My Mate (Dina & Alex Story) – Part 2

Comments 4 Standard

MyMate

My Mate

PART II

-Dina-  

 

Hari demi hari kulalui dengan sangat tidak nyaman. Ya.. aku tidak nyaman dengan kebohongan yang sudah ku lakukan pada semua orang di sekitarku. Aku berbohong saat aku mengatakan jika aku menyukai Alex. Aku melakukannya karena supaya dia bersedia menjadi kekasihku dan membunuh semua rasa curiga dan rasa cemburu yang di rasakan Clara terhadapku.

Dan semua memang berjalan sesuai rencanaku. Semua orang rumah tau jika Aku dan Alex memiliki hubungan special. Bahkan sikap Clara kini sudah membaik denganku ketika kami tak sengaja bertemu. Dia lebih ramah dan murah senyum. Aku senang.

Hanya saja saat di dekat Alex, aku merasa tak nyaman. Aku merasa bersalah padanya karena sudah memanfaatkannya. Alex benar-benar sangat baik terhadapku. Dia bahkan sudah mengajak ku berkunjung ke rumahnya. Orang tuanya Baik, Dan aku suka. Hanya saja…..

Aku memekik dalam lamunanku saat subuah telapak tangan menyentuh bahuku. Dia lelaki itu, Alex.

“Sedang melamun apa??” Ucap Alex yang kini sudah duduk di sebelahku.

“Enggak, Aku tidak memikirkan apa pun.”

Aku hanya menunduk. Sungguh, kini saat di hadapan Alex, aku sama sekali tak berani menatap ke arah matanya, entah kenapa ada rasa yang aneh saat aku menatapnya. Dan aku tidak ingin rasa itu mempengaruhiku.

“Ayo.. Aku ingin mengajak mu ke suatu tempat.”

Aku mengernyit. “Kemana??”

“Ayoo ikut saja..” Ucapnya sambil menarik pergelangan tanganku.

Akhirnya mau tak mau Aku mengikuti kemana kaki Alex melangkah. Kami masuk ke dalam supermarket tersebut, lalu menaiki tangga hingga kami berada di atap supermarket tersebut.

“Alex, untuk apa kita kemari??”

“Sudah, ikut saja..” Alex masih menarik pergelngan tanganku hingga kami berada di pinggiran Atap supermarket. Ini benar-benar mengerikan, karena aku adalah orang yang takut ketinggian jadi bagiku ini sangat mengerikan. Sebenarnya Alex mau apa sih??

Dan kemauan Alex akhirnya terlihat juga olehku saat satu persatu karyawan supermarket tersebut keluar sambil membawa kertas bertuliskan huruf-huruf yang di taruh di atas kepala mereka.

‘Ardina.. Menikahlah denganku…’

Begitulah tulisannya. Apa Alex melamarku?? Please.. jangan lakukan ini Alex, Aku bahkan ingin memutuskan hubungan kita karena merasa bersalah denganmu..

“Menikahlah denganku…” Suara itu terdengar lirih. Aku menoleh ke arah Alex, mata nya tampak sendu tapi jelas tersirat ketulusan di sana. Aku merasakannya, aku dapat melihatnya.

Dan entah kenapa aku hanya bisa mengangguk kan kepalaku, aku benar-benar tidak sadar saat melakukan itu. Aku menerima lamaran Alex begitu saja tanpa tau resikonya.

Tuhan, Jika memang ini kehendakmu, Jika Lelaki di hadapanku ini memang jodohku, tunjukkan kami jalan untuk saling mencintai…

***

Seperti mimpi… itulah hidupku saat ini.

Aku menjadi istri seorang Alex yang ternyata dia adalah pemilik dari supermarket langananku. Saat tau, Aku sangat terkejut. Tapi tentu itu tidak mengurangi rasa gelisahku saat menghadapinya.

Ku pikir kini semuanya sudah berubah. Tiga bulan menjalani hidup sebagai Istrinya membuatku mengerti bagaimana sosok Alex yang sebenarnya. Di baik, sangat baik, Sederhana dan dia sangat menyayangiku, setidaknya itu yang bisa ku lihat darinya. Tapi, tentu masih ada yang kurang, hatiku belum sepenuhnya menerimanya, entah kenapa aku juga tak tau, Apa Karena Mas Rey?? Sepertinya bukan. Tapi bagaimana pun juga aku tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk hubungan kami.

