My Beautiful Mistress – Bab 10

Leave a comment Standard

 

Bab 10

Sampai di rumah, Ellie segera bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia menuju ke arah lemari, mengambil baju santainya sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Ellie ingin membersihkan diri sebelum naik ke atas ranjang untuk beristirahat. Ia bahkan mengabaikan keberadaan Jiro yang sedang memperhatikan setiap gerak-geriknya.

Mungkin sekitar setengah jam kemudian, Ellie baru keluar dari kamar mandi. Wanita itu sudah tampak segar karena berendam cukup lama untuk menghilangkan rasa lelahnya. Berbeda dengan Jiro yang masih tampak tegang karena menunggu Ellie keluar dari dalam kamar mandi.

Jiro bangkit seketika saat melihat Ellie duduk di depan meja riasnya. “Sudah segar?” tanya Jiro sembari mendekat.

“Ya.” Ellie menjawab pendek. Ellie lebih memilih mengeringkan rambutnya sendiri di depan meja riasnya. Ia bahkan tidak mempedulikan Jiro yang mulai berjalan mendekat ke arahnya.

“Aku bingung, kenapa tiba-tiba sikapmu berubah seperti ini.”

“Berubah bagaimana?”

“Kupikir, kamu tadi sudah senang setelah aku mengajakmu jalan-jalan. Tapi tiba-tiba kamu berubah lagi. Apa aku membuat salah?”

Ellie menatap Jiro seketika. “Kesalahan utama kamu adalah, bahwa kamu tidak tahu dimana letak kesalahanmu.”

“Kamu marah karena aku tidak merasa bersalah?” Ellie tidak menjawab. Ia memilih membalikkan tubuhnya kembali menatap ke arah cermin. Tapi secepat kilat Jiro duduk di sebelah Ellie. Memutar kursi yang di duduki Ellie hingga menghadap ke arahnya. “Jika kamu marah tentang Vanesha, aku bisa menjelaskannya.”

Oh, Ellie bahkan melupakan tentang wanita itu padahal Jiro belum menjelaskan apapun tentang wanita itu. Kemarin, Ellie memang kesal karena wanita itu, tapi saat ini, bukan hal itu yang membuat Ellie kesal. Ellie sendiri tidak tahu bagaimana caranya mengatakan masalahnya pada Jiro.

“Vanesha mengira apartmenku adalah milik Troy, karena mereka pernah berkencan di sana. Dia mencari Troy di sana. Dan masalah kontrasepsi itu, semuanya milik Troy.”

“Tapi, bukannya dia kekasih kamu, ya? Aku sudah melihat gosipnya. Jadi kamu tidak perlu mengelak.”

“Ada beberapa gosip yang sengaja di buat oleh pihak management untuk menaikkan pamor artisnya. Saat itu, The Batman sedang mengeluarkan album baru, dan Vanesha sedang bermain Film layar lebar. Jadi, sangat tepat jika…”

“Aku tidak peduli, James.” Ellie menjawab cepat.

Jiro menggenggam kedua telapak tangan Ellie. “Aku sudah mengatakan, bahwa aku ingin kamu peduli.” Ucap Jiro penuh penekanan.

“Kenapa kamu menjelaskan semuanya padaku? Bagiku, tak ada bedanya, entah kamu benar-benar selingkuh dengan perempuan itu atau tidak. Nyatanya, aku hidup seperti seorang simpanan.”

“Nyatanya kamu bukan simpanan. Kamu istriku.”

“Katakan itu pada publik.” Ellie menantang.

Jiro membatu seketika. Jiro tak percaya jika secara terang-terangan Ellie menuntutnya sampai seperti ini. Jiro tidak bisa melakukannya, tidak sekarang, dan mungkin tidak akan selamanya.

Jiro menangkup kedua pipi Ellie. “Aku tidak bisa.” Jawabnya dengan jujur.

“Kalau begitu, lupakan.” Ellie akan memutar tubuhnya kembali, tapi Jiro menghadangnya, dan dengan kurang ajar, lelaki itu segera menyambar bibir Ellie. Mencumbunya, berharap Ellie melupakan kemarahannya.

Tapi sekuat tenaga, Ellie mendorong keras tubuh Jiro hingga tautan bibir mereka terputus.

“James!” Ellie berseru keras.

“Kenapa? Kamu berani menolakku sekarang?”

“Aku tidak pernah takut dengan kamu, James.” Ellie menjawab dengan tegas. “Tapi aku hanya diam selama ini. Seakarang, aku akan menyuarakan apa yang kuinginkan dan apa yang tidak kuinginkan.” lanjutnya.

“Jadi, apa kamu menolak ini.” Jiro kembali menangkup pipi Ellie lalu mencumbunya kembali.

Ellie mendorog lagi dan berseru sekali lagi “James!” tapi Jiro tak mau kalah, ia kembali menangkup pipi Ellie kemudian mencumbunya dengan penuh gairah. Jiro memang tidak suka saat Ellie bersikap membangkang padanya, tapi di sisi lain, Jiro tergoda dengan sikap Ellie yang berani seperti itu. Membuat Jiro tertantang, membuat Jiro menginginkan lebih.

Jiro masih mencumbu meski ia melihat Ellie meronta. Ia tidak akan menyakiti Ellie tapi ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan meski Ellie menolaknya. Jiro bahkan sudah memaksa Ellie berdiri tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Jemarinya dengan paksa sudah menelusup memasuki pakaian yang dikenakan Ellie, kemudian menggoda istrinya itu agar tidak lagi meronta. Dan benar saja, setelah gigih menggoda Ellie, akhirnya pertahanan Ellie runtuh.

Ellie menikmati setiap sentuhan Jiro, setiap cumbuan dari suaminya tersebut. Jiro tahu bahwa Ellie juga menginginkannya. Istrinya itu pasti dipengaruhi oleh gairah yang ia berikan, belum lagi hormon kehamilan yang membuatnya Ellie labil dan terpancing gairahnya. Ellie hanya berusaha menolak bukan karena tak ingin, tapi karena wanita itu ingin membuatnya kesal. Jiro tahu. Tapi Ellie salah, Jiro tak akan kesal, karena Jiro akan menuruti permainan wanita tersebut.

Sedikit demi sedikit, Jiro membawa tubuh Ellie menuju ke dekat ranjang mereka. Tanpa melepaskan tautan bibirnya, Jiro mulai membuka pakaian yang tadi baru saja dikenakan oleh Ellie. Ellie menuruti saja apapun yang dilakukan Jiro, Ellie benar-benar telah dipengaruhi oleh sebuah gairah yang tak dapat ia tolak.

Jiro melepaskan tautan bibir mereka saat dirasanya napas Ellie sudah terputus-putus. Ia kemudian tersenyum, menunduk, menempelkan keningnya pada kening Ellie.

“Aku benar-benar menginginkanmu, Ellie.”bisiknya dengan suara serak. “Jangan menolakku.”

Dengan spontan Ellie mengalungkan lengannya pada leher Jiro, kemudian ia berkata “Tidak. Aku tidak akan menolak.”

Ya. Jiro kembali merasa menang. Ellie tak dapat menolaknya, dan Jiro tak akan membuang waktu lagi sebelum pikiran wanita itu berubah dan kembali menjadi sosok pembangkang, penyindir dan juga pendiam yang membuat Jiro kesal.

Dengan cepat Jiro melucuti pakaiannya senidri satu persatu, ia juga membantu Ellie melucuti pakaian wanita itu sebelum kembali menyambar bibir ranum Sang istri.

Oh, Ellie begitu nikmat. Membuat Jiro merasa bodoh karena selama ini hampir tak pernah menikmati permainan panasnya. Ya, ia hanya akan melampiaskan hasrat seksualnya, tanpa menikmati prosesnya, hanya itu. Dan kini, Jiro tak ingin lagi seperti itu lagi.

Jika ia membutuhkan sebuah pelepasan, maka ia akan menikmati keseluruhan prosesnya seperti sekarang ini.

Bukannya mengajak Ellie naik ke atas ranjang mereka, Jiro memilih mendorong wanita itu menuju ke arah dinding terdekat. Jiro menghimpit Ellie diantara dinding. Mengangkat tubuh wanita itu agar sejajar dengan tinggi tubuhnya.

Ellie merasa bahwa Jiro begitu kuat, lelaki itu mengengkatnya dengan begitu perkasa, seperti Ellie seringan kapas. Padahal Ellie tahu bahwa bobot tubuhnya saat ini mulai bertambah karena kehamilannya. Hal itu semakin membuat Ellie mengagumi Jiro, membuat Ellie ingin selalu memiliki lelaki ini di sisinya untuk melindungi dirinya dan juga bayi mereka. Ahhh, andai saja Jiro sepeka itu.

Bibir Jiro masih mencumbu Ellie, sesekali melepaskan cumbuannya kemudian beralih pada leher jenjang Ellie. Dan ketika Jiro tak mampu menahan gairahnya lagi, ia mulai menyatukan diri masih dengan posisi berdiri.

“Ohhhh…” Ellie melenguh panjang ketika merasakan Jiro penuh mengisinya.

“Apa, aku menyakitimu?” tanya Jiro sedikit khawatir. Selama ini, Ellie bahkan tampak sulit mengekspresikan dirinya ketika mereka bercinta. Dan kini, Jiro melihat Ellie tampak kewalahan dengan gairah yang telah ia berikan.

Ellie menggelengkan kepalanya. “Tidak.” Jawabnya setengah mendesah.

“Kalau begitu, aku akan melakukannya.”

“Ya. Lakukanlah.”

“Lebih keras dari sebelumnya.” Ucap Jiro dengan mata yang menatap tajam ke arah Ellie.

“Apa?” Ellie tidak mengerti apa artinya lebih keras dari sebelumnya.

“Aku tidak bisa terlalu lama menahan diri.” Kemudian Jiro mulai menghujam keras, membuat Ellie mengerang seketika. “Aku begitu menginginkanmu, hingga rasanya nyaris meledak.” Jiro meracau. Sedangkan Ellie lebih memilih menikmati hujaman keras dari Jiro.

Biasanya, Jiro melakukanya dengan lembut, kadang dengan cepat, tapi tak pernah sekeras ini, seperti lelaki itu tidak bisa mengendalikan dirinya. Meski begitu, Ellie tidak merasakan sakit. Sensasinya membuat Ellie merasa terbakar, gairahnya semakin membumbung tinggi. Ya Tuhan! Ellie tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.

“Ellie.” Tanpa menghentikan pergerakannya, Jiro mencengkeram rahang Ellie kemudian menghadapkan wajah wanita itu ke arahnya. “Kamu hanya milikku! Kamu hanya miliku!” Serunya berkali-kali sebelum kembali menyambar bibir ranum Ellie, melumatnya dengan panas dan membawa diri mereka terbang ke puncak gairah yang tiada duanya…

***

Setelah percintaan panas mereka dan mendapatkan beberapa kali pelepasan, keduanya tertidur. Menjelang tengah malam, Ellie terbangun. Ia kelaparan karena melewatkan jam makan malamnya. Saat tengah gelisah di atas ranjangnya, Jiro terjaga dari tidurnya.

“Kamu bangun?” tanyanya dengan suara serak.

“Aku lapar.” Ellie menjawab dengan nada polos membuat Jiro tersenyum kemudian bangun dan segera bangkit.

“Mau pesan makan?”

“Tengah malam begini mana ada orang jualan?” Ellie menggerutu sebal. Ia benar-benar merasa kelaparan.

“Kalau begitu, aku akan membuatkanmu sesuatu.” Jiro bergegas pergi meninggalkan Ellie, sedangkan Ellie segera mengikuti lelaki itu. Tak lupa, Ellie mengenakan pakaian tidurnya karena ia tidak mungkin mengikuti Jiro dalam keadaan telanjang bulat.

Ellie sampai di dapur saat Jiro sudah mengeluarkan beberapa bahan makanan dari lemari pendingin. “Hanya ada telur dan sosis. Kamu mau dibuatkan apa?”

“Omlet saja.” Jawab Ellie sembari duduk di bangku yang ada di depan meja dapur.

“Yakin hanya itu? Nasi goreng nggak mau?”

“Tidak ada nasi. Kalau menunggu masak nasi dulu, aku keburu mati kelaparan.”

Jiro tersenyum sekilas. Hanya sekilas saja, kemudian ia kembali menampilkan wajah tanpa ekspresinya. “Baiklah, aku akan membuatkanmu Omlet.” Lalu Jiro mulai sibuk dengan masakannya, sedangkan Ellie memilih mengamati suaminya itu dari belakang.

Entah sudah berapa kali Ellie mengatakan bahwa Ellie benar-benar mengagumi sosok Jiro. Meski lelaki itu tampak mengabaikannya, nyatanya bagi Ellie, Jiro adalah satu-satunya lelaki yang ia kagumi. Ketampanan lelaki itu, kegagahannya, belum lagi sikapnya yang sedikit misterius membuat Ellie benar-benar jatuh pada sosok suaminya tersebut. Apalagi saat kini, Jiro memposisikan sebagai suami yang baik dan perhatian, sebagai calon ayah yang siaga, membuat Ellie seakan tak mampu berpaling dari sosok tersebut.

Meski begitu, Ellie tak ingin mengakuinya secara gamblang. Bagaimanapun juga, ia ingin membuat Jiro peduli dengannya, ia ingin merebut perhatian Jiro dengan cara yang tak biasa, jadi ia tidak ingin menunjukkan semua perasaannya pada lelaki itu kemudian membuat lelaki itu berrpikir bahwa Ellie tak memiliki kekuatan untuk melawannya. Tidak, Ellie tak ingin Jiro menyepelekannya seperti itu.

Saat Ellie sibuk dengan pemikirannya sendiri, saat itulah Jiro sudah berdiri menghadapnya dengan sebuah omlet yang memenuhi piring yang dibawanya. Jiro menyuguhkannya pada Ellie, tak lupa lelaki itu juga membuatkan Ellie segelas susu hingga membuat Ellie sempat terpana karena perhatian lelaki tersebut.

“Habiskan, lalu kita akan kembali tidur.”

“Kamu tidak lapar?” Ellie bertanya masih dengan wajah polosnya.

“Enggak.” Jiro menjawab pendek.

Karena Jiro berkata tidak lapar, maka Ellie tidak sungkan lagi menyantap omlet buatan Jiro dengan lahap. Sesekali Ellie meneguk susunya. Rasanya sangat enak. Jiro rupanya pandai masak, atau, apa karena ia terlalu senang mendapatkan perhatian seperti ini dari Jiro hingga makanan tersebut terasa sangat enak? Mungkin memang seperti itu.

Saat Ellie asyik manyantap makanannya, saat itulah Jiro kembali memperhatikan Ellie. Wanita di hadapannya itu tampak polos, tapi berani. Bukan perempuan yang mudah dimengerti. Kadang Jiro tak habis pikir, sebenarnya, apa yang sedang dirasakan Ellie? Apa yang diinginkan wanita itu?

“Jadi, apa hubungan Vanesha dengan Troy?” pertanyaan Ellie yang tiba-tiba itu membuat Jiro terkejut. Ellie tadi sempat bilang bahwa wanita itu tak mempedulikan tentang dirinya apalagi tentang Vanesha dan yang lainnya. Tapi kenapa wanita ini tiba-tiba bertanya padanya tentang hal ini? apalagi, Ellie menanyakan kalimat itu dengan santai dan masih menyantap makanannya tanpa menatap ke arah Jiro sedikitpun.

“Aku nggak tahu.”

“Kamu kan temannya Troy. Masa nggak tahu?”

“Dia kan banyak kencan sama perempuan, bukan hanya dengan Vanesha.”

“Wahhh, sepertinya semua anak band sama seperti itu ya?” Ellie kembali menyindir.

“Tidak semuanya. Aku nggak pernah kencan sama perempuan sembarangan.”

“Iya, karena kalau kamu sembarangan kencan, akan menjadi gosip. Suamiku ini kan paling anti digosipkan yang enggak-enggak.” Lagi-lagi Ellie menyindir Jiro.

“Ellie, kadang aku berpikir bahwa mulut kamu sangat tajam.” Jiro berkomentar.

Ellie tersenyum, ia kembali meneguk susunya sebelum berkata “Baguslah, kalau kamu berpikir seperti itu. Jadi kamu bisa berpikir dua kali jika ingin menciumku.”

Tanpa diduga, Jiro segera mengangkat dagu Ellie kemudian menyambar bibir Ellie. Jiro bahkan menggoda Ellie dengan cara menjilati bekas susu yang tertinggal di area bibir Ellie.

