(Mini Story) – Tatto (My Beautiful Mistress)

Comments 8 Standard

 

Haiiiiyaaaaa yang penasaran ama om Jiro nihhh silahkan merapat manjaahhhh hahhaha happy reading yaaa.. muwaahhhhh

 

(My Beautiful Mistress) – Tatto

 

Jiro

 

Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku. Tapi aku merasa jika apa yang kulakukan selama ini terhadap Ellie benar-benar kurang ajar. Meski begitu, aku tidak bisa menghentikan semuanya. Karir adalah yang utama bagiku, dan sampai kapanpun akan selalu seperti itu.

Aku memainkan kembali Bass yang ada di tanganku, sesekali pikiranku melamunkan kejadian kemarin malam. Saat dengan berengseknya aku pergi meninggalkan Ellie begitu saja setelah mendapatkan apa yang kumau.

Sial!

Kemarin adalah Natal, dan aku membiarkan Ellie merayakan natalnya sendiri di negeri ini, negeri yang cukup asing baginya. Seharusnya aku menemaninya. Toh, The Batman tidak memiliki acara, Band ini masih belum terkenal, tapi aku menjadikan alasan kesibukan untuk meninggalkannya.

Aku masih ingat dengan jelas saat bagaimana Ellie menatapku dengan mata wajah sendunya. Ekspresinya sedih, tapi dia masih tetap menyunggingkan senyumannya, seakan-akan dia rela diperlakukan seperti seorang simpanan untuk kebaikannya.

Astaga, bagaimana mugkin ada wanita sebaik itu?

Nada yang kumainkan salah, total! Dan personel lainnya menghentikan aksinya lalu menatapku penuh tanya.

“Ada masalah?” Jason bertanya.

“Ya. Sedikit.” Jawabku.

Lalu mereka diam, saling pandang kemudian menghentikan latihan kami. Ya, diantara yang lain, memang hanya aku sendiri yang sedikit misterius. Mereka tak ada yang mengenalku secara dekat.

Maksudku, Ken, Jase dan Troy memang sudah berteman dan mendirikan The Batman sejak SMA, mereka baru mengenalku Dua tahun yang lalu. Saat mereka  baru memasuki sebuah dapur rekaman, dan management mereka memilihku untuk gabung bersama dengan The Batman. Sejak saat itulah aku menjadi teman mereka, menjadi bagian keluarga besar The Batman. Dan sejak saat itu, aku berambisi untuk membawa The Batman pada puncak kesuksesan.

Meski begitu, aku tak serta merta menceritakan semua tentang diriku pada mereka. Awalnya, aku ingin menceritakan tentang pernikahan kilatku dengan Ellie, tapi setelah kupikir-pikir lagi, sepertinya lebih sedikit orang yang tahu, maka lebih baik.

Maka, hanya segelintir orang saja yang kutahu, seperti, asisten pribadiku yang memang sudah sangat lama sekali bekerja dengan keluargaku, dan juga kepala management The Batman.

Aku ingin, mereka tak mengetahui apapun tentang Ellie, bukan karena aku ingin terlihat seperti pria lajang, tapi karena aku tak ingin hubungan pribadiku terekspos media. Lagi pula, sepertinya tidak penting juga membahas tentang statusku.

Kembali lagi pada Jase, Ken dan Troy. Ketiganya malah segera duduk di sofa yang tersedia saat mereka memilih mengakhiri latihan.

“Kita nggak jadi latihan?” tanyaku yang masih berdiri dengan Bass di tanganku.

“Elo kayaknya banyak pikiran. Mending tenangin diri dulu, musiknya juga bakal nggak nyambung kalau yang main pikirannya kemana-mana.” Ken menjawab. Ya, Ken benar.

“Terus, kita ngapain?”

Troy melompat bangkit. “Gue mau pasang tato, ada yang mau ikutan?” tawarnya.

Jason ikut bangkit. “Gue juga. Gue ikut.” Ucapnya.

“Ken, elo?” tanya Troy.

Ken hanya mengangkat kedua bahunya. “Gue sudah kemaren.”

“Sialan! Cuma dua doang.” Umpat Troy sembari mengejek.

