Sleeping with My Friend – Bab 19

Comments 2 Standard

“Aku benar-benar tidak menyangka. Astaga… jadi kau, kau sama sekali tak tertarik denganku? Kau hanya… Ya Tuhan! Aku tidak percaya.” Donna bersiap pergi. Ia malu, tentu saja. Ia berharap terlalu banyak dan ia terlalu salah menerka keadaan. Donna merasa sangat malu, ia menganggap dirinya sendiri begitu istimewa untuk seorang Steven Morgan, tapi kenyataan yang ia dapat adalah sebaliknya, bahwa Steven Morgan TIDAK benar-benar tertarik dengannya.

“Donna.” Steve ingin menenangkan wanita itu.

“Tidak! Steve. Jangan!” napas Donna memburu karena kekesalan yang memuncak dikepalanya. “Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.” Setelah perkataannya tersebut, wanita itu pergi.

Oke, sempurna. Setidaknya Donna Simmon tak akan mengganggu kehidupannya lagi. Tapi bukan seperti itu yang dirasakan Steve. Ia merasa menjadi orang yang sangat brengsek. Membuat wanita itu berharap lebih, membuat wanita itu salah paham dan lebih parah lagi memanfaatkan kehadiran wanita itu untuk  menyembunyikan perasaannya sendiri kepada Jessie, perasaan yang selalu ingin ia pungkiri. Sejak lama…..

 

Bab 19

Jessie sudah bulat pada keputusannya, bahwa ia akan pulang ke Pennington sementara waktu. Memang terlihat sangat kekanakan, tapi ia tidak bisa selalu memikirkan tentang Steve dan Donna Simmon lalu berakhir stress dan membahayakan kandungannya. Jessie ingin menenangkan diri di rumah Sang ayah.

Tadi siang, setelah berperang dengan batinnya sendiri, Jessie berinisiatif untuk menemui Steve lebih dulu. Ia ke tempat kerja lelaki itu, dan di sana, Jessie mendapati Steve  sedang menerima tamunya.

Tamu istimewa tentunya.

Jessie bahkan sempat melihat posisi wanita itu yang duduk dengan berani di meja kerja Steve, dengan jemari yang menggoda dada Steve. Tentu Jessie belum sempat mendengar apa yang mereka bahas, karena Jessie memilih untuk kembali pergi setelah membuka sedikit pintu ruang kerja Steve dan mendapati pemandangan tersebut.

Mungkin, mereka baru saja membahas tentang malam panas mereka semalam, mungkin mereka sedang membahas waktu untuk bercinta lagi selanjutnya. Jessie tidak tahu dan demi Tuhan, ia tidak ingin tahu!

Pikiran tersebut keluar dengan sendirinya di kepalanya, terputar lagi dan lagi, lalu Jessie mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk seperti perpisahannya dengan Steve, nasib anaknya yang tidak akan memiliki ayah sebelum ia dilahirkan, dan banyak lagi. Jessie tidak tahu kenapa ia sampai berpikir kesana, Jessie bahkan merasa bahwa dirinya tidak akan dapat berpikir secara realistis lagi jika itu menyangkut hubungannya dengan Steve.

Jessie menghela napas panjang. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil sewaan yang ia tumpangi.

Memasuki kawasan Pennington, ponsel Jessie berbunyi. Jessie melirik sekilas, rupanya Steve yang meneleponnya. Jessie memutuskan untuk tak mengangkatnya, karena ia sendiri tidak tahu harus memberikan alasan apa untuk lelaki itu.

Ponselnya lalu berbunyi lagi dan lagi, dan Jessie tetap memilih untuk tidak mengangkatnya. Lalu pesan singkat Steve sempat membuat Jessie membatu.

Steve : Apa kau sedang tidur? Aku hanya ingin mengabari bahwa aku pulang cepat, dan aku akan membawa makan malam. Jangan masak.

Ya Tuhan! Apa ia harus kembali ke New York sekarang? Tidak! Ia tidak akan kembali hanya karena pesan singkat dari lelaki itu. Jessie tidak menjawab pesan tersebut dan memilih mengabaikannya.

Ia memilih bersiap-siap untuk menghadapi ayahnya. Ya, beberapa meter lagi ia akan sampai, dan ia tahu bahwa George tak akan berhenti bertanya padanya sebelum ia jujur tentang apa yang sedang menimpa hubungannya dengan Steve hingga membuatnya kabur dari rumah.

***

Tepat jam Enam sore, steve sampai di apartmen Jessie dengan beberapa bingkisan makan malam mereka. Sedikit heran karena ia mendapati apartmen wanita itu kosong. Apa Jessie belum pulang dari butiknya?

Lalu bayangan tentang kebersamaan Jessie dengan Henry kemarin malam membuat Steve kesal. Apa jessie kembali menemui kekasihnya itu?

Tak ingin menebak-nebak keadaan, Steve memilih menghubungi Jessie. Tapi teleponnya tak diangkat. Bahkan sejak sore tadi, Jessie tak mengangkat teleponnya, pesannya pun tak dibalas. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan wanita itu? Dimana dia?

Akhirnya Steve memilih menghubungi Frank. Mungkin Frank tahu dimana keberadaan Jessie dan apa yang terjadi dengan wanita itu.

“Ada apa, Steve?” Akhirnya Frank menjawab teleponnya.

“Frank, kau tahu dimana Jessie?”

“Kenapa kau mencarinya ditempatku?”

“Aku tidak tahu harus mencarinya kemana, Frank. Dia tidak mengangkat teleponku, tidak membalas pesanku. Dan dia tidak ada di apartmen.”

“Kau sudah mencarinya di butik?”

“Belum. Dan aku tidak ingin mencarinya kesana.”

“Ayolah, Steve. Jangan kekanakan. Kalaupun kau mendapati Henry datang menemui Jess lagi di sana, tandanya mereka tak ada hubungan apapun. Karena jika mereka berniat bermain dibelakangmu, mereka tak akan bertemu di butik Jess. Kau harus lebih realistis.” Frank menyarankan.

Sebenarnya, Steve sudah bercerita tentang Henry yang datang menemui Jessie pada Frank. Entah kenapa Steve memilih bercerita pada Frank daripada dengan Hank temannya.

“Entahlah. Aku hanya tidak ingin mendapati kenyataan buruk.”

Frank terdengar mendengus sebal. “Jadi, apa maumu?”

“Bisakah kau menghubungi Jessie? Jika dia mengangat teleponmu, berarti dia memang sedang menghindariku. Dan tolong, tanya dimana dia berada. Aku benar-benar mengkhawatirkannya.”

Frank tertawa lebar. “Ya Tuhan! Lelaki dewasa dengan Ego dan Cintanya. Sepertinya aku akan menulis kisah cinta kalian menjadi novel.”

“Brengsek Frank! Aku sedang tidak ingin bercanda!”

Lagi-lagi terdengar tawa lebar dari Frank. “Baiklah, aku akan meneleponnya. Jika aku sudah mendapat kabar, aku akan segera menghubungimu agar kau tidak gila karena gelisah.”

“Sialan!” Steve mengumpat. Kemudian telepon ditutup.

Steve lalu melemparkan diri di sofa ruang tengah apartemen Jessie. Meski sudah meminta bantuan Frank, tapi Steve belum bisa tenang sebelum tahu dimana Jessie dan kenapa wanita itu tidak ingin mengangkat telepon darinya.

Dua puluh menit kemudian, ponsel Steve berdering. Steve segera mengangkatnya saat mendapati nama Frank sebagai si pemanggil.

“Ada kabar?” tanyanya dengan segera saat mengangkat telepon.

“Ya. Dia mengangkat teleponku. Dan dia sedang berada di Pennington.”

“Apa? Apa yang dia lakukan di sana?”

Frank menghela napas  panjang. “Steve. Sepertinya kalian harus bicara baik-baik. Kau ingin aku menjadi penengah diantara kalian?”

“Tidak. Aku tidak mengerti, Frank. Kenapa dia meninggalkanku? Astaga! Apa dia memang tidak ingin melanjutkan pernikahan ini?”

“Demi Tuhan, Steve! ini tidak akan selesai jika kau tidak membuang ego dan emosimu. Lagi pula, membahas di telepon tak akan menyelesaikan masalah.” Frank terdengar kesal. Tapi lelaki itu benar.

“Jadi, apa yang harus kulakukan?” tanya Steve kemudian.

“Jika aku jadi kau, maka aku akan menyusulnya.”

“Frank. Astaga, aku tidak pernah melakukan itu pada wanita sebelumnya. Merendahkan harga diriku hingga seperti itu, yang benar saja.”

“Kau juga tak pernah ingin menikahi perempuan sebelumnya jika bukan dengan Jess. Dan jangan lupakan fakta bahwa kau tidak pernah begitu mencintai perempuan seperti mencintai Jess.”

“Jangan bersikap sok tahu, Frank!”

“Sialan! Kau pikir aku buta setelah semalaman menemanimu mabuk dan merengek seperti anak kecil.”

“Brengsek!” Steve mengumpat keras. Ya, Frank memang brengsek. Tapi apa yang dikatakan kakak iparnya itu memang benar. Ia tidak pernah menginginkan orang seperti menginginkan Jessie, ia tidak pernah berharap memiliki masa depan yang bahagia selain dengan Jessie. Jadi jika ia ingin mempertahankan hubungan mereka, maka saran Frank adalah yang paling benar.

Ya Tuhan! Steve tidak percaya jika ia akan bertekuk lutut seperti ini dengan seorang Jessica Summer.

“Bagaimana? Kau mau menyusulnya?”

Steve mendesah panjang. “Ya. Aku akan melakukannya.”

“Good job, Brother.” Ucap Frank dengan senang. “jika kau ke sana, aku akan menemanimu. Oke?”

“Aku akan melakukannya sendiri.”

“Tidak. Aku tahu itu akan semakin kacau. Aku akan menemanimu.”

Frank benar. Mereka tidak akan bisa bicara berdua dengan kepala dingin. Jadi harus ada penengahnya. Dan menunjuk Frank sepertinya bukan ide buruk.

“Frank.” Tiba-tiba saja Steve ingin menanyakan sesuatu pada lelaki itu.

“Ya?”

“Kau yakin jika aku benar-benar mencintainya?” tanya Steve kemudian.

Sial! Ia benar-benar merasa seperti orang idiot setelah bertanya pada Frank tentang hal sesensitif itu.

Bukannya menjawab dengan serius, Frank malah tertawa lebar. Baiklah, Steve merasa sangat menyesal karena sudah menanyakan hal itu pada si Brengsek Frank Summer.

“Dengar, Brother. Hal itu hanya bisa dijawab oleh dirimu sendiri. Tanyakan pada hatimu, tanyakan ke dasar hatimu yang paling dalam, apa yang paling kau inginkan didunia ini. Jika jawabannya adalah ingin bahagia bersama dengan Jessie, maka Ya, kau benar-benar sedang jatuh cinta padanya.”

Steve hanya mengangguk. “Kau tampak sangat berpengalaman. Aku jadi penasaran, siapa wanita yang mengajarimu tentang kata sialan itu.”

Lagi-lagi, Frank tertawa lebar. “Aku memiliki banyak istri Steve.”

“Sial! Aku tidak sedang bercanda.”

“Aku juga tidak sedang bercanda. Kau tahu, seorang penulis bisa menjadi apa saja dan siapa saja seperti yang ia kehendaki. Bagiku, semua tokoh utama perempuan dalam novel yang kuciptakan adalah istriku, karena aku ingin membangun sebuah keintiman dengan mereka agar pembacaku merasakan apa yang dirasakan oleh para tokoh yang kuciptakan.”

“Sepertinya, butuh imajinasi yang tinggi untuk berbicara denganmu tentang hal ini.”

“Tentu saja.” Jawab Frank masih dengan tawa lebarnya. “Jadi, kapan kita ke Pennington?” tanya Frank kemudian.

“Jika kau tidak keberatan, aku ingin ke sana malam ini juga.”

“Baiklah. Aku akan bersiap-siap.”

Dan setelah itu, telepon di tutup. Steve menghela naps panjang. Ya, semuanya harus ia selesaikan malam ini juga. Semuanya tak boleh berlarut-larut. Bagaimanapun juga, ia ingin semua segerah selesai dengan baik-baik tanpa menimbukan masalah kedepannya.

***

Jam Delapan malam, Steve dan Frank sampai di Pennington. Keduanya disambut hangat oleh George, dan Steve sempat kecewa karena tidak mendapati Jessie berada di sana.

“Dia di rumahmu, dan mungkin tidur di sana karena seharian aku bertanya padanya apa yang terjadi. Mungkin karena risih, dia pergi meninggalkanku.”

Steve menghela napas panjang. “Aku akan menemuinya.”

Steve segera bergegas, tapi George segera menghadang Steve. “Kupikir, biarkan saja dia sendiri. aku tidak pernah melihat Jess sesendu dan sebingung itu.”

“Bingung? Apa yang dia bingungkan? Bukankah seharusnya aku yang bingung? Kenapa dia meninggalkanku disaat seperti ini?”

“Steve, kau sudah berjanji akan mengendalikan emosimu.” Frank mengingatkan.

“Tapi aku tidak mengerti, Frank.” Steve mengusap rambutnya kasar. “Sial! Aku melihatnya berpelukan dengan mantan tunangannya. Bukankah seharusnya aku yang marah? Seharusnya aku yang bingung dengan keadaan kami.”

“Sepertinya kau butuh minum, Nak.” George yang berkata. Lelaki paruh baya itu bahkan sudah menuju ke arah bar mini di ujung rumahnya, menuangkan sesuatu di sebuah gelas dan memberikannya pada Steve.

“Dad, kau sudah berjanji tak akan minum lagi.” Frank mengingatkan.

“Ya, aku tak akan minum, itu untuk Steve. dia butuh minum untuk menenangkan pikirannya.”

Steve menerimanya, meminumnya, dan benar apa yang dikatakan George, bahwa anggur olahannya segera membuat steve tenang.

“Dengan Marina dulu, aku juga sering menghadapi beberapa masalah serius.” George mulai bercerita, lelaki itu menuju ke arah tempat duduk, berharap dua lelaki muda di hadapannya mengikutinya dan mendengarkan ceritanya. “tapi kami selalu bisa menyelesaikan masalah kami dengan kepala dingin. Mengesampingkan ego dan harga diri kami demi cinta dan kasih.”

“Aku sudah mengatakan hal itu padanya, Dad.” Frank menyahut.

“Frank, kau belum mengalaminya. Karena itu, kau bisa mengatakannya dengan mudah. Jika kau berada dalam posisi Steve, maka aku yakin, kau juga sama bingungnya dengan dia. aku pernah mengalaminya.”

“Jadi pertanyaannya adalah, apa yang harus kulakukan?” tanya Steve kemudian.

“Wanita adalah makhluk yang unik. mereka selalu mengatakan jika kita, kaum pria adalah kaum yang tidak peka, saat kita bertanya apa kesalahan kita, bukan menjelaskan, mereka akan semakin marah.”

“Karena itulah aku tak ingin berurusan dengan perempuan nyata.” Frank berkomentan.

“Tapi selain itu, mereka memiliki sisi yang sangat lembut. Tak peduli, berapapun kau melakukan kesalahan, jika wanita itu benar-benar mencintaimu, maka dia akan memaafkanmu.”

“Semudah itu?” Frank bertanya.

“Tidak juga. Jika kau mendapat seorang wanita yang kuat dan tegar, jangan harap jalan mendapatkan maaf darinya akan mudah-mudah saja.”

“Oh. Sepertinya aku memang tak harus berurusan dengan para wanita-wanita itu.” Lagi, Frank berkomentar.

“Jadi menurutmu, aku harus mengalah saat aku tidak tahu apa kesalahanku?” tanya Steve pada George.

George mengangguk. “Aku tahu, kadang itu berbenturan dengan ego kita untuk melindungi harga diri kita sebagai seorang lelaki. Tapi tak ada salahnya mengalah untuk menang. Jess tak mungkin tiba-tiba bersikap seperti itu tanpa alasan. Aku tahu dia memiliki alasan yang kuat. Hanya saja, caranya untuk menghadapi masalah adalah cara yang salah. Kau, sebagai suaminya, harus bisa lebih mengalah. Saat pikiran kalian sudah sama-sama mendingin, saat itulah kalian bisa mulai membahas masalah kalian dengan akal sehat.”

Steve menganggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan George memang benar. Apalagi mengingat kondisi Jessie yang labil. Apapun yang ia lakukan pasti akan salah di mata wanita itu, jadi jalan yang paling benar adalah mengalah terlebih dahulu untuk mendapatkan hati wanita itu, jika semuanya sudah membaik, ia akan membahas masalah mereka tanpa emosi.

Tapi bisakah ia melakukannya?

“Apa aku sudah boleh menemuinya?” tanya Steve kemudian.

“Ya, tentu saja. Tapi ingat pesanku.” Ucap George kemudian.

Steve segera bergegas. “Ya. Tentu saja.” Jawabnya sebelum pergi.

“Aku akan menemanimu.” Frank akan menyusul, tapi George menghadang anak lelakinya tersebut.

“Tidak, Frank. Karena aku ingin membahas sesuatu denganmu.”

“Apa?” tanya Frank sedikit curiga.

“Tentang perkataanmu, bahwa kau tak ingin berurusan dengan yang namanya perempuan.”

“Oh, ayolah Dad. Aku hanya bercanda.”

“Tidak, kau tidak sedang bercanda, Frank. Dan karena kau tidak sedang bercanda, maka aku akan memberimu beberapa nasihat.”

Frank memutar bola matanya. Ini tak akan baik, Frank kurang suka dinasehati, apalagi jika tentang perempuan. Demi Tuhan! Ia merasa lebih berpengalaman dengan yang namanya perempuan, meski perempuan-perempuan itu hanya perempuan khayalannya dalam novel yang ia tulis.

***

Steve memasuki rumahnya dan disambut oleh ibunya. Sang Ibu sempat terkejut dengan kehadiran Steve. karena sebelumnya, Jessie berkata bahwa Steve sedang sibuk dengan pekerjaanya karena itu Jessie hanya pulang ke Pennington sendiri. Patty tentu tidak tahu bahwa Jessie sedang memiliki masalah serius dengan Steve.

