kemudian menarik tangannya, lalu sedikit menjauhkan tubuhnya dari tubuh Fiona. Ben mengusap tungkuknya sendiri seakan ia Frustasi dengan kecanggungan yang tercipta di antara mereka.

“Aku membuatkanmu cokelat hangat, minumlah.” Ucap Ben ambil menunjuk segelas minuman cokelat yang maasih terlihat mengepul di meja kecil sebelah ranjangnya.

Tak mau tenggelam dalam kecanggungan, akhirnya Ben memutuskan untuk pergi. Ia benar-benar tak bisa selalu dalam situasi canggung jika di dekat Fiona.

“Kamu mau ke mana?? Nggak tidur di sini??”

Pertanyaan Fiona membuat Ben menghentikan langkahnya. “Aku ke ruang kerja sebentar, ada yang harus ku urus.” Kemudian Ben meninggalkan Fiona begitu saja dengan setumpuk pertanyaan di kepala wanita itu.

Ben benar-benar tampak berbeda, apa yang terjadi dengan lelaki itu?? Fiona kemudian meraba dadanya yang tak berhenti berdegup semakin kencang ketika Ben tadi berada di dekatnya. Apa juga yang terjadi dengan dirinya saat ini???

 

-To Be Continue-

Passion Of Love – Chapter 7

Comments 7 Standard

cast1Sang Kupu-kupu Malam

 

Note : Chapter ini banyak mengalami rombakan dariku, jadi ini bener2 sedikit berbeda dengan Chapter di Fansfic. happy reading..

 

Chapter 7

 

Di dalam Mobil.. Fiona benar-benar takut. Ben mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata. Tangan Fiona bahkan sedikit gemetar. Ben hanya menatap lurus ke depan tanpa sedikitpun melirik ke arah Fiona yang sudah mulai pucat.

Ben hanya diam, Fiona tau jika Ben sedang marah. Astaga.. apa yang akan terjadi nanti..? apa Ben akan berbuat kasar dengannya..? apa ia akan mendapatkan hukuman?? Pikiran Fiona mulai kalut.

Sesampainya di apartemen. Ben menyeret Fiona dengan kasar, kemudian dia menghempaskan tubuh Fiona di sofa panjang ruang tamunya. Ben lalu menyingsingkan lengan kemejanya dengan gusar. Dan itu membuat Fiona takut. Ben terlihat sangat marah, tatapan matanya tajam membunuh.

“Aku nggak suka melihat kamu dekat dengan dia.” Ben bicara dengan nada dingin, menekan dan mengancam.

“Kee.. kenapa..?”

Ben maju menunduk lalu mencengkeram rahang Fiona, mendongakan wajah Fiona keatas. “Kenapa.?? karena kamu sudah jadi milikku, ingat.. aku sudah menebusmu.” Ben menjawab dengan sedikit seringaian khas miliknya.

“Ben..”

“Sshhttt… Diam…”  Ben menjelajahi wajah Fiona dengan jari telunjuknya. “Semua yang kamu punya adalah milikku. Kamu tidak boleh membantah dan tidak boleh di sentuh oleh siapapun.” Ucapnya lalu mulai menyambar bibir Fiona dengan kasar, melumatnya bahkan sesekali menggigitnya, seakan memberikan hukuman bagi Fiona karena sudah dekat dengan lelaki lain.

Fiona sendiri merasakan jika Ben sudah terbakar oleh gairah. Sesuatu yang keras dan berdenyut menempel di perut bawahnya, seakan ingin segera di bebaskan. Fiona sedikit meronta, sedangkan Ben masih belum ingin mengakhiri hukumannya.

Ben bahkan sudah melucuti pakaian Fiona dan  memenjarakan kedua tangan Fiona ke atas kepalanya. Lalu menyerang Fiona dengan berbagai macam serangan erotis yang membangkitkan gairah.

Ben sedikit menurunkan celananya dengan cepat, membebaskan kejantanannya dari celananya yang seakan menyesakkan. Ia kemudian memposisikan dirinya untuk kembali mendindih Fiona, lalu tanpa aba-aba, Ben menyatukan diri dengan sedikit kasar pada tubuh Fiona.

Fiona sendiri hanya mampu mengerang panjang. Bibirnya kembali di bungkam oleh bibir Ben, membuatnyaa kesulitan untuk bernapas. Lelaki yang menindihnya ini benar-benar gila. Gila karena gairah dan juga karena emosi. Hingga kemudian puncak kenikmatan itu di capai oleh Ben saat lelaki itu mengerang panjang.

Ben tersungkur di atas tubuh Fiona. Napas lelaki itu masih terputus-putus, begitupun dengan Fiona. Kemudian Ben mengangkat kepalanya, menempelkan keningnya pada kening Fiona. Dan mulai berkat dengan nada penuh ancaman.

“Aku benar-benar nggak suka melihat kamu dekat dengan lelaki lain.” Fiona hanya terdiam mendengar ucapan Ben. Kemudian Ben menarik diri, membenarkan letak celananya, lalu pergi masuk ke dalam kamarnya begitu saja meninggalkan Fiona yang masih berantakan di sofa ruang tamunya.

***

Malamnya….

Mereka berdua makan bersama dalam keadaan saling berdiam diri. Fiona tadi memasakkan masakan sederhana untuk Ben dan juga dirinya sendiri. Fiona pikir, Ben tak mau memakannya, nyatanya lelaki itu memakan masakannya dengan lahap.

“Kamu bisa memasak juga ya..” Ben akhirnya angkat bicara sambil mengunyah makanan.

“Hanya sedikit, yang sederhana saja.”

“Masakanmu enak, aku mau kamu memasak untukku setiap hari.” Ucap Ben lagi tanpa ekspresi dan masih dengan melihat ke arah makannannya.

Fiona hanya tercengang, terkejut dengan apa yang di kataakan Ben. Apa mereka akan memainkan peran sebagai suami istri?? Dan dirinya akan berperan sebagai istri yang selalu memasakkan suaminya?? Ayolah, jangan terlalu GR Fi… Pikir Fiona kemudian.

“Nanti ikutlah bersamaku.”

“Kemana??” Tanya Fiona sedikit bingung.

“Kita ke dokter, dan memasang alat kontasepsi untukmu.”

“Aku tidak mau.” Ucap Fiona denga cepat.

Ben kemudian menatap Fiona dengan tatapan tajamnya. Sedagkan Fiona menelan ludahnya dengan susah payah saat mendapatkan tatapan seperti itu dari Ben.

“Emm.. maksudku, bukannya aku tidak mau menghambat kehamilan, tapi aku hanya takut jarum suntik, dan aku nggak mau di suntik.” Jawab Fiona dengan cepat.

