My Beautiful Mistress – Bab 17

Comment 1 Standard

 

Bab 17

 

Jiro semakin memperdalam cumbuannya, tubuhnya semakin mendekat menempel sepenuhnya pada tubuh Ellie. Kejantanannya menegang, berdenyut nyeri menahan desakan gairah yang luar biasa. Tak pernah Jiro merasa seingin ini memiliki seorang wanita, hanya Ellie yang membuatnya seperti ini, hanya wanita itu, istrinya.

Masih dengan bibir yang saling bertaut satu sama lain, Jiro membantu Ellie melepaskan blouse dan bawahan yang dikenakan oleh wanita itu. Ellie tidak membantah maupun menolaknya, hal itu semakin membuat Jiro senang. Jiro ingin menguasai tubuh wanita mungil di hadapannya ini, Jiro ingin menguasai semua isi didalam hati wanita ini.

Jiro lalu melepaskan tautan bibir mereka saat ia merasakan napas Ellie mulai habis karena ulahnya. Ia menatap tajam ke arah wanita yang terengah kehabisan napas di hadapannya tersebut. Sedikit tersenyum, Jiro mulai melucuti pakaiannya sendiri. menarik kausnya ke atas melewati kedua belah telapak tangannya dan juga kepalanya, hingga Jiro hanya bertelanjang dada dengan celananya saja.

Jiro kembali menatap Ellie. Tubuh wanita itu tampak begitu indah. Kehamilannya membuat Ellie tampak mempesona. Dengan cekatan Jiro membantu Ellie melepaskan bra yang dikenakan istrinya itu, hingga dalam sekejap mata, Ellie sudah polos hanya berbalutkan celana dalamnya saja.

Keindahan Ellie benar-benar membuat Jiro tak mampu bertahan. Dengan spontan ia menundukkan kepalanya, mendaratkan bibirnya pada tulang selangka Ellie yang tampak begitu indah di matanya. Jiro mengecupnya lembut, memuja keindahannya, hingga membuat Ellie memejamkan matanya seketika.

“Ya Tuhan! Kamu benar-benar indah, Sayang…” Jiro mengerang diantara kekaguman yang ia rasakan.

Ellie sendiri hanya bisa pasrah ketika Jiro tampak begitu memuja tubuhnya. Ellie merasa begitu dicintai, hingga yang bisa ia lakukan hanya pasrah dengan sesekali mengerang karena godaan yang diberikan Jiro padanya.

Jiro merayap turun, hingga bibir lelaki itu berhenti pada puncak payudaranya. Ellie mengerang seketika saat Jiro mulai menggodanya, mengirimkan kembali getaran panas yang bersumber dari bibir lelaki tersebut.

Oh, Jiro begitu panas, membuat Ellie tak kuasa untuk mengalungkan lengannya pada leher Jiro. Ellie berusaha untuk membuat Jiro agar tak menghentikan apa yang lelaki itu lakukan. Ellie sangat menyukainya, ketika bibir lelaki itu membelai kulitnya, menggoda setiap inchi dari tubuhnya hingga bergetar dan siap untuk dipuaskan.

Ellie mengerang tak tertahankan saat jemari Jiro mengusap lembut perutnya, kemudian dengan nakal jemari itu merayap turun, menelusup masuk ke dalam panty yang ia kenakan. Ya Tuhan! Jiro kembali menggodanya, menggoda dengan bibir dan juga jemari nakal lelaki tersebut.

Ellie melemparkan kepalanya ke belakang, kakinya seakan tak mampu berdiri dengan sendirinya, ia merasa lemas dengan hantaman gairah yang diberikan oleh Jiro lagi dan lagi. Hingga kemudian, Ellie merasa tak sanggup menahannya lebih lama lagi.

“James, Astaga…” erangnya dengan suara tertahan.

Jiro menghentikan aksinya, ia menatap dengan intens ekspresi keenakan yang terpampang jelas di hadapannya. Wajah Ellie memerah, entah karena gairah, atau karena yang lainnya. Mata biru wanita itu tampak berkabut, bibirnya ternganga, terengah karena napas yang tak beraturan. Hingga Jiro tak mampu untuk tidak menyambar bibir tersebut.

Jiro melumat habis bibir Ellie. Jemarinya dengan nakal melepas paksa sisa kain yang membalut tubuh istrinya tersebut. Hingga kini, Ellie sudah berdiri polos tanpa sehelai benangpun.

Masih dengan mencumbu bibir Ellie, Jiro melanjutkan aksinya, mendorong tubuh Ellie sedikit demi sedikit hingga sampai pada ranjang mereka. Jiro membaringkan Ellie di sana, kemudian melepaskan tautan bibir mereka.

Mata Jiro kembali menatap Ellie dengan intens. Sial! Jiro tak akan pernah bosan untuk mengagumi keindahan yang terpampang sempurna di hadapannya.

 

Jiro kemudian bangkit, melucuti sisa pakaian yang membalut tubuhnya sendiri, lalu ia kembali pada Ellie, dan berbisik pelan pada wanita itu.

“Bolehkah aku memulainya?”

Ya Tuhan! Jiro tak pernah melakukan ini sebelumnya, meminta izin dengan begitu lembut pada Ellie. Ellie tak bisa berbuat banyak, ia tidak mungkin menolak Jiro ketika gairahnya sendiri saja sudah sulit untuk dikendalikan. Akhirnya yang bisa Ellie lakukan hanya mengangguk, dan menjawab “Ya. Lakukanlah.”

Jiro tersenyum simpul. Tanpa banyak bicara lagi, ia mulai memposisikan diri untuk menyatu dengan Ellie. Mendesak pelan tapi pasti, hingga kemudian, tubuh mereka menyatu dengan begitu sempurna.

Ellie merasakan kenikmatan yang luar biasa saat Jiro terasa penuh mengisinya, sedangkan Jiro, ia memilih mengendalikan diri agar bisa mengontrol gairahnya yang semakin menggebu saat merasakan Ellie terasa sesak menghimpitnya.

Jiro kembali membungkukan badannya, jemarinya mengusap lembut pipi Ellie, lalu bibirnya sesekali mengecup singkat bibir Ellie. Sedangkan yang dibawah sana tak berhenti bergerak, memompa seirama, mencari kenikmatan dan juga memberikan kenikmatan pada sang empunya.

Di satu sisi, Jiro tak ingin segera mengakhiri percintaannya dengan Ellie. Ia masih ingin memuja setiap inchi dari tubuh istrinya tersebut, Jiro masih ingin mencumbu bibir lembut Ellie yang seperti ceri. Tapi di sisi lain, Jiro tak dapat menahan gairahnya terlalu lama. Ia ingin segera meledak kemudian memulainya lagi dengan Ellie. Dan sepertinya, pemikiran terakhir tersebut menjadi pilihan Jiro.

Tak menunggu lama lagi, Jiro mulai menaikkan ritme permainannya. Bibirnya kembali mencumbu bibir Ellie, melumatnya dengan panas. Pergerakannya semakin cepat, menghujam lagi dan lagi, hingga kemudian, Jiro merasakan Ellie menegang, kewanitaannya mengencang, mencengkeram dengan erat, dan erangan tertahan oleh wanita itu menandakan bahwa Ellie baru saja sampai pada puncak kenikmatannya.

Jiro masih bergerak, lebih cepat dari sebelumnya, mencari kenikmatan untuk dirinya sendiri, hingga tak lama, ia menyusul Ellie sampai pada puncak kenikmatan tersebut.

Jiro menggeram saat bukti cintanya penuh mengisi Ellie, napasnya memburu, begitupun dengan napas Ellie. Keringatnya bercucuran, padahal kamarnya tentu berAC. Sesekali Jiro masih mengecubi bibir Ellie, pipi wanita itu, hingga kemudian ia berinisiatif untuk menarik diri dan menggulingkan tubuhnya ke samping Ellie.

Jiro mendesah panjang. Ia masih mengontrol diri dari gelombang gairah yang baru saja menghantamnya.

Jiro menolehkan kepalanya ke arah Ellie, wanita itu masih terengah, masih kelelahan karena orgasme yang baru saja menghantamnya. Lalu Jiro berinisiatif untuk bangkit meraih kotak tissue yang berada di atas nakas, menarik beberapa lembar untuk membersihkan dirinya, lalu menarik lagi beberapa lembar untuk membersihkan diri Ellie dari sisa-sisa percintaan panas mereka.

Ellie berjingkat seketika saat Jiro kembali menyentuhnya. Ia menatap penuh tanya pada lelaki di sebelahnya.

Jiro sendiri hanya tersenyum dan berkata “Aku akan membersihkanmu.”

“Aku, aku bisa sendiri.” jawab Ellie dengan gugup. Sungguh, tak pernah Jiro melakukan hal seintim ini padanya.

“Jangan. Aku ingin melakukannya untukmu.”

Ya Tuhan! Ellie merasa luluh lantak karena perlakuan lelaki ini. Pada akhirnya, Ellie memilih pasrah. Ia membiarkan Jiro untuk membersihkan dirinya, membersihkan bagian paling intim dari tubuhnya.

Jiro sendiri benar-benar melakukannya, mengusap lembut bagian intim dari tubuh Ellie dengan tissue-tissue tersebut. Membersihkannya dengan gerakan pelan. Tanpa diduga, Jiro mendengar Ellie sesekali mengerang karena ulahnya, hingga kemudian ia menatap Ellie dan bertanya “Ellie?”

Ellie yang tadi memejamkan matanya karena sentuhan Jiro tersebut akhirnya membuka matanya. Ellie tahu bahwa niat Jiro hanya untuk membantunya, tapi Demi Tuhan, sentuhan lelaki itu kembali membangkitkan gairahnya.

“James…” Ellie hanya bisa melirih, dan Jiro masih tidak mengerti apa yang sedang dirasakan oleh istriny tersebut.

“Ada apa?” tanya Jiro sembari mengangkat sebelah alisnya.

“Sentuhanmu membuatku kembali bergairah.” Ellie berkata dengan jujur.

Jiro sempat terkejut dengan kejujuran Ellie tersebut, kemudian ia tersenyum dan menjawab “Kamu ingin lagi?” tawar Jiro.

Ellie tampak bingung, ia harus menjawab apa. “Aku, aku tidak tahu.” Bisiknya nyaris tak terdengar.

“Pasti karena bayinya. Ya?” Jiro menatap perut Ellie yang sudah semakin membesar, mengusapnya lembut, lalu mengecupnya lagi dan lagi.

“Karena kamu juga.” Perkataan Ellie menghentikan aksi Jiro. Jiro mengangkat wajahnya dan menatap Ellie penuh tanya.

“Maksudmu?”

“Uum…” Ellie tampak ragu menjawabnya. “Ini, bukan sekedar karena hormon. Aku, aku menginginkanmu meski mungkin hormonku tidak sekacau saat ini.”

Jiro sempat tercenung mencerna apa yang dikatakan Ellie, tapi kemudian ia mengerti apa yang dimaksud oleh perkataan Ellie tersebut.

“Kamu benar-benar menginginkanku?” tanya Jiro lagi dengan nada yang begitu lembut.

Wajah Ellie kembali merah padam karena malu, tapi ia tidak ingin menolak dan bersikap munafik. Ia memang menginginkan Jiro, sentuhan lelaki itu seakan menggodanya kembali. Akhirnya Ellie hanya bisa mengangguk pasrah.

Jiro tersenyum, mendekat pada wajah Ellie kemudian ia berbisik “Kalau begitu, kamu hanya perlu mengakuinya, maka aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan.”  Setelah itu, Jiro kembali mencumbu lembut bibir Ellie, melumatnya dengan panas, dan kembali membangun gairah untuk mereka berdua.

Jiro tidak tahu, kenapa hubungannya bisa seintim ini dan juga sepanas ini dengan Ellie dalam waktu yang cukup singkat. Maksudnya, selama Empat tahun terakhir, Jiro tidak pernah memperlakukan Ellie seperti ini. Elliepun tidak pernah menampilkan reaksi sepanas ini, tapi kini, keduanya seakan terbuka dengan apa yang mereka inginkan, keduanya seakan membiarkan saja semuanya berjalan dengan sendirinya, mengalir seperti air tanpa ingin menahan diri atau memungkiri diri sendiri. hal itulah yang membuat hubungan keduanya semakin dekat dalam jangka waktu beberapa minggu terakhir.

Kini, Ellie tak hanya cukup menarik untuk Jiro, bukan hanya kecantikan wanita itu yang mampu memikatnya. Tapi semuanya, semua yang ada pada diri Ellie seakan mampu mengikat Jiro hingga Jiro yakin bahwa ia tak akan mungin bisa lari dari diri Ellie.

Ya Tuhan! Bagaimana mungkin seorang Ellie mampu membuat dirinya berada pada titik seperti ini?

 

-TBC-

Advertisements

My Beautiful Mistress – Bab 14

Comment 1 Standard

 

Bab 14

 

“Elo?” Jason menatap Jiro penuh tanya.

Jiro menganggukkan kepalanya. “Gue sudah nikah, sejak lama. Sekarang dia lagi hamil, dan butuh gue di sampingnya. Gue mau jagain dia.” perkataan Jiro benar-benar membuat Jason dan yang lainnya terkejut. Troy bahkan sudah memucat mendengar pernyataan tersebut. Tapi kemudian, suasana hening setelah pernyataan Jiro tersebut segera berakhir saat Ken mengungkapkan alasannya.

“Gue akan bersolo karir.” Kali ini Ken berkata. “Mungkin, gue akan vakum sementara sebelum mulai lagi karir gue. Gue stress karena masalah percintaan sialan gue. Jadi gue mau menghilang sebentar dari dunia hiburan.”

“Elo lagi ada masalah sama Kesha?” tanya Jason kemudian. Jason dan yang lain  baru sadar jika selama beberapa minggu terakhir, mereka sangat jarang bahkan hampir tak pernah melihat Kesha di studionya untuk menemani Ken latihan.

“Kami putus.”

Ruangan tersebut kembali hening, tapi kemudian Troy mencairkannya kembali.

“Woww, ada apa dengan kalian semua?” Troy yang membuka suara. “Oke, mungkin di sini gue yang nggak punya masalah. Gue berhenti karena gue tahu, nggak akan ada lagu yang bisa gue iringin jika bukan lagu-lagu The Batman. Gue nggak mau ngiringin band lain. Jadi gue akan berhenti dan memilih karir lain.”

“Misalnya?” tanya Jason.

“Model. Elo tahu sendiri kan, diantara kalian gue yang paling sering dipanggil buat pemotretan majalah-majalah panas? Dan gue bener-bener menikmatinya. Disana gue bisa kenal banyak perempuan, tentunya.”  Semuanya tersenyum dengan perkataan Troy. “Tapi gue mau, kita tetap kompak. Sekali dua kali ketemu buat latihan. Kalian masih mau, kan? Bagaimanapun juga, musik adalah hidup gue.” Lanjut Troy lagi.

“Studio gue akan selalu menyambut kalian semua.” Jason menjawab. “Gue juga berharap kita masih sering main di sana walau nanti sudah nggak eksis lagi.”

“Tentu saja.” Jiro mengiyakan, sedangkan Ken hanya tersenyum dan mengangguk setuju.

Jason tampak senang saat akhirnya ia mendapatkan sebuah kesepakatan dengan yang lainnya, padahal dalam hati, Jason masih berharap jika mereka tetap melanjutkan karir walau tanpa dirinya. Tapi jika teman-temannya itu memilih berhenti seperti dirinya, maka Jason tak dapat berbuat banyak.

Begitupun dengan Jiro, ia tidak menyangka bahwa The Batman akan berakhir seperti sekarang ini. Jiro memang sempat berpikir akan mengundurkan diri, tapi ia masih tidak percaya bahwa yang lain juga memikirkan hal yang sama. Mereka jenuh, mereka cukup lelah dengan kepopuleran mereka, dan mereka ingin kehidupan lama mereka kembali lagi. Itulah yang dirasakan Jiro saat ini.

***

Sampai di parkiran rumah sakit, Troy mendekati Jiro ketika Jiro akan masuk ke dalam mobilnya.

“Gue pengen ngomong.” Ucap Troy kemudian. Jiro tahu apa yang akan dibicarakan Troy. Temannya itu pasti akan membahas status yang baru saja ia ungkap, dan itu pasti berhubungan dengan Ellie.

Ken yang tak jauh dari sana akhirnya ikut mendekat. Ken takut ada hal serius yang terjadi. Karena Ken cukup tahu apa masalah Jiro dengan Troy. Troy sering bercerita tentang adik Jiro, Troy sedang mendekati wanita itu, dan tadi dengan begitu mengagetkan, Jiro mengakui statusnya yang sudah menjadi seorang suami dan calon ayah. meski Jiro tak mengatakan secara gamblang siapa wanita itu, tapi Ken bukan orang bodoh yang tak dapat menerka siapa orangnya.

“Ada apa lagi, Troy? Ini sudah malam, gue mau pulang.”

“Gue cuma mau memperjelas. Lo beneran sudah nikah?”

“Ya.” Jiro menjawab seadanya.

“Sejak kapan?”

“Lebih dari Empat tahun yang lalu.”

“Brengsek lo!” Troy mengumpat keras. “Dan selama itu elo nyembunyiin istri elo?”

“Troy. Ini bukan urusan elo. Ini masalah pribadi gue.” Jiro akan pergi, tapi Troy kembali menghadangnya.

“Satu lagi.”

“Apa?” Sungguh, Jiro merasa enggan membahasnya, apalagi dengan Troy.

“Apa perempuan itu adalah Ellie?” tanpa basa-basi, Troy bertanya. Jiro tampak tak ingin menjawab, tapi Troy kembali mendesaknya. “Katakan, Jiro! Apa istri elo itu adalah Ellie?”

Dengan sebal Jiro menjawab, “Kalau iya kenapa?”

Dan secepat kilat bogem mentah Troy mendarat pada wajah Jiro. Ken yang berada di sana segera menengahinya, memaksa Troy untuk mundur menjauh dari Jiro.

“Elo apa-apaan Troy?” Sungguh, Ken tak percaya bahwa Troy akan mendaratkan pukulannya pada Jiro. Bukankah seharusnya Jiro yang melakukan hal itu? Troy sudah terang-terangan mendekati istri Jiro, kenapa jadi Troy yang memukuli Jiro?

“Itu hadiah yang sepadan untuk orang yang sudah mengabaikan istri seperti Ellie.”

“Sial Troy! Elo sudah gila?” Ken masih tak habis pikir.

“Gue pernah bersumpah kalau gue akan memukuli suami Ellie kalau gue ketemu, dan gue sudah melakukannya saat ini.”

“Brengsek! Gue juga bersumpah akan mematahkan kaki dan tangan siapa saja yang berani nyentuh seujung rambut istri gue, dan itu juga berlaku untuk elo.” Setelah perkataannya tersebut, secepat kilat Jiro menerjang tubuh Troy. Jiro bahkan mengabaikan keberadaan Ken. Ia membabi buta, saling baku hantam dengan Troy dan juga Ken, hingga kemudian, satpam rumah sakit merelai ketiganya.

***

Malam itu, Jiro pulang ke rumahnya. Setelah ia, Ken dan juga Troy diamankan di pos satpam rumah sakit, ketiganya dilepaskan karena ketiganya sudah menunjukkan sikap baik mereka.