“Kamu salah, aku suka mencium bibir-bibir yang tajam.” Ucapnya sebelum melepaskan dagu Ellie.

Pipi Ellie merona seketika. Ia tidak menyangka jika Jiro akan berbuat senakal itu. Tapi Ellie mencoba mengendalikan dirinya. Ia tidak akan membuat Jiro kembali merasa menang lagi dengan perang psikis yang entah sejak kapan terjadi diantara mereka.

“Kenapa diam saja?” Jiro kembali menantang Ellie.

“Enggak.” Ellie kembali memakan omletnya. Sumpah demi apapun juga, Ellie tidak ingin melanjutkan makan malamnya. Astaga, Jiro begitu mempengaruhinya, ciuman lelaki itu serta godaannya tadi membuat Ellie meremang. Tapi di sisi lain, Ellie tidak ingin Jiro sadar bahwa lelaki itu begitu mempengaruhinya.

“Cepat habiskan makananmu, setelah itu kita tidur, sudah sangat malam.” Ucap Jiro sembari meningalkan Ellie menuju ke arah lemari pendingin.

Ellie tidak tahu bahwa Jiro juga terpengaruh dengan kedekatan mereka. Entah kenapa, sekarang setiap kali berdekatan dengan Ellie, Jiro merasa sesuatu terpantik di dalam dirinya. Jiro ingin memiliki Ellie lagi dan lagi, memperlakukan wanita itu dengan manis, membuat wanita itu merona-rona karena ulahnya. Tapi di sisi lain, Jiro ingin menolak perasaan menggelikan itu. Bagaimanapun juga, ia tidak ingin Ellie membuatnya candu. Jiro tak ingin terpengaruh lebih dari ini dan melakukan hal-hal di luar akal sehatnya seperti tadi. Ia adalah lelaki yang realistis, yang tidak ingin terbawa oleh perasaan, meski itu dengan istrinya sendiri. tapi dapatkah Jiro menahannya? Menahan perasaannya yang semakin hari semakin tak terkendali?

***

Saat keduanya sudah berada di ranjang mereka, keduanya tak segera tidur. Tampak sebuah kegelisahan diantara mereka. Ellie ingin membuka suaranya tapi ia tidak tahu apa yang ingin ia katakan dengan Jiro. Begitupun dengan Jiro. Jiro ingin membuka percakapan kemudian keduanya lelah karena saling bercerita dan tidur bersama hingga pagi, tapi Jiro tahu bahwa ia bukanlah tipe yang suka bicara. Jiro adalah tipe pendiam, kalaupun dia berbicara, dia akan berbicara seperlunya saja. Bukan berbasa-basi seperti lelaki kebanyakan.

Akhirnya, ketika Ellie tak dapat menahan rasa bosan dan rasa kesalnya akibat tak dapat tidur, Ellie memilih memiringkan tubuhnya ke arah Jiro kemudian mulai membuka suaranya.

“James, jika kebersamaan kita nanti masuk ke dalam akun gosip, apa yang akan kamu lakukan?” itu hanya pertanyaan iseng, tapi Ellie berharap Jiro menjawabnya dengan jawaban yang berbobot.

“Apalagi? Aku hanya bisa diam.” Ellie memutar bola matanya kesal. Seperti yang diduga, jawaban Jiro benar-benar tidak memuaskan.

“Kalau media ngejar-ngejar kamu bagaimana?” tanya Ellie lagi.

“Tinggal lari dan diam.” Lagi-lagi jawaban Jiro membuat Ellie kesal.

“Kalau mereka tak juga berhenti dan ngejar kamu terus dimanapun kamu berada bagaimana?” Ellie tidak ingin mengalah.

Jiro menatap Ellie seketika. “Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Ellie? Kamu ingin aku jujur dengan mereka? Jika itu yang kamu inginkan, maka itu tak akan terjadi.” Jawab Jiro dengan pasti.

Ellie merasa sakit dengan jawaban jujur tersebut. “Kenapa? Apa aku begitu memalukan untuk menjadi istrimu?”

“Ellie…”

“Kamu selalu meniduriku, James. Aku bahkan sudah mengandung bayimu. Begitukah penghargaan yang kamu berikan pada ibu yang mengandung anakmu?”

“Ellie, dengar. Semua butuh proses.”

“Tapi aku tidak suka prosesnya, James. Aku sudah muak. Aku sudah bosan. Ini sudah Empat tahun dan aku masih tetap jadi simpananmu.”

“Istri.” Jiro meralat. “Kamu istriku, bukan simpananku.”

“Ya, istri rasa simpanan.” Ellie membenarkan. Mata Ellie sudah berkaca-kaca. Bahkan beberapa bulir bening itu sudah jatuh dari pelupuk matanya.

Dengan spontan Jiro menghapus airmata Ellie. “Ada waktunya untuk mengakui semua. Tapi tidak sekarang, Sayang. Tidak saat ini.” Entah perasaan Ellie saja atau saat ini Jiro menjelma menjadi sosok yang sangat lembut. Ellie bahkan tidak dapat mengingat, apa Jiro pernah memanggilnya dengan panggilan ‘Sayang’ atau tidak.

“Lalu kapan? Aku, aku hanya tidak suka kenyataan bahwa kamu dikenal sebagai seorang lajang. Banyak perempuan memujamu, bahkan tak sedikit fans kamu yang menjodohkan kamu dengan artis perempuan lainnya. Aku tidak suka.”

“Ellie. Sebentar lagi akan ada konser besar yang akan ditayangkan secara langsung di beberapa stasiun Tv nasional. Mungkin bagi kamu atau yang lain, konser ini tak berarti, tapi bagiku, konser ini sangat berarti. Aku ingin fokus dan menyukseskan konser ini. karena bagiku, konser ini seperti titik balik saat The Batman berada di puncak kepopuleran.”

“Lalu?”

Jiro mengusap lembut pipi Ellie. “Setelah semuanya selesai, mungkin aku akan mengaku didepan publik.”

“Kamu yakin?” Ellie tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jiro.

“Mungkin.” Jiro masih kurang yakin dengan apa yang ia katakan “Ada beberapa kontrak yang tidak bisa dilanggar. Konsekuensinya aku harus membayar denda dan kontrak dibatalkan. Itupun kita harus mendiskusikannya dengan pihak management dan juga para personel The Batman lainnya.”

“Dan jika mereka menolak atau tidak sepemikiran denganmu?”

Jiro menghela napas panjang. “Maka aku harus keluar.”

Mata Ellie berbinar seketika. Jujur saja, Ellie memang kurang suka dengan pekerjaan suaminya yang menjadi anak band. Apalagi semenjak Jiro terkenal, Ellie merasa semakin jauh dengan lelaki ini. belum lagi kenyataan bahwa mereka tidak bisa kemanapun tanpa ada yang mengenali. Hal itu benar-benar membuat Ellie risih. Membayangkan bahwa Jiro akan vakum dari menjadi artis membuat Ellie senang. Tapi benarkah Jiro akan melakukannya? Membuang ambisinya selama ini hanya demi mengakui dirinya dan juga bayi mereka di depan publik?

-TBC-

Advertisements

My Beautiful Mistress – Bab 9

Leave a comment Standard

 

Sea world. Kamu mau?”

Mata Ellie membulat seketika. “Itu kan tempat publik. Kamu nggak takut ketahuan fans kamu?”

Jiro tersenyum, dan Ellie kembali terpana dengan senyuman lelaki itu. Benar-benar curang! Jika Jiro menampilkan sedikit saja senyumannya, maka Ellie akan kalah. Ellie tak akan mampu memusuhi suaminya itu lagi setelahnya.

“Ini bukan minggu atau hari libur, jadi kupikir tak akan seramai biasanya. Lagi pula, aku bisa menyamar.”

“Kamu yakin? Kalau ada yang tahu?”

“Abaikan saja.” Dan setelah itu Ellie bersorak gembira dalam hati, ia tidak menyangka Jiro akan membujuknya hingga seperti ini. kemarahan Ellie menguap seketika, hilang ditelan sikap manis yang ditampilkan Jiro kepadanya. Bagaimana bisa semudah ini menakhlukkan hatinya?

****

Bab 9

Cukup lama Ellie menunggu Jiro di ruang tengah rumah mereka. Saat ini, Ellie sudah siap dengan pakaian santainya. Celana pendek berwarna hitam dengan T-shirt berwarna senada. Tak lupa, ia mengenakan sepatu flat hingga membuatnya tampak lebih muda dari usianya dan juga lebih mungil tentunya.

Perut Ellie bahkan tampak sedikit menyembul, mungil, hingga ketika ada orang yang melihatnya maka segera bisa menebak bahwa Ellie sedang hamil muda.

Saat Ellie sibuk mengusap-usap perutnya sendiri, saat itulah Jiro keluar dari dalam kamar mereka. Lelaki itu tampak keren dan gagah dengan T-shirt berwarna putih dan juga jaket denimnya, celana panjang, serta sepatu bootsnya. Tak lupa, lelaki itu juga mengenakan topi untuk menyembunyikan sebagian wajahnya.

Jiro tampak memperhatikan Ellie dari ujung rambut hingga ujung kaki wanita tersebut, kemudian dia berkomentar “Kamu hanya pakai itu?” tanyanya.

“Ya. Kenapa memangnya?”

“Itu terlalu mini, kalau masuk angin gimana?” Jiro lantas kembali masuk ke dalam kamar, tak lama lelaki itu kembali dengan sebuah coat miliknya yang pasti akan kebesaran jika dikenakan oleh Ellie. “Pakai ini.” perintahnya.

“Apaan sih. Aku nggak suka.”

“Pakai saja.” Jiro tak ingin dibantah. Kemudian lelaki itu menjauh dan tampak menghubungi seseorang. Dan yang bisa Ellie lakukan hanya menurutinya saja sembari mendengus sebal.

***

Akhirnya, mereka sampai juga di area Sea World. Tempat dimana terdapat akuarium-akuarium besar dengan berbagai macam jenis biota laut didalamnya.

Ellie tampak senang saat sampai disana. Ini adalah pertama kalinya ia ke tempat seperti ini. dulu, saat di Inggris, Ellie hampir tak pernah menghabiskan waktu untuk liburan. Keluarganya bukanlah golongan keluarga yang hobby jalan-jalan dan menghamburkan uang, mereka tergolong dalam keluarga religius. Jika sedang libur sekolah, kedua orang tuanya lebih memilih mengajak Ellie untuk pergi ke kegiatan sosial dan beramal. Sedangkan setelah menikah dengan Jiro, Ellie hampir tak pernah keluar dari rumahnya jika tidak sedang belanja atau memiliki keperluan mendesak.

Ajakan Jiro ke dunia bawah laut saat ini sudah seperti mimpi untuk Ellie. Ellie sangat senang, dan Ellie tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya tersebut.

Ellie mengamati satu demi satu makhluk hidup yang ada di dalam akuarium besar itu. Tangannya menempel pada akuarium , matanya berbinar dengan kekaguman yang ia lihat. Tak pernah ia melihat ikan sebesar itu, atau ikan seindah di dalam akuarium itu. Ia masih mengamati dengan kekagumannya, hingga Ellie tak menyadari jika sejak tadi sepasang mata tengah mengamati tepat di belakangnya.

Ya, itu Jiro.

Jiro bahkan tak sadar, jika sejak tadi ia mengamati Ellie dengan intens. Ellie yang tampak senang dan berbinar membuat Jiro puas, karena sudah berhasil membuat wanita itu ceria lagi. Secara sepontan kaki Jiro melangkah, mendekat ke arah Ellie, dan berdiri tepat di belakang wanita tersebut.

“Kamu senang?” tanyanya.

Ellie sempat terkejut saat mendapati Jiro begitu dekat dengannya. ia membalikkan tubuhnya sekilas kemudian menatap kembali ke arah akuarium. “Ya, sangat.”

“Kalau kamu suka, kita bisa ke sini seminggu sekali.”

“Uuum, sepertinya tidak perlu. Kamu kan sibuk. Lagi pula, kalau banyak orang pasti akan repot sekali.” Ellie melayangkan pandangannya ke sekeliling, dan ia sempat heran, karena tempat tersebut bersih dari pengunjung. Hanya ada beberapa petugas yang tengah bekerja. “Tapi ngomong-ngomong, tempat sebagus ini masa sepi pengunjung.” Ucap Ellie kemudian.

“Mungkin keberuntungan kita.” Jawab Jiro asal.

“Masa sih? Aku jadi merasa menjadi pemilik tempat ini.” Ellie kembali mengamati satwa laut di hadapannya. “Indah sekali.” Ucapnya dengan spontan.

Tanpa diduga, tiba-tiba Ellie merasakan sebuah lengan memeluknya dari belakang. Lengan Jiro. Ellie bahkan sempat membatu sesaat ketika Jiro melakukan hal tersebut.

“Kamu polos sekali.” Jiro berkomentar. Jiro bahkan sudah menundukkan kepalanya, menyandarkan dagunya pada pundak Ellie. Sedangkan Ellie merasa tak dapat berbuat apapun. Ia salah tingkah, karena tak pernah mendapati Jiro melakukan hal ini padanya saat di depan umum.

“Polos bagaimana?”

“Hanya dengan melihat satwa laut, kamu sudah tampak sangat senang. Kamu bahkan melupakan permasalahan kita, atau mungkin kesalahan yang sudah kuperbuat.”

“Aku sudah pernah bilang, bahwa aku sudah tidak peduli lagi denganmu, James.”

“Jangan.” Jiro menjawab cepat.

“Jangan apa?” Ellie tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Jiro.

“Jangan tidak peduli denganku.”

“Tapi kamu juga tidak peduli denganku, jadi lebih baik…”

“Aku peduli.” Jiro lagi-lagi menjawab cepat. “Aku peduli sama kamu, sama bayi kita.” Ucap Jiro dengan suara yang sudah serak. Telapak tangannya sudah mendarat pada perut Ellie, sedangkan bibirnya sudah mengecup lembut pundak Ellie.

Ellie sempat tak percaya dengan apa yang dilakukan Jiro. Sekali lagi, Jiro melakukan hal-hal yang sama sekali tak terpikirkan dalam benak Ellie. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan lelaki ini?

***

Ellie sedikit terkejut saat keluar dari area sea world, ternyata, sudah banyak orang yang menunggu di sana. Rupanya area tersebut sempat ditutup tadi. Apa Jiro yang menutupnya? Yang benar saja, memangnya siapa lelaki ini?

Ellie menatap penuh tanya pada Jiro, sedangkan lelaki itu masih berjalan santai sembari menggenggam erat telapak tangannya.

“Kamu yang membuat tempat ini ditutup sementara?” tanya Ellie kemudian.

“Ya. Kenapa memangnya?”

“Kenapa harus di tutup? Kamu takut ketahuan sama fans kamu karena sudah jalan sama wanita berperut buncit?”

“Aku nggak pernah takut.”

“Lalu kenapa pakai ditutup?”

“Cuma pengan buat kamu menikmati tempat-tempat tadi tanpa ada yang berisik. Seharusnya kamu berterimakasih sama aku, bukan malah menggerutu.” Jiro mendengus sebal.

Tanpa banyak bicara, Jiro menggenggam telapak tangan Ellie lalu mengajaknya keluar dari sana. Beberapa orang tentu menyadari keberadaan Jiro, tapi Jiro berusaha untuk tidak mempedulikannya. Sedangkan Ellie sendiri masih tidak mengerti apa yang dilakukan Jiro padanya.

Ellie mengikuti saja kemanapun kaki Jiro melangkah, hingga kemudian mereka berada pada tempat yang mirip dengan taman hiburan. Tempat tersebut masih satu kompleks dengan Sea world tadi.

“Ini dimana?”

“Dufan.” Jiro menjawab singkat.

“Kok kamu ngajak kesini?”

“Mumpung sepi. Kan aku sudah bilang, ini bukan minggu atau hari libur, jadi tidak seramai hari-hari itu.”

Ellie melihat ke sekeliling. Masih ada orang berlalu-lalang. “Kamu tidak menutup tempat ini juga, kan?”

Jiro tak dapat menahan tawanya. “Enggak. Cuma yang tadi saja.”

“Kamu nggak takut ketahuan fans kamu?” tanya Ellie dengan wajah polosnya.

“Aku sudah pakai topi, dan masker.”

“Tapi orang tetap bisa menebak jika itu kamu, dari postur tubuhmu.”

