Sleeping with My Friend – Bab 19

Comments 2 Standard

“Aku benar-benar tidak menyangka. Astaga… jadi kau, kau sama sekali tak tertarik denganku? Kau hanya… Ya Tuhan! Aku tidak percaya.” Donna bersiap pergi. Ia malu, tentu saja. Ia berharap terlalu banyak dan ia terlalu salah menerka keadaan. Donna merasa sangat malu, ia menganggap dirinya sendiri begitu istimewa untuk seorang Steven Morgan, tapi kenyataan yang ia dapat adalah sebaliknya, bahwa Steven Morgan TIDAK benar-benar tertarik dengannya.

“Donna.” Steve ingin menenangkan wanita itu.

“Tidak! Steve. Jangan!” napas Donna memburu karena kekesalan yang memuncak dikepalanya. “Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.” Setelah perkataannya tersebut, wanita itu pergi.

Oke, sempurna. Setidaknya Donna Simmon tak akan mengganggu kehidupannya lagi. Tapi bukan seperti itu yang dirasakan Steve. Ia merasa menjadi orang yang sangat brengsek. Membuat wanita itu berharap lebih, membuat wanita itu salah paham dan lebih parah lagi memanfaatkan kehadiran wanita itu untuk  menyembunyikan perasaannya sendiri kepada Jessie, perasaan yang selalu ingin ia pungkiri. Sejak lama…..

 

Bab 19

Jessie sudah bulat pada keputusannya, bahwa ia akan pulang ke Pennington sementara waktu. Memang terlihat sangat kekanakan, tapi ia tidak bisa selalu memikirkan tentang Steve dan Donna Simmon lalu berakhir stress dan membahayakan kandungannya. Jessie ingin menenangkan diri di rumah Sang ayah.

Tadi siang, setelah berperang dengan batinnya sendiri, Jessie berinisiatif untuk menemui Steve lebih dulu. Ia ke tempat kerja lelaki itu, dan di sana, Jessie mendapati Steve  sedang menerima tamunya.

Tamu istimewa tentunya.

Jessie bahkan sempat melihat posisi wanita itu yang duduk dengan berani di meja kerja Steve, dengan jemari yang menggoda dada Steve. Tentu Jessie belum sempat mendengar apa yang mereka bahas, karena Jessie memilih untuk kembali pergi setelah membuka sedikit pintu ruang kerja Steve dan mendapati pemandangan tersebut.

Mungkin, mereka baru saja membahas tentang malam panas mereka semalam, mungkin mereka sedang membahas waktu untuk bercinta lagi selanjutnya. Jessie tidak tahu dan demi Tuhan, ia tidak ingin tahu!

Pikiran tersebut keluar dengan sendirinya di kepalanya, terputar lagi dan lagi, lalu Jessie mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk seperti perpisahannya dengan Steve, nasib anaknya yang tidak akan memiliki ayah sebelum ia dilahirkan, dan banyak lagi. Jessie tidak tahu kenapa ia sampai berpikir kesana, Jessie bahkan merasa bahwa dirinya tidak akan dapat berpikir secara realistis lagi jika itu menyangkut hubungannya dengan Steve.

Jessie menghela napas panjang. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil sewaan yang ia tumpangi.

Memasuki kawasan Pennington, ponsel Jessie berbunyi. Jessie melirik sekilas, rupanya Steve yang meneleponnya. Jessie memutuskan untuk tak mengangkatnya, karena ia sendiri tidak tahu harus memberikan alasan apa untuk lelaki itu.

Ponselnya lalu berbunyi lagi dan lagi, dan Jessie tetap memilih untuk tidak mengangkatnya. Lalu pesan singkat Steve sempat membuat Jessie membatu.

Steve : Apa kau sedang tidur? Aku hanya ingin mengabari bahwa aku pulang cepat, dan aku akan membawa makan malam. Jangan masak.

Ya Tuhan! Apa ia harus kembali ke New York sekarang? Tidak! Ia tidak akan kembali hanya karena pesan singkat dari lelaki itu. Jessie tidak menjawab pesan tersebut dan memilih mengabaikannya.

Ia memilih bersiap-siap untuk menghadapi ayahnya. Ya, beberapa meter lagi ia akan sampai, dan ia tahu bahwa George tak akan berhenti bertanya padanya sebelum ia jujur tentang apa yang sedang menimpa hubungannya dengan Steve hingga membuatnya kabur dari rumah.

***

Tepat jam Enam sore, steve sampai di apartmen Jessie dengan beberapa bingkisan makan malam mereka. Sedikit heran karena ia mendapati apartmen wanita itu kosong. Apa Jessie belum pulang dari butiknya?

Lalu bayangan tentang kebersamaan Jessie dengan Henry kemarin malam membuat Steve kesal. Apa jessie kembali menemui kekasihnya itu?

Tak ingin menebak-nebak keadaan, Steve memilih menghubungi Jessie. Tapi teleponnya tak diangkat. Bahkan sejak sore tadi, Jessie tak mengangkat teleponnya, pesannya pun tak dibalas. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan wanita itu? Dimana dia?

Akhirnya Steve memilih menghubungi Frank. Mungkin Frank tahu dimana keberadaan Jessie dan apa yang terjadi dengan wanita itu.

“Ada apa, Steve?” Akhirnya Frank menjawab teleponnya.

“Frank, kau tahu dimana Jessie?”

“Kenapa kau mencarinya ditempatku?”

“Aku tidak tahu harus mencarinya kemana, Frank. Dia tidak mengangkat teleponku, tidak membalas pesanku. Dan dia tidak ada di apartmen.”

“Kau sudah mencarinya di butik?”

“Belum. Dan aku tidak ingin mencarinya kesana.”

“Ayolah, Steve. Jangan kekanakan. Kalaupun kau mendapati Henry datang menemui Jess lagi di sana, tandanya mereka tak ada hubungan apapun. Karena jika mereka berniat bermain dibelakangmu, mereka tak akan bertemu di butik Jess. Kau harus lebih realistis.” Frank menyarankan.

Sebenarnya, Steve sudah bercerita tentang Henry yang datang menemui Jessie pada Frank. Entah kenapa Steve memilih bercerita pada Frank daripada dengan Hank temannya.

“Entahlah. Aku hanya tidak ingin mendapati kenyataan buruk.”

Frank terdengar mendengus sebal. “Jadi, apa maumu?”

“Bisakah kau menghubungi Jessie? Jika dia mengangat teleponmu, berarti dia memang sedang menghindariku. Dan tolong, tanya dimana dia berada. Aku benar-benar mengkhawatirkannya.”

Frank tertawa lebar. “Ya Tuhan! Lelaki dewasa dengan Ego dan Cintanya. Sepertinya aku akan menulis kisah cinta kalian menjadi novel.”

“Brengsek Frank! Aku sedang tidak ingin bercanda!”

Lagi-lagi terdengar tawa lebar dari Frank. “Baiklah, aku akan meneleponnya. Jika aku sudah mendapat kabar, aku akan segera menghubungimu agar kau tidak gila karena gelisah.”

“Sialan!” Steve mengumpat. Kemudian telepon ditutup.

Steve lalu melemparkan diri di sofa ruang tengah apartemen Jessie. Meski sudah meminta bantuan Frank, tapi Steve belum bisa tenang sebelum tahu dimana Jessie dan kenapa wanita itu tidak ingin mengangkat telepon darinya.

Dua puluh menit kemudian, ponsel Steve berdering. Steve segera mengangkatnya saat mendapati nama Frank sebagai si pemanggil.

“Ada kabar?” tanyanya dengan segera saat mengangkat telepon.

“Ya. Dia mengangkat teleponku. Dan dia sedang berada di Pennington.”

“Apa? Apa yang dia lakukan di sana?”

Frank menghela napas  panjang. “Steve. Sepertinya kalian harus bicara baik-baik. Kau ingin aku menjadi penengah diantara kalian?”

“Tidak. Aku tidak mengerti, Frank. Kenapa dia meninggalkanku? Astaga! Apa dia memang tidak ingin melanjutkan pernikahan ini?”

“Demi Tuhan, Steve! ini tidak akan selesai jika kau tidak membuang ego dan emosimu. Lagi pula, membahas di telepon tak akan menyelesaikan masalah.” Frank terdengar kesal. Tapi lelaki itu benar.

“Jadi, apa yang harus kulakukan?” tanya Steve kemudian.

“Jika aku jadi kau, maka aku akan menyusulnya.”

“Frank. Astaga, aku tidak pernah melakukan itu pada wanita sebelumnya. Merendahkan harga diriku hingga seperti itu, yang benar saja.”

“Kau juga tak pernah ingin menikahi perempuan sebelumnya jika bukan dengan Jess. Dan jangan lupakan fakta bahwa kau tidak pernah begitu mencintai perempuan seperti mencintai Jess.”

“Jangan bersikap sok tahu, Frank!”

“Sialan! Kau pikir aku buta setelah semalaman menemanimu mabuk dan merengek seperti anak kecil.”

“Brengsek!” Steve mengumpat keras. Ya, Frank memang brengsek. Tapi apa yang dikatakan kakak iparnya itu memang benar. Ia tidak pernah menginginkan orang seperti menginginkan Jessie, ia tidak pernah berharap memiliki masa depan yang bahagia selain dengan Jessie. Jadi jika ia ingin mempertahankan hubungan mereka, maka saran Frank adalah yang paling benar.

Ya Tuhan! Steve tidak percaya jika ia akan bertekuk lutut seperti ini dengan seorang Jessica Summer.

“Bagaimana? Kau mau menyusulnya?”

Steve mendesah panjang. “Ya. Aku akan melakukannya.”

“Good job, Brother.” Ucap Frank dengan senang. “jika kau ke sana, aku akan menemanimu. Oke?”

“Aku akan melakukannya sendiri.”

“Tidak. Aku tahu itu akan semakin kacau. Aku akan menemanimu.”

Frank benar. Mereka tidak akan bisa bicara berdua dengan kepala dingin. Jadi harus ada penengahnya. Dan menunjuk Frank sepertinya bukan ide buruk.

“Frank.” Tiba-tiba saja Steve ingin menanyakan sesuatu pada lelaki itu.

“Ya?”

“Kau yakin jika aku benar-benar mencintainya?” tanya Steve kemudian.

Sial! Ia benar-benar merasa seperti orang idiot setelah bertanya pada Frank tentang hal sesensitif itu.

Bukannya menjawab dengan serius, Frank malah tertawa lebar. Baiklah, Steve merasa sangat menyesal karena sudah menanyakan hal itu pada si Brengsek Frank Summer.

“Dengar, Brother. Hal itu hanya bisa dijawab oleh dirimu sendiri. Tanyakan pada hatimu, tanyakan ke dasar hatimu yang paling dalam, apa yang paling kau inginkan didunia ini. Jika jawabannya adalah ingin bahagia bersama dengan Jessie, maka Ya, kau benar-benar sedang jatuh cinta padanya.”

Steve hanya mengangguk. “Kau tampak sangat berpengalaman. Aku jadi penasaran, siapa wanita yang mengajarimu tentang kata sialan itu.”

Lagi-lagi, Frank tertawa lebar. “Aku memiliki banyak istri Steve.”

“Sial! Aku tidak sedang bercanda.”

“Aku juga tidak sedang bercanda. Kau tahu, seorang penulis bisa menjadi apa saja dan siapa saja seperti yang ia kehendaki. Bagiku, semua tokoh utama perempuan dalam novel yang kuciptakan adalah istriku, karena aku ingin membangun sebuah keintiman dengan mereka agar pembacaku merasakan apa yang dirasakan oleh para tokoh yang kuciptakan.”

“Sepertinya, butuh imajinasi yang tinggi untuk berbicara denganmu tentang hal ini.”

“Tentu saja.” Jawab Frank masih dengan tawa lebarnya. “Jadi, kapan kita ke Pennington?” tanya Frank kemudian.

“Jika kau tidak keberatan, aku ingin ke sana malam ini juga.”

“Baiklah. Aku akan bersiap-siap.”

Dan setelah itu, telepon di tutup. Steve menghela naps panjang. Ya, semuanya harus ia selesaikan malam ini juga. Semuanya tak boleh berlarut-larut. Bagaimanapun juga, ia ingin semua segerah selesai dengan baik-baik tanpa menimbukan masalah kedepannya.

***

Jam Delapan malam, Steve dan Frank sampai di Pennington. Keduanya disambut hangat oleh George, dan Steve sempat kecewa karena tidak mendapati Jessie berada di sana.

“Dia di rumahmu, dan mungkin tidur di sana karena seharian aku bertanya padanya apa yang terjadi. Mungkin karena risih, dia pergi meninggalkanku.”

Steve menghela napas panjang. “Aku akan menemuinya.”

Steve segera bergegas, tapi George segera menghadang Steve. “Kupikir, biarkan saja dia sendiri. aku tidak pernah melihat Jess sesendu dan sebingung itu.”

“Bingung? Apa yang dia bingungkan? Bukankah seharusnya aku yang bingung? Kenapa dia meninggalkanku disaat seperti ini?”

“Steve, kau sudah berjanji akan mengendalikan emosimu.” Frank mengingatkan.

“Tapi aku tidak mengerti, Frank.” Steve mengusap rambutnya kasar. “Sial! Aku melihatnya berpelukan dengan mantan tunangannya. Bukankah seharusnya aku yang marah? Seharusnya aku yang bingung dengan keadaan kami.”

“Sepertinya kau butuh minum, Nak.” George yang berkata. Lelaki paruh baya itu bahkan sudah menuju ke arah bar mini di ujung rumahnya, menuangkan sesuatu di sebuah gelas dan memberikannya pada Steve.

“Dad, kau sudah berjanji tak akan minum lagi.” Frank mengingatkan.

“Ya, aku tak akan minum, itu untuk Steve. dia butuh minum untuk menenangkan pikirannya.”

Steve menerimanya, meminumnya, dan benar apa yang dikatakan George, bahwa anggur olahannya segera membuat steve tenang.

“Dengan Marina dulu, aku juga sering menghadapi beberapa masalah serius.” George mulai bercerita, lelaki itu menuju ke arah tempat duduk, berharap dua lelaki muda di hadapannya mengikutinya dan mendengarkan ceritanya. “tapi kami selalu bisa menyelesaikan masalah kami dengan kepala dingin. Mengesampingkan ego dan harga diri kami demi cinta dan kasih.”

“Aku sudah mengatakan hal itu padanya, Dad.” Frank menyahut.

“Frank, kau belum mengalaminya. Karena itu, kau bisa mengatakannya dengan mudah. Jika kau berada dalam posisi Steve, maka aku yakin, kau juga sama bingungnya dengan dia. aku pernah mengalaminya.”

“Jadi pertanyaannya adalah, apa yang harus kulakukan?” tanya Steve kemudian.

“Wanita adalah makhluk yang unik. mereka selalu mengatakan jika kita, kaum pria adalah kaum yang tidak peka, saat kita bertanya apa kesalahan kita, bukan menjelaskan, mereka akan semakin marah.”

“Karena itulah aku tak ingin berurusan dengan perempuan nyata.” Frank berkomentan.

“Tapi selain itu, mereka memiliki sisi yang sangat lembut. Tak peduli, berapapun kau melakukan kesalahan, jika wanita itu benar-benar mencintaimu, maka dia akan memaafkanmu.”

“Semudah itu?” Frank bertanya.

“Tidak juga. Jika kau mendapat seorang wanita yang kuat dan tegar, jangan harap jalan mendapatkan maaf darinya akan mudah-mudah saja.”

“Oh. Sepertinya aku memang tak harus berurusan dengan para wanita-wanita itu.” Lagi, Frank berkomentar.

“Jadi menurutmu, aku harus mengalah saat aku tidak tahu apa kesalahanku?” tanya Steve pada George.

George mengangguk. “Aku tahu, kadang itu berbenturan dengan ego kita untuk melindungi harga diri kita sebagai seorang lelaki. Tapi tak ada salahnya mengalah untuk menang. Jess tak mungkin tiba-tiba bersikap seperti itu tanpa alasan. Aku tahu dia memiliki alasan yang kuat. Hanya saja, caranya untuk menghadapi masalah adalah cara yang salah. Kau, sebagai suaminya, harus bisa lebih mengalah. Saat pikiran kalian sudah sama-sama mendingin, saat itulah kalian bisa mulai membahas masalah kalian dengan akal sehat.”

Steve menganggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan George memang benar. Apalagi mengingat kondisi Jessie yang labil. Apapun yang ia lakukan pasti akan salah di mata wanita itu, jadi jalan yang paling benar adalah mengalah terlebih dahulu untuk mendapatkan hati wanita itu, jika semuanya sudah membaik, ia akan membahas masalah mereka tanpa emosi.

Tapi bisakah ia melakukannya?

“Apa aku sudah boleh menemuinya?” tanya Steve kemudian.

“Ya, tentu saja. Tapi ingat pesanku.” Ucap George kemudian.

Steve segera bergegas. “Ya. Tentu saja.” Jawabnya sebelum pergi.

“Aku akan menemanimu.” Frank akan menyusul, tapi George menghadang anak lelakinya tersebut.

“Tidak, Frank. Karena aku ingin membahas sesuatu denganmu.”

“Apa?” tanya Frank sedikit curiga.

“Tentang perkataanmu, bahwa kau tak ingin berurusan dengan yang namanya perempuan.”

“Oh, ayolah Dad. Aku hanya bercanda.”

“Tidak, kau tidak sedang bercanda, Frank. Dan karena kau tidak sedang bercanda, maka aku akan memberimu beberapa nasihat.”

Frank memutar bola matanya. Ini tak akan baik, Frank kurang suka dinasehati, apalagi jika tentang perempuan. Demi Tuhan! Ia merasa lebih berpengalaman dengan yang namanya perempuan, meski perempuan-perempuan itu hanya perempuan khayalannya dalam novel yang ia tulis.

***

Steve memasuki rumahnya dan disambut oleh ibunya. Sang Ibu sempat terkejut dengan kehadiran Steve. karena sebelumnya, Jessie berkata bahwa Steve sedang sibuk dengan pekerjaanya karena itu Jessie hanya pulang ke Pennington sendiri. Patty tentu tidak tahu bahwa Jessie sedang memiliki masalah serius dengan Steve.

