Mengenangnya (With Kai) – Cerpen True story

Comments 3 Standard

mwkMengenangnya (With Kai)

Note : Hanya Oneshoot yang ku dedikasikan untuk seorang yang pernah berada di masalaluku. ahh entahkah, aku kembali mengingatnya saja beberapa hari terakhir, akhirnya aku menulisnya di sini, Happy reading,,

Mengenangnya (With Kai)

 

Pagi ini aku mendengarkan lagu Radja. aku tidak tahu kenapa tiba-tiba suamiku memutar lagu itu, karena setahuku, lagu kenangan kami adalah lagu dari Wali.

Mendengar lagu itu, sontak aku teringat dengan seseorang. Seseorang yang pernah memiliki hatiku seutuhnya hanya dalam jangka waktu 9 hari.

Yeaah, dia kekasih lamaku selama 9 hari.

Sebut saja namanya Kai.

Aku lupa tepatnya bulan berapa, tapi seingatku, saat itu tahun 2007. Alif ( yg sekarang yg jadi suamiku) pacar pertamaku itu meninggalkanku begitu saja ke pulau seberang, tanpa pamit. Kalian tentu dapat membayangkan bagaimana perasaanku saat itu. Padahal kami baru menjalin kasih selama kurang lebih 2 bulan lamanya.

Sedih? Tentu saja, marah? Sangat dan sangat marah. Tapi aku bisa apa? Melarangnya? Yang benar saja.

Dua hari setelah alif meninggalkanku, sebuah nomor telepon baru menghubungiku. Dia mengaku bernama Kai. Kai, bukanlah orang jelek, jika boleh jujur, dia mantanku yg paling tampan dan kaya (bahkan melebihi alif, suamiku saat ini). Saat itu aku belum pernah bertemu dengannya, karena dia memang masih kuliah di luar kota.

Kami hanya berhubungan lewat telepon. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana rupanya saat itu, hanya saja mendengar suaranya membuatku berdebar-debar seperti di novel-novel yg pernah ku tulis. entah ini perasaanku saja, atau memang aku sudah menjadikan Kai sebagai pelampiasanku karena di tinggalkan Alif.

Dua minggu smsan dan telepon-teleponan. Kai pulang. Kalian tahu apa yang membuatku terkagum-kagum? Kai yg saat itu sekolah di daerah Malang, langsung menuju ke rumahku, masih dengan membawa tas ranselnya, dia tidak pulang ke rumahnya sendiri tapi langsung menuju ke rumahku, dan bertemu denganku untuk pertama kalinya.

Shock?

Tentu saja. Aku anak gadis biasa, tidak memiliki kelebihan apapun. Bahkan di bandingkan teman2ku, aku adalah gadis yg paling culun -dan jelek- tentunya. Dan aku tidak menyangka lelaki sekelas Kai mau repot-repot mendekatiku dan   ingin berkenalah denganku.

“Dek, kok diam saja?”

“Ahh enggak, mas.”

“Aku langsung ke sini tadi, nggak mampir kerumah, pengen ketemu kamu.”

“Ohh.”

“Dek, nggak papa kan kalau aku minta nomer kamu dari temanku?”

“Nggak papa kok, Mas.”

“Alif gimana Dek? Sudah hubungi  kamu?”

“Loh, Mas kenal Mas Alif?”

“Dia temanku dek.”

“Ohh…” hanya itu jawabanku.

“Dek, aku pengen menggantikan posisi Alif.”

“Maksudnya Mas?”

“Ayo di jalani saja, aku nyaman sama kamu, Dek.”

Dan… malam itupun kami resmi jadian. Hingga 9 hari kemudian aku memutuskan mengakhiri semuanya….

***

“Kai…. aku kangen kamu, Mas..”

***
Hari ke 7 aku jadian dengan Kai…

Entah kesialan apa yg terjadi denganku sore itu. Setelah sepanjang siang hujan lebat, akhirnya motor bututku yang ku parkir di pelataran sekolah mogok. Rasanya pengen nangis. Karena itu motorku satu-satunya.

Aku menunggui teman-temanku yang mencoba menyalakan motorku, tapi tidak ada yang berhasil. Hingga kemudian, aku melihat sosok itu datang.

Kai….

Astaga, jangan bayangkan bagaimana malunya aku saat itu. Sudah jelek, kusem, bau asem, muka berminyak, tanpa bedak, jerawat di mana-mana, dan laki-laki yang beberapa hari terakhir dekat denganku datang menemuiku dalam keadaan seperti itu? Ohhh sungguh, aku ingin menghilang saat itu juga.

Dengan santai Kai bertanya. “Motornya kenapa dek?”

Aku hanya bisa menundukkan kepala. “Uumm nggak tahu mas, mogok nih.”

“Sini, biar kubawakan ke bengkel temanku saja.”

“Terus, aku gimana?”

“Aku yang nganter pulang.” Setelah dia bicara seperti itu, dia pergi begitu saja, menuntun motorku menuju ke sebuah bengkel yang memang tak jauh dari sekolahanku.

Teman-temanku bercie-cie ria. Dan aku tidak peduli, yang kupedulikan saat itu adalah degupan jantungku yg seakan menggila.

Kai akhirnya kembali, dan langsung menaiki motornya. Dia menatapku sambil berkata. “Ayo, kenapa nggak naik?”

Teman-temanku dengan ndesohnya semakin menyorakiku dan membuatku ingin menyumpali mulut mereka satu persatu dengan kaos kaki yang kukenakan.

Akhirnya aku pulang, Kai benar-benar mengantarku. Ini pertama kalinya aku di jemput laki-laki saat pulang dari sekolah. Malunya minta ampun. Aku bahkan tidak berani menempel pada tubuh Kai yang aku yakini saat itu sudah wangi, sedangkan aku? aku yakin, bahkan satu meterpun kalian dapat mencium bau keringatku.

Tujuh hari ini, aku memang tak lagi memikirkan Alif. Kai selalu menghubungiku setiap waktu. Dan itu membuatku lupa dengan diri Alif. Hanya saja, saat aku akan tidur, bayangan Alif mencuat di pikiranku, dan itu kembali membuatku menangis.

“Kok diem aja, Dek?”

“Uuum, mas kok tahu motorku mogok tadi?”

“Tadi aku nggak sengaja jalan trus lihat kamu sama teman-temanmu.”

“Yang bener?”

“Iya, sumpah Dek.”

“Mas nggak malu jemput aku?”

“Ngapain malu? Kan jemput pacarku sendiri, bukan pacar orang.”

Dan astaga, kalo aku tidak ada di atas motor, mungkin saat ini aku sudah kejang-kejang karena salah tingkah.

“Mas masih lama di rumah?” Tanyaku lagi mengalihkan pembicaraan.

“Aku setengah bulan di rumah, Dek.”

“Oh…” hanya itu jawabanku.

Akhirnya sampai juga di depan rumahku. Aku turun dari atas motor Kai. Kupikir dia langsung pergi, tapi dia malah ikut aku turun.

“Loh, mas masuk dulu?” Tanyaku bingung.

Aku melihat dia tersenyum dengan sedikit malu-malu.

“Euumm aku mau..” dia mencondongkan tubuhnya bersiap mengecup pipiku. Dan dengan spontan aku membalikkan tubuhku hingga membelakanginya.

Astaga, aku nggak mungkin membiarkan cowok ganteng mencium pipiku yg kusem dan berminyak. Yang benar saja.

Lama kami dalam posisi aku membelakangi Kai. Aku juga tidak tahu apa yg di rasakan Kai saat itu. yang ku pikirkan saat itu adalah perutku yang mulai mulas karena kedekatan kami.

Hingga kemudian, aku mendengar bunyi motor Kai tepat di belakangku.

“Dek, aku pulang.” Ucapnya. Dan dia pergi begitu saja tanpa menungguku berbalik menatapnya.

***

Kai… ingatkah kamu dengan hari itu???

***
Hari ke 8…

Hari itu adalah hari yang benar-benar membuatku gelisah. Sepanjang pagi hingga sore, Kai tidah ada sekalipun menghubungiku. Sms yang biasanya gencar dia lakukan, telepon yang biasanya sering menggangguku, hari itu sama sekali tidak ada.

Aku gelisah, apa Kai sedang marah denganku? marah karena aku menolak saat ia ingin mencium pipiku? Astaga, jika memang karena itu, aku bisa memberi alasan kenapa aku melakukan hal itu.

Aku hanya seorang gadis desa yang sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam berpacaran. Dulu, aku memiliki orang yang kusukai saat SMP, tapi kemudian orang itu secara terang-terangan menolakku di depan semua orang hingga membuat kepercayaan diriku runtuh seketika. Bahkan hingga kini, rasa terauma itu benar-benar membunuhku. membuatku selalu merendahkan diri dan sama sekali tak memiliki kepercayaan diri.

Pacar pertamaku hanyalah Alif. Itupun hanya dalam jangka waktu 2 bulan, sebelum dia meninggalkanku begitu saja. Apa salah jika saat itu aku terkejut dengan apa yang di lakukan Kai? Ya, bisa di bilang Kai adalah orang pertama yang begitu dekat denganku.

Hingga sore, Kai tak kunjung menghubungiku. Nana, temanku menyarankan supaya aku menghubungi dia, tapi itu adalah hal terakhir yang akan ku lakukan. Sumpah demi apapun juga aku tidak akan pernah menghubungi laki-laki lebih dulu, bukan karena aku sombong, tapi aku terlalu takut, jika ternyata aku mengganggunya, atau membuatnya tidak nyaman. Akhirnya, aku membiarkan Kai yang tidak menghubungiku seharian tanpa mencoba menghubunginya.

sorenya, aku pulang sekolah dengan Nana, karena memang aku masih belum berani memakai motorku yang kemaren sempat masuk bengkel.

Kami pulang bersama dengan Nana memboncengku. tapi baru sekitar tiga kilo meter Nana menjalankan motornya dari sekolahan, kami di cegat oleh beberapa orang anak gadis dari sekolahan lain.

Apa Nana sedang membuat masalah? Pikirku saat itu. Akhirnya Nana menghentikan motornya, lalu kami sama-sama turun dan beberpa anak gadis dari SMA sebelah menghampiri kami.

“Ada apa ya?” Tanya Nana.

“Hei, kamu siapanya Kai?” Tanya seorang gadis dengan rambut pendeknya sembari menunjuk ke arahku.

“Aku?” Tanyaku bingung. “Uum, aku, teman.” Aku berbohong.

“Teman? Jangan-jangan kamu yang ngerebut Kai dari Ina?” Tanya gadis itu lagi sambil menunjung gadis lainnya yang mengenakan jilbab dan sedang menundukkan kepalanya.

“Loh, mbak, aku nggak pernah ngerebut siapa-siapa.” Jawabku sedikit tidak terima, karena aku memang tidak merasa pernah merebut Kai dari orang lain. Kai sendirah yang datang padaku saat itu.

“Halah alasanmu saja. Kai itu dulu selalu ngapelin Ina kalo dia pulang dari Malang, sekarang dia nggak lagi ke rumah Ina, dan kemaren kita lihat kamu sedang di bonceng dia lewat sini.”

“Memangnya Kai siapanya Ina?” Kali ini Nana yang ikut bertanya.

“Ya pacarnya lah. Bahkan mereka mau nikah juga, tuh lihatkan cincinmu, Ina.”

Aku hampir menangis saat itu ketika mendapati kenyataan jika Kai memiliki wanita lain di belakangku. Kenapa dia membohongiku? Kenapa dia mendekatiku? Kenapa dia membuatku tersakiti? Kenapa dia membuat luka yang sama seperti yang di berikan Alif padaku?

“Ya sudah, sekarang kamu ngaku nggak, kalau kamu pacarnya Kai?” Tanya gadis itu lagi.

“Enggak mbak!!” Jawabku tegas. “Aku cuma punya satu pacar, namanya Alif, dia sekarang sedang ke kalimantan. Kai cuma temannya, dan dia cuma temanku.” Jawabku setegas mungkin dan berharap suaraku tidak bergetar saat itu.

“Ya sudah. Kalo Kai ke rumahmu lagi, bilang, suruh nemuin Ina. Dan kalau bisa, jangan bolehin dia main ke rumahmu lagi. Kamu nggak kasihan sama Ina yang baik ini?”

“Ti, sudah, aku nggak apa-apa.” Ucap gadis yang bernama Ina itu dengan sedikit menenangkan temannya yang sejak tadi terlihat sedikit emosi.

“Ya sudah mbak. Nanti ku kasih tahu orangnya.” Jawabku setenang mungkin. Padahal saat itu perasaanku sudah tidak karuan.

Aku dan Nana akhirnya melanjutkan perjalanan pulang kami. Sesekali Nana menggerutu tidak percaya dengan apa yang di katakan para gadis itu. Bagi Nana, Kai adalah orang baik-baik.

Ahh ya, aku belum cerita, Kai itu adalah sepupu dari Ale, pacar Nana. Nana tentu kenal dekat dengan Kai, dan dia sama sekali tidak percaya kalau Kai itu memiliki pacar lain selain aku. Sedangkan aku sendiri, sama sekali tidak menghiraukan pendapat Nana, pikiranku terlalu penuh dengan berbagai macam pikiran tentang Kai. Bayangan-bayangan saat Kai mencoba mendekatiku pun mencuat begitu saja.