“Aku nggak peduli.” Jiro menjawab dengan santai. Ya, baru kali ini Jiro berjalan di luar akal sehatnya dan menuruti apa yang ia inginkan. Yang ia inginkan saat ini hanyalah bersenang-senang dengan Ellie. Jiro akan melakukannya dan ia mencoba untuk tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya.

Jiro masih mengajak Ellie berjalan menelusuri taman bermain tersebut. Jemarinya tak lepas dari menggenggam telapak tangan Ellie. Sedangkan mata Jiro mengawasi siapa saja yang mencoba melirik istrinya tersebut.

Ya, penampilan Ellie memang sangat mencolok. Kulitnya putih bersih, rambutnya yang panjang terurai, berwarna kuning kemerahan, posturnya mungil, tapi berisi. Membuat siapa saja menatap ke arah wanita tersebut. Belum lagi paras Ellie yang cantik rupawan membuat siapapun menoleh dua kali ketika melihatnya.

Jiro tak suka.

Ia tidak suka ketika Ellie menarik perhatian publik. Apalagi saat mata-mata pria nakal menatap ke arah tubuh istrinya. Sial! Rasanya Jiro ingin mencongkel mata-mata kerangjang tersebut.

Dengan spontan, Jiro menarik tubuh Ellie agar masuk dalam dekapan lengannya. Hal itu tentu membuat Ellie semakin bingung dengan sikap Jiro.

“Ada apa?”

“Enggak.” Jiro menjawab pendek. Padahal Jiro melakukan hal itu agar semua orang yang berada di taman hiburan itu tahu bahwa Ellie sudah menjadi miliknya. “Jadi, mau naik apa?”

“Naik apa? Aku hamil, mana boleh naik wahana begituan.”

“Kalau begitu, kita jalan-jalan saja sampai sore.” Dan Ellie mengikuti saja apapun keinginan Jiro.

Mereka berkeliling, melihat aneka wahana, mulai dari wahana air, hingga wahana yang memacu adrenalin. Ellie sempat meminta Jiro untuk menaiki salah satu wahana tersebut, tapi Jiro menolaknya mentah-mentah dengan alasan bahwa lelaki itu tak ingin meninggalkan Ellie sendiri.

Tiba saatnya Ellie merasa lelah. Ia kehausan dan dengan perhatian, Jiro sudah membelikannya sebuah minuman. Coklat dingin yang sangat menyegarkan. Ellie senang dengan perhatian yang diberikan oleh Jiro, tapi entah kenapa Ellie merasa belum cukup puas. Lelaki itu seperti sedang menyogoknya untuk sesuatu, dan Ellie tidak tahu sesuatu apakah itu.

Ellie melihat seorang pengamen yang membawa gitar. Berdiri di depan salah satu wahana, memainkan gitarnya, menyanyi dengan suara merdunya dan para mengunjung mendatanginya untuk memberikan uang. Dalam sesaat, Ellie memiliki sebuah pemikiran jahil untuk Jiro, ia ingin Jiro melakukan hal itu untuknya. Membuat lelaki itu bernyanyi di depan banyak orang seperti seorang pengamen, sepertinya lucu.

Dengan manja, Ellie menarik-narik jaket Jiro hingga lelaki itu menatap ke arahnya.

“Apa?”

“Uum, kamu mau nurutin mau aku, James?”

“Kamu minta apa?”

“Aku tidak tahu, kenapa aku menginginkannya, tapi…. Aku benar-benar sangat ingin.”

“Apa? Katakan saja.” Jiro tak suka Ellie yang tampak berputar-putar dengan ucapannya.

“Itu. Kamu lihat pengamen itu.” Ellie menunjuk pada si pengamen.

“Kenapa?”

“Kayaknya, aku pengen lihat kamu melakukan itu, deh.”

“Apa?” Sungguh, Jiro tak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Pengamen itu. Aku pengen lihat kamu nyanyi seperti dia. bawa gitar seperti itu.”

“Jangan konyol. Aku bahkan menggunakan topi dan masker agar tidak banyak yang tahu siapa aku. Kalau aku melakukan itu, sama saja kamu meminta aku untuk mengumumkan bahwa Jiro The Batman ada di tempat ini.”

Ellie mendengus sebal. “Lagi pula, memangnya kenapa kalau mereka tahu kamu di sini? Tidak semua orang tahu kok kalau kamu artis.” Ucapnya dengan jengkel. “Aku hanya ingin melihatmu seperti itu. Tapi kamu tidak bisa menurutinya. Padahal banyak orang hamil yang meminta hal-hal yang tak masuk akal dan suaminya tetap menuruti saja demi bayinya. Tapi kamu….”

Jiro bangkit seketika. “Aku akan menuruti apa mau kamu.” Ucapnya cepat sambil bergegas.

Ellie sempat ternganga dengan kelakuan Jiro. Tapi kemudian ia tersenyum saat Jiro benar-benar melakukan apa yang ia inginkan.

Sedangkan Jiro, ia tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa Ellie bisa memerintah dirinya dan kenapa juga dirinya menuruti kemauan perempuan itu.

Jiro menghampiri si pengamen, meminjam gitarnya dan beruntung pengamen itu menuruti keinginan Jiro. Kemudian, Jiro mulai membuka maskernya dan bernyanyi, menggantikan Sang pengamen tersebut.

Spent 24 hours

I need more hours with you

Lagu Maroon 5 menjadi pilihan Jiro untuk bernyanyi siang itu. Lagu yang ceria, dan Ellie cukup suka. Ellie tersenyum dan mendekat ke arah Jiro. Menatap lelaki itu dengan tatapan sulit diartikan.

You spent the weekend

Getting even, ooh ooh

We spent the late nights

Making things right, between us

Mata Jiro menatap ke arah Ellie, meski tersembunyi dibalik topinya, tapi Ellie tahu bahwa tatapan mata lelaki itu menjurus ke arahnya.

But now it’s all good baby

Roll that Backwood baby

And play me close

Beberapa orang pengunjung mulai mendekat, menikmati pertunjukan Jiro.

‘Cause girls like you

Run around with guys like me

‘Til sundown, when I come through

I need a girl like you, yeah yeah

Girls like you

Love fun, yeah me too

What I want when I come through

I need a girl like you, yeah yeah

Yeah yeah yeah

Yeah yeah yeah

I need a girl like you, yeah yeah

Jiro masih terus bernyanyi. Para pengunjung berdatangan ingin melihatnya karena ada beberapa orang yang memang mengenalinya.

“Itu Jiro kan? Iya itu Jiro.”

Samar-samar, Ellie bahkan mendengar beberapa gadis muda terang-terangan mengenali Jiro.

“Ya ampun, dia keren banget sih. Gosip itu pasti bohong, Jiro nggak mungkin punya istri, enak aja.” Yang lain berkomentar.

Ellie segera menatap ke arah Jiro. Jiro tampak menikmati kepopulerannya. Hal itu kembali membuat Ellie merasa minder. Ellie menatap dirinya sendiri. ia bukan siapa-siapa, tak ada yang mengenalinya, bahkan Jiro sepertiya tak pernah berpikir untuk mengenalkan dirinya di depan publik.

Dengan spontan Ellie merapatkan coat kebesaran Jiro yang ia pakai, seakan melindungi dirinya dari rasa sakit. Ia tidak suka kenyataan bahwa Jiro dikenal banyak orang sebagai lelaki lajang. Jiro adalah suaminya, tapi Ellie tidak bisa berbuat banyak ketika Jiro sendiri tidak mau mengakuinya sebagai istri di depan umum.

Saat Ellie asyik memikirkan hal tersebut, rupanya Jiro sudah menyelesaikan lagunya. Beberapa orang secara terang-terangan meminta berfoto dengan Jiro, dan Jiro menurutinya dengan ramah. Kemudian, lelaki itu menuju ke arah Ellie, dan tanpa banyak bicara lagi Jiro segera meraih telapak tangan Ellie, menggenggamnya kemudian mengajak Ellie meninggalkan area tersebut.

Beberapa orang terang-terangan bertanya pada Jiro, siapa Ellie, apa hubungan mereka, tapi Jiro tampak tak mempedulikannya dan fokus untuk membawa Ellie pergi dari sana. Ellie tak tahu harus merasa bagaimana. Di satu sisi ia senang Jiro setidaknya menunjukkan perhatian lelaki itu padanya di depan umum, tapi disisi lain, Ellie tetap kurang suka dengan Jiro yang seakan menyembunyikan identitasnya.

Kenapa? Apa ia tampak memalukan untuk lelaki ini?

***

Sepanjang sore, Ellie hanya diam setelah kejadian tadi. Karena merasa Ellie berada pada mood yang buruk, Jiro akhirnya mengajak Ellie untuk kembali pulang saja. Ia takut jika Ellie kecapekan atau sejenisnya. Sedangkan Ellie hanya menuruti saja apa yang dikatakan Jiro.

Keduanya pulang dalam diam. Sesekali Jiro melirik ke arah Ellie, wanita itu berubah lagi, menjadi murung, menatap jauh ke luar jendela mobilnya, jemarinya sesekali mengusap perutnya sendiri. kenapa? Apa Ellie merasa sakit?

“Ada yang sakit?” tanya Jiro kemudian.

Jiro bahkan sudah meminggirkan mobilnya dan menghentikannya.

Ellie menatap Jiro seketika. “Apa?” tanyanya bingung.

Telapak tangan Jiro dengan sepontan mendarat pada perut Ellie, “Bayinya, ada yang sakit? Kenapa kamu diam saja sejak tadi? Dan mengusap-usap dia?”

Ellie tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia senang dengan perhatian Jiro, tapi di sisi lain ia masih kesal karena sikap lelaki itu tadi yang terkesan menyembunyikannya dan tidak jujur pada beberapa orang yang menanyakan siapa dirinya.

Seharusnya, Ellie tak perlu kekanakan seperti ini. toh Jiro sudah menyembunyikannya sejak Empat tahun yang lalu, jadi hal itu seharusnya sudah tak menjadi masalah serius lagi bagi Ellie. Tapi mau bagaimanapun juga, Ellie tetap tidak suka dengan sikap Jiro. Entah kenapa Ellie merasa sangat kesal dan ingin sekali agar Jiro mempublikasikan hubungan mereka.

“Tidak apa-apa.” Ellie menjawab pendek. Ellie memilih menatap ke luar jendela lagi.

Jiro mengerutkan keningnya. Ia tidak percaya bahwa perhatian yang ia berikan malah diabaikan oleh Ellie.

“Jadi, kita pulang saja? Atau ke rumah sakit?”

“Pulang saja. Aku mau tidur.” Lagi-lagi Ellie menjawab dengan nada cuek.

Jiro mengangguk. Sekali lagi ia mengusap lembut perut Ellie, mengirimkan getaran panas pada diri Ellie, sebelum kembali menyalakan mesin mobilnya dan mengemudikannya pulang. Ya, mungkin Ellie hanya kecapekan, mungkin Ellie butuh istirahat setelah seharian jalan-jalan dengan dirinya, dan setelah wanita itu kembali pada mood baiknya, Jiro akan mengutarakan sesuatu pada Ellie. Sesuatu tentang hubungan mereka kedepannya.

Tapi Jiro salah. Jiro terlalu tidak peka dengan keadaan di sekitarnya. Ellie bukan lelah secara fisik, tapi wanita itu lelah secara batin. Mungkin, Jiro bisa membuat Ellie senang dan menghibur wanita itu dalam sesaat, tapin sebenarnya, bukan hal itu yang diinginkan Ellie. Keinginan Ellie hanya sederhana, tapi Jiro tak akan bisa menurutinya.

-TBC-

Hayooooo apa yang terjadi di Bab selanjutnya???? hahahhahahha

My Beautiful Mistress – Bab 8

Leave a comment Standard

 

Bab 8

Mei datang setelah Jiro meneleponnya. Ia sempat terkejut saat mendapati Vanesha berada di ruang tengah apartmen Jiro. Apa yang dilakukan wanita itu disini? Pikir Mei saat itu. Tapi kemudian ia segera menuju ke arah kamar, dan disana ia sudah mendapati Jiro yang sedang berdiri tak jauh dari jendela, sedangkan Ellie duduk di pinggiran ranjang dengan posisi membelakangi diri Jiro.

“Apa yang terjadi?” tanya Mei kemudian.

Tanpa diduga, Ellie segera menghambur ke arah Mei, memeluk wanita itu. Wanita yang sudah seperti kakak dan ibunya, dan Ellie tak dapat menahan tangisnya.

“Jiro?” Mei bertanya pada Jiro dengan ekspresi penuh tanya.

“Antar saja dia pulang.”

“Apa yang terjadi? Kenapa dia menangis? Dan perempuan itu, kenapa bisa disini.”

Jiro mendekat. “Mei, ini bukan urusanmu. Antar saja dia pulang, sisanya aku yang menyelesaikan kekacauan ini.”

Sikap Jiro yang misterius benar-benar membuat Mei kesal. Mei lalu melepaskan pelukannya pada Ellie dan segera mengajak wanita itu pergi dari saja. Sedangkan Ellie sendiri, karena pikirannya yang sudah kacau, ia mengikuti saja apapun yang dilakukan oleh Mei.

Ellie dan Mei bahkan sempat menatap tajam ke arah Vanesha ketika mereka melewati ruang tengah apartmen Jiro. Keduanya tahu bahwa pasti ada yang disembunyikan Jiro dari mereka.

***

Jiro bersedekap dan masih berdiri tak jauh dari tempat Vanesha duduk. Ia menatap Vanesha, meminta agar wanita itu mau menjelaskan apa yang terjadi. Bagaimana wanita itu bisa sampai di sini, dan apa tujuannya.

“Jadi ini apartmen kamu?”

“Kamu pikir punya siapa?” nada jawaban Jiro benar-benar tak enak didengar.

“Dan perempuan tadi?” bukannya menjawab, Vanesha malah bertanya balik.

“Kamu nggak perlu tahu siapa dia. itu bukan urusan kamu. Yang paling penting adalah, kenapa kamu kemari? Apa tujuanmu kemari?” tuntut Jiro masih dengan menampilkan wajah sangarnya.

“Aku kesini karena mencari Troy! Aku ingin bertemu dengannya.”

“Dan kenapa kamu mencarinya di sini?”

“Tentu saja karena dia pernah membawaku kemari. Kamu pikir apa?”

“Sial!” Jiro mengumpat. Ia mengeluarkan ponselnya lalu menelepon seseorang. “Chan. Elo bagi apartmen gue sama Troy?” sembur Jiro secara langsung dengan Chandra, asisten pribadinya. Mereka memang sudah seperti teman. Sama seperti Mei, Chandra sendiri sudah bekerja dengan keluarga Jiro bahkan sebelum Jiro menjadi artis.

“Sorry, gue ada hutang sama dia kemaren, jadi dia nagih dengan minta dicariin tempat semalam. Saat itu kebetulan elo lagi pulang, ya, gue kasih kunci apartmen elo.”

“Sialan!” setelah umpatannya, Jiro menutup teleponnya begitu saja.

Ya, semuanya jadi lebih masuk akal. Yang menempati apartmennya adalah Troy, yang meninggalkan sisa kondom adalah temannya yang brengsek itu, dan Vanesha kemari untuk menemui Troy, bukan dirinya.

“Ada masalah?” tanya Vanesha tanpa dosa.

“Ya, banyak. Yang perlu kamu tahu adalah, bahwa ini bukan apartmen Troy. Dia nggak ada di sini.”

“Ohhh. Jadi?”

“Jadi silahkan keluar.” Jawab Jiro dengan spontan.

Vanesha bangkit dan dia tersenyum. “Jadi, kamu menyembunyikan wanita cantik disini?”

Jiro mendengus sebal. “Ayolah, aku tak ingin membahasnya.”

“Aku jadi penasaran apa yang akan dikatakan media selanjutnya. ‘Jiro The Batman mencampakan kekasihnya, Vanesha untuk wanita asing yang sangat cantik’ artikel itu sepertinya akan membuat telingaku panas.”

“Vanesha, cukup! skandal kita sengaja diciptakan untuk bahan promosi. Cepat atau lambat, kita akan mengakhirinya.”

“Oke.” Vanesha mundur sembari mengangkat kedua tangannya. “Tapi aku cukup penasaran dengan wanita tadi. Sepertinya aku akan mencari tahu tentang dia.”

Jiro menegang dengan perkataan Vanesha. Meski begitu ia tidak ingin membalas perkataan wanita itu. Jiro hanya tidak suka bahwa Ellie akan masuk ke dalam dunianya, dunia intertain yang penuh dengan rumor, sandiwara, dan sejenisnya.

