Sweet in Passion – Chapter 9

Comments 5 Standard

fh1-copySweet in Passion

Part ini pendeekkkk bgt.. hahhahahah happy reading!!

Chapter  9

 

Febby mulai membuka matanya ketika kesadaran merenggutnya kembali dari mimpi indah yang dialaminya setiap malam. Dan dia mendapati ranjang di sebelahnya kosong. Tak ada Randy di sebelahnya. Apa lelaki itu sedang sibuk? pikirnya.

CFebby mulai menggerak-gerakkan badannya yang terassa amat sangat pegal karena pergulatannya semalam dengan Randy. Ini sudah satu minggu setelah malam dia mabuk bersama Randy karena bertemu dengan kakaknya di Restoran. Dan selama itu pula setiap malam Randy selalu menyentuhnya.

Ini tidak benar, jika ia hanya menginginkan bayi seharusnya ia menolak Randy dan membuat jadwal yang benar, bukan malah membiarkan Randy menyentuhnya setiap saat, pikirnya lagi. Apa ia sudah termakan oleh pesona seorang Randy Prasaja? Tikad, tidak, ini bukan karena itu. Pikir Febby lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalaya.

Febby lalu bergegas membersihkan diri, lalu menuju ke dapur untuk membuat sarapan. Ketika akan membuka kulkas, Febby  menemukan sebuah note yang di tempelkan di pintu kulkas.

 

“Istriku.  Aku tunggu kau di kantor manajemenku saat makan siang,

Ingat, harus membawa masakan yang enak yaa….”

                             Suamimu tersayang… Randy Prasaja.

 

Febby lalu menggelengkan kepalanya. “Benar-benar gila, apa dia pikir aku tidak bekerja? menyusahkan orang saja” katanya lalu meneguk susu yang baru di ambil di dalam kulkas.

“Dan lagi, apa dia bilang, Istriku? Huuhh, apa dia sedang merayuku? Mungkin dia memang sedang kehabisan obatnya.” Gerutunya lagi.

***

“Apa yang lo lakuin di situ? Lo kaya orang gila senyum-senyum sendiri.” Suara Chiko mengagetkan Randy.

“Lo gangguin gue aja.” gerutu Randy.

“Hari ini kan lo nggak punya jadwal shooting? Ngapain lo kemari?”

“Emangnya nggak boleh?”

“Boleh aja sih, tapi gue bosen ihat muka gila yang lo tampilin.” Canda Chiko.

“Dasar sialan!” Randy mengumpat sambil tersenyum lebar.

“Bagaimana rumah tangga lo?” setelah tertawa bersama, tiba-tiba Chiko menanyakan kabar rumah tangga Randy.

“Rumah tangga apa? Nggak biasanya lo nanyain rumah tanga gue.” Jawab Randy cuek.

“Gue pikr kalian semakin mesra  saja setiap harinya.”

“Mesra? yang bener aja. Nggak ada hari selain berkelahi sepeti kucing dan tikus antara gue dan Febby, kami cuma mesraa saat di atas ranjang, itu doang hahhahahha.” Randy tetawa lebar begitupun dengaan Chiko yang ikut tertawa sembari meninju bahu Randy.

“Siang.” tiba-tiba suara suara lembut itu menyela candaan mereka. Itu Marsela.

Seketika tubuh Randy menegang, tawanya langsung lenyap begitu saja.

“Marsela, kemarilah, kita sedang bercandaan.” Ajak Chiko.

“Maaf, aku cuma numpang lewat, aku sedang ada pekerjaan. katanya kemudian sambil berlalu pergi.

“Kalian punya masalah?” tanya Chiko pada Randy ketika Marsela sudah pergi.

“Sebentar, gue pergi dulu.” Kata Randy sambil berlari mengejar  Marsela. Chiko melihat mereka dengan tatapan sendu. Bukan tanpa alasan, karena sebenarnya sudah sejak lama Chiko memiliki perasaan terhadap Marsela, namun dia memendamnya karena mengetahui jika Marsela memiliki hubungan special dengan Randy, temannya sendiri.

***

“Marsela, apa yang terjadi? kenapa kamu bersikap aneh sama aku?” tanya Randy sambil meraih pergelangan tangan Marsela.

“Apa? Aku bersikap aneh? kamu yang sudah berubah smaa aku!” tanpa di sangka Marsela berteriak keras kearah Randy.

Randy lalu menarik tangan Marsela, mengajaknya ketempat yang sepi. Setelah itu ia langsung memeluknya.

“Sayang,  aku tidak berubah,aku tetap sama, rasa cintaku padamu tetap sama.” Bisik Randy pada Marsela, tapi entah kenapa Randy merasakan sesuatu yang aneh ketika mengucapkan kalimat tersebut.

“Tapi seminggu terakhir kamu selalu menghindariku jika aku ingin bertemu, kamu sekarang bahkan terlihat lebih mesra dengan istrimu itu.” Jawab Marsela di sela-sela isakannya.

“Marsela, kamu tentunya tahu posisi kita tidak baik, dan aku melakukan ini semua demi dirimu.. mengertilah.” Randy mencoba meyakinkan Marsela, padahal kin, ia merasa jika hatinya sendiri tidak…. seyakin dulu.

Randy lalu menatap Marsela dengan tatapan menyalanya. “Aku merindukanmu.” bisiknya sensual. Seketika itu juga Randy mendaratkan bibirnya tepat di bibir Marsela. Melumatnya, mengulumnya penuh dengan gairah yang menyala-nyala. Keduanya pun berciuman panas cukup lama.

***

 

“Huuhh, dia benar-benar menyusahkan orang saja.” Lagi-lagi Febby  menggerutu sebal dengan sikap semena-mena Randy yang menyuruhnya pergi ke kantor managemen Randy dengan membawa makanan.

Saat ini Febby sudah berada di halaman kantor managemen Randy. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Dia Brian.

“Bian? Kenapa kamu ada disini? Kamu mengagetkanku saja.”  Setahu Febby,  Brian tidak berada dalam satu managemen yang sama dengan Randy.

“Aku hanya ingin menemui teman, dan tidak menyangka jika akan bertemu denganmu saat ini.” Jawab Brian dengan lembut. “Apa kamu lagi nyari Randy?” tanyanya lagi.

“Iya. si bodoh itu menyuruhku membawakan ini ke tempatnya bekerja.” Jawab Febby sambil menyodorkan kotak makannan besar sepeti kotak makanan orang ang sedang piknik.

“Apa itu? sepertinya enak,” tanya Brian sedikit tertarik

“Hanya Risol dan beberapa makanan ringan lainnya, apa kamu mau?” tawar Febby.

“Kamu sendiri yang memasaknya?”

“Tentu saja. Memangnya siapa lagi?”

“Kalau begitu aku mau.” Jawab Brian cepat.

“Baiklah, sekarang kita masuk dulu siapa tahu dia sudah menungguku.”

“Oke.” jawab Brian sambil mengikuti Febby di belakangnya. “Biarkan aku membantumu membawa itu.” Tawar Brian.

“Ahh tidak perlu, ini sangat ringan.”  Tolak Febby.

Ketika mereka melewati parkiran Febby melihat seorang yang mirip dengan Randy sedang menggandeng mesra seorang perempuan sembari berjalan cepat menuju ke sebuah mobil. Kedua orang itu tampak menutupi wajahnya seakan-akan tidak ingin orang mengenal mereka.

“Apa itu Randy?” tanya Brian yang sejak tadi ikut memperhatikan gerak-gerik kedua orang tersebut.

“Aku pikir juga begitu, apa dia mempunyai masalah?”

“Entahlah, lebih baik kita masuk ke dalam untuk memastikannya.” Jawab Chiko kemudian.

Akhirnya merekapun masuk ke dalam dan tidak menghiraukan orang yang meurut Febby mirip dengan Randy tersebut.

****

“Minum ini.” tawar Chiko pada Febby.

Ini sudah 2 jam sejak kedatangan Febby ke kantor management  Randy, tapi Febby tak bertemu dengan Randy. Kata Chiko tadi, Randy memang sedang keluar, dan Febby tahu jika yang tadi berada di parkiran itu berarti Randy dan pacarnya, Marsela.

Sial!

Febby mengumpat dalam hati. Untuk apa ia di suruh datang kemari jika Randy sendiri malah bersenang-senang dengan wanita lain. Dan Juga, apa ia terlalu bodoh, bisa-bisanya ia masih saja menunggu Randy selama kurang lebih Dua jam di tempat membosankan seperti ini.

“Aku akan pulang.” Kata Febby dengan sedikit dongkol terlihat di wajahnya.

“Aku akan mengantarmu.” Kata Brian yang ternyata sejak tadi menemani Febby menunggu kedatangan Randy.

“Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri.” kata Febby dengan memperlihatkan senyumannya yang dipaksa.

“Tidak bisa, aku akan mengantarmu pulang karena kamu sudah menteraktirku makan siang yang sangat enak ini.” Brian masih tak mau mengalah.

“Kamu bisa saja, Oke,terserahmu saja.” akhirnya Febby mengalah dan membiarkan Brian mengantarnya pulang.

***

Ketika sampai dirumah…

Betapa terkejutnya Febby saat  mendapati Randy dan Marsela yang sedang berada di ruang keluarga sedang menonton Tv bersama dengan sangat mesra. Randy kala itu masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek santainya, sedangkan Masrsela sendiri mengenakan Hot Pants dengan atasan kemeja Randy. Mereka terlihat seperti pasangan yang baru saja selesai melakukan… melakukan… hubungan intim.

Menyadari hal itu hati Febby  terasa panas. Sambil berjalan di hentakkannya kakinya lebih keras agar Randy mengetahui kedatangannya. Randy sontak berdiri ketika menyadari Febby sudah pulang.

“Febbydengan spontan Randy memanggi Febby pelan.

Melihat Febby membawa kotak piknik, Randy baru menyadari jika tadi pagi ia menyuruh Febby datang ke kantor managmentnya untuk membawa makan siang.  Entah kenapa Randy  jadi merasa bersalah dan harus minta maaf dengan Febby.

“Febb, apa kamu tadi ke kantor managemenku?” tanya Randy sambil mengikuti Febby yang berjalan ke dapur. Marsela sendiri hanya menatap Randy dan Febby seperti seorang yang sedang menonton drama rumah tangga.

Febby tidak menghiraukan pertanyaan Randy. Dia lalu menata kembali makanan-makannan yang ia bawa tadi di dalam kulkas. Randy kesal karena Febby tidak menghiraukannya.

“Febby, apa kamu tuli?!” Teriak Randy kesal.

“Kalau aku tuli maka kamu adalah orang yang paling brengsek dan menyebalkan yang pernah ku temui.” Jawab Febby sambil menatap tajam ke arah Randy.

“Sial! Sebenarnya apa yang terjadi padamu? aku bertanya padamu dengan baik, tapi kamu malah tidak menghiraukannya.”

“Aku tak peduli!” Jawab Febby cuek sambil menuju ke arah kamarnya. Randy Masih saja mengikutinya dari belakang.

“Febby! Jawab pertanyaanku. Apa yag terjadi?”

“Apa yang terjadi katamu? apa kamu bodoh? kamu jelas-jelas menyuruhku ke kantor sialanmu itu tapi kamu malah berada disini, bercinta dengan wanita jalangmu itu.”

“Febby, jaga mulutmu!” desis Randy. “Lagi pula aku tidak berpikir kamu akan kesana, kamu bisa menolaknya.” Jawab Randy enteng.

Sial!! Bukannya meminta maaf  Randy  malah balik menyalahkan Febby.

“Apa? Jadi ini semua salahku sendiri? kamu benar-benar bajingan.”

“Berhenti mengumpatiku.” Randy kembali mendesis menahan amarahnya.

“Aku tidak peduli, kamu lelaki bajingan dan dia wanita jalang murahan.”

“Kamu..kamu.. sialan!” Umpat Randy tajam sambil menunjuk-nunjuk ke arah Febby. Randy kemudian tersenyum seakan menertawakan Febby dengan senyuman mengejeknya.

“Hei, apa kamu cemburu? Febby, harusnya kamu sadar kalau hubungan kita tidak seperti yang kamu bayangkan.” Lanjut Randy lagi.

“Apa kamu gila? Aku tidak mungkin cemburu terhadapmu.” Elak Febby. Lalu ia memberskan beberapa barangnya dan mulai melangkah keluar.

“Kemana kamu?” tanya Randy masih dengan mengikuti Febby di belakangnya tanpa menghiraukan tatapan dari Marsela yang sejak tadi memperhatikan tingkah lakunya.

“Bukan urusanmu, lebih baik aku pergi dari pada aku melihat wajah kalian berdua yang membuatku Mual.”

“Sialan!” Randy kembali mengumpat.

Febby lalu  membuaka pintu dan alangkah terkejutnya Randy ketika mendapati Brian yang sudah berdiri di depan pintunya.

“Ngapain lo di sini?” tanya Randy pada Brian dengan nada yang sama sekali tidak ramah.

“Aku yang mengundangnya.” Jawab Febby datar.

“APA?!” teriak Randy tak percaya.

“Aku tidak peduli denganmu. Kamu berkencan dengan wanita jalangmu, oke, aku juga akan berkencan.” Kata Febby sambil menggandengan lengan Brian dan pergi begitu saja tanpa menghiraukan Randy yang berteriak padanya.

“Febby, kalau kamu tetap pergi, jangan pernah pulang ke rumahku lagi!” Ancam Randy dengan kesal, tapi Febby masih tetap pergi seaakan tidak menghiraukannya. “Febby!! Argghh Sialan!!” umpat Randy keras-keras karena kekesalan yang sudah mengakar di kepalanya.

-TBC-

Sweet in Passion – Chapter 8

Comments 3 Standard

fh1-copySweet in passion

Brian hanya tersenyum ke arahnya. “ Lo boleh seneng karena gue pergi, tapi lo harus ingat,” Brian kemudian berbisik ke arah Randy, “Febby memang istri lo, tapi gue berani jamin kalau Febby tertarik sama gue.”

Randy membulatkan matanya seketika.

“Brengsek!!!” umpatnya keras-keras pada Brian yang sudah berjalan keluar dari dalam ruangan Febby.

“Hei, ini rumah sakit kamu tidak perlu berteriak seperti itu.” Lagi-lagi Febby memukul lengan Randy.

“Haisshh.. apa kamu nggak bisa sedikit bersikap lembut sama aku?!” Randy kembali berteriak karena frustasi.

Febby lalu meninggalkan Randy begitu saja sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda jika dia sudah menyerah dengan sikap kekanak-kanakan yang di perlihatkan oleh Randy.

“Sial!! perempuan ini benar-benar.” Gerutu Randy sambil mengikuti tepat di belakang Febby.

***

Chapter 8

 

“Apa nanti malam jadwal kita untuk membuat bayi?”  Tanya Randy tanpa ekspresi masih dengan menyantap Steaknya. Mereka sekarang ada di sebuah restoran untuk makan siang bersama.

“Apa kamu bisa berhenti membicarakan hal itu?” Febby bertanya dengan kesal.

“Apa aku harus mulai minum Vitamin?”

“Hei, berhenti bicara itu atau aku membatalkan rencana kita.”

“Hahahhaah baiklah, baiklah, aku kan hanya menggodamu saja, kamu kaku banget.”

“Aku memang seperti ini.” jawab Febby sambil mengangkat bahunya.

“Pantas saja nggak ada  lelaki yang tertarik denganmu.” Mendengar perkataan Randy, Febbypun langsung menegang. Sekelebat ingatan mulai menari-nari dalam pikirannya. Ingatan masa lalu yang pahit untuk di ingat.

“Kamu kenapa? wajahmu pucat.” Randy sedikit khawatir saat melihat Febby hanya terdiam terpaku.

“Enggak”

“Apa kamu sakit?” Febby hanya menggelengkan kepala saat Randy bertanya padanya.

Tiba-tiba tatapan mata Febby tertuju pada sepasang lelaki dan perempuan, mereka terlihat amat sangat bahagia. Febby terperangah saat melihat mereka ada di tempat yang sama dengannya. Seketika itu juga Febby terlihat gugup dan sontak berdiri tak percaya. Sedangkan sepasang lelaki dan perempuan itupun mempunyai reaksi yang sama dengannya. Terkejut tak percaya ketika bertemu dengan Febby di restoran yang sama.

“Kakak.” tanpa sadar Febby mengucapkan kata itu. Randypun langsung berdiri dan menoleh ke belakang ke arah pandangan Febby.

Lelaki dan perempuan itu kemudian berjalan menuju kearah Febby. “Sedang apa kamu di sini?” tanya  si perempuan dengan nada ketus.

“Aku… Uum, maksudku, kami sedang makan  bersama.” jawab Febby seramah mungkin.

“Kenapa harus di sini? Kenapa tidak cari restoran lain?” Lanjut wanita itu masih dengan nada ketusnya. Sedangkan si lelaki hanya sibuk memperhatikan Febby  dengan detail.

