please Stay With Me – Chapter 15 (End)

Comments 8 Standard

pswm-1Please Sty With Me

NB: Maaf bgt kalo ending kurang greget dan nggak sesuai ama harapan kalian,, tapi aku bahagia bisa nyeleseikan kisah cinta sedih ini dengan sebaik-baiknya. makasih buat yang sudah mau baca dari awal hingga akhir, kasih dukunga berupa Like / Coment.. aku seneng bgt setidaknya kisah ini ada yang mau baca apalagi ada yang mau nangis gara-gara Baper.. hehheheeh ok langsung saja…

Chapter 15

-Author-

 

-jika mendapat akhir yang bahagia harus kehilangan banyak Air mata, Maka aku Rela melewati jalan tersebut..-

 

Revan benar-benar memucat dengan kata-kata yang diucapkan istrinya tersebut. Dara meminta untuk berpisah dengannya..? Apa wanita ini tak salah bicara..? Pikir Revan kemudian. Tangis pecah Dara membuat Revan bangkit lalu memeluk dara erat-erat.
“Dara.. Jangan bicara seperti itu..” Kata Revan yang kini sudah menarik Dara dalaam pelukannya.
“Aku tidak bisa lagi Mas… Aku lelah.. aku ingin mengakhiri semua ini selagi aku bisa.”
“Aku tidak ingin meninggalkanmu, Dan aku tak akan pernah meninggalkanmu..” Kata Revan dengan tegas.
“Aku ingin sembuh Dari Luka ini Mas.. Lepaskan Aku… Kumohon.” Dara Masih menangis dalam pelukan Revan. Dara bahkan merasakan punggung lelaki itu bergetar. Mungkinkah Revan juga menangis karenanya..?
Revan melepaskan pelukannya, menatap dara dengan Mata basahnya. “Kumohon Dara.. jangan paksa Aku… kita bisa memulainya dari awal, demi anak kita.” Revan memohon.
Dara hanya menggelengkan kepalanya. Tak ada kesempatan lagi untuk Revan. Dirinya selama ini sudah mencintai Revan sepenuh hati, tanpa menuntut balasan, namun entah kenapa Kehadiran bayi yang dikandungnya kini membuat semuanya berbeda. Dara merasa jika dirinya kini juga butuh di cintai, tak hanya tanggung jawab tapi benar-benar cinta yang tulus. Sedangkan Dara tau jika Revan mungkin saat ini tidak bisa memberikan Hal itu padanya.
“Dara..” Kata Revan sambil menangkup pipi Dara.
Lagi-lagi Dara menggeleng. “Aku tidak bisa Mas.. Aku terlalu lelah.” Lirih Dara.
Revan menyadari jika dirinya kini tak memiliki kesempatan lagi. Yahh… ini memang sudah salahnya, sudah sewajarnya Dara pergi meninggalkannya setelah apa yang sudah dia lakukan selama bertahun-tahun pada diri Dara. Tapi kenapa pada waktu seperti ini..? kenapa Pada saat dimana Revan benar-benar menyadari jika tak ada wanita lain selain Dara yang benar-benar dia inginkan dalam hidupnya..? Apa ini yang disebut dengan karma karena telah menyia-nyiakan orang yang mencintainya hingga orang itu pergi meninggalkannya..??
Revan menempelkan keningnya pada kening Dara, Menelusuri wajah itu, wajah yang mungkin saja sebentar lagi tak menjadi miliknya lagi. Nafas mereka saling bersahutan, Revan menyentuh bibir Dara dengan ibu jarinya.
“Aku ingin menciummu untuk terakhir kalinya.” Lirih Revan.
Dara hanya memejamkan matanya, mengisyaratkan jika dirinya mengijinkan Revan untuk menciumnya. Yah… setidaknya Ciuman ini nanti akan menjadi ciuman manis yang dapat mereka ingat nantinya.
Dengan perlahan Revan menyentuhkan bibirnya pada bibir Dara, lembut, sangat lembut. Mengigatkan Revan dengan ciuman pertama Mereka. Revan mulai memangutnya, melumatnya lembut penuh dengan dengan kasih sayang, Revan ingin Dara dapat merasakan Cintanya lewat Ciuman manis ini. Keduanya hanyut dalam suasana, hanyut dalam perasaan yang menyesakkan Dada, Hanyut dalam Cinta yang tak terucap.
Dara sudah tak kuat dengan semua ini, dia tak lagi menahan tangisnya. Isakannya membuat Ciuman Revan terhenti. Ternyata Revan juga ikut menangis bersamanya.
“Heii jangan menangis lagi.. Baiklah.. kita akan berpisah, asal Kau tidak menangis lagi. Jaga anak kita, Dan Kau Harus sembuh.” Kata Revan mengusap Air mata di pipi Dara. Ya… bahkan saking Cintanya dengan Dara, Revan Rela meninggalkan Dara demi kebahagiaan Dara sendiri. Revan Rela melepas Wanita yang entah sejak kapan menjadi Poros hidupnya tersebut. Entah Revan nanti dapat menjalani harinya dengan normal atau tidak Revan sendiri tak tau, Yang Revan tau Kini dirinya harus membahagiakan Dara walau itu dengan Cara meninggalkannya Dan membuat dirinya sendiri kesakitan seumur hidup karena tak bisa memiliki Dara.
Dara tertegun dengan Perkataan Revan. Kenapa lelaki ini sangat mudah sekali menyetujui permintaannya.?
“Kita akan berpisah secara baik-baik.” Tambah Revan lagi. Dan entah kenapa kata-kata itu tepat menusuk di jantung Dara. Dara merasa sakit saat Revan mengatakan kata ‘Berpisah’. Bukankah tadi dirinya yang menginginkan perpisahan ini..?
Revan lalu membenarkan letak rambut Dara yang sedikit berantakan. “Hiduplah dengan bahagia… Jadi aku tak menyesal melepaskanmu.” Kata Revan Lagi. Dara masih tak dapat berkata sepatah katapun.
Revan mengehembuskan Nafas panjang lalu belihat jam tangannya. “Sudah Terlalu sore. Aku akan kembali pulang. Aku akan mengunjungimu lagi nanti.” Kata Revan lalu mengecup kening Dara.
Entah saampai kapan Dara berdiri membatu seperti sekarang ini. Revan sudah tak berada lagi dalam kamarnya. Dan itu membuat Dara Hampa.. bukankah ini keinginanya untuk berpisah dengan Revan…???

***

Revan turun dari tangga menuju kedapur tempat Ibu Dara memasak.
“Lohh Nak Revan sudah turun.” Sapa Ibu Dara pada Revan.
“Emm iyaa bu.. Saya.. Saya ada urusan mendadak. Apa saya boleh menitipkan Dara beberapa Hari ini kepada Ibu.?”
Ibu Dara mengernyit heran. Bukankah tadi Revan berkata jika dirinya akan menemani dara disini.? Kenapa saat ini Revan malah akan meninggalkan Dara..?
“Tenang saja Nak Revan.. Dara akan baik-baaik saja dengan ibu Kok.”
Revan tersenyum lega. “Baiklah Bu.. saya pamit undur diri dulu.”
“Loh… Nak Revan tidak ikut makan Malam.? Ibu masak banyak Nak.”
Revan pura-pura melihat jam tangannya. “Emmm sepertinya tidak Bu.. takut Terlambat Bu..” Jawab Revan Berbohong.
“Baiklah… Hati-hati nak..” Kata Ibu Dara dengan lembut. Revan lalu bersalaman dengan mencium tangan ibu Dara seperti mencium tangan ibunya sendiri. Ibu Dara tau jika saat ini dara dan Revan ada masalah, terlihat jelas pada sorot mata sedih dari Revan.
“Nak Revan..” panggil ibu Dara ketika Revan akan masuk mobilnya. “Kalau ada masalah, bicarakan dengan kepala Dingin Nak.. Nak Revan tau kan keadan Dara saat ini belum stabil. Jadi sementara ini banyak-banyaklah mengalah.” Nasehat Ibu Dara.
“Iya Bu.. saya mengerti.” Kata Revan sambil tersenyum.
Revan lalu masuk kedalam mobilnya, tersenyum pada ibu Dara dan mulai menjalankan Mobilnya. Sedangkan Dara yang melihat pemandangan di luar jendelanya tersebut hanya mampu menangis dari dalam Kamarnya. Ohh Revan yang sangat dicintainya kini sudah lepas dari tangannya, bukan lepas karena pergi tapi karena dirinya sendirilah yang melepaskannya dengan suka rela. Apa nanti dirinya Mampu hidup tanpa Revan..?

***

Revan memijit pelipisnya karena rasa pusing yang menderanya beberapa hari ini. Yahh tentu saja, beberapa hari ini dirinya susah sekali tidur, susah makan dan susah semuanya. Semua itu karena pikirannya hanya tertuju pada satu orang. Dara.
Ini sudah Tiga bulan setelah Revan pergi dari rumah Dara, dan sejak saat itu Revan belum pernah mengunjungi Dara lagi Revan Hanya menghubungi Ibu Dara, untuk memastikan Keadaan Dara. . Apa yang dilakukan dara saat ini.? Apa dia juga merindukan Revan seperti Revan merindukannya.? Apa Dara Juga susah tidur seperti Revan yaang kurang tidur akhir-akhir ini.? Mengingat pertanyaan itu membuat Revan semakin pusing.
“Rev… Kau masih disini.?” Tanya Mike yang kini sudah maasuk kedalam Ruangan Revan.
Revan mengangguk. “Ada apa Mike.?”
“Kupikir Kau ketempat Dara. Rev… Dara membutuhkanmu seharusnya Kau disana Saja.”
Revan menggeleng. “Dia ingin berpisah.”
Mike terkejut dengan perkataan Revan. “Dan Kau menurutinya.?”
Revaan mengangguk.
“Bodoh. Apa hanya seperti ini Cintamu pada Dara.?”
“Kau pikir aku harus melakukan apa Mike.? Dia berjanji akan sembuh dan hidup bahagia jka aku meninggalkannya.”
“Dan Kau percaya perkataannya..?” enRevan Hanya menganguk. “Ayolah Rev.. Buka Matamu, Dara hanya perlu pembuktian darimu jika Kau benar-benar menyayanginya.”
“Aku membuktikan itu dengan meninggalkannya Mike, aku mencintainya hingga aku Rrela meninggalkannya demi dia bisa hidup bahagia.”
“Dan jika Dia tidak hidup bahagia, bukankah pengorbananmu ini sia-sia.? Rev… Yang aku percayai adalah jika aku mencintai orang maka aku harus mendapatkan orang itu bagaimanapun caranya, aku bahkan tak peduli jika aku harus menghianati janjiku di makam adikku sendiri demi bisa hidup bersama dengan Hana, karena aku mencintainya Rev…”
“Lalu aku harus berbuat apa, aku juga tak ingin berpisah dengannya.”
“Berusaha Rev.. yakinkan dia jika Kau Sudah berubah, jika Kau hanya mencintainya.”
“Kau yakin itu bisa berhasil.?”
“Hati Wanita sangat lemah,” Kata Mike dengan tersenyum. “Aku yakin kau bisa meluluhkan Hati Dara kembai seperti aku meluluhkan Hati Hana untuk kedua kalinya.”
Kali ini revan ikut tersenyum. “Itu Karena Kau lelaki perayu.”
“Setidaknya aku merayu Orang yang benar-benar kucintai.” Kata Mike Pasti.
Yaa… perkataan Mike benar juga. Cinta Tak harus memiliki..? Peribahasa apa itu. Jika Cinta kita harus berusaha memilikinya. Kenapa Harus menyerah saat masih bisa berusaha. Akhirnya dengan semangat Revan memutuskan untuk mengejar Dara kemmbali.

Dara… Selama ini kau yang selalu mengejarku, berusaha membuatku jatuh cinta padamu.. tapi kali ini, Biarkan aku yang mengejarmu.. biarkan aku membuatmu jatuh cinta padaku lagi hingga kita bisa bersatu kembali seperti dulu…