***

“Dimana dia?”

Setelah mencari Ellie sampai di sudut-sudut rumahnya dan Jiro tak dapat menemukannya, akhirnya Jiro menghubungi Mei.

“Dia nggak mau pulang.”

“Apa? Lalu dimana dia sekarang?”

“Dirumahku, sedang tidur.”

“Aku akan menjemputnya.”

“Tidak! Biarkan dia disini setidaknya sampai besok. Ya ampun, dia nggak berhenti nangis, kamu apain dia?”

Jiro tak ingin bercerita pada Mei karena baginya itu tak penting. Ia hanya harus menjelaskan pada Ellie, bukan pada yang lainnya.

“Ada salah paham sedikit.” Jawabnya enggan.

“Baiklah kalau kamu nggak mau bercerita. Tapi biarkan dia di sini sampai besok. Aku nggak mau dia stress karena ulah kamu.”

“Ulahku? Aku suaminya.” Jiro merasa tersinggung.

“Ya, suami yang sering membuat masalah. Ya ampun Jiro, apa kamu nggak bisa sedikit mengalah?”

“Aku sudah mengalah, Mei. Aku sudah melewati batas-batas harga diriku dalam menghadapi Ellie.”

“Tapi itu masih kurang. Astaga, aku nggak ngerti lagi harus jelasin bagaimana sama kamu.”

“Nggak perlu dijelasin, aku akan cari tahu sendiri apa yang diinginkan Ellie.” Jiro terdiam sebentar kemudian melanjutkan kalimatnya lagi. “Besok aku akan menjemputnya.” Setelah itu panggilan dia tutup.

Jiro mendengus sebal. Malam ini, ia akan tidur sendiri. memangnya kenapa? Bukankah ia sering melakukannya? Tidur sendiri tanpa istri disisinya? Tapi entah kenapa, Jiro merasa ada yang berbeda. Ia ingin tidur dengan Ellie, memeluk wanita itu hingga pagi. Ada apa dengannya? apa yang terjadi dengan perasaannya?

***

Pagi itu, Ellie membantu Mei memasak. Sesekali keduanya membahas tentang gosip panas yang tadi pagi beredar tentang Jiro dan Ellie yang berada di rumah sakit.

“Jiro pasti parno keluar setelah ini.” ucap Mei sembari sedikit terkikik.

“Parno itu apa?” Ellie bingung apa maksud Mei.

“Paranoid, merasa terganggu, ketakutan.” Jelas Mei dengan sedikit malas. “Dia kan benci banget sama yang namanya media.”

“Kalau begitu, kenapa dia jadi artis?”

“Ellie. Dia jadi artis kan tidak dengan tujuan masuk ke infotaimen. Dia hanya ingin melakukan apa yang dia inginkan, lalu berhasil berada di puncak. Uang tidak berarti untuk Jiro, kesuksesan baginya bukan tentang berapa banyak ia mendapatkan materi, tapi seberapa tinggi dia berada di puncak kepopuleran, dan masuk ke akun gosip tidak ada dalam agendanya.”

“Kupikir, sekarang dia sudah berada di tempat paling tinggi, kenapa dia masih mengejar mimpinya?”

“Mungkin, dia nggak bisa meninggalkannya begitu saja. Ada beberapa kontrak dan ketentuan yang tak bisa dilanggar. Jadi Jiro hanhya bisa melanjutkannya.”

“Mei, menurutmu, apa Jiro menyukaiku?” tanya Ellie dengan wajah polosnya.

“Kalau dia menyukaimu, dia tidak akan menyembunyikanmu didepan publik.” Suara itu lantas membuat Elie dan Mei menatap ke arah suara tersebut. Marvin tampak berdiri dengan baju santainya. “Aku tau kamu disini, jadi aku kemari.” Ucap Marvin sembari menyunggingkan seringaiannya.

“Kamu ngapain sih, ganggu aja.” Gerutu Mei. Mei tentu tahu bagaimana perasaan Marvin kepada Ellie, dan Mei sudah berkali-kali mengatakan pada Marvin bahwa Ellie sudah memiliki Jiro. Kenapa juga sepupunya ini masih kekeh dengan pendiriannya.

“Kalau aku bilang mau minta gula ke sini, kamu nggak akan percaya, jadi aku jujur saja, kalau aku ingin menemui Ellie.”

“Oh ya ampun, memangnya kamu nggak kerja apa?”

“Enggak, gangguin kalian lebih seru.”

Mei mendengus sebal. Marvin pasti tahu Ellie di sini karena lelaki itu melihat Ellie semalam yang keluar dari mobilnya, mengingat rumah merekabersebelahan. Tapi Mei kesal, kenapa Marvin harus menempel pada Ellie. Apa Marvin tak takut dengan Jiro? Dan Ya Ampun, Mei sempat lupa kalau Jiro akan menjemput Ellie pagi ini. bagaimana kalau lelaki itu mendapati Marvin di sini?

Jiro akan murka, Mei tahu itu.

Tapi di sisi lain, Mei ingin melihat reaksi Jiro, atau memberi pelajaran bagi lelaki itu. Ellie terlalu polos untuk memikirkan hal ini, tapi tidak dengan Mei. Mei ingin Jiro merasakan apa yang dirasakan Ellie saat melihat Jiro dengan wanita lain di luar sana.

Ya, selama ini, Ellie selalu bersama dengan Mei. Jadi Mei tahu apa yang dirasakan Ellie. Tak jarang, saat mereka ke maal, atau ke supermarket bersama, mereka tak sengaja mendapati berita tentang Jiro dengan wanita lain. Saat itu, Mei segera menatap Ellie, dan wajah wanita itu segera menjadi sendu. Kesedihan tampak jelas terlihat. Ellie sakit, Ellie jatuh cinta dengan suaminya, tapi suaminya benar-benar tak tahu diri. Mei ingin membuat Jiro membuka matanya, bahwa Ellie patut untuk diperjuangkan.

“Mendingan kamu duduk. Jangan gangguin aku masak.” Mei kembali menyembur Marvin. “Kamu juga, Ellie, jangan kecapekan. Duduk saja di sana.” Lanjutnya pada Ellie.

Marvin dan Ellie menuruti apa kata Mei. Jika sudah marah, Mei memang tampak mengerikan. Bagi Ellie, Mei seperti ibunya yang cerewet, sedangkan bagi Marvin, Mei sudah seperti nenek-nenek yang cerewet.

Keduanya akhirnya duduk di kursi meja makan. Berdampingan. Marvin tak ingin membuang kesempatan, ia kembali mendekati Ellie, dan bertanya tentang keadaan Ellie.

“Jadi kamu nginep sini? Enak kan di sini?”

Ellie hanya mengangguk. Ia meminum susu hamilnya kemudian meraih selemar roti dan mengolesnya dengan selai coklat.

“Kamu bertengkar lagi sam suamimu?”

“Enggak.” Ellie memilih berbohong. Ia tidak suka membahas masalah pribadinya dengan Marvin.

“Lalu, kenapa kamu nginep di sini?”

“Pengen saja.” Ellie menjawab pendek sembari menggingit rotinya.

“Kamu lucu, bikin gemas.” Marvin mencubit gemas pipi Ellie. Membuat Ellie mengaduh kesakitan.

“Sakit tahu!” seru Ellie sembari mengusap pipinya sneidri. Pada detik itu sepasang mata menatap mereka berdua dengan tatapan tajam mereka.

“Apa yang sedang kalian lakukan?!” seruan itu membuat semua mata yang berada di dana menatap ke arah sumber suara. Jiro berdiri menjulang di ambang pintu dapur Mei dengan wajah berapi-api.

Ellie yang melihat kedatangan Jiro bukannya takut tapi malah memalingkan wajahnya ke arah lain. Seakan tak ingin tahu bahwa Jiro ada di sana. Hal itu semakin membuat Jiro kesal.

Kedatangannya ke rumah Mei adalah untuk menjemput Ellie. Sudah cukup semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan Ellie. Sialan! Padahal sebelunya ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, tapi tadi malam, Jiro merasa bahwa diriny berada di neraka.

Ia ingin pagi segera tiba, agar ia segera bisa menjemput Ellie. Tapi saat pagi sudah tiba dan ia benar-benar menjemput Ellie, kenyataan lain ia dapatkan. Ellie sedang asyik dengan pria bajingan yang bernama Marvin, dan hal itu benar-benar mengganggu Jiro.

Apalagi saat ia melihat Ellie yang tampak enggan menatap ke arahnya, seakan wanita itu tidak mengindahkan keberadaannya. Semarah inikah Ellie terhadapnya?

“Kamu sudah datang? Sepagi ini?” tanya Mei sambil menyuguhkan sarapan di atas meja makan.

“Aku akan menjemputnya. Pulang pagi ini juga.”

“Nggak mau.” Ellie berkata cepat.

“Apalagi yang kamu tunggu? Kita harus pulang, aku banyak kerjaan.” Jiro berkata dengan kesal.

“Kalau begitu kamu bisa pergi. Aku bisa menjaga diriku sendiri di sini sepanjang hari.”

“Tidak akan kubiarkan. Apalagi saat aku tahu bahwa ada bajingan yang mengintai kamu.”

“Bajingan? Kamu berlebihan, Jiro.” Mei tahu bajingan yang dimaksud Jiro adalah Marvin.

Jiro tidak mempedulikan apa kata Mei, ia mendekat ke arah Ellie, tapi Ellie malah bangkit dan segera meninggalkannya. Sial! Jiro tak mengerti apa mau wanita aitu. Benar-benar membingungkan.

Mei berkacak pinggang menatap ke arah Jiro. “Jadi ini yang kamu sebut dengan merayu?” sindir Mei.

“Merayu? Aku tidak sedang merayunya.”

“Ya ampun Jiro! aku akan memilih menjadi jomblo seumur hidup daripada harus menikah dengan pria yang super Tak Peka seperti kamu.” Gerutu Mei. “Kamu itu sudah membuatnya marah, setidaknya rayu dia agar dia mau memaafkanmu. Bukan malah bersikap searogan ini.”

Jiro menghela napas panjang. Mei benar.

“Kalau nggak mau, biar aku saja yang merayunya.” Marvin berkata dengan santai, dan Jiro segera menghampiri lelaki itu mencengkeram kerah bajunya.

“Buang pikiran itu atau gue akan mukulin elo sampai elo hilang ingatan.”

Marvin malah tertawa lebar, sedangkan Mei hanya menggelengkan kepalanya melihat dua pria kekanakan sedang melakukan adegan tak masuk akal baginya.

***

Jiro menghampiri Ellie saat ia mendapati Ellie duduk di sebuah ayunan di taman mini samping rumah Mei. Tanpa banyak bicara, ia ikut duduk di sebelah Ellie. Membiarkan Ellie tetap mengayunkan tempat duduk mereka.

Cukup lama keduanya duduk tanpa kata, karena Jiro sendiri tidak tahu harus memulainya dari mana. Hingga ketika Ellie akan bangkit meninggalkannya, Jiro menghentikan Ellie dan meminta Ellie untuk kembali duduk di sebelahnya.

“Kamu, mau pulang sama aku, kan?” tanya Jiro dengan pelan.

“Tergantung.”

“Apa yang kamu inginkan, Ellie? Kumohon, jangan seperti ini.”

Ellie sendiri tidak tahu kenapa Jiro banyak berubah. Dulu ia memang sering merajuk, tapi sepertinya Jiro tak pernah menghiraukannya. Ya, Jiro jarang memikirkannya, tapi entah kenapa saat ini, lelaki ini seakan terpengaruh dengan dirinya yang tengah merajuk.

“Nggak ada.” Ellie menjawab lagi dengan pendek, seperti sebelumnya.

Jiro menghela napas panjang. “Maafkan aku.” Tiba-tiba saja Jiro mengungkapkan rasa sesalnya.

“Maaf untuk apa? Karena kamu sudah meniduri wanita lain?”

“Ellie, aku tidak pernah melakukan itu.” Jiro tidak tahu harus menjelaskan seperti apa. Ellie pasti tidak mempercayainya. “Kumohon, jangan seperti ini. kamu mau pulang bersamaku, kan?” tanya Jiro lagi dengan nada lembutnya.

Ellie tidak menjawab, ia masih tetap diam. Kemudian Jemari Jiro menggenggam erat telapak tangan Ellie.

“Ellie, kamu mendengarku, kan?” tanya Jiro sekali lagi. Tapi masih tak ada balasan dari Ellie. “Kita pulang, oke?” tanya Jiro lagi.

Dan akhirnya Ellie hanya menganggukkan kepalanya. Jiro tersenyum senang. Ellie lalu bangkit, turun dari ayunan, begitupun dengan Jiro. Dan secepat kilat, Jiro membawa Ellie kedalam pelukannya. Entah kenapa Jiro tak mampu lagi menahan keinginannya untuk merengkuh tubuh Ellie. Sejak tadi, ia ingin memeluk wanita ini, dan kini, Jiro dapat mewujudkan keinginannya tersebut.

Beruntung, Ellie tidak meronta apalagi menolaknya. Dan akhirnya, Jiro memeluk tubuh istrinya itu semakin erat lagi dari sebelumnya.

***

Sesekali Jiro melirik ke arah Ellie. Wanita itu memilih menolehkan kepalanya ke jendela, menikmati pemandangan jalanan kota Jakarta. Ingin rasanya Jiro megajak Ellie bercakap-cakap, tapi ia tidak tahu apa yang harus dibahas.

“Uum, Jadi, apa yang ingin kamu lakukan hari ini?” tanya Jiro kemudian.

“Nggak ada.” Ellie menjawab pendek.

“Mau keluar? Denganku?” tanya Jiro tiba-tiba.

Ellie menatap Jiro seketika. “Kemana?” tanyanya. Sebenarnya, Ellie tak berharap banyak. Jiro sama sekali tak pernah mengajkaknya jalan sebelumnya. Tentu karena ketakutan lelaki itu yang tak masuk akal. Takut kepergok media atau fansnya.

Sea world. Kamu mau?”

Mata Ellie membulat seketika. “Itu kan tempat publik. Kamu nggak takut ketahuan fans kamu?”

Jiro tersenyum, dan Ellie kembali terpana dengan senyuman lelaki itu. Benar-benar curang! Jika Jiro menampilkan sedikit saja senyumannya, maka Ellie akan kalah. Ellie tak akan mampu memusuhi suaminya itu lagi setelahnya.

“Ini bukan minggu atau hari libur, jadi kupikir tak akan seramai biasanya. Lagi pula, aku bisa menyamar.”

“Kamu yakin? Kalau ada yang tahu?”

“Abaikan saja.” Dan setelah itu Ellie bersorak gembira dalam hati, ia tidak menyangka Jiro akan membujuknya hingga seperti ini. kemarahan Ellie menguap seketika, hilang ditelan sikap manis yang ditampilkan Jiro kepadanya. Bagaimana bisa semudah ini menakhlukkan hatinya?

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 7

Comments 2 Standard

 

“Mungkin, untuk mengingatkanku, bahwa aku memiliki istri yang bernama Ellisabeth, dan dia sedang menungguku pulang.”

Mata Ellie berkaca-kaca.

“Nyatanya, aku tetap lupa untuk pulang.” Lanjut Jiro lagi.

Dengan berani, Ellie menjinjitkan kakinya, mengalungkan lengannya pada leher Jiro, kemudian menggapai bibir suaminya tersebut. Ellie tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Astaga, bisa saja Jiro membohonginya, bisa saja Jiro hanya merayunya dengan tatto tersebut. Tapi Ellie tidak peduli. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah perasaannya yang seakan semakin membuncah untuk suaminya tersbut. Tidak salah bukan jika ia merasakan perasaan seperti ini pada suaminya sendiri?

***

Bab 7

 

Jiro membalas setiap cumbuan dari istrinya tersebut. Ia menyukai Ellie yang berinisiatif untuk menyentuhnya seperti ini. Ellie membangkitkan sesuatu didalam dirinya, membuat Jiro membuka diri untuk wanita tersebut.

Jiro menurunkan resleting dress yang dikenakan Ellie. Melepaskan tautan bibir mereka, lalu melepsakan dress tersebut melewati kepala Ellie. Jiro menatap tubuh istrinya dengan mata terkagum-kagum.

Ellie sangat indah, dan begitu cantik. Kulitnya putih pucat, rambutnya kuning keemasan, matanya berwarna biru laut, dan bibirnya, astaga, merona seperti ceri. Jiro benar-benar bodoh karena selama ini mengabaikannya.

