Missing Him – Bab 4

Comments 2 Standard

 

Bab 4

 

Ven. Please. aku pengen ngomong sesuatu sama kamu.” Ucap Edo yang sudah menghadangku.

Ini sudah beberapa hari setelah pengakuannya padaku… Dan aku menghindarinya. Aku tidak ingin dia kembali membahas tentang hubungan kami.

“Lepasin Do. Aku mau pulang.”

“Biar aku yang antar.”

“Enggak, aku bisa pulang sendiri.” Jawabku dengan nada ketus.

“Please Ven,  jangan cuekin aku seperti ini. Jangan hindarin aku.” Lirihnya.

Aku menghela napas panjang. “Oke, tapi kamu harus janji kalau nggak akan bicara seperti itu lagi padaku.”

“Oke, aku janji.”  Dan akhirnya kami pun baikan.

Hubungan kami kembali seperti semula. Ibarat teman tapi mesra, ibarat sepasang kekasih tanpa status yang pasti. Gadis-gadis di sekolah kembali memusuhiku, dan gosip kami berpacaranpun kembali gencar di beritakan di kalangan anak-anak sekolah. Tapi aku tak ambil pusing. Yang terpenting adalah satu hal, Edo tak pernah lagi mengucapkan perasaan sukanya padaku. Dan itu membuatku tenang.

***

“Kenapa?” Tanya Mas Rangga padaku dengan sedikit berbisik.

“Ahh.. enggak.” Jawabku dengan sedikit tergagap.

“Wajahmu pucat. Kamu nggak enak badan?”

“Emmm kepalaku sedikit pusing, itu saja.” Jawabku cepat.

“Kamu mau kita pulang?” Tanya mas Rangga penuh perhatian.

Aku mengangguk cepat. “Ya, aku ingin pulang.” Bisikku padanya.

“Maaf Pak, sepertinya istri saya sedang tidak enak badan.” Ucap mas Rangga dengan sopan pada Edo. “Kami akan permisi pulang terlebih dahulu jika Pak Edo tidak keberatan.” Lanjutnya lagi dengan penuh hormat.

Edo menatapku dengan tatapan anehnya. Dan astaga,  Itu membuatku salah  tingkah.

“Kamu sakit?” Tanya Edo penuh perhatian.

“Umm, Maaf Pak, hanya sedikit pusing.”

“Mau saya antar pulang?”

Pertanyaan Edo membuat aku dan Mas Rangga saling menatap satu sama lain. Mengantar pulang? Yang benar saja. Dia adalah atasan  Mas Rangga, semoga saja Mas Rangga tidak curiga dengan sikap aneh Edo.

“Kami membawa mobil kantor, Pak.” Jawab mas Rangga cepat.

Edo akhirnya menganggukkan kepalanya. “Baiklah kalau begitu. Emm semoga kita bisa bertemu lagi.” Ucap Edo sambil menatap tajam ke arahku. Sedangkan aku hanya bisa menunduk.

***

Kami akhirnya keluar dari restoran tersebut. Mas Rangga berjalan cepat di hadapanku dengan ekspresi wajah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Ada apa dengannya?

“Mas, jangan terlalu cepat.” Ucapku sambil sedikit berlari menyusulnya. Tentu sangat susah mengingat saat ini aku sedang menggendong Tasya.

Tapi kemudian aku merasakan seseorang meraih sebelah tanganku. Saat aku menoleh ke belakang, aku mendapati tangan Edo yang sedang menggenggam pergelangan tanganku.

Please.  Jangan lakukan apa-apa, Do. Aku nggak mau Mas Rangga tau tentang hubungan kita dulu. Lirihku dalam hati.

“A.. ada apa Pak?” Tanyaku dengan suara tergagap.

Lalu aku merasakan Edo menyisipkan sesuatu di telapak tanganku, ia kemudian menggeggamkan tanganku.

“Hubungi aku.” Ucapnya.

Dengan spontan aku menoleh ke arah Mas Rangga. Mas rangga ternyata sudah berdiri tepat di sebelah pintu mobil dengan tatapan menuju ke arah kami.

“Edo..  Please..” lirihku hampir tak terdengar. Entah kenapa aku sangat takut, takut jika Mas Rangga tau semuanya kemudian dia membenciku.

“Kalau kamu ingin semua baik-baik saja, please, hubungi aku.” Ucap Edo lagi lalu dia pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih bingung.

***

Sampai di rumah, Mas Rangga tetap diam, dia seakan tidak acuh dengan  keberadaanku. Kenapa dia seperti itu? Apa dia tau hubunganku dengan Edo?

“Aku mandi dulu.” ucapnya datar sambil masuk ke dalam kamar mandi.

Dadaku terasa sesak melihat tingkahnya seperti itu, Mas Rangga tak pernah bersikap seperti itu padaku. Dia selau lemah lembut, perhatian, dan selalu menganggapku sebagai ratu, tapi entahlah, aku bingung dengan sikapnya sesore ini.

Akhirnya aku memilih berdiam diri di kamar bermain Tasya. menidurkan Tasya di boks bayi yang berada di ujung ruangan tersebut. Kemudian aku hanya bisa membatu di sana.

***

Aku membuka pintu rumah, dan mendapati sosok tinggi di hadapanku. Kenapa dia kemari? Pikirku saat itu.

“Mas Rangga, kenapa di sini?”

Veny, Boleh aku masuk?”

“Ya, silahkan.”

walau dengan wajah bingung aku tetap mempersilahkan mas Rangga masuk. Rangga Kurniawan adalah rekan kerjaku di sebuah perusahaan tempatku bekerja. Dia senior, tentu saja, karena sudah bertahun-tahun dia kerja di sana. Umurnya mungkin sekitar tiga sampai lima tahun lebih tua dari pada aku.

Kami tak pernah dekat, karena Rangga sendiri memang terkenal pendiam. Tapi dia bukan tipe  yang pendiam karena angkuh dan tak suka berteman. Tidak, dia bukan orang seperti itu. Dia ramah, banyak teman, tapi sikap pendiamnya mungkin karena memang dia tak ingin banyak bicara.

Aku mempersilahkan mas Rangga duduk di kursi tamu.

“Mau minum apa Mas?” Tanya ku sedikit canggung. Sungguh aku masih bingung dengan kehadiran Mas Rangga di rumahku.

“Tidak perlu Ven, aku hanya ingun bertemu kedua orang tuamu.”

Aku mengernyit, untuk apa mas Rangga ingin menemui mereka?

“Untuk apa mas mau menemui mereka?” Tanyaku sedikit bingung.

“Enggak apa-apa, ada yang mau ku bicarakan dengan mereka.”

Aku mengangguk, “Baiklah, aku panggil mereka dulu, ya,”

Akhirnya aku masuk, memanggil ibu dan ayahku. Merekapun tampak bingung dengan kehadiran sosok mas Rangga.

Mas Rangga sendiri langsung memperkenalkan diri pada kedua orang tuaku dengan sangat sopannya. Sedangkan orang tuaku menyambut hangat kedatangannya.

“Jadi, Nak Rangga, apa ada yang perlu di bicarakan dengan kami?” Ayah akhirnya bertanya secara langsung kepada Mas Rangga.

“Begini pak, kedatangan saya kemari adalah untuk melamar Veny menjadi istri saya.”

Mataku membulat seketika. Aku yang dalam posisi berdiri tak jauh dari tempat duduk ayah dan ibuku, tak dapat bergerak sedikitpun. Semuanya terasa kaku, mungkin aku terlalu terkejut dengan apa yang di katakan Mas Rangga.

Melamar? Astaga, Apa dia bercanda? Kami bahkan sangat jarang sekali berbicara satu sama lain, kenapa dia bisa-bisanya melamarku?

-TBC-

Advertisements

Missing Him – Bab 3

Comments 2 Standard

 

Bab 3

 

Dia masih menggerakkan tubuhnya di atasku, bibirnya tak berhenti mencumbu sepanjang kulit tubuhku, ia menjelma menjadi sosok yang berbeda, bukan sosok dingin dan kaku seperti biasanya, Diakah Mas Rangga suamiku?

***

Tubuhku masih lunglai dalam pelukannya, Mas Rangga masih setia memelukku dan sesekali mengecupi pundakku. Kami masih sama-sama polos di bawah selimut yang sama setelah percintaan panas yang baru saja kami lakukan.

Percintaan panas? Ya… aku bahkan tak mengerti apa yang terjadi dengan Mas Rangga, kenapa ia bisa bersikap seperti itu padaku tadi.

“Terimakasih….” ucap Mas Rangga yang membuat tubuhku kembali bergetar.

“Apa ada yang salah denganmu Mas?”

“Kenapa?”

“Kamu berbeda.”

“Aku masih sama, aku hanya ingin melakukan apa yang menurutku benar.”

“Maksud Mas Rangga?” Tanyaku masih dengan raut bingung.

“Ku pikir selama ini aku tidak memperlakukanmu dengan benar, Sayang, maaf.”

“Aku juga minta maaf Mas..” lirihku.

“Untuk apa?”

‘Karena aku masih memikirkan dia dan belum bisa sepenuhnya menerimamu….’ ucapku dalam hati.

“Untuk semua kesalahan yang pernah kuperbuat.” Jawabku.

“Kamu nggak pernah salah. Mas yang selalu salah.” Mas Rangga berkata dengan mengusap lembut punggung telanjangku. “Ayo bangun, kita harus menjemput  Tasya.”

Aku menatapnya dan tersenyum ke arahnya. “Ayo.” Ucapku sambil bangun.

***

“Kamu kenapa sih Do? Gay?? Enggak kan?” Tanyaku pada lelaki yang kini duduk santai di hadapanku sambil meminum jus pesananku.

“Kenapa kamu tanya itu?”

“Do, aku capek kalo banyak cewek di sekolah ini yang salah paham padaku, mereka memusuhiku Do..”

“Kalo mereka macem-macem bilang saja sama aku.” Jawabnya santai.

“Aku nggak perlu pembelaan kamu, yang kuperlukan adalah berhenti bilang kalau kita pacaran. Jadi mereka nggak salah paham sama aku dan musuhi aku.”

“Kita memang pacaran..” jawab Edo dengan santai.

“Enggak. Kita nggak pernah jadian.”

“Mulai detik ini kita jadian.”

“Yang benar saja, kamu gila.”

“Ya,aku gila. Aku gila karena suka sama kamu.” Ucapan Edo membuatku membatu seketika.

