My Beautiful The Witch – Chapter 3

Comments 7 Standard

MbtwMy Beautiful The Witch

Note : Tinggalkan Logika kalian jika ingin membaca cerita ini…. dan mari masuk kedalam imajinasi dan fantasi Author Gaje yaakk… Karena udah terlalu lama nggak Update cerita ini maka aku kasih cuplikan Chapter sebelumnya yaa…

*Cuplikan Chapter 2

”Robb, kenalkan Dia Elaine, ibuku. Dan ibu, Dia Robbin William, Lelaki yang sudah menolongku.”

Keduanya akirnya saling bersalaman. Ketika kulit Elaine menyentuh permukaan kulit Robbin, Bayangan akan sesuatu muncul begitu saja dalam kepala Elaine.

“Kekuatan… Keabadian… Tak Tertandingi…” Racau Elaine seperti seorang yang sedang meramal sesuatu.

Ellieora dan Robbin saling bertatap mata seakan-akan menyatakan jika mereka berdua sama-sama tak mengerti dengan apa yang dikatakan Elaine.

“Apa Kau seorang Penyihir?” tanya Elaine tanpa basa-basi kepada Robbin.

“Tidak, Saya hanya manusia biasa.” Jawab Robbin dengan tegas.

“Tidak Nak.. Kau bukan manusia Biasa..” Kata Elaine sambil sedikit tersenyum lalu masuk kedalaam pondoknyaa tanpa berpamitan dengan Elliora dan Robbin.

Sedangkan Robbin dan Ellieora saling pandang dengan tatapan tanda tanyanya masing-masing. Apa yang dimaksud dengan perkataan Elaine tadi?? Benarkah Robbin bukan manusia biasa??

***

Chapter 3

 

Ellieora mengikuti Elaine masuk kedalam rumah meninggalkan Robbin sendiri di ruang tengah. Ellieora cukup penasaran dengan apa yang dikatakan ibunya tadi saat pertama kali bertemu dengan Robbin.

Yaa… Elaine sebenarnya merupakan seorang penyihir putih yang Hebat. Umur nya sudah lebih dari ratusan tahun, namun Ia masih tampak muda bahkan cocok di sebut dengan Kakak Ellieora. Elaine menguasai berbagai macam mantera penyihir, berbagai macam cara meramu berbagai macam ramuan, dan juga pandai meramal seseorang hanya dengan bersentuhan atau menatap mata orang tersebut. Tak heran Jika Elaine di sebut sebagai penyihir putih terhebat yang pernah ada.

“Ibu.. apa yang kau bicarakan tentang Robb tadi??” Tanya Ellieora yang tentunya sangat penasaran dengan apa maksud dari sang Ibu.

“Ellie, Kau tentu tau jika dia bukan manusia biasa.”

“Dia manusia biasa Ibu, mungkin hanya matanya saja yang sedikit berbeda dan sama dengan kaum kita.”

“Tidak Ellie, Aku bisa merasakannya.”

“Ibu, dia tadi menolongku, dan tak sedikitpun dia merapalkan Mantera aneh atau mengeluarkan benda Sihir lainnya.”

Elaine tampak berpikir. Ramalannya tentu tak mungkin salah. Apa yag sebenarnya terjadi?? “Kau yakin Ellie??”

Ellieora menganggukkan kepalanya. “Tentu ibu..”

“Aku merasakan kekuatan besar pada Dirinya, Aku juga merasakan semacam keabadian, dan juga entahlah.. dia berbeda dan terlihat istimewa dibandingkan dengan siapapun orang yang pernah kutemui.”

“Mungkin Ibu hanya sedang lelah”

“Tidak mungkin Ellie.. Ini sebuah Ramalan, Bukan perasaan. Kau tentu tau seberapa tepatnya Ramalanku.” Ellieora mengangguk. Yaa tentu saja Ia tau. Ibunya merupakan Penyihir putih terhebat yang pernah ada. Ramalannya tak pernah di ragukan lagi. Selalu tepat sasaran. Apalagi di tambah dengan Buku putih yang dimiliki sang Ibu..

Yaa… layaknya golongan penyihir, dalam dunia penyihir juga terdapat Buku Tua. Tepatnya ada Dua. Yang pertama adalah buku putih. Pedoman untuk menjadi penyihir putih terhebat. Didalamnya banyak sekali tertuliskan mantera-mantera kuno yang tak banyak penyihir putih dan penyihir hitam tau. Berbagai macam cara membuat Ramuan, mulai dari Racun, penawar, obat, dan Ramuan lain sebagainya. Ada juga cara membuat alat-alat aneh, bahkan sampai pembuatan tongkat sihirpun ada. Buku itu benar-benar langka dan ada satu di dunia, dan Elaine lah sang pemegang buku tersebut.

Satu buku lagi bernama buku Hitam. Pedoman untuk menjadi penyihir hitam terhebat yang pernah Ada. Konon dalam buku Hitam tersebut juga memiliki banyak pelajaran seperti yang ada di dalam buku putih, Hanya saja buku Hitam tentunya lebih kuat dan lebih ber isi tentang sihir-sihir Hitam. Sayangnya buku itu Hilang tak tau Rimbanya.

Elaine masih ingat saat itu. Saat dimana di umumkan, Bahwa seorang Pangeran penyihir Hitam Kabur membawa pergi Buku tersebut. dan yang terakhir Elaine dengar, Pangeran tersebut Hilang tak tau dimana kabarnya, beserta buku tersebut.

Sejak saat itu,dirinya yang telah memiliki buku Putih Akhirnya di tuntut untuk menjaga buku tersebut sebaik-baiknya. Tak dapat di bayangkan bagaimana jika kedua Buku tersebut pempunyai pemilik yang sama apalagi pemiliknya tersebut adalah seorang Penyihir berdarah Hitam.

“Ellie, Kupikir Kau harus mengamatinya, dia bukan orang biasa Ellie, percayalah.”

Ellieora akhirnya mengangguk menurut dengan sang Ibu.

***

Robbin menatap ke segala penjuru ruangan. Rumah yang sedang di datanginya ini seperti rumah tua tapi bersih. Di sebelah kiri terdapat sebuah Jendela kecil yang sang terbuka dan memperlihatkan aneka tanaman aneh yang tak pernah Ia lihat sebelumya Ada juga pot-pot bunga kecil yang juga sepertinya bukan bunga yang pernah Ia lihat sebelumnya.

Di sebelah Kanan di ujung ruangan, terdapat sebuah lemari yang di dalamnya terdapat beberapa benda yang mirip dengan Sapu. Yaa… itu adalah sapu penyihir. Kenapa Ellieora dan ibunya memilikinya?? Apa mereka seorang penyihir juga? Pikirnya saat itu.

