Sleeping with My Friend – Bab 19

Comments 2 Standard

“Aku benar-benar tidak menyangka. Astaga… jadi kau, kau sama sekali tak tertarik denganku? Kau hanya… Ya Tuhan! Aku tidak percaya.” Donna bersiap pergi. Ia malu, tentu saja. Ia berharap terlalu banyak dan ia terlalu salah menerka keadaan. Donna merasa sangat malu, ia menganggap dirinya sendiri begitu istimewa untuk seorang Steven Morgan, tapi kenyataan yang ia dapat adalah sebaliknya, bahwa Steven Morgan TIDAK benar-benar tertarik dengannya.

“Donna.” Steve ingin menenangkan wanita itu.

“Tidak! Steve. Jangan!” napas Donna memburu karena kekesalan yang memuncak dikepalanya. “Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.” Setelah perkataannya tersebut, wanita itu pergi.

Oke, sempurna. Setidaknya Donna Simmon tak akan mengganggu kehidupannya lagi. Tapi bukan seperti itu yang dirasakan Steve. Ia merasa menjadi orang yang sangat brengsek. Membuat wanita itu berharap lebih, membuat wanita itu salah paham dan lebih parah lagi memanfaatkan kehadiran wanita itu untuk  menyembunyikan perasaannya sendiri kepada Jessie, perasaan yang selalu ingin ia pungkiri. Sejak lama…..

 

Bab 19

Jessie sudah bulat pada keputusannya, bahwa ia akan pulang ke Pennington sementara waktu. Memang terlihat sangat kekanakan, tapi ia tidak bisa selalu memikirkan tentang Steve dan Donna Simmon lalu berakhir stress dan membahayakan kandungannya. Jessie ingin menenangkan diri di rumah Sang ayah.

Tadi siang, setelah berperang dengan batinnya sendiri, Jessie berinisiatif untuk menemui Steve lebih dulu. Ia ke tempat kerja lelaki itu, dan di sana, Jessie mendapati Steve  sedang menerima tamunya.

Tamu istimewa tentunya.

Jessie bahkan sempat melihat posisi wanita itu yang duduk dengan berani di meja kerja Steve, dengan jemari yang menggoda dada Steve. Tentu Jessie belum sempat mendengar apa yang mereka bahas, karena Jessie memilih untuk kembali pergi setelah membuka sedikit pintu ruang kerja Steve dan mendapati pemandangan tersebut.

Mungkin, mereka baru saja membahas tentang malam panas mereka semalam, mungkin mereka sedang membahas waktu untuk bercinta lagi selanjutnya. Jessie tidak tahu dan demi Tuhan, ia tidak ingin tahu!

Pikiran tersebut keluar dengan sendirinya di kepalanya, terputar lagi dan lagi, lalu Jessie mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk seperti perpisahannya dengan Steve, nasib anaknya yang tidak akan memiliki ayah sebelum ia dilahirkan, dan banyak lagi. Jessie tidak tahu kenapa ia sampai berpikir kesana, Jessie bahkan merasa bahwa dirinya tidak akan dapat berpikir secara realistis lagi jika itu menyangkut hubungannya dengan Steve.

Jessie menghela napas panjang. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil sewaan yang ia tumpangi.

Memasuki kawasan Pennington, ponsel Jessie berbunyi. Jessie melirik sekilas, rupanya Steve yang meneleponnya. Jessie memutuskan untuk tak mengangkatnya, karena ia sendiri tidak tahu harus memberikan alasan apa untuk lelaki itu.

Ponselnya lalu berbunyi lagi dan lagi, dan Jessie tetap memilih untuk tidak mengangkatnya. Lalu pesan singkat Steve sempat membuat Jessie membatu.

Steve : Apa kau sedang tidur? Aku hanya ingin mengabari bahwa aku pulang cepat, dan aku akan membawa makan malam. Jangan masak.

Ya Tuhan! Apa ia harus kembali ke New York sekarang? Tidak! Ia tidak akan kembali hanya karena pesan singkat dari lelaki itu. Jessie tidak menjawab pesan tersebut dan memilih mengabaikannya.

Ia memilih bersiap-siap untuk menghadapi ayahnya. Ya, beberapa meter lagi ia akan sampai, dan ia tahu bahwa George tak akan berhenti bertanya padanya sebelum ia jujur tentang apa yang sedang menimpa hubungannya dengan Steve hingga membuatnya kabur dari rumah.

***

Tepat jam Enam sore, steve sampai di apartmen Jessie dengan beberapa bingkisan makan malam mereka. Sedikit heran karena ia mendapati apartmen wanita itu kosong. Apa Jessie belum pulang dari butiknya?

Lalu bayangan tentang kebersamaan Jessie dengan Henry kemarin malam membuat Steve kesal. Apa jessie kembali menemui kekasihnya itu?

Tak ingin menebak-nebak keadaan, Steve memilih menghubungi Jessie. Tapi teleponnya tak diangkat. Bahkan sejak sore tadi, Jessie tak mengangkat teleponnya, pesannya pun tak dibalas. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan wanita itu? Dimana dia?

Akhirnya Steve memilih menghubungi Frank. Mungkin Frank tahu dimana keberadaan Jessie dan apa yang terjadi dengan wanita itu.

“Ada apa, Steve?” Akhirnya Frank menjawab teleponnya.

“Frank, kau tahu dimana Jessie?”

“Kenapa kau mencarinya ditempatku?”

“Aku tidak tahu harus mencarinya kemana, Frank. Dia tidak mengangkat teleponku, tidak membalas pesanku. Dan dia tidak ada di apartmen.”

“Kau sudah mencarinya di butik?”

“Belum. Dan aku tidak ingin mencarinya kesana.”

“Ayolah, Steve. Jangan kekanakan. Kalaupun kau mendapati Henry datang menemui Jess lagi di sana, tandanya mereka tak ada hubungan apapun. Karena jika mereka berniat bermain dibelakangmu, mereka tak akan bertemu di butik Jess. Kau harus lebih realistis.” Frank menyarankan.

Sebenarnya, Steve sudah bercerita tentang Henry yang datang menemui Jessie pada Frank. Entah kenapa Steve memilih bercerita pada Frank daripada dengan Hank temannya.

“Entahlah. Aku hanya tidak ingin mendapati kenyataan buruk.”

Frank terdengar mendengus sebal. “Jadi, apa maumu?”

“Bisakah kau menghubungi Jessie? Jika dia mengangat teleponmu, berarti dia memang sedang menghindariku. Dan tolong, tanya dimana dia berada. Aku benar-benar mengkhawatirkannya.”

Frank tertawa lebar. “Ya Tuhan! Lelaki dewasa dengan Ego dan Cintanya. Sepertinya aku akan menulis kisah cinta kalian menjadi novel.”

“Brengsek Frank! Aku sedang tidak ingin bercanda!”

Lagi-lagi terdengar tawa lebar dari Frank. “Baiklah, aku akan meneleponnya. Jika aku sudah mendapat kabar, aku akan segera menghubungimu agar kau tidak gila karena gelisah.”

“Sialan!” Steve mengumpat. Kemudian telepon ditutup.

Steve lalu melemparkan diri di sofa ruang tengah apartemen Jessie. Meski sudah meminta bantuan Frank, tapi Steve belum bisa tenang sebelum tahu dimana Jessie dan kenapa wanita itu tidak ingin mengangkat telepon darinya.

Dua puluh menit kemudian, ponsel Steve berdering. Steve segera mengangkatnya saat mendapati nama Frank sebagai si pemanggil.

“Ada kabar?” tanyanya dengan segera saat mengangkat telepon.

“Ya. Dia mengangkat teleponku. Dan dia sedang berada di Pennington.”

“Apa? Apa yang dia lakukan di sana?”

Frank menghela napas  panjang. “Steve. Sepertinya kalian harus bicara baik-baik. Kau ingin aku menjadi penengah diantara kalian?”

“Tidak. Aku tidak mengerti, Frank. Kenapa dia meninggalkanku? Astaga! Apa dia memang tidak ingin melanjutkan pernikahan ini?”

“Demi Tuhan, Steve! ini tidak akan selesai jika kau tidak membuang ego dan emosimu. Lagi pula, membahas di telepon tak akan menyelesaikan masalah.” Frank terdengar kesal. Tapi lelaki itu benar.

“Jadi, apa yang harus kulakukan?” tanya Steve kemudian.

“Jika aku jadi kau, maka aku akan menyusulnya.”

“Frank. Astaga, aku tidak pernah melakukan itu pada wanita sebelumnya. Merendahkan harga diriku hingga seperti itu, yang benar saja.”

“Kau juga tak pernah ingin menikahi perempuan sebelumnya jika bukan dengan Jess. Dan jangan lupakan fakta bahwa kau tidak pernah begitu mencintai perempuan seperti mencintai Jess.”

“Jangan bersikap sok tahu, Frank!”

“Sialan! Kau pikir aku buta setelah semalaman menemanimu mabuk dan merengek seperti anak kecil.”

“Brengsek!” Steve mengumpat keras. Ya, Frank memang brengsek. Tapi apa yang dikatakan kakak iparnya itu memang benar. Ia tidak pernah menginginkan orang seperti menginginkan Jessie, ia tidak pernah berharap memiliki masa depan yang bahagia selain dengan Jessie. Jadi jika ia ingin mempertahankan hubungan mereka, maka saran Frank adalah yang paling benar.

Ya Tuhan! Steve tidak percaya jika ia akan bertekuk lutut seperti ini dengan seorang Jessica Summer.

“Bagaimana? Kau mau menyusulnya?”

Steve mendesah panjang. “Ya. Aku akan melakukannya.”

“Good job, Brother.” Ucap Frank dengan senang. “jika kau ke sana, aku akan menemanimu. Oke?”

“Aku akan melakukannya sendiri.”

“Tidak. Aku tahu itu akan semakin kacau. Aku akan menemanimu.”

Frank benar. Mereka tidak akan bisa bicara berdua dengan kepala dingin. Jadi harus ada penengahnya. Dan menunjuk Frank sepertinya bukan ide buruk.

“Frank.” Tiba-tiba saja Steve ingin menanyakan sesuatu pada lelaki itu.

“Ya?”

“Kau yakin jika aku benar-benar mencintainya?” tanya Steve kemudian.

Sial! Ia benar-benar merasa seperti orang idiot setelah bertanya pada Frank tentang hal sesensitif itu.

Bukannya menjawab dengan serius, Frank malah tertawa lebar. Baiklah, Steve merasa sangat menyesal karena sudah menanyakan hal itu pada si Brengsek Frank Summer.

“Dengar, Brother. Hal itu hanya bisa dijawab oleh dirimu sendiri. Tanyakan pada hatimu, tanyakan ke dasar hatimu yang paling dalam, apa yang paling kau inginkan didunia ini. Jika jawabannya adalah ingin bahagia bersama dengan Jessie, maka Ya, kau benar-benar sedang jatuh cinta padanya.”

Steve hanya mengangguk. “Kau tampak sangat berpengalaman. Aku jadi penasaran, siapa wanita yang mengajarimu tentang kata sialan itu.”

Lagi-lagi, Frank tertawa lebar. “Aku memiliki banyak istri Steve.”

“Sial! Aku tidak sedang bercanda.”

“Aku juga tidak sedang bercanda. Kau tahu, seorang penulis bisa menjadi apa saja dan siapa saja seperti yang ia kehendaki. Bagiku, semua tokoh utama perempuan dalam novel yang kuciptakan adalah istriku, karena aku ingin membangun sebuah keintiman dengan mereka agar pembacaku merasakan apa yang dirasakan oleh para tokoh yang kuciptakan.”

“Sepertinya, butuh imajinasi yang tinggi untuk berbicara denganmu tentang hal ini.”

“Tentu saja.” Jawab Frank masih dengan tawa lebarnya. “Jadi, kapan kita ke Pennington?” tanya Frank kemudian.

“Jika kau tidak keberatan, aku ingin ke sana malam ini juga.”

“Baiklah. Aku akan bersiap-siap.”

Dan setelah itu, telepon di tutup. Steve menghela naps panjang. Ya, semuanya harus ia selesaikan malam ini juga. Semuanya tak boleh berlarut-larut. Bagaimanapun juga, ia ingin semua segerah selesai dengan baik-baik tanpa menimbukan masalah kedepannya.

***

Jam Delapan malam, Steve dan Frank sampai di Pennington. Keduanya disambut hangat oleh George, dan Steve sempat kecewa karena tidak mendapati Jessie berada di sana.

“Dia di rumahmu, dan mungkin tidur di sana karena seharian aku bertanya padanya apa yang terjadi. Mungkin karena risih, dia pergi meninggalkanku.”

Steve menghela napas panjang. “Aku akan menemuinya.”

Steve segera bergegas, tapi George segera menghadang Steve. “Kupikir, biarkan saja dia sendiri. aku tidak pernah melihat Jess sesendu dan sebingung itu.”

“Bingung? Apa yang dia bingungkan? Bukankah seharusnya aku yang bingung? Kenapa dia meninggalkanku disaat seperti ini?”

“Steve, kau sudah berjanji akan mengendalikan emosimu.” Frank mengingatkan.

“Tapi aku tidak mengerti, Frank.” Steve mengusap rambutnya kasar. “Sial! Aku melihatnya berpelukan dengan mantan tunangannya. Bukankah seharusnya aku yang marah? Seharusnya aku yang bingung dengan keadaan kami.”

“Sepertinya kau butuh minum, Nak.” George yang berkata. Lelaki paruh baya itu bahkan sudah menuju ke arah bar mini di ujung rumahnya, menuangkan sesuatu di sebuah gelas dan memberikannya pada Steve.

“Dad, kau sudah berjanji tak akan minum lagi.” Frank mengingatkan.

“Ya, aku tak akan minum, itu untuk Steve. dia butuh minum untuk menenangkan pikirannya.”

Steve menerimanya, meminumnya, dan benar apa yang dikatakan George, bahwa anggur olahannya segera membuat steve tenang.

“Dengan Marina dulu, aku juga sering menghadapi beberapa masalah serius.” George mulai bercerita, lelaki itu menuju ke arah tempat duduk, berharap dua lelaki muda di hadapannya mengikutinya dan mendengarkan ceritanya. “tapi kami selalu bisa menyelesaikan masalah kami dengan kepala dingin. Mengesampingkan ego dan harga diri kami demi cinta dan kasih.”

“Aku sudah mengatakan hal itu padanya, Dad.” Frank menyahut.

“Frank, kau belum mengalaminya. Karena itu, kau bisa mengatakannya dengan mudah. Jika kau berada dalam posisi Steve, maka aku yakin, kau juga sama bingungnya dengan dia. aku pernah mengalaminya.”

“Jadi pertanyaannya adalah, apa yang harus kulakukan?” tanya Steve kemudian.

“Wanita adalah makhluk yang unik. mereka selalu mengatakan jika kita, kaum pria adalah kaum yang tidak peka, saat kita bertanya apa kesalahan kita, bukan menjelaskan, mereka akan semakin marah.”

“Karena itulah aku tak ingin berurusan dengan perempuan nyata.” Frank berkomentan.

“Tapi selain itu, mereka memiliki sisi yang sangat lembut. Tak peduli, berapapun kau melakukan kesalahan, jika wanita itu benar-benar mencintaimu, maka dia akan memaafkanmu.”

“Semudah itu?” Frank bertanya.

“Tidak juga. Jika kau mendapat seorang wanita yang kuat dan tegar, jangan harap jalan mendapatkan maaf darinya akan mudah-mudah saja.”

“Oh. Sepertinya aku memang tak harus berurusan dengan para wanita-wanita itu.” Lagi, Frank berkomentar.

“Jadi menurutmu, aku harus mengalah saat aku tidak tahu apa kesalahanku?” tanya Steve pada George.

