Baby, oh Baby! – Chapter 4 (Mengintimidasi)

Comments 2 Standard

Baby, oh Baby!

 

Chapter 4

-Mengintimidasi-

 

Keesokan harinya, Rosaline merasa tubuhnya letih, karena ia baru tidur ketika pagi menjelang. Saat ini, Rose memilih menenggelamkan diri di meja kasir Pet Shop nya. Perkataan Ana semalaman terputar lagi dan lagi dalam kepalanya.

Apa iya dirinya harus memikirkan kehadiran Dimitri? Memanfaatkan kehadiran lelaki tersebut mungkin? Oh sial! Bahkan hingga kini saja gairahnya masih ada –meski tak separah tadi malam, membuat Rose membayangkan hal-hal panas ketika berada di atas ranjang.

‘Ping’

Pintu Pet Shop nya di buka dari luar, tanda jika ada pelanggan masuk. Rosaline bangkit seketika bersiap untuk menyambut pelanggannya. Tapi yang datang ternyata bukan seorang pelanggan, melainkan lelaki menyebalkan yang semalaman membuatnya tak dapat tidur.

Ya, siapa lagi jika bukan Dimitri.

Rosaline mendengus sebal. Astaga, untuk apa lagi lelaki itu datang kemari? Tidak cukupkah ia terganggu karena gairah sialan yang menimpanya sepanjang malam?

“Untuk apa lagi kau kemari?” tanya Rose dengan nada ketus.

“Itu bukan sapaan yang ramah untuk pelanggan.”

“Kau bukan pelanggan tokoku.”

“Mulai hari ini, aku akan menjadi pelanggan tokomu.”

“Oh ya?” Rosaline bersedekap. “Jadi, apa yang kau cari Tuan Rusia?”

Dimitri tersenyum dengan ucapan Rosaline yang baginya sangat lucu. “Hanya sebuah pengikat untuk anjing kecilku.”

“Kupikir kau tidak memiliki anjing.”

“Rupanya kau sudah cukup mengenalku.”

“Belum cukup jauh, sampai aku tidak sadar jika kau sedang mengelabuiku.”

“Ckk, ayolah Rose, lupakan masa lalu kita.” Dimitri lalu berjalan menuju ke arah jajaran aksesoris untuk hewan-hewan peliharaan. Jemarinya mengamati beberapa kalung anak anjing yang tergantung rapih di sana. “Apa yang terjadi tadi malam?” tiba-tiba Dimitri bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari kalung-kalung tersebut. Tentu ia bertanya karena ingin mengubah topik pembicaraan mereka yang selalu berputar pada masa lalu.

“Apa? Memangnya apa yang terjadi?”

“Lampu flatmu menyala hingga pagi, ada apa? Kau susah tidur?”

Bagaimana bisa Dimitri tahu? “Kau, bagaimana bisa tahu?”

“Aku mengamatimu.”

“Astaga, kau bear-benar menyebalkan.” Emosi Rose meledak seketika. Sungguh, ia tidak suka saat tahu jik Dimitri mengetahui setiap gerak-geriknya.

“Aku hanya khawatir terjadi apa-apa denganmu, jika kau mau tinggal bersamaku, mungkin aku bisa tenang.”

“Dalam mimpimu!” Rose berseru kesal. “Aku tidak akan pernah mau tinggal bersamamu.”

“Kau yakin, Rose?”

“Lebih baik kau pergi. Sungguh, aku bisa stress saat kau terlalu lama berada di sekitarku.”

Dimitri hanya tersenyum menanggapi permintaan Rosline, lalu ia meraih sebuah kalung anjing kecil, dan memberikannya pada Rosaline. “Berapa?”

“Ambil saja jika itu bisa membawamu untuk segera pergi dari hadapanku.”

“Rupanya, kau masih sangat membenciku.” Mata Dimitri menatap tajam ke arah Rosaline, lalu matanya turun, menatap perut Rose yang sudah sedikit tampak karena blouse yang dikenakan Rose sedikit ketat. “Jika ada apa-apa, hubungi aku.”

“Tidak perlu.” Rosaline menjawab dengan ketus.

“Kalau begitu, aku akan selalu berada di sekitarmu.”

“Ayolah, kau membuatku seakan tercekik, aku tidak suka diawasi.”

“Kalau begitu, hubungi aku jika ada sesuatu.” Dimitri tampak begitu serius. Dan itu benar-benar membuat Rosaline terbius kembali oleh pesona lelaki itu. Dimitri mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. Sebuah kartu nama,lalu memberikannya pada Rosaline. “Kontak baruku.”

Rosaline membacanya sekilas, lalu kembali menatap Dimitri “Kau, kau tinggal di sini?” tanyanya tak percaya.

Ya, selama ini Rose berpikir jika Dimitri hanya menginap di sebuah hotel untuk mengganggunya, ia tidak berpikir jika Dimitri akan pindah ke New York.

“Ya, karenamu.”

Rosaline mendengus sebal. “Pergilah.” Sungguh, ia tidak suka dengan ucapan-ucapan Dimitri yang mampu mengintimidasinya.

“Nanti malam, aku akan menjemputmu untuk makan malam bersama.”

“Tidak!”

“Aku sedang tidak meminta izin.” Dimitri masih tersenyum ketika membalikan diri dan bersiap pergi meninggalkan Rosaline.

“Dimitri, kau-” Rose menghentikan kalimatnya saat mendapati seorang pelanggan masuk ke dalam pet shopnya. “Oh, hai.” Itu Alan Parker, pelanggan setia tokonya. Dan ekspresi Rose segera berubah ketika kedatangan Alan.

“Hai.” Alan menyapanya dengan lembut.

Dimitri yang baru akan membuka pintu toko Rosaline menghentikan pergerkannya, ia menatap seketika ke arah Rosline dan lelaki yang baru saja masuk tersebut. Tampak keduanya berinteraksi dengan akrab.

“Kau baru buka?” tanya Alan.

“Ya, tadi malam aku susah tidur.”

“Karena bayinya?”

Rosaline tertawa. “Ya, sepertinya begitu.” Rose melirik sekilah ke arah Dimitri yang ternyata masih berada di ambang pintu tokonya, kenapa lelaki itu tak juga pergi?

Alan akhirnya menyadari jika tatapan mata Rose jatuh pada seseorang di belakangnya. Alan menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Dimitri dan juga Rose yang saling melemparkan pandangan sekan hanya mereka yang tahu apa arti tatapan mata tersebut.

Alan lalu kembali menatap Rose, dan bertanya “Siapa?”

Rose tersenyum menatap Alan dan menjawab “Bukan siapa-siapa, hanya pelanggan biasa.”

Mendengar jawab dari Rosaline membuat Dimitri sedikit menyunggingkan senyumannya, tapi matanya menatap tajam ke arah wanita itu, setelah itu, Dimitri memutuskan untuk keluar. Ya, tak ada gunanya lagi ia di sana, karena jika ia masih berada di sana, ia tidak yakin dapat mengontrol emosinya.

Setelah keluar beberapa langkah dari pintu pet shop Rosaline, Dimitri mengeluarkan ponselnya, ia tampak menghubungi seseorang.

“Temui aku saat makan siang.” ucapnya dengan serius.

“Baiklah. Di tempat biasa.” Jawab suara lembut di seberang. Setelah itu, Dimitri menutup teleponnya tersebut. sebelum ia masuk ke dalam limusinnya yang terparkir tepat di depan pet shop Rosaline.

***

“Jadi, dia ayah dari bayimu?” tanya Alan sekali lagi. Saat ini, Alan dan Rosaline sedang menghabiskan waktu makan siang mereka di sebuah cofee shop tepat di seberang Pet Shop milik Rosaline.

Alan memang merupakan pelanggan setia Rosaline, dari Alan lah, Rose mendapatkan Snowky. Ya, Snowky merupakan salah satu anak dari anjing Alan. Dulu, Rose pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengan Alan, tapi karena lelaki itu terlalu baik, Rose tidak bisa memanfaatkan lelaki itu untuk menjadi pelariannya dalam melupakan sosok Dimitri.

Rose juga sempat berpikir jika Alan adalah sosok pendonor yang cocok untuk memberinya bayi, tapi ia berpikir lebih jauh lagi, saat ia hamil anak Alan, mereka pasti tak akan dapat berteman seperti ini lagi.

Rose mendesah panjang. “Ya, dialah orangnya.”

Alan tersenyum. “Sepertinya kau beruntung, Rose. Dia tampak sempurna.”

“Ya, mungkin. Jika kami belum pernah menikah sebelumnya.”

“Apa?” Mata Alan membulat seketika.

“Dia mantan suamiku.” Rosaline mendesah panjang.

“Woww, sepertinya kalian memang berjodoh.”

“Alan, aku sedang tidak ingin bercanda.” Rose memakan saladnya. “Hubungan kami sangat buruk. Aku bahkan tidak ingin bertemu dengannya lagi. Dan dengan adanya bayi ini, semuanya jadi semakin rumit.”

Well, aku hanya ingin menghiburmu, kau tampak sedikit tertekan.”

“Ya, setelah aku tahu bahwa dia orangnya, aku merasa kurang nyaman.”

“Kenapa?”

Rosaline menggelengkan kepalanya. Ya, ia tidak mungkin mengatakannya pada Alan, bahkan dengan Ana yang notabene lebih dekat dengannya saja, Rose tak pernah menceritakannya. Karena menceritakan semua masa lalunya seperti sedang mengorek luka lamanya.

“Kau tahu, dia hanya mencintaiku.” Itu bukan sebuah pertanyaan.

“Kau gila? Kau adalah adik kandungnya.”

“Ya, tapi kami saling mencintai.”

“Tidak! Dimitri hanya mencintaiku, itu sebabnya dia menikahiku meski kami belum lama saling kenal.”

Wanita di hadapannya itu tertawa lebar. “Sadarlah, Rose. Kau hanya dijadikan alat untuk menutupi hubungan kami, kau hanya dijadikan alat untuk melahirkan penerus Armanzandrov. Itu saja, tidak lebih.” Rosaline hanya ternganga mendengar ucapan wanita itu, ia mencoba memungkiri setiap kata yang terucap dari bibir wanita itu, tapi pikirannya berkata jika semuanya menjadi sangat masuk akal. Ya, tak ada yang kebetulan, semua memang sudah direncanakan Dimitri. Ia sudah ditipu oleh lelaki itu….

***

Dimitri tersenyum setelah melihat seorang wanita mendatangi meja makannya. Ia segera berdiri dan menyambut kedatangan wanita itu yang segera mengecup sisi kanan dan kiri pipinya dengan lembut.

“Kau tampak sangat tegang.” Wanita itu berucap sembari menyunggingkan senyumannya, jemarinya bahkan mengusap lembut pipi Dimitri, berharap jika ketegangan Dimitri lenyap karena sentuhannya.

“Ya, kau tentu tahu karena siapa.”

“Rosaline? Ayolah, sekarang apa lagi?”

Dimitri kembali duduk di kursinya, lalu ia mempersilahkan wanita di hadapannya itu duduk. “Duduklah, kita akan makan siang sebelum membahas semuanya, Ana.” ucapan Dimitri tenang, namun matanya menatap wanita itu dengan penuh arti. Sedangkan wanita yang bernama Ana itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan Dimitri.

Ahhh, ternyata lelaki itu masih sama, senang sekali mengintimidasi lawannya dengan tatapan mata tajamnya…

-TBC-

Advertisements

Baby, oh Baby! – Chapter 3 (Aku ingin bercinta)

Comments 3 Standard

Baby, oh Baby!

 

Chapter 3

-Aku ingin bercinta-

 

Empat tahun yang lalu…..

Satu minggu berlalu setelah menghabiskan waktu bersama, membuat Rosaline mengenal Dimitri lebih dekat dari sebelumnya. Lelaki itu sangat perhatian, bahkan bisa dibilang romantis, padahal hubungan mereka tak lebih dari sebatas kenalan.

Tapi tadi, saat keduanya terpana satu sama lain ketika melihat keindahan danau Onega, membuat Rosaline tidak menyangka jika Dimitri akan menautkan bibir mereka disana. Membakar tubuh mereka dengan gairah yang menyala-nyala. Bagaiamana mungkin ia merasakan perasaan seperti ini pada orang seasing Dimitri?

Dimitri lalu mengajaknya kembali dengan cepat, bahkan lelaki itu memilih menyewa hotel yang letaknya tak jauh dari danau. Dan kini, mereka tengah sibuk mencurahkan hasrat masing-masing.

“Aku menginginkanmu, Rose….”

“Aku mencintaimu…”

“Kau begitu cantik…”

“Biarkan aku memilikimu, maka akan kuberikan segalanya untukmu….”

Entah apa saja kalimat-kalimat yang keluar dari bibir Dimitri. Racauan-racauan tak jelas dalam bahasa Rusia, hingga yang dapat Rosaline lakukan hanya mengerang membalas semua racauan dari lelaki tersebut.

Rosaline telentang dengan pasrah di atas ranjang, sedangkan tubuhnya sudah polos setelah Dimitri melucutinya. Kini, lelaki itu tengah sibuh membuka pakaiannnya sendiri, membuat Rose takjub dengan keindahan yang terpampang sempurna di hadapannya.

Tubuh Dimitri tampak kekar, berotot, dengan kulit putih khas orang Rusia. Lelaki itu tampak menggairahkan ketika tubuhnya sudah polos sama seperti dirinya. Rosaline menggeliat tak menentu di atas ranjang. Padahal Dimitri belum menyentuhnya. Dan ketika Dimitri membebaskan bukti gairahnya, yang bisa Rose lakukan hanya menahan napasnya, saat tahu betapa menakjubkannya bukti gairah lelaki itu.

Rosaline terduduk seketika, berharap jika Dimitri mengizinkannya untuk menyentuh bukti girah lelaki itu. Tapi apa yang Rose inginkan nyatanya tidak terpenuhi, saat Dimitri memilih kembali mendorong tubuh Rosaline hingga wanita itu kembali telentang di bawah tindihannya.

“Apa yang kau inginkan?” tanya Dimitri dengan suara yang sudah serak.

“Menyentuhmu, aku ingin menyentuh milikmu.”

“Tidak akan kubiarkan.”

“Kenapa?” Rose bertanya dengan penasaran.

“Karena aku yang akan menyentuhmu.” Dan setelah itu, Dimitri kembali melumat bibir Rosaline. Jemarinya sudah bergerilya, mencari pusat diri Rosaline, memainkannya, menggodanya, hingga yang dapat Rose lakukan hanya mengerang pasrah dalam cumbuan Dimitri.

Bibir Dimitri turun kebawah, meninggalkan Rose dengan desahan-desahan panjangnya, lalu bibirnya mendarat pada puncak payudara wanita itu, melumatnya, menghisapnya, sedangkan jemarinya sudah membelai lembut pusat diri Rosaline.

Erangan yang keluar dari bibir Rose tak mampu membuat Dimitri bertahan, erangan itu bagaikan nyanyian erotis yang mampu meningkatkan gairahnya secara pelan tapi pasti. Oh, Rosaline benar-benar membuatnya frustasi dengan gairah yang menghantamnya lagi dan lagi.

Hingga ketika Dimitri tak mampu lagi menahannya, ia menghentikan aksinya lalu berkata lembut pada Rose. “Aku akan memulainya.”

Rosaline tidak menjawab,ia hanya mengangguk pasrah, sibuk dengan kenikmatan yang menyerangnya hingga ia tidak peduli ketika Dimitri memasang pengaman pada bukti gairahnya sebelum menyatukan diri seketika dengan dirinya.