Saat Jiro mulai membuka kaitan bra yang dikenakan Ellie, saat itulah Ellie tertunduk malu. Jiro tahu, bahwa mereka memang hampir tak pernah seintim ini. tak ada waktu untuk mengenali tubuh masing-masing, karena biasanya Jiro hanya melakukan apa yang ia inginkan setelah itu pergi begitu saja. Dan kini, ia seakan ingin mengenal setiap inchi dari tubuh Sang isteri.

Jiro melepaskan bra tersebut. Menjatuhkannya begitu saja di atas lantai, dan Jiro kembali terpesona dengan tubuh istrinya.

Seingatnya, Ellie tidak memiliki lekuk seindah ini. Apa karena Jiro tak pernah memperhatikan sebelumnya? Buah dada Sang istri tampak padat, tapi lembut, dan sangat menggoda. Sial! Kemana saja ia selama ini?

Jiro mendaratkan jemarinya di sana, menyentuhnya, menggodanya. Kakinya mendekat, kepalanya menunduk dan menggapai kembali bibir ranum Ellie. Jiro mencumbu lembut bibir Sang istri sedangkan jemarinya tak ingin berhenti menggoda.

Ellie sendiri menikmati cumbuan tersebut. Dengan pelan tapi pasti ia membalas setiap cumbuan lembut dari suaminya.

Bibir Jiro mulai turun, menuruni leher jenjang Ellie, turun lagi berhenti pada kedua puncak payudara sang istri. Jiro sempat menggoda di sana sebentar, membuat Ellie melemparkan kepalanya ke belakang karena tak kuasa menahan kenikmatan.

Jiro bahkan sudah menekuk lututnya dihadapan Ellie, bibirnya kembali turun lalu matanya mengamati perut Ellie yang tampak sedikit berisi daripada biasanya. Dengan spontan Jiro menarik ujung bibirnya. Ada sebuah kebanggaan yang merayapi hatinya, bangga karena ia akan menjadi seorang ayah, bangga karena sebagian dari dirinya tumbuh di dalam sana.

Jiro mengusap lembut perut Ellie, kemudian mulai mencumbunya lagi dan lagi.

Ellie sendiri hanya bisa meremas rambut Sang Suami. Menikmati setiap belaian bibir Jiro yang berada pada perutnya. Jiro tak pernah selembut ini padanya, dan Ellie begitu menimkati cumbuan lembut dari Jiro.

Sedikit demi sedikit Jiro mendorong tubuh Ellie agar terduduk di pinggiran ranjang. Kemudian ia kembali melanjutkan aksinya lagi, mencumbui setiap inchi dari kulit Sang Istri. Oh, Jiro sangat memuja tubuh Ellie, sekali lagi Jiro berpikir, kemana saja ia selama ini? empat tahun lamanya dan ia baru menyadari bagaimana menggodanya tubuh Sang Istri. Benar-benar bodoh!

Setelah cukup lama bermain-main dengan kulit sang istri, Jiro merasa bahwa dirinya sudah tak mampu mengendalikan gairahnya lagi. Ia bangkit, melucuti sisa kain yang membalut tubuhnya dan juga tubuh Ellie. Kemudian ia kembali pada Ellie, menatap wanita yang sudah tampak tak berdaya di bawah tubuhnya.

“Kamu sangat cantik dan indah. Kemana saja aku selama ini?” tanya Jiro secara terang-terangan.

“Mungkin kamu terlalu sibuk.”

“Ya. Dan terlalu bodoh.” Jawab Jiro. Tanpa banyak bicara lagi, Jiro mulai memposisikan diri untuk menyatu dengan Ellie, pelan tapi pasti, mendesah bersama ketika penyatuan sempurna itu terjadi.

Jiro kembali menatap tubuh Ellie, dan istrinya itu benar-benar tampak indah. Sedangkan Ellie, ia merasa begitu disayangi. Tatapan mata Jiro yang menyiratkan sebuah kekaguman membuat Ellie bahagia. seingatnya, Jiro tak pernah menatapnya seperti itu. Dan Ellie tidak munafik, jika ia memang menginginkan Jiro menatapnya seperti itu.

Tubuh Jiro mulai bergerak seirama, pelan tapi pasti, perlahan dan hati-hati, mencari kenikmatan untuk dirinya, memberi kenikmatan untuk diri Ellie. Jiro tak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, tapi ia benar-benar merasa sedang bercinta seutuhnya dengan diri Ellie.

Jiro begitu menikmati permainan panasnya saat ini, berbeda dengan sebelum-sebelumnya, yang hanya akan menyatu, kemudian berharap secepat mungkin mendapatkan klimaks tanpa menghiraukan apa yang dirasakan Ellie.

Kini, Jiro merasa bahwa Ellie juga menikmatinya, wanita itu tak berhenti memejamkan matanya, mengerang, seakan menikmati setiap pergerakan yang ia berikan pada tubuh wanit tersebut. Ellie bahkan terasa erat mencengkeramnya, seakan meminta agar Jiro tak segera menghentikan permainan panas mereka.

Dengan spontan Jiro menundukkan kepalanya, menggapai bibir Ellie, kemudian mencumbunya dengan lembut. Oh, bibir yang sangat menggoda. Ellie membalasnya, hal itu membuat Jiro semakin menggila.

Ya Tuhan!  Jiro benar-benar tak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Ketika Ellie semakin rapat membungkusnya, Jiro merasakan tubuh wanita itu kaku, melengkungkan punggungnya, kemudian melenguh panjang. Jiro tahu bahw Ellie sudah sampai pada pelepasannya, dan Jiro tak menunggu lama lagi untuk menyusul istrinya itu pada puncak kenikmatan.

***

Setelah tenggelam dalam pusaran gairah, Jiro merasakan napas Ellie mulai teratur. Ia melihat wanita itu yang nyatanya sudah tertidur pulas. Jiro tersenyum. Ia tak pernah merasakan perasaan sebahagia ini sebelumnya, bahagia hanya karena sebuah percintaan panas. Jika sebelum-sebelumnya ia hanya merasakan rasa lega, maka saat ini, perasaannya sulit digambarkan.

Jiri merengkuh tubuh Ellie dalam pelukannya, sebisa mungkin ia meredam pergerakannya agar tidak membangunkan Ellie. Ellie mungkin lelah, dan Jiro akan membiarkan istrinya itu istirahat sebentar di kamar apartmennya sebelum kembali pulang.

Jemari Jiro mencari permukaan perut Ellie, mengusapnya lembut, merasakan perasaan aneh yang kembali menerpa dirinya. Jiro tak pernah berpikir akan menjadi ayah, tapi dia juga tidak menolak jika Tuhan memberinya seorang bayi secepat ini.

Mereka dulunya memang sepakat untuk menunda. Ellie benar, tak terasa semua itu sudah berjalan empat tahun lamanya, sudah saatnya mereka memiliki bayi, bahkan Jiro mengabaikan kedua orang tuanya ketika bertanya tentang mongmongan.

Kini, Jiro merasa sudah memiliki semuanya, karir yang berada di puncak, istri yang cantik jelita, dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, apalagi yang ia inginkan? Semuanya tampak sempurna. Tapi Jiro merasa ada yang salah, ia merasa harus memperbaiki semuanya agar lebih baik lagi dari sebelumnya. Sialnya, Jiro tak tahu apa yang membuatnya merasa bersalah.

Saat Jiro sedang nyaman memeluk tubuh Ellie, saat itulah ponselnya berbunyi. Jiro ingin mengabaikannya, tapi bunyinya akan mengganggu Ellie. Akhirnya Jiro memilih mengangkatnya saat tahu bahwa si penelepon adalah Troy.

“Elo dimana?”

“Di apartmen. Kenapa?”

“Buka sosmed, gila! Di sosmed lagi rame gosip tentang elo.”

Perasaan Jiro tidak enak. Akhirnya ia segera mematikan panggilan dari Troy dan mulai membuka akun sosial medianya. Jiro benar-benar terkejut ketika news feednya dipenuhi dengan foto-foto dirinya dan juga Ellie yang berada di rumah sakit tadi siang.

Sebenarnya, Jiro sudah memikirkannya. Hal ini pasti akan terjadi, tapi Jiro tidak berpikir bahwa akan secepat ini, dan beritanya akan menjadi viral seperti saat ini. Salah satu akun gosip bahkan dengan terang-terangan menyebut bahwa Jiro sedang mengantar istrinya memeriksakan kandungan. Meski sebenarnya itu benar, tapi Jiro benar-benar tidak suka digosipkan.

Ponselnya kembali berbunyi, Troy kembali meneleponnya. Mau tidak mau Jiro mengangkatnya.

“Ada apa lagi?” tanya Jiro berusaha bersikap setenang mungkin.

“Elo sudah lihat?”

“Ya.”

“Dan Cuma gini aja reaksi elo?”

“Terus, gue harus apa?” Jireo bertanya balik.

“Sial! Manager sejak tadi ngehubungin kita. Elo harus nemuin dia.”

“Ya.”

“Dan setelah itu, kita tunggu di Studio Jason.” Setelah itu telepon ditutup. Jiro mendengus sebal, ia menatap Ellie yang masih pulas dalam tidurnya.

Jiro lalu bangkit, membersihkan diri, menulis pesan singkat untuk Ellie agar Ellie tetap di apartmennya dan menunggunya kembali. Kemudian ia pergi meninggalkan wanita tersebut untuk menyelesaikan masalahnya.

***

Ellie bangun beberpa jam kemudian, sendiri. Setelah bangkit dan membersihkan diri, ia menemukan note yang ditulis oleh Jiro di atas meja tepat di bawah ponselnya. Ellie cukup lega setelah membacanya. Tadi, ia berpikir bahwa Jiro akan meninggalkannya setelah apa yang sudah mereka lalui bersama, tapi ternyata lelaki itu hanya pergi sebentar untuk mengurus urusannya.

Akhirnya, Ellie memilih menghabiskan waktunya dengan berkeliling kamar Jiro. Ini adalah kamar suaminya, sepertinya tidak masalah jika ia melihat-lihat barang apa saja yang ada di sana. Beberapa pintu lemari dalam keadaaan terkunci, yang artinya ia tidak bisa atau tidak boleh melihat apa yang ada di dalam, tapi yang lain dalam keadaan terbuka.

Tak ada barang-barang berharga di sana, hanya ada baju-baju lelaki itu, mungkin sebagian barang-barang Jiro sudah dipindahkan ke rumah mereka seperti yang dikatakan lelaki itu tadi.

Ellie lalu duduk di pinggiran ranjang, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Kemudian matanya teralih pada laci meja yang berada di sebelah ranjang. Ellie membuka-buka laci tersebut. Tak ada yang special di sana, hanya ada kertas note, pulpen, dan sekotak…. Tunggu dulu, Ellie mengambil kotak tersebut.

Itu adalah sekotak kondom yang bahkan sudah berkurang isinya. Ellie sempat tak percaya saat melihatnya. Kenapa Jiro memiliki kondom di laci kamarnya? Ia bahkan tidak pernah ke apartmen ini. Lagi pula Jiro tak pernah mengenakan kondom ketika bercinta dengannya. atau jangan-jangan…..

Ellie menggelengkan kepalanya saat pikiran buruk mulai menguasainya. Saat Ellie masih shock melihat sekotak kondom tersebut, ia mendengar bell pintu apartmen Jiro berbunyi.

Ellie mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu siapa yang datang, dan Ellie merasa ragu, apa ia harus membukakan pintu atau tidak. Tapi rasa ingin tahunya terlalu tinggi. Tadi, Ellie berpikir bahwa Jiro tak pernah membawa siapapun ke apartmennya, tapi setelah mendapati sekotak kondom tersebut di dalam laci meja suaminya, pikiran tersebut hilang.

Jiro tentu pernah membawa seseorang ke apartmennya, dan orang tersebut pasti perempuan. Ellie merasa bahwa ia harus tahu siapa perempuan itu? Siapa yang sudah tidur dengan suaminya? Dan siapa orang yang sedang datang ke apartmen Jiro saat ini? mungkinkah itu adalah orang yang sama?

Dengan cepat Ellie bangkit, keluar dan menuju ke arah pintu. Ellie ingin segera tahu siapa si pengetuk pintu. Apa itu  adalah orang yang sama dengan orang yang mungkin saja sering di ajak Jiro bermalam di apartmennya?

Dan ketika Ellie membukanya, Ellie merasa bahwa semua menjadi semakin masuk akal saat mendapati seorang wanita cantik dan seksi dengan rambut yang di cat pirang. Wanita yangakhir-akhgir ini sering digosipkan dekat dengan Jiro. Vanesha, kalau ia tidak salah ingat. Apa benar wanita ini memiliki hubungan serius dengan Jiro? Jika tidak, kenapa Vanesha tahu dimana tempat tinggal suaminya?

***

Jiro menghela napas lega setelah keluar dari ruangan managernya. Sejak tadi, semua mata menuju ke arahnya saat ia memsuki gedung managementnya. Mungkin mereka semua yang ada di sana sudah melihat gosip itu, dan seharusnya Jiro tak peduli, bukankah selama ini ia memang jarang mempedulikan orang-orang disekitarnya?

Beruntung, si Manager memang sudah mengetahui statusnya yang sudah menikah. Ya, hanya managernya dan beberapa asesten kepercayaannya. Sang Manager tak berkomentar apapun, Jiro hanya diminta untuk tenang dan menghindari awak media. Maka semua gosip itu akan kembali mereda. Meski managernya tidak menyarankan hal tersebut, Jiro tetap akan melakukan hal itu. Satu-satunya hal yang masih mengganjal pikiran Jiro adalah, bagaimana caranya ia menghadapi para personel The Batman lainnya?

Disatu sisi, Jiro ingin berkata jujur, tapi di sisi lain, ia tidak bisa melakukannya. Jiro tidak ingin mempublikasikan tentang Ellie, setidaknya, bukan sekarang. Lagipula, mereka harusnya disibukkan dengan konser yang semakin dekat, bukan dengan hubungan rumah tangganya bersama dengan Ellie.

Jiro menghela napas panjang saat ia akan memasuki studio tempatnya latihan. Setelah ia membuka pintunya, semua yang ada di sana menghentikan aksinya dan menatap ke arahnya.

Tanpa merasa bersalah sedikitpun, Jiro melangkah masuk, kemudian duduk dengan santai di sofa yang tesedia. Jason, Ken dan Troy akhirnya mendekat, sedangkan Jiro berusaha agar dirinya tak terpengaruh dengan tatapan mata teman-temannya tersebut.

“Ada apa?” tanya Jiro tanpa ekspresi sembari membuka sekaleng bir yang ada di hadapannya.

“Jadi, apa bener tentang gosip bahwa elo punya istri?” Troy yang mulai membuka suara. Bahkan tanpa basa-basi lagi temannya itu bertanya tentang statusnya. Sialan!

“Enggak.” Jiro menjawab setelah menenggak minumannya. Entahlah, jawabannya tersebut hanya spontanitas. Ia hanya belum ingin mempublikasikan sosok Ellie di depan umum, bahkan didepan teman-temannya sekaligus.

“Elo yakin? Terus siapa perempuan yang ada di salah satu akun gosip itu?” Jason menuntut. Jason dan yang lain tahu bahwa ini adalah urusan pribadi Jiro. Jiro sangat misterius dengan masalah pribadinya, bahkan hampir tak pernah membahas masalah pribadinya. Kini, Jason dan teman-temannya hanya ingin tahu kebenarannya. Jika benar, bukan masalah. Mereka hanya ingin membantu Jiro menghadapi media.

“Adek gue.” Jiro masih menjawab dengan enggan,

Troy mendekat seketika. “Boleh kenalin? Gue sudah lihat foto-fotonya, bahkan ada videonya yang di posting di salah satu akun gosip.  Gue rasa, gue tertarik, kebetulan gue nggak pernah deket sama cewek bule berambut kuning kemerahan.”

Tanpa diduga, secepat kilat Jiro mencengkeram kerah baju yang dikenakan Troy. “Jangan coba-coba.” Ucap Jiro penuh penekanan.

“Elo kenapa si? Emang salah kalau kita pengen kenal sama adek elo?” Troy tersinggung. Padahal belum tentu wanita itu menolaknya, kenapa Jiro sibuk dengan egonya sendiri?

