My Beautiful Mistress – Bab 2

Comment 1 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 2

 

“Aku benar-benar tidak menyangka jika kamu akan seberani itu dengan Jiro.” Ucap Mei ketika keduanya saat ini sudah berada di dalam sebuah supermarket untuk berbelanja kebutuhan mingguan Ellie.

“Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan sikapku?”

Mei tersenyum lembut. “Enggak, tapi, Jiro pasti sangat terkejut saat mendapati istrinya sekarang menjadi sedikit membangkang.”

Ellie berpikir sebentar. “Membangkang? Seperti tidak menurut?” tanya Ellie. Ia memang kadang masih suka lupa dengan bahasa indonesia.

“Ya. Seperti itu.”

Ellie menghela napas panjang. “Dulu aku tidak memiliki apapun untuk kuperjuangkan. Sekarang aku memiliki dia.” ucapnya sembari mengusap perutnya yang sudah mulai memiliki gundukan mungil.

“Jadi, apa rencanamu?”

“Aku akan membuat dia mengerti, bahwa dia tidak bisa seenaknya seperti dulu. James memang Artis, dia memang Bassis ternama di negeri ini. tapi di mataku, dia hanya lelaki biasa, dan dia adalah suamiku. Jadi aku akan berusaha merebut perhatiannya.”

“Bagus sekali, Ellie. Apa kamu tahu, dia benar-benar cengo saat kamu melawannya tadi pagi. Astaga, mukanya lucu sekali.” Mei tertawa lebar saat mengingat bagaimana wajah terkejut Jiro saat Ellie menyebut Jiro adalah salah satu orang yang paling buruk yang pernah wanita itu kenal.

Ellie ikut tertawa lebar, tapi kemudian ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari bertanya “Ngomong-ngomong, Cengo itu apa?”

Seketika itu juga, tawa Mei lenyap. Ia memutar bola matanya dengan kesal ke arah Ellie. Ya, bukan salah wanita itu, tapi terkadang, Mei merasa jengkel jika harus menjelaskan setiap kata yang tidak dimengerti oleh wanita itu.

***

Jiro bermain-main dengan gitar milik Ken. Selain memainkan Bass, Jiro memang pandai bermain gitar. Ketika dirinya sedang santai seperti ini, Jiro memilih memainkan gitar dengan sesekali bersenandung sendiri.

Hari ini, mereka tak ada latihan, Jason sedang sibuk dengan masalahnya sendiri, dan itu benar-benar membuat Jiro kesal. Sebentar lagi mereka akan tampil di sebuah konser yang akan di siarkan secara langsung di beberapa TV nasional. Jiro hanya tak ingin mereka melakukan sebuah kesalahan pada acara Live tersebut.

Meski begitu, Jiro menahan diri agar tidak terlalu memaksa Jason. Bagaimanapun juga, ia juga pernah merasakan apa yang di rasakan Jason. Ketika Jiro tak berada pada mood yang baik, ia juga tak dapat memainkan alat musik apapun. Dan sepertinya, hal itu pulalah yang terjadi dengan Jason.

“Woi, ngelamun aja lo.” Troy datang. Sendiri. sedangkan Ken tak ikut dengan temannya itu.

“Elo sendirian?”

“Ya. Kenapa? Kita kan lagi nggak ada jadwal latihan.”

Jiro hanya mengangguk. “Ken mana?” tanya Jiro kemudian.

“Nggak tau, mungkin lagi jalan sama ceweknya. Gue telpon dia dari pagi nggak diangkat.”

Troy menuju ke arah lemari pendingin yang berada di ujung studio musik tempat mereka latihan. Ia mengambil sekaleng minuman dingin dan kembali menuju ke arah Jiro.

“Elo sendiri ngapain di sini sendirian? Ngelamunin apa lo? Vanesha?” tanya Troy yang kini sudah duduk tepat di sebelah Jiro.

“Elo apaan sih.”

Well, gue sudah baca gosip tentang elo sejak kemaren. Gue pengen tanya tapi, gue tau kalau elo nggak pernah mau bahas masalah pribadi elo dengan kita-kita.”

“Kalau gitu, sekarang ngapain elo bahas masalah ini sama gue. Gue nggak akan mau cerita.”

“Ayolah. Gue bukan wartawan. Dan astaga, asal elo tahu, Vanesha pernah gue tidurin.”

Jiro menatap Troy seketika. “Berengsek lo.” Umpatnya.

Sebenarnya, Troy merasa tak memiliki hubungan apapun dengan Vanesha. Vanesha adalah seorang model. Mereka memang pernah beberapakali bertemu karena pekerjaan, kemudian keluar bersama beberapa kali. Jiro pernah mencium Vanesha saat mabuk, dan sialnya, The Danger (sekumpulan wanita gila yang mengaku fans fanatik mereka) mengetahui hal itu dan memotretnya. Memberi peringatan pada Jiro. Tapi Jiro tentu tak mengindahkannya. Kemudian, foto itu tersebar. Itulah awal mula gosip tentang dirinya dan Vanesha merebak.

Gosip tersebut semakin panas ketika sekitar tiga atau empat hari yang lalu, Jiro kembali kepergok keluar dari gedung apartmen Vanesha pagi-pagi buta. Jiro menghela napas panjang, ia benar-benar menyesali perbuatannya.

Apa karena itu Ellie bersikap berbeda kepadanya? Apa Ellie mengetahui tentang berita itu? Sejauh yang Jiro tahu, Ellie lebih suka menonton acara-acara luar atau memutar DVD. Tapi, mengingat sikap wanita itu yang tak biasa membuat Jiro khawatir. Jangan-jangan, Ellie benar-benar telah mengetahui gosip tentang skandalnya dengan Vanesha.

Mengingat itu, Jiro berdiri seketika. Ia ingin memastikan tentang hal itu. Apa benar, Ellie sudah mengetahui tentang semuanya?

Tanpa banyak bicara, Jiro melesat keluar. Hal itu benar-benar membuat Troy heran. Sambil menggelengkan kepalanya, dia bertanya pada dirinya sendiri. “Gue salah ya, karena sudah jujur tentang cinta semalam gue sama Vanesha?”

***

Waktu sudah menunjukkan pukul Empat sore. Tapi Jakarta hari ini benar-benar panas. Yang membuat kesal Ellie adalah, selain tadi sempat terjebak macet, kini mobil Mei tiba-tiba mogok di jalan, hal itu benar-benar membuat mood Ellie memburuk.

“Aku sudah menelepon Marvin. Dia akan jemput kamu.”

Ellie mengerutkan keningnya. “Marvin? Kenapa harus dia?” Ellie merasa tidak nyaman.

Marvin adalah adik sepupu Mei. Mereka memang pernah beberapa kali bertemu. Yang membuat Ellie tak nyaman adalah karena Marvin pernah secara terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Ellie. Ya, lelaki yang sebaya dengannya itu memiliki perasaan lebih padanya.

“Karena hanya dia orang yang kukenal dan bisa menjemputmu kapanpun.”

“Nggak perlu.” Ellie menjawab cepat. “Aku akan menunggu di sini denganmu.”

“Ayolah Ellie. Aku tahu kamu kepanasan. Dan menunggu mobil derek akan lama. Lagian, Marvin nggak jauh dari sini. Jadi sebentar lagi dia sampai.”

Ellie menghela napas panjang. Apapun itu, ia akan menerimanya. Ya, bukankah memang Mei yang selalu menjadi bossnya?

Tak lama, orang yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Lelaki tampan itu keluar dari dalam mobilnya dengan senyuman khasnya. Siapapun akan terpada dengan lelaki itu, tapi tidak dengan Ellie.

Bagi Ellie, lelaki yang paling tampan adalah suaminya, James Drew Robberth. Tak akan ada yang mampu membuatnya terpesona selain lelaki itu.

“Hai, aku senang dihubungi.” Marvin berbasa-basi.

“Nggak perlu berbasa-basi. Sekarang, angkut saja belanjaan kami, dan antar Ellie pulang.”

Dengan tawa lebar, Marvin menuju ke arah bagasi. “Oke, kebetulan aku sedang ingin minum kopi. Kuharap aku mendapatkan secangkir kopi di sana nanti.”

Ellie mendengus sebal. Ia tahu, bahwa tak akan mudah mengusir Marvin nantinya. Tapi, ya sudahlah. Toh ia sudah menolak lelaki itu secara terang-terangan. Marvin pasti tak akan berbuat macam-macam apalagi mengingat ada dua pengawal yang selalu berjaga di rumahnya.

***

“Oke, ini yang terakhir.” Ucap Marvin setelah menaruh bingkisan terakhir di meja dapur Ellie. Ellie sendiri sedang sibuk membuatkan kopi untuk lelaki itu. Meski sedikit tak nyaman tapi sangat tidak pantas kalau ia mengusir Marvin tanpa memberinya minum terlebih dahulu.

Ellie menyuguhkan kopi untuk Marvin. “Minumlah.” Ucapnya sembari bergegas membuka-buka barang belanjaannya.

“Kalian habis ngerampok supermarket, ya?” tanya Marvin dengan nada bercanda. Lelaki itu memang memiliki selera humor tinggi. Tentu sangat berbeda dengan Jiro, suaminya.

“Ya, selain supermarket, kami juga merampok toko perlengkapan rumah tangga.” Ucap Ellie sembari menunjukkan beberapa pisau dapur yang baru saja ia beli.

Marvin tertawa lebar. “Hahaha, lucu sekali.” Marvin menyesap kopi buatan Ellie. “Kopimu memang selalu yang terbaik.”

“Tentu saja. Karena kamu meminumnya gratis.” Ellie menjawab lagi-lagi dengan nada ketus.

Marvin tersenyum. Ia senang melihat sikap Ellie yang seperti ini. setidaknya, Ellie tidak dapat menyembunyikan rona merah di pipi wanita itu. Marvin lalu berdiri dan mendekat ke arah Ellie. “Ngomong-ngomong, aku suka dengan sikapmu yang sekarang.” Ucap Marvin dengan parau.

Ellie mengangkat wajahnya seketika menatap ke arah Marvin. “Apa maksudmu?”

Jemari Marvin terulur, mengusap lembut rona merah di pipi Ellie. Ellie ingin sekali menghindar, tapi ia tidak mau sikapnya yang menghindar membuat Marvin berpikir bahwa kehadiran lelaki itu berpengaruh terhadapnya.

“Keketusanmu, sangat kontras dengan rona merah di pipimu.” Bisiknya dengan nada parau. “Akui saja, kamu gugup berada di dekatku, sejak aku menyatakan perasaanku beberapa bulan yang lalu, kan?”

Ellie sangat kesal dengan sikap lelaki di hadapannya ini. Hampir saja ia membuka suara, sebelum suara keras yang lain datang menambah ketegangan diantara mereka.

“Singkirkan tangan sialanmu dari wajah istriku!”

Ellie dan Marvin menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut. Tampak Jiro berdiri menjulang di dekat meja makan dengan mata penuh dengan kemarahan.

“James. Kenapa kamu di sini?” tanya Ellie tak percaya.

Biasanya, setelah mendapatkan ‘jatahnya’, Jiro akan pergi, dan paling cepat akan mengunjungi Ellie Tiga hari setelahnya. Bahkan kemaren, lelaki itu tidak mengunjunginya sama sekali selama Tiga minggu terakhir. Lalu untuk apa lelaki itu datang kemari padahal baru tadi pagi dia keluar dari rumah ini?

“Kenapa aku di sini? Ini rumahku! Seharusnya pertanyaan itu kamu lemparkan pada dia.” Jiro menunjuk Marvin dengan marah.

Marvin mundur menjauh dan mengangkat kedua belah telapak tangannya. Well, sebelumnya, Marvin memang sudah mengetahui tentang Ellisabeth Williams yang merupakan istri dari seorang Bassis terkenal yang bernama Jiro The Batman. Tapi hal itu tak serta merta membuat Marvin mengundurkan diri atau memupus ketertarikannya dengan sosok Ellie. Kecantikan Ellie bahkan mampu membutakan mata Marvin bahwa wanita itu sudah menjadi istri orang. Yang membuat Marvin tak mengerti adalah, kenapa Jiro menyembunyikan istri secantik ini dari publik? Apa pria itu gila?

