Missing Him – Bab 2

Comments 2 Standard

 

Bab 2

 

“Do… kita ngapain ke sini? Katanya mau Futsal?”

“Kita nyari sepatu untukku dulu.” Ucap Edo masih dengan memilih-milih sepatu yang tertata di hadapannya.

Saat ini, kami memang sedang berada di sebuah toko perlengkapan olah raga yang tak jauh dari tempat futsal yang biasa di kunjungi Edo dan teman-temannya.

Setiap seminggu dua kali, Edo pasti mengajakku, atau lebih tepatnya memaksaku ikut menemaninya pergi bermain Futsal. Alasannya masih sama, semua teman-temannya ditemani oleh kekasih masing-masing, sedangkan Edo sendiri tidak memiliki kekasih.

Kadang aku bingung, dengan wajah tampan dan kekayaan yang di milikinya, kenapa Edo belum juga memiliki pacar?? Alasannya tentu bukan karena tidak ada yang mau, karena aku cukup tau betapa banyaknya peminat Edo di sekolahan. Tak jarang gadis-gadis itu salah paham padaku, mengira jika aku adalah kekasih Edo. Yang benar saja.

Ven, ini gimana??” Tanya Edo yang sudah berdiri di hadapanku dengan sepatu baru yang di cobanya.

Astaga.. Tak perlu bertanya Do.. Kamu pakai apapun pasti terlihat tampan di mata semua wanita, termasuk aku. Lirihku dalam hati.

“Bagus.” Hanya itu jawabanku…

Edo mendengus. “Sepuluh kali aku ganti sepatu, kamu pasti Sepuluh kali bilang jika itu bagus.”

“Yee… itu emang bagus Do..”

“Oke, aku ambil yang ini. Thank you Ven,  Sayang….” ucap Edo sambl mencubit gemas pipiku.

Veny sayang??? Sayang??? Apa coba maksud Edo.

***

“Kita mau apa ke sini?” Pertanyaan Mas Rangga membuatku menoleh ke arahnya.

Entah kenapa setiap kali aku melihat sosoknya, pikiranku sontak menenang, wajahnya tampan dan kalem, sikapnya lembut, dan penampilannya sederhana, mas Rangga, bagaimana mungkin selama ini aku tak pernah melihatmu? Lirihku dalam hati.

“Ven, kamu kok malah bengong?”

“Ah.. ya, maaf  Mas, ummm… Aku mau memberikan hadiah buat Mas Rangga.” Ucapku yang kini tanpa ragu lagi menarik pergelangan tangan Mas Rangga masuk ke dalam sebuah toko jam tangan.

Kami berdua kini sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan, aku ingin membelikan Mas Rangga sesuatu, sedangkan Tasya, tentu ku titipkan ke rumah ibuku yang letaknya tak jauh dari rumah kami.

Aku masih sibuk memilihkan jam tangan untuk Mas Rangga ketika kemudian Mas Rangga menepuk bahuku.

“Kamu mau belikan Mas jam tangan?” Tanyanya dengan nada lembut seperti biasanya.

Aku hanya mengangguk, entah kenapa Hari ini Mas Rangga begitu mempengaruhiku. Apa karena ciuman panas kami tadi pagi? Ohh ayolah,  lupakan itu.. rutukku dalam hati.

“Nggak perlu Sayang, uangnya di simpan saja, Mas masih punya yang bagus kok.”

Tapi aku tidak mendengarkan ucapannya. Aku malah menyuruh seorang penjaga toko untuk mengeluarkan sebuah jam tangan yang kurasa cocok di kenakan oleh Mas Rangga.

Dengan sedikit canggung, aku memakaikan jam tangan di pergelangan tangan kiri Mas Rangga.

“Aku hanya ingin memberikan sesuatu buat Mas Rangga, sesuatu yang selalu mengingatkan Mas Rangga denganku dan juga Tasya, sesuatu yang akan selalu mengingatkan Mas Rangga untuk pulang.” Ucapku masih dengan memakaikan jam tersebut di tangannya. “Sepertinya ini cocok.” Lanjutku lagi.

Aku menatap ke arah Mas Rannga. Dia menatapku dengan tatapan anehnya. Ada apa? Apa aku salah sudah memberinya hadiah?

“Ada yang salah?” Tanyaku masih dengan tatapan bingungku pada Mas Rangga.

“Kamu yang salah Ven.”

Aku semakin bingung dengan ucapan Mas Rangga, apa maksudnya coba?

“Aku? Memangnya aku salah apa?”

“Kamu sudah membuatku jatuh semakin dalam.”

Lagi-lagi aku masih tak mengerti apa yang di ucapkan Mas Rangga.

“Jatuh semakin dalam?” tanyaku lagi masih tak mengerti.

Mas Rangga mengusap lembut pipiku, “Jatuh semakin dalam untuk mencintaimu tanpa memikirkan logika.”

Aku membulatkan mataku seketika sambil menutup bibirku yang ternganga. Apa aku sedang bermimpi? Ya, tentu saja aku sedang bermimpi, mana mungkin Mas Rangga memgucapkan kalimat cinta padaku seperti itu di hadapan banyak orang?

Dan ketika aku tersadar, aku menatap sekelilingku, banyak orang yang sedang menatap kami sambil tersenyum. Si penjaga toko pun ikut memerah melihat kelakuanku dan juga mas Rangga yang seperti ABG yang sedang menyatakan cinta di depan umum.

Astaga… dia kah Rangga yang ku kena?? Rangga si pendiam, kaku dan sederhana? Rangga yang sama sekali tidak bisa menyentuh hatiku?

Lalu kenapa kini aku merasakan perasaan itu? Perasaan seperti digelitik oleh sesuatu, perasaan seperti ada ribuan kupu-kupu dalam perutku? perasaan seperti ada sebuah Bom yang sedang berdetak di dadaku?

Apa ini tandanya Mas Rangga sudah mampu menyentuh hatiku? Sudah mampu membuatku melupakan sosok Edo?

****

Setelah membelikan Mas Rangga jam tangan, kami lantas berbelanja kebutuhan rumah. Setelah itu kami makan siang di luar. Dan kini kami sudah kembali pulang.

Aku membawa barang belanjaan ke dapur.  Sejak di toko jam tangan tadi, kami tak lagi bicara. Entahlah, aku bahkan sudah terbiasa dengan hal ini. Saling berdiam diri dengan Mas Rangga, tentu saja, dia pendiam.

Saat aku menata barang belanjaan di lemari pendingin. Tiba-tiba aku merasakan sebuah lengan melingkari perutku dari belakang.

Kaget?? Tentu saja, di rumah ini hanya ada aku dan Mas Rangga, jika ini lengan Mas Rangga tentu aku akan sangat kebingungan, sebenarnya apa yang terjadi dengannya hari ini? Apa juga yang terjadi denganku??

“Mas…” ucapku.

“Sebentar… sebentar saja, aku kangen kamu..” ucapnya kemudian yang membuat semua bulu-bulu  tipis di tengkukku berdiri meremang.

“Mas Rangga kenapa?”

“Aku kangen kamu.”

“Kita sudah bertemu setiap hari, masak masih kangen?”

“Kangen peluk kamu…” ucapnya dengan suara serak.

Dan setelah kalimat itu, aku tau jika mas Rangga menginginkan hak nya. Apa hanya itu? Lalu seperti biasa aku akan melayaninya? Berhubungan intim tanpa cinta? Jika iya, mungkin memang seperti inilah hidup yang harus ku jalani.

Lalu aku sedikit terkejut ketika tiba-tiba merasakan sesuatu yang basah menyentuh pundakku. Mas Rangga mencium pundakku. Astaga… jantungku kembali  berdebar keras  seperti tadi. Mas Rangga tak pernah melakukan ini sebelumnya, tapi kenapa ia melakukannya?

Cumbuannya naik ke leherku, dan seakan menggodaku di sana Mas Rangga meninggalkan jejak-jejak basah di sana.

“Mas…” erangku..

“Hemm..” hanya itu jawabannya.