“Salah, sangat salah!” nada bicara Jiro masih penuh emosi. Kemudian Jiro melepas cengkerangannya, ia bangkit dan bersiap pergi meninggalkan studio latihannya. Tapi sebelum itu, ia berpesan pada semua yang ada di dalam ruangan tersebut, terutama pada Troy. “Jangan pernah mencari tahu tentang dia. Mata Jiro menatap tajam ke arah Troy. Jiro benar-benar tidak suka ketertarikan yang amat jelas terlihat di wajah temannya yang brengsek itu. “Dia sudah bersuami!” lanjutnya sebelum pergi membanting keras pintu studio Jason.

Sial! Jiro bingung dengan apa yang ia rasakan. Disatu sisi, ia ingin mengklaim diri Ellie dihadapan umum, tapi disisi lain, ia tidak bisa membuka rahasianya begitu saja apalagi saat egonya masih terlalu tinggi untuk menuruti ambisinya. Padahal Jiro tahu, bahwa tak ada salahnya memberi tahu Jason, Ken dan Troy. Mereka tak akan membocorkan rahasianya. Tapi tetap saja, rasanya Jiro sulit memberi tahu mereka begitu saja.

Sedangkan Jason, Ken dan Troy, saling pandang satu sama lain, bingung dengan sikap Jiro yang tak seperti biasanya.

“Dia kenapa sih? Ada yang salah sama ucapan gue? Gue kan tertarik sama adeknya.” Troy membuka suara.

“Troy, belum tentu juga itu adek Jiro. Kalau dia sampai semarah itu, pasti hubungan mereka bukan kakak-adik.” Jason menjawab.

“Bisa jadi mereka memang kakak-adik. Jiro marah karena dia tidak mau adeknya ditaksir oleh Troy.” Ken yang berbicara.

“Sialan lo Ken. Memangnya apa salahnya gue taksir?” Troy mendengus sebal. “Siapapun itu, cewek itu cantik banget. Sumpah. Gue beneran tertarik sama dia.” ucap Troy yang seketika itu juga membuat Ken dan Jason saling pandang kemudian menggelengka kepalanya. Astaga, Troy benar-benar laki-laki hidung belang!

***

Msih dengan kesal, Jiro memilih untuk segera pulang. Ia ingin segera bertemu dengan Ellie.mengingat bahwa Ellie kini mungkin dikenali oleh publik membuat Jiro khawatir dengan istrinya tersebut.

Kurang dari setengah jam kemudian, Jiro sudah sampai pada apartmennya. Dan ketika ia memasuki apartmennya. Ia terkejut mendapati tamu tak diundang berada di sana.

Itu Vanesha. Kenapa wanita itu kemari?

Jiro melihat Ellie yang tampak sedang menyuguhkan sesuatu untuk Vanesha. Astaga, apa yang sudah terjadi? Apa yang dikatakan Vanesha pada Ellie? Apa Ellie mengaku tentang hubungan rumah tangga mereka?

Dengan sedikit panik Jiro masuk kemudian dia bertanya. “Apa yang kamu lakukan di sini?” bahkan suara Jiro terdengar begitu tajam. Ia tidak ingin Vanesha berada di sana, diantara dirinya dan juga Ellie. Mereka tak memiliki hubungan apapun, jadi Jiro tidak ingin  Vanesha mengatakan hal yang tidak-tidak pada Ellie.

“Jiro, kamu..” Vanesha berdiri seketika.

“Ya. Aku. Kenapa kamu bisa berada di sini?” tanya Jiro sekali lagi. Sesekali matanya melirik ke arah Ellie. Wajah wanita itu sudah sendu. Apa yang sudah dikatakan Vanesha pada istrinya itu?

“Mungkin kamu lupa sudah janjian sama dia.” Ellie membuka suaranya. Ellie bahkan segera meninggalkan Vanesha dan juga Jiro untuk masuk ke dalam kamar Jiro.

Tanpa menghiraukan keberadaan Vanesha, Jiro menyusul Ellie. Mengunci diri mereka di dalam kamar. Ada yang harus mereka bahas. Sikap Ellie yang ketus menandakan bahwa ada yang terjadi saat ia meninggalkan wanita itu. Dan jiro ingin menyelesaikannya.

“Apa yang sudah dia katakan sama kamu?” tanya Jiro secara terang-terangan setelah mengunci pintu kamarnya.

“Tidak ada.” Ellie berkata jujur. Memang mereka belum sempat bercakap-cakap. Ellie hanya mempersilahkan wanita itu masuk, lalu membuatkan minuman, pada saat itu, Jiro sudah datang. Meski begitu hal tersebut tidak mengurangi kecurigaan Ellie tentang siapa dan apa sebenarnya hubungan antara Jiro dengan wanita tersebut.

“Lalu kenapa kamu bersikap ketus begini?”

“Kenapa?” Ellie bertanya balik. “Suamiku suka membawa perempuan lain ke apartmennya! Apa aku tidak boleh marah?”

“Kamu tidak memiliki bukti saat menuduhku seperti itu, Ellie.”

“Bukti? Dia bahkan mengetahui dimana tempat tinggal sialanmu ini! dan ini!” Ellie melempar sekotak kondom yang ia temukan tepat pada dada Jiro. “Kamu perlu bukti lain lagi?” tantangnya.

“Ini bukan milikku.” Jiro mengamati kondom-kondom yang berserahkan di lantai.

“Oh tentu saja. Ini adalah milik si penjaga gedung apartmen yang mampir untuk menyewa kamarmu!” Sindir Ellie. “Aku tidak sebodoh itu, James. Aku tidak sebodoh itu!”

Jiro mendekat, dan Ellie mundur. “Ellie tolong, kita bisa membahas ini dengan baik-baik.”

“Tidak!” Ellie berseru keras. “ini tidak akan berhasil jika kamu tidak jujur, James.”

“Aku jujur, Ellie! Barang sialan ini bukan milikku, dan aku tidak tahu bahwa Vanesha mengetahui tempat tinggalku.”

Ellie mengangkat kedua tangannya, seraya mengatakan bahwa sudah cukup. Jawaban Jiro tak masuk akal. Jadi ia tidak ingin memperpanjang lagi cek cok mereka. Lagi pula, memang keadaannya seperti itu, Jiro memang selalu dikelilingi wanita-wanita cantik, lelaki masih lajang di depan publik, jadi sangat tidak masuk akal bahwa Jiro tak pernah mengajak salah satunya menginap di apartmennya. Yang Ellie inginkan hanyanya agar Jiro berkata jujur padanya, meski kejujuran itu bagaikan pil pahit untuknya.

“Ellie, tolong.” Jiro memohon. Tak pernah ia memohon sebelumnya jika bukan dengan Ellie

“Aku pulang.”

Jiro menghela napas panjang. “Oke, kita akan pulang.”

“Tidak. Aku pulang sendiri.”

“Ellie, aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendiri.”

“Kenapa tidak? Bukannya selama ini kamu mengabaikan keberadaanku? Maka anggap saja seperti itu.”

Ellie kembali lagi mengungkit sikap buruk Jiro, dan ketika Ellie sudah mengungkitnya, maka yang bisa Jiro lakukan hanya mengalah. Ya, ia memang selalu salah.

“Ellie, kamu hamil. Setidaknya, biarkan aku menghubungi Mei untuk menjemputmu.”

“Terserah.” Jawaban kasar Ellie membuat Jiro tahu bahwa istrinya itu benar-benar sedang marah terhadapnya. Jiro tahu, ada banyak hal yang harus ia jelaskan pada Ellie, tapi emosi Ellie yang meledak seperti sekarang ini membuat Jiro tak berkesempatan untuk menjelaskannya. Bahkan jika Jiro sudah menjelaskannya, Jiro tak yakin Ellie mau menerima penjelasannya. Satu-satunya hal yang masuk akal adalah membiarkan Ellie sampai emosi wanita itu mereda, kemudian menjelaskan semuanya pada istrinya tersebut.

Ya, Jiro merasa tak bersalah karena hal ini, jadi ia pasti bisa menjelaskan semuanya tanpa menimbulkan masalah baru lainnya.

-TBC-

(Mini Story) – Tatto (My Beautiful Mistress)

Comments 8 Standard

 

Haiiiiyaaaaa yang penasaran ama om Jiro nihhh silahkan merapat manjaahhhh hahhaha happy reading yaaa.. muwaahhhhh

 

(My Beautiful Mistress) – Tatto

 

Jiro

 

Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku. Tapi aku merasa jika apa yang kulakukan selama ini terhadap Ellie benar-benar kurang ajar. Meski begitu, aku tidak bisa menghentikan semuanya. Karir adalah yang utama bagiku, dan sampai kapanpun akan selalu seperti itu.

Aku memainkan kembali Bass yang ada di tanganku, sesekali pikiranku melamunkan kejadian kemarin malam. Saat dengan berengseknya aku pergi meninggalkan Ellie begitu saja setelah mendapatkan apa yang kumau.

Sial!

Kemarin adalah Natal, dan aku membiarkan Ellie merayakan natalnya sendiri di negeri ini, negeri yang cukup asing baginya. Seharusnya aku menemaninya. Toh, The Batman tidak memiliki acara, Band ini masih belum terkenal, tapi aku menjadikan alasan kesibukan untuk meninggalkannya.

Aku masih ingat dengan jelas saat bagaimana Ellie menatapku dengan mata wajah sendunya. Ekspresinya sedih, tapi dia masih tetap menyunggingkan senyumannya, seakan-akan dia rela diperlakukan seperti seorang simpanan untuk kebaikannya.

Astaga, bagaimana mugkin ada wanita sebaik itu?

Nada yang kumainkan salah, total! Dan personel lainnya menghentikan aksinya lalu menatapku penuh tanya.

“Ada masalah?” Jason bertanya.

“Ya. Sedikit.” Jawabku.

Lalu mereka diam, saling pandang kemudian menghentikan latihan kami. Ya, diantara yang lain, memang hanya aku sendiri yang sedikit misterius. Mereka tak ada yang mengenalku secara dekat.

Maksudku, Ken, Jase dan Troy memang sudah berteman dan mendirikan The Batman sejak SMA, mereka baru mengenalku Dua tahun yang lalu. Saat mereka  baru memasuki sebuah dapur rekaman, dan management mereka memilihku untuk gabung bersama dengan The Batman. Sejak saat itulah aku menjadi teman mereka, menjadi bagian keluarga besar The Batman. Dan sejak saat itu, aku berambisi untuk membawa The Batman pada puncak kesuksesan.

Meski begitu, aku tak serta merta menceritakan semua tentang diriku pada mereka. Awalnya, aku ingin menceritakan tentang pernikahan kilatku dengan Ellie, tapi setelah kupikir-pikir lagi, sepertinya lebih sedikit orang yang tahu, maka lebih baik.

Maka, hanya segelintir orang saja yang kutahu, seperti, asisten pribadiku yang memang sudah sangat lama sekali bekerja dengan keluargaku, dan juga kepala management The Batman.

Aku ingin, mereka tak mengetahui apapun tentang Ellie, bukan karena aku ingin terlihat seperti pria lajang, tapi karena aku tak ingin hubungan pribadiku terekspos media. Lagi pula, sepertinya tidak penting juga membahas tentang statusku.

Kembali lagi pada Jase, Ken dan Troy. Ketiganya malah segera duduk di sofa yang tersedia saat mereka memilih mengakhiri latihan.

“Kita nggak jadi latihan?” tanyaku yang masih berdiri dengan Bass di tanganku.

“Elo kayaknya banyak pikiran. Mending tenangin diri dulu, musiknya juga bakal nggak nyambung kalau yang main pikirannya kemana-mana.” Ken menjawab. Ya, Ken benar.

“Terus, kita ngapain?”

Troy melompat bangkit. “Gue mau pasang tato, ada yang mau ikutan?” tawarnya.

Jason ikut bangkit. “Gue juga. Gue ikut.” Ucapnya.

“Ken, elo?” tanya Troy.

Ken hanya mengangkat kedua bahunya. “Gue sudah kemaren.”

“Sialan! Cuma dua doang.” Umpat Troy sembari mengejek.

Ya, diantara kami,  memang hanya Ken yang paling simpel. Tidak bajingan, dan paling setia. Ken hanya memiliki dua tato. Satu tepat di bawah tulang rusuk kirinya, bergambar sepasang mata cantik, mata kekasihnya. Dan satu lagi di pergelangan tangan kirinya tepat di atas nadinya, tato dengan huruf latin yang nyaris tak bisa terbaca, Kesha Kirana.

Aku tidak tahu, bagaimana mungkin Ken mengukir nama seorang wanita di tubuhnya. Maksudku, mereka hanya pacaran. Apa sedalam itu cinta yang dimiliki Ken untuk kekasihnya? Bagaimana jika mereka putus? Apa Ken akan  menghapus tatonya?

“Kalau elo? Nggak mau ikut?” tanya Troy padaku.

Aku yang sempat melamunkan tentang Ken akhirnya menjawab dengan spontan, “Ya, gue ikut.”

Entah apa yang membuatku berpikir untuk ikut dengan Troy, bahkan berpikir mengukir nama Dia di tubuhku. Astaga, apa aku sudah segila Ken? Yang benar saja.

***

Akhirnya, aku benar-benar mengukir namanya di tubuhku. Lebih menggelikan lagi bahwa aku menuliskannya tepat di dada kiriku. beruntung, sedikit banyak aku mengetahui tentang huruf Yunani kuno, jadi aku menuliskannya dengan huruf itu.

Jason, Troy maupun Ken tak akan mengerti apa yang sengaja kuukir di dadaku. Bahkan aku sendiri tak mengerti kenapa aku melakukan hal semenggelikan ini.

Dan sampai kapanpun, aku tak akan mengatakannya pada siapapun, apa makna dari tatoku ini.

Aku berdiri di depan cermin yang tersedia di tempat pembuatan tato itu. Menatap goresan tinta hitam yang baru saja selesai di dada kiriku, dan aku tersenyum.

Ellie, entah apa yang membuatku begitu menginginkan wanita itu. Tubuhnyakah? Mungkin saja. Tapi lebih dari itu, aku hanya ingin, bahwa ada sebagian dari dirinya menjaga kewarasanku, membuatku mampu mengendalikan ambisiku yang tak masuk akal, dan membuatku berpikir untuk pulang.

Karena itulah, aku menuliskan namanya di sini, di dada kiriku.

***

Sampai di apartmen, aku segera menghubungi Ellie. Entah kenapa ingin rasanya mendengar suara wanita itu. Aksen inggrisnya yang sangat kental, caranya mengucapkan bahasa indonesia yang masih terpatah-patah, oh, aku sangat menyukainya.

Panggilanku diangkat pada deringan kedua. “James, kamu menelepon?” Elie terdengar senang. Sesenang itulah ia mendapatkan telepon dariku?

“Ya, bagaimana kabarmu?” tanyaku.

“Baik, kamu sendiri?” tanyanya.

“Aku juga baik.” Hanya itu yang bisa kujawab. Entahlah, aku memang tak pandai berkata-kata.

“James, aku suka dengan hadiah natal yang kamu berikan.”

Aku mengerutkan keningku. “Hadiah?” tanyaku. Aku bahkan lupa jika sudah memberinya hadiah.

“Ya. Kalung itu, aku menyukainya.” Jawab Ellie.

Ahh ya, kalung. Aku memang sempat meninggalkan hadiah natal di atas meja saat meninggalkan Ellie malam itu. Hadiah itu berupa kalung, dengan bandul sebuah cincin yang di dalamnya terukir nama Mrs. Robberth.

Ya Tuhan! Ada apa denganku? Kenapa aku bisa semenggelikan itu?

“Lupakan saja, itu hanya kalung biasa.” Akhirnya aku menjwab seadanya. Aku tak tahu harus bersikap seperti apa, karena aku sendiri tak mengerti apa yang sudah kurasakan.

“Baiklah.” Ellie terdengar sedih. “Kamu tidak pulang? Kapan pulang?”

Pulang? Demi Tuhan! Aku  ingin. Astaga, menyentuhnya tak akan membuatku bosan. Bahkan aku seakan tak ingin berhenti. Tapi di sisi lain, aku tahu bahwa aku tak bisa seperti itu terus. Ada mimpi yang harus kukejar, ada sebuah keinginan besar untuk berada di puncak kepopuleran, dan hal itu harus kubayar dengan harga yang cukup mahal, yaitu mengabaikan istriku yang begitu cantik menggoda.

“Tidak. Mungkin aku pulang minggu depan.”

“Kamu sibuk?”

