Sleeping with my Friend – Bab 18

Leave a comment Standard

 

 

“Katakan! Apa kau ingin aku tidur dengannya?” tanya Steve sekali lagi.

“Jika kau ingin menidurinya, maka silahkan saja! Kau pikir aku peduli denganmu?” masih dengan emosi, Jessie menjawab pertanyaan Steve.

Steve mundur satu langkah. “Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku akan melakukannya.”

“Ya. Pergi saja sana!” Jessie berseru keras. Ia bahkan sudah membalikkan tubuhnya membelakangi Steve. sedangkan Steve, ia mundur perlahan, tak menyangka jika dirinya begitu tak berarti untuk Jessie. Haruskah ia melakukan apa yang diinginkan oleh wanita itu?

Bab 18

Menjelang pagi, Steve baru pulang.

Sebenarnya, Steve ingin pulang ke apartmennya sendiri, tapi hatinya tidak bisa berkompromi. Ia terlalu khawatir dengan keadaan Jessie. Akhirnya Steve memilih pulang ke apartmen Jessie.

Masuk ke dalam, Steve mendapati Jessie tertidur di sofa ruang tengah. Kakinya melangkah dengan sendirinya menuju ke arah Jessie, berjongkok di hadapan wanita itu, lalu mengamatinya.

“Sial! Apa kau tidak bisa melihat keberadaanku, Jess? Bagaimana mungkin kau meminta suamimu untuk meniduri perempuan lain? Apa aku begitu tak berarti untukmu?”

Steve menatap Jessie dengan tatapan penuh luka. Baru kali ini ada seorang wanita yang membuatnya sakit hingga seperti ini. baru kali ini ia merasa tidak diinginkan oleh seorang wanita. Kenapa harus Jessie yang melakukannya? Kenapa harus wanita ini yang menyakitinya?

Steve tahu, bahwa sampai kapanpun, ia tidak akan bisa membenci Jessie. Wanita ini akan selalu menjadi wanita istimewa di hatinya, wanita yang akan selalu ia puja dalam diam. Tapi, apa Jessie merasakan perasaan yang sama dengannya?

Tanpa banyak bicara, Steve bangkit lalu meraih tubuh Jessie, menggendong wanita yang masih asyik tertidur pulas itu menuju ke kamar dan membaringkannya di atas ranjang. Jessie terjaga karena hal itu.

“Steve.” panggilnya.

Jessie terduduk, mengucek matanya. Sedangkan Steve segera menjauh, Steve membuka pakaiannya sendiri lalu memutari ranjang dan melemparkan diri di sisi lain dari ranjang tersebut.

Jessie hanya menatap apa yang dilakukan suaminya itu. Bahkan ia melihat Steve tidur miring memunggunginya. Steve tidak seperti biasanya. Kenapa? Apa lelaki itu benar-benar melakukan apa yang ia inginkan?

Sungguh, Jessie berharap jika hal itu tak terjadi. Setelah kepergian Steve tadi malam, Jessie tidak bisa berpikir jernih. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Steve. Apa benar lelaki itu akan menuruti kemauannya? Meniduri Donna Simmon?

Beberapa kali Jessie menghubungi Steve, meminta lelaki itu untuk pulang, tapi ponsel Steve mati. Jessie bingung dengan kegalauannya. Ia tidak bisa memikirkan jika Steve benar-benar tidur dengan wanita lain. Hingga akhirnya, Jessie tertidur di sofa ruang tengah apartmennya.

Kini, sudah menjelang pagi, Steve baru pulang. Tubuhnya bau alkohol, meski Jessie tidak mendapati bau parfum wanita tapi melihat kelakuan lelaki itu membuat Jessie tak tenang. Apa benar Steve melakukan apa yang ia inginkan? Meniduri Donna Simmon?

“Steve.” Jessie kembali melirih. Ia melihat Steve miring memunggunginya.

“Tidurlah, Jess.”

“Kau benar-benar melakukan apa yang kukatakan?” tanyanya nyaris tak terdengar. Jika Steve benar-benar melakukan hal itu, maka Jessie benar-benar hancur.

Tapi tak ada jawaban dari lelaki itu.

“Steve.” sekali lagi Jessie memanggil dengan suara lirihnya.

“Demi Tuhan, tidurlah.” Pinta Steve.

Yang bisa Jessie lakukan hanya menurut. Ia kembali terbaring. Miring memunggungi Steve. lalu air matanya tumpah begitu saja. Steve benar-benar melakukan apa yang ia katakan, Jessie tahu itu.

***

Jessie bangun saat matahari sudah membumbung tinggi. Ia bangun sendiri, tak ada Steve di sisinya. Jessie segera bangkit, ia menuju ke arah kamar mandi, membersihkan diri secepatnya, setelah itu ia keluar dari kamarnya. Jessie berharap setidaknya ia mendapati Steve di dapurnya, atau paling tidak lelaki itu sedang menontonn tv di ruang tengah, tapi nyatanya, lelaki itu tak ada di sana.

Dengan lemas kakinya melangkah menuju ke arah meja makan. Disana sudah disiapkan dua potong sandwich. Jessie tahu bahwa itu buatan Steve, tapi ia tidak mengerti kenapa Steve menghindarinya.

Jessie ingin bicara dengan lelaki itu. Membahas tentang masalah mereka. Ia tahu bahwa semalam ia terlalu emosi. Dirinya terlalu diliputi dengan rasa marah hingga tak sadar apa yang sudah ia ucapkan. Bahkan setelah kepergian Steve, Jessie baru menyadari kesalahannya.

Tak seharusnya ia meminta Steve meniduri wanita lain hanya karena ia merasa tak diistimewakan. Seharusnya ia lebih bisa mengendalikan emosinya. Tapi, setelah dipikir-pikir, semalam memang Steve dulu yang bersikap aneh padanya. Marah-marah tak jelas, dan apa? Astaga, Jessie bahkan melupakan fakta jika Steve menyebut-nyebut nama Henry.

Darimana lelaki itu tahu bahwa semalam ia bertemu dengan Henry? Apa jangan-jangan, Steve melihat kebersamaannya dengan Henry sore itu? Apa Steve salah paham? Astaga, tak seharusnya Steve salah paham. Bahkan Steve seharusnya berterimakasih dengan Henry karena malam itu Henry membuka kembali mata hati Jessie hingga Jessie menyadari satu fakta, bahwa hingga kini, perasaan Jessie terhadap Steve masih sama sebesar dulu…

“Apa yang terjadi denganmu, Jess? Katakan padaku.” Henry membuka suara ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil lelaki itu. Lelaki itu belum juga menyalakan mesin mobilnya. Mungkin Henry sedang ingin memperjelas semuanya.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku.” Jessie menjawab masih dengan terisak. “Tadi siang, kekasih Steve datang. Dan dia mengatakan kenyataan yang benar-benar menyakitiku.”

“Seperti apa?”

Jessie menggelengkan kepalanya.

“Kau tidak akan membaik jika menyimpan semuanya sendiri. Katakan padaku, apa yang dikatakan wanita itu padamu?”

“Steve meniduriku.” Jessie menghentikan kalimatnya, ia merasa ragu untuk melanjutkannya, tapi kemudian Jessie melanjutkan kalimatnya. “Seperti meniduri teman kencan semalamnya. Sedangkan dia tidak meniduri kekasihnya karena menghormati wanita itu.”

“Kau tidak terima dengan kenyataan itu?”

Jessie menghela napas panjang. “Ya. Aku tidak suka dia mengistimewakan perempuan lain, sedangkan aku dipandang sama dengan perempuan jalang teman kencan semalamnya.”

Henry tampak tersenyum. “Jadi, kau, benar-benar menyukainya, ya?”

Jessie menatap Henry seketika. “Henry, aku memang pernah menyukainya. Tapi itu dulu sekali. Dia cinta pertamaku. Tapi sekarang sudah beda. Maksudku, hubunganku dengannya sangat rumit.”

Henry meraih telapak tangan Jessie. “Kau, hanya memungkiri perasaanmu, Jess.”

“Tidak. Aku tahu apa yang kurasakan.”

“Lalu, apa perasaanmu semarah ini jika aku yang ada dalam posisi Steve? apa jika aku tidak menidurimu tapi meniduri wanita lain, kau merasa senang karena kuistimewakan.”

“Henry, semuanya berbeda.”

“Ya, berbeda Jess. Karena kau tidak mencintaiku sebesar mencintainya.” Henry menyahut cepat. “Kumohon. Jangan membohongi dirimu sendiri dan jangan membuatku menjadi orang tolol karena mencoba membohongi diriku sendiri.”

“Aku tidak bermaksud membuatmu tolol. Aku hanya….”

“Kau hanya takut mengakuinya.” Lagi-lagi Henry menjawab cepat. Kemudian Henry mengembuskan napas panjang. “Sejak awal kau mengenalkanku pada Steven Morgan, sejak saat itu aku sudah menaruh curiga. Hubungan kalian tidak masuk akal. Kalian sekan terikat dengan sesuatu yang tak terlihat. Kadang, aku bahkan merasa bahwa kau memiliki zona yang tak dapat kusentuh, sedangkan dia dengan mudah keluar masuk kedalam zona itu.”

“Henry…”

“Aku cemburu, Jess. Sangat. Dan itu sudah sejak lama. Tapi aku mencoba bertahan. Aku mencoba menelan mentah-mentah kecemburuanku dan bersikap seolah-olah dia adalah kakakmu yang menyebalkan. Tapi semakin hubungan kita serius, semakin aku sadar, bahwa aku tidak ada apa-apanya dimatamu daripada dia.”

Jessie menggelengkan kepalanya, tapi Henry melanjutkan kalimatnya.

“Tidak Jess. Aku sudah merasakan ini sejak lama, dan aku akan mengatakannya sekarang. Aku mencintaimu, sangat. Kau tentu tahu itu. Dan aku tahu, bahwa cintamu tak sebesar yang kumiliki untukmu.”

Jessie mulai meneteskan airmatanya. Henry benar. Ya, lelaki itu benar.

“Katakan dengan jujur, maka aku akan menerimanya. Aku akan menerima perpisahan kita jika kau mengaku bahwa selama ini kau tidak mencintaiku.”

“Tidak.” Jessie berkata cepat. “Aku mencintaimu. Sungguh.” Ya, Jessie jujur. Ia memang mencintai Henry. Karena itulah ia menerima lamaran lelaki itu.

“Tapi rasa cintamu padaku tak sebesar rasa cintamu padanya, Jess. Tolong, berkatalah dengan jujur padaku.”

Jessie hanya menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. “Aku… Aku…”

“Kau mencintainya, kan?”

Jessie memejamkan matanya frustasi. “Ya….” Desahnya.

Kali ini giliran Henry yang memejamkan matanya frustasi. Henry sudah curiga dengan kenyataan itu. Sudah sejak lama. Dan dia baru berani mengutarakan kecurigaannya hari ini. saat hubungan mereka sudah benar-benar berakhir.

“Aku minta maaf, aku hanya…’

“Bagaimana jadinya jika hubungan kita masih tetap berlanjut? Aku tahu bahwa itu tak akan baik. Aku tidak bisa membayangkan jika istriku masih selalu dekat dengan lelaki yang dicintainya. Aku tidak bisa membayangkan hal itu.”

“Maafkan aku…”

Henry menggelengkan kepalanya. “Semua sudah terjadi. Aku tahu ini yang terbaik untuk kita. Terimakasih kau sudah mau berkata jujur padaku.”

“Henry…”

“Jess.” Henry memotong kalimat Jessie. “Sudah malam, aku akan mengantarmu pulang.”

“Kau, akan menemuiku lagi?” jika tadi sore Jessie berpikir bahwa seharusnya Henry tak lagi menemuinya, maka malam ini ia ingin lelaki itu tetap menjadi teman terbaiknya. Astaga, lelaki ini benar-benar sangat baik, Jessie tak ingin kehilangan lelaki ini, meski status mereka hanya sebagai teman.

Henry menggelengkan kepalanya. “Apa yang kau katakan tadi sore benar. Seharusnya, aku tak lagi menemuimu. Itu akan menyakitiku. Jadi, mungkin aku tak akan menemuimu lagi sampai perasaanku benar-benar sembuh.”

“Maafkan aku…” lagi-lagi Jessie melirih.

“Tidak. Kau tidak salah. Mungkin memang seperti ini jalannya.” Lalu Henry mulai menyalakan mesin mobilnya, kemudian mengantar Jessie pulang.

Jessie menghela napas panjang. Ia memijit pelipisnya. Astaga, apa harus Henry yang menyadarkan tentang perasaannya kepada Steve? lagi pula, ini tak adil untuk Jessie, kenapa ia harus mengakui perasaannya ketika hubungan mereka sedang seperti sekarang ini?

Membayangkan bahwa kemungkinan tadi malam Steve meniduri Donna Simmon membuat Jessie tak tenang. Ya Tuhan! Ia harus menemui lelaki itu. Siang ini juga. Ia harus membahas masalah mereka sebelum semuanya semakin rumit.

***

Setelah berkonsentrasi penuh dengan pekerjaannya, akhirnya Steve memilih beristirahat sebentar. Proses pengambilan foto untuk salah satu majalah fashion terbesar di New York memang sedikit rumit. Steve harus berkonsentrasi penuh, ia tidak boleh main-main karena namanya yang akan menjadi taruhannya.

Saat Steve akan berjalan menuju ke ruang kerjanya, saat itulah salah satu krunya datang dengan seorang wanita di sebelahnya. Wanita berambut pirang yang sudah ia putuskan beberapa hari yang lalu, Donna Simmon.

Dengan penuh percaya diri, Donna berjalan ke arah Steve dan mengecup sisi kanan dan kiri pipi Steve. Steve sempat membatu karena ulah Donna, bahkan ia mengangkat sebelah alisnya, tak mengerti kenapa Donna bersikap seperti ini padanya, padahal terakhir kali mereka bertemu saat itu, Donna marah karena ia sudah memutuskan hubungan mereka secara sepihak.

“Aku tidak mengganggumu, bukan?”

“Tidak.” Steve menjawab pendek. “Ada masalah?” tanyanya.

“Bisa kita bicara di tempat lain?”

“Tentu. Ikutlah ke ruanganku.” Dan akhirnya, mereka menuju ke ruang kerja Steve.

***

Sepuluh menit berada di dalam ruangan berdua, dan Donna belum juga mengatakan apa niat wanita itu datang kepadanya. Sesekali Steve melirik ke arah jam tangannya. Hari ini bukanlah hari yang bebas, tapi ia juga tidak enak jika harus mengatakan hal itu pada Donna. Belum lagi suasana hati Steve sedang kacau jika mengingat tentang hubungan rumah tangganya dengan Jessie.

“Kau, tidak akan memulai apa yang ingin kaukatakan?” akhirnya Steve membuka suaranya.

“Sejujurnya…” Donna bangkit. Ia berjalan menuju ke arah Steve, dan duduk di meja kerja lelaki itu, tepat di hadapan Steve. hal itu kembali membuat Steve mengangkat sebelah alisnya.

Apa Donna sedang menggodanya? Demi Tuhan! Ia tidak akan tergoda. Satu-satunya hal yang diinginkan Steve tentang seks adalah tubuh istrinya, bukan wanita lain.

“Apa?” tanya Steve karena Donna terkesan menggantungkan kalimatnya.

“Aku tahu, Steve, apa yang terjadi denganmu.”

Steve mengerutkan keningnya. “Maksudmu?”

Dengan genit, Donna menjalankan telunjuknya pada kemeja yang dikenakan Steve, menelusuri dada Steve dengan jemarinya. “Pernikahanmu dengan istrimu itu. Kau, menikahinya hanya karena dia hamil, bukan?”

“Apa maksudmu?”

“Jujur saja. Kau tahu Steve, aku bahkan rela tetap menjadi kekasihmu. Karena bagiku, menjadi seorang kekasih yang dicintai itu lebih istimewa dibandingkan menjadi istri yang diselingkuhi.”

“Donna tunggu dulu. Apa maksudmu?”

Well. Kau mengakhiri hubungan kita karena kau sudah menikahi Jessie yang tak lain adalah teman semasa kecilmu, keluarga kalian sudah berteman sejak lama. Aku tahu bagaimana posisimu. Kau hanya tak ingin menyakitinya, padahal pernikahan kalian hanya karena bayi, bukan?”

“Donna. Kau salah paham.” Steve menjawab cepat. Ia tidak menyangka jika Donna akan salah paham hingga seperti ini.

“Lalu apa? Kau mencintaiku. Bagimu, aku adalah wanita istimewa, karena itulah kau yang seorang playboy cap kakap berusaha menjalin hubungan serius denganku tanpa seks. Benar begitu bukan?”

“Astaga Donna.” Steve mengusap rambutnya frustasi. Ia tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan semua itu pada Donna. Kepalanya pusing, sungguh. Bagaimana mungkin Donna tidak mengerti apa maksudnya?

“Dengar.” Steve menggenggam kedua pergelangan tangan Donna. “Selama ini aku hanya mengencani wanita jalang, tentu banyak orang tahu kenyataan itu. Kamudian aku memiliki masalah dengan seseorang. Jessie. Ya, aku memiliki masalah dengan dia, dan aku ingin melupakannya. Karena itulah aku meminta Hank untuk mencarikan seorang wanita baik-baik. Dan kaulah orangnya.”

“Lalu, kau tertarik denganku, bukan?”

“Sejujurnya aku mencoba.” Steve menjawab dengan jujur. Ia tidak mau Donna salah paham lagi. “Aku ingin menjalin hubungan sehat, dan aku mencobanya denganmu. Tapi maaf, aku tidak bisa.”

