My Beautiful Mistress – Bab 17

Comment 1 Standard

 

Bab 17

 

Jiro semakin memperdalam cumbuannya, tubuhnya semakin mendekat menempel sepenuhnya pada tubuh Ellie. Kejantanannya menegang, berdenyut nyeri menahan desakan gairah yang luar biasa. Tak pernah Jiro merasa seingin ini memiliki seorang wanita, hanya Ellie yang membuatnya seperti ini, hanya wanita itu, istrinya.

Masih dengan bibir yang saling bertaut satu sama lain, Jiro membantu Ellie melepaskan blouse dan bawahan yang dikenakan oleh wanita itu. Ellie tidak membantah maupun menolaknya, hal itu semakin membuat Jiro senang. Jiro ingin menguasai tubuh wanita mungil di hadapannya ini, Jiro ingin menguasai semua isi didalam hati wanita ini.

Jiro lalu melepaskan tautan bibir mereka saat ia merasakan napas Ellie mulai habis karena ulahnya. Ia menatap tajam ke arah wanita yang terengah kehabisan napas di hadapannya tersebut. Sedikit tersenyum, Jiro mulai melucuti pakaiannya sendiri. menarik kausnya ke atas melewati kedua belah telapak tangannya dan juga kepalanya, hingga Jiro hanya bertelanjang dada dengan celananya saja.

Jiro kembali menatap Ellie. Tubuh wanita itu tampak begitu indah. Kehamilannya membuat Ellie tampak mempesona. Dengan cekatan Jiro membantu Ellie melepaskan bra yang dikenakan istrinya itu, hingga dalam sekejap mata, Ellie sudah polos hanya berbalutkan celana dalamnya saja.

Keindahan Ellie benar-benar membuat Jiro tak mampu bertahan. Dengan spontan ia menundukkan kepalanya, mendaratkan bibirnya pada tulang selangka Ellie yang tampak begitu indah di matanya. Jiro mengecupnya lembut, memuja keindahannya, hingga membuat Ellie memejamkan matanya seketika.

“Ya Tuhan! Kamu benar-benar indah, Sayang…” Jiro mengerang diantara kekaguman yang ia rasakan.

Ellie sendiri hanya bisa pasrah ketika Jiro tampak begitu memuja tubuhnya. Ellie merasa begitu dicintai, hingga yang bisa ia lakukan hanya pasrah dengan sesekali mengerang karena godaan yang diberikan Jiro padanya.

Jiro merayap turun, hingga bibir lelaki itu berhenti pada puncak payudaranya. Ellie mengerang seketika saat Jiro mulai menggodanya, mengirimkan kembali getaran panas yang bersumber dari bibir lelaki tersebut.

Oh, Jiro begitu panas, membuat Ellie tak kuasa untuk mengalungkan lengannya pada leher Jiro. Ellie berusaha untuk membuat Jiro agar tak menghentikan apa yang lelaki itu lakukan. Ellie sangat menyukainya, ketika bibir lelaki itu membelai kulitnya, menggoda setiap inchi dari tubuhnya hingga bergetar dan siap untuk dipuaskan.

Ellie mengerang tak tertahankan saat jemari Jiro mengusap lembut perutnya, kemudian dengan nakal jemari itu merayap turun, menelusup masuk ke dalam panty yang ia kenakan. Ya Tuhan! Jiro kembali menggodanya, menggoda dengan bibir dan juga jemari nakal lelaki tersebut.

Ellie melemparkan kepalanya ke belakang, kakinya seakan tak mampu berdiri dengan sendirinya, ia merasa lemas dengan hantaman gairah yang diberikan oleh Jiro lagi dan lagi. Hingga kemudian, Ellie merasa tak sanggup menahannya lebih lama lagi.

“James, Astaga…” erangnya dengan suara tertahan.

Jiro menghentikan aksinya, ia menatap dengan intens ekspresi keenakan yang terpampang jelas di hadapannya. Wajah Ellie memerah, entah karena gairah, atau karena yang lainnya. Mata biru wanita itu tampak berkabut, bibirnya ternganga, terengah karena napas yang tak beraturan. Hingga Jiro tak mampu untuk tidak menyambar bibir tersebut.

Jiro melumat habis bibir Ellie. Jemarinya dengan nakal melepas paksa sisa kain yang membalut tubuh istrinya tersebut. Hingga kini, Ellie sudah berdiri polos tanpa sehelai benangpun.

Masih dengan mencumbu bibir Ellie, Jiro melanjutkan aksinya, mendorong tubuh Ellie sedikit demi sedikit hingga sampai pada ranjang mereka. Jiro membaringkan Ellie di sana, kemudian melepaskan tautan bibir mereka.

Mata Jiro kembali menatap Ellie dengan intens. Sial! Jiro tak akan pernah bosan untuk mengagumi keindahan yang terpampang sempurna di hadapannya.

 

Jiro kemudian bangkit, melucuti sisa pakaian yang membalut tubuhnya sendiri, lalu ia kembali pada Ellie, dan berbisik pelan pada wanita itu.

“Bolehkah aku memulainya?”

Ya Tuhan! Jiro tak pernah melakukan ini sebelumnya, meminta izin dengan begitu lembut pada Ellie. Ellie tak bisa berbuat banyak, ia tidak mungkin menolak Jiro ketika gairahnya sendiri saja sudah sulit untuk dikendalikan. Akhirnya yang bisa Ellie lakukan hanya mengangguk, dan menjawab “Ya. Lakukanlah.”

Jiro tersenyum simpul. Tanpa banyak bicara lagi, ia mulai memposisikan diri untuk menyatu dengan Ellie. Mendesak pelan tapi pasti, hingga kemudian, tubuh mereka menyatu dengan begitu sempurna.

Ellie merasakan kenikmatan yang luar biasa saat Jiro terasa penuh mengisinya, sedangkan Jiro, ia memilih mengendalikan diri agar bisa mengontrol gairahnya yang semakin menggebu saat merasakan Ellie terasa sesak menghimpitnya.

Jiro kembali membungkukan badannya, jemarinya mengusap lembut pipi Ellie, lalu bibirnya sesekali mengecup singkat bibir Ellie. Sedangkan yang dibawah sana tak berhenti bergerak, memompa seirama, mencari kenikmatan dan juga memberikan kenikmatan pada sang empunya.

Di satu sisi, Jiro tak ingin segera mengakhiri percintaannya dengan Ellie. Ia masih ingin memuja setiap inchi dari tubuh istrinya tersebut, Jiro masih ingin mencumbu bibir lembut Ellie yang seperti ceri. Tapi di sisi lain, Jiro tak dapat menahan gairahnya terlalu lama. Ia ingin segera meledak kemudian memulainya lagi dengan Ellie. Dan sepertinya, pemikiran terakhir tersebut menjadi pilihan Jiro.

Tak menunggu lama lagi, Jiro mulai menaikkan ritme permainannya. Bibirnya kembali mencumbu bibir Ellie, melumatnya dengan panas. Pergerakannya semakin cepat, menghujam lagi dan lagi, hingga kemudian, Jiro merasakan Ellie menegang, kewanitaannya mengencang, mencengkeram dengan erat, dan erangan tertahan oleh wanita itu menandakan bahwa Ellie baru saja sampai pada puncak kenikmatannya.

Jiro masih bergerak, lebih cepat dari sebelumnya, mencari kenikmatan untuk dirinya sendiri, hingga tak lama, ia menyusul Ellie sampai pada puncak kenikmatan tersebut.

Jiro menggeram saat bukti cintanya penuh mengisi Ellie, napasnya memburu, begitupun dengan napas Ellie. Keringatnya bercucuran, padahal kamarnya tentu berAC. Sesekali Jiro masih mengecubi bibir Ellie, pipi wanita itu, hingga kemudian ia berinisiatif untuk menarik diri dan menggulingkan tubuhnya ke samping Ellie.

Jiro mendesah panjang. Ia masih mengontrol diri dari gelombang gairah yang baru saja menghantamnya.

Jiro menolehkan kepalanya ke arah Ellie, wanita itu masih terengah, masih kelelahan karena orgasme yang baru saja menghantamnya. Lalu Jiro berinisiatif untuk bangkit meraih kotak tissue yang berada di atas nakas, menarik beberapa lembar untuk membersihkan dirinya, lalu menarik lagi beberapa lembar untuk membersihkan diri Ellie dari sisa-sisa percintaan panas mereka.

Ellie berjingkat seketika saat Jiro kembali menyentuhnya. Ia menatap penuh tanya pada lelaki di sebelahnya.

Jiro sendiri hanya tersenyum dan berkata “Aku akan membersihkanmu.”

“Aku, aku bisa sendiri.” jawab Ellie dengan gugup. Sungguh, tak pernah Jiro melakukan hal seintim ini padanya.

“Jangan. Aku ingin melakukannya untukmu.”

Ya Tuhan! Ellie merasa luluh lantak karena perlakuan lelaki ini. Pada akhirnya, Ellie memilih pasrah. Ia membiarkan Jiro untuk membersihkan dirinya, membersihkan bagian paling intim dari tubuhnya.

Jiro sendiri benar-benar melakukannya, mengusap lembut bagian intim dari tubuh Ellie dengan tissue-tissue tersebut. Membersihkannya dengan gerakan pelan. Tanpa diduga, Jiro mendengar Ellie sesekali mengerang karena ulahnya, hingga kemudian ia menatap Ellie dan bertanya “Ellie?”

Ellie yang tadi memejamkan matanya karena sentuhan Jiro tersebut akhirnya membuka matanya. Ellie tahu bahwa niat Jiro hanya untuk membantunya, tapi Demi Tuhan, sentuhan lelaki itu kembali membangkitkan gairahnya.

“James…” Ellie hanya bisa melirih, dan Jiro masih tidak mengerti apa yang sedang dirasakan oleh istriny tersebut.

“Ada apa?” tanya Jiro sembari mengangkat sebelah alisnya.

“Sentuhanmu membuatku kembali bergairah.” Ellie berkata dengan jujur.

Jiro sempat terkejut dengan kejujuran Ellie tersebut, kemudian ia tersenyum dan menjawab “Kamu ingin lagi?” tawar Jiro.

Ellie tampak bingung, ia harus menjawab apa. “Aku, aku tidak tahu.” Bisiknya nyaris tak terdengar.

“Pasti karena bayinya. Ya?” Jiro menatap perut Ellie yang sudah semakin membesar, mengusapnya lembut, lalu mengecupnya lagi dan lagi.

“Karena kamu juga.” Perkataan Ellie menghentikan aksi Jiro. Jiro mengangkat wajahnya dan menatap Ellie penuh tanya.

“Maksudmu?”

“Uum…” Ellie tampak ragu menjawabnya. “Ini, bukan sekedar karena hormon. Aku, aku menginginkanmu meski mungkin hormonku tidak sekacau saat ini.”

Jiro sempat tercenung mencerna apa yang dikatakan Ellie, tapi kemudian ia mengerti apa yang dimaksud oleh perkataan Ellie tersebut.

“Kamu benar-benar menginginkanku?” tanya Jiro lagi dengan nada yang begitu lembut.

Wajah Ellie kembali merah padam karena malu, tapi ia tidak ingin menolak dan bersikap munafik. Ia memang menginginkan Jiro, sentuhan lelaki itu seakan menggodanya kembali. Akhirnya Ellie hanya bisa mengangguk pasrah.

Jiro tersenyum, mendekat pada wajah Ellie kemudian ia berbisik “Kalau begitu, kamu hanya perlu mengakuinya, maka aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan.”  Setelah itu, Jiro kembali mencumbu lembut bibir Ellie, melumatnya dengan panas, dan kembali membangun gairah untuk mereka berdua.

Jiro tidak tahu, kenapa hubungannya bisa seintim ini dan juga sepanas ini dengan Ellie dalam waktu yang cukup singkat. Maksudnya, selama Empat tahun terakhir, Jiro tidak pernah memperlakukan Ellie seperti ini. Elliepun tidak pernah menampilkan reaksi sepanas ini, tapi kini, keduanya seakan terbuka dengan apa yang mereka inginkan, keduanya seakan membiarkan saja semuanya berjalan dengan sendirinya, mengalir seperti air tanpa ingin menahan diri atau memungkiri diri sendiri. hal itulah yang membuat hubungan keduanya semakin dekat dalam jangka waktu beberapa minggu terakhir.

Kini, Ellie tak hanya cukup menarik untuk Jiro, bukan hanya kecantikan wanita itu yang mampu memikatnya. Tapi semuanya, semua yang ada pada diri Ellie seakan mampu mengikat Jiro hingga Jiro yakin bahwa ia tak akan mungin bisa lari dari diri Ellie.

Ya Tuhan! Bagaimana mungkin seorang Ellie mampu membuat dirinya berada pada titik seperti ini?

 

-TBC-

Advertisements

My Beautiful Mistress – Bab 16

Comment 1 Standard

 

Bab 16

 

Masih mencoba mengendalikan dirinya akibat dari ucapan Ellie tadi, Jiro mengajak Ellie masuk ke dalam rumah sakit tersebut. Mereka menuju ke ruang inap Bianca dan disambut dengan ramah oleh Jason dan juga Bianca.

“Elo belum pulang dari kemarin?” tanya Jiro yang segera mendekat ke arah Jason dan juga Bianca.

“Belum. Paling besok gue pulang sebentar terus balik lagi. Bee masih harus banyak istirahat.” Jawab Jason sembari menatap lembut ke arah Bianca. sedangkan Bianca hanya bisa menyunggingkan senyuman manisnya.

Kemudian, Jason menatap ke arah Ellie dan bertanya “Jadi ini….” ucapnya menggantungkan kalimat.

“Ellisabeth, istriku.” Dengan penuh percaya diri Jiro memperkenalkan Ellie pada Jason.

