Missing Him – Bab 5

Comments 3 Standard

 

Bab 5 

 

“A, apa maksud Mas Rangga?” Tanyaku dengan cepat.

“Aku ingin menikah denganmu Ven..”

“Tapi Mas.. kita tidak pernah mengenal lebih dekat sebelumnya.”

Lelaki di hadapanku itu tampak menundukkan keplanya. Entah apa yang ia pikirkan aku sendiri tak tau.

Veny, nggak baik menolak lamaran seseorang sebelum kamu memikirkannya masak-masak.” Ucap Ibu.

“Tapi Bu..”

Pikirkanlah dulu, Nak.” pungkas ibuku.

***  

Dua hari berlalu setelah hari itu. Mas Rangga kembali ke rumahku. Dan astaga.. entah kenapa lidahku seakan kaku saat ingin mengatakan Tidak. Aku menerimanya, menerima lamaran lelaki yang aku sendiri tak seberapa mengenalnya.

Ini gila! Aku tau itu. Tapi mau bagaimana lagi.  Lagi pula sampai saat ini aku masih belum bisa melupakan sosok Edo. Sosok yang sudah menjadi cinta pertamaku, dan mungkin saja akan menjadi cinta terakhirku.

Ven..” Mas Rangga duduk mendekat di sebelahku.

“Aku masih bingung, kenapa tiba-tiba mas Rangga melamarku. Kita tidak pernah kenal dekat sebelumnya.”

“Aku tau. Tapi aku yakin, semua ini terbaik untukmu. Aku akan melindungimu Ven, Aku janji.”

Aku menurunkan kedua bahuku lemah. Ya, memangnya apa lagi yang bisa ku perbuat. Mungkin memang mas Rangga ditakdirkan untuk menemaniku. Lagi pula aku yakin jika tak dapat jatuh cinta lagi selain dengan Edo, maka tak salah jika aku menerima pinangan mas Rangga meski aku tak pernah mencintainya.

***

Kilasan masa lalu hubunganku dengan Mas Rangga tiba-tiba menari di kepalaku. Aku menggelengkan kepalaku.

Mas, apa yang terjadi denganmu hari ini? Pikirku dalam hati.

Setelah menidurkan Tasya, aku lantas menuju ke kamarku. Semoga saja setelah mandi sikap Mas Rangga sudah membaik padaku.Tapi nyatanya, saat aku sampai di dalam kamar, Suamiku itu malah tidur meringkuk di ujung ranjang.

Dadaku terasa sesak. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya hari ini? Apa aku melakukan suatu kesalahan?

Aku lantas memilih masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri kemudian mengistirahatkan hati dan pikiranku yang sudah sangat lelah…

***

“Kamu yakin mau melakukannya?” Aku hanya menunduk ketika Mas Rangga bertanya pertanyaan itu padaku.

Ini sudah hampir satu tahun lamanya aku menikah dengannya, tapi sekalipun kami tak pernah melakukan hubungan intim sama sekali. Mas Rangga sangat menghormatiku, pun denganku yang tentunya tak mungkin menggodanya atau menjajakan diriku padanya.

Setiap malam kami hanya menghabiskan waktu saling bertukar cerita, bertanya tentang aktifitas masing-masing hari ini. Lalu saling tertidur setelah sama-sama lelah. Ya, kami memang tidur satu ranjang, tapi kami tak pernah melakukan apapun. Tapi tadi, tak sengaja telapak tangan Mas Rangga menyentuh permukaan kulit tanganku, tatapan kamu beradu seketika, wajah Mas Rangga kemudian mendekat, dan aku tak sadar jika kami melakukan ciuman pertama kami.

Kini, lalaki itu sudah menindihku dengan pakaian yang sudah lolos dari tubuhnya. Pun denganku yang sudah polos tanpa sehelai benang pun.

Aku hanya menganggukan kepalaku setelah mendengar pertanyaan Mas Rangga tersebut.

“Aku baru pertama kali melakukannya,” Ucapnya dengan suara yang sudah serak.

“Aku juga baru pertama kali.” Astaga.. mungkin saat ini wajahku benar-benar sudah merah seperti tomat. Apa yang sedang kukatakan?

“Baiklah, boleh aku memulainya?” tanyanya lagi sedangkan aku hanya mampu menganggukkan kepala. Mas Rangga mulai mendaratkan kembali bibirnya pada bibirku, menciumku dengan lembut penuh gairah. Jemarinya sudah mulai bergerilya di sekujur tubuhku, dan itu benar-benar membuatku semakin menggila.

Kami saling mencumbu mesra, menyentuh satu sama lain dengan begitu intim. Ya, kupikir ini adalah hal yang paling intim yang pernah ku lakukan dengan seorang lelaki, dan entah kenapa aku merasa bahagia sekali karena lelaki itu adalah Mas Rangga, Suamiku sendiri.

Mas Rangga mulai menyatukan diri, dan aku benar-benar merasa tak nyaman. Rasanya aneh dan sakit, tentunya, tapi Mas Rangga membimbingku selembut mungkin, ia tak berhenti mencumbuku, seakan menenangkan kembali syaraf-syarafku yang kaku karena penyatuan pertama kami.

Dia tak mengucapkan apapun, tapi pergerakannya tak pernah berhenti. Bibirnya masih mengulum bibirku, sedangkan matanya sesekali menatap mataku dengan tatapan anehnya. Ya tuhan… aku benar-benar melakukannya, melakukan dengan Mas Rangga, suamiku, lelaki yaang sama sekali tak kucintai….

***  

Bayangan malam pertama kami menyeruak begitu saja dalam ingatanku, dan aku tersenyum ketika mengingat malam itu. Ku balikkan tubuhku yang tadi tidur miring dengan posisi membelakangi tubuh Mas Rangga. Dan kini, aku masih melihat tubuh suamiku itu masih miringku membelakangiku.