Selama tiga bulan menjadi Istri Alex, Aku masih perawan. Ya, Dia sama sekali belum menyentuhku. Aku tidak tau karena apa, Ku pikir saat malam dia sedikit menghindariku. Apa dia memiliki kelaian?? Entahlah, tapi aku cukup lega, karena aku tidak mungkin melakukan hal itu saat hatiku sendiri belum pasti untuk menerima Alex di sisiku.

“Dua hari lagi aku akan keluar kota.” Suara itu membuatku membatu.

Kini Aku sedang merapikan Baju yang akan di kenakan Alex ke Supermarket. Tapi perkataannya membuatku menghentikan semua gerakanku. Keluar kota?? Kenapa tiba-tiba??

Aku membalikkan badan dan mendapati Alex sudah berdiri di hadapnku. “Kenapa tiba-tiba??”

“Ayah memutuskan membangun sebuah supermarket lagi di sana. Jadi Aku harus mengawasinya secara langsung.”

“Aku ikut.” Entah dari mana Aku megucapkan permintaan tersebut.

Aku melihat Alex menggelengkan kepalanya. “Di sana Akan lama.. mungkin sekitar satu sampai tiga bulan.”

“Dan Kamu akan meninggalkanku selama itu?? Tidak, Aku mau ikut Alex.”

Dan aku terkejut dengan tingkahnya. Dia tiba-tiba memelukku. “Baiklah, Siapkan semuanya, Dua hari lagi kita ke jogja..”

Senyuman tersungging begitu saja pada wajahku. Aku senang jika selalu bersama Alex, Aku bahagia jika di dekatnya. Tapi aku masih tidak mengerti, Perasaan apa ini???

***

-Alex-

 

Ardina… Wanita yang kini menjadi Istriku.. Wanita yang benar-benar ku cintai dan ku yakini menjadi jodohku sejak pertama kali aku melihatnya, Dan dia juga wanita yang sudah mematahkan hatiku..

Aku memejamkan mataku ketika kepalaku mulai berdenyut. Saat itu, Aku tidak sengaja mendengarnya. Itu terjadi jauh sebelum aku melamar Dina.

*Flashback

 

Aku keluar dari rumah besar itu.. rumah besar tempat tinggal Dina, Kekasihku. Ya.. Hari ini entah kenapa tiba-tiba Dina mengajakku ke rumah yang di tinggalinya. Senang, tentu saja, ku pikir selama ini hanya Aku yang antusias dengan hubungan kami. Tapi ternyata Dina juga, terbukti dengan dia mengajak ku ke rumah yang selama ini Dia tinggali. Dia mengenalkanku dengan semuanya.

Tapi saat di dalam tadi, Ku pikir Ada yang Aneh. Yaa… Ada sesuatu yang tidak ku ketahui, entah apa itu aku tak tau.

Ibu Allea, Majikan Dina adalah orang yang sangat baik, Ia ramah, sangat ramah. Memiliki seorang Putera bernama Reynald dan juga menantunya yang bernama Clara. Kalau tidak salah, Clara adalah salah satu model papan atas, Aku tau karena wajahnya sering muncul di beberapa Produk yang ada di Supermarketku.

Ketika makan malam selesai. Aku di ajak Dina menuju ke sebuah ruang tengah, Yang disana sudah ada Reynald dan juga Clara. Sekali lagi, Dina mengenalkanku di sana. Seakan menunjukkan Bahwa Aku adalah Kekasihnya, orang yang sangat di cintainya..

Mata Dina tidak berhenti menatap Clara, seakan menilai bagaimana reaksi wanita tersebut. Sedangkan aku sendiri  sibuk memperhatikan Reynald. Reynald tampak senang mengetahui hubungan kami. Begitu pun dengan Clara. Dan di sinilah aku mulai bingung. Untuk Apa Dina mengenalkanku pada Reynald dan Clara?? Bukankah cukup mengenalkanku dengan ibunya Saja??

Aku menghilangkan semua pertanyaan-pertanyaan yang embuat hatiku tidak nyaman. Akhirnya malam itu berakhir dengan saling bercerita di ruang tengah.

Saat Aku pulang, dan baru sampai di perempatan pertama, Aku melupakan sesuatu. Ya.. Aku lupa memberi tau Dina jika Besok giliranku mengajaknya ke rumahku. Aku ingin mengenalkan dia dengan orang tuaku.

Akhirnya aku berbalik Arah dan kembali menuju rumah yang di tinggali Dina. Saat itu, Ibu Allea lah yang membukakan pintu untukku. Aku meminta ijin untuk menemui Dina sebentar. Dan Ibu Allea menunjukkan dimana letak kamar Dina. Akhirnya aku menuju ke sana, dan di sanalah aku mengetahui semunya..