Telapak tangannya kini bahkan sudah berada di balik baju yang ku kenakan, ia mengusap lembut payudaraku. Membuatku kembali memekik karena kelakuannya.

Mas Rangga membalik tubuhku hingga menghadap ke arahnya. Ia mengusap lembut pipiku, menyelipkan anak rambutku ke belakang telingaku. Sedangkan aku hanya bisa menunduk malu di buatnya.

Mas Rangga kemudian menangkup kedua pipiku, mengangkat wajahku hingga menatap tepat pada bola matanya. Dan aku… Aku terpesona melihat wajahnya yang entah kenapa kini terlihat begitu tampan di mataku. Matanya bahkan sudah berkabut karena gairah..

“Aku ingin melanjutkan tadi pagi….” ucapnya dengan suara serak.

“Lanjutkanlah.” Jawabku pasrah.

Aku melihat mas Rangga sedikit tersenyum. “Kali ini, aku akan melakukannya dengan cara berbeda.”

Aku mengernyit. Cara berbeda? Cara berbeda apa makasudnya?

Mas Rangga mendekatkan wajahnya ke telingaku lalu berbisik di sana.

“Kita akan bercinta.. Bukan sekedar berhubungan intim.”

Dan setelah kalimatnya tersebut, secepat kilat Mas Rangga menyambar bibirku yang masih ternganga karena ucapannya. Dia melumat habis bibirku penuh dengan hasrat, seakan menuntut sesuatu dariku.

Dan aku memberikannya, aku membalas ciumannya dengan lembut sambil mencengkeram erat kemeja yang menempel di dadanya.

Kami berdua sama-sama saling melumat penuh dengan hasrat.. penuh dengan dorongan saling memiliki satu sama lain tanpa menghiraukan lagi dinding-dinding kecanggungan yang biasanya berdiri kokoh di antara kami…

-TBC-

Advertisements

Missing Him – Bab 1

Comments 2 Standard

 

Bab 1

 

“Soto ayam satu Bu…” ucapku pada ibu kantin.

“Porsi banyak seperti biasa.” Aku menoleh ke sampingku dan di sana sudah duduk sosok yang selama ini selalu menemani hariku, siapa lagi jika bukan Edo.

Ini sudah  sebulan sejak kepindahanku ke sekolah baruku ini, dan selama sebulan itu, hubunganku dengan Edo mengalami kemajuan pesat. Kami sangat dekat, amat sangat dekat. Bahkan tidak sedikit yang mengira jika kami sudah jadian.

“Do, lebih baik kamu pesan sendiri gih… nggak enak di lihatin anak-anak kalau kita makan sepiring berdua terus.” Ucapku mengingatkan.

“Enggak, aku suka makan sepiring denganmu.”

Dan aku hanya menghela napas panjang.

Ven, nanti malam temani aku futsal, ya”

“Enggak, aku sibuk.” Jawabku ketus.

“Ayolah… teman-temanku ngajak pacarnya, masa aku sendiri Ven. please…”

“Kalau gitu, ajaklah pacarmu.”

“Aku nggak punya pacar Ven,  kamu tau kan?”

Dan lagi-lagi aku menghela napas panjang. Astaga, aku juga tidak mengerti kenapa aku sama sekali tak dapat menolak permintaan Edo. Edo…. entah perasaan apa yang kurasakan saat ini…

****

Aku melihat sebuah amplop tepat di hadapanku.

“Apa ini mas?” Tanyaku pada Mas Rangga yang baru saja pulang dari kantor.

“Gajihku bulan ini, kamu simpan, ya.”

“Yang kemarin masih ada, lebih baik Mas saja yang menyimpan.”

“Jangan, aku percaya kamu, Sayang, kalau Mas yang bawa nanti pasti habis.”

Aku tersenyum melihat kelakuan suamiku tersebut. Namanya Rangga  Kurniawan. Orangnya sederhana, tidak banyak bicara dan dia pekerja  keras. Aku mengenalnya saat bekerja di sebuah perusahaan. Ya, Mas Rangga adalah rekan kerjaku.

Kami tidak pernah berpacaran, karena  saat itu tiba-tiba Mas Rangga datang melamarku. Orang tuaku tentu sangat setuju dan menerima Mas Rangga. Dan entah kenapa saat itu aku pun menerimanya. Mungkin karena aku tidak tega mengucap kata “Tidak” padanya.

Kami menikah sekitar Dua tahun yang lalu. Dan selama ini hubungan rumah tangga kami baik-baik saja.

Aku melihat ke arah suamiku tersebut yang masih mengenakan kemeja kerjanya. Ia sibuk menggendong Tasya dan bercengkrama dengan puteri pertama kami.

“Mas, besok minggu, kita belanja, Ya. Aku pengen membelikan sesuatu buat  Mas Rangga.”

“Membelikan apa? Aku nggak  perlu apa-apa kok..”

“Bukan sesuatu yang istimewa, tapi sesuatu yang semoga saja dapat membuat Mas Rangga selalu mengingat aku dan Tasya.”

“Baiklah, terserah kamu saja.”

Aku tersenyum lagi. Mas Rangga memang  tak  pernah menolak  keinginanku.

***

Pagi ini masih sama dengan kemarin hari. Aku masih terbangun di dalam pelukan seorang lelaki yang yang sangat menyayangiku. Siapa lagi jika bukan Mas Rangga, suamiku.

Aku bangkit tapi kemudian tubuhku kembali di tarik ke dalam pelukan lelaki yang tadi memelukku.

“Jangan bangun dulu, Ven”

“Aku harus bangun Mas, siapa yang masak sarapan kalau aku masih di sini?”

“Kita makan di luar saja nanti kita kan akan keluar.”

Aku tersenyum “Bukannya itu pemborosan?” Tanyaku sedikit menyindirnya.

Mas Rangga semakin mengeratkan pelukannya padaku sambil terkikik geli. “Veny sayang… sesekali boros tidak apa-apa kan?”

Aku kembali tersenyum meski sebenarnya tubuhku kaku dengan panggilan lembut yang di berikan Mas Rangga padaku.

Sejak menikah, kami memang tidak pernah bermesraan layaknya sepasang kekasih. Hubungan di ranjang? Astaga.. jangan di tanya, mungkin kami melakukan itu hanya untuk kewajiban semata.

Mas Rangga tidak pernah merayu atau meminta hak nya. Ia lebih suka langsung melakukannya tanpa banyak basa-basi. Dan aku menerima begitu saja. Ya, hubungan kami memang sangat kaku. Tapi aku tidak tau sejak kapan aku merasakan perasaan aneh seperti ini.

Perasaan aneh ketika mendengar Mas Rangga memanggilku dengan sebutan sayang. Perasaan Aneh saat tiba-tiba Mas Rangga menyentuhku penuh dengan perhatian.

Ada apa dengannya? Kenapa dia berubah? Atau… hatiku kah yang sudah berubah?

“Kamu kok diam?”

“Ah.. enggak..” jawabku dengan malu-malu.

“Ven.. apa aku boleh menciummu?”

Aku mendongak seketika ke arah Mas Rangga. Pertanyaannya itu seketika membuat jantungku jumpalitan. Kenapa dia meminta ijin padaku? Dan aku hanya dapat menjawab dengan memejamkan mata.

Kurasakan bibir Mas Rangga menyapu bibirku. Menggodanya, dan aku pun tergoda. Mas Rangga mulai melumat bibirku dengan segala kelembutan yang ia miliki, seakan menuntut sesuatu dariku sedangkan aku hanya mampu membalasnya.

Mas Rangga mulai membalik tubuhku kemudian menindihku tanpa melepaskan pangutannya di bibirku. Astaga, Apa yang terjadi dengannya? Kenapa ia melakukan ini padaku? Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya.

Dan ketika ciuman kami tak juga berakhir, kami mendengar suara  tangisan bayi yang sangat nyaring. Siapa lagi jika bukan Tasya. Tasya bangun.

Mas Rangga menghentikan aksinya seketika lalu bangkit dan duduk di pinggiran ranjang.

