(Mini Story) – Tatto (My Beautiful Mistress)

Comments 8 Standard

 

Haiiiiyaaaaa yang penasaran ama om Jiro nihhh silahkan merapat manjaahhhh hahhaha happy reading yaaa.. muwaahhhhh

 

(My Beautiful Mistress) – Tatto

 

Jiro

 

Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku. Tapi aku merasa jika apa yang kulakukan selama ini terhadap Ellie benar-benar kurang ajar. Meski begitu, aku tidak bisa menghentikan semuanya. Karir adalah yang utama bagiku, dan sampai kapanpun akan selalu seperti itu.

Aku memainkan kembali Bass yang ada di tanganku, sesekali pikiranku melamunkan kejadian kemarin malam. Saat dengan berengseknya aku pergi meninggalkan Ellie begitu saja setelah mendapatkan apa yang kumau.

Sial!

Kemarin adalah Natal, dan aku membiarkan Ellie merayakan natalnya sendiri di negeri ini, negeri yang cukup asing baginya. Seharusnya aku menemaninya. Toh, The Batman tidak memiliki acara, Band ini masih belum terkenal, tapi aku menjadikan alasan kesibukan untuk meninggalkannya.

Aku masih ingat dengan jelas saat bagaimana Ellie menatapku dengan mata wajah sendunya. Ekspresinya sedih, tapi dia masih tetap menyunggingkan senyumannya, seakan-akan dia rela diperlakukan seperti seorang simpanan untuk kebaikannya.

Astaga, bagaimana mugkin ada wanita sebaik itu?

Nada yang kumainkan salah, total! Dan personel lainnya menghentikan aksinya lalu menatapku penuh tanya.

“Ada masalah?” Jason bertanya.

“Ya. Sedikit.” Jawabku.

Lalu mereka diam, saling pandang kemudian menghentikan latihan kami. Ya, diantara yang lain, memang hanya aku sendiri yang sedikit misterius. Mereka tak ada yang mengenalku secara dekat.

Maksudku, Ken, Jase dan Troy memang sudah berteman dan mendirikan The Batman sejak SMA, mereka baru mengenalku Dua tahun yang lalu. Saat mereka  baru memasuki sebuah dapur rekaman, dan management mereka memilihku untuk gabung bersama dengan The Batman. Sejak saat itulah aku menjadi teman mereka, menjadi bagian keluarga besar The Batman. Dan sejak saat itu, aku berambisi untuk membawa The Batman pada puncak kesuksesan.

Meski begitu, aku tak serta merta menceritakan semua tentang diriku pada mereka. Awalnya, aku ingin menceritakan tentang pernikahan kilatku dengan Ellie, tapi setelah kupikir-pikir lagi, sepertinya lebih sedikit orang yang tahu, maka lebih baik.

Maka, hanya segelintir orang saja yang kutahu, seperti, asisten pribadiku yang memang sudah sangat lama sekali bekerja dengan keluargaku, dan juga kepala management The Batman.

Aku ingin, mereka tak mengetahui apapun tentang Ellie, bukan karena aku ingin terlihat seperti pria lajang, tapi karena aku tak ingin hubungan pribadiku terekspos media. Lagi pula, sepertinya tidak penting juga membahas tentang statusku.

Kembali lagi pada Jase, Ken dan Troy. Ketiganya malah segera duduk di sofa yang tersedia saat mereka memilih mengakhiri latihan.

“Kita nggak jadi latihan?” tanyaku yang masih berdiri dengan Bass di tanganku.

“Elo kayaknya banyak pikiran. Mending tenangin diri dulu, musiknya juga bakal nggak nyambung kalau yang main pikirannya kemana-mana.” Ken menjawab. Ya, Ken benar.

“Terus, kita ngapain?”

Troy melompat bangkit. “Gue mau pasang tato, ada yang mau ikutan?” tawarnya.

Jason ikut bangkit. “Gue juga. Gue ikut.” Ucapnya.

“Ken, elo?” tanya Troy.

Ken hanya mengangkat kedua bahunya. “Gue sudah kemaren.”

“Sialan! Cuma dua doang.” Umpat Troy sembari mengejek.

Ya, diantara kami,  memang hanya Ken yang paling simpel. Tidak bajingan, dan paling setia. Ken hanya memiliki dua tato. Satu tepat di bawah tulang rusuk kirinya, bergambar sepasang mata cantik, mata kekasihnya. Dan satu lagi di pergelangan tangan kirinya tepat di atas nadinya, tato dengan huruf latin yang nyaris tak bisa terbaca, Kesha Kirana.

Aku tidak tahu, bagaimana mungkin Ken mengukir nama seorang wanita di tubuhnya. Maksudku, mereka hanya pacaran. Apa sedalam itu cinta yang dimiliki Ken untuk kekasihnya? Bagaimana jika mereka putus? Apa Ken akan  menghapus tatonya?

“Kalau elo? Nggak mau ikut?” tanya Troy padaku.

Aku yang sempat melamunkan tentang Ken akhirnya menjawab dengan spontan, “Ya, gue ikut.”

Entah apa yang membuatku berpikir untuk ikut dengan Troy, bahkan berpikir mengukir nama Dia di tubuhku. Astaga, apa aku sudah segila Ken? Yang benar saja.

***

Akhirnya, aku benar-benar mengukir namanya di tubuhku. Lebih menggelikan lagi bahwa aku menuliskannya tepat di dada kiriku. beruntung, sedikit banyak aku mengetahui tentang huruf Yunani kuno, jadi aku menuliskannya dengan huruf itu.

Jason, Troy maupun Ken tak akan mengerti apa yang sengaja kuukir di dadaku. Bahkan aku sendiri tak mengerti kenapa aku melakukan hal semenggelikan ini.

Dan sampai kapanpun, aku tak akan mengatakannya pada siapapun, apa makna dari tatoku ini.

Aku berdiri di depan cermin yang tersedia di tempat pembuatan tato itu. Menatap goresan tinta hitam yang baru saja selesai di dada kiriku, dan aku tersenyum.

Ellie, entah apa yang membuatku begitu menginginkan wanita itu. Tubuhnyakah? Mungkin saja. Tapi lebih dari itu, aku hanya ingin, bahwa ada sebagian dari dirinya menjaga kewarasanku, membuatku mampu mengendalikan ambisiku yang tak masuk akal, dan membuatku berpikir untuk pulang.

Karena itulah, aku menuliskan namanya di sini, di dada kiriku.

***

Sampai di apartmen, aku segera menghubungi Ellie. Entah kenapa ingin rasanya mendengar suara wanita itu. Aksen inggrisnya yang sangat kental, caranya mengucapkan bahasa indonesia yang masih terpatah-patah, oh, aku sangat menyukainya.

Panggilanku diangkat pada deringan kedua. “James, kamu menelepon?” Elie terdengar senang. Sesenang itulah ia mendapatkan telepon dariku?

“Ya, bagaimana kabarmu?” tanyaku.

“Baik, kamu sendiri?” tanyanya.

“Aku juga baik.” Hanya itu yang bisa kujawab. Entahlah, aku memang tak pandai berkata-kata.

“James, aku suka dengan hadiah natal yang kamu berikan.”

Aku mengerutkan keningku. “Hadiah?” tanyaku. Aku bahkan lupa jika sudah memberinya hadiah.

“Ya. Kalung itu, aku menyukainya.” Jawab Ellie.

Ahh ya, kalung. Aku memang sempat meninggalkan hadiah natal di atas meja saat meninggalkan Ellie malam itu. Hadiah itu berupa kalung, dengan bandul sebuah cincin yang di dalamnya terukir nama Mrs. Robberth.

Ya Tuhan! Ada apa denganku? Kenapa aku bisa semenggelikan itu?

“Lupakan saja, itu hanya kalung biasa.” Akhirnya aku menjwab seadanya. Aku tak tahu harus bersikap seperti apa, karena aku sendiri tak mengerti apa yang sudah kurasakan.

“Baiklah.” Ellie terdengar sedih. “Kamu tidak pulang? Kapan pulang?”

Pulang? Demi Tuhan! Aku  ingin. Astaga, menyentuhnya tak akan membuatku bosan. Bahkan aku seakan tak ingin berhenti. Tapi di sisi lain, aku tahu bahwa aku tak bisa seperti itu terus. Ada mimpi yang harus kukejar, ada sebuah keinginan besar untuk berada di puncak kepopuleran, dan hal itu harus kubayar dengan harga yang cukup mahal, yaitu mengabaikan istriku yang begitu cantik menggoda.

“Tidak. Mungkin aku pulang minggu depan.”

“Kamu sibuk?”

“Ya. Sangat.” Aku bohong. Tak ada kesibukan. The Batman bukanlah band yang terkenal saat ini. jadi aku tidak sesibuk yang kukatakan. Bahkan sekarang saja aku bisa pulang, tapi aku tak ingin. Aku tidak bisa bukan karena aku benci pulang, hanya saja…….

“Baiklah, aku akan menunggumu minggu depan, James.”

Aku memejamkan mataku frustasi.

Brengsek!

Bajingan!

Aku benar-benar seorang bajingan!

“Baiklah, Ellie. Aku akan menutup teleponnya. Cepat tidur.”  Dan sebelum dia membalas ucapanku, telepon kututup.

Sempurna.

Aku benar-benar bajingan bukan? Ya, biarlah, aku tak peduli. Untuk sementara, aku akan memerankan peran seperti ini dulu dengan Ellie. Dia akan menjadi simpananku, aku tahu dia akan menerimanya.

Meski ada sebuah rasa aneh yang menghhantamku ketika memperlakukannya dengan tidak adil, tapi aku berjanji jika akan memperhatikannya dari jauh. Ellie tak akan kekurangan apapun, Ellie akan baik-baik saja karena aku menjaganya dari jauh.

Sedangkan aku sendiri, aku tak akan khawatir dengan perasaanku, dengan rasa rinduku. Ellie sudah menyatu denganku, dia begitu dekat dengan jantung dan hatiku, dan dia akan selalu menjadi sosok yang mengingatkanku untuk pulang.

Ya, pulang kepadanya…

Aku menyandarkan tubuhku pada sandaran sofa, memejamkan mataku, sedangkan jemariku merayap, mendarat pada  nama Ellie yang terukir di dada kiriku…

Ellie, maafkan aku….. Aku akan pulang, aku janji… bisikku dalam hati.

 

-End-

 

Advertisements

My Beautiful Mistress – Bab 6

Comments 2 Standard

 

Tanpa diduga, jemari mungil Ellie mencari jemari Jiro, menggenggamnya dengan erat, kemudian ia berkata. “Perlu kamu tahu bahwa aku juga takut. Ini adalah pertama kalinya aku mengalami masa kehamilan. Aku takut, dan aku merasa sendiri.” kemudian dengan spontan Ellie membawa jemari Jiro peda perutnya. “Aku butuh kamu, bayi kita juga butuh kamu. Maukah kamu menemaniku menghadapi ketakutan kita bersama-sama?”

Jiro menatap Ellie dengan intens, secara spontan Jiro mengangguk. Ya, ia mau melewati semuanya dengan Ellie, ia mau mengadapi ketakutannya bersama istrinya tersebut. Tapi dapatkah ia melakukannya? Sanggupkah ia menghadapinya?

***

Bab 6

 

Jiro masih bungkam seribu bahasa, bahkan setelah Dokter Sandra selesai melakukan USG. Ellie sendiri tidak bisa menebak apa yang dirasakan Jiro, apa yang dipikirkan oleh lelaki itu. Meski sejak tadi Jiro tak berhenti menggenggam telapak tangannya, tapi Ellie masih merasa sedikit takut, jika Jiro tak siap menjadi orang tua dan memilih untuk menyerah.

Akhirnya, Ellie bangkit, ia membersihkan sisa gel pada permukaan kulit perutnya dengan tissue yang tersedia di sana. Jiro hanya mengamatinya saja dan hal itu benar-benar membuat Ellie tak nyaman.

“Kamu kenapa James? Apa yang kamu pikirkan?” Ellie bertanya dengan sedikit kesal karena sejak tadi Jiro tak menampilkan reaksi apapun selain hanya diam dengan wajah datarnya.

“Tidak ada.” Hanya itu jawabannya dan hal itu membuat Ellie semakin kesal.

“Kalau kamu tidak suka dengan hal ini. Maka aku janji bahwa ini akan menjadi pengalaman terakhir kamu mengantarku ke sini.”

“Aku tidak bilang tidak suka. Jangan berpikir macam-macam.”

“Tapi kamu hanya diam dan tidak bereaksi apapun!” Ellie berseru keras.

“Diam bukan berarti tidak suka.” Dengan sendirinya jemari Jiro mendarat pada perut Ellie, dan hal tersebut benar-benar membuat Ellie terkejut. “Aku hanya masih tidak percaya, ada sebagian dari diriku yang tumbuh di sini.” Jiro berkata dengan sangat lembut. Padahal Ellie hampir lupa, kapan terakhir kali Jiro berkata dengan nada selembut ini.

Dan tanpa diduga, Ellie segera memeluk Jiro. Membuat Jiro tertegun dengan apa yang dilakukan istrinya tersebut. “Terimakasih, James.” Ucapan terimakasih tersebut bahkan tak dimengerti Jiro. Untuk apa Ellie berterimaksih kepadanya?

***

“Ini resep yang harus ditebus di apotek.” Ucap Dokter Sandra sembari menyodorkan sebuah kertas bertuliskan daftar obat.

“Obat? Apa ada masalah? Kenapa harus minum obat?” tanya Jiro khawatir.

Dokter Sandra tersenyum. “Itu hanya vitamin untuk ibu hamil, dan obat mual. Walau Nyonya Ellie bilang jika dia tidak merasakan mual muntah sepereti kebanyakan ibu hamil, tapi untuk berjaga-jaga saja. Tidak perlu diminum jika tidak mual.”

Jiro hanya mengangguk.

