Catatan Cancer Warrior – Tiga

Comment 1 Standard

 

Ps. aku nggak tau, kenapa aku sangat emosional saat menulis bagian Tiga ini tadi pagi. Ya, aku merasakan perasaan seperti itu lagi hingga mungkin membuat bagian ini kurang dinikmati. 

***

aku ingat, saat itu adalah waktu ibu pulang dari rumah sakit. semua keluarga bisa tertawa karena mungkin merasa lega saat tahu bahwa ibu sudah membaik dan benjolan di payudaranya sudah di angkat. tapi tidak denganku. perkataan Dokter Muhammad terputar lagi dan lagi dalam pikiranku, hingga saat itu, aku tak kuasa menahan tangis saat diperjalanan pulang.

Suamiku bertanya. “Apa yang terjadi?” aku hanya menggelengkan kepala. ingin rasanya aku bercerita padanya, tapi bibir ini terasa kelu. lalu dia bertanya sekali lagi “Apa yang terjadi?” dan akhirnya aku memilih berbohong padanya.

“Mas, aku hanya takut, kamu nggak mau menerima keluargaku.”

“Kamu ngomong apa? mereka juga keluargaku.”

“Tapi Ibu bakal nggak bisa kerja lagi.” tangisku semakin menjadi. “Aku mau merawat dia, tapi aku takut kamu keberatan.”

Aku ingat, saat itu dia segera menghentikan kendaraan kami. ditengah hutan saat perjalanan pulang (Kebetulan rumahku melewati hutan-hutan). lalu dia berkata padaku. “Sayang, Kamu ngomong apa? kenapa kamu berpikiran pendek begitu denganku? selama ini, Kamu sudah menerima keluargaku, merawat mereka dari jauh, menyayangi mereka seperti keluargamu sendiri. kalau aku sampai mengabaikan keluargamu, maka tinggalkan saja aku.”

Ya, kurang lebih ucapannya seperti itu. dan hingga kini, aku mengingatnya. bahkan saat menulis kisah ini dan menulis kalimat di atas, mataku berkaca-kaca.

Sedikit bercerita, Suamiku itu memang bukan orang yang romantis, banyak diam, tapi aku tahu bahwa dia adalah orang yang super sekali pengertiannya. kadang, kediamannya membuatku salah paham, tapi bukankah itu yang namanya hubungan? penuh dengan kesalah pahaman.

baiklah, kita kembali lagi pada cerita awal. Akhirnya, aku tidak memiliki nyali untuk memberitahu suamiku. satu-satunya orang di dunia ini yang mengetahui apapun tentangku. aku tak punya satupun rahasia dengan dirinya, begitupun sebaliknya. kami sering bicara dari hati ke hati saat menjelang tidur, tapi malam itu, aku sama sekali tak bisa mengatakan kondisi Ibu pada suamiku.

akhirnya, aku memilih diam dan memendam semuanya sendiri. bisa dibayangkan, bagaimana stress dan terpuruknya aku saat itu.

Teman?

Ya, aku punya. banyak malah. karena menjadi penulis menambah banyak teman dikalangan penulis maupun reader. setiap harinya, Chat hapeku tak pernah sepi. reader2 yang dekat denganku hobby sekali menggangguku dan menerorku untuk lekas menyelesaikan ceritaku. sedangkan teman-teman penulisku biasanya sering curhat tentang masalah kepercayaan dirinya, maupun tentang yang lainnya hingga berakhir kami saling menyemangati satu sama lain. percayalah, aku mendapatkan kehidupan yang sempurna di dunia maya. tapi saat aku mendapatkan masalah ini, aku sama sekali tak berani bercerita dengan salah satunya.

Sebut saja Tania, dia salah satu teman terdekatku. penulis juga, yang sudah kuanggap sebagai belahan jiwaku. aku bahkan sempat berpikir, jika aku berjenis kelamin laki2 dan masih single, maka aku akan datang kerumahnya untuk menikahinya saat itu juga.

aku banyak bercerita dengan Tania, kebanyakan tentang problem hidup di dunia nyata, begitupun sebaliknya. dia juga sering bercerita padaku tentang dunia nyatanya. aku merasa sangat cocok denganya, bahkan dia termasuk dalam daftar salah satu orang yang ingin kutemui.

tapi saat aku mendapati masaah ini, aku tak bisa bercerita apapun padanya.

Barbie, temanku yang lainnya. pun sama. kebanyakaan dia sering buat aku ketawa. dan akupun tak bisa cerita padanya karena aku nggak mau berbagi kesedihan dengan dirinya.

Echa, dia teman yang benar-benar nyata. karena hanya Echalah teman yang sering mengunjungiku ke rumah. dan ya, bisa ditebak, aku nggaak mungkin bercerita padanya tentang semua ini.

aku merasa sendiri, aku merasa takut, aku merasa terpuruk. apalagi saat itu Dokter muhammad juga berkata padaku “Sepertinya ini ada faktor turunan”. well, itu yang membuatku semakin tidak tenang.

penyakit Kepo yang kuderita akhirnya kambuh. Aku melakukan pencarian lagi di situs internet, tentang penyebab Kanker Payudara dan sejenisnya. Astaga, aku benar-benar panik saat itu.

Oke, kita bisa memutus semuanya dengan kata ‘takdir’. tapi aku adalah salah satu orang yang rasional. yang ingin berpikir tentang sebab akibat. saat aku menerima kabar jika ibuku Kemungkinan menderita kanker Payudara, pertanyaan pertama yaang terlintas dalam kepalaku adalah, Kenapa dia? kenapa bisa dia?

Jika itu karena faktor makanan, aku pikir tidak. kenapa? karena semasa hidup, Ibu tak pernah makan enak. aku berani jamin. dia adalah orang kolot yang lebih suka masak sendiri ketimbang beli makanan di warung apalagi fastfood.

Minuman?

No!

 Dia hanya pernah minum air putih, sesekali kopi.

jadi, kemungkinan besar dia terkena penyakit itu adalah karena turunan.

Huuffttt… tenang.. tenang…. aku meminta diriku untuk lebih tenang dan tidak panik. lalu aku mengingat cerita ibu, bahwa dulu, nenekku juga pernah memiliki benjolan di payudaranya. Kakak dari Nenekku, meninggal karena penyakit di payudaranya. Anaknya kakak dari Nenekku, yang bernama Budhe Wati, juga memiliki benjolan di payudaranya, bahkan anak dari Budhe wati, sudah 2x operasi benjolan di payudaranya.

Fix! pikiranku semakin tidak tenang.

Bukan tentang aku, sungguh. yang kupikirkan adalah puteri kecilku. aku tidak bisa membayangkan dia sakit. aku tidak bisa membayangkan dia tergeletak di ranjang rumah sakit lagi. Aku pernah melihat dia sakit, memasuki Ruang Operasi sebanyak 3x karena keteledoranku. saat itu, dia masuk ke dalam Wajan besar yang penuh dengan air mendidih rebusan ayam. aku berteriak histeris, bahkan saat mengingat kejadian itu saja bulu kudukku meremang seketika. aku tidak bisa melihat dia sakit, aku tidak bisa. dan hal itulah yang membuatku ketakutan.

Informasi di internet membuatu semakin menggila. tertulis di sana, jika Kanker payudara memang kemungkinan besar bisa diturunkan oleh keturunannya.

satu-satunya harapanku saat itu adalah, Semoga Dokter muhammad salah. Semoga itu hanya benjolan biasa tanpa ada sel kanker seperti yang kutakutkan. semoga… semoga…. semoga… tapi sungguh, itu tidak menolongku sama sekali dari stress.

Aku tahu, aku butuh bicara. tapi aku tidak tahu harus bicara dengan siapa.

