My Young Wife – Chapter 5

Comments 9 Standard

Pswmnew bvvvvFix

My Young Wife

 

 

Chapter 5

 

“Kamu yakin akan membawanya pulang ke apartemen?” hanya Bertanya pada Aldo. Puteranya tersebut sedang sibuk membereskan barang-barang milik Sienna.

“Ya Ma..” hanya itu jawaban dari Aldo.

“Aldo.. Sienna itu butuh perhatian, bukankah lebih baik dia tinggal bersama Mama??”

Tentu saja Aldo menolak gagasan tersebut. Jika mereka tinggal di rumah mamanya, otomatis Sienna akan tidur sekamar dengannya dan itu membuat Aldo benar-benar frustasi. Mungkin semalam atau dua malam Aldo akan dapat melewatinya, tapi bagaimana jik tiap malam??

“Mama tenang saja, aku akan mencarikan seorang pelayan yang dapat di percaya untuk menjaga Sienna.”

“Aldo.. Istri kamu itu bukan butuh pengawal atau pelayan, dia membuatuhkan Kamu, kamu untuk memperhatikannya.”

“Aku selalu memperhatikannya Ma, Bahkan dari jauh.”

“Tapi kamu selalu bersikap datar padanya Aldo.” Ucap Hana menyalahkan puteranya tersebut.

Ya, Sedikit banyak, Hana memang tau bagaimana keadaan hubungan Aldo dan juga Sienna. Saat itu hana benar-benar terkejut saat tiba-tiba Aldo pulang ke rumah dengan membawa seorang gadis belia.

 

Hana membuka pintu depan rumahnya dan terkejut saat mendapati Aldo putera pertamanya datang dengan seorang gadis yang bisa di bilang cukup belia. Hana mengernyit ketika menatap gadis tersebut. Seorang agdis yang mungkin saja masih menginjak SMA. Untuk apa Aldo membawa gadis tersebut ke rumahnya??

“Kamu pulang nak..” Ucap Hana sedikit berbasa-basi.

Sejak beberapa tahun belakangan, Aldo memang memilih tinggal sendiri di Apartemen pribadinya. Menurutnya, Tinggal sendiri akan lebih mandiri dan sedikit banyak ia akan merasakan bagaimana susahnya hidup sendiri.

“I.. Iya Ma..” Aldo tampak terputus-putus ketika menjawab pertanyaan Hana. Tatapan mata Hana kemudian tertuju mada jemari mungil gadis itu yang tiba-tiba mencengkeram erat lengan Aldo seakan Ia ketakutan.

“Ayo masuk, kenapa berdiri di situ.” Ucap Hana mencairkan suasana yang entah sejak kapan menjadi menegang.

Hana menggiring Aldo dan gadis mungil tersebut sampai di ruang tengah. Disana terdapat Mike yang sedang duduk santai sambil menonton televisi. Mike yang sedikit terkejut dengan kehadiran Aldo sat itu akhirnya langsung berdiri, tidak menyanagka jika Aldo akan mengunjungi mereka pada malam hari seperti saat ini.

“Aldo, Tumben kamu pulang di malam hari??” tanya Mike pada puteranya tersebut. Sesekali Ia menatap Hana, seakan bertanya, siapa gadis mungil yang dibawa Aldo saat ini.

“Emm.. Ada yang pengen Aldo bicarakan sama Papa dan Mama.” Ucap aldo kemudian dan itu membuat Hana dan Mike semakin penasaran.

“Duduk dan bicaralah.” Ucap Mke sambil duduk kemudian di susul Hana di sebelahnya dan juga Aldo dan Sienna di hadapannya. “Ada apa sebenarnya??”

“Aldo ingin menikah.” Ucap Aldo dengan cepat. Aldo seakan tidak ingin niatnya mengabur karena rasa takut.

“Apa? Dengan siapa? Kenapa tiba-tiba??” Ya, Mike dan Hana tentu saja sedikit terkejut dengan pernyataan Aldo. Hingga usia Aldo mencapai angka Dua puluh delapan tahun, baru kini Hana dan Mike mendengar kata tersebut terucap dari bibir puteranya tersebut.

“Ini Sienna Ma.. Pa.. Aldo ingin menikah dengan Sienna.”

Ucapan Aldo benar-benar membuat mata kedua orang tuanya terbelalak. Hana jelas tau jika Gadis di sebelaah puteranya tersebut bukanlah gadis matang, Usianya bahkan belum menginjak angka dua puluh, tapi kenapa tiba-tiba Aldo ingin menikahi gadis tersebut??

“Kamu sadar dengan yang kamu bicarakan??” Tanya Hana sedikit lebih pelan, takut jika Ia menyinggung hati sang gadis.

“Aldo sangat sadar Ma..”

“Kenapa sekarang dan kenapa dengan Dia??” Tanya Mike dengan pertanyaan yang benar-benar menuntut jawaban secepatnya dari Aldo.

“Karena Sienna hamil, dan Aldo harus bertanggung jawab.” Hana dan Mike saling bertatap mata dengan mata yang sama-sama membulat karena keterkejutan yang amat sangat. Menikah karena sebuah ‘kecelakaan??’ Dan sejak saat Itu Hana tidak pernah yakin dengan pernikahan Aldo dan juga Sienna.

 

“Dia membutuhkanmu sayang, bukan orang lain.” Ucap hana dengan lembut sambil mengusap lembut pipi Aldo.

Kemudian Sienna pun keluar dari kamar mandi dengan wajhnya yang sudah sangat segar. Aldo menuju di mana Sienna berdiri, kemudian Ia menuntun Sienna duduk di ranjangnya dengan penuh perhatian.

“Kita pulang ke rumah Mama kak??” Tanya Sienna dengan nada polosnya.

“Tidak, Kita kembali ke Apatemen.”

“Tapi.. Aku ingin tinggal lebih lama sama Mama..”

Aldo mendengus kesal, ia tidk mungkin menuruti kemauan Sienna. Jika mereka pindah ke rumah sang mama, tentu saja mereka akan tidur sekamar, dan Aldo tidak ingin itu terjadi.

“Tidak Si, Kita akan tetap kembali ke Apartemen.” Jawan Aldo dengan wajah datarnya.

“Kak… tapi mungkin bayinya ingin tinggal lebih lama dengan Neneknya.” Ucap Sienna sambil mengusap perutnya.

Aldo menghela napas panjang, jika sudah menyebut tentang bayi, tentu saja Aldo tidak bisa menolaknya. “Baiklah, tapi hanaya beberapa Hari.” Ucap Aldo mengalah.

Sienna bersorak gembira. Sienna tau, jika itu satu-satunya cara supaya Ia bisa tidur dengan nyaman dalam pelukan Aldo setiap malamnya. Yaa… sebenarnya itulah yang di inginkan Sienna. Entah kenapa sejak tidur bersama dengan Aldo malam itu, Sienna ingin lagi dan lagi. Tidur dalam pelukan Lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya tersebut entah kenapa terasa sangat nyaman untuk Sienna. Apa karena bayinya?? Mungkin saja, bukan kah beberapa orang pernah mengatakan jika terkadang seorang bayi tidak ingin jauh dari ayahnya?? Mungkin itu yang kini terjadi dengan Sienna dan bayinya. Ia ingin selalu berada di dekat Aldo.

“Sekarang Ayo kita bersiap-siap pulang.” Ajak Aldo yang di sertai anggukan antusias dari Sienna.

***

Sienna menatap dengan kagum kamar Aldo. Kamar yang khas dengan nuansa laki-laki dan entah kenapa Sienna sangat ingin memberikan sentuhan perempuan di kamar tersebut.

Ini pertama kalinya Sienna memasuki kamar Aldo. Saat mereka menikah, pernikahan tersebut dilakukan sangat buru-buru. Aldo hanya menikah di rumah Sienna sedang besoknya mereka langsung pindak ke Apartemen milik Aldo. Dan ini pertama kalinya Sienna menginjakkan diri di kamar Aldo.

“Anggap seperti kamar sendiri saja.” Ucap Aldo dengan datar. “Aku mau mandi.” Lanjutnya sambil menuju ke kamar mandi. Sedanhkan Sienna masih sibuk memperhatikan satu demi satu barang-barang di kamar tersebut.

Ada banyak bingkai-bingkai foto yang tertata rapi di rak-rak yang menempel di dinding kamar Aldo. Beberapa ada foto Aldo dengan keluarganya. Ada foto aldo dengan gadis mungil yang di yakini Sienna sebagai Bianca, Adik kandung Aldo yang kini masih tinggal di inggris.

Sienna tentu tau cerita tentang Bianca, karena ketika bertemu dengan Hana, Hana selalu selalu saja membahas tentang kesamaan dirinya dan juga Bianca. Usia Bianca hanya beda sekitar dua sampai tiga tahun dengan Aldo, tapi menurut  Hana, Sikap Bianca sama manja nya dengan sikap Sienna.

Entah kenapa mengingat itu membuat Hana tersenyum sendiri, Ahh mungkin akan asik jika bertemu dengan Bianca. Pikir Sienna dalam hati.

Sienna kemudian kembali menelusuri foto-foto tersebut. Ada juga foto Aldo, Bianca dan seorang gadis yang sepertinya  seumuran dengan Bianca. Sienna tidak tau siapa gadis tersebut, tapi sepertinya Sienna pernah melihatnya ketika di upacara pernikahannya. Mungkin kerabat dari Aldo, karena foto tersebut memperlihatkan betapa bahagianya mereka bertiga.

Sienna kembali menuju sisi lain rak-rak tersebut dan di sana banyak sekali pigura-piguraa kecil dengan foto Aldo bersama seorang wanita. Wanita yang sangat di kenalnya, memngingat setiap bulan Ia bertemu dengan Wanita tersebut. Dia Dokter Franda, Dokter kandungan yang memeriksanya setiap bulan. Dokter kandungan yang dulu sempat memberikan resep obat peluruh untuknya.

Sienna membatu saat menatap foto-foto tersebut. Kenapa banyak Foto Dokter Franda di kamar suaminya?? Apa sebenarnya hubungan Aldo dengan Dokter Franda?? Dan kenapa Sienna merasa bahwa ini bukan suatu yang baik untuk di ketahuinya??

“Kamu sedang Apa??” Suara Aldo menar-benar mengejutkan Sienna.

“Aaahh.. Aku sedang melihat foto-foto ini.” Ucap Sienna dengan polosnya.

“Ohh itu foto-foto lama.” Ucap Aldo dengan nada datarnya padahal kini Sienna tentu tidak tau jika Aldo sedang menegng.

“Kak.. Siapa gadis ini?? Aku melihatnya di upacara pernikahan kita saat itu.” Tanya Sienna sambil membawa sebuah foto Aldo dengan Bianca dan gadis tersebut.

“Ini Felly, Anak Paman Revan. Lain kali akan ku kenalkan. Dia sudah seperti Adikku sendiri. Kamu akan suka dengannya, “

“Kenapa Kak Aldo yakin aku akan suka dengannya?”

“Karena sekitar Satu tahun yang lalu, Dia sudah membuka toko Ice Cream dan cake miliknya sendiri, aku yakin Kamu akan selalu meminta di ajak kesana jika sudah mengenalnya dan mencicipi Ice Cream dan cake dari tokonya.”

“Waaahhhh Aku mau… Aku pasti bisa berteman baik dengannya.” Ucap sienna dengan binar mata bahagianya.

Dengan spontan Aldo mengacak poni Sienna. “Aku Akan mengenalkanmu nanti.”

“Emm Kak.” Panggil Sienna dengan sedikit ragu. “Kalau itu.. Emm… Kenapa ada banyak foto Dokter Franda di sini??”

Dan Aldo sangat tau jika pertanyaan itu pasti akan di lontarkan Sienna padanya. Apa Ia harus menjawabnya dengan jujur?? Ahhh yang benar saja.

“Franda kn temanku Si..”

“Ya, Aku tau, Tapi bukankah Nasya kekasih Kak Aldo?? Kenapa tidak ada Nasya di sini?? Kenapa malah ada foto Dokter Franda??”

“Karena, Aku baru mengenal Nasya beberapa bulan yang lalu, Kami menjalin kasih juga sejak sebulan sebelum kita bertemu. Aku tidak sempat membawa fotonya ke rumah ini.”

“Lalu Dokter Franda??” Sienna masih bertanya dengan nada polosnya.

“Franda temanku sejak SMA. Jadi kita memang sudah dekat sejak dulu. Dia bahkan sudah mengenal keluargaku.”

Sienna benar-benar tidak suka dengan pernyataan Aldo. Aldo berkata seakan-akan tidak ada yang bisa menggantikan posisi Franda di hati lelaki tersebut, Meski Aldo bilang mereka hanaya sekedar teman.

“Lalu, kenapa tidak ada fotoku??” Lirih Sienna sambil menundukkan kepalanya.

Sebenarnya Sienna tidak ingin bertanya tentang foto dirinya, karena Siena tentu tau apa alasannya. Tentu Aldo tidak akan memajang fotonya, bukankah dia bukan siapa-siapa di rumah ini?? Dirinya hanyalah Wanita yang tidak sengaja mengandung anak Aldo, itu saja.

“Karena Aku memang belum sempat memajangnya.”

“Memangnya Kak Aldo mau memajang fotoku??”

“Tentu saja, Kamu kan ibu dari Anak ku..” Ucap Aldo sambil tersenyum manis ke arah Sienna.

Sienna menunduk dan menganggukkan kepalanya. Hanya itu saja?? ‘Ibu dari Anakku’?? Entah kenapa Sienna kurang suka dengn jawaban Aldo.

***

Aldo menatap Sienna dengan tatapan tak terbacanya. Wanita di hadapannya itu sangat susah sekali di tebak. Sebentar memperlihatkan raut cerianya, tapi semenit kemudian berubah menjadi Sendu. Sebenarnya apa yang di rasakan Sienna saat ini?? Dan Astaga.. bagaimana bisa dirinya masih memajang foto Frand di dalam kamarnya??