“Aku disini karena diminta.” Marvin menjawab dengan tenang.

“Diminta?” Jiro mendekat ke arah mereka berdua. Tatapan mata Jiro menajam ke arah Ellie. Jika dulu Ellie akan takut, maka tidak sekarang. “Kenapa kamu memintanya kemari?”

Ellie berusaha mengendalikan dirinya, bahkan ia bersikap seolah-olah tak mempedulikan kemarahan yang tampak jelas terlihat di wajah suaminya.

“Kamu nggak lihat semua ini, James?” ucap Ellie sembari menunjukkan barang-barang belanjaannya. “Mobil Mei mogok, dan Mei memintanya untuk menjemputku dan mengantarku pulang.” Ellie menjelaskan dengan nada malas.

“Kenapa harus dia?!” tanya Jiro lagi dengan nada yang masih meninggi.

“Kenapa harus dia?” Ellie mengulang lagi pertanyaan Jiro. “Karena suamiku lebih sibuk dengan karir sialannya dibandingkan denganku. Apa kau puas?” Ellie menjawab dengan marah.

Marvin yang berada di sana merasa sedang terjebak diantara dua gunung berapi yang sedang memuntahkan lava.

“Karirku tidak sialan, Ellie!”

“Ya, mungkin tidak. Tapi perempuan-perempuan itu yang membuatnya menjadi sialan dimataku.”

Pada detik itu, Jiro tahu bahwa Ellie ternyata mendengar gosip murahan tentang dirinya dan juga Vanesha. “Jadi kamu cemburu karena gosip-gosip itu?”

“Tidak. Cemburu adalah hal yang sangat kekanakan.”

“Jadi menurutmu aku kekanakan?” dengan spontan Jiro bertanya.

“Jika kamu merasa sedang cemburu, maka ya, kamu kekanakan.” Ellie menjawab dengan santai.

“Aku tidak kekanakan, aku cemburu karena istriku disentuh oleh lelaki lain! Apa itu salah?”

“Oh yang benar saja. Dia hanya menyentuh pipiku, sedangkan kamu. Kamu berciuman dengan perempuan itu!” Ellie berseru keras tak dapat menahan emosinya ketika mengingat gosip yang ia dengar sejak dua hari belakangan. Sungguh, Ellie sangat marah, apalagi kabar tentang Jiro yang keluar dari apartmen wanita itu pagi-pagi buta dan tertangkap oleh kamera wartawan. Untuk apa Jiro berada di sana?

Kali ini, Jiro mengerti kemarahan Ellie bersumber dari mana. Meski begitu, Jiro tahu bahwa hal itu tak membenarkan apa yang dilakukan Ellie tadi. Berduaan dengan lelaki lain di rumah mereka.

Jiro menatap Marvin dengan tatapan membunuhnya. “Gue pikir, mending elo keluar. Gue mau bahas sesuatu dengan istri gue, hanya berdua.” Ucap Jiro dengan penuh penekanan terhadap Marvin.

“Kenapa kamu mengusirnya?” Ellie bertanya.

“Aku ingin membahas sesuatu denganmu.”

“Tak ada yang perlu dibahas.” Ellie mengibaskan telapak tangannya seakan tak ingin mendengar apapun penjelasan dari suaminya.

Mata Jiro kembali menatap tajam ke arah Marvin, dan lelaki itu akhirnya mengalah. Ia megerti bahwa ini bukan saat yang baik untuk melanjutkan rencananya menggoda Ellie.

“Oke, aku pergi dulu. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, kamu bisa menghubungiku.” Ucap Marvin pada Ellie.

“Dia tidak akan membutuhkan apapun!” Jiro berseru dengan penuh penekanan.

Sungguh, Jiro tak suka dengan lelaki itu. Caranya menatap Ellie membuat Jiro marah. Dan reaksi yang ditampilkan istrinya itu membuat Jiro tak dapat menahan segala emosinya. Ellie hanya miliknya, dan Jiro tak akan membiarkan siapapun mendekati atau menyentuh tubuh istrinya tersebut.

-TBC-

Special Pict mereka berdua nihhh aku editin special buat kalian, hahhahaha

Advertisements

My Beautiful Mistress – Bab 1

Comments 2 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 1

 

Ellie bangung ketika jam weker di nakas berbunyi nyaring. Ia meraih jam tersebut lalu mematikannya. Sesekali ia mengucek matanya kemudian ia segera bangkit menuju ke arah kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, Ellie sudah membayangkan apa yang akan ia lakukan hari ini. mungkin berbelanja keperluan dapurnya yang sudah habis, lalu memasak makanan enak.

Sejak menyadari tentang kehamilannya, Ellie memang selalu merasa lapar. Dan beruntung karena ia tidak merasakan mual muntah seperti kebanyakan wanita hamil pada umumnya.

Keluar dari dalam kamar mandi, Ellie menuju ke arah ruang ganti. Di sana terdapat lemari-lemari besar yang menyatu dengan dinding. Meja untuk make up, serta rak-rak tempat untuk menata barang-barangnya seperti tas atau sepatu. Setiap kali memasuki ruangan tersebut, Ellie selalu membatu. Ruangan sebesar itu sangat tak cocok jika ditempati oleh pakaiannya dan juga barang-barangnya sendiri. Ellie tentu bukan orang yang hobby menghabiskan uang hanya untuk Fashion, dia lebih sederhana dari itu. Pakaiannya yang berada di sana mungkin hanya celana jeans, kemeja, t-shirt dan baju santai lainnya. Mungkin nanti akan bertama dengan beberapa baju hamil. Tapi tetap saja, Ellie merasa bahwa ada yang kurang di sana.

Tentu, itu adalah pakaian Jiro.

Meski rumah ini dibangun untuk mereka berdua, nyatanya, sangat sedikit sekali barang-barang Jiro yang berada di rumah ini. tentu karena lelaki itu hampir tak pernah pulang, kecuali meminta ‘jatah’ padanya.

Ellie mendesah panjang mengingat kenyataan tersebut.

Kaki mungilnya melangkah menuju ke salah satu lemari. Jemarinya terulur membuka dan memilih pakaian yang ingin ia kenakan hari ini. Kemudian, ingatannya kembali pada waktu empat tahun yang lalu, saat ia masih tinggal di inggris, bersama dengan orang tuanya, kemudian dinikahkan dengan seseorang yang tidak ia kenal. Seorang lelaki tampan bernama James Drew Robberth.

Pernikahan mereka saat itu sebenarnya hanya karena perjodohan dimasa lalu. Ellie yang memang seorang gadis polos dan menurut dengan orang tuanya akhirnya menerima dengan senang hati perjodohan tersebut. Tapi Ellie tidak mengerti, kenapa Jiro menerimanya saat itu, jika pada akhirnya, ia akan dicampakan di negeri ini.

Setelah menikah, Ellie lantas diboyong ke Indonesia. Ellie ingat dengan jelas bagaimana tahun pertama ia lewati di negeri ini. Sangat berat. Ia tidak mengerti bahasanya, makanyannya tidak sesuai, cuacanya, dan banyak lagi. Intinya, Ellie dipaksa untuk beradaptasi dengan cepat, dan sendirian.

Ya, karena saat itu, Jiro berkata jika lelaki itu ingin mengejar mimpinya, jadi sementara Ellie harus tinggal di rumah ini sendirian, hanya dengan seorang pengurus yang bahkan tak seberapa mahir berbahasa inggris.

Pada saat Jiro mengatakan Sementara, Ellie berpikir jika itu hanya beberapa bulan kedepan. Nyatanya, lelaki itu menyembunyikan dirinya hingga kini, sudah empat tahun lamanya.

Ellie mendesah panjang. Mungkin jika dulu ia tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan Jiro, maka berbeda dengan saat ini. Ellie merasa bahwa dirinya hanya diperlakukan sebagai seorang simpanan. Yang akan dikunjungi saat dibutuhkan dan akan dicampakan saat sudah bosan.

Karir Jiro yang menanjak pesat bersama dengan The Batman beberapa bulan terakhir membuat lelaki itu seakan melupakan keberadaannya. Jiro sekarang hampir tak pernah pulang, kadang sebulan dua kali, sekali, bahkan kadang tak pulang sama sekali. Dan ketika lelaki itu pulang, lelaki itu hanya melakukan apa yang dia inginkan kemudian pergi setelah mendapatkan semuanya.

Ellie benar-benar merasa bahwa ia menjadi sipanan Jiro. Belum lagi kenyataan bahwa setiap hari Ellie harus melihat suaminya itu dikerubungi oleh para fans perempuannya, gosip-gosip tentang Jiro yang main ke kelab malampun membuat Ellie semakin kesal.

Kenapa ia tak dipulangkan saja?

Berkali-kali Ellie menanyakan kalimat itu, tapi nyatanya, Jiro menolak dengan tegas.

Saat Ellie mengenakan pakaian sederhananya, ia menghirup aroma sesuatu. Seperti sebuah masakan. Ellie tersenyum dan mengusap perutnya saat merasa perutnya sudah keroncongan. Itu pasti Mei, orang yang dipekerjakan Jiro untuk mengurus semua tentangnya.

Dari Mei lah, Ellie belajar tentang negeri ini, tentang bahasanya, budayanya, dan banyak lagi yang seharusnya ia dapatkan dari Jiro, tapi Mei lah yang malah mengenalkan semuanya padanya.

Mengabaikan rambutnya yang masih setengah basah, Ellie akhirnya melangkah keluar dari ruang ganti dan segera menuju ke arah dapur. Setidaknya, Ellie bersyukur mengenal Mei. Ia berterimakasih karena ada Mei yang selama ini membuatnya tak terlalu merasa kesepian. Perempuan itu mungkin usianya lima tahun lebih tua ketimbang dirinya yang kini masih berusia 27 tahun. Mei selalu memposisikan diri sebagai kakak yang baik, teman yang bisa diajak bercerita, orang tua yang perhatian, serta banyak lagi.

Dengan semangat, Ellie melangkahkan kakinya. Perutnya sudah keroncongan, mungkin bayinya sedang memprotes untuk segera dikenyangkan. Ia sudah membayangkan mungkin pagi ini Mei memasak Nasi goreng dengan dikombinasikan dengan Bacon panggan, atau mungkin yang lainnya. Tapi ketika Ellie sampai di area dapur rumahnya, kaki telanjangnya terhenti seketika saat melihat siapa yang ada di sana.

Tubuh tinggi kekar Jiro tampak menjulang memenuhi dapur tersebut. Lelaki itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendeknya. Rambut sebahunya tampak diikat sembarangan. Meski begitu Jiro tampak begitu tampan, dan astaga, lelaki itu mampu membuat jantung Ellie berdebar tak menentu.

Entah, ini sudah yang keberapa kalinya Ellie merasakan perasaan seperti saat ini. Jiro sering kali mengaduk-aduk perasaannya, tapi Ellie tentu tak ingin menunjukkan hal tersebut pada Jiro.

Dengan sedikit ragu, kaki Ellie melangkah mendekat. Ia bertanya “James? Apa yang kamu lakukan di sini?” Ellie memang selalu memanggil Jiro dengan nama asli lelaki itu. Karena sejak awal pertemuan mereka, Jiro memang mengenalkan diri sebagai James Drew Robbert, bukan Jiro seorang Bassis terkenal.

Jiro menolehkan kepalanya ke arah Ellie, dan demi Tuhan! Lelaki itu sangat tampan.

“Aku sedang bermain dengan Pan. Tentu saja aku sedang masak.”

Oh, apakah lelaki ini baru saja melempar lelucon padanya? “Maksudku, bukannya seharusnya kamu pulang semalam?”

“Ini rumahku. Aku sudah pulang.”

Well, kupikir kamu lupa jalan pulang.” Sindir Ellie sembari menyandarkan tubuhnya pada bar dapur.

“Jangan memancingku, Ellie. Lebih baik kamu duduk, aku akan membuatkanmu sarapan.”

“Aku lebih suka Mei yang membuatkannya.” Jawab Ellie cepat.

Jiro menghentikan pergerakannya seketika. “Sepertinya baru tiga minggu aku tidak pulang. Dan kamu sudah berubah, dari wanita yang lemah lembut menjadi wanita yang suka membantah.”