“Kita akan menggunakan alat kontrasepsi lain,.” Jawab Ben dengan datar lalu kembali melanjutkan makan malamnya. Sedangkan Fiona hanya mampu pasrah dengan apapun keputusan yang di ambil oleh Ben.

***

Malam itu juga keduanya ke rumah sakit, berkonsultasi dengan dokter. Dan akhirnya Fiona hanya mau memilih Pil KB sebagai alat kontrasepsi mereka.

Rasa canggung menghampiri diri Fiona. Mereka seakan sudah seperti sepasang pengantin baru yang baru akan membina keluarga baru. Bagaimana pun juga ini pertama kalinya untuk Fiona bisa angat dekan dan sangaat intim dengan seorang lelaki, tidak, maksudnya bukan dekat secara Fisik, tapi kedekatan lain yang baru Fiona rasakan dengan Ben. Bahkan Fiona tak pernah merasa sedekat ini dengan Angga.

Mengingat nama Angga, Fiona sedikit sedih. Bagaimana kabar lelaki itu? apa lelaki itu merindukannya??

“Kenapa wajahmu murung seperti itu?” tanya Ben dengan datar dan dengan pandangan yang masih lurus ke depan.

“Emm.. Aku.. Aku ingin kerja.” Jaawab Fiona kemudian.

“Kerja?? Kamu butuh uang?? Kalau butuh, kamu tinggal bilang.”

Fiona menggelengkan kepalanya cepat. “Bukan, bukan karena uang, tapi, aku tidak mungkin di dalam apartemenmu sepanjang hari. Itu akan membuatku bosan.”

“Lalu kamu mau kerja apa?? Kembali ke tempat terkutuk itu? Huh, Jangan harap aku kembali melepaskanmu ke sana.”

Walau di ucapkan dengan nada sinis, tapi entah kenapa Fiona menghangat mendengar ucapan dari Ben. Setidaknya Ben tak akan pernah membiarkan dirinya masuk lagi ke dalam dunia malam yang gelap seperti kehidupan yang selama ini dia jalani.

“Tidak Ben, em, temanku memiliki kafe. dulu, aku berencana kerja di sana setelah aku melunasi hutang-hutangku pada Mr. Jonas dan keluar dari dunia malam. Karena saat ini aku sudah keluar dari dunia malam, aku ingin melanjutkan rencanaku tersebut.”

“Kamu yakin itu hanya kafe biasa??” Tanya Ben sambil memicingkan matanya ke arah Fiona.

“Ya, aku yakin. Bahkan kamu boleh main ke sana.” Ucap Fiona meyakikan.

Ben menganggukkan kepalanya. “Baiklah, kamu boleh bekerja. Tapi Vano tetap akan mengawasimu, dia yang akan mengantar jemputmu nanti.”

Fiona hanya mampu menganggukkan kepalanya. Tentu saja, Bukankah saat ini ia hanya seorang tawanan bagi Ben?? Hanya seorang buruh seks dari lelaki tersebut. Ben pastinya sudah menghabiskan banyak uang untuk menebus kebebasannya. Dan ia harus tau diri tentang hal itu.

***

Beberapa bulan sudah berlalu. Hari-hari yang di lalui Fiona terasa sangat cepat. Setiap harinya ia sibuk mengurus Ben. Tentu saja lelaki itu bukan hanya bercinta dengannya. Ben bahkan tanpa canggung lagi menyuruhnya ini dan itu, menyiapkan segala perlengkapan kerjanya, bahkan sesekali menyuruhnya mengirimkan bekal makan siang, dan itu membuat Fiona semakin tak nyaman. Bukan karena Fiona tidak suka, tapi karena Fiona takut dirinya tenggelam semakin dalam pada angan-angannya menjadi istri seorang Benny Andrean.

Tentu saja Fiona selalu berangan-angan seperti itu. Sikap Ben yang semakin hari semakin melembut padanya membuat Fiona seakan jatuh bangun karena perasaannya sendiri. Fiona tak menampik jika kini ia merasakan perasaan sayang untuk Ben. Lelaki yang baginya adalah seorang penyelamatnya dari dunia malam.

Dan juga… Ayah dari bayi yang kini sedang di kandungnya…

Sudah satu bulan ini Fiona tau jika dirinya sudah berbadan dua. Dan Fiona benar-benar tak berani memberitahukan keadaannya pada Ben atau pada siapapun.

Satu bulan yang lalu…

Fiona berjalan dengan tubuh yang sedikit gemetar. Ia takut jika sesuatu yang di pikirkannya menjadi kenyataan. Sudah beberapa hari terakhir ia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Selalu mual muntah pada pagi hari, indera penciumannya yang semakin tajam dan sensitif terhadap beberapa bau, dan yang paling membuatnya takut adalah periode bulanannya yang sudah terlambat beberapa minggu.

Akhirnya siang itu Fiona memutuskan untuk bertemu dengan Dokter Alice, Dokter yang dulu di kenalkan oleh Ben saat mereka memilih alat kontrasepsi untuk hubungan mereka berdua.

“Hai.. Kamu datang sendiri?” tanya Dokter Alice pada Fiona dengan akrab, karena memang sudah beberapa kali mereka bertemu. Status dokter Alice yang sebagai teman Ben membuat dokter Alice tak canggung-canggung lagi menganggap Fionaa sebagai temannya juga.

Fiona mengnggukkan kepalanya. “Ya, Ben sedang sibuk. Jadi aku sendiri.” Ucap Fiona dengan sedikit gugup.

“Jadi, apa keluhanmu?” tanya Dokter Alice secara langsung.

“Em.. Aku, Aku telat menstruasi, dan Aku takut.” Ucap Fiona maasih dengan kegugupannya. “Emm.. maksudku, aku juga mual muntah dan…”

Dokter Alice tersenyum melihat tingkah laku Fiona. “Kamu takut hamil?” tanya Dokter Alice kemudian.

Fiona menganggukkan kepalanya. “Apa itu mungkin??bukankah aku sudah mengkonsumi obat pemberian darimu?”

“Apa kamu rutin meminumnya?” tanya dokter Alice dengan penuh selidik.

Fiona menganggukkan kepalanya. “Beberapa kali aku lupa, tapi kemudian aku meminumnya lagi keesokan harinya.”

Dokter Alice kemudian berdiri dan mengambil sesuatu dari lemari kecil di ujung ruangannya. “Yang memutuskan kamu hamil atau tidak itu bukan dokter Fi, kami hanya mencoba membantu menunda kehamilan dengan mengendalikan hormon pasien, bukan berarti pasien tidak bisa hamil setelah menggunakan kontrasepsi, beberapa pasien bahkan tetap bisa hamil walau mereka udah menundanyaa dengan kontrasepsi.”

