Samantha – Bab 9

Comments 4 Standard

Samantha

 

Bab 9

 

Nick tidak datang. Bahkan hingga kini, dan bodohnya aku masih menunggunya setelah tadi malam dia mengingkari janjinya. Aku masih berharap dia datang lalu menjelaskan padaku kenapa tadi malam dia tidak menepati janjinya. Kupikir, dia memang sedang sibuk, atau mungkin lupa dengan janjinya, tapi bukankah seharusnya dia menghubungiku? Ya, hingga sore ini Nick tidak menghubungiku, dan aku juga tidak ingin menghubunginya.

Aku kesal, tentu saja. Aku benar-benar berharap Nick datang, makan malam bersamaku kemudian kami menghabiskan malam bersama seperti malam itu, tapi ternyata…

Saat aku sibuk dengan pikiranku sendiri, aku mendengar pintu depan di buka oleh seseorang. Aku berdiri seketika saat sadar jika Nick baru saja datang. Dia menatapku, dan wajahnya benar-benar terlihat lelah, belum lagi ada beberapa memar di ujung bibir dan alisnya.

Memar?

Seketika aku menghampirinya, melupakan rasa kesalku padanya karena rasa khawatir ternyata lebih menguasaiku. Oh Nick. Apa yang terjadi denganmu?

“Nick.” Aku berdiri tepat di hadapannya, wajahku mendongak menatap ke arah wajahnya yang memang lebih tinggi dari pada aku. Ternyata lukanya sedikit parah, memarnya benar-benar tampak terlihat jelas ketika di lihat dari jarak yang lebih dekat.

“Kau, kau kenapa?” tanyaku sambil mengulurkan jemariku untuk mengusap luka di ujung bibirnya.

Nick memalingkan wajahnya. “Bukan masalah.” jawabnya dengan dingin.

“Tapi kau terluka. Kau, ada masalah?” Nick tidak menjawab, dia memilih melangkahkan kakinya menuju ke arah sofa lalu melemparkan diri di sana.

Aku menuju ke arah dapur, mengmbilkan sebuah minuman untuknya. Dia tampak sangat lelah, dan aku tidak ingin membuatnya semakin lelah karena kecerewetanku yang bertanya tentang apa yang terjadi.

“Minumlah, kau tampak kacau.” Aku mengulurkan sebotol air mineral padanya.

Dia menatapku cukup lama dengan tatapan lembutnya. “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya sembari meraih botol minuman yang kuberikan.

Aku mengerutkan kening, tidak biasanya Nick bertanya tentang kabarku. Ada apa dengannya?

“Baik.” jawabku singkat. “Kecuali kemarin malam, aku melewatkan makan malamku karena menunggu seseorang.” sindirku. Aku tidak tahu apa aku sudah tidak punya malu lagi atau bagaimana. Entah kenapa aku bisa menyindir Nick dengan kalimat seperti itu?

“Kau, menungguku?”

“Tentu saja. Kau berjanji akan datang, maka aku menunggumu, tapi ternyata…”

“Ethan pulang.” Nick memotong kalimatku, dan aku diam seketika saat sadar dengan apa yang ia katakan. Ethan? Pulang? Astaga, apa yang akan terjadi selanjutnya?

Aku ternganga, bibirku seakan tak dapat menutup karena terlalu terkejut dengan informasi itu. bagaimana jika Ethan tahu tentang hubungan kami? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bisakah Ethan menerima hubungan kami? Menerima Andrea di antara keluarganya?

Dengan spontan aku mengusap perut buncitku. Aku takut, jika ada orang yang berusaha melukai Andrea, dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

“Ada yang sakit?” pertanyaan Nick membuatku tersadar dari lamunan. Rupanya sejak tadi Nick memperhatikan gerakanku yang mengsap lembut perutku.

“Tidak.” jawabku cepat. “Ba- bagaimana mungkin Ethan bisa pulang?”

“Bagaimana mungkin? Bukankah seharusnya kau senang saat tahu jika Ethan sudah sembuh dan pulang?”

Senang? Ya, seharusnya aku merasa senang. Tapi sungguh, bukan itu yang saat ini kurasakan. Aku bahkan merasa ketakutan. Takut jika waktuku dengan Nick akan segera berakhir, takut jika Nick mendorongku untuk kembali dengan Ethan.

Aku menggeleng pelan. “Aku tidak tahu apa yang kuinginkan.”

“Sam.” Nick akan berbicara, tapi dia tampak ragu. “Aku, aku sudah mengatakan tentang hubungan kita padanya.”

Meski tercengang dengan apa yang di katakan Nick, tapi aku sedikit lega, seulas senyum akhirnya terukir di wajahku karena sadar, jika Nick sudah memberitahukan tentang hubungan kami pada Ethan, itu tandanya Nick ingin mempertahankan aku sebagai istrinya.

“Aku sudah mengatakan padanya tentang aku yang harus menikah denganmu saat itu, tapi aku tidak bisa mengatakan tentang Andrea.”

Aku mengerutkan keningku. “A- apa maksudmu?”

“Kita kembali pada rencana awal. Kau melahirkan Andrea secara diam-diam, setelah itu kita cari orang tua asuh untuknya, dan terakhir, aku akan mengembalikanmu pada Ethan.”

Mataku membulat seketika, cairan bening jatuh begitu saja dari pelupuk mataku. “Kau, kau melanjutkan apa yang sudah kau rencanakan?”

“Sam.”

“Aku bukan barang yang bisa kau kembalikan seenaknya pada Ethan, Nick! Dan aku bukan miliknya, tidak seharusnya kau mengembalikan aku padanya!” seruku lantang. Aku membalikkan tubuhku, dan akan segera pergi meninggalkan Nick yang kembali menyebalkan, tapi secepat kilat Nick meraih pergelangan tanganku kemudian menarik tubuhku hingga aku jatuh dalam pelukannya.

Jantungku memompa lebih cepat lagi dari sebelumnya, rasa kesal yang tadi kurasakan, hilang seketika di gantikan dengan rasa nyaman karena pelukannya. Oh Nick, dia benar-benar memberiku efek yang luar biasa.

“Aku, aku terlalu bingung dengan apa yang akan kulakukan, Sam. Aku tidak ingin menyakitinya lagi.”

“Tapi kau menyakitiku, Nick! Kau menyakitiku dan aku yakin jika Andrea juga tersakiti dengan keputusan yang akan kau ambil.”

“Aku tidak bisa mempertahankanmu, Sam. Aku tidak bisa mempertahankan kalian di hadapan Ethan.”

“Maka jangan pertahankan.” jawabku cepat. Aku menghela napas panjang. “Biarkan aku pergi, aku tidak akan mengganggu hidup keluarga kalian lagi.”

Nick melepaskan pelukannya kemudian menatapku dengan tatapan tajam membunuhnya. “Aku tidak akan melepaskanmu dan membiarkanmu pergi, Sam.”

“Lalu apa yang kau inginkan?” aku mulai menangis. Air mata sialan!

Nick kembali memmelukku. “Aku tidak tahu.”cukup lama kami berpelukan. Bahkan aku dapat merasakan dada Nick naik turun karena menahan emosi di dalam dirinya, degupan jantungnya yang juga sama besarnya dengan degupan jantungku. Oh, Nick, sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Apa yang saat ini kau rasakan?

Aku memberanikan diri melepaskan pelukan kami. Nick menunduk menatapku, matanya tampak sendu, seakan aku dapat merasakan kesedihan yang ia rasakan. Ya, dia tampak sangat sedih. Apa yang membuatnya sesedih itu? apa karena ia merasa bersalah dengan Ethan? Astaga, ini bukan hanya salahnya, aku juga bersalah, dan aku ingin Nick juga tahu hal itu.

Kuulurkan jemariku mengusap rahang kokohnya, kemudian aku berjinjit untuk menggapai bibirnya. “Sentuh aku, aku merindukanmu.” Entah darimana aku mendapatkan keberanian mengatakan kalimat tersebut, yang kutahu, jika sudah saatnya aku emnunjukkan apa yang kurasakan pada Nick. Ya, dia harus tahu jika aku menginginkannya, menginginkan hubungan kami segera membaik, aku ingin kami bahagia bersama dengan Andrea. Aku ingin Nick tahu hal itu.

“Sam.” Nick tampak ragu.

“Kumohon.” Dan setelah permohonanku tersebut, Nick segera menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya untuk segera bisa menggapai bibirku. Dia menciumku dengan lembut, menarik tubuhku supaya semakin rapat dengan tubuhnya, kemudian membawa tubuhku untuk terbaring pada sofa panjang yang tadi ia duduki.

Nick menindihku tanpa mengghentikan cumbuannya, jemarinya mulai melucuti sweater yang kukenakan. Hingga tak lama, tubuhku sudah polos di bawah tindihannya. Nick menghentikan cumbuannya, ia melucuti pakaiannya sendiri, kemudian mulai menindihku kembali saat dia sudah polos tanpa sehelai benangpun.

“Apa tidak apa-apa dengan posisi ini?” tanynya lembut sambil melirik ke arah perutku.

Aku tersenyum dan menggelengkan kepala. “Lanjutkan saja.”

Nick mulai menyatukan diri, aku mendesah panjang saat penyatuan tersebut terjadi. oh, kami bercinta lagi, di atas sofe, di ruang tengah, dengan sadar sepenuhnya, dengan pencahayaan yang terang, saling mencumbu satu sama lain, saling menyentuh satu sama lain, seakan tak ada masalah apapun yang terjadi di antara kami.

Nick mulai bergerak, sedangkan matanya menolak bergerak untuk meningalkan mataku. Dia menatapku tanpa ingin meninggalkan pandangannya, sedangkan aku sendiri memilih melawannya dengan tatapan mata yang ku miliki. Kuulurkan jemariku, mengusap lembut bekas luka di ujung bibirnya hingga dia menghentikan pergerakannya seketika.

“Apa sakit?” tanyaku tanpa bisa kutahan.

Nick menggelengkan kepalanya. “Aku pantas mendapatkan yang lebih dari ini.” Jawabnya serak.

“Apa Ethan yang melakukannya?”

Nick tidak menjawab, dia hanya menatapku dengan penuh penyesalan. Seakan dia menyesal terhadap semua yang terjadi, seakan dia menyesali hubungan kami, seakan dia menyesali memiliki aku dan juga Andrea di sisinya. Aku tidak suka tatapan itu, aku membencinya.

Lalu aku mengalungkan lenganku pada lehernya, kutarik saja wajahnya hingga menyardar pada lekukan leherku.

“Jangan pernah menyesali keberadaanku atau Andrea.” Bisikku lirih. Ya, aku tidak ingin dia menyesalinya lalu mencoba menghapus keberadaan kami.

“Tidak.” Jawabnya cepat. “Kau dan Andrea adalah hal terindah yang pernah kumiliki. Aku hanya menyesal, kenapa aku baru menyadari hal itu saat ini?”

Tubuhku kaku seketika saat mendengar pernyataannya. Nick menjauhkan diri dari leherku lalu mengecup lembut bibirku saat aku masih tercengang dengan apa yang baru saja ia ucapkan.

“Maafkan aku.”

Lagi, ucapanya kembali membuatku membatu. Benarkah ini Nick? Nick Alexander?

Nick menggerakkan tubuhnya lagi, menghujamku hingga membuatku terpanggil kembali pada dunia nyata yang kini begitu indah saat menyadari jika tubuhku masih menyatu dengannya.

Ia membungkukkan tubuhnya, mencari perutku dan mendaratkan kecupan lembut di sana. Oh Nick, dia tidak lagi mengingkari keberadaan Andrea, dia tampak menginginkan Andrea, kasih sayangnya tampak sebesar rasa sayangku terhadap Andrea dan itu membuatku terisak melihatnya.

Aku menangis saat sadar jika ternyata Nick juga menginginkan Andrea meski dia tak pernah mengungkapkannya. Mataku basah saat melihat sikap lembutnya pada Andrea.

Nick menghentikan aksinya saat mendengarku terisak. Ia mengangkat wajahnya lalu menatapku lekat-lekat.

“Ada apa?” tanyanya yang terdengar sedikit khawatir.

Tapi air mataku semakin deras jatuh menuruni pelipisku. Nick mengulurkan jemarinya, mengusap air mataku yang jatuh di sana.

“Aku senang.”

“Senang? Kenapa?”

“Kau terlihat sangat menyayangi Andrea, aku senang melihatnya.”