“Hei Nona, kami yang lebih dulu di sini,  jika anda  tidak suka melihat kami, silahkan angkat kaki dari sini.” jawab Randy yang mulai merasa kesal dengan keketusan wanita tersebut.

“Randy.” Febby  mencoba meredam amarah Randy.

“Rupanya ini suamimu yang terkenal itu? apa kamu bahagia? Kupikir tidak. Karena pernikahan kalian penuh dengan rekayasa dan skandal.” Cibir wanitaa tersebut.

“Hei, jaga mulut anda, atau..” Randy seakan sudah tidak dapat membendung amarahnya lagi, memangnya siapa wanita ini? bisa-bisanya dia berbicara seperti itu dihadapannya dan uga Febby.

“Randy, cukup!” seru Febby sambil menarik tangan Randy. Febby  takut kalau Randy melakukan sesuatu yang fatal terhadap wanita di hadapan mereka. “Kak, kami sudah selesai, kami aakan pergi kalau misalnya kehadiran kami di restoran ini membuat kakak tidak nyaman.” Lanjut Febby  kepada wanita tersebut.

“Apa kamu sudah gila? Aku nggak mau pergi! kalau dia tidak suka harusnya dia yang pergi, bukan kita.” Desis Randy pada Febby.

“Randy…” Febby  berbisik dengan nada memohon.

“Kenapa kita tidak makan bersama saja.” Lelaki di sebelah perempuan itu berkata dengan nada dinginnya.

“Aku rasa tidak perlu, kami sudah selesai.”

“Tidak! Kita makan lagi, bersama.” Kali ini Randy memotong perkataan Febby dengan tegas dan menatap tajam ke arah lelaki dan perempuan di hadapannya. Sebenarnya ada apa dengan mereka bertiga? Kenapa Febby  jadi berubah lemah begini? Randy benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi di antara mereka.

***

Mereka berempat lalu makan bersama dengan kecanggungan masing-masing.

“Bagaimana kabarmu?” wanita itu membuka percakapan dengan nada yang dibuat-buat.

“Aku baik-baik saja kak,” jawab Febby dengan sedikit hormat.

“Sebenarnya dia siapa?” tanya Randy dengan nada yang tak enak di dengar karena Randy masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin Febby terlihat begitu menghormati wanita tersebut.

“Jadi kamu belum mengenalku? Aku Dea, kakak Febby.” sahut wanita yang mengaku bernama Dea tersebut.

“Apa?” Randy menatap Febby tak percaya. “Kamu punya kakak? Kenapa aku tidak tahu? dan ku rasa aku tidak melihatnya di pernikahan kita.” Lanjut Randy masih dengan nada tak percayanya.

Febby hanya diam membisu.

“Sebenarnya ada apa dengan kalian bertiga? kalian tidak terlihat seperti keluarga.” ucap Randy kembali.

Febby berdiri seketika dan kembali menatap Randy dengan tatapan tajam. “Randy,  itu bukan urusanmu, lebih baik sekarang kita pergi dari sini. Permisi.” ucap Febby kemudian pergi begitu saja di ikuti oleh Randy yang sesekali memanggil namanya.

“Apa kamu puas?” tanya lelaki yang berada tepat di sebelah wanita bernama Dea tersebut, dia adalah Leo, suami Dea, sekaligus mantan kekasih Febby.

***

“Hei, apa yang kamu lakukan? ayo cepat buka pintunya!” teriak Randy menggedor pintu kamar Febby. Randy mengira jika Febby akan mengurung dirinya sendiri tapi nyatanya, wanita itu  membuka pintunya.

“Hentikan itu, kamu bisa merusak pintu kamarku.” Febby berkata dengan cuek lalu berusaha menutup pintu kembali, tapi Randy sudah menahannya.

“Kamu menangis?”  tanya Randy  ketika mengetahui  mata Febby  yang sudah sembab.

“Bukan urusanmu.” Jawab Febby dengan ketus.

“Hei, kamu benar-benar membosankan.”

“Ya, aku memang  membosankan.”

“Astaga, kamu itu nggak pantas jadi cewek cengeng.”

“Biarin!”

Randy menghela napas panjang. “Mau menemani aku minum? Aku punya persediaan bir kaleng.”

“Aku tidak pernah minum, tapi, sepertinya itu bukan ide yang buruk.”

“Bagus, itu baru namanya gadisku.”  kata Randy sambil meninggalkan Febby yang terngangah karena ucapannya. “Aku tunggu di bar dapur!” Teriak Randy kemudian.

Gadisku? sejak kapan aku menjadi gadisnya?  Febby bertanya-tanya dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ahh… mungkin dia sedang kehabisan obatnya. Pikirnya lagi dalam hati.

***

“Febby! hentikan itu. Kamu sudah minum banyak, kamu bisa mabuk nanti.” Randy berkata sambil menyambar kaleng bir yang ada di genggaman Febby. Mereka sedang duduk bersama di depan sebuah meja bar yang ada di dapur rumah mereka.

“Aku tidak peduli.” Jawab Febby cuek.

“Aku juga tidak peduli kalau kamu mabuk, aku hanya nggak mau membersihkan sisa muntahanmu nanti.” gerutu Randy lagi.

“Kamu benar-benar cerewet!” kata Febby sambil menatap Randy.

Beberapa saat kemudian Suasana menjadi hening. Lalu…

“Aku mencintainya..” Perkataan Febby  itupun mengagetkan Randy.

“Maaf?”

“Kak Leo, suami dari kakakku. Aku mencintainya.”

“Apa kamu sudah gila?” Randy terbelalak dengan apa yang di katakan Febby.

“Kejadian itu sudah delapan tahun yang lalu.” Febby menghela napas panjang, mengingat-ingat masalalu pahitnya. “Aku mencintai lelaki teman kakakku sendiri, kamipun menjadi sepasang kekasih, tapi suatu hari aku memergoki Kak Leo sedang bersama Kak Dea, kakaku. Aku hanya diam berpura-pura tidak mengetahuinya. Hingga suatu hari pengakuan kak Dea membuat hatiku benar-benar hancur. Dia Hamil, dan mereka menghianatiku.”

Randy menatap Febby dengan tatapan tak percaya, Febby sendiri mulai meneteskan airmatanya. “Mereka menikah, tapi itu tidak membuat kak Dea tenang. Dia semakin membenciku, dia mengira jika aku masih mencintai bahkan menggoda suaminya. Jujur saja pada saat itu aku memang masih menyimpan perasaan dengan kakak iparku sendiri, tapi aku sudah mencoba menguburnya dalam-dalam, jangankan menggoda bicara saja aku tidak pernah lagi.” Febby lalu meneguk minumannya kembali.

“Berhentilah meminum itu.” kata Randy kali ini dengan nada serius namun lembut.

“Puncaknya adalah ketika aku melanjutkan studyku ke luar negri, ketika aku kembali dengan gelar sebagai seorang Dokter, kakakku sudah tidak ada di rumah, dia sudah tidak ingin seatap lagi denganku. Dia masih takut aku menggoda suaminya. Padahal saat itu aku sudah tidak menyimpan perasaan apapun pada kak Leo lagi.” Febby kembali menangis tersedu.

“Kak Dea berkata jika aku sudah menikah, memiliki seorang anak, dan bahagia dengan mereka, kak Dea akan kembali lagi menjadi kakakku seperti dulu.  Aku tahu dia  hanya ingin pembuktian jika aku sudah tidak mencintai suaminya lagi.”  Lalu Febby menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Sebenarnya apa salahku? kenapa dia membenciku? Bukankah seharusnya aku yang membencinya? bukankah mereka yang sudah menghianatiku?” Febby menangis dan terlihat frustasi.

“Kakakmu dan suaminya benar-benar sialan!” geram Randy. “Jadi itu sebabnya kamu sangat menginginkan seorang bayi?  untuk membuktikan pada kakakmu?”

Febby hanya mengangguk.

“Jadi ini tidak ada hubungannya dengan menopouse?

Febby kembali mengangguk.

Lalu tiba-tiba Randy menangkup kedua pipi Febby dengan kedua telapak tangannya. Menghadapkan wajah Febby tepat ke atah wajahnya.

“Kamu jangan khawatir, aku akan membantumu. Mari buktikan kepada kakakmu kalau kamu sudah memiliki aku, dan kamu bahagia bersamaku.” Tubuh Febby merinding ketika mendengar kata-kata tegas tapi lembut yang diucapkan oleh Randy. Dan belum sempat Febby  menanggapi pernyataan Randy, tiba-tiba Randy menempelkan bibirnya pada bibir Febby dengan lembut, sangat lembut.

Keduanyapun berciuman dengan lembut sambil menutup mata masing-masing. Menikmati setiap gelenyar panas yang seakan menjalari sekujur tubuh mereka. Randy yang pertama kali membuka matanya dan berdiri, dia menarik Febby yang masih duduk di kursi barnya. Menjalankan jari jemarinya ke seluruh tubuh Febby. Febbypun sudah meremas dan mengacak-acak rambut Randy.

“Uuggghhh, aku… menginginkannya sekarang.” ucap Randy dengan serak dan sedikit mendesah.

“Lakukanlah..” jawab Febby pasrah.

Lalu Randypun menarik Febby agar berdiri. Mendorong Febby ke belakang hingga punggung wanita tersebut membentur kulkas besarnya.

Masih dengan mencumbui Febby, sesekali Randy menggigit bahkan mengisap leher dan bibir Febby, Randy juga sudah melepaskan rok dan semua kancing kemeja Febby.

Febby kini berdiri hanya mengenakan pakaian dalamnya saja, padahal sekarang Randy masih berpakaian lengkap.

Ketika Randy mulai membuka dalaman Febby, tiba-tiba Febby menghentikan ciumannya.

“Apa yang kamu lakukan?!” Tanya Febby dengan nada terkejut sambil berusaha menutup tubuh polosnya dengan kedua lengannya.

“Apa maksudmu? aku akan melakukannya sekarang.” Jawab Randy.

“Disini? dengan lampu menyalah seperti ini?”

“Tentu saja, kamu pikir apa?”

“Uumm, aku hanya malu dan terlalu gugup.”

Dan tanpa di sangka-sangka Randy tertawa lebar. “ Oh, ayolah, aku akan mengajarimu berbagai cara, berbagai gaya, dan aku akan membuatmu menjadi liar ketika di ranjang.”

“Apa kamu sudah gila?”

“Aku bukan hanya gila, aku memang sudah tergila-gila.” Lalu Randy melanjutkan aksinya kembali, mencumbui setiap lekuk tubuh Febby, membuat Febby mengerang nikmat.

“Ran..dy…”

“Hemm..” Jawab Randy malas, kali ini ia sudah mengulum puncak payudara Febby, membuat Febby mendesah sambil sesekali menggigit bibir bawahnya.

“Uugghh.. Ran..dy…” panggil Febby lagi.

Randy menghentikan aksinya seketika dan memandang Febby dengan tatapan tajamnya “Kali ini apa lagi?” tanya Randy dengan nada kesal, ia sudah berdenyut nyeri dan hampir meledak, tapi Febby seakan menggodanya dengan panggilan-panggilan yang penuh dengan desahan.

“Uumm, aku pikir ini bukan posisi yang baik untuk mendapatkan seorang bayi.”

Randy memutar bola matanya dengan kesal. “Apa kamu tahu jika kamu dapat mematikan gairahku seketika hanya  karena kamu terlalu cerewet? berhentilah menjadi perempuan cerewet! Aku sudah hampir meledak dan aku tidak percaya kamu membuatku kesal dengan omong kosongmu itu.” Gerutu Randy dengan kesal.

“Tapi aku seorang dokter, aku  membaca di buku jika melakukannya dengan berdiri kecil kemungkinannya untuk hamil.”

“Kamu benar-benar kaku dan membosankan.”

“Ya. aku memang seperti itu.” Febby sedikit tersinggung.

“Tapi aku suka.” Meski di katakan dengan cuek dan sedikit enggan, jawaban itu membuat Febby ternganga. Belum sempat Febby membalas pernyataan Randy, Randy sudah menyerangnya kembali.

“Emmmpptt… Emmmpptt…” Febby mencoba untuk bicara kembali di sela-sela ciumannya.

“Diamlah! aku tidak peduli tentang pembuatan bayi itu, kita bisa melakukannya di lain hari, tapi untuk malam ini, aku ingin kamu dan aku sama-sama menikmatinya tanpa ada tujuan untuk mendapatkan bayi sialan itu.” ucap Randy kemudian.

Dan tanpa permisi tiba-tiba Randy mengangkat sebelah  kaki Febby, menyilangkan di pinggangnya dan memasuki diri Febby begitu saja. Febby bahkan tidak tahu entah sejak kapan Randy membuka celananya sendiri, yang dia tahu kini Randy masih mengenakan kemeja putihnya, lelaki itu hanya menanggalkan celana dan boxernya saja.

“Oh Shit! kamu benar-benar nikmat, apa ini nikmat untukmu juga?”

“Ya, ya, ini.. Ughhh… Randy..” Jawab Febby  lengkap dengan desahannya,

“Ya, mendesahlah. mendesahlah.. aku suka sekali suara desahanmu.. Oh sial!!”  umpat Randy sambil sesekali mengecupi leher Febby, meninggalkan jejak-jejak basah di sana tanpa menghentikan pergerakannya di bawah sana.

“Randy! Ohh, aku, aku…” Febby tidak dapat melanjutkan kata-katanya ketika puncak kenikmatan itu datang padanya.

“Sial! aku juga sudah akan datang.” Randy kembali mengumpat lalu sebelah tangannya memegang tengkuk Febby, mengarahkan wajah Febby ke wajahnya dan mulai melumat habis bibir Febby kembali  sambil mempercepat lajunya. Dan akhirnya Randy tenggelam dalam gelombang kenikmatan sambil mengulum bibir manis Febby.

Keduannyapun lemas karena percintaan panas mereka, Febby hampir saja terjatuh jika tidak mengalungkan lengannya ke leher Randy.

“Sialan! tadi itu benar-benar seksi.” Randy berkata masih dengan napas teregah-engah.

Febby hanya menunduk malu  wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. Ini pertama kalinya dia bergerak secara erotis di hadapan lelaki.

“Apa kamu tahu? kamu adalah wanita pertama yang membuatku meledak hanya dalam waktu kurang dari lima menit. Ini benar-benar gila.”

“Uumm, apa itu aneh?” tanya Febby polos.

“Tentu saja, asal kamu tahu, aku tidak pernah bercinta dengan perempuan kurang dari lima menit seperti bercinta denganmu.”

Febby hanya tersenyum dan menunduk.

“Dan aku juga tidak pernah bergairah kembali setelah beberapa detik orgasme kecuali denganmu.”

Dan pernyataan Randy yang terakhir memaksa Febby menghentikan senyumannya, melihat ke arah pangkal paha Randy yang sudah kembali menegang, lalu kembali menatap ke arah Randy yang sudah menyunggingkan senyuman liciknya.

“Ran..dy.. apakah kamu…”

“Ya, aku menginginkanmu kembali.” Bisik Randy lembut di telinga Febby.

“Apa?!” Febby memebelalakkan matanya tak percaya.

Tapi Randy seakan tak menghiraukannya, Randy malah menggndong Febby dengan paksa menuju ke kamarnya.

“Randy!! turunkan aku…” teriak Febby sambil berusaha turun dari gendongan Randy.

“Tenanglah sayang, kita akan lakukan sesi kedua, sesi pembuatan bayi.” kata Randy masih dengan menyunggingkan senyuman liciknya.

“Tapi aku membaca di buku jika sperma kedua itu kurang optimal dalam pembuatan…”

“Persetan dengan buku-buku sialanmu itu!” Potong Randy Kemudian. “Febby! berhentilah menjadi kaku dan berhentilah membaca buku-buku aneh itu.” Lanjutnya kemudian.

“Buku aneh?” pikir Febby sebentar kemudian Febby kembali berteriak ketika sadar Randy sedang mengejeknya.

“Hei!! Buku kedokteran tidak aneh, tahu!!” Teriak Febby kemudian.

“Ya, tapi kamu semakin aneh saat membaca buku itu” jawab Randy dengan cuek dan santai.

“Aku tidak aneh! Aku hanya…” Lalu tanpa disangka, Randy memotong kalimat Febby dengan membungkam bibir Febby dengan (lagi-lagi) ciuman panasnya.

-TBC-

Sweet in Passion – Chapter 7

Comments 5 Standard

asipSweet in passion

Febby  memalingkan wajahnya ke samping, ia merasa malu dan canggung dengan posisinya saat ini yang masih sangat intim.

“Kenapa?” Tanya Randy sedikit tersenyum karena melihat Febby yang memerah karena gugup.

Febby hanya menggelengkan kepalanya masih tak sanggup menatap wajah Randy. Randypun menarik dirinya dan berbaring di samping Febby.

“Tidurlah.” Perintahnya.

Febby akhirnya bangun, dan bersiap menuju ke kamarnya.

 “Kamu mau kemana?” Tanya Randy sambil meraih pergelangan tangan Febby.

“Aku akan kembali ke kamar.” Jawab Febby yang masih memalingkan wajahnya tidak berani menatap Randy secara langsung.