“Mas. Kamu kenapa?” lirihku.

Astaga, dia tak pernah bersikap seperti ini padaku, dan entah kenapa saat dia memperlakukanku seperti ini, rasanya dadaku terasa sesak, hatiku terasa sakit. Seakan ada sesuatu di dalam sana yang telah terkoyak saat melihat sikap dingin Mas Rangga.

“Kamu marah?” Aku memberanikan diri bertanya. Air mataku sudah jatuh begitu saja. Ya, dia marah, tapi aku tak tau karena apa. Apa ini ada hubungannya dengan Edo?? Tidak mungkin. Mas Rangga sama sekali tak mengetahui hubunganku di masa lalu dengan Edo.

“Mas…” panggilku lagi. Dan dia sama sekali tak menjawab panggilanku. Entah dia memang sedang marah, atau dia memang sudah tidur, aku sendiri tak tahu.

***

Panginya, seperti biasa, aku bangun lebih pagi dari Mas Rangga. Tentu saja aku harus menyiapkan sarapan untuk suamiku tersebut. Meski tak pernah mencintainya, tapi aku selalu mengabdi padanya layaknya seorang istri yang begitu mencintai suaminya.

Aku melirik ke arah Tasya yang berada di dalam boks bayinya. Puteriku itu memang sangat pandai, ia tahu jika kini ibunya sedang sibuk dan dia memilih bermain dengan mainannya sendiri ketimbang harus menangis rewel khas bayi seusianya.

Kemudian aku melirik ke pintu kamarku. Mas Rangga belum juga keluar. Ada apa? Tidak biasanya dia bangun siang. Apa dia masih marah? Apa suasana hatinya masih seburuk tadi malam?

Dan tak lama, sosok yang berada didalam kepalaku itupun menampakkan dirinya. Hampir saja aku terpekik ketika tiba-tiba saja dia keluar dari kamar kami dengan tatapan mata yang langsung menatap tepat pada manik mataku.

“Pagi Mas..” Sapaku.

“Pagi…” Hanya itu jawabannya.

Aku mengernyit saat melihatnya hanya mengenakan kaus oblongnya. Ia tidak mengenakan kemeja yang biasa di kenakannya ke kantor. Kenapa? Apa dia libur kerja?

“Mas Rangga nggaak kerja?”

“Aku libur.” Jawabnya singkat.

“Kok tumben ngambil cuti?”

“Bukan cuti, tapi aku memang di liburkan selama tiga hari ini.”

“Loh kenapa?” tanyaku sedikit terkejut.

“Aku dipindah tugaskan mulai minggu depan ke perusahaan yang bercabang di Palembang.” Jawabnya dengan ekspresi datar.

Aku membatu seketika. Pindah? Kenapa tiba-tiba?

“Kok aku nggak tau Mas?”

“Aku memang sengaja cari waktu yang tepat buat ngasih tau kamu. Tapi sepertinya memang nggak ada waktu yang tepat.”

“Lalu, kapan kita akan siap-siap?” tanyaku sembari menyuguhkan kopi untuk Mas Rangga.

“Nanti aku akan mulai belanja kebutuhanku, lalu mulai bersiap-siap.” Aku mengernyit ketika mendengar kalimat Mas Rangga. Apa maksudnya?

“Maksud Mas Rangga?”

Mas Rangga menatapku dengan tatapan anehnya. “Ven, aku akan pindah ke Palembang sendiri. Dan mungkin hanya seminggu sekali aku akan pulang ke sini.”

Aku tercengang mendengar kalimat yang di ucapkannya. Dia meninggalkanku? Meninggalkanku hanya berdua dengan Tasya? Bagaimana mungkin? Kenapa dia tega melakukan ini padaku??

“Kenapa aku dan Tasya nggak ikut pindah saja Mas?”

Mas Rangga menundukkan kepalanya. “Maaf, nggak bisa..”

Dan meneteslah air mataku. Kenapa seperti ini? Kenapa tiba-tiba dia meninggalkanku saat aku mulai nyaman dengannya? Apa yang terjadi denganmu Mas?? Apa yang kamu sembunyikan dariku?

-TBC-

Advertisements

Missing Him – Bab 4

Comments 2 Standard

 

Bab 4

 

Ven. Please. aku pengen ngomong sesuatu sama kamu.” Ucap Edo yang sudah menghadangku.

Ini sudah beberapa hari setelah pengakuannya padaku… Dan aku menghindarinya. Aku tidak ingin dia kembali membahas tentang hubungan kami.

“Lepasin Do. Aku mau pulang.”

“Biar aku yang antar.”

“Enggak, aku bisa pulang sendiri.” Jawabku dengan nada ketus.

“Please Ven,  jangan cuekin aku seperti ini. Jangan hindarin aku.” Lirihnya.

Aku menghela napas panjang. “Oke, tapi kamu harus janji kalau nggak akan bicara seperti itu lagi padaku.”

“Oke, aku janji.”  Dan akhirnya kami pun baikan.

Hubungan kami kembali seperti semula. Ibarat teman tapi mesra, ibarat sepasang kekasih tanpa status yang pasti. Gadis-gadis di sekolah kembali memusuhiku, dan gosip kami berpacaranpun kembali gencar di beritakan di kalangan anak-anak sekolah. Tapi aku tak ambil pusing. Yang terpenting adalah satu hal, Edo tak pernah lagi mengucapkan perasaan sukanya padaku. Dan itu membuatku tenang.

***

“Kenapa?” Tanya Mas Rangga padaku dengan sedikit berbisik.

“Ahh.. enggak.” Jawabku dengan sedikit tergagap.