Jika di lihat darimata Elaine, tentu Saja Robbin yakin jika Elaine adalah seorang penyihir. Tapi mengingat bagaimana tadi Ellieora begitu tak berdaya saat hampir di perkosa para penjahat di dalam hutan tadi, sepertinya tidak mungkin jika Ellieora seorang penyihir. Lalu, Sebenarnya apa yang terjadi??

Robbin melihat Ellieora keluar membawa sebuah nampan berisi beberapa buah-buahan segar dan juga minuman.

“Ku pikir kau lapar. Makanlah selagi menunggu ibuku menyiapkan penawar racun untuk temanmu.” Ucap Ellieora selembut mungkin.

“Apa dia benar-benar ibumu??” tanya Robbin dengan tajam.

“Tentu saja Robb”

“Dia terlihat lebih mudah dan matanya..”

“Bukankah aku sudah mengatakan padamu mengenai matanya???” potong Ellieora, “Rob, Ibuku ahli ramuan, dia bisa membuat ramuan yang dapat membuat orang Awet muda, bukankah kau memiliki mata seperti mata penyihir? Lalu apakah itu berarti Kau adalah sorang penyihir?? Tidak bukan??”

Robbin mengangguk. “Yaa aku cukup yakin sekarang,”

“Baiklah, Sekarang, nikmati saja makanan ini dan istirahatlah. Selagi menunggu Ibuku menyelesaikan ramuan nya.”

Robbin akhirnya mengangguk. Ia mulai meminum Air yang di sediakan Ellieora, dan ia juga mulai memakan buah-buahan yang di suguhkan wanita cantik tersebut.

***

“Minumkan ini pada teman mu. Ini terbuat dari tanaman langka yang hanya tumbuh di pekarangan rumahku saja. Dia akan segera sembuh dengan meminum ramuan ini secara berkala.” Kata Elaine sambil memberikan Robbin Ramuan yang berwadahkan Bambu tua.

“Kau yakin ini akan ber efek untuknya??” Robbin masih sedikit tak percaya dengan Elaine.

“Aku berniat menolong mu anak muda, karena Kau sudah menolong Puteriku. Aku tak mungkin membuat Kau atau teman mu Celaka.”

“Apa yang bisa membuatku percaya??” Tanya Robbin masih ingin kepastian.

“Kau bisa mengajak Ellieora ke tempatmu.” Ucap Elaine dengan pasti.

“Ibu..” Ellieora menyela. Ia tak menyangka jika Sang Ibu menyuruhnya untuk mengikuti Robbin, lelaki yang baru di kenalnya.

“Ellie, Kau bisa ikut dengannya, Lagi pula hanya Kau yang mampu merebus ramuan tersebut dengan tepat dan sempurna. Ramuan itu tak bisa di rebus terlalu lama atau hanya sebentar saja.” Ucap Elaine menjelaskan.

“Tapi Ibu, Aku tak mengenalnya, bagaimana mungkin ibu menyuruhku pergi dengannya?”

Elaine meraih pergelangan tangan Ellieora, Ia mengajak puterinya tersebut sedikit menjauh dari Robbin. “Dengar sayang, Ibu benar-benar merasakan ada sesuatu yang besar dari diri Robbin, Tapi Ibu juga bisa merasakan jika dia Lelaki baik-baik. Ibu merasakan darah murni mengalir di nadinya. Jadi, anggap saja ini tugas dari ibu, awasi lelaki itu, jika memang nanti ada yang perlu Kau laporkan pada Ibu, Kau hanya perlu mengusap batu Rubi dalam liontinmu. Ibu akan merasakannya.” Jelas Elaine panjang lebar.

Ellieora hanya mengangguk.

“Satu hal lagi sayang, Apa pun yang terjadi, Jangan sampai kau jatuh hati padanya sebelum kau tau siapa dia sebenarnya.” Tambah Elaine lagi.

Ellieora kembali mengangguk. Keduanya kembali mendekat ke arah Robbin yang sudah bersiap-siap akan meninggalkan rumah pondok milik Elaine.

“Jadi.. Kau ikut denganku?” Tanya Robbin dengan lembut pada Ellieora.

“Yaa.. seperti yang di perintahkan ibuku.” Ucap Ellieora pasrah.

“Baiklah Robbin, Ku harap Kau menjaga puteriku hingga dia kembali pulang ke rumah.”

“Tentu saja Elaine, aku akan menjaganya.” Robbin berjanji dengan sungguh-sungguh.

***

Di dalam sebuah kastil tua yang berada di sebuah Pegunungan nan jauh dari jangkauan Manusia,.. Seorang Wanita dengan pakaian hitam legam nya tampak sibuk merencanakan beberapa rencana jahat yang akan di lakukannya.

“Kau… Bagaimana denganmu? Apa Kau sudah menemukan Pemuda sialan itu?” Tanya nya pada seorang bawahan yang sedang membungkuk hormat padanya.

“Ampun tuanku paduka Ratu, Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan jejaknya ada di pinggiran sebuah hutan di bagian timur, tapi ternyata Ia kembali lenyap bak di telan bumi.”

“Kurang Ajar, Apa dia sudah bisa merapalkan mantera untuk menghilangkan jejak dari buku tersebut??” Tanya Wanita yang di panggil sebagai ratu itu lagi.

“Sepertinya dia belum menyadari siapa dirinya Tuanku paduka Ratu. Hamba merasakan dia menghilang karena ada sebuah kekuatan Besar yang menyembunyikan keberadaannya.”

“Elaine..” Geram sang Ratu tersebut. “Aku yakin Elaine turut campur dalam hal ini, tak ada kekuatan besar yang mampu menandingi penglihatan bola kristalku selain kekuatan besar Dari Elaine yang di dapatnya dari Buku putih.” Lanjut sang ratu.

“Lalu, apa rencana tuanku paduka ratu selanjutnya??”

“Kita lihat saja dulu, Seberapa jauh Elaine ikut campur dengan urusan kita.”

“Lalu, bagaimana dengan tawanan kita paduka Ratu?”

Sang ratu tersenyum miring. “William… Biarkan saja dia membusuk di penjara bawah tanah, jika kita membutuhkannya, Aku akan mengeluarkannya dari sana, tapi jika tidak, Aku akan memusnahkannya..” Ucap sang Ratu yang di sertai dengan tawa lebarnya.

Semua yang ada di ruangan tersebut mengangguk paham dengan apa yang di katakan sang Ratu penyihir hitam tersebut..

***

“Ellie.. Ku pikir aku tidak lewat sini kemarin.” Ucap Robbin yang masih sibuk mengarahkan kudanya pada jalan yang di tunjukkan oleh Ellieora.