 

Aku ingat, saat itu adalah hari kedua aku resmi menjadi kekasih Kai. Kai bercerita banyak tentang dirinya semasa hidup di Malang. Dia memiliki banyak Pacar. Tapi seluruhnya bukan wanita baik-baik. Aku tidak percaya, tentu saja. Memangnya aku mau di bodohi sama dia. Lalu besok malamnya ketika kami ketemuan kembali, Kai membawa beberapa Foto kedekatannya dengan beberapa gadis yang di sebut dengan mantannya. dan saat itu aku baru sadar, kalau Kai memang lelaki yang dengan gampang menunjuk mana wanita yang dia inginkan.

Saat aku bertanya. “Kenapa kamu nggak cari wanita baik-baik buat di jadikan pacar Mas?”

Dia menjawab “Wanita baik itu bukan untuk di jadikan pacar. Tapi untuk di jadikan istri.”

Aku tertawa dengan gombalannya. “Lah berarti aku bukan wanita baik-baik dong?”

“Memangnya kamu pacarku?” Pertanyaannya benar-benar membuatku malu. astaga, bagaimana mungkin dengan begitu PDnya aku mengakui diri sebagai pacarnya.

“Uumm, nggak tahu lah.”

“Kalau aku nganggep kamu calon istriku, gimana?”

Tubuhku saat itu kaku seketika. Calon istri? Aku bahkan baru Lima belas tahun saat itu.

 

Aku ingat hari itu kami banyak tertawa, dan berakhir dengan kecanggungan karena Kai membahas tentang calon istri. tapi fokusku saat ini bukan pada bagian percakapan manis kami, tapi lebih pada bagian Kai yang mengaku memiliki banyak kekasih di luar sana.

Kai sudah mengakui sejak awal padaku, jika dia memiliki banyak kekasih di luaran sana, bukan tidak mungkin Ina adalah salah satunya.

Dan astaga, betapa bodohnya aku menaruh hatiku pada seorang Kai…

Ya, tidak bisa di pungkiri jika aku sudah mulai jatuh hati pada sosok Kai, sosok yang mampu mengalihkan perhatianku dari Alif, sosok yang sangat perhatian padaku, sosok yang pada saat itu membantu mengobati lukaku akibat kehilangan seorang Alif.

Ya, dalam waktu singkat, Kai membuatku jatuh cinta padanya.

Tapi aku sadar jika semua ini salah. Kai bukan orang baik untuku, dan aku tidak ingin melanjutkan kesalahan ini, aku tidak ingin tersakiti lebih jauh lagi nantinya, hingga kemudian, aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya keesokan harinya..

Kai… maafkan aku, aku hanya tidak ingin kembali tersakiti… maaf….

***
Malam itu juga aku mengirim pesan pada Kai.

Aku : ‘Mas, aku pengen ketemu besok malam.’

Tak lama, ponselku kembali berbunyi, tanda Kai membalas pesanku.

Kai : ‘Beneran? Kamu kangen? Di mana Dek?’

Aku : ‘Di sekolah SD ku sedang ngadain pentas seni, kita ketemuan di sana saja Mas. Sambil nonton.’

Kai : ‘Ya sudah, ku jemput jam 7, Dek.’

Aku : ‘Jangan, aku di antar Mas Sani nanti.’ (Kalo kalian pernah baca cerita The Lady killer, pasti kenal Renno, nah Sani ini adalah Rennoku dalam dunia nyata hahahahha).

Kai : ‘kok di antar Sani?’

Aku : ‘Ya, aku sekalian ada perlu sama dia.’

Kai : ‘Baiklah. Met Bobok Dek.’

Dan aku tidak lagi membalas SMSnya itu. Aku seakan mencoba memungkiri sikap manis yang di berikan Kai padaku. Maaf Kai, aku tidak ingin jatuh terlalu dalam.

***

Besok malamnya… tepat hari ke 9 aku jadian dengan Kai. Kai menatapku ketika aku sampai di tempat kami janjian saat itu.

Sani yang mengantarku, ikut turun dari motornya lalu berjalan mengikutiku tepat di belakangku. Ahh ya, sedikit cerita tentang Sani, Sani adalah laki-laki yang mengenalkanku dengan Alif. Bisa di bilang, dia mak comblangku. Dia itu naksir berat dengan temanku yang bernama Dewi, tapi sayangnya, Dewi hanya memanfaatkan Sani. Dari situ, aku sempat menaruh hati pada Sani. Ahhh kalian jangan bilang siapa2 yaa.. huehehehehe. Tapi sayang sekali, Sani malah mengenalkan aku dengan Alif, dan mencomblangkanku dengannya. Akhirnya, perasaanku ku kubur begitu saja dan aku belajar mencintai sosok Alif.

Kembali pada permasalahan.

“Loh dek, kita jalan bertiga?” Tanya Kai sambil menatap Sani.

Akhirnya aku menoleh ke belakang dan mendapati Sani masih berdiri di belakangku.

“Kamu kok masih di sini Mas?” Tanyaku pada Sani.

“Aku mau nemenin kamu.”

“Kan sudah ada Aku, San.” Kai menyahut.

“Ingat Kai, Alif yang nyuruh aku jagain dia, bukan kamu.”

Oke, aku bingung. Kenapa mereka bawa-bawa nama Alif?

Aku melihat Kai maju mendekat ke arah Sani.

“Hei, San, kamu juga harus ingat, kalau kamu saat itu nggak mau kan di suruh jagain Jeni buat Alif? Makanya kamu nyuruh aku yang jagain Jeni.”

“Loh, kalian ngomong apa sih?” Aku semakin bingung disini. Jadi, Alif dalang semua ini??

“Gini dek, aku bisa jelasin.” Kai mulai menarik tanganku sedikit menjauh dari Sani, sedangkan Sani hanya bisa menatap kami sedikit lebih jauh.

“Dek, sebenarnya, Alif nyuruh Sani jagain kamu, biar kamu nggak pacaran atau dekat dengan cowok lain selama dia merantau, tapi saat itu Sani nggak mau, jadi dia nyuruh aku buat jagain kamu Dek.”

Shock. Itulah yang ku rasakan saat itu. M mm mmbmmm mhihgighjhogjmhkhJADI INI SEMUA DALANGNYA SI ALIF????

“Oh, jadi di sini aku cuma mainan kalian?”

“Bukan gitu Dek, Alif itu benar2 sayang sama kamu Dek, dia cuma nggak mau kamu kenapa2 makanya nitipin kamu sama teman2 terdekatnya.”

“KALO DIA SAYANG, DIA NGGAK AKAN NINGGALIN AKU TANPA PAMIT MAS.” Aku berteriak. Ya, aku masih ingat dengan jelas jika saat itu aku berteriak keras ke arah wajah Kai.

“Ninggalin? Dia kan masih hubungin kamu, kamu pikir aku nggak tahu?”

Tububku tegang seketika. Ya, sekitar lima hari entah satu minggu setelah Alif pergi, Alif kembali menghubungiku. Saat itu dia sudah berada di kota Bontang kalimantan timur. Hubungan kami canggung, hanya sebatas tanya kabar, itu saja. Dan aku tidak pernah menceritakan hal ini pada siapapun, entah teman-teman terdekatku, atau Kai sekalipun. Aku hanya bilang kalau Alif meninggalkanku, dan kami sudah putus hubungan, padahal bukan seperti itu. Tapi darimana Kai mengetahui hal itu?

“Mas, darimana bisa tahu kalau Mas Alif masih hubungin aku?”

“Maaf, tapi aku pernah meriksa Hpmu, Dek.”

“Kok, kamu periksa sih? Kenapa?”

“Dek, memang awalnya aku cuman bantu Alif jagain pacarnya, tapi…”

“Tunggu mas, ada yang lebih penting. Ina itu siapa?” Tanyaku secara langsung sebelum keberanianku menghilang.

Kai diam seketika. Tiba-tiba dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Kenapa? Apa dia benar-benar memiliki hubungan serius Dengan Ina?

“Kenapa Mas? Ina pacar kamu?”

Kai masih tidak menjawab.

“Teman-temannya ngelabrak aku kemaren, katanya aku ngerebut kamu dari Ina, jadi Ina beneran pacar kamu?”

“Ya.” Jawabnya dengan santai.

“Kamu kok tega sih Mas, lalu apa bedanya kamu dengan Alif yang nyakitin aku?”

“Kita nggak ada bedanya Dek, kamu juga masih diam-diam smsan dengan Alif di belakangku.”

“Itu karena Alif pacarku.”

“Ina juga pacarku, dia bahkan sudah tunangan denganku!” Kai sedikit membentakku.

Aku terpaku melihat Kai yang terlihat Emosi. Dia benar-benar sudah memiliki tunangan. Dan bagaimana mungkin aku bisa menyukainya? Astaga.

“Gini Dek, kita nggak ada bedanya. Walau kita pacaran, kamu masih hubungan dengan pacarmu si Alif itu, kamu hanya melihatku sebagai pelarianmu Dek, iya kan?”

“Mas, kenapa seakan di sini aku yang salah?”

“Ya, kamu yang salah, kamu yang sudah buat aku berpaling.”

“Berpaling?” Aku masih bingung.

“Ya sudah lah, nggak ada gunanya aku jelasin sama kamu, sekarang mau kamu apa? Aku turutin.”

“Sampai di sini saja, mas.”

Kai menatapku, Dia terdiam cukup lama, hingga kemudian dia kembali bersuara.

“Kamu minta putus karena akan balikan sama Alif?” Aku hanya diam. “Ya sudah, terserah kamu.”

Kai pergi begitu saja, dan yg bisa ku lakukan hanyalah menangis. rasa ini rasa yg sama seperti Alif meninggalkanku.

“Jen.” Suara Saninmembuatku berbalik dan menatap ke arah Sani yang sudah berdiri tepat di belakangku.

“Maafkan aku, aku yg sudah membuatmu kenal dengan  Alif dan juga Kai. Maaf.”

Aku tak menghiraukannya, yang bisa ku lakukan saat itu hanyalahh menangis, menangis dan menangis.

***

Hampir 3 tahun berlalu… tepatnya bulan 7 – 2010

Banyak kejadian yang menimpaku selama kurun waktu hampir 3 tahun terakhir. Setelah putus dengan Kai pada saat itu, aku bukan lagi menjadi diriku sendiri.

Satu hal yang perlu ku ingat dan menjadi pelajaranku saat itu, jika hidup adalah sangat berharga, nikmatilah hidup selagi kamu masih bisa, jangan terlalu terbawa perasaan, keGR-an berlebihan, dan jangan terlalu menyukai orang jika kamu tidak ingin merasakan sakit pada akhirnya.

Aku benar-benar menjadi sosok yang berbeda. Bahkan teman-temanku berkata jika aku terlalu berani.

Setelah putus dengan Kai, aku berpacaran dengan Sani, dengan Randy, dan entah dengan siapa lagi yang semuanya adalah teman dekat Alif. Aku tidak peduli. Yang kupedulikan adalah bagaimana caranya aku melupakan Sosok Alif…

Ya, sosok Alif selalu berputar -putar pada kepalaku. Bahkan ketika kami kembali putus hubungan -benar2 putus Kontak- selama dua tahun.

Beberpa bulan setelah putus dengan Kai, aku memutuskan untuk ikut orang tuaku merantau ke kota Samarinda. Melanjutkan sekolahku disana, dan melupakan semua masalaluku ketika hidup di desa. Hanya saja, Alif masih selalu menghantui pikiranku. Dia seakan tidak ingin pergi dari otakku. Bahkan Kai saja aku sudah lupa bagaimana rupanya, tapi tidak dengan Alif.

Dan kini, bulan 7 – 2010 adalah saat dimana aku kembali lagi pulang ke desa.

Aku lupa, tepatnya itu hari ke berapa aku kembali pulang. Tapi seingatku saat itu aku baru pulang dari tes masuk perguruan tinggi di kota lamongan.

Ponselku berbunyi. Aku mengernyit saat menadpati sebuah sms dengan nomor baru di ponselku tersebut.

‘Apa kabar Dek?’

Aku tidak tahu itu siapa, tapi aku berani jamin jika itu adalah mantan pacarku dulu. Ya, semua mantan pacarku pasti memanggilku dengan panggilan Dek.

‘Ini siapa ya.’ Balasku.

‘Kai.’

Hanya tiga huruf tapi itu sukses membuat jantungku kembali dag dig dug seakan ingin meledak.

Aku terdiam cukup lama. Mencoba mencerna apa yg terjadi. Kai kembali menghubungiku, kenapa? Kenapa pada saat seperti ini? Pada saat aku kembali menjalin kasih dengan Alif?

Ya, aku kembali jadian dengan Alif.

Alif ternyata sudah kembali pulang sejak bulan 5 – 2010. Dia meminta nomer Hp ku pada teman terdekatku. Akhirnya Alif menghubungiku. Sempat kaget saat itu, dan entahlah, bagaimana euforianya hatiku saat itu. Hanya saja aku mencoba meredamnya. Berpisah selama hampir 3 tahun, dan 2 tahun sisanya sama sekali tidak menjalin komunikasi membuatku merasa jauh dengan Alif. Akhirnya kami hanya say hallo, tanya kabar, dan sedikit bercerita. Tapi kemudian dia mengajakku kembali menjalin kasih, dan dengan bodohnya aku kembali menerimanya.

Kini, ketika aku sudah kembali ke kampung tempat asalku, aku kembali bertemu dengan Alif. Dan kami benar2 kembali menjalin kasih.

Tapi kenapa Kai datang pada saat seperti ini?? Karena lama aku tidak membalas Sms darinya, Kai akhirnya meneleponku, dan mau tak mau aku mengangkatnya.