“Kupikir kau tidak datang.”

“Tentu aku datang, aku akan menjemputnya pulang.”

“Ada masalah?” Patty bertanya.

“Mom. Biarkan aku menyelesaikannya sendiri.”

“Tidak! Kau selalu payah dalam menyelesaikan masalah.”

“Mom!” Steve bahkan berseru pada ibunya. “Aku benar-benar ingin bicara dengan Jessie dan menyelesaikannya hanya berdua. Tolong.”

Patty menghela napas panjang. “Baiklah. Mungkin dia sudah tidur, di kamarmu.”

Dan tak ingin membuang waktu lagi, Steve segera menuju ke arah kamarnya, menemui Jessie dan menyelesaikan semuanya. Ya, semuanya sampai tuntas.

-TBC-

Advertisements

My Beautiful Mistress – Bab 10

Comment 1 Standard

 

Bab 10

Sampai di rumah, Ellie segera bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia menuju ke arah lemari, mengambil baju santainya sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Ellie ingin membersihkan diri sebelum naik ke atas ranjang untuk beristirahat. Ia bahkan mengabaikan keberadaan Jiro yang sedang memperhatikan setiap gerak-geriknya.

Mungkin sekitar setengah jam kemudian, Ellie baru keluar dari kamar mandi. Wanita itu sudah tampak segar karena berendam cukup lama untuk menghilangkan rasa lelahnya. Berbeda dengan Jiro yang masih tampak tegang karena menunggu Ellie keluar dari dalam kamar mandi.

Jiro bangkit seketika saat melihat Ellie duduk di depan meja riasnya. “Sudah segar?” tanya Jiro sembari mendekat.

“Ya.” Ellie menjawab pendek. Ellie lebih memilih mengeringkan rambutnya sendiri di depan meja riasnya. Ia bahkan tidak mempedulikan Jiro yang mulai berjalan mendekat ke arahnya.

“Aku bingung, kenapa tiba-tiba sikapmu berubah seperti ini.”

“Berubah bagaimana?”

“Kupikir, kamu tadi sudah senang setelah aku mengajakmu jalan-jalan. Tapi tiba-tiba kamu berubah lagi. Apa aku membuat salah?”

Ellie menatap Jiro seketika. “Kesalahan utama kamu adalah, bahwa kamu tidak tahu dimana letak kesalahanmu.”

“Kamu marah karena aku tidak merasa bersalah?” Ellie tidak menjawab. Ia memilih membalikkan tubuhnya kembali menatap ke arah cermin. Tapi secepat kilat Jiro duduk di sebelah Ellie. Memutar kursi yang di duduki Ellie hingga menghadap ke arahnya. “Jika kamu marah tentang Vanesha, aku bisa menjelaskannya.”

Oh, Ellie bahkan melupakan tentang wanita itu padahal Jiro belum menjelaskan apapun tentang wanita itu. Kemarin, Ellie memang kesal karena wanita itu, tapi saat ini, bukan hal itu yang membuat Ellie kesal. Ellie sendiri tidak tahu bagaimana caranya mengatakan masalahnya pada Jiro.

“Vanesha mengira apartmenku adalah milik Troy, karena mereka pernah berkencan di sana. Dia mencari Troy di sana. Dan masalah kontrasepsi itu, semuanya milik Troy.”

“Tapi, bukannya dia kekasih kamu, ya? Aku sudah melihat gosipnya. Jadi kamu tidak perlu mengelak.”

“Ada beberapa gosip yang sengaja di buat oleh pihak management untuk menaikkan pamor artisnya. Saat itu, The Batman sedang mengeluarkan album baru, dan Vanesha sedang bermain Film layar lebar. Jadi, sangat tepat jika…”

“Aku tidak peduli, James.” Ellie menjawab cepat.

Jiro menggenggam kedua telapak tangan Ellie. “Aku sudah mengatakan, bahwa aku ingin kamu peduli.” Ucap Jiro penuh penekanan.

“Kenapa kamu menjelaskan semuanya padaku? Bagiku, tak ada bedanya, entah kamu benar-benar selingkuh dengan perempuan itu atau tidak. Nyatanya, aku hidup seperti seorang simpanan.”

“Nyatanya kamu bukan simpanan. Kamu istriku.”

“Katakan itu pada publik.” Ellie menantang.

Jiro membatu seketika. Jiro tak percaya jika secara terang-terangan Ellie menuntutnya sampai seperti ini. Jiro tidak bisa melakukannya, tidak sekarang, dan mungkin tidak akan selamanya.

Jiro menangkup kedua pipi Ellie. “Aku tidak bisa.” Jawabnya dengan jujur.

“Kalau begitu, lupakan.” Ellie akan memutar tubuhnya kembali, tapi Jiro menghadangnya, dan dengan kurang ajar, lelaki itu segera menyambar bibir Ellie. Mencumbunya, berharap Ellie melupakan kemarahannya.

Tapi sekuat tenaga, Ellie mendorong keras tubuh Jiro hingga tautan bibir mereka terputus.

“James!” Ellie berseru keras.

“Kenapa? Kamu berani menolakku sekarang?”

“Aku tidak pernah takut dengan kamu, James.” Ellie menjawab dengan tegas. “Tapi aku hanya diam selama ini. Seakarang, aku akan menyuarakan apa yang kuinginkan dan apa yang tidak kuinginkan.” lanjutnya.

“Jadi, apa kamu menolak ini.” Jiro kembali menangkup pipi Ellie lalu mencumbunya kembali.

Ellie mendorog lagi dan berseru sekali lagi “James!” tapi Jiro tak mau kalah, ia kembali menangkup pipi Ellie kemudian mencumbunya dengan penuh gairah. Jiro memang tidak suka saat Ellie bersikap membangkang padanya, tapi di sisi lain, Jiro tergoda dengan sikap Ellie yang berani seperti itu. Membuat Jiro tertantang, membuat Jiro menginginkan lebih.

Jiro masih mencumbu meski ia melihat Ellie meronta. Ia tidak akan menyakiti Ellie tapi ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan meski Ellie menolaknya. Jiro bahkan sudah memaksa Ellie berdiri tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Jemarinya dengan paksa sudah menelusup memasuki pakaian yang dikenakan Ellie, kemudian menggoda istrinya itu agar tidak lagi meronta. Dan benar saja, setelah gigih menggoda Ellie, akhirnya pertahanan Ellie runtuh.

Ellie menikmati setiap sentuhan Jiro, setiap cumbuan dari suaminya tersebut. Jiro tahu bahwa Ellie juga menginginkannya. Istrinya itu pasti dipengaruhi oleh gairah yang ia berikan, belum lagi hormon kehamilan yang membuatnya Ellie labil dan terpancing gairahnya. Ellie hanya berusaha menolak bukan karena tak ingin, tapi karena wanita itu ingin membuatnya kesal. Jiro tahu. Tapi Ellie salah, Jiro tak akan kesal, karena Jiro akan menuruti permainan wanita tersebut.

Sedikit demi sedikit, Jiro membawa tubuh Ellie menuju ke dekat ranjang mereka. Tanpa melepaskan tautan bibirnya, Jiro mulai membuka pakaian yang tadi baru saja dikenakan oleh Ellie. Ellie menuruti saja apapun yang dilakukan Jiro, Ellie benar-benar telah dipengaruhi oleh sebuah gairah yang tak dapat ia tolak.

Jiro melepaskan tautan bibir mereka saat dirasanya napas Ellie sudah terputus-putus. Ia kemudian tersenyum, menunduk, menempelkan keningnya pada kening Ellie.

“Aku benar-benar menginginkanmu, Ellie.”bisiknya dengan suara serak. “Jangan menolakku.”

Dengan spontan Ellie mengalungkan lengannya pada leher Jiro, kemudian ia berkata “Tidak. Aku tidak akan menolak.”

Ya. Jiro kembali merasa menang. Ellie tak dapat menolaknya, dan Jiro tak akan membuang waktu lagi sebelum pikiran wanita itu berubah dan kembali menjadi sosok pembangkang, penyindir dan juga pendiam yang membuat Jiro kesal.

Dengan cepat Jiro melucuti pakaiannya senidri satu persatu, ia juga membantu Ellie melucuti pakaian wanita itu sebelum kembali menyambar bibir ranum Sang istri.

Oh, Ellie begitu nikmat. Membuat Jiro merasa bodoh karena selama ini hampir tak pernah menikmati permainan panasnya. Ya, ia hanya akan melampiaskan hasrat seksualnya, tanpa menikmati prosesnya, hanya itu. Dan kini, Jiro tak ingin lagi seperti itu lagi.

Jika ia membutuhkan sebuah pelepasan, maka ia akan menikmati keseluruhan prosesnya seperti sekarang ini.

Bukannya mengajak Ellie naik ke atas ranjang mereka, Jiro memilih mendorong wanita itu menuju ke arah dinding terdekat. Jiro menghimpit Ellie diantara dinding. Mengangkat tubuh wanita itu agar sejajar dengan tinggi tubuhnya.

Ellie merasa bahwa Jiro begitu kuat, lelaki itu mengengkatnya dengan begitu perkasa, seperti Ellie seringan kapas. Padahal Ellie tahu bahwa bobot tubuhnya saat ini mulai bertambah karena kehamilannya. Hal itu semakin membuat Ellie mengagumi Jiro, membuat Ellie ingin selalu memiliki lelaki ini di sisinya untuk melindungi dirinya dan juga bayi mereka. Ahhh, andai saja Jiro sepeka itu.

Bibir Jiro masih mencumbu Ellie, sesekali melepaskan cumbuannya kemudian beralih pada leher jenjang Ellie. Dan ketika Jiro tak mampu menahan gairahnya lagi, ia mulai menyatukan diri masih dengan posisi berdiri.

“Ohhhh…” Ellie melenguh panjang ketika merasakan Jiro penuh mengisinya.

“Apa, aku menyakitimu?” tanya Jiro sedikit khawatir. Selama ini, Ellie bahkan tampak sulit mengekspresikan dirinya ketika mereka bercinta. Dan kini, Jiro melihat Ellie tampak kewalahan dengan gairah yang telah ia berikan.

Ellie menggelengkan kepalanya. “Tidak.” Jawabnya setengah mendesah.

“Kalau begitu, aku akan melakukannya.”

“Ya. Lakukanlah.”

“Lebih keras dari sebelumnya.” Ucap Jiro dengan mata yang menatap tajam ke arah Ellie.

“Apa?” Ellie tidak mengerti apa artinya lebih keras dari sebelumnya.

“Aku tidak bisa terlalu lama menahan diri.” Kemudian Jiro mulai menghujam keras, membuat Ellie mengerang seketika. “Aku begitu menginginkanmu, hingga rasanya nyaris meledak.” Jiro meracau. Sedangkan Ellie lebih memilih menikmati hujaman keras dari Jiro.

Biasanya, Jiro melakukanya dengan lembut, kadang dengan cepat, tapi tak pernah sekeras ini, seperti lelaki itu tidak bisa mengendalikan dirinya. Meski begitu, Ellie tidak merasakan sakit. Sensasinya membuat Ellie merasa terbakar, gairahnya semakin membumbung tinggi. Ya Tuhan! Ellie tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.

“Ellie.” Tanpa menghentikan pergerakannya, Jiro mencengkeram rahang Ellie kemudian menghadapkan wajah wanita itu ke arahnya. “Kamu hanya milikku! Kamu hanya miliku!” Serunya berkali-kali sebelum kembali menyambar bibir ranum Ellie, melumatnya dengan panas dan membawa diri mereka terbang ke puncak gairah yang tiada duanya…

***

Setelah percintaan panas mereka dan mendapatkan beberapa kali pelepasan, keduanya tertidur. Menjelang tengah malam, Ellie terbangun. Ia kelaparan karena melewatkan jam makan malamnya. Saat tengah gelisah di atas ranjangnya, Jiro terjaga dari tidurnya.

“Kamu bangun?” tanyanya dengan suara serak.

“Aku lapar.” Ellie menjawab dengan nada polos membuat Jiro tersenyum kemudian bangun dan segera bangkit.

“Mau pesan makan?”

“Tengah malam begini mana ada orang jualan?” Ellie menggerutu sebal. Ia benar-benar merasa kelaparan.

“Kalau begitu, aku akan membuatkanmu sesuatu.” Jiro bergegas pergi meninggalkan Ellie, sedangkan Ellie segera mengikuti lelaki itu. Tak lupa, Ellie mengenakan pakaian tidurnya karena ia tidak mungkin mengikuti Jiro dalam keadaan telanjang bulat.

Ellie sampai di dapur saat Jiro sudah mengeluarkan beberapa bahan makanan dari lemari pendingin. “Hanya ada telur dan sosis. Kamu mau dibuatkan apa?”

“Omlet saja.” Jawab Ellie sembari duduk di bangku yang ada di depan meja dapur.

“Yakin hanya itu? Nasi goreng nggak mau?”

“Tidak ada nasi. Kalau menunggu masak nasi dulu, aku keburu mati kelaparan.”

Jiro tersenyum sekilas. Hanya sekilas saja, kemudian ia kembali menampilkan wajah tanpa ekspresinya. “Baiklah, aku akan membuatkanmu Omlet.” Lalu Jiro mulai sibuk dengan masakannya, sedangkan Ellie memilih mengamati suaminya itu dari belakang.

Entah sudah berapa kali Ellie mengatakan bahwa Ellie benar-benar mengagumi sosok Jiro. Meski lelaki itu tampak mengabaikannya, nyatanya bagi Ellie, Jiro adalah satu-satunya lelaki yang ia kagumi. Ketampanan lelaki itu, kegagahannya, belum lagi sikapnya yang sedikit misterius membuat Ellie benar-benar jatuh pada sosok suaminya tersebut. Apalagi saat kini, Jiro memposisikan sebagai suami yang baik dan perhatian, sebagai calon ayah yang siaga, membuat Ellie seakan tak mampu berpaling dari sosok tersebut.

Meski begitu, Ellie tak ingin mengakuinya secara gamblang. Bagaimanapun juga, ia ingin membuat Jiro peduli dengannya, ia ingin merebut perhatian Jiro dengan cara yang tak biasa, jadi ia tidak ingin menunjukkan semua perasaannya pada lelaki itu kemudian membuat lelaki itu berrpikir bahwa Ellie tak memiliki kekuatan untuk melawannya. Tidak, Ellie tak ingin Jiro menyepelekannya seperti itu.

Saat Ellie sibuk dengan pemikirannya sendiri, saat itulah Jiro sudah berdiri menghadapnya dengan sebuah omlet yang memenuhi piring yang dibawanya. Jiro menyuguhkannya pada Ellie, tak lupa lelaki itu juga membuatkan Ellie segelas susu hingga membuat Ellie sempat terpana karena perhatian lelaki tersebut.

“Habiskan, lalu kita akan kembali tidur.”

“Kamu tidak lapar?” Ellie bertanya masih dengan wajah polosnya.

“Enggak.” Jiro menjawab pendek.

Karena Jiro berkata tidak lapar, maka Ellie tidak sungkan lagi menyantap omlet buatan Jiro dengan lahap. Sesekali Ellie meneguk susunya. Rasanya sangat enak. Jiro rupanya pandai masak, atau, apa karena ia terlalu senang mendapatkan perhatian seperti ini dari Jiro hingga makanan tersebut terasa sangat enak? Mungkin memang seperti itu.

Saat Ellie asyik manyantap makanannya, saat itulah Jiro kembali memperhatikan Ellie. Wanita di hadapannya itu tampak polos, tapi berani. Bukan perempuan yang mudah dimengerti. Kadang Jiro tak habis pikir, sebenarnya, apa yang sedang dirasakan Ellie? Apa yang diinginkan wanita itu?

“Jadi, apa hubungan Vanesha dengan Troy?” pertanyaan Ellie yang tiba-tiba itu membuat Jiro terkejut. Ellie tadi sempat bilang bahwa wanita itu tak mempedulikan tentang dirinya apalagi tentang Vanesha dan yang lainnya. Tapi kenapa wanita ini tiba-tiba bertanya padanya tentang hal ini? apalagi, Ellie menanyakan kalimat itu dengan santai dan masih menyantap makanannya tanpa menatap ke arah Jiro sedikitpun.

“Aku nggak tahu.”

“Kamu kan temannya Troy. Masa nggak tahu?”

“Dia kan banyak kencan sama perempuan, bukan hanya dengan Vanesha.”

“Wahhh, sepertinya semua anak band sama seperti itu ya?” Ellie kembali menyindir.

“Tidak semuanya. Aku nggak pernah kencan sama perempuan sembarangan.”

“Iya, karena kalau kamu sembarangan kencan, akan menjadi gosip. Suamiku ini kan paling anti digosipkan yang enggak-enggak.” Lagi-lagi Ellie menyindir Jiro.

“Ellie, kadang aku berpikir bahwa mulut kamu sangat tajam.” Jiro berkomentar.

Ellie tersenyum, ia kembali meneguk susunya sebelum berkata “Baguslah, kalau kamu berpikir seperti itu. Jadi kamu bisa berpikir dua kali jika ingin menciumku.”

Tanpa diduga, Jiro segera mengangkat dagu Ellie kemudian menyambar bibir Ellie. Jiro bahkan menggoda Ellie dengan cara menjilati bekas susu yang tertinggal di area bibir Ellie.

“Kamu salah, aku suka mencium bibir-bibir yang tajam.” Ucapnya sebelum melepaskan dagu Ellie.

Pipi Ellie merona seketika. Ia tidak menyangka jika Jiro akan berbuat senakal itu. Tapi Ellie mencoba mengendalikan dirinya. Ia tidak akan membuat Jiro kembali merasa menang lagi dengan perang psikis yang entah sejak kapan terjadi diantara mereka.

“Kenapa diam saja?” Jiro kembali menantang Ellie.

“Enggak.” Ellie kembali memakan omletnya. Sumpah demi apapun juga, Ellie tidak ingin melanjutkan makan malamnya. Astaga, Jiro begitu mempengaruhinya, ciuman lelaki itu serta godaannya tadi membuat Ellie meremang. Tapi di sisi lain, Ellie tidak ingin Jiro sadar bahwa lelaki itu begitu mempengaruhinya.