Jiro sudah menahan emosinya, begitupun dengan Troy yang emosinya pun sudah menguap entah kemana. Mereka bahkan sempat saling berbicara sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah sakit.

“Jadi benar-benar Ellie, ya?” tanya Troy yang masih kurang yakin dengan apa yang ia dengar tadi.

“Ya.”

“Sial! Kalau sejak awal elo bilang, gue nggak mungkin dekatin istri teman gue sendiri.”

“Elo pikir mengakui semua itu gampang?” Jiro bertanya pada Troy.

“Apa susahnya ngakuin semua itu sama kita? Kita semua temen elo. Lo pikir kita bakal buka mulut ke Lambe Turah? Yang bener aja.”

“Sial!” Jiro mengumpat. Apa Troy sedang melemparkan sebuah lawakan?

“Denger, kita semua bakal dukung elo.” Ken yang membuka suara. “Punya istri atau tidak, elo bakal tetap menjadi bagian dari The Batman. Kita gak mungkin buka rahasia elo di depan umum.”

“Kalian nggak ngerti.”

“Kalau begitu buat kami supaya ngerti.” Troy menjawab cepat. “Elo pikir ada perempuan yang mau disembunyikan selama itu? Gue bersikap seperti ini bukan hanya karena gue peduli sama Ellie, tapi karena apa yang elo lakuin emang salah. Elo beruntung punya istri sesabar dia.”

“Gue hanya nggak mau menarik dia terlalu jauh ke dalam urusan gue di dunia intertain.”

“Itu bukan alasan yang masuk akal. Elo nikahin dia sejak elo belum jadi artis. Kalau elo berpikir seperti itu, kenapa elo memutuskan menjadi artis setelah nikah sama dia?” Troy tak mengerti apa maksud Jiro karena itulah ia kekeh bertanya apa alasan Jiro memperlakukan Ellie seperti itu selama ini.

“Ketertarikan gue dengan dia tidak sebesar sekarang, Troy! Elo nggak akan ngerti.” Jiro mengusap rambutnya kasar.

“Maksud elo?” kali ini Ken yang bertanya.

“Gue nikahin dia hanya karena perjodohan. Gue nggak ada perasaan apapun sama dia. dia hanya sebatas cantik dan menarik hati gue. Hanya itu. Dan sekarang, semua berubah. Dia menjelma menjadi sosok yang begitu mempengaruhi diri gue. Gue hanya nggak mau melibatkan dia terlalu jauh dengan urusan-urusan gue yang memusingkan.”

“Tapi dengan elo nyembunyiin dia, elo juga menyakitinya, Jiro.” Ken berkomentar. “Benar apa yang dikatakan Troy, nggak seharusnya elo ngelakuin hal ini, minimal, biarkan dia mengenal kita, agar dia tenang, bahwa suaminya tidak berbuat macam-macam di luar.”

Jiro menganggukkan kepalanya. “Gue akan kenalin dia sama kalian.”

“Gue udah kenal.” Troy menjawab cepat dengan raut kesalnya.

“Sebagai adik gue.” Jiro meralatnya. “Gue akan ngenalin dia sebagai istri gue pada kalian.”

 

Jiro menghela napas panjang, kakinya melangkah menuju ke arah kamar. Membuka pintunya dan bersyukur karena Ellie tidak mengunci dari dalam kamar tersebut.

Tanpa menyalakan lampu kamarnya, Jiro masuk ke dalam, ia berjalan mendekat ke arah ranjang, kemudian menatap tubuh Ellie yang tampak tertidur pulas, meringkuk memeluk sebuah guling. Jiro merasa perasaannya seperti diremas-remas ketika menatap bayangan itu. Ellie tampak menyedihkan, wanita itu tampak kesepihan, tidur sendiri memeluk gulingnya. Jiro merasa menjadi suami yang paling brengsek di dunia ini.

Mei benar, Ellie tidak membutuhkan apapun. Ellie hanya membutuhkan dirinya untuk berada di sisi wanita itu, menemani melewati masa kehamilannya. Ellie tak butuh penjagaan, Ellie tak butuh fasilitas, Ellie hanya butuh dirinya.

Apa yang dikatakan Troy juga benar. Tak ada perempuan yang mau disembunyikan status pernikahannya, dikenalkan sebagai seorang adik, dicampakan dan diperlakukan layaknya seorang simpanan, hanya Ellie yang bisa menerima hal itu, hanya Ellie yang mampu bersabar dengan keegoisannya.

Ya Tuhan! Jiro benar-benar merasa bersalah.

Dengan spontan, Jiro melepaskan T-shirt yang ia kenakan, bertelanjang dada kemudian ia naik ke atas ranjang. Jiro memposisikan dirinya tidur miring menghadap ke arah Ellie. Jiro mengamati wajah istrinya, jemarinya terulur mengusap lembut pipi Ellie.

Halus, dan lembut. Putih, mendekati pucat. Jiro merasakan sebuah kedamaian. Ia tidak tahu bahwa menatap Ellie sedekat ini membuatnya begitu damai.

Kemudian, Jiro terkejut saat mendapati Ellie membuka matanya. Jemari Jiro membatu pada pipi Ellie saat wanita itu menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

“James? Apa yang kamu lakukan?” Ellie bertanya dengan suara seraknya.

Sial! Jiro tergoda.

Ya Tuhan! Padahal Jiro tahu bahwa ia harus bicara, ia harus meminta maaf kepada Ellie, ia harus mengatakan pada Ellie bahwa kini dirinya sudah siap meninggalkan semuanya untuk wanita itu. Tapi Jiro tak mampu mengatakannya. Ia bukan tipe lelaki yang pandai berbicara, ia hanya akan melakukan hal tersebut tanpa banyak omong.

Bukannya menjawab pertanyaan Ellie, Jiro malah mendekatkan diri, mengangkat dagu Ellie kemudian mencumbu bibir lembut istrinya tersebut. Ohh, Jiro merindukan cumbuan ini, Jiro merindukan menyentuh Ellie. Ia terbuai dengan kelembutan bibir Sang Istri, tapi kemudian Jiro tersadar dari buaiannya ketika Ellie dengan paksa melepaskan tautan bibirnya kemudian mendorong Jiro menjauh.

“James. Kamu kenapa?” Sungguh, Ellie merasa bingung. Kenapa Jiro tiba-tiba datang dan memperlakukannya seperti itu.

“Aku… menginginkanmu.”

Jiro berbisik dengan suaranya yang sudah parau, kemudian ia kembali mencumbu bibir Ellie, melumatnya dengan lembut, hingga kemudian, Ellie tak mampu menolak apa yang akan dilakukan oleh suaminya tersebut.

***

Setelah melakukan percintaan panas, Ellie segera memposisikan dirinya miring memunggungi Jiro. Jika boleh jujur, Ellie merasa malu. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menolak Jiro, ia berusaha untuk tidak mempedulikan Jiro, tapi ketika Jiro menyentuhnya dengan lembut, Ellie tak mampu menolaknya.

Ellie terbawa dengan pusaran gairah yang dibawa oleh lelaki tersebut, Ellie tergoda, Ellie tidak mampu untuk menahan diri agar tidak tertarik dengan sosok Jiro. Ya Tuhan! Ellie merasa kalah.

Sembari mengeratkan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya, Ellie berusaha untuk memejamkan matanya, ia berharap bahwa Jiro segera tidur tanpa mengucapkan sepatah katapun, karena Ellie benar-benar merasa malu ketika mungkin saja Jiro akan membahas tentang hubungan tak masuk akal mereka.

Nyatanya, itu hanya harapan Ellie saja. Ellie merasakan bahwa Jiro mendekat ke arahnya. Lelaki itu mulai membuka suaranya hingga mau tidak mau Ellie berhadapan dengan rasa malunya.

“Besok, akan ada jumpa pers lagi.” Jiro membuka suaranya.

Ellie mendengus sebal. Jika Jiro ingin membahas tentang karir sialannya dengan The Batman, maka sumpah, Ellie tidak mau tahu.

“Aku tidak peduli, James.” Ucapnya dengan nada ketus.

“Kami akan vakum.” Tiga kata itu membekukan diri Ellie. “Kami sudah memutuskan kalau kami akan berhenti.” Lanjut Jiro lagi.

Ellie segera membalikkan tubuhnya, ia menatap Jiro, mencari-cari kebohongan di saja. Jika boleh jujur, Ellie memang sudah kehilangan kepercayaan dengan Jiro sejak lelaki itu mengingkari janjinya untuk mempublikasikan hubungan mereka setelah konser The Batman saat itu. Dan kini, Ellie tak mendapatkan sedikitpun kebohongan di mata Jiro.

“Kenapa?” dengan spontan Ellie bertanya.

“Mungkin kami sudah lelah.”

“Ke –kenapa sekarang?” tanya Ellie lagi.

Jemari Jiro terulur, mengusap lembut pipi Ellie. “Mungkin, sekarang adalah saat yang tepat untuk mengakhiri semuanya.”

“James…” Ellie melirih, ia melihat dengan jelas raut sedih di wajah suaminya. Musik mungkin adalah hidup Jiro, dan lelaki itu kini sedang melepaskan semuanya.

“Ellie.” Jiro menyebut nama Ellie dengan begitu lembut. “Maafkan aku. Aku sudah membuatmu menunggu begitu lama.”

Ellie menggelengkan kepalanya, lagi-lagi Ellie kembali luluh dengan lelaki ini.

“Aku memang belum bisa mengatakan semuanya di depan media. Tapi aku akan berhenti, dan aku akan menghabiskan waktuku untuk menemanimu. Apa itu sudah cukup untukmu?”

Ellie tersenyum dan mengangguk dengan antusias. “Apa kamu tahu, James. Aku tidak perlu pengakuan itu andai saja kamu selalu berada di sisiku dan memperlakukan aku dengan benar.” Ya, jika saja Jiro memperlakukan Ellie dengan benar, maka Ellie akan bersabar, lebih banyak bersabar. Yang membuat Ellie kecewa adalah, bahwa selama ini selain tidak diakui, Jiro juga hanya memperlakukannya layaknya seoreang simpanan. Hal itulah yang membuat Ellie menuntut Jiro lebih ketika ia mengandung bayi dari lelaki tersebut.

“Aku akan melakukannya, Ellie. Aku akan melakukannya. Kita akan hidup dengan normal sebagai suami istri dan orang tua yang baik.”

“Aku… ingin percaya, tapi aku takut kecewa….”

Jiro menggelengkan kepalanya. “Kali ini, tolong, percayalah denganku.”

Mata Ellie berkaca-kaca seketika. Ia ingin percaya, sungguh, tapi ia benar-benar takut untuk dikecewakan lagi oleh suaminya tersebut, suami yang begitu ia cintai…

Dengan spontan Jiro meraih tubuh Ellie, menariknya masuk ke dalam pelukannya. “Percayalah denganku lagi, Ellie. Percayalah, aku akan mengakhiri semuanya dan kembali padamu…”

***

Sore itu, akhirnya semua personel The Batman beserta Tim Management mengadakan jumpa pers kembali.

Tadi pagi, Jiro dan teman-temannya sudah menghadap pada Fahri selaku manager The Batman dan juga dengan penasehat hukum managementnya. Jason juga hadir, meski Bianca belum sadar, tapi Jason harus datang untuk menyelesaikan semuanya.

Mereka memutuskan bahwa mereka akan benar-benar vakum dari dunia hiburan. The Batman sudah selesai sampai pada titik ini. Mereka tak akan lagi mengeluarkan lagu atau album baru, tak akan ada lagi konser-konser baru, kontrak-kontrak baru, dan tak akan produktif lagi di dunia hiburan. Meski begitu, mereka menyepakati, bahwa akan menyelesaikan beberapa kontrak yang memang tidak bisa dibatalkan. Seperti misalnya undangan tampil di beberapa acara dalam waktu dekat, kontrak-kontrak menjadi brand ambasador beberapa produk, dan sejenisnya.

Fahri selaku pihak management, benar-benar merasa kehilangan akan hal ini. Tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa berbuat banyak. Andai saja, hanya Jason yang keluar, atau mungkin hanya Jiro, mungkin Fahri akan mencarikan penggantinya dengan masih menggunakan band The Batman. Tapi sayangnya, mereka semua memutuskan untuk berhenti. The Batman adalah milik Jason, Ken, Troy dan Jiro, jika semua personelnya berhenti, maka Fahri tidak bisa mencegahnya, atau lebih bodoh lagi, tetap menggunakan nama The Batman dengan memperbarui semua personelnya. Ia tahu bahwa jika langkah itu yang ia ambil, maka ia akan gagal.

Kini, Sore ini, mereka dihadapkan dengan puluhan media yang sudah menunggu karena undangan dadakan dari pihak managementnya. Mereka akan mengumumkan bahwa mereka akan berhenti. The Batman sudah selesai, The Batman sudah berada di akhir cerita, dan keputusan tersebut tak dapat diganggu gugat.

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 2

Comment 1 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 2

 

“Aku benar-benar tidak menyangka jika kamu akan seberani itu dengan Jiro.” Ucap Mei ketika keduanya saat ini sudah berada di dalam sebuah supermarket untuk berbelanja kebutuhan mingguan Ellie.

“Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan sikapku?”

Mei tersenyum lembut. “Enggak, tapi, Jiro pasti sangat terkejut saat mendapati istrinya sekarang menjadi sedikit membangkang.”

Ellie berpikir sebentar. “Membangkang? Seperti tidak menurut?” tanya Ellie. Ia memang kadang masih suka lupa dengan bahasa indonesia.

“Ya. Seperti itu.”

Ellie menghela napas panjang. “Dulu aku tidak memiliki apapun untuk kuperjuangkan. Sekarang aku memiliki dia.” ucapnya sembari mengusap perutnya yang sudah mulai memiliki gundukan mungil.

“Jadi, apa rencanamu?”

“Aku akan membuat dia mengerti, bahwa dia tidak bisa seenaknya seperti dulu. James memang Artis, dia memang Bassis ternama di negeri ini. tapi di mataku, dia hanya lelaki biasa, dan dia adalah suamiku. Jadi aku akan berusaha merebut perhatiannya.”

“Bagus sekali, Ellie. Apa kamu tahu, dia benar-benar cengo saat kamu melawannya tadi pagi. Astaga, mukanya lucu sekali.” Mei tertawa lebar saat mengingat bagaimana wajah terkejut Jiro saat Ellie menyebut Jiro adalah salah satu orang yang paling buruk yang pernah wanita itu kenal.

Ellie ikut tertawa lebar, tapi kemudian ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari bertanya “Ngomong-ngomong, Cengo itu apa?”

Seketika itu juga, tawa Mei lenyap. Ia memutar bola matanya dengan kesal ke arah Ellie. Ya, bukan salah wanita itu, tapi terkadang, Mei merasa jengkel jika harus menjelaskan setiap kata yang tidak dimengerti oleh wanita itu.

***

Jiro bermain-main dengan gitar milik Ken. Selain memainkan Bass, Jiro memang pandai bermain gitar. Ketika dirinya sedang santai seperti ini, Jiro memilih memainkan gitar dengan sesekali bersenandung sendiri.

Hari ini, mereka tak ada latihan, Jason sedang sibuk dengan masalahnya sendiri, dan itu benar-benar membuat Jiro kesal. Sebentar lagi mereka akan tampil di sebuah konser yang akan di siarkan secara langsung di beberapa TV nasional. Jiro hanya tak ingin mereka melakukan sebuah kesalahan pada acara Live tersebut.

Meski begitu, Jiro menahan diri agar tidak terlalu memaksa Jason. Bagaimanapun juga, ia juga pernah merasakan apa yang di rasakan Jason. Ketika Jiro tak berada pada mood yang baik, ia juga tak dapat memainkan alat musik apapun. Dan sepertinya, hal itu pulalah yang terjadi dengan Jason.

“Woi, ngelamun aja lo.” Troy datang. Sendiri. sedangkan Ken tak ikut dengan temannya itu.

“Elo sendirian?”

“Ya. Kenapa? Kita kan lagi nggak ada jadwal latihan.”

Jiro hanya mengangguk. “Ken mana?” tanya Jiro kemudian.

“Nggak tau, mungkin lagi jalan sama ceweknya. Gue telpon dia dari pagi nggak diangkat.”

Troy menuju ke arah lemari pendingin yang berada di ujung studio musik tempat mereka latihan. Ia mengambil sekaleng minuman dingin dan kembali menuju ke arah Jiro.

“Elo sendiri ngapain di sini sendirian? Ngelamunin apa lo? Vanesha?” tanya Troy yang kini sudah duduk tepat di sebelah Jiro.

“Elo apaan sih.”

Well, gue sudah baca gosip tentang elo sejak kemaren. Gue pengen tanya tapi, gue tau kalau elo nggak pernah mau bahas masalah pribadi elo dengan kita-kita.”

“Kalau gitu, sekarang ngapain elo bahas masalah ini sama gue. Gue nggak akan mau cerita.”

“Ayolah. Gue bukan wartawan. Dan astaga, asal elo tahu, Vanesha pernah gue tidurin.”

Jiro menatap Troy seketika. “Berengsek lo.” Umpatnya.

Sebenarnya, Troy merasa tak memiliki hubungan apapun dengan Vanesha. Vanesha adalah seorang model. Mereka memang pernah beberapakali bertemu karena pekerjaan, kemudian keluar bersama beberapa kali. Jiro pernah mencium Vanesha saat mabuk, dan sialnya, The Danger (sekumpulan wanita gila yang mengaku fans fanatik mereka) mengetahui hal itu dan memotretnya. Memberi peringatan pada Jiro. Tapi Jiro tentu tak mengindahkannya. Kemudian, foto itu tersebar. Itulah awal mula gosip tentang dirinya dan Vanesha merebak.

Gosip tersebut semakin panas ketika sekitar tiga atau empat hari yang lalu, Jiro kembali kepergok keluar dari gedung apartmen Vanesha pagi-pagi buta. Jiro menghela napas panjang, ia benar-benar menyesali perbuatannya.

Apa karena itu Ellie bersikap berbeda kepadanya? Apa Ellie mengetahui tentang berita itu? Sejauh yang Jiro tahu, Ellie lebih suka menonton acara-acara luar atau memutar DVD. Tapi, mengingat sikap wanita itu yang tak biasa membuat Jiro khawatir. Jangan-jangan, Ellie benar-benar telah mengetahui gosip tentang skandalnya dengan Vanesha.

Mengingat itu, Jiro berdiri seketika. Ia ingin memastikan tentang hal itu. Apa benar, Ellie sudah mengetahui tentang semuanya?

Tanpa banyak bicara, Jiro melesat keluar. Hal itu benar-benar membuat Troy heran. Sambil menggelengkan kepalanya, dia bertanya pada dirinya sendiri. “Gue salah ya, karena sudah jujur tentang cinta semalam gue sama Vanesha?”

***

Waktu sudah menunjukkan pukul Empat sore. Tapi Jakarta hari ini benar-benar panas. Yang membuat kesal Ellie adalah, selain tadi sempat terjebak macet, kini mobil Mei tiba-tiba mogok di jalan, hal itu benar-benar membuat mood Ellie memburuk.

“Aku sudah menelepon Marvin. Dia akan jemput kamu.”