“Dan sepertinya, baru tiga minggu Suamiku tak pulang. Sekarang dia pulang dan berubah, dari pria acuh tak berperasaan, menjadi pria cerewet yang tiba-tiba masak di pagi hari.”

“Cukup, Ellie. Kalau kamu memancingku untuk bertengkar denganmu, maaf, aku tidak berminat.” Jiro membalikkan tubuhnya, memunggungi Ellie dan melanjutkan aktifitasnya memasak. Sedangkan Ellie memilih pergi dari sana.

Meski dalam hati Ellie ingin berada lama-lama di sana dan melihat bagaimana tampannya sang Suami pagi itu, nyatanya Ellie ingin mengabaikannya. Ia tidak ingin terlalu terpesona dengan suaminya kemudian berakhir dengan sakit hati sendiri.

Bell pintu rumahnya berbunyi, kemungkinan itu adalah Mei. Ellie akhirnya memilih menuju ke arah pintu rumahnya kemudian membukanya. Sosok Mei segera menghambur memeluknya. Meski status wanita itu hanya pekerja di sana, tapi Ellie merasa bahwa Mei sudah seperti keuarganya senidri, begitupun sebaliknya. Bahkan hingga kini, yang mengetahui tentang kehamilannya hanya Mei, Ellie bahkan belum memikirkan untuk memberitahu yang lainnya.

“Maaf, aku terlambat. Aku harus menunggu mini market depan rumahku buka dulu, untuk membelikanmu susu hamil.”

Ellie segera membungkam bibir Mei hingga membuat Mei bingung dengan apa yang dilakukan wanita di hadapannya tersebut. Ellie mendorong Mei keluar kemudian dia berkata “James, ada di dalam.” Ucapnya pelan.

“Jiro? Ngapain dia di sini? Tumben banget.”

“Aku tidak tahu. Dia tidur di sini tadi malam.”

Mei memutar bola matanya kesal. “Dia sedang minta jatah, tapi tumben dia menginap.” Lalu Mei menatap ke arah Ellie dengan mata menuntut “Kamu sudah bilang tentang keadaanmu padanya, kan?”

Ellie menghela napas panjang “Belum.” Jawabnya lemah.

“Astaga Ellie. Dia harus tahu.”

“Aku takut James marah.” Jawabnya dengan polos.

“Marah? Marah kenapa?” suara berat itu benar-benar membuat terkejut keduanya. Ellie membalikkan tubuhnya dan mendapati Jiro yang ternyata sudah berdiri menjulang di belakangnya.

Bicara tentang postur tubuh, Jiro memang sangat tinggi. Jika dibandingkan dengan Ellie, tinggi Ellie hanya sebahu lelaki itu. Ellie memang memiliki postur tubuh mungil, tapi bagi Jiro, tubuh Ellie sudah sangat cukup untuk memuaskannya.

“Kamu, sejak kapan kamu di sana?” tanya Ellie dengan panik.

“Ada yang kalian sembunyikan dariku?” Jiro berbalik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Ellie sebelumnya.

“Tidak.” Ellie menjawab cepat. “Ayo masuk.” Ellie mengajak Mei masuk dan mencoba mengabaikan keberadaan Jiro di sana.

Jiro hanya menatap keduanya dengan tatapan anehnya. Sebelah alisnya terangkat saat mencurigai jika mungkin saja ada yang disembunyikan Ellie dan juga Mei darinya. Mengabaikan itu semua, Jiro mengikuti dua wanita itu masuk.

***

Sarapan dalam diam. Hanya terdengar bunyi sendok dan piring saling beradu di atas meja makan. Sesekali, mata Jiro mengamati wanita di hadapannya.

Ellisabeth Williams, wanita yang ia nikahi sejak hampir empat tahun yang lalu. Dalam kurun waktu itu, tentu banyak yang berbeda dengan wanita ini. Jika dulu Ellie adalah seorang yang pendiam, bahkan penurut, maka kini Ellie sedikit berbeda. Seperti tadi pagi, wanita itu bahkan tak takut untuk membalas setiap perkataannya. Ellie yang dulu bukan Ellie yang seperti itu.

Sekarang, wanita ini bahkan tampak lebih matang dari sebelumnya. Dan hal itu benar-benar mengganggu Jiro.

Jika dulu Jiro bisa mengabaikan keberadaan Ellie, maka beberapa bulan terakhir ia terganggu dengan wanita itu. Itu pulalah yang menyebabkan Jiro memilih untuk jarang pulang ke rumahnya dan memilih menghabiskan waktu sendirian di apartmennya.

Bagi Jiro, ia merasa asing dengan perasaan yang ia rasakan saat ini. Jiro bukanlah lelaki seperti Ken atau Jason yang tunduk dengan kata cinta. Bisa dibilang, Jiro tak pernah merasakan perasaan seperti itu sebelumnya.

Sejak kecil hingga besar, dirinya dirasuki sebuah obsesi dan ambisi yang tinggi tentang sebuah karir. Padahal, Jiro bukanlah orang tak punya. Ayahnya merupakan pengusaha asing asal inggris yang sukses di bidangnya. Jiro selalu ingin seperti Sang Ayah. sukses dibidang yang ia sukai. Lalu dia menjajal karir di dunia intertaiment. Dan kini, dirinya bisa dibilang berada di puncak karirnya bersama dengan The Batman.

Dukungan dan pujian dari ayahnya membuat Jiro mengejar apa yang ia suka. Meski ia tahu suatu saat dirinya harus kembali meneruskan usaha Sang Ayah. Jiro menikmati kesuksesannya, tapi tak ada yang bisa mengetuk pintu hatinya.

Jiro merasa bisa membuat Ayah dan ibunya bangga, karena itulah yang ia inginkan. Ia tak ingin membuat kecewa keduanya, hingga ketika mereka menjodohkannya, yang bisa Jiro lakukan hanya menerimanya saja.

Saat itu, Jiro hanya berpikir, Ellisabeth adalah gadis yang manis. Tubuhnya mungil, parasnya cantik, dan tentu saja perilakunya baik, mengingat dia adalah anak pendeta di kampung ayahnya di inggris sana. Jiro menerimanya begitu saja dan ia berharap Ellie akan menjadi istri yang penurut dengannya.

Benar saja, selama ini, Ellie tak pernah menuntut lebih. Bahkan ketika Jiro memillih menyembunyikan dirinya dari dunia, Ellie hanya menurut saja. Tapi tadi malam, kenapa wanita itu tiba-tiba ingin dipulangkan? Apa yang terjadi dengan wanita itu?

“Aku selesai.” Suara Ellie membuat Jiro sedikit terkejut. Rupanya sejak tadi Jiro sudah melamunkan Ellie sembari menatap ke arah wanita itu.

“Kenapa cepat sekali?” tanya Jiro kemudian.

“Aku memiliki banyak jadwal hari ini.” Ellie menjawab singkat.

“Jadwal apa?”

“Kamu tidak perlu tahu.” Ellie menuju ke arah bak cuci piring tapi Jiro segera mengikutinya.

“Katakan Ellie, apa yang sedang terjadi?” Jiro menuntut.

“James.” Ellie membalikkan tubuhnya ke arah Jiro. Kepalanya mendongak ke arah lelaki yang lebih tinggi dari pada tubuhnya tersebut. “Apapun yang kamu lakukan di luar, aku tidak peduli. Jadi sebaiknya, jangan mempedulikan apa yang ingin kulakukan di luar.”

“Kamu marah denganku?” tanya Jiro tiba-tiba.

“Tidak ada gunanya marah denganmu.”

“Kalau begitu, berhenti bersikap menyebalkan seperti ini.”

Ellie bersedekap. “Jadi kamu lebih suka aku bersikap diam seperti boneka yang bisa dengan sesuka hati kamu mainkan?”

Ya, mungkin. Asalkan jangan bersikap seperti ini. karena jika Ellie bersikap seperti ini, maka itu semakin membuat Jiro penasaran dengan wanita di hadapannya tersebut. Dan hal itu benar-benar membuat Jiro tidak nyaman.

“Terserah kamu mau bersikap seperti apa, yang pasti aku tidak suka dengan sikapmu yang seperti ini.”

“Kenapa?” Ellie bertanya masih dengan sikap menantang.

“Sangat mengganggu.” Setelah itu Jiro membalikkan tubuhnya dan menjauh dari Ellie. “Dan satu lagi.” Ucap Jiro sembari membalikkan tubuhnya ke arah Ellie. “Orang sini memang ramah-ramah, tapi ada beberapa orang yang memiliki sifat buruk, aku hanya nggak mau kamu membuat masalah di luar sana.”

“Ya, tentu saja. Aku bahkan mengenal dekat salah satu tipe orang buruk yang kamu maksud.”

“Maksudmu?” Jiro ta mengerti.

“Kamu. Orang yang paling buruk yang pernah kukenal adalah kamu.” Jawab Ellie dengan berani dan penuh nada serius dalam setiap katanya.

Apa-apaan wanita itu? Kenapa Ellie tampak sangat membencinya?

Sedangkan Ellie sendiri, ia merasa memang harus memberitahu Jiro, bahwa selama ini ia diperlakukan tidak adil dengan lelaki itu. Bahwa selama ini ia sangat terluka dengan perlakuan lelaki itu. Tak ada salahnya bukan jika sedikit membangkang seperti saat ini?

Ellie tak peduli apa yang akan dilakukan Jiro selanjutnya. Karena saat ini, yang ia pedulikan hanya kebahagiaannya, hanya haknya sebagai seorang istri, serta hak Bayinya yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Ellie akan memperjuangkan hal itu, meski tandanya, ia harus berusaha lebih keras lagi untuk menyadarkan Jiro, bahwa iatak selemah yang lelaki itu bayangkan.

-TBC-

 

Sleeping with my Friend – Bab 7

Comments 4 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 7

 

Jessie mengambilkan beberapa gelas untuk sampanye yang dibawakan oleh Frank, kakaknya. Sesekali matanya melirik ke arah ruang tamunya. Disana, Frank duduk dengan santai bersama Steve di sebelahnya, sedangkan Henry memilih duduk di sofa yang lainnya.

Frank memang kurang akrab dengan Henry, karena kekasihnya itu memang jarang bisa diajak kumpul bersama. Tentu saja karena pekerjaan lelaki itu yang tak bisa ditinggal begitu saja.

Saat Jessie menuju ke arah ruang tengah dengan empat gelas dan juga seember es batu, saat bersamaan panggilan kerja Henry berbunyi. Sebuah benda kecil yang akan berbunyi jika ada pasien yang membutuhkan pertolongannya.

Henry menatap Jessie dengan penuh penyesalan. Ia ingin menghabiskan waktunya dengan Jessie dan juga Frank tentunya, tapi apa daya, pekerjaan telah memanggilnya.

“Kau akan pergi?” tanya Jessie kemudian.

Henry berdiri dan menuju ke arah Jessie. “Maaf, sebenarnya aku ingin lebih lama lagi. Kau tentu tahu.”

Jessie mengangguk. Jemari henry terulur mengusap lembut puncak kepala Jessie. Kemudian tanpa canggung sedikitpun ia mengecup singkat bibir Jessie. “Aku benar-benar ingin menghabiskan waktu denganmu, Jess. Aku hanya ingin kau tahu tentang itu.”

Jessie tersenyum. “Aku mengerti.”

Henry lalu menatap ke arah Frank. “Kuharap, kau mengundangku lain kali. Dan kupastikan saat itu aku sedang bebas dari tugas.” Ucap Henry lamah sebelum pamit undur diri.

Beberapa menit kemudian setelah kepergian Henry. Suasana di ruang tengah apartmen Jessie sepi. Jessie sibuk membuka tutup sampanye, Steve sibuk dengan perasaannya, sedangkan Frank memilih mengamati keduanya.

“Apa ada yang kulewatkan disini?” Frank membuka suara hingga Jessie menatap ke arah kakaknya tersebut.

“Apa?” tanya Jessie berpura-pura tak mengerti.

“Hubungan kalian, kenapa jadi secanggung ini?”