Jason tersenyum dan bertepuk tangan “Wow, wow, keren sekali, Bro.” goda Jason. Selama ini, Jiro memang tak mau membahas apapun tentang masalah pribadinya, tapi kemarin, temannya itu jujur dengan statusnya, dan kini, temannya itu memperkenalkan istrinya pada dirinya dan juga Bianca.

“Halo, Ellie. Aku Jason, panggil saja Jase.” Ucap Jason sembari mengulurkan telapak tangannya. Ellie menyambutnya dengan menyebutkan namanya. “Dan ini, Bianca, tunanganku.”

“Hai..” Bianca menyapa dengan ceria, meski wajah wanita itu masih tampak pucat.

Semua terjadi begitu cepat, Jason mengajak Jiro duduk di sofa panjang ujung ruangan, sedangkan Bianca meminta Ellie untuk tetap berada di dekatnya dan membahas tentang kehamilan.

“Uum, James bilang, kamu juga sedang hamil.” Ucap Ellie mencoba mencairkan suasana canggung. Bagaimanapun juga, mereka baru saling mengenal, jadi Ellie tidak tahu apa yang harus dibahas selain tentang kehamilan mereka.

“Iya. Aku juga baru tahu kemarin sebelum kecelakaan. Bahkan aku belum sempat memberitahu Jase.”

“Ohh.” Ellie menganggukkan kepalanya.

“Jadi, kamu benar-benar istri Jiro, ya?”

Ellie tersenyum, ia tidak tahu harus menjawab apa. “Apa kurang pantas?” tanyanya kemudian.

“Oh tidak, tentu saja tidak. Maksudku, Jiro yang selama ini kukenal adalah pria pendiam, misterius, dan kupikir dia tipe orang yang sangat serius. Aku masih nggak nyangka kalau selama ini dia menyembunyikan suatu rahasia yang sangat besar.”

Ellie kembali menganggukkan kepalanya. “Aku juga tidak tahu, bagaimana bisa aku bertahan selama ini. diperlakukan seperti seorang simpanan yang hanya dikunjungi saat perlu.”

“Benarkah dia memperlakukanmu seperti itu?” Bianca tampak terkejut.

“Ya. Aku tinggal di rumah kami, dan dia tinggal di apartmennya. Hanya beberapa bulan terakhir saja dia tinggal di rumah kami. Itupun tidak setiap hari.”

“Ohh, itu benar-benar menyebalkan.”

“Sangat.” Ellie setuju dengan ucapan Bianca.

“Tapi Ellie. Mungkin dia melakukan itu untuk kebaikanmu juga.”

“Maksudmu?”

“Dulu, aku juga tidak mengerti kenapa Jase menyembunyikan tentang hubungan kami. Jase hanya bilang bahwa itu bertentangan dengan kontrak mereka dengan management. Kemudian, karena rasa posesifnya yang berlebihan, Jase tetap mempublikasikan hubungan kami. Kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya? Berbagai serangan datang padaku.”

“Kamu pasti bercanda.” Ellie tidak percaya.

Well. Kamu bisa melihat akun sosial mediaku yang sekarang menjadi sarang haters yang tak lain adalah fans Jase yang tidak suka Jase akan mengakhiri masa lajangnya.”

“Ya Ampun, sampai seperti itu?”

Bianca tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Jadi, pandai-pandailah mengerti. Kadang, mereka melakukan apa yang tidak kita suka untuk kebaikan kita.”

Ellie menganggukkan kepalanya. “Kalau boleh jujur, aku sudah tidak berminat tentang publikasi hubungan kami. James sudah berhenti jadi artis, bagiku itu sudah cukup.”

“Jadi, kamu mendukung keputusannya?”

“Sebenarnya, aku kurang suka dengan profesinya saat ini. tapi, ada satu sisi dimana aku mengaguminya sebagai seorang artis papan atas.”

“Ya. Mungkin itu akan menjadi kebanggaan tersendiri untuk kita. Banyak perempuan di luar sana yang berharap bisa mengenal ataupun dekat dengan mereka, dan mereka memilih kita.” Ucap Bianca dengan pasti. “Ngomong-ngomong, kamu sudah berapa bulan?” tanya Bianca sembari melirik ke arah perut Ellie.

Ellie mengusao lembut perutnya. “Tujuh bulan.”

“Sudah mendekati masa persalinan, ya.” Ellie hanya mengangguk. Kemudian keduanya melanjutkan obrolan mereka tentang kehamilan masing-masing.

Di sudut lain ruang inap Bianca, Jason dan Jiro sedang membahas hal lainnya berdua, hingga keduanya tak sempat mendengarkan obrolan dari Bianca dan juga Ellie.

“Jadi, benar-benar The Danger ya, pelakunya?” Tanya Jiro sembari meneguk soda kaleng di hadapannya.

“Ya. Sudah ketangkep. Kamu tahu siapa? Cinta.”

Jiro tersedak seketika. “Apa? Jadi selama ini….”

“Ya, dia dalangnya.” Jason menghela napas panjang. Nama itu tentu tidak asing untuk Jiro. Cinta merupakan salah satu teman dekat Jason, Ken dan Troy, teman sejak sekolah. Dan Jiro benar-benar tidak mengerti untuk apa Cinta mendirikan sekumpulan fans fanatik untuk The Batman.

“Ini bukan pertama kalinya dia bertindak sesuka hatinya sendiri.”

“Maksudmu?”

“Dia dulu juga ngasih sesuatu di minuman Felly, dan ya, lo tau sendiri berakhir seperti apa.”

“Sialan! Gue nggak tahu apa rencara perempuan itu.”

“Sepertinya, dia cuma nggak mau gue dimilikin oleh seorang perempuan. Karena itulah dia ngelakuin hal yang nekat.”

Jiro menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Matanya menatap ke arah Ellie yang tampak asyik saling bercerita dengan Bianca. “Tapi sekarang semuanya sudah berakhir, Jase. Kita sudah selesai, jadi, nggak akan ada lagi fans-fans brutal seperti mereka kedepannya.”

“Ya, gue harap juga gitu.” Lalu Jason ikut menatap arah pandang Jiro. “Elo nggak marah kan, kalau kita benar-benar selesai?” tanya Jason kemudian. Ia tahu bahwa yang paling berambisi dan serius dengan The Batman selama ini adalah Jiro.

“Enggak, kenapa harus marah?”

“Gue pikir, diantara kita semua, elo yang hanya mikirin masa depan The Batman. Gue nggak nyangka kalau elo juga setuju untuk berhenti.”

Jiro tersenyum sedikit. “Kontrak gue sama The Batman sebenarnya tinggal Tiga sampai Lima bulan lagi. Dan gue memang sengaja untuk menyudahinya setelah kontrak berakhir. Dengan atau tanpa adanya masalah elo ini. Tapi ternyata, Tuhan berkehendak lain. Dengan adanya masalah ini, gue hanya bisa mempercepat masa pensiun gue dari The Batman.

“Kenapa elo memilih berhenti?”

“Kemarin, gue kan sudah bilang. Gue mau fokus jagain dia.”

“Hanya itu?”

“Jase, Gue sudah membuat Ellie menunggu terlalu lama. Gue nggak tahu, sampai kapan dia memiliki kesabaran untuk gue. Gue hanya ingin berhenti sebelum kesabarannya habis.”

“Elo takut kehilangan dia? atau, dia ninggalin elo?”

Jiro mengangkat kedua bahunya. “Takut ditinggal sih enggak. Asal elo tahu, dia di sini sendiri, memangnya dia bisa ninggalin gue kemana?” ucapnya dengan nada sombong sembari sedikit tersenyum. “Tapi gue merasa sakit, saat dia berhenti peduli sama gue, gue kesal saat dia mengabaikan gue. Gue nggak mau itu terjadi.”

Jason menepuk bahu Jiro. “Berarti apa yang elo lakuin sudah benar. Perjuangkan dia.” ucapnya.

Jiro mengangguk dengan pasti. “Ya. Gue pasti akan lakuin itu.” Lalu Jiro menghela napas panjang. “Elo sendiri, apa yang akan elo lakuin selanjutnya?”

“Gue sudah bilang kemarin, Gue akan nikahin Bianca, lalu fokus sama usaha orang tua gue.”

Well, sepertinya, kita satu jalan.”

Jason tertawa lebar, Jiropun demikian. Keduanya lalu bersulang dengan minuman soda dalam kaleng yang berada di hadapan mereka dengan mata yang masing-masing menatap kepada perempuan yang mereka cintai di hadapan mereka.

***

Jiro dan Ellie sampai di rumah mereka pukul sepuluh malam. Keadaan di dalam rumah sepi, mungkin Mei pulang karena tahu bahwa Jiro malam ini pulang dengan Ellie, sedangkan dua pengawal yang ditugaskan Jiro untuk berjaga di luar rumah tentu sudah memiliki tempat istirahatnya sendiri yang tempatnya terpisah dengan bangunan utama rumah mereka.

Mengingat jika mereka hanya berdua, entah kenapa suasana diantara mereka menjadi canggug. Jiro tidak tahu apa yang terjadi dengannya, ia tidak pernah merasa secanggung ini dengan perempuan, apalagi perempuan itu adalah Ellie.

Maksudnya, selama ini, ialah yang selalu membuat Ellie malu-malu hingga pipi wanita itu merona-rona. Ia tidak pernah salah tingkah saat dihadapan Ellie apalagi memiliki kecanggungan hingga taraf setinggi ini.

Sial! Jiro sadar jika wanita ini semakin mampu mempengaruhinya. Apa Ellie sudah mengutuknya? Tidak! Yang Jiro tahu adalah bahwa semuanya berubah setelah Ellie menyatakan perasaan cintanya tadi dengan Jiro saat sebelum masuk ruang inap Bianca.

Bukannya Jiro tidak suka, hanya saja, Jiro merasa sedikit terganggu. Ia merasa bahwa ia ingin, Ellie tetap mencintainya. Ia tidak ingin berbuat salah sedikitpun di hadapan Ellie hingga membuat Ellie berhenti jatuh cinta padanya. Hal itulah yang membuat Jiro sedikit berubah.

Mengabaikan kecanggungannya, Jiro hanya berjalan tepat di belakang Ellie. Mengikuti kemana saja kaki mungil itu melangkah. Ellie rupanya segera menuju ke arah kamar mereka dan Jiro hanya mengikuti saja. Hingga ketika Ellie masuk dan akan menyalakan lampu kamar mereka, Jiro menghentikan pergerakannya dengan cara mencekal pergelangan tangan Ellie.

“Ada apa?” Ellie menatap Jiro dengan penuh tanya.

“Jangan dinyalakan.” Ucap Jiro dengan suara yang sudah serak. Kamar mereka memang tak gelap gulita, ada sebuah lampu tidur yang menyala di atas meja di dekat ranjang.

Ellie bingung apa yang diinginkan Jiro, tapi kemudian ia tahu apa maksud lelaki itu ketika lelaki itu mendekat ke arahnya. Jemarinya terulur mengusap lembut pipi Ellie, dan tampak, Jiro sedang menatapnya dengan mata berkabut. Jiro sedang menginginkan ‘jatahnya’ Ellie tahu itu.

“James.” Ellie menahan Jiro dengan mendaratkan telapak tangannya pada dada lelaki itu.

Jiro tidak mempedulikan Ellie yang manahannya. Lelaki itu tetap mendekat, merapatkan diri dengan tubuh Ellie. “Katakan sekali lagi, aku ingin mendengarnya.” Bisiknya dengan suara serak.

“Apa?” Ellie benar-benar tidak tahu apa yang dimaksud Jiro.

Jiro tidak menjawab, ia memilih menundukkan kepalanya dan mendaratkan bibirnya pada bibir ranum Ellie, mengecupnya dengan lembut, melumatnya dengan penuh gairah. Jiro mencumbu bibir Ellie hingga mau tak mau Ellie larut terbawa oleh pusaran gairah yang diciptakan oleh suaminya tersebut.

Ya Tuhan! Ellie tidak mampu menolak Jiro, tidak salah bukan, jika ia lagi-lagi jatuh terlena dengan pesona suaminya tersebut?

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 15

Comments 2 Standard

Bab 15  

 

Jason, Jiro, Ken dan Troy duduk bersama dengan Fahri dan juga pendamping mereka. Di hadapan mereka terdapat sebuah meja panjang dengan berbagai macam mikrofon dari berbagai stasiun televisi.

Semua yang berada di sana merasa gugup, tapi kemudian, Farhi mulai membuka suara, menyapa semua media yang berada di sana dan kemudian sedikit mencairkan suasana.

“Jadi, tujuan kami untuk mengumpulkan semuanya di sini adalah untuk melakukan jumpa pers terakhir dari band kami, The Batman.” Semua yang ada di sana masih hening, karena ingin tahu apa selanjutnya yang akan diutarakan oleh Fahri. “The Batman akan vakum, selamanya.”

Setelah kalimat terakhirnya, suasana di ruangan tersebut menjadi riuh. Para wartawan memberondong mereka dengan berbagai macam pertanyaan, dan karena mereka tak tertib, maka tak ada satu pertanyaanpun yang mampu di dengar dengan sempurna oleh pihak The Batman.

Akhirnya, Jason berinisiatif membuka suara. Ia mengambil alih mikrofon yang digunakan oleh Fahri tadi lalu mulai membuka suaranya.

“Mohon untuk tenang, kami akan menjelaskan kepada kalian. Dan mungkin akan menjawab beberapa pertanyaan kalian.”

Setelah perkataannya tersebut, awak media akhirnya kembali tenang.

“Jadi, apa ini fakta? Atau hanya sensasi kalian semata untuk persiapan album baru kalian?” Seorang wartawan memberanikan diri untuk bertanya seperti itu.