Nick kembali memposisikan wajahnya hingga sejajar dengan wajahku. “Aku menyayangi kalian berdua, jadi berhentilah menangis.” Setelah bisikan lembutnya tersebut, Nick kembali bergerak, bibirnya meraih kembali bibirku seakan tidak membiarkan aku untuk menjawab kalimatnya.

Pergerakan Nick semakin intens, iramanya meningkat hingga membuatku tak mampu menguasai diri lagi untuk tidak mengerang karena kenikmatan yang ia berikan. Gerakan bibirnya menggodaku, membuaiku dalam balutan gairah yang menggelora. Oh Nick, ia benar-benar mahir dengan permainan ini, ia mendorongku pada puncak kenikmatan hingga erangan panjang lolos begitu saja dari bibirku.

***

Setelah puas bercinta, Nick tak lantas mengajakku bangkit dari sofa. Ia malah bangkit sendiri mengabaikan ketelanjangannya menuju ke kamarku, mengambil sebuah selimut tebal, lalu kembali lagi ke sofa dan memosisikan dirinya terbaring miring di belakangku dan memeluk tubuhku dari belakang.

Tak lupa dia menyelimuti tubuh telanjang kami dengan selimut tebal yang tadi ia bawa dari kamarku. Jemarinya mencari-cari keberadaan Andrea, mengusapnya lembut, sedangkan bibirnya tak berhenti mengecup lembut permukaan pundakku. Nick seperti orang lain, atau, apa memang seperti ini sisi lain dari dirinya?

Kadang aku takut, jika Nick bersikap lembut seperti ini padaku, aku takut jika dia akan segera pergi meninggalkanku. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi.

Nick mengeratkan pelukannya padaku, dan mau tidak mau aku menolehkan kepalaku ke arahnya.

“Nick, ada apa?” tanyaku lembut. Nick tidak menjawab,ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuhku. “Kau berbeda.” Desahku.

“Berbeda kenapa?”

“Entahlah, kupikir, kau berubah terlalu banyak.” Nick hanya diam, dan aku kembali menanyakan pertanyaan yang sealalu menari dalam kepalaku. “Bagaimana kelanjutan hubungan kita?”

Setelah pertanyaan tesebut, Nick melonggarkan pelukannya. “Jangan bertanya tentang masa depan.”

“Tapi kita tidak mungkin hanya seperti ini, Nick.”

“Aku tidak mau membahas masa depan.”

“Kau hanya takut, dan aku bingung, apa yang membuatmu takut dengan masa depan?”

“Tidak ada.”

“Nick.”

“Sam, tidak bisakah kau hanya menjalaninya seperti ini tanpa banyak bertanya tentang apa yang akan aku lakukan selanjutnya?”

“Aku hanya butuh kepastian.”

“Yang pasti, aku tidak akan membiarkanmu pergi.” Kalimat Nick sudah telak, seakan tak dapat di ganggu gugat. Lalu, apakah dia akan mengembalikanku pada Ethan? Oh Nick, aku lelah jika harus menebak-nebak apa yang akan terjadi dengan hubungan kita.

“Nick.” Panggilku lagi.

“Hemm.” Jawabnya dengan sedikit malas.

“Apa kau,” aku ragu akan menanyakan pertanyaan ini padanya, tapi bagaimana lagi, aku harus menanyakannya. Sejauh ini, aku tidak banyak mengenal Nick, aku juga tidak bisa membaca isi hatinya, dan itu benar-benar membuatku bingung.

“Apa?” tanyanya.

“Uumm, apa kau, uum, kau memiliki perasaan lebih padaku?”

Setelah pertanyaanku tersebut, semuanya hening. Nick tidak menjawab, dan aku merasakan perbedaan dari tubuhnya. Dia menegang, tubuhnya terasa kaku, aku bahkan merasakan jika Nick kini sedang menahan napasnya. Kenapa? Ada yang salah dengan pertanyaanku?

***

Dini hari, aku terbangun sendiri di atas sofa. Merasa kehilangan? Tentu saja. Nick pasti sudah pulang, pulang tanpa pamit, dan aku benar-benar merasa kehilangan.

Tidak bisakah dia membangunkan aku sebentar lalu berpamitan pulang? Ah, mungkin dia takut aku merengek memintanya untuk tetap tinggal. Tapi sungguh, aku sangat kesal saat menyadari jika kini aku hanya sendiri di apartemen ini, di tinggalkan setelah kami bercinta dengan panas di atas sofa.

Setelah pertanyaanku tadi, Nick hanya diam, tak ada kata lagi yang keluar dari bibirnya. Dan akupun tidak berani lagi mengeluarkan pertanyaan lainnya. Aku cukup tahu, jika Nick tidak bisa menjawab “Ya”, karena nyatanya, dia juga masih bingung dengan perasaannya sendiri. Mungkin dia bersikap manis terhadapku hanya karena kasihan dengan keadaanku, tapi sungguh, aku tidak butuh rasa kasihannya.

Aku bangkit dari tidurku, membenarkan letak selimut tebal yang membalut tubuh polosku. Dan aku sempat berjingkat saat melihat seseorang berdiri tepat di hadapanku.

Dia Nick, dan dia masih di sini, dia tidak meninggalkanku.

“Kau, kau masih di sini?”

“Ya, ini untukmu.” Jawabnya dengan ekspresi datar, dia memberiku secangkir cokelat panas. Dan aku segera menerimanya.

“Kupikir kau sudah pulang.”

“Ya, aku memang akan pulang, tapi setelah memindahkanmu ke dalam kamar. Tapi ternyata, kau sudah bangun.”

Aku menunduk menatap cokelat hangat yang masih mengepul di dalam cangkir yang kugenggam. Wajahku berubah sendu, hatiku kembali sedih mengingat dia akan pergi. Oh, aku benci perasaan ini.

“Kenapa?” tanyanya.

Aku mengangkat wajahku, menatap ke arahnya dan berkata pelan padanya. “Bisakah kau tetap tinggal di sini?”

Nick maju satu langkah ke arahku, jemarinya terulur mengusap lembut pipiku. “Maaf.” Hanya satu kata tapi aku tahu pasti apa artinya.

Dia tidak bisa tinggal.

“Baiklah.” desahku.

Kakiku mencoba melangkah menjauhinya, meski hati ini berkata untuk mendekat dan memeluk tubuhnya.

“Sam.”

Panggilannya menghentikan langkahku, aku berdiri kaku membelakanginya.

“Maafkan aku.”

Aku membalikkan tubuhku dan kembali menghadapnya. “Untuk apa?”

“Karena belum bisa memilihmu.”

Tatapannya sendu, dia terlihat sakit, dan itu membuatku tersakiti. Jika memilihku membuatnya tersakiti, maka aku rela jika keputusan yang dia ambil adalah melepaskanku. Tapi, apa dia mau melepaskanku?

-TBC-

Advertisements

Samantha – Bab 8 (Nick Story)

Comments 7 Standard

Samantha

 

Bab  8 (Nick Story)

 

Lima tahun yang lalu…

 

Ethan sibuk, dan itu benar-benar merepotkan aku. Mau tidak mau aku harus mengantar jemput tunangannya, Tiff, yang memiliki sikap sedikit manja. Bukannya tidak mau, tapi aku juga sibuk dengan pekerjaanku sendiri.

Hari ini aku di minta untuk menemani Tiff pergi ke bioskop, menonton film kesukaan gadis itu yang memang sudah lama ia tunggu, dan astaga, menonton benar-benar bukan hobbyku. Alasannya karena aku tidak suka dengan keramaian, yang kedua adalah karena itu adalah film romantis, sungguh, aku tidak suka.

Tiff sendiri sudah seperti adikku, meski sebenarnya usia kami sebaya, dan seharusnya aku mulai membiasakan diri jika dia adalah calon kakak iparku. Tapi tentu saja sikapnya yang manja membuatku selali berpikir jika dia adikku dan aku…..

Cukup!

Aku keluar dari dalam mobil saat mobilku memasuki pelataran rumahnya. Tiff yang tadi sudah berdiri di ambang pintu segera berlari menuju ke arahku dan mengecup lembut pipiku.

“Senang kau bersedia menemaniku.”

Aku mendengus sebal. “Aku sudah menolak, tapi Ethan memohon. Dia ada rapat sialan yang mengharuskan aku menggantikannya untuk menemanimu nonton malam ini.”

“Ayolah, setidaknya kau akan dapat hiburan malam ini.”

“Hiburan? Aku benci nonton.”

“Mulai malam ini, aku akan membuatmun menyukai hal itu. ayo, sebelum telat.”

Dengan ceria Tiff menggandeng lenganku, mengajakku segera masuk ke dalam mobil dan kami segera berangkat menuju ke tempat pertama yang akan kami tuju.

***  

Membosankan. Itulah kesan pertama saat aku keluar dari dalam bioskop. Aku bahkan memilih tidur di dalam sana, sedangkan Tiff sangat menikmati film yang di putar tadi.

“Kau benar-benar bosan di dalam sana tadi?”

“Ya, Tiff, sangat bosan. Ini adalah pertama kalinya aku menonton di bioskop, dan ini benar-benar membosankan.”

“Ayolah, kau tidak perlu berlebihan. Filmnya tadi bagus, kau saja yang tidak menikmatinya.”

“Aku memilih tidur dari pada melihat film menggelikan itu.”

“Hei, itu tidak menggelikan. Itu adalah film romantis,dan semua orang yang sedang jatuh cinta pasti sangat menyukai film tersebut.”

“tapi aku tidak sedang jatuh cinta, Tiff. Jangan samakan aku dengan Ethan.”

“Well, benar sekali. Kau memang berbeda dengan Ethan. Ethan lebih perhatian, penyayang, dan tentunya lebih menghargai perempuan di bandingkan dirimu.”

Aku sedikit kesal. Tentu saja. “Kau hanya belum mengenalku, Tiff.”

“Sudah, aku sudah mengenalmu. Dan kau menyebalkan.”

“Apa maksudmu dengan menyebalkan?”

“Kau menyebalkan karena kau tidak peka terhadap orang yang mungkin saja menaruh hati padamu, dan aku membenci hal itu.”

“Apa? Maksudmu?”

“Lupakan!” Tiff tampak kesal, ia berjalan menjauh, tapi secepat kilat aku meraih pergelangan tangannya, menariknya hingga dia menghentikan langkahnya.

“Apa maksudmu?” tanyaku dengan menatap mata Tiffany yang entah kenapa kini sudah tampak berkaca-kaca.

“Aku membencimu Nick! Aku membencimu karena kau tidak peka dengan apa yang kurasakan.”

“Apa? Memangnya apa yang kau rasakan?”

“Aku menyukaimu! Apa kau puas?” dua kata itu mampu membuatku membulatkan mata seketika.

Tiffany menyukaiku? Bagaimana mungkin? Tidak! Seharusnya dia tidak boleh mengatakan hal itu, seharusnya dia pendam saja perasaan sialannya itu tanpa mengungkapkannya padaku seperti apa yang sudah kulakukan selama ini.

Dia milik Ethan, dan apapun yang terjadi, aku tidak boleh menyentuhnya.

-TBC-

Samantha – Bab 7 (Ethan story)

Comments 6 Standard

Samantha

 

Bab 7 (Ethan story)

 

Rasa bosan benar-benar membunuhku. Ini entah sudah berapa hari sejak aku tersadar dari koma. Dan semuanya terasa sangat membosankan. Aku hanya dibolehkan untuk berjalan-jalan keluar sebentar, kemudian kembali ke atas ranjangku lagi.

Dokter berkata jika aku tidak di perbolehkan melakukan aktivitas berat apapun, bermain ponsel, maupun menonton televisi, kupikir dokter berlebihan, aku sudah sadar, dan aku sudah sembuh. Aku ingin pulang dan bertemu dengan Samantha, kekasihku. Tapi nyatanya, aku seakan terpenjara di sini.

Tentang Sam, ah ya, wanita itu, aku benar-benar sangat merindukannya. Sam datang di hari pertama aku sadar, tapi setelah itu, dia tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Ada apa? Apa yang terjadi dengannya?

Aku tidak bisa mnenghubunginya, karena dokter saja tidak mengizinkanku untuk menggunakan ponsel. Saat Nick datang mengunjungiku, dan aku meminta untuk menghubunginya, Nick menolak. Entahlah, aku juga bingung dengan Nick, dia tampak berbeda,

Aku dan Nick memang sangat dekat, hubungan kami semakin dekat setelah aku kehilangan Tiffany sekitar empat tahun yang lalu.