“Wajahmu pucat. Kamu nggak enak badan?”

“Emmm kepalaku sedikit pusing, itu saja.” Jawabku cepat.

“Kamu mau kita pulang?” Tanya mas Rangga penuh perhatian.

Aku mengangguk cepat. “Ya, aku ingin pulang.” Bisikku padanya.

“Maaf Pak, sepertinya istri saya sedang tidak enak badan.” Ucap mas Rangga dengan sopan pada Edo. “Kami akan permisi pulang terlebih dahulu jika Pak Edo tidak keberatan.” Lanjutnya lagi dengan penuh hormat.

Edo menatapku dengan tatapan anehnya. Dan astaga,  Itu membuatku salah  tingkah.

“Kamu sakit?” Tanya Edo penuh perhatian.

“Umm, Maaf Pak, hanya sedikit pusing.”

“Mau saya antar pulang?”

Pertanyaan Edo membuat aku dan Mas Rangga saling menatap satu sama lain. Mengantar pulang? Yang benar saja. Dia adalah atasan  Mas Rangga, semoga saja Mas Rangga tidak curiga dengan sikap aneh Edo.

“Kami membawa mobil kantor, Pak.” Jawab mas Rangga cepat.

Edo akhirnya menganggukkan kepalanya. “Baiklah kalau begitu. Emm semoga kita bisa bertemu lagi.” Ucap Edo sambil menatap tajam ke arahku. Sedangkan aku hanya bisa menunduk.

***

Kami akhirnya keluar dari restoran tersebut. Mas Rangga berjalan cepat di hadapanku dengan ekspresi wajah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Ada apa dengannya?

“Mas, jangan terlalu cepat.” Ucapku sambil sedikit berlari menyusulnya. Tentu sangat susah mengingat saat ini aku sedang menggendong Tasya.

Tapi kemudian aku merasakan seseorang meraih sebelah tanganku. Saat aku menoleh ke belakang, aku mendapati tangan Edo yang sedang menggenggam pergelangan tanganku.

Please.  Jangan lakukan apa-apa, Do. Aku nggak mau Mas Rangga tau tentang hubungan kita dulu. Lirihku dalam hati.

“A.. ada apa Pak?” Tanyaku dengan suara tergagap.

Lalu aku merasakan Edo menyisipkan sesuatu di telapak tanganku, ia kemudian menggeggamkan tanganku.

“Hubungi aku.” Ucapnya.

Dengan spontan aku menoleh ke arah Mas Rangga. Mas rangga ternyata sudah berdiri tepat di sebelah pintu mobil dengan tatapan menuju ke arah kami.

“Edo..  Please..” lirihku hampir tak terdengar. Entah kenapa aku sangat takut, takut jika Mas Rangga tau semuanya kemudian dia membenciku.

“Kalau kamu ingin semua baik-baik saja, please, hubungi aku.” Ucap Edo lagi lalu dia pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih bingung.

***

Sampai di rumah, Mas Rangga tetap diam, dia seakan tidak acuh dengan  keberadaanku. Kenapa dia seperti itu? Apa dia tau hubunganku dengan Edo?

“Aku mandi dulu.” ucapnya datar sambil masuk ke dalam kamar mandi.

Dadaku terasa sesak melihat tingkahnya seperti itu, Mas Rangga tak pernah bersikap seperti itu padaku. Dia selau lemah lembut, perhatian, dan selalu menganggapku sebagai ratu, tapi entahlah, aku bingung dengan sikapnya sesore ini.

Akhirnya aku memilih berdiam diri di kamar bermain Tasya. menidurkan Tasya di boks bayi yang berada di ujung ruangan tersebut. Kemudian aku hanya bisa membatu di sana.

***

Aku membuka pintu rumah, dan mendapati sosok tinggi di hadapanku. Kenapa dia kemari? Pikirku saat itu.

“Mas Rangga, kenapa di sini?”

Veny, Boleh aku masuk?”

“Ya, silahkan.”

walau dengan wajah bingung aku tetap mempersilahkan mas Rangga masuk. Rangga Kurniawan adalah rekan kerjaku di sebuah perusahaan tempatku bekerja. Dia senior, tentu saja, karena sudah bertahun-tahun dia kerja di sana. Umurnya mungkin sekitar tiga sampai lima tahun lebih tua dari pada aku.

Kami tak pernah dekat, karena Rangga sendiri memang terkenal pendiam. Tapi dia bukan tipe  yang pendiam karena angkuh dan tak suka berteman. Tidak, dia bukan orang seperti itu. Dia ramah, banyak teman, tapi sikap pendiamnya mungkin karena memang dia tak ingin banyak bicara.

Aku mempersilahkan mas Rangga duduk di kursi tamu.

“Mau minum apa Mas?” Tanya ku sedikit canggung. Sungguh aku masih bingung dengan kehadiran Mas Rangga di rumahku.

“Tidak perlu Ven, aku hanya ingun bertemu kedua orang tuamu.”

Aku mengernyit, untuk apa mas Rangga ingin menemui mereka?

“Untuk apa mas mau menemui mereka?” Tanyaku sedikit bingung.

“Enggak apa-apa, ada yang mau ku bicarakan dengan mereka.”

Aku mengangguk, “Baiklah, aku panggil mereka dulu, ya,”

Akhirnya aku masuk, memanggil ibu dan ayahku. Merekapun tampak bingung dengan kehadiran sosok mas Rangga.

Mas Rangga sendiri langsung memperkenalkan diri pada kedua orang tuaku dengan sangat sopannya. Sedangkan orang tuaku menyambut hangat kedatangannya.

“Jadi, Nak Rangga, apa ada yang perlu di bicarakan dengan kami?” Ayah akhirnya bertanya secara langsung kepada Mas Rangga.