“Tenanglah Robb.. aku cukup mengenal hutan ini. Kalau kita mengikuti jalanmu kemarin, kita kan tiba di pinggiran Desa tiga hari kemudian. Sedangkan kalau kita lewat sini, Besok siang kita pasti sudah sampai pinggiran desa.”

“Kau yakin??” tanya Robbin lagi.

“Ya, aku cukup hapal dengan jalanan di hutan ini.”

“Lalu, Dimana nanti kita kan Bermalam?” Tanya Robbin lagi sambil mendongak ke atas. Hari sudah semakin sore, matahari pun sudah mulai menenggelamkan dirinya sedikit demi sedikit.

“Tak jauh dari sini ada sungai keci, di sebelah sungai tersebut ada sebuah gua, kita bisa bermalam di sana nanti.” Robbin hanya mengangguk dan kembali memacu ku danya lebih cepat lagi.

***

Robbin membenarkan letak kayu-kayu bahar dalam api unggun kecil yang di buatnya di dalam gua tersebut. Malam ini benar-benar dingin. Di tambah lagi hujan deras di luar Gua serta petir yang menggelegar membuat suasana semakin dingin dan mencekam.

Di tatapnya Ellieora yang berada tepat di hadapannya. Ahh.. Wanita itu benar-benar menggoda untunnya. Kulit putih pucatnya, wajah cantik jelitanya, dan juga aroma tubuhnya yang memabukkan benar-benar menggoda Hasrat lelaki yang di miliki Oleh Robbin.

Ia menginginkan Ellieora, tapi yang benar saja, mereka bahkan baru bertemu hari ini. Dan tentunya mereka belum saling mengenal.Robbin tak ingin Ellieora mengenalnya sebagai laki-laki bajingan yang hanya tergoda dengan tubuhnya.

“Kenapa Kau menatapku seperti itu?” Suara Ellieora menyadarkan Robbin dari lamunan.

“Ahh tidak.” Jawab Robbin sambil mempalingkan wajahnya. “Berapa usiamu Ellie??” Tanya Robbin kemudian. Ia ingin mengalihkan perhatiannya pada hal lain.

Ellieora hanya menggelengkan kepalanya. “Aku tak tau.”

Robbin tersenyum. “Bagaimana ungkin kau tak tau usiamu??”

“Ibu tak pernah bercerita kapan aku lahir.” Hanya itu jawaban dari Ellieora.

“Kau tak punya keluarga lain selain ibumu??” tanya Robbin lagi.

Ellieora hanya menggelengkan kepalanya.

“Teman?” Tanya Robbin lagi.

Ellieora kembali menggelengkan kepalanya. “Aku tak memiliki siapa pun Robb, hanya Elaine, Ibuku lah yang ku miliki di dunia ini.” Lirih Ellieora.

“Kau memiliki aku Ellie..” kali ini Robbin berkata dengan tulus.

Ellieora menatap Robbin dengan tatapan tanda tanya nya. “Apa maksudmu?”

Robbin menghela napas panjangnya lalu mulai bercerita. “Aku juga tak memiliki siapapun di dunia ini Ellie. Ayahku menghilang, dan ibuku di bunuh oleh sekawanan penyihir.” Robbin bercerita dengan mata membara penuh dengan dendam dan amarah.

Ellieora menegang seketika. “Kau yakin yang membunuh ibu mu adalah sekelompok penyihir?” Tanya Ellieora dengan hati-hati.

“Yaa.. bahkan sampai sekarang aku merasakan mereka masih memburuku, aku tak tau apa yang mereka cari dariku. Oleh karena itu, aku dan saudara angkatku Alan, Memutuskan akan memburu dan membunuh setiap penyihir yang kami temui.” Ucap Robbin penuh penekanan.

Suara Robbin seakan membuat Ellieora merinding ngeri. Nyala api di hadapan mereka seakan membesar seirin dengan amarah yang terlihat dari raut wajah Robbin. Mata Lelaki itu yang berwarna kuning keemasan seakan mengkilat seperti cahaya.

Tak salah lagi.. Robbin pasti memiliki darah penyihir di tubuhnya… Ellieora kini dapat merasakannya dan Ellieora tau itu….

-TBC-

Roman fantasi ini memang Slow update.. karena aku nulisnya enjoy… nggak ada yang baca dan nggak ada yang pengen cepet2 baca alhasil aku Update cerita ini Slow dan santai bgt…  hehhehe okay sampai jumpa di Chapter 4 yaa.. hahahhaha

new1 new2

Advertisements

My Beautiful The Witch – Chapter 2

Comments 5 Standard

MbtwMy Beautiful The Witch

NB : Tinggalkan Logika kalian jika ingin membaca cerita ini…. dan mari masuk kedalam imajinasi dan fantasi Author Gaje yaakk…

*Cuplikan Chapter 1

“Robb.. Apa Kau.. Seorang…”
“Penyihir.?” Kali ini Robb melanjutkan pertanyaan Ellie. “Aku manusia biasa Ellie, jika Kau mengira aku penyihir karena Warna Mataku, Kau salah.” Kata Robb sambil tersenyum. “Aku bahkan Hidup untuk memberantas para Penyihir yang berkeliaran di muka bumi ini.” Jawab Robb dengan tegas yang entah kenapa mampu membuat Ellie merinding karena perkataannya tersebut.

Chapter 2

 

Hari ini Ellieora bertekat untuk masuk kedaalam hutan. Bulan purnama akan terjadi dua hari lagi, sedangkan dirinya belum memiliki apa yang diperlukan dalam ritual yang dilakukannya dalam bulan purnama tersebut. Akhirnya ia memutuskan untuk mencarinya hari ini.

Ellieora masuk kedalam Hutan yang semakin lebat hanya untuk memburu seekor Unicorn, Makhluk berbentuk seperti kuda dengan sebuah Tanduk di dahinya. Makhluk suci. Ellieora memburunya untuk diambil jantungnya dan di masukkan kedalam sebuah Ramuan yang dibuatnnya setiap bulan purnama tiba.

Tidak seperti penyihir pada umumnya yang lebih memilih membunuh Manusia pada bulan purnama, Ellieora dan keluarga sekaligus penyihir putih lainnya lebih memilih jantung Unicorn sebagai bahan Ramuannya dibandingkan dengan jantung manusia.

Ya… Ellieora adalah seorang penyihir…

Penyihir berdarah putih. Ada perbedaan pada dunia penyihir. Ada penyihir hitam yang cenderung lebih jahat dan ada pula penyihir putih yang sebenarnya tidak ingin menampakkan diri sebagai Penyihir. Para penyihir putih lebih suka menyendiri dan berbaur dengan manusia seperti layaknya manusia biasa. Mereka tidak menggunakan kekuatan sihirnya dimanapun seperti yang dilakukan penyihir Hitam.