“Tidurlah disini.” Lalu Randy menarik Febby ke dalam pelukannya. “Bersamaku.” Lanjutnya lagi.

Febbypun menurut walau ia tidak mengerti kenapa sekarang Randy selembut ini terhadapnya. Dan merekapun tidur bersama dengan berpelukan sepanjang malam .

 

***  

 

 

Chapter 7

 

Febby membuka matanya ketika kesadaran mulai merenggutnya dari mimpi indah yang ia alami semalam.

Mimpi? apakah semua hanya mimpi?

Seketika itu juga Febby langsung terduduk memandangi sekelilingnya. Ruangan ini bukan kamarnya, dan kenapa terasa begitu dingin? dan benar saja saat ia  melihat tubuhnya, ternyata ia masih dalam keadaan telanjang bulat dengan selimut yang sudah melorot sampai ke pinggang.

Febbypun menarik selimutnya kembali, pipinya memerah mengingat kejadian panas semalam. Astaga, mereka begitu panas. Bagaimana ia harus bersikap di hadapan Randy nantinya?

Tiba-tiba Febby mencium aroma masakan khas, membuatnya merasa lapar. Apakah Randy memasak? Untuknya? Yang benar saja, jangan terlalu percaya diri, pikirnya. Febby lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, mencari pakaiannya, dan berakhir memukul kepalanya sendiri, merutuki dirinya sendiri. Tentu saja, bukankah tadi malam dia melangkah ke kamar ini dengan telanjang bulat? lalu apa yang harus ia lakukan? apa ia harus keluar dengan selimut dan berantakan seperti ini? atau ia meminjam salah satu kemeja Randy  mungkin? yang benar saja, bisa-bisa Randy nanti mengira jika ia menggodanya kembali. Bodoh.. bodoh.. bodoh.. Sambil memukul-mukul kepalanya Febby mengutuk dirinya sendiri.

“Mau sampai kapan kamu memukuli kepalamu itu?” Suara khas itupun menyadarkan Febby yang tenggelam dalam pikiran-fikiran anehnya. “Kamu sudah bangun? Kenapa tidak keluar?” Tanya Randy lagi.

Randy sendiri kini memang sudah rapi dengan T-shirt warna putih dan celana pendeknya.

“Uum, itu.. pakaianku..” Ucap Febby ragu, pipinya bahkan tidak berhenti memerah.

“Ada apa dengan pakaianmu?” Goda Randy. Sebenarnya Randy sudah tahu apa maksud Febby, tapi entah kenapa pagi ini dirinya ingin mengganggu wanita itu.

“Uum,  apa kamu bisa mengambilkannya.. untukku?” Suara Febby pelan hampir tak terdengar.

“Apa?” Goda Randy lagi sambil memelankan suaranya.

“Pakaianku, apa kamu bisa mengambilkannya.. untukku?” Lagi-lagi Febby mengatakannya sambil malu-malu. Wajahnya sudah merah seperti tomat. Membuat Randy berusaha keras menahan tawanya.

“Apa? aku tidak mendengarnya.” lagi-lagi Randy menggoda kali ini dengan senyuman nakalnya. Melihat itu, Febby seperti sudah pada batas kesabarannya.

Febbypun menghela napasnya panjang sebelum gunung di kepalanya mulai meletus.

“RANDY,  KARENA KAMU SUDAH MEROBEK BAJUKU TADI MALAM MAKA SEKARANG CEPATLAH AMBILKAN PAKAIAN GANTIKU!” Febby pun berteriak karena  mulai jengkel.

Bukannya takut, Randy malah menertawakan Febby.

“Hei, apa ada yang lucu?”

“Hahahah kamu, kamu menggemaskan sekali.” kata Randy masih dengan tertawa.

“Menggemaskan?”

“Pakailah ini.” Randy mengambilkan sebuah kemeja di dalam lemarinya dan melemparkannya begitu saja ke arah Febby.

“Kenapa harus pakai ini? kamu kan bisa mengambilkan bajuku di kamar sebelah?”

“Aku malas.” Jawab Randy cuek.

“Hei.. Randy!!!” Teriak Febby kesal.

“Berhentilah berteriak, astaga, telingaku rasanya mau pecah saat mendengarkan suaramu.” ucap Randy sambil beranjak meninggalkan Febby. “Gunakan baju itu atau kamu kutendang dari kamarku dalam keadaan telanjang bulat?” Lanjut Randy lagi.

“Haissh, kamu ini benar-benar.” Gerutu Febby sambil melempari Randy dengan sebuah bantal. Randypun akhirnya tersenyum penuh dengan kemenangan.

***

“Apa?” Tanya Febby sedikit risih karena ia mengetahui jika sejak tadi Randy sedang memperhatikannya dengan senyuman-senyuman anehnya.

“Tidak, hanya saja… tadi malam….” Randy menggantung kalimatnya.

“Cukup!” potong Febby. “Aku tidak ingin membahas tentang tadi malam.”

“Benarkah? Padahal aku sangat penasaran sekali dengan sesuatu.”

“Aku tidak peduli.”

“Hei, kita sudah melakukan seks semalam, jadi apa salahnya kalau kita saling terbuka. Kupikir aku tidak terlalu mengenalmu selama ini.” Randy menyesap kopi di hadapanya kemudian melnjutkan pertanyaannya. “Jadi, yang pertama, kenapa kamu bohong?”

“Bohong tentang apa?”

“Tentang kamu yang sudah tidak perawan lagi.”

Oh, Febby benar-benar ingin menghilang saat ini juga. Bagaimana mungkin Randy bertaya tentang pertayaan menggelikan itu.

“Febby si perawan.” Goda Randy.

“Cukup! Bukan urusanmu aku masih perawan atau enggak.”

“Sekarang jadi urusanku Febby, karena aku yang membuatmu tidak perawan lagi.”

Please, sampai kapan kita akan membahaas masalah menggelikan ini?”

“Sampai kamu jujur.” Jawab Randy mantab.

Febby menghela napas panjang. “Oke, aku memang perawan, dan aku…” Febby menundukkan kepalanya. Wajahnya sudah memerah. “Aku hanya malu karena kamu selalu menatapku dengan tatapan mengejek.”

Tatapan Randy tiba-tiba melembut. “Tidak ada yang salah dengan perawan, Febb. Perawan atau tidak, bagiku, kamu cukup terlihat menggoda.” Kali ini Randy berkata dengan tatapan menggodanya.

“Hanya ‘Cukup’?” Febby membulatkan matanya.

Randy tertawa nyaring. “Oke, oke, aku jujur. Kamu membuatku tergoda dan menegang seketika seperti sekarang ini.”

Febby menatap Randy dengan tatapan ngerinya. Apa benar Randy kembali menegang? Oh yang benar saja, Febby merasa gelisah jika mungkin saja tiba-tiba Randy kembali mengajaknya bercinta.

Well, karena aku sudah menjawab pertanyaanmu, berarti semuanya sudah selesai, dan kamu bisa melupakan kejadian semalam.”

Randy tersenyum miring. “Oh, kamu salah, sayang. Masih ada satu pertanyaan lagi.”

“Apa lagi sih? Apa nggak bisa kita lupain kejadian semalam? Aku risih membahas hal itu lagi dan lagi.”

“Aku hanya ingin tahu semuanya, semua alasan kamu hingga aku tidak merasa sedang di bodohi seperti saat ini.”

“Di bodohi? Maksud kamu?” tanya Febby tidak mengerti.

“Kenapa kamu tidak ingin aku menggunakan pengaman? Dan sepertinya tadi malam aku mendengarmu mengatakan ‘Bayi’, apa maksudnya?” Randy berkata secara terang-terangan sedangkan matanya menatap tajam penuh dengan intimidasi pada Febby.

“Bukan urusanmu” Lalu Febby berdiri dan akan beranjak dari tempat duduknya.

“Hei, kamu pikir aku sedang bercanda? Jawab aku atau ……”

“Aku memang menginginkan seorang bayi.” Potong Febby, dan jawaban tersebut membuat Randy terperangah.

“Apa maksudmu? Kamu pikir kita akan menikah sungguhan dan terikat selamanya?  Maaf, aku tidak berminat.” Jawaban Randy sengguh menyakiti hati Febby, tapi Febby mencoba tidak menghiraukannya.

“Kamu pikir aku juga berminat hidup sampai tua dengan orang sepertimu? Tentu saja tidak!”

“Lalu apa maksudmu dengan seorang bayi?”

“Aku hanya menginginkan bayi, dan aku tak peduli denganmu.”

“Aku masih tidak mengerti.” Jawab Randy bingung.

Febby menghela napas panjang, ia kembali duduk dan mulai menjelaskannya. “Kau tahu kenapa aku menerima perjodohan sialan ini dengan senang hati?” Randy hanya menggelengakan kepalanya. “Karena aku menginginkan seorang bayi, seorang anak yang kukandung dari rahimku sendiri. Aku tidak peduli dengan siapapun suamiku itu, toh aku juga tidak akan mencintainya, entah itu kamu ataupun orang lain, bagiku dia hanyalah pendonor sperma saja.”

“Apa?” Randy terbelalak kaget dengan apa yang di jelaskan oleh Febby.

“Kamu tenang saja, kamu tidak perlu takut jika aku menuntutmu untuk bertanggung jawab, karena itu tidak mungkin terjadi.” Lanjut Febby dengan santai.

“Siapa yang tahu kalau kamu nanti akan berubah pikiran dan menuntutku untuk bertanggung jawab.”

“TIDAK MUNGKIN” Febby menjawab dengan penuh penekanan.

Keduanya lalu termenung sebentar, sibuk dengan isi kepala masing-masing.

“Baiklah, aku akan membantumu mendapatkan bayi, tapi kamu harus bercerita denganku kenapa kamu sangat menginginkannya,”

Febby menelan ludahnya dengaan susah payah. Haruskah ia bercerita yang sesungguhnya pada Randy? Oh yang benar saja, ia tidak akan menceritakan apapun tentang masalalunya pada lelaki di hadapannya tersebut.

“Astaga, aku sudah mengatakan kalau itu bukan urusanmu, kita tidak harus mencampuri urusan pribadi masing-masin sama seperti sebelumnya.”

“Kalau begitu aku membatalkannya.”

“Apa? kamu sangat kekanakan.”

“Berceritalah atau kamu tidak akan mendapatkan bayi.” Ancam Randy.

Febby menghela napas panjang. “Baiklah, kamu tahu bukan kalau perempuan mempunyai jam biologis?” Randy hannya menggelengkan kepala. “Kamu benar-benar bodoh, wanita tidak seperti laki-laki yang bisa menghasilkan anak walau usianya sudah tua, wanita berbeda.”

“Dan apa kamu pikir sekarang kamu sudah mendekati masa-masa itu?”

“Manepous, kami menyebutnya manepous.”

“Hahahah kamu pikir aku bodoh? walaupun aku tidak sekolah di kedokteran aku juga tahu kalau manepous pada wanita terjadi  di atas usia 30 tahun, sedangkan kamu bukannya baru sekita dua puluh tujuh tahun?”

“Kamu benar-benar bodoh, apa kamu mengerti istilah Manepous Dini? tidak kan? bahkan dalam beberapa kasus wanita yang usianya baru dua puluh lima tahun bisa mengalami Manepous dini dengan kata lain dia tak akan bisa hamil.”

“Dan kamu takut kalu akan mengalami hal itu?” Tanya Randy.

Febby hanya mengangguk.

“Dan aku tahu kenapa kamu takut mengalami hal itu.” Febby hanya mengangkat sebelah alisnya. “Itu karena kamu terlalu kaku dan sering marah-marah makanya kamu takut kalau kamu mengalami Manepous Dini. Hahahhaa.” Kata Randy sambil tertawa lebar.

“Bodoh! Kamu benar-benar terlihat tolol di mataku. Manepous tidak ada hubungannya dengan kamu tukang marah atau tidak, kamu pikir manepous sama dengan penyakit jantung?”

“Astaga, aku hanya bercaanda, kamu terlalu kaku.” Randy berkata karea kesal dengan Febby yang menampilkan ekspresi tersinggungnya. “Well, kenapa kamu tidak melakukannya dengan orang yang kamu cintai?” pertanyaan Randy kali ini di utarakan dengan nada serius.

“Aku tidak punya.”

“Apa? Aku tidak dengar.” goda Randy.

“Aku tidak punya orang yang kucintai! Apa kamu puas?!” teriak Febby.

Randy kembali tertawa lebar karena melihat Febby yang meledak-ledak.

“Baiklah, baiklah,  aku akan membantumu mendapatkan bayi, tapi asal kamu tahu, aku melakukannya berdasarkan permintaaanmu dan aku tidak akan pernah melibatkan perasaan saat kita melakukan seks.”

Setelah berbicara seperti itu Randy langsung berdiri tidak memperhatikan Febby yang tercenung karena perkataan Randy.

Apa yang harus Febby lakukan? Haruskah Febby melanjutkan rencananya? Apa tidak apa-apa jika ia membohongi Randy seperti saat ini?

“Ayolah, cepat ganti baju, aku akan mengantarmu ke rumah sakit.” Randy berkata sambil melirik ke arah jam tangannya.

Febby membulatkan matanya, terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. “Apa kamu bercanda?”

“Tidak! ayo cepat, bukankah kamu selalu rajin dan tidak mau terlambat.”

“Baiklah.” JawabFebby sambil beranjak menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaian.

***

“Jika tahu seperti ini aku tak akan mengantarmu.” Gerutu Randy sambil menandatangani beberapa fotoya yang di berikan beberapa pegawai rumahsakit.

Banyak dari mereka yang ingin foto bersama dengan Randy. Bahkan di luar rumah sakit ada beberapa wartawan yang mengikuti mereka.

“Berhentilah menggerutu, sebaiknya kamu tersenyum, kamu pasti nggak mau kalau foto jelekmu saat cemberut tersebar kemana-mana.”

“Aku tidak jelek!”

“Hei, jangan mulai lagi.”

Beberapa jam kemudian Randy terlihat lelah setelah mengikuti acara jumpa fans dadakan di rumah sakit tempat kerja Febby. ia merebahkan diri di sofa panjang yang memang tersedia dalam ruangan Febby sambil sesekali melihat Febby yang sedang sibuk mencatat sesuatu di mejanya dengan serius.

“Apa ini memang selalu membosankan seperti ini?” tanya Randy yang memang sudah terlihat sangat bosan di dalam ruangan Febby.

Febby mendongak menatap ke arah Randy. “Apa? pekerjaan ini tidak membosankan.”

“Ya, ya, tapi bagiku ini membosankan.” jawab Randy dengan santai.

“Tentu saja, karena kamu orang bodoh.” Febby menjawab dengan cuek tanpa sedikitpun menoleh ke arah Randy.

“Hei, kamu benar-benar….”

Krriiiingg.. Kriinggg…

Perkataan Randy terpotong oleh deringan telepon di atas meja Febby.

“Hallo?”

…….

“Apa?” Febby melirik sedikit ke arah Randy. “Baiklah, suruh dia masuk.” Lalu Febby menutup teleponnya.

“Siapa?” Tanya Randy curiga.

“Bukan siapa-siapa, hanya pasien, kenapa kamu masih di sini? apa kamu tidak mempunyai pekerjaan?”

“Apa kamu lupa jika aku adalah aktor  papan atas? bukan aku yang menunggu untuk pekerjaan tapi pekerjaan yang akan menunggu untukku.” Randy menyombongkan diri.

“Huuhh, benar-benar tidak profesional!”

Lalu tiba-tiba Febby mendengar pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang.

“Masuk,” ucapnya, dan orang tersebutpun masuk. “Heii.. apa kabar?” tanya Febby sambil menghambur ke arah seorang pria yang baru masuk ke dalam ruangannya, dia adalah Brian, Brian Winata.

Melihat Brian yang masuk ke dalam ruangan Febby, entah mengapa tatapan Randy  menjadi menajam, apa lagi ketika melihat keakraban antara Febby dan Brian. Dengan spontan telapak tangannya mengepal seketika.

“Untuk apa dia kemari?” Tanya Randy dengan nada dingin dan entah sejak kapan dia sudah berada tapat di hadapan Brian.

“Gue mau ngajak dia makan siang.” Jawab Brian dengan  jujur dan cuek.

“Apa? Apa Lo nggak lihat di sini ada siapa?”

“Disitu ada Lo”

“Dan Lo lupa siapa Gue?”

“Haha, Sorry, tapi gue nggak kenal Lo.” Jawab Brian sambil sedikit menyeringai.

“Oke, kenalin, gue suaminya, dan gue ngelarang Febby untuk makan siang sama lo.” Randy berkata dengan tegas dan entah kenapa itu membuat Randy semakin terlihat jika lelaki itu sedang cemburu..

“Cukup!”  Kata Febby sambil menengahi. “Ada apa dengan kalian berdua? Dan kamu, bukannya kamu harus bekerja? kenapa kamu masih menguntitku disini?” pertanyaan Febby di tunjukkan pada Randy.

“Aku tidak menguntit.”