Chat di hp selalu menumpuk, dari readers, dari teman-teman, dari penulis-penulis baru yang ingin bergabung dengan penerbitan yang sedang kudirikan, dari orang-orang baru yang baru membaca ceritaku (biasanya dari Blog) dan ingin mengenalku secara dekat. tapi aku tak bisa bercerita pada mereka. aku tak bisa bercerita pada salah satunya secara acak. padahal aku tahu, kalaupun aku bercerita pada mereka, mereka tak akan mengatakannya pada Ibuku. kami hanya mengenal di dunia maya, tapi aku tetap tak bisa melakukannya.

Aku merasa duniaku runtuh. tak ada semangat menulis sama sekali. jangankan untuk menulis, untuk berpikir jernih saja susah. aku merasa ada beban berat di pundakku, dan aku tidak tahu bagaimana cara mengurai beban tersebut.

lalu suatu malam, seorang Reader yang sangat sangat cerewet, menghubungiku. panggil saja dia Memey. si cina surabaya, biasa aku mengoloknya begitu.

Dia berkata melalui Chat “Mom, Elo kapan ngeluarin buku baru? gue mau ke malaysia, awas aja kalau elo ngeluarin buku saat gue di sana.”

Aku hanya menjawab, ‘Masih lama, elo ngapain di malaysia?’

Dan dia bercerita. ‘Gue mau chek up kesehatan. kemaren gue ngerasa ada benjolan gitu di salah satu payudara gue, gue takut kejadian nyokap gue terulang, jadi gue mau chek up semuanya, semoga apa yang gue takutin gak kejadian.’

percaya atau enggak, saat itu aku yang stress seketika itu juga seakan mendapatkan titik terang. kupikir, aku bisa bercerita padanya.

lalu aku bertanya padanya ‘Emangnya nyokap elo kenapa?’

“Dia kena kanker lambung.”

Degg.. Degg.. Degg…

“Dan sekarang?” tanyaku.

“Ya sudah meninggal. soalnya telat pas tau.”

Oh My, aku lemas seketika. 

Hai Memey, kalau kamu baca ini, sungguh, aku minta maaf karena pernah menanyakan hal itu padamu. aku bener-bener menyesal.

Dari caranya bercerita, Memey terlihat sangat tegar. dia bercerita semuanya, tentang Ibunya, pengobatannya, dan juga tentang dirinya sendiri. Dari sana aku bisa menangkap, kalau Memey juga memiliki ketakutan yang sama denganku. dia bahkan berkata padaku, bahwa jika nanti hasil pemeriksaannya baik-baik saja, dia bersumpah jika dia tidak akan makaan-makanan cepat saji lagi.

kemudian, meledaklah semua beban yang kupendam selama beberapa hari itu padanya.

Dengan Memey aku bisa bercerita semuanya, semua ketakutan yang kurasakan, semua kegalauanku, kegelisahanku, semua tangis terpendamku. dan dia bilang “Bangun Mom, itu belum terjadi. Ibu kamu bakal baik -baik saja, kamu juga akan baik-baik saja, dan anakmupun bakal baik-baik saja. itu belum terjadi, bangun dan berdoalah pada Tuhanmu agar semua itu tak terjadi.” Ya, kami memang berbeda keyakinan, tapi dia tak pernah bosan mengingatkan aku untuk sholat dan berdoa.

Bercerita padanya membuatku merasa plong. aku merasa lebih tegar dari sebelumnya. Memey mengemas semua percakapan serius kami dengan santai dan penuh canda. dan hal itu benar-benar membuatku nyaman.

Stress sedikit demi sedikit menghilang. kemudian, aku kembali menjalani hidup dan berusaha berpikir positif seperti yang dikatakan Memey. toh, vonis itu belum kami dapatkan, jadi, kenapa aku harus stress?

lalu, aku bertemu orang lainnya. kini, aku menganggap dia sebagai salah satu adikku. Fransiska namanya, nama asli, karena aku tahu dia nggak mungkin membaca cerita ini.

awal perkenalanku dengannya adalah saat itu di akun Gosip sedang ramai membahas tentang anak salah satu artis yang menderita kanker darah (Leukimia). dia berkomentaar di sana tentang ibunya yang terkena kanker payudara, dan dengan spontan, aku memberinya pesan pribadi melalui instagram.

kami berkenalan, dan dia banyak bercerita. Ibunya divonis kanker payudara sekitar Tiga tahun yang lalu, saat itu dia masih kuliah. dan saat mengetahui hal itu, dia sama terpukulnya seperti aku.

dia tidak keluar kamar selama kurang lebih seminggu lamanya, dia tidak kuliah selama berbulan-bulan. dan aku mengerti apa yang dirasakannya saat itu.

lalu dia bangkit, karena ibunya memiliki kemauan keras untuk sembuh. Ibunya di rawat di salah satu Rumah sakit kanker ternama dan terbaik di negeri ini. MRCCC (kalau nggak salah) nama Rsnya. disana dia menggunakan asuransi (Bpjs), dan sama sekali tidak dikenakan biaya. Fransiska bilang, bahkan banyak orang dari luar (negara tetangga) yang ikut berobat di sana.

kini, ibunya sudah dinyatakan bersih dari kanker. dan dia harus chek up minimal Enam bulan sekali ke Rs. Ya, Fransiska juga, karena katanya, keturunan kanker, lebih beresiko terkena kanker ketimbang orang normal pada umumnya.

Oke, mendengar cerita panjang dari Fransiska membuatku semangat. apalagi Memey saat itu juga bilang ‘Lagi pula, Kanker Payudara itu Survive hidupnya paling tinggi, jadi jangan terlalu stress, itu malah nggak baik buat kesehatan.’

aku memiliki semangat kembali dari mereka, aku memiliki kekuatan kembali, dan hal itulah yang membuatku berani membuka suara.

pertama-tama, aku mengatakan pada Tania, Echa, dan Barbie. lalu aku mengatakannya pada suamiku. kemudian, saat waktu senggang, aku memberanikan diri mengatakan pada ibuku.

Aku ingat saat itu di sore hari. dia bertanya padaku “Kapan hasil lab keluar?”

dan aku menjawab “Mungkin minggu depan.” aku diam sebentar untuk memberanikan diri mengatakan kemungkinan terburuk pada ibuku. lalu, terucaplah kalimat itu. “Kalau misalnya, hasilnya nggak sesuai harapan gimana Bu?”

“Nggak sesuai harapan gimana?”

“Kita kan berharap kalau itu tumor jinak, nah kalau jinak kan berarti pengobatan sudah selsai. sedangkan kalau sebaliknya, berarti perjalanan kita masih panjang.”

“Jadi?” tanyanya lagi.

“Kita harus mempersiapkan kemungkinan terburuknya, Bu.”

“Memangnya kalau ganas, aku harus apa?”

Aku menghela napas panjang. “Ya, harus di angkat payudaranya.”

“Kok diangkat? terus bagaimana?”

aku sedikit panik saat dia terlihat ketakutan “Ya, itu kan kemungkinan terburuk, dan itu belum pasti, Bu. misalnya, ini misalnya loh ya, kalau misalnya kemunginannya kayak begitu, Ibu mau di operasi lagi?”

“Gimana? aku takut.”

“Ibu nggak sendiri, ada aku.”

“Tapi yang operasi nanti kan aku.”

“Iya, tapi kemaren nggak apa-apa kan? kemaren nggak berasa kan?”

“Iya juga sih.” jawabnya.

“Jadi, Ibu mau di operaasi lagi kalau misalnya…”

“Kalau setelah itu bisa sembuh, aku mau.”

Alhamdulillah. tak ada kelegaan yang kurasakan seperti saat itu. beban-beban yang menumpuk beberapa hari belakangan sirnah sudah setelah mengetahui jawaban ibuku tersebut. aku merasa dia bisa menerimanya, aku merasa dia bisa menghadapinya. dan hal itu pulalah yang membuatku tegar dan seakan berani menghadapi apapun kenyataan dihadapan kami.