“Begini pak, kedatangan saya kemari adalah untuk melamar Veny menjadi istri saya.”

Mataku membulat seketika. Aku yang dalam posisi berdiri tak jauh dari tempat duduk ayah dan ibuku, tak dapat bergerak sedikitpun. Semuanya terasa kaku, mungkin aku terlalu terkejut dengan apa yang di katakan Mas Rangga.

Melamar? Astaga, Apa dia bercanda? Kami bahkan sangat jarang sekali berbicara satu sama lain, kenapa dia bisa-bisanya melamarku?

-TBC-

Missing Him – Bab 3

Comments 2 Standard

 

Bab 3

 

Dia masih menggerakkan tubuhnya di atasku, bibirnya tak berhenti mencumbu sepanjang kulit tubuhku, ia menjelma menjadi sosok yang berbeda, bukan sosok dingin dan kaku seperti biasanya, Diakah Mas Rangga suamiku?

***

Tubuhku masih lunglai dalam pelukannya, Mas Rangga masih setia memelukku dan sesekali mengecupi pundakku. Kami masih sama-sama polos di bawah selimut yang sama setelah percintaan panas yang baru saja kami lakukan.

Percintaan panas? Ya… aku bahkan tak mengerti apa yang terjadi dengan Mas Rangga, kenapa ia bisa bersikap seperti itu padaku tadi.

“Terimakasih….” ucap Mas Rangga yang membuat tubuhku kembali bergetar.

“Apa ada yang salah denganmu Mas?”

“Kenapa?”

“Kamu berbeda.”

“Aku masih sama, aku hanya ingin melakukan apa yang menurutku benar.”

“Maksud Mas Rangga?” Tanyaku masih dengan raut bingung.

“Ku pikir selama ini aku tidak memperlakukanmu dengan benar, Sayang, maaf.”

“Aku juga minta maaf Mas..” lirihku.

“Untuk apa?”

‘Karena aku masih memikirkan dia dan belum bisa sepenuhnya menerimamu….’ ucapku dalam hati.

“Untuk semua kesalahan yang pernah kuperbuat.” Jawabku.

“Kamu nggak pernah salah. Mas yang selalu salah.” Mas Rangga berkata dengan mengusap lembut punggung telanjangku. “Ayo bangun, kita harus menjemput  Tasya.”

Aku menatapnya dan tersenyum ke arahnya. “Ayo.” Ucapku sambil bangun.

***

“Kamu kenapa sih Do? Gay?? Enggak kan?” Tanyaku pada lelaki yang kini duduk santai di hadapanku sambil meminum jus pesananku.

“Kenapa kamu tanya itu?”

“Do, aku capek kalo banyak cewek di sekolah ini yang salah paham padaku, mereka memusuhiku Do..”

“Kalo mereka macem-macem bilang saja sama aku.” Jawabnya santai.

“Aku nggak perlu pembelaan kamu, yang kuperlukan adalah berhenti bilang kalau kita pacaran. Jadi mereka nggak salah paham sama aku dan musuhi aku.”

“Kita memang pacaran..” jawab Edo dengan santai.

“Enggak. Kita nggak pernah jadian.”

“Mulai detik ini kita jadian.”

“Yang benar saja, kamu gila.”

“Ya,aku gila. Aku gila karena suka sama kamu.” Ucapan Edo membuatku membatu seketika.

Tidak! Edo tidak mungkin menyukaiku. Ini hanyalah triknya supaya aku mau menjadi pacar bohongannya.

“Nggak lucu tau nggak Do.” ucapku sambil berdiri dan bersiap meninggalkannya.

Tapi kemudian aku merasakan pergelangan tanganku di genggam oleh seseorang, dan saat aku melihatnya, ternyata Edo yang menggenggamnya.

“Kenapa Ven? Kamu nggak percaya kalau aku suka sama kamu?”

“Do, ini nggak bener, ini gila.”

“Ya, aku gila karena suka sama kamu Ven, please, lihat mataku dan cari kebenaran di sana.”

Aku menuruti apa mau Edo. Kutatap matanya, mencari kebenaran di sana, mencoba mencari kebohongan atau apa pun di sana. Tapi yang ku dapat, hanyalah sebuah ketulusan. Benarkah Edo tulus menyukaiku? Astaga! Tidak, kita tidak boleh menjalin kasih, kita hanya boleh berteman. Titik.

***

Bayangan Edo kembali menyeruak dalam benakku. Saat pertama kali Edo menyatakan rasa cintanya yang kemudian berujung penolakan dariku.

Ya, aku tau, aku dan Edo tak mungkin bersatu hanya karena satu alasan.

Kami berbeda keyakinan….

Satu hal itu membuatku jauh dari kata bersatu dengan Edo. Dan sampai kini aku sadar jika hubungan kami berdua memang tak lebih dari sekedar berteman.

“Ven. nanti temani mas ketemu sama Bos baruku,  ya,” suara Mas Rangga kembali menyadarkanku dari lamunan.

“Bos baru?” Aku mengernyit.

“Ya, sekarang bukan pak Chiko lagi yang jadi GM di kantor kita. Tapi anak dari pemilik kantor pusat.”

“Wah, yang benar Mas?”

“Iya, dan beliau baik sekali.” Ucap mas Rangga dengan semangat.

“Kapan?”

“Nanti setelah jemput  Tasya, kebetulan orangnya tadi hubungi Mas, minta di bawakan sebuah berkas yang kebetulan sedang Mas bawa.”

“Oke Mas.” Jawabku. Kemudian aku kembali menyiapkan diri serapi mungkin untuk segera bergegas menjemput  Tasya.

