My Cool Lady – Chapter 7 (Shock)

Comments 6 Standard

MCLCoverwattpad Fix 3My Cool Lady

Chapter 7

-Shock-

 

Aaron masih sibuk mengemudikan mobilnya. Sesekali matanya menangkap bayangan Bella dari kaca di hadapannya. Wanita di sebelahnya itu tampak murung. Apa Dimas mempengaruhi Bella hingga dapat membuat Bella murus seperti saat ini??

“Kita pulang apa ke suatu tempat?” Tanya Aaron kemudian.

Bella mengernyit menatap ke arah aaron. “Bukannya ini masih jam kerja??”

“Aku malas balik ke kantor.” Jawab Aaron dengan enteng.

“Kamu itu calon penerus perusahaan, bagaimana mungkin sikapmu seenaknya seperti saat ini, keluar pergi sesuka hatimu.”

Sial..!! Apa kau tak tau kalau saat ini aku ingin menghiburmu?? Gerutu Aaron dalam hati.

“Bailkah, Lupakan saja. Kita akan kembali ke kantor.”

Lalu keduanyapun sama-sama terdiam sepanjang operjalanan kembali ke tempat kerja mereka.

***

“Bell… Maaf, Aku tidak bisa jemput hari ini.”

“Kenapa Dim?? Kamu ada masalah?”

“Enggak, Aku lembur. Kerjaan numpuk.”

Bohong.. Kalau kerjaan numpuk kenapa tadi siang kamu sempat keluar dengan wanita lain??? Pikir Bella kemudian.

“Baiklah, aku bisa pulang sendiri.”

“Bell…” Panggil Dimas lagi. “Aku sayang kamu.” Lanjutnya.

“Emm… aku juga.” Hanya itu jawaban yang di berikan Bella, dan teleponpun di tutup. Dimas.. Apa yang terjadi denganmu???

***

Dimas menghela napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya. Sesekali ia memijit pelipisnya karena sedikit berdenyut.

Bayangan di Restoran tadi menyeruak begitu saja dalam kepalanya. Tadi, Saat Ia makan siang dengan Ibu Riska, tak sengaja Ia melihat Bella dan juga Aaron sedang makan siang bersama. Apa Bella benar-benar menghianatinya?? Menduakannya dengan Lelaki Iblis itu?? Mengingat tadi malam Dirinya juga sempat melihat bagaimana Aaron dan juga Bella saling menautkan bibir satu sama Lain.

Lalu apa Bedanya denganmu sialan?? Kau bahkan lebih parah.

Dimas kembali memijit kepalanya. Ia teringat akan Bu Riska. Wanita yang sudah hampir Empat bulan lebih di kencaninya. Bu Riska adalah atasannya, Umurnya Tiga tahun lebih tua dari pada dirinya.

Dulunya, Bu Riska terkenal sangat pemarah, tatapannya mampu membuat para bawahannya bergidik ketakutan. Tak ada yang berani mendekatinya, begitupun dengan Dimas, tapi semua berubah sejak beberapa bulan yang lalu.

Saat Itu hari minggu. Dimas yang sedang berjalan-jalan sore di sekitar taman kota tiba-tiba melihat sekerumunan Orang. Ternyata di sana ada seorang anak laki-laki yang baru saja terkena tabrak lari. Anak Lelaki itu berumur sekitar Sepuluh tahun dengan membawa sepeda kecilnya bersama beberapa anak seumuran dengannya.

Dimas yang berada di sana lantas menolongnya dan meminta beberapa orang yang ada di sana membantunya bukan hanya menonton saja.

Dimas akhirnya membawa anak tersebut ke rumah sakit. Untung saja anak tersebut tidak mengalami luka serius, hanya beberapa luka lecet di lengan dan luka Robek di lututnya yang harus di jahit.

Saat anak tersebut sadar, Dimas menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Ternyata anak tersebut tinggal di kompleks perumahan tak tauh dari taman kota. Dan alangkah terkejutnya saat mendapati siapa orang tua dari anak tersebut. Dia Ibu Riska, atasannya yang terkenal tak ramah.

Ternyata Bu Riska sangat berbeda saat di rumah. Wanita itu terlihat ramah, ke ibuan dan banyak lagi sosok lain yang di temukan Dimas dari Bu Riska. Sebagai ungkapan terimakasihnya, Bu Riska sendiri beberapa kali mengundang Dimas makan di rumahnya. Mereka sering bertemu karena ternyata Anak Lelaki Bu Riska tersebut sangat menyukai dimas. Mereka pun saling bercerita satu sama lain dengan nyamannya, Dan saat keduanya saling merasa dekat, empat bulan yang lalu keduanya memutuskan untuk Bersama.

Bu Riska tentu tak tau jika Dimas memiliki Bella, Karena Dimas saja hampir setiap malam ke rumahnya. Sedangkan Dimas Sendiri merasa sangat mudah dengan hubungannya kini, Ia tak perlu membuat Alasan jika Tidak menemui Bella, Toh Bella sendiri yang melarangnya datang ke rumah nya. Dimas cukup tau diri, Ia berada di kalangan Menengah kebawah, sangat tidak cocok bersanding dengan seorang dari Keluarga Aditya, Keluarga yang sangat terkenal dengan bisnis-bisnis besarnya yang maju dan berhasil. Itulah yang membuat nyali Dimas menciut saat mendekaati Bella, Ia ingin berjuang, tapi bagaimana caranya?? Bahkan Bella sendiripun terlihat tak terlalu memperjuangkan hubungan mereka.

Dimas menghela napas panjang saat Ponsel nya kembali Berbunyi. Ia tau itu dari Bu Riska, atasannya sekaligus kekasih gelapnya.

“Halo..”

“Aku sudah di parkiran.. Kita akan menjemput Dio dulu di tempat les nya..”

“Oke, Aku turun sebentar lagi.”

“Kamu ada masalah Dim?? Ku pikir kamu selalu berdiam diri sejak tadi.”

“Maaf, Aku… Sudahlah, aku tak ada masalah.”

“Baiklah, Aku tunggu ya..”

“Yaa…” Hanya itu jawaban dimas. Telepon pun di tutup. Lagi-lagi Dimas menghela napas panjang. Melihat kebersamaan Bella dan juga Aaron tadi siang benar-benar mempengaruhinya. Dimas tak suka jika Bella dekat dengan lelaki lain apa lagi Lelaki itu adalah Aaron, Orang yang sangat di bencinya semasa sekolah.

***

Aaron menjalankan Mobilnya keluar dari parkiran kantornya. Pandangannya masih menelusuri setiap sudut yang bisa ia pandang. Mencari-cari sosok Itu.

Issabella aditya…

Wanita itu tadi tampak sedikit tergesa-gesa saat keluar dari kantornya. Apa Wanita itu pulang bersama dengan pacar Sialannya tersebut??

Aaron tentu sangat kesal jika tau Bella pulang dengan lelaki lain entah itu Dimas atau Bukan. Tapi tampaknya sosok yang di carinya itu memang sudah tak ada di Area kantor. Mungkin bella memang sudah pulang dengan kekasihnya tersebut.

Tapi kemudian tak jauh dari kantornya, Aaron melihat wanita itu. Dia sedang duduk di halte Bus sambil sesekali menatap jam tangannya.

Seketika Aaron menghentikan mobilnya. Ia keluar dari Mobil dan berjalan menuju ke arah bella yang terlihat sedang duduk menunggu angkutan umum tersebut.

“Jadi kamu pulang sendiri??” Suara Aaron membuat Bella menatap Ke arah Aaron yang kini sudah berdiri tegap di sebelahnya.

“Kamu ngapain di sini?”

“Tadi aku nggak sengaja lihat kamu, Dan aku berhenti mau menawari tumpangan. Kamu mau kan??”

“Aku lebih suka naik Bus.”

“Ayolah.. aku janji nggak akan gangguin kamu. Aku Cuma nggak enak sama Om Ramma kalau sampai tau puterinya naik angkutan umum.”

“Memangnya kenapa?? Papa taunya memang aku naik angkutan umum tiap hari kok.” Jawab bella dengan cuek.

“Oohhh jadi Papa kamu nggak tau kalau setiap hari kamu di antar jemput oleh motor bebek itu..”

Bella memutar bola matanya pada Aaron. “Kamu janji nggak akan ganggu aku kan kalau aku kembali ke kantormu?? Jadi sekarang tepatilah janjimu.”

“Aku juga sudah janji sama Om Ramma kalau aku akan menjaga puterinya, Jadi saat ini aku sedang berusaha menepati janjiku pada Om Ramma.” Jawab Aaron dengan santai.

“Sial..!!” Umpat Bella yang langsung membuat Aaron tertawa. “Kamu Gila?? tertawa seperti itu??”

“Aku hanya nggak habis pikir. Kamu dulu yang Cupu sekarang sangat mudah sekali mengumpat.”

“Memangnya orang cupu nggak boleh mengumpat? Lagian, Siapa juga yang Cupu.” Gerutu Bella.

“Ya sudah, kamu nggak Cupu. Ayo.. ku antar pulang.” Ajak Aaron lagi. Dan kali ini mau tak mau Bella ikut dengannya mengingat hari sudah mulai Sore.

***

“Bell.. Sejak kapan kamu jadian sama Dimas?” Tanya Aaron sedikit penasaran.

“Ngapain sih tanya-tanya?”

“Ya aku tanya kan karena ingin tau.”

“Sudah lama.” Jawab Bella dengan ketus.

Aaron hanya terdiam cukup lama, lalu dengan ragu Ia bertanya kembali. “Kamu.. benar-benar suka sama dia?”

“Ya iya lah, kalau enggak ngapain juga aku masih bersamanya.” Lagi-lagi bella menjawab dengan nada ketus khas nya.

Dengan kesal Aaron berkata. “Lebih baik lupakan dia, Kalian nggak akan bisa bersama.”

“Kenapa?? Kamu yakin sekali kalau kita nggak akan berakhir bersama.”

Aaron tak bisa menjawabnya. Ia tak ingin Bella lari ketakutan saat mendengar jawaban bahwa Dirinya sudah melamar Bella dan akan memperistrinya sebentar lagi.

***

Hari demi Hari di lalui Bella dengan sedikit Berbeda. Yaa tentu saja, Setiap pagi Dimas masih menjemputnya untuk ke kantor, tapi pada sore harinya, Dimas jarang bisa mengantarnya pulang seperti biasanya. Frekuensi hubungan di telepon pun semakin menurun. Dimas Seakan terlihat sedikit menjauhinya. Apa karena malam itu?? Karena malam dimana Aaron menciumnya dan Dimas melihatnya?? Ohh yang benar saja, kenapa selalu Aaron yang menjadi pusat dari masalahnya??

Di kantor pun saat ini menjadi lebih menjengkelkan karena beberapa Gosip yang beredar di kalangan karyawan tentang Dirinya dan Aaron. Banyak Karyawan perempuan yang dengan terang-terangan menyindirnya.

Belum lagi sikap Aaron yang baginya kini semakin membuatnya kesal. Tidak, Aaron tidak tengil dan usil lagi padanya, tapi lebih cenderung pada Cuek dengannya. Dan entah kenapa Bella merasa tak nyaman saat Aaron bersikap cuek dengannya.

Aaron bahkan selalu bersikap profesional dan berkata dengan bahasa formal padanya. Sebenarnya ada apa sih dengan Lelaki tengil itu?? Pikir Bella sambil mengoleskan bedak ke permukaan wajahnya.

Bella mendengar pintu kamarnya di buka Oleh seseorang. Dan saat Ia menoleh ke arah pintu, sang mama sudah berdiri dengan Cantiknya di sana.

“Mama sudah siap?”

“Iya dong, Ayo… biar nanti tidak kesiangan.” Ajak Shasha.

Saat ini Bella dan Mamanya memang berencana belanja bersama. Mumpung Weekend. Sebenarnya Bella sedikit heran saat sang Mama mengajaknya belanja beserta Spa ke salon langganan sang Mama. Ini tak seperti biasanya tapi Mamanya ber alasan jika nanti malam akan ada tamu istimewa ke rumahnya.

“Ma.. Memangnya siapa sih tamunya?? Kenapa kita pakek acara ribet seperti ini??” tanya Bella yang kini sudah terbaring di sebuah ruangan untuk perawatan kulitnya bersama dengan sang mama yang juga terbaring di ranjang yang sudah di sediakan tepat di sebelahnya.

“Ahhh pokoknya tamu istimewa.”

“Iyaa.. istimewa itu siapa? Kenapa juga kita pakai ke salon segala seperti ini.”

“Ya.. badannya biar seger aja sayang..” Ucap Shasha dengan sedikit terkikik geli saat melihat puterinya yang terlihat sangat penasaran.

“Awas saja kalau ternyata si tamu hanyalah teman Papa yang tua, Botak dan berperut buncit.” Gerutu Bella dengan nada mengancam.

Seketika itu juga Shasha tertawa mendengar gerutuhan puterinya.”Tenang saja Sayang, Tak akan ada Lelaki Botak tua dan lain sebagainya Kok. Mama mengajakmu kemari supaya kamu sedikit rilex saja, kamu terlihat tegang akhir-akhir ini.”

“Emmm sebenarnya aku ada sedikit masalah Ma..”

“Apa sayang??” Shasha nampak tertarik mendengar curahan hati sang puteri.

“Emm.. aku.. Aku ingin mengajak Pacarku main ke rumah, tapi aku takut papa.”

Shasha sedikit terkejut dengan ucapan Bella. “Bella.. Sebaiknya kamu bataklan niatan kamu tersebut. Sampai kapan pun Papa mu tak akan suka kamu dekat dengan lelaki lain.”

“Tapi kenapa Ma?? Belum cukup umur?? Ayolah Ma.. Aku sudah hampir dari Dua puluh tujuh tahun, mau sampai kapan Papa mengekangku..”

“Bella.. Papa daan Mama mau yang terbaik untukmu sayang. Jadi tunggu saja.”

Uuugghhh Memangnya Mama mau putri mama ini jadi perawan Tua??”

“Kamu nggak akan jadi perawan tua. Sudah lah.. percaya sama Mama.” Ucap Shasha penuh keyakinan dengan senyuman manis di wajahnya.

***

Malamnya…

Lagi-lagi Bella sangat heran dengan ke adaan di rumahnya. Semuamnya sibuk menyiapkan segala sesuatunya seakan-akan mereka akan menyambut tamu yang benar-benar istimewa. Sebenarnya ada apa sih ini??

Sang Mama yang di tanya juga hanya menjawabnya dengan senyuman dan lanjut meriasnya secantik mungkin.

“Nah.. Anak Mama sudah cantik.”

Dengan wajah Cemberut, Bella menatap Mamanya. “Ini ada apa sih Ma?? Aku nggak mau turun sebelum Mama bilang sama aku apa yang akan terjadi.” Bella terlihat merajuk pada sang Mama. Akhirnya mau tak mau Shasha menceritakan apa yang terjadi pada Bella.

Dengan serius Shasha , Menatap Wajah Bella, Kedua tangannya menangkup kedua Pipi puterinya tersebut. Shasha mulai berkata dengan selembut mungkin.

“Papa punya masalah.. Perusahaan kita di ambang kebangkrutan.”

Bella membulatkan matanya. “Apa?? Bagaimana mungkin Ma?? Itu tak mungkin papa sangat pandai, dan Astaga.. masih ada Om Renno yang bisa membantu kan Ma.. mana mungkin perusahaan kita akan bangkrut??”

“Nyatanya seperti itu sayang. Tak ada yang dapat menolong kita selain ‘Mereka’..”

