My Beautiful Mistress – Bab 3

Comment 1 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 3

 

Setelah memastikan Marvin pergi dari rumahnya, Jiro kembali ke dapur dan mencari keberadaan istrinya. Tapi ternyata, Sang istri sudah tidak berada di sana. Jiro akhirnya bergegas menuju ke arah kamar, biasanya, Ellie akan berada di dalam kamar mereka, entah sekedar membaca buku atau menonton film kesukaannya. Dan benar saja, rupanya istrinya itu sedang berada di sana.

“Aku belum selesai. Masih banyak yang harus kita bahas.”

“Aku tidak ingin membahas apapun.”

Jiro tak tahu harus memulai darimana. Di satu sisi ia ingin menjelaskan pada Ellie tentang gosip yang beredar beberapa hari terakhir, tapi disisi lain, ia merasa Ellie tak perlu mengetahui penjelasannya. Masalahnya, Jiro tak yakin kemarahan Ellie atau perubahan sikap wanita itu berhubungan dengan gosip kedekatan dirinya dengan Vanesha atau tidak.

“Aku tahu, kamu marah karena gosip yang beredar, kan?”

“Aku sudah bilang bahwa aku tidak peduli.”

Jiro mendekat. “Maafkan aku, seharusnya aku tidak mendatanginya saat itu.” Terus saja Jiro menjelaskan apa yang terjadi.

Ellie menatap Jiro seketika. “Kamu pikir aku peduli? Bukankah aku tak memiliki hak apapun untuk mempermasalahkannya?” Ellie menatap Jiro dengan tatapan beraninya.

“Kamu sangat berbeda, Ellie. Apa yang terjadi?”

“Pulangkan aku ke inggris.” Ellie berkata cepat. Padahal ia tahu bahwa bukan itu yang ia inginkan.

“Tidak. Aku tahu bukan itu keinginanmu. Kamu bersikap seperti ini hanya untuk mencari perhatianku, kan? Jika ya, maka selamat, kamu berhasil.”

Ellie tertawa lebar. “Aku tidak butuh perhatian sialanmu.”

“Lalu apa yang kamu butuhkan?” tanya Jiro kemudian.

Pengakuan… kasih sayang… dan cinta.. itulah yang Ellie butuhkan. Jika dulu Ellie tak membutuhkan hal itu karena ia cukup menerima keadaannya yang menjadi istri Jiro, maka berbeda dengan sekarang. Sekarang ia sedang mengandung bayi lelaki itu, bayinya. Dan Ellie ingin Jiro mencintainya, mengakuinya di depan umum agar kelak bayi mereka merasakan kebahagiaan yang sempurna.

“Aku sudah memberimu semuanya, Ellie. Apa masih kurang?”

“Benarkah? Coba sebutkan apa saja yang sudah kamu berikan padaku?” Ellie menatap Jiro dengan mata menantangnya.

“Aku sudah memfasilitasimu.”

“Hanya itu! Aku tidak menginginkan fasilitas sialanmu!” ya, meskipun dengan apa yang sudah diberikan Jiro selama ini kepadanya, nyatanya Ellie memilih tak menerima semua itu jika dirinya harus hidup seperti seorang simpanan.

Jiro mendekat hingga jarak diantara mereka hanya beberapa senti. Jiro meraih dagu Ellie dan bertanya penuh dengan penekanan. “Lalu apa yang kamu inginkan?”

Dengan berani Ellie menjawab. “Pengakuan.”

Jiro tercengang dengan keberanian istrinya tersebut. Selama ini, Ellie yang ia kenal adalah Ellie yang lugu, penurut, pemalu. Ellie yang tak pernah menuntut apapun. Dan kini, istrinya ini berubah seratus delapan puluh derajat. Jiro tak tahu apa yang membuat Ellie menginginkan sebuah pengakuan. Pengakuan yang tak akan pernah bisa Jiro berikan selama ia berambisi di dunia musik.

Dengan spontan, Jiro mundur satu langkah. “Kamu tahu kan, kalau itu tidak akan bisa kuturuti.”

“Ya, aku tahu, Semua itu karena ambisis sialanmu.”

Jiro menarik ujung bibirnya. “Kamu sudah berkali-kali mengumpat, Ellie.”

“Aku tidak mengumpat. Semua yang kamu lakukan memang sialan.”

Jiro tersenyum, kemudian ia kembali mendekat. “Apa yang kulakukan kali ini juga sialan?” tanyanya disertai dengan meraih dagu Ellie kemudian mencumbu habis bibir wanita itu. Ellie sempat meronta, sekuat tenaga ia mendorong Jiro hingga tautan bibir mereka terputus.

“Jangan sentuh aku!” Ellie berseru keras.

Jiro kembali mendekat. “Aku ingin.” Ucapnya sebelum kembali mencumbu bibir ranum Sang istri. Kali ini lebih lembut dari yang pertama. Meski awalnya Ellie menolak, tapi hasrat tak dapat membohongi dirinya.

Ellie juga menginginkan Jiro dan mungkin ini berhubungan dengan kehamilannya. Ellie tahu bahwa hormonnya sedang kacau. Beberapa hari terakhir, Ellie bahkan sering menangis sendiri, merindukan kehadiran Jiro. Padahal Ellie tahu, kalaupun Jiro datang, lelaki itu hanya akan menyetubuhinya tanpa tidur bersama dan memeluknya.

Ya, Ellie tau bahwa dirinya hanya sekedar alat pemuas lelaki itu. Tapi bodohnya ia tetap mengagumi sosok Jiro. Ellie merasa bahwa ini semua tak adil untuknya. Bagaimana mungkin ia begitu memuja lelaki itu sedangkan dirinya hanya tampak seperti seorang simpanan yang hanya dimanfaatkan untuk memuaskan lelaki itu?

Cukup!

Saat ini, Ellie tak ingin memikirkan hal itu, karena ia ingin menikmati ketika tubuh Jiro menyentuhnya. Dengan spontan Ellie mengeluarkan erangannya. Jemari Jiro meloloskan pakaiannya satu persatu hingga tanpa sadar saat ini Ellie hanya berdiri mengenakan pakaian dalamnya saja.

Jiro masih mencumbunya dengan intens, dan hal itu membuat Ellie tak mengerti, apa yang sedang terjadi dengan lelaki ini?

Ini memang bukan pertama kalinya Jiro menciumnya. Tapi lelaki itu tak pernah menciumnya dengan begitu bergairah seperti saat ini. biasanya Jiro hanya akan menciumnya sekilas, menyatukan diri, kemudian melakukan seks hanya untuk sebuah kewajiban dan kesenangannya. Tak jarang, hanya Jirolah yang mendapatkan kenikmatan tersebut, sedangkan tidak dengan Ellie.

Tapi kini, Ellie seakan sedang dipancing gairahnya, dan Ellie tak ingin mengakhirinya begitu saja hanya karena rasa sakit hatinya.

Dengan spontan, Ellie mengalungkan lengannya pada leher Jiro. Kakinya sedikit berjinjit karena tingginya yang tak sesuai dengan tinggi suaminya tersebut. Jemari Jiro merayap, menuruni perutnya, kemudian lelaki itu menghentikan aksinya.

Pada saat itu, Ellie merasa khawatir. Apa kehamilannya akan ketahuan?

Jiro melepaskan tautan bibir mereka kemudian matanya menatap Ellie penuh tanya. “Kamu…” ucapnya penuh tanya.

Dengan spontan Ellie kembali mengalungkan lengannya pada leher Jiro, kemudian mencumbu kembali bibir lelaki itu. Demi Tuhan! Ellie tak ingin membahas masalah itu saat ini, ketika gairahnya tumbuh dan menyala-nyala. Ia ingin Jiro berada di dalam dirinya, memuaskannya, bukan membahas tentang kehamilannya.

Dan ketika ia sudah sampai pada puncak kenikmatan nanti, Ellie berjanji akan mengatakan semuanya pada Jiro. Kini, ia hanya ingin melanjutkan apa yang sudah dimulai lelaki itu. Dan Ellie bersyukur karena ternyata Jiro kembali melanjutkan apa yang tadi dilakukan lelaki itu.

Jiro merapatkan tubuh Ellie pada tubuhnya, mencumbu Ellie kembali dengan panas dan menggoda. Oh, Ellie sangat yakin jika dirinya tak pernah dicumbu seperti ini. ia sangat yakin jika ia tak pernah sebergairah seperti saat ini. hingga akhirnya, Ellie tak kuasa menahan erangannya.

Jiro menyukainya, dalam cumbuannya ia tersenyum melihat istrinya begitu bergairah, sangat berbeda dengan biasanya yang hanya diam seperti boneka. Jika seperti ini, Jiro semakin merasa tergoda. Dan sial! Ia merasa tak ingin menunggu lebih lama lagi.

Jiro mengangkat tubuh Ellie, kemudian membaringkan wanita itu di atas ranjangnya. Sesekali ia melepaskan sisa-sisa pakaian yang membalut tubuh Ellie hingga wanita dibawahnya itu polos tanpa selehai benangpun. Jiro mencoba mengabaikan bentuh tubuh Ellie yang lebih berisi dari teakhir kali ia melihatnya. Tentu saja, kemarin, mereka bercinta dalam cahaya remang-remang. Jiro tak dapat melihat dengan jelas bagaimana tampilan tubuh Ellie. Dan kini, ia bisa melihatnya dengan jelas.

Ellie tampak lebih berisi, pinggangnya lebih lebar dari sebelumnya, dan perutnya, sedikit…. Tidak! Mungkin Jiro hanya salah melihat. Mencoba mengabaikan tubuh wanita dibawahnya tersebut yang tampak semakin menggoda, Jiro kembali menundukkan kepalanya. Kali ini ia menggapai sebelah payudara Ellie, mengodanya, hingga membuat istrinya tersebut menggelinjang nikmat.

Oh, Jiro sangat suka. Ia tak pernah melihat Ellie bereaksi seperti ini karena sentuhannya. Bagaiaman mungkin wanita ini bisa begitu berbeda?

Setelah cukup lama melakukan penetrasi, akhirnya Jiro tak dapat menunggu lebih lama lagi. Ia bangkit, melucuti pakaiannya sendiri satu demi satu hingga polos dan kembali menindih tubuh Sang istri. Jiro menatap tajam ke arah wanita di bawahnya tersebut kepalanya menunduk kemudian mencumbu bibir Ellie dengan nikmat sembari mencoba menyatukan diri.

Penyatuan yang begitu sempurna.

Jiro mendesah panjang ketika Ellie terasa begitu nikmat. Wanita itu membungkusnya dengan lembut, dan Jiro akan bersikap lembut pula agar tidak menyakiti wanita di bawahnya tersebut.

Jiro mulai bergerak, pelan tapi pasti. Menghujam lagi dan lagi, mencari kenikmatan untuk dirinya dan memberi kenikmatan untuk diri Ellie. Erangan Ellie membuat gairahnya semakin menanjak. Ia tak pernah melihat Ellie seperti ini. ia sangat menyukainya, tapi disisi lain, Jiro merasa bahwa pertahanannya mulai runtuh.

Sial! Ia tidak boleh membiarkannya.

Ellie memang istrinya tapi Jiro tahu bahwa dalam waktu dekat, ia tidak akan bisa menuruti kemauan Ellie tentang pengakuan didepan publik tersebut.