Ellie mengerutkan keningnya. “Marvin? Kenapa harus dia?” Ellie merasa tidak nyaman.

Marvin adalah adik sepupu Mei. Mereka memang pernah beberapa kali bertemu. Yang membuat Ellie tak nyaman adalah karena Marvin pernah secara terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Ellie. Ya, lelaki yang sebaya dengannya itu memiliki perasaan lebih padanya.

“Karena hanya dia orang yang kukenal dan bisa menjemputmu kapanpun.”

“Nggak perlu.” Ellie menjawab cepat. “Aku akan menunggu di sini denganmu.”

“Ayolah Ellie. Aku tahu kamu kepanasan. Dan menunggu mobil derek akan lama. Lagian, Marvin nggak jauh dari sini. Jadi sebentar lagi dia sampai.”

Ellie menghela napas panjang. Apapun itu, ia akan menerimanya. Ya, bukankah memang Mei yang selalu menjadi bossnya?

Tak lama, orang yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Lelaki tampan itu keluar dari dalam mobilnya dengan senyuman khasnya. Siapapun akan terpada dengan lelaki itu, tapi tidak dengan Ellie.

Bagi Ellie, lelaki yang paling tampan adalah suaminya, James Drew Robberth. Tak akan ada yang mampu membuatnya terpesona selain lelaki itu.

“Hai, aku senang dihubungi.” Marvin berbasa-basi.

“Nggak perlu berbasa-basi. Sekarang, angkut saja belanjaan kami, dan antar Ellie pulang.”

Dengan tawa lebar, Marvin menuju ke arah bagasi. “Oke, kebetulan aku sedang ingin minum kopi. Kuharap aku mendapatkan secangkir kopi di sana nanti.”

Ellie mendengus sebal. Ia tahu, bahwa tak akan mudah mengusir Marvin nantinya. Tapi, ya sudahlah. Toh ia sudah menolak lelaki itu secara terang-terangan. Marvin pasti tak akan berbuat macam-macam apalagi mengingat ada dua pengawal yang selalu berjaga di rumahnya.

***

“Oke, ini yang terakhir.” Ucap Marvin setelah menaruh bingkisan terakhir di meja dapur Ellie. Ellie sendiri sedang sibuk membuatkan kopi untuk lelaki itu. Meski sedikit tak nyaman tapi sangat tidak pantas kalau ia mengusir Marvin tanpa memberinya minum terlebih dahulu.

Ellie menyuguhkan kopi untuk Marvin. “Minumlah.” Ucapnya sembari bergegas membuka-buka barang belanjaannya.

“Kalian habis ngerampok supermarket, ya?” tanya Marvin dengan nada bercanda. Lelaki itu memang memiliki selera humor tinggi. Tentu sangat berbeda dengan Jiro, suaminya.

“Ya, selain supermarket, kami juga merampok toko perlengkapan rumah tangga.” Ucap Ellie sembari menunjukkan beberapa pisau dapur yang baru saja ia beli.

Marvin tertawa lebar. “Hahaha, lucu sekali.” Marvin menyesap kopi buatan Ellie. “Kopimu memang selalu yang terbaik.”

“Tentu saja. Karena kamu meminumnya gratis.” Ellie menjawab lagi-lagi dengan nada ketus.

Marvin tersenyum. Ia senang melihat sikap Ellie yang seperti ini. setidaknya, Ellie tidak dapat menyembunyikan rona merah di pipi wanita itu. Marvin lalu berdiri dan mendekat ke arah Ellie. “Ngomong-ngomong, aku suka dengan sikapmu yang sekarang.” Ucap Marvin dengan parau.

Ellie mengangkat wajahnya seketika menatap ke arah Marvin. “Apa maksudmu?”

Jemari Marvin terulur, mengusap lembut rona merah di pipi Ellie. Ellie ingin sekali menghindar, tapi ia tidak mau sikapnya yang menghindar membuat Marvin berpikir bahwa kehadiran lelaki itu berpengaruh terhadapnya.

“Keketusanmu, sangat kontras dengan rona merah di pipimu.” Bisiknya dengan nada parau. “Akui saja, kamu gugup berada di dekatku, sejak aku menyatakan perasaanku beberapa bulan yang lalu, kan?”

Ellie sangat kesal dengan sikap lelaki di hadapannya ini. Hampir saja ia membuka suara, sebelum suara keras yang lain datang menambah ketegangan diantara mereka.

“Singkirkan tangan sialanmu dari wajah istriku!”

Ellie dan Marvin menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut. Tampak Jiro berdiri menjulang di dekat meja makan dengan mata penuh dengan kemarahan.

“James. Kenapa kamu di sini?” tanya Ellie tak percaya.

Biasanya, setelah mendapatkan ‘jatahnya’, Jiro akan pergi, dan paling cepat akan mengunjungi Ellie Tiga hari setelahnya. Bahkan kemaren, lelaki itu tidak mengunjunginya sama sekali selama Tiga minggu terakhir. Lalu untuk apa lelaki itu datang kemari padahal baru tadi pagi dia keluar dari rumah ini?

“Kenapa aku di sini? Ini rumahku! Seharusnya pertanyaan itu kamu lemparkan pada dia.” Jiro menunjuk Marvin dengan marah.

Marvin mundur menjauh dan mengangkat kedua belah telapak tangannya. Well, sebelumnya, Marvin memang sudah mengetahui tentang Ellisabeth Williams yang merupakan istri dari seorang Bassis terkenal yang bernama Jiro The Batman. Tapi hal itu tak serta merta membuat Marvin mengundurkan diri atau memupus ketertarikannya dengan sosok Ellie. Kecantikan Ellie bahkan mampu membutakan mata Marvin bahwa wanita itu sudah menjadi istri orang. Yang membuat Marvin tak mengerti adalah, kenapa Jiro menyembunyikan istri secantik ini dari publik? Apa pria itu gila?

“Aku disini karena diminta.” Marvin menjawab dengan tenang.

“Diminta?” Jiro mendekat ke arah mereka berdua. Tatapan mata Jiro menajam ke arah Ellie. Jika dulu Ellie akan takut, maka tidak sekarang. “Kenapa kamu memintanya kemari?”

Ellie berusaha mengendalikan dirinya, bahkan ia bersikap seolah-olah tak mempedulikan kemarahan yang tampak jelas terlihat di wajah suaminya.

“Kamu nggak lihat semua ini, James?” ucap Ellie sembari menunjukkan barang-barang belanjaannya. “Mobil Mei mogok, dan Mei memintanya untuk menjemputku dan mengantarku pulang.” Ellie menjelaskan dengan nada malas.

“Kenapa harus dia?!” tanya Jiro lagi dengan nada yang masih meninggi.

“Kenapa harus dia?” Ellie mengulang lagi pertanyaan Jiro. “Karena suamiku lebih sibuk dengan karir sialannya dibandingkan denganku. Apa kau puas?” Ellie menjawab dengan marah.

Marvin yang berada di sana merasa sedang terjebak diantara dua gunung berapi yang sedang memuntahkan lava.

“Karirku tidak sialan, Ellie!”

“Ya, mungkin tidak. Tapi perempuan-perempuan itu yang membuatnya menjadi sialan dimataku.”

Pada detik itu, Jiro tahu bahwa Ellie ternyata mendengar gosip murahan tentang dirinya dan juga Vanesha. “Jadi kamu cemburu karena gosip-gosip itu?”

“Tidak. Cemburu adalah hal yang sangat kekanakan.”

“Jadi menurutmu aku kekanakan?” dengan spontan Jiro bertanya.

“Jika kamu merasa sedang cemburu, maka ya, kamu kekanakan.” Ellie menjawab dengan santai.

“Aku tidak kekanakan, aku cemburu karena istriku disentuh oleh lelaki lain! Apa itu salah?”

“Oh yang benar saja. Dia hanya menyentuh pipiku, sedangkan kamu. Kamu berciuman dengan perempuan itu!” Ellie berseru keras tak dapat menahan emosinya ketika mengingat gosip yang ia dengar sejak dua hari belakangan. Sungguh, Ellie sangat marah, apalagi kabar tentang Jiro yang keluar dari apartmen wanita itu pagi-pagi buta dan tertangkap oleh kamera wartawan. Untuk apa Jiro berada di sana?

Kali ini, Jiro mengerti kemarahan Ellie bersumber dari mana. Meski begitu, Jiro tahu bahwa hal itu tak membenarkan apa yang dilakukan Ellie tadi. Berduaan dengan lelaki lain di rumah mereka.

Jiro menatap Marvin dengan tatapan membunuhnya. “Gue pikir, mending elo keluar. Gue mau bahas sesuatu dengan istri gue, hanya berdua.” Ucap Jiro dengan penuh penekanan terhadap Marvin.

“Kenapa kamu mengusirnya?” Ellie bertanya.

“Aku ingin membahas sesuatu denganmu.”

“Tak ada yang perlu dibahas.” Ellie mengibaskan telapak tangannya seakan tak ingin mendengar apapun penjelasan dari suaminya.

Mata Jiro kembali menatap tajam ke arah Marvin, dan lelaki itu akhirnya mengalah. Ia megerti bahwa ini bukan saat yang baik untuk melanjutkan rencananya menggoda Ellie.

“Oke, aku pergi dulu. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, kamu bisa menghubungiku.” Ucap Marvin pada Ellie.

“Dia tidak akan membutuhkan apapun!” Jiro berseru dengan penuh penekanan.

Sungguh, Jiro tak suka dengan lelaki itu. Caranya menatap Ellie membuat Jiro marah. Dan reaksi yang ditampilkan istrinya itu membuat Jiro tak dapat menahan segala emosinya. Ellie hanya miliknya, dan Jiro tak akan membiarkan siapapun mendekati atau menyentuh tubuh istrinya tersebut.

-TBC-

Special Pict mereka berdua nihhh aku editin special buat kalian, hahhahaha

Love In The Dream – Chapter 4 (Hatiku Memilihmu..)

Comments 5 Standard

LITD2Love In The Dream

Chapter 4

-Hatiku Mmilihmu..-

 

Brandon masih saja memandangi wanita yang duduk dihadapannnya kini tanpa sekalipun berkedip. Astaga.. Apa dia Angelku?? Apa dia yang hadir dalam mimpiku selama ini?? tapi entah kenapa Hatiku berkata lain?? Pikirnya kemudian.

“Maaf Pak Brandon, Apa nggak diminum kopinya.?” Tanya Anisha dengan lembut tak lupa degan senyuman mempessonanya.
Senyuman itu berbeda… Pikir Brandon lagi.

“Ohh iya, Maaf, Saya terlalu kaget.” Kata Brandon sambil menyeruput Black Coffe pesanannya. Yaamereka ini ada disebuah Cofeeshop tak tauh dari rumahsakit tempat Anisha bekerja.

“Ngomong-ngomong, Ada yang bisa saya bantu? Kenapa Pak Brandon mencari saya?” tanya Anisha langsung pada inti permasalahannya. Siang itu, Anisha sedikit terkejut saat mendapat telepon dari seorang yang tidak dikenal bernama Brandon. Brandon ingin mengajak Anisha bertemu, namun tentu saja Anisha menolaknya, taapi ketika Brandon berkata jika ini ada hubungannya dengan Alisha adik kembarnya, akhirnya Anisha menerima ajakan Brandon untuk bertemu dengannya.

“Panggil saja, Brandon. Saya tidak setua itu.” Kata Brandon sambil tersenyum. Astaga.. Berbicara dengan Anisha bahkan lebih mudah dibandingkan dengan berbicara dengan Alisha, kembarannya.

“Oke Brand, Apa kita pernah mengenal sebelumnya? Kenapa Kamu mencari saya?”

“Begini,” Brandon menarik nafas panjang dan memulai aksinya. “Saya bingung harus mulai bercerita darimana. Sebenarya saya mencari seseorang yang tidak saya kenal.”

Anisha tertawa lebar. “Bagaimana mungkin kamu mencari orang yang tidak kamu kenali?”

“Emm.. Saya mempunyai mimpi aneh, dan mimpi itu terjadi sejak lima tahun yang lalu setelah saya bangkit dari Koma hingga sekarang. Dan dalam mimpi itu saya melihat Kamu.. Emmm maksud Saya Alisha..”

“Kamu yakin itu Alisha??”

Brandon menunduk dan menggeleng. “Sungguh, ini benar-benar membuatku Gila, Bagaimana mungkin kalian bisa ada dua??”

“Memangnya seperti apa wanita dalam mimpi kamu itu??”

“Secara Fisik dan sikap, Dia seperti Kamu, Tapi… Aku merasa ada yang salah Disini. Aku merasa…..”

“Jika Alisha lahh wanita itu, benar bukan??” Brandon menatap Anisha dengan tajam lalu menganggukkan kepalanya. Yaaa tanpa di suruh entah kenapa Hati Brandon sudah memilih Alisha, padahal secara fisik jelas Alisha sangat berbeda dengan Angel dalam mimpinya.

“Apa yang akan kamu lakukan jika Alisha benar-benar wanita dalam mimpi kamu??” tanya Anisha secara langsung.

“Saya Akan menikahinya.” Jawab Brandon dengan cepat dan tegas. Naamun jawaban itu mampu membuat Anisha menyunggingkan senyumannya.

***

Alisha sedang melingkuk-lingkukkan tubuhnya. Kakinya menari dengan berjinjit-jinjit. Memakai Rok pendek yang mengembang dengan bulu-bulu Angsa sebagai hiasan di kepalanya. Hari ini dia menjadi seoraang putri angsa putih diatas panggung. Melangkah kesana kemari memperlihatkan lekukan indah dari tubuhnya.. tarianya terlihat beritu Harmoni dengan musik yang mengiringinya..

Ohh Balet… Adalah tarian yang sangat digemarinya sejak SMA… sejak sang Kakak ingin dirinya menggantikan Kakak kembarnya tersebut menari Balet karena terhalang oleh sesuatu.

Ekspressi manjanya terlihat begitu saja saat dirinya menari Balet.. Balet membuatnya berbeda dengan sosok yang selama ini dia bangun.. Balet membuatnya memiliki dunia tersendiri, dimaana tidak ada orang yang akan membedakannya denga sang kakak..
Alisha masih melanjutkan tariannya hingga sang pemain musik berhenti. Nafasnya tersenggal-senggal, tapi dirinya masih menyempatkan diri untuk membungkuk pada para penonton.

Penonton..?? Saat Alisha mengangkat wajahnya, hanya ada satu penonton di depan panggung besar tersebut, penonton tersebut tersenyum dengan mata berkilat penuh kekaguman dan juga tepuk tangan untuknya. Dia adalah lelaki itu, Brandon. Lelaki aneh yang selalu menyebutnya Angel.

Alisha ternganga mendapati Brandon yang kini sudah dihadapannya dan melihat semua tariannya. Astaga.. ini pasti akan sangat menggelikan bagi lelaki itu. Alisha ingin segera pergi dari panggung aneh ini, tapi nyatanya, tangan Brandon sudah lebih dulu meraih tangannya.

“Mau kemana??” Tanya Brandon dengan suara berat nan parau.
“Aku Harus pergi.” Kata Alisha dengan gugup.
“Kamu malu?? Kenapa Malu??”
“Tidak, aku tidak Malu..”
Brandon lalu mengangkat Dagu alisha.. “Alisha… Aku mencintaimu…” kata Brandon sambil mendekatkan wajahnya, lalu bibir merekapun akhirnya saling bertemu, saling bertautan seakan-akan tak bisa dipisakhan..

Alisha terjatuh dari ranjang mungilnya ketika Jam Weekernya berbunyi keras tanda jika dirinya harus segera bangun dari mimpi indah yang sedang dialaminya. Mimpi..?? Ahh sial.. kenapa dirinya bisa bermimpi aneh seperti itu?? Dengan lelaki itu???

Ah yaa Brandon… kenapa Dirinya jadi memikirkan Brandon?? Sejak awal bertemu di Bus tersebut, Alisha memang merasa ada yang aneh dari lelaki tersebut. Lelaki itu sangat mempengaruhinya, membuat jantungnya tak berhenti berdegup kencang.
Wajah tampan, perawakan yang gagah, penampilan yang menawan, suara beratnya, dan juga aroma tubuhnya benar-benar bisa di sebut dalam satu kata yaitu ‘Perfect’.

Semua yang ada dalam diri lelaki tersebut adalah Sempurna. Mana mungkin Alisha dapat menghindari kenyataan tersebut. hanya satu Hal yang membuat Alissha enggan berdekatan dengan Brandon. Brandon selalu menyebutnya dengan nama Lain, Angel.

Bisa saja Angel adalah istri Brandon yang sudah meninggal dan mirip dengannya dan Brandon ingin dirinya menjadi pengganti istrinya tersebut, atau bisa Jadi Angel dalah Kakak kembarannya yang bagaikan malaikat tersebut.

Alisha benar-benar sangat tidak suka jika dirinya dilihat sebagai sosok lain, seperti keluarganya yang selalu menekannya hingga dirinya memilih untuk kabur dari rumah.

Alisha mengusap wajahnya dengan frustasi. Kenapa dirinya bisa memimpikan Brandon?? Dan laki-laki itu, Kemana dia?? apa benar jika dia sudah menemukan Sosol Angel dalam diri Kakak kembarannya tersebut?? Ahhhh mengingat itu entah kenapa Alisha ingin marah.
Alisha bergegas mandi lalu berganti pakaian. Saat dirinnya sedang menyisir rambut,Ponselnya berbunyi. Dan terpampang jelas nama sang Kakak kembarannya tersebut.

“Iya Kak?”
“Al.. bisa makan siang bareng?”
“Dimana Kak? Aku nggak bisa lama tapi.”
“Oohh tenang saja, Di tempat biasa yaa.. Ada yang mau Aku kenalin sama kamu.”
Alisha mengangkat sebelah alisnya. “Siapa?”
“Tunanganku.”
Deggg… Entah kenapa Hati Alisha seakan dipukul oleh Martil. Perasaan itu selalu muncul, perasaan iri akan diri sang kakak kembarnya karena selalu sempurna, selalu mudah hidupnya, tidak seperti dirinya kini yang masih luntang-lantung, jangankan tunangan, pacar saja mungkin tidak punya.

“Baiklah, tapi tidak lama yaa…” Kata Alisha yang sudah dengan Mood buruknya.
“Okay…”

Alisha menghela nafas panjang saat telepon sudah di tutup. Kini bebannya bertambah satu lagi. Kakaknya akan segera menikah, tentu saja itu akan menyusahkan dirinya. Bagaimana tidak. Tidak cukupkah selama ini dirinya kalah dengan karir dan kesempurnaan kakak kembarnya tersebut?? kini dirinya harus dihadapkan oleh sebuah kenyataan jika Harus melihat kakaknya menikah terlebih dulu saat dirinya sama sekali tidak memiliki calon pacar atau apapun itu.

Alisha melanjutkan mendandani diri seadanya. Toh tidak akan ada yang melihatnya saat dirinya berdiri disebelah Kakak sempurnanya tersebut.

***

Menunggu dengan segelas jus jeruk dan juga makanan pembuka lainnya yang tertata rapi diatas meja adalah hal yang paling menyenangkan untuk Alisha. Kali ini Kakaknya itu pasti akan menteraktirnya jadi dirinya tidak perlu Khawatir harus makan banyak dan makan enak disini.

