My Beloved Man – Chapter 6

Comments 3 Standard

001mbmMy Beloved Man

Sebelumnya aku minta maaf karena judul My Brother kini aku rubah jadi My Beloved Man, kataknya aku lebih nyaman aja  dengan judul ini.. huehhehe okay langsung aja yaa…

“Aku nggak berpikir kamu hamil. Aku hanya melihat tubuhmu yang semakin kurus, wajahmu yang pucat, aku nggak mau kamu sakit. Ini nggak ada hubungannya antara kamu hamil atau tidak.” Raka terdiam sebentar, kemudian ia menatap Felly dengan tatapan penuh selidiknya. “Atau jangan-jangan, kamu memang sedang hamil?”

Felly membulatkan matanya seketika. Bagaimana mungkin Raka dapat menebak dengan benar apa yang terjadi dengannya? Dari mana Raka tau tentang keadaannya yang kini sedang berbadan dua? Apa Raka memang dapat merasakan jika saat ini ada bagian dari diri lelaki itu yang sedang tumbuh di dalam rahimnya?? Dengan spontan Felly menangkup perutnya dengan kedua telapak tangannya. Sialnya hal itu tak luput dari pandangan Raka. Astaga.. apa yang harus ia lakukan selanjutnya??

***

Chapter 6

 

Raka menghentikan mobil yang di kendarainya seketika. Wajahnya tampak mengeras menatap ke arah Felly. Sesekali matanya melirik ke arah telapak tangan Felly yang masih menangkup perutnya sendiri.

“Kenapa? Apa benar apa yang ku katakana tadi?” Tanya Raka penuh selidik.

“Emm.. Kak Raka ngomong apa sih?”

“Jangan bohong Fell.”

“Aku nggak bohong, dan aku nggak sedang hamil.”

“Tapi kenapa kamu terlihat gugup?”

“Aku nggak gugup.”

“Ya, kamu gugup, sekarang wajahmu bahkan sudah memerah seperti tomat.”

Felly mempalingkan wajahnya ke samping. Ia memilih menatap ke arah luar jendela daripada harus menataap tatapan tajam mata Raka.

“Aku nggak gugup, jadi sudahlah, lupakan semuanya.” Ucap Felly kemudian. “Dan aku nggak hamil.” Lanjutnya lagi sedikit lebih pelan.

Raka menghela napas panjang. Frustasi? Tentu saja. Ia benar-benar ingin melihat Felly hamil dan ia segera menikahi wanita yang kini duduk di sebelahnya itu. Apa takdir berkata lain? Apa memang Felly bukanlah jodohnya??

***

Felly menuangkan saus cokelat pada sebuah cup ice cream dengan tatapan mata kosongnya. Pikirannya kini sedang tidak berada di sini. Ada sesuatu hal yang mengganggu pikirannya sejak tadi pagi, Ya, apa lagi jika bukan Raka dan bayi lelaki tersebut yang kini sedang tumbuh dalam rahimnya? Mengingat itu, dengan spontan Felly mendaratkan telapak tangannya pada perut datarnya.

“Apa yang terjadi? Kamu sakit?” Tanya sosok wanita manja yang menghampiri Felly karena melihat Felly yang sedikit aneh hari ini. Wanita itu adalah Sienna, istri dari kakak sepupunya, Aldo.

“Ahh.. enggak, aku nggak apa-apa kok.”

“Ice creamku kebanyakan saus coklatnya tau… kamu mau melihatku gendut dengan memakan saus cokelat sebanyak itu?” Tanya Sienna sambil menunjukkan ke arah Cup Ice Cream yang sedang di siapkan oleh Felly.

“Astaga.. aku minta maaf, aku nggak lihat tadi.”

“Ya, karena kamu sibuk dengan lamunanmu.” Gerutu Sienna. Felly tersenyum kemudian mencubit gemas pipi Sienna. “Hentikan Felly, kamu sekarang seperti Bianca saja yang selalu memperlakukanku seperti anak kecil yang menggemaskan, padahal aku kan kakak kalian.” Sienna kembali menggerutu.

“Tapi bagiku dan Bianca, kamu adalah adik kecil kami Si..”

“Dasar, kalian benar-benar..”

“Gimana? Kamu sudah memutuskan akan mengambil jurusan apa saat melanjutkan ke perguruan tinggi nanti?”

Sienna menganggukkan kepalanya. “Ya, aku masih ingin menjadi guru dan dekat dengan anak-anak kecil yang lucu-lucu.” Ucap Sienna dengan senyuman lebarnya.

“Apa dekat dengan anak kecil membuatmu nyaman?”

Sienna menganggukkaan kepalanya cepat. “Aku merindukan masa-masa itu Fell, masa-masa di mana ada sesuatu yang bergerak-gerak di dalam perutku, dan itu membuatku sedikit geli.” Ucap Sienna sembari tersenyum.

Felly benar-benar takjub menatap wanita di hadapannya tersebut. Wanita mungil yang usianya jauh lebih muda dari pada dirinya. Tapi wanita itu terlihat sangat kuat dan tegar menghadapi cobaan demi cobaan yang menimpanya.

“Kamu akan bisa merasakannya nanti Fell, saat ada sesuatu yang tumbuh di dalam rahim kamu, sesuatu yang setiap harinya akan membuatmu semakin kuat, sesuatu yang selalu membuatmu tersenyum di tengah apapun masalah yang sedang kamu alami.”

“Apa.. Kamu pernah menyesal mengandung dia?” Tanya Felly dengan hati-hati.

Sienna menggelengkan kepalanya cepat. “Aku nggak pernah menyesal mengandung Alika. Dia bukanlah kesalahan seperti yang pernah di katakana Kak Aldo dulu, yang salah adalah perbuatan kami malam itu. Dan yang membuatku menyesal adalah, saat aku nggak bisa menjaganya selalu di sisiku. Hanya itu.”

“Ya, aku bisa lihat itu dari mata kamu atau Kak Aldo. Dia selalu berwajah sendu saat mengingat tentang Alika.”

Sienna kembali tersenyum. “Dan dia juga menjadi lelaki cengeng saat mengingat calon bayi kami itu..”

Felly terkikik pelan. “Jadi.. kalian nggak melakukan progam hamil lagi?”

“Dokter sudah memperbolehkanku melakukan progam hamil, tapi ku pikir, aku ingin mendapatkan bayi ketika memang di berikan, aku masih merasa jika aku belum pantan menjadi orang tua yang baik Fell.”

“Si… Kamu ibu yang luar biasa. Jika aku di posisi kamu, aku nggak akan mungkin bisa sekuat kamu.”

Sienna tersenyum lebar kemudian menepuk bahu Felly. “Maka dari itu, janganlah sampai seperti aku. Menikahlah dulu, baru hamil, dan setelah hamil, sayangi dia sepenuh hatimu sebelum dia benar-benar pergi meninggalkanmu. Karena kamu nggak akan tau bagaimana rasa penyesalan yang ku rasakan dan di rasakan oleh Kak Aldo ketika kami kehilangan Alika.”

Dengan spontan Felly kembali mendaratkan telapak tangannya pada perut datarnya. Perkataan Sienna benar-benar menyentuh hatinya. ‘Sayangi dia sepenuh hatimu, sebelum dia benar-benar pergi meninggalkanmu..’

Tidak!!! Ia tidak boleh merasakan apa yang sudah di rasakan oleh Sienna dan juga Aldo. Dengan cepat Felly membalikkan badannya kemudian menyambar jaketnya yang berada di gantungan yang di sediakan.

“Kenapa Fell?” Tanya Sienna dengan sedikit heran.

“Aku harus pergi.”

“Kemana?”

“Pokoknya ada hal penting yang harus ku lakukan.” Ucap Felly sembari membenarkan tatanan rambutnya.

“Lalu, aku dan Bianca gimana?” Sienna menunjuk ke arah Bianca yang masih asik duduk sambil memainkan ponselnya. “Toko kamu gimana? Kalau kak Jason atau kak Raka ke sini gimana?” Tanya Sienna lagi dengan nada cerewetnya.

Felly tersenyum ke arah Sienna. “Kamu dan Bianca bisa tetap di sini sampai kapan pun, bahkan tidur di sini pun aku persilahkan, Jason nggak akan ke sini, karena dia manggung di luar kota, Kak Raka pun nggak akan ke sini, karena tadi aku berbohong padanya kalau aku akan makan siang dengan Jason, sedangkan Tokonya, bisa di tutup mereka saat waktu tutup nanti.” Jawab Felly sambil menunjuk empat pegawai tokonya yang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

“Memangnya kamu mau ke mana?”

“Kamu nggak perlu tau. Oke, aku pergi Si…” Ucap Felly sambil menuju ke arah pintu keluar. “Bee, aku pergi dulu..” Felly juga berpamitan pada Bianca, tapi Bianca lebih memilih menganggukkan kepalanya tapi tetap menatap ke arah ponsel yang sedang di mainkannya.

***

Siang itu juga Felly menuju ke tempat Dokter spesialis kandungan. Sebenarnya tadi ia ingin menemui Raka, lalu mengabarkan kabar kehamilannya pada lelaki tersebut, hingga mereka bisa memerikasakannya bersama-sama. Tapi Felly masih tak yakin dengan keadaannya. Akhirnya ia memutuskan untuk ke Dokter spesialis kandungan terlebih dahului sebelum memberitahukan kabar kehamilannya pada Raka.

Kini, ia sudah duduk di dalam sebuah taksi dengan menatap foto hitam putih yang berada di tangannya. Itu adalah foto hasil USG yang baru saja ia lakukan tadi. Menurut perhitungan dokter, usia bayinya kini sudah menginjak sebelas minggu, dan astaga.. Felly sama sekali tidak merasakan apapun yang umumnya di rasakan oleh ibu hamil, seperti mual muntah atau yang lainnnya.

Felly tersenyum, kemudian telapak tangannya kembali meraba perut datarnya. ‘Apa benar kamu sedang tumbuh di sana? Apa kamu ingin ayahmu tau? Jika iya, kita akan memberitahunya siang ini juga.’ Bisik Felly dalam hati. Entah kenapa seperti ada sebuah kekuatan dari dalam dirinya untuk menghadapi apapun reaksi dari Raka nanti.

Tak lama, sampailah ia di kantor milik Papanya. Raka pasti ada di dalam. Mengingat saat ini jam makan siang sudah usai. Dengan semangat Felly masuk ke dalam kantor tersebut. Menuju ke meja resepsionist dan menanyakan keberadaan Raka. Tapi belum sempat Felly membuka mulutnya untuk bertanya, tiba-tiba terdengar suara berisik dari dalam. Felly mengedarkan pandangannya ke arah tersebut, dan tampaklah sosok Raka yang sedang sibuk menggendong seorang wanita dengan beberapa karyawan mengerumuninya.

Felly tercengang mendapati pemandangan tersebut. Raka tampak khawatir, dan entah kenapa itu membuat Felly tak suka.

Wanita penjaga meja resepsionis itu memanggil seorang karyawan wanita yang tadi ikut mengerumuni Raka untuk menanyakan apa yang terjadi, sedangkan Felly memilih diam dan berdiri di sana mendengarkan penjelasan seorang karyawan wanita tersebut.

“Apa yang terjadi?”

“Itu, si Kirana pingsan di ruang Pak Raka.” Jawab pegawai wanita itu dengan nada sinisnya.

“Lah, kok bisa?”

“Nggak tau tuh gimana kejadian sebenernya, tapi kan memang si Kirana sering makan siang bersama dengan Pak Raka di ruangannya, mungkin saja saat itu mereka sedang makan bareng, atau ngapain gitu sampai pingsan, hahaha.” Ucap si pegawai wanita tersebut sambil tertawa lebar.

Dan pernyataan wanita tersebut entah kenapa membuat dada Felly terasa sesak. Felly meremas ujung baju yang di kenakannya. Rasa sakit memendam cinta untuk orang yang tak pernah mencintainya itu kembali muncul. Rasa sakit yang seakan tak berkesudahan.

“Mbak, embak tadi mau cari siapa?” pertanyaan resepsionist tersebut membuat Felly kembali sadar dari lamunannya.

“Ahh.. saya mau ketemu Pak Revan.”

“Pak Revan? Pak Revano maksudnya?”

“Iya.”

“Ada perlu apa mbak?”

“Saya puterinya.”

“Astaga.. Jadi ini mbak Felly.. Ya ampun.. Maaf mbak, saya tidak tau, saya baru di sini, jadi saya belum ketemu mbak sebelumnya.”

Felly tersenyum karena merasa tak enak. “Iya, nggak apa-apa.”

“Mari Mbak, saya antar.” Felly mengangguk, dan akhirnya ia mengikuti si resepsionist tersebut menuju ke ruang kerja ayahnya.

***

Raka mengamati wajah pucat Kirana. Dokter berkata jika Kirana hanya lemas karena dan maghnya kambuh, dan entah kenapa Raka merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa Kirana saat ini.

Tadi memang Kirana sudah mengajaknya makan siang bersama. Tapi karena tidak nafsu makan, maka Raka menolak dengan halus dengan memberi alasan bahwa ia memiliki banyak pekerjaan. Tapi bukannya pergi dan makan siang sendiri, Kirana malah menunggunya. Dan ketika mereka akan beranjak makan siang, tiba-tiba Kirana jatuh pingsan.

Raka menatap tajam ke arah Kirana ketika wanita itu mulai membuka matanya.

“Ka…” panggil Kirana dengan suara lemahnya.

“Hemm.”

“Aku… Aku kenapa?”

“Kamu pingsan, kamu belum makan sejak pagi tadi?” Tanya Raka secara langsung tanpa banyak basa-basi lagi.

Kirana menganggukkan kepalanya lemah.

“Kenapa? Kamu diet?”

Kirana sedikit tersenyum. “Aku nggak sempat makan, karena aku nyiapin makan siang untuk kita.”

Raka menghela napas panjang. “Ki.. Belum tentu aku bisa makan siang denganmu, jadi berhenti menyiapkan makan siang untukku.”

“Tapi aku ingin menyiapkannya Ka..”

“Maaf, kita nggak bisa selalu seperti ini, aku akan menikah dengan Felly, jadi berhenti bersikap seperti ini.” Ucap Raka dengan sedikit lebih tegas. Raka kemudian berdiri dan bersiap meninggalkan Kirana.

“Ka…” panggil Kirana sambil menggenggam pergelangan tangan Raka. “Kita masih berteman kan?”

Raka terdiam sebentar kemudian menganggukkan kepalanya. “Ya, hanya berteman, dan nggak lebih.”

Kirana menganggukkan kepalanya. Kirana merasa sangat kecewa dengan apa yang di katakan Raka. Tapi bagaimana lagi, ia tak akan memaksakan kehendaknya pada Raka. Di lepaskannya pergelangan tangan Raka yang tadi di cekalnya, lalu Kirana membiarkan Raka pergi meninggalkannya, pergi selamanya dari genggaman tangannya. Bisakah ia melakukannya???

***

Felly sedang sibuk memainkan ponsel yang berada di tangannya. Pikirannya melayang entah kemana. Perkataan dua karyawan wanita tadi serta pemandangan Raka yang menggendong Kirana dengan raut wajah khawatirnya benar-benar mengusik pikiran Felly. Dan untuk pertama kalinya Felly merasa mual setelah memikirkan hal-hal yang mungkin saja terjadi di antara Raka dan Kirana.

“Jadi.. Kamu benar-benar mau pergi?” Tanya Revan yang baru saja menyelesaikan panggilannya pada seorang kliennya.

Tadi Felly sudah memutuskan jika ia akan pergi meninggalkan semuanya. Mengungsi di rumah neneknya yang tinggal di daerah puncak. Mungkin sementara waktu sembunyi di sana hingga melahirkan adalah solusi yang baik untuk menghindari pernikahannya dengan Raka.

Jika ia sudah melahirkan, maka Raka tak akan menuntut untuk menikah dengannya dengan alasan tanggung jawab. Jika Raka ingin tanggung jawab, maka Raka hanya perlu tangung jawab terhadap anaknya kelak, begitulah pemikiran Felly saat itu hingga ia memberanikan diri bicara dengan ayahnya untuk pindah ke puncak.

“Ya Pa.. Aku mau pindah.”

“Kenapa tiba-tiba? Kamu ada masalah dengan Raka?” Tanya Revan sembari menyipitkan matanya pada puteri semata wayangnya tersebut.

“Enggak, ini nggak ada hubungannya dengan Kak Raka.”

“Lalu?”

“Aku sumpek dengan kehidupan ibu kota, aku ingin menyendiri sementara waktu.”

“Kamu yakin? Lalu bagaimana dengan pernikahan kalian nanti?”

“Pa, aku nggak akan menikah dengan Kak Raka.”

“Sayang, Raka hanya berusaha memberi yang terbaik untuk kamu..”

“Tapi aku nggak mau. Dia tidak mencintaiku, begitupun sebaliknya. Jadi sampai kapanpun aku nggak akan menikah dengannya.”

“Lalu toko kamu?”

“Aku tetap akan memantaunya Pa..”