Tiff adalah kekasihku, tunanganku sejak aku berusia lima belas tahun. Aku mengenalnya sejak kecil karena dia puteri dari sahabat keluargaku, kemudian kami di jodohkan, dan aku menerimanya. Ya, aku juga menginginkan Tiff menjadi milikku. Tapi sebuah inseden membuat semuanya berakhir.

Nick masuk ke dalam hubungan kami, dan aku tidak sengaja mengetahui hal itu. Aku memutuskan untuk putus dari Tiff, tapi dia tidak ingin. Nick juga memohon padaku untuk memaafkan mereka dan kembali melanjutkan hidup bersama dengan Tiff, tapi bagiku, ini tidak sesederhana itu. mereka sudah berhianat di belakangku, terlebih lagi Nick, dia adikku, dan dia tahu jika Tiff adalah milikku, tapi kenapa dia bermain-main dengannya?

Aku tetap memutuskan hubungan kami, dan Tiff masih tidak terima hingga dia memilih mengakhiri hidupnya.

Terluka? Tentu saja. Bukan hanya aku, tapi Nick juga. Nick bahkan lebih merasa bersalah, karena dialah sumber dari permasalahan kami. Akhirnya aku memilih melupakan semuanya, kembali menjadi kakak yang baik untuk Nick, melupakan Tiffany dan mencoba berjalan ke depan.

Nick sendiri berubah menjadi lebih perhatian terhadapku. Aku tahu jika dia masih merasa bersalah padaku. Dia bahkan rela melakukan apapun demi aku. Demi supaya aku mendapatkan kebahagiaan baru setelah ia menghancurkan kebahagiaan lamaku.

Kadang aku tersenyum melihat Nick, dia sekarang elbih sibuk memikirkanku dari pada dirinya sendiri. Pernah beberapa kali dia mengenalkanku dengan wanita yang jelas-jelas tertarik dengannya, tapi tentu saja aku tidak tertarik dengan wanita-wanita sejenis itu. tipe wanita yang kucari adalah seperti Tiffany, sederhana dan apa adanya.

Lalu aku bertemu dengan Sam, saat aku tak sengaja mampir di cafe tempatnya bekerja. Aku tertarik saat pertama kali aku melihat senyumnya, mata cokelatnya yang menawan, serta kelemah lembutannya. Aku terpana sejak pertama kali kami bertemu, hingga aku memutuskan untuk mengejarnya.

Semuanya terjadi cepat, aku memutuskan bertunangan kembali dengan seorang wanita, aku yakin jika Sam tidak akan mengulangi kesalahan yang dulu di buat oleh Tiff, aku yakin jika dia tidak akan menghianatiku dengan Nick maupun dengan lelaki lain. Nick bahkan terlihat enggan mengenal Sam saat pertama kali aku mengenalkannya dengan Sam, jadi aku hampir yakin, jika mereka tidak akan menjalin hubungan apapun di belakangku.

Mengingat tentang Sam, lagi-lagi rasa rinduku padanya seakan tak dapat terbendung lagi, astaga, apa yang terjadi dengannya? Terakhir kali aku melihatnya tidak berhenti menangis di kursi sebelah ranjang yang ku tempati. Oh ya, tentu saja dia menangis. Aku sudah meninggalkannya selama dua tahun terakhir, menunda pernikahan kami yang sudah berada di depan mata, Sam pasti sangat sedih akan hal itu. Aku bahkan tidak bisa berpikir bagaimana dia melalui waktu dua tahun terakhir.

Aku menghela napas panjang saat memikirkan tentang Sam. Kenapa dia tidak datang mengunjungiku lagi? Apa dia memiliki kesibukan? Saat pikiranku penuh dengan Sam, aku melihat pintu ruang inapku di buka dari luar. Itu Nick, yang datang mengunjungiku.

“Hai, kau datang?” sapaku pada adik yang usianya hanya berbead tiga tahun dariku.

“Ya.” Hanya itu jawabannya. Aku sedikit mengerutkan keningku. Nick memang terlalu banyak diam sejak setelah aku sadar dari koma, apa ini hanya perasaanku saja? Aku melihat Nick duduk di kursi sebelah ranjangku. “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.

“Baik, kau sendiri?”

“Aku juga baik, dokter berkata jika lusa kau sudah boleh pulang.”

“Aku ingin pulang besok.” Jawabku cepat.

“Ethan.”

“Nick, aku merasa jika aku di penjara saat berada di sini, aku tidak di perbolehkan membaca majalah, menonton televisi, bahkan menggunakan ponsel saja aku tidak di perbolehkan.”

“Demi kesembuhanmu.”

“Aku sudah sembuh total. Aku hanya ingin pulang dan bertemu dengan Sam.” Aku melihat ekspresi Nick mengeras seketika saat aku menyebut nama Sam. Ada apa? “Ada yang salah, Nick?”

“Tidak.” Jawabnya cepat. “Lebih baik kau fokus dengan kesembuhanmu.”

“Aku yakin jika aku akan segera sembuh jika Sam yang merawatku.” Lagi-lagi Nick terdiam saat aku mengutarakan maksud hatiku. “Ada yang kau sembunyikan dariku, Nick?” tanyaku penuh selidik. Nick berar-benar terlihat aneh, dia seperti sedang menyimpan sesuatu di belakangku.

“Tidak.” Nick kemudian melirik ke arah jam tangannya sebelum ia berdiri dan berpamitan padaku. “Aku kembali dulu, setengah jam lagi ada shooting.”

“Oke.” Lalu aku kembali memanggilnya. “Nick.”

Nick menolehkan kepalanya ke arahku. “ya?”

“Apakah kau bisa menyampaikan salamku pada Samantha? Aku ingin dia menjemputku saat  aku pulang besok.”

Nick terdiam cukup lama sebelum dia mengangguk lalu pergi meninggalkanku. Apa yang terjadi dengannya?

***

Esoknya…

Waktu pulang akhirnya tiba juga, tapi tak ada sedikitpun tanda-tanda jika Sam akan datang menjemputku. Kemana dia? Apa Nick menyampaikan pesanku padanya? Saat ku tanya, Nick hanya diam, seakan ia tidak ingin membahas masalah ini denganku. Ada apa dengannya?

Nick menjemputku sendiri, setelah mengurus semuanya, akhirnya dia mengajakku pulang. Baiklah, jika Sam tidak ingin atau mungkin berhalangan datang menjemputku, maka aku yang akan datang kepadanya.

“Nick, bisakah kau mengantarku ke alamat Sam?”

Nick menolehkan kepalanya kepadaku sebelum kemudian menyalakan mesin mobilnya. “Kau harus banyak istirahat, kita akan pulang.”

“Sialan kau Nick! Aku hanya ingin bertemu dengan Sam. Kau terlihat sedang menyembunyikan sesuatu dariku.”

“Dia sudah pergi meninggalkanmu.” Nick berkata dengan dingin.

“Apa?!” Nick melajukan mobilnya. “Antar aku ke tempat Sam!” aku menggeram kesal. Nick tidak menjawab, tapi aku tahu jika dia menuruti apa mauku.

***

Kami tiba di rumah Sam. Rumahnya tampak sepi. Apa Sam di rumah? Aku mengetuk pintunya berkali-kali tapi tak ada jawaban. Sam tidak di rumah, aku tahu itu.

Nick berdiri di belakangku dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celananya, wajahnya tampak mengeras. Ada apa?

“Kita ke tempat kerjanya.”

“Ethan, aku sudah berkata jika Sam sudah pergi.”

“Pergi? Kau pikir aku akan percaya begitu saja dengan ucapanmu? Beberapa hari yang lalu dia menampakkan dirinya di hadapanku, dan sekarang dia sudah hilang seperti di telan bumi. Kau pikir aku bisa tenang?”

“Dia tidak hilang, dia pergi.”

“Apa maksudmu dengan pergi?”

Wajah Nick kembali mengeras. “Dia sudah meninggalkanmu dengan pria lain.” Secepat kilat aku melayangkan pukulanku pada wajahnya. Meski aku tahu pukulanku lebih lemah dari biasanya, aku tidak peduli. Tidak ada yang bisa menilai Sam seperti itu. apa yang Nick tahu tentang Sam?

“Berengsek kau Nick!” Umpatku keras, sambil kembali meukulnya, lagi dan lagi hingga tubuh Nick terjengkang ke belakang. Nick tidak membalas, dia membiarkan aku memukulinya. Kenapa?

Aku menghentikan aksiku memukuli Nick. Napasku terputus-putus tapi tatapan mataku tak berhenti menajam padanya.

“Kenapa? Kenapa kau tidak membalas pukulanku?”

“Kau masih sakit, aku tidak mungkin membalas pukulanmu.”

Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak, aku tahu bukan karena itu.”

“Kau tidak tahu apa-apa, Ethan.”

Secepat kilat aku mencengkeram kerah kemeja yang di kenakan Nick. “Karena aku tidak tahu, maka sekarang, beri tahu aku apa yang kau sembunyikan dariku.” Aku menggeram kesal.

Nick diam, seakan-akan dia mengunci bibirnya agar tidak mengucapkan sepatah katapun di hadapanku.

“Kau tidak akan bicara?” aku mengeratkan cengkeraman tanganku. “Katakan padaku Nick! Apa yang kau tahu!” seruku lagi.

“Lupakan dia, dia meninggalkanmu.” Lagi-lagi Nick mengucapkan kalimat sialan itu hingga membuatku kembali memukulinya.

“Brengsek kau! Katakan padaku yang sebenarnya sialan!” Nick hanya diam ketika aku memukulinya lagi dan lagi. Sial! Aku tahu Nick menyembunyikan sesuatu dariku, dan aku berharap jika apa yang terlintas dalam pikiranku bukan sebuah kenyataan. Tidak! Nick tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti apa yang dulu pernah ia lakukan kepadaku.

***

Kami tiba di rumah dan segera di sambut oleh ibu, dan ibu tampak terkejut dengan apa yang ia lihat. Wajah Nick babak belur dan beberapa bagian masih mengeluarkan darah, aku yakin jika itu yang membuat Ibu terkejut.

“Astaga, apa yang terjadi?” Ibu menghampiri Nick, seakan khawatir dengan keadaan Nick.

“Aku tidak apa-apa Bu.”

“Aku yang memukulinya.” Sahutku.

“Apa? Apa yang kau lakukan, Ethan?”

“Dia menyembunyikan sesuatu dariku, dan aku tahu jika itu berhubungan dengan Samantha.”

Aku menatap ibu, menilai apa yang tersirat dalam ekspresinya, dan benar saja, ibu juga tampak terkejut dengan apa yang kuucapkan tadi. Ya, aku tahu, mereka menyembunyikan sesuatu dariku, Ibu juga.

“Ethan, kau masih harus banyak istirahat.”

“Aku akan istirahat jika Sam berada di sisiku.”

Ibu kembali menatap ke arah Nick, sedangkan Nick sendiri masih diam dengan ekspresi kerasnya. Sial! Apa yang mereka sembunyikan?

“Bu, tolong, katakan padaku apa yang terjadi?” aku memohon.

“Nick?” Ibu bertanya sambil menatap ke arah Nick, seakan ibu bingung dengan apa yang akan ia jawab.

“Ada apa, Bu?” desakku lagi.

Ibu menatapku dengan tatapan sendunya. “Ethan, Sam-”

“Aku sudah menikahinya.” Nick memotong kalimat ibu, dan jawabannya benar-benar membuatku membulatkan mata seketika.

Aku ternganga mendengar kalimat tersebut, jantungku memacu lebih cepat lagi, emosiku tiba-tiba memuncak. Apa Nick bercanda? Tapi melihat wajahnya sama sekali tidak menunjukkan jika dia sedang bercanda, dan aku tahu, Nick bukan orang yang suka bercanda. Tapi, tapi kenapa dia menikahi Sam? Kenapa dia kembali menghianatiku?

Tidak! Aku tidak boleh kehilangan Sam. Samantha hanya milikku, dan Nick tidak boleh merebutnya!

-TBC-

Samantha – Bab 6

Comments 3 Standard

Samantha

 

Bab 6

 

Aku terbangun saat merasakan hawa dingin menerpa pundak telanjangku. Sebuah lengan masih setia memelukku dari belakang, berada tepat di bawah dadaku. Itu lengan Nick. Dia masih tertidur pulas, napasnya terasa hangat pada tengkuk leherku, dan dadanya terasa panas, menghangatkan tubuhku.

Aku menggeliat, hingga membuatnya mengeratkan pelukan. Kucari telapak tangan Nick, kemudian kubawa telapak tangan besar itu pada perutku. Kuusapkan di sana, dan rasanya sangat nyaman.