“Jadi, saya jadwalkan untuk kesini lagi bulan depan, di tanggal yang sama.” Dokter Sandra menandai pada kalendernya. “Saya harap, Anda juga ikut kembali, Tuan Jiro.” Ucap Dokter Sandra sungguh-sungguh.

“Sebenarnya, saya sangat ingin. Dan saya ingin membahas hal ini sejak tadi. Apa Rumah sakit ini melindungi privasi pasiennya?”

“Saya kira semua rumah sakit memiliki privasi. Ada masalah?”

Jiro ingin mengatakan kekhawatirannya tentang media yang mungkin saja memergokinya di tempat ini dengan Ellie. Tapi sepertinya, tak ada gunanya membahas tentang masalahnya ini dengan Dokter Sandra.

Akhirnya Jiro hanya menjawab “Tidak.”

Dokter Sandra sendiri mengerti apa yang ada di dalam pikiran Jiro. “Anda tenang saja, Saya dan staf saya akan melindungi privasi pasien dan keluarga.”

Dokter Sandra dan susternya memang iya, tapi Jiro tak bisa menjamin pengunjung rumah sakit lain atau bahkan mungkin suster-suster lain.

Jiro hanya tersenyum dan mengangguk. “Terimakasih.” Kemudian ia dan Ellie bangkit dan bersiap meninggalkan ruangan Dokter Sandra. Dokter Sandra sempat berpesan agar Ellie menjaga kesehatan dirinya dan juga bayinya sebelum keduanya hilang dibalik pintu ruangannya.

Jiro keluar bersama dengan Ellie di sebelahnya. Orang-orang yang menunggu di sana dan tadi sempat mengerubungi Jiro akhirnya menatap kepergian keduanya. Jiro meraih telapak tangan Ellie, dan dengan posesif ia menggenggam erat telapak tangan istrinya tersebut sembari berjalan lurus seakan tak mempedulikan mata yang menatap ke arahnya.

Di sudut lain, seseorang berkata pada temannya dengan gembira. “Ini kalau gue kirim ke akun gosip, bakal rame. Dan bakal jadi gosip panas mengalahkan gosip tentang gadis misteriusnya Jason.” Ucap orang tersebut sembari membuka-buka gambar yang berhasil ia tangkap dengan ponselnya. Bahkan orang tersebut sempat memvideokan kebersamaan Jiro dengan Ellie.

“Elo yakin?” tanya temannya.

“Yakin lah… Dan gue pasti dapat duit kalo bisa ngasih bukti video dan foto-foto ini.”

“Wahh, jangan lupa teraktir. Oke?”

“Sip. Sekarang, bantu gue cari akun gosip yang berani bayar mahal video gue.”  Setelah itu, keduanya kembali pada pekerjaan masing-masing dengan pikiran masing-masing.

***

Ellie tidak tahu Jiro mengajaknya ke mana. Mereka berhenti di basement sebuah gedung apartmen. Tanpa banyak bicara, Jiro melepas seatbeltnya dan juga membantu Ellie melepaskan seatbealt yang dikenakan Ellie. Ellie tak mengerti, sejak kapan Jiro menjadi semanis ini.

Kemudian Jiro membuka suaranya, berkata bahwa ini adalah gedung apartmen dimana ia tinggal selama ini. Astaga, bahkan Ellie baru tahu jika selama ini Jiro tinggal di gedung ini.

“Kenapa kamu ngajak aku ke sini?” tanya Ellie kemudian.

“Tadi, ada orang yang ngangkut barangku, tapi ada beberapa yang tertinggal dan aku ingin mengambilnya sekalian.”

“Kamu benar-benar pindah?”

“Ya. Bukannya kamu yang minta?”

Ellie tersenyum. Ia senang dengan sikap Jiro yang hangat.

“Ayo keluar.” Ajak Jiro. Dan Ellie hanya menganggukkan kepalanya.

***

Yang ada di dalam benak Ellie saat memasuki apartmen suaminya adalah, bahwa apartmen itu cukup besar dan luas. Interiornya maskulin, bahkan jika ada tamu, si tamu akan mengenali jika apartmen ini milik seorang lelaki. Tak ada hiasan berharga di sana. Hanya ada satu dua lukisan yang terbingkai di dinding. Tak ada foto apapun di sana. Jangankan fotonya, foto lelaki itu sendiripun tak ada.

Ellie menuju ke sebuah lemari besar yang terbuat dari kaca. Di sana ada beberapa benda seperti gitar yang dijadikan menjadi sebuah pajangan. Apakah itu Bass milik Jiro? Apakah alat itu yang biasa dimainkan Jiro? Tiba-tiba, Ellie ingin melihat Jiro memainkan salah satunya.

Selama ini, Ellie hanya melihat penampilan Jiro melalui Youtube. Tak pernah sekalipun ia melihat penampilan Jiro secara nyata di hadapannya. Saat melihat di Youtube, Ellie sangat terpana. Meski suaminya itu bukanlah seorang vokalis atau penyanyi yang merupakan sosok vital di dalam sebuah band, nyatanya, dimata Ellie hanya Jirolah yang paling bersinar di sana.

Ellie mengamati Bass Jiro satu persatu, hingga ia tidak sadar jika saat ini Jiro sedang mengamatinya.

“Apa yang kamu lihat?” tanya Jiro kemudian.

Ellie membalikkan tubuhnya, dan ia mendapati Jiro berdiri tepat di belakangnya. “Uum, ini gitar?” tanyanya sambil menunjuk salah satunya.

“Bass. Kalau ini.” Jiro membuka lemari tersebut dan mengambil salah satunya. “Ini gitar.”

“Kamu bisa memainkannya?”

“Ya. Selain memainkan Bass, aku juga suka main gitar.”

“Aku tidak pernah melihatmu memainkannya.”

Tentu saja. Bahkan bertemu saja jarang. Ingat, Jiro hanya akan menemui Ellie ketika lelaki itu sedang membutuhkan sebuah pelepasan. Setelah itu, mereka kembali hidup sendiri-sendiri.

“Aku sangat jarang bermain gitar di hadapan orang. Permainanku tak sebagus Ken.”

“Ken?” tanya Ellie. Ellie tahu tentang The Batman. Tapi Ellie tidak peduli tentang personil lainnya kecuali Jiro. Karena baginya, The Batmanlah yang membuat Jiro jauh dari dirinya, jadi Ellie tidak begitu suka dengan band suaminya tersebut.

“Duduklah dulu. Aku akan membuatkanmu minum.”

“Tapi, aku ingin mendengarmu bermain gitar.” Ucap Ellie kemudian. Ellie ingin menguji Jiro, apa lelaki itu akan menuruti keinginannya atau tidak. Bersikap manja dengan Jiro saat ini sepertinya bukan masalah. Ia hanya perlu menggunakan kehamilannya sebagai alasan, seperti yang disarankan Mei.

“Aku akan memainkannya nanti, duduk saja dulu.”

Dengan senang hati, Ellie duduk di sofa panjang milik Jiro yang berada tepat di sebelah jendela apartmen Jiro. Apartmen lelaki ini berada di lantai Lima belas, cukup tinggi hingga bisa membuat Ellie melihat ke arah jalanan kota Jakarta yang terlihat dari dalam apartmen Jiro.

Ketika Ellie menikmati pemandangan di luar jendela. Saat itulah Jiro menghampirinya dengan membawakan sesuatu yang mengepul dari dalam cangkir.

“Cokelat panas.” Ucapnya sembari menyuguhkan cangkir tersebut di hadapan Ellie.

Jiro kembali menuju ke arah jajaran Bass dan juga gitarnya, mengambil sebuah gitar lalu menuju ke arah Ellie. Ia duduk tepat di sebelah Ellie, dan Ellie merasa jantungnya berdebar tak karuan.

“Lagu apa yang mau kamu dengar?” tanya Jiro kemudian.

“Entah. Aku hanya ingin melihatmu bermain musik saja.”

Jiro mulai memetik gitarnya. “Selama ini, apa kamu nggak pernah melihatku bermain musik?”

“Pernah. Sering. Tapi hanya lewat youtube.” Jawab Ellie dengan jujur.

Jiro tersenyum. Kepolosan Ellie telah kembali, Jiro senang.

There goes my heart beating

‘Cause you are the reason

I’m losing my sleep

Please come back now

Jiro mulai bernyanyi. Ternyata, Suara lelaki itu tak kalah bagus dengan suara sang vokalis The Batman. Jiro memiliki suara serak-serak basah yang mebuat Ellie terpana seketika saat mendengarkan lelaki itu bernyanyi.

There goes my mind racing

And you are the reason

That I’m still breathing

I’m hopeless now

Lagu Calum Scott terdengar begitu romantis saat Jiro menyanyikan dengan suara seraknya. Petikan gitar lelaki itu begitu pas. Astaga, sejak kapan lelaki ini terlihat sangat romantis di mata Ellie?

I’d climb every mountain

And swim every ocean

Just to be with you

And fix what I’ve broken

Oh, ’cause I need you to see

That you are the reason

Astaga, entah apa yang membuat lagu tersebut begitu mengena di hati Ellie. Jiro masih melanjutkan lagunya, setiap katanya, setiap artinya, seakan pas dengan apa yang terjadi dengan mereka. Apa Jiro sengaja memilih lagu itu untuk menggambarkan apa yang ia rasakan?

Tidak mungkin!

Mungkin hanya kebetulan saja. Dan mungkin karena hormon sialannya yang membuat Ellie berpikir macam-macam bahwa lagu itu begitu pas dengan apa yang terjadi pada hubungan mereka.

Ellie masih mendengarkan dengan seksama. Jantungnya masih berdebar dengan cepat, bahkan lebih cepat dari sebelumnya. Matanya tak berhenti menatap ke arah Jiro. Jiro begitu menikmati lagunya, lelaki itu seakan bercerita tentang apa yang ia rasakan.

Tapi itu lagi-lagi tidak mungkin!

Jiro bukan pria yang romantis, jadi Ellie cukup tahu bahwa apa yang dilakukan Jiro saat ini hanya sebatas menuruti kemauannya. Hanya memanyi, bukan bercerita tentang apa yang dirasakan lelaki itu. Ya, hanya itu.

Pada saat bersamaan, Jiro telah menyelesaikan lagunya. Dengan spontan Ellie bertepuk tangan. Ia sangat menikmati pertunjukan kecil Jiro tersebut. Jiro menatapnya dan lelaki itu tersenyum. Entah sudah berapa kali lelaki itu tersenyum padanya sepanjang hari ini, Ellie tidak tahu. Yang Ellie tahu adalah bahwa ia sangat menikmati kebersamaannya dengan Jiro.

“Kamu ternyata punya suara yang bagus.”

“Tidak sebagus yang lain. Jase memiliki suara emas dan sangat sempurna ketika bernyanyi, begitupun dengan Ken.”

“Oohh.” Hanya itu tanggapan Ellie, karena ia tidak mengenal Jase atau Ken yang disebutkan Jiro, jadi Ellie tidak tahu harus menanggapi seperti apa.

“Maaf. Aku belum bisa mengenalkanmu pada mereka.” Tiba-tiba saja Jiro mengucapkan kalimat itu.

“Tidak apa-apa. Aku juga tidak ingin mengenal mereka.” Jawab Ellie cepat.

“Kenapa?”

“Tidak penting.”

Jiro tertawa lebar. Ia tidak menyangka bahwa jawaban istrinya akan seperti itu. Astaga, The Batman saat ini berada di puncak popularitas, siapa saja ingin mengenal mereka secara pribadi, dan Ellie, wanita itu benar-benar tampak enggan membahasnya. Jika Jason, Ken atau bahkan Troy tahu, pasti teman-temannya akan penasaran, seperti apa Ellie sebenarnya.

“Jason itu orang yang sangat diinginkan di kalangan anak muda. Dia memiliki suara emas, penjiwaannya keren. Begitupun dengan Ken. Dia sangat berbakat, juga memiliki suara yang bagus, dia vokalis kedua kami. Jase dan Ken adalah yang paling sering menciptakan lagu-lagu untuk The Batman. Sedangkan Troy, dia terkenal di kalangan model, dia panas dan sangat menggoda untuk wanita-wanita.”

“Kan aku sudah bilang bahwa aku tidak peduli.”

“Kenapa?” tanya Jiro memancing Ellie.

“Aku sudah bersuami.”

Jiro mengangguk. “Oh ya? Meski suamimu tak sekeren mereka?”

“Kata siapa? Suamiku adalah yang paling keren.”

“Sekeren apa?”

Ellie tidak bisa menjawab. Ellie tidak tahu apa yang membuat Jiro tampak lebih keren dan mempesona dibandingkan dengan lelaki lainnya. Bahkan sejak menikah dengan lelaki itu, Ellie tak pernah berpikir melirik sedikitpun pada lelaki lain. Ia tidak tahu dan ia tidak mengerti kenapa Jiro begitu memikatnya.

“Aku tidak tahu. Yang kutahu, bahwa dia adalah yang paling bersinar diantara yang lain.” Jawab Ellie masih dengan menundukkan kepalanya.

Jiro tertegun mendengar jawaban dari istrinya tersebut. “Kamu menyukainya?” tanyanya dengan spontan, wajah Jiro bahkan lebih serius ketimbang tadi.

“Ya. Jika tidak, maka aku tidak akan bertahan di sisinya.”

Lagi-lagi Jiro bertindak dengan spontan, ia menangkup kedua pipi Ellie lalu mendaratkan bibirnya pada bibir wanita itu. Jiro mencumbu Ellie dengan begitu lembut. Ia menciumnya dengan penuh perasaan. Oh, Jiro tak pernah melakukan hal ini sebelumnya, tidak dengan Ellie, tidak juga dengan wanita lain. Hatinya sangat sulit disentuh, tapi jawaban Ellie tadi benar-benar mampu menyentuh hatinya. Jawaban sederhana dan polos.

Bodoh! Sangat bodoh! Karena selama ini ia sudah menyia-nyiakan istrinya yang cantik jelita ini, mengabaikan keberadaan wanita yang polos dan sederhana seperti Ellie. Jiro benar-benar merasa menjadi seorang yang paling tolol. Bagaimana mungkin ia bisa buta?