Revan menghela napas panjang. “Papa belum bisa mengijinkan, kita akan bicarakan nanti di rumah.”

Felly mendengus kesal.

Tidak Bisa!!! Ia tidak bisa menunggu terlalu lama, kemungkinan Raka mengetahui keadaannya akan semakin besar jika ia terlalu lama berada di sekitar lelaki tersebut.

“Kalau gitu aku pulang dulu Pa..”

Setelah berpamitan dengan ayahnya, dengan langkah sedikit lemas Felly keluar dari ruangan Ayahnya. Tapi baru saja ia membuka pintu ruangan tersebut, Felly terkejut dengan sosok tinggi yang sudah berdiri di balik pintu yang ia buka. Sosok yang sejak tadi berada di dalam pikiranya. Siapa lagi jika bukan Araka Andriano.

“Felly..” Ucap Raka dengan spontan.

“Hai..” Ucap Felly dengan sedikit salah tingkah.

“Kamu kok di sini? Bukannya tadi pagi kamu bilang ada acara dengan Jason?”

“Emm… Acaranya batal, aku hanya ada perlu dengan Papa.”

“Lalu sekarang?”

“Emm.. aku mau pulang.”

“Kakak antar ya..” Tawar Raka penuh harap.

“Jangan.” Jawab Felly cepat. “Emm… Aku mau mampir ke suatu tempat solanya.”

“Nggak apa-apa, Kak Raka bisa ngantar.”

“Tapi Kak Raka kan lagi kerja.”

“Aku bisa minta ijin ayah kamu, beliau pasti tidak keberatan.”

Sial!!! Kenapa Raka selalu saja menempel padanya?? Astaga.. Felly berencana untuk menghindari lelaki di hadapannya ini, tapi kenapa keadaan seakan memaksa mereka untuk selalu bersama??

***

Raka sedikit bingung saat melihat Felly yang sibuk memilih beberapa koper besar di sebuah pusat perbelanjaan. Untuk apa Felly membeli koper-koper tersebut??

“Kamu nggak salah? Untuk apa kamu membeli koper-koper ini?”

Felly tak tau harus menceritkan dari mana, tapi siap tidak siap, Felly harus mengatakannya pada Raka.

“Aku akan pindah.”

Perkataan Felly tersebut sukses merubah ekspresi Raka yang sejak tadi datar-datar saja kini berubah menjadi sedikit terkejut.

“Pindah? Pindah kemana?”

“Emm.. Nanti malam, kak Raka ke rumah saja, ada yang mau aku omongin.”

“Kenapa nggak ngomong di sini?”

“Nggak bisa, aku akan membicarakannya nanti malam.”

Raka menganggukkan kepalanya, “Baiklah, nanti malam aku ke sana.” Ucap Raka sambil sedikit menyunggingkan senyumannya sembari mengusap lembut puncak kepala Felly.

***

Malamnya…….

“Sayang.. Please, kalau kamu ada masalah, tolong cerita sama Mama, jangan tiba-tiba pergi seperti ini.” Ucap Dara dengan mata yang sudah sedikit berkaca-kaca saat melihat puiteri semata wayangnya meninggalkan rumah.

Tadi, Felly sudah meminta ijin kedua orang tuanya untuk pindah sementara ke rumah neneknya yang berada di puncak. Dara tentu melarang Felly, tapi tekat Felly benar-benar sudah bulat, dengan atau tanpa persetujuan dari kedua orang tuanya, ia tetap harus pergi meninggalkan rumahnya.

Felly menghentikan aksinya yang kini sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam sebuah koper besar miliknya. Ia menatap ke arah Mamanya dengan tatapan sendunya.

“Ma, Felly nggak ada masalah kok, Felly cuma mau jauh dari kebisingan ibu kota.”

“Tapi kamu hanya perlu sedikit liburan sayang, bukan pindah.”

Felly tersenyum ke arah Mamanya. “Liburan nggak akan cukup Ma, pokoknya aku akan pindah, hanya satu tahun, setelah itu aku janji akan pulang dan menjadi puteri yang baik untuk Mama.”

“Mama boleh ikut?”

“Enggak.” Jawab Felly cepat. “Apapun yang terjadi, Mama nggak boleh ikut atau mengunjungi Felly di sana.”

“Tapi kenapa sayang??”

“Please Ma.. Felly ingin di beri privasi..” Dara menghela napas panjang, ia akan mengucapkan kalimat bantahannya lagi tapi pintu kamar Felly lebih dulu di ketuk oleh seseorang. Pintu tersebut di buka dan menampilkan sosok Revan di sana.

“Raka ada di luar. Kataya mau ketemu sama kamu.” Ucap Revan sambil menatap puterinya tersebut.

Felly melirik ke arah Mamanya, “Ma, Aku harus bicara dengan kak Raka di sini.” Dara kembali menghela napas panjang. Lalu memilih pergi meninggalkan kamar Felly bersama dengan Revan.

Tak lama, Felly kembali mendengar pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. Itu pasti Raka.

“Masuk Kak.” Ucap Felly sambil membereskan beberapa barang yang masih berserahkan di atas ranjang kamarnya.

“Kamu benar-benar akan pergi?” tanya Raka sembari melirik dua koper besar yang sepertinya sudah selesai di siapkan oleh Felly.

Felly duduk dengan lelah di pinggiran ranjangnya. “Ya, aku akan pergi.”

“Kenapa mendadak?”

“Emmm ini nggak mendadak, aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari, cuma aku baru memberitahukan hari ini pada Kak Raka.”

“Kenapa kamu pergi?” Tanya Raka tanpa basa-basi. Wajah Raka terlihat datar tanpa emosi, tapi jelas, matanya menatap tajam ke arah Felly. Dan itu benar-benar mempengaruhi reaksi Felly.

“Emm… Aku akan membuka usaha baru di sana.” Ucap Felly sedikit canggung karena tatapan mengintimidasi dari Raka.

“Usaha apa?”

“Kafe, tempat minum-minum kopi.”

“Benarkah?”

“Ya,”

“Kenapa harus pindah? Kamu bisa mengurusnya dari sini.”

“Emm Begini..” Felly tau jika ia harus membohongi lelaki yang kini sudah duduk tepat di sebelahnya. Tangan Felly terulur untuk menggenggam kedua telapak tangan besar milik Raka. “Jason melamarku, dan kafe ini usaha kami berdua. Jadi aku mau mengurusnya sendiri di sana.”

Tubuh Raka kaku seketika. Hatinya terasa sakit mendengar perkataan dari Felly.

“Melamar? Tapi kamu sudah menjadi tuanganku Fell, bagaimana mungkin dia melamarmu?”

Felly menundukkan kepalanya. “Aku minta maaf, tapi aku sudah menerima lamaran Jason, Aku akan tetap pindah ke luar kota.” Ucap Felly dengan suara yang sudah bergetar. Ia ingin menangis, tentu saja.

Di lepskannya cincin pemberian Raka, kemudian di letakkannya cincin tersebut pada telapak tangan Raka.

“Maafkan aku Kak.. Tapi aku nggak bisa melanjutkan semua ini.” Ucap Felly sambil menggenggamkan telapak tangan Raka yang di dalamnya sudah terdapat cincin yang tadi melingkar di jari manis Felly.

“Tangan kamu gemetar.” Ucap Raka masih dengan ekspresi datarnya.

Felly mengangkat wajahnya menatap ke arah Raka dengan tatapan tak mengerti atas apa yang di ucapkan lelaki tersebut.

“Ada yang kamu sembunyikan dariku.” Ucap Raka lagi. Tatapan mata Raka masih lurus menatap kedua bola mata Felly yang sudah berkaca-kaca.

Felly menggelengkan kepalanya cepat. “Aku nggak menyembunyikan apapun.”

“Kamu terlihat gugup.”

“Aku nggak gugup.” Bantah Felly.

Raka kemudian menarik kedua tangannya dari genggaman tangan Felly. Kemudian Raka berdiri lalu melangkah membelakangi Felly.

“Baiklah, kalau kamu ingin pergi dan bahagia dengan lelaki lain, aku akan melepaskanmu. Tapi jika nanti aku mendapati kamu berbohong dan melakukan semua ini hanya untuk menghindariku, maka aku akan kembali menyeretmu pulang lalu menikahimu saat itu juga.” Ucap raka tanpa sedikitpun menatap ke arah Felly.

Felly membatu mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Raka. Ada sebuah ketakutan yang menyelimuti dirinya. Takut jika Raka menemukan kebenaran yang sedang ia sembunyikan, takut jika lelaki itu akan membencinya, takut jika ia akan kehilangan lelaki yang sangat di cintainya tersebut, dan masih banyak lagi ketakutan-ketakutan yang ia rasakan di dalam hatinya.

 

-to be continue-

Vote dan komen selalu di tunggu yaa… huehhehehhe

Advertisements

My Beloved Man – Chapter 5

Comments 8 Standard

mb1My Brother

Haiii lama bgt nggak update yaa.. heheheh okay langsung aja…

“Fell… Emm.. Karena kita masih berstatus sebagai tunangan… Bolehkah… Aku.. menciummu??”

Pertanyaan Raka benar-benar membuat Felly membulatkan matanya seketika. Jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Perutnya seakan menegang, Aliran darahnya seakan terhenti saat itu juga karena keterkejutannya saat mendengar permintaan Raka.

Mencium?? Bagaimana mungkin lelaki itu ingin menciumnya dalam keadaan sadar?? Felly ingin menolaknya, tapi ia sendiri tak dapat memungkiri, jika dirinya juga ingin di cium oleh lelaki yang di cintainya dalam keadaan sadar sepenuhnya tanpa pengaruh obat apapun. Bolehkah ia menerima Raka untuk malam ini saja? Melupakan semua status rumit mereka dan menganggap Raka sebagai calon suaminya malam ini saja?? Dan akhirnya, Felly hanya mampu pasrah dan memejamkan matanya untuk menerima sentuhan lembut dari bibir Raka…

***  

 

Chapter 5

 

Raka menelan ludahnya dengan susah payah saat di lihatnya Felly yang penuh dengan penyerahan atas tubuhnya. Wanita itu seakan pasrah dengan apa saja yang akan di lakukan Raka, dan itu membuat Raka semakin tak dapat menahan diri.

Raka mendaratkan telapak tangannya pada pipi lembut milik Felly, mengusapnya lembut penuh dengan kasih sayang, lalu ia mulai mendekatkan wajahnya semakin dekat dengan wajah Felly. Bibirnya hampir saja menempel, tapi pada saat itu panggilan di belakangnya membuat Raka mengentikan aksinya.

“Kak Raka? Kalian ngapain?”

Itu Lili. Raka menjauhkan diri seketika dari Felly, pun dengan Felly yang sontak menundukkan kepalanya. Wajahnya sudah merah padam karena kepergok hampir berciuman dengan orang yang seharusnya di anggap sebagai kakaknya.

“Kamu sendiri ngapain di sana?” Tanya raka dengan sedikit kaku.

“Aku? Memangnya kenapa kalau aku di sini? Ini kan rumahku. Harusnya pertanyaan itu kakak tanyakan dengan dia.” Ucap Lili dengan ketus sambil menunjuk ke arah Felly.

Tanpa basa basi lagi, Raka menggandeng tubuh Felly, dan itu benar-benar membuat Felly terpekik dengan apa yang di lakukan Raka.

“Lili, mulai saat ini, kamu harus menjaga sikapmu di hadapan calon kakak iparmu.” Ucap Raka masih dengan ekspresi datarnya.

Lili membulatkan matanya seketika, begitupun dengan Felly yang sontak menatap tak percaya pada Raka. Felly benar-benar tak menyangka jika Raka akan memberitahukan pada Lili tentang status hubungan mereka, padahal mereka belum tentu akan menikah, karena sampai detik ini pun Felly yakin jika dirinya tidak akan hamil.

“Kak Raka apaan sih?” Felly sedikit menjauhkan diri dari tubuh Raka.

“Kita benar-benar tunangan Fell.. Please, kamu jangan memungkiri kenyataan itu.”

“Aku nggak memungkirinya, tapi belum tentu kita berakhir menikah kak..”

Raka akan membuka mulutnya untuk membalas bantahan dari Felly tapi kemudian Lili lebih dulu mengucapkan kalimatnya dengan sedikit berteriak.

“Menikah? Kak Raka gila? Lihat, dia nggak pernah suka dengan Kak Raka, apa kakak memilih menjadi budaknya seumur hidup?”

“Budak? Lili, aku nggak pernah berniat memperbudak kakak kamu.” Felly sedikit tersinggung dengan apa yang di bicarakan Lili.

“Kenyataannya kamu dan keluargamu sudah seperti memperbudak kakakku.”

“Lili..!!” Seru Raka. “Pergi dari sini.”

“Kak Raka membela dia?”

“Pergi Lili.” Ucap Raka lagi dengan ekspresi yang sudah menggelap.

Dengan menghentak-hentakkan kakinya, Lili pergi meninggalkan Raka dan juga Felly yang masih berdiri membatu dengan pikiran masing-masing.

“Aku.. Aku pulang aja.” Ucap Felly kemudian sambil bergegas pergi meninggalkan Raka. Tapi, tanpa di duga, Raka dengan cepat menarik pergelangan tangan Felly lalu menarik wanita tersebut dalam pelukannya.

“Maaf..”

“Maaf untuk apa?”

“Untuk Lili dan semuanya.”

Felly menghela napas panjang. “Sudahlah.. Mungkin memang aku yang salah.”

“Kamu nggak pernah salah.”

“Ya, Aku salah, kalau aku nggak pacaran sama Jason, mungkin dia nggak akan sebenci itu denganku.”

“Nanti setelah kita menikah, otomatis kalian putus, dan setelah itu kupikir hubunganmu dan juga Lili akan membaik.”

“Kak.. Kita belum tentu akan menikah.”

Raka melepaskan pelukannya kemudian menangkup kedua pipi Felly.

“Fell, Please, jangan membuat semuanya sulit untukku. Hamil atau tidak, aku tetap akan menikahimu.”

Felly menghela napas panjang, tanda jika dirinya memang sudah tak dapat membantah lagi apa yang di ucapkan oleh Raka.

***

Malam itu akhirnya Raka, Felly dan Ibu Raka hanya makan bertiga. Lili pergi setelah berdebat dengan Raka tadi. Dan itu benar-benar membuat Felly merasa tak enak.

Sebenarnya tadi Felly hanya mengantarkan Rendang buatan Mamanya untuk keluarga Raka. Tapi karena Tante Mirna menyuruh untuk memanggil Raka dan mengajak makan bersama, maka Felly tak dapat menolaknya.

Tante Mirna sendiri seakan sudah paham hubungan Felly dengan Lili. Maka ia tak heran jika Felly makan di rumahnya, Puteri bungsunya itu lebih sering makan di luar ketimbang satu meja makan dengan Felly.

“Makanmu sedikit sekali. Lagi diet?” Tanya Tante Mirna pada Felly.

“Ahh, enggak tante.”

“Makanlah yang banyak, terlalu kurus juga nggak baik untuk calon pengantin.”

Raka tersedak seketika. Ia terbatuk-batuk karena apa yang di ucapkan Ibunya. Sebenarnya, Raka memang belum mengatakan kepada ibunya jika ia akan menikahi Felly. Lalu dari mana ibunya tahu tentang hal itu?

“Ibu tahu?” Tanya Raka masih dengan tatapan tak percayanya.

Sedangkan Tante Mirna hanya menganggukkan kepalanya. “Cincin kalian membuat ibu tahu, dan ibu benar-benar nggak nyangka kalau hubungan kalian akan sejauh ini.”

“Ibu… ini bukan seperti yang ibu pikirkan.” Ucap Raka cepat. Ia melirik ke arah Felly yang tadi langsung menarik tangannya saat ibunya menatap cincin pada jari mereka. Felly tidak nyaman dengan pembicaraan ini, Raka tahu itu.

“Nggak seperti yang ibu pikirkan? Maksud kamu?”

“Emm… ada suatu hal yang membuat kami memang harus menikah.”

“Suatu hal?”

Wajah Raka merah padam saat sang Ibu menuntutnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang baginya sangat sulit ia jawab. Raka kembali melirik ke arah Felly yang kini sudah menundukkan kepalanya. Raka kemudian meraih telapak tangan Felly, kemudian menggenggamnya, membuat Felly mengangkat wajahnya lalu menatap ke arahnya.

“Yang penting, ibu hanya perlu tahu kalau kami akan menikah. Raka dan Felly ingin meminta restu Ibu.”

Sang ibu tersenyum lembut. “Dari dulu ibu selalu berharap memiliki menantu seperti Felly, sudah cantik, baik, perhatian lagi. Tapi ibu tak pernah berharap lebih jika Felly yang akan menjadi menantu Ibu, ibu tentu tahu, di mana posisi keluarga kita.”

“Tante…” potong Felly. “Felly nggak pernah mempermasalahkan posisi keluarga tante, Tante, kak Raka dan Lili adalah keluarga besar untuk kami.”

“Ya, tapi tante tetap merasa tidak enak. Keluarga kalian sudah lebih dari baik untuk keluarga kami. Tapi apapun alasannya, tante tetap senang kalau kalian berakhir sebagai suami istri nantinya.”