George mengangguk. “Aku tahu, kadang itu berbenturan dengan ego kita untuk melindungi harga diri kita sebagai seorang lelaki. Tapi tak ada salahnya mengalah untuk menang. Jess tak mungkin tiba-tiba bersikap seperti itu tanpa alasan. Aku tahu dia memiliki alasan yang kuat. Hanya saja, caranya untuk menghadapi masalah adalah cara yang salah. Kau, sebagai suaminya, harus bisa lebih mengalah. Saat pikiran kalian sudah sama-sama mendingin, saat itulah kalian bisa mulai membahas masalah kalian dengan akal sehat.”

Steve menganggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan George memang benar. Apalagi mengingat kondisi Jessie yang labil. Apapun yang ia lakukan pasti akan salah di mata wanita itu, jadi jalan yang paling benar adalah mengalah terlebih dahulu untuk mendapatkan hati wanita itu, jika semuanya sudah membaik, ia akan membahas masalah mereka tanpa emosi.

Tapi bisakah ia melakukannya?

“Apa aku sudah boleh menemuinya?” tanya Steve kemudian.

“Ya, tentu saja. Tapi ingat pesanku.” Ucap George kemudian.

Steve segera bergegas. “Ya. Tentu saja.” Jawabnya sebelum pergi.

“Aku akan menemanimu.” Frank akan menyusul, tapi George menghadang anak lelakinya tersebut.

“Tidak, Frank. Karena aku ingin membahas sesuatu denganmu.”

“Apa?” tanya Frank sedikit curiga.

“Tentang perkataanmu, bahwa kau tak ingin berurusan dengan yang namanya perempuan.”

“Oh, ayolah Dad. Aku hanya bercanda.”

“Tidak, kau tidak sedang bercanda, Frank. Dan karena kau tidak sedang bercanda, maka aku akan memberimu beberapa nasihat.”

Frank memutar bola matanya. Ini tak akan baik, Frank kurang suka dinasehati, apalagi jika tentang perempuan. Demi Tuhan! Ia merasa lebih berpengalaman dengan yang namanya perempuan, meski perempuan-perempuan itu hanya perempuan khayalannya dalam novel yang ia tulis.

***

Steve memasuki rumahnya dan disambut oleh ibunya. Sang Ibu sempat terkejut dengan kehadiran Steve. karena sebelumnya, Jessie berkata bahwa Steve sedang sibuk dengan pekerjaanya karena itu Jessie hanya pulang ke Pennington sendiri. Patty tentu tidak tahu bahwa Jessie sedang memiliki masalah serius dengan Steve.

“Kupikir kau tidak datang.”

“Tentu aku datang, aku akan menjemputnya pulang.”

“Ada masalah?” Patty bertanya.

“Mom. Biarkan aku menyelesaikannya sendiri.”

“Tidak! Kau selalu payah dalam menyelesaikan masalah.”

“Mom!” Steve bahkan berseru pada ibunya. “Aku benar-benar ingin bicara dengan Jessie dan menyelesaikannya hanya berdua. Tolong.”

Patty menghela napas panjang. “Baiklah. Mungkin dia sudah tidur, di kamarmu.”

Dan tak ingin membuang waktu lagi, Steve segera menuju ke arah kamarnya, menemui Jessie dan menyelesaikan semuanya. Ya, semuanya sampai tuntas.

-TBC-

Advertisements

My Beautiful Mistress – Bab 13

Comment 1 Standard

 

Bab 13

 

Pagi itu, Jiro masih menunggu Ellie keluar dari dalam kamarnya. Sejak semalam, wanita itu tidak mau membuka pintu kamarnya padahal ada hal yang ingin Jiro bahas mengenai hubungan mereka. Jiro merasa tak tahan lagi, Jiro merasa tak sanggup lagi saat membayangkan setiap hari Ellie semakin dekat dengan pria lain sedangkan wanita itu semakin menjaga jarak dengannya.

Jiro memang berengsek, karena sudah ingkar janji. Ia memiliki kesempatan untuk mengatakan di depan umum tentang hubungan mereka dua minggu yang lalu saat jumpa pers. Tapi Jiro tak melakukannya. Entah apa yang membuatnya ragu untuk mengungkapkan statusnya di depan umum.

Tidak! Bukan karena ia ingin dilihat sebagai seorang lajang. Percayalah bukan itu alasan utama Jiro. Ia hanya tidak ingin media mengorek tentang masalah pribadinya. Belum lagi kenyataan bahwa Ellie sudah beberapa kali mendapatkan tawaran iklan. Jiro tidak bisa membiarkan Ellie ikut masuk ke dalam dunia sialan yang membesarkan namanya. Dan juga, jangan lupakan fakta bahwa Jiro dan The Batman memiliki fans fanatik yang mendekati gila.

Jiro masih berjalan mondar-mandir di ruang makan. Sesekali ia melirik ke arah jam tangannya. Ia sudah telat, karena ia memiliki janji dengan para personel The Batman lainnya.

Sebenarnya Jiro tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan sekarang dengan The Batman. Ia sudah merasa cukup. Konser akbar dua bulan yang lalu berjalan dengan sukses. The Batman disebut-sebut sebagai band paling fenomenal tahun ini, mereka sudah berada pada puncak tertinggi popularitasnya. Tak ada lagi yang diinginkan Jiro saat ini. tapi ia juga tidak bisa meninggalkan The Batman begitu saja. Ada beberapa kontrak yang masih harus berjalan, entah kontrak pribadi maupun kontrak dengan personel The Batman lainnya.

Jiro mendengus sebal, sesekali ia memijit pelipisnya. Jiro benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Mundur dari The Batman? Ya Tuhan, apa ia bisa melakukannya?

Sekali lagi Jiro melirik jam tangannya. Waktu sudah semakin siang, Ellie pasti sengaja tidak keluar dari dalam kamarnya. Tak ada gunanya menunggu, mungkin nanti malam mereka bisa bicara bersama dengan baik-baik dan juga dengan kepala dingin. Dan setelah itu, Jiro memutuskan untuk pergi menuju ke studio The Batman.

***

Istirahat dari latihan, Jiro tak banyak bicara ketika Troy sesekali bercerita. Meski lelaki itu tidak bercerita tentang Ellie, tapi Jiro merasa sebal dengan Troy karena sudah lancang mengajak Ellie pergi keluar.

Troy memang tak salah, temannya itu tidak tahu tentang status hubungannya dengan Ellie. Ia yang salah karena pernah menyebut Ellie sebagai adiknya. Jadi bukan salah Troy jika Troy ingin mendekati adiknya. Tapi demi Tuhan! Troy tidak buta. Ellie bahkan sedang hamil besar, bagaimana mungkin Troy bisa tertarik dengan perempuan hamil?

Tanpa diduga, Troy berjalan menuju ke arah Jiro. Dan dengan sok akrab lelaki itu bertanya “Jadi, gimana masalah elo sama Ellie?”

Jiro tak menjawab, ia memilih bungkam dan memainkan bassnya.

“Ayolah, masa elo ngambek karena gue deketin adek elo sih.” Troy kembali membuka suaranya.

“Gue sudah bilang, jangan ikut campur masalah gue.” Jiro memperingatkan dengan nada tajam.

“Oke.” Troy mengangkat kedua belah tangannya sembari mundur menjauh. “Tapi, gue harap semalem gue salah denger.” Ucap Troy lagi dengan wajah seriusnya. Jiro menarap Troy, ia tidak tahu apa yang dimaksud oleh lelaki tersebut. Sedangkan Troy, Sial! Meski mencoba memungkiri pemikirannya sendiri, nyatanya pernyataan Jiro semalaman mampu membuat ia susah tidur.

‘Rumah tangga gue’ Brengsek Jiro jika itu benar-benar sebuah kenyataan.

Pada saat bersamaan, ponsel Jason berbunyi. Jason bangkit, mengangkat teleponnya. Kemudian wajah lelaki itu memucat setelah mendapatkan kabar dari seberang telepon.

“Bianca? kecelakaan?” tanyanya dengan wajah tak percaya.

Semua yang ada di ruangan trsebut menatap ke arah Jason. Jason tampak ketakutan, lelaki itu tampak begitu khawatir. Dan semua berjalan cepat ketika Jason melesat keluar dari studio tempat mereka latihan.

***

Malam ini, Jiro kembali tidak pulang. Ia menelepon Ellie, tapi ketika Ellie mendengar suaranya, wanita itu menutup teleponnya.

Sialan!

Akhirnya mau tidak mau Jiro menelepon Mei. Teleponnya diangkat pada deringan kedua. Mei bahkan menjawab telepon dari Jiro dengan nada sedikit ketus. Sial! Apa yang terjadi dengan wanita itu?

“Mei, bisakah kamu pindah sementara ke rumahku?”

“Enggak. Kenapa aku harus pindah? Aku memang menyayangi Ellie, tapi yang seharusnya berada di sana dan menemani masa kehamilannya adalah kamu, Jiro. Bukan aku.”

“Mei, Tolong. Situasi sedang tidak kondusif.”

“Apa maksudmu dengan situasi yang tidak kondusif? Kamu jangan mencari-cari banyak alasan untuk membenarkan apa yang sedang kamu lakukan.”

“Aku tidak mencari banyak alasan, Mei!” Jiro berseru keras. “Apa kamu tahu, siang ini, Bianca masuk rumah sakit? Dia ditabrak oleh perempuan gila yang mengaku sebagai fans fanatik kami. Kamu pikir aku mau kejadian itu menimpa Ellie?”

“Astaga.” Mei tampak sangat terkejut.

“Ada banyak hal yang harus aku jelaskan Mei, aku memiliki alasan kenapa aku menolak membawa Ellie masuk terlalu jauh ke dalam duniaku.”

“Jiro.”

“Tapi aku bukan tipe orang yang pandai bicara. Aku tidak tahu harus menjelaskan seperti apa dan darimana.”

“Maaf, aku mengerti.” Akhirnya Jiro mendengar suara Mei tanpa keketusan dari wanita itu.

“Sekarang kumohon, pindahlah sementara ke rumahku. Jangan pernah tinggalin Ellie sendiri. mungkin, aku tidak akan pulang beberapa hari kedepan. Tolong, hanya kamu yang bisa kupercaya untuk merawat Ellie melebihi siapapun.”

Terdengar helaan napas panjang dari seberang. “Ya. Aku akan lakukan apa yang kamu mau. Tapi Jiro, apapun itu, kamu harus ingat, bahwa Ellie begitu membutuhkanmu. Hubunganku dengannya memang sangat dekat, tapi tak ada yang dia inginkan kecuali selalu berada di sisimu setiap saat. Kamu harus mengerti hal itu, Jiro.”

“Ya. Aku mengerti, dan aku sedang berusaha untuk mewujudkannya.”

“Maksudmu?”

“Mungkin aku akan mengundurkan diri dari The Batman, secepatnya, bahkan sebelum kontrakku berakhir.”

“Jiro!” Mei berseru keras. “Itu akan menjadi hal yang paling keren yang pernah kamu lakuin. Kalau kamu melakukannya.”

“Ya. Aku akan melakukannya. Untuk Ellie.”

Mei bersorak gembira. Jiro bahkan menjauhkan ponselnya dari telinganya. “Ya ampun, kamu benar-benar jatuh cinta sama Ellie, ya?”

“Enggak.”

“Ayolah…”

“Mei, secara teknis aku ini boss kamu. Sekarang, dari pada kamu membahas masalah pribadiku, lebih baik segeralah pindah ke rumahku.”

“Oke. Ya ampun, nggak tahu kenapa aku seneng banget.”

Jiro menggelengkan kepalanya, dan tanpa basa-basi ia mematikan ponselnya begitu saja. Jiro menghela napas panjang. Benarkah jalan ini yang harus ia ambil? Melepaskan semuanya untuk seorang Ellisabeth Julia Williams? Jika dengan ini Ellie percaya lagi dengannya, jika dengan keluar dari The Batman membuat wanita itu kembali lagi ke sisinya, maka Jiro akan melakukannya. Ya, ia akan melakukan apapun agar Ellie setia berada di sisinya.

***

Setelah Bianca masuk rumah sakit, situasi semakin tak terkendali. Jason seperti orang stress yang bahkan tak mau melangkahkan kakinya keluar dari ruang inap Bianca sebelum wanita itu sadar. Sedangkan media semakin menggila. Sosial media gempar dan viral tentang kabar simpang siur tentang fans The Batman yang brutal dan lain sebagainya.

Hal tersebut membuat Jiro, Ken dan Troy harus menghindar sementara dari publik. Beberapa jadwal mereka batal karena Jason dengan seenaknya sendiri menolak untuk hadir dan menjadi orang yang paling tidak profesional.

Meski begitu, para personel The Batman lainnya cukup mengerti keadaan Jason. Mungkin Jason merasa bersalah, mungkin Jason merasa tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi hal serius yang akan menimpa Bianca. karena jika Jiro berada di posisi Jason, maka Jiro akan melakukan hal yang sama.

Malam ini, setelah dua hari berlalu, Jiro, Ken dan Troy memutuskan untuk mengunjungi Bianca dan juga Jason. Mungkin sedikit menghibur temannya itu agar tidak terlalu tenggelam dalam rasa bersalahnya.

“Kalian kesini?” pertanyaan itu terucap dari Jason yang tampak terkejut dengan kehadiran mereka. Jiro melihat wajah Jason yang tampak lelah, temannya itu seperti baru bangun dari tidurnya dengan posisi duduk di sebelah ranjang rawat inap Bianca.

“Ya. Mau nemenin elo.” Jiro yang menjawab. Ia mendekat ke arah Jason dan menatap Bianca yang masih terkulai tak sadarkan diri di atas ranjangnya.

“Kok kalian bisa masuk? Jam besuk kan sudah habis.” Tanya Jason lagi, sembari melirik jam tangannya.

“Apa gunanya jadi terkenal kalau nggak bisa membujuk satpam atau suster yang jaga.” Troy yang menjawab, dan jawaban tersebut sedikit mencairkan suasana.

“Gimana keadaannya?” tanya Ken yang juga ikut mengamati Bianca yang masih tak bergerak sedikitpun.

“Sudah dua hari. Tapi dia belum sadar juga.” Ucap Jason dengan nada putus asa.

“Jase.” Troy menepuk bahu Jason, seakan memberikan kekuatan untuk temannya itu.

“Dia sedang hamil, Troy. Dia sedang mengandung anak gue. Dan dia celaka karena gue.” Jason sungguh tak dapat mengenyahkan rasa bersalahnya.

Sejak Dokter mengatakan keadaan Bianca yang sebenarnya, rasa bersalah Jason meningkat berkali-kali lipat. Beruntung, tak ada sesuatu yang serius terjadi dengan kehamilan Bianca. hal itu pulalah yang membuat Jason bahkan tak ingin beranjak dari kamar inap Bianca. Padahal Papa dan Mama Bianca meminta Jason pulang tapi Jason menolaknya. Jason juga sudah tak peduli lagi dengan jadwalnya menjadi publik figur, yang ia pedulikan saat ini hanya Bianca, ia berjanji tak akan keluar dari ruangan tersebut sebelum Bianca membuka matanya.

“Sial! Perempuan-perempuan itu benar-benar gila!” Troy mengumpat kesal.

“Terus, keadaan dia gimana?” kali ini Jiro yang bertanya.

“Bayinya baik-baik aja. Tapi Bee belom sadar juga dari kemarin.”

“Elo harus tenang, Jase. Elo harus sabar. Semua akan baik-baik saja, oke?” Ken menenangkan Jason.

Jason berdiam sebentar, lalu ia menatap intens pada diri Bianca yang masih menutup matanya rapat-rapat.

“Gue sudah memikirkan semuanya.”

“Tentang?” Jiro bertanya.

Jason menghela napas panjang. “Gue akan berhenti dari The Batman. Gue akan fokus sama dia, nikahin dia, jagain dia. Gue nggak mau profesi gue ngebahayain dia. Kalian tetap bisa lanjut, cari pengganti gue dengan warna suara yang sama. Lagu-lagu gue, kalian bisa pakai, karena gue nyiptain semua itu untuk The Batman.” Lalu Jason menggelengkan kepalanya. “Tapi gue nggak bisa lanjut lagi. Gue rasa, semuanya sudah cukup. Gue akan berhenti.”