“Cepat habiskan makananmu, setelah itu kita tidur, sudah sangat malam.” Ucap Jiro sembari meningalkan Ellie menuju ke arah lemari pendingin.

Ellie tidak tahu bahwa Jiro juga terpengaruh dengan kedekatan mereka. Entah kenapa, sekarang setiap kali berdekatan dengan Ellie, Jiro merasa sesuatu terpantik di dalam dirinya. Jiro ingin memiliki Ellie lagi dan lagi, memperlakukan wanita itu dengan manis, membuat wanita itu merona-rona karena ulahnya. Tapi di sisi lain, Jiro ingin menolak perasaan menggelikan itu. Bagaimanapun juga, ia tidak ingin Ellie membuatnya candu. Jiro tak ingin terpengaruh lebih dari ini dan melakukan hal-hal di luar akal sehatnya seperti tadi. Ia adalah lelaki yang realistis, yang tidak ingin terbawa oleh perasaan, meski itu dengan istrinya sendiri. tapi dapatkah Jiro menahannya? Menahan perasaannya yang semakin hari semakin tak terkendali?

***

Saat keduanya sudah berada di ranjang mereka, keduanya tak segera tidur. Tampak sebuah kegelisahan diantara mereka. Ellie ingin membuka suaranya tapi ia tidak tahu apa yang ingin ia katakan dengan Jiro. Begitupun dengan Jiro. Jiro ingin membuka percakapan kemudian keduanya lelah karena saling bercerita dan tidur bersama hingga pagi, tapi Jiro tahu bahwa ia bukanlah tipe yang suka bicara. Jiro adalah tipe pendiam, kalaupun dia berbicara, dia akan berbicara seperlunya saja. Bukan berbasa-basi seperti lelaki kebanyakan.

Akhirnya, ketika Ellie tak dapat menahan rasa bosan dan rasa kesalnya akibat tak dapat tidur, Ellie memilih memiringkan tubuhnya ke arah Jiro kemudian mulai membuka suaranya.

“James, jika kebersamaan kita nanti masuk ke dalam akun gosip, apa yang akan kamu lakukan?” itu hanya pertanyaan iseng, tapi Ellie berharap Jiro menjawabnya dengan jawaban yang berbobot.

“Apalagi? Aku hanya bisa diam.” Ellie memutar bola matanya kesal. Seperti yang diduga, jawaban Jiro benar-benar tidak memuaskan.

“Kalau media ngejar-ngejar kamu bagaimana?” tanya Ellie lagi.

“Tinggal lari dan diam.” Lagi-lagi jawaban Jiro membuat Ellie kesal.

“Kalau mereka tak juga berhenti dan ngejar kamu terus dimanapun kamu berada bagaimana?” Ellie tidak ingin mengalah.

Jiro menatap Ellie seketika. “Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Ellie? Kamu ingin aku jujur dengan mereka? Jika itu yang kamu inginkan, maka itu tak akan terjadi.” Jawab Jiro dengan pasti.

Ellie merasa sakit dengan jawaban jujur tersebut. “Kenapa? Apa aku begitu memalukan untuk menjadi istrimu?”

“Ellie…”

“Kamu selalu meniduriku, James. Aku bahkan sudah mengandung bayimu. Begitukah penghargaan yang kamu berikan pada ibu yang mengandung anakmu?”

“Ellie, dengar. Semua butuh proses.”

“Tapi aku tidak suka prosesnya, James. Aku sudah muak. Aku sudah bosan. Ini sudah Empat tahun dan aku masih tetap jadi simpananmu.”

“Istri.” Jiro meralat. “Kamu istriku, bukan simpananku.”

“Ya, istri rasa simpanan.” Ellie membenarkan. Mata Ellie sudah berkaca-kaca. Bahkan beberapa bulir bening itu sudah jatuh dari pelupuk matanya.

Dengan spontan Jiro menghapus airmata Ellie. “Ada waktunya untuk mengakui semua. Tapi tidak sekarang, Sayang. Tidak saat ini.” Entah perasaan Ellie saja atau saat ini Jiro menjelma menjadi sosok yang sangat lembut. Ellie bahkan tidak dapat mengingat, apa Jiro pernah memanggilnya dengan panggilan ‘Sayang’ atau tidak.

“Lalu kapan? Aku, aku hanya tidak suka kenyataan bahwa kamu dikenal sebagai seorang lajang. Banyak perempuan memujamu, bahkan tak sedikit fans kamu yang menjodohkan kamu dengan artis perempuan lainnya. Aku tidak suka.”

“Ellie. Sebentar lagi akan ada konser besar yang akan ditayangkan secara langsung di beberapa stasiun Tv nasional. Mungkin bagi kamu atau yang lain, konser ini tak berarti, tapi bagiku, konser ini sangat berarti. Aku ingin fokus dan menyukseskan konser ini. karena bagiku, konser ini seperti titik balik saat The Batman berada di puncak kepopuleran.”

“Lalu?”

Jiro mengusap lembut pipi Ellie. “Setelah semuanya selesai, mungkin aku akan mengaku didepan publik.”

“Kamu yakin?” Ellie tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jiro.

“Mungkin.” Jiro masih kurang yakin dengan apa yang ia katakan “Ada beberapa kontrak yang tidak bisa dilanggar. Konsekuensinya aku harus membayar denda dan kontrak dibatalkan. Itupun kita harus mendiskusikannya dengan pihak management dan juga para personel The Batman lainnya.”

“Dan jika mereka menolak atau tidak sepemikiran denganmu?”

Jiro menghela napas panjang. “Maka aku harus keluar.”

Mata Ellie berbinar seketika. Jujur saja, Ellie memang kurang suka dengan pekerjaan suaminya yang menjadi anak band. Apalagi semenjak Jiro terkenal, Ellie merasa semakin jauh dengan lelaki ini. belum lagi kenyataan bahwa mereka tidak bisa kemanapun tanpa ada yang mengenali. Hal itu benar-benar membuat Ellie risih. Membayangkan bahwa Jiro akan vakum dari menjadi artis membuat Ellie senang. Tapi benarkah Jiro akan melakukannya? Membuang ambisinya selama ini hanya demi mengakui dirinya dan juga bayi mereka di depan publik?

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 9

Comment 1 Standard

 

Sea world. Kamu mau?”

Mata Ellie membulat seketika. “Itu kan tempat publik. Kamu nggak takut ketahuan fans kamu?”

Jiro tersenyum, dan Ellie kembali terpana dengan senyuman lelaki itu. Benar-benar curang! Jika Jiro menampilkan sedikit saja senyumannya, maka Ellie akan kalah. Ellie tak akan mampu memusuhi suaminya itu lagi setelahnya.

“Ini bukan minggu atau hari libur, jadi kupikir tak akan seramai biasanya. Lagi pula, aku bisa menyamar.”

“Kamu yakin? Kalau ada yang tahu?”

“Abaikan saja.” Dan setelah itu Ellie bersorak gembira dalam hati, ia tidak menyangka Jiro akan membujuknya hingga seperti ini. kemarahan Ellie menguap seketika, hilang ditelan sikap manis yang ditampilkan Jiro kepadanya. Bagaimana bisa semudah ini menakhlukkan hatinya?

****

Bab 9

Cukup lama Ellie menunggu Jiro di ruang tengah rumah mereka. Saat ini, Ellie sudah siap dengan pakaian santainya. Celana pendek berwarna hitam dengan T-shirt berwarna senada. Tak lupa, ia mengenakan sepatu flat hingga membuatnya tampak lebih muda dari usianya dan juga lebih mungil tentunya.

Perut Ellie bahkan tampak sedikit menyembul, mungil, hingga ketika ada orang yang melihatnya maka segera bisa menebak bahwa Ellie sedang hamil muda.

Saat Ellie sibuk mengusap-usap perutnya sendiri, saat itulah Jiro keluar dari dalam kamar mereka. Lelaki itu tampak keren dan gagah dengan T-shirt berwarna putih dan juga jaket denimnya, celana panjang, serta sepatu bootsnya. Tak lupa, lelaki itu juga mengenakan topi untuk menyembunyikan sebagian wajahnya.

Jiro tampak memperhatikan Ellie dari ujung rambut hingga ujung kaki wanita tersebut, kemudian dia berkomentar “Kamu hanya pakai itu?” tanyanya.

“Ya. Kenapa memangnya?”

“Itu terlalu mini, kalau masuk angin gimana?” Jiro lantas kembali masuk ke dalam kamar, tak lama lelaki itu kembali dengan sebuah coat miliknya yang pasti akan kebesaran jika dikenakan oleh Ellie. “Pakai ini.” perintahnya.

“Apaan sih. Aku nggak suka.”

“Pakai saja.” Jiro tak ingin dibantah. Kemudian lelaki itu menjauh dan tampak menghubungi seseorang. Dan yang bisa Ellie lakukan hanya menurutinya saja sembari mendengus sebal.

***

Akhirnya, mereka sampai juga di area Sea World. Tempat dimana terdapat akuarium-akuarium besar dengan berbagai macam jenis biota laut didalamnya.

Ellie tampak senang saat sampai disana. Ini adalah pertama kalinya ia ke tempat seperti ini. dulu, saat di Inggris, Ellie hampir tak pernah menghabiskan waktu untuk liburan. Keluarganya bukanlah golongan keluarga yang hobby jalan-jalan dan menghamburkan uang, mereka tergolong dalam keluarga religius. Jika sedang libur sekolah, kedua orang tuanya lebih memilih mengajak Ellie untuk pergi ke kegiatan sosial dan beramal. Sedangkan setelah menikah dengan Jiro, Ellie hampir tak pernah keluar dari rumahnya jika tidak sedang belanja atau memiliki keperluan mendesak.

Ajakan Jiro ke dunia bawah laut saat ini sudah seperti mimpi untuk Ellie. Ellie sangat senang, dan Ellie tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya tersebut.

Ellie mengamati satu demi satu makhluk hidup yang ada di dalam akuarium besar itu. Tangannya menempel pada akuarium , matanya berbinar dengan kekaguman yang ia lihat. Tak pernah ia melihat ikan sebesar itu, atau ikan seindah di dalam akuarium itu. Ia masih mengamati dengan kekagumannya, hingga Ellie tak menyadari jika sejak tadi sepasang mata tengah mengamati tepat di belakangnya.

Ya, itu Jiro.

Jiro bahkan tak sadar, jika sejak tadi ia mengamati Ellie dengan intens. Ellie yang tampak senang dan berbinar membuat Jiro puas, karena sudah berhasil membuat wanita itu ceria lagi. Secara sepontan kaki Jiro melangkah, mendekat ke arah Ellie, dan berdiri tepat di belakang wanita tersebut.

“Kamu senang?” tanyanya.

Ellie sempat terkejut saat mendapati Jiro begitu dekat dengannya. ia membalikkan tubuhnya sekilas kemudian menatap kembali ke arah akuarium. “Ya, sangat.”

“Kalau kamu suka, kita bisa ke sini seminggu sekali.”

“Uuum, sepertinya tidak perlu. Kamu kan sibuk. Lagi pula, kalau banyak orang pasti akan repot sekali.” Ellie melayangkan pandangannya ke sekeliling, dan ia sempat heran, karena tempat tersebut bersih dari pengunjung. Hanya ada beberapa petugas yang tengah bekerja. “Tapi ngomong-ngomong, tempat sebagus ini masa sepi pengunjung.” Ucap Ellie kemudian.

“Mungkin keberuntungan kita.” Jawab Jiro asal.

“Masa sih? Aku jadi merasa menjadi pemilik tempat ini.” Ellie kembali mengamati satwa laut di hadapannya. “Indah sekali.” Ucapnya dengan spontan.

Tanpa diduga, tiba-tiba Ellie merasakan sebuah lengan memeluknya dari belakang. Lengan Jiro. Ellie bahkan sempat membatu sesaat ketika Jiro melakukan hal tersebut.

“Kamu polos sekali.” Jiro berkomentar. Jiro bahkan sudah menundukkan kepalanya, menyandarkan dagunya pada pundak Ellie. Sedangkan Ellie merasa tak dapat berbuat apapun. Ia salah tingkah, karena tak pernah mendapati Jiro melakukan hal ini padanya saat di depan umum.

“Polos bagaimana?”

“Hanya dengan melihat satwa laut, kamu sudah tampak sangat senang. Kamu bahkan melupakan permasalahan kita, atau mungkin kesalahan yang sudah kuperbuat.”

“Aku sudah pernah bilang, bahwa aku sudah tidak peduli lagi denganmu, James.”

“Jangan.” Jiro menjawab cepat.

“Jangan apa?” Ellie tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Jiro.

“Jangan tidak peduli denganku.”

“Tapi kamu juga tidak peduli denganku, jadi lebih baik…”

“Aku peduli.” Jiro lagi-lagi menjawab cepat. “Aku peduli sama kamu, sama bayi kita.” Ucap Jiro dengan suara yang sudah serak. Telapak tangannya sudah mendarat pada perut Ellie, sedangkan bibirnya sudah mengecup lembut pundak Ellie.

Ellie sempat tak percaya dengan apa yang dilakukan Jiro. Sekali lagi, Jiro melakukan hal-hal yang sama sekali tak terpikirkan dalam benak Ellie. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan lelaki ini?

***

Ellie sedikit terkejut saat keluar dari area sea world, ternyata, sudah banyak orang yang menunggu di sana. Rupanya area tersebut sempat ditutup tadi. Apa Jiro yang menutupnya? Yang benar saja, memangnya siapa lelaki ini?

Ellie menatap penuh tanya pada Jiro, sedangkan lelaki itu masih berjalan santai sembari menggenggam erat telapak tangannya.

“Kamu yang membuat tempat ini ditutup sementara?” tanya Ellie kemudian.

“Ya. Kenapa memangnya?”

“Kenapa harus di tutup? Kamu takut ketahuan sama fans kamu karena sudah jalan sama wanita berperut buncit?”

“Aku nggak pernah takut.”

“Lalu kenapa pakai ditutup?”

“Cuma pengan buat kamu menikmati tempat-tempat tadi tanpa ada yang berisik. Seharusnya kamu berterimakasih sama aku, bukan malah menggerutu.” Jiro mendengus sebal.

Tanpa banyak bicara, Jiro menggenggam telapak tangan Ellie lalu mengajaknya keluar dari sana. Beberapa orang tentu menyadari keberadaan Jiro, tapi Jiro berusaha untuk tidak mempedulikannya. Sedangkan Ellie sendiri masih tidak mengerti apa yang dilakukan Jiro padanya.

Ellie mengikuti saja kemanapun kaki Jiro melangkah, hingga kemudian mereka berada pada tempat yang mirip dengan taman hiburan. Tempat tersebut masih satu kompleks dengan Sea world tadi.

“Ini dimana?”

“Dufan.” Jiro menjawab singkat.

“Kok kamu ngajak kesini?”

“Mumpung sepi. Kan aku sudah bilang, ini bukan minggu atau hari libur, jadi tidak seramai hari-hari itu.”

Ellie melihat ke sekeliling. Masih ada orang berlalu-lalang. “Kamu tidak menutup tempat ini juga, kan?”

Jiro tak dapat menahan tawanya. “Enggak. Cuma yang tadi saja.”

“Kamu nggak takut ketahuan fans kamu?” tanya Ellie dengan wajah polosnya.

“Aku sudah pakai topi, dan masker.”

“Tapi orang tetap bisa menebak jika itu kamu, dari postur tubuhmu.”

“Aku nggak peduli.” Jiro menjawab dengan santai. Ya, baru kali ini Jiro berjalan di luar akal sehatnya dan menuruti apa yang ia inginkan. Yang ia inginkan saat ini hanyalah bersenang-senang dengan Ellie. Jiro akan melakukannya dan ia mencoba untuk tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya.

Jiro masih mengajak Ellie berjalan menelusuri taman bermain tersebut. Jemarinya tak lepas dari menggenggam telapak tangan Ellie. Sedangkan mata Jiro mengawasi siapa saja yang mencoba melirik istrinya tersebut.

Ya, penampilan Ellie memang sangat mencolok. Kulitnya putih bersih, rambutnya yang panjang terurai, berwarna kuning kemerahan, posturnya mungil, tapi berisi. Membuat siapa saja menatap ke arah wanita tersebut. Belum lagi paras Ellie yang cantik rupawan membuat siapapun menoleh dua kali ketika melihatnya.

Jiro tak suka.

Ia tidak suka ketika Ellie menarik perhatian publik. Apalagi saat mata-mata pria nakal menatap ke arah tubuh istrinya. Sial! Rasanya Jiro ingin mencongkel mata-mata kerangjang tersebut.

Dengan spontan, Jiro menarik tubuh Ellie agar masuk dalam dekapan lengannya. Hal itu tentu membuat Ellie semakin bingung dengan sikap Jiro.

“Ada apa?”

“Enggak.” Jiro menjawab pendek. Padahal Jiro melakukan hal itu agar semua orang yang berada di taman hiburan itu tahu bahwa Ellie sudah menjadi miliknya. “Jadi, mau naik apa?”

“Naik apa? Aku hamil, mana boleh naik wahana begituan.”

“Kalau begitu, kita jalan-jalan saja sampai sore.” Dan Ellie mengikuti saja apapun keinginan Jiro.

Mereka berkeliling, melihat aneka wahana, mulai dari wahana air, hingga wahana yang memacu adrenalin. Ellie sempat meminta Jiro untuk menaiki salah satu wahana tersebut, tapi Jiro menolaknya mentah-mentah dengan alasan bahwa lelaki itu tak ingin meninggalkan Ellie sendiri.

Tiba saatnya Ellie merasa lelah. Ia kehausan dan dengan perhatian, Jiro sudah membelikannya sebuah minuman. Coklat dingin yang sangat menyegarkan. Ellie senang dengan perhatian yang diberikan oleh Jiro, tapi entah kenapa Ellie merasa belum cukup puas. Lelaki itu seperti sedang menyogoknya untuk sesuatu, dan Ellie tidak tahu sesuatu apakah itu.