“Mereka?? Mereka itu siapa??”

“Mereka itu, Calon keluarga baru kamu.”

Lagi-lagi bella membulatkan matanya. “Maksud Mama??”

“Maaf sayang.. tapi kamu harus menikah dengan Anak Mereka.”

“Apa??” Bella tak bisa menahan rasa terkejutnya. “Jadi Mama dan papa menjual ku untuk menyelamatkan perusahaan kita??”

“Kami tidak menjualmu sayang, Kami hanya…”

Bella mengangkat tangan sambil menjauh dari sang Mama. “Aku punya kehidupan sendiri Ma.. aku berhak memilih jalanku sendiri, aku nggak Mau di jodohkan seperti ini.”

“Sayang.. Dia lelaki Baik, sungguh, Kalau dia dan keluarganya bukan orang Baik, kami akan memilih kehilangan perusahaan dari pada menyerahkanmu pada orang yang tak Kami kenal sayang…”

“Apa yang membuat mama dan papa yakin jika dia Lelaki baik??”

“Kamu akan tau nanti.”

“Aku nggak suka ada rahasia lagi Ma.. katakan apa yang membuat kalian yakin memilihkan dia untukku??”

Shasha menggelengkan kepalanya sambil mendekati puterinya tersebut. “Maaf, Mama sudah janji nggak akan bilang sama kamu, pada saatnya nanti, Dia sendiri yang akan menceritakan semuanya padamu. Keadaan saat ini sangat rumit untuk kita semua.”

Bella menurunkan bahunya dengan sedikit lunglai. “Baiklah, Kita lihat saja nanti, Apa aku akan menerima perjodohan konyol ini atau tidak.” Kata Bella dengan tegas.

Yaa walau dia sebenarnya type anak yang sayang dan penurut terhadap orang tua, tapi kalau ia tak suka, ia akan menolaknya dan mengemukakan pendapatnya.

***

Bella kini menunggu dengan gelisah di ruang tengah bersama Mama dan papanya. Semuanya tampak Rapi. Sepertinya malam ini benar-benar akan menjadi Malam yang panjang untuknya. Bagaimana mungkin ia akan di lamar saat ini juga saat ia tak tau sama sekali siapa lelaki yang akan melamarnya saat ini?? Terlebih lagi lamaran ini baginya tak lebih dari sekedar alat jual beli perusahaan. Sial..!! Sejak kapan keluarganya menjadi mata duitan seperti saat ini??

Dengan gelisah, Bella meremas-remas telapak tangannya yang mulai sedikit basah karena keringat. Tak lama Bell pintu depan rumahnya berbunyi. Bella tau jika itu adalah sang tamu yang di nanti-nantikan.

Jantung Bella semakin memacu lebih cepat lagi seakan tak bisa di kendalikan. Perasaan resah, gelisah, dan takut berkumpul menjadi satu di dalam perutnya hingga seakan membuatnya mulas, mual dan lain sebagainya.

Ketika suara-suara itu semakin mendekat, Bella memberanikan diri mengangkat wajahnya. Dia terkejut saat mendapati Lelaki tampan dan wanita cantik meski usianya sudah tak muda lagi.

“Malam Bella..” Sapa Wanita paruh baya itu dengan ramahnya.

“Tante Nessa..” Ucap Bella masih tak mengerti.

Nessa hanya mengangguk. Sedangkan Bella sibuk menatap Nessa dan Dhanni secara bergantian. Untuk apa mereka ada di sini?? Apa Orang tuanya juga mengundan Mereka untuk menghadiariacara lamaran yang baginya sangat memalukan sekaligus menyebalkan ini??

“Haii Bell…” Dan suara yang terdengar tengil itu seketika mengalikan pandangam bella pada sosok yang sudah berdiri dengan tampan tepat di belakang Dhanni.

Untuk apa juga Lelaki sialan itu berada di sini?? Membawa bunga?? Untuk Apa?? Apa jangan-jangan???

Bella beralih menatap sang Mama dengan tatapan minta penjelasan.

Shasha tersenyum dan mengangguk, “Iya Sayang, Aaron yang akan menjadi calon suamimu.”

Bagaikan tersambar petir saat itu juga, saat bella mendengar kalimat tersebut terucap dari bibir sang Mama. Aaron?? Lelaki tengil itu akan menjadi calon suaminya?? Lelaki yang sangat di bencinya?? Lelaki yang pernah membuatnya kecewa?? Tidak.. Tidak mungkin. Ini hanya mimpi, pasti hanya mimpi. Pikir Bella tanpa meninggalkan ekspresi Shock nya.

 

-TBC-

Next part mungkin agak lama karena saya sedang pilek.. mungkin minggu depan.. heheheh jadi jangan terlalu menunggu yaa.. wkwkkwkkwwk See u.. *KissKiss

Advertisements

My Cool Lady – Chapter 6 (Hanya teman)

Comments 5 Standard

MCLN2My Cool Lady

Chapter 6

-Hanya Teman-

 

Bella melemparkan tubuhnya di atas Ranjang besarnya. Wajahnya masih memerah. Ia meraba sepanjang bibirnya, disana masih terasa panas, bekas Ciuman Intens yang di berikan Oleh Aaron. Ciuman yang sarat akan kerinduan yang menggebu. Apa lelaki itu merindukannya?? Ayolah Bell… jangan mudah percaya lagi. Bisik Bella pada dirinya sendiri.

Bella masih mengingat bagaimana Aaron memperlakukannya tadi. Membuat jantungnya kembali berdetak tak menentu, membuat tubuhnya seakan panas dingin karena ucapannya..

 

Lumatan itu terhenti, bibir mereka masih sangat dekat bahkan masih sedikit menempel satu sama lain. Desah nafas bersahutan di antara keduanya. Hening, tak ada kata. Keduanya hanya diam, seakan saling menikmati satu sama lain.

Telapak tangan Aaron masih menangkup kedua pipi Bella, Ibu jarinya sesekali mengusap lembut Pipi Wanita di hadapannya tersebut, mengagumi kecantikannya, kelembutannya yang seakan membuat Aaron menegang seketika dan ingin mendaratkan bibirnya kembali pada permukaan kulit lembut tersebut.

“Aku sudah kembali Bell.. Aku kembali untukmu..”

Kata itu di ucapkan Aaron sangat pelan, Seakan tak terdengar. Tapi Bella dapat mendengarnya, merasakan ketulusannya. Apa Lelaki di hadapannya ini benar-benar tulus??

Tidak…

Seakan tersadarkan oleh Sesuatu, Secepat kilat Bella mendorong dada Aaron menjauh. Bella lalu membalikkan badannya memunggungi Aaron.

“Pergilah..” Kata Bella sambil menahan perasaannya yang sudah mulai kacau oleh kedekatannya dengan Aaron.

“Kenapa Bell..??”

“Ku bilang pergi.” Ucap Bella dengan suara lebih keras lagi.

Bukannya marah, Aaron malah tersenyum lebar. “Baiklah, aku akan pergi. Tapi ingat, Aku pasti kembali.”

“Terserah apa katamu.”

Dan tanpa mempedulikan Aaron lagi, Bella masuk ke dalam rumahnya. Ia bahkan setengah berlari saat melewati kedua orang tuanya dan langsung menuju kamarnya.

 

Bella menghela napas panjang. Sesekali jemarinya menelusuri bibirnya. Ya tuhan.. kenapa Ia kembali jatuh pada pesona iblis sialan itu???

Tak lama ponselnya berbunyi. Bella mengernyit saat melihat layar di Ponselnya. Itu Dimas, Secepat kilat Ia mengangkat telepon dari lelaki tersebut.

“Dim.. Ada apa?”

“Aku di luar rumah.” Bella membulatkan matanya. Lalu berlari menuju ke jendela kamarnya. Dan benar saja, di luar gerbang ia melihat Dimas berdiri di sebelah Motornya.

“Kamu ngapain di sana? Sejak kapan??”

“Cukup lama.” Suara Dimas terdengar dingin. Apa dimas tadi melihatnya berciuman dengan Aaron??

“Oke, Aku kesana, Tunggu Aku.” Dan akhirnya Bella menyambar jaketnya lalu berlari ke luar rumah.tak mempedulikan orang tuanya yang lagi-lagi menatapnya dengan tatapan herannya.

***

Aaron Keluar dari mobilnya dengan senyuman Lebarnya. Sesekali ia bahkan bersiul ria karena kebahagiaan yang memuncak di hatinya.

Issabella Aditya…

Wanita itu benar-benar membuatnya gila. Dulu, Saat Kecil, Aaron sering menganggap Bella sebagai pengantinnya. Setiap anak yang dekat dengan Bella pasti di ganggunya habis-habisan hingga anak-anak tersebut menjauhi Bella. Di tambah lagi sikap Bella yang benar-benar susah di ajak bergaul membuat wanita itu tak memiliki teman semasa kecilnya.

Aaron menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa gadis kecil se imut Bella kini menjadi wanita menggoda untuknya?? Bahkan ia sejak tadi berusaha memilikikan hal lain supaya tak selalu menegang saat berdekatan dengan Bella.

Issabella Aditya benar-benar mempengaruhinya…

“Malam Ma…” Sapa Aaron sambil memeluk Mamanya dengan manja.

“Kamu kenapa? bahagia sekali.”

“Aku nggak sabar nunggu minggu depan.” Ucap Aaron masih dengan senyuman lebarnya.

Nessa menggelengkan kepalanya. “Kamu benar-benar Cinta yaa sama Bella??”

Dengan tersenyum Aaron meraih telapak tangan Mamanya lalu menempelkan di dadanya, tepat pada jantungnya yang berdetak cepat seakan menggila.

“Mama bisa merasakan ini?? Aku hanya begini saat memikirkan Issabella Aditya, Apa ini yang namanya Cinta??”

Nessa hanya bisa ternganga mendengar ucapan putera bungsunya tersebut. Hal ini mengingatkannya pada beberapa tahun yang lalu, Saat Dhanni pertama kali berkunjung ke rumahnya, dan melamarnya. Dhanni pun memikiki detak jantung yang sama seperti Aaron saat ini, irama nya cepat seakan menggila, dan itu membuat Nessa tau, Jika Aaron memang sudah jatuh hati pada seorang Issabella Aditya, perasaan puteranya ini tidaklah main-main.

Nessa menangkup kedua pipi Puteranya. “Mama bisa merasakannya, Kamu seperti Papamu yang selalu berdetak seperti itu saat dekat dengan Mama.”

“Apa itu bisa di bilang cinta?” tanya Aaron dengan polos.

“Mungkin, Mama juga kurang mengerti, hanya saja Papa kamu pernah berkata, Jika kamu jatuh cinta pada seseorang, Maka Mata, Hati dan pikiran kamu tak akan bisa lepas darinya. Hanya itu yang Mama tau.” Kata Nessa sambil mencubit hidung mancung aaron.

“Berarti, Aku sudah jatuh cinta sama Bella..” kata Aaron sambil tertawa lebar menertawakan dirinya sendiri.

Nessa ikut tertawa sambil menggelengkan kepalanya. “Dasar bocah Gila.. sudah sana masuk, sudah malam.”

Aaron lalu mengecup pipi mamanya kemudian berlari menuju kamarnya. “Night Ma..” Ucap Aaron sambil berlari pergi meninggalkan Nessa.

Nessa sendiri hanya menggelengkan kepalanya, meski sudah dewasa, nyatanya Aaron masih saja betah bermanja-manja ria dengannya. Aaron memang berbeda dengan Brandon yang cenderung lebih pendiam. Tapi tentu saja keduanya memiliki keistimewaan tersendiri untuk Nessa dan Dhanni.

***

Bella masih sedikit bingung saat Dimas mengajaknya mengelilingi jakarta malam ini. Dimas tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya, Dia sangat pendiam, apa Dimas tadi sempat melihat kedekatannya dengan aaron?? Aahhh semoga saja tidak.

“Dim.. kita mau kemana?? Papa akan mencariku kalau aku terlalu lama keluar.” Ucap Bella sedikit keras karena takut suaranyatak terdengar oleh dimas yang saat ini masih konsentrasi mengemudikan laju motornya.

“Kita jalan-jalan sebentar saja, Aku kangen kamu.”

Suara itu membuat jantung Bella berdetak tak menenntu. Dimas bukanlah lelaki romantis pada umumnya, Dia cenderung pendiam, dan jarang sekali mengucapkan kata-kata lebbay layaknya sepasang kekasih. Kadang Bella Bosan dengan Dimas yang begitu-begitu saja, tapi tentu saja, perhatian dimas padanya sedikit banyak menambah rasa sayang Bella pada diri Dimas dan mengubur rasa bosan tersebut.

“Kamu Aneh malam ini.”

“Apa yang aneh jika aku Kangen sama Pacarku?”

Pertanyaan dimas seakan di tunjukkan sebagai alat untuk menyindir Bella, mengingatkan Bella jika dirinya adalah kekasih dari seorang Dimas.

“Ya enggak aneh, tapi kamu nggak kayak biasanya.”

“Mulai saat ini aku nggak mau seperti biasanya.” Ucap Dimas penuh penekanan dan entah kenapa itu membuat Bella seakan tak mengenal sosok Dimas yang selama ini ia kenal.

***

Dimas menurunkan Bella tepat di depan pintu gerbang Rumah Bella. Mereka masih dalam keadaan sama-sama terdiam.

“Besok kamu mulai kerja lagi??” Tanya Dimas mencoba mencairkan suasana.

Bella hanya mengangguk. Entah kenapa Ia sedikit tak nyaman dengan Dimas yang sekarang ini.

“Aku jemput seperti Biasa.” Ucap Dimas tanpa bisa di ganggu gugat.

Tanpa di Duga, Dimas menangkup sebelah pipi Bella, Mengusapnya lembut. “Aku nggak suka melihatmu dan Aaron seperti itu.” Ucap Dimas lembut yang mampu membuat Bella membulatkan matanya seketika.

“Dim… itu nggak seperti yang terlihat.”

“Aku tau..” Dimas lalu mendekatkan diri pada Bella “Jangan Berpaling dariku Bell…” Ucap Dimas Parau lalu mendaratkan bibirnya pada Bibir mungil Bella. Bella hanya mampu mememjamkan matanya. Entah kenapa Ciuman dimas dan juga Ciuman Aaron terasa berbeda. Ada yang kurang di sini, entah apa Bella sendiri tak tau.

***

Paginya, Mau tak mau Bella kembali masuk kerja, sedikit malu karena kembali menginjakkan kaki di kantor lelaki yang sangat di bencinya itu, tapi mau bagaimana lagi, Ia terikat dengan kontrak. Lagi pula sang papa sepertinya sangat mendukung Aaron, Sebenarnya ada apa sih dengan Papanya dan juga Aaron…??

Bella masuk ke dalam ruangannya yang satu ruangan denga Aaron, ternyata di dalam sana sudah duduk Aaron di kursi kebesarannya dengan wajah seriusnya dan juga berkas-berkas kerja di hadapannya.

Bella canggung, ingin menyapa atau tidak. Jika tidak, maka akan terlihat sangat tidak sopan, bagaimanapun juga Aaron adalah atasanya.

“Selamat pagi pak..” Ucap bella sedikit hormat.

“Pagi.” Hanya itu jawaban Aaron.

Entah kenapa jawaban Aaron membuat Bella tak suka. Aaron tak terlihat seperti biasanya, Dia terlihat bersikap cuek pada diri Bella, dan entah kenapa Bella merasa tak nyaman dengan semua itu.

