Missing Him – Bab 4

Comments 2 Standard

 

Bab 4

 

Ven. Please. aku pengen ngomong sesuatu sama kamu.” Ucap Edo yang sudah menghadangku.

Ini sudah beberapa hari setelah pengakuannya padaku… Dan aku menghindarinya. Aku tidak ingin dia kembali membahas tentang hubungan kami.

“Lepasin Do. Aku mau pulang.”

“Biar aku yang antar.”

“Enggak, aku bisa pulang sendiri.” Jawabku dengan nada ketus.

“Please Ven,  jangan cuekin aku seperti ini. Jangan hindarin aku.” Lirihnya.

Aku menghela napas panjang. “Oke, tapi kamu harus janji kalau nggak akan bicara seperti itu lagi padaku.”

“Oke, aku janji.”  Dan akhirnya kami pun baikan.

Hubungan kami kembali seperti semula. Ibarat teman tapi mesra, ibarat sepasang kekasih tanpa status yang pasti. Gadis-gadis di sekolah kembali memusuhiku, dan gosip kami berpacaranpun kembali gencar di beritakan di kalangan anak-anak sekolah. Tapi aku tak ambil pusing. Yang terpenting adalah satu hal, Edo tak pernah lagi mengucapkan perasaan sukanya padaku. Dan itu membuatku tenang.

***

“Kenapa?” Tanya Mas Rangga padaku dengan sedikit berbisik.

“Ahh.. enggak.” Jawabku dengan sedikit tergagap.

“Wajahmu pucat. Kamu nggak enak badan?”

“Emmm kepalaku sedikit pusing, itu saja.” Jawabku cepat.

“Kamu mau kita pulang?” Tanya mas Rangga penuh perhatian.

Aku mengangguk cepat. “Ya, aku ingin pulang.” Bisikku padanya.

“Maaf Pak, sepertinya istri saya sedang tidak enak badan.” Ucap mas Rangga dengan sopan pada Edo. “Kami akan permisi pulang terlebih dahulu jika Pak Edo tidak keberatan.” Lanjutnya lagi dengan penuh hormat.

Edo menatapku dengan tatapan anehnya. Dan astaga,  Itu membuatku salah  tingkah.

“Kamu sakit?” Tanya Edo penuh perhatian.

“Umm, Maaf Pak, hanya sedikit pusing.”

“Mau saya antar pulang?”

Pertanyaan Edo membuat aku dan Mas Rangga saling menatap satu sama lain. Mengantar pulang? Yang benar saja. Dia adalah atasan  Mas Rangga, semoga saja Mas Rangga tidak curiga dengan sikap aneh Edo.

“Kami membawa mobil kantor, Pak.” Jawab mas Rangga cepat.

Edo akhirnya menganggukkan kepalanya. “Baiklah kalau begitu. Emm semoga kita bisa bertemu lagi.” Ucap Edo sambil menatap tajam ke arahku. Sedangkan aku hanya bisa menunduk.

***

Kami akhirnya keluar dari restoran tersebut. Mas Rangga berjalan cepat di hadapanku dengan ekspresi wajah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Ada apa dengannya?

“Mas, jangan terlalu cepat.” Ucapku sambil sedikit berlari menyusulnya. Tentu sangat susah mengingat saat ini aku sedang menggendong Tasya.

Tapi kemudian aku merasakan seseorang meraih sebelah tanganku. Saat aku menoleh ke belakang, aku mendapati tangan Edo yang sedang menggenggam pergelangan tanganku.

Please.  Jangan lakukan apa-apa, Do. Aku nggak mau Mas Rangga tau tentang hubungan kita dulu. Lirihku dalam hati.

“A.. ada apa Pak?” Tanyaku dengan suara tergagap.

Lalu aku merasakan Edo menyisipkan sesuatu di telapak tanganku, ia kemudian menggeggamkan tanganku.

“Hubungi aku.” Ucapnya.

Dengan spontan aku menoleh ke arah Mas Rangga. Mas rangga ternyata sudah berdiri tepat di sebelah pintu mobil dengan tatapan menuju ke arah kami.

“Edo..  Please..” lirihku hampir tak terdengar. Entah kenapa aku sangat takut, takut jika Mas Rangga tau semuanya kemudian dia membenciku.

“Kalau kamu ingin semua baik-baik saja, please, hubungi aku.” Ucap Edo lagi lalu dia pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih bingung.

***

Sampai di rumah, Mas Rangga tetap diam, dia seakan tidak acuh dengan  keberadaanku. Kenapa dia seperti itu? Apa dia tau hubunganku dengan Edo?

“Aku mandi dulu.” ucapnya datar sambil masuk ke dalam kamar mandi.

Dadaku terasa sesak melihat tingkahnya seperti itu, Mas Rangga tak pernah bersikap seperti itu padaku. Dia selau lemah lembut, perhatian, dan selalu menganggapku sebagai ratu, tapi entahlah, aku bingung dengan sikapnya sesore ini.

Akhirnya aku memilih berdiam diri di kamar bermain Tasya. menidurkan Tasya di boks bayi yang berada di ujung ruangan tersebut. Kemudian aku hanya bisa membatu di sana.

***

Aku membuka pintu rumah, dan mendapati sosok tinggi di hadapanku. Kenapa dia kemari? Pikirku saat itu.

“Mas Rangga, kenapa di sini?”

Veny, Boleh aku masuk?”

“Ya, silahkan.”

walau dengan wajah bingung aku tetap mempersilahkan mas Rangga masuk. Rangga Kurniawan adalah rekan kerjaku di sebuah perusahaan tempatku bekerja. Dia senior, tentu saja, karena sudah bertahun-tahun dia kerja di sana. Umurnya mungkin sekitar tiga sampai lima tahun lebih tua dari pada aku.

Kami tak pernah dekat, karena Rangga sendiri memang terkenal pendiam. Tapi dia bukan tipe  yang pendiam karena angkuh dan tak suka berteman. Tidak, dia bukan orang seperti itu. Dia ramah, banyak teman, tapi sikap pendiamnya mungkin karena memang dia tak ingin banyak bicara.

Aku mempersilahkan mas Rangga duduk di kursi tamu.

“Mau minum apa Mas?” Tanya ku sedikit canggung. Sungguh aku masih bingung dengan kehadiran Mas Rangga di rumahku.

“Tidak perlu Ven, aku hanya ingun bertemu kedua orang tuamu.”

Aku mengernyit, untuk apa mas Rangga ingin menemui mereka?

“Untuk apa mas mau menemui mereka?” Tanyaku sedikit bingung.

“Enggak apa-apa, ada yang mau ku bicarakan dengan mereka.”

Aku mengangguk, “Baiklah, aku panggil mereka dulu, ya,”

Akhirnya aku masuk, memanggil ibu dan ayahku. Merekapun tampak bingung dengan kehadiran sosok mas Rangga.

Mas Rangga sendiri langsung memperkenalkan diri pada kedua orang tuaku dengan sangat sopannya. Sedangkan orang tuaku menyambut hangat kedatangannya.

“Jadi, Nak Rangga, apa ada yang perlu di bicarakan dengan kami?” Ayah akhirnya bertanya secara langsung kepada Mas Rangga.

“Begini pak, kedatangan saya kemari adalah untuk melamar Veny menjadi istri saya.”

Mataku membulat seketika. Aku yang dalam posisi berdiri tak jauh dari tempat duduk ayah dan ibuku, tak dapat bergerak sedikitpun. Semuanya terasa kaku, mungkin aku terlalu terkejut dengan apa yang di katakan Mas Rangga.

Melamar? Astaga, Apa dia bercanda? Kami bahkan sangat jarang sekali berbicara satu sama lain, kenapa dia bisa-bisanya melamarku?

-TBC-

Advertisements

Missing Him – Bab 3

Comments 2 Standard

 

Bab 3

 

Dia masih menggerakkan tubuhnya di atasku, bibirnya tak berhenti mencumbu sepanjang kulit tubuhku, ia menjelma menjadi sosok yang berbeda, bukan sosok dingin dan kaku seperti biasanya, Diakah Mas Rangga suamiku?

***

Tubuhku masih lunglai dalam pelukannya, Mas Rangga masih setia memelukku dan sesekali mengecupi pundakku. Kami masih sama-sama polos di bawah selimut yang sama setelah percintaan panas yang baru saja kami lakukan.

Percintaan panas? Ya… aku bahkan tak mengerti apa yang terjadi dengan Mas Rangga, kenapa ia bisa bersikap seperti itu padaku tadi.

“Terimakasih….” ucap Mas Rangga yang membuat tubuhku kembali bergetar.

“Apa ada yang salah denganmu Mas?”

“Kenapa?”

“Kamu berbeda.”

“Aku masih sama, aku hanya ingin melakukan apa yang menurutku benar.”

“Maksud Mas Rangga?” Tanyaku masih dengan raut bingung.

“Ku pikir selama ini aku tidak memperlakukanmu dengan benar, Sayang, maaf.”

“Aku juga minta maaf Mas..” lirihku.

“Untuk apa?”

‘Karena aku masih memikirkan dia dan belum bisa sepenuhnya menerimamu….’ ucapku dalam hati.

“Untuk semua kesalahan yang pernah kuperbuat.” Jawabku.

“Kamu nggak pernah salah. Mas yang selalu salah.” Mas Rangga berkata dengan mengusap lembut punggung telanjangku. “Ayo bangun, kita harus menjemput  Tasya.”

Aku menatapnya dan tersenyum ke arahnya. “Ayo.” Ucapku sambil bangun.

***

“Kamu kenapa sih Do? Gay?? Enggak kan?” Tanyaku pada lelaki yang kini duduk santai di hadapanku sambil meminum jus pesananku.

“Kenapa kamu tanya itu?”

“Do, aku capek kalo banyak cewek di sekolah ini yang salah paham padaku, mereka memusuhiku Do..”

“Kalo mereka macem-macem bilang saja sama aku.” Jawabnya santai.

“Aku nggak perlu pembelaan kamu, yang kuperlukan adalah berhenti bilang kalau kita pacaran. Jadi mereka nggak salah paham sama aku dan musuhi aku.”

“Kita memang pacaran..” jawab Edo dengan santai.

“Enggak. Kita nggak pernah jadian.”

“Mulai detik ini kita jadian.”

“Yang benar saja, kamu gila.”

“Ya,aku gila. Aku gila karena suka sama kamu.” Ucapan Edo membuatku membatu seketika.

Tidak! Edo tidak mungkin menyukaiku. Ini hanyalah triknya supaya aku mau menjadi pacar bohongannya.

“Nggak lucu tau nggak Do.” ucapku sambil berdiri dan bersiap meninggalkannya.

Tapi kemudian aku merasakan pergelangan tanganku di genggam oleh seseorang, dan saat aku melihatnya, ternyata Edo yang menggenggamnya.

“Kenapa Ven? Kamu nggak percaya kalau aku suka sama kamu?”

“Do, ini nggak bener, ini gila.”

“Ya, aku gila karena suka sama kamu Ven, please, lihat mataku dan cari kebenaran di sana.”

Aku menuruti apa mau Edo. Kutatap matanya, mencari kebenaran di sana, mencoba mencari kebohongan atau apa pun di sana. Tapi yang ku dapat, hanyalah sebuah ketulusan. Benarkah Edo tulus menyukaiku? Astaga! Tidak, kita tidak boleh menjalin kasih, kita hanya boleh berteman. Titik.

***

Bayangan Edo kembali menyeruak dalam benakku. Saat pertama kali Edo menyatakan rasa cintanya yang kemudian berujung penolakan dariku.

Ya, aku tau, aku dan Edo tak mungkin bersatu hanya karena satu alasan.

Kami berbeda keyakinan….

Satu hal itu membuatku jauh dari kata bersatu dengan Edo. Dan sampai kini aku sadar jika hubungan kami berdua memang tak lebih dari sekedar berteman.

“Ven. nanti temani mas ketemu sama Bos baruku,  ya,” suara Mas Rangga kembali menyadarkanku dari lamunan.

“Bos baru?” Aku mengernyit.

“Ya, sekarang bukan pak Chiko lagi yang jadi GM di kantor kita. Tapi anak dari pemilik kantor pusat.”

“Wah, yang benar Mas?”

“Iya, dan beliau baik sekali.” Ucap mas Rangga dengan semangat.

“Kapan?”

“Nanti setelah jemput  Tasya, kebetulan orangnya tadi hubungi Mas, minta di bawakan sebuah berkas yang kebetulan sedang Mas bawa.”

“Oke Mas.” Jawabku. Kemudian aku kembali menyiapkan diri serapi mungkin untuk segera bergegas menjemput  Tasya.