Tidak! Edo tidak mungkin menyukaiku. Ini hanyalah triknya supaya aku mau menjadi pacar bohongannya.

“Nggak lucu tau nggak Do.” ucapku sambil berdiri dan bersiap meninggalkannya.

Tapi kemudian aku merasakan pergelangan tanganku di genggam oleh seseorang, dan saat aku melihatnya, ternyata Edo yang menggenggamnya.

“Kenapa Ven? Kamu nggak percaya kalau aku suka sama kamu?”

“Do, ini nggak bener, ini gila.”

“Ya, aku gila karena suka sama kamu Ven, please, lihat mataku dan cari kebenaran di sana.”

Aku menuruti apa mau Edo. Kutatap matanya, mencari kebenaran di sana, mencoba mencari kebohongan atau apa pun di sana. Tapi yang ku dapat, hanyalah sebuah ketulusan. Benarkah Edo tulus menyukaiku? Astaga! Tidak, kita tidak boleh menjalin kasih, kita hanya boleh berteman. Titik.

***

Bayangan Edo kembali menyeruak dalam benakku. Saat pertama kali Edo menyatakan rasa cintanya yang kemudian berujung penolakan dariku.

Ya, aku tau, aku dan Edo tak mungkin bersatu hanya karena satu alasan.

Kami berbeda keyakinan….

Satu hal itu membuatku jauh dari kata bersatu dengan Edo. Dan sampai kini aku sadar jika hubungan kami berdua memang tak lebih dari sekedar berteman.

“Ven. nanti temani mas ketemu sama Bos baruku,  ya,” suara Mas Rangga kembali menyadarkanku dari lamunan.

“Bos baru?” Aku mengernyit.

“Ya, sekarang bukan pak Chiko lagi yang jadi GM di kantor kita. Tapi anak dari pemilik kantor pusat.”

“Wah, yang benar Mas?”

“Iya, dan beliau baik sekali.” Ucap mas Rangga dengan semangat.

“Kapan?”

“Nanti setelah jemput  Tasya, kebetulan orangnya tadi hubungi Mas, minta di bawakan sebuah berkas yang kebetulan sedang Mas bawa.”

“Oke Mas.” Jawabku. Kemudian aku kembali menyiapkan diri serapi mungkin untuk segera bergegas menjemput  Tasya.

***

“Kita ketemu Bos kamu di mana, Mas?” Tanyaku saat Mas Rangga sibuk mengemudikan mobil yang sedang kami tumpangi. Tentu saja mobil ini bukan mobik milik kami sendiri. beberapa bulan yang lalu, Mas Rangga naik jabatan, dan perusahaan memfasilitasinya dengan kendaraan.

“Di restoran, beliau kebetulan ada di restoran tak jauh dari sini.”

“Aku tunggu di mobil saja deh Mas, nggak enak, aku bawa Tasya.”

“Ayo ikut, nggak apa-apa, Bosku kebetulan pengen lihat dan kenal kamu.”

Aku mengernyit. “Loh kenapa memangnya?”

“Beliau tau kalau kamu itu dulu adalah salah satu karyawan perusahaan yang teladan. Katanya setidaknya beliau ingin mengenalmu.”

Dan aku hanya menganggukkan kepala. Aku tidak heran dengan sikap atasan Mas Rangga. yang membuatku heran adalah sikap Mas Rangga sesore ini yang membuat jantungku jedak jeduk tak menentu. Dia banyak bicara, tak seperti sebelum-sebelumnya.

Tanpa terasa, akhirnya kami sampai juga di restoran yang di maksudkan. Kami turun dari mobil kemudian masuk ke dalam restoran tersebut.

“Itu orangnya.” Ucap mas Rangga sambil menunjuk seseorang yang sedang duduk membelakangi  kami di ujung ruangan.

Kami berjalan menuju ke arah orang tersebut. Dan alangkah terkejutnya aku ketika sampai di hadapan atasan Mas Rangga itu.

Dia… Dia…. Edo.. Lelaki yang selalu berada dalam pikiranku.

Aku membulatkan mataku seketika sedangkan Edo malah menyunggingkan senyumannya di hadapan kami seakan dia tidak terkejut sama sekali dengan pertemuan kami saat ini.

“Selamat malam Pak.” Ucap Mas Rangga sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Edo.

Aku melihat Edo membalas uluran tangan Mas Rangga. “Selamat malam, jadi, ini istri kamu?” Tanyanya sambil menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Ya pak, ini Veny.” Mas Rangga memperkenalkan aku kepada Edo. Sedangkan Edo dengan santainya mengulurkan tangannya padaku.

“Edo.” Ucapnya sambil tersenyum miring.

Aku mencoba membalas uluran tangan Edo walau kini tanganku sudah gemetar.

“Veny.” Jawabku dengan suara bergetar sambil menyambut uluran tangan Edo. kemudian aku merasakan Edo yang mengeratkan genggaman tangannya pada tanganku. Seakan dia menangkap sesuatu dan tak ingin melepaskannya. Apa maksud Edo? Kenapa dia kembali pada kehidupanku saat aku mulai membuka hati untuk Mas Rangga, suamiku?

-TBC-

My Sex(y) Partner – Bab 1

Comment 1 Standard

yeaayyyy mana yang nungguin Troy dan kawan2 bejatnya?? hahahhahah untuk Jiro dan Ken, sabar yaa… aku cuma mau pamerin Prolognya aja dulu, karena aku mau pokus kalian gak banyak terbagi. hahahahahah Yang nunggu Mr. Morgan di Sleeping with my friend, bakal aku update insha allah malam minggu yaa… yeaaayyyyyy happy reading. muaahhhhh

 

Bab 1  

 

Sambil mengetatkan gerahamnya, Troy mendekap wanita setengah telanjang yang berada di hadapannya tersebut. Hari sudah semakin sore, tapi pemotretan sialan ini belum juga rampung. Troy benar-benar kesal karena beberapa jam terakhir dirinya mengetat nyeri tak tertahan. Semua tentu karena keindahan sempurna yang terpampang jelas di hadapannya. Dan yang lebih menjengkelkan lagi adalah, bahwa wanita di hadapannya ini malah tampak tak terpengaruh sama sekali dengan kehadiran dirinya.

One, two, three, oke. Sip.” Akhirnya, si fotografer sialan di hadapannya itu menyatakan jika tangkapan kameranya yang terakhir selesai.

Troy menghela napas panjang, dan secepat kilat ia melepaskan tubuh si wanita seksi di hadapannya kemudian dengan terburu-buru, ia keluar dari dalam kamar tersebut lalu menuju ke arah kamar mandi.

“Elo mau ngapain Troy?” tanya salah seorang kru dengan nada mengejek.

“Berengsek!” Troy hanya menjawab dengan sebuah umpatan khasnya.

***

Setelah pekerjaan tersebut selesai, semuanya menuju ke sebuah restoran untuk makan malam bersama. Sejak tadi, mata Troy tak pernah lepas menatap ke arah wanita yang sejak tadi pagi sudah membuatnya tergoda, wanita yang yang bernama Alice Philips. Wanita yang membuatnya mau tak mau mencapai klimaks di dalam kamar mandi dengan dibantu oleh jemarinya sendiri. Sialan! Dan yang lebih membuat Troy penasaran dengan wanita tersebut adalah, bahwa wanita itu tampak sama sekali tak memperhatikannya.

Kenapa? Apa wanita itu tak tahu siapa dirinya?

Pada saat bersamaan, wanita itu menatap ke arahnya. Troy mengangkat sebelah alisnya kemudian mengangkat gelas anggurnya, seakan mengajak wanita itu bersulang.

***

Alice, yang berada di seberang meja, akhirnya ikut mengangkat gelasnya yang berisi Jus jeruk saat ia melihat Troy mengangkat gelas anggur ke arahnya. Alice tersenyum, lalu menenggak jus tersebut, matanya lalu menatap ke arah lain, mencoba mengalihkan perhatiannya dari sosok yang sejak tadi mempengaruhinya.

Ya, Alice tentu tahu dengan siapa dia berhadapan. Awal tahu bahwa ia akan disandingkan dengan seorang Troy untuk berpose panas di salah satu majalah dewasa saja membuat Alice ragu, apa akan melakukannya atau membatalkannya. Tapi karena didorong oleh kebutuhan yang mendesak, akhirnya Alice melakukannya dan mencoba melupakan jika lawan mainnya dalam berpose panas adalah seorang Troy, mantan Drumer terpanas di negeri ini.

Tak sulit bagi Alice untuk mengetahui latar belakang atau bisa dibilang, keberengsekan-keberengsekan lelaki itu dimasalalu. Entah ketika lelaki itu masih menjadi anak band, atau saat lelaki itu berkarir sendiri seperti saat ini. Tak sedikit gosip buruk yang pernah ia dengar tentang Troy. Bahkan, beberapa teman seprofesinya mengaku pernah ditiduri Troy dan dicampakan begitu saja oleh lelaki itu setelah lelaki itu puas mendapatkan beberapa kali pelepasan.

Sangat Berengsek, bukan?

Kini, Alice tentu tak ingin hal tersebut menimpanya. Tujuannya tinggal di negeri ini adalah karena ia ingin mempelajari budaya negeri ini, bukan untuk main-main lalu jatuh hati pada pria berengsek seperti Troy.

Ya, Alice yang merupakan warga negara asing, memang sangat tertarik dengan Indonesia. Ayah ibunya tinggal di LA Carlifornia. Dulu, keduanya pernah berpelesir ke negeri ini, kemudian tak sengaja bertemu satu sama lain di pulau Bali, memadu kasih saat itu juga, lalu berakhir bersama hingga kini. Dan kedua orang tua Alice tak pernah melupakan pengalamannya tersebut. Hingga saat Alice lahir, keduanya selalu bercerita lagi dan lagi tentang pengalaman keduanya hingga membuat Alice tertarik dengan Indonesia.

Saat dirinya besar, ketertarikan itu semakin nyata, apalagi saat Alice pertama kalinya datang ke negeri ini. Ia jatuh cinta seketika, dengan budayanya, dengan alamnya, dengan orang-orangnya. Bagi Alice, ke Indonesia sama saja dengan pulang. Hingga sejak Tiga tahun terakhir, ia lebih sering menghabiskan waktunya di Indonesia dari pada di LA. Tentu saja hal itu membutuhkan biaya lebih, mengingat orang tuanya bukanlah orang yang berkelebihan harta. Beruntung Alice memiliki kenalan di Indonesia yang menawarinya pekerjaan menjadi model. Pekerjaan itu tentu sangat begus untuk Alice, ia bisa mendapatkan biaya tambahan selama hidup di sini, sehingga dirinya bisa menikmati kecintaannya pada negeri ini tanpa membebankan biaya pada kedua orang tuanya yang ada di LA.