“Kamu sudah pulang, Dek?”

“Ah, ya.”

“Aku tadi nggak sengaja lihat kamu, pas aku nongkrong di toko kaset tempat langganan kamu dulu beli kaset. Kamu beda ya?”

“Beda apanya mas?”

“Sekarang sudah bisa dandan. Dan… cantik.”

Oke, aku ingin berteriak saat itu juga bahwa AKU TIDAK SUKA DI RAYU!!!!

“Ah, biasa saja mas.”

“Kata teman-teman kamu pulang karena mau lanjutin sekolah di kota ya?”

“Iya.”

“Ngambil jurusan apa, Dek?”

“Informatika dan jaringan, Mas.”

“Wah, pinter main komputer dong nanti, mau ngajarin Mas nggak nanti?”

Astaga, aku ingin melempar ponselku saat itu juga. Apa Kai sedang menggodaku?

“Maaf mas, aku sibuk, lain kali lanjut lagi ya.”

“Dek.. dek..” aku menghentikan aksiku yang mau memutuskan telepon Kai ketika aku mendengar panggilannya.

“Apa mas?”

“Aku kangen sampean.” (Bhs. Indo : Aku kangen kamu)

Kai menutup teleponnya begitu saja. Sedangkan aku sendiri masih tecenung mendengar ucapannya barusan. Jen, cuman kangen, ingat, cuma kangen. Nenekmu juga kangen kamu, so what? Bukan masalah penting. Pikirku.

***

Hari berlalu terasa sangat cepat. Hingga tak terasa sudah bulan September 2010.

Aku menikah.

Ya, aku menikah, bukan dengan Kai, tapi dengan Alif. Banyak hal yang terjadi selama dua bulan terakhir. Dan yang paling tidak bisa ku lupakan hingga kini adalah ketika aku dengan kekeras kepalaanku menyakiti hati kedua orang tuaku, karena aku memilih menikah dengan Brandalan seperti Alif, di bandingkan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.

Alif bukan orang yang dapat di banggakan. Aku tahu itu. Dia pengangguran, tukang mabuk, dan dia sesekali menggunakan obat. -itu dulu- tapi entahlah, sepertinya perasaanku sudah di butakan oleh cinta. Entah apa yang kulihat dari dia hingga aku berani melawan kedua orang tuaku.

Ahhh mungkin Alif memang jodohku… pungkasku.

Tepat tgl 26 September 2010. Kami sah menjadi suami istri. Meski bapak sempat tidak merestui hubungan kami, tapi akhirnya beliau menerima Alif. Bahkan pesta pernikahanku saat itu di selenggarakan dengan sangat meriah.

Semua yg di undang hadir. Tapi ada dua orang yang tidak hadir dalam pernikahanku. Yang pertama, Sani. Dia tidak hadir, entah karena apa. Padahal aku sangat berharap dia hadir. Terlepas dari aku yang pernah menjalin kasih dengan Sani, Sani adalah orang yang sudah mengenalkanku dengan Alif, dia mak comblang kami, tentu saja aku ingin dia hadir. Tapi nyatanya, dia tidak hadir.

Yang kedua, Kai…..

Ya, dia tidak hadir. Kai saat itu memang sudah lulus kuliah, dan kerja di daerah malang, tapi setiap sabtu dan minggu, dia pasti pulang. Dan pernikahanku saat itu memang jatuh pada hari sabtu dan minggu, tapi dia tetap tidak datang. Entahlah, apa yang terjadi dengannya. Tapi ku harap, hubungan kami nanti tetap baik.

Walau hanya menjadi seorang teman.

***

Pagi itu, aku masih ingat, tepat tanggal 27 september 2010. Aku bangun mendapati Alif yang sudah di sebelahku. Astaga, rasa debar-debar itu hadir begitu saja, aku masih tidak percaya jika aku akan berakhir di plaminan dengan Alif.

Aku bangun, lalu mandi. Dan ketika aku kembali masuk ke dalam kamar, Alif sudah duduk menungguku.

“Nggak mandi, mas?”

“Nanti aja.” Jawabnya.

“Pemalas.” Dan alif hanya menampilkan cengirannya.

“Dek, kamu nggak mau bukain itu?” Alif bertanya sembari membuka bungkusan-bungkusan kado yang berada di ujung ruangan.

Aku tersenyum penuh semangat. ahh ya, kata teman-temanku, salah satu yang mengasyikkan ketika menjadi pngantin baru adalah membuka kado dan juga amplop yang di terima dari sanak dan teman yang hadir.. hahahahhaha dan pagi itu, aku berdua dengan Alif sibuk membuka kado dari teman-teman kami.

Sialan!!! Kebanyakan kado berisi barang yang tidak penting. Bahkan bisa di bilang membuat ngakak sampek perutku mulas.

Ada yg memberi sebungkus kondom, pil kontrasepsi, plastik2 bekas, mentimun, mangga muda (apa mereka pikir aku mau buka warung rujak?) Dan masih banyak lagi kado2 tidak masuk akal yg membuat ngakak.

Tapi kemudian, ada sebuah kado yang membuatku tercenung cukup lama sebelum membukanya.

Kado dari Kai…

“Kenapa Dek?” Tanya Alif.

Aku sadar saat Alif bertanya padaku. “Ini, dari Kai, dia ke sini? Kok aku nggak lihat?”

“Dia nggak datang, cuma dia nitip itu aja buat kamu katanya.”

Aku tidak akan menulis di sini apa yang di berikan Kai padaku saat itu. Hanya saja, note yang di tulis Kai masih dapat ku ingat hingga saat ini.

‘Semoga berbahagia dek, aku yakin, Alif yang terbaik untuk kamu. Salam sayang, Kai.’

Alif bahkan ikut membaca note tersebut, dan berakhir tertawa lebar.

“Lebay.” Kata Alif.

Ya, Alif memang bukan orang yang romantis. Dan aku yakin, dia tidak akan pernah memperlakukanku seromantis mantan-mantanku yang lainnya.

“Apaan sih mas.”

“Kamu pernah jadian sama Kai?”

“Kenapa memangnya?” Aku balik bertanya.

“Kai pernah bilang sama aku, pas aku baru pulang bulan 5 kemaren. Dia minta maaf karena pernah jadian sama kamu, dan katanya sih, dia beneran suka sama kamu.”

“Ah yang bener mas?”

“Iya Dek, aku nggak bohong.”

“Tapi kan dia udah punya tunangan mas.”

“Tunangan? Dia udah putus lama kali dek sama tunangannya itu, bahkan sebelum aku berangkat ke kalimantan waktu itu.”

“Terus, kenapa dia nggak bilang sama aku?”

Alif mengangkat kedua bahunya. “Aku nggak tahu. Sudah lupain aja, jangan inget-inget dia lagi.”

“Kenapa?”

“Kok kenapa? Kamu kan sudah punya suami, masa inget-inget cowok lain sih?”

“Hahahha iya, aku lupa.”

Alif menyentil keningku. “Dasar bocah gemblung. Sudah, aku tak mandi dulu.”

Akhirnya Alif keluar dari kamar, dan mandi. Sedangkan aku, hanya mampu menatap bingkisan kertas kado dari Kai dengan mata nanar tapi dengan bibir yang menyunggingkan senyuman.

Kai…. mungkin kita tidak berjodoh. Tapi aku yakin, Tuhan menyiapkan jodoh yang lebih baik untukmu. Terimakasih, sudah pernah mengisi hariku, saat Alif tak berada di sisiku. Terimakasih…..

 

***The End***

Advertisements

Bintangku (Side Story of Robby) – Part 3(End)

Comments 15 Standard

romantic-boyfriend-girlfriend-whatsapp-dp-profile-pic-2Bintangku (Robby Story)

Haii haii.. maap ngaret yaa.. hahahha tadi malam aku asih gonta ganti tampilan blog biar yg baca blog ini nggak bosen, ehh akhirnya aku ketiduran.. buahaahhaha jadi baru sempat Up siang ini deh… happy reading aja dehh kalo gitu… di bawah link untuk part 1 dan part 2 nya yaa…

Bintangku (Side Story of Robby) – Part 1

Bintangku (Side Story of Robby) – Part 2

“Katakan Bintang, kenapa kamu membohongiku?”

“Maaf.” Hanya itu jawabanku dengan suara yang sedikit ercekat di tenggorokan.

“Aku tidak akan mengampunimu Bintang. Aku tidak akan mengampunimu.” Dan setelah itu kurasakan sesuatu yang basah menyambar bibirku, melumatnya dengan panas dan juga kasar. Mas Robby menciumku secara membabi buta. Dan aku dapat merasakannya, rasa frustasi bercampur aduk dengan rasa rindu dalam ciumannya. Dan yang dapat ku lakukan hanyalah membalas apa yang sudah dia lakukan terhadapku saat ini.

***

Part III

-Bintang-

 

Lumatan itu semakin melembut. Mengirimkan gelenyar aneh yang merayapi sekujur tubuhku. Ciuman ini semakin intens, membuatku sesekali mendesah saat menikmatinya.

Mas Robby melepaskan cekalan tangannya pada tanganku, kini kedua telapak tangannya menangkup kedua pipiku, sedangkan bibirnya masih tak berhenti mencumbuku. Oh, aku benar-benar merindukan dia, merindukan ciumannya, sentuhannya, dan kasih sayangnya, bolehkah aku berharap supaya dia kembali padaku?

Tiba-tiba bayangan seorang anak laki-laki kecil dengan seorang wanita menghampiri pikiranku. Bagaimana mungkin aku kini berciuman dengan sorang laki-laki yang mungkin saja saat ini sudah beristri? Meski dia dulu belum menceraikanku, tapi ku pikir kami sudah berpisah setelah lebih dari Lima tahun tak bertemu. Apalagi kenyataan jika Mas Robby memiliki seorang putera, pasti kini dirinya sudah memiliki seorang istri.

Sekuat tenaga kudorong dada Mas Robby menjauh dari tubuhku, melepaskan pangutannya pada bibirku dengan napas yang sudah terengah.

“Kita tidak bisa melakukan ini.” Ucapku dengan suara yang sudah bergetar. Kumohon, jangan menangis sekarang Bintang. Lirihku dalam hati.

“Kenapa? Kamu masih menyangkal masalalu kita?” tanyanya dengan kening yang berkerut seperti sedang menahan suatu kesakitan.

Aku melihat mas Robby memijit pelipisnya sendiri. Apa dia sedang sakit?

“Dengar Bintang, walau aku belum dapat mengingat dengan jelas bagaimana hubungan kita, tapi aku cukup tahu, kalau… kalau…” Mas Robby tak dapat melanjutkan kalimatnya karena tubuhnya lebih dulu ambruk ke lantai. Dia pingsan, dan aku berteriak panik.

***

Aku menatap lelaki yang kini terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Astaga, hal ini terulang lagi. Masih teringat jelas di dalam otakku ketika menatap mas Robby yang terbaring tak berdaya lima tahun yang lalu. Saat itu aku di paksa untuk meninggalkan dia. Dan aku benar-benar pergi meninggalkannya.

Kini, setelah aku membangun hidup beru dengan Bulan, kenapa dia kembali bertemu denganku? Apa takdir belum puas mempermainkanku?

Aku menjauh darinya. Pergi ke Jakarta dan hidup di lingkungan kumuh. Tapi aku tidak pernah menyangka jika lagi-lagi aku akan bertemu dengannya.

Aku mengusap air mataku yang tidak berhenti menetes. Lima tahun berlalu dan hatiku tetap sama, aku tidak bisa berpaling pada laki-laki lain, dan jujur saja, aku tidak dapat membayangkan jika Mas Robby memiliki wanita lain.

Tuhan, aku harus bagaimana? Aku harus seperti apa? Aku tidak bisa membiarkan dia berada di dekatku saat aku tahu jika semua itu akan menyakiti hati wanita lain. Dengan tekad bulat aku berdiri dan bersiap meninggalkannya. Tapi ketika kakiku akan melangkah pergi, pergelangan tanganku di cekal oleh Mas Robby.

“Jangan pergi.” Lirihnya.

Aku menatap ke arah Mas Robby seketika. Matanya sudah terbuka, dan tampak berkaca-kaca.

“Aku sudah mengingatmu, jangan pergi.” Ucapnya lagi dengan suara nyaris tak terdengar. Dan dengan spontan aku menghambur ke arahnya untuk memeluknya erat-erat.

“Aku merindukanmu Bintang. Aku merindukanmu.”

Aku menangis sesenggukan saat mendengar ucapannya.

“Kenapa kamu tidak mencariku? Kenapa kamu meninggalkanku? Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.” Lanjutnya yang kini ku yakini jika mas Robby sudah ikut menangis denganku.

***

-Robby-

 

Ini sudah tiga hari aku di rawat di rumah sakit. Semua ingatkanku tentang Bintang sudah kembali pulih. Bintang istriku, dan aku berniat untuk menikahinya lagi nanti ketika aku sudahg sembuh. Selama tiga hari terakhir, Bintanglah yang merawatku di rumah sakit.

Ibuku bahkan tidak tahu jika aku sakit dan ingatanku sudah kembali pulih. Aku hanya menghubungi Ibu di malam pertama aku di rawat di rumah sakit, memberikan alasan jika aku harus keluar kota selama seminggu lamanya. Ya, dengan begitu Ibu tidak akan curiga saat aku sudah kembali bersama dengan Bintang.

Hubunganku sendiri dengan Bintang sudah kembali membaik. Bintang tak lagi menyangkal masa lalu kami. Dia bahkan membantu merawatku selama tiga hari terakhir. Sedangkan Bulan, ia titipkan sementara di rumah tantenya.