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak tahu.” Steve kembali mengusap rambutnya sendiri. “Intinya adalah, entah aku sudah menikah atau tidak, hubungan kita tak akan berhasil. Kita tetap akan selesai.”

“Tapi kau mengajakku pulang ke rumah keluargamu. Dan menurut ibu dan adikmu, kau tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya.”

“Karena aku ingin… aku…” Steve tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Ya Tuhan! Ia tidak seberengsek itu.

“Katakan. Apa tujuanmu mengajakku ke sana?”

“Aku ingin dia melihatmu.”

Ya. Itulah tujuan Steve. Steve tahu bahwa Jessie akan datang. Karena itulah ia mengajak Donna ke Pennington hari itu. Ia ingin menunjukkan pada Jessie bahwa ia juga bisa memiliki kekasih seperti Jessie yang memiliki Henry. Ia juga bisa berhubungan dengan normal, dan ia ingin melihat reaksi Jessie. Tapi Steve tak mendapatkan apapun setelah mengajak Donna Simmon pulang ke rumah orang tuanya selain kesalah pahaman sialan ini.

“Jadi kau, kau ingin membuatnya cemburu dengan kehadiranku?”

“Donna, aku tahu itu sangat brengsek. Tapi ya, itulah tujuanku.”

“Bajingan kau Steve!” Donna berdiri seketika.

“Maafkan aku. Sungguh.”

“Aku benar-benar tidak menyangka. Astaga… jadi kau, kau sama sekali tak tertarik denganku? Kau hanya… Ya Tuhan! Aku tidak percaya.” Donna bersiap pergi. Ia malu, tentu saja. Ia berharap terlalu banyak dan ia terlalu salah menerka keadaan. Donna merasa sangat malu, ia menganggap dirinya sendiri begitu istimewa untuk seorang Steven Morgan, tapi kenyataan yang ia dapat adalah sebaliknya, bahwa Steven Morgan TIDAK benar-benar tertarik dengannya.

“Donna.” Steve ingin menenangkan wanita itu.

“Tidak! Steve. Jangan!” napas Donna memburu karena kekesalan yang memuncak dikepalanya. “Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.” Setelah perkataannya tersebut, wanita itu pergi.

Oke, sempurna. Setidaknya Donna Simmon tak akan mengganggu kehidupannya lagi. Tapi bukan seperti itu yang dirasakan Steve. Ia merasa menjadi orang yang sangat brengsek. Membuat wanita itu berharap lebih, membuat wanita itu salah paham dan lebih parah lagi memanfaatkan kehadiran wanita itu untuk menyembunyikan perasaannya sendiri kepada Jessie, perasaan yang selalu ingin ia pungkiri. Sejak lama…..

-TBC-

Aku numpang promo dikit yaa… Ebook aku di google play, bisa kalian beli hihihi

Advertisements

Sleeping with my Friend – Bab 17

Leave a comment Standard

 

Nyatanya, setelah melihat kejadian ini, Steve merasa bahwa Jessie hanya berusaha membohongi dirinya. Membuatnya terlihat bodoh dengan rasa cinta yang ia rasakan dan bertepuk sebelah tangan.

Sial!

Cinta?

Ya Tuhan! Kenapa ia harus mengaku jatuh cinta pada saat seperti ini?

Kenapa ia harus jatuh cinta pada Jessie, wanita yang bahkan selalu melihatnya sebagai teman? Kenapa harus seperti ini?

Bab 17

Jessie masih tidak menyangka bahwa Henry akan datang kembali padanya setelah apa yang mereka bahas siang itu di apartmennya. Jessie mengira, bahwa Henry akan membencinya, dan menolak untuk bertemu lagi dengannya. Nyatanya, hati lelaki ini benar-benar seperti malaikat.

Tadi Siang, Jessie cukup terkejut dengan kehadiran Donna Simmon, kekasih Steve, dan dan setelah wanita itu pergi, pikiran Jessie tak bisa lepas dari apa yang dikatakan wanita itu sepanjang siang di hadapannya.

“Aku benar-benar tidak menyangka jika kau akan menggunakan cara selicik ini untuk mengikatnya, Summer!” Jessie melihat mata Donna yang penuh dengan kemarahan. Hingga detik ini, Jessie tidak tahu apa tujuan Donna datang kepadanya. Meski begitu, Jessie tetap menerima Donna sebagai tamunya dan mengurung diri mereka berdua di dalam ruang kerjanya.

“Aku sendiri tidak mengerti apa yang kau maksud.”

“Dengar, aku sudah tahu semuanya! Kau membiarkan dirimu hamil agar kau mendapatkan perhatiannya, bukan? Agar dia menikahimu!”

Oh, perkataan itu sangat menyinggung Jessie.

“Donna, kau tidak tahu apa yang terjadi diantara kami.” Jessie masih berusaha bersikap tenang, ia tak ingin berakhir saling menjambak rambut satu sama lain karena masalah sepele ini.

“Kau yang tidak tahu apa yang sudah kami miliki!” Donna berseru keras. Wanita itu tampak tak dapat mengontrol emosinya. “Dengar, Jess. Dia mencintaiku! Sangat mencitaiku hingga dia memperlakukan aku dengan begitu istimewa!”

Itu bukan hal yang bagus untuk didengar.

“Seistimewa apa?” tantang Jessie. Karena baginya, wanita yang diistimewakan Steve adalah, ibu dan adik lelaki itu, serta dirinya. Setidaknya, dulu itu yang ia tahu.

“Seistimewa dia tak berani menyentuhku! Membawaku ke atas ranjang sialannya sebelum kami menikah!”

Oh… Sudah! Semua selesai! Pikir Jessie.

“Kau, dia hanya menganggapmu seperti perempuan jalang semalamnya, karena itulah dia berani menidurimu.”

“Dia tidak menganggapku seperti itu!”

“Well, nyatanya itu yang terjadi, Jess.” Donna masih menegaskan apa yang wanita itu pikirkan. “Dan kau, dengan tak tahu malu malah menjeratnya dengan hubungan pernikahan. Ya Tuhan! Jika aku jadi dirimu, maka aku akan menenggelamkan diriku ke dasar laut!”

Itu benar-benar kalimat yang sangat menghina. Jessie tak pernah berpikir untuk menjerat Steve dengan sebuah pernikahan. Ia tidak pernah memaksa lelaki itu untuk menikahinya. Kemudian Jessie melihat Donna berdiri dan dengan begitu arogan, wanita itu berkata “Dia akan selalu mencintaiku, dia akan selalu mengistimewakanku, dan kau, kau hanya akan menjadi budak seksnya. Selamat berbahagia, Mrs. Morgan.”

Setelah itu Donna pergi, dan setelahnya, pikiran Jessie berubah menjadi sangat kacau. Donna Simmon benar-benar menghancurkan perasaannya. Ia tidak tahu bahwa Steve menilainya serendah itu. Hal tersebut membuat Jessie marah, tapi disisi lain ia tidak dapat menyalurkan kemarahannya karena Steve memang tak bersalah. Donna benar, ialah yang harus disalahkan karena sudah menggoda lelaki itu. Belum lagi kenyataan bahwa ia sudah teledor karena tidak mengamankan dirinya sendiri dan membiarkan kehamilan ini terjadi. Dan kesalahannya semakin fatal saat ia setuju untuk menikah dengan Steve.

Jessie memijit pelipisya. Sepanjang siang itu ia merasa sangat pusing, perasaannya kacau, dan ia hanya ingin menangis.

Lalu ketika sore tiba, para pegawainya bersiap untuk pulang, saat itu Miranda datang dan mengatakan bahwa ada yang ingin bertemu dengannya.

Henry….

Lelaki itu datang.

Sungguh, Jessie tak menyangka jikaa Henry akan kembali menemuinya setelah ia sudah menyakiti perasaan lelaki itu.

Jessie meminta Miranda untuk pulang saja setelah ia mempersilahkan Henry masuk ke dalam ruangannya. Tak lupa, Jessie juga menyiapkan kopi untuk lelaki itu agar suasana tegang sedikit mencair.

“Aku, sangat terkejut kau mengunjungiku.” Jessie mulai membuka suara.

“Kenapa? Kau ingin aku benar-benar meninggalkanmu dan melupakanmu begitu saja?”

“Henry, aku minta maaf. Tapi aku memang berharap jika kau melakukan hal itu. Ini akan menyakitimu, jika kita tetap bertemu seperti ini.”

Henry menundukkan kepalanya. “Aku sudah tidak bisa lagi memilikimu, Jess. Tak bisakah kau setidaknya menerimaku seperti ini? aku hanya ingin melihatmu, berhubungan baik denganmu, salahkah?”

“Tidak.” Jessie menggelengkan kepalanya. “Tapi ini akan menyakitimu.”

Henry sedikit tersenyum. “Kau tahu, aku memilih kesakitan setiap hari asalkan tetap bisa berjumpa denganmu.”

Astaga, Jessie tak bisa membiarkan Henry kesakitan setiap saat. “Jangan seperti ini.” lirih Jessie. Perasaan Jessie benar-benar kacau, dan kehadiran Henry semakin memperkeruh semuanya.

Pikirannya semakin kacau. Jessie bahkan berpikir pada titik jika semua ini seharusnya tak terjadi. Ia seharusnya tak mengandung anak Steve, mereka tak seharusnya menikah, dan seharusnya, hubungannya dengan Henry masih baik-baik saja bahkan lebih romantis dari sebelumnya.

Tapi bagaimanapun juga, Jessie tidak bisa mengingkari hubungannya saat ini. statusnya sudah jelas, bahwa ia adalah seorang istri. Ia tidak boleh kembali tergoda dengan Henry maupun lelaki lain.

Tapi…

Tapi….

Astaga, Jessie benar-benar bingung. Ia kembali mengingat perkataan Donna Simmon tadi. Hal itu membuat Jessie ingin menangis. Padahal tak seharusnya ia menangis di hadapan Henry. Itu akan sangata memalukan, dan tak masuk akal, tapi Jessie tak mampu menahan tangisnya.

Henry yang melihat segera menghampiri Jessie mendekat ke arah wanita yang tampak sangat tertekan tersebut.

“Hei, maafkan aku. Jika kehadiraanku membuatmu tertekan, maka aku akan pergi.” Henry bangkit, ia bersiap pergi, tapi kemudian Jessie menghentikannya.

Henry menatap pergelangan tangannya yang ditahan oleh Jessie. Wanita itu masih setia menangis, dan Henry tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita itu.

Jessie sendiri tak tahu apa yang sedang menimpanya. Batinnya berperang, antara membiarkan Henry pergi, atau meminta lelaki itu untuk menemaninya. Jessie tak ingin sendiri dan kembali memikirkan tentang perkataan Donna Simmon. Ia ingin ditemani, dan melupakan perkataan perempuan berambut pirang tadi.

“Kau ingin aku tetap di sini?” tanya Henry karena ia tidak mendapati Jessie melarangnya atau mempersilahkan dirinya pergi. Padahal Jessie dengan jelas menahan pergelangan tangannya agar tidak pergi dari sana.

Jessie tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya saja. Dan hal itu cukup membuat Henry kembali duduk di sebelah Jessie. Keduanya diam tanpa kata. Hanya pergelangan tangan Henry yang setia dicekal oleh Jessie. Henry tak tahu apa yang terjadi dengan Jessie dan yang diinginkan wanita tersebut. Yang ia tahu hanyalah, bahwa ia harus berada di sisi Jessie ketika Jessie tampak hancur dan kacau seperti saat ini.

***

Setelah merasa cukup, Jessie memilih untuk segera mengajak Henry pulang. Hari sudah gelap, mungkin Steve akan khawatir terhadapnya karena belum pulang, atau mungkin sebaliknya, lelaki itu tak akan peduli dengan apa yang sedang ia lakukan.

Masih saling berdiam diri, Henry mengikuti tepat di belakang Jessie. Membuat Jessie merasa nyaman, dan merasa lebih baik dengan kehadiran lelaki itu disekitarnya. Meski mereka tak melakukan apapun dan hampir tak membicarakan apapun, tapi kehadiran Henry cukup mengobati suasana hati Jessie yang sedang kacau karena kehadiran Donna Simmon.

Setelah mematikan semua lampu dan mengunci butiknya. Jessie mengikuti Henry menuju ke arah mobil lelaki itu. Steve mungkin tak menjeputnya. Bahkan mungkin saja lelaki itu sedang sibuk dengan kesenangannya sendiri. memikirkan hal itu membuat Jessie kembali sedih.

Astaga, kenapa jadi seperti ini?

Percaya dengan Steve saat ini sudah menjadi hal yang sulit untuk Jessie. Pemikiran buruk tentang Steve selalu bersarang di kepalanya sejak tadi siang. Ya, baginya, Steve bukan orang yang jujur. Padahal, bisa saja Donna mengada-ada, atau sengaja membuat hubungnnya dengan Steve merenggang. Tapi nyatanya Jessie tidak mempercayai kemungkinan itu. Ia lebih mempercayai perkataan Donna Simmon, bahwa Steve mencintai wanita berambut pirang itu, pernikahannya dengan Steve hanya sebuah sandiwara lelaki itu, dan Steve hanya melihatnya sebagai seorang pemuas daripada seorang istri.

Jessie sempat berdiri melamun, dan matanya kembali berkaca-kaca saat mengingat kenyataan itu. Hal itu membuat Henry menolehkan kepalanya ke arah Jessie.

“Jess?”

Panggilan Henry menyadarkan Jessie dari lamunan. Dalam sekejap mata, Jessie menghambur ke arah Henry, memeluk lelaki itu begitu erat, kemudian ia terisak.

Ya Tuhan! Jessie tidak tahu apa yang terjadi dengannya. ia tidak ingin melakukan hal ini, tapi disisi lain, Jessie tak kuasa menahan diri untuk memeluk lelaki itu. Jessie sedang membutuhkan sebuah penopang agar dirinya tidak jatuh terpuruk. Perkataan Donna Simmon, dan kenyataan yang ada membuat Jessie tersakiti. Ia tidak tahu kenapa bisa tersakiti seperti ini. Maksudnya, ia bahkan menikah dengan Steve hanya karena hamil, seharusnya ia tak perlu merasa sesakit ini.

Atau jangan-jangan……

“Kau memiliki masalah dengan Steve?” tiba-tiba saja Henry bertanya seperti itu. Mereka masih saling berpelukan satu sama lain, dan Jessie senang, ia tak harus melihat ekspresi Henry saat ini.

“Kau tak pernah seperti ini saat bersamaku, Jess.” Lirih lelaki itu.

“Maaf….” Ucap Jessie disela isakannya.

“Kau, mencintainya?”

Jessie melepaskan pelukannya seketika. Ia menatap Henry, kemudian mundur satu langkah.

“Kau, mencintainya, Jess?”

“Aku… Aku…” Jessie tak dapat menjawab, ia bahkan tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan saat ini.

“Sudah sejak lama aku ingin bertanya hal ini padamu. Kau, mencintainya, bukan?”

Jessie menggeleng, air matanya jatuh dengan begitu deras. Ia tidak tahu bahwa Henry bisa menebak apa yang ia rasakan. Apa ia begitu tampak mencintai seorang Steven Morgan? Tidak, ia tidak mencintai Steve. maksudnya, ia hanya menganggap Steve sebagai temannya sendiri. mungkin Steve memang merupakan cinta pertamanya, tapi hanya itu, dan itu sudah terjadi Lima belas tahun yang lalu, ia sudah tidak lagi mencintai Steven Morgan.

“Kau, tidak bisa membohongiku, Jess.”

“Henry…”

“Aku sudah merasakan itu sejak lama.”

Jessie masih menggelengkan kepalanya.

“Kau hanya perlu jujur.”

Jessie kembali memeluk Henry, kemudian ia berkata “Maafkan aku..” entah apa yang membuat Jessie meminta maaf. Apa karena sudah membohongi Henry dengan perasaannya?

***

Setelah melihat pemandangan yang mambuatnya panas karena emosi, Steve segera kembali ke apartmen Jessie. Ia membuka jaket yang ia kenakan kemudian membantingnya dengan kesal.

Sekali lagi, Steve tak menyangka jika Jessie akan melakukan itu. Steve tahu bahwa Jessie masih sangat mencintai mantan tunangannya itu, tapi seharusnya Jessie tak perlu berhubungan secara sembunyi-sembunyi dengan lelaki itu. Jessie seharusnya tahu statusnya yang sudah menjadi seorang istri. Kenapa Jessie tega melakukan hal ini padanya?

Seumur hidupnya, Steve tidak pernah merasakan yang namanya diselingkuhi. Dan kini, Steve merasakan perasaan itu saat melihat Jessie berpelukan dengan mantan kekasihnya.

Steve merasa dikhinati, Steve merasa menjadi orang yang paling bodoh karena sudah diduakan. Padahal Steve belum tahu, apa sebenarnya yang telah terjadi. Mata Steve terlalu dibutakan dengan kata cemburu.

Ya, Steve merasa sangat cemburu. Bahkan ia tak pernah merasakan kecemburuan hingga taraf setinggi ini. Steve tak mengerti, kenapa Jessie bisa begitu mempengaruhinya, membuatnya sakit hingga seperti ini.

Saat Steve masih belum dapat mengendalikan emosinya, saat itulah pintu apartmen Jessie dibuka. Menampilkan sosok Jessie yang baru saja masuk ke dalam.

Steve berdiri seketika, ia menatap Jessie dan wanita itu tampak menatapnya dengan tatapan kesal.

Kenapa?

Apa Jessie tidak suka melihatnya berada di apartmen wanita itu? Apa Jessie berharap bahwa yang ada di sana adalah Henry? Sialan!

Steve mendekat, dan ia bertanya. “Kenapa pulang sendiri? mana teman kencanmu?”