Aldo tau, jika cepat atau lambat Sienna pasti akan tau perihal hubungannya dengan Franda dulu. Tapi tentu saja Aldo tidak ingin memberi tau secara terperinci. Entah kenapa Aldo takut itu bisa membuat Sienna sedih.

“Apa yang kamu pikirkan??” Pertanyaan Aldo membuat Sienna mengangkat wajahnya kembali. Wanit  itu kemudian menyunggingkan senyuman manisnya, senyuman seakan mengatakan jika Dirinya baik-baik saja.

“Nggak ada yang ku pikirkan.” Ucap Sienna dengan nda manjanya.

Dengan spontan Aldo merenggangkan kedua tangannya, “Kemarilah, Aku ingin memelukmu.” Aldo sendiri bahkan tak mengerti, kenapa dirinya bisa mengucapkan kalimat menggelikan tersebut.

Akhirnya Sienna menuruti permintaan Aldo. Sienna menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Aldo. Mengirup aroma suaminya tersebut.

“Aku benar-benar menyukai aromamu Kak..”

“Hanya Aroma sabun mandi.”

“Tapi aku suka.” Ucap Sienna masih dengan mengusap-usapkan wajahnya pada dada milik Aldo.

“Aku akan tetap ke kantor pagi ini, jadi Kamu baik-baik di rumah sama Mama yaa..” Pesan Aldo. Dan nanti malam kita ke tempat praktik Franda untuk memeriksakan keadaan kamu.”

Sienna terlonjak seketika. “Emm.. Emmm… Nggak perlu ke tempat Dokter Franda kak, Aku.. Aku sudah baikan kok.”

“Aku masih belum tenang Si.. Pokoknya nanti malam kita ke tempat Franda.” Ucap Aldo tanpa bisa di ganggu gugat.

Sedangkan Sienna hanya dapat ternganga. Ia bingung bagaimana cara menolak ajakan Aldo sedang ia tau jika ia menerima ajakan Aldo pasti Dokter Franda akan berkata jujur pada Aldo jika dirinya sebenarnya tidak pernah mengalami kontraksi atau pendarahan apa pun.

***

“Mama sedang apa?” tanya Sienna ketika mendapati Hana, Ibu mertuanya sedang sibuk melakukan sesuatu di taman tepat di sebelah kolam renang di samping rumahnya.

“Ehhh sini sayang. Mama lagi membuang tangkai-tangkai bunga yang mengering.” Ucap Hana pada Sienna dengan ramah.

“Aku bosan di rumah Ma, di sini sepi, sama seperti di dalam Apartemen kak Aldo.”

“Mama mengerti, kamu masih sangat muda, dan pastinya masih senang-senangnya jalan kesana-kesini.” Ucap Hana sambil mengusap lembur rambut Sienna.

“Kalau Aku mengajak temanku main kesini, Apa boleh ma??”

“Tentu boleh sayang, mama malah akan sangat senang jika kamu mengajak teman kamu kemari.”

Sienna tersenyum bahagia, Ia sangat senang jika Salah satu temannya di perbolehkan main ke rumah ibu mertuanya ini. Kemudian Siennaa teringat sesuatu. Ingin rasanya ia menaanyakan hl tersebut pada ibu mertuanya.

“Ma.. Sienna boleh tanya sesuatu nggak??”

“Tentu boleh sayang, tanya saja.”

“Emm.. Mama kenal nggak sama Dokter Franda??”

Hanya tampak mengernyit. “Franda?? Ahh.. ya, Franda teman Aldo??” Hana berbalik bertanya pada Sienna.

Sienna hanya menganggukkan kepalanya.

“Tentu sayang. Dia teman Aldo, dan dia sering main ke rumah ini.”

“Hanya teman Ma??”

“Ya, hanya teman. Dulu mama pikir mereka ada dalam satu hubungan tapi ternyata tidak. Mereka hanya berteman. Aldo bahkan sering gonta-ganti pacar.” Jelas Hana.

Tanpa sadar, Sienna menghembuskan napas panjangnya. Setidaknya Ia tau jika Aldo dan dokter Franda hanya sebatas teman. Tapi.. Entah kenapa dalam hati Ia masih merasa ada yang aneh??

“Kamu ada masalah dengan Franda??”

“Tidak Ma.. Dokter Franda itu Dokter kandunganku yang di pilihkan oleh Kak Aldo. Jadi Aku penasaran saja kenapa Kak Aldo sangat percaya pada Dokter Franda.”

Hana tersenyum lembut pada Sienna. “Yang Mama tau, Aldo dan Franda hanya berteman Si.. kalaupun ada sesuatu diantara mereka, Mama nggak tau, tapi saran Mama, kamu harus lebih percaya dengan Aldo.”

Sienna menganggukkan kepalanya dengan lembut. Ya, harusnya Ia mempercayai apa yang di katakan suaminya tersebut. Tapi Sienna masih merasa janggal saja. Ahhh lupakan saja, Pikir Sienna dalam hati.

***

Aldo sedang duduk santai di taman di se buah rumah sakit. Tentu saja rumah sakit tempat Franda bekerja saat siang hari sedangkan jika malam hari, Franda membuka sebuah tempat Praktik pribadi.

Aldo menemui franda bukan tanpa alasan, karena tentunya Aldo ingin membuat janji dengan Franda untuk memeriksakan keadaan Sienna ke tempat praktik pribadi Franda nanti malam. Dan juga tentunya untuk melepas rindu pada temannya tersebut. Ya.. Aldo sangt merindukan Franda, mengingat sudah beberapaa minggu terakhir mereka tidak bertemu.

Banyak alasan kenapa mereka jarang bertemu, yang pertama tentu karena kesibukan masing-masing, keberadaan Sienna apalagi Nasya tentu sangat mempengaruhi waktu Aldo. Dan aldo sangat merindukan saat-saat bersama Franda dulu.

Franda sahabatnya… Cinta pertamanya… Cinta terpendamnya….

Aldo menghela napas panjang mencoba melupakan semua tentang perasaan yang sudah di buangnya jauh-jauh. Tak lama, sosok yang di tunggunya itu pun akhirnya datang juga, Siapa lagi jika bukan Franda.

Dengan santai Franda menghambur ke dalam pelukan Aldo. Begitu pun dengan Aldo yang laangsung membalas pelukan Franda dengan pelukan hangatnya.

“Kamu sendiri Al?? Sienna mana??”

“Sienna di rumah, kemarin dia sempat mengalami kontraksi, Jadi dia masih istirahat total di rumah.”

Franda tersenyum. “Lalu untuk apa Kamu menemuiku siang ini??”

“Makan siang bersama mungkin??” Ajak Aldo.

“Maaf.. Bukannya aku menolak, tapi sebentar lagi akan ada jadwal Operasi.” Ucap Franda sambil melihat ke arah jam tangannya. “Ada Apa Al??”

“Aku kangen.”

Franda tertawa lebar. “Kamu masih suka nggombal ya, Dasar..”

Aldo tersenyum. “Aku hanya ingin membuat janji nanti malam. Aku Mau kamu memeriksa Sienna . Aku benar-benar khawatir dengannya.”

“Baiklah, Aku akan memeriksanya nanti malam.” Ucap Franda sambil menganggukkan kepalanya. “Kamu benar-benar sangat perhatian padanya Al.”

Aldo menunduk dan menganggukan Kepalanya. “Aku hanya takut terjadi apa-apa dengan Dia atau bayiku.”

“Bagaimana…. Jika Aku di posisi Sienna. Apa Kamu juga sekhawatir ini dengan keadaan ku dan Bayiku??”

Pertanyaan Franda membuat Aldo mengangkat wajahnya dan membulatkan matanya seketika ke arah Wanita cantik di hadapannya tersebut. Apa yang di maksud Franda?? Kenapa Franda melontarkan kalimat seperti itu??

 

-TBC-

Hayoooo sapa yang udah semakin penasaran??? hahahhahah

Advertisements

My Young Wife – Chapter 4

Comments 4 Standard

Pswmnew bvvvvFix

My Young Wife

 

Udah ada yang kangen ama kak Aldo nggak yaa??? Ayoo yang kangen silahkan di baca.. kali ini nggak masalah kok di baca kapan aja… hehheheh Free dari Adegan ++ tapi tetep nggak akan mengurangi rasa manisnya.. jiaahahahhahaha Enjoy reading yaa… 🙂 🙂

 

Sienna mengangkat wajahnya seketika. Menatap Eva sambil membulatkan matanya. Jatuh hati? Tidak.. tidak mungkin… Ia jatuh hati pada sosok Kevin, sahabatnya sendiri, bukan pada Aldo, Suminya tersebut. Bagaimana mungkin secepat kilat perasaannya berubah dan berpaling pada suami nya sendiri???

 

Chapter 4 

 

Sienna menggelengkan kepalanya. “Tidak, itu tidak mungkin Va.. Aku.. Aku sukanya sama Kevin.”

“Itu dulu Si.. ingat, perasaan orang bisa berubah.”

“Tapi mana mungkin secepat ini Va..??”

“Tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia ini Si.. sekarang ayo, kita samperin itu suami kamu dan wanita jalangnya.” Ajak Eva.

“Heii.. untuk apa?? Aku nggak mungkin menghampiri mereka dan merengek pada Kak Aldo Va.”

“Kamu nggak perlu merengek, kamu hanya perlu tegas dengan dia.”

“Aku nggak bisa..”

“Ayo Si.. Kamu pasti bisa. Kalau bisa gunakan kehamilanmu untuk menarik suamimu dari wanita jalangnya itu.”

“Itu nggak Boleh Va..”

“Siapa yang tidak memperbolehkan?? Ayolah Si..  Berusahalah untuk mendapatkan hati Suamimu.”

Sienna nampak berpikir sejenak. Ia mengusap lembut perutnya. Sebenarnya ada benarnya juga apa Kata Eva. Meski pernikahan mereka hanya karena sebuah kesalahan, tapi mereka sudah menikah dengan Sah, apa salah nya memperjuangkan Hak nya sebagai seorang istri yang sedang mengandung bayi dari Aldo, Suaminya.

Sienna kemudian Berdiri dengan semangat. Ia menghapus air matanya. “Baiklah, Ayo kita temui mereka.” Ucap Sienna dengan semangat yang membuat Eva tersenyum lebar.

***

Aldo Benar-benar sangat risih saat Nasya bergelayut mesra di lengannya. Ia masih sangat kesal saat tadi Nasya menyinggung tentang Sienna dan bayinya. Saat Aldo ingin meninggalkan Nasya, Nasya dengan piawai membujuk Aldo kembali padanya, Merayunya, Membuat Aldo tak tega dan tak bisa marah terlalu lama dengan Nasya. Bagaimana pun juga, Nasya kini adalah kekasihnya. Wanita yang di cintainya. Di cintai?? Astaga.. Kini Aldo bahkan ragu dengan perasaannya sendiri.

“Baiklah sayang, aku ingin membeli itu..” Ucap Nasya smbil menunjuk ke sebuah butik sepatu.

“Sepatu lagi??”

“Iya.. yang kemarin sudah ketinggalan jaman.”

Ketinggalan jaman?? Astaga.. yang benar saja, Mereka baru membelinya beberapa hari yang lalu. Bagaimana mungkin sudah ketinggalan jaman.

“Baiklah, pilih semau mu.” Ucap Aldo pasrah. tapi ketika kemudian Aldo membalikkan tubuhnya, Ia mendapati sosok itu, Sosok wanita belia dengan raut manjanya.

“Kak Aldo..” Suara Wanita itu benar-benar terdengar lembut di telinga Aldo, seakan menggelitik dirinya untuk segera merengkuh tubuh mungil di hadapannya tersebut.

“Sienna.. Kamu.. kenapa bisa di sini??” Tanya Aldo dengan keterkejutannya sambil menatap ke arah Eva yang berdiri tepat di sebelah Sienna.

“Aku.. tadi aku ngidam sesuatu, dan nggak sengaja Ketemu Eva di sini. Dan kemudian tidak sengaja melihat Kak Aldo.”

Aldo menegang seketika, entah kenapa Ia benar-benar merasa bersalah dengan Sienna. Harusnya Ia menjaga istrinya yang sedang mengandung anaknya tersebut, bukan malah bersenang-senang dengan kekasihnya.

“Kak Aldo sedang apa di sini??”

“Aku… Aku.. ngantar Nasya..”

Belum juga Aldo menyelesaikan kalimatnya, Nasya sudah kembali sambil memeluk mesra pinggang Aldo. “Al… Kenapa Dia di sini??”

Mata Sienna terasa panas saat melihat pemandangan di hadapannya. begitupun dengan Eva, ingin rasanya Eva menjambak rambut wanita bernama Nasya tersebut.

“Emm.. tadi dia mencari sesuatu, dan tidak sengaja melihat kita di sini.”

“Kalau begitu kenapa tidak pura-pura tidak lihat saja,? Kita sibuk dengan urusan kita dan kita tidak butuh pengganggu seperti mereka.” Ucap nasya dengan keangkuhannya.

“Hei.. jaga mulutmu, Harusnya Kamu malu karena jalan dengan suami orang.” Ucap Eva yang sudah meradang dengan kelakuan Nasya.

“Helo.. Kalian itu masih bau kencur, Berani sama Aku?? Lagian salah sendiri kenapa nggak jaga diri baik-baik, jadi Hamil duluan kan??”

“Nasya.. Jaga ucapan kamu.” Aldo menggeram.

“Kamu kok malah belain mereka sih??”

“Aahhhh…” tiba-tiba Sienna terduduk sambil memegangi perutnya.

Eva nampak sangat khawatir. “Si.. kamu nggak apa-apa kan??”

Aldo pun tampak sangat panik. Secepat kilat Ia menghampiri Sienna, duduk di sebelah istrinya tersebut.

“Si.. Ada yang salah?? Kamu nggak apa-apa kan??”