Ya, diantara kami,  memang hanya Ken yang paling simpel. Tidak bajingan, dan paling setia. Ken hanya memiliki dua tato. Satu tepat di bawah tulang rusuk kirinya, bergambar sepasang mata cantik, mata kekasihnya. Dan satu lagi di pergelangan tangan kirinya tepat di atas nadinya, tato dengan huruf latin yang nyaris tak bisa terbaca, Kesha Kirana.

Aku tidak tahu, bagaimana mungkin Ken mengukir nama seorang wanita di tubuhnya. Maksudku, mereka hanya pacaran. Apa sedalam itu cinta yang dimiliki Ken untuk kekasihnya? Bagaimana jika mereka putus? Apa Ken akan  menghapus tatonya?

“Kalau elo? Nggak mau ikut?” tanya Troy padaku.

Aku yang sempat melamunkan tentang Ken akhirnya menjawab dengan spontan, “Ya, gue ikut.”

Entah apa yang membuatku berpikir untuk ikut dengan Troy, bahkan berpikir mengukir nama Dia di tubuhku. Astaga, apa aku sudah segila Ken? Yang benar saja.

***

Akhirnya, aku benar-benar mengukir namanya di tubuhku. Lebih menggelikan lagi bahwa aku menuliskannya tepat di dada kiriku. beruntung, sedikit banyak aku mengetahui tentang huruf Yunani kuno, jadi aku menuliskannya dengan huruf itu.

Jason, Troy maupun Ken tak akan mengerti apa yang sengaja kuukir di dadaku. Bahkan aku sendiri tak mengerti kenapa aku melakukan hal semenggelikan ini.

Dan sampai kapanpun, aku tak akan mengatakannya pada siapapun, apa makna dari tatoku ini.

Aku berdiri di depan cermin yang tersedia di tempat pembuatan tato itu. Menatap goresan tinta hitam yang baru saja selesai di dada kiriku, dan aku tersenyum.

Ellie, entah apa yang membuatku begitu menginginkan wanita itu. Tubuhnyakah? Mungkin saja. Tapi lebih dari itu, aku hanya ingin, bahwa ada sebagian dari dirinya menjaga kewarasanku, membuatku mampu mengendalikan ambisiku yang tak masuk akal, dan membuatku berpikir untuk pulang.

Karena itulah, aku menuliskan namanya di sini, di dada kiriku.

***

Sampai di apartmen, aku segera menghubungi Ellie. Entah kenapa ingin rasanya mendengar suara wanita itu. Aksen inggrisnya yang sangat kental, caranya mengucapkan bahasa indonesia yang masih terpatah-patah, oh, aku sangat menyukainya.

Panggilanku diangkat pada deringan kedua. “James, kamu menelepon?” Elie terdengar senang. Sesenang itulah ia mendapatkan telepon dariku?

“Ya, bagaimana kabarmu?” tanyaku.

“Baik, kamu sendiri?” tanyanya.

“Aku juga baik.” Hanya itu yang bisa kujawab. Entahlah, aku memang tak pandai berkata-kata.

“James, aku suka dengan hadiah natal yang kamu berikan.”

Aku mengerutkan keningku. “Hadiah?” tanyaku. Aku bahkan lupa jika sudah memberinya hadiah.

“Ya. Kalung itu, aku menyukainya.” Jawab Ellie.

Ahh ya, kalung. Aku memang sempat meninggalkan hadiah natal di atas meja saat meninggalkan Ellie malam itu. Hadiah itu berupa kalung, dengan bandul sebuah cincin yang di dalamnya terukir nama Mrs. Robberth.

Ya Tuhan! Ada apa denganku? Kenapa aku bisa semenggelikan itu?

“Lupakan saja, itu hanya kalung biasa.” Akhirnya aku menjwab seadanya. Aku tak tahu harus bersikap seperti apa, karena aku sendiri tak mengerti apa yang sudah kurasakan.

“Baiklah.” Ellie terdengar sedih. “Kamu tidak pulang? Kapan pulang?”

Pulang? Demi Tuhan! Aku  ingin. Astaga, menyentuhnya tak akan membuatku bosan. Bahkan aku seakan tak ingin berhenti. Tapi di sisi lain, aku tahu bahwa aku tak bisa seperti itu terus. Ada mimpi yang harus kukejar, ada sebuah keinginan besar untuk berada di puncak kepopuleran, dan hal itu harus kubayar dengan harga yang cukup mahal, yaitu mengabaikan istriku yang begitu cantik menggoda.