Lalu…….

mimpi buruk itu benar-benar nyata.

Saat hasil lab keluar. Dokter benar-benar memvonis Ibuku Kanker Payudara stadium 2 Grade III. Dokter berkata Payudaranya harus segera diangkat (Kalau setuju). dan, kami menangis berdua di dalam ruang Dokter saat itu.

Hari itu masuk ke dalam jajaran Hari terburuk dalam hidupku. Ibuku tak berhenti gemetar, tangisnya membuatku ikut menangis. bahkan saat keluar dari Ruangan Dokter muhammad, tangisnya pecah. dia memelukku, dan tak berhenti bertanya ‘Aku harus bagaimana? aku harus bagaimana? aku harus bagaimana?’ berkali-kali tanpa putus.

Aku ikut menangis, bahkan puteri kecilku yang saat itu kuajak ke rumah sakit pun, ikut menangis.

Kami menangis bersama…

aku merasakan apa yang dia rasakan..

aku merasakan bagaimana ketakutannya…

aku merasakan bagimana kegelisahan dan kekhawatirannya…

Aku harus bagaimana? apa yang harus kulakukan selanjutnya? itupulalah pertanyaan yang ada dibenakku saat itu.

Samarinda

10 – Oktober – 2018

Advertisements

Catatan Cancer Warrior – Dua

Leave a comment Standard

 

 

Menjadi penulis membuatku dapat menciptakan kebahagiaanku sendiri, meski sebenarnya banyak tekanan hidup di dunia nyata. Sering kali aku menyebutnya sebagai sebuah pelarian. Aku sangat suka menulis, dan hal itu membuatku lupa dengan masalah besar yang seharusnya kuhadapi di dunia nyata.

Tepatnya, akhir Juni, Bapak telepon dan berkata jika Ibu sakit. Malam itu juga, melewati hutan-hutan yang panjangnya hampir 37 Km, aku ke rumah Ibu dan Bapak.

Ibu bilang jika dia merasakan dadanya panas, sesak, perut tidak enak, dan sejenisnya. Padahal setahuku, Ibu tidak pernah mengalami sakit seperti itu. Aku sempat mengajaknya ke IGD, tapi dia menolak mentah-mentah.

Ya, sebelumnya, dia memang belum pernah di rawat di rumah sakit. Karena itulah, mendengaar kata IGD membuatnya ngeri. Ibu berkata jika dia ingin periksa ke Dokter langganannya. Dan akhrnya aku menyetujui apapun keinginannya.

Esoknya, kami benar-benar ke Dokter. Sebenarnya, Dokter hanya memeriksa tekanan darah, gula, kolesterol dan sejenisnya. Dokter lalu meresepkan obat. Dan pada saat itu, entah kenapa Ibuku berkata dengan sendirinya pada dokter terseut.

“Dok, saya ada benjolan di payudara saya, apa in berhubungan dengan sakitnya saya?”

Aku terkejut, tentu saja.

Sejak hari dimana aku dengan sok tahunya memvonis ibuku itu, kami tak pernah lagi membahas tentang benjolan itu lagi. Ibu tampak baik-baik saja, dan kupikir, obat itu bekerja dengan baik. Tapi saat ibu menanyakan hal itu secara langsung pada Dokter, aku melihat sebuah kekhawatiran di wajahnya. Ketakutan itu tampak jelas terlihat, dan bodohnya, selama ini aku tak memperhatikaan hal itu.

Dia tertekan, aku tahu itu. dia tertekan dan dia tidak memiliki orang yang bisa diajak bicara.

Aku lebih fokus dengan keluarga kecilku, aku lebih fokus dengan dunia fantasiku hingga aku tidak tahu, bahwa dia sebenarnya sangat membutuhkan dukungan dariku.

Tuhan! Aku benar-benar tak berguna!

Mendengar itu, Dokter meminta ibuku kembali berbaring, dan dia mulai memeriksa dimana letak benjolan tersebut.

“Besar ini Bu, Ibu ada Bpjs? Kalau ada langsung konsul ke rumah sakit saja Bu. Bawa surat rujukan dulu dari Faskes pertama.” Dokter menyarankan.

“Apa parah, Dok? Apa itu yang membuat ibu saya sakit sesak seperti kemarin.” Tanyaku kemudian.

“Semuanya butuh pemeriksaan lebih lanjut, Mbak. Tidak bisa langsung di diagnosis. Lebih baik langsung ke spesialis tumornya. Nanti di sana Dokternya yang akan menangani.”

Takut, tentu saja. Bahkan wajah ibukupun tampak pucat dibuatnya. Astaga…. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Pikirku saat itu.

***

20 Juli 2018

Sebenarnya, Ibu tidak ingin melakukan ini. Tapi karena sejak saat itu aku khawatir dan aku melihat dengan jelas bagaimana dia juga khawatir dengan keadaannya sendiri sampai darah tingginya kambuh, akhirnya aku memintanya periksa ke Dokter Spesialis onkologi. Tiga hari sebelumnya, kami sudah berkonsultasi, lalu tgl 20 juli ini, Ibu melakukan pemeriksaan USG Mamae seperti yang di jadwalkan.

Sejak pagi, kami di Rumah sakit. Melakukan USG lalu bertemu lagi dengan Dokternya, Dokter Muhammad Sp. B Onk sorenya untuk membaca hasil USG tersebut.

“Lumayan besar, Bu. Dan nggak hanya satu. Harus di angkat ini.” Ucap Dokter Muhammad sembari membaca hasil USG ibuku tersebut.

“Operasi, Dok?” tanyaku kemudian.

“Ya, Mbak. Harus di operasi ini.”

“Tapi itu nggak ganas kan Dok?” tanyaku lagi.

“Kalau di lihat dari ciri-cirinya dan juga dari gambar USG seharusnya ini nggak ganas. Tapi kita tidak bisa mendiagnosis hanya dari gambar. Nanti, kalau sudah di angkat, akan ada tahap Patologi anatomi, yaitu benjolan yang diangkat itu akan diteliti lagi di Lab, untuk memastikan ganas atau tidaknya.”

“Kalau jinak bagaimana? Dan kalau ganas bagaimana?” aku masih tak ingin diam.

Dokter Muhammad tersenyum. “Kalau Jinak, alhamdulillah, pengobatan slesai, tapi kalau ganas, akan ada tahapan pengobatan selanjutnya.”

Aku menatap ke arah Ibu seketika. “Ibu mau di operasi?”

“Gimana? Aku takut.” Jawabnya.

“Nggak apa-apa, Bu. Kan nanti di bius.” Dokter Muhammad menenangkan dengan begitu sabar. “Saya sendiri yang operasi Bu, insha allah baik-baik saja. Yang penting berdo’a ya Bu.”

Akhirnya, Ibuku memutuskan untuk melakukan tindakan operasi. Dia hanya ingin jika semua ini segera selesai dan dia tidak kepikiran lagi. Akupun demikian, aku mendukung penuh apapun arahan dari Dokter. A Ibu akhirnya mendapatkan jadwal Operasi tgl 26 Juli 2018.

***

26 Juli 2018

Jam 5 sore, Ibu masuk ruang operasi. Lama kami menunggu, sekitar Jam 7 Ibu keluar ddari ruang operasi dan diaa sudah sadar sepenuhnya. Dia menatapku dan tersenyum , matanya berkaca-kaca. Aku tidak tahu apa yang dia rasakan, tapi tampak jelas kelegaan di wajahnya.

“Gimana Bu?” tanyaku saat kami memasuki lift menuju ke ruang perawatan yang berada di lantai Tiga rumah sakit tersebut.