“Haii Al.. sudah menunggu lama?” Suara itu memaksa Alisha mengangkat keapala dan memandang Kakak cantik yang berada di hadapannya tersebut.

Anisha yang memang pada dasarnya lembut langsung memberdirikan adiknya yang masih ternganga dan memluknya erat-erat penuh dengan kerinduan.

“Kak… Ke.. Kenapa.. Kamu Sama Dia??” tanya Alisha terpatah-patah saat melihat sosok tinggi yang berdiri tepat dibelakang kakaknya tersebut, sosok yang tadi pagi mampir dalam mimpinya, Brandon.

“Ohh yaa.. kenalkan Dia Brandon, Tunanganku.” Kata Anisha penuh dengan senyuman sambil memperlihatkan jari manisnya yang dilingkari oleh Emas berwarna putih dengan berlian sebagai matanya.

Alisha ternganga mendapati kenyataan itu. Bagaimana bisa?? Bagaimana Mungkin?? Apa Kakaknya adalah Sosok angel yang dicari Brandon selama ini?? Kenapa seperti ini?? Entah kenapa Alissha merasakan hatinya Pilu. Dan matanya mulai berkaca-kaca.

“Kamu nangis Al??” tanya Anisha yang langsung dibalah pelukan dari Alisha.

“Aku menangis bahagia Kak..” Jawab Alisha berbohong. Tidak perasaannya tidak Bahagia, tapi Alisha juga tidak tau kenapa dirinya saat ini menangis???

***

Brandon menatap Wanita dihadapannya yang sedang berlinang air mata. Perasaan itu kembali muncul.. perasaan saat pertama kali mimpi aneh itu menghampirinya.

 

“Heii tenang… Bantuan akan segera datang..” Kata seseorang yang samar-samar terlihat dalam matanya. Bayangan itu membelakangi cahaya lampu hingga terlihat seperti seorang malaikat dengan cahaya di belakangnya.
“Ya ampunn… Aku benar-benar Nggak tahan melihat darah kamu..” kata wanita tersebut sambil sesekali memalingkan wajahnya. Brandon merasakan pandanganya mulai mengabur karena sang wanita tersebut semakin tak terlihat.
“Heii.. Kumohon, tetap buka matamu… Lihat Aku..” Suara wanita itu bergetar, dia menangis. Siapa wanita ini hingga bisa menagisinya..???Brandon tak bisa memikirkan apa-apa lagi karena semuanya menggelap.
Lalu Brandon terbangun dengan keadaan yang lebih baik lagi… keadaan dimana hanya ada dirinya seorang, disebuah tangga yang tebuat dari kaca. Tangga tersebut seakan mengambang diatas langit. Entah menuju kemana Brandonpun tak tau.
“Heii.. Apa Kamu mengingatku?” Brandon mengangkat wajahnya mendapati seorang wanita berambut pendek berpakaian putih dengan bando yang membuatnya terlihat sangat Feminim. Itu adalah Wanita dalam mimpi pertamanya, wanita yang sedang menangisinya.
“Kamu….” Hanya itu yang dapat terucap dari bibir Brandon.
“Yaa… aku malaikat penolongmu.” Kata wanita tersebut dengan senyum manjanya, memperlihatkan lesung pipi yang membuatnya semakin terlihat manis.
“Siapa Namamu??” tanya Brandon cepat.
“Angel.. Panggil saja angel..” jawab wanita tersebut sambil berlari naik keatas tangga mendahului Brandon.
“Angel… Tunggu… Apa ini nyata??” Tanya Brandon sedikit bingung. Brandon tak pernah melihat ada tempat seperti ini di dunianya.
“Tentu saja nyata..”
Jawaban wanita bernama Angel tersebut membuat jantung Brandon terasa Berdegup kembali, bahkan lebih kencang dari degupan jantung Normal. “Jika ini Nyata, Maukah Kamu Menjadi istriku..?” Brandon bahkab tak sadar jika sudah melamar wanita aneh yang baru ditemuinya tersebut.
Angel hanya tersenyum. “Temukan aku Brand.. Maka aku akan menerimamu.” Kata Angel dengan senyuman manisnya lalu kembali berlari menaiki anak tangga dan semakin jauh dari Brandon. Brandon mengejarnya menyingkirkan setiap awan yang semakin menyulitkan pandangannya.
“Angel… Angell.. Angelllll…”
Lalu Brandon mendapati dirinya membuka mata untuk pertama kalinya setelah lima hari Koma didalam sebuah rumahsakit di Singapore.

 

Mimpi pertama tentang Angelpun kembali muncul saat melihat Alisha Menangis. Debaran jantungnyapun kembali tak beraturan hanya karena berada di dekat Alisha.

“Brand.. kenapa melamun, Ayoo duduk..” Kata Anisha mempersilahkan Brandon duduk. Brandon akhirnya memilih duduk disebelah Anisha yang sedang berhadapan dengan adik kembarnya tersebut.

“Emm begini Al.. Kakak kan sedang sibuk sekali, jadi kamu mau membantu Kakak bukan?” Anisha mulai membicarakan maksudnya.

“Membantu apa Kak..?”

“Bantu Kakak mengurus semua tentang pernikahan Kakak dengan Brandon.”

“Tapi kenapa harus aku? Bukankah Kak Nisha tau bagaimana seleraku, Kita berbeda Kak..”

Anisha memegang kedua Bahu alisha. “Kita sama Al.. Kita tidak berbeda, kita bahkan saling berbagi rahim saat dalam kandungan Mama, jadi Please.. Percaya sama Kakak.”

“Tapi Kak..”

“Al… Brandon ini pengusaha muda yang sukses, dia selalu membutuhkan kehadiran Kak Nisha dimanapun dia berada sebagai pasangannya, sedangkan kamu tau sendiri, kakak tidak bisa menemaninya apalangi minggu ini Kak Nisha akan dipindah tugaskan ke sebuah rumah sakit di kuala lumpur . Jadi kamu mau kan menggantikan Kakak sementara??”

“Kak Nisha akan kluar Negeri..? Kenapa Aku nggaak tau.?”

“Aku berniat memberi taumu nanti sebelum berangkat. Bagaimana, Apa Kamu mau menggantikan Kak Nisha sementara ini?”

“Apa Kakak gila? Enggak aku nggak Mau. Terakhir kali aku menggantikan kakak semuanya jadi kacau berantakan.”

Alisha mengingat saat itu, Saat dimana Dirinya sedang menggantikan Kakaknya yang sedang sakit untuk latihan Balet, akhirnya dirinya jadi ikut mencintai tarian tersebut. Alisha bahkan lebih menekuni bidang kesenian tersebut dari pada sang Kakak, tapi saat lulus SMA, orang tuanya melarangnya lagi untuk menari Balet lagi Dan menyuruh Alisha mengambil jurusan perbisnisan supaya nanti bisa melanjutkaan usaha sang ayah, tentu saja Alisha menolak, Alisha merasa ini tidak adil, bagaimana mungkin Kakaknya bisa mengambil jurusan kedokteran sesuka hatinya sedangkan dirinya tidak bisa. Akhirnya dengan sisa-sisa keberaniannya Alisha keluar Dari rumah melanjutkan kuliah dengan jurusan kesenian yang dia inginkan tanpa sedikitpun menerima bantuan sang Ayah.

“Ini tidak akan seperti saat itu Al.. Percaya sama Kak Nisha.” Anisha meyakinkan Adiknya yang keras kepala tersebut.

Akhirnya Alisha menurunkan Bahunya pertanda dia kalah dengan bujuk rayu sang kakak. “Baiklah.. Aku akan menggantikan Kak Nisha sementara ini.” Raut bahagia terpancar seketika di wajah Anisha maupun Brandon. “Lalu.. bagaimana kalian bisa bertemu dan memutuskan untuk tunangan?” Tanya Alisha penasaran.

“Emm.. itu karena…”

“Kakak kamu adalah Angel yang selama ini aku cari.” Kata Brandon dengan cepat memotong kata-kata Anisha.

“Yaa aku Angel yang berada dalam mimpinya.” Tambah Anisha meyakinkan.

“Bagaaimana kamu bisa yakin?” Tanya Alisha menyelidik kearah Brandon.

“Aku juga meemimpikan Hal yang sama dengannya Al.. Kami berdua sama-sama saling memimpikan mimpi aneh tersebut selama lima tahun terakhir. Bukankah seperti itu Brand..??” Anisha meminta persetujuan kepada Brandon.

“Yaa.. seperti itulah.” Kata Brandon membenarkan.

“Kak Nisha nggak pernah cerita sama aku.”

“Kadang ada suatu Hal yang pnting tapi tidak masuk akal yang tidak perlu dibagi dengan orang lain, walaupun itu kembaran kita sendiri.” Jelas Anisha kemudian. “Baiklah, aku harus Pergi, sebentar lagi ada jadwal operasi.” Kata Anisha sambil melihat jam tangannya. “Brand, antar Alisha ketempat kerjanya yaa..” Pinta Anisha pada Brandon.

“Tentu saja sayang.” Brandon menerimanya dengan semangat dan juga senyuman lebarnya sambil mengerlingkan Matanya pada Anisha.

“Loh.. kok malah ngantar aku, kenapa Nggak ngantar kak Nisha.?”

“Aku bawa mobil sendiri, sedangkan kamu kan Bandel, nggak punya mobil karena menolak pemberian papa.”

Ahhh topik itu lagi, membuat alisha jengah. Lebih baik menerima tawaran Brandon untuk mengantarnya saja.

“Baiklah.. Lebih baik aku diantar Brandon saja.” Kata alisha dengan nada seikit cueknya.

Akhirnya Anisha pergi dan Brandon mengantarnya sampai parkiran Mobilnya, sedangkan Alisha lebih memilih duduk dan menghabiskan makan siangnya, sungguh, ini sedikit berat untuknya. Entah apa itu tapi Alisha merasa ada beban berat pada pundaknya.

***

“Anisha.. Terimakasih sudah membantu.” Kata Brandon sambil menahan Pintu mobil Anisha yang akan tertutup.

Anisha teersenyum manis. “Tentu saja Brand, Apapun demi kebaikan saudara kembarku, aku akan melakukannya.”

“Kenapa Kamu percaya sama aku?”

“Karena kamu terlihat sungguh-sungguh. Aku sangat bersyukur jika Alisha bersama lelaki seperti kamu.”

Brandon tersenyum. “Benarkah?? Tapi sepertinya akan sulit mendapatkannya.”

“Dia keras kepala Brand, kamu harus sabar dan tahan dengan semua kelakuannya, Oke..”

“Oke.. Sekali lagi terimakasih Nisha..”

Akhirnya Anisha pergi, dan Brandon mulai melangkah masuk kedalam Restoran tersebut dan kembali pada Alisha.. Angelnya..

“Well.. Jadi Kamu sudah menemukan Angelmu tuan?” tanya Alisha dengan nada sedikit sinis ketika Brandon sudah kembali duduk dihadapannya.

“Sudah, Aku sudah menemukannya.” Kata Brandon dengan tersenyum tapi tegas. ‘Dia dihadapanku.’ Tambah Brandon lagi tapi di dalam Hati.

“Oke.. Karena kamu sudah menemukannya, Maka seminggu terakhir ini Kamu harus Menteraktirku Makan.”

Brandon mencoba menyembunyikan rasa senangnya dengan berwajah datar. “Kenapa harus seperti itu.”

“Heii.. kamu akan jadi kakak iparku Brand, dan aku tidak mau punya kakak ipar yang pelit. Lagi pula bukankah kamu ketemu dengan Kak Nisha karena Aku??”

“Baiklah, Aku akan menteraktirmu makan siang selama seminggu terakhir ini.” Jawab Brandon dengan senyuman gelinya.

“Oke.. Sekaraang Antar aku ketempat kerjaku.” Perintah Alisha kemudian.

Brandon Akhirnya menurutinya. Berjalan dengan tegap dibelakang Alisha layaknya seorang Bodyguard. Brandon memandang puggung Alisha di hadapannya seraya bergumam dalam hati. ‘Al.. Walau ada seribu orang yang mirip denganmu atau Angel dalam mimpiku, aku tidak peduli, Hatiku Memilihmu, Jantungku mengenalimu, Aku tau Jika Kamulah Angel Dalam mimpiku. Aku akan mendapatkanmu Al… Dan aku akan menagih janjimu dalam mimpiku.’

-TBC-

Bagaimana Chapter 4 ini… Hayooo siapa yang sudah penasaran… komen yaaa,,, heheheheh Btw di bawah ini Cast untuk mereka bertiga yaa…

page22

Because It’s You (Novel Online) – Chapter 8

Comments 7 Standard

BiyCover2Because It’s You

 

