Catatan Cancer Warrior – Tiga

Comment 1 Standard

 

Ps. aku nggak tau, kenapa aku sangat emosional saat menulis bagian Tiga ini tadi pagi. Ya, aku merasakan perasaan seperti itu lagi hingga mungkin membuat bagian ini kurang dinikmati. 

***

aku ingat, saat itu adalah waktu ibu pulang dari rumah sakit. semua keluarga bisa tertawa karena mungkin merasa lega saat tahu bahwa ibu sudah membaik dan benjolan di payudaranya sudah di angkat. tapi tidak denganku. perkataan Dokter Muhammad terputar lagi dan lagi dalam pikiranku, hingga saat itu, aku tak kuasa menahan tangis saat diperjalanan pulang.

Suamiku bertanya. “Apa yang terjadi?” aku hanya menggelengkan kepala. ingin rasanya aku bercerita padanya, tapi bibir ini terasa kelu. lalu dia bertanya sekali lagi “Apa yang terjadi?” dan akhirnya aku memilih berbohong padanya.

“Mas, aku hanya takut, kamu nggak mau menerima keluargaku.”

“Kamu ngomong apa? mereka juga keluargaku.”

“Tapi Ibu bakal nggak bisa kerja lagi.” tangisku semakin menjadi. “Aku mau merawat dia, tapi aku takut kamu keberatan.”

Aku ingat, saat itu dia segera menghentikan kendaraan kami. ditengah hutan saat perjalanan pulang (Kebetulan rumahku melewati hutan-hutan). lalu dia berkata padaku. “Sayang, Kamu ngomong apa? kenapa kamu berpikiran pendek begitu denganku? selama ini, Kamu sudah menerima keluargaku, merawat mereka dari jauh, menyayangi mereka seperti keluargamu sendiri. kalau aku sampai mengabaikan keluargamu, maka tinggalkan saja aku.”

Ya, kurang lebih ucapannya seperti itu. dan hingga kini, aku mengingatnya. bahkan saat menulis kisah ini dan menulis kalimat di atas, mataku berkaca-kaca.

Sedikit bercerita, Suamiku itu memang bukan orang yang romantis, banyak diam, tapi aku tahu bahwa dia adalah orang yang super sekali pengertiannya. kadang, kediamannya membuatku salah paham, tapi bukankah itu yang namanya hubungan? penuh dengan kesalah pahaman.

baiklah, kita kembali lagi pada cerita awal. Akhirnya, aku tidak memiliki nyali untuk memberitahu suamiku. satu-satunya orang di dunia ini yang mengetahui apapun tentangku. aku tak punya satupun rahasia dengan dirinya, begitupun sebaliknya. kami sering bicara dari hati ke hati saat menjelang tidur, tapi malam itu, aku sama sekali tak bisa mengatakan kondisi Ibu pada suamiku.

akhirnya, aku memilih diam dan memendam semuanya sendiri. bisa dibayangkan, bagaimana stress dan terpuruknya aku saat itu.

Teman?

Ya, aku punya. banyak malah. karena menjadi penulis menambah banyak teman dikalangan penulis maupun reader. setiap harinya, Chat hapeku tak pernah sepi. reader2 yang dekat denganku hobby sekali menggangguku dan menerorku untuk lekas menyelesaikan ceritaku. sedangkan teman-teman penulisku biasanya sering curhat tentang masalah kepercayaan dirinya, maupun tentang yang lainnya hingga berakhir kami saling menyemangati satu sama lain. percayalah, aku mendapatkan kehidupan yang sempurna di dunia maya. tapi saat aku mendapatkan masalah ini, aku sama sekali tak berani bercerita dengan salah satunya.

Sebut saja Tania, dia salah satu teman terdekatku. penulis juga, yang sudah kuanggap sebagai belahan jiwaku. aku bahkan sempat berpikir, jika aku berjenis kelamin laki2 dan masih single, maka aku akan datang kerumahnya untuk menikahinya saat itu juga.

aku banyak bercerita dengan Tania, kebanyakan tentang problem hidup di dunia nyata, begitupun sebaliknya. dia juga sering bercerita padaku tentang dunia nyatanya. aku merasa sangat cocok denganya, bahkan dia termasuk dalam daftar salah satu orang yang ingin kutemui.

tapi saat aku mendapati masaah ini, aku tak bisa bercerita apapun padanya.

Barbie, temanku yang lainnya. pun sama. kebanyakaan dia sering buat aku ketawa. dan akupun tak bisa cerita padanya karena aku nggak mau berbagi kesedihan dengan dirinya.