“Rose, kau, luar biasa.” ucapnya dalam bahasa Rusia.

Rosaline tidak menjawab, karena ia masih sibuk mengontrol diri agar tidak berteriak ketika Dimitri terasa penuh mengisinya. Dimitri mulai bergerak, bibirnya kembali meraih bibir Rosaline, melumatnya bahkan sesekali menggigitnya. Keduanya begitu menikmati percintaan panas pertama mereka, hingga mereka tidak sadar, jika sejak saat itu, tubuh mereka seakan candu satu dengan yang lainnya.

“Karena kau, aku melakukannya bukan hanya karena bayinya, tapi karena kau. Karena aku menginginkanmu.”

Dimitri menarik Rosaline mendekat ke arahnya, mengulurkan jemarinya untuk mengusap lembut pipi Rosaline. Rose yang masih terpana dengan kelembutan Dimitri tidak menyadari jika kini wajahnya sudah semakin dekat dengan wajah Dimitri.

“Karena kau, karena aku menginginkanmu.” Dimitri mengulangi kalimtnya lagi dengan suara nyaris tak terdengar, ia semakin mendekatkan wajahnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.

Rosaline semakin terpana ketika melihat bibir Dimitri, ia bahkan sudah menjinjitkan kakinya berharp bisa meraih bibir lelaki itu dan melumatya. Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya? Kenapa berdekatan seperti ini saja membuat Rosaline merasa terbakar?

“Kau, ingin menciumku, Rose?” pertanyaan Dimitri sontak menyadarkan Rosaline dari fantasinya.

Ya, sial! Ia bahkan sempat berfantasi bahwa malam ini dirinya akan mendesah dibawah tindihan Dimitri.

Secapat kilat Rosaline melepaskan diri dari Dimitri, ia bahkan mendorong dada Dimitri agar menjauh dari dirinya. Rosaline menatap Dimitri dengan tatapan marah, marah karena lelaki itu sudah mampu membuatnya tergoda kembali. Sedangkan Dimitri, ia malah tersenyum melihat tingkah Rosaline.

Rosaline membalikkan diri, berjalan cepat meninggalkan Dimitri. Lalu langkahnya terhenti saat ia mendengar teriakan Dimitri.

“Kau masih mencintaiku, aku tahu, Rose!” Lelaki itu berteriak tapi dengan nada santai, bahkan lelaki itu menyisipkan senyuman mengejeknya hingga membuat Rosaline semakin kesal.

Dengan kesal Rosaline membalikkan tubuhnya dan berseru keras pada Dimitri “Pergilah ke neraka!” lalu ia kembali berjalan cepat meninggalkan Dimitri yang tak berhenti menyunggingkan senyuman kemenangannya.

Rose masih menjadi miliknya, wanita itu tak akan lepas dari genggaman tanganya….

***

Hingga menjelang pagi, mata Rosaline tak dapat tertutup. Ia gelisah tak menentu di atas ranjangnya. Entahlah, ia bahkan tidak mengerti kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini. Bayangan tubuh telanjang Dimitri menari-nari dalam kepalanya. Membangkitkan fantasinya pada malam ini.

Astaga, apa yang sedang terjadi dengannya?

Rosaline bangkit, menyalakan lampu, lalu memilih keluar dari dalam kamarnya menuju ke arah dapur, sepertinya ia butuh minuman dingin untuk meredakan hawa panas di dalam tubuhnya.

Setelah menuangkan segelas air dingin, Rose menenggaknya hingga tandas, tapi ia merasa panas di dalam dirinya belum juga padam. Apa yang terjadi denganmu, Rose? Tanyanya pada dirinya sendiri.

Akhirnya, Rosaline meraih ponselnya, lalu menghubungi Ana. Ya, hanya Ana lah, teman yang sudah seperti saudaranya sendiri, dan wanita itu pastinya mau ia repotkan dengan curhatannya di tengah malam seperti saat ini.

Ana sepertinya sedang tidur karena temannya itu tak juga mengangkat telepon darinya, tapi Rose tidak patah semangat, ia menelepon lagi dan lagi karena ia memang butuh teman bicara agar pikirannya tidak memikirkan hal-hal panas yang membuat akal sehatnya hilang.

Setelah mencoba berkali-kali, Rosaline bersyukur karena Ana akhirnya mengangkat telepon darinya. Meskipun wanita itu terdengar kesal saat mengangkat telepon darinya.

“Rose,apa yang terjadi?” ya, itu adalah percampuran antara kesal dan juga khawatir.

“Uuum, apa aku mengganggumu? aku hanya butuh teman bicara.”

“Rose, ini sudah menjelang pagi, dan kau menggangguku hanya karena kau butuh teman bicara? Ini tidak lucu. Aku akan menutup teleponnya.”

“Ana, tolong. Jika kau membiarkan aku sendiri malam ini, maka aku bisa gila.”

“Apa yang terjadi? Astaga, aku sedang memiliki malam yang panas dengan Sean, dan kau mengganggunya.” Ana benar-benar terdengar kesal, dan Rose benar-benar menyesal karena sudah mengganggu temannya itu.

“Maaf, tapi kupikir, ini juga kesalahanmu.”

“Apa yang membuatku salah?”

Rosaline memejamkanmatanya frustasi. “Karena kau sudah membiarkan pria Rusia itu mengusik hidupku kembali.”

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Ada apa dengan Dimitri?” Ya, ketika Rosaline mengatakan ‘Pria Rusia’ maka Ana tahu jika yang dimaksud Rosaline adalah Dimitri.

Rose hanya diam, ia tidak tahu harus bagaimana menceritakan keadaannya pada Ana.

“Kenapa lagi, Rose?” tanya Ana lagi.

“Ya Tuhan! Aku ingin bercinta dengannya.” Rose tidak mengerti setan apa yang saat ini sedang bersemayam di dalam dirinya hingga ia mengucapkan kalimat menggelikan itu.

Setelah beberapa detik tak bereaksi, terdengar tawa lebar dari seberang telepon. “Astaga Rose, kau ingin seks?” tanya Ana dengan nada menggoda, dan sungguh, itu benar-benar membuat Rosaline kesal.

“Sepertinya aku memang salah sudah menghubungimu.” ucap Rosaline sembari bersiap menutup teleponnya

“Rose, tunggu.” Teriakan Ana membuat Rosaline menghentikan aksinya untuk menutup sambungan telepon. “Aku tidak bisa membantu banyak, tapi sedikit informasi, bahwa kebanyakan ibu hamil memang selalu menginginkan seks.”

“Maksudmu?”

“Hormon kalian sedang kacau, jadi keinginan untuk bercintapun semakin meningkat.”

“Jadi, aku akan sering mengalami hal ini?”

“Ya, bahkan mungkin lebih parah lagi.”

“Kau bercanda?” Rosaline bergidik ngeri. Sungguh, ia tidak bisa membiarkan dirinya gila karena ingin bercinta. Apalagi saat ia sedang tidak memiliki teman untuk diajak bercinta.

“Rose, sebaiknya kau memikirkan kahadiran Dimitri. Kupikir… dia cukup menarik untuk dijadikan teman bercinta.” ucap Ana diiringi dengan tawa khasnya.

Ya, sempurna! Ana memang benar-benar sudah gila karena berani mengusulkan ide gila itu padanya.

Dimitri memang cukup menarik, Tidak! Bahkan sangat menarik untuk diajak bercinta. Rosaline tahu bagaimana mahirnya lelaki itu ketika di atas ranjang. Tapi menjadikan lelaki itu hanya sebagai teman bercinta untuk memuaskan dahaganya tanpa melibatkan perasaannya benar-benar mustahil. Ia tidak yakin dengan perasaannya sendiri, bahkan hingga kini, Rose tidak yakin, apa ia sudah mampu melupakan perasaannya dulu pada lelaki itu, atau belum.

Nyatanya, hingga kini, Dimitri masih sangat mempengaruhinya, mengintimidasinya hingga membuatnya seakan kehilagan akal sehatnya.

Tuhan! Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana mungkin ia mendapatkan nasib sesial ini?

-TBC-

Future Wife – Chapter 3 (Teman Tidur)

Comments 7 Standard

Future Wife

 

Follow IG : @Zennyarieffka

Like Fanspage Facebook : Zenny Arieffka- Mamabelladramalovers

untuk mendapatkan informasi updatetan terbaru yaa…

 

 

Chapter 3

-Teman Tidur-

 

Mata Tiara membulat seketika. Dengan spontan kakinya mundur menjauhi Evan. Lengannya ia silangkan di depan dadanya. Astaga, bagaimana mungkin lelaki ini berkata seperti itu? Menjadi teman tidur? Apa maksudnya?

“Jangan takut.” Evan berkata cepat.

“Dua menit yang lalu saya tidak takut, tapi setelah Pak Evan berkata seperti itu, saya berpikir untuk segera lari dari hadapan Pak Evan.” Tiara menjawab dengan jawaban polosnya.

Evan tersenyum lembut. “Saya hanya memberi solusi.”

“Itu bukan solusi, Pak Evan memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan.”

Well, saya tidak memaksa kamu, saya hanya memberikan pilihan, karena kebanyakan orang memilih cara instan walau dia tahu itu merugikannya. Tak ada salahnya jika saya mencoba menawarkannya pada kamu, kan?”

“Tapi saya bukan kebanyakan orang. Saya akan kerja keras semampu saya, tanpa harus menjual tubuh saya.”

Lagi-lagi Evan tersenyum, kali ini sambil menganggukkan kepalanya. “Untuk seorang yang kesusahan, kamu ternyata masih memiliki harga diri yang tinggi.”

“Jika saya sudah tidak memiliki harga diri, saya tidak akan bekerja dengan Bu Sherly, tapi akan bekerja di rumah Bordil.” Tiara menjawab dengan ketus. Sugguh, ia tidak suka dengan sikap Evan yang berpikir bahwa dirinya bisa dibeli dengan uang. Ya, meskipun ia tidak memiliki apapun yang bisa dibanggakan, setidaknya ia memiliki sesuatu yang akan ia simpan hingga pangerannya nanti datang padanya dengan cinta.

“Baiklah.” Evan hanya tertawa. Lalu berjalan pergi meninggalkan Tiara, tapi sebelum itu, ia berpesan “Tapi kalau kamu berubah pikiran, datang saja sama saya, tawaran saya masih berlaku sampai kamu mampu melunasi hutang-hutang kakakmu.”

Setelahnya, Evan pergi dengan masih dengan senyum terukir di wajahnya, sedangkan Tiara mulai kesal dengan sikap Evan. Ya, senyum Evan itu, terlihat seperti senyum nakal, dan Tiara tidak suka saat melihatnya.

***

Masuk ke dalam kamar, Evan menutup pintu kamarnya lalu menguncinya dari dalam. Setelah itu ia menyandarkan tubuhnya pada pintu kamarnya. Jemarinya meraba dada kirinya yang tiba-tiba saja berdebar tak menentu, dan sial! Evan sadar jika kini pangkal pahanya sudah berdenyut nyeri.

Ia menginginkan Tiara, ya, ia menginginkannya. Dan apa-apaan ini? Padahal, ia tak pernah mengingnkan perempuan hingga terasa nyeri seperti saat ini.

Sejak kecil, perasaannya hanya tumbuh untuk sosok Karina, rasa cinta yang murni. Setelah dewasa, Evan memang sesekali tergoda untuk memiliki diri Karina, ia ingin menyentuh wanita itu dengan sentuhan intim, tapi rasa cintanya yang begitu besar membuatnya melupakan hasrat primitifnya pada sosok Karina. Evan memilih mengubur hasrat-hasrat panas tersebut dan memupuk rasa cintanya. Tapi kini, saat ia bertemu dengan sosok Tiara, hasrat-hasrat tersebut seakan membeludak di dalam dadanya. Menghantarkan sengatan aneh yang menyerang seluruh syaraf-syarafnya.

Evan menginginkan sebuah pelesapas.

Ahh sial! Kenapa jadi begini?

Ia bahkan belum pernah melakukan hubungan badan sekalipun dengan wanita manapun, tapi tadi, ia bersikap seolah-olah menjadi seorang berengsek yang hanya memikirkan selangkangannya.

Bagaimana bisa Tiara membuatnya seperti ini?

Evan akhirnya memilih masuk ke dalam kamar mandinya, melucuti semua pakaiannya, lalu menyalakan air shower. Sepertinya, mandi air dingin adalah solusi yang baik. Ia tidak mungkin membiarkan pangkal pahanya menegang sepanjang malam akibat keinginannya yang tidak terpenuhi.

Sial! Ia benar-benar sudah mulai gila.

***

Paginya, Evan keluar dari dalam kamarnya saat ia sudah rapih. Berharap jika ia melihat Tiara yang masih sibuk di dapurnya dan mengamati wanita itu lagi secara diam-diam. Tapi ketika ia menuju ke arah dapur, semuanya sudah sepi. Tak ada Tiara di sana. Evan melirik sekilas ke arah meja makan, rupanya di sana sudah tersedia sarapan untuknya, lengkap degan secangkir kopi dan juga koran paginya.

Evan menuju ke arah meja makan tersebut, tampak sebuah note yang berisi :

“Sarapan, kopi, dan koran paginya sudah saya siapkan, Pak. Saya berangkat kerja dulu.”

Evan melirik jam tangannya, waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi, seharusnya Tiara belum berangkat. Tapi kenapa wanita itu berangkat pagi-pagi sekali?

Satu-satunya alasan adalah bahwa wanita itu sedang menghindarinya. Tiara pasti enggan bertatap muka dengannya lagi karena pengajuan yang tak masuk akal darinya tadi malam.

Ahhh, wanita itu benar-benar membuat Evan gemas.

Evan tersenyum, ia duduk menyesap kopinya lalu meraih koran di hadapannya. Baru juga ia membaca tajuk utama dalam koran tersebut, ia sudah menaruhnya kembali. Terasa ada yang kosong, tapi apa?

Evan menghela napas panjang. Selama ini, ia memang tak pernah hidup jauh dari keluarganya. Tapi karena Karina, ia memilih mengasingkan diri, hidup dengan kekosongan, kesepian. Lalu kemarin, ketika ia bangun tidur, ia sudah mendapati Tiara yang sibuk di dapurnya, mengingatkannya kembali pada saat-saat dimana ia hidup dengan keluargnya, tidak sendirian.

Lalu tadi malam, dengan bodohnya ia mengacaukan semuanya. Tiara pasti ketakutan, dan tampak juga raut marah dan tersinggung dari wajah wanita itu semalam. Ah, benar-benar bodoh!

Evan menatap hidangan di hadapannya dengan tak berselera, ada nasi goreng seperti kemarin, yang pastinya rasanya sama enaknya, tapi entah kenapa Evan tak nafsu memakannya. Akhirnya Evan bangkit kembali, ia akan ke rumah Davit, dan mencari tahu, apa Tiara benar-benar di sana, atau mungkin wanita itu kabur karena takut dengan ucapannya semalam.

***

Setelah beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya pintu di hadapannya di buka. Evan mendapati Sherly berdiri di ambang pintu dengan menggendong puteri kecilnya.

“Loh, Van, kok tumben pagi-pagi ke sini?”

“Uuum, ini, mau minta gula.” Evan memang datang dengan membawa cangkir kopinya. Ia harus memiliki alasan, tidak mungkin ia bilang jika dirinya ke sana untuk mencari tahu dimana Tiara.

“Ohh, masuk aja, ikut sarapan sekalian.” tawar Sherly.