Aku melihat pintu ruang inapku di buka seseorang. Itu pasti Bintang. Saat sore seperti saat ini, dia memang datang, dan menemaniku hingga pagi. Bintang masuk, dia terlihat sedang membawakan sesuatu untukku.

“Sudah baikan Mas?” tanyanya sambil meletakkan rantang mungil di mejat tepat sebelah ranjang yang sedang ku baringi. Kepalanya tak berhenti menunduk, dan aku tahu jika dia masih bersikap canggung terhadapku.

“Belum.” Jawabku dengan suara parau.

“Kata dokter kamu sudah boleh pulang hari ini.”

“Tapi aku tidak ingin pulang.”

“Kenapa?”

“Di rumah tidak ada yang merawatku seperti kamu merawatku. Aku ingin kamu selalu perhatian seperti sekarang ini, meski aku harus sakit dulu.”

“Kamu nggak boleh ngomong gitu Mas, istri dan anak kamu pasti bingung nyariin kamu.”

“Kamu istriku, Bulan anakku.” Jawabku cepat.

“Mas, jangan begini. Oke, aku sudah mengakui jika kita memiliki masa lalu, tapi kumohon, jangan membawa masalalu untuk menghadapi masa yang akan datang. Aku sudah bahagia dengan Bulan, dan aku yakin kamu juga sudah bahagia dengan istri dan puteramu.”

“Bintang.”

“Mas, ini terakhir kalinya aku ke rumah sakit menjengukmu. Aku tidak mau merasa bersalah karena sudah menyakiti hati wanita lain.”

“Wanita lain?” Aku bangun seketika. “Bintang, kamu salah paham. Aku tidak memiliki wanita lain.”

“Jangan bohong Mas, lalu bagaimana bisa ada Ivander kalau kamu tidak memiliki istri?”

“Astaga, jadi aku belum bercerita denganmu? Ivander adalah anak yang ku adopsi dari salah satu panti asuhan di Bandung. Usianya bahkan lima bulan lebih tua daripada Bulan. Kalau dia anakku sendiri, itu tandanya aku sudah menghianatimu ketika kita masih bersama dulu, Bintang.”

Aku melihat raut terkejut yang di tampilkan Bintang. Jadi selama ini dia salah paham terhadapku? Dia menyangka jika aku sudah menikah dan bahagia dengan wanita lain? Yang benar saja. Meski aku hilang ingatan, tapi hatiku seakan tidak kehilangan memorinya. Hatiku selalu menolak jika aku dekat dengan wanita lain, dan kini aku baru sadar jika semua itu karena hatiku sudah menyisihkan tempat abadi untuk seorang Bintang, meski ketika otakku tak dapat mengingatnya.

Secepat kilat kuraih pergelangan tangan Bintang kemudian menariknya hingga kini Bintang duduk di atas ranjang rumah sakit dengan posisi membelakangiku. Aku memeluk tubuh Bintang seketika lalu menyandarkan daguku pada pundaknya.

“Mas.”

“Kenapa kamu ninggalin aku? Kenapa kamu pergi dariku?”

“Uum, aku..”

“Apa ibu yang menyuruhnya?” tanyaku penuh selidik.

“Mas, bukan begitu. Saat itu aku perlu dana untuk operasi kamu. Dan aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa selain pada keluarga kamu.”

“Jadi kamu benar-benar datang kerumah ibu dan meminta pertolongan padanya?”

Bintang hanya menganggukkan kepalanya.

“Apa Ibu memaksamu pergi?”

Bintang menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak, tapi aku cukup tahu diri karena aku merasa bersalah sudah membuat hidupmu sesah saat bersamaku, Mas. Aku nggak mau melihat kamu menderita.”

“Tapi tidak dengan meninggalkanku Bintang. Aku memang hilang ingatan, tapi hatiku selalu merasakan perasaan sesak tak nyaman, seperti ada sesuatu yang nggak seharusnya aku lupakan.”

“Maafkan aku.” Hanya itu yang di ucapkan Bintang.

Aku menghela napas panjang. “Oke, aku akan memaafkanmu, asalkan kamu mau menikah kembali denganku.”

Bintang membulatkan matanya seketika. “Mas. Aku nggak bisa.”

“Kenapa?”

“Ibu tidak akan merestui kita.”

“Aku tidak peduli. Aku tetap akan menikahimu kembali.” Tegasku tak terbantahkan.

***

Aku akhirnya pulang, dengan Bintang dan Bulan bersamaku. Bintang terlihat gugup, dan tampak sekri raut ketakutan di wajahnya. Hanya saja aku selalu menggenggam tangannya, menenangkannya suapaya dia tidak gugup.

Sampai di rumah Ibu, aku lantas masuk masih dengan menggenggam telapak tangan Bintang. Sedangkan Bulan sudah tertidur dalam gendonganku.

“Robby, akhirnya kamu..” kalimat ibu menggantung ketika melihatku yang sudah berdiri dengan Bintang di sebelahku.

“Kenapa.. Kenapa..” Suara ibu terpatah-patah.

“Harusnya aku yang tanya Bu, kenapa ibu tega memisahkan kami?” tanyaku dengan suara yang kubuat setenang mungkin, padahal kini emosiku sudah memuncak di kepala.

“Robby, Ibu nggak memisahkan.”

“Oh ya? Tapi kupikir dengan tidaak menceritakan tentang Bintang saat aku hilang ingatan, itu sama saja memisahkanku dengan Bintang Bu, lihat, aku sudah memiliki seorang puteri yang berusia lebih dari lima tahun, dan aku baru mengetahui kenyataan itu kemarin? Ibu pikir bagaimana perasaanku?”

“Robby, Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kamu.”

“Dan yang terbaik untukku hanya bersama dengan Bintang, Bu. Tolong Ibu mengerti.” Aku semakin mengeratkan genggaman tanganku pada Bintang. Sedangkan dari sudut mataku, kulihat Bintang semakin menundukkan kepalanya.

“Bu, hanya dia yang mampu membuatku melupakan Allea, hanya dia yang mampu membuatku jatuh cinta lagi. Jadi kumohon, jangan memaksaku untuk meninggalkan dia.”

“Robby.”

“Aku akan kembali menikah dengannya. Dan keluar dari rumah ini dengan Ivander.”

“Mas.” Ucap Bintang. “Kamu nggak perlu lakuin itu.”

“Kenapa? Aku hanya ingin hidup bersama dengan orang yang kucintai, bersama istri dan anak-anakku.”

“Tapi kamu nggak bisa kembali menentang ibu, lalu berakhir mengerikan seperti lima tahun yang lalu. Aku nggak sanggup melihat kamu hidup susah Mas.”

“Kamu pikir aku sanggup melihatmu dan Bulan hidup susah seperti sekarang ini? Kamu pikir aku dapat memaafkan diriku sendiri saat tahu jika aku sudah melupakan kalian selama lima tahun terakhir?”

Bintang hanya diam, Dia menundukkan kepalanya menyadari jika perkataanku memang benar.

“Aku akan tetap pergi dari rumah ini jika Ibu masih tak dapat menerima hubungan kita.” Tegasku sekali lagi, lalu menyeret paksa Bintang masuk menuju ke kamarku.

***

Lima bulan berlalu…

Aku akhirnya bisa hidup bersama lagi dengan Bintang, Bulan, dan juga Ivander. Malam itu ketika aku pulang kerumah membawa Bintang dan Bulan, aku langsung pergi begitu saja meninggalkan rumah dengan membawa Ivander bersamaku.

Tiga hari setelahnya, aku kembali melakukan pernikahan dengan Bintang. Dan pernikahanku itu lagi-lagi tanpa restu orang tuaku.

Aku tidak mengetahui lagi bagaimana kabar Ibu. Mengingatnya membuatku sedih. Aku tidak bisa bersikap kasar pada Ibu, dan sebenarnya aku juga tak bisa meninggalkannya, tapi bagaimana lagi, aku juga tak dapat meninggalkan Bintang dan Bulan. Mereka terlalu berharga untukku. Dan mereka membutuhkanku. Akhirnya kini, kami hidup bersama sebagai keluarga kecil di dalam rumah kontrakannya.

Tentang pekerjaan, aku tetap bekerja di kantor Renno. Tentu saja aku membutuhkan pekerjaan yang bagus, mengingat kini aku memiliki dua orang anak yang harus di cukupi kebutuhannya. Beruntung Renno masih menerimaku dengan senang hati.

Berkali-kali Renno menasehatiku, menyuruhku untuk pulang. Tapi aku tak pernah mengindahkan sedikitpun nasehatnya. Yang ku ingin hanya satu, Ibu merestui hubunganku dan juga Bintang, sesederhana itu, maka aku akan kembali pulang. Tapi jika Ibu masih bersikukuh pada keinginannya, maka sampai kapanpun aku tidak akan pulang.

Aku melangkah, menuju ke sebuah kamar tempat Bulan dan Ivander tertidur nyenyak. Di sana masih ada bintang yang merapikan baju sekolah yang akan mereka kenakan besok.

Tanpa banyak bicara lagi, kupeluk erat tubuh Bintang dari belakang, sesekali mengecupi tengkuk lehernya.

“Sudah malam, kamu nggak istirahat?” tanya ku dengan suara parau.

“Sebentar lagi selesai. Aku harus menyiapkan semuanya supaya besok mereka tidak telat.”

“Istriku sangat rajin.” Aku kembali menggodanya, telapak tanganku kini bahkan sudah menyusup masuk di balik baju yang ia kenakan.

“Mas..”

“Aku merindukanmu.” Bisikku parau. Dan tanpa banyak bicara lagi aku memutar tubuh Bintang hingga menghadapku seutuhnya. Lalu kulumat habis bibirnya, mencumbu dengan panas hingga dia terengah. Ohh Bintang, kamu membuatku gila.

Akhirnya aku membimbingnya keluar dari kamar anak-anak menuju ke kamar kami. Sampai di dalam kamar, aku kembali menarik tubuhnya hingga menempel pada tubuhku, lalu kembali mencumbu bibir ranumnya, menggodanya hingga dia kewalahan dengan gairah yang berasal dariku. Sampai kemudian kami berakhir dengan tubuh menyatu, mengerang satu sama lain, dan saling menatap dengan tatapan penuh cinta masing-masing.

***

Keesokan harinya…

Aku melihat Bintang masih sibuk menyiapkan bekal anak-anak di dapur, tapi aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengodanya. Dengan santai aku memeluknya dari belakang. Aku bahkan tidak menghiraukan Bulan dan Ivander yang sedang sibuk menyantap sarapannya di meja makan.

“Mas, aku nggak enak di lihat anak-anak.”

“Memangnya kenapa? Mereka pasti mengerti kalau Papanya sangat mencintai Mamanya.”

“Ya, aku tahu, tapi tidak perlu mempamerkan kemesraan kita di depan mereka.”

“Biarlah, toh mereka asik dengan urusannya sendiri kan?” Bulan hanya menghela napas panjang, tanda jika dia mengalah dengan perdebatan kecil kami.

Tiba-tiba, ponselku berbunyi. Aku mengerutkan kening ketika mendapati nomor baru yang menghubungiku.

“Halo?” akhirnya kau mengangkat telepon tersebut, karena ku pikir mungkin itu hal penting.

“Mas, cepat ke rumah sakit Centra Medika, ibu kena serangan jantung.” Tubuhku menegang seketika. Itu Tannia, adikku. Suaranya terdengar panik dan ketakutan. Dan astaga, dia bilang ibu terkena serangan jantung?

Aku tercengang cukup lama, hingga kau beru sadar ketika Bintang memanggil-manggil namaku.

“Ada apa Mas?”

“Kita harus ke rumah sakit.”

“Siapa yang sakit?”

“Ibu kena serangan jantung.” Bintang terkejut dengan jawabanku, secepat kilat ia membereskan peralatan dapur. Kemudian membereskan keperluan Bulan dan Ivander.

“Aku akan menghubungi guru mereka kalau hari ini mereka ijin.” Aku menganggukkan kepalaku begitu saja. Pikiranku terlalu kosong. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Ibu? Apa yang harus ku lakukan? Aku benar-benar anak yang durhaka.

***

-Bintang-

Mas Robby terlihat sangat ketakutan. Aku tahu apa yang di rasakannya. Tentu dia takut kehilangan ibunya sebelum ia meminta maaf dengan apa yang sudah di lakukannya selama ini. Dia memilihku di bandingkan dengan ibunya sendiri, dan kini ibunya masuk rumah sakit. Tentu Mas Robby takut terlambat dan kehilangan ibunya.

Mas Robby kini masih duduk di kursi tepat sebelah ranjang Ibunya, dengan mata yang sudah basah karena menangis. Sedangkan Ibu sendiri masih belum ingin membuka matanya. Astaga, aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika ada apa-apa dengan Ibu Mas Robby.

Tiba-tiba Tannia duduk tepat di sebelahku. Sedangkan suaminya masih berdiri tepat di sebelah pintu masuk. Ya, Tannia, Adik Mas Robby memang sudah menikah dan hidup bahagia dengan suaminya sejak dua tahun yang lalu.

“Bagaimana kabarmu, Kak?” Aku terkejut mendengar sapaan yang di lontarkan Tannia yang terdengar ramah di telingaku. Kupikir dia tidak menyukaiku, tapi kenpa dia bersikap ramah padaku?

“Ba, baik.” Jawabku tergagap.