Felly hanya mampu menatap Raka dengan tatapan anehnya. Astaga… apa yang harus ia lakukan nanti? Apakah ia memang harus berakhir menjadi istri kakaknya tersebut?

***

“Emm.. aku masuk dulu.” Ucap Felly dengan canggung saat Raka tak juga pulang ketika mengantarnya sampai di halaman rumahnya.

“Tunggu dulu.” Ucap Raka sambil menarik tangan Felly. Dengan cepat Raka mengecup lembut kening Felly, sedangkan Felly dengan spontan menutup matanya, menikmati sentuhan lembut dari bibir Raka tepat di keningnya.

“Ingat, apapun yang terjadi, kita akan tetap menikah.”

“Kak..”

“Jangan membuat ini menjadi sulit Fell..”

“Kasih aku waktu, Please..”

Raka menghela napas panjang. Kemudian di usapnya pipi Felly dengan ibu jarinya. “Aku akan memberimu waktu sampai kamu siap.” Dan Felly hanya bisa menganggukkan kepalanya.

***

Pagi itu, Felly duduk di atas closet kamar mandinya dengan memeluk kedua lututnya. Matanya masih menatap dengan tatapan tak percaya pada sederet alat tes kehamilan yang berjajar rapi di pinggiran bath up miliknya.

Semuanya menunjukkan garis dua yang artinya positif. Astaga… bagaimana mungkin ini benar-benar terjadi padanya?

Ini sudah dua bulan sejak ia menghabiskan malam bersama dengan Raka. Bulan lalu, sebenarnya Felly sudah sedikit curiga dengan keadaannya ketika tamu bulanannya tak kunjung datang. Tapi saat itu Felly berpikir positif, mungkin saja saat itu ia terlalu stress hingga tamu bulanannya datang terlambat. Tapi nyatanya hingga kini Felly tak juga datang bulan.

Akhirnya dengan gelisah, tadi malam ia mencoba membeli beberapa alat tes kehamilan. Dan kini, hasil nyata itu sudah berada di hadapannya.

Ia hamil… dengan kakak angkatnya sendiri.. Astaga…

Felly menenggelamkan wajahnya pada kedua lengannya yang di lipat di atas lututnya. Apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Bagaimana cara ia menyampaikan hal ini pada Raka? Apa Raka masih mau menikahinya?? Apa Raka akan senang? Atau lelaki itu akan kesal karena terikat dengannya?? Felly benar-benar tak tau apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

Tiba-tiba Felly mendengar pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. Dengan gelagapan Felly mengangkat wajahnya.

“Siapa?”

“Ini aku.”

Felly membulatkan matanya seketika saat mendengar suara itu. Itu adalah suara Raka. Astaga.. ngapain juga lelaki itu datang padanya pada saat seperti sekarang ini??

Dengan cepat Felly meraih semua alat tes kehamilan di hadapannya kemudian membuangnya begitu saja ke dalam tong sampah. Ia tidak ingin Raka melihatnya, dan ia belum siap memberitahukan keadaannya pada lelaki tersebut.

“Sebentar, aku masih mandi kak.” Dan akhirnya Felly memutuskan untuk segera mandi lalu menemui Raka yang sudah menunggunya.

***

Raka menyandarkan tubuhnya pada dinding tepat di sebelah pintu kamar Felly. Ia tak mungkin dengan kurang ajar masuk ke dalam kamar wanita itu saat si pemilik kamar sedang di dalam kamar mandi.

Sesekali Raka melirik ke arah jam tangannya. Hari ini masih sama dengan hari sebelumnya. Ia akan mengantar Felly ke toko Ice Cream milik wanita tersebut sebelum ia berangkat ke kantor, begitupun dengan saat pulang, Raka akan menjemput Felly lalu pulang bersama, setidaknya itulah yang dapat di lakukan Raka dua bulan terakhir untuk bertanggung jawab dengan Felly.

Tapi semakin hari, rasa gelisah selalu membayangi hati Raka. Felly tak juga kunjung hamil, ia takut, jika wanita itu akan memutuskan pertunangan mereka dengan alasan tidak hamil, dan Raka tak dapat menerima kenyataan itu. Ia harus berakhir dengan menikahi wanita yang sangat di cintainya itu. Terdengar egois mungkin, tapi bagaimana lagi, ia benar-benar tak mampu melihat Felly bersanding dengan lelaki lain.

Tak lama, pintu di sebelahnya terbuka, dan menampilkan sosok cantik dengan wajah pucatnya. Raka menegakkan tubuhnya seketika, mengamati apapun perbedaan yang terlihat dari sosok di hadapannya tersebut.

Felly terlihat pucat, pipinya pun lebih tirus, wanita itu terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Kenapa? Apa Felly sakit??

“Kamu sakit?” Tanya Raka tiba-tiba sambil mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut pipi Felly.

Felly menggelengkan kepalanya, kemudian ia sedikit menjauh dengan sentuhan Raka. Entah kenapa mengingat darah daging lelaki itu yang kini sedang tumbuh di dalam rahimnya membuat ia sedikit merasakan rasa aneh yang ia sendiri tak mengerti rasa apa itu.

“Kulitmu hangat.” Ucap Raka lagi.

“Aku nggak apa-apa kok, ayo, kita berangkat.” Raka kemudian menganggukkan kepalanya, lalu berjalan mengikuti tepat di belakang Felly.

***

“Emm.. nanti sore jangan di jemput.” Ucap Felly tiba-tiba ketika ia dan Raka sudah di dalam mobil.

“Kenapa?”

“Aku ada janji.”

“Dengan Jason?” Tanya Raka penuh selidik.

Felly hanya menganggukkan kepalanya.

“Kalau makan siang?” Tanya Raka lagi.

“Maaf, aku.. juga sudah janjian.” Jawab Felly sedikit mempelankan suaranya.

Sebenarnya hari ini ia tak memiliki janji apapun dengan siapapun, hanya saja, berdekatan dengan Raka membuatnya seakan tak nyaman. Ia takut, jika tiba-tiba Raka mengetahui keadaannya kini yang berbadan dua, dan tiba-tiba mengajak menikah begitu saja. Entahlah, Felly hanya merasa belum siap.

Raka menghela napas panjang. “Baiklah, hanya sehari kan?”

“Aku nggak tau.”

“Kok nggak tau? Kamu nggak sedang mengindari kakak kan?” Tanya Raka masih dengan ekspresi datarnya.

“Enggak, aku nggak menghindar kok.”

“Lalu??”

“Emm.. Beberapa hari terakhir, Jason ada acara, jadi aku menemani dia. Cuma itu aja.”

“Kamu yakin hanya itu?”

“Ya, aku yakin.” Jawab Felly cepat.

“Kamu harus menjaga kesehatan kamu, jangan terlalu lelah, nanti kalau…”

“Kak Please..” Felly memotong kalimat Raka. “Aku nggak hamil, jadi kak Raka nggak perlu memperlakukanku seperti wanita hamil.” Felly berkata dengan sedikit kesal.

Ya, selama dua bulan terakhir Raka memang memperlakukannya seperti benda rapuh yang gampang sekali pecah. Raka seakan selalu menjaga setiap apapun yang di lakukan Felly, Raka terlalu berlebihan dan itu membuat Felly tak nyaman. Ia memang senang Raka melakukan semua itu padanya, yang membuatnya tak senang adalah alasan Raka melakukan semua itu hanya karena sebuah tanggung jawab. Seakan-akan lelaki itu memang harus menjaganya karena sebuah tugas, bukan karena sebuah kerelaan.

“Aku nggak berpikir kamu hamil. Aku hanya melihat tubuhmu yang semakin kurus, wajahmu yang pucat, aku nggak mau kamu sakit. Ini nggak ada hubungannya antara kamu hamil atau tidak.” Raka terdiam sebentar, kemudian ia menatap Felly dengan tatapan penuh selidiknya. “Atau jangan-jangan, kamu memang sedang hamil?”

Felly membulatkan matanya seketika. Bagaimana mungkin Raka dapat menebak dengan benar apa yang terjadi dengannya? Dari mana Raka tau tentang keadaannya yang kini sedang berbadan dua? Apa Raka memang dapat merasakan jika saat ini ada bagian dari diri lelaki itu yang sedang tumbuh di dalam rahimnya?? Dengan spontan Felly menangkup perutnya dengan kedua telapak tangannya. Sialnya hal itu tak luput dari pandangan Raka. Astaga.. apa yang harus ia lakukan selanjutnya??

-to be continue-

jangan lupa tinggalkan komentar.. insha allah besok ada bang Ben dan mas yoga yaa….  happy waiting…

My Beloved Man – Chapter 4

Comments 3 Standard

13606779_1382124375137441_5783693765868018757_n

My Brother

“Kak..” Panggil Felly. Tanpa di duga, Felly memeluk tubuh Raka erat-erat. “Terimakasih. Karena kak Raka sudah mau menjadi kakakku.” Ucapnya kemudian.

Raka hanya menganggukkan kepalanya. ‘Jika aku boleh memilih, aku tak pernah ingin menjadi kakakmu. Karena aku hanya ingin menjadi suamimu…’ Ucap Raka dalam hati.

***  

Chapter 4

 

Satu minggu berlalu setelah kejadian itu, Felly menjalani harinya kembali seperti semula. Hari ini adalah hari pertama ia membuka toko ice creamnya setelah seminggu tutup. Felly sedikit lega karena sampai saat ini tak ada yang berbeda dengan dirinya.

Ia tak hamil, bisa di bilang belum. Dan Felly benar-benar berharap jika dirinya tidak hamil.

Bukan karena ia menolak menikah dengan Raka. Percayalah, Felly benar-benar menginginkan Raka menjadi suaminya. Tapi tentu bukan karena ia hamil. Felly tak ingin jika kehamilan mau tak mau mengikat Raka menjadi suaminya, membuat lelaki itu terpaksa bertanggung jawab padanya. Felly benar-benar tak menginginkan hal itu.

Felly menatap jari manisnya yang di sana sudah melingkar cincin pemberian dari Raka. Kemudian seulas senyuman terukir di wajahnya. Cincin itu begitu sederhana tapi melihatnya saja membuat hati Felly berbunga-bunga.

‘Dalam beberapa bulan ke depan, kamu tetap menjadi calon istriku..’ Ucapan Raka itu terngiang di telinganya. Calon istri?? Betapa senangnya Felly jika perkataan itu di ucapkan Raka dengan tulus penuh cinta, bukan karena keterpaksaan untuk bertanggung jawab.

Felly memejamkan matanya frustasi. Astaga… sejak malam itu, ia tak pernah lagi bertemu dengan Raka. Ia masih merasa malu dan canggung jika berhadapan dengan lelaki tersebut.

Raka sudah berkali-kali ingin menemuinya sepulang kantor, tapi Felly memilih mengurung diri di dalam kamarnya sambil berpura-pura tidur. Kini sudah satu minggu berlalu, dan Felly tak mungkin terus-terusan bersikap seperti itu pada Raka.

Setelah menyiapkan diri, Felly mengintip ke arah rumah Raka. Mobil lelaki itu masih terparkir di halaman rumahnya, itu tandanya jika Raka masih di rumah. Felly melirik ke arah jam di kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, tumben sekali kakaknya itu belum berangkat.

Akhirnya Felly memilih turun dari kamarnya, menuju ke meja makan. Di sana sudah ada Dara, mamanya yang masih sibuk membersihkan sisa sarapan.

“Pagi Ma..” Sapa Felly.

“Pagi sayang.. Astaga.. Akhirnya kamu mau turun juga.”

“Aku bosan di kamar.”

“Siapa suruh kamu mengurung diri di kamar?” Dara kemudian melirik ke arah jari manis Felly yang ternyata sudah di lingkari sebuah cincin sederhana. “Tunggu dulu..” Ucap Dara sambil meraih telapak tangan Felly dan menatap lekat-lekat cincin tersebut.

Dengan cepat Felly menarik tangannya. “Apaan sih Ma..”

“Jadi Raka benar-benar melamarmu?”

Felly tak tau harus menjawab apa, karena ia sendiri bingung sebenarnya apa hubungannya dengan Raka saat ini.

“Nggak tau.”

“Loh kok nggak tau? Dia juga memakai cincin yang sama dengan cincin ini Fell.. lagi pula dia sudah melamar kamu di hadapan mama dan papa.”

“Apa??”

“Ya, dan kami menerimanya.”

“Mama.. ini nggak seperti yang mama kira, astaga..”

“Kamu hanya mempersulit semuanya Fell?? Apa susahnya menikah dengan Raka? Dia lelaki yang tampan, baik, bertanggung jawab, dan yang terpenting dia menyayangimu.”

“Tapi aku enggak Ma.. Mama nggak ngerti, dan semuanya nggak akan mengerti apa mauku.” Ucap Felly sambil berdiri lalu berjalan keluar dari ruang makan mereka. Sedangkan Dara hanya mampu menghela napas panjang saat melihat puterinya yang terlihat marah-marah tak jelas tersebut pergi begitu saja meninggalkannya.

***

Pagi itu Raka memang sengaja berangkat lebih siang. Selain karena memang kesiangan. badannya kecapekan karena setiap hari ia lembur kerja. Raka juga sebenarnya berharap supaya felly keluar dari rumahnya pagi ini. Dan ternyata harapannya itu tak sia-sia.

Tak lama ia melihat sosok itu keluar dari rumahnya dengan wajah yang di tekuk. Raka sedikit tersenyum, mengingat ini pertama kalinya ia bertemu dengan Felly setelah seminggu wanita itu tak mau di temuinya.

Dengan cepat Raka keluar dari gerbang rumahnya kemudian menyusul Felly yang sudah berjalan di atas trotoar.

“Hai..” Sapa Raka.

Felly menghentikan langkahnya kemudian menatap Raka. Lelaki itu tampak Rapi dengan kemeja dan dasi yang sudah bertengger di lehernya. Mungkin lelaki di hadapannya ini akan berangkat ke kantor.

“Hai juga.” Hanya itu jawaban dari Felly.

Raka kemudian melirik telapak tangan Felly, dan berakhir tersenyum karena ternyata cincin pemberiannya masih melingkar di jari manis wanita tersebut.

“Mau ke mana? Mau ku antar??”

“Nggak perlu, aku cuma mau jalan-jalan di sekitar sini.”

“Emm.. mau ku temani?”

“Kak Raka seharusnya sudah di kantor jam segini.”

“Ya, tapi beberapa hari terakhir aku membawa pekerjaanku pulang, dan lembur di rumah. jadi aku bisa ke kantor kapan saja.”

“Kak.. antar aku kerja..” Teriak seorang gadis tepat di belakang Raka dan Felly. Keduanya kemudian membalikkan tubuh mereka dan mendapati Lili yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.

“Kakak sedang sibuk.” Ucap Raka cepat.

“Sibuk ngapain? Ngerayu dia?? Ayolah kak..” rengek Lili sambil menarik lengan Raka.

“Apa hari ini kamu sudah kerja?” tanya Raka pada Felly tanpa mempedulikan Lili yang masih saja menarik-narik lengannya.

“Ya, aku sudah mulai kerja.”

“Bagus, nanti siang kita makan siang bersama.” Ucap Raka sedikit lebih keras saat tubuhnya semakin menjauh dari tempat Felly berdiri.

Felly sendiri hanya menatap Raka dengan tatapan anehnya. Makan siang bersama?? Mungkinkah??

***

“Berhenti bersikap kekanakan seperti itu Li..” Geram Raka ketika ia dan Lili sudah berada di dalam mobil.

“Kenapa? Aku hanya minta Kakak mengantarku.”

“Tapi sikapmu selalu keterlaluan dengan Felly.”

“Aku cuma nggak suka sama  dia Kak, kalian semua kenapa sih sayang banget sama dia, seakan dia itu Ratu yang harus di manja.”

“Kakak tidak pernah memanjakannya.”

“Kak, mendingan kak Raka fokus sama mbak Kirana deh, kak Raka lebih cocok sama dia dari pada sama Felly.”

Raka mendengus kesal. Ia benar-benar tak mengerti kenapa adiknya itu sangat membenci sosok Felly. Raka sangat ingin mengatakan jika mau tak mau adiknya itu harus menerima ketika suatu saat ia menikahi Felly, tapi sepertiya waktunya belum tepat.

“Kamu nggak tau apa-apa tentang hubungan kami.”

“Oh ya?? Yang ku tau Felly itu hanya wanita gampangan yang gampang sekali gonta-ganti pasangan Kak.”

“Cukup Lili. Kamu kelewatan.”

“Ya, bela saja terus wanita manja sialan itu.” Gerutu Lili dengan nada kesalnya. Sedangkan Raka hanya memilih diam dan mengalah.

***

Felly melamun menatap minuman yang berada di atas meja di dalam toko ice creamnya. Hari ini hari pertama ia buka setelah seminggu tutup karena sikap kekanakannya. Felly mendesah panjang mengingat masalah yang terjadi dengan Raka.