Jiro bergerak semakin cepat hingga Ellie tak kuasa menahan diri. Gelombang kenikmatan menghantam wanita itu, membuatnya mengerang, menyebutkan jama Jiro. Jiro sangat suka saat Ellie memangil nama aslinya. “James… James… Ohh…”

Panggilan-panggilan erotis tersebut membuat Jiro tak mampu bertahan lebih lama lagi. Dalam dua kali hentakan, ia kembali menumpahkan gairahnya ke dalam tubuh Ellie.

***

Ellie masih terbaring miring memunggunginya. Sedangkan Jiro tak tahu harus berbuat apa. Percintaan mereka tadi benar-benar sangat panas, bahkan mungkin palig panas diantara percintaan yang pernah mereka lakukan.

Sialnya, setelah mengingat bagaimana panasnya Ellie, Jiro kembali menginginkan wanita itu.

Brengsek!

Padahal Jiro tahu bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menambah ‘jatahnya’ lagi. Ada satu hal yang diembunyikan Ellie dan Jiro harus memaksa wanita itu untuk mengatakannya.

“James.” Suara Ellie terdengar lembut, seakan menggelitik telinganya, menggoda untuk membangkitkan gairahnya. “Ada yang ingin kukatakan.” Wanita itu melanjutkan kalimatnya.

“Katakan.” Jiro berharap jika apa yang ia pikirkan tidak benar, dan Ellie tak akan mengatakan apapun yang tadi sempat ia pikirkan.

“Aku hamil.”

Jiro membeku seketika. Ia salah dengar. Ya, ia pasti salah dengar.

Karena tak mendapatkan tanggapan apapun, Ellie membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Jiro. “Kamu dengar aku, kan? Aku hamil.” Ucapnya dengan jengkel karena tak mendapatkan reaksi apapun dari suaminya tersebut.

“Aku dengar.”

“Lalu?” Ellie masih menunggu reaksi Jiro.

“Kenapa bisa?” tanyanya dengan spontan.

“Kenapa bisa? Kamu meniduriku, tentu saja aku bisa hamil.”

“Kita sudah sepakat Ellie. Kita sudah sepakat untuk mencegahnya.”

Ellie duduk dan membenarkan letak selimutnya. “Sudah Empat tahun dan aku ingin berhenti. Aku ingin memiliki bayi. Persetan dengan apa yang kamu inginkan.”

Jiro ikut terduduk. “Kamu sudah mulai berani membantah.”

“Ya. Kenapa? Kamu ingin marah? Aku tidak peduli.” Ellie bersiap pergi, tapi secepat kilat Jiro meraih pergelangan tangannya.

“Kita belum selesai, Ellie.”

Ellie menghempaskan cekalan tangan Jiro. “Bagiku, tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau, Sekarang kamu boleh pergi.” Ucapnya dengan dingin.

Jiro benar-benar tak habis pikir dengan istrinya ini. bagaimana mungkin Ellie bisa berubah sebanyak ini? yang yang lebih menyebalkan lagi adalah, bagaimana mungkin perubahannya sangat berpengaruh terhadap diri Jiro?

***

Jiro benar-benar pergi setelah Ellie memintanya pergi. Meski begitu, ia tidak akan mengabaikan wanita itu begitu saja. Astaga, wanita itu sedang hamil, mengandung anaknya, dan Jiro tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya pada wanita itu.

Kini, ia melemparkan diri di atas sofa panjang apartmennya, kemudian mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.

“Halo.” Dalam deringan kedua, panggilan tersebut diangkat.

“Mei. Sial! Bagaimana mungkin kamu tidak memberitahuku tentang kehamilannya?”

“Kamu sudah tahu?”

“Tentu saja. Ellie sendiri yang memberitahuku.”

“Dia memintaku untuk tutup mulut. Aku bisa apa?” Mei tampak mendesah panjang. “Apa lagi yang kamu lakukan padanya? Dia tidak ingin membuka pintu kamarnya sepanjang sore.”

“Kamu yakin?” Jiro sedkit khawatir.

“Ya. Dia sedang merajuk. Aku tahu itu. Dan ketika Ellie sudah merajuk, tidak ada satu hal pun yang bisa kulakukan selain menunggumu kembali.”

“Brengsek, Mei! Aku bahkan baru istirahat di apartmenku. Masa iya aku harus balik lagi?” Jiro benar-benar tak habis pikir dengan Ellie. Tadi, setelah pergi dari rumahnya, Jiro memang sempat mampir ke studio musik Jason untuk menenangkan diri dari rasa shocknya. Setelah itu ia pulang ke apartmennya. Kini, Jiro hanya ingin istirahat. Tapi Ellie, ia tidak bisa mengabaikan wanita yang sedang merajuk itu.

“Lagi pula, ini kan rumahmu. Kenapa kamu nggak tinggal di sini sementara selama dia hamil.”

“Kamu tentu tahu aku nggak bisa ngelakuin itu. Media akan mengendusnya dan itu akan menjadi gosip.”

“Tapi kamu harus memikirkan Ellie dan bayi kalian. Dia membutuhkan kamu di sisinya. Lagi pula, aku tidak yakin dia mau membuka pintunya sampai besok. Dia sangat keras kepala, dan jangan lupakan kalau dia belum makan sejak tadi siang.”

“Sial! Brengsek!” Jiro bangkit seketika. Ia bahkan sudah mematikan sambungan teleponnya.

Jiro meraih jaket dan juga topinya. Kemudian segera bergegas keluar dari apartmennya. Ya, walau bagaimanapun, Jiro tidak bisa mengabaikan keadaan Ellie, apalagi setelah tahu bahwa wanita itu sedang mengandung anaknya.

Hari ini, Jiro merasa kalah. Ia merasa bahwa Ellie mampu memporak-porandakan perasaannya selama seharian penuh. Tapi Jiro bersumpah bahwa hanya hari ini harga dirinya jatuh pada seorang Ellisabeth Williams. Tidak akan ada hari-hari selanjutnya lagi. Karena setelah ini, Jiro akan membenahi hubungan mereka, ia akan menerapkan beberapa peraturan untuk dipatuhi bersama hingga tak akan ada yang merasa dirugikan lagi diantara mereka. Ya, demi bayi mereka, hubungan mereka, dan juga masa depan mereka kedepannya, Jiro akan berusaha untuk mengalah dan mencari jalan tengah untuk kebaikan bersama.

-TBC-

 

Advertisements

My Beautiful Mistress – Bab 2

Comment 1 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 2

 

“Aku benar-benar tidak menyangka jika kamu akan seberani itu dengan Jiro.” Ucap Mei ketika keduanya saat ini sudah berada di dalam sebuah supermarket untuk berbelanja kebutuhan mingguan Ellie.

“Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan sikapku?”

Mei tersenyum lembut. “Enggak, tapi, Jiro pasti sangat terkejut saat mendapati istrinya sekarang menjadi sedikit membangkang.”

Ellie berpikir sebentar. “Membangkang? Seperti tidak menurut?” tanya Ellie. Ia memang kadang masih suka lupa dengan bahasa indonesia.

“Ya. Seperti itu.”

Ellie menghela napas panjang. “Dulu aku tidak memiliki apapun untuk kuperjuangkan. Sekarang aku memiliki dia.” ucapnya sembari mengusap perutnya yang sudah mulai memiliki gundukan mungil.

“Jadi, apa rencanamu?”

“Aku akan membuat dia mengerti, bahwa dia tidak bisa seenaknya seperti dulu. James memang Artis, dia memang Bassis ternama di negeri ini. tapi di mataku, dia hanya lelaki biasa, dan dia adalah suamiku. Jadi aku akan berusaha merebut perhatiannya.”

“Bagus sekali, Ellie. Apa kamu tahu, dia benar-benar cengo saat kamu melawannya tadi pagi. Astaga, mukanya lucu sekali.” Mei tertawa lebar saat mengingat bagaimana wajah terkejut Jiro saat Ellie menyebut Jiro adalah salah satu orang yang paling buruk yang pernah wanita itu kenal.

Ellie ikut tertawa lebar, tapi kemudian ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari bertanya “Ngomong-ngomong, Cengo itu apa?”

Seketika itu juga, tawa Mei lenyap. Ia memutar bola matanya dengan kesal ke arah Ellie. Ya, bukan salah wanita itu, tapi terkadang, Mei merasa jengkel jika harus menjelaskan setiap kata yang tidak dimengerti oleh wanita itu.

***

Jiro bermain-main dengan gitar milik Ken. Selain memainkan Bass, Jiro memang pandai bermain gitar. Ketika dirinya sedang santai seperti ini, Jiro memilih memainkan gitar dengan sesekali bersenandung sendiri.

Hari ini, mereka tak ada latihan, Jason sedang sibuk dengan masalahnya sendiri, dan itu benar-benar membuat Jiro kesal. Sebentar lagi mereka akan tampil di sebuah konser yang akan di siarkan secara langsung di beberapa TV nasional. Jiro hanya tak ingin mereka melakukan sebuah kesalahan pada acara Live tersebut.

Meski begitu, Jiro menahan diri agar tidak terlalu memaksa Jason. Bagaimanapun juga, ia juga pernah merasakan apa yang di rasakan Jason. Ketika Jiro tak berada pada mood yang baik, ia juga tak dapat memainkan alat musik apapun. Dan sepertinya, hal itu pulalah yang terjadi dengan Jason.

“Woi, ngelamun aja lo.” Troy datang. Sendiri. sedangkan Ken tak ikut dengan temannya itu.

“Elo sendirian?”

“Ya. Kenapa? Kita kan lagi nggak ada jadwal latihan.”

Jiro hanya mengangguk. “Ken mana?” tanya Jiro kemudian.

“Nggak tau, mungkin lagi jalan sama ceweknya. Gue telpon dia dari pagi nggak diangkat.”

Troy menuju ke arah lemari pendingin yang berada di ujung studio musik tempat mereka latihan. Ia mengambil sekaleng minuman dingin dan kembali menuju ke arah Jiro.

“Elo sendiri ngapain di sini sendirian? Ngelamunin apa lo? Vanesha?” tanya Troy yang kini sudah duduk tepat di sebelah Jiro.

“Elo apaan sih.”

Well, gue sudah baca gosip tentang elo sejak kemaren. Gue pengen tanya tapi, gue tau kalau elo nggak pernah mau bahas masalah pribadi elo dengan kita-kita.”

“Kalau gitu, sekarang ngapain elo bahas masalah ini sama gue. Gue nggak akan mau cerita.”

“Ayolah. Gue bukan wartawan. Dan astaga, asal elo tahu, Vanesha pernah gue tidurin.”

Jiro menatap Troy seketika. “Berengsek lo.” Umpatnya.

Sebenarnya, Troy merasa tak memiliki hubungan apapun dengan Vanesha. Vanesha adalah seorang model. Mereka memang pernah beberapakali bertemu karena pekerjaan, kemudian keluar bersama beberapa kali. Jiro pernah mencium Vanesha saat mabuk, dan sialnya, The Danger (sekumpulan wanita gila yang mengaku fans fanatik mereka) mengetahui hal itu dan memotretnya. Memberi peringatan pada Jiro. Tapi Jiro tentu tak mengindahkannya. Kemudian, foto itu tersebar. Itulah awal mula gosip tentang dirinya dan Vanesha merebak.