Echa, dia teman yang benar-benar nyata. karena hanya Echalah teman yang sering mengunjungiku ke rumah. dan ya, bisa ditebak, aku nggaak mungkin bercerita padanya tentang semua ini.

aku merasa sendiri, aku merasa takut, aku merasa terpuruk. apalagi saat itu Dokter muhammad juga berkata padaku “Sepertinya ini ada faktor turunan”. well, itu yang membuatku semakin tidak tenang.

penyakit Kepo yang kuderita akhirnya kambuh. Aku melakukan pencarian lagi di situs internet, tentang penyebab Kanker Payudara dan sejenisnya. Astaga, aku benar-benar panik saat itu.

Oke, kita bisa memutus semuanya dengan kata ‘takdir’. tapi aku adalah salah satu orang yang rasional. yang ingin berpikir tentang sebab akibat. saat aku menerima kabar jika ibuku Kemungkinan menderita kanker Payudara, pertanyaan pertama yaang terlintas dalam kepalaku adalah, Kenapa dia? kenapa bisa dia?

Jika itu karena faktor makanan, aku pikir tidak. kenapa? karena semasa hidup, Ibu tak pernah makan enak. aku berani jamin. dia adalah orang kolot yang lebih suka masak sendiri ketimbang beli makanan di warung apalagi fastfood.

Minuman?

No!

 Dia hanya pernah minum air putih, sesekali kopi.

jadi, kemungkinan besar dia terkena penyakit itu adalah karena turunan.

Huuffttt… tenang.. tenang…. aku meminta diriku untuk lebih tenang dan tidak panik. lalu aku mengingat cerita ibu, bahwa dulu, nenekku juga pernah memiliki benjolan di payudaranya. Kakak dari Nenekku, meninggal karena penyakit di payudaranya. Anaknya kakak dari Nenekku, yang bernama Budhe Wati, juga memiliki benjolan di payudaranya, bahkan anak dari Budhe wati, sudah 2x operasi benjolan di payudaranya.

Fix! pikiranku semakin tidak tenang.

Bukan tentang aku, sungguh. yang kupikirkan adalah puteri kecilku. aku tidak bisa membayangkan dia sakit. aku tidak bisa membayangkan dia tergeletak di ranjang rumah sakit lagi. Aku pernah melihat dia sakit, memasuki Ruang Operasi sebanyak 3x karena keteledoranku. saat itu, dia masuk ke dalam Wajan besar yang penuh dengan air mendidih rebusan ayam. aku berteriak histeris, bahkan saat mengingat kejadian itu saja bulu kudukku meremang seketika. aku tidak bisa melihat dia sakit, aku tidak bisa. dan hal itulah yang membuatku ketakutan.

Informasi di internet membuatu semakin menggila. tertulis di sana, jika Kanker payudara memang kemungkinan besar bisa diturunkan oleh keturunannya.

satu-satunya harapanku saat itu adalah, Semoga Dokter muhammad salah. Semoga itu hanya benjolan biasa tanpa ada sel kanker seperti yang kutakutkan. semoga… semoga…. semoga… tapi sungguh, itu tidak menolongku sama sekali dari stress.

Aku tahu, aku butuh bicara. tapi aku tidak tahu harus bicara dengan siapa.

Chat di hp selalu menumpuk, dari readers, dari teman-teman, dari penulis-penulis baru yang ingin bergabung dengan penerbitan yang sedang kudirikan, dari orang-orang baru yang baru membaca ceritaku (biasanya dari Blog) dan ingin mengenalku secara dekat. tapi aku tak bisa bercerita pada mereka. aku tak bisa bercerita pada salah satunya secara acak. padahal aku tahu, kalaupun aku bercerita pada mereka, mereka tak akan mengatakannya pada Ibuku. kami hanya mengenal di dunia maya, tapi aku tetap tak bisa melakukannya.

Aku merasa duniaku runtuh. tak ada semangat menulis sama sekali. jangankan untuk menulis, untuk berpikir jernih saja susah. aku merasa ada beban berat di pundakku, dan aku tidak tahu bagaimana cara mengurai beban tersebut.

lalu suatu malam, seorang Reader yang sangat sangat cerewet, menghubungiku. panggil saja dia Memey. si cina surabaya, biasa aku mengoloknya begitu.

Dia berkata melalui Chat “Mom, Elo kapan ngeluarin buku baru? gue mau ke malaysia, awas aja kalau elo ngeluarin buku saat gue di sana.”