“Memangnya kamu masak?”

“Enggak, mana mungkin aku bisa masak kalau Cinta lagi rewel gini.” Sherly menimang-nimang putri kecilnya yang belum genap berusia satu tahun. “Tiara yang masak sarapan, nggak tahu, tumben dia datang pagi-pagi banget.”

Evan tersenyum penuh arti, “Ahh, ya, tentu saja, aku mau sarapan gratis di sini.”

Evan masuk ke dalam dan segera menuju ke arah ruang makan yang memang menyatu dengan dapur. Senyumnya kembali tersungging saat mendapati Tiara sedang sibuk dengan pekerjaannya. Wanita itu bahkan tidak menyadari jika kini Evan sedang menatapnya dari belakang.

Evan berjalan pelan, menuju ke arah Tiara, lalu ia berbisik “Pagi.” Hingga membut Tiara berjingkat seketika.

“Pak Evan?” ucapnya tak percaya.

“Ya.”

“Ke-kenapa?”

“Saya sedang minta gula.” Jawab Evan santai sambil mencari-cari letak gula di dapur rumah Davit.

“Tapi, kopinya tadi sudah saya kasih-”

“Pagi Van.” Sapaan Davit, sontak memotong kalimat Tiara.

Evan menolehkan kepalanya ke belakang. “Pagi.”

“Cari apa lo di sana?”

“Cari gula.”

Davit tertawa lebar. “CEO macam apa lo sampek-sampek nggak punya gula.”

Evan juga akhirnya ikut tertawa. “Sialan. Gue bangkrut, karena baru saja bayarin hutang seseorang.” Evan menjawab dengan sedikit menyindir. Tiara tentu tahu jika yang dimaksud Evan adalah hutang-hutang kakaknya.

“Bangkrut? Yang bener aja, lo. Mending lo ikutan bisnis kuliner sama gue.” Davit duduk di kursinya, menyesap kopi yang memang sudah tersedia di sana tanpa memperhatikan Evan lagi. Ia memilih meraih koran paginya sembari memakan selembar roti tawar.

Sedangkan Evan, ia berpura-pura meraih gula dan memasukkannya ke dalam cangkir kopi yang ia bawa dari rumah. Tak lupa, ia juga berbisik pelan ke arah Tiara.

“Saya tahu kamu sedang menghindari saya.”

“Maaf?” Tiara tidak mengerti apa yang dikatakan Evan.

“Sayangnya, kamu tidak akan bisa lari dari saya.” Evan berkata lagi masih dengan menuangkan gula pada cangkir kopinya.

“Saya tidak bermaksud-”

“Tiara.” Panggilan dari Sherly menghentikan kalimat Tiara.

“Iya, Bu.”

“Bisa tolong Dirly sebentar? Ini Cinta nggak mau di tinggal.”

“Baik Bu.” Dan akhirnya Tiara memilih pergi meninggalkan Evan.

Evan sendiri memilih menuju ke arah meja makan, dimana di sana masih terlihat Davit yang serius dengan koran paginya.

“Serius amat, ada berita apa?”

“Nggak penting.” Davit menjawab cepat. “gimana kerjaan lo? Dan yang paling penting, apa lo sudah dapat gandengan?”

“Lo apaan sih? Nggak penting banget yang di tanyain.”

“Van, lo sudah hampir Tiga puluh tahun, Anak gue sudah dua, si Dirga sudah nikah, bahkan adek lo aja udah nikah. Lo kapan?”

Evan memilih diam dan hanya mengaduk-aduk kopinya, ia tidak ingin membahas masalah pribadi itu dengan Davit.

“Lo sudah nggak mikirin Karin lagi, kan?”

Ya, Davit tentu saja sudah tahu tentang masalah Evan, karena beberapa saat yang lalu, Karina masuk rumah sakit, dan di sana, Karin bercerita semua tentang masalahnya dengan Evan dan juga Darren.

“Enggak.”

“Terus, apa yang lo tunggu?”

“Lo pikir cari pasangan hidup itu segampang ngupil?”

“Ya.” Davit menjawab cuek. “gue hanya perlu sebulan untuk jadian sama Sherly, dan lima bulan untuk melamarnya.”

“Jangan samakan sama pengalaman lo.”

“Lalu?”

“Sudah ah, jangan bahas lagi.” Evan meminum kopinya, tapi kemudian ia segera menyemburkannya kembali sambil mengumpat “Sialan!”

“Kenapa?”

“Kemanisan.” Ucap Evan sambil membersihkan bibirnya dengan tissue yang tersedia. Sedangkan Davit hanya bisa tertawa lebar menertawakan temannya tersebut.

***

Di tempat lain.

“Ayolah Pa, Papa pasti punya kenalan, kan? Mama nggak tega lihat Evan hidup menyendiri di sana. Kalau Evan sudah ada istri, pasti dia bisa balik hidup di sini tanpa ada kecanggungan lagi dengan Karina maupun Darren.” Tampak, seorang perempuan paruh baya sedang membujuk suaminya.

“Kenalan sih banyak, Ma, tapi kan nggak semua kenalan Papa memiliki anak perempuan yang siap nikah, dan kalaupun ada, belum tentu dia mau di jodohkan. Evanpun demikian, belum tentu dia mau dijodohkan.”

“Tapi nggak ada salahnya mencoba, kan Pa?”

“Ma, jangan gegabah, Papa nggak mau anak-anak menikah karena paksaan. Biarlah Evan mencari kebahagiaannya sendiri dulu.”

“Ahhh, Papa ini, biar mama saja nanti yang tanya-tanya sama teman-teman arisan Mama.”

“Ma.”

“Pa, Mama hanya kasihan saat melihat Evan sedih ketika melihat kebersamaan Darren dan Karin di rumah ini. Mama ingin semuanya segera kembali normal dan Evan bisa balik ke rumah ini lagi tanpa kecanggungan-kecanggungan diantara mereka.”

Lelaki paruh baya itu menghela napas panjang. “Baiklah, atur bagaimana baiknya, tapi kalau dia nggak mau, jangan dipaksa.”

Perempuan paruh baya itu tersenyum senang, akhirnya, ia bisa berbuat sesuatu untuk putera kesayangannya.

***

Tiga hari berlalu.

Sore itu, Tiara sedang menemani Dirly main di dalam kamarnya. Keduanya sedang asyik bermain sampai tidak sadar jika Sherly sedang menatap keduanya dengan penuh senyuman.

“Sayang, kemarilah.” Davit yang memang tidak berangkat kerja dan memilih menghabiskan waktunya di depan televisi sesorean ini memanggil Sherly untuk segera menghampirinya.

“Ada apa?” Sherly datang menghampiri Davit.

Davit menyaringkan volume TV di hadapannya. “Itu, bukannya kakaknya Tiara?” Davit menunjuk ke arah TV.

Sherly menatap ke layar datar di hadapannya, mengamatinya dengan seksama, Sherly menajamkan pendengarannya hingga ia dapat mencerna berita apa yang sedang ia lihat.

Penggerebekan tempat hiburan malam, beberapa tamu terciduk sedang menggunakan ganja. Begitulah yang ia dengar, hingga ia segera menatap ke arah suaminya.

“Astaga, gimana dengan Tiara?” tanyanya khawatir pada Davit. Ya, tentu saja, Tiara sudah seperti adik kandungnya sendiri. Melihat pemberitaan tersebut tentu membuat Sherly mengkhawatirkan kehidupan Tiara selanjutnya.

“Ada apa, Bu?” suara Tiara yang tiba-tiba terdengar itu membuat Sherly terkejut. Rupanya Tiara sudah keluar dan dia mendengar apa yang diucapkan Sherly barusan. Tiara menatap ke arah TV yang memang masih menyiarkan berita tersebut.

Tiara hanya bisa ternganga melihatnya, matanya berkaca-kaca seketika saat melihat berita penggerebekan di sebuah tempat hiburan malam yang juga melibatkan kakaknya.

“Bang Radit.” Lirihnya.

***

Hanya bisa menangis sesenggukan saat melihat sang kakak ada di balik kaca pembatas ketika malam itu juga Tiara mengunjungi kakaknya. Sang kakak menampilkan wajah santainya, seperti tak terjadi apapun, padahal Taira sudah menangis sesenggukan membayangkan bagaimana nasib mereka kedepannya.

“Ngapain kamu kesini? Bukannya kamu sudah senang sama orang kaya itu?”

“Apa?”

“Orang yang menahanmu kemarin sudah cerita sama aku, kataya kamu sudah di tebus oleh laki-laki kaya raya. Bagaimana bisa? Karena kamu menjadi simpanannya?”

“Bang, bagaimana mungkin Bang Radit berpikir seperti itu? Pak Evan adalah orang yang baik, dia menolongku saat Bang Radit menjualku, aku harus bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumahnya agar bisa melunasi hutang-hutang kita, Bang.”

Radit malah tersenyum mengejek. “Oh ya? Memangnya kamu bisa melunasinya? Asal kamu tahu, hutangku pada si tua bangka itu sebanyak Seratus Juta, sedangkan si tua bangka itu menjualmu pada dia sebanyak Lima ratus juta. Kamu bisa mencicilnya? Dengan apa? Sampai matipun kamu nggak akan bisa membayarnya.”

Tiara membungkam mulutnya dengan kedua belah telapak tangannya. Ia tidak menyangka jika Evan akan mengeuarkan uang sebanyak itu untuk menyelamatkannya, dan astaga, apa ia bisa membayarnya?

“Dengar. Sekarang, kamu hanya sendirian di luar sana. Jika kamu bisa mengeluarkanku dari sini, kita bisa melunasi hutang-hutang itu bersama-sama.”

Tiara menggelegkan kepalanya. Ia tentu ingin mengeluarkan kakaknya dari sana, tapi bagaimana caranya? Ia bahkan tidak memiliki apapun untuk dijadikan jaminan kebebasan sang kakak.

“Lakukan apa saja untuk mengeluarkanku dari sini.”

Tiara masih menangis, ia menggelengkan kepalanya tanpa bisa membalas ucapan sang kakak. Ya, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

“Maaf, waktunya habis.” Seorang penjaga datang dan membawa Radit kembali menuju sel tahanan.

“Keluarkan aku dari sini, Tiara. Masa depan kita tergantung sama kamu.” Pesan Radit sebelum menghilang di balik pintu.

Tiara menangis, ia bangkit lalu keluar dari sana. Menuju ke mobil Davit yang berada di parkiran. Ya, Davitlah tadi yang mengantarnya, dan Davit memilih menunggu Tiara di luar dengan alasan tak mau mengganggu pertemuan Tiara dengan kakaknya.

“Hei, sudah balik?” tanya Davit yang segera menghampiri Tiara yang sudah msuk ke dalam mobilnya.

Tiara tidak menjawab karena dia masih sibuk dengan tangisannya. Davit sendiri mengerti apa yang dirasakan Tiara. Tiara sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini, kecuali kakak berengseknya. Dan sekarang, mereka harus dipisahkan karena kasus ini. Davit memilih masuk ke dalam mobilnya. Dan segera menjalankan mobilnya. Mungkin Tiara masih shock, lebih baik ia mengantar Tiara pulang supaya wanita itu segera istirahat di rumahnya.

***

“Kamu yakin berani tinggal sendiri?” tanya Davit memastikan ketika sudah sampai di rumah Tiara dan wanita itu keluar dari dalam mobilnya.

Tiara hanya mengangguk, air matanya masih menetes dengan sendirinya.

“Kamu bisa tinggal di rumah kami sementara selama kasus kakak kamu berlangsung, kami sangat tidak keberatan. Dirly juga pasti akan sangat senang.” Davit menawarkan. Karena sungguh, ia tidak tega mendapati Tiara hidup sebatang kara saat kakak berengseknya menjalani hukuman di dalam sel tahanan.

“Tidak apa-apa, Pak. Saya baik-baik saja.”

Davit menghela napas panjang. “Baiklah, kalau ada apa-apa, hubungi saya atau Sherly secepatnya, oke?”

Tiara tersenyum dan hanya bisa mengangguk patuh. Akhirnya Davit menyalakan mesin mobilnya, lalu mengemudikannya meninggalkan Tiara sendiri di depan rumahnya.

Tiara masih mematung di halaman rumahnya, ia menatap rumahnya dan tangisnya kembali menjadi. Tuhan, apa yang harus ia perbuat selanjutnya? Ia kini sendiri, sang kakak entah berapa lama berada di dalam tahanan, sedangkan hutang-hutangnya…. Astaga, apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia perbuat agar kakaknya segera keluar dari dalam tahanan?

Hujan tiba-tiba saja turun, menguyur tubuh Tiara yang masih mematung di halaman rumahnya. Oh, dirinya kini berada pada titik terendah dalam hidupnya, Tiara bahkan berpikir jika tak ada gunanya lagi ia hidup di dunia ini.

Tiara mendongakkan wajahnya ke arah langit, membiarkan wajahnya tertimpa derasnya air hujan. Ia ingin berteriak, meneriakkan semua kegalauan hatinya, tapi semuanya seakan tercekat di dalam tenggorokan. Yang bisa Tiara lakukan hanya menangis… menangis… menangis…. Lalu, bayangan itu datang.

“Datang saja sama saya, tawaran saya masih berlaku sampai kamu mampu melunasi hutang-hutang kakakmu.”

Tiara membuka matanya seketika. Apa ia harus meminta bantuan lelaki itu? Menjadi teman tidurnya? Tanpa pikir panjang lagi, Tiara melangkahkan kakinya, berlari secepat mungkin sebelum pikirannya berubah.

Ya, hanya Evan yang mampu membantunya, hanya Evan yang mampu menariknya dari semua masalah pelik yang sedang menimpanya.

***

Tiara mengabaikan tubuhnya yang sudah basah kuyub karena hujan, ia bahkan tidak menghiraukan tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan, yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya agar cepat sampai di rumah Evan, dan cara satu-satunya adalah ia harus berlari secepat mungkin mengabaaikan hujan yang tak berhenti mengguyurnya.

Akhirnya, sampailah juga Tiara di depan rumah Evan, tanpa ragu sedikitpun, Tiara mengetuk pintu rumah tersebut, berharap Evan belum tidur dan segera membukakan pintu untuknya. Dan benar saja, tak berapa lama, pintu di hadapannya di buka mendapati Evan yang berdiri di ambang pintu.

“Tiara?” Evan tampak tertkejut dengan apa yang dia lihat.

“Pak.” Hanya itu yang diucapkan Tiara, semuanya seakan tercekat di tenggorokan, hanya matanya yang kembali berkaca-kaca seakan ingin menumpahkan semua kesedihan di hadapan Evan.

“Apa yang kamu lakukan? Masuklah.” Evan menarik pergelangan tangan Tira hingga Tiara masuk ke dalam rumahnya. Evan menutup pintu rumahnya kemudian ia kembali fokus pada Tiara. “Kenapa kamu baru pulang? Kenapa kamu hujan-hujanan begini?” tanya Evan lagi.

“Pak.”

“Apa kamu tahu kalau saya kelaparan karena tidak ada yang menyiapkan makan malam untuk saya?”

“Maaf, Pak, tapi saya…”

“Cukup! Sekarang masuk dan gantilah bajumu, pakaianmu yang basah membuatku tidak fokus.” Gerutu Evan yang segera membalikkan tubuhnya membelakangi Tiara dan segera pergi meninggalkan Tiara.