“Sakit..” hanya itu yang mampu di ucapkan Sienna.

Secepat kilat Aldo menggendong Sienna dan meninggalkan tempat tersebut. Aldo bahkan tidak menghiraukan Nasya lagi saat wanita itu memanggil-manggil namanya.

“Bertahan Si.. Ku mohon..” Ucap Aldo yang wajahnya sudah memucat. Ia sangat takut terjadi apa-apa dengan Sienna atau bayinya. Aldo setengah berlari menuju ke arah Parkiran mobilnya di ikuti Eva di belakangnya, sedangkan Nasya hanya mampu menatap punggung Aldo dengan tatapan kesalnya.

***

Aldo membawa Sienna ke IGD sebuah rumah sakit. Dia benar-benar terlihat sangat khawatir. Sienna bahkan melihat Wajah Aldo memucat. Apa saat ini Ia keterlaluan??

Sebenarnya tidak ada yang terjadi dengan diri Sienna tadi. Ia hanya sangat Kesal dengan Nasya, Akhirnya Ia berpura-pura kesakitan, dan Ia benar-benar tak menyangka kalau Aldo akan sepanik itu.

“Tolong Selamatkan istri dan Anak saya Dok..” Pesan Aldo pada seorang Dokter dengan sedang menangani Sienna.

“Bapak keluar saja dulu.” Seorang suster  mempersilahkan Aldo dan Eva keluar dari IGD.

Dan Akhirnya, hanya ada Sienna  dan seorang Dokter serta beberapa suster di ruangan tersebut. Ketika Sang Dokter akan menyentuh Sienna untuk memeriksanya, Sienna meringsut menjauh.

“Maaf Dok, Saya tidak apa-apa.”

Si Dokter memicingkan matanya ke arah Sienna, “Maksud Anda??”

“Begini Dok..” Sienna benar-benar tidak tau harus bercerita apa pada sang Dokter, akhirnya sambil sedikit terkikik karena malu, Sienna pun bercerita. “Saya.. Saya hanya ingin membuat Suami saya khawatir dengan saya dan bayinya.” Ucap Sienna dengan wajah yang sudah memerah karena malu dan tak enak.

“Apa??” Sang Dokter hanya mampu membulatkan matanya, begitupun dengan beberapa suster yang ada di ruang IGD tersebut. Mereka tak menyangka jika ada orang seperti Sienna yang berpura-pura mengalami kontraksi hebat hanya karena ingin membuat sang suami Khawatir. Sedangkan Sienna sendiri hanya mampu tersenyum malu dengan tatapan sang Dokter dan suster-suster yang berada di ruang IGD tersebut.

***

Aldo berjalan mondar-mandi di depan pintu IGD. Ia sangat khawatir, benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Sienna dan bayinya. Aldo kemudian memicingkan matanya ke arah Fandy yang berdiri tidak jauh darinya. Pemuda itu sedang menundukkan kepalanya, mungkin sedang ikut menyesal dengan apa yang menimpa Sienna.

“Kamu.. Bukannya Kamu seharusnya mengawasi Sienna?? Kenapa Dia bisa sampai Di Mall?? Dengan Dia??” Aldo tampak mengerikan saat sedang Marah.

“Heei.. Harusnya Kak Aldo tidak menyalakan Fandy, bagaimana pun juga Sienna istrinya Kak Aldo, bukan Istri Fandy, Jadi kak Aldo yang seharusnya menjaga Sienna, Bukan Fandy.” Eva yang tampak sangat kesal akhirnya meluapkan kemarahannya pada Aldo.

Aldo hanya bisa membatu dengan ucapan Eva. Ya, Benar, harusnya Ia sendiri yang menjaga Sienna, bukan Fandy. Bagaimana pun juga ia harus bertanggung jawab, bukan malah asik keluyuran dengan wanita lain.

Aldo terduduk di kursi tunggu depan ruang IGD. Ia mengacak rambut di kepalanya sendiri dengan gusar. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Sienna dan bayinya, Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.. pikir Aldo dalam hati.

Kemudian, tidak lama Dokter yang menangani Sienna keluar dari IGD. Seketika Aldo menghambur ke hadapan Doktr tersebut.

“Bagaimana istri saya Dok??” Aldo benar-benar terlihat sangat panik.

“Semuanya baik-baik saja, hanya kontraksi ringan, tapi Tolong Anda lebih memperhatikan istri Anda lagi. Sedikit stress saja bisa mengganggu kehamilannya.” Ucap Dokter tersebut dengan serius.

Aldo menganggukkan kepalanya. “Saya mau melihatnya.”

“Silahkan.” Sang Dokter mempersilahkan Aldo masuk.

Aldo berlari masuk ke dalam ruang IGD tersebut. Dan menghampiri Sienna yang terbaring di atas Ranjang.

“Si.. Aku.. Aku minta maaf.”

Sienna menatap Aldo dengan tatapan sendunya. Ia menggelengkan kepalanya. “Kak Aldo nggak salah, Aku yang salah.”

Kemudian Aldo memeluk tubuh Sienna. “Aku yang salah.” Ucap Aldo dengaan nada yang penuh dengan penyesalan.

Sang Dokter yang berdiri di belakang Aldo hanya mempu tersenyum dan menggelengkan kepalanya pada Sienna. Sedangkan Sienna benar-benar merasa harus berterimakasih pada sang Dokter karena mau membantunya untuk bersandiwara di hadapan Aldo.

***

Hana, Mama Aldo, Kini sedang sibuk menyuapi Sienna dengan bubur gandum buatannya sendiri. Tadi Saat Aldo menghubunginya terkait keadaan Sienna, Mamanya tersebut langsung meluncur ke rumah sakit dimana Sienna di rawat.

Hana memang sangat menyayangi Sienna seperti puteri kandungnya sendiri, mengingat Bianca, Puteri keduanyanya tersebut belum kembali dari luar negri untuk menimba ilmu.

“Mama bilang juga Apa, Mendingan kamu tingga di rumah saja dengan Mama Si..”

Sienna menggelengkan kepalanya. “Kak Aldo bilang lebih baik tinggal di Apartemen supaya lebih mandiri.”

“Tapi Kamu hamil muda, Mama nggak mau terjadi apa-apa dengan mu.”

“Ma..” Bisik Sienna.

“Ada Apa??”

“Emm… Sebenarnya Aku.. Aku tidak apa-apa Ma..”

Hana mengangkat sebelah Alisnya. “Maksud kamu??”

“Emm… Aku.. Aku melakukan sandiwara ini supaya Kak Aldo lebih perhatian sama Aku Ma…”

Hana membulatkan Matanya. “Apa?? Jadi ini semiua hanya sandiwara??”

Sedangkan Sienna hanya mampu mengangguk dan tersenyum malu. “Iya Ma, Ini sandiwara..”

“Astaga.. Mama benar-benar khawatir dengan keadaan kamu Si.. Syukurlah kalau ini hanya sandiwara. Mama bahkan tidak berani menghubungi orang tua Kamu dan memberitahukan keadaanmu yang sekarang ini..”

“Aku benar-benar minta Maaf Ma.”

“Tidak, Kamu tidak perlu meminta Maaf. Mungkin memang Aldo yang kurang perhatian denganmu, Dia pantas mendapatkan itu. Apa Kamu tau, Dia menghubungi Mama dengan suara bergetar, dia benar-benar takut kehilangan Kamu dan bayimu Si..”

Sienna menggelengkan kepalanya. Mana mungkin Aldo mengkhawatirkannya. Mungkin Aldo hanya mengkhawatirkan bayi yang kini sedang di kandungnya.

“Baiklah, Sekarang lebih baik kamu istirahat saja. Nggak baik kalau terlalu banyak berpikir macam-macam.”

Sienna mengangguk. Kemudian ia memposisikan dirinya untuk berbaring dengan nyaman, kemudian tak lama, Ia menutup matanya. Hari ini benar-benar melelahkan untuknya, Ia harus istirahat, demi dirinya dan juga Bayi y7yang di kandungnya.

***

Aldo menatap Sienna yang sudah tertidur pulas di atas ranjang rumah sakit. Matanya menelusuri tubuh Sienna. Tampak Lemah dan Rapuh. Apa Sienna benar-benar kesakitan tadi?? Dan kenapa dirinya juga merasakan kesakitan yang sama?? Apa Karena bayinya??

Aldo kemudian membawa tangannya ke permukaan perut Sienna yang sudah sedikit terlihat buncit. Mengusapnya selembut mungkin, takut jika Sienna terbangun karenanya. Tapi betapapun Aldo mengusap perut Sienna selembut mungkin, Sienna tetap terbangun.

Wanita itu membuka matanya pelan-pelan dan terlihat terkejut ketika mendapati Aldo duduk di kursi sebelah ranjangnya.

“Bagaimana keadaanmu??” Aldo bertanya dengan ekspresi Kakunya.

“Baik..” Suara Sienna serak khas orang yang baru bangun tidur. “Kak Aldo sejak kapan di situ??”

“Sejak tadi.”

“Kak Aldo nggak tidur??”

Aldo hanya menggelengkan kepalanya. “Aku nggak bisa tidur.”

Kemudian tanpa di duga, Sienna menggeser tubuhnya sendiri ke ujung ranjang. “Tidurlah di sini.” Ucap Sienna sambil menepuk sebelah ranjang yang Ia tiduri.

Aldo menggelengkan kepalanya. “Tidak Akan muat Si.. Sudah, tidurlah,”

Kini Sienna yang menggelengkan kepalanya. “Aku nggak bisa tidur kalau nggak di peluk.” Ucap Sienna tanpa tau malu.

Aldo sedikit menyunggingkan senyumannya. Kemudian Ia berdiri dan membuka kemeja yang ia kenakan. Meninggalkan dirinya hanya dengan kaus dalam warna hitamnya.

“Baiklah, Aku akan memeluk mu sampai pagi.” Ucap Aldo sambil membaringkan dirinya sendiri tepat di sebelah Sienna.

Sienna kemudian meringkuk dalam pelukan Aldo. Dada lelaki tersebut benar-benar membuatnya nyaman. Astaga… Ia benar-benar jatuh dalam pesona suaminya sendiri.

“Kak Aldo Sayang sama Wanita itu??” Tanya Sienna dengan polosnya.

Tubuh Aldo menegang seketika. “Nasya Maksud kamu?”

Sienna menganggukkan kepalanya.

“Aku menjalin hubungan dengannya, Berarti aku mencintainya Si.. Aku nggak pernah main-main dengan Wanita.”

“Lalu bagaimana denganku??” Suara Sienna seakan tercekat di tenggorokan.

“Bukankah Kamu juga menyukai Lelaki lain??”

“Kak Aldo tau??”

“Aku mengetahui semuanya, karena malam itu, saat Kamu mabuk, Kamu menceritakan semuanya padaku. Kamu Menyukai Kevin kan??”

Sienna menganggukkan kepalanya. Entah kenapa hatinya kini merasa perih. Dulu, Ia memang menyukai Kevin, Sahabatnya tersebut. Tapi entah kenapa kini baginya sudah berbeda.

“Jangan Menyukai Dia Si..”

Tubuh Sienna menegang seketika. “Kenapa??”

“Aku… Aku tidak suka Kalau melihatmu menyukai Lelaki lain.”

“Kenapa Kak Aldo tidak suka??”

“Karena itu membuatmu Menangis, Aku tidak suka melihatmu menangis..”

Sienna tersenyum mendengar perkataan Aldo. Ia semakin menenggelamkan dirinya di dalam dada bidang Aldo.

“Bagaimana Kalau Kak Aldo yang membuatku menangis??”

“Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.” Jawab Aldo dengan cepat.

Sienna lagi-lagi tersenyum mendengar ucapan Aldo. Astaga.. Suaminya itu benar-benar manis.. Perkataan Aldo mampu menggetarkan hati Sienna. Dan Sienna tau jika Ia tidak bisa lepas begitu saja dari seorang Osvaldo handerson.

“Si.. Aku minta maaf, untuk hari ini..”

“Aku juga Minta maaf sudah membuat Kak Aldo kahawatir..”

“Aku memang selalu Khawatir jika itu tentang kamu dan bayi kita.” Ucap Aldo dengan lembut, membuat Sienna seakan terbang dengan kelembutan yang di berikan oleh Aldo. “Tidurlah.. Aku akan memelukmu sampai pagi.” Ucap Aldo lagi sambil mengusap-usap lembut kepala Sienna sesekali mengecupnya. Sedangkan Sienna sendiri yang sudah tidak dapat menahan kantuknya hanya memejamkan matanya saat kesadaran mulai meninggalkannya.

 

-TBC-

My Young Wife – Chapter 3

Comments 4 Standard

Pswmnew bvvvvFixMy Young Wife

 

Bang Aldo nya udah hdir nihh.. enjoy reading yaa… banyak Typo yaa.. mohon di maklumi.. hahahahha

 

Chapter 3

 

“Si… Malam ini.. Tidurlah di sini.”

Sienna masih mentap Aldo dengan tatapan anehnya. Apa Ia tak salah dengar tadi?? Akhirnya Sienna kembali duduk di pinggiran ranjang Aldo.

“Kenapa Kak??”

“Aku hanya tidak ingin tidur sendiri malam ini, Emm.. itu pun jika kamu nggak keberatan.”

Tanpa banyak bicara Sienna kembali bangkit dan berjalan memutari ranjang lalu merebahkan dirinya di sisi lain ranjang Aldo.

“Ayo tidur.” Ucap Sienna dengan manja.

Aldo hanya membatu melihat wanita mungil di sebelahnya kini.  Apa Wanita in tidak merasakan apa pun saat di dekatnya seperti yang di rasakannya kini pada Wanita tersebut. Astaga… Aldo bahkan tidak bisa mengendalikan degupan jantungnya yang semakin menggila karena kedekatan dirinya dengan Sienna.

“Kak Aldo nggak tidur??” tanya Sinna yang merasakan kegelisahan Aldo.