***

Dara Duduk dengan wajah sendunya di depan jendela kamarnya. Menatap jauh pada hamparan perkebunan teh yang terlihat sejuk dan Rimbun dalam pandangannya. Entah ini sudah berapa bulan Dara berada di dalam Rumah ibunya, Tanpa Revan Disisinya..
Sesekali dara mengusap perutnya yang kini sudah sedikit berbentuk. Mungkin usianya sudah empat bulan atau mungkin lebih, Kenapa Mas Revan tidak pernah Kemari..? Kenapa dia tak mengunjungiku seperti janjinya..? Lagi-lagi Dara menangis saat mengingat semua tentang Revan. Ahh.. kenapa mencintai bisa sesakit ini..?
Sungguh, beberapa bulan hidup jauh dari Revan, Dara menyadari jika dirinya benar-benar tak bisa jauh dari lelaki tersebut. Lelaki yang sudah menjadi Gravitasinya untuk menahannya di bumi ini. Lelaki yang sudah seperti udara yang membuatnya bisa tetap hidup hanya dengan menghirupnya saja.
Tapi kini lelaki itu pergi karena dirinya yang meminta. Gravitasi itu menghilang seakan membuat Hidupnya kini terombang-ambing tak jelas arah, tak ada yang menahannya.. Udara itu pergi, seakan membuatnya sesak, tak mampu bertahan tanpa bernafas..
Dara menenggelamkan Wajahnya pada lengannya, menangis terisak disana. Ya tuhan… kenapa begini.? Jika ini hanya karena cemburu pada orang yang sudah meninggal seharusnya dirinya tak melepaskan Revan begitu saja. Tapi mengingat Revan selalu mengunjungi makam sang kekasih entah kenapa membuat Dara Sakit. Ini bukan hanya sekedar Cemburu…. ini terlalu rumit untuk di jelaskan…
Tiba-tiba Dara merasakan sebuah tangan besar mengusap permukaan Rambutnya. “Heii… kenapa Disini.? Kau bisa masuk angin jika terlalu lama disini.” Suara itu sontak membuat Dara mengangkat Wajahnya. Suara yaang sangat dia Rindukan.
“Mas Revan.”
“Yaa.. aku disini..” Kata Revan dengan tersenyum. Revan lalu duduk berjongkok dihadapan Dara. “Kenapa Menangis lagi, Bukankah Kau berjanji tak akan menangis lagi setelah aku meninggalkanmu.?” Tanya Revan dengan mengusap air mata Dara.
“Aku tidak menangis, Mataku hanya terkena Angin, makanya merah dan berair.” Kata Dara sambil memalingkan Wajahnya.
Revan tersenyum mendengar pernyataan Dara. “Bagaimana keadaannya.?” Kali ini Revan bertanya sambil mengusap perut dara yang terlihat lebih besar dari pada terakhir mereka bertemu. Revan lalu mengecup perut Dara dengan lembut. “Aku merindukan Kalian.” Kata Revan sedikit serak.
Dan Dara tak bisa menahan diri lagi. Dipeluknya Revan dengan Erat, Tangisnyapun kini pecah. “Aku juga merindukanmu Mas..” kata Dara di sela-sela tangisnya.
Mereka berpelukan cukup lama, sambil sesekali terisak. Revan lalu melepaskan pelukannya. “Jangan menangis lagi.” Kata Revan kemudian.
“Kau jahat.. Kau meninggalkanku.”
“Kau Yang memintaku untuk meninggalkanmu Dara.”
“Aku hanya meminta, bukan berarti Kau harus menurutinya.”
“Aku hanya ingin membuatmu Bahagia Dara, Maka dari itu aku melakukan apapun yang Kau minta meski itu sebenarnya Menyiksaku.” Kata Revan dengan Lirih.
Dara kembali memeluk Revan. “Jangan tinggalkan aku lagi.” Kata dengan sesenggukan.
“Kau ingin kita kembali bersama.? Melupakan perpisahan kita.?” Tanya Revan lagi.
Dara melepaskan pelukannya. Wajahnya kini menunduk, perasaannya tak menentu. Dia tak ingin Revan meninggalkannya tapi disisi lain Dia tau bahwa dirinya akan sakit jika selalu melihat lelaki yang dicintainya masih mencintai wanita lain.
“Aku.. aku hanya tidak ingin Kau meninggalkanku Mas.. Bukan berarti aku menerimamu lagi.” Kata Dara pelan.
“Laalu bagaimana caranya supaya Kau menerimaku lagi.?”
Dara menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tau.”
“Apa Kau masih mencintaiku.?” Tanya Revan penuh harap.
“Perasaanku tidak akan berubaah untukmu Mas.. Hanya saja…”
Revan menangkup pipi Dara. “Dara, aku tau Kau masih Ragu padaku. Tapi aku akan berusaha semampuku untuk membuatmu kembali dalam pelukanku lagi. Aku tidak akan bisa membuktikan bahwa aku mencintaimu karena bagiku tak ada pembuktian untuk Cinta, Aku hanya ingin Kau merasakannya, Merasakan bahwa aku benar-benar mencintaimu melebihi apapun yang ada didunia ini.”
“Kau serius dengan ucapanmu.?”
Revan mengangguk Pasti. “Mungkin tidak sekarang, tapi aku yakin suatu saat nanti Kau akan mengerti bagaimana Dalamnya cinta ini untukmu.”
Dara menelan ludahnya dengan susah payah, dirinya harus menanyakan pertayaaan ini sebelum dirinya memulai kembali dengan Revan.
“Mas… Bagaimana dengan Lita.?” Tanya Dara takut-takut.
“Lita..? Ada apa dengannya.?”
“Emm.. bukankah kau Mencintainya hingga kini.?”
Revan tersenyum pada Dara. Mengusap lembut pipi Dara. “Jadi karena Lita Kau seperti ini.? Kupikir semua ini Karena Manda.” Revan lalu menghela nafas panjang dan mulai bercerita.
“Aku mengenal Lita dan Manda beberapa tahun yang lalu. Mereka baik. Lita Gadis yang ceria tapi sedikit agresif, aku suka itu. Dia baik kepada semua orang dan tak jarang membuatku cemburu buta. Aku mencintainya, sungguh sangat mencintainya, tak ada yang lain selain dia. bahkan ketika aku mendapati foto-foto sialan itu, aku masih tetap mencintainya. Rasa Cintaku semakin besar karena bercampur dengan penyesalan saat aku mendapati jika Lita tidak bersalah. Semuanya bahkan semakin dalam Saat aku mengetahui bahwa Lita meninggal karena patah hati denganku.”
Revan memejamkan matanya lama, seakan mengungkit kembali luka lama yang sudah kering karena berjalannya waktu.
“Lalu Kau datang dengan segaa Cintamu untukku, aku memang tak pernah memandangmu ada, tapi aku tidak bisa memungkiri jika secara tidak langsung kau menarikku kembali dalam Dunia nyata ini, Kau mengobati sedikit demi sedikit lukaku hingga mengering, kau masuk secara perlahan-lahan kedalam hatiku tanpa aku mengetahuinya.”
“Mungkin dulu aku pernah bilang jika aku mencintai Lita, Cinta yang abadi hingga aku mati menyusulnya, tapi sekarang aku menarik kata-kata itu, Tidak ada Cinta abadi untuknya Dara. Cintaku padanya sudah terhenti ketika aku memutuskan untuk memulainya dari awal bersamamu.” Revan lalu membawa telapak tangan Dara pada dadanya. “Mungkin disini masih sedikit ada Lita, Tapi demi tuhan Jika Kaulah pemilih Hati ini Dara, hanya Kau yang memilikinya.”
Revan lalu berdiri mengambil seikat bunga mawar Merah dan sebuah kotak besar berpita yang dibawanya tadi dan di taruh sembarangan di atas ranjang Dara.
Revan kembali berlutut di hadapan Dara. “Apa Kau tau jika aku selalu memberikan Lita bunga Mawar Merah berjumlah delapan tangkai..? Dia pernah bilang bahwa angka Delapan adalah angka yang selalu bersambung dan tidak memiliki titik putus, Biasa disebut dengan angka keabadian. Bunga mawar Merah delapan tangkai bagi kami adalah simbol Cinta yang abadi dan tak pernah putus. Tapi mulai hari ini, aku akan memberikan bunga-bunga ini untukmu dengan harapan Cinta kita akan abadi selamanya. Apa kau mau menerimanya.?”
Dara menitikan air matanya kembali, tak menyangka jika Revan akan berkata semanis ini terhadapnya. Dara menganggukkan kepalanya, lalu menerima Bunga dari Revan tersebut.
“Jangan menangis lagi. Aku disini bersamamu.” Revan manghapus airmata Dara.
“Aku menangis bahagia Mas..” lalu dara memeluk Revan lagi. Ahh rasanya tak akan pernah bosan untuk memeluk lelaki ini. Lelaki yang sangat dicintainyaa, dirindukannya dan diinginkannya.
“Heii.. aku punya satu lagi hadiah untukmu.” Kata Revan smbil menyodorkan kotak besar berpita terssebut di tangannya.
“Apa ini.” Kata Dara menerimanya dan membuka kotak tersebut. Ternyata isinya adalah Coklat. Coklat kesukaan Dara. Dulu saat masih berteman Akrab, Ketika Dara menangis karena jatuh atau di ejek teman-temannya, atau saat Dara marah dan Merajuk, Hana dan Revan memberikan Dara Coklat seperti ini hingga Dara kembali tersenyum lagi seperti sedia kala. Dara menutup mulutnya tak percaya jika Revan masih mengingat cemilan kesukaannya ini. “Mas Revan masih ingat.?”
Revan Tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Sesungguhnya aku sudah Lupa, Hana Yang menyuruhku membawakan Coklat itu untukmu.” Kata Revan tersenyum menyeringai.
Ohhh lelaki ini benar-benar sangat manis. Pikir Dara. Walau ini Hana yang menyuruhnya tapi tetap saja perasaan Dara berbunga-bunga tiada Henti.
“Dara.. Kita pulang kerumah Yaa…” Ajak Revan kemudian.
Dara lalu mengangguk dengan pasti. Yah… setidaknya Dara kini mengerti bagaimana isi Hati Revan sesungguhnya. Bagaimana perasaan Revan padanya. Dara tau, melupakan masalalu bukanlah hal yang mudah, apalagi masalalu tersebut berhubungan dengan orang yang kita cintai. Dara hanya akan berusaha membantu Revan supaya bisa lepas dari bayang-bayang masalalu tersebut, dan mengukir Cerita indah untuk masa depan mereka nantinya.

***

Saat pulang kerumah, Revan membelokkan mobilnya kesebuah arah yang diyakini Dara adalah arah ke pemakaman Lita. Untuk apa mas Revan membawaku kemari..? Pikir Dara kala itu.
Revan yang melihat ekspresi Dara langsung menjelaskan kenapa mereka datang bekunjung kemakam Lita.
“Kau tentu mau menemaniku kesana bukan..? Kita temui dia bersama.” Kata Revan sambil mengecup punggung tagan dara. Dara hanya mengangguk meski hatinya sedikit tidak enak ketika harus kembali menginjakkan kaki di makam Lita.
Sebelumnya mereka pergi ke toko bunga yaang tak jauh dari kompleks pemakaman tersebut, tokoh bunga yang sama dengan pedagang yang sama.
“Bunga mawar atau bunga Lili pak..?” Tanya si penjaga Toko tersebut seakan tau apa yang akan dicari Revan.
“Lili putih.” Kata Revan kemudian sambil melirik kearah Dara.
Sang penjual bungapun menyiapkan pesanan Revan, lalu tak lama kembali dengan seikat Lili putih pesanan Revan. Setelah membayar Revan bergegas pergi dengan Dara menuju makam Lita.
“Penjual bunga itu rasanya akrab dengan Mas Revan, diaa tau Mas Revan ingin memesan apa.” Kata Dara sedikit heran.
“Dia langgananku ketika aku mengunjugi makam lita sejak beberapa tahun yang lalu. Aku selalu memesan mawar Merah untuk makam Lita. Dan sejak kau di Rawat di rumah sakit beberapa bulan yang lalu, Aku mengganti bunganya dengan lili putih.”
“Kenapa.?”
“Karena Mawar merah untuk dirimu.” Kata Revan yang masih tak dimengerti Dara. Daara ingin bertanya lagi tapi mereka sudah sampai di depan Makam Lita. Disana sudah ada Seikat Mawar juga. “Mungkin Mike dari sini.” Kata Revan sambil berjongkok dan menaruh Lili putihnya di sebelah Mawar tersebut.
“Hai Lita.. kita bertemu lagi..” Revan mulai berkata-kata. “Kali ini aku mengajak Istriku Dara, Wanita yang selalu kuceritakan denganmu.” Dara mengernyit mendengar perkataan Revan.
“Dara sedang hamil, Dan aku janji akan selalu menjaganya, aku tidak akan mengulangi kesalahan bodohku untuk kedua kalinya.”
Revan mengambil nafas panjang sambil memejamkan matanya lalu mulai berkata lagi. “Kau pasti heran kenapa akhir-akhir ini aku memberimu Lili putih. Maafkan aku Lita, karena kini aku sudah benar-benar berpaling Hati untuk wanita disebelahhku. Tidak akan ada mawar merah lagi untukmu, karena Cintaku benar-benar sudah berakhir untukmu. Lili putih simbol dari persahabatan, kuharaap Kau mau menjadi sahabat terbaik dihatiku.”
Mendengar pernyataan Revan, Dara langsung memeluk Revan, entah kenapa dara ingin menangis. Terharu bercampur aduk menjadi satu, ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan jika Revan benar-benar mencintainya, tak ada lagi wanita lain selain dirinya.
“Lita, aku juga minta Maaf..” Kata Revan lagi. “Mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya aku kemari. Aku harus mellangkah maju tanpa Bayang-bayangmu. Jadi maafkan aku..” Kata Revan lagi.
“Mas… kau tak perlu melakukan ini.” Kata Dara cepat.
“Tidak dara. Aku harus melakukannya. Aku tidak bisa selalu berputar pada pusaran masalalu yang kubuat sendiri. Aku harus mengakhirinya saat ini juga.” Kata Revan dengan Pasti.
Dara tidak bisa menjawab lagi perkataan Revan, karena apa yang dikatakan revan ternyata benar. Mereka tidak bisa selalu hidup dalam bayang bayang seorang Lita.
Setelah lama berbicara dimakam Lita, akhhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
Revan menatap Makam Lita untuk terakhir kalinya. ‘Terimakasih Lita… terimakasih karena pernah hadir dalam hidupku, terima kasih karena pernah menjadi kekasih hatiku… mungkin hati dan cintaku sudah berpaling darimu, tapi aku tidak akan pernah melupakanmu, Terimakasih…’ Kata Revan dalam hati sambil tersenyum.

Darapun demikian. Dara menatap Makam Lita untuk terakhir kalinya. ‘Aku mungkin tidak pernah mengenalmu Lita, tapi aku tau Kau wanita yang baik, Terimakasih karena sudah menjaga Hati Mas Revan selama ini hingga dia bisa menjatuhkan pilihannya untukku. Aku janji akan selalu menjaga dan membahagiakannya selama sisa hidupku hingga nanti saat kita bertemu kembali dialam lain, aku akan mengembalikannya padamu. Terimakasih atas kesempatan yang kau berikan padaku ini Lita…’ Kata Dara dalam Hati sambil sedikit menitikan air matanya.

Dara dan Revan lalu kembali pulang dengan bergandengan tangan bersama. Mereka tau jika hidup mereka yang sebenarnya baru dimulai, akan ada banyak masalah yang menanti untuk mereka. Tapi jika saling percaya dan dihadapi bersama maka masalah tersebut akan mudah untuk dilaluinya.

 

_END_

 