“Anak-anak gimana?” tanyanya lagi.

Aku meirik ke arah Bulan yang duduk tepat di sebelahku dengan memainkan mainannya bersama dengan Ivander.

“Baik juga.” Jawabku lagi.

Tannia kemudian meraih telapak tanganku kemudian menggenggamnya erat-erat. Aku menatapnya dan wanita itu berkaca-kaca.

“Maafkan aku Kak, dulu aku tidak mengerti apapun, dan aku hanya bisa bersikap egois. Sekarang aku mengerti apa itu cinta, aku mengerti kalian saling mencintai, dan tidak seharusnya aku dan Ibu memisahkan Mas Robby dan kak Bintang dulu.” Lirihnya dengan tulus.

Tanpa banyak bicara lagi ku peluk tubuh Tannia, dan aku ikut menangis dengannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Tannia, yang ku tahu adalah dia saat ini benar-benar tulus, aku merasakan ketulusannya.

“Maafkan Ibu juga Kak. Aku yakin, Ibu juga menyesali perbuatannya dulu, hanya saja, Ibu terlalu malu untuk mengakuinya.”

Aku menggelengkan kepalaku. “Kalian nggak salah, aku mengerti kenapa aku dulu harur pergi meninggalkan Mas Robby, kalian nggak salah, karena aku tahu, kamu dan Ibu hanya ingin yang terbaik untuk Mas Robby.”

“Tetap saja kami salah, Kak. Maafkan kami.”

Kali ini aku menganggukkan kepalaku. Mengalah dengan kekeraskepalaan Tannia. Ahhh, beginikah bahagianya mendapat restu dari sang adik?

***

Dua hari kemudian, ibu akhirnya membuka matanya. Dia belum bisa melakukan apapun, yang hanya bisa dia lakukan hanyalah menangis sambil menatap ke arah Mas Robby.

Aku memberanikan diri untuk mendekat dengan Bulan dan Ivander. Ibu yang melihatnya langsung mengulurkan jemarinya, mengusap lembut pipi Bulan dan mencubit gemas hidung Ivander. Aku tersenyum meski pipiku masih basah karena airmataku yang tidak berhenti menetes.

Ibu menatap ke arahku, kemudian mengisyaratkan supaya aku mendekat ke arahnya. Akhirnya aku mendekat, kemudian berbisik di telinga Ibu.

“Ibu harus sembuh. Kalau ibu sembuh, aku akan pergi meningglkan Mas Robby. Aku bahkan akan meninggalkan Bulan untuk kalian. Ibu harus sembuh.”

“Jangan pergi.” Dan jawaban serak dari Ibu, benar-benar membuatku mematung tak bergerak sedikitpun. Hanya dua kata tapi efeknya begitu dahsyat pada diriku.

***

Tiga bulan kemudian…

 

“Ayo, cepat pakai sepatunya sendiri-sendiri, periksa bukunya kembali, jangan sampai ada yang ketinggalan.” Ucapku sambil meninggalkan kamar Bulan dan Ivander.

Aku berjalan masuk ke dalam kamarku sendiri, dan mendapati Mas Robby masih berantakan di sana. Maksudku, dia masih telanjang dada dengan handuk kecil di pinggulnya.

“Mas, kamu kok belum siap-siap sih? Anak-anak sudah hampir siap.” Ucapku dengan nada sedikit kesal.

Mas Robby hanya tersenyum. “Kemarilah.” Dia meraih pergelangan tanganku kemudian memaksaku duduk di atas pangkuannya.

“Apa yang kamu lakukan?” pekikku ketika dia mulai memelukku erat dari belakang.

“Aku mencintaimu.” Ucapnya dengan nada menggoda.

“Sudah ah, jangan nggombal terus.”

“Kok Nggombal sih?”

“Ucapan cinta kalau di ucapin terus menerus akan jadi membosankan dan tidak memiliki maknanya lagi.”

“Itu menurut kamu, tidak menurutku.” Jawabnya dengan mengerucutkan bibir. Aku tersenyum.

“Sudah, ayo siap-siap. Nanti telat ke kantornya.”

“Aku mau di siapkan.” Jawab Mas Robby dengan nada menggoda. Dan aku hanya mampu menggelengkan kepalaku.

Aku bangkit, kemudian menuju ke arah lemari, menyiapkan bahkan memakaikan kemeja untuk Mas Robby. Setelah dia selesai berganti dengan kemeja dan juga celananya. Dia memaksaku memakaikan dasi untuknya.

“Aku naik jabatan.” Bisiknya.

“Benarkah?”

Dia mengangguk pasti. “Renno benar-benar baik. Dia menaikan jabatanku. Bahkan dalam waktu dekat, dia memberikan sebuah aset perusahaan Handoyo Grup menjadi atas namaku.”

“Ya, dia benar-benar baik. Sangat pantas bersanding dengan Allea yang seperti malaikat.” Jawabku. Aku memang mengenal Allea, karena beberapa kali kami bertemu pada acara keluarga.

“Kamu nggak sedang cemburu kan?” Mas Robby menggodaku.

“Enggaklah, kenapa aku cemburu?”

“Mungkin saja.” Jawabnya sembari mengangkat kedua bahunya. Dan aku hanya mampu tersenyum. Aku memang tahu, bagaimana hubungan rumit Mas Robby dulu yang menyukai Allea, tapi tentu itu tak lantas membuatku cemburu. Bagiku itu dulu, sekarang kami sudah bahagia, dan aku tidak peduli tentang masa lalu Mas Robby.

“Sayang, aku mau..”

“Mas, aku belum ngurusin Ibu. Nah, sudah rapi sekarang. Jadi aku mau ke kamar Ibu dulu ya.” Ucapku cepat sambil bergegas pergi. Tapi saat aku melangkah pergi, Mas Robby kembali menarik pergelangan tanganku dan tanpa banyak bicara lagi, dia menyambar bibirku dan melumatnya sebentar.

“Aku selalu menginginkan itu.” Ucapnya sambil mengerlingkan mata. Dasar penggoda!!! Umpatku dalam hati.

***

Pagi itu akhirnya kami sarapan bersama seperti biasanya. Hubunganku dengan Ibu Mas Robby sudah membaik. Sangat baik malah. Ibu ingin aku sendiri yang merawatnya selama dia dalam masa pemulihan, dan itu membuatku mengenalnya lebih baik dan lebih dekat.

Tannia sudah kembali tinggal di rumah suaminya. Dan akhirnya hanya ada Aku, Ibu, Mas Robby, Ivander dan Bulan lah yang tinggal di rumah ini dengan beberapa pengurus rumah.

Hidupku kini terasa begitu sempurna, begitu bahagia dengan orang-orang yang ku kasihi. Ahh.. semoga ini bukan hanya mimpi.

Setelah sarapan bersama, Ibu mengantar para cucunya untuk menuju ke halaman rumah dan bersiap berangkat ke sekolah dengan Mas Robby. Sedangkan aku sendiri masih sibuk membereskan bekal untuk mereka bertiga.

Kurasakan lengan Mas Robby meraih tubuhku hingga menempel pada tubuhnya.

“Kamu apaan sih Mas? Nggak enak di lihat mereka.” Bisikku sambil melirik ke arah beberapa pengurus rumah yang kini sedang sibuk membersihkan dapur.

“Kamu rajin sekali.”

“Tentu saja, aku menantu di rumah ini.”

“Hahaha, istriku mulai sombong.” Godanya. Dan aku hanya dapat tersenyum malu. Mas Robby mendekatrkan bibirnya pada telingaku, lalu berbisik di sana.

“Aku ingin memberikan Bulan dan Ivander seorang adik.” Aku membulatkan mataku seketika pada Mas Robby, sedangjkan dia hanya memasang cengiran khasnya.

“Nanti malam, kita akan memulai ritualnya.” Ucapnya lagi dan yang bisa ku lakukan hanyalah ternganga dengan kelakuannya. Astaga, sejak kapan dia berubah menjadi tukang penggoda seperti itu?

***

-Robby-

Bahagia…

Itulah yang ku rasakan saat ini dengan Bintang. Ibu sudah menerima kehadiran Bintang, dan tidak ada yang membahagiakanku selain hal itu. Bintang sangat menyayangi Ibu, begitupun sebaliknya, meski Ibu terlihat biasa-biasa saja dengan Bintang, tapi aku tahu, jika ibu sangat perhatian dengan istriku tersebut.

Bulan dan Ivander akhirnya masuk ke dalam mobil dengan di antar oleh Ibu. Setelah itu Ibu kembali masuk ke dalam rumah. Tinggallah aku yang hanya berdua dengan Bintang di halaman rumah.

Aku menghadap ke arahnya, sesekali mengecup bibir mungilnya.

“Pikirkan baik-baik rencanaku tadi.” Ucapku dengan suara serak. Ya, aku ingin menambah seorang adik untuk Bulan dan Ivander. Ah, pasti menyenangkan sekali jika banyak anak-anak di dalam rumah.

“Ya, Aku sudah memikirkannya.” Ucap Bintang sembari memainkan dasiku.

Aku mengangkat sebelah alisku. “Jadi…”

“Ya, kita akan menambah seorang adik untuk Bulan dan Ivander.”

Aku tersenyum lebar. Ku tarik tubuh bulan hingga menempel pada tubuhku, kemudian kulumat habis bibir mungilnya dengan ciuman penuh hasratku, membuatnya sesekali mengerang dalam ciuman panas kami.

“Papa… Papa, kami sudah telat tahu. Papa..”

Suara cerewet dari dalam mobil menghentikan aksiku. Itu Bulan dan Ivander yang sepertinya memang sengaja menggangguku. Ahh dasar anak-anak nakal. Aku menatap Bintang, dia masih terengah karena ciuman panas kami, dan begitupun denganku.

“Aku mencintaimu.” Ucapku begitu saja tanpa sadar.

Bintang memejamkan matanya sebentar, berjinjit lalu mengecup lembut pipiku. “Aku mencintaimu juga.” Bisiknya.

Aku kembali tersenyum. “Baiklah, aku berangkat.” Ucapku sambil membalikkan tubuh lalu pergi menuju ke arah mobil, tapi baru beberapa langkah, aku kembali lagi dan secepat kilat aku mengecup lembut kening Bintang.

Aku kembali berbalik dan nuju ke arah mobil sembari berteriak. “Tunggu aku nanti malam.” Bintang hanya terlihat tersenyum, dia menertawakan kelakuanku. Begitupun dengan kedua bocah yang duduk di jok belakang mobilku. Keduaanya terlihat menggerutu kesal karena terlalu lama menungguku.

“Mau ice cream?” tanyaku saat mulai menyalakan mesin mobil.

“Mau, mau, mau.” Teriak Bulan dan Ivander secara bersama-sama.

“Baiklah, nanti Papa belikan ice cream yang banyak, dengan syarat, nanti malam harus bobok dengan Oma dan tidak boleh mencari-cari Mama, oke?”

“Oke, Pa.” lagi-lagi keduanya menjawab serentak. Dan aku hanya bisa tertawa dalam hati.

Ku jalankan mobilku keluar dari halaman rumahku, sesekali aku menatap ke arah Bintang. Dia tampak bahagia dan melambaikan tangannya pada kami hingga mobil yang ku tumpangi menjauh dari rumah. Aku masih melihat bayangan Bintang dari kaca spion mobilku.

Ahh wanita itu. Wanita sederhana yang mampu membuatku jatuh cinta. Terimakasih Bintang, sudah memberikan kebahagiaan ini untukku, terimakasih, sudah kembali hadir dalam hidupku… dan terimakasih, karena masih bersedia menjadi Bintangku…

 

***The End***

thank you udah membaca dan makacih bgt responnya.. ahhh nggak nyangka banyak yang suka kisahnya mas Robby heheheheh See you next story… *KissKiss

Lovely Hubby (Boy & Mily Story) – Part 3 (End)

Comments 10 Standard

13177534_1112118572141804_3253115716525958682_nLovely Hubby

Ada yang nunggu part terakhir cerita ini?? Okay enjoy reading.. maaf baru sempet posting yaa.. hehheheh Sedikit cerita nih.. kemaren aku susah Move on gitu dari Boy.. hahah entah kenapa aku juga gk tau.. wkwkkwk okay langsung baca aja deh kalo gitu.. heheheh

Yang pengen baca dari Part 1 dan 2 silahkan klik di bawah ini…

Lovely Hubby Part I

lovely Hubby Part II

Part III

-Mily-

 

Aku masih tak habis pikir dengan apa yang ada di dalam kepala Boy, Bagaimana mungkin dia mengajak Pacar nya yang jauh lebih muda darinya tinggal di sini? bersama kami?? Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Astaga… tentu saja, sekarang ini tak ada lagi Foto Clara yang di pajang di sepanjang dinding dan Meja kamarnya, mungkin karena kehadiran gadis itu yang membuat Boy menyingkirkan semua tentang Clara.

Aku duduk di pinggiran ranjang, mengusap lembut perutku yang sejak tadi kurasakan sedikit berkedut. Ku ambil sesuatu di dalam tas ku, sebuah amplop dan di dalamnya ada gambar hitam putih dari calon bayiku.

Setetes air mata meluncur begitu saja pada pipiku. Kenapa orang yang mencintai harus selalu tersakiti???

Haruskah aku pergi meninggalkan Boy? Atau aku bertahan untuknya?? Menunggu dia hingga berpaling padaku??

Tanpa sadar ternyata Pintu kamarku di buka oleh seseorang, Dan sosok Lelaki yang kini sudah Berstatus sebagai suamiku berdiri di sana, dengan Nampan yang berisi makanan dan segelas susu.