“Aku nggak bisa tidur.”

Sienna semakin mendekatkan diri kepada Aldo. “Kenapa?”

“Entahlah..”

Tanpa banyak bicara lagi Sienna memeluk tubuh Aldo. “Aku suka Aroma Kak Aldo, membuatku tenang.”

“Ini cuma Aroma minyak kayu putih yang kamu oleska padaku Si..“

“Bukan, Bukan Aroma itu, Aroma Khas tubuh Kak Aldo.” Ucap Sienna dengan polosnya.

Aldo membatu seketika. Astaga.. Sienna benar-benar mempengaruhinya. Kenapa juga tadi Ia minta di temani?? Bukan kah itu sama saja bunuh diri??

Sienna memang tergolong gadis muda. Tapi bagi Aldo, tubuh gadis di sebelahnya ini termasuk dalam golongan tubuh wanita dewasa. Apalagi kini mengingat sienna yang sedang Hamil membuat tubuh gadis itu terlihat semakin menggairahkan untuk Aldo.

Sering kali Aldo menahan Diri untuk tidak tergoda dengan Sienna, tapi entah kenapa malam ini Ia sangat ingin sekali mendekatkan diri dengan wanita tersebut??

Ketika Aldo sibuk dengan lamunannya, tiba-tiba Sienna meraih telapak tangan Aldo lalu membawa ke perutnya yang sudah sedikit terlihat buncit.

“Dia ingin di sentuh Ayahnya..” Ucap Sienna dengan nada polosnya. Lagi-lagi Aldo hanya membatu dengan tatapan mata tepat pada manik mata Sienna. “Usianya sudah Empat bulan, Harusnya dia sudah sedikit aktif bergerak, tapi aku sangat jarang merasakan gerakannya.” Lanjutnya lagi.

Aldo masih membatu. Ia merasakan perasaan aneh saat ini. “Aku.. Aku minta maaf kalau kurang perhatian padamu.”

Sienna mengglengkan kepalanya. “Kak Aldo sudah lebih dari cukup memberikan perhatian Kakak padaku.”Ucap Sienna yang kali ini sudah semakin mendekatkan diri pada Aldo. “Apa Aku boleh memeluk Kak Aldo??”

“Jangan… aku sendiri yang akan memelukmu.” Ucap Aldo sambil memiringkan tubuhnya kemudian merengkuh tubuh mungil Sienna dalam pelukannya.

***

Pagi itu Aldo terbangun sendiri di dalam kamar nya. Ia menoleh ke samping  di mana Sienna tadi malam berada tidur di sana, namun ranjang sampingnya terasa dingin, Wanita itu sudah bangun sejak tadi.

Aldo lantas bangkit kemudian menuju ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Ia lantas bergegas ke arah dapur, Dimana Sienna berada. Meski tidak bisa masak, Sienna sering memaksakan diri untuk membuat sesuat di dapurnya.

Dan benar saja, saat ini wanita itu sedang sibuk dengan peralatan dapur sambil sesekali melihat ke arah smartphone nya.

Aldo tersenyum melihat tingkah Sienna, Wanita itu pasti kini sedang mencoba membuat sesuatu di dapurnya.

“Sedangmembuat apa?” Aldo bertanya tapi seakan tidak memperhatikan apa yang di lakukan Sienna.

“Emm.. aku mencoba membuat Pancake Pisang dan coklat.”

“Memangnya bisa??” Aldo terlihat tertarik dengan apa yang di kerjakan Sienna.

“Sepertinya tidak sulit.”

“Aku mau satu.” Ucap Aldo kemudin.

“Aku memang membuat dua, untuk kita.”

Setelah mendengar ucapan Sienna tersebut, Aldo hanya termangu menatap punggung Sienna. Wanita itu kadang terlihat seperti gadis manja, sangat manja hingga membuat Aldo kesal. Tapi di sisi lain, Sienna terlihat seperti wanita dewasa. Wanita yang membuatnya menegang seketika dan juga membuatnya tergoda.

***

Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian keja nya, Aldo kembali menuju ke meja makan. Di sana sudah ada Sienna yang duduk dengan tenang menghadap dua piring Pancake buatannya.

“Kenapa nggak makan duluan?”

“Aku menunggu kak Aldo.”

“Lain kali nggak usah di tunggu, kamu akan kelaparan.”

“Lebih enak makan bersama.” Ucap Sienna dengan polosnya. Ia tidak menyadari jika sejak tadi Aldo sibuk memperhatikan dirinya. “Ayo di makan.” Ajak Sienna.

Akhirnya Aldo menyuapkan sesuap makanan ke dalam mulutnya. Rasanya sedikit Aneh, tapi cukup enak di makan meski tidak seperti Pancake pada umumnya.

“Bagaimana? Apa Enak?” Tanya Sienna penuh harap.

“Rasanya Aneh, tapi masih bisa di makan.” Ucap Aldo jujur lengkap dengan ekspresi datarnya.

“Yaaahh… Apa Kak Aldo nggaak bia bilang kalau ini Enak??” Sienna bertanya dengan nada kesalnya.

“Kalau nggak enak ya nggak enak, jadi nanti kamu bisa belajar buat lagi yang lebih enak.”

“Tapi aku sudah berusaha Kak.. masa di bilang nggak enak.” Rengek Sienna.

Aldo memutar bola matanya sambil menggelengkan kepalanya. Sepertinya kemanjaan Sienna sudah di mulai lagi.

“Oke, ini enak.”Akhirnya Aldo mengalah

“Huuufftt.. Tadi sudh bilang nggak enak, berarti ini nggak enak.” Gerutu Sienna. Sedangkan Aldo hanya menggelengkan kepalanya.  Wanita ini benar-benar..

Keduanya melanjutkan makan dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak lama, Ponsel milik Aldo berbunyi. Aldo melirik sekilas, ternyata itu Nasya, Kekasihnya.

Ya… Aldo memang sudah memiliki kekasih bahkan sejak Ia belum bertemu Sienna di pesta tersebut. Nasya usianya tiga tahun lebih muda dari pada Aldo. Dan setidaknya wanita itu lebih dewasa dari padaa istri di hadapannya kini.

“Kenapa nggak di angkat?” tanya Sienna dengan polos.

“Kita kan lagi makan.”

“Apa wanita itu??”

Aldo membatu sambil menatap ke arah Sienna. Ya, Sienna memang sudah tau kalau Aldo memiliki kekasih. Sebelum menikah, Aldo bahkan sudah mengenalkan Nasya kepada Sienna. Kesal, tentu saja. Tapi Sienna berpikir jika dirinya tidak memiliki hak untuk mengatur hidup Aldo.

“Lupakan saja.” Jawab Aldo kemudian.

“Emm.. tadi pagi dia telepon, Dan aku mengangkatnya.” Ucap sienna sambil meunduk kan kepalanya.

“Sienna, berapa kali aku mengatakan kalau kamu harus menghargai Privasi orang.” Suara Aldo sedikit meninggi.

“Ini nggak adil untuk ku.. Kak Aldo bisa bebas sesuka hati Kakak, tapi Aku??”

“Karena kamu sedang hamil, dan aku harus menjagamu.”

Menunduk dan menangis, hanya itu yang dapat di lakukan Sienna. Entah kenapa hatinya merasa tersakiti saat Aldo berbicara dengan nada tinggi padanya. Dan Wanita itu.. Nasya, Sienna benar-benar tidak suka dengan wanita tersebut.

“Maaf..” lagi dan Lagi Aldo mengucapka kata Maaf untuk Sienna. Wanita di hadapannya itu benar-benar sangat cengeng. Sedikit-sedikit merajuk, sedikit-sedikit menangis, Dan itu membuat Aldo semakin kesal.

Sienna lalu berdiri, mengambil piring di hadapan nya yang masih penuh dengan pancake buatannya.

“Mau kemana? Kenapa nggak di habiskan??”

“Rasanya nggak enak.” Ucap Sienna sambil bergegas ke arah dapur.

Sienna membuang sisa Pancake di piringnya tersebut lalu mencuci piring tersebut. Saat Ia mencuciya, Ia merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Tubuh Sienna menegang seketika. Sienna merasakan Sebuah wajah di sandarkan pada pundak kanannya.

“Maafkan Aku.. Aku sudah kasar.” Bisik Aldo tepat di telinga Sienna.

Sienna menggelengkan kepalanya. “Kak Aldo nggak salah Kok, Aku saja yang terlalu kekanak-kanakan.” Ucap Sienna kemudian.

Aldo membatu dengan kepolosan Sienna. Aldo merasa malu., Selama ini dirinya memang tidak adil dengan Sienna. Ia selalu mengekang wanita tersebut dan selalu ikut campur dalam urusannya. Tapi sedikit pun Ia tidak pernah membiarkan Sienna masuk ke dalam kehidupannya.

Aldo melepaskan pelukannya seketika saat sadar bahwa Ia sudah memeluk Sienna dengan erat. “Emm.. Aku ke kantor dulu.” Ucap Aldo dengan cepat lengkap dengan nada kakunya.

Aldo berbalik. Menuju ruang kerjanya, lalu mengambil barang-barang yang akan di bawaya ke kaantor, kemudian pergi begitu saja tanpa menghiraukan Sienna yang masih berdiri membatu di dalam dapur.

***

“Jangan pernah telepon aku  pada malam hari atau pagi hari.” Ucap Aldo padaa wanita cantik di hadapannya.

“Kenapa? Apa aku mengganggumu?” Nasya bertanya dengan nada menantang.

“Yaa, Sangat mengganggu.” Aldo mejawab dengan datar.

“Aldo..” rengek Nasya.

“Berhenti merengek seperti itu. Apa kamu tau kalau semakin kesini kamu semakin mirip dengan Sienna?? Dan itu membuatku semakin Gila.”

“Sienna lagi Sienna lagi, Sedikit –sedikit Sienna. Kamu tau nggak Al kalau kamu sudah berubah. Kamu selalu mikirin perempuan manja itu.” Ucap Nasya penuh dengan Emosi.

“Dia istriku Sya..”

“Istri?? Sejak kapan kamu menganggapnya sebagai istrimu Al? Ingat, kalian menikah hanya karena bayi sialan itu.”

Aldo berdiri seketika. Ia benar-benar tak suka dengan apa yang di katakan Nasya. “Jangan pernah mengatakan kalau bayiku sialan.” Ucap Aldo penuh penekanan. Kemudian Aldo pergi begitu saja meninggalkan Nasyaa yaang tercengang menataap kepergiannya.

Aldo benar-benar berubah. Lelaki itu tidak prnah berkata dengan nada kasar terhadapnya. Lelaki itu biasanya lembut, sabar dan selalu penuh kasih sayang terhaadapnya. Tapi kini… semua berbanding terbalik. Dan itu semua pasti karena Wanita sialan bernama Sinna dengan Bayi yang di kandungnya. Bagaimana pun juga Aldo tidak boleh sampai terpengaruh dengan wanita tersebut. pikir Nasya dalam hati.

***

“Fan… Aku bosan.” Ucap Sienna dengan nada manjanya.

Saat ini Sienna sedang berada di dalam mobil dengan Fandy yang mengmudi. Seperti biasa, saat Aldo kerja, Sienna memilih untuk keluar jalan-jalan dengan Fandy yang mengawalnya.

“Lalu Nona Sienna ingin apa??”

“Emm… Apa Aku boleh mengunjungi Kak Aldo di kantornya?” tanya Sienna kemudian.

“Emmm Maaf Nona, Sepertinya jangan, Pak Aldo sangat sibuk dan mungkin tidak ingin di ganggu.”

“Tapi aku kangen..” Sienna menutup mulutnya seketika saat menyadari jika ia sudah keceplosan. Sedangkan Fandy hanya mampu tersenyum simpul melihat kelakuan Sienna.

Wajah Sienna memerah seketika. Astaga.. bagaimana mungkin Ia mengucapkan hal sememalukan itu di hadapan Fandy?? Dan lagian, Apa benar Dirinya kini sedang merindukan sosok Suaminya tersebut?? Apa coba yang Ia rindukan?? Sikap dinginnya?? Otoriternya??? Yang benar saja.

“Fan.. Kita ke mall aja, Aku mau bertemu Eva.”

“Pak Aldo berpesan jika Nona Sienna tidak di perbolehkan bertemu dengan teman-teman alay Nona.”

“Aisshhh… mereka nggak Alay  Fan… udah, Antar aku yuk..”

“Nanti Pak Aldo marah Non..”

“Dia nggak akan marah.” Ucap Sienna dengan pasti. “Kalau nggak tau.” Tambahnya lagi.

Sedangkan Fandy hanya terdiam tidak menjawab, Tapi lelaki itu juga tidak menunjukkan akan menuruti  kemauannya.

“Fan… Ayo… Cuma sama Eva kok. Aku benar-benar bosan, dan bosan akan membuat Stress sedangkan ibu hamil tidak boleh stress..”

“Baiklah, Saya Antar.” Ucap Fandy kemudian.

Sienna bersorak kegirangan. “Thank you.. Ngomong-ngomong, bisa nggak sih kamu ganti bajumu itu?? kamu sudah seperti Kak Aldo yang selalu terlihat Kaku.”

Fandy tersenyum. “Ini memang permintaan Pak Aldo, saya tidak bisa mengganti sembarangan.”

“Kenapa begitu??”

Fandy tertawa saat mengingat kenapa Aldo menyuruhnya selalu mengenkan setelan khas pengawal-pengawal pada umumnya.

“Katanya, nanti kalau saya menggunakan T-Shirt santai, Nona Sienna akan terlihat  sedang jalan dengan pacar atau suami Nona Sienna, bukan dengan pengawal pribadi Nona Sienna.”  Ucap Fandy dengan sedikit terkikik geli.

“Isshh… Kak Aldo emang Aneh. Aku suka risih lihat kamu yang terlalu rapi kayak gini.”

“Ini sudah pekerjaan saya Nona.”

