My Beautiful Mistress – Bab 2

Comment 1 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 2

 

“Aku benar-benar tidak menyangka jika kamu akan seberani itu dengan Jiro.” Ucap Mei ketika keduanya saat ini sudah berada di dalam sebuah supermarket untuk berbelanja kebutuhan mingguan Ellie.

“Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan sikapku?”

Mei tersenyum lembut. “Enggak, tapi, Jiro pasti sangat terkejut saat mendapati istrinya sekarang menjadi sedikit membangkang.”

Ellie berpikir sebentar. “Membangkang? Seperti tidak menurut?” tanya Ellie. Ia memang kadang masih suka lupa dengan bahasa indonesia.

“Ya. Seperti itu.”

Ellie menghela napas panjang. “Dulu aku tidak memiliki apapun untuk kuperjuangkan. Sekarang aku memiliki dia.” ucapnya sembari mengusap perutnya yang sudah mulai memiliki gundukan mungil.

“Jadi, apa rencanamu?”

“Aku akan membuat dia mengerti, bahwa dia tidak bisa seenaknya seperti dulu. James memang Artis, dia memang Bassis ternama di negeri ini. tapi di mataku, dia hanya lelaki biasa, dan dia adalah suamiku. Jadi aku akan berusaha merebut perhatiannya.”

“Bagus sekali, Ellie. Apa kamu tahu, dia benar-benar cengo saat kamu melawannya tadi pagi. Astaga, mukanya lucu sekali.” Mei tertawa lebar saat mengingat bagaimana wajah terkejut Jiro saat Ellie menyebut Jiro adalah salah satu orang yang paling buruk yang pernah wanita itu kenal.

Ellie ikut tertawa lebar, tapi kemudian ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari bertanya “Ngomong-ngomong, Cengo itu apa?”

Seketika itu juga, tawa Mei lenyap. Ia memutar bola matanya dengan kesal ke arah Ellie. Ya, bukan salah wanita itu, tapi terkadang, Mei merasa jengkel jika harus menjelaskan setiap kata yang tidak dimengerti oleh wanita itu.

***

Jiro bermain-main dengan gitar milik Ken. Selain memainkan Bass, Jiro memang pandai bermain gitar. Ketika dirinya sedang santai seperti ini, Jiro memilih memainkan gitar dengan sesekali bersenandung sendiri.

Hari ini, mereka tak ada latihan, Jason sedang sibuk dengan masalahnya sendiri, dan itu benar-benar membuat Jiro kesal. Sebentar lagi mereka akan tampil di sebuah konser yang akan di siarkan secara langsung di beberapa TV nasional. Jiro hanya tak ingin mereka melakukan sebuah kesalahan pada acara Live tersebut.

Meski begitu, Jiro menahan diri agar tidak terlalu memaksa Jason. Bagaimanapun juga, ia juga pernah merasakan apa yang di rasakan Jason. Ketika Jiro tak berada pada mood yang baik, ia juga tak dapat memainkan alat musik apapun. Dan sepertinya, hal itu pulalah yang terjadi dengan Jason.

“Woi, ngelamun aja lo.” Troy datang. Sendiri. sedangkan Ken tak ikut dengan temannya itu.

“Elo sendirian?”

“Ya. Kenapa? Kita kan lagi nggak ada jadwal latihan.”

Jiro hanya mengangguk. “Ken mana?” tanya Jiro kemudian.

“Nggak tau, mungkin lagi jalan sama ceweknya. Gue telpon dia dari pagi nggak diangkat.”

Troy menuju ke arah lemari pendingin yang berada di ujung studio musik tempat mereka latihan. Ia mengambil sekaleng minuman dingin dan kembali menuju ke arah Jiro.

“Elo sendiri ngapain di sini sendirian? Ngelamunin apa lo? Vanesha?” tanya Troy yang kini sudah duduk tepat di sebelah Jiro.

“Elo apaan sih.”

Well, gue sudah baca gosip tentang elo sejak kemaren. Gue pengen tanya tapi, gue tau kalau elo nggak pernah mau bahas masalah pribadi elo dengan kita-kita.”