“Ini fakta. The Batman benar-benar vakum. Tidak akan ada lagi album baru, atau konser-konser baru. Kami hanya akan melanjutkan beberapa kontrak yang ada yang memang tidak bisa dibatalkan seperti tampil di beberapa acara dalam waktu dekat dan melanjutkan sisa kontrak menjadi brand ambasador beberapa produk.”

“Lalu bagaimana dengan karir kalian? Bagaimana dengan fans-fans kalian?”

“Aku tau ini akan menyakiti penggemar kami. Tapi kami sudah sepakat. The Batman tidak akan ada lagi. Kami sudah memutuskan untuk berhenti. Aku dan Jiro akan fokus dengan kehidupan pribadi kami. Sedangkan Troy dan Ken akan tetap di dunia hiburan dengan bersolo karir.”

“Apa ini ada hubungannya dengan rumor The Danger yang mencelakai kekasihmu?”

“Apa ini berhubungan dengan gosip Jiro yang ternyata sudah menikah?”

“Tolong.” Jason berdiri. “Ini keputusan kami bersama. Aku akan menikah dan akan melanjutkan usaha keluargaku. Teman-temanku mendukung. Mereka tidak bisa berkarir lagi dengan The Batman tanpa aku karena kesetiaan mereka yang patut dihargai. Karena itulah kami memutuskan untuk berhenti. The Batman akan menjadi sebuah nama, sebuah cerita, sebuah kenangan indah untuk kita bersama. Tolong, jangan lagi timbul gosip yang tidak-tidak.”

Jason dan yang lain  benar-benar berharap, bahwa tak akan ada lagi timbul gosip-gosip yang tidak diinginkan. Bagaimanapun juga mereka ingin mengakhiri semuanya dengan baik-baik tanpa ada skandal atau kontroversi yang mengirinya.

***

“Jiro, apa benar alasanmu berhenti karena kamu sudah memiliki istri?”

“Jiro, Tolong dong, komentarnya.”

“Jiro, bagaimana komentarmu tentang The Danger?”

“Jiro, bagaimana dengan Vanesha?”

Dari dalam layar televisi, tampak Jiro sedang dikerubungi oleh banyak wartawan, begitupun dengan para personel lainnya. Tapi Jiro tampak enggan membuka mulutnya. Lelaki itu hanya sesekali menampakkan senyumannya tapi tetap melenggang masuk meninggalkan tempat dimana mereka melakukan jumpa pers.

Mei yang melihatnya sempat kesal. Ia bahkan menggerutu sendiri ketika melihat tayangan ulang tersebut.

“Aku masih nggak nyangka kalau kamu tenang-tenang saja, Ellie. Dia tidak mengungkapkan hubungan kalian.” Ucap Mei dengan nada kesal sedangkan Ellie masih asyik mengupas jeruk yang ada di tangannya.

“Aku tidak peduli, Mei. Yang kupedulikan adalah, bahwa dia menepati janjinya untuk selalu berada di sisiku.”

“Tapi itu mungkin akan menjadi kesempatan terakhir untuknya, Ellie. Kesempatan terakhir untuk menunjukkan kamu dihadapan publik.”

“Itu sudah tidak berarti untukku lagi, Mei. James sudah berhenti dari dunia hiburan, jadi untuk apa dia mempublikasikan hubungan kami? Kupikir itu sudah tidak diperlukan lagi. Beberapa bulan kedepan, dia akan menjadi orang biasa, bukan artis yang setiap pergerakannya akan dipantau oleh kamera.”

“Kamu pikir akan semudah itu?”

“Ya.” Ellie menjawab dengan santai.

“Ellie…”

“Mei, bagiku dia sudah pulang, dia sudah kembali padaku, itu sudah cukup.”

Mei menghela napas panjang. “Kadang aku bingung. Sebenarnya apa yang kamu inginkan, dan apa yang kamu rasakan, Ellie?”

Ellie tersenyum. Ia menyantap satu sisir buah jeruk yang ada di genggamannya. “aku hanya mencintainya, Mei. Kemarin, aku ingin sebuah pengakuan karena James adalah artis populer, dan aku tak mau dia dikenal sebagai seorang lajang. Kini, dia sudah memutuskan untuk berhenti, dia akan menjadi orang biasa, jadi kupikir pengakuan itu tak lagi penting.”

“Aku hanya nggak mau kamu tersakiti lagi, Ellie. Kamu sudah seperti saudaraku sendiri, jika Jiro menyakitimu, akupun merasa sakit karena perlakuannya padamu.”

Ellie tersenyum lembut. “Astaga, Mei. Kamu manis sekali.” Godanya.

Mei mendengus sebal. “Aku sedang tidak bercanda tahu.” Gerutunya.

“Iya. Aku mengerti, Mei.” Lalu Ellie bergegas menuju ke arah Mei dan memeluk tubuh wanita di hadapannya tersebut. “Terimakasih, kamu selalu ada untukku dan selalu mendukungku, Mei.”

Mei tersenyum. “Tentu saja. Kamu sudah seperti saudaraku sendiri, Ellie.” Keduanya saling berpelukan satu sama lain. Ellie merasa senang dan sangat beruntung karena sudah memiliki sosok Mei, sosok yang selalu berada di sisinya, mendukungnya dalam keadaan apapun.

***

Siang itu, Ellie diminta untuk bersiap-siap karena Jiro akan mengajaknya ke suatu tempat. Ketika Ellie bertanya akan kemana? Dengan santai Jiro menjawab bahwa nanti, Ellie akan tahu kemana mereka akan pergi.

Akhirnya Ellie menuruti saja apapun keinginan Jiro. Mereka berhenti pada sebuah gedung tunggal yang tak cukup besar. Jiro keluar dari dalam mobilnya dan meminta Ellie untuk keluar bersamanya.

“Ini dimana?” tanya Ellie saat mereka berada di depan pintu gedung tersebut.

“Ini Studio musik milik Jason, kami biasanya nongkrong dan latihan di sini?”

“Oh ya? Lalu, kenapa kamu mengajakku ke sini?” Ellie tampak bingung.

“Aku akan mengenalkanmu dengan teman-temanku.”

“Apa?” sungguh. Ellie terkejut dengan apa yang dikatakan Jiro. Dengan penuh perhatian Jiro meraih telapak tangan Ellie, mengecupnya singkat kemudian menggenggamnya erat.

“Ayo masuk.” Ajaknya. Dan Ellie menuruti saja apapun yang akan dilakukan lelaki itu terhadap dirinya.

Mereka memasuki gedung tersebut, lalu berjalan dan berhenti di ruangan paling ujung. Jiro menatap Ellie sebelum ia membuka pintu ruangan tersebut.

Di dalam studio sudah ada Ken dan juga Troy. Ellie hanya bisa menundukkan kepalanya ketika mendapati dua lelaki itu menatap ke arahnya.

“Jiro?” Ken terkejut saat Jiro datang dengan seorang perempuan di sisinya. Ken segera menatap ke arah Troy, tapi tampaknya Troy tak mempermasalahkan kedatangan Ellie. Lelaki itu tampak santai dengan keadaan ini.

“Ya.” Hanya itu yang diucapkan Jiro. “Jase mana? Masih di rumah sakit?” tanyanya kemudian.

“Ya. Dia masih di sana.” Jawab Ken kemudian. “Dia hanya keluar saat kita ketemu media dua hari yang lalu, setelah itu dia balik lagi ke rumah sakit dan nggak keluar lagi. Kabarnya, pagi ini Bianca sudah sadar.”

“Syukurlah kalau dia sudah sadar.” Jiro lalu menarik Ellie mendekat. “Gue cuma mau kenalin dia sama kalian.”

Troy mendekat, lengkap dengan senyumannya. “gue sudah kenal.” Ucapnya.

“Troy.” Ken mengingatkan. Ia tidak ingin mereka berakhir seperti malam itu saat di parkiran rumah sakit.

“Ellie, adik elo, kan?”

“Istri. Dia istri gue.” Ralat Jiro penuh penekanan.

Troy tertawa lebar. Seperti orang gila, lelaki itu melemparkan diri ke sofa panjang yang berada di ujung ruangan.

“Ya ampun Jiro. Elo lucu banget sih. Elo takut banget ya, kalau Ellie gue terkam. Hahahahha.” Ucap troy masih dengan tawa lebarnya.

“Brengsek!” mau tak mau Jiro mengumpat. Tapi kemudian ketegangan segera menguap. Jiro tahu bahwa Troy menghormatinya. Lelaki itu hanya menggodanya dan membuatnya kesal. Troy pasti tak akan berbuat macam-macam dengan Ellie, karena Jiro cukup tahu bahwa Troy tidak akan main-main dengan perempuan baik-baik seperti Ellie.

Ken kemudian tersenyum. Ia merasa lega karena tak ada ketegangan lagi diantara mereka. Ken lalu mendekat dan mengulurkan jemarinya pada Ellie.

“Jadi ini, istrinya Jiro si Misterius?” tanyanya. “Kenzo. Panggil aja Ken.” Ucapnya sembari memperkenalkan diri.

“Ellie.” Ellie membalas uluran tangan Ken.

Ellie dipersilahkan duduk, dan Ellie menurut saja. Dengan perhatian Ken mengambilkan sebotol air dingin untuk Ellie. Ya, diantara mereka Ken memang personel yang paling baik dan menghormati sosok perempuan. Ellie berterimakasih, ia masih tidak menyangka jika dirinya disambut dengan baik oleh teman-teman Jiro.

“Ellie, maaf. Karena aku sempat terang-terangan ngedeketin kamu. Kalau si brengsek ini jujur dari awal, mungkin aku nggak akan ngelakuin itu.” Troy berujar.

“Iya, aku mengerti.” Ellie membalas.

“Jadi, sejak kapan kalian nikah?” Ken yang bertanya. Sebenarnya Ken sudah pernah mendengar dari Jiro tentang berapa lama usia pernikahan mereka, tapi Ken ingin mendengar sendiri dari bibir Ellie.

Ellie menatap Jiro, sedangkan Jiro tampak menyerahkan semua jawaban pada Ellie. “Sudah lebih dari Empat tahun yang lalu.” Jawab Ellie kemudian.

“Dan selama itu, kamu mau disembunyikan?” tanya Ken lagi.

“Ya.” Jawab Ellie dengan nada lirih.

“Apa bedanya elo sama Kesha? Elo juga nyembunyiin hubungan elo dengan Kesha selama ini.” Jiro akhirnya membela diri.

“Beda.” Ken menjawab dengan cepat. Tubuhnya menegang ketika nama perempuan itu disebut oleh Jiro. “Kesha dan gue cuma pacaran. Lagian kalian tahu status kami, hanya media yang nggak tahu. Dan jangan lupakan fakta, kalau gue sudah putus.”

“Tunggu dulu.” Troy memotong kalimat Ken. “Jadi elo benar-benar putus sama dia?”

“Ya.” Ken menjawab dengan cepat dan pasti.

“Sialan. Bukannya elo cinta mati sama dia.”

“Dia yang mutusin gue! Brengsek, Troy!”

Jiro dan Troy saling pandang, kemudian keduanya tertawa terbahak-bahak. Tak pernah ia melihat Ken bersikap seperti ini. Ken adalah tipe pria yang kalem, tapi sekarang, lihat, temannya itu tampak berapi-api.

“Sinting kalian berdua.” Akhirnya Ken memilih bangkit dan menjauh, menuju ke arah gitarnya.

Ellie yang melihat interaksi dan kedekatan diantara mereka bertiga hanya bisa tersenyum simpul. Jika dulu, Ellie enggan mengenal salah satu dari personel The Batman, maka kini, Ellie ingin mengenal mereka semua dan berteman dengan mereka semua seperti Jiro.

Ellie tahu, bahwa ia salah karena ia pernah membenci The Batman dan para personelnya karena baginya, band itulah yang membuat Ellie jauh dengan Jiro. Tapi kini, sepertinya Ellie tak perlu membenci mereka semua. Jiro sudah kembali padanya, Jiro sudah melepaskan semuanya untuk dirinya.

***

“Kenapa kita ke rumah sakit?” tanya Ellie ketika Jiro memarkirkan mobilnya di tempat parkir sebuah rumah sakit.

“Kenapa? Kamu nggak mau? Kamu lelah?” Jiro malah bertanya balik pada Ellie.

“Tidak. Aku hanya bingung, kenapa kita ke rumah sakit.”

“Aku mau ngenalin kamu sama satu lagi personel The Batman. Jason, dialah yang punya The Batman. Dan dia sedang menunggui tunangannya di dalam.”

“Oohh, yang tadi kalian bahas ya? Jadi, tunangan Jason benar-benar ditabrak oleh perempuan gila itu?” tanya Ellie. Tadi, Jiro memang sempat membahas masalah ini dengan Ken dan Troy. Ellie sedikit mengabaikannya karena tidak tahu apa yang sedang mereka bahas.

Jiro membuka sabuk pengamannya, kemudian ia membantu Ellie membuka sabuk pengaman yang dikenakan wanita tersebut. “Ya, mereka menyebut dirinya sebagai The Danger. Perempua-perempuan gila yang fanatik dengan The Batman.”

“Terus gimana?”

“Sudah ditangkap karena kasus Bianca ini. Bee nggak sekali dua kali mereka teror. Tapi ini yang terparah. Sampai dia masuk rumah sakit, padahal lagi hamil. Itu juga menjadi salah satu alasan kenapa aku nggak mau ngenalin kamu di depan publik.” Ucap Jiro sembari mengusap lembut pipi Ellie.

“James.” Entah kenapa tiba-tiba Ellie ingin memeluk Jiro. Ia merasa terharu, ia merasa tersentuh dengan pernyataan Jiro tersebut. Ia tidak tahu bahwa Jiro berpikir sampai kesana, dan hal itu benar-benar membuat Ellie tersentuh.