“Ya sudah lah… Semoga saja nanti Kak Aldo bisa merubah Sikapnya yang kaku dan membosankan tersebut.” Gerutu Sienna.

***

Sienna kini duduk dengan santai di sebuah kursi di daalam toko milik Eva. Yaa.. Gadis itu memang memiliki toko aksesoris yang terletak di sebuah pusat perbelanjan sejak sekitar beberapa bulan yang lalu. Tentu saja itu tidak luput dari dukugan sang Mama.

“Gila Si.. Suami mu terlihat menyeramkan kemarin.”

“Dia memang begitu.” Ucap Sienna sambil memainkan bandul-bandul lucu di hadapannya.

“Tapi Si.. Dia terlihat sangat perhatian padamu.”

“Yang benar saja, Hanya pada Bayi ini, Va..”

“Tapi yang ku lihat tidak seperti itu Si.. Apa lagi saat Dia menatap Kevin. Apa dia kenal Kevin sebelumnya??”

“Enggak lah.. memangnya mereka kenal di mana? Lagian memang sikapnya seperti itu.” Gerutu Sienna.

“Si… Aku juga mau dong di kenalin sama pengawal pribadimu itu.. hehehehe dia terlihat keren.” Ucap Eva dengan cekikikan.

Sienna menatap Eva dengan tatapan Aneh nya. “Eva.. Hitung dulu pacarmu sudah berapa, minta di kenalin lagi sama Fandy, lagian dia orangnya kaku kayak Kak Aldo, nggak asik tau.”

“Eleeehh… Kamu aja yang belum tau bagaimana Romantisnya Orang yang biasa bersikap Kaku.”

“Memangnya mereka bisa romantis??”

“Tentu saja. Dan kalau Lelaki Kaku sudah bersikap romantis, aku yakin kamu bakalan klepek-klepek di buatnya.”

Sienna tertawa  penuh ironi. “Sayangnya Kak aldo nggak mungkin bersikap Romantis padaku.” Lirih Sienna.

“Dari pada kamu mikirin suami mu itu, mending ayo ikut aku.”  Kata Eva sambil bangkit dan membereskan barang-barangnya.

“Ehh.. kita mau kemana?? Memangnya kamu nggak jualan??”

“Toko ini bisa di tutup. Ayo, ikut aku.”  Ajak Eva lagi. Dan akhirnya Sienna mengikuti  kemana ajakan sang sahabatnya tersebut.

***

“Emmm… ini enak sekali. Astaga.. kemana saja Aku selama ini sampai aku tidak tau ada toko Ice Cream senyaman dan seenak ini??”

“Kamu sibuk dengan tumpukan buku kimia mu..” Ejek Eva. Dan keduanya tertawa.

Ya.. Di antara Sienna, Kevin, Eva, dan Icha, Sienna lah yang paling rajin. Bukan tanpa Alasan, tapi karena Sienna memang bercita-cita menjadi dokter nantinya. Tapi ternyata, tuhan berkata lain.

“Kadang aku menyesal menghabiskn masa muda ku dengan bubu-buku tersebut. dan sekarang lihat, aku bahkan tidak bisa lagi menyentuh buku-buku tersebut karena dia.”  Ucap Sienna dengan tersenyum sambil mengusap lembut perutnya yang sudah sedikit terlihat.

“Setidaknya itu membawamu pada pangeran tampan Si..” Ucap Eva sambil menyuap sesendok ice cream ke dalam mulutnya.

“Yaa… Pangeran tampan yang dingin dan Kaku.” Gerutu Sienna.

“Tunggu Si… itu bukannya suami Kamu??” Ucap Eva sambil berdiri dan menunjuk ke arah luar toko.

Ketika Sienna menatap ke arah yang di tunjuk Eva, Ia hanya mampu ternganga melihat pemaandngan tersebut. Itu Aldo, Suaminya. Wajahnya masih menunjukkan ekspresi dingin seperti biasanya, tapi yang membuat hati Sienna akit adalah Sosok yang bergelayut mesra di lengan kanan sang suami. Itu Nasya, Kekasih Suaminya.  Sienna tau itu.

“Si.. Dia sama siapa?? Kenapa mesra gitu??”

Sienna kembali duduk seakan tidak melihat apa pun. Sedangkan Eva menatap Sienna dengan tatapan anehnya. Bagaimana mungkin Sienna bisa bersikap setenang ini saat melihat suaminya bergandeng mesra dengan wanita cantik??

“Si… kamu kok diam aja sih?? Kamu kenal sama Wanita itu? Dia siapa??”

“Dia Kekasih Kak Aldo.” Ucap Sienna berusaha se tegar mungkin.

“Apa??” Teriak Eva tak percaya.

Lalu kemudian Sienna menenggelamkan wajahnya pada kedua lengannya. Ia mulai terisak. “Nggak tau kenapa, Melihatnya seperti itu hatiku terasa sakit Va… Ada apa denganku?? Kenapa aku merasakan sakit seperti ini???” lirih Sienna.

Eva tercengang mendengar pengakuan sahabatnya tersebut, yang ia tau, selama ini Sienna suka dengan sosok kevin, tapi mendengar pengakuan Sienna saat ini membuat Eva yakin jika Sienna juga sudah memiliki perasaan lebih terhadap suaminya tersebut..

“Karena.. Mungkin Kamu sudah mulai jatuh hati dengan suami mu sendiri..” ucap Eva dengan pelan.

Sienna mengangkat wajahnya seketika. Menatap Eva sambil membulatkan matanya. Jatuh hati? Tidak.. tidak mungkin… Ia jatuh hati pada sosok Kevin, sahabatnya sendiri, bukan pada Aldo,Sueminya tersebut. Bagaimana mungkin secepat kilat perasaannya berubah dan berpaling pada suami nya sendiri???

-TBC-

wkwkkwkwkk aada yang udah penasaran ama kisah selanjutnya?? tunggu aja yaa.. wkwkwkwkkw komen nya selalu ku tunggu loh.. hahahhaah

My Young Wife – Chapter 2

Comments 3 Standard

myw1.jpgMy Young Wife

Ada yang udah kangen bang aldo?? Heheeh Enjoy reading ya… wkwkwkkwkwk Btw setelah ini diriku akan berhenti Update sampek haru rabu.. Astaga,,, kalian pasti bosen banget ketemu sama aku melulu, Seminggu ini udah 4x Up.. wkwkkkwk  jadi Next akan ada bang Aaron, mungkin hari rabu yaa,, hahaha soalnya awal puasa saya mau liburan dulu ..wkwkwkkwk

Chapter 2

 

Setelah pintu tertutup, Aldo kembali melumat habis bibir gadis mungil di hadapnnya. Keduanya sama-sama saling mendesah menikmati permainan yang penuh dengan kenikmatan aneh tersebut.

“Siapa namamu??” Tanya Aldo sambil membantu gadis di hadapnnya tersebut membuka gaun yang Ia kenakan.

“Sienna…” Jawab Gadis itu dengaan suara tertahan-tahan.

“Sial..!! Kamu sangat menggoda..” Ucap Aldo dengan parau lalu mendorong sedikit demi sedikit gadis tersebut hingga jatuh di atas ranjang Mario.

Aldo semaki mennggelap saat melihat pemandangan di hadapannya tersebut. Wanita belia dengan bentuk tubuh wanita dewasa. Ohh yang benar saja, Payudara gadis di hadapannya itu terlihat ranum dan sangat mengoda seakan melambai-lambai ingin di sentuh. Kulit putih polos dengan tekstur lembut dan kencang benar-benar membuat Aldo ingin mendaratkan bibirnya pada sertiap permukaan kulit tersebut.

Serta wajah itu… wajah polos nan penuh dengan ekspresi kenikmatan benar-benar membuat Aldo tak kuasa menahan gairahnya, semua yang di bawah sana sudah menegang seketika.

“Apa kamu pernah melakukan ini sebelumnya??” Tanya Aldo dengan hati-hati.

Sienna hanya menggelengkan kepalanya, dan saat itu, Aldo tampak ragu. Tapi kemudian Hasrat kembali mempengaruhinya, Ia butuh pelepasan malam itu, Akhirnya Aldo memutuskan untuk melanjutkan apa yang akan Ia lakukan.

Aldo kembali menindih Sienna, bibirnya tak pernah lepas dari mencumbu setiap inci dari leher jenjang milik Sienna. “Dengar, Aku jug baru pertama kali melakukan ini dengan seorang perawan, Tapi tenang, Aku akan bersikap baik.” Bisik Aldo tepat pada telinga Sienna.

Sienna yang sudah terlampau sangat mabuk tak mempedulikan apa yang di katakan Aldo, Baginya, rasa aneh yang di rasakannya inilah yang paling utama. dan mungkin karena pengaruh dari mabuk, Sienna kemudian mengangkat wajah Aldo yangmasih di dalam lekukan lehernya, menatap mata coklat tersebut dengan tatapan anehnya, “Lakukan semaumu.” Ucap Sienna pada Aldo, belum sempat Aldo menjawab apa yang di katakan Sienna, Bibir Sienna sudah terlebih dahulu membungkam bibir milik Aldo.

Lagi-lagi Aldo terkejut dengan apa yang di lakukan Sienna. Gadis di hadapannya ini terlampau sangat Agresif saat mabuk seperti sekarang ini, apa kalau tidak mabuk dia juga seperti ini?? Aldo tak ingin terlalu lama berpikir lagi karena yang di bawah sana sudah sangat nyeri seakan ingin meledak karena perlakuan Sienna kepadanya. Gadis itu kini bahkan telah menempelkan pusat dirinya pada bukti gairah milik Aldo, menggoyang-goyangkan pinggulnya seakan mengoda Aldo, dan benar saja, Aldo semakin tergoda seakan ingin meledak saat itu juga.

Secepat kilat, Aldo melucuti pakaiannya sendiri lalu kembali menindih gadis di hadapannya yang sejak tadi memang sudah polos tanpa sehelai benang pun. Aldo memposisikan dirinya mencoba memasuki diri Sienna dan menyatu dengannya, tapi nyatanya sangat sulit.

Saat menemukan penghalang tersebut, Aldo menatap Sienna dengan tatapan tak terbacanya. “Menangislah jika kamu ingin menangis.” Ucap Aldo yang di iringi dengan gerakaan menghujam lebih keras kedalam tubuh Sienna. Dan Akhirnya satu kali hentakan tersebut mampu membuat tubuh mereka menyatu seutuhnya.

Dan benar saja, Gadis yang berada di bawahnya itu kini menangis dan merintih kesakitan.Masih dengan menyatu, Aldo memeluk tubuh Sienna, menenangkannya sambil sesekali mengecupi bahu gadis tersebut.

“Maafkan aku.. Maafkan aku…” Selalu kata itu yang di ucapkan Aldo tepat pada telinga Sienna.

Sienna sendiri masih tidak berhenti menangis kesakitan, Rasanya sangat tidak nyaman, pedih bercampur menjadi satu dengan rasa nyeri, seakan sesuatu merobek dirinya. Sienna ingin mendorong Lelaki yang kini memeluknya itu menjauh, namun nyatanya lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya.

Cukup lama mereka berdua saling berpelukan hingga Aldo melepaskan pelukannya dan menatap Sienna dengan tatapan tak terbacanya.

“Aku harus bergerak Si, Kita tidak mungking seperti ini terus hingga pagi..” ucap Aldo dengan parau.

“Jangan..” Sienna berkata dengan suara seraknya.

“Tenanglah, Tidak akan sakit.” Aldo menenangkan Sienna sambil sesekali mengecup lembut bibir ranum milik Sienna.

Lalu kemudian Aldo mulai menggerakkan tubuhnya. Sienna mengerutkan keningnya merasa tak nyaman dengan apa yang di lakukan Aldo. Kenikmatan yang tadi di rasakannya seakan menghilang begitu saja di gantikan dengan rasa sakit dan tidak nyaman dari lelaki di atasnya tersebut. Namun anehnya semakin lama, rasa sakit dan tak nyaman itu pun kembali menghilang dan di gantikan rasa aneh yang tadi di rasakan Sienna sebelum tubuhnya menyatu dengan tubuh Lelaki di atasnya tersebut.

Napas Sienna terputus-putus seakan kewalahan dengan kenikmatan aneh yang di berikan Oleh Aldo.

Aldo yang memperhatikannya hanya mampu tersenyum melihat Ekspresi kenikmatan yang ditampakkan dari wajah Sienna.

“Bagaimana?? Apa Kamu menyukainya.?” Tanya Aldo dengan nada menggoda.

“Ahhh… yaa.. Astaga….”

“Berapa umurmu??” Tanya Aldo masih dengan sesekali mengecup payudara milik Sienna.

“Tujuh belas….” Hanya itu yang mampu di jawab oleh Sienna.

“Rasamu seperti wanita umur Dua puluh lima.” Ucap Aldo dengan terpatah-patah. “Dan aku suka.” Tambahnya lagi.

“Namamu..???” Sienna ingin bertanya siapa nama Lelaki yang kini berada di atasnya, namun lagi-lagi rasa aneh yang sedang menyelimutinya seakan mencekat suaranya di tenggorokan.

“Aldo.. Osvaldo Handerson..” Aldo kembali melumat bibir Sienna sesekali menjaga ritme permainannya. “Panggil saja Kakak…” tambahnya lagi.

“Kak Aldo….” Desah Sienna.

“Hemmm??”

“Tubuhku gemetar..” Ucap Sienna dengan polosnya masih dengan memejamkan matanya.

Aldo tersenyum mendengar ucapan polos dari Sienna,Gadis di bawahnya ini sebentar lagi pasti akan mencapai klimaks, terbukti dengan Cengkeraman erat pada pusat dirinya yang membuat Aldo semakin tak kuasa menahan kenikmatan yang di tahannya supaya terasa sedikit lebih lama lagi.