***

“Kita ketemu Bos kamu di mana, Mas?” Tanyaku saat Mas Rangga sibuk mengemudikan mobil yang sedang kami tumpangi. Tentu saja mobil ini bukan mobik milik kami sendiri. beberapa bulan yang lalu, Mas Rangga naik jabatan, dan perusahaan memfasilitasinya dengan kendaraan.

“Di restoran, beliau kebetulan ada di restoran tak jauh dari sini.”

“Aku tunggu di mobil saja deh Mas, nggak enak, aku bawa Tasya.”

“Ayo ikut, nggak apa-apa, Bosku kebetulan pengen lihat dan kenal kamu.”

Aku mengernyit. “Loh kenapa memangnya?”

“Beliau tau kalau kamu itu dulu adalah salah satu karyawan perusahaan yang teladan. Katanya setidaknya beliau ingin mengenalmu.”

Dan aku hanya menganggukkan kepala. Aku tidak heran dengan sikap atasan Mas Rangga. yang membuatku heran adalah sikap Mas Rangga sesore ini yang membuat jantungku jedak jeduk tak menentu. Dia banyak bicara, tak seperti sebelum-sebelumnya.

Tanpa terasa, akhirnya kami sampai juga di restoran yang di maksudkan. Kami turun dari mobil kemudian masuk ke dalam restoran tersebut.

“Itu orangnya.” Ucap mas Rangga sambil menunjuk seseorang yang sedang duduk membelakangi  kami di ujung ruangan.

Kami berjalan menuju ke arah orang tersebut. Dan alangkah terkejutnya aku ketika sampai di hadapan atasan Mas Rangga itu.

Dia… Dia…. Edo.. Lelaki yang selalu berada dalam pikiranku.

Aku membulatkan mataku seketika sedangkan Edo malah menyunggingkan senyumannya di hadapan kami seakan dia tidak terkejut sama sekali dengan pertemuan kami saat ini.

“Selamat malam Pak.” Ucap Mas Rangga sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Edo.

Aku melihat Edo membalas uluran tangan Mas Rangga. “Selamat malam, jadi, ini istri kamu?” Tanyanya sambil menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Ya pak, ini Veny.” Mas Rangga memperkenalkan aku kepada Edo. Sedangkan Edo dengan santainya mengulurkan tangannya padaku.

“Edo.” Ucapnya sambil tersenyum miring.

Aku mencoba membalas uluran tangan Edo walau kini tanganku sudah gemetar.

“Veny.” Jawabku dengan suara bergetar sambil menyambut uluran tangan Edo. kemudian aku merasakan Edo yang mengeratkan genggaman tangannya pada tanganku. Seakan dia menangkap sesuatu dan tak ingin melepaskannya. Apa maksud Edo? Kenapa dia kembali pada kehidupanku saat aku mulai membuka hati untuk Mas Rangga, suamiku?

-TBC-

Sleeping with My Friend – Bab 5

Comments 3 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

 

Bab 5

 

Jessie belum pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Hal itu membuat Miranda menunda kepulangannya hingga sang bossnya itu pulang. Saat Jessie keluar dari dalam ruang kerjanya, ia melihat lampu butiknya masih menyala dan tampak Miranda sedang merapikan sebuah lemari yang penuh dengan renda-renda.

Jessie mengerutkan keningnya dan berjalan menuju ke arah bawahannya tersebut. “Miranda? Kau belum pulang?” tanya Jessie sembari mendekat.

“Ya. Kupikir kau butuh teman.” Miranda menjawab. Selama ini, mereka memang sudah seperti teman baik.

“Tidak, aku baik-baik saja. Seharusnya kau sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu.”

“Aku tidak bisa membiarkanmu sendiri, Jess. Tidak setelah apa yang kulihat.”

“Kau, melihatnya?” Tanya Jessie dengan sedikit malu. Jika yang dimaksud Miranda adalah pertengkarannya dengan Steve, maka Jessie benar-benar tak dapat menahan rasa malunya.

“Jika yang kau maksud tentang vibrator dan vagina, maka ya, aku dan yang lain mendengarnya.”

“Oh astaga…” Jessie menutup wajahnya sendiri.

“Ya ampun Jess, kau bersikap seolah-olah dunia runtuh setelah mengatakan hal itu.”

“Jika boleh jujur, aku tak tahu apapun tentang hal itu.”

Miranda membulatkan matanya kemudian tertawa lebar. “Benarkah? Astaga.” Jessie ikut tertawa melihat Miranda tertawa.

“Sudahlah, lebih baik kita pulang, sudah malam.” Ajaknya. Tentu saja Jessie tak ingin membahas tentang masalahnya dengan Steve. Bagaimanapun juga, Jessie tak ingin lagi membahas kejadian tentang ia tidur dengan temannya itu.

Saat Jessie keluar dari butiknya, saat itulah pandangannya terpaku pada sosok pria yang sudah berdiri di samping pintu mobilnya.

Well, rupanya pangeranmu yang lain menjemput.” Bisik Miranda ketika Miranda melihat Henry berada di sana. “Oke, sepertinya aku pulang dulu.”

“Hati-hati.” Hanya itu yang dapat dikatakan Jessie karena saat ini fokusnya sudah ke arah Henry yang datang ke arahnya. Astaga, apa yang akan terjadi? Apa pria ini akan memutuskan hubungan mereka?

“Hai.” Henry menyapa dengan lembut.

“Hai.” Jessie membalas, entah kenapa ia merasa canggung dengan  kekasihnya ini.

“Pulang bersama?” tawar lelaki itu. Dan Jessie hanya mengangguk. Ia membiarkan saja mobilnya terparkir di depan butiknya, sedangkan dirinya memilih ikut bersama dengan Henry. Bagaimanapun juga, ia ingin membahas tentang masalah mereka, meminta maaf tetang malam itu dan juga membahas tentang hilangnya lelaki itu dua hari terakhir tanpa kabar.

Jessie dibimbing memasuki mobil Henry. Setelah keduanya sudah berada di dalam mobil, kecanggungan kembali terasa.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi, kenapa kita bisa secanggung ini satu sama lain.” Jessie mulai membuka suara.

Henry tersenyum. “Aku tidak canggung, mungkin kau saja yang merasa seperti itu, Sayang.” Ucapnya dengan lembut sembari mengusap puncak kepala Jessie dengan sebelah tangannya.

Jessie merasa suasana sedikit mencair. Henry mulai menyalakan mesin mobilnya kemudian mengemudikannya. Jessie menyandarkan punggungnya dan bersikap sesantai mungkin. Ia tahu bahwa sejak tadi ia terlalu canggung. Mungkin karena tak tahu apa yang harus ia bahas dengan Henry.

“Jadi, apa yang kau lakukan dua hari terakhir?” tanya Jessie mulai membuka suara. Ia hanya ingin mendengar alasan Henry, kenapa lelaki itu tak sempat menghubunginya.

“Kau tahu, ada beberapa kecelakaan lalu lintas di Brooklyn Bridge. Dan aku sangat sibuk dengannya.”

“Benarkah? Bagaimana mungkin aku bisa tidak tahu?”

Well. Mungkin kau tidak menyalakan televisi di rumahmu.” Tentu saja, Jessie terlalu sibuk dengan perasaannya sendiri. ia terlalu kacau setelah memikirkan tentang hubungannya dengan Steve dan juga dengan Henry. Jadi tak akan ada waktu untuk Jessie menonton televisi.

“Separah itukah?”

“Tidak separah dalam film Fantastic Four, tapi cukup parah hingga membuat jembatan itu di tutup sepanjang sore.”

“Woww, apa yang terjadi?” suasana benar-benar mencair. Jessie menyukainya.

“Aku tidak begitu paham, tapi ada yang berkata jika ada sebuah truk pengangkut bahan bakar meledak di sana.” Henry menghela napas panjang. “Kau tahu, rumah sakit sangat sibuk sepanjang hari. Aku bahkan tidak pulang.”

“Oh, aku minta maaf. Seharusnya aku memikirkan tentang kemungkinan itu. Maksudku, aku mengira kalau kau…” Jessie ragu melanjutkan kalimatnya. “Maksudku, kau marah karena malam itu….”

“Jess.” Henry meraih telapak tangan Jessie seketika. Meraihnya kemudian mengecupnya singkat. “Aku mencintaimu, kita akan menikah. Aku tidak mungkin marah hanya karena kau belum siap melakukn hal itu.”

Jessie mendesah panjang. Mungkin jika ia belum tidur dengan Steve, ia akan merasa sangat senang, dan bahagia saat memiliki tunangan seperti Henry. Tapi kini, baginya, semuanya sudah berubah. Jessie merasa ada yang berbeda, dan ia merasa jika apa yang ia rasakan tak lagi sama dengan sebelum malam sialan yang ia habiskan bersama Steve.

Melihat Jessie yang tampak melamun, Henry bertanya “Ada masalah? Kau tampak berbeda.”

Jessie menatap ke arah Henry dan tersenyum lembut. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya meski sebenarnya dalam hatinya ia merasa jika hubungan mereka sedang dalam sebuah masalah.

***

Tubuh mereka meyatu dengan sempurna… Erangan Jessie membuat Steve tak dapat menahan diri. Ia ingin segera menyelesaikan permainan panas mereka, dirinya ingin segera meledak, tapi disisi lain, Steve harus memikirkan Jessie. Ini adalah saat pertama untuk Jessie dan Steve ingin temannya itu mengenang pengalaman pertamanya dengan indah.

Steve menundukkan kepalanya, jemarinya mengusap lembut puncak kepala Jessie, menyingkirkan helaian rambut wanita itu yang menutupi wajahnya. Jessie tampak sangat menakjubkan, wanita itu terlihat begitu cantik dari tempatnya melihat.

“Kau, sangat luar biasa.” Steve berbisik dengan suara seraknya. Steve masih belum bergerak sedikitpun. “Apa aku harus berhenti? Atau bergerak?”

“Persetan apa yang ingin kau lakukan, Steve!” Jessie berseru keras.

Steve bukannya tersinggung, tapi malah tersenyum. Kemarahan Jessie dan juga gairah yang mempengaruhi wanita itu membuat Steve tak kuasa menahan dirinya. Wajah Jessie memerah, pencampuran antara gairah dan juga amarah karena rasa sakit akibat pengalaman pertamanya.

“Kau tahu, Jess. Ini adalah pertama kalinya aku bercinta dengan perawan.”

“Jika kau tak segera menyelesaikan hal ini, maka aku akan mencakar kulitmu.”

Steve lagi-lagi tersenyum. “Oke, oke, Sayang.” Steve kemudian menundukkan kepalanya, lalu ia mencumbu bibir Jessie dan mulai menggerakkan tubuhnya.

“Ohh, Jess. Sialan! Kau ingin membunuhku? Hahh?” racau Steve.

Sedangkan Jessie, ia merasakan sebuah kenikmatan baru. Rasa sakit yang tadi sempat ia rasakan dan sempat membuatnya frustasi, kini berubah menjadi sebuah kenikmatan. Sedikit demi sedikit girahnya terbangun. Jessie bahkan ikut bergerak seirama dengan gerakan dari Steve. Apa ini yang dinamakan bercinta? Tayanya dalam hati.

Steve sendiri masih sibuk mengendalikan dirinya. Ia tahu bahwa ia hampir saja meledak jika dirinya tidak menahannya. Jessie benar-benar menakjubkan. Wanita itu membungkusnya dengan begitu rapat, mencengkeramnya begitu erat, hingga Steve merasa sangat frustasi dengan kenikmatan yang tercipta akibat dari gesekan tubuh mereka berdua.

 Masih dengan bergerak pelan, Steve mencumbu lagi dan lagi bibir Jessie. Demi Tuhan! Jessie harus segera sampai, karena Steve yakin jika dirinya tak bisa menahan lebih lama lagi untuk tidak meledakkan diri. Beruntung, karena cumbuan yang ia berikan pada Jessie membuat gairah wanita itu semakin meningkat.

Steve merasakan tubuh Jessie bereaksi dengan sendirinya. Tubuhnya semakin rapat membungkusnya, kaku, melengkukan punggungnya dan erangan wanita itu….

“Steve… Ohh.. Ohh… Astaga…”

Steve tahu, Jessie sudah sampai pada klimaksnya. Tak menunggu lama, Steve segera melajukan pergerakannya kemudian menyusul Jessie pada puncak kenikmatan.

“Yeahh.. yahh… Jess. Sial!”

Keduanya larut dalam badai gairah. Sibuk mengatur detak jantung masing-masih, sibuk dengan napas masing-masing hingga yang terdengar disana hanya desah napas tak beraturan dari keduanya.