Aku mendengar Dina sedang berbicara dengan seseorang yang ku yakini Adalah Ibunya sendiri..

“Kamu nggak boleh seperti itu Din.. Kasihan Nak Alex.”

“Lalu aku harus bagaimana Bu, Aku tidak mau selalu merasa canggung saat Mas Rey dan Clara berkunjung ke rumah ini.”

“Tapi Memanfaatkan Nak Alex juga tidak baik, Dia Lelaki yang Baik, Ibu bisa melihat ketulusannya, dia benar-benar mencintaimu Din..”

“Tapi aku tidak Bisa Bu.. Hatiku sudah tertutup untuk Cinta, Cukup Mas Rey saja lelaki yang memberiku Cinta dan merenggutnya kembali, Aku tidak ingin lagi….”

Jantungku berdegup tak menentu.. Dadaku terasa panas dan sesak.. Dan pada detik itu aku tau, Jika Dina hanya mencintai Reynald… Aku hanya sebagai alat untuk membuat hubungan mereka semua membaik tanpa ada rasa canggung lagi… Dina memanfatkanku…

 

Aku terkesiap  dari lamunan saat tangan halus itu menyentuh pundakku dengan lembut. Tangan siapa lagi jika bukan tangan Dina.

Kini Aku sudah berada di sebuah Apartemen sewaan di Jogja. Yaa.. sudah tiga Hari kami di sini, Aku harus mengontrol secara langsung membangunan supermarket besar milik keluargaku yang bercabang di jogja.

“Kamu nggak berangkat??” Tanya nya dengan lembut.

Aku menggelengkan kepalaku. Hari ini kepalaku terasa pusing, Dan aku memutuskan untuk Libur seharian.

“Kamu sakit??” Tanyanya penuh perhatian.

Yaa.. Dina memang selalu perhatian, Di benar-benar istri idaman. Tapi… aku tidak bisa membohogi diriku sendiri, Sejak saat itu Hatiku sudah tersakiti karenanya. Aku memutuskan untuk tetap melamarnya, menjadikannya istriku karena Aku benar-benar ingin memilikinya. Terlihat Egois mungkin, tapi biarlah.. Aku benar-benar tulus mencintainya meski aku tau, Tidak ada Cinta darinya untukku.

“Aku hanya sakit kepala.” Jawabku dengan nada selembut mungkin.

Dina kemudian duduk tepat di sebelahku. Tangan rapuhnya menyapu keningku. Dan aku hanya bisa memejamkan mata. Berada di dekat Dina membuatku semakin jatuh dalam perasaan Cinta padanya.

“Alex.. Ada yang kamu sembunyikan dariku??” Tanyanya dengan mata sendunya yang menatap tepat pada manik mataku.

Aku mempalingkan wajahku kearah lain, dan menggelengkan kepala cepat-cepat. “Tidak Ada.”

“Lalu kenapa Kamu memperlakukanku seperti ini???” Dia bertanya dengan suara lirihnya.

Aku menelan ludahku dengan susah payah. “Memperlakukan seperti apa?” tanyaku dengan nada yang ku buat seperti orang bingung.

“Kamu menghindariku..”

“Tidak Dina.. Kenapa aku menghindarimu??” Ucapku selembut mungkin sambil menatapnya lekat-lekat.

“Aku merasakannya Alex, Kamu lebih pendiam dari pada dulu, Kamu terlihat sendu tidak seperti dulu. Kenapa??”

Aku hanya tertunduk tidak berani menatapnya. Dia terlalu menuntut untuk tau apa yang terjadi padaku.

“Aku istrimu Alex, Tapi Kamu tidak pernah sekalipun meyentuhku.. Kenapa??”

Aku masih tertunduk. Kenapa?? Karena aku tau kamu tidak menginginkannya Dina… Kamu tidak menginginkan bersamaku. Kamu hanya terjebak dengan rencanamu sendiri, dan Aku, Bodohnya Aku karena sudah membuat kita sama-sama terjebak dalam hubungan yang menyesakkan ini…

Tanpa ku duga, Dian meraih sebelah tanganku, dan membawanya tepat pada payudaranya. “Sentuh aku..” Kata-katanya sarat dengan nada kesakitan. Aku membulatkan mataku ke arahnya, Wajahnya benar-benar menyiratkan rasa sakit hati yang teramat sangat. Apa Aku sudah menyakitinya???

Aku hanya bisa membatu menatapnya. Dina kemudian mengalungkan lengannya pada leherku. Mendekatkan wajahnya pada wajahku. Kemudian berbisik tepat di depan bibirku.