“Jadi.. ada kemungkinan aku hamil??”

Dokter Alice mengangguk. “Coba tes ini, jika hasilnya positif, kita akan melakukan USG supaya lebih pasti.”

 

Akhirnya saat itu Fiona melakukan tes urin sederhana yang ternyata menunjukkan jika dirinya benar-benar positif hamil. Dokter Alice pun melakukan USG, dan ternyata memang sudah terlihat kantung kehamilan di rahim Fiona. Tak lupa dokter Alice berpesan jika ia harus segera memberitahukan kabar gembira itu pada Ben. Tapi sudah sebulan setelah ia tau keadaannya, Fiona belum juga berani memberitahukan keadaannya pada Ben.

Fiona hanya takut jika lelaki itu marah dan kembali bersikap kasar padanya. Bebeberapa saat yang lalu, setelah ia mengetahui keadaannya yang sudah berbadan dua, Fiona memancing Ben untuk sedikit bercerita tentang masalalunya. Dan itu membuat Fiona takut membahas kehamilannya dengan Ben.

Saat itu….

Mereka sedang terbaring di tempat tidur Ben, seperti biasa.. mereka selesai melakukan kegiatan panas harian mereka. kemudian tiba-tiba ada yang menggelitik fikiran Fiona. Fiona  ingin bertanya banyak tentang diri Ben. Bahkan tentang kehidupan pribadi lelaki itu, karena selama ini hanya Ben  yang tau kehidupanya, sedangkan Fiona sama sekali tak tau apaapun tentang diri Ben.

Ben..Panggil Fiona sedikit ragu-ragu.

“Hemmbb..” Ben menjawab dengan malas-malasan.

“Emmm… apa kamu nggak menikah..?” pertanyaan Fiona terlihat mengejutkan Ben. Lelaki itu  langsung membuka matanya seketika.

“Kenapa kamu bertanyaa tentang itu..?” suara Ben terdengar dingin.

“A.. Aku,, Aku.. hanya ingin mengenalmu lebih jauh.” Fiona benar-benar takut ketika Ben menampakkan ekspresi dinginnyahingga suara Fiona terassa tercekat di tenggorokan.

Ben menatap Fiona, lalu membelai kepala Fiona.“Aku tidak akan pernah menikah.” Jawabnya singkat, kali ini dengan nada lembut, tidak dingin seperti tadi.

Kenapa??” Tanya Fiona lagi dan masih tersendat-sendat.

“Aku tak suka terikat dan tak suka berkomitmen.”

“Bagaimana dengan keturunan, maksudku keluargamu pasti ingin keturunan.”

“Aku punya adik, dia pasti akan memberikan keturunan.”

“Bagaimana dengan keturunanmu sendiri..?” Fiona masih memberanikan diri bertanaya lagi.

“Aku tak mau keturunan.”

Kenapa??

“Aku tak suka anak kecil, mereka terlalu berisik.”

“Baa.. bagaimana.. jika.. aku hamil..?”

Kamu tidak mungkin hamil, tapi jika itu mungkin, Aku akan memaksamu aborsi.” Jawab Ben dengan enteng.

Apa?” Fiona membelalakkan matanya, tak percaya jika Ben mengatakannya semudah itu. “Apa kamu pernah melakuan itu sebelumnya..?” lanjut Fiona lagi.

“Iya.. pernah, dengan teman kencanku karena keteledoran bodohku.” Fiona masih tak dapat berkata-kata saat mendengar pengakuan dari Ben. “Aku tak pernah berhubungan lebih dari tiga kali dengan perempuan yang sama, aku juga tak pernah berhubungan tanpa pengaman, aku pernah membuat satu teman kencanku hamil karena aku melakukannya pada saat mabuk sampai tak sadar jika melakukan itu tanpa pengaman, ketika dia hamil aku mengantarnya ke dokter yang paling bagus, lalu memberinya Cek lebih dari cukup, dan dia mau aborsi dan tutup mulut. Itu akan berlaku juga denganmu sayang.” Ben bercerita dan memandang Fiona sambil mengelus pipi Fiona. Astaga.. ternyata lelaki di sebelahnya ini adalah lelaki yang amat sangat kejam, Fiona bersumpah jika ia tak akan memberitahukan kedaannya pada Ben.ia hanya perlu mencari caraa supaya bisa lepas dari genggaman lelaki itu sebelum perutya mulai membesar.

 

Fiona menghela napas panjang, kemudian mengusap lembut perutnya yang kini sudah tak sedatar dulu, ia merasakan sebuah kedutan di dalam sana. Kehamilannyaa kini mungkin sudah berusia ssekitar tiga bulan, dan itu membuat Fionaa semakin pusing untuk memikirkan cara supaya bisa lepas dari genggaman tangan Ben.

Mengingat nama itu membuat Fiona sedikit bingung dengan tingkah lelak itu. Akhir-akhir ini, Ben semakin perhatian padanya, dan Ben sudah tak pernah laagi menyentuhnya selama lebih dari dua minggu terakhir. Ada apa?? Apa lelaki tu ssudah bosan terhadapnya?? Mengingat itu Fiona sedikit sedih, tapi juga sedikit senang. Jika Ben sudah bosan dengan tubuhnya, mungkin dalam waktu dekat lelaki itu akan melepaskannya, itu tandanya ia tak perlu pusing lagi menutupi kehamilannya dari lelaki terebut.

Ketika sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba Fiona mendengar pintu depan apartemen en di buka oleh seseorang. Apa Ben sudah pulang?? Tapi ketika Fiona bergegas melihat si pembuka pintu tersebut, langkah terkejutnya Fiona mendapaati dua orang gadis sedang berdiri di tengaah-tengah ruang tamu apartemen Ben.

“Kamu siapa? kenapa kamu berada di sini?” Tanya salah satu gadis dengan tubuh lebih kecil.

“Maaf.. anda berdua siapa? kenapa anda bisa masuk kemari?” tanya Fiona dengan bingung. Setau Fiona, yang mengetahui password apartemen Ben hanyalah dirinya, Vano, sekertaris pribadi Ben dan juga Ben sendiri.

Bukannya menjawab pertanyaan Fiona, kedua gadis di hadapannya itu malah menatap Fiona dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan penuh selidik.

“Amel, apa ini benar-benar Apartemen Kak Ben? apa kamu nggak salah masuk.?” Tanya gadis satunya yang memiliki paras sangat cantik.

“Tidak kak Sheila, Aku memang sudah lama tidak mengunjungi kak Ben, tapi aku sangat yakin jika kak Ben tidak akan pindah tanpa sepengetahuanku dan juga mama.” jawab gadis keecil yang bernama Amel tersebut

“Lalu dia siapa?” Gadis yang bernama Sheila itu bertanya lagi dengan wajah bingung sambil menunjuk ke arah Fiona.