Jessie mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Steve. lagi pula, kenapa Steve bersikap seperti ini kepadanya? Bukankah seharusnya ia yang menyembur Steve dengan kata-kata pedasnya?

“Aku tidak mengerti apa maksudmu.”

“Si Gay itu.” Steve mencoba mengendalikan emosinya. “kau pikir aku tidak tahu tentang pertemuanmu dengan dia?”

“Apa?”

“Kau memeluknya!” ya, meledaklah sudah emosinya.

Hening, setelah seruan keras yang dilontarkan Steve pada Jessie. Jessie menatap Steve dengan mata nanarnya, dan Steve masih sibuk mengendalikan kemarahannya. Napas Steve memburu karena emosi yang mempengaruhinya. Ia masih merasa sangat kesal dan marah saat mengingat bagaimana Jessie memeluk lelaki itu tadi.

“Dengar, Steve. kau tidak bisa mengendalikan apa yang ingin kuperbuat.”

“Kenapa tidak bisa? Kau istriku!”

“Kita menikah bukan karena cinta.”

“Persetan dengan cinta, Sialan!”

Steve menjauh ia mengusap wajahnya dengan frustasi. Bukan ini yang ia inginkan. Tapi ia tidak bisa mengendalikan dirinya. Rasa sakit dan rasa marah mempengaruhinya, membuat Steve tidak bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah.

“Dengar, Jess. Dalam sesaat, kau tahu apa yang sudah kupikirkan? Aku berpikir bahwa kau melakukan… kau… Sialan!” Steve tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia tidak dapat mengatakan pikiran buruk apa yang sedang bersarang dikepalanya.

“Katakan saja. Kau pikir aku selingkuh dengannya?” tantang Jessie.

“Ya.”

Jessie mengangguk. Ia tidak menyangka jika Steve berpikiran sejauh itu. “Kau pikir aku tidur dengannya?”

Steve mendekat, dengan spontan ia mencengkeram kedua bahu Jessie. “Katakan kalau kau tidak melakukan itu!” ucapnya penuh penekanan.

“Kalaupun aku membantahnya, kau tetap akan menuduhkau seperti itu, Steve!” Jessie berseru keras. Ia bahkan sudah melepaskan diri dari cengkraman tangan Steve di bahunya. “Aku tidak menyangka bahwa apa yang dikatakan Donna Simmon siang ini adalah suatu kebenaran.”

Steve memicingkan matanya. “Apa maksudmu?”

“Kau, kau melihatku sebagai wanita murahan yang biasa kau kencani, bukan? Karena itulah kau menuduhku serendah ini dan karena itulah kau meniduriku malam itu!” kali ini, giliran Jessie yang tak mampu membendung amarahnya. Semuanya jadi semakin masuk akal. Tuduhan yang diberikan Steve padanya memperkuat apa yang dikatakan Donna Simmon tadi siang.

“Sial! Jess! Aku menidurimu karena kau menyetujui ide gilaku!”

“TAPI KAU TIDAK MENIDURI DONNA SIMMON!” Jessie berseru keras hingga membuat Steve mematung seketika.

“Apa?” Steve tak mengerti apa yang dikatakan Jessie.

Jessie mencengkeram kemeja yang dikenakan Steve. “KENAPA KAU MENIDURIKU TAPI TIDAK DENGAN DIA?!” Jessie masih tak dapat menahan emosinya.

Steve tak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Kau membuatnya terlihat istimewa, Steve. Sedangkan kau membuatku terlihat seperti perempuan murahan yang menjadi teman kencan semalammu.” Jessie memukuli dada Steve. “Kau membuatku tersakiti dengan kenyataan itu.” Dan Jessie tak mampu menahan airmatanya lagi. Tangis yang sejak siang tadi keluar karena perkataan Donna Simmon.

“Kau, kau ingin aku menidurinya?”

Jessie membatu dengan pertanyaan itu. Ia tidak tahu apa yang ia inginkan. Jessie sangat yakin bahwa ia tidak ingin melihat Steve meniduri wanita lain, tapi di sisi lain, apa yang dikatakan Donna Simmon tentang ‘keistimewaan’ wanita itu membuat Jessie kesal.

“Katakan! Apa kau ingin aku tidur dengannya?” tanya Steve sekali lagi.

“Jika kau ingin menidurinya, maka silahkan saja! Kau pikir aku peduli denganmu?” masih dengan emosi, Jessie menjawab pertanyaan Steve.

Steve mundur satu langkah. “Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku akan melakukannya.”

“Ya. Pergi saja sana!” Jessie berseru keras. Ia bahkan sudah membalikkan tubuhnya membelakangi Steve. sedangkan Steve, ia mundur perlahan, tak menyangka jika dirinya begitu tak berarti untuk Jessie. Haruskah ia melakukan apa yang diinginkan oleh wanita itu?

-TBC-

jangan pada darah tinggi yaakkk hahahhaha

Sleeping with my Friend – Bab 16

Leave a comment Standard

 

Bab 16

Lumatan mereka semakin intens, semakin panas, seakan keduanya tak ingin mengakhiri tautan bibir masin-masing. Jessie yang pertama kali sadar dari buaian asmara tersebut, segera ia melepaskan diri, membiarkan tautan bibir mereka terputus, dengan napas yang sama-sama saling terengah.

“Steve, aku lapar.” Ucapnya kemudian.

Jessie tidak bohong tentang dirinya yang sudah kelaparan, tapi sebenarnya, Jessie sempat melupakan rasa laparnya ketika Steve mencumbunya dengan begitu panas seperti tadi. Ia merasa bahwa malam ini, tak apa ia melewatkan makan malamnya, asalkan ia bisa bercumbu mesra dengan Steve sepanjang malam. Tapi Jessie juga harus memikirkan bayi yang dikandungnya. Bayinya membutuhkan nutrisi, dan ia harus makan untuk memenuhi nutrisi bagi bayinya tersebut.

“Aku… Maaf, aku terbawa suasana.” Ucap Steve dengan suara parau.

Jessie tentu merasakan bagaimana lelaki di hadapannya ini menegang seutuhnya, ereksinya menempel pada perut Jessie, keras, berkedut, membuat Jessie tak kuasa menahan diri untuk membungkusnya. Hanya saja, mereka bukan lagi remaja yang dimabuk asmara. Ada bayi diantara mereka, ada masalah yang harus mereka bahas sebelum kembali berakhir di atas ranjang.

Jessie mengusap lembut pipi Steve, ia berkata “Akupun demikian. Aku juga terbawa suasana, aku juga menginginkanmu. Mungkin karena hormon, atau yang lain. Aku tidak tahu. Tapi kita tidak bisa selalu menyelesaikan masalah dengan seks.” Ucap Jessie pelan agar Steve mengerti apa yang ia maksud.

Steve menganggukkan kepalanya. Jessie benar, sangat benar. “Baiklah. Kau lapar sekali?”

“Ya. Sangat lapar.” Kali ini Jessie mengusap perutnya dengan manja.

Steve tersenyum. Ia ikut mengusap perut Jessie dan berkata “Maafkan Daddymu yang kurang ajar ini, oke?” Steve berkata pada bayinya, lalu ia menatap ke arah Jessie. “Kau duduk saja. Aku yang akan menghangatkan makanannya dan menyiapkan sisanya.”

Jessie tersenyum bahagia. Steve sudah kembali, dan lebih baik lagi, lelaki ini bersikap begitu perhatian padanya. Jessie senang, sangat senang.

***

Setelah makan malam. Jessie dan Steve segera menuju ke kamar. Ini sudah hampir jam tiga dini hari, jadi mereka tak akan menghabiskan waktu untuk bercakap-cakap atau bahkan menonton TV lagi.

Bagi Jessie, ia tak butuh lagi penjelasan tentang sikap aneh Steve spanjang hari ini. kenapa lelaki itu tiba-tiba minum hingga larut. Yang terpenting adalah, bahwa Steve sudah kembali seperti semula. Lelaki itu sudah membaik, dan hal itu sudah cukup untuk Jessie.

Tanpa canggung, Jessie mendahului Steve, berjalan di depan lelaki itu, kemudian membuka bajunya sendiri. Meninggalkan dirinya hanya dengan bra dan celana dalamnya saja. Jessie berjalan menuju ke meja rias, mengambil sebotol minyak zaitun dengan aroma mawar, lalu menuju ke arah ranjang, dan duduk dengan pose seksinya, setidaknya dimata Steve seperti itu.

Jessie tampak sedang menggodanya, entah benar atau tidak, hanya wanita itu yang tahu. Tapi demi Tuhan! Steve merasa ketegangan yang tadi sempat lenyap karena makan malam, kini kembali bangkit. Ia kembali bereresi hanya karena melihat Jessie berjalan setengah telanjang di hadapannya.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Steve bingung, ketika mendapati Jessie sibuk membuka kemasan botol minyak zaitun tersebut.

Steve berjalan mendekat, ikut duduk di pinggiran ranjang dan mengamati apa yan akan dilakukan Jessie.

“Tadi aku ke butik, karena tak ada yang bisa kukerjakan dan aku cukup bosan di sana, aku memilih menghabiskan siangku untuk mengobrol dengan Miranda sesekali mencari informasi tentang kehamilan. Salah satu artikel menyebut bahwa nanti, perutku akan sering terasa gatal, dan aku tak boleh menggaruknya karena akan meninggalkan bekas luka.”

Well, sepertinya aku juga harus banyak membaca tentang artikel kehamilan. Aku ingin kau melewatinya bersamaku.”

Jessie mengangguk. “Dan, dengan minyak zaitun ini, bisa mengurangi rasa gatal tersebut.”

“Jadi, kau akan melumurkan ke tubuhmu?”

“Kau keberatan?” Jessie bertanya balik.

“Tidak.” Steve menjawab cepat. “Kau ingin, aku melakukannya untukmu?” tanya Steve kemudian.

“Kau, bisa melakukannya?” Jessie bertanya balik.

Steve merebut botol tersebut dari tangan Jessie. “Mari kita lihat, seberapa mahir aku melakukannya.”ucapnya sembari membuka botol tersebut, menuangkan isinya pada permukaan perut Jessie hingga membuat Jessie memekik seketika.

“Ohhh…” Jessie mengerang. Apalagi saat jemari Steve mulai mengusap perut hamilnya. “Astaga, ini bagus sekali.” Jessie tak tahu apa yang sudah ia katakan. Ia bahkan sudah memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di atas ranjang.

Steve mengangkat sebelah alisnya. “Bagus?”

“Ya ampun, rasanya nikmat.”

“Nikmat?” sekali lagi Steve menatap Jessie penuh tanya. Jemarinya masih mengusap lembut perut Jessie sedangkan pangkal pahanya sudah berdenyut nyeri menatap ekspresi nikmat yang ditampilkan oleh istrinya tersebut.

Ya ampun! Jessie benar-benar sedang menggodanya.

“Oooh..” Jessie kembali mengerang ketika jemari Steve dengan nakal merayap naik menelusup kedalam bra yang ia kenakan. “Kau, terlalu ke atas, Mr. Morgan.” Desah Jessie dengan terpatah-patah.

“Heemmm, aku suka merayap ke atas.” Steve menuangkan lagi minyak zaitun di tangannya, kemudian kembali memijat pelan perut Jessie. “Kau, sangat indah.” Steve mengerang. Dengan nakal jemarinya turun mengusap lembut pusat diri Jessie.

“Astaga. Apa yang kau lakukan? Ohhh..” Jessie mengerang, menggigit bibir bawahnya. Ia bahkan membiarkan ketika Steve dengan cekatan menurunkan celana dalam yang ia kenakan, menyisakan Jessie hanya dengan branya saja. “Steve, apa yang kau lakukan?” tanya Jessie dengan napas yang sudah terengah.

Steve hanya sedikit menunggingkan senyumannya. Ia kembali menuangkan minyak zaitun, lalu mengusapkannya pada sepanjang kaki Jessie dengan gerakan memijat, pelan, pasti dan sangat menggoda.

“Aku ingin membuatmu rileks.”

“Ohh, kau membuatku terbakar.” Jessie melemparkan kepalanya ke belakang saat dengan panas Steve kembali menyentuhkan jemarinya yang licin karena minyak zaitun pada pusat dirinya.

Steve menggodanya, sedangkan jemari lelaki itu yang lain memijat kakinya.

“Steve!! Astaga!” Jessie bahkan akan sampai pada pelepasan pertamanya karena permainan Steve yang lembut tapi sangat menggodanya.

“Ya? Sayang?” Steve kembali mengoda, ia kembali ke atas, dan membantu Jessie melepaskan branya, hingga wanita itu sudah telanjang bulat di bawah matanya. Steve menuang lagi minyak zaitun tersebut tapi langsung pada permukaan payudara Jessie yang padat berisi. Membuat Jessie memekik karena sensasinya.

“Ya Tuhan!” Entah berapa kali Jessie mengerangkan kata itu. Nyatanya ia merasa bahwa gairahnya meningkat lagi dan lagi ketika jemari Steve dengan minyak Zaitun tersebut menyentuh permukaan kulitnya.

Steve mengusapnya lagi dan lagi, menggodanya dengan gerakan lembut tapi panas, membakar apapun yang ia sentuh termasuk tubuh Jessie.

“Katakan, Sayang. Apa yang kau inginkan?” tanya Steve sebelum mendaratkan bibirnya pada puncak payudara Jessie.

“Ohhh.. Kau. Aku menginginkanmu! Demi Tuhan!” Jessie terengah. Ia sangat jujur, Jessie benar-benar menginginkan Steve saat ini. Jemari Steve bekerja dengan begitu sempurna, menggoda Jessie, membuat Jessie menginginkan lelaki itu untuk berada di dalamnya saat ini juga. Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya?

Secepat kilat Steve bangkit, sempat membuat Jessie menatapnya dengan tatapan kecewa karena Steve menghentikan kenikmatan yang diberikan oleh lelaki itu pada tubuh Jessie. Tapi Steve hanya sedikit tersenyum mirir, penuh arti. Lalu melucuti pakaiannya sendiri kemudian kembali menindih tubuh Jessie.

Tanpa banyak bicara, Steve mulai menyatukan diri. Steve tahu bahwa Jessie sudah hampir klimaks karenanya. Karena itu ia tak ingin membuang waktu lagi.

Keduanya mengerang panjang dengan penyatuan yang begitu erotis. Jessie sempat meracau ketika Steve terasa penuh mengisinya, tegang didalamnya, dan lelaki itu tak membuang waktu untuk menggerakkan dirinya.

“Ya Tuhan! Aku sangat menginginkanmu, Jess!” Steve berseru, sebelum ia menggapai bibir Jessie dan melumatnya penuh gairah. Sedangkan yang dilakukan Jesie hanya pasrah, menerima kenikmatan yang diberikan oleh suaminya, dengan sesekali membalasnya. Hingga percintaan mereka menjadi percintaan panas yang mampu membakar apa saja yang ada di antara mereka…

***

Menjelang pagi, Jessie bangung. Ia merasakan jemari Steve mengusap-usap perutnya dengan lembut, membuat Jessie dirayapi rasa geli yang bercampur dengan gairah.

Astaga, semalaman mereka sudah bercinta dengan panas, tapi Jessie merasa masih kurang. Mungkin karena hormon yang mempengaruhinya. Tapi Steve seakan tahu apa yang diinginkan Jessie.

Jessie bahkan sudah merasakan bukti gairah lelaki itu yang tegang menempel pada bagian belakang tubuhnya, membuat Jessie menggeliat dan menolehkan kepalanya ke belakang.

“Steve, kau bangun lagi?”

Steve tersenyum. “Tidak. Tidur saja. Aku ingin memeluk kalian.”

Jessie sangat senang dengan kalimat terakhir Steve. Ia merasa sangat disayangi, bukan hanya fisiknya saja, tapi semuanya. Jessie memposisikan diri untuk tidur lebih nyaman lagi, dan tak lama, kesadarannya mulai menghilang.

Pada saat itu, sama-samar Jessie mendengar ucapan Steve yang entah mengapa terdengar begitu manis dan membuatnya tersenyum dalam tidurnya. Astaga, itu pasti mimpi. Jika iya, maka itu adalah mimpi terindah yang pernah didapatkan oleh Jessie.

‘Jess, kupikir, aku mencintaimu.’

***

Wajah Jessie tak berhenti merona ketika mengingat kejadian panas semalam yang ia lakukan dengan Steve. bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyum bahagia. Telapak tangannya sesekali mengusap pipinya sendiri saat ia tak kuasa menahan rasa malunya saat mengingat kejadian itu.

Astaga, bagaimana mungkin ia melakukan malam yang sangat panas dengan seorang Steven Morgan? Steve benar-benar menjadi sosok suami baginya saat ini. Jessie tak bisa lagi melihat Steve sebagai temannya. Dan sepertinya lelaki itu juga merasakan hal yang sama seperti apa yang ia rasakan saat ini.

Tuhan! Ini gila!

Jessie bahkan tak dapat memikirkan hal lain selain kejadian semalam. Membuat Jessie ingin melakukannya lagi. Memberi Steve alasan untuk memijatnya dengan minyak Zaitun, pasti lelaki itu akan melakukannya lagi nanti malam.

Jessie menggelengkan kepalanya saat pikiran mesum mulai menguasainya. Sesekali ia mengusap perutnya dan berterimakasih pada bayinya karena sudah memberikan kesempatan dirinya untuk merasakan pengalaman yang sangat luar biasa.

Ketika Jessie asyik melamunkan malam panasnya dengan Steve, pintu ruangannya di buka, menampilkan sosok Miranda di sana.