Yahh… udah END deh… BTW masih ada epilognya loh… tunggu sebenktar yaa… heheheh

Advertisements

Please Stay With Me – Chapter 6

Comments 8 Standard

pswm-1Please Stay With Me

Chapter 6

-Dara-

Dia Aneh… Dia berubah, Apa yang terjadi dengannya..???
Saat ini dia sedang menciumku, melumat bibirku penuh nafsu. Bahkan akupun tak sadar jika saat ini aku ikut berendam didalam Bathup dengannya dalam dengan berpakaian lengkap dan dengan posisi duduk diatas pangkuannya.
Dia mengerang, mendesah, dan akupun sama.. kami menikmati ciuman ini… ciuman pertama kami… lalu dengan terengah-engah dia melepaskan ciuman ini. Rasanya sesak, karena aku sulit bernafas, nafasku terputus-putus, begitupun nafasnya.
Aku menunduk malu. Apa yang terjadi dengannya sehingga dia menciumku..?? apa juga yang terjadi denganku sehingga aku bersedia diciumnya..?? ini akan mempersulitku, Aku tak akan bisa melupakannya jika dia memperlakukanku seperti ini.
Dia mengangkat daguku, lalu menciumku kembali… tak ada kata diantara kami.. dia hanya melumat bibirku tanpa ampun, menghisapnya penuh nafsu, lidahnya menari-nari didalam rongga mulutku. Ya tuhan.. kapan siksaan ini berakhir. Lalu dia melepaskan ciuman kami kembali. Lagi-lagi aku menunduk malu.
“Maafkan aku..” katanya kemudian.
Aku hanya menggeleng. “Tidak apa-apa.” Jawabku kemudian. Akupun melanjutkan membasuh tubuhnya kembali seperti tak terjadi apapun diantara kami. Mas Revan menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan, Matanya tak pernah lepas dari wajahku, dan aku tak berani membalas menatapnya.
“Dara…” dia memanggilku dengan suara parau.
“Emm sepertinya sudah bersih, aku akan mengambilkan handuk untukmu.” Jawabku kemudian, aku mengelak. Aku tak ingin mendengar penjelasannya jika dia menyesal telah menciumku, itu membuatku sakit..
Setelah memakaikan handuk untuknya, aku menyibukkan diri untuk membersihkan kamarmandi. Jujur saja, aku tak berani menghadapinya. Aku takut dia mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatiku…
Keluar dari kamar mandi aku melihatnya masih berantakan, dia sudah mengenakan celana dan kemeja lengan pendek, tapi seluruh kancingnya masih terbuka.
Aku menghampirinya. “Mas Revan belum selesai..?” tanyaku selembut mungkin.
“Ini… Aku tak bisa mengancingkannya.” Katanya kemudian.
Aku tersenyum lalu menyuruhnya berdiri dan membantunya mengancingkan kemejanya. Lagi-lagi aku merasakan dia mentapku dengan intens, membuatku gugup den sedikit salah tingkah.
“Kenapa Kau menghindariku..??” pertanyaannya mengagetkanku. Aku mendongak dan mendapati wajahnya yang menatapku dengan tatapan sendu.
“Aku tidak menghindarimu.” Jawabku sambil menunduk dan mengancingkan kancing baju terakhirnya. “Sudah selesai..” kataku kemudian sambil akan bergegas pergi dari hadapannya.
“Kau menghindariku, bajumu bahkan tak satupun ada dalam lemari itu.” Katanya lagi. “Diamana Kau menyimpannya..?”
“Emmm.. Aku.. aku sibuk dengan urusan di kantor, jadi.. jadi aku menjadikan ruang kerjamu sebagai tempat tidurku supaya lebih praktis.”
“Kau tidur di sana..?”
“Yaa… selama Mas Revan Koma aku tidur disana.” Aku berbohong. Selama ini tentu saja aku tidur di sebelahnya, di ranjang rumah sakit yang sedikit lebih keras dari pada ranjangku.
“Kau Bohong. Kau selalu menjagaku saat di rumah sakit. Kau bahan tidur di sana.”
Aku tersenyum meyakinkannya. “Aku memang selalu kesana, tapi aku tak tidur disana.” Lagi-lagi aku berbohong. “Aku akan turun, menyiapkan makan malam, Mas Revan istirahat saja.” Kataku lagi lalu pergi meninggalkannya.
***
Makan malam berlangsung sangat Canggung. Bagaimana tidak. Aku duduk menghadap Mas Revan dan menyuapinya, sedangkan dia masih sama seperti tadi sore. Menatapku dengan tatapan tajam anehnya.
“Ada apa..?” Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Ada apa..? Aku tidak ada apa-apa..” jawabnya dengan Santai. Ada apa dengannya..?? Kenapa dia berubah..??
“Kalian terlihat mesrah.” Kata ibu kemudian yang seketika membuat keadaan semakin canggung.
“Ayah, Apa aku besok sudah boleh masuk kekantor lagi..?” tanyanya mengalihkan topik.
“Bukankah Kau masih sakit.?”
“Aku hanya tak ingin mati bosan didalam rumah.”
“Terserahmu saja. Sekalian Lihatlah perkembangan Dara, dia mempunyai kemajuan pesat, bahkan dia beberapa kali memenangka Tender besar selama Kau Koma.” Puji ayah terhadapku.
“Benarkah..?” tanyanya sambil menatapku.
“Ayah terlalu berlebihan..” jawabku merendahkan diri.
“Bukan hanya itu, dia bahkan menjadi primadona di dalam kantor kita.” Tambah Ayah lagi.
“Primadona..??” dia bertanya lagi kali ini dengan tatapan tajamnya. Aku hanya mengangkat bahu seakan-akan tak mengerti apa yang dimaksud ayah. “Lihat saja nanti, setelah aku masuk, apa dia masih akan menjadi primadona atau tidak.” Katanya kemudian membuatku sedikit bingung dengan apa yang dia maksud.
Aku melihat ibu dan ayah hanya tersenyum sedangkan Mas Revan sendiri terlihat santai seperti tak terjadi apapun.
***
Setelah makan, kami menuju kekamar. Niatku hanya untuk mengantarnya tidur dan mengobati tangannya. Aku membenarkan letak duduknya, membuka perban di tangannya, dan mulai mengobati. Kata Dokter, perbannya harus sering di buka dan di benarkan supaya nanti sembuh dengan maksimal dan kembali seperti semula.
“Bagaimana Kau bisa mempelajari tentang perkantoran..?” tanyanya kemudian sedikit mengagetkanku. Mas Revan benar-benar berubah, dia banyak bicara dan banyak bertanya. Berbeda dengannya dulu yang dingin dan pendiam meskipun aku berusaha mengajaknya berbicara.
“Ayah dan Mike yang mengajariku.” Jawabku seadanya.
“Kenapa Kau menerima saat ayah menyuruhmu menggantikanku.?”
“Kupikir tak ada yang bisa di percaya Ayah selain aku, jadi aku mencoba menerimanya sekaligus belajar.”
“Apa ada yang jail terhadapmu saat di kantor..?”
“Tidak, Mereka baik semua.” Jawabku dengan tersenyum.
“Mereka..?” Tanyanya dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Iyaa mereka para pegawai, aku dekat dengan mereka semua.” Jawabku lagi. “Sepertinya sudah selesai.” Kataku lagi sambil merapikan perban di tangannya dan bergegas untuk pergi. Tapi kemudian aku merasakan tanganku berada dalam genggamannya.
“Kau mau kemana..? tidurlah disini.” Katanya kemudian.
Aku sedikit tak percaya dengan apa yang dia katakan. Selama dua tahun sebelum dia kecelakaan, kami memang tidur bersama walau tak melakukan apapun, tapi dia lebih sering tidur di ruang kerjanya seperti sedang menghindariku, namun kini aku merasakan dia berbeda, dia menginginkan aku tidur di sebelahnya.
“Aku mau mengembalikan ini dulu.” Jawabku sambil menyodorkan kotak obat padanya.
“Baiklah.. jangan lama-lama.” Dan akupun mengangguk.
Malam ini dengan segala kegugupan dan kecanggungan akibat ciuman yang kami lakukan, akinya kami tetap tidur bersama tanpa melakukan apapun. Setidaknya aku senang, Mas Revan tak sedingin dulu. Dia sekarang bahkan banyak bertanya.
***
Menjadi pagi yang berat untukku karena lagi-lagi Mas Revan menjadi sosok sebelumnya, sosok pendiam dan dingin. Ada apa dengannya..???
Aku yang kini sedang memakaikan Dasi untuknya sedikit tak enak, lagi-lagi dia menatapku dengan tatapan anehnya..? Apa aku membuat kesalahan…??
Dengan dinginnya dia bertanya. “Apa Kau selalu mengenakan itu saat ke kantor..?” tanyanya dengan sedikit melirik kearah tubuhku.
Akupun betanya sambil melihat tubuhku sendiri. “Apa ada yang salah dengan pakaianku..??”
“Kupikir Kau mengenakan Celana Dan Bleazer yang lebih sopan.”
“Apa ini kurang sopan..?? kupikir semua karyawan wanita mengenakan pakaian seperti ini.” Jawabku kemudian. Saat ini aku memang sedang mengenakan Rok Pensil selutut dengan kemeja putih pas bodi di tambah lagi sepatu hak tinggi khas wanita kantoran pada umumnya. Kupikir ini pakaian yang paling umum.
“Bagiku kurang sopan, Kau kan sudah memiliki suami, apalagi suaamimu wakil dai perusahaan tersebut.” Katanya sambil bersungut-sungut. Tapi aku tak membalasnya.
Aku heran, apa sih ang menjadi masalahnya. Pakaian ini masih sangat sopan, apa lagi aku juga mngenakan Stocking. Lalu apa yang menjadi masalahnya..???
Akhirnya kamipun berangkat bersama. Mas Revan menyuruh pelayan rumah untuk memuatkan bekal untuk makan siang kami. Padahal aku ingin makan siang di kantin bersama dengan Karyawan supaya lebih dekat dengan mereka, tapi Mas Revan dengan dinginnya bilang “Nggak perlu.” Akhirnya aku menurut saja.
Masuk kedalam kantor, semua karyawan memberi hormat kepada kami, sedikit tak nyaman, walau sebelumnya aku menduduki kursi Mas Revan saat dia Koma, tapi aku sebisa mungkin menghambur dengan Karyawan lainnya, jadi mereka lebih menganggapku sebagai temank kerjanya, bukan atasannya. Tapi tentu saja itu berbeda dengan Mas Revan. Aura dingin tegas dan Arogannya sangat terlihat jelas. Membuat siapapun yang melihatnya langsung menundukkan kepala memberi hormat padanya, dan aku kurang nyaman akan hal itu.
Karena Lift khusus direksi sedang dalam perbaikan, akhirnya kami menggunakan Lift untuk karyawan umum.
Didalam Lift terdapat dua Karyawan Pria, mereka menyapa kami dengan menyunggingkan senyuman sopannya.
“Pagi pak.. pagi Bu…”
“Selamat pagi..” Jawabku ramah, sedangkan Mas Revan hanya mengangguk tak bersuara.
“Wah.. Bu Dara pagi ini semaki cantik saja.” Kata seorang Karyawan yang dekat denganku.
“Terimakasih.” Jawabku sambil tersenyum. Tiba-tiba aku merasakan tangan kiri Mas Revan melingkari pinggangku. Apa maksudnya..?
Tak lama pintupun terbuka, akhirnya kami keluar, tapi sebelum keluar Mas Revan mengucapkan kata-kata kepada dua Karyawan tersebut dan membuatku tercengang.
“Lain Kali jangan suka menggoda wanita lagi, apa lagi jika wanita itu istri dari atasan Kalian.” Sindir Mas Revan sambil menarikku keluar dari Lift. Sedangkan kedua karyawan tersebut hanya ternganga menatap kepergian kami.
“Apa Kau selalu kecentilan seperti itu saat dihadapan Kayawan..?” tanyanya kemudian saat kami sudah berada dalam ruanganya.
“Aku tidak kecentilan, aku hanya bersikap seramah mungkin.”
Dan dia kembali terdiam dan memilih duduk di ujung Sofa di dalam ruangannya. Akupun tak terlalu menghiraukannnya, dia bersikap aneh pagi ini. Aku membereskan meja dan mulai berkutat dengan setumpuk berkas-berkas yang bisa membuat kepalaku pusing. Tak lama pintu ruangan diketuk.
“Masuk.” Kataku kemudian.
Dan masuklah sosok yang tersenyum manis sambil membawa sebuah berkas di tangannya. “Selamat pagi Bu Dara.” Sapanya kemudian.
“Hai.. selamat pagi.” Kataku sambil berdiri dan menghampirinya. Aku melihat Mas Revan juga ikut berdiri dan menghampirinya.
“Kenapa dia bisa berada di sini..? Aku tak pernah mempekerjakannya.” Katanya dingin.
“Mas.. ini Andre, pegawai baru kita. Dan Ndre.. ini Mas Revan, CEO kita yang sesungguhnya.” Aku memperkenalkan mereka tanpa mempedulikan pertanyaan sinis dari Mas Revan.
“Selamat pagi Pak, senang bertemu dengan anda.” Kata Andre sambil mengulurkan tangan, sedangkan mas Revan terlihat membalasnya dengan enggan.
“Mas, Andre ini temanku saat bekerja di restoran, Aku merekrutnya kerja disini karena saat itu kami butuh seorang pegawai Administrasi, dan aku terpikir kenapa tak mengajak Andre saja, Ayah menyetujui, dan lihat.. sekarang dia memiliki kemampuan di bidangnya.”
“Aku hanaya ingat jika saat itu Kau mengatakan bahwa ia kekasihmu.”
Pernyataan Mas Revan kali ini benar-benar membuatku terkejut, aku tak menyangka dia masih ingat pernyataanku tersebut apalagi sampai mengucapkannya di hadapan Andre yang saat ini terlihat tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Emm.. mungkin saat itu Kau hanya salah dengar Mas..” Aku mencoba mengelak.
“Maaf pak.. tapi saya sama sekali tak ada hubungannya dengan Bu Dara.” Kali ini Andre mulai membela diri.
“Kalau tak ada hubungannya kenapa seorang staf Administrasi bisa sampai keruangan seorang CEO..? Apa itu masuk akal.?”
“Mas.. Kau sedikit berlebihan. Dia temanku.”
“Didalam Kantor tak ada yang namanya teman Dara.” Katanya dingin terhadapku.
“Kalau begitu maaf pak.. Saya permisi.” Kali ini Andre berbicara dan mulai bergegas pergi.
“Aku tak tau apa yang terjadi padamu hari ini Mas, Kau berbeda dengan kemaren.” Gerutuku saat Andre sudah keluar dari ruangan kami. Tanpa kusangka Mas Revan malah berjalan mendekatiku dan aku berjalan mundur menghundarinya hingga tubh bagian belakangku menabrak Meja kerja. “Apa yang akan Kau lakukan..?” tanyaku sedikit takut.
“Apa Kau tau jika kau yang membuatku berubah seperti ini.?” Dia mempengaruhiku, aku tau itu. Tubuhku jadi panas dingin saat mendengar ucapannya. Tubuhnya semakin mendekat daan hampir menempel seutuhnya pada tubuhku, aku mencondongkan tubuhku kebelakang supaya sedikit menjauhinya. Tiba-tiba pintu ruangan kami di buka. Dan menampilkan sosok yang sangat menyebalkan.
Amanda, Sebut saja Manda. Sejak Mas Revan Koma, dialah rival terberatku. Dia selalu mencari gara-gara terhadapku, aku tak tau apa masalahnya. Tapi saat mendengarnya di Restoran dulu, aku berpikir mungkin dia cemburu terhadapku.
Dia menatap kami dengan terkejut. Mas Revan lalu menjauhkan diri dariku. Lalu berjalan kearahnya. Tanpa kuduga Manda langsung memeluk Mas Revan tanpa merasa canggung sedikitpun.
“Rev… Astaga… akhirnya Kau kembali. Apa Kau tau jika aku begitu merindukanmu..?”
“Aku juga merindukanmu Man…” jawab Mas Revan dengan membalas pelukan Manda. Aku tak tau apa yang terjadi padaku. Yang jelas saat ini yang kurasaan adalah sakit.. aku sakit melihat mereka bersama apa lagi sampai nerpelukan sepeerti itu dihadapanku.
“Baiklah.. bukankah kita harus merayakan kembalinya dirimu..? Astaga.. aku bahkan sempat berfikir kau kau akan menyusul Lita.”
Dan aku tak menghiraukan percakapan mereka lagi, aku lalu kembali duduk di tempat dudukku dan tenggelam dalam berkas-berkas memusingkan ini, setidaknya itu lebih baik dari pada harus melihat mereka bermesraan.
***
Jam makan siangpun tiba, tapi Mas Revan belum kembali. Tadi dia pergi keluar dengan Manda, dan sampai sekarang belum kembali. Akhirnya aku hanya bisa memakan makan siangku didalam kantor sendirian. Sedikit sedih… apa aku akan selalu seperti ini nantinya..? Ya tuhan.. bukankah aku sudah memutuskan jika aku akan melupakannya..?? apa aku bisa..?
Makanan yang nikmat ini benar-benar terasa hambar. Tapi aku tetap memakannya. Jam makan siang selesai, dan aku kembali bekerja lagi hingga waktu menunjukkan pukul 6 sore.
Mas Revan belum juga kembali…
Apa dia sudah pulang terlebih dahulu..?? Kenapa dia meninggalkanku..??
Tanpa banyak berpikir lagi aku memutuskan untuk pulang, pulang sendirian. Aku benr-bena tak ingin memikirkannya lagi..
***
Kulemparkan tubuhku di atas Ranjang. Aku lelah… lelah dangan semua ini… kenapa dia bersikap seperti ini terhadapku..?? Sepertinya aku memang harus berendam malam ini.
Kusiapkan air lengkap dengan busanya untuk berendam, setelah siap akupun masuk kedalamnya tanpa sehelai benangpun. Rileks.. dan nyama… astaga.. ini seperti surga dunia… memejamkan mata aku menikmati setiap tetesan air lembut ini masuk dalam pori-pori kulitku. Cukup lama aku berendam diri hingga kurasakan air mulai mendingin. Aku memutuskan untuk keluar dan mengakhiri kesenangan ini.
Ketika kluar dari kamar mandi betapa terkejutnya aku mendapati Mas Revan sudah menunggu di depan pintu kamar mandi sambil besedekap. Gugup, benar-benar sangat gugup. Aku yang saat itu hanya mengenakan handuk sedikit canggung berada di hadapannya apa lagi dengan tatapan ane dari matanya.
Dia mendekat kearahku dan aku mundur lagi dan lagi hingga punggungku menempel pada pintu kamar mandi. “Kau.. kau mau apa Mas..?” tanyaku terpatah-patah.
Dia maju satu langkah, membawa sebelah kakinya berada diantara kedua kakiku. Menempelkan dadanya dengan dadaku. Dan berbicara dengan lembut di sela-sela Leherku.. “Aku menginginkanmu..” jawabnya parau.
Apa maksudnya..?? kenapa dia memperlakukanku seperti ini…?? apa yang dia inginkan..?? dan aku tak bisa berkata-kata lagi ketika dia mulai mencumbu bibirku dengan keahliannya….