“Kenapa nggak ikut makan malam bersama tadi??” Tanyanya sambil mendekatiku.

“Emmm Aku takut mengganggu kalian.” Jawabku pelan, Aku tak berani menatap kearahnya, tentu saja, jika dia melihatku, mungkin dia akan tau jika aku telah menangis hingga mataku membengkak.

“Mulai besok, kita akan makan bersama, bertiga.”

Tidak berperasaan,!!! Bagaimana mungkin dia memaksaku untuk berbagi suami?? Ini nggak adil untukku Boy… Tapi bodohnya aku hanya bisa mengangguk.

“Ini, aku bawakan makan malam dan juga susu buat kamu.”

“Kamu bisa buat susunya??”

“Kan ada petunjuknya.. aku tinggal mengikuti saja kan.” Dan aku pun menerima nampan yang diberikan Boy lalu memakan makanan yang ada di atas nampan tersebut dengan lahap. Aku bahkan melupakan rasa sakit di hatiku karena rasa Lapar yang sejak tadi sudah membuat perih perutku.

“Mil.. Kamu beneran nggak apa-apa kalau Kiara tinggal di sini??”

Aku membatu seketika, Perlukah dia bertanya seperti itu?? Sial..!!! “Enggak.” Jawabku dengan nada yang kubuat sedikit ketus.

“Terimakasih sudah mengeti aku.”

Boy lalu mengecup lembut keningku, dan kemudian meninggalkanku begitu saja. Lagi-lagi aku membatu, tak tau apa yang sedang kurasakan saat ini, Sakit, bahagia, atau entahlah…

***

-Boy-

 

“Kak Bobby Keterlaluan tau nggak.” Lagi-lagi Kiara melempar Guling ke arahku.

“Heii… Sudah, hentikan itu, Mily bisa mendengar suaramu.”

“Biarlah… bagaimana mungkin Kak Bobby menyuruhku menyamar sebagai pacar Kakak, astaga…”

Aku mengetuk-ngetukkan kakiku. “Aku juga nggak tau, Aku Cuma pengen lihat reaksinya saat aku mengenalkanmu sebagai pacarku.”

“Issshhh.. Kakak Aneh.”

“Jangan lagi panggil aku Kakak di hadapan Mily. Kalau kamu masih memanggilku itu, Aku nggak akan menambah uang jajanmu.”

“Tuh kan, main ancam seenaknya…” Aku melihat Kiara merajuk. Yaa Adikku yang satu itu memang sangat manja denganku.

Kiara adalah Adikku. Saat ini, sebenarnya Dia masih tinggal dan sekolah di Luar negri, tepatnya di Inggris, tapi karena liburan, kemarin dia pulang. Mily tentu tak tau jika Kiara adikku.

Dia hanya mengenalku, dan juga Mama dan Papaku. Bahkan sekalipun aku tak pernah mengajak Mily main ke rumahku. Pernikahan kami waktu itu sungguh mendadak, hanya aku dan keluarga yang datang ke rumahnya, Menikah di sana, tepatnya di daerah Bekasi. Lalu Mily kembali tinggal di Apartemen Clara sampai kemarin Ku jemput dan ku ajak pindah kemari.

Brengsek memang, tapi biarlah, toh aku juga tak seberapa kenal Dia, jadi wajar jika dia juga tak seberapa mengenalku. Mily hanya tau dari Mama jika Aku memiliki Adik yang tinggal dan sekolah di Inggris, itu pun mama menyebutnya sebagai Kiki, Panggilan untuk Kiara dari kami keluarganya.

Dan aku juga bingung, kenapa tadi Sore aku bersikap seperti itu pada Mily, Mengenalkan Kiara sebagai Pacarku hanya karena ingin mengetahui bagaimana Reaksinya, Sebenarnya aku kenapa sihh??

“Kak.. Ehh malah ngelamun..”

“Udah deh.. pokoknya ikutin aja rencana Kakak.”

“Tapi aku kasihan ama Kak Mily Kak.. Apa Kak Bobby nggak lihat tadi gimana Mukanya?? Dia bahkan sampek nggak ikut makan malam sama kita.”

“Itu akan jadi Urusan kakak, pokoknya lanjutkan sandiwara kamu.”

“isshh,,, Dasar Aneh.”

***

Lagi, aku membuka pintu kamarku. Di sana, Mily sudah tidur meringkuk membelakangi pintu. Aku masuk kedalam kamar, menutup pintunya lalu berjalan mendekat. Ku pandangi tubuh yang sedang meringkuk itu. Apa aku keterlaluan??

Tentu saja, Bodoh..!!

Tanpa banyak bicara lagi aku berbaring tepat di belakang Mily, Dan ku rengkuh tubuh rapuh itu ke dalam pelukanku.

Mily bangun seketika, seakan dia tersadarkan oleh sesuatu.

“Boy..” ucapnya parau.

“Yaa.. ini Aku..”

“Kenapa kamu tidur di sini??”

“Memangnya aku harus tidur di mana??”

“ku pikir Kamu akan tidur dengan Kiara, Dia bagaimana??”

“Lupakan Dia.” Pungkasku sambil menenggelamkan diri di tengkuk Leher Mily. Wangi rambutnya membuatku sangat nyaman berada lama di sana.

“Maafkan aku…” tiba-tiba kata-kata itu terucap begitu saja dari mulutku. Biarlah.. aku memang harus minta maaf padanya, Aku terlalu banyak salah kepadanya…

***

-Mily-

 

Meski dia sudah berubah menjadi lebih lembut dan perhatian padaku,tapi tetap saja tak mengurangi rasa Sakit hatiku padanya. Ini sudah tiga minggu, dan Kiara masih tinggal di sini. Mereka bahkan tak segan-segan bersikap saling manja di hadapanku.

“Makan ini.” Boy menaruh Sepotong ikan yang sudah dibersihkannya dari duri-duri ke piringku. Aku menatapnya, ekspresinya masih sama datarnya. Lalu aku menatap ke arah Kiara, Dia malah tersenyum dan mengangguk padaku. Apa gadis itu tak merasa cemburu sedikitpun padaku??

“Akhir-akhir ini Kamu banyak melamun, Tubuhmu pun makin kurus, Nggak baik buat Bayi kita.”

Aku membatu. Meski di katakan dengan nada sedatar yang ku dengar, tapi tetap saja perhatian Boy benar-benar membuat perutku bergolak seakan penuh dengan ribuan kupu-kupu di dalamnya. Apa lagi saat mendengar kata ‘Bayi Kita’ terucap dari mulutnya.

“Emm.. nafsu makanku menurun.”

“Bukankah seharusnya Wanita Hamil itu sering merasa lapar??”

“Entahlah, aku juga tak mengerti dengan tubuhku.”

“Kita ke dokter saja Sore ini.”

“Memangnya kamu nggak ada kerjaan??”

“Ada, tapi bisa di cancel.” Aku hanya diam tak menjawab. ku lirik ke arah Kiara, Dia masih sama, Cuek, seakan tak memperdulikan percakapan kami.

***

“Boy..” Panggilku takut-takut.

“Kenapa??”

“Emm.. kita batalin saja ke Dokternya, Aku hanya butuh suasana baru.”

Boy menyipitkan matanya padaku. “Maksud kamu??”

“Aku mau pindah ke Apartemen Clara lagi saja. Aku lebih nyaman tinggal di sana.”

“Nggak bisa.” Bantahnya. “Kamu harus tetap tinggal di Apartemenku.”

“Tapi aku nggak bisa Boy.. aku nggak bisa tinggal dengan kamu Dan Pacar Kamu di Apartemen itu..” Kataku dengan sedikit berteriak. Yaa rasanya sakit dan sesak saat setiap hari melihat orang yang Kau Cintai bermanja-manja dengan Kekasihnya.

“Aku akan mengusir Kiara jika itu membuatmu nyaman.”

“Enggak, kamu nggak perlu mengusir dia, Aku bisa keluar dari Apartemen mu kok.” Jawabku kemudian. Tapi tak ada tanggapan dari Boy. Dia hanya diam dan aku tau jika dia akan melaksanakan kemauannya nanti kepada Kiara.

***

Aku menghela napas lega saat Dokter berkata jika tak ada yang serius dengan kandunganku. Aku hanya di minta untuk banyak makan supaya Bobot tubuhku kembali Normal seperti ibu Hamil pada umumnya. Sedangkan Boy hanya diam tak berkata sepatah katapun.

Entah apa yang sedang di pikirkannya aku juga tak tau. Sepanjang pulang melewati lorong-lorong rumah sakit, Boy tak lepas dari menggenggam telapak tanganku. Seakan menunjukkan pada semua orang yang sedang menatap ke arah kami jika kami adalah pasangan yang sangat bahagia karena sedang menanti sang buah hati. Padahal sebenarnya tidak.

Di mobil pun sama. Boy selalu menatap lurus ke depan tanpa sedikitpun menoleh ke arahku, tak ada sepatah katapun yang di ucapkannya selama perjalanan kami pulang dari rumah sakit.

“Kamu marah?” tanyaku saat kami sudah berada di dalam lift yang menuju ke kamar Apartemennya.

“Kenapa aku marah??”

“Kamu diam, nggak bicara sama sekali.”

“Orang diam bukan berarti marah.”

Yaa tentu aku tau, tapi Aura mu menunkjukan kalau kamu sedang Marah Boy.. Lirihku dalam hati. Da akhirnya sampai juka kami di Apartemen Boy.

Tepat di depan televisi aku melihat Kiara sedang terbaring santai di atas Siofa sambil memakan cemilannya, dia terlihat tenang, kadang aku pikir, apa benar dia Kekasih Boy?? Aku tak pernah sekalipun melihat raut cemburu dari wajah Gadis itu, tentu sangat berbeda denganku yang berubah menjadi pendiam ketika ada Kiara di dekatku.

Aku melihat Boy menghampiri Kiara, menepuk lembut kaki gadis itu. “bangun.” Katanya.

“Apaan Sih..”

“Bangun dan bereskan pakaianmu, Ayo ku antar pulang.”

Aku terkejut mendengar perintah Boy yang terdengar sedikit kasar di telingaku. Bisa-bisanya dia mengusir kekasihnya seperti itu..

“Boy, Apa yang kamu lakukan?” Tanyaku tak mengerti dengan sikap Aneh yang di tampilkan Lelaki di hadapanku ini.

Boy tak menjawab perkataanku, dia malah berjalan menuju kamar Kiara, yang saat ini sudah di susul Kiara di belakangnya.

“Kamu kenapa sih?” tanya Kiara tepat di belakang Boy.

“Kita selesai. Ayo sekarang Pak barang-barang kamu dan Ku antar Kamu pulang.”

“Isshhh Kak Boby nyebelin banget sih..”

“Biarin.” Jawab Boy Cuek masih dengan mengeluarkan pakaian Kiara dari dalam Lemari di kamar Kiara.

Aku akhirnya berjalan menuju ke arah mereka.

“Boy.. ini bisa di bicarakan baik-baik, kamu nggak perlu ngusir Kiara.”

“Dia membuatmu nggak nyaman Kan?? Jadi biarlah dia pergi dari sini.”

“Tapi bukan begini caranya Boy..” Ucapku seperti anak kecil sambil merengek di lengan kanan Boy.

Boy menatap rangkulan tanganku, lalu pandangannya beralih menatap tepat pada mataku. Aku terpaku, menatap mata Cokelat nan indah itu.

“Ehhemmm,,, Sepertinya Kamu harus mulai menjelaskan padanya siapa aku sebenarnya Kak.” Ucapan kiara sontak membuatku dan Boy menatap ke arahnya.

Boy menegakan tubuhnya. “Oke, Sepertinya aku harus mengenalkan kalian sekali lagi.” Aku mengerutkan keningku tak mengerti. “Mil.. Ini Kiara, kami biasa memanggilnya Kiki, Dia Adikku satu-satunya yang tinggal dan sekolah di Inggris.”

Aku tercengang mendengar ucapan Boy. Ku perhatikan lekat-lekat wajah Gadis di hadapanku ini. Tentu saja, Aku baru sadar jika mereka sedikit mirip, dan warna matanya pun sama, Cokelat gelap seperti milik Boy.

Aku menatap Boy dengan tatapan menuduh. “Jadi kamu membohongiku?”

Aku melihatnya sedikit tersenyum sambil menggaruk tengkuknya. “Emm maafkan aku.. aku tak bermaksud membohongimu.”

“Tapi kamu membohongiku Boy..” Teriakku. Dan aku pun langsung saja meninggalkan kamar Kiara menuju ke kamarku, mengunci diri di sana dan tak menghiraukan Boy yang mengetuk-ngetuk pintu kamar kami sesekali memanggil namaku.

***

Tengah malam…

Aku terbangun karena perut yang keroncongan. Rupanya Bayiku memang tak bisa di ajak kompromi. Seakan dia berteriak di dalam ingin menyerap sesuatu dariku. Aku terduduk di atas ranjang dengan mata yang sudah sembab bekas menangis, ku peluk erat perut buncitku. Astaga.. Aku lapar sekali….

Akhirnya aku berdiri, berjalan sepelan mungkin. Semoga saja Boy sudah pergi mengantar adiknya itu pulang. Adik?? Astaga.. saat ku tau jika Kiara adalah Adiknya dan bukan kekasihnya, Rasanya aku ingin berteriak karena senang, tapi tentu saja Rasa kesal lebih mempengaruhiku karena Boy sudah membohongiku. Apa untungnya buat dia coba??