“Tidak. Mungkin aku pulang minggu depan.”

“Kamu sibuk?”

“Ya. Sangat.” Aku bohong. Tak ada kesibukan. The Batman bukanlah band yang terkenal saat ini. jadi aku tidak sesibuk yang kukatakan. Bahkan sekarang saja aku bisa pulang, tapi aku tak ingin. Aku tidak bisa bukan karena aku benci pulang, hanya saja…….

“Baiklah, aku akan menunggumu minggu depan, James.”

Aku memejamkan mataku frustasi.

Brengsek!

Bajingan!

Aku benar-benar seorang bajingan!

“Baiklah, Ellie. Aku akan menutup teleponnya. Cepat tidur.”  Dan sebelum dia membalas ucapanku, telepon kututup.

Sempurna.

Aku benar-benar bajingan bukan? Ya, biarlah, aku tak peduli. Untuk sementara, aku akan memerankan peran seperti ini dulu dengan Ellie. Dia akan menjadi simpananku, aku tahu dia akan menerimanya.

Meski ada sebuah rasa aneh yang menghhantamku ketika memperlakukannya dengan tidak adil, tapi aku berjanji jika akan memperhatikannya dari jauh. Ellie tak akan kekurangan apapun, Ellie akan baik-baik saja karena aku menjaganya dari jauh.

Sedangkan aku sendiri, aku tak akan khawatir dengan perasaanku, dengan rasa rinduku. Ellie sudah menyatu denganku, dia begitu dekat dengan jantung dan hatiku, dan dia akan selalu menjadi sosok yang mengingatkanku untuk pulang.

Ya, pulang kepadanya…

Aku menyandarkan tubuhku pada sandaran sofa, memejamkan mataku, sedangkan jemariku merayap, mendarat pada  nama Ellie yang terukir di dada kiriku…

Ellie, maafkan aku….. Aku akan pulang, aku janji… bisikku dalam hati.

 

-End-

 

Advertisements

(Mini Story) – Wedding Day (Sleeping with my Friend)

Comments 9 Standard

Haiiii mini story tentang Steve dan Jess nihhh… ingat yaaa Scene mini Story ini gak ada di dalam novel…. hahhahahhaa happy reading… muwaahhhh

 

 

(Sleeping with my Friend) – Wedding Day

 

Jessica Summer

 

“Mencintai dalam susah maupun senang, sehat maupun sakit, akan tetap bersama hingga maut memisahkan.”

Ucapan Steve membuatku tersenyum. Aku senang mendengarnya mengatakan kalimat tersebut, ketika aku berada di sisinya. Meski sebenarnya, aku tahu, bahwa hal ini hanya untuk latihan drama disekolah yang akan diselenggarakan akhir bulan nanti.

Ya, kami didaulat menjadi pemeran utama. Steve sangat senang. Ia tampak antusias, begitupun denganku.

Sudah sejak lama aku memendam perasaan ini pda Steve, temanku. Aku tidak tahu, hal ini terjadi sejak kapan. Intinya, aku tak berhenti berdebar ketika dia berada di sekitarku. Steve mampu mempengaruhiku, Steve mampu membuatku salah tingkah.

Dengan polos, aku pernah menceritakan hal ini pada Frank, dan Frank berkata kemungkinan besar aku sedang jatuh cinta. Cinta pertamaku jatuh pada seorang Steven Morgan. Temanku sendiri. Astaga, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya.

Steve kemudian mengecup keningku, dan semuanya bertepuk tangan. Latihannya sudah berakhir, tapi aku masih merasakan kehangatan dari perkataan Steve tadi. Oh, andai saja hal ini benar-benar terjadi. Menikah dengan Steve? mungkin aku akan menjadi wanita yang paling bahagia di muka bumi ini.

***

Tiga hari berlalu….

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa tiba-tiba Steve bersikap aneh terhadapku. Dia sedkit menjauhiku, dan aku tidak tahu, apa salahku.

Aku menghampirinya ketika kami berada di rumahnya. Mencoba bersikap natural seperti tak terjadi apapun, dan dengan begitu menyebalkan, Steve menghindariku.

Astaga, apa yang terjadi dengannya?