Setelah cukup lama saling mencumbu mesra satu sama lain, Jiro melepaskan tautan bibir mereka ketika merasakan napas Ellie sudah terputus-putus. Wanita itu menunduk seketika, kulitnya merah merona, seakan gugup dengan apa yang baru saja terjadi diantara mereka.

Jiro mengangkat dagu Ellie, berkata dengan spontan pada wanita itu. “Aku menginginkanmu.”

Jiro tak pernah menunjukkan secara terang-terangan hasrat seksualnya. Karena biasanya, ia hanya akan memulainya begitu saja tanpa banyak bicara. Tapi kini, Jiro seakan ingin menunjukkan pada Ellie, bahwa lelaki itu benar-benar menginginkan Ellie.

Ellie tak dapat menolaknya, karena ia memiliki keinginan yang sama dengan apa yang diinginkan Jiro. Cumbuan lelaki itu benar-benar memabukkan. Ellie ingin mengulangi malam indah saat itu. Ellie ingin bercinta kembali dengan Jiro. Percintaan yang sesungguhnya, bukan hanya seks untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.

Karena Ellie tidak mengungkapkaan penolakannya, akhirnya Jiro bangkit kemudian tanpa banyak bicara lagi ia mengangkat tubuh Ellie, menggendongnya masuk ke dalam kamarnya.

Ellie sempat terkejut dengan apa yang dilakukan Jiro, tapi ia tidak membantah, menolak, apalagi meronta. Ia menginginkan Jiro bersikap lembut seperti ini. Jadi yang bisa Ellie lakukan hanya diam saja, menuruti apapun keinginan lelaki tersebut.

Jiro menurunkan Ellie di dekat ranjang. Ellie sempat mengamati bagaimana interior kamar Jiro yang hampir mirip dengan ruangan tengah. Tak ada hiasan apapun, tapi Ellie juga sempat melihat beberapa gitar dan Bass yang terpajang di sudut ruangan.

Ellie berdiri menghadap ke arah Jiro, Jiro begitu dekat dengannya. Tanpa diduga, lelaki itu membuka pakaiannya sendiri hingga bertelanjang dada. Ada banyak tatto di tubuh Jiro, membuat Ellie mengagumi bagaimana gagahnya lelaki tersebut. Padahal Ellie tahu ini bukanlah pertama kalinya Ellie melihat Jiro bertelanjang dada.

Jemari mungil Ellie dengan spontan mendarat pada dada bidang Jiro. Menyentuhnya dengan berani, mengamati inchi demi inchi tinta hitam yang terlukis di tubuh suaminya tersebut. Ya, baru kali ini Ellie melihat dengan jelas bagaimana tulisan tersebut terlukis dengan sempurna di tubuh suaminya. Hingga kemudian, jemarinya berhenti pada huru-huruf aneh yang terletak pada dada kiri suaminya.

“Apa ini?” tanyanya.

“Tatto.”

“Aku tahu. Kenapa kamu memiliki tatto seperti ini?” tanya Ellie penasaran. Itu adalah huruf-huruf Yunani kuno. Ellie tidak tahu kenapa Jiro bisa memiliki tato dengan huruf Yunani kuno. Ellie berharap mengetahui apa artinya.

“Kenapa? Kamu tidak suka? Aku bisa menghapusnya jika kamu tidak suka.”

Ellie menggelengkan  kepalanya. Ellie hanya ingin tahu apa artinya.

Elisávet. Itu ejaannya.” Wajah Ellie terangkat menatap ke arah Jiro seketika. “Ellisabeth.” Jiro sedikit tersenyum “Kupikir itu mirip dengan nama istriku, jadi aku menulisnya di sana.” Lanjutnya.

“Kenapa?” dengan spontan Ellie bertanya. Ya, kenapa Jiro menuliskan namanya dalam bahasa Yunani di tubuh lelaki itu?

“Mungkin, untuk mengingatkanku, bahwa aku memiliki istri yang bernama Ellisabeth, dan dia sedang menungguku pulang.”

Mata Ellie berkaca-kaca.

“Nyatanya, aku tetap lupa untuk pulang.” Lanjut Jiro lagi.

Dengan berani, Ellie menjinjitkan kakinya, mengalungkan lengannya pada leher Jiro, kemudian menggapai bibir suaminya tersebut. Ellie tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Astaga, bisa saja Jiro membohonginya, bisa saja Jiro hanya merayunya dengan tatto tersebut. Tapi Ellie tidak peduli. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah perasaannya yang seakan semakin membuncah untuk suaminya tersbut. Tidak salah bukan jika ia merasakan perasaan seperti ini pada suaminya sendiri?

-TBC-

(Mini Story) – Natal Pertama (My Beautiful Mistress)

Comments 10 Standard

 

Dislaimer : Haiii… ini dia mini story pertama yang aku Posting di blog aku, dan hanya di blog yaa… mungkin nanti bakal aku convert dan aku jual juga di google play, tapi aku jamin, di blog gak akan aku hapus mini story ini. INFO juga, cerita ini TIDAK ada di dalam novel my beautiful mistress sendiri. jadi kayak cerita ini itu Oneshoot atau side story cerita utama my beautiful mistress gitu yaa.. hahhaahhaah  dan betewe, aku juga bakal bikin mini story cerita lainnya, entah ceritanya kak Dhanni, Renno, Brandon, atau yang lainnya. jadi biar Blog aku kembali seperti suasana dulu, rame dan asikk.. okee…. ya sudah, happy reading….

 

(My Beautiful Mistress) – Natal  Pertama

 

Aku masih duduk tepat di depan jendela. Kulihat hujan tak berhenti turun. Jika ini di inggris, mungkin salju yang turun. Astaga, aku merindukan salju. Besok adalah natal pertama yang kulalui tanpa kedua orang tuaku.

Beberapa bulan yang lalu, aku menikah dengan seorang yang tak kukenal. Namanya James Drew Robberth. Seorang yang cukup pendiam, dan bagiku sedikit misterius. Kahidupan pernikahan kami biasa-biasa saja awalnya, tapi kemudian, semua menjadi tak normal ketika James memutuskan untuk pindah ke apartmen yang baru ia beli.

Semua karena ambisinya menjadi seorang artis. Ia tidak ingin hubungan pernikahan kami terendus oleh media. Karena James juga memiliki kontrak dengan pihak managementnya. Dan yang bisa kulakukan hanya menerimanya saja. Toh, aku masih tetap menjadi istrinya.

Bicara tentang James, sebenarnya, aku tak menyesal menikah dengannya. Walau dingin, pendiam dan terkesan tak peduli, James adalah sosok yang baik. Dia memenuhi apapun yang kuinginkan, dia memberiku segala fasilitas layaknya aku seorang ratu. Dan dia sangat tampan.

Aku terpesona pada pandangan pertama dengannya. Jantungku selalu berdebar tak karuan saat berada di dekatnya. Dan hal itulah yang membuatku bertahan di sisinya, meski sebenarnya kini hubungan kami jauh dari kata normal.

James hanya akan pulang ketika dia membutuhkan sebuah pelepasan. Setelah itu dia pergi lagi. Dia bahkan tak pernah tidur di rumah ini. mungkin jika tidur, dia memilih tidur di kamar lain atau mungkin di sofa.

Aku tak tahu apa yang terjadi dengannya, apa yang dia rasakan padaku. Kenapa dia seolah menghindariku. Dan hal itulah yang membuatku sedih.

Aku merasa sendiri, aku merasa diabaikan, aku merasa dicampakan, tapi disisi lain, aku merasa bahwa James begitu perhatian padaku.

Kini, Natal pertamaku di negeri ini, dan James belum pulang sejak dua hari yang lalu. Apa dia sibuk?

Kupikir, Bandnya belum cukup terkenal, jadi sepertinya dia tidak sedang sibuk. Ingin sekali aku menghubunginya, tapi James selalu berpesan padaku bahwa aku tidak boleh menghubunginya sebelum dia sendiri yang menghubungiku.

Aku merasa sendiri…

Aku merasa kesepihan…

Tuhan, apa yang harus kulakukan?

Akhirnya aku memilih bangkit dari tempat dudukku. Aku masuk, menuju ke arah kamar. Di dalam kamar terdapat sebuah pohon natal kecil, di ujung ruangan. Aku tersenyum melihatnya.

James yang membelikannya beberapa saat yang lalu, dia tahu bahwa aku cukup religius mengingat ayahku adalah seorang pendeta. James bahkan menyediakan sebuah tempat di sudut rumah ini yang ia sebut sebagai gereja pribadiku. Ya, dia bahkan menghiasnya dengan patung Yesus dan sejenisnya. Hal-hal seperti itulah yang kadang membuatku bingung dengan sikapnya. Dia baik, tapi kadang, aku merasa dia tak cukup adil memperlakukan diriku sebagai istrinya.

Aku kembali menghela napas panjang. Kakiku menuju ke arah lemari dan mencari pernak pernik natal untuk menghias pohon natal mungil di sudut kamarku.

Sesekali aku bersenandung, membayangkan bahwa natal tahun ini sama seperti natal sebelum-sebelumnya. Bahwa aku masih berada di Inggris, dengan kedua orang tuaku, dan aku masih sendiri. Belum memiliki suami, belum memiliki James.

Ya, karena itulah yang sedang kurasakan saat ini. Sendiri dan sepi….

Jingle bells, jingle bells

Jingle all the way!

Aku mulai bersenandung, kupasangkan pernak-pernik natal pada pohon cemara buatan yang mungil. Seakan menghibur diriku sendiri saat kesepihan melanda.

Oh what fun it is to ride in a one-horse open sleigh

Jingle bells, jingle bells

Jingle all the way!

Oh what fun it is to ride in a one-horse open sleigh

Meski lagunya adalah lagu ceria, tapi entah kenapa aku merasakan kesedihan yang amat dalam. Aku kesepihan, sangat kesepihan di malam natal ini.

Dan setelah aku membohongi diriku sendiri dan mencoba bersikap kuat, pertahananku runtuh.

Aku terduduk di dekat pohon natal. Memeluk lututku sendiri, kemudian menangis.

Aku kesepihan…

Aku merindukan ibu dan ayah…

Dan aku merindukan James…

Kenapa dia tidak pulang?

***

Rupanya, aku menangis hingga tertidur di sana. Sedikit terkejut saat aku bangun dan sudah berada di atas ranjangku. Yang lebih mengejutkan adalah bahwa tubuhku sudah polos tanpa sehelai benangpun dan hanya tertutup oleh selimut tebal.

Dalam sekejap mata, aku merasakan seseorang menindihku. Dia James, dia pulang. Dan aku senang.

James hanya menatapku, dan aku tersenyum.

“Kamu pulang, James.”

“Ya.” Hanya itu jawabannya.

Tanpa kuduka, James menundukkan kepalanya, dia menciumku. Bukan ciuman yang lembut, tapi aku cukup mengerti bahwa ciuman itu adalah tanda jika dia sedang menginginkanku.

Dan benar saja, tak lama kemudian, James menyatukan diri. Yang bisa kulakukan hanyalah menggigit bibir bawahku. Aku ingin mengerang, tapi aku cukup malu melakukannya. Seks yang kulakukan dengan James biasanya memang hanya seperti ini. Dia lelaki panas yang mampu menggoda siapa saja, tapi aku cukup malu mengakui apa yang kurasakan. Hubunganku dengan James tidak sedekat itu, tidak seintim itu. Kami bahkan jarang saling berbicara.

James mulai menggerakkan tubuhnya, menghujam lagi dan lagi, dan yang bisa kulakukan hanya diam. Aku sudah cukup senang saat dia senang, aku sudah cukup senang saat dia pulang kepadaku. Aku tak akan menuntut lebih karena aku…. Aku mencintainya..

Astaga, entah sejak kapan aku merasakan perasaan ini. Tapi Ya, aku mencintainya. Mencintai James Drew Robberth, lelaki yang sering mengabaikanku, lelaki yang sering membuatku sedih, lelaki yang berstatus sebagai suamiku. Aku mencintainya, meski aku tak yakin, apa yang dia rasakan terhadapku.

Entah sudah berapa kali James memuaskan diri, aku tak peduli, yang kupedulikan hanyalah kewajibanku terhadapnya, untuk membuatnya senang, untuk memuaskannya. Hingga ketika James memutuskan untuk berhenti, aku terkulai lemah tak bertenaga.

Rasa kantuk tiba-tiba menyergapku. Samar-samar kulihat James bangkit, dia memunguti pakaiannya sendiri, mengenakannya. Dan aku hanya bisa tersenyum.

Dia akan pergi lagi…

Dia datang hanya untuk meminta haknya…

Setelah itu dia pergi lagi…

Aku memejamkan mataku, menghentikan bulir air mata agar tidak tumpah dari pelupuk mataku. Lagi pula, aku sudah sangat lelah. Aku ingin tidur, dan mungkin bangun dua hari setelahnya.

Mataku mulai terpejam, dalam kegelapan aku merasakan bibir James menyapu keningku, lalu dia berucap dengan lembut…. “Selamat Natal, Ellie, istriku.”

Aku hanya tersenyum, tak ingin membuka mata karena aku takut jika ini semua hanya mimpiku. Air mataku jatuh dengan sendirinya. Mungkin benar itu hanyalah mimpi, tapi aku tahu bahwa itu akan menjadi mimpi terindah untukku.

Kemudian aku memposisikan diri senyaman mungkin, kembali tertidur dan kembali bermimpi indah. Natal pertama setelah menjadi istri James, ternyata tidak buruk. Aku memang sendirian di negeri ini, aku kesepihan, tapi aku memiliki James, dan James membuatnya indah dengan caranya sendiri.

Selamat Natal, James. Aku mencintaimu….