“Lalu apa yang kamu lakukan disini?” Tanya Febby lagi sambil berkacak pinggang.

“Aku hanya ingin memastikan bahwa kaum tidak kelelahan karena seks maraton kita tadi malam.” Jawab Randy sambil melirik ke arah Brian dengan menyunggingkan senyum liciknya.

“Hei!!!” teriak Febby sambil memukul keras-keras bahu Randy.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Randy sambil mengusap-usap bahunya.

“Kamu pantas mendapatkannya, dasar otak mesum!” Febby masih saja memukuli lengan Randy.

“Kamu tidak boleh banyak marah atau membuang tenaga seperti ini, ini tidak baik untuk calon bayi kita nanti.” Kata Randy sambil memegangi kedua tangan Febby.

“Calon bayi?” Febby tampak bingung, tapi kemudian Febby mengerti saat melihat seringaian licik yang di tampilkan Randy. “ Hei, kamu benar-benar!!” Febby melanjutkan memukuli Randy.

“Kupikir, aku harus pergi.” Kata Brian yang sejak tadi sudah sedikit kurang nyaman dengan suasana di sekitarnya.

“Ehh, tapi bagaimana dengan makan siang kita?” Tanya Febby sedikit tidak enak.

“Lain waktu saja, toh di luar ada beberapa wartawan, aku takut jika itu akan menimbulkan gosip  buruk terhadapmu.”

“Brian, maafkan aku.”

“Maaf untuk apa?”

“Uum, karena…”

“Tidak perlu meminta maaf.” Jawab Brian cepat. “Masih ada lain waktu.” Lanjutnya lagi.

“Hei, kapan Lo perginya kalau ngomong terus? Lama banget.” Gerutu Randy.

Brian hanya tersenyum ke arahnya. “ Lo boleh seneng karena gue pergi, tapi lo harus ingat,” Brian kemudian berbisik ke arah Randy, “Febby memang istri lo, tapi gue berani jamin kalau Febby tertarik sama gue.”

Randy membulatkan matanya seketika.

“Brengsek!!!” umpatnya keas-keras pada Brian yang sudah berjalan keluar dari dalam ruangan Febby.

“Hei, ini rumah sakit kamu tidak perlu berteriak seperti itu.” Lagi-lagi Febby memukul lengan Randy.

“Haisshh.. apa kamu nggak bisa sedikit bersikap lembut sama aku?!” Randy kembali berteriak karena frustasi.

Febby lalu meninggalkan Randy begitu saja sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda jika dia sudah menyerah dengan sikap kekanak-kanakan yang di perlihatkan oleh Randy.

“Sial!! perempuan ini benar-benar.” Gerutu Randy sambil mengikuti tepat di belakang Febby.

-TBC-

Sweet in Passion – Chapter 6

Comments 5 Standard

asipSweet in Passion

Chapter 6

Febby keluar dari rumah sakit dengan tatapan anehnya terhadap Randy. Ia masih tidak habis pikir jika Randy mau datang ke tempat kerjanya hanya untuk mengajaknya makan malam. Pasti lelaki ini memiliki rencana lain di balik itu semua.

Dan astaga, Febby tidak akan pernah melupakan ekspresi para pegawai rumah sakit tadi ketika melihat Randy yang baru sekali itu menginjakkan kaki di rumah sakit tempatnya bekerja.

Ya, hampir seluruh pegawai rumah sakit memang mengidolakan Randy semenjak lelaki itu memainkan sebuah Film yang berjudul The Lady Killer, yang membuat namanya melambung tinggi. Randy benar-benar sukses menyihir para kaum hawa dengan aktingnya sebaga Dhanni Revaldi, si Lady Killer yang cinta mati dengan pasangannya.

Oh yang benar saja, bahkan saat itu Febby pun sangat mengidolakan sosok Randy. Hanya saja, gossip tentang lelaki itu selalu buruk. Dia selalu di kaitkan dengan model-model papan atas, bahakan tak sering foto-foto intimnya dengan beberapa kekasihnya bocor ke tangan wartawan.

Randy menjadi Aktor yang sangat di cari beritanya, karena dirinya memang sangat jarang tampil di depan umum jika bukan untuk keperluan kerjanya. Maka jangan heran, ketika kabar pernikahan mereka mencuat, banyak orang yang meragukan kebenarannya.

Randy Prasaja, seorang aktor papan atas menikah dengan seorang dokter biasa? Yang benar saja. Banyak sekali yang ingin mengetahui kisah cinta mereka hingga sampai di pelaminan, tapi tentu saja Randy maupun Febby tidak akan pernah buka suara jika pernikahan mereka terjadi hanya karena sebuah perjodohan konyol dari kedua orang tua mereka.

“Kenapa melihatku seperti itu? Apa kamu baru sadar kalau punya suami yang tampan?” tanya Randy penuh percaya diri tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari jalan di depannya.

“Huh, terlalu percaya diri itu tidak bagus.” Febby mendengus kesal karena sikap Randy yang telalu percaya diri. Ya, tidak di pungkiri, sebenarnya tadi Febby melamun sembari menatap ke arah Randy karena mengagumi lelaki di sebelahnya itu.

Randy terihat begitu tampan dengan T-shirt warna hitam, celana pendek santainya, lalu topi yang bertengger di kepalanya. Lelaki itu tampak begitu keren dan ya, wajar saja jika para pegawai rumah sakit tadi hampir menjerit karena kedatangannya.

“Lalu apa yang sedang kamu pikirkan sambil menatapku seperti itu? Jangan bilang kalau kamu lagi berfantasi liar terhadapku.” Randy berkata dengan wajah datar tanpa ekspresinya, padahal kini hatinya sedang terkikik geli membayangkan Febby yang mungkin saja sedang berfantasi liar seperti dirinya beberapa hari terakhir. Ahhh Febby benar-benar membuat Randy gila. Setelah ciuman panas mereka pagi itu, Randy sama sekali tidak bisa berpikir jernih, yang ia inginkan hanyalah memasuki diri Febby, Febby, dan Febby. Tidak ada yang lain selain wanita itu. Apa ini yang di sebut dengan rasa penasaran?

“Berfantasi liar? Dasar mesum!” seru Febby dengan sedikit meninju lengan Randy. “Aku hanya masih heran. Untuk apa kamu datang ke rumah sakit? Kamu tidak mungkin hanya datang untuk mengajakku makan malam, kan?”

“Aku hanya ingin melihat suasana tempat kerjamu. Rupanya membosankan sekali.”

“Hei, siapa bilang kerja di rumah sakit itu menyenangkan? Kami berurusan dengan nyawa, kami tidak bisa seenaknya melalaikan tugas, atau bahkan bermain-main dengan pekerjaan kami. Pekerjaan kami adalah pekerjaan yang mulia, jadi jaga ucapanmu tentang pekerjaan yang membosankan itu.” Jawab Febby dengan sedikit tersinggung.

“Baik Yang Muia.” Goda Randy.

“Bodoh!!” umpat Febby kesal.

Randy tertawa lebar. “Aku sedikit risih dengan tatapan pegawai rumah sakit tadi. Apa mereka tidak pernah melihat artis ke rumah sakit itu?”

“Tentu saja pernah, banyak artis yang berobat di rumah sakit kami. Hanya saja mungkin itu pertama kalinya untukmu menginjakkan kaki di sana, makanya mereka melihatmu dengan tatapan aneh mereka.”

“Tapi nggak segitunya juga kali, sampai tadi ada yang jatuh saat melihatku. Hahhahaha lucu sekali.”

“Lucu katamu? Mereka mengidolakanmu. Sedangkan kamu sendiri seakan tidak peduli dengan mereka.”

“Tidak peduli bagaimana? Aku tidak tahu kalau mereka mengidolakanku. Kalau aku tahu mungkin aku akan melakukan jumpa fans di sana, pasti menyenangkan sekali.”

“Huh, kamu akan membuat geger seluruh penjuru rumah sakit. Asal kamu tahu, mereka semua sangaat mengidolakanmu saat kamu memainkan peran sebagai Lady Killer.”

Randy tertawa lebar. “Oh ya? Film itu lagi? Membosankan sekali. Dhanni Revaldi tidak apa-apanya dengan sosokku yang sebenarnya.”

“Oh ya? Ingat bung, kalau tidak ada Dhanni Revaldi, namamu tidak akan setenar seperti saat ini.” Febby mengingatkan.

Randy masih saja tertawa lebar. “Jadi, apa aaku harus jumpa fans di rumah sakit itu?”

“Sepertinya tidak perlu, kamu sudah di cap sebagai artis sombong oleh mereka.”

“Bagaimana mungkin? Kenapa bisa seperti itu?”

“Ya, karena sepertinya mereka lebih menyukai sosok Renno Handoyo dari pada si Dhanni Revaldi.” Perkataan Febby menyiratkan arti tersendiri.

“Renno Handoyo? Maksudmu si Brian sialan itu?” geram Randy.

Ya, film The Lady Killer memang debut pertama dari Randy  saat itu yang memerankan peran sebagai Dhanni Revaldi, pemeran utama film tersebut. Sedangkan Brian yang saat itu sudah menjadi penyanyi juga menerima tawaran untuk menjadi pemain pendukung sebagai Renno Handoyo. Sudah menjadi rahasia umum jika keduanya menjadi rival berat setelah film tersebut. Gosip menyebutkan jika keduanya benar-benar terlibat cinta lokasi dengan si pemeran utama wanita hingga keduanya berakhir dengan saling memusuhi satu sama lain.

“Ya, Brian.”

“Apa yang membuatnya merebut posisiku?” Randy masih tidak berhenti menggeram.

“Karena dia sering ke rumah sakit, membawakan kami makan siang, menyapa seluruh pegawai rumah sakit yang di temuinya, dan bersikap ramah dengan kami.”

Secepat kilat Randy menginjak pedal remnya membuat Febby terbentur dashboard mobilnya.

“Hei, apa kamu nggak bisa nyetir dengan benar!” Febby berseru marah.

“Kenapa dia sering ke rumah sakit?”

“Hanya main dan makan siang, apa itu salah?”

“Apa dia ke sana untuk menemuimu?” kali ini Randy bertanya penuh penekanan sembari menatap tajam-tajam ke arah Febby.

“Hei, memangnya itu menjadi urusanmu? Ingat, kita tidak saling mencampuri urusan masing-masing, jadi walau dia sering datang menemuiku, itu bukan urusanmu.”

“Itu urusanku, Febby.”

“Bukan!”

“Haiss!! Kamu benar-benar.”

“Apa? Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan ucapanku?” tantang Febby.

“Jangan membuatku kesal Febby, atau aku akan melakukan itu lagi di sini.” Ancam Randy.

“Melakukan apa?” Febby masih tidak berhenti menantang Randy.

“Menciummu sampai kehabisan napas hingga kamu memohon padaku untuk memasukimu saat ini juga.”

Ancaman Randy tersebut ternyata bena-benar mengena pada Febby. Febby tercengang dengan ancaman vulgar yang di berikan Randy padanya. Seketika itu juga Febby memalingkan wwajahnya menatap ke jendela kaca mobil di sebelahnya untuk menghindari tatapan mengintimidasi dari Randy.

***

Febby dan Randy akhirnya makan malam dalam keheningan. Sejak ancaaman Randy di dalam mobil tadi, Febby sudah tidak berani berkata-kata lagi. Ia hanya takut jika Randy melakukan ancamannya kemudian ia tidak sanggup menolaknya seerti pagi itu.

“Apa hubungan kalian?” pertaanyaan Randy membuat Febby mengangkat wajahnya, menatap sepasang mata tajam milik Randy yang kini seakan sedang menelanjanginy.

“Maksudmu aku dan Brian? Kami hanya teman.” Jawab Febby sedikit malas.

“Ku pikir kamu terlihat menyukainya.”

“Tentu saja. Maksudku, Brian adalah penyanyi sekaligus aktor papan atas, siapapun pasti menyukainya.”

“Bodoh, bukan suka seperti itu maksudku.”

“Lalu?”

“Kamu cinta sama dia?” pancing Randy.

Febby sedikit tertawa mendengar pertanyaan Randy. “Cinta? Tidak! Cinta itu adalah kata terakhir dalam kamusku.”

Randy mengangkat sebelah alisnya. “kamu nggak pernah mencintai? Atau berpacaran?”

“Kamu pikir aku sebodoh dan sepolos itu? Tentu saja aku penah.” Jawab Febby cepat.

Randy diam sebentar sesekali mengawasi Febby yang sejak tadi tidak berhenti menundukkan kepalanya, seakan wanita itu sedang gugup ketika dirinya membahas tentang kehidupan wanita tersebut.

“Kenapa pagi itu kamu tidk menyuruhku berhenti?” pertanyaan Randy membuat Febby kembali mengangkat wajahnya seakan terkejut dengan apa yang di tanyakan oleh lelaki tersebut.

“Apa kamu pikir orang yang sudah pada tahap second base bisa mengakhirinya begitu saja?” tanya Febby dengan suara yang di buat sesantai mungkin.

Randy mengangkat sebelah alisnya. “Second base? Kamu… mengerti istilah-istilah seperti itu juga?”

“Kamu pikir aku perempuan bodoh?”

Randy tersenyum miring. “Bukan begitu, kupikir seorang dokter seperti kamu adalah orang yang kaku dan membosankan serta tidak tahu tentang istilah-istilah seks seperti itu.”

Febby mendengus kesal dengan sindiran yang di berikan oleh Randy.

“Apa, kamu pernah bercinta sebelumnya?” pertanyaan tersebut tentu membuat Febby membulatkan matanya seketika.

Bercinta? Yang benar saja.

“Ten.. tentu saja, aku adalah wanita dewasa dengan usia yaang sudah matang. Mana mungkin aku masih perwan, aku tidak semembosankan itu tuan.” Febby berkata penuh dengan keangkuhan. Astaga, jangankan bercinta, berciuman saja mungkin bisa di hitung berapa kali.

Dulu, Febby memang pernah berpacaran sebelumnya, tapi pacaran yang sehat. Bukan dengan mudah memberikan apa yang ia punya pada kekasihnya. Febby dari keluarga baik-baik, tentu kekasihnya dulu sangat menghormatinya. Tapi entah kenapa di hadapan Randy, Febby tidak ingin terlihat sebagai wanita kaku dan bodoh yang tidak pernah bercinta. Ada apa denganmu Febb? Harusnya kamu bangga kalau kamu sampai saat ini masih dapat mempertahankan keperawananmu. Rutuk Febby pada dirinya sendiri.

“Benarkah?” tanya Randy dengan senyuman menggoda.

“Apa kamu perlu bukti?” tantang Febby.

“Baiklah, nanti kita akan membuktikannya.” Jawab Randy dengan santai yang seketika itu juga membuat Febby menelan ludahnya dengan susah payah.

Sial!! Apa ia kini sedang terperangkap pada jebakannya sendiri? Pikir Febby.

“Biasanya… gaya apa yang kamu sukai?” tanya Randy dengan tatapan menggodanya.

Febby membulatkan matanya seketika. Pipinya kemudian memerah seketika saat membayangkan posisi-posisi berhubungan intim ketika dulu dirinya membaca buku-buku kedokteran saat masih di perguruan tinggi.

Misionaris? Doggie style? Atau… mungkin kamu lebih suka pegang kendali di atasku nanti?”

Cfebby merasakan suasana di sekitarnya menjadi panas karena ucaan-ucapan menggoda yang di lontarkan Randy yang entah kenapa mau tak mau membuat Febby berfantasi.

“Hei, apa kita sedang berdiskusi tentang seks sekarang? Di meja makan ini? Kamu benar-benar menjijikkan.” Gerutu Febby. “Asal kamu tahu, aku lebih liar daripada yang kamu pikirkan.” Pungkas Febby dengan nada yang di buatnya angkuh.

Ya, ia memang tidak boleh terlihat bodoh dan lemah di hadapan Randy, sebaliknya, Febby ingin dirinya terlihat liar hingga Randy tidak bisa mengejeknya atau mungkin melemparkan tatapan-tatapan mengintimidasi dari lelaki tersebut.

“Benarkah?” Randy maih melemparkan tatapan menggoda dengan tawa mengejeknya pada Febby. Ia terlihat tenang dan santai, padahal sebenarnya sejak tadi ia sedang menahan rasa sakit karena gairahnya yang seakan ingin meledak saat ini juga. Entah sejak kapan celananya sudah mengetat, menandakan jika ia tidak bisa main-main terlalu lama lagi.

“Aku ingin memasukimu malam ini juga.” Perkataan yang di lontarkan Randy benar-benar bukan godaan atau candaan belaka, sungguh, ia menginginkan Febby malam ini juga. Ia sudah tidak dapat menahannya lagi.

***

Pintu rumah itu tertutup dengan kerasnya, mengunci secara otomatis, seakan-akan tahu jika sang pemiliknya tidak akan sempat menguncinya. Entah sejak kapan kedua bibir itu saling melumat habis, saling mencecap kenikmatan, saling menggigit satu sama lain. Lidahpun saling menari merasakan rasa masing-masing. Deru napas yang terengah saling bersahutan menandakan bahwa mereka sudah cukup lama melakukan ciuman panas itu.