Setelah merasa cukup, Steve menarik diri. Menggulingkan tubuhnya ke samping tubuh Jessie. Keduanya terbaring mentap ke arah langit-langit. Mungkin orgasme masih mempengaruhi mereka hingga tak ada sepatah katapun yang teruap dari keduanya.

Steve lalu menolehkan kepalanya ke arah Jessie, tampak Jessie memejamkan matanya seakan menikmati suasana disekitarnya. Mata Steve turun, tampak dada Jessie naik turun dengan napas yang masih tak beraturan. Kulit wanita itu tampak merona. Rambut cokelatnya jatuh tak beraturan, dan Steve juga masih melihat bahwa tubuh Jessie masih sedikit bergetar. Wanita itu masih menikmati orgasmenya, Steve tahu itu. Dan sialnya, ia kembali berereksi.

Brengsek!

Seharusnya ia tahu diri. Steve harus bisa menahan diri. Bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya untuk Jessie. Ia harus menghormati keperawanan wanita itu yang baru saja ia renggut.

Tapi memang dasarnya Steve yang tak dapat mengalihkan pandangannya dari Jessie, akhirnya ia pun tak dapat menahan dirinya. Steve bangkit, ia terduduk dan meminta Jessie untuk bangkit juga.

“Ada apa?” tanya Jessie bingung.

“Membersihkan diri, kau tak mau?”

“Bersama? Astaga, aku…”

“Ayolah, aku sudah melihat semuanya. Apalagi yang membuatmu malu?” Steve bertanya dengan nada menggoda. Yang bisa Jessie lakukan hanya mendengus sebal kemudian segera bangkit menuju ke arah kamar mandi Steve.

Steve tersenyum penuh arti, ia kemudian mengikuti Jessie masuk ke dalam kamar mandinya. Di dalam sana, ternyata Jessie sudah berdiri di bawah pancuran, wanita itu berdiri menghadap ke arah dinding dengan air yang mengucur membasahi tubuhnya.

Sial!

Steve yang melihatnya dari belakang hanya bisa ternganga. Tubuh Jessie sangat indah jika dilihat dari belakang. Lekukannya menggoda, dan permukaan kulitnya tampak halus dan kencang. Dengan spontan, kaki Steve berjalan mendekati Jessie. Lengannya terulur begitu saja melingkari perut Jessie. Steve memeluk tubuh Jessie dari belakang, menyandarkan dagunya pada pundak Jessie, hingga mau tak mau membuat Jessie menghentikan pergerakannya seketika.

“Kau sangat indah, Jess.” Steve berbisik dengan serak. Bahkan dengan berani, jemarinya sudah menggapai sebelah payudara Jessie. Jessie tak meronta, wanita itu bahkan tampak menahan kenikmatan, memejamkan matanya karena sentuhan Steve.

Jessie melemparkan kepalanya ke belakang, hingga Steve dengan leluasa bisa menikmati leher jenjang wanita tersebut.

“Ohh Steve…” dengan spontan Jessie mengerang, menyebutkan nama Steve dengan begitu merdu.

Steve kembali menikmati setiap inci dari kulit Jessie. Jemarinya sudah bergerilya dengan bebas, memberikan kenikmatan untuk wanita yang kini sedang berada dalam rengkuhannya. Jessie sendiri tampak pasrah, ia tak menyangka jika akan melakukan hal sepanas ini dengan Steve. Dan ia memilih untuk menikmatinya saja.

Steve menghentikan aksinya karena pangkal pahanya yang semakin membengkak. Akhirnya ia membalikkan tubuh Jessie, memenjarakan wanita itu diantara dinding dengan tubuhnya. Kemudian bersiap untuk memulai permainan panas kedua mereka.

“Kau tahu, seharusnya aku menghormati keperawananmu. Tapi karena kau menggodaku, maka aku akan melupakan rasa hormatku tersebut.”

“Aku tak menggodamu.”

“Tapi aku tergoda, Jess.” Steve menjawab dengan senyuman penuh arti. Ia mengangkat sebelah kaki Jessie lalu berkata “Aku akan memulainya lagi, dan akan kubawakan surga berkali-kali untuk kita berdua.” Kemudian Steve kembali menenggelamkan diri dalah balutan lembut tubuh Jessie.

Jessie mengerang, menikmati penyatuan panas tersebut. Sedangkan Steve, ia tak akan pernah melupakan rasanya, rasa lembut dan nikmat tubuh Jessie yang membungkusnya dengan begitu erat…. 

 

Mata Steve terbuka seketika. Bayangan malam panas saat bersama dengan Jessie kembali menghantui mimpi-mimpinya. Steve bangkit, kemudian memijit pelipisnya.

Sial! Ini sudah lebih dari Tiga minggu lamanya setelah ia mendatangi butik milik Jessie siang itu. Dan sejak saat itu, Steve belum lagi menemui Jessie. Ia tahu bahwa suasana akan memburuk setelah bertemu dengan wanita itu. Ketegangan masih sangat terasa, Steve bahkan tak bisa melupakan sedikitpun bagaimana panasnya diri Jessie malam itu, dan hal itu benar-benar mengganggunya.

Beberapa kali, Steve hampir berhadapan dengan Jessie, ketika keluar masuk gedung apartmen, tapi Steve memilih menjadi pengecut ketika ia memilih berbalik arah menghindari Jessie.

Sial!

Hingga usianya yang sudah menginjak Tiga puluh tahun, Steve tak pernah sekalipun berbalik arah hanya karena menghindari seorang wanita. Hanya Jessie yang mampu membuatnya seperti ini. Sialan perempuan itu. Belum lagi kenyataan bahwa ternyata, Jessie tampak baik-baik saja bahkan tetap melanjutkan hidup bersama dengan kekasih Gaynya itu. Hal itu benar-benar membuat Steve kesal.

Kenapa hanya ia yang mendapatkan efek sialan dari percintaan panas mereka malam itu? Kenapa Jessie tidak?

Dengan kesal Steve berdiri dan segera menuju ke arah kamar mandinya. Ia memilih mengguyur tubuhnya dengan air dingin hingga memadamkan gairah sialan yang terbangun karena memimpikan tentang malam panas bersama dengan Jessie.

Hari ini, jadwalnya cukup padat. Ada beberapa pemotretan yang berhubungan dengan rancangan Jessie. Yang membuat Steve tak khawatir adalah, bahwa Jessie pasti meminta Miranda untuk mengatur pemotretan tersebut hingga mereka tak perlu saling bertatap muka. Setidaknya itulah yang terjadi selama tiga minggu terakhir jika pekerjaan mereka saling bersinggungan. Itu pula yang membuat Steve tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika berhadapan dengan Jessie, karena Steve tahu bahwa Jessie ingin menghindarinya.

Setelah pemotretan, Steve memiliki sebuah kencan dengan Donna Simmon. Wanita berambut pirang yang dikenalkan oleh Hank dua hari setelah ia datang mengunjungi temannya itu.

Donna adalah perempuan cantik, berkelas, seksi, dan sangat memenuhi kriteria Steve. Tapi Steve akan berdiri pada pendiriannya bahwa ia tak akan mengajak Donna Simmon untuk naik ke atas ranjangnya. Ya, ia mencoba kencan yang sesungguhnya, bukan hanya seks. Ia ingin menjalin sebuah hubungan, sebuah komunikasi hingga Donna juga bisa dijadikan sebagai teman seperti Jessie, bukan sekedar kekasih di atas ranjangnya saja.

Oh, Sial! Kenapa juga ia kembali memikirkan Jessie?

Setelah puas membersihkan diri di dalam kamar mandinya, Steve menuju ke arah lemari pakaiannya. Ia hanya mengenakan T-shirt dipadukan dengan celana jeans belel. Sesekali ia bersiul dan memilih-milih pakaian apa yang cocok untuk ia kenakan nanti ketika berkencan dengan Donna, karena nanti ia akan mengganti pakaiannya di studio fotonya agar tak bolak-balik ke apartmennya.

Jika hubungannya dengan Jessie tidak renggang seperti sekarang, mungkin Steve akan meminta Jessie naik lima lantai ke apartmennya saat ini juga hanya untuk meminta pendapat wanita itu.

Berengsek! Kenapa lagi-lagi ia memikirkan Jessie?

Sembari mengusap rambutnya sendiri dengan kasar, Steve berjalan menuju ke arah dapurnya. Mungkin meminum kopi akan membuat pikirannya tenang dan melupakan tentang Jessie. Sial! Ia benar-benar harus melupakan tentang wanita itu, tentang gairahnya, tentang obsesinya terhadap tubuh wanita itu. Ia harus fokus pada pekerjaannya, pada kencannya hari ini dengan Donna Simmon. Ya, tak akan ada Jessie lagi.

***

Sialnya, resncana Steve untuk melupakan Jessie sepertinya akan gagal siang ini. masalahnya adalah, yang datang menata busana si model ternyata bukan Miranda, melainkan Jessie sendiri.

Sial!

Steve tak berhenti mengumpat dalam hati. Kecanggungan kembali terasa diantara mereka, mungkin Steve sendiri yang merasa canggung, atau Jessie yang seakan tak ingin berurusan dengannya kecuali tentang pekerjaan.

Dengan sesekali mengusap tengkuknya, Steve berjalan menuju ke arah Jessie yang kini masih sibuk membenarkan letak beberapa aksesoris di pakaian yang dikenakan si model.

“Hai.” Sedikit ragu Steve menyapa Jessie.

“Hai juga.” Jessie menjawab singkat. Tapi matanya belum teralih dari sesuatu yang ia kerjakan.

“Kupikir, Miranda yang akan datang.”

“Dia cuti hari ini. Jadi aku yang datang.” Jawabnya lagi masih enggan menolehkan kepalanya ke arah Steve.

“Kau, tak perlu datang dan bisa menunda pekerjaan ini jika kau tak ingin berada di sini.”

Akhirnya Jessie mengangkat wajahnya menatap jengkel ke arah Steve. “Aku adalah orang yang profesional. Aku tak akan mencampur adukkan masalah pribadi dan pekerjaan.”

“Oh ya? Baguslah. Aku hanya tidak ingin mendengar tentang vibrator lagi.”

Si model yang berada di antara mereka berdehem seketika. Sedangkan Jessie, ia melemparkan tatapan membunuh ke arah Steve, dan Steve, ia memilih pergi meninggalkan Jessie dengan senyum merekah di wajahnya.

Ketegangan masih ia rasakan, setidaknya, Steve merasa bahwa Jessie tak sesensitif saat di butik wanita itu dua minggu yang lalu. Dan Steve tak dapat menahan diri untuk tidak menggoda wanita itu. Bagaimanapun juga, dalam hati Steve yang paling dalam, ia menginginkan hubungannya dengan Jessie kembali seperti semula, berteman lagi seperti dulu, menggoda wanita itu lagi hingga membuatnya marah, meski sebenarnya, hal itu tak akan mungkin terjadi lagi.

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 3

Comment 1 Standard

 

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Jess! Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Steve lagi. Jessie tahu jika Steve sudah seperti ini, maka ia tak memiliki jalan lain selain jujur dengan lelaki itu.

Jessie menurunkan bahunya, ia mendesah panjang sebelum berkata “Aku butuh minum. Aku butuh teman minum! Apa kau puas?!” serunya dengan kesal dan frustasi.

Steve yang menatap Jessie merasa terketuk hatinya. Ia tidak pernah melihat Jessie sefrustasi saat ini. Kekesalan yang ia rasakan sepanjang hari pada Jessie karena wanita itu lebih membela kekasihnya dibandingkan dirinya kini lenyap begitu saja saat melihat kebingungan yang tampak jelas di wajah wanita itu.

Jessie memiliki masalah, Steve tahu itu. Wanita itu butuh minum, dan ia akan menemani wanita itu minum hingga melupakan masalahnya.

***

 

Bab 3

 

 

“Kau hanya perlu bilang jika kau butuh minum, maka aku akan mengajakmu berpesta dengan wanita-wanita tadi.” Ucap Steve saat ia sudah mempersilahkan Jessie duduk di bar kecilnya dan menuangkan minuman beralkohol untuk Jessie.

“Kau gila? Aku tidak akan mau berpesta dengan kalian. Apalagi sampai melihat kalian telanjang satu sama lain.”

“Itu keterlaluan, Jess. Aku tidak mungkin telanjang di hadapanmu.”

“Tapi kau melakukannya kemarin.” Jessie menjawab cepat sembari menenggak minuman yang dituangkan Steve hingga tandas.

“Wow, wow, wow, Hei, apa yang terjadi denganmu, gadis biara? Kau tak pernah minum sampai seperti ini.”