“Aku nggak ingat apa-apa. Dokternya mijetin aku, suruh aku baca Do’a. lalu ada dokter yang lain suruh baca Bismillah sebelum nyuntik di pangkal infusku. Lalu aku nggak ingat apapun.”

“Nggak sakit kan?” tanyaku kemudian.

“Iya, nggak sakit. Malah tadi, aku di bangunin suster. ‘Bu, bangun, Bu, bangun. Sudah selesei operasinya.’ Aku buka mataku, terus aku jawab ‘Belum’ Susternya ketawa terus bilang ‘Maksudnya, Ibu sudah selesai di Operasi, Bu.’ Abis itu aku merasa plong banget.”

Aku tertawa mendengar ceritanya. Ternyata, dia mampu melewati semuanya. Kupikir, dia akan menyerah.

Melihat Ibuku yang kondisinya sangat baik itu, membuatku semangat. Ya, dia akan sembuh aku tahu itu. tapi ternyata, mimpi burukku saat itu belum di mulai.

Esoknya. Tepatnya tanggal 27 Juli. Saat kami sedang asyik di ruang rawat Ibuku. Dokter Muhammad datang, dia memeriksa ibuku dengan sesekali bercanda di sana. Ya, Dokternya memang sangat ramah dan luar biasa. Aku bahkan merasa sangat dekat dengannya.

Saat dia keluar dari ruang inap ibuku, aku melihat dia melambaikan tangannya padaku, seakan-akan memintaku untuk menemuinya. Akhirnya, aku menuruti saja. Dan aku menemuinya di ruang perawat yang berada tepat di sebelah ruang inap ibuku.

“Ya, Dok. Ada apa?” tanyaku. Aku sedikit curiga karena saat itu, Dokter Muhammad sudah menampilkan raut wajah seriusnya. Tak ada lagi senyum terukir seperti di ruang inap ibuku tadi.

“Mbak jangan panik, Ya. Saya mau bilang ini supaya nanti mbak nggak kaget. Sepertinya ada kemungkinan ini ganas, Mbak.”

“Apa? Maksud Dokter?”

“Benjolannya tidak hanya satu, dan beruntung segera ketahuan. Ada benjolan lainnya yang kemungkinan besar ganas.”

Aku ternganga tak bisa membuka suara satu katapun.

“Kemungkinan Ibu kena Kanker Payudara. Tapi lebih pastinya kita tunggu hasil PA ya Mbak. Jangan bilang sama Ibunya dulu, kita berdoa saja semoga saya salah.”

“Kalau, kalau itu beneran ganas, bagaimana, Dok?”

“Ada pengobatan selanjutnya, biasanya kalau ukurannya besar dan sudah menyebar, kita rekomendasikan untuk kemoterapi dulu, baru pengangkatan Payudara. Tapi kalau ukurannya masih kecil, kami rekomendasikan segera di angkat saja payudara beserja jaringannya.”

“Maksudnya, Ibu saya bakal nggak punya payudara lagi?”

“Iya, Mbak, memang seperti itu prosedur pengobatan dari Kami. Tapi tentunya itu meminta persetujuan dari pasiennya. Jika pasiennya tidak ingin, Ya, kami tidak memaksa.”

“Apa nggak ada lagi pengobatan yang lain selain mengangkat payudaranya, Dok?”

Dokter Muhamman menggelengkan kepalanya. “Dari kami, prosedur pengobatannya memang seperti itu.”

Mataku berkaca-kaca seketika. Aku tidak tahu apa yang kurasakan saat itu. Aku ingin menangis, tapi Dokter bilang kalau aku tidak boleh mengatakan apapun pada Ibu atau keluargaku yang lain sebelum hasilnya benar-benar keluar.

Dengan sedikit lemas, aku kembai ke ruang inap ibuku yang di sana ternyata sudah ada beberapa saudaraku. Kalian tahu apa yang kulakukan di sana? Aku tertawa lebar dan berkata jika malam itu juga, Ibu sudah boleh pulang. Semuanya baik-baik saja, tinggal kontrol saja. Lalu entah mereka kembali membahas apa sembari saling melemparkan candaan.

Aku ikut tersenyum, ikut tertawa, tapi dalam hati, aku merasakan kekhawatiran yang amat sangat. Ketakutan seakan menghantuiku, menyelimuti diriku, padahal di sisi lain, aku harus tetap tersenyum dan menunjukkan jika semuanya baik-baik saja.

Tuhan! Kenapa ini terjadi padaku?

Samarinda 

10 oktober 2018

Catatan Cancer Warrior – Satu

Leave a comment Standard

 

 

Perkenalkan dulu. Aku Enny, perempuan usia 25 Tahun. Aku sudah menikah dan sudah memiliki satu anak perempuan yang kini duduk di bangku TK. Selama ini, aku hanya tinggal bertiga dengan puteri kecilku itu dan juga Suamiku.

Aku memiliki seorang Kakak yang sudah berkeluarga dan tinggal di rumahnya sendiri dengan puteri dan istrinya. Kedua orang tuaku masih lengkap. Ibu, Bapak, meski usianya tak muda lagi, tapi mereka masih giat bekerja sendiri tanpa meminta-minta pada anak-anaknya.

Ya, padahal anak-anaknya bekerja. Kakakku memiliki usaha rumah makan, begitupun denganku dan juga suamiku. Hobby menulisku pun menjadi penghasilan sampinganku. Tapi hebatnya kedua orang tuaku itu tak pernah sekalipun meminta-minta padaku atau pada kakakku.

Semuanya berjalan dengan sempurna. hingga suatu hari, tepatnya bulan Lima kemarin, mimpi burukku itu baru saja dimulai.

Ibu baru berani jujur padaku jika ada yang salah dengan tubuhnya. ia merasakan sebuah benjolan yang terasa ketika di raba di area payudara kanannya.

Shock? tentu saja.

Selama ini, Ibuku tidak pernah sakit. Dia adalah wanita terkuat yang pernah kukenal. Dulu, saat aku masih kecil, Bapak pergi merantau ke Negeri seberang tanpa kabar. dan hebatnya, Ibuku mampu membiayahi sekolahku dan sekolah kakakku saat itu dengan hanya menjadi buruh tani. Ya, dia benar-benar wanita terkuat yang pernah kukenal.

Tapi saat dia menceritakan keadaannya saat itu padaku, kulihat ada sebuah ketakutan yang begitu kentara di matanya. kulihat kerapuhan yang tampak jelas di wajahnya. Ya, dia takut. begitupun denganku.

Aku bukanlah wanita kuno, aku adalah wanita yang suka memanfaatkan teknologi saat ini untuk kepentingan yang lebih positif. seperti belajar sesuatu, atau mencari kabar-kabar melalui artikel-artikel di internet.

mendengar kata Benjolan di payudara, tentu saja pikiranku segera menjurus ke sana. Ya, Kanker payudara. Jika kalian mengetik kata kanker wanita di internet, maka akan banyak sekali artikel-artikel kesehatan yang akan membahas tentang 1. Kanker Serviks, 2. Kanker payudara. Dan saat itu, ketika ibuku berkata tentang benjolan di dadanya, maka yang kupikirkan hanya Kanker Payudara.

Oh Tuhan! Tidak. Aku berharap jika itu hanya sebuah benjolan biasa, tumor jinak yang mungkin tak perlu di angkat. Atau mungkin hanya sebuah kelenjar normal yang membesar karena pengaruh hormon wanita atau sejenisnya.

“Sejak kapan, Bu?” tanyaku padanya. Dalam hati aku berharap jika dia menjawab bahwa dia baru merasakannya.

“Baru kurasakan minggu lalu.”

Aku menghela napas lega. Kupikir, jika itu baru saja kemarin, mungkin itu hanya sebuah benjolan biasa yang tidak berbahaya.