“Tasya bangun, Ven.” ucapnya sambil mempalingkan wajahnya ke arah lain.

“Ya, mungkin sudah lapar.” Jawabku yang kini juga ikut bangun dan langsung bergegas menuju ke boks bayi tepat di sebelah ranjang besar kami.

Aku menggendong Tasya, menimangnya dan memberinya Asi, Ya.. mungkin dia lapar karena saat aku menyusuinya, dia berhenti menangis.

Tasya puteri Kurniawan. Bayi mungil yang ku lahirkan Lima bulan  yang lalu. Sangat cantik dan entah kenapa selalu mengingatkanku pada ayahnya, Mas Rangga.

“Emm..Aku mandi dulu.” ucap Mas Rangga sambil berjalan menuju ke kamar mandi.

“Mas..” panggilku yang sontak menghentikan langkahnya. “Tasya sudah bobok lagi, emm… kita nggak melanjutkan yang tadi?”

Astaga.. Bagaimana mungkin aku mengucapkan pertanyaan tersebut? Apa aku sedang menjajakan diri pada suamiku sendiri? ini gila.

“Jangan, Sayang, nanti kesiangan.” Lalu Mas Rangga kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.

Aku menghela napas panjang, dengan wajah yang merah padam karena penolakan yang di berikan oleh Mas Rangga, aku menggerutu dalam hati. ‘Tuhan… tenggelamkan saja aku ke dasar laut..’

-TBC-

Missing Him (NEW Version) – Prolog

Comments 7 Standard

 

Note : Kisah ini Telah aku perbarui. beberapa nama aku rubah, dan ada beberapa konsep yang juga aku rubah. aku berharap kalian membacanya kembali dari awal jika berkenan hahhahahah. happy readingg….

 

Tittle : Missing Him 

Genre : Roman, Married life, Hurt.

Author : Zenny Arieffka

 

Prolog

 

“Nama saya Veny Febryanti.. saya pindahan dari salah satu SMA swasta di kota  surabaya. Semoga dapat menerima saya…” ucapku dengan sedikit bergetar.

Berdiri di hadapan dua puluh dua murid kelas XII IPA dan mengenalkan diri sebagai anak baru benar-benar membuatku gemetaran.

Veny, duduklah di sebelah Edo.” Ucap Bu Imah yang menjadi wali kelasku.

Edo? Astaga… Bagaimana mungkin aku duduk di sebelah murid laki-laki?

Akhirnya aku menuruti apa yang diperintahkan Bu Imah.  Murid laki-laki yang bernama Edo itupun akhirnya berdiri dan tersenyum padaku saat aku sudah sampai di sebelahnya. Dia mengulurkan tangan sambil berkata

“Edo.”

Aku membalas uluran tangan itu dan tersenyum padanya. “Veny.” ucapku.

“Kita akan jadi teman baik.” Dia berkata sambil tersenyum tulus.

“Ya… tentu saja.” Kataku lagi.

Edo kemudian mempersilahkanku duduk. Dan aku pun akhirnya duduk nyaman di sebelahnya..

****

Itulah awal mula aku bertemu dengannya. Bertemu dengan lelaki yang sampai saat ini masih berada di hatiku…

Aku merasakan sebuah tangan menepuk bahuku. Saat aku menoleh kebelakang ternyata sosok tinggi suamiku sudah berada di sana.

“Tasya sudah bobok, Sayang?” Tanya Mas Rangga yang sudah menikahiku sejak dua tahun yang lalu.

Aku kembali menatap sosok mungil yang berada di dalam gendonganku. Puteri kecilku.

“Sudah, Mas.” jawabku.

“Cepat tidurkan, dan ayo kutemani makan, kamu belum makan malam, kan?”

Aku tersenyum. Mas Rangga memang  sangat perhatian padaku. Dan aku sangat menyayanginya. Akhirnya aku bangkit dan menidurkan Tasya di boks bayinya. Lalu mengikuti Mas Rangga menuju ruang makan dan makan malam bersamanya.

Aku menatap punggung lebar mas Rangga sambil berkata dalam hati ‘Maafkan aku mas… Aku belum dapat memberikan semua hatiku untukmu… maaf…’

-TBC-

 

My Beautiful Mistress – Prolog

Comments 8 Standard

 

Tittle : Beautiful Mistress

Cast : James Drew Robbert (Jiro The Batman) & Ellisabeth William

Genre : Romance Adult

Seri : The Batman Area!

 

Prolog

 

Jiro mengerang saat mendapatkan sebuah kenikmatan yang ia dapatkan dari seorang wanita yang kini sedang berada dibawahnya. Wanita itu layaknya seorang boneka yang mau melakukan apapun seperti yang ia inginkan. Kadang, Jiro merasa kesal karena wanita itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya tanpa mengucapkan apapun. Kenapa? Apa karena wanita itu tidak suka dengan hubungan mereka?

Jiro mempercepat lajunya. Menghujam lagi dan lagi lebih cepat dari sebelumnya, lebih intens lagi, hingga tak malam, sampailah ia pada puncak kenikmatan yang entah sudah berapa kali ia dapatkan malam ini dari tubuh wanita tersebut.

Napas Jiro memburu, setelah itu, Jiro menarik diri, dan membiarkan tubuh wanita itu terkulai seperti biasa di atas ranjangnya.

“Apa nggak ada sepatah katapun yang mau kamu ucapkan sebelum aku pergi?” tanyanya sembari memunguti pakaiannya.

Wanita itu hanya menggeleng lemah.

Jiro mendengus sebal. Sungguh. Ia sangat kesal dengan sikap wanita itu yang selalu tampak dingin. Bahkan, kadang Jiro sangat sulit membaca apa yang diinginkan wanita itu sebenarnya.

“Apa aku buat kesalahan lagi?” tanya Jiro sekali lagi.

“Tidak.” Jawab wanita itu sembari menarik selimutnya menutupi tubuh telanjangnya, kemudian wanita itu memilih tidur memunggungi Jiro.

Jiro mendesah panjang. “Kamu pasti melihat berita itu, kan?” tanya Jiro kemudian.

Tak ada jawaban dari wanita itu, hingga Jiro berada pada batas kesabarannya.

“Dengar, Ellie. Aku tidak harus menjelaskan semuanya padamu. Aku memang mencium perempuan malam itu, tapi hanya itu saja. Aku tidak menidurinya, karena ada…”

“Aku yang siap melayanimu di rumah, kan?” wanita yang bernama Ellie itu melanjutkan kalimat Jiro.

“Sebenarnya, apa yang terjadi denganmu?” tanya Jiro dengan kesal.

Ellie membalikkan diri ke arah Jiro. Ia duduk dan mengabaikan ketelanjangannya karena nyatanya saat ini dirinya sudah siap meledakkan apa yang sudah bersarang di dalam kepalanya selama bertahun-tahun.

“Pulangkan aku ke Inggris!” serunya keras.

Seruan Ellie sempat membuat Jiro ternganga tak percaya. Empat tahun lamanya ia menikahi wanita ini, empat tahun lamanya ia memaksa wanita ini untuk tinggal di negaranya. Dan selama itu, wanita ini tak pernah sekalipun melawannya, tak pernah menuntutnya. Dan kini, wanita itu ingin dipulangkan ke negaranya. Yang benar saja. Jiro tak akan melakukan hal sebodoh itu.

Jiro meraih dagu Ellie dan dia berkata “Dengar Ellie, kamu nggak akan kemanapun. Hanya di sini, di rumah ini. kamu nggak akan bisa pergi kemanapun.” Setelah itu, Jiro bergegas pergi meninggalkan Ellie memasuki kamar mandi.