“Kupikir kau tidak datang.”

“Tentu aku datang, aku akan menjemputnya pulang.”

“Ada masalah?” Patty bertanya.

“Mom. Biarkan aku menyelesaikannya sendiri.”

“Tidak! Kau selalu payah dalam menyelesaikan masalah.”

“Mom!” Steve bahkan berseru pada ibunya. “Aku benar-benar ingin bicara dengan Jessie dan menyelesaikannya hanya berdua. Tolong.”

Patty menghela napas panjang. “Baiklah. Mungkin dia sudah tidur, di kamarmu.”

Dan tak ingin membuang waktu lagi, Steve segera menuju ke arah kamarnya, menemui Jessie dan menyelesaikan semuanya. Ya, semuanya sampai tuntas.

-TBC-

Advertisements

My Beautiful Mistress – Bab 13

Comment 1 Standard

 

Bab 13

 

Pagi itu, Jiro masih menunggu Ellie keluar dari dalam kamarnya. Sejak semalam, wanita itu tidak mau membuka pintu kamarnya padahal ada hal yang ingin Jiro bahas mengenai hubungan mereka. Jiro merasa tak tahan lagi, Jiro merasa tak sanggup lagi saat membayangkan setiap hari Ellie semakin dekat dengan pria lain sedangkan wanita itu semakin menjaga jarak dengannya.

Jiro memang berengsek, karena sudah ingkar janji. Ia memiliki kesempatan untuk mengatakan di depan umum tentang hubungan mereka dua minggu yang lalu saat jumpa pers. Tapi Jiro tak melakukannya. Entah apa yang membuatnya ragu untuk mengungkapkan statusnya di depan umum.

Tidak! Bukan karena ia ingin dilihat sebagai seorang lajang. Percayalah bukan itu alasan utama Jiro. Ia hanya tidak ingin media mengorek tentang masalah pribadinya. Belum lagi kenyataan bahwa Ellie sudah beberapa kali mendapatkan tawaran iklan. Jiro tidak bisa membiarkan Ellie ikut masuk ke dalam dunia sialan yang membesarkan namanya. Dan juga, jangan lupakan fakta bahwa Jiro dan The Batman memiliki fans fanatik yang mendekati gila.

Jiro masih berjalan mondar-mandir di ruang makan. Sesekali ia melirik ke arah jam tangannya. Ia sudah telat, karena ia memiliki janji dengan para personel The Batman lainnya.

Sebenarnya Jiro tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan sekarang dengan The Batman. Ia sudah merasa cukup. Konser akbar dua bulan yang lalu berjalan dengan sukses. The Batman disebut-sebut sebagai band paling fenomenal tahun ini, mereka sudah berada pada puncak tertinggi popularitasnya. Tak ada lagi yang diinginkan Jiro saat ini. tapi ia juga tidak bisa meninggalkan The Batman begitu saja. Ada beberapa kontrak yang masih harus berjalan, entah kontrak pribadi maupun kontrak dengan personel The Batman lainnya.

Jiro mendengus sebal, sesekali ia memijit pelipisnya. Jiro benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Mundur dari The Batman? Ya Tuhan, apa ia bisa melakukannya?

Sekali lagi Jiro melirik jam tangannya. Waktu sudah semakin siang, Ellie pasti sengaja tidak keluar dari dalam kamarnya. Tak ada gunanya menunggu, mungkin nanti malam mereka bisa bicara bersama dengan baik-baik dan juga dengan kepala dingin. Dan setelah itu, Jiro memutuskan untuk pergi menuju ke studio The Batman.

***

Istirahat dari latihan, Jiro tak banyak bicara ketika Troy sesekali bercerita. Meski lelaki itu tidak bercerita tentang Ellie, tapi Jiro merasa sebal dengan Troy karena sudah lancang mengajak Ellie pergi keluar.

Troy memang tak salah, temannya itu tidak tahu tentang status hubungannya dengan Ellie. Ia yang salah karena pernah menyebut Ellie sebagai adiknya. Jadi bukan salah Troy jika Troy ingin mendekati adiknya. Tapi demi Tuhan! Troy tidak buta. Ellie bahkan sedang hamil besar, bagaimana mungkin Troy bisa tertarik dengan perempuan hamil?

Tanpa diduga, Troy berjalan menuju ke arah Jiro. Dan dengan sok akrab lelaki itu bertanya “Jadi, gimana masalah elo sama Ellie?”

Jiro tak menjawab, ia memilih bungkam dan memainkan bassnya.

“Ayolah, masa elo ngambek karena gue deketin adek elo sih.” Troy kembali membuka suaranya.

“Gue sudah bilang, jangan ikut campur masalah gue.” Jiro memperingatkan dengan nada tajam.

“Oke.” Troy mengangkat kedua belah tangannya sembari mundur menjauh. “Tapi, gue harap semalem gue salah denger.” Ucap Troy lagi dengan wajah seriusnya. Jiro menarap Troy, ia tidak tahu apa yang dimaksud oleh lelaki tersebut. Sedangkan Troy, Sial! Meski mencoba memungkiri pemikirannya sendiri, nyatanya pernyataan Jiro semalaman mampu membuat ia susah tidur.

‘Rumah tangga gue’ Brengsek Jiro jika itu benar-benar sebuah kenyataan.

Pada saat bersamaan, ponsel Jason berbunyi. Jason bangkit, mengangkat teleponnya. Kemudian wajah lelaki itu memucat setelah mendapatkan kabar dari seberang telepon.

“Bianca? kecelakaan?” tanyanya dengan wajah tak percaya.

Semua yang ada di ruangan trsebut menatap ke arah Jason. Jason tampak ketakutan, lelaki itu tampak begitu khawatir. Dan semua berjalan cepat ketika Jason melesat keluar dari studio tempat mereka latihan.

***

Malam ini, Jiro kembali tidak pulang. Ia menelepon Ellie, tapi ketika Ellie mendengar suaranya, wanita itu menutup teleponnya.

Sialan!

Akhirnya mau tidak mau Jiro menelepon Mei. Teleponnya diangkat pada deringan kedua. Mei bahkan menjawab telepon dari Jiro dengan nada sedikit ketus. Sial! Apa yang terjadi dengan wanita itu?

“Mei, bisakah kamu pindah sementara ke rumahku?”

“Enggak. Kenapa aku harus pindah? Aku memang menyayangi Ellie, tapi yang seharusnya berada di sana dan menemani masa kehamilannya adalah kamu, Jiro. Bukan aku.”

“Mei, Tolong. Situasi sedang tidak kondusif.”

“Apa maksudmu dengan situasi yang tidak kondusif? Kamu jangan mencari-cari banyak alasan untuk membenarkan apa yang sedang kamu lakukan.”

“Aku tidak mencari banyak alasan, Mei!” Jiro berseru keras. “Apa kamu tahu, siang ini, Bianca masuk rumah sakit? Dia ditabrak oleh perempuan gila yang mengaku sebagai fans fanatik kami. Kamu pikir aku mau kejadian itu menimpa Ellie?”

“Astaga.” Mei tampak sangat terkejut.

“Ada banyak hal yang harus aku jelaskan Mei, aku memiliki alasan kenapa aku menolak membawa Ellie masuk terlalu jauh ke dalam duniaku.”

“Jiro.”

“Tapi aku bukan tipe orang yang pandai bicara. Aku tidak tahu harus menjelaskan seperti apa dan darimana.”

“Maaf, aku mengerti.” Akhirnya Jiro mendengar suara Mei tanpa keketusan dari wanita itu.

“Sekarang kumohon, pindahlah sementara ke rumahku. Jangan pernah tinggalin Ellie sendiri. mungkin, aku tidak akan pulang beberapa hari kedepan. Tolong, hanya kamu yang bisa kupercaya untuk merawat Ellie melebihi siapapun.”

Terdengar helaan napas panjang dari seberang. “Ya. Aku akan lakukan apa yang kamu mau. Tapi Jiro, apapun itu, kamu harus ingat, bahwa Ellie begitu membutuhkanmu. Hubunganku dengannya memang sangat dekat, tapi tak ada yang dia inginkan kecuali selalu berada di sisimu setiap saat. Kamu harus mengerti hal itu, Jiro.”

“Ya. Aku mengerti, dan aku sedang berusaha untuk mewujudkannya.”

“Maksudmu?”

“Mungkin aku akan mengundurkan diri dari The Batman, secepatnya, bahkan sebelum kontrakku berakhir.”

“Jiro!” Mei berseru keras. “Itu akan menjadi hal yang paling keren yang pernah kamu lakuin. Kalau kamu melakukannya.”

“Ya. Aku akan melakukannya. Untuk Ellie.”

Mei bersorak gembira. Jiro bahkan menjauhkan ponselnya dari telinganya. “Ya ampun, kamu benar-benar jatuh cinta sama Ellie, ya?”

“Enggak.”

“Ayolah…”

“Mei, secara teknis aku ini boss kamu. Sekarang, dari pada kamu membahas masalah pribadiku, lebih baik segeralah pindah ke rumahku.”

“Oke. Ya ampun, nggak tahu kenapa aku seneng banget.”

Jiro menggelengkan kepalanya, dan tanpa basa-basi ia mematikan ponselnya begitu saja. Jiro menghela napas panjang. Benarkah jalan ini yang harus ia ambil? Melepaskan semuanya untuk seorang Ellisabeth Julia Williams? Jika dengan ini Ellie percaya lagi dengannya, jika dengan keluar dari The Batman membuat wanita itu kembali lagi ke sisinya, maka Jiro akan melakukannya. Ya, ia akan melakukan apapun agar Ellie setia berada di sisinya.

***

Setelah Bianca masuk rumah sakit, situasi semakin tak terkendali. Jason seperti orang stress yang bahkan tak mau melangkahkan kakinya keluar dari ruang inap Bianca sebelum wanita itu sadar. Sedangkan media semakin menggila. Sosial media gempar dan viral tentang kabar simpang siur tentang fans The Batman yang brutal dan lain sebagainya.

Hal tersebut membuat Jiro, Ken dan Troy harus menghindar sementara dari publik. Beberapa jadwal mereka batal karena Jason dengan seenaknya sendiri menolak untuk hadir dan menjadi orang yang paling tidak profesional.

Meski begitu, para personel The Batman lainnya cukup mengerti keadaan Jason. Mungkin Jason merasa bersalah, mungkin Jason merasa tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi hal serius yang akan menimpa Bianca. karena jika Jiro berada di posisi Jason, maka Jiro akan melakukan hal yang sama.

Malam ini, setelah dua hari berlalu, Jiro, Ken dan Troy memutuskan untuk mengunjungi Bianca dan juga Jason. Mungkin sedikit menghibur temannya itu agar tidak terlalu tenggelam dalam rasa bersalahnya.

“Kalian kesini?” pertanyaan itu terucap dari Jason yang tampak terkejut dengan kehadiran mereka. Jiro melihat wajah Jason yang tampak lelah, temannya itu seperti baru bangun dari tidurnya dengan posisi duduk di sebelah ranjang rawat inap Bianca.

“Ya. Mau nemenin elo.” Jiro yang menjawab. Ia mendekat ke arah Jason dan menatap Bianca yang masih terkulai tak sadarkan diri di atas ranjangnya.

“Kok kalian bisa masuk? Jam besuk kan sudah habis.” Tanya Jason lagi, sembari melirik jam tangannya.

“Apa gunanya jadi terkenal kalau nggak bisa membujuk satpam atau suster yang jaga.” Troy yang menjawab, dan jawaban tersebut sedikit mencairkan suasana.

“Gimana keadaannya?” tanya Ken yang juga ikut mengamati Bianca yang masih tak bergerak sedikitpun.

“Sudah dua hari. Tapi dia belum sadar juga.” Ucap Jason dengan nada putus asa.

“Jase.” Troy menepuk bahu Jason, seakan memberikan kekuatan untuk temannya itu.

“Dia sedang hamil, Troy. Dia sedang mengandung anak gue. Dan dia celaka karena gue.” Jason sungguh tak dapat mengenyahkan rasa bersalahnya.

Sejak Dokter mengatakan keadaan Bianca yang sebenarnya, rasa bersalah Jason meningkat berkali-kali lipat. Beruntung, tak ada sesuatu yang serius terjadi dengan kehamilan Bianca. hal itu pulalah yang membuat Jason bahkan tak ingin beranjak dari kamar inap Bianca. Padahal Papa dan Mama Bianca meminta Jason pulang tapi Jason menolaknya. Jason juga sudah tak peduli lagi dengan jadwalnya menjadi publik figur, yang ia pedulikan saat ini hanya Bianca, ia berjanji tak akan keluar dari ruangan tersebut sebelum Bianca membuka matanya.

“Sial! Perempuan-perempuan itu benar-benar gila!” Troy mengumpat kesal.

“Terus, keadaan dia gimana?” kali ini Jiro yang bertanya.

“Bayinya baik-baik aja. Tapi Bee belom sadar juga dari kemarin.”

“Elo harus tenang, Jase. Elo harus sabar. Semua akan baik-baik saja, oke?” Ken menenangkan Jason.

Jason berdiam sebentar, lalu ia menatap intens pada diri Bianca yang masih menutup matanya rapat-rapat.

“Gue sudah memikirkan semuanya.”

“Tentang?” Jiro bertanya.

Jason menghela napas panjang. “Gue akan berhenti dari The Batman. Gue akan fokus sama dia, nikahin dia, jagain dia. Gue nggak mau profesi gue ngebahayain dia. Kalian tetap bisa lanjut, cari pengganti gue dengan warna suara yang sama. Lagu-lagu gue, kalian bisa pakai, karena gue nyiptain semua itu untuk The Batman.” Lalu Jason menggelengkan kepalanya. “Tapi gue nggak bisa lanjut lagi. Gue rasa, semuanya sudah cukup. Gue akan berhenti.”

Jiro, Troy dan Ken sempat kaget dengan keputusan Jason. Mereka memang ingin membahas tentang Band mereka nanti setelah keadaan Bianca membaik dan Jason sudah kembali lagi pada keadaan semula. Tapi Jiro, Ken dan Troy tak menyangka jika Jason akan mengambil keputusan seberani dan secepat ini.

“Elo yakin, Jase? Maksud gue, gue nggak mau elo nyesel nantinya.” Troy mengingatkan.

“Ya, gue sangat yakin. Gue sudah mikirin dari kemarin. Gue rasa sudah cukup apa yang gue dapetin selama ini dari The Batman.”

Jiro menepuk bahu Jason. “Kalau elo berhenti, gue juga akan berhenti dari The Batman.” Entah kenapa, mendengar Jason ingin berhenti dari The Batman membuat Jiro semakin memantapkan hatinya, bahwa ia juga harus segera mengakhiri semuanya.

“Jiro. Apa maksud elo?” tanya Jason tak mengerti. Jason bahkan sempat terkejut dengan pernyataan Jiro. Selama ini, Jirolah yang selalu tampak serius, sungguh-sungguh dengan karir mereka. Jadi Jason dan yang lain tak mengerti kenapa lelaki itu mengambil keputusan yang sama dengan dirinya.

“The Batman adalah milik elo. Elo sudah punya band itu sejak sekolah. Gue nggak akan lanjut pakai The Batman.”

“Tapi yang lain….”

“Gue juga akan berhenti.” Ken angkat suara.

Setelah menatap Ken, Jason lalu menatap ke arah Troy. “Well, nggak mungkin kan kalau gue nge-band sendiri? gue akan dukung apapun mau kalian.”

Guys, kalian nggak perlu sampai kayak gini. Kalian bisa lanjut tanpa gue.” Jason masih berharap jika teman-temannya tetap melanjutkan karir mereka.

“Gue mau jaga istri gue.” Ucap Jiro tiba-tiba. Semua yang berada di sana menatap ke arah Jiro seketika. Tentu saja, selama ini Jiro adalah orang yang paling misterius. Meski belakangan ini banyak gambar dan gosip yang menunjukkan bahwa Jiro tinggal atau sering mengunjungi seorang perempuan hamil, nyatanya sampai sekarang ini Jiro tidak pernah mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki istri.

Jiro hanya mengaku bahwa wanita itu adalah adiknya. Bahkan Troy sedang gencar mendekati adik Jiro tersebut. Tapi, pengakuan lelaki itu saat ini benar-benar membuat semua yang ada di ruangan tersebut tercengang, ternganga tak percaya bahwa apa yang dikatakan Jiro adalah kenyataan. Telebih lagi Troy, Ya Tuhan! Troy berharap bahwa Jiro sedang bercanda.

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 10

Comment 1 Standard

 

Bab 10

Sampai di rumah, Ellie segera bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia menuju ke arah lemari, mengambil baju santainya sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Ellie ingin membersihkan diri sebelum naik ke atas ranjang untuk beristirahat. Ia bahkan mengabaikan keberadaan Jiro yang sedang memperhatikan setiap gerak-geriknya.

Mungkin sekitar setengah jam kemudian, Ellie baru keluar dari kamar mandi. Wanita itu sudah tampak segar karena berendam cukup lama untuk menghilangkan rasa lelahnya. Berbeda dengan Jiro yang masih tampak tegang karena menunggu Ellie keluar dari dalam kamar mandi.

Jiro bangkit seketika saat melihat Ellie duduk di depan meja riasnya. “Sudah segar?” tanya Jiro sembari mendekat.

“Ya.” Ellie menjawab pendek. Ellie lebih memilih mengeringkan rambutnya sendiri di depan meja riasnya. Ia bahkan tidak mempedulikan Jiro yang mulai berjalan mendekat ke arahnya.

“Aku bingung, kenapa tiba-tiba sikapmu berubah seperti ini.”

“Berubah bagaimana?”

“Kupikir, kamu tadi sudah senang setelah aku mengajakmu jalan-jalan. Tapi tiba-tiba kamu berubah lagi. Apa aku membuat salah?”

Ellie menatap Jiro seketika. “Kesalahan utama kamu adalah, bahwa kamu tidak tahu dimana letak kesalahanmu.”