“Boleh kulihat?” tanyaku padanya.

Ibu mempersilahkan aku memeriksa dirinya. Kuraba dan kurasakan, ternyata ya, memang ada sebuah benjolan yang bagiku cukup besar.

“Bu, Yakin ini baru kemaren dirasainnya?” Aku curiga jika dia sudah merasakannya sejak lama tapi takut untuk memberitahukannya padaku atau pada yang lainnya.

“Ya, Baru kemaren aku tahu.”

Kemudian aku lanjut memeriksa dia. Hanya berbekalkan artikel-artikel yang kubaca di internet atau situs-situs kesehatan, aku dapat menghela napas lega. Tak ada ciri-ciri Kanker seperti yang kubaca di artikel-artikel tersebut. Padahal, aku tak tahu jika ada beberapa kasus yang berbeda, sedangkan apa yang di tulis di artikel-artikel itu adalah kasus kebanyakan.

Dengan begitu bodohnya aku berkata “Jinak ini Bu. Mau di operasikan atau gimana?”

Sombong? Ya, itulah aku. Padahal aku bukan orang kesehatan, aku bukan dokter, tapi dengan begitu angkuhnya, aku bisa memvonis ibuku sendiri hanya berbekalkan artikel di internet.

“Kok din operasi, apa nggak bisa di obatin aja? obat herbal misalnya.”

“Kalau menurutku, bagus di operasi, Bu. kok Ibu seneng sih, ngerawat penyakit. kalau sudah ketahuan benjolan, mending langsung di angkat.”

“Enggak, Ahh, aku takut. di obatin dulu aja ya.” ucapnya lagi dengan nada memohon.

Aku menghela napas panjang. “Ya sudah lah, terserah Ibu aja.”

Pikirku saat itu adalah, Ya sudahlah, toh itu hanya tumor jinak, biar saja di obatin herbal, nanti juga hilang sendiri, karena kata Ibuku sebelumnya, nenekku juga pernah punya benjolan di payudaranya, lalu hilang seiring berjalannya waktu dengann dia mengkonsumsi obat herbal itu. jika nenekku sembuh, ibuku pasti juga akan sembuh. pikirku saat itu.

Tapi bodohnya, aku tidak memikirkan kemungkinan terburuknya. Hatiku dipenuhi dengan kesombongan, dengan keangkuhan bahwa aku maha tahu semuanya dengan pengalamanku yang hanya melalui artikel-artikel kesehatan yang pernah kubaca. seharusnya aku tahu, bahwa sebuah vonis baru bisa didapatkan setelah melalui proses pemeriksaan, bukan hanya melalui pengalaman membaca.

Aku tidak menyalahkan artikel itu, Tidak! aku hanya tidak tahu, bahwa ada beberapa keadaan yang memang tidak sama. Pasien satu dengan pasien lainnya memiliki keadaan yang berbeda. seharusnya aku bisa memikirkan hal itu saat itu. tapi karena aku terlalu sombong, aku terlalu bodoh, maka aku membiarkan saja apa yang sudah diputuskan oleh ibuku.

Ya, itu bukan sebuah tumor jinak….

Itu bukan sebuah benjolan biasa…

Itu adalah Kanker…

Penyakit yang selama ini menjadi penyakit yang begitu menakutkan untuk kebanyakan orang. dan penyakit itu, kini sedang tumbuh di tubuh orang yang begitu kusayangi, dia Ibuku….

Samarinda

10 – Oktober – 2018

Diary kepenulisan – Part 5 (Di tinggalkan readers setia)

Comments 13 Standard

Diary kepenulisan

 

Blog ini sudah seperti duniaku.. aku hanya ingin menulis sebagian dari yang ku rasakan di Blog tercintaku ini.. Apapun yang ku rasakan saat aku mulai menulis kisah-kisah yang menurut kalian Romantis.. So.. inilah Kisahku… Kisah sang Author Gaje…

 

Part 5

-Di tinggalin Reader setia-

 

haiiii… sepertinya udah lama banget aku nggaak curhat-curhat gaaje di dunia kecilku ini, well, sekarang aku mau sedikit curhat. wakakakkakak oke. abaikan saja judulnya yaa, karena nggk ada yang namanya ‘Di tinggalin pembaca setia’ karena yang namanya pembaca setia pasti nggak akan ninggalin kamu.

aku ingat, dulu aku ada reader setia, bisa di bilang dia orang pertama yang baca cerita aku sih, kalau kaliaan buka cerita the lady killer di blog ini, kalian pasti bakal nemuin komen2nya di setiap partnya, saat itu aku seneng bgt karena ada yang mau baca cerita abal2ku, lalu ceritaaku berlanjut pada because its you, setelah because its you rilis, dia stop baca ceritaku karena kurang suka dengan tema ceritanya. oke, kita nggak bisa dong nyalain orang karena nggak suka dengan cerita yang kita buat, but, aku nggak bisa bohong kalau itu menyakitkan. hehhehehhe

lalu, kejadian itu terjadi lagi.. lagi… lagi… dan lagi…. well yah, aku sudah kebal. hahahahha

dan sejak saat itu aku tahu kalau nggak ada reader setia (Setidaknya untuk aku) Ya, karena aku sadar, apasih tulisanku? tulisanku mah cuma abal2, siapa coba yang mau ngidolain. but, aku tetap berterimakasih banget sama ‘kalian-kalian’ segelintir orang yang masih setia menyukai ceritaku meski ceritanya gitu2 aja. aku akan berusaha yang terbaik untuk kalian, ya, hanya untuk kalian yang menyukai tulisanku, bukan kalian yang menuntutku lebih untuk membuat cerita yang lebih bagus dari si ono, atau lebih bagus dari si ini. suer, aku gak bakalan nggubris kalian yang seperti itu, kenapa? karena jika kalian benar-benar mencintaiku, maka kalian akan mencintai apa yang ku sajikan tanpa menuntut untuk lebih keren dari penulis lainnya.

Oh iya, sedikit info, kemaren aku sempat punya grup line, Ediaaan, dan beberapa grup line lainnya, grup yang membuatku dekat dengan reader setiaa aku. lalu aku keluar dari sana. wakakkakakka, kenapaa? karena aku merasa nggak pantas berada di sana, aku merasa jika di sana bukanlah tempatku, aku merasa jika aku bukan orang yang mereka inginkan, jadi aku keluar dan ingin menjadi diriku sendiri.

so yah… bagiku, reader setia adalah reader yang setia baca tulisan-tulisan aku di blog ini. bukan reader yang hanya baca saat ceritaku naik rating, kemudian meninggalkan saat aku terpuruk. ya, aku punya kalian semua, kalian yng meembaca blog ini, aku sayang kalian, dan aku akan bertahan dengan tulis menulis demi kalian…. i love you All…..

Ps. makasih banyak buat dukungannya pada cerita Samantha, aku suka menulis cerita itu, aku mencintai karakter2nya, meski ‘teman2 yang sempat kusebut teman terdekat’ nggak suka, bahkan nggak mau baca, meski reader aku di wattpad lebih nodong aku ke cerita lainnya, tpi demi kalian (yang baca di blogku ini) aku sudah menyelesaikan cerita tersebut, artinya, kalian bukan sekedar reader, komentar kalian benar-benar membuatku semangat dan nggak peduli lagi dengan mereka yang sudah nggak mempedulikan aku. terimakasih.. terimakasih… terimakasih…..