Akhirnya ku buka pelan-pelan Pintu kamarku, dan betapa terkejutnya aku saat mendapati tubuh limbung Suamiku tepat di bawah kakiku.

Dia menungguku tepat di depan pintu…

“Heii.. Akhirya kamu membuka pintu juga.” Ucapnya sambil melompat berdiri dan membersihkan celana yang ia kenakan.

Aku hanya ternganga menatapnya. Apa aku sudah keterlaluan karena sudah mengurung diri di kamar dan membuatnya menungguku? Ayolah Mil.. Itu belum seberapa, dia sudah membohongimu selama 3 minggu terakhir, ingat itu.

“Aku lapar.” Tanpa tau malu aku mengucapkan dua kata itu.

“Oh.. baiklah, Aku akan menyiapkan makan malam untukmu.” Katanya lalu tanpa ku duga dia mulai menuntunku menuju meja dapur.

Aku melihat Boy sibuk memeriksa perlengkapan masaknya.

“Emmm hanya ada nasi, Apa kamu mau nasi Goreng??”

Aku hanya mengangguk pelan. Dan akhirnya Boy memulai aksinya berperang dengan peralatan dapur. Boy ternyata memang pandai masak. Selama aku hidup dengannya, Dia yang sering menyiapkan makanan untuk kami. Tentu saja, setelah kehamilanku semakin tua, aku semakin malas. Hanya tidur, dan tidur yang selalu ku kerjakan.

Saat aku sibuk menatap Boy dengan segala macam khayalanku tiba-tiba saja dia sudah menyiapkan sepiring besar Nasi Goreng lengkap dengan telur urak-ariknya. Sederhana memang, tapi entah kenapa membuatku ingin segera melahapnya.

“Hanya ini??” Tanyaku.

“Yaa.. kenapa???”

“Lalu kamu makan apa?”

“Kita makan berdua.” Jawabnya dengan santai. “Ayo.. kita duduk di sana..” Ajaknya sambil menuntunku ke sofa depan televisi. Aku pun menurutinya.

Akhirnya dengan akur kami duduk di depan televisi, memutar Film Action kesukaan kami, Mr. & Mrs. Smith. (Film kesukaan Author nihh.. wkwkwkkwkwk)

“Emm.. Kiara Mana Boy?” aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Sudah pulang.” Jawabnya datar.

“Jadi.. Dia benar-benar adikmu??”

Boy hanya mengangguk. “Makan saja dulu nanti ku jelaskan.. Oke??” katanya sambil menatapku lekat-lekat. Akhirnya kami melanjutkan acara makan bersama kami pada tengah malam ini.

***

Aku duduk sambil menyandarkan tubuhku di sandaran sofa, terasa sangat nyaman karena kenyang dan juga suasananya yang sepi namun hangat. Aku masih menonton Film Action yang tadi ku putar dengan Boy, sedang Boy sendiri sibuk mencuci piring dan juga beberapa peralatan dapur yang tadi sempat di gunakannya untuk memasak. Sesekali aku melihat ke arahnya.. Astaga.. Aku masih tak percaya, jika Dia adalah suamiku. Seorang Fotografer terkenal bernama Bobby William adalah Suamiku?? Sungguh, aku harus berterimakasih padamu nak.. pikirku sambil mengusap lembut perutku.

“Ada yang kamu pikirkan??” Tanpa ku sadari Boy sudah berdiri tepat di sebelahku.

Aku menegakkan posisi dudukku kembali, mencoba bersikap se sopan mungkin. Bagaimanapun juga hubungan kami tak seperti suami istri pada umumnya.

Tanpa sungkan lagi Boy duduk tepat di sebelahku, lalu sebelah lengannya melingkari pinggangku dan telapak tangannya berhenti di perutku.

“Apa masih ingin sesuatu??” tanyanya, dan aku hanya terdiam, Sibuk dengan detakan jantung sialan yang berdebar tak menentu.

“Mil..” Panggilnya dengan lembut.

“Ahh yaa… Aku.. tak membutuhkan apapun.” Jawabku dengan gugup.

“Tidurlah kalau begitu.” Ucapnya sambil membawa kepalaku di dadanya.

Dan nyaman.. terasa sangat nyaman, bahkan aku dapat merasakan detakan jantungnya yang seakan sama menggilanya dengan detakan jantungku, apa dia juga gugup???

“Kamu berdebar Boy..”

Aku melihat dia tersenyum saat sendengar perkataanku. “Yaa.. Aku nggak tau kenapa, sejak malam itu aku selalu begini saat bertemu denganmu.”

“Kenapa??” tanyaku sambil mendongakkan wajah ke arahnya.

“Aku sudah bilang bahwa aku juga nggak tau kenapa..” katanya sambil mencubit pipiku. Aku melihat tatapan matanya tepat ke arah bola mataku. “Aku minta maaf…” Ucapnya parau.

“Untuk apa??”

“Untuk semuanya..”

“Aku masih tak mengerti.” Ucapku lagi.

“Aku sudah membohongimu tentang Kiara, Aku sudah bersikap Brengsek padamu selama ini, Dan aku sudah menyia-nyiakan mu dan bayi kita…” Perkataannya sangat pelan, tapi kenapa aku merasakan kata-kata itu sampai pada dasar hatiku yang sangat dalam???

“Kamu nggak perlu minta maaf Boy… Aku nggak pernah membencimu.”

“bagaimanapun juga aku harus tetap meminta maaf..”

Aku tersenyum mendengar kekeras kepalaannya. “Baiklah, aku memaafkanmu..”

Lalu aku melihat Boy kembali menatapku dengan tatapan intensnya, seakan menelanjangi ku, mengorek semua tentangku. Aku melihat gerakan jakun nya yang naik turun, seakan ia sedang susah payah menelan sesuatu..

“Mil.. Aku ingin…” Dia tak lagi melanjutkan kalimatnya dan lebih memilih menempelkan bibirnya dengan bibirku, sedangkan aku sendiri memilih memejamkan mata, tak ingin kebersamaan ini berakhir begitu saja.

***

Aku terbangun saat udara dingin menerpa kulit pundakku yang polos. Sedikit membuka mata, dan ternyata aku masih berada di sini, Di atas Sofa besar depan televisi dengan tubuh Polos tanpa sehelai benang pun, lengan kekar yang melingkari perut buncitku, serta selimut tebal yang menyelimuti tubuh kami berdua.

Tubuhku terasa kaku karena sulit bergerak, sepanjang pundak dan leherku terasa sedikit pedih, Aku tau itu karena cumbuan-cumbuan Boy yang diberikan padaku, mungkin saat ini sudah meninggalkan bekas kemerahan.

Saat aku bergerak, Boy mengeratkan pelukannya, Lalu memberiku kecupan basah di punggungku.

“Jangan bangun dulu.. Aku nggak mau di ganggu..” Ucapnya parau.

“Ini sudah siang.”

“Biarlah… Aku mau seperti ini dulu.” Ucapnya lagi.

Dan seperti inilah sekarang yang ku rasakan. Nyaman.. sangat nyaman berada dalam pelukan seorang yang sudah lama ku cintai dalam diam.. Aku merasa sangat di sayangi. Dia tak berhenti mengecupi sepanjang punggung telanjangku, mengusap lembut perut besarku dan astaga.. sepertinya aku akan jatuh semakin dalam lagi pada pesona suamiku sendiri..

***

Beberapa bulan berlalu, hubunganku dengan Boy sudah jauh membaik. Dia tak sungkan-sungkan lagi berada di dekatku, menggodaku dan melalukan hal yang mesra denganku. Seperti saat ini. Kami sedang berada di sebuah supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan mingguan kami.

Sejak tadi, telapak tangan ku tak pernah lepas dari ngeggaman tangannya. Seakan dia menjaga setiap langkahku. Perutku yang semakin membesar memang mempengaruhi cara jalanku yang sekarang menjadi semakin lambat.

“Ada yang kamu perlukan lagi??” tanyanya padaku dengan lembut.

Aku memeriksa barang belanjaan kami. “Sepertinya tidak, Ayo kita kembali, Aku sudah capek.”

Dia tersenyum manis, Akhir-akhir ini Boy memang sering memperlihatkan senyuman manisnya yang membuanya terlihat sangat tampan.

“Oke, kita ke kasir yaa..”

Dan akhirnya kami berjalan menuju kasir, saat melewati Rak-rak Ditergen, Aku melihat sosok yang tak asing untukku. Dia Clara, berdiri di sana dengan sosok wanita paruh baya, mungkin itu mertuanya. Aku melepaskan tangan Boy dan berjalan menuju ke arah Clara.

“Cla..” Panggilku sambil menyentuh pundaknya.

Clara membalikkan badanya dan terkejut melihatku. “Mily..?? Astaga..” katanya sambil memelukku

Tentu saja kami tak bisa berpelukan dengan erat, perut kami sama-sama besar. Usia kandungan kami Mungkin hanya berbeda beberapa minggu saja.

“Mil.. Astaga,, Aku nggak nyangka ketemu kamu di sini, Sama siapa??” Tanyanya, dan aku menunjuk ke arah Boy yang kini sudah berdiri tepat di belakangku.

“Haii Cla..” Sapa Boy dengan santai.

“Hai.. Wahhh kalian terlihat Mesra..” Goda Clara, clara memang tampak sangat berbeda, Ku pikir Reynald bisa sedikit merubahnya menjadi sosoknya yang dulu, yang kata Mommynya sangat berbanding terbalik dengan sosok yang kukenal selama ini.

“Emm kamu belanja apa??” Tanyaku sambil menatap barang belanjaan yang ada di Troli yang sedang di dorong oleh Clara.

“Kebutuhan dapur.” Ucapnya, “Kapan-kapan main ke rumah ya, Aku bisa masak loh, nanti ku masakkan yang special.” Ucapnya. Sungguh, Clara benar-benar berubah menjadi sosok yang tak ku kenal, seperti inikah sosoknya dulu??

***

Setelah bercakap-cakap sebentar dengan Clara, kami melanjutkan menuju Kasir untuk membayar barang belanjaan kami, lalu setelah itu kami pulang. Sepanjang perjalanan aku masih memikirkan Clara. Dia tampak lebih bahagia.

Setelah tau Hamil, Reynald memboyong Clara ke rumah barunya. Dan sejak saat itu Clara vakum dari dunia permodelan. Sedangkan aku masih setia tinggal di Apartemen Clara yang memang tak terpakai sampai Boy menjemputku untuk pindah ke Apartemennya beberapa bulan yang lalu.

Setelah aku pindah ke Apartemen Boy, aku dan Clara tak pernah lagi bertemu, kami hanya hubungan Via telepon, dia sibuk dengan profesi barunya menjadi istri dan calon ibu yang baik untuk Reynald dan bayi yang ada dalam kandungannya, dan aku pun sama, aku menghabiskan waktu hanya di dalam Apartemen Boy, sesekali aku ke Apartemen Clara, itupun kalau aku rindu suasana di sana. Dan melihat Clara tadi entah kenapa menjadi suatu kebahagiaan tersendiri, Dia berubah, benar-benar berubah…

“Apa yang kamu pikirkan??” Pertanyaan Boy menyadarkanku dari lamunan.

“Emmm aku hanya berpikir tentang Clara, dia sedikit berbeda.”

“Biarlah.. mungkin dia bahagia dengan hidupnya yang saat ini.”

“Apa kamu juga bahagia Boy??” Tamnyaku sambil menatap ke arahnya.

Dia menatapku sebentar, mengusap pipiku dengan lembut dan tersenyum manis kepadaku. “Tentu aku bahagia..” Hanya itu jawabannya tapi aku masih merasa ada yang kurang.

Aku melihat jalanan yang di lewati Boy, ini bukan arah ke Apartemennya. Tapi aku hanya mencoba diam, hingga saat dia berhenti di depan sebuah rumah besar aku mengernyit.

“Ini dimana Boy??”

“Ini Rumahku, Kita nginep sini nanti. Dan minggu depan kita akan pindah kemari.” Aku menatapnya dengan tatapan kosongku. Benarkah?? Aku akan tinggal di rumahnya?? Serumah dengan keluarganya??

Selama ini aku memang tak mengenal dekat keluarga Boy, dia seakan menjauhkanku dari jangkauan keluarganya, seakan aku adalah sesuatu yang tak patut di kenal keluarganya, tapi kini, Dia membawaku ke rumahnya..??

Setelah memasuki gerbang dan memparkirkan mobilnya, Boy keluar dari mobilnya dan membantuku turun dari mobil. Kami masuk ke dalam rumah tersebut, dan sosok wanita paruh baya yang ku tau sebagai Mama daro Boy datang menghampiriku, dan menyambutku dengan pelukan hangatnya.

“Akhirnya kamu ke sini juga, Astaga… perutnya sudah sebesar ini.” Kata wanita itu sambil mengusap perut besarku. Dan aku hanya tersenyum malu.

“Ma.. biarkan dia istirahat, sepertinya kecapekan.” Ucap Boy yang langsung menuju ke arah lain lalu menghilang di balik tembok yang menghalangi pandanganku.

“Ayoo kemari, Bobby sudah menyiapkan kamar untuk kalian di sini.” Kami menuju ke arah lain, masih di lantai yang sama. Dan saat melewati sebuah ruangan ternyata di sana ada Kiara, yang kini ku tau sebagai Adik dari Boy.

“Halo Kak… Welcome Home..” Sapanya ramah dengan melambaikan tangannya. Aku hanya mampu membalas lambaian tangannya dengan kembali melambai dan tersenyum padanya.