“Ya. Sangat.” Aku bohong. Tak ada kesibukan. The Batman bukanlah band yang terkenal saat ini. jadi aku tidak sesibuk yang kukatakan. Bahkan sekarang saja aku bisa pulang, tapi aku tak ingin. Aku tidak bisa bukan karena aku benci pulang, hanya saja…….

“Baiklah, aku akan menunggumu minggu depan, James.”

Aku memejamkan mataku frustasi.

Brengsek!

Bajingan!

Aku benar-benar seorang bajingan!

“Baiklah, Ellie. Aku akan menutup teleponnya. Cepat tidur.”  Dan sebelum dia membalas ucapanku, telepon kututup.

Sempurna.

Aku benar-benar bajingan bukan? Ya, biarlah, aku tak peduli. Untuk sementara, aku akan memerankan peran seperti ini dulu dengan Ellie. Dia akan menjadi simpananku, aku tahu dia akan menerimanya.

Meski ada sebuah rasa aneh yang menghhantamku ketika memperlakukannya dengan tidak adil, tapi aku berjanji jika akan memperhatikannya dari jauh. Ellie tak akan kekurangan apapun, Ellie akan baik-baik saja karena aku menjaganya dari jauh.

Sedangkan aku sendiri, aku tak akan khawatir dengan perasaanku, dengan rasa rinduku. Ellie sudah menyatu denganku, dia begitu dekat dengan jantung dan hatiku, dan dia akan selalu menjadi sosok yang mengingatkanku untuk pulang.

Ya, pulang kepadanya…

Aku menyandarkan tubuhku pada sandaran sofa, memejamkan mataku, sedangkan jemariku merayap, mendarat pada  nama Ellie yang terukir di dada kiriku…

Ellie, maafkan aku….. Aku akan pulang, aku janji… bisikku dalam hati.

 

-End-

 

My Beautiful Mistress – Bab 6

Comments 2 Standard

 

Tanpa diduga, jemari mungil Ellie mencari jemari Jiro, menggenggamnya dengan erat, kemudian ia berkata. “Perlu kamu tahu bahwa aku juga takut. Ini adalah pertama kalinya aku mengalami masa kehamilan. Aku takut, dan aku merasa sendiri.” kemudian dengan spontan Ellie membawa jemari Jiro peda perutnya. “Aku butuh kamu, bayi kita juga butuh kamu. Maukah kamu menemaniku menghadapi ketakutan kita bersama-sama?”

Jiro menatap Ellie dengan intens, secara spontan Jiro mengangguk. Ya, ia mau melewati semuanya dengan Ellie, ia mau mengadapi ketakutannya bersama istrinya tersebut. Tapi dapatkah ia melakukannya? Sanggupkah ia menghadapinya?

***

Bab 6

 

Jiro masih bungkam seribu bahasa, bahkan setelah Dokter Sandra selesai melakukan USG. Ellie sendiri tidak bisa menebak apa yang dirasakan Jiro, apa yang dipikirkan oleh lelaki itu. Meski sejak tadi Jiro tak berhenti menggenggam telapak tangannya, tapi Ellie masih merasa sedikit takut, jika Jiro tak siap menjadi orang tua dan memilih untuk menyerah.

Akhirnya, Ellie bangkit, ia membersihkan sisa gel pada permukaan kulit perutnya dengan tissue yang tersedia di sana. Jiro hanya mengamatinya saja dan hal itu benar-benar membuat Ellie tak nyaman.

“Kamu kenapa James? Apa yang kamu pikirkan?” Ellie bertanya dengan sedikit kesal karena sejak tadi Jiro tak menampilkan reaksi apapun selain hanya diam dengan wajah datarnya.

“Tidak ada.” Hanya itu jawabannya dan hal itu membuat Ellie semakin kesal.

“Kalau kamu tidak suka dengan hal ini. Maka aku janji bahwa ini akan menjadi pengalaman terakhir kamu mengantarku ke sini.”

“Aku tidak bilang tidak suka. Jangan berpikir macam-macam.”

“Tapi kamu hanya diam dan tidak bereaksi apapun!” Ellie berseru keras.

“Diam bukan berarti tidak suka.” Dengan sendirinya jemari Jiro mendarat pada perut Ellie, dan hal tersebut benar-benar membuat Ellie terkejut. “Aku hanya masih tidak percaya, ada sebagian dari diriku yang tumbuh di sini.” Jiro berkata dengan sangat lembut. Padahal Ellie hampir lupa, kapan terakhir kali Jiro berkata dengan nada selembut ini.

Dan tanpa diduga, Ellie segera memeluk Jiro. Membuat Jiro tertegun dengan apa yang dilakukan istrinya tersebut. “Terimakasih, James.” Ucapan terimakasih tersebut bahkan tak dimengerti Jiro. Untuk apa Ellie berterimaksih kepadanya?

***

“Ini resep yang harus ditebus di apotek.” Ucap Dokter Sandra sembari menyodorkan sebuah kertas bertuliskan daftar obat.

“Obat? Apa ada masalah? Kenapa harus minum obat?” tanya Jiro khawatir.

Dokter Sandra tersenyum. “Itu hanya vitamin untuk ibu hamil, dan obat mual. Walau Nyonya Ellie bilang jika dia tidak merasakan mual muntah sepereti kebanyakan ibu hamil, tapi untuk berjaga-jaga saja. Tidak perlu diminum jika tidak mual.”

Jiro hanya mengangguk.

“Jadi, saya jadwalkan untuk kesini lagi bulan depan, di tanggal yang sama.” Dokter Sandra menandai pada kalendernya. “Saya harap, Anda juga ikut kembali, Tuan Jiro.” Ucap Dokter Sandra sungguh-sungguh.

“Sebenarnya, saya sangat ingin. Dan saya ingin membahas hal ini sejak tadi. Apa Rumah sakit ini melindungi privasi pasiennya?”

“Saya kira semua rumah sakit memiliki privasi. Ada masalah?”

Jiro ingin mengatakan kekhawatirannya tentang media yang mungkin saja memergokinya di tempat ini dengan Ellie. Tapi sepertinya, tak ada gunanya membahas tentang masalahnya ini dengan Dokter Sandra.

Akhirnya Jiro hanya menjawab “Tidak.”

Dokter Sandra sendiri mengerti apa yang ada di dalam pikiran Jiro. “Anda tenang saja, Saya dan staf saya akan melindungi privasi pasien dan keluarga.”

Dokter Sandra dan susternya memang iya, tapi Jiro tak bisa menjamin pengunjung rumah sakit lain atau bahkan mungkin suster-suster lain.

Jiro hanya tersenyum dan mengangguk. “Terimakasih.” Kemudian ia dan Ellie bangkit dan bersiap meninggalkan ruangan Dokter Sandra. Dokter Sandra sempat berpesan agar Ellie menjaga kesehatan dirinya dan juga bayinya sebelum keduanya hilang dibalik pintu ruangannya.

Jiro keluar bersama dengan Ellie di sebelahnya. Orang-orang yang menunggu di sana dan tadi sempat mengerubungi Jiro akhirnya menatap kepergian keduanya. Jiro meraih telapak tangan Ellie, dan dengan posesif ia menggenggam erat telapak tangan istrinya tersebut sembari berjalan lurus seakan tak mempedulikan mata yang menatap ke arahnya.

Di sudut lain, seseorang berkata pada temannya dengan gembira. “Ini kalau gue kirim ke akun gosip, bakal rame. Dan bakal jadi gosip panas mengalahkan gosip tentang gadis misteriusnya Jason.” Ucap orang tersebut sembari membuka-buka gambar yang berhasil ia tangkap dengan ponselnya. Bahkan orang tersebut sempat memvideokan kebersamaan Jiro dengan Ellie.

“Elo yakin?” tanya temannya.

“Yakin lah… Dan gue pasti dapat duit kalo bisa ngasih bukti video dan foto-foto ini.”

“Wahh, jangan lupa teraktir. Oke?”

“Sip. Sekarang, bantu gue cari akun gosip yang berani bayar mahal video gue.”  Setelah itu, keduanya kembali pada pekerjaan masing-masing dengan pikiran masing-masing.

***

Ellie tidak tahu Jiro mengajaknya ke mana. Mereka berhenti di basement sebuah gedung apartmen. Tanpa banyak bicara, Jiro melepas seatbeltnya dan juga membantu Ellie melepaskan seatbealt yang dikenakan Ellie. Ellie tak mengerti, sejak kapan Jiro menjadi semanis ini.

Kemudian Jiro membuka suaranya, berkata bahwa ini adalah gedung apartmen dimana ia tinggal selama ini. Astaga, bahkan Ellie baru tahu jika selama ini Jiro tinggal di gedung ini.

“Kenapa kamu ngajak aku ke sini?” tanya Ellie kemudian.

“Tadi, ada orang yang ngangkut barangku, tapi ada beberapa yang tertinggal dan aku ingin mengambilnya sekalian.”

“Kamu benar-benar pindah?”

“Ya. Bukannya kamu yang minta?”

Ellie tersenyum. Ia senang dengan sikap Jiro yang hangat.

“Ayo keluar.” Ajak Jiro. Dan Ellie hanya menganggukkan kepalanya.

***

Yang ada di dalam benak Ellie saat memasuki apartmen suaminya adalah, bahwa apartmen itu cukup besar dan luas. Interiornya maskulin, bahkan jika ada tamu, si tamu akan mengenali jika apartmen ini milik seorang lelaki. Tak ada hiasan berharga di sana. Hanya ada satu dua lukisan yang terbingkai di dinding. Tak ada foto apapun di sana. Jangankan fotonya, foto lelaki itu sendiripun tak ada.

Ellie menuju ke sebuah lemari besar yang terbuat dari kaca. Di sana ada beberapa benda seperti gitar yang dijadikan menjadi sebuah pajangan. Apakah itu Bass milik Jiro? Apakah alat itu yang biasa dimainkan Jiro? Tiba-tiba, Ellie ingin melihat Jiro memainkan salah satunya.

Selama ini, Ellie hanya melihat penampilan Jiro melalui Youtube. Tak pernah sekalipun ia melihat penampilan Jiro secara nyata di hadapannya. Saat melihat di Youtube, Ellie sangat terpana. Meski suaminya itu bukanlah seorang vokalis atau penyanyi yang merupakan sosok vital di dalam sebuah band, nyatanya, dimata Ellie hanya Jirolah yang paling bersinar di sana.

Ellie mengamati Bass Jiro satu persatu, hingga ia tidak sadar jika saat ini Jiro sedang mengamatinya.

“Apa yang kamu lihat?” tanya Jiro kemudian.

Ellie membalikkan tubuhnya, dan ia mendapati Jiro berdiri tepat di belakangnya. “Uum, ini gitar?” tanyanya sambil menunjuk salah satunya.

“Bass. Kalau ini.” Jiro membuka lemari tersebut dan mengambil salah satunya. “Ini gitar.”

“Kamu bisa memainkannya?”

“Ya. Selain memainkan Bass, aku juga suka main gitar.”

“Aku tidak pernah melihatmu memainkannya.”

Tentu saja. Bahkan bertemu saja jarang. Ingat, Jiro hanya akan menemui Ellie ketika lelaki itu sedang membutuhkan sebuah pelepasan. Setelah itu, mereka kembali hidup sendiri-sendiri.

“Aku sangat jarang bermain gitar di hadapan orang. Permainanku tak sebagus Ken.”

“Ken?” tanya Ellie. Ellie tahu tentang The Batman. Tapi Ellie tidak peduli tentang personil lainnya kecuali Jiro. Karena baginya, The Batmanlah yang membuat Jiro jauh dari dirinya, jadi Ellie tidak begitu suka dengan band suaminya tersebut.

“Duduklah dulu. Aku akan membuatkanmu minum.”

“Tapi, aku ingin mendengarmu bermain gitar.” Ucap Ellie kemudian. Ellie ingin menguji Jiro, apa lelaki itu akan menuruti keinginannya atau tidak. Bersikap manja dengan Jiro saat ini sepertinya bukan masalah. Ia hanya perlu menggunakan kehamilannya sebagai alasan, seperti yang disarankan Mei.

“Aku akan memainkannya nanti, duduk saja dulu.”

Dengan senang hati, Ellie duduk di sofa panjang milik Jiro yang berada tepat di sebelah jendela apartmen Jiro. Apartmen lelaki ini berada di lantai Lima belas, cukup tinggi hingga bisa membuat Ellie melihat ke arah jalanan kota Jakarta yang terlihat dari dalam apartmen Jiro.

Ketika Ellie menikmati pemandangan di luar jendela. Saat itulah Jiro menghampirinya dengan membawakan sesuatu yang mengepul dari dalam cangkir.

“Cokelat panas.” Ucapnya sembari menyuguhkan cangkir tersebut di hadapan Ellie.

Jiro kembali menuju ke arah jajaran Bass dan juga gitarnya, mengambil sebuah gitar lalu menuju ke arah Ellie. Ia duduk tepat di sebelah Ellie, dan Ellie merasa jantungnya berdebar tak karuan.

“Lagu apa yang mau kamu dengar?” tanya Jiro kemudian.

“Entah. Aku hanya ingin melihatmu bermain musik saja.”

Jiro mulai memetik gitarnya. “Selama ini, apa kamu nggak pernah melihatku bermain musik?”

“Pernah. Sering. Tapi hanya lewat youtube.” Jawab Ellie dengan jujur.

Jiro tersenyum. Kepolosan Ellie telah kembali, Jiro senang.

There goes my heart beating

‘Cause you are the reason

I’m losing my sleep

Please come back now

Jiro mulai bernyanyi. Ternyata, Suara lelaki itu tak kalah bagus dengan suara sang vokalis The Batman. Jiro memiliki suara serak-serak basah yang mebuat Ellie terpana seketika saat mendengarkan lelaki itu bernyanyi.

There goes my mind racing

And you are the reason

That I’m still breathing

I’m hopeless now

Lagu Calum Scott terdengar begitu romantis saat Jiro menyanyikan dengan suara seraknya. Petikan gitar lelaki itu begitu pas. Astaga, sejak kapan lelaki ini terlihat sangat romantis di mata Ellie?

I’d climb every mountain

And swim every ocean

Just to be with you

And fix what I’ve broken

Oh, ’cause I need you to see

That you are the reason

Astaga, entah apa yang membuat lagu tersebut begitu mengena di hati Ellie. Jiro masih melanjutkan lagunya, setiap katanya, setiap artinya, seakan pas dengan apa yang terjadi dengan mereka. Apa Jiro sengaja memilih lagu itu untuk menggambarkan apa yang ia rasakan?

Tidak mungkin!

Mungkin hanya kebetulan saja. Dan mungkin karena hormon sialannya yang membuat Ellie berpikir macam-macam bahwa lagu itu begitu pas dengan apa yang terjadi pada hubungan mereka.

Ellie masih mendengarkan dengan seksama. Jantungnya masih berdebar dengan cepat, bahkan lebih cepat dari sebelumnya. Matanya tak berhenti menatap ke arah Jiro. Jiro begitu menikmati lagunya, lelaki itu seakan bercerita tentang apa yang ia rasakan.

Tapi itu lagi-lagi tidak mungkin!

Jiro bukan pria yang romantis, jadi Ellie cukup tahu bahwa apa yang dilakukan Jiro saat ini hanya sebatas menuruti kemauannya. Hanya memanyi, bukan bercerita tentang apa yang dirasakan lelaki itu. Ya, hanya itu.

Pada saat bersamaan, Jiro telah menyelesaikan lagunya. Dengan spontan Ellie bertepuk tangan. Ia sangat menikmati pertunjukan kecil Jiro tersebut. Jiro menatapnya dan lelaki itu tersenyum. Entah sudah berapa kali lelaki itu tersenyum padanya sepanjang hari ini, Ellie tidak tahu. Yang Ellie tahu adalah bahwa ia sangat menikmati kebersamaannya dengan Jiro.

“Kamu ternyata punya suara yang bagus.”

“Tidak sebagus yang lain. Jase memiliki suara emas dan sangat sempurna ketika bernyanyi, begitupun dengan Ken.”

“Oohh.” Hanya itu tanggapan Ellie, karena ia tidak mengenal Jase atau Ken yang disebutkan Jiro, jadi Ellie tidak tahu harus menanggapi seperti apa.

“Maaf. Aku belum bisa mengenalkanmu pada mereka.” Tiba-tiba saja Jiro mengucapkan kalimat itu.

“Tidak apa-apa. Aku juga tidak ingin mengenal mereka.” Jawab Ellie cepat.

“Kenapa?”

“Tidak penting.”