***

“Kita ketemu Bos kamu di mana, Mas?” Tanyaku saat Mas Rangga sibuk mengemudikan mobil yang sedang kami tumpangi. Tentu saja mobil ini bukan mobik milik kami sendiri. beberapa bulan yang lalu, Mas Rangga naik jabatan, dan perusahaan memfasilitasinya dengan kendaraan.

“Di restoran, beliau kebetulan ada di restoran tak jauh dari sini.”

“Aku tunggu di mobil saja deh Mas, nggak enak, aku bawa Tasya.”

“Ayo ikut, nggak apa-apa, Bosku kebetulan pengen lihat dan kenal kamu.”

Aku mengernyit. “Loh kenapa memangnya?”

“Beliau tau kalau kamu itu dulu adalah salah satu karyawan perusahaan yang teladan. Katanya setidaknya beliau ingin mengenalmu.”

Dan aku hanya menganggukkan kepala. Aku tidak heran dengan sikap atasan Mas Rangga. yang membuatku heran adalah sikap Mas Rangga sesore ini yang membuat jantungku jedak jeduk tak menentu. Dia banyak bicara, tak seperti sebelum-sebelumnya.

Tanpa terasa, akhirnya kami sampai juga di restoran yang di maksudkan. Kami turun dari mobil kemudian masuk ke dalam restoran tersebut.

“Itu orangnya.” Ucap mas Rangga sambil menunjuk seseorang yang sedang duduk membelakangi  kami di ujung ruangan.

Kami berjalan menuju ke arah orang tersebut. Dan alangkah terkejutnya aku ketika sampai di hadapan atasan Mas Rangga itu.

Dia… Dia…. Edo.. Lelaki yang selalu berada dalam pikiranku.

Aku membulatkan mataku seketika sedangkan Edo malah menyunggingkan senyumannya di hadapan kami seakan dia tidak terkejut sama sekali dengan pertemuan kami saat ini.

“Selamat malam Pak.” Ucap Mas Rangga sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Edo.

Aku melihat Edo membalas uluran tangan Mas Rangga. “Selamat malam, jadi, ini istri kamu?” Tanyanya sambil menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Ya pak, ini Veny.” Mas Rangga memperkenalkan aku kepada Edo. Sedangkan Edo dengan santainya mengulurkan tangannya padaku.

“Edo.” Ucapnya sambil tersenyum miring.

Aku mencoba membalas uluran tangan Edo walau kini tanganku sudah gemetar.

“Veny.” Jawabku dengan suara bergetar sambil menyambut uluran tangan Edo. kemudian aku merasakan Edo yang mengeratkan genggaman tangannya pada tanganku. Seakan dia menangkap sesuatu dan tak ingin melepaskannya. Apa maksud Edo? Kenapa dia kembali pada kehidupanku saat aku mulai membuka hati untuk Mas Rangga, suamiku?

-TBC-

Missing Him – Bab 2

Comments 2 Standard

 

Bab 2

 

“Do… kita ngapain ke sini? Katanya mau Futsal?”

“Kita nyari sepatu untukku dulu.” Ucap Edo masih dengan memilih-milih sepatu yang tertata di hadapannya.

Saat ini, kami memang sedang berada di sebuah toko perlengkapan olah raga yang tak jauh dari tempat futsal yang biasa di kunjungi Edo dan teman-temannya.

Setiap seminggu dua kali, Edo pasti mengajakku, atau lebih tepatnya memaksaku ikut menemaninya pergi bermain Futsal. Alasannya masih sama, semua teman-temannya ditemani oleh kekasih masing-masing, sedangkan Edo sendiri tidak memiliki kekasih.

Kadang aku bingung, dengan wajah tampan dan kekayaan yang di milikinya, kenapa Edo belum juga memiliki pacar?? Alasannya tentu bukan karena tidak ada yang mau, karena aku cukup tau betapa banyaknya peminat Edo di sekolahan. Tak jarang gadis-gadis itu salah paham padaku, mengira jika aku adalah kekasih Edo. Yang benar saja.

Ven, ini gimana??” Tanya Edo yang sudah berdiri di hadapanku dengan sepatu baru yang di cobanya.

Astaga.. Tak perlu bertanya Do.. Kamu pakai apapun pasti terlihat tampan di mata semua wanita, termasuk aku. Lirihku dalam hati.

“Bagus.” Hanya itu jawabanku…

Edo mendengus. “Sepuluh kali aku ganti sepatu, kamu pasti Sepuluh kali bilang jika itu bagus.”

“Yee… itu emang bagus Do..”

“Oke, aku ambil yang ini. Thank you Ven,  Sayang….” ucap Edo sambl mencubit gemas pipiku.

Veny sayang??? Sayang??? Apa coba maksud Edo.

***

“Kita mau apa ke sini?” Pertanyaan Mas Rangga membuatku menoleh ke arahnya.

Entah kenapa setiap kali aku melihat sosoknya, pikiranku sontak menenang, wajahnya tampan dan kalem, sikapnya lembut, dan penampilannya sederhana, mas Rangga, bagaimana mungkin selama ini aku tak pernah melihatmu? Lirihku dalam hati.

“Ven, kamu kok malah bengong?”

“Ah.. ya, maaf  Mas, ummm… Aku mau memberikan hadiah buat Mas Rangga.” Ucapku yang kini tanpa ragu lagi menarik pergelangan tangan Mas Rangga masuk ke dalam sebuah toko jam tangan.

Kami berdua kini sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan, aku ingin membelikan Mas Rangga sesuatu, sedangkan Tasya, tentu ku titipkan ke rumah ibuku yang letaknya tak jauh dari rumah kami.

Aku masih sibuk memilihkan jam tangan untuk Mas Rangga ketika kemudian Mas Rangga menepuk bahuku.

“Kamu mau belikan Mas jam tangan?” Tanyanya dengan nada lembut seperti biasanya.