Tangan Febby sudah mengacak-acak tatanan rambut Randy, membuat Randy terlihat begitu panas dan seksi di mata Febby. Begitupun tangan Randy sudah mengangkat rok pensil yang di kenakan Febby hari itu sampai ke perut. Keduanya saling bergairah, memagut satu sama lain tanpa sedikitpun rasa canggung.

“Sialan!! aku tidak tahu kalau kamu senikmat ini.” Suara serak Randy keluar saat meremas bagian belakang tubuh Febby. Cumbuannya kini turun ke leher Febby, mengecapnya, menikmati rasanya, memberi tanda basah di sana.

Febby mengerang, mendesah dengan nikmat dan itu membuat Randy semakin mengetat.

“Jangan mengenakan pakaian membosankan seperti ini lagi di hadapanku.” kata Randy dengan membuka paksa blouse yang di kenakan Febby hingga robek.

“Aku akan berubah, Uugghhh…” jawab Febby sambil memejamkan mata dan mendesah saat tangan Randy sudah mendarat di dadanya.

“Aku suka melihatmu memakai lingerie..” Randy  terengah-engah mengucapkannya.

“Aku… Uugghh… aku akan membelinya..” Febby kesusahan menjawab saat Randy mulai mengecupi puncak payudaranya.

“Sialan! Tapi aku lebih suka melihatmu telanjang.” ucap   Randy sambil menyeringai, lalu mulai menggigit, menghisap dan menggoda puncak payudara Febby. Febbypun mendesah dengan kenikmatan yang baru di rasakannya saat ini.

“Oh, astaga, astaga..” Desah Febby saat jemari Randy mulai menggelitik titik sensitifnya. membelainya, mengusapnya dengan lembut. Membuat Febby tak sanggup berdiri sendiri dengan kedua kakinya.

“Oh Sialan!! kamu sudah sangat basah, sayang.” Ucap Randy sambil melumat kembali bibir Febby. “Aku suka sekali rasamu yang manis.” lanjutnya lagi.

Entah sejak kapan keduanya sudah saling menelanjangi satu sama lain, padahal mereka masih di depan pintu di ruang tamunya.

“Kaitkan kakimu di pinggangku, sayang.” Febby  membuka matanya dan mengernyit kearah Randy, menandakan jika dia tak mengerti.

“Kita akan pindah ke kamarku.” Febbypun akhirnya menuruti apa yang di perintahkan Randy.

Masih dengan mengecupi pundak Febby,  Randy akhirnya menggendong Febby menuju ke kamarnya.

Randy mulai membaringkan tubuh Febby, lalu menindihnya, dan mulai menyerang Febby dengan kecupan-kecupan kecil dari kening sampai ujung kaki Febby, membuat Febby merasakan gelenyar aneh yang tak pernah dia rasakan.

“Sial! Kamu benar-benar sangat indah.” Randy berkata saat melihat Febby yang sedang telanjang bulat dengan ekspresi kenikmatan saat berada di bawahnya.

Randy mengecup pusat diri Febby, dan sedikit memainkannya.

“Ohh, astaga… apa, apa yang kamu lakukan? Ohh astaga..” hanya itu yang mampu di katakan Febby saat dirinya mulai menuju puncak kenikmatan yang baru pertama kali ia rasakan.

Randy tersenyum saat melihat ekspresi kenikmatan Febby yang berasal darinya. Membuatnya semakin kesakitan menahan gairahnya,

“Jangan pernah memperlihatkan ekspresi seperti ini di hadapan lelaki lain.” Katanya penuh dengan nada posesif. Lalu diapun mengecupi leher Febby kembali.

“Uugghh.. uugghh..” Desahan demi desahan Febby semakin membuat Randy menggila.

“Apa kamu menggunakan kontrsepsi?” tanya Randy masih dengan mengecupi sepanjang leher jenjang milik Febby. Febby tak bisa menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya pasrah. “Apa kamu, ingin aku menggunakan, pengaman?” taanya Randy lagi dengan suara terpatah-patah.

“Tidak..” Suara Febby terdengaar sedikit kesal dan tertekan oleh kenikmatan yang sedang di rasakan wanita tersebut.

Randy mengangkat wajahnya seketika karena terkejut dengan jawaban Febby. “Tapi… kamu bisa..”

Febby membuka kedua matanya lalu menatap tajam ke arah Randy. “Randy, aku tidak peduli. Yang kuinginkan hanyalah seorang bayi, sekaarang ceepatlah memulainya, atau kamu tidak akan perna memulainya karena aku berubah pikiran.” Ucap Febby dengan nada sedikit kesal.

Randy tersenyum dengan apa yang di katakan Febby, wanita itu terlihat ingin sekali bercinta dengannya dan astaga, itu semakin membuat Randy menegang seakan ingin meledak.

“Baiklah jika itu keinginanmu, bersiaplah, aku akan memulainya, aku akan memasukimu saat ini juga sayang…”

Febby merasakan sesuatu yang keras namun lembut menyentuh pusat diriny. Sebagai dokter Febby  tau jika ini akan terasa sakit mengingat ini adalah pengalaman pertamanya. Astaga, apa Randy akan memperlakukannya dengan kasar? Semoga saja tidak. Batin Febby berbisik. Apa ia haruss mengatakan pad lelaki itu bahwa kini ia masih perawan? Oh yang benar saja, ia tidak akan mengatakannya sebelum Randy mengetahuinya sendiri.

Lalu Febby memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya dan meremas Bed cover yang ada di bawahnya. Astaga.. ini benar-benar menegangkan. Pikirnya lagi.

Randy berusaha sangat keras menyatukan dirinya, namun masih belum bisa. Keringatnya sudah jatuh bercucuran di wajahnya.

“Sialan! Kamu sempit sekali.” katanya kemudian. “Sudah berapa lama kamu tak bercinta?” geramnya.

Ketika Randy masih berusaha menyatuka dirinya, tiba-tiba Randy merasakan sebuah penghalang di antara mereka. Randy menatap tajam ke arah Febby dengan tatapan ngerinya.

“Sial!! Jangan bilang kalau kamu, kamu, masih perawan.” Febby tidak menjawab, dia masih memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya.

Randy mendekatkan wajahnya ke arah Febby.

“Buka matamu.” Ucapnya.

Lalu Febbypun membuka matanya. Menatap Randy seperti apa yang di perintahkan lelaki tersebut. Randy melihat ada ketakutan di dalam tatappan Febby.

“Maafkan aku, ini akan terasa sakit, tapi aku tidak bisa berhenti.” Lalu Randy mulai mencium kembali bibir Febby. Tanpa aba-aba lagi, Randy mulai mendorong kembali, mendesak masuk  dengan lebih keras, merobek penghalang dari penyatuan mereka.

Merekapun akhirnya menyatu dengan sempurna di iringi erangan kesakitan Febby yang sedikit terdengar di antara ciuman panas yang di berikan Randy. Bahkan Febbypun tidak sadar  jika dirinya sudah mencakar lengan Randy.

Randy berhenti mencium Febby, kini dia memeluk erat tubuh Febby sambil sesekali mengecup lehernya tanpa bergerak sedikitpun. Membiasakan Febby dengan dirinya yang kini sudah berada di dalam diri Febby.

Randy membuka matanya melihat Febby masih memejamkan mata karena menahan rasa sakit bercampur dengan gairah, terlihat ada air mata yang turun dari mata Febby. Di raihnya jemari tangan Febby, di tautkannya jari jemarinya dengan jemari Febby.

“Maafkan aku.” Ucap Randy sambil mencium jemari Febby yang masih dalam genggamannya. Febby membuka matanya, melihat ketulusan yang di tampakan oleh Randy, diapun tersenyum lembut dengan kelembutan yang di baru saja di berikan oleh lelaki tersebut..

“Apa aku sudah boleh bergerak?” Febby hanya menganggukkan kepalanya ketika Randy bertanya. “Aku ingin kamu menatapku saat aku melakukannya.” Ucap Randy sambil sedikit menggerakkan tubuhnya dengan lembut.

Pertama Febby merasa tidak nyaman, namun lama-lama gelombang kenikmatan itu muncul kembali, menghilangkan rasa sakit yang tadi menjalarinya. Febby mulai menikmati ritme permainan Randy.

“Sialan! Kamu benar-benar sempit, kamu akan membunuhku.  Oh Sial!!” Randy mulai meracau tak jelas karena kewalahan menghadapi gairah yang ia rasakan. “Sialan!!!” Dia hanya bisa mengumpat, mengumpat dan mengumpat karena kenikmatan tersebut. Febby benar-benar begitu sempit menghimpitnya, dan itu membuat Randy seakan tidak bisa menahan dirinya.

Jari jemari mereka masih bertautan satu sama lain. Randy mulai mempercepat ritmenya ketika merasakan Febby mencengkeramnya dengan erat.

“Ohh, Astaga, astaga…” dan puncak kenikmatan itupun kembali menghantam diri Febby.

Melihat Febby yang sudah mencapai kenikmatan, Randypun makin mempercepat lajunya. “Sialan!” Lagi-lagi Randy mengumpat karena tak dapat menahan gairahnya. Diciumnya kembali Bibir Febby dengan panas saat gelombang kenikmatan itu menghampirinya. Dan.. meledaklah dia di dalam tubuh Febby.

Randy ambruk di atas tubuh Febby saat keduanya masih menikmati pelepasan masing-masing. Deru napas mereka saling bersahutan, detak jantung merekapun menggema di antara sepinya ruangan.

“Brengsek!! Ini benar-benar ‘Wow’.” Randy kembali mengumpat sambil menghela napas panjang.

Febby  memalingkan wajahnya kesamping, ia merasa malu dan canggung dengan posisinya saat ini yang masih sangat intim.

“Kenapa?” Tanya Randy sedikit tersenyum karena melihat Febby yang memerah karena gugup.

Febby hanya menggelengkan kepalanya masih tak sanggup menatap wajah Randy. Randypun menarik dirinya dan berbaring di samping Febby.

“Tidurlah.” Perintahnya.

Febby akhirnya bangun, dan bersiap menuju ke kamarnya.

“Kamu mau kemana?” Tanya Randy sambil meraih pergelangan tangan Febby.

“Aku akan kembali ke kamar.” Jawab Febby yang masih memalingkan wajahnya tidak berani menatap Randy secara langsung.

“Tidurlah disini.” Lalu Randy menarik Febby ke dalam pelukannya. “Bersamaku.” Lanjutnya lagi.

Febbypun menurut walau ia tidak mengerti kenapa sekarang Randy selembut ini terhadapnya. Dan merekapun tidur bersama dengan berpelukan sepanjang malam .

-TBC-

Kyaaaa gimana Hot Partnya??? aku usahakan Fast update yaa…

Sweet in Passion – Chapte 5

Comments 6 Standard

asipSweet in passion

Randy menghela napas dengan kesal. “Baiklah, kalau itu maumu.” Ucap Randy yang kini sudah membuka piyama yang ia kenakan beserta celananya hingga meninggalkannya hanya dengan boxernya saja.

Astaga. Febby terperanjat dengan apa yang di lakukan Randy. Matanya membulat seketika ketika menatap bukti gairah Randy yang menegang di balik boxer yang di kenakan lelaki di hadapannya tersebut. Randy sedang bergairah, Febby tahu itu. Tapi untuk apa lelaki itu melepaskan pakaiannya sekarang ini? Jangan bilang kalau….

“A, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Febby yang kini sudah meringsut ke ujung ranjang dengan tatapan ngerinya.

Tiba-tiba Randy sudah melompat tengkurap tepat di sebelahnya. Dengan seringaian nakalnya, Randy berkata.

“Aku akan tidur.”

Chapter 5

 

Febby mulai panik engan apa yang di lakukan Randy. Di dorong-dorongnya tubuh Randy supaya menjauh dari tempat tidur yang kini mereka baringi.

“Hei, pergi sana, kenapa kamu tidur di sini?” Febby masih saja mendorong-dorong tubuh Randy.

“Aku merindukanmu ayang, aku merindukaanmu.” Goda Randy encoba membuat Febby takut dengan apa yaang ia lakukan. Randy berusaha memeluk Febby sedangkan Febby sendiri masih berusaha meronta dengan tatapan ngerinya.

“Pergi, pergi, apa yaang kamu lakukan?” kali ini Febby memukul-mukul Randy dengan bantal yang ada di dekatnya.

“Hei, Febby. Aku hanya bercanda. Kamu tidak perlu berlebihan seperti itu.” Gerutu Randy sembari mengusap lengannya sendiri yang sedikit sakit karena pukulan-pukulan yang di berikan oleh Febby.

Febby menghentikan aksiya. Napasnya sedikit terengah karena bergulat dengan tubuh Randy yang tentunya lebih besar dari pada tubuhnya.

“Baiklah, kita akan berbagi kamar, tapi aku tidak mau berbagi ranjang.” Ucap Febby kemudian.

“Apa maksudmu?”

Febby menunjuk sebuah ofa yaang lumayan panang  dan seketika itu juga Randy tahu apa yang di maksud oleh Febby. Tidur di sofa? Yang benar saja.

“Maksudmu aku harus tidur di sana? Yang benar saja. Aku tidak mau. Ini kan ranjangku.” Randy berkata dengan penuh keangkuhan.

“Lalu, apa kamu akan memaksa seorang perempuan tidur di atas sofa sedangkan kamu yang laki-laki tidur nyaman di atas ranjang? Huh, dasar, tidak jantan.” Gerutu Febby yang seketika itu juga membuat Randy membulatkan matanya seketika.

“Apa? Apa katamu? Tidak jantan? Apaa kamu ingin meihat bagaimana jantannya diriku?” tanya Randy dengan setengah marah.”

Febby bergidik ngeri ketika tahu apa yang di maksud dengan Randy.

“Dalam mimpimu tuan, lebih baik pergi sana, aku benar-benar tidak ingin satu ranjang denganmu.”

Randy menghela napas dengan kasar. Mau tidak mau ia harus mengalah. Lagi pula, ia tidak akan mungkin tidur berdua di atas ranjang dengan Febby malam ini. Oh yang benar saja. Kejantanannya seak tadi tidak berhenti berdenyut nyeri, mungkin jika Febby menggodanya, ia akan meledak saat itu juga. Lebih baik ia mengalah sebelum tubuhnya lepas kontrol.

“Baiklah. Nikmati tidur indahmu tuan puteri.” Ucap Randy setengah kesal dengan menarik sebuah bantal untuk di bawanya ke sofa yang tadi di tunjuk oleh Febby.

Febby sendiri hanya mampu tesenyum penuh dengan kemenangan. Ia sedikit tidk menyangka jika Randy aan mengalah dengannya.

Febby akhirnya memposisikan dirinya untuk tidur senyaman mungkin. Ia bahkan tidak mempedulikan Randy yang meringkuk dengan gelisah di atas sofa.

Berkali-kali Randy mengucapkan sumpah serapahnya karena kesakitan menahan gairahnya. Belum lagi sofa yang di tempatinya sama sekali tidak membantu karena panjangnya tidak lebih dari selutut Randy, hingga membuat Randy tidur meringkuk melipat lutunya. Randy yakin jika besok pagi ia akan bangun dalam keadaan pegal-pegal. Ahh sial!!!.

***

Paginya…

Febby merasakan sebuah lengan kekar melingkari pinggangnya. Ia merasa nyaman karena merasakn sesuatu yang hangat menempel tepat di elakang puggungnya, sesuatu yaang mirip dengan dada bidang seseorang. Rasanya nyaman, nyaman, dan hangat. Dengan spontan Febby menggeliat, seakan mencari-cari kehangatan dari sesuatu yang menempel tepat di belakangnya tersebut.

“Uugghh, jangan menggeliat terus, sayang. Kamu akan membangunkan sesuatu.” Febby mendengar suaraa parau nan seksi tepat di belakangnya, kemudian ia juga merasakan sesuatu yang basah menempel pada kulit lehernya, membuatnya sedikit merinding karena sentuhan tersebut.

Seketika utu juga, mataa Febby terbuka lebar-lebar. Ia sadar sepenuhnya jika kini ada seseorang yang sedang memeluknya dari belakang.

Febby akhirnya menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Randy yang masih tidur dengan memeluk pinggangnya.

“HEIII… APA YANG KAMU LAKUKAN??!!” Teriak Febby yang seketika itu juga membuat Randy terbangun dan menutup kedua telingannya.

“Apa kamu bisa berhenti berteriak? Ini masih pagi tahu!”  seru Randy sesekali mengusap teliganya yang tidak berhenti berdengung karena teriakan Febby.

“Kenapa kamu bisa tidur di sini, Huh?”

“Kenapa baagaimana? Kamu pikir aku bisa tidur di sofa kecil itu semalaman? Yang benar saja.”

“Jadi kamu pindah kesini sejak tadi malam?”

“Tentu saja.” Jawab Randy dengan cuek.