Steve masih diam. Ia tak ingin membuka suara. Pikirannya masih jatuh pada kejadian sebelumnya, dimana Jessie dan kekasihnya sedang mencumbu mesra, dimana Steve tahu bahwa mereka saling mencintai sedangkan ia tak memiliki apapun untuk diperjuangkan.

“Frank, bukankah kau datang kemari untuk merayakan bukumu yang lagi-lagi difilmkan? Kenapa kau tidak menceritakan saja buku mana yang akan difilmkan itu.” Jessie mencoba menghindari topik pembicaraan. Ia tidak suka kakaknya ikut campur urusan mereka.

Well, Ya. Salah satu buku misteriku. Dan kau tahu, siapa produser fimnya?” Jessie menggelengkan kepalanya. “Warner Bros.” lanjut Frank.

“Wow, itu keren.” Jessie bertepuk tangan. “Ini memang harus dirayakan, Frank.”

Steve masih memberengut di ujung sofa.

“Kau yakin kalian tidak ada masalah.”

“Ya. Sebenarnya kami baik-baik saja. Mungkin Steve sedang ada masalah di tempat kerjanya.” Jessie mencoba menutupi permasalahan mereka. Lagipula Jessie tak mengerti kenapa Steve memberengut kesal seperti anak kecil. Memang apa salahnya?

“Kami sedang bermasalah.” Steve menjawab cepat. Entah kenapa ia ingin menunjukkan pada Frank tentang apa yang terjadi diantara mereka.

“Steve. Apa yang kau bicarakan?” sungguh, Jessie ingin Steve bisa lebih dewasa lagi menyikapi permasalahan mereka. Itu hanya terjadi diantara mereka. Jessie tak ingin keluarganya ikut campur diantara masalah mereka.

“Kau bisa saja bersikap seolah-olah tak pernah terjadi apapun diantara kita. Tapi aku tidak! Bagaimanapun juga-”

“Steve!” Jessie berseru keras memotong kalimat Steve sembari berdiri.

Steve ikut berdiri “Kenapa? Kau ingin aku diam saja dan tidak mengungkapkan semua kekesalanku?” Steve mulai tak bisa mengendalikan emosinya. Sungguh, bukan ini yang ia inginkan. Tapi mengingat bagaimana Jessie mampu dengan mudah bercumbu dengan pria lain setelah malam panas bersamanya sedangkan dirinya setiap saat gila memikirkan Jessie, benar-benar membuat Steve marah.

Frank yang duduk diantara keduanya hanya membiarkan saja, ia bahkan menuang sampanye dan menyesapnya dengan santai sembari memperhatikan lelaki dan perempuan yang sedang beradu urat di hadapannya.

“Lebih baik kau keluar.”

“Oh, tidak bisa. Aku sudah berjanji bahwa aku akan menyelesaikan semuanya malam ini juga.”

“Apa yang ingin kau selesaikan?” Jessie menantang. Persetan jika Frank mengetahui tentang hubungan mereka.

“Hubungan sialan kita.”

Well. Kita tidak memiliki hubungan kecuali pertemanan. Hanya itu.”

Steve tertawa mengejek. “Benarkah? Kau tidak ingat bahwa aku sudah menidurimu Tiga minggu yang lalu?”

“Bajingan kau, Steve!”

“Ya, aku memang bajingan. Dan kau sialan! Kau tahu, aku tidak ingin lagi berteman denganmu.”

“Terserah kau saja.”

“Kau juga ingin mengakhiri pertemanan ini?” tanya Steve. “Bagus. Ini lebih baik. Jadi aku tak perlu lagi bertemu denganmu.”

“Kalau begitu kau boleh keluar.”

Steve tak percaya. “Kau mengusirku?”

“Apa lagi yang kau inginkan?” nada suara Jessie masih meninggi.

Steve mengusap rambutnya kasar. “Brengsek! Kau pikir aku tahu apa yang kuinginkan? Jika keinginanku sesederhana menidurimu, maka aku tak akan repot-repot datang merangkak padamu untuk memperbaiki hubungan kita.”

“Jadi kedatanganmu kemari untuk memperbaiki hubungan kita? Inikah yang kau sebut memperbaiki hubungan? Kau sudah menghancurkannya, Morgan!” Jessie berseru keras.

“Kau yang lebih dulu menghancurkanku!” Steve tak tahu apa yang sudah dia katakan.

“Apa?” Jessie tak mengerti.

Well. Kupikir kalian perlu bicara baik-baik tanpa mengeluarkan urat.” Frank berdiri menengahi keduanya.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.” Steve berkata penuh penekanan. Matanya masih menatap tajam ke arah Jessie.

“Ya, akupun demikian. Tak ada yang perlu dibicarakan.” Jessie setuju dengan apa yang dikatakan Steve, bagaimanapun juga, Steve keterlaluan karena sudah mengatakan hubungan semalam mereka dihadapan Frank.

Tanpa bicara lagi, Steve meninggalkan apartmen Jessie. Membanting pintuya hingga berdentum. Kemarahan jelas terpancar di wajah lelaki itu. Dan Jessie tak peduli. Ia juga marah terhadap Steve yang tampak sangat kekanakan.

***

Jessie berdiri di depan bak cuci piring dengan segelas sampanye. Ia meminumnya lagi dan lagi, dengan sedikit menenangkan pikirannya. Frank masih duduk di ruang tamunya, dan Jessie tak peduli.

Brengsek Steve! Bagaimana mungkin lelaki itu meninggalkannya dalam keadaan seperti ini? Jessie tak tahu bagaimana caranya menghadapi Frank yang pastinya akan menuntut penjelasan tentang apa yang sudah dikatakan Steve tadi.

Meski ia sudah dewasa dan dan Frank tak akan ikut campur tentang masalahnya yang paling pribadi, tapi Jessie tahu, bahwa Frank pasti ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.

“Sampai kapan kau akan berdiri di sana?” tanya Frank yang ternyata sudah duduk di bar dapur, tepat di belakang Jessie.

“Kau, masih disini?” Jessie berharap Frank sudah pergi dan melupakan semuanya.

“Kau berharap aku pergi?” tanya Frank, Jessie hanya mengangkat kedua bahunya. “Dengar, Jess. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu dan Steve. Dan aku tak mau tahu hubungan intim kalian. Hanya saja, kalian sudah dewasa. Kalian menyelesaikan ini seperti anak-anak. Saling memaki dengan emosi masing-masih.”

“Dia yang memulainya dulu, Frank. Kau ada di sana, kau tentu tahu dia dulu yang memulainya.”

“Dan kau tidak tahu kenapa dia marah denganmu?”

“Aku tak peduli. Dia memang selalu marah-marah tak jelas.”

“Jess. Dia melihatmu berciuman dengan Henry di depan pintu.” Frank berkata dengan nada sungguh-sungguh.

“Lalu apa masalahnya? Aku sering melakukan itu. Kami akan menikah, jadi sangat wajar kalau kami saling berciuman.”

“Kau, benar-benar tak mengerti atau pura-pura tak mengerti?”

“Aku tak mau mendengarnya.” Jessie membalikan tubuh membelakangi Frank.

“Dia cemburu, Jess.”

“Tidak.”

“Dia menyukaimu.”

“Hentikan, Frank!” Jessie berbalik dan menatap sengit ke arah kakaknya. “Kau pikir aku gadis kecil yang bisa kau bodohi? Steve hanya suka perempuan berambut pirang dengan payudara yang hampir tumpah dari branya. Aku mengenalnya! Jadi aku tahu siapa dan orang seperti apa yang dia sukai.”

Frank tersenyum miring. “Kau juga menyukainya, Jess.”

“Oh Frank. Tidak bisakah kau meninggalkan aku sendiri? aku ingin sendiri tanpa memikirkan apapun tentang seorang Steven Morgan!”

“Baiklah. Aku akan pergi. Tapi jika ada sesuatu, kau tahu harus kemana. Ingat, aku hanya beberapa blok dari sini. Jadi jangan menyembunyikan apapun dariku. Oke?”

Meski kesal, Jessie merasa sangat senang karena memiliki kakak yang begitu perhatian dengannya. Jessie mengantarkan Frank hingga pintu. Setelah Frank memasuki lift, Jessie segera kembali masuk ke dalam apartmennya. Ia menguncinya kemudian segera menuju ke arah kamar.

Entah Kenapa Jessie ingin menangis. Menenggelamkan diri diantara bantal dan selimutnya. Astaga, semuanya tak bisa tertolong lagi. Pertemanannya dengan Steve tak akan bisa tertolong lagi. Jessie tahu itu.

***

Dua bulan kemudian…

Semuanya menjadi kacau. Jessie berdiri di depan cermin dengan wajah pucatnya. Jemarinya saling meremas satu sama lain karena kegugupan yang melandanya. Ia sudah merias diri secantik mungkin, tapi ia berpikir bahwa malam ini ia sama sekali tidak cantik. Matanya sembab karena menangis berhari-hari. Astaga, apa yang sudah terjadi dengan dirinya?

Dua minggu yang lalu, Jessie bahkan mengurung diri selama beberapa hari dan enggan keluar. Itu karena penyakit barunya, yaitu masuk angin. Ya, Jessie lebih suka menyebutnya seperti itu. Ia masuk angin karena setiap hari harus mual muntah, dan Jessie tahu bahwa tak lama lagi perutnya akan menggembung sebesar bola basket.

Karena hal itulah hari ini ia baru berani memutuskan untuk makan malam bersama kekasihnya. Jessie akan mengakhiri semuanya, karena Jessie tak ingin melanjutkan pernikahannya dengan Henry dalam keadaaan seperti sekarang ini.

Mengingat itu, kegugupan kembali terasa. Astaga, Jessie tak sanggup. Sungguh.

Bajingan Steve! Kenapa lelaki itu harus meninggalkan sebagian dari dirinya untuk tumbuh di dalam perutnya? Lebih bajingan lagi, karena setelah pertengkaran hebatnya dua bulan yang lalu, Steve seperti tak ingin lagi bertemu dengannya.

Beberapa kali, mereka bertemu, di basement, di depan lift, di tempat kerja. Tapi temannya yang bajingan itu tampak enggan menatapnya. Steve tidak berbicara sama sekali dengannya, dan Demi Tuhan! Jessie juga tak ingin berbicara dengan lelaki itu.

Frank berkali-kali menghubunginya dan menanyakan hubungan mereka, tapi Jessie hanya mengatakan bahwa mereka sudah selesai. Nanti, setelah menyelesaikan hubungannya dengan Henry, Jessie akan menelepon Frank dan juga ayahnya, bahwa semuanya benar-benar telah usai.

Jessie menghela napas panjang. Pada saat bersamaan ia mendengar bunyi ketukan pintu. Henry sudah datang, dan Jessie harus benar-benar siap dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

Beberapa menit berlalu, mereka sudah berada di dalam mobil Henry, menuju ke sebuah restoran Prancis. Diam tanpa kata, sunyi, hening, dan hal itu membuat suasana menjadi canggung.

Henry tahu jika ada yang berbeda dengan Jessie, sejak dua minggu yang lalu, wanita ini berubah, dan Henry berharap malam ini berjalan dengan lancar hingga bisa memperbaiki hubungannya dengan Jessie.

Memasuki restoran, keduanya masih saling berdiam diri, bahkan hingga seorang pelayan datang dan memberikan buku menu. Jessie memesan beberapa hidangan utama hingga membuat Henry mengerutkan keningnya.

“Kau kelaparan?” tanyanya setelah si pelayan pergi.

“Mungkin.” Hanya itu jawabannya.

Terdengar helaan napas panjang dari Henry. “Jadi, ada yang ingin kau bahas?”

Tentu saja ada, tapi Jessie merasa bahwa ia takut mengutarakannya. “Lebih baik kita makan dulu. Aku tidak ingin pesanan kita tak termakan setelah aku mengutarakan maksudku.”

Henry merasa bahwa Jessie akan mengatakan sesuatu yang penting hingga wanita itu tampak menyiapkan diri. Apa yang akan dikatakan Jessie padanya.

Makan malam berlangsung dengan hening. Sesekali Henry bertanya tentang apa yang dilakukan Jessie sepanjang hari ini, dan Jessie hanya menjawab tanpa bertanya balik kepada Henry.