Penyihir putih biasanya Lahir penuh dengaan kesucian, darah pertamanya didapatkan dari tetesan darah suci Unicorn, bukan seperti penyihir hitam yang sangat menolak dengan darah Unicorn.

Sudah menjadi Tradisi jika setiap bulan purnama para Penyihir membuat sebuah Ramuan untuk memperkuat dirinya. Ramuan tersebut terdiri dari bermacam-macap tumbuhan langkah, Dan Jantung. Jika penyihir putih lebih memilih Jantung Unicorn, maka Penyihir Hitam memilih Jantung Manusia. Kabarnya, Jantung manusia akan membuat paraa penyihir semakin kuat bahkan melebihi dari memakan jantung Unicorn. Itu sebabnya para penyihir Hitam kebanyakan lebih kuat dibandingkan para penyihir putih.

Ellieora menghentikan langkahnya ketika dirinya menemui sungai kecil yang amat sangat bening. Ellieora ingin meminum air sungai tersebut. Tapi sebelum meminumnya, Ia menatap wajahnya terlebih dahulu diatas pantulan air dihadapannya.

Wajah cantiknya… tapi bukan itu yang membuat Ellieora tersenyum merekah. Ia tersenyum saat melihat Matanya, Mata yang berwarna cokelat biasa seperti manusia disekitarnya, bukan berwarna kuning cerah seperti penyihir pada umumnya.

Beberapa tahun yang lalu, sang ibu yang merupakan seorang Ahli Ramuan menemukan Ramuan yang dapat mengubah warna mata seorang penyihir. Dan Ellieorapun rela mencobanya, meski dirinya harus menahan sakit selama berminggu-minggu karena ramuan tersebut. Ellieora bahkan sempat tak bisa melihat selama beberapa Hari karena efek dari ramuan tersebut. kini, Hasilnya sungguh memuaskan untuknya. Matanya berwarna biasa layaknya seorang manusia pada umumnya.

Ellieora merasakan seorang sedang memperhatikanya dari belakang, Ia membalikkan tubuhnya dan mendapati tigaa orang lelaki asing sedang memandanginya dengan mata kelaparan. Lelaki Hidung belang tentunya.
“Apa yang Kau lakukan di dalam hutan sendirian Manis..” tanya seorang lelaki yang berperawakan Tinggi besar itu.
“Apa yang kalian inginkan?” tanya Ellieora sambil sdikit memundurkan langkahnya.
“Kami tidak akan berbasa-basi lagi. Kami menginginkan tubuhmu.” Kata seorang lelaki tinggi tapi kurus tersebut sambil menyambar lengan Ellieora.
Kedua lelaki tersebutpun mengikuti aksi temannya yang sudah mencekal pergelangan tangan Ellieora. Ellieora meronta sekuat tenaga, berharap jika ada seseorang yang dapat membantunya. Tapi sepertinya Nihil. Mana ada orang didalam hutan lebat seperti ini.
Ellieora merasakan beberapa bagian pada kulitnya perih karena Cakaran dari lelaki-lelaki tersebut. bajunyapun sudah koyak, Ia tak bisa menahannya lagi. Hampir saja Ia mengucapkan Manteranya jika suara Lelaki itu tidak muncul dibalik Rimbunnya semak belukar.
“Lepaskan Dia.” Kata lelaki tersebut dengan dingin.
“Heii.. siapa Kau.. Kau berani dengan Kami.? Jika Kau menginginkan mangsa, carilah yang lain, wanita ini milik kami.” Kata Lelaki bertubuh tinggih besar yang sedang mencengkeram lengan Ellieora dengan keras.
“Aku tak menginginkan yang lain. Aku menginginkannya.” Kata Lelaki itu tegas. Dan tanpa banyak bicara lagi lelaki itu menghajar satu persatu lelaki yang berada di hadapannya tersebut hingga para lelaki hidung belang tersebut lari tunggang langgang.
Lelaki tersebut lalu menghampiri Ellieora, membuatnya sedikit bergidik takut. Siapa Lelaki ini?? Bagaimana mungkin dia bisa menghajar para lelaki hidung belang tersebut dengan tangan kosong dan hanya sendiri??
“Kau Baik-baik saja.?” Tanya lelaki tersebut dengan suara Gagahnya.
Ellieora hanya bisa mengangguk, Ia merasakan Dagunya diangkat dan diperhatikan oleh lelaki tersebut. Ohh lelaki ini benar-benar sangat tampan. Aromanyapun memikat, membuatnya membayangkan bermacam-macam Hal aneh dalam fikirannya. Dan matanya.. Astaga… kenapa lelaki ini memiliki mata seperti seorang penyihir..?? Apa dia seorang penyihir???
Lelaki itu lalu melepaskan Mantelnya, memberikannya kepada Ellieora, Ellieora tersentak, tak pernah ada lelaki yang memperhatikannya seperti ini. Emm bukan karena tidaak ada yang ingin memperhatikannya melainkan Memang dirinya tidak pernah sedekat ini dengan seorang lelaki.
“Pakai ini, Bajumu tak layak pakai.” Kata Lelaki tersebut yang suaranya kini sudah parau seperti sedang menahan sesuatu.
“Terimakasih Tuan.” Kata Ellieora pelan.
“Aku Robbin William. Panggil saja Robb. Siapa Namamu.?”
“Ellieora.”
“Kau dari mana. Kenapa Kau berada dalam hutan lebat seperti ini sendiri.?”
“Aku… emm.. aku..”
“Kau tak memiliki tempat tinggal.?” Tanya Robbin lagi.
“Aku memilikinya di sana.” Ellieora menuntuk kesebuah Arah. “Aku mencari sesuatu di dalam Hutan.”
“Setidaknya Kau harus mengajak seseorang. Disini tak Aman.” Kata Robbin Lagi.
“Tuan..”
“Panggil saja Robb, Aku terlalu muda untuk panggilan tersebut.”
“Robb.. Apa Kau.. Seorang…”
“Penyihir.?” Kali ini Robbin melanjutkan pertanyaan Ellieora, Ellieora tersentak dengan kata-kata Robbin yang memotong pertanyaannya. “Aku manusia biasa Ellie, jika Kau mengira aku penyihir karena Warna Mataku, Kau salah.” Kata Robbin sambil tersenyum. “Aku bahkan Hidup untuk memberantas para Penyihir yang berkeliaran di muka bumi ini.” Jawab Robbin dengan tegas yang entah kenapa mampu membuat Ellieora merinding karena perkataannya tersebut.