Lamunan Felly buyar ketika sebuah klakson mobil dari parkiran halaman tokonya berbunyi. Felly menoleh ke arah mobil tersebut. rupanya itu Jason, lelaki yang sudah seminggu ini tak ia temui. Felly kemudian melambaikan tangannya seakan memberi perintah pada Jason supaya lelaki itu masuk dan menemuinya.

Akhirnya jasonpun keluar dari dalam mobilnya kemudian masuk ke dalam toko milik Felly.tanpa banyak bicara, Jason langsung memeluk tubuh Felly, dan itu membuat Felly ternganga dengan sikap Jason.

“Kamu kemana aja?? Hampir setiap hari aku ke sini, dan tokomu selalu tutup. Aku juga sering ke area rumah kamu, tapi tak pernah sekalipun aku melihat aktifitasmu. Apa yang terjadi??” tanya Jason masih dengan memeluk erat tubuh Felly.

“Jase, aku baik-baik aja.”

Jason melepaskan pelukannya dari tubuh Felly. “Terakhir kali kita ketemu kamu tidak dalam keadaan baik.”

Felly mengangkat kedua bahunya. “Aku sendiri tidak mengerti, kenapa malam itu aku bisa seperti itu.”

“Ya, ada yang jahil deganmu.”

“Jahil?? Siapa? Kenapa?”

“Cinta dan Kiki. Mereka menaruh sesuatu di dalam minumanmu”

“Apa? Kenapa bisa?”

Jason tersenyum, kemudian ia mengusap lembut pipi Felly. “Semua orag bisa melakukan apapun karena cemburu Fell.. sudah sejak lama Cinta menaruh hati padaku, jadi dia pasti melakukan apapun untuk manjatuhkan kamu.”

“Tapi mereka tidak terlalu mengenalku, begitupun sebaliknya Jase, kanapa mereka tega??”

Jason mengangkat kedua bahunya. “Lupakan saja, yang penting kamu nggak apa-apa kan malam itu??”

Felly menundukkan kepalanya, ia tak mungkin berkata jika ia sudah bercinta dengan Raka karena pengaruh obat tersebut. lagi pula hal itu tak seharusnya ia ceritakan dengan Jason.

“Ya, aku baik-baik saja.”

“Lalu kenapa kamu tutup seminggu ini??”

“Emm.. Aku sedikit nggak enak badan, jadi aku memutuskan tutup.”

“Aku kangen cake buatan kamu.”

Felly tersenyum manis. “Duduklah dengan manis, aku akan membuatkan Muffin keju kesukaanmu.”

Jason menganggukkan kepalanya dengan antusias. “Jangan lupa Capucinno late nya…” Felly tersenyum hangat kemudian bergegas pergi meningalkan Jason.

***

Raka membereskan berkas-berkas di meja kerjanya. Ia melirik sekilas ke arah jam tangannya. Sudah  pukul satu lewat. Felly pasti sudah makan siang. Ia sendiri telat makan siang karena tadi ada rapat mendadak. Akhirnya saat ini ia baru bisa pergi menuju ke toko Felly untuk makan siang bersama wanita itu.

Saat Raka akan keluar dari ruanganya, tiba-tiba pintu ruangannya lebih dulu di buka oleh seseorang. Itu Kirana yang kini sedang berdiri membawa rantang makan siangnya.

“Hai.. mau kemana?” tanya Kirana sembari menatap Raka dengan tatapan menyelidiknya.

“Hai.. Aku akan keluar, makan siang.”

“Oh ya? Padahal aku sudah membawakanmu makan siang.” Kirana mengangkat rantang yang sedang ia bawa.

“Untukku?”

“Ya, tadi aku sempat memasak balado. Ku pikir kamu mau, makanya ku bungkuskan untuk makan siang sekalian.”

Raka benar-benar tak enak, ia ingin menolak tapi tentu tidak bisa. Ia bukan lelaki yang suka seenaknya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain, apa lagi orang itu sangat perhatian terhadapnya.

“Baiklah, kita makan di sini saja.” Ajak Raka sambil menuju ke sofa yang berada di ujung ruangannya.

Raka kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, ia mencari kontak Felly. Saat akan menekan tombol panggilan, sebenarnya ia sedikit ragu, tapi kemudian ia melanjutkan untuk menghubungi wanita itu.

“Halo..” Suara lembut di seberang benar-benar menenangkan hati Raka.

“Hai.. Kamu sudah makan siang?”

“Emm.. sudah, kenapa kak?”

“Oke, aku hanya menanyakan itu.” Ucap Raka dengan dada yang berdegup kencang. “Aku makan siang di kantor, itu saja.”

“Ohh iya, nggak apa-apa.”

“Baiklah, aku tutup dulu.” Dan karena tidak ada jawaban dari Felly, maka Raka memutuskan untuk mengakhiri teleponnya. Raka baru sadar jika dirinya sejak tadi di perhatikan oleh wanita yang kini sudah duduk tepat di sebelahnya.

“Kamu tadi janjian makan dengan Felly?” tanya Kirana yang kini menyibukkan diri menyiapkan makan siang mereka.

“Ya.”

“Lalu kamu batalkan?”

“Ya, Dia sudah makan juga.”

“Apa karena aku??”pancing Kirana.

Raka mengangkat sebelah alisnya kemudian tersenyum saat tahu apa maksud Kirana. “Ya, karena aku nggak mungkin nolak ajakan kamu.” Jawab Raka sembari tersenyum hangat. “Lagi pula aku nggak mau melewatkan masakanmu yang rasanya selalu enak.”

Kirana tersenyum senang ketika mendapatkan pujian dari Raka. Tapi hanya itu. Raka memang selalu bersikap baik dan ramah pada siapapun, bukan hanya dengan dirinya. Seakan Raka selalu membatasi diri untuk terlalu dekat dengan wanita lain selain wanita yang di kehendakinya.

“Raka…” panggil Kirana kemudian.

“Iya??”

“Emm.. aku boleh tanya sesuatu nggak?”

“Ya, tanya saja.”

“Emm… Pernahkah kamu menganggapku lebih dari teman?”

Pertanyaan Kirana itu membuat Raka mengangkat sebelah alisnya. “Lebih dari teman? Maksudmu??”

Kirana menelan ludahnya dengan susah payah. Ia sebenarnya tak ingin menanyakan hal ini, tapi bagaimana lagi. Perasaannya seakan sudah tak dapat terbendung lagi. Ia menyukai Raka, lebih dari sekedar teman dan ia benar-benar ingin memiliki lelaki tersebut.

Raka adalah sosok yang di idamkan banyak wanita. Pendiam, baik, ramah dengan siapapun, perhatian, dan belum lagi fisiknya yang sempurna membuat para wanita seakan rela melakukan apapun untuk mendapatkan lelaki di hadapannya tersebut. tapi nyatanya, lelaki itu seperti tak pernah tertarik melihat wanita lain. Kirana tentu tahu apa alasannya karena hanya dengan Kiranalah Raka bercerita tentang Felly.

Cara memandang lelaki itu terhadap sosok Felly benar-benar berbeda dengan cara memandang lelaki itu terhadap wanita lain. Hanya ada Felly di hati Raka sejak dulu hingga saat ini, Kirana tahu itu. Tapi apa salah jika kemudian Kirana ingin merebut posisi Felly di hati Raka??

“Emm.. lupakan saja. Ayo lanjutin makannya.” Ucap Kirana kemudian. Untuk saat ini ia akan memendam perasaannya pada Raka, hingga nanti waktunya tepat untuk mengungkapkan perasaannya tersebut.

Raka menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia sedikit risih dengan tatapan mata Kirana tadi, tapi Raka mencoba mengenyahkan pikiran tersebut. Kirana adalah temannya, jadi tak mungkin jika Kirana menyembunyikan sesuatu yang serius darinya. Pikir Raka sambil melanjutkan kembali makan siangnya.

***

Sore itu Jason masih saja berada di toko ice cream milik Felly. Beberapa kali Felly mengusir jason untuk segera pergi meninggalkan toko ice creamnya, tapi dengan tegas Jason mengatakan tak ingin pergi jika Felly masih berada di sana. Bukannya apa-apa, felly hanya terlalu risih dengan beberapa gadis muda yang terang-terangan ke toko ice creamnya hanya karena ingin meminta tanda tangan dan foto bersama Jason.

“Kenapa cemberut terus?? Kamu cemburu??” tanya Jason sambil mencubit gemas pipi Felly.

“Enggak ahh.. ngapain juga cemburu.” Jawab Felly masih dengan memanyunkan bibirnya.

“Ayolah.. jangan seperti itu..” kali ini tanpa sungkan lagi Jason memeluk tubuh Felly dari belakang. Sambil sesekali menggelitik wanita tersebut.

“Jase.. hentikan.. Jase.. astaga…” Felly berteriak sambi sesekali cekikikan.

“Belum tutup?” Suara itu membuat Jason dan Felly menghentikan aksinya kemudian menatap ke arah si pemilik suara.

Di sana sudah ada Raka yang berdiri tegap di ambang pintu.

“Hai..” Hanya itu yang dapat di ucapkan Felly. “Kak Raka kok sudah pulang?”

“Ya, setelah rapat tadi aku sudah bisa langsung pulang sebenarnya.”

“Ohh..” Hanya itu jawaban Felly.

Raka sendiri masih mengamati kedekatan yang tercipta antara Felly dan Jason. Itu benar-benar membuat Raka seakan ingin marah. Tapi Raka mencoba menutupinya dengan ekspresi datarnya.

“Sepertinya aku sedikit mengganggu, jadi… Aku pulang duluan saja.”

“Ahh enggak kak.” Jawab Felly cepat.

“Kamu di antar dia kan?? Kalau begitu aku pulang dulu.” Raka berkata lagi dengan cepat. Raka kemudian tersenyum pada Felly, lalu pergi begitu saja meninggalkan Felly dan juga Jason masih berdiri saling menggenggam tangan satu sama lain.

“Laki-laki apa itu?? Kenapa dia tidak menawarimu tumpangan untuk pulang?”

“Mungkin dia tahu kalau aku memang nggak butuh tumpangan darinya.” Jawab Felly masih dengan menatap lurus ke arah kepergian Raka.

“Bagiku tetap saja. Dia lelaki pengecut.”

“Hei.. dia bukan pengecut.”

“Ya, dia pengecut.” Felly dan Jason kemudian kembali saling bercanda seperti sebelumnya. Hati Felly sebenarnya di penuhi dengan rasa kecewa dengan sikap Raka yang datar-datar saja, tapi Felly mencoba melupakan semuanya, mencoba mengendalikan perasaannya supaya tak terlalu jatuh lebih dalam lagi pada pesona Araka Andriano.

***

Di dalam mobil, Raka meraba dada kirinya. Terasa sakit dan sesak di sana. Felly tampak begitu bahagia dengan lelaki lain. Bagaimana jika nanti Felly hamil lalu ia memaksa untuk menikahi wanita tersebut??

Raka memejamkan matanya karena frustasi dengan perasaan yang di rasakannya.perasaannya begitu nyata terhadap seorang Felly, tapi di sisi lain, ia tak dapat mengungkapkannya karena ia tahu jika Felly hanya menganggapnya sebagai kakak, tak lebih dari itu.

Raka menatap jari manisnya, yang di sana sudah melingkar cincin pertunangan mereka. Raka tersenyum masam menatap cincin tersebut. ‘Jika kau tidak memaksanya, maka ia tak akan mau menikah denganmu, Bodoh!!’ Umpat Raka pada dirinya sendiri.

Raka menghela napas panjang kemudian mulai menjalankan mobilnya meninggalkan toko ice cream milik Felly.

***

Malam itu, Raka sangat malas sekali turun dari kamarnya. Padahal kini sudah masuk waktu makan malam. Raka tak pernah melewatkan makan malam bersama ibu dan adiknya kecuali memang sedang sibuk ke luar kota, atau sibuk mengurus urusan lainnya.

Tapi malam ini berbeda. Raka seakan tidak berselera makan. Apa karena pemandangan ia masih terpengaruh dengan pemandangan tadi sore??

Tak lama Raka mendengar pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. Itu pasti ibunya yang mengajaknya makan malam.

“Masuk saja Bu, pintunya nggak di kunci.” Ucap Raka setengah malas.

Tapi ketika pintu di buka, tampaklah sosok cantik yang memang selalu ada dalam pikirannya. Itu Felly. Seketika itu juga Raka bangkit dari duduknya.

“Kak, waktunya makan malam.” Ucap Felly sambil sedikit menyungingkan senyumannya.

Raka hanya ternganga menatap pemandangan di hadapannya. Felly kini sudah seperti istrinya saja yang mengingatkan untuk makan malam bersama. Membayangkan itu, dengan cepat Raka berjalan menuju ke tempat di mana Felly berdiri, lalu tanpa di duga, Raka memluk erat tubuh wanita di hadapannya itu.

Felly sendiri memekik karena terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Raka. Kenapa tiba-tiba lelaki di hadapannya itu memeluknya erat-erat? Felly merasakaan pelukan Raka bukanlah pelukan seorang kakak pada adiknya, itu adalah pelukan seorang kekasih yang merindukan pasangannya. Mengingat itu, Felly sedikit meronta karena tak nyaman.

“Kak.. Kak Raka kenapa?”

“Sebentar saja kita seperti ini..”

“Tapi…”

“Fell.. Kamu masih tunanganku, dan ketika kita masih berstatus sebagai tunangan, maka lihatkah aku sebagai tunanganmu, bukan kakakmu.”

Felly benar-benar tak mengerti apa yang di katakan Raka, tapi Felly hanya menganggukkan kepalanya saja dan menikmati pelukan yang di berikan oleh Raka.

“Terimakasih kamu sudah nggak marah sama aku.”

“Aku? Aku memang sudah nggak marah sejak malam itu.”

“Tapi kamu sedikit menghindariku.”

“Ya, karena aku canggung. Sekarang sudah tidak, lagi pula sampai sekarang tidak terjadi apapun denganku.”

“Belum.” Ucap Raka dengan penuh keyakinan.

Bukannya marah, Felly malah tersenyum mendengar Raka meralatnya. “Aku heran, kenapa kak Raka yakin sekali kalau aku akan hamil.”

‘Karena itu yang ku inginkan..’ jawab Raka dalam hati.

“Karena aku sudah merasakannya.” Jawab Raka dengan tenang dan datar.

Felly melepaskan pelukan Raka, kemudian menatap Raka dengan tatapan anehnya. “Merasakannya??” Felly kemudian mulai tertawa menertawakan Raka, dengan spontan Felly meraih telapak tangan Raka kemudian mendaratkan pada perut datarnya. “Apa saat ini kaka Raka merasakan perutku bergerak-gerak sendiri?? Astaga,.. yang benar saja.”

Mau tak mau Raka ikut tersenyum dengan tingkah konyol Felly. Dengan gemas ia mengacak poni Felly seperti biasanya. “Bukan rasa seperti itu yang ku rasakan, aku hanya merasakan jika dalam waktu dekat, kamu akan menjadi istriku.”

Felly terpana dengan apa yang di ucapkan Raka.

Menjadi istriku…

Entah kenapa dua kata terakhir itu seakan membuat tubuh Felly bergetar karena sesuatu, Hingga Felly tak sadar jika kini wajah Raka sudah sangat dekat sekalu dengan wajahnya.

“Fell… Emm.. Karena kita masih berstatus sebagai tunangan… Bolehkah… Aku.. menciummu??”

Pertanyaan Raka benar-benar membuat Felly membulatkan matanya seketika. Jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Perutnya seakan menegang, Aliran darahnya seakan terhenti saat itu juga karena keterkejutannya saat mendengar permintaan Raka.

Mencium?? Bagaimana mungkin lelaki itu ingin menciumnya dalam keadaan sadar?? Felly ingin menolaknya, tapi ia sendiri tak dapat memungkiri, jika dirinya juga ingin di cium oleh lelaki yang di cintainya dalam keadaan sadar sepenuhnya tanpa pengaruh obat apapun. Bolehkah ia menerima Raka untuk malam ini saja? Melupakan semua status rumit mereka dan menganggap Raka sebagai calon suaminya malam ini saja?? Dan akhirnya, Felly hanya mampu pasrah dan memejamkan matanya untuk menerima sentuhan lembut dari bibir Raka…

 

-to be continue-

jangan meleleh yaa… huaahahahha vote dan komen di tunggu lohh hehheheh

My Beloved Man- Chapter 3

Comments 5 Standard

mb1

My Brother

Maaf yaa baru Up.. tadi nggak sempat,, heheheh happy reading, semoga suka.. hahahha

“Jangan tegang, aku nggak akan menyakitimu.” Ucap Raka dengan lembut. Raka kemudian kembali melumat bibir Felly lalu berbisik lagi di sana. “Maafkan aku… Maafkan aku..” Raka kembali mengucapkan kalimat tersebut sambil menghujamkan dirinya hingga menyatu sepenuhnya dengan tubuh Felly.

Fellypun mengerang kesakitan sedang Raka sendiri tak dapat berbuat banyak selain kembali mencumbu bibir ranum milik Felly sambil sesekali berucap dalam hati. 