Waktu cukup singkat, karena tak ada juga yang mereka bicarakan. Setelah menyantap Raspberry Clafoutis sebagai makanan penutupnya, Jessie merasa bahwa perutnya sudah penuh. Apa perutnya sekarang sudah menggembung? Tidak! Jessie berharap bahwa hal itu tidak terjadi.

Hingga masuk kembali ke dalam mobil Henry, Jessie belum juga mengatakan maksud hatinya. Ia tidak bisa, Demi Tuhan ia tidak bisa mengatakannya. Jessie menyayangi Henry, ia tidak bisa membatalkan pertunagan mereka karena penyakit masuk anginnya ini.

Henry akan sangat hancur, dan Jessie tak bisa melihat hal itu terjadi.

“Jess. Ada yang kau pikirkan?”

Karena melamun sepanjang jalan, Jessie bahkan tidak sadar jika mereka sudah berada kembali di basement gedung apartmennya.

“Ya?”

“Ada yang ingin kau katakan? Kau tampak pucat, dan tertekan.” Ucap Henry dengan lembut.

Jessie ingin menangis, sungguh. Kapan lagi ia memiliki kekasih yang begitu pengertian seperti Henry? Dia adalah lelaki sempurna. Tampan, dokter, pengertian, dan begitu menyayanginya. Dan kini, ia akan mencampakan lelaki itu. Tuhan! Bagaimana mungkin semuanya berakhir seperti ini?

Belaian tangan Henry pada puncak kepalanya membuat Jessie mengangkat wajahnya dan menatap Henry dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia harus, karena ia menyayangi Henry, ia harus memutuskan pertunangan mereka demi lelaki itu.

“Kupikir, kupikir, kita sampai disini saja.” Suara Jessie hampir tak terdengar.

“Apa maksudmu, Jess?”

Jessie tak dapat menahan luapan airmatanya. Beberapa hari terakhir ia memang tak dapat menahan diri untuk tidak menangis. Dan Jessie tahu bahwa ini karena penyakit masuk anginnya.

“Kau menangis. Ada apa, Jess?”

“Henry. Aku ingin semuanya selesai. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi.”

“Tapi kenapa?”

“Karena aku masuk angin, Karena tubuhku akan membengkak beberapa bulan kedepan, karena aku akan, aku akan… Astaga, aku akan memiliki bayi.” Jessie menangis, sedangkan Henry tercengang. Henry merasa baru saja dijatuhi sebuah bom tepat di kepalanya.

Jessie hamil? Dan wanita itu ingin memutuskannya? Ya Tuhan! Henry tak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

 

-TBC-

Sleeping with my friend – Bab 6

Comments 2 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 6

 

Waktu berlalu cukup cepat. Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh Jessie. Sepertinya baru beberapa jam yang lalu ia melihat Steve memotreti para modelnya dengan gaya yang tak biasa, tapi lelaki itu tentu selalu mempesona ketika bekerja. Ya, setidaknya itulah pendapat Jessie selama ini.

Steve tampak sangat menarik saat lelaki itu konsentrasi pada objek tangkapan lensa kamerannya. Ketika lelaki itu memutar fokus lensanya, saat lelaki itu mengerutkan keningnya, saat lelaki itu tampak begitu serius mengambil gambar di hadapannya, Jessie menyukai saat melihat Steve yang seperti itu. Baginya, Steve tampak bertanggung jawab dengan pekerjaannya, tampak dewasa dengan ekspresi seriusnya. Tentu sangat berbeda dengan Steve yang selama ini ia kenal.

Jessie tak memungkiri jika beberpa kali jantungnya berdebar tak menentu saat melihat Steve melakukan pekerjaannya dulu sebelum malam sialan itu terjadi. Meski begitu, Jessie tak akan pernah mengakui bahwa ia terpana ketika melihat Steve bekerja dengan begitu profesional.

Kini, tak terasa hari sudah semakin sore. Bahkan para kru dan beberapa model sudah meninggalkan tempat pemotretan mereka yang terletak di dalam gedung studio foto milik Steve. Hanya tertinggal beberapa pegawai Steve yang sibuk merapikan bekas-bekas pemotretan, dua bawahannya yang sibuk merapikan gaun-gaunnya, dan juga Steve yang kini sudah berada di dalam ruangannya.

Jessie akan menuju ke dalam ruangan tersebut tapi ada sesuatu keraguan yang tiba-tiba saja menyergapnya. Hubungannya dengan Steve kini sedang tidak baik, sedang retak, dan Jessie takut jika hubungan mereka hancur karena suatu yang seharusnya tak terjadi. Tapi Jessie harus ke sana, berpamitan dengan Steve agar semuanya terlihat normal dan baik-baik saja meski sebenarnya ada banyak hal yang harus mereka bicarakan setelah malam dan pagi sialan itu.

Dengan menghela napas panjang, Jessie menuju ke arah ruangan Steve. Ia bukan seorang yang pengecut, maksudnya, mungkin cukup Tiga minggu ini ia menjadi pengecut karena beberapa kali menghindari pertemuannya dengan Steve. Ia ingin semua kembali normal dan itu harus diawali saat ini.

Setelah dua kali mengetuk pintu ruangan tersebut, Jessie membukanya. Ia tahu bahwa Steve tak menguncinya. Dengan sedikit ragu ia melangkahkan kakinya masuk dan menyapa “Hai” pada Steve.

Lelaki itu yang tadinya cukup serius di depan layar laptopnya, kini mengangkat wajahnya dan tampak terkejut dengan kehadiran Jessie. Apa Steve berharap ia tak perlu masuk ke dalam ruangan lelaki itu? Seketika itu juga Jessie merasa menyesal karena harus memasuki ruangan tersebut.

“Oh, Hai.” Steve berdiri seketika.

Sedikit tak nyaman Jessie berkata. “Sebenarnya, aku hanya berpamitan. Akan sangat tidak sopan jika aku dan para pekerjaku pergi begitu saja tanpa pamit.” Jessie berkata seformal mungkin. Seperti sedang bercakap dengan partner kerjanya. Demi Tuhan! Ia sudah mengenal Steve bahkan sejak bayi, mereka sudah sering berbagi banyak hal. Semuanya terasa hancur setelah malam sialan itu. Jessie tak tahu kenapa ia harus secanggung ini bahkan bersikap seformal ini pada Steve, padahal, sebelumnya ia tak pernah bersikap seperti ini, bahkan memikirkannya saja tidak.

“Oh. Begitu.” Jessie melihat Steve memasukan telapak tangannya pada saku celananya sendiri. “Kau tak ingin melihat ini sebentar?” tawar Steve.

“Ada masalah?” mau tidak mau Jessie melangkahkan kakinya menuju ke arah meja Steve.

Lelaki itu kembali duduk dan hal itu membuat Jessie lega karena menambah keberanian Jessie untuk mendekat ke arah lelaki tersebut.

Biasanya, mereka memang akan memeriksa hasil tangkapan kamera Steve saat mereka bekerja sama seperti sekarang ini. Memilih gambar yang paling bagus dan cocok. Atau, jika tidak ada, mereka akan melakukan sesi tambahan di hari berikutnya. Jessie merasa saat-saat seperti itu sudah cukup lama tidak mereka lalui. Tentu sejak malam sialan itu.

“Tidak. Kupikir semuanya bagus. Tapi aku juga perlu pendapatmu seperti sebelum-sebelumnya.” Ucap Steve sembari menunjukkan hasil tangkapan lensanya tadi.

Dengan seksama Jessie melihat satu demi satu gambar tersebut. Seperti biasa, ia tampak terpesona dengan hasilnya. Steve memang berbakat dalam hal ini, tak heran, jika lelaki ini menjadi salah satu fotografer dengan tarif termahal di New York, meski begitu, lelaki ini tak pernah sepi klien.

“Bagiku ini luar biasa. Kau melakukannya dengan baik.”

Jessie tak pernah memuji Steve sampai seperti itu. Oh, mereka sering saling ejek satu sama lain, tapi memuji dengan formal seperti ini sama sekali tak pernah terjadi diantara mereka.

“Gaunmu juga menjadi salah satu objek yang membuat hasinya indah dan menakjubkan.” Bahkan Jessie juga tak pernah mendengar Steve memuji hasil rancangannya seperti itu.

Steve memang mengagumi apapun rancangan Jessie, tapi biasanya lelaki itu akan berkarta ‘kau membuat aku ingin meniduri modelnya’ atau ‘Rancanganmu membuatku terangsang.’  Ya, seperti itulah khas seorang Steven Morgan. Tapi kini, pujian formal itu membuat Jessie tidak nyaman. Ia tidak suka dengan perubahan Steve, ia juga tidak suka dengan perubahan dirinya sendiri, hingga kemudian, Jessie tersentak dari lamunannya ketika jemari Steve mendarat tepat di atas telapak tangannya yang sedang bertumpu di meja lelaki itu.

Sebuah gelenyar kembali menerpanya, membuat Jessie menatap ke arah Steve seketika saat lelaki itu kini sedang mendongak menatap intens ke arahnya.

“Jess. Aku tak suka dengan suasana seperti ini. kita perlu bicara.”

Ya, tentu saja. Jessie tahu itu. Tapi ia tidak suka membayangkan jika percakapan mereka akan berakhir seperti rabu siang ketika Steve datang ke butiknya dan berakhir saling mengumpat satu sama lain. Jessie tak ingin hal itu terjadi.

Jessie menggelengkan kepalanya. “Kupikir sebaiknya kita melupakan semuanya.”

“Jess. Aku tidak suka hubungan kita jadi seperti ini.”

“Kau pikir aku menyukainya?” nada suara Jessie mulai meninggi. Jika yang dipikirkan Steve adalah hanya lelaki itu yang frustasi tentang kedekatan mereka, maka lelaki itu salah. Jessie juga sama frustasinya. Dan demi apapun juga, Jessie rela menukar apa saja untuk mengembalikan hubungan mereka agar seharmonis dulu.

“Oke.” Steve berdiri. Ia melirik ke arah jam tangannya. “Kita akan membicarakannya nanti, mungkin aku akan ke apartmenmu besok.”

“Kau tak perlu melakukannya.”

“Jess kita harus.” Steve menggenggam kedua belah telapak tangan Jessie. “Setiap bulan, kita akan pulang. Orang rumah akan mengetahui masalah kita jika kita tetap bersikap seperti ini.”

“Mungkin kita tidak perlu pulang bersama lagi. Cukup untuk mengendalikan situasi, bukan?”

“Kau menghindariku?”

“Steve…”

“Oke.” Steve mengangkat kedua tangannya. “Kita memang harus berbicara Jess. Dengan atau tanpa persetujuanmu, besok malam aku akan datang. Aku tidak ingin kita saling menghindar lagi.” Jessie mendesah panjang. Ia tidak mungkin menolak keinginan seorang Morgan. Lelaki itu pemaksa, meski menolaknya, Jessie tahu bahwa besok malam lelaki itu akan datang ke apartmennya.

***

Kencan yang membosankan.

Itulah yang dirasakan Steve malam ini. ia dan Donna Simmon hanya makan malam di sebuah restoran mewah, dan membunuh waktu dengan saling bercakap-cakap. Steve bahkan hanya sedikit menyimak apa yang diceritakan oleh Donna.

Wanita itu bekerja sebagai konsultan di salah satu perusahaan di New York. Hanya itu saja yang Steve tangkap. Bahkan Steve seakan tak ingin mengetahui lebih lanjut tentang wanita itu. Bukan karena tampangnya. Demi Tuhan! Hank adalah teman yang sangat baik karena mengenalkan dirinya pada sosok bidadari seperti Donna Simmon, tapi hanya itu saja. Donna hanya cantik, tapi kosong. Tak ada sesuatu yang menarik bagi Steve untuk dikencani.

Wanita itu terus bercerita tentang siapa saja teman kerjanya, apa saja yang ia lakukan, dari mana saja kliennya datang dan lain sebagainya. Sedangkan Steve memilih hanya diam, sesekali melemparkan senyuman padahal ia tidak tahu apa yang sedang dibahas wanita itu.

Steve hanya ingin waktu segera berlalu. Ia tidak sabar menunggu besok malam, ketika ia kembali bertemu dengan Jessie dan membicarakan tentang hubungan mereka berdua.