Chapter 8

Renno mendengar samar-samar desahan dari bibir Allea membuat Renno melarikan bibirnya kebibir mungil tersebut… mengecapnya Kembali… Sialan…!!! dirinya benar-benar semakin menggila… Renno menginginkan Allea Saat ini juga…..
Mulai di tindihnya tubuh Allea tanpa melepaskan ciuman panasnya… Sialan…!!! Renno tak pernah menginginkan wanita seperti saat ini…
Bibir mereka sampai memerah, bengkak karena Ciuman yang tak pernah putus, Nafas keduanya Terengah-engah… bahkan Sepanjang leher dan dan pundak Allea penuh dengan jejak kemerahan. Allea membuka matanya, melihat Ekspresi Renno yang benar-benar terlihat tampan di matanya. Rennopun demikian, matanya tepat memandang mata Allea, lalu menyapu seluruh wajahnya… Renno terpesona dengan wajah itu… wajah polos bercampur dengan Ekspresi kenikmatan…
Renno menghentikan Cumbuannya, dia termangu menatap wajah itu.. haruskah dirinya melakukannya sekarang..? di usapnya wajah Allea menggunakan ibu jarinya, di kecupnya berkali kali bibir merah itu penuh dengan kasih sayang… lalu di genggamnya telapak tangan Allea, di kecupnya satu persatu jari jemarinya… membuat Allea merasa di sayangi…
“Bolehkah Aku…” Renno tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi karena Allea sudah menganggukkan kepalanya… Astaga.. Allea menyetujuinya…dan Rennopun menjalankan Aksinya dengan sangat pelan dan Romantis….
****
Allea membuka matanya ketika kesadaran mulai menghampirinya. Dirasakannya sebuah Lengan kekar melingkari perutnya, dan dia juga merasakan jika dirinyapun berbantalkan lengan dari seseorang. Punggungnya menempel sempurna pada sesuatu yang bidang , keras dan hangat… seperti dada seseorang… Allea juga merasakan hembusan nafas teratur pada tengkuk lehernya… Astaga.. Apakah ini nyata..?? jika iya Allea bahkan tak ingin bergerak, takut jika akan membangunkan lelaki tersebut dan semua kenyamanan ini akan berakhir.
Allea tersenyum mengingat kejadian tadi malam.. kejadian yang sangat panas menurutnya, hingga kedua-duanya seakan mandi keringat walau sebenarnya kamar itu ber AC.. Renno melakukanya dengan sangat lembut dan Romantis.. Alleaa menikmati semuanya, Tak Ada lagi nama Nessa di sebutkan oleh Renno seperti malam itu, walau namanya juga tak di sebut Renno, tapi Allea cukup bahagia mengingat Renno melakukannnya dengan sadar.
Tiba-tiba dia merasakan Bayinya menendang tepat di bawah telapak tangan Renno yang memeluknya dari belakang. “Kamu sudah bangun sayang..??” Bisik Allea pada bayinya sambil mendaratkan telapak tangan mungilnya diatas telapak tangan Renno yang berada di atas perut telanjangnya.
Tiba-tiba Allea merasakan tangan Renno bergerak, mengusap lembut perutnya, lalu menggenggam tangannya dan menciumi setiap jarinya seperti tadi malam, “Pagi..” Sapa Renno dengan suara yang sangat serak. Seketika itu juga Allea menjadi sangat gugup.
“Pagi..” Jawab Allea dengan gugup.
Renno lalu membalikkan tubuh Allea yang tadi membelakanginya sekarang menjadi miring menghadapnya. dipeluknya tubuh Rapuh Allea..
“Apa aku tadi malam Nyakitin kamu.?” Tanya Renno masih dengan memeluk Allea
Allea hanya menggelengkan kepalanya, dirinya malu mengingat kejadian tadi malam… Astaga… kenapa bisa Dirinya terlena oleh Renno..?? Ini kan salah.. Mereka belum menikah tapi mereka tinggal bersama, dan melakukannya lagi dengan sadar,,, Apa yang sudah terjadi dengan dirinya hingga tak bisa menolak Renno..?? Batin Allea.
“Ayoo tidur Lagi.. Ini masih terlalu pagi.” Kata Renno masih dengan memeluk Allea. Renno sendiri tak tau kenapa bisa kehilangan kontrol seperti itu tadi malam dengan Allea. Sebenarnya pagi ini dia sangat gugup dan canggung, Apalagi mengingat mereka berdua yang masih dalam keadaan telanjang bulat dibawah selimut yang sama dan sedang berpeluk mesrah, membuat Renno menginginkannya lagi, tapi Renno mencoba menghilangkan keingainnannya dan Kecanggungan itu dengan bersikap seperti biasa..
Alleapun mengangguk dan memejamkan matanya kembali kali ini di dalam pelukan Renno. Dan Rennopun mulai tidur kembali dengan menutup matanya lagi.
***
Dampak Buruk untuk Renno setelah mereka bercinta tadi malam Adalah Dia menginginkannya Lagi dan lagi… Bahkan Saat ini Renno sedang Bolos ke kantor karena tak ingin meninggalkan Allea. Sedari tadi Renno hanya duduk dengan gelisah Di depan Tv, Pandangannya tak Fokus pada Tv tapi malah tak mau berhenti memandang kearah Allea. Allea yang saat ini sedang bolak-balik membersihkan Seluru penjuru Apartemennya benar-benar membuatnya Gila. Dia tak bisa konsentrasi hanya karena memandang Allea..
“Apa kamu bisa berhenti melakukan itu..?” Tanya Renno yang sedikit risih dengan Allea yang berdiri di Depan Rak buku sebelah Tv dengan Berjinjit-jintit meraih-raih sesuatu.
“Emm.. Maaf..”
“Memangnya kamu mau ngambil apa..?” Tanya Renno yang sudah berdiri dan bergegas menuju kearah Allea.
“Buku-buku itu kayaknya banyak debunya, aku mau bersihin itu..”
“Sini biar Aku ambilkan.” Kata Renno sambil mengambilkan buku-buku tersebut Tepat dari belakang tubuh Allea.
‘Degg..’
Dan Allea langsung merasa gugup karena kedekatan itu. Sejak tadi Pagi Renno tak banyak omong. Kenapa..?? Apa dia Menyesal melakukan itu..??? lamunan Allea Buyar ketika Renno mulai membalikkan tubuhnya untuk menghadap tubuh Renno.
“Kamu kenapa.? Sakit..?”
“Ahh.. Enggakk..” Jawab Allea dengan sedikit menunduk malu.
“Kamu istirahat aja dulu, biar ini aku yang bersihin.” Kata Renno yang sudah mengambil buku-buku itu.
“Jangan.. biar Aku saja.” Kata Allea sambil merebut buku-buku itu.
“Nggak, Aku Aja..” Renno kembali merebut Buku-buku itu. Dan Astaga… keduanya lalu sama-sama terenyum karena tingkah konyol mereka yang rebutan buku sudah seperti Anak SD yang rebutan permen dengan temannya.
‘Tett.. Tett…’
Bell pintu Apartemen Renno berbunyi. Allea bergegas untuk membuka pintu, tapi tiba-tiba Renno mencekal Tangannya. Allea menatap Renno dengan tatapan tanda tanya.
“Biar aku aja yang buka pintunya, mungkin itu Ramma bawa berkas-berkas kantor. Kamu disini Aja..” Kata Renno kemudian. Renno benar-benar tak mau jika yang datang bertamu itu Si Ramma, karena mungkin saja Ramma akan mengejeknya habis-habisan atau mungkin akan menggoda Allea,, Astaga.. apa yang sudah di fikirkannya..??
Dibukanya pintu tersebut dan Renno sangat Terkejut ketika mendapati wanita Sexy yang langsung melemparkan diri kedalam pelukannya.
“May… Kamu ngapain Sih..” Kata Renno mencoba melepaskan pelukan maya, Renno sedikit Risih dengan tingkah laku Maya.
“Sayang.. aku nggak mau kehilangan Kamu..”
“Apa maksudmu..? Kita sudah tak ada hubungan Lagi..”
“Enggak.. Kita masih dalam suatu hubungan.” Maya masih tak mau melepaskan pelukannya.
“May.. Jangan buat Aku Marah..” dan setelah perkataan dingin dan tajam Dari Renno tersebut, Maya langsung melepaskan pelukannya.
“Renn.. Kenapa kamu lakuin ini..?” Maya mulai menangis terisak-isak. “Kamu Pindahkan Aku kebagian Administrasi, belum lagi Gosip di kantor yang menyebut-nyebut kamu sudah Menikah. Kenapa kamu tega nyakitin Aku..?” Lanjut Maya lagi.
“Maaf tapi aku memang nggak pernah punya perasaan Lebih terhadapmu.” Jawab Renno dingin.
“Apa..?” Maya Membulatkan matanya ketika Renno dengan gampangnya berbicara tentang perasaannya setelah apa yang sudah mereka lakukan selama ini.
“Dan aku memang punya istri, dia sedang Hamil, Jadi Please… Keluar dari Apartemenku sekarang juga jika kamu masih punya harga diri.” Lanjut Renno lagi tanpa sedikitpun melihat Raut wajah Maya yang sudah memucat.
Maya ternganga dengan apa yang sudah dikatakan oleh Renno. Kenapa Renno sekasar itu dengannya..?? Pada saat bersamaan Maya melihat wanita yang berjalan menuju kearah mereka Dia Allea.
“Siapa Mas..? Kok Nggak disuruh masuk..?” Tanya Allea dengan lembut.
“Nggak perlu, dia mau pulang.” Jawab Renno dingin.
“Jadi.. Jadi ini istri kamu..?” Tanya Maya dengan tatapan tak percayanya.. Astaga.. inikah Istri Renno..?? Wanita yang menduduki kursi Sebagai Nyonya CEO yang selama ini diimpi-impikan para Gadis di kantor Renno..?? Apa Mata Renno buta sehingga memilih wanita Yang super Biasa-biasa saja seperti Wanita ini..?? Batin Maya sambil memperhatikan Allea dari ujung kepala hingga ujung Kaki.. Membuat Allea salah tingkah.
“Ada yang salah yaa sama penampilan Saya..?” Tanya Allea sambil ikut memandangi dirinya sendiri.
Tapi maya tak menghiraukan pertanyaan Allea “Kamu Gila… Enggak, dia nggak mungkin istri kamu.” Kata Maya masih tak percaya dengan Renno.
“Terserah Kamu percaya atau tidak tapi dia benar-benar istriku.” Kata Renno sambil meraih pinggang Allea dan tanpa di duga Renno langsung mendaratkan Ciumannya dibibir Allea.
Allea sempat terkejut, tapi tetap dinikmatinya Ciuman tersebut. Maya yang melihatnya langsung Murka, Dia lalu berbalik dan meninggalkan Apartemen Renno dengan meghentak-hentakkan kakinya.
Allea masih saja tak percaya dengan apa yang dilakukan Renno. Maya Sudah pergi tapi Renno tak kunjung menghentikan ciumannya, Astaga… Apa kejadian tadi malam akan terulang kembali..??
Akhirnya Rennopun mengakhiri Ciumannya. Cukup lama keduanya terdiam dan masih saling berhadapan Renno menyumpahi dirinya sendiri karena lagi-lagi tak dapat menahan diri. Lalu dia meninggalkan Allea begitu saja tanpa sepatah katapun, membuat Allea Sedikit merasakan Rasa tak nyaman di hatinya. Ada apa dengan lelaki itu.? Siapa wanita tadi..? Pikirnya kemudian.
***
Beberapa hari kemudian…
“Gue udah nglakuin itu.” Ucap Renno tanpa Ekspressi.
Ramma yang saat itu berada di dalam Ruangannya sampai tersedak kopi yang diminumnya karena perkataan Renno. “Melakukan Apa maksud Lo..?”
“Saran Lo.” Jawab Renno cuek.
“Apa..? Jadi Lo bener-Bener Nidurin Dia lagi..?” Tanya Ramma dengan Nada tak percaya.
“Bukannya Lo Kasih saran Gue kayak gitu kemaren..?”
Dan meledaklah tawa dari Ramma, “Astaga… Secepat itu Renn..?? dan gimana setelah itu..?”
“Gue merasa semakin Gila.”
“Dan itu tandanya Jika Lo sudah lebih parah dari pada Dhanni, Lo bahkan hanya bisa melakukan Seks hanya sedang seorang wanita, Lo parah.” Kata Ramma sambil tertawa.
“Sialan..!! Terusin Aja Nertawain Gue, Gue sumpahin Lo Akan merasakan hal yang sama Seperti yang Gue Rasain saat ini.”
“Nggaak Mungkin.” Jawab Ramma dengan Cepat dan yakin.
Tentu Saja tidak mungkin, Siapa sih yang bisa menakhlukan Hati keras Ramma, Bahkan Renno Sendiri tak yakin jika Ramma masih punya hati untuk Wanita.
***
Sore ini Allea berjalan-jalan di sekitar Komples Apartemen. Menuju kesebuah taman yang ternyata lumayang ramai di kunjungi penghuni Apartemen lain di sekitarnya. Ahh… jika tau ada tempat yang seperti ini mungkin dirinya akan menghabiskan waktu sore membosankannya disini, Pikirnya kemudian.
Allea saat ini memang sudah tak kerja lagi. Renno melarangnya. Setelah malam itu Renno kembali berubah. Renno masih perhatian, bahkan lebih. Hanya saja, Renno terlihat semakin Canggung ketika di hadapannya. Renno berangkat pagi dan pulang jam 7 malam, sehingga Allea beberapa hari ini bosan dan kesepian, tak ada teman. Renno lebih terlihat sedang meghindarinya. Ada apa..? Apa yang perlu dihindari..?
Mereka masih tidur satu ranjang meski Renno tak akan masuk kamar dulu sebelum Allea tertidur pulas. Arrgghhh.. itu benar-benar membuat suasana hati Allea tak nyaman. Allea menginginkan Renno selalu berada disisinya, Menyentuhnya…. bahkan Allea merindukan Cumbuan lembut yang diberikan Renno.
Astaga… Sejak kapan Wanita polos ini berubah menjadi wanita yang kehausan akan sentuhan Lelaki..???
“Hai…” Dan Alleapun di kejutan dengan sapaan seeorang terhadapnya.
“Mas Robby..? Mas Robby kok disini..?” Tanya Allea tak percaya.
“Aku tadi mau ngantar Beras-berkas Renno yang ketinggalan dikantor, tapi pas aku nyampek Apartemennya kayaknya dia belum nyampek Rumah. Kamu sendiri ngapain disini..?” Tanya Robby dengan heran. Bagaimana tidak, ini kan Kompleks Apartemen kalangan Elit, bagaimana bisa wanita seperti Allea berada di sini..?
“Emm.. Aku… Aku kerja disini mas..” Akhirnya Allea memilih berbohong.
“Ohh.. Oiyaa.. kenapa kamu berhenti kerja di Cafe..?” Tanya Robby lagi.
“Aku kecapek’an Mas.. Mugkin cukup kerja disini aja.”
“Bagaimana Kabar dia..?” tanya Robby kali ini sambil membelai lembut perut bncil Allea.
“Baik.. dia baik-baik saja.” Jawab Allea dengan tersenyum.
Mereka lalu berbincang-bincang bersama sesekali mengumbar tawa dan candaan yang membuat orang di sekitar mereka iri melihat kebersamaan mereka tak terkecuali Lelaki yang sedang Menatap mereka tajam dari dalam mobil.
***
Tak tau kenapa Hari ini Renno sangat ingin pulang cepat. Sepertinya dirinya memang tak bisa menahan diri lagi untuk berjauhan dengan Allea. Ramma berkata Jika dirinya sudah sangat parah, Ramma menyarankan Jika dirinya harus menghindari Allea sedikit demi sedikit. Bagaimanapun juga hubungannya dengan Allea hanya sebatas tanggung jawab, mereka bukan sepasang kekasih atau sepasang suami istri, jadi tidak di benarkan jika Renno selalu ingin menyentuh Allea.
Akhirnya beberapa hari ini Renno menghindari Allea sesuai dengan nasehat Ramma, Dan itu membuat Renno semakin Gila dan Frustasi. Hari ini mungkin Renno berada pada ujung kesabarannya, betapapun dirinya menentang perasaannya untuk berada di dekat Allea, Renno tetap tak bisa. Dia selalu menginginkan untuk berada di dekat Allea. Sialan…!!! ternyata dirinya sudah tak dapat tertolong lagi.
Renno masuk kedalam Apartemen berharap bertemu dengan Sosok yang sudah dirindukannya, Namun ternyata Sosok tersebut Tak ada. Kemana dia..?? Renno sedikit panik karena tak menemukan Allea dimanapun juga. Allea tak pernah keluar Apartemen tanpa pamit dengannya. Apa Terjadi sesuatu dengan Allea..? Apa Allea pergi meninggalkannya..? Tidakk… Allea tak boleh pergi meninggalkannya.
Akhirnya Renno kembali kemobilnya dan menancap Gasnya. Tujuan pertamanya adalah Rumah Allea yang dulu. Renno kesana tapi Allea tak ada. Rennopun berputar balik menuju kearah Cafe tempat Allea kerja dulu, tapi disana juga tak nampak ada Allea. Renno benar-benar bingung, dimana keberadaan Allea saat ini. Akhirnya dia kembali pulang dan mencoba untuk mengelilingi Kompleks Apartemennya, Dan benar saja, di sebuah taman Renno melihat Allea yang sedang duduk dan bercanda dengan seseorang. Seorang Lelaki. Renno tau siapa Lelaki itu. Itu Robby.
Sialan…!!! Ngapain Si Robby kesini..? Apa dia mau mendekati Allea. Dan berani-beraninya dia memegang Anaknya yang sedang Di kandung Allea. Apa sebenarnya hubungan mereka..? Mengapa mereka terlihat sangat dekat..? Ini tak boleh dibiarkan. Renno lalu memarkirkan Mobilnya di tempat parkir taman tersebut. Dilangkahkannya kakinya dengan pasti kearah tempat duduk Allea dan Robby.
“Ngapain Lo kesini..?” tanya Renno dengan dingin saat dia sudah sampai di hadapan Allea dan Robby.
Robby tampak terkejut dengan kedatangan Renno yang tiba-tiba. Begitupun dengan Allea yang langsung tampak salah tingkah Karena tatapan Tajam yang diberikan Renno terhadapnya.
“Gue mau kerumah Lo, Ni berkas-berkas Lo ketinggalan. Lo kan udah pulang duluan, tapi Gue tadi kerumah Lo kok Lo malah nggak ada..?” Robby sedikit tampak bingung.
“Gue Nyari seseorang.” Kata Renno masih dengan nada dingin dan penuh penekanannya serta tatapan membunuhnya yang masih terarah kepada Allea. “Ayoo.. Kita ke Apartemen Gue dulu.” Lanjut Renno lagi.
Robby sedikit heran dengan Renno. Dari Dulu Renno tak pernah mau ada keluarganya yang mengunjungi Apartemen yang dia tinggali. Tapi kenapa sore ini berbeda..?
“Ok… kita kesana dulu.” Robbypun Mengiyakan. “All.. Ikut Aku yuk..” Ajak Robby kemudian sambil menggenggam tangan Allea.
“Emm.. Aku… Aku…” Allea benar-benar tak tau harus berkata apa. Dia juga tak mengerti kenapa Renno mengajak Robby ke Apartemennya.
Renno yang melihat kedekatan Mereka Entah kenapa langsung tersulut oleh sesuatu yang ingin membuatnya meledak-ledak. Renno lalu menyunggingkan Senyuman Liciknya dan tanpa disangka-sangka diraihnya pinggang Allea hingga menempel pada tubuhnya. “Tentu saja dia ikut.” Kata Renno masih dengan menyunggingkan senyuman liciknya.
***
Robby benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dirinya sekarang Ada didalam Lift bersama dengan sepeupunya, Renno, Yang masih setia merangkul Pinggang Wanita pujaan hatinya,Allea. Apa sebenarnya hubungan mereka..? kali ini pertanyaan itu yang muncul dalam benak Robby.
Mereka menuju kedalam Apartemen Renno masih dengan Berdiam diri dan tak ada yang membuka Suara. Allea diam karena takut salah bicara. Sedangkan Robby diam Karena tak mau bertanya, dia takut jawaban dari pertanyaannya akan menyakiti hatinya.
“Buatkan minum untuk Robby Sayang.” Kata Renno dengan santainya membuat Robby semakin bingung, dan penasaran sebenarnya apa hubungan Renno dan Allea. “Kenapa..? Lo kayaknnya kok kaget gitu..?” Tanya Renno pada Robby saat melihat wajah terkejut dari Robby.
“Lo kenal dia dari mana..?” Robby berbalik bertanya.
“Bukan urusan Lo.” Jawab Renno cuek.
“apa dia tinggal di daerah sini..?” Tanya Robby yang sepertinya masih tak mengerti permasalahannya.
Renno lalu tersenyum hambar. “Dia tinggal disini, sama Gue.” Jawab Renno dengan enteng.
“Apa..??” Teriak Robby tak percaya. “Loh… Kok bisa..?” Robby masih terlihat tak percaya dengan apa yang dibicarakan Renno.
“Kami tinggal berssama karena sebentar lagi dia akan melahirkan anakku.” Dan pernyataan terakhir Renno benart-benar membuat Robby lemas.
Allea yang mendengarnyapun terkesan tak enak terhadap Robby. Astaga.. apa yang sudah di fikirkan robby terhadapnya..?? Wanita yang hamil diluar nikah, Tinggal bersama dengan lelaki diluar nikah pula. Pasti Robby saat ini berfikir jika dirinya adalah wanita murahan dan lain sebagainya.
Tiba-tiba Robby berdiri. “Gue Balik dulu.” Kata Robby singkat sambil bergegas kearah pintu.
“Loh.. kenapa buru-buru..?” Renno mencoba untuk berbasa-basi.
“Ada urusan dirumah.” Robby pergi tanpa sedikitpun melihat kearah Allea atau berpamitan dengannya. Dan itu benar-benar membuat Allea tak nyaman.
Allea akhirnya kembali kedapur, dan membuang kopi yang dibuatnya untuk Robby. Masih dengan membersihkan gelas Kopi tersebut pikiran Allea kembali melayang –layang. Bagaimana jika Robby membencinya..? Jika Robby tak akan mau berteman dengannya lagi..? Bagamana jika Shasha juga tau..? Apa shasha juga akan membencinya..?? dan lamunan Allea kembali buyar ketika dirinya merasakan sebuah Lengan Kekar memeluk perutnya dari belakang. Lengan Renno.
Ada apa dengan lelaki ini..? Jujur Allea sangat bingung dengan perubahan sikap Renno yang kadang menjadi lelaki Romantis dan perhatian, tapi kadang berubah menjadi lelaki dingin yang tak bisa di sentuh dan cenderung menghndarinya. Ada apa dengannya..????
“Ada hubungan apa kamu dengan Robby.” Tanya Renno sambil sesekali mengecup leher Allea.
“Kami hanya teman.”
“Bohong”
“Iya.. sumpah, kami hanya teman.”
“Kamu suka sama dia..?” Tanya Renno terang-terangan.
“Mas Robby baik, Semua akan suka kalau kenal denganya.”
“Tapi aku nggak suka.” Potong Renno kemudian. “Aku nggak suka lihat dia Dekatin Kamu apalagi sampai pegang-pegang calon anakku.” Kata Renno lagi dengan penuh penekanan.
“Maaf…” Kata Allea sambil menundukkan kepalanya.
Renno lalu membalikkan tubuh Allea supaya menghadapnya. Diangkatnya dagu Allea supaya menghadap kearahnya.
‘Cantik..’ Pikir Renno kemudian. Lalu tanpa disangka Renno mendaratkan Ciuman lembutnya pada bibir Allea. Menyesapnya sambil memejamkan mata.. Astaga… Wanita Polos ini benar-benar membuatnya ketagihan.
Alleapun menikmati ciuman itu. Di Cengkeramnya Kemeja yang melekat dengan pas didada Renno. Allea memang tak pandai berciuman, Tapi Renno melakukannnya seakan-akan Allea juga membalas ciumannya. Kedua-duanya sama-sama menikmati cuuman intens itu sambil memejamkan mata masing-masing.
Renno menghentikan Ciumannya ketika mengetahui jika Allea sudah ssak karena kehabisan Nafas. Dilihatnya Wajah Allea yang merah padam hingga telinganya. Sialan…!!! kenapa bisa wanita seperti ini membuatnya tergoda..?
“Apa kamu tau jika kamu sudah mengacaukan semuanya..?” Tanya Renno dengan nada dinginnya.
Allea memandang Renno dengan tatapan sendunya. “Maaf…” Kata Allea lagi dengan lirih.
“Kamu sudah mengacaukan hidupku, Kamu sudah mengacaukan masa depanku, dan kamu juga sudah mengacaukan Perasaanku. Apa Kamu puas nglakuin ini sama Aku..?”
Kali ini Allea tak mengerti dengan apa yang dikatakan Renno. Renno lalu megecup bibir Allea sekali lagi dengan singkat, Kemudian menggenggam tangan Allea. “Ayoo ikut aku.” Kata Renno sambil menyeret Allea.
“Kita mau kemana..?”
“Kamu akan tau.”
***
Ternyata Renno memarkirkan Mobilnya di depan sebuah Butik besar dan mewah. Renno lalu masuk dan bertanya pada salah satu pegawai butik tersebut.
“Ibu Zoya ada..?” Tanya Renno pada pegawai butik tersebut.
“Ada di ruangannya pak, Tapi ibu Zoya sedang ada tamu, Ada yang bisa saya bantu..?”
“Apa Ramma tamunya.?”
“Iya pak.”
Dan setelah jawaban pegawai tersebut Renno langsng melesat masuk dengan menggandeng tangan Allea tak memperdulikan panggilan dari sang pegawai butik tersebut.
Ternyata itu adalah butik milik Zoya, Sangat besar dan Elegant. Renno langsung masuk kedalam Ruangan Zoya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dan benar saja, didalam sudah ada Zoya yang berada di atas pangkuan Ramma saling memangut bibir masing-masing.
Allea yang melihatnya langsung menundukkan wajahnya. Dia malu dan memerah karena ternyata tadi dirinya juga sempat berciuman intens seperti itu dengan Renno.
“Hentikan itu dulu.” Suara Renno membuat Zoya dan Ramma menghentikan Aksinya.
“Brengsek..!! sedang apa Lo disitu..?” Umpat Ramma yang langsung dapat hadiah cubitan di perutnya dari Zoya.
“Gue butuh bantuan.” Jawab Renno dengan cueknya.
“Apa Lo nggak bisa nunggu..? Lo kebiasaan suka Ngganggu Waktu orang tau nggak Renn,” Gumam Ramma dengan kesal.
“Sorry.”
“Sial..!” Ramma masih saja mengumpat.
Zoya hanya tersenyum melihat Ramma yang merajuk seperti anak kecil. “Apa yang bisa kita bantu Renn..?”
“Carikan baju yang cantik tapi tetap sopan untuk dia.” Kata Renno sambil menarik Allea kedepannya.
Ramma yang tadinya Enggan berbicara Lagi dengan Renno langsung berdiri menghampiri Renno karena mendengar permintaan Renno tadi.
“Apa Gue nggak salah denger..? Lo suruh Zoya carikan baju yang cantik untuknya..? Jangan bilang kalo Lo mau Ngelamar dia..?” Tanya Ramma penudnegan Selidik.
Renno hanya tersenyum misterius. “Gue nggak akan ngelamar dia. Gue Hanya akan bawa dia kerumah Orang tua Gue, dan Nikahin dia Secepatnya.” Jawab Renno dengan tenang.
“Whatt..?” Ramma.
“Apa..?” Zoya.
“Hahh..?” Allea.
Kata mereka bertiga scara bersamaan. Ketiga-tiganya sama-sama terperangah dengan perkataan tenang yang meluncur sempurna dari bibir Renno. Bahkan Allea merasakan tubuhnya langsung Panas dingin ketika mendengar pernyataan itu, Menikah..?? Benarkah Renno akan menikahinya..??