“HEII, DASAR!!!” Febby kembali berteriak tapi kemudian dengan spontan Randy membungkam mulut Febby lalu menerjang tubuh wanita tersebut hingga kini Febby berada tepat di bawah tindihan Randy. Febby ingin berteriak tapi tak bisa karena telapak tangan Randy membungkamnya.

“Aku akan melepaskan tanganku kalau kamu berhenti berteriak.” Ucap Randy. Febby akhirnya hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dan Randypun akhirnya melepaskan bungkaman tangannya.

“Kamu benar-benar gila! Apa yang kamu lakukan di atasku?” Febby mendesis tajam karen menahan amarahnya.

Randy hanya mengangkat sebelah alisnya dengan melemparkan tatapan penuh arti pada Febby. Tak lupa Randy juga menampilkan senyuman mengejeknya pada wanita tersebut.

Tiba-tiba Febby sadar jika dirinya merasakan sesuatu yang mengganjal dan berdenyut di bawah sana.

“Apa itu? Hei…. kamu benar-benar menijikkan!” seru Febby.

“Setiap pagi memang seperti itu.” Jawab Randy dengan tersenyum menyeringai.

“Heii, pergi dari sini, apa yang kamu lakukan di atasku, pergi…” gertak Febby dengan sesekali memukul-mukul dan mendorong dada bidang Randy. Secepat kilat tangan Randy menyambar pergelangan tangan Febby kemudian memenjarakannya di atas kepala Febby.

“A, apa yang akan kaamu lakukan?” Febby benar-benar gugup dengan kedekatannya bersama Randy.

“Apa kamu takut?” pertanyaan Randy di sertai dengan seringaian nakalnya.

“Tentu saja tidak!!” Seru Febby.

“Baiklah.”

“Baiklah ap…” Febby tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena Randy tiba-tiba saja sudah menyerang bibirnya. Pertama, yang Febb lakukan hanyalah menolak, menolak dan menolak, tapi kemudian ketika di rasakannya ciuman Randy semakin lembut dan menuntut, akhirnya Febby luluh juga. Ia mulai tergoda, kemudian sedikit demi sedikit membuka bibirnya serta membalas ciuman Randy.

Febby membuka sedikit bibirnya, membiarkan lidah Randy menelusuk masuk ke dalam kemudin bertautan dengan lidahnya. Oh, keduanya ssesekali mengerag satu sama lain karena terpancing oleh gaairaah yang tiba-tiba saja terbangun.

Posisi keduanya sangat intim, dengan randy yang berada tepat di atas tubuh Febby dan mencengkeram kedua pergelangan tangan Febby.

Randy kemudian melepaskan cengkeraman tangannya ketika ia merasakan Febby membalas ciumannya. Dengan spontan Febby mengalungkan lengannya pada leher Randy, jemarinya sesekali meremas-remas rambut coklat gelap milik suaminya tersebut. Sedangkan jemari Randy sendiri entah sejak kapan sudaah menelusup maasuk ke dalam lingerie yang di kenakan Febby.

Jemari Randy masih terus menjelajahi kulit halus milik istrinya tersebut, kemudian ia berhenti pada kedua gundukan yang terasa kenyal tepat pada dada Febby.

“Kamu sangat seksi.” Bisik Randy dengan suara paraunya. “Aku ingin, aku ingin memasukimu saat ini juga.” Perkataan erotiss Randy membuat bulu-bulu halus d tengkuk Febby meremang.

“Lakukanlah…” Desah Febby yang sudah tidak tahan dengan dengan rasa aneh yang ini ia rasakan.

Randy terkejut. Ia pikir Febby akan menolaknya mentah-mentah, tapi di luar dugaan, Febby malah mengijinkan dirinyaa untuk menyentuh wanita tersebut.

“Apa kamu yakin?” tanya Randy yang masih sedikit tidak  percaya.

“Tentu saja!! Cepat lakukanlah  sebelum aku berubah pikiran.” Mata Febby sesekali terpejm menhan kenikmatan yang seakan menjalar di sekuur tubuhnya.

Secepat kilat Randy meembuka lingerie yang di kenakan Febby. Dan tampaaklah Febby yang hanya mengenakaan pakaian dalamnya saja.

“Sangat indah.” Randy susah payah mengucapkan dua kata tersebut dengan sesekali menelan luahnya.

Randy akhirnya mulai menjalankan aksinya. Mula-mula ia mengecupi wajah Febby dengan kecupan-kecupan kecil menggoda, dari kening, mata, hidung, pipi, dan ketika sampai di bibir wanita terssebut, Randy menggodanya.

“Sialan!! Kamu sangat manis.” Bisik Randy parau di tengah-tengah cumbuannya pada bibir Febby. Randy kembali menjalankan aksinya. Cumbuannya turun ke area leher Febby, memberikan gigitan-gigitan kecil di sana, sesekali membuat tanda kepemilikan di sana.

Sebelum Randy turun kebawah lagi, Randy kembali mencumbu bibir Febby kemudian bertaanya sekali lagi dengan wanita tersebut.

“Apa kamu benar-benar yakin? Jik aku sudah turun, aku tidak bisa menghentikannya.”

“He’um.” Hanya itu jawaban dari Febby.

Randy kembali melumat bibir ranum Febby sebelum bersiap melanjutkan aaksinya untuk mencumbui sekujur tubuh istrinya tersebut. Tapi ketika ia akan bergerak turun, pintu kamar merekaa tiba-tiba terbuka dari luar.

“Om, tante.” Suara anak kecil itu memaksa keduanya menghentikan aksinya lalu menolehkan kepalanya masing-masing ke arah sura tersebut. Dan tampaklah Rocky, keponakannya yang nakal itu sedang berdiri ternganga di ambang pintu.

“Hei, apa yang kamu lakukan di sini jagoan? Kamu akan meng…nggang….nggu…” Andrew, sang aayah Rocky yang menyusul Rocky di belakang bocah tersebutpun ikut tercengang melihat Randy dan Febby yang saat ini masih pada posisi intim mereka. “Apa yang sedang kalian lakukan?” dengan spontan Andrew bertanya.

Randy yang masih mengenakan celana piyamanya akhirnya berdiri, sedangkan Febby, dengan wajah yang sudah meraah padam karen malu, ia menarik selimutnya untuk menutupi sekujur tubuhnya yang sudah setengah telanjang.

“Apa yang kalian lakukan? Harusnyaa aku yang bertanya, apa yang kalian lakukan di sini? Mengganggu saja.” Gerutu Randy yang kini sudah berdiri tepat di hadapan Andrew dan puteranya.

Andrew tertawa lebar. “Hahahaha, setidaknya pastikaan pintumu terkunci. Ingat, di rumah ini masih ada anak kecil.”

“Kalian saja yang terlalu usil.” Randy msih saja menggerutu kesal.

Randy baru ingat, tadi maalam ketika ia susah tidur karena gelisah, dirinya beranjaak ke dapur untuk mengambil air minum. Namun ketika kembali masuk ke dalam kamarnya, Randy lupa untuk mengunci pintunya, ia hanya berjalan dengan santai menuju ke arah ranjang dan tidur tepat di sebelah Febby. Ahh sialan, ini semua karena keteledorannya sendiri.

“Hei, apa lagi yang kalian tunggu, cepat pergi dari sini.” Perintah Randy.

“Lo bener-bener ngusir kami?” goda Andrew.

“Haish, benar-benar. Cepat pergi atau ku tendang pantatmu dari sini.”

“Ayah, apa yang di lakukan Om Randy dan tante tadi?” dengan polosnya Rocky bertanya pada sang ayah, daan itu membuat Randy sekaligus Andrew saling pandang sebentaar kemudian terkikik geli bersama.

“Rocky, Om akan memberikan kamu seorang adik kecil.” Andrew berkata tanpa menghilangkan tawa di wajahnya.

“Hei, hei, hei, apa yang Lo bilang sama dia? Cepat bawa iblis cilik ini pergi dari kamarku.” Ucap Randy sembari mengangkat tubuh mungil Rocky lalu menurunkannya sedikit lebih jauh dari pintu kamarnya.

“Hahahha Lo sudah sangat tegang?” goda Andrew.

“Gue nggak peduli, Lo sialan!” umpat Randy yang di sertai dengan menutup pintu kamarnya kemudian menguncinya.

Ketika Febby mendengar pintu kamarnya tertutup, seketika ia bangung kemudian meraih kimono tidu yang tadi malam ia kenakan. Febby bangkit lalu mengenakan kimono tersebut tanpa mmperhatikaan Randy yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan anehnya.

“Hei, kamu mau kemana?” tanya Randy ketika melihat Febby yang berjalan melewatinya.

“Mandi.” Jawab Febby dengan cuek.

“Mandi? Jadi kita tidak melanjutkan yang tadi?”

“Apa kamu gila? Tentu saja tidak.”

“Kalau begitu aku ikut mandi denganmu.”

“Tidak!” seru Febby. “Kamu benar-benar menjijikkan.” Dengan cepat Febby menutup pintu kamar mandi tepat di hadapan Randy.

“Menjijikka? HEIII…. PEREMPUAN SIALAN…CEPAT BUKA PINTUNYA..” Randy berteriak nyaring karena frustasi dengan tingkah Febby, belum lagi pangkal pahanya yang tidak berhenti bedenyut nyeri karena ingin di puaaskan.

Febby membuka pintu kamar mandi sedikit kemudian berkata dengan datar. “Apa kamu bissa berhenti berteriak? Ini masih pagi, tahu.” Febby mengulang kata-kata tadi yang di ucapkan Randy padanya lalu menutup kembaali pintu kamar mandi. dan meninggalkan Randy yang hanya ternganga dengan apa yang di lakukan istrinya tersebut.

“Apa dia bilang? Haisshh, benar-benar membuatku gila.” Gerutu Randy pada dirinya sendiri sembari mengacak-acak rambutnya.

***

Sudah hampir seminggu kejadian pagi itu berlalu. Febby tidak berhenti memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya paagi itu. Bagaimana mungkin ia hampir saja tergoda dengan seorang Randy? Pria dengan kemesuman tingkat tinggi. Febby tidak mengerti, tapi dia cukup sadar jika ada sesuatu di dalam diri Randy yang membuat lelaki itu mampu mempengaruhinyaa, membuatnya panas, hingga saat mengingatnya saja pipi Febby tidak bisa berhenti bersemu merah. Oh yang benar saja.

Kini, Febby semakin takut ketika harus berdua ssaja dengan Randy. Akhirnya ia memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit lebih pagi dari sebelumnya dan pulang lebih malam dari sebelumnya. Ia hanyaa ingin menghinari Randy, berkomunikasi sedikit mungkin dengan lelaki itu, karena Febby sadar, jika berada di dekat Randy kini membuat tubuhnya seakan terpancing oleh sesuatu yang ia sendiri tidak tahu itu apa.

Untung saja Randy juga sedang sibuk dengan pekerjaannyaa, jadi itu memudahkan Febby untuk menghindari lelaki terssebut.

Bunyi telepon di dalam ruangannya membuat Febby tersadar dari lamunannya. “Halo.” Sapa Febby.

“Ada seseorng yang ingin bertemu dengn anda, dokter.”

“Pasien kah?”

“Bukan Dok, Uum, itu..”

“Suruh saja masuk ke dalam ruanga saya.” Jawab Febby sedikit enggan lalu menutup teleponnya. Ah, siapa lagi yang akan menemuinya?

Setelah telepon di tutup, Febby kembali dalam pikirannya. Bagaimana jika yang datang itu Randy? Randy? Ah, mana mungkin. Lelaki itu tentu sangat sibuk. Lagi pula jika ia ke rumah sakit ini tentu akan timbul kehebohan karena hampir seluruh staf wanita di rumah sakit ini mengidolakan suaminya tersebut. Tapi bagaaimana jika itu benaar-benar Randy? Bagaimana cara dirinya untuk menghadapi suaminya tersebut?

Dan pada saat pikirannya panuh dengan berbagai macam pertanyaan, pintu ruangannya di ketuk.

Febby menghela napas panjang sembari berkata “Masuk.” Namun ketika pintu tersebut di buka, Febby kembali menegang ketika mendapati orang di balik pintu tersebut adalah orang yang baru saja melintasi pikirannya.

“Kamu?” Febby berkata dengan spontan tanpa menghilangkan ekspresi terkejut di wajahnya.

“Iya, ini aku. Kenapa? Kamu kaget kalau aku datang kemari?” tanya Randy dengan sedikit cuek.

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Aku hanya ingin mengajak istriku makan malam. Aku merindukannyaa.” Randy berkata sambil melemparkan tatapan mengejeknya dengan sedikit menggoda Febby.

“Apa? Istri? Dan apa katamu? Merindukan? Jangaan sembarangan bicara, Randy.” Febby berusaha mengelak dengan memberi jawaban setegas mungkin, tapi nyatanya wajahnya tidak bisa berbohong kalau kini dirinya sedang malu-malu dengan rona merah di pipinya.

“Sembarangan bicara bagaimana? Kamu memang istriu, dan aku merindukanmu setelaah kemesraan panas kitaa pagi itu..” dan Febby semakin gugup di buatnya ketika Randy menyebut kaata ‘pagi itu.’

“Hei, jangan bahas itu lagi! Kamu benar-benar menyebalkan.”

“Terserah apa kataamu, yang penting sekarang ayo temani aku makan malam, cepat.” Perintah Randy sembari menarik lengan Febby.

“Aku tidak bisa, bagaimana nanti kalau aku ada pasien?”

“Jam kerjamu sudah selesai dua jam yang lalu. Jadi kamu jangan membohongiku lagi.”

“Aku tidak penah membohongimu.”

“Benarkah? Kamu pikir aku tidak tahu kalau beberapa hari terakhir kamu sengaja menjauhiku? Kenapa Febby? Apa karena kamu gugup berdekatan denganku? Karena pagi itu kita hampir bercinta?”

“Tidak!! Jaangaan baahas tentang pagi itu.”

“Aku tidak peduli. Pokoknya kamu harus ikut aku makan malam. Ada yang ingin ku rundingkan denganmu.” Pungkas Randy tanpa bisa di ganggu gugat.

***

“Uugghh.. uugghh..” Desahan demi desahan Febby semakin membuat Randy menggila.

“Apa kamu menggunakan kontrsepsi?” tanya Randy masih dengan mengecupi sepanjang leher jenjang milik Febby. Febby tak bisa menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya pasrah. “Apa kamu, ingin aku menggunakan, pengaman?” taanya Randy lagi dengan suara terpatah-patah.

“Tidak..” Suara Febby terdengaar sedikit kesal dan tertekan oleh kenikmatan yang sedang di rasakan wanita tersebut.

Randy mengangkat wajahnya seketika karena terkejut dengan jawaban Febby. “Tapi… kamu bisa..”

Febby membuka kedua matanya lalu menatap tajam ke arah Randy. “Randy, aku tidak peduli. Yang kuinginkan hanyalah seorang bayi, sekaarang ceepatlah memulainya, atau kamu tidak akan perna memulainya karena aku berubah pikiran.” Ucap Febby dengan nada sedikit kesal.

Randy tersenyum dengan apa yang di katakan Febby, wanita itu terlihat ingin sekali bercinta dengannya dan astaga, itu semakin membuat Randy menegang seakan ingin meledak.

“Baiklah jika itu keinginanmu, bersiaplah, aku akan memulainya, aku akan memasukimu saat ini juga sayang…”

TBC-

Sweet in Passion – Chapter 4

Comments 4 Standard

fh1-copySweet in Passion

Banyak Typo!!!

Sial!! Jika saat ini si Alvin yang kembali meneleponnya, maka Randy akan menyumpahi temannya itu impoten seumur hidup. Benar-benar merusak suasana.

Tapi kemudian Randy mengernyit ketika mendapati nomor rumah keluarganya yang sedang menghubunginya. Ah, ini pasti ibunya. Ada apa lagi??

“Halo, Ma?” Randy mengangkat telepon tersebut sesekali melirik ke arah Febby yang sedang sibuk membenarkan tatanan rambutnya. Ahh benar-benar sial, Febby terlihat nikmat untuk di santap. Pangkal pahanya kembali berdenyut saat membayangkan bayangan erotis bersama dengan Febby.

“Randy, cepat ke sini, ada kak Mira dan suaminya di sini, jangan lupa ajak Febby.”

“Iya, Randy segera ke sana Ma, kebetulan ini sedang bersama Febby di jalan.”

Kemudian telepon di tutup. Randy melirik ke arah Febby yang sudah menundukkan kepalanya dengan wajah yang sedikit terlihat bersemu merah.

“Ibu menyuruh kita ke sana sekarang juga.”

Walau tak ada yang bertanya, Randy berkata seakan memberikan jawaban untuk Febby. Dan Febby hanya bisa diam dan menganggukkan kepalanya. Ahh, entah kenapa suasanya di sekitar mereka terasa sedikit canggung saat ini. Dan kecanggungan tersebut benar-benar membunuh keduanya.