“Kalau gitu, sekarang ngapain elo bahas masalah ini sama gue. Gue nggak akan mau cerita.”

“Ayolah. Gue bukan wartawan. Dan astaga, asal elo tahu, Vanesha pernah gue tidurin.”

Jiro menatap Troy seketika. “Berengsek lo.” Umpatnya.

Sebenarnya, Troy merasa tak memiliki hubungan apapun dengan Vanesha. Vanesha adalah seorang model. Mereka memang pernah beberapakali bertemu karena pekerjaan, kemudian keluar bersama beberapa kali. Jiro pernah mencium Vanesha saat mabuk, dan sialnya, The Danger (sekumpulan wanita gila yang mengaku fans fanatik mereka) mengetahui hal itu dan memotretnya. Memberi peringatan pada Jiro. Tapi Jiro tentu tak mengindahkannya. Kemudian, foto itu tersebar. Itulah awal mula gosip tentang dirinya dan Vanesha merebak.

Gosip tersebut semakin panas ketika sekitar tiga atau empat hari yang lalu, Jiro kembali kepergok keluar dari gedung apartmen Vanesha pagi-pagi buta. Jiro menghela napas panjang, ia benar-benar menyesali perbuatannya.

Apa karena itu Ellie bersikap berbeda kepadanya? Apa Ellie mengetahui tentang berita itu? Sejauh yang Jiro tahu, Ellie lebih suka menonton acara-acara luar atau memutar DVD. Tapi, mengingat sikap wanita itu yang tak biasa membuat Jiro khawatir. Jangan-jangan, Ellie benar-benar telah mengetahui gosip tentang skandalnya dengan Vanesha.

Mengingat itu, Jiro berdiri seketika. Ia ingin memastikan tentang hal itu. Apa benar, Ellie sudah mengetahui tentang semuanya?

Tanpa banyak bicara, Jiro melesat keluar. Hal itu benar-benar membuat Troy heran. Sambil menggelengkan kepalanya, dia bertanya pada dirinya sendiri. “Gue salah ya, karena sudah jujur tentang cinta semalam gue sama Vanesha?”

***

Waktu sudah menunjukkan pukul Empat sore. Tapi Jakarta hari ini benar-benar panas. Yang membuat kesal Ellie adalah, selain tadi sempat terjebak macet, kini mobil Mei tiba-tiba mogok di jalan, hal itu benar-benar membuat mood Ellie memburuk.

“Aku sudah menelepon Marvin. Dia akan jemput kamu.”

Ellie mengerutkan keningnya. “Marvin? Kenapa harus dia?” Ellie merasa tidak nyaman.

Marvin adalah adik sepupu Mei. Mereka memang pernah beberapa kali bertemu. Yang membuat Ellie tak nyaman adalah karena Marvin pernah secara terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Ellie. Ya, lelaki yang sebaya dengannya itu memiliki perasaan lebih padanya.

“Karena hanya dia orang yang kukenal dan bisa menjemputmu kapanpun.”

“Nggak perlu.” Ellie menjawab cepat. “Aku akan menunggu di sini denganmu.”

“Ayolah Ellie. Aku tahu kamu kepanasan. Dan menunggu mobil derek akan lama. Lagian, Marvin nggak jauh dari sini. Jadi sebentar lagi dia sampai.”

Ellie menghela napas panjang. Apapun itu, ia akan menerimanya. Ya, bukankah memang Mei yang selalu menjadi bossnya?

Tak lama, orang yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Lelaki tampan itu keluar dari dalam mobilnya dengan senyuman khasnya. Siapapun akan terpada dengan lelaki itu, tapi tidak dengan Ellie.

Bagi Ellie, lelaki yang paling tampan adalah suaminya, James Drew Robberth. Tak akan ada yang mampu membuatnya terpesona selain lelaki itu.

“Hai, aku senang dihubungi.” Marvin berbasa-basi.

“Nggak perlu berbasa-basi. Sekarang, angkut saja belanjaan kami, dan antar Ellie pulang.”