‘Maafkan aku… Maafkan aku…’

***

 

Chapter 3

 

Raka menatap wajah wanita yang kini sedang berada dalam pelukannya. Wanita tersebut terlihat damai dalam tidurnya, terlihat begitu cantik dan mempesona. Tapi bagaimana ekspresi wanita itu nanti?? Akankah wanita itu akan marah terhadapnya?? Mengingat itu, Raka kembali mengeratkan pelukannya pada tubuh Felly yang masih polos di balik selimut.

Pergerakan Raka yang begitu posesif akhirnya membuat Felly sedikit terusik dalam tidurnya. Sedikit demi sedikit Felly membuka matanya, mencari-cari kesadarannya. Hingga kemudian matanya mengerjap saat ia mendapati sepasang mata yang sedang mengawasi pergerakannya dengan jarak hanya beberapa senti dari wajahnya.

“Kak Raka?” Ucapnya sembali membuka matanya lebar-lebar.

“Hai..” Hanya itu yang dapat di ucapkan Raka. Raka bahkan mengucapkannya dengan pelan karena gugup. Bagaimana tidak, mereka kini masih dalam keadaan polos dan berada di atas ranjang yang sama, di bawah selimut yang sama dengan kulit yang saling menempel satu sama lain karena berpelukan.

“Kak Raka kok…” Felly tak dapat melanjutkkan kalimatnya ketika ia baru menyadari jika kini tubuhnya sedang berada dalam pelukan Raka. Wajah Felly memucat seketika saat sadar jika tubuh mereka dalam keadaan polos di bawah selimut yang sama.

Dengan cepat Felly menjauhkan diri dari tubuh Raka sembari menyilangkan kedua lengannya pada dada telanjangnya.

“Apa yang sudah kita lakukan??” Tanya Felly masih dengan raut wajah shocknya.

“Tenang.. Kakak bisa jelasin.” Ucap Raka menenangkan Felly sambil mendekat, tapi kemudian Felly kembali menjauh dengan gerakan menahan tubuh Raka dengan sebelah tangannya agar lelaki itu tak mendekat lagi.

“Jangan..” Ucap Felly dengan spontan sambil mengangkat sebelah tangannya. Kilasan-kilasan kejadian tadi malam menari-nari dalam ingatan Felly, bagaikan kolase indah yang entah kenapa membuatnya menjadi semakin malu berada di hadapan Raka.

Tadi malam Felly tidak mabuk, tentu saja ia dapat mengingat semuanya saat ini. Yang ia rasakan tadi malam hanyalah gairah, seakan-akan gairah tersebut menguasai tubuhnya dan menjauhkan dari kewarasannya. Felly hanya ingin di puaskan, dan kini Felly mengingat dengan jelas bagaimana kejadian tadi malam. Saat ia menggoda Raka, saat ia mencium lelaki itu secara membabi buta, saat ia bersikap liar di atas ranjang, bahkan saat ia menginginkan tubuh Raka lagi dan lagi seperti seorang wanita jalang yang butuh sentuhan lelaki.

Astaga… Felly benar-benar malu ketika mengingat kejadian demi kejadian yang ia alami dengan Raka tadi malam. Raka bahkan tak berhenti mengucapkan kata maaf seakan menyesal telah melakukan hal tersebut padanya. Kenapa?? Apa karena Raka sudah merasa menghianati kekasihnya???

Dengan gusar Felly menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kemudian Felly mulai menangis kencang sambil sesekali berteriak.

“Kenapa kamu melakukan ini padaku?? Kenapa??”

Kamu?? Ini pertama kalinya Felly memanggil Raka dengan sebutan ‘kamu’. Raka terpaku seketika saat mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Felly dalam tangisnya. Ia hanya ternganga ketika melihat wanita yang di cintainya  terlihat begitu hancur. “Aku minta maaf, aku hanya…”

“Cukup..” Teriak Felly.

Raka masih tercengang dengan kemarahan yang di tampilkan oleh Felly. Ia benar-benar tak menyangka jika Felly akan semarah ini padanya. Dengan cepat ia merengkuh tubuh Felly dalam pelukannya, kemudian memeluk tubuh wanita itu erat-erat.

“Lepaskan aku… Lepaskan aku..” Felly meronta dalam pelukan Raka.

“Please.. Maafkan aku..”

“Aku membencimu… Aku benar-benar membencimu…” ucap Felly masih dengan menangis dalam pelukan Raka sesekali memukul-mukul dada lelaki tersebut.

‘Bencilah aku, tapi jangan menjauhiku..’ Ucap Raka dalah hati. Raka semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Felly. Ia tidak ingin wanita itu pergi menjauhinya.

“Maafkan aku… Maafkan aku..” lagi-lagi hanya kata itu yang dapat Raka ucapkan di hadapan  Felly.

***

Di dalam mobil, Raka benar-benar tak tau harus berbuat apa. Tadi setelah menangis histeris, Felly kemudian mengurung diri di dalam kamar mandi hotel selama lebih dari satu jam lamanya, dan Raka hanya bisa menunggu dengan dada yang terasa sesak.

Raka tak pernah melihat Felly seterpukul ini. Felly pasti kini sangat membenci dirinya. Lalu apa selanjutnya?? Apa ia akan menyerah begitu saja??

“Emm… kita cari makan dulu ya..” Ucap Raka memecah keheningan.

Felly masih saja menatap jauh ke luar jendela. Ia seakan tak ingin menatap ke arah Raka. Entah apa yang di rasakannya saat ini. Malu?? Ya, Felly merasa sangat malu. Bagaimana mungkin tadi malam dirinya menjadi wanita penggoda untuk lelaki yang seharusnya ia anggap sebagai kakaknya tersebut??

“Fell..” panggil Raka lagi kali ini sambil menggenggam telapak tangan Felly yang sejak tadi berada di atas pangkuan wanita tersebut.

Dengan spontan Felly melepaskan genggaman tangan Raka. Entahlah apa yang di rasakan Felly saat ini. Yang pasti ia ingin sekali segera sampai di rumah, menenggelamkan diri di balik bantal-bantalnya, dan tentunya sedikit menjauhi lelaki yang kini berada di dekatnya.

***

Sampai di rumah Felly, Raka masih saja mengikuti wanita yang berjalan tepat di hadapannya. Wanita itu ternyata langsung menuju ke arah kamarnya, bahkan kertika melewati ruang tengah yang di sana ada Dara duduk santai, Felly bahkan seakan tak ingin menyapa mamanya tersebut.

“Felly, baru pulang??” Tanya Dara, tapi puterinya tersebut masih berjalan cepat menaiki anak tannga.

Dara mengernyit, ia tak pernah melihat puterinya tersebut berperilaku seperti itu.

“Permisi tante.” Sapa Raka pada Dara masih dengan melangkah mengikuti Felly.

“Apa yang terjadi Raka??” Tanya Dara yang sudah berdiri heran melihat tingkah laku keduanya.

Dara sebenarnya sudah tau jika tadi malam Felly keluar bersama Raka. Saat lewat dari jam sebelas malam dan Felly belum pulang, Dara lantas ke rumah Raka yang berada tepat di seberang rumahnya. Bertanya dengan ibu Raka, tapi ibu Raka sendiri tak tau di mana Raka dan Felly malam itu berada. Akhirnya ibu Raka mencoba menghubungi Raka, dan baru satu jam setelahnya, Raka menghubungi mereka dan berkata jika semua baik-baik saja dan mungkin mereka akan pulang pagi.

Sebenarnya Dara khawatir, tapi karena Dara tahu jika Felly bersama Raka, maka kekhawatiran itu sedikit memudar. Revan, Suaminya juga berkata jika tak perlu di khawatirkan kalau Felly keluar dengan Raka.

Ya, Raka memang terlihat sangat baik di mata Dara dan Revan. Pemuda itu tak banyak bicara, sopan, dan tentunya tak pernah melakukan hal buruk untuk keluarga mereka. Dan itu membuat Dara dan Revan menyayangi pemuda itu seperti anak mereka sendiri.

Suatu hari, Dara bahkan pernah menyeletukkan ide supaya Felly dan Raka di jodohkan saja, supaya ikatan keluarga mereka semakin erat. Namun nyatanya ibu Raka berkata lain. Ibu Raka sudah cukup merasa bahagia di anggap sebagai kerabat dekat keluarga Revano. Dan ibu Raka meras sangat tidak pantas menyandingkan puteranya dengan puteri keluarga Revano.

Begitupun dengan Revan, Suaminya itu menolak ide dari Dara tersebut. Revan hanya takut jika suatu saat nanti rahasia mereka terbongkar dan itu akan berimbas buruk pada kehidupan Felly. Rahasia tentang kepergian ayah Raka…. Revan tak ingin puterinya menderita karena ulahnya.

Dara melihat Felly membanting pintu kamarnya dengan keras tepat di hadapan Raka, sedangkan lelaki itu hanya mematung menatap pintu yang di tutup tepat di hadapannya.

“Fell.. jangan seperti ini.” Suara lirih Raka memaksa dara melangkahkan kaki mendekat ke arah lelaki dewasa yang sudah seperti puteranya tersebut.

“Ada apa Ka??”

Raka menatap ke arah Dara. Ia benar-benar tak tau harus berkata apa.

“Ada yang kamu sembunyikan dari saya??” Tanya Dara lagi.

Tanpa di duga Raka kemudian menggenggam kedua telapak Dara. “Tante, saya minta maaf. Maafkan saya.” Ucap Raka yang kemudian membuat Dara bingung.

“Maaf?? Maaf untuk apa??” Tanya Dara dengan raut bingungnya.

Raka tak tahu harus berkata apa dengan Dara. Raka tak mungkin berkata jika ia minta maaf karena sudah bercinta dengan puteri wanita tersebut.

Bukannya menjawab, Raka malah mengucapkan janji pada Dara. “Saya janji, saya akan bertanggung jawab dan saya akan menikahi Felly. Saya janji tante.”

Mendengar ucapan Raka tersebut, Dara sontak menarik kedua belah tangannya yang di genggam Revan lalu membungkam mulutnya sembari memulatkan kedua bola matanya. Dara jelas tau apa maksud Raka. Itu tandanya jika Raka sudah membuat puterinya tak suci lagi. Bagaimana ini?? Bagaimana jika Suaminya tau?? Bagaimana jika puterinya hamil???

***

Sorenya..

Setelah pulang dari kantor, Raka lantas menuju ke sebuah toko perhiasan. Memilih-milih sepasang cincin pernikahan. Tekatnya sudah bulat. apapun yang terjadi, entah Felly hamil atau tidak, ia akan tetap menikahi wanita tersebut.

Di lihatnya sepasang cincin putih sederhana tanpa mata berlian satupun.

“Saya ingin melihat yang ini.” Ucap Raka sambil menunjuk cincin tersebut pada wanita si penjaga toko.

“Ini terlalu sederhana Mas, apa pacar mas nanti mau??” ucap Si penjaga toko tersebut.

“Calon istri saya orang yang sederhana. Lagi pula saya tidak mampu membeli yang lebih mahal lagi.”

Si penjaga toko tersebut tersenyum malu. Di lihatnya penampilan Raka dengan kemeja putih sederhananya. Entah kenapa wallau terlihat sederhana tapi aura yang berada di sekitar Raka seakan membuat siapapun yang berada di dekatnya terpesona.

Si penjaga toko tersebut mengeluarkan cincin tersebut. Kemudian memberinya pada Raka. “Kebanyakan wanita ingin memiliki cincin pernikahan yang indah bahkan banyak berliannya.”

Raka tersenyum. “Calon istri saya tidak seperti itu.”

“Kenapa bisa berbeda??”

“Karena dia sudah memiliki semua yang dia inginkan. Saya yakin, dia tidak akan menginginkan berlian dan yang lainnya.”

“Wahh calon istrinya manis sekali..”

Raka kembali menyunggingkan senyuman lembutnya. “Saya mau yang ini, tolong di bungkus.”

“Baik, mohon tunggu sebentar.” Ucap si penjaga toko sambil membawa cincin pesanan Raka untuk di bungkus.

Raka kemudian terpaku. Pikirannya menerawang. ‘Felly, semoga saja kamu mau menerima kak Raka..’ Lirihnya dalam hati.

***

Raka kini duduk dalam gelisah menunggu kehadiran Revan di ruang tamu keluarga Revano. Entah kenapa ia merasa sangat gugup. Padahal hampir setiap hari ia bertamu ke rumah keluarga Revano, tapi baru kali ini ia merasa segugup ini, apa karena niatnya??

Tak lama, orang yang di tunggunya tersebut akhirnya datang juga, “Malam Raka, tumben kamu mencari saya??”

Raka kemudian melirik ke arah Dara yang ikut duduk tepat di sebelah Revan. Mungkin tante Dara belum memberi tahu Om Revan tentang apa yang terjadi. Pikir Raka saat itu.

“Emm.. itu Om..”

“Ada masalah??”

Raka menarik napas panjang kemudian memberanikan diri mengucapkan keinginannya. “Saya ingin melamar puteri Om menjadi istri saya.” Ucap Raka dengan tegas.

Revan terlihat tak percaya dengan apa yang di katakana Raka. “Melamar?? Kenapa tiba-tiba? Raka, Kamu sudah seperti putera saya sendiri. Dan Felly juga sudah menganggapmu sebagai kakaknya.”

“Tapi tidak dengan saya Om.” Ucap Raka dengan cepat.  “Saya melihat Felly sebagai wanita yang saya inginkan untuk menjadi istri saya dan ibu dari anak-anak saya nanti.” Raka melanjutkan kalimatnya yang tampak begitu berani.

Revan membulatkan matanya seketika. Revan jelas tau dan mengerti perkataan Raka. Itu tandanya jika pemuda di hadapannya tersebut nyatanya sudah jatuh cinta pada puterinya.

“Kamu yakin?? Maksud saya, Ada beberapa hal yang tidak kamu ketahui Raka, dan saya tidak ingin setelah kamu mengetahuinya, kamu akan berubah pikiran dan menyakiti hati puteri saya.”

“Apapun yang terjadi, saya tidak akan merubah pikiran. Saya tetap akan menjadi suami yang baik untuk Felly.”

Revan kemudian melirik ke arah Dara. Revan tak dapat menjawab apapun karena ia juga tak mengerti kenapa bisa rumit seperti ini. Tadi, sepulang dari kantor, Dara sebenarnya sudah menceritakan semuanya pada Revan, hanya saja, Revan berusaha bersikap tenang dan datar di hadapan Raka. Revan ingin melihat seberapa berani lelaki yang secara tak langsung sudah ia didik selama ini.

“Nak Raka, naiklah ke atas. Felly belum juga keluar dari tadi pagi.”

Raka mengangguk cepat, kemudian berdiri menuju ke arah tangga.

“Raka.” Panggilan Revan membuat Raka menghentikan langkahya.

Raka menoleh ke arah Revan yang sudah berdiri menghadap ke arahnya. “Iya, Om?”

“Saya merestui, tapi kamu harus janji satu hal bahwa kamu tidak akan pernah meninggalkan puteri saya.”

Raka tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. “Saya janji Om, saya akan menjaga Felly seperti saya menjaga ibu dan adik saya sendiri.”

Raka hanya melihat Revan menganggukkan kepalanya. Kemudian ia melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju ke kamar Felly.

***

Raka membuka pintu kamar Felly, kemudian sedikit menyunggingkan senyumannya ketika menyadari jika kamar tersebut tak lagi di kunci seperti tadi pagi. Ia kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar tersebut.

Kamar itu hanya menyisakan sebuah lampu tidur kicil hingga membuat ruangan tersebut remang-remang. Raka melangkah mendekati ranjang, di mana ada Felly meringkuk di sana. Ia kemudian melirik ke arah meja kecil di sebelah ranjang Felly. Di sana masih ada nampan namun dengan sisa-sisa makanan. Rupanya Felly sudah memakan makan malamnya dan itu membuat Raka lega.

“Fell..” panggil Raka. “Aku ingin ngomong sesuatu sama kamu.”

“Aku ngantuk.” Jawab Felly dengan ketus.

Raka tersenyum. Felly memang tak pernah bisa marah terlalu lama padanya. Terbukti saat ini wanita itu sudah mau berbicara padanya walau dengan nada ketus.

“Ayolah, ini sangat penting, dan harus di katakan sekarang sebelum aku menjadi pengecut dan keberanianku menghilang.”

Felly masih saja tak ingin bangun. Wanita itu malah menarik selimutnya untuk menutupi seluruh bagian tubuhnya. Melihat itu Raka lagi-lagi tersenyum. Felly benar-benar seperti seorang adik yang sedang merajuk pada kakaknya. Akankah sampai nanti Felly bersikap seperti itu padanya??

“Fell.. Aku ingin menikah denganmu.”

Perkataan Raka ang secara tiba-tiba itu membuat Felly terbangun seketika.

“Menikah??” Tanya Felly sembari menatap Raka dengan tatapan terkejutnya.

Raka menganggukkan kepalanya. “Aku sudah melamarmu di hadapan om Revan, dan beliau merestuinya.”