Jiro, Troy dan Ken sempat kaget dengan keputusan Jason. Mereka memang ingin membahas tentang Band mereka nanti setelah keadaan Bianca membaik dan Jason sudah kembali lagi pada keadaan semula. Tapi Jiro, Ken dan Troy tak menyangka jika Jason akan mengambil keputusan seberani dan secepat ini.

“Elo yakin, Jase? Maksud gue, gue nggak mau elo nyesel nantinya.” Troy mengingatkan.

“Ya, gue sangat yakin. Gue sudah mikirin dari kemarin. Gue rasa sudah cukup apa yang gue dapetin selama ini dari The Batman.”

Jiro menepuk bahu Jason. “Kalau elo berhenti, gue juga akan berhenti dari The Batman.” Entah kenapa, mendengar Jason ingin berhenti dari The Batman membuat Jiro semakin memantapkan hatinya, bahwa ia juga harus segera mengakhiri semuanya.

“Jiro. Apa maksud elo?” tanya Jason tak mengerti. Jason bahkan sempat terkejut dengan pernyataan Jiro. Selama ini, Jirolah yang selalu tampak serius, sungguh-sungguh dengan karir mereka. Jadi Jason dan yang lain tak mengerti kenapa lelaki itu mengambil keputusan yang sama dengan dirinya.

“The Batman adalah milik elo. Elo sudah punya band itu sejak sekolah. Gue nggak akan lanjut pakai The Batman.”

“Tapi yang lain….”

“Gue juga akan berhenti.” Ken angkat suara.

Setelah menatap Ken, Jason lalu menatap ke arah Troy. “Well, nggak mungkin kan kalau gue nge-band sendiri? gue akan dukung apapun mau kalian.”

Guys, kalian nggak perlu sampai kayak gini. Kalian bisa lanjut tanpa gue.” Jason masih berharap jika teman-temannya tetap melanjutkan karir mereka.

“Gue mau jaga istri gue.” Ucap Jiro tiba-tiba. Semua yang berada di sana menatap ke arah Jiro seketika. Tentu saja, selama ini Jiro adalah orang yang paling misterius. Meski belakangan ini banyak gambar dan gosip yang menunjukkan bahwa Jiro tinggal atau sering mengunjungi seorang perempuan hamil, nyatanya sampai sekarang ini Jiro tidak pernah mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki istri.

Jiro hanya mengaku bahwa wanita itu adalah adiknya. Bahkan Troy sedang gencar mendekati adik Jiro tersebut. Tapi, pengakuan lelaki itu saat ini benar-benar membuat semua yang ada di ruangan tersebut tercengang, ternganga tak percaya bahwa apa yang dikatakan Jiro adalah kenyataan. Telebih lagi Troy, Ya Tuhan! Troy berharap bahwa Jiro sedang bercanda.

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 12

Comment 1 Standard

Bab 12

 

Dua minggu berlalu setelah kejadian menegangkan di malam itu. Ellie benar-benar melakukan apa yang wanita itu katakan. Ellie sama sekali tak peduli dengan Jiro. Bahkan wanita itu memilih tidak mempedulikan keberadaan Jiro saat Jiro sedang berada di rumah.

Semua semakin menyebalkan ketika Jiro tahu, bahwa Mei bersikap sama seperti sikap Ellie. Bahkan beberapa kali secara terang-terangan Ellie mengajak Mei dan Marvin makan-makan di rumahnya tanpa mengajak Jiro yang nyata-nyatanya berada dirumah tersebut.

Belum lagi kenyataan menyebalkan seperti yang dikatakan Troy, bahwa temannya yang brengsek itu rupanya beberapa kali sudah bertemu dengan Ellie, membuat Jiro geram saat secara terang-terangan Troy menceritakan pertemuannya tersebut kepada Ken saat mereka sedang latihan bersama.

Arrggghhh… Jiro merasa kepalanya nyaris pecah hanya karena memikirkan satu nama, yaitu Ellisabeth Julia Williams. Istrinya yang beberapa bulan terakhir menjelma sebagai sebuah virus yang merusak akal sehatnya.

Jiro mendengus sebal. Saat ini, Jiro tidak bisa banyak bertindak, ia hanya bisa diam bahkan ketika Ellie tak berhenti menyindirnya dan memojokkannya. Jiro memiliki sebuah alasan, dan ia akan berusaha mengendalikan dirinya agar tak ada yang mengerti, apa alasan sebenarnya ia tidak ingin mengakui Ellie didepan publik.

Jiro masuk ke dalam sebuah ruangan. Hari ini, ia memang dipanggil oleh manager The Batman. Ada sesuatu yang ingin dibahas oleh managernya tersebut dengannya. hanya dia, bukan dengan personel lain. Hal itu membuat Jiro bertanya-tanya, apa ia terlibat dalam sebuah masalah?

Fahri, si Manager meminta Jiro duduk di depan meja kerjanya. Kemudian lelaki itu mulai membahas apa yang baginya cukup penting hingga meminta Jiro menemuinya Empat mata.

“Lihatlah.” Fahri memberikan sebuah map. Jiro membukanya dan map tersebut berisi beberapa surat pengajuan. “Ada tawaran lagi.” Setelah perkataan managernya tersebut, Jiro menutup map sialan tersebut lalu mengembalikannya pada Fahri.

“Sudah kubilang. Aku menolaknya.”

“Jiro, tak bisakah kamu memikirkannya lagi?”

Jiro berdiri seketika. “Dengar. Aku bahkan ingin segera mengakhiri karir sialan ini karena terasa mencekikku. Jadi aku tidak akan membiarkan Ellie ikut terjun didalamnya.”

“Kamu yakin? Bukannya kamu dulu sangat berambisi untuk menjadi populer?”

“Aku sudah mendapatkannya. The Batman sudah berada dipuncak. Jadi setelah kontrak selesai, aku tidak akan memperpanjangnya.”

“Jiro, tolong.” Fahri memohon. “Aku tahu bahwa kamu tidak memerlukan uang lagi. Kepopuleran sudah tidak berarti untukmu. Tapi setidaknya, beritahu Ellie, bahwa dia memiliki kesempatan untuk menjadi seorang selebriti.”

“Dia tidak tertarik. Aku tahu bahwa dia tidak akan tertarik.”

“Jiro.” Fahri masih tak ingin mengalah.

“Demi Tuhan! Dia sedang hamil. Tak bisakah kalian berhenti mengganggunya?!” Jiro benar-benar murka.

Ini bukanlah pertama kalinya Jiro diminta untuk datang ke ruangan managernya dan membahas tentang Ellie, istrinya. Entah sudah berapa kali Ellie mendapatkan tawaran sejak foto-foto dan video wanita itu berdar di akun sosial media. Wajah Ellie yang rupawan tentu menarik minat beberapa produsen untuk menjadikannya seorang model dari brandnya. Dan Jiro tak akan membiarkan hal itu terjadi.

Ellie, wanita itu hanya miliknya. Kecantikan wanita itu hanya boleh ia nikmati, karena itulah Jiro tak ingin membaginya dengan publik.

“Bagaimana setelah melahirkan.”

“Tidak, Fahri!” Jiro berseru keras. “Sebagai suaminya, aku melarang keras. Jangan pernah menawarkan hal itu lagi padaku.” Jiro memperingatkan.

Fahri menghela napas panjang. Ia tidak bisa berbuat banyak. “Baiklah. Tapi ini…” Fahri menyodorkan map lainnya pada Jiro.

“Apa lagi?”

“Karena kontribusi Vanesha saat itu hingga membuat beritamu dan juga The Batman terangkat hingga mempengaruhi penjualan albummu, maka pihak management Vanesha menuntut timbal balik.”

Jiro mengerutkan keningnya. “Timbal balik? Bukankah saat itu kami sudah sama-sama diuntungkan? Dia bermain film saat itu.”

“Tapi filmnya tidak ramai, dan jauh dari kata sukses.”

“Itu bukan menjadi urusanku.”Jiro berkata dengan nada tajam.

“Jiro, kamu tidak bisa berbuat seenaknya. Mereka akan membongkar semuanya dan menyudutkan pihak kita.”

“Aku tidak peduli. Aku ingin segera lepas dari kontrak-kontrak sialan ini. Jadi, aku tak akan menerima lagi kontrak-kontrak baru lainnya.”

“Jiro.” Fahri masih tak ingin mengalah.

“Fahri, aku sudah menganggapmu sebagai temanku. Aku tidak ingin memperkeruh semuanya. Ellie sudah sangat membenciku karena aku belum bisa mempublikasikannya di depan umum. Bagaimana mungkin kamu memintaku untuk kembali berpura-pura mengencani Vanesha?”

“Kamu memiliki kesempatan untuk mengatakan hal itu seminggu yang lalu saat kita preskon. Tapi kenapa kamu tidak mengatakannya? Kenapa kamu memilih diam?”

“Karena aku tidak ingin media mengusik kehidupan pribadi kami.”

“Itu tidak masuk akal, Jiro! Kamu seorang selebritis, kamu harus siap dengan media-media yang usil. Katakan saja, bahwa kamu hanya tidak ingin mempublikasikan diri Ellie di hadapan publik. Kenapa? Kenapa kamu melakukannya?”

Jiro hanya diam. Ia tidak ingin menjawab. “Aku memiliki alasan yang tepat. Tapi itu tidak ada hubungannya denganmu.”

“Jiro…”

“Fahri. Bisakah sekali ini saja hormati keinginanku?”

Fahri menghela napas panjang. “Oke. Kontrakmu masih beberap bulan lagi. Setelah selesai, apa yang ingin kamu lakukan?”

“Menghilang.”

“Tidak mungkin. Kamu tidak akan mungkin bisa melakukannya.”

“Tapi aku akan melakukannya. Aku akan menghilang dari media.”

“Tidak adakah yang ingin kamu katakan pada para fansmu? Jiro, kamu tidak bisa selamanya menyembunyikan Ellie.”

Jiro hanya terdiam. Kemudian ia memilih segera pergi. Baginya, urusannya dengan Fahri sudah berakhir. Tak ada yang perlu dibicarakan lagi tentang tawaran untuk Ellie atau tawaran untuk skandal yang dibuat management tentang hubungannya dengan Vanesha. Jiro tak ingin membahasnya lagi.

***

Ellie merasa sebal saat ini.  Bagaimana tidak? Hari ini, ia merasa sedang di permainkan oleh Mei, karena tanpa sepengetahuannya, Mei menerima ajakan Troy untuk nonton dan makan malam bersama dengan lelaki itu. Padahal Ellie sudah jelas-jelas menolak permintaan Troy beberapa hari yang lalu.

Sejak lelaki itu mengantarnya pulang pada siang hari saat itu, Troy memang secara terang-terangan menunjukkan minatnya pada Ellie. Ketertarikan lelaki itu begitu jelas dan hal itu membuat Ellie tidak suka. Astaga, apa Troy sudah buta dengan keadaanya yang sedang berbadan dua saat ini? tapi di sisi lain, Ellie cukup merasa senang karena kehadiran Troy mampu membuat Jiro kelabakan.

Beberapa kali Jiro bertanya secara terang-terangan pada Ellie, apa Ellie jalan dengan Troy, dan dengan santai Ellie menjawab Ya. Padahal, Ellie dan Troy hanya bertemu beberapa kali, dan mereja tidak melakukan apapun karena mereka bersam dengan Mei juga. Malah, Ellie lebih banyak diam karena kurang suka dengan sosok Troy yang secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Ellie.

Meski begitu, hal tersebut mampu membuat Jiro murka. Ellie tidak tahu kenapa reaksi Jiro akan sekeras itu. Di satu sisi Ellie merasa bahwa Jiro begitu cemburu dengan kedekatannya dengan pria lain, entah itu Marvin atau Troy, tapi disisi lain, Ellie merasa bahwa Jiro tak peduli padanya dan tak memiliki perasaan apapun padanya. Hal itu cukup membut Ellie bingung.

“Jadi, kita ke mana lagi?” Troy yang bertanya ketika lelaki itu baru saja menghabiskan makanan penutupnya.

“Kita pulang saja, aku capek.” Ellie menjawab.

Mei berbisik kepada Ellie seketika. “Kamu yakin? Mungkin Jiro belum pulang. Dia nggak akan tahu kalau kamu jalan sama Troy.”

“Aku nggak peduli, Mei. Aku capek.” Ellie membalas pelan.

Mei menghela napas panjang. Mei benar-benar berharap bahwa setiap kali mereka jalan keluar dengan Troy atau Marvin, Jiro melihatnya. Mei tahu bahwa Ellie sebenarnya tidak suka dan kurang nyaman melakukan hal ini pada Jiro. Karakter Ellie dia sudah mengenalinya. Tapi setidaknya Mei ingin, Jiro paham bahwa Ellie sangat berharga dan patut untuk diperjuangkan, bukan diabaikan seperti sekarang ini.

“Ya sudah, kita pulang saja.” Akhirnya mau tidak mau, Mei setuju dengan perkataan Ellie.

Meski berat, Troy pun akhirnya menuruti keinginan dua perempuan di hadapanya tersebut. Setidaknya, Troy  senang karena hari ini ia bisa kembali jalan dengan Ellie, bisa mengenal wanita itu lebih dekat lagi meski sebenarnya Troy tak mendapatkan apapun karena Ellie nyatanya tampak sedikit terpaksa keluar bersamanya.

***

Troy mengantar Ellie hingga di halaman rumah wanita itu setelah ia lebih dulu menurunkan Mei di rumah perempuan itu tadi. Pada saat bersamaan Troy melihat mobil Jiro baru saja memasuki halaman rumah tersebut. Troy keluar dan pada saat bersamaan, Jiro juga keluar dari dalam mobilnya.

Secepat kilat Jiro menghampiri Troy dan bertanya dengan nada yang tak enak didengar. “Dari mana saja kalian?”

“Ayolah, Kita cuma nonton aja. Jangan jadi kakak yang posesif.” Troy menjawab dengan santai.

Sialan! Hampir saja Jiro mengatakan bahwa ia adalah suami Ellie bukan kakak Ellie, jika Ellie tidak keluar dari dalam mobil Troy dan menatapnya dengan tatapan tak suka. Jiro memilih mengabaikan Troy dan berjalan menuju ke arah Ellie.

“Sejak kapan kamu suka nonton sama dia?” tanya Jiro dengan nada tajamnya.

“Sejak suamiku kembali mengabaikanku seperti dulu.” Ellie menyindir.

“Ellie.” Sungguh, Jiro tidak ingin bertengkar dengan Ellie di hadapan Troy.

“Kenapa? Kamu hanya kakakku, jadi jangan ikut campur masalah pribadiku.”

“Aku bukan kakakmu! Aku…..” Jiro tak dapat melanjutkan kalimatnya. Ia teringat jika Troy masih berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Tidak! Ini belum saatnya ia mengatakan kebenaran tersebut. Belum saatnya….

“Kenapa? Kamu tidak berani mengatakannya?”

“Ellie, kita bisa membahas ini di dalam.”

“Tidak ada yang perlu dibahas, James. Aku lelah.” Dan setelah itu, Ellie memilih meninggalkan Jiro masuk ke dalam rumahnya.

“Oke, gue mau pulang, gue nggak mau ikut campur masalah kalian berdua.” Troy berkomentar sembari bersiap masuk ke dalam mobilnya.

“Ya. Elo memang nggak berhak ikut campur dengan urusan rumah tangga gue.” Setelah itu jiro pergi menyusul Ellie masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Troy, lelaki itu sempat membeku sesaat setelah mendengar pernyataan yang keluar dari bibir Jiro.

“Sial! Gue pasti salah dengar.” Troy menggumam sendiri sembari masuk ke dalam mobilnya. “Ya, gue pasti salah denger.” Lanjutnya lagi sebelum menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan halaman rumah Ellie.

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 18

Comment 1 Standard

 

 

“Katakan! Apa kau ingin aku tidur dengannya?” tanya Steve sekali lagi.

“Jika kau ingin menidurinya, maka silahkan saja! Kau pikir aku peduli denganmu?” masih dengan emosi, Jessie menjawab pertanyaan Steve.