Dengan tawa lebar, Marvin menuju ke arah bagasi. “Oke, kebetulan aku sedang ingin minum kopi. Kuharap aku mendapatkan secangkir kopi di sana nanti.”

Ellie mendengus sebal. Ia tahu, bahwa tak akan mudah mengusir Marvin nantinya. Tapi, ya sudahlah. Toh ia sudah menolak lelaki itu secara terang-terangan. Marvin pasti tak akan berbuat macam-macam apalagi mengingat ada dua pengawal yang selalu berjaga di rumahnya.

***

“Oke, ini yang terakhir.” Ucap Marvin setelah menaruh bingkisan terakhir di meja dapur Ellie. Ellie sendiri sedang sibuk membuatkan kopi untuk lelaki itu. Meski sedikit tak nyaman tapi sangat tidak pantas kalau ia mengusir Marvin tanpa memberinya minum terlebih dahulu.

Ellie menyuguhkan kopi untuk Marvin. “Minumlah.” Ucapnya sembari bergegas membuka-buka barang belanjaannya.

“Kalian habis ngerampok supermarket, ya?” tanya Marvin dengan nada bercanda. Lelaki itu memang memiliki selera humor tinggi. Tentu sangat berbeda dengan Jiro, suaminya.

“Ya, selain supermarket, kami juga merampok toko perlengkapan rumah tangga.” Ucap Ellie sembari menunjukkan beberapa pisau dapur yang baru saja ia beli.

Marvin tertawa lebar. “Hahaha, lucu sekali.” Marvin menyesap kopi buatan Ellie. “Kopimu memang selalu yang terbaik.”

“Tentu saja. Karena kamu meminumnya gratis.” Ellie menjawab lagi-lagi dengan nada ketus.

Marvin tersenyum. Ia senang melihat sikap Ellie yang seperti ini. setidaknya, Ellie tidak dapat menyembunyikan rona merah di pipi wanita itu. Marvin lalu berdiri dan mendekat ke arah Ellie. “Ngomong-ngomong, aku suka dengan sikapmu yang sekarang.” Ucap Marvin dengan parau.

Ellie mengangkat wajahnya seketika menatap ke arah Marvin. “Apa maksudmu?”

Jemari Marvin terulur, mengusap lembut rona merah di pipi Ellie. Ellie ingin sekali menghindar, tapi ia tidak mau sikapnya yang menghindar membuat Marvin berpikir bahwa kehadiran lelaki itu berpengaruh terhadapnya.

“Keketusanmu, sangat kontras dengan rona merah di pipimu.” Bisiknya dengan nada parau. “Akui saja, kamu gugup berada di dekatku, sejak aku menyatakan perasaanku beberapa bulan yang lalu, kan?”

Ellie sangat kesal dengan sikap lelaki di hadapannya ini. Hampir saja ia membuka suara, sebelum suara keras yang lain datang menambah ketegangan diantara mereka.

“Singkirkan tangan sialanmu dari wajah istriku!”

Ellie dan Marvin menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut. Tampak Jiro berdiri menjulang di dekat meja makan dengan mata penuh dengan kemarahan.

“James. Kenapa kamu di sini?” tanya Ellie tak percaya.

Biasanya, setelah mendapatkan ‘jatahnya’, Jiro akan pergi, dan paling cepat akan mengunjungi Ellie Tiga hari setelahnya. Bahkan kemaren, lelaki itu tidak mengunjunginya sama sekali selama Tiga minggu terakhir. Lalu untuk apa lelaki itu datang kemari padahal baru tadi pagi dia keluar dari rumah ini?

“Kenapa aku di sini? Ini rumahku! Seharusnya pertanyaan itu kamu lemparkan pada dia.” Jiro menunjuk Marvin dengan marah.