“Aku ingin lebih lama lagi..” Ucap Aldo dengan parau,“Tapi sepertinya aku tidak bisa, Kamu mencengkeramku terlalu erat, Seakan aku tak bisa bergerak dan ingin meledk saat ini juga.” Lalu Aldo menggerakkan dirinya semakin cepat, membuat tubuh Sienna menggelinjang, kaku karena sesuatu, dan Desahan panjang lolos begitu saja dari bibir Gadis tersebut. Dan tak menunggu lama, Erangan panjang pun lolos dari bibir Aldo menandakan kepuasan yang sangat mendalam yang di rasakan Lelaki tersebut.

***  

 

“Kak.. Kak… Kok malah melamun sih??” Suara manja itu membuat Aldo sadar dari lamunannya.

Aldo mengedarkan pandangan di sekitarnya, ternyata mereka sudah berhenti di parkiran sebuah rumah makan yang menyediakan aneka macam Sate. Rumah makan tersebut tampak sangat ramai.

“Ayo turun.” Ajak Aldo kemudian.

Sienna pun menuruti perkataan Aldo sambil sesekali melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil. Astaga.. Sienna memang terlampau sangat manja dan kekanak-kanakan.

“Hentikan itu, kamu sedang hamil, ingat.” Ucap Aldo dengan tatapan memperingatkan.

“Maaf..” hanya itu jawaban dari Sienna.

Mereka pun akhirnya masuk ke dalam rumah makan tersebut, setelah memesan makanan, mereka memilih duduk di ujung ruangan. Rumah makan tersebut benar-benar sangat ramai, padahal saat ini sudah sedikit larut malam.

“Dari mana kamu tau ada tempat seperti ini?” Tanya Aldo pada Sienna.

Sienna benar-benar tidak suka dengan nada bicara Aldo yang selalu terkesan datar tanpa nada. Itu benar-benar membuat Sienna bosan, padahal mereka baru menikah dua bulan yang lalu.

“Aku sering kesini dengan Kevin.”

Mendengar nama tersebut, Rahang Aldo mengeras. Sial..!! Nama itu lagi. “Apa hubungan mu dengan dia??”

“Kenapa Kak Aldo bertanya tentang kami??”

“Memangnya nggak boleh?” Aldo berbalik bertanya.

“Bukan nya gitu, tapi bukannya Kak Aldo sendiri yang minta supaya hubungan kita tidak saling mencampuri??” Sienna bertanya dengan wajah polosnya. Tentu Ia sangat ingat saat Aldo berkata jika pernikahan mereka hanya demi sang bayi yang kini berada dalam kandungan Sienna.

“Ya, Aku bukannya ikut campur, aku hanya ingin tau, itu saja.”

Dengan tersenyum malu-malu Sienna akhirnya mulai bercerita. “Kami hanya teman. Tapi, Aku suka dia.” Ucap Sienna dengan sedikit menundukkan kepalanya.

Percakapan mereka akhirnya terpotong oleh kedatangan pelayan yang membawa pesanan mereka.

“Wahh… Ini yang di tunggu-tunggu..” Ucap Sienna sambil berbinar bahagia. Ia sama sekali tak memperhatikan ekspresi Aldo yang sudah mengeras.

“Habiskan.” Hanya itu yang keluar dari mulut Aldo.

“Ya, Tentu saja, aku sangat suka dengan menu ini, Kevin selalu meneraktirku kemari. Makanya, Kak Aldo juga harus sering-sering mengajak ku kemari.”

“Ini yang terakhir kalinya.”

Sienna mengernyit. “Kenapa?”

“Aku nggak suka tempat yang ramai dan berisik seperti ini.”

“Huhhhh Kak Aldo itu harusnya cari suasana Baru, Apa Kak Aldo nggak bosan selalu bertemu orang yang sama dengan suasana yang sama setiap harinya???”

Aldo hanya terdiam, Ia tak bisa menjawab pertanyaan dari Sienna. Kalau pun Ia bisa menjawab pertanyaan Sienna, Sienna pasti akan mendebatnya lagi dan lagi, maka dari itu Aldo lebih memilih diam dan mengalah.

“Kak Aldo nggak makan?”

“Aku nggak suka apa pun makanan berbahan dasar daging kambing.”

“Kenapa?”

“Kalau nggak suka ya nggak suka.”

“Aku kan Cuma ingin tau lebih banyak lagi tentang Kak Aldo..”

Aldo termangu mendengar ucapan dari Sienna. Yaa.. Selama ini mereka memang tidak terlalu mengenal satu sama lain. Aldo sibuk dengan urusannya meski Ia selalu memantau Sienna dari Fandy, pengawal yang di sediakan untuk Sienna dan juga Bibi Ani, seorang yang bekerja di rumahnya dari pagi sampai Sore sebagai tukang masak dan juga bersih-bersih. Tentu saja Ia tidk seberapa tau tentang Sienna selain keadaan nya yang selalu di pantau olehnya.

“Sudah, lanjutkan makan mu.”

Dan dengan mendengus kesal, Sienna akhirnya melanjutkan makan nya tanpa mempedulikan Aldo yang setia memperhatikan nya dengan tatapan tajam aneh nya.

“Si..” Panggilan itu membuat Sienna menoleh ke belakang.

“Kevin…” Sienna lantas berdiri saat mengetahui siapa orang yang tadi memanggilnya.

“Aku nggak nyangka ketemu kamu di sini.”

“Aku lapar, dan nggak tau kenapa lagi pengen makan sate kambing sama Sup tulang di sini.”

Kevin tersenyum. “Kamu pasti lagi ngidam.” Ucap Kevin sambil membelai lembut rambut Sienna sembari melirik ke arah perut Sienna yang sudah sedikit berbentuk.

“Sepertinya begitu.” Suara berat Aldo menyadarkan keduanya jika mereka melupakan sosok yang masih duduk dengan santai di kursinya sembari menatap tajam ke arah mereka.

“Emm.. kalau gitu aku cari meja dulu ya..” Ucap Kevin karena tidak enak mendapat tatapan tajam dari Aldo.

“Kenapa nggak di sini saja? Kamu sendiri kan???”

Kevin mengangguk.

“Mejanya nggak muat.” Ucap Aldo dengan datar.

Sienna menatap ke arah Aldo dengan tatapan tanda tanya nya. “Nggak muat?? Itu meja nya kan masih kosong Kak, lagian Kak Aldo kan nggak pesan makanan.”

“Siapa Bilang, Aku pesan kok, Bahkan porsi dobel.” Aldo menjawab masih dengan nada datarnya.

“Benarkah?? Bukan nya Kak Aldo nggak suka apa pun yang berbahan daging kambing??”

“Sudah lah.. yang penting meja kita sudah penuh dengan pesananku.” Ucap Aldo lagi.

Sienna hanya menghela napas panjang.

“Biarlah, Kita bisa ke sini nanti bersama.” Bisik Kevin yang langsung di sambut dengan senyuman lebar dari Sienna.

Setelah memesan kembali, Akhirnya pesanan Aldo tersebut benar-benar datang. Meja mereka benar-benar penuh dengan berbagai macam olahan makanan, mulai dari sate, Gulai, Sop, tongseng dan masih ada lagi beberapa masakan yang di olah dari daging kambing.

Sienna membulatkan bola matanya saat melihat berbagai macam menu pesanan Aldo yang membuat meja mereka penuh dengan banyak nya masakan tersebut.

“Kak Aldo yakin mau memakan semua ini?” Sienna masih tak percaya jika Aldo akan memakannya.

Aldo menelan ludahnya dengan susah payah, Seumur hidupnya Ia sama sekali tak pernah memakan makanan olahan dari kambing, karena menurutnya Daging kambing itu berbau, dan dia tak suka memakannya, namun kali ini, Entah apa yang membuatnya begitu kekanak-kanakan seperti saat ini. Ia bahkan memesan semua makanan yang di bencinya hanya untuk membuat meja mereka penuh dan si Kevin tidak duduk se meja dengannya, dan juga dengan Sienna…

“Tentu saja.” Jawab Aldo dengan sedikit ragu. Ia benar-benar tidak yakin dapat memasuk kan makanan-makanan tersebut ke dalam mulutnya.

Akhirnya dengan ragu Aldo pun mencoba memakan masakan di hadapannya. ia memejamkan Matanya saat sesendok tongseng kambing masuk kedalam mulutnya.

Enak… hanya itu yang ada di dalam pikiran Aldo. Aldo kemudian memakannya lagi dan lagi, sedangkan Sienna hanya menatapnya dengan tatapan Anehnya.

Lelaki di hadapannya itu benar-benar sangat Aneh. Lelaki tampan dengan mata coklatnya yang entah sejak kapan membuatnya Terpesona saat menatapnya. Sienna mengusap lembut perutnya yang sudah sedikit berbentuk. Hatinya terasa bimbang dengan semua yang ia jalani. Mampukah ia mempertahankan perasaannya terhadap Kevin, Sahabat yang di cintainya tapi tak pernah mencintainya?? Ataukah Ia akan jatuh pada pesona suaminya sendiri yang cenderung bersikap dingin tapi perhatian?? Ahhhh lupakan..!! lagi pula bukannya Aldo tak pernah mencintainya??? Ingat Sienna, Pernikahan kalian hanya karena sebuah ‘kecelakaan’, Tidak lebih. Sienna membatin dalam hati.

***

Tengah malam Sienna terbangun saat tenggorokannya kering. Sienna meraih gelas yang ada di meja sebelah ranjangnya, namun nyatanya gelas tersebut sudah kosong, mau tak mau ia bangkit dan bergegas menuju ke dapur untuk mengambil Air. Andai saja Aldo tidur sekamar dengannya, mungkin Ia bisa tenang karena bisa menyuruh lelaki itu mengambilkan minum untuknya. Nyatanya…

Yaa, Walau mereka sudah menikah selama kurang lebih dua bulan lamanya, Mereka sepakat untuk tidur di kamar masing-masing, Tidak saling mencampuri urusan masing-masing selalu menjadi patokan kehidupan rumah tangga mereka. Meski sebenarnya Sienna merasa sangat tidak adil.

Aldo seakan mengatur hidupnya. Lelaki itu selalu mengawasi kemanapun ia pergi dan berada, namun nyatanya Sienna tak pernah tau apa yang di lakukan Aldo di luar sana. Apa Aldo dengan wanita lain?? Ohh yang benar saja, memangnya itu urusanmu?? Lagi-lagi Sienna menggerutu dalam hati.

Ketika melewati kamar Aldo, Sienna mengernyit saat mendengar suara Aneh di dalam. Karena penasaran, Sienna mengetuk pintu kamar Aldo. Karena tak ada jawaban Akhirnya Sienna membuka pintunya. Sienna masuk dan mendapati Aldo di kamar mandi dengan wajah pucatnya.

Sienna sontak menghambur ke arah Aldo, lelaki itu tampak Pucat dengan keringat dinginnya. “Kak Aldo kenapa?? Ada yang salah??”

“kamu kenapa di sini?? Ini sudah malam, Cepat tidur, Begadang nggak baik untuk ibu hamil.”

“Aisshhh aku nggak begadang, aku mau ngambil air minum, lalu ku dengar suara aneh dari sini, jadi aku masuk.”

“Aku muntah.”

“Muntah??”

“Sepertinya aku memang nggak bisa makan makanan berbahan dasar daging kambing.” Lirih Aldo.

“Lalu kenapa Kaka Aldo tadi memakannya??”

“Karena aku udah pesan.”

“Dan kenapa Kak Aldo memesan nya??”

“Karena… Karena…” Aldo tak tau harus menjawab Apa, ia tidak mungkin menjawab jika Ia memesan banyak makanan tersebut hanya untuk membuat meja mereka penuh pada saat itu, Sungguh itu kekanak-kanakan sekali. “Ahh sudah, Lupakan.!!” Jawab Aldo dengan ketus.

“Ayo ku bantu.” Dengan polos Sienna mengulurkan telpak tangannya. Aldo menatapnya dengan tatapan tak terbacanya. Akhirnya Aldo menyambut uluran tangan tersebut.

Aldo berbaring di atas ranjangnya. Sienna sudah keluar dari kamar Aldo, entah apa yang di lakukan wanita tersebut Aldo sendiri tak tau. Akhirnya tak lama Sienna kembali masuk ke dalam kamar Aldo dengan membawa sebuah nampan.

“Ini, Makan lah.”

Aldo mengernyit. “Apa ini??”

“Biskuit Asin dan Lemon tea hangat. Kalau aku mual muntah, aku biasanya makan ini, dan ini lumayan berefek.”

“Jadi kamu memberiku makanan Ibu hamil?? Yang benar saja.”

“Ini bukan makanan ibu hamil tau, ini bisa meredakan rasa mual bukan hanya mual pada ibu hamil.” Jelas Sienna.

Sienna lalu megeluarkan minyak kayu putih yang ada di nampan tersebut. “Dan ini, juga bisa meredakan mual sekaligus pusing.” Dengan lembut Sienna menuangkan minyak kayu putih tersebut pada perut Aldo, lalu mengusapnya, kemudian ia juga memeberi sedikit minyak kayu putih tersebut pada pelipis Aldo.

“Nahh Sudah, sekarang Kak Aldo sudah bisa tidur dengan nyaman..” Kata Sienna sambil berdiri dan akan bergegas pergi. Tapi kemudian langkahnya terhenti saat Aldo meraih telapak tangannya.

“Si… Malam ini.. Tidurlah di sini.”

Sienna sontak menatap Aldo dengan tatapan tanda tanyanya, ia tak menyangka Jika Aldo mengajaknya tidur sekamar dan seranjang. Apa yang harus ia lakukan?? Apa Ia harus menerima ajakan tersebut, atau menolaknya??