“Kamu marah karena aku tidak merasa bersalah?” Ellie tidak menjawab. Ia memilih membalikkan tubuhnya kembali menatap ke arah cermin. Tapi secepat kilat Jiro duduk di sebelah Ellie. Memutar kursi yang di duduki Ellie hingga menghadap ke arahnya. “Jika kamu marah tentang Vanesha, aku bisa menjelaskannya.”

Oh, Ellie bahkan melupakan tentang wanita itu padahal Jiro belum menjelaskan apapun tentang wanita itu. Kemarin, Ellie memang kesal karena wanita itu, tapi saat ini, bukan hal itu yang membuat Ellie kesal. Ellie sendiri tidak tahu bagaimana caranya mengatakan masalahnya pada Jiro.

“Vanesha mengira apartmenku adalah milik Troy, karena mereka pernah berkencan di sana. Dia mencari Troy di sana. Dan masalah kontrasepsi itu, semuanya milik Troy.”

“Tapi, bukannya dia kekasih kamu, ya? Aku sudah melihat gosipnya. Jadi kamu tidak perlu mengelak.”

“Ada beberapa gosip yang sengaja di buat oleh pihak management untuk menaikkan pamor artisnya. Saat itu, The Batman sedang mengeluarkan album baru, dan Vanesha sedang bermain Film layar lebar. Jadi, sangat tepat jika…”

“Aku tidak peduli, James.” Ellie menjawab cepat.

Jiro menggenggam kedua telapak tangan Ellie. “Aku sudah mengatakan, bahwa aku ingin kamu peduli.” Ucap Jiro penuh penekanan.

“Kenapa kamu menjelaskan semuanya padaku? Bagiku, tak ada bedanya, entah kamu benar-benar selingkuh dengan perempuan itu atau tidak. Nyatanya, aku hidup seperti seorang simpanan.”

“Nyatanya kamu bukan simpanan. Kamu istriku.”

“Katakan itu pada publik.” Ellie menantang.

Jiro membatu seketika. Jiro tak percaya jika secara terang-terangan Ellie menuntutnya sampai seperti ini. Jiro tidak bisa melakukannya, tidak sekarang, dan mungkin tidak akan selamanya.

Jiro menangkup kedua pipi Ellie. “Aku tidak bisa.” Jawabnya dengan jujur.

“Kalau begitu, lupakan.” Ellie akan memutar tubuhnya kembali, tapi Jiro menghadangnya, dan dengan kurang ajar, lelaki itu segera menyambar bibir Ellie. Mencumbunya, berharap Ellie melupakan kemarahannya.

Tapi sekuat tenaga, Ellie mendorong keras tubuh Jiro hingga tautan bibir mereka terputus.

“James!” Ellie berseru keras.

“Kenapa? Kamu berani menolakku sekarang?”

“Aku tidak pernah takut dengan kamu, James.” Ellie menjawab dengan tegas. “Tapi aku hanya diam selama ini. Seakarang, aku akan menyuarakan apa yang kuinginkan dan apa yang tidak kuinginkan.” lanjutnya.

“Jadi, apa kamu menolak ini.” Jiro kembali menangkup pipi Ellie lalu mencumbunya kembali.

Ellie mendorog lagi dan berseru sekali lagi “James!” tapi Jiro tak mau kalah, ia kembali menangkup pipi Ellie kemudian mencumbunya dengan penuh gairah. Jiro memang tidak suka saat Ellie bersikap membangkang padanya, tapi di sisi lain, Jiro tergoda dengan sikap Ellie yang berani seperti itu. Membuat Jiro tertantang, membuat Jiro menginginkan lebih.

Jiro masih mencumbu meski ia melihat Ellie meronta. Ia tidak akan menyakiti Ellie tapi ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan meski Ellie menolaknya. Jiro bahkan sudah memaksa Ellie berdiri tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Jemarinya dengan paksa sudah menelusup memasuki pakaian yang dikenakan Ellie, kemudian menggoda istrinya itu agar tidak lagi meronta. Dan benar saja, setelah gigih menggoda Ellie, akhirnya pertahanan Ellie runtuh.

Ellie menikmati setiap sentuhan Jiro, setiap cumbuan dari suaminya tersebut. Jiro tahu bahwa Ellie juga menginginkannya. Istrinya itu pasti dipengaruhi oleh gairah yang ia berikan, belum lagi hormon kehamilan yang membuatnya Ellie labil dan terpancing gairahnya. Ellie hanya berusaha menolak bukan karena tak ingin, tapi karena wanita itu ingin membuatnya kesal. Jiro tahu. Tapi Ellie salah, Jiro tak akan kesal, karena Jiro akan menuruti permainan wanita tersebut.

Sedikit demi sedikit, Jiro membawa tubuh Ellie menuju ke dekat ranjang mereka. Tanpa melepaskan tautan bibirnya, Jiro mulai membuka pakaian yang tadi baru saja dikenakan oleh Ellie. Ellie menuruti saja apapun yang dilakukan Jiro, Ellie benar-benar telah dipengaruhi oleh sebuah gairah yang tak dapat ia tolak.

Jiro melepaskan tautan bibir mereka saat dirasanya napas Ellie sudah terputus-putus. Ia kemudian tersenyum, menunduk, menempelkan keningnya pada kening Ellie.

“Aku benar-benar menginginkanmu, Ellie.”bisiknya dengan suara serak. “Jangan menolakku.”

Dengan spontan Ellie mengalungkan lengannya pada leher Jiro, kemudian ia berkata “Tidak. Aku tidak akan menolak.”

Ya. Jiro kembali merasa menang. Ellie tak dapat menolaknya, dan Jiro tak akan membuang waktu lagi sebelum pikiran wanita itu berubah dan kembali menjadi sosok pembangkang, penyindir dan juga pendiam yang membuat Jiro kesal.

Dengan cepat Jiro melucuti pakaiannya senidri satu persatu, ia juga membantu Ellie melucuti pakaian wanita itu sebelum kembali menyambar bibir ranum Sang istri.

Oh, Ellie begitu nikmat. Membuat Jiro merasa bodoh karena selama ini hampir tak pernah menikmati permainan panasnya. Ya, ia hanya akan melampiaskan hasrat seksualnya, tanpa menikmati prosesnya, hanya itu. Dan kini, Jiro tak ingin lagi seperti itu lagi.

Jika ia membutuhkan sebuah pelepasan, maka ia akan menikmati keseluruhan prosesnya seperti sekarang ini.

Bukannya mengajak Ellie naik ke atas ranjang mereka, Jiro memilih mendorong wanita itu menuju ke arah dinding terdekat. Jiro menghimpit Ellie diantara dinding. Mengangkat tubuh wanita itu agar sejajar dengan tinggi tubuhnya.

Ellie merasa bahwa Jiro begitu kuat, lelaki itu mengengkatnya dengan begitu perkasa, seperti Ellie seringan kapas. Padahal Ellie tahu bahwa bobot tubuhnya saat ini mulai bertambah karena kehamilannya. Hal itu semakin membuat Ellie mengagumi Jiro, membuat Ellie ingin selalu memiliki lelaki ini di sisinya untuk melindungi dirinya dan juga bayi mereka. Ahhh, andai saja Jiro sepeka itu.

Bibir Jiro masih mencumbu Ellie, sesekali melepaskan cumbuannya kemudian beralih pada leher jenjang Ellie. Dan ketika Jiro tak mampu menahan gairahnya lagi, ia mulai menyatukan diri masih dengan posisi berdiri.

“Ohhhh…” Ellie melenguh panjang ketika merasakan Jiro penuh mengisinya.

“Apa, aku menyakitimu?” tanya Jiro sedikit khawatir. Selama ini, Ellie bahkan tampak sulit mengekspresikan dirinya ketika mereka bercinta. Dan kini, Jiro melihat Ellie tampak kewalahan dengan gairah yang telah ia berikan.

Ellie menggelengkan kepalanya. “Tidak.” Jawabnya setengah mendesah.

“Kalau begitu, aku akan melakukannya.”

“Ya. Lakukanlah.”

“Lebih keras dari sebelumnya.” Ucap Jiro dengan mata yang menatap tajam ke arah Ellie.

“Apa?” Ellie tidak mengerti apa artinya lebih keras dari sebelumnya.

“Aku tidak bisa terlalu lama menahan diri.” Kemudian Jiro mulai menghujam keras, membuat Ellie mengerang seketika. “Aku begitu menginginkanmu, hingga rasanya nyaris meledak.” Jiro meracau. Sedangkan Ellie lebih memilih menikmati hujaman keras dari Jiro.

Biasanya, Jiro melakukanya dengan lembut, kadang dengan cepat, tapi tak pernah sekeras ini, seperti lelaki itu tidak bisa mengendalikan dirinya. Meski begitu, Ellie tidak merasakan sakit. Sensasinya membuat Ellie merasa terbakar, gairahnya semakin membumbung tinggi. Ya Tuhan! Ellie tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.

“Ellie.” Tanpa menghentikan pergerakannya, Jiro mencengkeram rahang Ellie kemudian menghadapkan wajah wanita itu ke arahnya. “Kamu hanya milikku! Kamu hanya miliku!” Serunya berkali-kali sebelum kembali menyambar bibir ranum Ellie, melumatnya dengan panas dan membawa diri mereka terbang ke puncak gairah yang tiada duanya…

***

Setelah percintaan panas mereka dan mendapatkan beberapa kali pelepasan, keduanya tertidur. Menjelang tengah malam, Ellie terbangun. Ia kelaparan karena melewatkan jam makan malamnya. Saat tengah gelisah di atas ranjangnya, Jiro terjaga dari tidurnya.

“Kamu bangun?” tanyanya dengan suara serak.

“Aku lapar.” Ellie menjawab dengan nada polos membuat Jiro tersenyum kemudian bangun dan segera bangkit.

“Mau pesan makan?”

“Tengah malam begini mana ada orang jualan?” Ellie menggerutu sebal. Ia benar-benar merasa kelaparan.

“Kalau begitu, aku akan membuatkanmu sesuatu.” Jiro bergegas pergi meninggalkan Ellie, sedangkan Ellie segera mengikuti lelaki itu. Tak lupa, Ellie mengenakan pakaian tidurnya karena ia tidak mungkin mengikuti Jiro dalam keadaan telanjang bulat.

Ellie sampai di dapur saat Jiro sudah mengeluarkan beberapa bahan makanan dari lemari pendingin. “Hanya ada telur dan sosis. Kamu mau dibuatkan apa?”

“Omlet saja.” Jawab Ellie sembari duduk di bangku yang ada di depan meja dapur.

“Yakin hanya itu? Nasi goreng nggak mau?”

“Tidak ada nasi. Kalau menunggu masak nasi dulu, aku keburu mati kelaparan.”

Jiro tersenyum sekilas. Hanya sekilas saja, kemudian ia kembali menampilkan wajah tanpa ekspresinya. “Baiklah, aku akan membuatkanmu Omlet.” Lalu Jiro mulai sibuk dengan masakannya, sedangkan Ellie memilih mengamati suaminya itu dari belakang.

Entah sudah berapa kali Ellie mengatakan bahwa Ellie benar-benar mengagumi sosok Jiro. Meski lelaki itu tampak mengabaikannya, nyatanya bagi Ellie, Jiro adalah satu-satunya lelaki yang ia kagumi. Ketampanan lelaki itu, kegagahannya, belum lagi sikapnya yang sedikit misterius membuat Ellie benar-benar jatuh pada sosok suaminya tersebut. Apalagi saat kini, Jiro memposisikan sebagai suami yang baik dan perhatian, sebagai calon ayah yang siaga, membuat Ellie seakan tak mampu berpaling dari sosok tersebut.

Meski begitu, Ellie tak ingin mengakuinya secara gamblang. Bagaimanapun juga, ia ingin membuat Jiro peduli dengannya, ia ingin merebut perhatian Jiro dengan cara yang tak biasa, jadi ia tidak ingin menunjukkan semua perasaannya pada lelaki itu kemudian membuat lelaki itu berrpikir bahwa Ellie tak memiliki kekuatan untuk melawannya. Tidak, Ellie tak ingin Jiro menyepelekannya seperti itu.

Saat Ellie sibuk dengan pemikirannya sendiri, saat itulah Jiro sudah berdiri menghadapnya dengan sebuah omlet yang memenuhi piring yang dibawanya. Jiro menyuguhkannya pada Ellie, tak lupa lelaki itu juga membuatkan Ellie segelas susu hingga membuat Ellie sempat terpana karena perhatian lelaki tersebut.

“Habiskan, lalu kita akan kembali tidur.”

“Kamu tidak lapar?” Ellie bertanya masih dengan wajah polosnya.

“Enggak.” Jiro menjawab pendek.

Karena Jiro berkata tidak lapar, maka Ellie tidak sungkan lagi menyantap omlet buatan Jiro dengan lahap. Sesekali Ellie meneguk susunya. Rasanya sangat enak. Jiro rupanya pandai masak, atau, apa karena ia terlalu senang mendapatkan perhatian seperti ini dari Jiro hingga makanan tersebut terasa sangat enak? Mungkin memang seperti itu.

Saat Ellie asyik manyantap makanannya, saat itulah Jiro kembali memperhatikan Ellie. Wanita di hadapannya itu tampak polos, tapi berani. Bukan perempuan yang mudah dimengerti. Kadang Jiro tak habis pikir, sebenarnya, apa yang sedang dirasakan Ellie? Apa yang diinginkan wanita itu?

“Jadi, apa hubungan Vanesha dengan Troy?” pertanyaan Ellie yang tiba-tiba itu membuat Jiro terkejut. Ellie tadi sempat bilang bahwa wanita itu tak mempedulikan tentang dirinya apalagi tentang Vanesha dan yang lainnya. Tapi kenapa wanita ini tiba-tiba bertanya padanya tentang hal ini? apalagi, Ellie menanyakan kalimat itu dengan santai dan masih menyantap makanannya tanpa menatap ke arah Jiro sedikitpun.

“Aku nggak tahu.”

“Kamu kan temannya Troy. Masa nggak tahu?”

“Dia kan banyak kencan sama perempuan, bukan hanya dengan Vanesha.”

“Wahhh, sepertinya semua anak band sama seperti itu ya?” Ellie kembali menyindir.

“Tidak semuanya. Aku nggak pernah kencan sama perempuan sembarangan.”

“Iya, karena kalau kamu sembarangan kencan, akan menjadi gosip. Suamiku ini kan paling anti digosipkan yang enggak-enggak.” Lagi-lagi Ellie menyindir Jiro.

“Ellie, kadang aku berpikir bahwa mulut kamu sangat tajam.” Jiro berkomentar.

Ellie tersenyum, ia kembali meneguk susunya sebelum berkata “Baguslah, kalau kamu berpikir seperti itu. Jadi kamu bisa berpikir dua kali jika ingin menciumku.”

Tanpa diduga, Jiro segera mengangkat dagu Ellie kemudian menyambar bibir Ellie. Jiro bahkan menggoda Ellie dengan cara menjilati bekas susu yang tertinggal di area bibir Ellie.

“Kamu salah, aku suka mencium bibir-bibir yang tajam.” Ucapnya sebelum melepaskan dagu Ellie.

Pipi Ellie merona seketika. Ia tidak menyangka jika Jiro akan berbuat senakal itu. Tapi Ellie mencoba mengendalikan dirinya. Ia tidak akan membuat Jiro kembali merasa menang lagi dengan perang psikis yang entah sejak kapan terjadi diantara mereka.

“Kenapa diam saja?” Jiro kembali menantang Ellie.

“Enggak.” Ellie kembali memakan omletnya. Sumpah demi apapun juga, Ellie tidak ingin melanjutkan makan malamnya. Astaga, Jiro begitu mempengaruhinya, ciuman lelaki itu serta godaannya tadi membuat Ellie meremang. Tapi di sisi lain, Ellie tidak ingin Jiro sadar bahwa lelaki itu begitu mempengaruhinya.

“Cepat habiskan makananmu, setelah itu kita tidur, sudah sangat malam.” Ucap Jiro sembari meningalkan Ellie menuju ke arah lemari pendingin.

Ellie tidak tahu bahwa Jiro juga terpengaruh dengan kedekatan mereka. Entah kenapa, sekarang setiap kali berdekatan dengan Ellie, Jiro merasa sesuatu terpantik di dalam dirinya. Jiro ingin memiliki Ellie lagi dan lagi, memperlakukan wanita itu dengan manis, membuat wanita itu merona-rona karena ulahnya. Tapi di sisi lain, Jiro ingin menolak perasaan menggelikan itu. Bagaimanapun juga, ia tidak ingin Ellie membuatnya candu. Jiro tak ingin terpengaruh lebih dari ini dan melakukan hal-hal di luar akal sehatnya seperti tadi. Ia adalah lelaki yang realistis, yang tidak ingin terbawa oleh perasaan, meski itu dengan istrinya sendiri. tapi dapatkah Jiro menahannya? Menahan perasaannya yang semakin hari semakin tak terkendali?

***

Saat keduanya sudah berada di ranjang mereka, keduanya tak segera tidur. Tampak sebuah kegelisahan diantara mereka. Ellie ingin membuka suaranya tapi ia tidak tahu apa yang ingin ia katakan dengan Jiro. Begitupun dengan Jiro. Jiro ingin membuka percakapan kemudian keduanya lelah karena saling bercerita dan tidur bersama hingga pagi, tapi Jiro tahu bahwa ia bukanlah tipe yang suka bicara. Jiro adalah tipe pendiam, kalaupun dia berbicara, dia akan berbicara seperlunya saja. Bukan berbasa-basi seperti lelaki kebanyakan.

Akhirnya, ketika Ellie tak dapat menahan rasa bosan dan rasa kesalnya akibat tak dapat tidur, Ellie memilih memiringkan tubuhnya ke arah Jiro kemudian mulai membuka suaranya.

“James, jika kebersamaan kita nanti masuk ke dalam akun gosip, apa yang akan kamu lakukan?” itu hanya pertanyaan iseng, tapi Ellie berharap Jiro menjawabnya dengan jawaban yang berbobot.

“Apalagi? Aku hanya bisa diam.” Ellie memutar bola matanya kesal. Seperti yang diduga, jawaban Jiro benar-benar tidak memuaskan.

“Kalau media ngejar-ngejar kamu bagaimana?” tanya Ellie lagi.