Jiro tertawa lebar. Ia tidak menyangka bahwa jawaban istrinya akan seperti itu. Astaga, The Batman saat ini berada di puncak popularitas, siapa saja ingin mengenal mereka secara pribadi, dan Ellie, wanita itu benar-benar tampak enggan membahasnya. Jika Jason, Ken atau bahkan Troy tahu, pasti teman-temannya akan penasaran, seperti apa Ellie sebenarnya.

“Jason itu orang yang sangat diinginkan di kalangan anak muda. Dia memiliki suara emas, penjiwaannya keren. Begitupun dengan Ken. Dia sangat berbakat, juga memiliki suara yang bagus, dia vokalis kedua kami. Jase dan Ken adalah yang paling sering menciptakan lagu-lagu untuk The Batman. Sedangkan Troy, dia terkenal di kalangan model, dia panas dan sangat menggoda untuk wanita-wanita.”

“Kan aku sudah bilang bahwa aku tidak peduli.”

“Kenapa?” tanya Jiro memancing Ellie.

“Aku sudah bersuami.”

Jiro mengangguk. “Oh ya? Meski suamimu tak sekeren mereka?”

“Kata siapa? Suamiku adalah yang paling keren.”

“Sekeren apa?”

Ellie tidak bisa menjawab. Ellie tidak tahu apa yang membuat Jiro tampak lebih keren dan mempesona dibandingkan dengan lelaki lainnya. Bahkan sejak menikah dengan lelaki itu, Ellie tak pernah berpikir melirik sedikitpun pada lelaki lain. Ia tidak tahu dan ia tidak mengerti kenapa Jiro begitu memikatnya.

“Aku tidak tahu. Yang kutahu, bahwa dia adalah yang paling bersinar diantara yang lain.” Jawab Ellie masih dengan menundukkan kepalanya.

Jiro tertegun mendengar jawaban dari istrinya tersebut. “Kamu menyukainya?” tanyanya dengan spontan, wajah Jiro bahkan lebih serius ketimbang tadi.

“Ya. Jika tidak, maka aku tidak akan bertahan di sisinya.”

Lagi-lagi Jiro bertindak dengan spontan, ia menangkup kedua pipi Ellie lalu mendaratkan bibirnya pada bibir wanita itu. Jiro mencumbu Ellie dengan begitu lembut. Ia menciumnya dengan penuh perasaan. Oh, Jiro tak pernah melakukan hal ini sebelumnya, tidak dengan Ellie, tidak juga dengan wanita lain. Hatinya sangat sulit disentuh, tapi jawaban Ellie tadi benar-benar mampu menyentuh hatinya. Jawaban sederhana dan polos.

Bodoh! Sangat bodoh! Karena selama ini ia sudah menyia-nyiakan istrinya yang cantik jelita ini, mengabaikan keberadaan wanita yang polos dan sederhana seperti Ellie. Jiro benar-benar merasa menjadi seorang yang paling tolol. Bagaimana mungkin ia bisa buta?

Setelah cukup lama saling mencumbu mesra satu sama lain, Jiro melepaskan tautan bibir mereka ketika merasakan napas Ellie sudah terputus-putus. Wanita itu menunduk seketika, kulitnya merah merona, seakan gugup dengan apa yang baru saja terjadi diantara mereka.

Jiro mengangkat dagu Ellie, berkata dengan spontan pada wanita itu. “Aku menginginkanmu.”

Jiro tak pernah menunjukkan secara terang-terangan hasrat seksualnya. Karena biasanya, ia hanya akan memulainya begitu saja tanpa banyak bicara. Tapi kini, Jiro seakan ingin menunjukkan pada Ellie, bahwa lelaki itu benar-benar menginginkan Ellie.

Ellie tak dapat menolaknya, karena ia memiliki keinginan yang sama dengan apa yang diinginkan Jiro. Cumbuan lelaki itu benar-benar memabukkan. Ellie ingin mengulangi malam indah saat itu. Ellie ingin bercinta kembali dengan Jiro. Percintaan yang sesungguhnya, bukan hanya seks untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.

Karena Ellie tidak mengungkapkaan penolakannya, akhirnya Jiro bangkit kemudian tanpa banyak bicara lagi ia mengangkat tubuh Ellie, menggendongnya masuk ke dalam kamarnya.

Ellie sempat terkejut dengan apa yang dilakukan Jiro, tapi ia tidak membantah, menolak, apalagi meronta. Ia menginginkan Jiro bersikap lembut seperti ini. Jadi yang bisa Ellie lakukan hanya diam saja, menuruti apapun keinginan lelaki tersebut.

Jiro menurunkan Ellie di dekat ranjang. Ellie sempat mengamati bagaimana interior kamar Jiro yang hampir mirip dengan ruangan tengah. Tak ada hiasan apapun, tapi Ellie juga sempat melihat beberapa gitar dan Bass yang terpajang di sudut ruangan.

Ellie berdiri menghadap ke arah Jiro, Jiro begitu dekat dengannya. Tanpa diduga, lelaki itu membuka pakaiannya sendiri hingga bertelanjang dada. Ada banyak tatto di tubuh Jiro, membuat Ellie mengagumi bagaimana gagahnya lelaki tersebut. Padahal Ellie tahu ini bukanlah pertama kalinya Ellie melihat Jiro bertelanjang dada.

Jemari mungil Ellie dengan spontan mendarat pada dada bidang Jiro. Menyentuhnya dengan berani, mengamati inchi demi inchi tinta hitam yang terlukis di tubuh suaminya tersebut. Ya, baru kali ini Ellie melihat dengan jelas bagaimana tulisan tersebut terlukis dengan sempurna di tubuh suaminya. Hingga kemudian, jemarinya berhenti pada huru-huruf aneh yang terletak pada dada kiri suaminya.

“Apa ini?” tanyanya.

“Tatto.”

“Aku tahu. Kenapa kamu memiliki tatto seperti ini?” tanya Ellie penasaran. Itu adalah huruf-huruf Yunani kuno. Ellie tidak tahu kenapa Jiro bisa memiliki tato dengan huruf Yunani kuno. Ellie berharap mengetahui apa artinya.

“Kenapa? Kamu tidak suka? Aku bisa menghapusnya jika kamu tidak suka.”

Ellie menggelengkan  kepalanya. Ellie hanya ingin tahu apa artinya.

Elisávet. Itu ejaannya.” Wajah Ellie terangkat menatap ke arah Jiro seketika. “Ellisabeth.” Jiro sedikit tersenyum “Kupikir itu mirip dengan nama istriku, jadi aku menulisnya di sana.” Lanjutnya.

“Kenapa?” dengan spontan Ellie bertanya. Ya, kenapa Jiro menuliskan namanya dalam bahasa Yunani di tubuh lelaki itu?

“Mungkin, untuk mengingatkanku, bahwa aku memiliki istri yang bernama Ellisabeth, dan dia sedang menungguku pulang.”

Mata Ellie berkaca-kaca.

“Nyatanya, aku tetap lupa untuk pulang.” Lanjut Jiro lagi.

Dengan berani, Ellie menjinjitkan kakinya, mengalungkan lengannya pada leher Jiro, kemudian menggapai bibir suaminya tersebut. Ellie tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Astaga, bisa saja Jiro membohonginya, bisa saja Jiro hanya merayunya dengan tatto tersebut. Tapi Ellie tidak peduli. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah perasaannya yang seakan semakin membuncah untuk suaminya tersbut. Tidak salah bukan jika ia merasakan perasaan seperti ini pada suaminya sendiri?

-TBC-

(Mini Story) – Natal Pertama (My Beautiful Mistress)

Comments 10 Standard

 

Dislaimer : Haiii… ini dia mini story pertama yang aku Posting di blog aku, dan hanya di blog yaa… mungkin nanti bakal aku convert dan aku jual juga di google play, tapi aku jamin, di blog gak akan aku hapus mini story ini. INFO juga, cerita ini TIDAK ada di dalam novel my beautiful mistress sendiri. jadi kayak cerita ini itu Oneshoot atau side story cerita utama my beautiful mistress gitu yaa.. hahhaahhaah  dan betewe, aku juga bakal bikin mini story cerita lainnya, entah ceritanya kak Dhanni, Renno, Brandon, atau yang lainnya. jadi biar Blog aku kembali seperti suasana dulu, rame dan asikk.. okee…. ya sudah, happy reading….

 

(My Beautiful Mistress) – Natal  Pertama

 

Aku masih duduk tepat di depan jendela. Kulihat hujan tak berhenti turun. Jika ini di inggris, mungkin salju yang turun. Astaga, aku merindukan salju. Besok adalah natal pertama yang kulalui tanpa kedua orang tuaku.

Beberapa bulan yang lalu, aku menikah dengan seorang yang tak kukenal. Namanya James Drew Robberth. Seorang yang cukup pendiam, dan bagiku sedikit misterius. Kahidupan pernikahan kami biasa-biasa saja awalnya, tapi kemudian, semua menjadi tak normal ketika James memutuskan untuk pindah ke apartmen yang baru ia beli.

Semua karena ambisinya menjadi seorang artis. Ia tidak ingin hubungan pernikahan kami terendus oleh media. Karena James juga memiliki kontrak dengan pihak managementnya. Dan yang bisa kulakukan hanya menerimanya saja. Toh, aku masih tetap menjadi istrinya.

Bicara tentang James, sebenarnya, aku tak menyesal menikah dengannya. Walau dingin, pendiam dan terkesan tak peduli, James adalah sosok yang baik. Dia memenuhi apapun yang kuinginkan, dia memberiku segala fasilitas layaknya aku seorang ratu. Dan dia sangat tampan.

Aku terpesona pada pandangan pertama dengannya. Jantungku selalu berdebar tak karuan saat berada di dekatnya. Dan hal itulah yang membuatku bertahan di sisinya, meski sebenarnya kini hubungan kami jauh dari kata normal.

James hanya akan pulang ketika dia membutuhkan sebuah pelepasan. Setelah itu dia pergi lagi. Dia bahkan tak pernah tidur di rumah ini. mungkin jika tidur, dia memilih tidur di kamar lain atau mungkin di sofa.

Aku tak tahu apa yang terjadi dengannya, apa yang dia rasakan padaku. Kenapa dia seolah menghindariku. Dan hal itulah yang membuatku sedih.

Aku merasa sendiri, aku merasa diabaikan, aku merasa dicampakan, tapi disisi lain, aku merasa bahwa James begitu perhatian padaku.

Kini, Natal pertamaku di negeri ini, dan James belum pulang sejak dua hari yang lalu. Apa dia sibuk?

Kupikir, Bandnya belum cukup terkenal, jadi sepertinya dia tidak sedang sibuk. Ingin sekali aku menghubunginya, tapi James selalu berpesan padaku bahwa aku tidak boleh menghubunginya sebelum dia sendiri yang menghubungiku.

Aku merasa sendiri…

Aku merasa kesepihan…

Tuhan, apa yang harus kulakukan?

Akhirnya aku memilih bangkit dari tempat dudukku. Aku masuk, menuju ke arah kamar. Di dalam kamar terdapat sebuah pohon natal kecil, di ujung ruangan. Aku tersenyum melihatnya.

James yang membelikannya beberapa saat yang lalu, dia tahu bahwa aku cukup religius mengingat ayahku adalah seorang pendeta. James bahkan menyediakan sebuah tempat di sudut rumah ini yang ia sebut sebagai gereja pribadiku. Ya, dia bahkan menghiasnya dengan patung Yesus dan sejenisnya. Hal-hal seperti itulah yang kadang membuatku bingung dengan sikapnya. Dia baik, tapi kadang, aku merasa dia tak cukup adil memperlakukan diriku sebagai istrinya.

Aku kembali menghela napas panjang. Kakiku menuju ke arah lemari dan mencari pernak pernik natal untuk menghias pohon natal mungil di sudut kamarku.

Sesekali aku bersenandung, membayangkan bahwa natal tahun ini sama seperti natal sebelum-sebelumnya. Bahwa aku masih berada di Inggris, dengan kedua orang tuaku, dan aku masih sendiri. Belum memiliki suami, belum memiliki James.

Ya, karena itulah yang sedang kurasakan saat ini. Sendiri dan sepi….

Jingle bells, jingle bells

Jingle all the way!

Aku mulai bersenandung, kupasangkan pernak-pernik natal pada pohon cemara buatan yang mungil. Seakan menghibur diriku sendiri saat kesepihan melanda.

Oh what fun it is to ride in a one-horse open sleigh

Jingle bells, jingle bells

Jingle all the way!

Oh what fun it is to ride in a one-horse open sleigh

Meski lagunya adalah lagu ceria, tapi entah kenapa aku merasakan kesedihan yang amat dalam. Aku kesepihan, sangat kesepihan di malam natal ini.

Dan setelah aku membohongi diriku sendiri dan mencoba bersikap kuat, pertahananku runtuh.

Aku terduduk di dekat pohon natal. Memeluk lututku sendiri, kemudian menangis.

Aku kesepihan…

Aku merindukan ibu dan ayah…

Dan aku merindukan James…

Kenapa dia tidak pulang?

***

Rupanya, aku menangis hingga tertidur di sana. Sedikit terkejut saat aku bangun dan sudah berada di atas ranjangku. Yang lebih mengejutkan adalah bahwa tubuhku sudah polos tanpa sehelai benangpun dan hanya tertutup oleh selimut tebal.

Dalam sekejap mata, aku merasakan seseorang menindihku. Dia James, dia pulang. Dan aku senang.

James hanya menatapku, dan aku tersenyum.

“Kamu pulang, James.”

“Ya.” Hanya itu jawabannya.

Tanpa kuduka, James menundukkan kepalanya, dia menciumku. Bukan ciuman yang lembut, tapi aku cukup mengerti bahwa ciuman itu adalah tanda jika dia sedang menginginkanku.

Dan benar saja, tak lama kemudian, James menyatukan diri. Yang bisa kulakukan hanyalah menggigit bibir bawahku. Aku ingin mengerang, tapi aku cukup malu melakukannya. Seks yang kulakukan dengan James biasanya memang hanya seperti ini. Dia lelaki panas yang mampu menggoda siapa saja, tapi aku cukup malu mengakui apa yang kurasakan. Hubunganku dengan James tidak sedekat itu, tidak seintim itu. Kami bahkan jarang saling berbicara.

James mulai menggerakkan tubuhnya, menghujam lagi dan lagi, dan yang bisa kulakukan hanya diam. Aku sudah cukup senang saat dia senang, aku sudah cukup senang saat dia pulang kepadaku. Aku tak akan menuntut lebih karena aku…. Aku mencintainya..

Astaga, entah sejak kapan aku merasakan perasaan ini. Tapi Ya, aku mencintainya. Mencintai James Drew Robberth, lelaki yang sering mengabaikanku, lelaki yang sering membuatku sedih, lelaki yang berstatus sebagai suamiku. Aku mencintainya, meski aku tak yakin, apa yang dia rasakan terhadapku.

Entah sudah berapa kali James memuaskan diri, aku tak peduli, yang kupedulikan hanyalah kewajibanku terhadapnya, untuk membuatnya senang, untuk memuaskannya. Hingga ketika James memutuskan untuk berhenti, aku terkulai lemah tak bertenaga.

Rasa kantuk tiba-tiba menyergapku. Samar-samar kulihat James bangkit, dia memunguti pakaiannya sendiri, mengenakannya. Dan aku hanya bisa tersenyum.

Dia akan pergi lagi…

Dia datang hanya untuk meminta haknya…

Setelah itu dia pergi lagi…

Aku memejamkan mataku, menghentikan bulir air mata agar tidak tumpah dari pelupuk mataku. Lagi pula, aku sudah sangat lelah. Aku ingin tidur, dan mungkin bangun dua hari setelahnya.

Mataku mulai terpejam, dalam kegelapan aku merasakan bibir James menyapu keningku, lalu dia berucap dengan lembut…. “Selamat Natal, Ellie, istriku.”

Aku hanya tersenyum, tak ingin membuka mata karena aku takut jika ini semua hanya mimpiku. Air mataku jatuh dengan sendirinya. Mungkin benar itu hanyalah mimpi, tapi aku tahu bahwa itu akan menjadi mimpi terindah untukku.

Kemudian aku memposisikan diri senyaman mungkin, kembali tertidur dan kembali bermimpi indah. Natal pertama setelah menjadi istri James, ternyata tidak buruk. Aku memang sendirian di negeri ini, aku kesepihan, tapi aku memiliki James, dan James membuatnya indah dengan caranya sendiri.

Selamat Natal, James. Aku mencintaimu….

-End-