Aku hanya menjawab, ‘Masih lama, elo ngapain di malaysia?’

Dan dia bercerita. ‘Gue mau chek up kesehatan. kemaren gue ngerasa ada benjolan gitu di salah satu payudara gue, gue takut kejadian nyokap gue terulang, jadi gue mau chek up semuanya, semoga apa yang gue takutin gak kejadian.’

percaya atau enggak, saat itu aku yang stress seketika itu juga seakan mendapatkan titik terang. kupikir, aku bisa bercerita padanya.

lalu aku bertanya padanya ‘Emangnya nyokap elo kenapa?’

“Dia kena kanker lambung.”

Degg.. Degg.. Degg…

“Dan sekarang?” tanyaku.

“Ya sudah meninggal. soalnya telat pas tau.”

Oh My, aku lemas seketika. 

Hai Memey, kalau kamu baca ini, sungguh, aku minta maaf karena pernah menanyakan hal itu padamu. aku bener-bener menyesal.

Dari caranya bercerita, Memey terlihat sangat tegar. dia bercerita semuanya, tentang Ibunya, pengobatannya, dan juga tentang dirinya sendiri. Dari sana aku bisa menangkap, kalau Memey juga memiliki ketakutan yang sama denganku. dia bahkan berkata padaku, bahwa jika nanti hasil pemeriksaannya baik-baik saja, dia bersumpah jika dia tidak akan makaan-makanan cepat saji lagi.

kemudian, meledaklah semua beban yang kupendam selama beberapa hari itu padanya.

Dengan Memey aku bisa bercerita semuanya, semua ketakutan yang kurasakan, semua kegalauanku, kegelisahanku, semua tangis terpendamku. dan dia bilang “Bangun Mom, itu belum terjadi. Ibu kamu bakal baik -baik saja, kamu juga akan baik-baik saja, dan anakmupun bakal baik-baik saja. itu belum terjadi, bangun dan berdoalah pada Tuhanmu agar semua itu tak terjadi.” Ya, kami memang berbeda keyakinan, tapi dia tak pernah bosan mengingatkan aku untuk sholat dan berdoa.

Bercerita padanya membuatku merasa plong. aku merasa lebih tegar dari sebelumnya. Memey mengemas semua percakapan serius kami dengan santai dan penuh canda. dan hal itu benar-benar membuatku nyaman.

Stress sedikit demi sedikit menghilang. kemudian, aku kembali menjalani hidup dan berusaha berpikir positif seperti yang dikatakan Memey. toh, vonis itu belum kami dapatkan, jadi, kenapa aku harus stress?

lalu, aku bertemu orang lainnya. kini, aku menganggap dia sebagai salah satu adikku. Fransiska namanya, nama asli, karena aku tahu dia nggak mungkin membaca cerita ini.

awal perkenalanku dengannya adalah saat itu di akun Gosip sedang ramai membahas tentang anak salah satu artis yang menderita kanker darah (Leukimia). dia berkomentaar di sana tentang ibunya yang terkena kanker payudara, dan dengan spontan, aku memberinya pesan pribadi melalui instagram.

kami berkenalan, dan dia banyak bercerita. Ibunya divonis kanker payudara sekitar Tiga tahun yang lalu, saat itu dia masih kuliah. dan saat mengetahui hal itu, dia sama terpukulnya seperti aku.

dia tidak keluar kamar selama kurang lebih seminggu lamanya, dia tidak kuliah selama berbulan-bulan. dan aku mengerti apa yang dirasakannya saat itu.

lalu dia bangkit, karena ibunya memiliki kemauan keras untuk sembuh. Ibunya di rawat di salah satu Rumah sakit kanker ternama dan terbaik di negeri ini. MRCCC (kalau nggak salah) nama Rsnya. disana dia menggunakan asuransi (Bpjs), dan sama sekali tidak dikenakan biaya. Fransiska bilang, bahkan banyak orang dari luar (negara tetangga) yang ikut berobat di sana.

kini, ibunya sudah dinyatakan bersih dari kanker. dan dia harus chek up minimal Enam bulan sekali ke Rs. Ya, Fransiska juga, karena katanya, keturunan kanker, lebih beresiko terkena kanker ketimbang orang normal pada umumnya.

Oke, mendengar cerita panjang dari Fransiska membuatku semangat. apalagi Memey saat itu juga bilang ‘Lagi pula, Kanker Payudara itu Survive hidupnya paling tinggi, jadi jangan terlalu stress, itu malah nggak baik buat kesehatan.’

aku memiliki semangat kembali dari mereka, aku memiliki kekuatan kembali, dan hal itulah yang membuatku berani membuka suara.

pertama-tama, aku mengatakan pada Tania, Echa, dan Barbie. lalu aku mengatakannya pada suamiku. kemudian, saat waktu senggang, aku memberanikan diri mengatakan pada ibuku.