Saat ini, Jessie memang sedang berada di butiknya. Meski belum banyak pekerjaan yang dapat ia kerjakan, tapi Jessie tetap ingin berangkat ke butiknya daripada harus seharian di dalam apartmennya dan mati karena bosan.

Steve sendiri tadi yang mengantarnya. Lelaki itu bahkan bersikap manis pagi ini dengan mengecup lembut puncak kepalanya lalu mengecup perutnya juga. Astaga, sejak kapan Steve menjadi semanis itu terhadapnya.

Kembali lagi pada Miranda, wanita itu berjalan mendekatinya dan berkata “Kau benar-benar sedang berpikir yang tidak-tidak, ya? Wajahmu merah padam, Jess.”

Jessie kembali menangkup pipinya sendiri, merasakan panas menjalar di area wajahnya. Ya, ia memang sedang memikirkan hal-hal tak masuk akal dengan Steve.

Jessie tersenyum ke arah Miranda. Ia berkata “Maaf, kau tahu sendiri, kan. Ibu hamil.” Jawabnya sembari mengangkat kedua bahunya.

“Ya, ya, ya, aku mengerti.” Kata Miranda dengan tawa lebarnya. “Sekarang, bangkitlah. Ada yang ingin bertemu denganmu.”

“Siapa?” tanya Jessie dengan sedikit penasaran. Ia tidak memiliki janji sebelumnya. Dan Jessie berpikir bahwa ia belum siap untuk bekerja lagi sepenuhnya seperti sebelum ia hamil. Keadaannya saat ini sangat labil. Ia mudah lelah, perasaannya sering kacau, dan ia lebih suka melamunkan tentang hal panas. Tentu saja hal itu akan sangat mengganggu jika Jessie memutuskan untuk bekerja penuh seperti sebelum ia hamil.

“Mungkin seorang calon pengantin. Dia tidak menyebutkan namanya. Dia hanya ingin membahasnya denganmu.”

“Ohh, kalau begitu, suruh saja dia masuk.”

Dan tak lama, Miranda kembali keluar, lalu mempersilahkan seseorang masuk ke dalam ruangan Jessie. Jessie segera berdiri, ia akan menyambut hangat calon pelanggannya. Tapi ketika ia tahu siapa yang datang menemuinya, tubuh Jessie membeku seketika.

Itu Donna Simmon, mantan keksih Steve. mantan? Tunggu dulu, bahkan Jessie tak yakin jika Steve sudah memutuskan Donna. Jessie bahkan melupakan hal sepenting itu selama ini. ia tidak tahu apa Steve sudah tidak memiliki hubungan dengan wanita lain selain dirinya atau tidak.

Yang menjadi pertanyaan untuk Jessie adalah, kenapa Donna Simmon datang ke butiknya? Apa yang diinginkan wanita itu? Apa wanita itu akan membahas tentang Steve dengan dirinya? Apa wanita itu sudah tahu tentang pernikahan kilatnya dengan Steve? atau, apa wanita itu datang kemari untuk menyiapkan gaun pernikahan yang akan wanita itu pakai dengan Steve yang menjadi mempelai prianya?

Tidak! Tidak! Bukan itu yang akan terjadi, kan? Steve tidak akan mungkin mengkhianatinya, atau lebih mengerikan lagi, menikah diam-diam di belakangnya. Tidak! Bukan itu yang akan terjadi.

***

Steve pulang malam. Ia benar-benar kesal karena hari ini mendapat klien yang sangat cerewet dan susah diatur. Sepasang kekasih itu sedang melakukan foto prawedding. Tentu saja mereka dari kalangan konglongmerat karena berani memakai jasanya yang bisa dibilang sangat mahal untuk sebuah foto prawedding.

Mereka mengambil banyak sekali scene. Saat Steve mencoba mengarahkan, si wanita arogan itu malah menolaknya mentah-mentah. Entah jadi apa nanti hasil tangkapan kameranya. Steve tak peduli. Ia benar-benar kesal mendapati klien yang sok tau seperti itu.

Steve sudah sempat menghubungi Jessie, tapi wanita itu tak mengangkat teleponnya. Mungkin Jessie sudah pulang naik taksi, tapi saat Steve sampai di apartmen wanita itu, Jessie tak ada.

Akhirnya, Steve memutuskan untuk menyusul Jessie ke butik wanita itu. Apa Jessie sudah mulai bekerja lagi? Jika iya, kenapa wanita itu bekerja hingga larut? Harusnya Jessie memikirkan tentang keadaannya, tentang kehamilannya, tentang bayi mereka. Steve mendengus sebal, sepertinya ia harus lebih protektif lagi kepada Jessie agar wanita itu mengerti bahwa yang utama saat ini adalah diri Jessie dan juga bayi mereka.

Ketika Steve akan sampai di butik Jessie. Dari jauh ia sudah melihat lampu butik wanita itu sudah padam. Yang artinya, Jessie sudah menutup butiknya. Kemudian Steve segera menghentikan mobilnya saat melihat bayang Jessie keluar dari dalam butiknya. Yang membuat Steve menegang adalah, wanita itu tidak sendiri, ada Henry di sana. Sialan, mereka sedang melakukan apa? Pikir Steve.

Steve hanya mengamati dari jauh. Jessie tampak mengikuti Henry menuju ke arah mobil tersebut. Dan ketika keduanya sudah berada di dekat mobil, tanpa diduga, Jessie melemparkan diri pada Henry, memeluk lelaki itu dengan erat.

Steve tak tahu apa yang sedang terjadi, ia bahkan tak ingin memikirkan apapun saat ini. Jessie tak mungkin mengkhianatinya, Jessie tak mungkin menduakannya.

Sialan!

Tapi Steve tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa apa yang ia lihat dengan mata kepalanya saat ini adalah hal yang nyata. Hal yang begitu menyakiti hatinya dan melukai harga dirinya.

Steve marah, sangat marah.

Seharusnya, jika Jessie tidak memiliki perasaan untuknya, wanita itu tak perlu bersikap seperti begitu menginginkannya. Steve ingat dengan jelas, bagaimana semalaman mereka berdua bercinta dengan panas, bagaimana Jessie memohon padanya untuk segera dipuaskan. Hal itu membuat Steve melambungkan perasaannya, berpikir bahwa Jessie sudah mulai membuka hati untuknya.

Nyatanya, setelah melihat kejadian ini, Steve merasa bahwa Jessie hanya berusaha membohongi dirinya. Membuatnya terlihat bodoh dengan rasa cinta yang ia rasakan dan bertepuk sebelah tangan.

Sial!

Cinta?

Ya Tuhan! Kenapa ia harus mengaku jatuh cinta pada saat seperti ini?

Kenapa ia harus jatuh cinta pada Jessie, wanita yang bahkan selalu melihatnya sebagai teman? Kenapa harus seperti ini?

-TBC-

Yuuuhuuuu adakah hatinya yang ikutan ‘kreeteekkk-kreeetekkk’ kayak Stipe??

Sleeping with my Friend – Bab 15

Leave a comment Standard

 

“Dia bahkan berkata bahwa dia tak peduli tentang kehamilanku. Dia tetap ingin menikahiku meski aku hamil dengan lelaki lain. Dia sangat mencintaiku, dan aku sudah menyakitinya.”

Sesuatu yang retak kembali terasa di dalam dada Steve. Steve merasakan perasaan yang sama ketika ia melihat Jessie dan Henry berciuman pada sore itu. Jessie benar-benar mencintai Henry, Steve tahu itu. Dan kini, ia sudah menghancurkan semuanya, membuat Jessie tersakiti karena perpisahannya dengan kekasih yang begitu wanita itu cintai. Steve tahu bahwa semua ini karena salahnya. Ia sudah menyakiti Jessie dengan cara yang paling buruk. Bagaimana mungkin ia menjadi seberengsek ini?

Bab 15

Untuk pertama kalinya setelah pernikahan mereka, Steve tidak ingin menyentuh Jessie. Mereka bahkan tidur saling memunggungi satu sama lain.

Setelah puas menangis, Jessie tertidur dalam pelukan Steve. Jessie banyak bercerita tentang apa yang terjadi sepanjang siang ini. Bagaimana cara wanita itu menjelaskan pada Henry, bagaimana reaksi lelaki itu. Dan Steve hanya diam, mendengarkan bagaimana kecewanya Jessie atas apa yang sudah menimpa hubungannya dengan Henry.

Jessie sangat kecewa, Jessie sangat sedih. Setidaknya, hal itulah yang bisa ditangkap Steve. Wanita itu tak berhenti menangis, hingga lelah dan tertidur dalam pelukan Steve. setelah itu, Steve menidurkan Jessie kembali ke atas ranjang. Kemudian, Steve memilih tidur di sebelahnya dengan posisi memunggungi Jessie.

Ia tidak ingin melihat Jessie saat wanita itu bersedih karena pria lain, ia tidak ingin melihat tangis Jessie yang bersumber dari dirinya. Sial! Steve benar-benar menjadi orang yang sangat berengsek.

Seharusnya, sebelum memutuskan untuk menikahi Jessie, ia harus memikirkan perasaan wanita itu dulu. Kini, Jessie hancur karenanya, dan lebih menyebalkan lagi bahwa ia juga merasakan perasaan sakit ketika Jessie tersakiti.

Steve mendesah panjang, ia memilih memejamkan matanya, tidur dan melupakan semuanya. Ya, ia harus melupakan semuanya…

***

Keesokan harinya, Jessie terbangun saat hari sudah siang. Ia terbangun sendiri. Jessie mencari Steve tapi lelaki itu tak ada di kamarnya. Apa Steve sedang sedang ada pekerjaan?

Jessie menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu ia menuju ek arah dapur dan akan memasak sarapan untuk dirinya sendiri. rupanya, Steve sudah menyiapkan sarapan untuknya di meja makan.

Astaga, sejak kapan lelaki itu menjadi semanis ini? Jessie tersenyum sendiri. ia mendapati note yang ditempelkan Steve pada pintu lemari pendinginnya. Steve berkata bahwa lelaki itu ada jadwal pemotretan, jadi ia harus pergi pagi-pagi sekali. Jessie mengerti jika Steve adalah oraang yang sibuk. Akhirnya, Jessie memilih duduk di kursi meja makan sembari menikmati sarapan buatan Steve.

Kemudian, ia kembali teringat dengan Henry.

Ohh, lelaki itu.

Saat Jessie mengingat tentang Henry, saat itulah perasaannya kembali kacau. Jessie benar-benar merasa bersalah kepada mantan tunangannya tersebut. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Semuanya sudah terjadi, jadi apa yang ia lakukan sudah benar, yaitu mengakhiri hubungannya dengan Henry.

Jessie menghela napas panjang. Bacon panggang dengan saus keju buatan Steve bahkan terasa hambar setelah ia mengingat tentang Henry. Sepertinya ia harus keluar, mencari udara segar agar bisa melupakan tentang masalahnya.

Jessie lalu bangkit, ia bersiap untuk mengganti pakaiannya. Sepertinya ia akan menuju ke butiknya. Bercakap-cakap dengan Miranda, atau mungkin menanyakan tentang Carmella Jackson, teman Miranda saat itu yang tampak serasi berdansa dengan Frank, kakaknya.

***

Di lain tempat….

“Jadi mereka benar-benar sudah menikah?” Donna bertanya sekali lagi pada Natalia, kekasih Hank.

“Ya. Maaf. Aku tidak berani memberitahumu. Ini adalah masalah pribadimu dengan Steve, jadi kupikir, aku tidak memiliki kapasitas untuk mengatakannya secara langsung kepadamu.”

“Nath! Bagaimana mungkin kau menyembunyikan hal seserius ini? Astaga! Aku sudah sangat tertarik dengan Morgan! Aku sudah banyak berharap padanya, dan kemarin dia memutuskan hubungan kami.”

“Maaf. Sejujurnya, aku dan Hank juga tidak tahu, kenapa semua jadi rumit seperti ini. yang kutahu dari Hank, Jess hamil, dan ya, kau tahu, Steve harus menikahinya.”

“Apa?! Jadi mereka menikah karena bayi?”

“Aku tidak tahu, Donna. Sungguh. Dan aku tak mau ikut campur masalah mereka. Maksudku, Steve bebas memilih harus dengan siapa dia menikah.”

“Maksudmu kau mendukung pernikahan mereka?”

“Mereka akan memiliki bayi, Donna. Hal yang paling masuk akal adalah menikah.”

“Tapi dia kekasihku, Nath! Dan kau temanku.”

Sungguh. Natalia tak tahu harus bersikap bagaimana dan berkata apalagi. Ia benar-benar tak ingin tahu dan ikut campur masalah Steve, Jessie dan Donna. Tapi disisi lain, ia juga merasa bersalah karena sudah mengenalkan Donna pada Steve.

“Lalu apa yang ingin kau lakukan? Hubungan kalian sudah berakhir. Dan biar kukoreksi, kupikir kalian saat itu belum benar-benar menjadi sepasang kekasih.”

“Kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa Steve tidak meniduriku karena ingin membangun hubungan serius. Dia menghormatiku. Karena itulah dia tidak meniduriku.”

“Ya. Awalnya memang seperti itu. Tapi sekarang sudah berbeda, Donna. Dia tak lagi membutuhkan seseorang untuk membangun hubungan yang serius. Satu-satunya orang yang dia butuhkan adalah Jessie, istrinya. Jadi, saranku, lebih baik kau melupakannya.”

Melupakannya? Melupakan Steven Morgan? Yang benar saja. Lelaki itu adalah lelaki tampan, panas, dan mapan. Mana mungkin Donna bisa melepaskannya begitu saja saat lelaki itu sudah berada di dalam genggaman tangannya?

***

Jessie menghabiskan siangnya di ruang kerjanya yang berada di dalam butiknya. Tak banyak ia kerjakan, karena Jessie memang belum membuka pesanan lagi untuk baju-baju yang akan ia rancang.

Jessie ingin menikmati waktunya. Seperti yang dikatakan dokter, ia tidak boleh terlalu stress, atau kecapekan. Steve juga selalu berkata seperti itu.

Mengingat tentang Steve, Jessie melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Tapi Steve belum juga menghubunginya sejak tadi pagi. Apa lelaki itu sangat sibuk?

Akhirnya Jessie memutuskan untuk menghubungi lelaki tersebut.

“Halo.” Panggilannya diangkat pada deringan kedua.

“Hai.” Jessie membenarkan tatanan rambutnya, padahal ia tahu bahwa Steve tak sedang melihatnya. Tapi tetap saja, dengan spontan ia melakukannya, merasa bahwa Steve beisa melihatnya dari seberang telepon.

“Jess? Ada masalah?”

Tidak, tentu saja tidak. Hanya saja, Jessie merasa bahwa ia ingin sekali mendengar suara Steve saat ini. Astaga, Jessie tak pernah menginginkan keinginan yang menggelikan seperti itu, entah kenapa saat ini ia sangat menginginkannya.

“Tidak. Aku hanya ingin mendengar suaramu.” Jessie menjawab dengan jujur. Tapi kejujurannya membuat Steve membisu cukup lama. Jessie mengerutkan keningnya. Tak biasanya Steve bersikap seperti itu padanya. “Kau, masih di sana?” tanya Jessie kemudian.

“Ya. Uuum, Jess. Aku sedang ada pekerjaan, jadi kupikir…”

“Baiklah. Matikan saja. Aku sudah cukup.” Jessie merasa bahwa Steve tak sedang ingin diganggu. Padahal Jessie masih ingin berbicara dengan lelaki itu, meski ia tidak tahu apa yang harus ia bicarakan.

Ya Tuhan! Jika dulu akan ada banyak sekali topik pembicaraan yang ia bahas dengan Steve, maka sekarang semuanya seakan lenyap ditelan oleh kecanggungan.

“Maaf, tapi jika sudah selesai, aku akan menghubungimu.”

“Ya. Baiklah.” Dan setelah itu, panggilan diakhiri.

Jessie menghela napas panjang. Entah perasaannya saja atau Steve tampak berbeda dengan biasanya. Lelaki itu, tampak sedang menghindarinya. Tapi kenapa? Apa yang sudah ia lakukan sampai Steve ingin menghindarinya?”

***

Di Studionya. Steve memijat pelipisnya. Ia merasa pusing. Ia bergairah pada Jessie, seperti biasanya, tapi ia tidak bisa menyalurkannya karena ia tahu bahwa ia sangat berengsek!

Steve merasa sudah memanfaatkan Jessie dengan menghamili wanita itu lalu mengikatnya dalam tali pernikahan. Steve merasa menjadi seorang bajingan karena sudah membuat Jessie berpisah dengan kekasih yang begitu wanita itu cintai. Dan hal itu benar-benar membuat Steve muak.

Sial! Steve benar-benar tak tahu bahwa Jessie mencintai Henry begitu dalam. Hal itu membuat Steve benar-benar tersakiti. Entah kenapa ia merasa sakit, yang pasti, ia benar-benar tersakiti karena rasa cinta sialan Jessie pada Henry. Hal itulah yang membuat Steve bersikap seperti pengecut, menghindari istriya yang sedang hamil muda dan membutuhkan dirinya.

Steve mengusap kasar rambutnya. Ia benar-benar kesal dengan dirinya sendiri, tapi disisi lain, ia juga merasa kesal dengan Jessie. Kenapa Jessie harus begitu mencintai lelaki itu? Ya ampun, bahkan menurut Steve, Henry tak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya. Harusnya Jessie lebih memilihnya, harusnya Jessie senang menikah dengannya, bukan sedih dan tertekan seperti yang ia lihat semalam.

Steve kembali mengusap rambutnya dengan frustasi. Sepertinya ia butuh minum. Ya, Hank mungkin mau menemaninya minum sebentar di bar.

***

Sorenya….