 

10-08-2017

Zenny Arieffka

 

Diary Kepenulisan – Part 4 (Wattpad yang semakin tidak Nyaman)

Comments 4 Standard

01Diary Kepenulisan

Blog ini sudah seperti duniaku.. aku hanya ingin menulis sebagian dari yang ku rasakan di Blog tercintaku ini.. Apapun yang ku rasakan saat aku mulai menulis kisah-kisah yang menurut kalian Romantis.. So.. inilah Kisahku… Kisah sang Author Gaje…

 

Part 4

Wattpad yang semakin Tidak nyaman…

 

Wattpad….

Aku nggak tau apa yang terjadi di wattpad akhir-akhir ini….

Menulis di wattpad kini bukan sesuatu yang nyaman lagi untukku… Kenapa?? Entahlah…. Mungkin kini terlalu banyak akun yang memang tak menyukai ke suksesan beberapa author di sana.

Aku juga heran. Kenapa bisa ada orang-orang seperti itu. Bebebrapa saat yang lalu, ada beberapa akun yang memang sengaja mencari-cari kekurangan di ceritaku.

Ya, tentunya aku tau bahwa ceritaku memang banyak kurangnya.. tapi bukan berarti kalian bisa seenaknya saja mencari-cari kekurangan tersebut….

Beberapa kali aku Down.. saat ingat komentar-komentar miring mereka.. yaa… tak di pungkiri kalau komentar buruk pada suatu cerita sedikit banyak itu pasti akan berpengaruh pada Mood penulis itu sendiri.. seperti yang ku rasakan…

Tapi saat membaca komen positif, semangat itu datang lagi…  membara lagi… aku ingin lanjut nulis dan nulis… menciptakan duniaku sendiri… dunia dari imajinasiku… tak peduli betapa tak masuk akalnya ceritaku… yang penting tujuannya hanya satu, aku ingin mencurahkan semuanya yang mengganjal di hatiku supaya aku lega… aku ingin menghibur diriku sendiri dengan dunia yang ku ciptakan sendiri…  aku ingin membuat beberapa orang tersenyum seperti orang gila saat membaca ceritaku… yang ku inginkan hanya itu…

Tapi nyatanya beberapa akun di Wattpad tidak berpikir seperti itu… tidak berpikir bahwa ini hanya suatu hiburan… Astaga.. ayolah… Buat para akun tersebut.. Kalian terlalu KAKU…!!!

Sepagi tadi aku mendapat gonjang ganjing jika beberapa cerita populer di wattpad ada yang me Report… mereka bilang karena cerita tersebut mengandung unsur dewasa.

Begitukah??

Bukannya kalian yang meReport itu hanya iri karena cerita tersebut Populer berikut penulisnya??? Ayolahh jangan munafik.

Ada banyak… BANYAK sekali cerita esek2 di wattpad tanpa alur cerita yang jelas, dan mereka tidak pernah masuk Rank, alias tidak populer,,, lalu kenapa kalian tidak meReport cerita tersebut?? kenapa hanya cerita2 populer saja???

Ceritaku memang bukan cerita populer, aku tau itu… tapi karena MYW pernah masuk Rank #2  di wattpad, dan juga banyak sekali mengandung unsur Dewasa, maka tak ada salahnya bukan aku curiga jika pasti ceritaku juga akan masuk list Report…

Tadi, beberapa pembaca setiaku menghubungiku secara langsung dan mengusulkan hal ini padaku… Aku di minta Unpub sementara MYW dari wattpad, dan ku pikir itu memang ide bagus…

Ya… Malam ini juga MYW SEMENTARA akan aku UNPUBLISH dari wattpad…. jika keadaan sudah kembali memungkinkan, maka aku akankembali mempublishnya, Aku janji…!!

‘Alahhhh Thorrr.. Lu cemen Banget, di Report juga kagak, pakek acara di unpub segala… populer juga kagak.. sok-sok’an lu.. bilang aja cari sensasi…’

Kalo ada yang komentar seperti di atas, maka aku akan tertawa nyaring di depan mukanya… dan berkata..

Helloooo…. Satu juta Viewer itu sudah banyak sekali buatku… 102K Voters itu sudah banyak sekali buatku.. Rank #2 juga sudah luar biasa buatku, mengingat ceritaku nggak ada yang se Rame MYW.. Aku nggak mungkin membiarkan Ceritaku itu tiba-tiba ilang tanpa bekas karena di Report orang… Apa nggak sayang sama Vote yang di berikan Reader untukku?? Apa nggak sayang ama komenan-komenan lucu mereka?? Kalo aku sih sayang banget…. Jadi, Sebelum ceritaku itu di hapus dari Wattpad, Maka SEMENTARA akan aku UNPUBLISH sampai kondisi lebih baik lagi…

Aku tidak mencari keuntungan, SAMA SEKALI TIDAK.  Karena kalian masih bisa baca gratis di blog ku ini kalau kalian kangen sama kak Aldo. Blog ini pun Bebas dari iklan. Jadi, aku benar-benar TIDAK mencari keuntungan dari hal ini…

Terimakasih sebelumnya sudah mampir di sini… Ingat, Kalau bertamu harus selalu menghormati yang punya rumah. Sampai jumpa di diary kepenulisanku selanjutnya….

 

KissHug

Zenny Arieffka

Diary Kepenulisan – Part 2 (My First Love)

Leave a comment Standard

01Diary Kepenulisan

Part 2

-My Firs Love-

 

Halo.. Ketemu lagi sama saya… hehhehe dengan tulisan gaje saya ini.. hahahhaha. Okay, bicara tentang judul di atas, jangan harap kalau saya akan bercerita tentang Cinta pertama saya yang Sumpah demi apapun juga Nyesekkkkkk bgt se nyesek-nyeseknya,,, hhahahha

Cinta pertama yang kita bahas saat ini adalah Cinta pertama pada Tokoh Ciptaan saya. Meskipun Tokoh pria pertama yang saya Ciptakan Adalah Kim Joon di fansfic Korea “The passionnate of Love”, Tapi entah kenapa kalau bicara Cinta Pertama, Saya menunjuk Tokoh Dhanni Revaldi pada Novel saya yang berjudul “The Lady killer”. Yaa.. Kak Dhanni lah yang menjadi Cinta  pertama Si Author Gaje ini.. hhahahahah

tumblr_m5q04fFsAN1ryhc5ho4_r1_250Sejak Awal saya sudah pernah menceritakan. kalau Novel The Lady killer inspirasinya dari kisah tragis saya dengan Suami dan juga sahabat dari suami saya, Meski kisah kami sebenarnya jauh berbeda dan jauh dari kara Romance, hehhehe.

Sosok Dhanni Revaldi sendiri benar-benar terinspirasi dari sosok suami saya yang Cueknya nggak ketulungan, Pemarah, Dingin seperti kutub, nggak romantis, dan masih banyak sekali kekurangan dia yang akan membuat siapapun nggak betah hidup bersamanya. Real, ini benar-benar realita, kalau boleh saya curhat, sudah berapa kali saya mengucapkan kata “Aku nggak kuat Mas, Kita sudahan saja.” tapi mungkin Allah masih sayang sama kami berdua hingga kami masih bisa bersama dalam bahtera rumah tangga yang umurnya baru menginjak 6 tahun ini (Alhamdulillah..)

Kembali ke sosok Dhanni Revaldi. Kak Dhanni di ceritakan Sebagai sosok yang sangat sayang sekali pada Sosok Nessa, tampan, Kaya, Tapi kekurangannya jelas ada di Sifatnya yang menurut saya benar-benar Minus. coba kalau dia nggak tampan dan kaya, mana ada orang yang mau hidup bersama orang yang Cuek, nggak romantis, pemarah, suka ngatur dan sikap buruk lain sebagainya. tapi di sini, Saya mencoba menggambarkan dia sebagai sosok manusia yang memang memiliki kekurangan. dan saya harap para pembaca bisa mencintai kekurangan dari Kak Dhanni tersebut.