“Ada apa?” Jiro bingung dengan sikap Ellie yang tiba-tiba berubah menjadi semanja ini.

“Aku mencintaimu, James. Aku mencintaimu….”

Deggg….

Deggg….

Deggg….

Jiro tak tahu apa yang terjadi, kenapa ia merasakan jantungnya berdebar, memukul rongga dadanya hingga terasa sakit. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan perasaan seperti ini, Ya Tuhan! Apa yang sedang terjadi? Apa ia juga jatuh cinta pada wanita ini??

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 13

Comment 1 Standard

 

Bab 13

 

Pagi itu, Jiro masih menunggu Ellie keluar dari dalam kamarnya. Sejak semalam, wanita itu tidak mau membuka pintu kamarnya padahal ada hal yang ingin Jiro bahas mengenai hubungan mereka. Jiro merasa tak tahan lagi, Jiro merasa tak sanggup lagi saat membayangkan setiap hari Ellie semakin dekat dengan pria lain sedangkan wanita itu semakin menjaga jarak dengannya.

Jiro memang berengsek, karena sudah ingkar janji. Ia memiliki kesempatan untuk mengatakan di depan umum tentang hubungan mereka dua minggu yang lalu saat jumpa pers. Tapi Jiro tak melakukannya. Entah apa yang membuatnya ragu untuk mengungkapkan statusnya di depan umum.

Tidak! Bukan karena ia ingin dilihat sebagai seorang lajang. Percayalah bukan itu alasan utama Jiro. Ia hanya tidak ingin media mengorek tentang masalah pribadinya. Belum lagi kenyataan bahwa Ellie sudah beberapa kali mendapatkan tawaran iklan. Jiro tidak bisa membiarkan Ellie ikut masuk ke dalam dunia sialan yang membesarkan namanya. Dan juga, jangan lupakan fakta bahwa Jiro dan The Batman memiliki fans fanatik yang mendekati gila.

Jiro masih berjalan mondar-mandir di ruang makan. Sesekali ia melirik ke arah jam tangannya. Ia sudah telat, karena ia memiliki janji dengan para personel The Batman lainnya.

Sebenarnya Jiro tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan sekarang dengan The Batman. Ia sudah merasa cukup. Konser akbar dua bulan yang lalu berjalan dengan sukses. The Batman disebut-sebut sebagai band paling fenomenal tahun ini, mereka sudah berada pada puncak tertinggi popularitasnya. Tak ada lagi yang diinginkan Jiro saat ini. tapi ia juga tidak bisa meninggalkan The Batman begitu saja. Ada beberapa kontrak yang masih harus berjalan, entah kontrak pribadi maupun kontrak dengan personel The Batman lainnya.

Jiro mendengus sebal, sesekali ia memijit pelipisnya. Jiro benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Mundur dari The Batman? Ya Tuhan, apa ia bisa melakukannya?

Sekali lagi Jiro melirik jam tangannya. Waktu sudah semakin siang, Ellie pasti sengaja tidak keluar dari dalam kamarnya. Tak ada gunanya menunggu, mungkin nanti malam mereka bisa bicara bersama dengan baik-baik dan juga dengan kepala dingin. Dan setelah itu, Jiro memutuskan untuk pergi menuju ke studio The Batman.

***

Istirahat dari latihan, Jiro tak banyak bicara ketika Troy sesekali bercerita. Meski lelaki itu tidak bercerita tentang Ellie, tapi Jiro merasa sebal dengan Troy karena sudah lancang mengajak Ellie pergi keluar.

Troy memang tak salah, temannya itu tidak tahu tentang status hubungannya dengan Ellie. Ia yang salah karena pernah menyebut Ellie sebagai adiknya. Jadi bukan salah Troy jika Troy ingin mendekati adiknya. Tapi demi Tuhan! Troy tidak buta. Ellie bahkan sedang hamil besar, bagaimana mungkin Troy bisa tertarik dengan perempuan hamil?

Tanpa diduga, Troy berjalan menuju ke arah Jiro. Dan dengan sok akrab lelaki itu bertanya “Jadi, gimana masalah elo sama Ellie?”

Jiro tak menjawab, ia memilih bungkam dan memainkan bassnya.

“Ayolah, masa elo ngambek karena gue deketin adek elo sih.” Troy kembali membuka suaranya.

“Gue sudah bilang, jangan ikut campur masalah gue.” Jiro memperingatkan dengan nada tajam.

“Oke.” Troy mengangkat kedua belah tangannya sembari mundur menjauh. “Tapi, gue harap semalem gue salah denger.” Ucap Troy lagi dengan wajah seriusnya. Jiro menarap Troy, ia tidak tahu apa yang dimaksud oleh lelaki tersebut. Sedangkan Troy, Sial! Meski mencoba memungkiri pemikirannya sendiri, nyatanya pernyataan Jiro semalaman mampu membuat ia susah tidur.

‘Rumah tangga gue’ Brengsek Jiro jika itu benar-benar sebuah kenyataan.

Pada saat bersamaan, ponsel Jason berbunyi. Jason bangkit, mengangkat teleponnya. Kemudian wajah lelaki itu memucat setelah mendapatkan kabar dari seberang telepon.

“Bianca? kecelakaan?” tanyanya dengan wajah tak percaya.

Semua yang ada di ruangan trsebut menatap ke arah Jason. Jason tampak ketakutan, lelaki itu tampak begitu khawatir. Dan semua berjalan cepat ketika Jason melesat keluar dari studio tempat mereka latihan.

***

Malam ini, Jiro kembali tidak pulang. Ia menelepon Ellie, tapi ketika Ellie mendengar suaranya, wanita itu menutup teleponnya.

Sialan!

Akhirnya mau tidak mau Jiro menelepon Mei. Teleponnya diangkat pada deringan kedua. Mei bahkan menjawab telepon dari Jiro dengan nada sedikit ketus. Sial! Apa yang terjadi dengan wanita itu?

“Mei, bisakah kamu pindah sementara ke rumahku?”

“Enggak. Kenapa aku harus pindah? Aku memang menyayangi Ellie, tapi yang seharusnya berada di sana dan menemani masa kehamilannya adalah kamu, Jiro. Bukan aku.”

“Mei, Tolong. Situasi sedang tidak kondusif.”

“Apa maksudmu dengan situasi yang tidak kondusif? Kamu jangan mencari-cari banyak alasan untuk membenarkan apa yang sedang kamu lakukan.”

“Aku tidak mencari banyak alasan, Mei!” Jiro berseru keras. “Apa kamu tahu, siang ini, Bianca masuk rumah sakit? Dia ditabrak oleh perempuan gila yang mengaku sebagai fans fanatik kami. Kamu pikir aku mau kejadian itu menimpa Ellie?”

“Astaga.” Mei tampak sangat terkejut.

“Ada banyak hal yang harus aku jelaskan Mei, aku memiliki alasan kenapa aku menolak membawa Ellie masuk terlalu jauh ke dalam duniaku.”

“Jiro.”

“Tapi aku bukan tipe orang yang pandai bicara. Aku tidak tahu harus menjelaskan seperti apa dan darimana.”

“Maaf, aku mengerti.” Akhirnya Jiro mendengar suara Mei tanpa keketusan dari wanita itu.

“Sekarang kumohon, pindahlah sementara ke rumahku. Jangan pernah tinggalin Ellie sendiri. mungkin, aku tidak akan pulang beberapa hari kedepan. Tolong, hanya kamu yang bisa kupercaya untuk merawat Ellie melebihi siapapun.”

Terdengar helaan napas panjang dari seberang. “Ya. Aku akan lakukan apa yang kamu mau. Tapi Jiro, apapun itu, kamu harus ingat, bahwa Ellie begitu membutuhkanmu. Hubunganku dengannya memang sangat dekat, tapi tak ada yang dia inginkan kecuali selalu berada di sisimu setiap saat. Kamu harus mengerti hal itu, Jiro.”

“Ya. Aku mengerti, dan aku sedang berusaha untuk mewujudkannya.”

“Maksudmu?”

“Mungkin aku akan mengundurkan diri dari The Batman, secepatnya, bahkan sebelum kontrakku berakhir.”

“Jiro!” Mei berseru keras. “Itu akan menjadi hal yang paling keren yang pernah kamu lakuin. Kalau kamu melakukannya.”

“Ya. Aku akan melakukannya. Untuk Ellie.”

Mei bersorak gembira. Jiro bahkan menjauhkan ponselnya dari telinganya. “Ya ampun, kamu benar-benar jatuh cinta sama Ellie, ya?”

“Enggak.”

“Ayolah…”

“Mei, secara teknis aku ini boss kamu. Sekarang, dari pada kamu membahas masalah pribadiku, lebih baik segeralah pindah ke rumahku.”

“Oke. Ya ampun, nggak tahu kenapa aku seneng banget.”

Jiro menggelengkan kepalanya, dan tanpa basa-basi ia mematikan ponselnya begitu saja. Jiro menghela napas panjang. Benarkah jalan ini yang harus ia ambil? Melepaskan semuanya untuk seorang Ellisabeth Julia Williams? Jika dengan ini Ellie percaya lagi dengannya, jika dengan keluar dari The Batman membuat wanita itu kembali lagi ke sisinya, maka Jiro akan melakukannya. Ya, ia akan melakukan apapun agar Ellie setia berada di sisinya.

***

Setelah Bianca masuk rumah sakit, situasi semakin tak terkendali. Jason seperti orang stress yang bahkan tak mau melangkahkan kakinya keluar dari ruang inap Bianca sebelum wanita itu sadar. Sedangkan media semakin menggila. Sosial media gempar dan viral tentang kabar simpang siur tentang fans The Batman yang brutal dan lain sebagainya.

Hal tersebut membuat Jiro, Ken dan Troy harus menghindar sementara dari publik. Beberapa jadwal mereka batal karena Jason dengan seenaknya sendiri menolak untuk hadir dan menjadi orang yang paling tidak profesional.

Meski begitu, para personel The Batman lainnya cukup mengerti keadaan Jason. Mungkin Jason merasa bersalah, mungkin Jason merasa tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi hal serius yang akan menimpa Bianca. karena jika Jiro berada di posisi Jason, maka Jiro akan melakukan hal yang sama.

Malam ini, setelah dua hari berlalu, Jiro, Ken dan Troy memutuskan untuk mengunjungi Bianca dan juga Jason. Mungkin sedikit menghibur temannya itu agar tidak terlalu tenggelam dalam rasa bersalahnya.

“Kalian kesini?” pertanyaan itu terucap dari Jason yang tampak terkejut dengan kehadiran mereka. Jiro melihat wajah Jason yang tampak lelah, temannya itu seperti baru bangun dari tidurnya dengan posisi duduk di sebelah ranjang rawat inap Bianca.

“Ya. Mau nemenin elo.” Jiro yang menjawab. Ia mendekat ke arah Jason dan menatap Bianca yang masih terkulai tak sadarkan diri di atas ranjangnya.

“Kok kalian bisa masuk? Jam besuk kan sudah habis.” Tanya Jason lagi, sembari melirik jam tangannya.

“Apa gunanya jadi terkenal kalau nggak bisa membujuk satpam atau suster yang jaga.” Troy yang menjawab, dan jawaban tersebut sedikit mencairkan suasana.

“Gimana keadaannya?” tanya Ken yang juga ikut mengamati Bianca yang masih tak bergerak sedikitpun.

“Sudah dua hari. Tapi dia belum sadar juga.” Ucap Jason dengan nada putus asa.

“Jase.” Troy menepuk bahu Jason, seakan memberikan kekuatan untuk temannya itu.

“Dia sedang hamil, Troy. Dia sedang mengandung anak gue. Dan dia celaka karena gue.” Jason sungguh tak dapat mengenyahkan rasa bersalahnya.

Sejak Dokter mengatakan keadaan Bianca yang sebenarnya, rasa bersalah Jason meningkat berkali-kali lipat. Beruntung, tak ada sesuatu yang serius terjadi dengan kehamilan Bianca. hal itu pulalah yang membuat Jason bahkan tak ingin beranjak dari kamar inap Bianca. Padahal Papa dan Mama Bianca meminta Jason pulang tapi Jason menolaknya. Jason juga sudah tak peduli lagi dengan jadwalnya menjadi publik figur, yang ia pedulikan saat ini hanya Bianca, ia berjanji tak akan keluar dari ruangan tersebut sebelum Bianca membuka matanya.

“Sial! Perempuan-perempuan itu benar-benar gila!” Troy mengumpat kesal.

“Terus, keadaan dia gimana?” kali ini Jiro yang bertanya.

“Bayinya baik-baik aja. Tapi Bee belom sadar juga dari kemarin.”

“Elo harus tenang, Jase. Elo harus sabar. Semua akan baik-baik saja, oke?” Ken menenangkan Jason.

Jason berdiam sebentar, lalu ia menatap intens pada diri Bianca yang masih menutup matanya rapat-rapat.

“Gue sudah memikirkan semuanya.”

“Tentang?” Jiro bertanya.

Jason menghela napas panjang. “Gue akan berhenti dari The Batman. Gue akan fokus sama dia, nikahin dia, jagain dia. Gue nggak mau profesi gue ngebahayain dia. Kalian tetap bisa lanjut, cari pengganti gue dengan warna suara yang sama. Lagu-lagu gue, kalian bisa pakai, karena gue nyiptain semua itu untuk The Batman.” Lalu Jason menggelengkan kepalanya. “Tapi gue nggak bisa lanjut lagi. Gue rasa, semuanya sudah cukup. Gue akan berhenti.”