***

Ellieora akhirnya berjalan tertatih-tatih dengan Robb disebelahnya yang setia menuntunnya. Mereka menuju kepada Kuda Robb yang di ikat di sebuah pohon. Kuda Hitam nan gagah, sangat pantas dimiliki oleh seoran Robbin William.
“Naiklah, Aku akan mengantarmu pulang.” Kata Robbin Kemudian.
“Tidak Robb, Aku bisa pulang sendiri.”
“Aku memaksa Ellie.”
Akhirnya dengan bantuan Robbin, Ellieorapun menaiki kuda tersebut. dan tanpa disangka Robbin juga ikut menaiki kuda tersebut. Bahkan memeluk Ellieora dari belakang.
Ellieora merasakan bulu kuduknya berdiri, perasaan aneh menghampirinya, Ototnya seakan Kaku tak berani menggerakkan setiap inci dari tubuhnya. Lelaki di belakangnya ini sangat mempengaruhinya.
“Rumahmu dimana Ellie??” Suara Robbin membuat tubuh Ellieora bergetar. Ahh ssuara yang sangat merdu dan yaa.. sangat menggairahkan.
“Dii.. Disana.. Di sebelah utara sungai itu.” Kata Ellieora sambil menunjuk kearah sungai kecil.
“Apa yang Kau cari di dalam huta seperti ini Ellie??”
“Aku.. Aku…”
“Aku mencari sebuah Jamur untuk temanku yang sedang terkena Racun ular. Tapi aku bingung harus mencarnya kemana.” Kali ini Robbin malah becerita tentang masalahnya.
“Racun Ular?? Emmm aku mungkin bisa membantumu Robb.”
“Ohh Yaa..?? Benarkah?”
“Tentu saja. Ibuku adalah seorang Tabib dan juga Ahli ramuan, Dia pasti bisa menolong temanmu.”
“Benarkah? Jika itu benar, berarti aku sangat beruntung bertemu denganmu Ellie..” kata Robbin dengan sungguh-sungguh. Sedangkan Ellieora hanya dapat tersipu-sipu dengan pernyataan Robbin.

***

Robbin masih memacu kudanya dengan sebelah tangannya. Nafasnya memburu ketika sesekali kulitnya bersentuhan dengan kulit lembut Ellieora. Astaga.. Wanita ini benar-benar mempengaruhinya. Robbin bahkan tak mengingat kapan terakhir kali dirinya berhenti di kedai minuman dan berakhir dengan beberapa wanita bayaran.
Robbin menginginkan wanita dihadapannya ini, Wanita yang dengan sengaja ia peluk dari belakang..
“Ellie.. Apa kita tidak tersesat.” Tanya Robbin kemudian ketika mendapati dirinya masuk kedalam hutan yang semakin lebat. Bukan hanya itu, Bahkan rerumputan di dareah ini tumbuh subur hingga selutut, belum lagi tanaman-tanaman berduri dan juga semak belukar yang seakan memperlihatkan jika daerah ini tak pernah di lewati manusia sebelumnya.
“Tidak Robb, Kita tidak tersesat.” Ellieora menjawab dengan pasti.
“Tapi daerah ini seperti tidak pernah tersentuh oleh manusia Ellie.”
“Percayalah padaku Robb.”
Dan Robbin tak memiliki pilihan lain selain mengikuti arahan dari Ellieora. Robbin memacu kudanya lebih perlahan karena tanaman-tanaman berduri itu semakin tumbuh lebat. Tak lama jalan yang dilewati oleh mereka semakin terbuka, semakin lebar, tak ada lagi tanaman berduri, atau semak belukar tinggi. Yang ada hanya Pepohonan Besar yang sangat jarang sekali Robbin lihat, bahakan mungkin tak pernah dilihatnya.
Robbin ternganga mendapati pemandangan di hadapannya. Banyak tumbuhan-tumbuhan aneh yang tak pernah ia lihat.
“Kita dimana Ellie..?”
Ellieora sedikit tersenyum melihat wajah tampan Robbin yang sedikit terkagum dengan keadaan d sekitarnya.
“Kita berada di daerah rumahku. Itu rumahku Robb.” Kata Ellieora menunuk kehadapan mereka.
Tepat dihadapan mereka berdiri sebuah Pondok sederhana dari kayu. Hanya Pondok kecil. Namun terlihat bersih. Berbagai macam tanaman tumbuh di sekitar pondok tersebut. Ahh Yaaa bukankah tadi Ellie nmengatakan jika ibunya seorang ahli ramuan?? Tentu saja akan banyaak tanaman obaat langkah di sekitar rumah mereka.
Robbin mengehentikan Kudanya. Dia turun lalu membantu Ellieora turun dari kudanya. Keadan Ellieora sudah membaik, tidak lemah seperti tadi. Robbin mengikat kuda hitamnya di sebuah Pohon yang mirip dengan pohon pinus, tapi sedikit lebih aneh menurutnya.
“Ellie.. apa ini Masih di bumi?”
Ellieora tersenyum melihat Wajah Robbin yang terlihat polos. “Tentu saja Robb. Memangnya ada apa?”
“Entahlah, aku merasa ada yang aneh disini.”
“Tak ada yang Aneh Robb.. percayalah.”
Walau Robbin mencoba untuk percaaya, nyatanya hatinya masih memungkirinya. Yaa.. ada yang aneh disini. Tanaman liar tadi, semak belukar dan tanaman berduri tadi seakan-akan sengaja di tanam untuk menyembunyikan tempat yang mirip dengan surga ini.
Robbin mengikuti Ellieora masuk kedalam Area pondok tersebut. Saat Ellieora membuka Pintu pondok tersebut, nampaklah seorang wanita paruh baya berambut Putih mengkilap, Dan juga mata berwarna Kuning cerahnya. Wanita itu sama sekali tak terlihat sebagai ibu Ellieora, Wajahnya menegaskan jika ia lebih cocok disebut sebagai Kakak Ellieora.
Sontak Robbin mundur dan menarik pedang yang sejak tadi terikat di pinggangnya.
Ellieora tersentak. Saat mendapati Robbin di belakangnya mengaambil Ancang-ancang untuk menebas kepala seseorang yang berada dihadapannya.
“Ada apa Robb..??” Tanya Ellieora degan sedikit Khawatir.
“Siapa dia?” nada suara Robbin mendingin, tidak seperti tadi yang terkesaan lembut dan bersahabat.
“Robb dia Elaine, Ibuku.” Jelas Ellieora.
“Apa Dia penyihir?” Robbin Masih kukuh dengan Posisinya yang siap menebas kepala lawannya.
Ellieora baru sadar. Yaa tentu saja, Bukankah tadi Robbin berkata jika dia hidup dengan memberantas para penyihir?? Sedangkan Elaine tentu saja terlihat sangat jelas sebagai seorang penyihir dengan Rambut putih anehnya dan juga Mata kuning Cerahnya. Apa Ellieora haruss mengaaku?? Tidak, Ellie tak ingin mengaku.
“Tenang Robb, Elaine bukan Penyihir.” Ellieora berbohong. Sedangkan ibunya,Elaine, nampak bingung dengan apa yang sudah dikatakan sang Puteri.
“Kenapa Matanya berwana…”
“Bukankah Matamu juga berwarna seperti Penyihir Robb??” Ellieora memotong kalimat Robbin. “Robb percayalah, Kami manusiaa biasa, Elaine hanya pernah mengalami kesalahan saat meramu sesuatu hingga membuat Matanya berubah seperti penyihir.” Elliora lagi-lagi berbohong.
“Kau yakin Ellie.”
“Aku bersumpah Robb.” Ellieora berkata dengan pasti.
Robbin mengembalikan pedangnya pada tempatnya semula. “Baiklah, kali ini aku percaya padamu Ellie.” Kata Robbin kemudian.
Ellieora menghela nafas lega.”Robb, kenalkan Dia Elaine, ibuku. Dan ibu, Dia Robbin William, Lelaki yang sudah menolongku.”
Keduanya akirnya saling bersalaman. Ketika kulit Elaine menyentuh permukaan kulit Robbin, Bayangan akan sesuatu muncul begitu saja dalam kepala Elaine.
“Kekuatan… Keabadian… Tak Tertandingi…” Racau Elaine seperti seorang yang sedang meramal sesuatu. Ellieora dan Robbin saling bertatap mata seakan-akan menyatakan jika mereka berdua sama-sama tak mengerti dengan apa yang dikatakan Elaine.
“Apa Kau seorang Penyihir?” tanya Elaine tanpa basa-basi kepada Robbin.
“Tidak, Saya hanya maanusia biasa.” Jawab Robbin dengan tegas.
“Tidak Nak.. Kau bukan manusia Biasa..” Kata Elaine sambil sedikit tersenyum lalu masuk kedalaam pondoknyaa tanpa berpamitan dengan Elliora dan Robbin.
Sedangkan Robbin dan Ellieora saling pandang dengan tatapan tanda tanyanya masing-masing. Apa yang dimaksud dengan perkataan Elaine tadi?? Benarkah Robbin bukan manusia biasa??