Ini adalah pertama kalinya Nick menyentuh perutku, menyentuh bayi kami, meski aku yang menyentuhkannya. Dia tidak pernah ingin mengakui keberadaan bayi kami. Bahkan tadi malam, saat kami bercinta, dia seakan mengingkari keberadaannya. Sebegitu beratnyakah mengakui keberadaannya?

“Apa yang kau lakukan?” suara serak Nick menghentikan pergerakanku.

“Kau sudah bangun?”

“Ya, sejak tadi.”

“Uum, maaf.” Hanya itu yang kuucapkan, entah aku meminta maaf untuk apa, aku sendiri tidak tahu. “Uum, aku, aku hanya ingin kau menyentuhnya.” Tambahku lagi dengan nada lirih.

Ya, aku hanya ingin Nick menyentuhnya, agar dia tahu bahwa dia juga di inginkan, bahwa aku sangat menginginkan melahirkannya dan merawatnya hingga tumbuh besar.

“Siapa?”

“Apa?” aku tidak mengerti apa yang di tanyakan oleh Nick.

“Namanya, apa kau sudah memberi nama?”

Aku menggeleng pelan. “Aku bahkan belum mengetahui jenis kelaminnya, jadi, aku belum bisa menamainya.”

“Kau tidak memeriksakannya?”

Aku hanya menggeleng. “Aku tidak sempat.” Hanya itu jawabanku.

Nick terdiam cukup lama, seakan tidak ingin menanggapi pernyataanku.

“Apa aku boleh menamainya?”

Aku menolehkan kepalaku pada Nick seketika. Apa dia sedang bercanda? Dia sudah bangun sepenuhnya dari tidurnya, kan? Kenapa dia memperlakukanku seperti ini?

“Kalau tidak boleh, bukan masalah, aku hanya-”

“Aku senang jika kau yang menamainya.” potongku cepat.

“Andrea, panggil saja dengan nama itu.”

“Kenapa Andrea?”

“Namanya bisa di gunakan laki-laki atau perempuan, bukankah kau belum mengetahui jenis kelaminya?”

Aku menganggukan kepalaku. “Uum, apa aku boleh menambahkan nama Alexander di belakangnya?”

“Terserah kau saja.”

Aku sedih karena Nick tampak tidak suka dengan apa yang kuinginkan. Dan aku memilih mengakhiri percakapan kami. Kupikir, aku akan menambahkan nama belakangku saja pada nama bayiku nanti. Setidaknya, nama depannya adalah nama pemberian ayahnya. Mengingat itu aku kembali tersenyum.

“Kau tidak ingin bangun?”

Aku menggeleng pelan. “Aku masih lelah.”

“Baiklah, tidur saja lagi, aku akan bangun dan mencarikan sarapan untukmu.”

“Uum, boleh aku meminta sesuatu?”

“Apa?”

“Aku ingin makanan kaleng yang kau masak seperti malam itu.”

“Apa?” Nick tampak terkejut dengan keinginanku. “Kau tidak salah?”

“Apa yang salah? Aku hanya ingin makan itu.”

Nick menghela napas panjang. “Baiklah, akan kubangunkan saat semuanya sudah siap.”

Nick bangkit, mengenakan celananya, lalu pergi menuju ke arah kamar mandi. Tapi langkahnya terhenti saat aku kembali memanggil namanya.

“Nick.” Nick menolehkan kepalanya padaku. “Terimakasih.” Hanya itu yang mampu kuucapkan.

“Untuk apa?”

“Untuk semuanya.”  Nick hanya mengangkat sebelah ujung bibirnya, lalu kembali melangkahkan kakinya meninggalkanku. Oh Nick, apa yang terjadi denganmu pagi ini? Sebenarnya apa yang sedang kau rasakan?

***

Nick benar-benar membangunkanku ketika semuanya sudah selesai. Kami lalu sarapan bersama, sarapan dalam diam. Aku juga tidak mempermasalahkan hal itu, karena aku lebih memilih menyantap hidangan nikmat di hadapanku, hidangan yang entah kenapa begitu menggoda selera sejak Nick memasakkannya untukku malam itu.

Nick sendiri hanya membuat secangkir kopi dengan dua sepotong roti isi, dia menyantapnya dengan sesekali melirik ke arahku, sedangkan aku seakan sudah tidak peduli dengan tatapannya. Entah dia menilaiku rakus atau apa, aku tidak peduli.

“Kau suka sekali dengan masakan itu.”

“Aku juga tidak mengerti, yang dalam pikiranku hanya makanan ini yang membuatku berselera dan tidak kembali muntah saat aku memakannya.”

“Muntah?”

Aku menatap Nick sambil menganggukkan kepala. “Sejak hamil, aku kesulitan untuk makan.”

Nick mengangkat sebelah alisnya. “Sulit?” tanyanya.

Aku mengangguk lagi. “Mual muntah seperti kebanyakan wanita hamil pada umumnya, padahal aku selalu merasa lapar, tapi aku selalu tak berselera dan mual saat melihat makanan. Andrea benar-benar nakal.” ucapku sambil mengusap lembut perutku.

“Lalu, kenapa kau masih mempertahankannya?”

Pertanyaan Nick membuatku mengangkat wajah dan menatapnya seketika. apa maksudnya dengan pertanyaan itu? apa dia ingin aku menyerah dan tidak mempertahankan kehamilanku?

“Kau, kau ingin aku membuangnya?”

Nick mengusap rambutnya dengan kasar. “Aku bahkan tidak tahu apa yang kuinginkan saat ini.”

“Nick, kau bertanya kenapa aku masih mempertahankannya, seakan-akan kau ingin aku menyerah dan membuangnya. Apa itu yang kau inginkan?”

“Sam, aku juga bingung dengan apa yang kuinginkan. Kau membuat semuanya menjadi semakin rumit.”

“Aku? Kenapa denganku?”

“Kau memaksaku memilih antara kalian atau kakakku.” Aku ternganga dengan apa yang dikatakan Nick. Dia melimpahkan semua kesahan padaku. Ya, aku tahu, aku memang bersalah.

“Nick, kau bisa melepaskanku, aku akan pergi dengan Andrea tanpa ada yang bisa menemukan keberadaanku lagi, aku tidak akan mengganggumu, kakakmu, atau keluargamu. Kau tidak perlu bertanggung jawab dengan semua ini jika itu membuatmu tertekan dan frustrasi.”

“Kau pikir dengan pergi bisa menyelesaikan masalah? Bagaimana dengan Ethan? Kau pikir dia akan diam saja saat tahu jika kau pergi meninggalkannya?”

“Aku tidak peduli dengannya.”

“Tapi aku peduli!” Nick berseru keras.

Aku menghela napas panjang. Mataku mulai berkaca-kaca, tapi aku mencoba untuk menahan buliran itu keluar dari dalam pelupuk mataku. Kenapa ini terjadi lagi? Pertengkaran ini, rasa sakit ini, kenapa terjadi lagi?

“Kalau begitu, kau bisa memilih kakakmu, kita akan mengikuti rencanamu, aku akan kembali pada kakakmu setelah melahirkan Andrea.” Setelah kalimatku tersebut, aku bangkit dari tempat dudukku kemudian berlari menuju ke kamar. Menagis adalah satu-stunya hal yang ingin kulakukan saat ini. Ya, menangis hingga lelah.

***

Aku baru keluar dari kamar saat sore menjelang. Ternyata Nick sudah tidak ada di apartemen ini, dia kembali meninggalkanku sendiri. Memangnya apa yang ku harapkan? Dia adalah orang yang sibuk, aku tidak bisa mengharapkan dia selalu berada di sisiku saat ini, meski sebenarnya hatiku ingin.

Tentang perselisihan kami tadi, aku bahkan sudah melupakannya, membenci Nick adalah hal terakhir yang kulakukan saat ini. Aku sendiri tidak tahu, jika boleh memilih, aku akan memilih untuk membencinya, tapi nyatanya, aku tidak bisa. Apa ini ada hubungannya dengan kehamilanku?

Kuusap lembut perutku sembari berjalan menuju ke arah dapur, aku lapar. Kubuka lemari pendingin, dan hanya ada biskuit di sana.

“Baiklah Andrea, kita akan memakan biskuit ini sambil menunggu Daddy pulang.” Aku tersenyum saat sadar apa yang sudah aku katakan. Daddy? Pulang? Oh, sadarlah Sam. Nick tidak akan ingin di panggil Daddy oleh Andrea, dan lelaki itu tidak akan pulang kemari.

Aku mengenyahkan semua pikiran-pikiran buruk di kepalaku yang membuat suasana hatiku memburuk. Lebih baik aku duduk di depan televisi dan menonton film atau serial romantis.

Akhirnya aku memencet tombol on pada remote televisi, dan pada saat bersamaan, wajah Nick terpampang jelas pada layar datar di hadapanku.

Astaga, aku bahkan lupa jika Nick juga membintangi sebuah serial Tv yang tayang pada sore hari seperti saat ini, dan ini adalah waktu dimana serial televisi itu di putar. Mataku terpaku menatap sosok itu, sosok tampan yang kini membuat jantungku tak berhenti berdegup kencang hanya karena melihatnya.

Jika boleh jujur, jauh sebelum aku mengenal Ethan, aku sudah mengidolakan sosok Nick. Saat itu, dia masih sebagai model pria  papan atas, lalu karirnya mulai menanjak ketika dia membintangi berbagai macam film yang sukses di pasaran. Tampangnya yang rupawan serta bentuk tubuhnya yang proposional membuat namanya semakin semakin melambung dan memiliki banyak sekali penggemar di kalangan wanita. Nick menjadi aktor New York yang paling di inginkan saat itu, dan aku sangat menggemari semua film maupun serial tv yang ia bintangi.

Lalu aku mengenal Ethan, aku tidak tahu apa yang dia lihat dariku, berawal ketika dia menjadi pelanggan setia di cafe tempatku bekerja, kemudian kami berkenalan ketika aku cukup lama menunggu taksi melintas di depan cafe tempatku bekerja. Kami semakin dekat dan kami memutuskan menjalin hubungan yang lebih serius lagi. Sejak saat itu, Ethan mengenalkanku dengan Nick. Sungguh, sedikit terkejut saat tahu jika Nick yang saat itu menjadi idolaku adalah adik dari Ethan.

Sikapnya saat itu kurang menyenangkan. Ya, aku cukup tahu, dia aktor papan atas yang tentunya harus menjaga imagenya. Rasa kagumku pada Nick akhirnya luntur sedikit demi sedikit saat aku mengetahui sikap buruknya, seperti bergonta-ganti pasangan, enggan menyapa atau bahkan senyum, dia sombong, dan banyak lagi sikapnya yang menyebalkan yang membuatku berhenti mengidolakannya.

Tapi kini, semuanya seakan kembali seperti dulu, aku kembali mengidolakannya meski aku tahu betapa banyak dia menyakitiku. Aku menginginkannya, meski aku sadar jika dia sama sekali tidak menginginkanku berada di sisinya.

Aku tidak berhenti menatap lacar kaca di hadapanku tersebut, adegan demi adegan di mainkan oleh Nick dengan begitu baik dan sempurna, hingga tiba saatnya Nick beradegan mesra dengan lawan mainnya, dan aku merasa tesakiti.

Nick mencium wanita itu seakan penuh dengan perasaan, seakan itu sangat natural, bukan hanya akting. Apa mereka ada hubungan di belakang layar? Astaga, apa yang sedang kupikirkan? Nick tidak akan menjadi seperti sekarang ini jika aktingnya tidak memukau seperti itu, jika aktingnya tidak terlihat real seperti itu. harusnya aku mengerti, tapi, entah ini pengaruh hormon atau apa, aku cemburu melihat adegan itu.

Aku memilih mematikan layar tersebut, karena nyatanya hatiku tidak sanggup melihat kemesraan Nick dengan wanita lain meski itu hanya di dalam layar televisi. Dengan spontan, aku meraih telepon, dan entah kenapa ingin sekali rasanya aku menghubungi Nick, menanyakan keberadaan lelaki itu sekarang, menanyakan sedang di mana, dengan siapa, dan lain sebagainya.

Telepon di angkat setelah deringan kedua, dan itu adalah perempuan, suaranya sama dengan kemarin. Apa hubungan wanita itu dengan Nick?

“Dimana Nick?”

“Ini siapa?” wanita itu berbalik bertanya.

“Harusnya aku yang bertanya, kau siapa? Kenapa selalu kau yang mengangkat telepon suamiku?”