Gosip tersebut semakin panas ketika sekitar tiga atau empat hari yang lalu, Jiro kembali kepergok keluar dari gedung apartmen Vanesha pagi-pagi buta. Jiro menghela napas panjang, ia benar-benar menyesali perbuatannya.

Apa karena itu Ellie bersikap berbeda kepadanya? Apa Ellie mengetahui tentang berita itu? Sejauh yang Jiro tahu, Ellie lebih suka menonton acara-acara luar atau memutar DVD. Tapi, mengingat sikap wanita itu yang tak biasa membuat Jiro khawatir. Jangan-jangan, Ellie benar-benar telah mengetahui gosip tentang skandalnya dengan Vanesha.

Mengingat itu, Jiro berdiri seketika. Ia ingin memastikan tentang hal itu. Apa benar, Ellie sudah mengetahui tentang semuanya?

Tanpa banyak bicara, Jiro melesat keluar. Hal itu benar-benar membuat Troy heran. Sambil menggelengkan kepalanya, dia bertanya pada dirinya sendiri. “Gue salah ya, karena sudah jujur tentang cinta semalam gue sama Vanesha?”

***

Waktu sudah menunjukkan pukul Empat sore. Tapi Jakarta hari ini benar-benar panas. Yang membuat kesal Ellie adalah, selain tadi sempat terjebak macet, kini mobil Mei tiba-tiba mogok di jalan, hal itu benar-benar membuat mood Ellie memburuk.

“Aku sudah menelepon Marvin. Dia akan jemput kamu.”

Ellie mengerutkan keningnya. “Marvin? Kenapa harus dia?” Ellie merasa tidak nyaman.

Marvin adalah adik sepupu Mei. Mereka memang pernah beberapa kali bertemu. Yang membuat Ellie tak nyaman adalah karena Marvin pernah secara terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Ellie. Ya, lelaki yang sebaya dengannya itu memiliki perasaan lebih padanya.

“Karena hanya dia orang yang kukenal dan bisa menjemputmu kapanpun.”

“Nggak perlu.” Ellie menjawab cepat. “Aku akan menunggu di sini denganmu.”

“Ayolah Ellie. Aku tahu kamu kepanasan. Dan menunggu mobil derek akan lama. Lagian, Marvin nggak jauh dari sini. Jadi sebentar lagi dia sampai.”

Ellie menghela napas panjang. Apapun itu, ia akan menerimanya. Ya, bukankah memang Mei yang selalu menjadi bossnya?

Tak lama, orang yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Lelaki tampan itu keluar dari dalam mobilnya dengan senyuman khasnya. Siapapun akan terpada dengan lelaki itu, tapi tidak dengan Ellie.

Bagi Ellie, lelaki yang paling tampan adalah suaminya, James Drew Robberth. Tak akan ada yang mampu membuatnya terpesona selain lelaki itu.

“Hai, aku senang dihubungi.” Marvin berbasa-basi.

“Nggak perlu berbasa-basi. Sekarang, angkut saja belanjaan kami, dan antar Ellie pulang.”

Dengan tawa lebar, Marvin menuju ke arah bagasi. “Oke, kebetulan aku sedang ingin minum kopi. Kuharap aku mendapatkan secangkir kopi di sana nanti.”

Ellie mendengus sebal. Ia tahu, bahwa tak akan mudah mengusir Marvin nantinya. Tapi, ya sudahlah. Toh ia sudah menolak lelaki itu secara terang-terangan. Marvin pasti tak akan berbuat macam-macam apalagi mengingat ada dua pengawal yang selalu berjaga di rumahnya.

***

“Oke, ini yang terakhir.” Ucap Marvin setelah menaruh bingkisan terakhir di meja dapur Ellie. Ellie sendiri sedang sibuk membuatkan kopi untuk lelaki itu. Meski sedikit tak nyaman tapi sangat tidak pantas kalau ia mengusir Marvin tanpa memberinya minum terlebih dahulu.

Ellie menyuguhkan kopi untuk Marvin. “Minumlah.” Ucapnya sembari bergegas membuka-buka barang belanjaannya.

“Kalian habis ngerampok supermarket, ya?” tanya Marvin dengan nada bercanda. Lelaki itu memang memiliki selera humor tinggi. Tentu sangat berbeda dengan Jiro, suaminya.

“Ya, selain supermarket, kami juga merampok toko perlengkapan rumah tangga.” Ucap Ellie sembari menunjukkan beberapa pisau dapur yang baru saja ia beli.

Marvin tertawa lebar. “Hahaha, lucu sekali.” Marvin menyesap kopi buatan Ellie. “Kopimu memang selalu yang terbaik.”

“Tentu saja. Karena kamu meminumnya gratis.” Ellie menjawab lagi-lagi dengan nada ketus.

Marvin tersenyum. Ia senang melihat sikap Ellie yang seperti ini. setidaknya, Ellie tidak dapat menyembunyikan rona merah di pipi wanita itu. Marvin lalu berdiri dan mendekat ke arah Ellie. “Ngomong-ngomong, aku suka dengan sikapmu yang sekarang.” Ucap Marvin dengan parau.

Ellie mengangkat wajahnya seketika menatap ke arah Marvin. “Apa maksudmu?”

Jemari Marvin terulur, mengusap lembut rona merah di pipi Ellie. Ellie ingin sekali menghindar, tapi ia tidak mau sikapnya yang menghindar membuat Marvin berpikir bahwa kehadiran lelaki itu berpengaruh terhadapnya.

“Keketusanmu, sangat kontras dengan rona merah di pipimu.” Bisiknya dengan nada parau. “Akui saja, kamu gugup berada di dekatku, sejak aku menyatakan perasaanku beberapa bulan yang lalu, kan?”

Ellie sangat kesal dengan sikap lelaki di hadapannya ini. Hampir saja ia membuka suara, sebelum suara keras yang lain datang menambah ketegangan diantara mereka.

“Singkirkan tangan sialanmu dari wajah istriku!”

Ellie dan Marvin menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut. Tampak Jiro berdiri menjulang di dekat meja makan dengan mata penuh dengan kemarahan.

“James. Kenapa kamu di sini?” tanya Ellie tak percaya.

Biasanya, setelah mendapatkan ‘jatahnya’, Jiro akan pergi, dan paling cepat akan mengunjungi Ellie Tiga hari setelahnya. Bahkan kemaren, lelaki itu tidak mengunjunginya sama sekali selama Tiga minggu terakhir. Lalu untuk apa lelaki itu datang kemari padahal baru tadi pagi dia keluar dari rumah ini?

“Kenapa aku di sini? Ini rumahku! Seharusnya pertanyaan itu kamu lemparkan pada dia.” Jiro menunjuk Marvin dengan marah.

Marvin mundur menjauh dan mengangkat kedua belah telapak tangannya. Well, sebelumnya, Marvin memang sudah mengetahui tentang Ellisabeth Williams yang merupakan istri dari seorang Bassis terkenal yang bernama Jiro The Batman. Tapi hal itu tak serta merta membuat Marvin mengundurkan diri atau memupus ketertarikannya dengan sosok Ellie. Kecantikan Ellie bahkan mampu membutakan mata Marvin bahwa wanita itu sudah menjadi istri orang. Yang membuat Marvin tak mengerti adalah, kenapa Jiro menyembunyikan istri secantik ini dari publik? Apa pria itu gila?

“Aku disini karena diminta.” Marvin menjawab dengan tenang.

“Diminta?” Jiro mendekat ke arah mereka berdua. Tatapan mata Jiro menajam ke arah Ellie. Jika dulu Ellie akan takut, maka tidak sekarang. “Kenapa kamu memintanya kemari?”

Ellie berusaha mengendalikan dirinya, bahkan ia bersikap seolah-olah tak mempedulikan kemarahan yang tampak jelas terlihat di wajah suaminya.

“Kamu nggak lihat semua ini, James?” ucap Ellie sembari menunjukkan barang-barang belanjaannya. “Mobil Mei mogok, dan Mei memintanya untuk menjemputku dan mengantarku pulang.” Ellie menjelaskan dengan nada malas.

“Kenapa harus dia?!” tanya Jiro lagi dengan nada yang masih meninggi.

“Kenapa harus dia?” Ellie mengulang lagi pertanyaan Jiro. “Karena suamiku lebih sibuk dengan karir sialannya dibandingkan denganku. Apa kau puas?” Ellie menjawab dengan marah.

Marvin yang berada di sana merasa sedang terjebak diantara dua gunung berapi yang sedang memuntahkan lava.

“Karirku tidak sialan, Ellie!”

“Ya, mungkin tidak. Tapi perempuan-perempuan itu yang membuatnya menjadi sialan dimataku.”

Pada detik itu, Jiro tahu bahwa Ellie ternyata mendengar gosip murahan tentang dirinya dan juga Vanesha. “Jadi kamu cemburu karena gosip-gosip itu?”

“Tidak. Cemburu adalah hal yang sangat kekanakan.”

“Jadi menurutmu aku kekanakan?” dengan spontan Jiro bertanya.

“Jika kamu merasa sedang cemburu, maka ya, kamu kekanakan.” Ellie menjawab dengan santai.

“Aku tidak kekanakan, aku cemburu karena istriku disentuh oleh lelaki lain! Apa itu salah?”

“Oh yang benar saja. Dia hanya menyentuh pipiku, sedangkan kamu. Kamu berciuman dengan perempuan itu!” Ellie berseru keras tak dapat menahan emosinya ketika mengingat gosip yang ia dengar sejak dua hari belakangan. Sungguh, Ellie sangat marah, apalagi kabar tentang Jiro yang keluar dari apartmen wanita itu pagi-pagi buta dan tertangkap oleh kamera wartawan. Untuk apa Jiro berada di sana?

Kali ini, Jiro mengerti kemarahan Ellie bersumber dari mana. Meski begitu, Jiro tahu bahwa hal itu tak membenarkan apa yang dilakukan Ellie tadi. Berduaan dengan lelaki lain di rumah mereka.

Jiro menatap Marvin dengan tatapan membunuhnya. “Gue pikir, mending elo keluar. Gue mau bahas sesuatu dengan istri gue, hanya berdua.” Ucap Jiro dengan penuh penekanan terhadap Marvin.

“Kenapa kamu mengusirnya?” Ellie bertanya.

“Aku ingin membahas sesuatu denganmu.”

“Tak ada yang perlu dibahas.” Ellie mengibaskan telapak tangannya seakan tak ingin mendengar apapun penjelasan dari suaminya.

Mata Jiro kembali menatap tajam ke arah Marvin, dan lelaki itu akhirnya mengalah. Ia megerti bahwa ini bukan saat yang baik untuk melanjutkan rencananya menggoda Ellie.

“Oke, aku pergi dulu. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, kamu bisa menghubungiku.” Ucap Marvin pada Ellie.

“Dia tidak akan membutuhkan apapun!” Jiro berseru dengan penuh penekanan.

Sungguh, Jiro tak suka dengan lelaki itu. Caranya menatap Ellie membuat Jiro marah. Dan reaksi yang ditampilkan istrinya itu membuat Jiro tak dapat menahan segala emosinya. Ellie hanya miliknya, dan Jiro tak akan membiarkan siapapun mendekati atau menyentuh tubuh istrinya tersebut.