__TBC__

Haii… Gimana ama Chapter 8 nya..?? kurang HOT ya… hehheheh maklum aja yaa karena memang ini bukan Novel Roman Erotis, jadi adegan Senonoknya nggak ada.. Okk.. Mkasih udah mau baca.. jangan lupa kasih Like / Coment yaa…

Because It’s You (Novel Online) – Chapter 7

Comments 9 Standard

BiycoverBecause It’s You

 

Chapter 7

 

Allea membulatkan matanya ketika sampai didalam Kamar itu, Kamar yang diyakini Allea sebagai kamar Renno. Kenapa dirinya digiring kemari..?? dan kenapa pakaian-pakaiannya di masukkan Renno kedalam Lemari di kamar tersebut..? Allea bertanya-tanya dalam hati.
“Kamu kenapa..?” Tanya Renno saat melihat Allea yang sedang ternganga didepan pintu kamarnya.
“Kenapa bajuku di taruh disini..?” tanya Allea dengaan tatapan tanda tayanya.
“Yaa karena kamu akan tidur sini.” Jawab Renno dengan cueknya.
“Loh.. tapi.. bukannya ini Kamar Mas Renno.”
“Iya, emangnya kenapa..?”
“Kita tidur sekamar..?” tanya Allea masih ta percaya.
“Iya, emangnya kamu mau tidur dimana lagi..? Disini Cuma ada satu kamar.”
“Dan.. Satu.. Ranjang…?”
“Yeepp..” Jawab Renno dengan cepat. Dan entah mengapa Tubuh Allea memanas ketika mengingat dirinya akan tidur sekamar bahkan seranjang dengan Renno nantinya. “Kamu kenapa merah Gitu..” Tanya Renno sembari mendekatkan Wajahnya lebih dekat kearah wajah Allea.
Allea langsung gelagapan mendengar pertanyaan Renno tersebut apalagi saat Renno mendekatkan wajahnya. Allea langsung menangkup kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya, Astaga… Kenapa Dia jadi seperti ini..?? “Ahh enggak.” jawabnya masih dengan malu-malu.
Melihat Allea yang terlihat malu-malu membuat Renno tersulut akan sesuatu. Sial..!! kenapa seperti ini.. Wanita ini membuatnya menjadi lelaki yang Aneh. Membuatnya berbeda dengan sosok yang ia bangun selama ini setelah putus dengan Nessa. Akhirnya dengan sedikit menyunggingkan senyumannya Renno melangkah lebih dekat kearah Allea, tapi Allea mundur satu langkah, Renno maju lagi dan Allea mundur lagi. Astaga,, ini benar-benar Menyenangkan, Pikir Renno dalam hati.
“Kenapa Menjauhiku..?” Entah Apa yang membuat Renno berubah menjadi lelaki penggoda seperti sekarang ini.
“Ahhh Enggak..” Lagi-lagi Allea gugup dengan kedekatan mereka.
Renno menundukkan dan memiringkan Wajahnya hingga sejajar dengan wajah Allea. Jarak wajah Mereka hanya beberapa senti. “Cepat mandi dan bikinkan aku Nasi Goreng, Aku sudah kelaparan.” Kata Renno dengan serak tepat di depan bibir Allea, dan langsung meninggalkan Allea yang terpaku begitu saja.
Renno keluar Dari kamarnya dengan menyunggingkan sebuah senyumannya. Entah mengapa dia merasa senang menggoda Allea seperti itu. Sedangkan Allea sendiri merasakan seakan-akan tubuhnya terbakar, dia menangkup kedua pipinya sendiri dengan kedua telapak tangannya lagi. Astaga…. dia bahkan merasakan suasana didalam kamar tersebut menjadi panas.. dirinya harus mandi sekarang juga…
***
Setelah mandi dan mengenakan pakaian bersihnya Allea langsung keluar dari kamar dan menuju kedapur, melewati Renno begitu saja yang berada di depan Tv. Sedangkan Renno sendiri langsung mengalihkan pandangannya kearah Allea ketika mencium Aroma segar dari badan Allea, Aroma yang sama dengan Aromanya saat setelah mandi, namun entah mengapa dirinya merasakan jika Aroma Allea tetap yang terbaik.
Renno semakin membulatkan matanya ketika mendapati Allea dengan Daster Hello Kitty mungilnya yang panjangnya hanya Selutut, sedikit lebih kecil karena dada dan Perut Allea kelihatan sangat menonjol, rambut Allea yang setengah basahpun menjadi sasaran pandangannya, belum lagi betis dan lengan Allea yang entah mengapa terlihat putih mulus. Astaga.. Renno benar-benar Langsung menegang saat itu juga.
Apa karena Daster itu..? Allea berpakaian sederhana namun entah mengapa itu semakin membuat Renno ingin melahapnya bulat-bulat. Jujur saja, Renno tak pernah melihat Wanita mengenakan Daster seperti itu seumur hidupnya, Apa semua wanita yang mengenakan Daster akan Se sexy Allea..? Sexy..?? tunggu dulu, sejak kapan Allea yang biasa-biasa saja menjadi wanita yang sexy dan menggoda untuk Renno..??
“Mas Renno ngapain..??”
Renno baru Tersadar ketika mendengar pertanyaan yang terdengar heran dari Allea. Dan Benar saja jika Allea saat ini sedang Heran, karena tanpa ia sadari ternyata sedari tadi Kakinya sudah melangkah kearaah Allea bahkan saat ini tubuhnya hampir saja menempel di bagian tubuh belakang Allea.
“Ehh.. emm,, Aku.. Aku…” Renno pun tampak gugup dan tak tau harus menjawab apa karena dia sendiripun tak tau kenapa dirinya bisa sampai tepat di belakang Allea.
“Apa ada yang salah,.?” Tanya Allea lagi yang saat ini sudah menghadapnya dan sangat dekat dengannya.
“Rambutmu kan masih basah, harusnya kamu pakai handuk. Lihat, karpetku jadi basah kan..” Kata Renno kemudian sambil menunjukkan karpet dibawahnya yang sama sekali tak Basah. Renno benar-benar tak tau harus memberikan alasan apa, baru kali ini dia seperti ini dihadapan wanita.
“Maaf…” Kata Allea kemudian sambil menunduk.
Renno lalu masuk kedalam kamarnya dan kembali dengan sebuah handuk ditangannya. “Pakai ini, biar nggak membasahi karpetku.” Kata Renno dengan kesal sambil melemparkan Handuk kepada Allea,. Sebenarnya Renno tak kesal dengan Allea, dia kesal dengan dirinya sendiri karena dengan mudah dan cepatnya dirinya tergoda dengan Allea yang sederhana itu.
Dan Rennopun semakin semakin merutuki dirinya sendiri karena sudah memberikan handuk kepada Allea sehingga Allea menyanggul Rambutnya keatas dengan handuk tersebut, menampilkan Leher jenjang Allea yang putih mulus. Sial…!! Renno dengan susah payah menelan ludahnya, dia bahkan membayangkan jika bibirnya berada di leher tersebut, dan itu semakin membuatnya menggila,.
Renno mengingat-ingat saat mereka bercinta dulu apakah Renno mencumbui leher tersebut..?? dan lagi-lagi Renno berakhir dengan menyumpahi dirinya sendiri karena tak mengingat apapun saat bercinta dengan Allea pada saat itu. Sialan…!!!
“Mas Renno kenapa Lagi..?” tanya Allea lagi saat melihat Renno yang masih ternganga sambil memandangnya.
Shitt…!!! lebih baik lanjutkan masakanmu. Aku mau Olahraga dulu.” Kata Renno sambil bergegas pergi. Dia tak mau lama-lama di dekat Allea, itu membuatnya semakin Gila dan Frustasi. Dirinya juga tak habis fikir, bagaimana bisa Allea yang sederhana tersebut merawat tubuhnya hingga terlihat menggairahkan saat dipandang..? Apa dirinya baru menyadari ini..? dan apa hanya dia yang menyadarinya..?? Sialan..!!! Renno yang saat ini sudah berada diatas Treadmill diruang olahraga pribadinya mempercepat Laju Treadmillnya tersebut, berharap suapaya bisa mengalihkan perhatiannya dari Allea yang Sexy..
Allea menggeleng-gelegkan kepalanya saat melihat tingkah laku Renno yang semakin aneh. Diapun melanjutkan memasak Nasi Gorengnya untuk Renno.
Alleapun selesai membuat Nasi goreng untuk Renno. Dan dia akan bergegas membuat Kopi dan susu untuk Renno dan dirinya sendiri. Tapi Allea di kejutkan dengan bel pintu Apartemen Renno yang berbunyi. Siapa yang kira-kira bertamu pada pagi hari..? Pagi..?? Astaga.. ini sudah hampir jam 10 siang. Allea bahkan lupa waktu ketika bersama Renno.
Dibukannya pintu tersebut menampilkan Sosok Ramma dengan pandangan terejutnya.
“Kamu.. ngapain disini..?” Tanya Ramma kemudian.
“Emm.. saya.. saya tinggal disini.”
“Apa..?” Teriak Ramma Tak percaya. “Sialan..!!! Seharusnya aku tau Jika Si Renno sudah makin parah.” Gerutu Ramma lenngkap dengan umpatannya. “Renno mana.?” Tanya Ramma kemudian.
“Dia masih olah Raga, masuk aja Mas..” Ajak Allea kemudian, Lalu Rammapun masuk dan Allea mengikutinya dari belakang tapi kemudian Allea menuju kedapur. “Mas Ramma mau minum apa..?” Tanya Allea kemudian.
“Nggak perlu.” Jawab Ramma Cuek sambil melempar tasnya ke sofa ruang tamu Renno, namun tiba-tiba dirinya sedikit tertarik mengikuti Allea yang sibuk di dapur, belum lagi mencium aroma masakan Allea yang benar-benar menggugah selera makannya. “Kamu lagi ngapain..?” Tanya Ramma ketika sudah berada didekat Allea.
“Ini lagi bikin Kopi buat Mas Renno.” Jawab Allea kemudian.
“Kamu Kayak istrinya aja.” Gerutu Ramma kemudian dia mengalihkan pandangannya kepada penggorengan yang didalamnya masih ada Nasi Goreng buatan Allea. “Apa itu..?” tanya Ramma kemudian.
“Ohh.. ini Nasi Goreng, Mas Ramma mau..?” tanya Allea kemudian.
“Enak Nggak..?? Awas kalo sampek perutku sakit karena makan makanan ini.”
Allea Tersenyum. Ternyata Ramma adalah type orang yang enak di ajak bicara, dirinya bahkan tak canggung, berbeda ketika dihadapan Renno. “Ini Enak dan Higienis, jadi Mas Ramma nggak mungkin sakit perut.” Jawab Allea kemudian.
“Ok.. kalo gitu siapkan satu untukku ya…” Kata Ramma sambil tersenyum.
“Ngapain Lo Kesini..?” suara itu mengagetkan mereka berdua, suara dingin milik Renno. Astaga… benar-benar terdengar dingin. Ramma tau jika Renno tak suka dengan kedekatannya dan Allea, dan itu membuat Ramma geli, Ramma bahkan memiliki ide gila untuk membuat Renno Cemburu dan terlihat semakin Bodoh.
Tiba-tiba dirangkulnya pundak Allea dengan mesrah. “Gue Cuma mau numpang makan, dan ternyata Gue nggak salah mampir, Masakannya enak.” Kata Ramma sambil menyunggingkan senyuman mengejeknya.
Perut Renno seakan menegang oleh Amarah. Sialan..!! berani-beraninya si Ramma merangkul mesrah Wanita yang sedang mengandung anaknya tersebut dihadapannya, apa Ramma mau cari mati..?
“Brengsek Lo..!! Singkirkan tangan Lo dari pundaknya atau..”
“Atau apa..?” tantang Ramma kemudian.
Dan Rennopun tak menjawabnya. Renno tau jika dia menantang Ramma berkelahi dirinyalah yang akan kalah. Ramma memiliki sabuk Hitam Taekwondo, belum lagi Olah raga yang sangat di gemarinya Thai Boxing membuatnya berfikir dua kali untuk menantang Ramma.
Renno tak banyak Omong lagi, dirinya langsung memisakan Ramma dari Allea, dan memilih berdiri di tengah-tengah Allea dan Ramma. “Sebenernya Lo mau ngapain kemari..?” Tanya Renno lagi.
Ramma tertawa penuh dengan kemenangan, Ternyata Si Renno sudah jatuh di lubang yang sama Seperti Dhanni. Renno sudah masuk dalam ‘Zona Bahaya’ Tersebut. Ramma lalu menuju ke Sofa tempat dia menaruh tasnya tadi. “Gue perlu tanda tangan Lo.” Kata Ramma sambil mengeluarkan sebuah Map untuk Renno.
Renno lalu memandang kearah Allea “Tetap disini.” Desis Renno kepada Allea. Dirinya tak bisa memikirkan bagaimana jika Ramma juga sama tergodanya dengan penampilan  Allea… Astaga.. pagi ini Allea benar-benar terlihat Sexy di matanya. Apa Ramma juga melihatnya seperti itu..?? Ahhh sialan..!!! Seharusnya dia tak membiarkan Ramma mengunjunginya di Apartemen ini.
Dengan sedikit cemberut Renno menyambar berkas-berkas tersebut dan mempelajarinya. “Lo bener-bener tinggal seatap degannya..?” Tanya Ramma dengan nada tak percaya.
“Kenapa..? Lo kan juga tinggal seatap dengan Zoya tanpa menikah.”
Ramma tersenyum. “Itu kan beda Renn, Gue tinggal seatap karena memang kami saling cinta dan saling memiliki, sedangkan kalian kan enggak.”
“Setidaknya kami akan memiliki Anak. Jadi Gue Cuma berusaha bertanggung jawab.” Jawab Renno masih dengan memperhatikan kertas-kertas yang dibawa Ramma tadi.
“Lo yakin itu hanya tanggng Jawab..?”
“Lo nggak percaya sama Gue..?”
Dan Ramma lagi-lagi tersenyum mengejek. “Gue fikir Lo sama kayak Gue yang Tergoda dengan tubuh Bagus Wanita itu..” Goda Ramma kemudian yang membuat Renno meledak.
Renno lalu berdiri dan membanting kasar Map-Map beserta kertas-kertas yang dibawanya tersebut keatas meja. “Sialan Lo…!! Pergi dari sini sekarang juga.” Teriakan Renno membuat Allea kaget. Sedangkan Ramma malah tertawa terbahak-bahak melihat kemarahan sahabatnya yang benar-benar tak terkendali tersebut.
“Renn.. Lo bener-bener udah parah.. hahhahaha” Kata Ramma masih dengan tertawa.
Dan Renno masih belum bisa menahan amarahnya. Dia lalu duduk kembali dan mengambil kertas-kertas tersebut lagi. “Kalo niat Lo kesini Cuma buat gangguin dia mending Lo pulang.” Desis Renno kemudian.
“Hahahha sialan…!!! Gue Cuma Godain Lo aja Renn.. dan ternyata Lo bener-bener udah parah, hahhahah”