“Sam? Jadi ini kau, Sam?”

“Berikan teleponnya pada Nick.”

“Dia sibuk.”

“Aku tidak peduli! Aku hanya ingin mendengar suaranya!” seruku sedikit lantang. Oh, aku benar-benar membenci wanita ini.

Cukup lama aku tidak mendengar balasan dari ucapanku, tapi aku sedikit mendengar percakapan seseorang yang ku yakini adalah Nick dengan perempuan tersebut.

“Halo.” Itu Nick, dan jantungku kembali berdegup kencang hanya karena mendengar suaranya. Apa yang terjadi denganku?

“Nick, kau di mana?”

“Aku kerja, apa yang terjadi? Ana berkata jika kau terdengar marah.”

“Ana?”

“Ya, Ana, dia managerku yang tadi mengangkat telepon darimu.”

“Ohh.” Sungguh, aku merasa menjadi orang yang bodoh karena marah-marah tidak jelas. Astaga apa yang sudah kulakukan?

“Ada apa Sam?”

“Aku, uum, aku lapar.” Lagi-lagi aku merasa bodoh. Lapar? Apa yang sedang kukatakan?

“Lapar? Sam, kau bisa menelepon makanan cepat saji, atau memasak sesuatu.”

“Uum, aku ingin kau yang memasakkanku.”

“Apa?” Nick terdengar terkejut dengan apa yang kukatakan. “Sam, aku kerja, aku tidak bisa pulang pergi sesuka hatiku.”

“Baiklah.” desahku. Aku tidak suka jika Nick mementingkan hal lain dari pada aku, dan dari mana datangnya sikap manja ini? Oh, ini gila.

“Kau bisa memesan makanan dahulu, jam delapan aku pulang.”

Senyumku mengembang seketika saat mendengar ucapan Nick. “Kau pulang ke sini?”

“Ya, tunggu saja.”

Aku tersenyum lebar, sebelum kemudian menutup sambungan telepon kami. Nick akan ke sini, Nick akan datang kembali padaku. Dan aku tak bisa mencegah rasa bahagia yang membuncah di hatiku.

***

Sepanjang sore, aku menghabiskan waktuku di dalam dapur, memasak aneka masakan yang akan menjadi menu makan malamku bersama Nick nanti malam. Ya, meski sesekali aku mual saat mencium aroma bawang, tapi aku tetap senang, mengingat Nick akan pulang lagi ke apartemen ini malam ini.

Semuanya sudah siap, aku tidak menghiraukan rasa lelah yang kurasakan karena berkutat di dapur sesore ini, yang kupikirkan hanya bagaimana caranya membuat Nick betah tinggal di apartemen ini denganku.

Setelah selesai, aku lekas membersihkan diri dan berdandan secantik mungkin. Ya, ingin terlihat cantik di matanya, meski sebenarnya aku tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan teman-teman modelnya, atau teman-teman kencannya. Aku tidak peduli, nyatanya, Nick adalah milikku, ayah dari bayi yang sedang kukandung.

Kuusap lembut perutku sambil tersenyum mengingat kebersamaanku dengan Nick kemarin malam. Apa, nanti malam kami akan melakukannya lagi? Astaga, pipiku memanas hanya karena membayangkannya. Apa ini? Kenapa aku berpikir terlalu jauh? Nick bermalam di apartemen ini saja, aku sudah sangat senang, apa lagi jika dia menyentuhku kembali seperti kemarin.

Kubuka lemari pakaianku, lalu mencari-cari pakaian yang menurutku cukup menarik, dan pilihanku jatuh pada gaun berwarna biru tua dengan pundah yang sedikit terbuka. Apa aku berlebihan jika mengenakan gaun ini? Sepertinya tidak.

Akhirnya aku mulai mengenakannya, dan bersyukur sekali karena gaun ini masih muat kukenakan meski perut, dada dan pinggulku lebih besar dari ukuran normalku karena kehamilan yang sedang kualami.

Aku melirik ke arah jam di nakas, menunjukkan pukul tujuh, kemudian aku memutuskan segera merias diri secantik mungkin. Aku ingin Nick terkesan dengan malam ini, dan aku ingin hubungan kami membaik.

Setelah kurasa sudah cukup cantik, aku memilih keluar dari kamar dan menyiapkan apa yang kumasak tadi sembari menunggu kedatangan Nick. Bukan makanan special, dan aku juga tidak yakin jika masakan ini adalah makanan kesukaan Nick. Aku tidak cukup mengenalnya, dan aku tidak tahu apa yang dia suka atau apa yang dia tidak suka. Semoga saja Nick menyukainya.

Melirik kembali ke arah jam dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul delapan, jantungku kembali berdebar-debar, memompa lebih cepat dari sebelumnya, jemariku terasa dingin, dan perutku sedikit mulas. Aku merasakan perasaan seperti orang yang akan melakukan kencan pertama, oh, padahal kami tidak akan kencan. Terlebih lagi, Nick hanya akan ke sini, kami tidak akan kemanapun.

Akhirnya aku memilih duduk di sofa depan televisi, menyalakan televisi sambil kembali menunggu Nick untuk datang.

Satu jam, dua jam, hingga entah sudah berapa jam aku menunggunya, kulirik jam di dinding, dan ternyata sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Nick terlambat, atau bahkan mungkin dia tidak menepati janjinya untuk pulang ke apartemen ini. Apa yang terjadi? kenapa dia membuat janji jika dia tidak dapat menepatinya?

Mataku berkaca-kaca seketika, hatiku terasa sakit, aku sangat kecewa. Seperti di terbangkan ke awan kemudian di hempaskan begitu saja ke tanah, bagaimana mungkin Nick melakukan ini terhadapku?

-TBC-

Samantha – Bab 5

Comments 5 Standard

Samantha

 

Bab 5

 

Aku masih menunggu, meski sudah hampir setengah jam berlalu, dan Nick belum juga datang. Apa yang terjadi dengannya? Apa batal menjemputku? Kurapatkan kembali mantel tebal yang kukenakan, hawa dingin semakin menusuk ke dalam kulitku, bahkan aku mulai merasakan telapak tanganku yang mulai membeku. Berapa lama lagi aku harus menunggunya? Menunggu Nick menjemputku?

Ketika aku sibuk dengan pikiranku sendiri, sepasang kaki berhenti tepat di hadapanku. Aku mengangkat wajahku dan mendapati Nick yang sudah berdiri di sana.

“Nick?” aku berdiri seketika. Dia benar-benar menjemputku.

Tanpa banyak bicara, Nick memakaikan sebuah mantel lagi pada tubuhku kemudian dia juga memakaikan syal pada leherku hingga tubuhku kembali menghangat.

“Jalanan di tutup, jadi  aku hanya bisa berjalan kaki ke sini.”

“Kau, jalan kaki?”

Dia tidak menjawab, tapi malah memakaikan sarung tangan pada telapak tanganku. “Ayo kita pergi, di sini dingin sekali.” Ucapnya sambil menarik tanganku dan mulai berjalan pergi meninggalkan stasiun bawah tanah.

Aku mentap jenarinya yang menggenggam telapak tanganku, rasanya benar-benar hangat, aku senang sekali saat Nick memberikan perhatiannya padaku seperti saat ini. Ya, meski aku tahu perhatiannya hanya karena ingin menjagaku dan mengembalikanku pada Ethan tanpa kekurangan apapun.

Aku melihat ke sekitar kami. Banyak orang yang ternyata menyadari kehadiran Nick, hingga mengabadikan foto kami. Tapi Nick seakan tidak risih dengan hal itu. Dia masih terus berjalan sembari menarik tanganku, dan entah kenapa aku merasa terlindungi karenanya.

Ya, semenjak menikah denganku, Nick sama sekali tidak ingin hubungan rumah tangga kami menjadi konsumsi publik. Dia akan membungkam semua media yang akan memberitakan tentang rumah tangga kami. Itu sebabnya, banyak sekali wartawan yang secara diam-diam mencari kabar tentangku saat aku sedang bekerja di tempat kerjaku dulu.

Nick juga tidak pernah sekalipun mengajakku ke acara-acara formal yang harus ia datangi. Ia memilih datang sendiri, maka tidak heran jika banyak sekali orang di luar sana yang mencari kabar tentang hubungan rumah tangga kami. Pada intinya, Nick tidak ingin menunjukkanku pada publik, dia memilih menyembunyikanku meski sebenarnya hampir seluruh warga New York tahu jika dia sudah menikahiku.

Nick membelokkan langkahnya menuju ke arah lain, memasuki sebuah restoran mewah, dan yang bisa kulakukan hanya mengikutinya. Dia memesan tempat duduk di ruang privat, dan tempatnya benar-benar sangat hangat meski aku sudah membuka dua mantel yang ku kenakan.

“Ada yang ingin anda pesan, Sir?” tanya seorang pelayan yang datang menghampiri meja kami.

“Kopi, dan cokelat hangat.” Ucapnya dengan penuh kearoganan. “Ada yang ingin kau makan?” kali ini Nick bertanya padaku, dan yang bisa kulakukan hanya menggelengkan kepalaku.

Ya, tak ada yang ingin kumakan, kecuali… makanan kaleng yang di masak oleh tangan Nick sendiri. Entahlah, aku menginginkan makanan itu, dan aku tidak mungkin meminta Nick untuk membuatkanku masakan itu lagi.

“Kau sudah makan?”

“Ya, tadi aku makan di rumah Natalie.” Aku berbohong.

“Baiklah.” Hanya itu yang dia ucapkan. Kemudian sang pelayan pergi meninggalkan kami dan aku kembali gugup karena kedekatanku dengan Nick.

“Kau masih kedinginan?” tanyanya lagi.

Aku hanya menganggukkan kepalaku. Ya, aku masih kedinginan, meski tidak semenggigil tadi.

“Apa yang kau pikirkan saat keluar dengan mengenakan mantel tipis tadi? Kau bisa mati kedinginan di jalan.” Gerutunya.

“Mantelku cukup tebal.”

“Cukup tebal jika tidak hujan salju selebat ini.” Jawabnya cepat. Dan aku hanya tersenyum. “Ethan tidak akan memaafkanku jika tahu bahwa aku membiarkan tunangannya kedinginan di luar sana.”

Senyumku hilang seketika. jadi Nick perhatian padaku hanya karena dia mencoba bertanggung jawab pada Ethan?

“Jadi, kau perhatian padaku hanya karena Ethan?”

“Ya, memangnya karena apa lagi?” Setelah jawabannya tersebut, aku berdiri seketika. “Kau mau apa?” tanyanya dengan wajah heran.

“Aku akan pulang.” Jawabku singkat bsambil kembali mengenakan mantelku, tanpa mengenakan mantel yang di bawakan Nick dan juga sarung tangannya, aku melangkahkan kakiku meninggalkannya.

Entahlah, kupikir, mati kedinginan tidak begitu buruk di bandingkan dengan melihatnya melakukan semua ini hanya karena keterpaksaan. Aku tidak suka itu, aku ingin Nick melakukan semua ini karena dia benar-benar perhatian padaku dan juga pada bayi kami. Tapi ternyata…

Aku melangkahkan kakiku keluar dari dalam restoran mewah tersebut. Tidak mempedulikan salju yang masih saja turun seakan tidak bosan menyelimuti jalanan kota New York. Kukenakan tundung mantelku, sedangkan telapak tanganku yang mulai mati rasa karena kedinginan kembali kumasukkan kedalam saku mantelku.

Astaga, ini benar-benar dingin. Tapi aku tidak bisa kembali pada Nick, aku sangat kesal dengannya. Jarak antara restoran dengan apartemen Nick cukup jauh, dan aku sangsi bisa sampai ke sana tanpa pingsan.

Mataku mulai berkaca-kaca. Hormon kehamilan memperburuk suasana hingga membuatku ingin menangis. Oh, rasanya aku ingin berteriak frustasi. Bqagaimana mungkin Nick begiku tega mengacak-acak perasaanku saat ini?

“Kau mau kemana?” sebuah tangan mencengkeram lenganku hingga membuatku menghentikan langkahku.

Aku menatap si pemilik tangan tersebut, rupanya itu Nick.

“Pulang.” jawabku sambil mencoba melepaskan diri.

“Pulang? Kau salah arah.” Dan aku baru sadar jika aku berjalan kembali menuju ke arah stasiun bawah tanah. “Apa yang terjadi denganmu? Apa kau tidak melihat jika saat ini salju turun lebat?”