Kembali lagi pada Troy. Alice tentu tak ingin terlibat dengan lelaki di hadapannya tersebut, tapi demi Tuhan! Lelaki itu memang sangat menggoda. Sialnya, jadwal pemotretannya dengan Troy tak hanya berakhir hari ini saja. Karena masih ada beberapa scene tambahan yang akan diambil besok.

Tiba-tiba, Alice melihat Troy berdiri membawa minumannya, mata lelaki itu tak berhenti menatap ke arahnya. Kemudian, langkah kaki lelaki itu mendekat ke arah mejanya.

Seorang yang duduk tepat di sebelah Alice akhirnya berdiri ketika Troy secara terang-terangan meminta orang tersebut bangkit dan menggantikan tempatnya.

“Boleh duduk di sini, kan?” tanya Troy dengan nada yang dibuat mengggoda. Alice tahu, bahwa mungkin saat ini Troy sedang menjalankan aksinya untuk membawa Alice ke atas ranjang lelaki itu. Tapi Troy salah, Alice sudah cukup tahu bagaimana bejatnya lelaki itu, jadi Alice tak akan masuk ke dalam perangkap yang dibuat oleh Troy.

“Silahkan saja. Ini kan tempat umum.” Alice menjawab dengan nada yang dibuat cuek dan ketus.

“Woww. Bukan cewek gampangan, ehh?” goda Troy sembari menyesap apapun itu yang ada di dalam gelas yang dibawah lelaki itu.

Alice tidak mengindahkan apapun itu perkataan Troy. Karena ia memilih melirik ke arah jam tangannya kemudian berkata pada orang disebelahnya. “Aku akan pulang, sudah malam.” Ucapnya sembari berdiri. Alice menatap sekilas ke arah Troy lalu tersenyum singkat pada lelaki itu. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkan mejanya secepat mungkin.

Sedangkan Troy, ia tersenyum masam, menenggak semua isi dari gelas yang dibawanya kemudian bangkit dan segera menyusul wanita yang sudah sejak tadi siang tadi menggodanya.

***

Sial! Troy merasa ada yang salah di sini. Tak biasanya ia begitu tertarik dengan seseorang, hingga saat melihatnya saja membuat pangkal pahanya berdenyut nyeri seketika. Ia sangat menginginkan Alice Philips di atas ranjangya malam ini, dan apapun itu, ia akan melakukannya untuk mendapatkan keinginannya tersebut.

Yang membuat Troy sangat kesal adalah saat Troy tahu bahwa wanita itu tampak tidak tertarik dengannya. Jangankan tertarik, Alice bahkan lebih terlihat enggan berurusan dengannya. Kenapa? Apa Alice Philips tak tahu siapa dia sebenarnya? Apa ia tak tampak seperti seorang lelaki yang panas dan menggairahkan?

Berengsek!

Dengan segera Troy mengikuti Alice keluar dari dalam restoran. Ia mendapati Alice berjalan diatas trotoar sembari mengenakan tundung hoody yang dikenakan wanita tersebut.

Troy berlari mengikuti wanita itu, kemudian dengan spontan ia menarik lengan Alice dan menghentikan wanita itu sembari berkata “Tunggu.”

Alice menghentikan langkahnya kemudian menatap Troy penuh tanya. “Ada apa?” tanyanya dengan ketus.

Troy memiringkan kepalanya. “Ikutlah denganku, aku akan mengantarmu.”

“Aku lebih suka jalan kaki.”

“Nggak baik jalan kaki malam-malam sendiri, apalagi kamu seorang model.”

Alice berkacak pinggang, dengan menantang dia bertanya “Apa hubungannya denganmu?”

Troy sedikit tersenyum dengan reaksi yang ditampilkan oleh Alice. Ia tak menyangka jika Alice akan seberani ini padanya. “Nggak ada.” Jawab Troy dengan santai.

“Kalau begitu, biarkan aku pergi.”

Troy mengangkat kedua tangannya, dengan tersenyum ia mundur teratur. Alice mendengus sebal, lalu wanita itu mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Troy. Tanpa diduga, Troy malah mengikuti Alice. Berjalan kaki di atas trotoar tepat di belakang wanita itu. Entah apa yang ada di dalam pikiran Troy saat ini. Yang jelas, ia sangat ingin memiliki wanita yang kini berjalan di hadapannya tersebut.

Alice yang merasa diikuti akhirnya merasa tak nyaman. Dengan kesal ia membalikkan tubuhnya kemudian bertanya pada Troy “Apa yang kamu lakukan?”

Troy mengangkat kedua bahunya. “Apa? Aku cuma jalan-jalan malam.”

“Sialan!” akhirnya, Alice tak mampu menahan umpatannya, dan hal tersebut membuat Troy tak kuasa menahan senyuman lebarnya. Alice kembali berjalan lagi, dan Troy mengikuti kemanapun kaki wanita itu melangkah.

Gila! Troy benar-benar merasa gila karena penolakan dan sikap ketus yang diberikan Alice Philips padanya. Kenapa wanita itu bersikap seperti itu padanya? Apa sebelumnya ia memiliki salah dengan wanita tersebut?

Pertanyaan itu terputar berkali-kali dalam kepala Troy sepanjang ia menyusuri trotoar bersama dengan Alice Philips di hadapannya.

***

Alice menghela napas panjang, karena tak lama, akhirnya sampailah juga ia ditempat kostnya. Sebenarnya, selama tinggal di Indonesia, ia menyewa sebuah tempat di Bali. Tapi karena pekerjaannya kali ini, ia sementara tinggal di Jakarta sampai pemotretannya selesai.

Alice membalikkan diri, berharap jika Troy sudah tak ada dibelakangnya, tapi ia salah. Nyatanya, Troy masih berada di sana, dengan senyuman miringnya, dengan kearoganannya, dengan kepedean tingkat dewanya, dan sialnya, dengan ketampanan dan kegagahan lelaki itu yang mampu memancing sesuatu di dalam diri Alice.

Dengan mendengus sebal, Alice bertanya pada Troy “Kenapa kamu mengikutiku sampai disini?”

Bukannya menjawab, Troy malah menyandarkan diri di pagar, mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya yang diyakini Alice adalah sebuah rokok, menyalakan batang sialan itu dan menghisapnya sebelum menjawab “Cuma pengen tau dimana tempat tinggalmu.”

“Memangnya apa urusanmu?”

“Nggak ada, cuma penasaran aja.”

“Dasar sinting!” Alice mengumpat dalam bahasa asing, dan hal tersebut membuat Troy tak mampu menahan tawanya.

Ah ya, satu hal lagi yang disukai Troy adalah, bagaimana logat wanita itu ketika berbahasa indonesia. Hal itu membuat Troy seakan gemas pada seorang Alice Philips.

Alice akhirnya memilih segera memasuki rumah tersebut, kemudian mengunci pintu gerbangnya. Sebelum itu Troy sudah mengucapkan kalimat “Aku tak sabar melihatmu besok siang di kolam renang.” Ejeknya dengan nada menggoda.

“Bajingan!” lagi, Alice mengumpat dengan bahasa asing, dan hal tersebut benar-benar membuat Troy tak kuasa menahan tawanya. Alice tentu mengerti apa maksud Troy saat lelaki itu bilang mengunggunya di kolam renang, karena besok adalah jadwal pemotretan mereka dengan set di area kolam renang. Alice akan mengenakan bikini di sana, tentu saja Alice sangat tahu apa yang ada di dalam otak porno lelaki itu.

Sialan! Jika hari ini Alice mampu menahan dirinya dan bersikap ketus pada Troy, apa besok wanita itu bisa melakukannya lagi? Alice tak tahu. Tapi yang terpenting adalah, ia tak ingin terlibat dalam hubungan dengan seorang Troy Yoseph. Tidak tadi, tidak sekarang, tidak juga nanti.

-TBC-

 

My Sex(y) Partner – Prolog

Comments 3 Standard

Tittle : My Sex(y) Partner

Cast : Thomas Ryan Yoseph (Troy The Batman) & Alice Philips

Genre : Romance Adult

Seri : The Batman Area!

 

Prolog

 

Dengan semangat Troy memasuki sebuah gedung dimana akan diadakan sebuah pemotretan untuk sebuah majalah dewasa. Seperti biasa, jika pemotretannya kali ini berhubungan dengan majalah dewasa, maka Troy hampir yakin jika dirinya akan mampu dengan mudah membawa lawan mainnya dalam pemotretan tersebut untuk naik ke atas ranjangnya setelah pemotretan berakhir. Hal itu selalu dilakukan Troy, dan dirinya tidak pernah absen melakukan hal tersebut.

Kali ini, Troy merasa sedikit penasaran dengan lawan mainnya dalam beradu gaya. Masalahnya, lawan mainnya tersebut adalah model wanita yang baginya cukup asing, atau bisa dibilang baru. Namanya Alice Philips. Jika ditilik dari namanya, Troy hampir yakin jika perempuan ini adalah perempuan bule. Bisa saja Troy mencari tahu melalui internet, tapi tentu saja ia tidak melakukannya karena ia lebih suka dengan yang namanya kejutan.

Setelah menaiki lift, akhirnya, sampailah Troy tepat di depan sebuah kamar. Ia dipersilahkan masuk oleh dua orang yang memang berjaga tepat di sebelah pintu tersebut. Kemudian tanpa basa-basi lagi. Troy masuk.

Rupanya, disana sudah ada beberapa kru yang sedang menyiapkan diri. Sedangkan yang lainnya sudah tampak memulai pekerjaannya di dalam sebuah kamar.

“Jadi, Scene pertama di atas ranjang?” tanya Troy saat menatap sebuah script yang disiapkan oleh kru.

Meski itu hanya sebuah pemotretan, tapi biasanya kru-krunya memiliki script atau alur cerita agar para model bisa menyesuaikan diri dengan ekspresi mereka dan supaya gambar mereka dapat ditangkap dengan baik dan terlihat lebih alami lagi.

“Ya, dan elo harus bersikap seolah-olah elo adalah suami yang bergairah.” Jawab salah seorang krunya.

Troy melemparkan kepalanya ke belakang dan tertawa lebar. “Sial! Memang seperti apa sih, penampakan si perempuan?” tanya Troy penasaran.