Aku hanya mengangguk, entah kenapa Hari ini Mas Rangga begitu mempengaruhiku. Apa karena ciuman panas kami tadi pagi? Ohh ayolah,  lupakan itu.. rutukku dalam hati.

“Nggak perlu Sayang, uangnya di simpan saja, Mas masih punya yang bagus kok.”

Tapi aku tidak mendengarkan ucapannya. Aku malah menyuruh seorang penjaga toko untuk mengeluarkan sebuah jam tangan yang kurasa cocok di kenakan oleh Mas Rangga.

Dengan sedikit canggung, aku memakaikan jam tangan di pergelangan tangan kiri Mas Rangga.

“Aku hanya ingin memberikan sesuatu buat Mas Rangga, sesuatu yang selalu mengingatkan Mas Rangga denganku dan juga Tasya, sesuatu yang akan selalu mengingatkan Mas Rangga untuk pulang.” Ucapku masih dengan memakaikan jam tersebut di tangannya. “Sepertinya ini cocok.” Lanjutku lagi.

Aku menatap ke arah Mas Rannga. Dia menatapku dengan tatapan anehnya. Ada apa? Apa aku salah sudah memberinya hadiah?

“Ada yang salah?” Tanyaku masih dengan tatapan bingungku pada Mas Rangga.

“Kamu yang salah Ven.”

Aku semakin bingung dengan ucapan Mas Rangga, apa maksudnya coba?

“Aku? Memangnya aku salah apa?”

“Kamu sudah membuatku jatuh semakin dalam.”

Lagi-lagi aku masih tak mengerti apa yang di ucapkan Mas Rangga.

“Jatuh semakin dalam?” tanyaku lagi masih tak mengerti.

Mas Rangga mengusap lembut pipiku, “Jatuh semakin dalam untuk mencintaimu tanpa memikirkan logika.”

Aku membulatkan mataku seketika sambil menutup bibirku yang ternganga. Apa aku sedang bermimpi? Ya, tentu saja aku sedang bermimpi, mana mungkin Mas Rangga memgucapkan kalimat cinta padaku seperti itu di hadapan banyak orang?

Dan ketika aku tersadar, aku menatap sekelilingku, banyak orang yang sedang menatap kami sambil tersenyum. Si penjaga toko pun ikut memerah melihat kelakuanku dan juga mas Rangga yang seperti ABG yang sedang menyatakan cinta di depan umum.

Astaga… dia kah Rangga yang ku kena?? Rangga si pendiam, kaku dan sederhana? Rangga yang sama sekali tidak bisa menyentuh hatiku?

Lalu kenapa kini aku merasakan perasaan itu? Perasaan seperti digelitik oleh sesuatu, perasaan seperti ada ribuan kupu-kupu dalam perutku? perasaan seperti ada sebuah Bom yang sedang berdetak di dadaku?

Apa ini tandanya Mas Rangga sudah mampu menyentuh hatiku? Sudah mampu membuatku melupakan sosok Edo?

****

Setelah membelikan Mas Rangga jam tangan, kami lantas berbelanja kebutuhan rumah. Setelah itu kami makan siang di luar. Dan kini kami sudah kembali pulang.

Aku membawa barang belanjaan ke dapur.  Sejak di toko jam tangan tadi, kami tak lagi bicara. Entahlah, aku bahkan sudah terbiasa dengan hal ini. Saling berdiam diri dengan Mas Rangga, tentu saja, dia pendiam.

Saat aku menata barang belanjaan di lemari pendingin. Tiba-tiba aku merasakan sebuah lengan melingkari perutku dari belakang.

Kaget?? Tentu saja, di rumah ini hanya ada aku dan Mas Rangga, jika ini lengan Mas Rangga tentu aku akan sangat kebingungan, sebenarnya apa yang terjadi dengannya hari ini? Apa juga yang terjadi denganku??

“Mas…” ucapku.

“Sebentar… sebentar saja, aku kangen kamu..” ucapnya kemudian yang membuat semua bulu-bulu  tipis di tengkukku berdiri meremang.

“Mas Rangga kenapa?”

“Aku kangen kamu.”

“Kita sudah bertemu setiap hari, masak masih kangen?”

“Kangen peluk kamu…” ucapnya dengan suara serak.

Dan setelah kalimat itu, aku tau jika mas Rangga menginginkan hak nya. Apa hanya itu? Lalu seperti biasa aku akan melayaninya? Berhubungan intim tanpa cinta? Jika iya, mungkin memang seperti inilah hidup yang harus ku jalani.

Lalu aku sedikit terkejut ketika tiba-tiba merasakan sesuatu yang basah menyentuh pundakku. Mas Rangga mencium pundakku. Astaga… jantungku kembali  berdebar keras  seperti tadi. Mas Rangga tak pernah melakukan ini sebelumnya, tapi kenapa ia melakukannya?

Cumbuannya naik ke leherku, dan seakan menggodaku di sana Mas Rangga meninggalkan jejak-jejak basah di sana.

“Mas…” erangku..

“Hemm..” hanya itu jawabannya.

Telapak tangannya kini bahkan sudah berada di balik baju yang ku kenakan, ia mengusap lembut payudaraku. Membuatku kembali memekik karena kelakuannya.

Mas Rangga membalik tubuhku hingga menghadap ke arahnya. Ia mengusap lembut pipiku, menyelipkan anak rambutku ke belakang telingaku. Sedangkan aku hanya bisa menunduk malu di buatnya.

Mas Rangga kemudian menangkup kedua pipiku, mengangkat wajahku hingga menatap tepat pada bola matanya. Dan aku… Aku terpesona melihat wajahnya yang entah kenapa kini terlihat begitu tampan di mataku. Matanya bahkan sudah berkabut karena gairah..