Jiro, Troy dan Ken sempat kaget dengan keputusan Jason. Mereka memang ingin membahas tentang Band mereka nanti setelah keadaan Bianca membaik dan Jason sudah kembali lagi pada keadaan semula. Tapi Jiro, Ken dan Troy tak menyangka jika Jason akan mengambil keputusan seberani dan secepat ini.

“Elo yakin, Jase? Maksud gue, gue nggak mau elo nyesel nantinya.” Troy mengingatkan.

“Ya, gue sangat yakin. Gue sudah mikirin dari kemarin. Gue rasa sudah cukup apa yang gue dapetin selama ini dari The Batman.”

Jiro menepuk bahu Jason. “Kalau elo berhenti, gue juga akan berhenti dari The Batman.” Entah kenapa, mendengar Jason ingin berhenti dari The Batman membuat Jiro semakin memantapkan hatinya, bahwa ia juga harus segera mengakhiri semuanya.

“Jiro. Apa maksud elo?” tanya Jason tak mengerti. Jason bahkan sempat terkejut dengan pernyataan Jiro. Selama ini, Jirolah yang selalu tampak serius, sungguh-sungguh dengan karir mereka. Jadi Jason dan yang lain tak mengerti kenapa lelaki itu mengambil keputusan yang sama dengan dirinya.

“The Batman adalah milik elo. Elo sudah punya band itu sejak sekolah. Gue nggak akan lanjut pakai The Batman.”

“Tapi yang lain….”

“Gue juga akan berhenti.” Ken angkat suara.

Setelah menatap Ken, Jason lalu menatap ke arah Troy. “Well, nggak mungkin kan kalau gue nge-band sendiri? gue akan dukung apapun mau kalian.”

Guys, kalian nggak perlu sampai kayak gini. Kalian bisa lanjut tanpa gue.” Jason masih berharap jika teman-temannya tetap melanjutkan karir mereka.

“Gue mau jaga istri gue.” Ucap Jiro tiba-tiba. Semua yang berada di sana menatap ke arah Jiro seketika. Tentu saja, selama ini Jiro adalah orang yang paling misterius. Meski belakangan ini banyak gambar dan gosip yang menunjukkan bahwa Jiro tinggal atau sering mengunjungi seorang perempuan hamil, nyatanya sampai sekarang ini Jiro tidak pernah mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki istri.

Jiro hanya mengaku bahwa wanita itu adalah adiknya. Bahkan Troy sedang gencar mendekati adik Jiro tersebut. Tapi, pengakuan lelaki itu saat ini benar-benar membuat semua yang ada di ruangan tersebut tercengang, ternganga tak percaya bahwa apa yang dikatakan Jiro adalah kenyataan. Telebih lagi Troy, Ya Tuhan! Troy berharap bahwa Jiro sedang bercanda.

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 12

Comment 1 Standard

Bab 12

 

Dua minggu berlalu setelah kejadian menegangkan di malam itu. Ellie benar-benar melakukan apa yang wanita itu katakan. Ellie sama sekali tak peduli dengan Jiro. Bahkan wanita itu memilih tidak mempedulikan keberadaan Jiro saat Jiro sedang berada di rumah.

Semua semakin menyebalkan ketika Jiro tahu, bahwa Mei bersikap sama seperti sikap Ellie. Bahkan beberapa kali secara terang-terangan Ellie mengajak Mei dan Marvin makan-makan di rumahnya tanpa mengajak Jiro yang nyata-nyatanya berada dirumah tersebut.

Belum lagi kenyataan menyebalkan seperti yang dikatakan Troy, bahwa temannya yang brengsek itu rupanya beberapa kali sudah bertemu dengan Ellie, membuat Jiro geram saat secara terang-terangan Troy menceritakan pertemuannya tersebut kepada Ken saat mereka sedang latihan bersama.

Arrggghhh… Jiro merasa kepalanya nyaris pecah hanya karena memikirkan satu nama, yaitu Ellisabeth Julia Williams. Istrinya yang beberapa bulan terakhir menjelma sebagai sebuah virus yang merusak akal sehatnya.

Jiro mendengus sebal. Saat ini, Jiro tidak bisa banyak bertindak, ia hanya bisa diam bahkan ketika Ellie tak berhenti menyindirnya dan memojokkannya. Jiro memiliki sebuah alasan, dan ia akan berusaha mengendalikan dirinya agar tak ada yang mengerti, apa alasan sebenarnya ia tidak ingin mengakui Ellie didepan publik.

Jiro masuk ke dalam sebuah ruangan. Hari ini, ia memang dipanggil oleh manager The Batman. Ada sesuatu yang ingin dibahas oleh managernya tersebut dengannya. hanya dia, bukan dengan personel lain. Hal itu membuat Jiro bertanya-tanya, apa ia terlibat dalam sebuah masalah?

Fahri, si Manager meminta Jiro duduk di depan meja kerjanya. Kemudian lelaki itu mulai membahas apa yang baginya cukup penting hingga meminta Jiro menemuinya Empat mata.

“Lihatlah.” Fahri memberikan sebuah map. Jiro membukanya dan map tersebut berisi beberapa surat pengajuan. “Ada tawaran lagi.” Setelah perkataan managernya tersebut, Jiro menutup map sialan tersebut lalu mengembalikannya pada Fahri.

“Sudah kubilang. Aku menolaknya.”

“Jiro, tak bisakah kamu memikirkannya lagi?”

Jiro berdiri seketika. “Dengar. Aku bahkan ingin segera mengakhiri karir sialan ini karena terasa mencekikku. Jadi aku tidak akan membiarkan Ellie ikut terjun didalamnya.”

“Kamu yakin? Bukannya kamu dulu sangat berambisi untuk menjadi populer?”

“Aku sudah mendapatkannya. The Batman sudah berada dipuncak. Jadi setelah kontrak selesai, aku tidak akan memperpanjangnya.”

“Jiro, tolong.” Fahri memohon. “Aku tahu bahwa kamu tidak memerlukan uang lagi. Kepopuleran sudah tidak berarti untukmu. Tapi setidaknya, beritahu Ellie, bahwa dia memiliki kesempatan untuk menjadi seorang selebriti.”

“Dia tidak tertarik. Aku tahu bahwa dia tidak akan tertarik.”

“Jiro.” Fahri masih tak ingin mengalah.

“Demi Tuhan! Dia sedang hamil. Tak bisakah kalian berhenti mengganggunya?!” Jiro benar-benar murka.

Ini bukanlah pertama kalinya Jiro diminta untuk datang ke ruangan managernya dan membahas tentang Ellie, istrinya. Entah sudah berapa kali Ellie mendapatkan tawaran sejak foto-foto dan video wanita itu berdar di akun sosial media. Wajah Ellie yang rupawan tentu menarik minat beberapa produsen untuk menjadikannya seorang model dari brandnya. Dan Jiro tak akan membiarkan hal itu terjadi.

Ellie, wanita itu hanya miliknya. Kecantikan wanita itu hanya boleh ia nikmati, karena itulah Jiro tak ingin membaginya dengan publik.

“Bagaimana setelah melahirkan.”

“Tidak, Fahri!” Jiro berseru keras. “Sebagai suaminya, aku melarang keras. Jangan pernah menawarkan hal itu lagi padaku.” Jiro memperingatkan.

Fahri menghela napas panjang. Ia tidak bisa berbuat banyak. “Baiklah. Tapi ini…” Fahri menyodorkan map lainnya pada Jiro.

“Apa lagi?”

“Karena kontribusi Vanesha saat itu hingga membuat beritamu dan juga The Batman terangkat hingga mempengaruhi penjualan albummu, maka pihak management Vanesha menuntut timbal balik.”

Jiro mengerutkan keningnya. “Timbal balik? Bukankah saat itu kami sudah sama-sama diuntungkan? Dia bermain film saat itu.”

“Tapi filmnya tidak ramai, dan jauh dari kata sukses.”

“Itu bukan menjadi urusanku.”Jiro berkata dengan nada tajam.

“Jiro, kamu tidak bisa berbuat seenaknya. Mereka akan membongkar semuanya dan menyudutkan pihak kita.”

“Aku tidak peduli. Aku ingin segera lepas dari kontrak-kontrak sialan ini. Jadi, aku tak akan menerima lagi kontrak-kontrak baru lainnya.”

“Jiro.” Fahri masih tak ingin mengalah.

“Fahri, aku sudah menganggapmu sebagai temanku. Aku tidak ingin memperkeruh semuanya. Ellie sudah sangat membenciku karena aku belum bisa mempublikasikannya di depan umum. Bagaimana mungkin kamu memintaku untuk kembali berpura-pura mengencani Vanesha?”

“Kamu memiliki kesempatan untuk mengatakan hal itu seminggu yang lalu saat kita preskon. Tapi kenapa kamu tidak mengatakannya? Kenapa kamu memilih diam?”

“Karena aku tidak ingin media mengusik kehidupan pribadi kami.”

“Itu tidak masuk akal, Jiro! Kamu seorang selebritis, kamu harus siap dengan media-media yang usil. Katakan saja, bahwa kamu hanya tidak ingin mempublikasikan diri Ellie di hadapan publik. Kenapa? Kenapa kamu melakukannya?”

Jiro hanya diam. Ia tidak ingin menjawab. “Aku memiliki alasan yang tepat. Tapi itu tidak ada hubungannya denganmu.”

“Jiro…”

“Fahri. Bisakah sekali ini saja hormati keinginanku?”

Fahri menghela napas panjang. “Oke. Kontrakmu masih beberap bulan lagi. Setelah selesai, apa yang ingin kamu lakukan?”

“Menghilang.”

“Tidak mungkin. Kamu tidak akan mungkin bisa melakukannya.”

“Tapi aku akan melakukannya. Aku akan menghilang dari media.”

“Tidak adakah yang ingin kamu katakan pada para fansmu? Jiro, kamu tidak bisa selamanya menyembunyikan Ellie.”

Jiro hanya terdiam. Kemudian ia memilih segera pergi. Baginya, urusannya dengan Fahri sudah berakhir. Tak ada yang perlu dibicarakan lagi tentang tawaran untuk Ellie atau tawaran untuk skandal yang dibuat management tentang hubungannya dengan Vanesha. Jiro tak ingin membahasnya lagi.

***

Ellie merasa sebal saat ini.  Bagaimana tidak? Hari ini, ia merasa sedang di permainkan oleh Mei, karena tanpa sepengetahuannya, Mei menerima ajakan Troy untuk nonton dan makan malam bersama dengan lelaki itu. Padahal Ellie sudah jelas-jelas menolak permintaan Troy beberapa hari yang lalu.

Sejak lelaki itu mengantarnya pulang pada siang hari saat itu, Troy memang secara terang-terangan menunjukkan minatnya pada Ellie. Ketertarikan lelaki itu begitu jelas dan hal itu membuat Ellie tidak suka. Astaga, apa Troy sudah buta dengan keadaanya yang sedang berbadan dua saat ini? tapi di sisi lain, Ellie cukup merasa senang karena kehadiran Troy mampu membuat Jiro kelabakan.

Beberapa kali Jiro bertanya secara terang-terangan pada Ellie, apa Ellie jalan dengan Troy, dan dengan santai Ellie menjawab Ya. Padahal, Ellie dan Troy hanya bertemu beberapa kali, dan mereja tidak melakukan apapun karena mereka bersam dengan Mei juga. Malah, Ellie lebih banyak diam karena kurang suka dengan sosok Troy yang secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Ellie.

Meski begitu, hal tersebut mampu membuat Jiro murka. Ellie tidak tahu kenapa reaksi Jiro akan sekeras itu. Di satu sisi Ellie merasa bahwa Jiro begitu cemburu dengan kedekatannya dengan pria lain, entah itu Marvin atau Troy, tapi disisi lain, Ellie merasa bahwa Jiro tak peduli padanya dan tak memiliki perasaan apapun padanya. Hal itu cukup membut Ellie bingung.

“Jadi, kita ke mana lagi?” Troy yang bertanya ketika lelaki itu baru saja menghabiskan makanan penutupnya.

“Kita pulang saja, aku capek.” Ellie menjawab.

Mei berbisik kepada Ellie seketika. “Kamu yakin? Mungkin Jiro belum pulang. Dia nggak akan tahu kalau kamu jalan sama Troy.”

“Aku nggak peduli, Mei. Aku capek.” Ellie membalas pelan.

Mei menghela napas panjang. Mei benar-benar berharap bahwa setiap kali mereka jalan keluar dengan Troy atau Marvin, Jiro melihatnya. Mei tahu bahwa Ellie sebenarnya tidak suka dan kurang nyaman melakukan hal ini pada Jiro. Karakter Ellie dia sudah mengenalinya. Tapi setidaknya Mei ingin, Jiro paham bahwa Ellie sangat berharga dan patut untuk diperjuangkan, bukan diabaikan seperti sekarang ini.

“Ya sudah, kita pulang saja.” Akhirnya mau tidak mau, Mei setuju dengan perkataan Ellie.

Meski berat, Troy pun akhirnya menuruti keinginan dua perempuan di hadapanya tersebut. Setidaknya, Troy  senang karena hari ini ia bisa kembali jalan dengan Ellie, bisa mengenal wanita itu lebih dekat lagi meski sebenarnya Troy tak mendapatkan apapun karena Ellie nyatanya tampak sedikit terpaksa keluar bersamanya.

***

Troy mengantar Ellie hingga di halaman rumah wanita itu setelah ia lebih dulu menurunkan Mei di rumah perempuan itu tadi. Pada saat bersamaan Troy melihat mobil Jiro baru saja memasuki halaman rumah tersebut. Troy keluar dan pada saat bersamaan, Jiro juga keluar dari dalam mobilnya.

Secepat kilat Jiro menghampiri Troy dan bertanya dengan nada yang tak enak didengar. “Dari mana saja kalian?”