-End-

My Beautiful Mistress – Bab 5

Comment 1 Standard

Aku updateee… yeaaayyy… happy readingg… muwaaahhhh

 

Bab 5

 

Pagi telah tiba. Ellie terbangun dan segera mencari lengan yang semalaman memeluknya. Nyatanya, ia mendapati ranjang sebelahnya kosong. Tak ada Jiro di sana dan hal itu membuat Ellie sedih. Ia terduduk di pinggiran ranjang, kemudian merutuki kebodohannya sendiri. Jiro tak mungkin bisa berubah secepat itu. Mungkin, semalam lelaki itu mengendap-endap pergi meninggalkannya ketika ia tidur.

Akhirnya, Ellie bangkit, dan ia bergegas menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat ia sudah keluar dari kamar mandi, tiba-tiba indra penciumannya menangkap aroma masakan. Apa Mei yang memasak? Dalam hati Ellie yang paling dalam ia berharap bahwa ia akan melihat Jiro di dapur. Tapi sepertinya itu tidak mungkin.

Dengan langkah lemah, Ellie keluar dari dalam kamarnya dan menuju ke arah dapur rumahnya. Rupanya, Jiro benar-benar ada di sana.

Ellie melangkah dengan cepat menuju ke arah Jiro. Dan dengan spontan ia memeluk tubuh Jiro dari belakang.

Jiro yang tengah sibuk membuat omlet terkejut ketika tiba-tiba lengan mungil itu memeluk tubuh kekarnya. Jiro bahkan sempat membatu beberapa detik, tubuhnya kaku karena tak menyangka jika akan dipeluk secara tiba-tiba seperti ini.

“Apa yang kamu lakukan?” dengan spontan Jiro menanyakan hal tersebut dengan nada dinginnya. Jika boleh jujur, Jiro benar-benar tak nyaman dengan sikap manja Ellie.

Seketika itu juga Ellie melepaskan pelukannya. Ia tidak berharap reaksi Jiro akan sekeras itu padanya. Astaga, ia hanya memeluknya, seharusnya Jiro tak perlu berkata dengan nada sedingin itu.

Jiro membalikkan tubuhnya seketika. Ia menatap Ellie yang tampak sedih karena ulahnya. “Maaf, aku hanya terlalu terkejut.” Mau tak mau Jiro mengalah.

“Kamu kayak sedang mengantisipasi apa yang sedang kulakukan.”

“Kalau boleh jujur, aku memang merasa tidak nyaman dengan semua ini.”

“Kalau begitu, kamu boleh pergi dan mencari kenyamanan sialanmu.” Ucap Ellie dengan ketus sebelum dia membalikkan tubuhnya dan bersiap pergi meninggalkan Jiro. Tapi baru beberapa langkah, Jiro tiba-tiba menyusulnya. Lebih mengejutkan lagi, lelaki itu memeluknya dari belakang.

Kali ini, giliran Ellie yang membatu karena ulah suaminya tersebut.

“Maaf, aku sudah minta maaf.”

Entah perasaan Ellie saja atau memang Jiro sejak kemarin sering sekali mengucapkan kata maaf. Kenapa? Apa lelaki itu merasa bersalah padanya? Apa yang membuatnya merasa bersalah padahal selama ini Jiro tak pernah sekalipun menunjukkan sikap tersebut padanya?

“Aku akan menemanimu sepanjang hari, jadi, jangan membuatnya jadi sulit dengan merajuk seperti ini.”

Ellie hampir bersorak saat Jiro mengatakan niatnya untuk menemaninya seharian.

“Jadi, kenapa kamu bisa menemaniku seharian? Memangnya kamu tidak sibuk?”

“Troy menelepon tadi pagi. Katanya hari ini tidak akan ada latihan dan jadwal lain. Aku bebas.”

Ellie tersenyum senang. Ia tahu bahwa Jiro tak akan mungkin bisa melihatnya. Karena lelaki itu sekarang masih sibuk memeluk tubuhnya dari belakang. Wajah lelaki itu bahkan sesekali tersembunyi dibalik rambut kuning keemasa milik Ellie.

“Apa yang bisa memperbaiki kesalahanku?” tanya Jiro kemudian. Ellie memiliki sebuah rencana. Tapi ia sangsi jika Jiro mau menuruti kemauannya.

Akhirnya Ellie melepaskan pelukan Jiro, kemudian membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arah Jiro.

Ya Tuhan! Lelaki ini benar-benar tinggi, dan tampak gagah. Ellie selalu menyadari hal itu ketika ia berada di hadapan Jiro dalam keadaan tidak mengenakan sepatu hak tinggi. Ellie lebih pantas dilihat sebagai adik lelaki itu, mengingat usia mereka yang memiliki selisih cukup jauh, ditambah lagi postur tubuh mereka yang benar-benar tidak cocok. Jiro dengan tubuh tinggi kekarnya, sedangkan Ellie dengan tubuhnya yang mungil. Bahkan tingginya tak lebih dari sebahu Jiro.

“Sebenarnya ada.” Jawab Ellie masih dengan mengendalian diri penuh. Ia tidak boleh tergoda dengan Jiro. Meski ia menginginkan berhubungan intim lagi dengan Jiro seperti malam itu, nyatanya Ellie memilih menahannya. Ia tahu bahwa Jiro sedang berusaha untuk berubah. Ia ingin Jiro berada di sampingnya karena perhatian dan pengertian padanya, bukan karena lelaki itu sedang ingin memuaskan hasrat seksualnya.

“Apa?” tanya Jiro kemudian. Ia tidak suka basa-basi. Lebih cepat menuruti apa kemauan Ellie maka lebih baik agar ia tidak terlalu terbawa dengan permainan yang seakan sengaja di mainkan oleh Ellie.

“Jadi, maukah kamu mengantarku ke Dokter siang nanti?”

“Apa? Itu tidak mungkin.”

“Kenapa tidak?”

“Karena orang-orang di rumah sakit akan melihatku dan mengenaliku.”

“Aku tidak peduli. Kamu kan bisa menyamar. Pakai rambut palsu atau sejenisnya.”

Jiro bergidik ngeri saat ia membayangkan mengenakan rambut palsu. “Tidak lucu, Ellie. Aku tidak bisa mengantarmu ke sana. Oke?”

Ellie tahu bahwa rencananya akan gagal jika ia memaksa Jiro. Akhirnya, Ellie menggunakan cara lain. Ia hanya menatap Jiro dengan mata sendunya, kemudian membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan lelaki itu.

Jiro sendiri yang menatapnya segera ditumbuhi oleh rasa kasihan. Jiro tahu bahwa memang seharusnya ia yang mengantar Ellie ke dokter. Bagaimanapun juga, ia ingin mengetahui keadaan anaknya yang kini sedang dikandung oleh wanita itu.

Anaknya?

Sembari menggelengkan kepalanya, Jiro berjalan cepat menyusul Ellie. “Oke, aku akan mengantarmu.”

“Biasanya, rumah sakit memiliki privasi. Seharusnya kamu tidak perlu khawatir. Lagi pula, tak mungkin semua orang disana mengenalmu. Kamu hanya seorang Bassis dari band Rock. Menurutku, hanya satu dua orang kesehatan menyukai band rock, itupun belum tentu mereka suka The Batman.” Gerutu Ellie.

Jiro mengangguk. Ellie memang benar. Tapi tetap saja, rasa khawatir itu masih ada. Mengingat mereka juga memiliki beberapa fans fanatik mendekati gila yang menyebut diri mereka The Danger. Jiro hanya tak ingin jika bertemu dengan salah satu fansnya dan membuat keributan di sana.

“Oke, aku akan pakai topi, dan masker. Cukup, bukan?” tanya Jiro dengan nada lembut.

Pakai masker di rumah sakit tentu hal yang wajar. Jadi sepertinya, ia tak perlu menyamar berlebihan. Ellie tersenyum dan mengangguk. Ia senang saat Jiro menuruti kemauannya.

“Sekarang duduklah. Aku membuatkanmu sarapan.”

Jiro membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ke arah kompor yang tadi sempat ia matikan karena gangguan Ellie. Tapi baru beberapa langkah, perkataan Ellie membuat Jiro menghentikan langkahnya dan berdiri membatu memunggungi wanita tersebut.

“Kamu berubah banyak, James.” Ucap Ellie dengan nada lembut. “Dan aku senang.” Lanjutnya.

“Aku hanya berusaha.” Jawab Jiro sebelum melanjutkan langkahnya.

Ya, bagi Jiro, ia belum berubah. Ia masih berusaha untuk berbuat seadil mungkin pada Ellie. Jiro berusaha agar Ellie mendapatkan apa yang sudah menjadi haknya. Bagaimanapun juga, ia sudah memperistri Ellie, dan membuat wanita itu menjalani kehidupan baru, jauh dari orang tuanya. Jiro tidak ingin menjadi jahat dengan mengabaikan keberadaan Ellie saat ia menyadari bahwa wanita itu tengah membawa sebagian dari dirinya di dalam rahim wanita tersebut. Jiro akan berusaha berubah, meski nyatanya, ia merasa sulit.

***

Persetan dengan perubahan!

Jika tadi Jiro berpikir bahwa ia ingin selalu menemani Ellie memeriksakan kandungannya dan menjadi suami dan calon ayah yang baik, maka kini saat ia berada di ruang tunggu dokter spesialis kandungan, ia merasa bahwa ini akan menjadi hari terakhir ia memasuki poliklinik sialan ini.

Bagaimana tidak? Meski ia sudah mengenakan masker, dan juga topi, nyatanya, ada saja beberapa orang yang mengenalinya.

Seorang wanita muda berambut pendek yang kini tengah hamil dan menunggu di ruang yang sama dengannya akhirnya mengenalinya. Rupanya, wanita itu baru berusia Dua puluh tahun. Tentu saja wanita itu mengenalnya mengingat dirinya populer dikalangan anak muda.

Yang membuat Jiro kesal adalah, dengan cerewetnya wanita itu berkata bahwa ia adalah fans Jiro dan The Batman. Hal itu membuat pasien lain yang juga menunggu di sana penasaran. Akhirnya mau tak mau Jiro membuka topi dan maskernya. Dan kini, Jiro berakhir dengan duduk diantara wanita-wanita berperut sebesar semangka yang mengerubunginya dan memintanya untuk mengelus perut mereka secara bergantian.

Walau tak semua ibu hamil di sana mengenalnya, tapi mereka tetap ingin perutnya dielus oleh Jiro dan berharap bahwa anak mereka nanti jika laki-laki akan setampan Jiro.

Wajah Jiro yang khas seperti orang bule, serta mata abu-abu terang lelaki itu membuat siapa saja terpesona pada detik pertama saat melihatnya. Sangat wajar jika mereka menginginkan anak mereka mirip dengan Jiro dan meminta Jiro mengelus perut mereka.

Sedangkan Ellie, ia memilih duduk menjauh, melihat Jiro dari jauh dan tersenyum sendiri saat melihatnya. Padahal, Ellie tahu bahwa tak mungkin semua ibu-ibu hamil di sana mengenal Jiro yang artinya taak semua ibu hamil di sana adalah fans Jiro. Jiro mampu menarik banyak wanita untuk terpesona padanya, padahal wanita-wanita itu belum tahu jika Jiro adalah artis terkenal.  Bagaiama jika mereka ke suatu tempat dan bertemu sekumpulan fans Jiro? Mungkin, Ellie akan benar-benar diabaikan.

Ellie menundukkan kepalanya menatap perutnya sendiri yang belum kelihatan karena tersembunyi di dalam coat yang ia kenakan. Kemudian ia mengusapnya lembut. Ini adalah resiko menikah dengan seorang James Drew Robberth. Lelaki tampan dan terkenal yang mempesona bagi kebanyakan wanita di luar sana.

Pada saat itu, Ellie mendengar namanya dipanggil. Ia segera bangkit dan masuk ke dalam sebuah ruangan dimana ada seorang suster menunggunya di ambang pintu. Ellie bahkan tak menghiraukan Jiro yang masih asyik dengan beberapa wanita hamil di sekitarnya.

Saat Ellie sudah duduk di hadapan seorang dokter dengan papan bernama Dr. Sandra Spog, saat itulah ia melihat Jiro ikut duduk di bangku sebelahnya.

“Kamu masuk?” tanya Ellie kemudian.

“Bukannya kamu memintaku untuk mengantarmu? Maka aku akan masuk.”

“Kupikir kamu lebih asyik dengan para wanita di luar.”

“Yang benar saja. Aku bahkan berpikir untuk tidak mengantarmu lagi karena keberisikan mereka.” Gerutu Jiro. Jiro lalu menatap ke arah Sang Dokter yang tampak tersenyum melihat tingkah mereka. “Jadi, apa selanjutnya?” tanyanya.

“Sepertinya, Nyonya Ellie tidak mengatakan kalau suaminya adalah seorang artis.” Ucap Dokter Sandra kemudian. “Tuan James?” tanya Sang Dokter pada Jiro.

“Jiro, panggil saja begitu.” Entah kenapa, sekarang Jiro seperti Troy, yang tak suka jika ada yang memanggil nama aslinya. Jiro merasa, hanya Ellie yang pantas memanggilnya dengan panggilan James. Dan Jiro tak tahu, kenapa ia berpikiran seperti itu.

“Baiklah, Tuan Jiro. Jadi, Anda sudah tahu bukan tentang keadaan istri Anda?”

Jiro mengangkat kedua bahunya. “Sejujurnya, dia baru memberitahu saya kemarin. Apa ada masalah?”

Dokter Sandra tersenyum sembari membuka buku kesehatan ibu dan anak milik Ellie. Ini memang bukan yang pertama kalinya Ellie memeriksakan diri ke tempat Dokter Sandra, jadi Dokter Sandra cukup tahu bagaimana kondisi Ellie saat ini.

“Delapan belas minggu, dan Anda baru tahu? Wowww, suami yang perhatian.” Sindir Dokter Sandra. Sedangkan Ellie hanya bisa menunduk dan tersenyum dengan sindiran tersebut.

Jiro segera menatap ke arah Ellie. Astaga, jika benar usia kandungan Ellie sudah Delapan belas minggu maka artinya sudah lebih dari Empat bulan. Lalu kenapa Ellie baru memberitahunya kemarin?