 

-TBC-

Roman fantasi ini memang Slow update.. karena aku nulisnya enjoy… nggak ada yang baca dan nggak ada yang pengen cepet2 baca alhasil aku Update cerita ini Slow dan santai bgt…  hehhehe

 

new1          new2

My Beautiful The Witch – Chapter 1

Comments 2 Standard

MBTW covernewMy Beautiful The Witch

NB : Haaii… heheheh baru sempat Post Chapter 1 Cerita ini hahhaha… BTW karena ini cerita Roman fantasi, jadi mungkin akan Slow Update yaa… soalnya aku benar-benar harus mikir bgt saat nulis, aku harus mendalami baahkan seakaan-akan aku berada dalam dunia tersebut saat nulis cerita ini (jiaahahha lebbay).. ooiyaa karena ini Fantasi jadi aku mohon bgt buat yang baca tolong Kesampingkan Logika Kalian, apapun bisa terjadi dalam ceritaa Fantasi, jadi ssangat wajar kalau cerita Fantasi itu cerita yang sering dibilang sebagai Cerita yang tak masuk akal. ini adalah Roman Fantasi pertamaku, walau aku sudah melihat bayangan Endingnya tapi semoga saja aku bisa membuat Cerita ini hingga kata END. setting dalam cerita ini tergantung dari bayangan para Readers yaa… kalo dalam bayangan author sihh setingnya pada abad pertengahan gitu dan berada di luar negri tentunya. pernah lihat film Hansel&gretel kan…?? karena nuisnya terinspirasi dari film itu, tentu saja aku bayangin Settingnya ada pada jaman seperti itu.. hahhaha okk nggak banyak omong lagi.. enjoy Reading yaa…. karena udah terlalu lama ngepostnya, aku post sekalian Prolognya sapa tau udah lupa ama Prolog yang dulu sempat ku Share….

#Prolog

Pada suatu hari, Ada seorang penyihir yang sangat sakti berkelana kedalam suatu pedesaan. Orang-orang desa tak mengetahui jika Lelaki tersebut adalah seorang Penyihir. Akhirnya dengan penyamarannya sang penyihir tersebut menetap di desa tersebut. Namanya William. Will sangat tampan, hingga sebentar saja dirinya sudah terkenal diantara para wanita di desa tersebut.
Namun sejak awal hati Will hanya terpaku dengan seorang gadis sederhana, Gadis petani penanam sayur yang benar-benar biasa, bernama Maria. Akhirnya tanpa penghalang apapun Will dan Mariapun bersatu. mereka hidup damai bersama bahkan mereka di karuniai seorang putera Yang amat sangat tampan. Robbin William.
Robb benar-benar tumbuh menjadi anak yang tampan. Ketampanannya tentu saja mirip dengan sang ayah, Matanya berwarna kuning cerah, dan dia berkulit putih pucat. Kebahagiaan benar-benar melingkupi keluarga mereka, Hingga pada suatu hari Will menghilang begitu saja, membuat Maria harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup. Apa lagi ketika sekumpulan orang jahat menyerang mereka, Orang jahat yang sakti.
“Robb.. Pergilah sayang, Bawa ini.. ingat, Jauhi orang-orang yang bermata kuning dan berkulit pucat sepertimu.” Kata Maria kala itu sambil memberikan Robb sebuah tas yang penuh dengan sesuatu didalamnya.
“Tidak ibu.. aku ingin bersama ibu..”
“Pergilah Robb.. Pergilah..”
Robb yang memang tak pernah dikasari oleh sang ibu, akhirnya lari meninggalkan ibunya yang seakan-akan terlihat marah terhadapnya. Hingga saat Robb kembali, Robb sangat menyesali keputusannya yang telah meninggalkan sang ibu sendiri.
Robb menangis dan berteriak Histeris didepan telang belulang sang ibu yang sudah hangus terbakar. Siapa yang elakukan hal keji ini terhadap keluarganya..?? Batin Robb kemudian.