“Pak, tunggu.” Dengan begitu berani, Tiara meraih pergelangan tangan Evan. Evan menghentikan langkahnya lalu menatap pergelangan tangannya yang sedang digenggam oleh Tiara. “Maaf, saya nggak bermaksud.” Tiara melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Evan.

“Ada apa? Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Evan penasaran.

“Uuum, saya menerima tawaran Pak Evan.”

Evan mengangkat sebelah alisnya. “Apa maksud kamu?”

“Saya mau menjadi ‘Teman Tidur’ Pak Evan.”

Evan sempat ternganga dengan apa yang dikatakan Tiara, tapi kemudian ia segera menguasai dirinya kembali, dan secara spontan, Evan menangkup kedua pipi Tiara lalu secepat kilat, ia menyambar bibir ranum Tiara, bibir yang sudah cukup lama menggodanya….

-TBC-

Future Wife – Chapter 2 (Cara Instan)

Comments 4 Standard

Future Wife

 

“Bang, Bang Radit. Bang..” Tiara juga ikut berteriak memanggil-manggil nama kakaknya ia tentu tidak ingin di tinggalkan dengan orang-orang asing yang tidak ia kenal. Belum lagi fakta jika dirinya kini menjadi milik orang tersebut. “Bang, jangan tiggalin Tiara, Bang.. Bang Radit….”

Dan ketika Tiara tak juga diam dari rengekannya, sepasang kaki berjalan menuju ke arah mereka. “Permisi.” Suara itu membuat Tiara menghentikan rengekannya, lalu menolehkan kepalanya ke arah suaraa tersebut. Tiara ternganga mendapati siapa yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Anda siapa?” tanya lelali paruh baya itu pada pria yang baru datang menghampirinya.

Pria itu sedikit tersenyum, lalu mengulurkan jemarinya. “Saya Evan Pramudya, kekasih wanita ini.”

***

 

Chapter 2

-Cara instan-

 

Tiara ternganga setelah mendengar kalimat yang diucapkan oleh Evan. Apa maksudnya? Dan kenapa bisa lelaki ini berada di tempat seperti ini? Saat Tiara masih bingung mencerna semua kejadian itu di otaknya, lelaki paruh baya yang kini memilikinya itu tertawa lebar menertawakan keberanian Evan.

“Hahaha Anda jangan asal bicara, wanita ini sudah menjadi milik saya karena kakaknya sudah menjualnya dengan saya!”

“Saya akan menebusnya.” Evan berkata dengan santai tanpa ekpresi.

“Berapa uang yang kamu punya, anak muda? Sampai kamu berani-beraninya mau menebus dia dariku?”

Evan tidak menjawab, ia hanya mengeluarkan dompetnya kemudian memberi lelaki paruh baya itu kartu namanya. Lelaki paruh baya itu menerimanya, membacanya, lalu matanya membulat seketika ke arah Evan.

“Saya pikir, uang saya lebih dari cukup untuk menebus kekasih saya.” Evan berkata dengan nada dingin tanpa ekspresi, hingga siapapun yang menatapnya pasti terintimidasi dengan sikap dan perkataannya.

Lelaki paruh baya itu tampak salah tingkah. Lalu ia mencoba menguasai dirinya dengan berkata “Saya ingin transaksinya di lakukan malam ini juga, di sini, kalau tidak…”

“Anda takut saya berbohong?” Evan memotong kalimat lelaki paruh baya itu. “Anda bisa menemui saya di kantor cabang saya yang di bandung. Jika anda menolak kompromi saya, saya bisa menuntut anda dengan tuntutan perdagangan manusia.”

“Tunggu dulu, apa-apaan ini? Kenapa jadi bawa-bawa hukum?”

“Anda ingin uang? Saya akan memberi Anda sebanyak yang Anda inginkan asalkan Anda mau melepaskan kekasih saya. Tapi tidak sekarang, karena saya tidak menyimpan uang sebanyak itu di kantong saya saat ini. Anda sudah menyimpan kontak saya, saya tidak akan lari.”

Setelah kalimat panjang lebarnya tersebut, Evan meraih pergelangan tangan Tiara dan bersiap mengajak Tiara pergi dari tempat tersebut, tapi kemudian langkahnya di hadang oleh anak buah lelaki paruh baya tersebut. Evan lalu menatap lelaki paruh baya itu sekali lagi dengan tatapan mengintimidasinya, lalu si lelaki paruh baya itu memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan Evan dan juga Tiara. Evan melangkah pergi sambil menyeret Tiara.

“Saya akan menagih ke kantor kamu, nanti!” lelaki paruh baya itu berseru keras pada Evan dan Tiara. Namun Evan tidak mengindahkan seruan lelaki paruh baya itu. Ia tetap berjalan keluar dari tempat tersebut masih dengan menyeret Tiara.

***

Evan menyesap anggur yang ada di dalam sebuah gelas yang berada di tangannya. Pikirannya melayang memikirkan apa yang baru saja ia lakukan, astaga, apa ia sudah gila?

Semua itu berawal dari sebuah buku yang ia baca. Buku tentang bagaimana cara melupakan sosok masa lalu yang membayangi. Dalam buku tersebut, tertulis jika ia harus mencari sebuah pelarian, ia harus tetap berjalan kedepan, bahkan mungkin berjalan di luar garis aman. Dengan kata lain, ia harus mencoba hal-hal baru yang mungkin tidak ia sukai hingga ia mampu melupakan permasalahannya.

Maka dari itulah, tadi, ia berada di sebuah tempat yang memang tidak pernah ia datangi sebelumnya. Tempat yang baginya sangat bising dengan suara musiknya dan juga lampu kerlap kerlipnya. Belum lagi bau rokok tercium di sudut manapun dari tempat tersebut.

Ya, tempat hiburan malam menjadi tujuan pertamanya saat itu. Ia hanya ingin mencoba minum di tempat asing seperti itu, karena sebelumnya, ia memang tak pernah ke tempat sejenis itu. Evan lebih suka menghabiskan waktunya di bar-bar café yang lebih tenang, bukan di tempat hiburan malam seperti itu.

Lalu ketika Evan sudah tidak tahan dengan kebisingan tempat tersebut, ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu, dan ketika ia akan pergi dari sana, ia mendengar sebuah kegaduhan tak jauh dari tempatnya berdiri. Rasa keingintahuannya begitu besar hingga kakinya melangkah dengan spontan ke arah kegaduhan tersebut, ia sedikit terkejut saat mendapati siapa yang ada di sana.

Itu Tiara, wanita pendiam yang mengasuh anak-anak Davit. Evan tertarik dengan apa yang dilakukan Tiara disana. Kenapa wanita itu meronta? Berteriak memanggil-manggil seseorang? Akhirnya Evan memutuskan untuk mencari tahu dengan mendekat. Lalu semuanya terjadi begitu cepat, ketika tanpa pikir panjang lagi ia memutuskan untuk menolong perempuan itu dengan cara menebusnya, padahal ia tidak yakin apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Kini, perempuan itu masih berada di dalam kamar mandinya, sedangkan ia menunggu perempuan itu keluar dan meminta penjelasan tentang apa yang sedang dialami oleh perempuan trsebut.

Evan menyesap anggurnya sekali lagi, sebelum kemudian ia mendengar pintu kamar mandinya dibuka dan mendapati Tiara sudah berdiri di sana dengan wajahnya yang sudah segar. Perempuan itu mengenakan T-shirt miliknya, dengan handuk yang membalut kepalanya yang basah. Entah kenapa Evan merasakan sesuatu yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.

“Kemarilah.” Dengan sedikit canggung, Evan memanggil Tiara dan mengajak Tiara untuk duduk di hadapannya.

Tiara tidak menolak, ia menuruti apa yang dikatakan Evan, meski sebenarnya Tiara juga dilanda kecanggungan yang sama besarnya dengan yang dirasakan Evan.

“Berceritalah.”

“Maaf?” Tiara tidak mengerti.

“Ceritakan apa yang terjadi denganmu tadi. Kenapa kamu bisa sampai ditempat seperti itu dan dengan orang-orang seperti itu.”

Tiara menunduk, ia meremas kedua belah telapak tangannya sendiri, ia tidak tahu harus darimana menceritakan semuanya, dan ia tidak yakin jika dia mampu menceritakan semuanya pada Evan. Apakah masuk akal jika ia bercerita tentang kehidupan pribadinya dengan lelaki yang cukup asing seperti Evan? Tapi, disisi lain, Tiara juga sadar, jika Evan harus mengetahui semuanya, mengingat lelaki itu akan mengeluarkan banyak uang untuk menebusnya.

Tiara menghela napas panjang, sebelum kemudian ia mulai membuka suara. “Bang Radit, kakak saya, dia punya banyak hutang karena bermain judi. Dan dia, menjadikan saya sebagai pelunas hutangnya.”

“Lalu dimana kakak berengsekmu itu?”

“Mungkin di rumah, karena anak buah orang itu tadi menyeretnya keluar.”

Evan mendengus sebal. “Kakak seperti apa yang tega menjual hidup adiknya sendiri?”

“Pak Evan tidak mengerti apa yang terjadi dengan kehidupan kami.”

“Saya tahu saya tidak mengerti, dan saya tidak seharusnya ikut campur dengan masalah kalian. Tapi menjual keluarga sendiri itu benar-benar tidak termaafkan.”

Tiara hanya menunduk, ia terdiam cukup lama, tak berani mengangkat wajahnya apalagi membalas ungkapan kekesalan yang terlontar dari mulut Evan tadi.

“Uum, bagaimanapun juga, saya berterimaksih sekali dengan apa yang sudah pak Evan lakukan. Saya tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Mungkin saya harus bekerja ekstra untuk membayar hutang-hutang kami pada pak Evan.” Tiara lalu berdiri, ia merasa kurang nyaman dengan kedekatannya bersama Evan. “Uum, jika berkenan, saya mau izin pulang dulu.”

Evan ikut berdiri seketika. “Tunggu, siapa yang bilang kamu boleh pulang?”

“Maaf?” Tiara menatap Evan dengan wajah bingungnya.

“Kalau kamu pulang, kakak kamu akan berpikir jika dirinya tak perlu susah payah menebus kamu lagi, dan kemungkinan, kamu akan dijual kembali dengan pria hidung belang yang lainnya. Tinggallah di sini, sampai kakak kamu bisa melunasi hutangnya.”

Mata Tiara membulat seketika. “Apa? Sampai kapan? Bang Radit tidak mungkin bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam satu atau dua tahun.”

“Setidaknya di sini kamu aman, daripada di tenpat lelaki hidung belang tadi.” Dan setelah kalimatnya itu, Evan pergi meninggalkan Tiara. Tiara hanya bisa menatap kepergian Evan dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Ia akan menjadi tawanan lelaki itu, ya, sepertinya begitu. Tapi bukankah ini lebih baik? Setidaknya Evan tidak macam-macam, dan lelaki itu tidak tampak seperti lelaki berengsek yang ada di tempat hiburan malam tadi.

***

Paginya, Tiara bangun lebih pagi dari biasanya. Bukan tanpa alasan, karena semalaman ia sudah memikirkan semuanya. Ia berpikir untuk bekerja paruh waktu dengan Evan. Ya, mengurus rumah lelaki itu dan menyiapkan segala keperluannya sepertinya bukan hal yang sulit. Ia akan melakukannya, dan berbicara dengan Evan supaya lelaki itu mau mempertimbangkan pekerjaannya tersebut sebagai sedikit potongan dari hutang mereka.

Tiara cukup lega, karena ternyata Evan memiliki bahan masakan yang bisa dimasak. Hingga Tiara saat ini menghabiskan paginya di dapur rumah Evan. Menyiapkan sarapan tentu bukan hal baru untuk Tiara, tapi yang menjadi masalahnya adalah, apakah lelaki itu mau menikmati masakannya? Apa lelaki itu memiliki selera makan yang sama dengan seleranya? Mengingat itu hati Tiara menciut.

Tapi ia tidak peduli, yang paling penting adalah, ia akan melakukan apapun yang dapat ia lakukan untuk meringankan hutangnya terhadap Evan.

Saat Tiara masih asik di depan kompor, ia tidak menyadari jika kesibukannya memasak sarapan untuk Evan ternyata diperhatikan lelaki itu dari jauh.

Masih mengenakan celana piyamanya dengan bertelanjang dada, Evan melangkahkan kakinya dengan spontan mendekat ke arah meja dapur. Memperhatikan Tiara dari belakang. Perempuan itu benar-benar mirip dengan Karina ketika Karina berada di dapur. Tiara pasti pandai memasak juga, dan entah karena apa, Evan merasa sejuk saat melihat Tiara sibuk di dapurnya.

Mencoba menghilangkan kecanggungan, Evan berjalan menuju ke arah lemari pendingin sembari menyapa Tiara. “Pagi.”

Tiara menatap ke arah Evan, lalu ia membalikkan tubuhnya memunggungi Evan saat ia mendapati Evan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana piyama saja.

Evan mengerutkan keningnya saat melihat tingkah aneh dari Tiara. “Kenapa?” tanyanya bingung.

“Maaf, Pak. Apa nggak sebaiknya Pak Evan pakai baju dulu? Nanti takutnya masuk angin.”

Evan sempat ternganga mendengar kalimat Tiara, tapi setelah itu ia tertawa lebar menertawakan kepolosan Tiara. “Saya sudah biasa telanjang dada seperti ini, jadi mulai sekarang kamu harus membiasakan diri melihatnya.”

“Uum, tapi Pak-”

“Sudahlah, sekarang lanjutin saja masakannya, saya sudah lapar.” Dengan santai dan cuek, Evan berjalan menuju ke meja makan. Sesekali ia masih melirik ke arah Tiara yang tampak mengenyahkan kepergiannya. Ahh, rupanya wanita itu lucu juga, polos dan menggemaskan.

Evan meraih sebuah koran, lalu membacanya sembari menunggu masakan Tiara siap. Meski ia mencoba berkonsentrasi, nyatanya tanpa ia sadari, matanya sesekali melirik ke arah Tiara bahkan tanpa perintah otaknya.

Tak lama, Tiara sudah menyuguhkan sarapan untuknya. Nasi goreng special, tak lupa ia juga membuatkan kopi untuk Evan. Evan melirik ke arah masakan Tiara, tampak enak, dan Evan tak sabar mencicipinya.

“Kopi untuk saya harus dikasih krim yang banyak.” Evan berkomentar.

“Baik, Pak. Saya tambah dulu.”

Evan mengangguk, ia mulai mencoba masakan Tiara, dan ia benar-benar menyukai rasanya.

“Kamu pinter masak.” Evan berkomentar. “Saya jadi inget masakan Karina.” Dengan spontan Evan berkata seperti itu tanpa bisa ia cegah.

“Karina?” Tiara tampak bingung.

Evan sedikit salah tingkah. “Uum, dia adik ipar saya, istri adik saya.” Tiara hanya mengangguk, tak menanggapi lagi apa yang dikatakan Evan tadi. “Kenapa kamu tiba-tiba memasak untuk saya?” tanya Evan yang seketika itu juga membuat Tiara tak enak hati.

“Sebelumnya, saya mau minta maaf, karena sudah membuat berantakan dapur pak Evan.”

“Saya nggak mempermasalahkan hal itu.”

“Uum, jadi begini, saya bisa sambil kerja di sini, mencuci, bersih-bersih bahkan mengurus semua keperluan Pak Evan kalau Pak Evan mengizinkan, supaya, uum, itu hutang kakak saya sedikit lebih ringan.”

Evan tampak berpikir sebentar. “Jadi, kamu akan menyicil hutang dengan tubuhmu?”