Pemilihan cast, Setelah berputar-putar, akhirnya waktu itu saya benar-benar menemukan sosok yang saya anggap Klik menjadi sosok Kak Dhanni dalam gambaran saya. dan inilah gambar pertama Kak Dhanni yang saya temukan di Mbah Google.

Screenshot_2015-06-30-20-22-04-1Setelah menemukan gambar ini, Pikirku ‘Ehh Busyeettt ini bener-bener mirip sama gambaranku, sumpah’. lalu ku telusuri dah tuh gambar ini. dan taraaa… aku menemukan sebuah nama..

Chinawut Indracusin…

Sumpah demi apapun juga waktu itu saya sedikit ngakak saat membaca namanya. oke lupakan. Jadi saya cari tuh, nama Chinawut indracusin di Mbah Google. dan alhamdulillah ternyata benar, Dialah sosok yang saya cari.

Dia seorang penyanyi asal thailand yang sampai sekarang pun saya tak tau mana lagunya, wkwkkwkwkwk. Jujur, Saya melihatnya sebagai Kak Dhanni, Bukan sebagai Chinawut si penyanyi. hahhahahaha -namanya juga udah di butakan dengan cinta wkkwk-

lanjut lagi… Setelah saya menemukan foto-foto ini Akhirnya saya dan hati saya menyepakati bahwa dia akan menjadi kak Dhanni untuk saya. Kak Dhanni yang selalu menemani malam-malam galau saya dengan menulis cerita The lady killer ini… So, terserah kalian para pembaca mau menjadikan siapa saja pada sebagai kak Dhanni kalian.

Semangat nulis semakin menjadi saat mendapat Cast yang menurut saya benar-benar klik, Pikiran saya seakan penuh dengan Kak Dhanni pada saat itu. Hingga pada Akhirnya saya bisa menyelesaikan cerita The lady killer dengan sebaik-baiknya -Menurut saya-.

Sedih saat mengingat saya harus berpisah dengan Sosok Kak Dhanni. Sosok yang saya Ciptakan dalam imajinasi saya, Sosok yang menemani malam-malam panjang saya, Sosok yang bagi saya cukup membuat bergetar hati saya saat saya membaca uang cerita The lady killer. Adakah sosok seperti Dia dalam Dunia nyata ini?? jika Ada, Katakan padanya, “Bahwa aku sudah jatuh cinta untuk pertama kalinya pada Sosok Fiksi yang telah ku ciptakan sendiri..”

Beberapa teman bertanya. “Kak, Gimana sih cara menciptakan sosok yang kuat seperti Sosok Dhanni Revaldi dalam Novel kakak??” Ini seorang teman dan dia menjadi penulis juga.

Saya hanya menjawab “Saya tidak tau, Saya menulisnya ketika saya membayangkannya, tak ada trik apapu, tak ada rancangan apapun karena waktu itu saya benar-benar baru dalam hal tulis menulis.”

“Tapi karakter yang Kakak ciptakan itu kuat sekali loh, sampai membekas gitu, coba lihat Review di Playstore..” Kata temanku itu lagi.

Dengan tersenyum saya berkata “Mungkin pada saat itu saya menulisnya dengan perasaan, hingga maksud hati saya dapat tersampaikan pada para pembaca.”

yaa.. hanya iyu yang dapat saya jawab. mungkin saya menulisnya dengan perasaan. hanya itu saja.

Setelah The Lady killer Ending. Saya mencoba menciptakan sosok Baru. Sosok Renno Handoyo yang berubah menjadi dingin dan Brengsek karena masa lalunya. Sosok yang dingin tapi bertanggung jawab dan juga perhatian dengan Gadis lugu bak malaikat seperti Allea ananta.

Sosok yang saya Ciptakan ini lagi-lagi mampu membuat saya jatuh cinta untuk kedua kalinya pada Sosok Fiksi yang saya Ciptakan sendiri. Saat Because its you tamat, Saya bahkan menangis. Ini sumpah loh, nggak ngarang. Saya susah Move On dari Renno, bahkan membuat Cerita selanjutnya -My Everything- sempat berantakan karena Mood saya. hahhahahah

Lalu kemudian saya menciptakan sosok Ramma, Revan, Mike, Brandon, Reynald, Aaron dan semua Sosok yang sedang saya tulis saat ini. kalian tau apa yang saya rasakan saat menulis mereka?? Yaa saya merasakan jatuh cinta kembali pada setiap sosok yang sedang saya tulis. setiap sosoknya memiliki keistimewaan tersendiri untuk saya, maka jangan heran kalau saya akan mengumpat dan menyumpahi habis2an saat saya tau karya yang saya buat Diplagiat bahkan di ganti menjadi Billy, Aliando, ikbal dan lain sebagainya.

Mereka.. para Hero yang ku ciptakan, meski tak nyata, tapi mereka punya tempat tersendiri di hati saya, saya ingin menjadikan mereka semua dalam bentuk fisik yang bisa di sentuh dan di rawat. so, saya mencetak mereka semua bukan untuk mencari ke untungan, melainkan untuk menjadikan kenang kenangan saya di hari tua bahwa dulu saat saya muda saya pernah berselingkuh dengan mereka dari Suami saya.. hahahhahaha #LOL

jadi jika di tanya, Siapa di antara sosok yang saya ciptakan yang paling saya cintai,? Saya akan menjawab ‘Tidak Ada’. karena saya mencintai mereka semua, saya menikmati proses saat menulis cerita-cerita mereka, mereka memiliki keistimewaan tersendiri di hati saya.

tapi jika di tanya siapa yang menjadi cinta pertama saya dalam sosok Fiksi yang saya Ciptakan?? Maka jawabannya Jelas. Kak Dhanni Revaldi lah Cinta pertama saya.

Sekian dan terimakasih untuk curahan hati saya yang Gaje ini.. hahhahahha  sampai jumpa di part selanjutnya.. wkwkwkkwkw

 

*Salam Sayang

Zenny Arieffka :*

Diary Kepenulisan – Part 1 (Awal mula)

Leave a comment Standard

01Diary Kepenulisan

Blog ini sudah seperti duniaku.. aku hanya ingin menulis sebagian dari yang ku rasakan di Blog tercintaku ini.. Apapun yang ku rasakan saat aku mulai menulis kisah-kisah yang menurut kalian Romantis.. So.. inilah Kisahku… Kisah sang Author Gaje…

Part 1

Awal Mula

 

September – 2014

 

Happy Birthday Mas…” Ucapku pada Seorang Lelaki di hadapanku.

IMG_20140929_235331

“Apa’an sih kamu.. Lebbay.” Dengan menjengkelkannya dia berkata seperti itu. ya ampun.. Dasar nggak romantis.

IMG_20140926_140251 “Ya udah lah, kalo nggak mau kuenya.”

“Kue.. Buat apa?? di makan habis juga.”

“Ehhh jangan salah, kalau aku sih nggak akan ngasih kue aja, aku ada hadiah untuk kamu, iya kalau kamu nggak pernah sekalipun ngasih aku hadiah.”

“Kayak anak muda aja pakek hadiah-hadiahan..”

Dan akhirnya aku keluar, mengambil sebuah Bingkisan untuknya. “Taraaaaa….” Ucapku sambil membawa kardus sedang yaang di dalamnya terdapat hadiahku untuknya.

10403016_981644101852139_5425814570130264405_n

Sebuah laptop baru yang bisa di buat untuk memainkan PS 3.. Yaa suamiku itu memang sedang mendambakan PS 3, tapi karena di rumah udah ada PS 2 yang nganggur dan jarang di pakek, akhirnya aku memilih membelikannya Laptop yang bisa di pakai untuk PS 3 sekaligus dipakai menyimpan data-data kami lainnya.

“Apa ini Dek?” Dia terlihat bingung.