Ellie melihat seorang pengamen yang membawa gitar. Berdiri di depan salah satu wahana, memainkan gitarnya, menyanyi dengan suara merdunya dan para mengunjung mendatanginya untuk memberikan uang. Dalam sesaat, Ellie memiliki sebuah pemikiran jahil untuk Jiro, ia ingin Jiro melakukan hal itu untuknya. Membuat lelaki itu bernyanyi di depan banyak orang seperti seorang pengamen, sepertinya lucu.

Dengan manja, Ellie menarik-narik jaket Jiro hingga lelaki itu menatap ke arahnya.

“Apa?”

“Uum, kamu mau nurutin mau aku, James?”

“Kamu minta apa?”

“Aku tidak tahu, kenapa aku menginginkannya, tapi…. Aku benar-benar sangat ingin.”

“Apa? Katakan saja.” Jiro tak suka Ellie yang tampak berputar-putar dengan ucapannya.

“Itu. Kamu lihat pengamen itu.” Ellie menunjuk pada si pengamen.

“Kenapa?”

“Kayaknya, aku pengen lihat kamu melakukan itu, deh.”

“Apa?” Sungguh, Jiro tak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Pengamen itu. Aku pengen lihat kamu nyanyi seperti dia. bawa gitar seperti itu.”

“Jangan konyol. Aku bahkan menggunakan topi dan masker agar tidak banyak yang tahu siapa aku. Kalau aku melakukan itu, sama saja kamu meminta aku untuk mengumumkan bahwa Jiro The Batman ada di tempat ini.”

Ellie mendengus sebal. “Lagi pula, memangnya kenapa kalau mereka tahu kamu di sini? Tidak semua orang tahu kok kalau kamu artis.” Ucapnya dengan jengkel. “Aku hanya ingin melihatmu seperti itu. Tapi kamu tidak bisa menurutinya. Padahal banyak orang hamil yang meminta hal-hal yang tak masuk akal dan suaminya tetap menuruti saja demi bayinya. Tapi kamu….”

Jiro bangkit seketika. “Aku akan menuruti apa mau kamu.” Ucapnya cepat sambil bergegas.

Ellie sempat ternganga dengan kelakuan Jiro. Tapi kemudian ia tersenyum saat Jiro benar-benar melakukan apa yang ia inginkan.

Sedangkan Jiro, ia tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa Ellie bisa memerintah dirinya dan kenapa juga dirinya menuruti kemauan perempuan itu.

Jiro menghampiri si pengamen, meminjam gitarnya dan beruntung pengamen itu menuruti keinginan Jiro. Kemudian, Jiro mulai membuka maskernya dan bernyanyi, menggantikan Sang pengamen tersebut.

Spent 24 hours

I need more hours with you

Lagu Maroon 5 menjadi pilihan Jiro untuk bernyanyi siang itu. Lagu yang ceria, dan Ellie cukup suka. Ellie tersenyum dan mendekat ke arah Jiro. Menatap lelaki itu dengan tatapan sulit diartikan.

You spent the weekend

Getting even, ooh ooh

We spent the late nights

Making things right, between us

Mata Jiro menatap ke arah Ellie, meski tersembunyi dibalik topinya, tapi Ellie tahu bahwa tatapan mata lelaki itu menjurus ke arahnya.

But now it’s all good baby

Roll that Backwood baby

And play me close

Beberapa orang pengunjung mulai mendekat, menikmati pertunjukan Jiro.

‘Cause girls like you

Run around with guys like me

‘Til sundown, when I come through

I need a girl like you, yeah yeah

Girls like you

Love fun, yeah me too

What I want when I come through

I need a girl like you, yeah yeah

Yeah yeah yeah

Yeah yeah yeah

I need a girl like you, yeah yeah

Jiro masih terus bernyanyi. Para pengunjung berdatangan ingin melihatnya karena ada beberapa orang yang memang mengenalinya.

“Itu Jiro kan? Iya itu Jiro.”

Samar-samar, Ellie bahkan mendengar beberapa gadis muda terang-terangan mengenali Jiro.

“Ya ampun, dia keren banget sih. Gosip itu pasti bohong, Jiro nggak mungkin punya istri, enak aja.” Yang lain berkomentar.

Ellie segera menatap ke arah Jiro. Jiro tampak menikmati kepopulerannya. Hal itu kembali membuat Ellie merasa minder. Ellie menatap dirinya sendiri. ia bukan siapa-siapa, tak ada yang mengenalinya, bahkan Jiro sepertiya tak pernah berpikir untuk mengenalkan dirinya di depan publik.

Dengan spontan Ellie merapatkan coat kebesaran Jiro yang ia pakai, seakan melindungi dirinya dari rasa sakit. Ia tidak suka kenyataan bahwa Jiro dikenal banyak orang sebagai lelaki lajang. Jiro adalah suaminya, tapi Ellie tidak bisa berbuat banyak ketika Jiro sendiri tidak mau mengakuinya sebagai istri di depan umum.

Saat Ellie asyik memikirkan hal tersebut, rupanya Jiro sudah menyelesaikan lagunya. Beberapa orang secara terang-terangan meminta berfoto dengan Jiro, dan Jiro menurutinya dengan ramah. Kemudian, lelaki itu menuju ke arah Ellie, dan tanpa banyak bicara lagi Jiro segera meraih telapak tangan Ellie, menggenggamnya kemudian mengajak Ellie meninggalkan area tersebut.

Beberapa orang terang-terangan bertanya pada Jiro, siapa Ellie, apa hubungan mereka, tapi Jiro tampak tak mempedulikannya dan fokus untuk membawa Ellie pergi dari sana. Ellie tak tahu harus merasa bagaimana. Di satu sisi ia senang Jiro setidaknya menunjukkan perhatian lelaki itu padanya di depan umum, tapi disisi lain, Ellie tetap kurang suka dengan Jiro yang seakan menyembunyikan identitasnya.

Kenapa? Apa ia tampak memalukan untuk lelaki ini?

***

Sepanjang sore, Ellie hanya diam setelah kejadian tadi. Karena merasa Ellie berada pada mood yang buruk, Jiro akhirnya mengajak Ellie untuk kembali pulang saja. Ia takut jika Ellie kecapekan atau sejenisnya. Sedangkan Ellie hanya menuruti saja apa yang dikatakan Jiro.

Keduanya pulang dalam diam. Sesekali Jiro melirik ke arah Ellie, wanita itu berubah lagi, menjadi murung, menatap jauh ke luar jendela mobilnya, jemarinya sesekali mengusap perutnya sendiri. kenapa? Apa Ellie merasa sakit?

“Ada yang sakit?” tanya Jiro kemudian.

Jiro bahkan sudah meminggirkan mobilnya dan menghentikannya.

Ellie menatap Jiro seketika. “Apa?” tanyanya bingung.

Telapak tangan Jiro dengan sepontan mendarat pada perut Ellie, “Bayinya, ada yang sakit? Kenapa kamu diam saja sejak tadi? Dan mengusap-usap dia?”

Ellie tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia senang dengan perhatian Jiro, tapi di sisi lain ia masih kesal karena sikap lelaki itu tadi yang terkesan menyembunyikannya dan tidak jujur pada beberapa orang yang menanyakan siapa dirinya.

Seharusnya, Ellie tak perlu kekanakan seperti ini. toh Jiro sudah menyembunyikannya sejak Empat tahun yang lalu, jadi hal itu seharusnya sudah tak menjadi masalah serius lagi bagi Ellie. Tapi mau bagaimanapun juga, Ellie tetap tidak suka dengan sikap Jiro. Entah kenapa Ellie merasa sangat kesal dan ingin sekali agar Jiro mempublikasikan hubungan mereka.

“Tidak apa-apa.” Ellie menjawab pendek. Ellie memilih menatap ke luar jendela lagi.

Jiro mengerutkan keningnya. Ia tidak percaya bahwa perhatian yang ia berikan malah diabaikan oleh Ellie.

“Jadi, kita pulang saja? Atau ke rumah sakit?”

“Pulang saja. Aku mau tidur.” Lagi-lagi Ellie menjawab dengan nada cuek.

Jiro mengangguk. Sekali lagi ia mengusap lembut perut Ellie, mengirimkan getaran panas pada diri Ellie, sebelum kembali menyalakan mesin mobilnya dan mengemudikannya pulang. Ya, mungkin Ellie hanya kecapekan, mungkin Ellie butuh istirahat setelah seharian jalan-jalan dengan dirinya, dan setelah wanita itu kembali pada mood baiknya, Jiro akan mengutarakan sesuatu pada Ellie. Sesuatu tentang hubungan mereka kedepannya.

Tapi Jiro salah. Jiro terlalu tidak peka dengan keadaan di sekitarnya. Ellie bukan lelah secara fisik, tapi wanita itu lelah secara batin. Mungkin, Jiro bisa membuat Ellie senang dan menghibur wanita itu dalam sesaat, tapin sebenarnya, bukan hal itu yang diinginkan Ellie. Keinginan Ellie hanya sederhana, tapi Jiro tak akan bisa menurutinya.

-TBC-

Hayooooo apa yang terjadi di Bab selanjutnya???? hahahhahahha

My Beautiful Mistress – Bab 8

Comment 1 Standard

 

Bab 8

Mei datang setelah Jiro meneleponnya. Ia sempat terkejut saat mendapati Vanesha berada di ruang tengah apartmen Jiro. Apa yang dilakukan wanita itu disini? Pikir Mei saat itu. Tapi kemudian ia segera menuju ke arah kamar, dan disana ia sudah mendapati Jiro yang sedang berdiri tak jauh dari jendela, sedangkan Ellie duduk di pinggiran ranjang dengan posisi membelakangi diri Jiro.

“Apa yang terjadi?” tanya Mei kemudian.

Tanpa diduga, Ellie segera menghambur ke arah Mei, memeluk wanita itu. Wanita yang sudah seperti kakak dan ibunya, dan Ellie tak dapat menahan tangisnya.

“Jiro?” Mei bertanya pada Jiro dengan ekspresi penuh tanya.

“Antar saja dia pulang.”

“Apa yang terjadi? Kenapa dia menangis? Dan perempuan itu, kenapa bisa disini.”

Jiro mendekat. “Mei, ini bukan urusanmu. Antar saja dia pulang, sisanya aku yang menyelesaikan kekacauan ini.”

Sikap Jiro yang misterius benar-benar membuat Mei kesal. Mei lalu melepaskan pelukannya pada Ellie dan segera mengajak wanita itu pergi dari saja. Sedangkan Ellie sendiri, karena pikirannya yang sudah kacau, ia mengikuti saja apapun yang dilakukan oleh Mei.

Ellie dan Mei bahkan sempat menatap tajam ke arah Vanesha ketika mereka melewati ruang tengah apartmen Jiro. Keduanya tahu bahwa pasti ada yang disembunyikan Jiro dari mereka.

***

Jiro bersedekap dan masih berdiri tak jauh dari tempat Vanesha duduk. Ia menatap Vanesha, meminta agar wanita itu mau menjelaskan apa yang terjadi. Bagaimana wanita itu bisa sampai di sini, dan apa tujuannya.

“Jadi ini apartmen kamu?”

“Kamu pikir punya siapa?” nada jawaban Jiro benar-benar tak enak didengar.

“Dan perempuan tadi?” bukannya menjawab, Vanesha malah bertanya balik.

“Kamu nggak perlu tahu siapa dia. itu bukan urusan kamu. Yang paling penting adalah, kenapa kamu kemari? Apa tujuanmu kemari?” tuntut Jiro masih dengan menampilkan wajah sangarnya.

“Aku kesini karena mencari Troy! Aku ingin bertemu dengannya.”

“Dan kenapa kamu mencarinya di sini?”

“Tentu saja karena dia pernah membawaku kemari. Kamu pikir apa?”

“Sial!” Jiro mengumpat. Ia mengeluarkan ponselnya lalu menelepon seseorang. “Chan. Elo bagi apartmen gue sama Troy?” sembur Jiro secara langsung dengan Chandra, asisten pribadinya. Mereka memang sudah seperti teman. Sama seperti Mei, Chandra sendiri sudah bekerja dengan keluarga Jiro bahkan sebelum Jiro menjadi artis.

“Sorry, gue ada hutang sama dia kemaren, jadi dia nagih dengan minta dicariin tempat semalam. Saat itu kebetulan elo lagi pulang, ya, gue kasih kunci apartmen elo.”

“Sialan!” setelah umpatannya, Jiro menutup teleponnya begitu saja.

Ya, semuanya jadi lebih masuk akal. Yang menempati apartmennya adalah Troy, yang meninggalkan sisa kondom adalah temannya yang brengsek itu, dan Vanesha kemari untuk menemui Troy, bukan dirinya.

“Ada masalah?” tanya Vanesha tanpa dosa.

“Ya, banyak. Yang perlu kamu tahu adalah, bahwa ini bukan apartmen Troy. Dia nggak ada di sini.”

“Ohhh. Jadi?”

“Jadi silahkan keluar.” Jawab Jiro dengan spontan.

Vanesha bangkit dan dia tersenyum. “Jadi, kamu menyembunyikan wanita cantik disini?”

Jiro mendengus sebal. “Ayolah, aku tak ingin membahasnya.”

“Aku jadi penasaran apa yang akan dikatakan media selanjutnya. ‘Jiro The Batman mencampakan kekasihnya, Vanesha untuk wanita asing yang sangat cantik’ artikel itu sepertinya akan membuat telingaku panas.”

“Vanesha, cukup! skandal kita sengaja diciptakan untuk bahan promosi. Cepat atau lambat, kita akan mengakhirinya.”

“Oke.” Vanesha mundur sembari mengangkat kedua tangannya. “Tapi aku cukup penasaran dengan wanita tadi. Sepertinya aku akan mencari tahu tentang dia.”

Jiro menegang dengan perkataan Vanesha. Meski begitu ia tidak ingin membalas perkataan wanita itu. Jiro hanya tidak suka bahwa Ellie akan masuk ke dalam dunianya, dunia intertain yang penuh dengan rumor, sandiwara, dan sejenisnya.

***

“Dimana dia?”

Setelah mencari Ellie sampai di sudut-sudut rumahnya dan Jiro tak dapat menemukannya, akhirnya Jiro menghubungi Mei.

“Dia nggak mau pulang.”

“Apa? Lalu dimana dia sekarang?”

“Dirumahku, sedang tidur.”

“Aku akan menjemputnya.”

“Tidak! Biarkan dia disini setidaknya sampai besok. Ya ampun, dia nggak berhenti nangis, kamu apain dia?”

Jiro tak ingin bercerita pada Mei karena baginya itu tak penting. Ia hanya harus menjelaskan pada Ellie, bukan pada yang lainnya.

“Ada salah paham sedikit.” Jawabnya enggan.

“Baiklah kalau kamu nggak mau bercerita. Tapi biarkan dia di sini sampai besok. Aku nggak mau dia stress karena ulah kamu.”

“Ulahku? Aku suaminya.” Jiro merasa tersinggung.

“Ya, suami yang sering membuat masalah. Ya ampun Jiro, apa kamu nggak bisa sedikit mengalah?”

“Aku sudah mengalah, Mei. Aku sudah melewati batas-batas harga diriku dalam menghadapi Ellie.”

“Tapi itu masih kurang. Astaga, aku nggak ngerti lagi harus jelasin bagaimana sama kamu.”

“Nggak perlu dijelasin, aku akan cari tahu sendiri apa yang diinginkan Ellie.” Jiro terdiam sebentar kemudian melanjutkan kalimatnya lagi. “Besok aku akan menjemputnya.” Setelah itu panggilan dia tutup.

Jiro mendengus sebal. Malam ini, ia akan tidur sendiri. memangnya kenapa? Bukankah ia sering melakukannya? Tidur sendiri tanpa istri disisinya? Tapi entah kenapa, Jiro merasa ada yang berbeda. Ia ingin tidur dengan Ellie, memeluk wanita itu hingga pagi. Ada apa dengannya? apa yang terjadi dengan perasaannya?

***

Pagi itu, Ellie membantu Mei memasak. Sesekali keduanya membahas tentang gosip panas yang tadi pagi beredar tentang Jiro dan Ellie yang berada di rumah sakit.

“Jiro pasti parno keluar setelah ini.” ucap Mei sembari sedikit terkikik.

“Parno itu apa?” Ellie bingung apa maksud Mei.

“Paranoid, merasa terganggu, ketakutan.” Jelas Mei dengan sedikit malas. “Dia kan benci banget sama yang namanya media.”

“Kalau begitu, kenapa dia jadi artis?”

“Ellie. Dia jadi artis kan tidak dengan tujuan masuk ke infotaimen. Dia hanya ingin melakukan apa yang dia inginkan, lalu berhasil berada di puncak. Uang tidak berarti untuk Jiro, kesuksesan baginya bukan tentang berapa banyak ia mendapatkan materi, tapi seberapa tinggi dia berada di puncak kepopuleran, dan masuk ke akun gosip tidak ada dalam agendanya.”

“Kupikir, sekarang dia sudah berada di tempat paling tinggi, kenapa dia masih mengejar mimpinya?”

“Mungkin, dia nggak bisa meninggalkannya begitu saja. Ada beberapa kontrak dan ketentuan yang tak bisa dilanggar. Jadi Jiro hanhya bisa melanjutkannya.”

“Mei, menurutmu, apa Jiro menyukaiku?” tanya Ellie dengan wajah polosnya.

“Kalau dia menyukaimu, dia tidak akan menyembunyikanmu didepan publik.” Suara itu lantas membuat Elie dan Mei menatap ke arah suara tersebut. Marvin tampak berdiri dengan baju santainya. “Aku tau kamu disini, jadi aku kemari.” Ucap Marvin sembari menyunggingkan seringaiannya.

“Kamu ngapain sih, ganggu aja.” Gerutu Mei. Mei tentu tahu bagaimana perasaan Marvin kepada Ellie, dan Mei sudah berkali-kali mengatakan pada Marvin bahwa Ellie sudah memiliki Jiro. Kenapa juga sepupunya ini masih kekeh dengan pendiriannya.

“Kalau aku bilang mau minta gula ke sini, kamu nggak akan percaya, jadi aku jujur saja, kalau aku ingin menemui Ellie.”

“Oh ya ampun, memangnya kamu nggak kerja apa?”

“Enggak, gangguin kalian lebih seru.”