Sedangkan wanita yang bernama Ellie tersebut hanya bisa menangis seperti biasanya. Ya, hanya itu yang bisa ia lakukan selama ini. saat Jiro mencampakannya, saat lelaki itu melecehkannya, hanya menangis yang dapat ia lakukan. Bagaimanapun juga, Jiro adalah suaminya, meski posisinya lebih mirip sebagai seorang simpanan ketimbang dengan seorang istri, nyataya Ellie menikmati perannya saat ini. ia harus bisa lebih sabar, ia harus bisa lebih menahan diri, demi dirinya sendiri, demi cinta terpendamnya pada lelaki itu, dan juga demi sebuah nyawa yang kini sedang menggantungkan hidup di dalam rahimnya. Ellie harus kuat, ia harus lebih sabar lagi untuk menghadapi suaminya. Karena ia yakin, suatu saat, Jiro akan melihat keberadaannya, dan dirinyalah yang akan keluar sebagai pemenangnya. Ellie yakin itu.

-TBC-

Baby, oh baby! – Chapter 7 (Ya, Aku mencintaimu!)

Comment 1 Standard

 

Chapter 7

-Ya, Aku mencintaimu!-

 

Empat tahun yang lalu…..

 

Pagi itu, Rosaline sedikit merajuk dengan Dimitri karena Dimitri baru saja mengatakan padanya jika lelaki itu besok akan ada perjalanan bisnis ke London. Ya, selama tinggal di rumah Dimitri, Rose memang sering kali ditinggal Dimitri pergi ke luar kota, atau bahkan luar negeri, namun itu tak lebih lama dari satu atau dua hari. Tapi besok, Dimitri akan berada di London selama mungkin dua minggu lamanya. Bisa dibayangkan bagaimana bosannya Rosaline berada di rumah besar tersebut.

Hubungannya dengan Katavia belum juga membaik, karena gadis itu seakan tidak memberi kesempatan padanya untuk sekedar menyapa. Padahal, Rosaline sudah berusaha belajar bahasa Rusia dengan ibu Dimitri.

Yang dapat Rosaline lakukan saat Dimitri tak berada di rumah nanti mungkin hanya membaca atau menghabiskan waktu di dalam kamar menonton film-film romantis komedi kesukaannya.

Dimitri yang tahu sikap Rosaline yang merajuk akhirnya mendekat ke arah Rosaline, mengusap lembut pipi istrinya itu sembari bertanya. “Kau marah?”

“Tidak, aku hanya kesal.”

“Apa yang membuatmu kesal?”

“Kau.”

“Aku? Ada apa denganku?”

“Kau pergi lama sekali.”Rosaline merajuk, astaga, sepertinya sudah cukup lama ia tidak merajuk dengan seseorang. Dan tidak salah bukan jika ia merajuk dengan suaminya sendiri?

“Aku kerja, Rose. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku.”

“Bagaimana jika terjadi sesiatu denganku?”

“Misalnya?”

“Melahirkan mungkin?”

Dimitri tertawa lebar. “Kau tidak hamil, mana mungkin kau melahirkan?”

“Itu perumpamaan, mungkin nanti. Apa kau akan tetap lebih mementingkan pekerjaanmu dibandingkan denganku?”

“Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku, tapi aku akan pulang secepat yang kubisa jika aku dalam keadaan seperti itu.”

Rosaline memainkan dasi Dimitri. “Artinya, kau akan tetap mengutamakan pekerjaanmu.”

“Kau juga.” Dimitri tak mau mengalah.

“Ckk, kau ini, aku hanya…”

“Dimitri, buka pintunya.” Suara panik dari luar disertai dengan ketukan pintu kamar mereka yang cukup keras membuat Dimitri dan Rosaline saling pandang.

“Ibu, apa yang terjadi?”tanya Dimitri pada Rosaline. Rosaline hanya mengangkat kedua bahunya, ia juga tak mengerti kenapa suara itu terdengar sedikit panik.

Akhirnya Dimitri membuka pintu kamarnya dan mendapati Ibunya yang sudah menangis. “Apa yang terjadi?” tanya Dimitri yang sedikit panik.

“Katavia. Astaga, dia pingsan di dalam kamarnya.” ucapnya dalam bahasa Rusia.

Dimitri segera berlari menuju ke arah kamar Katavia dengan panik, begitupun dengan Rosaline yang segera menyusul di belakangnya.

Sampai di sana, Rosaline melihat Dimitri sudah memeluk tubuh Katavia yang terkulai lemas di atas lantai. Dengan panik suaminya itu memanggil-manggil nama Katavia sembari menepuk-nepuk pipi gadis itu.

Lalu semuanya terjadi begitu cepat saat Rosaline melihat Dimitri menggendong Katavia melewati dirinya. Rose hanya ternganga, ia tidak tahu apa yang terjadi, ia seperti orang bodoh yang diacuhkan.

***  

Rosaline masuk ke dalam ruang inap Katavia dan melihat Dimitri masih setia menunggu Katavia di sana. Tadi, saat ibu Dimitri pulang untuk mengambil barang-barang Katavia, Rosaline meminta untuk diajak ke rumah sakit. Dan kini, ia cukup menyesal berada di sana.

Rosaline tahu jika Katavia adalah adik kandung Dimitri, tapi melihat Dimitri yang begitu perhatian pada gadis tersebut hingga mengacuhkannya benar-benar membuat Rose kesal. Cemburu, ya, itulah yang dirasakan Rosaline. Padahal tak seharusnya ia memiliki perasaan seperti itu terhadap Dimitri dan Katavia.

“Bagaimana? Apa dia sudah sadar?” pertanyaan Nyonya Armanzandrov membuat Dimitri menolehkan kepalanya ke arah sang Ibu yang berdiri tepat di sebelah Rosaline.

“Belum, tapi Dokter sudah memberikan penanganan.” Dimitri lalu menatap ke arah Rosaline. “Kau, kemari?”

“Ya, aku mau menggantikanmu.” Jawa Rosaline.

“Jangan, kau pulang saja.”

“Tapi kau besok harus ke London.”

“Aku menunda keberangkatanku.” Dimitri kembali menatap ke arah Katavia yang masih terbaring lemah. “Dia membutuhkanku.” lanjutnya dengan serius.

Sakit, itulah yang dirasakan Rosaline. Entah apa yang membuat hatinya sakit, mungkin karena penolakan Dimitri, atau mungkin karena perhatian yang diberikan lelaki itu pada adiknya hingga membuat Rosaline cemburu dan sakit hati. Entahlah…

“Rose, lebih baik kita keluar.” Nyonya Armanzandrov meminta Rosaline keluar bersamanya. Rosaline hanya menggelengkan kepalanya, “Rose, biarkan Dimitri di sana, kita keluar sebentar, ada yang ingin aku sampaikan.” Rosaline menatap wanita paruh baya itu, lalu menurut saja ketika tubuhnya di ajak keluar oleh wanita tersebut.

***  

Di taman rumah sakit.

Rosaline masih diam tak mengerti apa yang sedang terjadi. Hatinya semakin merasa gelisah saat tahu jika perhatian yang diberikan Dimitri begitu besar terhadap Katavia. Padahal, tadi pagi lelaki itu sudah mengatakan jika akan tetap mempeoritaskan pekerjaannya meski ia sedang dalam kondisi melahirkan, dan tadi, suaminya itu dengan mudah mengatakan jika ia menunda keberangkatannya hanya untuk menemani Katavia.

Sedalam itukah rasa sayang Dimitri terhadap adiknya?

Dan astaga, seharusnya ia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Katavia adalah adik kandung Dimitri, tak seharusnya ia merasa cemburu seperti ini.

“Rose, kau baik-baik saja?” tanya Nyonya Armanzandrov yang kini sudah duduk tepat di sebelah Rosaline.

“Apa, mereka memang sedekat itu?” tanya Rosaline yang wajahnya masih menatap jauh ke arah hamparan taman rumah sakit yang cukup luas tersebut.

“Kau, mungkin sedikit risih.”

“Tidak, aku tidak risih, aku hanya merasa cemburu, padahal aku tidak seharusnya memiliki perasaan itu terhadap hubungan mereka berdua.”

“Rose, berjanjilah padaku jika kau akan berpikiran terbuka dengan semua ini.” Ucap ibu Dimitri sembari menggenggam erat telapak tangan Rosaline.