-TBC-

Special Pict mereka berdua nihhh aku editin special buat kalian, hahhahaha

My Beautiful Mistress – Bab 1

Comments 2 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 1

 

Ellie bangung ketika jam weker di nakas berbunyi nyaring. Ia meraih jam tersebut lalu mematikannya. Sesekali ia mengucek matanya kemudian ia segera bangkit menuju ke arah kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, Ellie sudah membayangkan apa yang akan ia lakukan hari ini. mungkin berbelanja keperluan dapurnya yang sudah habis, lalu memasak makanan enak.

Sejak menyadari tentang kehamilannya, Ellie memang selalu merasa lapar. Dan beruntung karena ia tidak merasakan mual muntah seperti kebanyakan wanita hamil pada umumnya.

Keluar dari dalam kamar mandi, Ellie menuju ke arah ruang ganti. Di sana terdapat lemari-lemari besar yang menyatu dengan dinding. Meja untuk make up, serta rak-rak tempat untuk menata barang-barangnya seperti tas atau sepatu. Setiap kali memasuki ruangan tersebut, Ellie selalu membatu. Ruangan sebesar itu sangat tak cocok jika ditempati oleh pakaiannya dan juga barang-barangnya sendiri. Ellie tentu bukan orang yang hobby menghabiskan uang hanya untuk Fashion, dia lebih sederhana dari itu. Pakaiannya yang berada di sana mungkin hanya celana jeans, kemeja, t-shirt dan baju santai lainnya. Mungkin nanti akan bertama dengan beberapa baju hamil. Tapi tetap saja, Ellie merasa bahwa ada yang kurang di sana.

Tentu, itu adalah pakaian Jiro.

Meski rumah ini dibangun untuk mereka berdua, nyatanya, sangat sedikit sekali barang-barang Jiro yang berada di rumah ini. tentu karena lelaki itu hampir tak pernah pulang, kecuali meminta ‘jatah’ padanya.

Ellie mendesah panjang mengingat kenyataan tersebut.

Kaki mungilnya melangkah menuju ke salah satu lemari. Jemarinya terulur membuka dan memilih pakaian yang ingin ia kenakan hari ini. Kemudian, ingatannya kembali pada waktu empat tahun yang lalu, saat ia masih tinggal di inggris, bersama dengan orang tuanya, kemudian dinikahkan dengan seseorang yang tidak ia kenal. Seorang lelaki tampan bernama James Drew Robberth.

Pernikahan mereka saat itu sebenarnya hanya karena perjodohan dimasa lalu. Ellie yang memang seorang gadis polos dan menurut dengan orang tuanya akhirnya menerima dengan senang hati perjodohan tersebut. Tapi Ellie tidak mengerti, kenapa Jiro menerimanya saat itu, jika pada akhirnya, ia akan dicampakan di negeri ini.

Setelah menikah, Ellie lantas diboyong ke Indonesia. Ellie ingat dengan jelas bagaimana tahun pertama ia lewati di negeri ini. Sangat berat. Ia tidak mengerti bahasanya, makanyannya tidak sesuai, cuacanya, dan banyak lagi. Intinya, Ellie dipaksa untuk beradaptasi dengan cepat, dan sendirian.

Ya, karena saat itu, Jiro berkata jika lelaki itu ingin mengejar mimpinya, jadi sementara Ellie harus tinggal di rumah ini sendirian, hanya dengan seorang pengurus yang bahkan tak seberapa mahir berbahasa inggris.

Pada saat Jiro mengatakan Sementara, Ellie berpikir jika itu hanya beberapa bulan kedepan. Nyatanya, lelaki itu menyembunyikan dirinya hingga kini, sudah empat tahun lamanya.

Ellie mendesah panjang. Mungkin jika dulu ia tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan Jiro, maka berbeda dengan saat ini. Ellie merasa bahwa dirinya hanya diperlakukan sebagai seorang simpanan. Yang akan dikunjungi saat dibutuhkan dan akan dicampakan saat sudah bosan.

Karir Jiro yang menanjak pesat bersama dengan The Batman beberapa bulan terakhir membuat lelaki itu seakan melupakan keberadaannya. Jiro sekarang hampir tak pernah pulang, kadang sebulan dua kali, sekali, bahkan kadang tak pulang sama sekali. Dan ketika lelaki itu pulang, lelaki itu hanya melakukan apa yang dia inginkan kemudian pergi setelah mendapatkan semuanya.

Ellie benar-benar merasa bahwa ia menjadi sipanan Jiro. Belum lagi kenyataan bahwa setiap hari Ellie harus melihat suaminya itu dikerubungi oleh para fans perempuannya, gosip-gosip tentang Jiro yang main ke kelab malampun membuat Ellie semakin kesal.

Kenapa ia tak dipulangkan saja?

Berkali-kali Ellie menanyakan kalimat itu, tapi nyatanya, Jiro menolak dengan tegas.

Saat Ellie mengenakan pakaian sederhananya, ia menghirup aroma sesuatu. Seperti sebuah masakan. Ellie tersenyum dan mengusap perutnya saat merasa perutnya sudah keroncongan. Itu pasti Mei, orang yang dipekerjakan Jiro untuk mengurus semua tentangnya.

Dari Mei lah, Ellie belajar tentang negeri ini, tentang bahasanya, budayanya, dan banyak lagi yang seharusnya ia dapatkan dari Jiro, tapi Mei lah yang malah mengenalkan semuanya padanya.

Mengabaikan rambutnya yang masih setengah basah, Ellie akhirnya melangkah keluar dari ruang ganti dan segera menuju ke arah dapur. Setidaknya, Ellie bersyukur mengenal Mei. Ia berterimakasih karena ada Mei yang selama ini membuatnya tak terlalu merasa kesepian. Perempuan itu mungkin usianya lima tahun lebih tua ketimbang dirinya yang kini masih berusia 27 tahun. Mei selalu memposisikan diri sebagai kakak yang baik, teman yang bisa diajak bercerita, orang tua yang perhatian, serta banyak lagi.

Dengan semangat, Ellie melangkahkan kakinya. Perutnya sudah keroncongan, mungkin bayinya sedang memprotes untuk segera dikenyangkan. Ia sudah membayangkan mungkin pagi ini Mei memasak Nasi goreng dengan dikombinasikan dengan Bacon panggan, atau mungkin yang lainnya. Tapi ketika Ellie sampai di area dapur rumahnya, kaki telanjangnya terhenti seketika saat melihat siapa yang ada di sana.

Tubuh tinggi kekar Jiro tampak menjulang memenuhi dapur tersebut. Lelaki itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendeknya. Rambut sebahunya tampak diikat sembarangan. Meski begitu Jiro tampak begitu tampan, dan astaga, lelaki itu mampu membuat jantung Ellie berdebar tak menentu.

Entah, ini sudah yang keberapa kalinya Ellie merasakan perasaan seperti saat ini. Jiro sering kali mengaduk-aduk perasaannya, tapi Ellie tentu tak ingin menunjukkan hal tersebut pada Jiro.

Dengan sedikit ragu, kaki Ellie melangkah mendekat. Ia bertanya “James? Apa yang kamu lakukan di sini?” Ellie memang selalu memanggil Jiro dengan nama asli lelaki itu. Karena sejak awal pertemuan mereka, Jiro memang mengenalkan diri sebagai James Drew Robbert, bukan Jiro seorang Bassis terkenal.

Jiro menolehkan kepalanya ke arah Ellie, dan demi Tuhan! Lelaki itu sangat tampan.

“Aku sedang bermain dengan Pan. Tentu saja aku sedang masak.”

Oh, apakah lelaki ini baru saja melempar lelucon padanya? “Maksudku, bukannya seharusnya kamu pulang semalam?”

“Ini rumahku. Aku sudah pulang.”

Well, kupikir kamu lupa jalan pulang.” Sindir Ellie sembari menyandarkan tubuhnya pada bar dapur.

“Jangan memancingku, Ellie. Lebih baik kamu duduk, aku akan membuatkanmu sarapan.”

“Aku lebih suka Mei yang membuatkannya.” Jawab Ellie cepat.

Jiro menghentikan pergerakannya seketika. “Sepertinya baru tiga minggu aku tidak pulang. Dan kamu sudah berubah, dari wanita yang lemah lembut menjadi wanita yang suka membantah.”

“Dan sepertinya, baru tiga minggu Suamiku tak pulang. Sekarang dia pulang dan berubah, dari pria acuh tak berperasaan, menjadi pria cerewet yang tiba-tiba masak di pagi hari.”

“Cukup, Ellie. Kalau kamu memancingku untuk bertengkar denganmu, maaf, aku tidak berminat.” Jiro membalikkan tubuhnya, memunggungi Ellie dan melanjutkan aktifitasnya memasak. Sedangkan Ellie memilih pergi dari sana.

Meski dalam hati Ellie ingin berada lama-lama di sana dan melihat bagaimana tampannya sang Suami pagi itu, nyatanya Ellie ingin mengabaikannya. Ia tidak ingin terlalu terpesona dengan suaminya kemudian berakhir dengan sakit hati sendiri.

Bell pintu rumahnya berbunyi, kemungkinan itu adalah Mei. Ellie akhirnya memilih menuju ke arah pintu rumahnya kemudian membukanya. Sosok Mei segera menghambur memeluknya. Meski status wanita itu hanya pekerja di sana, tapi Ellie merasa bahwa Mei sudah seperti keuarganya senidri, begitupun sebaliknya. Bahkan hingga kini, yang mengetahui tentang kehamilannya hanya Mei, Ellie bahkan belum memikirkan untuk memberitahu yang lainnya.

“Maaf, aku terlambat. Aku harus menunggu mini market depan rumahku buka dulu, untuk membelikanmu susu hamil.”

Ellie segera membungkam bibir Mei hingga membuat Mei bingung dengan apa yang dilakukan wanita di hadapannya tersebut. Ellie mendorong Mei keluar kemudian dia berkata “James, ada di dalam.” Ucapnya pelan.

“Jiro? Ngapain dia di sini? Tumben banget.”

“Aku tidak tahu. Dia tidur di sini tadi malam.”

Mei memutar bola matanya kesal. “Dia sedang minta jatah, tapi tumben dia menginap.” Lalu Mei menatap ke arah Ellie dengan mata menuntut “Kamu sudah bilang tentang keadaanmu padanya, kan?”

Ellie menghela napas panjang “Belum.” Jawabnya lemah.

“Astaga Ellie. Dia harus tahu.”

“Aku takut James marah.” Jawabnya dengan polos.

“Marah? Marah kenapa?” suara berat itu benar-benar membuat terkejut keduanya. Ellie membalikkan tubuhnya dan mendapati Jiro yang ternyata sudah berdiri menjulang di belakangnya.

Bicara tentang postur tubuh, Jiro memang sangat tinggi. Jika dibandingkan dengan Ellie, tinggi Ellie hanya sebahu lelaki itu. Ellie memang memiliki postur tubuh mungil, tapi bagi Jiro, tubuh Ellie sudah sangat cukup untuk memuaskannya.

“Kamu, sejak kapan kamu di sana?” tanya Ellie dengan panik.

“Ada yang kalian sembunyikan dariku?” Jiro berbalik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Ellie sebelumnya.

“Tidak.” Ellie menjawab cepat. “Ayo masuk.” Ellie mengajak Mei masuk dan mencoba mengabaikan keberadaan Jiro di sana.