Jessie menyibukkan diri di dapur apartmennya. Sore ini ia ingin memasak, karena nanti malam ia ingin makan malam bersama dengan Steve. Jessie menghela napas panjang. Ia sudah menjadi seorang istri sekarang, calon ibu, jadi Jessie ingin memposisikan diri seperti statusnya.

Mungkin, akan ada banyak kecanggungan kedepannya, tapi Jessie mencoba mengabaikannya. Bagaimanapun juga, Steve sekarang adalah suaminya, bukan lagi teman dekatnya. Jadi ia harus memperlakukan Steve seperti status lelaki itu.

Sepanjang siang, Jessie banyak bercerita dengan Miranda. Dulu, Jessie biasanya bercerita dengan Frank, kakaknya. Tapi Jessie tak ingin lagi bercerita dengan kakaknya itu, karena Jessie tahu bahwa Frank akan menggodanya. Selain Frank, Jessie juga terkadang bercerita dengan Emily, adik Steve. tapi sekarang, ia tidak bisa menceritakan tentang hubungannya dengan Steve pada Emily, Lily adalah adik Steve, akan sangat canggung jika menceritakan hubungan mereka pada wanita itu.

Satu-satunya orang yang bisa Jessie percaya untuk mendengarkan ceritanya adalah Miranda. Beruntung Miranda adalah pendengar yang baik, bahkan Miranda banyak menyarankan apa yang harus Jessie lakukan kedepannya. Dan saran-saran tersebut nyatanya cukup masuk akal.

Miranda membenarkan apa yang ia lakukan pada Henry. Memutuskan hubungan dengan lelaki itu adalah hal yang paling benar. Agar kedepannya tak ada lagi yang tersakiti. Yang harus Jessie lakukan saat ini adalah fokus kepada kehidupan barunya dengan Steve dan calon bayi mereka, itulah yang disarankan Miranda.

Dan seperti inilah, Jessie berakhir di dapurnya, berperang dengan pan dan pisau yang hampir tak pernah ia gunakan. Jessie memang bukan wanita yang pandai memasak, tapi bukan berarti ia tidak bisa masak.

Saat pulang ke Pennington, ia sesekali memasakkan Daddynya dan juga Frank. Meski begitu, Jessie bukan tipe orang yang hobby masak. Ia adalah wanita karir, yang lebih sering makan diluar daripada menghabiskan waktu di dapurnya.

Tapi karena saran Miranda, ia akan mulai menggunakan dapur kecil di apartmennya untuk memasak makan malam untuk dirinya dan juga Steve.

Jessie memasak dengan sesekali melirik ke arah ponselnya yang memutar chanel youtube untuk orang-orang memasak. Malam ini, ia akan membuat Steak dengan saus jamur. Tak ada yang special, tapi setidaknya ia membuatkan masakan itu untuk Steve, dan baginya itu sudah cukup special.

Dengan Henry saja, Jessie tidak pernah memasak, masakan berat seperti ini. Astaga, Henry lagi.

Jessie menghela napas panjang. Ia kembali melanjutkan acara memasaknya. Sebenarnya, sepanjang siang, ia sedikit bingung dengan sikap Steve yang terkesan menghindarinya, tapi kemudian Jessie berpikir positif saja. Mungkin, Steve memang sedang banyak pekerjaan, mengingat mereka sempat cuti lebih dari seminggu untuk pernikahan mereka.

Ingin melupakan tentang Steve dan juga Henry, Jessie memilih menuju ke arah home teater miliknya, memutar lagu romantis, dan kembali ke area dapurnya. Sesekali Jessie bersenandung, sembari menyiapkan masakannya. Ia akan membuatkan Steak yang paling enak untuk Steve, karena lelaki itu sudah bekerja keras. Dan Jessie juga tak melupakan perhatian special yang diberikan lelaki itu selama Jessie menjadi istrinya.

***

Hingga jarum jam menunjukkan pukul satu malam, Steve belum juga pulang. Jessie sudah beberapa kali menghubungi lelaki itu, tapi ponselnya tak diangkat. Jessie khawatir, ia juga bingung, sebenarnya apa yang terjadi dengan Steve?

Sesekali Jessie berjalan mondar-mandir di ruang tengah apartmennya. Apa Steve pulang ke apartmennya sendiri? mungkin saja. Tapi tadi siang lelaki itu berkata akan menghubunginya, dan hingga kini, Steve tak sekalipun menghubungi Jessie.

Makanan yang berada di atas meja makan sudah dingin, Jessie tak peduli. Jessie bahkan tak mempedulikan perutnya yang sudah kelaparan, karena yang paling ia pedulikan saat ini adalah keadaan Steve.

Saat Jessie sibuk dengan pikirannya sendiri, pintu apartmennya dibuka dari luar. Tampak sosok Steve berdiri dengan wajah yang sudah ditekuk, baju yang sudah sedikit berantakan. Apa yang terjadi dengan lelaki itu?

Jessie berjalan mendekat, dan ia tahu bahwa Steve baru saja selesai minum. Mengingat cara berdiri lelaki itu yang tidak seimbang.

“Dari mana saja, kau?” Jessie bertanya dengan nada tinggi.

“Aku, minum. Dengan Hank.”

“Oh Ya Ampun! Apa kau tidak bisa mengangkat telepon dariku? Aku meneleponmu ribuan kali. Kau pikir aku tidak khawatir denganmu?”

Steve hanya menunduk. Ia tidak menjawab kemarahan Jessie, karena ia masih merasa bersalah. Steve merasa menjadi orang yang brengsek karena sudah menghamili Jessie dan memaksa menikahi wanita itu, karena itulah Steve minum malam ini.

“Apa yang terjadi denganmu, Steve? kau memiliki masalah? Kau bisa bercerita padaku.” Jessie menurunkan nada bicaranya.

“Aku mau mandi.” Steve hanya melewati Jessie begitu saja. Dan yang bisa Jessie lakukan hanya menatap bayang punggung Steve yang semakin menjauh. Apa yang terjadi dengan lelaki itu?

***

Steve menenggelamkan diri di dalam bathub. Rasa pusingnya sedikit ringan setelah ia berendam cukup lama di dalam bathub Jessie. Entahlah, Steve merasa tak tahu bagaimana caranya menghadapi Jessie. Mungkin, saat ini Jessie masih bisa bersikap biasa-biasa saja dan tidak mementingkan perasaannya, tapi Steve tahu, cepat atau lambat Jessie akan bosan dengan pernikahan mereka yang tidak dilandasi dengan cinta.

Mungkin juga, diam-diam, Jessie akan bertemu dengan Henry, lelaki yang begitu dicintai wanita tersebut. Dan Steve tidak bisa memikirkan hal itu. Jika Jessie memutuskan untuk mengkhianatinya, maka lebih baik semuanya selesai.

Oh Sial! Apa yang sudah ia pikirkan?

Akhirnya Steve memilih bangkit. Ia harus segera mengenyahkan pikiran buruknya. Meski Jessie mencintai lelaki itu, tapi Jessie tak akan berbuat seperti yang ia pikirkan.

Setelah mengeringkan tubuhnya dan mengenakan celana pendek santainya, Steve keluar tanpa mengenakan atasan apapun. Ia segera mencari Jessie, dan mendapati wanita itu sibuk di dapurnya.

Steve hanya mengamati Jessie dari belakang. Sesekali ia melirik ke arah meja makan yang tampak sudah rapi.

Apa Jessie yang menyiapkan semuanya? Untuk dirinya? Jika iya, maka terkutuklah dirinya karena lebih mementingkan perasaan sialannya dan juga sikapnya yang terkesan kekanakan.

Saat Jessie masih sibuk menghangatkan masakannya, saat itulah Steve berjalan ke arahnya, kemudian dengan spontan Steve memeluk Jessie dari belakang. Melingkari perut Jessie dengan lengannya, dan Jessie membatu seketika.

“Maafkan aku.” Suara Steve terdengar serak, tapi Jessie tak mengerti kenapa Steve meminta maaf kepadanya? Karena sudah minum?

“Lupakan saja, lebih baik duduklah, aku kelaparan.” Jawab Jessie dengan sedikit malas. Jika boleh jujur, Jessie sangat kesal dengan Steve, tapi ia mencoba mengendalikan diri. Bagaimanapun juga, mereka bukan lagi sepasang teman yang hobby bertengkar seperti dulu. Mereka kini sepasang suami istri yang harus memelihara keharmonisan, Jessie akan mengesampingkan egonya untuk bertahan dengan sikap Steve yang kadang tidak ia mengerti.

“Kau belun makan?”

“Ya, sepanjang sore, aku menunggumu, untuk makan malam bersama.”

Steve semakin merasa bersalah dan dengan spontan ia membalikkan tubuh Jessie, menangkup kedua pipi wanita tersebut. “Astaga, aku benar-benar bodoh.”

Jessie tersenyum, ia menggelengkan kepalanya. “Tidak, kau mungkin hanya memiliki beberapa masalah. Aku mengerti.”

“Tapi seharusnya aku memikirkan kemungkinan ini. bukannya sibuk dengan perasaanku sendiri.”

“Setidaknya aku senang. Kau pulang, sendiri, tidak dengan perempuan malam.”

Dan secepat kilat Steve menyambar bibir Jessie, melumatnya dengan lembut, kemudian berkata “Tak akan ada lagi tempat untuk perempuan malam setelah aku menjadikanmu sebagai istriku.” Lalu Steve kembali mencumbu Jessie, melumatnya penuh gairah, dan terbakar bersama-sama. Astaga, Steve benar-benar bodoh karena sudah mengabaikan dan menghindari Jessie sepanjang hari ini. Steve berjanji bahwa tak akan melakukannya lagi. Jika Jessie masih mencintai lelaki lain, maka yang harus ia lakukan adalah membuat Jessie berpaling padanya. Ya, itu yang paling benar!

-TBC-

Kyaaaaa bab Selanjutnya HOOOTTTTTTTTTTTTTTT hahahhahah

Sleeping with my Friend – Bab 13

Comment 1 Standard

 

Steve mulai membuka sampul kimono yang sedang dikenakan Jessie, sedangkan Jessie sendiri memilih mengalungkan lengannya pada leher Steve.

Oh, Steve sangat menggoda, lelaki ini sangat pandai berciuman hingga membuat Jessie merasa mabuk kepayang karena cumbuan yang diberikan Steve padanya. Samar-samar, Jessie bahkan mendengar Steve mengerang nikmat karena cumbuan mereka, dan hal itu membuat gairah Jessie naik satu tingkat lebih tinggi lagi.

Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya? Jessie tak pernah merasa sebergairah ini dengan seorang lelaki, apalagi jika lelaki itu adalah Steve, temannya sendiri yang kini sudah berstatuskan sebagai suaminya. Apa salah jika ia memiliki gairah yang besar terhadap Steve? Apa salah jika ia menuruti apapun kemauan lelaki itu? Jessie tak tahu, karena sekarang, Jessie merasa tak dapat berpikiran jernih lagi. Steve sangat menggoda untuknya, lelaki itu tak berhenti menyalakan api gairah didalam tubuhnya, hingga Jessie yakin, bahwa ia akan melewati malam pengantinya dengan begitu panas bersama dengan seorang Steven Morgan.

***  

Bab 13

 

Steve menghujam lagi dan lagi, tak mempedulikan erangan demi erangan yang keluar dari bibir Jessie. Kenikmatan membungkusnya, ia bahkan tak mempedulikan tubuh mereka yang sudah basah kuyub karena guyuran air dari shower.

Jessie tampak sangat bergairah, begitupun dengan dirinya yang seakan tak ingin menghakhiri percintaan panas mereka.

“Ohh, Steve… Astaga…” Jessie meracau, sedangkan yang dapat dilakukan Steve hanya kembali menghujam lagi dan lagi.

Entah sudah berapa lama mereka melakukan penyatuan dalam posisi berdiri. Tubuh Jessie terhimpit dengan dinding dan juga tubuh kekar Steve. Steve bahkan setengah mengangkat tubuh Jessie agar tinggi mereka sejajar. Sesekali Steve mencumbu habis bibir istrinya itu, melumatnya dengan penuh gairah, mengajaknya untuk menari bersama. Oh, Sial! Jessie benar-benar akan membunuhnya.

Beberapa kali Steve akan sampai pada puncak kenikmatan, tapi kemudian Steve memperlambat lajunya, menurunkan ritmenya, menyiksa dirinya sendiri dengan cara menahan agar luapan gairah tak segera meledak dan permainan mereka segera berakhir. Sungguh, Steve tak ingin segera mengakhirinya. Dan hal itu benar-benar membuat Steve tersiksa.

“Steve, tolong…” Jessie memohon.

Rupanya wanita itu sudah akan sampai pada puncak kenikmatannya lagi, entah sudah yang keberapa kali.  Berkali-kali, Steve merasakan Jessie klimaks, tapi ia masih menahan diri agar tidak terpancing dengan istrinya itu. Steve masih ingin lebih lama lagi, Steve masih ingin lebih banyak lagi mencumbu Jessie. Oh, Jessie, istrinya….

Akhirnya, karena sudah tak sanggup menahan luapan gairah yang menghantamnya lagi-dan lagi, Steve pun meledakkan diri setelah beberapa kali hujaman kerasanya. Steve mengerang, begitupun dengan Jessie. Keduanya saling mengerang satu sama lain, seakan melupakan kecanggungan yang sempat tercipta diantara mereka.

Jessie mengalungkan lengannya pada leher Steve, ia tidak mampu berdiri sendiri dengan kedua kakinya. Steve membuatnya lemas tak bertenaga karena klimaks yang ia dapatkan beberapa kali dalam satu sesi percintaan panasnya bersama dengan lelaki ini. astaga, Steve benar-benar pandai bercinta.

Jessie merasa sangat malu, karena ia merasa tak pandai mambuat Steve senang dengan percintaan mereka. Bagaimana jika lelaki ini bosan nantinya? Jessie menenggelamkan diri pada dada Steve. Ia mengabaikan air Shower yang masih setia mengguyur tubuh mereka. Kemudian, Jessie mulai terisak.

Steve yang baru sadar dari gelombang gairah yang menghantamnya, akhirnya merasakan isakan dari Jessie. Ia melepaskan pelukan Jessie kemudian mengamati wanita itu dengan kekhawatiran yang amat sangat.

“Ada apa? Apa aku menyakitimu? Bayinya?” tanyanya dengan raut khawatir.

Jessie masih terisak. Ia tidak tahu kenapa dirinya bisa seemosional ini, secengeng ini hanya karena merasa bahwa ia tidak bisa memuaskan hasrat seorang Steven Morgan. Padahal, Steve sendiri tidak mengatakan kemungkinan tersebut.

Steve meninggalkan Jessie, lalu kembali dengan sebuah kursi lipat. Ia mendudukkan Jessie di sana dan mencoba mengabaikan ketelanjangan mereka. Steve berjongkok di hadapan Jessie, berharap jika Jessie mengatakan apa masalahnya.

Sial! Steve tadi terbawa dengan suasana. Ia terlalu menikmati percintaan panasnya dengan Jessie, mencoba menahannya agar percintaan mereka tak segera berakhir. Steve bahkan lupa tentang keadaan Jessie yang sedang mengandung bayinya. Bisa saja tadi ia menyakiti wanita itu. Dan hal itulah yang membuat Steve khawatir.

“Kau, baik-baik saja, bukan?” tanya Steve sekali lagi saat Jessie sudah berhenti terisak.

Jessie hanya menganggukkan kepalanya. Tampak sangat manja. Steve tak ingat kapan terakhir kali Jessie terlihat menja seperti saat ini. Jessie tentu bukan orang manja seperti itu. Setidaknya, hal itulah yang dilihat Steve selama ini. Setelah kepergian ibu Jessie, Jessie selalu memposisikan diri sebagai gadis kuat, wanita mandiri yang mampu mengurus dirinya sendiri bahkan mengurus ayah dan kakaknya. Tapi kini, Jessie tampak seperti seorang gadis manja yang terisak karena sesuatu yang tidak ia mengerti. Apa yang terjadi dengan wanita ini?

“Ada yang sakit? Apa aku menyakitimu?” tanya Steve lagi. Karena ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Jessie.

Jessie menggelengkan kepalanya. “Tidak.” Hanya itu jawabannya.

“Lalu kenapa kau menangis? Kau baik-baik saja bukan?” Steve masih tampak khawatir.

“Aku baik-baik saja, Steve. Sungguh.”

“Katakan, kenapa kau menangis?” lagi, Steve masih ingin mendapatkan jawaban yang masuk akal dari wanita di hadapannya tersebut.

“Aku… aku tidak tahu.”

“Kenapa tidak tahu?” Steve masih menuntut.

“Aku juga tidak mengerti, Steve. Aku selalu ingin menangis akhir-akhir ini. Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini.” Jessie kembali menangis, dan Steve benar-benar bingung.

Ya Tuhan! Bagaimana mungkin menghadapi wanita hamil akan membuatnya segila ini?

Akhirnya, Steve menghentikan interogasinya, ia memilih bangkit dan memeluk Jessie. “Mungkin ini berhubungan dengan kehamilanmu. Kau sangat sensitif. Seharusnya aku mengerti dan lebih mengalah lagi.” Ucap Steve kemudian.

“Aku… aku hanya takut, Steve.”

“Apa yang membuatmu takut?”

“Kau. Aku takut dengan dirimu.”

Steve melepaskan pelukannya, lalu menatap Jessie penuh tanya. “Aku? Kau takut denganku?” kemudian Steve tertawa lebar menertawakan apa yang baru saja dikatakan Jessie.

Perlu diketahui, bahwa selama ini, Stevelah yang takut dengan Jessie. Jessie kadang memposisikan diri sebagai ibu Steve ketika mereka tinggal di New York. Jessie tak segan-segan mengomel atau bahkan memukuli Steve ketika Steve melakukan perbuatan yang salah.

