Sleeping with my Friend – Bab 7

Comments 4 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 7

 

Jessie mengambilkan beberapa gelas untuk sampanye yang dibawakan oleh Frank, kakaknya. Sesekali matanya melirik ke arah ruang tamunya. Disana, Frank duduk dengan santai bersama Steve di sebelahnya, sedangkan Henry memilih duduk di sofa yang lainnya.

Frank memang kurang akrab dengan Henry, karena kekasihnya itu memang jarang bisa diajak kumpul bersama. Tentu saja karena pekerjaan lelaki itu yang tak bisa ditinggal begitu saja.

Saat Jessie menuju ke arah ruang tengah dengan empat gelas dan juga seember es batu, saat bersamaan panggilan kerja Henry berbunyi. Sebuah benda kecil yang akan berbunyi jika ada pasien yang membutuhkan pertolongannya.

Henry menatap Jessie dengan penuh penyesalan. Ia ingin menghabiskan waktunya dengan Jessie dan juga Frank tentunya, tapi apa daya, pekerjaan telah memanggilnya.

“Kau akan pergi?” tanya Jessie kemudian.

Henry berdiri dan menuju ke arah Jessie. “Maaf, sebenarnya aku ingin lebih lama lagi. Kau tentu tahu.”

Jessie mengangguk. Jemari henry terulur mengusap lembut puncak kepala Jessie. Kemudian tanpa canggung sedikitpun ia mengecup singkat bibir Jessie. “Aku benar-benar ingin menghabiskan waktu denganmu, Jess. Aku hanya ingin kau tahu tentang itu.”

Jessie tersenyum. “Aku mengerti.”

Henry lalu menatap ke arah Frank. “Kuharap, kau mengundangku lain kali. Dan kupastikan saat itu aku sedang bebas dari tugas.” Ucap Henry lamah sebelum pamit undur diri.

Beberapa menit kemudian setelah kepergian Henry. Suasana di ruang tengah apartmen Jessie sepi. Jessie sibuk membuka tutup sampanye, Steve sibuk dengan perasaannya, sedangkan Frank memilih mengamati keduanya.

“Apa ada yang kulewatkan disini?” Frank membuka suara hingga Jessie menatap ke arah kakaknya tersebut.

“Apa?” tanya Jessie berpura-pura tak mengerti.

“Hubungan kalian, kenapa jadi secanggung ini?”

Steve masih diam. Ia tak ingin membuka suara. Pikirannya masih jatuh pada kejadian sebelumnya, dimana Jessie dan kekasihnya sedang mencumbu mesra, dimana Steve tahu bahwa mereka saling mencintai sedangkan ia tak memiliki apapun untuk diperjuangkan.

“Frank, bukankah kau datang kemari untuk merayakan bukumu yang lagi-lagi difilmkan? Kenapa kau tidak menceritakan saja buku mana yang akan difilmkan itu.” Jessie mencoba menghindari topik pembicaraan. Ia tidak suka kakaknya ikut campur urusan mereka.

Well, Ya. Salah satu buku misteriku. Dan kau tahu, siapa produser fimnya?” Jessie menggelengkan kepalanya. “Warner Bros.” lanjut Frank.

“Wow, itu keren.” Jessie bertepuk tangan. “Ini memang harus dirayakan, Frank.”

Steve masih memberengut di ujung sofa.

“Kau yakin kalian tidak ada masalah.”

“Ya. Sebenarnya kami baik-baik saja. Mungkin Steve sedang ada masalah di tempat kerjanya.” Jessie mencoba menutupi permasalahan mereka. Lagipula Jessie tak mengerti kenapa Steve memberengut kesal seperti anak kecil. Memang apa salahnya?

“Kami sedang bermasalah.” Steve menjawab cepat. Entah kenapa ia ingin menunjukkan pada Frank tentang apa yang terjadi diantara mereka.

“Steve. Apa yang kau bicarakan?” sungguh, Jessie ingin Steve bisa lebih dewasa lagi menyikapi permasalahan mereka. Itu hanya terjadi diantara mereka. Jessie tak ingin keluarganya ikut campur diantara masalah mereka.

“Kau bisa saja bersikap seolah-olah tak pernah terjadi apapun diantara kita. Tapi aku tidak! Bagaimanapun juga-”

“Steve!” Jessie berseru keras memotong kalimat Steve sembari berdiri.

Steve ikut berdiri “Kenapa? Kau ingin aku diam saja dan tidak mengungkapkan semua kekesalanku?” Steve mulai tak bisa mengendalikan emosinya. Sungguh, bukan ini yang ia inginkan. Tapi mengingat bagaimana Jessie mampu dengan mudah bercumbu dengan pria lain setelah malam panas bersamanya sedangkan dirinya setiap saat gila memikirkan Jessie, benar-benar membuat Steve marah.

Frank yang duduk diantara keduanya hanya membiarkan saja, ia bahkan menuang sampanye dan menyesapnya dengan santai sembari memperhatikan lelaki dan perempuan yang sedang beradu urat di hadapannya.

“Lebih baik kau keluar.”

“Oh, tidak bisa. Aku sudah berjanji bahwa aku akan menyelesaikan semuanya malam ini juga.”

“Apa yang ingin kau selesaikan?” Jessie menantang. Persetan jika Frank mengetahui tentang hubungan mereka.

“Hubungan sialan kita.”

Well. Kita tidak memiliki hubungan kecuali pertemanan. Hanya itu.”

Steve tertawa mengejek. “Benarkah? Kau tidak ingat bahwa aku sudah menidurimu Tiga minggu yang lalu?”

“Bajingan kau, Steve!”

“Ya, aku memang bajingan. Dan kau sialan! Kau tahu, aku tidak ingin lagi berteman denganmu.”

“Terserah kau saja.”

“Kau juga ingin mengakhiri pertemanan ini?” tanya Steve. “Bagus. Ini lebih baik. Jadi aku tak perlu lagi bertemu denganmu.”

“Kalau begitu kau boleh keluar.”

Steve tak percaya. “Kau mengusirku?”

“Apa lagi yang kau inginkan?” nada suara Jessie masih meninggi.

Steve mengusap rambutnya kasar. “Brengsek! Kau pikir aku tahu apa yang kuinginkan? Jika keinginanku sesederhana menidurimu, maka aku tak akan repot-repot datang merangkak padamu untuk memperbaiki hubungan kita.”

“Jadi kedatanganmu kemari untuk memperbaiki hubungan kita? Inikah yang kau sebut memperbaiki hubungan? Kau sudah menghancurkannya, Morgan!” Jessie berseru keras.

“Kau yang lebih dulu menghancurkanku!” Steve tak tahu apa yang sudah dia katakan.

“Apa?” Jessie tak mengerti.

Well. Kupikir kalian perlu bicara baik-baik tanpa mengeluarkan urat.” Frank berdiri menengahi keduanya.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.” Steve berkata penuh penekanan. Matanya masih menatap tajam ke arah Jessie.

“Ya, akupun demikian. Tak ada yang perlu dibicarakan.” Jessie setuju dengan apa yang dikatakan Steve, bagaimanapun juga, Steve keterlaluan karena sudah mengatakan hubungan semalam mereka dihadapan Frank.

Tanpa bicara lagi, Steve meninggalkan apartmen Jessie. Membanting pintuya hingga berdentum. Kemarahan jelas terpancar di wajah lelaki itu. Dan Jessie tak peduli. Ia juga marah terhadap Steve yang tampak sangat kekanakan.

***

Jessie berdiri di depan bak cuci piring dengan segelas sampanye. Ia meminumnya lagi dan lagi, dengan sedikit menenangkan pikirannya. Frank masih duduk di ruang tamunya, dan Jessie tak peduli.

Brengsek Steve! Bagaimana mungkin lelaki itu meninggalkannya dalam keadaan seperti ini? Jessie tak tahu bagaimana caranya menghadapi Frank yang pastinya akan menuntut penjelasan tentang apa yang sudah dikatakan Steve tadi.

Meski ia sudah dewasa dan dan Frank tak akan ikut campur tentang masalahnya yang paling pribadi, tapi Jessie tahu, bahwa Frank pasti ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.

“Sampai kapan kau akan berdiri di sana?” tanya Frank yang ternyata sudah duduk di bar dapur, tepat di belakang Jessie.

“Kau, masih disini?” Jessie berharap Frank sudah pergi dan melupakan semuanya.

“Kau berharap aku pergi?” tanya Frank, Jessie hanya mengangkat kedua bahunya. “Dengar, Jess. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu dan Steve. Dan aku tak mau tahu hubungan intim kalian. Hanya saja, kalian sudah dewasa. Kalian menyelesaikan ini seperti anak-anak. Saling memaki dengan emosi masing-masih.”

“Dia yang memulainya dulu, Frank. Kau ada di sana, kau tentu tahu dia dulu yang memulainya.”

“Dan kau tidak tahu kenapa dia marah denganmu?”

“Aku tak peduli. Dia memang selalu marah-marah tak jelas.”

“Jess. Dia melihatmu berciuman dengan Henry di depan pintu.” Frank berkata dengan nada sungguh-sungguh.

“Lalu apa masalahnya? Aku sering melakukan itu. Kami akan menikah, jadi sangat wajar kalau kami saling berciuman.”

“Kau, benar-benar tak mengerti atau pura-pura tak mengerti?”

“Aku tak mau mendengarnya.” Jessie membalikan tubuh membelakangi Frank.

“Dia cemburu, Jess.”

“Tidak.”

“Dia menyukaimu.”

“Hentikan, Frank!” Jessie berbalik dan menatap sengit ke arah kakaknya. “Kau pikir aku gadis kecil yang bisa kau bodohi? Steve hanya suka perempuan berambut pirang dengan payudara yang hampir tumpah dari branya. Aku mengenalnya! Jadi aku tahu siapa dan orang seperti apa yang dia sukai.”

Frank tersenyum miring. “Kau juga menyukainya, Jess.”

“Oh Frank. Tidak bisakah kau meninggalkan aku sendiri? aku ingin sendiri tanpa memikirkan apapun tentang seorang Steven Morgan!”

“Baiklah. Aku akan pergi. Tapi jika ada sesuatu, kau tahu harus kemana. Ingat, aku hanya beberapa blok dari sini. Jadi jangan menyembunyikan apapun dariku. Oke?”

Meski kesal, Jessie merasa sangat senang karena memiliki kakak yang begitu perhatian dengannya. Jessie mengantarkan Frank hingga pintu. Setelah Frank memasuki lift, Jessie segera kembali masuk ke dalam apartmennya. Ia menguncinya kemudian segera menuju ke arah kamar.

Entah Kenapa Jessie ingin menangis. Menenggelamkan diri diantara bantal dan selimutnya. Astaga, semuanya tak bisa tertolong lagi. Pertemanannya dengan Steve tak akan bisa tertolong lagi. Jessie tahu itu.

***

Dua bulan kemudian…

Semuanya menjadi kacau. Jessie berdiri di depan cermin dengan wajah pucatnya. Jemarinya saling meremas satu sama lain karena kegugupan yang melandanya. Ia sudah merias diri secantik mungkin, tapi ia berpikir bahwa malam ini ia sama sekali tidak cantik. Matanya sembab karena menangis berhari-hari. Astaga, apa yang sudah terjadi dengan dirinya?

Dua minggu yang lalu, Jessie bahkan mengurung diri selama beberapa hari dan enggan keluar. Itu karena penyakit barunya, yaitu masuk angin. Ya, Jessie lebih suka menyebutnya seperti itu. Ia masuk angin karena setiap hari harus mual muntah, dan Jessie tahu bahwa tak lama lagi perutnya akan menggembung sebesar bola basket.

Karena hal itulah hari ini ia baru berani memutuskan untuk makan malam bersama kekasihnya. Jessie akan mengakhiri semuanya, karena Jessie tak ingin melanjutkan pernikahannya dengan Henry dalam keadaaan seperti sekarang ini.

Mengingat itu, kegugupan kembali terasa. Astaga, Jessie tak sanggup. Sungguh.

Bajingan Steve! Kenapa lelaki itu harus meninggalkan sebagian dari dirinya untuk tumbuh di dalam perutnya? Lebih bajingan lagi, karena setelah pertengkaran hebatnya dua bulan yang lalu, Steve seperti tak ingin lagi bertemu dengannya.

Beberapa kali, mereka bertemu, di basement, di depan lift, di tempat kerja. Tapi temannya yang bajingan itu tampak enggan menatapnya. Steve tidak berbicara sama sekali dengannya, dan Demi Tuhan! Jessie juga tak ingin berbicara dengan lelaki itu.

Frank berkali-kali menghubunginya dan menanyakan hubungan mereka, tapi Jessie hanya mengatakan bahwa mereka sudah selesai. Nanti, setelah menyelesaikan hubungannya dengan Henry, Jessie akan menelepon Frank dan juga ayahnya, bahwa semuanya benar-benar telah usai.

Jessie menghela napas panjang. Pada saat bersamaan ia mendengar bunyi ketukan pintu. Henry sudah datang, dan Jessie harus benar-benar siap dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

Beberapa menit berlalu, mereka sudah berada di dalam mobil Henry, menuju ke sebuah restoran Prancis. Diam tanpa kata, sunyi, hening, dan hal itu membuat suasana menjadi canggung.

Henry tahu jika ada yang berbeda dengan Jessie, sejak dua minggu yang lalu, wanita ini berubah, dan Henry berharap malam ini berjalan dengan lancar hingga bisa memperbaiki hubungannya dengan Jessie.

Memasuki restoran, keduanya masih saling berdiam diri, bahkan hingga seorang pelayan datang dan memberikan buku menu. Jessie memesan beberapa hidangan utama hingga membuat Henry mengerutkan keningnya.

“Kau kelaparan?” tanyanya setelah si pelayan pergi.

“Mungkin.” Hanya itu jawabannya.

Terdengar helaan napas panjang dari Henry. “Jadi, ada yang ingin kau bahas?”

Tentu saja ada, tapi Jessie merasa bahwa ia takut mengutarakannya. “Lebih baik kita makan dulu. Aku tidak ingin pesanan kita tak termakan setelah aku mengutarakan maksudku.”

Henry merasa bahwa Jessie akan mengatakan sesuatu yang penting hingga wanita itu tampak menyiapkan diri. Apa yang akan dikatakan Jessie padanya.

Makan malam berlangsung dengan hening. Sesekali Henry bertanya tentang apa yang dilakukan Jessie sepanjang hari ini, dan Jessie hanya menjawab tanpa bertanya balik kepada Henry.

Waktu cukup singkat, karena tak ada juga yang mereka bicarakan. Setelah menyantap Raspberry Clafoutis sebagai makanan penutupnya, Jessie merasa bahwa perutnya sudah penuh. Apa perutnya sekarang sudah menggembung? Tidak! Jessie berharap bahwa hal itu tidak terjadi.

Hingga masuk kembali ke dalam mobil Henry, Jessie belum juga mengatakan maksud hatinya. Ia tidak bisa, Demi Tuhan ia tidak bisa mengatakannya. Jessie menyayangi Henry, ia tidak bisa membatalkan pertunagan mereka karena penyakit masuk anginnya ini.

Henry akan sangat hancur, dan Jessie tak bisa melihat hal itu terjadi.

“Jess. Ada yang kau pikirkan?”

Karena melamun sepanjang jalan, Jessie bahkan tidak sadar jika mereka sudah berada kembali di basement gedung apartmennya.

“Ya?”

“Ada yang ingin kau katakan? Kau tampak pucat, dan tertekan.” Ucap Henry dengan lembut.

Jessie ingin menangis, sungguh. Kapan lagi ia memiliki kekasih yang begitu pengertian seperti Henry? Dia adalah lelaki sempurna. Tampan, dokter, pengertian, dan begitu menyayanginya. Dan kini, ia akan mencampakan lelaki itu. Tuhan! Bagaimana mungkin semuanya berakhir seperti ini?

Belaian tangan Henry pada puncak kepalanya membuat Jessie mengangkat wajahnya dan menatap Henry dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia harus, karena ia menyayangi Henry, ia harus memutuskan pertunangan mereka demi lelaki itu.

“Kupikir, kupikir, kita sampai disini saja.” Suara Jessie hampir tak terdengar.

“Apa maksudmu, Jess?”