“Maaf?” sungguh, Tiara berharap jika ia salah dengar. Apa yang dikatakan Evan tadi membuatnya berpikir yang tidak-tidak.

Tapi Evan malah tertawa lebar. “Ayolah, saya cuma bercanda, jangan terlalu kaku.”

Pipi Tiara merona seketika. Ia menunduk dan tersenyum malu, ia tidak menyangka jika Evan juga memiliki sisi humoris, meski baginya sisi tersebut masih terlalu dipaksakan.

“Oke, itu terserah kamu saja, tapi bukannya kamu juga harus bekerja di rumah Davit?”

“Ya, saya berangkat jam delapan, dan pulang jam Enam sore, sepertinya saya bisa menyelesaikan tugas saya tanpa mengurangi waktu kerja saya di tempat Bu Sherly.”

“Oke, atur bagaimana baiknya, nanti saya akan ngasih kamu daftar apa aja yang harus kamu lakukan.” Tiara mengangguk patuh, dan suasana di antara mereka berdua kembli hening penuh dengan kecanggungan. Sungguh, Evan ingin membunuh seluruh kecanggungan yang ada diantara mereka. Tapi bagaimana??

***

Di kantor…

Evan mencoba menyibukkan diri dengan pekerjaannya, padahal sejak siang tadi pikirannya menjurus pada sosok yang seharusnya tidak pernah mengganggu kepalanya, siapa lagi jika bukan Tiara.

Tadi siang, lelaki paruh baya yang tadi malam bermasalah dengan Tiara dan kakaknya datang ke kantornya. Untuk apa lagi jika bukan untuk menagih uang untuk menebus Tiara.

Tadi siang….

“Lima ratus juta.”

Evan mengangkat sebelah alisnya. “Anda mau memeras saya? Hutang anak itu tidak mungkin sebanyak itu.”

Lelaki paruh baya itu tersenyum menyeringai. “Ya, memang tidak sebanyak itu. Itu adalah Lima kali lipat dari hutang kakaknya.”

“Dan kenapa Anda melipat gandakannya?”

“Karena kamu bukan hanya membayar hutangnya, tapi juga menebus ‘pelunasnya’.”

“Apa?”

Lelaki paruh baya itu berdiri dan tertawa lebar. “Kamu pikir saya tidak tahu? Sebenarnya dia bukan kekasih kamu, kan? Evan Pramudya, Anda baru dua mingguan pindah ke kota ini, mana mungkin Anda menjalin hubungan special dengan perempuan macam dia dalam waktu sesingkat itu?”

“Itu bukan urusan Anda.” Evan ikut berdiri, ia sedikit kesal karena nyatanya lelaki paruh baya itu mampu mengetahui semuanya.

“Ya, bukan urusan saya. Saya hanya mau uang saya.”

Evan menghela napas panjang. Ia mengambil sebuah cek di dalam laci meja kerjanya, menulis nominal yang diinginkan lelaki paruh baya itu, lalu memberikannya begitu saja.

“Jangan ganggu dia lagi.” Evan mendesis tajam.

Lagi-lagi, lelaki paruh baya itu tersenyum miring. “Kenapa kamu mau membayar mahal untuknya? Kamu sedang merencanakan sesuatu? Menginginkan tubuhnya, mungkin.”

“Jaga mulut Anda.”

“Hahahaha.”

Evan mendengus sebal karena ditertawakan.

“Meskipun dia orang miskin, tapi dia cukup cantik, kulitnya putih mulus, membuat lelaki manapun ingin mendaratkan bibirnya pada permukaan kulit lembut wanita itu.”

Evan mengetatkan gerahamnya. Ia tidak suka cara lelaki paruh baya itu mendiskripsikan tubuh Tiara.

Kembali tertawa lebar, lelaki itu menepuk-nepuk pundak Evan. “Kamu menginginkannya, terlihat dari gelagatmu, anak muda.” Lalu lelaki itu berjalan pergi menuju ke arah pintu ruang kerja Evan. “Bagaimanapun juga, senang berbisnis denganmu.” Ucapnya sebelum menghilang di balik pintu.

 

Berbisnis? Apa-apaan dia? Dan astaga, menginginkan tubuh Tiara? Yang benar saja. Evan menggelengkan kepalanya cepat. Tiba-tiba ia merasa kepanasan, hingga ia meraih gelas yang ada di atas meja kerjanya, menenggak airnya hingga tandas. Evan lantas melonggarkan dasi yang entah kenapa terasa mencekiknya. Sial! Apa yang sedang terjadi dengannya? Apa yang sedang terbayang-bayang dalam pikirannya? Akhirnya Evan memilih bangkit. Entah kenapa ia ingin segera pulang, apa yang membuatnya ingin segera pulang?

***

Evan menenggak minuman kaleng yang berada dalam genggaman tangannya, sesekali ia menyibak gorden jendela rumahnya, rupanya, Tiara belum juga pulang dan astaga, untuk apa juga ia menunggu Tiara?

Saat Evan sibuk dengan pikirannya sendiri, pintu rumahnya diketuk. Evan bangkit dan segera menuju ke arah pintu depan rumahnya, lalu membukanya. Tampak Tiara sudah berdiri di sana.

“Hei, baru pulang?”

Tiara mengangkat sebelah alisnya. Sungguh, ia sedikit tidak nyaman saat mendengar Evan menyapanya dengan kata ‘pulang’. Seakan-akan, itu adalah rumahnya, rumah mereka berdua.

Oh Tiara, apa yang sudah kamu pikirkan?

“Ya.” Hanya itu yang diucapkan Tiara, seperti biasa, ia hanya menunduk dan tak berani mengangkat wajahnya terlalu lama.

“Masuklah, sebelum Davit keluar dan melihatmu ada di depan rumah saya.”

Tiara menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke dalam rumah Evan. “Uum, Pak. Apa saya boleh pulang sebentar? Saya mau mengambil pakaian saya.”

“Kalau kamu pulang, kakak kamu akan tahu kalau kamu bisa bebas sesuka hati. Setidaknya biarkan dia berpikir kalau hidup kamu disini susah, maka dia akan berusaha lebih keras untuk membayar hutangnya.”

“Lalu, pakaian saya?”

“Sementara, pakai saja T-shirt milik saya, nanti kita akan keluar carikan kamu pakaian santai.”

“Tapi Pak, bukannya itu nanti malah menambah hutang kami?”

“Enggak, anggap saja itu saya yang belanjakan.”

“Pak Evan tidak perlu berlebihan.”

“Dan kamu juga jangan terlalu banyak membantah. Sekarang, cepat, buatkan saya makan malam. Saya sudah lapar.” Evan pergi meninggalkan Tiara, sedangkan Tiara hanya bisa ternganga menatap kepergian Evan.

Apa-apaan lelaki itu?

***

Tiara membersihkan dapur serta piring-piring kotor bekas makan malam Evan. Ia sibuk dengan pekerjaannya tersebut hingga tidak sadar jika sejak tadi Evan sudah mengamatinya dari belakang.

Evan sendiri kini sedang memakan buah apel, berdiri di sebelah meja makan dengan sebuah kertas di tangannya. Matanya tak berhenti menatap Tiara dari ujung rambut hingga ujung kakinya.

Untuk ukuran seorang pembantu rumah tangga, Tiara adalah pembantu yang cantik, dan sialnya, dia juga tampak seksi.

Astaga, apa yang sudah ia pikirkan???

Seksi? Sial! Tiara bahkan memiliki ukuran tubuh mungil dan lebih cocok disebut kurus, bagaimana mungkin ia berpikir jika perempuan itu seksi? Dan lagian, dia masih Dua puluh tahun, sepertinya kurang cocok dengannya yang sudah berumur hampir Tiga puluh tahun.

Evan menggelengkan kepalanya. Sepertinya pikirannya sudah mulai gila. Setelah ia menghabiskan apel dalam genggaman tangannya, kakinya melangkah secara pasti menuju ke arah Tiara.

“Kamu, nggak makan malam?” pertanyaan Evan sontak membuat Tiara menoleh sekilas ke arah Evan, lalu perempuan itu kembali memfokuskan diri pada cucian di hadapannya.

“Saya sudah makan malam di rumah Bu Sherly.”

Evan menggangguk, “Ini, catatan apa saja yang harus kamu lakukan untuk saya.” Evan memberikan kertas yang tadi baru saja ia ambil dari dalam kamarnya setelah ia menghabiskan makan malamnya.

Tiara menghentikan pekerjaannya, ia membilas tangannya yang penuh dengan busa, lalu mengeringkannya dengan lap yang tersedia. Tiara meraih kertas tersebut kemudian membacanya dengan teliti.

Sedangkan Evan, pikirannya kembali menggila. Ia mengamati wajah Tiara yang entah kenapa tampak begitu indah dimatanya. Alis perempuan itu tampak tebal, namun terukir dengan rapih, kulitnya putuh bersih, bahkan sedikit terlihat rona merah di pipinya, apa perempuan itu sedang mengenakan Blush On? Tidak mungkin. Bulu mata Tiara juga tampak panjang dan lentik, padahal Evan tahu jika itu bukan bulu mata palsu. Dan bibir wanita itu, astaga, tampak penuh dengan warna merahnya.

Sial! Evan menegang seketika.

Apa-apaan ini? Padahal Evan yakin, jika Tiara tidak sedang berdandan. Perempuan itu tampak berantakan dengan baju sederhananya, belum lagi rambutnya juga yang tampak berantakan seperti belum di sisir, tapi entah kenapa Evan menginginknnya, menginginkan perempuan itu, meski Evan tak yakin, kenapa dirinya tiba-tiba memiliki keinginan menggelikan yang menggebu-gebu seperti ini.

“Jadi, hanya….” Tiara menghentikan kalimatnya ketika ia mengangkat wajahnya dan mendapati Evan tampak serius memperhatikannya. “Pak?” Tiara memanggil Evan, karena sedikit tidak nyaman, ia berpikir Evan sedang melamun. Belum lagi tatapan lelaki itu yang fokus ke arahnya, dan jarak mereka berdua sudah sangat dekat.

“Ya.” Sial! Evan merasa jika tiba-tiba suaranya sudah menjadi serak.

“Ada apa?” tanya Tiara yang sudah mundur satu langkah. Tidak suka, ya, ia tidak suka ditatap seperti itu.

“Tiara. Saya memiliki cara instan, agar kamu bisa segera meluasi hutang kakak kamu, hingga kamu bisa cepat lepas dari genggaman tangan saya.”

“Uumm, cara instan? Seperti apa, Pak?”

Evan menelan ludahnya dengan susah payah, sebelum menjawab, “Jadilah teman tidur saya, maka saya akan menganggap semuanya sudah lunas.”

-TBC-

Secret Wife – Chapter 4 (Pengalaman Pertama)

Comments 4 Standard

Secret Wife

 

Selamat bermalam mingguan, ini adalah updetan terakhirku di tahun 2017 yaa, lanjut lagi 2018 yeaayy, selamat tahun baru semuanya… 

 

Chapter 4

-Pengalaman pertama-

 

Satu minggu setelah kejadian di dalam kamar Alden, Alden benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Naura sempat bingung, ketika tiba-tiba Alden mengajaknya keluar dari rumahnya. Keduanya ternyata menuju ke sebuah hotel, dimana disana sudah terdapat penata rias lengkap dengan penata busananya.

“Ini, ada apa?” Naura masih bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh Alden.

Alden tersenyum, jemarinya mengusap lembut pipi Naura, dan ia berkata “Kita akan menikah hari ini.”

“Apa? Maksudnya?”

“Ya.” Alden melirik ke arah jam tangannya, “Tiga jam lagi penghulunya akan datang.”

“Penghulu? Al, kupikir kamu nggak serius dengan hal ini.”

“Aku serius, makanya aku melakukan semua ini untukmu, kita benar-benar akan menikah sore ini.”

“Lalu bagaimana dengan keluarga kita?”

Alden terdiam sebentar. “Aku akan memberitahukannya nanti.” Pada detik itu, Naura merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Alden, dan entah kenapa, ia mulai merasa ragu dengan lelaki itu.

***   

“Sah.”

“Sah.”

“Sah.”

Suara-suara itu masih terngiang di telinga Naura. Suara seorang penghulu yang baginya masih cukup muda, lalu beberapa saksi yang disiapkan oleh Alden, dan juga beberapa teman-teman Alden yang datang di sana. Tak ada yang Naura kenali disana kecuali Alden dan beberapa teman lelaki itu yang pernah dikenalkan padanya.

Dan kini, dirinya sudah seperti orang linglung ketika ia sibuk memikirkan apa yang baru saja terjadi dengannya.

“Hei, apa yang kamu pikirkan?” sentuhan jemari Alden di pundaknya membuatnya terlonjak seketika. Dengan spontan Naura menjauh, lalu ia menatap Alden yang ternyata sudah selesai mandi dan hanya mengenakan kimononya saja.

“Kenapa? Ada yang kamu pikirkan? Kamu, tampak takut denganku.”

“Uum, enggak. Aku hanya masih sulit menerima kenyataan ini.”

Alden mendekat “Kenyataan kalau kamu sudah menjadi istriku?”

“Al, kupikir, ini salah. Seharusnya kalau kita menikah, kita harus melibatkan orang tua, dan-”

Alden menangkup kedua pipi Naura seketika “Aku akan memberitahukan pada mereka nanti.”

“Kapan?”

“Setelah aku siap.”

“Apa yang membuatmu tidak siap? Apa karena status sosialku?”

Alden diam seketika. “Lalu apa yang kamu inginkan? Kamu ingin aku menarik kata-kataku didepan penghulu tadi? Dengar Na, apapun yang kamu pungkirin sekarang, kamu sudah menjadi istriku, pernikahan kita sah di mata Agama.”

Naura hanya menunduk, dan ia tak dapat membantah apapun. Ya, mereka memang sudah menikah, dan statusnya kini sudah berubah menjadi seorang istri dari Alden Revaldi.

“Maaf, kalau aku sudah membuatmu takut, atau membuatmu tidak nyaman. Aku hanya ingin membuat ini mudah untuk kamu, dan aku.”

Mudah? Mudah dalam hal apa? Pikir Naura, tapi ia tentu tidak dapat menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.

Alden kembali mengusap lembut pipi Naura, kemudian ia mengangkat dagu Naura. “Jadi, kamu mau memaafkan aku, kan?” tanya Alden memastikan.

Naura menatap Alden, dan mau tidak mau ia tersenyum kemudian mengangguk lembut pada sosok di hadapannya tersebut.

Alden semakin mendekat, bahkan ia sudah menempelkan tubuhnya pada tubuh Naura. “Jadi, apa aku sudah boleh meminta ‘Hakku’?”

Sungguh, pertanyaan yang terlontar dari bibir Alden tersebut segera membuat Naura bimbang. Apa karena ini Alden menikahinya secara diam-diam? Hanya karena lelaki itu ingin memiliki tubuhnya tanpa kata dosa yang membayanginya?

***   

Alden masih menyesap minuman di hadapannya. Meski ia sudah setengah mabuk karena sudah berjam-jam berada di bar tersebut, nyatanya ia belum juga ingin pulang. Kedatangannya tadi ke tempat ini adalah untuk menemui temannya yang bernama Dirga. Ia mendengar kabar jika lelaki itu baru saja melakukan pernikahan, dan ia tidak menyangka jika akan menemukan temannya itu dalam keadaan yang terlihat sedikit frustasi di tempat ini.