_TBC_

Maaf yaa sedikit lama… hehhehe moho dimaklumi…

Please Stay With Me – Chapter 5

Comments 6 Standard
PswmpostrPlease Stay With Me

 

Chapter 5

–Revan-
Hari ini berlangsung membosankan untukku. Rapat menjadi berantakan karena aku tak konsentrasi pada rapat tersebut. Entaah apa yang ada dalam otakku aku tak tau, yang pasti aku selalu mendengar tangisnya dalam telingaku. Ini sedikit gila, aku tak pernah mengalami hal yang seperti ini. Apa tadi pagi aku sedikit keterlaluan..???
Aku hanya tak suka dia menghindariku. Bekerja tanpa meminta izin denganku. Aku tak suka itu. Apalagi setelah tau dia bekerja hanya untuk dekat dengan lelaki itu, lelaki yang katanya adalah kekasihnya. Apa dia sudah Gila..?? Apa dia terlalu bodoh..? Dia sudah memiliki suami dan baru beberapa hari yang lalu mengucapkan kata Cinta, tapi hari ini dia berkata jika dia memiliki kekasih. Sial…!!!
Akhirnya aku mengatakan kata-kata itu. Kata-kata yang lagi-lagi membuatnya menangis. ‘Baik.. Pergilah… Berbahagialah dengan dia, dengan begitu kita bisa cepat-cepat berpisah.’ Dan aku pergi meninggalkanya begitu saja. Aku sempat mendengar tangisnya, isakannya. Dan entah kenapa sekarang itu terngiang-ngiang di telingaku.
Apa aku sedah keterlaluan..?? Apa aku harus meminta maaf..?? Ayolah… aku sudah enyakitika semenjak dua tahun terakhir. Apa hanya karena kata-kata itu aku harus meminta maaf..?? tentu saja tidak.
Aku melihat kearah Jam tangan, Waktu sudah menunjukkan pukul 3 Sore. Sedangkan aku mempunyai janji temu dengan Amanda jam 5 nanti. Manda dalah satu-satunya teman atau sahabat terdekatku. Dia sahabat dari Lita. Dia menyayangi Lita. Dan tentunya aku harus menyayanginya juga.
Aku bergegas pergi, tapi sebelumnya aku akan kemakam Lita terlebih dahulu. Aku merindukannya….
***
Banyak bercerita dengan Lita membuat hatiku semakin tenang. Apa yang kuceritakan..?? Tentu saja tentang istri bodohku itu. Dan aku baru menyadari jika selama ini Hanya Daralah topik yang kubicarakan dengan Lita. Seakan-akan Lita sebagai teman curhatku untuk menghadapi Dara.
Yaaa… kuakui, Dara memang sedikit banyak menyita pikiranku. Aku berusaha sedingin mungkin terhadapnya dan juga memberi jarak untuknya karena aku memang tak ingin terlalu dekat dengannya. Kenapa…??? Aku sendiri tak tau. Aku hanya tak ingin hatiku perpaling kepadanya karena bagaimanapun bagiku hanya Lita yang pantas memiliki hati ini.
Aku mempercepat Laju Mobilku ketika memasuki jalan tol, walau ini masih jam 4, tapi aku ingin pulang dulu sebelum menemui Manda. Tanpa kusangka tiba-tiba ada seekor hewan berlari menyebrang tepat di depan Mobilku. Entah itu Kucing, musang atau anjing Liar. Yang kuataau saat itu adalah dengan paniknya aku membanting setir kekiri. Laju Mobilku yang di atas rata-rata semakin memperburuk keadaan, belum lagi kepanikan yang melandaku, bukannya menginjak Rem aku malah menginjak Pedal Gas. Alhasil Mobilku menerobos pembatas jalan. Dan masuk kedalam jurang.
Aku terguling-guling didalam Mobilku.menggunakan sabuk pengaman sedikit mengurangi resiko parahnya keadaanku, tapi tentu saja aku tetap terluka. Aku merasakan sengatan yang amat sangat menyakitkan di lengan kananku. Dia Patah… Masih terguling-guling aku meringis kesakitan… kapan ini akan berakhir…?? Apa aku akan selamat..?? dan setelah pertanyaan itu ada sedikit kebimbangan melandaku.
Aku ingin mati… karena mati akan membawaku kepada Lita, kekasihku… Tapi tuhan… Berikan aku sedikit waktu supaya Dara bisa menemukanku. Saat itu terjadi, aku hanya ingin minta maaf kepadanya karena sudah menyakitinya selama ini… Satu orang yang ingin kutemui saat aku sekarat hanyalah Dara… aku ingin meminta maaf padanya…
Lalu tiba-tiba… ‘Buuuuummmmbbb’
Mungkin Bodi depan Mobil ini sudah menabrak Dasar jurang, aku tak tau karena setelah benturan itu tak ada lagi apapun yang dapat kuingat.. semuanya gelap.. gelap… sepi… dan aku merasa sendiri… apa Tuhan mengabulkan Do’a pertamaku untuk mati dan bertemu dengan Lita..?? Jika benar, itu tandanya Do’a keduaku tak terkabul. Aku tak akan bisa meminta maaf kembali pada Dara.. aku tak akan melihat Wajah cantiknya lagi… dan entah kenapa itu membuatku sedikit nyeri…
***
“Mas… ini hari pertama aku masuk Kantor.. Disana tidak Nyaman.. Aku membutuhkanmu Mas… Kembalikah….”
Aku mendengar suara Dara. Dia terdengar begitu tersiksa. Tapi aku tak bisa melihatnya, ada apa ini..??
“Sudah satu bulan Kau meninggalkanku, Apa memang ini keinginanmu..? Kembalilah..”
Lagi-lagi aku mendengar suaranya yang Pilu..
“Apa Kau tau jika aku yang mencukur kumismu..? menyeka seluruh tubuhmu..? dan aku sendiri pula yang menggantikan pakaian untukmu..?? Kau sudah seperti Bayi besarku Mas.. Kembalilah… Bangunlah…”
Dan selalu sepeti itu… sesekali aku dapat mendengarnya, tapi aku tak bisa melakuan apapun. Aku lemah.. sangat lemah.. tak ada semangat untuk sembuh kembali..
***
Aku berjalan dengan langkah gontai. Dimana ini..?? melihat kearah tubuhku, aku masih utuh. Tanganku yang patah bahkan seperti tak terluka sedikitpun, Kecelakaan tadi bagaikan mimpi sedangkan disini bagaikan kenyataan.Saat ini aku mengenaakan kemeja putih dan celana putih. Kemeja ini terlihat sedikit kebesaran, tak seperti kemejaku pada umumnya yang selalu terlihat pas Bodi dan modis. Sedangkan celana putih inipun sedikit aneh. Aku tak pernah memiliki celana putih sebelumnya. Aku juga bertelanjang kaki, tak ada sepatu yang mengiasi kakiku seperti biasanya.
Aku menginjak rumput hijau nan indah. Hawanya terasa sangat sejuk,banyaknya kabut memperindah suasana dan membuatnya terasa semakin sejuk. Aku melihat seorang gadis datang menghampiriku, gadis yang selama ini kurindukan. Kekasihku, Lita…
Dia terlihat begitu nyata, tak samar seperti pada mimpi-mimpiku sebelumnya.
“Bagaimana kabarmu Kak..?” Tanyanya Lembut.
“Aku baik… bahkan lebih baik dari sebelum-ebelumnya.” Jawabu sedikit semangat.
“Mau ikut denganku..?” tanyanya sambil mengulurkan tangan, Aku menatapnya dengan tatapan tanda tanya. “Kita jalan-jalan sebentar disini.” Jawabnya lagi.
Dan akupun mengangguk. Kuterima uluran tangannya dan aku benar-benar terkjut dibuatnya. Jika selama ini dalam mimpiku aku sama sekali tak bisa menyentuh dan merasakannya, maka kali ini dia benar-benar begitu nyata untukku. Tangannya nyata… bahkan akupun merasakan kelembutannya.
“Kak Revan kenapa bisa sampai disini..?” tanyanya masih dengan mengajakku berkeliling.
“Aku juga tak tau.”
“Apa Kak Revan melihat dia..?” tanyanya yang kali ini sudah menunjuk kepada seorang anak perempuan kecil yang sedang naik ayunan.
“Dia siapa..?”
“Dia anak kita Kak.. kami sangat bahagia disini.” Katanya sambil menatapku sungguh-sungguh.
Akupun kembali menatapnya, benarka ini nyata..?? Ya tuhan.. aku bahkan merasakan kebahagiaan yang sangat mendalam saat mengetahui ini nyata. Kupeluk erat-erat tubuhnya sesekali mencium ubun-ubunnya. Astaga.. ssungguh.. aku sangat bahagia dengan semua ini.
“Apa Kak Revan tak menyesal berasa disini..?” tanyanya kemudian.
“Tentu saja tidak, Aku sangat bahagia..”
“Tapi sepertinya ada yang mengganjal fikiranmu Kak..”
“Aku… Aku… sepertinya harus menemui Dara..” dan entah kenapa aku bisa mengucapkan kalimat tersebut. “Emm.. maksudku, aku harus meminta maaf padanya dulu sebelum aku pergi.” kataku lagi.
“Ohh.. Dara.. Gadis yang selalu Kau ceritakan padaku, sepertinya dia gadis baik.” Katanya kemudian sambil tersenyum.
Dan entah kenapa bayangan Dara seketika muncul dalam benakku. “Yaa… dia gadis baik tapi bodoh. Dia mengabdi padaku layaknya seorang pelayan pribadi, padahal aku selalu mengacuhkannya.” Kataku mulai bercerita. Dan cerita-cerita tentang Dara langsung meluncur begitu saja dari bibirku.
“Kau merindukannya Kak..?” Tanya Lita lembut.
“Tidak… hanya saja, aku belum sempat meminta maaf dengannya.” Jawabku dengan nada lemah.
“Kembalilah Kak…” Katanya kemudian yang sontak membuatku terkejut.
“Apa yang Kau katakan..?? Tidak.. aku tak ingin kembali.” Jawabku dengan sedikit merajuk.
Lita menatapku dengan tersenyum, dia menangkup kedua pipiku.dan mulai berbicara.
“Lihatlah dirimu Kak… Kau terlihat kesakitan..” katanya kemudian.
“Aku kesakitan karenamu..” jawabku cepat.
“Tidak, dengarkan aku dulu.” Katanya kini sambil menutup mulutku dengan jari telunjuknya. “Kau terlihat Kasakitan karena menahan perasaanmu sendiri Kak.. Kau menyukainya, menginginkannya tapi Kau masih merasa bersalah padaku. Kau menyakitinya supaya dia menjauh darimu tapi Kau tak sadar jika saat kau Menyakitinya secara tak langsung Kau juga merasa tersakiti.”
“Tidak.. itu tidak seperti itu Lita..”
“Kak… lihatlah jauh kedalam dirimu.. Kau selalu membicarakannya saat mengunjungiku… kau Selalu bercerita tentangnya.. Kau bahkan tak sadar jika sedikit demi sedikit dia sudah merebut perhatianmu,. Kau tak sadar jika secara tak sengaja dia masuk kedalam hatimu. Itu sebabnya kenapa wajahku selalu terlihat samar saat berada dalam mimpimu, karena dengan tak sengaja Kau menggantikan Posisiku dengan dirinya.”
“Tidak.. bukan itu yang terjadi..”
“Kembalilah Kak… berbahagialah… Aku masih akan tetap menunggumu disini dengan anak kita, tapi waktumu bukan sekarang… dia lebih membutuhkanmu…”
“Tapi Aku membutuhkanmu..”
“Tidak… yang kau butuhkan adalah dia… bukan aku… dia yang selalu merawatmu selama ini… Kembalilah…..”
Bayangan diri lita menghilang sedikit demi sedikit.. taman yang kuinjakpun sekarang juga menghilang sedikit demi sedikit. Aku seperti berdiri di ruang Hampa, Hitam, Gelap, Pekat, dan aku hanya seorang diri. Tiba-tiba aku mendengar suara itu lagi… Suara Dara…

“Kumismu sudah tumbuh lagi Mas..”
“Apa Kau tau kalau hari ini ada seorang Klien yang sangat menjengkelkan..?? Dia Gila, Dia bahkan berani memegang Bokongku. Astaga… Dan aku langsung menginjak kakinya keras-keras dengan Heels ku.”
“Mas.. Apa Kau tak Lelah menutup mata..?? Bangunlah Mas.. Aku masih disini menuggumu.”
“Apa disana sangat indah..?? jika iya kenapa Kau tak mengajakku..? Aku lelah disini sendiri tanpamu.. Bangunlah…”
“Apa Kau ingin menjauh dariku..?? Jika Iya maka bangunlah… Aku berjanji akan menyerah dan meninggalkanmu jika Kau Bangun Mas… Bangunlah….”
Dia menangis lagi… menangis tersedu-sedu, terisak-isak… Tuhan… jika memang belum saatnya aku menghadapmu, Kembalikan aku padanya… beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya… jika memang apa yang dikatakan Lita itu benar, maka aku akan memulai semuanya dari awal kembali… setidaknya aku akan memperlakukannya dengan baik…. dan mungkin aku akan belajar untuk menerimanya… Bantu aku tuhan… bantu aku… Aku ingin hidup kembali bersamanya….
Dan tiba-tiba saja ada setitik cahaya putih dihadapanku. Ruangan yang semualanya gelap gulita seperti ruang hampa yang menyesakkan akhirnya sedikit diterangi oleh cahaya tersebut. Cahaya itu semakin lama semakin membesar.. semakin membesar hingga silau dan membuatku mengedipkan mata berkali-kali… mengedipkan mata…??? Tunggu… berarti aku sudah….
Dan aku tak dapat berkata-kata lagi ketika Rasa nyeri menghantam kepala dan tangan kananku. Rasa yang sepertinya sudah sangat lama tak kurasakan. Aku mengernyit, tak tahan dengan Rasa ini. Sedikit demi sedikit akhirnya mataku terbuka.. lampu terang rumah sakit, bau obat-obatan, cat ruangan yang warnanya putih, selimut dan gorden biru.. serta bunyi monitor di sebelahku menyambut kesadaranku. Kulihat tangan kananku yang masih di perban, tangan kiriku yang ber infus, serta tubuh dan wajahku yang penuh dengan kabel-kabel dan selang-selang Aneh.. Astaga… aku benar-benar mengalami kecelakaan. Kecelakaan yang sangat parah.
Aku menoleh kekiri dan mendapati dia sudah tertidur dengan pulasnya. Air matanya bahkan mengering di pipinya.
Cantik… sangat cantik…. kadang aku berfikir, bagaimana mungki Gadis secantik dia tak pernah memiliki kekasih sekalipun dalam hidupnya…??
Aku ingin bicara, tapi tak bisa. Suaraku tertahan. Akhirnya aku hanya memencet tombol darurat untuk memanggil suster keruanganku.
Suster tersebut datang, dan dia benar-benar sangat terkejut saat melihatku. Dia ingin membangunkan Dara, tapi aku menggelengkan kepalaku untuk melarangnya. Biarlah ini menjadi kejutan kecil untuknya besok pagi. Suster tersebut memanggil seorang dokter jaga untukku. Dokter tersebut sama terkejutnya.
“Pak Revan.. Sungguh, saya benar-benar tak percaya jika anda bisa melewati semua ini.” Katanya sedikit memujiku sambil melepaskan beberapa peralatan yang sudah tak digunakan di tubuhku. “Ini juga berkat istri anda yang setia menemani anda selama ini. Anda beruntung memilikinya.” Katanya lagi sambil melirik kearah Dara yang masih tertidur pulas.
“Apa.. Ada.. yang.. salahh.. saya.. susah.. bicara..” kataku terpatah-patah, dan itu benra-benar sangat sulit di ucapkan.
“Tidak Pak… Kami sudah melakukan banyak pemeriksaan. Organ-organ anda semuanya masih berfungsi dengan normal. Hanya tangan kanan anda saja yang patah, dan benturan keras di kepala Bapak menyebabkan bapak tak sadarkan diri selama hampir setahun lamanya. Kami fikir memang bapaklah yang tak memiliki semangat hidup hingga Pak Revan sendirilah yang menolak untuk sadar.”
Perkataan Dokter memang benar, aku memang menolak hidup karena aku ingin bersama dengan Lita. Tapi ketika mengingat Dara, semangat untuk hidup itu muncul kembali. Dan nyatanya aku bisa sadar lagi setelah mengingat semua tentang Dara…
“Pak revan akan susah berbicara itu wajar, mungkin nanti atau Besok Pak Revan akan lebih baik lagi.” Tambahnya lagi. Dan akupun hanya mengangguk. Setelah itu Dokter dan suster tersebutpun pergi meninggalkanku sendiri, hanya berdua dengan Dara dalam ruangan ini.
Aku memposisikan tubuhku agar miring kekiri, kearahnya… melihatnya tidur begitu damai membuat jantungku berpacu lebih cepat. Apa ini..?? akupun memposisikan tangan kananku yang masih di perban untuk melingkari pinggangnya, memeluknya. Bertahun-tahun lamanya baru kini aku memeluknya… merasakan rasa yang sangat dekat dan nyaman… kenapa seperti ini..???
***
Aku membuka mataku kembali ketika merasakan dia bergerak-gerak gelisah dalam pelukanku, dia akan bangun. Aku penasaran dengan reaksinya saat melihatku nanti. Dan tentu saja.. saat aku bersuara.. kulihat dia menatapku dengan tatapan anehnya.. ekspresinya sangat aneh, membuatku menahan tawa.
“Apa yang Kau lakukan..?” Tanyaku mengagetkannya. Matanya membulat saat pertama kali melihatku, bibirnya terbuka, ternganga seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Kau cantik, walau baru bangun tidur.” Tanpa sengaja kata-kata itu meluncur begitu saja, yaa… dia memang cantik saat bangun tidur. Ini pertama kalinya aku melihatnya bangun tidur karena biasanya dia dululah yang bangun.
“Terimakasih sudah menungguku.” Kataku dengan tulus.. ya… aku benar-benar tulus berterimakasih terhadapnya.
Tapi tanpa Kusangka dia langsung melompat berdiri dari Ranjang, menatapku masih dengan tatapan anehnya. Lalu berlari keluar begitu saja. Apa yang terjadi..?? apa ada yang salah dengan wajahku…???
Tak berapa lama dia kembali dengan waja paniknya dan juga membawa seorang dokter dan seorang Suster.
“Kau sedang apa..?” tanyaku lagi dan dia masih tak menjawab pertanyaanku, sepertinya dia masih syokh atau tak percaya dengan sadanya aku.
“Bu.. Pak revan memang sudah sadar sejak tadi malam, hanya saja Pak Revan tak ingin membangunkan Bu Dara.” Kata dokter tersebut menjelaskan.
“Jadi… jadi…” hanya itu yang bisa di suarakannya… dia menangis lagi. Dan tiba-tiba memelukku erat-erat…
‘deg.. deg.. deg..’ lagi-lagi perasaan aneh ini muncul kembali.. Adaa apa denganku..?? apa ini efek dari kecelakaan..??
***
Seminggu setelah sadarnya aku semua terasa membosankan. Dara sangat jarang kesini, menemuiku. Dia seperti sedang menghindariku. Suster bahakan pernah berkata, ketika aku masih koma, setiap saat Dara bersamaku, dia hanya pulang ketika kekantor menggantikan posisiku, setelah itu dia kembali lagi bahkan tidur di sebelahku. Tapi setelah aku sadar, Dia menjadi satu-satunya orang yang sangat sulit di temui. Tak pernah lagi tidur di rumah sakit. Ada apa dengannya..??
Pada akhirnya aku bersikeras untuk pulang. Padahal tanganku belum sembuh, tubuhkupun masih lemah. Tapi aku sungguh sudah sangat bosan berada disini.
Sore ini, akupun pulang. Dara tak menjemputku. Hanya ibu dan Ayah. Hana sedang sakit karena hamil anak keduanya. Dia tak bisa ikut menjemputku. Sedangkan Dara.. Kata Ibu Dara sedang sibuk membereskan kamar untuk kutempati nanti.
Sampai dirumah, dia menyambutku. Wajahnya terlihat lelah. Dan aku baru sadar jika dia benar-benar cantik. Kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari keberadaannya..???
Dia memapahku berjalan melewati tangga demi tangga menuju kekamar kami. Seteelah sampai di kamar, ibu meninggalkan kami berdua. Dia membaringkanku di ranjang. Lalu membuka satu persatu kancing kemejaku. Akupun menggenggam tangannya.
“Kau mau apa..??” Suaraku masih terdengar dingin seperti biasanya.
“Kau harus ganti baju Mas, aku akan membantumu.” Katanya kemudian lalu melanjutkan membuka bajuku kembali.
“Aku ingin mandi.. tubuhku lengket..”
“Tapi Kau belum bisa mandi seendiri Mas..”
“Kau bisa memandikanku.” Jawabku cepat. Dan dia memalingkan wajahnya. Malu..?? astaga.. tentu saja.. apa yang sudah kubicarakan tadi…?
Dan akhirnya disinilah kami, di dalam Kamar mandi aku sudah masuk kedalam Bathup dengan hanay mengenakan celana Boxer saja. Sedangkan dia masih mengenakan pakaian lengkapnya yang hampir basah kuyup karena terkena cipratan-cipratan Air.
Aku menegang saat melihat lekuk tubuhnya yang terlihat jelas bagaikan Selulit Erotis. Pakaiannya menempel seutuhnya pada tubuhnya karena basah. Wajah seriusnya saat membersihkanku.. tangan kecil dan halusnya saat dengan lembut mengusapkan sabun ketubuhku.. semuanya membuatku menggila.
Saat dia terduduk dihadapanku dan membersihkan bagian depat tubuhku, aku tak dapat menahannya lagi. Kugenggam telapak tangannya. Dan dia menatapku dengan tatapan tanda tanyanya. Melihatnya basah dan ternganga membuatku tak bisa menahan diri lagi. Kudekatkan tubuhku hingga semakin dekat dengannya dan… ciuman pertama kamipun tak terelakkan lagi.
Bibirnya terasa dingin dan lembut, sesekali aku menggigitnya dan melumatnya. Ya tuhan… apa yang sedang kulakukan..?? aku menginginkannya sangat menginginkannya… apa aku sudah gila..??? Apa kesadaranku sedikit tertinggal saat aku masih Koma…??
Kulepaskan tangannya dan mulai menekan tengkuknya, aku tak ingin kenikmatan ini berakhir begitu saja. Diapun menikmatinya, tangannya sudah meraba dadaku membuatku menginginkan lebih… Astaga… apa yang akan terjadi nanti..???