Bella lalu bergegas duduk di kursinya dengan pandangan masih mengarah pada Aaron. Lelaki itu.. kenapa bersikap seperti itu padanya??

“Bella..” Panggilan Aaron membuat Bella sedikit berjingkat.

“Iya pak..”

“Tolong bawa berkas-berkas ini pada pak Brandon.” Ucap Aaron dengan sikap profesionalnya, dan itu membuat Bella sedikit ternganga.

Aaron tak pernah menampilkan sikap seserius itu di hadapannya. Aaron pasti akan selalu menggodanya saat bertemu, tapi entah kenapa pagi ini Lelaki di hadapannya ini berbeda, Ada apa dengannya??

“Bella?? Kamu mendengar saya kan??”

Lagi-lagi Suara Aaron mengagetkan Bella dari lamunannya. “Iya Pak, maaf.” Ucap Bella sambil bergegas ke arah Aaron dan mengambil beberpa berkas yang di sebutkan Aaron.

“Kamu cantik pagi ini.” Dan kalimat itu membuat Bella Membatu.

Apa ada yang salah dengan penampilannya saat ini?? Ia masih mengenakan pakaian kerja seperti biasanya, Kaca mata besar untuk kerjanya seperti biasanya, Sepatu yang tak terlalu tinggi seperti biasanya. Hanya saja… Bibirnya… Ahhh sial..!! Harusnya Ia tak mengoleskan apapun di bibirnya pada pagi ini seperti biasanya. Apa Aaron melihat perbedaannya?? Astaga.. Bella benar-benar tak dapat menahan malunya.

“Bibir kamu terlihat lebih merah dari pada biasanya.” Ucap Aaron lagi.

Dan bella benar-benar ingin menenggelamkan diri di dasar laut saat ini.

“Perasaan bapak saja.” Ucap bella yang langsung di sertai dengan lari meninggalkan Aaron yang tersenyum manis melihat tingkah lakunya.

***

Bella masih sibuk membersihkan wajahnya di toilet khusus karyawan wanita. Astaga.. apa dandanannya pagi ini terlalu berlebihan?? Sepertinya tidak, tapi kenapa Aaron tadi seperti sedang memperhatikan bibirnya?? Aaahhh tentu saja Bodoh, Dia hanya sedang mengerjaimu, membuatmu salah Tingkah.. Rutuk bella dalam hati.

Saat selesai, dan akan keluar dari toilet tersebut, Bella mendengar sama-samar percakapan beberapa orang perempuan. Biasa pasti mereka sedang bergosip di toilet. Bella tak menghiraukannya tapi saat Ia mendengar namanya di sebut, Bella hanya bisa berdiri membatu sambil mendengarkan percakapan mereka.

“Mereka pelukan, hampir ciuman gitu katanya.”

“ihh nyebelin banget tau nggak si Bella itu, mentang-mentang anak orang kaya, sikapnya juga sombong banget.”

“Katanya sih mereka temenan sejak kecil, mungkin sudah di jodohkan kali..”

“Mata Pak Aaron benar-benar buta kalo sampek mau sama cewek judes kaya Bella. Hahahhaha”

“Hahhaha, Pak Aaron nya mungkin nggak mau, makanya si Bella bela-belain kerja di sini jadi bawahannya.”

“Semoga saja Pak Aaron tak tertarik, jadi kita-kita kan masih punya kesempatan.. hahhahah”

Suara-suara itu semakin menjauh lalu menghilang tak terdengar lagi di telinga Bella. Bella meraba Dadanya yang entah kenapa terasa sesak. Ada apa dengannya???

***

Sesekali Bella masih mengawasi Aaron yang kini sedang Meeting dengan seorang klien perempuan. Aaron sejak tadi tampak cuek dengannya dan sepertinya lebih memilih bercakap-cakap dengan Si Klien tersebut. Dan itu membuat Bella kesal.

Bella menyantap hidangan di hadapannya. Yaa saat ini mereka memang sedang Meeting di sebuah restora tak jauh dari tempat kerja mereka. Karena tak di anggap berada di sana, Bella lebih memilih makan makanan yang sudah di sajikn di hadapannya.

Tak lama si klien perempuan tersebut pamit pergi dan meninggalkan kalimat membingungkan untuk Bella.

“Oke, Terimakasih kerja samanya, Aku menunggu undangan dari kalian.” Ucap Wanita itu dengan menyunggingkan sebuah senyumannya.

“Sialan..!!” Hanya itu jawaban dari Aaron sambil memeluk wanita di hadapannya layaknya seorang yang sudah berteman sejak lama. Akhirnya Aaron memutuskan untuk mengantar wanita tersebut sampai di parkiran restoran.

Bella masih saja Asik menikmati makanannya tak mempedulikan Aaron yang sudah berjalan ke arahnya.

“Kamu seperti orang kelaparaan.”

“Ya, aku memang sedng kelaparan.” Jawab Bella dengan nada ketusnya.

“Kamu juga seperti orang yang sedang cemburu.”

Kali ini perkataan Aaron membuat Bella tersedak makanannya. “Apa?? Cemburu?? Yang benar saja.”

“Mengaku saja..” Aaron masih saja menggoda Bella.

“Heii… Mau kamu pacaran dengan wanita tersebut aku sama sekali tak peduli. Cemburu?? Yang benar saja, tak ada kata cemburu dalam kamus ku.” Bella menjawab dengan keangkuhannya.

Aaron tersenyum miring. “Semakin kamu menjelaskan, semakin kamu terlihat cemburu.”

“Terserah apa katamu.” Bella menjawab dengan Ketus lalu melanjutkan makan makanan di hadapannya.

***

Akhirnya, setelah makan, Mereka memutuskan untuk kembali ke kantor, mengingat Jam masih menunjukkan pukul 3 Sore.

Ketika di parkiran, Bella menghentikan langkahnya saat melihat Seorang Lelaki dengan Kemeja Biru tuanya. Bella tentu sangat tau siapa lelaki tersebut, mengingat tadi pagi lelaki itulah yang mengantarnya ke tempat kerjanya. Itu Dimas, kekasihnya, dan dia sedang bersama dengan seorang wanita. Mereka menuju ke sebuah Mobil mewah. Pasti Mobil dari wanita tersebut.

Sedang Apa Dimas di sini? Bukankah Tadi Dimas berkata jika Dia sedang sibuk?? Yaa, setiap jam makan siang memang Mereka menyempatkan bertemu walau hanya sebentar, tapi ketika mereka tak bertemu, Mereka cukup saling mengabari dengan saling berteleponan. Tapi tadi Dimas berkata jika dirinya sedang sibuk dan tak bisa di ganggu. Inikah sibuk yang di maksud Dimas??

Bella hanya terpaku menatap Dimas dan wanita tersebut masuk ke dalam Mobil lalu pergi berlalu begitu saja.

“Kenapa Bell..??” Suara Aaron menyadarkan Bella dari lamunannya.

“Ahh Enggak.”

“Itu pacar kamu kan tadi?? Si Cupu dimas??” Tanya Aaron dengan senyuman mengejeknya.

“Bukan Urusanmu.” Jawab Bella dengan ketus.

“Oke, memang bukan urusanku, tapi sepertinya akan menjadi Urusanmu, Mengingat dia bersama dengan Wanita kaya tersebut.”

Bella memutar Bola matanya pada Aaron. Entah kenapa Emosinya tersulut begitu saja. “Mereka hanya Teman, tidak Lebih.”

“Kamu yakin??”

“Ya, Aku percaya padanya.” Ucap Bella dengan nada yakin dan percayanya. Padahal sebenarnya hatinya sedang gelisah. Benarkah mereka hanya teman?? Jika Iya, Kenapa juga Dimas berbohong padanya???

Sedangkan Aaron sendiri hanya dapat menahan kekesalannya dalam hati. Secinta itukah kamu dengan Laki-laki sialan itu Bell, Hingga kamu tak dapat melihatku yang jelas-jelas selalu berada di dekatmu?? Yang jelas-jelas selalu berusaha untuk mendapatkan perhatianmu???

-TBC-

Maaf kalo Updatenya agak lama yaa.. wkwkkwkwk Nggak tau kenapa mood sedang turun aja hehehhehe lagi pengen nulis yang lainnya, Jadi maaf kalo Feelnya kurang dapet yaa.. hahahah Komen selalu di tunggu loh.. yang nggak komen Bisulan wkwkkwwkkwk #SayaSedangJahatSoalnya

My Cool Lady – Chapter 5 (Sekelebat masa lalu)

Comments 5 Standard

MCLN2My Cool lady

Pernahkah kalian merasa sangat mencintai seorang Lelaki??

Bagaimana jika Lelaki itu tiba-tiba meninggalkan kalian saat Kalian berada pada titik tak bisa melupakannya??

Lalu bagaimana jika Setelah bertahun-tahun Ia menghilang tanpa Kabar kemudian kembali dan tiba-tiba menjadi calon suami kalian??

Apa Kalian Menerimanya? Atau menolaknya??

kalau Aku?? Aku akan menerimanya.. yaa Karena aku terlalu Bodoh dan munafik, terlalu percaya dengan Jodoh, belahan Jiwa dan lain sebagainya yang berhubungan dengan keajaiban Cinta. padahal semua itu Bulshit..!!!  tapi aku Bersyukur, Setidaknya sampai Enam tahun ku lalui bersamanya, Aku tak pernah merasa salah untuk menerimanya kembali……

Chapter 5

-Sekelebat Masa lalu-

 

“Karena Dia Calon istriku..”

Aaron menatap wajah Bella yang masih menyiratkan rasa keterkejutannya. Wanita itu nampak tak percaya dengan apa yang di dengarnya, Wajah Bella nampak Memucat, Seakan Takut akan sesuatu, dan itu membuat Aaron tak suka.

Sial..!! Kau sudah menakutinya Sialan..!!! Aaron meruntuki dirinya sendiri.

Secepat kilat Aaron merubah ekspresi wajahnya. Ia menatap Bella dengan senyuman lebarnya, lalu Ia mulai tertawa terbahak-bahak seakan menertawakan Bella dan Dimas yang masih Shock dengan kata-katanya tadi.

Bella mengerutkan keningnya karena heran dengan apa yang di lakukan Aaron, Lelaki di hadapannya itu tampak menertawakannya. Ada apa?? Apa yang membuat Aaron tertawa terbahak-bahak seperti itu??

“Wajah kalian lucu tau nggak..” Kata Aaron masih dengan tawa lebarnya.

“Apa maksudmu?” tanya Bella dengan wajah bingungnya.

“Kalian percaya dengan yang ku katakan tadi?? Hahahahaha Astaga… mana mungkin dia menjadi Calon istriku??” Aaron berkata masih dengan nada mengejeknya dan tawa lebarnya.

Seketika itu juga Emosi Bella memuncak. Ia benar-benar merasa di permainkan Aaron saat ini. Dengan gusar Bella Berdiri dan meninggalkan tempat itu secepat mungkin.

Dimas pun ikut berdiri hendak mengejar Bella, Tapi Aaron menahannya dengan kembali memasang wajah sangarnya.

“Gue peringatkan, Jauhi Calon Istri Gue.” Ucap Aaron penuh penekanan. Lalu Ia berlari pergi menyusul Bella.

***

Aaron masih berlari mengejar Bella tak mempedulikan beberapa karyawan yang melihatnya. Mungkin saja saat ini Bella merasa terhina dengan ucapannya tadi. Saat Bella masuk ke dalam sebuah Lift, Aaron mengejarnya hingga mereka berdua berada pada lift yang sama.

Saat pintu lift sudah tertutup, Aaron mendorong Bella ke ujung lift dan memenjarakan tubuh bella diantara kedua tangannya.

Sedangkan Bella hanya Diam, Ia seakan menganggap Aaron tak berada di hadapannya. Ekspresinya datar, sangat datar. Dan itu membuat Aaron tak suka.

“Berhenti menampilkan Ekspresi sialan itu saat di hadapanku.” Desis Aaron.

“Kenapa? Kamu nggak berhak melarangku..”

Aaron tersenyum miring. “Aku atasanmu.”

“Hanya Atasan, Dan Maaf, hari ini juga saya akan mengundurkan diri.”

“kamu terikat kontrak dan nggak bisa mengundurkan diri seenaknya.” Ucap Aaron penuh penekanan.

“Papaku bisa membayar ganti Rugi kontrak sialanmu itu.” Bella tak dapat lagi menahan perasaannya. Emosinya benar-benar memuncak. Ia merasa di permainkan oleh iblis yang satu ini.

“Katakan Bell.. Kamu kecewa bukan kalau aku tadi hanya bercanda?? Apa kamu ingin itu menjadi kenyataan?? Kamu ingin menjadi Calon istriku??”

Aaron menatap Bella dengan tatapan menilainya, sedangkan Bella sendiri hanya bisa membatu, tak tau jawaban apa yang cocok di berikan pada Lelaki di hadapannya ini. Pada saat bersamaan, Suara lift berbunyi.

Dengan sekuat tenaga Bella mendorong Aaron hingga lelaki itu menjauh darinya.

“Dalam Mimpimu.” Ucap Bella dengan ketus lalu meninggalkan Aaron yang tersenyum miring karena mendengar ucapannya.

***

Ke esokan harinya..

Bella bangun sangat siang. Rasanya sangat nyaman karena Ia tak lagi di wajibkan bangun pagi seperti biasanya, Kini Ia bisa malas-malasan di dalam rumah, Berlatih taekwondo Seperti saat Ia belum sibuk di kantor Brandon. Dan pastinya, ia tak akan bretemu kembali dengan wajah tengil sialan itu.

Bella bergegas mandi lalu mengenakan pakaian santainya seperti biasa dan dengan santainya dia turun ke meja makan untuk sarapan. Sedikit terkejut saat ia masih melihat sang Papa masih berada di rumah jam segini.

“Kenapa kamu nggak berangkat ke Kantor?”

Bella duduk dengan santai lalu mengambil selembar roti tawar dan mengolesnya dengan selai cokelat. “Aku berhenti kerja Pa.” Jawab bella dengan nada santainya.

“Kenapa berhenti kerja??”

“Malas.” Hanya itu jawabannya. Bella benar-benar harus di ajari cara bersopan-santun.

“Tidak ada kata Malas Bella. Cepat ganti bajumu dan berangkat kerja.”

“Sampai kapanpun aku nggak mau kerja dengan Iblis sialan itu.” Kata Bella yang langsung berdiri dan meninggalkan Papa Mamanya dengan Ekspresi ternganga.

Shasha yang berada di sana menepuk lembut bahu suaminya. “Sabar, Dia memang seperti itu.”

“Dia terlalu banyak di manja Sayang. Pokoknya dia harus segera di nikahkan.”

“Mas.. Bella sepertinya sudah punya pacar.” Ucap Shasha sedikit khawatir.

“Aku nggak peduli, Tak ada Lelaki yang kupercaya untuk meminang puteri kita selain Aaron. Dan bella mau tak mau harus menerimanya.”

“Bagaimana kalau dia membenci kita nanti.” Shasha masih terlihat Khawatir.

“Nggak akan lama. Dia akan kembali menyayangi kita setelah Aaron menjelaskan semuanya nanti pada waktunya.”

Shasha mengangguk. Yaa kini semuanya masih terasa rumit, tapi Ia yakin jika nanti semua akan membaik. Bella akan tau mana sosok yang benar-benar mencintainya bahkan Rela mengorbankan apapun demi dirinya.

***

“Dia nggak mau berangkat ke kantor.” Ucap suara di sebrang.