Felly menggelengkan kepalanya. “Enggak, aku nggak mau. Aku nggak mau menikah hanya karena kita sudah melakukan seks.”

“Aku ingin bertanggung jawab Fell.”

“Aku tau kak Raka orang yang bertanggung jawab. Tapi tak ada yang terjadi padaku. Aku bahkan tidak hamil.”

“Belum.” Ralat Raka.

“Kenapa kak Raka yakin sekali kalau aku akan hamil?? Satu kali hubungan seks belum tentu bisa membuat wanita hamil.”

“Kita melakukannya berkali-kali malam itu.”

“Cukup.” Felly menutup kedua telinganya. Ia benar-benar sangat malu ketika mengingat malam tersebut. Tentu saja mereka melakukan lagi dan lagi karena entah kenapa malam itu Felly seakan ingin lagi dan lagi.

“Fell.. aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu.”

“Tapi aku nggak bisa menikah dengan orang yang tidak ku cintai dan tidak mencintaiku.”

“Apa artinya sebuah cinta untuk pernikahan?? Seberapa banyak perceraian terjadi dengan pasangan yang sama-sama saling cinta saat menikah?? Dan seberapa banyak pula pasangan yang sudah menua bersama padahal mereka dulunya tak saling cinta saat menikah?? Kita tidak bisa melihat masa depan hanya dengan cinta?? Rumah tangga bukan hanya berpondasikan Cinta, yang terpenting aku menyayangimu dan aku akan menjagamu sampai nanti, sampai kita menua bersama, apa itu kurang???”

Felly tercenung mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Raka. Astaga.. ini adalah kalimat terpanjang yang pernah di ucapkan lelaki tersebut.

“Tapi aku ingin menikah dengan orang yang ku cintai dan mencintaiku..” Rengek Felly.

‘Aku mencintaimu…’ Ucap Raka dalam hati.

“Nanti, aku akan mencintaimu sebagai istriku.” Ucap Raka kemudian.

Felly tetap saja menggelengkan kepalanya. “Enggak, aku tetap nggak mau. Aku nggak hamil dan aku baik-baik saja, jadi kita lupakan malam itu.”

“Aku ingin tanggung jawab Fell..”

“Tidak ada yang perlu di pertanggung jawabkan.” Felly berkata dengan cepat. Felly kemudian berpaling ke arah lain lalu kembali berbicara dengan pelan. “Kita punya kehidupan masing-masing kak, Kak Raka punya Kirana, dan aku punya Jason. Jadi kita tidak bisa bersama.” Lirih Felly.

“Lalu apa mau kamu sekarang??”

“Kita jalani hidup masing-masing seperti biasa.”

“Kalau kamu hamil??”

“Aku nggak akan hamil.” Jawab Felly cepat.

Raka menganggukkan kepalanya. “Baiklah, aku akan menuruti apapun mau kamu. Tapi saat nanti aku mendapati kamu hamil karena kemarin malam, maka aku akan menikahimu, dengan atau tanpa persetujuanmu.”

Felly menganggukkan kepalanya. Ia pasrah, tentu saja. Satu hal yang ia inginkan saat ini. Semoga saja ia tidak akan hamil karena insiden kemarin malam. Karena Felly benar-benar tak ingin menikah dengan Raka hanya karena sebuah kecelakaan semalam.

“Jadi, kita baikan??” Tanya Raka kemudian.

Lagi-lagi Felly hanya mampu menganggukkan kepalanya. Lalu tanpa di duga Raka merengkuh tubuh Felly ke dalam pelukannya.

“Aku takut Fell..”

“Takut apa??”

“Takut kamu marah dan menjauhiku..” Lirih Raka. “Maafkan aku…” ucap Raka lagi sembari mengecup lembut puncak kepala Felly.

“Aku nggak akan bisa marah terlalu lama dengan kak Raka, lagian aku juga salah.”

Raka kemudian melepaskan pelukannya dari tubuh Felly. “Berikan tanganmu.” Ucap Raka kemudian.

Felly mengulurkan telapak tangannya pada Raka. “Untuk apa??”

Raka kemudian mengeluarkan sebuah kotak yang ternyata di dalamnya berisi sepasang cincin pernikahan. Dan itu membuat felly membulatkan matanya seketika.

“Kak.. ini….”

“Dengar, karena semua belum pasti, entah nanti kamu hamil atau tidak, maka dalam beberapa bulan kedepan, kamu tetap menjadi calon istriku.”

“Tapi ini nggak adil, Jason akan bertanya tentang cincin ini.”

“Aku juga memakainya, dan aku tidak keberatan jika Kirana bertanya.”

“Kak..”

“Please…  Aku hanya ingin bertanggung jawab. Aku janji, jika dalam beberapa bulan ke depan tak terjadi apapun pada kamu, kamu bisa melepaskan cincin ini.”

Felly kemudian menatap Raka dengan tatapan tak terbacanya. “Baiklah.” Ucapnya kemudian. Akhirnya Raka memasangkan cincin di jari manis Felly, begitupun dengan Felly yang memasangkan cincin di jari manis Raka.

Raka kemudian menatap Wajah Felly, menelusuri wajah tersebut. “Mata kamu bengkak.” Ucap Raka dengan sedikit menyunggingkan senyumannya.

“Ya, aku tidak berhenti menangis tadi.”

Raka kemudian kembali menelusuri wajah Felly dengan tatapannya. Tatapan mata Raka terpaku pada bibir ranum milik Felly. Bibir yang kemarin malam tak berhenti ia cumbu. Bibir yang astaga.. benar-benar sangat menggoda untuk di sentuh.

Raka menelan ludahnya dengan susah payah, kemudian mempalingkan wajahnya. “Aku pulang dulu, sudah malam.” Ucap Raka kemudian dengan suara serak tertahan. Kemudian Raka berdiri dan bersiap pergi dari kamar Felly.

“Kak..” Panggil Felly. Tanpa di duga, Felly memeluk tubuh Raka erat-erat. “Terimakasih. Karena kak Raka sudah mau menjadi kakakku.” Ucapnya kemudian.

Raka hanya menganggukkan kepalanya. ‘Jika aku boleh memilih, aku tak pernah ingin menjadi kakakmu. Karena aku hanya ingin menjadi suamimu…’ Ucap Raka dalam hati.

 

-to be continue-

Vote dan komen di tunggu yaa… sedikit info, setelah ini nggak akan ada updetan lagi yaa sampek minggu karena lebaran hehhehehe udah itu aja.. 

My Beloved Man – Chapter 2

Comments 3 Standard

mb1

My Brother

Kak Raka udah hadir Dear.. maaf kalo nggak sesuai dengan harapan kalian yakk ceritanya.. hahahhahaha

“Kalian sangat dekat ya..” Lirih Kirana.

“Tentu saja, dia adikku.”  Ucap Raka penuh penegasan.

Dan entah kenapa itu membuat Felly semakin menundukkan kepalanya. Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapannya?? Apa felly tak suka jika ia mengaggapnya sebagai adik?? Pikir Raka kemudian sambil mengamati sosok cantik yang berdiri di hadapannya.

*** 

 

Chapter 2

 

“Jadi.. Dia..” Felly membuka suara karena tak nyaman dengan keadaan di sekitarnya yang hening.

Saat ini ia sudah berada di dalam mobilnya dengan Raka yang mengemudi di sebelahnya. Sejak tadi mereka berdua diam, sibuk dengan pikiran masing-masing, suasana canggung tercipta begitu saja ketika keduanya saling berdiam diri.

“Dia kenapa?”

“Emm.. Kirana, Pacarnya kak Raka??”

“Sebut saja begitu.”Jawaban Raka benar-benar tak memuaskan untuk Felly. Astaga.. Apa tidak bisa lelaki itu menjawab pertanyaannya dengan jawaban iya atau tidak??

“Dia cantik, pantas sekali bersanding dengan kak Raka.”

“Aku tidak mencari wanita cantik.”

“Lalu, apa yang kak Raka cari??”

“Wanita yang mencintaiku dan mau menjadi ibu dari anak-anakku.” Meski di ucapkan dengan nada datar seperti biasanya, entah kenapa Felly merasakan sesuatu yang menggelitik hatinya.

“Emm. memangnya kak Raka belum menemukan wanita itu??”

“Belum.”

“Emmm.. kalau aku adalah wanita itu, apa kak Raka mau menikahiku??”

Tubuh Raka menegang seketika. Dengan spontan ia bahkan menginjak pedal rem membuat mobil yang mereka kendarai berhenti seketika. Raka menatap tajak ke arah Felly. Hanya beberapa detik keduanya saling melemparkan tatapan aneh masing-masing, hingga kemudian Felly kembali mencairkan suasana dengan tertawa lebar.

“Apa yang kamu tertawakan??”

“Kak Raka lucu.. Hahahha, aku kan cuma bercanda.” Ucap Felly dengan tertawa lebar.

“Nggak lucu.” Ucap Raka dengan datar, kemudian kembali menjalankan mobilnya. “Jika wanita itu kamu, maka aku akan menikahimu.”

Dan jawaban Raka tersebut mampu membuat jangtung Felly berdegup tak beraturan. Astaga, kenapa juga tadi ia menanyakan kalimat tersebut??

***

Akhirnya sampailah mereka di tempat yang di tuju. Sebuah Club mewah untuk kalangan atas, dan sepertinya club tersebut memang sudah di sewa oleh Jason dan teman-temannya, karena ketika mereka masuk ke dalam, suasana ramai dan sesak sudah memenuhi ruangan.

Tanpa canggung lagi Felly menarik sebelah tangan Raka untuk mengikutinya. Mereka masuk dan berkeliling mencari keberadaan Jason.

“Tempat ini nggak bagus untuk kamu.” Raka berkomentar masih dengan nada datarnya.

“Maka dari itu aku ngajak kak Raka kesini, supaya kak Raka menjagaku.”

“Kenapa tidak meminta Jason yang menjagamu?”

Felly kemudian menatap ke arah Raka. “Karena aku nggak pernah merasa aman dan nyaman dengan lelaki lain selain Kak Raka.”

Keduanya kemudian saling pandang cukup lama dengan kediaman masing-masing. Hingga kemudian kedatangan Jason menyadarkan keduanya.

“Baru sampai sayang??” sapa Jason yang langsung memeluk tubuh Felly tanpa canggung sedikitpun. Jason bahkan tak segan-segan mengecup singkat bibir Felly.

Felly sendiri mencoba melirik ke arah Raka, berharap jika lelaki itu menampakkan ekspresi kerasnya atau ekspresi lainnya, namun nyatanya, Felly hanya mampu menelan kekecewaan. Raka masih sama, berekspresi datar seakaan tak ada apapun yang mengusik hatinya.

“Kalau gitu aku tinggal dulu.” Ucap Raka dengan datar.

“Kak Raka mau kemana?”

“Aku cari minum dulu.” Dan tanpa permisi Raka pun pergi meninggalkan Felly dan juga Jason.

“Kenapa? Kamu kecewa dengan reaksinya?” tanya Jason dengan nada sinisnya.

“Lupakan saja.” Hanya itu jawaban Felly. Felly kemudian pergi dengan rasa kesal di hatinya, sedangkan Jason hanya mampu mengikuti kemanapun perginya wanita yang benar-benar di cintainya tersebut.

***

Raka menatap minuman di hadapannya, ia kemudian melirik ke arah bartender di hadapannya yang sejak tadi menatapnya.

“Maaf, tapi saya tidak memesan ini.” Ucap Raka dengan bartender tersebut.

“Di sini hanya ada minuman seperti itu.”

Raka sedikit menyunggingkan senyumannya. “Saya tidak pernah minum-minuman beralkohol.”

“Tapi untuk malam ini, di sini tidak ada minuman tanpa alkohol.” Jawab Bartender tersebut.

Raka menghela napas panjang. Sepertinya malam ini ia tidak akan minum. Tapi, bagaimana dengan Felly?? Ahhh Felly pastinya bisa menjaga diri supaya tidak minum-minuman seperti itu, pikirnya.

Saat Raka santai dalam duduknya, tiba-tiba saja ada dua orang wanita duduk di kursi sebelahnya sambil memesan minuman pada bartender tersebut. dua orang wanita itu tampak saling terkekeh satu sama lain sambil sesekali bercerita.

“Biar aja, biar mampus tuh si Felly.” Ucap seorang wanita dengan rambut pendeknya. Tubuh Raka menegang seketika ketika nama Felly di sebut. Memang nama Felly bukan hanya satu, tapi tetap saja Raka khawatir jika yang di bicarakan wanita-wanita itu adalah Felly yang ia maksud.

“Iya say, Astaga.. Gayanya sok alim banget. Nanti kalau dia sudah minum itu minuman, Gue jamin, si Jason bakalan jijik sama dia.” Ucap wanita yang lainnya.

Saat ini, Raka hampir memastikan jika Felly yang di maksud wanita-wanita itu adalah Fellynya.

“Memangnya lo kasih berapa tadi dosisnya?”

“Satu bungkus penuh. Hahahah.” Jawab wanita itu sembari terkekeh.

“Gila lo. Kalau segitu, Jason aja nggak akan mungkin bisa memuaskannya. Hahahahha.”

“Biar aja, biar Jason tau kalau Felly itu nggak sepolos yang di lihat. Hahhaha.”

Dan setelah ucapan wanita itu, Raka akhirnya segera berdiri dan bergegas mencari di mana keberadaan Felly dan Jason. Dari percakapan wanita-wanita tadi sudah jelas jika wanita-wanita tadi memiliki niat buruk pada Felly dengan mencampurkan sesuatu ke dalam minuman Felly. Ahh semoga saja Felly belum meminum minuman yang di maksudkan tersebut.

***

Felly merasakan ada yang aneh dengan dirinya. Tiba-tiba ia merasa gerah, padahal tadi ia tak merasa sepanas saat ini.

Felly memutuskan meminum-minuman di hadapannya hingga tandas, sedangkan Jason sendiri hanya menatap Felly dengan tatapan anehnya.

“Ada apa?” Tanya Jason sedikit bingung dengan sikap Felly, wajah Felly bahkan tampak merona.

Felly menggelengkan kepalanya. “Enggak, kayaknya ruangan ini panas banget.”

“Oh ya?? Perasaan kamu aja mungkin..”

Tapi kemudian tanpa di duga, Felly malah membuka lapisan luar gaun yang di kenakannya. “Iya, ini panas.” Ucapnya sambil berdiri dan bersiap keluar dari ruang tersebut.

Dengan cepat Jason berdiri lalu meraih sebelah tangan Felly dan menariknya hingga kemudian Felly terduduk di atas pangkuanya.

Felly menatap Jason dengan tatapan anehnya sedangkan Jason sendiri tampak asing dengan sikap Felly. Felly terlihat aneh, wanita itu kini bahkan sudah meraba halus pipinya.

“Fell.. kamu nggak apa-apa kan??” tanya Jason kemudian ketika ia sedikit tak nyaman dengan tingkah Felly.

“Kamu tampan.” Ucap Felly masih dengan menelusuri wajah Jason dengan jari jemarinya.

“Kamu aneh.” Hanya itu jawaban dari Jason, karena tak di pungkiri kalau kini ia mulai tergoda dengan sosok Felly.

Tanpa di duga, Felly mendaratkan bibirnya pada bibir Jason, mencium Jason dengan ciuman penuh gairah. Jason sendiri benar-benar tersentak dengan apa yang di lakukan Felly. Setaunya, Felly bukan tipe wanita seperti saat ini.

Jason mengenal Felly beberapa tahun yang lalu saat ia mengunjungi sebuah Pub dengan teman-temannya. Di sana ia bertemu dengan Felly yang ternyata adalah teman salah satu waiters di Pub tersebut.

Meski mereka kenal dari tempat seperti Pub, tapi Jason tahu jika Felly bukanlah gadis malam. Wanita itu adalah wanita baik-baik. Bahkan dari cara berpakaiannya pun Jason tahu.

Mereka kemudian saling berhubungan lewat telepon dan sosial media. Jason bahkan sering mengunjungi Felly ke toko ice cream dan cake milik Felly. Kemudian tak tahu kapan persisnya, Jason mulai memendam perasaan untuk Felly. Ia pikir wanita itupun demikian mengingat ia sama sekali tak pernah mendapat penolakan. Akhirnya Jason menyatakan cintanya pada Felly, tapi nyatanya, wanita itu menolaknya.

Felly beralasan jika ia mencintai lelaki lain. Dan dari cara Felly bercerita, Jason tahu jika lelaki itu adalah Raka, Kakak angkatnya. Hubungan merekapun akhirnya menjadi rumit saat itu, tapi kemudian Jason dengan setia mendekati Felly lagi dan lagi hingga kini hubungan mereka sudah jauh membaik bahkan kini bisa di bilang jika mereka sudah seperti orang yang sedang pacaran. Jason tahu jika Felly dekat dengannya hanya untuk membuat kakak angkatnya itu cemburu, tapi Jason cukup senang jika hal itu membuat dirinya dekat dengan Felly.