Jessie tak dapat menahan luapan airmatanya. Beberapa hari terakhir ia memang tak dapat menahan diri untuk tidak menangis. Dan Jessie tahu bahwa ini karena penyakit masuk anginnya.

“Kau menangis. Ada apa, Jess?”

“Henry. Aku ingin semuanya selesai. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi.”

“Tapi kenapa?”

“Karena aku masuk angin, Karena tubuhku akan membengkak beberapa bulan kedepan, karena aku akan, aku akan… Astaga, aku akan memiliki bayi.” Jessie menangis, sedangkan Henry tercengang. Henry merasa baru saja dijatuhi sebuah bom tepat di kepalanya.

Jessie hamil? Dan wanita itu ingin memutuskannya? Ya Tuhan! Henry tak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

 

-TBC-

Advertisements

Sleeping with my friend – Bab 6

Comments 2 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 6

 

Waktu berlalu cukup cepat. Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh Jessie. Sepertinya baru beberapa jam yang lalu ia melihat Steve memotreti para modelnya dengan gaya yang tak biasa, tapi lelaki itu tentu selalu mempesona ketika bekerja. Ya, setidaknya itulah pendapat Jessie selama ini.

Steve tampak sangat menarik saat lelaki itu konsentrasi pada objek tangkapan lensa kamerannya. Ketika lelaki itu memutar fokus lensanya, saat lelaki itu mengerutkan keningnya, saat lelaki itu tampak begitu serius mengambil gambar di hadapannya, Jessie menyukai saat melihat Steve yang seperti itu. Baginya, Steve tampak bertanggung jawab dengan pekerjaannya, tampak dewasa dengan ekspresi seriusnya. Tentu sangat berbeda dengan Steve yang selama ini ia kenal.

Jessie tak memungkiri jika beberpa kali jantungnya berdebar tak menentu saat melihat Steve melakukan pekerjaannya dulu sebelum malam sialan itu terjadi. Meski begitu, Jessie tak akan pernah mengakui bahwa ia terpana ketika melihat Steve bekerja dengan begitu profesional.

Kini, tak terasa hari sudah semakin sore. Bahkan para kru dan beberapa model sudah meninggalkan tempat pemotretan mereka yang terletak di dalam gedung studio foto milik Steve. Hanya tertinggal beberapa pegawai Steve yang sibuk merapikan bekas-bekas pemotretan, dua bawahannya yang sibuk merapikan gaun-gaunnya, dan juga Steve yang kini sudah berada di dalam ruangannya.

Jessie akan menuju ke dalam ruangan tersebut tapi ada sesuatu keraguan yang tiba-tiba saja menyergapnya. Hubungannya dengan Steve kini sedang tidak baik, sedang retak, dan Jessie takut jika hubungan mereka hancur karena suatu yang seharusnya tak terjadi. Tapi Jessie harus ke sana, berpamitan dengan Steve agar semuanya terlihat normal dan baik-baik saja meski sebenarnya ada banyak hal yang harus mereka bicarakan setelah malam dan pagi sialan itu.

Dengan menghela napas panjang, Jessie menuju ke arah ruangan Steve. Ia bukan seorang yang pengecut, maksudnya, mungkin cukup Tiga minggu ini ia menjadi pengecut karena beberapa kali menghindari pertemuannya dengan Steve. Ia ingin semua kembali normal dan itu harus diawali saat ini.

Setelah dua kali mengetuk pintu ruangan tersebut, Jessie membukanya. Ia tahu bahwa Steve tak menguncinya. Dengan sedikit ragu ia melangkahkan kakinya masuk dan menyapa “Hai” pada Steve.

Lelaki itu yang tadinya cukup serius di depan layar laptopnya, kini mengangkat wajahnya dan tampak terkejut dengan kehadiran Jessie. Apa Steve berharap ia tak perlu masuk ke dalam ruangan lelaki itu? Seketika itu juga Jessie merasa menyesal karena harus memasuki ruangan tersebut.

“Oh, Hai.” Steve berdiri seketika.

Sedikit tak nyaman Jessie berkata. “Sebenarnya, aku hanya berpamitan. Akan sangat tidak sopan jika aku dan para pekerjaku pergi begitu saja tanpa pamit.” Jessie berkata seformal mungkin. Seperti sedang bercakap dengan partner kerjanya. Demi Tuhan! Ia sudah mengenal Steve bahkan sejak bayi, mereka sudah sering berbagi banyak hal. Semuanya terasa hancur setelah malam sialan itu. Jessie tak tahu kenapa ia harus secanggung ini bahkan bersikap seformal ini pada Steve, padahal, sebelumnya ia tak pernah bersikap seperti ini, bahkan memikirkannya saja tidak.

“Oh. Begitu.” Jessie melihat Steve memasukan telapak tangannya pada saku celananya sendiri. “Kau tak ingin melihat ini sebentar?” tawar Steve.

“Ada masalah?” mau tidak mau Jessie melangkahkan kakinya menuju ke arah meja Steve.

Lelaki itu kembali duduk dan hal itu membuat Jessie lega karena menambah keberanian Jessie untuk mendekat ke arah lelaki tersebut.

Biasanya, mereka memang akan memeriksa hasil tangkapan kamera Steve saat mereka bekerja sama seperti sekarang ini. Memilih gambar yang paling bagus dan cocok. Atau, jika tidak ada, mereka akan melakukan sesi tambahan di hari berikutnya. Jessie merasa saat-saat seperti itu sudah cukup lama tidak mereka lalui. Tentu sejak malam sialan itu.

“Tidak. Kupikir semuanya bagus. Tapi aku juga perlu pendapatmu seperti sebelum-sebelumnya.” Ucap Steve sembari menunjukkan hasil tangkapan lensanya tadi.

Dengan seksama Jessie melihat satu demi satu gambar tersebut. Seperti biasa, ia tampak terpesona dengan hasilnya. Steve memang berbakat dalam hal ini, tak heran, jika lelaki ini menjadi salah satu fotografer dengan tarif termahal di New York, meski begitu, lelaki ini tak pernah sepi klien.

“Bagiku ini luar biasa. Kau melakukannya dengan baik.”

Jessie tak pernah memuji Steve sampai seperti itu. Oh, mereka sering saling ejek satu sama lain, tapi memuji dengan formal seperti ini sama sekali tak pernah terjadi diantara mereka.

“Gaunmu juga menjadi salah satu objek yang membuat hasinya indah dan menakjubkan.” Bahkan Jessie juga tak pernah mendengar Steve memuji hasil rancangannya seperti itu.

Steve memang mengagumi apapun rancangan Jessie, tapi biasanya lelaki itu akan berkarta ‘kau membuat aku ingin meniduri modelnya’ atau ‘Rancanganmu membuatku terangsang.’  Ya, seperti itulah khas seorang Steven Morgan. Tapi kini, pujian formal itu membuat Jessie tidak nyaman. Ia tidak suka dengan perubahan Steve, ia juga tidak suka dengan perubahan dirinya sendiri, hingga kemudian, Jessie tersentak dari lamunannya ketika jemari Steve mendarat tepat di atas telapak tangannya yang sedang bertumpu di meja lelaki itu.

Sebuah gelenyar kembali menerpanya, membuat Jessie menatap ke arah Steve seketika saat lelaki itu kini sedang mendongak menatap intens ke arahnya.

“Jess. Aku tak suka dengan suasana seperti ini. kita perlu bicara.”

Ya, tentu saja. Jessie tahu itu. Tapi ia tidak suka membayangkan jika percakapan mereka akan berakhir seperti rabu siang ketika Steve datang ke butiknya dan berakhir saling mengumpat satu sama lain. Jessie tak ingin hal itu terjadi.

Jessie menggelengkan kepalanya. “Kupikir sebaiknya kita melupakan semuanya.”

“Jess. Aku tidak suka hubungan kita jadi seperti ini.”

“Kau pikir aku menyukainya?” nada suara Jessie mulai meninggi. Jika yang dipikirkan Steve adalah hanya lelaki itu yang frustasi tentang kedekatan mereka, maka lelaki itu salah. Jessie juga sama frustasinya. Dan demi apapun juga, Jessie rela menukar apa saja untuk mengembalikan hubungan mereka agar seharmonis dulu.

“Oke.” Steve berdiri. Ia melirik ke arah jam tangannya. “Kita akan membicarakannya nanti, mungkin aku akan ke apartmenmu besok.”

“Kau tak perlu melakukannya.”

“Jess kita harus.” Steve menggenggam kedua belah telapak tangan Jessie. “Setiap bulan, kita akan pulang. Orang rumah akan mengetahui masalah kita jika kita tetap bersikap seperti ini.”

“Mungkin kita tidak perlu pulang bersama lagi. Cukup untuk mengendalikan situasi, bukan?”

“Kau menghindariku?”

“Steve…”

“Oke.” Steve mengangkat kedua tangannya. “Kita memang harus berbicara Jess. Dengan atau tanpa persetujuanmu, besok malam aku akan datang. Aku tidak ingin kita saling menghindar lagi.” Jessie mendesah panjang. Ia tidak mungkin menolak keinginan seorang Morgan. Lelaki itu pemaksa, meski menolaknya, Jessie tahu bahwa besok malam lelaki itu akan datang ke apartmennya.

***

Kencan yang membosankan.

Itulah yang dirasakan Steve malam ini. ia dan Donna Simmon hanya makan malam di sebuah restoran mewah, dan membunuh waktu dengan saling bercakap-cakap. Steve bahkan hanya sedikit menyimak apa yang diceritakan oleh Donna.

Wanita itu bekerja sebagai konsultan di salah satu perusahaan di New York. Hanya itu saja yang Steve tangkap. Bahkan Steve seakan tak ingin mengetahui lebih lanjut tentang wanita itu. Bukan karena tampangnya. Demi Tuhan! Hank adalah teman yang sangat baik karena mengenalkan dirinya pada sosok bidadari seperti Donna Simmon, tapi hanya itu saja. Donna hanya cantik, tapi kosong. Tak ada sesuatu yang menarik bagi Steve untuk dikencani.

Wanita itu terus bercerita tentang siapa saja teman kerjanya, apa saja yang ia lakukan, dari mana saja kliennya datang dan lain sebagainya. Sedangkan Steve memilih hanya diam, sesekali melemparkan senyuman padahal ia tidak tahu apa yang sedang dibahas wanita itu.

Steve hanya ingin waktu segera berlalu. Ia tidak sabar menunggu besok malam, ketika ia kembali bertemu dengan Jessie dan membicarakan tentang hubungan mereka berdua.

“Jadi, apa yang kau lakukan sepanjang hari ini?” tanya Donna kemudian yang merasa bahwa Steve sejak tadi tampak bosan dengan ceritanya.

Steve menyesap minumannya. “Aku? Aku bekerja sepanjang hari. Ada sebuah pemotretan untuk majalah fashion. Dan hanya itu.”

“Kau, bertemu dengan banyak artis?”

“Jika maksudmu karena pekerjaan, maka ya. Kebanyakan hanya model.”

“Woww, hebat sekali. Aku jadi tertarik untuk datang ke tempat kerjamu.”

“Boleh saja. Tapi kadang, saat aku bekerja, akan sangat berkonsentrasi. Aku hanya tak ingin kau terabaikan saat di sana.”

“Oh, kau perhatian sekali.” Donna merasa tersanjung, dan Steve hanya tersenyum menanggapinya. Donna memang seperti kebanyakan wanita yang pernah dekat dengannya. Wanita itu gampang sekali tersanjung, dan ingin selalu ikut campur tentang kehidupannya. Tidak seperti Jessie.

Sial! Lagi-lagi nama itu. Steve mendengus sebal.

***

Kencan berakhir begitu saja setelah Steve mengantarkan Donna hingga sampai apartmen wanita itu. Donna mengundangnya masuk, tapi Steve menolak. Ia tidak sedang ingin meniduri wanita itu, jadi ia berpikir bahwa lebih baik ia pergi saja.

Lagi pula, tujuannya menjalin hubungan dengan Donna adalah untuk menjalin sebuah pertemanan yang sangat dekat, bukan hanya dalam hal asmara. Ia ingin Donna mampu menggantikan sosok Jessie, ketika wanita itu nanti benar-benar pergi menghindar selama-lamanya, maka Steve tak perlu khawatir.

Tapi sepertinya, semuanya gagal total. Donna tak pantas untuk menggantikan tempat Jessie, bahkan keduanya tak memiliki kemiripan sama sekali. Donna lebih asik dengan dunianya sendiri, lebih suka menceritakan tentang dirinya sendiri. sangat berbeda dengan Jessie yang tak akan membuka suara jika tidak ditanya apa yang sedang terjadi dengan wanita itu.

Steve mengemudikan mobilnya cepat hingga sampailah ia pada gedung apartmennya. Ia mendapati Cody duduk di sebuah kursi dekat dengan pintu masuk. Menyapanya sebentar dan segera masuk ke dalam gedung tersebut. Entahlah. Steve hanya ingin segera pergi ke kamar tidurnya. Tidur kemudian menunggu besok malam. Ia akan mengutarakan sebuah niat pada Jessie, ia akan membuat hubungan mereka berbeda.

Ya, Steve tahu bahwa pertemannya dengan Jessie sedang terancam, bahkan mungkin sudah hancur. Ia tahu pasti bahwa apapun itu, ia tak akan bisa memperbaiki semuanya. Pandangannya terhadap Jessie sudah berubah, begitupun yang dirasakan wanita itu padanya. Jessie memang tak mengakuinya, tapi sangat jelas terasa ketika mereka berdekatan. Ketegangan selalu terasa, bukan hanya secara seksual tapi juga secara emosional.

Steve tahu bahwa malam itu bukan sekedar malam panas. Ada sebuah emosi yang terlepas di sana. Ketika mereka bercinta di kamar mandi dan bercinta kembali di atas ranjang, Steve tahu bahwa itu bukan hanya tentang sebuah kepuasan. Dan bodohnya ia baru menyadari hari ini, hampir satu bulan setelahnya.

Bagaimanapun juga, ia harus merundingkan semuanya pada Jessie, ia ingin membahas semuanya sampai tuntas. Menawari Jessie dengan sesuatu yang cukup masuk akal. Dan ketika wanita itu menolaknya, maka lebih baik mereka tidak pernah bertemu lagi dan Steve akan melanjutkan kencannya dengan Donna Simmon yang cukup membosankan untuknya.

Begitulah niat Steve. Tapi benarkah ia akan mengutarakan niatnya pada Jessie? Beranikah ia mengatakannya? Siapkah ia dengan penolakan wanita itu? Entahlah. Steve hanya akan menunggu sampai besok malam.

***

Esoknya….

Steve menyelesaikan sisa pekerjaannya secepat mungkin, karena ia ingin mmepersiapkan diri untuk menghadapi Jessie.

Baiklah. Ia sudah memikirkan semalaman. Persetan dengan pertunangan Jessie dengan si Gay Henry. Yang pasti, Steve akan mengutarakan bahwa mereka sudah tidak bisa berteman lagi. Lebih tepatnya, Steve akan menganggap bahwa mereka kini adalah sepasang kekasih.

Mungkin Jessie akan menganggapnya gila, wanita itu pasti akan melemparinya dengan perabotan rumah tangga. Tapi Steve tak peduli. Nyatanya seperti itulah yang ia rasakan hampir sebulan terakhir. Ia merasa bahwa Jessie adalah kekasihnya, bukan sekedar temannya. Dan hal itu sudah tidak bisa dirubah lagi.

Kecanggungan diantara mereka membuat Steve semakin yakin, bahwa tidak hanya seks yang ada di malam itu. Tidak sekedar pemuasan fisik. Tapi secara emosional, mereka juga terlibat.

Jam Enam sore, Steve sudah siap di apartmennya. Tapi ia menahan diri untuk tidak turun. Demi Tuhan! Ini masih sore. Jessie pasti akan mengerutkan keningnya saat mendapati dirinya berkunjung sore-sore seperti ini. Bahkan mungkin, wanita itu baru pulang dari butiknya.