Jiro hanya menatap keduanya dengan tatapan anehnya. Sebelah alisnya terangkat saat mencurigai jika mungkin saja ada yang disembunyikan Ellie dan juga Mei darinya. Mengabaikan itu semua, Jiro mengikuti dua wanita itu masuk.

***

Sarapan dalam diam. Hanya terdengar bunyi sendok dan piring saling beradu di atas meja makan. Sesekali, mata Jiro mengamati wanita di hadapannya.

Ellisabeth Williams, wanita yang ia nikahi sejak hampir empat tahun yang lalu. Dalam kurun waktu itu, tentu banyak yang berbeda dengan wanita ini. Jika dulu Ellie adalah seorang yang pendiam, bahkan penurut, maka kini Ellie sedikit berbeda. Seperti tadi pagi, wanita itu bahkan tak takut untuk membalas setiap perkataannya. Ellie yang dulu bukan Ellie yang seperti itu.

Sekarang, wanita ini bahkan tampak lebih matang dari sebelumnya. Dan hal itu benar-benar mengganggu Jiro.

Jika dulu Jiro bisa mengabaikan keberadaan Ellie, maka beberapa bulan terakhir ia terganggu dengan wanita itu. Itu pulalah yang menyebabkan Jiro memilih untuk jarang pulang ke rumahnya dan memilih menghabiskan waktu sendirian di apartmennya.

Bagi Jiro, ia merasa asing dengan perasaan yang ia rasakan saat ini. Jiro bukanlah lelaki seperti Ken atau Jason yang tunduk dengan kata cinta. Bisa dibilang, Jiro tak pernah merasakan perasaan seperti itu sebelumnya.

Sejak kecil hingga besar, dirinya dirasuki sebuah obsesi dan ambisi yang tinggi tentang sebuah karir. Padahal, Jiro bukanlah orang tak punya. Ayahnya merupakan pengusaha asing asal inggris yang sukses di bidangnya. Jiro selalu ingin seperti Sang Ayah. sukses dibidang yang ia sukai. Lalu dia menjajal karir di dunia intertaiment. Dan kini, dirinya bisa dibilang berada di puncak karirnya bersama dengan The Batman.

Dukungan dan pujian dari ayahnya membuat Jiro mengejar apa yang ia suka. Meski ia tahu suatu saat dirinya harus kembali meneruskan usaha Sang Ayah. Jiro menikmati kesuksesannya, tapi tak ada yang bisa mengetuk pintu hatinya.

Jiro merasa bisa membuat Ayah dan ibunya bangga, karena itulah yang ia inginkan. Ia tak ingin membuat kecewa keduanya, hingga ketika mereka menjodohkannya, yang bisa Jiro lakukan hanya menerimanya saja.

Saat itu, Jiro hanya berpikir, Ellisabeth adalah gadis yang manis. Tubuhnya mungil, parasnya cantik, dan tentu saja perilakunya baik, mengingat dia adalah anak pendeta di kampung ayahnya di inggris sana. Jiro menerimanya begitu saja dan ia berharap Ellie akan menjadi istri yang penurut dengannya.

Benar saja, selama ini, Ellie tak pernah menuntut lebih. Bahkan ketika Jiro memillih menyembunyikan dirinya dari dunia, Ellie hanya menurut saja. Tapi tadi malam, kenapa wanita itu tiba-tiba ingin dipulangkan? Apa yang terjadi dengan wanita itu?

“Aku selesai.” Suara Ellie membuat Jiro sedikit terkejut. Rupanya sejak tadi Jiro sudah melamunkan Ellie sembari menatap ke arah wanita itu.

“Kenapa cepat sekali?” tanya Jiro kemudian.

“Aku memiliki banyak jadwal hari ini.” Ellie menjawab singkat.

“Jadwal apa?”

“Kamu tidak perlu tahu.” Ellie menuju ke arah bak cuci piring tapi Jiro segera mengikutinya.

“Katakan Ellie, apa yang sedang terjadi?” Jiro menuntut.

“James.” Ellie membalikkan tubuhnya ke arah Jiro. Kepalanya mendongak ke arah lelaki yang lebih tinggi dari pada tubuhnya tersebut. “Apapun yang kamu lakukan di luar, aku tidak peduli. Jadi sebaiknya, jangan mempedulikan apa yang ingin kulakukan di luar.”

“Kamu marah denganku?” tanya Jiro tiba-tiba.

“Tidak ada gunanya marah denganmu.”

“Kalau begitu, berhenti bersikap menyebalkan seperti ini.”

Ellie bersedekap. “Jadi kamu lebih suka aku bersikap diam seperti boneka yang bisa dengan sesuka hati kamu mainkan?”

Ya, mungkin. Asalkan jangan bersikap seperti ini. karena jika Ellie bersikap seperti ini, maka itu semakin membuat Jiro penasaran dengan wanita di hadapannya tersebut. Dan hal itu benar-benar membuat Jiro tidak nyaman.

“Terserah kamu mau bersikap seperti apa, yang pasti aku tidak suka dengan sikapmu yang seperti ini.”

“Kenapa?” Ellie bertanya masih dengan sikap menantang.

“Sangat mengganggu.” Setelah itu Jiro membalikkan tubuhnya dan menjauh dari Ellie. “Dan satu lagi.” Ucap Jiro sembari membalikkan tubuhnya ke arah Ellie. “Orang sini memang ramah-ramah, tapi ada beberapa orang yang memiliki sifat buruk, aku hanya nggak mau kamu membuat masalah di luar sana.”

“Ya, tentu saja. Aku bahkan mengenal dekat salah satu tipe orang buruk yang kamu maksud.”

“Maksudmu?” Jiro ta mengerti.

“Kamu. Orang yang paling buruk yang pernah kukenal adalah kamu.” Jawab Ellie dengan berani dan penuh nada serius dalam setiap katanya.

Apa-apaan wanita itu? Kenapa Ellie tampak sangat membencinya?

Sedangkan Ellie sendiri, ia merasa memang harus memberitahu Jiro, bahwa selama ini ia diperlakukan tidak adil dengan lelaki itu. Bahwa selama ini ia sangat terluka dengan perlakuan lelaki itu. Tak ada salahnya bukan jika sedikit membangkang seperti saat ini?

Ellie tak peduli apa yang akan dilakukan Jiro selanjutnya. Karena saat ini, yang ia pedulikan hanya kebahagiaannya, hanya haknya sebagai seorang istri, serta hak Bayinya yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Ellie akan memperjuangkan hal itu, meski tandanya, ia harus berusaha lebih keras lagi untuk menyadarkan Jiro, bahwa iatak selemah yang lelaki itu bayangkan.

-TBC-

 

Missing Him – Bab 5

Comments 3 Standard

 

Bab 5 

 

“A, apa maksud Mas Rangga?” Tanyaku dengan cepat.

“Aku ingin menikah denganmu Ven..”

“Tapi Mas.. kita tidak pernah mengenal lebih dekat sebelumnya.”

Lelaki di hadapanku itu tampak menundukkan keplanya. Entah apa yang ia pikirkan aku sendiri tak tau.

Veny, nggak baik menolak lamaran seseorang sebelum kamu memikirkannya masak-masak.” Ucap Ibu.

“Tapi Bu..”

Pikirkanlah dulu, Nak.” pungkas ibuku.

***  

Dua hari berlalu setelah hari itu. Mas Rangga kembali ke rumahku. Dan astaga.. entah kenapa lidahku seakan kaku saat ingin mengatakan Tidak. Aku menerimanya, menerima lamaran lelaki yang aku sendiri tak seberapa mengenalnya.

Ini gila! Aku tau itu. Tapi mau bagaimana lagi.  Lagi pula sampai saat ini aku masih belum bisa melupakan sosok Edo. Sosok yang sudah menjadi cinta pertamaku, dan mungkin saja akan menjadi cinta terakhirku.

Ven..” Mas Rangga duduk mendekat di sebelahku.

“Aku masih bingung, kenapa tiba-tiba mas Rangga melamarku. Kita tidak pernah kenal dekat sebelumnya.”

“Aku tau. Tapi aku yakin, semua ini terbaik untukmu. Aku akan melindungimu Ven, Aku janji.”

Aku menurunkan kedua bahuku lemah. Ya, memangnya apa lagi yang bisa ku perbuat. Mungkin memang mas Rangga ditakdirkan untuk menemaniku. Lagi pula aku yakin jika tak dapat jatuh cinta lagi selain dengan Edo, maka tak salah jika aku menerima pinangan mas Rangga meski aku tak pernah mencintainya.

***

Kilasan masa lalu hubunganku dengan Mas Rangga tiba-tiba menari di kepalaku. Aku menggelengkan kepalaku.

Mas, apa yang terjadi denganmu hari ini? Pikirku dalam hati.

Setelah menidurkan Tasya, aku lantas menuju ke kamarku. Semoga saja setelah mandi sikap Mas Rangga sudah membaik padaku.Tapi nyatanya, saat aku sampai di dalam kamar, Suamiku itu malah tidur meringkuk di ujung ranjang.

Dadaku terasa sesak. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya hari ini? Apa aku melakukan suatu kesalahan?

Aku lantas memilih masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri kemudian mengistirahatkan hati dan pikiranku yang sudah sangat lelah…

***

“Kamu yakin mau melakukannya?” Aku hanya menunduk ketika Mas Rangga bertanya pertanyaan itu padaku.

Ini sudah hampir satu tahun lamanya aku menikah dengannya, tapi sekalipun kami tak pernah melakukan hubungan intim sama sekali. Mas Rangga sangat menghormatiku, pun denganku yang tentunya tak mungkin menggodanya atau menjajakan diriku padanya.

Setiap malam kami hanya menghabiskan waktu saling bertukar cerita, bertanya tentang aktifitas masing-masing hari ini. Lalu saling tertidur setelah sama-sama lelah. Ya, kami memang tidur satu ranjang, tapi kami tak pernah melakukan apapun. Tapi tadi, tak sengaja telapak tangan Mas Rangga menyentuh permukaan kulit tanganku, tatapan kamu beradu seketika, wajah Mas Rangga kemudian mendekat, dan aku tak sadar jika kami melakukan ciuman pertama kami.

Kini, lalaki itu sudah menindihku dengan pakaian yang sudah lolos dari tubuhnya. Pun denganku yang sudah polos tanpa sehelai benang pun.

Aku hanya menganggukan kepalaku setelah mendengar pertanyaan Mas Rangga tersebut.

“Aku baru pertama kali melakukannya,” Ucapnya dengan suara yang sudah serak.

“Aku juga baru pertama kali.” Astaga.. mungkin saat ini wajahku benar-benar sudah merah seperti tomat. Apa yang sedang kukatakan?

“Baiklah, boleh aku memulainya?” tanyanya lagi sedangkan aku hanya mampu menganggukkan kepala. Mas Rangga mulai mendaratkan kembali bibirnya pada bibirku, menciumku dengan lembut penuh gairah. Jemarinya sudah mulai bergerilya di sekujur tubuhku, dan itu benar-benar membuatku semakin menggila.

Kami saling mencumbu mesra, menyentuh satu sama lain dengan begitu intim. Ya, kupikir ini adalah hal yang paling intim yang pernah ku lakukan dengan seorang lelaki, dan entah kenapa aku merasa bahagia sekali karena lelaki itu adalah Mas Rangga, Suamiku sendiri.