“Tinggal lari dan diam.” Lagi-lagi jawaban Jiro membuat Ellie kesal.

“Kalau mereka tak juga berhenti dan ngejar kamu terus dimanapun kamu berada bagaimana?” Ellie tidak ingin mengalah.

Jiro menatap Ellie seketika. “Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Ellie? Kamu ingin aku jujur dengan mereka? Jika itu yang kamu inginkan, maka itu tak akan terjadi.” Jawab Jiro dengan pasti.

Ellie merasa sakit dengan jawaban jujur tersebut. “Kenapa? Apa aku begitu memalukan untuk menjadi istrimu?”

“Ellie…”

“Kamu selalu meniduriku, James. Aku bahkan sudah mengandung bayimu. Begitukah penghargaan yang kamu berikan pada ibu yang mengandung anakmu?”

“Ellie, dengar. Semua butuh proses.”

“Tapi aku tidak suka prosesnya, James. Aku sudah muak. Aku sudah bosan. Ini sudah Empat tahun dan aku masih tetap jadi simpananmu.”

“Istri.” Jiro meralat. “Kamu istriku, bukan simpananku.”

“Ya, istri rasa simpanan.” Ellie membenarkan. Mata Ellie sudah berkaca-kaca. Bahkan beberapa bulir bening itu sudah jatuh dari pelupuk matanya.

Dengan spontan Jiro menghapus airmata Ellie. “Ada waktunya untuk mengakui semua. Tapi tidak sekarang, Sayang. Tidak saat ini.” Entah perasaan Ellie saja atau saat ini Jiro menjelma menjadi sosok yang sangat lembut. Ellie bahkan tidak dapat mengingat, apa Jiro pernah memanggilnya dengan panggilan ‘Sayang’ atau tidak.

“Lalu kapan? Aku, aku hanya tidak suka kenyataan bahwa kamu dikenal sebagai seorang lajang. Banyak perempuan memujamu, bahkan tak sedikit fans kamu yang menjodohkan kamu dengan artis perempuan lainnya. Aku tidak suka.”

“Ellie. Sebentar lagi akan ada konser besar yang akan ditayangkan secara langsung di beberapa stasiun Tv nasional. Mungkin bagi kamu atau yang lain, konser ini tak berarti, tapi bagiku, konser ini sangat berarti. Aku ingin fokus dan menyukseskan konser ini. karena bagiku, konser ini seperti titik balik saat The Batman berada di puncak kepopuleran.”

“Lalu?”

Jiro mengusap lembut pipi Ellie. “Setelah semuanya selesai, mungkin aku akan mengaku didepan publik.”

“Kamu yakin?” Ellie tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jiro.

“Mungkin.” Jiro masih kurang yakin dengan apa yang ia katakan “Ada beberapa kontrak yang tidak bisa dilanggar. Konsekuensinya aku harus membayar denda dan kontrak dibatalkan. Itupun kita harus mendiskusikannya dengan pihak management dan juga para personel The Batman lainnya.”

“Dan jika mereka menolak atau tidak sepemikiran denganmu?”

Jiro menghela napas panjang. “Maka aku harus keluar.”

Mata Ellie berbinar seketika. Jujur saja, Ellie memang kurang suka dengan pekerjaan suaminya yang menjadi anak band. Apalagi semenjak Jiro terkenal, Ellie merasa semakin jauh dengan lelaki ini. belum lagi kenyataan bahwa mereka tidak bisa kemanapun tanpa ada yang mengenali. Hal itu benar-benar membuat Ellie risih. Membayangkan bahwa Jiro akan vakum dari menjadi artis membuat Ellie senang. Tapi benarkah Jiro akan melakukannya? Membuang ambisinya selama ini hanya demi mengakui dirinya dan juga bayi mereka di depan publik?

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 8

Comment 1 Standard

 

Bab 8

Mei datang setelah Jiro meneleponnya. Ia sempat terkejut saat mendapati Vanesha berada di ruang tengah apartmen Jiro. Apa yang dilakukan wanita itu disini? Pikir Mei saat itu. Tapi kemudian ia segera menuju ke arah kamar, dan disana ia sudah mendapati Jiro yang sedang berdiri tak jauh dari jendela, sedangkan Ellie duduk di pinggiran ranjang dengan posisi membelakangi diri Jiro.

“Apa yang terjadi?” tanya Mei kemudian.

Tanpa diduga, Ellie segera menghambur ke arah Mei, memeluk wanita itu. Wanita yang sudah seperti kakak dan ibunya, dan Ellie tak dapat menahan tangisnya.

“Jiro?” Mei bertanya pada Jiro dengan ekspresi penuh tanya.

“Antar saja dia pulang.”

“Apa yang terjadi? Kenapa dia menangis? Dan perempuan itu, kenapa bisa disini.”

Jiro mendekat. “Mei, ini bukan urusanmu. Antar saja dia pulang, sisanya aku yang menyelesaikan kekacauan ini.”

Sikap Jiro yang misterius benar-benar membuat Mei kesal. Mei lalu melepaskan pelukannya pada Ellie dan segera mengajak wanita itu pergi dari saja. Sedangkan Ellie sendiri, karena pikirannya yang sudah kacau, ia mengikuti saja apapun yang dilakukan oleh Mei.

Ellie dan Mei bahkan sempat menatap tajam ke arah Vanesha ketika mereka melewati ruang tengah apartmen Jiro. Keduanya tahu bahwa pasti ada yang disembunyikan Jiro dari mereka.

***

Jiro bersedekap dan masih berdiri tak jauh dari tempat Vanesha duduk. Ia menatap Vanesha, meminta agar wanita itu mau menjelaskan apa yang terjadi. Bagaimana wanita itu bisa sampai di sini, dan apa tujuannya.

“Jadi ini apartmen kamu?”

“Kamu pikir punya siapa?” nada jawaban Jiro benar-benar tak enak didengar.

“Dan perempuan tadi?” bukannya menjawab, Vanesha malah bertanya balik.

“Kamu nggak perlu tahu siapa dia. itu bukan urusan kamu. Yang paling penting adalah, kenapa kamu kemari? Apa tujuanmu kemari?” tuntut Jiro masih dengan menampilkan wajah sangarnya.

“Aku kesini karena mencari Troy! Aku ingin bertemu dengannya.”

“Dan kenapa kamu mencarinya di sini?”

“Tentu saja karena dia pernah membawaku kemari. Kamu pikir apa?”

“Sial!” Jiro mengumpat. Ia mengeluarkan ponselnya lalu menelepon seseorang. “Chan. Elo bagi apartmen gue sama Troy?” sembur Jiro secara langsung dengan Chandra, asisten pribadinya. Mereka memang sudah seperti teman. Sama seperti Mei, Chandra sendiri sudah bekerja dengan keluarga Jiro bahkan sebelum Jiro menjadi artis.

“Sorry, gue ada hutang sama dia kemaren, jadi dia nagih dengan minta dicariin tempat semalam. Saat itu kebetulan elo lagi pulang, ya, gue kasih kunci apartmen elo.”

“Sialan!” setelah umpatannya, Jiro menutup teleponnya begitu saja.

Ya, semuanya jadi lebih masuk akal. Yang menempati apartmennya adalah Troy, yang meninggalkan sisa kondom adalah temannya yang brengsek itu, dan Vanesha kemari untuk menemui Troy, bukan dirinya.

“Ada masalah?” tanya Vanesha tanpa dosa.

“Ya, banyak. Yang perlu kamu tahu adalah, bahwa ini bukan apartmen Troy. Dia nggak ada di sini.”

“Ohhh. Jadi?”

“Jadi silahkan keluar.” Jawab Jiro dengan spontan.

Vanesha bangkit dan dia tersenyum. “Jadi, kamu menyembunyikan wanita cantik disini?”

Jiro mendengus sebal. “Ayolah, aku tak ingin membahasnya.”

“Aku jadi penasaran apa yang akan dikatakan media selanjutnya. ‘Jiro The Batman mencampakan kekasihnya, Vanesha untuk wanita asing yang sangat cantik’ artikel itu sepertinya akan membuat telingaku panas.”

“Vanesha, cukup! skandal kita sengaja diciptakan untuk bahan promosi. Cepat atau lambat, kita akan mengakhirinya.”

“Oke.” Vanesha mundur sembari mengangkat kedua tangannya. “Tapi aku cukup penasaran dengan wanita tadi. Sepertinya aku akan mencari tahu tentang dia.”

Jiro menegang dengan perkataan Vanesha. Meski begitu ia tidak ingin membalas perkataan wanita itu. Jiro hanya tidak suka bahwa Ellie akan masuk ke dalam dunianya, dunia intertain yang penuh dengan rumor, sandiwara, dan sejenisnya.

***

“Dimana dia?”

Setelah mencari Ellie sampai di sudut-sudut rumahnya dan Jiro tak dapat menemukannya, akhirnya Jiro menghubungi Mei.

“Dia nggak mau pulang.”

“Apa? Lalu dimana dia sekarang?”

“Dirumahku, sedang tidur.”

“Aku akan menjemputnya.”

“Tidak! Biarkan dia disini setidaknya sampai besok. Ya ampun, dia nggak berhenti nangis, kamu apain dia?”

Jiro tak ingin bercerita pada Mei karena baginya itu tak penting. Ia hanya harus menjelaskan pada Ellie, bukan pada yang lainnya.

“Ada salah paham sedikit.” Jawabnya enggan.

“Baiklah kalau kamu nggak mau bercerita. Tapi biarkan dia di sini sampai besok. Aku nggak mau dia stress karena ulah kamu.”

“Ulahku? Aku suaminya.” Jiro merasa tersinggung.

“Ya, suami yang sering membuat masalah. Ya ampun Jiro, apa kamu nggak bisa sedikit mengalah?”

“Aku sudah mengalah, Mei. Aku sudah melewati batas-batas harga diriku dalam menghadapi Ellie.”

“Tapi itu masih kurang. Astaga, aku nggak ngerti lagi harus jelasin bagaimana sama kamu.”

“Nggak perlu dijelasin, aku akan cari tahu sendiri apa yang diinginkan Ellie.” Jiro terdiam sebentar kemudian melanjutkan kalimatnya lagi. “Besok aku akan menjemputnya.” Setelah itu panggilan dia tutup.

Jiro mendengus sebal. Malam ini, ia akan tidur sendiri. memangnya kenapa? Bukankah ia sering melakukannya? Tidur sendiri tanpa istri disisinya? Tapi entah kenapa, Jiro merasa ada yang berbeda. Ia ingin tidur dengan Ellie, memeluk wanita itu hingga pagi. Ada apa dengannya? apa yang terjadi dengan perasaannya?

***

Pagi itu, Ellie membantu Mei memasak. Sesekali keduanya membahas tentang gosip panas yang tadi pagi beredar tentang Jiro dan Ellie yang berada di rumah sakit.

“Jiro pasti parno keluar setelah ini.” ucap Mei sembari sedikit terkikik.

“Parno itu apa?” Ellie bingung apa maksud Mei.

“Paranoid, merasa terganggu, ketakutan.” Jelas Mei dengan sedikit malas. “Dia kan benci banget sama yang namanya media.”

“Kalau begitu, kenapa dia jadi artis?”

“Ellie. Dia jadi artis kan tidak dengan tujuan masuk ke infotaimen. Dia hanya ingin melakukan apa yang dia inginkan, lalu berhasil berada di puncak. Uang tidak berarti untuk Jiro, kesuksesan baginya bukan tentang berapa banyak ia mendapatkan materi, tapi seberapa tinggi dia berada di puncak kepopuleran, dan masuk ke akun gosip tidak ada dalam agendanya.”

“Kupikir, sekarang dia sudah berada di tempat paling tinggi, kenapa dia masih mengejar mimpinya?”

“Mungkin, dia nggak bisa meninggalkannya begitu saja. Ada beberapa kontrak dan ketentuan yang tak bisa dilanggar. Jadi Jiro hanhya bisa melanjutkannya.”

“Mei, menurutmu, apa Jiro menyukaiku?” tanya Ellie dengan wajah polosnya.

“Kalau dia menyukaimu, dia tidak akan menyembunyikanmu didepan publik.” Suara itu lantas membuat Elie dan Mei menatap ke arah suara tersebut. Marvin tampak berdiri dengan baju santainya. “Aku tau kamu disini, jadi aku kemari.” Ucap Marvin sembari menyunggingkan seringaiannya.

“Kamu ngapain sih, ganggu aja.” Gerutu Mei. Mei tentu tahu bagaimana perasaan Marvin kepada Ellie, dan Mei sudah berkali-kali mengatakan pada Marvin bahwa Ellie sudah memiliki Jiro. Kenapa juga sepupunya ini masih kekeh dengan pendiriannya.

“Kalau aku bilang mau minta gula ke sini, kamu nggak akan percaya, jadi aku jujur saja, kalau aku ingin menemui Ellie.”

“Oh ya ampun, memangnya kamu nggak kerja apa?”

“Enggak, gangguin kalian lebih seru.”

Mei mendengus sebal. Marvin pasti tahu Ellie di sini karena lelaki itu melihat Ellie semalam yang keluar dari mobilnya, mengingat rumah merekabersebelahan. Tapi Mei kesal, kenapa Marvin harus menempel pada Ellie. Apa Marvin tak takut dengan Jiro? Dan Ya Ampun, Mei sempat lupa kalau Jiro akan menjemput Ellie pagi ini. bagaimana kalau lelaki itu mendapati Marvin di sini?

Jiro akan murka, Mei tahu itu.

Tapi di sisi lain, Mei ingin melihat reaksi Jiro, atau memberi pelajaran bagi lelaki itu. Ellie terlalu polos untuk memikirkan hal ini, tapi tidak dengan Mei. Mei ingin Jiro merasakan apa yang dirasakan Ellie saat melihat Jiro dengan wanita lain di luar sana.

Ya, selama ini, Ellie selalu bersama dengan Mei. Jadi Mei tahu apa yang dirasakan Ellie. Tak jarang, saat mereka ke maal, atau ke supermarket bersama, mereka tak sengaja mendapati berita tentang Jiro dengan wanita lain. Saat itu, Mei segera menatap Ellie, dan wajah wanita itu segera menjadi sendu. Kesedihan tampak jelas terlihat. Ellie sakit, Ellie jatuh cinta dengan suaminya, tapi suaminya benar-benar tak tahu diri. Mei ingin membuat Jiro membuka matanya, bahwa Ellie patut untuk diperjuangkan.

“Mendingan kamu duduk. Jangan gangguin aku masak.” Mei kembali menyembur Marvin. “Kamu juga, Ellie, jangan kecapekan. Duduk saja di sana.” Lanjutnya pada Ellie.

Marvin dan Ellie menuruti apa kata Mei. Jika sudah marah, Mei memang tampak mengerikan. Bagi Ellie, Mei seperti ibunya yang cerewet, sedangkan bagi Marvin, Mei sudah seperti nenek-nenek yang cerewet.

Keduanya akhirnya duduk di kursi meja makan. Berdampingan. Marvin tak ingin membuang kesempatan, ia kembali mendekati Ellie, dan bertanya tentang keadaan Ellie.

“Jadi kamu nginep sini? Enak kan di sini?”

Ellie hanya mengangguk. Ia meminum susu hamilnya kemudian meraih selemar roti dan mengolesnya dengan selai coklat.

“Kamu bertengkar lagi sam suamimu?”

“Enggak.” Ellie memilih berbohong. Ia tidak suka membahas masalah pribadinya dengan Marvin.

“Lalu, kenapa kamu nginep di sini?”

“Pengen saja.” Ellie menjawab pendek sembari menggingit rotinya.

“Kamu lucu, bikin gemas.” Marvin mencubit gemas pipi Ellie. Membuat Ellie mengaduh kesakitan.

“Sakit tahu!” seru Ellie sembari mengusap pipinya sneidri. Pada detik itu sepasang mata menatap mereka berdua dengan tatapan tajam mereka.

“Apa yang sedang kalian lakukan?!” seruan itu membuat semua mata yang berada di dana menatap ke arah sumber suara. Jiro berdiri menjulang di ambang pintu dapur Mei dengan wajah berapi-api.

Ellie yang melihat kedatangan Jiro bukannya takut tapi malah memalingkan wajahnya ke arah lain. Seakan tak ingin tahu bahwa Jiro ada di sana. Hal itu semakin membuat Jiro kesal.

Kedatangannya ke rumah Mei adalah untuk menjemput Ellie. Sudah cukup semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan Ellie. Sialan! Padahal sebelunya ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, tapi tadi malam, Jiro merasa bahwa diriny berada di neraka.

Ia ingin pagi segera tiba, agar ia segera bisa menjemput Ellie. Tapi saat pagi sudah tiba dan ia benar-benar menjemput Ellie, kenyataan lain ia dapatkan. Ellie sedang asyik dengan pria bajingan yang bernama Marvin, dan hal itu benar-benar mengganggu Jiro.

Apalagi saat ia melihat Ellie yang tampak enggan menatap ke arahnya, seakan wanita itu tidak mengindahkan keberadaannya. Semarah inikah Ellie terhadapnya?

“Kamu sudah datang? Sepagi ini?” tanya Mei sambil menyuguhkan sarapan di atas meja makan.

“Aku akan menjemputnya. Pulang pagi ini juga.”

“Nggak mau.” Ellie berkata cepat.

“Apalagi yang kamu tunggu? Kita harus pulang, aku banyak kerjaan.” Jiro berkata dengan kesal.

“Kalau begitu kamu bisa pergi. Aku bisa menjaga diriku sendiri di sini sepanjang hari.”

“Tidak akan kubiarkan. Apalagi saat aku tahu bahwa ada bajingan yang mengintai kamu.”

“Bajingan? Kamu berlebihan, Jiro.” Mei tahu bajingan yang dimaksud Jiro adalah Marvin.

Jiro tidak mempedulikan apa kata Mei, ia mendekat ke arah Ellie, tapi Ellie malah bangkit dan segera meninggalkannya. Sial! Jiro tak mengerti apa mau wanita aitu. Benar-benar membingungkan.

Mei berkacak pinggang menatap ke arah Jiro. “Jadi ini yang kamu sebut dengan merayu?” sindir Mei.