-TBC-

Gimana Chapter ini?? kasih komen kamu yaa,,, wkkwkwkw jangan lupa, Vote dan Comen selalu di tunggu… *BigHug…

My Young Wife – Chapter 1

Comments 6 Standard

myw1.jpgMy Young Wife

Haiii… Ada yang mau kenalan Ama Kakak ganteng baru?? yukk cap cus… bersama ceritanya Kak Aldo dan dedek Sienna yaa… hahhahahahah mungkin awal chapter akan sedikit membingungkan karena aku memang niat memulainya dari tengah, jadi, nanti akan banyak Flashback yang bermain di sini.. Feel juga mungkin kurang dapet karena baru awal Chapter, jadi.. pantengin terus aja yaa kisah mereka,, hahhahhah

Chapter 1

 

Aldo kini sedang sibuk membuka-buka berkas yang di serahkan oleh sang sekertaris pribadinya. Pandangannya meneliti setiap kata demi kata dalam sebuah berkas tersebut. Yaa.. Aldo memang sosok yang sangat teliti dan Kritis dalam suatu apapun. Tapi tidak dengan Cinta.

Aldo memejamkan Matanya Frustasi. Hal itu tak lepas dari pandangan sang sekertaris pribadimya.

“Ada masalah Pak??” Tanya Ambar, sekertaris pribadinya yang cantik jelita.

Aldo hanya memijit pelipisnya. “Tidak. Bawa berkas ini kembali, besok saja saya mempertimbangkannya lagi.”

Aldo lalu membereskan barang-barangnya yang ada di meja kerjanya.

“Pak Aldo mau pulang?”

“Ya, Saya ada urusan di rumah.” Jawab Aldo dengan dingin dan datar. Akhinya Ambar pun pamit untuk mengundurkan diri dari ruangan Aldo.

Ketika Ambar sudah keluar dari balik pintu, Aldo menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya. Kepalanya terasa pusing. Bayangan akan Sosok Sienna mencuat begitu saja dalam pikirannya. Sienna.. Istri Belianya yang sudah dua bulan ini di nikahinya..

Aldo mengambil Ponselnya dan mencoba menghubungi Fandy, Seorang yang di percayanya sebagai pengawal istrinya itu.

“Halo Pak?”

“Bagaimana dengan dia?”

“Emm.. Nyonya sedang berkumpul dengan teman-temannya pak.”

“Berkumpul? Berkumpul dimana??”

“Di sebuah cafe tak jauh dari kantor Pak Aldo.”

“Oh ya?? Dengan siapa saja dia di sana?”

“Ada Dua teman perempuan nya dan Satu teman Pria nya.”

“Tunggu di sana, Saya akan segera ke sana.” Jawab Aldo cepat.

Yaa.. Aldo memang sedikit tak suka jika Sienna masih saja berteman dengan teman-teman SMA nya tersebut. Entah kenapa, Aldo sendiri tak mengerti, ia lebih suka melihat Sienna tiduran di rumah atau menonton Televisi di Apartemen nya dari pada harus berkumpul dengan teman-teman alay nya tersebut.

Secepat mungking Aldo keluar dari kantornya lalu berjalan menuju Mobilnya dan secepat kilat Ia menancap Gas menuju ke tempat yang di katakan Fandy tadi.

***

“Si.. Kamu gemukan yaa sekarang.” Ucap Eva, saat memperhatikan Sienna dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Ya iyalah, Dia kan bunting, hahahhah” Jawab Icha dengan seringaiannya. semua yang ada di situ tertawa kecuali Kevin yang wajahnya murung.

“Husshh.. Kalian bisa nggak sih, jangan ribut masalah ini.. Ingat, kita belum acara perpisahan.” Ucap Sienna dengan takut-takut.

“Tenang aja Si.. Kita –kita akan tutup mulut sampai perpisahan nanti kok..” Janji Icha.

Yaa.. sahabat-sahabatnya itu memang sudah mengetahui keadaan Sienna, Mereka bahkan dengan baik hatinya menutupi kehamilan Sienna hingga pesta kelulusan atau perpisahan yang akan di laksanakan akhir minggu ini.

“Suamimu nggak marah kalau kita ngumpul begini?”

“Kak Aldo kerja, dia nggak akan tau kalau aku ngumpul seperti ini.”

“Trus Cowok yang di sana itu siapa?” Eva menunjuk Fandy yang sejak tadi berdiri di depan pintu bak seorang satpam dengan seragam hitam-hitamnya.

“Itu Fandy, Pengawalku. Aku juga nggak ngerti kenapa Kak Aldo pakek jasa pengawal segala untukku.”

“Dia perhatian Si.. sama kamu.” Kata Eva sambil tersenyum. Eva menatap kearah Kevin yang sejak tadi diam tak bersuara. “Woii… Lu kenapa diem begitu??”

“Enggak, Gue nggak kenapa-kenapa.” Jawab kevin kemudian.

Mereka Asyik berbicara, bercerita layaknya Remaja SMA yang tak memiliki masalah apapun, Hingga sosok itu datang menghampiri mereka. Sosok yang bernama Osvaldo Handerson.

“Kak Aldo kok di sini?” Tanya Sienna yang langsung berdiri saat melihat sosok Pria yang kini sudah menjadi Suaminya.

“Tadi nggak sengaja lewat dan lihat mobil kita ada di depan, lalu aku lihat Fandy, ku pikir kamu di sini jadi aku masuk kemari.” Aldo menghentikan kalimatnya lalu menatap satu persatu teman dari Istrinya tersebut. “Ayo pulang.” Katanya lagi.

“Tapi kak, aku masih mau kumpul-kumpul dengan mereka.”

“Tidak ada kumpul-kumpul Sienna, Kalau mereka mau bertemu, ajak saja main ke rumah.”

“Tapi Kak..”

“Sienna.. Ingat, kamu sedang Hamil, jadi harus banyak istirahat, bukan keluyuran seperti sekarang ini.” Ucap Aldo sedikit pelan namun penuh dengan penekanan. Dengan menghentak-hentakkan kakinya, Sienna pergi meninggalkan teman-temannya tersebut.

Aldo pamit kepada teman-teman Sienna lalu pergi meninggalkan cafe tersebut dengan santainya.

***

“Sudah berapa kali ku bilang, jangan lagi bertemu dengan teman-teman Alay mu tersebut.”

“Mereka nggak Alay kak, mereka sahabat aku.”

“Aku nggak peduli, bagiku mereka Alay dan nggak jelas. Suka nongkrong sana sini seperti ABG saja.”

“Tapi aku masih ABG Kan kak??”

“Kamu sudah menjadi seorang Istri Sienna, dan kamu lagi Hamil. Hilangkan sikap kekanak-kanakan kamu itu.”

Sienna menangis saat di bentak seperti itu. “Tapi Aku tidak menginginkan semua ini terjadi Kak.. Aku ingin menikmati masa mudaku..”

Aldo tercenung.. yaa tentu saja, Bagaimanapun, Sienna masih Delapan belas tahun, jadi wajar saja kalau dia belum dewasa sepenuhnya.

“Maafkan aku, tapi aku benar-benar nggak suka kamu ikut nongkrong sana sini dengan teman-temanmu itu. Kamu sudah punya suami Sienna, dan sebentar lagi akan memiliki Bayi, kalau kamu ingin bertemu dengan mereka, ajak saja mereka ke Apartemen kita.” Ucap Aldo dengan Pelan. Yaa Aldo memang selalu mengalah jika berhadapan dengan sikap manja Sienna.

Kali ini Sienna yang terdiam. Ucapan Aldo ada benarnya juga. Memang sedikit tak pantas kalau dia suka huru hara sana sini dengan teman-temannya padahal statusnya kini bukan seorang pelajar lagi. Ia sudah menjadi seorang istri, Istri yang harus melayani dan patuh pada suaminya.

“Maaf..” kata-kata itu tiba-tiba terucap dari bibir Sienna.

Aldo menghela napas panjang. “Lupakan saja.. kita berdua sama-sama salah.”

***

Sienna kini menatap Aldo yang tengah sibuk menyiapkan makan malam untuknya. Lelaki itu tampak cekatan. Dengan kemeja yang di gulung se sikunya. Sienna terpesona menatap suaminya tersebut. Meski cenderung pendiam dan dingin, namun nyatanya Aldo sangat perhatian padanya.

“Ini, Minum susu mu.” Ucap Aldo sambil memberinya Susu hamil.

Sienna tersenyum ingin rasanya Ia memeluk Suaminya tersebut. Tapi seakan semua itu tak mungkin. Aldo bersikap seolah-olah Ia menghormati Sienna sebagai orang lain, dan Sienna tak suka itu.

“Ini, Aku buatkan Sup Ayam bawang. Kata Mama ku ini baik untuk kandungan.”

Kandungan lagi, dan kandungan lagi. Yaa Sienna jelas tau, Pria di hadapannya ini jelas hanya memikirkan kebaikan untuk kandungannya bukan sengaja perhatian pada dirinya. Dan Sienna tak menyukai itu.

“Aku nggak mau.” Tolak Sienna, padahal dalam hatinya ingin sekali Ia memakan Sup yang tampak sangat nikmat tersebut.

“Kenapa?”

“Pokoknya aku nggak mau, Aku mau minta sate kambing.”

“Nggak ada sate kambing, makan ini saja.” Ucap aldo dengan dingin.

“Aku nggak mau kak. Aku maunya makan sate kambing. Titik.”

Aldo menghembuskan napasnya dengan kasar. Gadis ini benar-benar ingin membuatnya meledak. Di ambilnya ponsel di dalam saku celananya, lalu ia mulai melakukan panggilan pada seseorang.

“Halo Fan..?”

“Iya pak?”

“Carikan Sate kambing secepat mungkin.”

“Baik Pak.”

Lalu telepon pun di matikan.

Sienna mengerutkan keningnya tak suka. “Aku nggak mau makan.”

Aldo memutar bola matanya pada Sienna “Apa maksudmu?”

“Aku minta Sate kambing itu Kak Aldo yang carikan bukan fandy.” Sienna mulai berteriak, sungguh sikap manja dan kekanak-kanakannya kambuh lagi.

“Apa bedanya aku dan Fandy?”

“Pokoknya aku nggak mau makan kalau bukan Kak Aldo sendiri yang nyari.”

“Terserah kamu.” Ucap Aldo datar lalu pergi membereskan dapur sisa memasaknya tadi.

Dengan kesal Sienna masuk ke dalam kamarnya menutupnya keras-keras hingga berdentum nyaring. Mengurung diri di dalam kamar adalah kebiasaannya saat menghadapi Aldo. Sienna yakin, tak lama Lelaki itu pasti akan menghampirinya dan meminta maaf padanya seperti biasa.

***

Tiga jam berlalu dan Aldo hanya berjalan mondar-mandir didepan pintu kamar Sienna. Gadis itu masih belum mau membuka kan pintu untunnya. Sial..!! Akhirnya mau tak mau Aldo mengetuk pintu Sienna dengan lembut,

“Si.. Buka pintunya.. Kamu belum makan malam Si.. Please..” Aldo memohon.

Tapi tak ada jawaban dari Sienna. Aldo kembali mengetuk pintu kamar Sienna lagi hingga gadis itu mau membukanya.

“Si.. Please… Buka pintunya yaa…”

Tak lama pintu itu di buka menampilkan wjah cemberut dari Istri belianya tersebut.

“Cepat ganti baju, kita akan cari Sate kambing yang kamu inginkan.” Dengan menghela napas paanjang Aldo lagi-lagi mengalah dengan sosok Sienna.

Yaa… Aldo memang selalu mengalah, Sienna terlampau manja dan Aldo tidak suka terlalu berdebat dengan Sienna, Apalagi kata Franda, Temanya sekaligus dokter kandungan Sienna, Ia harus banyak mengalah mengingat kondisi Sienna yang sedang hamil muda.

Aldo membalikkan badannya hendak menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Tapi langkahnya terhenti saat Sienna dengan manja merangkul lengan kanan Aldo.

“Terima kasih Kak.. Kak Aldo memang yang terbaik..” Wanita mungil di sebelahnya itu lalu memberanikan diri untuk sedikit menjijitkan kakinya lalu mengecup lembut pipinya.

Aldo terperangah…

Sienna tidak pernah seberani itu dengannya, gadis itu memang manja, tapi selalu sopan terhadapnyaa karena mereka menikah memang bukan karena cinta, tapi karena bayi yang tak sengaja tumbuh dalam Rahim Sienna karenaketeledoran seorang Osvaldo Handerson.

 

#Flashback…

 

Aldo memijit pelipisnya ketika rasa nyeri di keplanya mulai menghampirinya. Hari ini Dirinya kehilangan sebuah tender besar, mungkin memang karena kurang beruntung atau memang kemampuannya belum cukup untuk menandingi si pemenang tender tersebut.

Aldo memijit-mijit pelipisnya, bagaimana Ia akan berbicara dengan Sang Ayah nanti, Untung saja Mike, Ayahnya itu kini masihberada di Jerman untuk mengurus beberapa keperluan di sana.

“Al..” Panggilan tersebut membuat aldo mengangkat wajahnya. Dan tampaklah sosok tampan lainnya, Dia Mario, Teman kuliah yang kini menjadi Rekan kerjanya.

“Ada apa?”

“Kenapa muka mu di tekuk begitu?”

Aldo menghela napas pnjang. “Aku kalah, Dan sekarang kepalaku pusing, bagaimana caranya aku bilang kepada Ayahku, dia pasti kecewa.”

“Astaga… tender itu tidak ada apa-apanya dibandingkan tender-tender lainnya nanti, sudah lah lupakan, mendingan sekarang ayo temanki aku ke duatu tempat.”

“Kemana Mar?? Aku pusing.”

“Maka dari itu, Aku ingin mengajakmu berpesta supaya tidak pusing.”

Dan Aldo hanya mampu mengikutinya saja, ya, mungkin sedikit bersenang-senang akan mengangkat bebannya dan membuat nyeri di kepalanya hilang.

***

Aldo mengernyit saat Mario menjalankan mobilnya menuju rumahnya sendiri. Rumah besar temannya itu kini tampak sedikit ramai. Mungkin Mario sedang mengadakan pesta.

“Kita mau apa kemari?”