Mas Rangga mulai menyatukan diri, dan aku benar-benar merasa tak nyaman. Rasanya aneh dan sakit, tentunya, tapi Mas Rangga membimbingku selembut mungkin, ia tak berhenti mencumbuku, seakan menenangkan kembali syaraf-syarafku yang kaku karena penyatuan pertama kami.

Dia tak mengucapkan apapun, tapi pergerakannya tak pernah berhenti. Bibirnya masih mengulum bibirku, sedangkan matanya sesekali menatap mataku dengan tatapan anehnya. Ya tuhan… aku benar-benar melakukannya, melakukan dengan Mas Rangga, suamiku, lelaki yaang sama sekali tak kucintai….

***  

Bayangan malam pertama kami menyeruak begitu saja dalam ingatanku, dan aku tersenyum ketika mengingat malam itu. Ku balikkan tubuhku yang tadi tidur miring dengan posisi membelakangi tubuh Mas Rangga. Dan kini, aku masih melihat tubuh suamiku itu masih miringku membelakangiku.

“Mas. Kamu kenapa?” lirihku.

Astaga, dia tak pernah bersikap seperti ini padaku, dan entah kenapa saat dia memperlakukanku seperti ini, rasanya dadaku terasa sesak, hatiku terasa sakit. Seakan ada sesuatu di dalam sana yang telah terkoyak saat melihat sikap dingin Mas Rangga.

“Kamu marah?” Aku memberanikan diri bertanya. Air mataku sudah jatuh begitu saja. Ya, dia marah, tapi aku tak tau karena apa. Apa ini ada hubungannya dengan Edo?? Tidak mungkin. Mas Rangga sama sekali tak mengetahui hubunganku di masa lalu dengan Edo.

“Mas…” panggilku lagi. Dan dia sama sekali tak menjawab panggilanku. Entah dia memang sedang marah, atau dia memang sudah tidur, aku sendiri tak tahu.

***

Panginya, seperti biasa, aku bangun lebih pagi dari Mas Rangga. Tentu saja aku harus menyiapkan sarapan untuk suamiku tersebut. Meski tak pernah mencintainya, tapi aku selalu mengabdi padanya layaknya seorang istri yang begitu mencintai suaminya.

Aku melirik ke arah Tasya yang berada di dalam boks bayinya. Puteriku itu memang sangat pandai, ia tahu jika kini ibunya sedang sibuk dan dia memilih bermain dengan mainannya sendiri ketimbang harus menangis rewel khas bayi seusianya.

Kemudian aku melirik ke pintu kamarku. Mas Rangga belum juga keluar. Ada apa? Tidak biasanya dia bangun siang. Apa dia masih marah? Apa suasana hatinya masih seburuk tadi malam?

Dan tak lama, sosok yang berada didalam kepalaku itupun menampakkan dirinya. Hampir saja aku terpekik ketika tiba-tiba saja dia keluar dari kamar kami dengan tatapan mata yang langsung menatap tepat pada manik mataku.

“Pagi Mas..” Sapaku.

“Pagi…” Hanya itu jawabannya.

Aku mengernyit saat melihatnya hanya mengenakan kaus oblongnya. Ia tidak mengenakan kemeja yang biasa di kenakannya ke kantor. Kenapa? Apa dia libur kerja?

“Mas Rangga nggaak kerja?”

“Aku libur.” Jawabnya singkat.

“Kok tumben ngambil cuti?”

“Bukan cuti, tapi aku memang di liburkan selama tiga hari ini.”

“Loh kenapa?” tanyaku sedikit terkejut.

“Aku dipindah tugaskan mulai minggu depan ke perusahaan yang bercabang di Palembang.” Jawabnya dengan ekspresi datar.

Aku membatu seketika. Pindah? Kenapa tiba-tiba?

“Kok aku nggak tau Mas?”

“Aku memang sengaja cari waktu yang tepat buat ngasih tau kamu. Tapi sepertinya memang nggak ada waktu yang tepat.”

“Lalu, kapan kita akan siap-siap?” tanyaku sembari menyuguhkan kopi untuk Mas Rangga.

“Nanti aku akan mulai belanja kebutuhanku, lalu mulai bersiap-siap.” Aku mengernyit ketika mendengar kalimat Mas Rangga. Apa maksudnya?

“Maksud Mas Rangga?”

Mas Rangga menatapku dengan tatapan anehnya. “Ven, aku akan pindah ke Palembang sendiri. Dan mungkin hanya seminggu sekali aku akan pulang ke sini.”

Aku tercengang mendengar kalimat yang di ucapkannya. Dia meninggalkanku? Meninggalkanku hanya berdua dengan Tasya? Bagaimana mungkin? Kenapa dia tega melakukan ini padaku??

“Kenapa aku dan Tasya nggak ikut pindah saja Mas?”

Mas Rangga menundukkan kepalanya. “Maaf, nggak bisa..”

Dan meneteslah air mataku. Kenapa seperti ini? Kenapa tiba-tiba dia meninggalkanku saat aku mulai nyaman dengannya? Apa yang terjadi denganmu Mas?? Apa yang kamu sembunyikan dariku?

-TBC-

Missing Him – Bab 4

Comments 2 Standard

 

Bab 4

 

Ven. Please. aku pengen ngomong sesuatu sama kamu.” Ucap Edo yang sudah menghadangku.

Ini sudah beberapa hari setelah pengakuannya padaku… Dan aku menghindarinya. Aku tidak ingin dia kembali membahas tentang hubungan kami.

“Lepasin Do. Aku mau pulang.”

“Biar aku yang antar.”

“Enggak, aku bisa pulang sendiri.” Jawabku dengan nada ketus.

“Please Ven,  jangan cuekin aku seperti ini. Jangan hindarin aku.” Lirihnya.

Aku menghela napas panjang. “Oke, tapi kamu harus janji kalau nggak akan bicara seperti itu lagi padaku.”

“Oke, aku janji.”  Dan akhirnya kami pun baikan.

Hubungan kami kembali seperti semula. Ibarat teman tapi mesra, ibarat sepasang kekasih tanpa status yang pasti. Gadis-gadis di sekolah kembali memusuhiku, dan gosip kami berpacaranpun kembali gencar di beritakan di kalangan anak-anak sekolah. Tapi aku tak ambil pusing. Yang terpenting adalah satu hal, Edo tak pernah lagi mengucapkan perasaan sukanya padaku. Dan itu membuatku tenang.

***

“Kenapa?” Tanya Mas Rangga padaku dengan sedikit berbisik.

“Ahh.. enggak.” Jawabku dengan sedikit tergagap.

“Wajahmu pucat. Kamu nggak enak badan?”

“Emmm kepalaku sedikit pusing, itu saja.” Jawabku cepat.

“Kamu mau kita pulang?” Tanya mas Rangga penuh perhatian.

Aku mengangguk cepat. “Ya, aku ingin pulang.” Bisikku padanya.

“Maaf Pak, sepertinya istri saya sedang tidak enak badan.” Ucap mas Rangga dengan sopan pada Edo. “Kami akan permisi pulang terlebih dahulu jika Pak Edo tidak keberatan.” Lanjutnya lagi dengan penuh hormat.

Edo menatapku dengan tatapan anehnya. Dan astaga,  Itu membuatku salah  tingkah.

“Kamu sakit?” Tanya Edo penuh perhatian.

“Umm, Maaf Pak, hanya sedikit pusing.”

“Mau saya antar pulang?”

Pertanyaan Edo membuat aku dan Mas Rangga saling menatap satu sama lain. Mengantar pulang? Yang benar saja. Dia adalah atasan  Mas Rangga, semoga saja Mas Rangga tidak curiga dengan sikap aneh Edo.

“Kami membawa mobil kantor, Pak.” Jawab mas Rangga cepat.

Edo akhirnya menganggukkan kepalanya. “Baiklah kalau begitu. Emm semoga kita bisa bertemu lagi.” Ucap Edo sambil menatap tajam ke arahku. Sedangkan aku hanya bisa menunduk.

***

Kami akhirnya keluar dari restoran tersebut. Mas Rangga berjalan cepat di hadapanku dengan ekspresi wajah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Ada apa dengannya?

“Mas, jangan terlalu cepat.” Ucapku sambil sedikit berlari menyusulnya. Tentu sangat susah mengingat saat ini aku sedang menggendong Tasya.

Tapi kemudian aku merasakan seseorang meraih sebelah tanganku. Saat aku menoleh ke belakang, aku mendapati tangan Edo yang sedang menggenggam pergelangan tanganku.

Please.  Jangan lakukan apa-apa, Do. Aku nggak mau Mas Rangga tau tentang hubungan kita dulu. Lirihku dalam hati.

“A.. ada apa Pak?” Tanyaku dengan suara tergagap.

Lalu aku merasakan Edo menyisipkan sesuatu di telapak tanganku, ia kemudian menggeggamkan tanganku.

“Hubungi aku.” Ucapnya.

Dengan spontan aku menoleh ke arah Mas Rangga. Mas rangga ternyata sudah berdiri tepat di sebelah pintu mobil dengan tatapan menuju ke arah kami.

“Edo..  Please..” lirihku hampir tak terdengar. Entah kenapa aku sangat takut, takut jika Mas Rangga tau semuanya kemudian dia membenciku.

“Kalau kamu ingin semua baik-baik saja, please, hubungi aku.” Ucap Edo lagi lalu dia pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih bingung.

***

Sampai di rumah, Mas Rangga tetap diam, dia seakan tidak acuh dengan  keberadaanku. Kenapa dia seperti itu? Apa dia tau hubunganku dengan Edo?

“Aku mandi dulu.” ucapnya datar sambil masuk ke dalam kamar mandi.

Dadaku terasa sesak melihat tingkahnya seperti itu, Mas Rangga tak pernah bersikap seperti itu padaku. Dia selau lemah lembut, perhatian, dan selalu menganggapku sebagai ratu, tapi entahlah, aku bingung dengan sikapnya sesore ini.

Akhirnya aku memilih berdiam diri di kamar bermain Tasya. menidurkan Tasya di boks bayi yang berada di ujung ruangan tersebut. Kemudian aku hanya bisa membatu di sana.

***

Aku membuka pintu rumah, dan mendapati sosok tinggi di hadapanku. Kenapa dia kemari? Pikirku saat itu.

“Mas Rangga, kenapa di sini?”

Veny, Boleh aku masuk?”

“Ya, silahkan.”

walau dengan wajah bingung aku tetap mempersilahkan mas Rangga masuk. Rangga Kurniawan adalah rekan kerjaku di sebuah perusahaan tempatku bekerja. Dia senior, tentu saja, karena sudah bertahun-tahun dia kerja di sana. Umurnya mungkin sekitar tiga sampai lima tahun lebih tua dari pada aku.

Kami tak pernah dekat, karena Rangga sendiri memang terkenal pendiam. Tapi dia bukan tipe  yang pendiam karena angkuh dan tak suka berteman. Tidak, dia bukan orang seperti itu. Dia ramah, banyak teman, tapi sikap pendiamnya mungkin karena memang dia tak ingin banyak bicara.

Aku mempersilahkan mas Rangga duduk di kursi tamu.

“Mau minum apa Mas?” Tanya ku sedikit canggung. Sungguh aku masih bingung dengan kehadiran Mas Rangga di rumahku.

“Tidak perlu Ven, aku hanya ingun bertemu kedua orang tuamu.”