Aku ingat saat itu di sore hari. dia bertanya padaku “Kapan hasil lab keluar?”

dan aku menjawab “Mungkin minggu depan.” aku diam sebentar untuk memberanikan diri mengatakan kemungkinan terburuk pada ibuku. lalu, terucaplah kalimat itu. “Kalau misalnya, hasilnya nggak sesuai harapan gimana Bu?”

“Nggak sesuai harapan gimana?”

“Kita kan berharap kalau itu tumor jinak, nah kalau jinak kan berarti pengobatan sudah selsai. sedangkan kalau sebaliknya, berarti perjalanan kita masih panjang.”

“Jadi?” tanyanya lagi.

“Kita harus mempersiapkan kemungkinan terburuknya, Bu.”

“Memangnya kalau ganas, aku harus apa?”

Aku menghela napas panjang. “Ya, harus di angkat payudaranya.”

“Kok diangkat? terus bagaimana?”

aku sedikit panik saat dia terlihat ketakutan “Ya, itu kan kemungkinan terburuk, dan itu belum pasti, Bu. misalnya, ini misalnya loh ya, kalau misalnya kemunginannya kayak begitu, Ibu mau di operasi lagi?”

“Gimana? aku takut.”

“Ibu nggak sendiri, ada aku.”

“Tapi yang operasi nanti kan aku.”

“Iya, tapi kemaren nggak apa-apa kan? kemaren nggak berasa kan?”

“Iya juga sih.” jawabnya.

“Jadi, Ibu mau di operaasi lagi kalau misalnya…”

“Kalau setelah itu bisa sembuh, aku mau.”

Alhamdulillah. tak ada kelegaan yang kurasakan seperti saat itu. beban-beban yang menumpuk beberapa hari belakangan sirnah sudah setelah mengetahui jawaban ibuku tersebut. aku merasa dia bisa menerimanya, aku merasa dia bisa menghadapinya. dan hal itu pulalah yang membuatku tegar dan seakan berani menghadapi apapun kenyataan dihadapan kami.

Lalu…….

mimpi buruk itu benar-benar nyata.

Saat hasil lab keluar. Dokter benar-benar memvonis Ibuku Kanker Payudara stadium 2 Grade III. Dokter berkata Payudaranya harus segera diangkat (Kalau setuju). dan, kami menangis berdua di dalam ruang Dokter saat itu.

Hari itu masuk ke dalam jajaran Hari terburuk dalam hidupku. Ibuku tak berhenti gemetar, tangisnya membuatku ikut menangis. bahkan saat keluar dari Ruangan Dokter muhammad, tangisnya pecah. dia memelukku, dan tak berhenti bertanya ‘Aku harus bagaimana? aku harus bagaimana? aku harus bagaimana?’ berkali-kali tanpa putus.

Aku ikut menangis, bahkan puteri kecilku yang saat itu kuajak ke rumah sakit pun, ikut menangis.

Kami menangis bersama…

aku merasakan apa yang dia rasakan..

aku merasakan bagaimana ketakutannya…

aku merasakan bagimana kegelisahan dan kekhawatirannya…

Aku harus bagaimana? apa yang harus kulakukan selanjutnya? itupulalah pertanyaan yang ada dibenakku saat itu.

Samarinda

10 – Oktober – 2018

Advertisements

Catatan Cancer Warrior – Dua

Leave a comment Standard

 

 

Menjadi penulis membuatku dapat menciptakan kebahagiaanku sendiri, meski sebenarnya banyak tekanan hidup di dunia nyata. Sering kali aku menyebutnya sebagai sebuah pelarian. Aku sangat suka menulis, dan hal itu membuatku lupa dengan masalah besar yang seharusnya kuhadapi di dunia nyata.

Tepatnya, akhir Juni, Bapak telepon dan berkata jika Ibu sakit. Malam itu juga, melewati hutan-hutan yang panjangnya hampir 37 Km, aku ke rumah Ibu dan Bapak.

Ibu bilang jika dia merasakan dadanya panas, sesak, perut tidak enak, dan sejenisnya. Padahal setahuku, Ibu tidak pernah mengalami sakit seperti itu. Aku sempat mengajaknya ke IGD, tapi dia menolak mentah-mentah.