“Elo belum pernah lihat dia atau mencari tahu tentangnya?” Si Kru berbalik bertanya.

Troy mengangkat kedua bahunya. “Selama ini, para gadis yang selalu mencari tahu tentang gue. Memangnya dia siapa bisa membalikkan keadaan itu?”

Si Kru mendengus sebal dengan kesombongan yang ditampilkan oleh Troy. “Mending elo masuk aja gih. Jangan lupa longgarin itu celana elo, sebelum ‘adek’ elo membengkak tiba-tiba dan merusak resleting celana elo.” Ujar Si Kru dengan setengah menyindir.

Troy benar-benar tak mampu menahan tawa lebarnya. Kakinya melangkah dengan pasti menuju ke arah kamar yang akan menjadi tempatnya menunjukkan keahliannya dalam berpose panas. Tapi baru saja ia sampai di ambang pintu kamar tersebut dan pandangannya menyapu orang-orang di hadapannya, Troy kehilangan tawanya seketika.

Sial! Ia merasa pangkal pahanya berdenyut seketika saat mendapati seorang wanita muda sedang berpose seksi di atas sebuah ranjang. Tatapan wanita itu menatap lurus pada kamera di hadapannya. Wanita itu bertubuh ramping, perutnya datar, namun pinggul dan dadanya berisi padat. Rambutnya terurai berwarna merah kecoklatan, kulitnya putih tapi beberapa bagian tampak merona kemerahan. Wanita itu hanya mengenakan lingerie seksi yang sangat tipis, bahkan mendekati transparan. Troy bahkan dapat melihat dengan mata jelinya bagaimana puncak payudara wanita itu tersembunyi dengan indah dibalik lingerie yang dikenakan wanita tersebut.

Berengsek!

Apa yang dikatakan Krunya tadi benar. Saat ini, Troy merasakan pangkal pahanya membengkak seketika. Seakan celana jeans yang ia kenakat terasa menyempit, sesak dan ingin segera dibuka.

Sial!

Siapa yang yang mendatangkan wanita ini untuk dipasangkan dengannya? Apa ini akan menjadi sebuah berkah karena Troy yakin akan dapat meniduri wanita seksi dihadapannya tersebut? Ataukah ini akan menjadi ebuah kutukan, saat Troy sadar bahwa ia harus menahan hasrat membaranya beberapa jam kedepan atas nama profesionalisme di depan kamera?

Sialan! Entah kenapa saat ini Troy merasa jika sedang dikerjai oleh seseorang yang telah memasangkan dirinya dengan wanita tersebut. Tapi troy tak peduli, sungguh. Yang ia pedulikan saat ini dalah, bagaimana caranya agar pekerjaan sialannya ini segera selesai lalu mengajak wanita itu naik ke atas ranjangnya dan melampiaskan hasrat menggebu-gebuya pada wanita itu. Sungguh! Hanya itulah yang saat ini ada dalam pikiran Troy.

-TBC-

Bianca – Chapter 6 (Gadis Bunga)

Comments 2 Standard

 

Chapter 6

-Gadis Bunga-

Jason mengantar Bianca pulang saat jarum jam menunjukkan pukul Delapan malam. Sebenarnya, Jason ingin sekali masuk ke dalam rumah Bianca dan menyapa Ibu Bianca seperti tadi pagi. Tapi Bianca berkata jika tidak perlu.

“Kenapa?” tanya Jason yang saat ini sudah membuka helmnya. Ia menghentikan motornya tepat di depan pintu pagar rumah Bianca seperti yang diinginkan gadis itu. “Mama kamu baik, aku ingin menyapanya lagi. Lagi pula, nggak pantas kalau kamu pulang sendirian.” Jelas Jason.

Bukan tanpa alasan Bianca melarang Jason turun dan masuk ke dalam rumahnya. Masalahnya, ini sudah malam, yang artinya Papanya sudah pulang. Bianca tidak mau Jason bertemu dengan Papanya dengan penampilan seperti ini. Sedikit informasi, bahwa Mike, Ayah Bianca merupakan sosok yang keras, seperti Aldo, kakaknya. Bianca tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, seperti Sang Papa tidak menyukai Jason karena penampilannya, mungkin.

“Papa sudah pulang, jadi, kamu pulang saja.”

“Memangnya kenapa dengan papamu? Dia galak? Aku nggak takut.” Jason menjawab dengan serius.

Bianca tersenyum. “Aku nggak meragukan keberanianmu, tapi aku belum mau aja mengenalkanmu dengan ayahku.”

“Kenapa? Kamu malu?” tanya Jason penuh selidik.

“Apa yang harus membuatku malu? Pacarku adalah seorang superstar. Satu-satunya alasan adalah, bahwa aku nggak mau hubungan kita menjadi serius dan membosankan karena orang tuaku ikut campur didalamnya.”

“Ikut campur?” Jason mengangkat sebelah alisnya.

“Papaku orang yang sangat mengerikan.” Bisik Bianca. Dan setelah itu, ia tertawa lebar. “Sudah ah, pokoknya, cepat balik.” Lanjut Bianca.

“Oke, tapi ingat, besok malam, kita ada kencan lagi.”

“Oke.” Bianca menyetujui apa yang dikatakan Jason. Kemudian, tanpa di duga, ia menjinjitkan kakinya, dan mengecup singkat pipi Jason. “Selamat malam.” Ucapnya sembari berlari pergi memasuki gerbang rumahnya.

Jason hanya ternganga menatap kepergian Bianca. Gadis itu tampak berlari dengan ceria memasuki rumahnya. Ketika Bianca sudah menghilang di balik pintu pagar rumahnya, Jemari Jason mengusap lembut pipinya sendiri bekas kecupan Bianca di sana.

Ketika Jason sibuk dengan perasaannya sendiri, ponselnya berbunyi. Jason merogohnya dan mengangkat panggilan tersebut saat tahu siapa yang sedang meneleponnya.

“Hai, Li.” Itu Lili, sahabat lamanya yang hubungannya sempat renggang, namun kini hubungan mereka sudah kembali membaik saat kesalahpahaman diantara mereka sudah terselesaikan.

“Jase, maukah kamu menjemputku?” tanya Lili yang terdengar sedikit ragu.

Jason tersenyum “Tentu saja, dimana?” tanyanya kemudian.

“Di kafe, tempat kerjaku. Kutunggu, Jase.”

“Oke, segera meluncur kesana.” Dan setelah itu. Sambungan teleponnya diputus. Jason kembali menatap singkat ke arah rumah Bianca. Ia tersenyum sendiri sebelum kembali mengenakan helmnya dan mulai menyalakan mesin motornya. Jason melaju dari rumah Bianca dengan perasaan campur aduk.

Sial, apa ini? tanyanya dalam hati.

***

Jason menunggu di sebuah ruangan yang memang sudah disiapkan. Ruangan khusus untuk dirinya. Kafe tempat Lili bekerja memang sering mendatangkan Jason sebagai bintang tamu untuk bernyanyi di sana, bernyanyi sendiri, bukan dengan teman-teman Bandnya. Si pemiliknya memang kenal dekat dengan Jason, jadi ketika Jason datang ke tempat tersebut, Jason sudah disediakan tempat sendiri.

Saat ini, Jason sedang sibuk memeriksa ponselnya, dimana dia mendapati banyak sekali komentar di akun sosial medianya. Kadang, Jason berpikir, bagaimana jadinya ketika ia memposting sesuatu tentang wanita di akun jejaring sosialnya. Apa para fansnya akan menggila?

Saat Jason masih sibuk dengan ponselnya sendiri, pintu ruangan tersebut di buka dari luar. Jason mengangkat wajahnya dan mendapati Lili sedang masuk ke dalam ruangan tersebut.

Lili merupakan teman Jason sejak SMA, dia bekerja sebagai penyanyi sekaligus waiters di kafe tersebut. Hubungannya dengan Lili dulu sempat memburuk karena sebuah kesalah pahaman, tapi beberapa minggu terakhir, hubungan mereka sudah kembali membaik.

“Hai.” Jason berdiri seketika dan menyapa Lili dengan sedikit canggung. Masalahnya, saat Felly memutuskan hubungannya dengan Jason beberapa minggu yang lalu, Felly juga sempat mengatakan jika Lili memiliki perasaan lebih terhadap Jason. Dan hal tersebut membuat Jason canggung.

Jason sendiri tidak pernah menganggap lebih hubungannya dengan Lili. Lili adalah teman terbaiknya dulu sejak SMA, sejak dirinya belum terkenal. Dan hanya teman dekat, tidak lebih. Tapi di sisi lain, ia juga tidak ingin menyakiti perasaan temannya itu dan membuat hubungan mereka kembali merenggang.

“Hai, kamu datang dari tadi?” tanya Lili yang kini sudah berada tepat di hadapan Jason.

“Ya, kamu baru selesai?” Jason bertanya balik.

“Harusnya dari tadi, tapi mereka ingin aku menyanyikan sebuah lagu lagi.”

“Woww, rupanya sudah ada punya penggemar, ehh.” Godan Jason.

“Tetap saja, tidak sebanyak kamu.” Pipi Lili memerah karena godaan Jason tersebut.

Jason tertawa lebar. “Oke, oke, sekarang, ayo kuantar pulang.”

Lili mengangguk, lalu ia berkata “Terimakasih sudah mau menjemputku.”

“Kalau nggak sibuk, apapun yang kamu inginkan, akan kuturuti.” Jawab Jason sembari keluar dari kafe tersebut.

“Aku senang, kamu masih sama dengan Jason yang dulu. Padahal sekarang, karir kamu semakin menanjak.” Lili yang mengekor di belakang Jason berkomentar.

Jason tersenyum. “Karir tidak akan mempengaruhi kehidupan pribadiku. Li.” Jason menanggapi pernyataan Lili.

Pada saat bersamaan, ia sudah memakai penutup wajahnya sebelum keluar dari dalam kafe tersebut. Jason lalu menuju ke arah motornya, memakai helmnya dan memberikan Lili helm.

“Kamu habis keluar? Sama siapa?” tanya Lili kemudian.

“Ya, tadi nonton sama seseorang.”

“Pacar?” tanya Lili yang ingin Ttahu.

Jason tersenyum ia menatap ke arah Lili dan menjawab “Bukan.” Tentu saja Jason tak akan menceritakan tentang Bianca pada Lili. Lili akan sakit hati dengannya, dan ia tidak ingin hubungannya dengan Lili kembali merenggang.