“Aku tidak tau.” Jawab Amel.

“Apa dia kekasih Kak Ben?” Tanya Sheila lagi ketika melihat Fiona yang hanya mengenakan pakaian santai dan juga celemek seperti orang yang sedang memasak.

“Hahahah itu nggak mungkin, aku tau pasti, Jika kak Ben hanya memiliki seorang kekasih, dan dia hanya kak Sheila.” Jawab Amel dengan penuh keyakinan.“Tunggu sebentar, aku akan meneleponnya.” Lanjut Amel lalu mulai mengeluarkan dan menggesek-gesek ponselnya.

“Kak, kak Ben di mana? kenapa tidak di rumah?” Tanya Amel dengan suara manjanya.

“Aku masih di jalan,” jawaban singkat dari orang di seberang telepon.

“Aku ke apartemen kakak, tapi kak Ben nggak ada, emm.. dan siapa perempuan di apartemenmu ini kak??” tanya Amel dengan sedikit ragu.

Apa? apa yang kamu lakukan di sana? aku sudah berkali-kali bilang ‘aku tidak suka kalian mengusik kehidupan pribadiku’.” Ben terdengaar sedikit marah..

“Aku nggak ngusik kok, aku cuma ingin menemui kak Ben.” Lagi-lagi Amel sedikit merengek manja.

Oke, tunggu di sana, jangan sentuh apa pun, aku akan segera sampai.” Lalu tanpa aba-aba Ben menutup teleponnya.

“Huhh… Apa dia fikir aku seorang penguntit? Aku kan adik kandungnya sendiri, bagaimana mngkin dia menganggapku mengusik hidupnya..” gerutu Amel, sedangkan Sheila hanya sedikit tersenyum melihat kelakuan gadis yang lebih muda di hadapannya.

Sedangkan Fiona sendiri walau masih bingung, ia mencoba menetralkan perasaannya, mungkin gadis yang bernama Amel tersebut adalah adik dari Ben, sedangkan gadis yang bernama Sheila itu.. kekasih lelaki itu.

Mengingat kemungkinan itu membuat Fiona memejamkan matanya, entah kenapa rasa sesak ia rasakan begitu saja di dadanya. Fiona akhirnya memutuskan untuk kembali ke dapur melanjutkan kegiatannya tadi untuk memasak makan malam untuk Ben.

***

Beberapa saat kemudian….

“Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Ben dengan gusar katika sampai di dalam apartemen nya tanpa melihat siapa yang ada di hadapannya.

Amel dan Sheila yang kaget dengan kedatangan Benn yang gusar dan sedikit berteriak langsung berdiri dari tempat duduknya.Bahkan Fiona pun yang masih berada di dapur seketika menuju ke ruang tamu ketika mendengar teriakan dari Ben. Sedangkan Ben sendiri ketika sadar siapa yang berdiri di hadapannya hanya terdiam membatu, menatap sesosok gadis yang sudah sekitar 5 tahun tak di temuinya.

“Kak Ben… Aku kangen..” Ucap Sheila sambil berlari memeluk Ben. Ben masih saja membatu walau tubuhnya kini sudah dalam pelukan seorang gadis yang pernah benar-benar ia sayangi. Di balik pelukannya samar-samar Ben melihat Fiona yang sedang berdiri ternganga melihatnya. Fiona seakan mencoba memahami apa yang terjadi di antara mereka.

-TBC-

Sedikit beda kan??  hahahahha happy waiting untuk Chapter sselanjutnya, yang pastinya banyak menglami dempulan dariku.. hueehehhehehe

fh1Note lagi nih… Coming soon My Wife (Fansfic koreaku) Versi indo dengan judul Full house hahhahaha

 

Passion Of Love – Chapter 6

Comments 3 Standard

SkkmSang Kupu-kupu Malam

 

Menanggapi komentar Unni Uchie Vitria di chapter sebelumnya, katanya dia masih suka mikirin Kim joon aka Choi seung hyun saat baca cerita ini, hahahhaaha jujur aja, aku juga masih mikirin Choi seung hyun dan yoon eun hye saat nulis Ben dan Fiona ini, wkwkkwkwkwk makanya, kali ini aku coba carikan Cast lain seperti di atas, kebetulan teman2 di wattpad juga minta Cast mereka. semoga cocok yaa jadi Ben dan Fiona.. hahhahahahah

*Remake Fansfic korea The passionnate of love -Banyak mengandung unsur dewasa-

 

Chapter 6

 

“Bagaimana rasanya?”  Ben bertanya pada Fiona tentang pasta yang ia masak pagi itu, menu sarapan mereka setelah bercinta.

Masak.?? Ben tak habis pikir dengan dirinya sendiri, Ia masak untuk wanita yang saat ini duduk di hadapannya. Memangnya siapa wanita itu? kenapa wanita itu bisa merubahnya menjadi sedikit mncair?? jujur saja, Ben tak pernah memperlakukan wanita seistimewa itu. Mengingat percintaannya semalam dengan Fiona membuat Ben heran dengan dirinya sendiri. Apa yang terjadi pada dirinya?

Ben selalu bercinta dengan wanita sekasar mungkin, karena Ben tak ingin melibatkan perasaan emosional. Ben juga tak sudi bercinta dengan mereka tanpa menggunakan pengaman. Tak pernah sekalipun ia bercinta dengan mencumbui seluruh tubuh anita-anita yaang penrah di tidurinya. Namun entah kenapa berbeda ketika dengan wanita di hadapanya saat ini. Ben amat sangat menginginkannya. Bahkan ia tak ingin menyentuhnya dengan pengaman. Padahal jelas-jelas Ben tau resikonya. Pada detik ini, Ben sadar jika ia sangat terobsesi dengan tubuh Fiona. Apa yang dimiliki wanita itu hingga mampu menariknya semakin dalam pada gairah yang sseakan tak bertepi??

“Emm.. rasanya enak, ternyata kamu pintar masak yaa..” jawab Fiona sambil menyuapkan pasta kedalam mulutnya lagi. Ben tersenyum miring, kini ia tau jika wanita di hadapannya cukup suka dengan pasta.

“Tentu saja.” Jawab Ben dengan datar. “Mulai hari ini pindahlah ke sini” tanpa basa-basi lagi Ben mengutarakan maksudnya.

Fiona tersedak seketika. Ia terbatuk-batuk sambil memuku-mukul dadanya. Ben kemudian berlari kearah Fiona dan menepuk-nepuk punggung wanita tersebut.

“Kamu kenapa? Minum ini.” Ucap Ben sambil dengan khawatir sambil menyodorkan segelas air putih untuk Fiona.