Mei mendengus sebal. Marvin pasti tahu Ellie di sini karena lelaki itu melihat Ellie semalam yang keluar dari mobilnya, mengingat rumah merekabersebelahan. Tapi Mei kesal, kenapa Marvin harus menempel pada Ellie. Apa Marvin tak takut dengan Jiro? Dan Ya Ampun, Mei sempat lupa kalau Jiro akan menjemput Ellie pagi ini. bagaimana kalau lelaki itu mendapati Marvin di sini?

Jiro akan murka, Mei tahu itu.

Tapi di sisi lain, Mei ingin melihat reaksi Jiro, atau memberi pelajaran bagi lelaki itu. Ellie terlalu polos untuk memikirkan hal ini, tapi tidak dengan Mei. Mei ingin Jiro merasakan apa yang dirasakan Ellie saat melihat Jiro dengan wanita lain di luar sana.

Ya, selama ini, Ellie selalu bersama dengan Mei. Jadi Mei tahu apa yang dirasakan Ellie. Tak jarang, saat mereka ke maal, atau ke supermarket bersama, mereka tak sengaja mendapati berita tentang Jiro dengan wanita lain. Saat itu, Mei segera menatap Ellie, dan wajah wanita itu segera menjadi sendu. Kesedihan tampak jelas terlihat. Ellie sakit, Ellie jatuh cinta dengan suaminya, tapi suaminya benar-benar tak tahu diri. Mei ingin membuat Jiro membuka matanya, bahwa Ellie patut untuk diperjuangkan.

“Mendingan kamu duduk. Jangan gangguin aku masak.” Mei kembali menyembur Marvin. “Kamu juga, Ellie, jangan kecapekan. Duduk saja di sana.” Lanjutnya pada Ellie.

Marvin dan Ellie menuruti apa kata Mei. Jika sudah marah, Mei memang tampak mengerikan. Bagi Ellie, Mei seperti ibunya yang cerewet, sedangkan bagi Marvin, Mei sudah seperti nenek-nenek yang cerewet.

Keduanya akhirnya duduk di kursi meja makan. Berdampingan. Marvin tak ingin membuang kesempatan, ia kembali mendekati Ellie, dan bertanya tentang keadaan Ellie.

“Jadi kamu nginep sini? Enak kan di sini?”

Ellie hanya mengangguk. Ia meminum susu hamilnya kemudian meraih selemar roti dan mengolesnya dengan selai coklat.

“Kamu bertengkar lagi sam suamimu?”

“Enggak.” Ellie memilih berbohong. Ia tidak suka membahas masalah pribadinya dengan Marvin.

“Lalu, kenapa kamu nginep di sini?”

“Pengen saja.” Ellie menjawab pendek sembari menggingit rotinya.

“Kamu lucu, bikin gemas.” Marvin mencubit gemas pipi Ellie. Membuat Ellie mengaduh kesakitan.

“Sakit tahu!” seru Ellie sembari mengusap pipinya sneidri. Pada detik itu sepasang mata menatap mereka berdua dengan tatapan tajam mereka.

“Apa yang sedang kalian lakukan?!” seruan itu membuat semua mata yang berada di dana menatap ke arah sumber suara. Jiro berdiri menjulang di ambang pintu dapur Mei dengan wajah berapi-api.

Ellie yang melihat kedatangan Jiro bukannya takut tapi malah memalingkan wajahnya ke arah lain. Seakan tak ingin tahu bahwa Jiro ada di sana. Hal itu semakin membuat Jiro kesal.

Kedatangannya ke rumah Mei adalah untuk menjemput Ellie. Sudah cukup semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan Ellie. Sialan! Padahal sebelunya ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, tapi tadi malam, Jiro merasa bahwa diriny berada di neraka.

Ia ingin pagi segera tiba, agar ia segera bisa menjemput Ellie. Tapi saat pagi sudah tiba dan ia benar-benar menjemput Ellie, kenyataan lain ia dapatkan. Ellie sedang asyik dengan pria bajingan yang bernama Marvin, dan hal itu benar-benar mengganggu Jiro.

Apalagi saat ia melihat Ellie yang tampak enggan menatap ke arahnya, seakan wanita itu tidak mengindahkan keberadaannya. Semarah inikah Ellie terhadapnya?

“Kamu sudah datang? Sepagi ini?” tanya Mei sambil menyuguhkan sarapan di atas meja makan.

“Aku akan menjemputnya. Pulang pagi ini juga.”

“Nggak mau.” Ellie berkata cepat.

“Apalagi yang kamu tunggu? Kita harus pulang, aku banyak kerjaan.” Jiro berkata dengan kesal.

“Kalau begitu kamu bisa pergi. Aku bisa menjaga diriku sendiri di sini sepanjang hari.”

“Tidak akan kubiarkan. Apalagi saat aku tahu bahwa ada bajingan yang mengintai kamu.”

“Bajingan? Kamu berlebihan, Jiro.” Mei tahu bajingan yang dimaksud Jiro adalah Marvin.

Jiro tidak mempedulikan apa kata Mei, ia mendekat ke arah Ellie, tapi Ellie malah bangkit dan segera meninggalkannya. Sial! Jiro tak mengerti apa mau wanita aitu. Benar-benar membingungkan.

Mei berkacak pinggang menatap ke arah Jiro. “Jadi ini yang kamu sebut dengan merayu?” sindir Mei.

“Merayu? Aku tidak sedang merayunya.”

“Ya ampun Jiro! aku akan memilih menjadi jomblo seumur hidup daripada harus menikah dengan pria yang super Tak Peka seperti kamu.” Gerutu Mei. “Kamu itu sudah membuatnya marah, setidaknya rayu dia agar dia mau memaafkanmu. Bukan malah bersikap searogan ini.”

Jiro menghela napas panjang. Mei benar.

“Kalau nggak mau, biar aku saja yang merayunya.” Marvin berkata dengan santai, dan Jiro segera menghampiri lelaki itu mencengkeram kerah bajunya.

“Buang pikiran itu atau gue akan mukulin elo sampai elo hilang ingatan.”

Marvin malah tertawa lebar, sedangkan Mei hanya menggelengkan kepalanya melihat dua pria kekanakan sedang melakukan adegan tak masuk akal baginya.

***

Jiro menghampiri Ellie saat ia mendapati Ellie duduk di sebuah ayunan di taman mini samping rumah Mei. Tanpa banyak bicara, ia ikut duduk di sebelah Ellie. Membiarkan Ellie tetap mengayunkan tempat duduk mereka.

Cukup lama keduanya duduk tanpa kata, karena Jiro sendiri tidak tahu harus memulainya dari mana. Hingga ketika Ellie akan bangkit meninggalkannya, Jiro menghentikan Ellie dan meminta Ellie untuk kembali duduk di sebelahnya.

“Kamu, mau pulang sama aku, kan?” tanya Jiro dengan pelan.

“Tergantung.”

“Apa yang kamu inginkan, Ellie? Kumohon, jangan seperti ini.”

Ellie sendiri tidak tahu kenapa Jiro banyak berubah. Dulu ia memang sering merajuk, tapi sepertinya Jiro tak pernah menghiraukannya. Ya, Jiro jarang memikirkannya, tapi entah kenapa saat ini, lelaki ini seakan terpengaruh dengan dirinya yang tengah merajuk.

“Nggak ada.” Ellie menjawab lagi dengan pendek, seperti sebelumnya.

Jiro menghela napas panjang. “Maafkan aku.” Tiba-tiba saja Jiro mengungkapkan rasa sesalnya.

“Maaf untuk apa? Karena kamu sudah meniduri wanita lain?”

“Ellie, aku tidak pernah melakukan itu.” Jiro tidak tahu harus menjelaskan seperti apa. Ellie pasti tidak mempercayainya. “Kumohon, jangan seperti ini. kamu mau pulang bersamaku, kan?” tanya Jiro lagi dengan nada lembutnya.

Ellie tidak menjawab, ia masih tetap diam. Kemudian Jemari Jiro menggenggam erat telapak tangan Ellie.

“Ellie, kamu mendengarku, kan?” tanya Jiro sekali lagi. Tapi masih tak ada balasan dari Ellie. “Kita pulang, oke?” tanya Jiro lagi.

Dan akhirnya Ellie hanya menganggukkan kepalanya. Jiro tersenyum senang. Ellie lalu bangkit, turun dari ayunan, begitupun dengan Jiro. Dan secepat kilat, Jiro membawa Ellie kedalam pelukannya. Entah kenapa Jiro tak mampu lagi menahan keinginannya untuk merengkuh tubuh Ellie. Sejak tadi, ia ingin memeluk wanita ini, dan kini, Jiro dapat mewujudkan keinginannya tersebut.

Beruntung, Ellie tidak meronta apalagi menolaknya. Dan akhirnya, Jiro memeluk tubuh istrinya itu semakin erat lagi dari sebelumnya.

***

Sesekali Jiro melirik ke arah Ellie. Wanita itu memilih menolehkan kepalanya ke jendela, menikmati pemandangan jalanan kota Jakarta. Ingin rasanya Jiro megajak Ellie bercakap-cakap, tapi ia tidak tahu apa yang harus dibahas.

“Uum, Jadi, apa yang ingin kamu lakukan hari ini?” tanya Jiro kemudian.

“Nggak ada.” Ellie menjawab pendek.

“Mau keluar? Denganku?” tanya Jiro tiba-tiba.

Ellie menatap Jiro seketika. “Kemana?” tanyanya. Sebenarnya, Ellie tak berharap banyak. Jiro sama sekali tak pernah mengajkaknya jalan sebelumnya. Tentu karena ketakutan lelaki itu yang tak masuk akal. Takut kepergok media atau fansnya.

Sea world. Kamu mau?”

Mata Ellie membulat seketika. “Itu kan tempat publik. Kamu nggak takut ketahuan fans kamu?”

Jiro tersenyum, dan Ellie kembali terpana dengan senyuman lelaki itu. Benar-benar curang! Jika Jiro menampilkan sedikit saja senyumannya, maka Ellie akan kalah. Ellie tak akan mampu memusuhi suaminya itu lagi setelahnya.

“Ini bukan minggu atau hari libur, jadi kupikir tak akan seramai biasanya. Lagi pula, aku bisa menyamar.”

“Kamu yakin? Kalau ada yang tahu?”

“Abaikan saja.” Dan setelah itu Ellie bersorak gembira dalam hati, ia tidak menyangka Jiro akan membujuknya hingga seperti ini. kemarahan Ellie menguap seketika, hilang ditelan sikap manis yang ditampilkan Jiro kepadanya. Bagaimana bisa semudah ini menakhlukkan hatinya?

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 16

Comment 1 Standard

 

Bab 16

Lumatan mereka semakin intens, semakin panas, seakan keduanya tak ingin mengakhiri tautan bibir masin-masing. Jessie yang pertama kali sadar dari buaian asmara tersebut, segera ia melepaskan diri, membiarkan tautan bibir mereka terputus, dengan napas yang sama-sama saling terengah.

“Steve, aku lapar.” Ucapnya kemudian.

Jessie tidak bohong tentang dirinya yang sudah kelaparan, tapi sebenarnya, Jessie sempat melupakan rasa laparnya ketika Steve mencumbunya dengan begitu panas seperti tadi. Ia merasa bahwa malam ini, tak apa ia melewatkan makan malamnya, asalkan ia bisa bercumbu mesra dengan Steve sepanjang malam. Tapi Jessie juga harus memikirkan bayi yang dikandungnya. Bayinya membutuhkan nutrisi, dan ia harus makan untuk memenuhi nutrisi bagi bayinya tersebut.

“Aku… Maaf, aku terbawa suasana.” Ucap Steve dengan suara parau.

Jessie tentu merasakan bagaimana lelaki di hadapannya ini menegang seutuhnya, ereksinya menempel pada perut Jessie, keras, berkedut, membuat Jessie tak kuasa menahan diri untuk membungkusnya. Hanya saja, mereka bukan lagi remaja yang dimabuk asmara. Ada bayi diantara mereka, ada masalah yang harus mereka bahas sebelum kembali berakhir di atas ranjang.

Jessie mengusap lembut pipi Steve, ia berkata “Akupun demikian. Aku juga terbawa suasana, aku juga menginginkanmu. Mungkin karena hormon, atau yang lain. Aku tidak tahu. Tapi kita tidak bisa selalu menyelesaikan masalah dengan seks.” Ucap Jessie pelan agar Steve mengerti apa yang ia maksud.

Steve menganggukkan kepalanya. Jessie benar, sangat benar. “Baiklah. Kau lapar sekali?”

“Ya. Sangat lapar.” Kali ini Jessie mengusap perutnya dengan manja.

Steve tersenyum. Ia ikut mengusap perut Jessie dan berkata “Maafkan Daddymu yang kurang ajar ini, oke?” Steve berkata pada bayinya, lalu ia menatap ke arah Jessie. “Kau duduk saja. Aku yang akan menghangatkan makanannya dan menyiapkan sisanya.”

Jessie tersenyum bahagia. Steve sudah kembali, dan lebih baik lagi, lelaki ini bersikap begitu perhatian padanya. Jessie senang, sangat senang.

***

Setelah makan malam. Jessie dan Steve segera menuju ke kamar. Ini sudah hampir jam tiga dini hari, jadi mereka tak akan menghabiskan waktu untuk bercakap-cakap atau bahkan menonton TV lagi.

Bagi Jessie, ia tak butuh lagi penjelasan tentang sikap aneh Steve spanjang hari ini. kenapa lelaki itu tiba-tiba minum hingga larut. Yang terpenting adalah, bahwa Steve sudah kembali seperti semula. Lelaki itu sudah membaik, dan hal itu sudah cukup untuk Jessie.

Tanpa canggung, Jessie mendahului Steve, berjalan di depan lelaki itu, kemudian membuka bajunya sendiri. Meninggalkan dirinya hanya dengan bra dan celana dalamnya saja. Jessie berjalan menuju ke meja rias, mengambil sebotol minyak zaitun dengan aroma mawar, lalu menuju ke arah ranjang, dan duduk dengan pose seksinya, setidaknya dimata Steve seperti itu.

Jessie tampak sedang menggodanya, entah benar atau tidak, hanya wanita itu yang tahu. Tapi demi Tuhan! Steve merasa ketegangan yang tadi sempat lenyap karena makan malam, kini kembali bangkit. Ia kembali bereresi hanya karena melihat Jessie berjalan setengah telanjang di hadapannya.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Steve bingung, ketika mendapati Jessie sibuk membuka kemasan botol minyak zaitun tersebut.

Steve berjalan mendekat, ikut duduk di pinggiran ranjang dan mengamati apa yan akan dilakukan Jessie.

“Tadi aku ke butik, karena tak ada yang bisa kukerjakan dan aku cukup bosan di sana, aku memilih menghabiskan siangku untuk mengobrol dengan Miranda sesekali mencari informasi tentang kehamilan. Salah satu artikel menyebut bahwa nanti, perutku akan sering terasa gatal, dan aku tak boleh menggaruknya karena akan meninggalkan bekas luka.”

Well, sepertinya aku juga harus banyak membaca tentang artikel kehamilan. Aku ingin kau melewatinya bersamaku.”

Jessie mengangguk. “Dan, dengan minyak zaitun ini, bisa mengurangi rasa gatal tersebut.”

“Jadi, kau akan melumurkan ke tubuhmu?”

“Kau keberatan?” Jessie bertanya balik.

“Tidak.” Steve menjawab cepat. “Kau ingin, aku melakukannya untukmu?” tanya Steve kemudian.

“Kau, bisa melakukannya?” Jessie bertanya balik.

Steve merebut botol tersebut dari tangan Jessie. “Mari kita lihat, seberapa mahir aku melakukannya.”ucapnya sembari membuka botol tersebut, menuangkan isinya pada permukaan perut Jessie hingga membuat Jessie memekik seketika.

“Ohhh…” Jessie mengerang. Apalagi saat jemari Steve mulai mengusap perut hamilnya. “Astaga, ini bagus sekali.” Jessie tak tahu apa yang sudah ia katakan. Ia bahkan sudah memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di atas ranjang.

Steve mengangkat sebelah alisnya. “Bagus?”

“Ya ampun, rasanya nikmat.”

“Nikmat?” sekali lagi Steve menatap Jessie penuh tanya. Jemarinya masih mengusap lembut perut Jessie sedangkan pangkal pahanya sudah berdenyut nyeri menatap ekspresi nikmat yang ditampilkan oleh istrinya tersebut.

Ya ampun! Jessie benar-benar sedang menggodanya.

“Oooh..” Jessie kembali mengerang ketika jemari Steve dengan nakal merayap naik menelusup kedalam bra yang ia kenakan. “Kau, terlalu ke atas, Mr. Morgan.” Desah Jessie dengan terpatah-patah.

“Heemmm, aku suka merayap ke atas.” Steve menuangkan lagi minyak zaitun di tangannya, kemudian kembali memijat pelan perut Jessie. “Kau, sangat indah.” Steve mengerang. Dengan nakal jemarinya turun mengusap lembut pusat diri Jessie.

“Astaga. Apa yang kau lakukan? Ohhh..” Jessie mengerang, menggigit bibir bawahnya. Ia bahkan membiarkan ketika Steve dengan cekatan menurunkan celana dalam yang ia kenakan, menyisakan Jessie hanya dengan branya saja. “Steve, apa yang kau lakukan?” tanya Jessie dengan napas yang sudah terengah.

Steve hanya sedikit menunggingkan senyumannya. Ia kembali menuangkan minyak zaitun, lalu mengusapkannya pada sepanjang kaki Jessie dengan gerakan memijat, pelan, pasti dan sangat menggoda.

“Aku ingin membuatmu rileks.”

“Ohh, kau membuatku terbakar.” Jessie melemparkan kepalanya ke belakang saat dengan panas Steve kembali menyentuhkan jemarinya yang licin karena minyak zaitun pada pusat dirinya.

Steve menggodanya, sedangkan jemari lelaki itu yang lain memijat kakinya.

“Steve!! Astaga!” Jessie bahkan akan sampai pada pelepasan pertamanya karena permainan Steve yang lembut tapi sangat menggodanya.