“Persetan dengan saljunya, Nick! Aku membencimu!” seruku lantang sambil melepaskan diri kemudian berlari meninggalkan Nick. Tapi baru bebebrapa langkah, kakiku tersandung dan aku terjatuh pada tumpukan salju. Yang bisa kulakukan saat itu hanya menangis.

Aku melihat Nick duduk berjongkok di hadapanku. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya dengan sedikit mendesis.

“Aku membencimu, aku sangat membencimu, Nick.” Ucapku sambil menangis. Astaga, apa yang terjadi denganku? Ini benar-benar bukan diriku. Aku tidak pernah secengeng dan semanja ini.

Tanpa kuduga, Nick malah memakaikan mantel yang tadi dia bawakan untukku pada tubuhku. Kemudian ia kembali berjongkok memunggungiku.

“Naiklah.” ucapnya pendek.

Apa maksudnya? Aku hanya membatu menatap ke arah punggungnya. Nick menolehkan kepalanya ke arahku.

“Naiklah, aku akan menggendongmu pulang.”

Aku benar-benar ternganga dengan apa yang ia katakan. Dia akan menggendongku? Kenapa? Apa karemna kasihan melihat keadaanku? Ketika aku masih ternganga dengan ucapannya, Nick malah menarik lenganku supaya berada di atas pundaknya, lalu tanpa sadar, tubuhku sudah mengambang di udara. Nick menggendongku di atas punggung belakangnya.

“Kau, baik-baik saja?” tanyanya sedikit ragu. Aku diam karena tidak mengerti apa yang ia tanyakan. “Maksudku, perutmu.”

Astaga, aku baru sadar jika kini perut buncitku sudah menempel sempurna pada punggungnya, dan aku baik-baik saja. Aku masih tidak menjawab, tapi aku memilih menganggukkan kepalaku, menandakan jika aku baik-baik saja.

Nick kemudian mulai melangkahkan kakinya, berjalan sambil menggendongku. Tiba-tiba kurasakan bayiku menendang keras hingga membuat Nick menghentikan langkahnya seketika. wajahnya menoleh ke arahku, seakan bingung dengan apa yang ia rasakan tadi.

“Kau, kau benar-benar tidak apa-apa?” tanyanya lagi.

“Aku baik-baik saja.”

“Tapi aku merasakan sesuatu bergerak dari perutmu.”

“Dia hanya menendang, seperti biasa.”

“Seperti biasa? Apa itu sakit?”

Aku tersenyum kemudian menghela napas panjang. “Tidak, itu rasanya sangat membahagiakan.”

Nick membatu cukup lama dengan jawabanku, lalu bayiku kembali menendang lagi, dan aku yakin jika Nick masih merasakan tendangannya seperti tadi.

Nick mulai melangkahkan kakinya lagi, meski sesekali ia berhenti saat merasakan bayiku menendang. Ekspresinya sangat kaku, seakan ini adalah hal baru untuknya. Tanpa peduli lagi, kusandarkan wajahku pada punggungnya. Rasanya sangat nyaman, hingga kesadaranku mulai menghilang.

***

Aku terbangun saat Nick menurunkanku di atas ranjang kamarku. Astaga, bagaimana mungkin aku tertidur di atas gendongannya tadi?

“Istirahat dulu saja, aku akan menyiapkan air hangat untukmu.” Ucapnya dengan datar. Lalu dia pergimasuk ke dalam kamar mandi.

Aku bangkit lalu membuka mantel tebal yang kukenakan. Aku tidak sadar jika rambutku basah karena salju, meski tadi aku mengenakan tundung mantelku. Kulepaskan sepatu booth yang kukenakan, rasanya sangat melelahkan, dan aku benar-benar kedinginan.

Nick keluar dari kamar mandi, dia tampak terpaku menatap keadaanku yang mungkin terlihat sangat menyedihkan baginya. Sungguh, aku tidak ingin di kasihani, tapi di sisi lain, aku ingin Nick melihat sisi lemahku, sisi rapuhku yang entah kenapa akhir-akhir ini selalu muncul ke permukaan karena hormon kehamilanku.

“Airnya sudah siap, kau bisa mandi sendiri, bukan?” tanyanya.

Tentu saja aku bisa, tapi aku tidak ingin. Aku ingin Nick lebih lama bersamaku. Kutuklah aku jika saat ini aku menginginkan Nick untuk memandikanku, karena memang itulah yang ku inginkan hingga aku menjawab pertanyaan Nick dengan sebuah gelengan kepala.

“Maksudmu, kau ingin aku membantumu mandi?”

“Tubuhku lemas, aku menggigil.”

Nick menghela napas panjang. “Kemarilah, aku akan membantumu.” Dan aku tersenyum mendengar pernyataannya tersebut.

Aku berdiri, Nick segera meraih tanganku dan menuntunku masuk ke dalam kamar mandi. Sesampainya di dalam kamar mandi, tanpa canggung, aku mulai membuka pakaianku sendiri satu-persatu hingga kini aku berdiri dengan polos tanpa sehelai benangpun.

Nick terpaku menatapku dengan tatapan anehnya, sedangkan yang bisa kulakukan hanya menunduk. Malu, tentu saja. Aku seperti sedang menggoda lelaki yang bahkan tidak tertarik sama sekali denganku. Apa yang sedang kupikirkan? Kenapa aku begitu bodoh dan memalukan seperti saat ini?

Aku membalikkan tubuhku seketika, kemudian dengan sedikit tercekat, aku berkata “Pergilah, aku bisa mandi sendiri.”

Nick tidak pergi, karena aku tidak mendengar langkah kakinya menjauh, atau suara pintu kamar mandi yang di buka dan ditutup kembali.

“Apa yang kau inginkan, Nick?” aku bertanya dengan suara serak. Air mataku kembali menetes. Oh sial! Aku benar-benar berubah menjadi wanita yang super cengeng.

“Kenapa kau masih di sini? Apa yang kau inginkan?” tanyaku lagi.

“Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau inginkan?”

Aku membalikkan tubuhku seketika pada Nick. “Aku? Kau bertanya apa keinginanku? Yang kuinginkan adalah, supaya kau berhenti menatapku dengan tatapan menjijikkan seperti itu. supaya kau memperlakukanku sebagai istrimu, bukan calon istri kakakmu.”

“Aku tidak bisa, Sam. Kau tahu jika ini sulit, hubungan kita sangat rumit.”

“Kau yang membuatnya rumit, Nick!” seruku. “Kau memutuskan sendiri apa yang kau inginkan tanpa bertanya apa yang kuinginkan. Kau memilihkan aku jalan hidup yang seharusnya kupilih sendiri, ini tidak adil untukku, Nick!”

“Lalu apa yang kau inginkan?” tanyanya.

“Aku ingin kau! Aku tidak ingin kembali pada Ethan, aku ingin kau tetap bersamaku dan bayi kita, aku tidak ingin kembali pada Ethan!”

Dan tanpa kuduga, secepat kilat Nick meraih wajahku, lalu menyambar bibirku dengan bibirnya, dia mencumbuku dengan begitu panas hingga membuatku terengah karena rasa aneh yang mulai menggelitikku.

Tak lama, Nick melepaskan cumbuannya, dengan serak dia berbisik tepat pada bibirku. “Bercintalah denganku.”

Dan yang bisa kulakukan hanya mengalungkan lenganku pada lehernya, kemudian kembali menempelkan bibirku pada bibirnya, menciumnya dengan lembut penuh gairah hingga yang kurasakan saat itu hanya ingin supaya Nick segera menyentuhku, memilikiku sekali lagi dengan kesadaran sepenuhnnya.

***

Nick mengangkat tubuhku tanpa melepaskan tautan bibir kami, menurunkanku kembali di atas ranjang, setelah meloloskan pakaiannya sendiri, ia kembali kepadaku, menindihku dan menautkan bibir kami kembali.

Jemarinya berjalan dengan pasti menyentuh titik-titik sensitifku hingga membuatku tak dapat menahan erangan yang keluar begitu saja dari bibirku. Nick bermain-main dengan kedua payudaraku, seakan menegaskan jika itu miliknya, dan ya, itu memang miliknya.

Semua yang kupunya adalah miliknya, aku menyerahkan semuanya padanya, dan aku berharap dia mau menerimanya dengan senang hati.

Tiba saatnya ketika Nick akan menyatukan diri denganku, matanya menatap tajam tepat pada mataku, sedangkan bibirnya tak berhenti menggumam, entah menggumam apa, aku sendiri tidak mengerti. Dalam satu kali dorongan, tubuhnya menyatu sepenuhnya pada tubuhku. Nick mengerang panjang, seakan menikmati penyatuan tubuh kami, pun denganku yang juga tidak ingin berhenti mendesah seakan tak kuasa menahan kenikmatan yang kurasakan karena penyatuan kami.

Tatapan mata Nick melembut, seiring dengan pergerakannya yang seirama, membuatku mendesah, membuka bibirku hingga Nick kembali meraupnya. Nick mencumbuku kembali, dan aku kembali merasakan gairahku meningkat karena cumbuannya.

Oh Nick, dia memperlakukanku dengan begitu lembut, seakan takut jika melukaiku, cumbuannya sekan tak ingin berhenti, pergerakannya seakan mampu membunuhku dengan kenikmatan yang datang menghantam lagi dan lagi. Nick benar-benar membuatku jatuh semakin dalam untuk mencintainya, untuk menginginkannya selalu berada di sisiku. Mampukah aku mendapatkan apa yang kuinginkan? Mempertahankan Nick agar selalu berada di sisiku?

-TBC-

Samantha – Bab 4

Comments 3 Standard

Samantha

 

Dan entah keberanian dari mana yang datang padaku, secepat kilat aku berdiri, berlari menuju ke arah Nick, kemudian memeluk erat tubuhnya dari belakang.

“Jangan pergi.” ucapku tanpa bisa kutahan.

Nick membatu karena ulahku, tubuhnya kaku dan beku, seakan tak percaya dengan apa yang kulakukan saat ini. Ya, bahkan aku sendiri saja tidak percaya dengan apa yang kulakukan saat ini. Aku begitu berani, begitu bodoh. Kenapa aku melakukan hal ini? Dan satu-satunya jawaban kini menari-nari dalam kepalaku.

Aku tidak ingin dia pergi meninggalkanku.

***

Bab 4

 

“Apa yang kau lakukan?” Suara Nick terdengar seperti sebuah desisan. Tapi tubuhnya masih membatu tanpa pergerakan sedikitpun.

Aku mengeratkan pelukanku. “Aku hanya ingin supaya kau tidak pergi.”

Nick mencoba melepaskan pelukan tanganku, tapi aku enggan melepaskannya. “Jangan membuatku sulit.”

“Aku tidak pernah membuatmu sulit.”

“Dengan seperti ini, kau membuatku sulit.” lirihnya.

“Nick, aku hanya takut di tinggal di sini sendiri, aku takut tidur di sini sendiri.” Aku kembali merengek.

Kudengar, Nick menghela napas panjang. “Oke, aku akan menemanimu sampai kau tertidur, tapi aku harus pulang.”

Aku melepaskan pelukanku, Nick kemudian membalikkan tubuhnya hingga menatap ke arahku. Sedangkan yang kulakukan hanya kembali menundukkan kepalaku. Entahlah, kini, aku selalu merasa gugup dan canggung saat lelaki ini berada di dekatku.

“Apa yang terjadi denganmu? Kau berubah menjadi wanita manja.” ucapnya pelan.

Aku mengangkat wajahku seketika hingga mataku bertemu tepat pada matanya. “Aku sendiri tidak tahu, aku seperti tidak mengenali diriku sendiri.”

“Lupakan saja, ayo, kutemani kau hingga tertidur.”

Nick kemudian berjalan di depanku menuju ke arah kamarku, sedangkan aku hanya dapat tersenyum menatap ke arah punggung lebarnya yang sudah semakin menjauh. Jantungku kembali berdegup kencang seakan ingin meledak. Oh, aku tahu perasaan apa ini, aku mengerti apa yang sedang kurasakan pada Nick karena dulu aku juga merasakan perasaan ii pada Ethan.

Tuhan, kenapa jadi seperti ini?

***

Esoknya, aku terbangun sendiri. Ya, tentu saja, Nick sudah tidak ada. Mungkin dia sudah pulang semalam, aku sendiri tidak tahu.

Nick benar-benar menemaniku tadi malam hingga aku tertidur pulas. Tapi bukan menemani tidur di sebelahku, melainkan menemani duduk di kursi sebelah ranjang yang kutiduri. Dia hanya diam, menatap ke arahku yang mencoba memejamkan mata, tapi sedikit sulit. Hingga aku memaksa mataku menutup rapat-rapat dan mulai tertidur pulas sampai pagi ini.