Steve mundur satu langkah. “Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku akan melakukannya.”

“Ya. Pergi saja sana!” Jessie berseru keras. Ia bahkan sudah membalikkan tubuhnya membelakangi Steve. sedangkan Steve, ia mundur perlahan, tak menyangka jika dirinya begitu tak berarti untuk Jessie. Haruskah ia melakukan apa yang diinginkan oleh wanita itu?

Bab 18

Menjelang pagi, Steve baru pulang.

Sebenarnya, Steve ingin pulang ke apartmennya sendiri, tapi hatinya tidak bisa berkompromi. Ia terlalu khawatir dengan keadaan Jessie. Akhirnya Steve memilih pulang ke apartmen Jessie.

Masuk ke dalam, Steve mendapati Jessie tertidur di sofa ruang tengah. Kakinya melangkah dengan sendirinya menuju ke arah Jessie, berjongkok di hadapan wanita itu, lalu mengamatinya.

“Sial! Apa kau tidak bisa melihat keberadaanku, Jess? Bagaimana mungkin kau meminta suamimu untuk meniduri perempuan lain? Apa aku begitu tak berarti untukmu?”

Steve menatap Jessie dengan tatapan penuh luka. Baru kali ini ada seorang wanita yang membuatnya sakit hingga seperti ini. baru kali ini ia merasa tidak diinginkan oleh seorang wanita. Kenapa harus Jessie yang melakukannya? Kenapa harus wanita ini yang menyakitinya?

Steve tahu, bahwa sampai kapanpun, ia tidak akan bisa membenci Jessie. Wanita ini akan selalu menjadi wanita istimewa di hatinya, wanita yang akan selalu ia puja dalam diam. Tapi, apa Jessie merasakan perasaan yang sama dengannya?

Tanpa banyak bicara, Steve bangkit lalu meraih tubuh Jessie, menggendong wanita yang masih asyik tertidur pulas itu menuju ke kamar dan membaringkannya di atas ranjang. Jessie terjaga karena hal itu.

“Steve.” panggilnya.

Jessie terduduk, mengucek matanya. Sedangkan Steve segera menjauh, Steve membuka pakaiannya sendiri lalu memutari ranjang dan melemparkan diri di sisi lain dari ranjang tersebut.

Jessie hanya menatap apa yang dilakukan suaminya itu. Bahkan ia melihat Steve tidur miring memunggunginya. Steve tidak seperti biasanya. Kenapa? Apa lelaki itu benar-benar melakukan apa yang ia inginkan?

Sungguh, Jessie berharap jika hal itu tak terjadi. Setelah kepergian Steve tadi malam, Jessie tidak bisa berpikir jernih. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Steve. Apa benar lelaki itu akan menuruti kemauannya? Meniduri Donna Simmon?

Beberapa kali Jessie menghubungi Steve, meminta lelaki itu untuk pulang, tapi ponsel Steve mati. Jessie bingung dengan kegalauannya. Ia tidak bisa memikirkan jika Steve benar-benar tidur dengan wanita lain. Hingga akhirnya, Jessie tertidur di sofa ruang tengah apartmennya.

Kini, sudah menjelang pagi, Steve baru pulang. Tubuhnya bau alkohol, meski Jessie tidak mendapati bau parfum wanita tapi melihat kelakuan lelaki itu membuat Jessie tak tenang. Apa benar Steve melakukan apa yang ia inginkan? Meniduri Donna Simmon?

“Steve.” Jessie kembali melirih. Ia melihat Steve miring memunggunginya.

“Tidurlah, Jess.”

“Kau benar-benar melakukan apa yang kukatakan?” tanyanya nyaris tak terdengar. Jika Steve benar-benar melakukan hal itu, maka Jessie benar-benar hancur.

Tapi tak ada jawaban dari lelaki itu.

“Steve.” sekali lagi Jessie memanggil dengan suara lirihnya.

“Demi Tuhan, tidurlah.” Pinta Steve.

Yang bisa Jessie lakukan hanya menurut. Ia kembali terbaring. Miring memunggungi Steve. lalu air matanya tumpah begitu saja. Steve benar-benar melakukan apa yang ia katakan, Jessie tahu itu.

***

Jessie bangun saat matahari sudah membumbung tinggi. Ia bangun sendiri, tak ada Steve di sisinya. Jessie segera bangkit, ia menuju ke arah kamar mandi, membersihkan diri secepatnya, setelah itu ia keluar dari kamarnya. Jessie berharap setidaknya ia mendapati Steve di dapurnya, atau paling tidak lelaki itu sedang menontonn tv di ruang tengah, tapi nyatanya, lelaki itu tak ada di sana.

Dengan lemas kakinya melangkah menuju ke arah meja makan. Disana sudah disiapkan dua potong sandwich. Jessie tahu bahwa itu buatan Steve, tapi ia tidak mengerti kenapa Steve menghindarinya.

Jessie ingin bicara dengan lelaki itu. Membahas tentang masalah mereka. Ia tahu bahwa semalam ia terlalu emosi. Dirinya terlalu diliputi dengan rasa marah hingga tak sadar apa yang sudah ia ucapkan. Bahkan setelah kepergian Steve, Jessie baru menyadari kesalahannya.

Tak seharusnya ia meminta Steve meniduri wanita lain hanya karena ia merasa tak diistimewakan. Seharusnya ia lebih bisa mengendalikan emosinya. Tapi, setelah dipikir-pikir, semalam memang Steve dulu yang bersikap aneh padanya. Marah-marah tak jelas, dan apa? Astaga, Jessie bahkan melupakan fakta jika Steve menyebut-nyebut nama Henry.

Darimana lelaki itu tahu bahwa semalam ia bertemu dengan Henry? Apa jangan-jangan, Steve melihat kebersamaannya dengan Henry sore itu? Apa Steve salah paham? Astaga, tak seharusnya Steve salah paham. Bahkan Steve seharusnya berterimakasih dengan Henry karena malam itu Henry membuka kembali mata hati Jessie hingga Jessie menyadari satu fakta, bahwa hingga kini, perasaan Jessie terhadap Steve masih sama sebesar dulu…

“Apa yang terjadi denganmu, Jess? Katakan padaku.” Henry membuka suara ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil lelaki itu. Lelaki itu belum juga menyalakan mesin mobilnya. Mungkin Henry sedang ingin memperjelas semuanya.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku.” Jessie menjawab masih dengan terisak. “Tadi siang, kekasih Steve datang. Dan dia mengatakan kenyataan yang benar-benar menyakitiku.”

“Seperti apa?”

Jessie menggelengkan kepalanya.

“Kau tidak akan membaik jika menyimpan semuanya sendiri. Katakan padaku, apa yang dikatakan wanita itu padamu?”

“Steve meniduriku.” Jessie menghentikan kalimatnya, ia merasa ragu untuk melanjutkannya, tapi kemudian Jessie melanjutkan kalimatnya. “Seperti meniduri teman kencan semalamnya. Sedangkan dia tidak meniduri kekasihnya karena menghormati wanita itu.”

“Kau tidak terima dengan kenyataan itu?”

Jessie menghela napas panjang. “Ya. Aku tidak suka dia mengistimewakan perempuan lain, sedangkan aku dipandang sama dengan perempuan jalang teman kencan semalamnya.”

Henry tampak tersenyum. “Jadi, kau, benar-benar menyukainya, ya?”

Jessie menatap Henry seketika. “Henry, aku memang pernah menyukainya. Tapi itu dulu sekali. Dia cinta pertamaku. Tapi sekarang sudah beda. Maksudku, hubunganku dengannya sangat rumit.”

Henry meraih telapak tangan Jessie. “Kau, hanya memungkiri perasaanmu, Jess.”

“Tidak. Aku tahu apa yang kurasakan.”

“Lalu, apa perasaanmu semarah ini jika aku yang ada dalam posisi Steve? apa jika aku tidak menidurimu tapi meniduri wanita lain, kau merasa senang karena kuistimewakan.”

“Henry, semuanya berbeda.”

“Ya, berbeda Jess. Karena kau tidak mencintaiku sebesar mencintainya.” Henry menyahut cepat. “Kumohon. Jangan membohongi dirimu sendiri dan jangan membuatku menjadi orang tolol karena mencoba membohongi diriku sendiri.”

“Aku tidak bermaksud membuatmu tolol. Aku hanya….”

“Kau hanya takut mengakuinya.” Lagi-lagi Henry menjawab cepat. Kemudian Henry mengembuskan napas panjang. “Sejak awal kau mengenalkanku pada Steven Morgan, sejak saat itu aku sudah menaruh curiga. Hubungan kalian tidak masuk akal. Kalian sekan terikat dengan sesuatu yang tak terlihat. Kadang, aku bahkan merasa bahwa kau memiliki zona yang tak dapat kusentuh, sedangkan dia dengan mudah keluar masuk kedalam zona itu.”

“Henry…”

“Aku cemburu, Jess. Sangat. Dan itu sudah sejak lama. Tapi aku mencoba bertahan. Aku mencoba menelan mentah-mentah kecemburuanku dan bersikap seolah-olah dia adalah kakakmu yang menyebalkan. Tapi semakin hubungan kita serius, semakin aku sadar, bahwa aku tidak ada apa-apanya dimatamu daripada dia.”

Jessie menggelengkan kepalanya, tapi Henry melanjutkan kalimatnya.

“Tidak Jess. Aku sudah merasakan ini sejak lama, dan aku akan mengatakannya sekarang. Aku mencintaimu, sangat. Kau tentu tahu itu. Dan aku tahu, bahwa cintamu tak sebesar yang kumiliki untukmu.”

Jessie mulai meneteskan airmatanya. Henry benar. Ya, lelaki itu benar.

“Katakan dengan jujur, maka aku akan menerimanya. Aku akan menerima perpisahan kita jika kau mengaku bahwa selama ini kau tidak mencintaiku.”

“Tidak.” Jessie berkata cepat. “Aku mencintaimu. Sungguh.” Ya, Jessie jujur. Ia memang mencintai Henry. Karena itulah ia menerima lamaran lelaki itu.

“Tapi rasa cintamu padaku tak sebesar rasa cintamu padanya, Jess. Tolong, berkatalah dengan jujur padaku.”

Jessie hanya menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. “Aku… Aku…”

“Kau mencintainya, kan?”

Jessie memejamkan matanya frustasi. “Ya….” Desahnya.

Kali ini giliran Henry yang memejamkan matanya frustasi. Henry sudah curiga dengan kenyataan itu. Sudah sejak lama. Dan dia baru berani mengutarakan kecurigaannya hari ini. saat hubungan mereka sudah benar-benar berakhir.

“Aku minta maaf, aku hanya…’

“Bagaimana jadinya jika hubungan kita masih tetap berlanjut? Aku tahu bahwa itu tak akan baik. Aku tidak bisa membayangkan jika istriku masih selalu dekat dengan lelaki yang dicintainya. Aku tidak bisa membayangkan hal itu.”

“Maafkan aku…”

Henry menggelengkan kepalanya. “Semua sudah terjadi. Aku tahu ini yang terbaik untuk kita. Terimakasih kau sudah mau berkata jujur padaku.”

“Henry…”

“Jess.” Henry memotong kalimat Jessie. “Sudah malam, aku akan mengantarmu pulang.”

“Kau, akan menemuiku lagi?” jika tadi sore Jessie berpikir bahwa seharusnya Henry tak lagi menemuinya, maka malam ini ia ingin lelaki itu tetap menjadi teman terbaiknya. Astaga, lelaki ini benar-benar sangat baik, Jessie tak ingin kehilangan lelaki ini, meski status mereka hanya sebagai teman.

Henry menggelengkan kepalanya. “Apa yang kau katakan tadi sore benar. Seharusnya, aku tak lagi menemuimu. Itu akan menyakitiku. Jadi, mungkin aku tak akan menemuimu lagi sampai perasaanku benar-benar sembuh.”

“Maafkan aku…” lagi-lagi Jessie melirih.

“Tidak. Kau tidak salah. Mungkin memang seperti ini jalannya.” Lalu Henry mulai menyalakan mesin mobilnya, kemudian mengantar Jessie pulang.

Jessie menghela napas panjang. Ia memijit pelipisnya. Astaga, apa harus Henry yang menyadarkan tentang perasaannya kepada Steve? lagi pula, ini tak adil untuk Jessie, kenapa ia harus mengakui perasaannya ketika hubungan mereka sedang seperti sekarang ini?

Membayangkan bahwa kemungkinan tadi malam Steve meniduri Donna Simmon membuat Jessie tak tenang. Ya Tuhan! Ia harus menemui lelaki itu. Siang ini juga. Ia harus membahas masalah mereka sebelum semuanya semakin rumit.

***

Setelah berkonsentrasi penuh dengan pekerjaannya, akhirnya Steve memilih beristirahat sebentar. Proses pengambilan foto untuk salah satu majalah fashion terbesar di New York memang sedikit rumit. Steve harus berkonsentrasi penuh, ia tidak boleh main-main karena namanya yang akan menjadi taruhannya.

Saat Steve akan berjalan menuju ke ruang kerjanya, saat itulah salah satu krunya datang dengan seorang wanita di sebelahnya. Wanita berambut pirang yang sudah ia putuskan beberapa hari yang lalu, Donna Simmon.

Dengan penuh percaya diri, Donna berjalan ke arah Steve dan mengecup sisi kanan dan kiri pipi Steve. Steve sempat membatu karena ulah Donna, bahkan ia mengangkat sebelah alisnya, tak mengerti kenapa Donna bersikap seperti ini padanya, padahal terakhir kali mereka bertemu saat itu, Donna marah karena ia sudah memutuskan hubungan mereka secara sepihak.

“Aku tidak mengganggumu, bukan?”

“Tidak.” Steve menjawab pendek. “Ada masalah?” tanyanya.

“Bisa kita bicara di tempat lain?”

“Tentu. Ikutlah ke ruanganku.” Dan akhirnya, mereka menuju ke ruang kerja Steve.

***

Sepuluh menit berada di dalam ruangan berdua, dan Donna belum juga mengatakan apa niat wanita itu datang kepadanya. Sesekali Steve melirik ke arah jam tangannya. Hari ini bukanlah hari yang bebas, tapi ia juga tidak enak jika harus mengatakan hal itu pada Donna. Belum lagi suasana hati Steve sedang kacau jika mengingat tentang hubungan rumah tangganya dengan Jessie.

“Kau, tidak akan memulai apa yang ingin kaukatakan?” akhirnya Steve membuka suaranya.

“Sejujurnya…” Donna bangkit. Ia berjalan menuju ke arah Steve, dan duduk di meja kerja lelaki itu, tepat di hadapan Steve. hal itu kembali membuat Steve mengangkat sebelah alisnya.

Apa Donna sedang menggodanya? Demi Tuhan! Ia tidak akan tergoda. Satu-satunya hal yang diinginkan Steve tentang seks adalah tubuh istrinya, bukan wanita lain.

“Apa?” tanya Steve karena Donna terkesan menggantungkan kalimatnya.

“Aku tahu, Steve, apa yang terjadi denganmu.”

Steve mengerutkan keningnya. “Maksudmu?”

Dengan genit, Donna menjalankan telunjuknya pada kemeja yang dikenakan Steve, menelusuri dada Steve dengan jemarinya. “Pernikahanmu dengan istrimu itu. Kau, menikahinya hanya karena dia hamil, bukan?”

“Apa maksudmu?”

“Jujur saja. Kau tahu Steve, aku bahkan rela tetap menjadi kekasihmu. Karena bagiku, menjadi seorang kekasih yang dicintai itu lebih istimewa dibandingkan menjadi istri yang diselingkuhi.”

“Donna tunggu dulu. Apa maksudmu?”

Well. Kau mengakhiri hubungan kita karena kau sudah menikahi Jessie yang tak lain adalah teman semasa kecilmu, keluarga kalian sudah berteman sejak lama. Aku tahu bagaimana posisimu. Kau hanya tak ingin menyakitinya, padahal pernikahan kalian hanya karena bayi, bukan?”

“Donna. Kau salah paham.” Steve menjawab cepat. Ia tidak menyangka jika Donna akan salah paham hingga seperti ini.