“Sialan Lo..!!” umpat Renno kemudian. Tapi setelah difikir-fikir ternyata ada benarnya juga apa yang dikatakan Ramma. Dulu ketika dirinya Cinta kepada Nessa dan mengetahui Nessa bersama sahabatnya, Dhanni, Dirinya memang marah, tapi tak semarah ini, dirinya bahkan mau mengalah untuk kebahagiaan Nessa dan Dhanni. Tapi entah kenapa semua ini berbeda ketika dengan Allea. Bahkan jika Ramma benar-benar menginginkan Allea, Renno bersumpah tak akan melepaskan Allea dari tangannya. Ada apa ini..?? Ada apa dengan dirinya…?
Ramma sudah tak tertawa lagi, tapi masih menyunggingkan senyuman mengejeknya. “Lebih baik Lo cepat-cepat nikahin dia Renn.. Sebelum Dia jatuh ketangan orang lain.” Nasehat Ramma.
“Dia nggak mungkin jatuh ketangan orang lain.”
“Lo yakin..? kalo lo nggak mau lebih baik Gue….”
“Ramm.. Lo jangan mancing Gue lagi.” Potong renno dengan desisan tajamnya.
Dan Rammapun kembali tertawa. “Renn Gue bercanda.. Gue nggak mungkin kencan Dengan Cewek Lo atau istrinya Dhanni.” Kata Ramma masih dengan tertawa.
“Dan juga Adek Gue.” Kata Renno masih dengan memandang kertas-kertas yang di lemparnya tadi. Dan setelah perkataan Renno itupun Ramma langsung menghentikan Tawanya seketika. Ramma menelan ludahnya dengan susah payah, entah mengapa kini dirinyalah yang mulai terpancing dengan kata-kata renno.
“Nihh Gue udah tanda tangan.” Kata Renno yang belum menyadari kepucatan Wajah Ramma karena ucapannya.
Ramma lalu menyambar kertas-kertas tersebut, merapikannya dan memasukkannnya kedalam tas dengan cepat. “Ok.. Gue Balik dulu.” Kata Ramma tanpa senyuman-senyuman tengilnya seperti tadi.
Mengetahui Ramma akan bergegas pergi Alleapun langsung menghampiri mereka. “Loh.. mas Ramma mau pergi.. itu Nasi Gorengnya udah aku siapin.” Kata allea kemudian, lalu tanpa di sangkanya Renno meraih telapak tangan Allea dan menggenggamnya.
Ramma yang melihatnya hanya tersenyum geli. “Lain kali aja, aku mampir lagi. Kayaknya Si Renno nggak suka kalo ada tamu.”
“Sialan Lo..!!” umpat Renno kemudian.
Dan Rammapun akhirnya keluar dari Apartemennya yang di pinjam Renno dengan menyunggingkan tawa lebarnya. Astaga.. ini benar-benar menyenangkan, sepertinya dirinya akan mempunyai mainan baru yaitu membuat Renno meledak-ledak seperti orang bodoh. Pikirnya kemudian.
Sedangkan Renno yang tak menyadari jika dirinya sudah menggenggam tangan Allea langsung melepaskannya begitu saja ketika sadar dengan tingkah lakunya. “Ayoo makan, aku lapar.” Katanya sambil bergegas meninggalkan Allea menuju ke meja makan.
Renno duduk dan memakan Nasi gorengnya dengan Lahap tanpa memperhatikan Allea, dia takut terpengaruh oleh penampilan Allea.
“Nanti ikut aku keluar, kita belanja kebutuhan kamu.” Kata Renno masih tak mau memperhatikan Allea.
“Kebutuhanku..??” tanya Allea tak mengerti.
“Iya.. kayaknya baju-bajumu sudah nggak muat dan nggak layak pakai.”
“Apa..?? ini masih muat kok..” Allea masih tak mengerti, dirinya tak memiliki baju ketat, kebanyakan bajunya adalah baju-baju longgar seperti Daster, baju tidur, atau Kaos oblong yang masih lumayan besar saat di kenakannya.
“Muat..?? Kamu nggak lihat itu semua pada menonjol kayak gitu..? Si Ramma tadi bahkan memandangmu seakan-akan ingin menelanmu hidup-hidup.”
“Apa..? Masak sih..??” tanya Allea tak percaya.
“Kecuali kalau memang kamu berniat menggodaku dan tidur denganku, aku mengijinkanmu memakai pakaian itu.” Ucap Renno tanpa dia Sadari.
‘Gleekk..’ dengan gugup Allea menelan Ludahnya. Menggoda lelaki ini..?? dan tidur bersamanya..?? Astaga.. apa dirinya sudah terlihat seperti wanita penggoda..?? Apa lelaki ini tergoda dengannya..??? batin Allea.
Renno yang baru menyadari perkataannnya tadi langsung merutuki dirinya sendiri dalam hati. Dengan gugup Renno memebenarkan posisi duduknya. “Lupakan yang aku bicarakan tadi. Aku mandi dulu. Nasi Gorengnya enak.” Kata Renno sambil meninggalkan Allea yang diam membatu memandangnya.
***
Renno dan Allea sudah selesai belanja kebutuhan dapur. Allea berniat untuk memasakkan Renno setiap hari sehingga dia tidak merasa tak Enak karena menumpang dengan Renno secara gratis. Sedangkan Renno sendiri meng iyakannya karena memang dia suka masakan Allea.
Renno juga sudah membelikan beberapa baju hamil untuk Allea. Mereka masih saja mengelilingi pusat perbelanjaan tersebut, membuat semua mata wanita yang memandang mereka iri. Bagaimana tak Iri, Sedari tadi Renno dengan mesrahnya menggenggam telapak tangan Allea, seakan-akan mengklaim jika Allea hanta miliknya. Astaga… lelaki setampan dan sekeren Renno melakukan itu kepada wanita berperut buncit yang biasa-biasa saja seperti Allea..??
“Kita mampir disitu yaa.. kamu mungkin capek dan lapar.” Ajak Renno sambil menuju kearah Restoran yang berada di unjung.
Dan Allea hanya mengangguk dan menurut.
Mereka Akhirya masuk kedalam Restoran tersebut dan memesan makanan, tapi ketika menunggu makanan pesanannya datang Renno dikejutkan dengan kedatangan Dhanni dan Nessa, beserta anak mereka.
“Kalian disini juga..?” Tanya Dhanni yang sudah duduk sebelah Renno.
“Hai..” Sapa Nessa kepada Allea sambil ikut duduk di sebelah Allea.
“Hai..” Alleapun menyapa balik.
Sedangkan Renno sendiri menegang saat melihat kedatangan Dhanni dan Nessa. Bagaimanapun juga rasa Canggung akan selalu ada di antara mereka. “Iya kami mau makan. Kalian sendiri sedang cari apa..?” tanya Renno sedikit berbasa-basi.
“Kami juga cari makan.” Jawab Dhanni kemudian.
“Gabung disini aja.” Entah Dari mana Renno mendapat keberanian mengucapkan itu.
“Ok Kita akan gabung kalo lo yang teraktir.” Canda Dhanni membuat semuanya tertawa.. dan suasana di sekitanya pun mulai mencair.
Lama mereka makan bersama sambil bertukar cerita sesekali bercanda. Renno tak lagi merasakan kekakuan diantara dirinya, Dhanni, dan Nessa. Apa karena keberadaan Allea.?? Ahh entah lah…
Alleapun demikian, dirinya merasa nyaman dengan kedatangan Nessa. Ternyata Nessa wanita yang baik. Mereka banyak bercerita tentang kehamilan karena saat ini Nessapun sedang hamil dua bulan anak keduanya. Beginikah wanita yang di cintai Renno…?? mengingat Hal itu Allea sedikit minder dengan dirinya sendiri. Nessa wanita yang sangat Cantik, baik dan tubuhnyapun masih bagus padahal dirinya sudah memiliki satu anak.
“Apa dia sudah bergerak-gerak..?” tanya Nessa sambil memegang perut Allea.
“Emm sudah, hanya sesekali saja.” Jawab Allea kemudian.
Nessa lalu tersenyum manis. “Aku senang, Kak Renno mendapatkan wanita baik seperti kamu.” Kata Nessa dengan tulus.
“Ahh.. hubungan kami tak seperti itu..” Allea menunduk malu dengan pujian Nessa.
“All.. Kak Renno nggak pernah main-main sama Wanita.. dia Lelaki yang baik Dan bertanggung Jawab. Kamu beruntung mendapatkannya dan dia juga beruntung mendapatkan wanita baik dan cantik seperti kamu.” Lanjut Nessa lagi.
Allea hanya tersenyum, ternyata Nessa adalah wanita yang baik, pantas saja dua sahabat ini pernah memperebutkannya. Dan sepertinya mereka nantinya akan menjadi teman baik.
“Kalo kamu perlu teman ngobrol atau membahas tentang kehamilan, telepon aku saja ya.. ini nomerku, Aku pikir kita akan jadi teman baik.” Lanjut Nessa lagi.
Dan Allea sangat senang menerimanya. Terkadang dia memang membutuhkan seoang teman baik yang bisa diajak bicara.
“Sayang, ini sudah malam, Ayo pulang, Brandon sudah ngantuk nihh..” Kata Dhanni yang sudah berdiri menggendong brandon anak pertama mereka.
“Ya udah All.. aku pulang dulu ya.. jangan lupa Telepon.” Pamit Nessa.
“Iya..” jawab Allea sambil tersenyum.
“Ok. Kami balik Dulu Yaa Renn.” Kata Dhanni berpamitan.
“Ayoo Kak,” Nessapun ikut berpamitan dengan Renno. Dan Renno hanya tersenyum sambil mengangguk.
“Apa kita juga pulang..?” Tanya Renno kemudian.
Allea mengangguk. “Iya.. aku sudah capek.” Dan merekapun Akhirnya memutuskan untuk pulang.
***
Sesampainya dirumah…
Allea bergerak gelisah kesana kemari diatas Ranjang Renno. Astaga… kenapa dia merasaan kepanasan seperti ini..? padahal Renno saja belum disini. Saat ini Renno masih di dalam kamar mandi, entah dia sedang apa Allea tak tau. Yang jelas Allea saat ini gelisah tak menentu dengan perasaannya sendiri.
Rennopun akhirnya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan kaus dalamnya dan celana piama. Entah kenapa setiap saat Renno benar-benar terlihat tampan di mata Allea. Allea bahkan berharap jika anaknya nanti terlahir dengan jenis lamin laki-laki supaya bisa mewarisi ketampanan Ayahnya.
Dan tanpa rasa Canggungnya Renno langsung melemparkan diri keatas Ranjang tepat di sebelah Allea. “Ahhh… nyamannya..” Desah Renno kemudian.
Mendadak tubuh Allea menjadi kaku. Lelaki ini benar-benar akan tidur di sebelahnya..??? Astaga.. apa dirinya nanti bisa tidur dengan tenang..??
“Kamu belum tidur..?” Tanya Renno kemudian.
“Emm.. belum..”
“Apa yang Kamu fikirkan..?”
“Nggak Ada.. Hanya nggak bisa tidur saja.” Jawab Allea bohong, padahal saat ini Allea sedang memikirkan hal-hal Erotis yang tak pernah terfikirkan oleh Otanya sebelumnya, tapi entah kenapa beberapa hari ini dirinya selalu memikirkan hal itu. Terlebih lagi di dalam fikirannnya tersebut adalah Renno dan dirinya sendiri. Astaga….
“Apa tadi aku terlihat tegang..?” Tanya Renno kemudian tanpa mengalihkan pandangannya dari langit-langit kamarnya. Saat ini keduanya memang sedang sama-sama tidur dengan memandang langit-langit kamar tersebut.
Allea lantas memandang Kearah Renno. “Tadi..? Maksud Mas Renno..?” tanya Allea ta mengerti.
Renno menghela nafas panjang. “Saat Bertemu dengan Dhanni dan Nessa..” Jawabnya Lirih..
“Oww…”
“Aku berusaha bersikap sebaik mungkin, tapi sepertinya aku tak dapat membohongi perasaanku sendiri. Bagaimanapun juga Aku pernah Cinta dengan Nessa, hubungan kami sempat memburuk, Aku bahkan sempat kabur keluar Negri hanya untuk melupakan Nessa, dan semuanya berakhir sia-sia. Aku ingin tak ada kecanggungan saat ami bertemu tapi sepertinya itu tak mungkin..” Renno bercerita panjang lebar.
Allea tak mengerti kenapa Renno bisa menceritakan semua itu kepadanya. Mungkin Renno benar-benar merasa tersiksa melihat Wanita pujaan hatinya bersanding dengan sahabatnya sendiri. Renno hanya terlalu cinta Dengan Nessa, bahkan Allea mengingat dengan Jelas saat malam itu merea lalui Renno tak pernah berhenti menyebut nama Nessa.
“Nessa wanita yang baik… dia pantas mendapatka Dhanni..” kata Renno dengan nada lirih.. Allea merasa iba melihat lelaki disebelahnya sedih seperti itu, entah kenapa hatinyapun ikut tersakiti.
“Mas Renno juga akan mendapatkan wanita yang lebih baik lagi nantinya..” Kata-kata itupun keluar dari bibir Allea. Membuat Renno menatap Allea dengan tatapan kosongnya.
Renno melihat Wajah Allea yang entah kenapa terlihat seakan-akan bercahaya, Astaga… dari mana datangnya malaikat ini..?? Aku sudah jahat dan kasar terhadapnya, sudah menghancurkan masa depannya, tapi dia masih bisa menerimaku dengan senang hati. Apa dia tak memiliki Rasa benci..? Apa dia tak memiliki Emosi..??? batin Renno berkata.
Tanpa Renno Sadari dirinya semakin mendekatkan wajahnya kewajah Allea, tangannya pun sudah mengelus pipi Allea membuat Allea memejamkan matanya.Wajahnya semakin dekat… semakin dekat… dan akhirnya di tempelkannya bibirnya pada bibir mungil Allea, Sambil memejamkan mata Renno menikmati setiap inci dari bibir Allea. Menghisapnya.. mencari-cari rasanya… Allea yang memang tak pandai berciuman bahkan tak pernah berciuman pasrah dengan apa yang dilakukan Renno.
Merasakan Allea yang sudah pasrah terhadapnya membuat Renno semakin menggila, dirinya menginginkan lebih, dilumatnya bibir Allea penuh gairah yang membara… renno Menuntut lebih, menginginkan lagi dan lagi… kali ini Renno sudah mengecupi setiap inci dari rahang Alleaa, menuju kelehernya.. oh.. Leher yang tadi pagi menggodanya, Akhirnya Renno bisa mencapai leher tersebut dengan bibirnya, Bahkan Renno memberikan Tanda kepemilikan di Leher Allea, Allea hanya miliknya… hanya miliknya…
Renno mendengar samar-samar desahan dari bibir Allea membuat Renno melarikan bibirnya kebibir mungil tersebut lagi… mengecapnya Kembali… Sialan…!!! dirinya benar-benar semakin menggila… Renno menginginkan Allea Saat ini juga…..