Aku mengernyit, untuk apa mas Rangga ingin menemui mereka?

“Untuk apa mas mau menemui mereka?” Tanyaku sedikit bingung.

“Enggak apa-apa, ada yang mau ku bicarakan dengan mereka.”

Aku mengangguk, “Baiklah, aku panggil mereka dulu, ya,”

Akhirnya aku masuk, memanggil ibu dan ayahku. Merekapun tampak bingung dengan kehadiran sosok mas Rangga.

Mas Rangga sendiri langsung memperkenalkan diri pada kedua orang tuaku dengan sangat sopannya. Sedangkan orang tuaku menyambut hangat kedatangannya.

“Jadi, Nak Rangga, apa ada yang perlu di bicarakan dengan kami?” Ayah akhirnya bertanya secara langsung kepada Mas Rangga.

“Begini pak, kedatangan saya kemari adalah untuk melamar Veny menjadi istri saya.”

Mataku membulat seketika. Aku yang dalam posisi berdiri tak jauh dari tempat duduk ayah dan ibuku, tak dapat bergerak sedikitpun. Semuanya terasa kaku, mungkin aku terlalu terkejut dengan apa yang di katakan Mas Rangga.

Melamar? Astaga, Apa dia bercanda? Kami bahkan sangat jarang sekali berbicara satu sama lain, kenapa dia bisa-bisanya melamarku?

-TBC-

Missing Him – Bab 3

Comments 2 Standard

 

Bab 3

 

Dia masih menggerakkan tubuhnya di atasku, bibirnya tak berhenti mencumbu sepanjang kulit tubuhku, ia menjelma menjadi sosok yang berbeda, bukan sosok dingin dan kaku seperti biasanya, Diakah Mas Rangga suamiku?

***

Tubuhku masih lunglai dalam pelukannya, Mas Rangga masih setia memelukku dan sesekali mengecupi pundakku. Kami masih sama-sama polos di bawah selimut yang sama setelah percintaan panas yang baru saja kami lakukan.

Percintaan panas? Ya… aku bahkan tak mengerti apa yang terjadi dengan Mas Rangga, kenapa ia bisa bersikap seperti itu padaku tadi.

“Terimakasih….” ucap Mas Rangga yang membuat tubuhku kembali bergetar.

“Apa ada yang salah denganmu Mas?”

“Kenapa?”

“Kamu berbeda.”

“Aku masih sama, aku hanya ingin melakukan apa yang menurutku benar.”

“Maksud Mas Rangga?” Tanyaku masih dengan raut bingung.

“Ku pikir selama ini aku tidak memperlakukanmu dengan benar, Sayang, maaf.”

“Aku juga minta maaf Mas..” lirihku.

“Untuk apa?”

‘Karena aku masih memikirkan dia dan belum bisa sepenuhnya menerimamu….’ ucapku dalam hati.

“Untuk semua kesalahan yang pernah kuperbuat.” Jawabku.

“Kamu nggak pernah salah. Mas yang selalu salah.” Mas Rangga berkata dengan mengusap lembut punggung telanjangku. “Ayo bangun, kita harus menjemput  Tasya.”

Aku menatapnya dan tersenyum ke arahnya. “Ayo.” Ucapku sambil bangun.

***

“Kamu kenapa sih Do? Gay?? Enggak kan?” Tanyaku pada lelaki yang kini duduk santai di hadapanku sambil meminum jus pesananku.

“Kenapa kamu tanya itu?”

“Do, aku capek kalo banyak cewek di sekolah ini yang salah paham padaku, mereka memusuhiku Do..”

“Kalo mereka macem-macem bilang saja sama aku.” Jawabnya santai.

“Aku nggak perlu pembelaan kamu, yang kuperlukan adalah berhenti bilang kalau kita pacaran. Jadi mereka nggak salah paham sama aku dan musuhi aku.”

“Kita memang pacaran..” jawab Edo dengan santai.

“Enggak. Kita nggak pernah jadian.”

“Mulai detik ini kita jadian.”

“Yang benar saja, kamu gila.”

“Ya,aku gila. Aku gila karena suka sama kamu.” Ucapan Edo membuatku membatu seketika.

Tidak! Edo tidak mungkin menyukaiku. Ini hanyalah triknya supaya aku mau menjadi pacar bohongannya.

“Nggak lucu tau nggak Do.” ucapku sambil berdiri dan bersiap meninggalkannya.

Tapi kemudian aku merasakan pergelangan tanganku di genggam oleh seseorang, dan saat aku melihatnya, ternyata Edo yang menggenggamnya.

“Kenapa Ven? Kamu nggak percaya kalau aku suka sama kamu?”

“Do, ini nggak bener, ini gila.”

“Ya, aku gila karena suka sama kamu Ven, please, lihat mataku dan cari kebenaran di sana.”

Aku menuruti apa mau Edo. Kutatap matanya, mencari kebenaran di sana, mencoba mencari kebohongan atau apa pun di sana. Tapi yang ku dapat, hanyalah sebuah ketulusan. Benarkah Edo tulus menyukaiku? Astaga! Tidak, kita tidak boleh menjalin kasih, kita hanya boleh berteman. Titik.

***

Bayangan Edo kembali menyeruak dalam benakku. Saat pertama kali Edo menyatakan rasa cintanya yang kemudian berujung penolakan dariku.

Ya, aku tau, aku dan Edo tak mungkin bersatu hanya karena satu alasan.

Kami berbeda keyakinan….

Satu hal itu membuatku jauh dari kata bersatu dengan Edo. Dan sampai kini aku sadar jika hubungan kami berdua memang tak lebih dari sekedar berteman.

“Ven. nanti temani mas ketemu sama Bos baruku,  ya,” suara Mas Rangga kembali menyadarkanku dari lamunan.

“Bos baru?” Aku mengernyit.

“Ya, sekarang bukan pak Chiko lagi yang jadi GM di kantor kita. Tapi anak dari pemilik kantor pusat.”

“Wah, yang benar Mas?”

“Iya, dan beliau baik sekali.” Ucap mas Rangga dengan semangat.

“Kapan?”

“Nanti setelah jemput  Tasya, kebetulan orangnya tadi hubungi Mas, minta di bawakan sebuah berkas yang kebetulan sedang Mas bawa.”

“Oke Mas.” Jawabku. Kemudian aku kembali menyiapkan diri serapi mungkin untuk segera bergegas menjemput  Tasya.

***

“Kita ketemu Bos kamu di mana, Mas?” Tanyaku saat Mas Rangga sibuk mengemudikan mobil yang sedang kami tumpangi. Tentu saja mobil ini bukan mobik milik kami sendiri. beberapa bulan yang lalu, Mas Rangga naik jabatan, dan perusahaan memfasilitasinya dengan kendaraan.

“Di restoran, beliau kebetulan ada di restoran tak jauh dari sini.”

“Aku tunggu di mobil saja deh Mas, nggak enak, aku bawa Tasya.”

“Ayo ikut, nggak apa-apa, Bosku kebetulan pengen lihat dan kenal kamu.”

Aku mengernyit. “Loh kenapa memangnya?”

“Beliau tau kalau kamu itu dulu adalah salah satu karyawan perusahaan yang teladan. Katanya setidaknya beliau ingin mengenalmu.”

Dan aku hanya menganggukkan kepala. Aku tidak heran dengan sikap atasan Mas Rangga. yang membuatku heran adalah sikap Mas Rangga sesore ini yang membuat jantungku jedak jeduk tak menentu. Dia banyak bicara, tak seperti sebelum-sebelumnya.

Tanpa terasa, akhirnya kami sampai juga di restoran yang di maksudkan. Kami turun dari mobil kemudian masuk ke dalam restoran tersebut.

“Itu orangnya.” Ucap mas Rangga sambil menunjuk seseorang yang sedang duduk membelakangi  kami di ujung ruangan.

Kami berjalan menuju ke arah orang tersebut. Dan alangkah terkejutnya aku ketika sampai di hadapan atasan Mas Rangga itu.

Dia… Dia…. Edo.. Lelaki yang selalu berada dalam pikiranku.

Aku membulatkan mataku seketika sedangkan Edo malah menyunggingkan senyumannya di hadapan kami seakan dia tidak terkejut sama sekali dengan pertemuan kami saat ini.

“Selamat malam Pak.” Ucap Mas Rangga sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Edo.

Aku melihat Edo membalas uluran tangan Mas Rangga. “Selamat malam, jadi, ini istri kamu?” Tanyanya sambil menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Ya pak, ini Veny.” Mas Rangga memperkenalkan aku kepada Edo. Sedangkan Edo dengan santainya mengulurkan tangannya padaku.

“Edo.” Ucapnya sambil tersenyum miring.

Aku mencoba membalas uluran tangan Edo walau kini tanganku sudah gemetar.

“Veny.” Jawabku dengan suara bergetar sambil menyambut uluran tangan Edo. kemudian aku merasakan Edo yang mengeratkan genggaman tangannya pada tanganku. Seakan dia menangkap sesuatu dan tak ingin melepaskannya. Apa maksud Edo? Kenapa dia kembali pada kehidupanku saat aku mulai membuka hati untuk Mas Rangga, suamiku?

-TBC-

My Sex(y) Partner – Bab 1

Comment 1 Standard

yeaayyyy mana yang nungguin Troy dan kawan2 bejatnya?? hahahhahah untuk Jiro dan Ken, sabar yaa… aku cuma mau pamerin Prolognya aja dulu, karena aku mau pokus kalian gak banyak terbagi. hahahahahah Yang nunggu Mr. Morgan di Sleeping with my friend, bakal aku update insha allah malam minggu yaa… yeaaayyyyyy happy reading. muaahhhhh

 

Bab 1  

 

Sambil mengetatkan gerahamnya, Troy mendekap wanita setengah telanjang yang berada di hadapannya tersebut. Hari sudah semakin sore, tapi pemotretan sialan ini belum juga rampung. Troy benar-benar kesal karena beberapa jam terakhir dirinya mengetat nyeri tak tertahan. Semua tentu karena keindahan sempurna yang terpampang jelas di hadapannya. Dan yang lebih menjengkelkan lagi adalah, bahwa wanita di hadapannya ini malah tampak tak terpengaruh sama sekali dengan kehadiran dirinya.

One, two, three, oke. Sip.” Akhirnya, si fotografer sialan di hadapannya itu menyatakan jika tangkapan kameranya yang terakhir selesai.

Troy menghela napas panjang, dan secepat kilat ia melepaskan tubuh si wanita seksi di hadapannya kemudian dengan terburu-buru, ia keluar dari dalam kamar tersebut lalu menuju ke arah kamar mandi.

“Elo mau ngapain Troy?” tanya salah seorang kru dengan nada mengejek.

“Berengsek!” Troy hanya menjawab dengan sebuah umpatan khasnya.

***

Setelah pekerjaan tersebut selesai, semuanya menuju ke sebuah restoran untuk makan malam bersama. Sejak tadi, mata Troy tak pernah lepas menatap ke arah wanita yang sejak tadi pagi sudah membuatnya tergoda, wanita yang yang bernama Alice Philips. Wanita yang membuatnya mau tak mau mencapai klimaks di dalam kamar mandi dengan dibantu oleh jemarinya sendiri. Sialan! Dan yang lebih membuat Troy penasaran dengan wanita tersebut adalah, bahwa wanita itu tampak sama sekali tak memperhatikannya.