Akhirnya, Steve memilih menghabiskan waktu di ruang tengah apartmennya sembari kembali memikirkan semuanya. Semakin ia berpikir, semakin ia yakin. Kepercayaan dirinya meningkat saat membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja akan terjadi, seperti Jessie menyetujui pendapatnya. Wahh, pasti akan sangat membahagiakan. Mereka benar-benar akan menjadi sepasang kekasih, berbagi ranjang kembali dengan begitu panas. Seks maraton setiap hari.

Sial!

Steve mengumpat pada ereksinya.

Bagaiamana mungkin ia segera terangsang saat memikirkan hal itu? Otaknya benar-benar sudah dikendalikan oleh Jessie. Dan hal itu membuat Steve semakin yakin bahwa ia harus segera menyelesaikan semuanya dengan Jessie.

Jam Delapan jantung Steve berdebar lebih cepat dari sebelumnya. Perutnya seperti diperas saat ia melangkah keluar dari apartemennya menuju ke arah lift. Turun Lima lantai hingga berada pada lantai apartmen Jessie.

Steve keluar dari dalam Lift dengan sesekali membenarkan tata rambutnya. Tapi baru tiga langkah, ia berhenti.

Bayangan Jessie dengan seorang lelaki saling menautkan bibir satu sama lain dengan begitu lembut tepat di depan pintu apartmen waita itu membuat Steve hanya ternganga menatapnya.

Takk… takk… taakkk…

Steve merasakan sesuatu retak di dalam dadanya. Dengan spontan ia merabanya, terasa nyeri tapi tak mengeluarka darah. Ada apa ini? apa yang terjadi dengannya? Apa ia memiliki kelainan jantung?

Sepanjang hari Steve sudah membayangkan jika ia akan menjadikan Jessie sebagai kekasihnya. Ia tak bisa melihat wanita itu sebagai temannya lagi, ketertarikan seksual serta emosional selalu terpantik ketika mereka berdekatan, dan hal itu cukup bagi Steve untuk menjadikan Jessie sebagai kekasihnya.

Dengan begitu bodohnya, Steve berpikir bahwa Jessie akan menerimanya begitu saja. Wanita itu pasti tak akan mengingkari pesonanya, Steve terlalu percaya diri. Ia melupakan satu hal, bahwa Jessie memiliki cinta untuk tunangannya, dan hal itu tidak dimiliki oleh Steve.

Seberapa panas hubungan mereka, seberapa tegang ketertarikan fisik diantara mereka, maka akan tetap dikalahkan oleh cinta sialan yang dimiliki Jessie dengan kekasihnya.

Dengan kecewa, dengan marah, dan demi Tuhan! dengan terluka, Steve membalikkan tubuhnya bersiap kembali memasuki lift sebelum Jessie melihatnya berdiri di sana seperti seorang idiot yang sedang patah hati.

Patah hati? Sial! Steve tidak ingin mengakuinya.

Tapi saat pintu lift terbuka, Steve seakan berada pada puncak kesialannya ketika ia mengetahui siapa yang ada di dalam sana.

“Steve? Kau dari tempat Jessie?” tanyanya yang kini bahkan sudah mengamati Steve, melihat rahang Steve yang mengetat karena kemarahan, melirik ke arah telapak tangan Steve yang saling mengepal karena emosi yang meluap-luap. Lelaki itu keluar dari dalam lift, dan ia dapat melihat Jessie masih asik bercumbu dengan sang Kekasih.

Dan lelaki itu tersenyum.

“Aku akan pergi.” Ucap Steve dengan dingin.

“Woww, wooww.” Lelaki itu menahan pundak Steve. “Aku bahkan membawakan Sampanye untuk merayakan Bukuku yang akan di filmkan.”

Brengsek, Frank! Kenapa bajingan ini harus datang disaat yang tak tepat?

Itu adalah Frank Summer, kakak Jessie. Mereka tentu sudah saling mengenal sejak kecil. Frank orang yang baik, tapi yang membuat Steve kesal adalah karena lelaki itu terlalu ikut campur dengan urusannya dan Jessie. Frank bahkan sempat mengusulkan untuk menikahkan mereka ketika mereka sedang berada dalam pertemuan keluarga bulanan, meski lelaki itu mengatakannya dengan gurauan, tapi tetap saja, Frank adalah seorang berengsek yang mengganggu ketenangannya dengan Jessie.

“Aku sibuk.”

“Benarkah?” Frank tak percaya. “Akui saja, bung. Kau cemburu melihat mereka.”

“Brengsek kau Frank!” Steve mengumpat keras pada lelaki yang usianya Tiga tahun lebih tua dibandingkan dirinya. Sedangkan lelaki itu tertawa lebar menertawakan umpatan khas yang keluar dari mulut Steve.

Dan pada saat itu, suara Jessie mengejutkn keduanya.

“Frank? Steve? Apa yang kalian lakukan di sana?”

Oh, Steve tak bisa mengelak, ia tak bisa pergi begitu saja dan berpura-pura tak melihat semuanya. Semua ini tentu karena si bajingan Frank Summer. Mata Steve menatap mata Frank dengan tatapan membunuhnya. Berharap jika Frank tak mengatakan apapun tentang apa yang telah mereka lihat tadi.

“Hai Jess. Aku sengaja mengajak Steve ke sini untuk merayakan bukuku yang akan diangkat ke layar lebar.”

“Oh Astaga, itu hebat. Ayo. Kita masuk dan berpesta.” Ajak Jessie.

Frank menatap Steve dengan sedikit menyunggingkan senyumannya, kemudian ia mengajak Steve untuk menuju ke apartmen Jessie dan masuk ke sana. Bagimanapun juga, Steve merasa bahwa Frank tak ingin ia pergi. Dan Steve merasa berterimakasih karena secara tak langsung, Frank mencegahnya menjadi seorang pengecut.

-TBC-

Sleeping with My Friend – Bab 5

Comments 3 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

 

Bab 5

 

Jessie belum pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Hal itu membuat Miranda menunda kepulangannya hingga sang bossnya itu pulang. Saat Jessie keluar dari dalam ruang kerjanya, ia melihat lampu butiknya masih menyala dan tampak Miranda sedang merapikan sebuah lemari yang penuh dengan renda-renda.

Jessie mengerutkan keningnya dan berjalan menuju ke arah bawahannya tersebut. “Miranda? Kau belum pulang?” tanya Jessie sembari mendekat.

“Ya. Kupikir kau butuh teman.” Miranda menjawab. Selama ini, mereka memang sudah seperti teman baik.

“Tidak, aku baik-baik saja. Seharusnya kau sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu.”

“Aku tidak bisa membiarkanmu sendiri, Jess. Tidak setelah apa yang kulihat.”

“Kau, melihatnya?” Tanya Jessie dengan sedikit malu. Jika yang dimaksud Miranda adalah pertengkarannya dengan Steve, maka Jessie benar-benar tak dapat menahan rasa malunya.

“Jika yang kau maksud tentang vibrator dan vagina, maka ya, aku dan yang lain mendengarnya.”

“Oh astaga…” Jessie menutup wajahnya sendiri.

“Ya ampun Jess, kau bersikap seolah-olah dunia runtuh setelah mengatakan hal itu.”

“Jika boleh jujur, aku tak tahu apapun tentang hal itu.”

Miranda membulatkan matanya kemudian tertawa lebar. “Benarkah? Astaga.” Jessie ikut tertawa melihat Miranda tertawa.

“Sudahlah, lebih baik kita pulang, sudah malam.” Ajaknya. Tentu saja Jessie tak ingin membahas tentang masalahnya dengan Steve. Bagaimanapun juga, Jessie tak ingin lagi membahas kejadian tentang ia tidur dengan temannya itu.

Saat Jessie keluar dari butiknya, saat itulah pandangannya terpaku pada sosok pria yang sudah berdiri di samping pintu mobilnya.

Well, rupanya pangeranmu yang lain menjemput.” Bisik Miranda ketika Miranda melihat Henry berada di sana. “Oke, sepertinya aku pulang dulu.”

“Hati-hati.” Hanya itu yang dapat dikatakan Jessie karena saat ini fokusnya sudah ke arah Henry yang datang ke arahnya. Astaga, apa yang akan terjadi? Apa pria ini akan memutuskan hubungan mereka?

“Hai.” Henry menyapa dengan lembut.

“Hai.” Jessie membalas, entah kenapa ia merasa canggung dengan  kekasihnya ini.

“Pulang bersama?” tawar lelaki itu. Dan Jessie hanya mengangguk. Ia membiarkan saja mobilnya terparkir di depan butiknya, sedangkan dirinya memilih ikut bersama dengan Henry. Bagaimanapun juga, ia ingin membahas tentang masalah mereka, meminta maaf tetang malam itu dan juga membahas tentang hilangnya lelaki itu dua hari terakhir tanpa kabar.

Jessie dibimbing memasuki mobil Henry. Setelah keduanya sudah berada di dalam mobil, kecanggungan kembali terasa.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi, kenapa kita bisa secanggung ini satu sama lain.” Jessie mulai membuka suara.

Henry tersenyum. “Aku tidak canggung, mungkin kau saja yang merasa seperti itu, Sayang.” Ucapnya dengan lembut sembari mengusap puncak kepala Jessie dengan sebelah tangannya.

Jessie merasa suasana sedikit mencair. Henry mulai menyalakan mesin mobilnya kemudian mengemudikannya. Jessie menyandarkan punggungnya dan bersikap sesantai mungkin. Ia tahu bahwa sejak tadi ia terlalu canggung. Mungkin karena tak tahu apa yang harus ia bahas dengan Henry.

“Jadi, apa yang kau lakukan dua hari terakhir?” tanya Jessie mulai membuka suara. Ia hanya ingin mendengar alasan Henry, kenapa lelaki itu tak sempat menghubunginya.

“Kau tahu, ada beberapa kecelakaan lalu lintas di Brooklyn Bridge. Dan aku sangat sibuk dengannya.”

“Benarkah? Bagaimana mungkin aku bisa tidak tahu?”

Well. Mungkin kau tidak menyalakan televisi di rumahmu.” Tentu saja, Jessie terlalu sibuk dengan perasaannya sendiri. ia terlalu kacau setelah memikirkan tentang hubungannya dengan Steve dan juga dengan Henry. Jadi tak akan ada waktu untuk Jessie menonton televisi.

“Separah itukah?”

“Tidak separah dalam film Fantastic Four, tapi cukup parah hingga membuat jembatan itu di tutup sepanjang sore.”

“Woww, apa yang terjadi?” suasana benar-benar mencair. Jessie menyukainya.

“Aku tidak begitu paham, tapi ada yang berkata jika ada sebuah truk pengangkut bahan bakar meledak di sana.” Henry menghela napas panjang. “Kau tahu, rumah sakit sangat sibuk sepanjang hari. Aku bahkan tidak pulang.”

“Oh, aku minta maaf. Seharusnya aku memikirkan tentang kemungkinan itu. Maksudku, aku mengira kalau kau…” Jessie ragu melanjutkan kalimatnya. “Maksudku, kau marah karena malam itu….”

“Jess.” Henry meraih telapak tangan Jessie seketika. Meraihnya kemudian mengecupnya singkat. “Aku mencintaimu, kita akan menikah. Aku tidak mungkin marah hanya karena kau belum siap melakukn hal itu.”

Jessie mendesah panjang. Mungkin jika ia belum tidur dengan Steve, ia akan merasa sangat senang, dan bahagia saat memiliki tunangan seperti Henry. Tapi kini, baginya, semuanya sudah berubah. Jessie merasa ada yang berbeda, dan ia merasa jika apa yang ia rasakan tak lagi sama dengan sebelum malam sialan yang ia habiskan bersama Steve.

Melihat Jessie yang tampak melamun, Henry bertanya “Ada masalah? Kau tampak berbeda.”

Jessie menatap ke arah Henry dan tersenyum lembut. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya meski sebenarnya dalam hatinya ia merasa jika hubungan mereka sedang dalam sebuah masalah.

***

Tubuh mereka meyatu dengan sempurna… Erangan Jessie membuat Steve tak dapat menahan diri. Ia ingin segera menyelesaikan permainan panas mereka, dirinya ingin segera meledak, tapi disisi lain, Steve harus memikirkan Jessie. Ini adalah saat pertama untuk Jessie dan Steve ingin temannya itu mengenang pengalaman pertamanya dengan indah.

Steve menundukkan kepalanya, jemarinya mengusap lembut puncak kepala Jessie, menyingkirkan helaian rambut wanita itu yang menutupi wajahnya. Jessie tampak sangat menakjubkan, wanita itu terlihat begitu cantik dari tempatnya melihat.

“Kau, sangat luar biasa.” Steve berbisik dengan suara seraknya. Steve masih belum bergerak sedikitpun. “Apa aku harus berhenti? Atau bergerak?”

“Persetan apa yang ingin kau lakukan, Steve!” Jessie berseru keras.

Steve bukannya tersinggung, tapi malah tersenyum. Kemarahan Jessie dan juga gairah yang mempengaruhi wanita itu membuat Steve tak kuasa menahan dirinya. Wajah Jessie memerah, pencampuran antara gairah dan juga amarah karena rasa sakit akibat pengalaman pertamanya.

“Kau tahu, Jess. Ini adalah pertama kalinya aku bercinta dengan perawan.”

“Jika kau tak segera menyelesaikan hal ini, maka aku akan mencakar kulitmu.”

Steve lagi-lagi tersenyum. “Oke, oke, Sayang.” Steve kemudian menundukkan kepalanya, lalu ia mencumbu bibir Jessie dan mulai menggerakkan tubuhnya.

“Ohh, Jess. Sialan! Kau ingin membunuhku? Hahh?” racau Steve.

Sedangkan Jessie, ia merasakan sebuah kenikmatan baru. Rasa sakit yang tadi sempat ia rasakan dan sempat membuatnya frustasi, kini berubah menjadi sebuah kenikmatan. Sedikit demi sedikit girahnya terbangun. Jessie bahkan ikut bergerak seirama dengan gerakan dari Steve. Apa ini yang dinamakan bercinta? Tayanya dalam hati.

Steve sendiri masih sibuk mengendalikan dirinya. Ia tahu bahwa ia hampir saja meledak jika dirinya tidak menahannya. Jessie benar-benar menakjubkan. Wanita itu membungkusnya dengan begitu rapat, mencengkeramnya begitu erat, hingga Steve merasa sangat frustasi dengan kenikmatan yang tercipta akibat dari gesekan tubuh mereka berdua.

 Masih dengan bergerak pelan, Steve mencumbu lagi dan lagi bibir Jessie. Demi Tuhan! Jessie harus segera sampai, karena Steve yakin jika dirinya tak bisa menahan lebih lama lagi untuk tidak meledakkan diri. Beruntung, karena cumbuan yang ia berikan pada Jessie membuat gairah wanita itu semakin meningkat.

Steve merasakan tubuh Jessie bereaksi dengan sendirinya. Tubuhnya semakin rapat membungkusnya, kaku, melengkukan punggungnya dan erangan wanita itu….

“Steve… Ohh.. Ohh… Astaga…”

Steve tahu, Jessie sudah sampai pada klimaksnya. Tak menunggu lama, Steve segera melajukan pergerakannya kemudian menyusul Jessie pada puncak kenikmatan.

“Yeahh.. yahh… Jess. Sial!”

Keduanya larut dalam badai gairah. Sibuk mengatur detak jantung masing-masih, sibuk dengan napas masing-masing hingga yang terdengar disana hanya desah napas tak beraturan dari keduanya.

Setelah merasa cukup, Steve menarik diri. Menggulingkan tubuhnya ke samping tubuh Jessie. Keduanya terbaring mentap ke arah langit-langit. Mungkin orgasme masih mempengaruhi mereka hingga tak ada sepatah katapun yang teruap dari keduanya.

Steve lalu menolehkan kepalanya ke arah Jessie, tampak Jessie memejamkan matanya seakan menikmati suasana disekitarnya. Mata Steve turun, tampak dada Jessie naik turun dengan napas yang masih tak beraturan. Kulit wanita itu tampak merona. Rambut cokelatnya jatuh tak beraturan, dan Steve juga masih melihat bahwa tubuh Jessie masih sedikit bergetar. Wanita itu masih menikmati orgasmenya, Steve tahu itu. Dan sialnya, ia kembali berereksi.

Brengsek!

Seharusnya ia tahu diri. Steve harus bisa menahan diri. Bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya untuk Jessie. Ia harus menghormati keperawanan wanita itu yang baru saja ia renggut.