 

_TBC_

Heii… ternyata aku balik lebih cepat yaa… hehhehehehe gbagai mana chapter ini…??? tinggalkan komentarmu yaa… semoga besok mas Ramma sudah bisa di update kelanjutannya.. hehhehehe ooo iyaa dan ada yang mau baca nggak nii kisah cinta Hana Dan Mike…??? niii aku kasih posternya… kalo ada secepatnya prolog akan diluncurkan kalo enggak yaa nggak papa.


mbe    Ini untuk poster My Brown eye.. kisah cinta Hana (Adik Revan) dengan Mike (Kakak Lita mantan kekasih Revan yang sudah meninggal). kisahnya terjadi sebelum Dara dan Revan Menikah yaa,,, 🙂 😉

Please Stay With Me – Chapter 4

Comments 4 Standard
PswmpostrPlease Stay With Me

 

NB : ini special untuk yang sedang mantengin akunku saat ini hhahahaha… okk happy Reading.. makin kesini akan semakin seru.. jadi silahkan di baca… klo bisa kasih komen yaaa.. hhahahah

 

Chapter 4

 
Tadi malam aku tidur Sendiri. Tak tau kenapa Mas Revan tak kembali kekamar, mungkin kini dia sudah mulai jengah denganku, dengan keberadaanku. Dan sepertinya aku memang harus lebih menghindarinya.
Kulangkahkan kakiku menuju kedapur, membantu para pelayan menyiapkan sarapan. Mereka baik terhadapku, jadi tentu saja aku harus baik terhadap mereka. Tiba-tiba ibu menepuk pundakku dari belakang, membuatku sedikit terkejut.
“Revan ada di ruang kerjanya, Kau tak membuatkan Kopi untuknya..?”
“Emm.. aku akan membuatkan Bu.. tapi tolong Ibu yang mengantarkan saja yaa..”
“Kenapa seperti itu..?”
“Kumohon Bu.. Aku.. Aku hanya..”
“Hanya Apa..?” Suara dingin itu mengagetkanku. Dan aku melihatnya sedang berdiri tegap dengan tangan di lipat didada. Tatapannya tajam seakan-akan bisa menggoresku.
Aku menelan ludah dengan susah payah, tenggorokanku tercekat, sakit.. sakit karena perlakuan dinginnya. Sakit dengan keadaan ini. “Bu.. Sepertinya aku harus bersiap-siap berangkat kerja.” Pungkasku kemudian tanpa mengindahkan pertanyaannya tadi.
“Ini kan baru jam tujuh Dara, lagi pula bukannya kamu Sift malam hari ini..?” Aku hanya tersenyum manis terhadap Ibu lalu bergegas pergi melewatinya.
“Jangan pergi.” Katanya dingin. Aku menghentikan langkahku tak menyangka jika tiba-tiba dia mengatakan itu terhadapku. Tiba-tiba aku merasakan tangan besarnya menyambar tanganku dan menyeretku kelantai dua, kekamar kami.
“Apa yang Kau inginkan..? Kenapa tiba-tiba Kau kerja tanpa meminta izin padaaku.?”
“Aku butuh pekerjaan.”
“Aku bisa memberimu uang. Berapa yang Kau inginkan..?”
Aku menatapnya dengan tatapan sendu. Tidak.. aku tak menginginkan uangmu. Aku hanya tak suka jika aku berstatus sebagai istrimu namun sebenarnya aku hanya boneka pajangan untukmu.
“Katakan berapa yang Kau inginkan..?” tanyanya lagi.
“Aku tak ingin Uang.”
“Lalu apa yang Kau cari dengan pekerjaan seperti itu..? Apa Lelaki yang mengantarmu tadi malam..? Apa dia kekasihmu..?” tanyanya lagi.
Kekasih..?? Astaga… bahkan sampai saat inipun aku tak pernah mempunyai kekasih Mas. Aku selalu mencintaimu. Dari dulu hingga sekarang, dan mungkin akan selalu mencintaimu hingga aku mati.
“Iyaa..” Tak tau apa yang terjadi padaku hingga aku mengucapkan kata ‘Iya’ padanya. Aku hanya terlalu sakit, terlalu sakit dengan perasaan ini.
Aku melihatnya diam, Diam ternganga karena jawabanku.
“Baik.. Pergilah…” Kataya kemudian sambil menjauhiku. “Berbahagialah dengan dia, dengan begitu kita bisa cepat-cepat berpisah.”katanya sambil pegi meninggalkanku.
Aku terduduk lemas karena perkataannya. Dan sekali lagi aku menangis untuknya. Ya tuhan… kenapa selalu seperti ini..??? kenapa orang yang mencitai yang akan selalu kalah..? kenapa Kau buat aku mencintainya begitu dalam..?
***
Aku berjalan tergesa-gesa diatas trotoar jalan, takut jika terlambat masuk kerja. Tadi pagi waktu kuhabiskan hanya untuk menangis hingga aku ketiduran, dan ibu baru membangunkanku tadi satu jam sebelum jadwalku berangkat kerja.
Mas Revan sudah tak ada di rumah. Memang selalu seperti itu. Pergi kerja tanpa pamit denganku. Sekalipun aku tak pernah memasangkan dasi untuknya layaknya seorang istri pada suami-suami pada umumnya, dia juga tak pernah mencium keningku apalagi memberiku Morning Kiss. Astaga…. aku bahkan tak pernah memikirkannya. Tapi aku selalu membukakan sepatunya saat dia pulang, menyiapkan airhangat untuknya. Membuatkannya bekal setiap pagi walau aku tak tau apa dia memakannya atau tidak. Dan beberapa hari ini aku meninggalkan semua kebiasaanku selama dua tahun tersebut.
Apa dia merasa kehilangan…???
Astaga.. apa yang kufikirkan… tentu saja tidak. Bahkan tadi pagi perkataannya masih terngiang ditelingaku. ‘Baik.. pergilah… Berbahagialah dengan dia, dengan begitu kita bisa cepat-cepat berpisah.’ Dia benar-benar ingin secepatnya berpisah denganku.
Tak terasa aku sudah sampai di tempat kerja. Mengganti pakaian dengan seragam kerja dan mulai bekerja. Membersihkan sisa-sisa makanan dari para pelanggan adalah pekerjaanku. Jika ibuku tau mungkin dia akan melarangku bekerja di tempat seperti ini.
Aku memang tak sekaya Mas Revan, Namun kehidupanku tercukupi. Aku juga bukan wanita biasa sederhana seperti dalam sebuah novel-novel klasik. Aku juga mengetahui Mode, banyak yang berkata jika aku cantik, tapi tetap saja, secantik apapun jika tak bisa menaklukkan hati orang yang dicintainya semua itu akan terasa hambar.
Aku hambar karena Rasaku sudah terbawa dengan dinginnya sikap Mas Revan.
Aku membersihkan sebuah Meja dengan sedikit kikuk ketika sebuah suara yang terdengar familiar di belakangku. Mencoba untuk melihat siapa si pemilik suara tersebut, dan ternyata itu adalah Wanita beberapa hari yang lalu yang tak sengaja kutemui di rumah, dia teman Mas Revan. Bersama teman-teman wanitanya sedang memakan makan siang di restoran kami.
Sebenarnya aku tak tertarik dengan percakapan mereka, Namun tiba-tiba si wanita tersebut menyebut nama suamiku.
“Astaga… Apa kalian tak percaya..? Revan sudah berada dalam genggamanku sekarang.”
“Tapi Manda, aku pernah mendengar dia sudah menikah.”
“Menikah..?? Kau percaya dengan kabar itu..?? Nyatanya Revan masih sering menginap dalam Apartemenku. Lalu dimana istrinya..?? Apa kalian pernah melihatnya kepesta dengan wanita lain selain aku..??” Kata Wanita yang bernama Manda itu dengan Congkaknya.
Dan itu mampu merobek-robek Hatiku. Selama ini aku berdiri di tempat yang sama untuk menunggunya, kukira setelah dia melupakan kekasihnya yang telah meninggal dia akan berpaling denganku. Tapi kenyataannya sangat pahit. Dia bahkan sudah memiliki kekasih lain. Lalu apa gunanya aku selama ini mengabdi untuknya…???
Mataku berkaca-kaca. Tidak… Aku tak boleh menangis sekarang.. tapi tubuhku menghianatiku. Tanpa mempedulikan sekitarku, aku berlari menuju kamar Kecil dan menangis sepuas-puasnya disana. Ya tuhann…. kenapa seperti ini…???
Tak lama pintu kamar kecil ini di ketuk, semakin lama semakin keras. Diiringi dengan panggilan namaku.
“Dara.. Dara… Kau kah disana..?? Buka pintunya Dara.” Itu suara Andre.
“Iyaa aku akan segera keluar.” Kataku kemudian smbil membenarkan penampilanku dan bersiap-siap keluar. Dia luar aku sudah melihat Andre engan wajah paniknya.
“Ada apa..?” Tanyau kemudian.
“Ada telepon untukmu. Katanya.. katanya…” dia terlihat ragu untuk mengatakannya.
“Ada apa Andre..??”
“Lebih baik Kau sendiri saja yang mengangkatnya.” Kata Andre sambil menarikku ketempat Telepon tersbut.
“Halo..” Aku mulai mengangkat telepon tersebut dengan takut-takut. Perasaanku tak enak, menerka-nerka apa yang terjadi. Dan setelah aku mendengar suara tersebut, tubuhku sontak jatuh tersungkur, dan aku tak ingat apa-apa lagi.

 
***

 
Masih dengan menangis, aku berlari di sepanjang koridor rumah sakit dengan Andre di sebelahku. Tubuhku masih sedikit lemas karena sempat pingsan tadi saat mendengar kabar tersebut.
Mas Revan kecelakaan, keadaannya Parah dan diaa Kritis. Kondisinya semakin menurun, dan aku tak mendengar apapun lagi yang dikatakan Hana pada saat itu, sesekali aku hanya mendengar tangisan histeris dari Ibu di belakang Hana.
Setelah berlari cukup lama, akhirnya sampailah aku di ujung lorong tersebut. Semua keluarga ada di luar ruangan, aku tak melihat Ibu, mungkin dia ada di dalam. Hana berlari kearahku dan memelukku masih dengan menangis.
“Tunggu… jangan menangis Hana.. Kau tak boleh menangis..” kataku kemudian.
“Mas Revan parah.. hanya kecil kemungkinannya untuk dia..”
“Tidak… Dia tak akan meninggalkanku sendiri.” Kataku kemudian. Tuhan… kenapa kau siksa aku seperti ini. Belum sekalipun aku melihat senyumannya lagi tapi kenapa Kau ingin ambil dia dariku…??? Apa kau ingin menyatukannya dengan kekasihnya disana..?? lalu bagaimana denganku…??
Aku masuk kedalam ruangan tersebut. Dan disana sudah ada Ibu yang masih menangis menjadi-jadi. Semua terasa kosong untukku. Aku bahkan tak mendengar dan merasakan ibu yang menangis sambil memelukku. Yang ada di dalam pandanganku saat ini hanya dia… lelaki yang terbujur lemah dengan banyak perban dan peralatan di tubuhnya.
“Kata polisi dia berniat bunuh diri Dara… Dia menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan hingga masuk kedalam jurang… dia ingin bunuh diri Dara…”
Airmataku jatuh dengan sendirinya, aku menagis tanpa mengeluaran suara, aku terpukul.. Mas… kenapa Kau tega melakukan ini terhadapku..?? Kenapa Kau ingin meninggalkanku dalam keadaan seperti ini..?? Jika Kau mati, apa Kau pikir aku bisa hidup tanpamu…?? Aku juga akan Mati Mas… Kau jahat… Kau sangat jahat… Kenapa memilih jalan ini untukmu sendiri..?? setelaah itu, aku tak ingat apa-apa lagi. Mungkin aku sudah pingsan untuk kedua kalinya.
***
Satu hari..

 
Satu Minggu…

 
Satu bulan…

 
Dua bulan….