“Saya sangat sibuk.” Desis Jiro masih menatap ke arah Ellie. Rasa bersalah tiba-tiba menyeruak begitu saja saat melihat istrinya itu menundukkan kepalanya. Dengan spontan ia mendaratkan telapak tangannya mengusap rambut Ellie. “tapi setelah ini, saya akan melakukan yang terbaik.” Lanjutnya.

Ellie sempat tertegun dengan apa yang dikatakan Jiro. Bahkan, sikap manis lelaki itu benar-benar membuatnya tersentuh. Ellie merasa jatuh cinta sekali lagi dengan suaminya tersebut. Apa Jiro melakukan ini dengan tulus? Atau lelaki itu hanya melakukannya karena Dokter Sandra mengenal bahwa dia seorang artis yang artinya Jiro harus menjaga image di hadapan dokter Sandra? Entahlah. Ellie sendiri tak tahu yang mana yang menjadi alasan Jiro bersikap manis seperti ini padanya.

“Baiklah. Saya mengerti. Kalau begitu, kita lihat, apa yang terjadi dengan si kecil.” Ucap Dokter Sandra sembari bangkit dan menuju ke sebuah ruangan yang diyakini Ellie adalah ruang USG.

Dalam beberapa menit kemudian, Ellie sudah terbaring di sebuah ranjang dengan baju yang sudah di naikkan ke atas memperlihatkan perut telanjangnya. Ellie sedikit gugup dan canggung. Mereka hanya berdua di dalam ruangan itu, karena Dokter Sandra sedang sibuk menyiapkan sesuatu di luar ruangan USG tersebut. Jiro sendiri setia duduk di sebelahnya. Mata lelaki itu bahkan tak berhenti menatap ke arah perutnya. Apa yang sedang dipikirkan Jiro saat ini? dan Astaga, kenapa juga dokter Sandra belum memulai pemeriksaannya?

Sedangkan Jiro, ia merasakan sebuah perasaan aneh. Matanya seakan tak ingin berpaling dari perut Ellie yang berwarna putih pucat itu. Sial! Disana ada anaknya, anak yang nanti akan memanggilnya papa. Jiro tak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini. perasaannya campur aduk, dia merasa senang, bangga, dan juga…. Takut. Jiro merasa belum siap, tapi disisi lain, ia merasa begitu antusias ketika membayangkan bahwa ia akan memiliki seorang bayi bersama dengan Ellie.

“Ada apa?” pertanyaan Ellie mau tak mau membuat Jiro mengangkat wajahnya menatap ke arah wanita tersebut.

Jiro hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Kamu aneh, James. Kenapa? Ada yang ingin kamu katakan?” tanya Ellie lagi.

“Aku, aku… masih tak menyangka bahwa ini terjadi.”

“Apanya?”

“Menjadi suami dan calon ayah. Jujur saja, aku tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya.”

“Kamu menyesal?” tanya Ellie kemudian, karena raut wajah Jiro sama sekali tak menunjukkan rasa senang.

Jiro menggelengkan kepalanya. “Aku hanya…… takut.” Ya, sepertinya, kata itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan Jiro. Jiro memang senang, tapi ia takut, bahwa ia tak akan menjadi suami dan ayah yang baik kedepannya. Ia masih memiliki ambisi yang besar, dia Jiro benar-benar takut jika akan menghancurkan semuanya.

Tanpa diduga, jemari mungil Ellie mencari jemari Jiro, menggenggamnya dengan erat, kemudian ia berkata. “Perlu kamu tahu bahwa aku juga takut. Ini adalah pertama kalinya aku mengalami masa kehamilan. Aku takut, dan aku merasa sendiri.” kemudian dengan spontan Ellie membawa jemari Jiro peda perutnya. “Aku butuh kamu, bayi kita juga butuh kamu. Maukah kamu menemaniku menghadapi ketakutan kita bersama-sama?”

Jiro menatap Ellie dengan intens, secara spontan Jiro mengangguk. Ya, ia mau melewati semuanya dengan Ellie, ia mau mengadapi ketakutannya bersama istrinya tersebut. Tapi dapatkah ia melakukannya? Sanggupkah ia menghadapinya?

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 4

Comments 4 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 4

 

Ellie terkikik geli ketika Mei selesai menutup teleponnya. “Jadi, bagaimana?” tanyanya pada Mei. Sedangkan Mei pun ikut terkikik geli karena apa yang baru saja ia katakan pada Jiro.

“Jiro terdengar khawatir, dan dia akan datang.”

“Benarkah? Astaga, aku tidak menyangka.”

“Ya, sebenarnya dia perhatian padamu, Ellie. Dan karena kehamilanmu, dia semakin perhatian.”

Ellie senang dengan kenyataan itu. “Jadi, aku harus bagaimana?” tanya Ellie kemudian. Karena jujur saja, ini adalah pertama kalinya untuk Ellie bersikap seperti ini. Menjadi wanita pembangkang, dan keras kepala. Ternyata, cukup menyenangkan juga.

“Aku tahu, Jiro tak akan bisa menolakmu.”

“Maksudmu?”

“Astaga, Ellie. Apa kamu nggak sadar? Selama ini, dia sangat perhatian padamu. Meski kadang sikapnya datar-datar saja dan cukup menyebalkan. Dia sering menghubungiku hanya untuk menanyakan bagaimana keadaanmu.”

“Tapi itu tak cukup, Mei. Dia menyembunyikanku. Seakan dia tidak ingin semua orang tahu bahwa dia adalah milikku.”

“Nah. Sekarang, tiba saatnya kamu perjuangkan apa yang kamu inginkan. Bukankah kamu sudah memiliki senjata ampuh untuk melawannya?” ucap Mei sembari melirik sekilas ke arah perut Ellie. Dan Ellie hanya bisa tersenyum senang.

***

Jiro benar-benar datang. Lelaki itu mengetuk pintu kamar Ellie berkali-kali, sedangkan di dalam, Ellie tersenyum penuh dengan kemenangan karena untuk pertama kalinya Jiro memperhatikannya hingga seperti saat ini.

“Tolong, buka pintunya. Atau aku akan mendobraknya.”

Tak ingin pintu kamarnya didobrak, akhirnya Ellie bangkit kemudian memasang wajah datar seakan enggan untuk bertemu dengan lelaki di hadapannya tersebut.

“Ada apa? Kenapa kamu ke sini lagi?”

“Kenapa? Ini rumahku.” Ucap Jiro dengan setengah menggeram.

“Ya, tapi bukankah setelah mendapatkan apa yang kamu mau, kamu sudah harus pergi dari sini?” Ellie sempat melirik Mei yang berdiri jauh dibelakang Jiro dan sedang menahan tawanya.

Jiro lalu membalikkan tubuhnya dan menatap Mei dengan tatapan tajamnya. “Kamu boleh pulang. Biar aku yang menjaganya.” Ucap Jiro kemudian.

“Hei. Apa-apaan. Aku ingin Mei membuatkanku Pancake. Kenapa kamu mengusirnya?”

“Pancake? Ini sudah malam. Kamu harus makan nasi, bukan Pancake.”

“Tapi aku mau Pancake!” Ellie berseru keras dan tak ingin mengalah.

“Boleh aku tengahi sebentar?” Mei mendekat ke arah keduanya. “Ellie, Jam kerjaku sudah habis sejak dua jam yang lalu. Dan aku harus segera pulang. Oke? Dan kamu.” Mei menatap ke arah Jiro. “Apa kamu nggak bisa lebih mengalah sedikit? Di dalam lemari ada tepung Pancake, kamu cukup membuatkan sesuai aturan pakai.”

“Aku?” Jiro benar-benar tak percaya dengan apa yang dikatakan Mei. Berani-beraninya wanita itu memerintahnya seperti yang dilakukan Ellie padanya. Bicara tentang Mei, Mei dan keluarganya memang sudah bekerja cukup lama dengan keluarga Jiro, jadi kadang wanita itu suka seenaknya sendiri. tapi tetap saja, tak ada orang yang dapat Jiro percaya kecuali Mei dan keluarga wanita tersebut.

“Ya, kamu. Dia lagi hamil. Bisa jadi dia sedang ngidam.”

Jiro menatap perut Ellie seketika. Sial! Berani-beraninya wanita ini. pikirnya, tapi meski kesal, Jiro berkata “Baiklah, aku yang akan membuatkanmu.”

Ellie hampir saja bersorak gembira. Bukan karena Pancakenya, sungguh, tapi karena Jiro yang seakan kembali mengalah padanya. Ellie senang, karena Jiro tampak menurunkan harga dirinya untuk menuruti apapun kemauannya.

***

Jiro tak berhenti menatap Ellie saat wanita itu memakan pancake buatannya dengan lahap. Astaga, apa yang sudah dilakukan wanita ini? bagaimana mungkin wanita ini mampu memaksanya memasak beberapa potong pancake?

Sialan! Ia adalah seorang rocker, dan ia memasak pancake? God! Jiro merasa bahwa dirinya benar-benar sudah gila!

Sesekali, Jiro melirik ke arah jam tangannya, dan tiba-tiba, Ellie berkata “Kamu mau pergi? Pergi saja.” Ucapnya yang seketika membuat Jiro tak mengerti, sebenarnya apa rencana wanita ini?

“Aku nggak akan kemana-mana. Aku akan tidur di sini.”

“Ohh.” Hanya itu jawaban Ellie.

“Ellie, kita harus bicara, oke?”

“Tentang apa? Tentang kamu yang belum siap dengan kehamilan ini? Astaga James, berapa kali harus kubilang, bahwa aku tak peduli.”

Jiro menghela napas panjang. Ia tidak suka dengan reaksi Ellie yang tidak mempedulikannya. “Aku menginginkan bayi itu.”

Ellie mengangkat wajahnya seketika. “Maksudmu, kamu, kamu setuju dengan kehamilanku?” tanya Ellie tak percaya.

Jiro menatap Ellie dengan sungguh-sungguh, kemudian ia menganggukkan kepalanya. Jiro tahu bahwa dirinya sudah berumur. Ia sudah menikah, dan kini istrinya tengah mengandung. Jadi, apa lagi yang membuat dirinya ragu untuk memiliki anak?

“Tapi kita harus membuat peraturan, Ellie.”

“Peraturan apa lagi?” Sungguh, jika yang dimaksud Jiro adalah peraturan-peraturan menyebalkan seperti sebelum-sebelumnya, maka lebih baik Ellie tak perlu mengikut sertakan Jiro di masa kehamilannya.

“Kamu menginginkan sebuah pengakuan, kan? Tapi aku tidak bisa melakukannya. Kamu tahu sendiri kalau karirku..”

“Ya, Ya, aku tahu.” Ellie memotong kalimat Jiro sembari mengibaskan telapak tangannya seakantak ingin tahu tentang karir sialan suaminya itu. “Lalu?”

“Sebagai gantinya, aku akan menemanimu dimasa kehamilan ini.”

“Kamu tidak takut kalau ada media yang menguntitmu?”

“Jika kita berhati-hati, mereka tak akan mengetahuinya.”

“Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak sejak dulu?”

“Ellie. Yang ingin kubahas denganmu adalah tentang kehamilanmu.” Jiro tak suka jika Ellie membahas tentang masalah mereka dulu. Ia ingin membahas tentang masalah peraturan hubungan mereka.

“Jadi kamu melakukan ini karena aku hamil? Dan jika aku tidak hamil, maka kamu tetap tak akan mempedulikanku seperti yang kamu lakukan dulu?”

“Begini.” Jiro berusaha bersikap tenang agar ia tidak terpancing oleh Ellie yang tampak emosi. “Aku tahu bahwa aku salah di masa lampau, dan aku ingin memperbaikinya. Dan kehamilan ini membuatku semakin yakin jika aku harus memperbaiki semuanya. Karena itu, aku ingin memberikan sebuah kesepakatan denganmu.”

“Kesepakatan? Seperti apa?”

“Saat ini, The Batman sedang ada di puncak popularitas. Aku tidak bisa menuruti kemauanmu untuk mempublikasikan hubungan kita. Bagaimanapun juga, itu akan menjadi skandal yang akan ramai diperbincangkan.”

“Lalu?”

“Sebagai gantinya, aku akan sering pulang.”

“Hanya itu?”

“Aku akan sering-sering tidur di sini.”

“Dan?”

“Astaga Ellie, aku tidak tahu lagi apa yang harus kutawarkan denganmu karena jujur saja aku tidak bisa menjanjikan apapun.” Akhirnya Jiro tak mampu menahan luapan emosinya. Ia sendiri tak mengerti kenapa Ellie begitu menuntut saat ini.

Ellie berdiri seketika. “Asal kamu tahu, James. Kamu tidak perlu bersikap sok perhatian padaku. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

Jiro ikut berdiri. “Kumohon, jangan membuat ini lebih sulit lagi, Ellie. Aku sudah berusaha untuk bersikap lebih baik. Aku membuat jalan tengah dengan berkompromi denganmu. Ini untuk kebaikan kita bersama.”

“Kompromi katamu? Inikah yang disebut dengan kompromi?”

Jiro menghela napas panjang. “Lalu apa yang kamu inginkan? Jika yang kamu inginkan sebuah pengakuan, maka maaf, aku belum bisa melakukannya.”

Ellie merasa kalah. Jiro sangat keras kepala, lelaki itu terlalu berambisi dengan karirnya. Dan jika Ellie memaksakan kehendaknya, lelaki itu pasti tetap memilih di jalannya seperti sebelumnya. Kini, Ellie harus berganti strategi, mungkin dengan bersikap manja dengan Jiro akan membuat lelaki itu tersentuh sedikit demi sedikit. Lagi pula, bukankah ia sedang hamil? Ia bisa menggunakan kehamilannya untuk bersikap manja dengan suaminya.

“Baiklah. Aku menerima kompromimu. Tapi satu lagi.”

“Apa?” Jiro mengangkat sebelah alisnya.

“Aku ingin, kamu menemaniku kemanapun aku mau. Dan ketika aku menginginkan sesuatu, kamu harus menurutinya.”