Tapi memang dasarnya Steve yang tak dapat mengalihkan pandangannya dari Jessie, akhirnya ia pun tak dapat menahan dirinya. Steve bangkit, ia terduduk dan meminta Jessie untuk bangkit juga.

“Ada apa?” tanya Jessie bingung.

“Membersihkan diri, kau tak mau?”

“Bersama? Astaga, aku…”

“Ayolah, aku sudah melihat semuanya. Apalagi yang membuatmu malu?” Steve bertanya dengan nada menggoda. Yang bisa Jessie lakukan hanya mendengus sebal kemudian segera bangkit menuju ke arah kamar mandi Steve.

Steve tersenyum penuh arti, ia kemudian mengikuti Jessie masuk ke dalam kamar mandinya. Di dalam sana, ternyata Jessie sudah berdiri di bawah pancuran, wanita itu berdiri menghadap ke arah dinding dengan air yang mengucur membasahi tubuhnya.

Sial!

Steve yang melihatnya dari belakang hanya bisa ternganga. Tubuh Jessie sangat indah jika dilihat dari belakang. Lekukannya menggoda, dan permukaan kulitnya tampak halus dan kencang. Dengan spontan, kaki Steve berjalan mendekati Jessie. Lengannya terulur begitu saja melingkari perut Jessie. Steve memeluk tubuh Jessie dari belakang, menyandarkan dagunya pada pundak Jessie, hingga mau tak mau membuat Jessie menghentikan pergerakannya seketika.

“Kau sangat indah, Jess.” Steve berbisik dengan serak. Bahkan dengan berani, jemarinya sudah menggapai sebelah payudara Jessie. Jessie tak meronta, wanita itu bahkan tampak menahan kenikmatan, memejamkan matanya karena sentuhan Steve.

Jessie melemparkan kepalanya ke belakang, hingga Steve dengan leluasa bisa menikmati leher jenjang wanita tersebut.

“Ohh Steve…” dengan spontan Jessie mengerang, menyebutkan nama Steve dengan begitu merdu.

Steve kembali menikmati setiap inci dari kulit Jessie. Jemarinya sudah bergerilya dengan bebas, memberikan kenikmatan untuk wanita yang kini sedang berada dalam rengkuhannya. Jessie sendiri tampak pasrah, ia tak menyangka jika akan melakukan hal sepanas ini dengan Steve. Dan ia memilih untuk menikmatinya saja.

Steve menghentikan aksinya karena pangkal pahanya yang semakin membengkak. Akhirnya ia membalikkan tubuh Jessie, memenjarakan wanita itu diantara dinding dengan tubuhnya. Kemudian bersiap untuk memulai permainan panas kedua mereka.

“Kau tahu, seharusnya aku menghormati keperawananmu. Tapi karena kau menggodaku, maka aku akan melupakan rasa hormatku tersebut.”

“Aku tak menggodamu.”

“Tapi aku tergoda, Jess.” Steve menjawab dengan senyuman penuh arti. Ia mengangkat sebelah kaki Jessie lalu berkata “Aku akan memulainya lagi, dan akan kubawakan surga berkali-kali untuk kita berdua.” Kemudian Steve kembali menenggelamkan diri dalah balutan lembut tubuh Jessie.

Jessie mengerang, menikmati penyatuan panas tersebut. Sedangkan Steve, ia tak akan pernah melupakan rasanya, rasa lembut dan nikmat tubuh Jessie yang membungkusnya dengan begitu erat…. 

 

Mata Steve terbuka seketika. Bayangan malam panas saat bersama dengan Jessie kembali menghantui mimpi-mimpinya. Steve bangkit, kemudian memijit pelipisnya.

Sial! Ini sudah lebih dari Tiga minggu lamanya setelah ia mendatangi butik milik Jessie siang itu. Dan sejak saat itu, Steve belum lagi menemui Jessie. Ia tahu bahwa suasana akan memburuk setelah bertemu dengan wanita itu. Ketegangan masih sangat terasa, Steve bahkan tak bisa melupakan sedikitpun bagaimana panasnya diri Jessie malam itu, dan hal itu benar-benar mengganggunya.

Beberapa kali, Steve hampir berhadapan dengan Jessie, ketika keluar masuk gedung apartmen, tapi Steve memilih menjadi pengecut ketika ia memilih berbalik arah menghindari Jessie.

Sial!

Hingga usianya yang sudah menginjak Tiga puluh tahun, Steve tak pernah sekalipun berbalik arah hanya karena menghindari seorang wanita. Hanya Jessie yang mampu membuatnya seperti ini. Sialan perempuan itu. Belum lagi kenyataan bahwa ternyata, Jessie tampak baik-baik saja bahkan tetap melanjutkan hidup bersama dengan kekasih Gaynya itu. Hal itu benar-benar membuat Steve kesal.

Kenapa hanya ia yang mendapatkan efek sialan dari percintaan panas mereka malam itu? Kenapa Jessie tidak?

Dengan kesal Steve berdiri dan segera menuju ke arah kamar mandinya. Ia memilih mengguyur tubuhnya dengan air dingin hingga memadamkan gairah sialan yang terbangun karena memimpikan tentang malam panas bersama dengan Jessie.

Hari ini, jadwalnya cukup padat. Ada beberapa pemotretan yang berhubungan dengan rancangan Jessie. Yang membuat Steve tak khawatir adalah, bahwa Jessie pasti meminta Miranda untuk mengatur pemotretan tersebut hingga mereka tak perlu saling bertatap muka. Setidaknya itulah yang terjadi selama tiga minggu terakhir jika pekerjaan mereka saling bersinggungan. Itu pula yang membuat Steve tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika berhadapan dengan Jessie, karena Steve tahu bahwa Jessie ingin menghindarinya.

Setelah pemotretan, Steve memiliki sebuah kencan dengan Donna Simmon. Wanita berambut pirang yang dikenalkan oleh Hank dua hari setelah ia datang mengunjungi temannya itu.

Donna adalah perempuan cantik, berkelas, seksi, dan sangat memenuhi kriteria Steve. Tapi Steve akan berdiri pada pendiriannya bahwa ia tak akan mengajak Donna Simmon untuk naik ke atas ranjangnya. Ya, ia mencoba kencan yang sesungguhnya, bukan hanya seks. Ia ingin menjalin sebuah hubungan, sebuah komunikasi hingga Donna juga bisa dijadikan sebagai teman seperti Jessie, bukan sekedar kekasih di atas ranjangnya saja.

Oh, Sial! Kenapa juga ia kembali memikirkan Jessie?

Setelah puas membersihkan diri di dalam kamar mandinya, Steve menuju ke arah lemari pakaiannya. Ia hanya mengenakan T-shirt dipadukan dengan celana jeans belel. Sesekali ia bersiul dan memilih-milih pakaian apa yang cocok untuk ia kenakan nanti ketika berkencan dengan Donna, karena nanti ia akan mengganti pakaiannya di studio fotonya agar tak bolak-balik ke apartmennya.

Jika hubungannya dengan Jessie tidak renggang seperti sekarang, mungkin Steve akan meminta Jessie naik lima lantai ke apartmennya saat ini juga hanya untuk meminta pendapat wanita itu.

Berengsek! Kenapa lagi-lagi ia memikirkan Jessie?

Sembari mengusap rambutnya sendiri dengan kasar, Steve berjalan menuju ke arah dapurnya. Mungkin meminum kopi akan membuat pikirannya tenang dan melupakan tentang Jessie. Sial! Ia benar-benar harus melupakan tentang wanita itu, tentang gairahnya, tentang obsesinya terhadap tubuh wanita itu. Ia harus fokus pada pekerjaannya, pada kencannya hari ini dengan Donna Simmon. Ya, tak akan ada Jessie lagi.

***

Sialnya, resncana Steve untuk melupakan Jessie sepertinya akan gagal siang ini. masalahnya adalah, yang datang menata busana si model ternyata bukan Miranda, melainkan Jessie sendiri.

Sial!

Steve tak berhenti mengumpat dalam hati. Kecanggungan kembali terasa diantara mereka, mungkin Steve sendiri yang merasa canggung, atau Jessie yang seakan tak ingin berurusan dengannya kecuali tentang pekerjaan.

Dengan sesekali mengusap tengkuknya, Steve berjalan menuju ke arah Jessie yang kini masih sibuk membenarkan letak beberapa aksesoris di pakaian yang dikenakan si model.

“Hai.” Sedikit ragu Steve menyapa Jessie.

“Hai juga.” Jessie menjawab singkat. Tapi matanya belum teralih dari sesuatu yang ia kerjakan.

“Kupikir, Miranda yang akan datang.”

“Dia cuti hari ini. Jadi aku yang datang.” Jawabnya lagi masih enggan menolehkan kepalanya ke arah Steve.

“Kau, tak perlu datang dan bisa menunda pekerjaan ini jika kau tak ingin berada di sini.”

Akhirnya Jessie mengangkat wajahnya menatap jengkel ke arah Steve. “Aku adalah orang yang profesional. Aku tak akan mencampur adukkan masalah pribadi dan pekerjaan.”

“Oh ya? Baguslah. Aku hanya tidak ingin mendengar tentang vibrator lagi.”

Si model yang berada di antara mereka berdehem seketika. Sedangkan Jessie, ia melemparkan tatapan membunuh ke arah Steve, dan Steve, ia memilih pergi meninggalkan Jessie dengan senyum merekah di wajahnya.

Ketegangan masih ia rasakan, setidaknya, Steve merasa bahwa Jessie tak sesensitif saat di butik wanita itu dua minggu yang lalu. Dan Steve tak dapat menahan diri untuk tidak menggoda wanita itu. Bagaimanapun juga, dalam hati Steve yang paling dalam, ia menginginkan hubungannya dengan Jessie kembali seperti semula, berteman lagi seperti dulu, menggoda wanita itu lagi hingga membuatnya marah, meski sebenarnya, hal itu tak akan mungkin terjadi lagi.

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 4

Comments 3 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 4

 

Siang itu, Jessie menyibukkan diri di dalam butiknya. Hari itu akan ada seorang pelanggan yang memang dijadwalkan mencoba gaun pengantin rancangannya. Miranda, asisten peribadinya juga sibuk membantu Jessie, ketika tiba-tiba telepon di meja Jessie berdering.

“Kau tidak mengangkatnya?” tanya Miranda pada Jessie yang sibuk memberi tanda pada gaun yang sedang ia benarkan.

Jessie hanya menggelengkan kepalanya.

Sudah dua hari berlalu, dan Miranda tak pernah melihat Jessie seperti saat ini. atasannya itu tak berhenti bekerja jika tidak sedang waktunya makan siang atau pulang. Miranda tahu jika butik Jessie memang ramai pengunjung, tapi biasanya, Jessie hanya akan fokus pada rancangan-rancangannya, bukan menyibukkan diri dengan hal-hal yang bisa dikerjakan oleh bawahannya seperti saat ini.

“Kau ada masalah, Jess?” tanya Miranda secara terang-terangan.

Jessie memang meminta Miranda dan bawahannya yang lain untuk menganggapnya sebagai teman sendiri. Jadi jika ada yang aneh dengan Jessie, Miranda tak segan-segan menegurnya.

“Tidak, kenapa?” tanya Jessie yang baru mengangkat wajahnya sejak tadi.

“Sudah dua hari, dan kau tak berhenti murung. Apa yang terjadi?”

Jessie hanya mengangkat kedua bahunya. Ini memang sudah dua hari berlalu sejak malam panas yang ia lewati dengan Steve. Selama itu, Jessie belum pernah sekalipun melihat Steve. Lelaki itu tak menampakan batang hidungnya. Bahkan untuk meminta maaf pada Jessie tentang perkataannya pagi itu saja tidak.

Tentang Henry, lelaki itupun tampak hilang ditelan bumi. Jessie sudah tiga kali menghubunginya, tapi ponsel lelaki itu mati. Jadi Jessie memilih untuk tak menghubungi lelaki itu sebelum lelaki itu menghubunginya lagi.

“Teleponmu berbunyi sejak tadi, Jess. Kau benar-benar tak ingin mengangkatnya?”

Jessie menghela napas panjang. “Bisakah kau mengangkatnya untukku?” Jessie bertanya balik.

“Oke.” Miranda berjalan menuju ke arah telepon, kemudian ia mengangkatnya. “Summer Flower di sini.” Ucap Miranda menyebutkan nama butik milik Jessie.

“Miranda? bisakah aku berbicara dengan Jessie?”

“Oh, Mr. Morgan.” Jessie segera menatap ke arah Miranda ketika mendengar Miranda menyebut nama belakang Steve. “Rupanya Kau.” Ucap Miranda. Sedangkan Jessie segera menggelengkan kepalanya, memberi isyarat Miranda bahwa dirinya sedang tak ingin diganggu.

“Tapi maaf, Miss Summer sedang tak berada di tempat.”

“Kau yakin? Aku bahkan melihat mobilnya di depan tokonya.”

“Oh, kau di sini?” Miranda terkejut. Tentu saja. Begitupun dengan Jessie. Jessie bahkan segera mengalihkan pandangannya ke luar butiknya dan ia mendapati  mobil sport milik Steve terparkir tepat di sebelah mobilnya. Jessie menghela napas panjang. Rupanya ia memang tak bisa lari lagi.

“Jadi, apa aku boleh masuk?” tanya Steve kemudian.

Miranda menatap Jessie dengan penuh tanya, dan Jessie hanya menghela napas panjang menandakan jika mau tak mau ia mengizikan lelaki itu masuk.

“Oke, masuklah.” Setelah itu, telepon di tutup.

***

Di dalam mobil, setelah menutup teleponnya, Steve berkali-kali mengambil napas dalam-dalam untuk mempersiapkan dirinya. Ini adalah pertama kalinya ia menemui Jessie setelah pagi sialan saat itu.

Sebenarnya, Steve sudah sangat menahan diri. Setelah pagi itu, ia lantas ke rumah Hank, temannya. Steve tak bisa mengendalikan dirinya untuk tak bercerita kepada Hank. Bagaimanapun juga, malam itu merupakan malam yang luar biasa untuk Steve. Sepanjang pagi, Steve mencoba bersikap sesantai mungkin, padahal ia tahu, bahwa didalam dirinya ada suatu gejolak yang tumbuh ketika berdekatan dengan Jessie.

Steve tak bisa lagi melihat Jessie sebagai temannya setelah malam itu. Well, ia melihat Jessie sebagai wanita dewasa. Meski sebelum-sebelumnya Steve sering kali  melihat Jessie seperti itu, tapi setelah malam panas yang sudah mereka lalui bersama, Steve tak bisa lagi bersikap santai seolah-olah mereka tak pernah melakukan hubungan apapun.

Tanggapan Hank siang itu biasa-biasa saja, tapi setelah Steve menceritakan pertengkarannya dengan Jessie pagi itu, Hank tak berhenti mengumpatinya.

“Kau benar-benar bajingan, Steve! Bagaimana mungkin kau bersikap seperti itu dengan Jessie? Ingat, dia temanmu sejak kecil, bukan perempuan murahan yang kau bayar untuk memuaskan hasrat sialanmu.”

“Tapi aku kesal saat membayangkan dia berencana memiliki bayi dengan si Gay itu.”

“Kenapa? Kau cemburu? Kau kesal karena dia memarahimu saat tahu bahwa kau tidak menggunakan kondom sedangkan dia berencana memiliki bayi dengan kekasihnya? Kau benar-benar kekanakan.”

“Cukup, Hank! Aku kesini bukan untuk mendengarkan omong kosong sialanmu.”

“Well, kau boleh pergi.” Ucap Hank kemudian hingga membuat Steve mendesah panjang.

“Aku hanya bingung dengan apa yang kurasakan, Hank! Bagaimana mungkin Jessie bisa begitu mempengaruhiku?”

“Karena kau menyukainya.”

“Kami hanya berteman!”

“Sejauh yang kulihat, pertemanan kalian tidak masuk akal. Kau selalu mengganggu hubungannya, Steve. Ingat.”

“Aku tidak pernah mengganggu hubungannya dengan pria manapun.”