“Aku benar-benar butuh minum, Steve.” Ucap Jessie lagi kali ini yang sudah menuangkan minuman kembali pada gelasnya. Secepat kilat, Steve menghalangi Jessie hingga mata Jessie menatap ke arah lelaki itu.

“Apa kau sudah gila? Apa yang terjadi denganmu?” tanya Steve dengan raut wajah seriusnya. Ia tak pernah melihat Jessie minum seperti ini. Mungkin mereka pernah minum bir bersama tapi tidak dengan cara bar-bar seperti saat ini.

“Aku mengacaukan semuanya.” Jessie mendesah panjang.

“Apa maksudmu?” tanya Steve kemudian.

 

“Henry. Dia pergi setelah aku menolaknya. Astaga, kami bahkan sudah merencanakan malam ini.”

Steve kesal jika membahasnya, tentu saja. Tapi dia juga senang saat memikirkan bahwa Jessie dan laki-laki bajingan itu tidak jadi melakukan rencana mereka.

“Oke, aku tahu.” Steve mendekatkan kursinya pada Jessie, memutar kursi Jessie hingga wanita itu menghadap ke arahnya. “Sekarang katakan padaku, apa yang membuatmu menolaknya padahal kau sudah merencanakannya?”

“Aku tidak tahu.”

“Jess, masalah tidak akan selesai saat kau sendiri tidak tahu apa yang kau inginkan.”

Jessie kembali mendesah panjang. “Masalahnya, aku merasa belum siap. Dan astaga, aku takut mengecewakannya.”

Steve mendengus sebal. “Kan aku sudah pernah bilang padamu, kalau aku bisa membantumu.”

“Aku tidak sedang bercanda, Steve.” Mata Jessie menatap tajam ke arah Steve.

“Kau pikir aku sedang bercanda? Jika masalahnya adalah kepercayaan dirimu, maka kau bisa meminta bantuan padaku. Kau meragukan pengalamanku?”

Jessie berdiri seketika. “Sepertinya aku salah datang kemari.”

“Jess, Jess.” Steve meminta Jessie duduk kembali. “Oke, aku tidak akan mengatakan apapun tentang ide gila itu lagi.” Steve mengangkat kedua tangannya. “Maaf.” Ucapnya kemudian.

Jessie memutar bola matanya, ia kembali meminum minuman di hadapannya, sedangkan Steve, ia hanya mengamati temannya itu dari tempatnya duduk.

Jessie tampak kacau, tapi sialnya, hal itu tak mengurangi daya tarik dari wanita itu. Jika boleh jujur, bagi Steve, Jessie adalah wanita tercantik yang pernah ia lihat. Sebagai designer, pakaian Jessie tentu selalu fashionable, tapi saat santai di rumah, wanita itu selalu tampak sederhana. Make up yang dikenakan Jessie pun tergolong wajar. Tak seperti kebanyakan teman kencannya yang tampak terlalu tebal. Dan Stve juga berani jamin jika semua yang ada pada diri Jessie adalah asli. Tak mungkin ada silikon di hidung mancung wanita itu, dan tak mungkin juga payudara Jessie yang tampak padat menggoda itu berisi dengan implan-implan sialan seperti milik teman-teman kencannya.

Sial! Kenapa juga ia berpikir tentang implan?

“Kau, benar-benar menyukainya?” tanya Steve kemudian.

“Henry? Jika tidak, aku tak mungkin menerima lamarannya.”

Steve menganggukkan kepalanya. Sedangkan Jessie masih meminum minumannya lagi dan lagi. Steve kembali menatap ke arah Jessie, wanita itu sedang sibuk menatap ke arah minumannya hingga tak sadar jika saat ini Steve sedang mengamati setiap inci dari wajahnya.

“Kau tahu, Steve. Kadang aku merasa iri denganmu.” Ucap Jessie yang saat ini sudah menolehkan kepalanya ke arah Steve. Ia sempat terkejut saat mendapati Steve yang ternyata sedang mengamati wajahnya. Secepat kilat Jessie memalingkan wajahnya. Ia tak pernah melihat Steve menatapnya seperti itu.

“Apa yang membuatmu iri?” tanya Steve kemudian.

Entah perasaan Jessie saja atau memang ia mendengar suara Steve yang sudah terdengar parau di telingannya. “Kau, bisa melakukan apapun sesuka hatimu. Meniduri banyak wanita tanpa beban. Dan aku…”

“Semua itu pilihan, Jess. Lagi pula aku pria. Kau wanita. Aku tidak mau membayangkan jika kau sama bejatnya denganku.”

“Tentu saja aku tidak akan memilih jalan itu. Maksudku, kenapa kau bisa melakukan hal itu? Apa kau tidak merasa berdosa sedikitpun?”

“Tidak. Toh aku tidak tidur dengan perempuan baik-baik.”

Ya, Jessie tahu kenyataan itu. Pacar Steve biasanya bukan wanita baik-baik. Mungkin karena itulah Jessie bisa memaklumi keberengsekan temannya ini.

Jessie kembali meminum minumannya. Pikirannya melayang entah kemana. Ia masih sedih karena rencananya dengan Henry batal. Tapi disisi lain, ia merasa lega karena ada Steve yang menemaninya.

Kemudian Jessie melihat Steve berdiri, lelaki itu tiba-tiba saja membuka pakaiannya sendiri hingga bertelanjang dada. Jessie menelan ludah dengan susah payah. Ia memang sering melihat tubuh telanjang Steve, tapi entah kenapa malam ini ia merasa tubuh itu tampak indah dan menggairahkan.

Steve berjalan menjauhinya, menuju ke arah lemari pendingin. Membungkukkan tubuhnya entah mengambil apa dari sana. Demi Tuhan! Baru kali ini Jessie melihat Steve tampak begitu berbeda.

Jessie merasakan pusat dirinya berkedut seketika. Apa ini ada hubungannya dengan minuman yang baru saja ia minum? Jessie megamati minumannya, berharap bahwa pemikiran kotor yang baru saja melintasi kepalanya segera hilang.

Tapi sialnya, itu hanya harapan Jessie saja. Saat Steve melangkah ke arahnya, pada saat itulah Jessie merasa jantungnya berdebar tak menentu. Ia tidak pernah melihat tubuh Steve setegap itu. Pikir Jessie, dada lelaki itu tidak sebidang saat ini. Jessie juga tak pernah melihat bahwa Steve memiliki otot-otot perut yang tampak menggoda, bahkan lengan lelaki itu, Oh, Jessie tiba-tiba berpikir bagaimana lengan kekar itu melingkari tubuh mungilnya.

Jessie kembali menelan ludah dengan susah payah. Ia tak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Kenapa reaksinya saat melihat Steve seperti itu membuat Jessie kalang kabut. Ini bukan pertama kalinya Steve bertelanjang di hadapannya, tapi kenapa Jessie merasakan perasaan seperti ini untuk yang pertama kalinya?

Segera Jessie memalingkan wajahnya yang sudah memerah karena kepanasan ke arah minumannya. Ia kembali menenggak minumannya, dan hal tersebut membuat Steve mengangkat sebelah alisnya.

“Kau, baik-baik saja, kan?” tanya Steve sembari mendaratkan telapak tangannya pada pundak Jessie.

Pada detik itu, Jessie merasakan aliran listrik bersumber dari telapak tangan Steve. Ia menolehkan kepalanya menatap ke arah telapak tangan temannya itu. Jessie lalu menatap Steve dengan tatapan anehnya.

“Kenapa kau menyentuhku?” tanya Jessie dengan spontan.

“Menyentuh?” tanya Steve tak mengerti. Steve menatap tangannya pada pundak Jessie, lalu mengangkatnya dengan spontan. “Aku tak mengerti apa maksudmu.” Ucap Steve bingung.

Steve melihat wajah Jessie sudah merah merona, seperti sedang kepanasan. Memangnya apa yang sedang terjadi? Steve kembali bangkit mencari remote AC untuk mendinginkan ruangan tengah apartmennya. Tapi saat Steve akan pergi, Jessie dengan spontan menggapai lengan Steve hingga membuat lelaki itu menatap ke arahnya penuh tanya.

Jessie tersenyum malu. “Kau tahu, Steve. Untuk sesaat, aku memikirkan tentang ide gilamu itu.”

“Maksudmu?” dengan spontan Steve bertanya.

Jessie mengangkat kedua bahunya. “Well, tidur bersama. Astaga, apa sih yang sedang kupikirkan?” Jessie akhirnya memalingkan wajahnya ke arah lain karena malu. tapi secepat kilat Steve menangkup kedua pipi Jessie, memaksa wanita itu menghadap ke arahnya, kemudian tanpa banyak bicara lagi, Steve menyambar bibir ranum Jessie.

Oh, Steve tak pernah merasakan bibir selembut itu bahkan di dalam fantasinya. Ia merasakan Jessie membalas cumbuannya, wanita itu bahkan sudah ikut berdiri dan mengalungkan lengannya pada leher Steve.

“Ohh Jess,” Steve mengerang ketika gairahnya mulai terbangun dengan sendirinya.

“Steve… Steven…” Jessie pun ikut mengerang saat ia merasakan gairah yang sama dengan apa yang dirasakan Steve. Keduanya dimabuk oleh gairah, dibutakan oleh rasa primitif yang menghilangkan akal sehat mereka.

***

Pagi sialan yang sangat canggung.

Sebenarnya, Jessie ingin sekali pergi dari meninggalkan kamar Steve saat lelaki itu masih tidur pulas. Tapi nyatanya, lelaki itu seakan tak membiarkan dirinya pergi karena ketika Jessie bergerak, Steve seakan mengeratkan pelukannya pada tubuh telanjang Jessie.

Kini, Jessie merasa terjebak dalam suasana sialan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa sangat canggung saat berhadapan dengan Steve. Bayang-bayang panas kejadian semalam membuatnya tak dapat berkutik. Tapi kenapa Steve seakan tak canggung sedikitpun?

Saat ini, Steve sedang sibuk membuat sesuatu di dapurnya. Lelaki itu bahkan tak malu bertelanjang dada di hadapannya.

Malu? Ayolah Jess, bukankah kau tahu bahwa temanmu itu memang tak punya malu? Kau saja yang terlalu terbawa suasana.

Jessie sempat berpamitan pulang tadi, tapi Steve memaksa dirinya untuk sarapan bersama sebelum pergi. Karena Steve begitu santai, maka Jessie tak bisa menolak dan bersikap sesantai mungkin meski sebenarnya dalam dirinya terjadi bergulatan batin tentang apa yang ia rasakan saat ini terhadap sosok Steve.

Saat Jessie sibuk dengan pikirannya sendiri, saat itulah Steve datang menghampirinya dan menyuguhkan dua potong roti isi bacon panggang, keju dan juga selada.

“Aku hanya memiliki itu di dalam lemari pendingin.” Ucap Steve yang saat ini sudah duduk tepat di hadapan Jessie. “Kuharap kau mau memakannya.”

“Oh Steve, kau tak perlu repot-repot. Aku bisa makan di tempat kerjaku nanti.”

“Tidak segampang itu, Jess. Ada banyak hal yang harus kita bahas.”

Jessie menghela napas panjang. “Apa lagi?”

Steve sedikit tersenyum. “Kau, tampak tak nyaman, Jess. Kenapa? Karena aku sudah ‘membaptismu’ semalam?”

“Ayolah! Berhenti menggodaku. Sekarang katakan, apa yang ingin kau bahas denganku.” Jessie memberengut kesal.

Dengan santai, Steve menyantap roti miliknya. “Yang pertama, kau sungguh luar biasa. Kau tak perlu merasa tak percaya diri lagi saat akan melakukannya dengan Henry nanti. Oke?”

Dan setelah aku tidur denganmu, aku bahkan melupakan tentang Henry. Pikir Jessie dalam hati.

“Tubuhmu, payudaramu, semuanya…”

“Cukup!” Jessie memotong kalimat Steve. “Kau mau memancingku, ya? Jangan bahas apapun tentang bagian tubuhku!” sungguh, Jessie merasa kesal dengan Steve saat temannya itu secara terang-terangan menyebutkan bagian tubuhnya. Jika Steve menceritakan tentang bagian tubuh teman kencannya, Jessie tak akan peduli. Masalahnya, yang dibahas Steve saat ini adalah payudaranya. Hal itu membuat Jessie malu, sangat malu.

Steve mengangkat kedua tangannya. “Oke, oke. Aku hanya ingin mengatakan kalau semuanya asli. Dan pria manapun akan mengagumimu.”

“Memangnya kau pikir aku perempuan yang gemar mengkoleksi implan di tubuhku? Yang benar saja.” Jessie memutar bola matanya jengah. Ia meraih kopinya kemudian meminumnya sedikit.