“Sentuh Aku.. Ku mohon..”

Setelah perkataannya tersebut, Dina menempelkan bibirnya pada bibirku, melumat habis bibirku dengan Ciuman lembut dari dia. Sedangkan aku sendiri masih membatu. Benar-benar tidak menyangka jika Dina melakukan hal ini padaku.

Aku mendengar dia Terisak. Airmatanya meluncur begitu saja dan mengenai pipiku. Dia menangis, tapi tetap menciumku walau aku tak sedikitpun membalasnya. Apa dia menangis karenaku?? Apa aku sudah terlalu menyakiti hatinya???

***

-Dina-

 

Wanita murahan…

Seperti itukah aku saat ini?? Aku seakan menjajakan diriku pada seorang Alex, Suami yang sudah lebih dari tiga bulan ku nikahi, Tapi tak sekalipun dia mau menyentuhku. Dan kini, Aku lah yang memaksanya untuk menyentuhku seperti wanita yang haus akan sentuhan Lelaki.

Aku tau ada yang berbeda dengan Alex. Dia benar-benar berbeda dengan Alex yang dulu, Pemuda yang selalu meggodaku, menempel kemanapun kakiku melangkah saat aku belanja di supermarket tersebut. Aku merindukan Aalex yang itu…

Kini Alex mungkin masih sama, Masih perhatian, lembut dan baik hati. Tapi Aku melihat ada yang berbeda. Seakan Ada sesuatu yang membuatnya sedikit menjauhiku.

Aku kembali melumat bibir Alex, bibir yang sama sekali tidak bergerak seakan tidak tertarik denganku. Tangisku semakin menjadi ketika aku sadar jika Dia tidak menginginkanku. Lalu aku melepaskan pangutanku, tertunduk dan terisak.

Dasar bodoh..!!! Harusnya Aku tau, Alex tidak mau menyentuhku mungkin karena dia tidak tertarik denganku. Lalu kenapa dia menikahiku?? Dan aku tidak bisa berpikir kembali ketika tiba-tiba Alex mengangkat wajahku kemudian mencium bibirku dengan membabi buta. Melumatnya seakan sudah lama sekali dia menahan diri untuk melakukan hal ini padaku.

Aku memejamkan mataku, tubuhku bergetar ketika tangan Alex mulai menjamahku. Membuka satu persaku kancing kemeja yang sedang ku kenakan. Setelah tubuhku polos tanpa sehelai benang pun, Alex mulai mendorongku sedikit demi sedikit hingga tubuhku terbaring sempurna di atas Sofa panjang yang tadi kami duduki.

Setelah tubuh kami sama-sama polos tanpa sehelai benang pun, Alex kembali menindihku. Ia mendaratkan bibirnya di sepanjang puncak Payudaraku. Memujanya, membuatku merasakan rasa aneh yang baru saat ini ku rasakan.

Aku menggigit bibir bawahku, mencoba menahan erangan yang entah kenapa seakan ingin keluar dengan sendirinya dari bibirku.

“Jangan Di tahan.” Bisik Alex dengan suara paraunya. Dan aku merasakan tubuhku semakin memanas saat mendengar suaranyaa yang terdengar berbeda dari biasanya tersebut.

Lama kami berdua saling menyentuh satu sama lain, mencumbu satu dengan yang lainnya, hingga tiba saatnya Alex menyatukan dirinya denganku. Rasanya tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata. Aku menangis, dan Alex memelukku dengan erat, sesekali ia mengecupi permukaan leherku. Kemudian ras sakit itu sedikit demi sedikit menghilang. Dan Aku mulai mendesah kembali, napasku kembali terputus-putus seiring gerakan yang di lakukan oleh Alex.

Tak ada sedikitpun kata di antara Kami. Kami hanya saling memandang satu smaa lain, menyentuh satu sama lain, dan mendesah satu sama lain hingga puncak kenikmatan itu kami capai bersama-sama.

Alex kembali mencumbuku dengan lembut sebelum dia tersungkur di atasku. Napasnya menggebu setelah pencapaiannya, detakan jantungnya menyatu dengan detkan jantungku. Tubuhnya sedikit bergetar, pun dengan tubuhku. Pada detik ini aku sadar, Bahwa perasaan yang kami rasakan sama, Kami menyatu dengan suka rela.. dengan satu rasa yang aku sendiri belum yakin apa itu bisa di sebut dengan rasa Cinta..

Jika memang ini Cinta, Aku ingin mencintainya sampai nanti, sampai umurku menua, berdua, bersamanya..