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Jessie dengan kesal.

“Kau takut denganku. Itu tidak masuk akal, Baby girl.” Saat Steve sudah memanggilnya seperti panggilan yang diberikan Frank padanya, maka saat itulah Jessie tahu bahwa sikap menyebalkan Steve mulai kambuh.

“Apanya yang tidak masuk akal?!” nada suara Jessie mulai meninggi.

“Ya ampun. Kau seperti Mom jika sedang marah. Lebih tepatnya, aku yang takut denganmu. Bukan sebaliknya.” Steve berkata masih diiringi dengan tawa lebarnya.

Jessie bangkit seketika. Dengan marah ia berkata. “Aku hanya takut jika tak dapat memuaskanmu. Seharusnya kau tidak menertawakan aku! Kau membuatku kesal, Morgan!”

Steve sempat membatu setelah mendengar jawaban Jessie. “Kau apa?” tanyanya sekali lagi. Tapi Jessie tidak mengindahkan pertanyaannya. Lalu Steve mencoba meresapi setiap kata yang diucapkan Jessie hingga membuatnya sadar akan maksud dari wanita tersebut. Dan hal itu benar-benar membuat Steve tak kuasa menahan tawanya hingga terpingkal-pingkal.

Melihat Steve yang tak berhenti menertawakannya, Jessie semakin kesal dan marah. Hal itu membuat Jessie berinisiatif pergi meninggalkan Steve. Astaga, Jessie bahkan sempat melupakan jika dirinya masih telanjang bulat saat ini.

Melihat Jessie yang tampak kesal dan akan meninggalkannya membuat Steve menghentikan tawanya seketika. Ia segera menggapai tubuh Jessie kemudian memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Sial! Gesekan kulit lembut Jessie membuat Steve kembali berereksi.

“Lepaskan aku!” Jessie sempat meronta. Tapi Steve mempererat pelukannya.

“Begini saja, Nyonya Morgan.”

Panggilan itu lagi. Sialnya, panggilan itu mampu membekukan tubuh Jessie. Oh ya, ia juga baru ingat bahwa saat ini statusnya sudah menjadi istri Steve, menjadi Jessica Morgan. Bagaimana dia bisa lupa dengan hal itu?

“Maaf jika aku sudah menertawakanmu. Sungguh, aku merasa kau sangat konyol. Mana mungkin kau tidak memuaskanku?” ucap Steve dengan nada parau.

“Kau… Aku… Aku tidak tahu. Maksudku, aku sudah beberapa kali klimaks, dan kau…”

“Karena memang itulah yang kuinginkan.” Steve memotong kalimat Jessie. “Perempuan bisa klimaks beberapa kali dalam satu sesi. Tapi jika lelaki sudah klimaks, maka semuanya selesai. Butuh beberapa menit untuk memulainya lagi. Dan aku hanya ingin, percintaan kita tadi tak cepat selesai.”

“Jadi, semua itu, bukan karena kau tidak menikmatinya?”

Steve melepaskan pelukannya kemudian membalikkan tubuh Jessie hingga menghadap ke arahnya.

“Oh, Demi Tuhan, Jess! Kau benar-benar gadis biara, ya? Jika aku tidak menikmatinya, maka aku akan menyatukan diri, memuntahkan gairahku kemudian meninggalkanmu begitu saja tanpa mempedulikan apa kau klimaks atau tidak. Kau mengerti apa maksudku?”

Jessie tersenyum. Meski kosa kata yang diucapkan Steve sedikit kurang ajar, tapi tetap saja, mendengar kalimat itu membuat Jessie tersenyum malu. Jessie mengerti apa maksud Steve. Yang tidak membuatnya mengerti adalah, kenapa Steve bisa begitu menikmati permainan mereka? Jessie tidak melakukan apapun, dan hal itulah yang membuat Jessie tak percaya diri.

“Uum, aku, tak melakukan apapun. Bagaimana mungkin kau menikmatinya?”

Steve tak tahu harus seperti apa menjelaskan pada Jessie bahwa dirinya begitu menikmati percintaan mereka. Tapi kemudian, Steve memiliki ide untuk memanfaatkan kepolosan Jessie.

Dengan sedikit tersenyum ia berkata “Kau ingin tahu bagaiaman aku menikmatinya?”

“Maksudmu?” Jessie curiga dengan apa yang akan dilakukan Steve. Tanpa banyak bicara, Steve meraih sebelah telapak tangan Jessie kemudian mendaratkan pada ereksinya.

“Kau lihat. Aku selalu menegang saat berdekatan denganmu. Bagaimana mungkin kau memiliki pemikiran sekonyol itu, bahwa aku tidak menikmati semua ini?”

“Aku…” Jessie bingung dengan apa yang ia rasakan. Ia benar-benar tak pernah seintim ini. Sangat intim hingga menyentuh pusat gairah dari seorang lelaki.

Steve semakin mendekat, membiarkan Jessie menyentuhnya. “Sentuh aku, Jess. Dan lihatlah. Betapa aku menikmati sentuhanmu.” Ucapnya dengan suara parau. Kemudian, Steve menangkup kedua pipi Jessie, mengangkat wajah wanita itu, lalu mendaratkan ciuman lembutnya pada bibir Jessie.

Jessie sangat menikmatinya. Ia bahkan memejamkan matanya, dan juga membalas cumbuan lembut dari suaminya tersebut. Jemarinya masih tak berhenti membelai mesra bukti gairah lelaki itu, dan hal tersebut memancing suatu gairah dari dalam tubuh Jessie.

Steve mencumbu lagi dan lagi. Kakinya melangkah, mendorong tubuh Jessie sedikit demi sedikit hingga mereka keluar dari kamar mandi, kemudian menuju ke arah ranjang mereka. Sampai di sana, Steve melepaskan tautan bibir mereka. Jemari Jessie benar-benar menyiksanya, membuatnya nyaris meledak karena kelembutan yang diberikan oleh istrinya tersebut.

Steve menatap Jessie dengan sungguh-sungguh, lalu ia berkata “Aku ingin kali ini kau yang memegang kendali.”

“Aku? Bagaimana bisa?” tanya Jessie bingung.

Jessie tentu tak perenah berpikir bagaimana caranya memegang kendali sebuah hubungan seksual. Ia tidak semahir atau seliar itu. Dan ia tidak tahu bagaimana caranya.

Kemudian, Steve mendorong tubuh Jessie hingga keduanya jatuh di atas ranjang dengan Steve berada di atasnya. “Aku akan mengajarkanmu. Kau mau?” tawar Steve kemudian.

“Aku… Umm, aku…” Jessie ragu. Tapi saat dirinya masih ragu, Steve sudah menyatukan diri dengan begitu erotis. Jessie tak mampu menolak karena ia juga menikmati penyatuan tersebut.

Tanpa diduga, dalam sekejap mata, Steve membalikkan posisi mereka hingga kini Jessie berada di atasnya. Steve tersenyum, dan Jessie bingung apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

“Bergeraklah.” Pinta Steve.

“A-apa maksudmu?”

“Bergeraklah. Puaskan aku.”

Mata Jessie sempat membulat karena ucapan Steve. Tapi kemudian ia mengikuti nalurinya untuk bergerak, mencari-cari kenikmatan untuk dirinya sendiri, memberikan kenikmatan untuk Steve. Jessie bahkan melupakan kecanggungannya. Semua pergerakan yang ia lakukan itu semata karena nalurinya.

Dengan spontan, Jessie menundukkan kepalanya, mendaratkan bibirnya pada bibir Steve. Mencium suaminya tersebut tanpa menghentikan pergerakannya.

Steve sangat menyukai apa yang dilakukan Jessie. Ia tak menyangka jika Jessie akan mampu dengan mudah beradaptasi dengannya, dengan kehidupan seksualnya di atas ranjang. Jika boleh jujur, untuk seorang pemula, Jessie benar-benar sangat menggoda, panas dan cukup liar. Meski wanita itu tak berhenti merona karena malu, tapi tetap saja, hal itu tak menyurutkan sedikitpun gairah Steve pada Jessie.

Jessie masih tak berhenti, ia bergerak lagi dan lagi dan hal itu mengantarkan Steve pada puncak kenikmatan. Steve tak mampu menahannya lagi. Dipeluknya erat tubuh Jessie, kemudian ia bergerak secera spontan, membuat Jessie mengerang dengan pergerakan dari Steve.

Jessie kembali hanyut dalam badai kenikmatan, dan tak berapa lama, Steve menyusulnya. Keduanya tenggelam dalam pusaran gairah yang seakan tak ingin meninggalkan mereka.

***

Satu minggu berlalu. Steve dan Jessie kembali ke New York. Mereka harus bekerja kembali dan menjalani kehidupan normal seperti sebelum-sebelumnya.

Berada satu minggu di Pennington dengan status baru membuat hubungan mereka menjadi panas sepanas bara. Bukan karena kemarahan atau emosi, tapi karena gairah yang menyala-nyala.

Hampir setiap malam Steve menyentuh Jessie dengan panas. Mengajari wanita itu bagaimana caranya menikmati hubungan baru mereka. Mengajari Jessie bagaimana cara untuk memuaskannya. Dan Jessie tampak senang dengan peran barunya tersebut.

Sesekali, mereka memang masih canggung dengan status baru yang mereka sandang. Tapi sering kali mereka mengabaikannya. Kedekatan mereka masih sama seperti pada saat mereka berteman dulu. Steve masih suka mengganggu Jessie dan Jessie sering kali marah-marah tak jelas dengan perilaku kekanakan Steve.

Hari-hari di Pennington menjadi hari-hari terindah untuk mereka berdua. Tapi mereka sadar, bahwa mereka tidak bisa berada di sana selamanya. Mereka harus kembali ke New York, dan itu tandanya mereka akan menghadapi berbagai macam masalah.

Seperti, dimana mereka akan tinggal setelahnya?

Oh, tentu saja Jessie bisa pindah ke apartmen Steve. Tapi mengingat bagaimana keras kepalanya wanita itu, Steve mencoba mengalah saat Jessie menolak gagasan tersebut.

Steve mengusulkan agar ia yang pindah ke apartmen Jessie. Jessie tidak menolak, tapi wanita itu hanya berkata bahwa akan bagus jika Steve tak perlu buru-buru memboyong semua barang-barangnya ke apartmen Jessie, mengingat apartmennya tak sebesar milik Steve, dan juga, mereka tentu perlu waktu untuk menyesuaikan keadaan masing-masing.

Setidaknya, Steve bisa lega, karena itu tandanya ia bisa tinggal bersama dengan Jessie, meski tandanya, ia harus lebih banyak mengalah dengan kekeras kepalaan wanita tersebut.

Saat berada di dalam mobil, sesekali jemari Steve terulur dengan sesuka hatinya, mendarat pada perut Jessie kemudian mengusapnya lembut. Steve tidak tahu apa yang membuatnya melakukan hal yang menggelikan seperti itu. Yang ia tahu adalah bahwa hal itu kini menjadi sesuatu yang ia gemari.

Sial! Ada anaknya di sana. Jagoannya. Ya, Steve bahkan sangat yakin dan sudah merasakan bahwa anak yang dikandung Jessie adalah laki-laki. Hal itu benar-benar sangat berarti untuk Steve.

Jessie sendiri, ia memilih megabaikan apa yang dilakukan Steve. seperti tak terjadi apapun. Padahal dalam dirinya, Jessie merasakan sebuah pergolakan. Kehangatan menerpanya, tapi ia juga merasa kurang nyaman dengan sikap manis berlebihan yang diberikan Steve padanya.

Jessie tahu, hubungan mereka memang jauh lebih baik ketimbang setelah malam panas saat itu. Tapi ia juga sadar, bahwa semua ini semata-mata karena mereka ingin memperbaiki semuanya. Jessie akan sangat berhati-hati dengan hal ini, karena ia tahu, satu kali saja ia tergelincir, maka ia akan jatuh, dan hubungan mereka tak akan tertolong lagi.

Pada saat itu, keduanya sudah sampai di gedung apartmen mereka. Dengan sigap Steve keluar dari dalam mobilnya, ia memutarinya kemudian membukakan pintu penumpang agar Jessie keluar dari sana.

Manis sekali.

Keduanya masuk. Mendapati Cody si penjaga apartmen yang tersenyum ramah ke arah mereka.

“Mr. Morgan, Miss Summer.” Sapanya dengan ramah.

“Ahhh. Biar kukoreksi. Mrs. Morgan.” Ucap Steve dengan sungguh-sungguh.

“Apa? Maksudnya, kalian?” Cody menatap ke arah Steve dan Jessie secara bergantian.

Jessie hanya menunduk. Sedangkan Steve dengan penuh rasa posesif ia menarik pinggang Jessie agar masuk ke dalam lengannya.

“Ya. Kami sudah menikah.” Jawab Steve dengan penuh penegasan.

Jessie tidak membantah, ia pun tidak meralat ucapan Steve karena memang benar seperti itulah kenyataannya. Mereka sudah menikah, ia sudah menjadi Nyonya Morgan saat ini.

“Ohh, selamat. Kenapa aku tidak diundang?”

“Hanya pernikahan biasa yang diadakan di lumbung rumahku.” Jawab Steve. “Tapi lain kali, aku akanmmeneraktirmu minum untuk merayakannya. Boleh kan Sayang?’ tanyanya pada Jessie.

“Ya. Tentu saja.” Jessie baru membuka suaranya.

“Baiklah, Cod. Kami akan naik dulu.” Steve berpamitan dan Cody hanya menganggukkan kepalanya. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar bahwa kedua orang tersebut nyatanya sudah menikah.

Saat Steve dan Jessie baru saja masuk ke dalam lift, Cody baru saja ingat bahwa ada seseorang yang sudah menunggu Jessie. Seseorang yang datang setiap hari ke apartmen ini selama Empat hari terakhir. Seseorang yang Cody kenal sebagai tunangan Jessie. Astaga, apa yang akan terjadi selanjutnya?

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 10

Comments 4 Standard

 

Bab 10

 

Setelah dicumbu habis-habisan oleh temannya, ralat, mantan temannya, ralat lagi, ayah dari bayi yang ia kandung, akhirnya Jessie tak kuasa untuk menahan rona merah di pipinya. Masalahnya, meski ia ingin menolak, nyatanya ia menikmati apa yang dilakukan Steve. Jessie bahkan membalas cumbuan dari Steve.

Jujur saja, Jessie tak pernah dicumbu dengan begitu bergairah hingga membuatnya nyaris basah seperti yang dilakukan Steve. Tidak dengan Henry, tidak juga dengan mantan kekasihnya yang lain.

Atau mungkin, ini perasaan Jessie saja? Entahlah. Yang pasti, cumbuan Steve begitu menuntut hingga Jessie yakin jika mereka saat ini berada di dalam sebuah kamar, maka kejadian panas malam itu akan kembali terulang.

Dalam hati Jessie sempat bersyukur karena Steve mencumbunya di dalam lift, karena jika saja mereka saling mencumbu di dalam apartmennya, Jessie tak yakin dapat menolak lelaki itu jika lelaki itu menuntut lebih kepadanya.

Lengan Jessie masih setia mengalung, sedangkan wajahnya yang merah padam ia tenggelamkan ke dalam dada bidang lelaki itu.

Ketika Steve keluar dari dalam lift, lelaki itu menghentikan langkahnya ketika seorang lelaki berdiri tepat di hadapannya. Itu adalah Frank, dan Jessie benar-benar merasa sial karena harus kepergok kakaknya ketika digendong Steve seperti saat ini.

Masalahnya, kakaknya itu pasti akan mengoloknya habis-habisan. Dan saat ini Jessie sedang dalam mode tak ingin diolok sama sekali.

“Kalian baru datang?” Frank menyapa.

“Kau sendiri, kenapa ada di sini?” Jessie mencoba mengabaikan posisinya yang masih digendong oleh Steve. Kalaupun ia ingin diturunkan, lelaki itu tak akan melakukannya.

“Aku ke tempatmu. Kupikir kau sudah pulang. Ada masalah?”

Ya, bahkan saat Jessie masuk rumah sakit di Pennington kemarin, tak ada yang mengabari Frank. Mungkin semua terlalu kalut, terlalu sibuk dengan keterkejutan yang diumumkan Jessie tentang dirinya, bayinya dan juga hubungannya dengan Steve.

“Ya, ada sedikit insiden.” Ucap Jessie dengan pelan.

“Kau, baik-baik saja bukan?” meski kadang suka menyebalkan, Jessie tahu bahwa Frank adalah sosok yang sangat perhatian kepadanya.

“Lebih baik kita masuk. Jess harus banyak istirahat.” Steve angkat bicara.

“Kau sudah tahu tentang keadaannya?” tanya Frank pada Steve.

“Jika yang kau maksud adalah tentang kehamilannya, maka Ya, aku dan semua warga Pennington sudah tahu.”

“Woww. Kau hebat sekali, Baby girl.”

Jessie mendengus sebal. “Aku sedang tidak ingin bercanda, Frank.”

“Baiklah, baiklah. Aku ikut masuk karena aku ingin mendengar ceritanya dari kalian.” Dan setelah itu, mereka bertiga bergegas masuk ke dalam apartmen Jessie.

***

Sampai di dalam, Steve menurunkan Jessie di sofa panjang tepat di depan televisi. Kemudian lelaki itu masuk ke dalam kamar Jessie entah mengambil apa. Sedangkan Frank, ia memilih mendekati adiknya dan bersiap untuk menginterogasinya.

“Jadi, dia sudah tahu semuanya?”

“Ya.” Jessie menjawab pendek.

“Kau yang memberitahunya?”