“Aku ingin melanjutkan tadi pagi….” ucapnya dengan suara serak.

“Lanjutkanlah.” Jawabku pasrah.

Aku melihat mas Rangga sedikit tersenyum. “Kali ini, aku akan melakukannya dengan cara berbeda.”

Aku mengernyit. Cara berbeda? Cara berbeda apa makasudnya?

Mas Rangga mendekatkan wajahnya ke telingaku lalu berbisik di sana.

“Kita akan bercinta.. Bukan sekedar berhubungan intim.”

Dan setelah kalimatnya tersebut, secepat kilat Mas Rangga menyambar bibirku yang masih ternganga karena ucapannya. Dia melumat habis bibirku penuh dengan hasrat, seakan menuntut sesuatu dariku.

Dan aku memberikannya, aku membalas ciumannya dengan lembut sambil mencengkeram erat kemeja yang menempel di dadanya.

Kami berdua sama-sama saling melumat penuh dengan hasrat.. penuh dengan dorongan saling memiliki satu sama lain tanpa menghiraukan lagi dinding-dinding kecanggungan yang biasanya berdiri kokoh di antara kami…

-TBC-

Missing Him – Bab 1

Comments 2 Standard

 

Bab 1

 

“Soto ayam satu Bu…” ucapku pada ibu kantin.

“Porsi banyak seperti biasa.” Aku menoleh ke sampingku dan di sana sudah duduk sosok yang selama ini selalu menemani hariku, siapa lagi jika bukan Edo.

Ini sudah  sebulan sejak kepindahanku ke sekolah baruku ini, dan selama sebulan itu, hubunganku dengan Edo mengalami kemajuan pesat. Kami sangat dekat, amat sangat dekat. Bahkan tidak sedikit yang mengira jika kami sudah jadian.

“Do, lebih baik kamu pesan sendiri gih… nggak enak di lihatin anak-anak kalau kita makan sepiring berdua terus.” Ucapku mengingatkan.

“Enggak, aku suka makan sepiring denganmu.”

Dan aku hanya menghela napas panjang.

Ven, nanti malam temani aku futsal, ya”

“Enggak, aku sibuk.” Jawabku ketus.

“Ayolah… teman-temanku ngajak pacarnya, masa aku sendiri Ven. please…”

“Kalau gitu, ajaklah pacarmu.”

“Aku nggak punya pacar Ven,  kamu tau kan?”

Dan lagi-lagi aku menghela napas panjang. Astaga, aku juga tidak mengerti kenapa aku sama sekali tak dapat menolak permintaan Edo. Edo…. entah perasaan apa yang kurasakan saat ini…

****

Aku melihat sebuah amplop tepat di hadapanku.

“Apa ini mas?” Tanyaku pada Mas Rangga yang baru saja pulang dari kantor.

“Gajihku bulan ini, kamu simpan, ya.”

“Yang kemarin masih ada, lebih baik Mas saja yang menyimpan.”

“Jangan, aku percaya kamu, Sayang, kalau Mas yang bawa nanti pasti habis.”

Aku tersenyum melihat kelakuan suamiku tersebut. Namanya Rangga  Kurniawan. Orangnya sederhana, tidak banyak bicara dan dia pekerja  keras. Aku mengenalnya saat bekerja di sebuah perusahaan. Ya, Mas Rangga adalah rekan kerjaku.

Kami tidak pernah berpacaran, karena  saat itu tiba-tiba Mas Rangga datang melamarku. Orang tuaku tentu sangat setuju dan menerima Mas Rangga. Dan entah kenapa saat itu aku pun menerimanya. Mungkin karena aku tidak tega mengucap kata “Tidak” padanya.

Kami menikah sekitar Dua tahun yang lalu. Dan selama ini hubungan rumah tangga kami baik-baik saja.

Aku melihat ke arah suamiku tersebut yang masih mengenakan kemeja kerjanya. Ia sibuk menggendong Tasya dan bercengkrama dengan puteri pertama kami.

“Mas, besok minggu, kita belanja, Ya. Aku pengen membelikan sesuatu buat  Mas Rangga.”

“Membelikan apa? Aku nggak  perlu apa-apa kok..”

“Bukan sesuatu yang istimewa, tapi sesuatu yang semoga saja dapat membuat Mas Rangga selalu mengingat aku dan Tasya.”

“Baiklah, terserah kamu saja.”

Aku tersenyum lagi. Mas Rangga memang  tak  pernah menolak  keinginanku.

***

Pagi ini masih sama dengan kemarin hari. Aku masih terbangun di dalam pelukan seorang lelaki yang yang sangat menyayangiku. Siapa lagi jika bukan Mas Rangga, suamiku.

Aku bangkit tapi kemudian tubuhku kembali di tarik ke dalam pelukan lelaki yang tadi memelukku.

“Jangan bangun dulu, Ven”

“Aku harus bangun Mas, siapa yang masak sarapan kalau aku masih di sini?”

“Kita makan di luar saja nanti kita kan akan keluar.”

Aku tersenyum “Bukannya itu pemborosan?” Tanyaku sedikit menyindirnya.

Mas Rangga semakin mengeratkan pelukannya padaku sambil terkikik geli. “Veny sayang… sesekali boros tidak apa-apa kan?”

Aku kembali tersenyum meski sebenarnya tubuhku kaku dengan panggilan lembut yang di berikan Mas Rangga padaku.

Sejak menikah, kami memang tidak pernah bermesraan layaknya sepasang kekasih. Hubungan di ranjang? Astaga.. jangan di tanya, mungkin kami melakukan itu hanya untuk kewajiban semata.

Mas Rangga tidak pernah merayu atau meminta hak nya. Ia lebih suka langsung melakukannya tanpa banyak basa-basi. Dan aku menerima begitu saja. Ya, hubungan kami memang sangat kaku. Tapi aku tidak tau sejak kapan aku merasakan perasaan aneh seperti ini.