“Ada apa? Ada yang kalian sembunyikan?” tanya Rosaline penasaran.

“Sebenarnya, aku sendiri tidak yakin, bagaimana bisa Dimitri membawamu pulang, bahkan sudah menikahimu. Aku tidak yakin kenapa dia melakukan itu.”

“Karena dia mencintaiku.” Rosaline menjawab cepat. “Bukankah begitu?” tanyanya meyakinkan pendapatnya.

“Rose, aku ingin bercerita, tapi tolong cerna baik-baik apa yang kuceritakan. Ini hanya berdasarkan pemikiranku, berdasarkan sudut pandang yang kulihat, karena aku sendiri tidak mengerti apa yang dirasakan Dimitri.”

“Ibu, Kau jangan membuatku takut.” Ya, Rosaline merasa takut, takut jika apa yang akan diceritakan sang mertua adalah sesuatu yang membuatnya terluka.

Nyonya Armanzandrov menggelengkan kepalanya, lalu ia mulai bercerita. “Dulu, Dimitri pernah menyukai seseorang, namanya Ana. Dan dia adalah adik kandung Dimitri. Bukan puteriku, tapi puteri dari simpanan suamiku.”

Rosaline membungkam mulutnya sendiri. Tak percaya dengan apa yang sudah ia dengar.

“Dimitri hampir menikahinya, tapi suamiku melarangnya dan menggagalkan pernikahan Dimitri. Ana diusir dari rumah, dan entah sekarang di mana. Bertahun-tahun berlalu, Dimitri tak pernah sekalipun membawa wanita untuk berkencan dengannya. Entah memang tidak pernah atau kami tidak tahu. Tapi semuanya menjadi semakin jelas saat aku melihat kedekatan Dimitri dengan Katavia.”

Rosaline berdiri seketika. “Tidak, jangan diteruskan.”

“Rose, kupikir, Dimitri memang memiliki kecenderungan mencintai adiknya sendiri.”

“Tidak! Itu tidak mungkin!”

“Aku tidak memaksamu untuk percaya, karena aku juga berharap apa yang kupikirkan bukan suatu hal yang benar. Selama ini aku hanya menerka-nerka hal itu, dan berpura-pura tidak tahu apapun. Beruntung ayah mereka sangat jarang berada di rumah, jika ayah mereka tahu, Katavia mungkin bernasib sama dengan Ana. Lalu kedatanganmu sedikit menenangkanku. Kupikir aku berpikir terlalu jauh tentang hubungan mereka.” Ibu Dimitri menghela napas panjang. “Aku berharap banyak padamu, Rose. Jika Dimitri memang sakit, aku ingin kau menyembuhkannya. Tapi jika hanya Katavia yang sakit, maka aku akan berusaha menjauhkannya dari Dimitri.”

Tubuh Rosaline terasa lemas. Tidak. Dimitri tidak mungkin sakit. Lelaki itu adalah lelaki normal yang jatuh cinta padanya secara spontan. Lelaki itu tidak sakit, dan ia tidak perlu menyembuhkannya.

***  

Setelah mengetahui secuil rahasia dari suaminya, Rosaline semakin merasa tidak nyaman dengan hubungannya bersama Dimitri. Ia merasa dibodohi, ia merasa sedikit jauh dengan Dimitri, ia merasa jika ia belum sepenuhnya mengenal sosok Dimitri.

Apalagi, saat kini, ketika keadaan Katavia sudah membaik, dan Dimitri memutuskan untuk pergi berbisnis ke London. Ia merasa jika lelaki itu tengah menghindarinya dari pertanyaan-pertanyaan yang sudah menari-nari dalam kepalanya.

Ya, setelah dipikir-pikir, semuanya jadi lebih masuk akal. Katavia tidak mungkin semarah itu padanya saat setelah tahu bahwa ia sudah dinikahi Dimitri. Katavia tidak akan begitu membencinya jika mereka tidak memiliki hubungan apapun kecuali sebatas adik dan kakak. Seharusnya Rosaline sadar, seharusnya ia tahu bahwa ada yang tidak beres apalagi setelah ia tahu jika penyebab Katavia pingsan di kamarnya beberapa hari yang lalu adalah karena gadis itu menelan banyak obat penenang hingga overdosis.

Kini, Rosaline merasa kurang nyaman apalagi ketika hanya berdua dengan Katavia di dalam ruang inap gadis tersebut. Karena tadi ia memang diminta ibu Dimitri untuk menemani Katavia sementara wanita itu mengurus segala administrasi rumah sakit karena sore nanti Katavia sudah diperbolehkan pulang.

“Kau tahu, dia hanya mencintaiku.”Rosaline mengangkat wajahnya ketika tiba-tiba Katavia berbicara dengan menggunakan bahasa inggris. Ya, Rose tahu jika gadis itu sedang berbicara dengannya.

“Kau gila? Kau adalah adik kandungnya.” Emosi Rosaline tersulut begitu saja setelah perkataan terang-terangan yang terucap dari bibir Katavia.

“Ya, tapi kami saling mencintai.”

Rosaline berdiri seketika. “Tidak! Dimitri hanya mencintaiku, itu sebabnya dia menikahiku meski kami belum lama saling kenal.”

Katavia tertawa lebar. “Sadarlah, Rose. Kau hanya dijadikan alat untuk menutupi hubungan kami, kau hanya dijadikan alat untuk melahirkan penerus Armanzandrov. Itu saja, tidak lebih.”

Rosaline menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Dimitri sekejam itu. Lelaki itu mencintainya, ya, ia merasakan jika lelaki itu benar-benar mencintainya.

“Kau tahu bukan, yang kami miliki hanya cinta. Meski sebenarnya kami saling bergairah satu sama lain, tapi kami tahu jika kami tidak dapat melakukannya apa lagi membuat keturunan untuk keluarga kami. Maka dari itu, dia mencari seseorang yang dapat dibodohi dengan mudah, dan orang itu adalah Kau.”

“Tidak mungkin.”

“Ya, lihat saja, setelah kau hamil dan melahirkan bayimu nanti, kau akan ditendang dari rumah kami. Anak itu akan menjadi anakku bersama Dimitri, dan kau, kau akan dicampakan dan dilupakan.”

“Kau gila!” karena sudah tidak tahan lagi, Rosaline memilih segera pergi meninggalkan Katavia. Di luar ruang inap Katavia, Rosaline menumpahkan air matanya. Seharusnya ia tidak perlu mendengarkan apa yang dikatakan Katavia, karena mungkin saja itu adalah rencana gadis itu untuk membuatnya membenci Dimitri. Tapi mau memungkiri seperti apapun juga, perkataan Katavia tadi sudah terlanjur menjadi belati yang menyayat hatinya. Jika dipikir, semuanya menjadi lebih masuk akal sekarang.

Ya, Dimitri menginginkan seorang keturunan dan lelaki itu tidak dapat menciptakan seorang keturunan dari wanita yang dicintainya yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri, karena itulah lelaki itu memanfaatkan kehadirannya.

Rosaline segera merogoh ponselnya lalu menghubungi Dimitri saat itu juga. Setelah beberapa kali teleponnya tidak di angkat, akhirnya tak lama Dimitri mengangkat telepon darinya.

“Honey? Apa yang terjadi?”

“Kau, apa kau mencintaiku?” tanya Rosaline secara langsung dengan suara yang sudah terisak.

“Rose, apa yang terjadi?”

“Tolong, jawab saja. Apa kau mencintaiku?”

“Rose-”

“Demi Tuhan! Jawab saja, apa kau mencintaiku?”

“Ya, aku mencintaimu! apa yang terjadi?” Rosaline tidak menjawab, ia segera menutup teleponnya.

Dimitri berbohong. Ya, meski lelaki itu tadi menjawab dengan tegas, tapi hati Rosaline sudah tak percaya lagi dengan apa yang dikatakan lelaki itu. Dimitri tidak mencintainya, lelaki itu hanya memanfaatkannya. Benar-benar bodoh!