Steve tak dapat menahan tawanya. “Tapi ada hal serius lagi yang harus kita bahas, Jess.”

“Apa lagi? Kau tidak berharap aku akan melakukan hubungan itu denganmu lagi, bukan?”

Steve tersenyum. “Sejujurnya, aku masih ingin. Kau tahu sendiri bukan, bagaimana gilanya kita semalam. Meski sudah berkali-kali, tapi aku masih ingin.”

“Jangan bermimpi! Aku tidak akan tidur denganmu lagi.” Jessie menjawab dengan ketus.

Steve tertawa lebar. “Ingat, kau yang mengajakku.”

“Sepertinya lebih baik aku pulang.” Jessie sudah berdiri tapi Steve segera menghentikan pergerakan Jessie dengan menyambar pergelangan tangan temannya itu.

“Oke, aku akan bersikap baik dan membahas hal ini dengan serius.”

“Ya. Dan cepat.” Lanjut Jessie. “Demi Tuhan! Aku harus segera ke kantor, Steve.”

Steve menganggukkan kepalanya. Ia meminum kopinya sebelum mulai membuka suaranya kembali. “Kuharap, kau sudah memasang sesuatu di dalam tubuhmu, atau mungkin meminum pil.” Ucapnya dengan serius.

“Apa maksudmu?” tanya Jessie tak mengerti.

Well, karena terbawa suasana, dan terlalu menikmati, aku tidak menggunakan pengaman.”

“Kau apa?” Jessie terperanjat dengan ucapan Steve.

“Dan, berkali-kali.” Lanjut Steve dengan cengiran sialannya.

Jessie berdiri seketika. “Kau gila? Kau adalah playboy cap kakap, Steve! Bagaimana mungkin kau melupakan hal seserius itu?” tentu saja Jessie terkejut. Semalam ia tak memikirkan apapun saat Steve meledak di dalam dirinya. Karena ia terlalu menikmati rasa yang baru saja ia rasakan.

“Aku terlalu menikmatinya, Jess. Dan kupikir kau sudah menyiapkan diri. Mengingat kau akan melakukannya dengan kekasih Gaymu itu.”

“Aku tak mempersiapkan apapun, oke?!” seru Jessie dengan marah sembari mengusap wajahnya dengan frustasi.

Steve ikut berdiri. “Maksudmu, kau membiarkan dirimu tidur dengannya tanpa pengaman dan berharap jika kau akan memiliki bayi bersamanya.”

“Kau terlalu jauh, Steve. Lagi pula, aku tidak tidur dengannya, tapi denganmu!”

“Tapi kau berharap tidur dengannya tadi malam, Jess!” entah kenapa Steve merasa sangat marah. Kenyataan bahwa Jessie tidak mengamankan dirinya sendiri saat sudah merencanakan akan tidur dengan seseorang membuat Steve sangat marah.

Jessie menatap Steve penuh tanya. “Jadi ini adalah salahku?”

“Ya. Kau yang salah karena kau tidak meminum pil-pil sialan itu saat kau sudah merencanakan untuk tidur dengan kekasihmu!” Steve tak bisa menahan emosinya.

Jessie menatap Steve dengan tatapan tak percayanya. Sungguh, ia tak menyangka jika Steve akan seberengsek ini padanya. Tanpa banyak bicara lagi, Jessie memilih membalikkan tubuhnya kemudian meninggalkan Steve begitu saja.

Yang bisa dilakukan Steve hanya berdiri ternganga. Ia bahkan tak mengejar Jessie. Rasa frustasi menyergapnya begitu saja. Dengan spontan, Steve menendang salah satu kursinya karena emosi. Berengsek! Apa yang sudah kau lakukan? Steve mengumpati dirinya sendiri dalam hati.

-TBC-

My Sex(y) Partner – Bab 1

Comment 1 Standard

yeaayyyy mana yang nungguin Troy dan kawan2 bejatnya?? hahahhahah untuk Jiro dan Ken, sabar yaa… aku cuma mau pamerin Prolognya aja dulu, karena aku mau pokus kalian gak banyak terbagi. hahahahahah Yang nunggu Mr. Morgan di Sleeping with my friend, bakal aku update insha allah malam minggu yaa… yeaaayyyyyy happy reading. muaahhhhh

 

Bab 1  

 

Sambil mengetatkan gerahamnya, Troy mendekap wanita setengah telanjang yang berada di hadapannya tersebut. Hari sudah semakin sore, tapi pemotretan sialan ini belum juga rampung. Troy benar-benar kesal karena beberapa jam terakhir dirinya mengetat nyeri tak tertahan. Semua tentu karena keindahan sempurna yang terpampang jelas di hadapannya. Dan yang lebih menjengkelkan lagi adalah, bahwa wanita di hadapannya ini malah tampak tak terpengaruh sama sekali dengan kehadiran dirinya.

One, two, three, oke. Sip.” Akhirnya, si fotografer sialan di hadapannya itu menyatakan jika tangkapan kameranya yang terakhir selesai.

Troy menghela napas panjang, dan secepat kilat ia melepaskan tubuh si wanita seksi di hadapannya kemudian dengan terburu-buru, ia keluar dari dalam kamar tersebut lalu menuju ke arah kamar mandi.

“Elo mau ngapain Troy?” tanya salah seorang kru dengan nada mengejek.

“Berengsek!” Troy hanya menjawab dengan sebuah umpatan khasnya.

***

Setelah pekerjaan tersebut selesai, semuanya menuju ke sebuah restoran untuk makan malam bersama. Sejak tadi, mata Troy tak pernah lepas menatap ke arah wanita yang sejak tadi pagi sudah membuatnya tergoda, wanita yang yang bernama Alice Philips. Wanita yang membuatnya mau tak mau mencapai klimaks di dalam kamar mandi dengan dibantu oleh jemarinya sendiri. Sialan! Dan yang lebih membuat Troy penasaran dengan wanita tersebut adalah, bahwa wanita itu tampak sama sekali tak memperhatikannya.

Kenapa? Apa wanita itu tak tahu siapa dirinya?

Pada saat bersamaan, wanita itu menatap ke arahnya. Troy mengangkat sebelah alisnya kemudian mengangkat gelas anggurnya, seakan mengajak wanita itu bersulang.

***

Alice, yang berada di seberang meja, akhirnya ikut mengangkat gelasnya yang berisi Jus jeruk saat ia melihat Troy mengangkat gelas anggur ke arahnya. Alice tersenyum, lalu menenggak jus tersebut, matanya lalu menatap ke arah lain, mencoba mengalihkan perhatiannya dari sosok yang sejak tadi mempengaruhinya.

Ya, Alice tentu tahu dengan siapa dia berhadapan. Awal tahu bahwa ia akan disandingkan dengan seorang Troy untuk berpose panas di salah satu majalah dewasa saja membuat Alice ragu, apa akan melakukannya atau membatalkannya. Tapi karena didorong oleh kebutuhan yang mendesak, akhirnya Alice melakukannya dan mencoba melupakan jika lawan mainnya dalam berpose panas adalah seorang Troy, mantan Drumer terpanas di negeri ini.

Tak sulit bagi Alice untuk mengetahui latar belakang atau bisa dibilang, keberengsekan-keberengsekan lelaki itu dimasalalu. Entah ketika lelaki itu masih menjadi anak band, atau saat lelaki itu berkarir sendiri seperti saat ini. Tak sedikit gosip buruk yang pernah ia dengar tentang Troy. Bahkan, beberapa teman seprofesinya mengaku pernah ditiduri Troy dan dicampakan begitu saja oleh lelaki itu setelah lelaki itu puas mendapatkan beberapa kali pelepasan.

Sangat Berengsek, bukan?

Kini, Alice tentu tak ingin hal tersebut menimpanya. Tujuannya tinggal di negeri ini adalah karena ia ingin mempelajari budaya negeri ini, bukan untuk main-main lalu jatuh hati pada pria berengsek seperti Troy.

Ya, Alice yang merupakan warga negara asing, memang sangat tertarik dengan Indonesia. Ayah ibunya tinggal di LA Carlifornia. Dulu, keduanya pernah berpelesir ke negeri ini, kemudian tak sengaja bertemu satu sama lain di pulau Bali, memadu kasih saat itu juga, lalu berakhir bersama hingga kini. Dan kedua orang tua Alice tak pernah melupakan pengalamannya tersebut. Hingga saat Alice lahir, keduanya selalu bercerita lagi dan lagi tentang pengalaman keduanya hingga membuat Alice tertarik dengan Indonesia.

Saat dirinya besar, ketertarikan itu semakin nyata, apalagi saat Alice pertama kalinya datang ke negeri ini. Ia jatuh cinta seketika, dengan budayanya, dengan alamnya, dengan orang-orangnya. Bagi Alice, ke Indonesia sama saja dengan pulang. Hingga sejak Tiga tahun terakhir, ia lebih sering menghabiskan waktunya di Indonesia dari pada di LA. Tentu saja hal itu membutuhkan biaya lebih, mengingat orang tuanya bukanlah orang yang berkelebihan harta. Beruntung Alice memiliki kenalan di Indonesia yang menawarinya pekerjaan menjadi model. Pekerjaan itu tentu sangat begus untuk Alice, ia bisa mendapatkan biaya tambahan selama hidup di sini, sehingga dirinya bisa menikmati kecintaannya pada negeri ini tanpa membebankan biaya pada kedua orang tuanya yang ada di LA.

Kembali lagi pada Troy. Alice tentu tak ingin terlibat dengan lelaki di hadapannya tersebut, tapi demi Tuhan! Lelaki itu memang sangat menggoda. Sialnya, jadwal pemotretannya dengan Troy tak hanya berakhir hari ini saja. Karena masih ada beberapa scene tambahan yang akan diambil besok.

Tiba-tiba, Alice melihat Troy berdiri membawa minumannya, mata lelaki itu tak berhenti menatap ke arahnya. Kemudian, langkah kaki lelaki itu mendekat ke arah mejanya.

Seorang yang duduk tepat di sebelah Alice akhirnya berdiri ketika Troy secara terang-terangan meminta orang tersebut bangkit dan menggantikan tempatnya.

“Boleh duduk di sini, kan?” tanya Troy dengan nada yang dibuat mengggoda. Alice tahu, bahwa mungkin saat ini Troy sedang menjalankan aksinya untuk membawa Alice ke atas ranjang lelaki itu. Tapi Troy salah, Alice sudah cukup tahu bagaimana bejatnya lelaki itu, jadi Alice tak akan masuk ke dalam perangkap yang dibuat oleh Troy.

“Silahkan saja. Ini kan tempat umum.” Alice menjawab dengan nada yang dibuat cuek dan ketus.

“Woww. Bukan cewek gampangan, ehh?” goda Troy sembari menyesap apapun itu yang ada di dalam gelas yang dibawah lelaki itu.

Alice tidak mengindahkan apapun itu perkataan Troy. Karena ia memilih melirik ke arah jam tangannya kemudian berkata pada orang disebelahnya. “Aku akan pulang, sudah malam.” Ucapnya sembari berdiri. Alice menatap sekilas ke arah Troy lalu tersenyum singkat pada lelaki itu. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkan mejanya secepat mungkin.

Sedangkan Troy, ia tersenyum masam, menenggak semua isi dari gelas yang dibawanya kemudian bangkit dan segera menyusul wanita yang sudah sejak tadi siang tadi menggodanya.

***

Sial! Troy merasa ada yang salah di sini. Tak biasanya ia begitu tertarik dengan seseorang, hingga saat melihatnya saja membuat pangkal pahanya berdenyut nyeri seketika. Ia sangat menginginkan Alice Philips di atas ranjangya malam ini, dan apapun itu, ia akan melakukannya untuk mendapatkan keinginannya tersebut.

Yang membuat Troy sangat kesal adalah saat Troy tahu bahwa wanita itu tampak tidak tertarik dengannya. Jangankan tertarik, Alice bahkan lebih terlihat enggan berurusan dengannya. Kenapa? Apa Alice Philips tak tahu siapa dia sebenarnya? Apa ia tak tampak seperti seorang lelaki yang panas dan menggairahkan?

Berengsek!

Dengan segera Troy mengikuti Alice keluar dari dalam restoran. Ia mendapati Alice berjalan diatas trotoar sembari mengenakan tundung hoody yang dikenakan wanita tersebut.

Troy berlari mengikuti wanita itu, kemudian dengan spontan ia menarik lengan Alice dan menghentikan wanita itu sembari berkata “Tunggu.”

Alice menghentikan langkahnya kemudian menatap Troy penuh tanya. “Ada apa?” tanyanya dengan ketus.

Troy memiringkan kepalanya. “Ikutlah denganku, aku akan mengantarmu.”