“Alex.. Aku sayang kamu..”  tanpa sadar aku mengucapkan kalimat itu, kalimat yang benar-benar terucap dari dasar hatiku, bukan kalimat yang sengaja ku rencanakan untuk menjeratnya. Aku benar-benar menyayanginya, Menyayangi Alex, Suamiku…

 

-TBC-

Advertisements

My Mate (Dina & Alex Story) – Part 1

Comments 4 Standard

MyMate

My Mate

 

Halooo… mana yang dari kemaren pengen tau kisah dina dan Alex?? yuukkk mari mampir yaaa.. wkwkwkwk okay.. enjoy reading yaa.. *KissKiss

 

 

Tittle : My Mate…

Cast : Ardina & Alex

Genre : Roman Dewasa

 

Part I

 

-Alex-

 

Pagi ini Aku benar-benar sibuk. Aku harus mengurus beberapa barang yang datang, belum lagi beberapa karyawan baru yang harus melakukan training denganku secara langsung. Yaa tentu saja aku tak begitu mempercayakan pekerjaan kepada orang-orang yang tak jujur. Jadi mau tak mau aku sendiri yang harus menyeleksinya.

Seperti biasa, jakarta pagi ini sangat macet, benar-benar macet seperti hari-hari sibuk biasanya. Pantas saja setiap hari pasti ada saja karyawanku yang telat masuk kerja, mungkin salah satunya karena kemacetan yang semakin parah ini.

Saat aku jenuh dengan kemacetan yang menimpaku, tiba-tiba aku melihat Seorang Nenek yang berjualan buah jambu biji terjatuh tepat ddi pinggiran jalan. Buah-buah si nenek itu berhamburan bahkan ke tengah jalan. Tak ada satu orang pun yang mau membantuunya. Karena kasihan, aku memutuskan untuk keluar dari mobil dan membantu nenek-nenek tersebut, tapi saat aku akan keluar. Aku melihatnya….

Dia seperti cahaya yang menyinari gelapnya malam.. Seperti hujan yang membasahi gersangnya tanah gurun… Wajahnya cantik dan entah kenapa aku merasa dapat melihat kecantikan hatinya juga…

Aku memandangnya, sibuk membantu nenek tua tersebut memunguti buah jambu, padahal kulihat dia juga sedang sibuk membawa barang belanjaannya. Tak ada satu orang pun yang membantu nenek tersebut kecuali wanita itu. Wanita cantik dengan wajah sendunya.

Klakson mobil di belakang mobilku menyadarkanku dari lamunan. Aku harus segera menjalankan mobilku dan meninggalkan pemandangan menyejukkan hati tersebut. Wanita itu…. jika kita bertemu lagi… Ku pastikan Kamulah jodohku…

***

Aku membantu para pegawai pria menurunkan barang-barang yang baru datang dan membawanya ke area Gudang. Yaa, beginilah pekerjaanku. Supermarket ini di dirikan oleh Ayahku. Dulu sekali saat aku masih kecil, supermarket ini hanya sebentuk toko kecil pada Umumnya. Yaa tentu saja, kami bukanlah orang kaya.

Dengan usaha keras Ayahku, sedikit demi sedikit semuanya berubah. Toko kecil kami berubah menjadi lebih besar dan lebih besar lagi hingga seperti saat ini, bahkan setelah aku ikut terjun di dalamnya, Kami membuka beberapa cabang supermarket di kota ini. Karena itulah Aku tak bisa main-main dengan usaha ini. Sebisa mungkin semuanya ku kerjakan sendiri. Bahkan beberapa pelanggan mengira jika aku ini hanya karyawan biasa. Biarlah, aku sangat suka di kira sebagai orang biasa.

Setelah selesai membantu para karyawanku, Aku duduk dengan peluh yang menetes di dahiku. Seragam yang ku kenakan ini pun basah kuyub. Yaa aku juga mengenakan seragam yang sama dengan para karyawanku. Entah kenapa bagiku itu lebih nyaman dibandingkan harus mengenakan setelan dan lain sebagainya.

Saat aku masih terengah karena kelelahan. Mataku menangkap bayangan itu.. Sosok beberapa hari yang lalu yang ku lihat sedang membantu seorang nenek di pinggir jalan. Dia sedang berjalan dengan seorang wanita paruh baya. Berbelanja di tempatku.

Aku tersenyum. Mungkinkah dia benar-benar Jodohku??

Aku berjalan pelan di belakang mereka, sesekali membenarkan barang di  Rak-rak barang. Ku dengar sesekali mereka sedikit bicara.