Marvin mundur menjauh dan mengangkat kedua belah telapak tangannya. Well, sebelumnya, Marvin memang sudah mengetahui tentang Ellisabeth Williams yang merupakan istri dari seorang Bassis terkenal yang bernama Jiro The Batman. Tapi hal itu tak serta merta membuat Marvin mengundurkan diri atau memupus ketertarikannya dengan sosok Ellie. Kecantikan Ellie bahkan mampu membutakan mata Marvin bahwa wanita itu sudah menjadi istri orang. Yang membuat Marvin tak mengerti adalah, kenapa Jiro menyembunyikan istri secantik ini dari publik? Apa pria itu gila?

“Aku disini karena diminta.” Marvin menjawab dengan tenang.

“Diminta?” Jiro mendekat ke arah mereka berdua. Tatapan mata Jiro menajam ke arah Ellie. Jika dulu Ellie akan takut, maka tidak sekarang. “Kenapa kamu memintanya kemari?”

Ellie berusaha mengendalikan dirinya, bahkan ia bersikap seolah-olah tak mempedulikan kemarahan yang tampak jelas terlihat di wajah suaminya.

“Kamu nggak lihat semua ini, James?” ucap Ellie sembari menunjukkan barang-barang belanjaannya. “Mobil Mei mogok, dan Mei memintanya untuk menjemputku dan mengantarku pulang.” Ellie menjelaskan dengan nada malas.

“Kenapa harus dia?!” tanya Jiro lagi dengan nada yang masih meninggi.

“Kenapa harus dia?” Ellie mengulang lagi pertanyaan Jiro. “Karena suamiku lebih sibuk dengan karir sialannya dibandingkan denganku. Apa kau puas?” Ellie menjawab dengan marah.

Marvin yang berada di sana merasa sedang terjebak diantara dua gunung berapi yang sedang memuntahkan lava.

“Karirku tidak sialan, Ellie!”

“Ya, mungkin tidak. Tapi perempuan-perempuan itu yang membuatnya menjadi sialan dimataku.”

Pada detik itu, Jiro tahu bahwa Ellie ternyata mendengar gosip murahan tentang dirinya dan juga Vanesha. “Jadi kamu cemburu karena gosip-gosip itu?”

“Tidak. Cemburu adalah hal yang sangat kekanakan.”

“Jadi menurutmu aku kekanakan?” dengan spontan Jiro bertanya.

“Jika kamu merasa sedang cemburu, maka ya, kamu kekanakan.” Ellie menjawab dengan santai.

“Aku tidak kekanakan, aku cemburu karena istriku disentuh oleh lelaki lain! Apa itu salah?”

“Oh yang benar saja. Dia hanya menyentuh pipiku, sedangkan kamu. Kamu berciuman dengan perempuan itu!” Ellie berseru keras tak dapat menahan emosinya ketika mengingat gosip yang ia dengar sejak dua hari belakangan. Sungguh, Ellie sangat marah, apalagi kabar tentang Jiro yang keluar dari apartmen wanita itu pagi-pagi buta dan tertangkap oleh kamera wartawan. Untuk apa Jiro berada di sana?

Kali ini, Jiro mengerti kemarahan Ellie bersumber dari mana. Meski begitu, Jiro tahu bahwa hal itu tak membenarkan apa yang dilakukan Ellie tadi. Berduaan dengan lelaki lain di rumah mereka.

Jiro menatap Marvin dengan tatapan membunuhnya. “Gue pikir, mending elo keluar. Gue mau bahas sesuatu dengan istri gue, hanya berdua.” Ucap Jiro dengan penuh penekanan terhadap Marvin.

“Kenapa kamu mengusirnya?” Ellie bertanya.

“Aku ingin membahas sesuatu denganmu.”

“Tak ada yang perlu dibahas.” Ellie mengibaskan telapak tangannya seakan tak ingin mendengar apapun penjelasan dari suaminya.

Mata Jiro kembali menatap tajam ke arah Marvin, dan lelaki itu akhirnya mengalah. Ia megerti bahwa ini bukan saat yang baik untuk melanjutkan rencananya menggoda Ellie.

“Oke, aku pergi dulu. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, kamu bisa menghubungiku.” Ucap Marvin pada Ellie.

“Dia tidak akan membutuhkan apapun!” Jiro berseru dengan penuh penekanan.