Setelah puas beberapa jam minum bersama dan saling bercerita, akhirnya Dirga memutuskan untuk pulang, tapi Alden memutuskan untuk tetap berada di tempatnya saat ini.

Alden menghela napas panjang, Dirga memang tampak sudah berbeda. Ya, meski lelaki itu tidak menunjukkan secara gamblang jika ia mencintai istri yang baru ia nikahi, tapi Alden dapat melihat dengan jelas jika Dirga mencintai wanita itu.

Lalu, apakah yang ia rasakah pada Naura sama dengan apa yang dirasakan Dirga pada istrinya?

Oh, tentu saja tidak!

Dulu, ia hanya tertarik secara fisik saja dengan sosok Naura, dan hal itu pulalah yang terjadi dengannya saat ini. Ia hanya tertarik secara fisik dengan perempuan itu, tidak lebih. Ia tidak akan pernah punya cinta, karena baginya, cinta hanya sebuah ilusi, cinta hanya sebuah kegilaan yang akan membuatnya jauh dari kewarasan, dan Alden tidak ingin mengalaminya.

Alden kembali menegak menuman di hadapannya, lalu ia bangkit. Membayar tagihannya setelah itu ia berjalan pergi. Mungkin, ia akan singgah ke rumah bordil untuk mencari perempuan yang dapat memuaskan hasratnya malam ini. Ya, tentu saja ia sangat berhasrat, dan dirinya harus mendapatkan pelepasan malam ini juga.

***

Sesekali mengumpat kasar, Alden menatap sebuah rumah sederhana yang entah sudah berapa jam lamanya ia tatap. Kakinya ingin melangkah ke sana, tapi sebagian kewarasannya mencegah.

Ya, itu adalah rumah Naura, entah kenapa mobilnya berjalan dengan sendirinya ke arah rumah wanita tersebut, padahal ia sangat ingin melupakan wanita itu malam ini. Ia ingin memakai jasa wanita penghibur untuk memuaskann hasratnya malam ini, tapi tetap saja, tak dapat dipungkiri jika tubuh Nauralah yang membuatnya membara seperti saat ini.

Ya, ia hanya ingin menyeret tubuh wanita itu ke atas ranjangnya, ia hanya menginginkan wanita itu, bukan yang lainnya.

Alden akhirnya keluar dari dalam mobilnya, dengan langkah sedikit terhuyung, ia menuju ke arah pintu rumah Naura. Alden mengetuknya dengan keras sambil memanggil-manggil nama perempuan itu.

“Na, Na, buka pintunya.”

Lagi dan lagi, Alden mengetuk sambil memanggil-manggil nama Naura, hingga tak lama, pintu tersebutpun dibuka dari dalam.

Naura benar-benar terkejut saat mendapati Alden yang tiba-tiba saja terhuyung ke arahnya, lelaki itu tampak ingin memeluknya, tapi lebih terlihat seperti orang yang sedang mabuk, yang tak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya.

“Tuan, apa yang tuan Alden lakukan di sini?”

“Menemui istriku.”

“Tuan, jangan seperti ini.”

“Biarkan aku masuk, Na. aku merindukanmu, aku menginginkanmu.” Lalu tanpa di duga, Alden mendorong tubuh Naura masuk ke dalam, tak lupa ia juga menutup pintu di belakangnya dengan kakinya.

“Tuan, apa yang Anda-” Naura tak dapat melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba bibirnya disambar oleh bibir Alden. Alden melumatnya dengan panas, mencumbunya penuh dengan gairah, hingga Naura kembali luluh dengan apa yang dilakukan lelaki tersebut.

Alden mendorong sedikit demi sedikit tubuh Naura ke dalam sebuah ruangan yang ia yakini sebagai kamar Naura, karena memang ruangan tersebut tadi terbuka dan tampak ranjang Naura terbentang di sana.

Masuk kedalam ruangan tersebut, Alden menutupnya dengan sebelah kakinya, sama seperti saat ia menutup pintu depan rumah Naura tadi.

Sedikit demi sedikit, Alden mulai melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Naura, sedangkan Naura masih terbuai dengan cumbuan yang diberikan Alden padanya.

Alden kemudian melepaskan tautan bibir mereka, ia menatap Naura yang sudah setengah telanjang di hadapannya. Perempuan itu menunduk, dan tampak raut penyesalan di wajah wanita tersebut.

Alden mengangkat dagu Naura, hingga wajah wanita itu menatap ke arahnya. “Apa kamu tahu kalau aku begitu merindukanmu?” bisik Alden dengan suara seraknya.

“Jangan lanjutkan, kumohon, aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti dulu.”

“Tidak ada kesalahan yang sama, Na.” Karena tidak ingin beradu argumen lagi, Alden kembali mencumbu bibir Naura, melakukannya dengan lembut dan menggoda, hingga membuat Naura mau tidak mau jatuh kembali ke dalam lubang yang sama, lubang kesalahan yang di buat oleh Alden, persis dengan kejadian beberapa tahun yang lalu…

***

“Kamu akan menyukainya.” Suara Alden terdengar lembut, terdengar seperti mantera yang mampu menenangkan hati Naura.

Saat ini, keduanya masih berada di dalam kamar hotel yang sudah disewa oleh Alden, kamar yang akan menjadi saksi penyatuan antara dua insan yang tengah dimabuk asmara.

Naura sudah terbaring di atas ranjang tanpa sehelai benangpun. Begitupun  dengan Alden yang juga sudah telanjang dengan posisi menindih tubuh Naura. Keduanya sudah sama-sama panas, sama-sama bergairah karena pemanasan yang sudah cukup lama dilakukan oleh Alden terhadap tubuh Naura.

Namun, saat Alden akan menyatukan dirinya, ia melihat ketakutan yang tampak jelas dimata Naura, hingga kemudian ia mengatakan pada Naura jika semua akan baik-baik saja.

“Aku tidak akan menyakitimu, Na. Percayalah.” Lagi, Alden mencoba meyakinkan Naura.

“Uum, ini, ini, pengalaman pertama untukku, jadi aku takut-”

“Tidak ada yang perlu kamu takutkan.” Alden memotong kalimat Naura dengan cepat. “Aku akan membuat ini menjadi indah untuk kita berdua.” ucapan Alden terdengar seperti sebuah sumpah, hingga membuat Naura kembali terpana, ia mengganggukkan kepalanya begitu saja, lalu tak lama, ia merasakan pusat gairah Alden menyentuh titik sensitifnya.

Naura merasa tidak nyaman, ya, tentu saja. Masalahnya ini adalah pertama kalinya ia melakukan hal seintim ini dengan seorang lelaki. Memperlihatkan setiap jengkal dari tubuhnya terhadap lelaki tersebut, walau kenyataannya mereka baru saja melakukan sebuah pernikahan kilat, namun tetap saja, itu tak mengurangi ketidaknyamanan Naura pada kejadian ini.

Naura mengerang, ketika merasakan Alden mencoba menyatukan diri dengannya, lelaki itu tampak kesulitan, tapi tak ada yang dapat Naura lalukan selain mengerang kesakitan.

Lalu Alden menghentikan aksinya, ia kembali menatap wajah Naura dan tersenyum lembut kepadanya. “Jangan tegang, aku tidak akan bisa melakukannya kalau kamu saja tidak menerimaku sepenuhnya.”

“Lalu, apa yang harus kulakukan?”

“Nikmati saja.”

“Rasanya tidak nyaman.”

Jemari Alden terulur,mengusap lembut bibir ranum Naura. “Aku akan membuatmu lebih nyaman, aku akan membuatmu menerimaku sepenuhnya.” Setelah ucapannya tersebut, Alden kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Naura, melumatnya dengan lembut, hingga membuat Naura melupakan ketidaknyamanannya. Naura tergoda, Naura kembali merasakan gairahnya terbangun, hingga ia tidak sadar jika Alden kembali memasukinya sedikit demi sedikit.

Alden mencoba sepelan mungkin, agar ia tidak menyakiti diri Naura. Alden bahkan melupakan gairahnya sendiri yang seakan ingin meledak karena melihat tubuh panas Naura. Tiba saatnya ketika Alden menemukan penghalang di antara mereka, dengan pelan tapi pasti, Alden mendorong lebih keras lagi, hingga tubuh mereka menyatu dengan sempurna.

Naura mengerang kesakitan, Alden tahu itu. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan karena memang seperti itulah prosesnya. Yang bisa Alden lakukan hanyalah menenangkan Naura kembali, membangun gairah primitif dari wanita tersebut dengan cara mengecupi sepanjang kulit halusnya.

Apa yang dilakukan Alden nyatanya tidak sia-sia, ketika ia mendengar erangan Naura berubah menjadi desahan demi desahan pendek yang menggoda. Naura kembali bergairah, Alden tahu itu, dan Alden memutuskan untuk menggerakkan tubuhnya sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti, mencari kepuasan untuk dirinya dan juga diri Naura. Oh, betapa indahnya pengalaman pertama mereka, pengalaman pertama yang membuat tubuh keduanya candu akan sentuhan satu dengan yang lainnya.

***  

Paginya, Alden terbangun dan merasakan kepalanya sedikit pusing karena efek alkohol. Ia sedikit mengerjap saat mendapati dirinya tidak terbangun di ranjang besarnya, di kamar mewahnya, melainkan disebuah ranjang mungil di dalam sebuah kamar sederhana.

Alden melirik ke arah tubuhnya sendiri yang ternyata masih telanjang dengan selimut yang berada pada pinggangnya. Ia menolehkan kepalanya ke samping, dan mendapati tubuh Naura yang ternyata masih sama telanjangnya dan terbaring miring memunggunginya.

Sial!

Ia benar-benar melakukannya lagi dengan Naura.

Secara implusif, Alden mengulurkan jemarinya menyentuh pundak Naura. “Na, kamu, baik-baik saja, Kan?”

“Jangan sentuh aku.” Suara Naura terdengar serak ditelinga Alden. Wanita itu menangis.

“Na, jangan berlebihan, kita hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh suami istri pada umumnya.”

Naura bangun seketika, ia bahkan tidak menghiraukan ketelanjangannya di hadapan Alden.

“Kita bukan suami istri pada umumnya! Hubungan kita tidak normal, jadi jangan lakukan ini lagi!” Naura berseru keras. Sungguh, ia benar-benar tidak megerti jalan pikiran Alden.

Alden sempat terdiam sebentar, tapi ketika Naura bangkit dan mengenakan pakaiannya, Alden berkata “Lalu apa yang kamu inginkan? Kamu ingin hubungan kita seperti suami istri pada umumnya? Jika iya, maka aku akan melakukannya, aku akan menikahimu kembali.”

“Tidak!” Naura menatap Alden, matanya berkaca-kaca seketika. “Aku hanya ingin kamu melupakanku, Aku sudah bahagia dengan lelaki lain, aku bahkan akan menikah awal tahun depan dengannya, jadi kumohon, jangan lakukan ini lagi.”

Jemari Alden mengepal seketika, sungguh, ia tidak menyukai kenyataan tesebut, ia tidak suka saat Naura berkata jika wanita itu sudah bahagia dengan lelaki lain, sedangkan dirinya? Sial! Ia jauh dari kata bahagia.

Alden berdiri seketika, ia meraih pergelangan tangan Naura, dan akan kembali beradu argumen dengan wanita tersebut, tapi sebelum ia membuka suaranya, suara ketukan pintu depan membuat keduanya terpaku dan saling pandang satu sama lain.

“Ra, kamu sudah siap? Aku tunggu di sepan.”

Naura membulatkan matanya seketika ke arah Alden. Itu adalah suara Panji yang kini sudah menunggu untuk menjemputnya. Ya, setiap pagi Panji memang menyempatkan diri untuk menjemput Naura ketika lelaki itu tidak ada rapat mendadak atau tidak sedang kesiangan, dan kini? Ahh kenapa harus hari ini?

Wajah Naura memucat seketika ketika membayangkan jika mungkin saja Panji tidak sabar dan masuk begitu saja ke dalam rumahnya atau bahkan ke kamarnya dan mendapati Alden dan dirinya berada di sana dalam keadaan sama-sama telanjang. Sungguh, Naura tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tanpa diduga, pada saat itu juga, Alden segera meraih pakaiannya, lalu mengenakannya dengan cepat. Oh, apa yang akan dilakukan lelaki itu? Mengingat siapa Alden membuat Naura berpikir jika mungkin saja lelaki itu akan memanfaatkan keadaan ini untuk membuat Panji salah paham.

“Kamu mau apa?” tanya Naura masih bingung dengan apa yang harus ia lakukan.

“Mau apa lagi? Aku akan menemuinya, dan menunjukkan bagaimana seriusnya hubungan kita.”

“Apa?”

Tidak! Alden tidak boleh melakukannya. Lelaki itu tidak boleh menghancurkan semua impiannya lagi. Cukup impian indah yang ia rajut bersama Alden yang dihancurkan sendiri oleh lelaki itu dulu, tidak sekarang, tidak impiannya bersama dengan Panji.

-TBC-

Maasih banyak kejanggalan-kejanggalan dan juga rahasia yang belum terungkap, jadi, selamat menunggu yaaa.. wakakakkak

Secret Wife – Chapter 3 (Terikat Denganku)

Comments 2 Standard

Secret Wife

 

Chapter 3

-Terikat denganku

 

Paginya, Alden menikmati sarapannya dengan tenang, meski saat ini ia hanya sendiri di meja makan, tapi ia seperti tidak berselera untuk mengganggu Naura seperti apa yang ia lakukan kemarin. Naura sudah menolaknya, dan itu benar-benar melukai harga dirinya.

Alden hanya bisa sesekali melirik ke arah Naura yang tampak menyibukkan diri dengan pekerjaannya di dapur. Ia tidak bisa berbuat banyak sebelum ia tahu apa yang terjadi dengan Naura, siapa tunangannya, dan apa hubungan mereka benar-benar dilandasi dari cinta atau tidak.

Sial!! Kenapa juga ia terlalu memikirkan tentang perempuan itu? Bukankah yang harus ia pikirkan hanyalah cara bagaimana membawa perempuan itu kembali ke atas ranjangnya? Ya, seharusnya hanya itulah yang ia pikirkan, bukan yang lainnya.

“Pagi.” Alden tersentak saat tiba-tiba Angel menyapanya dengan manja.

“Pagi.” Balas Alden singkat.

“Wooww, sekarang Kak Alden bangunnya pagi-pagi yaa, kenapa? Apa selama tinggal di luar negeri, Kak Alden sudah terbiasa bangun sepagi ini?”

“Tentu saja, di sana aku kerja, mana bisa malas-malasan.” Alden menjawab cuek. Lalu ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. “Aku nggak lihat mama sepagian ini, kemana?”

“Tadi malam papa dapat telepon dari saudara yang di Jogja, katanya ada yang meninggal, jadi mereka ke sana tadi malam.”

“Kok aku nggak tahu?”

“Kak Alden kan keluar, lagian mereka nggak lama kok, mungkin cuma tiga harian di sana.”

“Baru juga pulang, tapi sudah di tinggal pergi.” Alden menggerutu sebal.

“Oh iya, dan aku juga mau menginap di rumah Mikaela, nanti sore aku berangkat.”

“Kenapa harus menginap di sana?”

“Dia patah hati, Kak. Ayolah, ini urusan wanita.”

“Patah hati?” Alden lalu menggelengkan kepalanya. “Aku nggak nyangka kalau kalian sudah pada tumbuh dewasa.”

“Ya, dan aku nggak nyangka kalau kak Alden masih kayak anak-anak.” Angel tertawa lebar, sedangkan Alden mendengus sebal.