“Ya? Sayang?” Steve kembali mengoda, ia kembali ke atas, dan membantu Jessie melepaskan branya, hingga wanita itu sudah telanjang bulat di bawah matanya. Steve menuang lagi minyak zaitun tersebut tapi langsung pada permukaan payudara Jessie yang padat berisi. Membuat Jessie memekik karena sensasinya.

“Ya Tuhan!” Entah berapa kali Jessie mengerangkan kata itu. Nyatanya ia merasa bahwa gairahnya meningkat lagi dan lagi ketika jemari Steve dengan minyak Zaitun tersebut menyentuh permukaan kulitnya.

Steve mengusapnya lagi dan lagi, menggodanya dengan gerakan lembut tapi panas, membakar apapun yang ia sentuh termasuk tubuh Jessie.

“Katakan, Sayang. Apa yang kau inginkan?” tanya Steve sebelum mendaratkan bibirnya pada puncak payudara Jessie.

“Ohhh.. Kau. Aku menginginkanmu! Demi Tuhan!” Jessie terengah. Ia sangat jujur, Jessie benar-benar menginginkan Steve saat ini. Jemari Steve bekerja dengan begitu sempurna, menggoda Jessie, membuat Jessie menginginkan lelaki itu untuk berada di dalamnya saat ini juga. Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya?

Secepat kilat Steve bangkit, sempat membuat Jessie menatapnya dengan tatapan kecewa karena Steve menghentikan kenikmatan yang diberikan oleh lelaki itu pada tubuh Jessie. Tapi Steve hanya sedikit tersenyum mirir, penuh arti. Lalu melucuti pakaiannya sendiri kemudian kembali menindih tubuh Jessie.

Tanpa banyak bicara, Steve mulai menyatukan diri. Steve tahu bahwa Jessie sudah hampir klimaks karenanya. Karena itu ia tak ingin membuang waktu lagi.

Keduanya mengerang panjang dengan penyatuan yang begitu erotis. Jessie sempat meracau ketika Steve terasa penuh mengisinya, tegang didalamnya, dan lelaki itu tak membuang waktu untuk menggerakkan dirinya.

“Ya Tuhan! Aku sangat menginginkanmu, Jess!” Steve berseru, sebelum ia menggapai bibir Jessie dan melumatnya penuh gairah. Sedangkan yang dilakukan Jesie hanya pasrah, menerima kenikmatan yang diberikan oleh suaminya, dengan sesekali membalasnya. Hingga percintaan mereka menjadi percintaan panas yang mampu membakar apa saja yang ada di antara mereka…

***

Menjelang pagi, Jessie bangung. Ia merasakan jemari Steve mengusap-usap perutnya dengan lembut, membuat Jessie dirayapi rasa geli yang bercampur dengan gairah.

Astaga, semalaman mereka sudah bercinta dengan panas, tapi Jessie merasa masih kurang. Mungkin karena hormon yang mempengaruhinya. Tapi Steve seakan tahu apa yang diinginkan Jessie.

Jessie bahkan sudah merasakan bukti gairah lelaki itu yang tegang menempel pada bagian belakang tubuhnya, membuat Jessie menggeliat dan menolehkan kepalanya ke belakang.

“Steve, kau bangun lagi?”

Steve tersenyum. “Tidak. Tidur saja. Aku ingin memeluk kalian.”

Jessie sangat senang dengan kalimat terakhir Steve. Ia merasa sangat disayangi, bukan hanya fisiknya saja, tapi semuanya. Jessie memposisikan diri untuk tidur lebih nyaman lagi, dan tak lama, kesadarannya mulai menghilang.

Pada saat itu, sama-samar Jessie mendengar ucapan Steve yang entah mengapa terdengar begitu manis dan membuatnya tersenyum dalam tidurnya. Astaga, itu pasti mimpi. Jika iya, maka itu adalah mimpi terindah yang pernah didapatkan oleh Jessie.

‘Jess, kupikir, aku mencintaimu.’

***

Wajah Jessie tak berhenti merona ketika mengingat kejadian panas semalam yang ia lakukan dengan Steve. bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyum bahagia. Telapak tangannya sesekali mengusap pipinya sendiri saat ia tak kuasa menahan rasa malunya saat mengingat kejadian itu.

Astaga, bagaimana mungkin ia melakukan malam yang sangat panas dengan seorang Steven Morgan? Steve benar-benar menjadi sosok suami baginya saat ini. Jessie tak bisa lagi melihat Steve sebagai temannya. Dan sepertinya lelaki itu juga merasakan hal yang sama seperti apa yang ia rasakan saat ini.

Tuhan! Ini gila!

Jessie bahkan tak dapat memikirkan hal lain selain kejadian semalam. Membuat Jessie ingin melakukannya lagi. Memberi Steve alasan untuk memijatnya dengan minyak Zaitun, pasti lelaki itu akan melakukannya lagi nanti malam.

Jessie menggelengkan kepalanya saat pikiran mesum mulai menguasainya. Sesekali ia mengusap perutnya dan berterimakasih pada bayinya karena sudah memberikan kesempatan dirinya untuk merasakan pengalaman yang sangat luar biasa.

Ketika Jessie asyik melamunkan malam panasnya dengan Steve, pintu ruangannya di buka, menampilkan sosok Miranda di sana.

Saat ini, Jessie memang sedang berada di butiknya. Meski belum banyak pekerjaan yang dapat ia kerjakan, tapi Jessie tetap ingin berangkat ke butiknya daripada harus seharian di dalam apartmennya dan mati karena bosan.

Steve sendiri tadi yang mengantarnya. Lelaki itu bahkan bersikap manis pagi ini dengan mengecup lembut puncak kepalanya lalu mengecup perutnya juga. Astaga, sejak kapan Steve menjadi semanis itu terhadapnya.

Kembali lagi pada Miranda, wanita itu berjalan mendekatinya dan berkata “Kau benar-benar sedang berpikir yang tidak-tidak, ya? Wajahmu merah padam, Jess.”

Jessie kembali menangkup pipinya sendiri, merasakan panas menjalar di area wajahnya. Ya, ia memang sedang memikirkan hal-hal tak masuk akal dengan Steve.

Jessie tersenyum ke arah Miranda. Ia berkata “Maaf, kau tahu sendiri, kan. Ibu hamil.” Jawabnya sembari mengangkat kedua bahunya.

“Ya, ya, ya, aku mengerti.” Kata Miranda dengan tawa lebarnya. “Sekarang, bangkitlah. Ada yang ingin bertemu denganmu.”

“Siapa?” tanya Jessie dengan sedikit penasaran. Ia tidak memiliki janji sebelumnya. Dan Jessie berpikir bahwa ia belum siap untuk bekerja lagi sepenuhnya seperti sebelum ia hamil. Keadaannya saat ini sangat labil. Ia mudah lelah, perasaannya sering kacau, dan ia lebih suka melamunkan tentang hal panas. Tentu saja hal itu akan sangat mengganggu jika Jessie memutuskan untuk bekerja penuh seperti sebelum ia hamil.

“Mungkin seorang calon pengantin. Dia tidak menyebutkan namanya. Dia hanya ingin membahasnya denganmu.”

“Ohh, kalau begitu, suruh saja dia masuk.”

Dan tak lama, Miranda kembali keluar, lalu mempersilahkan seseorang masuk ke dalam ruangan Jessie. Jessie segera berdiri, ia akan menyambut hangat calon pelanggannya. Tapi ketika ia tahu siapa yang datang menemuinya, tubuh Jessie membeku seketika.

Itu Donna Simmon, mantan keksih Steve. mantan? Tunggu dulu, bahkan Jessie tak yakin jika Steve sudah memutuskan Donna. Jessie bahkan melupakan hal sepenting itu selama ini. ia tidak tahu apa Steve sudah tidak memiliki hubungan dengan wanita lain selain dirinya atau tidak.

Yang menjadi pertanyaan untuk Jessie adalah, kenapa Donna Simmon datang ke butiknya? Apa yang diinginkan wanita itu? Apa wanita itu akan membahas tentang Steve dengan dirinya? Apa wanita itu sudah tahu tentang pernikahan kilatnya dengan Steve? atau, apa wanita itu datang kemari untuk menyiapkan gaun pernikahan yang akan wanita itu pakai dengan Steve yang menjadi mempelai prianya?

Tidak! Tidak! Bukan itu yang akan terjadi, kan? Steve tidak akan mungkin mengkhianatinya, atau lebih mengerikan lagi, menikah diam-diam di belakangnya. Tidak! Bukan itu yang akan terjadi.

***

Steve pulang malam. Ia benar-benar kesal karena hari ini mendapat klien yang sangat cerewet dan susah diatur. Sepasang kekasih itu sedang melakukan foto prawedding. Tentu saja mereka dari kalangan konglongmerat karena berani memakai jasanya yang bisa dibilang sangat mahal untuk sebuah foto prawedding.

Mereka mengambil banyak sekali scene. Saat Steve mencoba mengarahkan, si wanita arogan itu malah menolaknya mentah-mentah. Entah jadi apa nanti hasil tangkapan kameranya. Steve tak peduli. Ia benar-benar kesal mendapati klien yang sok tau seperti itu.

Steve sudah sempat menghubungi Jessie, tapi wanita itu tak mengangkat teleponnya. Mungkin Jessie sudah pulang naik taksi, tapi saat Steve sampai di apartmen wanita itu, Jessie tak ada.

Akhirnya, Steve memutuskan untuk menyusul Jessie ke butik wanita itu. Apa Jessie sudah mulai bekerja lagi? Jika iya, kenapa wanita itu bekerja hingga larut? Harusnya Jessie memikirkan tentang keadaannya, tentang kehamilannya, tentang bayi mereka. Steve mendengus sebal, sepertinya ia harus lebih protektif lagi kepada Jessie agar wanita itu mengerti bahwa yang utama saat ini adalah diri Jessie dan juga bayi mereka.

Ketika Steve akan sampai di butik Jessie. Dari jauh ia sudah melihat lampu butik wanita itu sudah padam. Yang artinya, Jessie sudah menutup butiknya. Kemudian Steve segera menghentikan mobilnya saat melihat bayang Jessie keluar dari dalam butiknya. Yang membuat Steve menegang adalah, wanita itu tidak sendiri, ada Henry di sana. Sialan, mereka sedang melakukan apa? Pikir Steve.

Steve hanya mengamati dari jauh. Jessie tampak mengikuti Henry menuju ke arah mobil tersebut. Dan ketika keduanya sudah berada di dekat mobil, tanpa diduga, Jessie melemparkan diri pada Henry, memeluk lelaki itu dengan erat.

Steve tak tahu apa yang sedang terjadi, ia bahkan tak ingin memikirkan apapun saat ini. Jessie tak mungkin mengkhianatinya, Jessie tak mungkin menduakannya.

Sialan!

Tapi Steve tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa apa yang ia lihat dengan mata kepalanya saat ini adalah hal yang nyata. Hal yang begitu menyakiti hatinya dan melukai harga dirinya.

Steve marah, sangat marah.

Seharusnya, jika Jessie tidak memiliki perasaan untuknya, wanita itu tak perlu bersikap seperti begitu menginginkannya. Steve ingat dengan jelas, bagaimana semalaman mereka berdua bercinta dengan panas, bagaimana Jessie memohon padanya untuk segera dipuaskan. Hal itu membuat Steve melambungkan perasaannya, berpikir bahwa Jessie sudah mulai membuka hati untuknya.

Nyatanya, setelah melihat kejadian ini, Steve merasa bahwa Jessie hanya berusaha membohongi dirinya. Membuatnya terlihat bodoh dengan rasa cinta yang ia rasakan dan bertepuk sebelah tangan.

Sial!

Cinta?

Ya Tuhan! Kenapa ia harus mengaku jatuh cinta pada saat seperti ini?

Kenapa ia harus jatuh cinta pada Jessie, wanita yang bahkan selalu melihatnya sebagai teman? Kenapa harus seperti ini?

-TBC-

Yuuuhuuuu adakah hatinya yang ikutan ‘kreeteekkk-kreeetekkk’ kayak Stipe??

Sleeping with my Friend – Bab 15

Comment 1 Standard

 

“Dia bahkan berkata bahwa dia tak peduli tentang kehamilanku. Dia tetap ingin menikahiku meski aku hamil dengan lelaki lain. Dia sangat mencintaiku, dan aku sudah menyakitinya.”

Sesuatu yang retak kembali terasa di dalam dada Steve. Steve merasakan perasaan yang sama ketika ia melihat Jessie dan Henry berciuman pada sore itu. Jessie benar-benar mencintai Henry, Steve tahu itu. Dan kini, ia sudah menghancurkan semuanya, membuat Jessie tersakiti karena perpisahannya dengan kekasih yang begitu wanita itu cintai. Steve tahu bahwa semua ini karena salahnya. Ia sudah menyakiti Jessie dengan cara yang paling buruk. Bagaimana mungkin ia menjadi seberengsek ini?

Bab 15

Untuk pertama kalinya setelah pernikahan mereka, Steve tidak ingin menyentuh Jessie. Mereka bahkan tidur saling memunggungi satu sama lain.

Setelah puas menangis, Jessie tertidur dalam pelukan Steve. Jessie banyak bercerita tentang apa yang terjadi sepanjang siang ini. Bagaimana cara wanita itu menjelaskan pada Henry, bagaimana reaksi lelaki itu. Dan Steve hanya diam, mendengarkan bagaimana kecewanya Jessie atas apa yang sudah menimpa hubungannya dengan Henry.

Jessie sangat kecewa, Jessie sangat sedih. Setidaknya, hal itulah yang bisa ditangkap Steve. Wanita itu tak berhenti menangis, hingga lelah dan tertidur dalam pelukan Steve. setelah itu, Steve menidurkan Jessie kembali ke atas ranjang. Kemudian, Steve memilih tidur di sebelahnya dengan posisi memunggungi Jessie.

Ia tidak ingin melihat Jessie saat wanita itu bersedih karena pria lain, ia tidak ingin melihat tangis Jessie yang bersumber dari dirinya. Sial! Steve benar-benar menjadi orang yang sangat berengsek.

Seharusnya, sebelum memutuskan untuk menikahi Jessie, ia harus memikirkan perasaan wanita itu dulu. Kini, Jessie hancur karenanya, dan lebih menyebalkan lagi bahwa ia juga merasakan perasaan sakit ketika Jessie tersakiti.

Steve mendesah panjang, ia memilih memejamkan matanya, tidur dan melupakan semuanya. Ya, ia harus melupakan semuanya…

***

Keesokan harinya, Jessie terbangun saat hari sudah siang. Ia terbangun sendiri. Jessie mencari Steve tapi lelaki itu tak ada di kamarnya. Apa Steve sedang sedang ada pekerjaan?

Jessie menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu ia menuju ek arah dapur dan akan memasak sarapan untuk dirinya sendiri. rupanya, Steve sudah menyiapkan sarapan untuknya di meja makan.

Astaga, sejak kapan lelaki itu menjadi semanis ini? Jessie tersenyum sendiri. ia mendapati note yang ditempelkan Steve pada pintu lemari pendinginnya. Steve berkata bahwa lelaki itu ada jadwal pemotretan, jadi ia harus pergi pagi-pagi sekali. Jessie mengerti jika Steve adalah oraang yang sibuk. Akhirnya, Jessie memilih duduk di kursi meja makan sembari menikmati sarapan buatan Steve.

Kemudian, ia kembali teringat dengan Henry.

Ohh, lelaki itu.

Saat Jessie mengingat tentang Henry, saat itulah perasaannya kembali kacau. Jessie benar-benar merasa bersalah kepada mantan tunangannya tersebut. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Semuanya sudah terjadi, jadi apa yang ia lakukan sudah benar, yaitu mengakhiri hubungannya dengan Henry.

Jessie menghela napas panjang. Bacon panggang dengan saus keju buatan Steve bahkan terasa hambar setelah ia mengingat tentang Henry. Sepertinya ia harus keluar, mencari udara segar agar bisa melupakan tentang masalahnya.

Jessie lalu bangkit, ia bersiap untuk mengganti pakaiannya. Sepertinya ia akan menuju ke butiknya. Bercakap-cakap dengan Miranda, atau mungkin menanyakan tentang Carmella Jackson, teman Miranda saat itu yang tampak serasi berdansa dengan Frank, kakaknya.

***

Di lain tempat….

“Jadi mereka benar-benar sudah menikah?” Donna bertanya sekali lagi pada Natalia, kekasih Hank.

“Ya. Maaf. Aku tidak berani memberitahumu. Ini adalah masalah pribadimu dengan Steve, jadi kupikir, aku tidak memiliki kapasitas untuk mengatakannya secara langsung kepadamu.”

“Nath! Bagaimana mungkin kau menyembunyikan hal seserius ini? Astaga! Aku sudah sangat tertarik dengan Morgan! Aku sudah banyak berharap padanya, dan kemarin dia memutuskan hubungan kami.”

“Maaf. Sejujurnya, aku dan Hank juga tidak tahu, kenapa semua jadi rumit seperti ini. yang kutahu dari Hank, Jess hamil, dan ya, kau tahu, Steve harus menikahinya.”

“Apa?! Jadi mereka menikah karena bayi?”

“Aku tidak tahu, Donna. Sungguh. Dan aku tak mau ikut campur masalah mereka. Maksudku, Steve bebas memilih harus dengan siapa dia menikah.”

“Maksudmu kau mendukung pernikahan mereka?”

“Mereka akan memiliki bayi, Donna. Hal yang paling masuk akal adalah menikah.”

“Tapi dia kekasihku, Nath! Dan kau temanku.”

Sungguh. Natalia tak tahu harus bersikap bagaimana dan berkata apalagi. Ia benar-benar tak ingin tahu dan ikut campur masalah Steve, Jessie dan Donna. Tapi disisi lain, ia juga merasa bersalah karena sudah mengenalkan Donna pada Steve.

“Lalu apa yang ingin kau lakukan? Hubungan kalian sudah berakhir. Dan biar kukoreksi, kupikir kalian saat itu belum benar-benar menjadi sepasang kekasih.”

“Kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa Steve tidak meniduriku karena ingin membangun hubungan serius. Dia menghormatiku. Karena itulah dia tidak meniduriku.”