“Apa maksudmu Ben?” Tanya Fiona tajam setelah ia enakan.

“Apa kurang jelas? aku menyuruhmu pindah ke sini.” Ben menjawab dengan datar meski tak mengurangi kesan dingin dan tak ingin di tolak pada ekspresi wajahnya.

“Tapi kenapa aku harus pindah kesini..?”

“Kamu milikku, ingat.” Fiona membelalakkan matanya. “Aku sudah menebusmu. Jadi sekarang kamu milikku.” Lanjut Ben lagi dengan kearoganannya.

“Apa?? Tapi aku tidak menyuruhmu untuk menebusku.”

“Tapi aku menginginkannnya.. aku ingin menebusmu dan memilikimu seutuhnya tanpa di sentuh lelaki lain.” Rahang Ben terlihat mulai mengeras, ia mulai terpancing oleh amarah. Ya,  karena Ben pada dasarnya adalah orang yang gampang sekali marah.

“Ben, Kamu bisa mencari wanita lain, kenapa harus aku?” Fiona  masih saja tak mau mengalah.

“Kamu pikir  aku bisa bergairah dengan wanita lain setelah aku bercinta denganmu malam itu, Hah?” Ben berdiri dengan sangar, membentak Fiona sambil menggebrak meja. Sedangkan Fiona sendiri terlihat  meringsut ketakutan. “Maafkan aku, aku hanya ingin kamu di sini, bersamaku.” Ben segera menurunkan nada bicaranya yang meninggi. Ia tak ingin membuat Fiona takut.

“Ba.. Baiklah.. tapi bagaimana dengan Kak Marsha? dia baru saja melahirkan, aku nggak bisa meninggalkannya sendiri.”

“Kamu jangan  khawatir, Aku sudah mengurusnya, dia akan kupindahkan ke apartemen yang lebih bagus, dan aku akan membayar seseorang untuk membantu dia dan merawat bayinya.” Ben menatap ekpresi terkejut dari Fiona yang entah kenapa itu membuat Ben semakin gemas.

“Ben, kamu nggak perlu melakukan semua ini untuk….”

“Aku akan melakukan semuanya untuk wanitaku.” Ben memotong kalimat Fiona dengan tegas.

Fiona terharu, Matanya berkaca-kaca. Ben mengusap pipi Fiona dengan lembut.“Sudahlah.. lanjutkan sarapanmu, lalu mari kita membereskan barang-barangmu.” Ucap Ben dengan lembut pada Fiona. Sedangkan Fiona hanya bisa mengangguk.

“Bagaimana perilakuku tadi malam? aku tidak kasar terhadapmu kan? kamu menikmatinya kan?” Ben mencoba menggoda Fiona, mencairkan suasana yang tadi sedikit menegang.

Lagi-lagi Ben tak habis pikir, Apa yang terjadi dengannya? bukannya biasanya ia yang selalu membuat suasana menjadi tegang? Ben menggelengkan kepalanya pelan, Ia benar-benar sudah gila.

“Ben…” Fiona menjawab sambil menundukkan kepalanya. Ben tau jika wanita itu sedang malu, Pipi Fiona bahkan terlihat merona merah. Dan itu membuat Ben kembali ingin mencumbui Fiona habis-habisan.

“Kenapa? apa kamu nggak pernah mendapatkan perilaku seperti itu dengan Klienmu?”

Fiona enggelengkan kepalanya. “Tak ada pelanggan yang memperlakukan seorang pelacur sehangat tadi malam, seistimewa itu.” Jawab Fiona masih dengan menundukkan kepalanya. Ada nada sedih yang dapat di rasakan oleh Ben pada suara yang baru saja terdengar dari bibir Fiona.

“Ya… memang…” Ben mengangguk dan menuju kearah Fiona. “Tapi aku akan memperlakukan Pelacur Pribadiku seperti itu. Seistimewa itu.” Lanjut Ben lagi, kali ini sambil menggendong pak sa tubuh Fiona menuju ke kamarnya.

Fiona hanya mampu memekik karena terkejut. Tapi kemudian cumbuan-cumbuan kecil dari Ben membuat Fiona luluh sambil sesekali terkikik geli. Keduanya kemudian kembali melakukan aktifitas panas seperti malam sebelumnya. Kembali saling mendesah dan mengerang seakan tak ada sesuatu apapun yang dapat menghentikan aksi mereka.

***

Fiona masih tak mengerti apa yang terjadi pagi ini. Baginya, semuanya terlalu cepat. Ben bersikap seolah-olah hubungan mereka berdua bukan hanya sebatas partner seks semata. Bahkan Ben seakan menunjukkan jika dirinya begitu bertanggung jawab pada hidup Fiona.

Kini Fiona berdiri di rumah kontrakannya yang sudah berantakan karena mereka akan pindah seperti apa yang sebelumnya di katakan Ben.

Marsha dan Bayinya akan pindah ke Apartemen yang lebih bagus, tetunya semua itu atas kemauan Ben. Sedangkan Fiona sendiri akan pindah dan tinggal seatap dengan Ben di Apartemennya.

Fiona sendiri masih tak mengerti apa yang ada dalam pikiran Ben. Kenapa Ben memilih dirinya?? Lalu mengajaknya tinggal seatap?? Lalu bagaimana jika hubungan mereka nanti berakhir? Hubungan? Fiona menggelengkan kepalanya cepat. Ingat Fi, Kau hanya buuh seksnya, tidak lebih. Pikir Fiona kemudian.

Tapi kemudian Fiona teringat akan kelembutan Ben tadi malam maupun pagi tadi, membuat diri Fiona seakan merasa di istimewakan. Apa ia memang istimewa untuk seorang Ben?? Ahh yang benar saja. Lagi-lagi Fiona tenggelam degan pikiran-pikirannya.

“Bagaimana? apa semua sudah beres?” Samar-samar Fiona mendengar suara berat milik Ben, kelihatannya Ben sedang berbicara dengan Marsha di ruang tengah. Astaga… bahkan suaranya saja mampu mendirikan bulu-bulu halus di tengkuk Fiona.

“Ya, tinggal sedikit lagi. Aku benar-benar berterimakasih padamu Ben.” jawab Marshaa sambil menyuggingkan senyum bahagianya. Ben terlihat menganggukkan kepalanya, sesekali tersenyum tipis. Astaga.. Sudah berapa kali Fiona melihatnya tersenyum itu pagi ini

“Heii.. kamu sedang apa? Sedang mikirin Ben??” Fiona tersentak kaget saat mendapati Marsha sudah berdiri tepat di hadapannya. Sedangkan Ben terlihat sedang berbicara dengan orang-orang dari  jasa angkut barang yang dia sewa.