Ya, sebelumnya, dia memang belum pernah di rawat di rumah sakit. Karena itulah, mendengaar kata IGD membuatnya ngeri. Ibu berkata jika dia ingin periksa ke Dokter langganannya. Dan akhrnya aku menyetujui apapun keinginannya.

Esoknya, kami benar-benar ke Dokter. Sebenarnya, Dokter hanya memeriksa tekanan darah, gula, kolesterol dan sejenisnya. Dokter lalu meresepkan obat. Dan pada saat itu, entah kenapa Ibuku berkata dengan sendirinya pada dokter terseut.

“Dok, saya ada benjolan di payudara saya, apa in berhubungan dengan sakitnya saya?”

Aku terkejut, tentu saja.

Sejak hari dimana aku dengan sok tahunya memvonis ibuku itu, kami tak pernah lagi membahas tentang benjolan itu lagi. Ibu tampak baik-baik saja, dan kupikir, obat itu bekerja dengan baik. Tapi saat ibu menanyakan hal itu secara langsung pada Dokter, aku melihat sebuah kekhawatiran di wajahnya. Ketakutan itu tampak jelas terlihat, dan bodohnya, selama ini aku tak memperhatikaan hal itu.

Dia tertekan, aku tahu itu. dia tertekan dan dia tidak memiliki orang yang bisa diajak bicara.

Aku lebih fokus dengan keluarga kecilku, aku lebih fokus dengan dunia fantasiku hingga aku tidak tahu, bahwa dia sebenarnya sangat membutuhkan dukungan dariku.

Tuhan! Aku benar-benar tak berguna!

Mendengar itu, Dokter meminta ibuku kembali berbaring, dan dia mulai memeriksa dimana letak benjolan tersebut.

“Besar ini Bu, Ibu ada Bpjs? Kalau ada langsung konsul ke rumah sakit saja Bu. Bawa surat rujukan dulu dari Faskes pertama.” Dokter menyarankan.

“Apa parah, Dok? Apa itu yang membuat ibu saya sakit sesak seperti kemarin.” Tanyaku kemudian.

“Semuanya butuh pemeriksaan lebih lanjut, Mbak. Tidak bisa langsung di diagnosis. Lebih baik langsung ke spesialis tumornya. Nanti di sana Dokternya yang akan menangani.”

Takut, tentu saja. Bahkan wajah ibukupun tampak pucat dibuatnya. Astaga…. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Pikirku saat itu.

***

20 Juli 2018

Sebenarnya, Ibu tidak ingin melakukan ini. Tapi karena sejak saat itu aku khawatir dan aku melihat dengan jelas bagaimana dia juga khawatir dengan keadaannya sendiri sampai darah tingginya kambuh, akhirnya aku memintanya periksa ke Dokter Spesialis onkologi. Tiga hari sebelumnya, kami sudah berkonsultasi, lalu tgl 20 juli ini, Ibu melakukan pemeriksaan USG Mamae seperti yang di jadwalkan.

Sejak pagi, kami di Rumah sakit. Melakukan USG lalu bertemu lagi dengan Dokternya, Dokter Muhammad Sp. B Onk sorenya untuk membaca hasil USG tersebut.

“Lumayan besar, Bu. Dan nggak hanya satu. Harus di angkat ini.” Ucap Dokter Muhammad sembari membaca hasil USG ibuku tersebut.

“Operasi, Dok?” tanyaku kemudian.

“Ya, Mbak. Harus di operasi ini.”

“Tapi itu nggak ganas kan Dok?” tanyaku lagi.

“Kalau di lihat dari ciri-cirinya dan juga dari gambar USG seharusnya ini nggak ganas. Tapi kita tidak bisa mendiagnosis hanya dari gambar. Nanti, kalau sudah di angkat, akan ada tahap Patologi anatomi, yaitu benjolan yang diangkat itu akan diteliti lagi di Lab, untuk memastikan ganas atau tidaknya.”

“Kalau jinak bagaimana? Dan kalau ganas bagaimana?” aku masih tak ingin diam.

Dokter Muhammad tersenyum. “Kalau Jinak, alhamdulillah, pengobatan slesai, tapi kalau ganas, akan ada tahapan pengobatan selanjutnya.”

Aku menatap ke arah Ibu seketika. “Ibu mau di operasi?”

“Gimana? Aku takut.” Jawabnya.

“Nggak apa-apa, Bu. Kan nanti di bius.” Dokter Muhammad menenangkan dengan begitu sabar. “Saya sendiri yang operasi Bu, insha allah baik-baik saja. Yang penting berdo’a ya Bu.”