 

***  

Chapter 4

 

Randy mulai memparkirkan mobilnya di halaman sebuah rumah yang sangat mewah, itu adalah rumah keluarga besar Prasaja. Ketika turun dari mobil, ia sudah di sambut oleh pelukan seorang anak laki-laki yang usianya sekitar Lima tahun. Dia adalah Rocky, keponakannya, putera dari kakak perempuannya yang bernama Mira.

“Om Randy, Rocky kangen sama Om.” Celoteh bocah lima tahun tersebut.

“Hei, kamu ngapain di sini?” Ucap Randy yang kini sudah menggendong Rocky dalam gendongannya.

“Jadi seperti itu caramu menyambut keponakanmu?” Suara itu memaksa Randy mengangkat wajahnya dan mendapati kakak perempuannya sudah berdiri di ambang pintu dengan berkacak pinggang.

“Selamat siang kak.” Sapa Febby sopan dengan Mira.

“Siang Febb, ayo masuk.” Ajak Mira dengan ramah. Sedangkan Febby hanya menganggukkan kepalanya.

“Kakak ngapain sih kemari?”

“Ngapain? Aku ngunjungin mama lah, lagian kamu yang paling dekat nggak pernah kemari, apa nggak malu sama aku yang jauh datang ke sini?”

“Kak Mira tentu tahu kalau aku sangat sibuk.”

“Setidaknya luangkan sedikit waktumu, adik kecil.”

“Hei, kita sudah sepakat kalau kakak nggak akan manggil aku dengan panggilan sialan itu.” Gerutu Randy dengan nada kesalnya. Ya, ia memang tak suka di panggil dengan panggilan adik kecil. Sedangkan Febby hanya mampu tersenyum melihat tingkah kedua bersaudara tersebut.

Mereka masuk ke dalam rumah dan di sambut ramah oleh Nyonya Prasaja, ibu dari Randy dan juga Mira.

“Kalian sudah datang? Ayo, kita makan siang bersama.” Ajak Nyonya Prasaja.

Randy menuju ke arah meja makan, kemudian duduk tepat di sebelah seorang lelaki yang memang sejak tadi berada di sana. Itu Andrew, suami dari Mira.

“Apa kabar Kak.” Sapa Randy dengan nada yang di buatnya ramah.

“Baik, kamu sendiri?”

Randy mengangkat kedua bahunya. “Lebih dari baik, Kak.”

“Sialan!!!”

Kemudian keduanya tertawa lebar bersama sembari melakukan tos ala anak muda. Randy dan Andrew memang berteman baik dulunya. Dan Randy benar-benar tak menyangka, jika temannya itu kini menjadi kakak iparnya. Randy bahkan sering menggoda Andrew dengan memanggilnya ‘kakak’ dan bersikap seformal mungkin. Padahal Andrew tahu jika Randy hanya menggodanya seperti saat ini.

Andrew memiliki usia Tiga tahun lebih mudah daripada Mira. Keduanya sama-sama mejadi korban perjodohan kolot keluarga masing-masing. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, keduanya bisa menerima satu sama lain bahkan kini saling mencintai satu dengan yang lainnya.

“Febby, sini sayang.” Ucap Nyonya Prasaja. Dan Febby akhirnya mendekati ibu mertuanya tersebut. “Kamu suka makan apa? Mama belum tahu makanan kesuakaan kamu, jadi semoga kamu mau memakan masakan mama ini ya.”

Febby tersenyum dengan kelembutan yang di berikan oleh Ibu Randy.

“Saya suka memakan apa saja, Ma.”

“Ya, itu karena dia rakus Ma.” Randy ikut menyahut dan mendapat hadiah pelototan dari Febby.

Andrew menyikut siku Randy dan bertanya. “Hei, sejak kapan lo dekat sama dia?”

“Apa?” Randy bingung dengan pertanyaan Andrew.

“Jangan pura-pura, gue tahu kalau selama ini hubungan kalian tidak berjalan baik, jadi, sejak kapan kalian saling bertegur sapa bahkan saling ejek seperti saat ini?”

“Bukan urusan lo.” Jawab randy dengan cuek.

“Atau, jangan-jangan kalian sudah melakukannya.”

Meski di ucapkan dengan nada berbisik, perkataan Andrew benar-benar mengejutkan untuk Randy hingga membuat Randy tersedak bahkan terbatuk-batuk.

“Hahahhaha lo bener-bener sudah ngelakuin itu?” Andrew masih saja meledek Randy dan itu benar-benar membuat Randy kesal.

“Dasar kakak ipar mesum!!” Randy berkata pada Andrew dengan nada mengumpat, sedangkan Andrew sendiri tak berhenti tertawa melihat kelakuan Randy.

***

Malamnya…

Setelah makan malam bersama, mereka berkumpul di ruang keluarga. Andrew dan Mira sesekali bercerita tentang pekerjaannya yang dan tempat tinggalnya yang kini berada di Balikpapan. Begitupun dengan Nyonya Prasaja yang sesekali bercerita pengalamannya ketika mengunjungi beberapa saudaranya yang berada di Bali dan juga di Palembang.

Setelah puas bertukar cerita, Febby kemudian menyikut lengan Randy, ia ingin mengajak Randy pulang karena besok ia harus kerja, Randy akhirnya mengerti apa yang di maksud Febby dan mulai berpamitan dengan ibunya.

“Ma, sudah malam, Randy dan Febby mau pamit pulang dulu.”

“Tidak, lebih baik kalian menginap di sini malam ini.”

“Apa? Menginap?” Febby dan Randy tanpa sadar mengucapkan dua kata tersebut dengan bersamaan karena sama-sama terkejut.

“Iya, mumpung Mira dan suaminya menginap di sini, mama juga ingin kalian menginap di sini supaya besok kita bisa berkumpul bersama seperti keluarga besar.” Nyonya Prasaja mengatakan pendapatnya.

“Tidak bisa Ma, kami tidak bisa menginap di sini, memangnya kami akan tidur di mana?” Randy masih saja menolak, ia tentu tidak ingin sekamar dengan Febby mengingat ciuman panas mereka tadi siang.

“Tentu saja kalian berdua nanti akan tidur di kamarmu yang dulu, ibu selalu merapikannya meski kamu tidak pernah main ke sini lagi.”

“APA????” lagi-lagi tanpa sadar Febby dan Randy mengucapkan kata tersebut dengan bersamaan. Menginap bersama dan sekamar? Astaga, yang benar saja.

“Emm, Ma, besok saya akan berangkat kerja pagi, jadi saya tidak mungkin menginap di sini malam ini.” Ucap Febby cepat.

“Ya, Ma, Randy besok juga ada syuting pagi.” Sahut Randy ceepat. Ia ingin mendukung Febby. Tentu saja ia tak ingin hanya berduaan dengan Febby malam ini, mengingat ciuman panas mereka tadi siang akan membuat Randy kembali menginginkan Febby.

“Tidak bisa, kalian harus tetap menginap. Ibu akan menelepon semua orang yang akan menangani pekerjaan kalian hingga kalian bisa berangkat siang besok, atau bahkan cuti sehari.” Perintah Nyonya Prasaja benar-benar tak dapat di ganggu gugat. Randy maupun Febby tentu tak dapat lagi menolak permintaan wanita paruh baya tersebut.

“Febby, kamu tentu tidak membawa baju tidur kan? Kamu bisa minta tolong dengan kak Mira, Kak Mira pasti mau meminjamkan sebuah baju tidurnya untuk kamu.”

Mira tersenyum miring. “Tentu saja Ma, aku akan meminjamkan baju tidur terbagus untuk Febby.” Ucap Mira sambil melirik ke arah Randy.

Sedangkan Randy hanya bisa menggerutu dalam hati. Oh benar-benar sial, ini akan menjadi malam terpanjang untuknya. Semoga saja kejantanan sialannya tidak membuat ulah malam ini. Sial, benar-benar sial.

***

“Kak, aku nggak mungkin pakai baju ini.” Ucap Febby sembari menatap bayangannya yang seksi pada cermin di hadapannya. Saat ini Febby sedang mengenakan lingerie seksi milik Mira.

“Lalu, kamu tetap akan mengenakan jas doktermu itu untuk tidur? Ayolah, jangan menyebalkan. Ini tidak terlalu seksi dan sangat cocok untuk wanita dewasa yang sudah bersuami seperti kita.” Ucap Mira dengan sedikit terkikik.

“Tapi aku tidak terbiasa kak, apa Kak Mira tidak memiliki piyama biasa atau sejenisnya?”

“Apa? Piyama? Kamu masih menggunakan piyama saat tidur? Astaga, kapan-kapan kita harus belanja bersama. Aku akan mengajarimu berpakaian seksi di depan suami, aku yakin adikku yang bodoh itu akan meneteskan air liurnya saat melihatmu berpakaian seperti seleraku.”

Tiba-tiba sekelebat bayangan muncul dalam pikiran Febby saat Randy sangat ingin memilikinya ketika ia mengenakan baju seksi setengah telanjang. Dengan cepat Febby menggelengkan kepalanyaa.

“Tidak, tidak. Emm, cukup seperti ini saja kak, aku tidak ingin selalu memakai baju seksi.” Ucap Febby cepat dengan sedikit bergidik ketika membayangkan bayangan erotis dirinya dengan Randy.

“Baiklah, sekarang cepat pergilah ke tempat suamimu, dia pasti sudah menunggumu.” Ucap Mira dengan sedikit mengusir Febby.

“Tapi kak, ummm…” Febby sendiri masih terlihat enggan keluar dari kamar Mira dengan mengenakan pakaian yang sangat tipis, bahkan hampir mendekati transparan, dan membuat bagian tubuhnya sedikit terlihat lebih jelas.

Melihat Febby yang tak kunjung keluar, Mira hanya dapat menghela napas panjang. Febby pasti tak terbiasa mengenakan pakaian itu. Terlihat jelas jika wanita itu malu-malu bahkan pipinya sampai merona merah.

“Hei, mau sampai kapan kamu di kamarku? Aku juga mau tidur tau. Haisss, anak ini benar-benar.” Gerutu Mira. Mira kemudian mengambil sebuah kimono lalu memberikannya pada Febby. “Kalau kamu malu, pakai itu untuk keluar.” Kata Mira lagi.

“Terimakasih kak.” Ucap Febby yang di jawab dengan anggukan oleh Mira. Akhirnya Febby mengenakan kimono pemberian Mira lalu segera bergegas keluar dari kamar kakak iparnya tersebut.

***

Di dalam kamar.

“Kamu lama sekali. Apa yang kamu lakukan di kamar Kak Mira?” Randy bertanya setengah marah terhadap Febby karena ia tidak suka menunggu. Menunggu? Memangnya ia menunggu untuk apa?

Febby sendiri hanya masuk dan tidak menghiraukan seruan Randy.

“Kamarmu nyaman, dan terlihat seperti orangnya.” Febby malah berkomentar tentang kamar Randy ketika ia memperhatikan seluruh isi kamar tersebut.

Kamar tersebut di dominasi warna hitam dan coklat kayu, hingga membuatnya terlihat maskulin. Di dalamnya juga terdapat beberapa buku, di rak di ujung ruangan, penghargaan Awards yang di dapatkan Randy, serta barang-barang antik lainnya. Tanpa sadar kaki Febby menelusuri semua itu dengan tatapan kagumnya. Ia suka dengan nuansa di dalam kamar tersebut.

Randy mengikuti Febby tepat di belakang wanita tersebut. Ia mengerutkan keningnya.

“Seperti orangnya? Apa maksudmu?”

“Kamar ini terlihat sangat maskulin, dan sedikit seksi.” Tanpa sadar Febby mengucapkan kalimat tersebut.

“Apa? Seksi dan maskulin?”

Febby baru sadar jika sejak tadi Randy berjalan tepat di belakangnya. Ia terkejut ketika membalikkan badan dan mendapati Randy yang sudah berdiri sangat dekat di belakanynya.

“Kamu, kamu mau apa?” Febby tidak memungkiri jika dirinya sedikit gugup dengan kedekatannya bersama Randy. Dengan spontan ia merapatkan kimono yang di kenakannya dengan sedikit menundukkan kepalanya.

Randy yang melihat Febby sedikit salah tingkah akhirnya memiliki ide gila untuk menggoda wanita di hadapannya tersebut.

“Tidak, aku hanya ingin tahu apa yang kamu kenakan di balik kimono itu.” Dengan sedikit tersenyum, Randy menggoda Febby. Randy berjalan mendekati Febby, sedangkan Febby berjalan mundur menjauhinya. Akhirnya Randy berinisiatif untuk memegang kedua bahu Febby.

Febby sendiri merasa merinding dengan sentuhan tangan Randy. Ia lalu menampik tangan Randy dan berteriak pada lelaki tersebut.

“Apa yang akan kamu lakukan?!”

“Hahahah kamu tidak perlu marah-marah, aku juga tidak tertarik denganmu.” Ucap Randy dengan tawa mengejeknya.

“Apa? Benarkah? Baiklah, kita lihat saja nanti.” Febby benar-benar tersinggung dengan apa yang di ucapkan Randy akhirnya berkacak pinggang, lalu di bukannya kimono yang ia kenakan dengan gerakan menggoda layaknya perempuan nakal di film-film yang pernah ia tonton.

Mata Randy membulat seketika saat melihat apa yang di kenakan Febby dari balik kimononya. Febby mengenakan sebuiah Lingerie berenda yang amat sangat tipis. Bahkan saking tipisnya, bayangan pakaian dalam Febby yang berwarna hitam sangat terlihat jelas dari mata Randy. Bemum lagi potongan Lingerie tersebut yang benar-benar menggugah gairah siapa saja yang melihatnya. Lingerie itu memiliki dua tali tipis di pundak Febby, belahan dada yang sangat rendah, serta panjangnya yang jauh di atas lutut, membuat Febby terlihat begitu seksi di matanya.

Randy menelan ludahnya dengan susah payah. Yang di bawah sana sudah berdenyut minta untuk segera di bebaskan. Matanya seakan tak ingin berkedip melihat pemandangan di hadapannya. Randy lalu melihat Febby mulai berjalan menuju ke tempat tidur. Febby terlihat sengaja sedang menggodanya dengan berbaring miring menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya mirip sekali dengan wanita-wanita penggoda di dalam film-film dewasa.

Astaga, Randy bisa meledak saat ini ju8ga jika Febby tidak berhenti berpose layaknya wanita penggoda.

“A, apa yang kamu lakukan?” Tanya Randy dengan setengah tergagap karena menahan gairah yang seakan ingin meledak dari dalam dirinya.

“Aku mau tidur.” Jawab Febby dengan santai di sertai dengan senyuman menggodanya.

“Apa? Dalam keadaan genting seperti ini, kamu bisa memikirkan untuk tidur?”

“Genting? Genting kenapa? Lalu, memangnya aku harus apa?” Febby bertanya dengan mimik wajah yang di buatnya polos. Ia sungguh tak dapat menahan senyumannya. Ia tahu, jika dirinya sudah berhasil menggoda laki-laki bodoh yang hanya memikirkan kejantanannya itu.

Randy menghela napas dengan kesal. “Baiklah, kalau itu maumu.” Ucap Randy yang kini sudah membuka piyama yang ia kenakan beserta celananya hingga meninggalkannya hanya dengan boxernya saja.

Astaga. Febby terperanjat dengan apa yang di lakukan Randy. Matanya membulat seketika ketika menatap bukti gairah Randy yang menegang di balik boxer yang di kenakan lelaki di hadapannya tersebut. Randy sedang bergairah, Febby tahu itu. Tapi untuk apa lelaki itu melepaskan pakaiannya sekarang ini? Jangan bilang kalau….

“A, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Febby yang kini sudah meringsut ke ujung ranjang dengan tatapan ngerinya.

Tiba-tiba Randy sudah melompat tengkurap tepat di sebelahnya. Dengan seringaian nakalnya, Randy berkata.

“Aku akan tidur.”

-TBC-

Anggep aja Andrew di sini sama dengan Andrew di cerita Elena.. hahahhahaha hadehhh saya kekurangan nama. lain kali bantu saya cari nama yakkkk mhueehehheheh

Sweet in Passion – Chapter 3

Comments 10 Standard

fh1-copySweet in Passion

Im Sorry dear, kalo aku labil.. hahahhah Full House kini ganti judul menjadi Sweet in Passion. wakakkakakak gak tau lah, pengen ganti aja.. hahhahahah okay, happy reading..

Dengan cepat Randy mendorong tubuh Febby lalu menghimpitnya diantara dinding. Ia bahkan memenjarakan kedua tangan Febby dengan tangannya. Menempelkan seluruh tubuhnya pada tubuh Febby tak terkecuali tubuh bagian bawahnya yang kembali berdenyut saat melihat Febby.

“Itu menjadi urusanku, Kamu istriku.” Ucap Randy penuh penekanan.

Febby hanya mampu membulatkan matanya seketika. Ia tak menyangka jika Randy akan memperlakukannya seperti ini, berbicara seakan menunjukkan kepemilikan atas dirinya. Istri??? Yang benar saja.

***

Chapter 3

 

“Itu menjadi urusanku, kamu istriku.”