“Ya. Awalnya memang seperti itu. Tapi sekarang sudah berbeda, Donna. Dia tak lagi membutuhkan seseorang untuk membangun hubungan yang serius. Satu-satunya orang yang dia butuhkan adalah Jessie, istrinya. Jadi, saranku, lebih baik kau melupakannya.”

Melupakannya? Melupakan Steven Morgan? Yang benar saja. Lelaki itu adalah lelaki tampan, panas, dan mapan. Mana mungkin Donna bisa melepaskannya begitu saja saat lelaki itu sudah berada di dalam genggaman tangannya?

***

Jessie menghabiskan siangnya di ruang kerjanya yang berada di dalam butiknya. Tak banyak ia kerjakan, karena Jessie memang belum membuka pesanan lagi untuk baju-baju yang akan ia rancang.

Jessie ingin menikmati waktunya. Seperti yang dikatakan dokter, ia tidak boleh terlalu stress, atau kecapekan. Steve juga selalu berkata seperti itu.

Mengingat tentang Steve, Jessie melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Tapi Steve belum juga menghubunginya sejak tadi pagi. Apa lelaki itu sangat sibuk?

Akhirnya Jessie memutuskan untuk menghubungi lelaki tersebut.

“Halo.” Panggilannya diangkat pada deringan kedua.

“Hai.” Jessie membenarkan tatanan rambutnya, padahal ia tahu bahwa Steve tak sedang melihatnya. Tapi tetap saja, dengan spontan ia melakukannya, merasa bahwa Steve beisa melihatnya dari seberang telepon.

“Jess? Ada masalah?”

Tidak, tentu saja tidak. Hanya saja, Jessie merasa bahwa ia ingin sekali mendengar suara Steve saat ini. Astaga, Jessie tak pernah menginginkan keinginan yang menggelikan seperti itu, entah kenapa saat ini ia sangat menginginkannya.

“Tidak. Aku hanya ingin mendengar suaramu.” Jessie menjawab dengan jujur. Tapi kejujurannya membuat Steve membisu cukup lama. Jessie mengerutkan keningnya. Tak biasanya Steve bersikap seperti itu padanya. “Kau, masih di sana?” tanya Jessie kemudian.

“Ya. Uuum, Jess. Aku sedang ada pekerjaan, jadi kupikir…”

“Baiklah. Matikan saja. Aku sudah cukup.” Jessie merasa bahwa Steve tak sedang ingin diganggu. Padahal Jessie masih ingin berbicara dengan lelaki itu, meski ia tidak tahu apa yang harus ia bicarakan.

Ya Tuhan! Jika dulu akan ada banyak sekali topik pembicaraan yang ia bahas dengan Steve, maka sekarang semuanya seakan lenyap ditelan oleh kecanggungan.

“Maaf, tapi jika sudah selesai, aku akan menghubungimu.”

“Ya. Baiklah.” Dan setelah itu, panggilan diakhiri.

Jessie menghela napas panjang. Entah perasaannya saja atau Steve tampak berbeda dengan biasanya. Lelaki itu, tampak sedang menghindarinya. Tapi kenapa? Apa yang sudah ia lakukan sampai Steve ingin menghindarinya?”

***

Di Studionya. Steve memijat pelipisnya. Ia merasa pusing. Ia bergairah pada Jessie, seperti biasanya, tapi ia tidak bisa menyalurkannya karena ia tahu bahwa ia sangat berengsek!

Steve merasa sudah memanfaatkan Jessie dengan menghamili wanita itu lalu mengikatnya dalam tali pernikahan. Steve merasa menjadi seorang bajingan karena sudah membuat Jessie berpisah dengan kekasih yang begitu wanita itu cintai. Dan hal itu benar-benar membuat Steve muak.

Sial! Steve benar-benar tak tahu bahwa Jessie mencintai Henry begitu dalam. Hal itu membuat Steve benar-benar tersakiti. Entah kenapa ia merasa sakit, yang pasti, ia benar-benar tersakiti karena rasa cinta sialan Jessie pada Henry. Hal itulah yang membuat Steve bersikap seperti pengecut, menghindari istriya yang sedang hamil muda dan membutuhkan dirinya.

Steve mengusap kasar rambutnya. Ia benar-benar kesal dengan dirinya sendiri, tapi disisi lain, ia juga merasa kesal dengan Jessie. Kenapa Jessie harus begitu mencintai lelaki itu? Ya ampun, bahkan menurut Steve, Henry tak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya. Harusnya Jessie lebih memilihnya, harusnya Jessie senang menikah dengannya, bukan sedih dan tertekan seperti yang ia lihat semalam.

Steve kembali mengusap rambutnya dengan frustasi. Sepertinya ia butuh minum. Ya, Hank mungkin mau menemaninya minum sebentar di bar.

***

Sorenya….

Jessie menyibukkan diri di dapur apartmennya. Sore ini ia ingin memasak, karena nanti malam ia ingin makan malam bersama dengan Steve. Jessie menghela napas panjang. Ia sudah menjadi seorang istri sekarang, calon ibu, jadi Jessie ingin memposisikan diri seperti statusnya.

Mungkin, akan ada banyak kecanggungan kedepannya, tapi Jessie mencoba mengabaikannya. Bagaimanapun juga, Steve sekarang adalah suaminya, bukan lagi teman dekatnya. Jadi ia harus memperlakukan Steve seperti status lelaki itu.

Sepanjang siang, Jessie banyak bercerita dengan Miranda. Dulu, Jessie biasanya bercerita dengan Frank, kakaknya. Tapi Jessie tak ingin lagi bercerita dengan kakaknya itu, karena Jessie tahu bahwa Frank akan menggodanya. Selain Frank, Jessie juga terkadang bercerita dengan Emily, adik Steve. tapi sekarang, ia tidak bisa menceritakan tentang hubungannya dengan Steve pada Emily, Lily adalah adik Steve, akan sangat canggung jika menceritakan hubungan mereka pada wanita itu.

Satu-satunya orang yang bisa Jessie percaya untuk mendengarkan ceritanya adalah Miranda. Beruntung Miranda adalah pendengar yang baik, bahkan Miranda banyak menyarankan apa yang harus Jessie lakukan kedepannya. Dan saran-saran tersebut nyatanya cukup masuk akal.

Miranda membenarkan apa yang ia lakukan pada Henry. Memutuskan hubungan dengan lelaki itu adalah hal yang paling benar. Agar kedepannya tak ada lagi yang tersakiti. Yang harus Jessie lakukan saat ini adalah fokus kepada kehidupan barunya dengan Steve dan calon bayi mereka, itulah yang disarankan Miranda.

Dan seperti inilah, Jessie berakhir di dapurnya, berperang dengan pan dan pisau yang hampir tak pernah ia gunakan. Jessie memang bukan wanita yang pandai memasak, tapi bukan berarti ia tidak bisa masak.

Saat pulang ke Pennington, ia sesekali memasakkan Daddynya dan juga Frank. Meski begitu, Jessie bukan tipe orang yang hobby masak. Ia adalah wanita karir, yang lebih sering makan diluar daripada menghabiskan waktu di dapurnya.

Tapi karena saran Miranda, ia akan mulai menggunakan dapur kecil di apartmennya untuk memasak makan malam untuk dirinya dan juga Steve.

Jessie memasak dengan sesekali melirik ke arah ponselnya yang memutar chanel youtube untuk orang-orang memasak. Malam ini, ia akan membuat Steak dengan saus jamur. Tak ada yang special, tapi setidaknya ia membuatkan masakan itu untuk Steve, dan baginya itu sudah cukup special.

Dengan Henry saja, Jessie tidak pernah memasak, masakan berat seperti ini. Astaga, Henry lagi.

Jessie menghela napas panjang. Ia kembali melanjutkan acara memasaknya. Sebenarnya, sepanjang siang, ia sedikit bingung dengan sikap Steve yang terkesan menghindarinya, tapi kemudian Jessie berpikir positif saja. Mungkin, Steve memang sedang banyak pekerjaan, mengingat mereka sempat cuti lebih dari seminggu untuk pernikahan mereka.

Ingin melupakan tentang Steve dan juga Henry, Jessie memilih menuju ke arah home teater miliknya, memutar lagu romantis, dan kembali ke area dapurnya. Sesekali Jessie bersenandung, sembari menyiapkan masakannya. Ia akan membuatkan Steak yang paling enak untuk Steve, karena lelaki itu sudah bekerja keras. Dan Jessie juga tak melupakan perhatian special yang diberikan lelaki itu selama Jessie menjadi istrinya.

***

Hingga jarum jam menunjukkan pukul satu malam, Steve belum juga pulang. Jessie sudah beberapa kali menghubungi lelaki itu, tapi ponselnya tak diangkat. Jessie khawatir, ia juga bingung, sebenarnya apa yang terjadi dengan Steve?

Sesekali Jessie berjalan mondar-mandir di ruang tengah apartmennya. Apa Steve pulang ke apartmennya sendiri? mungkin saja. Tapi tadi siang lelaki itu berkata akan menghubunginya, dan hingga kini, Steve tak sekalipun menghubungi Jessie.

Makanan yang berada di atas meja makan sudah dingin, Jessie tak peduli. Jessie bahkan tak mempedulikan perutnya yang sudah kelaparan, karena yang paling ia pedulikan saat ini adalah keadaan Steve.

Saat Jessie sibuk dengan pikirannya sendiri, pintu apartmennya dibuka dari luar. Tampak sosok Steve berdiri dengan wajah yang sudah ditekuk, baju yang sudah sedikit berantakan. Apa yang terjadi dengan lelaki itu?

Jessie berjalan mendekat, dan ia tahu bahwa Steve baru saja selesai minum. Mengingat cara berdiri lelaki itu yang tidak seimbang.

“Dari mana saja, kau?” Jessie bertanya dengan nada tinggi.

“Aku, minum. Dengan Hank.”

“Oh Ya Ampun! Apa kau tidak bisa mengangkat telepon dariku? Aku meneleponmu ribuan kali. Kau pikir aku tidak khawatir denganmu?”

Steve hanya menunduk. Ia tidak menjawab kemarahan Jessie, karena ia masih merasa bersalah. Steve merasa menjadi orang yang brengsek karena sudah menghamili Jessie dan memaksa menikahi wanita itu, karena itulah Steve minum malam ini.

“Apa yang terjadi denganmu, Steve? kau memiliki masalah? Kau bisa bercerita padaku.” Jessie menurunkan nada bicaranya.

“Aku mau mandi.” Steve hanya melewati Jessie begitu saja. Dan yang bisa Jessie lakukan hanya menatap bayang punggung Steve yang semakin menjauh. Apa yang terjadi dengan lelaki itu?

***

Steve menenggelamkan diri di dalam bathub. Rasa pusingnya sedikit ringan setelah ia berendam cukup lama di dalam bathub Jessie. Entahlah, Steve merasa tak tahu bagaimana caranya menghadapi Jessie. Mungkin, saat ini Jessie masih bisa bersikap biasa-biasa saja dan tidak mementingkan perasaannya, tapi Steve tahu, cepat atau lambat Jessie akan bosan dengan pernikahan mereka yang tidak dilandasi dengan cinta.

Mungkin juga, diam-diam, Jessie akan bertemu dengan Henry, lelaki yang begitu dicintai wanita tersebut. Dan Steve tidak bisa memikirkan hal itu. Jika Jessie memutuskan untuk mengkhianatinya, maka lebih baik semuanya selesai.

Oh Sial! Apa yang sudah ia pikirkan?

Akhirnya Steve memilih bangkit. Ia harus segera mengenyahkan pikiran buruknya. Meski Jessie mencintai lelaki itu, tapi Jessie tak akan berbuat seperti yang ia pikirkan.

Setelah mengeringkan tubuhnya dan mengenakan celana pendek santainya, Steve keluar tanpa mengenakan atasan apapun. Ia segera mencari Jessie, dan mendapati wanita itu sibuk di dapurnya.

Steve hanya mengamati Jessie dari belakang. Sesekali ia melirik ke arah meja makan yang tampak sudah rapi.

Apa Jessie yang menyiapkan semuanya? Untuk dirinya? Jika iya, maka terkutuklah dirinya karena lebih mementingkan perasaan sialannya dan juga sikapnya yang terkesan kekanakan.

Saat Jessie masih sibuk menghangatkan masakannya, saat itulah Steve berjalan ke arahnya, kemudian dengan spontan Steve memeluk Jessie dari belakang. Melingkari perut Jessie dengan lengannya, dan Jessie membatu seketika.

“Maafkan aku.” Suara Steve terdengar serak, tapi Jessie tak mengerti kenapa Steve meminta maaf kepadanya? Karena sudah minum?

“Lupakan saja, lebih baik duduklah, aku kelaparan.” Jawab Jessie dengan sedikit malas. Jika boleh jujur, Jessie sangat kesal dengan Steve, tapi ia mencoba mengendalikan diri. Bagaimanapun juga, mereka bukan lagi sepasang teman yang hobby bertengkar seperti dulu. Mereka kini sepasang suami istri yang harus memelihara keharmonisan, Jessie akan mengesampingkan egonya untuk bertahan dengan sikap Steve yang kadang tidak ia mengerti.

“Kau belun makan?”

“Ya, sepanjang sore, aku menunggumu, untuk makan malam bersama.”

Steve semakin merasa bersalah dan dengan spontan ia membalikkan tubuh Jessie, menangkup kedua pipi wanita tersebut. “Astaga, aku benar-benar bodoh.”

Jessie tersenyum, ia menggelengkan kepalanya. “Tidak, kau mungkin hanya memiliki beberapa masalah. Aku mengerti.”

“Tapi seharusnya aku memikirkan kemungkinan ini. bukannya sibuk dengan perasaanku sendiri.”

“Setidaknya aku senang. Kau pulang, sendiri, tidak dengan perempuan malam.”

Dan secepat kilat Steve menyambar bibir Jessie, melumatnya dengan lembut, kemudian berkata “Tak akan ada lagi tempat untuk perempuan malam setelah aku menjadikanmu sebagai istriku.” Lalu Steve kembali mencumbu Jessie, melumatnya penuh gairah, dan terbakar bersama-sama. Astaga, Steve benar-benar bodoh karena sudah mengabaikan dan menghindari Jessie sepanjang hari ini. Steve berjanji bahwa tak akan melakukannya lagi. Jika Jessie masih mencintai lelaki lain, maka yang harus ia lakukan adalah membuat Jessie berpaling padanya. Ya, itu yang paling benar!

-TBC-

Kyaaaaa bab Selanjutnya HOOOTTTTTTTTTTTTTTT hahahhahah

Sleeping with my Friend – Bab 13

Comment 1 Standard

 

Steve mulai membuka sampul kimono yang sedang dikenakan Jessie, sedangkan Jessie sendiri memilih mengalungkan lengannya pada leher Steve.

Oh, Steve sangat menggoda, lelaki ini sangat pandai berciuman hingga membuat Jessie merasa mabuk kepayang karena cumbuan yang diberikan Steve padanya. Samar-samar, Jessie bahkan mendengar Steve mengerang nikmat karena cumbuan mereka, dan hal itu membuat gairah Jessie naik satu tingkat lebih tinggi lagi.

Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya? Jessie tak pernah merasa sebergairah ini dengan seorang lelaki, apalagi jika lelaki itu adalah Steve, temannya sendiri yang kini sudah berstatuskan sebagai suaminya. Apa salah jika ia memiliki gairah yang besar terhadap Steve? Apa salah jika ia menuruti apapun kemauan lelaki itu? Jessie tak tahu, karena sekarang, Jessie merasa tak dapat berpikiran jernih lagi. Steve sangat menggoda untuknya, lelaki itu tak berhenti menyalakan api gairah didalam tubuhnya, hingga Jessie yakin, bahwa ia akan melewati malam pengantinya dengan begitu panas bersama dengan seorang Steven Morgan.

***  

Bab 13

 

Steve menghujam lagi dan lagi, tak mempedulikan erangan demi erangan yang keluar dari bibir Jessie. Kenikmatan membungkusnya, ia bahkan tak mempedulikan tubuh mereka yang sudah basah kuyub karena guyuran air dari shower.

Jessie tampak sangat bergairah, begitupun dengan dirinya yang seakan tak ingin menghakhiri percintaan panas mereka.

“Ohh, Steve… Astaga…” Jessie meracau, sedangkan yang dapat dilakukan Steve hanya kembali menghujam lagi dan lagi.

Entah sudah berapa lama mereka melakukan penyatuan dalam posisi berdiri. Tubuh Jessie terhimpit dengan dinding dan juga tubuh kekar Steve. Steve bahkan setengah mengangkat tubuh Jessie agar tinggi mereka sejajar. Sesekali Steve mencumbu habis bibir istrinya itu, melumatnya dengan penuh gairah, mengajaknya untuk menari bersama. Oh, Sial! Jessie benar-benar akan membunuhnya.

Beberapa kali Steve akan sampai pada puncak kenikmatan, tapi kemudian Steve memperlambat lajunya, menurunkan ritmenya, menyiksa dirinya sendiri dengan cara menahan agar luapan gairah tak segera meledak dan permainan mereka segera berakhir. Sungguh, Steve tak ingin segera mengakhirinya. Dan hal itu benar-benar membuat Steve tersiksa.

“Steve, tolong…” Jessie memohon.

Rupanya wanita itu sudah akan sampai pada puncak kenikmatannya lagi, entah sudah yang keberapa kali.  Berkali-kali, Steve merasakan Jessie klimaks, tapi ia masih menahan diri agar tidak terpancing dengan istrinya itu. Steve masih ingin lebih lama lagi, Steve masih ingin lebih banyak lagi mencumbu Jessie. Oh, Jessie, istrinya….

Akhirnya, karena sudah tak sanggup menahan luapan gairah yang menghantamnya lagi-dan lagi, Steve pun meledakkan diri setelah beberapa kali hujaman kerasanya. Steve mengerang, begitupun dengan Jessie. Keduanya saling mengerang satu sama lain, seakan melupakan kecanggungan yang sempat tercipta diantara mereka.

Jessie mengalungkan lengannya pada leher Steve, ia tidak mampu berdiri sendiri dengan kedua kakinya. Steve membuatnya lemas tak bertenaga karena klimaks yang ia dapatkan beberapa kali dalam satu sesi percintaan panasnya bersama dengan lelaki ini. astaga, Steve benar-benar pandai bercinta.