Sungguh, Jiro tak suka dengan lelaki itu. Caranya menatap Ellie membuat Jiro marah. Dan reaksi yang ditampilkan istrinya itu membuat Jiro tak dapat menahan segala emosinya. Ellie hanya miliknya, dan Jiro tak akan membiarkan siapapun mendekati atau menyentuh tubuh istrinya tersebut.

-TBC-

Special Pict mereka berdua nihhh aku editin special buat kalian, hahhahaha

Advertisements

Missing Him – Bab 5

Comments 4 Standard

 

Bab 5 

 

“A, apa maksud Mas Rangga?” Tanyaku dengan cepat.

“Aku ingin menikah denganmu Ven..”

“Tapi Mas.. kita tidak pernah mengenal lebih dekat sebelumnya.”

Lelaki di hadapanku itu tampak menundukkan keplanya. Entah apa yang ia pikirkan aku sendiri tak tau.

Veny, nggak baik menolak lamaran seseorang sebelum kamu memikirkannya masak-masak.” Ucap Ibu.

“Tapi Bu..”

Pikirkanlah dulu, Nak.” pungkas ibuku.

***  

Dua hari berlalu setelah hari itu. Mas Rangga kembali ke rumahku. Dan astaga.. entah kenapa lidahku seakan kaku saat ingin mengatakan Tidak. Aku menerimanya, menerima lamaran lelaki yang aku sendiri tak seberapa mengenalnya.

Ini gila! Aku tau itu. Tapi mau bagaimana lagi.  Lagi pula sampai saat ini aku masih belum bisa melupakan sosok Edo. Sosok yang sudah menjadi cinta pertamaku, dan mungkin saja akan menjadi cinta terakhirku.

Ven..” Mas Rangga duduk mendekat di sebelahku.

“Aku masih bingung, kenapa tiba-tiba mas Rangga melamarku. Kita tidak pernah kenal dekat sebelumnya.”

“Aku tau. Tapi aku yakin, semua ini terbaik untukmu. Aku akan melindungimu Ven, Aku janji.”

Aku menurunkan kedua bahuku lemah. Ya, memangnya apa lagi yang bisa ku perbuat. Mungkin memang mas Rangga ditakdirkan untuk menemaniku. Lagi pula aku yakin jika tak dapat jatuh cinta lagi selain dengan Edo, maka tak salah jika aku menerima pinangan mas Rangga meski aku tak pernah mencintainya.

***

Kilasan masa lalu hubunganku dengan Mas Rangga tiba-tiba menari di kepalaku. Aku menggelengkan kepalaku.

Mas, apa yang terjadi denganmu hari ini? Pikirku dalam hati.

Setelah menidurkan Tasya, aku lantas menuju ke kamarku. Semoga saja setelah mandi sikap Mas Rangga sudah membaik padaku.Tapi nyatanya, saat aku sampai di dalam kamar, Suamiku itu malah tidur meringkuk di ujung ranjang.

Dadaku terasa sesak. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya hari ini? Apa aku melakukan suatu kesalahan?

Aku lantas memilih masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri kemudian mengistirahatkan hati dan pikiranku yang sudah sangat lelah…

***

“Kamu yakin mau melakukannya?” Aku hanya menunduk ketika Mas Rangga bertanya pertanyaan itu padaku.

Ini sudah hampir satu tahun lamanya aku menikah dengannya, tapi sekalipun kami tak pernah melakukan hubungan intim sama sekali. Mas Rangga sangat menghormatiku, pun denganku yang tentunya tak mungkin menggodanya atau menjajakan diriku padanya.

Setiap malam kami hanya menghabiskan waktu saling bertukar cerita, bertanya tentang aktifitas masing-masing hari ini. Lalu saling tertidur setelah sama-sama lelah. Ya, kami memang tidur satu ranjang, tapi kami tak pernah melakukan apapun. Tapi tadi, tak sengaja telapak tangan Mas Rangga menyentuh permukaan kulit tanganku, tatapan kamu beradu seketika, wajah Mas Rangga kemudian mendekat, dan aku tak sadar jika kami melakukan ciuman pertama kami.