“Ohh, kirain.” Ucap Lili sembari menaiki motor Jason. Keduanya berlalu dari halaman kafe tersebut meninggalkan sepasang mata yang sejak tadi mengawasi mereka.

***

Jason menatap bayangan di hadapannya. Sesekali ia menghela napas panjang, mengatur perasaannya agar ia tidak merasakan demam panggung.

“Apa kamu deg-degan?” pertanyaan Bianca membuat jason menatap ke arah bayangan wanita itu. Bianca kini memang sedang berdiri di belakangnya. Jason menatap bayangan Bianca dari cermin yang sama.

“Ya, ini sudah biasa.” Jawab Jason mencoba mengendalikan dirinya.

Saat ini, memang sudah tiba waktunya konser band The Batman. Seharusnya Jason tak perlu merasakan deg-degan lagi, karena ini bukan pertama kalinya ia melakukan konser. Hanya saja, kehadiran Bianca saat ini membuat Jason merasa bahwa ia harus membuat wanita itu terkesan nantinya.

Ini sudah lebih dari dua bulan lamanya Jason menjalin hubungan dengan Bianca. dan dalam jangka waktu tersebut, Bianca benar-benar mampu membuat dirinya melupakan sosok Felly. Setidaknya itu yang dirasakan Jason saat ini.

Bianca benar-benar memberikan dampak positif untuk Jason, Jason jadi lebih sering tersenyum dan lebih ceria ketika Bianca berada di sekitarnya. Hal itu membuat semua personel The Batman ikut senang. Troy bahkan terang-terangan memuji Bianca, bahkan temannya itu pernah berkata jika Jason nanti selesai dengan Bianca, maka Troy mau menjadi pengganti Jason untuk Bianca.

Benar-benar berengsek temannya itu.

“Kalau gitu, jangan diem gitu dong. Semangat.” Bianca memberi semangat Jason, dan yang bisa dilakukan Jason hanya tersenyum sembari mengacak poni pirang milik Bianca.

“Kamu duduk di tempat penonton lagi?” tanya Jason kemudian.

“Ya, kan aku juga beli tiket.” Bianca mempamerkan tiketnya.

“Bodoh, aku kan sudah pernah bilang, lain kali nggak usah beli. Kamu bisa duduk di tempat official.”

“Nggak asik, enakan teriak-teriak bareng sama fans-fans kamu.” Jawab Bianca dengan ceria.

Ini memang bukan pertama kalinya Bianca menonton konser Jason setelah hubungan mereka resmi menjadi sepasang kekasih Dua bulan yang lalu. Jason sudah beberapa kali melakukan konser, karena jadwal konsernya kini sedang cukup padat. Dan pada saat-saat itu, Bianca meluangkan waktunya untuk menemani Jason, dan menjadi penonton setia diantara ratusan bahkan ribuan fans-fans The Batman.

Hubungan mereka masih tersimpan dengan rapih, bahkan Bianca tidak pernah menceritakan apapun dengan orang-orang terdekatnya, termasuk Sienna.

“Jangan teriak terlalu kencang, tenggorokanmu nanti sakit.”

“Kan biar kamu bisa lihat aku.”

Jason tertawa. “Makanya, duduk saja di Official, atau di barisan depan. Maka aku bisa melihatmu dengan mudah.” Ya, karena selama ini, Jason memang tidak bisa menemukan dimana Bianca berada ketika menyanyi di atas panggung.

“Yee, berusaha mencariku, dong. Nanti aku kasih hadiah.”

“Apa?” tanya Jason penasaran.

Bianca terkikik geli, ia bangkit dan berkata. “Temukan aku, maka aku akan memberimu hadiah.” Setelah itu, Bianca pergi begitu saja dari ruang ganti Jason sembari melambaikan tangannya pada lelaki itu.

Jason hanya tersenyum melihat kepergian Bianca. pada saat bersamaan, Troy masuk ke dalam ruang gantinya. Troy sempat merasa heran dengan Jason yang tersenyum sendirian dalam ruangannya, tapi kemudian, Troy tahu, bahwa semua itu karena Bianca, karena ia baru saja mendapati Bianca keluar dari dalam ruang ganti Jason.

“Jase, elo sudah siap?”tanya Troy kemudian.

“Ya, Tentu saja.”

“Karena Bianca, ya?” pancing Troy.

“Elo apaan, sih.” Jawab Jason dengan tawa lebarnya.

“Jase, gue hanya bisa ngingetin. Jangan terlalu dalam menyukai seseorang, kalau elo nggak mau tersakiti lagi nantinya.” Ucap Troy sembari menepuk-nepuk bahu Jason.

Jason hanya mengangguk. Ia membenarkan apa yang dikatakan Troy. Ya, Jason tak akan membiarkan dirinya jatuh cinta lagi pada seorang wanita. Cukup seorang Fellysia saja yang membuatnya patah hati dan tersakiti. Tidak dengan wanita lain. Tapi Bianca? ahhh, apa yang ia rasakan pada Bianca hanya sebuah ketertarikan sekilas. Ya, hanya sebuah ketertarikan sekilas yang membantunya mendapatkan sebuah kesenangan. Tidak lebih. Pikir Jason dalam hati.

***

Konsernya berjalan dengan begitu meriah. Bahkan tempat tersebut penuh dengan para fans dari The Batman. Mungkin karena ini akhir pekan, atau mungkin karena popularitas The Batman yang semakin menanjak setiap harinya.

Bianca tak berhenti berteriak, memanggil-manggil nama Jason diantara banyak wanita yang mengidolakan lelaki itu. Kadang Bianca berpikir, rupanya, gosip jika Jason Gay tak mempengaruhi wanita-wanita di sekitarnya ini. nyatanya, mereka tetap saja mengeluh-eluhkan nama Jason dengan sesekali berteriak histeris.

Bianca tersenyum memikirkan hal itu. Kemudian ia kembali meneriakkan nama Jason agar lelaki itu dapat menemukan dirinya diantara ratusan fans The Batman. Dan betapa beruntungnya dia, pada detik itu, mata Jason menatap ke arah Bianca.

Bianca melambai-lambaikan tangannya dengan semangat. Jason tersenyum ke arahnya. Lalu Bianca mendengar Jason menyanyikan lagu ‘Pujaan Hatiku’ kali ini aransemennya dirubah menjadi lebih romantis, tidak menyakitkan seperti pertama kali ia mendengar Jason menyanyikan lagu tersebut.

Bianca melihat Jason melompat turun dari panggung. Beberapa bodyguard segera mengamankan diri Jason dari anarkisme para fans The Batman. Yang tidak dipercaya Bianca adalah, bahwa lelaki itu kini sedang berjalan menuju tempatnya berdiri.

Bianca ternganga, ia segera membungkam bibirnya sendiri ketika Jason benar-benar berada di hadpaannya. Lelaki itu masih menyanyi, sedangkan jemarinya yang lain terulur, seperti sedang mengajak Bianca untuk berjalan bersamanya.

Dengan jantung yang berdebar-debar tak karuan, Bianca menyambut uluran tangan Jason. Kemudian ia ikut berjalan disisi lelaki itu dengan diiringi teriakan histeris oleh para penggemar The Batman.

Wahai Gadis cantikku…

Pujaan hatiku…

Aku mencintaimu…

Sungguh sungguh mencintaimu…

Wahai gadis manisku…

Teman dalam candaku….

Aku mencintaimu…

Wahai pujaan hatiku….

Jason masih saja bernyanyi hingga mereka sampai di atas panggung. Bianca bahkan baru sadar jika di atas panggung sudah di siapkan sebuah kursi untuk ia duduki. Bianca akhirnya duduk di sana saat setelah Jason menyelesaikan lagunya.

“Baiklah, sepertinya sudah sangat lama aku tidak melakukan ini.” Jason berkata dengan para penggemarnya. Semua penggemar berteriak histeris setelah mendengar ucapan Jason.

Bianca sendiri masih tak mengerti apa yang akan dilakukan Jason padanya di depan umum. Lalu lelaki itu tampak sedang memanggil seseorang. Dan benar saja, ada seorang panitia konser tersebut yang datang memberikan Jason seikat bunga.

“Malam ini, dia akan menjadi gadis bungaku.” Jason berkata dengan lembut sembari memberikan bunga tersebut pada Bianca. Mata Jason bahkan menatap Bianca dengan begitu intens. Oh, Bianca merasa jika jantungnya akan meledak saat itu juga.

Mengesampingkan dadanya yang terasa nyeri karena debaran jantungnya yang memukul-mukul begitu keras, Bianca menerima bunga tersebut. Jason kembali bernyanyi, kali ini tanpa diiringi dengan musik yang pelan namun terdengar begitu romantis, bernyanyi mengitari kursi yang di duduki Bianca. Lalu lelaki itu menunjuk pipinya sendiri, seakan ingin jika Bianca mendaratkan kecupan lembut di sana.

Bianca menggelengkan kepalanya. Pipinya memerah seperti tomat. Ia tak pernah diperlakukan begitu manis seperti ini, apalagi di depan umum.

Masih dengan bernyanyi, Jason meraih telapak tangan Bianca. ia mendaratkan telapak tangan Bianca pada dadanya. Seakan menunjukkan pada Bianca jika jantung lelaki itu kini sedang berdebar menggila. Bianca yang merasakannya segera mematung, matanya menatap tepat pada mata Jason.

Jason lalu membawa jemari Bianca pada pipinya, seakan meminta Bianca untuk menyentuh pipinya. Sesekali lelaki itu mengangguk, mengisyaratkan agar Bianca menuruti apa maunya.

Dengan setengah melamun karena terbawa suasana, Bianca mendekatkan wajahnya ia memejamkan matanya dan bersiap mengecup lembut pipi Jason. Tapi kemudian, Bianca tersentak, ketika tiba-tiba Jason menghentikan nyanyiannya, menangkup kedua pipinya kemudian menautkan bibirnya pada bibir Bianca.

Mata Bianca terbuka seketika, membulat karena tak percaya jika dirinya akan di cumbu dihadapan banyak orang. Teriakan para fans The Batman tidak menghentikan keduanya saling mencumbu mesra satu sama lain.

Astaga, apa yang sudah terjadi? Pikir Bianca dalam hati.

***

Di sisi lain…

“Apa-apaan itu? Sialan!” Aldo bersiap maju meninggalkan tempat duduknya.