-TBC-

Yang penasaran ada hubungan apa antara Ana dan Dimitri, sabar yaa, nanti, akan ada ceritanya kok. setelah ini Chapter selanjutnya sudah bukan Flash back lagi yaa.. hehehhehe

Baby, oh Baby! – Chapter 4 (Mengintimidasi)

Comments 2 Standard

Baby, oh Baby!

 

Chapter 4

-Mengintimidasi-

 

Keesokan harinya, Rosaline merasa tubuhnya letih, karena ia baru tidur ketika pagi menjelang. Saat ini, Rose memilih menenggelamkan diri di meja kasir Pet Shop nya. Perkataan Ana semalaman terputar lagi dan lagi dalam kepalanya.

Apa iya dirinya harus memikirkan kehadiran Dimitri? Memanfaatkan kehadiran lelaki tersebut mungkin? Oh sial! Bahkan hingga kini saja gairahnya masih ada –meski tak separah tadi malam, membuat Rose membayangkan hal-hal panas ketika berada di atas ranjang.

‘Ping’

Pintu Pet Shop nya di buka dari luar, tanda jika ada pelanggan masuk. Rosaline bangkit seketika bersiap untuk menyambut pelanggannya. Tapi yang datang ternyata bukan seorang pelanggan, melainkan lelaki menyebalkan yang semalaman membuatnya tak dapat tidur.

Ya, siapa lagi jika bukan Dimitri.

Rosaline mendengus sebal. Astaga, untuk apa lagi lelaki itu datang kemari? Tidak cukupkah ia terganggu karena gairah sialan yang menimpanya sepanjang malam?

“Untuk apa lagi kau kemari?” tanya Rose dengan nada ketus.

“Itu bukan sapaan yang ramah untuk pelanggan.”

“Kau bukan pelanggan tokoku.”

“Mulai hari ini, aku akan menjadi pelanggan tokomu.”

“Oh ya?” Rosaline bersedekap. “Jadi, apa yang kau cari Tuan Rusia?”

Dimitri tersenyum dengan ucapan Rosaline yang baginya sangat lucu. “Hanya sebuah pengikat untuk anjing kecilku.”

“Kupikir kau tidak memiliki anjing.”

“Rupanya kau sudah cukup mengenalku.”

“Belum cukup jauh, sampai aku tidak sadar jika kau sedang mengelabuiku.”

“Ckk, ayolah Rose, lupakan masa lalu kita.” Dimitri lalu berjalan menuju ke arah jajaran aksesoris untuk hewan-hewan peliharaan. Jemarinya mengamati beberapa kalung anak anjing yang tergantung rapih di sana. “Apa yang terjadi tadi malam?” tiba-tiba Dimitri bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari kalung-kalung tersebut. Tentu ia bertanya karena ingin mengubah topik pembicaraan mereka yang selalu berputar pada masa lalu.

“Apa? Memangnya apa yang terjadi?”

“Lampu flatmu menyala hingga pagi, ada apa? Kau susah tidur?”

Bagaimana bisa Dimitri tahu? “Kau, bagaimana bisa tahu?”

“Aku mengamatimu.”

“Astaga, kau bear-benar menyebalkan.” Emosi Rose meledak seketika. Sungguh, ia tidak suka saat tahu jik Dimitri mengetahui setiap gerak-geriknya.

“Aku hanya khawatir terjadi apa-apa denganmu, jika kau mau tinggal bersamaku, mungkin aku bisa tenang.”

“Dalam mimpimu!” Rose berseru kesal. “Aku tidak akan pernah mau tinggal bersamamu.”

“Kau yakin, Rose?”

“Lebih baik kau pergi. Sungguh, aku bisa stress saat kau terlalu lama berada di sekitarku.”

Dimitri hanya tersenyum menanggapi permintaan Rosline, lalu ia meraih sebuah kalung anjing kecil, dan memberikannya pada Rosaline. “Berapa?”

“Ambil saja jika itu bisa membawamu untuk segera pergi dari hadapanku.”

“Rupanya, kau masih sangat membenciku.” Mata Dimitri menatap tajam ke arah Rosaline, lalu matanya turun, menatap perut Rose yang sudah sedikit tampak karena blouse yang dikenakan Rose sedikit ketat. “Jika ada apa-apa, hubungi aku.”

“Tidak perlu.” Rosaline menjawab dengan ketus.

“Kalau begitu, aku akan selalu berada di sekitarmu.”

“Ayolah, kau membuatku seakan tercekik, aku tidak suka diawasi.”

“Kalau begitu, hubungi aku jika ada sesuatu.” Dimitri tampak begitu serius. Dan itu benar-benar membuat Rosaline terbius kembali oleh pesona lelaki itu. Dimitri mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. Sebuah kartu nama,lalu memberikannya pada Rosaline. “Kontak baruku.”

Rosaline membacanya sekilas, lalu kembali menatap Dimitri “Kau, kau tinggal di sini?” tanyanya tak percaya.

Ya, selama ini Rose berpikir jika Dimitri hanya menginap di sebuah hotel untuk mengganggunya, ia tidak berpikir jika Dimitri akan pindah ke New York.

“Ya, karenamu.”

Rosaline mendengus sebal. “Pergilah.” Sungguh, ia tidak suka dengan ucapan-ucapan Dimitri yang mampu mengintimidasinya.

“Nanti malam, aku akan menjemputmu untuk makan malam bersama.”

“Tidak!”

“Aku sedang tidak meminta izin.” Dimitri masih tersenyum ketika membalikan diri dan bersiap pergi meninggalkan Rosaline.

“Dimitri, kau-” Rose menghentikan kalimatnya saat mendapati seorang pelanggan masuk ke dalam pet shopnya. “Oh, hai.” Itu Alan Parker, pelanggan setia tokonya. Dan ekspresi Rose segera berubah ketika kedatangan Alan.

“Hai.” Alan menyapanya dengan lembut.

Dimitri yang baru akan membuka pintu toko Rosaline menghentikan pergerkannya, ia menatap seketika ke arah Rosline dan lelaki yang baru saja masuk tersebut. Tampak keduanya berinteraksi dengan akrab.

“Kau baru buka?” tanya Alan.

“Ya, tadi malam aku susah tidur.”

“Karena bayinya?”

Rosaline tertawa. “Ya, sepertinya begitu.” Rose melirik sekilah ke arah Dimitri yang ternyata masih berada di ambang pintu tokonya, kenapa lelaki itu tak juga pergi?

Alan akhirnya menyadari jika tatapan mata Rose jatuh pada seseorang di belakangnya. Alan menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Dimitri dan juga Rose yang saling melemparkan pandangan sekan hanya mereka yang tahu apa arti tatapan mata tersebut.

Alan lalu kembali menatap Rose, dan bertanya “Siapa?”

Rose tersenyum menatap Alan dan menjawab “Bukan siapa-siapa, hanya pelanggan biasa.”

Mendengar jawab dari Rosaline membuat Dimitri sedikit menyunggingkan senyumannya, tapi matanya menatap tajam ke arah wanita itu, setelah itu, Dimitri memutuskan untuk keluar. Ya, tak ada gunanya lagi ia di sana, karena jika ia masih berada di sana, ia tidak yakin dapat mengontrol emosinya.

Setelah keluar beberapa langkah dari pintu pet shop Rosaline, Dimitri mengeluarkan ponselnya, ia tampak menghubungi seseorang.

“Temui aku saat makan siang.” ucapnya dengan serius.

“Baiklah. Di tempat biasa.” Jawab suara lembut di seberang. Setelah itu, Dimitri menutup teleponnya tersebut. sebelum ia masuk ke dalam limusinnya yang terparkir tepat di depan pet shop Rosaline.

***

“Jadi, dia ayah dari bayimu?” tanya Alan sekali lagi. Saat ini, Alan dan Rosaline sedang menghabiskan waktu makan siang mereka di sebuah cofee shop tepat di seberang Pet Shop milik Rosaline.