Kini, lalaki itu sudah menindihku dengan pakaian yang sudah lolos dari tubuhnya. Pun denganku yang sudah polos tanpa sehelai benang pun.

Aku hanya menganggukan kepalaku setelah mendengar pertanyaan Mas Rangga tersebut.

“Aku baru pertama kali melakukannya,” Ucapnya dengan suara yang sudah serak.

“Aku juga baru pertama kali.” Astaga.. mungkin saat ini wajahku benar-benar sudah merah seperti tomat. Apa yang sedang kukatakan?

“Baiklah, boleh aku memulainya?” tanyanya lagi sedangkan aku hanya mampu menganggukkan kepala. Mas Rangga mulai mendaratkan kembali bibirnya pada bibirku, menciumku dengan lembut penuh gairah. Jemarinya sudah mulai bergerilya di sekujur tubuhku, dan itu benar-benar membuatku semakin menggila.

Kami saling mencumbu mesra, menyentuh satu sama lain dengan begitu intim. Ya, kupikir ini adalah hal yang paling intim yang pernah ku lakukan dengan seorang lelaki, dan entah kenapa aku merasa bahagia sekali karena lelaki itu adalah Mas Rangga, Suamiku sendiri.

Mas Rangga mulai menyatukan diri, dan aku benar-benar merasa tak nyaman. Rasanya aneh dan sakit, tentunya, tapi Mas Rangga membimbingku selembut mungkin, ia tak berhenti mencumbuku, seakan menenangkan kembali syaraf-syarafku yang kaku karena penyatuan pertama kami.

Dia tak mengucapkan apapun, tapi pergerakannya tak pernah berhenti. Bibirnya masih mengulum bibirku, sedangkan matanya sesekali menatap mataku dengan tatapan anehnya. Ya tuhan… aku benar-benar melakukannya, melakukan dengan Mas Rangga, suamiku, lelaki yaang sama sekali tak kucintai….

***  

Bayangan malam pertama kami menyeruak begitu saja dalam ingatanku, dan aku tersenyum ketika mengingat malam itu. Ku balikkan tubuhku yang tadi tidur miring dengan posisi membelakangi tubuh Mas Rangga. Dan kini, aku masih melihat tubuh suamiku itu masih miringku membelakangiku.

“Mas. Kamu kenapa?” lirihku.

Astaga, dia tak pernah bersikap seperti ini padaku, dan entah kenapa saat dia memperlakukanku seperti ini, rasanya dadaku terasa sesak, hatiku terasa sakit. Seakan ada sesuatu di dalam sana yang telah terkoyak saat melihat sikap dingin Mas Rangga.

“Kamu marah?” Aku memberanikan diri bertanya. Air mataku sudah jatuh begitu saja. Ya, dia marah, tapi aku tak tau karena apa. Apa ini ada hubungannya dengan Edo?? Tidak mungkin. Mas Rangga sama sekali tak mengetahui hubunganku di masa lalu dengan Edo.

“Mas…” panggilku lagi. Dan dia sama sekali tak menjawab panggilanku. Entah dia memang sedang marah, atau dia memang sudah tidur, aku sendiri tak tahu.

***

Panginya, seperti biasa, aku bangun lebih pagi dari Mas Rangga. Tentu saja aku harus menyiapkan sarapan untuk suamiku tersebut. Meski tak pernah mencintainya, tapi aku selalu mengabdi padanya layaknya seorang istri yang begitu mencintai suaminya.

Aku melirik ke arah Tasya yang berada di dalam boks bayinya. Puteriku itu memang sangat pandai, ia tahu jika kini ibunya sedang sibuk dan dia memilih bermain dengan mainannya sendiri ketimbang harus menangis rewel khas bayi seusianya.

Kemudian aku melirik ke pintu kamarku. Mas Rangga belum juga keluar. Ada apa? Tidak biasanya dia bangun siang. Apa dia masih marah? Apa suasana hatinya masih seburuk tadi malam?