“Jadi… Bu Allea nanti akan memasaknya dengan ini?”

“Iya Din..  Rey sangat suka saat saya membuatkannya itu.”

“Saya mau di ajari juga cara membuatnya.” Kata wanita itu dengan sedikit malu.

“Benarkah?? Baiklah, nanti kita akan membuatnya bersama.”

Aku melihat ada yang aneh, Wanita itu nampak sangat sopan dan patuh dengan Wanita paruh baya yang sedang mengajaknya berbelanja tersebut. Jika di lihat dari gerak gerik dan cara bicaranya, mereka tentu jelas bukan seorang ibu dan Anak. Lalu… Apa mereka sepasang menantu dan Mertua?? Ahhh jika benar, berarti aku sudah terlambat.

Pikirku ingin mengenyahkan bayangannya dan menghindar pergi, namun nyatanya otak dan syarafku berkata lain. Pandanganku seakan enggan berpaling dari wanita itu, wanita yang hingga saat ini tak kukenal.

Saat setelah mereka sudah keluar dari Supermarketku, aku menghampiri kasir yang tadi melayani mereka.

“Ada apa pak?”

“Emm.. Wanita yang tadi, Apa dia sering belanja kemari, atau baru pertama kali ini??”

“Yang mana Pak??”

“Yang baru saja kamu layani ini tadi.”

“Ohh Mbak-mbak dan ibu yang tadi itu?? Mereka memang sering belanja kemari Pak, Mereka pelanggan tetap kita.”

Aku membulatkan mataku, “Benarkah??”

“Iya pak.. Rumahnya kan tak jauh dari Kontrakan saya. Besar sekali pak..”

Aku mangut-mangut mendengar cerita karyawanku ini. “Terus, Kamu tau nggak apa hubungan mereka? Saya pikir mereka bukan ibu dan Anak.”

“Ohh Bukan Pak, Mbak-mbak yang tadi itu hanya pembantu dari Ibu-ibu yang tadi itu Pak…”

Deg… Deg… Deg…

Jantungku seakan tak berhenti berdetak cepat. Aku tidak kecewa jika dia hanya seorang pembantu, Tidak, Aku malah senang, Lega, dan entahlah… kupikir dia sosok yang selama ini ku cari. Sosok baik, cantik dan sederhana… dan Semoga saja dia benar-benr menjadi jodohku…

 

***

 

-Dina-

 

Hari ini Dia memutuskanku…

Aku tak tau apa yang ku rasakan saat ini. Sakit yang amat sangat hingga aku tak mampu merasakannya lagi.

Mas Rey, Adalah sosok yang sangat sempurna bagi siapapun wanita yang mengenalnya. Dia tampan, Baik, Sayang keluarga, dan dia bukan Lelaki buruk pada umumnya. Aku mencintainya, Sangat mencintainya melebihi apapun di dunia ini. Bukan karena dia kaya, atau dia majikanku dan aku ingin menjadi Nyonya besar di rumah ini, Tidak, bukan karena itu. Aku hanya mencintainya tanpa sarat, Hanya itu saja.

Tapi dia memutuskan untuk menikah dengan orang lain. Mas Rey berkata jika semua itu hanya permainan saja, Dia tidak benar-benar mencintai waita yang akan di nikahinya, dan dia memintaku untuk menunggunya dua tahun kemudian.

Sungguh, Aku ingin melakukannya, menunggunya selama dua tahun dan menjadikannya Milikku seutuhnya. Tapi hatiku berkata lain, pikiranku mengingkarinya. Bagaimana jika Mas Rey berubah sebelum dua tahun berlalu?? Bagaimana jika perasaannya padu hilang dan tergantikan oleh cinta kepada istrinya tersebut?? Bukankah sama saja jika aku sudah kalah??

Yaa.. Aku menyerah, Aku menyerah bahkan sebelum berperang. Ku pikir, Mas Rey memang bukanlah jodohku. Entah kenapa ketika Dia melamarku berkali-kali, Hanya rasa ragu yang kurasakan dan aku berakhir dengan menolaknya. Mungkin karena ini alasannya, Karena dia memang bukanlah jodohku.

Aku kembali menangis, menangis sesenggukan sendiri di dalam kamar kecilku..

***

Siang ini menjadi siang yang menyebalkan untuk ku. Bagaimana tidak, Sejak tadi si pegawai Supermarket yang sedang aku belanjai ini menggangguku terus. Memang tidak bisa di katakan mengganggu, karena dia hanya bersikap ramah padaku. Tapi kelakuannya yang selalu menguntit tepat di belakangku membuatku jengkel.