“Kayak anak-anak? apa maksud kamu?”

“Ayolah Kak, jangan berlagak bodoh. Aku hanya ingin segera memiliki kakak ipar, begitupun dengan mama dan papa yang selalu menanyakan kapan kak Alden pulang dengan membawa seorang menantu.”

“Kamu sudah memilikinya.” Alden menjawab dengn ekspresi datarnya.

Bukannya terkejut, Angel malah tertawa lebar, “Hahhahaha jangan ngaco, deh.” Setelah itu Angel bangkit dengan membawa segelas susunya, ia kembali masuk ke dalam kamarnya.

“Kamu sudah memilikinya, Angel. Meski sekarang dia masih memungkiri statusnya.” Lagi, Alden berkata pelan dan penuh penekanan. Ya, kata-katanya itu tentu ditunjukkan untuk seseorang yang berada di dalam ruangan tersebut, siapa lagi jika bukan Naura.

***

Tujuh Tahun yang lalu….

Naura terpekik, saat merasakan sebuah lengan melingkari perutnya dari belakang. Ia menolehkan kepalanya dan alangkah terkejutnya dirinya ketika mendapati Alden berada tepat di belakangnya.

Astaga, apa yang dilakukan lelaki ini? Pikirnya.

Naura sedikit meronta, memohon supaya Alden melepaskannya. Sungguh, ia tidak enak hati jika nanti ada orang yang melihat mereka. Meski sebenarnya Naura tahu jika tak akan ada yang melihat mereka karena kini dirinya sedang berada di loteng, tempat ia menjemur pakaian.

“Tuan, tolong jangan seperti ini.” Naura berkata dengan sedikit canggung.

“Tuan? Aku sudah bilang sama kamu tadi malam, kalau kita sudah menjadi sepasang kekasih.”

“Tapi Tuan….”

“Al. panggil saja Alden.” Alden melepaskan pelukannya, lalu memutar tubuh Naura hingga menghadap ke arahnya. “Kenapa kamu begitu sulit menerima kenyataan ini?” tanya Alden sambil menatap Naura dengan intens, sedangkan Naura memilih menundukkan kepalanya, seakan enggan menatap mata Alden.

“Saya, saya hanya nggak ngerti, kenapa kamu melakukan ini.”

“Karena aku tertarik denganmu, apa itu kurang?”

“Tapi saya cuma….”

“Jangan teruskan. Ayolah, kita bisa menjalani ini. Oke, kalau kamu belum siap, kita bisa menjalaninya secara diam-diam seperti ini. Bolehkah?”

Naura hanya diam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Alden seperti sedang mendesaknya, dan ia tentu tidak bisa secara terang-terangan menolak permintaan Alden.

Tanpa diduga, tiba-tiba Alden meraih dagunya, mengangkatnya hingga mau tidak mau wajah Naura terangkat menghadap ke arah Alden.

“Kamu sungguh manis, membuatku ingin selalu mencicipi rasamu.” Dan setelah kalimatnya tersebut, Alden segera menundukkan kepalanya, mendaratkan bibirnya pada bibir ranum Naura. Seperti yang terjadi di malam sebelumnya, Naura sempat terkejut, tapi karena kelembutan Alden, ia menikmati cumbuan tersebut, ia membalasnya, meski dengan ciuman seadanya, karena ia juga tidak pandai berciuman sebelumnya.

 

Naura menggeleng pelan saat bayangan tujuh tahun yang lalu menghantui kepalanya. Mereka bercumbu mesra untuk kedua kalinya di sini, di tempat ini, ketika ia selesai menjemur pakaian seperti sekarang ini. Oh, rasanya Naura ingin menghapus semua kenangan bersama Alden saat itu, kenangan yang membuat dadanya nyeri ketika mengingatnya.

Ketika Naura akan turun, ponselnya berbunyi, ia segera merogoh ponsel yang berada dalam sakunya, melihat sekilas siapa si pemanggil tersbut, lalu senyumnya terukir secara spontan saat mendapati nama Panji di sana.

Panji merupakan pria yang statusnya kini sebagai tunangan Naura. Mereka bertunangan sejak beberapa bulan yang lalu, dan merencanakan pernikahan tahun depan. Meski begitu, perasaan Naura pada Panji tak sebesar perasaan Naura pada pria pertamanya dulu.

Naura segera mengangkat telepon tersebut sebelum ponselnya berhenti berdering. “Halo.”

“Hai, kamu di mana sekarang? Sudah makan siang?”

Naura tersenyum. Panji memang sangat perhatian padanya. “Aku di loteng, habis jemur pakaian, dan aku sudah makan siang. Kamu sendiri lagi ngapain?”

“Aku di kantin kantor. Lagi makan siang.”

“Kok telepon aku? Harusnya kamu ngabisin waktun makan siang kamu dengan makan dan istirahat.”

“Nggak tau kenapa, aku kangen saja. Tadi pagi aku nggak bisa ngantar kamu ke tempat kerja, jadi sekarang aku kangen.”

Naura tertawa lepas. “Sudah pandai ngerayu, ya?”

“Ngerayu tunangan sendiri nggak apa-apa, kan?”

“Iya, iya, nggak apa-apa. Ya sudah, kamu lanjutin makannya, aku masih ada kerjaan lain.”

“Oke, nanti malam kujemput.”

“Iya.”

“Ra, aku sayang kamu.”

Naura terdiam sebentar, sebelum ia membalas ucapan Panji, “Ya, Aku juga sayang kamu.” Lalu sambungan itu terputus. Naura menghela napas panjang sebelum ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku baju yang ia kenakan.

Naura membalikkan tubuhnya, dan bersiap pergi dari tempat itu, tapi kemudian ia terlonjak saat mendapati Alden yang ternyata sudah berdiri santai dengan menyandarkan punggungnya pada dinding. Lengan lelaki itu bersedekap, tapi tatapannya menajam, dan Naura tidak tahu apa yang akan dilakukan lelaki itu di sini.

Naura memilih mengenyahkan keberadaan Alden, mungkin lelaki itu berada di sana karena keperluan lain, pikirnya. Padahal, dalam hati Naura yang paling dalam, ia tahu, jika Alden berada di sana karenanya.

Naura mencoba berjalan keluar melewati Alden, tapi ketika sampai di hadapan lelaki tersebut, lelaki itu meraih pergelangan tangannya. Naura menatap Alden seketika, ia tidak ingin jika Alden lagi-lagi membahas hubungan mereka.

“Berikan ponsel kamu.”

“Untuk apa?”

“Berikan atau aku akan merebutnya.”

Naura hanya diam, ia tentu tidak akan mematuhi apa yang dikatakan oleh Alden. Mungkin dulu ia akan menurutinya karena ia terlalu bodoh, tapi sekarang, tidak akan.

Tapi secepat kilat Alden merebut ponsel yang berada dalam sakunya. “Tuan, Apa yang anda lakukan?”

Alden tidak menghiraukan Naura, ia sibuk membuka isi dari ponsel Naura, mencari tahu siapa yang tadi menghubungi Naura karena ia sempat mendengar percakapan mereka yang terdengar mesra menurutnya.

Alden menemukannya, di bagian panggilan masuk. Tampak sebuah kontak bernama Panji. Alden menatap Naura seketika. “Siapa Panji?” tanyanya dengan suara menajam.

Naura tidak menjawab, ia memilih diam karena baginya, tidak ada yang perlu ia jelaskan dengan Alden. Ya, hubungannya dengan Alden sudah benar-benar berakhir, dan ia tidak ingin kembali terjerumus dalam hubungan asmara dengan lelaki itu.

“Katakan, siapa dia? Apa dia tunanganmu?” tatapan mata Alden semakin menajam seiring sikap diam yang ditampilkan Naura padanya. Dengan spontan Alden memutar tubuh Naura dan menghimpitnya diantara dinding.

“Dengar, Na. Kamu masih milikku, kamu masih istriku.”

Naura menggeleng pelan. “Kita nggak pernah nikah.”

“Ya, kita pernah nikah.”

“Itu hanya main-main, Al.” Naura melirih.

“Tapi aku tulus melakukannya, Na. aku sungguh-sungguh.”

“Kita sudah selesai sebelum kamu pergi ke luar negeri.”

“Belum.” Alden menjawab cepat. “Tidak ada kata selesai diantara kita.” Alden semakin mendekatkan wajahnya, berharap ia dapat meraih bibir Naura dan melumatnya seperti apa yang ia lakukan kemarin malam. Tapi Naura segera memalingkan wajahnya, menolak secara halus apa yang akan dilakukan Alden padanya.

Sekali lagi, harga diri Alden terlukai, ia tidak pernah ditolak sebelumnya, apalagi dengan wanita yang selama ini masih ia anggap sebagai miliknya. Dengan putus asa, Alden melepaskan tubuh Naura.

“Kamu, sudah benar-benar menganggap hubungan kita selesai?” tanya Alden memastikan.

“Kita sudah selesai sejak aku tahu kalau kamu hanya main-main denganku.”

“Aku tidak pernah main-main.” Alden menggeram kesal. “Dan aku akan membuktikannya ketika aku mampu memenangkan hatimu kembali.” Setelah kalimatnya tersebut, Alden segera pergi meninggalkan Naura.

Mata Naura memejam seketika. Ia takut, sungguh takut, tapi bukan takut dengan Alden, melainkan takut dengan perasaannya sendiri yang mungkin saja akan kembali jatuh pada pesona Alden seperti dulu. Naura menghela napas panjang, saat bayang-bayang masa lalu kembali mengusik pikirannya, bayangan dimana ia masih buta dalam menilai, apakah Alden benar-benar menyayanginya, atau hanya memanfaatkannya saja.

 

“Dimana orang rumah?” Naura yang tadi sibuk mencuci peralatan dapur akhirnya membalikkan tubuhnya saat mendengar pertanyaan tersebut. tampak Alden sedang berdiri mengawasinya di seberang ruangan.

“Bu Alisha keluar sama Angel, ibu ada di atas, lagi jemur pakaian, yang lain sibuk bersih-bersih di ruang lain.”

“Jadi…. Saat ini… kita hanya berdua, di dapun ini?” tanya Alden dengan nada menggoda, lelaki itu bahkan sudah berjalan mendekat ke arah Naura.

“Jangan macam-macam.” Naura kembali membalikan tubuhnya, tak ingin Alden melihat rona merah dipipinya akibat godaan dari lelaki tersebut.

Saat ini, sudah Enam bulan lamanya mereka menjalin hubungan secara diam-diam, dan Naura tidak memungkiri, jika kini Alden sudah mampu mencuri seluruh isi hatinya.

“Ayo, ikut aku.”

Seperti biasa, Alden memperlakukan Naura seenaknya seakan-akan lelaki itu adalah pemilik dari diri Naura. Dan Naura tak bisa menolak, ketika Alden meraih pergelangan tangannya kemudian menyeretnya masuk ke dalam kamar lelaki tersebut.

Ketika keduanya sudah berada di dalam kamar Alden, Alden segera memeluk tubuh Naura. “Aku kangen sama kamu.” ucapnya dengan spontan.

“Kangen? Kita ketemu setiap hari.” jawab Naura yang tidak menolak pelukan dari Alden, entahlah, ia merasa nyaman saat berada dalam pelukan seorang Alden Revaldi.

“Ya,tapi kita tidak bisa melakukan ini.” Alden lalu melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Naura dengan intens, matanya turun pada bibir Naura yang tampak penuh menggoda, kemudian, ia tidak dapat mengelak lagi, jika dirinya begitu menginginkan wanita tersebut.

Alden menyambar bibir Naura, melumatnya penuh gairah, sedangkan Naura hanya bisa membalas lumatan tersebut. Naura tidak memungkiri jika dirinya juga merindukan Alden, merindukan sentuhan lelaki itu yang tampak begitu menyayanginya, jadi Naura membalas semua perlakuan Alden dengan penuh kasih sayang.

Alden semakin menjadi. Ia mendorong sedikit demi sedikit tubuh Naura hingga terbaring di atas ranjangnya. Lalu ia menindih tubuh Naura tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Bibir Alden lalu turun, merambah ke arah dagu Naura, lalu turun lagi mengecupi sepanjang leher jenjang Naura.

“Al…” Naura mendesah. Mendengar desahan Naura sembari memanggil namanya membuat Alden tersenyum senang. Karena bagi Alden, saat Naura memanggilnya dengan hanya menggunakan namanya saja, ia merasa tak ada jarak sedikitpun antara dirinya dan juga Naura.

“Hemm.” Alden tidak menjawab, ia hanya menggeram sembari mengecupi sepanjang kulit halus Naura.

“Kita nggak boleh…” Naura menahan erangannya, astaga, apa yang sedang terjadi dengnnya?

Alden menghentikan aksinya, lalu mengangkat wajahnya ke arah Naura. “Kenapa?” tanyanya bingung.

“Uum, kita nggak boleh melakukan lebih.”

“Kenapa? Karena kita belum nikah?” tanya Alden lagi.

“Ya, itu salah satu alasannya.”

Alden mendengus, sebelum kemudian ia bangkit dan duduk di pinggiran ranjangnya. “Ayo kita menikah.” Ajakan Alden mengejutkan Naura, tapi kemudian Naura dapat menguasai dirinya saat menyadari jika Alden pasti hanya bercanda.

Naura bangun dan duduk di sebelah Alden ia tersenyum kemudian meraih jemari Alden. “Menikah bukan hal yang gampang, lagi pula, bukannya kamu harus ke luar negeri tahun depan?”

“Ya, tapi aku bisa menikahimu sebelum aku pergi.”

“Al, bukannya aku menolak, tapi-”

Alden berlutut seketika di hadapan Naura yang masih duduk di pinggiran ranjangnya. Ia meremas jemari Naura dan berkata “Kita akan menikah dalam waktu dekat, dan kamu akan tetap menjadi milikku, terikat denganku meski aku tidak berada di sisimu.” Kesungguhan yang terdengar dari kata-kata Alden membuat diri Naura luluh seketika, ia terpana dengan ketulusan yang tampak pada diri Alden. Benarkah Alden akan menikahinya dalam waktu dekat? Sunguhkah?

-TBC-

Secret Wife – Chapter 2 (Tanda Jadi)

Comments 4 Standard

Secret Wife

 

Haii, maaf bgt yaa baru update, jadi ceritanya kemarin itu leppynya Mom Hardiscnya rusak, hikks jadi mom belom bisa lanjut, huaaa,,,,, dan sekarang mom baru bisa lanjut lagi nih, happy reading yaa.. hehehheheh. oh, iya, selamat datang juga buat pendatang baru, yang baca Via PC, jangan Horor yaa dengerin backsound suara mommy hahahhahaha. btw, kalian juga boleh Requez lagu lohh buat ganti backsoundnya, hihihi. untuk yang baca via Hp, maap anda belum beruntung, hahhahahah udahh ahh ahppy reading aja wakakakkaka.

 

 

Chapter 2

-Tanda Jadi-

 

Naura menikmatinya, tentu saja. Bibir itu membelai lembut bibirnya, seperti dulu, menggodanya hingga mau tidak mau Naura menikmati apa yang dilakukan oleh Alden, meski sebenarnya ia tahu jika hal tersebut salah.

Salah?

Mengingat kata tersebut, Naura seperti tersadarkan oleh sesuatu. Sekuat tenaga, ia mencoba melepaskan tautan bibir Alden dengan bibirnya, mendorong tubuh lelaki itu sekuat tenaga hingga tautan bibir mereka terlepas.