Dan tak lama, sosok yang berada didalam kepalaku itupun menampakkan dirinya. Hampir saja aku terpekik ketika tiba-tiba saja dia keluar dari kamar kami dengan tatapan mata yang langsung menatap tepat pada manik mataku.

“Pagi Mas..” Sapaku.

“Pagi…” Hanya itu jawabannya.

Aku mengernyit saat melihatnya hanya mengenakan kaus oblongnya. Ia tidak mengenakan kemeja yang biasa di kenakannya ke kantor. Kenapa? Apa dia libur kerja?

“Mas Rangga nggaak kerja?”

“Aku libur.” Jawabnya singkat.

“Kok tumben ngambil cuti?”

“Bukan cuti, tapi aku memang di liburkan selama tiga hari ini.”

“Loh kenapa?” tanyaku sedikit terkejut.

“Aku dipindah tugaskan mulai minggu depan ke perusahaan yang bercabang di Palembang.” Jawabnya dengan ekspresi datar.

Aku membatu seketika. Pindah? Kenapa tiba-tiba?

“Kok aku nggak tau Mas?”

“Aku memang sengaja cari waktu yang tepat buat ngasih tau kamu. Tapi sepertinya memang nggak ada waktu yang tepat.”

“Lalu, kapan kita akan siap-siap?” tanyaku sembari menyuguhkan kopi untuk Mas Rangga.

“Nanti aku akan mulai belanja kebutuhanku, lalu mulai bersiap-siap.” Aku mengernyit ketika mendengar kalimat Mas Rangga. Apa maksudnya?

“Maksud Mas Rangga?”

Mas Rangga menatapku dengan tatapan anehnya. “Ven, aku akan pindah ke Palembang sendiri. Dan mungkin hanya seminggu sekali aku akan pulang ke sini.”

Aku tercengang mendengar kalimat yang di ucapkannya. Dia meninggalkanku? Meninggalkanku hanya berdua dengan Tasya? Bagaimana mungkin? Kenapa dia tega melakukan ini padaku??

“Kenapa aku dan Tasya nggak ikut pindah saja Mas?”

Mas Rangga menundukkan kepalanya. “Maaf, nggak bisa..”

Dan meneteslah air mataku. Kenapa seperti ini? Kenapa tiba-tiba dia meninggalkanku saat aku mulai nyaman dengannya? Apa yang terjadi denganmu Mas?? Apa yang kamu sembunyikan dariku?

-TBC-

Missing Him – Bab 2

Comments 2 Standard

 

Bab 2

 

“Do… kita ngapain ke sini? Katanya mau Futsal?”

“Kita nyari sepatu untukku dulu.” Ucap Edo masih dengan memilih-milih sepatu yang tertata di hadapannya.

Saat ini, kami memang sedang berada di sebuah toko perlengkapan olah raga yang tak jauh dari tempat futsal yang biasa di kunjungi Edo dan teman-temannya.

Setiap seminggu dua kali, Edo pasti mengajakku, atau lebih tepatnya memaksaku ikut menemaninya pergi bermain Futsal. Alasannya masih sama, semua teman-temannya ditemani oleh kekasih masing-masing, sedangkan Edo sendiri tidak memiliki kekasih.

Kadang aku bingung, dengan wajah tampan dan kekayaan yang di milikinya, kenapa Edo belum juga memiliki pacar?? Alasannya tentu bukan karena tidak ada yang mau, karena aku cukup tau betapa banyaknya peminat Edo di sekolahan. Tak jarang gadis-gadis itu salah paham padaku, mengira jika aku adalah kekasih Edo. Yang benar saja.

Ven, ini gimana??” Tanya Edo yang sudah berdiri di hadapanku dengan sepatu baru yang di cobanya.

Astaga.. Tak perlu bertanya Do.. Kamu pakai apapun pasti terlihat tampan di mata semua wanita, termasuk aku. Lirihku dalam hati.

“Bagus.” Hanya itu jawabanku…

Edo mendengus. “Sepuluh kali aku ganti sepatu, kamu pasti Sepuluh kali bilang jika itu bagus.”