“Aku lebih suka jalan kaki.”

“Nggak baik jalan kaki malam-malam sendiri, apalagi kamu seorang model.”

Alice berkacak pinggang, dengan menantang dia bertanya “Apa hubungannya denganmu?”

Troy sedikit tersenyum dengan reaksi yang ditampilkan oleh Alice. Ia tak menyangka jika Alice akan seberani ini padanya. “Nggak ada.” Jawab Troy dengan santai.

“Kalau begitu, biarkan aku pergi.”

Troy mengangkat kedua tangannya, dengan tersenyum ia mundur teratur. Alice mendengus sebal, lalu wanita itu mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Troy. Tanpa diduga, Troy malah mengikuti Alice. Berjalan kaki di atas trotoar tepat di belakang wanita itu. Entah apa yang ada di dalam pikiran Troy saat ini. Yang jelas, ia sangat ingin memiliki wanita yang kini berjalan di hadapannya tersebut.

Alice yang merasa diikuti akhirnya merasa tak nyaman. Dengan kesal ia membalikkan tubuhnya kemudian bertanya pada Troy “Apa yang kamu lakukan?”

Troy mengangkat kedua bahunya. “Apa? Aku cuma jalan-jalan malam.”

“Sialan!” akhirnya, Alice tak mampu menahan umpatannya, dan hal tersebut membuat Troy tak kuasa menahan senyuman lebarnya. Alice kembali berjalan lagi, dan Troy mengikuti kemanapun kaki wanita itu melangkah.

Gila! Troy benar-benar merasa gila karena penolakan dan sikap ketus yang diberikan Alice Philips padanya. Kenapa wanita itu bersikap seperti itu padanya? Apa sebelumnya ia memiliki salah dengan wanita tersebut?

Pertanyaan itu terputar berkali-kali dalam kepala Troy sepanjang ia menyusuri trotoar bersama dengan Alice Philips di hadapannya.

***

Alice menghela napas panjang, karena tak lama, akhirnya sampailah juga ia ditempat kostnya. Sebenarnya, selama tinggal di Indonesia, ia menyewa sebuah tempat di Bali. Tapi karena pekerjaannya kali ini, ia sementara tinggal di Jakarta sampai pemotretannya selesai.

Alice membalikkan diri, berharap jika Troy sudah tak ada dibelakangnya, tapi ia salah. Nyatanya, Troy masih berada di sana, dengan senyuman miringnya, dengan kearoganannya, dengan kepedean tingkat dewanya, dan sialnya, dengan ketampanan dan kegagahan lelaki itu yang mampu memancing sesuatu di dalam diri Alice.

Dengan mendengus sebal, Alice bertanya pada Troy “Kenapa kamu mengikutiku sampai disini?”

Bukannya menjawab, Troy malah menyandarkan diri di pagar, mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya yang diyakini Alice adalah sebuah rokok, menyalakan batang sialan itu dan menghisapnya sebelum menjawab “Cuma pengen tau dimana tempat tinggalmu.”

“Memangnya apa urusanmu?”

“Nggak ada, cuma penasaran aja.”

“Dasar sinting!” Alice mengumpat dalam bahasa asing, dan hal tersebut membuat Troy tak mampu menahan tawanya.

Ah ya, satu hal lagi yang disukai Troy adalah, bagaimana logat wanita itu ketika berbahasa indonesia. Hal itu membuat Troy seakan gemas pada seorang Alice Philips.

Alice akhirnya memilih segera memasuki rumah tersebut, kemudian mengunci pintu gerbangnya. Sebelum itu Troy sudah mengucapkan kalimat “Aku tak sabar melihatmu besok siang di kolam renang.” Ejeknya dengan nada menggoda.

“Bajingan!” lagi, Alice mengumpat dengan bahasa asing, dan hal tersebut benar-benar membuat Troy tak kuasa menahan tawanya. Alice tentu mengerti apa maksud Troy saat lelaki itu bilang mengunggunya di kolam renang, karena besok adalah jadwal pemotretan mereka dengan set di area kolam renang. Alice akan mengenakan bikini di sana, tentu saja Alice sangat tahu apa yang ada di dalam otak porno lelaki itu.

Sialan! Jika hari ini Alice mampu menahan dirinya dan bersikap ketus pada Troy, apa besok wanita itu bisa melakukannya lagi? Alice tak tahu. Tapi yang terpenting adalah, ia tak ingin terlibat dalam hubungan dengan seorang Troy Yoseph. Tidak tadi, tidak sekarang, tidak juga nanti.

-TBC-

 

Sleeping with my Friend – Bab 2

Comment 1 Standard

 

Bab 2

 

Emosinya tak dapat ia kontrol. Steve melayangkan pukulannya lagi dan lagi pada wajah Henry. Sungguh, Steve sebenarnya tak mengerti apa yang terjadi dengannya. Ia hanya tidak bisa membayangkan ketika Jessie akan melepas kehormatannya dengan laki-laki bajingan ini. Padahal Steve sadar, jika itu bukanlah urusannya.

Jessie sudah dewasa, jadi ia tidak bisa melarang Jessie untuk tidak melakukan hal tersebut.

Saat Steve tak juga berhenti memukuli wajah henry, pada saat bersamaan pintu dibuka dan menampilkan Jessie yang baru kembali dari apartmen Steve dengan membawa baju ganti untuk lelaki itu.

Jessie sempat terkejut dengan apa yang terjadi. Ia melihat Henry terkapar diatas lantai dengan Steve yang berada di atasnya dan memukuli Henry berkali-kali. Jessie memekikkan nama Steve dan segera berlari menuju ke arah dua orang lelaki tersebut.

“Steve! Apa yang sudah kau lakukan?” Jessie menarik tubuh Steve agar lelaki itu bangkit meninggalkan Henry yang sudah terkapar di atas lantai.

Jessie menghampiri Henry, dan membantu lelaki itu agar bisa bangkit dan duduk sendiri.

“Henry, kau tidak apa-apa?” tanyanya. Mata Jessie menatap tajam ke arah Steve. “Apa yang kau lakukan Steve?!” Jessie berseru keras kepada Steve. Sedangkan Steve hanya bisa menatap Henry dengan tatapan membunuhnya.

Kemudian, tanpa banyak bicara lagi, Steve meraih baju ganti yang dibawakan Jessie, kemudian ia masuk ke dalam kamar Jessie untuk mengganti pakaiannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

***

Masih dengan kekesalan yang entah bersumber darimana, Steve mengenakan pakaiannya secepat mungkin. Ia tidak sudi berlama-lama berada di dalam apartmen Jessie ketika ada si bajingan itu di dalamnya.

Steve lalu menghela napas panjang. Sebenarnya, apa yang terjadi dengannya? Itu bukan urusannya, ketika Jessie akan memberikan kehormatannya pada lelaki itu malam ini, tapi entah kenapa memikirkan hal itu membuat Steve kesal setengah mati.

Setelah mengenakan pakaiannya, Steve segera keluar dari dalam kamar Jessie. Matanya lalu menangkap sepasang kekasih itu sedang berduaan di area dapur. Jessie tampak sedang mengobati memar-memar di wajah kekasihnya, dan itu kembali membuat Steve mendengus sebal.

Steve berjalan dengan cepat menuju ke arah pintu depan apartemen Jessie, melewati sepasang kekasih itu tanpa ingin menatapnya. Hal tersebut membuat Jessie menghentikan aksinya, lalu meninggalkan Henry dan menyusul Steve.

Bagi Jessie, bagaimanapun juga, Steve harus meminta maaf terhadap Henry karena lelaki itu sudah memukuli wajah Henry hingga babak belur. Lagi pula, apa masalah mereka? Jessie tidak pernah berpikir jika keduanya memiliki masalah serius hingga membuat keduanya baku hantam seperti tadi.

Jessie mengejar Steve, dan menghentikan temannya itu saat Steve baru saja membuka pintu apartmen Jessie.

“Hei, kau mau kemana?” Jessie menghentikan Steve dengan menepuk bahu lelaki itu.

“Keluar.”

“Kau belum meminta maaf padanya. Kau tidak lihat mukanya babak belur karena ulahmu?”

Steve hanya menatap Jessie dengan tatapan membunuhnya. Kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari apartemen Jessie tanpa sepatah katapun.

“Hei, Steve! Apa otakmu masih terendam alkohol? Steve! Steven!” Jessie berseru keras, tapi Steve masih melanjutkan langkahnya seakan tak peduli dengan teriakan-teriakan Jessie.

Dengan kesal, Jessie kembali masuk ke dalam apartemennya, sambil menggerutu, ia menuju ke arah Henry kembali dan melanjutkan aksinya untuk mengobati memar-memar di wajah lelaki itu.

“Apa dia gila? Apa otaknya masih terendam dengan alkohol? Dasar tidak tahu diri.” Jessie masih menggerutu sebal, dan itu membuat Henry sedikit tersenyum melihat kekasihnya tersebut.

Ya, itulah yang disukai Henry dari Jessie, wanita yang ceria dan juga cerewet.

“Kau, kenapa kau malah tersenyum seperti itu?”

“Sudahlah, lupakan saja dia.”

“Aku masih tidak habis pikir, kenapa tiba-tiba dia memukulimu seperti itu? Kau tidak mungkin berbuat macam-macam dengannya, bukan?”

Henry sedikit salah tingkah. “Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya bertanya, kenapa dia mengenakan piyamamu, lalu tiba-tiba dia menerjangku dan memukuliku.”

“Mungkin dia masih terpengaruh dengan alkohol.”

“Dia mabuk lagi?” tanya Henry. Ya, setahu Henry, Steve adalah seorang pemabuk. Playboy cap kakap, dan ketika lelaki itu memiliki masalah atau sedang mabuk, lelaki itu lebih memilih menghabiskan waktunya di apartmen Jessie, dan itu benar-benar membuatnya tidak suka.

“Ya, dia gila. Bahkan tadi malam dia telanjang bulat di hadapanku dan memuntahkan isi di dalam perutnya di atas karpetku.” Ucap Jessie yang kini sudah kembali mengobati memar-memar di wajah Henry.

“Jess, jika boleh jujur, aku tidak suka melihat kedekatanmu yang tak wajar dengannya.”

Jessie menghentikan pergerakannya seketika. Ia menatap Henry dengan serius. “Apa maksudmu? Kami hanya teman, tak lebih.”

“Ya, tapi kalian sudah sama-sama dewasa. Aku cemburu melihatnya. Apa salah jika aku cemburu padanya?” pancing Henry.

Jessie tersenyum lembut. Ia menangkup kedua pipi Henry dan berkata. “Honey, kau tak perlu khawatir. Steve sudah seperti saudara bagiku. Kami tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak.”

“Tapi aku tidak percaya padanya.”

“Dia tidak akan berani macam-macam denganku, jika dia berani macam-macam sedikit saja, maka akan kutendang bokongnya dari sini.”

Henry mencoba tersenyum. Ia bersikap seolah-olah percaya dengan apa yang dikatakan Jessie, padahal sebenarnya, Henry merasa jika dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat cemburu dengan kedekatan yang terjalin antara Steve dan juga Jessie.

***

Steve tak berhenti mendengus sebal. Hari ini, ia menghabiskan waktunya di rumah Hank, temannya. Bukan tanpa alasan, karena hanya Hanklah yang mungkin mengerti bagaimana perasaannya saat ini.

Biasanya, Hank adalah orang yang menasehati Steve, memberi masukan, bahkan terkadang dia adalah orang yang mengenalkan Steve dengan beberapa wanita yang pernah menjadi teman kencan semalamnya.

Kini, Steve memilih mengubur dirinya pada sofa panjang milik Hank sembari menonton televisi dengan sesekali meminum bir yang memang selalu tersedia di dalam rumah lelaki itu.

“Kau, sebenarnya aku cukup muak melihatmu berada di sini.” Ucap Hank sembari melompat duduk tepat di sebelah Steve. “Ayolah, aku ada kencan, dan aku tidak mungkin meninggalkanmu di sini seperti orang gila.”

“Kalau begitu, ajak aku kencan.” Jawab Steve dengan wajah cueknya.

“Kau akan menggangguku, Steve.”

“Berengsek! Apa kau tidak bosan berkencan dengan Natalia? Kau bisa memutuskannya dan mencari wanita baru, Sialan!” Steve mengumpat kesal. Hank memang sangat berbeda dengan Steve. Jika Steve memilih hubungan satu malam dengan seorang wanita, maka Hank adalah sosok yang setia.

Entah sudah berapa tahun lamanya Hank menjalin hubungan dengan kekasihnya yang bernama Natalia tersebut.