“Lalu apa? Kau mencintaiku. Bagimu, aku adalah wanita istimewa, karena itulah kau yang seorang playboy cap kakap berusaha menjalin hubungan serius denganku tanpa seks. Benar begitu bukan?”

“Astaga Donna.” Steve mengusap rambutnya frustasi. Ia tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan semua itu pada Donna. Kepalanya pusing, sungguh. Bagaimana mungkin Donna tidak mengerti apa maksudnya?

“Dengar.” Steve menggenggam kedua pergelangan tangan Donna. “Selama ini aku hanya mengencani wanita jalang, tentu banyak orang tahu kenyataan itu. Kamudian aku memiliki masalah dengan seseorang. Jessie. Ya, aku memiliki masalah dengan dia, dan aku ingin melupakannya. Karena itulah aku meminta Hank untuk mencarikan seorang wanita baik-baik. Dan kaulah orangnya.”

“Lalu, kau tertarik denganku, bukan?”

“Sejujurnya aku mencoba.” Steve menjawab dengan jujur. Ia tidak mau Donna salah paham lagi. “Aku ingin menjalin hubungan sehat, dan aku mencobanya denganmu. Tapi maaf, aku tidak bisa.”

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak tahu.” Steve kembali mengusap rambutnya sendiri. “Intinya adalah, entah aku sudah menikah atau tidak, hubungan kita tak akan berhasil. Kita tetap akan selesai.”

“Tapi kau mengajakku pulang ke rumah keluargamu. Dan menurut ibu dan adikmu, kau tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya.”

“Karena aku ingin… aku…” Steve tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Ya Tuhan! Ia tidak seberengsek itu.

“Katakan. Apa tujuanmu mengajakku ke sana?”

“Aku ingin dia melihatmu.”

Ya. Itulah tujuan Steve. Steve tahu bahwa Jessie akan datang. Karena itulah ia mengajak Donna ke Pennington hari itu. Ia ingin menunjukkan pada Jessie bahwa ia juga bisa memiliki kekasih seperti Jessie yang memiliki Henry. Ia juga bisa berhubungan dengan normal, dan ia ingin melihat reaksi Jessie. Tapi Steve tak mendapatkan apapun setelah mengajak Donna Simmon pulang ke rumah orang tuanya selain kesalah pahaman sialan ini.

“Jadi kau, kau ingin membuatnya cemburu dengan kehadiranku?”

“Donna, aku tahu itu sangat brengsek. Tapi ya, itulah tujuanku.”

“Bajingan kau Steve!” Donna berdiri seketika.

“Maafkan aku. Sungguh.”

“Aku benar-benar tidak menyangka. Astaga… jadi kau, kau sama sekali tak tertarik denganku? Kau hanya… Ya Tuhan! Aku tidak percaya.” Donna bersiap pergi. Ia malu, tentu saja. Ia berharap terlalu banyak dan ia terlalu salah menerka keadaan. Donna merasa sangat malu, ia menganggap dirinya sendiri begitu istimewa untuk seorang Steven Morgan, tapi kenyataan yang ia dapat adalah sebaliknya, bahwa Steven Morgan TIDAK benar-benar tertarik dengannya.

“Donna.” Steve ingin menenangkan wanita itu.

“Tidak! Steve. Jangan!” napas Donna memburu karena kekesalan yang memuncak dikepalanya. “Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.” Setelah perkataannya tersebut, wanita itu pergi.

Oke, sempurna. Setidaknya Donna Simmon tak akan mengganggu kehidupannya lagi. Tapi bukan seperti itu yang dirasakan Steve. Ia merasa menjadi orang yang sangat brengsek. Membuat wanita itu berharap lebih, membuat wanita itu salah paham dan lebih parah lagi memanfaatkan kehadiran wanita itu untuk menyembunyikan perasaannya sendiri kepada Jessie, perasaan yang selalu ingin ia pungkiri. Sejak lama…..

-TBC-

Aku numpang promo dikit yaa… Ebook aku di google play, bisa kalian beli hihihi

Sleeping with my Friend – Bab 17

Comment 1 Standard

 

Nyatanya, setelah melihat kejadian ini, Steve merasa bahwa Jessie hanya berusaha membohongi dirinya. Membuatnya terlihat bodoh dengan rasa cinta yang ia rasakan dan bertepuk sebelah tangan.

Sial!

Cinta?

Ya Tuhan! Kenapa ia harus mengaku jatuh cinta pada saat seperti ini?

Kenapa ia harus jatuh cinta pada Jessie, wanita yang bahkan selalu melihatnya sebagai teman? Kenapa harus seperti ini?

Bab 17

Jessie masih tidak menyangka bahwa Henry akan datang kembali padanya setelah apa yang mereka bahas siang itu di apartmennya. Jessie mengira, bahwa Henry akan membencinya, dan menolak untuk bertemu lagi dengannya. Nyatanya, hati lelaki ini benar-benar seperti malaikat.

Tadi Siang, Jessie cukup terkejut dengan kehadiran Donna Simmon, kekasih Steve, dan dan setelah wanita itu pergi, pikiran Jessie tak bisa lepas dari apa yang dikatakan wanita itu sepanjang siang di hadapannya.

“Aku benar-benar tidak menyangka jika kau akan menggunakan cara selicik ini untuk mengikatnya, Summer!” Jessie melihat mata Donna yang penuh dengan kemarahan. Hingga detik ini, Jessie tidak tahu apa tujuan Donna datang kepadanya. Meski begitu, Jessie tetap menerima Donna sebagai tamunya dan mengurung diri mereka berdua di dalam ruang kerjanya.

“Aku sendiri tidak mengerti apa yang kau maksud.”

“Dengar, aku sudah tahu semuanya! Kau membiarkan dirimu hamil agar kau mendapatkan perhatiannya, bukan? Agar dia menikahimu!”

Oh, perkataan itu sangat menyinggung Jessie.

“Donna, kau tidak tahu apa yang terjadi diantara kami.” Jessie masih berusaha bersikap tenang, ia tak ingin berakhir saling menjambak rambut satu sama lain karena masalah sepele ini.

“Kau yang tidak tahu apa yang sudah kami miliki!” Donna berseru keras. Wanita itu tampak tak dapat mengontrol emosinya. “Dengar, Jess. Dia mencintaiku! Sangat mencitaiku hingga dia memperlakukan aku dengan begitu istimewa!”

Itu bukan hal yang bagus untuk didengar.

“Seistimewa apa?” tantang Jessie. Karena baginya, wanita yang diistimewakan Steve adalah, ibu dan adik lelaki itu, serta dirinya. Setidaknya, dulu itu yang ia tahu.

“Seistimewa dia tak berani menyentuhku! Membawaku ke atas ranjang sialannya sebelum kami menikah!”

Oh… Sudah! Semua selesai! Pikir Jessie.

“Kau, dia hanya menganggapmu seperti perempuan jalang semalamnya, karena itulah dia berani menidurimu.”

“Dia tidak menganggapku seperti itu!”

“Well, nyatanya itu yang terjadi, Jess.” Donna masih menegaskan apa yang wanita itu pikirkan. “Dan kau, dengan tak tahu malu malah menjeratnya dengan hubungan pernikahan. Ya Tuhan! Jika aku jadi dirimu, maka aku akan menenggelamkan diriku ke dasar laut!”

Itu benar-benar kalimat yang sangat menghina. Jessie tak pernah berpikir untuk menjerat Steve dengan sebuah pernikahan. Ia tidak pernah memaksa lelaki itu untuk menikahinya. Kemudian Jessie melihat Donna berdiri dan dengan begitu arogan, wanita itu berkata “Dia akan selalu mencintaiku, dia akan selalu mengistimewakanku, dan kau, kau hanya akan menjadi budak seksnya. Selamat berbahagia, Mrs. Morgan.”

Setelah itu Donna pergi, dan setelahnya, pikiran Jessie berubah menjadi sangat kacau. Donna Simmon benar-benar menghancurkan perasaannya. Ia tidak tahu bahwa Steve menilainya serendah itu. Hal tersebut membuat Jessie marah, tapi disisi lain ia tidak dapat menyalurkan kemarahannya karena Steve memang tak bersalah. Donna benar, ialah yang harus disalahkan karena sudah menggoda lelaki itu. Belum lagi kenyataan bahwa ia sudah teledor karena tidak mengamankan dirinya sendiri dan membiarkan kehamilan ini terjadi. Dan kesalahannya semakin fatal saat ia setuju untuk menikah dengan Steve.

Jessie memijit pelipisya. Sepanjang siang itu ia merasa sangat pusing, perasaannya kacau, dan ia hanya ingin menangis.

Lalu ketika sore tiba, para pegawainya bersiap untuk pulang, saat itu Miranda datang dan mengatakan bahwa ada yang ingin bertemu dengannya.

Henry….

Lelaki itu datang.

Sungguh, Jessie tak menyangka jikaa Henry akan kembali menemuinya setelah ia sudah menyakiti perasaan lelaki itu.

Jessie meminta Miranda untuk pulang saja setelah ia mempersilahkan Henry masuk ke dalam ruangannya. Tak lupa, Jessie juga menyiapkan kopi untuk lelaki itu agar suasana tegang sedikit mencair.

“Aku, sangat terkejut kau mengunjungiku.” Jessie mulai membuka suara.

“Kenapa? Kau ingin aku benar-benar meninggalkanmu dan melupakanmu begitu saja?”

“Henry, aku minta maaf. Tapi aku memang berharap jika kau melakukan hal itu. Ini akan menyakitimu, jika kita tetap bertemu seperti ini.”

Henry menundukkan kepalanya. “Aku sudah tidak bisa lagi memilikimu, Jess. Tak bisakah kau setidaknya menerimaku seperti ini? aku hanya ingin melihatmu, berhubungan baik denganmu, salahkah?”

“Tidak.” Jessie menggelengkan kepalanya. “Tapi ini akan menyakitimu.”

Henry sedikit tersenyum. “Kau tahu, aku memilih kesakitan setiap hari asalkan tetap bisa berjumpa denganmu.”

Astaga, Jessie tak bisa membiarkan Henry kesakitan setiap saat. “Jangan seperti ini.” lirih Jessie. Perasaan Jessie benar-benar kacau, dan kehadiran Henry semakin memperkeruh semuanya.

Pikirannya semakin kacau. Jessie bahkan berpikir pada titik jika semua ini seharusnya tak terjadi. Ia seharusnya tak mengandung anak Steve, mereka tak seharusnya menikah, dan seharusnya, hubungannya dengan Henry masih baik-baik saja bahkan lebih romantis dari sebelumnya.

Tapi bagaimanapun juga, Jessie tidak bisa mengingkari hubungannya saat ini. statusnya sudah jelas, bahwa ia adalah seorang istri. Ia tidak boleh kembali tergoda dengan Henry maupun lelaki lain.

Tapi…

Tapi….

Astaga, Jessie benar-benar bingung. Ia kembali mengingat perkataan Donna Simmon tadi. Hal itu membuat Jessie ingin menangis. Padahal tak seharusnya ia menangis di hadapan Henry. Itu akan sangata memalukan, dan tak masuk akal, tapi Jessie tak mampu menahan tangisnya.

Henry yang melihat segera menghampiri Jessie mendekat ke arah wanita yang tampak sangat tertekan tersebut.

“Hei, maafkan aku. Jika kehadiraanku membuatmu tertekan, maka aku akan pergi.” Henry bangkit, ia bersiap pergi, tapi kemudian Jessie menghentikannya.

Henry menatap pergelangan tangannya yang ditahan oleh Jessie. Wanita itu masih setia menangis, dan Henry tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita itu.

Jessie sendiri tak tahu apa yang sedang menimpanya. Batinnya berperang, antara membiarkan Henry pergi, atau meminta lelaki itu untuk menemaninya. Jessie tak ingin sendiri dan kembali memikirkan tentang perkataan Donna Simmon. Ia ingin ditemani, dan melupakan perkataan perempuan berambut pirang tadi.

“Kau ingin aku tetap di sini?” tanya Henry karena ia tidak mendapati Jessie melarangnya atau mempersilahkan dirinya pergi. Padahal Jessie dengan jelas menahan pergelangan tangannya agar tidak pergi dari sana.

Jessie tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya saja. Dan hal itu cukup membuat Henry kembali duduk di sebelah Jessie. Keduanya diam tanpa kata. Hanya pergelangan tangan Henry yang setia dicekal oleh Jessie. Henry tak tahu apa yang terjadi dengan Jessie dan yang diinginkan wanita tersebut. Yang ia tahu hanyalah, bahwa ia harus berada di sisi Jessie ketika Jessie tampak hancur dan kacau seperti saat ini.

***

Setelah merasa cukup, Jessie memilih untuk segera mengajak Henry pulang. Hari sudah gelap, mungkin Steve akan khawatir terhadapnya karena belum pulang, atau mungkin sebaliknya, lelaki itu tak akan peduli dengan apa yang sedang ia lakukan.

Masih saling berdiam diri, Henry mengikuti tepat di belakang Jessie. Membuat Jessie merasa nyaman, dan merasa lebih baik dengan kehadiran lelaki itu disekitarnya. Meski mereka tak melakukan apapun dan hampir tak membicarakan apapun, tapi kehadiran Henry cukup mengobati suasana hati Jessie yang sedang kacau karena kehadiran Donna Simmon.

Setelah mematikan semua lampu dan mengunci butiknya. Jessie mengikuti Henry menuju ke arah mobil lelaki itu. Steve mungkin tak menjeputnya. Bahkan mungkin saja lelaki itu sedang sibuk dengan kesenangannya sendiri. memikirkan hal itu membuat Jessie kembali sedih.

Astaga, kenapa jadi seperti ini?

Percaya dengan Steve saat ini sudah menjadi hal yang sulit untuk Jessie. Pemikiran buruk tentang Steve selalu bersarang di kepalanya sejak tadi siang. Ya, baginya, Steve bukan orang yang jujur. Padahal, bisa saja Donna mengada-ada, atau sengaja membuat hubungnnya dengan Steve merenggang. Tapi nyatanya Jessie tidak mempercayai kemungkinan itu. Ia lebih mempercayai perkataan Donna Simmon, bahwa Steve mencintai wanita berambut pirang itu, pernikahannya dengan Steve hanya sebuah sandiwara lelaki itu, dan Steve hanya melihatnya sebagai seorang pemuas daripada seorang istri.

Jessie sempat berdiri melamun, dan matanya kembali berkaca-kaca saat mengingat kenyataan itu. Hal itu membuat Henry menolehkan kepalanya ke arah Jessie.

“Jess?”

Panggilan Henry menyadarkan Jessie dari lamunan. Dalam sekejap mata, Jessie menghambur ke arah Henry, memeluk lelaki itu begitu erat, kemudian ia terisak.

Ya Tuhan! Jessie tidak tahu apa yang terjadi dengannya. ia tidak ingin melakukan hal ini, tapi disisi lain, Jessie tak kuasa menahan diri untuk memeluk lelaki itu. Jessie sedang membutuhkan sebuah penopang agar dirinya tidak jatuh terpuruk. Perkataan Donna Simmon, dan kenyataan yang ada membuat Jessie tersakiti. Ia tidak tahu kenapa bisa tersakiti seperti ini. Maksudnya, ia bahkan menikah dengan Steve hanya karena hamil, seharusnya ia tak perlu merasa sesakit ini.

Atau jangan-jangan……

“Kau memiliki masalah dengan Steve?” tiba-tiba saja Henry bertanya seperti itu. Mereka masih saling berpelukan satu sama lain, dan Jessie senang, ia tak harus melihat ekspresi Henry saat ini.

“Kau tak pernah seperti ini saat bersamaku, Jess.” Lirih lelaki itu.

“Maaf….” Ucap Jessie disela isakannya.

“Kau, mencintainya?”

Jessie melepaskan pelukannya seketika. Ia menatap Henry, kemudian mundur satu langkah.

“Kau, mencintainya, Jess?”

“Aku… Aku…” Jessie tak dapat menjawab, ia bahkan tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan saat ini.