“Jadi, apa yang kau lakukan sepanjang hari ini?” tanya Donna kemudian yang merasa bahwa Steve sejak tadi tampak bosan dengan ceritanya.

Steve menyesap minumannya. “Aku? Aku bekerja sepanjang hari. Ada sebuah pemotretan untuk majalah fashion. Dan hanya itu.”

“Kau, bertemu dengan banyak artis?”

“Jika maksudmu karena pekerjaan, maka ya. Kebanyakan hanya model.”

“Woww, hebat sekali. Aku jadi tertarik untuk datang ke tempat kerjamu.”

“Boleh saja. Tapi kadang, saat aku bekerja, akan sangat berkonsentrasi. Aku hanya tak ingin kau terabaikan saat di sana.”

“Oh, kau perhatian sekali.” Donna merasa tersanjung, dan Steve hanya tersenyum menanggapinya. Donna memang seperti kebanyakan wanita yang pernah dekat dengannya. Wanita itu gampang sekali tersanjung, dan ingin selalu ikut campur tentang kehidupannya. Tidak seperti Jessie.

Sial! Lagi-lagi nama itu. Steve mendengus sebal.

***

Kencan berakhir begitu saja setelah Steve mengantarkan Donna hingga sampai apartmen wanita itu. Donna mengundangnya masuk, tapi Steve menolak. Ia tidak sedang ingin meniduri wanita itu, jadi ia berpikir bahwa lebih baik ia pergi saja.

Lagi pula, tujuannya menjalin hubungan dengan Donna adalah untuk menjalin sebuah pertemanan yang sangat dekat, bukan hanya dalam hal asmara. Ia ingin Donna mampu menggantikan sosok Jessie, ketika wanita itu nanti benar-benar pergi menghindar selama-lamanya, maka Steve tak perlu khawatir.

Tapi sepertinya, semuanya gagal total. Donna tak pantas untuk menggantikan tempat Jessie, bahkan keduanya tak memiliki kemiripan sama sekali. Donna lebih asik dengan dunianya sendiri, lebih suka menceritakan tentang dirinya sendiri. sangat berbeda dengan Jessie yang tak akan membuka suara jika tidak ditanya apa yang sedang terjadi dengan wanita itu.

Steve mengemudikan mobilnya cepat hingga sampailah ia pada gedung apartmennya. Ia mendapati Cody duduk di sebuah kursi dekat dengan pintu masuk. Menyapanya sebentar dan segera masuk ke dalam gedung tersebut. Entahlah. Steve hanya ingin segera pergi ke kamar tidurnya. Tidur kemudian menunggu besok malam. Ia akan mengutarakan sebuah niat pada Jessie, ia akan membuat hubungan mereka berbeda.

Ya, Steve tahu bahwa pertemannya dengan Jessie sedang terancam, bahkan mungkin sudah hancur. Ia tahu pasti bahwa apapun itu, ia tak akan bisa memperbaiki semuanya. Pandangannya terhadap Jessie sudah berubah, begitupun yang dirasakan wanita itu padanya. Jessie memang tak mengakuinya, tapi sangat jelas terasa ketika mereka berdekatan. Ketegangan selalu terasa, bukan hanya secara seksual tapi juga secara emosional.

Steve tahu bahwa malam itu bukan sekedar malam panas. Ada sebuah emosi yang terlepas di sana. Ketika mereka bercinta di kamar mandi dan bercinta kembali di atas ranjang, Steve tahu bahwa itu bukan hanya tentang sebuah kepuasan. Dan bodohnya ia baru menyadari hari ini, hampir satu bulan setelahnya.

Bagaimanapun juga, ia harus merundingkan semuanya pada Jessie, ia ingin membahas semuanya sampai tuntas. Menawari Jessie dengan sesuatu yang cukup masuk akal. Dan ketika wanita itu menolaknya, maka lebih baik mereka tidak pernah bertemu lagi dan Steve akan melanjutkan kencannya dengan Donna Simmon yang cukup membosankan untuknya.

Begitulah niat Steve. Tapi benarkah ia akan mengutarakan niatnya pada Jessie? Beranikah ia mengatakannya? Siapkah ia dengan penolakan wanita itu? Entahlah. Steve hanya akan menunggu sampai besok malam.

***

Esoknya….

Steve menyelesaikan sisa pekerjaannya secepat mungkin, karena ia ingin mmepersiapkan diri untuk menghadapi Jessie.

Baiklah. Ia sudah memikirkan semalaman. Persetan dengan pertunangan Jessie dengan si Gay Henry. Yang pasti, Steve akan mengutarakan bahwa mereka sudah tidak bisa berteman lagi. Lebih tepatnya, Steve akan menganggap bahwa mereka kini adalah sepasang kekasih.

Mungkin Jessie akan menganggapnya gila, wanita itu pasti akan melemparinya dengan perabotan rumah tangga. Tapi Steve tak peduli. Nyatanya seperti itulah yang ia rasakan hampir sebulan terakhir. Ia merasa bahwa Jessie adalah kekasihnya, bukan sekedar temannya. Dan hal itu sudah tidak bisa dirubah lagi.

Kecanggungan diantara mereka membuat Steve semakin yakin, bahwa tidak hanya seks yang ada di malam itu. Tidak sekedar pemuasan fisik. Tapi secara emosional, mereka juga terlibat.

Jam Enam sore, Steve sudah siap di apartmennya. Tapi ia menahan diri untuk tidak turun. Demi Tuhan! Ini masih sore. Jessie pasti akan mengerutkan keningnya saat mendapati dirinya berkunjung sore-sore seperti ini. Bahkan mungkin, wanita itu baru pulang dari butiknya.

Akhirnya, Steve memilih menghabiskan waktu di ruang tengah apartmennya sembari kembali memikirkan semuanya. Semakin ia berpikir, semakin ia yakin. Kepercayaan dirinya meningkat saat membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja akan terjadi, seperti Jessie menyetujui pendapatnya. Wahh, pasti akan sangat membahagiakan. Mereka benar-benar akan menjadi sepasang kekasih, berbagi ranjang kembali dengan begitu panas. Seks maraton setiap hari.

Sial!

Steve mengumpat pada ereksinya.

Bagaiamana mungkin ia segera terangsang saat memikirkan hal itu? Otaknya benar-benar sudah dikendalikan oleh Jessie. Dan hal itu membuat Steve semakin yakin bahwa ia harus segera menyelesaikan semuanya dengan Jessie.

Jam Delapan jantung Steve berdebar lebih cepat dari sebelumnya. Perutnya seperti diperas saat ia melangkah keluar dari apartemennya menuju ke arah lift. Turun Lima lantai hingga berada pada lantai apartmen Jessie.

Steve keluar dari dalam Lift dengan sesekali membenarkan tata rambutnya. Tapi baru tiga langkah, ia berhenti.

Bayangan Jessie dengan seorang lelaki saling menautkan bibir satu sama lain dengan begitu lembut tepat di depan pintu apartmen waita itu membuat Steve hanya ternganga menatapnya.

Takk… takk… taakkk…

Steve merasakan sesuatu retak di dalam dadanya. Dengan spontan ia merabanya, terasa nyeri tapi tak mengeluarka darah. Ada apa ini? apa yang terjadi dengannya? Apa ia memiliki kelainan jantung?

Sepanjang hari Steve sudah membayangkan jika ia akan menjadikan Jessie sebagai kekasihnya. Ia tak bisa melihat wanita itu sebagai temannya lagi, ketertarikan seksual serta emosional selalu terpantik ketika mereka berdekatan, dan hal itu cukup bagi Steve untuk menjadikan Jessie sebagai kekasihnya.

Dengan begitu bodohnya, Steve berpikir bahwa Jessie akan menerimanya begitu saja. Wanita itu pasti tak akan mengingkari pesonanya, Steve terlalu percaya diri. Ia melupakan satu hal, bahwa Jessie memiliki cinta untuk tunangannya, dan hal itu tidak dimiliki oleh Steve.

Seberapa panas hubungan mereka, seberapa tegang ketertarikan fisik diantara mereka, maka akan tetap dikalahkan oleh cinta sialan yang dimiliki Jessie dengan kekasihnya.

Dengan kecewa, dengan marah, dan demi Tuhan! dengan terluka, Steve membalikkan tubuhnya bersiap kembali memasuki lift sebelum Jessie melihatnya berdiri di sana seperti seorang idiot yang sedang patah hati.

Patah hati? Sial! Steve tidak ingin mengakuinya.

Tapi saat pintu lift terbuka, Steve seakan berada pada puncak kesialannya ketika ia mengetahui siapa yang ada di dalam sana.

“Steve? Kau dari tempat Jessie?” tanyanya yang kini bahkan sudah mengamati Steve, melihat rahang Steve yang mengetat karena kemarahan, melirik ke arah telapak tangan Steve yang saling mengepal karena emosi yang meluap-luap. Lelaki itu keluar dari dalam lift, dan ia dapat melihat Jessie masih asik bercumbu dengan sang Kekasih.

Dan lelaki itu tersenyum.

“Aku akan pergi.” Ucap Steve dengan dingin.

“Woww, wooww.” Lelaki itu menahan pundak Steve. “Aku bahkan membawakan Sampanye untuk merayakan Bukuku yang akan di filmkan.”

Brengsek, Frank! Kenapa bajingan ini harus datang disaat yang tak tepat?

Itu adalah Frank Summer, kakak Jessie. Mereka tentu sudah saling mengenal sejak kecil. Frank orang yang baik, tapi yang membuat Steve kesal adalah karena lelaki itu terlalu ikut campur dengan urusannya dan Jessie. Frank bahkan sempat mengusulkan untuk menikahkan mereka ketika mereka sedang berada dalam pertemuan keluarga bulanan, meski lelaki itu mengatakannya dengan gurauan, tapi tetap saja, Frank adalah seorang berengsek yang mengganggu ketenangannya dengan Jessie.

“Aku sibuk.”

“Benarkah?” Frank tak percaya. “Akui saja, bung. Kau cemburu melihat mereka.”

“Brengsek kau Frank!” Steve mengumpat keras pada lelaki yang usianya Tiga tahun lebih tua dibandingkan dirinya. Sedangkan lelaki itu tertawa lebar menertawakan umpatan khas yang keluar dari mulut Steve.

Dan pada saat itu, suara Jessie mengejutkn keduanya.

“Frank? Steve? Apa yang kalian lakukan di sana?”

Oh, Steve tak bisa mengelak, ia tak bisa pergi begitu saja dan berpura-pura tak melihat semuanya. Semua ini tentu karena si bajingan Frank Summer. Mata Steve menatap mata Frank dengan tatapan membunuhnya. Berharap jika Frank tak mengatakan apapun tentang apa yang telah mereka lihat tadi.

“Hai Jess. Aku sengaja mengajak Steve ke sini untuk merayakan bukuku yang akan diangkat ke layar lebar.”

“Oh Astaga, itu hebat. Ayo. Kita masuk dan berpesta.” Ajak Jessie.

Frank menatap Steve dengan sedikit menyunggingkan senyumannya, kemudian ia mengajak Steve untuk menuju ke apartmen Jessie dan masuk ke sana. Bagimanapun juga, Steve merasa bahwa Frank tak ingin ia pergi. Dan Steve merasa berterimakasih karena secara tak langsung, Frank mencegahnya menjadi seorang pengecut.

-TBC-

Missing Him – Bab 5

Comments 3 Standard

 

Bab 5 

 

“A, apa maksud Mas Rangga?” Tanyaku dengan cepat.

“Aku ingin menikah denganmu Ven..”

“Tapi Mas.. kita tidak pernah mengenal lebih dekat sebelumnya.”

Lelaki di hadapanku itu tampak menundukkan keplanya. Entah apa yang ia pikirkan aku sendiri tak tau.

Veny, nggak baik menolak lamaran seseorang sebelum kamu memikirkannya masak-masak.” Ucap Ibu.

“Tapi Bu..”

Pikirkanlah dulu, Nak.” pungkas ibuku.

***  

Dua hari berlalu setelah hari itu. Mas Rangga kembali ke rumahku. Dan astaga.. entah kenapa lidahku seakan kaku saat ingin mengatakan Tidak. Aku menerimanya, menerima lamaran lelaki yang aku sendiri tak seberapa mengenalnya.