Akhirnya aku mendekatinya lagi, kemudian aku bertanya “Apa yang terjadi denganmu?”

Steve menjawab. “Tak ada.”

“Kau menghindariku, aku merasakannya.”

Steve memutar bola matanya jengah. “Dengar, Jess. Sebenarnya aku tak ingin mengatakan hal ini padamu. Tapi Frank sudah mengatakannya padaku, bahwa kau, kau menyukaiku?”

“Astaga!” aku berseru keras. Tak percaya bahwa Frank akan mengkhianatiku.

“Kami minum saat itu, dia mabuk dan dia meracau.”

“Kalau begitu jangan percaya apa yang dikatakannya.”

“Orang mabuk biasanya mengatakan hal yang sebenarnya.”

“Tapi tidak dengan Frank! Dia gila!” aku mencoba mengelak. Ya Tuhan Frank! Aku tak akan memaafkannya.

“Maksudmu, kau… Kau… tidak memiliki perasaan lebih terhadapku, bukan?”

“Tentu saja Tidak! Kau bukan tipeku, Morgan!” Ya, aku harus berbohong, jika hal itu mengembalikan sikap Steve kapadaku. Pertemananku dengan Steve terlalu berharga untuk dikorbankan dengan perasaan cinta.

Lagipula, kupikir perasaan ini hanya sementara. Semua akan hilang dengan berjalannya waktu. Tapi aku tidak ingin pertemananku dengan Steve hancur karena masalah ini. aku rela memendam semuanya asalkan hubungan kami kembali normal. Aku tidak ingin Steve menghindariku lagi.

Steve tertawa lebar. Aku tahu bahwa dia lebih memercayaiku ketimbang Frank, dan aku bersyukur karena hal itu. Dia kembali, Steveku telah kembali…

“Dan kau juga bukan tipeku, Miss Summer.” Steve berucap dengan santai. Meski dia berkata diiringi dengan senyuman lebarnya, tapi tetap saja, aku tersakiti karena perkataannya.

“Kau tahu, aku lebih suka gadis pirang. Dan tentunya, berpayudara besar.” Lagi perkataan Steve seakan seperti tombak yang menghancurkan hatiku. Aku tak memiliki rambut pirang. Mungkin aku bisa mendapatkannya dengan cara mewarnai rambutku, tapi itu tak bisa menarik hati Steve, karena akupun tak memiliki sepasang payudara besar seperti apa yang dia katakan.

“Aku tahu.” Aku bersungut-sungut.

Steve lalu menangkup kedua bahuku, menghadapkan diriku ke arahnya. Kemudian dia berkata dengan sungguh-sungguh. “Jess, kau mungkin bukan tipe wanita yang ingin kukencani, tapi percayalah, hanya kau wanita yang paling special yang pernah kukenal. Kau selalu menempati salah satu tempat di sudut hatiku, dan tempat tersebut tak akan tergantikan oleh siapapun.”

Aku kembali menghangat dengan ucapan Steve. Steve benar, meski aku bukan tipenya, meski aku tak akan pernah menjadi teman kencannya. Tapi aku cukup senang dengan status kami. Dengan kedekatan kami. Ya, aku cukup senang dengan hal itu…..

***

Semua kejadian itu sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu. Aku tak menyangka jika kini, hari itu benar-benar terjadi. Hari dimana aku akan menikah dengan temanku sendiri, Steven Morgan.

Semua berawal ketika aku menghabiskan sebuah malam dengan Steve, kemudian aku hamil. Mungkin pernikahan ini hanya karena kehamilanku. Mungkin Steve melakukan semua ini karena kewajiban bertanggung jawab terhadapku maupun dengan bayiku, tapi bolehkah aku bahagia karena hal ini? karena kejadian tak masuk akal ini?

Mataku tak berhenti menatap ke arah Steve. saat ini, dia sedang berdiri di atas panggung dan memberikan kata sambutan. Menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan.

“Dulu aku berkata bahwa Jess bukanlah tipe wanita yang ingin kukencani. Ya, itu memang benar. Bahkan hingga kinipun sama. Karena Jess bukan wanita yang ingin kukencani, tapi dia adalah wanita yang ingin kunikahi.”