Alan memang merupakan pelanggan setia Rosaline, dari Alan lah, Rose mendapatkan Snowky. Ya, Snowky merupakan salah satu anak dari anjing Alan. Dulu, Rose pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengan Alan, tapi karena lelaki itu terlalu baik, Rose tidak bisa memanfaatkan lelaki itu untuk menjadi pelariannya dalam melupakan sosok Dimitri.

Rose juga sempat berpikir jika Alan adalah sosok pendonor yang cocok untuk memberinya bayi, tapi ia berpikir lebih jauh lagi, saat ia hamil anak Alan, mereka pasti tak akan dapat berteman seperti ini lagi.

Rose mendesah panjang. “Ya, dialah orangnya.”

Alan tersenyum. “Sepertinya kau beruntung, Rose. Dia tampak sempurna.”

“Ya, mungkin. Jika kami belum pernah menikah sebelumnya.”

“Apa?” Mata Alan membulat seketika.

“Dia mantan suamiku.” Rosaline mendesah panjang.

“Woww, sepertinya kalian memang berjodoh.”

“Alan, aku sedang tidak ingin bercanda.” Rose memakan saladnya. “Hubungan kami sangat buruk. Aku bahkan tidak ingin bertemu dengannya lagi. Dan dengan adanya bayi ini, semuanya jadi semakin rumit.”

Well, aku hanya ingin menghiburmu, kau tampak sedikit tertekan.”

“Ya, setelah aku tahu bahwa dia orangnya, aku merasa kurang nyaman.”

“Kenapa?”

Rosaline menggelengkan kepalanya. Ya, ia tidak mungkin mengatakannya pada Alan, bahkan dengan Ana yang notabene lebih dekat dengannya saja, Rose tak pernah menceritakannya. Karena menceritakan semua masa lalunya seperti sedang mengorek luka lamanya.

“Kau tahu, dia hanya mencintaiku.” Itu bukan sebuah pertanyaan.

“Kau gila? Kau adalah adik kandungnya.”

“Ya, tapi kami saling mencintai.”

“Tidak! Dimitri hanya mencintaiku, itu sebabnya dia menikahiku meski kami belum lama saling kenal.”

Wanita di hadapannya itu tertawa lebar. “Sadarlah, Rose. Kau hanya dijadikan alat untuk menutupi hubungan kami, kau hanya dijadikan alat untuk melahirkan penerus Armanzandrov. Itu saja, tidak lebih.” Rosaline hanya ternganga mendengar ucapan wanita itu, ia mencoba memungkiri setiap kata yang terucap dari bibir wanita itu, tapi pikirannya berkata jika semuanya menjadi sangat masuk akal. Ya, tak ada yang kebetulan, semua memang sudah direncanakan Dimitri. Ia sudah ditipu oleh lelaki itu….

***

Dimitri tersenyum setelah melihat seorang wanita mendatangi meja makannya. Ia segera berdiri dan menyambut kedatangan wanita itu yang segera mengecup sisi kanan dan kiri pipinya dengan lembut.

“Kau tampak sangat tegang.” Wanita itu berucap sembari menyunggingkan senyumannya, jemarinya bahkan mengusap lembut pipi Dimitri, berharap jika ketegangan Dimitri lenyap karena sentuhannya.

“Ya, kau tentu tahu karena siapa.”

“Rosaline? Ayolah, sekarang apa lagi?”

Dimitri kembali duduk di kursinya, lalu ia mempersilahkan wanita di hadapannya itu duduk. “Duduklah, kita akan makan siang sebelum membahas semuanya, Ana.” ucapan Dimitri tenang, namun matanya menatap wanita itu dengan penuh arti. Sedangkan wanita yang bernama Ana itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan Dimitri.

Ahhh, ternyata lelaki itu masih sama, senang sekali mengintimidasi lawannya dengan tatapan mata tajamnya…

-TBC-

Baby, oh Baby! – Chapter 3 (Aku ingin bercinta)

Comments 3 Standard

Baby, oh Baby!

 

Chapter 3

-Aku ingin bercinta-

 

Empat tahun yang lalu…..

Satu minggu berlalu setelah menghabiskan waktu bersama, membuat Rosaline mengenal Dimitri lebih dekat dari sebelumnya. Lelaki itu sangat perhatian, bahkan bisa dibilang romantis, padahal hubungan mereka tak lebih dari sebatas kenalan.

Tapi tadi, saat keduanya terpana satu sama lain ketika melihat keindahan danau Onega, membuat Rosaline tidak menyangka jika Dimitri akan menautkan bibir mereka disana. Membakar tubuh mereka dengan gairah yang menyala-nyala. Bagaiamana mungkin ia merasakan perasaan seperti ini pada orang seasing Dimitri?

Dimitri lalu mengajaknya kembali dengan cepat, bahkan lelaki itu memilih menyewa hotel yang letaknya tak jauh dari danau. Dan kini, mereka tengah sibuk mencurahkan hasrat masing-masing.

“Aku menginginkanmu, Rose….”

“Aku mencintaimu…”

“Kau begitu cantik…”

“Biarkan aku memilikimu, maka akan kuberikan segalanya untukmu….”

Entah apa saja kalimat-kalimat yang keluar dari bibir Dimitri. Racauan-racauan tak jelas dalam bahasa Rusia, hingga yang dapat Rosaline lakukan hanya mengerang membalas semua racauan dari lelaki tersebut.

Rosaline telentang dengan pasrah di atas ranjang, sedangkan tubuhnya sudah polos setelah Dimitri melucutinya. Kini, lelaki itu tengah sibuh membuka pakaiannnya sendiri, membuat Rose takjub dengan keindahan yang terpampang sempurna di hadapannya.

Tubuh Dimitri tampak kekar, berotot, dengan kulit putih khas orang Rusia. Lelaki itu tampak menggairahkan ketika tubuhnya sudah polos sama seperti dirinya. Rosaline menggeliat tak menentu di atas ranjang. Padahal Dimitri belum menyentuhnya. Dan ketika Dimitri membebaskan bukti gairahnya, yang bisa Rose lakukan hanya menahan napasnya, saat tahu betapa menakjubkannya bukti gairah lelaki itu.

Rosaline terduduk seketika, berharap jika Dimitri mengizinkannya untuk menyentuh bukti girah lelaki itu. Tapi apa yang Rose inginkan nyatanya tidak terpenuhi, saat Dimitri memilih kembali mendorong tubuh Rosaline hingga wanita itu kembali telentang di bawah tindihannya.

“Apa yang kau inginkan?” tanya Dimitri dengan suara yang sudah serak.

“Menyentuhmu, aku ingin menyentuh milikmu.”

“Tidak akan kubiarkan.”

“Kenapa?” Rose bertanya dengan penasaran.

“Karena aku yang akan menyentuhmu.” Dan setelah itu, Dimitri kembali melumat bibir Rosaline. Jemarinya sudah bergerilya, mencari pusat diri Rosaline, memainkannya, menggodanya, hingga yang dapat Rose lakukan hanya mengerang pasrah dalam cumbuan Dimitri.

Bibir Dimitri turun kebawah, meninggalkan Rose dengan desahan-desahan panjangnya, lalu bibirnya mendarat pada puncak payudara wanita itu, melumatnya, menghisapnya, sedangkan jemarinya sudah membelai lembut pusat diri Rosaline.

Erangan yang keluar dari bibir Rose tak mampu membuat Dimitri bertahan, erangan itu bagaikan nyanyian erotis yang mampu meningkatkan gairahnya secara pelan tapi pasti. Oh, Rosaline benar-benar membuatnya frustasi dengan gairah yang menghantamnya lagi dan lagi.

Hingga ketika Dimitri tak mampu lagi menahannya, ia menghentikan aksinya lalu berkata lembut pada Rose. “Aku akan memulainya.”

Rosaline tidak menjawab,ia hanya mengangguk pasrah, sibuk dengan kenikmatan yang menyerangnya hingga ia tidak peduli ketika Dimitri memasang pengaman pada bukti gairahnya sebelum menyatukan diri seketika dengan dirinya.

“Rose, kau, luar biasa.” ucapnya dalam bahasa Rusia.