Aku risih karena sejak tadi Beberapa orang yang sedang belanja di Supermarket langganan ibu Allea ini menatap kearahku dengan rasa keingin tahuan.

Namanya Alex. Dia salah satu pegawai Supermarket yang sudah lama menjadi langganan ibu Allea. Mungkin dia pegawai baru, karena aku baru melihatnya beberapa bulan yang lalu. Dia pernah memberiku kartu nama nya, entah apa maksudnya aku sendiri tidak tau. Dan aku menolaknya.

Yaa.. tentu saja, saat ini bukanlah saat yang tepat untuk mengenal seorang lelaki. Setelah putus dengan Mas Rey beberapa minggu yang lalu, perasaanku kacau, htiku masih terluka, aku masih butuh untuk menyembuhkan luka di hatiku ini. Dan aku tidak ingin mengambil resiko terluka lagi dengan mengenal sosok Lelaki baru.

Alex tidak sala, tentu saja, yang salah adalah waktu. Kami bertemu di waktu yang tidak tepat, dia menggoda ku saat aku sedang ingin sendiri.

Alex adalah Lelaki yang tampan, perawakannya mirip dengan Mas Rey, Tinggi tegap, Wajahnya kalem, terlihat seperti orang yang baik, yaa.. dia memang sangat sopan dan mungkin jika suasana hatiku tidak seperti ini, mungkin aku sudah jatuh hati padanya.

“Biar saya Antar.” Ucapnya yang saat ini masih setia menempel di belakangku.

“Maaf, sudah berapa kali saya bilang, saya bisa pulang sendiri.” Ucapku dengan ketus, aku sendiri tak tau kenapa bisa bersuara dengan nada ketus seperti itu.

“Baiklah, ampai jumpa besok siang.” Katanya dengan ramah.

Aku mengangkat sebelah alisku, “Besok siang?? Anda yakin sekali kalau saya akan kemari lagi besok siang.”

Dia tersenyum, “Tentu saja, Kamu kan sudah menjadi pelanggan setia supermarket ini.” Ucapnya penuh dengan keyakinan. Dan aku tidak bisa menjawab lagi.

Andai saja ini bukan supermarket langganan ibu Allea, mungkin aku sudah belanja di tepat lain. Akhirnya dengan setengah mendengus, aku berjalan keluar. Hari ini aku memang tidak bersama supir rumah, karena pak supir sedang mengantai Ibu Allea ke tempat Adik Pak Renno. Jadi mau tidak mau aku harus naik angkutan umum.

Tapi baru saja sampai di parkiran supermarket, Sebuah kantung belanjaanku yang di dalamnya ada dompetku di rampas begitu saja oleh orang yang tidak ku kenal. Orang tersebut lantas berlari sedamngkan aku hanya mampu berteriak keras-keras.

Sebagian besar pegawai supermarket dan juga pengunjung supermarket tersebut menghambur keluar ke arahku. Tubuhku bergetar hebat, aku tidak pernah kecopetan seperti ini, bagaimana jika tadi Si copet tersebut membawa senjata tajam??

Beberapa orang sudah mengejar copet tersebut, sedangkan aku hanya bisa terduduk lemas.

“Heii… minumlah dulu..”

Itu Alex, dia membawakanku sebotol air mineral dingin, yaa aku memang butuh minum, aku takut. Ku raih botol minuman tersebut dan ku tegak airnya dengan rakus hingga aku tersedak dan terbatuk-batuk seperti orang bodoh.

“Tenanglah, Kami sudah melapor polisi..”

“Aku takut… itu.. itu Uang Ibu allea..” bahkan suaraku pun terdengar bergetar.

Tentu saja, di dalamnya ada beberapa kartu kredit khusus untuk belanja dari ibu Allea, KTP, dan juga kartu ATM satu-satunya yang menjadi milikku yang paling berharga. Bagaimana jika semua itgu hilang?? Dan kemungkinan terburuknya si copet dapat menguras semua uang yang ada di sana.

Tiba-tiba aku ingin menangis…

“Hei.. tenanglah..” Suara Alex menenangkanku, tanpa tau malu lagi aku memeluknya. Astaga…. Aku benar-benar sudah gila.

***

Si pencopet tersebut akhirnya tertangkap. Syukurlah, aku bisa bernapas lega meski tidak mengurangi rasa merinding saat membayangkan wajah si copet tersebut.

Akhinya setelah mengurus semuanya bahkan sampai ke kantor polisi di temani alex, Aku pulang saat malam sudah sedikit larut. Orang-orang rumah pasti mencemaskanku, karena kebetulan ponsel yang ku bawa sudah mati larena kehabisan batrei.