Saat ini, Aldo memang sedang menemani Sienna, istrinya, menonton konser yang baginya tidak masuk akal. Aldo memang bukan tipe orang yang suka hal-hal seperti ini. bahkan Aldo kerap kali melarang Sienna untuk menonton konser-konser seperti ini. Tapi hari ini, ia menuruti kemauan Sienna karena istrinya itu berkata jika sedang mengidam ingin menonton konser The Batman.

Dan kini, saat ia menuruti permintaan tersebut, sebuah fakta menggelikan ia dapatkan. Sang adik, Bianca, kini sedang berada di atas panggung, dan dengan begitu berengseknya si Jason mencium adiknya itu di hadapan banyak orang.

Apa-apaan lelaki itu? Bukankah itu sebuah pelecehan? Aldo tak akan membiarkannya. Sejak dulu Aldo tidak pernah suka dengan sosok Jason, dengan penampilan lelaki itu yang sudah seperti berandalan.

Dan sampai kapanpun, Aldo tidak akan pernah menyukainya!

-TBC-

Next, Part 7 di cerita Bianca adalah ‘First Night with Bee’ hayookkkkkk mikir apa.. hahahhahaa selamat menunggu yaaa…

Bianca – Chapter 5 (My Muse)

Comments 2 Standard

 

Chapter 5

-My Muse-

Sampai di studio musik tempat Jason latihan. Bianca di sambut hangat oleh teman-teman Jason. Ada Troy, yang memegang Drumer The Batman. Jiro yang memegang Bass, dan juga Kenzo yang memegang Gitar. Ketiganya berdandan seperti Jason. Tapi yang membuat Bianca senang adalah sikap ketiganya yang hangat menyambutnya.

Apalagi ketika Jason dengan terang-terangan menyebut bahwa Bianca adalah kekasihnya. Ketiganya bersorak bahagia sesekali menggoda Jason.

“Jadi, Jase, lo bener-bener punya pacar sekarang?” Troy bertanya sekali lagi untuk meyakinkan jika telinganya tidak salah dengar saat Jason mengumumkan hubungannya dengan Bianca tadi.

“Ya, kenapa Troy? Elo juga pengen punya cewek?” Jason bertanya balik.

Semua yang ada di dalam ruangan tersebut tertawa lebar. “Bung, pacar? Sial! kata itu nggak ada dalam kamus gue.” Jawab Troy sembari tertawa lebar.

“Kenapa?” Bianca bertanya dengan spontan.

“Bee, dia Gay.” Jiro menjawab cepat.

“Berengsek Lo!” Troy mengumpat hingga membuat yang ada di dalam studio tersebut kembali tertawa.

“Udah, udah, mending kita latihan. Konser selanjutnya sudah semakin dekat.” Jason menengahi. Akhirnya mereka menuju ke posisi masing-masing, sedangkan Bianca, ia memposisikan dirinya duduk senyaman mungkin di sebuah sofa panjang yang memang tersedia di ujung ruangan.

Sambil bersantai, ia menikmati pertunjukan Jason dan teman-temannya. Bianca suka saat mendengar suara lelaki itu. Bianca suka saat melihat aksi panggungnya, dan astaga, Bianca menyukai semua yang ada pada lelaki itu.

Bagaimana ini?

***

Tiba saatnya makan siang.

Bianca sempat berpikir jika mereka akan makan siang di sebuah restoran mewah atau mungkin di tempat seru lainnya. Mengingat mereka masih muda dan mereka sudah mencapai kesuksesannya jadi mereka bisa melakukan apa saja yang ingin mereka lakukan.

Tapi ternyata, mereka hanya memesan makanan cepat saji yang akan dimakan di studio tersebut. Tak ada yang special, hingga membuat Bianca bertanya-tanya, beginikah kehidupan sang Superstar?

“Kenapa nggak dimakan? Kamu nggak suka?” tanya Jason yang saat ini duduk di hadapan Bianca sembari menikmati makanannya.

“Enggak, aku hanya ingin bertanya, apa kalian melakukan ini setiap hari?” Bianca bertanya balik.

“Apa? Latihan?”

“Ya, latihan dan makan-makan seperti ini.”

“Ya, kami melakukannya setiap hari, kecuali saat konser dan hari minggu tiba.” Jason meminum minuman bersoda di hadapannya. “Kenapa?” tanyanya kemudian.

“Enggak, aku heran saja sama kalian. Kalian keren, punya banyak uang, pastinya. Tapi kalian memilih menghabiskan waktu kalian di dalam Studio ini setiap hari. Apa kalian nggak bosan?”

Jason menghela napas panjang. “Bosan pastinya. Tapi ini konsekuensi yang harus kami terima saat kami sudah terkenal.”

“Maksudnya?”

“Bee, ketika kami keluar, kami seakan tidak memiliki privasi lagi. Orang-orang –terutama remaja, akan dengan mudah mengenali kami, mengajak kami berfoto bersama, memeluk, mencium, bahkan ada yang terang-terangan minta ditiduri.”

Bianca membungkam bibirnya seketika. “Kamu yakin sampai segitunya?”

“Ya, kalau itu Troy, dia bisa menerima dengan senang hati, tapi tidak denganku atau yang lainnya.”

“Sialan, Lo!” Troy yang berada di seberang ruangan mendengar dan segera mengumpat pada Jason.

Jason tertawa. “Itu harga yang harus kami bayar utuk menjadi seorang superstar, Bee. Kehidupan kami seperti tidak memiliki privasi. Lalu, kami juga memiliki peraturan yang diatur oleh pihak management kami. Seperti, tidak boleh menikah, memiliki pacar, atau beberapa peraturan gila lainnya.”

“Jadi, kalian semua selama ini menjomblo?” Bianca bertanya denga raut wajah tak percayanya.

“Enggak semuanya. Ken punya pacar kok, tapi pacarnya nggak boleh keluar di publik. Itupun yang terjadi denganmu nanti.”

Oke, sekarang Bianca baru mengerti, kenapa Jason tidak ingin hubungan mereka kedepannya tercium oleh publik, dan kenapa lelaki itu sampai digosipkan Gay, karena ternyata managemen mereka memang melarang untuk mempublikasikan hubungan pribadi pada personelnya.

“Tapi, tadi pagi kamu keluar menjemputku.”

“Nggak akan ada yang tahu, aku pakai helm dan menutup hampir seluruh wajahku. Siapa yang tahu kalau itu Jason Vokalis The Batman.”

Bianca mengangguk setuju. Rupanya kehidupan Jason dan teman-temannya cukup menyedihkan. Bahkan bisa dibilang membosankan karena harus mengikuti peraturan management mereka layaknya anak yang masih sekolah yang harus disiplin dengan peraturan sekolah.

Tiba-tiba, Jason menggenggam jemari Bianca, hingga membuat Bianca sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Jason terhadapnya.

“Oleh karena itu, aku memilihmu. Kupikir, kamu berbeda dengan sosok gadis kebanyakan. Aku nggak mau menghabiskan hariku dengan begitu membosankan. Aku harap kamu mampu memberi warna tersendiri untukku, dan bisa menginspirasiku untuk menciptakan lagu-lagu baru.”

Woowww menginspirasi? Bianca benar-benar merasa terhormat dengan hal tersebut.

“Jase, itu terdengar keren. Menginspirasimu, ya?” Bianca menanggapi dengan sedikit bodoh. “Lalu, siapa selama ini yang sudah menginspirasimu membuat lagu-lagu keren itu?”

Tubuh Jason menegang. Ia sedang tidak ingin membahas tentang hubungan asmaranya yang sial, apalagi dengan Bianca.

“Aku suka banget saat dengerin kamu nyanyi lagu apa itu, ‘Pujaan hatiku’ ya?” tanya Bianca pada Jason untuk meyakinkan dirinya sendiri.

‘Pujaan Hatiku’, adalah judul lagu Jason yang memiliki irama melankolis. Cukup berbeda dengan lagu-lagu The Batman lainnya yang kebanyakan iramanya ngeRock. Lagu tersebut merupakan ciptaan Jason sendiri yang saat itu sengaja ia ciptakan untuk seseorang. Siapa lagi jika bukan Felly.

“Kenapa kamu suka dengan lagu itu?” Jason bertanya tanpa ekspresi. Jika boleh jujur, saat ini Jason tidak ingin lagi menyanyikan lagu tersebut. Ia ingin mengubur kenyataan bahwa Felly merupakan Sang Pujaan Hatinya.

“Nggak tahu, rasanya aku pengen ikutan nangis saat lihat dan dengar kamu nyanyi lagu itu.”

Jason menanggapi ucapan Bianca dengan sebuah anggukan. Lagu tersebut memang cukup Booming diantara lagu The Batman yang lain. Jika dicermati, nada dan liriknya cukup menyayat hati. Menunjukkan kesakitan yang teramat dalam oleh seseorang yang memiliki cinta bertepuk sebelah tangan.

“Apa itu lagu ciptaanmu?” tanya Bianca tiba-tiba.

“Ya, kenapa? Menggelikan, ya?”

“Menggelikan? Ayolah. Itu adalah salah satu lagu kesukaanku. Maksudku, selama ini aku suka lagu-lagu bernada Rock, keras, dan sejenisnya. Tapi lagu itu terdengar sangat lembut ditelingaku. Aku seperti sedang merasakan apa yang kamu nyanyikan saat itu.” Komentar Bianca panjang lebar. “Kalau itu benar-benar ciptaanmu, berarti ada seseorang yang menginspirasimu menciptakan lagu tersebut. Benar bukan?”

Jason tak ingin membahasnya. Sungguh.

Muse, biasanya kami memanggilanya dengan sebutan Muse.”

“Apa itu?” Bianca sedikit bingung.

Muse adalah sebutan untuk seseorang atau sesuatu yang menjadi sumber inspirasi untuk pekerja seni. Dalam hal ini, aku sebagai pencipta lagu.”

“Wooow, jadi, kamu sudah memiliki seorang Muse? Siapa dia? Apa dia mantan pacarmu dulu?” tanya Bianca yang tampak begitu antusias dengan apa yang akan diceritakan oleh Jason.

Muse tidak harus menjadi seorang pacar atau kekasih. Muse bisa jadi siapa saja. Orang tua, saudara, guru, atau bahkan seseorang yang kamu lihat dijalanan.”

“Lalu, siapa Muse kamu ketika kamu menciptakan lagu ‘Pujaan hatiku’?” tanya Bianca sekali lagi. Ia tidak ingin mengalah. Ia ingin mengenal lelaki di hadapannya ini sedalam yang ia bisa. Karena entah kenapa, Bianca merasakan, ketika ia mengenal Jason lebih dalam lagi, maka ia seperti sedang menyelami sebuah dunia baru yang lebih menantang ketimbang dunianya yang selama ini cukup membosankan.