“Tidak.” Jawab Fiona. Fiona tak ingin Marsha tau jika kini dirinya memng sedang benar-benaar memikirkan lelaki itu.

“Apa kamu yakin ini keputusan terbaik?” Marshaa terlihat sangat menghawatirkan Fiona.

“Entahlah Kak… aku nggak bisa membantahnya. Bagaimnapun juga dia sudah menebusku, dan itu tandanya aku sudah jadi miliknya”

Marsha menganggukkan kepalanya. “Bagaimana sikapnya terhadapmu?”

“Sejauh ini dia baik, itu saja..”

“Bagaimana dengan Angga?”

Mendengar nama itu Fiona membulatkan matanya seketika.  Astaga… ia benar-benar tlah melupakan lelaki itu sejak semalam. Apa Angga maasih sseti menunggunya di parkiran tempat kerjanya?? Ahh semoga saja tidak.  Pikir Fiona.

“Kak.. Aku harus segera menghubungi Kak Angga…”  Ucapu sambil bergegas keluar. Tapi baru saja berjalan beberapa langkah Fiona sudah menubruk dada bidang seseorang. Fiona kemudian mendongak ke atas dn melihat Ben sudah berdiri tegap dengan sepasang matanya yang tajam, mata tajam yang berbeda dengan mata lembut yang menatapnya tadi pagi. Apa yang terjadi?? Ada apa dengan Ben? “Ke..Kenapa??” Tanya Fiona dengan terpatah-patah karena ia sedikit takut menatapnya.

“Ada yang mencarimu di luar.” Jawab Ben dengan dengan nada dingin.

“Siapa?”

Ben tidak menjawab tapi malah meninggalkan Fiona begitu saja. Fiona benar-benar bingung dengan sikap Ben saat ini. Akhirnya Fiona keluar dan ia melihat Angga yang sedang berdiri di ambang pintu untuk menunggunya.

“Kak Angga..” Dengan spontan Fiona berlari memeluk lelaki di hadapannya tersebut. “Maafkan aku.. Astaga.. apa tadi malam Kak Angga menungguku??”

Angga mencoba menyunggingkan senyuman ramahnya.“Ya.. aku menunggumu hingga club di tutup. Ada apa? aku melihat kamu keluar dengan seorang lelaki, tapi aku tetap menungguu, tapi kamu teetap nggak balik lagi.”

“Emmm.. ceritanya panjang Kak.” Fiona bingung harus bagaimana menjelaskan pada Angga. Ia tak mungkin menjelaskan dengan gamblang masalah kebebasan yang di tukar dengan tubuhnya.

“Aku punya waktu untuk mendengarkan semuanya.” Angga mendesak.  Dan Fiona akhirnya menghela nafas panjang, ia memang harus meneritakan semuanya pada Angga.

Mereka kemudian duduk di bangku depan rumah kontrakan Fiona. Fiona lalu menceritakaan semua tentang ia dan Ben, tentang Ben yang sudah menebusnya dan juga tentang ia yang kini secara tidak langsung sudah menjadi milik seorang Benny Adrean.

Tampak Ekspresi keras yang di perlihatkan Angga. Padahal selama ini Angga tak pernah terlihat berekspresi seperti itu di hadapan Fiona. Kenapa?? Apa lelaki itu marah??

“Jadi kamu akan tinggal dengannya?”  Tanya Angga yang kemudian membuat Fiona menganggukkan kepalanya.

Tanpa di duga, Angga kemudian berdiri lalu melangkah masuk ke dalam rumah kontrakan Fiona, sedangkan Fiona sendiri secara spontan mengikuti Angga di belakangnya.

“Aku ingin bicara denganmu.” Ucap Angga dingin ketika ia berada tepat di hadapan Ben.

“Bicara saja.” Ben yang sedang duduk menanggapi dengan cuek tanpa menatap ke arah Angga sedikitpun.

“Aku ingin menebus Fiona kembali. Katakan berapa hargamu.” Kata Angga lagi dengan tegas.

Fiona hanya mampu ternganga. Apa kini Angga sedang menawar dirinya??

Ben yang tadi masih duduk santai kemudian Berdiri tepat di hadapan Angga, ia menatap angga dengan tatapan membunuhnya. “Carilah wanita lain.” Ucap Ben kemudian dengan nada tenang tapi penuh penekanan.

“Aku tak mau wanita lain.. aku hanya menginginkan…..”

“Aku juga hanya menginginkan Fiona.” Ben memotong kalimat Angga denga tegas.

Fiona kemudian maju, ia memeluk sebelah lengan Angga dan sedikit menyeretnya mundur, supaya ketegangan yang terjadi di antara keduanya sedikit mencair. “Kak, sudahlah, aku nggak….” kalimat Fiona terhenti ketika ia melihat tatapan mata Ben yang sudah menatap ke arah lengan Angga yang sedang di peluknya.

Tatapan itu begitu tajam, seakan mampu merobek apapun di hadapannya. Suasana di sekitar mereka pun menjadi semakin tegang. Seketika itu juga Fiona melepaskan rangkulan tangannya pada lengan Angga.

“Kita Pulang sekarang.” Ucap Ben dingin sambil menyambar lengan Fiona lalu menyeret Fiona keluar menuju ke dalam mobinya.. Angga sendiri hanya mampu memanggil-manggil nama Fiona karena Marsha terihat sedang mencegah tubuh Angga supaya tidak mengikuti Ben dan Fiona.

Fiona menatap Angga dan juga Marsha dari dalam mobil Ben. Dan itu membuat hatinya terasa sakit. Ia tidak ingin di pisahkan dengan Marssha ataupun Angga, tapi bagaimana lagi, ia sadar, kini dirinya merupakan milik dari seorang Ben, dan ia tak dapat memungkirinya. Mengingat nama Ben, Fiona takut saat melihat mata Ben yang penuh dengan amarah., apa yang akan di lakukan Ben nanti padanya?? Apa nanti Ben akan berlaku kasar padanyaa??

-TBC-

 

kinopoisk.ru

Fiona Adelia

 

jake madden

Benny Andrean

Passion Of Love – Chapter 5

Comments 6 Standard

Skkm

Sang Kupu-Kupu Malam

 

Haii… aku balik lagi dengan Bang Ben nih.. hhahahahha.. Betewe.. Chapter ini sedikit Beda dengan Chapter di Fansfic karena aku menambai Scenenya yaa.. hahahha okay.. enjoy reading…

 

Chapter 5

 

Lelaki itu hanya menyeringai dengan senyuman sinisnya yang khas sambil menuju ke arah Fiona. “Aku ingin menjadi pelanggan tetapmu.” Jawab Ben kali ini dengan memepet tubuh Fiona dengan Pintu. Edangkan Fiona hanya dapat menunduk malu.