Ini gila! Aku tau itu. Tapi mau bagaimana lagi.  Lagi pula sampai saat ini aku masih belum bisa melupakan sosok Edo. Sosok yang sudah menjadi cinta pertamaku, dan mungkin saja akan menjadi cinta terakhirku.

Ven..” Mas Rangga duduk mendekat di sebelahku.

“Aku masih bingung, kenapa tiba-tiba mas Rangga melamarku. Kita tidak pernah kenal dekat sebelumnya.”

“Aku tau. Tapi aku yakin, semua ini terbaik untukmu. Aku akan melindungimu Ven, Aku janji.”

Aku menurunkan kedua bahuku lemah. Ya, memangnya apa lagi yang bisa ku perbuat. Mungkin memang mas Rangga ditakdirkan untuk menemaniku. Lagi pula aku yakin jika tak dapat jatuh cinta lagi selain dengan Edo, maka tak salah jika aku menerima pinangan mas Rangga meski aku tak pernah mencintainya.

***

Kilasan masa lalu hubunganku dengan Mas Rangga tiba-tiba menari di kepalaku. Aku menggelengkan kepalaku.

Mas, apa yang terjadi denganmu hari ini? Pikirku dalam hati.

Setelah menidurkan Tasya, aku lantas menuju ke kamarku. Semoga saja setelah mandi sikap Mas Rangga sudah membaik padaku.Tapi nyatanya, saat aku sampai di dalam kamar, Suamiku itu malah tidur meringkuk di ujung ranjang.

Dadaku terasa sesak. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya hari ini? Apa aku melakukan suatu kesalahan?

Aku lantas memilih masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri kemudian mengistirahatkan hati dan pikiranku yang sudah sangat lelah…

***

“Kamu yakin mau melakukannya?” Aku hanya menunduk ketika Mas Rangga bertanya pertanyaan itu padaku.

Ini sudah hampir satu tahun lamanya aku menikah dengannya, tapi sekalipun kami tak pernah melakukan hubungan intim sama sekali. Mas Rangga sangat menghormatiku, pun denganku yang tentunya tak mungkin menggodanya atau menjajakan diriku padanya.

Setiap malam kami hanya menghabiskan waktu saling bertukar cerita, bertanya tentang aktifitas masing-masing hari ini. Lalu saling tertidur setelah sama-sama lelah. Ya, kami memang tidur satu ranjang, tapi kami tak pernah melakukan apapun. Tapi tadi, tak sengaja telapak tangan Mas Rangga menyentuh permukaan kulit tanganku, tatapan kamu beradu seketika, wajah Mas Rangga kemudian mendekat, dan aku tak sadar jika kami melakukan ciuman pertama kami.

Kini, lalaki itu sudah menindihku dengan pakaian yang sudah lolos dari tubuhnya. Pun denganku yang sudah polos tanpa sehelai benang pun.

Aku hanya menganggukan kepalaku setelah mendengar pertanyaan Mas Rangga tersebut.

“Aku baru pertama kali melakukannya,” Ucapnya dengan suara yang sudah serak.

“Aku juga baru pertama kali.” Astaga.. mungkin saat ini wajahku benar-benar sudah merah seperti tomat. Apa yang sedang kukatakan?

“Baiklah, boleh aku memulainya?” tanyanya lagi sedangkan aku hanya mampu menganggukkan kepala. Mas Rangga mulai mendaratkan kembali bibirnya pada bibirku, menciumku dengan lembut penuh gairah. Jemarinya sudah mulai bergerilya di sekujur tubuhku, dan itu benar-benar membuatku semakin menggila.

Kami saling mencumbu mesra, menyentuh satu sama lain dengan begitu intim. Ya, kupikir ini adalah hal yang paling intim yang pernah ku lakukan dengan seorang lelaki, dan entah kenapa aku merasa bahagia sekali karena lelaki itu adalah Mas Rangga, Suamiku sendiri.

Mas Rangga mulai menyatukan diri, dan aku benar-benar merasa tak nyaman. Rasanya aneh dan sakit, tentunya, tapi Mas Rangga membimbingku selembut mungkin, ia tak berhenti mencumbuku, seakan menenangkan kembali syaraf-syarafku yang kaku karena penyatuan pertama kami.

Dia tak mengucapkan apapun, tapi pergerakannya tak pernah berhenti. Bibirnya masih mengulum bibirku, sedangkan matanya sesekali menatap mataku dengan tatapan anehnya. Ya tuhan… aku benar-benar melakukannya, melakukan dengan Mas Rangga, suamiku, lelaki yaang sama sekali tak kucintai….

***  

Bayangan malam pertama kami menyeruak begitu saja dalam ingatanku, dan aku tersenyum ketika mengingat malam itu. Ku balikkan tubuhku yang tadi tidur miring dengan posisi membelakangi tubuh Mas Rangga. Dan kini, aku masih melihat tubuh suamiku itu masih miringku membelakangiku.

“Mas. Kamu kenapa?” lirihku.

Astaga, dia tak pernah bersikap seperti ini padaku, dan entah kenapa saat dia memperlakukanku seperti ini, rasanya dadaku terasa sesak, hatiku terasa sakit. Seakan ada sesuatu di dalam sana yang telah terkoyak saat melihat sikap dingin Mas Rangga.

“Kamu marah?” Aku memberanikan diri bertanya. Air mataku sudah jatuh begitu saja. Ya, dia marah, tapi aku tak tau karena apa. Apa ini ada hubungannya dengan Edo?? Tidak mungkin. Mas Rangga sama sekali tak mengetahui hubunganku di masa lalu dengan Edo.

“Mas…” panggilku lagi. Dan dia sama sekali tak menjawab panggilanku. Entah dia memang sedang marah, atau dia memang sudah tidur, aku sendiri tak tahu.

***

Panginya, seperti biasa, aku bangun lebih pagi dari Mas Rangga. Tentu saja aku harus menyiapkan sarapan untuk suamiku tersebut. Meski tak pernah mencintainya, tapi aku selalu mengabdi padanya layaknya seorang istri yang begitu mencintai suaminya.

Aku melirik ke arah Tasya yang berada di dalam boks bayinya. Puteriku itu memang sangat pandai, ia tahu jika kini ibunya sedang sibuk dan dia memilih bermain dengan mainannya sendiri ketimbang harus menangis rewel khas bayi seusianya.

Kemudian aku melirik ke pintu kamarku. Mas Rangga belum juga keluar. Ada apa? Tidak biasanya dia bangun siang. Apa dia masih marah? Apa suasana hatinya masih seburuk tadi malam?

Dan tak lama, sosok yang berada didalam kepalaku itupun menampakkan dirinya. Hampir saja aku terpekik ketika tiba-tiba saja dia keluar dari kamar kami dengan tatapan mata yang langsung menatap tepat pada manik mataku.

“Pagi Mas..” Sapaku.

“Pagi…” Hanya itu jawabannya.

Aku mengernyit saat melihatnya hanya mengenakan kaus oblongnya. Ia tidak mengenakan kemeja yang biasa di kenakannya ke kantor. Kenapa? Apa dia libur kerja?

“Mas Rangga nggaak kerja?”

“Aku libur.” Jawabnya singkat.

“Kok tumben ngambil cuti?”

“Bukan cuti, tapi aku memang di liburkan selama tiga hari ini.”

“Loh kenapa?” tanyaku sedikit terkejut.

“Aku dipindah tugaskan mulai minggu depan ke perusahaan yang bercabang di Palembang.” Jawabnya dengan ekspresi datar.

Aku membatu seketika. Pindah? Kenapa tiba-tiba?

“Kok aku nggak tau Mas?”

“Aku memang sengaja cari waktu yang tepat buat ngasih tau kamu. Tapi sepertinya memang nggak ada waktu yang tepat.”

“Lalu, kapan kita akan siap-siap?” tanyaku sembari menyuguhkan kopi untuk Mas Rangga.

“Nanti aku akan mulai belanja kebutuhanku, lalu mulai bersiap-siap.” Aku mengernyit ketika mendengar kalimat Mas Rangga. Apa maksudnya?

“Maksud Mas Rangga?”

Mas Rangga menatapku dengan tatapan anehnya. “Ven, aku akan pindah ke Palembang sendiri. Dan mungkin hanya seminggu sekali aku akan pulang ke sini.”

Aku tercengang mendengar kalimat yang di ucapkannya. Dia meninggalkanku? Meninggalkanku hanya berdua dengan Tasya? Bagaimana mungkin? Kenapa dia tega melakukan ini padaku??

“Kenapa aku dan Tasya nggak ikut pindah saja Mas?”

Mas Rangga menundukkan kepalanya. “Maaf, nggak bisa..”

Dan meneteslah air mataku. Kenapa seperti ini? Kenapa tiba-tiba dia meninggalkanku saat aku mulai nyaman dengannya? Apa yang terjadi denganmu Mas?? Apa yang kamu sembunyikan dariku?

-TBC-

Missing Him – Bab 4

Comments 2 Standard

 

Bab 4

 

Ven. Please. aku pengen ngomong sesuatu sama kamu.” Ucap Edo yang sudah menghadangku.

Ini sudah beberapa hari setelah pengakuannya padaku… Dan aku menghindarinya. Aku tidak ingin dia kembali membahas tentang hubungan kami.

“Lepasin Do. Aku mau pulang.”

“Biar aku yang antar.”

“Enggak, aku bisa pulang sendiri.” Jawabku dengan nada ketus.

“Please Ven,  jangan cuekin aku seperti ini. Jangan hindarin aku.” Lirihnya.

Aku menghela napas panjang. “Oke, tapi kamu harus janji kalau nggak akan bicara seperti itu lagi padaku.”

“Oke, aku janji.”  Dan akhirnya kami pun baikan.

Hubungan kami kembali seperti semula. Ibarat teman tapi mesra, ibarat sepasang kekasih tanpa status yang pasti. Gadis-gadis di sekolah kembali memusuhiku, dan gosip kami berpacaranpun kembali gencar di beritakan di kalangan anak-anak sekolah. Tapi aku tak ambil pusing. Yang terpenting adalah satu hal, Edo tak pernah lagi mengucapkan perasaan sukanya padaku. Dan itu membuatku tenang.

***

“Kenapa?” Tanya Mas Rangga padaku dengan sedikit berbisik.

“Ahh.. enggak.” Jawabku dengan sedikit tergagap.

“Wajahmu pucat. Kamu nggak enak badan?”

“Emmm kepalaku sedikit pusing, itu saja.” Jawabku cepat.

“Kamu mau kita pulang?” Tanya mas Rangga penuh perhatian.

Aku mengangguk cepat. “Ya, aku ingin pulang.” Bisikku padanya.

“Maaf Pak, sepertinya istri saya sedang tidak enak badan.” Ucap mas Rangga dengan sopan pada Edo. “Kami akan permisi pulang terlebih dahulu jika Pak Edo tidak keberatan.” Lanjutnya lagi dengan penuh hormat.

Edo menatapku dengan tatapan anehnya. Dan astaga,  Itu membuatku salah  tingkah.

“Kamu sakit?” Tanya Edo penuh perhatian.

“Umm, Maaf Pak, hanya sedikit pusing.”

“Mau saya antar pulang?”

Pertanyaan Edo membuat aku dan Mas Rangga saling menatap satu sama lain. Mengantar pulang? Yang benar saja. Dia adalah atasan  Mas Rangga, semoga saja Mas Rangga tidak curiga dengan sikap aneh Edo.

“Kami membawa mobil kantor, Pak.” Jawab mas Rangga cepat.

Edo akhirnya menganggukkan kepalanya. “Baiklah kalau begitu. Emm semoga kita bisa bertemu lagi.” Ucap Edo sambil menatap tajam ke arahku. Sedangkan aku hanya bisa menunduk.

***

Kami akhirnya keluar dari restoran tersebut. Mas Rangga berjalan cepat di hadapanku dengan ekspresi wajah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Ada apa dengannya?

“Mas, jangan terlalu cepat.” Ucapku sambil sedikit berlari menyusulnya. Tentu sangat susah mengingat saat ini aku sedang menggendong Tasya.