“Biar saja Om.. Kemarin siang saya memang sedikit keterlaluan.” Aaron tersenyum mengingat Ekspresi yang di tampilkan Bella dan Dimas kemarin siang. “Nanti malam saya akan kesana mengunjunginya.”

“Baguslah kalau begitu,.” Aaron tersenyum menyeringai.

“Terimakasih pengertiannya Om..”

“Yaa jangan sungkan, ingat, Saya sudah mempasrahkan Bella di tangan Kamu, Kamu hanya perlu membuktikan pada saya Cara membuatnya bahagia.”

“Nanti, Om ramma akan melihat bagaimana cara saya membahagiakannya.” Ucap Aaron penuh keyakinan. Telepon pun akhirnya di tutup. Aaron tersenyum lebar. Gadis itu benar-benar keras kepala.. Lihat saja nanti malam aku akan menghukummu. Kata Aaron dalam hati.

***

Malam harinya..

Aaron sudah nampak tampan dengan Kemeja lengan panjangnya yang rapi, di padukan dengan celana Jeans yang membuatnya tampak begitu mempesona bagi wanita-wanita yang telah menatapnya.

Aaron berdiri tepat di depan pintu besar yang akan di ketuknya. Ini pertama kalinya Ia bertamu di rumah keluarga Aditya. Bertamu untuk menemui wanita yang sudah di anggapnya sebagai belahan jiwanya sejak kecil.

Aaron membunyikan Bell pintu tersebut dan sesekali mengetuknya. Saat pintu di buka, tampaklah sosok wanita paruh baya yang masih terlihat Cantik di usianya. Itu Tante Shasha.

“Astaga Aaron??” Shasha nampak tak percaya dengan apa yang Ia lihat di hadapannya. Aaron berdiri menjulang lebih tinggi dari pada dirinya, Memang tak se tinggi Brandon atau Dhanni, tapi tetap saja Aaron tampak berbeda setelah bertahun-tahun lamanya mereka tak bertemu.

“Iya tante.. Bella nya ada?” Tanya Aaron tanpa basa basi.

“Ada, Ayo masuk.” Ajak Shasha yang masih tak ingin berpaling dari ketampanan wajah Aaron. “Ya Ampun.. tante benar-benar pangling sama Kamu. Kamu terlihat semakin dewasa, dan tampan pastinya, Mirip sekali sama Mama kamu, tapi tidak mengurangi sedikitpun kemiripan dari Papamu.”

“Tante berlebihan.” Ucap Aaron sedikit malu dengan pujian yang di berikan Shasha. “Om Ramma Ada?”

“Bella ada di kamarnya, sedangkan om Ramma masih di ruang kerjanya. Kamu mau menemui siapa??” tanya Shasha pada Aaron.

“Bella, Apa boleh??”

Shasha tersenyum “Tentu saja, Naiklah ke atas, Lantai Dua hanya ada satu kamar dengan pintu Putih, Itu kamarnya.”

Aaron tersenyum dan mengangguk lalu ia bergegas pergi menuju ke arah yang di tunjuk shasha.

***

Bella benar-benar kesal karena sejak tadi ada yang mengetuk pintunya. Jika itu sang Mama tentu saja mamanya itu akan segera membuka pintunya dan masuk ke dalam, tapi jika itu salah satu pelayan rumahnya, mereka jelas tak akan mengetuk pintu kamarnya berkali-kali saat dirinya tak ingin di ganggu seperti saat ini.

Dengan malas Bella bangkit dari ranjangnya dan membuka pintu kamarnya tersebut. Alangkah terkejutnya saat ia menatap Sosok yang paling tak ingin ia temui di dunia Ini, Aaron dengan Seringaian liciknya.

“Hai Bell..”

“Kamu.. Ngapain kamu kesini??”

“Aku ada perlu sama kamu.” Kata aaron dengan santai.

“Maaf, Kita nggak ada hubungan apa-apa lagi. Aku sudah mengajukan surat pengunduran diri dan segala apa pun yang berhubungan dengan kontrak, Papaku yang akan mengurusnya.”

Aaron menyandarkan tubuhnya di pinggiran pintu kamar Bella, Ia mengambil sebuah Amplop coklat yang berada di dalam saku celananya.

“Jadi maksud kamu surat ini??” tanya Aaron sambil memperlihatkan Amplop tersebut pada Bella. Lalu tanpa banyak bicara, Aaron merobeknya tepat di hadapan Bella. “Tak ada pengunduran diri Bella, kamu masih sah menjadi karyawan perusahaan Kami, Dan Kamu masih menjadi Sekertaris pribadiku.”

Bella membelalak dengan sikap semena-mena dari Aaron. Lelaki ini, kenapa jadi seribu kali menjengkelkan di banding yang dulu??

“Sebenarnya apa mau mu?? Aku terlalu malas berurusan dengan mu.” Bella berbicara dengan suara kerasnya.

Aaron berdiri tegak tepat di hadapan Bella. Lalu mencondongkan wajahnya hampir menempel pada wajah Bella. Sedangkan bella sendiri memang tak berniat untuk mundur, ia berpikir jika Ia mundur Maka Aaron dengan senang hati akan selalu menggodanya.

“Aku hanya ingin berteman dengan mu Bell..” Ucap Aaron dengan parau.

“Nggak mau.”

“Kenapa??”

“Kamu suka Usil, menyebalkan, Bandel, tengil, pengganggu…”

“Aku akan hilangkan semua sikap buruk ku itu, bagaimana??”

Bella tampak berpikir. “Aku pernah bilang bukan, Jika aku tak ingin berteman dengan orang yang Bodoh.”

Tanpa di Duga, Aaron tertawa lebar. “Aku tidak Bodoh Bella, See, Aku lulusan Harvard dengan nilai terbaik, Apa itu masih kurang untuk membuktikan kalau aku bukan orang yang bodoh??”

“Ohh jadi kamu Sekolah di Harvard hanya untuk pamer dan membuktikan padaku jika kamu tidak Bodoh??” ucap Bella dengan nada menyindir.

Tanpa di duga Aaron kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Bella, menatap mata Bella dengan tatapan tajamnya, Dan wajahnya berubah menjadi serius.

“Yaa.. Aku sekolah Di sana hanya untuk membuktikan, jika hanya aku yang pantas bersanding denganmu.” Ucap Aaron penuh penekanan tanpa sedikitpun embel-embel seringaian tengil yang biasanya ia tampakan.

Deg.. deg… deg…

Jantung Bella memacu lebih cepat. Rasa gugup seketika itu juga merayapi dirinya. Betapapun ia menolak, Ia tetap akan sadar jika Aaron benar-benar mempengaruhinya. Membuatnya gugup dan sedikit salah tingkah.

Aaron menelusuri Wajah Bella, Lalu berbisik di sekitar telinga Bella. “Apa Kamu tau, Kalau aku sudah melakukan banyak hal untuk mendapatkanmu??” Suaranya parau dan pelan hampir tak terdengar.

Bella hanya mampu memejamkan matanya, tak ingin terlalu jatuh dalam pesona lelaki Iblis di hadapannya kini, Bella bahkan menahan nafasnya, Aroma tubuh Aaron yang memabukkan benar-benar menggodanya, Seakan menggelitik diri Bella untuk segera memeluk tubuh Lelaki di Hadapannya kini.

“Lihat Aku Bella… Apa kamu tidak merindukanku..”

Aaron masih saja menggodanya dengan suara-suara menggoda yang membuat bulu kuduk Bella berdiri.

“Apa Kamu sudah melupakan Ciuman pertama kita..” Kini suara Aaron tepat berada di Bibir Bella, Bibir mereka bahkan Hampir menempel saat ini.

Sekelebat bayangan terlintas di kepala Bella..

 

“Heii…” Suara itu mengagetkan Bella, Membuat Bella menatap pada sosok yang berdiri di belakangnya. Seketika itu juga Bella nampak gugup. Entah sejak kapan Lelaki itu mempengaruhinya. Apa sejak Ia menulis sesuatu di baju seragamnya pada saat itu???

“Kenapa kamu di sini?” tanya Bella tak menghilangkan rasa Gugupnya.

Tanpa sungkan lagi Aaron duduk di kayu panjang tepat di sebelah Bella. “Kamu sendiri ngapain di sini?” Aaron bertanya balik.

“Disana terlalu ramai, Aku nggak suka.” Bella menatap sekelompok anak-anak di depan Api unggun. Yaa saat ini mereka memang sedang mengadakan Kemping bersama selam tiga hari untuk perpisahan, tak ada pesta kelulusan karena semua murid serempak memilih kemping bersama di alam bebas seperti saat ini.

“Kamu sekolah di mana nanti?” Tanya Aaron mengalihkan perhatian.

“Aku sudah pernah bilang bukan, Dimana pun, asal tidak satu kampus denganmu.” Ucap Bella dengan nada ketusnya, dan itu membuat Aaron tersenyum.

“Kenapa kamu begitu benci sama Aku Bell??” Aaron bertanya dengan nada santainya, Wajahnya pun terlihat santai.

“Kamu Bandel.”

“Hanya Itu?”

“Tengil.”

“Lalu?”

“Pengganggu..”

“Apa Lagi?”

“Usil.”

“Terus?”

“Bodoh.”

“Masih ada?”

“Banyak sekali alasanku membencimu.” Bella menjawab masih dengan nada ketusnya.

Aaron tertawa lebar, tapi secepat kilat Ekspresinya berubah menjadi serius. Ia menatap bella dengan tatapan tajamnya dan menelusuri wajah gadis di hadapannya tersebut.

“Akan ku buktikan jika aku tak seburuk yang kamu bilang.” Ucap Aaron dengan parau.

Bella terpesona dengan wajah tampan lelaki di hadapannya ini, Wajah tampan tanpa seringaian licik seperti biasanya, tanpa tampang tengil seperti biasanya, dan itu membuat jantung Bella seakan menggila. Tanpa sadar Bella berkata “Buktikanlah..” dengan suara tak kalah Parau dari suara Aaron.

Dan ketika Aaron mendekatkan Wajahnya, Bella hanya mampu memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut dari bibir seorang Lelaki untuk pertama kalinya, Sungguh, Bella sangat menikmatinya. Ia merasa seakan terbang jauh tinggi dan tak ingin kembali Lagi. Ia ingin Aaron tetap menjadi sosok lembut seperti saat ini, bukan sosok yang selalu usil dan mengganggunya…

 

Bella merasakan sesuatu yang lembut dan basah Hampir menyentuh permukaan bibirnya. Itu Bibir Aaron, Bella tau itu, Bella pernah merasakannya, Jadi Bella tau walau kini Bibir mereka belum saling menempel dan hanya meninggalkan jarak kurang dari satu inci.

Seketika itu juga Bella membuka matanya lebar-lebar, Dan benar saja, Lelaki itu hampir saja menciumnya lagi seperti yang dia lakukan beberapa tahun yang lalu saat kemping perpisahan sekolah.

Ketika Bella akan menjauhkan diri, Suara itu menyadarkan mereka berdua.

“Maaf, Mama ganggu yaa..” Itu suara Shasha yang ada di ujung tangga, ia melihat Bella dan juga Aaron begitu dekat seperti orang yang akan saling berciuman.

Secepat kilat Bella menjauhkan diri dari Aaron dengan kegugupan yang melandanya. Wajahnya memerah, benar-benar merah karena malu. Berbeda dengan Aaron yang nampak santai bahkan mampu menjawab pertanyaan Shasha.

“Tidak tante.. Kalau tante kemari, berarti ada yang penting yaa.”

“Emm.. tante buatkan makan malam special, Ayo turun, Kita makan malam Bareng.” Ajak Shasha.

“Yaa tante, kebetulan saya sangat lapar, Bukan begitu Bella?” Aaron bertanya pada Bella sambil mengerlingkan matanya. Sedangkan Bella hanya memutar bola matanya ke arah lain. Ia masih merasa gugup di sebelah Aaron.

Akhirnya tanpa banyak bicara lagi, Aaron meninggalkan Bella dan memilih untuk turun bersama Shasha. Mau tak mau Bella pun menyusul mereka, dan mereka berakhir makan malam bersama layaknya keluarga.

***

Bella masih saja memasang wajah masamnya. Tubuhnya kini masih menyandar di pilar besar depan pintu rumahnya. Sang papa tadi menyuruhnya untuk mengantar Aaron kedepan saat pulang.

“Jadi, besok kamu akan kembali bekerja kan??” Tanya Aaron memastikan.

“Nggak tau.”

“Aku sudah janji nggak akan ganggu kamu Bell. Kita akan profesional.”

Bella masih menatap ke arah lain seakan enggan menatap pada wajah Aaron. Yaa.. sejak tadi ia memang sudah tak berani lagi menatap wajah itu. Ia takut terpesona, dan jatuh kembali pada daya tarik seorang Aaron Revaldi.

“Kenapa kamu nggak berani menatapku.” Tanya Aaron sambil mengangkat sebelah alisnya. Ia tau, gadisnya itu sudah mulai terpengaruh olehnya.

“Malas.”

Aaron tersenyum miring. Lalu tanpa permisi Ia menangkup kedua pipi Bella, mengarahkan tepat di hadapannya.

“Bukan karena Malas, Tapi karena kamu takut, Takut kembali jatuh cinta padaku.” Ucap Aaron penuh penekanan lalu tanpa permisi mendaratkan Bibirnya pada Bibir Bella. Melumatnya lembut, mencecap rasanya, rasa yang dulu pernah membuatnya seakan candu.

Sedangkan Bella hanya mampu membulatkan matanya. Tak percaya apa yang di lakukan Aaron saat ini. Meskipun pikirannya menolak, namun entah mengapa tidak dengan hatinya, hatinya terasa sedikit berbunga, perutnya seakan penuh dengan gejolak, dan jantungnya.. ohh jangan di tanya lagi… Aaron seakan membangkitkan rasa yang dulu pernah ia rasakan, Rasa yang tak pernah lagi bangkit setelah ia kehilangan sesuatu dalam hatinya…

 

-TBC-

Abaikan cetakan miring di atas… saya memang sedang Galau+Lebbay,, wkwkwkkwk Vote dan Coment selalu di tunggu..

My Cool Lady – Chapter 4 (Pengganggu)

Comments 8 Standard

MCLCoverwattpad Fix 3My Cool Lady

Sudah kangen bang Aaron?? hahaha sama, aku juga kangen dia, ayooo kita tengok bareng2 kalo udah kangen.. wkwkwkwk Lupakan dulu tentang Boy yang ternyata super manis dan banyak Readers yang kepincut olehnya… hahhahahah

Chapter 4

-Pengganggu-

 

Bella menghempaskan tubuhnya di ranjang besar di dalam kamarnya. Ahh sangat nyaman, pulang pada waktu hujan tadi benar-benar membuatnya kesal, akhirnya setelah puas menunggu hujan reda hingga jam 6, Ia menyerah, dan berakhir menelepon supir rumahnya untuk minta di jemput.

Dan disinilah sekarang dirinya, terlentang di ranjang besar Queen Size nya. Bella merasa ada yang sedang membuka pintu kamarnya, akhirnya ia bangun dan mendapati sang Mama sudah berada di sana dengan nampan yang penuh dengan cemilan dan susu cokelat panas.

“Capek sayang.??” Sang mama menaruh nampan di meja kecil sebelah ranjang Bella, lalu duduk di pinggiran ranjang tepat di sebelah Bella.

Bella mengangguk. “Duhh.. kapan sih Ma, Aku bisa keluar dari perusahaan Kak Brandon??” Tanya Bella dengan nada sedikit kesal.

“Memangnya kenapa?? Kamau nggak betah?? Perasaan selama enam bulan terakhir ini kamu nggak pernah mengeluh kerja di sana.”