Akhirnya, Ibuku memutuskan untuk melakukan tindakan operasi. Dia hanya ingin jika semua ini segera selesai dan dia tidak kepikiran lagi. Akupun demikian, aku mendukung penuh apapun arahan dari Dokter. A Ibu akhirnya mendapatkan jadwal Operasi tgl 26 Juli 2018.

***

26 Juli 2018

Jam 5 sore, Ibu masuk ruang operasi. Lama kami menunggu, sekitar Jam 7 Ibu keluar ddari ruang operasi dan diaa sudah sadar sepenuhnya. Dia menatapku dan tersenyum , matanya berkaca-kaca. Aku tidak tahu apa yang dia rasakan, tapi tampak jelas kelegaan di wajahnya.

“Gimana Bu?” tanyaku saat kami memasuki lift menuju ke ruang perawatan yang berada di lantai Tiga rumah sakit tersebut.

“Aku nggak ingat apa-apa. Dokternya mijetin aku, suruh aku baca Do’a. lalu ada dokter yang lain suruh baca Bismillah sebelum nyuntik di pangkal infusku. Lalu aku nggak ingat apapun.”

“Nggak sakit kan?” tanyaku kemudian.

“Iya, nggak sakit. Malah tadi, aku di bangunin suster. ‘Bu, bangun, Bu, bangun. Sudah selesei operasinya.’ Aku buka mataku, terus aku jawab ‘Belum’ Susternya ketawa terus bilang ‘Maksudnya, Ibu sudah selesai di Operasi, Bu.’ Abis itu aku merasa plong banget.”

Aku tertawa mendengar ceritanya. Ternyata, dia mampu melewati semuanya. Kupikir, dia akan menyerah.

Melihat Ibuku yang kondisinya sangat baik itu, membuatku semangat. Ya, dia akan sembuh aku tahu itu. tapi ternyata, mimpi burukku saat itu belum di mulai.

Esoknya. Tepatnya tanggal 27 Juli. Saat kami sedang asyik di ruang rawat Ibuku. Dokter Muhammad datang, dia memeriksa ibuku dengan sesekali bercanda di sana. Ya, Dokternya memang sangat ramah dan luar biasa. Aku bahkan merasa sangat dekat dengannya.

Saat dia keluar dari ruang inap ibuku, aku melihat dia melambaikan tangannya padaku, seakan-akan memintaku untuk menemuinya. Akhirnya, aku menuruti saja. Dan aku menemuinya di ruang perawat yang berada tepat di sebelah ruang inap ibuku.

“Ya, Dok. Ada apa?” tanyaku. Aku sedikit curiga karena saat itu, Dokter Muhammad sudah menampilkan raut wajah seriusnya. Tak ada lagi senyum terukir seperti di ruang inap ibuku tadi.

“Mbak jangan panik, Ya. Saya mau bilang ini supaya nanti mbak nggak kaget. Sepertinya ada kemungkinan ini ganas, Mbak.”

“Apa? Maksud Dokter?”

“Benjolannya tidak hanya satu, dan beruntung segera ketahuan. Ada benjolan lainnya yang kemungkinan besar ganas.”

Aku ternganga tak bisa membuka suara satu katapun.

“Kemungkinan Ibu kena Kanker Payudara. Tapi lebih pastinya kita tunggu hasil PA ya Mbak. Jangan bilang sama Ibunya dulu, kita berdoa saja semoga saya salah.”

“Kalau, kalau itu beneran ganas, bagaimana, Dok?”

“Ada pengobatan selanjutnya, biasanya kalau ukurannya besar dan sudah menyebar, kita rekomendasikan untuk kemoterapi dulu, baru pengangkatan Payudara. Tapi kalau ukurannya masih kecil, kami rekomendasikan segera di angkat saja payudara beserja jaringannya.”

“Maksudnya, Ibu saya bakal nggak punya payudara lagi?”

“Iya, Mbak, memang seperti itu prosedur pengobatan dari Kami. Tapi tentunya itu meminta persetujuan dari pasiennya. Jika pasiennya tidak ingin, Ya, kami tidak memaksa.”

“Apa nggak ada lagi pengobatan yang lain selain mengangkat payudaranya, Dok?”

Dokter Muhamman menggelengkan kepalanya. “Dari kami, prosedur pengobatannya memang seperti itu.”