Tapi saat ini, Wanita yang berada diatas pangkuannya ini bukan seperti wanita yang di kenalnya dulu. Felly terlihat seperti wanita penggoda, wanita liar yang haus akan sentuhan. Tapi bagaimanapun keadaan Felly, Jason tentu tak dapat menolak wanita tersebut.

Jason membalas ciuman yang di berikan oleh Felly. Ia bahkan memberanikan diri menjalankan telapak tangannya pada tubuh Felly. Felly tampak tak menolak, wanita itu bahkan sesekali mengerang dalam cumbuannya dan itu membuat Jason semakin menggila. Kejantanannya kini bahkan menegang seketika. Ia menginginkan Felly saat ini juga.

Tapi belum juga Jason memperdalam ciumannya, sebuah tangan tiba-tiba menarik tubuh Felly. Menjauhkan wanita itu dari pangkuannya. Dan belum sempat Jason sadar, sebuah pukulan keras mendarat di wajahnya. Membuat tubuhnya jatuh terjungkal di atas lantai.

“Brengsek..!!!” ucap lelaki itu yang Jason tau adalah Raka, Kakak angkat Felly. Raka tak langsung pergi, lelaki itu malah memukulinya lagi dan lagi hingga kemudian beberapa orang menarik tubuh Raka menjauh darinya.

Raka menatap Jason dengan tatapan membunuhnya. Kemudian tanpa banyak bicara lagi ia menarik tangan Felly dan mengajak wanita itu pergi dari tempat tersebut.

***

Raka mencengkeram erat kemudi mobil yang di kendarainya. Sesekali ia melirik ke arah Felly yang benar-benar sudah berubah. Wanita itu tak berhenti menggeliat kesana kemari, bahkan sesekali Felly mendesah dan itu benar-benar membuat Raka frustasi.

Raka menghentikan mobilnya, di tatapnya kulit Felly yang memerah. Mata wanita tersebut bahkan terlihat berkabut.

“Kamu nggak apa-apa kan??” tanya Raka dengan lembut sambil mengusap pipi Felly dengan jemarinya.

“Aku.. Panas…” Ucap Felly dengan sedikit mengerang.

“Aku harus gimana??” Ucap Raka pada dirinya sendiri. Raka memejamkan matanya dengan frustasi. Ia kemudian meraih sebelah tangan Felly dan mengecupnya lembut. “Maafkan aku.” Ucapnya. Kemudian Raka kembali mengemudikan mobilnya. Bukan ke arah pulang, tapi ke arah hotel terdekat.

***

Dengan memerah Raka menerima kunci kamar hotel dari resepsionis. Bukannya apa-apa, tapi ini memang pertama kalinya Raka membawa seorang wanita menginap di sebuah Hotel, apa lagi jika mengingat rencananya malam ini, Jantung Raka tak bisa berhenti berdegup kencang.

Malam ini Rencananya ia akan memiliki tubuh felly seutuhnya. Bukan tanpa alasan, selain karena ia tidak ingin melihat Felly kesakitan seperti saat ini, ia juga ingin mengikat diri Felly supaya menjadi miliknya seutuhnya.

Raka menatap Felly dengan tatapan sendunya. ‘Maafkan kak Raka… Mungkin setelah malam ini kamu akan membenci kak Raka, tapi kak Raka melakukan semua ini karena Kak Raka mencintaimu, tak bisa jauh darimu, ingin memilikimu dan mengikatmu menjadi milik kak Raka.’ Lirih Raka dalam hati ketia ia menatap Felly saat berada di dalam sebuah lift.

Lift akhirnya berhenti di lantai kamar yang di pesan oleh Raka. Mereka keluar dari Lift dan mencari kamar dengan nomor 202. Setelah ketemu, dengan gugup Raka masuk bersama dengan Felly yang sejak tadi memang sudah bergelayut dalam lengannya.

Setelah masuk dan menutup pintu, dengan gugup Raka menatap ke arah Felly, menelusuri tubuh wanita itu dengan tatapan matanya. Raka benar-benar tak tau apa yang harus ia lakukan karena ia pun baru pertama kali melakukannya.

Tapi tanpa di duga tiba-tiba saja Felly mengalungkan lengannya pada leher Raka dan itu benar-benar membuat Raka sedikit terkejut. Tubuh Raka menegang seketika saat bibir mungil milik Felly menyapu bibirnya. Raka hanya dapat membatu, tubuhnya seakan kaku mendapat perlakuan tersebut dari Felly, wanita yang sangat di cintainya.

Felly melumat bibirnya penuh gairah, wanita itu juga tak segan-segan lagi mengacak-acak tatanan rambut Raka dengan jemarinya. Felly kini bahkan bergerak menggesekkan pinggulnya tepat pada kejantanan Raka dan itu membuat Raka semakin menegang.

Dengan spontan Raka membalas ciuman Felly dengan ciuman lembutnya. Tangan Raka kini bahkan sudah menarik tubuh Felly hingga menempel seutuhnya pada tubuhnya. Astaga.. Raka bahkan tak pernah membayangkan jika ia akan melakukan hal ini terhadap Felly. Ia sangat mencintai Felly dan juga sangat menghormati wanita tersebut, tapi kini ia tak bisa menutup mata jika dirinya juga ingin memiliki Felly seutuhnya.

“Maafkan aku..” Ucap Raka ketika melucuti satu persatu kain yang menempel pada tubuh Felly hingga wanita tersebut polos tanpa sehelai benang pun.

Dengan cekatan Felly bahkan membantu Raka membuka satu persatu kancing kemeja yang melekat pada tubuh lelaki tersebut. Felly tak berhenti menggerakkan tubuhnya menggoda Raka, menggeliat kesana kemari seakan ingin di sentuh.

Setelah keduanya sudah sama-sama polos. Felly kembali menempelkan tubuhnya pada tubuh Raka, sedangkan Raka masih dengan kekakuannya mencoba menyentuh tubuh Felly. Lagi-lagi Felly mengalungkan lengannya pada leher Raka, ia kemudian berjinjit seakan mencoba menggapai bibir lelaki tersebut. Raka yang melihatnya hanya mampu tersenyum, Felly benar-benar  menggoda, dan Raka mengaku jika kini dirinya sudah tergoda dengan tingkah Felly.

Raka menundukkan kepalanya hingga wajahnya mendekat tepat pada wajah Felly. Ia kemudian berkata dengan lembut di sana.

“Maafkan aku..” hanya itu yang di ucapkan Raka.

“Kenapa minta maaf?” Felly yang sudah setengah sadar dengan mata berkabutnya hanya mampu mengucapkan pertanyaan tersebut.

Raka mengusap lembut bibir milik Felly. “Bencilah aku setelah ini. Tapi ku mohon, jangan jauhi aku..” ucap Raka dengan parau kemudian mendaratkan bibirnya pada bibir Felly. Melumatnya lembut penuh gairah hingga Raka seakan dapat kehilangan kendali saat melumat bibir Felly.

Sedikit demi sedikit Raka mendorong tubuh Felly hingga keduanya jatuh di atas ranjang. Felly sendiri semakin menggila ketika dirinya berada di bawah tindihan Raka. Ia kembali menggeliat kesana kemari sambi sesekali menempelkan pusat dirinya pada kejantanan Raka.

Pun dengan  Raka yang sudah tak dapat mengendalikan diri lagi. Sesuatu di dalam dirinya seakan di bangunkan oleh Felly, sesuatu yang tentu saja bukan dirinya sendiri. Raka merasa sangat bergairah seakan tak dapat menahan hasrat yang selama ini mampu ia pendam. Kini ia bahkan sudah berani menggoda kedua puncak payudara milik Felly, menggodanya, memberi tanda di sana jika mereka adalah miliknya.

Felly mengerang, mendesah tak karuan  seakan ia ingin di puaskan saat ini juga ketika jari jemari Raka mulai menyentuh pusat dirinya, memainkannya sedangkan bibir Raka tak berhenti mengulum puncak payudaranya.

“Arrgghhh…” Erangan Felly benar-benar membangkitkan gairah Raka, dan Raka seakan sudah tak dapat menahannya lagi.

Raka memposisikan dirinya untuk menyatu dengan Felly, di lihatnya Felly yang seakan sudah tak sadar dengan apa yang ia lakukan. Wanita itu masih tak berhenti menggeliat seakan ingin di sentuh dan di puaskan.

Berkali-kali Raka mencoba menyatukan diri tapi penghalang itu terasa sangat nyata. Kini Felly bahkan tak berhenti merintih karena tidak nyaman. Raka kembali membungkukkan tubuhnya kemudian melumat kembali bibir Felly, membuat wanita tersebut kembali rileks.

“Jangan tegang, aku nggak akan menyakitimu.” Ucap Raka dengan lembut. Raka kemudian kembali melumat bibir Felly lalu berbisik lagi di sana. “Maafkan aku… Maafkan aku..” Raka kembali mengucapkan kalimat tersebut sambil menghujamkan dirinya hingga menyatu sepenuhnya dengan tubuh Felly.

Fellypun mengerang kesakitan sedang Raka sendiri tak dapat berbuat banyak selain kembali mencumbu bibir ranum milik Felly sambil sesekali berucap dalam hati.

‘Maafkan aku… Maafkan aku…’

 

-To Be Continue-

Adakah yg masih mau nunggu cerita ini? huaahahahahah

My Beloved Man – Chapter 1

Comments 5 Standard

mb1

My Brother

 

Note :  My Brother adalah Novel garapanku yang ku adaptasi dari fansfic korea Oneshoot ku yang berjudul “Oppa..!!!” (Kakak). di oneshoot sendiri terdiri dari “Oppa.!!” #1 dan “Oppa..!!!” #2. hanya saja yang aku share baru yang Oppa..!! #1 aja. jika di tanya akan beda atau engga jawabannya akan sangat beda sekali. Oneshoot hanya terdiri dari satu part, itu pun bolong2 plotnya, tapi di sini akan ku bahas secara tuntas. Untuk Genre sendiri “My Brother” ini akan sama dengan “My Young Wife” (MBA #1). kisahnya tentang sepasang suami istri yang harus menikah karena ‘kecelakaan’ semalam. Bedanya, jika Aldo dan Sienna awalnya tak saling Cinta, maka Raka dan Felly ini kebalikannya, mereka udah saling cinta tapi keadaan yang membuat keduanya saling berjauhan. hemmm gimana yaa lanjutannya?? semoga aku bisa membuat kisah ini lebih menarik lagi dari Seri pertama Married By Accident (My Young Wife) yaa….

 

Chapter 1

 

Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Raka bergegas turun untuk makan malam bersama ibu dan adiknya. Malam ini Felly memasak di rumahnya, pasti gadis itu kini sedang menunggunya untuk makan malam bersama. Mengingat itu, Raka tersenyum, senyum yang sangat jarang sekali terlihat di wajah tampannya.

Raka menuruni anak tangga dan benar saja, di ruang makan terlihat sang ibu seang sibuk menyiapkan makan malam bersama dengan wanita pujaan hatinya, siapa lagi jika bukan Felly.

“Hei.. Kak Raka ayo sini.”

Felly menghambur ke arah Raka kemudian menarik lengang Raka menuju ke meja makan. Sedangkan Raka sendiri hanya mengikuti Felly dengan wajah datarnya.

“Aku tadi belajar buat Gurami asam manis, cobain deh..” Ucap Felly pada Raka sambil mengambilkan Gurami asam manis buatannya di piring Raka.

Raka hanya diam, kemudian ia mencicipi Gurami tersebut. “Ini enak.” Hanya itu yang di ucapkannya.

Bukannya senang, Felly malah memanyunkan bibirnya. “Apa nggak ada kata lain selain dua kata itu??” Tanya Felly dengan kesal.

Tentu saja Felly kesal. Berapa kali pun ia memasakan makanan untuk Raka -bahkan masakan yang tak di sukai lelaki tersebut- Raka hanya akan mengomentari dengan dua kata , ‘Ini Enak.’ Dan itu membuat Felly tak suka.

“Ini memang enak.” Jawab Raka lagi.

Felly kemudian duduk di kursi sebelah Raka. “Terserah Kakak saja deh.” Gerutu Felly kemudian.

Sedangkan Raka sendiri berusaha tak terpengaruh dengan kedekatan yang di ciptakan Felly. “Lili mana Bu?” Taya Raka mencoba menglihkan pembicaraan.

“Dia keluar. Adikmu itu memang sulit sekali di atur.” Gerutu ibunya.

Raka hanya menganggukkan kepalanya. Lili memang selalu pergi saat ada Felly di rumah mereka. Entah alasannya apa, Raka sendiri tak tau, yang Raka tau adalah adiknya tersebut sangat membenci seorang Felly.

“Bagaimana toko ice cream mu?” tanya Raka pada Felly yang seketika itu juga membuat Felly mengangkat wajahnya menatap ke arah Raka.

“Seperti biasa, ramai dan menyenangkan.” Jawab Felly sambil tersenyum riang.

“Baguslah.” Dan hanya itu jawaban dari Raka.

Raka memang selalu kaku, datar dan jarang sekali menampilkan ekspresi-ekpresi di wajahnya. Dan itu membuat Felly tak suka. Felly sangat sulit sekali menebak apa yang terjadi dengan lelaki itu.

***

“Kak, akhir minggi ini temani aku ya.” Ucap Felly yang saat ini sudah duduk di ayunan di halaman depan rumah Raka.

“Temani kemana??”

“Teman Jason ada yang ulang tahun, dan mereka merayakannya di salah satu club elit di kota ini. Jason juga akan tampil di sana nanti, aku hanya nggak mau terlihat bodoh karena sendirian di sana.” Jelas Felly.

Saat ini Felly memang sudah memiliki kekasih. Jason, lelaki tampan dengan profesinya sebagai anak Band adalah kekasihnya. Dan Raka tau itu.

“Aku nggak bisa janji, pekerjaan di kantor numpuk.”

“Ayolah Kak..” Felly merengek di lengan Raka. Raka memang sudah seperti kakaknya sendiri dan itu membuat Felly tak malu-malu lagi merengek manja pada lelaki itu, tapi kadang, di beberapa titik, Felly merasa canggung bahkan hanya karena tatapan mata Raka padanya.

“Ayahmu mengangkatku menjadi wakil direktur.” Jelas Raka yang kemudian membuat Felly membelalakkan matanya.

“Kak Raka nggak bercanda kan??” tanya Felly dengan nada tak percayanya, sedangkan Raka sendiri hanya mampu menganggukkan kepalanya.

“Aku juga tak habis pikir, kenapa posisi sepenting itu bisa di berikan padaku, aku, Aku merasa tak pantas.” Ucap Raka sambil menundukkan kepalanya.

“Mungkin Papa memiliki alasan lain hingga Kak Raka pantas menduduki posisi itu.”

Raka menghela napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi ayunan. “Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan Om Revan.”

Raka memang tak habis pikir dengan Om Revan, lelaki yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri itu sudah kelewat baik dengannya dan juga keluarganya. Om Revan menyekolahkannya dan juga adiknya hingga sarjana. Memberinya kedudukan penting di kantor, memberikannya rumah tepat di seberang rumah mereka, dan masih banyak lagi kebaikan ayah Felly tersebut hingga Raka yakin jika dirinya tak akan mampu untuk membalas budi lelaki tersebut.

“Papa tau apa yang dia lakukan. Dan aku percaya kalau Kak Raka bisa bertanggung jawab dengan baik pada tugas-tugas kak Raka..”

Raka menganggukkan kepalanya. “Semoga saja.”

***

“Aku balik dulu.” Kata Raka yang saat ini sudah mengantar Felly sampai di halaman rumah gadis itu.

Walau rumah mereka berseberangan, Raka selalu megantar Felly pulang sampai halaman rumah gadis itu ketika Felly datang berkunjung ke rumahnya.

“Iya.” Hanya itu jawaban Felly. Entah kenapa suasana di sekitar mereka jadi terasa canggung. “Em.. jangan lupa antar aku akhir minggu nanti.” Ucap Felly mengingatkan.

“Aku nggak janji.”

“Ayolah, tadi kita sudah sepakat.”

Raka menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan mengantarmu.”

Dan Felly pun bersorak gembira. Ia sangat senang ke pesta tersebut dengan Raka. Dan itu artinya nanti Raka akan benyak melihat kemesraannya dengan Jason. Felly benar-benar tidak sabar melihat kejadian itu nanti.

***

Felly melemparkan dirinya ke Ranjang besarnya. Ia menggulingkan tubuhnya kesana ke mari seperti anak remaja yang sedang di mabuk asmara.

Kak Raka….

Astaga.. bagaimana mungkin perasannya pada lelaki itu tak pernah surut sedikitpun?? Ia bahkan sudah mencoba berbagai macam cara, mulai dari berpacaran dengan lelaki lain, menghindar hingga tinggal di sebuah kontrakan kecil untuk melupakan lelaki tersebut. tapi hasilnya nihil. Bayangan sosok Raka selalu saja menghantuinya.

Araka Andriano. Lelaki yang usianya lima tahun lebih tuaa dari pada dirinya. Lelaki yang harus ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Dan lelaki yang sudah membuatnya jatuh cinta.