“Mungkin kau tidak menyadarinya, tapi kau benar-benar seorang pengganggu, Steve. Aku tidak akan terima jika kekasihku memiliki hubungan platonik dengan seorang pria, apalagi pria itu sepertimu.” Pernyataan Hank membuat Steve semakin kesal. “Dan aku tahu, hal itulah yang membuat laki-laki yang ingin dekat dengan Jessie mundur teratur saat tahu bahwa Jessie memiliki hubungan yang tak normal denganmu.”

Pernyataan Hank kembali berputar-putar dalam kepala Steve hingga membuat Steve mendengus sebal. Apa iya, kalau selama ini ia sepefrti seorang pengganggu dalam hubungan percintaan Jessie? Dan astaga, ia tidak menyukai Jessie, mereka hanya berteman. Hank hanya pandai menebak, dan tebakan Hank bukanlah hal yang benar.

Dengan sedikit kesal, Steve keluar dari dalam mobilnya. Dengan pasti ia melangkahkan kakinya memasuki butik milik Jessie. Wanita itu benar-benar sedang menghindarinya, Steve tahu itu. Tapi Steve tak akan tinggal diam. Kedatangannya kemari untuk meminta maaf dengan Jessie tantang keberengsekannya pagi itu.

Masuk ke dalam, Steve di sambut dengan beberapa pegawai Jessie yang memang sudah cukup mengenalnya. Selain karena Jessie adalah temannya yang membuat Steve sering kali ke butik wanita itu, pekerjaan mereka juga sering bersinggungan. Steve sebagai fotografer, dan Jessie terkadang menjadi penata busana Sang model. Itulah yang membuat mereka hampir sering bersama hampir setiap saat.

Steve segera memasuki ruangan Jessie, dan di sana, ia mendapati Jessie yang sedang sibuk dengan sebuah gaun pernikahan. Terdapat juga Miranda, salah seorang pegawai Jessie yang kini sudah melemparkan sebuah senyuman kepadanya.

“Jadi, kau berbohong padaku, Miranda?” tanya Steve dengan nada menggoda.

Pipi Miranda merona seketika. Bukan karena tergoda, tapi karena malu saat ia sudah ketahuan berbohong, meski sebenarnya Jessie lah yang memintanya untuk berbohong.

“Aku minta maaf, Mr. Morgan.” Ucap Miranda dengan sopan tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya.

Kaki Steve melangkah mendekat. “Aku akan memaafkanmu, asal kau mengatakan, apa yang membuatmu berani membohongiku?”

Miranda tentu tak bisa menjawabnya. Ia tak mungkin menjawab bahwa Jessie yang memintanya. Tapi Miranda bersyukur karena pada detik itu, Jessie memintanya secara halus untuk keluar dari dalam ruangan wanita itu.

“Bisakah kau mencarikan tundun kepala yang cocok dipadukan dengan gaun ini?” tanya Jessie pada Miranda. Berharap jika Miranda mengerti dan keluar dari ruangannya.

“Oh, baiklah. Hanya itu saja?”

“Kupikir, sepatunya juga. Si pemilik akan datang jam Tiga sore, aku ingin semua siap saat itu.”

“Oke.” Miranda akhirnya memilih segera pergi, tak lupa ia meninggalkan senyuman lembutnya pada Steve.

Setelah itu, ruangan Jessie sunyi. Steve ingin membuka suaranya, tapi sialan! Kecanggungan tiba-tiba saja menelannya. Jessie sama sekali tak menghiraukan kehadirannya dan itu benar-benar membuat Steve kesal.

“Aku, tidak mengganggu, bukan?” tanya Steve mencoba memulai percakapan.

“Kau tahu, ini masih jam kerja.”

“Kau tidak bekerja di kantor, jadi kau tak perlu sedisiplin itu.”

Jessie mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Steve. Lelaki itu benar-benar berbeda, entah ini cara memandang Jessie saja yang kini berbeda setelah malam sialan itu, atau memang karena Jessie baru menyadari bahwa Steve saat ini sangat mempesona.

“Si pemilik gaun akan dartang jam Tiga, aku hanya memiliki Empat Jam untuk menyelesaikan semuanya. Kau pikir aku bisa santai-santai seperti yang kau lakukan sekarang?”

Pernyataan Jessie sangat keras. Jika sebelulnya Steve tak akan ambil pusing, berbeda dengan saat ini. Masalahnya, hubungan mereka sedang berada dalam kondisi yang tidak baik.

“Baiklah, aku minta maaf jika aku mengganggumu. Tapi aku harus bertemu denganmu dan membicarakan semuanya.”

Jessie kembali menatap gaunnya dan memasang kembali beberapa pernak-pernik di sana. “Jika yang ingin kau bahas adalah tentang pagi sialan itu, maka kau tak perlu membahasnya, aku sudah melupakannya.”

“Tidak, Jess. Bagaimanapun juga, aku sudah bersikap berengsek padamu.”

Jessie tak menjawab. Ia tahu bahwa Steve memang berengsek. Tapi seberengsek apapun lelaki itu, Jessie tak akan bisa membencinya.

“Dan aku ingin meminta maaf padamu.” Lanjut Steve hingga membuat Jessie mengangkat wajahnya.

Jessie bersedekap dan bertanya “Untuk apa? Karena kau sudah ‘membaptisku’ malam itu? Atau karena kau tidak menggunakan kondom?” Jessie bahkan ikut menggunakan istilah itu untuk menyebutkan kejadian panas yang sudah mereka lakukan malam itu.

“Untuk semuanya.” Ucap Steve dengan penuh sesal.

“Kau bukan satu-satunya yang salah, Steve. Ingat, aku menggodamu.”

“Tapi aku yang meluncurkan ide gila itu.”

“Dan aku yang menyetujuinya.”

“Tapi aku tak mengingatkanmu kembali tentang resikonya.”

“Aku yang datang padamu, Steve! Astaga, apa bisa kita lupakan saja malam itu?!” Jessie berteriak frustasi. “Aku tidak suka melihat penyesalan dan rasa bersalahmu.”

Steve berjalan satu langkah ke arah Jessie. “Aku tidak pernah menyesal.” Ucapnya penuh penekanan.

Jessie menatap tepat pada mata Steve, dan lelaki itu benar. Tak ada penyesalan di sana. Steve tak menyesal karena sudah tidur dengannya.

“Satu-satunya hal yang membuatku tak nyaman adalah, karena aku tidak bisa lagi melihatmu sebagai teman perempuanku.”

“Oh begitu? Jadi kau ingin kita memutuskan pertemanan kita?”

“Aku tidak berkata seperti itu, Jess.” Lagi, Steve berkata dengan penuh penekanan. “Kau tentu tahu apa maksudku.”

“Tidak, aku tidak tahu.” Jessie mencoba menghindar. Entah kenapa ia merasa sesak ketika dekat dengan Steve.

“Kau ingin tahu apa maksudku.” Steve mendekat.

“Tidak, aku tidak ingin tahu.” Jessie mencoba menjauh lagi dan memfokuskan pandangannya pada gaun di hadapannya.

“Aku melihatmu sebagai seorang wanita yang menggairahkan. Bahkan sekarang aku berereksi karena dekat denganmu.”

Jessie menatap Steve seketika dengan rona merah di pipinya. “Kau benar-benar bajingan, Steve! Keluar dari ruanganku!” Jessie berseru keras.

“Akui saja, Jess. Bahwa pandanganmu terhadapku saat ini juga sudah berubah. Kau tidak dapat melupakan malam itu, dan kau melihatku sebagai lelaki panas yang menggairahkan.”

Jessie mendorong keras dada Steve. “Berengsek kau Steve! Keluar dari ruanganku!” Jessie mendorong lagi dan lagi hingga akhirnya mereka sampai di pintu ruangan Jessie.

Sungguh, Jessie sangat marah, ia kesal saat tahu bahwa pandangannya terhadap Steve sudah berubah, dari seorang teman menjadi seorang lelaki yang menggairahkan seperti yang dikatakan lelaki itu. Dan Jessie lebih kesal lagi saat tahu bahwa Steve saat ini juga memandang Jessie seperti wanita-wanita teman kencan lelaki itu, bukan sebagai temannya. Jessie tak suka saat secara tak langsung Steve menatapnya seperti itu.

“Akui saja, Jess. Semakin kau marah, semakin kau menunjukkan bahwa kau menginginkanku.” Steve berkata dengan wajah tengilnya. Dan Jessie benar-benar sangat marah.

Setelah mendorong lelaki itu hingga keluar dari ruangannya, Jessie berkata. “Kau tahu, aku hanya melihatmu sebagai vibrator berjalan. Apa kau puas?”

Steve sempat terkejut dengan ucapan Jessie. Tapi dia mencoba mengendalikan dirinya dan bertanya sesantai mungkin. “Kalau begitu, bolehkan aku melihatmu sebagai vagina berjalan?”

“Bajingan kau Steve!” lagi-lagi Jessie mendorong tubuh temannya itu agar menjauh, setelah itu Jessie membanting pintu ruang kerjanya hingga berdentum. Steve hanya menatapnya dengan tatapan kesalnya. Ia mengusap wajahnya dengan frustasi.

Bukan ini yang ia inginkan saat menemui Jessie, bukan seperti ini akhirnya. Ia ingin semuanya kembali membaik. Tapi sialan! Steve tak dapat mengendalikan diri ketika ia merasakan perasan yang tak biasa saat di dekat Jessie. Ia tidak suka saat Jessie mengacuhkannya, ia tidak suka saat Jessie mencoba menghindarinya, dan ia sangat tidak suka dengan ketegangan seksual yang tiba-tiba muncul ketika dirinya berada di dekat Jessie.

Sial! Apa yang sudah terjadi?

Akhirnya, Steve memilih segera pergi dari sana. Mengabaikan tatapan para pegawai Jessie yang ada di sana. Steve tahu, pasti mereka menyaksikan pertengkaran kekanakannya dengan Jessie, dan pasti mereka mendengar perkataan-perkataan tak masuk akal yang sudah ia dan Jessie lontarkan tentang vibrator maupun vagina. Steve tak peduli, ia mencoba tidak mempedulikannya.

***

“Kau gila, Steve? Kau benar-benar menyebutnya sebagai vagina berjalan?” Hank benar-benar tak percaya. Saat ini, ia sedang menemani Steve minum di salah satu kelab malam. Dan temannya itu minum seperti orang gila.

“Dia menyebutku vibrator berjalan, ingat. Aku sudah merendahkan harga diriku untuk meminta maaf padanya. Tapi dia bersikap ketus padaku.”

“Bukan berarti kau juga harus bersikap seperti itu padanya. Ingat, kau yang salah. Kau yang mengajaknya naik ke atas ranjangmu.”

“Tapi dia menggodaku, dia tidak menolak.”

“Apapun itu, kau salah, Steve. Tak seharusnya kau memperkeruh keadaan.”

“Jadi, apa maumu, Hank? Kau ingin aku bertekuk lutut padanya dan mengakui bahwa aku hanya sebuah vibrator berjalan.”

“Kau tak perlu mendramatisir keadaan, Steve. Kau hanya perlu relax. Kendalikan dirimu, Bung. Masalahmu tak akan selesai jika kau marah-marah seperti ini apalagi padanya.”

“Bagaimana bisa aku mengendalikan diri jika setiap dekat dengannya aku seakan tertarik pada sebuah magnet gairah? Dan jangan lupakan ereksi sialanku yang selalu kambuh saat berdekatan dengannya!” tanya Steve dengan kesal. “Sialan! Sebelum malam itu, aku hanya melihat Jessie sebagai wanita cantik dan spesial. Hanya itu. Tapi sekarang, semua fantasi erotisku ada pada dirinya.”

Hank malah tertawa lebar. “Kau benar-benar kacau, Steve.”

“Ya. Sangat. Dan semua ini karena seorang wanita.” Steve menenggak minumannya hingga tandas. “Kau harus membantuku, Hank. Kau harus membantuku.”

“Dengan apa? Aku bahkan tak tahu apa yang harus kau lakukan untuk menghadapi Jessie.”

Steve menatap Hank dengan tajam “Carikan aku perempuan.”

“Jangan mulai, Steve. Kau tidak sedang dalam mode On untuk seks, kan?”

“Berengsek! Aku ingin perempuan baik-baik. Aku ingin berkencan yang sesungguhnya hingga aku bisa melupakan pertemanan sialanku yang kacau balau dengan Jessie. Aku ingin berkencan, bukan hanya seks!” Steve berkata sungguh-sungguh.

Well, Hank merasa terkejut. Sejauh ia mengenal Steve, temannya itu tak pernah meminta untuk kencan dengan wanita baik-baik. Temannya itu hanya memikirkan selangkangannya saja, tapi sekarang, Hank tak mengerti kenapa Steve ingin berkencan dengan seseorang dalam artian yang sebenarnya? Apa Steve seputus asa itu dengan hubungannya bersama dengan Jessie?

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 3

Comment 1 Standard

 

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Jess! Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Steve lagi. Jessie tahu jika Steve sudah seperti ini, maka ia tak memiliki jalan lain selain jujur dengan lelaki itu.

Jessie menurunkan bahunya, ia mendesah panjang sebelum berkata “Aku butuh minum. Aku butuh teman minum! Apa kau puas?!” serunya dengan kesal dan frustasi.

Steve yang menatap Jessie merasa terketuk hatinya. Ia tidak pernah melihat Jessie sefrustasi saat ini. Kekesalan yang ia rasakan sepanjang hari pada Jessie karena wanita itu lebih membela kekasihnya dibandingkan dirinya kini lenyap begitu saja saat melihat kebingungan yang tampak jelas di wajah wanita itu.

Jessie memiliki masalah, Steve tahu itu. Wanita itu butuh minum, dan ia akan menemani wanita itu minum hingga melupakan masalahnya.

***

 

Bab 3

 

 

“Kau hanya perlu bilang jika kau butuh minum, maka aku akan mengajakmu berpesta dengan wanita-wanita tadi.” Ucap Steve saat ia sudah mempersilahkan Jessie duduk di bar kecilnya dan menuangkan minuman beralkohol untuk Jessie.

“Kau gila? Aku tidak akan mau berpesta dengan kalian. Apalagi sampai melihat kalian telanjang satu sama lain.”

“Itu keterlaluan, Jess. Aku tidak mungkin telanjang di hadapanmu.”

“Tapi kau melakukannya kemarin.” Jessie menjawab cepat sembari menenggak minuman yang dituangkan Steve hingga tandas.

“Wow, wow, wow, Hei, apa yang terjadi denganmu, gadis biara? Kau tak pernah minum sampai seperti ini.”

“Aku benar-benar butuh minum, Steve.” Ucap Jessie lagi kali ini yang sudah menuangkan minuman kembali pada gelasnya. Secepat kilat, Steve menghalangi Jessie hingga mata Jessie menatap ke arah lelaki itu.

“Apa kau sudah gila? Apa yang terjadi denganmu?” tanya Steve dengan raut wajah seriusnya. Ia tak pernah melihat Jessie minum seperti ini. Mungkin mereka pernah minum bir bersama tapi tidak dengan cara bar-bar seperti saat ini.

“Aku mengacaukan semuanya.” Jessie mendesah panjang.

“Apa maksudmu?” tanya Steve kemudian.

 

“Henry. Dia pergi setelah aku menolaknya. Astaga, kami bahkan sudah merencanakan malam ini.”

Steve kesal jika membahasnya, tentu saja. Tapi dia juga senang saat memikirkan bahwa Jessie dan laki-laki bajingan itu tidak jadi melakukan rencana mereka.

“Oke, aku tahu.” Steve mendekatkan kursinya pada Jessie, memutar kursi Jessie hingga wanita itu menghadap ke arahnya. “Sekarang katakan padaku, apa yang membuatmu menolaknya padahal kau sudah merencanakannya?”

“Aku tidak tahu.”

“Jess, masalah tidak akan selesai saat kau sendiri tidak tahu apa yang kau inginkan.”

Jessie kembali mendesah panjang. “Masalahnya, aku merasa belum siap. Dan astaga, aku takut mengecewakannya.”

Steve mendengus sebal. “Kan aku sudah pernah bilang padamu, kalau aku bisa membantumu.”

“Aku tidak sedang bercanda, Steve.” Mata Jessie menatap tajam ke arah Steve.