Mataku berkaca-kaca seketika. Aku tidak tahu apa yang kurasakan saat itu. Aku ingin menangis, tapi Dokter bilang kalau aku tidak boleh mengatakan apapun pada Ibu atau keluargaku yang lain sebelum hasilnya benar-benar keluar.

Dengan sedikit lemas, aku kembai ke ruang inap ibuku yang di sana ternyata sudah ada beberapa saudaraku. Kalian tahu apa yang kulakukan di sana? Aku tertawa lebar dan berkata jika malam itu juga, Ibu sudah boleh pulang. Semuanya baik-baik saja, tinggal kontrol saja. Lalu entah mereka kembali membahas apa sembari saling melemparkan candaan.

Aku ikut tersenyum, ikut tertawa, tapi dalam hati, aku merasakan kekhawatiran yang amat sangat. Ketakutan seakan menghantuiku, menyelimuti diriku, padahal di sisi lain, aku harus tetap tersenyum dan menunjukkan jika semuanya baik-baik saja.

Tuhan! Kenapa ini terjadi padaku?

Samarinda 

10 oktober 2018

Catatan Cancer Warrior – Satu

Leave a comment Standard

 

 

Perkenalkan dulu. Aku Enny, perempuan usia 25 Tahun. Aku sudah menikah dan sudah memiliki satu anak perempuan yang kini duduk di bangku TK. Selama ini, aku hanya tinggal bertiga dengan puteri kecilku itu dan juga Suamiku.

Aku memiliki seorang Kakak yang sudah berkeluarga dan tinggal di rumahnya sendiri dengan puteri dan istrinya. Kedua orang tuaku masih lengkap. Ibu, Bapak, meski usianya tak muda lagi, tapi mereka masih giat bekerja sendiri tanpa meminta-minta pada anak-anaknya.

Ya, padahal anak-anaknya bekerja. Kakakku memiliki usaha rumah makan, begitupun denganku dan juga suamiku. Hobby menulisku pun menjadi penghasilan sampinganku. Tapi hebatnya kedua orang tuaku itu tak pernah sekalipun meminta-minta padaku atau pada kakakku.

Semuanya berjalan dengan sempurna. hingga suatu hari, tepatnya bulan Lima kemarin, mimpi burukku itu baru saja dimulai.

Ibu baru berani jujur padaku jika ada yang salah dengan tubuhnya. ia merasakan sebuah benjolan yang terasa ketika di raba di area payudara kanannya.

Shock? tentu saja.

Selama ini, Ibuku tidak pernah sakit. Dia adalah wanita terkuat yang pernah kukenal. Dulu, saat aku masih kecil, Bapak pergi merantau ke Negeri seberang tanpa kabar. dan hebatnya, Ibuku mampu membiayahi sekolahku dan sekolah kakakku saat itu dengan hanya menjadi buruh tani. Ya, dia benar-benar wanita terkuat yang pernah kukenal.

Tapi saat dia menceritakan keadaannya saat itu padaku, kulihat ada sebuah ketakutan yang begitu kentara di matanya. kulihat kerapuhan yang tampak jelas di wajahnya. Ya, dia takut. begitupun denganku.

Aku bukanlah wanita kuno, aku adalah wanita yang suka memanfaatkan teknologi saat ini untuk kepentingan yang lebih positif. seperti belajar sesuatu, atau mencari kabar-kabar melalui artikel-artikel di internet.

mendengar kata Benjolan di payudara, tentu saja pikiranku segera menjurus ke sana. Ya, Kanker payudara. Jika kalian mengetik kata kanker wanita di internet, maka akan banyak sekali artikel-artikel kesehatan yang akan membahas tentang 1. Kanker Serviks, 2. Kanker payudara. Dan saat itu, ketika ibuku berkata tentang benjolan di dadanya, maka yang kupikirkan hanya Kanker Payudara.

Oh Tuhan! Tidak. Aku berharap jika itu hanya sebuah benjolan biasa, tumor jinak yang mungkin tak perlu di angkat. Atau mungkin hanya sebuah kelenjar normal yang membesar karena pengaruh hormon wanita atau sejenisnya.

“Sejak kapan, Bu?” tanyaku padanya. Dalam hati aku berharap jika dia menjawab bahwa dia baru merasakannya.

“Baru kurasakan minggu lalu.”

Aku menghela napas lega. Kupikir, jika itu baru saja kemarin, mungkin itu hanya sebuah benjolan biasa yang tidak berbahaya.

“Boleh kulihat?” tanyaku padanya.

Ibu mempersilahkan aku memeriksa dirinya. Kuraba dan kurasakan, ternyata ya, memang ada sebuah benjolan yang bagiku cukup besar.