Napas naura terputus-putus karena kemarahan yang sudah memuncak dikepalanya, namun itu tak menyurutkan keinginan Alden untuk kembali meraup bibir Naura. Alden melakukannya dengan sangat cepat hingga Naura tak bisa menghindar dari tindakan tersebut. Bibir mereka kembali bertautan, Alden mencumbunya dengan panas, dengan keras, hingga Naura mengerang kesakitan.

Sekali lagi, dengan sekuat tenaga, Naura mendorong kuat-kuat dada Alden hingga tautan bibir mereka kembali terputus.

“Tolong! Jangan lakukan!” Naura berseru keras saat Alden akan mendekat kembali pada wajahnya.

“Kamu menikmatinya, Na. aku tahu kamu menikmatinya.”

Naura menggelengkan kepalanya. “Jangan lakukan itu lagi, kumohon.”

“Kenapa? Karena kamu memiliki tunangan?” tantang Alden.

Naura menatap Alden seketika, ia tidak percaya jika Alden mengetahui status terbarunya.

“Kamu masih milikku, bahkan ketika aku meninggalkanmu.”

Naura hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin, Alden masih memikirkan tentang masa lalu mereka. Masalalu yang hanya seperti impian bagi dirinya.

“Aku akan mencari tahu siapa pria sialan itu.”

Naura tersentak dengan ucapan Alden. “Untuk apa?”

“Aku akan memberikan pelajaran padanya, karena dia sudah berani melamar istriku.”

Tidak!

Katakan jika semua ini hanya mimpi. Naura tidak suka jika Alden kembali mengusik hidupnya, apalagi membawa masa lalu suram mereka. Dan satu lagi, ia bukan istri dari seorang Alden Revaldi, ia bukan istrinya. Pernikahan mereka hanya main-main, meski sebenarnya, dulu ia menganggap jika hal tersebut benar-benar terjadi, nyatanya itu hanya sebuah rencana busuk dari seorang Alden Revaldi.

***

Tujuh tahun yang lalu…..

 

“Alden.. Alden…”

“Apaan sih Ma?” Alden menjawab panggilan mamanya dengan malas-malas. Sore ini, ia memang sedang asik memainkan game di dalam kamarnya, dan ia kesal ketika mamanya mengganggunya.

“Bangun dan antar adik kamu ke pesta perpisahan sekolahnya.”

“Kenapa nggak sama Naura saja sih, Ma?”

“Naura juga ikut, tapi mereka nggak ada yang ngantar.”

“Supir?”

“Supir jemput Papa yang baru pulang dari Paris. Ayo bangun dan antar mereka.”

Dengan mendengus sebal, Alden bangkit dari tempat tidurnya. Sedikit malas ia mengambil pakaiannya lalu mengganti pakaiannya tersebut dengan pakaian yang lebih rapih. Ah, sangat mengesalkan sekali. Gerutunya dalam hati.

Saat ini, usia Alden sudah memasuki 21 tahun, sedangkan Angel dan Naura sendiri tiga tahun lebih muda daripada dirinya. Kedua gadis itu memang satu sekolah, bahkan satu kelas, yang baru lulus SMA sekitar tiga minggu yang lalu. Bukan tanpa alasan Alden menolak untuk mengantar keduanya, karena memang sejak beberapa bulan terakhir, Alden memutuskan untuk menghindari salah satu dari mereka. Ya, siapa lagi jika bukan Naura.

Entah kenapa, baginya, Naura saat ini sangat berbeda dengan Naura yang dulu. Perempuan itu tampak mempesona untuknya, dan Alden tidak suka kenyataan jika dirinya mulai tertarik dengan perempuan tersebut.

Semua itu berawal dari pesta ulang tahun Angel yang ke Delapan belas, yang di rayakan sekitar Tiga bulan yang lalu. Naura tampak dewasa, dan cantik dengan gaun yang dibelikan oleh mamanya. Ya, Naura memang sudah dianggap anak sendiri oleh mamanya, tapi apa mamanya itu tidak berpikir jika mendandani Naura seperti itu saat itu membuat Alden tergoda? Ahh sial!

Dan kini, kejadian itu akan terulang lagi, saat Alden yakin jika Naura pasti akan berdandan untuk kedua kalinya di pesta perpisahan sekolahnya. Sial! Apa yang akan terjadi dengannya??

Dengan sedikit acuh, Alden turun dari kamarnya yang berada di lantai dua. Ia segera menuju ke garasi, mengeluarkan mobilnya, dan ternyata dua makhluk cantik itu sudah berada di sana menunggunya.

Sungguh, Alden sudah seperti orang tolol saat ini, ketika ia menatapn Naura dari ujung rambut hingga ujung kakinya.

Sial!! Naura sudah seperti bebek jelek yang berubah menjadi angsa yang cantik saat ini. Jika ada orang yang tak mengenal siapa Naura dan melihat penampilan Naura malam ini, maka orang itu tentu akan menganggap jika Naura adalah anak orang kaya.

Kecantikannya setara dengan Angel, adiknya, padahal Alden sangat yakin, jika Naura hampir tidak pernah melakukan perawatan kulit seperti yang dilakukan Angel setiap minggunya. Kecantikan Naura terpancar begitu alami, begitu mempesona hingga membuat Alden secara spontan menelan ludahnya dengan susah payah.

Berengsek!

Untuk pertama kalinya, ia bergairah hanya karena melihat perempuan berdiri dengan pakaian lengkapnya. Benar-benar sialan, bukan!

“Kak, kamu ngapain bengong di sana? Ayo berangkat, kita sudah telat.” Angel memprotes.

Dan masih seperti orang tolol, Alden hanya mengangguk sembari berjalan memasuki mobilnya. Matanya sesekali melirik ke arah Naura yang hanya menundukkan kepalanya. Oh, benar-benar bajingan! Ia mengutuk siapa saja yang telah merubah Naura menjadi secantik saat ini.

Alden menghidupkann mesin mobilnya, lalu ia mulai menjalankan mobilnya. Mencoba berkonsentrasi ia mengemudikan mobilnya, namun dengan spontan, sesekali ia melirik ke arah kaca mobilnya yang memantulkan bayangan Naura yang duduk di jok belakang.

“Siapa yang merias?” dengan spontan Alden bertanya.

Angel yang sejak tadi memainkan ponselnya akhirnya mengangkat wajahnya ke arah Alden. “Apa? Siapa? Aku? Aku dandan sendiri.”

“Dia?” Alden menunjuk Naura dengan dagunya.

“Aku juga.” Angel lalu tertawa lebar.

Sial! Alden mengumpat dalam hati. “Apa itu nggak keterlaluan. Kalian baru lulus SMA, nggak seharusnya kalian dandan seperti ini.”

“Ayolah, Kak. Ini pesta perpisahan, masa iya kami harus pakai T-shirt dan jeans tanpa make up sedikitpun?”

“Seperti itu lebih bagus, tidak mengganggu.” Alden berkata cuek.

“Mengganggu? Memangnya kami mengganggu kak Alden?”

Alden tampak salah tingkah. “Udahlah, lupain.” Sungutnya.

“Kak, di perempatan berhenti ya, pacarku jemput.”

“Pacar apa?” mata Alden membulat seketika ke arah Angel.

“Aku sudah Delapan belas tahun, sudah wajar kalau aku punya pacar.”

“Lalu Naura?”

“Kakak antar aja ke tempat acara.”

Oh ya, sempurna bukan? Dengan begitu ia bisa berduaan dengan Naura dan ia akan semakin gila dengan ketegangan sialan di pangkal pahanya. Hebat sekali adiknya ini. Alden tak berhenti menggerutu dalam hati.

***  

“Kita nggak usah ke acara itu saja.” Tiba-tiba Alden berkata memecah keheningan. Saat ini, Alden memang hanya berdua dengan Naura di dalam mobilnya, sedangkan Angel sudah di jemput oleh kekasihnya beberapa menit yang lalu.

“Uum, kalau kita nggak kesana, kita kemana?”

“Temani aku keluar.”

“Kemana?” Naura bertanya lagi.

“Ke tempat temanku.”

Naura tidak mengiyakan, namun, ia juga tak dapat menolak, masalahnya, Alden memang tak bisa ditolak, dan sepertinya, ia tidak memiliki hak untuk menolak, mengingat saat ini dirinya sedang menumpang di mobil Alden.

Sepanjang perjalanan, Naura hanya diam, mau membuka suarapun ia canggung. Alden tampak serius dan berkonsentrasi sata mengemudikan mobilnya, jadi Naura tidak berani untuk sekedar bertanya akan kemanakah mereka.

“Nanti, jangan membantah apapun yang kukatakan.”

“Apa?” Naura tidak mengerti.

“Kamu sudah punya pacar?” tanya Alden tanpa ekspresi.

Pipi Naura memerah seketika. Ia menundukkan kepalanya secara spontan. Selama ini, tak ada yang pernah bertanya tentang hal pribadi seperti ini padanya. Dan Alden menanyakannya dengan santai tanpa ekspresi sedikitpun.

“Kenapa? Kamu belum ada pacar, kan?” tanya Alden lagi memastikan semuanya.

Naura hanya menggeleng pelan. “Siapa juga yang mau pacaran sama saya.” lirih Naura pelan. Ya, siapa juga yang mau berkencan dengannya? Ia hanya anak seorang pembantu, dengan pergaulannya di sekolah yang populer yang hampir seluruh muridnya adalah anak orang berada, Naura tidak berani mendekati murid lain bahkan untuk sekedar berteman.

“Apa salahnya dengan menjadi pacar kamu?”

Pertanyaan Alden membuat Naura mengangkat wajahnya menatap ke arah Alden. Rupanya Alden masih konsentrasi dengan jalanan di hadapannya.

“Kalau begitu, mulai malam ini, kamu sudah menjadi pacarku.”

“Apa?” Naura yakin jika ia hanya salah dengar.

Alden lalu mendaratkan sebelah tangannya pada paha Naura, ia meremasnya pelan sebelum berkata “Ya, kamu jadi pacarku, mulai malam ini. Dan aku tidak terima penolakan.” Dan Naura hanya ternganga menanggapi kalimat Alden tersebut.

 

Itu adalah pertama kalinya Naura menjalin hubungan dengan Alden. Tujuh tahun yang lalu, ketika Naura sedikit demi sedikit mulai jatuh pada pesona seorang Alden Revaldi, sebelum kemudian, lelaki itu menghancurkan semua impian dan harapannya…

***

Alden membanting pintu kamarnya sekeras mungkin. Ia tidak peduli jika apa yang ia lakukan akan membangunkan seisi rumahnya. Alden meremas rambutnya dengan frustasi. Rupanya, Naura sudah berbeda, perempuan itu bukan lagi menjadi perempuan penurut seperti dulu, dan sepertinya, Alden harus bekerja ekstra untuk mendaptkan kembali hati Naura.

Dulu, Naura tidak berani menolaknya, Naura juga tidak berani membantah kata-katanya, tapi kini? Apa mungkin ini ada hubungannya dengan lelaki yang menjadi tunangan perempuan itu? Sial! Tidak bisa dibiarkan. Alden akan mencari tahu siapa lelaki itu dan menyingkirkannya dari kehidupan Naura. Naura hanya miliknya, entah dulu, atau sekarang, perempuan itu tetaplah menjadi miliknya.

Alden lalu melemparkan diri ke atas ranjang besarnya, ia terbaring nyalang, dengan mata yang menatap ke arah langit-langit kamarnya, lalu sekelebat bayang manis masa lalunya dengan Naura menari di kepalanya.

 

“Kenapa Tuan Alden mengenalkan saya sebagai pacar Tuan?”

“Tuan? Kamu kekasihku sekarang, jadi jangan panggil aku tuan.”

“Tapi-”

“Aku tidak ingin dibantah.” Alden masih berkonsentrasi mengemudikan mobilnya. “Al, panggil saja begitu. Kamu bisa memanggilku Tuan di depan banyak orang, tapi ketika kita hanya berdua, panggil saja namaku.”

Naura tidak menjawab, ia masih tidak habis pikir dengan Alden yang tadi baru saja mengajaknya ke tempat teman-temannya. Gilanya lagi, lelaki itu memperkenalkan dirinya sebagai kekasih Alden, dan Naura hanya diam, ia tidak membantah atau meralat ucapan Alden saat itu.

“Kenapa? Kamu nggak suka dengan hubungan kita?”

“Uumm, bukan begitu, saya hanya tidak mengerti, kenapa Tuan-”

“Alden.” Ralat Alden cepat.

“Uum, kenapa kamu melakukan ini sama saya.” Naura masih enggan memanggil Alden dengan namanya saja, dan itu membuat Alden sedikit menyunggingkan senyumannya.

“Karena aku suka sama kamu, apa itu kurang?”

“Uum, tapi bagaimana bisa suka? Saya kan cuma…”

“Aku juga nggak tau kenapa aku bisa menyukaimu, Na! mungkin karena kamu menggodaku, atau mungkin karena pertahananku terlalu lemah saat melihat perempuan secantik kamu.”

Naura tidak menjawab, hanya tampak rona merah di pipinya yang tampak menyala. Oh, perkataan Alden benar-benar membuat pipinya memanas.

“Saya tidak pernah menggoda kamu.”

“Ya, aku ngerti, tapi bagaimana kalau aku tergoda? Ayolah, aku sudah dewasa, dan melihat kamu berkeliaran di dalam rumahku setiap harinya benar-benar menggangguku.”

“Uum, saya minta maaf, nanti saya akan bilang sama ibu untuk mencari rumah kontrakan-”

“Tidak! Bukan itu maksudku, astaga.” Alden mengerang frustasi. Lalu ia menepikan mobilnya, dan ketika mobilnya berhenti, ia segera menatap ke arah Naura. “Maksudku adalah, kamu sudah membuatku tertarik denganmu, mungkin karena keberadaanmu yang selalu berada di sekitarku, atau mungkin karena faktor lain, aku sendiri tidak tahu, tapi yang terpenting, aku tertarik denganmu, dan aku ingin kamu menjadi kekasihku.”

“Tapi saya-”

“Aku nggak terima penolakan. Seperti yang kukatakan di awal.”

Naura hanya menunduk saat Alden menatapnya dengan intens. Kemudian, Naura merasakan jemari Alden meraih dagunya, mengangkatnya hingga wajah mereka saling beradu pandang cukup lama, hingga kemudian Alden berbisik pelan. “Anggap saja ini tanda jadi hubungan kita.” Dan setelah kalimatnya tersebut, Alden mendaratkan bibirnya pada bibir Naura.

Naura sempat terkejut dengan apa yang dilakukan Alden, tapi ia tidak menolak, ia tidak meronta ataupun menghindar. Yang Naura lakukan hanya diam, lalu mengikuti irama bibir Alden yang seakan mengajak bibirnya menari. Menari dengan lembut dan seirama, hingga membuat ciuman pertama mereka terasa begitu manis dan tak kan terlupakan.

Saat setelah bayangan itu menari dalam kepalanya, Alden tersenyum, lalu secara spontan ia meraba bibirnya sendiri. Bibir Naura masih sangat terasa di sana, tapi bukan rasa manis seperti ciuman pertama mereka. Kenapa? Apa karena kini Naura sudah memiliki pria lain yang dicintainya? Atau, karena kesalahan fatalnya di masalalu yang hingga kini membuat Naura belum juga memaafkannya??

-TBC-

btw, ini diapenampakan Alden dan juga Naura yaa.. hehehhe jangaan baper lohh wakakakkakak