“Sudah sejak lama aku ingin bertanya hal ini padamu. Kau, mencintainya, bukan?”

Jessie menggeleng, air matanya jatuh dengan begitu deras. Ia tidak tahu bahwa Henry bisa menebak apa yang ia rasakan. Apa ia begitu tampak mencintai seorang Steven Morgan? Tidak, ia tidak mencintai Steve. maksudnya, ia hanya menganggap Steve sebagai temannya sendiri. mungkin Steve memang merupakan cinta pertamanya, tapi hanya itu, dan itu sudah terjadi Lima belas tahun yang lalu, ia sudah tidak lagi mencintai Steven Morgan.

“Kau, tidak bisa membohongiku, Jess.”

“Henry…”

“Aku sudah merasakan itu sejak lama.”

Jessie masih menggelengkan kepalanya.

“Kau hanya perlu jujur.”

Jessie kembali memeluk Henry, kemudian ia berkata “Maafkan aku..” entah apa yang membuat Jessie meminta maaf. Apa karena sudah membohongi Henry dengan perasaannya?

***

Setelah melihat pemandangan yang mambuatnya panas karena emosi, Steve segera kembali ke apartmen Jessie. Ia membuka jaket yang ia kenakan kemudian membantingnya dengan kesal.

Sekali lagi, Steve tak menyangka jika Jessie akan melakukan itu. Steve tahu bahwa Jessie masih sangat mencintai mantan tunangannya itu, tapi seharusnya Jessie tak perlu berhubungan secara sembunyi-sembunyi dengan lelaki itu. Jessie seharusnya tahu statusnya yang sudah menjadi seorang istri. Kenapa Jessie tega melakukan hal ini padanya?

Seumur hidupnya, Steve tidak pernah merasakan yang namanya diselingkuhi. Dan kini, Steve merasakan perasaan itu saat melihat Jessie berpelukan dengan mantan kekasihnya.

Steve merasa dikhinati, Steve merasa menjadi orang yang paling bodoh karena sudah diduakan. Padahal Steve belum tahu, apa sebenarnya yang telah terjadi. Mata Steve terlalu dibutakan dengan kata cemburu.

Ya, Steve merasa sangat cemburu. Bahkan ia tak pernah merasakan kecemburuan hingga taraf setinggi ini. Steve tak mengerti, kenapa Jessie bisa begitu mempengaruhinya, membuatnya sakit hingga seperti ini.

Saat Steve masih belum dapat mengendalikan emosinya, saat itulah pintu apartmen Jessie dibuka. Menampilkan sosok Jessie yang baru saja masuk ke dalam.

Steve berdiri seketika, ia menatap Jessie dan wanita itu tampak menatapnya dengan tatapan kesal.

Kenapa?

Apa Jessie tidak suka melihatnya berada di apartmen wanita itu? Apa Jessie berharap bahwa yang ada di sana adalah Henry? Sialan!

Steve mendekat, dan ia bertanya. “Kenapa pulang sendiri? mana teman kencanmu?”

Jessie mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Steve. lagi pula, kenapa Steve bersikap seperti ini kepadanya? Bukankah seharusnya ia yang menyembur Steve dengan kata-kata pedasnya?

“Aku tidak mengerti apa maksudmu.”

“Si Gay itu.” Steve mencoba mengendalikan emosinya. “kau pikir aku tidak tahu tentang pertemuanmu dengan dia?”

“Apa?”

“Kau memeluknya!” ya, meledaklah sudah emosinya.

Hening, setelah seruan keras yang dilontarkan Steve pada Jessie. Jessie menatap Steve dengan mata nanarnya, dan Steve masih sibuk mengendalikan kemarahannya. Napas Steve memburu karena emosi yang mempengaruhinya. Ia masih merasa sangat kesal dan marah saat mengingat bagaimana Jessie memeluk lelaki itu tadi.

“Dengar, Steve. kau tidak bisa mengendalikan apa yang ingin kuperbuat.”

“Kenapa tidak bisa? Kau istriku!”

“Kita menikah bukan karena cinta.”

“Persetan dengan cinta, Sialan!”

Steve menjauh ia mengusap wajahnya dengan frustasi. Bukan ini yang ia inginkan. Tapi ia tidak bisa mengendalikan dirinya. Rasa sakit dan rasa marah mempengaruhinya, membuat Steve tidak bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah.

“Dengar, Jess. Dalam sesaat, kau tahu apa yang sudah kupikirkan? Aku berpikir bahwa kau melakukan… kau… Sialan!” Steve tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia tidak dapat mengatakan pikiran buruk apa yang sedang bersarang dikepalanya.

“Katakan saja. Kau pikir aku selingkuh dengannya?” tantang Jessie.

“Ya.”

Jessie mengangguk. Ia tidak menyangka jika Steve berpikiran sejauh itu. “Kau pikir aku tidur dengannya?”

Steve mendekat, dengan spontan ia mencengkeram kedua bahu Jessie. “Katakan kalau kau tidak melakukan itu!” ucapnya penuh penekanan.

“Kalaupun aku membantahnya, kau tetap akan menuduhkau seperti itu, Steve!” Jessie berseru keras. Ia bahkan sudah melepaskan diri dari cengkraman tangan Steve di bahunya. “Aku tidak menyangka bahwa apa yang dikatakan Donna Simmon siang ini adalah suatu kebenaran.”

Steve memicingkan matanya. “Apa maksudmu?”

“Kau, kau melihatku sebagai wanita murahan yang biasa kau kencani, bukan? Karena itulah kau menuduhku serendah ini dan karena itulah kau meniduriku malam itu!” kali ini, giliran Jessie yang tak mampu membendung amarahnya. Semuanya jadi semakin masuk akal. Tuduhan yang diberikan Steve padanya memperkuat apa yang dikatakan Donna Simmon tadi siang.

“Sial! Jess! Aku menidurimu karena kau menyetujui ide gilaku!”

“TAPI KAU TIDAK MENIDURI DONNA SIMMON!” Jessie berseru keras hingga membuat Steve mematung seketika.

“Apa?” Steve tak mengerti apa yang dikatakan Jessie.

Jessie mencengkeram kemeja yang dikenakan Steve. “KENAPA KAU MENIDURIKU TAPI TIDAK DENGAN DIA?!” Jessie masih tak dapat menahan emosinya.

Steve tak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Kau membuatnya terlihat istimewa, Steve. Sedangkan kau membuatku terlihat seperti perempuan murahan yang menjadi teman kencan semalammu.” Jessie memukuli dada Steve. “Kau membuatku tersakiti dengan kenyataan itu.” Dan Jessie tak mampu menahan airmatanya lagi. Tangis yang sejak siang tadi keluar karena perkataan Donna Simmon.

“Kau, kau ingin aku menidurinya?”

Jessie membatu dengan pertanyaan itu. Ia tidak tahu apa yang ia inginkan. Jessie sangat yakin bahwa ia tidak ingin melihat Steve meniduri wanita lain, tapi di sisi lain, apa yang dikatakan Donna Simmon tentang ‘keistimewaan’ wanita itu membuat Jessie kesal.

“Katakan! Apa kau ingin aku tidur dengannya?” tanya Steve sekali lagi.

“Jika kau ingin menidurinya, maka silahkan saja! Kau pikir aku peduli denganmu?” masih dengan emosi, Jessie menjawab pertanyaan Steve.

Steve mundur satu langkah. “Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku akan melakukannya.”

“Ya. Pergi saja sana!” Jessie berseru keras. Ia bahkan sudah membalikkan tubuhnya membelakangi Steve. sedangkan Steve, ia mundur perlahan, tak menyangka jika dirinya begitu tak berarti untuk Jessie. Haruskah ia melakukan apa yang diinginkan oleh wanita itu?

-TBC-

jangan pada darah tinggi yaakkk hahahhaha

Sleeping with my Friend – Bab 16

Comment 1 Standard

 

Bab 16

Lumatan mereka semakin intens, semakin panas, seakan keduanya tak ingin mengakhiri tautan bibir masin-masing. Jessie yang pertama kali sadar dari buaian asmara tersebut, segera ia melepaskan diri, membiarkan tautan bibir mereka terputus, dengan napas yang sama-sama saling terengah.

“Steve, aku lapar.” Ucapnya kemudian.

Jessie tidak bohong tentang dirinya yang sudah kelaparan, tapi sebenarnya, Jessie sempat melupakan rasa laparnya ketika Steve mencumbunya dengan begitu panas seperti tadi. Ia merasa bahwa malam ini, tak apa ia melewatkan makan malamnya, asalkan ia bisa bercumbu mesra dengan Steve sepanjang malam. Tapi Jessie juga harus memikirkan bayi yang dikandungnya. Bayinya membutuhkan nutrisi, dan ia harus makan untuk memenuhi nutrisi bagi bayinya tersebut.

“Aku… Maaf, aku terbawa suasana.” Ucap Steve dengan suara parau.

Jessie tentu merasakan bagaimana lelaki di hadapannya ini menegang seutuhnya, ereksinya menempel pada perut Jessie, keras, berkedut, membuat Jessie tak kuasa menahan diri untuk membungkusnya. Hanya saja, mereka bukan lagi remaja yang dimabuk asmara. Ada bayi diantara mereka, ada masalah yang harus mereka bahas sebelum kembali berakhir di atas ranjang.

Jessie mengusap lembut pipi Steve, ia berkata “Akupun demikian. Aku juga terbawa suasana, aku juga menginginkanmu. Mungkin karena hormon, atau yang lain. Aku tidak tahu. Tapi kita tidak bisa selalu menyelesaikan masalah dengan seks.” Ucap Jessie pelan agar Steve mengerti apa yang ia maksud.

Steve menganggukkan kepalanya. Jessie benar, sangat benar. “Baiklah. Kau lapar sekali?”

“Ya. Sangat lapar.” Kali ini Jessie mengusap perutnya dengan manja.

Steve tersenyum. Ia ikut mengusap perut Jessie dan berkata “Maafkan Daddymu yang kurang ajar ini, oke?” Steve berkata pada bayinya, lalu ia menatap ke arah Jessie. “Kau duduk saja. Aku yang akan menghangatkan makanannya dan menyiapkan sisanya.”

Jessie tersenyum bahagia. Steve sudah kembali, dan lebih baik lagi, lelaki ini bersikap begitu perhatian padanya. Jessie senang, sangat senang.

***

Setelah makan malam. Jessie dan Steve segera menuju ke kamar. Ini sudah hampir jam tiga dini hari, jadi mereka tak akan menghabiskan waktu untuk bercakap-cakap atau bahkan menonton TV lagi.

Bagi Jessie, ia tak butuh lagi penjelasan tentang sikap aneh Steve spanjang hari ini. kenapa lelaki itu tiba-tiba minum hingga larut. Yang terpenting adalah, bahwa Steve sudah kembali seperti semula. Lelaki itu sudah membaik, dan hal itu sudah cukup untuk Jessie.

Tanpa canggung, Jessie mendahului Steve, berjalan di depan lelaki itu, kemudian membuka bajunya sendiri. Meninggalkan dirinya hanya dengan bra dan celana dalamnya saja. Jessie berjalan menuju ke meja rias, mengambil sebotol minyak zaitun dengan aroma mawar, lalu menuju ke arah ranjang, dan duduk dengan pose seksinya, setidaknya dimata Steve seperti itu.

Jessie tampak sedang menggodanya, entah benar atau tidak, hanya wanita itu yang tahu. Tapi demi Tuhan! Steve merasa ketegangan yang tadi sempat lenyap karena makan malam, kini kembali bangkit. Ia kembali bereresi hanya karena melihat Jessie berjalan setengah telanjang di hadapannya.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Steve bingung, ketika mendapati Jessie sibuk membuka kemasan botol minyak zaitun tersebut.

Steve berjalan mendekat, ikut duduk di pinggiran ranjang dan mengamati apa yan akan dilakukan Jessie.

“Tadi aku ke butik, karena tak ada yang bisa kukerjakan dan aku cukup bosan di sana, aku memilih menghabiskan siangku untuk mengobrol dengan Miranda sesekali mencari informasi tentang kehamilan. Salah satu artikel menyebut bahwa nanti, perutku akan sering terasa gatal, dan aku tak boleh menggaruknya karena akan meninggalkan bekas luka.”

Well, sepertinya aku juga harus banyak membaca tentang artikel kehamilan. Aku ingin kau melewatinya bersamaku.”

Jessie mengangguk. “Dan, dengan minyak zaitun ini, bisa mengurangi rasa gatal tersebut.”

“Jadi, kau akan melumurkan ke tubuhmu?”

“Kau keberatan?” Jessie bertanya balik.

“Tidak.” Steve menjawab cepat. “Kau ingin, aku melakukannya untukmu?” tanya Steve kemudian.

“Kau, bisa melakukannya?” Jessie bertanya balik.

Steve merebut botol tersebut dari tangan Jessie. “Mari kita lihat, seberapa mahir aku melakukannya.”ucapnya sembari membuka botol tersebut, menuangkan isinya pada permukaan perut Jessie hingga membuat Jessie memekik seketika.

“Ohhh…” Jessie mengerang. Apalagi saat jemari Steve mulai mengusap perut hamilnya. “Astaga, ini bagus sekali.” Jessie tak tahu apa yang sudah ia katakan. Ia bahkan sudah memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di atas ranjang.

Steve mengangkat sebelah alisnya. “Bagus?”

“Ya ampun, rasanya nikmat.”

“Nikmat?” sekali lagi Steve menatap Jessie penuh tanya. Jemarinya masih mengusap lembut perut Jessie sedangkan pangkal pahanya sudah berdenyut nyeri menatap ekspresi nikmat yang ditampilkan oleh istrinya tersebut.

Ya ampun! Jessie benar-benar sedang menggodanya.

“Oooh..” Jessie kembali mengerang ketika jemari Steve dengan nakal merayap naik menelusup kedalam bra yang ia kenakan. “Kau, terlalu ke atas, Mr. Morgan.” Desah Jessie dengan terpatah-patah.

“Heemmm, aku suka merayap ke atas.” Steve menuangkan lagi minyak zaitun di tangannya, kemudian kembali memijat pelan perut Jessie. “Kau, sangat indah.” Steve mengerang. Dengan nakal jemarinya turun mengusap lembut pusat diri Jessie.

“Astaga. Apa yang kau lakukan? Ohhh..” Jessie mengerang, menggigit bibir bawahnya. Ia bahkan membiarkan ketika Steve dengan cekatan menurunkan celana dalam yang ia kenakan, menyisakan Jessie hanya dengan branya saja. “Steve, apa yang kau lakukan?” tanya Jessie dengan napas yang sudah terengah.

Steve hanya sedikit menunggingkan senyumannya. Ia kembali menuangkan minyak zaitun, lalu mengusapkannya pada sepanjang kaki Jessie dengan gerakan memijat, pelan, pasti dan sangat menggoda.

“Aku ingin membuatmu rileks.”

“Ohh, kau membuatku terbakar.” Jessie melemparkan kepalanya ke belakang saat dengan panas Steve kembali menyentuhkan jemarinya yang licin karena minyak zaitun pada pusat dirinya.

Steve menggodanya, sedangkan jemari lelaki itu yang lain memijat kakinya.

“Steve!! Astaga!” Jessie bahkan akan sampai pada pelepasan pertamanya karena permainan Steve yang lembut tapi sangat menggodanya.

“Ya? Sayang?” Steve kembali mengoda, ia kembali ke atas, dan membantu Jessie melepaskan branya, hingga wanita itu sudah telanjang bulat di bawah matanya. Steve menuang lagi minyak zaitun tersebut tapi langsung pada permukaan payudara Jessie yang padat berisi. Membuat Jessie memekik karena sensasinya.

“Ya Tuhan!” Entah berapa kali Jessie mengerangkan kata itu. Nyatanya ia merasa bahwa gairahnya meningkat lagi dan lagi ketika jemari Steve dengan minyak Zaitun tersebut menyentuh permukaan kulitnya.

Steve mengusapnya lagi dan lagi, menggodanya dengan gerakan lembut tapi panas, membakar apapun yang ia sentuh termasuk tubuh Jessie.