“Ellie. Itu akan sangat beresiko. Media akan mengendus keberadaan kita. Dan ketika itu terjadi, semuanya dipertaruhkan.”

“Aku nggak mau tau! Itu syarat mutlak dariku! Terserah, mau kamu menyamar jadi badut atau jadi apapun aku nggak peduli.”

Jiro menghela napas panjang. Haruskah ia menuruti apa kemauan Ellie? Dan astaga, kenapa juga ia bisa bertekuk lutut dihadapan wanita ini?

***

Setelah makan malam yang penuh dengan ketegangan, akhirnya Jiro dan Ellie masuk ke dalam kamar. Ellie sudah mengganti pakaiannya dengan piama tidurnya. Rambut kuning keemasannya terurai indah, dan wanita itu tampak sibuk menata tempat tidurnya.

Hal itu tak lepas dari tatapan mata Jiro. Sesekali Jiro menelan ludah dengan susah payah. Ellie memang sangat cantik. Amat sangat cantik. Tapi hanya itu yang bisa ia lihat dari Ellie selama ini. ia tidak cukup mengenal istrinya itu padahal mereka sudah menikah selama Empat tahun lamanya. Jiro hanya tahu bahwa Ellie cantik dan penurut. Dan hal itu membuat Jiro menutup sebelah matanya dari seorang Ellisabeth Williams.

Kini, Jiro merasa ada sesuatu yang berbeda dari wanita itu. Keberaniannya, kekeras kepalaannya, dan gairahnya di malam itu membuat Jiro tak bisa mengabaikan istri cantiknya itu. Jiro tertarik, dan hal itu adalah sesuatu yang baru untuknya.

Selama ini, Jiro memang tak pernah tertarik dengan seorang perempuan. Ketertarikannya hanya sebatas di atas ranjang, memuaskan hasratnya tanpa menaruh perasaan apapun. Tapi kini dengan Ellie, ada suatu rasa yang membuatnya ingin menunjukkan kepemilikannya terhadap wanita itu. Tapi di sisi lain, akal sehatnya memaksa untuk berpikir lebih logis lagi.

Secara singkat bisa dikatakan bahwa Jiro mengalami sebuah pergulatan batin. Ia ingin mengklaim diri Ellie di depan publik, tapi ia tidak bisa melakukannya karena ambisinya untuk berada di puncak kepopuleran begitu besar.

Ia tidak bisa mengutamakan Ellie ketimbang karirnya bersama dengan The Batman, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan wanita itu apalagi saat Jiro tahu bahwa istrinya itu kini sedang mengandung bayi mereka.

Jiro menghela napas panjang, dan hal itu membuat Ellie menatap penuh tanya ke arahnya.

“Kalau kamu nggak bersedia tidur di sini bersamaku, maka kamu boleh pergi.”

Lagi-lagi, sikap ketus yang ditampilkan Ellie membuat Jiro semakin enggan meninggalkan wanita itu. “Kata siapa aku tidak ingin tidur di sini?” Jiro merasa ketertarikannya pada Ellie satu tingkat naik lebih tinggi.

“Lalu, kenapa kamu mendesah seperti itu?”

“Udaranya panas.” Jawab Jiro dengan cuek. Kini, Jiro bahkan sudah membuka t-shirt yang ia kenakan hingga membuatnya telanjang dada.

“Besok, mungkin ada beberapa orang yang mengantar barang-barangku kemari.”

“Jadi, kamu benar-benar pindah ke sini?”

“Nggak sepenuhnya. Aku hanya berusaha untuk mencari jalan tengah.”

“Oke. Aku tahu. Suamiku kan memang paling bijaksana.” Ucap Ellie dengan nada menyindir.

Jiro mengabaikan apa yang dikatakan Ellie, karena jika ia menanggapinya, maka mereka akan kembali beradu argumen. Jiro lalu mendekat, dan melemparkan diri di atas ranjang.

Ranjang itu, Jiro hampir tak pernah tidur di sana. Memang, mereka selalu bercinta di atas ranjang ini, tapi hanya itu. Saat sudah selesai, Jiro memilih pergi meninggalkan Ellie. Tidur di atas sofa atau lebih brengsek lagi, pergi pulang ke apartmennya.

Ellie memang lebih mirip seorang simpanan ketimbang seorang istri. Jadi sangat wajar jika wanita itu menuntut lebih saat ini.

Malam ini, Jiro akan tidur di ranjang yang sama dengan Ellie. Tapi bisakah ia tidur tenang tanpa gelisah? Saat Jiro memikirkan hal tersebut, ranjang di sebelahnya melesak. Jiro menolehkan kepalanya, rupanya Ellie sudah terbaring miring memunggunginya. Kenapa?

Jiro yang tidur telentang menghadap langit kamarnya hanya bisa menggumam sendiri dalam hati. Hingga ketika sudah cukup lama ia menggerutu karena tak bisa tidur, akhirnya ia mulai membuka suara.

“Kupikir, ada baiknya kita saling menceritakan diri masing-masing.” Ucap Jiro kemudian. Ia ingin lebih mengenal Ellie. Ia salah karena selama ini sudah mengabaikan wanita itu. Tapi sekarang, ia ingin lebih.

“Apa yang ingin kamu ketahui? Kita sudah empat tahun menikah, James. Apa lagi yang membuatmu ingin tahu tentang diriku?”

“Sejujurnya, aku tak cukup mengenalmu. Dan maaf, aku juga jarang memikirkanmu.”

“Ya. Aku mengerti. Semua karena The Batman, kan?”

“Ya. Dan sepertinya, hubungan kita tidak normal.”

“Kamu yang membuatnya tidak normal.”

“Ellie.” Jiro ingin bahwa mereka tidak kembai ke topik sebelumnya yaitu Jiro yang bersalah karena sikapnya selama ini. tanpa diingatkanpun Jiro tahu bahwa ia memang salah. “Aku hanya ingin berubah. Bisakah kamu membantuku?” tanya Jiro dengan nada lirih.

Ellie membalikkan tubuhnya menatap ke arah Jiro. “Asal kamu tahu, james. Aku merasa bahwa semua ini tidak adil untukku. Aku mengetahui apapun tentangmu, makanan kesukaanmu, sikap aslimu, baju apa yang kamu pakai, dan semuanya. Tapi tak sekalipun kamu menoleh ke arahku jika bukan tentang hasrat seksualmu.”

“Maaf.” Hanya itu yang dapat dikatakan Jiro, apapun yang dikatakan Ellie memang benar. Bahkan Jiro tidak ingat kapan hari ulang tahun istrinya itu.

Ellie kembali membalikkan tubuhnya karena matanya mulai berkaca-kaca. Ia merasa sakit hati. Jiro bukan hanya mengabaikannya, tapi lelaki itu juga membuatnya jatuh cinta, cinta yang bertepuk sebelah tangan, pungguk merindukan bulan, berharap dengan sesuatu yang tak mungkin. Hal itu membuat Ellie merasa sedih.

Tanpa diduga, Ellie mersakan Jiro mendekat, lengan lelaki itu terulur, memeluknya dari belakang. Terasa sangat nyaman, bahkan Ellie tak ingat kapan ia merasa senyaman ini berada di dalam pelukan lelaki ini.

“Aku salah. Aku berdosa denganmu. Dan aku akan berusaha untuk menebusnya.”

“Dengan apa?” tanya Ellie dengan suara seraknya. Jika Jiro hanya menebusnya dengan materi, maka lebih baik Ellie menghentikan harapan semunya.

“Aku tidak tahu, dan aku tidak yakin. Tapi aku tak akan membuatmu sedih lagi. Kita akan memulainya lagi dari awal.”

Jiro mengeratkan pelukannya, bahkan ia mengecup singkat puncak kepala Ellie. Pada detik itu, Ellie tak kuasa menahan bulir air matanya. Empat tahun lamanya, dan baru kali ini ia merasakan betapa lelaki ini menyayanginya. Ellie bertekad bahwa ia akan merubah Jiro, mengubah pandangan lelaki itu terhadapnya, bahkan membuat lelaki itu jatuh cinta padanya. Dan ketika ia berhasil nanti, ia akan mengatakan pada dunia bahwa Jiro adalah miliknya, James Drew Robberth adalah suaminya.

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 3

Comment 1 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 3

 

Setelah memastikan Marvin pergi dari rumahnya, Jiro kembali ke dapur dan mencari keberadaan istrinya. Tapi ternyata, Sang istri sudah tidak berada di sana. Jiro akhirnya bergegas menuju ke arah kamar, biasanya, Ellie akan berada di dalam kamar mereka, entah sekedar membaca buku atau menonton film kesukaannya. Dan benar saja, rupanya istrinya itu sedang berada di sana.

“Aku belum selesai. Masih banyak yang harus kita bahas.”

“Aku tidak ingin membahas apapun.”

Jiro tak tahu harus memulai darimana. Di satu sisi ia ingin menjelaskan pada Ellie tentang gosip yang beredar beberapa hari terakhir, tapi disisi lain, ia merasa Ellie tak perlu mengetahui penjelasannya. Masalahnya, Jiro tak yakin kemarahan Ellie atau perubahan sikap wanita itu berhubungan dengan gosip kedekatan dirinya dengan Vanesha atau tidak.

“Aku tahu, kamu marah karena gosip yang beredar, kan?”

“Aku sudah bilang bahwa aku tidak peduli.”

Jiro mendekat. “Maafkan aku, seharusnya aku tidak mendatanginya saat itu.” Terus saja Jiro menjelaskan apa yang terjadi.

Ellie menatap Jiro seketika. “Kamu pikir aku peduli? Bukankah aku tak memiliki hak apapun untuk mempermasalahkannya?” Ellie menatap Jiro dengan tatapan beraninya.

“Kamu sangat berbeda, Ellie. Apa yang terjadi?”

“Pulangkan aku ke inggris.” Ellie berkata cepat. Padahal ia tahu bahwa bukan itu yang ia inginkan.

“Tidak. Aku tahu bukan itu keinginanmu. Kamu bersikap seperti ini hanya untuk mencari perhatianku, kan? Jika ya, maka selamat, kamu berhasil.”

Ellie tertawa lebar. “Aku tidak butuh perhatian sialanmu.”

“Lalu apa yang kamu butuhkan?” tanya Jiro kemudian.

Pengakuan… kasih sayang… dan cinta.. itulah yang Ellie butuhkan. Jika dulu Ellie tak membutuhkan hal itu karena ia cukup menerima keadaannya yang menjadi istri Jiro, maka berbeda dengan sekarang. Sekarang ia sedang mengandung bayi lelaki itu, bayinya. Dan Ellie ingin Jiro mencintainya, mengakuinya di depan umum agar kelak bayi mereka merasakan kebahagiaan yang sempurna.

“Aku sudah memberimu semuanya, Ellie. Apa masih kurang?”

“Benarkah? Coba sebutkan apa saja yang sudah kamu berikan padaku?” Ellie menatap Jiro dengan mata menantangnya.

“Aku sudah memfasilitasimu.”

“Hanya itu! Aku tidak menginginkan fasilitas sialanmu!” ya, meskipun dengan apa yang sudah diberikan Jiro selama ini kepadanya, nyatanya Ellie memilih tak menerima semua itu jika dirinya harus hidup seperti seorang simpanan.

Jiro mendekat hingga jarak diantara mereka hanya beberapa senti. Jiro meraih dagu Ellie dan bertanya penuh dengan penekanan. “Lalu apa yang kamu inginkan?”

Dengan berani Ellie menjawab. “Pengakuan.”

Jiro tercengang dengan keberanian istrinya tersebut. Selama ini, Ellie yang ia kenal adalah Ellie yang lugu, penurut, pemalu. Ellie yang tak pernah menuntut apapun. Dan kini, istrinya ini berubah seratus delapan puluh derajat. Jiro tak tahu apa yang membuat Ellie menginginkan sebuah pengakuan. Pengakuan yang tak akan pernah bisa Jiro berikan selama ia berambisi di dunia musik.

Dengan spontan, Jiro mundur satu langkah. “Kamu tahu kan, kalau itu tidak akan bisa kuturuti.”

“Ya, aku tahu, Semua itu karena ambisis sialanmu.”

Jiro menarik ujung bibirnya. “Kamu sudah berkali-kali mengumpat, Ellie.”

“Aku tidak mengumpat. Semua yang kamu lakukan memang sialan.”

Jiro tersenyum, kemudian ia kembali mendekat. “Apa yang kulakukan kali ini juga sialan?” tanyanya disertai dengan meraih dagu Ellie kemudian mencumbu habis bibir wanita itu. Ellie sempat meronta, sekuat tenaga ia mendorong Jiro hingga tautan bibir mereka terputus.

“Jangan sentuh aku!” Ellie berseru keras.

Jiro kembali mendekat. “Aku ingin.” Ucapnya sebelum kembali mencumbu bibir ranum Sang istri. Kali ini lebih lembut dari yang pertama. Meski awalnya Ellie menolak, tapi hasrat tak dapat membohongi dirinya.

Ellie juga menginginkan Jiro dan mungkin ini berhubungan dengan kehamilannya. Ellie tahu bahwa hormonnya sedang kacau. Beberapa hari terakhir, Ellie bahkan sering menangis sendiri, merindukan kehadiran Jiro. Padahal Ellie tahu, kalaupun Jiro datang, lelaki itu hanya akan menyetubuhinya tanpa tidur bersama dan memeluknya.

Ya, Ellie tau bahwa dirinya hanya sekedar alat pemuas lelaki itu. Tapi bodohnya ia tetap mengagumi sosok Jiro. Ellie merasa bahwa ini semua tak adil untuknya. Bagaimana mungkin ia begitu memuja lelaki itu sedangkan dirinya hanya tampak seperti seorang simpanan yang hanya dimanfaatkan untuk memuaskan lelaki itu?

Cukup!