“Tapi sekarang Beda Ma..”

“Apa yang membuatnya beda??”

“isshh.. Kak Brandon dengan menjengkelkannya menyuruhku menjadi sekertaris pribadi si iblis sialan itu.”

Shasha sang Mama mengernyit. “Siapa yang kamu bilang Iblis sialan Bell..??”

“Siapa lagi..”

“Aaron??” bella hanya mengangguk pasrah, “Kamu nggak boleh bilang seperti itu sayang.. Aaron baik kok.”

“Baik dari mana..”

“Kamu saja yang belum kenal.”

“Memangnya mama sudah kenal? Lagian Mama sama papa kenapa sih belain dia terus.” Bella tampak heran dengan kedua orang tuanya, seakan mereka lebih mengenal Aaron di bandingkan dengan dirinya.

“Sudah dong, Mama kan sudah mengenalnya sejak kecil.”

Bella masih saja mendengus sebal sambil memakan biskuit yang di bawakan sang Mama.

“Ya sudah, Kamu mandi dulu sana, terus turun dan temani Mama makan malam, papa kayaknya makan malam di luar dengan seseorang.”

“Siapa?” Tanya Bella dengan mengangkat sebelah alisnya.

“Calon suamimu mungkin.” Goda sang Mama yaang langsung mendapat hadiah pelototan dari Bella.

“Sampai kapanpun aku nggak mau di jodohin titik.”

Shasha tertawa melihat kelakuan puterinya. “Kami tentu tak akan menjodohkanmu sayang, tapi tidak menutup kemungkinan kalau kamu akan kami nikahkan dengan seorang yang menurut kami sangat pantas untuk Kamu. Lagian, kamu belum punya pacar juga kan setelah pacar kamu yang beberapa tahun yang lalu di usir Papa mu dengan tidak hormat.”

Bella terkikik geli saat mengingat waktu itu. Sekitar tiga tahun, Ramma, sang Ayah, Mengusir pacarnya yang sedang main kerumahnya dengan Alasan Bella harus tidur. Padahal waktu itu masih sekitar jam delapan malam.

“Ma…” Panggil bella dengan nada sedikit pelan saat Shasha hendak keluar dari kamarnya.

“Iya sayang..”

“Aku.. Aku sudah punya pacar..”

Pernyataan Bella membuat Shasha tercengang. Benarkah Bella sudah memiliki kekasih?? Lalu bagaimana dengan semua Rencana mereka nanti?? Bagaimana perasaan Bella nanti??

***

Selesai Mandi, Bela memilih-milih pakaian dalam lemari besarnya. Tak ada yang menarik minatnya, bella masih terus-terusan mencari.. hingga jari-jemarinya membatu pada sebuah Baju yang sudah sangat lama sekali tak di sentuhnya.

Bella mengambil baju tersebut, Seragam putih abu-bunya saat Sekolah SMA.

Bella membuka lipatannya, Ada beberapa warna di bagian punggung baju tersebut. Bella mengusapnya lembut.. Ini Warna yang di berikan Lelaki iblis itu. Lalu Bella menjalankan jemarinya pada Kerah baju tersebut, Tulisan itu masih disana, masih tertulis rapi di bajunya, dan tulisan itulah yang menjadi luka untuknya…

‘Thanks Bell, Tunggu aku yaa…’

Kalimat terakhir lelaki itu terngiang di telinganya, Bella bahkan memejamkan matanya saat merasakan kecupan lembut dari seorang lelaki yang amat sangat di bencinya tersebut.

Pada saat jantungnya mulai berdebar tak beraturan, Bella membuka matanya kembali. Menepis semua rasa sialan yang sudah lama Ia buang jauh-jauh. Bella akhirnya membuang seragam sekolahnya tersebut kembali kedalam lemari tanpa di lipat dengan rapi.

Bella mengusap wajahnya dengan kasar. Kenapa dia kembali?? Kenapa kembali saat ini?? Saat Ia tak lagi menunggunya untuk pulang???

***

“Jadi… kmu sudah yakin sama keputusan kamu?” tanya Dhanni dengan serius.

“Ya Pa.. aku nggak pernah seyakin ini.”

“Bagaimana menurutmu Brand?” tanya Dhanni pada putera sulungnya. Mereka bertiga kini memang berada di ruang keluarga.

“Aku juga nggak pernah seyakin ini dengan Aaron Pa.. dia mencintainya sejak kecil.”

“Tapi Om ramma itu sahabat Papa, papa hanya nggak mau hubungan kami renggang jika hubungan kalian nanti tidak berjalan dengan baik.” Ucap Dhanni penuh pertimbangan.

“Om Ramma sudah menyetujuiku Pa.” Ucap Aaron masih tak mau menyerah. “Dan dia menyetujui rencanaku. Aku tidak mungkin menyakiti Issabella Pa..” Tambahnya.

“Baiklah, kalau begitu, kita lalukan rencanamu minggu depan.”

Lagi-lagi aaron tersenyum miring. Semoga semuanya berjalan lancar, dan ketika saat itu tiba, Ia yakin jika dirinya akan menarik seorang gadis dinging seperti Bella jatuh dalam pesonanya.

***

Entah sudah berapa lama Aaron berada pada Lift karyawan yang kini masih di tempatinya untuk berdiri santai dengan kedua tangan yang masuk kedalam saku celananya. Dan juga entah sudah berapa kali Lift itu naik turun tapi Aaron tak juga keluar dari dalam Lift tersebut.

Ia sedang menunggu datangnya seseorang, Siapa lagi jika bukan Issabella Aditya, Sosok yang sudah di anggapnya seperti belahan jiwanya sejak kecil. Lucu memang, tapi itulah Aaron.

Saat tiba di lantai Dasar, Pintu Lift terbuka, dan yaa.. tampaklah Sosok yang sudah sangat di rindukan seorang Aaron.

Bella tampak Fresh dengan kemeja putih khas pegawai kantor lainnya, Sok selutut tanpa stocking, dan juga sepatu ber hak pendeknya. Tubuh wanita itu terlihat mungil tapi menggiurkan untuk seorang Aaron.

“Haii Bell..” Sapa Aaron yang langsug mendapat balasan muka masam dari Bella.

Tanpa menghiraukan Aaron yang cengar-cengir terhadapnya, Bella masuk dengan cueknya dan menekan tombol angka yang ada di dekat pintu Lift.

“Baru datang..” Sapa Aaron lagi yang kini berdiri tepat di belakang Bella.

“Ya.”

“Wahhh ternyata kita di lantai yang sama.” Goda Aaron.

Bella memutar ke palanya ke arah Aaron. “Ya tentu saja lah, Kita bahkan satu ruangan.” Jawab Bella dengan ketus.

Aaron tak dapat lagi menahan tawanya. Ternyata gadis di hadapannya ini benar-benar sangat menggemaskan ketika bersikap dingin dan cuek seperti saat ini.

Tanpa sungkan lagi, Aaron memeluk Bella dari belakang. Bella terkejut, sungguh sangat terkejut, setaunya, Aaron hanya suka menggodanya supaya bisa meledak-ledak, tapi entah kenapa tiba-tiba Lelaki ini berperilaku seperti ini padanya??

Akhirnya Bella meronta-ronta dalam pelukan Aaron. “Apa yang kamu lakukan?? Lepasin aku.. lepasin..”

“Begini dulu saja.. Aku kangen kamu Bell..”

Bella membatu seketika saat mendengar ucapan Aaron yang terdengar lembut tapi serius. Bella hanya mempu menatap bayangan Aaron di pintu Lift di hadapannya, Lelaki itu tampak menatap bayangannya juga, mereka berdiri dengan Aaron memeluknya dari belakang dan dengan saling menatap pada bayangan masing masing.

Aaron lalu memberanikan diri untuk memiringkan kepalanya, menunduk dan menunduk mencari dimana wajah bella berada, sedangkan Bella sudah tak mengerti apa lagi yang di rasakannya. Jantungnya seakan ingin meledak saat itu juga, Ia tak kuasa menolak Aaron atau lepas dari pelukan Lelaki itu. Bella hanya mampu mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan memejamkan matanya, Berdoa semoga ini hanya mimpi buruknya saja.

Dan ketika Bibir Aaron hampir saja menyentuh kulit lembut di pipi Bella, tiba-tiba.

‘Ding’

Pintu Lift terbuka di lantai delapan dengan beberapa Karyawan yang berdiri di sana menatap mereka berdua dengan mata membelalak dan bibir ternganga.

Secepat kilat bella memisahkan diri dari Aaron, Pun dengan Aaron, Ia seketika menjauh dari diri Bella. Keduanya lalu memperbaiki penampilan masing-masih dengan wajah merah padam masing-masing.

“Kailan nggak Masuk?” Aaron bertanya dengan suara serak-seraknya.

“Ahhh.. sepertinya kami tunggu lift selanjutnya saja pak..” kata seorang karyawan Lelaki sambil menggaruk kepalanya. Para karyawan tersebut pun terlihat memerah karena hampir saja memergoki sang atasan.

“Ayo.. masuk saja, masih muat kok, Bukan begitu Bella??” tanya Aaron dengan santainya pada bella yang kini benar-benar ingin menenggelamkan dirinya sendiri ke dasar laut.

“Iya..” Jawab Bella pelan dengan menundukkan kepalanya. Sial..!!! bagaimana mungkin Aaron membuatnya dalam posisi seperti saat ini???

Akhirnya dengan sedikit tak enak, beberapa karyawan lelaki itupun masuk kedalam Lift yang di dalamnya ada Aaron dan Bella.

Dengan posesif Aaron maju mendekati Bella dan melingkari pinggang Bella tanpa sungkan lagi ketika Pintu Lift kembali tertutup.

“Kalian Boleh satu Lift dengan Kami, Tapi kalian nggak boleh terlalu dekat dengan dia.. Karena dia hanya milikku.” Ucap Aaron penuh penegasan.

Para Karyawan Lelaki tersebut hanya mengangguk patuh sedangkan bella memutar bola matanya pada Aaron karena kesal dengan kelakuan Lelaki Iblis di sebelahnya kini.

***

Bella mendorong jauh-jauh tubuh Aaron ketika mereka sudah berada di dalam ruangan Aaron. Harusnya tadi Ia menginjak keras-keras kaki lelaki ini atau mendorongnya sekuat tenaga hingga lelaki ini terjungkal. Namun nyatanya, Ia tak Enak. Tentu saja karena beberapa Karyawan lelaki yang satu lift dengannya tadi yang selalu memperhatikan setiap gerak-gerik mereka berdua.

“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Aaron dengan nada jengkelnya.

“Harusnya aku yang bertanya Apa yang kamu lakukan?? Kamu itu Atasan di sini, Apa pantas melecehkan bawahannya seperti tadi?”

Aaron mengangkat sebelah alisnya. Lalu berjalan pelan mendekat ke arah Bella. “Melecehkan?? Sepertinya kata itu terlalu berlebihan..” Ucap Aaron penuh intimidasi, sedangkan kakinya masih berjalan pelan menuju ke arah Bella.

Meski Bella masih mengangkat dagunya, Kakinya masih saja melangkah mundur, Ia tak ingin terpengaruh oleh tatapan Aaron, tapi di sisi lain, Ia berpikir jika Ia harus menghindari lelaki iblis di hadapannya ini.

“Kamu memelukku sembarangan, apa itu bukan namanya melecehkan??”

Bella masih saja mundur hingga pinggulnya menyentuh meja kerjanya. Bella terpenjara di sana dan Aaron masih saja mendekat ke arahnya. Bahkan kini seakan Aaron sedang memenjarakannya dengan kedua tangannya.

“Aku memeluk yang sudah menjadi milikku.” Ucap Aaron penuh teka-teki.

“Apa maksudmu??”

Bukannya menjawab Aaron malah mendekatkan wajahnya pada wajah Bella. Entah kenapa pagi ini Bella membuatnya tak bisa menahan diri. Sial..!!! Wanita di hadapannya ini benar-benar terlihat menggoda untuknya.

Karena tau apa yang di maksud Aaron, Dengan Sigap Bella mendorong keras-keras tubuh Aaron hingga lelaki itu mundur beberapa langkah.

“Jaga sikapmu Aaron.. atau kalau enggak aku akan keluar dari perusahaan sialanmu ini.” Ucap Bella penuh peringatan lalu meninggalkan Aaron sendiri dengan senyumannya yang penuh ironi.

***

Siangnya…

Bella tak berhenti mengumpat dalam hati. Sejak tadi Aaron benar-benar menatapnya dengan tatapan anehnya. Bukan tatapan tengil seperti biasanya. Ada apa dengannya?? Apa Ia salah mengenakan pakaian hari ini??

Bella mengamati dirinya sendiri tapi nyatanya tak ada yang aneh dengan dirinya. Apa Aaron hanya sedang menggodanya saja?? Membuat dirinya ke GR-an?? Mungkin saja, bukankah usil dan jail sudah menjadi sikap Aaron??

Dengan gusar Bella mengeluarkan bekal makan siangnya lalu berdiri hendak meninggalkan ruangannya.

“Mau kemana Bell??” Suara Aaron menghentikannya.

“Makan siang.” Jawab Bella dengan ketus.

“Kenapa nggak makan di sini, bersamaku?”

“Maaf, nggak berminat.” Lalu bella keluar begitu saja tanpa menghiraukan Aaron yang juga bersiap keluar untuk mengikutinya.

Bella berjalan sedikit tergesah-gesah membawa kotak makan siangnya. Tadi pagi, Ia sudah janjian dengan Dimas. Dimas akan menemaninya makan siang, di Cafe dekat tempat kerja Bella, karena kebetulan tempat kerja mereka berdua memang tidak seberapa jauh.

Sampai Di cafe tersebut, Bella sudah melihat Dimas menungunya. Lelaki itu nampak tampan dengan kaca matanya, rapi dengn kemeja sederhananya. Bella menghampiri dimas dengan senyuman lebarnya.

Mereka masuk ke dalam Cafe tersebut. Bella menyodorkan kotak makan besarnya untuk dimas. “Makanlah..” Katanya dengan nada lembut.

“Enggak, kamu saja yang makan, Aku pesan saja.”

“Aku nggak mungkin menghabiskannya sendiri, ini terlalu banyak, Ayo kita makan bareng.” Ajak Bella. Dan akhirnya merekapun makan bersama, tak lupa mereka memesan dua gelas kopi dan juga kentang goreng sebagai teman makan siang mereka.

Kebersamaan mereka tak luput dari pandangan seseorang yang kini sedang mengamati setiap gerak gerik mereka dari jauh. Dia Aaron, Aaron menatap mereka berdua dengan taatapan tajamnya, ujung bibirnya sedikit terangkat menampilkan senyuman miring khas yang Ia biasa tampilkan. Dengan penuh percaya diri, Aaron berjalan menuju ke arah mereka berdua.

Seteklah memesan makan siangnya, Aaron berjalan ke meja Bella dan Dimas. Dimas, Rupanya lelaki cupu itu yang menjadi kekasih Bella?? Pikirnya.

“Boleh gabung???” Pertanyaan Aaron benar-benar membuat Dimas dan Bella saling pandang tak mengerti.

“Kamu ngapain kesini??” Tanya bella se ketus mungkin.

“Ngapain?? Aku mau makan siang.” Jawab Aaron dengan santai.

“Tapi kamu bisa cari tempat lain atau meja lain.”

“nggak ada teman, setidaknya di sini bisa bergabung dengan teman lama, Bukan begitu Dim?” Tanya Aaron pada Dimas.