“George memaksaku, dan mau tak mau aku harus memberitahunya.”

“Bagaimana reaksinya?” Frank masih tak ingin tinggal diam.

“Dia mungkin sama terguncangnya denganku. Dan dia marah.” Jawab Jessie lemah.

“Dia marah karena kau hamil?” Frank mulai tak suka ketika membayangkan tentang hal itu. Bagaimanapun juga, mereka menikmati prosesnya. Jika Steve marah karena Jessie mengandung, maka Frank akan memukuli Steve hingga babak belur.

“Lucu sekali. Kalian menggosipkan seseorang yang jelas-jelas masih satu ruangan dengan kalian.” Steve datang membawa selimut tebal serta bantal dan guling untuk Jessie. Dengan penuh perhatian ia meminta Jessie untuk berbaring dengan nyaman di sofa panjang tersebut kemudian menyelimuti tubuh wanita itu. “Ingat, kata Dokter kau harus banyak istirahat.”

“Dokter? Apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa berada di dokter?” Frank yang masih tak mengerti akhirnya tak kuasa menahan rasa ingin tahunya.

“Sedikit pendarahan karena stress dan kelelahan.” Jessie menjawab kekhawatiran kakaknya.

“Astaga. Kau baik-baik saja bukan? Bayinya bagaimana? Apa ini karena dia?” tanya Frank yang semakin tampak khawatir dengan keadaan adiknya tersebut.

“Frank, semua baik-baik saja. Bayinya juga baik-baik saja. Aku sudah memberitahu Steve dan-”

“Biar kukoreksi.” Steve memotong kalimat Jessie. “Dokter yang meberitahuku, bukan kau.” Steve berkata dengan kesal. Jika Steve mengingat tentang hanya dia sendiri yang belum tahu tentang keadaan Jessie, maka lelaki itu akan kembali dalam mode kesalnya.

“Kau masih kesal karena hal itu?”

“Sangat.” Steve menjawab cepat. “Biar kuperjelas agar kedepannya tidak salah paham. Aku tidak marah karena kehamilanmu. Aku marah karena hanya aku sendiri yang tidak tahu tentang keadaanmu ketika semuanya sudah mengetahuinya bahkan bermaksud untuk menikahkan kita.”

“Steve, kau tak perlu berlebihan. Bibi Patty dan Paman Paul juga baru mengetahuinya.”

“Apa maksudnya, Jess?” Frank yang bingung akhirnya kembali bertanya.

“Semua orang sudah tahu tentang kehamilanku.”

“Ya. Semua orang di Pennington.” Steve mengangguk setuju. “Dan para orang tua sedang menyiapkan pernikahan kami.”

“Kita sudah sepakat bahwa tidak akan ada pernikahan, Steve!” Jessie berkata tajam.

“Aku menyetujui apapun keinginanmu, Sayang. Tapi aku tidak bisa mencegah orang tua kita ketika tiba-tiba mereka mengadakan pesta dan mengundang semua orang di distrik Pennington untuk merayakan pernikahan kita.” Steve berkata dengan tenang dan santai. Suasana kembali mencair tapi tidak dengan Jessie.

Frank berdiri dan menggandeng bahu Steve. “Hebat sekali. Jadi kalian akan menikah tanpa memberitahuku?”

“Kau sedang di sini ketika kami sedang membahas masalah ini, Frank.” Steve menjawab dengan wajah datarnya.

“Hahaha setidaknya, aku senang. Setelah ini aku akan memiliki teman minum dan juga teman untuk bermain kartu. Bukan dengan dokter yang kaku itu.”

“Frank! Hentikan omong kosongmu.” Jessie berseru keras. “Lebih baik kalian keluar. Kalian membuat kepalaku semakin pusing.”

Steve duduk berjongkok di hadapan Jessie. Ia mengusap lembut puncak kepala Jessie. “Aku akan pergi sebentar, tapi aku akan kembali lagi. Tidurlah.”

Jessie hanya mendengus sebal apalagi ketika ia melihat Frank menatapnya dengan tatapan mengolok. Astaga, menggelikan sekali. Ia tak pernah mendapati Steve selembut ini padanya, Jessie senang, tapi disisi lain, ia tidak suka ketika kelembutan Steve dijadikan bahan olokan Frank pada dirinya nanti. Benar-benar menyebalkan.

Akhirnya, Jessie bisa istirahat dengan tenang beberapa menit kemudian setelah Steve dan juga Frank meninggalkan apartmennya.

***

Steve dan Frank duduk di sebuah bar dengan sesekali bersulang. Frank merasa senang jika pada akhirnya nanti Jessie akan menikah dengan Steve. Frank cukup mengenal Steve bahkan sejak kecil hal itulah yang membuat Frank setuju jika nanti keduanya berakhir dengan sebuah pernikahan. Tapi tampaknya, Frank tak melihat hal serupa pada diri Steve.

“Kau, tampak tidak suka dengan keadaan ini.”Frank membuka suara.

Jika boleh jujur, Steve lebih nyaman berbicara dengan Hank, temannya. Ketimbang dengan Frank. Ia memang mengenal Frank sejak kecil, tapi tetap saja, lelaki itu adalah kakak Jessie. Akan sangat tidak nyaman jika dirinya membicarakan hubungannya dengan Jessie pada Frank.

“Maksudmu?”

“Kau tahu, hubunganmu dengan Jess.”

Steve menghela napas panjang. “Bukan aku tidak suka. Aku hanya terlalu terkejut dan kurang bisa menyesuaikan keadaan. Aku akan jadi ayah, dan jujur saja, aku sedikit tertekan.”

Frank mengangguk dan menepuk bahu Steve. “Jika aku berada di dalam posisimu, maka aku akan merasakan hal yang sama.”

Steve menegak minumannya. “Kau tahu. Jess akan selalu menjadi wanita special di hidupku. Dia sangat istimewa. Teman kencanku tak ada yang bisa menggeser posisinya. Tapi setelah malam itu. Sial! Aku bahkan tak mengerti apa yang sedang terjadi denganku.”

“Kau melihatnya sebagai teman kencanmu?” tanya Frank sembari mengangkat sebelah alisnya.

“Bukan. Sial Frank! Jessie tentu sangat berbeda dengan mereka. Tidak ada implan, tidak ada silikon..”

“Woow, wow, wow, kau membicarakan bagian tubuh adikku?”

“Maaf, maksudku. Dia berbeda, dan, dan, dia seakan membuatku candu, terikat dengan tali yang tak terlihat. Aku tidak bisa melihatnya sebagai temanku lagi, Frank. Aku melihatnya sebagai wanita sungguhan, yang, yang, membuatku selalu tergoda.” Steve menjelaskan sengan terpatah-patah karena ia tidak yakin kata apa yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang ia rasakan pada Jessie.

“Kau, mencintainya?” tanya Frank dengan hati-hati.

“Tidak.” Steve menjawab cepat. “Maksudku, aku tidak yakin apa itu cinta. Jika kau bertanya apa aku ingin memilikinya, maka Ya. Aku ingin.” Steve mengoreksi.

“Maka jalan yang paling benar adalah menikahinya.”

“Aku ingin. Demi Tuhan! Aku tidak menolak gagasan itu. Tapi Jessie menolakku mentah-mentah. Dia tidak ingin menikah, dan aku tidak bisa memaksanya dalam keadaan seperti ini.”

“Kau hanya perlu berusaha. Dan yakinkan dia kalau semua ini untuk kebaikan kalian bersama.”

Steve mengangguk. Ia meminum kembali minumannya, kemudian bertanya pada Frank. “Bicara tentang menikah, kau pun tak kunjung menikah. Kau Tiga tahun lebih tua dari pada aku, Frank.”

Frank tertawa lebar. “Menikah tidak ada dalam kamusku, Steve. Aku ingin melajang seumur hidup.”

“Kau bercanda? George akan membunuhmu karena kau tidak memberikan keturunan keluarga Summer.”

“Jika yang diinginkan George adalah bayi, maka aku hanya perlu menyewa rahim seorang perempuan dan membayarnya untuk melahirkan anakku. Tanpa hubungan intim, tanpa pernikahan dan hal-hal yang rumit lainnya.”

“Kau benar-benar gila, Frank.”

“Well. Aku penulis fiksi. Aku tak ingin fantasiku rusak karena kehadiran istri apalagi anak.” Ucapnya dengan nada canda.

Sedangkan Steve hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka jika Frank memiliki pemikiran seperti itu. Steve tahu, bahwa untuk dirinya sendiripun, menikah bukanlah pioritasnya. Tapi ia juga tidak seperti Frank yang tampak menentang sebuah pernikahan.

***

Steve kembali saat hari sudah malam. Ia sempat ke apartmennya untuk mengambil beberapa potong pakaian ganti sebelum kembali ke apartmen Jessie. Steve tersenyum saat membuka pintu apartmen Jessie. Rupanya, wanita itu masih menggunakan password lamanya.

Di dalam sana, Jessie tampak masih meringkuk di atas sofa panjangnya. Terlihat juga kotak pizza yang didalamnya masih tersisa tiga potong Pizza dengan topping irisan sosis dan daging asap. Steve membereskan sisa-sisa makanan tersebut kemudian kembali pada Jessie.

Tanpa banyak bicara, Steve mengangkat tubuh Jessie menuju ke arah kamar wanita tersebut. Jessie tidak terbangun, wanita itu hanya bergerak-gerak sedikit seakan membuat tubuhnya dalam posisi senyaman mungkin.

Setelah membaringkan Jessie di atas ranjangnya. Steve bangkit, berdiri dan menatap wanita yang tengah tertidur pulas tersebut. Ada sebuah rasa yang sulit ia jelaskan. Rasa untuk memiliki wanita itu seutuhnya. Tapi rasa tersebut seakan tertutup dengan sebuah kabut ketakutan.

Ya, Steve takut dengan sebuah penolakan. Steve takut jika Jessie akan lari meninggalkannya saat ia memaksakan kehendaknya pada wanita itu. Ia tahu betul bagaimana karakter Jessie. Wanita itu keras kepala, dan butuh usaha ekstra untuk membuatnya luluh.

Steve melepaskan pakaiannya kemudian ia naik ke atas ranjang Jessie. Tidur memeluk tubuh Jessie. Oh, Steve sangat merindukan saat-saat seperti ini. Saat ia dengan Jessie bisa tidur bersama tanpa gairah, tanpa seks, dan hanya tidur, damai sebagai teman. Ia benar-benar merindukan saat-saat seperti ini.

***

Dini hari, Jessie terbangun saat merasakan kandung kemihnya penuh. Astaga, kehamilannya bahkan belum genap Empat bulan, tapi sepertinya toilet sudah menjadi teman akrabnya.

Jessie bangun dan merasakan sebuah lengan memeluknya. Ia menatap lengan tersebut, menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Steve tengah tertidur pulas.

Jessie bahkan baru ingat jika tadi saat tidur, ia berada di sofa bukan di atas tempat tidurnya. Steve pasti yang sudah memindahkan dirinya ke sini. Lalu Jessie tersenyum. Ia merindukan masa-masa seperti ini, ketika mereka tidur bersama tanpa gairah mempengaruhi. Apakah hubungan mereka bisa kembali seperti semula?

“Steve.” Jessie memanggil nama Steve, membangunkan lelaki itu. Tapi tak ada pergerakan yang berarti dari lelaki tersebut. “Steve bangung. Aku mau ke toilet.”

Lelaki tersebut bergerak, lengannya terangkat hingga Jessie bisa bangkit. Jessie duduk dan menatap Steve yang tengah mengucek matanya. Lucu, seperti anak kecil, menggemaskan.

“Ada yang kau inginkan?” tanya Steve dengan suara parau.

“Aku ingin ke kamar mandi, dan tanganmu menghalangiku.”

“Oh. Oke.” Hanya itu tanggapan Steve. Akhirnya Jessie segera bangkit dan menuju ke arah kamar mandi. Mungkin, Steve akan kembali tertidur, pikirnya. Tapi saat Jessie kembali dari kamar mandi, lelaki itu sudah duduk di pinggiran ranjang menunggunya.

“Kau bangun?”

“Ya, kupikir kau membutuhkan sesuatu.”

“Tidak, aku hanya buang air kecil.”

“Baguslah. Sekarang mari kita tidur kembali.” Ajaknya.

“Kau tidak pulang?” tanya Jessie kemudian.

“Kau ingin mengusirku.”

“Aku tidak-”

“Dengar, Jess.” Steve memotong kalimat Jessie. “Aku tidak akan pergi kemanapun. Sekarang, kembalilah kemari dan ayo kita tidur.”

Jessie menurut, ia naik ke atas ranjang. Terbaring, kemudian merasakan Steve ikut naik ke sebelahnya dan lelaki itu mulai memeluknya.

“Apa perlu berpelukan seperti ini?” tanya Jessie sedikit canggung.

“Aku ingin memelukmu, dan ketika aku ingin, maka aku akan melakukannya tanpa meminta izinmu.”

Jessie menghela napas panjang. “Aku juga ingin dipeluk.” Ya, Jessie jujur. Ia ingin seperti dulu, meski sebenarnya mungkin semua itu mustahil terjadi lagi.

Steve mengeratkan pelukannya. Sesekali kepalanya mengecup lembut puncak kepala Jessie. “Kau tahu, Jess. Saat tidur, aku tak pernah merasa senyaman ketika memelukmu. Aku suka kehangatanmu, aku suka aroma rambutmu. Semuanya membuatku nyaman dan tenang.” Steve bahkan tak mengerti apa yang sedang ia ucapkan.

“Aku juga senang saat tidur di pelukanmu, Steve. Aku merasa nyaman dan terlindungi.”

Steve kembali mengecup lembut puncak kepala Jessie. “Perasaan nyaman tersebut sekarang ternodai dengan perasaan yang lainnya, Jess.” Kali ini suara Steve menjadi serak.

“Apa maksudmu?” Jessie mengangkat wajahnya menatap penuh tanya ke arah Steve.

Steve tersenyum, senyum yang dipaksakan. “Kau tentu merasakannya. Aku bergairah. Gairah yang dulu tak pernah ada ketika aku memelukmu saat kita tidur bersama sebagai teman.”

Jessie segera sadar. Tentu saja ia segera merasakan ereksi lelaki itu. Jessie berusaha menjauh, tapi Steve menahannya.

“Jangan.” Ucapnya sembari menahan tubuh Jessie. “Aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku akan menahannya. Sumpah! Aku hanya ingin tidur memelukmu seperti dulu. Meski aku harus menahan kesakitan sepanjang malam.”

Jessie tersenyum mendengar ketulusan Steve. “Terimakasih.” Ucap Jessie kemudian.

“Untuk apa?”

“Karena mau memeluku lagi seperti dulu, dan mengesampingkan gairahmu.”

Steve tersenyum. Ia kembali mengecupi puncak kepala Jessie. Kemudian dengan spontan ia berkata. “Menikahlah denganku, Jess.”

Tubuh Jessie membatu seketika. Mereka sudah sepakat untuk tidak membahas masalah pernikahan dulu. Dan kini, Steve kembali mengungkitnya. Tidak, lelaki itu sedang melamarnya. Lalu apa yang akan Jessie lakukan selanjutnya? Haruskah ia menerima lamaran Steve?

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 8

Comments 2 Standard

 

 

Bab 8

“Bisakah kau berhenti menangis? Jika tidak, maka aku akan ke apartmenmu sekarang juga.” Frank berkata penuh penekanan ketika mendengar suara isakan dari Jessie.

Ini sudah jam sebelas malam. Tadi, saat Frank asyik memeriksa beberapa naskah yang akan diterbitkan oleh Summer Media, ia mendapati telepon rumahnya berbunyi dan Jessie sudah menangis. Adiknya itu mengatakan bahwa ia dan Henry, kekasihnya, sudah putus. Lalu, berceritalah Jessie tentang kehamilannya. Sungguh, Frank tak menyangka jika semuanya akan berakhir seperti ini.

“Maaf, aku memang sering menangis akhir-akhir ini.”

“Oke. Lalu, apa rencanamu selanjutnya?”

“Kupikir, aku akan pindah dari apartmen ini.” ucap Jessie.

Ya, tak lama lagi, perutnya akan terlihat. Ia tidak ingin Steve mengetahuinya. Hubungan mereka sudah hancur, ia tidak mau menjadikan kehamilan sebagai alat untuk menarik lelaki itu kembali. Lagi pula, Jessie berpikir bahwa Steve memang sudah bahagia dengan kekasih barunya. Beberapa kali Jessie melihat Steve membawa seorang wanita berambut pirang ke apartmennya. Menggandengnya dengan mesra. Mungkin, jika Steve hanya mengajaknya sekali dua kali, maka Jessie akan berpikir jika wanita itu hanyalah wanita bayaran atau teman kencan semalam Steve. Tapi nyatanya, wanita itu sudah beberapa kali berkunjung ke apartmen Steve.

Itu bukan urusannya, tentu saja.

Tapi, hal itu membuat Jessie semakin membulatkan tekadnya, bahwa Steve tak perlu tahu tentang keadaannya yang menyedihkan ini.

“Kau gila? Bagaimana dengan Steve?”

“Dia tak perlu tahu.”

“Ayolah Jess. Dia ayahnya.” Frank tampak menuntut. “Kau bisa dituntut jika dia mengetahui nanti dan dia tidak terima dengan keputusan sepihakmu.”

“Aku akan mengatakan bahwa ini milik Henry.”

“Kau pikir dia percaya? Kau tidak tidur dengan banyak pria. Aku tahu itu, dan Steve juga tahu. Lagi pula kau sudah putus dengan Henry, jika kau mengandung anaknya, kalian tak akan putus. Itulah yang akan ada dalam pikiran Steve.”