“Bu, Yakin ini baru kemaren dirasainnya?” Aku curiga jika dia sudah merasakannya sejak lama tapi takut untuk memberitahukannya padaku atau pada yang lainnya.

“Ya, Baru kemaren aku tahu.”

Kemudian aku lanjut memeriksa dia. Hanya berbekalkan artikel-artikel yang kubaca di internet atau situs-situs kesehatan, aku dapat menghela napas lega. Tak ada ciri-ciri Kanker seperti yang kubaca di artikel-artikel tersebut. Padahal, aku tak tahu jika ada beberapa kasus yang berbeda, sedangkan apa yang di tulis di artikel-artikel itu adalah kasus kebanyakan.

Dengan begitu bodohnya aku berkata “Jinak ini Bu. Mau di operasikan atau gimana?”

Sombong? Ya, itulah aku. Padahal aku bukan orang kesehatan, aku bukan dokter, tapi dengan begitu angkuhnya, aku bisa memvonis ibuku sendiri hanya berbekalkan artikel di internet.

“Kok din operasi, apa nggak bisa di obatin aja? obat herbal misalnya.”

“Kalau menurutku, bagus di operasi, Bu. kok Ibu seneng sih, ngerawat penyakit. kalau sudah ketahuan benjolan, mending langsung di angkat.”

“Enggak, Ahh, aku takut. di obatin dulu aja ya.” ucapnya lagi dengan nada memohon.

Aku menghela napas panjang. “Ya sudah lah, terserah Ibu aja.”

Pikirku saat itu adalah, Ya sudahlah, toh itu hanya tumor jinak, biar saja di obatin herbal, nanti juga hilang sendiri, karena kata Ibuku sebelumnya, nenekku juga pernah punya benjolan di payudaranya, lalu hilang seiring berjalannya waktu dengann dia mengkonsumsi obat herbal itu. jika nenekku sembuh, ibuku pasti juga akan sembuh. pikirku saat itu.

Tapi bodohnya, aku tidak memikirkan kemungkinan terburuknya. Hatiku dipenuhi dengan kesombongan, dengan keangkuhan bahwa aku maha tahu semuanya dengan pengalamanku yang hanya melalui artikel-artikel kesehatan yang pernah kubaca. seharusnya aku tahu, bahwa sebuah vonis baru bisa didapatkan setelah melalui proses pemeriksaan, bukan hanya melalui pengalaman membaca.

Aku tidak menyalahkan artikel itu, Tidak! aku hanya tidak tahu, bahwa ada beberapa keadaan yang memang tidak sama. Pasien satu dengan pasien lainnya memiliki keadaan yang berbeda. seharusnya aku bisa memikirkan hal itu saat itu. tapi karena aku terlalu sombong, aku terlalu bodoh, maka aku membiarkan saja apa yang sudah diputuskan oleh ibuku.

Ya, itu bukan sebuah tumor jinak….

Itu bukan sebuah benjolan biasa…

Itu adalah Kanker…

Penyakit yang selama ini menjadi penyakit yang begitu menakutkan untuk kebanyakan orang. dan penyakit itu, kini sedang tumbuh di tubuh orang yang begitu kusayangi, dia Ibuku….

Samarinda

10 – Oktober – 2018

Catatan Cancer Warrior – Awalan

Leave a comment Standard

 

Hai, Aku Enny.

Sebenarnya, aku tidak ingin menceritakan ini semua. aku tidak ingin orang melihat kesedihanku, tapi di sisi lain, aku berpikir kalau ini penting kulakukan. Mungkin dengan menulis ini, sedikit banyak, aku bisa mengingatkan wanita-wanita di luaran sana yang tak sengaja membaca kisahku ini.

Ini Bukan sebuah kisah yang istimewa, bukan pula kisah yang luar biasa. Ini hanya kisah sederhana tentang kebodohanku, tentang perjuanganku untuk menyembuhkan orang yang begitu kusayangi.

Apa kalian pikir ini adalah novel?

Bukan. Kalian salah.

Jika kalian ingin membaca novel, maka bukan di sini tempatnya.

Maaf membuat kecewa.

Untuk kalian yang tetap ingin membaca kisah ini, kuharap, kalian bisa memetik hikmahnya. Ya, karena aku ingin, tidak ada lagi orang yang bernasib sama sepertiku. Tujuanku menulis tentang hal ini karena aku ingin kalian lebih menyayangi apa yang kalian miliki saat ini.

Terimakasih.

Samarinda

10 – Oktober -2018