“Merayu? Aku tidak sedang merayunya.”

“Ya ampun Jiro! aku akan memilih menjadi jomblo seumur hidup daripada harus menikah dengan pria yang super Tak Peka seperti kamu.” Gerutu Mei. “Kamu itu sudah membuatnya marah, setidaknya rayu dia agar dia mau memaafkanmu. Bukan malah bersikap searogan ini.”

Jiro menghela napas panjang. Mei benar.

“Kalau nggak mau, biar aku saja yang merayunya.” Marvin berkata dengan santai, dan Jiro segera menghampiri lelaki itu mencengkeram kerah bajunya.

“Buang pikiran itu atau gue akan mukulin elo sampai elo hilang ingatan.”

Marvin malah tertawa lebar, sedangkan Mei hanya menggelengkan kepalanya melihat dua pria kekanakan sedang melakukan adegan tak masuk akal baginya.

***

Jiro menghampiri Ellie saat ia mendapati Ellie duduk di sebuah ayunan di taman mini samping rumah Mei. Tanpa banyak bicara, ia ikut duduk di sebelah Ellie. Membiarkan Ellie tetap mengayunkan tempat duduk mereka.

Cukup lama keduanya duduk tanpa kata, karena Jiro sendiri tidak tahu harus memulainya dari mana. Hingga ketika Ellie akan bangkit meninggalkannya, Jiro menghentikan Ellie dan meminta Ellie untuk kembali duduk di sebelahnya.

“Kamu, mau pulang sama aku, kan?” tanya Jiro dengan pelan.

“Tergantung.”

“Apa yang kamu inginkan, Ellie? Kumohon, jangan seperti ini.”

Ellie sendiri tidak tahu kenapa Jiro banyak berubah. Dulu ia memang sering merajuk, tapi sepertinya Jiro tak pernah menghiraukannya. Ya, Jiro jarang memikirkannya, tapi entah kenapa saat ini, lelaki ini seakan terpengaruh dengan dirinya yang tengah merajuk.

“Nggak ada.” Ellie menjawab lagi dengan pendek, seperti sebelumnya.

Jiro menghela napas panjang. “Maafkan aku.” Tiba-tiba saja Jiro mengungkapkan rasa sesalnya.

“Maaf untuk apa? Karena kamu sudah meniduri wanita lain?”

“Ellie, aku tidak pernah melakukan itu.” Jiro tidak tahu harus menjelaskan seperti apa. Ellie pasti tidak mempercayainya. “Kumohon, jangan seperti ini. kamu mau pulang bersamaku, kan?” tanya Jiro lagi dengan nada lembutnya.

Ellie tidak menjawab, ia masih tetap diam. Kemudian Jemari Jiro menggenggam erat telapak tangan Ellie.

“Ellie, kamu mendengarku, kan?” tanya Jiro sekali lagi. Tapi masih tak ada balasan dari Ellie. “Kita pulang, oke?” tanya Jiro lagi.

Dan akhirnya Ellie hanya menganggukkan kepalanya. Jiro tersenyum senang. Ellie lalu bangkit, turun dari ayunan, begitupun dengan Jiro. Dan secepat kilat, Jiro membawa Ellie kedalam pelukannya. Entah kenapa Jiro tak mampu lagi menahan keinginannya untuk merengkuh tubuh Ellie. Sejak tadi, ia ingin memeluk wanita ini, dan kini, Jiro dapat mewujudkan keinginannya tersebut.

Beruntung, Ellie tidak meronta apalagi menolaknya. Dan akhirnya, Jiro memeluk tubuh istrinya itu semakin erat lagi dari sebelumnya.

***

Sesekali Jiro melirik ke arah Ellie. Wanita itu memilih menolehkan kepalanya ke jendela, menikmati pemandangan jalanan kota Jakarta. Ingin rasanya Jiro megajak Ellie bercakap-cakap, tapi ia tidak tahu apa yang harus dibahas.

“Uum, Jadi, apa yang ingin kamu lakukan hari ini?” tanya Jiro kemudian.

“Nggak ada.” Ellie menjawab pendek.

“Mau keluar? Denganku?” tanya Jiro tiba-tiba.

Ellie menatap Jiro seketika. “Kemana?” tanyanya. Sebenarnya, Ellie tak berharap banyak. Jiro sama sekali tak pernah mengajkaknya jalan sebelumnya. Tentu karena ketakutan lelaki itu yang tak masuk akal. Takut kepergok media atau fansnya.

Sea world. Kamu mau?”

Mata Ellie membulat seketika. “Itu kan tempat publik. Kamu nggak takut ketahuan fans kamu?”

Jiro tersenyum, dan Ellie kembali terpana dengan senyuman lelaki itu. Benar-benar curang! Jika Jiro menampilkan sedikit saja senyumannya, maka Ellie akan kalah. Ellie tak akan mampu memusuhi suaminya itu lagi setelahnya.

“Ini bukan minggu atau hari libur, jadi kupikir tak akan seramai biasanya. Lagi pula, aku bisa menyamar.”

“Kamu yakin? Kalau ada yang tahu?”

“Abaikan saja.” Dan setelah itu Ellie bersorak gembira dalam hati, ia tidak menyangka Jiro akan membujuknya hingga seperti ini. kemarahan Ellie menguap seketika, hilang ditelan sikap manis yang ditampilkan Jiro kepadanya. Bagaimana bisa semudah ini menakhlukkan hatinya?

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 16

Comment 1 Standard

 

Bab 16

Lumatan mereka semakin intens, semakin panas, seakan keduanya tak ingin mengakhiri tautan bibir masin-masing. Jessie yang pertama kali sadar dari buaian asmara tersebut, segera ia melepaskan diri, membiarkan tautan bibir mereka terputus, dengan napas yang sama-sama saling terengah.

“Steve, aku lapar.” Ucapnya kemudian.

Jessie tidak bohong tentang dirinya yang sudah kelaparan, tapi sebenarnya, Jessie sempat melupakan rasa laparnya ketika Steve mencumbunya dengan begitu panas seperti tadi. Ia merasa bahwa malam ini, tak apa ia melewatkan makan malamnya, asalkan ia bisa bercumbu mesra dengan Steve sepanjang malam. Tapi Jessie juga harus memikirkan bayi yang dikandungnya. Bayinya membutuhkan nutrisi, dan ia harus makan untuk memenuhi nutrisi bagi bayinya tersebut.

“Aku… Maaf, aku terbawa suasana.” Ucap Steve dengan suara parau.

Jessie tentu merasakan bagaimana lelaki di hadapannya ini menegang seutuhnya, ereksinya menempel pada perut Jessie, keras, berkedut, membuat Jessie tak kuasa menahan diri untuk membungkusnya. Hanya saja, mereka bukan lagi remaja yang dimabuk asmara. Ada bayi diantara mereka, ada masalah yang harus mereka bahas sebelum kembali berakhir di atas ranjang.

Jessie mengusap lembut pipi Steve, ia berkata “Akupun demikian. Aku juga terbawa suasana, aku juga menginginkanmu. Mungkin karena hormon, atau yang lain. Aku tidak tahu. Tapi kita tidak bisa selalu menyelesaikan masalah dengan seks.” Ucap Jessie pelan agar Steve mengerti apa yang ia maksud.

Steve menganggukkan kepalanya. Jessie benar, sangat benar. “Baiklah. Kau lapar sekali?”

“Ya. Sangat lapar.” Kali ini Jessie mengusap perutnya dengan manja.

Steve tersenyum. Ia ikut mengusap perut Jessie dan berkata “Maafkan Daddymu yang kurang ajar ini, oke?” Steve berkata pada bayinya, lalu ia menatap ke arah Jessie. “Kau duduk saja. Aku yang akan menghangatkan makanannya dan menyiapkan sisanya.”

Jessie tersenyum bahagia. Steve sudah kembali, dan lebih baik lagi, lelaki ini bersikap begitu perhatian padanya. Jessie senang, sangat senang.

***

Setelah makan malam. Jessie dan Steve segera menuju ke kamar. Ini sudah hampir jam tiga dini hari, jadi mereka tak akan menghabiskan waktu untuk bercakap-cakap atau bahkan menonton TV lagi.

Bagi Jessie, ia tak butuh lagi penjelasan tentang sikap aneh Steve spanjang hari ini. kenapa lelaki itu tiba-tiba minum hingga larut. Yang terpenting adalah, bahwa Steve sudah kembali seperti semula. Lelaki itu sudah membaik, dan hal itu sudah cukup untuk Jessie.

Tanpa canggung, Jessie mendahului Steve, berjalan di depan lelaki itu, kemudian membuka bajunya sendiri. Meninggalkan dirinya hanya dengan bra dan celana dalamnya saja. Jessie berjalan menuju ke meja rias, mengambil sebotol minyak zaitun dengan aroma mawar, lalu menuju ke arah ranjang, dan duduk dengan pose seksinya, setidaknya dimata Steve seperti itu.

Jessie tampak sedang menggodanya, entah benar atau tidak, hanya wanita itu yang tahu. Tapi demi Tuhan! Steve merasa ketegangan yang tadi sempat lenyap karena makan malam, kini kembali bangkit. Ia kembali bereresi hanya karena melihat Jessie berjalan setengah telanjang di hadapannya.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Steve bingung, ketika mendapati Jessie sibuk membuka kemasan botol minyak zaitun tersebut.

Steve berjalan mendekat, ikut duduk di pinggiran ranjang dan mengamati apa yan akan dilakukan Jessie.

“Tadi aku ke butik, karena tak ada yang bisa kukerjakan dan aku cukup bosan di sana, aku memilih menghabiskan siangku untuk mengobrol dengan Miranda sesekali mencari informasi tentang kehamilan. Salah satu artikel menyebut bahwa nanti, perutku akan sering terasa gatal, dan aku tak boleh menggaruknya karena akan meninggalkan bekas luka.”

Well, sepertinya aku juga harus banyak membaca tentang artikel kehamilan. Aku ingin kau melewatinya bersamaku.”

Jessie mengangguk. “Dan, dengan minyak zaitun ini, bisa mengurangi rasa gatal tersebut.”

“Jadi, kau akan melumurkan ke tubuhmu?”

“Kau keberatan?” Jessie bertanya balik.

“Tidak.” Steve menjawab cepat. “Kau ingin, aku melakukannya untukmu?” tanya Steve kemudian.

“Kau, bisa melakukannya?” Jessie bertanya balik.

Steve merebut botol tersebut dari tangan Jessie. “Mari kita lihat, seberapa mahir aku melakukannya.”ucapnya sembari membuka botol tersebut, menuangkan isinya pada permukaan perut Jessie hingga membuat Jessie memekik seketika.

“Ohhh…” Jessie mengerang. Apalagi saat jemari Steve mulai mengusap perut hamilnya. “Astaga, ini bagus sekali.” Jessie tak tahu apa yang sudah ia katakan. Ia bahkan sudah memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di atas ranjang.

Steve mengangkat sebelah alisnya. “Bagus?”

“Ya ampun, rasanya nikmat.”

“Nikmat?” sekali lagi Steve menatap Jessie penuh tanya. Jemarinya masih mengusap lembut perut Jessie sedangkan pangkal pahanya sudah berdenyut nyeri menatap ekspresi nikmat yang ditampilkan oleh istrinya tersebut.

Ya ampun! Jessie benar-benar sedang menggodanya.

“Oooh..” Jessie kembali mengerang ketika jemari Steve dengan nakal merayap naik menelusup kedalam bra yang ia kenakan. “Kau, terlalu ke atas, Mr. Morgan.” Desah Jessie dengan terpatah-patah.

“Heemmm, aku suka merayap ke atas.” Steve menuangkan lagi minyak zaitun di tangannya, kemudian kembali memijat pelan perut Jessie. “Kau, sangat indah.” Steve mengerang. Dengan nakal jemarinya turun mengusap lembut pusat diri Jessie.

“Astaga. Apa yang kau lakukan? Ohhh..” Jessie mengerang, menggigit bibir bawahnya. Ia bahkan membiarkan ketika Steve dengan cekatan menurunkan celana dalam yang ia kenakan, menyisakan Jessie hanya dengan branya saja. “Steve, apa yang kau lakukan?” tanya Jessie dengan napas yang sudah terengah.

Steve hanya sedikit menunggingkan senyumannya. Ia kembali menuangkan minyak zaitun, lalu mengusapkannya pada sepanjang kaki Jessie dengan gerakan memijat, pelan, pasti dan sangat menggoda.

“Aku ingin membuatmu rileks.”

“Ohh, kau membuatku terbakar.” Jessie melemparkan kepalanya ke belakang saat dengan panas Steve kembali menyentuhkan jemarinya yang licin karena minyak zaitun pada pusat dirinya.

Steve menggodanya, sedangkan jemari lelaki itu yang lain memijat kakinya.

“Steve!! Astaga!” Jessie bahkan akan sampai pada pelepasan pertamanya karena permainan Steve yang lembut tapi sangat menggodanya.

“Ya? Sayang?” Steve kembali mengoda, ia kembali ke atas, dan membantu Jessie melepaskan branya, hingga wanita itu sudah telanjang bulat di bawah matanya. Steve menuang lagi minyak zaitun tersebut tapi langsung pada permukaan payudara Jessie yang padat berisi. Membuat Jessie memekik karena sensasinya.

“Ya Tuhan!” Entah berapa kali Jessie mengerangkan kata itu. Nyatanya ia merasa bahwa gairahnya meningkat lagi dan lagi ketika jemari Steve dengan minyak Zaitun tersebut menyentuh permukaan kulitnya.

Steve mengusapnya lagi dan lagi, menggodanya dengan gerakan lembut tapi panas, membakar apapun yang ia sentuh termasuk tubuh Jessie.

“Katakan, Sayang. Apa yang kau inginkan?” tanya Steve sebelum mendaratkan bibirnya pada puncak payudara Jessie.

“Ohhh.. Kau. Aku menginginkanmu! Demi Tuhan!” Jessie terengah. Ia sangat jujur, Jessie benar-benar menginginkan Steve saat ini. Jemari Steve bekerja dengan begitu sempurna, menggoda Jessie, membuat Jessie menginginkan lelaki itu untuk berada di dalamnya saat ini juga. Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya?

Secepat kilat Steve bangkit, sempat membuat Jessie menatapnya dengan tatapan kecewa karena Steve menghentikan kenikmatan yang diberikan oleh lelaki itu pada tubuh Jessie. Tapi Steve hanya sedikit tersenyum mirir, penuh arti. Lalu melucuti pakaiannya sendiri kemudian kembali menindih tubuh Jessie.

Tanpa banyak bicara, Steve mulai menyatukan diri. Steve tahu bahwa Jessie sudah hampir klimaks karenanya. Karena itu ia tak ingin membuang waktu lagi.

Keduanya mengerang panjang dengan penyatuan yang begitu erotis. Jessie sempat meracau ketika Steve terasa penuh mengisinya, tegang didalamnya, dan lelaki itu tak membuang waktu untuk menggerakkan dirinya.

“Ya Tuhan! Aku sangat menginginkanmu, Jess!” Steve berseru, sebelum ia menggapai bibir Jessie dan melumatnya penuh gairah. Sedangkan yang dilakukan Jesie hanya pasrah, menerima kenikmatan yang diberikan oleh suaminya, dengan sesekali membalasnya. Hingga percintaan mereka menjadi percintaan panas yang mampu membakar apa saja yang ada di antara mereka…

***

Menjelang pagi, Jessie bangung. Ia merasakan jemari Steve mengusap-usap perutnya dengan lembut, membuat Jessie dirayapi rasa geli yang bercampur dengan gairah.

Astaga, semalaman mereka sudah bercinta dengan panas, tapi Jessie merasa masih kurang. Mungkin karena hormon yang mempengaruhinya. Tapi Steve seakan tahu apa yang diinginkan Jessie.

Jessie bahkan sudah merasakan bukti gairah lelaki itu yang tegang menempel pada bagian belakang tubuhnya, membuat Jessie menggeliat dan menolehkan kepalanya ke belakang.

“Steve, kau bangun lagi?”

Steve tersenyum. “Tidak. Tidur saja. Aku ingin memeluk kalian.”

Jessie sangat senang dengan kalimat terakhir Steve. Ia merasa sangat disayangi, bukan hanya fisiknya saja, tapi semuanya. Jessie memposisikan diri untuk tidur lebih nyaman lagi, dan tak lama, kesadarannya mulai menghilang.

Pada saat itu, sama-samar Jessie mendengar ucapan Steve yang entah mengapa terdengar begitu manis dan membuatnya tersenyum dalam tidurnya. Astaga, itu pasti mimpi. Jika iya, maka itu adalah mimpi terindah yang pernah didapatkan oleh Jessie.

‘Jess, kupikir, aku mencintaimu.’

***

Wajah Jessie tak berhenti merona ketika mengingat kejadian panas semalam yang ia lakukan dengan Steve. bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyum bahagia. Telapak tangannya sesekali mengusap pipinya sendiri saat ia tak kuasa menahan rasa malunya saat mengingat kejadian itu.

Astaga, bagaimana mungkin ia melakukan malam yang sangat panas dengan seorang Steven Morgan? Steve benar-benar menjadi sosok suami baginya saat ini. Jessie tak bisa lagi melihat Steve sebagai temannya. Dan sepertinya lelaki itu juga merasakan hal yang sama seperti apa yang ia rasakan saat ini.

Tuhan! Ini gila!

Jessie bahkan tak dapat memikirkan hal lain selain kejadian semalam. Membuat Jessie ingin melakukannya lagi. Memberi Steve alasan untuk memijatnya dengan minyak Zaitun, pasti lelaki itu akan melakukannya lagi nanti malam.

Jessie menggelengkan kepalanya saat pikiran mesum mulai menguasainya. Sesekali ia mengusap perutnya dan berterimakasih pada bayinya karena sudah memberikan kesempatan dirinya untuk merasakan pengalaman yang sangat luar biasa.

Ketika Jessie asyik melamunkan malam panasnya dengan Steve, pintu ruangannya di buka, menampilkan sosok Miranda di sana.