Suara tepuk tangan meledak setelah ucapan Steve itu. Wajahku memanas seketika. Aku tahu bahwa Steve mengatakan hal itu agar terlihat manis saja. Dia tak ingin  menikahiku jika bukan karena bayi ini. tapi aku tetap menikmati sandiwaranya. Bagaimanapun juga, dia memang terlihat manis.

Entah, dia berkata apa lagi, aku tak tahu, dan aku tak ingin tahu. Aku hanya takut perasaanku yang dulu sudah pupus kembali tumbuh untuknya. Steve bukanlah lelaki yang cocok untuk dicintai. Bahkan aku yakin, dia tidak mengenal apa itu cinta. Aku hanya tidak ingin mengalami patah hati lagi seperti beberapa tahun yang lalu. Jadi aku memilih menjaga diriku agar tidak jatuh terlalu dalam pada seorang Steven Morgan.

Kemudian, tanpa kuduga, Steve bernyanyi. Ya ampun, apa yang sedang dia lakukan? Setahuku, Dia tidak memiliki suara bagus, bahkan sejak dulu, Steve paling benci menyanyi. Tapi kini, dia menyanyi, untukku? Tidak! Itu tidak mungkin! (Kalian bisa putar lagu dibawah sambil baca. ini lagu yg dinyanyiin Steve)

I found a love for me

Darling just dive right in

And follow my lead

Aku tak menyangka dia menyanyikan lagu itu. Ini adalah salah satu lagu favoritku. Dan Steve menyanyikannya di sini, dihadapan semua orang, pada pernikahan kami.

Well I found a girl beautiful and sweet

I never knew you were the someone waiting for me

Steve turun dari panggung dan dia menuju ke arahku.

‘Cause we were just kids when we fell in love

Not knowing what it was

I will not give you up this time

Dia menarikku agar berdiri dan akupun ikut berdiri bersamanya. Musik mulai mengalun dengan lembut mengiringi lagunya. Jemari Steve terulur mengusap lembut pipiku. Dia kembali bernyanyi.

But darling, just kiss me slow, your heart is all I own

And in your eyes you’re holding mine

Steve mulai mengajakku menari. Kaki kami bergerak seirama dengan musik yang mengalun lembut dan terdengar romantis. Steve tetap melanjutkan lagunya, dan aku benar-benar tak menyangka jika dia bisa menyanyi dengan begitu baik seperti ini.

Baby, I’m dancing in the dark with you between my arms

Barefoot on the grass, listening to our favorite song

When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath

But you heard it, darling, you look perfect tonight

Pada saat itu, kening Steve menempel pada keningku. Bahkan setelah dia menyelesaikan bait terakhir, sekilas dia menyapu lembut bibirku, hanya sekilas tapi itu mampu membuatku bergetar. Suara tepuk tangan pecah. Tapi aku tak menghiraukannya.

Aku lebih fokus dengan debaran jantungku. Dan entah perasaanku saja atau memang benar bahwa Steve juga sama berdebarnya dengan apa yang kurasakan. Oh Tuhan! Tidak! Ini tak bisa seperti ini.

Jika Steve selalu memperlakukanku dengan semanis ini, maka perasaanku yang dulu akan kembali tumbuh. Atau, apa memang perasaan itu sudah tumbuh tanpa kusadari?

Astaga, apa yang harus kulakukan selanjutnya?

Bagaimana ini?

Aku…. Astaga…. Apa benar, bahwa aku… Aku sudah kembali mencintainya?

-End-

Bonus Pict

 

 

 

 

 

(Mini Story) – Natal Pertama (My Beautiful Mistress)

Comments 10 Standard

 

Dislaimer : Haiii… ini dia mini story pertama yang aku Posting di blog aku, dan hanya di blog yaa… mungkin nanti bakal aku convert dan aku jual juga di google play, tapi aku jamin, di blog gak akan aku hapus mini story ini. INFO juga, cerita ini TIDAK ada di dalam novel my beautiful mistress sendiri. jadi kayak cerita ini itu Oneshoot atau side story cerita utama my beautiful mistress gitu yaa.. hahhaahhaah  dan betewe, aku juga bakal bikin mini story cerita lainnya, entah ceritanya kak Dhanni, Renno, Brandon, atau yang lainnya. jadi biar Blog aku kembali seperti suasana dulu, rame dan asikk.. okee…. ya sudah, happy reading….