Saat ini, Ellie tak ingin memikirkan hal itu, karena ia ingin menikmati ketika tubuh Jiro menyentuhnya. Dengan spontan Ellie mengeluarkan erangannya. Jemari Jiro meloloskan pakaiannya satu persatu hingga tanpa sadar saat ini Ellie hanya berdiri mengenakan pakaian dalamnya saja.

Jiro masih mencumbunya dengan intens, dan hal itu membuat Ellie tak mengerti, apa yang sedang terjadi dengan lelaki ini?

Ini memang bukan pertama kalinya Jiro menciumnya. Tapi lelaki itu tak pernah menciumnya dengan begitu bergairah seperti saat ini. biasanya Jiro hanya akan menciumnya sekilas, menyatukan diri, kemudian melakukan seks hanya untuk sebuah kewajiban dan kesenangannya. Tak jarang, hanya Jirolah yang mendapatkan kenikmatan tersebut, sedangkan tidak dengan Ellie.

Tapi kini, Ellie seakan sedang dipancing gairahnya, dan Ellie tak ingin mengakhirinya begitu saja hanya karena rasa sakit hatinya.

Dengan spontan, Ellie mengalungkan lengannya pada leher Jiro. Kakinya sedikit berjinjit karena tingginya yang tak sesuai dengan tinggi suaminya tersebut. Jemari Jiro merayap, menuruni perutnya, kemudian lelaki itu menghentikan aksinya.

Pada saat itu, Ellie merasa khawatir. Apa kehamilannya akan ketahuan?

Jiro melepaskan tautan bibir mereka kemudian matanya menatap Ellie penuh tanya. “Kamu…” ucapnya penuh tanya.

Dengan spontan Ellie kembali mengalungkan lengannya pada leher Jiro, kemudian mencumbu kembali bibir lelaki itu. Demi Tuhan! Ellie tak ingin membahas masalah itu saat ini, ketika gairahnya tumbuh dan menyala-nyala. Ia ingin Jiro berada di dalam dirinya, memuaskannya, bukan membahas tentang kehamilannya.

Dan ketika ia sudah sampai pada puncak kenikmatan nanti, Ellie berjanji akan mengatakan semuanya pada Jiro. Kini, ia hanya ingin melanjutkan apa yang sudah dimulai lelaki itu. Dan Ellie bersyukur karena ternyata Jiro kembali melanjutkan apa yang tadi dilakukan lelaki itu.

Jiro merapatkan tubuh Ellie pada tubuhnya, mencumbu Ellie kembali dengan panas dan menggoda. Oh, Ellie sangat yakin jika dirinya tak pernah dicumbu seperti ini. ia sangat yakin jika ia tak pernah sebergairah seperti saat ini. hingga akhirnya, Ellie tak kuasa menahan erangannya.

Jiro menyukainya, dalam cumbuannya ia tersenyum melihat istrinya begitu bergairah, sangat berbeda dengan biasanya yang hanya diam seperti boneka. Jika seperti ini, Jiro semakin merasa tergoda. Dan sial! Ia merasa tak ingin menunggu lebih lama lagi.

Jiro mengangkat tubuh Ellie, kemudian membaringkan wanita itu di atas ranjangnya. Sesekali ia melepaskan sisa-sisa pakaian yang membalut tubuh Ellie hingga wanita dibawahnya itu polos tanpa selehai benangpun. Jiro mencoba mengabaikan bentuh tubuh Ellie yang lebih berisi dari teakhir kali ia melihatnya. Tentu saja, kemarin, mereka bercinta dalam cahaya remang-remang. Jiro tak dapat melihat dengan jelas bagaimana tampilan tubuh Ellie. Dan kini, ia bisa melihatnya dengan jelas.

Ellie tampak lebih berisi, pinggangnya lebih lebar dari sebelumnya, dan perutnya, sedikit…. Tidak! Mungkin Jiro hanya salah melihat. Mencoba mengabaikan tubuh wanita dibawahnya tersebut yang tampak semakin menggoda, Jiro kembali menundukkan kepalanya. Kali ini ia menggapai sebelah payudara Ellie, mengodanya, hingga membuat istrinya tersebut menggelinjang nikmat.

Oh, Jiro sangat suka. Ia tak pernah melihat Ellie bereaksi seperti ini karena sentuhannya. Bagaiaman mungkin wanita ini bisa begitu berbeda?

Setelah cukup lama melakukan penetrasi, akhirnya Jiro tak dapat menunggu lebih lama lagi. Ia bangkit, melucuti pakaiannya sendiri satu demi satu hingga polos dan kembali menindih tubuh Sang istri. Jiro menatap tajam ke arah wanita di bawahnya tersebut kepalanya menunduk kemudian mencumbu bibir Ellie dengan nikmat sembari mencoba menyatukan diri.

Penyatuan yang begitu sempurna.

Jiro mendesah panjang ketika Ellie terasa begitu nikmat. Wanita itu membungkusnya dengan lembut, dan Jiro akan bersikap lembut pula agar tidak menyakiti wanita di bawahnya tersebut.

Jiro mulai bergerak, pelan tapi pasti. Menghujam lagi dan lagi, mencari kenikmatan untuk dirinya dan memberi kenikmatan untuk diri Ellie. Erangan Ellie membuat gairahnya semakin menanjak. Ia tak pernah melihat Ellie seperti ini. ia sangat menyukainya, tapi disisi lain, Jiro merasa bahwa pertahanannya mulai runtuh.

Sial! Ia tidak boleh membiarkannya.

Ellie memang istrinya tapi Jiro tahu bahwa dalam waktu dekat, ia tidak akan bisa menuruti kemauan Ellie tentang pengakuan didepan publik tersebut.

Jiro bergerak semakin cepat hingga Ellie tak kuasa menahan diri. Gelombang kenikmatan menghantam wanita itu, membuatnya mengerang, menyebutkan jama Jiro. Jiro sangat suka saat Ellie memangil nama aslinya. “James… James… Ohh…”

Panggilan-panggilan erotis tersebut membuat Jiro tak mampu bertahan lebih lama lagi. Dalam dua kali hentakan, ia kembali menumpahkan gairahnya ke dalam tubuh Ellie.

***

Ellie masih terbaring miring memunggunginya. Sedangkan Jiro tak tahu harus berbuat apa. Percintaan mereka tadi benar-benar sangat panas, bahkan mungkin palig panas diantara percintaan yang pernah mereka lakukan.

Sialnya, setelah mengingat bagaimana panasnya Ellie, Jiro kembali menginginkan wanita itu.

Brengsek!

Padahal Jiro tahu bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menambah ‘jatahnya’ lagi. Ada satu hal yang diembunyikan Ellie dan Jiro harus memaksa wanita itu untuk mengatakannya.

“James.” Suara Ellie terdengar lembut, seakan menggelitik telinganya, menggoda untuk membangkitkan gairahnya. “Ada yang ingin kukatakan.” Wanita itu melanjutkan kalimatnya.

“Katakan.” Jiro berharap jika apa yang ia pikirkan tidak benar, dan Ellie tak akan mengatakan apapun yang tadi sempat ia pikirkan.

“Aku hamil.”

Jiro membeku seketika. Ia salah dengar. Ya, ia pasti salah dengar.

Karena tak mendapatkan tanggapan apapun, Ellie membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Jiro. “Kamu dengar aku, kan? Aku hamil.” Ucapnya dengan jengkel karena tak mendapatkan reaksi apapun dari suaminya tersebut.

“Aku dengar.”

“Lalu?” Ellie masih menunggu reaksi Jiro.

“Kenapa bisa?” tanyanya dengan spontan.

“Kenapa bisa? Kamu meniduriku, tentu saja aku bisa hamil.”

“Kita sudah sepakat Ellie. Kita sudah sepakat untuk mencegahnya.”

Ellie duduk dan membenarkan letak selimutnya. “Sudah Empat tahun dan aku ingin berhenti. Aku ingin memiliki bayi. Persetan dengan apa yang kamu inginkan.”

Jiro ikut terduduk. “Kamu sudah mulai berani membantah.”

“Ya. Kenapa? Kamu ingin marah? Aku tidak peduli.” Ellie bersiap pergi, tapi secepat kilat Jiro meraih pergelangan tangannya.

“Kita belum selesai, Ellie.”

Ellie menghempaskan cekalan tangan Jiro. “Bagiku, tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau, Sekarang kamu boleh pergi.” Ucapnya dengan dingin.

Jiro benar-benar tak habis pikir dengan istrinya ini. bagaimana mungkin Ellie bisa berubah sebanyak ini? yang yang lebih menyebalkan lagi adalah, bagaimana mungkin perubahannya sangat berpengaruh terhadap diri Jiro?

***

Jiro benar-benar pergi setelah Ellie memintanya pergi. Meski begitu, ia tidak akan mengabaikan wanita itu begitu saja. Astaga, wanita itu sedang hamil, mengandung anaknya, dan Jiro tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya pada wanita itu.

Kini, ia melemparkan diri di atas sofa panjang apartmennya, kemudian mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.

“Halo.” Dalam deringan kedua, panggilan tersebut diangkat.

“Mei. Sial! Bagaimana mungkin kamu tidak memberitahuku tentang kehamilannya?”

“Kamu sudah tahu?”

“Tentu saja. Ellie sendiri yang memberitahuku.”

“Dia memintaku untuk tutup mulut. Aku bisa apa?” Mei tampak mendesah panjang. “Apa lagi yang kamu lakukan padanya? Dia tidak ingin membuka pintu kamarnya sepanjang sore.”

“Kamu yakin?” Jiro sedkit khawatir.

“Ya. Dia sedang merajuk. Aku tahu itu. Dan ketika Ellie sudah merajuk, tidak ada satu hal pun yang bisa kulakukan selain menunggumu kembali.”

“Brengsek, Mei! Aku bahkan baru istirahat di apartmenku. Masa iya aku harus balik lagi?” Jiro benar-benar tak habis pikir dengan Ellie. Tadi, setelah pergi dari rumahnya, Jiro memang sempat mampir ke studio musik Jason untuk menenangkan diri dari rasa shocknya. Setelah itu ia pulang ke apartmennya. Kini, Jiro hanya ingin istirahat. Tapi Ellie, ia tidak bisa mengabaikan wanita yang sedang merajuk itu.

“Lagi pula, ini kan rumahmu. Kenapa kamu nggak tinggal di sini sementara selama dia hamil.”

“Kamu tentu tahu aku nggak bisa ngelakuin itu. Media akan mengendusnya dan itu akan menjadi gosip.”

“Tapi kamu harus memikirkan Ellie dan bayi kalian. Dia membutuhkan kamu di sisinya. Lagi pula, aku tidak yakin dia mau membuka pintunya sampai besok. Dia sangat keras kepala, dan jangan lupakan kalau dia belum makan sejak tadi siang.”

“Sial! Brengsek!” Jiro bangkit seketika. Ia bahkan sudah mematikan sambungan teleponnya.

Jiro meraih jaket dan juga topinya. Kemudian segera bergegas keluar dari apartmennya. Ya, walau bagaimanapun, Jiro tidak bisa mengabaikan keadaan Ellie, apalagi setelah tahu bahwa wanita itu sedang mengandung anaknya.

Hari ini, Jiro merasa kalah. Ia merasa bahwa Ellie mampu memporak-porandakan perasaannya selama seharian penuh. Tapi Jiro bersumpah bahwa hanya hari ini harga dirinya jatuh pada seorang Ellisabeth Williams. Tidak akan ada hari-hari selanjutnya lagi. Karena setelah ini, Jiro akan membenahi hubungan mereka, ia akan menerapkan beberapa peraturan untuk dipatuhi bersama hingga tak akan ada yang merasa dirugikan lagi diantara mereka. Ya, demi bayi mereka, hubungan mereka, dan juga masa depan mereka kedepannya, Jiro akan berusaha untuk mengalah dan mencari jalan tengah untuk kebaikan bersama.

-TBC-

 

My Beautiful Mistress – Bab 2

Comment 1 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 2

 

“Aku benar-benar tidak menyangka jika kamu akan seberani itu dengan Jiro.” Ucap Mei ketika keduanya saat ini sudah berada di dalam sebuah supermarket untuk berbelanja kebutuhan mingguan Ellie.

“Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan sikapku?”

Mei tersenyum lembut. “Enggak, tapi, Jiro pasti sangat terkejut saat mendapati istrinya sekarang menjadi sedikit membangkang.”

Ellie berpikir sebentar. “Membangkang? Seperti tidak menurut?” tanya Ellie. Ia memang kadang masih suka lupa dengan bahasa indonesia.

“Ya. Seperti itu.”

Ellie menghela napas panjang. “Dulu aku tidak memiliki apapun untuk kuperjuangkan. Sekarang aku memiliki dia.” ucapnya sembari mengusap perutnya yang sudah mulai memiliki gundukan mungil.

“Jadi, apa rencanamu?”

“Aku akan membuat dia mengerti, bahwa dia tidak bisa seenaknya seperti dulu. James memang Artis, dia memang Bassis ternama di negeri ini. tapi di mataku, dia hanya lelaki biasa, dan dia adalah suamiku. Jadi aku akan berusaha merebut perhatiannya.”

“Bagus sekali, Ellie. Apa kamu tahu, dia benar-benar cengo saat kamu melawannya tadi pagi. Astaga, mukanya lucu sekali.” Mei tertawa lebar saat mengingat bagaimana wajah terkejut Jiro saat Ellie menyebut Jiro adalah salah satu orang yang paling buruk yang pernah wanita itu kenal.

Ellie ikut tertawa lebar, tapi kemudian ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari bertanya “Ngomong-ngomong, Cengo itu apa?”

Seketika itu juga, tawa Mei lenyap. Ia memutar bola matanya dengan kesal ke arah Ellie. Ya, bukan salah wanita itu, tapi terkadang, Mei merasa jengkel jika harus menjelaskan setiap kata yang tidak dimengerti oleh wanita itu.

***

Jiro bermain-main dengan gitar milik Ken. Selain memainkan Bass, Jiro memang pandai bermain gitar. Ketika dirinya sedang santai seperti ini, Jiro memilih memainkan gitar dengan sesekali bersenandung sendiri.