Mendengar itu, kekesalan Febby seakan sudah memuncak di kepalanya. Dengan spontan Febby menendang pangkal paha Randy dengan lututnya hingga membuat Randy berteriak sembari meringis kesakitan.

“Hei, apa yang kamu lakukan, sialan!!!”

“Istri? Sejak kapan kamu menganggapku sebagai istri? Dan ayolah, sejak kapan kamu peduli dengan apa yang sedang ku lakukan?”

“Jangan banyak bertanya, yang penting kita pulang sekarang juga.” Ucap Randy sambil kembali mencengkeram pergelangan tangan Febby.

“Aku tidak mau.” Febby menghempaskan cekalan tangan Randy, tapi Randy semakin mempererat cekalan tangannya.

“Dengar, apa kamu nggak takut kalau kamu kepergok wartawan saat jalan dengan pria lain?”

“Tidak, aku bukan artis jadi aku tidak perlu takut.”

“Tapi kamu istri seorang artis, kamu bisa membahayakan karirku.”

“Oh ya? Ku pikir karirmu memang sudah terancam hancur karena ulahmu sendiri.” Jawab Febby dengan nada menyindir.

“Sialan!! Pokoknya ayo ikut aku pulang.” Ucap Randy yang kali ini sudah menyeret paksa pergelangan tangan Febby. Sedangkan Febby hanya mampu mengikutinya, ia tak mungkin meronta-ronta dan di perhatikan banyak orang, sungguh memalukan.

***

Sampai di lobi, betapa terkejutnya Randy ketika mendapati seorang wartawan yang sibuk membenarkan kameranya. Ahh sial!! Itu pasti wartawan yang sudah sejak lama menguntitnya. Dan astaga, untung saja saat ini ia keluar bersama dengan Febby, Randy tak dapat membauyangkan jika saat ini ia keluar bersama dengan Marsela, mungkin itu akan menjadi berita skandal terpanas di negeri ini.

‘Seorang Aktor ternama yang sudah beristri keluar masuk hotel bersama selingkuhannya.’ Mungkin itu judul yang cocok untuk majalah-majalah jika saat ini ia kepergok sedang bersama dengan Marsela.

Randy kemudian tersenyum miring ketika sebuah ide terlintas di kepalanya. Tangannya yang tadi mencengkeram pergelangan tangan Febby kini berpindah merangkul pinggang Febby dan menggandengnya dengan mesra.

Febby sendiri yang menyadari perubahan tersebut dengan spontan menyikut perut Randy.

“Apa yang kamu lakukan?” Ucap Randy sambil kembali meringis kesakitan.

“Harusnya aku yang tanya, apa yang kamu lakukan?”

“Apa kamu nggak lihat di sana ada wartawan?” tanya Randy sambil menunjuk ke arah seorang yang sedang sibuk dengan kameranya.

“Aku nggak peduli.” Jawab Febby dengan ketus.

“Jangan kekanak-kanakan.”

“Apa tidak salah? Kamu lebih yang kekanakan.”

“Haishh perempuan ini, Diamlah!! Kita hanya akan melewatinya dengan tenang.”

Lalu Randy kembali menjalankan aksinya, menggandeng kembali pinggang Febby kemudian mengajaknya berjalan menuju ke arah wartawan tersebut.

Wartawan tersebut bernama Amar, Amar memang terkenal sebagai wartawan yang gigih. Dia selalu bisa membuktikan sebuah gosip menjadi Fakta dengan gambar-gambar yang di ambilnya. Dan Randy benar-benar membenci hal itu. Beberapa foto kebersamaannya dengan Marsela yang bocor ke publikpun kebanyakan dari wartawan sialan tersebut. Amar memang terlihat sedang mengincarnya dan juga Marsela.

“Halo, apa kabar?” sapa Randy dengan senyuman lebarnya.

Amar sendiri tampak terkejut dengan apa yang ada di hadapannya. Randy tampak ramah dari biasanya, dan lelaki itu kini sedang mengandeng mesra tubuh istrinya. Istrinya? Tunggu dulu, ada yang salah di sini.

“Ba.. Baik, bagaimana anda bisa…”

“Saya sedang makan siang bersama dengan istri saya yang cantik ini, anda sendiri sedang apa di sini?” tanya Randy memancing reaksi Amar.

“Loh, tapi bukannya tadi anda ke sini sendiri? Lalu tak lama Marsela juga masuk ke dalam hotel ini?”

“Hahahahha, jadi anda ke sini hanya untuk menguntit kemanapun saya berada? Ayolah, jangan bodoh. Hotel ini bukan hanya khusus buat saya atau Marsela, saya ke sini sendiri karena istri saya sudah menunggu saya makan siang di sini. Bukan begitu sayang?” kali ini Randy bertanya pada Febby.

Febby hanya menundukkan kepalanya, ia tak mungkin menjawab iya dan berbohong, tapi di sisi lain ia tak mungkin menjawab tidak.

“Lalu, bagaimana dengan Marsela?” tanya Amar yang masih berwajah bingung.

“Saya tidak tahu, kalau anda ingin tahu apa yang dia lakukan, silahkan menunggunya dan bertanya sendiri pada yang bersangkutan.” Jawab Randy dengan nada tajamnya. “Permisi, saya akan mengantar istri saya pulang dulu, dan sedikit pesan saya, jangan sekali-kali membuat gosip murahan dengan skandal-skandal yang jelas-jelas tak ada buktinya. Karena itu akan merusak keharmonisan keluarga kami, dan saya tidak akan tinggal diam karena masalah itu.” Lanjut Randy lagi dengan nada penuh penekanan.

Amar hanya menundukkan kepalanya. Wajahnya pucat pasi. Ia tak berani menatap ke arah Randy sedikitpun. Tapi dalam hati ia bersumpah jika dirinya akan membuktikan bahwa memang benar ada skandal antara Randy dan Marsela.

***

Di dalam mobil..

Randy melirik ke arah Febby yang sedikit tersenyum sinis padanya.

“Kenapa?” tanya Randy sembali mulai menjalankan mobil yang di kendarainya.

“Enggak, aku hanyaa berpikir bahwa tidak salah kalau kamu mendapatkan banyak penghargaan karena aktingmu. Yang tadi itu benar-benar meyakinkan.”

“Apa maksudmu?”

“Kamu pandai sekali bersandiwara.”

“Tentu saja, itu kan memang pekerjaanku. Aku menjadi yang teratas di negeri ini karena kepandaianku, tidak seperti selingkuhanmu itu yang selalu berada di bawahmu.” Ucap Randy dengan nada congkaknya.

“Apa maksudmu?” kali ini Febby yang tampak bingung dengan apa yang di katakan Randy.

“Brian, kamu sedang makan siang dengan laki-laki sialan itu kan?”

“Aku sudah bilang bukan, kalau itu bukan urusanmu.”

“Dan aku sudah bilang, Jelas itu urusanku.” Jawab Randy dengan suarta yang sedikit meninggi.

“Hei, kamu nggak perlu meledak-ledan dan kekanakan seperti itu.”

“Apa? Aku tidak kekanakan.”

“Aku tidak peduli. Lagian, aku ingatkan sekali lagi kalau kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing.”

“Benarkah? Ahaa, baiklah kalau begitu mulai besok aku akan mengajan Marsela berkencan bahakn menginap di rumah kita, aku tak akan peduli lagi denganmu.”

“Oh ya? Bukankah hampir setiap hari kamu selalu mengajaknya kerumah kita? Aku tidak pernah mengganggu bukan?”

“Kamu…” Randy seakan kehilangan kata-katanya untuk membalas perkataan Febby.

“Hei, seluruh orang di negeri inipun tahu skandalmu, itu sudah menjadi rahasia umum.” Ucap Febby yang kemudian mempalingkan wajahnya ke arah jendela, seakan ingin mengakhiri perdebatannya dengan Randy.

Tak lama, ponsel milik Febby berbunyi. Febby melirik si penelepon, ternyata itu Brian. Astaga, Febby bahkan belum sempat memberi kabar pada Brian jika dirinya kini sudah pulang bersama dengan laki-laki sialan di sebelahnya ini. Brian pasti sedang menunggunya dengan kebingungan.

“Halo, Brian.” Febby menjawab telepon tersebut tanpa menghiraukan lelaki yang sudah tegang yang sedang duduk mengemudi di sebelahnya.

“Kamu di mana? Ada masalah?”

“Tidak, maafkan aku, aku sudah di jalan menuju ke rumah sakit.”

“Kenapa mendadak? Ada yang salah?”

“Hanya ada telepon mendadak dari seorang orang tua pasienku.”

“Oh ya? Aku bisa mengantarmu.”

“Terimakasih, tapi aku tidak ingin merepotkanmu.”

“Baiklah, tapi kamu harus menebus kencan kita sing ini.”

“Apa? Kencan?” Febby sedikit terkejut dengan apa yang di ucapkan Brian, hingga ia tak menyadari jika kini Randy sedng memicingkan mata ke arahnya.

“Emm, baiklah, kita akan kencan di lain waktu dan…”

Belum sempat Febby melanjutkan kalimatnya tiba-tiba Randy sudah menginjak rem mobilnya secara mendadak hingga membuat Febby terhantup oleh dashboard mobil Randy.

“Hei, apa yang kamu lakukan?!” tanya Febby sembari mengusap keningnya yang sedikit sakit karena terhantup dashboard mobil Randy.

Bukannya menjawab, dengan santainya Randy malah merebut ponsel milik Febby, mematikannya lalu membuanya begitu saja ke jok belakang mobilnya.

“Heii.. Randy!!!” Teriak Febby sambil sesekali memukuli bahu Randy. Ia benar-benar tak mengerti apa masalah Randy pagi ini. Kenapa lelaki ini menjadi lelaki yang amat sangat mengesalkan untuknya.

Randy sendiri tak terpengaruh, ia malah dengan santainya melanjutkan mengemudi mobilnya dengan memasang wajah tanpa salah. Tak lama, kini giliran ponsel Randy yang berbunyi. Randy melirik ponselnya. Lalu mendapati nama Alvin yang sedang memanggilnya. Ahh sial, kenapa si Alvin menghubunginya pada saat seperti ini? Kenapa bukan Marsela? Randy kemudian sedikit menyunggingkan senyuman miringnya ketika sebuah ide melintas di kepalanya.

Di angkatnya telepon tersebut dengan suara mesranya.

“Halo sayang.”

“Sayang? Lo sinting?” teriak suara di seberang.

“Ah enggak sayang. Maaf kalau aku pulang lebih dulu.” Ucap Randy dengan sedikit melirik ke arah Febby.

“Sial, lo benar-benar kehabisan obat Ran? Jangan main-main, gue bener-bener ada urusan sama lo.” Suara Alvin benar-benar terdengar murka di telinga Randy, tapi Randy tak menghiraukannya. Ia masih saja bersikap mesra layaknya sedang berbicara dengan sang pujaan hatinya.

“Ah ya, nanti kamu bisa memesan sebuah kamar lagi untuk kencan kita selanjutnya, ngomong-ngomong, aku sangat puas dengan kencan kita siang ini.” Ucap randy lagi dengan nada yang benar-benar menggelikan.

Percakapan Randy benar-benar membuat telinga Febby terasa panas. Febby kemudian mengeluarkan ipod dari dalam tasnya, laalu memasang headset ke telinganya dan mendengarkan lagu-lagu di sana. Sungguh, ia tak tahan lagi dengan percakapan-percakapan Randy di dalam telepon yang entah kenapa membuatnya seakan mual. Kenapa? Apa ia cemburu? Yang benar saja.

Sedangkan Randy sendiri tak suka dengan respon cuek yang di tampilkan Febby. Randy lalu menutup telepon Alvin begitu saja, ia menghentikan mobilnya kembali kemudian mencabut headset yang sedang di kenakan Febby.

“Hei, sekartang apa lagi?” tanya Febby yang kini benar-benar sudah kesal dengan apa yang di lakukan Randy.

“Apa kamu tidak lihat kalau aku sedang berbicara, kenapa kamu malah pakai ini?”

“So what? Itu bukan urusanku, lagi pula aku tak ingin mendengarkan perckapan omong kosongmu yang menggelikan itu.”

“Apa?”

“Dengar ya, aku benar-benar tidak peduli dengan apa yang kamu bicarakan maupun apa yang kamu lakukan dengan wanita jalangmu itu. Uruslah urusanmu sendiri, dan jangan pernah mengganggu urusanku, mengerti?”

Randy menatap Febby dengan tatapan tak percayanya. Ia benar-benar tak menyangka jika Febby akan bereaksi seperti ini padanya. Sedangkan Febby sendiri kini sedikit gugup dengan tatapan mata Randy. Ahh laki-laki ini benar-benar mempengaruhinya.

“Apa? Apa ada yang salah dengan ucapan…” belum sempat Febby melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba kedua tangan Randy menangkup kedua pipinya, lalu tanpa banyak bicara lagi lelaki itu menyambar bibir ranum milik Febby. Febby membulatkan kedua bola matanya seketika. Ia benar-benar tak menyangka jika Randy akan melakukan hal ini padanya. Mencimunya? Oh yang benar saja.

Dengan sekuat tenaga Febby mendorong-dorong dada Randy, tapi Randy sama sekali tak bergeming. Ia tetap melanjutan lumatannya pada bibir ranum Febby, memaksa lidahnya muntuk masuk ke dalam mulut Febby. Ahh wanita ini harus di beri pelajaran karena kecerewetannya. Pikir Randy saat ini.

Akhirnya Febbypun pasrah dengan ciuman penuh dairah dan seakan menuntut dari Randy. Di bukanya mulutnya sedikit demi sedikit seakan membiarkan Randy memperdalam ciumannya.

Randy merasakan Febby ang sudah menghilangkan perlawanannya. Wanita itu kini bahkan membalas ciumannya. Membiarkan lidahnya bertautan dengan lidah wanita tersebut. Lengan Febby bahkan dengan santainya mengalung pada leher Randy.

Kini, telapak tangan Randy sudah berada pada tengkuk leher febby, menekan di sana seakan tak ingin membiarkan ciuman mereka terputus. Sedangkan sebelah tangan satunya sudah bergerilya pada dada Febby, mengusapnya lembut, menggodanya hingga membuat Febby sedikit mengerang karena ulahnya.

Oh sial!! Kejantanan Randy menegang seketika. Randy benar-benar menginginkan berada di dalam tubuh febby saat ini juga. Tapi kemudian Randy mendengar ponselnya kembali berbunyi.

Keduanya menghentikan ciuman panas tersebut seakan tersadarkan oleh sesuatu. Febby dan randy kemudian saling menjauhkan diri, lalu merapikan penampilan masing-masing.

Sial!! Jika saat ini si Alvin yang kembali meneleponnya, maka Randy akan menyumpahi temannya itu impoten seumur hidup. Benar-benar merusak suasana.

Tapi kemudian Randy mengernyit ketika mendapati nomor rumah keluarganya yang sedang menghubunginya. Ah, ini pasti ibunya. Ada apa lagi??

“Halo, Ma?” Randy mengangkat telepon tersebut sesekali melirik ke arah Febby yang sedang sibuk membenarkan tatanan rambutnya. Ahh benar-benar sial, Febby terlihat nikmat untuk di santap. Pangkal pahanya kembali berdenyut saat membayangkan bayangan erotis bersama dengan Febby.

“Randy, cepat ke sini, ada kak Mira dan Andrew di sini, jangan lupa ajak Febby.”

“Iya, Randy segera ke sana Ma, kebetulan ini sedang bersama Febby di jalan.”

Kemudian telepon di tutup. Randy melirik ke arah Febby yang sudah menundukkan kepalanya dengan wajah yang sedikit terlihat bersemu merah.

“Ibu menyuruh kita ke sana sekarang juga.”

Walau tak ada yang bertanya, Randy berkata seakan memberikan jawaban untuk Febby. Dan Febby hanya bisa diam dan menganggukkan kepalanya. Ahh, entah kenapa suasanya di sekitar mereka terasa sedikit canggung saat ini. Dan kecanggungan tersebut benar-benar membunuh keduanya.

***

“Apa? Menginap?” Febby dan Randy tanpa sadar mengucapkan dua kata tersebut dengan bersamaan karena sama-sama terkejut.

“Iya, mumpung Mira dan suaminya menginap di sini, mama juga ingin kalian menginap di sini supaya besok kita bisa berkumpul bersama seperti keluarga besar.” Nyonya Prasaja mengatakan pendapatnya.

“Tidak bisa Ma, kami tidak bisa menginap di sini, memangnya kami akan tidur di mana?” Randy masih saja menolak, ia tentu tidak ingin sekamar dengan Febby mengingat ciuman panas mereka tadi siang.

“Tentu saja kalian berdua nanti akan tidur di kamarmuy yang dulu, ibu selalu merapikannya meski kamu tidak pernah main ke sini lagi.”

“APA????” lagi-lagi tanpa sadar Febby dan Randy mengucapkan kata tersebut dengan bersamaan. Menginap bersama dan sekamar? Astaga, yang benar saja.

 

-TBC-

cetak miring adalah spoiler Next Chap.. hahhaha semoga ada yang mau nunggu..