“Ayolah, Kita cuma nonton aja. Jangan jadi kakak yang posesif.” Troy menjawab dengan santai.

Sialan! Hampir saja Jiro mengatakan bahwa ia adalah suami Ellie bukan kakak Ellie, jika Ellie tidak keluar dari dalam mobil Troy dan menatapnya dengan tatapan tak suka. Jiro memilih mengabaikan Troy dan berjalan menuju ke arah Ellie.

“Sejak kapan kamu suka nonton sama dia?” tanya Jiro dengan nada tajamnya.

“Sejak suamiku kembali mengabaikanku seperti dulu.” Ellie menyindir.

“Ellie.” Sungguh, Jiro tidak ingin bertengkar dengan Ellie di hadapan Troy.

“Kenapa? Kamu hanya kakakku, jadi jangan ikut campur masalah pribadiku.”

“Aku bukan kakakmu! Aku…..” Jiro tak dapat melanjutkan kalimatnya. Ia teringat jika Troy masih berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Tidak! Ini belum saatnya ia mengatakan kebenaran tersebut. Belum saatnya….

“Kenapa? Kamu tidak berani mengatakannya?”

“Ellie, kita bisa membahas ini di dalam.”

“Tidak ada yang perlu dibahas, James. Aku lelah.” Dan setelah itu, Ellie memilih meninggalkan Jiro masuk ke dalam rumahnya.

“Oke, gue mau pulang, gue nggak mau ikut campur masalah kalian berdua.” Troy berkomentar sembari bersiap masuk ke dalam mobilnya.

“Ya. Elo memang nggak berhak ikut campur dengan urusan rumah tangga gue.” Setelah itu jiro pergi menyusul Ellie masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Troy, lelaki itu sempat membeku sesaat setelah mendengar pernyataan yang keluar dari bibir Jiro.

“Sial! Gue pasti salah dengar.” Troy menggumam sendiri sembari masuk ke dalam mobilnya. “Ya, gue pasti salah denger.” Lanjutnya lagi sebelum menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan halaman rumah Ellie.

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 10

Comments 4 Standard

 

Bab 10

 

Setelah dicumbu habis-habisan oleh temannya, ralat, mantan temannya, ralat lagi, ayah dari bayi yang ia kandung, akhirnya Jessie tak kuasa untuk menahan rona merah di pipinya. Masalahnya, meski ia ingin menolak, nyatanya ia menikmati apa yang dilakukan Steve. Jessie bahkan membalas cumbuan dari Steve.

Jujur saja, Jessie tak pernah dicumbu dengan begitu bergairah hingga membuatnya nyaris basah seperti yang dilakukan Steve. Tidak dengan Henry, tidak juga dengan mantan kekasihnya yang lain.

Atau mungkin, ini perasaan Jessie saja? Entahlah. Yang pasti, cumbuan Steve begitu menuntut hingga Jessie yakin jika mereka saat ini berada di dalam sebuah kamar, maka kejadian panas malam itu akan kembali terulang.

Dalam hati Jessie sempat bersyukur karena Steve mencumbunya di dalam lift, karena jika saja mereka saling mencumbu di dalam apartmennya, Jessie tak yakin dapat menolak lelaki itu jika lelaki itu menuntut lebih kepadanya.

Lengan Jessie masih setia mengalung, sedangkan wajahnya yang merah padam ia tenggelamkan ke dalam dada bidang lelaki itu.

Ketika Steve keluar dari dalam lift, lelaki itu menghentikan langkahnya ketika seorang lelaki berdiri tepat di hadapannya. Itu adalah Frank, dan Jessie benar-benar merasa sial karena harus kepergok kakaknya ketika digendong Steve seperti saat ini.

Masalahnya, kakaknya itu pasti akan mengoloknya habis-habisan. Dan saat ini Jessie sedang dalam mode tak ingin diolok sama sekali.

“Kalian baru datang?” Frank menyapa.

“Kau sendiri, kenapa ada di sini?” Jessie mencoba mengabaikan posisinya yang masih digendong oleh Steve. Kalaupun ia ingin diturunkan, lelaki itu tak akan melakukannya.

“Aku ke tempatmu. Kupikir kau sudah pulang. Ada masalah?”

Ya, bahkan saat Jessie masuk rumah sakit di Pennington kemarin, tak ada yang mengabari Frank. Mungkin semua terlalu kalut, terlalu sibuk dengan keterkejutan yang diumumkan Jessie tentang dirinya, bayinya dan juga hubungannya dengan Steve.

“Ya, ada sedikit insiden.” Ucap Jessie dengan pelan.

“Kau, baik-baik saja bukan?” meski kadang suka menyebalkan, Jessie tahu bahwa Frank adalah sosok yang sangat perhatian kepadanya.

“Lebih baik kita masuk. Jess harus banyak istirahat.” Steve angkat bicara.

“Kau sudah tahu tentang keadaannya?” tanya Frank pada Steve.

“Jika yang kau maksud adalah tentang kehamilannya, maka Ya, aku dan semua warga Pennington sudah tahu.”

“Woww. Kau hebat sekali, Baby girl.”

Jessie mendengus sebal. “Aku sedang tidak ingin bercanda, Frank.”

“Baiklah, baiklah. Aku ikut masuk karena aku ingin mendengar ceritanya dari kalian.” Dan setelah itu, mereka bertiga bergegas masuk ke dalam apartmen Jessie.

***

Sampai di dalam, Steve menurunkan Jessie di sofa panjang tepat di depan televisi. Kemudian lelaki itu masuk ke dalam kamar Jessie entah mengambil apa. Sedangkan Frank, ia memilih mendekati adiknya dan bersiap untuk menginterogasinya.

“Jadi, dia sudah tahu semuanya?”

“Ya.” Jessie menjawab pendek.

“Kau yang memberitahunya?”

“George memaksaku, dan mau tak mau aku harus memberitahunya.”

“Bagaimana reaksinya?” Frank masih tak ingin tinggal diam.

“Dia mungkin sama terguncangnya denganku. Dan dia marah.” Jawab Jessie lemah.

“Dia marah karena kau hamil?” Frank mulai tak suka ketika membayangkan tentang hal itu. Bagaimanapun juga, mereka menikmati prosesnya. Jika Steve marah karena Jessie mengandung, maka Frank akan memukuli Steve hingga babak belur.

“Lucu sekali. Kalian menggosipkan seseorang yang jelas-jelas masih satu ruangan dengan kalian.” Steve datang membawa selimut tebal serta bantal dan guling untuk Jessie. Dengan penuh perhatian ia meminta Jessie untuk berbaring dengan nyaman di sofa panjang tersebut kemudian menyelimuti tubuh wanita itu. “Ingat, kata Dokter kau harus banyak istirahat.”

“Dokter? Apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa berada di dokter?” Frank yang masih tak mengerti akhirnya tak kuasa menahan rasa ingin tahunya.

“Sedikit pendarahan karena stress dan kelelahan.” Jessie menjawab kekhawatiran kakaknya.

“Astaga. Kau baik-baik saja bukan? Bayinya bagaimana? Apa ini karena dia?” tanya Frank yang semakin tampak khawatir dengan keadaan adiknya tersebut.

“Frank, semua baik-baik saja. Bayinya juga baik-baik saja. Aku sudah memberitahu Steve dan-”

“Biar kukoreksi.” Steve memotong kalimat Jessie. “Dokter yang meberitahuku, bukan kau.” Steve berkata dengan kesal. Jika Steve mengingat tentang hanya dia sendiri yang belum tahu tentang keadaan Jessie, maka lelaki itu akan kembali dalam mode kesalnya.

“Kau masih kesal karena hal itu?”

“Sangat.” Steve menjawab cepat. “Biar kuperjelas agar kedepannya tidak salah paham. Aku tidak marah karena kehamilanmu. Aku marah karena hanya aku sendiri yang tidak tahu tentang keadaanmu ketika semuanya sudah mengetahuinya bahkan bermaksud untuk menikahkan kita.”

“Steve, kau tak perlu berlebihan. Bibi Patty dan Paman Paul juga baru mengetahuinya.”

“Apa maksudnya, Jess?” Frank yang bingung akhirnya kembali bertanya.

“Semua orang sudah tahu tentang kehamilanku.”

“Ya. Semua orang di Pennington.” Steve mengangguk setuju. “Dan para orang tua sedang menyiapkan pernikahan kami.”

“Kita sudah sepakat bahwa tidak akan ada pernikahan, Steve!” Jessie berkata tajam.

“Aku menyetujui apapun keinginanmu, Sayang. Tapi aku tidak bisa mencegah orang tua kita ketika tiba-tiba mereka mengadakan pesta dan mengundang semua orang di distrik Pennington untuk merayakan pernikahan kita.” Steve berkata dengan tenang dan santai. Suasana kembali mencair tapi tidak dengan Jessie.

Frank berdiri dan menggandeng bahu Steve. “Hebat sekali. Jadi kalian akan menikah tanpa memberitahuku?”

“Kau sedang di sini ketika kami sedang membahas masalah ini, Frank.” Steve menjawab dengan wajah datarnya.

“Hahaha setidaknya, aku senang. Setelah ini aku akan memiliki teman minum dan juga teman untuk bermain kartu. Bukan dengan dokter yang kaku itu.”

“Frank! Hentikan omong kosongmu.” Jessie berseru keras. “Lebih baik kalian keluar. Kalian membuat kepalaku semakin pusing.”

Steve duduk berjongkok di hadapan Jessie. Ia mengusap lembut puncak kepala Jessie. “Aku akan pergi sebentar, tapi aku akan kembali lagi. Tidurlah.”

Jessie hanya mendengus sebal apalagi ketika ia melihat Frank menatapnya dengan tatapan mengolok. Astaga, menggelikan sekali. Ia tak pernah mendapati Steve selembut ini padanya, Jessie senang, tapi disisi lain, ia tidak suka ketika kelembutan Steve dijadikan bahan olokan Frank pada dirinya nanti. Benar-benar menyebalkan.

Akhirnya, Jessie bisa istirahat dengan tenang beberapa menit kemudian setelah Steve dan juga Frank meninggalkan apartmennya.

***

Steve dan Frank duduk di sebuah bar dengan sesekali bersulang. Frank merasa senang jika pada akhirnya nanti Jessie akan menikah dengan Steve. Frank cukup mengenal Steve bahkan sejak kecil hal itulah yang membuat Frank setuju jika nanti keduanya berakhir dengan sebuah pernikahan. Tapi tampaknya, Frank tak melihat hal serupa pada diri Steve.

“Kau, tampak tidak suka dengan keadaan ini.”Frank membuka suara.

Jika boleh jujur, Steve lebih nyaman berbicara dengan Hank, temannya. Ketimbang dengan Frank. Ia memang mengenal Frank sejak kecil, tapi tetap saja, lelaki itu adalah kakak Jessie. Akan sangat tidak nyaman jika dirinya membicarakan hubungannya dengan Jessie pada Frank.

“Maksudmu?”

“Kau tahu, hubunganmu dengan Jess.”

Steve menghela napas panjang. “Bukan aku tidak suka. Aku hanya terlalu terkejut dan kurang bisa menyesuaikan keadaan. Aku akan jadi ayah, dan jujur saja, aku sedikit tertekan.”

Frank mengangguk dan menepuk bahu Steve. “Jika aku berada di dalam posisimu, maka aku akan merasakan hal yang sama.”

Steve menegak minumannya. “Kau tahu. Jess akan selalu menjadi wanita special di hidupku. Dia sangat istimewa. Teman kencanku tak ada yang bisa menggeser posisinya. Tapi setelah malam itu. Sial! Aku bahkan tak mengerti apa yang sedang terjadi denganku.”

“Kau melihatnya sebagai teman kencanmu?” tanya Frank sembari mengangkat sebelah alisnya.

“Bukan. Sial Frank! Jessie tentu sangat berbeda dengan mereka. Tidak ada implan, tidak ada silikon..”

“Woow, wow, wow, kau membicarakan bagian tubuh adikku?”

“Maaf, maksudku. Dia berbeda, dan, dan, dia seakan membuatku candu, terikat dengan tali yang tak terlihat. Aku tidak bisa melihatnya sebagai temanku lagi, Frank. Aku melihatnya sebagai wanita sungguhan, yang, yang, membuatku selalu tergoda.” Steve menjelaskan sengan terpatah-patah karena ia tidak yakin kata apa yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang ia rasakan pada Jessie.

“Kau, mencintainya?” tanya Frank dengan hati-hati.

“Tidak.” Steve menjawab cepat. “Maksudku, aku tidak yakin apa itu cinta. Jika kau bertanya apa aku ingin memilikinya, maka Ya. Aku ingin.” Steve mengoreksi.

“Maka jalan yang paling benar adalah menikahinya.”

“Aku ingin. Demi Tuhan! Aku tidak menolak gagasan itu. Tapi Jessie menolakku mentah-mentah. Dia tidak ingin menikah, dan aku tidak bisa memaksanya dalam keadaan seperti ini.”

“Kau hanya perlu berusaha. Dan yakinkan dia kalau semua ini untuk kebaikan kalian bersama.”

Steve mengangguk. Ia meminum kembali minumannya, kemudian bertanya pada Frank. “Bicara tentang menikah, kau pun tak kunjung menikah. Kau Tiga tahun lebih tua dari pada aku, Frank.”

Frank tertawa lebar. “Menikah tidak ada dalam kamusku, Steve. Aku ingin melajang seumur hidup.”

“Kau bercanda? George akan membunuhmu karena kau tidak memberikan keturunan keluarga Summer.”

“Jika yang diinginkan George adalah bayi, maka aku hanya perlu menyewa rahim seorang perempuan dan membayarnya untuk melahirkan anakku. Tanpa hubungan intim, tanpa pernikahan dan hal-hal yang rumit lainnya.”