Dimas hanya mengangguk. “Biarkan saja dia makan sama kita.” Ucap Dimas sambil menggenggam telapak tangan Bella yang tak luput dari perhatian Aaron.

Aaron akhirnya duduk di hadapan Dimas, Menatap Dimas dengan Smrik Evilnya. “Jadi… kalian pacaran??” tanya Aaron pada Dimas dan Bella.

“Bukan urusanmu.” Jawab Bella dengam ketus.

“Gue nggak nyangka Lo punya nyali deketin anak dari keluarga Aditya.” Sindir Aaron pada dimas yang entah kenapa langsung menyulut emosi dari dalam diri Bella.

“Sebenarnya mau kamu itu apa sih?? Bukan urusanmu juga mau aku dan dimas pacaran sama siapapun.”

Aaron meminum minuman yang di pesannya. Lali menatap Bella dengan tajam. “Kamu salah Bell.. Apapun yang kamu lakukan, semua akan menjadi urusanku.”

“Kenapa??” Kali ini Dimas yang bertanya. Sungguh, Dimas juga sangat kesal dengan sikap tengil dan menjengkelkan dari Aaron, bukan hanya saat ini, tapi juga saat masih sekolah dulu.

Aaron tersenyum miring, tapi tatapan tajamnya tak pernah lepas dari mata Dimas. “Kamu yakin mau tau??”

“Ya.. Katakan kenapa kamu selalu mengganggunya.” Kata Dimas dengan tegas.

Aaron berdiri dengan tampang sangarnya, Senyuman-senyuman miring mengejeknya sudah lenyap begitu saja dari wajahnya dan hanya menyisahkan tatapan membunuh serta ekspresi serius yang membuat setiap orang yang akan menentangnya mundur teratur hanya karena melihat tampangnya saat ini.

Aaron meraih paksa telapak tangan Bella dan membuat Bella menatapnya dengan tatapan tanda tanyanya.

“Karena Dia Calon istriku..”

Jawaban itu terdengar Pelan, tapi entah kenapa seakan mampu memukul tepat ke dasar hati Dimas. Calon istri?? Bagaimana mungkin Bella menjadi calon Istri dari Iblis satu ini??

Bella pun sama, ia tampak Shock mendengar ucapan dari Aaron. Apa lelaki ini sedang kehabisan obatnya atau sedang kesambet setan di kantornya?? Bagaimana mungkin Ia menjadi istri seorang Aaron Revaldi?? Sosok Bodoh dan bandel yang sangat di bencinya sejak dulu?? Sosok yang selalu menjadi pengganggu dalam hidupnya??

 

-TBC-

Sorry, part2 Awal memang sedikit pendek, tapi nggak ngurangin rasa penasaran kalian kan?? wkwkwkwk #SayaTerlaluPede.. tinggalkan komen kalian yaa… 😉

My Cool Lady – Chapter 3 (Saya Sudah Kembali)

Comments 12 Standard

MCLCoverwattpad Fix 3My Cool Lady

Selamat pagi… selamat beraktifitas di senin pagi.. hahah samarinda hari ini mendung, jadi jam segini saya baru bangun, anggep aja ini masih pagi.. hahahahha Okay, ada yang kangen bang Aaron kan?? Silahkan di baca.. untuk MHD part 3, aku usahakan nanti siang atau kalau enggak nanti malam yaa… *KissKiss

Chapter 3

-Saya sudah Kembali-

Aaron kembali ke kantor dengan senyuman lebarnya, sedangkan Bella dengan kekesalan yang sudah naik di kepalanya. Dengan tengilnya, Aaron menyuruhnya ini dan itu padahal mereka baru saja sampai di kantor. Belum lagi sikap Aaron yang seakan tak serius bekerja.

“Nih.. Kopinya.” Kata Bella dengan ketus.

“Thanks Bell.. Ngomong-ngomong, malam ini kamu ada waktu nggak??”

“Nggak.”

“Oke, nggak apa-apa kok, aku juga nggak pengen ngajak kamu janjian.. hahhaha” Ucap Aaron dengan tawa lebarnya yang langsung membuat Bella mendengus kesal.

Bella lalu menuju ke mejanya. Ya.. dengan permintaan sialannya Aaron, Bella yang saat ini menjadi sekertaris pribadi Aaron akhirnya di buatkan meja kerja sendiri di ruangan Aaron.

Bella benar-benar tak habis pikir. Seniat ini kah seorang Aaron mengerjainya??

“Bella..” panggil aaron dengan nada menggoda.

“Kamu mau apa lagi sih??” Sembur Bella dengan kekesalan yang sudah mengakar di kepalanya.

“Nggak apa-apa, Cuma pengen ngajak pulang bareng nanti.”

“Nggak perlu.” Jawab Bella dengaan ketus.

“Kenapa?”

“Bukan urusanmu.”

“Ada yang jemput yaa?? Siapa?? Cowok culun tadi pagi??” Tanya Aaron dengan nada mengejek.

“Setidaknya dia bukan penipu sepertimu.” Dengus Bella sambil melangkah keluar ruangan mereka.

“Penipu??” Aaron mengulangi perkataan Bella dengan nada bingungnya.

***

Bella akhirnya memilih ke pantry untuk membuat secangkir kopi, tak jauh dari sana ternyata sudah berdiri beberapa karyawan perempuan yang sepertinya sedang antri dalam ruang fotocopy yang memang tak jauh dari pantry. seperti biasa, mereka tentu menyempatkan diri bergosip ria di sela-sela kebosanan pada jam kerja dengan menjadikan Fotocopy sebagai alasannya.

“Ehhh lo tau nggak, ya ampun.. Pak Aaron imut banget tau nggak, beda banget sama pak Brandon..” kata seorang karyawan yang mengenakan kemeja putih.

“Sorry, tapi hati gue tetap terpaut pada Pak Brandon, Uhh karisma dan Aurahnya benar-benar memancar.” Kali ini si karyawab yang mengenakan Blus merah yang berkata.

“Hei.. pak Brandon sudah punya istri dan anak tau.”

“Masa Bodo, Gue mau kok jadi simpanannya..”

Dan bla.. bla.. bla… Bella tak ingin mendengarnya lagi. Astaga.. jadi seperti ini isi kepala kebanyakan wanita jomblo di kantor ini?? Sangat mengagumi atasanya bahkan ada yang rela di jadikan simpana?? Astaga.. mereka belum tau saja jika semakin kaya seseorang maka akan semakin licik pikirannya, seperti si iblis Aaron.

Nah.. kenapa juga dirinya saat ini memikirkan nama Aaron. Bella menggelengkan kepalanya untuk menepis bayang-bayang itu, bayang-bayang yang sangat di bencinya. Tak mau berlarut-larut memikirkan Aaron, akhirnya Bella mengeluarkan ponselnya dan mulai mengirim pesan untuk seseorang.

Bella : Sedang apa?

Selalu dingin seperti itu, bahkan isi pesan untuk pacarnya saja Bella tak pernah mengetiknya dengan kalimat lebbay.

Dimas : Hai.. Aku baru selesai presentasi.

Bella : Apa kamu kena marah??

Dimas : Iya, tapi lupakan saja, atasanku memang tukang marah.

Bella tersenyum sendiri. Yaa dimas memang selalu bercerita jika sang atasan suka marah-marah tak jelas.

Bella : Pulang jam berapa?

Dimas : kayaknya aku pulang larut, apa kamu bisa pulang sendiri? Atau tetap menungguku??

Bella : Aku pulang sendiri saja.

Bella tampak berpikir sejenak, lalu dia mulai menulis pesan kembali.

Bella : Dim.. Aku sayang kamu.

Dimas : Aku juga.. jaga diri baik-baik ya.. besok ku jemput lagi.

Bella : Ya.

Dan hanya itu saja, Bella tersenyum merasakan kebahagiaan yang sedang ia rasakan. Dimas.. mampukah lelaki itu meluluhkan hati sang Papa??

***

Aaron melihat wanita yang tak jauh di hadapannya tersebut. Wanita itu terlihat tergesah-gesah merpikan meja kerjanya seakan ingin cepat keluar dari dalam ruangan yang sama dengannya.

“Kamu nggak perlu buru-buru Bell..”

Bella melirik ke arah Aaron. Lalu kembali melakukan aktifitasnya lagi membereskan meja kerjanya secepat mungkin.

“Apa pacarmu sudah menunggu?? Belum kan?? Mungkin Ban motornya bocor lagi.” Kata Aaron dengan nada mengejek.

“Persetan denganmu.” Jawab Bella dengan kasar lalu pergi begitu saja ketika semuanya di rasa sudah rapi.

Aaron tertawa lebar di dalam ruangannya. Sudah sekiat tahun dia merindukan masa-masa ini, masa-masa dimana dirinya mengganggu seorang Issabella Aditya hingga gadis itu memerah karena marah dan juga meledak seketika. Tapi seperti biasa, rasa itu sepertinya ada yang kurang. Apakah itu??

Aaron berdiri dari duduknya dan mulai berjalan keluar dari ruangannya. Ia menuju ke lift untuk turun ke bawah. Bukan lift yang disediakan khusus untuk direksi, melainkan lift untuk Karyawan biasa.

Saat Lift terbuka, Aaron masuk. Di setiap lantai, Lift itu terbuk dan menampilkan beberapa karyawan yang hendak masuk, tapi mereka sedikit terkejut dan tak enak saat melihat Aaron berada di sana.

“Ayo masuk, klian sedang apa?” Ajak Aaron dengan beberapa karyawan yang sudah menunggu di depan lift. Akhirnya dengan canggung para karyawan tersebut masuk dengan saling berdempetan takut menyentuh tubuh Aaron.

Aaron tersenyum miring. “Apa kalian pikir saya punya penyakit mengerikan??”

“Ahh tidak Pak, Maaf, kami tidak berpikir seperti itu.” Jawab seorang karyawan pria.

“Kalau begitu, bersikaplah seperti biasa, kita semua sama, Oke..” kali ini Aaron berbicara sambil menepuk-nepuk bahu si karyawan pria tersebut. Semua yang ada di lift tersebut mengangguk dengan canggung.

***

Sial..!!!

Kenapa hujan pada saat seperti ini?? Runtuk bella dalam hati. Ini sudah jam jam 5 sore, Dimas tadi berkata jika tak mungkin menjemputnya, sedangkan hujan Sore ini membuatnya tak bisa bergegas pergi dari kantor sialan ini.

Bella masih berdiri di depan lobi kantor menunggu hujan sedikit lebih reda.

Dan seakan kesialannya akan bertambah, Bella melihat Sosok tengil yang di bencinya itu datang mendekatinya.

“Belum pulang Bel??” Sapa Aaron yang baru keluar dari Lift karyawan.

“Bukan urusanmu.”

“Ohh tentu jadi urusaanku, ingat, kita sudah seperti saudara.” Bella memutar bola matanya ke arah lain. “Kadang aku bingung, kenapa kamu bisa sangat membenciku seperti saat ini??”

“Dan aku juga bingung, kenapa kamu selalu mengusik hidupku seperti saat ini??”

Aaron tersenyum miring. “Jangan GR Bell… aku tak pernah mengusik hidup siapapun.”

“Oh yaa??”

“Oke.. sepertinya sudah terlalu sore, Ayo ku antar pulang.” Ajak Aaron sambil menatap jam tangannya.

“Maaf, aku nggak berminat.”

Aaron tertawa lebar, “Terserah kamu, Aku nggak maksa. Aku pastikan pacar kamu dengan motor butut nya itu tak akan menjemputmu, mungkin motornya mogok karena banjir.” Ucap Aaron masih dengan nada mengejeknya.

“Walau dia nggak jemput, Aku masih bisa jalan kaki.”

“Kamu yakin..??” tannya Aaron, sedangkan Bella hanya memalingkan wajahnya dengan Ekspresi datarnya. “Oke, kalau begitu selamat menunggu Bella…” kata Aaron dengan santai sambil meninggalkan Bella.

Bella mendengus kesah. Ahhh dari mana sih datangnya Lelaki sialan itu?? Kenpa jugaAnak bandel itu selalu mengganggunya?? Astaga.. lama-lama Bella bisa darah tinggi jika selalu berdekatan dengan Aaron.

***

Aaron minghirup Aroma kopi hitam yang berada di hadapannya, lalu menghidapnya sedikit demi sedikit merasakan setiap rasa yang tercipta oleh Kopi asli dari indonesia ini yang sudah lama tak di rasakannya.

Malam ini, ia berada di sebuah cafe, tempatnya dulu sering menghabiskan waktu sendirian ketika perasaannya sedang tak menentu dan rindu seseorang. Namun malam ini ia berada di cafe tersebut bukan karena ingin bergalau-galau ria, Ia akan menemui seseorang untuk meminta apa yang sudah di titipkannya selama ini.

Tak lama, orang yang di tunggu itupun akhirnya datang juga. Aaron lantas berdiri menyambut orang yang di hormatinya tersebut.

“Halo Om.. bagaimana kabarnya??” Sapa Aaron pada sosok paruh baya yang masih terlihat sangat tampan di usianya tersebut.

“Baik, kamu sendiri??” Jawab lelaki tersebut.

“Om bisa lihat sendiri.” Aaron menatap tubuhnya sendiri.

“Kamu terlihat lebih dewasa.” Ucap Lelaki itu sambil duduk tepat di hadapan Aaron. “Jadi.. apa yang embuatmu ingin bertemu denganku.”

Wajah aaron kini berubah serius, tak ada ketengilan yang biasa di tampakannya.

“Saya Sudah kembali, Saya ingin menagih apa yang sudah menjadi milik saya..”

Lelaki di hadapannya itu tampak tertawa. “Tak ada yang menjadi milikmu Aaron..”

Aaron tersenyum miring. “Jadi.. Om Ramma melupakan percakapan kita Tiga setengah tahun yang lalu?? Saat saya baru pulang untuk pertama kalinya dari Amerika??”

Lelaki yang di panggil aaron sebagai Om Ramma tersebut hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Saya tidak melupakannya, Saya hanya butuh bukti.”

“Saya akan datang ke rumah Om Ramma minggu depan dengan kedua orang tua saya.” Ucap aaron penuh keyakinan.

“Datanglah..” Hanya itu jawaban dari Om Ramma.

Aaron kembali menampakkan Smrik Evil Khas yang di milikinya. ‘Sebentar lagi Bel.. Tunggu aku sebentar lagi…’ Ucapnya dalam hati.

-TBC-

maklumi saja kalau pendek yaa… karena belum masuk konflik, masih misteri2 gimana gitu.. hhahahah sampai ketemu di chapter selanjutnya,,, hehhhehe

My Cool Lady – Chapter 2 (New Boss)

Comments 8 Standard

aaaaMy Cool Lady

Ada  yang udah penasaran ama Si Imut Aaron?? jika sudah ada… Mari silahkan di baca.. hahhaha Btw Bang Rey ingsya alloh besok yaa.. karena saya malam ini sedang sibuk memutar Film kesukaan.. hahahah

Chapter 2

-New Boss-

 

Bella dengan cepat menghabiskan sarapannya.. tadi malam Brandon meneleponnya, dia berkata jika pagi ini akan ada Meeting penting dengan client dari luar. Dan tadi pagi Ia sedikit kesiangan.

“Kenapa buru-buru sekali?? Ini belum jam tujuh.” Ramma, Sang papa membuka suara melihat puterinya yang sedikit tergesa-gesa tak seperti biasanya.

“Kak Brandon ada Meeting penting pagi ini, dan aku kesiangan.”