Jason meringis perih, ia menatap makan siang di hadapannya dengan tak berselera. “Hanya seorang teman biasa.” Jawabnya pendek.

Dengan ceria, Bianca menopang dagunya dengan sebelah tangannya lalu menatap Jason dengan tatapan menyelidik. “Teman biasa, ya? Teman biasa yang kamu cinta?” goda Bianca.

“Lupakan. Lebih baik cepat habiskan makan siangmu.” Pungkas Jason dengan wajah yang sudah ditekuk. Ia tidak suka ketika seseorang mengorek masa lalunya yang begitu menyedihkan. masa yang seharusnya segera ia lupakan.

Sedangkan Bianca, ia tertawa melihat keketusan Jason. Bianca semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada Jason. Jason sedikit menampilkan sisi rapuhnya. Bianca yakin jika lagu tersebut sangat berarti untuk Jason. Begitupun seseorang yang menginspirasinya. Meski begitu, Bianca menghormati keputusan Jason untuk tidak bercerita padanya. Bagaimanapun juga, ia hanya seorang kekasih baru, atau lebih tepatnya teman dekat baru Jason. Ia tidak akan memaksa Jason atau menuntut lebih dari lelaki itu.

***

“Bee, apa kamu tahu? Ini gila.” Jason berkomentar.

Saat ini Jason sedang berada di sebuah gedung bioskop dengan Bianca di sebelahnya. Bianca malah asyik menikmati minuman yang baru saja ia beli. Sedangkan Jason, ia sedikit khawatir jika ada yang mengenalinya nanti.

Ya, setelah menjadi terkenal dan dipuja-puja banyak gadis di negeri ini, Privasi Jason dan teman-temannya menjadi suatu yang mahal untuknya. Jason sangat jarang sekali pergi ke tempat-tempat ramai seperti ini. jika itu tidak penting. Dan kini, Bianca mengajaknya ke tempat seperti ini hanya dengan sebuah topi dan juga kumis palsu. Semoga saja tak ada yang mengenalinya.

“Ayolah, Jase. Nggak akan ada yang mengenalimu. Mereka ke gedung ini untuk menonton film, bukan untuk menonton konsermu. Mungkin aku sedikit kasar, tapi meskipun kamu amat sangat terkenal, ada beberapa orang yang mungkin saja tidak peduli atau bahkan tidak mengenalimu. Contohnya, aku.”

“Kamu yakin?”

“Ya, aku tidak tahu siapa kamu atau The Batman sebelum kakak ipar manjaku itu menyeretku dengan paska ke konser kalian saat itu.”

“Ohh, jadi sebenarnya, kamu ini fans dadakan, Ya?” tanya Jason sembari menatap Bianca dengan wajah datarnya.

“Hahhaha mungkin bisa dibilang, Fans karbitan.” Bianca membenarkan ucapan Jason sembari tertawa lebar. “Ayo masuk, filmnya sudah mau mulai.” Ucap Bianca yang kini sudah mengapit lengan Jason dan menyeret Jason masuk ke dalam sebuah ruangan dimana film yang akan mereka tonton akan diputar.

Dengan spontan Jason menatap Bianca. Gadis ceria, dan etah kenapa ia suka. Jason tidak memungkiri jika sejak tadi, Bianca mampu membuatnya tersenyum dan terhibur. Setidaknya, ia bisa melupakan masalahnya, ia bisa mengabaikan sakit karena patah hati. Dan Jason membutuhkan hal ini untuk bertahan.

Mereka duduk deretan tengah. Bianca masih setia mengapit sebelah lengan Jason, seakan mereka adalah sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara. Sedangkan Jason sendiri, sesekali ia menatap ke arah Bianca dengan sedikit gugup.

Apa yang membuatnya gugup? Bahkan Bianca tampak santai dan biasa-biasa saja.

“Bee, apa kamu sering melakukan ini?” tanya Jason kemudian. Ya, Jason sempat berpikir, jika mungkin saja Bianca memang sering melakukan hal ini, berhubungan dengan lelaki tanpa menggunakan perasaannya hingga Bianca selalu tampak santai dan biasa-biasa saja seperti ini.

“Melakukan apa?” tanya Bianca dengan sedikit bingung.

“Hubungan tanpa perasaan. Kupikir, kamu tampak menikmatinya.”

Bianca tersenyum. “Jase, kalau boleh jujur, kamu adalah pria pertama yang menjadi kekasihku.”

“Apa? Nggak mungkin.” Ya, jika ia pria pertama, maka seharusnya Bianca menampilkan sikap malu-malu kucingnya. Bukan malah tampak biasa-biasa saja seperti sering melakukannya.

“Ya, kamu adalah pria pertamaku. Aku nggak perlu menjelaskannya padamu. Lagipula itu nggak penting.”

“Tapi kamu tampak santai dan seperti sudah pernah melakukan ini sebelumnya.” Jason masih menatap Bianca dengan raut wajah herannya. “Kamu benar-benar berbeda dengan gadis kebanyakan, Bee. Dan aku suka.”

Bianca tersenyum “Jadi, sekarang, kamu mulai menggunakan perasaanmu, ya?” goda Bianca.

“Jika itu bisa membuatku lebih baik, maka aku akan melakukannya, Bee.”

“Oke, kalau begitu, kita sudah sepakat.”

“Sepakat apa?” tanya Jason bingung.

“Kalau kita akan menyukai satu sama lain. Boleh, kan?”

Kali ini Jason yang tersenyum. “Ya, tentu saja.” Jason lalu menggenggam erat jemari Bianca, ia mengecupnya singkat dan berkata. “Bee, aku ingin menjadikanmu sebagai Museku.”

Bianca ternganga dengan ucapan Jason. Senang? Tentu saja. Ia tidak menyangka jika Jason akan secepat ini menjadikannya sebagai seorang Muse, seorang yang akan menginspirasi lelaki itu untuk menciptakan lagu-lagu baru. Tapi, bisakah ia melakukannya? Mampukah ia membuat Jason menciptakan lagu-lagu yang lebih bagus lagi dari sebelumnya?

***

Pujaan hatiku – The Batman

Kisah yang dulu pernah ada…

Bukan sebuah kisah cinta…

Namun aku bahagia…

Memiliki sebuah rasa untuknya…

Rasa ini sungguh suci…

Terpatri didalam hati…

Meski gadisku selalu memungkiri…

Apa yang tlah kurasakan selama ini..

Wahai Gadis cantikku…

Pujaan hatiku…

Aku mencintaimu…

Sungguh sungguh mencintaimu…

Wahai gadis manisku…

Teman dalam candaku….

Aku mencintaimu…

Wahai pujaan hatiku….

-TBC-

SAYA BENCI PLAGIATOR (The Lady Killerku Di Plagiat)

Comments 9 Standard

Aaplagiat1

 

Haii… maaf hari ini aku nggak update Cerita tapi malah curhat.. nggak papa yaa…  kenapa aku nulis dengan judul di atas??? pasti sebagian dari teman-teman sudah tau kan kenapa aku nulis tentang hal ini mengingat baru kemarin hari aku mengalaminya.

Yuuppsss… salah satu ceritaku yang mungkin pernah teman-teman baca ternyata Di Plagiat, di Jiplak, Di Copast, atau apapun itu namanya, dengan DUA orang sekaligus. Hebat kan..??? Hebat..??? Hebat dari HOngkong..?? Rasanya tuhh sakiiiiiiiitttttt bangett… Aku udah capek2 ngetik, kadang sampek begadang, kadang juga saat jualan aku menyempatkan diri buka Laptop jika ada ide tulisan yang tiba-tiba muncul, kadang jenuh saat tiba-tiba menemui jalan buntu dan enggan melanjutkan itu cerita. tapi DUA orang itu seenaknya menCOPAST tulisanku dan -Secara tidak langsung- mengaku jika itu Karyanya.

Kalian mungkin pernah membaca Novelku yang berjudul “The Lady Killer”. Novel dewasa bergenre Metropop dengan Cast Dhanni Revaldi dan Nessa Arriana. Yuuppss… itulah Novelku yang sedang di jiplak oleh seseorang…
dhannesss-1_Tlk Cover new12321303_1096393880379258_6013373791260930497_n  dhanness2  tlknewCovertlk

Di atas Adalah Cover2 The Lady Killer Real Entah itu versi di Blog Di wattpad, di E-Book Playstore maupun versi buku novelnya.

1453916080380  Screenshot_2016-01-28-15-32-00

Sedangkan ini Adalah salah satu Lady Killer Bentuk Plagiatnya.. bisa dibilang Versi Instagramnya karena dia Copast dan di Share di Instagram. Bagaimana kasus ini bisa terkuak..???? Awalnya beginii…

Kemaren.. Rabu sore, Aku mendapat Inbox di wattpad dari salah satu pembacaku. Aku sebut namanya disini yaa… Namaya @AyuPutriWulandari (Sekali lagi makasih bgt buat kamu jika kamu membaca Artikelku ini) Dia Inbox bertanya tentang asal-usul cerita The lady killer, tentu saja aku menjawab Kalau itu karyaku sendiri bahkan sudah terbit di sebuah penerbit E-Book di Playstore (Yang Belom Download, Harus Download yaa.. #Maksa #LohhMalahNgelantur) dengan Nama penulis ZENNY ARIEFFKA. Akhirnya dia bercerita jika ternyata dia pernah membaca ceritaku ini di sebuah aku di Instagram dengan Nama pemain berbeda. Saat itu aku masih santai tuhh.. kupikir ahh mungkin cuma sama ide cerita karena Ide The Lady Killer ini kan ide cerita yang sangat umum, tentang perjodohan dan cinta segitiga. tapi Akhirnya entah kenapa perasaanku kok jadi nggak enak yaa…

Aku korek2 terus tuh inFo dari Ayu ini.. ayu Cerita katanya Cerbung (Di Instagram Novel The Lady Killer ini dijadikan Cerbung Oleh Plagiatornya) The lady Killer ini Bagus Bgt.. Banyak yang Komen dan menungu Updatan selanjutnya. Bahkan Ayu ini sangat suka dengan Cerbung tersebut. Saat itu Ayu iseng2 baca Di Wattpad dan ternyata nggak sengaja ketemu dengan ceritaku. Ayu sedikit Heran dengan judul yang sama, akirnya ayu Coba sedikit membaca Dan ternyata….. Boooommm Sama Persisss….