 

(My Beautiful Mistress) – Natal  Pertama

 

Aku masih duduk tepat di depan jendela. Kulihat hujan tak berhenti turun. Jika ini di inggris, mungkin salju yang turun. Astaga, aku merindukan salju. Besok adalah natal pertama yang kulalui tanpa kedua orang tuaku.

Beberapa bulan yang lalu, aku menikah dengan seorang yang tak kukenal. Namanya James Drew Robberth. Seorang yang cukup pendiam, dan bagiku sedikit misterius. Kahidupan pernikahan kami biasa-biasa saja awalnya, tapi kemudian, semua menjadi tak normal ketika James memutuskan untuk pindah ke apartmen yang baru ia beli.

Semua karena ambisinya menjadi seorang artis. Ia tidak ingin hubungan pernikahan kami terendus oleh media. Karena James juga memiliki kontrak dengan pihak managementnya. Dan yang bisa kulakukan hanya menerimanya saja. Toh, aku masih tetap menjadi istrinya.

Bicara tentang James, sebenarnya, aku tak menyesal menikah dengannya. Walau dingin, pendiam dan terkesan tak peduli, James adalah sosok yang baik. Dia memenuhi apapun yang kuinginkan, dia memberiku segala fasilitas layaknya aku seorang ratu. Dan dia sangat tampan.

Aku terpesona pada pandangan pertama dengannya. Jantungku selalu berdebar tak karuan saat berada di dekatnya. Dan hal itulah yang membuatku bertahan di sisinya, meski sebenarnya kini hubungan kami jauh dari kata normal.

James hanya akan pulang ketika dia membutuhkan sebuah pelepasan. Setelah itu dia pergi lagi. Dia bahkan tak pernah tidur di rumah ini. mungkin jika tidur, dia memilih tidur di kamar lain atau mungkin di sofa.

Aku tak tahu apa yang terjadi dengannya, apa yang dia rasakan padaku. Kenapa dia seolah menghindariku. Dan hal itulah yang membuatku sedih.

Aku merasa sendiri, aku merasa diabaikan, aku merasa dicampakan, tapi disisi lain, aku merasa bahwa James begitu perhatian padaku.

Kini, Natal pertamaku di negeri ini, dan James belum pulang sejak dua hari yang lalu. Apa dia sibuk?

Kupikir, Bandnya belum cukup terkenal, jadi sepertinya dia tidak sedang sibuk. Ingin sekali aku menghubunginya, tapi James selalu berpesan padaku bahwa aku tidak boleh menghubunginya sebelum dia sendiri yang menghubungiku.

Aku merasa sendiri…

Aku merasa kesepihan…

Tuhan, apa yang harus kulakukan?

Akhirnya aku memilih bangkit dari tempat dudukku. Aku masuk, menuju ke arah kamar. Di dalam kamar terdapat sebuah pohon natal kecil, di ujung ruangan. Aku tersenyum melihatnya.

James yang membelikannya beberapa saat yang lalu, dia tahu bahwa aku cukup religius mengingat ayahku adalah seorang pendeta. James bahkan menyediakan sebuah tempat di sudut rumah ini yang ia sebut sebagai gereja pribadiku. Ya, dia bahkan menghiasnya dengan patung Yesus dan sejenisnya. Hal-hal seperti itulah yang kadang membuatku bingung dengan sikapnya. Dia baik, tapi kadang, aku merasa dia tak cukup adil memperlakukan diriku sebagai istrinya.

Aku kembali menghela napas panjang. Kakiku menuju ke arah lemari dan mencari pernak pernik natal untuk menghias pohon natal mungil di sudut kamarku.

Sesekali aku bersenandung, membayangkan bahwa natal tahun ini sama seperti natal sebelum-sebelumnya. Bahwa aku masih berada di Inggris, dengan kedua orang tuaku, dan aku masih sendiri. Belum memiliki suami, belum memiliki James.

Ya, karena itulah yang sedang kurasakan saat ini. Sendiri dan sepi….

Jingle bells, jingle bells

Jingle all the way!

Aku mulai bersenandung, kupasangkan pernak-pernik natal pada pohon cemara buatan yang mungil. Seakan menghibur diriku sendiri saat kesepihan melanda.