Tapi kemudian aku merasakan seseorang meraih sebelah tanganku. Saat aku menoleh ke belakang, aku mendapati tangan Edo yang sedang menggenggam pergelangan tanganku.

Please.  Jangan lakukan apa-apa, Do. Aku nggak mau Mas Rangga tau tentang hubungan kita dulu. Lirihku dalam hati.

“A.. ada apa Pak?” Tanyaku dengan suara tergagap.

Lalu aku merasakan Edo menyisipkan sesuatu di telapak tanganku, ia kemudian menggeggamkan tanganku.

“Hubungi aku.” Ucapnya.

Dengan spontan aku menoleh ke arah Mas Rangga. Mas rangga ternyata sudah berdiri tepat di sebelah pintu mobil dengan tatapan menuju ke arah kami.

“Edo..  Please..” lirihku hampir tak terdengar. Entah kenapa aku sangat takut, takut jika Mas Rangga tau semuanya kemudian dia membenciku.

“Kalau kamu ingin semua baik-baik saja, please, hubungi aku.” Ucap Edo lagi lalu dia pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih bingung.

***

Sampai di rumah, Mas Rangga tetap diam, dia seakan tidak acuh dengan  keberadaanku. Kenapa dia seperti itu? Apa dia tau hubunganku dengan Edo?

“Aku mandi dulu.” ucapnya datar sambil masuk ke dalam kamar mandi.

Dadaku terasa sesak melihat tingkahnya seperti itu, Mas Rangga tak pernah bersikap seperti itu padaku. Dia selau lemah lembut, perhatian, dan selalu menganggapku sebagai ratu, tapi entahlah, aku bingung dengan sikapnya sesore ini.

Akhirnya aku memilih berdiam diri di kamar bermain Tasya. menidurkan Tasya di boks bayi yang berada di ujung ruangan tersebut. Kemudian aku hanya bisa membatu di sana.

***

Aku membuka pintu rumah, dan mendapati sosok tinggi di hadapanku. Kenapa dia kemari? Pikirku saat itu.

“Mas Rangga, kenapa di sini?”

Veny, Boleh aku masuk?”

“Ya, silahkan.”

walau dengan wajah bingung aku tetap mempersilahkan mas Rangga masuk. Rangga Kurniawan adalah rekan kerjaku di sebuah perusahaan tempatku bekerja. Dia senior, tentu saja, karena sudah bertahun-tahun dia kerja di sana. Umurnya mungkin sekitar tiga sampai lima tahun lebih tua dari pada aku.

Kami tak pernah dekat, karena Rangga sendiri memang terkenal pendiam. Tapi dia bukan tipe  yang pendiam karena angkuh dan tak suka berteman. Tidak, dia bukan orang seperti itu. Dia ramah, banyak teman, tapi sikap pendiamnya mungkin karena memang dia tak ingin banyak bicara.

Aku mempersilahkan mas Rangga duduk di kursi tamu.

“Mau minum apa Mas?” Tanya ku sedikit canggung. Sungguh aku masih bingung dengan kehadiran Mas Rangga di rumahku.

“Tidak perlu Ven, aku hanya ingun bertemu kedua orang tuamu.”

Aku mengernyit, untuk apa mas Rangga ingin menemui mereka?

“Untuk apa mas mau menemui mereka?” Tanyaku sedikit bingung.

“Enggak apa-apa, ada yang mau ku bicarakan dengan mereka.”

Aku mengangguk, “Baiklah, aku panggil mereka dulu, ya,”

Akhirnya aku masuk, memanggil ibu dan ayahku. Merekapun tampak bingung dengan kehadiran sosok mas Rangga.

Mas Rangga sendiri langsung memperkenalkan diri pada kedua orang tuaku dengan sangat sopannya. Sedangkan orang tuaku menyambut hangat kedatangannya.

“Jadi, Nak Rangga, apa ada yang perlu di bicarakan dengan kami?” Ayah akhirnya bertanya secara langsung kepada Mas Rangga.

“Begini pak, kedatangan saya kemari adalah untuk melamar Veny menjadi istri saya.”

Mataku membulat seketika. Aku yang dalam posisi berdiri tak jauh dari tempat duduk ayah dan ibuku, tak dapat bergerak sedikitpun. Semuanya terasa kaku, mungkin aku terlalu terkejut dengan apa yang di katakan Mas Rangga.

Melamar? Astaga, Apa dia bercanda? Kami bahkan sangat jarang sekali berbicara satu sama lain, kenapa dia bisa-bisanya melamarku?

-TBC-

Missing Him – Bab 3

Comments 2 Standard

 

Bab 3

 

Dia masih menggerakkan tubuhnya di atasku, bibirnya tak berhenti mencumbu sepanjang kulit tubuhku, ia menjelma menjadi sosok yang berbeda, bukan sosok dingin dan kaku seperti biasanya, Diakah Mas Rangga suamiku?

***

Tubuhku masih lunglai dalam pelukannya, Mas Rangga masih setia memelukku dan sesekali mengecupi pundakku. Kami masih sama-sama polos di bawah selimut yang sama setelah percintaan panas yang baru saja kami lakukan.

Percintaan panas? Ya… aku bahkan tak mengerti apa yang terjadi dengan Mas Rangga, kenapa ia bisa bersikap seperti itu padaku tadi.

“Terimakasih….” ucap Mas Rangga yang membuat tubuhku kembali bergetar.

“Apa ada yang salah denganmu Mas?”

“Kenapa?”

“Kamu berbeda.”

“Aku masih sama, aku hanya ingin melakukan apa yang menurutku benar.”

“Maksud Mas Rangga?” Tanyaku masih dengan raut bingung.

“Ku pikir selama ini aku tidak memperlakukanmu dengan benar, Sayang, maaf.”

“Aku juga minta maaf Mas..” lirihku.

“Untuk apa?”

‘Karena aku masih memikirkan dia dan belum bisa sepenuhnya menerimamu….’ ucapku dalam hati.

“Untuk semua kesalahan yang pernah kuperbuat.” Jawabku.

“Kamu nggak pernah salah. Mas yang selalu salah.” Mas Rangga berkata dengan mengusap lembut punggung telanjangku. “Ayo bangun, kita harus menjemput  Tasya.”

Aku menatapnya dan tersenyum ke arahnya. “Ayo.” Ucapku sambil bangun.

***

“Kamu kenapa sih Do? Gay?? Enggak kan?” Tanyaku pada lelaki yang kini duduk santai di hadapanku sambil meminum jus pesananku.

“Kenapa kamu tanya itu?”

“Do, aku capek kalo banyak cewek di sekolah ini yang salah paham padaku, mereka memusuhiku Do..”

“Kalo mereka macem-macem bilang saja sama aku.” Jawabnya santai.

“Aku nggak perlu pembelaan kamu, yang kuperlukan adalah berhenti bilang kalau kita pacaran. Jadi mereka nggak salah paham sama aku dan musuhi aku.”

“Kita memang pacaran..” jawab Edo dengan santai.

“Enggak. Kita nggak pernah jadian.”

“Mulai detik ini kita jadian.”

“Yang benar saja, kamu gila.”

“Ya,aku gila. Aku gila karena suka sama kamu.” Ucapan Edo membuatku membatu seketika.

Tidak! Edo tidak mungkin menyukaiku. Ini hanyalah triknya supaya aku mau menjadi pacar bohongannya.

“Nggak lucu tau nggak Do.” ucapku sambil berdiri dan bersiap meninggalkannya.

Tapi kemudian aku merasakan pergelangan tanganku di genggam oleh seseorang, dan saat aku melihatnya, ternyata Edo yang menggenggamnya.

“Kenapa Ven? Kamu nggak percaya kalau aku suka sama kamu?”

“Do, ini nggak bener, ini gila.”

“Ya, aku gila karena suka sama kamu Ven, please, lihat mataku dan cari kebenaran di sana.”

Aku menuruti apa mau Edo. Kutatap matanya, mencari kebenaran di sana, mencoba mencari kebohongan atau apa pun di sana. Tapi yang ku dapat, hanyalah sebuah ketulusan. Benarkah Edo tulus menyukaiku? Astaga! Tidak, kita tidak boleh menjalin kasih, kita hanya boleh berteman. Titik.

***

Bayangan Edo kembali menyeruak dalam benakku. Saat pertama kali Edo menyatakan rasa cintanya yang kemudian berujung penolakan dariku.

Ya, aku tau, aku dan Edo tak mungkin bersatu hanya karena satu alasan.

Kami berbeda keyakinan….

Satu hal itu membuatku jauh dari kata bersatu dengan Edo. Dan sampai kini aku sadar jika hubungan kami berdua memang tak lebih dari sekedar berteman.

“Ven. nanti temani mas ketemu sama Bos baruku,  ya,” suara Mas Rangga kembali menyadarkanku dari lamunan.

“Bos baru?” Aku mengernyit.

“Ya, sekarang bukan pak Chiko lagi yang jadi GM di kantor kita. Tapi anak dari pemilik kantor pusat.”

“Wah, yang benar Mas?”

“Iya, dan beliau baik sekali.” Ucap mas Rangga dengan semangat.

“Kapan?”

“Nanti setelah jemput  Tasya, kebetulan orangnya tadi hubungi Mas, minta di bawakan sebuah berkas yang kebetulan sedang Mas bawa.”

“Oke Mas.” Jawabku. Kemudian aku kembali menyiapkan diri serapi mungkin untuk segera bergegas menjemput  Tasya.

***

“Kita ketemu Bos kamu di mana, Mas?” Tanyaku saat Mas Rangga sibuk mengemudikan mobil yang sedang kami tumpangi. Tentu saja mobil ini bukan mobik milik kami sendiri. beberapa bulan yang lalu, Mas Rangga naik jabatan, dan perusahaan memfasilitasinya dengan kendaraan.

“Di restoran, beliau kebetulan ada di restoran tak jauh dari sini.”

“Aku tunggu di mobil saja deh Mas, nggak enak, aku bawa Tasya.”

“Ayo ikut, nggak apa-apa, Bosku kebetulan pengen lihat dan kenal kamu.”

Aku mengernyit. “Loh kenapa memangnya?”

“Beliau tau kalau kamu itu dulu adalah salah satu karyawan perusahaan yang teladan. Katanya setidaknya beliau ingin mengenalmu.”

Dan aku hanya menganggukkan kepala. Aku tidak heran dengan sikap atasan Mas Rangga. yang membuatku heran adalah sikap Mas Rangga sesore ini yang membuat jantungku jedak jeduk tak menentu. Dia banyak bicara, tak seperti sebelum-sebelumnya.

Tanpa terasa, akhirnya kami sampai juga di restoran yang di maksudkan. Kami turun dari mobil kemudian masuk ke dalam restoran tersebut.

“Itu orangnya.” Ucap mas Rangga sambil menunjuk seseorang yang sedang duduk membelakangi  kami di ujung ruangan.

Kami berjalan menuju ke arah orang tersebut. Dan alangkah terkejutnya aku ketika sampai di hadapan atasan Mas Rangga itu.

Dia… Dia…. Edo.. Lelaki yang selalu berada dalam pikiranku.

Aku membulatkan mataku seketika sedangkan Edo malah menyunggingkan senyumannya di hadapan kami seakan dia tidak terkejut sama sekali dengan pertemuan kami saat ini.

“Selamat malam Pak.” Ucap Mas Rangga sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Edo.

Aku melihat Edo membalas uluran tangan Mas Rangga. “Selamat malam, jadi, ini istri kamu?” Tanyanya sambil menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Ya pak, ini Veny.” Mas Rangga memperkenalkan aku kepada Edo. Sedangkan Edo dengan santainya mengulurkan tangannya padaku.

“Edo.” Ucapnya sambil tersenyum miring.

Aku mencoba membalas uluran tangan Edo walau kini tanganku sudah gemetar.

“Veny.” Jawabku dengan suara bergetar sambil menyambut uluran tangan Edo. kemudian aku merasakan Edo yang mengeratkan genggaman tangannya pada tanganku. Seakan dia menangkap sesuatu dan tak ingin melepaskannya. Apa maksud Edo? Kenapa dia kembali pada kehidupanku saat aku mulai membuka hati untuk Mas Rangga, suamiku?

-TBC-