 
Dan entah sudah berapa bulan aku tak menghitungnya lagi. Yang aku tau saat ini hanyalah memandikannya, membacakan cerita untuknya, mengajaknya berbicara. Bernyanyi untuknya… tanpa tau sampai kapan aku harus melakukan itu…
“Kumismu sudah tumbuh lagi Mas..” Kataku sambil tersenyum dan meraba kumis tipisnya.
“Apa Kau tau kalau hari ini ada seorang Klien yang sangat menjengkelkan..?? Dia Gila, Dia bahkan berani memegang Bokongku. Astaga… Dan aku langsung menginjak kakinya keras-keras dengan Heels ku.” Kataku mulai bercerita.
Setelah Mas Revan kecelakaan dan Koma hampir setahun yang lalu, Akulah yang memegang kendali Posisi Mas Revan dengan bantuan Ayah mertuaku dan Mike suami Hana tentunya. Semuanya berjalan dengan baik, dan teratur. Aku menjadi wanita yang berbeda. Jika dua tahun yang lalu aku jadi gadis yang cengeng, maka satu tahun terakhir dengan kecelakaannya Mas Revan aku berubah menjadi wanita yang kuat dan tegar.
Ibu dan Hana sempat khawatir karena tak pernah melihatku menangis lagi. Mereka hanya tak tau jika aku hanya akan menangis di hadapan Mas Revan. Aku tidur disini, setiap hari. Atas permintaanku, rumah sakit Menyediakan Ranjang yang lebih besar lagi untuk Mas Revan, jadi aku bisa tidur disebelahnya. Tentu saja itu dengan persetujuan Mike, Suami Hana sekaligus pemilik dari rumahsakit ini.. Aku bahkan sudah mengenal seluruh pegawai rumah sakit disini.
“Mas.. Apa kamu tak Lelah menutup mata..?? Bangunlah Mas.. Aku masih disini menuggumu.” Kataku lagi yang kini sudah disertai dengan tetesan air mata.
“Apa disana sangat indah..?? jika iya kenapa Kau tak mengajakku..? Aku lelah disini sendiri tanpamu.. Bangunlah…” kataku lagi sambil sesenggukan.
“Apa Kau ingin menjauh dariku..?? Jika Iya maka bangunlah… Aku berjanji akan menyerah dan meninggalkanmu jika Kau Bangun Mas… Bangunlah….” kataku lagi sambil menangis tersedu-sedu. Aku sudah tak tahan lagi jika seperti ini. Aku sudah lelah.. aku sudah tak memiliki kekuatan untuk bertahan.. tidak… aku tak ingin meninggalkannya, tapi aku ingin menyusulnya…
***
Entah berapa lama tadi malam aku menagis hingga aku tak sadar jika sudah tertidur pulas di sebelah Mas Revan. Aku membuka mataku ketika sinar matahari mulai menembus kaca ruangan ini. Ternyata tadi malam aku benar-benar ketiduran hingga lupa belum membenarkan letak Gorden di jndela ruangan ini..
Ketika aku akan bangun. Betapa terkejutnya aku mendapati suatu keanehan yang ada di sekitarku. Posisiku yang tadi menghadap jendela membelakangi Mas Revan benar-benar tak menyadarkanku jika ada Lengan kekar yang sudah melingkari pinggangku.
Jantungku berdegup kencang. Ya tuhan… apa ini Lengan Mas Revan…?? Aku menoleh kebelakang dan benar saja, aku sudah mendapati wajahnya miring kearahku, bukan menghadap keatas seperti biasanya. Dan aku memukuli kepalaku sendiri. Astaga… apa yang sedang kulakukan..??? tadi malam mungkin saking aku merindukannya aku membawa tangannya hingga memelukku.
Gila… aku benar-benar sudah gila.
Akhirnya aku sedikit bangun dan membenarkan letak tangannya kembali, padahal itu adalah tangan kananya yang patah.
“Apa yang Kau lakukan..?”
Dan suara serak tersebut menghentikan semua gerakanku. Tunggu dulu. Apa itu suaranya..??? Aku benar-benar mendengar suaranya, suara yang sudah sangat lama sekali tak terdengar di telingaku. Ya tuhann… apa aku memang sudah mulai gila…???
Aku sedikit melirik kearah Mas Revan. Dan benar saja. Dia menatapku dengan tatapan Anehnya. Dia bangun… Astaga… Apa ini nyata…??? Apa dia benar-benar bangun…??
“Kau cantik, walau baru bangun tidur.” Katanya kemudian, dan aku mesih belum bisa bereaksi. Tuhan… apa ini nyata..?? sepertinya tidak. Mas Revan tak akan berbicara seperti itu jika melihatku.
“Terimakasih sudah menungguku.” Katanya lagi sambil tersenyum. ini kali pertama dia tersenyum padaku setelah hampir tiga tahun kami menikah. Tapi aku masih tak bereaksi. Sepertinya aku memang sudah Gila. Aku bahkan membayangkan hal-hal yang tak mungkin terjadi.

 

__TBC__

 

Hayoo.. hayooo apa yang terjadi yaa… emmm ada yang enasaran nggak sihh,,,???? Chapter selanjutnya adalah POV Revan, dan akan selalu di gilir seperti itu yaaa… hohohohoho

Please Stay With Me – Chapter 3

Comments 6 Standard
PSWMPlease Stay With Me

 

NB ; Chapter ini POV Revan yaa.. 🙂

 

Chapter 3

 
-Revan POV-
Hujan di sore ini tak menyurutkan niatku untuk menemuinya. Tak lupa aku membelikannya seikat bunga mawar merah untuknya, melambangkan perasaan cintaku yang masih membara untuknya. Sang penjual Bunga bahkan hafal dengan bunga pesananku. 8 tangkai bunga mawar merah yang di ikat menjadi satu. Kenapa 8..? aku sendiri juga tak tau. Aku hanya sedikit mengingat perkataannya jika angka delapan melambangkan angka keabadian, angka yang tak ada titik putusnya seperti angka-angka yang lain.
Dan aku berharap Cintaku padanya juga seperti angka 8. Yang abadi dan tak akan pernah putus.
Dengan meengenakan payung hitam dan juga setelan Hitam, seperti biasa aku menghadapnya dengan tenang. Menghadap batu nisannya….
Aku tak mempedulikan hujan yang sedikit membasahi bajuku. Aku tak mempedulikan orang yang melihatku dan berkata jika aku gila. Yaa aku memang gila.. Tuhan… aku benar-benar tak bisa hidup tanpa wanita yang terbujur kaku di balik tanah yang kuinjak sekarang ini…
Aku menatap baatu nisannya seakan-akan aku menatap wajahnya.. wajah yang perlahan mulai memudar dalam ingatanku. Aku berusaha sekeras tenaga untuk mengingat masa-masa dimana kami bahagia bersama.
Aku mengenalnya beberapa tahun yang lalu. Gadis yang ceria, Agresif dan Posesif. Itulah Talita… Lita kekasihku. Aku menyayanginya, sungguh sangat menyayanginya. Dialah wanita satu-satunya untukku. Tapi tentu saja Cinta kami tak berjalan mulus dan itu menyebabkan dia meninggalkanku untuk selama-lamanya…
Seseorang yang ingin memisahan kami membuat kekacauan dengan menfitnahnya berselingkuh dengan lelaki lain. Padahal saat itu dia sedang mengandung Anakku, dan dengan bodohnya aku mempercayai orang tersebut. Aku meningggalkannya, mencampakannya begitu saja. Mungkin karena itu dia bunuh diri dan meninggalkanku untuk selama-lamanya.
Aku yang saat itu baru tau kebenarannya berusaha untuk mencarinya. Dan dua tahun yang lalu aku mendapati jika dia sudah meninggal karena bunuh diri.
Bodoh.. aku benar-benar lelaki bodoh. Segampang itukah aku mempercayai perkataan orang…??? Aku menggelap, duniaku menghitam. Tak ada lagi cahaya untukku berjalan. Aku hanya bisa berhenti ditempat dan menoleh kebelakang. Menoleh kepada masa-masa indahku dengan Lita, menoleh kepada kesalahanku.. dan menoleh pada penyesalan terdalamku.
Sungguh.. aku sangat menyesal. Aku tak memiliki tujuan hidup lagi. Dan aku tak memikirkannya lagii.. aku hanya ingin meninggalkan semuanya dan kembali bersama Lita.. tapi semuanya menjadi sulit ketika Gadis itu datang.. Gadis Bodoh yang memperlakukan dirinya sebagai pelayan pribadiku demi gelar seorang Istri. Aku tau dia menderita.. tapi aku juga lebih menderita..
“Hai… Bagaimana kabarmu..?” Sapaku pada Batu Nisan Lita.
“Apa Kau tau jika hariku semakin memburuk..?”
“Datanglah kemimpiku.. Aku merindukanmu..”
Aku tersenyum masam, memang seperti ini keseharianku. Saat makan siang atau ada waktu luang di sore hari, aku akan menyempatkan diri untuk mengunjunginya.
“Apa Kau tau, Dia Kacau.. Dia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Apa yang harus kulakukan..?” tanyaku lagi.
“Akhir-akhir ini dia berbeda. Dia tak lagi menjadi pelayan pribadiku.” Kataku mulai bercerita.
Dara.. Istriku, Dia adalah Gadis baik tapi Bodoh. Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai teman atau sahabat dari hana, adikku. Tapi aku tak menyangka jika ibu menyuruhku untuk menikahinya.
Saat itu aku hanya menuruti kemauan ibu yang sedang sakit keras. Ibu mau aku menikah dan melupakan semua masa laluku. Dan calonnya adalah Andara.. istri yang sampai kini tak pernah kusentuh karena aku memang tak memiliki perasaan lebih untuknya.
Kupikir Dara akan menolak lamaranku, tapi nyatanya dia menerimanya. Itu yang membuatku marah. Aku hanya ingin hidup sendiri tapi dia selalu menempel disekitarku dengan status seorang istri. Aku membuat hubungan kami sedingin mungkin hingga dia berhenti berharap, lelah dengan keadaan dan ingin berpisah denganku. Namun nyatanya.. dia bertahan hingga 2 tahun lamanya.
Sedikit Iba saat melihatnya. Dia mengabdi layaknya seorang pembantu pada majikannya. Tapi aku tak mengindahkan itu. Itu pilihan yang Dara pilih, itu bukan salahku.
Pertahananku kini sedikit demi sedikit mulai mencair. Wajah Lita mulai samar-samar dalam ingatanku. Dan anehnya wajah Dara lah yang teringat jelas dalam ingatanku. Apa karena hanya Dara yang sering kulihat..??
“Datanglah ke mimpiku… Sungguh, aku ingin melihat wajah manjamu sekali lagi.” Lanjutku kemudian.
“Aku takut Lita.. Aku takut jika Kau tak datang ke mimpiku, Aku akan melupakanmu.”
“Aku takut Tempatmu akan tergantikan dengan wanita lain.. Datanglah Lita.. kumohon.”
Aku berjongkok, mengusap-usap bahkan mencium batu nisannya. Aku merindukannya.. sungguh sangat merindukannya…
***
Saat ini aku sudah berada di halaman depan rumahku. Setelah mengunjungi Lita aku memutuskan untuk pulang. Aku merasa badanku sedikit tak enak. Entahlah… mungkin daya tahan tubuhku menurun.
Masuk kedalam, Aku merasa rumah sangat sepi. Aku memang tak pernah pulang sore seperti ini. Aku melihat kanan kiri dan yang kulihat hanya beberapa pelayan Rumah ini.
“Revan.. kamu kok sudah pulang..?” Tanya ibu yang bergegas keaarahku.
“Aku sedikit tak enak badan Bu.. Aku mau istirahat.”
“Baiklah.. Tidurlah dulu. Nanti ibu bangunkan saat tiba makan malam.”
Dan akupun mengangguk. Lalu bergegas pergi ke kamar. Tapi baru beberapa langkah aku berhenti. Sepertinya ada yang aneh.
“Ada apa Rev..?” tanya ibu lagi.
“Dimana Dara..?” Dan aku sedikit tak sadar ketika menanyakan keberadaan wanita itu.
“Dara Kerja, dia belum pulang. Biasanya jam 6 baru pulang.”
“Kerja..? Kerja apa..?”
“Dia kerja di salah satu restoran cepat saji.”
“Untuk apa dia kerja..?”
“Dia terlalu bosan dirumah sendirian tanpa ada yang di kerjakan.” Jwab ibu kemudian. “Tumben sekali Kau menanyakannya..?”
Dan akupun kembali bergegas menuju kamarku tak mempedulikan pertanyaan terakhir ibu. Yaa… Tumben sekali aku menanyakannya..? Ahh sudah lah…. bukankah itu bagus jika dia kerja berarti semakin kecil kemungkinanku berinteraksi dengannya.
Akupun masuk kedalam kamar. Menaruh tas dan Jasku pada tempatnya. Melonggarkan dasiku lalu duduk di tepian ranjang dan bergegas membuka sepatuku.
‘Degg…’
Aku merasakan ada sesuatu yang hilang, ada sesuatu yang salah disini. Apa itu..?? tapi aku tak menghiraukannya. Akupun bergegas masuk kedalam kamar mandi. Dan lagi-lagi perasaan aneh itu datang kembali. Perasaan apa ini..??
Dan ketika aku mengingatnya aku beru menyadari jika aku kehilangan suatu perasaan yang selama dua tahun ini kurasakan. Perasaaan dilayani.
Jika biasanya ada seorang yang menyambutku saat aku pulang dari kantor, saat ini tak ada lagi. Tak ada yang menyiapkanku air hangat, tak ada yang memilihkanku baju bersih, tak ada yang membuka sepatuku, dan tak ada juga yang menyiapkan secangkir kopi saat aku sedang bekerja di ruang kerja.
Kenapa ini…?? Kenapa aku merasa kehilangan dia..??
Beberapa hari ini memang ada yang sedikit berbeda dengan Dara. Dia cenderung menghindariku. Walau selama ini aku berusaha bersikap dingin dan mendiaminya tapi dia selalu mencoba untuk mengajakku berbicara, tapi beberapa hari ini dia berbeda.
Apa karena pernyataan cintanya saat itu..?? Ahh… mungkin saat itu Dara hanya mengada-ada saja.
Apa Dara memiliki kekasih lain di luar rumah..? Dan entah kenapa aku sangat tak setuju dengan pemikiran terakhirku tersebut. Dara tak mungkin memiliki kekasih lain di luar rumah. Aku mengenyahkan semua pikiran-pikiranku dan mulai bergegas masuk kedalam Bathup. Mandi air dngin tentunya. Seusai mandi dan berganti pakaian dan melemparkan diri diatas ranjang empukku. Tak lama kesadarankupun terenggut bersama dengan datangnya mimpi indahku.