Oh what fun it is to ride in a one-horse open sleigh

Jingle bells, jingle bells

Jingle all the way!

Oh what fun it is to ride in a one-horse open sleigh

Meski lagunya adalah lagu ceria, tapi entah kenapa aku merasakan kesedihan yang amat dalam. Aku kesepihan, sangat kesepihan di malam natal ini.

Dan setelah aku membohongi diriku sendiri dan mencoba bersikap kuat, pertahananku runtuh.

Aku terduduk di dekat pohon natal. Memeluk lututku sendiri, kemudian menangis.

Aku kesepihan…

Aku merindukan ibu dan ayah…

Dan aku merindukan James…

Kenapa dia tidak pulang?

***

Rupanya, aku menangis hingga tertidur di sana. Sedikit terkejut saat aku bangun dan sudah berada di atas ranjangku. Yang lebih mengejutkan adalah bahwa tubuhku sudah polos tanpa sehelai benangpun dan hanya tertutup oleh selimut tebal.

Dalam sekejap mata, aku merasakan seseorang menindihku. Dia James, dia pulang. Dan aku senang.

James hanya menatapku, dan aku tersenyum.

“Kamu pulang, James.”

“Ya.” Hanya itu jawabannya.

Tanpa kuduka, James menundukkan kepalanya, dia menciumku. Bukan ciuman yang lembut, tapi aku cukup mengerti bahwa ciuman itu adalah tanda jika dia sedang menginginkanku.

Dan benar saja, tak lama kemudian, James menyatukan diri. Yang bisa kulakukan hanyalah menggigit bibir bawahku. Aku ingin mengerang, tapi aku cukup malu melakukannya. Seks yang kulakukan dengan James biasanya memang hanya seperti ini. Dia lelaki panas yang mampu menggoda siapa saja, tapi aku cukup malu mengakui apa yang kurasakan. Hubunganku dengan James tidak sedekat itu, tidak seintim itu. Kami bahkan jarang saling berbicara.

James mulai menggerakkan tubuhnya, menghujam lagi dan lagi, dan yang bisa kulakukan hanya diam. Aku sudah cukup senang saat dia senang, aku sudah cukup senang saat dia pulang kepadaku. Aku tak akan menuntut lebih karena aku…. Aku mencintainya..

Astaga, entah sejak kapan aku merasakan perasaan ini. Tapi Ya, aku mencintainya. Mencintai James Drew Robberth, lelaki yang sering mengabaikanku, lelaki yang sering membuatku sedih, lelaki yang berstatus sebagai suamiku. Aku mencintainya, meski aku tak yakin, apa yang dia rasakan terhadapku.

Entah sudah berapa kali James memuaskan diri, aku tak peduli, yang kupedulikan hanyalah kewajibanku terhadapnya, untuk membuatnya senang, untuk memuaskannya. Hingga ketika James memutuskan untuk berhenti, aku terkulai lemah tak bertenaga.

Rasa kantuk tiba-tiba menyergapku. Samar-samar kulihat James bangkit, dia memunguti pakaiannya sendiri, mengenakannya. Dan aku hanya bisa tersenyum.

Dia akan pergi lagi…

Dia datang hanya untuk meminta haknya…

Setelah itu dia pergi lagi…

Aku memejamkan mataku, menghentikan bulir air mata agar tidak tumpah dari pelupuk mataku. Lagi pula, aku sudah sangat lelah. Aku ingin tidur, dan mungkin bangun dua hari setelahnya.

Mataku mulai terpejam, dalam kegelapan aku merasakan bibir James menyapu keningku, lalu dia berucap dengan lembut…. “Selamat Natal, Ellie, istriku.”

Aku hanya tersenyum, tak ingin membuka mata karena aku takut jika ini semua hanya mimpiku. Air mataku jatuh dengan sendirinya. Mungkin benar itu hanyalah mimpi, tapi aku tahu bahwa itu akan menjadi mimpi terindah untukku.

Kemudian aku memposisikan diri senyaman mungkin, kembali tertidur dan kembali bermimpi indah. Natal pertama setelah menjadi istri James, ternyata tidak buruk. Aku memang sendirian di negeri ini, aku kesepihan, tapi aku memiliki James, dan James membuatnya indah dengan caranya sendiri.

Selamat Natal, James. Aku mencintaimu….

-End-