“Kau benar-benar gila, Frank.”

“Well. Aku penulis fiksi. Aku tak ingin fantasiku rusak karena kehadiran istri apalagi anak.” Ucapnya dengan nada canda.

Sedangkan Steve hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka jika Frank memiliki pemikiran seperti itu. Steve tahu, bahwa untuk dirinya sendiripun, menikah bukanlah pioritasnya. Tapi ia juga tidak seperti Frank yang tampak menentang sebuah pernikahan.

***

Steve kembali saat hari sudah malam. Ia sempat ke apartmennya untuk mengambil beberapa potong pakaian ganti sebelum kembali ke apartmen Jessie. Steve tersenyum saat membuka pintu apartmen Jessie. Rupanya, wanita itu masih menggunakan password lamanya.

Di dalam sana, Jessie tampak masih meringkuk di atas sofa panjangnya. Terlihat juga kotak pizza yang didalamnya masih tersisa tiga potong Pizza dengan topping irisan sosis dan daging asap. Steve membereskan sisa-sisa makanan tersebut kemudian kembali pada Jessie.

Tanpa banyak bicara, Steve mengangkat tubuh Jessie menuju ke arah kamar wanita tersebut. Jessie tidak terbangun, wanita itu hanya bergerak-gerak sedikit seakan membuat tubuhnya dalam posisi senyaman mungkin.

Setelah membaringkan Jessie di atas ranjangnya. Steve bangkit, berdiri dan menatap wanita yang tengah tertidur pulas tersebut. Ada sebuah rasa yang sulit ia jelaskan. Rasa untuk memiliki wanita itu seutuhnya. Tapi rasa tersebut seakan tertutup dengan sebuah kabut ketakutan.

Ya, Steve takut dengan sebuah penolakan. Steve takut jika Jessie akan lari meninggalkannya saat ia memaksakan kehendaknya pada wanita itu. Ia tahu betul bagaimana karakter Jessie. Wanita itu keras kepala, dan butuh usaha ekstra untuk membuatnya luluh.

Steve melepaskan pakaiannya kemudian ia naik ke atas ranjang Jessie. Tidur memeluk tubuh Jessie. Oh, Steve sangat merindukan saat-saat seperti ini. Saat ia dengan Jessie bisa tidur bersama tanpa gairah, tanpa seks, dan hanya tidur, damai sebagai teman. Ia benar-benar merindukan saat-saat seperti ini.

***

Dini hari, Jessie terbangun saat merasakan kandung kemihnya penuh. Astaga, kehamilannya bahkan belum genap Empat bulan, tapi sepertinya toilet sudah menjadi teman akrabnya.

Jessie bangun dan merasakan sebuah lengan memeluknya. Ia menatap lengan tersebut, menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Steve tengah tertidur pulas.

Jessie bahkan baru ingat jika tadi saat tidur, ia berada di sofa bukan di atas tempat tidurnya. Steve pasti yang sudah memindahkan dirinya ke sini. Lalu Jessie tersenyum. Ia merindukan masa-masa seperti ini, ketika mereka tidur bersama tanpa gairah mempengaruhi. Apakah hubungan mereka bisa kembali seperti semula?

“Steve.” Jessie memanggil nama Steve, membangunkan lelaki itu. Tapi tak ada pergerakan yang berarti dari lelaki tersebut. “Steve bangung. Aku mau ke toilet.”

Lelaki tersebut bergerak, lengannya terangkat hingga Jessie bisa bangkit. Jessie duduk dan menatap Steve yang tengah mengucek matanya. Lucu, seperti anak kecil, menggemaskan.

“Ada yang kau inginkan?” tanya Steve dengan suara parau.

“Aku ingin ke kamar mandi, dan tanganmu menghalangiku.”

“Oh. Oke.” Hanya itu tanggapan Steve. Akhirnya Jessie segera bangkit dan menuju ke arah kamar mandi. Mungkin, Steve akan kembali tertidur, pikirnya. Tapi saat Jessie kembali dari kamar mandi, lelaki itu sudah duduk di pinggiran ranjang menunggunya.

“Kau bangun?”

“Ya, kupikir kau membutuhkan sesuatu.”

“Tidak, aku hanya buang air kecil.”

“Baguslah. Sekarang mari kita tidur kembali.” Ajaknya.

“Kau tidak pulang?” tanya Jessie kemudian.

“Kau ingin mengusirku.”

“Aku tidak-”

“Dengar, Jess.” Steve memotong kalimat Jessie. “Aku tidak akan pergi kemanapun. Sekarang, kembalilah kemari dan ayo kita tidur.”

Jessie menurut, ia naik ke atas ranjang. Terbaring, kemudian merasakan Steve ikut naik ke sebelahnya dan lelaki itu mulai memeluknya.

“Apa perlu berpelukan seperti ini?” tanya Jessie sedikit canggung.

“Aku ingin memelukmu, dan ketika aku ingin, maka aku akan melakukannya tanpa meminta izinmu.”

Jessie menghela napas panjang. “Aku juga ingin dipeluk.” Ya, Jessie jujur. Ia ingin seperti dulu, meski sebenarnya mungkin semua itu mustahil terjadi lagi.

Steve mengeratkan pelukannya. Sesekali kepalanya mengecup lembut puncak kepala Jessie. “Kau tahu, Jess. Saat tidur, aku tak pernah merasa senyaman ketika memelukmu. Aku suka kehangatanmu, aku suka aroma rambutmu. Semuanya membuatku nyaman dan tenang.” Steve bahkan tak mengerti apa yang sedang ia ucapkan.

“Aku juga senang saat tidur di pelukanmu, Steve. Aku merasa nyaman dan terlindungi.”

Steve kembali mengecup lembut puncak kepala Jessie. “Perasaan nyaman tersebut sekarang ternodai dengan perasaan yang lainnya, Jess.” Kali ini suara Steve menjadi serak.

“Apa maksudmu?” Jessie mengangkat wajahnya menatap penuh tanya ke arah Steve.

Steve tersenyum, senyum yang dipaksakan. “Kau tentu merasakannya. Aku bergairah. Gairah yang dulu tak pernah ada ketika aku memelukmu saat kita tidur bersama sebagai teman.”

Jessie segera sadar. Tentu saja ia segera merasakan ereksi lelaki itu. Jessie berusaha menjauh, tapi Steve menahannya.

“Jangan.” Ucapnya sembari menahan tubuh Jessie. “Aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku akan menahannya. Sumpah! Aku hanya ingin tidur memelukmu seperti dulu. Meski aku harus menahan kesakitan sepanjang malam.”

Jessie tersenyum mendengar ketulusan Steve. “Terimakasih.” Ucap Jessie kemudian.

“Untuk apa?”

“Karena mau memeluku lagi seperti dulu, dan mengesampingkan gairahmu.”

Steve tersenyum. Ia kembali mengecupi puncak kepala Jessie. Kemudian dengan spontan ia berkata. “Menikahlah denganku, Jess.”

Tubuh Jessie membatu seketika. Mereka sudah sepakat untuk tidak membahas masalah pernikahan dulu. Dan kini, Steve kembali mengungkitnya. Tidak, lelaki itu sedang melamarnya. Lalu apa yang akan Jessie lakukan selanjutnya? Haruskah ia menerima lamaran Steve?

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 8

Comments 2 Standard

 

 

Bab 8

“Bisakah kau berhenti menangis? Jika tidak, maka aku akan ke apartmenmu sekarang juga.” Frank berkata penuh penekanan ketika mendengar suara isakan dari Jessie.

Ini sudah jam sebelas malam. Tadi, saat Frank asyik memeriksa beberapa naskah yang akan diterbitkan oleh Summer Media, ia mendapati telepon rumahnya berbunyi dan Jessie sudah menangis. Adiknya itu mengatakan bahwa ia dan Henry, kekasihnya, sudah putus. Lalu, berceritalah Jessie tentang kehamilannya. Sungguh, Frank tak menyangka jika semuanya akan berakhir seperti ini.

“Maaf, aku memang sering menangis akhir-akhir ini.”

“Oke. Lalu, apa rencanamu selanjutnya?”

“Kupikir, aku akan pindah dari apartmen ini.” ucap Jessie.

Ya, tak lama lagi, perutnya akan terlihat. Ia tidak ingin Steve mengetahuinya. Hubungan mereka sudah hancur, ia tidak mau menjadikan kehamilan sebagai alat untuk menarik lelaki itu kembali. Lagi pula, Jessie berpikir bahwa Steve memang sudah bahagia dengan kekasih barunya. Beberapa kali Jessie melihat Steve membawa seorang wanita berambut pirang ke apartmennya. Menggandengnya dengan mesra. Mungkin, jika Steve hanya mengajaknya sekali dua kali, maka Jessie akan berpikir jika wanita itu hanyalah wanita bayaran atau teman kencan semalam Steve. Tapi nyatanya, wanita itu sudah beberapa kali berkunjung ke apartmen Steve.

Itu bukan urusannya, tentu saja.

Tapi, hal itu membuat Jessie semakin membulatkan tekadnya, bahwa Steve tak perlu tahu tentang keadaannya yang menyedihkan ini.

“Kau gila? Bagaimana dengan Steve?”

“Dia tak perlu tahu.”

“Ayolah Jess. Dia ayahnya.” Frank tampak menuntut. “Kau bisa dituntut jika dia mengetahui nanti dan dia tidak terima dengan keputusan sepihakmu.”

“Aku akan mengatakan bahwa ini milik Henry.”

“Kau pikir dia percaya? Kau tidak tidur dengan banyak pria. Aku tahu itu, dan Steve juga tahu. Lagi pula kau sudah putus dengan Henry, jika kau mengandung anaknya, kalian tak akan putus. Itulah yang akan ada dalam pikiran Steve.”

Frank benar, tapi Jessie tetap tak ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Steve.

“Aku tetap akan bungkam sebisaku.”

“Ayolah, baby girl…” Frank mendesah. “Lagi pula, kau tak akan bertahan lama. Ingat, minggu depan kita harus pulang menghadiri pesta perayaan Emily. Kau tidak lupa, bukan?”

“Aku bisa mencari alasan untuk tidak datang.”

“Kau gila? Kau sudah tidak pulang selama dua bulan terakhir, Jess. Kau ingin George mendatangimu ke sini?” George adalah ayah mereka. Dan Jessie tak ingin membuat ayahnya khawatir hingga datang mengunjungi mereka di New York. Meski jarak Pennington ke New York kurang dari delapan puluh Mil, tapi tetap saja, membuat George Summer yang berusia hampir Tujuh puluh tahun mendatanginya karena ia tidak pulang sepertinya bukan hal yang baik.

“Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.” Jessie lagi-lagi ingin menangis.

“Dengarkan aku. Kau harus memberi tahu Steve. Mungkin sekarang kau belum siap, tapi kau harus memberitahunya, Jess.”

“Aku tidak yakin.”

“Kau ingin aku yang mengatakannya?”

“Tidak!” Jessie berseru keras. “Kau gila? Aku yang akan mengatakannya sendiri.”

“Baiklah. Kalau begitu, masalah selesai. Aku ingin nanti saat kita bertemu, Steve sudah tahu apa yang terjadi denganmu.”

Frank benar-benar seorang pemaksa. Jessie merasa menyesal karena sudah bercerita dengan kakaknya tersebut. Tapi di sisi lain, ia merasa lega. Kakaknya mendukung apapun keputusannya, dan Jessie tahu, bahwa sikap Frank yang pemaksa itu memang untuk kebaikannya sendiri di masa mendatang.

***

Hari itu akhirnya tiba juga. Hari dimana Jessie pulang ke Pennington New Jersey. Jam Sepuluh siang, Jessie sudah sampai di rumahnya. Tapi George, ayahnya, tak ada di rumah. Mungkin ayahnya itu sedang sibuk mengurus perkebunan Anggur dengan ayah Steve.

Bicara tentang keluarganya, Jessie hanya memiliki seorang kakak, Frank, yang usianya Enam tahun lebih tua dari pada dirinya. Ibunya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, sedangkan ayahnya sangat menikmati kesendiriannya.

Kedua orang tuanya bersahabat baik dengan kedua orang tua Steve, mereka bahkan menjadi partner kerja yang baik dalam usaha mereka dibidang perkebuan anggur. Ya, mereka berkebun dan memproduksi apa saja makanan dan minuman berbahan dasar anggur.

Jessie sangat menyukai rumahnya. Udaranya yang bersih, sejuk, sebuah pohon besar tumbuh di halaman rumahnya, rumput yang hijau, tanaman bunga milik ibunya yang tetap terawat hingga kini, benar-benar membuat suasana hatinya nyaman. Sangat berbeda dengan kehidupan di New York yang selalu ramai dan sibuk. Meski begitu, Jessie juga suka kehidupannya di New York. Ia bisa menggapai apa yang ia cita-citakan yaitu merancang pakaian hingga gaun pengantin.

Jessie segera menuju ke kamar lamanya. Melemparkan diri di sana dan telentang di atas ranjangnya. Secara spontan, kepalanya menoleh ke arah jendela kamarnya. Jendela tersebut tepat berhadapan dengn Jendela kamar Steve. Meski ada pembatas pagar diatara kamar mereka, tapi pagar tersebut sangat rendah hingga memungkinkan Jessie melihat Steve jika lelaki itu ada di sana.

Jessie menghela napas panjang. Apa lelaki itu akan datang nanti malam? Astaga, Jessie tidak tahu harus bersikap seperti apa saat dihadapan Steve dan juga keluarga mereka. Memikirkan hal itu saja Jessie sudah mual.

Ketika dirinya asyik melamun, pintu kamarnya dibuka dan terlihat George Summer berdiri di ambang pintu kamarnya.