Setelah mandi, aku bergegas ke arah dapur. Lagi-lagi aku bingung akan membuat sarapan apa. Tapi saat sampai di meja dapur, aku melihat sudah ada beberapa masakan di sana.

“Sarapan pagimu. Habiskan”

-Nick-

Aku tersenyum membaca pesan singkat itu. Kuusap lembut perutku, setidaknya Nick sedikit perhatian padaku. Akhirnya aku memakan masakannya hingga habis dan aku kekenyangan.

Setelah sarapan, aku meraih telepon apartemen Nick, memencet tombol dan menghubunginya. Ya, aku ingin mendengar suaranya. Entahlah, rasanya aku selalu merindukannya, apa ini ada hubungannya dengan kehamilanku? Mungkin saja.

Cukup lama aku menunggru panggilanku di angkat, hingga kemudian, panggilan tersebut di angkat oleh seseorang.

“Halo.” Suara perempuan.

Aku menjauhkan telepon dari telingaku seketika. Kenapa yang mengangkat ponsel Nick perempuan? Apa perempuan itu sedang bersama dengan Nick? Apa hubungan mereka?

Tanpa banyak bicara, kumatikan sambungan teleponku, dan aku duduk merosot di lantai  ruang tengah apartemen Nick. Rasa sesak tiba-tiba ku rasakan di dadaku. Ada apa ini? Apa yang terjadi?

***

Aku memilih menghabiskan waktu di apartemen Natalie. Banyak bercerita dengannya karena yang kutahu, hanya dia teman tempatku mencurahkan isi hatiku. Natalie sendiri tampak antusias dengan kisahku, ia berkata jika hubunganku cukup rumit.

Ya, tentu saja, siapa juga yang ingin berada di posisiku. Di tinggalkan calon suami ketika hari pernikahan tinggal menghitung hari, menikah dengan lelaki yang tidak kau cintai, lalu jatuh cinta dengan lelaki itu saat mantan calon suamimu sadar dari koma. Di tambah lagi dengan keadaanku yang tengah berbadan dua seperti ini, oh, rasanya benar-benar frustasi.

“Kau tidak boleh terlalu banyak pikiran, Sam.” Natalie sekali lagi menyuarakan pendapatnya sembari membawakanku secangkir cokelat panas.

Aku meraih cangkir tersebut, meniupnya, lalu sedikit mencicipinya. Rasanya benar-benar nikmat.

“Aku tahu, Nath. Tapi aku tidak bisa mengontrol apa yang sedang kurasakan.”

“Apa Nick tahu tentang perasaanmu?”

Aku menggeleng lemah. “Aku tidak akan memberitahunya.”

“Kenapa?”

“Apa kau tahu, dia menatapku seakan aku adalah wanita menjijikkan, kehamilanku sudah seperti penyakit mengerikan baginya. Aku benci saat dia menatapku seperti itu. Jika dia tahu tentang perasaanku, aku sangat yakin jika dia akan murka.”

“Kau berlebihan. Kau belum mencoba memberi tahunya.”

“Untuk apa aku memberi tahunya, Nath? Dia akan mengembalikanku pada Ethan dan memilih hidup bebas sendiri, bukankah itu sudah menunjukkan apa yang ia rasakan padaku?”

Natalie menghela napas panjang. Kemudian aku melanjutkan ceritaku.

“Lagi pula, mungkin dia sudah memiliki kekasih.”

“Apa? Kau jangan mengada-ada.”

“Aku tidak mengada-ada. Tadi siang aku menghubunginya, dan yang mengangkat teleponnya seorang perempuan.”

“Kau tahu bukan, Nick seperti apa? Hidupnya memang selalu berdampingan dengan banyak perempuan, bisa jadi itu salah satunya, tapi bukan berarti dia kekasihnya.”

Mataku mulai kembali berkaca-kaca. Astaga, hormon ini benar-benar membunuhku. “Aku, aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan diriku. Dadaku terasa sesak saat mendengar suara perempuan tadi.”

Natalie tiba-tiba memelukku, dan aku kembali menangis. Oh tuhan, bagaimana mungkin aku menjadi secengeng ini?

“Kau mencintainya, Sam. Aku tahu apa yang kau rasakan.”

Kubalas pelukan Natalie. “Tapi aku bingung dengan hubungan kami, Nath. Bagaimana dengan Ethan?”

“Kau tidak bisa menyenangkan semua pihak, Sam. Harus ada yang kau korbankan.”

“Jika aku kembali dengan Ethan, Nick juga akan bahagia, tapi aku tidak yakin bisa kembali dengan Ethan, Nath. Aku ingin pergi, tapi Nick memaksaku supaya tetap tinggal bersamanya hingga waktunya tiba untuk dia mengembalikanku pada kakaknya.”

Natalie melepaskan pelukannya, dia menghela napas panjang sebelum menggumam, “Kadang aku bingung dengan apa yang dirasakan Nick. Seolah-olah dia juga menginginkanmu, tapi di sisi lain, dia tidak ingin mengkhianati kakaknya.”

Aku menundukkan kepalaku. “Dia tidak pernah menginginkanku.” Desahku.

“Kau tidak tahu apa yang terjadi dengannya di belakangmu, bisa saja dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu.”

“Jangan membuatku semakin berharap padanya, Nath. Aku sudah tersiksa dengan perasaan ini.”

Natalie menurunkan bahunya. “Baiklah, tapi kuharap, kau selalu bahagia, Sam. Entah dengan Nick, atau dengan Ethan.”

Dan kupikir, kebahagiaan yang sudah menjauhiku, Nath. Aku tidak mengerti kenapa takdir begitu kejam mempermainkanku. Jatuh cinta dengan Nick bukanlah pilihanku, tapi inilah yang kurasakan saat ini. Tanpa kusadari aku mulai memendam rasa padanya, saat dia tidak sedikitpun tertarik padaku. Bagaimana caraku untuk menghapuskan perasaan ini?

***

Sejak jam lima sore, aku sudah kembali ke apartemen Nick. Tapi karena salju turun begitu lebat, memaksaku menunggu cukup lama di stasiun bawah tanah. Ya, aku tak mungkin pulang dengan keadaan seperti ini.

Mantelku saja seakan tidak berguna karena hawa dingin mulai menusuk dalam  tulangku. Sampai kapan aku akan terjebak di sini?

“Anda butuh bantuan, Miss?” tanya seorang lelaki yang juga sedang duduk tepat di sebelahku.

Aku tersenyum dan hanya menggelengkan kepalaku, “Tidak, terimakasih.”

“Sepertinya anda kedinginan, bibir anda membiru.”

Lagi-lagi aku hanya tersenyum. Siapa yang tidak kedinginan saat salju turun dengan begitu lebat seperti saat ini? Aku merogoh ponsel di dalam tasku, ingin rasanya aku menghubungi Nick, dan memintanya untuk menjemputku, tapi itu mustahil Nick tidak akan bersedia menjemputku di sini, di tempat umum, tempat dimana banyak orang yang bisa mengambil gambarnya dan membuat berita tentangnya. Ya, Nick memang benci sekali dengan media yang memberitakannya, ia tidak suka di beritakan.

Lagi pula, aku takut. Takut jika yang mengangkat teleponku nanti adalah perempuan tadi. Perempuan yang membuat dadaku terasa sesak dan sakit, lalu membuatku menangis terisak karena kesakitan.

Aku mengembalikan ponselku ke dalam tas. Kemudian merapatkan mantel yang kukenakan. Tak lama, kudengar ponselku berbunyi. Siapa? Apa Nath menghubungiku?

Kulihat nama yang pemanggil yang terpampang jelas di sana. Itu Nick.

“Halo.” Secepat kilat aku mengangkat teleponnya.

“Kau dimana? Salju turun dengan lebat, tapi kau tidak ada di apartemen”

“Kau di apartemen?”

“Ya, ada barangku yang tertinggal.” Nick terdengar sedikit ragu. “Kau di mana?” tanyanya lagi.

“Uum, aku ke rumah Natalie. Dan saat pulang, aku terjebak di stasiun bawah tanah, empat blok dari apartemenmu.”

“Apa? Jadi kau masih di sana?”

“Ya.” Desahku.

“Tunggu aku.”

“Apa?” aku terkejut dengan apa yang di ucapkan Nick. “Kau akan menjemputku?”

“Ya, tunggu aku.”

Setelah ucapannya tersebut, Nick mematikan teleponnya. Jantungku kembali berdegup kencang, membuat rongga dadaku terasa nyeri. Tapi sebuah senyuman terukir begitu saja pada wajahku tanpa bisa kutahan.

Nick akan menjemputku, dia memintaku untuk menunggunya. Dan tentu saja aku akan menunggunya, menunggu dia menjemputku dan membawaku pulang bersamanya.

-TBC-

Samantha – Bab 3

Comments 7 Standard

Samantha

 

Bab 3

 

“Aku hamil.” Dua kata itu menghentikan langkahnya seketika, tubuhnya membeku tanpa pergerakan sedikitpun. Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya. Ekspresinya, jangan di tanya lagi. Aku takut, takut jika dia menolak kehadiran bayinya, takut jika dia berbuat nekat padaku atau pada bayi ini. Tuhan, semoga aku sanggup menghadapi semua reaksinya padaku setelah dia mengetahui kenyataan ini.

Kebisuan Nick membuatku menggigil, ekspresi shocknya membuatku mual, ini akan berakhir buruk, aku tahu itu. Nick tidak suka dengan apa yang kukatakan, dan dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

Hingga kemudian, dia melanjutkan langkahnya menginggalkanku, seakan apa yang kukatakan tadi bukanlah hal yang serius, bukan suatu hal yang mengganggunya. Dia mengabaikanku. Dan yang bisa ku lakukan hanya satu, menangis.

***

Hari-hari yang kulalui setelah malam itu begitu berat. Nick benar-benar mengabaikanku, dia sama sekali tidak peduli dengan keadaanku yang memburuk. Mual muntah berlebihan setiap hari hingga nyaris membuatku di rawat di rumah sakit.

Aku sakit, dan entah kenapa hatiku juga merasa tersakiti karena sikap yang di tampilkan Nick padaku. Aku menginginkannya, menginginkan untuk lebih dekat dengannya, aku menginginkan dia perhatian padaku, tapi nyatanya itu hanya keinginanku. Aku tidak mengerti dari mana datangnya keinginan ini. Dan aku bingung dengan sikapku yang mudah sekali menangis seperti ini.

Tentang Ethan, aku masih sering mengunjunginya, bahkan hampir setiap hari, tapi aku merasa ada sesuatu yang hilang di sana, sesuatu yang dulu memaksaku bertahan untuk menunggunya. Tapi dua bulan kemudian, ketika dia benar-benar sadar untukku, yang ku rasakan adalah rasa takut. Bukan takut jika Ethan marah ketika mengetahui keadaanku saat ini, tapi aku takut jika Nick mengembalikanku padanya.

Sekali lagi kuusap lembut perutku yang sudah sedikit berbentuk, mengingat waktu empat bulan terakhir membuatku kembali menangis. Aku seperti hidup di dalam sebuah neraka, neraka yang di ciptakan oleh suamiku sendiri.

Nick memang tidak melakukan apapun terhadapku, tapi kebisuannya membuatku tersakiti, rasa tidak pedulinya membuatku seakan-akan tak di inginkan. Apa yang akan terjadi setelah ini? Haruskah aku melakukan apa yang di rencanakan oleh Nick? Bersembunyi dari Ethan, melahirkan bayi ini, mencarikan orang tua asuh untuknya, lalu kembali lagi pada Ethan seperti tidak terjadi apapun? Bisakah?

Kembali menghela napas panjang, aku merebahkan tubuhku di atas ranjang besar yang terasa dingin, mencoba memejamkan mata dan menghilangkan bayangan-bayangan Nick yang membuatku tersakiti. Aku harus istirahat, demi diriku, demi bayiku.

***

Esoknya, setelah mandi dan berganti pakaian, sedikit terkejut saat tiba-tiba Nick masuk ke dalam kamar kami. Aku yakin jika ada sesuatu yang akan dia bicarakan padaku, dan ternyata….

“Bereskan pakaianmu.”

“Ada apa?”

“Kau akan pindah.”

“Apa? Pindah? Pindah ke mana?”