Ayu kembali ke IG dan komen bahkan DM @Cerbungaudimrs (Orang yang Plagiat The Lady Killer di Instagram). Bertanya keaslian Cerita The lady killer, apa Karyanya atau dia menjiplak, karena disitu tidak ada Nama SAYA selaku penulis Asli The Lady Killer. Hasilnya Si Atyu ini malah di Bully ama Yang Komen di sana Dan @Cerbungaudimrs membalas jika memang ide cerita dapat dari Wattpad dan itu sebagai Referensi dia menulis. Tapi ayu nggak percaya, Lalu Ayu kembali menghubungiku dan melapor jika Karyaku sudah di Jiplak dan di Publish di IG. Sebenarnya saat itu aku sedikit nggak percaya. Mana mungkin sihh ada orang yang mau menjiplak Karya abal-abal Saya… Akhirnya karena saya penasaran saya minta Tuhh alamat IG si plagiat tersebut. Ehhhh setelah saya cari ternyata IGnya sudah Di Private. Saya sedikit curiga dari situ. Jika dia benar-benar menerbitkan Cerbung Karyanya sendiri, kenapa dia Harus Memprivate IGnya..?? Bukankah itu sama saja menghalang pembaca untuk membaca ceritanya…???

akhirnya aku menghubungi Ayu lagi. aku tanya, apa Ayu yakin dengan tuduhannya itu. Lalu Ayu minta Contak Line aku, dan mengirimiku beberapa Gambar Screenshoot  IG si Plagiator tersebut.

1453916080380  ini gambar Kiriman Ayu, Saat kulihat sedikit terkejut, judulnya sama, apa mungkin ceritanya sama juga yaa… Rabu malam aku sudah nggak bisa tidur memikirkan Hal ini. Gimana cara buka IG itu Orang.. Plisss aku hanya ingin melihat saja. Lalu aku coba otak-atik itu IG, ternyata walau di Private aku masih bisa kirim Pesan buat si dia.. akhirnya aku coba kirim pesan Sesopan mungkin tanpa marah2 nggak jelas.

Screenshot_2016-01-28-07-37-48          Screenshot_2016-01-28-07-38-10

Apa bisa baca tulisan Screenshootku diatas, kalau nggak bisa karena kekecilan nggak papa, lupakan saja.. hhahahah yang jelas isinya aku ingin tau apa Benar IG dia memuat Cerita Novel karyaku. Akhirnya dengan mudah dia mengakuinya. dan dia langsung meminta maaf dengan pada Aku.. Okk.. Setelah itu aku minta untuk diijinkan melihat Isi dari IGnya dengan cara menerima Following ku. ternyata dia malah MemFollow akunku lalu ptak lama aku diterima sebagai Followingnya. Dari situlahh semua kesedihanku dimulai…. ini ScreenShootnya silahkan Dilihat sama persis atau tidak.

Screenshot_2016-01-28-15-32-00  ===>>  Screenshot_2016-01-28-15-34-54

Screenshot_2016-01-28-15-32-46  ===>>  Screenshot_2016-01-30-01-04-09

Kalau kalian bisa membuka gambar diatas pasti tau jika ini benar2 PLAGIATISME. Dia mengcopast semuanya dan baru sampai Chapter 12 (kalau ada didalam Novel)… Parahnya lagi dia mengganti nama pemeranku dengan nama Idolanya. Dhanni jadi Billy (Billy davidson) Nessa jadi Icha (Audi Marisha), dan Renno jadi Azof (Rangga Azof). keterlaluan memang. apalagi saat membaca para komentatornya yang rata2 penggemar AudiBilly.. Lalu aku minta sama @Cerbungaudimrs untuk menyertakan Namaku di dalam Ceritanya, dan juga menyertakan Nama penerbit sekaligus Link Downloadnya. dia pun menurutinya bahkan mengajak para pembacanya untuk mendownload NOvelku di Playstore. Kalian taau apa reaksi para pembacanya itu..?? Ada yang Comen “Kak.. Aku lebih suka baca disini dari pada di tempat lain, ayoo lanjut..” Ada juga yang komen “Aku sudah Download, tapi nggak asik.. nggak seru karena pemainnya Bukan Billy.” Dan banyak lagi komen menyakitkan dari parapembacanya..

Hellooooooo… Buat kamu-kamu yang pernah membaca cerita ini Di IG tersebut, dan komen disana dan nggak sengaja ketemu Artikel saya Ini TOLONG DENGARKAN YAAA….

“Saya Menulis Novel ini Ketika saya Membayangkan SOSOK KAK DHANNI, bukan Sosok BILLY, The Lady Killer Ada Karena Saya SELALU MEMBAYANGKAN SOSOK KAK DHANNI.. Jika Kamu nggak suka Maka Nggak usah Baca Itu Cerita The Lady Killer. Bikin saja cerita sendiri dengan pemeran siapapun yg kamu mau. Apa Kamu nggak Malu, Jelas2 Kamu membaca Hasil dari PLAGIATISME, tapi kamu masih menghina Karya Aslinya hanya karena Cast yang tidak sesuai dengan yang kamu Harapkan. Itu namanya Kamu mendukung seseorang untuk menjadi Plagiat. Dan Satu Lagi. Sampai Kapanpun Lady Killer Dalam Novel THE LADY KILLER hanya cocok diperankan Oleh KAK DHANNI Alias Chinawut Indracusin (Nama aslinya).”

Screenshot_2015-06-30-20-22-04-1 Screenshot_2015-06-30-20-24-13-1 tumblr_m5q04fFsAN1ryhc5ho4_r1_250

Jadi emosi saya saat mengingat komentar2 mereka di IG itu. huffttt…

lalu ternyata saya mendapat Inbox dari penerbit saya di Playstore, katanya itu cerita tetap harus di hapus walau sudah menyertakan nama penulis, penerbit, bahkan alamat Downloadnya… akhirnya saya memberi tau @Cerbungaudimrs jika dia tetap harus menghapus postingannya tersebut. Dan Alhamdulillah @Cerbungaudimrs mau menghapus Ceritaku tersebut dalam Akun IG nya (Terimakasih untuk kamu siapapun itu @Cerbungaudimrs).

@Cerbungaudimrs bahkan cerita sama aku katanya dia melihat cerita itu pertama kali di Fansbase CJR di Fb, dan cerita itu udah END disana. Saat itu dia baca salah satu komen yang mengatakan jika pernah membaca Cerita ini di Wattpad Akhirnya @Cerbungaudimrs ikutan meluncur ke wattpad dan bukannya pelapor padaku dia malah ikutan Mempagiat Cerita The Lady killer ku di IG.. Hadeehhh…

Satu fakta aku temukan ternyata ada Plagiatisme lain di FB.. Aku ubek2 tuhh Fansbase CJR di FB, dan sampai sekarang nggak ketemu. Aku juga meminta tolong dengan @Cerbungaudimrs untuk membantuku mencari Fansbase teersebut karena dia memang -Katanya- sudah tidak berhubungan dengan Fansbase tersebut. Namanya susah diingat, dan judulnyapun di ganti dengan judul bahasa indonesia.. Tapi @Cerbungaudimrs janji akan memberi tauku jika dia menemukan Akun tersebut….

Akhirnya Kasus ditutup dengan damai.. hehhehhe. Akun IG @Cerbungaudimrs pun sekaran sudah nggak ada. sebelum menghapus akun tersebut dia bahkan berpamitan dulu dengan ku,,, yaaa setidaknya suatu saat nanti dia berjanji akan menghubungiku dengan akun aslinya. dan saat itu tibaa aku mau berteman dengannya, membantunya kembali membuat Cerbung2 menarik tanpa harus memplagiat karya orang… Aku tunggu itu yaa @Cerbungaudimrs…

Dan untuk para pembaca.. aku mita tolong bgt yaa.. kalau pernah baca salah satu ceritaku di Akun lain selain blog ini, Playstore, Wattpad yang semuanya dan tidak dengan nama penulis ZENNY ARIEFFKA, Tolong kasih tau aku yaaa… Sebenarnya, aku sangat senang jika ceritaku di Remake Orang… karena aku pernah dengar dari seseorang, ‘Jika ceritamu di Remake Orang, atau karyamu di Plagiat seseorang, itu tandanya Cerita atau Karya yang kamu buat adalah Karya yang menarik.’ oke.. lupakan kalimat tersbut, karena menurutku pada dasarnya Ceritaku hanya cerita Roman yang biasa2 saja dan masih banyak banget kekurangannya. tapi tolong, Jika kalian ingin Meremake sesuatu karya Tulis entah itu karyaku atau karya author yang lainnya, TOlong Minta Izin terlebih dahululah pada si penulis aslinya.. Kalian nggak tau betapa sakit hatinya seorang penulis saat Cerita mereka dimuat disuatu media dengan Nama orang lain, Saat ada komentar membahagiakan datang dari seorang pembaca tapi bukan untuk pemnulis aslinya, saat Beberapa pembaca membandingkan dengan karya Aslinya… Rasanya sakitt,,, sedihh dan kecewa… jujur aja, kemaren aku sampek nggak makan lohh… da sesekali menangis.. terlihat Lebbay mungkin, tapi itulah yang kurasain saat itu….

Dan alhaamdulillah semuanya sudah selesei sekarang… Tinggal yang di Fansbase FB itu.. tapi sudah lah… nanti mereka juga akan kena batunya sendiri jika terus2an memplagiat Karya orang.

Pesanku adalah.. Seberapa bagus pujian yang kalian dapat, seberapa banyak Like yang kalian peroleh, semuanya hanya Sia-sia Jika Karya yang kalian tulis Tidak Lebih dari Karya Orang lain yang Kalian Plagiat… Aku lebih memilih Tidak memiliki banyak pembaca, tidak ada yang Like ceritaku, tidak ada yang Komen bagus dalam Ceritaku, tapi Ada kebanggaan tersendiri saat mengingat itu cerita terlahir dari pikiranku, Dari keringatku saat siang hari, dan juga dari rasa kantukku saat tengah malam….

Sekian dan terimakasih Dariku.. semoga ceritaku ini memberikan pelajaran bagi kita semua bahwa apapun itu perbuatan kita entah itu baik atau buruk, suatu saat nanti pasti ada imbal baliknya… apapun itu yang kita tutupi, jika itu tidak benar pasti akan terbuka juga….

#SalamSayang #KissHugFromAuthorGaje #AntiPlagiatisme

Camera 360

    Zenny Arieffka