“Kau pikir aku sedang bercanda? Jika masalahnya adalah kepercayaan dirimu, maka kau bisa meminta bantuan padaku. Kau meragukan pengalamanku?”

Jessie berdiri seketika. “Sepertinya aku salah datang kemari.”

“Jess, Jess.” Steve meminta Jessie duduk kembali. “Oke, aku tidak akan mengatakan apapun tentang ide gila itu lagi.” Steve mengangkat kedua tangannya. “Maaf.” Ucapnya kemudian.

Jessie memutar bola matanya, ia kembali meminum minuman di hadapannya, sedangkan Steve, ia hanya mengamati temannya itu dari tempatnya duduk.

Jessie tampak kacau, tapi sialnya, hal itu tak mengurangi daya tarik dari wanita itu. Jika boleh jujur, bagi Steve, Jessie adalah wanita tercantik yang pernah ia lihat. Sebagai designer, pakaian Jessie tentu selalu fashionable, tapi saat santai di rumah, wanita itu selalu tampak sederhana. Make up yang dikenakan Jessie pun tergolong wajar. Tak seperti kebanyakan teman kencannya yang tampak terlalu tebal. Dan Stve juga berani jamin jika semua yang ada pada diri Jessie adalah asli. Tak mungkin ada silikon di hidung mancung wanita itu, dan tak mungkin juga payudara Jessie yang tampak padat menggoda itu berisi dengan implan-implan sialan seperti milik teman-teman kencannya.

Sial! Kenapa juga ia berpikir tentang implan?

“Kau, benar-benar menyukainya?” tanya Steve kemudian.

“Henry? Jika tidak, aku tak mungkin menerima lamarannya.”

Steve menganggukkan kepalanya. Sedangkan Jessie masih meminum minumannya lagi dan lagi. Steve kembali menatap ke arah Jessie, wanita itu sedang sibuk menatap ke arah minumannya hingga tak sadar jika saat ini Steve sedang mengamati setiap inci dari wajahnya.

“Kau tahu, Steve. Kadang aku merasa iri denganmu.” Ucap Jessie yang saat ini sudah menolehkan kepalanya ke arah Steve. Ia sempat terkejut saat mendapati Steve yang ternyata sedang mengamati wajahnya. Secepat kilat Jessie memalingkan wajahnya. Ia tak pernah melihat Steve menatapnya seperti itu.

“Apa yang membuatmu iri?” tanya Steve kemudian.

Entah perasaan Jessie saja atau memang ia mendengar suara Steve yang sudah terdengar parau di telingannya. “Kau, bisa melakukan apapun sesuka hatimu. Meniduri banyak wanita tanpa beban. Dan aku…”

“Semua itu pilihan, Jess. Lagi pula aku pria. Kau wanita. Aku tidak mau membayangkan jika kau sama bejatnya denganku.”

“Tentu saja aku tidak akan memilih jalan itu. Maksudku, kenapa kau bisa melakukan hal itu? Apa kau tidak merasa berdosa sedikitpun?”

“Tidak. Toh aku tidak tidur dengan perempuan baik-baik.”

Ya, Jessie tahu kenyataan itu. Pacar Steve biasanya bukan wanita baik-baik. Mungkin karena itulah Jessie bisa memaklumi keberengsekan temannya ini.

Jessie kembali meminum minumannya. Pikirannya melayang entah kemana. Ia masih sedih karena rencananya dengan Henry batal. Tapi disisi lain, ia merasa lega karena ada Steve yang menemaninya.

Kemudian Jessie melihat Steve berdiri, lelaki itu tiba-tiba saja membuka pakaiannya sendiri hingga bertelanjang dada. Jessie menelan ludah dengan susah payah. Ia memang sering melihat tubuh telanjang Steve, tapi entah kenapa malam ini ia merasa tubuh itu tampak indah dan menggairahkan.

Steve berjalan menjauhinya, menuju ke arah lemari pendingin. Membungkukkan tubuhnya entah mengambil apa dari sana. Demi Tuhan! Baru kali ini Jessie melihat Steve tampak begitu berbeda.

Jessie merasakan pusat dirinya berkedut seketika. Apa ini ada hubungannya dengan minuman yang baru saja ia minum? Jessie megamati minumannya, berharap bahwa pemikiran kotor yang baru saja melintasi kepalanya segera hilang.

Tapi sialnya, itu hanya harapan Jessie saja. Saat Steve melangkah ke arahnya, pada saat itulah Jessie merasa jantungnya berdebar tak menentu. Ia tidak pernah melihat tubuh Steve setegap itu. Pikir Jessie, dada lelaki itu tidak sebidang saat ini. Jessie juga tak pernah melihat bahwa Steve memiliki otot-otot perut yang tampak menggoda, bahkan lengan lelaki itu, Oh, Jessie tiba-tiba berpikir bagaimana lengan kekar itu melingkari tubuh mungilnya.

Jessie kembali menelan ludah dengan susah payah. Ia tak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Kenapa reaksinya saat melihat Steve seperti itu membuat Jessie kalang kabut. Ini bukan pertama kalinya Steve bertelanjang di hadapannya, tapi kenapa Jessie merasakan perasaan seperti ini untuk yang pertama kalinya?

Segera Jessie memalingkan wajahnya yang sudah memerah karena kepanasan ke arah minumannya. Ia kembali menenggak minumannya, dan hal tersebut membuat Steve mengangkat sebelah alisnya.

“Kau, baik-baik saja, kan?” tanya Steve sembari mendaratkan telapak tangannya pada pundak Jessie.

Pada detik itu, Jessie merasakan aliran listrik bersumber dari telapak tangan Steve. Ia menolehkan kepalanya menatap ke arah telapak tangan temannya itu. Jessie lalu menatap Steve dengan tatapan anehnya.

“Kenapa kau menyentuhku?” tanya Jessie dengan spontan.

“Menyentuh?” tanya Steve tak mengerti. Steve menatap tangannya pada pundak Jessie, lalu mengangkatnya dengan spontan. “Aku tak mengerti apa maksudmu.” Ucap Steve bingung.

Steve melihat wajah Jessie sudah merah merona, seperti sedang kepanasan. Memangnya apa yang sedang terjadi? Steve kembali bangkit mencari remote AC untuk mendinginkan ruangan tengah apartmennya. Tapi saat Steve akan pergi, Jessie dengan spontan menggapai lengan Steve hingga membuat lelaki itu menatap ke arahnya penuh tanya.

Jessie tersenyum malu. “Kau tahu, Steve. Untuk sesaat, aku memikirkan tentang ide gilamu itu.”

“Maksudmu?” dengan spontan Steve bertanya.

Jessie mengangkat kedua bahunya. “Well, tidur bersama. Astaga, apa sih yang sedang kupikirkan?” Jessie akhirnya memalingkan wajahnya ke arah lain karena malu. tapi secepat kilat Steve menangkup kedua pipi Jessie, memaksa wanita itu menghadap ke arahnya, kemudian tanpa banyak bicara lagi, Steve menyambar bibir ranum Jessie.

Oh, Steve tak pernah merasakan bibir selembut itu bahkan di dalam fantasinya. Ia merasakan Jessie membalas cumbuannya, wanita itu bahkan sudah ikut berdiri dan mengalungkan lengannya pada leher Steve.

“Ohh Jess,” Steve mengerang ketika gairahnya mulai terbangun dengan sendirinya.

“Steve… Steven…” Jessie pun ikut mengerang saat ia merasakan gairah yang sama dengan apa yang dirasakan Steve. Keduanya dimabuk oleh gairah, dibutakan oleh rasa primitif yang menghilangkan akal sehat mereka.

***

Pagi sialan yang sangat canggung.

Sebenarnya, Jessie ingin sekali pergi dari meninggalkan kamar Steve saat lelaki itu masih tidur pulas. Tapi nyatanya, lelaki itu seakan tak membiarkan dirinya pergi karena ketika Jessie bergerak, Steve seakan mengeratkan pelukannya pada tubuh telanjang Jessie.

Kini, Jessie merasa terjebak dalam suasana sialan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa sangat canggung saat berhadapan dengan Steve. Bayang-bayang panas kejadian semalam membuatnya tak dapat berkutik. Tapi kenapa Steve seakan tak canggung sedikitpun?

Saat ini, Steve sedang sibuk membuat sesuatu di dapurnya. Lelaki itu bahkan tak malu bertelanjang dada di hadapannya.

Malu? Ayolah Jess, bukankah kau tahu bahwa temanmu itu memang tak punya malu? Kau saja yang terlalu terbawa suasana.

Jessie sempat berpamitan pulang tadi, tapi Steve memaksa dirinya untuk sarapan bersama sebelum pergi. Karena Steve begitu santai, maka Jessie tak bisa menolak dan bersikap sesantai mungkin meski sebenarnya dalam dirinya terjadi bergulatan batin tentang apa yang ia rasakan saat ini terhadap sosok Steve.

Saat Jessie sibuk dengan pikirannya sendiri, saat itulah Steve datang menghampirinya dan menyuguhkan dua potong roti isi bacon panggang, keju dan juga selada.

“Aku hanya memiliki itu di dalam lemari pendingin.” Ucap Steve yang saat ini sudah duduk tepat di hadapan Jessie. “Kuharap kau mau memakannya.”

“Oh Steve, kau tak perlu repot-repot. Aku bisa makan di tempat kerjaku nanti.”

“Tidak segampang itu, Jess. Ada banyak hal yang harus kita bahas.”

Jessie menghela napas panjang. “Apa lagi?”

Steve sedikit tersenyum. “Kau, tampak tak nyaman, Jess. Kenapa? Karena aku sudah ‘membaptismu’ semalam?”

“Ayolah! Berhenti menggodaku. Sekarang katakan, apa yang ingin kau bahas denganku.” Jessie memberengut kesal.

Dengan santai, Steve menyantap roti miliknya. “Yang pertama, kau sungguh luar biasa. Kau tak perlu merasa tak percaya diri lagi saat akan melakukannya dengan Henry nanti. Oke?”

Dan setelah aku tidur denganmu, aku bahkan melupakan tentang Henry. Pikir Jessie dalam hati.

“Tubuhmu, payudaramu, semuanya…”

“Cukup!” Jessie memotong kalimat Steve. “Kau mau memancingku, ya? Jangan bahas apapun tentang bagian tubuhku!” sungguh, Jessie merasa kesal dengan Steve saat temannya itu secara terang-terangan menyebutkan bagian tubuhnya. Jika Steve menceritakan tentang bagian tubuh teman kencannya, Jessie tak akan peduli. Masalahnya, yang dibahas Steve saat ini adalah payudaranya. Hal itu membuat Jessie malu, sangat malu.

Steve mengangkat kedua tangannya. “Oke, oke. Aku hanya ingin mengatakan kalau semuanya asli. Dan pria manapun akan mengagumimu.”

“Memangnya kau pikir aku perempuan yang gemar mengkoleksi implan di tubuhku? Yang benar saja.” Jessie memutar bola matanya jengah. Ia meraih kopinya kemudian meminumnya sedikit.

Steve tak dapat menahan tawanya. “Tapi ada hal serius lagi yang harus kita bahas, Jess.”

“Apa lagi? Kau tidak berharap aku akan melakukan hubungan itu denganmu lagi, bukan?”

Steve tersenyum. “Sejujurnya, aku masih ingin. Kau tahu sendiri bukan, bagaimana gilanya kita semalam. Meski sudah berkali-kali, tapi aku masih ingin.”

“Jangan bermimpi! Aku tidak akan tidur denganmu lagi.” Jessie menjawab dengan ketus.

Steve tertawa lebar. “Ingat, kau yang mengajakku.”

“Sepertinya lebih baik aku pulang.” Jessie sudah berdiri tapi Steve segera menghentikan pergerakan Jessie dengan menyambar pergelangan tangan temannya itu.

“Oke, aku akan bersikap baik dan membahas hal ini dengan serius.”

“Ya. Dan cepat.” Lanjut Jessie. “Demi Tuhan! Aku harus segera ke kantor, Steve.”

Steve menganggukkan kepalanya. Ia meminum kopinya sebelum mulai membuka suaranya kembali. “Kuharap, kau sudah memasang sesuatu di dalam tubuhmu, atau mungkin meminum pil.” Ucapnya dengan serius.

“Apa maksudmu?” tanya Jessie tak mengerti.

Well, karena terbawa suasana, dan terlalu menikmati, aku tidak menggunakan pengaman.”

“Kau apa?” Jessie terperanjat dengan ucapan Steve.

“Dan, berkali-kali.” Lanjut Steve dengan cengiran sialannya.

Jessie berdiri seketika. “Kau gila? Kau adalah playboy cap kakap, Steve! Bagaimana mungkin kau melupakan hal seserius itu?” tentu saja Jessie terkejut. Semalam ia tak memikirkan apapun saat Steve meledak di dalam dirinya. Karena ia terlalu menikmati rasa yang baru saja ia rasakan.

“Aku terlalu menikmatinya, Jess. Dan kupikir kau sudah menyiapkan diri. Mengingat kau akan melakukannya dengan kekasih Gaymu itu.”

“Aku tak mempersiapkan apapun, oke?!” seru Jessie dengan marah sembari mengusap wajahnya dengan frustasi.

Steve ikut berdiri. “Maksudmu, kau membiarkan dirimu tidur dengannya tanpa pengaman dan berharap jika kau akan memiliki bayi bersamanya.”

“Kau terlalu jauh, Steve. Lagi pula, aku tidak tidur dengannya, tapi denganmu!”

“Tapi kau berharap tidur dengannya tadi malam, Jess!” entah kenapa Steve merasa sangat marah. Kenyataan bahwa Jessie tidak mengamankan dirinya sendiri saat sudah merencanakan akan tidur dengan seseorang membuat Steve sangat marah.

Jessie menatap Steve penuh tanya. “Jadi ini adalah salahku?”

“Ya. Kau yang salah karena kau tidak meminum pil-pil sialan itu saat kau sudah merencanakan untuk tidur dengan kekasihmu!” Steve tak bisa menahan emosinya.

Jessie menatap Steve dengan tatapan tak percayanya. Sungguh, ia tak menyangka jika Steve akan seberengsek ini padanya. Tanpa banyak bicara lagi, Jessie memilih membalikkan tubuhnya kemudian meninggalkan Steve begitu saja.

Yang bisa dilakukan Steve hanya berdiri ternganga. Ia bahkan tak mengejar Jessie. Rasa frustasi menyergapnya begitu saja. Dengan spontan, Steve menendang salah satu kursinya karena emosi. Berengsek! Apa yang sudah kau lakukan? Steve mengumpati dirinya sendiri dalam hati.

-TBC-

My Sex(y) Partner – Bab 1

Comment 1 Standard

yeaayyyy mana yang nungguin Troy dan kawan2 bejatnya?? hahahhahah untuk Jiro dan Ken, sabar yaa… aku cuma mau pamerin Prolognya aja dulu, karena aku mau pokus kalian gak banyak terbagi. hahahahahah Yang nunggu Mr. Morgan di Sleeping with my friend, bakal aku update insha allah malam minggu yaa… yeaaayyyyyy happy reading. muaahhhhh

 

Bab 1  

 

Sambil mengetatkan gerahamnya, Troy mendekap wanita setengah telanjang yang berada di hadapannya tersebut. Hari sudah semakin sore, tapi pemotretan sialan ini belum juga rampung. Troy benar-benar kesal karena beberapa jam terakhir dirinya mengetat nyeri tak tertahan. Semua tentu karena keindahan sempurna yang terpampang jelas di hadapannya. Dan yang lebih menjengkelkan lagi adalah, bahwa wanita di hadapannya ini malah tampak tak terpengaruh sama sekali dengan kehadiran dirinya.

One, two, three, oke. Sip.” Akhirnya, si fotografer sialan di hadapannya itu menyatakan jika tangkapan kameranya yang terakhir selesai.

Troy menghela napas panjang, dan secepat kilat ia melepaskan tubuh si wanita seksi di hadapannya kemudian dengan terburu-buru, ia keluar dari dalam kamar tersebut lalu menuju ke arah kamar mandi.

“Elo mau ngapain Troy?” tanya salah seorang kru dengan nada mengejek.

“Berengsek!” Troy hanya menjawab dengan sebuah umpatan khasnya.