“Steve, aku bukan kau yang tidak punya perasaan. Saat kau tak bisa berpaling dari seorang wanita, saat itulah kau sudah benar-benar jatuh cinta padanya.”

“Omong kosong tentang cinta! Bagiku, cinta adalah seberapa besar payudaranya.”

Hank tertawa lebar. “Berengsek. Otakmu benar-benar sudah parah. Lebih baik kau pergi dari sini. Aku benar-benar sedang ingin berkencan minggu ini.”

Steve bangkit seketika. “Aku masih bingung. Kenapa ada orang-orang yang membosankan seperti kalian?”

Hank mengangkat sebelah alisnya. “Kalian?”

“Ya, kau dan Jessie. Kalian benar-benar membosankan.”

Hank tersenyum, ia ikut bangkit dan menepuk pundak Steve. “Kau hanya iri pada kami, Steve. Kami memiliki orang yang mencintai kami, dan kau belum memiliki hal itu.”

“Sialan!” lagi-lagi Steve mengumpat kesal. Lalu Steve berjalan pergi keluar dari apartmen Hank.

“Steve, aku akan ke apartemenmu nanti malam.”

“Tak perlu, karena aku akan berpesta dengan beberapa wanita bayaran.”

“Ayolah Steve.” Sungguh, Hank merasa tak enak hati, tapi mau bagaimana lagi. Hari ini adalah hari dimana ia akan melamar kekasihnya. Jadi ia tak mungkin membatalkannya.

“Nikmati saja kencanmu yang membosankan itu.” Ucap Steve dengan nada kesal sembari meninggalkan apartemen Hank. Ya, Steve merasa sangat kesal. Tapi, kenapa juga ia merasa kesal? Apa benar yang dikatakan Hank, bahwa ia hanya merasa iri saja karena tak memiliki wanita yang ia sukai? Ya, mungkin saja.

***

Jessie tidak bisa menghilangkan degup jantungnya yang semakin menggila. Masalahnya, hari ini ia sudah memutuskan untuk melepas kehormatannya dengan Henry, lelaki yang ia cintai. Disisi lain, ia merasa takut jika Henry akan kecewa dengan dirinya yang tak tahu apapun tentang seks.

Jessie mencoba menenangkan diri dengan meminum anggur yang tadi memang dibawakan Henry untuk mereka. Saat ini, keduanya sedang menonton film bersama di ruang tengah apartmen Jessie. Tak ada suara diantara mereka. Henry tampak menikmati jalannya film yang sedang mereka putar, sedangkan Jessie tampak sedang berusaha mengendalikan dirinya agar tak tampak salah tingkah.

“Sepertinya, kau sedikit tidak nyaman.” Ucap Henry kemudian.

“Maaf, aku hanya tidak bisa mengendalikan degup jantungku.” Jawab Jessie dengan jujur.

Henry tertawa lebar. Jemarinya terulur mengusap lembut puncak kepala Jessie. “Kalau kau belum siap, aku tidak akan memaksa.”

“Tidak! Aku sudah siap. Uum, maksudku, aku sudah menunggu malam ini.”

Henry menatap Jessie dengan intens. “Kalau begitu, bolehkah aku memulainya sekarang?”

Keterkejutan tampak jelas terukir di wajah Jessie. “Apa? Uum, bukankah ini masih sore, dan aku…” Jessie tampak tidak siap dengan apa yang akan dilakukan kekasihnya tersebut.

Henry tersenyum lembut. “Aku tahu, kau hanya belum siap, Jess.”

“Henry, aku hanya…” Jessie tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Nyatanya apa yang dikatakan Henry adalah hal yang benar. Bahwa ia memang tidak siap melakukan ini. memang pikirannya sangat kuno, tapi mau bagaimana lagi. Jessie menghela napas panjang, lalu ia menjawab. “Ya, sebenarnya, aku belum cukup siap.”

“Aku mengerti.” Henry lalu melirik ke arah jam tangannya, kemudian ia berkata “Sebenarnya, hari ini aku ada janji dengan seorang pasien. Kau, tidak apa-apa bukan jika aku pergi sekarang?”

“Kau pergi karena aku belum siap melakukan seks denganmu?”

“Tidak, bukan begitu.”

“Tapi kita sudah sepakat kalau kita akan menghabiskan malam bersama malam ini. dan kini, kau berkata jika kau memiliki janji dengan pasienmu setelah aku menolakmu.”

“Jess. Tidakkah kau mengerti bahwa ini juga terasa sulit untukku? aku laki-laki normal yang sangat menginginkanmu. Mana mungkin kita bisa menghabiskan malam bersama tanpa melakukan apapun.”

Jessie berdiri seketika. “Kalau begitu, sentuh aku.”

Henry menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku berusaha menghormatimu. Saat kau berkata belum siap, maka aku tak akan melakukannya.”

“Oh Henry.” Jessie terpana dengan lelaki di hadapannya tersebut.

“Biarkan aku pergi. Oke?”

Jessie memejamkan matanya frustasi. Ia tidak ingin Henry pergi dengan kekecewaan yang tampak jelas di wajahnya, tapi mau bagaimana lagi. Jessie juga tidak  bisa membohongi dirinya senidri jika dirinya memang belum siap untuk melakukan hal seintim itu dengan Henry. Astaga, apa yang terjadi dengannya?

“Baiklah. Tapi, kau tidak marah denganku, bukan?”

Henry tersenyum lembut. “Tentu saja tidak.” Jawabnya sembari mengusap lembut pipi Jessie. Jessie ikut tersenyum, ia mersa lega, tapi di sisi lain, ia tetap merasa tidak enak karena sudah membatalkan rencana mesra mereka berdua.

***

Jessie mengantar Henry hingga basement. Saat ia kembali, ia mendapati Cody yang berada di sebelah lift. Lelaki paruh baya itu tampak sedang memapah seorang wanita dengan pakaian minimnya.

“Woow, aku tidak menyangka jika kau memiliki teman seperti ini, Cod.” Wanita itu memang tampak seperti wanita jalang dengan pakaian ketatnya, belum lagi gayanya yang sudah seperti wanita yang sedang mabuk membuat Jessie sulit mencerna sebenarnya apa yang sedang terjadi.

“Kau tahu? Temanmu sedang menggila.” Ucap si penjaga apartemen tersebut.

Jessie mengangkat sebelah alisnya. “Teman? Steve? Apa yang dia lakukan?”

“Dia sedang berpesta dengan banyak sekali wanita. Dan aku di sini dibayar lebih untuk mengantar mereka-mereka yang sudah teler seperti ini.”

Jessie menggelengkan kepalanya. “Astaga, apa dia sudah gila? Aku akan menegurnya.” Ucap Jessie kemudian yang segera menuju ke lantai dimana Apartmen Steve berada.

Tak menunggu lama, Jessie akhirnya sampai di depan pintu apartmen Steve. Setelah itu ia membuka begitu saja pintu tersebut karena Jessie memang sudah mengetahui passwordnya.

Jessie sangat terkejut ketika mendapati apa yang ada di dalam apartmen Steve. Musik diputar dengan nyaring, lampu dimatikan dan hanya terdapat lampu gemerlap hingga suasana seperti sedang berada di dalam sebuah kelab malam. Dua orang wanita setengah telanjang menari dengan gaya erotis di atas meja Steve, sedangkan Steve sendiri sedang duduk menikmati tarian tersebut dengan segelas minuman yang berada di tangannya. Tak lupa, terdapat juga dua orang wanita di sisi kiri dan kanannya.

Melihat itu membuat Jessie kesal, dangat kesal. Steve seperti seorang yang kekanakan. Bagaimanapun juga, Jessie merasa jika hal seperti ini tak seharusnya dilakukan oleh Steve. Apa lelaki itu akan mengadakan pesta seks?

Jessie berjalan cepat menuju ke arah hometeater yang memutar lagu-lagu tersebut, kemudian tanpa banyak bicara lagi, Jessie mematikannya. Membuat semua yang berada di ruangan tersebut menatap ke arah Jessie seketika. Tak terkecuali Steve.

Steve berdiri seketika, ia tidak menyangka jika Jessie berada di sini dan melihatnya seperti ini.

“Siapa dia? mengganggu saja.” Ucap seorang wanita yang menari di atas meja Steve.

“Keluar dari sini.” Ucap Jessie kemudian.

“Hei, memangnya kau siapa?” tanya perempuan itu. Sedangkan Steve hanya diam masih ternganga dengan kehadiran Jessie.

“Aku kekasihnya. Sekarang kalian keluar dari sini, atau aku akan memanggil polisi untuk menangkap kalian.” Ancam Jessie.

Mendengar itu membuat para wanita yang ada di sana sedikit panik, apalagi saat melihat Steve yang hanya diam ternganga menatap ke arah Jessie. Lelaki itu seakan tak memiliki kemampuan untuk membela mereka dan terkesan membenarkan Jessie. Akhirnya, para wanita itu pergi meninggalkan apartmen Steve dengan sesekali menggerutu kesal pada Jessie.

Setelah para perempuan itu pergi meninggalkan apartmen Steve. Jessie segera memunguti apapun yang berada di ruang tengah tersebut yang baginya tampak berantakan. Sedangkan Steve, ia masih berdiri mematung menatap keberadaan Jessie di sana.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Steve pada Jessie yang tampak lebih fokus pada ruang tengah apartmen Steve ketimbang si pemilik apartmen itu sendiri.

“Kau tidak lihat? Aku sedang membereskan sampah.”

“Kau tahu apa maksud dari pertanyaanku. Kenapa kau disini? Bukankah seharusnya kau kencan dengan pacar Gay mu itu?”

Jessie berkacak pinggang tidak suka dengan pertanyaan Steve. “Yang pertama, kedatanganku kesini karena menyadarkanmu bahwa kelakuanmu ini mengganggu penghuni apartmen lainnya, dan yang kedua, dia tidak Gay!”

Steve malah bersedekap. “Apartmenku kedap suara. Lagi pula, apartmenmu berbeda Lima lantai dari tempatku, jadi aku tak mungkin mengganggumu.”

“Terserah kau saja.” Jessie menjawab dengan acuh. Sebenarnya, Jessie juga tak mengerti apa yang ia lakukan di sini. Seharusnya ia tak peduli dengan Steve, dan bisa dibilang jika ia masih marah dengan lelaki itu. Tapi Jessie tak memungkiri jika malam ini dirinya butuh seorang teman untuk mencurahkan isi hatinya. Mencurahkan kebodohannya karena sudah menolak Henry dan membuat kekasihnya itu kabur begitu saja.

Jessie tahu, bahwa ia butuh teman untuk minum bersama dan menghilangkan kegalauannya yang entah bersumber dari mana. Dan ia juga tahu, bahwa hanya Stevelah teman yang cocok untuk membuatnya lebih baik lagi.

Kenyataan bahwa lelaki itu memilih bersenang-senang dan berpesta dengan banyak wanita jalang membuat Jessie marah. Jessie kesal, kenapa disaat hubungannya terasa sulit dengan Henry, Steve malah bisa sesuka hati tidur dengan berbagai macam wanita. Iri? Tentu saja, tapi Jessie tidak ingin mengungkapkan rasa irinya karena ia tahu bahwa ia tidak berhak merasakan perasaan tersebut.

Ingat, mereka hanya berteman, tidak lebih.

Saat Jessie memilih mengabaikan Steve, saat itulah Steve merasa emosinya terpancing. Secepat kilat Steve mencengkeram kedua bahu Jessie lalu ia bertanya sekali lagi. “Apa yang kau lakukan di sini?” kali ini pertanyaan Steve terdengar tajam dan menuntut.

Jessie tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ia butuh teman, sungguh, tapi sepertinya mendatangi Steve adalah salah.

“Oke, aku pergi.” Jessie mengangkat kedua tangannya dan bersiap pergi.

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Jess! Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Steve lagi. Jessie tahu jika Steve sudah seperti ini, maka ia tak memiliki jalan lain selain jujur dengan lelaki itu.

Jessie menurunkan bahunya, ia mendesah panjang sebelum berkata “Aku butuh minum. Aku butuh teman minum! Apa kau puas?!” serunya dengan kesal dan frustasi.

Steve yang menatap Jessie merasa terketuk hatinya. Ia tidak pernah melihat Jessie sefrustasi saat ini. Kekesalan yang ia rasakan sepanjang hari pada Jessie karena wanita itu lebih membela kekasihnya dibandingkan dirinya kini lenyap begitu saja saat melihat kebingungan yang tampak jelas di wajah wanita itu.

Jessie memiliki masalah, Steve tahu itu. Wanita itu butuh minum, dan ia akan menemani wanita itu minum hingga melupakan masalahnya.