“Hai, Dad.” Jessie bangkit kemudian segera menuju ke arah ayahnya. Dengan spontan mereka berpelukan.

“Kau baik-baik saja? Frank sudah bercerita padaku.”

Astaga, Frank. Ia tahu bahwa seharusnya ia tak mengatakan apapun dengan kakaknya itu. Kini, ayahnya sudah tahu, tinggal menunggu waktu saja sampai semua keluarga Morgan tahu.

“Apa dia menceritakan semuanya?” tanya Jessie sembari mengangkat wajahnya menatap ke arah Sang Ayah.

“Ya. Semuanya.” Jawab George dengan sungguh-sungguh. “Kau ingin aku turun tangan menyelesaikan masalahmu.”

“Tidak, Dad.” Jessie menjawab cepat. “Aku tidak ingin semuanya menjadi rumit.”

“Rumit? Semua semakin rumit jika mereka tahu atau mendengar dari orang lain, Jess. Kau ingin hubungan pertemanan kami renggang?”

“Tidak, tentu saja tidak, Dad.”

“Jadi?”

Jessie menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan memberitahu Steve. Tapi tolong, jangan ikut campur. Oke?”

George tersenyum “Tentu, Sayang. Kemarilah.” George memeluk kembali tubuh Jessie. “Aku merindukanmu, kau tahu.”

“Aku juga, Dad.” Jawab Jessie dengan sungguh-sungguh. Keduanya berpelukan dalam keheningan. Jessie tahu, masalah berada di hadapannya, dan mau tak mau ia harus menghadapinya, bukan malah menghindarinya. Tapi bisakah ia menghadapinya?

***

Malam itu akhirnya tiba juga, malam dimana Jessie menghadiri undangan keluarga Morgan. Keluarga Morgan merayakan keberhasilan Emily Morgan, puteri bungsu mereka yang mendapatkan gelar Dokter spesialis kandungan.

Jessie hanya datang berdua dengan ayahnya, sedangkan kakaknya yang sialan, Frank, baru mengabari jika dirinya tidak bisa pulang hari ini karena ada rapat penting mengenai bukunya yang akan difilmkan.

Jessie semakin gugup, perutnya terasa diremas ketika Patty, Ibu Steve, menggiringnya masuk ke dalam rumahnya. Mereka melewati ruang tengah lalu segera menuju ke arah kebun tepat di samping rumah keluarga Morgan. Ya, pesta kecil tersebut dirayakan di kebun yang sudah dihias dengan banyak sekali lampu-lampu kecil hingga membuatnya tampak begitu indah.

“Steve juga sudah datang, dengan kekasihnya.” Tubuh Jessie menegang seketika saat setelah mendengar kalimat Patty. “Hei, lihat siapa yang datang.” Patty berseru keras hingga semua orang yang berada di sana menolehkan kepalanya ke arah Patty, Jessie dan juga George.

Tampak seorang lelaki berdiri dengan seorang perempuan berambut pirang yang tampak setika menggandeng lengannya. Lelaki itu menatap ke arah Jessie dengan tajam, dan yang dapat Jessie lakukan hanya berpaling kearah lain. Sungguh, Jessie tidak bisa beradu pandang dengan Steve dalam keadaan seperti ini, ia tidak bisa karena Steve pasti akan menyadari bahwa ada yang ia sembunyikan dari lelaki itu.

“Jessie. Astaga, aku senang kau datang.” Emily menghambur kearahnya memeluknya degan erat, dan Jessie merasa kaku seketika. Emily melepaskan pelukannya dan menatap Jessie penuh tanya. “Kau ada masalah?” tanyanya karena ia tak pernah mendapati Jessie bersikap aneh seperti saat ini.

“Tidak. Aku baik-baik saja.” Jawab Jessie mencoba mengendalikan diri.

“Kalau begitu, Ayo kita berpesta.” Emily menyeret Jessie menuju ke arah banyak orang.

Pada sudut matanya, Jessie melihat bahwa Steve tampak memperhatikannya. Astaga, apa yang harus ia lakukan?

“Kau tahu, ini adalah pertama kalinya Steve membawa seorang wanita ke rumah.” Emily berkata dengan sangat antusias. “Mom memasak apapun yang dia bisa untuk menyambut kekasihnya. Kau pasti sudah mengenalnya, bukan?”

Emily berhenti dihadapan Steve dan wanita berambut pirang itu.

“Hai, Steve. Apa kabar?” sapa Jessie masih mencoba mengendalikan diri.

Steve hanya tersenyum miring. Ia bahkan memilih memalingkan wajahnya ke arah lain. Lelaki itu masih marah terhadapnya, dan Jessie tak mengerti, bukankah seharusnya dirinya yang marah terhadap lelaki itu?

“Hei, apa kau tidak mendengar Jessie sedang menyapamu?” Emily menyikut kakaknya.

“Kau ada masalah dengannya?” perempuan berambut pirang itu berbisik ke arah Steve.

“Kalian sudah saling mengenal, bukan?” Emily menunjuk pada Jessie dan Donna.

“Belum. Aku sama sekali belum mengenalnya.” Donna menjawab.

“Kau yakin? Mereka tinggal di satu gedung apartmen. Apa dia tidak pernah mengajakmu berkunjung ke tempat Jessie?” tanya Emily sekali lagi pada Donna.

Donna hanya menggelengkan kepalanya. “Kupikir, mereka memang memiliki masalah.”

Jessie mencoba tertawa padahal saat ini ia merasa mual. “Ayolah, kami tidak memiliki masalah apapun. Bukankah begitu, Steve?”

“Ya.” Singkat dan padat. Itulah jawaban Steve. Bahkan lelaki itu tampak enggan menjawab pertanyaan Jessie.

Jessie meremas kedua belah telapak tangannya. Ia tidak suka dengan reaksi Steve, terlebih lagi, ia tidak suka dengan kehadiran wanita berambut pirang yang setia berada di sebelah lelaki itu.

“Baiklah, aku akan menyapa yang lain dulu.” Jessie mencoba untuk menghindar. Ia tidak ingin semalaman berada di sekitar Steve dengan suasana canggung dan tidak enak seperti saat ini.

***

Pulang dari pesta.

Jessie segera menuju ke arah dapur. Tak lupa ia melepaskan sepatu hak tingginya yang membuat tumitnya terasa sakit. Ia mengambil sebotol air dingin kemudian meminumnya. Sedangkan George, tampak mengikutinya dari belakang.

“Kau tahu kalau dia sudah memiliki kekasih?” tanya George dengan sungguh-sungguh.

“Aku tak mengerti apa maksudmu, Dad.”

“Demi Tuhan! Patty dan Paul membicarakan tentang rencana pernikahan Steve sepanjang malam denganku, sedangkan aku tak tahu harus menanggapi seperti apa.”

“Aku tidak peduli dengan pernikahannya, Dad.”

“Tapi aku peduli.” George berkata cepat. “Cepat atau lambat mereka akan tahu kehamilanmu. Jika Patty dan Paul bukan sahabatku, mungkin aku tak akan peduli. Tapi mereka sahabatku. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana kecewanya mereka saat mengetahui semuanya ketika sudah terlambat.”

Jessie menatap ayahnya seketika. “Kau ingin aku menggagalkan pernikahan mereka?”

“Tidak. Aku hanya ingin kau jujur dengan Steve. Aku tidak akan memaksa kalian, atau Steve untuk menikahimu. Ini bukan lagi jaman seperti itu. Banyak wanita yang hamil dan membesarkan anaknya sendiri. Aku hanya ingin kau jujur hingga tak menimbulkan kesalahpahaman kedepannya.”

“Kesalahpahaman seperti apa?”

“Seperti kau seolah-olah sengaja menyembunyikan dan menjauhkan anak itu dari keluarga Morgan.” George mendekat. “Jess, aku tahu ini sulit. Mungkin, kau akan mendapatkan penolakan dari Steve, tapi setidaknya kau sudah berbuat benar dengan memberitahunya. Kau tidak sendiri, kau memiliki aku, dan Frank.” Ucap George dengan nada lembut sembari mengusap puncak kepala Jessie.

Dengan spontan, Jessie memeluk tubuh ayahnya. “Maaf, aku sudah bertindak egois.”

George mengangguk. “Aku tahu, ini sulit untukmu.” Pelukannya semakin erat. “Kau akan memberitahunya?”

“Ya.” Jessie menjawab dengan setengah menghela napas panjang.

“Bagus. Kau tak perlu melakukan apapun. Kau hanya perlu memberitahunya. Serahkan semua keputusan pada Steve.”

Jessie mengangguk patuh. Ayahnya benar. Steve memang harus tahu. Ia tidak ingin membuat kehebohan dimasa mendatang, kemudian ia dan keluarganya dituding sengaja menyembunyikan semuanya. Jika hal itu terjadi, bukan hanya pertemanannya dengan Steve yang hancur, tapi juga pertemanan kedua orang tuanya dengan keluarga Morgan ikut hancur. Dan Jessie tak ingin hal itu terjadi. Ia akan memberitahu Steve, setelahnya, ia menyerahkan keputusan sepenuhnya pada lelaki itu.

***

Pagi harinya….

Jessie sudah bersiap-siap dengan sepedanya. Semalaman ia tidak tidur karena memikirkan nasehat ayahnya. Kini, Jessie sudah bulat pada keputusannya bahwa ia akan memberitahu Steve pagi ini juga.

Biasanya, jika mereka pulang ke Pennington, mereka akan bersepeda di pagi hari bersama. Dan Jessie berharap bahwa Steve akan tetap menjalani kebiasaan itu pagi ini. karena itulah, Jessie sudah bersiap-siap dengan sepedanya pagi ini.

Padahal, pagi ini, ia merasa tidak enak badan. Sesekali Jessie merasa perutnya kram sejak semalam. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia berharap jika tak akan terjadi apa-apa dengan bayinya.

Apa yang diharapkan Jessie benar-benar terjadi. Tak lama ia melihat Steve mengendarai sepedanya melewati depan rumahnya. Yang membuat Jessie sedih adalah bahwa Steve sama sekali tak menoleh ke arah rumahnya. Lelaki itu benar-benar membencinya. Jessie tahu itu.

Dengan segera, Jessie menyusul Steve. Jessie bersyukur bahwa Steve hanya sendiri. lalu, dimana Donna? Apa Donna masih tertidur lemas karena semalaman bercinta dengan Steve?

Jessie menggelengkan kepalanya cepat. Ia tidak tahu kenapa ia berpikir sampai kesana. Lagipula, urusan ranjang lelaki itu bukanlah urusannya. Urusan mereka hanya sebatas tentang penyakit masuk anginnya.

Oke, Jessie akan berhenti menyebutnya seperti itu. Frank dan ayahnya sudah tahu, jadi untuk apa ia terus-menerus mengingkari semuanya? Ia hamil, bukan masuk angin. Sekali lagi, Hamil, titik!

Jessie menghela napas panjang. Ia mengayuh sepedanya lebih cepat lagi sesekali memanggil nama Steve. Tapi lelaki itu bersepeda seperti orang kesetanan hinga Jessie sulit mengejarnya.

“Steve. Kau tidak mendengarku?” dengan sisa-sisa tenaganya, akhirnya Jessie mampu sejajar dengan Steve.

Steve menolehkan kepalanya ke arah Jessie, kemudian ia menghentikan laju sepedanya. Dengan napas terengah, Jessiepun ikut berhenti.

Steve membuka kacamatanya beserta headset yang sejak tadi ia kenakan. Jessie menghela lega. Rupanya Steve tidak menghindarinya, lelaki itu hanya tidak mendengarnya karena sedang mengenakan headset.

“Jess, kau…” Steve menghentikan ucapannya ketika melihat Jessie melepaskan sepedanya hingga roboh.

Jessie tampak terduduk sembari memeluk perutnya sendiri. Stevepun segera mengabaikan sepedanya dan berlari menuju ke arah Jessie.

“Kau baik-baik saja? Ada yang tidak beres?” tanya Steve dengan khawatir. Jessie tampak pucat dan wanita itu tampak kesakitan.

“Aku, aku hanya terlalu stress.” Ucapnya dengan terpatah-patah. Memang, beberapa minggu terakhir menjadi hari-hari yang berat untuk Jessie setelah ia mengetahui tentang kehamilannya. Tak ada hari tanpa berpikir cemas. Keputusanya untuk berpisah dengan Henrypun menambah buruk suasana hatinya, belum lagi kenyataan diluar dugaan bahwa Steve akan menikah dengan seorang wanita seksi berambut pirang bernama Donna Simmon. Jessie stress, ia merasa terguncang.

“Kau bisa bangkit?”

Jessie hampir menangis saat menggelengkan kepalanya. Sial! Ia tidak pernah secengeng ini sebelumnya. “Bawa aku ke rumah sakit, Steve. Tolong.” Ucapnya dengan lemah.

Jessie tak perlu meminta untuk kedua kalinya, karena dalam sekejap mata, ia merasakan tubuhnya mengambang di udara. Steve menggendongnya dengan setengah berlari. Mereka meninggalkan sepeda mereka. Tak mungkin juga membawa Jessie dengan sepeda yang tak memiliki tempat untuk boncengan.

Dengan spontan, Jessie mengalungkan lengannya pada leher Steve. Wajahnya tersembunyi pada dada bidang lelaki itu. Untuk pertama kalinya setelah ia mengetahui tentang kehamilannya, Jessie merasa sangat nyaman. Apa yang membuatnya senyaman ini? apa lelaki ini? apa pelukannya? Atau dada bidangnya? Jessie tak tahu. Tapi yang pasti, ia merasa sangat nyaman ketika tahu bahwa Steve begitu perhatian padanya.

-TBC-

Hayookkkk apa yang akan terjadi selanjutnyaaaa??? wakakakakkakakakakkaka