“Katakan, Sayang. Apa yang kau inginkan?” tanya Steve sebelum mendaratkan bibirnya pada puncak payudara Jessie.

“Ohhh.. Kau. Aku menginginkanmu! Demi Tuhan!” Jessie terengah. Ia sangat jujur, Jessie benar-benar menginginkan Steve saat ini. Jemari Steve bekerja dengan begitu sempurna, menggoda Jessie, membuat Jessie menginginkan lelaki itu untuk berada di dalamnya saat ini juga. Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya?

Secepat kilat Steve bangkit, sempat membuat Jessie menatapnya dengan tatapan kecewa karena Steve menghentikan kenikmatan yang diberikan oleh lelaki itu pada tubuh Jessie. Tapi Steve hanya sedikit tersenyum mirir, penuh arti. Lalu melucuti pakaiannya sendiri kemudian kembali menindih tubuh Jessie.

Tanpa banyak bicara, Steve mulai menyatukan diri. Steve tahu bahwa Jessie sudah hampir klimaks karenanya. Karena itu ia tak ingin membuang waktu lagi.

Keduanya mengerang panjang dengan penyatuan yang begitu erotis. Jessie sempat meracau ketika Steve terasa penuh mengisinya, tegang didalamnya, dan lelaki itu tak membuang waktu untuk menggerakkan dirinya.

“Ya Tuhan! Aku sangat menginginkanmu, Jess!” Steve berseru, sebelum ia menggapai bibir Jessie dan melumatnya penuh gairah. Sedangkan yang dilakukan Jesie hanya pasrah, menerima kenikmatan yang diberikan oleh suaminya, dengan sesekali membalasnya. Hingga percintaan mereka menjadi percintaan panas yang mampu membakar apa saja yang ada di antara mereka…

***

Menjelang pagi, Jessie bangung. Ia merasakan jemari Steve mengusap-usap perutnya dengan lembut, membuat Jessie dirayapi rasa geli yang bercampur dengan gairah.

Astaga, semalaman mereka sudah bercinta dengan panas, tapi Jessie merasa masih kurang. Mungkin karena hormon yang mempengaruhinya. Tapi Steve seakan tahu apa yang diinginkan Jessie.

Jessie bahkan sudah merasakan bukti gairah lelaki itu yang tegang menempel pada bagian belakang tubuhnya, membuat Jessie menggeliat dan menolehkan kepalanya ke belakang.

“Steve, kau bangun lagi?”

Steve tersenyum. “Tidak. Tidur saja. Aku ingin memeluk kalian.”

Jessie sangat senang dengan kalimat terakhir Steve. Ia merasa sangat disayangi, bukan hanya fisiknya saja, tapi semuanya. Jessie memposisikan diri untuk tidur lebih nyaman lagi, dan tak lama, kesadarannya mulai menghilang.

Pada saat itu, sama-samar Jessie mendengar ucapan Steve yang entah mengapa terdengar begitu manis dan membuatnya tersenyum dalam tidurnya. Astaga, itu pasti mimpi. Jika iya, maka itu adalah mimpi terindah yang pernah didapatkan oleh Jessie.

‘Jess, kupikir, aku mencintaimu.’

***

Wajah Jessie tak berhenti merona ketika mengingat kejadian panas semalam yang ia lakukan dengan Steve. bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyum bahagia. Telapak tangannya sesekali mengusap pipinya sendiri saat ia tak kuasa menahan rasa malunya saat mengingat kejadian itu.

Astaga, bagaimana mungkin ia melakukan malam yang sangat panas dengan seorang Steven Morgan? Steve benar-benar menjadi sosok suami baginya saat ini. Jessie tak bisa lagi melihat Steve sebagai temannya. Dan sepertinya lelaki itu juga merasakan hal yang sama seperti apa yang ia rasakan saat ini.

Tuhan! Ini gila!

Jessie bahkan tak dapat memikirkan hal lain selain kejadian semalam. Membuat Jessie ingin melakukannya lagi. Memberi Steve alasan untuk memijatnya dengan minyak Zaitun, pasti lelaki itu akan melakukannya lagi nanti malam.

Jessie menggelengkan kepalanya saat pikiran mesum mulai menguasainya. Sesekali ia mengusap perutnya dan berterimakasih pada bayinya karena sudah memberikan kesempatan dirinya untuk merasakan pengalaman yang sangat luar biasa.

Ketika Jessie asyik melamunkan malam panasnya dengan Steve, pintu ruangannya di buka, menampilkan sosok Miranda di sana.

Saat ini, Jessie memang sedang berada di butiknya. Meski belum banyak pekerjaan yang dapat ia kerjakan, tapi Jessie tetap ingin berangkat ke butiknya daripada harus seharian di dalam apartmennya dan mati karena bosan.

Steve sendiri tadi yang mengantarnya. Lelaki itu bahkan bersikap manis pagi ini dengan mengecup lembut puncak kepalanya lalu mengecup perutnya juga. Astaga, sejak kapan Steve menjadi semanis itu terhadapnya.

Kembali lagi pada Miranda, wanita itu berjalan mendekatinya dan berkata “Kau benar-benar sedang berpikir yang tidak-tidak, ya? Wajahmu merah padam, Jess.”

Jessie kembali menangkup pipinya sendiri, merasakan panas menjalar di area wajahnya. Ya, ia memang sedang memikirkan hal-hal tak masuk akal dengan Steve.

Jessie tersenyum ke arah Miranda. Ia berkata “Maaf, kau tahu sendiri, kan. Ibu hamil.” Jawabnya sembari mengangkat kedua bahunya.

“Ya, ya, ya, aku mengerti.” Kata Miranda dengan tawa lebarnya. “Sekarang, bangkitlah. Ada yang ingin bertemu denganmu.”

“Siapa?” tanya Jessie dengan sedikit penasaran. Ia tidak memiliki janji sebelumnya. Dan Jessie berpikir bahwa ia belum siap untuk bekerja lagi sepenuhnya seperti sebelum ia hamil. Keadaannya saat ini sangat labil. Ia mudah lelah, perasaannya sering kacau, dan ia lebih suka melamunkan tentang hal panas. Tentu saja hal itu akan sangat mengganggu jika Jessie memutuskan untuk bekerja penuh seperti sebelum ia hamil.

“Mungkin seorang calon pengantin. Dia tidak menyebutkan namanya. Dia hanya ingin membahasnya denganmu.”

“Ohh, kalau begitu, suruh saja dia masuk.”

Dan tak lama, Miranda kembali keluar, lalu mempersilahkan seseorang masuk ke dalam ruangan Jessie. Jessie segera berdiri, ia akan menyambut hangat calon pelanggannya. Tapi ketika ia tahu siapa yang datang menemuinya, tubuh Jessie membeku seketika.

Itu Donna Simmon, mantan keksih Steve. mantan? Tunggu dulu, bahkan Jessie tak yakin jika Steve sudah memutuskan Donna. Jessie bahkan melupakan hal sepenting itu selama ini. ia tidak tahu apa Steve sudah tidak memiliki hubungan dengan wanita lain selain dirinya atau tidak.

Yang menjadi pertanyaan untuk Jessie adalah, kenapa Donna Simmon datang ke butiknya? Apa yang diinginkan wanita itu? Apa wanita itu akan membahas tentang Steve dengan dirinya? Apa wanita itu sudah tahu tentang pernikahan kilatnya dengan Steve? atau, apa wanita itu datang kemari untuk menyiapkan gaun pernikahan yang akan wanita itu pakai dengan Steve yang menjadi mempelai prianya?

Tidak! Tidak! Bukan itu yang akan terjadi, kan? Steve tidak akan mungkin mengkhianatinya, atau lebih mengerikan lagi, menikah diam-diam di belakangnya. Tidak! Bukan itu yang akan terjadi.

***

Steve pulang malam. Ia benar-benar kesal karena hari ini mendapat klien yang sangat cerewet dan susah diatur. Sepasang kekasih itu sedang melakukan foto prawedding. Tentu saja mereka dari kalangan konglongmerat karena berani memakai jasanya yang bisa dibilang sangat mahal untuk sebuah foto prawedding.

Mereka mengambil banyak sekali scene. Saat Steve mencoba mengarahkan, si wanita arogan itu malah menolaknya mentah-mentah. Entah jadi apa nanti hasil tangkapan kameranya. Steve tak peduli. Ia benar-benar kesal mendapati klien yang sok tau seperti itu.

Steve sudah sempat menghubungi Jessie, tapi wanita itu tak mengangkat teleponnya. Mungkin Jessie sudah pulang naik taksi, tapi saat Steve sampai di apartmen wanita itu, Jessie tak ada.

Akhirnya, Steve memutuskan untuk menyusul Jessie ke butik wanita itu. Apa Jessie sudah mulai bekerja lagi? Jika iya, kenapa wanita itu bekerja hingga larut? Harusnya Jessie memikirkan tentang keadaannya, tentang kehamilannya, tentang bayi mereka. Steve mendengus sebal, sepertinya ia harus lebih protektif lagi kepada Jessie agar wanita itu mengerti bahwa yang utama saat ini adalah diri Jessie dan juga bayi mereka.

Ketika Steve akan sampai di butik Jessie. Dari jauh ia sudah melihat lampu butik wanita itu sudah padam. Yang artinya, Jessie sudah menutup butiknya. Kemudian Steve segera menghentikan mobilnya saat melihat bayang Jessie keluar dari dalam butiknya. Yang membuat Steve menegang adalah, wanita itu tidak sendiri, ada Henry di sana. Sialan, mereka sedang melakukan apa? Pikir Steve.

Steve hanya mengamati dari jauh. Jessie tampak mengikuti Henry menuju ke arah mobil tersebut. Dan ketika keduanya sudah berada di dekat mobil, tanpa diduga, Jessie melemparkan diri pada Henry, memeluk lelaki itu dengan erat.

Steve tak tahu apa yang sedang terjadi, ia bahkan tak ingin memikirkan apapun saat ini. Jessie tak mungkin mengkhianatinya, Jessie tak mungkin menduakannya.

Sialan!

Tapi Steve tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa apa yang ia lihat dengan mata kepalanya saat ini adalah hal yang nyata. Hal yang begitu menyakiti hatinya dan melukai harga dirinya.

Steve marah, sangat marah.

Seharusnya, jika Jessie tidak memiliki perasaan untuknya, wanita itu tak perlu bersikap seperti begitu menginginkannya. Steve ingat dengan jelas, bagaimana semalaman mereka berdua bercinta dengan panas, bagaimana Jessie memohon padanya untuk segera dipuaskan. Hal itu membuat Steve melambungkan perasaannya, berpikir bahwa Jessie sudah mulai membuka hati untuknya.

Nyatanya, setelah melihat kejadian ini, Steve merasa bahwa Jessie hanya berusaha membohongi dirinya. Membuatnya terlihat bodoh dengan rasa cinta yang ia rasakan dan bertepuk sebelah tangan.

Sial!

Cinta?

Ya Tuhan! Kenapa ia harus mengaku jatuh cinta pada saat seperti ini?

Kenapa ia harus jatuh cinta pada Jessie, wanita yang bahkan selalu melihatnya sebagai teman? Kenapa harus seperti ini?

-TBC-

Yuuuhuuuu adakah hatinya yang ikutan ‘kreeteekkk-kreeetekkk’ kayak Stipe??

Sleeping with my Friend – Bab 15

Comment 1 Standard

 

“Dia bahkan berkata bahwa dia tak peduli tentang kehamilanku. Dia tetap ingin menikahiku meski aku hamil dengan lelaki lain. Dia sangat mencintaiku, dan aku sudah menyakitinya.”

Sesuatu yang retak kembali terasa di dalam dada Steve. Steve merasakan perasaan yang sama ketika ia melihat Jessie dan Henry berciuman pada sore itu. Jessie benar-benar mencintai Henry, Steve tahu itu. Dan kini, ia sudah menghancurkan semuanya, membuat Jessie tersakiti karena perpisahannya dengan kekasih yang begitu wanita itu cintai. Steve tahu bahwa semua ini karena salahnya. Ia sudah menyakiti Jessie dengan cara yang paling buruk. Bagaimana mungkin ia menjadi seberengsek ini?

Bab 15

Untuk pertama kalinya setelah pernikahan mereka, Steve tidak ingin menyentuh Jessie. Mereka bahkan tidur saling memunggungi satu sama lain.

Setelah puas menangis, Jessie tertidur dalam pelukan Steve. Jessie banyak bercerita tentang apa yang terjadi sepanjang siang ini. Bagaimana cara wanita itu menjelaskan pada Henry, bagaimana reaksi lelaki itu. Dan Steve hanya diam, mendengarkan bagaimana kecewanya Jessie atas apa yang sudah menimpa hubungannya dengan Henry.

Jessie sangat kecewa, Jessie sangat sedih. Setidaknya, hal itulah yang bisa ditangkap Steve. Wanita itu tak berhenti menangis, hingga lelah dan tertidur dalam pelukan Steve. setelah itu, Steve menidurkan Jessie kembali ke atas ranjang. Kemudian, Steve memilih tidur di sebelahnya dengan posisi memunggungi Jessie.

Ia tidak ingin melihat Jessie saat wanita itu bersedih karena pria lain, ia tidak ingin melihat tangis Jessie yang bersumber dari dirinya. Sial! Steve benar-benar menjadi orang yang sangat berengsek.

Seharusnya, sebelum memutuskan untuk menikahi Jessie, ia harus memikirkan perasaan wanita itu dulu. Kini, Jessie hancur karenanya, dan lebih menyebalkan lagi bahwa ia juga merasakan perasaan sakit ketika Jessie tersakiti.

Steve mendesah panjang, ia memilih memejamkan matanya, tidur dan melupakan semuanya. Ya, ia harus melupakan semuanya…

***

Keesokan harinya, Jessie terbangun saat hari sudah siang. Ia terbangun sendiri. Jessie mencari Steve tapi lelaki itu tak ada di kamarnya. Apa Steve sedang sedang ada pekerjaan?

Jessie menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu ia menuju ek arah dapur dan akan memasak sarapan untuk dirinya sendiri. rupanya, Steve sudah menyiapkan sarapan untuknya di meja makan.

Astaga, sejak kapan lelaki itu menjadi semanis ini? Jessie tersenyum sendiri. ia mendapati note yang ditempelkan Steve pada pintu lemari pendinginnya. Steve berkata bahwa lelaki itu ada jadwal pemotretan, jadi ia harus pergi pagi-pagi sekali. Jessie mengerti jika Steve adalah oraang yang sibuk. Akhirnya, Jessie memilih duduk di kursi meja makan sembari menikmati sarapan buatan Steve.

Kemudian, ia kembali teringat dengan Henry.

Ohh, lelaki itu.

Saat Jessie mengingat tentang Henry, saat itulah perasaannya kembali kacau. Jessie benar-benar merasa bersalah kepada mantan tunangannya tersebut. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Semuanya sudah terjadi, jadi apa yang ia lakukan sudah benar, yaitu mengakhiri hubungannya dengan Henry.

Jessie menghela napas panjang. Bacon panggang dengan saus keju buatan Steve bahkan terasa hambar setelah ia mengingat tentang Henry. Sepertinya ia harus keluar, mencari udara segar agar bisa melupakan tentang masalahnya.

Jessie lalu bangkit, ia bersiap untuk mengganti pakaiannya. Sepertinya ia akan menuju ke butiknya. Bercakap-cakap dengan Miranda, atau mungkin menanyakan tentang Carmella Jackson, teman Miranda saat itu yang tampak serasi berdansa dengan Frank, kakaknya.

***

Di lain tempat….

“Jadi mereka benar-benar sudah menikah?” Donna bertanya sekali lagi pada Natalia, kekasih Hank.

“Ya. Maaf. Aku tidak berani memberitahumu. Ini adalah masalah pribadimu dengan Steve, jadi kupikir, aku tidak memiliki kapasitas untuk mengatakannya secara langsung kepadamu.”