_TBC_

Mana nichh.. Suaranya RennAll Lovers..??? Gimana.. gimana… Seru kan Chapter ini…. Ayooo… tunggu lanjutan kisah mereka yaa…. jangan lupa Like halaman FB Mamabelladramalovers ya… heheehehe

Because It’s You (Novel Online) – Chapter 6

Comments 9 Standard

rennall

Because It’s You

NB : Ooo my Gott… gk nahan ama senyumannya Renno… ini nii yang membuatku pengen nulis dia lagi dan lagi… hahhahaha.. sampek2 nglupai FF yang lainnya.. hahhahha ok.. happy reading aja dahh kalo gitu…

 

Chapter 6

Malam ini Allea masih sibuk membuatkan Renno Sop daging sapi untuk makan malam bersama Renno. Sedangkan Renno sendiri sibuk memperhatikan Allea dari belakang.. ‘Wanita yang pandai masak’ Pikirnya kemudian.
“Kamu perlu bantuan..?” Renno bertanya memecah keheningan.
“Ah,,, Enggak.” Hanya itu jawaban Allea.
“Aku bisa memotong itu..” Renno masih tak mau kalah.
“Nggak usah.. ini sudah hampir selesai.”
Akhirnya Rennopun mengalah. Dia memilih duduk di meja makan sambil memperhatikan Allea. Dia sudah seperti seorang istri yang sedang melayani suaminya saja.. Apa,,? Istri..?? Sialan..!!! kenapa aku jadi memikirkan hal itu.. Rennopun menggeleng-gelengkan kepalanya karena memikirkan hal tersebut.
Setelah selesai memasak akhirnya Alleapun menemani Renno makan bersama. Makan dalam Diam. Allea tak tau harus bertanya apa kepada Renno. Sedangkan Renno sendiri lagi-lagi merasa canggung ketika dalam suasana saling berdiam diri seperti ini dengan Allea.
“Kenapa..?” Tanya renno kemudian.
“Hmm..??? Kenapa Apanya..?” Allea berbalik bertanya.
“Kamu diam terus.”
“Aku memang seperti ini.” Jawab Allea lagi.
“Besok bikinkan aku nasi goreng lagi.” Entah apa yang sudah terjadi pada Diri Renno hingga dia bisa-bisanya mengucapkan permintaan itu.
“Besok..?” Tanya Allea tak percaya.
“Iya besok.. Emangnya kenapa..?” Tanya Renno lagi.
“Mas Renno nginep sini lagi..?”
“Iya aku nginep sini.” Jawab Renno dengan cueknya.
“Tapi..”
“Tapi apa..?”
“Aku nggak enak sama Tetangga mas..”
“Bilang aja aku suamimu..” Nah Loh.. Renno keceplosan lagi. Apa memang dia menginginkan menjadi Suami Allea..?
Setelah kata-kata itupun mereka sama-sama terdiam. Gugup..? pastinya, canggung..? apalagi. Renno benar-benar tak nyaman dengan suasana ini.
“Tinggalah Bersamaku.”
“Apa..?” Allea terlihat kaget dan tak percaya.
“Di Apartemenku.” Lanjut Renno lagi membuat Allea ternganga.
“Maaf.. aku nggak bisa Mas..”
“Kenapa nggak bisa..?” Nada Bicara Renno kembali mendingin.
“Aku nggak bisa tinggal serumah dengan Lelaki asing.”
“Lelaki asing..? Aku ayah dari bayi yang kamu kandung. Aku bukan orang asing.”
“Tapi kita belum saling kenal.”
“Tapi kita akan memiliki bayi bersama. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama dia.” Renno tak mau kalah.
“Aku bisa menjaganya sendiri.”
“Dan aku akan menjagamu.” Kata Renno cepat dan tegas. “Pokoknya Lusa, kamu sudah harus pindah ke apartemenku.” Lanjutnya lagi tanpa di ganngu gugat. Sedangkan allea hanya mendesah pasrah.
***
Renno memarkirkan mobilnya di Basement Apartemennya. Dia melamun sebentar didalam mobilnya, merutuki dirinya sendiri karena sudah memaksa Allea tinggal bersamanya tadi. Sialan…!!! bahkan untuk malam ini pun dia ingin tidur bersama wanita itu lagi.. Ada apa ini..??
Akhirnya diapun keluar dari mobil. Dan betapa terkejutnya dia mendapati Maya sedang menunggunya disebelah pintu apartemennya.
“Ada apa..?” tanya Renno dengan dingin.
“Kamu masih marah yaa sayang.,?” Maya langsung memeluk lengan Renno dan bergelayut manja di situ.
“May.. kita nggak ada hubungan apa-apa lagi..” Lagi-lagi Renno berkata dengan dingin.
“Kamu kok gitu sih.. Enggak.. aku nggak mau putus sama kamu.” Rengek Maya.
“Lebih baik kamu pulang.” Kata Renno sambil melepaskan pelukan Maya lalu bergegas pergi.
“Renn… Renno..” Teriak Maya saat Renno meninggalkannya. Sedangkan Renno tak menghiraukan teriakan maya Sama sekali.
—-
Renno menghempaskan dirinya ke Ranjang King Size nya.. nyaman.. Nyaman… tapi sepertinya ada yang kurang. Apa..??? Lagi-lagi Renno memijat pelipisnya saat memikirkan kehidupannya.
Perasaannya kini masih tak menentu, apa keputusannya untuk mengajak Allea tinggal bersama itu benar..? kenapa dirinya sangat ngotot sekali mengajak Allea tinggal bersama..?? astaga…. Jangan bilang kalau dirinya mulai terjerat perasaan itu kembali. Perasaan yang pernah menghancurkannya. Perasaan yang sama seperti yang di rasakannya dulu dengan Tania dan Nessa.
Tidak… itu tidak mungkin… Dirinya tak mungkin sedang merasakan perasaan itu terhadap seorang wanita biasa seperti Allea.. itu hanya kasihan.. hanya sebatas tanggung jawab.
Renno langsung terbangun dari angan-angannya ketika menyadari sesuatu. Astaga… betapa bodohnya dirinya… bukankah apartemen ini hanya mempunyai satu kama tidur dan satu ranjang..? bisa-bisanya Dia mengajak Allea tinggal bersama. Apa dirinya mau berbagi ranjang dengan Allea..? sial…!!! kenapa dirinya tak memikirkan ini terlebih dahulu sebelum bertindak..??
***
Keesokan harinya..
“Kamu siapa..?” Tanya Renno ketika ada seorang wanita cantik masuk kedalam ruangannya.
“Nama saya Chika pak.. Saya Asisten baru Bapak pengganti Bu maya.” Wanita memperkenalkan diri.
“Well… Well… Well…” Ramma yang ada di ruangan Renno saat itu menyahut sambil bertepuk tangan dan melangkah mendekati wanita itu. “Perkenalkan Saya Ramma Aditya.” Kata Ramma memperkenalkan diri sambil meraih telapak tangan wanita tersebut dan mencium punggung tangannya. Sepertinya Ramma memang selalu melakukan hal itu terhadap wanita cantik yang baru dia temui. Dhanni yang melihat kejadian itu langsung menggelengkan kepalanya. Dhanni yakin jika nanti malam wanita tersebut akan jatuh kedalam pelukan Ramma.
“Ramm.. Mending Lo keluar dari Ruangan Gue kalo Lo masih saja nggodain sekertaris baru Gue.” Kata Renno kemudian.
Ramma hanya mendengus kesal. Sedangkan Renno melanjutkan pembicaraannya kembali dengan wanita yang mengaku sebagai sekertaris pribadinya tersebut. “Dan untuk kamu, Tugas utama kamu adalah men Cancel Semua jadwal saya besok pagi. Saya mau cuti.” Kata Renno kepada sekertarisnya tersebut,
“Lo mau kemana.?” Tanya dhanni kemudian.
“Bukan urusan kalian.”
“Gila Lo, Bisa-bisanya Lo Cancel semua jadwal besok, Apa ini ada hubungannya dengan perusahaan..?” tanya Ramma kmudian
“Nggak..”
“Jadi Lo Cuti karena Urusan pribadi..?”
“Gue Nggak peduli Ramm, Lo nggak peru tau urusan Gue.”
“Sialan..!! Lo bener-bener udah Parah.” Umpat Ramma.
Sedangkan Renno sendiri hanya terdiam tak menanggapi umpatan Ramma. Hati Renno cukup Lega karena Maya sudah tak berada disekitarnya lagi. Maya sudah dipindahkan ke bagian Administrasi. Setidaknya Renno tak perlu melihat wajah maya lagi.
***
“Kamu hindarin aku ya..?” Tanya Robby pada Allea yang saat itu sedang duduk santai di depan Cafe menunggu Renno menjemputnya.
“Ahh enggak kok.. perasaan mas Robby aja mungkin.” Jawab Allea kemudian.
“Kok kamu nggak pernah mau ku jemput lagi..?”
“Bukannya nggak mau mas…”
“Tapi…???” Robby meminta penjelasan.
“Aku sudah ada yang jemput mas.” Akhirnya Allea mengaku.
“Siapa..? Adik.? Kakak..? Pacar..?? Atau.. Suami..??”
Allea tersenyum dengan pertanyaan Robby. “Cuma teman Kok..”
“Aku juga teman, tapi kenapa kamu nggak mau pulang sama aku lagi..?” Robby masih mendesak.
“Dia Teman yang berbeda..”
“Apa yang membuat dia beda.?”
Lagi-lagi Allea tersenyum.“Dia Pemaksa.”
“Ok.. Kalo gitu aku maksa Kamu malam ini kamu harus ikut mobilku.” Kata Robby kemudian.
“Astaga… Masih aja mas Robby merayu mbak Allea.” Shasha yang muncul tiba-tiba Sontak membuat Robby dan Allea kaget.
“Sha.. Bantu mas Robby narik Mbak Allea masuk kedalam mobil yuk…” Kata Robby yang mulai menarik tangan Allea.. Shashapun tersenyum dan menganggukkan kepalanya..
“Heiii… kalian mau apa… Astaga..” teriak Allea sambil Sedikit tertawa.
“Ayo.. Mbak.. ayo… kita udah lama nggak pulang bareng.. ayoo” Kata shasha kemudian.
Akhirnya dengan pasrah Allea menurut. Merekapun pulang bersama, tapi bukannya pulang Robby malah memarkirkan mobilnya di restoran terdekat dari Cafe tempat kerja Allea.
“Loh.. Mas.. ngapain kita kesini..?” tanya Shasha yang juga terlihat kaget dengan Robby yang tiba-tiba saja memarkirkan mobilnya di restoran tersebut.
“Ayoo makan dulu, Mas Robby lapar.” Kata Robby dengan santainya.
“Tapi aku nggak ada uang Mas untuk makan di tempat kayak gini.” Lanjut shasha lagi.
“Tenang aja, Mas Robby yang teraktir. Kebetulan hari ini Mas Gajihan.”
“Ye… ye… ye… bener ya.. bener yaa…” teriak Shasha kegirangan, sedangkan Allea hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku dua saudara tersebut. Mungkin akan lebih lengkap Jika Renno berada diantara mereka. Renno..?? astaga.. ngapain juga dirinya memikirkan lelaki itu…?
***
“Kami pulang dulu mbak.. Byee.. Bye…” teriak Shasha yang masih berada di dalam mobil saat mengantarkan Allea pulang setelah makan malam mereka.
“Iyaa.. hati-hati ya…” jawab Allea kemudian sambil mengembangkan senyumannya.
Alleapun bergegas kearah pintu Rumahnya setelah mobil Robby melaju hingga takk terlihat oleh pandangannya.
“Kamu kayaknya deket sama Mereka.” Suara dingin dibelakang Allea tersebut sontak mengagetkannya, hingga Dirinya yang sedang berusaha membuka kunci pintu rumahnya itu menjatuhkan Kunci tersebut. Allea berbalik dan mendapati diri Renno yang sedang berdiri tegap dengan sangarnya.
“Kenapa..? Kamu kayaknya nggak suka lihat aku disini.” Tana Renno lagi.
“Ahh enggak.” Jawab Allea sambil memungut kuncinnya dan membuka pintu rumahnya kembali.
“Kamu deket sama Mereka..?” Tanya Renno lagi saat mereka sudah berada didalam rumah Allea.
“Shasha gadis yang baik, Mas Robby juga.”
“Cuma itu..?” tanya Renno menyelidik. Allea hanya mengangguk, sebenarnya allea sendiri heran dengan sikap Renno, ada apa dengan lelaki ini, kenapa dia begitu ingin tau masalahnya. “bikinkan aku makan, aku lapar.” Kat Renno dengan Cueknya.
Allea ternganga mendengar perintah Renno. Memangnya siapa dia..? bisa-bisanya dia seenaknya minta dibuatkan makanan. Allea merasa dirinya sudah seperti selingkuhan Renno saja, yang tiap malam dikunjungi Renno dengan sembunyi-sembunyi.
“Kenapa malah bengong..?” Tanya Renno lagi.
“Emm aku nggak punya apa-apa untuk dimasak. Ini… sepertinya Cuma ada Mie instan aja.”
“Terserah, Mie instan juga boleh, Aku kelaparan.” Jawab Renno lagi.
Akhirnya allea pasrah dan membuatka Renno semangkuk Mie instan lengkap dengan telor setengah matengnya. Allea bingung dengan sikap Renno, kenapa Lelaki itu capek-capek kemari dan hanya mau memakan Mie instan sedangkan dia bisa saja kerestoran mewah untuk memesan makanan kesukaannya.
“Kayaknya Enak.” Kata Renno kemudian saat Allea menyajikan Semangkuk Mie di hadapannya.
“Mas Renno kan bisa makan direstoran mewah, kenapa makan disini.” Gerutu Allea.
“Aku sudah bosen.” Jawab Renno masih dengan menyuapkan makan kedalam Mulutnya. Sedangkan Allea hanya menghela nafas panjang. “Apa kamu udah nyiapin semua barang-barang kamu..?” tanya renno kemdian. Allea hanya mengangguk. “Ok.. Besok kita akan berangkat pagi, banyak yang harus di urus.” Lanjut Renno kemudian.
“Berangkat pagi..?” tanya Allea lagi.
“Iyaa.. kenapa..?” Renno berbalik bertanya.
“Mas Renno nggak ke kantor..?”
“Aku libur. Dan aku tidur sini malem ini.”
“Tapi..”
“Nggak ada tapi untuk malam ini.” Dan Alleapun menghela nafasnya panjang lagi-lagi pasrah dengan paksaan Renno.
***
Akhirnya pagi juga…. Fikir Allea pagi itu. Entah kenapa tadi malam dirinya seperti disiksa oleh semacam perasaan aneh yang tak pernah di rasakannya. Melihat Renno tadi malam seakan-akan menyulut sesuatu di dalam diri Allea. Apalagi ketika melihat Renno tidur di sebelahnya dengan bertelajang dada. Astaga… itu seakan-akan membuat Allea khausan akan sesuatu yang sampai saat inipun Allea tak tau apa itu..
Allea hanya ingin Renno memeluknya, menyentuhnya, menyumbunya, tungggu dulu, apa yang sudah dia fikirkan..??? sejak kapan dirinya memikirkan hal-hal mesum seperti itu..?? apa mungkin karena Renno terlalu tampan..? terlalu gagah..? Atau.. apa mungkin Renno terlalu mempengaruhinya untuk melakukannya kembali..?? Aggrrhh… tidak… tidak…. kenapa semuanya jadi seperti ini..?? Allea menggeleng-gelengkan kepalanya saat pikirannya mulai terbang tak tentu arah.
“Kamu kenapa..? pusing..? Mau muntah..?” tanya Renno yang sedang mengemudi di sebelahnya.
“Ahh.. enggak..” Jawab Allea sambil tersenyum.
“Kita cari sarapan dulu ya.. kamu pasti lapar.”
Perhatian Renno membuat Allea menhangat. Astaga… andai saja ini semua nyata, Andai saja Dirina sudah menikah dengan Renno dan menjadi istri yang dicintainya, mungkin saat ini dirinya akan menjadi wanita terbahagia sedunia… Heii… sejak kapan dirinya suka berangan-angan seperti ini..?? Itu sama sekali tidak mungkin. Mana mungkin Renno mau menikah dengan wanita biasa-biasa saja seperti dirinya..
Renno memarkirkan mobilnya di sebuah kedai makanan, “Kamu tunggu disini yaa,, aku pesan dulu.” Kata Renno lalu keluar dari mobil.
Allea memandang punggung tegap Renno saat berjalan menjauhinya.
‘Degg…’
Dirinya merasakan sesuatu yang sama sekali tak bisa dijelaskan oleh otaknya. Sepertinya… sepertinya dirinya sudah mulai mempunyai sebuah perasaan kepada Lelaki itu. Renno yang dingin.. Renno yang pendiam.. Renno si tukang pemaksa.. Renno yang perhatian.. entah sejak kapan sudah masuk kedalam hatinya.. Apa sejak malam itu..?? Apa sejak pagi itu saat Allea terbangun dan mengagumi ketampanannya..?? Apa sejak Hari itu dimana Renno membatalkan menggugurkan bayinya..??? Entahlah… Yang pasti Allea merasa sangat nyaman berada di sisi Renno, Tapi bukankah itu akan menyusahkannya nanti..? Renno tak mungkin memiliki perasaan yang sama, semua ini kan hanya sebatas tanggung jawab saja.
Allea lalu membelai lembut perutnya. ‘Sayang.. terimakasih kamu sudah hadir disisi mama, karena kamu, Mama bisa sedekat ini deengan papa, terimakasih sayang..’ bisik Allea dalam hati.
Renno akhirnya kembali dengan membaa beberapa bingkisan dan dua buah gelas plastik yang terlihat mengeluarkan uap.
“Kita sarapan ini aja, Soalnya aku mau kamu nanti masakin aku nasi goreng.” Kata Renno sambil memberi Allea beberapa bingkisan tersebut yang ternyata didalamnya berisi Roti panggang dengan isi daging dan sayur, ‘Mungkin ini yang dinamakan Sandwich’ pikir Allea kemudian. Tak Lupa Renno juga memberi sebuah gelas yang dibawanya tadi yang ternyata isinya adalah susu panas. Astaga… Renno benar-benar sangat perhatian.
Tapi saat memakan Roti itu Allea mengeryit, dia tak suka.
“Kenapa..?” tanya Renno yang menyadari perubahan Ekspresi Allea.
“Emm.. maaf.. tapi sepertinya aku nggak suka ini.” Entah darimana Allea mendapatkan keberanian untuk menolak makanan pemberian Renno.
Renno mengehela nafas panjang, Sepertinya Kerewelan Allea saat hamil baru di mulai, Renno pernah mendengar cerita dari Dhanni jika menghadapi wanita hamil itu sama saja masuk kedalam Neraka, ‘mereka sangat menyebalkan’, kata Dhanni saat itu ketika mereka tak sengaja membicarakan tentang Nessa. “Trus kamu mau apa..? kamu harus Sarapan sebelum dia kelaparan.”
“Kuah.. Aku pengen yang berkuah-kuah.” Lagi-lagi Allea merasa tak tau diri ketika meminta permintaan tersebut. Astaga… memangnya siapa dirinya..?? istri Renno..?? bukan Kan.. “Tapi kalo nggak ada nggak Apa-apa, nanti aku bikin sendiri di rumah.” Tambah Allea lagi sebelum dapat penolakan dari Renno.
“Bubur ayam, apa kamu mau..? selain itu aku nggak tau apa lagi makanan berkuah yang di jual pagi-pagi kayak gini.”
“Iyaa.. aku mau..” tanpa basa-basi lagi allea berteriak kegirangan, membuat Renno menggelengkan kepalanya sambil sedikit tersenyum,. Astaga… apa ini yang di sebut Dhanni dengan ‘Menyebalkan..’ ? Dan sejak kapan juga dirinya mau menuruti permintaan wanita ini..??
***
Kali ini Renno menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah makan kecil. Merekapun masuk kedalam dan memesan bubur Ayam untuk Allea.
Mata Allea berbinar saat melihat semangkuk bubur ayam berada dihadapannya. Kuahnya begitu menggugah selera, Aromanya entah mengapa tak membuat perutnya mual. Allea lantas menyantap bubur ayam tersebut tanpa memperhatikan Renno yang memandangnya dengan tatapan tak terbacanya.
“Apa ini yang disebut dengan ngidam..?” Tanya Renno kemudian.
Allea menggelengkan kepalanya, “Aku nggak tau, aku Cuma ingin makan yang berkuah-kuah, itu aja.” Jawab Allea masih dengan menyantap makanannya.
Well.. mungkin emang benar ini yang namanya ngidam.” Gumam Renno sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedangkan Allea sendiri tak menghirauan gumaman Renno, entah kenapa dia lebih suka memakan makanan dihadapannya dari pada harus bercakap-cakap dengan Renno. Bahkan Allea merasa tak Canggung atau gugup lagi ketika dihadapan Renno saat ini.
Setelah makan, merekapun akhirnya bergegas pulang, tapi ketika berada didekat Mobil Renno di kejutkan oleh panggilan Seseorang.
“Pak Renno..” sapa orang tersebut yang di yakini Renno sebagai Andra, Manager pemasaran di kantornya. Dia bersama dengan seorang wanita. Mungkin kekasihnya.
“Kamu kenapa bisa disini..?” tanya Renno kemudian.
“Saya biasa sarapan disini sebelum kekantor pak, bapak sendiri kok bisa sampai disini..?” tanya Andra ambil melirik kearah Allea dengan lirikan anehnya, entah apa yang saat ini sedang di fikirkan Andra melihat Renno yang tampan dan keren berjalan sebelahan dengan Allea yang astagaa… benar-benar terlihat biasa-biasa saja. Bahkan wanita di sebelah Andrapun memandang Allea dengan tatapan merendahkan.
Entah kenapa Renno tak suka dengan tatapan Andra dan wanita itu terhadap Allea tersebut. “Saya lagi antar Istri saya yang lagi ngidam pengen makan Bubur Ayam.” Kata Renno kemudian sambil menggandeng Allea.
Si Andra dan wanita itupun terlihat melongo dengan jawaban Renno. “Loh.. Pak Renno sudah menikah..?” tanya andra masih tak percaya. Jangankan Andra, Allea sendiri saja terlihat Syokh dengan Pernyataan Renno tersebut. Bisa-bisanya lelaki ini bilang kalau dirinya adalah istrinya..??
“Kamu nggak percaya..?? Kamu nggak Lihat perutnya buncit kayak gini..?” Renno berbalik bertanya sambil mengelus perut buncit Allea. Astaga.. Allea merasakan gelenyar aneh seperti yang ia rasakan tadi malam yang membuat dirinya ingin mencium Renno saat ini juga. Sialan..!!!
Sedangkan Andra sendiri hanya mengangguk dengan sedikit ternganga melihat kelakuan Pimpinan tertingginya tersebut. Astaga.. dia benar-benar tak percaya jika Renno sudah menikah bahkan akan memiliki anak. Bukankah gossip di kantor menyebutkan jika Renno berpacaran dengan Maya asistennya sendiri..?? dan Ya ampun.. Entah mengapa pagi ini Andra Merasa Renno benar-benar berbeda, tak seperti sebelum-sebelumnya yang selalu berwajah Sangar, pendiam, dan dingin. Pagi ini Renno benar-benar terlihat seperti suami yang menyayangi istrinya.
“Ok Dra.. saya balik dulu, takut istri saya kecapek’an.” Kata Renno kemudian.
Andrapun langsung mengangguk hormat kepada Renno dan Allea. “Ohh.. iya pak.. Mari bu,.” Kata Andra lagi terhadap Renno dan Allea.
“Kenapa..?” tanya Renno saat sudah berada di dalam mobil.
“Kenapa Mas Renno bilang seperti itu tadi..?”
“Kamu nggak lihat, tadi mereka memandang kamu dengan tatapan merendahkan.”
“Aku biasa dengan keadaan seperti itu.” Jawanb Allea kemudian.
“Mulai saat ini jangan dibiasakan, Aku nggak suka Anak dan ibu yang mengandung anakku direndahkan.” Kata Renno tanpa memperhatika Allea yang sudah memerah kaarena perkataan Renno tersebut.
“Tapi kan dia jadi hormat sama Aku..”
“Mulai saat ini biasakan dirimu ketika orang menghormatimu.” Jawab Renno lagi. Dan setelah perkataan Renno tersebut munculah beberapa pertanyaan di benak Allea, untuk apa dirinya membiasakan diri dihormati orang..?? bagaimana orang menghormatinya ketika dirinya tak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa..?? kecuali… Kecuali jika Renno….. Arrrgggghhh… tidak… dia tak boleh terlalu percaya diri untuk membayangkan hal itu. Bagaimanapun juga membayangkan dirinya menjadi istri Renno itu adalah hal yang salah… dan itu tak mungkin terjadi….

___TBC___

ehhmmm… kayaknya ada yang mulai gimana… gitu.. hehhehe jadi iri ama Allea.. hehhe Ooiyaa…  aku pengen ngingetin nih… Like Halaman Facebook di bawah ini yaa…. supaya bisa tau Update terbaru blog ini… dan juga pengen kasih tau nihh… FF “The Passionnate Of Love” sama Novel Online “The Lady Killer” sekarang udah ada Versi buku novelnya loh… yang mau memilikinya bisa di pesan di Nulisbuku.com terimakasih udah mau membaca karya yang nggak jelas bgt ini.. hehheeh