“Haii kak..” Walau sedikit samar dia terlihat cantik, sangat cantik. Wajahnya bercahaya, senyumnya mempesona bahkan kini dia terlihat mengenakan sepasang sayap. Sangat mirip dengan seorang bidadari.
“Talita…” ucapku tak percaya dengan apa yang kulihat.
“Apa Kak Revan bahagia..?” tanyanya dengan memberikan sebuah senyman manisnya.
“Aku sangat menderita. Ajak aku bersamamu..”
“Tidak Kak.. Kau akan lebih bahagia bersamanya.. jangan takut untuk bahaga Kak..” kata Lita yang mulai perlahan-lahan menjauh.
“Tidak sayang jangan tinggalkan aku..” tapi bayangan Lita tetap saja menjauh. Cahayanya memudar. Dan perlahan-lahan menghilang digantikan oleh sosok wanita yang selama ini berada di sisiku, Andhara…

Aku terbangun dengan keringat dingin. Tapi aku masih merasakan tubuhku demam. Ada apa ini..? apa arti dari mimpi itu..? kenapa bisa Dara menggantikan posisi Lita..?? aku melihat jam di nakas menunjukkan pukul 10 malam. Menolehkan kepalaku kekanan dan kekiri, dan aku tak mendapati apapun kecuali mampan yang berisi berbagai menu makan malam.
Apakah Dara yang menyiapkannya..??
Ahh kenapa aku memikirkannya. Mungkin ini ibu yang melakukannya. Lagi pula Dara kan belum pulang. Belum pulang..?? Apa yang diaa lakukan hingga malam sudah larut tapi dia belum pulang juga..?? Apa terjadi seuatu padanya..??
Aku lalu menyambar Kimono tidurku dan begegas keluar dari kamar. Sedikit teringat dengan mimpi anehku tadi. Apa artinya itu..?? Apa itu artinya aku harus memulai hidup baru dengan Dara..?? Tidak.. itu tak mungkin terjadi. Karena kesalahanku Lita meninggal. Jadi bagaimana mungkin aku bisa hidup bahagia dengan wanita lain..?? tidak… Aku harus setia dengan Lita hingga hatiku sendiri yang memutuskan untuk menyerah dan kalah….
Dengan sebuah kopi hangat di tanganku, Aku duduk diatas ayunan yang berada di halaman depan rumah. Malam ini sangat tanang dan terang, meski sedikit basah karena di guyur hujan tadi sore, namun aku tetap menikmatinya.
Hingga sebuah motor bebek berhenti tepat di depan pintu gerbang rumahku. Seorang lelaki berseragam pengantar Pizza memberhentikan motornya didepan gerbang rumahku. Dia membonceng seseorang yang kini kuyakini adalah Dara, Istriku. Dara juga mengenakan pakaian yang sama. Mereka kerja di tempat yang sama.
“Terimakasih Ndre.. mau mengantarku.” Aku sedikit mendengar suara Dara yang terdengar tulus dan riang.
“Iya.. itu bukan masalah.”
“Baiklah, aku masuk dulu, kau berhati-hatilah.” Katanya lagi sambil melambaikan tangannya hingga motor itu mengilang dibalik tikungan jalan.
Aku melihatnya masuk tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya kearahku. Mungkin dia tak tau jika aku berada di sini.
“Dari mana saja Kau..?” Dan suara dinginku tersebut keluar memecah keheningan.
Sedikit terkejut dia menoleh kearahku. “Mas Revan…” Lirihnya.
Aku berjalan dengan langkah sangar kearahnya. Dia terlihat menciut. “Dari mana saja Kau..? Kau tau ini hampir tengah malam..?” Tanyaku lagi penuh dengan penekanan.
“Aku kerja.”
“Apa uangku masih kurang untuk membiayai hidupmu..?”
“Tidak, bukan seperti itu.”
“Lalu apa.?”
“Aku hanya ingin punya kegiatan dan punya banyak teman.”
“Teman yang bisa mengantar jemput sesuka hatinya maksudmu..?” Tanyaku dengan sedikit menyindir. Akupun tak tau kenapa aku ikut campur urusannya, Aku hanya tak suka diabaikan. Tanpa menunggu jawabannya, aku kembali masuk meninggalkannya bediri membatu di depan pintu.
***
Dengan kasar aku duduk dan bersandar di kursi Ruang kerjaku. Sepertinya malam ini dan seterusnya aku harus tidur disini. Kenapa..?? tentu saja semua itu ada hubungannya dengan istri bodohku itu.. sedikit banyak dia mulai mempeengaruhiku. Aku mulai ketagihan dengan kesetiaan dan pelayanannya hingga ketika dia tak melayaniku, aku merasa kehilangan.
Aku harus menghilangkan perasaan ini secepatnya…
Ditambah lagi Lita yang tak pernah masuk dalam mimpiku, kalaupun dia masuk, pasti seperti tadi, Wajahnya terlihat samar tak jelas. Hingga aku takut cepat atau lambat aku akan melupakannya. Tidak.. itu tak boleh terjadi…..
Lita kekasihku.. kekasih hatiku…

 

TBC

ada yang nungguin kelanjutanya nggak…??? Kalo nggak ada yaa nggak apa-apa.. hahhahah

Please Stay With Me – Chapter 2

Comments 5 Standard
PSWMPlease Stay With Me

 

NB: Haii.. ketemu lagi ama cerita ini nih. hehheh ooiiyaa sedikit bercerita nihh… sebenarnya ini tuh seri kedua ‘Hurt Love’ bikinanku. hehhe lahh mana yang seri pertamanya..?? Tenang aja.. seri pertamanya ada kok… tokohnya tentu saja Rihana alias Hana, adiknya Revan dengan Si Mike (Yang saat ini suda menjadi suami hana) hehehe. tapi entah kenapa aku lebih seneng nulis ini dulu.. hehhehe nggak papa yaa… ok.. happy reading aja dehh kalo gitu.. hehheehe.

 

Chapter 2

 
Aku berjalan dengan langkah gontai diatas trotoar, pikiranku kacau, tangisku pecah. Ya tuhan… Aku benar-benar tersakiti. Satu hal lagi yang membuatku kecewa, Dia tak mengejarku. Tentu saja.. Apa aku penting buatnya..? Apa aku berarti untuknya..? Tidak, Sama sekali tidak.
Akupun akhirnya terduduk di tepi trotoar, menangis tersedu-sedu seperti orang gila. Ya.. aku memang Gila, Gila karena Cinta.
“Heii.. Apa Kau baik-baik saja..?” Suara itu membuatku mengangkat kepala dan mendapati seorang yang tengah menunduk memperhatikanku. Dia seorang lelaki yang bagiku cukup tampan, mengenakan sebuah seragam kerja yang ternyata itu adalah seragam salah satu pelayan di restoran cepat saji di sini.
Aku hanya mengangguk pasrah, bagaimanapun juga aku tak ingin menceritakan kisah menyedihkanku kepada orang asing.
“Apa Kau butuh tumpangan..?” tanyana kemudian.
“Tidak, Aku baik-baik saja.” Jawabku sambil membenarkan penampilanku. Ada banya orang berlalu-lalang disini tapi kenapa dia yang berhenti dan memperhatikanku..??
“Aku bisa memberhentikan taxi untukmu.” Katanya kemudian. Dan aku hanya mengangguk. Baiklah.. mungkin aku memang harus kembali pulang. Aku tak mungkin kerumah ibu dengan berpenampilan seperti ini.
Akhirnya akupun melihatnya mnghentikan sebuah Taxi untukku. Aku memandangnya, Lelaki yang sederhana. Lelaki yang baik..
“Heii… Itu Taxi untukmu. Apa Kau ingin aku mengantarmu..? Kau tak terlihat baik.” Katanya lagi menyadarkanku.
“Tidak.. dan terimakasih Taxinya.” Jawabku sambil bergegas memasuki Taxi.
“Aku harap kita bisa bertemu lagi.. Aku Andre..”
“Dara.. Panggil saja Dara..” kataku kemudian dan Taxipun mulai berjalan.
“Sampai jumpa lagi Dara..” Teriak Andre yang kini masih terlihat memandangi Taxi yang sedang kutumpangi ini.
Aku menghembuskan nafas legaku, dan menyandarkan kepalaku kesandaran kursi. Untung saja tadi ada Lelaki baik yang menolongku. Aku tak habis fikir bagaimana jika tadi seorang pencuri atau penjahat yang menemukanku. Mungkin aku tak ada disini sekarang ini.
Akhirnya dengan perasaan terluka dan Kecewa akupun kembali pulang. Semoga saja Mas Revan tak ada di rumah.
***
Sesampainya di Rumah, Aku masuk dan mendapati Ibu yang dengan wajah khawatirnya berjalan kearahku.
“Astaga.. Apa yang terjadi Dara..? Kenapa Kau pulang sendiri..? Dan apa Kau tak jadi kerumah ibumu..??” tanya Ibu sambil berjalan menghampiriku. Aku tau dia khawatir terhadapku.
“Ibuku keluar Kota Bu..” Aku berbohong.
“Dan kenapa Kau pulang sendiri..? Kenapa Revan juga pulang sendiri..?” Ibu bertanya dengan raut wajah bingung.
“Jadi Mas Revan sudah pulang..?”
“Tentu saja, Dia ada di halaman belakang bersama dengan temannya. Kalian bertengkar..?” Tanya ibu lagi, dan aku hanya menggeleng.
“Aku lelah Bu, Aku hanya ingin istirahat.” Kataku kemudian sambil bergegas masuk kedalam Rumah. Tapi ketika aku masuk, Aku mendapati Mas Revan sedang berbicara dengan seorang wanita cantik, dan Seksi. Tapi wanita itu berpakaian Rapi. Tapi walau rapi tetap saja tak akan mengurangi kesan seksinya.
Siapa Wanita itu..??2
Kenapa mereka terlihat sangat Akrab..??
Apa hubungan mereka..??
Dan pertanyaan-pertanyaan tersebutpun menari-nari didalam otakku. Aku takut… Aku takut jika Mas Revan bisa membuka hati untuk wanita lain tapi tak bisa membuka hati untukku. Aku takut dia pergi meninggalkanku….
Ketika aku menatapnya, pada saat yang bersamaan dia menatap kearahku. Senyum yang tadi mengembang di wajahnya langsung lenyap begitu saja saat memandangku. Tatapan matanya dingin, sedingin Es.. bola matanya membara seperti api yang menyala-nyala. Dia marah terhadapku, aku tau itu, Tapi kenapa..?? Bukankah seharusnya aku yang marah…??
“Siapa dia Rev..?” tanya wanita tersebut dengan nada manjanya.
“Bukan siapa-siapa.” Jawabnya dingin penuh dengan penekanan. Dan aku tak dapat meendengar apa-apa lagi karena aku mempercepat langkahku supaya cepat sampai di dalam kamarku di lantai dua.
Dia jahat… sangat jahat…
Aku tak sanggup lagi menahannya. Sedikit berlari aku menuju kamarku, kubuka lalu aku masuk dan kututup kembali pintunya. Tak lupa aku mengunci pintu Tersebut. Kulemparkan tubuhku pada ranjang empuk dihadapanku. Aku menangis sejadi-jadinya meski aku tak berani mengeluarkan suara tangisanku. Air mataku tak pernah kering untuk menangisi sosoknya…
Kenapa seperti ini…??? Kenapa dia tega melakukan semua ini…??
***
Aku terbangun saat hari mulai gelap. Kepalaku sedikit pusing, mungkin karena aku terlalu banyak menangis. Sejujurnya aku hanya butuh teman untuk menuangkan perasaanku. Aku butuh cerita. Aku membutuhkan Hana disisiku. Tapi tentu saja tak bisa. Dia sudah memiliki keluarga sendiri. Dan aku… Aku hanya bisa menangis sendiri.
Aku mendngar beberapa kali pintu di ketuk. Jujur saja aku malas membukanya. Mungkin itu Mas Revan. Tapi mendengar suaranya ternyata bukan. Itu ibu..
“Dara.. buka pintunya sayang.. Ibu membawakanmu makan malam.”
Dan akupun begegas membuka pintu Kamar. Aku mendapati Ibu tengah membawa nampan berisi makan malamku, tampak sekali raut wajahnya sedih. Mungkin ibu sedih melihat hubunganku dan Mas Revan yang tak kunjung baik..
“Makanlah dara, Kau akan sakit jika tak makan.” Kata ibu kemudian. Ibu tak menanyakan keadaanku. Aku tau jik ibu sudah mengetahui dinginnya hubunganku dengan putranya itu, tapi ibu hanya memilih diam, tak ikut campur masalah kami.
Kuambil nampan dari tangan ibu. Dan ketika ibu akan bergegas pergi, aku memanggilnya.
“Bu… Apa aku boleh pergi dari sini..?” entah sejak kapan aku memiliki keberanian untuk mengatakan kata-kata itu.
Ibu lalu menatapku dengan tatapan terkejutnya. Dan bukannya pergi, ibu malah berbalik dan masuk kedalam kamarku, duduk diatas ranjangku dengan nyamannya. Aku mengikutinya, menaruh Nampan makanan itu di meja lalu ikut duduk di sebelah Ibu.
“Dara… Aku tau Kau gadis baik. Oleh karena itu aku memilihmu sebagai pendamping putraku. Aku ingin Kau merubahnya kembali Dara.. Aku ingin putraku kembali seperti dulu.”
“Tapi sepertinya aku tak sanggup Bu.. Bukan aku yang dapat merubahnya kembali.”
“Dara.. aku tau Kau menyayanginya, semua yang Kau lakukan selama ini tulus, ini hanya masalah waktu Dara.. lambat laun Revan akan mengerti dan dia akan berada disisimu, mencintaimu seutuhnya.”
“Tapi bagaimana jika tidak Bu..? Bagaimana jika semua itu tak akan terjadi..?” tanyaku sambil menteskan air mata.
“Buat dia mencintaimu.. Buat dia merasakan bagaimana mencintai orang yang tak pernah mencintainya, Buat dia menyesal karena sudah menyia-nyiakanmu. Dara… Ibu disini, dibelakangmu dan selalu mendukungmu. Sampai kapanpun Hanya Kaulah yang pantas jadi Menantuku Dara..”
Dan entah kenapa aku merasakan jika Ibu memberikanku suntikan semangat. Ya… benar.. jika dia tak mencintaiku kenapa aku tak berusaha membuatnya untuk mencintaiku…???
“Apa yang harus kulakukan Bu supaya dia bisa belajar mencintaiku..?”
“Berubahlah.. Buat dia memikirkanmu.. Buat dia merasa kehilangnmu..” sedikit bingung saat menerima nasehat ibu. Tapi sedikit senang juga memikirkannya. Itu tandanya jika aku masih memiliki kesempatan untuk di cintai oleh Mas Revan…
***
Tiga hari berlalu. Hubunganku dengan Mas Revan semakin dingin. Jika biasanya dia diam dan aku sedikit bertanya padanya untuk sekedar mencairkan suasana, maka saat ini sama sekali tak ada kata diantara kita. Akupun jadi canggung untuk bertanya padanya setelah mengungkapkan perasaanku saat itu. Astaga… jika tau akan seperti ini aku tak akan mengatakannya. Dan akhirnya seperti inilah, Aku sedikit menghindarinya.
Tak ada lagi pelayanan seperti biasa yang aku lakukan untuknya. Yaa… setidakna dia harus membiasakan seperti itu ketika nanti kita mbenar-benar berpisah. Apa dia merasa aneh..?? Tentu saja tidak, pekerjaan yang kulakukan tak akan mampu mengusik hidupnya.
Hari ini adalah hari pertamaku bekerja. Setelah memutuskan untuk sedikit menghindarinya akhirnya aku dapat ide untuk bekerja. Dua hari yang lalu saat aku kepusat perbelanjaan bersama dengan ibu, aku bertemu kembali dengan Andre, Lelaki yang menolongku memberhentikan taxi waktu itu. Kami sedikit bercakap-cakap saat itu. Hingga aku mencetuskan minatku untuk bekerja di tempatnya yang ternyata kebetulan masih ada beberapa lowongan pekerjaan disana.
Tentu saja saat itu ibu menolak keras ideku. Tapi dengan sedikit merayunya akhirnya dengan pasrah ibu mengijinkanku untuk bekerja. Yaa… mungkin dengan bekerja dan memiliki aktifitas harian aku akan sedikit melupakannya. Mengobati lukaku karenanya. Semoga saja….
***

TBC

Maaaf pendek.. next ada POV Revan yaa… hhehe

Please Stay With Me – Chapter 1

Comments 10 Standard

PSWMPlease Stay With Me

 

Chapter 1

 