Frank benar, tapi Jessie tetap tak ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Steve.

“Aku tetap akan bungkam sebisaku.”

“Ayolah, baby girl…” Frank mendesah. “Lagi pula, kau tak akan bertahan lama. Ingat, minggu depan kita harus pulang menghadiri pesta perayaan Emily. Kau tidak lupa, bukan?”

“Aku bisa mencari alasan untuk tidak datang.”

“Kau gila? Kau sudah tidak pulang selama dua bulan terakhir, Jess. Kau ingin George mendatangimu ke sini?” George adalah ayah mereka. Dan Jessie tak ingin membuat ayahnya khawatir hingga datang mengunjungi mereka di New York. Meski jarak Pennington ke New York kurang dari delapan puluh Mil, tapi tetap saja, membuat George Summer yang berusia hampir Tujuh puluh tahun mendatanginya karena ia tidak pulang sepertinya bukan hal yang baik.

“Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.” Jessie lagi-lagi ingin menangis.

“Dengarkan aku. Kau harus memberi tahu Steve. Mungkin sekarang kau belum siap, tapi kau harus memberitahunya, Jess.”

“Aku tidak yakin.”

“Kau ingin aku yang mengatakannya?”

“Tidak!” Jessie berseru keras. “Kau gila? Aku yang akan mengatakannya sendiri.”

“Baiklah. Kalau begitu, masalah selesai. Aku ingin nanti saat kita bertemu, Steve sudah tahu apa yang terjadi denganmu.”

Frank benar-benar seorang pemaksa. Jessie merasa menyesal karena sudah bercerita dengan kakaknya tersebut. Tapi di sisi lain, ia merasa lega. Kakaknya mendukung apapun keputusannya, dan Jessie tahu, bahwa sikap Frank yang pemaksa itu memang untuk kebaikannya sendiri di masa mendatang.

***

Hari itu akhirnya tiba juga. Hari dimana Jessie pulang ke Pennington New Jersey. Jam Sepuluh siang, Jessie sudah sampai di rumahnya. Tapi George, ayahnya, tak ada di rumah. Mungkin ayahnya itu sedang sibuk mengurus perkebunan Anggur dengan ayah Steve.

Bicara tentang keluarganya, Jessie hanya memiliki seorang kakak, Frank, yang usianya Enam tahun lebih tua dari pada dirinya. Ibunya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, sedangkan ayahnya sangat menikmati kesendiriannya.

Kedua orang tuanya bersahabat baik dengan kedua orang tua Steve, mereka bahkan menjadi partner kerja yang baik dalam usaha mereka dibidang perkebuan anggur. Ya, mereka berkebun dan memproduksi apa saja makanan dan minuman berbahan dasar anggur.

Jessie sangat menyukai rumahnya. Udaranya yang bersih, sejuk, sebuah pohon besar tumbuh di halaman rumahnya, rumput yang hijau, tanaman bunga milik ibunya yang tetap terawat hingga kini, benar-benar membuat suasana hatinya nyaman. Sangat berbeda dengan kehidupan di New York yang selalu ramai dan sibuk. Meski begitu, Jessie juga suka kehidupannya di New York. Ia bisa menggapai apa yang ia cita-citakan yaitu merancang pakaian hingga gaun pengantin.

Jessie segera menuju ke kamar lamanya. Melemparkan diri di sana dan telentang di atas ranjangnya. Secara spontan, kepalanya menoleh ke arah jendela kamarnya. Jendela tersebut tepat berhadapan dengn Jendela kamar Steve. Meski ada pembatas pagar diatara kamar mereka, tapi pagar tersebut sangat rendah hingga memungkinkan Jessie melihat Steve jika lelaki itu ada di sana.

Jessie menghela napas panjang. Apa lelaki itu akan datang nanti malam? Astaga, Jessie tidak tahu harus bersikap seperti apa saat dihadapan Steve dan juga keluarga mereka. Memikirkan hal itu saja Jessie sudah mual.

Ketika dirinya asyik melamun, pintu kamarnya dibuka dan terlihat George Summer berdiri di ambang pintu kamarnya.

“Hai, Dad.” Jessie bangkit kemudian segera menuju ke arah ayahnya. Dengan spontan mereka berpelukan.

“Kau baik-baik saja? Frank sudah bercerita padaku.”

Astaga, Frank. Ia tahu bahwa seharusnya ia tak mengatakan apapun dengan kakaknya itu. Kini, ayahnya sudah tahu, tinggal menunggu waktu saja sampai semua keluarga Morgan tahu.

“Apa dia menceritakan semuanya?” tanya Jessie sembari mengangkat wajahnya menatap ke arah Sang Ayah.

“Ya. Semuanya.” Jawab George dengan sungguh-sungguh. “Kau ingin aku turun tangan menyelesaikan masalahmu.”

“Tidak, Dad.” Jessie menjawab cepat. “Aku tidak ingin semuanya menjadi rumit.”

“Rumit? Semua semakin rumit jika mereka tahu atau mendengar dari orang lain, Jess. Kau ingin hubungan pertemanan kami renggang?”

“Tidak, tentu saja tidak, Dad.”

“Jadi?”

Jessie menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan memberitahu Steve. Tapi tolong, jangan ikut campur. Oke?”

George tersenyum “Tentu, Sayang. Kemarilah.” George memeluk kembali tubuh Jessie. “Aku merindukanmu, kau tahu.”

“Aku juga, Dad.” Jawab Jessie dengan sungguh-sungguh. Keduanya berpelukan dalam keheningan. Jessie tahu, masalah berada di hadapannya, dan mau tak mau ia harus menghadapinya, bukan malah menghindarinya. Tapi bisakah ia menghadapinya?

***

Malam itu akhirnya tiba juga, malam dimana Jessie menghadiri undangan keluarga Morgan. Keluarga Morgan merayakan keberhasilan Emily Morgan, puteri bungsu mereka yang mendapatkan gelar Dokter spesialis kandungan.

Jessie hanya datang berdua dengan ayahnya, sedangkan kakaknya yang sialan, Frank, baru mengabari jika dirinya tidak bisa pulang hari ini karena ada rapat penting mengenai bukunya yang akan difilmkan.

Jessie semakin gugup, perutnya terasa diremas ketika Patty, Ibu Steve, menggiringnya masuk ke dalam rumahnya. Mereka melewati ruang tengah lalu segera menuju ke arah kebun tepat di samping rumah keluarga Morgan. Ya, pesta kecil tersebut dirayakan di kebun yang sudah dihias dengan banyak sekali lampu-lampu kecil hingga membuatnya tampak begitu indah.

“Steve juga sudah datang, dengan kekasihnya.” Tubuh Jessie menegang seketika saat setelah mendengar kalimat Patty. “Hei, lihat siapa yang datang.” Patty berseru keras hingga semua orang yang berada di sana menolehkan kepalanya ke arah Patty, Jessie dan juga George.

Tampak seorang lelaki berdiri dengan seorang perempuan berambut pirang yang tampak setika menggandeng lengannya. Lelaki itu menatap ke arah Jessie dengan tajam, dan yang dapat Jessie lakukan hanya berpaling kearah lain. Sungguh, Jessie tidak bisa beradu pandang dengan Steve dalam keadaan seperti ini, ia tidak bisa karena Steve pasti akan menyadari bahwa ada yang ia sembunyikan dari lelaki itu.

“Jessie. Astaga, aku senang kau datang.” Emily menghambur kearahnya memeluknya degan erat, dan Jessie merasa kaku seketika. Emily melepaskan pelukannya dan menatap Jessie penuh tanya. “Kau ada masalah?” tanyanya karena ia tak pernah mendapati Jessie bersikap aneh seperti saat ini.

“Tidak. Aku baik-baik saja.” Jawab Jessie mencoba mengendalikan diri.

“Kalau begitu, Ayo kita berpesta.” Emily menyeret Jessie menuju ke arah banyak orang.

Pada sudut matanya, Jessie melihat bahwa Steve tampak memperhatikannya. Astaga, apa yang harus ia lakukan?

“Kau tahu, ini adalah pertama kalinya Steve membawa seorang wanita ke rumah.” Emily berkata dengan sangat antusias. “Mom memasak apapun yang dia bisa untuk menyambut kekasihnya. Kau pasti sudah mengenalnya, bukan?”

Emily berhenti dihadapan Steve dan wanita berambut pirang itu.

“Hai, Steve. Apa kabar?” sapa Jessie masih mencoba mengendalikan diri.

Steve hanya tersenyum miring. Ia bahkan memilih memalingkan wajahnya ke arah lain. Lelaki itu masih marah terhadapnya, dan Jessie tak mengerti, bukankah seharusnya dirinya yang marah terhadap lelaki itu?

“Hei, apa kau tidak mendengar Jessie sedang menyapamu?” Emily menyikut kakaknya.

“Kau ada masalah dengannya?” perempuan berambut pirang itu berbisik ke arah Steve.

“Kalian sudah saling mengenal, bukan?” Emily menunjuk pada Jessie dan Donna.

“Belum. Aku sama sekali belum mengenalnya.” Donna menjawab.

“Kau yakin? Mereka tinggal di satu gedung apartmen. Apa dia tidak pernah mengajakmu berkunjung ke tempat Jessie?” tanya Emily sekali lagi pada Donna.

Donna hanya menggelengkan kepalanya. “Kupikir, mereka memang memiliki masalah.”

Jessie mencoba tertawa padahal saat ini ia merasa mual. “Ayolah, kami tidak memiliki masalah apapun. Bukankah begitu, Steve?”

“Ya.” Singkat dan padat. Itulah jawaban Steve. Bahkan lelaki itu tampak enggan menjawab pertanyaan Jessie.

Jessie meremas kedua belah telapak tangannya. Ia tidak suka dengan reaksi Steve, terlebih lagi, ia tidak suka dengan kehadiran wanita berambut pirang yang setia berada di sebelah lelaki itu.

“Baiklah, aku akan menyapa yang lain dulu.” Jessie mencoba untuk menghindar. Ia tidak ingin semalaman berada di sekitar Steve dengan suasana canggung dan tidak enak seperti saat ini.

***

Pulang dari pesta.

Jessie segera menuju ke arah dapur. Tak lupa ia melepaskan sepatu hak tingginya yang membuat tumitnya terasa sakit. Ia mengambil sebotol air dingin kemudian meminumnya. Sedangkan George, tampak mengikutinya dari belakang.

“Kau tahu kalau dia sudah memiliki kekasih?” tanya George dengan sungguh-sungguh.

“Aku tak mengerti apa maksudmu, Dad.”

“Demi Tuhan! Patty dan Paul membicarakan tentang rencana pernikahan Steve sepanjang malam denganku, sedangkan aku tak tahu harus menanggapi seperti apa.”

“Aku tidak peduli dengan pernikahannya, Dad.”

“Tapi aku peduli.” George berkata cepat. “Cepat atau lambat mereka akan tahu kehamilanmu. Jika Patty dan Paul bukan sahabatku, mungkin aku tak akan peduli. Tapi mereka sahabatku. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana kecewanya mereka saat mengetahui semuanya ketika sudah terlambat.”

Jessie menatap ayahnya seketika. “Kau ingin aku menggagalkan pernikahan mereka?”

“Tidak. Aku hanya ingin kau jujur dengan Steve. Aku tidak akan memaksa kalian, atau Steve untuk menikahimu. Ini bukan lagi jaman seperti itu. Banyak wanita yang hamil dan membesarkan anaknya sendiri. Aku hanya ingin kau jujur hingga tak menimbulkan kesalahpahaman kedepannya.”

“Kesalahpahaman seperti apa?”

“Seperti kau seolah-olah sengaja menyembunyikan dan menjauhkan anak itu dari keluarga Morgan.” George mendekat. “Jess, aku tahu ini sulit. Mungkin, kau akan mendapatkan penolakan dari Steve, tapi setidaknya kau sudah berbuat benar dengan memberitahunya. Kau tidak sendiri, kau memiliki aku, dan Frank.” Ucap George dengan nada lembut sembari mengusap puncak kepala Jessie.

Dengan spontan, Jessie memeluk tubuh ayahnya. “Maaf, aku sudah bertindak egois.”

George mengangguk. “Aku tahu, ini sulit untukmu.” Pelukannya semakin erat. “Kau akan memberitahunya?”

“Ya.” Jessie menjawab dengan setengah menghela napas panjang.

“Bagus. Kau tak perlu melakukan apapun. Kau hanya perlu memberitahunya. Serahkan semua keputusan pada Steve.”

Jessie mengangguk patuh. Ayahnya benar. Steve memang harus tahu. Ia tidak ingin membuat kehebohan dimasa mendatang, kemudian ia dan keluarganya dituding sengaja menyembunyikan semuanya. Jika hal itu terjadi, bukan hanya pertemanannya dengan Steve yang hancur, tapi juga pertemanan kedua orang tuanya dengan keluarga Morgan ikut hancur. Dan Jessie tak ingin hal itu terjadi. Ia akan memberitahu Steve, setelahnya, ia menyerahkan keputusan sepenuhnya pada lelaki itu.

***

Pagi harinya….

Jessie sudah bersiap-siap dengan sepedanya. Semalaman ia tidak tidur karena memikirkan nasehat ayahnya. Kini, Jessie sudah bulat pada keputusannya bahwa ia akan memberitahu Steve pagi ini juga.

Biasanya, jika mereka pulang ke Pennington, mereka akan bersepeda di pagi hari bersama. Dan Jessie berharap bahwa Steve akan tetap menjalani kebiasaan itu pagi ini. karena itulah, Jessie sudah bersiap-siap dengan sepedanya pagi ini.

Padahal, pagi ini, ia merasa tidak enak badan. Sesekali Jessie merasa perutnya kram sejak semalam. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia berharap jika tak akan terjadi apa-apa dengan bayinya.

Apa yang diharapkan Jessie benar-benar terjadi. Tak lama ia melihat Steve mengendarai sepedanya melewati depan rumahnya. Yang membuat Jessie sedih adalah bahwa Steve sama sekali tak menoleh ke arah rumahnya. Lelaki itu benar-benar membencinya. Jessie tahu itu.

Dengan segera, Jessie menyusul Steve. Jessie bersyukur bahwa Steve hanya sendiri. lalu, dimana Donna? Apa Donna masih tertidur lemas karena semalaman bercinta dengan Steve?

Jessie menggelengkan kepalanya cepat. Ia tidak tahu kenapa ia berpikir sampai kesana. Lagipula, urusan ranjang lelaki itu bukanlah urusannya. Urusan mereka hanya sebatas tentang penyakit masuk anginnya.

Oke, Jessie akan berhenti menyebutnya seperti itu. Frank dan ayahnya sudah tahu, jadi untuk apa ia terus-menerus mengingkari semuanya? Ia hamil, bukan masuk angin. Sekali lagi, Hamil, titik!

Jessie menghela napas panjang. Ia mengayuh sepedanya lebih cepat lagi sesekali memanggil nama Steve. Tapi lelaki itu bersepeda seperti orang kesetanan hinga Jessie sulit mengejarnya.

“Steve. Kau tidak mendengarku?” dengan sisa-sisa tenaganya, akhirnya Jessie mampu sejajar dengan Steve.

Steve menolehkan kepalanya ke arah Jessie, kemudian ia menghentikan laju sepedanya. Dengan napas terengah, Jessiepun ikut berhenti.

Steve membuka kacamatanya beserta headset yang sejak tadi ia kenakan. Jessie menghela lega. Rupanya Steve tidak menghindarinya, lelaki itu hanya tidak mendengarnya karena sedang mengenakan headset.

“Jess, kau…” Steve menghentikan ucapannya ketika melihat Jessie melepaskan sepedanya hingga roboh.

Jessie tampak terduduk sembari memeluk perutnya sendiri. Stevepun segera mengabaikan sepedanya dan berlari menuju ke arah Jessie.

“Kau baik-baik saja? Ada yang tidak beres?” tanya Steve dengan khawatir. Jessie tampak pucat dan wanita itu tampak kesakitan.

“Aku, aku hanya terlalu stress.” Ucapnya dengan terpatah-patah. Memang, beberapa minggu terakhir menjadi hari-hari yang berat untuk Jessie setelah ia mengetahui tentang kehamilannya. Tak ada hari tanpa berpikir cemas. Keputusanya untuk berpisah dengan Henrypun menambah buruk suasana hatinya, belum lagi kenyataan diluar dugaan bahwa Steve akan menikah dengan seorang wanita seksi berambut pirang bernama Donna Simmon. Jessie stress, ia merasa terguncang.

“Kau bisa bangkit?”

Jessie hampir menangis saat menggelengkan kepalanya. Sial! Ia tidak pernah secengeng ini sebelumnya. “Bawa aku ke rumah sakit, Steve. Tolong.” Ucapnya dengan lemah.

Jessie tak perlu meminta untuk kedua kalinya, karena dalam sekejap mata, ia merasakan tubuhnya mengambang di udara. Steve menggendongnya dengan setengah berlari. Mereka meninggalkan sepeda mereka. Tak mungkin juga membawa Jessie dengan sepeda yang tak memiliki tempat untuk boncengan.

Dengan spontan, Jessie mengalungkan lengannya pada leher Steve. Wajahnya tersembunyi pada dada bidang lelaki itu. Untuk pertama kalinya setelah ia mengetahui tentang kehamilannya, Jessie merasa sangat nyaman. Apa yang membuatnya senyaman ini? apa lelaki ini? apa pelukannya? Atau dada bidangnya? Jessie tak tahu. Tapi yang pasti, ia merasa sangat nyaman ketika tahu bahwa Steve begitu perhatian padanya.

-TBC-

Hayookkkk apa yang akan terjadi selanjutnyaaaa??? wakakakakkakakakakkaka