“Pelanggan Tetap?? Apa maksudmu,??” Fiona masih tak mengerti apa yang di bicarakan Ben.

Bukannya menjawab Ben malah mencengkeram rahang Fiona, mendongakkannya ke atas, lalu mencumbunya habis-habisan. Fiona lagi-lagi hanya bisa menikmatinya. “Aku merindukan ini..” bisik Ben di sela-sela cumbuannya. Fiona membalas ciuman Ben dengan melingkarkan lengannya ke leher Ben sambil sesekali mengerang. Ben yang merasakan Fiona sudah ikut terpancing dengan gairahnya, akhirnya tersenyum di sela-sela cumbuannya.

“Kenapa? Tanya Fiona ketika mengetahui Ben tersenyum dalam cumbuannya.

“Tidak, ku pikir sekarang belum waktunya sayang..” jawab Ben sambil menatap Fiona dengan tersenyum. “Kita tidak akan melakukannya di sini, tapi di apartemenku.” Lanjutnya lagi membuat Fiona membelalakkan mata.

“Kamu Berani bayar berapa? Di sini aku di bayar Per jam. Kalau ke apartemenmu dulu sayang buang-buang waktu.”

Ben malah tertawa mendengar penjelasan Fiona. “Rupanya kamu sudah sangat merindukan aku, heh?” Ucapnya sambil memegang dagu Fiona. Ben kemudian mengeluarkan sebuah Ponsel dari sakunya. Dia terlihat menelepon seseorang menyuruhnya masuk keruangan itu. “Mari kita duduk dulu..” Ucapnya mempersilahkan Fiona duduk. Sebenarnya ada apa? dia mau apa? Tanya Fiona dalam hati.

Tak lama pintu pun di buka, masuklah dua orang pria, yang satu Mr. Jonas, atasan Fiona, satu lagi Vano, sekertaris  pribadi Ben.

“Mr. Jonas” kata Fiona sambil berdiri.

Mr. Jonas hanya tersenyum kemudian lelaki paruh baya itu berujar “Fiona, Mulai hari ini kamu sudah bebas dari genggamanku.” Ucap Mr. Jonas sambil memeluk tubuh Fiona.

Apa? Bebas? Kenapa bisa bebas? Fiona yang terkejut hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.

“Kamu pasti kaget kan? berterimakasihlah pada Mr. Benny Andrean karena dia sudah menebusmu dengan harga yang sangat pantas.” Mr. Jonas melanjutkan kata-katanya sambil menunjuk ke arah Ben yang sedang duduk dengan keangkuhannya.

Fiona pun melihat kearah Ben. Ben hanya bisa menyunggingkan senyumannya sambil mengangkat sebuah gelas berisi Wine –isyarat untuk bersulang- lalu meminumnya.

“A..apa maksudnya ini?” Tanya Fiona dengan terpatah-patah, ia masih tak percaya apa yang baru saja di dengarnya.

“Sekarang kalian boleh keluar.” Perintah Ben Pada Mr. Jonas dan juga Vano dengan penuh keangkuhan. Mereka berdua pun keluar meninggalkan Ben dan Fiona yang masih berdiri membatu.

Ben lalu berdiri, memegang kedua bahu Fiona. “Sekarang kamu sudah jadi milikku Fiona. Aku sudah menebusmu..” katanya kali ini sambil mencumbu sepanjang leher Fiona. Fiona pun masih diam membatu, mencerna kata-kata Ben dengan baik, meski tak dapat ia pungkiri jika kini jantungnya berdegup kencang seakan ingin meledak.

“Taa,,, tapi… kenapa aku? kamu bisa mencari wanita lain.”Jawab Fiona sambil memejamkan matanya menikmati cumbuan Ben.

“Aku tidak menginginkan wanita lain,, aku menginginkanmu.” Ucap Ben yang kini dia merambahkan cumbuannya ke punggung Fiona. “Yaa tuhan.. kulitmu sangat halus dan lembut, Aku sangat suka dengan aromamu… Aku sudah tidak bisa menahannya lagi.” Ucap Ben yang kemudian menjauhkan diri dari Fiona. “Ayoo kita ke apartemenku.. Cepat.” Lanjut Ben setengah menggertak.

Merekapun menuju Apartemen Ben dengan cepat. Bahkan Fiona tak menyadari ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya di parkiran tempat kerjanya tadi. Ya.. Siapaa lagi jika bukan Angga yang masih setia menunggunya.

***

Sesampainya Apartemen…

“Egghh…. Egghhh….” Fiona masih saja mengerang di bawah tindihan Ben, membuat Ben tersenyum senang.

“Kau Menikmatinya sayang… Egghhh… Akupun begitu..” ucap Ben Sambil terengah-engah.

Kali ini mereka bercinta dengan pelan, Benn ingin menikmati percintaannya kali ini. Dia melakukannya dengan sangat romantis. Mencumbui setiap jengkal tubuh Fiona, mengaitkan jari-jemarinya pada jaari jemari Fiona. Lampu kamarnyapun dia matikan. Hanya menyisakan remang-remang cahaya dari rembulan yang menembus jendela kaca kamarnya yang sedikit di bukanya.

“Aku suka melihat ekspresimu Ahh…. saat memejamkan mata.. Eggghh…” lanjut Ben lagi..

“Aku… suka mendengar Eranganmu.. ahhh…” Fiona berkata sambil menahan agar puncak kenikmatan itu tidak cepat datang.

“Lepaskanlah sayang… lepaskan…” Ucap Ben saat ia mengetahui kalau Fiona sedang menahan diri.

Ketika Ben mempercepat lajunya dengan gerakan menghujam, Fiona pun tak bisa menahanya, “Ben..aahh…. Astaga…” Ucap fiona ketika dia mencapai puncak kenikmatan itu.

“Yaa.. Sayang… Sebutlah namaku…” Ben pun semakin mempercepat lajunya dan ia pun mengikuti Fiona mencapai puncak kenikmatan itu.

Keduanya berpelukan sambil terengah-engah.. Ben lalu kembali mengecup bibir Fiona, dan menarik diri lalu berbaring di samping Fiona. “Bagaimana? apa kamu menikmatinya..?” Tanya Ben masih dengan nafas tersenggal-senggal.

“Ben..” Pekik Fiona. “kenapa kamu nggak pakai pengaman lagi?” pertanyaan Fiona membuat Ben mentapnya seketika.

“Fiona.. aku nggak akan pernah menggunakan pengaman sialan itu saat bercinta denganmu..” Jawab Ben dengan nada sedikit meninggi.

“Ta.. tapi… apa kamu…”

“Tidak ada tapi…” Potong Ben. “Sekarang tidurlah.. kamu pasti sangat lelah.” Ucap Ben Sambil menyelimuti tubuh mereka yang full naked.. lalu melingkarkan lengan kekarnya di perut Fiona dengan posesif.