Jessie merasa sangat malu, karena ia merasa tak pandai mambuat Steve senang dengan percintaan mereka. Bagaimana jika lelaki ini bosan nantinya? Jessie menenggelamkan diri pada dada Steve. Ia mengabaikan air Shower yang masih setia mengguyur tubuh mereka. Kemudian, Jessie mulai terisak.

Steve yang baru sadar dari gelombang gairah yang menghantamnya, akhirnya merasakan isakan dari Jessie. Ia melepaskan pelukan Jessie kemudian mengamati wanita itu dengan kekhawatiran yang amat sangat.

“Ada apa? Apa aku menyakitimu? Bayinya?” tanyanya dengan raut khawatir.

Jessie masih terisak. Ia tidak tahu kenapa dirinya bisa seemosional ini, secengeng ini hanya karena merasa bahwa ia tidak bisa memuaskan hasrat seorang Steven Morgan. Padahal, Steve sendiri tidak mengatakan kemungkinan tersebut.

Steve meninggalkan Jessie, lalu kembali dengan sebuah kursi lipat. Ia mendudukkan Jessie di sana dan mencoba mengabaikan ketelanjangan mereka. Steve berjongkok di hadapan Jessie, berharap jika Jessie mengatakan apa masalahnya.

Sial! Steve tadi terbawa dengan suasana. Ia terlalu menikmati percintaan panasnya dengan Jessie, mencoba menahannya agar percintaan mereka tak segera berakhir. Steve bahkan lupa tentang keadaan Jessie yang sedang mengandung bayinya. Bisa saja tadi ia menyakiti wanita itu. Dan hal itulah yang membuat Steve khawatir.

“Kau, baik-baik saja, bukan?” tanya Steve sekali lagi saat Jessie sudah berhenti terisak.

Jessie hanya menganggukkan kepalanya. Tampak sangat manja. Steve tak ingat kapan terakhir kali Jessie terlihat menja seperti saat ini. Jessie tentu bukan orang manja seperti itu. Setidaknya, hal itulah yang dilihat Steve selama ini. Setelah kepergian ibu Jessie, Jessie selalu memposisikan diri sebagai gadis kuat, wanita mandiri yang mampu mengurus dirinya sendiri bahkan mengurus ayah dan kakaknya. Tapi kini, Jessie tampak seperti seorang gadis manja yang terisak karena sesuatu yang tidak ia mengerti. Apa yang terjadi dengan wanita ini?

“Ada yang sakit? Apa aku menyakitimu?” tanya Steve lagi. Karena ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Jessie.

Jessie menggelengkan kepalanya. “Tidak.” Hanya itu jawabannya.

“Lalu kenapa kau menangis? Kau baik-baik saja bukan?” Steve masih tampak khawatir.

“Aku baik-baik saja, Steve. Sungguh.”

“Katakan, kenapa kau menangis?” lagi, Steve masih ingin mendapatkan jawaban yang masuk akal dari wanita di hadapannya tersebut.

“Aku… aku tidak tahu.”

“Kenapa tidak tahu?” Steve masih menuntut.

“Aku juga tidak mengerti, Steve. Aku selalu ingin menangis akhir-akhir ini. Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini.” Jessie kembali menangis, dan Steve benar-benar bingung.

Ya Tuhan! Bagaimana mungkin menghadapi wanita hamil akan membuatnya segila ini?

Akhirnya, Steve menghentikan interogasinya, ia memilih bangkit dan memeluk Jessie. “Mungkin ini berhubungan dengan kehamilanmu. Kau sangat sensitif. Seharusnya aku mengerti dan lebih mengalah lagi.” Ucap Steve kemudian.

“Aku… aku hanya takut, Steve.”

“Apa yang membuatmu takut?”

“Kau. Aku takut dengan dirimu.”

Steve melepaskan pelukannya, lalu menatap Jessie penuh tanya. “Aku? Kau takut denganku?” kemudian Steve tertawa lebar menertawakan apa yang baru saja dikatakan Jessie.

Perlu diketahui, bahwa selama ini, Stevelah yang takut dengan Jessie. Jessie kadang memposisikan diri sebagai ibu Steve ketika mereka tinggal di New York. Jessie tak segan-segan mengomel atau bahkan memukuli Steve ketika Steve melakukan perbuatan yang salah.

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Jessie dengan kesal.

“Kau takut denganku. Itu tidak masuk akal, Baby girl.” Saat Steve sudah memanggilnya seperti panggilan yang diberikan Frank padanya, maka saat itulah Jessie tahu bahwa sikap menyebalkan Steve mulai kambuh.

“Apanya yang tidak masuk akal?!” nada suara Jessie mulai meninggi.

“Ya ampun. Kau seperti Mom jika sedang marah. Lebih tepatnya, aku yang takut denganmu. Bukan sebaliknya.” Steve berkata masih diiringi dengan tawa lebarnya.

Jessie bangkit seketika. Dengan marah ia berkata. “Aku hanya takut jika tak dapat memuaskanmu. Seharusnya kau tidak menertawakan aku! Kau membuatku kesal, Morgan!”

Steve sempat membatu setelah mendengar jawaban Jessie. “Kau apa?” tanyanya sekali lagi. Tapi Jessie tidak mengindahkan pertanyaannya. Lalu Steve mencoba meresapi setiap kata yang diucapkan Jessie hingga membuatnya sadar akan maksud dari wanita tersebut. Dan hal itu benar-benar membuat Steve tak kuasa menahan tawanya hingga terpingkal-pingkal.

Melihat Steve yang tak berhenti menertawakannya, Jessie semakin kesal dan marah. Hal itu membuat Jessie berinisiatif pergi meninggalkan Steve. Astaga, Jessie bahkan sempat melupakan jika dirinya masih telanjang bulat saat ini.

Melihat Jessie yang tampak kesal dan akan meninggalkannya membuat Steve menghentikan tawanya seketika. Ia segera menggapai tubuh Jessie kemudian memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Sial! Gesekan kulit lembut Jessie membuat Steve kembali berereksi.

“Lepaskan aku!” Jessie sempat meronta. Tapi Steve mempererat pelukannya.

“Begini saja, Nyonya Morgan.”

Panggilan itu lagi. Sialnya, panggilan itu mampu membekukan tubuh Jessie. Oh ya, ia juga baru ingat bahwa saat ini statusnya sudah menjadi istri Steve, menjadi Jessica Morgan. Bagaimana dia bisa lupa dengan hal itu?

“Maaf jika aku sudah menertawakanmu. Sungguh, aku merasa kau sangat konyol. Mana mungkin kau tidak memuaskanku?” ucap Steve dengan nada parau.

“Kau… Aku… Aku tidak tahu. Maksudku, aku sudah beberapa kali klimaks, dan kau…”

“Karena memang itulah yang kuinginkan.” Steve memotong kalimat Jessie. “Perempuan bisa klimaks beberapa kali dalam satu sesi. Tapi jika lelaki sudah klimaks, maka semuanya selesai. Butuh beberapa menit untuk memulainya lagi. Dan aku hanya ingin, percintaan kita tadi tak cepat selesai.”

“Jadi, semua itu, bukan karena kau tidak menikmatinya?”

Steve melepaskan pelukannya kemudian membalikkan tubuh Jessie hingga menghadap ke arahnya.

“Oh, Demi Tuhan, Jess! Kau benar-benar gadis biara, ya? Jika aku tidak menikmatinya, maka aku akan menyatukan diri, memuntahkan gairahku kemudian meninggalkanmu begitu saja tanpa mempedulikan apa kau klimaks atau tidak. Kau mengerti apa maksudku?”

Jessie tersenyum. Meski kosa kata yang diucapkan Steve sedikit kurang ajar, tapi tetap saja, mendengar kalimat itu membuat Jessie tersenyum malu. Jessie mengerti apa maksud Steve. Yang tidak membuatnya mengerti adalah, kenapa Steve bisa begitu menikmati permainan mereka? Jessie tidak melakukan apapun, dan hal itulah yang membuat Jessie tak percaya diri.

“Uum, aku, tak melakukan apapun. Bagaimana mungkin kau menikmatinya?”

Steve tak tahu harus seperti apa menjelaskan pada Jessie bahwa dirinya begitu menikmati percintaan mereka. Tapi kemudian, Steve memiliki ide untuk memanfaatkan kepolosan Jessie.

Dengan sedikit tersenyum ia berkata “Kau ingin tahu bagaiaman aku menikmatinya?”

“Maksudmu?” Jessie curiga dengan apa yang akan dilakukan Steve. Tanpa banyak bicara, Steve meraih sebelah telapak tangan Jessie kemudian mendaratkan pada ereksinya.

“Kau lihat. Aku selalu menegang saat berdekatan denganmu. Bagaimana mungkin kau memiliki pemikiran sekonyol itu, bahwa aku tidak menikmati semua ini?”

“Aku…” Jessie bingung dengan apa yang ia rasakan. Ia benar-benar tak pernah seintim ini. Sangat intim hingga menyentuh pusat gairah dari seorang lelaki.

Steve semakin mendekat, membiarkan Jessie menyentuhnya. “Sentuh aku, Jess. Dan lihatlah. Betapa aku menikmati sentuhanmu.” Ucapnya dengan suara parau. Kemudian, Steve menangkup kedua pipi Jessie, mengangkat wajah wanita itu, lalu mendaratkan ciuman lembutnya pada bibir Jessie.

Jessie sangat menikmatinya. Ia bahkan memejamkan matanya, dan juga membalas cumbuan lembut dari suaminya tersebut. Jemarinya masih tak berhenti membelai mesra bukti gairah lelaki itu, dan hal tersebut memancing suatu gairah dari dalam tubuh Jessie.

Steve mencumbu lagi dan lagi. Kakinya melangkah, mendorong tubuh Jessie sedikit demi sedikit hingga mereka keluar dari kamar mandi, kemudian menuju ke arah ranjang mereka. Sampai di sana, Steve melepaskan tautan bibir mereka. Jemari Jessie benar-benar menyiksanya, membuatnya nyaris meledak karena kelembutan yang diberikan oleh istrinya tersebut.

Steve menatap Jessie dengan sungguh-sungguh, lalu ia berkata “Aku ingin kali ini kau yang memegang kendali.”

“Aku? Bagaimana bisa?” tanya Jessie bingung.

Jessie tentu tak perenah berpikir bagaimana caranya memegang kendali sebuah hubungan seksual. Ia tidak semahir atau seliar itu. Dan ia tidak tahu bagaimana caranya.

Kemudian, Steve mendorong tubuh Jessie hingga keduanya jatuh di atas ranjang dengan Steve berada di atasnya. “Aku akan mengajarkanmu. Kau mau?” tawar Steve kemudian.

“Aku… Umm, aku…” Jessie ragu. Tapi saat dirinya masih ragu, Steve sudah menyatukan diri dengan begitu erotis. Jessie tak mampu menolak karena ia juga menikmati penyatuan tersebut.

Tanpa diduga, dalam sekejap mata, Steve membalikkan posisi mereka hingga kini Jessie berada di atasnya. Steve tersenyum, dan Jessie bingung apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

“Bergeraklah.” Pinta Steve.

“A-apa maksudmu?”

“Bergeraklah. Puaskan aku.”

Mata Jessie sempat membulat karena ucapan Steve. Tapi kemudian ia mengikuti nalurinya untuk bergerak, mencari-cari kenikmatan untuk dirinya sendiri, memberikan kenikmatan untuk Steve. Jessie bahkan melupakan kecanggungannya. Semua pergerakan yang ia lakukan itu semata karena nalurinya.

Dengan spontan, Jessie menundukkan kepalanya, mendaratkan bibirnya pada bibir Steve. Mencium suaminya tersebut tanpa menghentikan pergerakannya.

Steve sangat menyukai apa yang dilakukan Jessie. Ia tak menyangka jika Jessie akan mampu dengan mudah beradaptasi dengannya, dengan kehidupan seksualnya di atas ranjang. Jika boleh jujur, untuk seorang pemula, Jessie benar-benar sangat menggoda, panas dan cukup liar. Meski wanita itu tak berhenti merona karena malu, tapi tetap saja, hal itu tak menyurutkan sedikitpun gairah Steve pada Jessie.

Jessie masih tak berhenti, ia bergerak lagi dan lagi dan hal itu mengantarkan Steve pada puncak kenikmatan. Steve tak mampu menahannya lagi. Dipeluknya erat tubuh Jessie, kemudian ia bergerak secera spontan, membuat Jessie mengerang dengan pergerakan dari Steve.

Jessie kembali hanyut dalam badai kenikmatan, dan tak berapa lama, Steve menyusulnya. Keduanya tenggelam dalam pusaran gairah yang seakan tak ingin meninggalkan mereka.

***

Satu minggu berlalu. Steve dan Jessie kembali ke New York. Mereka harus bekerja kembali dan menjalani kehidupan normal seperti sebelum-sebelumnya.

Berada satu minggu di Pennington dengan status baru membuat hubungan mereka menjadi panas sepanas bara. Bukan karena kemarahan atau emosi, tapi karena gairah yang menyala-nyala.

Hampir setiap malam Steve menyentuh Jessie dengan panas. Mengajari wanita itu bagaimana caranya menikmati hubungan baru mereka. Mengajari Jessie bagaimana cara untuk memuaskannya. Dan Jessie tampak senang dengan peran barunya tersebut.

Sesekali, mereka memang masih canggung dengan status baru yang mereka sandang. Tapi sering kali mereka mengabaikannya. Kedekatan mereka masih sama seperti pada saat mereka berteman dulu. Steve masih suka mengganggu Jessie dan Jessie sering kali marah-marah tak jelas dengan perilaku kekanakan Steve.

Hari-hari di Pennington menjadi hari-hari terindah untuk mereka berdua. Tapi mereka sadar, bahwa mereka tidak bisa berada di sana selamanya. Mereka harus kembali ke New York, dan itu tandanya mereka akan menghadapi berbagai macam masalah.

Seperti, dimana mereka akan tinggal setelahnya?

Oh, tentu saja Jessie bisa pindah ke apartmen Steve. Tapi mengingat bagaimana keras kepalanya wanita itu, Steve mencoba mengalah saat Jessie menolak gagasan tersebut.

Steve mengusulkan agar ia yang pindah ke apartmen Jessie. Jessie tidak menolak, tapi wanita itu hanya berkata bahwa akan bagus jika Steve tak perlu buru-buru memboyong semua barang-barangnya ke apartmen Jessie, mengingat apartmennya tak sebesar milik Steve, dan juga, mereka tentu perlu waktu untuk menyesuaikan keadaan masing-masing.

Setidaknya, Steve bisa lega, karena itu tandanya ia bisa tinggal bersama dengan Jessie, meski tandanya, ia harus lebih banyak mengalah dengan kekeras kepalaan wanita tersebut.

Saat berada di dalam mobil, sesekali jemari Steve terulur dengan sesuka hatinya, mendarat pada perut Jessie kemudian mengusapnya lembut. Steve tidak tahu apa yang membuatnya melakukan hal yang menggelikan seperti itu. Yang ia tahu adalah bahwa hal itu kini menjadi sesuatu yang ia gemari.

Sial! Ada anaknya di sana. Jagoannya. Ya, Steve bahkan sangat yakin dan sudah merasakan bahwa anak yang dikandung Jessie adalah laki-laki. Hal itu benar-benar sangat berarti untuk Steve.

Jessie sendiri, ia memilih megabaikan apa yang dilakukan Steve. seperti tak terjadi apapun. Padahal dalam dirinya, Jessie merasakan sebuah pergolakan. Kehangatan menerpanya, tapi ia juga merasa kurang nyaman dengan sikap manis berlebihan yang diberikan Steve padanya.

Jessie tahu, hubungan mereka memang jauh lebih baik ketimbang setelah malam panas saat itu. Tapi ia juga sadar, bahwa semua ini semata-mata karena mereka ingin memperbaiki semuanya. Jessie akan sangat berhati-hati dengan hal ini, karena ia tahu, satu kali saja ia tergelincir, maka ia akan jatuh, dan hubungan mereka tak akan tertolong lagi.

Pada saat itu, keduanya sudah sampai di gedung apartmen mereka. Dengan sigap Steve keluar dari dalam mobilnya, ia memutarinya kemudian membukakan pintu penumpang agar Jessie keluar dari sana.

Manis sekali.

Keduanya masuk. Mendapati Cody si penjaga apartmen yang tersenyum ramah ke arah mereka.

“Mr. Morgan, Miss Summer.” Sapanya dengan ramah.

“Ahhh. Biar kukoreksi. Mrs. Morgan.” Ucap Steve dengan sungguh-sungguh.

“Apa? Maksudnya, kalian?” Cody menatap ke arah Steve dan Jessie secara bergantian.

Jessie hanya menunduk. Sedangkan Steve dengan penuh rasa posesif ia menarik pinggang Jessie agar masuk ke dalam lengannya.

“Ya. Kami sudah menikah.” Jawab Steve dengan penuh penegasan.

Jessie tidak membantah, ia pun tidak meralat ucapan Steve karena memang benar seperti itulah kenyataannya. Mereka sudah menikah, ia sudah menjadi Nyonya Morgan saat ini.

“Ohh, selamat. Kenapa aku tidak diundang?”

“Hanya pernikahan biasa yang diadakan di lumbung rumahku.” Jawab Steve. “Tapi lain kali, aku akanmmeneraktirmu minum untuk merayakannya. Boleh kan Sayang?’ tanyanya pada Jessie.

“Ya. Tentu saja.” Jessie baru membuka suaranya.

“Baiklah, Cod. Kami akan naik dulu.” Steve berpamitan dan Cody hanya menganggukkan kepalanya. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar bahwa kedua orang tersebut nyatanya sudah menikah.

Saat Steve dan Jessie baru saja masuk ke dalam lift, Cody baru saja ingat bahwa ada seseorang yang sudah menunggu Jessie. Seseorang yang datang setiap hari ke apartmen ini selama Empat hari terakhir. Seseorang yang Cody kenal sebagai tunangan Jessie. Astaga, apa yang akan terjadi selanjutnya?

-TBC-