“Sini, aku kemaren udah tanya-tanya ama Mas Dafit, katanya ini Laptop bisa buat PS 3, nanti tinggal tak belikan stik nya aja.”

“Beneran nihh?” Dia bertanya kegirangan.

Aku mengangguk dan dia langsung memelukku kayak anak kecil sambil loncat-loncat. Yaa dia memang begitu. Umurnya 10 taun lebih tua dariku, tapi kelakuannya Jauhh di bawahku. wkwkwkwkwk ini aku jujur bukan mendramatisir atau membagus-baaguskan diriku. tapi memang, Sifat asli Mas ku itu kekanak-kanakan, dan dia selalu seperti anak muda. kalian pasti nggak akan percaya kalau banyak yang mengira jika dia itu adikku. Yaa karena aku sejatinya bertampang Boros alias tampag tua, sedangkan dia Babby Face, alias nggak sesuai ama umurnya, hehehhe. Okay lupakan, kembali keceritaku di awal.

Akhirnya setelah menerima hadiahku, Dan belanja lain sebagainya, Mulailah dia memainkan PS 3 nya di Laptop. Aku juga nggak tau seperti apa persisnya, karena aku memang aslinya cuek, dan terlalu malas ngursin urusan Mas apalagi menyangkut kebutuhan laki-lakiannya seperti PS, Gitar, alat pancing, dan lain sebagainya.

mungkin sekitar beberapa minggu setelah aku memberi hadiah itu, Dengan cueknya dia bilang seperti ini padaku.

“Nah Dek, Jual lagi aja. Mana seru main di situ, Layarnya kecil banget.” Katanya datar sambil memberikan Laptop putih itu padaku.

Sedikit kesal aku berkata “Ya udah lah, buang aja. Kamu itu di beli-belikan, nggak terima kasih malah nyuruh jual.” tapi dia nggaak jawab, dan malah lempeng aja ke kamar belakang. Dasar Kutub. Yaa julukanku padanya itu banyak.hehhehe (Jangan di tiru). Dan pada Akhirnyaa Laptop ini pun menganggur lumayan lama.

Waktu itu entah bulan berapa aku lupa, Saat aku Browsing internet, aku baca-baca gitu dehh fansfiction online, novel-novel online juga. lalu aku berpikir, Aahh enak kali yaa bisa nulis gitu? dan malam itu juga aku mencoba menulis..

Awalnya aku hanya nulis fansfiction korea, Yaa, Aku adalah orang yang sangat menggilai korea.. hehehhe Fansfic pertamaku adalah “The passionnate of love”. Kisah cinta antara Wanita penghibur dengan seorang CEO muda. idenya dari pengalaman pribadi teman di dumay ku. tentunya aku kasih bumbu drama gitu.. hehheheh awal bikin itu, Sumpah, Aku sedikit geli. yaa tentu saja, Itu Fansfic erotis, dan Seorang pemula sepertiku nulis adegan ‘Begituan??‘ Astaga…. Belepotan banget dan pastinya banyak baanget kata-kata joroknya hahhahahaha -maklumi saja yaa…-

Aku hanya Post di Blog baru ku ini. Blog yang dulu menurutku akan tenggelam karena nggak akan ada yang mau melirik apalagi membukanya. hehehhe. Akhirnya Aku nulis, dan nulis, walau dengan bahasa berantakan dan EYD yang tak kalah berantakannya, belum lagi jari yang belum terbiasa ngetik membuat Typo semakin bertaburan hahhahah pikirku, Bodo amat lah. nggak ada yang baca juga, toh aku cuma iseng-iseng aja, dari pada ini laptop nggak kepakek kan..  akhirnya aku lanjutin nulis.

Lalu jenuh juga sih, nulis tapi nggak ada yang baca dan cumaa aku dan aku sendiri yang buka ini Blog ku. Akhirnya aku mencoba menshare ceritaku ini di beberapa grup Fansfiction Korea. Namanya Grup FF Big Bang, dan ada juga yang namanya Grup FF All K-Pop kalo nggak salah waktu itu. Dan dari situlah Ceritaaku mulaai ada yang baca..

Haiii para teman-teman K-Pop yang mengenalku dari Grup yang ku sebutka di atas… terimaakasih sekali yaaa kalian bersedia membuka Blog ku ini untuk membaca lanjutan kisah Cinta Kim Joon dan Kang So Ra. terimakasih banyak, karena setelah membaca komentar kalian, aku jadi semangat nulis.

belum selesai dengan fansfic “The Passionnate Of Love,” Aku mencoba membuat Novel Online denga Genree Metropop. Judulnya “The Lady Killer.” Judul itu aku peroleh dari salah satu novel mbak santhy Agatha yang judulnya “Embrace the Chord”. Menceritakan tentang Jason yang menjadi seorang Lady Killer. Nah.. akhirnya julukan Jason tersebutlah yang ku jadikan judul novel online pertamaku.

Awalnya “Lady killer” itu menceritakan kisah Cinta Dhanni dan Maya, baru aku nulis beberapa Page, tulisanku tersebut Hilang, Ke format dan terhapus semua. Streesss sangat Stress.. aku bahkan sudah men screen shoot dan meng upload ke Akun FB ku, tapi nyatanya aku nggak bissa lanjutin itu cerita karena terhapus, Sialan..!!! Aku mencoba nulis lagi, tapi ku hapus lagi, entah kenapa kayak ada yang kurang. dan saat ku bacaa nama tokohnya, Astaga.. benar saja, Dani dan Maya, seakan mengingatkanku pada pasangan Musisi indonesia yang kini sudah bercerai.

Enggak…

Aku nggak boleh pakek nama itu, aku harus ganti. Dan akhirnya ku gantilah nama Maya itu dengan nama Nessa yang sekarang kalian kenal dengan Dhanni Nessa Couple..dhannesss-1_Tlk Cover new

Akhirnya aku mulai melanjutkan cerita Cinta dari Dhanni Revaldi dengan Nessa Arriana ini beriringan dengan kisah cinta Kim Joon dan juga Kang So Ra.

Aku jugaa mulai mengasah ketrampilanku membuat cerita pendek Berbentuk Oneshoot, lalu juga mulai belajar Photoshop untuk membuat Cover2 yang sampai sekarang pun masih belepotan, hhahahhahaha -Maklumi lagi yaa.. wkwkwkwk-

Semakin hari, aku semakin asik dengan dunia baruku ini, Dunia tulis menulis, Dunia yang dulu tak pernah ku pikirkan apalagi ku impikan.

Yaaa Awal mula aku menulis memang hanya karena tak ingin Laptop yang ku hadiahkan dengan suami ini Mubadzir, tak terpakai. dan aku tidak menyangka, jika hanya berawal dari iseng-iseng inilah sedikit banyak aku bisa menghibur beberapa Orang yang tak sengaja mampir di Blog yang sangat ku cintai ini…..

So, Jika ada yang Bertanya. “Kak, kakak kok pinter banget sih nulisnya?? Nulis sejak kecil yaaa??”

Dengan gamblang aku akan menjawab “Enggak Dek, Aku juga baru, dan masih harus banyak belajar lagi, Aku mulai nulis sekitar awal 2015, dan tulisanku pun masih jauh dari kata bagus, Aku masih harus banyak belajar lagi.”

Okay.. hanya itu saja kisahku pada Part Awal mula ini. Masih banyak lagi kisah-kisahku lainnya dalam dunia kepenulisanku ini, Dunia baru yang bagiku bukan hanya sebagaai Dunia khayalan saja. pelajaraan yang bisa di ambil dari part ini adalah lanjutkanlah apapun itu yang membuat hatimu nyaman, karna kamu tak akan tau hasil akhirnya sebelum kamu mencobanya hingga Akhir..

*Salam Sayang…

Zenny Arieffka.. 😉 🙂