“Ayo naiklah.” Ajak Alex. Saat ini dia sudah di atas sebuah sepeda motor. Wajahnya terlihat lelah, yaa karena sejak tadi memang dia sibuk mengurus segala sesuatunya tentang si pencopet tersebut. Dan entah kenapa, aku merasa nyaman di dekatnya.

“Emm.. aku pulang sendiri saja, kamu terlihat kecapekan.”

“Sudahlah, ayo ku antar, aku nggak tenag saat belum melihatmu sampai di rumah.”

Perkataannya membuatku hangat. Aku merasa di perhatikan kembali, Dia mengingatkan ku pada Mas Rey, Sosok yang selalu perhatian denganku.

“Heii… kenapa bengong?? Ayo, naiklah.”

Dan aku pun menuruti perintahnya. Aku akhirnya menerima tawarannya untuk mengantarku pulang.  Dan aku benar-benar merasa terlindungi oleh kehadiran Alex.

***

Entah sudah berapa minggu berlalu setelah kejadian pencopetan tersebut, Kini hubunganku dengan Alex dan beberapa karyawan di supermarket tersebut semakin dekat. Beberapa diantaranya bahkan menjadi teman dekatku. Aku lebih suka berlama-lama di supermarjet tersebut dari pada di rumah.

Tentu saja, semua ada hubungannya dengan Mas Rey dan juga Clara.  Clara hamil, dan tingkahnya tentu semakin manja. Jujur saja, saat awal mereka menikah, Aku tidak suka, Aku cemburu, dan itu wajar.

Bagaimana jika hal ini menimpa kalian?? Tentu saja kalian akan merasakan apa yang ku rasakan. Benar-benar menyakitkan saat melihat orang yang kita cintai dan mencintai kita menikah dan hidup bersama dengan Wanita lain.

Tapi itu dulu, Saat ini aku senang saat melihat Mas rey bahagia, entah kenapa bisa seperti itu aku juga tidak mengerti. Hanya saja, Clara selalu curiga dengan hubungan kami. Yaa.. aku mengerti apa yang dia rasakan. Siapapun akan tidak suka saat melihat pasangannya dekan dengan mantan kekasihnya. Dan itu membuatku sedikit bingung.

Saat ini Mas Rey dan Clara memang sudah pindah ke rumaah baaru mereka, hanya saja itu tidak mengurangi rasa cemburu Clara padaku apalagi dengn kondisinya yang hamil muda, Hormon mempengaruhinya dan membuat emosinya lebih labil.

Dia tidak suka denganku dan dia terang-terangan memperlihatkaan hal itu padaku. Aku merasa tidak nyaman, dan ku pikir aku harus mengakhiri semua kecurigaan Clara terhadapku.

“Kamu diam aja, ada yang kamu pikirkan??” pertanyaan Alex membuatku gelagapan.

Yaa saat ini aku memang masih berada di supermarket, seperti biasa, setelah belanja kebutuhan dapur, aku menyempatkan diri berhenti sejenak dan menyapa mereka para karyawan supermarket yang kini sudah kenal akrab denganku.

“Iya, hanya sedikit.” Jawabku.

“Cerita saja, Siapa tau aku bisa membantu..” Ucap alex dengan senyuman manisnya. Yaa Alex memang sangat murah senyum dan aku sangat suka melihatnya tersenyum karena dia semakin terlihat manis dan tampan.

Aku berpikir sebentar, lalu ide itu muncul begitu saja dalam pikiranku. Apa aku harus melakukannnya???

“Emmmm Alex, Aku… Aku menyukaimu.” Ucapku kemudian dan aku yakin jika saat ini pipiku sudah merah seperti tomat karena menahan malu.

Alex membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang ku katakan.

“Apa?? Kamu.. kamu yakin??” Tanya nya masih tidak percaya dengan apa yang ku katakan.

Aku mengangguk. “Ya, aku yakin, aku menyukaimu dan ingin, Em….” Ya tuhan, aku tidak sanggup melanjutkan kalimatku lagi.

Tanpa ku duga Alex langsung menyambar tubuhku, mememlukku ke dalam pelukannya. Erat, dia memelukku sangat erat.

“Alex…” lirihku.

“Diamlah… Astaga… terima kasih kamu sudah mau membalas cintaku.” Ucapnya kembali mengeratkan pelukannya pada tubuhku.

Aku membatu dalam pelukannya. Alex… Maafkan aku.. Sungguh maafkan Aku…

 

-TBC-