Perasaan aneh ketika mendengar Mas Rangga memanggilku dengan sebutan sayang. Perasaan Aneh saat tiba-tiba Mas Rangga menyentuhku penuh dengan perhatian.

Ada apa dengannya? Kenapa dia berubah? Atau… hatiku kah yang sudah berubah?

“Kamu kok diam?”

“Ah.. enggak..” jawabku dengan malu-malu.

“Ven.. apa aku boleh menciummu?”

Aku mendongak seketika ke arah Mas Rangga. Pertanyaannya itu seketika membuat jantungku jumpalitan. Kenapa dia meminta ijin padaku? Dan aku hanya dapat menjawab dengan memejamkan mata.

Kurasakan bibir Mas Rangga menyapu bibirku. Menggodanya, dan aku pun tergoda. Mas Rangga mulai melumat bibirku dengan segala kelembutan yang ia miliki, seakan menuntut sesuatu dariku sedangkan aku hanya mampu membalasnya.

Mas Rangga mulai membalik tubuhku kemudian menindihku tanpa melepaskan pangutannya di bibirku. Astaga, Apa yang terjadi dengannya? Kenapa ia melakukan ini padaku? Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya.

Dan ketika ciuman kami tak juga berakhir, kami mendengar suara  tangisan bayi yang sangat nyaring. Siapa lagi jika bukan Tasya. Tasya bangun.

Mas Rangga menghentikan aksinya seketika lalu bangkit dan duduk di pinggiran ranjang.

“Tasya bangun, Ven.” ucapnya sambil mempalingkan wajahnya ke arah lain.

“Ya, mungkin sudah lapar.” Jawabku yang kini juga ikut bangun dan langsung bergegas menuju ke boks bayi tepat di sebelah ranjang besar kami.

Aku menggendong Tasya, menimangnya dan memberinya Asi, Ya.. mungkin dia lapar karena saat aku menyusuinya, dia berhenti menangis.

Tasya puteri Kurniawan. Bayi mungil yang ku lahirkan Lima bulan  yang lalu. Sangat cantik dan entah kenapa selalu mengingatkanku pada ayahnya, Mas Rangga.

“Emm..Aku mandi dulu.” ucap Mas Rangga sambil berjalan menuju ke kamar mandi.

“Mas..” panggilku yang sontak menghentikan langkahnya. “Tasya sudah bobok lagi, emm… kita nggak melanjutkan yang tadi?”

Astaga.. Bagaimana mungkin aku mengucapkan pertanyaan tersebut? Apa aku sedang menjajakan diri pada suamiku sendiri? ini gila.

“Jangan, Sayang, nanti kesiangan.” Lalu Mas Rangga kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.

Aku menghela napas panjang, dengan wajah yang merah padam karena penolakan yang di berikan oleh Mas Rangga, aku menggerutu dalam hati. ‘Tuhan… tenggelamkan saja aku ke dasar laut..’

-TBC-

Missing Him (NEW Version) – Prolog

Comments 7 Standard

 

Note : Kisah ini Telah aku perbarui. beberapa nama aku rubah, dan ada beberapa konsep yang juga aku rubah. aku berharap kalian membacanya kembali dari awal jika berkenan hahhahahah. happy readingg….

 

Tittle : Missing Him 

Genre : Roman, Married life, Hurt.

Author : Zenny Arieffka

 

Prolog

 

“Nama saya Veny Febryanti.. saya pindahan dari salah satu SMA swasta di kota  surabaya. Semoga dapat menerima saya…” ucapku dengan sedikit bergetar.

Berdiri di hadapan dua puluh dua murid kelas XII IPA dan mengenalkan diri sebagai anak baru benar-benar membuatku gemetaran.

Veny, duduklah di sebelah Edo.” Ucap Bu Imah yang menjadi wali kelasku.

Edo? Astaga… Bagaimana mungkin aku duduk di sebelah murid laki-laki?

Akhirnya aku menuruti apa yang diperintahkan Bu Imah.  Murid laki-laki yang bernama Edo itupun akhirnya berdiri dan tersenyum padaku saat aku sudah sampai di sebelahnya. Dia mengulurkan tangan sambil berkata

“Edo.”

Aku membalas uluran tangan itu dan tersenyum padanya. “Veny.” ucapku.

“Kita akan jadi teman baik.” Dia berkata sambil tersenyum tulus.

“Ya… tentu saja.” Kataku lagi.

Edo kemudian mempersilahkanku duduk. Dan aku pun akhirnya duduk nyaman di sebelahnya..

****

Itulah awal mula aku bertemu dengannya. Bertemu dengan lelaki yang sampai saat ini masih berada di hatiku…

Aku merasakan sebuah tangan menepuk bahuku. Saat aku menoleh kebelakang ternyata sosok tinggi suamiku sudah berada di sana.

“Tasya sudah bobok, Sayang?” Tanya Mas Rangga yang sudah menikahiku sejak dua tahun yang lalu.

Aku kembali menatap sosok mungil yang berada di dalam gendonganku. Puteri kecilku.

“Sudah, Mas.” jawabku.

“Cepat tidurkan, dan ayo kutemani makan, kamu belum makan malam, kan?”

Aku tersenyum. Mas Rangga memang  sangat perhatian padaku. Dan aku sangat menyayanginya. Akhirnya aku bangkit dan menidurkan Tasya di boks bayinya. Lalu mengikuti Mas Rangga menuju ruang makan dan makan malam bersamanya.

Aku menatap punggung lebar mas Rangga sambil berkata dalam hati ‘Maafkan aku mas… Aku belum dapat memberikan semua hatiku untukmu… maaf…’

-TBC-