***

Setelah pekerjaan tersebut selesai, semuanya menuju ke sebuah restoran untuk makan malam bersama. Sejak tadi, mata Troy tak pernah lepas menatap ke arah wanita yang sejak tadi pagi sudah membuatnya tergoda, wanita yang yang bernama Alice Philips. Wanita yang membuatnya mau tak mau mencapai klimaks di dalam kamar mandi dengan dibantu oleh jemarinya sendiri. Sialan! Dan yang lebih membuat Troy penasaran dengan wanita tersebut adalah, bahwa wanita itu tampak sama sekali tak memperhatikannya.

Kenapa? Apa wanita itu tak tahu siapa dirinya?

Pada saat bersamaan, wanita itu menatap ke arahnya. Troy mengangkat sebelah alisnya kemudian mengangkat gelas anggurnya, seakan mengajak wanita itu bersulang.

***

Alice, yang berada di seberang meja, akhirnya ikut mengangkat gelasnya yang berisi Jus jeruk saat ia melihat Troy mengangkat gelas anggur ke arahnya. Alice tersenyum, lalu menenggak jus tersebut, matanya lalu menatap ke arah lain, mencoba mengalihkan perhatiannya dari sosok yang sejak tadi mempengaruhinya.

Ya, Alice tentu tahu dengan siapa dia berhadapan. Awal tahu bahwa ia akan disandingkan dengan seorang Troy untuk berpose panas di salah satu majalah dewasa saja membuat Alice ragu, apa akan melakukannya atau membatalkannya. Tapi karena didorong oleh kebutuhan yang mendesak, akhirnya Alice melakukannya dan mencoba melupakan jika lawan mainnya dalam berpose panas adalah seorang Troy, mantan Drumer terpanas di negeri ini.

Tak sulit bagi Alice untuk mengetahui latar belakang atau bisa dibilang, keberengsekan-keberengsekan lelaki itu dimasalalu. Entah ketika lelaki itu masih menjadi anak band, atau saat lelaki itu berkarir sendiri seperti saat ini. Tak sedikit gosip buruk yang pernah ia dengar tentang Troy. Bahkan, beberapa teman seprofesinya mengaku pernah ditiduri Troy dan dicampakan begitu saja oleh lelaki itu setelah lelaki itu puas mendapatkan beberapa kali pelepasan.

Sangat Berengsek, bukan?

Kini, Alice tentu tak ingin hal tersebut menimpanya. Tujuannya tinggal di negeri ini adalah karena ia ingin mempelajari budaya negeri ini, bukan untuk main-main lalu jatuh hati pada pria berengsek seperti Troy.

Ya, Alice yang merupakan warga negara asing, memang sangat tertarik dengan Indonesia. Ayah ibunya tinggal di LA Carlifornia. Dulu, keduanya pernah berpelesir ke negeri ini, kemudian tak sengaja bertemu satu sama lain di pulau Bali, memadu kasih saat itu juga, lalu berakhir bersama hingga kini. Dan kedua orang tua Alice tak pernah melupakan pengalamannya tersebut. Hingga saat Alice lahir, keduanya selalu bercerita lagi dan lagi tentang pengalaman keduanya hingga membuat Alice tertarik dengan Indonesia.

Saat dirinya besar, ketertarikan itu semakin nyata, apalagi saat Alice pertama kalinya datang ke negeri ini. Ia jatuh cinta seketika, dengan budayanya, dengan alamnya, dengan orang-orangnya. Bagi Alice, ke Indonesia sama saja dengan pulang. Hingga sejak Tiga tahun terakhir, ia lebih sering menghabiskan waktunya di Indonesia dari pada di LA. Tentu saja hal itu membutuhkan biaya lebih, mengingat orang tuanya bukanlah orang yang berkelebihan harta. Beruntung Alice memiliki kenalan di Indonesia yang menawarinya pekerjaan menjadi model. Pekerjaan itu tentu sangat begus untuk Alice, ia bisa mendapatkan biaya tambahan selama hidup di sini, sehingga dirinya bisa menikmati kecintaannya pada negeri ini tanpa membebankan biaya pada kedua orang tuanya yang ada di LA.

Kembali lagi pada Troy. Alice tentu tak ingin terlibat dengan lelaki di hadapannya tersebut, tapi demi Tuhan! Lelaki itu memang sangat menggoda. Sialnya, jadwal pemotretannya dengan Troy tak hanya berakhir hari ini saja. Karena masih ada beberapa scene tambahan yang akan diambil besok.

Tiba-tiba, Alice melihat Troy berdiri membawa minumannya, mata lelaki itu tak berhenti menatap ke arahnya. Kemudian, langkah kaki lelaki itu mendekat ke arah mejanya.

Seorang yang duduk tepat di sebelah Alice akhirnya berdiri ketika Troy secara terang-terangan meminta orang tersebut bangkit dan menggantikan tempatnya.

“Boleh duduk di sini, kan?” tanya Troy dengan nada yang dibuat mengggoda. Alice tahu, bahwa mungkin saat ini Troy sedang menjalankan aksinya untuk membawa Alice ke atas ranjang lelaki itu. Tapi Troy salah, Alice sudah cukup tahu bagaimana bejatnya lelaki itu, jadi Alice tak akan masuk ke dalam perangkap yang dibuat oleh Troy.

“Silahkan saja. Ini kan tempat umum.” Alice menjawab dengan nada yang dibuat cuek dan ketus.

“Woww. Bukan cewek gampangan, ehh?” goda Troy sembari menyesap apapun itu yang ada di dalam gelas yang dibawah lelaki itu.

Alice tidak mengindahkan apapun itu perkataan Troy. Karena ia memilih melirik ke arah jam tangannya kemudian berkata pada orang disebelahnya. “Aku akan pulang, sudah malam.” Ucapnya sembari berdiri. Alice menatap sekilas ke arah Troy lalu tersenyum singkat pada lelaki itu. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkan mejanya secepat mungkin.

Sedangkan Troy, ia tersenyum masam, menenggak semua isi dari gelas yang dibawanya kemudian bangkit dan segera menyusul wanita yang sudah sejak tadi siang tadi menggodanya.

***

Sial! Troy merasa ada yang salah di sini. Tak biasanya ia begitu tertarik dengan seseorang, hingga saat melihatnya saja membuat pangkal pahanya berdenyut nyeri seketika. Ia sangat menginginkan Alice Philips di atas ranjangya malam ini, dan apapun itu, ia akan melakukannya untuk mendapatkan keinginannya tersebut.

Yang membuat Troy sangat kesal adalah saat Troy tahu bahwa wanita itu tampak tidak tertarik dengannya. Jangankan tertarik, Alice bahkan lebih terlihat enggan berurusan dengannya. Kenapa? Apa Alice Philips tak tahu siapa dia sebenarnya? Apa ia tak tampak seperti seorang lelaki yang panas dan menggairahkan?

Berengsek!

Dengan segera Troy mengikuti Alice keluar dari dalam restoran. Ia mendapati Alice berjalan diatas trotoar sembari mengenakan tundung hoody yang dikenakan wanita tersebut.

Troy berlari mengikuti wanita itu, kemudian dengan spontan ia menarik lengan Alice dan menghentikan wanita itu sembari berkata “Tunggu.”

Alice menghentikan langkahnya kemudian menatap Troy penuh tanya. “Ada apa?” tanyanya dengan ketus.

Troy memiringkan kepalanya. “Ikutlah denganku, aku akan mengantarmu.”

“Aku lebih suka jalan kaki.”

“Nggak baik jalan kaki malam-malam sendiri, apalagi kamu seorang model.”

Alice berkacak pinggang, dengan menantang dia bertanya “Apa hubungannya denganmu?”

Troy sedikit tersenyum dengan reaksi yang ditampilkan oleh Alice. Ia tak menyangka jika Alice akan seberani ini padanya. “Nggak ada.” Jawab Troy dengan santai.

“Kalau begitu, biarkan aku pergi.”

Troy mengangkat kedua tangannya, dengan tersenyum ia mundur teratur. Alice mendengus sebal, lalu wanita itu mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Troy. Tanpa diduga, Troy malah mengikuti Alice. Berjalan kaki di atas trotoar tepat di belakang wanita itu. Entah apa yang ada di dalam pikiran Troy saat ini. Yang jelas, ia sangat ingin memiliki wanita yang kini berjalan di hadapannya tersebut.

Alice yang merasa diikuti akhirnya merasa tak nyaman. Dengan kesal ia membalikkan tubuhnya kemudian bertanya pada Troy “Apa yang kamu lakukan?”

Troy mengangkat kedua bahunya. “Apa? Aku cuma jalan-jalan malam.”

“Sialan!” akhirnya, Alice tak mampu menahan umpatannya, dan hal tersebut membuat Troy tak kuasa menahan senyuman lebarnya. Alice kembali berjalan lagi, dan Troy mengikuti kemanapun kaki wanita itu melangkah.

Gila! Troy benar-benar merasa gila karena penolakan dan sikap ketus yang diberikan Alice Philips padanya. Kenapa wanita itu bersikap seperti itu padanya? Apa sebelumnya ia memiliki salah dengan wanita tersebut?

Pertanyaan itu terputar berkali-kali dalam kepala Troy sepanjang ia menyusuri trotoar bersama dengan Alice Philips di hadapannya.

***

Alice menghela napas panjang, karena tak lama, akhirnya sampailah juga ia ditempat kostnya. Sebenarnya, selama tinggal di Indonesia, ia menyewa sebuah tempat di Bali. Tapi karena pekerjaannya kali ini, ia sementara tinggal di Jakarta sampai pemotretannya selesai.

Alice membalikkan diri, berharap jika Troy sudah tak ada dibelakangnya, tapi ia salah. Nyatanya, Troy masih berada di sana, dengan senyuman miringnya, dengan kearoganannya, dengan kepedean tingkat dewanya, dan sialnya, dengan ketampanan dan kegagahan lelaki itu yang mampu memancing sesuatu di dalam diri Alice.

Dengan mendengus sebal, Alice bertanya pada Troy “Kenapa kamu mengikutiku sampai disini?”

Bukannya menjawab, Troy malah menyandarkan diri di pagar, mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya yang diyakini Alice adalah sebuah rokok, menyalakan batang sialan itu dan menghisapnya sebelum menjawab “Cuma pengen tau dimana tempat tinggalmu.”

“Memangnya apa urusanmu?”

“Nggak ada, cuma penasaran aja.”

“Dasar sinting!” Alice mengumpat dalam bahasa asing, dan hal tersebut membuat Troy tak mampu menahan tawanya.

Ah ya, satu hal lagi yang disukai Troy adalah, bagaimana logat wanita itu ketika berbahasa indonesia. Hal itu membuat Troy seakan gemas pada seorang Alice Philips.

Alice akhirnya memilih segera memasuki rumah tersebut, kemudian mengunci pintu gerbangnya. Sebelum itu Troy sudah mengucapkan kalimat “Aku tak sabar melihatmu besok siang di kolam renang.” Ejeknya dengan nada menggoda.

“Bajingan!” lagi, Alice mengumpat dengan bahasa asing, dan hal tersebut benar-benar membuat Troy tak kuasa menahan tawanya. Alice tentu mengerti apa maksud Troy saat lelaki itu bilang mengunggunya di kolam renang, karena besok adalah jadwal pemotretan mereka dengan set di area kolam renang. Alice akan mengenakan bikini di sana, tentu saja Alice sangat tahu apa yang ada di dalam otak porno lelaki itu.

Sialan! Jika hari ini Alice mampu menahan dirinya dan bersikap ketus pada Troy, apa besok wanita itu bisa melakukannya lagi? Alice tak tahu. Tapi yang terpenting adalah, ia tak ingin terlibat dalam hubungan dengan seorang Troy Yoseph. Tidak tadi, tidak sekarang, tidak juga nanti.

-TBC-

 

Sleeping with my Friend – Bab 2

Comment 1 Standard

 

Bab 2

 

Emosinya tak dapat ia kontrol. Steve melayangkan pukulannya lagi dan lagi pada wajah Henry. Sungguh, Steve sebenarnya tak mengerti apa yang terjadi dengannya. Ia hanya tidak bisa membayangkan ketika Jessie akan melepas kehormatannya dengan laki-laki bajingan ini. Padahal Steve sadar, jika itu bukanlah urusannya.

Jessie sudah dewasa, jadi ia tidak bisa melarang Jessie untuk tidak melakukan hal tersebut.

Saat Steve tak juga berhenti memukuli wajah henry, pada saat bersamaan pintu dibuka dan menampilkan Jessie yang baru kembali dari apartmen Steve dengan membawa baju ganti untuk lelaki itu.

Jessie sempat terkejut dengan apa yang terjadi. Ia melihat Henry terkapar diatas lantai dengan Steve yang berada di atasnya dan memukuli Henry berkali-kali. Jessie memekikkan nama Steve dan segera berlari menuju ke arah dua orang lelaki tersebut.

“Steve! Apa yang sudah kau lakukan?” Jessie menarik tubuh Steve agar lelaki itu bangkit meninggalkan Henry yang sudah terkapar di atas lantai.

Jessie menghampiri Henry, dan membantu lelaki itu agar bisa bangkit dan duduk sendiri.

“Henry, kau tidak apa-apa?” tanyanya. Mata Jessie menatap tajam ke arah Steve. “Apa yang kau lakukan Steve?!” Jessie berseru keras kepada Steve. Sedangkan Steve hanya bisa menatap Henry dengan tatapan membunuhnya.

Kemudian, tanpa banyak bicara lagi, Steve meraih baju ganti yang dibawakan Jessie, kemudian ia masuk ke dalam kamar Jessie untuk mengganti pakaiannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

***

Masih dengan kekesalan yang entah bersumber darimana, Steve mengenakan pakaiannya secepat mungkin. Ia tidak sudi berlama-lama berada di dalam apartmen Jessie ketika ada si bajingan itu di dalamnya.

Steve lalu menghela napas panjang. Sebenarnya, apa yang terjadi dengannya? Itu bukan urusannya, ketika Jessie akan memberikan kehormatannya pada lelaki itu malam ini, tapi entah kenapa memikirkan hal itu membuat Steve kesal setengah mati.

Setelah mengenakan pakaiannya, Steve segera keluar dari dalam kamar Jessie. Matanya lalu menangkap sepasang kekasih itu sedang berduaan di area dapur. Jessie tampak sedang mengobati memar-memar di wajah kekasihnya, dan itu kembali membuat Steve mendengus sebal.

Steve berjalan dengan cepat menuju ke arah pintu depan apartemen Jessie, melewati sepasang kekasih itu tanpa ingin menatapnya. Hal tersebut membuat Jessie menghentikan aksinya, lalu meninggalkan Henry dan menyusul Steve.

Bagi Jessie, bagaimanapun juga, Steve harus meminta maaf terhadap Henry karena lelaki itu sudah memukuli wajah Henry hingga babak belur. Lagi pula, apa masalah mereka? Jessie tidak pernah berpikir jika keduanya memiliki masalah serius hingga membuat keduanya baku hantam seperti tadi.

Jessie mengejar Steve, dan menghentikan temannya itu saat Steve baru saja membuka pintu apartmen Jessie.

“Hei, kau mau kemana?” Jessie menghentikan Steve dengan menepuk bahu lelaki itu.

“Keluar.”

“Kau belum meminta maaf padanya. Kau tidak lihat mukanya babak belur karena ulahmu?”

Steve hanya menatap Jessie dengan tatapan membunuhnya. Kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari apartemen Jessie tanpa sepatah katapun.

“Hei, Steve! Apa otakmu masih terendam alkohol? Steve! Steven!” Jessie berseru keras, tapi Steve masih melanjutkan langkahnya seakan tak peduli dengan teriakan-teriakan Jessie.

Dengan kesal, Jessie kembali masuk ke dalam apartemennya, sambil menggerutu, ia menuju ke arah Henry kembali dan melanjutkan aksinya untuk mengobati memar-memar di wajah lelaki itu.

“Apa dia gila? Apa otaknya masih terendam dengan alkohol? Dasar tidak tahu diri.” Jessie masih menggerutu sebal, dan itu membuat Henry sedikit tersenyum melihat kekasihnya tersebut.

Ya, itulah yang disukai Henry dari Jessie, wanita yang ceria dan juga cerewet.