Saat ini, Jessie memang sedang berada di butiknya. Meski belum banyak pekerjaan yang dapat ia kerjakan, tapi Jessie tetap ingin berangkat ke butiknya daripada harus seharian di dalam apartmennya dan mati karena bosan.

Steve sendiri tadi yang mengantarnya. Lelaki itu bahkan bersikap manis pagi ini dengan mengecup lembut puncak kepalanya lalu mengecup perutnya juga. Astaga, sejak kapan Steve menjadi semanis itu terhadapnya.

Kembali lagi pada Miranda, wanita itu berjalan mendekatinya dan berkata “Kau benar-benar sedang berpikir yang tidak-tidak, ya? Wajahmu merah padam, Jess.”

Jessie kembali menangkup pipinya sendiri, merasakan panas menjalar di area wajahnya. Ya, ia memang sedang memikirkan hal-hal tak masuk akal dengan Steve.

Jessie tersenyum ke arah Miranda. Ia berkata “Maaf, kau tahu sendiri, kan. Ibu hamil.” Jawabnya sembari mengangkat kedua bahunya.

“Ya, ya, ya, aku mengerti.” Kata Miranda dengan tawa lebarnya. “Sekarang, bangkitlah. Ada yang ingin bertemu denganmu.”

“Siapa?” tanya Jessie dengan sedikit penasaran. Ia tidak memiliki janji sebelumnya. Dan Jessie berpikir bahwa ia belum siap untuk bekerja lagi sepenuhnya seperti sebelum ia hamil. Keadaannya saat ini sangat labil. Ia mudah lelah, perasaannya sering kacau, dan ia lebih suka melamunkan tentang hal panas. Tentu saja hal itu akan sangat mengganggu jika Jessie memutuskan untuk bekerja penuh seperti sebelum ia hamil.

“Mungkin seorang calon pengantin. Dia tidak menyebutkan namanya. Dia hanya ingin membahasnya denganmu.”

“Ohh, kalau begitu, suruh saja dia masuk.”

Dan tak lama, Miranda kembali keluar, lalu mempersilahkan seseorang masuk ke dalam ruangan Jessie. Jessie segera berdiri, ia akan menyambut hangat calon pelanggannya. Tapi ketika ia tahu siapa yang datang menemuinya, tubuh Jessie membeku seketika.

Itu Donna Simmon, mantan keksih Steve. mantan? Tunggu dulu, bahkan Jessie tak yakin jika Steve sudah memutuskan Donna. Jessie bahkan melupakan hal sepenting itu selama ini. ia tidak tahu apa Steve sudah tidak memiliki hubungan dengan wanita lain selain dirinya atau tidak.

Yang menjadi pertanyaan untuk Jessie adalah, kenapa Donna Simmon datang ke butiknya? Apa yang diinginkan wanita itu? Apa wanita itu akan membahas tentang Steve dengan dirinya? Apa wanita itu sudah tahu tentang pernikahan kilatnya dengan Steve? atau, apa wanita itu datang kemari untuk menyiapkan gaun pernikahan yang akan wanita itu pakai dengan Steve yang menjadi mempelai prianya?

Tidak! Tidak! Bukan itu yang akan terjadi, kan? Steve tidak akan mungkin mengkhianatinya, atau lebih mengerikan lagi, menikah diam-diam di belakangnya. Tidak! Bukan itu yang akan terjadi.

***

Steve pulang malam. Ia benar-benar kesal karena hari ini mendapat klien yang sangat cerewet dan susah diatur. Sepasang kekasih itu sedang melakukan foto prawedding. Tentu saja mereka dari kalangan konglongmerat karena berani memakai jasanya yang bisa dibilang sangat mahal untuk sebuah foto prawedding.

Mereka mengambil banyak sekali scene. Saat Steve mencoba mengarahkan, si wanita arogan itu malah menolaknya mentah-mentah. Entah jadi apa nanti hasil tangkapan kameranya. Steve tak peduli. Ia benar-benar kesal mendapati klien yang sok tau seperti itu.

Steve sudah sempat menghubungi Jessie, tapi wanita itu tak mengangkat teleponnya. Mungkin Jessie sudah pulang naik taksi, tapi saat Steve sampai di apartmen wanita itu, Jessie tak ada.

Akhirnya, Steve memutuskan untuk menyusul Jessie ke butik wanita itu. Apa Jessie sudah mulai bekerja lagi? Jika iya, kenapa wanita itu bekerja hingga larut? Harusnya Jessie memikirkan tentang keadaannya, tentang kehamilannya, tentang bayi mereka. Steve mendengus sebal, sepertinya ia harus lebih protektif lagi kepada Jessie agar wanita itu mengerti bahwa yang utama saat ini adalah diri Jessie dan juga bayi mereka.

Ketika Steve akan sampai di butik Jessie. Dari jauh ia sudah melihat lampu butik wanita itu sudah padam. Yang artinya, Jessie sudah menutup butiknya. Kemudian Steve segera menghentikan mobilnya saat melihat bayang Jessie keluar dari dalam butiknya. Yang membuat Steve menegang adalah, wanita itu tidak sendiri, ada Henry di sana. Sialan, mereka sedang melakukan apa? Pikir Steve.

Steve hanya mengamati dari jauh. Jessie tampak mengikuti Henry menuju ke arah mobil tersebut. Dan ketika keduanya sudah berada di dekat mobil, tanpa diduga, Jessie melemparkan diri pada Henry, memeluk lelaki itu dengan erat.

Steve tak tahu apa yang sedang terjadi, ia bahkan tak ingin memikirkan apapun saat ini. Jessie tak mungkin mengkhianatinya, Jessie tak mungkin menduakannya.

Sialan!

Tapi Steve tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa apa yang ia lihat dengan mata kepalanya saat ini adalah hal yang nyata. Hal yang begitu menyakiti hatinya dan melukai harga dirinya.

Steve marah, sangat marah.

Seharusnya, jika Jessie tidak memiliki perasaan untuknya, wanita itu tak perlu bersikap seperti begitu menginginkannya. Steve ingat dengan jelas, bagaimana semalaman mereka berdua bercinta dengan panas, bagaimana Jessie memohon padanya untuk segera dipuaskan. Hal itu membuat Steve melambungkan perasaannya, berpikir bahwa Jessie sudah mulai membuka hati untuknya.

Nyatanya, setelah melihat kejadian ini, Steve merasa bahwa Jessie hanya berusaha membohongi dirinya. Membuatnya terlihat bodoh dengan rasa cinta yang ia rasakan dan bertepuk sebelah tangan.

Sial!

Cinta?

Ya Tuhan! Kenapa ia harus mengaku jatuh cinta pada saat seperti ini?

Kenapa ia harus jatuh cinta pada Jessie, wanita yang bahkan selalu melihatnya sebagai teman? Kenapa harus seperti ini?

-TBC-

Yuuuhuuuu adakah hatinya yang ikutan ‘kreeteekkk-kreeetekkk’ kayak Stipe??

Sleeping with my Friend – Bab 13

Comment 1 Standard

 

Steve mulai membuka sampul kimono yang sedang dikenakan Jessie, sedangkan Jessie sendiri memilih mengalungkan lengannya pada leher Steve.

Oh, Steve sangat menggoda, lelaki ini sangat pandai berciuman hingga membuat Jessie merasa mabuk kepayang karena cumbuan yang diberikan Steve padanya. Samar-samar, Jessie bahkan mendengar Steve mengerang nikmat karena cumbuan mereka, dan hal itu membuat gairah Jessie naik satu tingkat lebih tinggi lagi.

Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya? Jessie tak pernah merasa sebergairah ini dengan seorang lelaki, apalagi jika lelaki itu adalah Steve, temannya sendiri yang kini sudah berstatuskan sebagai suaminya. Apa salah jika ia memiliki gairah yang besar terhadap Steve? Apa salah jika ia menuruti apapun kemauan lelaki itu? Jessie tak tahu, karena sekarang, Jessie merasa tak dapat berpikiran jernih lagi. Steve sangat menggoda untuknya, lelaki itu tak berhenti menyalakan api gairah didalam tubuhnya, hingga Jessie yakin, bahwa ia akan melewati malam pengantinya dengan begitu panas bersama dengan seorang Steven Morgan.

***  

Bab 13

 

Steve menghujam lagi dan lagi, tak mempedulikan erangan demi erangan yang keluar dari bibir Jessie. Kenikmatan membungkusnya, ia bahkan tak mempedulikan tubuh mereka yang sudah basah kuyub karena guyuran air dari shower.

Jessie tampak sangat bergairah, begitupun dengan dirinya yang seakan tak ingin menghakhiri percintaan panas mereka.

“Ohh, Steve… Astaga…” Jessie meracau, sedangkan yang dapat dilakukan Steve hanya kembali menghujam lagi dan lagi.

Entah sudah berapa lama mereka melakukan penyatuan dalam posisi berdiri. Tubuh Jessie terhimpit dengan dinding dan juga tubuh kekar Steve. Steve bahkan setengah mengangkat tubuh Jessie agar tinggi mereka sejajar. Sesekali Steve mencumbu habis bibir istrinya itu, melumatnya dengan penuh gairah, mengajaknya untuk menari bersama. Oh, Sial! Jessie benar-benar akan membunuhnya.

Beberapa kali Steve akan sampai pada puncak kenikmatan, tapi kemudian Steve memperlambat lajunya, menurunkan ritmenya, menyiksa dirinya sendiri dengan cara menahan agar luapan gairah tak segera meledak dan permainan mereka segera berakhir. Sungguh, Steve tak ingin segera mengakhirinya. Dan hal itu benar-benar membuat Steve tersiksa.

“Steve, tolong…” Jessie memohon.

Rupanya wanita itu sudah akan sampai pada puncak kenikmatannya lagi, entah sudah yang keberapa kali.  Berkali-kali, Steve merasakan Jessie klimaks, tapi ia masih menahan diri agar tidak terpancing dengan istrinya itu. Steve masih ingin lebih lama lagi, Steve masih ingin lebih banyak lagi mencumbu Jessie. Oh, Jessie, istrinya….

Akhirnya, karena sudah tak sanggup menahan luapan gairah yang menghantamnya lagi-dan lagi, Steve pun meledakkan diri setelah beberapa kali hujaman kerasanya. Steve mengerang, begitupun dengan Jessie. Keduanya saling mengerang satu sama lain, seakan melupakan kecanggungan yang sempat tercipta diantara mereka.

Jessie mengalungkan lengannya pada leher Steve, ia tidak mampu berdiri sendiri dengan kedua kakinya. Steve membuatnya lemas tak bertenaga karena klimaks yang ia dapatkan beberapa kali dalam satu sesi percintaan panasnya bersama dengan lelaki ini. astaga, Steve benar-benar pandai bercinta.

Jessie merasa sangat malu, karena ia merasa tak pandai mambuat Steve senang dengan percintaan mereka. Bagaimana jika lelaki ini bosan nantinya? Jessie menenggelamkan diri pada dada Steve. Ia mengabaikan air Shower yang masih setia mengguyur tubuh mereka. Kemudian, Jessie mulai terisak.

Steve yang baru sadar dari gelombang gairah yang menghantamnya, akhirnya merasakan isakan dari Jessie. Ia melepaskan pelukan Jessie kemudian mengamati wanita itu dengan kekhawatiran yang amat sangat.

“Ada apa? Apa aku menyakitimu? Bayinya?” tanyanya dengan raut khawatir.

Jessie masih terisak. Ia tidak tahu kenapa dirinya bisa seemosional ini, secengeng ini hanya karena merasa bahwa ia tidak bisa memuaskan hasrat seorang Steven Morgan. Padahal, Steve sendiri tidak mengatakan kemungkinan tersebut.

Steve meninggalkan Jessie, lalu kembali dengan sebuah kursi lipat. Ia mendudukkan Jessie di sana dan mencoba mengabaikan ketelanjangan mereka. Steve berjongkok di hadapan Jessie, berharap jika Jessie mengatakan apa masalahnya.

Sial! Steve tadi terbawa dengan suasana. Ia terlalu menikmati percintaan panasnya dengan Jessie, mencoba menahannya agar percintaan mereka tak segera berakhir. Steve bahkan lupa tentang keadaan Jessie yang sedang mengandung bayinya. Bisa saja tadi ia menyakiti wanita itu. Dan hal itulah yang membuat Steve khawatir.

“Kau, baik-baik saja, bukan?” tanya Steve sekali lagi saat Jessie sudah berhenti terisak.

Jessie hanya menganggukkan kepalanya. Tampak sangat manja. Steve tak ingat kapan terakhir kali Jessie terlihat menja seperti saat ini. Jessie tentu bukan orang manja seperti itu. Setidaknya, hal itulah yang dilihat Steve selama ini. Setelah kepergian ibu Jessie, Jessie selalu memposisikan diri sebagai gadis kuat, wanita mandiri yang mampu mengurus dirinya sendiri bahkan mengurus ayah dan kakaknya. Tapi kini, Jessie tampak seperti seorang gadis manja yang terisak karena sesuatu yang tidak ia mengerti. Apa yang terjadi dengan wanita ini?

“Ada yang sakit? Apa aku menyakitimu?” tanya Steve lagi. Karena ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Jessie.

Jessie menggelengkan kepalanya. “Tidak.” Hanya itu jawabannya.

“Lalu kenapa kau menangis? Kau baik-baik saja bukan?” Steve masih tampak khawatir.

“Aku baik-baik saja, Steve. Sungguh.”

“Katakan, kenapa kau menangis?” lagi, Steve masih ingin mendapatkan jawaban yang masuk akal dari wanita di hadapannya tersebut.

“Aku… aku tidak tahu.”

“Kenapa tidak tahu?” Steve masih menuntut.

“Aku juga tidak mengerti, Steve. Aku selalu ingin menangis akhir-akhir ini. Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini.” Jessie kembali menangis, dan Steve benar-benar bingung.

Ya Tuhan! Bagaimana mungkin menghadapi wanita hamil akan membuatnya segila ini?

Akhirnya, Steve menghentikan interogasinya, ia memilih bangkit dan memeluk Jessie. “Mungkin ini berhubungan dengan kehamilanmu. Kau sangat sensitif. Seharusnya aku mengerti dan lebih mengalah lagi.” Ucap Steve kemudian.

“Aku… aku hanya takut, Steve.”

“Apa yang membuatmu takut?”

“Kau. Aku takut dengan dirimu.”

Steve melepaskan pelukannya, lalu menatap Jessie penuh tanya. “Aku? Kau takut denganku?” kemudian Steve tertawa lebar menertawakan apa yang baru saja dikatakan Jessie.

Perlu diketahui, bahwa selama ini, Stevelah yang takut dengan Jessie. Jessie kadang memposisikan diri sebagai ibu Steve ketika mereka tinggal di New York. Jessie tak segan-segan mengomel atau bahkan memukuli Steve ketika Steve melakukan perbuatan yang salah.

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Jessie dengan kesal.

“Kau takut denganku. Itu tidak masuk akal, Baby girl.” Saat Steve sudah memanggilnya seperti panggilan yang diberikan Frank padanya, maka saat itulah Jessie tahu bahwa sikap menyebalkan Steve mulai kambuh.

“Apanya yang tidak masuk akal?!” nada suara Jessie mulai meninggi.

“Ya ampun. Kau seperti Mom jika sedang marah. Lebih tepatnya, aku yang takut denganmu. Bukan sebaliknya.” Steve berkata masih diiringi dengan tawa lebarnya.

Jessie bangkit seketika. Dengan marah ia berkata. “Aku hanya takut jika tak dapat memuaskanmu. Seharusnya kau tidak menertawakan aku! Kau membuatku kesal, Morgan!”

Steve sempat membatu setelah mendengar jawaban Jessie. “Kau apa?” tanyanya sekali lagi. Tapi Jessie tidak mengindahkan pertanyaannya. Lalu Steve mencoba meresapi setiap kata yang diucapkan Jessie hingga membuatnya sadar akan maksud dari wanita tersebut. Dan hal itu benar-benar membuat Steve tak kuasa menahan tawanya hingga terpingkal-pingkal.

Melihat Steve yang tak berhenti menertawakannya, Jessie semakin kesal dan marah. Hal itu membuat Jessie berinisiatif pergi meninggalkan Steve. Astaga, Jessie bahkan sempat melupakan jika dirinya masih telanjang bulat saat ini.

Melihat Jessie yang tampak kesal dan akan meninggalkannya membuat Steve menghentikan tawanya seketika. Ia segera menggapai tubuh Jessie kemudian memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Sial! Gesekan kulit lembut Jessie membuat Steve kembali berereksi.

“Lepaskan aku!” Jessie sempat meronta. Tapi Steve mempererat pelukannya.

“Begini saja, Nyonya Morgan.”

Panggilan itu lagi. Sialnya, panggilan itu mampu membekukan tubuh Jessie. Oh ya, ia juga baru ingat bahwa saat ini statusnya sudah menjadi istri Steve, menjadi Jessica Morgan. Bagaimana dia bisa lupa dengan hal itu?

“Maaf jika aku sudah menertawakanmu. Sungguh, aku merasa kau sangat konyol. Mana mungkin kau tidak memuaskanku?” ucap Steve dengan nada parau.

“Kau… Aku… Aku tidak tahu. Maksudku, aku sudah beberapa kali klimaks, dan kau…”

“Karena memang itulah yang kuinginkan.” Steve memotong kalimat Jessie. “Perempuan bisa klimaks beberapa kali dalam satu sesi. Tapi jika lelaki sudah klimaks, maka semuanya selesai. Butuh beberapa menit untuk memulainya lagi. Dan aku hanya ingin, percintaan kita tadi tak cepat selesai.”

“Jadi, semua itu, bukan karena kau tidak menikmatinya?”

Steve melepaskan pelukannya kemudian membalikkan tubuh Jessie hingga menghadap ke arahnya.

“Oh, Demi Tuhan, Jess! Kau benar-benar gadis biara, ya? Jika aku tidak menikmatinya, maka aku akan menyatukan diri, memuntahkan gairahku kemudian meninggalkanmu begitu saja tanpa mempedulikan apa kau klimaks atau tidak. Kau mengerti apa maksudku?”