Sleeping with My Friend – Bab 1

Comment 1 Standard

 

Bab 1

 

Tiga bulan sebelumnya….

Kriiiiiingggggggggggggg

Suara jam weker yang berisik itu membuat Steve bangun seketika. Ingin sekali ia mengumpat keras karena merasa jika belum saatnya ia bangun. Tapi ketika sebuah jemari menjewer telinganya, ia baru sadar jika kini dirinya tidak sedang berada di dalam Apartemennya sendiri.

“Hei, bangung, dasar pemalas!” seruan itu membangunkannya. Bahkan si pemilik suara tidak tanggung-tanggung menjewernya membuat Steve mengerang kesakitan.

“Jess, apa yang kau lakukan? Sial! Kau membuat pagiku sangat buruk.”

“Mr. Morgan, kau pun membuat hariku sangat buruk.” Jessie berkacak pinggang. “apa kau lupa jika semalam kau datang kemari dalam keadaan mabuk? Lalu memuntahkan isi dalam perutmu diatas karpetku? Dan apa kau juga lupa jika saat ini kau sedang telanjang di atas ranjangku? Bangun dan angkat bokongmu dari tempat tidurku.” Ucap Jessie dengan nada marah.

Ya, ini memang bukan pertama kalinya Steve melakukan hal tersebut. Lelaki itu tinggal di gedung apartemen yang sama dengan Jessie tapi berbeda lantai. Jika lelaki itu memiliki masalah, atau Jessie yang memiliki masalah, maka keduanya saling bertamu minum dan tidur bersama –hanya tidur bersama. Tidak ada seks dan sejenisnya. Tapi tadi malam, Steve sepertinya terlalu mabuk. Lelaki itu bahkan tidak minum di rumahnya, tapi dengan begitu menjengkelkannya, lelaki itu datang ke apartemennya, melucuti pakaiannya sendiri hingga telanjang bulat sebelum kemudian memuntahkan isi di dalam perutnya.

“Maaf, kepalaku masih sangat pusing.” Steve memijat pelipisnya. “Dan apa kita melakukan sesuatu tadi malam? Aku tidak berbuat yang aneh-aneh, kan?”

Jessie memutar bola matanya jengah. “Kau muntah di atas karpetku, semalaman aku sibuk membersihkan bekas muntahanmu, kau pikir apa yang bisa kuperbuat?”

“Jadi, tak ada seks?”

“Tidak! Yang benar saja. Sekarang cepat bangun dan mandilah. Aku mau membersihkan ranjangku.”

Sambil menutupi ketelanjangannya, Steve bangkit dan menuju ke arah kamar mandi. “Kau tidak kerja?” tanya Steve saat berjalan melewati Jessie.

“Ini minggu. Astaga, kau bahkan sudah tidak bisa mengingat hari. Berhentilah jadi pemabuk, Steve!”

“Baiklah, kau tidak perlu cerewet.” Setelah kalimatnya itu, Steve masuk ke dalam kamar mandi. Jessie menghela napas panjang. Astaga, sampai kapan hubungannya dengan Steve akan selalu seperti ini? Bagaimanapun juga, mereka adalah sepasang laki-laki dan perempuan yang sudah dewasa, jika terus-terusan seperti ini, maka pasti orang akan beraanggapan lain tentang hubungan mereka, padahal, hubungan mereka memang hanya sekedar teman saja.

***

Steve keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah lebih segar dari sebelumnya. Meski rasa pening di kepalanya masih saja ia rasakan, tapi setidaknya ia sudah bisa berjalan sendiri tanpa terhuyung-huyung.

Steve berjalan menuju bar dapur apartemen Jessie, ia duduk di sana dan mengamati Jessie dari belakang.

“Kau yakin tadi malam tidak ada seks?”

“Ya, tentu saja. Henry saja tidak berani menyentuhku, apalagi kau? Sebelum kau macam-macam, akan kupastikan bahwa kau sudah kutendang dari apartemenku.”

Steve tertawa lebar. “Ayolah, Jess. Kau seperti seorang gadis biara. Aku masih tidak percaya kau masih perawan diusiamu yang sudah Dua puluh tujuh tahun.”

“Karena kau selalu mengacaukannya saat aku ingin melakukannya.” Jessie memberikan Steve sepotong roti isi, tak lupa ia juga memberikan Steve obat pereda nyeri dan juga secangkir kopi.

“Benarkah aku yang mengacaukannya? Atau, itu hanya alasanmu saja?”

“Sebenarnya apa yang kau inginkan? Jika otakmu masih penuh dengan alkohol, lebih baik kau segera keluar. Henry sebentar lagi akan datang.”

“Untuk apa si gay itu datang kemari pagi-pagi buta seperti ini?”

Jessie berkacak pinggang. “Yang pertama, kami tentu akan berkencan. Ini minggu, kami akan menghabiskan waktu bersama. Yang kedua, Bung, ini sudah jam Dua belas siang. Dan yang ketiga, dia bukan Gay, jadi berhenti menyebutnya Gay.”

“Apa sebutan untuk laki-laki yang tidak berani menyentuh kekasih yang sudah dua tahun ia kencani? Jika dia bukan Gay, maka dia tidak tertarik denganmu.”

Jessie tersinggung, tentu saja. Cara diam Jessie membuat Steve sadar jika apa yang ia katakan memang sudah menyinggung temannya itu.

“Maaf, maksudku, kau menarik, tentu saja. Bahkan beberapa kali aku sempat bermain sabun dengan membayangkanmu.”

“Steve, cukup! Kau menjijikkan.”

Steve tertawa lebar. “Oke, aku bercanda. Tapi kau benar-benar menarik Jess. Maksudku, mungkin Henry tidak menyentuhmu karena dia tidak bisa melihat sisi menarikmu.”

“Jika boleh jujur, sebenarnya sudah sejak lama Henry menginginkannya. Tapi, aku yang menolak.”

“Kau yakin? Kenapa Jess?”

“Oh Steve. Aku malu. Kau tahu jika aku tak tahu apapun tentang ranjang. Aku takut dia meninggalkanku karena aku tidak mahir di atas ranjang.”

“Yang benar saja, kau bisa meminta bantuanku, Jess. Kau ingin aku melakukannya dulu?”

Jessie menatap Steve dengan kesal. “Lebih baik kau segera keluar dari apartemenku, sebelum peralatan dapurku melayang menimpa kepalamu.”

“Aku tidak bercanda, Jess. Kau tahu bukan bagaimana hubunganku dengan para gadis? Hampir separuh populasi wanita di New York pernah tidur denganku, seharusnya kau merasa terhormat dengan tawaranku.”

“Keluar!” Jessie sungguh-sungguh.

“Ayolah Jess.”

Jessie menuju ke arah Steve, lalu dengan sekuat tenaga ia menggelandang lelaki itu agar bangkit dari tempat duduknya, kemudian menyeretnya ke arah pintu apartemennya.

“Apa kau ingin aku mencuci otakmu yang mesum itu?” ucapnya dengan sesekli menjambak rambut Steve.

Steve mengaduh, tapi keduanya saling tertawa dengan Jessie yang masih sesekali menyeret Steve menuju ke pintu apartemennya. Saat Jessie membuka pintu apartemennya, saat itulah dia melihat seorang lelaki tampan berdiri di depan pintu apartemennya dengan seikat bunga mawar merah.

Jessie dan Steve menghentikan tawa mereka, sempat terkejut, tapi kemudian Jessie dapat mengendalikan dirinya. Ia segera menghambur ke arah lelaki itu sembari menyebutkan namanya.

“Henry…” Jessie memeluk tubuh Henry, pun dengan Henry yang ternyata segera membalas pelukan Jessie. Setelah itu keduanya berciuman dihadapan Steve, sangat mesra seakan saling melepas rindu.

Ada sebuah rasa kesal dalam benak Steve. Mungkin karena ia merasa Jessie mengabaikannya saat ini. Dan seharusnya ia tidak mempedulikan hal itu.

Jessie menhhentikan kemesraan mereka, lalu bertanya “Kau sudah datang?”

“Ya.” Henry menjawab. “Ini untukmu.” Lanjutnya sembari memberikan seikat bunga mawar merah untuk Jessie.

“Oh, kau tidak perlu repot-repot. Masuklah.” Ajaknya. Henry masuk, lalu Jessie menatap ke arah Steve, “Keluar.” Ucapnya pada Steve.

“Ayolah Jess, kau tidak mungkin mengusirku dalam keadaan seperti ini? Cody akan menertawakanku.” Cody merupakan si penjaga apartemen, keduanya memang cukup dekat dengan lelaki paruh baya itu, tapi tetap saja, Steve tidak ingin penampilannya yang selalu keren dan Elegant akan ternodai dengan penampilannya saat ini yang sedang mengenakan piyama dengan motif bunga milik Jessie.

Jessie menghela napas panjang. “Baiklah, kau boleh masuk, aku akan ke apartemenmu mengambilkan pakaian ganti untukmu.” Ya, karena hanya Jessielah yang mengetahui password apartemen lelaki terebut, begitupun sebaliknya.

“Ohh, kau benar-benar yang terbaik.” Steve akan memeluk Jessie, tapi Jessie menolaknya.

“Kau tidak perlu memelukku. Masuklah, aku akan keluar sebentar.” Ucapnya dengan wajah datar.

Steve hanya melihat Jessie yang keluar kemudian menutup pintu apartemennya, meninggalkan dirinya hanya berdua dengan kekasih wanita itu.

Steve menatap ke arah Henry yang ternyata sedang mencari minum di lemari pendingin Jessie. Ya, lelaki itu tampak menempatan diri seperti dirumahnya sendiri, dan seharusnya ia tidak ambil pusing dengan hal tersebut.

Meski sedikit risih, tapi Steve tetap bersikap seolah-olah cuek. Ia lalu duduk di sebuah sofa panjang di depan televisi, kemudian mulai menyalakan televisi di hadapannya meski ia tidak tahu harus menonton apa.

“Kemana dia?” Henry bertanya, lelaki itu sudah membawa segelas orange juice dan duduk di sofa yang berbeda dengan Steve.

“Ke apartemenku, mengambilkan baju ganti untukku.” Steve menjawab dengan acuh.

Henry baru sadar dengan penampilan Steve saat ini yang ternyata sedang mengenakan piyama milik Jessie. Rasa kesal ia rasakan begitu saja saat memikirkan jika mungkin saja ada hal-hal yang tidak-tidak terjadi diantara Jessie dengan Steve.

“Kau, menginap di sini lagi?” tanya Henry dengan nada tidak suka. Ya, ia memang tahu jika Steve sering menginap di apartemen Jessie, pun sebaliknya. Meski ia tidak suka dengan kenyataan itu, tapi Henry mencoba mengerti jika keduanya adalah sahabat sejak bayi, dan Henry mencoba mengabaikannya meski terkadang kecemburuan itu tumbuh untuk Steve.

“Ya, ada masalah?” Dengan santai Steve bertanya balik.

“Dengar Steve, kau tidak bisa seperti ini terus menerus, Jessie dan aku memiliki hubungan yang serius, kami akan menikah, kau tidak mungkin terus-terusan tidur dengan calon istriku.”

Steve tersinggug, tapi kemudian ia tertawa lebar menertawakan ucapan Henry. “Kau keberatan? Kau yang harus mendengarku, Walter! Hubungan kami lebih dari teman, dan tak ada yang bisa mengerti seberapa dekat ikatan kami berdua.”

“Steve, dia calon istriku.” Henry mengingatkan.

“Dia teman kecilku.”

“Sial! Kalian sudah dewasa. Apa kau tidak bisa melihatnya? Apa kau akan berada diantara kami saat kami bercinta?”

“Bajingan, kau!” Steve berdiri seketia. Jemarinya mengepal, ia tidak suka membayangkan saat dirinya berada diantara Jessie dan juga lelaki sialan itu saat mereka sedang berhubungan intim.

Henry tersenyum mengejek. “Akui saja, Steve. Kau ingin membawanya ke atas ranjangmu, bukan? Kau akan kalah, Steve. Karena malam ini, aku yang akan lebih dulu melakukannya.”

“Sialan!” Setelah ucapannya tersebut, Steve menerkam Henry hingga lelaki itu jatuh terseungkur ke lantai. Tanpa banyak bicara lagi, Steve mendaratkan pukulannya lagi dan lagi pada wajah Henry.

Steve tak dapat mengontrol emosinya. Ya, entah kenapa ia selalu merasa ingin marah saat membahas tentang Jessie dengan lelaki lain.

Apa yang terjadi denganmu, Steve? Apa yang kau lakukan? Dalam hatinya yang paling dalam, Steve bertanya pada dirinya sendiri.

-TBC-