Fiona pun terkejut dengan apa yang di lakukan lelaki itu, ia merasa aneh dengan perasaan yang di rasakannya saat ini. Ada rasa nyaman, dan hangat. Astaga .. apa yang sedang terjadi?? Pikiran Fiona pun bingung dan bertanya-tanya. Tak lama dia merasakan napas Ben mulai teratur, Ben sudah tertidur. Fiona merasakan matanyapun mulai berat. Ia pun mulai tertidur di dalam pelukan seorang Benny Andrean.

***

“Pagi…” Sapa Ben pada sepasang mata yang baru saja membuka tepat di hadapannya. Pemilik sepasang mata itupun merasa terkejut memandangi sekelilingnya. Melihat seorang lelaki tampan yang sudah rapi berbalut T-shirt santai dan celana pendek di hadapannya.

“Apa yang sudah terjadi?” Tanya Fiona setengah sadar ketika melihat tubuhnya yang masih telanjang di balik selimut.

Ben pun tertawa melihat ekspresi terkejut dari Fiona. “Apa kamu lupa kalau tadi malam kita sama-sama telanjang bulat di atas ranjang?” Pipi Fiona memerah seketika saat mendengar kata-kata Ben yang vulgar. “Ayo mandi.. aku sudah membuatkanmu sarapan.” Lanjutnya, kali ini sambil menggendong Fiona menuju ke kamar mandi.

“Ben. turunkan aku, aku bisa jalan sendiri..”

“Tidak, aku akan memandikanmu.” Jawab Benn sambil menyunggingkan senyuman misteriusnya.

“Apa??” Fiona terbelalak kaget.

Ternyata Benn tidak bercanda, ia benar-benar memandikan Fiona, tentunya sambil sesekali bermain dengan wanita terseut. “Ben, kamu nggak perlu melakukan ini.” Ucap Fiona sambil menutupi dadanya dengan kedua tangannya.

“Kamu nggak perlu malu, aku sudah melihat semuanya.” Jawab Ben sambil menyunggingkan senyum khasnya. “Lagi pula aku juga ingin mandi bersamamu.” Lanjutnya sambil membuka baju dan celananya.

“Apa?” lagi-lagi Fiona membelalak karena terkejut dengan kelakukan Ben.

Kali ini Ben tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Fiona. Sedangkan Fiona merasa hangat dengan sikap Ben pagi ini yang terkesan akrab dan sedikit romantis. sejak bertemu dengan Ben, belum pernah ia melihat Ben sebahagia itu. “Hei.. kamu sedang apa? ayo sini gosoklah punggungku” kata-kata Ben menyadarkan Fiona dari lamunannya.

“Baa.. baiklah…” lalu Fiona pun menggosok Punggung Ben didalam Bathup yang cukup besar itu, di bawah derasnya pancuran air dari atas Shower. Mereka berdiri dan Sama-sama naked dengan posisi Ben menghadap ke dinding membelakangi Fiona. Sesekali Ben mengerang karena halusnya gosokan dari Fiona.

“Kalau seperti ini terus, kamu bisa membunuhku.” Ucaap Ben sambil membalikkan badan dan mencengkeram erat tangan Fiona. “Aku menyuruhmu menggosok, bukan membelai.” Ucap Ben lagi sambil menggertakkan giginya, menahan gairahnya. “Ayo sini, biar ku gosokkan punggungmu.” Lanjutnya lagi.

“Tidak, aku bisa menggosok sendiri..” jawab Fiona setengah kaget menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.

benn tersenyum sinis. “Benarka? Kalau begitu kita bisa melakukan hal-hal yang lain.” Ben pun melangkah ke depan memepet Fiona dengan dinding.

“Kamu.. kamu mau apa??” Fiona tak bisa berkata-kata lagi karena Ben sudah datang menerjangnya, mencumbuinya habis-habisan. Menyesap setiap jengkal tubuhnya di bawah derasnya air pancuran Shower.

Fiona pun menikmatinya. Ia tak pernah merasa se intim ini dengan lelaki. Ben mendongakkan wajahnya kemudian mendaratkan ciuman panas pada bibirnya. Sedangan Fiona hanya mampu menerimanya.

Cumbuan Ben turun ke sepanjang leher Fiona, menggodanya, meninggalkan jejak di sana. Dan Ben tak dapat menahannya lagi. Di angkatnya sebelah kaki Fiona lalu ben mulai menenggelmkan dirinya kealam tubuh Fiona.

“Arrgghhh….” Erang Fiona ketika tubuh mereka menyatu dengan sempurna.

“Sial..!! ini gila Fi..” Ucap Ben yang sudah tak dapat menahan gaairahnya lagi.

“Ya, Kamu memang gila.”

“Dan kamu menyukainya bukan.”

“Arrggghh… ya.. Aku.. Aku.. Suka..” jawab Fiona yang seakan sudah tak sanggup lagi mendapat hujaman demi hujaman kenikmataan yang di berikan oleh Ben.

“Baiklah sayang… kita sama-sama menyukainya.”  Ucap Ben dengan seringaiannya lalu kembali menghujam Fiona. Memunculkan suara-suara  erotis yang memambuat siapa saja yang mendengarnya terpancing oleh gairah.

“Sial..!! Kamu benar-benar nikmat.” Rayau Ben masih dengan mencumbui sepanjang leher Fiona. Tangannya sesekali memainkan payudara Fiona yang terpampang jelas di hadapannya. “Kamu hanyaa milikku Fi… hanya milikku..” Ucap Ben kemudian yan di ikuti dengan kembali mencumbu bibir Fiona, melumatnya penuh gairah sambil mempercepat lajunya ketika punca kenikmatan itu mulai datang menghampirinya.

Fiona mengerang panjang di antara cumbuan yang di berikan oleh Ben ketika gelombang kenikmatan itu datang menghampirinya. Tak lama, Ben pun melakukan hal yang sama. Mengerang panjang penuh dengan kepuasan saat gelombang kenikmatan juga menerpanya.

“Ben.. Astaga…” Ucap Fiona dengan terengah sambil tersungkur kelelahan dalam pelukan Ben.

“Ya.. Aku di sini Fi.. Aku di sini..” Ben pun memeluk erat tubuh Fiona. Seakan mengklaim jika wanita itu hanya miliknya. Ya, fiona kini hanya milihnya, hanya boleh di sentuh oleh dirinya….

 

-TBC-

Tunggu kisah selanjutnya antara Bang Ben dan Neng Fi yaa… wkwkkkwkw besok insha allah ada mas yoga dan dedek Nana kalo aku sempat sih.. wkwkkwkwkwk