Kenapa? Apa wanita itu tak tahu siapa dirinya?

Pada saat bersamaan, wanita itu menatap ke arahnya. Troy mengangkat sebelah alisnya kemudian mengangkat gelas anggurnya, seakan mengajak wanita itu bersulang.

***

Alice, yang berada di seberang meja, akhirnya ikut mengangkat gelasnya yang berisi Jus jeruk saat ia melihat Troy mengangkat gelas anggur ke arahnya. Alice tersenyum, lalu menenggak jus tersebut, matanya lalu menatap ke arah lain, mencoba mengalihkan perhatiannya dari sosok yang sejak tadi mempengaruhinya.

Ya, Alice tentu tahu dengan siapa dia berhadapan. Awal tahu bahwa ia akan disandingkan dengan seorang Troy untuk berpose panas di salah satu majalah dewasa saja membuat Alice ragu, apa akan melakukannya atau membatalkannya. Tapi karena didorong oleh kebutuhan yang mendesak, akhirnya Alice melakukannya dan mencoba melupakan jika lawan mainnya dalam berpose panas adalah seorang Troy, mantan Drumer terpanas di negeri ini.

Tak sulit bagi Alice untuk mengetahui latar belakang atau bisa dibilang, keberengsekan-keberengsekan lelaki itu dimasalalu. Entah ketika lelaki itu masih menjadi anak band, atau saat lelaki itu berkarir sendiri seperti saat ini. Tak sedikit gosip buruk yang pernah ia dengar tentang Troy. Bahkan, beberapa teman seprofesinya mengaku pernah ditiduri Troy dan dicampakan begitu saja oleh lelaki itu setelah lelaki itu puas mendapatkan beberapa kali pelepasan.

Sangat Berengsek, bukan?

Kini, Alice tentu tak ingin hal tersebut menimpanya. Tujuannya tinggal di negeri ini adalah karena ia ingin mempelajari budaya negeri ini, bukan untuk main-main lalu jatuh hati pada pria berengsek seperti Troy.

Ya, Alice yang merupakan warga negara asing, memang sangat tertarik dengan Indonesia. Ayah ibunya tinggal di LA Carlifornia. Dulu, keduanya pernah berpelesir ke negeri ini, kemudian tak sengaja bertemu satu sama lain di pulau Bali, memadu kasih saat itu juga, lalu berakhir bersama hingga kini. Dan kedua orang tua Alice tak pernah melupakan pengalamannya tersebut. Hingga saat Alice lahir, keduanya selalu bercerita lagi dan lagi tentang pengalaman keduanya hingga membuat Alice tertarik dengan Indonesia.

Saat dirinya besar, ketertarikan itu semakin nyata, apalagi saat Alice pertama kalinya datang ke negeri ini. Ia jatuh cinta seketika, dengan budayanya, dengan alamnya, dengan orang-orangnya. Bagi Alice, ke Indonesia sama saja dengan pulang. Hingga sejak Tiga tahun terakhir, ia lebih sering menghabiskan waktunya di Indonesia dari pada di LA. Tentu saja hal itu membutuhkan biaya lebih, mengingat orang tuanya bukanlah orang yang berkelebihan harta. Beruntung Alice memiliki kenalan di Indonesia yang menawarinya pekerjaan menjadi model. Pekerjaan itu tentu sangat begus untuk Alice, ia bisa mendapatkan biaya tambahan selama hidup di sini, sehingga dirinya bisa menikmati kecintaannya pada negeri ini tanpa membebankan biaya pada kedua orang tuanya yang ada di LA.

Kembali lagi pada Troy. Alice tentu tak ingin terlibat dengan lelaki di hadapannya tersebut, tapi demi Tuhan! Lelaki itu memang sangat menggoda. Sialnya, jadwal pemotretannya dengan Troy tak hanya berakhir hari ini saja. Karena masih ada beberapa scene tambahan yang akan diambil besok.

Tiba-tiba, Alice melihat Troy berdiri membawa minumannya, mata lelaki itu tak berhenti menatap ke arahnya. Kemudian, langkah kaki lelaki itu mendekat ke arah mejanya.

Seorang yang duduk tepat di sebelah Alice akhirnya berdiri ketika Troy secara terang-terangan meminta orang tersebut bangkit dan menggantikan tempatnya.

“Boleh duduk di sini, kan?” tanya Troy dengan nada yang dibuat mengggoda. Alice tahu, bahwa mungkin saat ini Troy sedang menjalankan aksinya untuk membawa Alice ke atas ranjang lelaki itu. Tapi Troy salah, Alice sudah cukup tahu bagaimana bejatnya lelaki itu, jadi Alice tak akan masuk ke dalam perangkap yang dibuat oleh Troy.

“Silahkan saja. Ini kan tempat umum.” Alice menjawab dengan nada yang dibuat cuek dan ketus.

“Woww. Bukan cewek gampangan, ehh?” goda Troy sembari menyesap apapun itu yang ada di dalam gelas yang dibawah lelaki itu.

Alice tidak mengindahkan apapun itu perkataan Troy. Karena ia memilih melirik ke arah jam tangannya kemudian berkata pada orang disebelahnya. “Aku akan pulang, sudah malam.” Ucapnya sembari berdiri. Alice menatap sekilas ke arah Troy lalu tersenyum singkat pada lelaki itu. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkan mejanya secepat mungkin.

Sedangkan Troy, ia tersenyum masam, menenggak semua isi dari gelas yang dibawanya kemudian bangkit dan segera menyusul wanita yang sudah sejak tadi siang tadi menggodanya.

***

Sial! Troy merasa ada yang salah di sini. Tak biasanya ia begitu tertarik dengan seseorang, hingga saat melihatnya saja membuat pangkal pahanya berdenyut nyeri seketika. Ia sangat menginginkan Alice Philips di atas ranjangya malam ini, dan apapun itu, ia akan melakukannya untuk mendapatkan keinginannya tersebut.

Yang membuat Troy sangat kesal adalah saat Troy tahu bahwa wanita itu tampak tidak tertarik dengannya. Jangankan tertarik, Alice bahkan lebih terlihat enggan berurusan dengannya. Kenapa? Apa Alice Philips tak tahu siapa dia sebenarnya? Apa ia tak tampak seperti seorang lelaki yang panas dan menggairahkan?

Berengsek!

Dengan segera Troy mengikuti Alice keluar dari dalam restoran. Ia mendapati Alice berjalan diatas trotoar sembari mengenakan tundung hoody yang dikenakan wanita tersebut.

Troy berlari mengikuti wanita itu, kemudian dengan spontan ia menarik lengan Alice dan menghentikan wanita itu sembari berkata “Tunggu.”

Alice menghentikan langkahnya kemudian menatap Troy penuh tanya. “Ada apa?” tanyanya dengan ketus.

Troy memiringkan kepalanya. “Ikutlah denganku, aku akan mengantarmu.”

“Aku lebih suka jalan kaki.”

“Nggak baik jalan kaki malam-malam sendiri, apalagi kamu seorang model.”

Alice berkacak pinggang, dengan menantang dia bertanya “Apa hubungannya denganmu?”

Troy sedikit tersenyum dengan reaksi yang ditampilkan oleh Alice. Ia tak menyangka jika Alice akan seberani ini padanya. “Nggak ada.” Jawab Troy dengan santai.

“Kalau begitu, biarkan aku pergi.”

Troy mengangkat kedua tangannya, dengan tersenyum ia mundur teratur. Alice mendengus sebal, lalu wanita itu mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Troy. Tanpa diduga, Troy malah mengikuti Alice. Berjalan kaki di atas trotoar tepat di belakang wanita itu. Entah apa yang ada di dalam pikiran Troy saat ini. Yang jelas, ia sangat ingin memiliki wanita yang kini berjalan di hadapannya tersebut.

Alice yang merasa diikuti akhirnya merasa tak nyaman. Dengan kesal ia membalikkan tubuhnya kemudian bertanya pada Troy “Apa yang kamu lakukan?”

Troy mengangkat kedua bahunya. “Apa? Aku cuma jalan-jalan malam.”

“Sialan!” akhirnya, Alice tak mampu menahan umpatannya, dan hal tersebut membuat Troy tak kuasa menahan senyuman lebarnya. Alice kembali berjalan lagi, dan Troy mengikuti kemanapun kaki wanita itu melangkah.

Gila! Troy benar-benar merasa gila karena penolakan dan sikap ketus yang diberikan Alice Philips padanya. Kenapa wanita itu bersikap seperti itu padanya? Apa sebelumnya ia memiliki salah dengan wanita tersebut?

Pertanyaan itu terputar berkali-kali dalam kepala Troy sepanjang ia menyusuri trotoar bersama dengan Alice Philips di hadapannya.

***

Alice menghela napas panjang, karena tak lama, akhirnya sampailah juga ia ditempat kostnya. Sebenarnya, selama tinggal di Indonesia, ia menyewa sebuah tempat di Bali. Tapi karena pekerjaannya kali ini, ia sementara tinggal di Jakarta sampai pemotretannya selesai.

Alice membalikkan diri, berharap jika Troy sudah tak ada dibelakangnya, tapi ia salah. Nyatanya, Troy masih berada di sana, dengan senyuman miringnya, dengan kearoganannya, dengan kepedean tingkat dewanya, dan sialnya, dengan ketampanan dan kegagahan lelaki itu yang mampu memancing sesuatu di dalam diri Alice.

Dengan mendengus sebal, Alice bertanya pada Troy “Kenapa kamu mengikutiku sampai disini?”

Bukannya menjawab, Troy malah menyandarkan diri di pagar, mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya yang diyakini Alice adalah sebuah rokok, menyalakan batang sialan itu dan menghisapnya sebelum menjawab “Cuma pengen tau dimana tempat tinggalmu.”

“Memangnya apa urusanmu?”

“Nggak ada, cuma penasaran aja.”

“Dasar sinting!” Alice mengumpat dalam bahasa asing, dan hal tersebut membuat Troy tak mampu menahan tawanya.

Ah ya, satu hal lagi yang disukai Troy adalah, bagaimana logat wanita itu ketika berbahasa indonesia. Hal itu membuat Troy seakan gemas pada seorang Alice Philips.

Alice akhirnya memilih segera memasuki rumah tersebut, kemudian mengunci pintu gerbangnya. Sebelum itu Troy sudah mengucapkan kalimat “Aku tak sabar melihatmu besok siang di kolam renang.” Ejeknya dengan nada menggoda.

“Bajingan!” lagi, Alice mengumpat dengan bahasa asing, dan hal tersebut benar-benar membuat Troy tak kuasa menahan tawanya. Alice tentu mengerti apa maksud Troy saat lelaki itu bilang mengunggunya di kolam renang, karena besok adalah jadwal pemotretan mereka dengan set di area kolam renang. Alice akan mengenakan bikini di sana, tentu saja Alice sangat tahu apa yang ada di dalam otak porno lelaki itu.

Sialan! Jika hari ini Alice mampu menahan dirinya dan bersikap ketus pada Troy, apa besok wanita itu bisa melakukannya lagi? Alice tak tahu. Tapi yang terpenting adalah, ia tak ingin terlibat dalam hubungan dengan seorang Troy Yoseph. Tidak tadi, tidak sekarang, tidak juga nanti.

-TBC-