Felly tak tau kapan persisnya, hanya saja Felly merasakan jika perasaanya kian hari kian membumbung tinggi.

Lelaki itu tak pernah menampilkan ekpresi di wajahnya, dan itu membuat Felly semakin sulit membaca apa yang sedang di rasakan lelaki tersebut.

Raka selalu bersikap tenang dan datar. Beberapa kali Felly bahkan mencoba memncing kecemburuan Raka dengan mengenalkan Raka pada beberapa kekasihnya, tapi nyatanya lelaki itu masih tenang dan datar-datar saja tanpa ekspresi seperti biasanya. Apa Raka memang tak memiliki rasa apapun padanya?? Apa semua perhatian Raka selama ini hanya perhatian seorang kakak kepada adiknya??

Ayolah.. tentu saja Fell, Kau hanya terlalu bodoh untuk mengartikan semua itu. Rutuk Felly pada dirinya sendiri.

Pada saat yang bersamaan, Felly mendengar ponselnya berbunyi. Secepat kilat Felly meraih Ponselnya di nakas. Ternyata itu Jason, lelaki yang sudah hampir satu tahun ini di pacarinya.

Jason sendiri adalah seorang anak Band. Ia tak sengaja bertemu dengan lelaki itu saat mengunjungi Alisha, teman satu kontrakannya dulu ketika kerja menjadi waiters di sebuah Pub. Hubungan keduanya berjalan lancar saat ini. Beberapa kali Felly bahkan mengajak Jason main ke rumahnya dan dengan sengaja mengenalkannya dengan Raka, nyatanya, Raka masih sama saja, datar tanpa ekspresi sedikitpun.

“Halo Jase.”

“Hai sayang, sudah tidur??”

“Belum.”

“Mau ku nyanyikan sesuatu??”

Felly tersenyum. “Aku tidak memiliki uang lebih untuk membayar suara emasmu, Jase.”

“Kamu hanya perlu membayar dengan kecupan, karena aku ingin di kecup malam ini.” Ucap Jason dengan nada penuh menggoda.

“Oke, sepertinya mendengar suaramu bukanlah hal yang buruk.”

“Mau lagu apa?”

“Apapun yang membuatmu nyaman menyanyikannya.”

“Oke, aku akan memulainya.”

Kemudian tak lama Felly mendengar suara Piano dari seberang. Astaga… Jason bernyanyi untuknya dengan piano??

 

Saat ku ingat.. dirimu.. Betapa berat.. ku meninggalkanmu..

Sadarkah dirimu.. apa yang engkau lakukan.. padaku…

Haruskah aku.. terdiam slalu.. melihat semua lakumu…

Bila… ku harus.. meninggalkan dirimu..

Aku.. tak bisa.. bertahan… untukmu..

Tolonglah.. aku.. bila engkau masih.. mencintaiku….

Tolonglah…

 

Batman – Tak Bisa Bertahan

 

Hening, saat Jason selesai menyanyikan lagunya. Felly merasakan sesuatu yang menggelitik hatinya, entahlah, Jason memang sering sekali menyanyikan lagu untukknya, tapi kali ini sedikit berbeda. Lelaki itu memilikan lagu yang terdengar sedih di telinganya.

“Fell.. kamu masih di sana kan?”

“Ah.. Ya.. aku di sini.”

“Kenapa diam?”

“Aku mengantuk Jase.” Ucap Felly kemudian. Ia hanya terlalu sibuk mengatur debaran jantungnya yang entah kenapa bisa berdebar saat setelah Jason menyanyikan lagu untuknya.

“Tidurlah kalau begitu.. Sweet dream honey..” Ucap Jason kemudian.

“Jase..” Panggil Felly cepat. “Emmuachh.. itu bayaranmu.” Ucap Felly kemudian menutup teleponnya cepat sebelum Jason sempat membalasnya.

Jantung Felly memompa lebih cepat dari sebelumnya. Belum pernah ia merasakan perasaan seperti saat ini dengan lelaki lain selain Raka. Ya, memang hanya Raka yang selalu menjungkir balikkan perasaannya, namun Jason malam ini entah kenapa sedikit mempengaruhinya. Mungkinkah ia mulai membuka hati untuk lelaki lain selain Raka??

Ponselnya kembali berbunyi. Felly tau jika itu pesan dari Jason. Di bukanya pesan tersebut dan itu membuat Felly semakin bingung dengan perasaannya sendiri.

Jason : ‘Aku sayang kamu Fell, dan akan selalu menunggumu sampai kapanpun.’

***

Hari itu akhirnya datang juga. Hari di mana Felly berdandan dengan cantiknya untuk menghadiri pesta ulang tahun dari teman Jason. Anehnya, ia berdandan seperti itu bukan untuk Jason atau teman-temannya, tapi untuk lelaki yang nanti mengantarnya ke pesta tersebut, siapa lagi jika bukan Raka, Kakaknya.

Felly menatap ke jendela kamarnya yang langsung berhadapan dengan rumah Raka. Mobil lelaki itu belum terparkir di halaman rumahnya, berarti Raka belum pulang dari kantor. Dan Felly hanya bisa menunggu di sana seperti biasanya.

Felly memang sering sekali melakukan hal tersebut. mengawasi Raka dari kamarnya. Kadang lelaki itu sibuk mencuci mobilnya, kadang sibuk berolah raga,dan masih banyak lagi yang dapat Felly lihat dari jendela kamarnya. Bukannya bosan, hal-hal seperti itu membuat Felly jatuh semakin dalam pada pesona lelaki yang harus di anggapnya sebagai kakak tersebut.

Tak lama, Felly melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah Raka. Felly mengernyit karena belum pernah melihat mobil tersebut sebelumnya. Dan ternyata, Raka keluar dari sana di ikuti oleh seorang wanita cantik dengan penampilan rapinya. Siapa wanita tersebut??

Wanita itu terlihat akrab dengan Raka, bahkan wanita tersebut ikut masuk ke dalam rumah Raka. Apa mereka ada hubungan spesial?? Mengingat itu Felly merasa sesak di dadanya.

Dengan cepat Felly berdiri dan bergegas menuju ke rumah Raka. Ia ingin mencari tau siapa wanita tersebut.

***

Felly lantas masuk begitu saja ke dalam rumah Raka. Ia tau jika Tante Mirna –ibu Raka- tidak pernah mengunci pintu depan rumahnya.

“Wah.. terimakasih sekali nak Kirana sudah mau membawakan tante kue ini.” Samar-samar Felly mendengar suara tante Mirna berbicara dengan seseorang.

“Tentu Tante, Raka bilang kalau Tante sangat suka dengan Blackforest, jadi kemarin saya coba buatkan.”

“Emm.. Ini rasanya enak.”

“Kirana memang pandai masak Bu.”

Felly masih saja menguping pembicaraan tersebut, sesekali mengintip kejadian di dapur rumah Raka.

“Sedang apa Lo di sini?” suara tidak bersahabat itu membuat Felly terlonjak dari tempatnya.

Itu Lili, adik dari Raka. “Oh, Hai.. baru pulang Li?” sapa Felly dengan ramah.

“Nggak usah sok ramah, ngapain lo di situ?”

“Emm.. Aku.. Aku..”

“Felly, kamu di sini?” Tanya Raka yang sudah berdiri tak jauh dari tempat Felly dan Lili berdiri berhadapan.

“Ahh.. iya Kak, tadi aku mau ingatin kak Raka tentang acara ulang tahun teman Jason.”

Raka mengangguk. “Masuklah.” Ajak raka kemudian sedangkan Lili sendiri sudah masuk tanpa menghiraukan keberadaan Felly.

“Ohh Felly di sini juga ternyata.” Ucap tante Mirna saat mengetahui ada Felly yang datang.

“Aku mandi dulu, tunggu saja di sini.” Ucap Raka pada Felly. “Ki, terimakasih tumpangannya, ku tinggal dulu.” Raka kemudian berujar pada wanita yang berdiri di sebelah ibunya.

“Oke.” Jawab Wanita itu kemdian. Akhirnya Raka pun bergegas pergi masuk ke dalam kamarnya.

“Kemarilah sayang, kenalkan ini Kirana, teman kak Raka.”  Tante Mirna manarik tangan Felly supaya mendekat ke arah mereka.

“Dan Nak Kirana, ini Felly, Adik Raka yang lainnya selain Lili.”

“Adik??” Tanya Kirana sedikit tak mengerti.

“Iya, Adik.” Hanya itu jawaban Ibu Raka. Dan Kirana hanya menganggukkan kepalanya.

***

Raka keluar dari kamarnya dengan pakaian rapinya. Malam ini ia akan mengantarkan Felly ke tempat ulang tahun teman Jason. Itu artinya ia harus ekstra sabar melihat Felly dan Jason dalam waktu yang lama.

Dadanya terasa berdenyut nyeri ketika mengingat saat-saat Ia melihat kedekatan Felly dengan lelaki lain. Ia tidak suka, tentu saja, tapi apa haknya untuk tidak suka??

Felly malam ini terlihat begitu cantik di matanya. Mengenakan gaun pendek yang membuat gadis itu lebih dewasa dari umurnya. Jantungnya kembali berdebar tak menentu. Dan Astaga.. selalu saja seperti itu ketika ia berada di dekat seorang Fellysia Puteri Revano.

“Kak Raka sudah siap??” pertanyaan Felly membuyarkan lamunan Raka.

Di lihatnya wanita di hadapannya tersebut yang Astaga.. membuat nalurinya sebagai seorang lelaki terbangun seketika.

“Ya.” Hanya itu yang dapat Raka katakan mengingat dirinya leih sibuk mengatur ketegangan di dalam dirinya sendiri.

“Kamu mau pergi Ka??” Kirana, teman sekantornya tersebut akhirnya ikut menghampirinya dan menyapanya.

Kirana adalah wanita tiga tahun lebih muda dari pada dirinya. Wanita yang sangat perhatian padanya, dan juga pacar bohongannya.

“Ahh.. ya, Kamu masih di sini? Ku pikir kamu sudah pulang.”

“Aku nunggu kamu.” Ucap Kirana kemudian. “Jadi, kamu mau ngantar dia?” tanya Kirana sambil melirik ke arah Felly.

“Ya, aku akan mengantarnya.”

“Kalin sangat dekat ya..” Lirih Kirana.

“Tentu saja, dia adikku.”  Ucap Raka penuh penegasan.

Dan entah kenapa itu membuat Felly semakin menundukkan kepalanya. Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapannya?? Apa felly tak suka jika ia mengaggapnya sebagai adik?? Pikir Raka kemudian sambil mengamati sosok cantik yang berdiri di hadapannya.

 

-To Be Continue-

Chapter selanjutnya harap sabar yaa.. huehehehhehe

My Beloved Man – Prolog

Comments 5 Standard

mb1

My Brother

 

Tittle  :  My Brother

Cast  :  Fellysia Puteri Revano (Felly)

             Araka Andriano (Raka)

Genre :  Roman Dewasa

Seri   :   Married By Accident  #2 

Sekuel  :  Please Stay With Me

 

 

Prolog

 

-Raka-

Aku berjalan masuk ke dalam sebuah rumah besar yang terlihat sangat mewah. Ibu masih setia menggenggam telapak tangan kiriku. Sedangkan satu tangannya menggenggam telapak tangan Adikku, Liliana.

Lili aku biasa memanggilnya. Adik yang usianya Lima tahun lebih muda dariku. Dia gadis mungil dengan wajah cantiknya,. Adikku satu-satunya dan aku sangat menyayanginya.

Seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan kami dengan sangat ramah. Di belakangnya aku melihat seorang lelaki yang masih tampan di usianya yang sudah tak muda lagi.

“Halo.. Ini pasti Raka ya??” tanya lelaki itu  tepat di hadapanku. Sedangkan aku hanya mampu menganggukkan kepalaku. “Saya Om Revan.” Ucapnya lagi memperkenalkan diri.

“Mas, ajak mereka duduk dulu yuk..” Wanita cantik itu akhirnya mempersilahkan kami masuk dan duduk di sebuah sofa besar yang sangat bagus.

“Raka, kemarilah.”  Orang yang memperkenalkan diri sebagai Om Revan itu menyuruhku ke arahnya. Aku menatap ke arah ibuku. Dan ibuku menganggukkan kepalanya. Akhirnya aku melangkah ke arah Om Revan.

Om Revan kemudian menepuk bahuku. “Kamu kelas berapa??” Tanya Om Revan padaku.

“Kelas satu SMA Om.”

Om Revan tersenyum. “Adikmu??” tanyanya lagi sambil menatap ke arah Lili.

“Kelas Lima SD Om.”

Om Revan kembali tersenyum. “Baiklah, mulai saat ini kamu akan pindah ke sekolah yang lebih bagus lagi. Sedangkan adikmu akan pindah ke sekolah yang sama dengan sekolahan puteri Om.”

“Kenapa kami harus pindah Om?”

“Karena mulai saat ini, kita adalah keluarga besar. Kamu dan adikmu sudah Om anggap sebagai putera dan puteri Om.”

Pada saat bersamaan aku melihat seorang gadis  muda seumuran dengan Lili turun dari anak tangga. Aku menatapnya dengan ternganga, mengagumi kecantikan yang terpahat sempurna di wajah gadis tersebut.

“Itu puteri Om satu-satunya. Namanya Felly, dia sekarang sudah menjadi adikmu juga.” Ucap Om Revan.

Gadis yang bernama Felly itu datang menghampiriku. Lalu bertanya pada ayahnya.

“Papa, dia kah kakak yang papa bicarakan waktu itu??” tanyanya dengan suara manjanya.

“Ya, Dialah Kakak barumu. Dan kamu sekarang juga punya teman sebaya, itu, namanya Lili.” Ucap Om Revan sambil menunjuk ke arah Lili, Adikku.

Gadis yang bernama Felly itu menatapku dengan mata berbinar bahagia. Seakan mata itu takjub menatapku. Kemudian aku melihatnya mengulurkan jari jemari mungilnya padaku.

“Halo Kak, ku harap kakak mau menjadi kakak yang baik untukku.” Ucapnya sambil menyunggingkan senyuman manisnya.

Aku mengangguk dan menyambut uluran tangan itu. Dan pertama kali aku merasakan jantungku berdegup kencang ketika tanganku menyentuh kulit lembutnya.

 

Itulah pertama kali aku melihatnya. Melihat seorang Fellysia Puteri Revano kecil datang menghampiriku, kemudian mengulurkan tangannya padaku, seakan menuntutku menjadi kakak yang baik untuknya.

Tapi aku gagal….

Ya, Aku gagal menjadi kakak yang baik untuknya. Karena nyatanya aku tak pernah menatapnya sebagai adikku. Aku menatapnya sebgai wanita yang ku cintai, sejak usiaku lima belas tahun hingga kini usiaku yang sudah menginjak kepala tiga.

“Apa yang kamu lihat Ka??” Tanya ibu yang kemudian mengagetkanku dari lamunan.

“Ah, enggak Bu.”

Aku melihat ibuku menggelengkan kepalanya. “Kamu selalu menatapnya seperti itu Ka, sejak dulu.” Ucap ibu lagi.

“Menatap siapa Bu?” tanyaku dengan memasang wajah bingung.

“Dia.” Ucap ibu sambil menunjuk seorang gadis yang sedang sibuk membuat sesuatu di dapur rumah kami. Gadis itu adalah Felly. Ya, Felly memang sering masak di rumah kami.

“Emm memangnya aku menatapnya seperti apa Bu??”

Ibu menatapku kemudian mengambil Jas yang berada pada lenganku lalu merapikan kemejaku yang sudah sedikit kusut sambil berkata. “Menatap seakan-akan hanya dia satu-satunya wanita di dunia ini yang membuatmu bisa bernapas dan melanjutkan hidup.”

Aku membulatkan mataku seketika. Ibu tau aku menyukai Felly?? Secepat kilat aku menyunggingkan senyumanku. “Ibu ada-ada saja. Dia adikku.” Ucapku sambil bersiap meninggalkan Ibu.

“Bukan Raka, Felly bukan Adik kamu. Kamu hanya memiliki satu adik, dia Lili, bukan Felly. Dan kamu tidak perlu takut menyukainya.”

Ucapan ibu membuatku membatu seketika. Benarkah jika aku boleh menyukainya?? Jika perasaan ini bukanlah perasaan yang salah terhadapnya?? Lalu apa yang akan kulakukan selanjutnya? Haruskan aku memperjuangkan cintaku dan menjadikan Felly sebagai wanitaku? Atau haruskan aku mengalah dengan keadaan dan membiarkannya hanya menjadi Adik bagiku??

 

-TBC-

Gimana Prolognya?? harusnya aku nggak share dulu, hehhehe tapi pengen tau aja gimana reaksi kalian wkwkwkkwkwk ehh yaa Betewe aku baru share di Blog doang, untuk Wattpad aku nggak yakin, untuk di FB, emmm sabar yaa,.,.nanti aja.. hahahhaha happy waiting… 😉 

 

nina-dobrev-esquire-2012-08

 

Fellysia Puteri Revano

 

sean-opry-videoclip-taylor-swift-blank-space-7

Araka Andriano