Rosaline tidak menjawab, karena ia masih sibuk mengontrol diri agar tidak berteriak ketika Dimitri terasa penuh mengisinya. Dimitri mulai bergerak, bibirnya kembali meraih bibir Rosaline, melumatnya bahkan sesekali menggigitnya. Keduanya begitu menikmati percintaan panas pertama mereka, hingga mereka tidak sadar, jika sejak saat itu, tubuh mereka seakan candu satu dengan yang lainnya.

“Karena kau, aku melakukannya bukan hanya karena bayinya, tapi karena kau. Karena aku menginginkanmu.”

Dimitri menarik Rosaline mendekat ke arahnya, mengulurkan jemarinya untuk mengusap lembut pipi Rosaline. Rose yang masih terpana dengan kelembutan Dimitri tidak menyadari jika kini wajahnya sudah semakin dekat dengan wajah Dimitri.

“Karena kau, karena aku menginginkanmu.” Dimitri mengulangi kalimtnya lagi dengan suara nyaris tak terdengar, ia semakin mendekatkan wajahnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.

Rosaline semakin terpana ketika melihat bibir Dimitri, ia bahkan sudah menjinjitkan kakinya berharp bisa meraih bibir lelaki itu dan melumatya. Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya? Kenapa berdekatan seperti ini saja membuat Rosaline merasa terbakar?

“Kau, ingin menciumku, Rose?” pertanyaan Dimitri sontak menyadarkan Rosaline dari fantasinya.

Ya, sial! Ia bahkan sempat berfantasi bahwa malam ini dirinya akan mendesah dibawah tindihan Dimitri.

Secapat kilat Rosaline melepaskan diri dari Dimitri, ia bahkan mendorong dada Dimitri agar menjauh dari dirinya. Rosaline menatap Dimitri dengan tatapan marah, marah karena lelaki itu sudah mampu membuatnya tergoda kembali. Sedangkan Dimitri, ia malah tersenyum melihat tingkah Rosaline.

Rosaline membalikkan diri, berjalan cepat meninggalkan Dimitri. Lalu langkahnya terhenti saat ia mendengar teriakan Dimitri.

“Kau masih mencintaiku, aku tahu, Rose!” Lelaki itu berteriak tapi dengan nada santai, bahkan lelaki itu menyisipkan senyuman mengejeknya hingga membuat Rosaline semakin kesal.

Dengan kesal Rosaline membalikkan tubuhnya dan berseru keras pada Dimitri “Pergilah ke neraka!” lalu ia kembali berjalan cepat meninggalkan Dimitri yang tak berhenti menyunggingkan senyuman kemenangannya.

Rose masih menjadi miliknya, wanita itu tak akan lepas dari genggaman tanganya….

***

Hingga menjelang pagi, mata Rosaline tak dapat tertutup. Ia gelisah tak menentu di atas ranjangnya. Entahlah, ia bahkan tidak mengerti kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini. Bayangan tubuh telanjang Dimitri menari-nari dalam kepalanya. Membangkitkan fantasinya pada malam ini.

Astaga, apa yang sedang terjadi dengannya?

Rosaline bangkit, menyalakan lampu, lalu memilih keluar dari dalam kamarnya menuju ke arah dapur, sepertinya ia butuh minuman dingin untuk meredakan hawa panas di dalam tubuhnya.

Setelah menuangkan segelas air dingin, Rose menenggaknya hingga tandas, tapi ia merasa panas di dalam dirinya belum juga padam. Apa yang terjadi denganmu, Rose? Tanyanya pada dirinya sendiri.

Akhirnya, Rosaline meraih ponselnya, lalu menghubungi Ana. Ya, hanya Ana lah, teman yang sudah seperti saudaranya sendiri, dan wanita itu pastinya mau ia repotkan dengan curhatannya di tengah malam seperti saat ini.

Ana sepertinya sedang tidur karena temannya itu tak juga mengangkat telepon darinya, tapi Rose tidak patah semangat, ia menelepon lagi dan lagi karena ia memang butuh teman bicara agar pikirannya tidak memikirkan hal-hal panas yang membuat akal sehatnya hilang.

Setelah mencoba berkali-kali, Rosaline bersyukur karena Ana akhirnya mengangkat telepon darinya. Meskipun wanita itu terdengar kesal saat mengangkat telepon darinya.

“Rose,apa yang terjadi?” ya, itu adalah percampuran antara kesal dan juga khawatir.

“Uuum, apa aku mengganggumu? aku hanya butuh teman bicara.”

“Rose, ini sudah menjelang pagi, dan kau menggangguku hanya karena kau butuh teman bicara? Ini tidak lucu. Aku akan menutup teleponnya.”

“Ana, tolong. Jika kau membiarkan aku sendiri malam ini, maka aku bisa gila.”

“Apa yang terjadi? Astaga, aku sedang memiliki malam yang panas dengan Sean, dan kau mengganggunya.” Ana benar-benar terdengar kesal, dan Rose benar-benar menyesal karena sudah mengganggu temannya itu.

“Maaf, tapi kupikir, ini juga kesalahanmu.”

“Apa yang membuatku salah?”

Rosaline memejamkanmatanya frustasi. “Karena kau sudah membiarkan pria Rusia itu mengusik hidupku kembali.”

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Ada apa dengan Dimitri?” Ya, ketika Rosaline mengatakan ‘Pria Rusia’ maka Ana tahu jika yang dimaksud Rosaline adalah Dimitri.

Rose hanya diam, ia tidak tahu harus bagaimana menceritakan keadaannya pada Ana.

“Kenapa lagi, Rose?” tanya Ana lagi.

“Ya Tuhan! Aku ingin bercinta dengannya.” Rose tidak mengerti setan apa yang saat ini sedang bersemayam di dalam dirinya hingga ia mengucapkan kalimat menggelikan itu.

Setelah beberapa detik tak bereaksi, terdengar tawa lebar dari seberang telepon. “Astaga Rose, kau ingin seks?” tanya Ana dengan nada menggoda, dan sungguh, itu benar-benar membuat Rosaline kesal.

“Sepertinya aku memang salah sudah menghubungimu.” ucap Rosaline sembari bersiap menutup teleponnya

“Rose, tunggu.” Teriakan Ana membuat Rosaline menghentikan aksinya untuk menutup sambungan telepon. “Aku tidak bisa membantu banyak, tapi sedikit informasi, bahwa kebanyakan ibu hamil memang selalu menginginkan seks.”

“Maksudmu?”

“Hormon kalian sedang kacau, jadi keinginan untuk bercintapun semakin meningkat.”

“Jadi, aku akan sering mengalami hal ini?”

“Ya, bahkan mungkin lebih parah lagi.”

“Kau bercanda?” Rosaline bergidik ngeri. Sungguh, ia tidak bisa membiarkan dirinya gila karena ingin bercinta. Apalagi saat ia sedang tidak memiliki teman untuk diajak bercinta.

“Rose, sebaiknya kau memikirkan kahadiran Dimitri. Kupikir… dia cukup menarik untuk dijadikan teman bercinta.” ucap Ana diiringi dengan tawa khasnya.

Ya, sempurna! Ana memang benar-benar sudah gila karena berani mengusulkan ide gila itu padanya.

Dimitri memang cukup menarik, Tidak! Bahkan sangat menarik untuk diajak bercinta. Rosaline tahu bagaimana mahirnya lelaki itu ketika di atas ranjang. Tapi menjadikan lelaki itu hanya sebagai teman bercinta untuk memuaskan dahaganya tanpa melibatkan perasaannya benar-benar mustahil. Ia tidak yakin dengan perasaannya sendiri, bahkan hingga kini, Rose tidak yakin, apa ia sudah mampu melupakan perasaannya dulu pada lelaki itu, atau belum.

Nyatanya, hingga kini, Dimitri masih sangat mempengaruhinya, mengintimidasinya hingga membuatnya seakan kehilagan akal sehatnya.

Tuhan! Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana mungkin ia mendapatkan nasib sesial ini?

-TBC-