Tak ada sesuatu yang harus ku sesalkan tentang hidupku. Hidup yang kini kujalani adalah pilihanku. Aku adalah seorang wanita berusia 27 tahun yang kini berusaha menjadi istri yang baik untuk suamiku, Lelaki yang sudah bertahun-tahun lamanya kucintai. Lelaki yang sangat kukagumi sejak aku masih kecil.
Aku Andhara Carollina. Biasa di panggil Dara. Seorang wanita biasa yang tidak cantik dan tak memiliki kelebihan apapun. Aku hanya memiliki sebuah kesetiaan. Yaa… hanya kesetiaan, karena hingga usiaku menginjak angka 27, aku hanya mencintai seorang Lelaki. Lelaki itu tak lain adalah suamiku sendiri, Revano Ananda Putera, Mas Revan.
Kisahku bermula saat ada sebuah keluarga yang pindah rumah menjadi tetanggaku. Saat itu usiaku baru beranjak 10 tahun. Ibu sangat senang karena memiliki tetangga baru hingga hampir setiap hari kami selalu berkumpul bersama walau hanya sekedar ngobrol atau bermain.
Keluarga itu memiliki seorang puteri yang sebaya denganku. Dia bernama Rihana Adinda puteri, biasa dipanggil Hana. Hana gadis yang cantik dan sangat baik. Kami berteman baik hingga kini. Keluarga itu juga memiliki seorang putera yang amat sangat tampan, siapa lagi jika bukan suamiku, Mas Revan.
Mas Revan 3 tahun lebih tua terhadap kami. Tapi dia sangat baik. Dia menjadi kakak yangbaik untukku dan Hana. Hingga perasaan itu mengacaukan semuanya.
Aku tak tau sejak kapan itu dimulai, setiap hari aku akan selalu memikirkan Mas Revan. Tak jarang aku membuat alasan-alasan kecil hanya untuk bertemu dengannya. Perasaan itu semakin tumbuh dan semakin mengacaukanku. Aku merasakan perasaan sakit saat Mas Revan mengajak salah satu teman wanitanya main kerumah. Aku sedih saat Mas Revan mengatakan jika aku adalah adiknya. Aku benci pada teman-teman Hana yang ingin berkenalan dengan Mas Revan.
Ada apa ini..? Ada apa denganku..? dan aku baru tau jawabannya jika aku sudah Jatuh Cinta Terhadap Mas Revan. Aku mencintai sosok yang selama ini menemaniku. Tapi sayang, dia tak merasakan perasaan yang sama terhadapku. Cintaku bertepuk sebelah tangan dan aku harus terima itu.
Bertahun-tahun aku menutupi perasaan ini. Perasaan yang amat sangat menyiksa. Aku ingin mengakhirinya, tapi aku tak bisa. Hingga dua tahun yang lalu Mas Revan sendirilah yang memintaku untuk menjadi isterinya.
***
Aku merasakan perbedaan pada diri Mas Revan. Dia lebih dingin dan pendiam. Tidak seperti dulu yang selalu ceria dan menggodaku dan Hana. Hana juga merasakan hal yang sama. Akhirnya kami melakukan beberapa penyelidikan kecil.
Dan hasil penyelidikan itu berakhir 2 tahun yang lalu saat Hana menikah dengan seorang pria Bernama Mike, Mike ternyata adalah kakak dari wanita bernama Lita, Kekasih Mas Revan yang menghilang yang membuat Mas Revan menjadi dingin dan pendiam.
Lita ternyata tidak menghilang, Dia meninggal, Bunuh diri karena Hamil dan Mas Revan tak mau bertnggung jawab. Itu membuat Mike Marah, hingga Mike membalaskan dendamnya dengan menyakiti hati Hana. Tapi karena Cinta, mereka berdua dapat melaluinya. Hana bisa memaafkan Mike, Dan Mike bisa menerima kepergian Lita, Adiknya.
Tapi sepertinya itu tak berlaku untuk Mas Revan. Mas Revan amat-sangat terpukul. Wanita yang dicintainya yang sedang mengandung anaknya telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Itu membuat Mas Revan seperti tak memiliki arti kehidupan. Dia sering berdiam diri, Menyendiri, melamun, terkadang mabuk berat. Dan setiap hari dia selalu menyempatkan diri untuk Pergi menemui Lita di makamnya.
Aku yang melihatnya merasa sangat sakit. Sakit yang teramat sangat. Lelaki yang kucintai Hancur karena wanita lain. Perasaan sedih dan cemburu menyeruak dihatiku, membuatku tak kuasa menahan tangis setiap malam.
Tante Emy, selaku mama Mas Revan terjatuh sakit. Jantung lemahnya kambuh. Saat itu yang ada didalam fikirannya hanyalah masa depan Puteranya yang seakan terlihat suram. Akhirnya tante Emy memaksa Mas Revan untuk segera menikah sehingga membuat pikirannya tenang, Dan calon istri Mas Revan tak lain adalah Aku.
Kenapa Aku..? Kenapa harus Aku..??
Tante Emy berkata jika dia sudah mengenalku sejak Kecil. Dia tau jika aku dapat membahagiakan Mas Revan, Aku wanita baik dan penurut jadi aku akan menjadi menantu yang baik pula untuknya. Jelasnya pada saat itu.
Dan Akhirnya, Mas Revan memintaku untuk menjadi isterinya.
Perasaanku saat itu tak karuan, senang bercampur sedih bingung dan lain sebagainya. Aku mencintainya dan dia memintaku untuk menjadi istriya. Walau karena terpaksa tentu saja aku menerimanya, aku tau Mas Revan Lelaki yang baik, aku mengenalnya sejak kecil, jadi aku yakin dia akan membuatku bahagia dan tak akan menyakitiku.
Hingga kini aku baru menyadari jika selama ini aku membohongi diriku sendiri, membohongi perasaanku sendiri. Aku sakit… aku tersakiti karenanya…
Sudah dua tahun kami menjadi suami istri, Tak ada pertengkaran berarti, tak ada juga kebahagiaan berarti. Rumah tangga kami berjalan dengan datar dan membosankan. Kami seperti dua orang asing yang tinggal dalam satu rumah. Tak saling bertegur sapa jika tak ada yang perlu dibicarakan.
Dia tak pernah menyentuhku. Sungguh ironis. Sudah dua tahun menikah tapi aku masih menjadi seorang perawan. Astaga… sampai kapan ini akan terus berlanjut…?
Perasaanku masih sama, bahkan mungkin akan semakin dalam. Rasa itu bertambah saat melihatnya sedang tertidur pulas dan damai, Rasa itu bertambah saat melihatnya mengenakan pakaian yang kupilihkan. Rasa itu semakin bertambah saat melihatnya menghabiskan masakanku meski dia tak pernah berkomentar apa itu enak atau tidak.
Dia dingin.. dingin tak tersentuh… tapi aku selalu berusaha supaya bia menjadi lebuh dekat dengannya.. Aku ingin memenangkan hatinya. Aku mencintainya, sangat mencintainya.
***
“Dara.. Apa yang Kau fikirkan Nak..? Sup mu sudah mendidih.” Suara tante Emy, ibu mertuaku mengagetkanku dari lamunan. Saat ini kami sedang berada di dalam Dapurnya, melakukan aktifitas sehari-hari sebagai seorang wanita. Kami sedang memasak bersama untuk makan malam. Kebetulan malam ini Hana dan Mike akan berkunjung kerumah.
“Ohh.. iya bu, Maafkan aku.” Kataku sambil mematikan Kompor.
“Apa Kau sakit..?”
“Tidak bu, hanya sedikit lelah saja.”
“Jangan terlalu kelelahan. Sudah, kembalilah kekamarmu, sebentar lagi mungkin Revan akan datang.”
“Baik Bu..” Dan akupun bergegas pergi kelantai dua. Sudah setengah tujuh malam, aku yakin Mas Revan akan segera sampai di rumah. Akupun bergegas membasuh wajah dan mengganti baju dengan pakaian yang lebih menarik. Mungkin tak akan menarik untuknya tapi tak apa-apa, setidaknya aku akan sedikit mencoba.
Aku mendengar Pintu kamar dibuka oleh seseorang, dan aku mendapati Mas Revan pulang dengan wajah dinginnya seperti biasa.
“Sudah pulang Mas..?” Tanyaku dengan menyunggingkan senyuman sambil berjalan kearahnya.
Dia hanya mengangguk seperti biasa. Kuraih Jas dan tasnya dan kutempatkan mereka di tempat biasa, sedangkan aku melihat dia seakan-akan Lelah. Dengan langkah lunglai sambil melonggarkan dasinya dia menuju keranjang.
Aku lantas bergegas kedalam kamar mandi menyiapkan air hangat untuknya. “Air hangatnya sudah siap, lebih baik Mas Revan segera mandi, biar nanti tidak terlalu dingin.” Dan lagi-lagi dia hanya diam, tak mengomentari perkataanku.
Akupun bergegas menyiapkan pakaian untuknya. Yaa… selalu seperti ini, aku selalu menghormatinya sebagai seorang suami.tapi dia tak pernah sekalipun menganggapku sebagai istrinya. Aku memang bodoh, kupikir mungkin dengan begini dia akan sedikit tersentuh terhadapku, tapi aku salah. Selama dua tahun aku menjalani semua ini, aku tetap berada di tempat yang sama, tempat yang tak pernah terlihat olehnya.
***
Tamu itupun datang. Hana dan Mike. Sedikit senang karena ketika kedatangan Hana Mas Revan akan sedikit bisa di ajak komunikasi.
“Haii… bagaimana kabarmu..?” Tanya Hana yang langsung menghambur kedalam pelukanku.
“Aku baik Hana. Kau sendiri..?”
“Aku sangat baik.” Jawabnya dengan penuh semangat. “Bagaimana hubungan kalian..?” lanjut Hana lagi, Hana memang selalu menanyakan hubungan kami. Karena hanya Hana yang tau bagaimana dinginnya hubunganku dengan Mas Revan.
“Masih sama.” Jawabku dengan sedikit menyunggingkan senyuman, memperlihatkan pada Hana jika aku tak apa-apa.
“Ohh astaga.. Dara…” lagi-lagi Hana memelukku. Aku tau dia mengasihiku lebih dari kakak nya sendiri. Orang yang paling bahagia saat melihat aku menikah dengan Mas Revan adalah Hana. Dari dulu dia memang berharap aku bisa bersatu dengan kakaknya.
“Sudahlah.. Ayoo masuk, Aku pikir kalian sudah lapar.”
“Tentu saja, kami memang sangat lapar.” Mike ikut menyahut. Dan kamipun tertawa bersama sambil menuju ke meja makan.
Disana Sudah ada Ayah dan ibu mertuaku. Dan juga Suamiku yang sudah menunggu kami. Akhirnya kami bergabung bersama mereka. Hari ini Hana tak membawa putera kecilnya, mungkin karena malam makanya lebih baik ditinggal saja bersama dengan neneknya –ibu Mike-.
Ketika makan, Hana banyak bercerita tentang kesehariannya, sedangkan Aku dan Mas Revan hanya saling berdiam diri.yaa memang seperti inilah, Hubungan kami benar-benar dingin. Kadang aku merindukan saat-saat Mas Revan perhatian denganku ketika aku masih kecil dulu. Dia yang selalu membantuku mengerjakan PR. Dia yang selalu menghajar anak-anak lelaki yang suka menggangguku. Dia juga yang suka memberikan tumpangan untukku ketika sekolah. Aku rindu masa-masa itu. Masa-masa dimana Mas Revan adalah sosok yang hangat dan ceria.
“Dara.. Dara.. Apa Kau mendengarkan kami..?” panggilan Hana itupun menyadarkanku dari lamunan.
“Ohh.. iyaa.. Maaf..” kataku sambil sedikit tersenyum malu.
“Sepertinya Kau banyak fikiran Nak, Apa Kau sakit..?” kali ini ibu yang bertanya.
“Tidak Bu, Aku baik-baik saja.”
“Ceritalah Dara, sepertinya memang ada yang mengganggu fikiranmu.” Kata Hana menimpali.
“Emm.. aku.. aku hanya sedikit merindukan ibuku..” kataku kemudian, yaa.. Aku memang sedang merindukan ibuku. Sudah sejak Setahun yang lalu Ibu pindah keluar Kota, dan aku merasa kesepian disini. Tak ada tempat untukku mengadu, meski saat ibu masih disini aku tak akan pernah mengadu atas perlakuan Mas Revan terhadapku.
“Besok kan minggu, Kau bisa meminta Revan untuk menantarmu, Kalian bisa menginap beberapa hari disana. Aku yakin Ibumu juga pasti merindukanmu.” Kata Ibu menyarankan.
“Saya akan berangkat sendiri Bu.. Mungkin Mas Revan masih lelah dengan pekerjaannya.” Jawabku kemudian. Tentu saja aku tak akan meminta dia untuk mengantarku. Dari ekspresi wajahnya saja dia terlihat enggan membicarakan tentang hal ini.
Dan akhinya kamipun melanjutkan makan malam kami bersama. Setelah makan malam selesai, semua keluarga berkumpud di ruang tengah, sedangkan Aku dan para pembantu tentunya membereskan sisa-sisa makan malam kami.
Jangan berfikir jika Tante Emy jahat seperti ibu tiri dan aku seperti upik abu, itu tidak benar. Berulang kali tante Emy melarangku untuk melakukan pekerjaan seperti ini tapi tentu saja aku tau diri. Tak ada yang bisa kulakukan untuk keluarga ini selain melakukan pekerjaan rumah tangga seperti sekarang ini.
Tante Emy sangat menyayangiku seperti anaknya sendiri. Tapi tentu saja dia tak tau bagaimana menderitanya aku saat ini ketika hidup berumah tangga dengan anaknya.
Sesekali aku melihat Kearah mereka dan tak sengaja mataku saling bertemu pandang dengan Mata mas Revan. Dan itu membuatku sedikit gugup. Tatapan matanya dingin.. sangat dingin, seakan-akan aku bisa membeku hanya dengan menatap matanya. Ada apa dengannya…???
Dan tanpa kusadari ternyata kini dia sudah berada di sebelahku. “Ada apa..? Ada masalah denganmu..?” Tanyanya kemudian.
Suara itu suara pertamanya yang kudengar hari ini… sedikit aneh mungkin, karena kami memang tak pernah bercakap-cakap jika tak penting. Dan apa ini..?? Dia menanyakan keadaanku..?? Setelah dua tahun menikah baru sekali ini dia menanyakan keadaanku.
“Tidak, Tak ada apa-apa denganku.” Jawabku dengan tersenyum manis terhadapnya.
“Kenapa Kau ingin kerumah ibu..?”
“Aku hanya merindukannya.”
“Aku akan mengantarmu besok.” Dan setelah kalimat itu, dia pergi begitu saja. Aku memandangnya dari belakang, memandang punggung gagahnya. Sedikit tersenyum sedikit senang karena dia sedikit memperhatikanku. Mungkin itu tadi permintaan ibunya atau mungkin itu permintaan Hana, jadi aku tak akan berharap banyak. Karena aku tau Aku tak memiliki harapan Lagi untuk dicintainya.
***
Sangat senang, itulah suasana hatiku pagi ini. Mas Revan benar-benar mengantarku kerumah Ibu. Meski masih dengan raut dinginya, tapi aku tak peduli, bukankah dia setiap hari memang bersikap seperti itu terhadapku..
“Sampai kapan Kau akan bertahan..?” Tanyanya yang sontak menyadarkanku dari angan-angan.
Aku memandangnya dengan tatapan tanda tanya. Apa maksud dari pertanyaan Lelaki ini..?
“Aku tau selama ini Kau kesakitan. Sampai kapan Kau bertahan menjadi Isteriku..?” Dan setelah pertanyaannya itu aku baru sadar jika dia menanyakan tentang hubungan kami.
“Kenapa Kau bertanya seperti itu Mas..?”
“Karena aku ingin Kau mengahiri semuanya.” Jawabnya Cepat. Dan itu benar-benar membuatku sakit. Air matakupun jatuh dengan sendirinya. Kenapa dia seperti ini terhadapku.. disini aku mencoba bertahan demi dirinya, tapi Dia malah ingi kau mengakhirinya.
“Apa Kau tau jika sampai kapanpun ini tak akan bagus untuk hubungan Kita..? Kenapa Kau memaksakan kehendak sampai sejauh ini Dara..?” tanyanya masih dengan tatapan luruh kedepan kearah jalan.
“Aku tidak memaksakan kehendak, Aku hanya bersedia menjadi istrimu, itu saja.” Dan akupun mulai terisak. Selalu seperti ini. Jika kami hanya berdua Mas Revan pasti akan menyudutkanku dan membuatku menyerah dengan pernikahan ini.
“Kenapa Kau tidak bersedia meninggalkanku..? Aku tau kita sama-sama tak bahagia dengan pernikahan ini. Kenapa Kau membuatnya jadi sesulit ini..?” Tanyanya lagi.
“Lalu kenapa Kau tak pernah belajar menerimaku sebagai istrimu Mas..? Kenapa..?”
“Kau tentu tau Apa alasanku, Aku mencintai wanita Lain.” Dan Jawabannya benar-benar menyakiti hatiku.
“Ya… Dan Wanita yang sudah pergi meninggalkanmu selamanya,”
“Itu bukan urusanmu.”
“Itu menjadi urusanku karena dia merebut paksa Separuh Jiwa orang yang kucintai.” Kataku kemudian yang sontak membuatnya menghentikan laju kendaraannya.
Mas Revan menatapku dengan Tajam. “Apa Yang kau bicarakan..?” Tanyanya kemudian.
“Aku mencintaimu Mas.. Selama ini aku mencintaimu, dan sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu.” Kataku kemudian. Lalu tanpa pikir panjang lagi aku meinggalkannya sendiri didalam mobilnya dengan tatapan bingung tak percayanya.
Yahh… setelah bertahun-tahun aku menyimpan perasaan ini akhirnya hari ini aku baru berani mengatakannya. Eksprsinya benar-benar sangat Terkejut. Aku tak sanggup menahannya sendiri. Terserah dia mau menerimaku atau tidak. Aku akan tetap bertahan demi Cintaku. Aku akan bertahan untuknya.. Untuk memenangkan hatinya…

__TBC__