Jessie tersenyum. Meski kosa kata yang diucapkan Steve sedikit kurang ajar, tapi tetap saja, mendengar kalimat itu membuat Jessie tersenyum malu. Jessie mengerti apa maksud Steve. Yang tidak membuatnya mengerti adalah, kenapa Steve bisa begitu menikmati permainan mereka? Jessie tidak melakukan apapun, dan hal itulah yang membuat Jessie tak percaya diri.

“Uum, aku, tak melakukan apapun. Bagaimana mungkin kau menikmatinya?”

Steve tak tahu harus seperti apa menjelaskan pada Jessie bahwa dirinya begitu menikmati percintaan mereka. Tapi kemudian, Steve memiliki ide untuk memanfaatkan kepolosan Jessie.

Dengan sedikit tersenyum ia berkata “Kau ingin tahu bagaiaman aku menikmatinya?”

“Maksudmu?” Jessie curiga dengan apa yang akan dilakukan Steve. Tanpa banyak bicara, Steve meraih sebelah telapak tangan Jessie kemudian mendaratkan pada ereksinya.

“Kau lihat. Aku selalu menegang saat berdekatan denganmu. Bagaimana mungkin kau memiliki pemikiran sekonyol itu, bahwa aku tidak menikmati semua ini?”

“Aku…” Jessie bingung dengan apa yang ia rasakan. Ia benar-benar tak pernah seintim ini. Sangat intim hingga menyentuh pusat gairah dari seorang lelaki.

Steve semakin mendekat, membiarkan Jessie menyentuhnya. “Sentuh aku, Jess. Dan lihatlah. Betapa aku menikmati sentuhanmu.” Ucapnya dengan suara parau. Kemudian, Steve menangkup kedua pipi Jessie, mengangkat wajah wanita itu, lalu mendaratkan ciuman lembutnya pada bibir Jessie.

Jessie sangat menikmatinya. Ia bahkan memejamkan matanya, dan juga membalas cumbuan lembut dari suaminya tersebut. Jemarinya masih tak berhenti membelai mesra bukti gairah lelaki itu, dan hal tersebut memancing suatu gairah dari dalam tubuh Jessie.

Steve mencumbu lagi dan lagi. Kakinya melangkah, mendorong tubuh Jessie sedikit demi sedikit hingga mereka keluar dari kamar mandi, kemudian menuju ke arah ranjang mereka. Sampai di sana, Steve melepaskan tautan bibir mereka. Jemari Jessie benar-benar menyiksanya, membuatnya nyaris meledak karena kelembutan yang diberikan oleh istrinya tersebut.

Steve menatap Jessie dengan sungguh-sungguh, lalu ia berkata “Aku ingin kali ini kau yang memegang kendali.”

“Aku? Bagaimana bisa?” tanya Jessie bingung.

Jessie tentu tak perenah berpikir bagaimana caranya memegang kendali sebuah hubungan seksual. Ia tidak semahir atau seliar itu. Dan ia tidak tahu bagaimana caranya.

Kemudian, Steve mendorong tubuh Jessie hingga keduanya jatuh di atas ranjang dengan Steve berada di atasnya. “Aku akan mengajarkanmu. Kau mau?” tawar Steve kemudian.

“Aku… Umm, aku…” Jessie ragu. Tapi saat dirinya masih ragu, Steve sudah menyatukan diri dengan begitu erotis. Jessie tak mampu menolak karena ia juga menikmati penyatuan tersebut.

Tanpa diduga, dalam sekejap mata, Steve membalikkan posisi mereka hingga kini Jessie berada di atasnya. Steve tersenyum, dan Jessie bingung apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

“Bergeraklah.” Pinta Steve.

“A-apa maksudmu?”

“Bergeraklah. Puaskan aku.”

Mata Jessie sempat membulat karena ucapan Steve. Tapi kemudian ia mengikuti nalurinya untuk bergerak, mencari-cari kenikmatan untuk dirinya sendiri, memberikan kenikmatan untuk Steve. Jessie bahkan melupakan kecanggungannya. Semua pergerakan yang ia lakukan itu semata karena nalurinya.

Dengan spontan, Jessie menundukkan kepalanya, mendaratkan bibirnya pada bibir Steve. Mencium suaminya tersebut tanpa menghentikan pergerakannya.

Steve sangat menyukai apa yang dilakukan Jessie. Ia tak menyangka jika Jessie akan mampu dengan mudah beradaptasi dengannya, dengan kehidupan seksualnya di atas ranjang. Jika boleh jujur, untuk seorang pemula, Jessie benar-benar sangat menggoda, panas dan cukup liar. Meski wanita itu tak berhenti merona karena malu, tapi tetap saja, hal itu tak menyurutkan sedikitpun gairah Steve pada Jessie.

Jessie masih tak berhenti, ia bergerak lagi dan lagi dan hal itu mengantarkan Steve pada puncak kenikmatan. Steve tak mampu menahannya lagi. Dipeluknya erat tubuh Jessie, kemudian ia bergerak secera spontan, membuat Jessie mengerang dengan pergerakan dari Steve.

Jessie kembali hanyut dalam badai kenikmatan, dan tak berapa lama, Steve menyusulnya. Keduanya tenggelam dalam pusaran gairah yang seakan tak ingin meninggalkan mereka.

***

Satu minggu berlalu. Steve dan Jessie kembali ke New York. Mereka harus bekerja kembali dan menjalani kehidupan normal seperti sebelum-sebelumnya.

Berada satu minggu di Pennington dengan status baru membuat hubungan mereka menjadi panas sepanas bara. Bukan karena kemarahan atau emosi, tapi karena gairah yang menyala-nyala.

Hampir setiap malam Steve menyentuh Jessie dengan panas. Mengajari wanita itu bagaimana caranya menikmati hubungan baru mereka. Mengajari Jessie bagaimana cara untuk memuaskannya. Dan Jessie tampak senang dengan peran barunya tersebut.

Sesekali, mereka memang masih canggung dengan status baru yang mereka sandang. Tapi sering kali mereka mengabaikannya. Kedekatan mereka masih sama seperti pada saat mereka berteman dulu. Steve masih suka mengganggu Jessie dan Jessie sering kali marah-marah tak jelas dengan perilaku kekanakan Steve.

Hari-hari di Pennington menjadi hari-hari terindah untuk mereka berdua. Tapi mereka sadar, bahwa mereka tidak bisa berada di sana selamanya. Mereka harus kembali ke New York, dan itu tandanya mereka akan menghadapi berbagai macam masalah.

Seperti, dimana mereka akan tinggal setelahnya?

Oh, tentu saja Jessie bisa pindah ke apartmen Steve. Tapi mengingat bagaimana keras kepalanya wanita itu, Steve mencoba mengalah saat Jessie menolak gagasan tersebut.

Steve mengusulkan agar ia yang pindah ke apartmen Jessie. Jessie tidak menolak, tapi wanita itu hanya berkata bahwa akan bagus jika Steve tak perlu buru-buru memboyong semua barang-barangnya ke apartmen Jessie, mengingat apartmennya tak sebesar milik Steve, dan juga, mereka tentu perlu waktu untuk menyesuaikan keadaan masing-masing.

Setidaknya, Steve bisa lega, karena itu tandanya ia bisa tinggal bersama dengan Jessie, meski tandanya, ia harus lebih banyak mengalah dengan kekeras kepalaan wanita tersebut.

Saat berada di dalam mobil, sesekali jemari Steve terulur dengan sesuka hatinya, mendarat pada perut Jessie kemudian mengusapnya lembut. Steve tidak tahu apa yang membuatnya melakukan hal yang menggelikan seperti itu. Yang ia tahu adalah bahwa hal itu kini menjadi sesuatu yang ia gemari.

Sial! Ada anaknya di sana. Jagoannya. Ya, Steve bahkan sangat yakin dan sudah merasakan bahwa anak yang dikandung Jessie adalah laki-laki. Hal itu benar-benar sangat berarti untuk Steve.

Jessie sendiri, ia memilih megabaikan apa yang dilakukan Steve. seperti tak terjadi apapun. Padahal dalam dirinya, Jessie merasakan sebuah pergolakan. Kehangatan menerpanya, tapi ia juga merasa kurang nyaman dengan sikap manis berlebihan yang diberikan Steve padanya.

Jessie tahu, hubungan mereka memang jauh lebih baik ketimbang setelah malam panas saat itu. Tapi ia juga sadar, bahwa semua ini semata-mata karena mereka ingin memperbaiki semuanya. Jessie akan sangat berhati-hati dengan hal ini, karena ia tahu, satu kali saja ia tergelincir, maka ia akan jatuh, dan hubungan mereka tak akan tertolong lagi.

Pada saat itu, keduanya sudah sampai di gedung apartmen mereka. Dengan sigap Steve keluar dari dalam mobilnya, ia memutarinya kemudian membukakan pintu penumpang agar Jessie keluar dari sana.

Manis sekali.

Keduanya masuk. Mendapati Cody si penjaga apartmen yang tersenyum ramah ke arah mereka.

“Mr. Morgan, Miss Summer.” Sapanya dengan ramah.

“Ahhh. Biar kukoreksi. Mrs. Morgan.” Ucap Steve dengan sungguh-sungguh.

“Apa? Maksudnya, kalian?” Cody menatap ke arah Steve dan Jessie secara bergantian.

Jessie hanya menunduk. Sedangkan Steve dengan penuh rasa posesif ia menarik pinggang Jessie agar masuk ke dalam lengannya.

“Ya. Kami sudah menikah.” Jawab Steve dengan penuh penegasan.

Jessie tidak membantah, ia pun tidak meralat ucapan Steve karena memang benar seperti itulah kenyataannya. Mereka sudah menikah, ia sudah menjadi Nyonya Morgan saat ini.

“Ohh, selamat. Kenapa aku tidak diundang?”

“Hanya pernikahan biasa yang diadakan di lumbung rumahku.” Jawab Steve. “Tapi lain kali, aku akanmmeneraktirmu minum untuk merayakannya. Boleh kan Sayang?’ tanyanya pada Jessie.

“Ya. Tentu saja.” Jessie baru membuka suaranya.

“Baiklah, Cod. Kami akan naik dulu.” Steve berpamitan dan Cody hanya menganggukkan kepalanya. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar bahwa kedua orang tersebut nyatanya sudah menikah.

Saat Steve dan Jessie baru saja masuk ke dalam lift, Cody baru saja ingat bahwa ada seseorang yang sudah menunggu Jessie. Seseorang yang datang setiap hari ke apartmen ini selama Empat hari terakhir. Seseorang yang Cody kenal sebagai tunangan Jessie. Astaga, apa yang akan terjadi selanjutnya?

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 7

Comments 2 Standard

 

“Mungkin, untuk mengingatkanku, bahwa aku memiliki istri yang bernama Ellisabeth, dan dia sedang menungguku pulang.”

Mata Ellie berkaca-kaca.

“Nyatanya, aku tetap lupa untuk pulang.” Lanjut Jiro lagi.

Dengan berani, Ellie menjinjitkan kakinya, mengalungkan lengannya pada leher Jiro, kemudian menggapai bibir suaminya tersebut. Ellie tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Astaga, bisa saja Jiro membohonginya, bisa saja Jiro hanya merayunya dengan tatto tersebut. Tapi Ellie tidak peduli. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah perasaannya yang seakan semakin membuncah untuk suaminya tersbut. Tidak salah bukan jika ia merasakan perasaan seperti ini pada suaminya sendiri?

***

Bab 7

 

Jiro membalas setiap cumbuan dari istrinya tersebut. Ia menyukai Ellie yang berinisiatif untuk menyentuhnya seperti ini. Ellie membangkitkan sesuatu didalam dirinya, membuat Jiro membuka diri untuk wanita tersebut.

Jiro menurunkan resleting dress yang dikenakan Ellie. Melepaskan tautan bibir mereka, lalu melepsakan dress tersebut melewati kepala Ellie. Jiro menatap tubuh istrinya dengan mata terkagum-kagum.

Ellie sangat indah, dan begitu cantik. Kulitnya putih pucat, rambutnya kuning keemasan, matanya berwarna biru laut, dan bibirnya, astaga, merona seperti ceri. Jiro benar-benar bodoh karena selama ini mengabaikannya.

Saat Jiro mulai membuka kaitan bra yang dikenakan Ellie, saat itulah Ellie tertunduk malu. Jiro tahu, bahwa mereka memang hampir tak pernah seintim ini. tak ada waktu untuk mengenali tubuh masing-masing, karena biasanya Jiro hanya melakukan apa yang ia inginkan setelah itu pergi begitu saja. Dan kini, ia seakan ingin mengenal setiap inchi dari tubuh Sang isteri.

Jiro melepaskan bra tersebut. Menjatuhkannya begitu saja di atas lantai, dan Jiro kembali terpesona dengan tubuh istrinya.

Seingatnya, Ellie tidak memiliki lekuk seindah ini. Apa karena Jiro tak pernah memperhatikan sebelumnya? Buah dada Sang istri tampak padat, tapi lembut, dan sangat menggoda. Sial! Kemana saja ia selama ini?

Jiro mendaratkan jemarinya di sana, menyentuhnya, menggodanya. Kakinya mendekat, kepalanya menunduk dan menggapai kembali bibir ranum Ellie. Jiro mencumbu lembut bibir Sang istri sedangkan jemarinya tak ingin berhenti menggoda.

Ellie sendiri menikmati cumbuan tersebut. Dengan pelan tapi pasti ia membalas setiap cumbuan lembut dari suaminya.

Bibir Jiro mulai turun, menuruni leher jenjang Ellie, turun lagi berhenti pada kedua puncak payudara sang istri. Jiro sempat menggoda di sana sebentar, membuat Ellie melemparkan kepalanya ke belakang karena tak kuasa menahan kenikmatan.

Jiro bahkan sudah menekuk lututnya dihadapan Ellie, bibirnya kembali turun lalu matanya mengamati perut Ellie yang tampak sedikit berisi daripada biasanya. Dengan spontan Jiro menarik ujung bibirnya. Ada sebuah kebanggaan yang merayapi hatinya, bangga karena ia akan menjadi seorang ayah, bangga karena sebagian dari dirinya tumbuh di dalam sana.

Jiro mengusap lembut perut Ellie, kemudian mulai mencumbunya lagi dan lagi.

Ellie sendiri hanya bisa meremas rambut Sang Suami. Menikmati setiap belaian bibir Jiro yang berada pada perutnya. Jiro tak pernah selembut ini padanya, dan Ellie begitu menimkati cumbuan lembut dari Jiro.

Sedikit demi sedikit Jiro mendorong tubuh Ellie agar terduduk di pinggiran ranjang. Kemudian ia kembali melanjutkan aksinya lagi, mencumbui setiap inchi dari kulit Sang Istri. Oh, Jiro sangat memuja tubuh Ellie, sekali lagi Jiro berpikir, kemana saja ia selama ini? empat tahun lamanya dan ia baru menyadari bagaimana menggodanya tubuh Sang Istri. Benar-benar bodoh!

Setelah cukup lama bermain-main dengan kulit sang istri, Jiro merasa bahwa dirinya sudah tak mampu mengendalikan gairahnya lagi. Ia bangkit, melucuti sisa kain yang membalut tubuhnya dan juga tubuh Ellie. Kemudian ia kembali pada Ellie, menatap wanita yang sudah tampak tak berdaya di bawah tubuhnya.

“Kamu sangat cantik dan indah. Kemana saja aku selama ini?” tanya Jiro secara terang-terangan.

“Mungkin kamu terlalu sibuk.”

“Ya. Dan terlalu bodoh.” Jawab Jiro. Tanpa banyak bicara lagi, Jiro mulai memposisikan diri untuk menyatu dengan Ellie, pelan tapi pasti, mendesah bersama ketika penyatuan sempurna itu terjadi.

Jiro kembali menatap tubuh Ellie, dan istrinya itu benar-benar tampak indah. Sedangkan Ellie, ia merasa begitu disayangi. Tatapan mata Jiro yang menyiratkan sebuah kekaguman membuat Ellie bahagia. seingatnya, Jiro tak pernah menatapnya seperti itu. Dan Ellie tidak munafik, jika ia memang menginginkan Jiro menatapnya seperti itu.

Tubuh Jiro mulai bergerak seirama, pelan tapi pasti, perlahan dan hati-hati, mencari kenikmatan untuk dirinya, memberi kenikmatan untuk diri Ellie. Jiro tak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, tapi ia benar-benar merasa sedang bercinta seutuhnya dengan diri Ellie.

Jiro begitu menikmati permainan panasnya saat ini, berbeda dengan sebelum-sebelumnya, yang hanya akan menyatu, kemudian berharap secepat mungkin mendapatkan klimaks tanpa menghiraukan apa yang dirasakan Ellie.

Kini, Jiro merasa bahwa Ellie juga menikmatinya, wanita itu tak berhenti memejamkan matanya, mengerang, seakan menikmati setiap pergerakan yang ia berikan pada tubuh wanit tersebut. Ellie bahkan terasa erat mencengkeramnya, seakan meminta agar Jiro tak segera menghentikan permainan panas mereka.

Dengan spontan Jiro menundukkan kepalanya, menggapai bibir Ellie, kemudian mencumbunya dengan lembut. Oh, bibir yang sangat menggoda. Ellie membalasnya, hal itu membuat Jiro semakin menggila.

Ya Tuhan!  Jiro benar-benar tak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Ketika Ellie semakin rapat membungkusnya, Jiro merasakan tubuh wanita itu kaku, melengkungkan punggungnya, kemudian melenguh panjang. Jiro tahu bahw Ellie sudah sampai pada pelepasannya, dan Jiro tak menunggu lama lagi untuk menyusul istrinya itu pada puncak kenikmatan.

***

Setelah tenggelam dalam pusaran gairah, Jiro merasakan napas Ellie mulai teratur. Ia melihat wanita itu yang nyatanya sudah tertidur pulas. Jiro tersenyum. Ia tak pernah merasakan perasaan sebahagia ini sebelumnya, bahagia hanya karena sebuah percintaan panas. Jika sebelum-sebelumnya ia hanya merasakan rasa lega, maka saat ini, perasaannya sulit digambarkan.