Ramma tersenyum melihat Puterinya yang saat ini sedikit lebih disiplin dengan waktu.

Issabella Aditya, Puteri tunggalnya tersebut adalah sosok yang cantik, mirip dengan Mamanya. Gadis ini pintar, kepintaran yang tentu saja menurun darinya, Cantik menurun dari sang Mama, belum lagi keterampilan bela dirinya yang di latih langsung olehnya.

Namun sayang, Bella memiliki sedikit sikap buruk. Gadis ini cenderung Cuek, Dingin, jutek, tak suka menghiraukan orang-orang di sekitarnya, dan Dia susah sekali di atur.

Mungkin karena memang anak tunggal dan di manja seluruh anggota keluarganya, Maka Bella tumbuh menjadi sosok yang seperti itu. Beberapa bulan yang lalu, Ramma berinisiatif memperkerjakan Bella di kantor Brandon. Bukan tanpa alasan, karena saat itu Brandon memang sedang membutuhkan sekertaris pribadi. Lagi pula ini juga menjadi suatu rencana utama untuk masa depan Bella. Dan sejak bekerja di kantor Brandon, sedikit banyak Bella sudah berubah. Ia menjadi lebih disiplin dengan waktu, sedikit menghargai orang-orang di sekitarnya, dan dapat ber interaksi dengan lebih baik dengan teman-teman sekantornya.

“Bell… Mama dengar Aaron sudah pulang ya..”

Bella mendengus, Lagi-lagi nama sialan itu yang di sebut pagi ini. Apa nggak bisa sehari saja tanpa ada nama itu di dengar oleh telinganya??

“Iya, memangnya kenapa Ma??”

“Dia tampan nggak??” Goda sang Mama.

Bella memutar bola matanya ke arah sang Mama. “Mama ngapain sih nanyain itu?? Mau setampan apapun kalau sikapnya menjengkelkan juga nggak ada yang tertarik Ma..”

“Memangnya mama nyuruh kamu tertarik sama Dia??”

Dan Bella pun tersedak dengan Roti yang sedang di makannya. Astaga… Kenapa selalu seperti ini sih?? Selalu saja dia di kait-kaitkan dengan Seorang Aaron Revaldi. Sejak kecil hingga sebesar ini. Apa mereka tidak tau bagaimana bencinya Bella dengan sosok Aaron??

“Sudah sayang.. jangan goda dia terus.. Pipinya sampai memerah.” Kali ini Ramma ikut menggoda puterinya tersebut.

Bella berdiri dengan kesal. Menegak habis susu yang ada di hadapannya. “Papa sama Mama sama saja. Aku berangkat.” Ucap Bella dengan nada ketus khas nya.

“Biar di antar sama supir sayang.” Ramma mengingatkan.

“Enggak, aku lebih suka naik Busway.” Bella lalu mencium kedua pipi Mama dan Papanya sambil berpamitan dan pergi meninggalkan sang Mama dan Papa yang saling pandang dengan kepergian Bella.

“Dia mirip kamu. Keras kepala.” Ucap Ramma sambil melirik ke arah Shasha, istri yang sangat di cintainya.

“Tapi kamu suka kan??”

“Yaa sangat.” Ucap Ramma dengan pasti. Keduanya saling tersenyum saat kehangatan menyelimuti suasana di antara mereka.

***

“Mama…”Aaron berlari ke arah meja makan sambil mencium pipi sang Mama.

Disana sudah ada Nessa dan Alisha yang menyiapkan Sarapan pagi di meja makan, Sang kakak, Brandon yang sudah rapi dan sedang menggendong putera pertamanya. Dan juga sang Ayah, Dhanni, yang tadi malam baru pulang dari luar kota kini sudah duduk tegap dengan koran di tangannya.

“duhhh.. kenapa lagi sih Teriak-teriak.” Tanya Nessa pada putera bungsunya tersebut.

Aaron hanya memperlihatkan cengiran khasnya sambil memutar-mutar dasi yang ada di tanganya. Yaa tentu saja Nessa tau apa maksudnya. Aaron minta di pakaikan dasinya. Sudah menjadi kebiasaan umum jika para lelaki di rumah tersebut sangat malas mengenakan Dasinya sendiri

“Dasar manja.” Kata Nessa sambil mencubit hidung mancung puteranya tersebut.

“Mama harusnya menikmati saat-saat terakhir memasangkan Dasi untukku.” Ucap Aaron membuat Nessa sedikit heran.

“Saat terakhir?? Maksudmu??”

“Maksudnya, Sebentar lagi akan ada yang memasangkan Dasi untuknya Ma..” Kali ini Brandon yang ikut menjawab.

“Benarkah?? Siapa??” Nessa bertanya penuh dengan antusias.

“Mama akan tau nanti.”

Nessa tersenyum. “Paling juga nggak jauh dari Issabella Aditya.” Goda Nessa.

Sedangkan Aaron hanya bisa tertawa lebar. “Doakan saja Ma..” Aaron lalu memilih duduk di sebelah sang kakak. “Gimana, Lo sudah ngurus semua untuk Gue kan??”

“Yaa.. Gue sudah ngurus semua demi Lo..”

“Thanks.. Lo memang abang terbaik Gue.” Ucap Aaron menepuk-nepuk Bahu kakaknya tanpa tau sopan santun.

‘Bell… tunggu saja.. aku Akan kembali menarikmu kedalam duniaku.’ Tekat Aaron dalam hati.

***

Bella duduk dengan gelisah di Halte Bus. Dia tidak sedang menunggu Bus, tapi sedang menunggu jemputan pribadinya.

Dimas, Lelaki yang sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun terakhir. Mereka sangat dekat sejak SMA dan dua tahun yang lalu keduanya sepakat menjadi sepasang kekasih.

Hubungan mereka bukanlah suatu hubungan yang mulus-mulus saja. Sampai saat ini, Bella masih belum memberitahukan kepada kedua orang tuanya tentang hubungannya dengan Dimas tersebut. Bukan karena Bella tak ingin serius dengan Dimas, tapi lebih karena Sang Papa terlalu pilih-pilih siapa yang cocok menjadi kekasihnya.

Berkali-kali sang papa menolak mentah-mentah Lelaki pilihannya saat para lelaki itu bertandang ke rumahnya. Bella bingung, Sebenarnya Type seperti apa sih pilihan sang Papa?? Akhirnya saat Ia dan Dimas sepakat menjalin sebuah Hubungan, Mereka akhirnya sepakat untuk berhubungan secara diam-diam.

Seorang Lelaki dengan Motor Bebeknya berhenti tepat di hadapan Bella. Bella menatap Lelaki tersebut sambil menyunggingkan sebuah senyuman. Dimas.. Lelaki yang di cintainya.

Dimas Lelaki yang sederhana, Dia bekerja di bagian administrasi di sebuah perusahaan swasta di kota ini. Posisinya tentu jauh dari yang di harapkan Papa Bella, tapi Bella tak menyerah, Ia mencintai Lelaki ini jadi Ia harus mempertahankannya.

“Maaf aku Telat, tadi macet.” Ucap Dimas sambil memberikan Bella sebuah Helm yang biasa di kenakan Bella saat di boncengnya.

“Nggak apa-apa, Nggak telat-telat amat kok.”

“Katanya kamu ada Rapat pagi ini.”

“Yaa seperti itulah, tapi waktunya masih cukup kok.” Ucap Bella sambil tersenyum manis. Bella yang memang biasa bersikap cemberut, dingin dan cuek, namun berbeda ketika berhadapan dengan Lelaki yang di cintainya.

“Ayo naik.” Ajak Dimas. Bella akhirnya naik ke atas Motor tersebut, dan mereka akhirnya melaju menuju Tempat kerja Bella.

***

Selalu tampil mempesona, begitulah sosok Aaron Revaldi. Ini adalah hari pertamanya memasuki kantor milik keluarganya sendiri. Sebelumnya, gosip tentang kehadirannya memang sudah ramai di bicarakan di kalangan pegawai kantor, tapi tetap saja, Kedatangan Aaron untuk pertama kalinya ini benar-benar membuat sesak para pegawai Wanita di kantornya tersebut.

Bagaimana Tidak, Aaron terlihat sangat tampan dengan senyuman khasnya, Wajahnya imut menurun dari sang Mama, Sedangkan postur tegapnya mirip dengan sang Papa dan kakaknya hanya saja Ia sedikit lebih kecil. ramah pada setiap orang, sedikit berbeda dengan Brandon yang cenderung lebih pendiam dan sedikit dingin pada bawahannya. Belum lagi gelar yang dibawanya dari Harvard University.. sungguh, Aaron menjadi paket lengkap bagi siapapun yang ingin memiliki sosok suami yang sempurna.

Aaron berdiri di sebelah jendela besar di ruangan sang Kakak, sambil melihat ke luar jendela, ia sesekali berbicara dengan kakaknya yang sibuk dengan beberapa berkas di Mejanya.

“Kenapa dia belum datang?” Tanya Aaron tanpa mengalihkan pandangannya dari arah luar jendela.

“Mungkin terjebak macet.” Jawab Brandon cuek.

“Harusnya Lo menyediakan fasilitan untuk dia Brand..”

Brandon menatap Adiknya itu dengan seksama. “Om Ramma Nyuruh dia kerja di sini supaya bisa mandiri, Kalau Gue nyediakan fasilitas untuknya, Sama saja dia kerja di tempatnya sendiri.”

Aaron meghembuskan napas dengan kasar. “Setelah dia jadi bawahan Gue, Gue yang akan memberinya fasilitas.”

“Lo nggak profesional.”

“Gue nggak peduli.” Ucap aaron Cuek. “Gue hanya mau yang terbaik untuknya.”

Brandon tersenyum. “Lo benar-benar Gila karena seorang Issabela.”

“Lo juga pernah Gila karena seorang Angel.” Keduanya lalu sama-sama tertawa.

Tak lama Aaron mengehentikan tawanya ketika melihat seorang Wanita turun dari sebuah Motor dengan seseorang lelaki yang memboncengnya. Itu Wanita yang sama dengan wanita yang kemaren, Motor yang sama, dan pastinya lelaki yang sama.

Sial..!!! Bella di antar oleh lelaki kemarin sore yang menjemputnya.

“Brand, Lo kenal dia siapa?” Tanya Aaron yang sontak membuat Brandon berdiri menuju ke arah Aaron yang masih berdiri di sepan jendela.

Brandon mengamati Pria dan Wanita yang di maksud Aaron. “Gue nggak kenal, tapi mungkin mereka ada dalam suatu hubungan, Bella memang sering di antar jemput oleh Lelaki itu.”

“Sial..!!” Umpat Aaron.

Brandon tersenyum melihat kelakuan sang adik. “Kenapa?? Lo merasa tersaingi??” Aaron hanya diam tak menghiraukan kata-kata Brandon.

***

Bella benar-benar Gugup. Ia telat, sangat telat malah. Ini sudah hampir jam setengah sepuluh Siang, dan Ia baru sampai di kantor Brandon. Ahh Semoga saja Brandon tak marah dengannya karena keterlambatannya.

Tadi, Selain macet, Ternyata yang membuat Bella terlambat adalah Ban motor Dimas yang tiba-tiba bocor. Dan itu membuat Bella terlambat sampai jam Setengah sepuluh sekarang ini. Bella tak memikirkan dirinya, mungkin Brandon nanti hanya akan marah dengannya, tapi bagaimana dengan Dimas?? Bisa saja Dimas akan di marahin habis-habisan oleh Bos nya karena terlambat. Dan itu membuat Bella tak tenang.

Bella merapikan pakaianya saat sebelum membuka pintu ruangan Brandon. Ia menghela napas panjang lalu mulai mengetuk puitu di hadapannya tersebut.

Setelah mengetuk, Bella akhirnya masuk dan langsung meminta maaf atas keterlambatannya pada Brandon.

“Maaf Pak.. saya…” Bella menghentikan kalimatnya ketika mendapati Sosok itu duduk santai di Sofa di dalam ruangan Brandon. Dia Aaron Revaldi, sosok yang selalu di sebutnya sebagai Iblis yang selalu mengganggunya.

234908-51ea0296a80d7

“Halo Bella..” Ucap Aaron sambil melompat berdiri dan berjalan menuju ke arahnya.

“Kamu… Kamu ngapain di sini??” Tanya Bella tak suka.

“Kenapa terlambat Bell?? Bukannya Kak Brandon tadi malam sudah menelepon kamu?” kali ini Brandon yang berbicara sambil berdiri menuju ke arah Bella.

“Emmm Itu Kak, Macet, Dan ban Motornya tadi Bocor.” Jawab Bella sedikit tak Enak dengan Brandon. Meski mereka sudah seperti keluarga, tapi tetap saja, Brandon adalah Atasannya.

“Nggak apa-apa, Rapatnya juga bukan rapat penting, Hanya Memperkenalkan anggota baru dalam perusahaan ini.”

Bella mengerutkan keningnya. “Anggota Baru?”

“Yes Bell.. its Me..” Ucap Aaron dengan senyuman Miringnya.

Bella tercengang, Jadi Ia akan se kantor dengan Iblis yang satu ini??

“Dan Bell… Karena Aaron Baru, maka kamu yang akan membantunya dalam melakukan pekerjaannya.”

Bella terkejut dan membulatkan matanya pada Brandon. “Maksud Kak Brandon apa??”

Aaron benar-benar tak kuasa menahan tawanya saat melihat Ekspresi dari Bella, Di dekatkannya bibirnya pada Telinga bella, lalu ia mulai berbisik di sana.

“Aku adalah Boss Barumu Bell…”

Bisikan Aaron benar-benar membuat Bella merinding, wajahnya memucat. Boss baru?? Yang benar saja.. Aaron pasti akan menjailinya habis-habisan setelah ini.

***

“Oke… Itu taruh disana.. Ahhh Tidak, Disana Aja.. Emm… Kayaknya masih nggak pantas, Coba pindahkan di sana…”

Bella benar-benar ingin meledak ketika Aaron dengan menyebalkannya menyuruhnya berkali-kali memindahkan sebuah Vas bunga kecil dalam ruangannya.

“Sebenarnya ini mau di taruh dimana sih??” Kata Bella dengan kekesalan yang sudah nyaris meledak.

Dengan senyuman tanpa rasa bersalahnya Aaron menjawab. “Aku juga nggak tau pantasnya di taruh dimana Vas itu.”

“Taruh saja di sini, memang biasanya seperti ini kan??” Bella menaruh vas tersebut di ujung meja kerja Aaron dengan kesal.

“ahh yaaa… benar sekali, Kenapa nggak kepikiran di taruh disitu yaa..” Kata Aaron dengan memasang muka tanpa salah.

“Astaga.. sejah awal juga sudah ada di situ, Kamu aja yang mau ngerjain aku.” Gerutu bella pelan.

“Oke.. sepertinya semua sudah rapi,” Aaron lalu menatap jam di tangannya. “Sudah jam dua, kita makan siang yuk.” Ajak Aaron.

“Jam makan siang sudah selesai.” Jawab Bella ketus.

“Tapi jam makan siang kita tadi kita habiskan untuk membereskan ruanganku, jadi sebagai gantinya kita bisa makan siang sekarang.”

“Sorry, aku nggak ada waktu.” Bella bersiap pergi, tapi kemudian Aaron meraih pergelangan tangannya.

“Ayolah Bell.. Kamu nggak ingat kalau sekarang aku atasanmu, Jadi Kamu nggak boleh menolak ajakanku.”