Hari ini, mereka tak ada latihan, Jason sedang sibuk dengan masalahnya sendiri, dan itu benar-benar membuat Jiro kesal. Sebentar lagi mereka akan tampil di sebuah konser yang akan di siarkan secara langsung di beberapa TV nasional. Jiro hanya tak ingin mereka melakukan sebuah kesalahan pada acara Live tersebut.

Meski begitu, Jiro menahan diri agar tidak terlalu memaksa Jason. Bagaimanapun juga, ia juga pernah merasakan apa yang di rasakan Jason. Ketika Jiro tak berada pada mood yang baik, ia juga tak dapat memainkan alat musik apapun. Dan sepertinya, hal itu pulalah yang terjadi dengan Jason.

“Woi, ngelamun aja lo.” Troy datang. Sendiri. sedangkan Ken tak ikut dengan temannya itu.

“Elo sendirian?”

“Ya. Kenapa? Kita kan lagi nggak ada jadwal latihan.”

Jiro hanya mengangguk. “Ken mana?” tanya Jiro kemudian.

“Nggak tau, mungkin lagi jalan sama ceweknya. Gue telpon dia dari pagi nggak diangkat.”

Troy menuju ke arah lemari pendingin yang berada di ujung studio musik tempat mereka latihan. Ia mengambil sekaleng minuman dingin dan kembali menuju ke arah Jiro.

“Elo sendiri ngapain di sini sendirian? Ngelamunin apa lo? Vanesha?” tanya Troy yang kini sudah duduk tepat di sebelah Jiro.

“Elo apaan sih.”

Well, gue sudah baca gosip tentang elo sejak kemaren. Gue pengen tanya tapi, gue tau kalau elo nggak pernah mau bahas masalah pribadi elo dengan kita-kita.”

“Kalau gitu, sekarang ngapain elo bahas masalah ini sama gue. Gue nggak akan mau cerita.”

“Ayolah. Gue bukan wartawan. Dan astaga, asal elo tahu, Vanesha pernah gue tidurin.”

Jiro menatap Troy seketika. “Berengsek lo.” Umpatnya.

Sebenarnya, Troy merasa tak memiliki hubungan apapun dengan Vanesha. Vanesha adalah seorang model. Mereka memang pernah beberapakali bertemu karena pekerjaan, kemudian keluar bersama beberapa kali. Jiro pernah mencium Vanesha saat mabuk, dan sialnya, The Danger (sekumpulan wanita gila yang mengaku fans fanatik mereka) mengetahui hal itu dan memotretnya. Memberi peringatan pada Jiro. Tapi Jiro tentu tak mengindahkannya. Kemudian, foto itu tersebar. Itulah awal mula gosip tentang dirinya dan Vanesha merebak.

Gosip tersebut semakin panas ketika sekitar tiga atau empat hari yang lalu, Jiro kembali kepergok keluar dari gedung apartmen Vanesha pagi-pagi buta. Jiro menghela napas panjang, ia benar-benar menyesali perbuatannya.

Apa karena itu Ellie bersikap berbeda kepadanya? Apa Ellie mengetahui tentang berita itu? Sejauh yang Jiro tahu, Ellie lebih suka menonton acara-acara luar atau memutar DVD. Tapi, mengingat sikap wanita itu yang tak biasa membuat Jiro khawatir. Jangan-jangan, Ellie benar-benar telah mengetahui gosip tentang skandalnya dengan Vanesha.

Mengingat itu, Jiro berdiri seketika. Ia ingin memastikan tentang hal itu. Apa benar, Ellie sudah mengetahui tentang semuanya?

Tanpa banyak bicara, Jiro melesat keluar. Hal itu benar-benar membuat Troy heran. Sambil menggelengkan kepalanya, dia bertanya pada dirinya sendiri. “Gue salah ya, karena sudah jujur tentang cinta semalam gue sama Vanesha?”

***

Waktu sudah menunjukkan pukul Empat sore. Tapi Jakarta hari ini benar-benar panas. Yang membuat kesal Ellie adalah, selain tadi sempat terjebak macet, kini mobil Mei tiba-tiba mogok di jalan, hal itu benar-benar membuat mood Ellie memburuk.

“Aku sudah menelepon Marvin. Dia akan jemput kamu.”

Ellie mengerutkan keningnya. “Marvin? Kenapa harus dia?” Ellie merasa tidak nyaman.

Marvin adalah adik sepupu Mei. Mereka memang pernah beberapa kali bertemu. Yang membuat Ellie tak nyaman adalah karena Marvin pernah secara terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Ellie. Ya, lelaki yang sebaya dengannya itu memiliki perasaan lebih padanya.

“Karena hanya dia orang yang kukenal dan bisa menjemputmu kapanpun.”

“Nggak perlu.” Ellie menjawab cepat. “Aku akan menunggu di sini denganmu.”

“Ayolah Ellie. Aku tahu kamu kepanasan. Dan menunggu mobil derek akan lama. Lagian, Marvin nggak jauh dari sini. Jadi sebentar lagi dia sampai.”

Ellie menghela napas panjang. Apapun itu, ia akan menerimanya. Ya, bukankah memang Mei yang selalu menjadi bossnya?

Tak lama, orang yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Lelaki tampan itu keluar dari dalam mobilnya dengan senyuman khasnya. Siapapun akan terpada dengan lelaki itu, tapi tidak dengan Ellie.

Bagi Ellie, lelaki yang paling tampan adalah suaminya, James Drew Robberth. Tak akan ada yang mampu membuatnya terpesona selain lelaki itu.

“Hai, aku senang dihubungi.” Marvin berbasa-basi.

“Nggak perlu berbasa-basi. Sekarang, angkut saja belanjaan kami, dan antar Ellie pulang.”

Dengan tawa lebar, Marvin menuju ke arah bagasi. “Oke, kebetulan aku sedang ingin minum kopi. Kuharap aku mendapatkan secangkir kopi di sana nanti.”

Ellie mendengus sebal. Ia tahu, bahwa tak akan mudah mengusir Marvin nantinya. Tapi, ya sudahlah. Toh ia sudah menolak lelaki itu secara terang-terangan. Marvin pasti tak akan berbuat macam-macam apalagi mengingat ada dua pengawal yang selalu berjaga di rumahnya.

***

“Oke, ini yang terakhir.” Ucap Marvin setelah menaruh bingkisan terakhir di meja dapur Ellie. Ellie sendiri sedang sibuk membuatkan kopi untuk lelaki itu. Meski sedikit tak nyaman tapi sangat tidak pantas kalau ia mengusir Marvin tanpa memberinya minum terlebih dahulu.

Ellie menyuguhkan kopi untuk Marvin. “Minumlah.” Ucapnya sembari bergegas membuka-buka barang belanjaannya.

“Kalian habis ngerampok supermarket, ya?” tanya Marvin dengan nada bercanda. Lelaki itu memang memiliki selera humor tinggi. Tentu sangat berbeda dengan Jiro, suaminya.

“Ya, selain supermarket, kami juga merampok toko perlengkapan rumah tangga.” Ucap Ellie sembari menunjukkan beberapa pisau dapur yang baru saja ia beli.

Marvin tertawa lebar. “Hahaha, lucu sekali.” Marvin menyesap kopi buatan Ellie. “Kopimu memang selalu yang terbaik.”

“Tentu saja. Karena kamu meminumnya gratis.” Ellie menjawab lagi-lagi dengan nada ketus.

Marvin tersenyum. Ia senang melihat sikap Ellie yang seperti ini. setidaknya, Ellie tidak dapat menyembunyikan rona merah di pipi wanita itu. Marvin lalu berdiri dan mendekat ke arah Ellie. “Ngomong-ngomong, aku suka dengan sikapmu yang sekarang.” Ucap Marvin dengan parau.

Ellie mengangkat wajahnya seketika menatap ke arah Marvin. “Apa maksudmu?”

Jemari Marvin terulur, mengusap lembut rona merah di pipi Ellie. Ellie ingin sekali menghindar, tapi ia tidak mau sikapnya yang menghindar membuat Marvin berpikir bahwa kehadiran lelaki itu berpengaruh terhadapnya.

“Keketusanmu, sangat kontras dengan rona merah di pipimu.” Bisiknya dengan nada parau. “Akui saja, kamu gugup berada di dekatku, sejak aku menyatakan perasaanku beberapa bulan yang lalu, kan?”

Ellie sangat kesal dengan sikap lelaki di hadapannya ini. Hampir saja ia membuka suara, sebelum suara keras yang lain datang menambah ketegangan diantara mereka.

“Singkirkan tangan sialanmu dari wajah istriku!”

Ellie dan Marvin menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut. Tampak Jiro berdiri menjulang di dekat meja makan dengan mata penuh dengan kemarahan.

“James. Kenapa kamu di sini?” tanya Ellie tak percaya.

Biasanya, setelah mendapatkan ‘jatahnya’, Jiro akan pergi, dan paling cepat akan mengunjungi Ellie Tiga hari setelahnya. Bahkan kemaren, lelaki itu tidak mengunjunginya sama sekali selama Tiga minggu terakhir. Lalu untuk apa lelaki itu datang kemari padahal baru tadi pagi dia keluar dari rumah ini?

“Kenapa aku di sini? Ini rumahku! Seharusnya pertanyaan itu kamu lemparkan pada dia.” Jiro menunjuk Marvin dengan marah.

Marvin mundur menjauh dan mengangkat kedua belah telapak tangannya. Well, sebelumnya, Marvin memang sudah mengetahui tentang Ellisabeth Williams yang merupakan istri dari seorang Bassis terkenal yang bernama Jiro The Batman. Tapi hal itu tak serta merta membuat Marvin mengundurkan diri atau memupus ketertarikannya dengan sosok Ellie. Kecantikan Ellie bahkan mampu membutakan mata Marvin bahwa wanita itu sudah menjadi istri orang. Yang membuat Marvin tak mengerti adalah, kenapa Jiro menyembunyikan istri secantik ini dari publik? Apa pria itu gila?

“Aku disini karena diminta.” Marvin menjawab dengan tenang.

“Diminta?” Jiro mendekat ke arah mereka berdua. Tatapan mata Jiro menajam ke arah Ellie. Jika dulu Ellie akan takut, maka tidak sekarang. “Kenapa kamu memintanya kemari?”

Ellie berusaha mengendalikan dirinya, bahkan ia bersikap seolah-olah tak mempedulikan kemarahan yang tampak jelas terlihat di wajah suaminya.

“Kamu nggak lihat semua ini, James?” ucap Ellie sembari menunjukkan barang-barang belanjaannya. “Mobil Mei mogok, dan Mei memintanya untuk menjemputku dan mengantarku pulang.” Ellie menjelaskan dengan nada malas.

“Kenapa harus dia?!” tanya Jiro lagi dengan nada yang masih meninggi.

“Kenapa harus dia?” Ellie mengulang lagi pertanyaan Jiro. “Karena suamiku lebih sibuk dengan karir sialannya dibandingkan denganku. Apa kau puas?” Ellie menjawab dengan marah.

Marvin yang berada di sana merasa sedang terjebak diantara dua gunung berapi yang sedang memuntahkan lava.

“Karirku tidak sialan, Ellie!”

“Ya, mungkin tidak. Tapi perempuan-perempuan itu yang membuatnya menjadi sialan dimataku.”

Pada detik itu, Jiro tahu bahwa Ellie ternyata mendengar gosip murahan tentang dirinya dan juga Vanesha. “Jadi kamu cemburu karena gosip-gosip itu?”

“Tidak. Cemburu adalah hal yang sangat kekanakan.”

“Jadi menurutmu aku kekanakan?” dengan spontan Jiro bertanya.

“Jika kamu merasa sedang cemburu, maka ya, kamu kekanakan.” Ellie menjawab dengan santai.

“Aku tidak kekanakan, aku cemburu karena istriku disentuh oleh lelaki lain! Apa itu salah?”

“Oh yang benar saja. Dia hanya menyentuh pipiku, sedangkan kamu. Kamu berciuman dengan perempuan itu!” Ellie berseru keras tak dapat menahan emosinya ketika mengingat gosip yang ia dengar sejak dua hari belakangan. Sungguh, Ellie sangat marah, apalagi kabar tentang Jiro yang keluar dari apartmen wanita itu pagi-pagi buta dan tertangkap oleh kamera wartawan. Untuk apa Jiro berada di sana?

Kali ini, Jiro mengerti kemarahan Ellie bersumber dari mana. Meski begitu, Jiro tahu bahwa hal itu tak membenarkan apa yang dilakukan Ellie tadi. Berduaan dengan lelaki lain di rumah mereka.

Jiro menatap Marvin dengan tatapan membunuhnya. “Gue pikir, mending elo keluar. Gue mau bahas sesuatu dengan istri gue, hanya berdua.” Ucap Jiro dengan penuh penekanan terhadap Marvin.

“Kenapa kamu mengusirnya?” Ellie bertanya.

“Aku ingin membahas sesuatu denganmu.”

“Tak ada yang perlu dibahas.” Ellie mengibaskan telapak tangannya seakan tak ingin mendengar apapun penjelasan dari suaminya.

Mata Jiro kembali menatap tajam ke arah Marvin, dan lelaki itu akhirnya mengalah. Ia megerti bahwa ini bukan saat yang baik untuk melanjutkan rencananya menggoda Ellie.

“Oke, aku pergi dulu. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, kamu bisa menghubungiku.” Ucap Marvin pada Ellie.

“Dia tidak akan membutuhkan apapun!” Jiro berseru dengan penuh penekanan.

Sungguh, Jiro tak suka dengan lelaki itu. Caranya menatap Ellie membuat Jiro marah. Dan reaksi yang ditampilkan istrinya itu membuat Jiro tak dapat menahan segala emosinya. Ellie hanya miliknya, dan Jiro tak akan membiarkan siapapun mendekati atau menyentuh tubuh istrinya tersebut.

-TBC-

Special Pict mereka berdua nihhh aku editin special buat kalian, hahhahaha