****

Chapter 1

Masuk kedalam hutan yang semakin Lebat, hanya sendiri adalah hal yang tak pernah di fikirkan Oleh Robb selama hidupnya. Ini hanya demi mencari sebuah jamur untuk ramuan penawar racun. Alan, Sahabatnya itu terkena patokan ular yang sangat berbisa. Itu membuat Robb membuka kembali Buku tua besar peninggalan sang Ibu, dalam buku tersebut ada berbagai macam cara membuat Ramuan yang Robb sendiri tak mengerti. Dan untung Saja ada sebuah Ramuan yang di pergunakan untuk penawar berbagai macam Racun. Salah satu bahannya adalah Jamur yang Robb cari saat ini.

Sungguh, Robb sangat ingin menemukan secepatnya jamur tersebut, Robb tak ingin lagi kehilangan orang yang disayanginya.
Alan sudah hidup dengannya selama 20 tahun terakhir. Dia sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Saat itu, Robb tergeletak di tengah Hutan dengan tubuh yang mengenaskan, mungkin karena berlari berhari-hari, makan dan minum seadanya membuat tubuh Robb kelelahan hingga jatuh tersungkur di tengah-tengah tanaman berduri.

Ayah alan yang saat itu sedang mencari kayu di dalam hutan menemukan keadaan Robb yang mengenaskan. Wajah Tampan anak berusia 10 tahun saat itu benar-benar mempesona bagi ayah Alan. Akhirnya ayah Alan membawa Robb pulang untuk di tolong dan di Obati.
Di sanalah Robb pertama kali melihat Alan. Anak lelaki seusianya yang memiliki kebahagiaan sempurna karena memiliki ayah dan ibu yang lengkap dan menyayanginya. Sangat berbeda dengan dirinya yang hanya sebatang kara. Akhirnya Robb hidup bersama dengan alan dan kedua orang tuanya sebagai anak angkat. Robb mencoba melupakan masalalu nya, tentang ayah yang tiba-tiba menghilang dan meninggalkannya, ibu yang menyuruhnya pergi dan saat dia kembali hanya tersisa tulang belulangnya, dan juga orang-orang aneh yang menggunan sapu terbang yang mengejarnya berhar-hari tiada henti.

Kehidupan Robb terbilang sangat bahagia saat itu, hingga 5 tahun kemudian, kejadian itu terulang kembali. Rumah Alan di bakar oleh seseorang saat Robb dan Alan berburu di dalam Hutan. Ayah dan ibu alan Terbakar habis di dalamnya, mengenaskan sama seperti Robb menyaksikan tulang belulang ibunya. Apa ini orang yang sama..? orang-orang aneh yang di katakan ibunya saat itu..??

Sejak saat itu hidup Robb dan Alan menjadi gelandangan tak menentu, mereka berdua tak memiliki rumah, mereka hanya berjalan dari desa ke desa lainnya, menyusuri hutan satu kehutan lainnya, tak ada uang ataupun gandum yang bisa di tukar menjadi makanan, mereka hanya makan beberapa buah buaha dari dalam hutan dan juga berburu beberapa hewan yang bisa dimakan.

Bertahun-tahun hidup dalam pelarian bersama dengan Alan, hingga sekitar delapan tahun yang lalu, saat mereka berdua mempir kesebuah Desa yang cukup besar di sebelah timur pinggiran Hutan, ada sebuah Sayembara untuk menangkap penyihir, barang siapa yang bisa membawa jantung seorang penyihir kepada Kepala desa tersebut, maka dia akan mendapatkan imbalan yang setimpal.

Robb dan Alan tertarik, akhirya mereka banyak bertanya pada warga setempat tentang penyihir yang dimaksud. Penyihir umumnya memiliki mata Kuning cerah dan kulit putih pucat seperti dirinya, biasanya memiliki wajah buruk rupa dan bau tak sedap. Robb menghela nafas panjang ketika mengetahui fakta terakhir itu, dirinya tak memiliki bau tak sedap dan masalah buruk rupa, semua Orang yang menemuinya pasti berkata jika dirinya jelmaan dari seorang malaikat. Namun tentu saja, mata kuning dan Kulit pucatnya cukup menarik perhatian orang-orang yang ditemuinya, tak jarang dirinya di tuduh sebagai penyikir oleh beberapa Orang.

Orang-orang di desa tersebut dan di desa bagian timur lainnya meyakini jika jantung sang penyihir memiliki kekuatan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Meski tak banyak orang yang mampu memburu penyihir di daerah tersebut. Harga untuk sebuah jantung penyihir sangatlah mahal, makanya tak sedikit orang yang berbondong-bondong memburu penyihir meski mempertaruhkan nyawa sendiri. Robba dan Alan akhirnya mengikuti Sayembara tersebut.

Mereka berhasil. Bukan karena keberuntungan. Tapi karena Buku pemberian Ibu Robb yang selama ini di bawa Robb dan Alan kemanapun mereka pergi. Buku tua yang sangat istimewa. Terdapat berbagai macam cara membuat ramuan aneh, cara membuat senjata Aneh dan juga beberapa bahasa aneh. Alan Dan Robb hanya membuka bagian Cara untuk membuat senjata sederhana yang bagi mereka Aneh. Ternyata senjata tersebut mampu melumpuhkan sang Penyihir yang mereka bunuh dan Ambil jantungnya.

Uang, ketenaran, dan juga penghormatan mereka dapatkan saat mereka kembali dengan Jantung penyihir yang masih berdetak di tangan mereka. Sejak saat itu, Robb dan Alan memutuskan untuk memburu Penyihir.

Bukan hanya karena uang, ketenaran, ataau penghormatan. Ini lebih karena menolong sesama. Sang penyihir-penyihir tersebut ternyata setiap bulan purnama juga menculik seorang manusia untuk dijadikan makanan mereka entah apa itu Robb juga tak mengetahuinya. Yang jelas setiap bulan purnama akan banyak orang menghilang dan ditemukan mati mengenaskan paginya tanpa Jantung pada jasadnya.
Robb dan Alan juga meyakini jika yang membunuh orang tua mereka adalah penyihir-penyihir jahat tersebut. Akhirnya mereka sepakat untuk hidup dalam memburu penyihir-penyihir jahat.

Entah sudah berapa penyihir yang mereka bunuh, entah sudah berapa nyawa yang mereka selamatkan, entah sudah berapa uang yang mereka kumpulkan, mereka tak peduli. Yang mereka pedulikan hanyalah bagaimana caranya memberantas habis penyihir-penyihir yang setiap hari semakin tak berperasaan tersebut. Alan dan Robb kini juga tak hidup kekurangan seperti pelarian mereka dulu. Mereka hidup dengan serba kecukupan. Tak ada lagi pakaian Compang-camping, tak ada lagi makanan dari hutan. Mereka hidup layaknya orang beruang di daerah tersebut. Mereka bahkan sering menyempatkan diri untuk mampir ke kedai minuman, meminum beberapa minuman yaang mampu memabukkan pikiran, menggoda beberapa Gadis cantik di dalam kedai tersebut, dan tentu saja melaampiaskan hasrat terpendam mereka, bagaimanapun juga mereka adalah dua Sosok Lelaki berusia matang yang memilki gairah menggebu ketika melihat gadis Cantik.