Bella memutar bola matanya, jika tau bekerja dengan Brandon akan berakhir seperti ini, maka Ia memilih untuk menjadi pengangguran seumur hidup dan hidup dengan menghabiskan Uang sang Papa. Akhirnya mau tak mau Bella menuruti kemauan Aaron.

***

Mereka memilih makan siang di sebuah restoran kecil di dekat Kantor mereka. Aaron tak berhenti menatap wanita di hadapannya, Wanita dengan tampang yang sekan tak pernah tersenyum tersebut.

“Berhenti melakukan itu, Kamu terlihat Bodoh tau nggak.” Kata Bella Risih karena sejak tadi Aaron menatapnya dengan senyuman-senyuman anehnya.

“Kamu baru tau kalau aku memang bodoh?? Bukannya sejak dulu kamu memang selalu bilang aku Bodoh??”

Bella hanya diam, tak menghiraukan pertanyaan menyindir dari Aaron. Yaa tentu saja, Dulu Dirinya yang selalu menjadi juara umum di sekolahannya, sedangkan Aaron terkenal sebagai anak yang paling bandel di sekolahannya. Tapi keadaan sekarang sungguh berbanding terbalik. Si anak bandel yang di sebutnya bodoh ini nyatanya Lulus di salah satu Universitas ternama, Harvard University, sedangkan dirinya, astaga… Hanya lulusan Universitas dalam negri dan sekarang Menjadi bawahan si anak bandel ini pula.

Bella melihat di sekitarnya, dan mendapati beberapa Gadis centil yang berusaha menarik perhatian Aaron.

“Isshhh Menggelikan sekali.” Cibir Bella pada gadis-gadis tersebut.

Aaron mengangkat sebelah alisnya, Ia melihat apa yang sedang menjadi perhatian Bella, dan mendapati beberapa Gadis bahkan melambai mesrah ke arahnya. Aaron dengan santai membalas lambaian tangan tersebut.

“Kalau kamu suka, mendingan sana samperin, mungkin mereka sudah gatal ingin kenalan denganmu.” Lagi-lagi Bella berkata dengan sinis.

“Cemburu Bella..??” Aaron bertanya dengan nada menggoda.

“Sorry, nggak level cemburu sama mereka, lagian siapa kamu??”

Aaron tertawa lebar. Astaga.. wanita di hadapannya ini benar-benar lucu, sikap bella yang cuek dan cenderung Dingin ini benar-benar membuat Aaron seakan tak bisa menahan diri.

“Akui saja kalau kamu Cemburu, Karena aku juga merasakan hal yang sama tadi pagi.” Ucap Aaron penuh penekanan.

“Hal yang sama? Apa maksudmu??”

Aaron menyondongkan dirinya maju mendekat ke arah Bella dan bertanya “Siapa yang ngantar kamu tadi pagi??” Pertanyaan Aaron berubah menjadi serius, tak ada nada gurau mengejek seperti biasanya.

“Kenapa?? Bukan urusanmu juga.”

“Jelas itu urusanku.”

“Aaron, Kamu hanya Boss ku, Jadi kamu nggak perlu ngurusin urusan di luar kerja.”

Aaron menampilkan Smrik Evil Khas miliknya. “Kita lihat saja nanti, Apa aku berhak atau tidak mengurus usrusan pribadimu.” Jawab aaron penuh dengan kemisteriusan.

“Apa Maksudmu..?” Bella tak mengerti dengan ucapan misterius yang terucap dari bibir Aaron.

Sedangkan Aaron hanya tersenyum Miring. ‘Belum saatnya kamu tau Bell.. aku pastikan semua akan berbeda setelah kamu tau apa maksudku..’ Ucap Aaron dalam hati.

-TBC-

Kasih tanggapanmu untuk Chapter ini okay…?? *KissKiss

My Cool Lady – Chapter 1 (Hari yang Sial)

Comments 9 Standard

MCLN2My Cool Lady

Kasih komenmu yaa untuk Chapter 1 ini.. hahhahaha enjoy readig…

Chapter 1

-Hari yang sial-

 

Bella benar-benar tak habis pikir dengan brandon, Brandon tentu tau bagaimana bencinya Ia dengan Aaron, tapi nyatanya Brandon dengan sengaja menyuruhnya untuk menjemput iblis satu ini. Dan Aaron.. Astaga.. Untuk Apa Ia kembali ke negeri ini?? Sial.. benar-benar Sial.

“Bell.. Aja Aku keliling kota yaa nanti, Aku sudah nggak hapal jalanan Ibu kota.” Aaron berkata dengan nada menggodanya. Saat ini mereka sedang berada di sebuah Cafe tak jauh dari Bandara.

“Aku banyak kerjaan.” Jawab Bella dengan Cueknya.

“Aku bisa menyuruh Brandon meliburkan kamu dan memberikan waktu liburmu untuk menemaniku.”

Bella hanya memutar bola matanya jengah. Ahh Sial..!! tentu saja Aaron bisa melakukan apapun, bukankah saat ini Ia sebagai bawahan dari Brandon, Kakak Aaron, dan secara tidak langsung Ia juga menjadi bawahan Aaron. Sial..!!!

“Terserah.” Hanya itu jawaban dari Bella.

Aaron tersenyum melihat sikap Bella padanya yang ternyata masih sama seperti dulu. Cuek, jutek, judes, dan lain sebagainya. Gadisnya ini ternyata tidak berubah, dan itu membuat Aaron semakin menginginkannya.

***

Aaron tak dapat menghentikan senyuman dari wajahnya ketika melihat Bella tak henti-hentinya mengumpat karena dirinya. Bagaimana tidak, saat ini Bella dengan pakaian kantor rapinya, Rok pendeknya dan sepatu hak tingginya, Dia membawa tas besar milik Aaron dan Aaron mengajaknya berjalan-jalan sepanjang taman kota.

Bella merasa kakinya seakan sudah mati rasa. Bagaimana mungkin Aaron melakukan ini semua terhadapnya?? Bisa saja Aaron meninggalkan tas besar sialannya itu di mobil Brandon, toh di sana juga ada supir Brandon. Tapi nyatanya, Ia malah menyuruhnya untuk membawa tas besar sialannya ini kemanapun dia melangkah.

“Kamu capek Bell??”

“Tentu saja, apa kamu nggak luihat bagaimana beratnya tas sialanmu ini?”

Aaron malah tersenyum menyeringai. “Kamu nggak berubah yaa..”

“Terserah.” Lagi-lagi Bella berkata dengan nada Cuek bercampur kesalnya.

Tak lama mereka duduk di bangku taman, Aaron dengan menyebalkannya menyuruh Bella untuk membelikan Ice Cream yang ad di taman tersebut. Dengan enggan Bella menolaknya tapi tentu saja dia kalah dan mau tak mau membelikan Aaron Ice Cream tersebut lengkap dengan umpatan-umpatan khasnya.

Sial..!! Aaron pasti benar-benar berniat untuk mengerjainya.

“Aaron, kapan kita balik?? Astaga.. kamu tau nggak aku harus kerja dan lihat sekarang sudah mendung.”

“Ayolah Bell.. Brandon nggak akan marah sama kamu kalau pun hari ini kamu nggak balik ke kantor. Jadi tetap Stay disini dan temani aku menikmati sore yang indah ini..”

Indah?? Indah dari hongkong?? Gerutu Bella dalam hati.

Tak lama Ponsel Bella berbunyi. Bella merogoh tas nya dan mengeluarkan ponselnya.

“Halo??”

“….”

“Iya.. jam Lima nanti sudah pulang kok.”

“…”

“Jangan.. Nggak usah di jemput.”

Aaron mengernyit, dengan siapakah Bella menelepon?? Kenapa nada suara wanita itu melembut?? Sial..!! jangan bilang kalau itu pacarnya.

“Ya udah, nanti Sms saja.”

“…”

“Baiklah, jemput di dekat pertigaan saja kalau gitu.”

“…”

“Iyaa byee…”

Akhirnya teleponpun di tutup. Aaron menatap Bella dengan tatapan tajamnya.

“Siapa itu??” Suara Aaron entah kenapa berubah. Nada suaranya benar-benar tak enak di dengar.

“Bukan urusanmu.” Jawab Bella dengan cueknya.

Siall..!!! Aaron benar-benar tak mengerti bagaimana cara menghadapi wanita di hadapannya ini, Wanita ini benar-benar memiliki sifat yang sangat cuek dan sulit di sentuh.

***

Bella masih saja diam tak menghiraukan Aaron yang duduk di sebelahnya, ia lebih memilih mengotak-atik ponselnya dengan sesekali terkikik. Dan itu benar-benar membuat Aaron kesal.

Bagaimana mungkin gadis di sebelahnya kini tak menghiraukannya sama sekali?? Apa Dirinya sama sekali tak menarik di hadapan Bella??

“Apa yang terlalu asik sampek kamu cuekin aku??” tanya Aaron dengan nada sinisnya.

Bella melirik kearah Aaron sebentar lalu memutar bola matanya kelayar ponselnya da kembali terkikik dengan ponsel tersebut.

Dengan kesal, Aaron merampas Ponsel Bella dan melihat apa yang sedang di lakukan bella hingga mengacuhkannya.

“Heii kembalikan, kamu melanggar Privasi orang tau nggak, kembalikan.”Aaron masih saja menjauhkan Ponsel dari tangan Bella sambil melihat-lihat apa yang tadi di lakukan Bella.

Rupanya wanita itu sedang melakukan kuis di ponselnya. Dan entah kenapa kini jadi Aaron yang ingin melakukan kuis tersebut. Dengan cekatan Aaron memainkannya dan tak lama kini Aaron lah yang terkikik karena permainan tersebut.

“Sini, kembalikan, kamu kan punya Hp sendiri.”

“Nggak enak, Hp ku nggak ada mainan gituannya.”

“Ya download sana, Mana sini Hp ku.”

Aaron dengan menyebalkannya masih saja menjauhkan Ponsel bella dari jangkauan tangan Bella. Tiba-tiba Ponsel tersebut berbunyi. Bella dan Aaron menghentikan gerakan masing-masing dengan saling menatap mata masing-masing.

Aaron menatap layar Ponsel Bella, dan disana terpampang jelas nama si pemanggil.

“Sayang??” Aaron membaca nama si pemanggil sambil melemparkan tatapan tanda tanya kepada Bella.

Seketika itu juga Bella merampas paksa ponselnya dari gengggaman tangan Aaron. Aaron hanya ternganga, Apa Bella benar-benar sudah memiliki kekasih?? Siapa Lelaki yang di tulisnya sebagai ‘Sayang’ tersebut?? Pikir Aaron dalam Hati.

“Ohh iya, Aku turun di depan nanti.”

“…”

“Jangan, aku sudah deket kok.”

“…..”

“Oke.. tunggu di sana aja, Byee..”

Dan ponselpun di matikan. Entah kenapa suasanan di dalam mobil hening seketika. Aaron tak lagi banyak bertanya dan juga tak lagi mengganggu Bella, begitupun dengan Bella, entah kenap suasana menjadi canggung untuknya.

“Pak, Berhenti setelah pertigaan yaa.” Ucap Bella pada supir Brandon yang sejak tadi Asik mengemudi tanpa menghiraukan mereka berdua.

“Iya Mbak.”

Tak lama Mobilpun berhenti di tempat yang di tunjukkan Bella.

Aaron mengernyit. “Kenapa kamu turun di sini??”

“Ada yang jemput, Kamu tentu bisa pulang sendiri kan??” Ucap Bella dengan ketusnya.

“Tapi aku mau Kamu yang ngantar sampai rumah.”

Bella memutar Bola matanya. “Jam kerjaku sudah habis se jam yang lalu, jadi Aku nggak ada kewajiban lagi untuk memenuhi permintaan Konyolmu.”

“Ini Mau hujan Bell..”

“Lebih baik pulang kehujanan dari pada pulang se mobil sama kamu.” Gerutu Bella dan itu tak lepas dari pendengarn Aaron.

Sebenci itukah kamu sama Aku Bel??

7433f2ffe1259c910da82e2c25953ea4_400x400

Akhirnya aaron hanya menghela nafas dan melihat kepergian Bella. Aaron melihat dengan jelas dari dalam mobil. Aahhh Ternyata Lelaki sialan itu yang menjemputnya. Pikir aaron kala itu.

Lelaki itu mengenakan kemeja kantor sederhanya dengan Motor bebek sialannnya. Aaron memejamkan matanya frustasi. Masak iya kamu yang baru pulang dari luar negeri kalah sama Lelaki sialan itu?? Gumam aaron dalam Hati.

“Kita pergi pak.” Perintah aaron pada supir Brandon.

Akhirnya Aaron pun pergi melewati dua sejoli yang masih asik bercakap-cakap. Sekilas Aaron meliha bayangan Bella di Spion mobilnya. Wanita itu tampak memandang kepergiannya.

Bell.. apa kamu nggak kangen Aku?? Lirih Aaron dalam hati.

***

“Sayang.. ya ampun… Mama kangen banget sama kamu.” Nessa seketika memeluk Putera bungsu yang sangat di rindukannya tersebut. Ini sudah tiga tahun setelah Aaron kembali ke luar negeri saat setelah pernikahan Brandon.

“Aku juga Kangen sama Mama.”Aaron memeluk tubuh mama yang sangat ia sayangi.

“Kok baru sampai, harusnya kan sejak siang tadi.”

“Aku jalan-jalan dulu Ma. Yang lain mana??”

“Papa lagi keluar kota, Kakak kamu ada di ruang makan, dia juga baru pulang ngantor.” Jawab nessa sambil mengajak Puteranya tersebut masuk ke dalam.

Sampai di ruang makan, Aaron melihat pemandangan yang menurutnya benar-benar sangat menggelikan. Itu Brandon, Kakaknya tersebut dengan manja meminta istrinya yang berperut besar itu menyuapinya. Ahh membuat iri saja.

“Kalian menggelikan.” Ucap Aaron sambil duduk di sebelah Brandon.

Brandon menatap ke arah Adiknya yang sudah lama tak bertemu dengannya, Aaron kini terlihat sedikit lebih dewasa di bandingkan Tiga tahun yang lalu saat Ia kembali dari luar negri untuk pertama kalinya.

“Gue pikir Lo nggak jadi pulang.” Jawab Brandon dengan cuek lalu kembali meminta Alisha menyuapinya kembali setelah Alisha selesai menyuapi putera pertama mereka yang baru berusia Dua setengah tahun.

“Sial..!! Lo benar-benar menggelikan.” Umpat aaron, Sedangkan Brandon sendiri tak menghiraukannya.

“Biar saja, mereka selalu seperti itu. Setidaknya mereka selalu akur Er..” Kata Nessa berbisik pada Aaron. Sedangkan Aaron sendiri hanya mendengus.

“Jadi.. Kapan Lo mulai bantu Gue di kantor??”

“Besok.” Ucap Aaron secepatnya.

“Kamu Rajin banget.” Kali Ini Alisha ikut bicara. Yaa sedikit heran, Aaron baru pulang dari luar negri, seharusnya ia menghabiskan waktunya untuk santai-santai terlebih dahulu, apalagi mengingat betapa bandel dan menjengkelkannya sifat anak itu, tapi nyatanya.

“Dan Over semangat.” Tambah Brandon.

Sedangkan Aaron hanya Tertawa. “Gue masih muda, jadi wajar kalau Gue Semangat.” Aaron menegak habis jus jeruk buatan Mamanya. “Dan satu lagi Brand.. Gue Mau, Bella jadi asisten pribadi Gue.” Ucap Aaron disertai Smrik Evilnya sambil berlalu pergi.

-TBC-

Semoga suka dengan chapter perdana ini yaa.. hahahah