Jiri merengkuh tubuh Ellie dalam pelukannya, sebisa mungkin ia meredam pergerakannya agar tidak membangunkan Ellie. Ellie mungkin lelah, dan Jiro akan membiarkan istrinya itu istirahat sebentar di kamar apartmennya sebelum kembali pulang.

Jemari Jiro mencari permukaan perut Ellie, mengusapnya lembut, merasakan perasaan aneh yang kembali menerpa dirinya. Jiro tak pernah berpikir akan menjadi ayah, tapi dia juga tidak menolak jika Tuhan memberinya seorang bayi secepat ini.

Mereka dulunya memang sepakat untuk menunda. Ellie benar, tak terasa semua itu sudah berjalan empat tahun lamanya, sudah saatnya mereka memiliki bayi, bahkan Jiro mengabaikan kedua orang tuanya ketika bertanya tentang mongmongan.

Kini, Jiro merasa sudah memiliki semuanya, karir yang berada di puncak, istri yang cantik jelita, dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, apalagi yang ia inginkan? Semuanya tampak sempurna. Tapi Jiro merasa ada yang salah, ia merasa harus memperbaiki semuanya agar lebih baik lagi dari sebelumnya. Sialnya, Jiro tak tahu apa yang membuatnya merasa bersalah.

Saat Jiro sedang nyaman memeluk tubuh Ellie, saat itulah ponselnya berbunyi. Jiro ingin mengabaikannya, tapi bunyinya akan mengganggu Ellie. Akhirnya Jiro memilih mengangkatnya saat tahu bahwa si penelepon adalah Troy.

“Elo dimana?”

“Di apartmen. Kenapa?”

“Buka sosmed, gila! Di sosmed lagi rame gosip tentang elo.”

Perasaan Jiro tidak enak. Akhirnya ia segera mematikan panggilan dari Troy dan mulai membuka akun sosial medianya. Jiro benar-benar terkejut ketika news feednya dipenuhi dengan foto-foto dirinya dan juga Ellie yang berada di rumah sakit tadi siang.

Sebenarnya, Jiro sudah memikirkannya. Hal ini pasti akan terjadi, tapi Jiro tidak berpikir bahwa akan secepat ini, dan beritanya akan menjadi viral seperti saat ini. Salah satu akun gosip bahkan dengan terang-terangan menyebut bahwa Jiro sedang mengantar istrinya memeriksakan kandungan. Meski sebenarnya itu benar, tapi Jiro benar-benar tidak suka digosipkan.

Ponselnya kembali berbunyi, Troy kembali meneleponnya. Mau tidak mau Jiro mengangkatnya.

“Ada apa lagi?” tanya Jiro berusaha bersikap setenang mungkin.

“Elo sudah lihat?”

“Ya.”

“Dan Cuma gini aja reaksi elo?”

“Terus, gue harus apa?” Jireo bertanya balik.

“Sial! Manager sejak tadi ngehubungin kita. Elo harus nemuin dia.”

“Ya.”

“Dan setelah itu, kita tunggu di Studio Jason.” Setelah itu telepon ditutup. Jiro mendengus sebal, ia menatap Ellie yang masih pulas dalam tidurnya.

Jiro lalu bangkit, membersihkan diri, menulis pesan singkat untuk Ellie agar Ellie tetap di apartmennya dan menunggunya kembali. Kemudian ia pergi meninggalkan wanita tersebut untuk menyelesaikan masalahnya.

***

Ellie bangun beberpa jam kemudian, sendiri. Setelah bangkit dan membersihkan diri, ia menemukan note yang ditulis oleh Jiro di atas meja tepat di bawah ponselnya. Ellie cukup lega setelah membacanya. Tadi, ia berpikir bahwa Jiro akan meninggalkannya setelah apa yang sudah mereka lalui bersama, tapi ternyata lelaki itu hanya pergi sebentar untuk mengurus urusannya.

Akhirnya, Ellie memilih menghabiskan waktunya dengan berkeliling kamar Jiro. Ini adalah kamar suaminya, sepertinya tidak masalah jika ia melihat-lihat barang apa saja yang ada di sana. Beberapa pintu lemari dalam keadaaan terkunci, yang artinya ia tidak bisa atau tidak boleh melihat apa yang ada di dalam, tapi yang lain dalam keadaan terbuka.

Tak ada barang-barang berharga di sana, hanya ada baju-baju lelaki itu, mungkin sebagian barang-barang Jiro sudah dipindahkan ke rumah mereka seperti yang dikatakan lelaki itu tadi.

Ellie lalu duduk di pinggiran ranjang, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Kemudian matanya teralih pada laci meja yang berada di sebelah ranjang. Ellie membuka-buka laci tersebut. Tak ada yang special di sana, hanya ada kertas note, pulpen, dan sekotak…. Tunggu dulu, Ellie mengambil kotak tersebut.

Itu adalah sekotak kondom yang bahkan sudah berkurang isinya. Ellie sempat tak percaya saat melihatnya. Kenapa Jiro memiliki kondom di laci kamarnya? Ia bahkan tidak pernah ke apartmen ini. Lagi pula Jiro tak pernah mengenakan kondom ketika bercinta dengannya. atau jangan-jangan…..

Ellie menggelengkan kepalanya saat pikiran buruk mulai menguasainya. Saat Ellie masih shock melihat sekotak kondom tersebut, ia mendengar bell pintu apartmen Jiro berbunyi.

Ellie mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu siapa yang datang, dan Ellie merasa ragu, apa ia harus membukakan pintu atau tidak. Tapi rasa ingin tahunya terlalu tinggi. Tadi, Ellie berpikir bahwa Jiro tak pernah membawa siapapun ke apartmennya, tapi setelah mendapati sekotak kondom tersebut di dalam laci meja suaminya, pikiran tersebut hilang.

Jiro tentu pernah membawa seseorang ke apartmennya, dan orang tersebut pasti perempuan. Ellie merasa bahwa ia harus tahu siapa perempuan itu? Siapa yang sudah tidur dengan suaminya? Dan siapa orang yang sedang datang ke apartmen Jiro saat ini? mungkinkah itu adalah orang yang sama?

Dengan cepat Ellie bangkit, keluar dan menuju ke arah pintu. Ellie ingin segera tahu siapa si pengetuk pintu. Apa itu  adalah orang yang sama dengan orang yang mungkin saja sering di ajak Jiro bermalam di apartmennya?

Dan ketika Ellie membukanya, Ellie merasa bahwa semua menjadi semakin masuk akal saat mendapati seorang wanita cantik dan seksi dengan rambut yang di cat pirang. Wanita yangakhir-akhgir ini sering digosipkan dekat dengan Jiro. Vanesha, kalau ia tidak salah ingat. Apa benar wanita ini memiliki hubungan serius dengan Jiro? Jika tidak, kenapa Vanesha tahu dimana tempat tinggal suaminya?

***

Jiro menghela napas lega setelah keluar dari ruangan managernya. Sejak tadi, semua mata menuju ke arahnya saat ia memsuki gedung managementnya. Mungkin mereka semua yang ada di sana sudah melihat gosip itu, dan seharusnya Jiro tak peduli, bukankah selama ini ia memang jarang mempedulikan orang-orang disekitarnya?

Beruntung, si Manager memang sudah mengetahui statusnya yang sudah menikah. Ya, hanya managernya dan beberapa asesten kepercayaannya. Sang Manager tak berkomentar apapun, Jiro hanya diminta untuk tenang dan menghindari awak media. Maka semua gosip itu akan kembali mereda. Meski managernya tidak menyarankan hal tersebut, Jiro tetap akan melakukan hal itu. Satu-satunya hal yang masih mengganjal pikiran Jiro adalah, bagaimana caranya ia menghadapi para personel The Batman lainnya?

Disatu sisi, Jiro ingin berkata jujur, tapi di sisi lain, ia tidak bisa melakukannya. Jiro tidak ingin mempublikasikan tentang Ellie, setidaknya, bukan sekarang. Lagipula, mereka harusnya disibukkan dengan konser yang semakin dekat, bukan dengan hubungan rumah tangganya bersama dengan Ellie.

Jiro menghela napas panjang saat ia akan memasuki studio tempatnya latihan. Setelah ia membuka pintunya, semua yang ada di sana menghentikan aksinya dan menatap ke arahnya.

Tanpa merasa bersalah sedikitpun, Jiro melangkah masuk, kemudian duduk dengan santai di sofa yang tesedia. Jason, Ken dan Troy akhirnya mendekat, sedangkan Jiro berusaha agar dirinya tak terpengaruh dengan tatapan mata teman-temannya tersebut.

“Ada apa?” tanya Jiro tanpa ekspresi sembari membuka sekaleng bir yang ada di hadapannya.

“Jadi, apa bener tentang gosip bahwa elo punya istri?” Troy yang mulai membuka suara. Bahkan tanpa basa-basi lagi temannya itu bertanya tentang statusnya. Sialan!

“Enggak.” Jiro menjawab setelah menenggak minumannya. Entahlah, jawabannya tersebut hanya spontanitas. Ia hanya belum ingin mempublikasikan sosok Ellie di depan umum, bahkan didepan teman-temannya sekaligus.

“Elo yakin? Terus siapa perempuan yang ada di salah satu akun gosip itu?” Jason menuntut. Jason dan yang lain tahu bahwa ini adalah urusan pribadi Jiro. Jiro sangat misterius dengan masalah pribadinya, bahkan hampir tak pernah membahas masalah pribadinya. Kini, Jason dan teman-temannya hanya ingin tahu kebenarannya. Jika benar, bukan masalah. Mereka hanya ingin membantu Jiro menghadapi media.

“Adek gue.” Jiro masih menjawab dengan enggan,

Troy mendekat seketika. “Boleh kenalin? Gue sudah lihat foto-fotonya, bahkan ada videonya yang di posting di salah satu akun gosip.  Gue rasa, gue tertarik, kebetulan gue nggak pernah deket sama cewek bule berambut kuning kemerahan.”

Tanpa diduga, secepat kilat Jiro mencengkeram kerah baju yang dikenakan Troy. “Jangan coba-coba.” Ucap Jiro penuh penekanan.

“Elo kenapa si? Emang salah kalau kita pengen kenal sama adek elo?” Troy tersinggung. Padahal belum tentu wanita itu menolaknya, kenapa Jiro sibuk dengan egonya sendiri?

“Salah, sangat salah!” nada bicara Jiro masih penuh emosi. Kemudian Jiro melepas cengkerangannya, ia bangkit dan bersiap pergi meninggalkan studio latihannya. Tapi sebelum itu, ia berpesan pada semua yang ada di dalam ruangan tersebut, terutama pada Troy. “Jangan pernah mencari tahu tentang dia. Mata Jiro menatap tajam ke arah Troy. Jiro benar-benar tidak suka ketertarikan yang amat jelas terlihat di wajah temannya yang brengsek itu. “Dia sudah bersuami!” lanjutnya sebelum pergi membanting keras pintu studio Jason.

Sial! Jiro bingung dengan apa yang ia rasakan. Disatu sisi, ia ingin mengklaim diri Ellie dihadapan umum, tapi disisi lain, ia tidak bisa membuka rahasianya begitu saja apalagi saat egonya masih terlalu tinggi untuk menuruti ambisinya. Padahal Jiro tahu, bahwa tak ada salahnya memberi tahu Jason, Ken dan Troy. Mereka tak akan membocorkan rahasianya. Tapi tetap saja, rasanya Jiro sulit memberi tahu mereka begitu saja.

Sedangkan Jason, Ken dan Troy, saling pandang satu sama lain, bingung dengan sikap Jiro yang tak seperti biasanya.

“Dia kenapa sih? Ada yang salah sama ucapan gue? Gue kan tertarik sama adeknya.” Troy membuka suara.

“Troy, belum tentu juga itu adek Jiro. Kalau dia sampai semarah itu, pasti hubungan mereka bukan kakak-adik.” Jason menjawab.

“Bisa jadi mereka memang kakak-adik. Jiro marah karena dia tidak mau adeknya ditaksir oleh Troy.” Ken yang berbicara.

“Sialan lo Ken. Memangnya apa salahnya gue taksir?” Troy mendengus sebal. “Siapapun itu, cewek itu cantik banget. Sumpah. Gue beneran tertarik sama dia.” ucap Troy yang seketika itu juga membuat Ken dan Jason saling pandang kemudian menggelengka kepalanya. Astaga, Troy benar-benar laki-laki hidung belang!

***

Msih dengan kesal, Jiro memilih untuk segera pulang. Ia ingin segera bertemu dengan Ellie.mengingat bahwa Ellie kini mungkin dikenali oleh publik membuat Jiro khawatir dengan istrinya tersebut.

Kurang dari setengah jam kemudian, Jiro sudah sampai pada apartmennya. Dan ketika ia memasuki apartmennya. Ia terkejut mendapati tamu tak diundang berada di sana.

Itu Vanesha. Kenapa wanita itu kemari?

Jiro melihat Ellie yang tampak sedang menyuguhkan sesuatu untuk Vanesha. Astaga, apa yang sudah terjadi? Apa yang dikatakan Vanesha pada Ellie? Apa Ellie mengaku tentang hubungan rumah tangga mereka?

Dengan sedikit panik Jiro masuk kemudian dia bertanya. “Apa yang kamu lakukan di sini?” bahkan suara Jiro terdengar begitu tajam. Ia tidak ingin Vanesha berada di sana, diantara dirinya dan juga Ellie. Mereka tak memiliki hubungan apapun, jadi Jiro tidak ingin  Vanesha mengatakan hal yang tidak-tidak pada Ellie.

“Jiro, kamu..” Vanesha berdiri seketika.

“Ya. Aku. Kenapa kamu bisa berada di sini?” tanya Jiro sekali lagi. Sesekali matanya melirik ke arah Ellie. Wajah wanita itu sudah sendu. Apa yang sudah dikatakan Vanesha pada istrinya itu?

“Mungkin kamu lupa sudah janjian sama dia.” Ellie membuka suaranya. Ellie bahkan segera meninggalkan Vanesha dan juga Jiro untuk masuk ke dalam kamar Jiro.

Tanpa menghiraukan keberadaan Vanesha, Jiro menyusul Ellie. Mengunci diri mereka di dalam kamar. Ada yang harus mereka bahas. Sikap Ellie yang ketus menandakan bahwa ada yang terjadi saat ia meninggalkan wanita itu. Dan jiro ingin menyelesaikannya.

“Apa yang sudah dia katakan sama kamu?” tanya Jiro secara terang-terangan setelah mengunci pintu kamarnya.

“Tidak ada.” Ellie berkata jujur. Memang mereka belum sempat bercakap-cakap. Ellie hanya mempersilahkan wanita itu masuk, lalu membuatkan minuman, pada saat itu, Jiro sudah datang. Meski begitu hal tersebut tidak mengurangi kecurigaan Ellie tentang siapa dan apa sebenarnya hubungan antara Jiro dengan wanita tersebut.

“Lalu kenapa kamu bersikap ketus begini?”

“Kenapa?” Ellie bertanya balik. “Suamiku suka membawa perempuan lain ke apartmennya! Apa aku tidak boleh marah?”

“Kamu tidak memiliki bukti saat menuduhku seperti itu, Ellie.”

“Bukti? Dia bahkan mengetahui dimana tempat tinggal sialanmu ini! dan ini!” Ellie melempar sekotak kondom yang ia temukan tepat pada dada Jiro. “Kamu perlu bukti lain lagi?” tantangnya.

“Ini bukan milikku.” Jiro mengamati kondom-kondom yang berserahkan di lantai.

“Oh tentu saja. Ini adalah milik si penjaga gedung apartmen yang mampir untuk menyewa kamarmu!” Sindir Ellie. “Aku tidak sebodoh itu, James. Aku tidak sebodoh itu!”

Jiro mendekat, dan Ellie mundur. “Ellie tolong, kita bisa membahas ini dengan baik-baik.”

“Tidak!” Ellie berseru keras. “ini tidak akan berhasil jika kamu tidak jujur, James.”

“Aku jujur, Ellie! Barang sialan ini bukan milikku, dan aku tidak tahu bahwa Vanesha mengetahui tempat tinggalku.”

Ellie mengangkat kedua tangannya, seraya mengatakan bahwa sudah cukup. Jawaban Jiro tak masuk akal. Jadi ia tidak ingin memperpanjang lagi cek cok mereka. Lagi pula, memang keadaannya seperti itu, Jiro memang selalu dikelilingi wanita-wanita cantik, lelaki masih lajang di depan publik, jadi sangat tidak masuk akal bahwa Jiro tak pernah mengajak salah satunya menginap di apartmennya. Yang Ellie inginkan hanyanya agar Jiro berkata jujur padanya, meski kejujuran itu bagaikan pil pahit untuknya.

“Ellie, tolong.” Jiro memohon. Tak pernah ia memohon sebelumnya jika bukan dengan Ellie

“Aku pulang.”

Jiro menghela napas panjang. “Oke, kita akan pulang.”

“Tidak. Aku pulang sendiri.”

“Ellie, aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendiri.”

“Kenapa tidak? Bukannya selama ini kamu mengabaikan keberadaanku? Maka anggap saja seperti itu.”

Ellie kembali lagi mengungkit sikap buruk Jiro, dan ketika Ellie sudah mengungkitnya, maka yang bisa Jiro lakukan hanya mengalah. Ya, ia memang selalu salah.

“Ellie, kamu hamil. Setidaknya, biarkan aku menghubungi Mei untuk menjemputmu.”

“Terserah.” Jawaban kasar Ellie membuat Jiro tahu bahwa istrinya itu benar-benar sedang marah terhadapnya. Jiro tahu, ada banyak hal yang harus ia jelaskan pada Ellie, tapi emosi Ellie yang meledak seperti sekarang ini membuat Jiro tak berkesempatan untuk menjelaskannya. Bahkan jika Jiro sudah menjelaskannya, Jiro tak yakin Ellie mau menerima penjelasannya. Satu-satunya hal yang masuk akal adalah membiarkan Ellie sampai emosi wanita itu mereda, kemudian menjelaskan semuanya pada istrinya tersebut.

Ya, Jiro merasa tak bersalah karena hal ini, jadi ia pasti bisa menjelaskan semuanya tanpa menimbulkan masalah baru lainnya.

-TBC-