“Kau, kenapa kau malah tersenyum seperti itu?”

“Sudahlah, lupakan saja dia.”

“Aku masih tidak habis pikir, kenapa tiba-tiba dia memukulimu seperti itu? Kau tidak mungkin berbuat macam-macam dengannya, bukan?”

Henry sedikit salah tingkah. “Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya bertanya, kenapa dia mengenakan piyamamu, lalu tiba-tiba dia menerjangku dan memukuliku.”

“Mungkin dia masih terpengaruh dengan alkohol.”

“Dia mabuk lagi?” tanya Henry. Ya, setahu Henry, Steve adalah seorang pemabuk. Playboy cap kakap, dan ketika lelaki itu memiliki masalah atau sedang mabuk, lelaki itu lebih memilih menghabiskan waktunya di apartmen Jessie, dan itu benar-benar membuatnya tidak suka.

“Ya, dia gila. Bahkan tadi malam dia telanjang bulat di hadapanku dan memuntahkan isi di dalam perutnya di atas karpetku.” Ucap Jessie yang kini sudah kembali mengobati memar-memar di wajah Henry.

“Jess, jika boleh jujur, aku tidak suka melihat kedekatanmu yang tak wajar dengannya.”

Jessie menghentikan pergerakannya seketika. Ia menatap Henry dengan serius. “Apa maksudmu? Kami hanya teman, tak lebih.”

“Ya, tapi kalian sudah sama-sama dewasa. Aku cemburu melihatnya. Apa salah jika aku cemburu padanya?” pancing Henry.

Jessie tersenyum lembut. Ia menangkup kedua pipi Henry dan berkata. “Honey, kau tak perlu khawatir. Steve sudah seperti saudara bagiku. Kami tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak.”

“Tapi aku tidak percaya padanya.”

“Dia tidak akan berani macam-macam denganku, jika dia berani macam-macam sedikit saja, maka akan kutendang bokongnya dari sini.”

Henry mencoba tersenyum. Ia bersikap seolah-olah percaya dengan apa yang dikatakan Jessie, padahal sebenarnya, Henry merasa jika dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat cemburu dengan kedekatan yang terjalin antara Steve dan juga Jessie.

***

Steve tak berhenti mendengus sebal. Hari ini, ia menghabiskan waktunya di rumah Hank, temannya. Bukan tanpa alasan, karena hanya Hanklah yang mungkin mengerti bagaimana perasaannya saat ini.

Biasanya, Hank adalah orang yang menasehati Steve, memberi masukan, bahkan terkadang dia adalah orang yang mengenalkan Steve dengan beberapa wanita yang pernah menjadi teman kencan semalamnya.

Kini, Steve memilih mengubur dirinya pada sofa panjang milik Hank sembari menonton televisi dengan sesekali meminum bir yang memang selalu tersedia di dalam rumah lelaki itu.

“Kau, sebenarnya aku cukup muak melihatmu berada di sini.” Ucap Hank sembari melompat duduk tepat di sebelah Steve. “Ayolah, aku ada kencan, dan aku tidak mungkin meninggalkanmu di sini seperti orang gila.”

“Kalau begitu, ajak aku kencan.” Jawab Steve dengan wajah cueknya.

“Kau akan menggangguku, Steve.”

“Berengsek! Apa kau tidak bosan berkencan dengan Natalia? Kau bisa memutuskannya dan mencari wanita baru, Sialan!” Steve mengumpat kesal. Hank memang sangat berbeda dengan Steve. Jika Steve memilih hubungan satu malam dengan seorang wanita, maka Hank adalah sosok yang setia.

Entah sudah berapa tahun lamanya Hank menjalin hubungan dengan kekasihnya yang bernama Natalia tersebut.

“Steve, aku bukan kau yang tidak punya perasaan. Saat kau tak bisa berpaling dari seorang wanita, saat itulah kau sudah benar-benar jatuh cinta padanya.”

“Omong kosong tentang cinta! Bagiku, cinta adalah seberapa besar payudaranya.”

Hank tertawa lebar. “Berengsek. Otakmu benar-benar sudah parah. Lebih baik kau pergi dari sini. Aku benar-benar sedang ingin berkencan minggu ini.”

Steve bangkit seketika. “Aku masih bingung. Kenapa ada orang-orang yang membosankan seperti kalian?”

Hank mengangkat sebelah alisnya. “Kalian?”

“Ya, kau dan Jessie. Kalian benar-benar membosankan.”

Hank tersenyum, ia ikut bangkit dan menepuk pundak Steve. “Kau hanya iri pada kami, Steve. Kami memiliki orang yang mencintai kami, dan kau belum memiliki hal itu.”

“Sialan!” lagi-lagi Steve mengumpat kesal. Lalu Steve berjalan pergi keluar dari apartmen Hank.

“Steve, aku akan ke apartemenmu nanti malam.”

“Tak perlu, karena aku akan berpesta dengan beberapa wanita bayaran.”

“Ayolah Steve.” Sungguh, Hank merasa tak enak hati, tapi mau bagaimana lagi. Hari ini adalah hari dimana ia akan melamar kekasihnya. Jadi ia tak mungkin membatalkannya.

“Nikmati saja kencanmu yang membosankan itu.” Ucap Steve dengan nada kesal sembari meninggalkan apartemen Hank. Ya, Steve merasa sangat kesal. Tapi, kenapa juga ia merasa kesal? Apa benar yang dikatakan Hank, bahwa ia hanya merasa iri saja karena tak memiliki wanita yang ia sukai? Ya, mungkin saja.

***

Jessie tidak bisa menghilangkan degup jantungnya yang semakin menggila. Masalahnya, hari ini ia sudah memutuskan untuk melepas kehormatannya dengan Henry, lelaki yang ia cintai. Disisi lain, ia merasa takut jika Henry akan kecewa dengan dirinya yang tak tahu apapun tentang seks.

Jessie mencoba menenangkan diri dengan meminum anggur yang tadi memang dibawakan Henry untuk mereka. Saat ini, keduanya sedang menonton film bersama di ruang tengah apartmen Jessie. Tak ada suara diantara mereka. Henry tampak menikmati jalannya film yang sedang mereka putar, sedangkan Jessie tampak sedang berusaha mengendalikan dirinya agar tak tampak salah tingkah.

“Sepertinya, kau sedikit tidak nyaman.” Ucap Henry kemudian.

“Maaf, aku hanya tidak bisa mengendalikan degup jantungku.” Jawab Jessie dengan jujur.

Henry tertawa lebar. Jemarinya terulur mengusap lembut puncak kepala Jessie. “Kalau kau belum siap, aku tidak akan memaksa.”

“Tidak! Aku sudah siap. Uum, maksudku, aku sudah menunggu malam ini.”

Henry menatap Jessie dengan intens. “Kalau begitu, bolehkah aku memulainya sekarang?”

Keterkejutan tampak jelas terukir di wajah Jessie. “Apa? Uum, bukankah ini masih sore, dan aku…” Jessie tampak tidak siap dengan apa yang akan dilakukan kekasihnya tersebut.

Henry tersenyum lembut. “Aku tahu, kau hanya belum siap, Jess.”

“Henry, aku hanya…” Jessie tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Nyatanya apa yang dikatakan Henry adalah hal yang benar. Bahwa ia memang tidak siap melakukan ini. memang pikirannya sangat kuno, tapi mau bagaimana lagi. Jessie menghela napas panjang, lalu ia menjawab. “Ya, sebenarnya, aku belum cukup siap.”

“Aku mengerti.” Henry lalu melirik ke arah jam tangannya, kemudian ia berkata “Sebenarnya, hari ini aku ada janji dengan seorang pasien. Kau, tidak apa-apa bukan jika aku pergi sekarang?”

“Kau pergi karena aku belum siap melakukan seks denganmu?”

“Tidak, bukan begitu.”

“Tapi kita sudah sepakat kalau kita akan menghabiskan malam bersama malam ini. dan kini, kau berkata jika kau memiliki janji dengan pasienmu setelah aku menolakmu.”

“Jess. Tidakkah kau mengerti bahwa ini juga terasa sulit untukku? aku laki-laki normal yang sangat menginginkanmu. Mana mungkin kita bisa menghabiskan malam bersama tanpa melakukan apapun.”

Jessie berdiri seketika. “Kalau begitu, sentuh aku.”

Henry menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku berusaha menghormatimu. Saat kau berkata belum siap, maka aku tak akan melakukannya.”

“Oh Henry.” Jessie terpana dengan lelaki di hadapannya tersebut.

“Biarkan aku pergi. Oke?”

Jessie memejamkan matanya frustasi. Ia tidak ingin Henry pergi dengan kekecewaan yang tampak jelas di wajahnya, tapi mau bagaimana lagi. Jessie juga tidak  bisa membohongi dirinya senidri jika dirinya memang belum siap untuk melakukan hal seintim itu dengan Henry. Astaga, apa yang terjadi dengannya?

“Baiklah. Tapi, kau tidak marah denganku, bukan?”

Henry tersenyum lembut. “Tentu saja tidak.” Jawabnya sembari mengusap lembut pipi Jessie. Jessie ikut tersenyum, ia mersa lega, tapi di sisi lain, ia tetap merasa tidak enak karena sudah membatalkan rencana mesra mereka berdua.

***

Jessie mengantar Henry hingga basement. Saat ia kembali, ia mendapati Cody yang berada di sebelah lift. Lelaki paruh baya itu tampak sedang memapah seorang wanita dengan pakaian minimnya.

“Woow, aku tidak menyangka jika kau memiliki teman seperti ini, Cod.” Wanita itu memang tampak seperti wanita jalang dengan pakaian ketatnya, belum lagi gayanya yang sudah seperti wanita yang sedang mabuk membuat Jessie sulit mencerna sebenarnya apa yang sedang terjadi.

“Kau tahu? Temanmu sedang menggila.” Ucap si penjaga apartemen tersebut.

Jessie mengangkat sebelah alisnya. “Teman? Steve? Apa yang dia lakukan?”

“Dia sedang berpesta dengan banyak sekali wanita. Dan aku di sini dibayar lebih untuk mengantar mereka-mereka yang sudah teler seperti ini.”

Jessie menggelengkan kepalanya. “Astaga, apa dia sudah gila? Aku akan menegurnya.” Ucap Jessie kemudian yang segera menuju ke lantai dimana Apartmen Steve berada.

Tak menunggu lama, Jessie akhirnya sampai di depan pintu apartmen Steve. Setelah itu ia membuka begitu saja pintu tersebut karena Jessie memang sudah mengetahui passwordnya.

Jessie sangat terkejut ketika mendapati apa yang ada di dalam apartmen Steve. Musik diputar dengan nyaring, lampu dimatikan dan hanya terdapat lampu gemerlap hingga suasana seperti sedang berada di dalam sebuah kelab malam. Dua orang wanita setengah telanjang menari dengan gaya erotis di atas meja Steve, sedangkan Steve sendiri sedang duduk menikmati tarian tersebut dengan segelas minuman yang berada di tangannya. Tak lupa, terdapat juga dua orang wanita di sisi kiri dan kanannya.

Melihat itu membuat Jessie kesal, dangat kesal. Steve seperti seorang yang kekanakan. Bagaimanapun juga, Jessie merasa jika hal seperti ini tak seharusnya dilakukan oleh Steve. Apa lelaki itu akan mengadakan pesta seks?

Jessie berjalan cepat menuju ke arah hometeater yang memutar lagu-lagu tersebut, kemudian tanpa banyak bicara lagi, Jessie mematikannya. Membuat semua yang berada di ruangan tersebut menatap ke arah Jessie seketika. Tak terkecuali Steve.

Steve berdiri seketika, ia tidak menyangka jika Jessie berada di sini dan melihatnya seperti ini.

“Siapa dia? mengganggu saja.” Ucap seorang wanita yang menari di atas meja Steve.

“Keluar dari sini.” Ucap Jessie kemudian.

“Hei, memangnya kau siapa?” tanya perempuan itu. Sedangkan Steve hanya diam masih ternganga dengan kehadiran Jessie.

“Aku kekasihnya. Sekarang kalian keluar dari sini, atau aku akan memanggil polisi untuk menangkap kalian.” Ancam Jessie.

Mendengar itu membuat para wanita yang ada di sana sedikit panik, apalagi saat melihat Steve yang hanya diam ternganga menatap ke arah Jessie. Lelaki itu seakan tak memiliki kemampuan untuk membela mereka dan terkesan membenarkan Jessie. Akhirnya, para wanita itu pergi meninggalkan apartmen Steve dengan sesekali menggerutu kesal pada Jessie.

Setelah para perempuan itu pergi meninggalkan apartmen Steve. Jessie segera memunguti apapun yang berada di ruang tengah tersebut yang baginya tampak berantakan. Sedangkan Steve, ia masih berdiri mematung menatap keberadaan Jessie di sana.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Steve pada Jessie yang tampak lebih fokus pada ruang tengah apartmen Steve ketimbang si pemilik apartmen itu sendiri.

“Kau tidak lihat? Aku sedang membereskan sampah.”

“Kau tahu apa maksud dari pertanyaanku. Kenapa kau disini? Bukankah seharusnya kau kencan dengan pacar Gay mu itu?”

Jessie berkacak pinggang tidak suka dengan pertanyaan Steve. “Yang pertama, kedatanganku kesini karena menyadarkanmu bahwa kelakuanmu ini mengganggu penghuni apartmen lainnya, dan yang kedua, dia tidak Gay!”

Steve malah bersedekap. “Apartmenku kedap suara. Lagi pula, apartmenmu berbeda Lima lantai dari tempatku, jadi aku tak mungkin mengganggumu.”

“Terserah kau saja.” Jessie menjawab dengan acuh. Sebenarnya, Jessie juga tak mengerti apa yang ia lakukan di sini. Seharusnya ia tak peduli dengan Steve, dan bisa dibilang jika ia masih marah dengan lelaki itu. Tapi Jessie tak memungkiri jika malam ini dirinya butuh seorang teman untuk mencurahkan isi hatinya. Mencurahkan kebodohannya karena sudah menolak Henry dan membuat kekasihnya itu kabur begitu saja.

Jessie tahu, bahwa ia butuh teman untuk minum bersama dan menghilangkan kegalauannya yang entah bersumber dari mana. Dan ia juga tahu, bahwa hanya Stevelah teman yang cocok untuk membuatnya lebih baik lagi.

Kenyataan bahwa lelaki itu memilih bersenang-senang dan berpesta dengan banyak wanita jalang membuat Jessie marah. Jessie kesal, kenapa disaat hubungannya terasa sulit dengan Henry, Steve malah bisa sesuka hati tidur dengan berbagai macam wanita. Iri? Tentu saja, tapi Jessie tidak ingin mengungkapkan rasa irinya karena ia tahu bahwa ia tidak berhak merasakan perasaan tersebut.

Ingat, mereka hanya berteman, tidak lebih.

Saat Jessie memilih mengabaikan Steve, saat itulah Steve merasa emosinya terpancing. Secepat kilat Steve mencengkeram kedua bahu Jessie lalu ia bertanya sekali lagi. “Apa yang kau lakukan di sini?” kali ini pertanyaan Steve terdengar tajam dan menuntut.

Jessie tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ia butuh teman, sungguh, tapi sepertinya mendatangi Steve adalah salah.

“Oke, aku pergi.” Jessie mengangkat kedua tangannya dan bersiap pergi.

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Jess! Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Steve lagi. Jessie tahu jika Steve sudah seperti ini, maka ia tak memiliki jalan lain selain jujur dengan lelaki itu.

Jessie menurunkan bahunya, ia mendesah panjang sebelum berkata “Aku butuh minum. Aku butuh teman minum! Apa kau puas?!” serunya dengan kesal dan frustasi.

Steve yang menatap Jessie merasa terketuk hatinya. Ia tidak pernah melihat Jessie sefrustasi saat ini. Kekesalan yang ia rasakan sepanjang hari pada Jessie karena wanita itu lebih membela kekasihnya dibandingkan dirinya kini lenyap begitu saja saat melihat kebingungan yang tampak jelas di wajah wanita itu.

Jessie memiliki masalah, Steve tahu itu. Wanita itu butuh minum, dan ia akan menemani wanita itu minum hingga melupakan masalahnya.