“Adik ku sedang ulang tahun, lebih baik kita ikut pesta dengan mereka. Kamu tau nggak Al, Di sini banyak cewek-cewek cantik, siapa tau salah satunya bisa nyantol dengan kita.”

Aldo mendengus kesal. “Adikmu masih SMA Mar, kalaupun ada cewek juga pasti masih bau kencur, enggak ah, aku mau pulang.”

“Ayolah Al… Kita bersenang-senang sebentar saja dengan mereka. Ini tidak seperti pesta anak SMA pada umumnya, Ayah dan Ibuku ke luar negri, jadi mereka mengadakan Pesta liar malam ini.” Ucap Mario sambil terkikik, Dan lagi-lagi Aldo hanya mampu menuruti perkataan temannya tersebut.

Setelah merapikan penampilannya di kamar Mario, Aldo akhirnya menghambur ke dalam pesta. Didalam dan di sekitar rumah Mario penuh dengan laki-laki dan perempuan yang berlalu lalang saling bergandengan tangan. Tak sedikit pula yang saling mencumbu mesra di depan umum tanpa tau malu.

Pestanya sedikit aneh, da beberapa anak muda di daerah kolam renang yang bahkan tidak malu saling mengenakan pakaian renang sambil sesekali melemparkan diri masuk ke dalam kolam renang, Lalu di Bar kecil milik keluarga Mario pun di sulap nya sebagai Bar layaknya di club-club malam lengkap dengan Bartender nya. Aldo mengernyit, sebenarnya ini pesta anak SMA atau pesta orang dewasa?? Mereka bahkan seakan tidak sungkan meminum-minuman beralkohol dan seperti sudah terbiasa dengan hal tersebut.

Aldo menuju ke arah Bar, Ia memilih duduk dan sedikit meminum minuman beralkohol supaya pikirannya lebih Rileks. Saat dia asik dengan kesendiriannya, tiba-tiba ada seorang gadis cantik, terlampau sangat cantik, duduk tepat di kursi sebelahnya.

“Dasar tidak tau diri, Aku dandan secantik ini kan untuk mu Vin.. Bisa-bisanya kamu lebih memilih berdansa dengan Icha.. Sialan..!!”

Jika di lihat dari gelagatnya gadis di sebelahnya kini sedang mabuk, mengomel tak jelas dengan sesekali menangis dan tertawa. Lama Aldo memperhatikan gerak-gerik gadis tersebut, Gadis-itu meminta minuman lagi dan lagi saat minumannya habis, hingga seakan Gadis tersebut sudah tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.

“Heii kamu, Apa Aku kurang cantik?? Bagaimana mungkin Dia lebih memilih sahabatku di bandingkan Aku??”

Gadis itu berbicara Pada Aldo sambil sesekali memukul-mukul dada Aldo.

“Siapa maksudmu??”

“Kevin..” Gadis itu mulai menangis. “Aku bahkan mau datang ke pesta Gila ini demi dirinya, tapi dia….” Gadis itu tidak berhenti menangis.

Aldo yang kasihan akhirnya hanya bisa mendongakkan wajah gadis tersebut sambil mengusap air matanya. Entah kenapa Gadis di hadapannya ini mirip dengan Bianca, Adinya yang sangat manja.

“Sudah lah.. nanti pasti dia sadar, siapa yang tulus mencintainya.” Ucap Aldo dengan tulus.

Tapi kemudian Gadis tersebut menatap Aldo dengan tatapan Anehnya. “Mata kamu indah..” Ucap Gadis tersebut sambil mengagumi mata Aldo yang berwarna cokelat, “Kamu tampan..” Racaunya lagi.

Lalu tanpa di Duga, Gadis mungil di hadapan Aldo ini mendaratkan bibirnya pada bibir Aldo, melumatnya secara membabi buta seakan gairah dan hasratnya hanya tumbuh untuk Aldo seorang.

Aldo yang pada dasarnya memang Lelaki sejati, akhirnya tersulut gairahnya ketika bibir ranum nan lembut itu tanpa permisi menempel pada bibirnya, Melumatnya habis seakan tidak ingin semuanya berakhir. Dengan berani Aldo membalas ciuman yang di berikan gadis tersebut, ciuman panas yang bahkan hanya melihatnya saja mampu menyulut gairah, apa lagi buat yang merasakannya.

Lengan Aldo kini bahkan sudah melingkari pinggang Gadis tersebut menempelkannya semakin dekat dengan dirinya. Yang di bawah sana sudah menegang seketika, Seakaan berteriak ingin segera di bebaskan.

Aldo melepaskan ciuman panasnya tersebut, matanya menelusuri setiap inci dari wajah gadis yang berada tepat di hadapannya tersebut. Cantik, amat sangat cantik dengan garis feminim tapi sedikit menyiratkan kemanjaan yang khas. Mata gadis itu berkabut, Bibir nya merah merekah dan sedikit bengkak karena lumatannya tadi. Dan Aldo sudah tak dapat menahannya lagi.

“Ayo.. ikut Aku.” Ucap Aldo yang bahkan suaranya sudah sangat parau.

“Kemana?”

“Kamu akan tau..”

Dan Aldo pun membimbing Gadis mungil tersebut naik ke atas tangga, menuju ke dalam kamar Mario dan mengunci diri mereka di dalam seakan tak ingin terganggu oleh bisingnya pesta gila tersebut.

 

-TBC-

Note : Chapter selanjutnya akan ada unsur dewasanya, kaalo sempat aku akan update sebelum puasa, kalo nggak sempat yaa aku updatenya puasa nggak papa yaa tapi tengah malam.. hahhahah eh yaa mengingat semua cerita yang ku buat pasti ada Adegan tak senonoknya, maka saat puasa aku Updatenya tengah malam aja.. yg masih mau baca yaa silahkan yang nggak mau yaa ya udah.. hahhahaha See U next Chapter, jangan lupa tinggalin komentar.. hahhahaha

My Young Wife – Prolog

Comments 9 Standard

image

Tittle : My Young Wife
Cast : Osvaldo Handerson & Sienna Clarissa
Genre : Married Life (Roman Dewasa)
Seri : Married By Accident #1
Sekuel : My Brown Eyes
Status : Coming Soon

#Prolog

Aldo menghentikan sedan hitamnya di sebuah cafe tempat dirinya janjian dengan seorang gadis. Matanya tampak menelusuri kedalam cafe yang sebagian besar berdindingkan kaca transparan tersebut. Dan pandangannya terarah pada sesosok gadis yang sedang duduk dengan gelisahnya di sebuah bangku di ujung ruangan. Gadis dengan seragam putih Abu-abunya.
“Ada Apa?? Kenapa kamu menghubungiku?” Tanya Aldo tanpa banyak basa-basi saat dirinya sudah duduk tepat di hadapan gadis mungil tersebut.
Aldo mengamati wajah gadis itu, terlihat Sendu dan sedikit pucat, tapi entah kenapa seakan wajah gadis itu memancarkan sesuatu dari dalam dirinya yang membuat Also sangat betah menatap wajah Gadis di hadapannya tersebut.
Sienna yang sedang tadi duduk menunduk dengan sedikit gemetaran akhirnya berani menatap ke arah Pria di hadapannya, Pria yang tak sengaja di kenalnya Sekitar beberapa minggu yang lalu.
Sienna menatap Pria tersebut. Tampan, bahkan lebih tampan di bandingkan malam itu. Mantanya berwarna Cokelat nan indah, membuat Sienna terpesona sekan tak mampu berkata-kata lagi.
“Heii.. Kamu ada masalah??” Tanya Aldo lagi saat melihat Sienna melamun menatap matanya.
“Aku Hamil..” Dua kata itu mampu membuat Aldo ternganga.
Aldo tak dapat berkata apa-apa lagi. Astaga.. Bagaimana mungkin dia menghamili gadis belia yang bahkan belum lulus SMA.??
“Kamu yakin??” Tanya Aldo masih tak percaya dengan apa yang Ia dengar.
Sienna menganggukkan kepalanya. “Aku benar-benar hamil. Aku sudah tes berkali-kali dan hasilnya positif.” Sienna lalu menangis. Yaa Gadis itu memang terlampau sangat manja.
Aldo memejamkan matanya dengan Frustasi. Ia sangat membenci gadis manja yang sedikit-sedikit menangis seperti Sienna. Sungguh, sangat tidak dewasa.
“Apa kamu bisa berhenti menangis?? Kita akan cari solusinya?”
“Solusi bagaimana Kak?? Hidupku sudah hancur, Sekarang bahkan belum pengumuman kelulusan sekolah, dan aku sudah Hamil, bagaimana dengan kedua orang tuaku.? bagaimana dengan sekolahku?? Cita-citaku??”
Aarrgggghh kepala Aldo terasa ingin pecah. Di raihnya telapak tangan Sienna dengan kasar lalu di seretnya gadis itu keluar dari Cafe tempat mereka bertemu. Sienna di paksa masuk ke dalam mobilnya. Dan dengan ekspresi tak terbacanya, Aldo meluncur menuju tempat yang sama sekali tak di mengerti Sienna.

***

“Berapa usiamu??” tanya se orang dokter cantik yang menurut Sienna mungkin itu adalah teman Aldo.
“Tiga bulan lagi genap Delapan belas tahun.”
Dokter itu tampak sedikit terkejut lalu melemparkan pandangannya ke arah Aldo dengan tatapan menyalahkan.
“Al.. Bisa-bisanya kamu menghamili Gadis di bawah umur??”
Aldo yang berdiri tepat di sebelah Sienna hanya menatap Sienna dengan wajah datar dan  tatapan tak terbacanya.
“Apa kamu memiliki keluhan lain selain mual muntah?” Tanya Dokter itu lagi.
“Hanya sesekali Kram pada perut saya, itu saja.” Jawab Sienna masih dengan menundukkan kepalanya.
Dokter cantik itu menghela nafas panjang, “Baiklah, menurut perhitunganku, kehamilannya baru sekitar Lima sampai Enam minggu. Jika kamu tak ingin mempertahankannya, Aku memiliki resep obat peluruh, Jadi janin itu bisa gugur dengan kamu meminumkannya obat itu pada Gadis ini.” Tawar Dokter itu kepada Aldo.
Mata Sienna membulat menyadari ucapan Dokter tersebut. Mereka akan menggugurkan bayinya?? Mungin itu lebih baik, jadi tak akan ada masalah lagi bukan?? Tapi entah kenapa hati nuraninya berkata lain??
“Berikan saja Obat itu.” Ucap Aldo dengan Dingin.  Dan Akhirnyan Dokter itu memberi Resep pada Aldo.

***

Setelah membeli Obat yang di resepkan Dokter tersebut, Aldo mengajak Sienna ke Apartemen pribadinya yang jarang sekali di tempatinya jika tidak ada keperluan mendesak seperti saat ini.
Sienna menatap beberapa butir Obat di telapak tangannya. Aldo kini duduk di sebelahnya menatap Sienna dengan tatapan tak teganya. Sedangkan Sienna sejak tadi sudah tak berhenti meneteskan Air matanya.
“Apa kamu yakin mau melakukan ini??” Tanya Aldo lagi dengan suara nyaris tak terdengar. Hati kecil Aldo mengatakan jika semua ini salah. Ia terlampau pengecut. Usianya kini sudah 28 tahun, dan bisa-bisanya Ia mengambil keputusan kekanak-kanakan seperti saat ini. Tapi mau bagaimana lagi, Aldo juga tak tega melihat Sienna tak memiliki Masa depan seperti teman-temannya.
Sienna menganggukkan kepalanya dengan lemah. Lalu ia mulai berdo’a. Kemudian memejamkan matanya dan memasukkan obat-obat tersebut kedalam mulutnya di ikuti dengan meminum Air putih yang sudah di sediakan oleh Aldo.
Tapi saat ia meminum air putih tersebut. Perutnya bergejolak. Sienna membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya ketika ia merasakan mual yang sangat hebat.  Akhirnya tanpa permisi Ia berlari ke arah kamar mandi di dekat dapur Apartemen milik Aldo.
Sienna memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya termasuk obat-obatan tersebut. Perutnya bahkan terasa kaku saat Rasa mual yang tak berhenti melandanya.
Ketika mual itu sudah reda, Sienna terduduk di lantai kamar mandi milik Aldo. Tak mempedulikan Rok yang di kenakannya basah kuyub, Ia menangis di sana dengan sesenggukan, Menenggelamkan wajahnya diantara kedua lengannya.
Aldo sendiri berjalan mendekat ke arag Sienna, mengusap lembut punggung gadis itu.
“Aku nggak bisa Kak.. Aku nggak bisa melakukannya.” Ucap Sienna dengan frustasi.
Aldo mengangkat wajah Sienna, memaksa mata Sienna menatap lurus pada matanya. “Kalau begitu hanya ada satu jalan. Kamu harus siap menjadi Istriku, dan Ibu untuk anak-anakku.” Ucap Aldo penuh tekat. Lalu Aldo memeluk erat tubuh Gadis rapuh di hadapannya ini. Yaa mungkin ini akan menjadi yang terbaik untuknya dan juga Sienna.
Sedangkan Sienna sendiri tak mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya, bagaimana mungkin Ia menikah dalam usia semuda ini?? Menjadi istri seseorang dengan usia yang menurutnya masih belia??

-TBC-

Nahhh… kisah aldo dan sienna udah resmi rilis di blog nih… hahahaha btw chapter 1 bulan juni yaakk aku soalnya konsen ama bang tengil Aaron jiaahahhahaha. Okay… tunggu aja yaa bagaimana Nano-nanonya lanjutan kisah cinta antara Aldo dan juga ai gadis manja Sienna.. hahhahaha. Dan di bawah ini adalah cast aldo dan sienna yaa…

image

Matt lanter as Osvaldo Handerson

image

Ariana Grande As  Sienna Clarissa

Jangan lupa tinggalkan komen kalian yaa… *kisskiss