“Harusnya dia sudah kembali ke Inggris, tapi memang dasar pemalas jadi dia baru kembali minggu depan.” Aku tersenyum melihat Mertuaku ini menggerutu.

Akhirnya, sampailah kami di ujung ruangan. Mama Boy membuka pintu ruangan tersebut, dan aku sangat takjub melihatnya.

“Ini kamar baru kalian. Boy sendiri loh yang merancangnya seperti ini, katanya supaya kamu betah tinggal di sini bersama kami. Dia bahkan memilih di lantai dasar, katanya biar kamu nggak naik turun tangga, dan semua peralatan bayi itu, dia sendiri yang memilihnya.” Jelas mama Boy, dan aku sudah tak menghiraukannya lagi, aku hanya ternganga melihatnya.

Kamar yang luas.. amat sangat luas… dengan dinding-dinding kaca yang ku tau bisa di buka dan langsung menuju ke taman samping rumah, di sana bahkan ada kolam ikan kecil. Kamar ini menjadi satu dengan kamar anak-anak, karena aku juga melihat Boks bayi dan ranjang anak-anak yang sudah di siapkan di ujung ruangan yang lain bersebrangan dengan Ranjang King Size yang ku yakini akan menjadi ranjang kami. Foto-foto pernikahan sederhana kami sudah ada di sana, menghiasai kamar dan juga beberapa meja yang ada di ruangan ini.

Aku terharu melihatnya.. meski hanya hal kecil tapi aku tau Boy melakukan ini untukku.

“bagaimana?? Apa kamu suka??” suara Bariton itu menyadarkanku jika kini yang ada di belakangku hanyalah Boy, tak ada lagi ibu mertuaku. Aku menatapnya dan dia sedang berdiri santai dengan tangan yang bersedekap.

Sikapnya terlihat kaku, tapi entah kenapa aku suka, Aku menghangat saat melihat kekakuannya.

“Kamu melakukan ini semua untukku?” Tanyaku masih tak percaya.

Dia melangkah mendekat ke arahku, mengusap lembut pipiku. “Ya.. untukmu..” Ucapnya lembut.

“Boy.. aku nggak pantas mendapatkan semua ini, Aku… Aku bukan siapa-siapa, aku tak punya apa-apa, dan aku….” Dia membungkam bibirku dengan bibirnya, dan aku tak dapat melanjutkan kalimatku.

“Dengar, Kamu istriku, mengandung bayiku, dan kamu punya ini.” Dia membawa telapak tanganku ke dadanya. “Hatiku..” Katanya lagi.

Aku menatap tanganku yang ada di dadanya lalu menatap tepat pada bola matanya dengan tatapan terkejutku.

“Maksudmu??” Tanyaku memastikan.

“Kamu yang memiliki hatiku, dan menolak mengembalikan pada tempatnya.” Ucapan manisnya tersebut di akhiri dengan lumatan lembut pada bibirku.

“Aku mencintaimu Mil. Terimakasih sudah mengajariku mencintai untuk yang kedua kalinya.” Ucapnya lembut setelah mengecup lembut bibirku.

Aku memeluk tubuhnya erat-erat. Tak percaya jika ini yang terjadi. “Harusnya aku yang berterimakasih karena kamu mau membalas Cinta tak bersaratku Boy..” Ucapku dengan berlinang airmata haru.

“Aku yang harus berterima kasih karena kamu sabar menungguku.” Bantahnya dengan nada lembut. Aku tersenyum megingat kelakukan kami berdua saat ini.

Tuhan.. aku tau jika malam itu kami salah, tak seharusnya kami melakukannya dan berakhir seperti ini, Atau apa mungkin begitulah takdirmu untuk kami?? Menyatukan kami dengan awal sebuah kesalahan dan akhir yang manis seperti saat ini?? Apapun itu aku berterimakasih padamu, karena Kau telah membuat kamu bersatu, Saling menyayangi dan menemukan jalan untuk saling mencintai…. Terimakasih tuhan.. terimakasih….

 

***-End-***

Akhirnya End juga… wkwkkwkwk Untuk My Mate nya dina dan Alex, sabar yaa… masih belum End aku nulisnya.. wkwkkwkwk

Lovely hubby (Boy & Mily Story) – Part 1

Comments 8 Standard

13177534_1112118572141804_3253115716525958682_nLovely Hubby

Note : Baca dulu cerita “That Arrogant Princess” jika kalian ingin membaca cerita ini.. ini hanyalah Side Story dari Mily dan Boy yang hanya terdiri dari 3 Part saja.. semoga suka yaa,,,, karena setiap orang memiliki kisahnya tersendiri… Enjoy reading.. 😉

Tittle : Lovely Hubby

Cast : Mily & Boy

Genre : Roman Dewasa

 

Part I

 

-Mily-

 

Aku melangkah masuk ke dalam sebuah kamar Apartemen. Kamar ini sangat Luas, dan mewah tentunya. Berbagai macam Kamera tertata rapi Di lemari sebagai penghias ruangan. Aneka macam Foto model pun terpajang di sepanjang dinding ruangan Apartemen ini.

Model yang Cantik dengan Ekspresi keangkuhan khas yang dimilikinya. Siapa lagi jika bukan Clara Adista, Sahabatku sekaligus mantan kekasih dari Lelaki yang saat ini sudah berstatus sebagai suamiku, Boy.

Aku berjalan masuk sambil menyeret Koper yang berisi baju-baju serta beberapa perlengkapanku lainnya.

“Taruh saja barangmu di kamar.” Ucapnya dingin.

Yaa Sikap Boy berubah total denganku. Saat mengetahui Aku hamil, Dia menjadi pendiam, Cenderung menghindariku, dan sikapnya benar-benar dingin terhadapku. Oh tuhan.. Jika saja aku mampu memutar waktu, Malam itu aku tak akan mau berada dalam satu ruangan dengan Lelaki Brengsek ini.

Aku masuk ke dalam sebuah kamar yang di tunjuk Oleh Boy. Itu kamarnya. Terdapat banyak Foto Clara di sana, bahkan di dinding tepat di atas Ranjang, terdapat Foto besar Clara di sana. Aku memejamkan mata, kurasakan sesuatu mengiris hatiku.

Kurasakan kedutan lembut dalam perut buncitku. Dia bergerak lagi….

Ku taruh koperku sembarangan di ujung ruangan. Aku lebih memilih berjalan menuju balkon yang berada di sisi kamar Boy. Ku buka jendela kaca besarnya yang mirip seperti pintu, Dan aku melangkah keluar. Ku rasakan udara sejuk menerpa wajahku. Nyaman.. sangat nyaman.. dan ini sangat berbeda dari di dalam ruangan yang terasa sangat sesak.

Setelah puas menikmati udara Sore, aku kembali masuk, membongkar isi koperku. Dan tak lama, Ku lihat pintu kamar terbuka menampilkan sosok yang selama ini sudah mengisi hatiku.

“Aku akan mandi, Ada pemotretan malam ini. Tidurlah.” Ucapnya dingin.

Aku hanya dapat menghela napas panjang. Yaa tentu saja, Dia pasti menghindariku. Biarlah… toh aku juga tak bermaksud hidup selamanya dengan dia dan membuatnya mencintaiku.

Aku kembali melanjutkan membongkar barang-barang bawaanku, menatanya di sisi kiri Lemari Boy yang ternyata sudah di kosongkan oleh pemiliknya. Tak lama ku dengar pintu kamar mandi terbuka, dan Shitt..!!! Boy terlihat sangat panas saat ini.

Dia bertelanjang dada dan hanya mengenakan Handuk di pinggangnya. Apa dia ingin menggodaku?? Maaf, Aku tak akan tergoda lagi.

“Kamu pemotretan dimana??” Tanyaku mengalihkan perhatian saat tiba-tiba Boy berdiri tepat di belakangku mengambil baju di Lemari di hadapan kami.

“Bandung.” Hanya itu jawabannya.

“Kok jauh, Pulangnya kapan??”

“Aku di sana selama Tiga hari.” Jawabnya datar.

“Jadi kamu ninggalin aku disini sendiri??” Tanyaku tak percaya.

Sungguh, apa Boy tega melakukan itu padaku?? Aku tau Boy bukanlah lelaki Brengsek seperti pada umumnya. Dia bukan sejenis Playboy yang selalu bergonta-ganti pasangan layaknya fotografer terkenal sepertinya. Boy bukan orang seperti itu. Dan aku tau jika dia tak akan tega meninggalkanku yang sedang mengandung anaknya di sini sendiri.

“Yaa.. dan maaf.”

“Boy… Kalau kamu benci sama Aku, bukan begini caranya.”

“aku tidak pernah bilang membencimu Mil.”

“Tapi kamu membenciku.” Dan aku mulai menangis. Hormon sialan..!! Apa Clara juga sering menangis saat ini sepertiku???

Aku melihat Boy memejamkan matanya karena frustasi. Yaa aku tau dia Frustasi dengan keadaan ini. Siapa juga yang mau menikahi Wanita yang tak di cintainya hanya karena sebuah kecelakaan sialan ini???

Tanpa ku sangka, boy memelukku. “Maaf, Aku tidak bermaksud meninggalkanmu, Ini memang pekerjaanku.”

“Tapi kenapa sekarang Boy??”

“Ini kontrak sejak Lama, dan aku nggak tau kalau waktunya jatuh pada hari ini.”

Bohong, Aku tau dia Bohong. Dia hanya mencari alasan untuk menghindariku. Dan aku hanya bisa menangisinya.

Ku rasakan dia melepaskan pelukannya. “Mil.. Ku harap kamu mengerti.” Ucapnya dengan raut wajah serius.

Yaa tentu saja aku mengerti, Aku selalu mengerti keadaanmu, Tapi apa kamu pernah mengerti keadaan dan perasaanku?? Tidak bukan??

Boy melanjutkan mengenakan pakaiannya, Mendandani dirinya setampan mungkin, Menata beberapa bajunya ke dalam tas Ranselnya, lalu menyiapkan beberapa Kamera yang akan di bawanya. Aku hanya melihat apa yang Ia lakukan, Seakan ia menyibukkan diri dan tak ingin menghiraukanku.

Aku meraba kembali perutku yang saat ini berdenyut lebih keras di bandingkan tadi. Dia juga merasakannya.. Merasakan kesakitan yang sedang ku rasakan…

Boy membalikkan tubuhnya, dia lalu menatapku dengan Ekspresi anehnya, Menatap tanganku yang berada di atas perutku. Dan seketika itu juga tatapannya berubah kosong.

Boy melangkah mendekatiku, dan tanpa ku sangka dia mendaratkan telapak tangannya di atas permukaan perut buncitku.

“Aku minta maaf, Tapi aku tidak bisa membatalkannya.” Ucapnya yang kali ini dengan nada Lembut.

Aku hanya mengangguk pelan.

“Cuma tiga hari, dan aku akan segera kembali.”

Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Kurasakan nyaman saat telapak tangannya mengusap lembut perutku. Mungkin bayiku tau jika itu tangan ayahnya. Ini memang pertama kalinya Boy Menyentuh perutku.

“Aku sudah menyiapkan makanan untukmu. Makanlah.” Ucapnya lagi. Lalu tanpa ku sangka dia mengecup lembut keningku hingga membuatku memejamkan mata. “Aku pergi dulu, jaga dia baik-baik.” Bisiknya lembut.

Apa ini mimpi?? Jika iya, aku tak ingin bangun darinya. Tapi saat aku membuka mataku kembali, Boy sudah tak ada di hadapanku. Dia sudah pergi, dan aku merasa hampa karenanya.

Aku keluar dari kamar karena aku merasakan Perutku yang memang sudah terasa keroncongan. Ku lihat di meja makan dan masakan sederhana buatan Boy memang sudah tertata rapi di sana. Dia benar-benar menyiapkan makanan untukku.

Aku berjalan ke lemari pendingin, ku buka salah satu pintunya dan Aku terkejut mendapati banyak sekali mangga muda di sana. Dia tau aku suka mangga muda.

Waktu itu, saat kami mengurus beberapa surat untuk pernikahan kami, entah kenapa di tengah jalan aku mual muntah. Ku bilang pada Boy jika semua ini hanya bisa di redakan dengan memakan mangga muda. Akhirnya Boy membawaku ke sebuah kedai yang menjual Soup buah. Di sana aku juga di belikan beberapa buah mangga muda yang seketika itu juga ku habiskan di sana untuk menghilangkan rasa mualku.

Boy tau, dan dia mengingatnya jika aku suka dengan mangga muda ini. Aku berlari menuju ke dalam kamar, mengambil ponselku dan memberanikan diri menghubunginya.

“Halo..”

“Boy..” ucapku terpatah-patah.

“Ada apa Mil??”

“Terimakasih.” Hanya itu yang dapat ku ucapkan.

“Ya.. sama-sama..” jawabnya lembut.

“boy..”

“Hemm.”

“Aku.. Aku menunggumu.. Cepat pulang.” Dan seketika itu juga ku matikan ponselku. Jantungku berdegup kencang seakan ingin meledak. Aku tau perasaan apa ini…

-TBC-

Hehhehe Part I memang pendek, tapi part II lumayan panjang kok.. hahhaha Semoga suka yaa… Ayoo tinggalkan komenmu… Part II mungkin nanti malam atau kalo aku ketiduran lagi mungkin Besok, Oke.. Untuk yang nunggu Dina & Alex, Sabar yaa.. soalnya itu cerita belum ending.. hahhahahah