Mereka tetap berkelana berjalan kearah timur. Semakin Ketimur, Nuansa tentang penyihir semakin kuat. Itu tandanya jasa mereka akan semakin di butuhkan. Pada suatu hari ketika mereka mampir di sebuah kedaai minuman, Mereka bertemu dengan gadis cantik mpengantar minuman. Bernama Kamila. Kamila Cantik mampu menarik Hati Alan, Sedangkan Robb masih setia dengan minumannya. Kamila yang saat itu akan di jual pada Seorang saudagar kaya Akhirnya di tebus oleh Alan. Robb sempat tak setuju, namun demi Sahabatnya tersebut akhirnya Robb mengalah. Kamila Akhirnya mengikuti kemanapun mereka pergi hingga kini.

Robb tersenyum saat mengingat masa-masa bersama dengan Alan. Untung saja saat ini ada Kamila yang merawat Alan, jadi dirinya kini bisa mencari bahan untuk membuat penawar racun tersebut. Robb kembali memacu kudanya agar berjalan lebih cepat lagi dan masuk kehutan lebih dalam lagi. Dirinya tak boleh menunda banyak waktu demi keselamatan Alan.

Di tengah-tengah perjalanannya, Robb seperti mendengar Suara Wanita yang sedang meronta. Robb memelankan laju dari kudanya tersebut, menajamkan pendengarannya. Dan suara tersebut semakin jelas terdengar dalam pendengarannya. Suara Wanita yang memohon ampun dan meminta tolong. Suara yang sangat merdu yang hanya mendengarnyaa saja mampu membuat lelaki menean ludahnya karena bergairah.

Robb akhirnya berhenti dan turun dari atas kudanya. Mengikat kudanya di sebuah pohon. Lalu berjalan mengikuti suara tersebut. Dan benar saja, di pinggir sebuah Sungai dirinya melihat tiga orang Lelaki sedang berusaha menjamah tubuh seorang wanita Cantik. Amat sangat Cantik, kulitnya bahkan terlihat bersinar walau posisi Robb saat ini sangat jauh. Baju wanita tersebut terkoyak hingga sedikit menyembulkan buah dadanya yang membuat siapapun yang melihatnya akan ingin menyentuhnya.

Robb mengelengkan kepalanya, Apa yang sedang kau fikirkan Robb..? Tanya Robb pada dirinya sendiri. Akhirnya dengan gagah berani layaknya seorang pahlawan, Robb berjalan kearah 3 Lelaki dan sorang wanita terebut.
“Lepaskan Dia.” Kata Robb dengan dingin.
“Heii.. siapa Kau.. Kau berani dengan Kami.? Jika Kau menginginkan mangsa, carilah yang lain, wanita ini milik kami.” Kata Lelaki bertubuh tinggih besar yang sedang mencengkeram lengan wanita tersebut.
“Aku tak menginginkan yang lain. Aku menginginkannya.” Dan tanpa banyak bicara lagi Robb menghajar satu persatu lelaki yang berada di hadapannya tersebut.

Lama Robb berjibaku saling adu pukul, adu kekuatan dengan para lelaki tersebut. Akhirnya dengan pukulan Terakhir, Robb membuat para lelaki hidung belang tersebut lari tunggang langgang.

Menghembuskan nafas dengan kasar, Robb berjalan menuju kearah Wanita yaang masih duduk lemas penuh luka memar dan cakaran di lengan dan dadanya. Wanita tersebut tampak takut, tangannya berusaha menutupi bagian dadanya yang sedikit terlihat karena baju yang koyak.
Robb mendekati wanita tersebut. “Kau Baik-baik saja.?” Tanya Robb dengan suara Gagahnya.

Wanita itu hanya mengangguk. Robb mengangkat dagu wanita tersebut, menelusuri wajah cantik itu dengan pandangannya. Kulit wanita tersebut telihat putih seputih kulitnya, beralis tebal namun Rapi, Mata lebar dengan iris berwarna Cokelat, bulu matanya sangat panjang dan lentik, hidung yang mancung, serta Bibir yang berwarna Merah delima dengan belahan pada bibir bawahnya. Ohh bibir yang sangat menggoda untuknya. Robb menelan ludahnya dengan sudah payah. Ahh… Sial.. !! seharusnya dia tak memandang wanita tersebut dengan kurang ajar seperti Tadi.
Dilepaskannya wanita tersebut, lalu Robb melepaskan Mantelnya, memberikannya kepada Wanita tersebut.
“Pakai ini, Bajumu tak layak pakai.” Kata Robb yang suaranya kini sudah parau.
“Terimakasih Tuan.” Kata wanita itu pelan. Ahh suara itu benar-benar menggoda untuk Robb.
“Aku Robbin William. Panggil saja Robb. Siapa Namamu.?”
“Ellieora.” Kata Wanita itu pelan.
“Kau dari mana. Kenapa Kau berada dalam hutan lebat seperti ini sendiri.?”
“Aku… emm.. aku..”
“Kau tak memiliki tempat tinggal.?” Tanya Robb lagi.
“Aku memilikinya di sana.” Kata Ellie sambil menuntuk kesebuah Arah. “Aku mencari sesuatu di dalam Hutan.”
“Setidaknya Kau harus mengajak seseorang. Disini tak Aman.” Kata Robb Lagi.
“Tuan..”
“Panggil saja Robb, Aku terlalu muda untuk panggilan tersebut.”
“Robb.. Apa Kau.. Seorang…”
“Penyihir.?” Kali ini Robb melanjutkan pertanyaan Ellie. “Aku manusia biasa Ellie, jika Kau mengira aku penyihir karena Warna Mataku, Kau salah.” Kata Robb sambil tersenyum. “Aku bahkan Hidup untuk memberantas para Penyihir yang berkeliaran di muka bumi ini.” Jawab Robb dengan tegas yang entah kenapa mampu membuat Ellie merinding karena perkataannya tersebut.

__TBC__

Bagaimana Chapter Perdanya…??? Apa Kalian merasa masuk dalam dunia Fantasi author..??? hahhaah belummm ini masih permulaan… kasih komentar kalau kalian penassaran yaa… jangan jadi Silent Readers yaaa… #KissHugFromAuthor :*