“Nath! Bagaimana mungkin kau menyembunyikan hal seserius ini? Astaga! Aku sudah sangat tertarik dengan Morgan! Aku sudah banyak berharap padanya, dan kemarin dia memutuskan hubungan kami.”

“Maaf. Sejujurnya, aku dan Hank juga tidak tahu, kenapa semua jadi rumit seperti ini. yang kutahu dari Hank, Jess hamil, dan ya, kau tahu, Steve harus menikahinya.”

“Apa?! Jadi mereka menikah karena bayi?”

“Aku tidak tahu, Donna. Sungguh. Dan aku tak mau ikut campur masalah mereka. Maksudku, Steve bebas memilih harus dengan siapa dia menikah.”

“Maksudmu kau mendukung pernikahan mereka?”

“Mereka akan memiliki bayi, Donna. Hal yang paling masuk akal adalah menikah.”

“Tapi dia kekasihku, Nath! Dan kau temanku.”

Sungguh. Natalia tak tahu harus bersikap bagaimana dan berkata apalagi. Ia benar-benar tak ingin tahu dan ikut campur masalah Steve, Jessie dan Donna. Tapi disisi lain, ia juga merasa bersalah karena sudah mengenalkan Donna pada Steve.

“Lalu apa yang ingin kau lakukan? Hubungan kalian sudah berakhir. Dan biar kukoreksi, kupikir kalian saat itu belum benar-benar menjadi sepasang kekasih.”

“Kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa Steve tidak meniduriku karena ingin membangun hubungan serius. Dia menghormatiku. Karena itulah dia tidak meniduriku.”

“Ya. Awalnya memang seperti itu. Tapi sekarang sudah berbeda, Donna. Dia tak lagi membutuhkan seseorang untuk membangun hubungan yang serius. Satu-satunya orang yang dia butuhkan adalah Jessie, istrinya. Jadi, saranku, lebih baik kau melupakannya.”

Melupakannya? Melupakan Steven Morgan? Yang benar saja. Lelaki itu adalah lelaki tampan, panas, dan mapan. Mana mungkin Donna bisa melepaskannya begitu saja saat lelaki itu sudah berada di dalam genggaman tangannya?

***

Jessie menghabiskan siangnya di ruang kerjanya yang berada di dalam butiknya. Tak banyak ia kerjakan, karena Jessie memang belum membuka pesanan lagi untuk baju-baju yang akan ia rancang.

Jessie ingin menikmati waktunya. Seperti yang dikatakan dokter, ia tidak boleh terlalu stress, atau kecapekan. Steve juga selalu berkata seperti itu.

Mengingat tentang Steve, Jessie melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Tapi Steve belum juga menghubunginya sejak tadi pagi. Apa lelaki itu sangat sibuk?

Akhirnya Jessie memutuskan untuk menghubungi lelaki tersebut.

“Halo.” Panggilannya diangkat pada deringan kedua.

“Hai.” Jessie membenarkan tatanan rambutnya, padahal ia tahu bahwa Steve tak sedang melihatnya. Tapi tetap saja, dengan spontan ia melakukannya, merasa bahwa Steve beisa melihatnya dari seberang telepon.

“Jess? Ada masalah?”

Tidak, tentu saja tidak. Hanya saja, Jessie merasa bahwa ia ingin sekali mendengar suara Steve saat ini. Astaga, Jessie tak pernah menginginkan keinginan yang menggelikan seperti itu, entah kenapa saat ini ia sangat menginginkannya.

“Tidak. Aku hanya ingin mendengar suaramu.” Jessie menjawab dengan jujur. Tapi kejujurannya membuat Steve membisu cukup lama. Jessie mengerutkan keningnya. Tak biasanya Steve bersikap seperti itu padanya. “Kau, masih di sana?” tanya Jessie kemudian.

“Ya. Uuum, Jess. Aku sedang ada pekerjaan, jadi kupikir…”

“Baiklah. Matikan saja. Aku sudah cukup.” Jessie merasa bahwa Steve tak sedang ingin diganggu. Padahal Jessie masih ingin berbicara dengan lelaki itu, meski ia tidak tahu apa yang harus ia bicarakan.

Ya Tuhan! Jika dulu akan ada banyak sekali topik pembicaraan yang ia bahas dengan Steve, maka sekarang semuanya seakan lenyap ditelan oleh kecanggungan.

“Maaf, tapi jika sudah selesai, aku akan menghubungimu.”

“Ya. Baiklah.” Dan setelah itu, panggilan diakhiri.

Jessie menghela napas panjang. Entah perasaannya saja atau Steve tampak berbeda dengan biasanya. Lelaki itu, tampak sedang menghindarinya. Tapi kenapa? Apa yang sudah ia lakukan sampai Steve ingin menghindarinya?”

***

Di Studionya. Steve memijat pelipisnya. Ia merasa pusing. Ia bergairah pada Jessie, seperti biasanya, tapi ia tidak bisa menyalurkannya karena ia tahu bahwa ia sangat berengsek!

Steve merasa sudah memanfaatkan Jessie dengan menghamili wanita itu lalu mengikatnya dalam tali pernikahan. Steve merasa menjadi seorang bajingan karena sudah membuat Jessie berpisah dengan kekasih yang begitu wanita itu cintai. Dan hal itu benar-benar membuat Steve muak.

Sial! Steve benar-benar tak tahu bahwa Jessie mencintai Henry begitu dalam. Hal itu membuat Steve benar-benar tersakiti. Entah kenapa ia merasa sakit, yang pasti, ia benar-benar tersakiti karena rasa cinta sialan Jessie pada Henry. Hal itulah yang membuat Steve bersikap seperti pengecut, menghindari istriya yang sedang hamil muda dan membutuhkan dirinya.

Steve mengusap kasar rambutnya. Ia benar-benar kesal dengan dirinya sendiri, tapi disisi lain, ia juga merasa kesal dengan Jessie. Kenapa Jessie harus begitu mencintai lelaki itu? Ya ampun, bahkan menurut Steve, Henry tak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya. Harusnya Jessie lebih memilihnya, harusnya Jessie senang menikah dengannya, bukan sedih dan tertekan seperti yang ia lihat semalam.

Steve kembali mengusap rambutnya dengan frustasi. Sepertinya ia butuh minum. Ya, Hank mungkin mau menemaninya minum sebentar di bar.

***

Sorenya….

Jessie menyibukkan diri di dapur apartmennya. Sore ini ia ingin memasak, karena nanti malam ia ingin makan malam bersama dengan Steve. Jessie menghela napas panjang. Ia sudah menjadi seorang istri sekarang, calon ibu, jadi Jessie ingin memposisikan diri seperti statusnya.

Mungkin, akan ada banyak kecanggungan kedepannya, tapi Jessie mencoba mengabaikannya. Bagaimanapun juga, Steve sekarang adalah suaminya, bukan lagi teman dekatnya. Jadi ia harus memperlakukan Steve seperti status lelaki itu.

Sepanjang siang, Jessie banyak bercerita dengan Miranda. Dulu, Jessie biasanya bercerita dengan Frank, kakaknya. Tapi Jessie tak ingin lagi bercerita dengan kakaknya itu, karena Jessie tahu bahwa Frank akan menggodanya. Selain Frank, Jessie juga terkadang bercerita dengan Emily, adik Steve. tapi sekarang, ia tidak bisa menceritakan tentang hubungannya dengan Steve pada Emily, Lily adalah adik Steve, akan sangat canggung jika menceritakan hubungan mereka pada wanita itu.

Satu-satunya orang yang bisa Jessie percaya untuk mendengarkan ceritanya adalah Miranda. Beruntung Miranda adalah pendengar yang baik, bahkan Miranda banyak menyarankan apa yang harus Jessie lakukan kedepannya. Dan saran-saran tersebut nyatanya cukup masuk akal.

Miranda membenarkan apa yang ia lakukan pada Henry. Memutuskan hubungan dengan lelaki itu adalah hal yang paling benar. Agar kedepannya tak ada lagi yang tersakiti. Yang harus Jessie lakukan saat ini adalah fokus kepada kehidupan barunya dengan Steve dan calon bayi mereka, itulah yang disarankan Miranda.

Dan seperti inilah, Jessie berakhir di dapurnya, berperang dengan pan dan pisau yang hampir tak pernah ia gunakan. Jessie memang bukan wanita yang pandai memasak, tapi bukan berarti ia tidak bisa masak.

Saat pulang ke Pennington, ia sesekali memasakkan Daddynya dan juga Frank. Meski begitu, Jessie bukan tipe orang yang hobby masak. Ia adalah wanita karir, yang lebih sering makan diluar daripada menghabiskan waktu di dapurnya.

Tapi karena saran Miranda, ia akan mulai menggunakan dapur kecil di apartmennya untuk memasak makan malam untuk dirinya dan juga Steve.

Jessie memasak dengan sesekali melirik ke arah ponselnya yang memutar chanel youtube untuk orang-orang memasak. Malam ini, ia akan membuat Steak dengan saus jamur. Tak ada yang special, tapi setidaknya ia membuatkan masakan itu untuk Steve, dan baginya itu sudah cukup special.

Dengan Henry saja, Jessie tidak pernah memasak, masakan berat seperti ini. Astaga, Henry lagi.

Jessie menghela napas panjang. Ia kembali melanjutkan acara memasaknya. Sebenarnya, sepanjang siang, ia sedikit bingung dengan sikap Steve yang terkesan menghindarinya, tapi kemudian Jessie berpikir positif saja. Mungkin, Steve memang sedang banyak pekerjaan, mengingat mereka sempat cuti lebih dari seminggu untuk pernikahan mereka.

Ingin melupakan tentang Steve dan juga Henry, Jessie memilih menuju ke arah home teater miliknya, memutar lagu romantis, dan kembali ke area dapurnya. Sesekali Jessie bersenandung, sembari menyiapkan masakannya. Ia akan membuatkan Steak yang paling enak untuk Steve, karena lelaki itu sudah bekerja keras. Dan Jessie juga tak melupakan perhatian special yang diberikan lelaki itu selama Jessie menjadi istrinya.

***

Hingga jarum jam menunjukkan pukul satu malam, Steve belum juga pulang. Jessie sudah beberapa kali menghubungi lelaki itu, tapi ponselnya tak diangkat. Jessie khawatir, ia juga bingung, sebenarnya apa yang terjadi dengan Steve?

Sesekali Jessie berjalan mondar-mandir di ruang tengah apartmennya. Apa Steve pulang ke apartmennya sendiri? mungkin saja. Tapi tadi siang lelaki itu berkata akan menghubunginya, dan hingga kini, Steve tak sekalipun menghubungi Jessie.

Makanan yang berada di atas meja makan sudah dingin, Jessie tak peduli. Jessie bahkan tak mempedulikan perutnya yang sudah kelaparan, karena yang paling ia pedulikan saat ini adalah keadaan Steve.

Saat Jessie sibuk dengan pikirannya sendiri, pintu apartmennya dibuka dari luar. Tampak sosok Steve berdiri dengan wajah yang sudah ditekuk, baju yang sudah sedikit berantakan. Apa yang terjadi dengan lelaki itu?

Jessie berjalan mendekat, dan ia tahu bahwa Steve baru saja selesai minum. Mengingat cara berdiri lelaki itu yang tidak seimbang.

“Dari mana saja, kau?” Jessie bertanya dengan nada tinggi.

“Aku, minum. Dengan Hank.”

“Oh Ya Ampun! Apa kau tidak bisa mengangkat telepon dariku? Aku meneleponmu ribuan kali. Kau pikir aku tidak khawatir denganmu?”

Steve hanya menunduk. Ia tidak menjawab kemarahan Jessie, karena ia masih merasa bersalah. Steve merasa menjadi orang yang brengsek karena sudah menghamili Jessie dan memaksa menikahi wanita itu, karena itulah Steve minum malam ini.

“Apa yang terjadi denganmu, Steve? kau memiliki masalah? Kau bisa bercerita padaku.” Jessie menurunkan nada bicaranya.

“Aku mau mandi.” Steve hanya melewati Jessie begitu saja. Dan yang bisa Jessie lakukan hanya menatap bayang punggung Steve yang semakin menjauh. Apa yang terjadi dengan lelaki itu?

***

Steve menenggelamkan diri di dalam bathub. Rasa pusingnya sedikit ringan setelah ia berendam cukup lama di dalam bathub Jessie. Entahlah, Steve merasa tak tahu bagaimana caranya menghadapi Jessie. Mungkin, saat ini Jessie masih bisa bersikap biasa-biasa saja dan tidak mementingkan perasaannya, tapi Steve tahu, cepat atau lambat Jessie akan bosan dengan pernikahan mereka yang tidak dilandasi dengan cinta.

Mungkin juga, diam-diam, Jessie akan bertemu dengan Henry, lelaki yang begitu dicintai wanita tersebut. Dan Steve tidak bisa memikirkan hal itu. Jika Jessie memutuskan untuk mengkhianatinya, maka lebih baik semuanya selesai.

Oh Sial! Apa yang sudah ia pikirkan?

Akhirnya Steve memilih bangkit. Ia harus segera mengenyahkan pikiran buruknya. Meski Jessie mencintai lelaki itu, tapi Jessie tak akan berbuat seperti yang ia pikirkan.

Setelah mengeringkan tubuhnya dan mengenakan celana pendek santainya, Steve keluar tanpa mengenakan atasan apapun. Ia segera mencari Jessie, dan mendapati wanita itu sibuk di dapurnya.

Steve hanya mengamati Jessie dari belakang. Sesekali ia melirik ke arah meja makan yang tampak sudah rapi.

Apa Jessie yang menyiapkan semuanya? Untuk dirinya? Jika iya, maka terkutuklah dirinya karena lebih mementingkan perasaan sialannya dan juga sikapnya yang terkesan kekanakan.

Saat Jessie masih sibuk menghangatkan masakannya, saat itulah Steve berjalan ke arahnya, kemudian dengan spontan Steve memeluk Jessie dari belakang. Melingkari perut Jessie dengan lengannya, dan Jessie membatu seketika.

“Maafkan aku.” Suara Steve terdengar serak, tapi Jessie tak mengerti kenapa Steve meminta maaf kepadanya? Karena sudah minum?

“Lupakan saja, lebih baik duduklah, aku kelaparan.” Jawab Jessie dengan sedikit malas. Jika boleh jujur, Jessie sangat kesal dengan Steve, tapi ia mencoba mengendalikan diri. Bagaimanapun juga, mereka bukan lagi sepasang teman yang hobby bertengkar seperti dulu. Mereka kini sepasang suami istri yang harus memelihara keharmonisan, Jessie akan mengesampingkan egonya untuk bertahan dengan sikap Steve yang kadang tidak ia mengerti.

“Kau belun makan?”

“Ya, sepanjang sore, aku menunggumu, untuk makan malam bersama.”

Steve semakin merasa bersalah dan dengan spontan ia membalikkan tubuh Jessie, menangkup kedua pipi wanita tersebut. “Astaga, aku benar-benar bodoh.”

Jessie tersenyum, ia menggelengkan kepalanya. “Tidak, kau mungkin hanya memiliki beberapa masalah. Aku mengerti.”

“Tapi seharusnya aku memikirkan kemungkinan ini. bukannya sibuk dengan perasaanku sendiri.”

“Setidaknya aku senang. Kau pulang, sendiri, tidak dengan perempuan malam.”

Dan secepat kilat Steve menyambar bibir Jessie, melumatnya dengan lembut, kemudian berkata “Tak akan ada lagi tempat untuk perempuan malam setelah aku menjadikanmu sebagai istriku.” Lalu Steve kembali mencumbu Jessie, melumatnya penuh gairah, dan terbakar bersama-sama. Astaga, Steve benar-benar bodoh karena sudah mengabaikan dan menghindari Jessie sepanjang hari ini. Steve berjanji bahwa tak akan melakukannya lagi. Jika Jessie masih mencintai lelaki lain, maka yang harus ia lakukan adalah membuat Jessie berpaling padanya. Ya, itu yang paling benar!

-TBC-

Kyaaaaa bab Selanjutnya HOOOTTTTTTTTTTTTTTT hahahhahah