“Apartemenku, minggu depan Ethan mungkin sudah pulang, dan aku tidak ingin dia melihat kau ada di rumah ini dengan keadaanmu yang seperti itu.”

“Kenapa dengan keadaanku? Aku hanya hamil, bukan terjangkit penyakit menular, jadi berhenti berbicara sinis tentang keadaanku.” Aku tak sanggup lagi menahan kalimat itu untuk tidak keluar dari mulutku. Sungguh, sikap yang di tampilkan Nick benar-benar membuatku mual.

“Jangan mempersulitku, sialan! Kau yang menginginkan ini terjadi, ini adalah keputusanmu untuk mempertahankan bayi itu, jadi kau harus menanggung resikonya.”

“Resiko?”

“Ya, resiko, sekarang cepat bereskan pakaianmu dan mari kita pergi.”

Aku kembali ternganga dengan sikap yang di tampilkan Nick padaku. Begitukah sifat aslinya? Sekasar itukah? Sekejam itukah?

***

Hari ini, Nick benar-benar memindahkanku ke apartemennya. Rupanya ini sudah ia rencanakan jauh-jauh hari. Terlihat jika apartemen yang akan ku tempati ini terlihat begitu rapih, siap huni dan juga semua sudah tersedia di sana.

Aku menatap ke seluruh penjuru ruangan. Apartemen ini tidak jauh berbeda dengan kamar Nick. Bercat hitam, dan suasananya terasa begitu dingin, seakan tidak ada sedikitpun keceriaan di sana.

“Semuanya sudah ku siapkan, kau bisa masak, dan lain sebagainya, semua bahan sudah ada di dapur.”

Aku menatap Nick dengan mata senduku. Nick kemudian melangkahkan kakinya menuju ke sebuah ruangan.

“Ini kamarmu, kau akan tidur di sini nanti.”

“Dan kau?”

“Aku? Aku tetap akan tinggal di rumah.”

“Maksudmu, kau akan meninggalkanku untuk tinggal di apartemenmu yang dingin ini sendiri?”

“Lalu apa yang kau inginkan? Ethan akan curiga jika aku tidak tinggal di rumah kami.”

“Nick, kita tidak akan bisa menyembunyikan semua ini dari Ethan, bagaimana dengan media? Ethan akan tahu ketika dia sudah membaca berita tentang dirimu.”

“Aku akan melakukan apapun supaya Ethan tidak mengetahui tentang hubungan sialan ini.”

“Termasuk membiarkan perempuan hamil tinggal di apartemen sebesar ini sendirian?”

Nick menghela napas kasar. “Jangan berlebihan, aku akan sering-sering mengunjungimu ke sini.”

Aku menangis, dan aku sungguh membenci air mata ini. Oh, ini benar-benar terasa berat. Aku tidak ingin tinggal sendiri tanpa bisa melihat Nick. Entahlah, aku hanya ingin selalu dekat dengannya.

Aku melihat Nick berjalan menuju ke arah pintu keluar, apa dia benar-benar meninggalkanku di sini sendiri?

“Kau tahu Nick, aku melihatmu sebagai seorang pengecut.” Kalimat itu keluar begitu saja tanpa bisa ku tahan.

Nick menghentikan langkahnya. “Dan apa kau tahu, jika penilaianmu tidak berarti untukku?” Nick membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku. “Aku sudah pernah mengecewakan Ethan sebelumnya, membuatnya gagal menikah dengan wanita yang ia cintai, dan kini, aku akan melakukan apapun untuk kembali menyatukan dia dengan wanita yang dia cintai.”

Aku mengerutkan keningnku, tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan, tapi belum sempat aku bertanya lagi, Nick sudah pergi meninggalkanku. Dia benar-benar meninggalkanku sendiri di sini.

***

Malamnya…

Aku lapar. Sejak Nick pergi, aku menghabiskan waktuku di dalam kamar. Yang bisa kulakukan hanya menangis dan ketakutan. Oh, aku sendiri tidak mengerti apa yang terjadi denganku. Setelah kedua orang tuaku meninggal, aku hanya tinggal sendiri, dan bisa hidup mandiri di dalam rumah sederhana kami. Aku tidak takut, tidak juga merasakan perasaan tidak nyaman seperti yang kurasakan saat ini, tapi entah kenapa saat ini aku merasakan perasaan campur aduk seperti ini.

Rasa takut, rasa benci rasa rindu semua bercampur aduk menjadi satu hingga yang dapat kulakukan saat ini hanya menangis, apa ini ada hubungannya dengan kehamilanku? Mungkin saja.

Aku bangkit, menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesi, aku menuju ke arah dapur, melihat apa yang bisa di masak di sana.

Ternyata Nick sudah menyiapkan semuanya, ada daging, ayam, sayur yang sudah siap masak. Beberapa makanan kaleng, dan juga snack. Sedikit bingung tentang menu makan malamku.

“Kau mau apa?” tanyaku pada perut buncitku, dan aku hanya bisa tersenyum menertawakan diriku sendiri.

Selama ini aku tidak cukup perhatian dengan kehamilanku, semuanya karena aku terlalu sibuk memilikirkan perasaanku terhadap Ethan maupun Nick. Kini, aku baru sadar jika aku harus lebih memperhatikan dia jika aku ingin mempertahankannya.

Aku memilih-milih sayuran di dalam lemari pendingin, tapi tidak berselera, melihat daging yang masih mentah saja membuatku sedikit mual. Akhirnya aku memilih memasak makanan kaleng. Kuraih sebuah makanan kaleng, lalu kucoba membuka kaleng tersebut. Dan…

‘Cetaakkk’ Alat pembukanya patah.

Astaga, apa aku benar-benar sial hari ini? Kuraih satu lagi makanan dalam kaleng tersebut, kemudian aku mencoba membukanya dengan lebih hati-hati. Lagi-lagi…

‘Cetaakkk’ alat pembukanya kembali patah.

Dengan kesal, kulemparkan saja kaleng tersebut ke sembarang arah, kemudian aku mulai menangis. Aku lapar, dan aku kesal dengan apa yang menimpaku saat ini.

Kuraih telepon apartemen dan mencoba menghubungi seseorang.

“Halo?” teleponku di angkat pada deringan kedua oleh Nick. Ya, entahlah, aku ingin menghubunginya.

“Aku lapar.” Astaga, jika kalian pernah melihat anak kecil yang merengek pada ibunya ketika meminta mainan, seperti itulah aku saat ini. Menangis dan merengek pada Nick. Apa yang terjadi denganku?

“Lapar? Kau bisa memasak, banyak makanan di dalam lemari pendingin.”

“Aku tidak ingin masak, Nick, aku ingin makanan kaleng, dan kalengnya tidak bisa terbuka.”

“Apa?”

“Pengaitnya patah setiap kali aku membukanya.” Lagi-lagi aku merengek. Dan tanpa di duga, dengan begitu menjengkelkannya, Nick memutus sambungan telepon kami.

Aku kembali menangis, kulemparkan saja telepon tersebut ke sembarang arah sama seperti aku melemparkan kaleng makanan tadi. Entahlah, aku hanya terlalu kesal. Yang bisa ku lakukan saat ini hanya kembali ke tempat tidur, menangis hingga lelah dan ketiduran, mungkin aku akan berakhir mati kelaparan di dalam apartemen ini, atau, apa memang seperti itukah yang di inginkan Nick?

***

Kembali terbangun saat aku merasakan tubuhku di goncang-goncang oleh seseorang. Mataku terbuka seketika saat sadar jika itu adalah Nick. Dia datang kembali.

Perasaan senang dan bahagia datang menghampiriku, aku bahkan melupakan rasa kesal yang tadi kurasakan hingga membuatku tidak berhenti menangis.

“Makanlah.” Nick memberiku sebuah nampan berisikan makan malam yang tadi kuinginkan.

“Kau memasaknya?”

“Ya.”

“Kau bisa membuka kalengnya?” tanyaku lagi dengan begitu bodohnya.

“Ya.”

Secepat kilat kuraih nampan tersebut dan mulai memakannya dengan begitu lahap. Rasanya sangat nikmat, dan entah kenapa aku merasakan jika masakan ini adalah masakan terenak yang pernah kumakan. Apa Nick menambahkan bumbu lain dalam makanan kaleng ini ketika memasaknya? Entahlah, yang pasti aku sangat menyukainya.

“Kau benar-benar kelaparan?” Nick bertanya masih menatapku dengan tatapan herannya.

Aku hanya menganggukkan kepalaku tanpa menghentikan aksi makanku yang benar-benar terlihat seperti orang yang kelaparan.

“Bisakah kau makan dengan lebih pelan?”

Aku menggelengkan kepala. “Aku tidak makan sejak pagi tadi, apa salah jika cara makanku berlebihan? Bayiku juga kelaparan.” Setelah jawabanku tersebut, Nick tidak lagi berkomentar. Ia memilih membalikkan tubuhnya kemudian melangkah pergi.

“Kau mau ke mana?” tayaku lagi. Sungguh, aku tidak ingin dia meninggalkanku malam ini. Ada apa denganku?

“Membersihkan dapur.” jawaban singkat itu membuatku sedikit tersenyum lega. Setidaknya Nick tidak akan pergi meninggalkanku malam ini.

***

Aku benar-benar merasa kenyang setelah menghabiskan makanan yang di masakkan oleh Nick. Aku bangkit dan membawa bekas piringku menuju ke arah dapur, rupanya, Nick masih berada di sana. Lelaki itu tampak sibuk mencuci bekas-bekas wadah yang ia gunakan untuk memasak tadi, dan aku kembali tersenyum.

Jantungku berdebar tak beraturan. Andai saja jalan hidup kami tak serumit ini, mungkin aku dan Nick bisa hidup bahagia bersama dan menantikan kehadiran buah hati kami.

Aku melangkahkan kakiku menuju ke arah Nick. Kemudian mulai bertanya untuk menghilangkan kebisuan dan kegugupan di antara kami.

“Kau menambahkan sesuatu dalam makanan tadi?” tanyaku sambil membersihkan piring bekas tempatku makan.

“Berikan padaku, biarkan aku yang mencucinya.” Nick merebut piringku, kemudian mencucinya dengan cekatan, sedangkan aku hanya pasrah sambil menatapnya. “Tidak, aku tidak menambahkan apapun.”

“Tapi rasanya berbeda dengan makanan kaleng biasanya.”

“Mungkin pabriknya merubah resepnya.” jawabnya datar. Dan aku hanya mengerutkan keningku. “Kau mau tambah?” tanya Nick tiba-tiba.

“Aku sudah sangat kenyang.” jawabku sambil mengusap perut buncitku. Nick menatap apa yang kulakukan, tapi secepat kilat ia memalingkan wajahnya. Ya, aku tahu jika dia masih tidak menginginkan bayi ini. Tapi biarlah, aku sudah terbiasa dengan sikap acuh tak acuhnya.

Karena Nick masih menyibukkan dirinya sendiri di dalam dapur, akhirnya dengan sedikit canggung aku meninggalkannya, duduk di depan televisi dan mulai menyalakan televisi di hadapanku tersebut.

Cukup lama aku menonton siaran ulang drama romantis komedi yang di putar di salah satu chanel  Tv tersebut sebelum Nick datang menegurku.

“Sudah malam, harusnya kau kembali tidur.”

Aku menatap ke arah Nick, dia sudah mengenakan mantelnya dan juga topinya. Dia akan pergi, aku tahu itu.

“Kau pergi?”

“Ya.” jawabnya pendek.

“Ba- bagaimana  jika nanti aku membutuhkan sesuatu?”

“Jika kau tidur, kau tidak akan membutuhkan sesuatu.”

Kurasakan pandanganku mulai mengabur, mataku kembali berkaca-kaca. Ah, bagaimana mungkin aku bisa secengeng ini? Nick tetap melanjutkan langkahnya menuju ke arah pintu keluar tanpa menghiraukanku.

Dan entah keberanian dari mana yang datang padaku, secepat kilat aku berdiri, berlari menuju ke arah Nick, kemudian memeluk erat tubuhnya dari belakang.

“Jangan pergi.” ucapku tanpa bisa kutahan.

Nick membatu karena ulahku, tubuhnya kaku dan beku, seakan tak percaya dengan apa yang kulakukan saat ini. Ya, bahkan aku sendiri saja tidak percaya dengan apa yang kulakukan saat ini. Aku begitu berani, begitu bodoh. Kenapa aku melakukan hal ini? Dan satu-satunya jawaban kini menari-nari dalam kepalaku.

Aku tidak ingin dia pergi meninggalkanku.

-TBC-