“Yee… itu emang bagus Do..”

“Oke, aku ambil yang ini. Thank you Ven,  Sayang….” ucap Edo sambl mencubit gemas pipiku.

Veny sayang??? Sayang??? Apa coba maksud Edo.

***

“Kita mau apa ke sini?” Pertanyaan Mas Rangga membuatku menoleh ke arahnya.

Entah kenapa setiap kali aku melihat sosoknya, pikiranku sontak menenang, wajahnya tampan dan kalem, sikapnya lembut, dan penampilannya sederhana, mas Rangga, bagaimana mungkin selama ini aku tak pernah melihatmu? Lirihku dalam hati.

“Ven, kamu kok malah bengong?”

“Ah.. ya, maaf  Mas, ummm… Aku mau memberikan hadiah buat Mas Rangga.” Ucapku yang kini tanpa ragu lagi menarik pergelangan tangan Mas Rangga masuk ke dalam sebuah toko jam tangan.

Kami berdua kini sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan, aku ingin membelikan Mas Rangga sesuatu, sedangkan Tasya, tentu ku titipkan ke rumah ibuku yang letaknya tak jauh dari rumah kami.

Aku masih sibuk memilihkan jam tangan untuk Mas Rangga ketika kemudian Mas Rangga menepuk bahuku.

“Kamu mau belikan Mas jam tangan?” Tanyanya dengan nada lembut seperti biasanya.

Aku hanya mengangguk, entah kenapa Hari ini Mas Rangga begitu mempengaruhiku. Apa karena ciuman panas kami tadi pagi? Ohh ayolah,  lupakan itu.. rutukku dalam hati.

“Nggak perlu Sayang, uangnya di simpan saja, Mas masih punya yang bagus kok.”

Tapi aku tidak mendengarkan ucapannya. Aku malah menyuruh seorang penjaga toko untuk mengeluarkan sebuah jam tangan yang kurasa cocok di kenakan oleh Mas Rangga.

Dengan sedikit canggung, aku memakaikan jam tangan di pergelangan tangan kiri Mas Rangga.

“Aku hanya ingin memberikan sesuatu buat Mas Rangga, sesuatu yang selalu mengingatkan Mas Rangga denganku dan juga Tasya, sesuatu yang akan selalu mengingatkan Mas Rangga untuk pulang.” Ucapku masih dengan memakaikan jam tersebut di tangannya. “Sepertinya ini cocok.” Lanjutku lagi.

Aku menatap ke arah Mas Rannga. Dia menatapku dengan tatapan anehnya. Ada apa? Apa aku salah sudah memberinya hadiah?

“Ada yang salah?” Tanyaku masih dengan tatapan bingungku pada Mas Rangga.

“Kamu yang salah Ven.”

Aku semakin bingung dengan ucapan Mas Rangga, apa maksudnya coba?

“Aku? Memangnya aku salah apa?”

“Kamu sudah membuatku jatuh semakin dalam.”

Lagi-lagi aku masih tak mengerti apa yang di ucapkan Mas Rangga.

“Jatuh semakin dalam?” tanyaku lagi masih tak mengerti.

Mas Rangga mengusap lembut pipiku, “Jatuh semakin dalam untuk mencintaimu tanpa memikirkan logika.”

Aku membulatkan mataku seketika sambil menutup bibirku yang ternganga. Apa aku sedang bermimpi? Ya, tentu saja aku sedang bermimpi, mana mungkin Mas Rangga memgucapkan kalimat cinta padaku seperti itu di hadapan banyak orang?

Dan ketika aku tersadar, aku menatap sekelilingku, banyak orang yang sedang menatap kami sambil tersenyum. Si penjaga toko pun ikut memerah melihat kelakuanku dan juga mas Rangga yang seperti ABG yang sedang menyatakan cinta di depan umum.

Astaga… dia kah Rangga yang ku kena?? Rangga si pendiam, kaku dan sederhana? Rangga yang sama sekali tidak bisa menyentuh hatiku?

Lalu kenapa kini aku merasakan perasaan itu? Perasaan seperti digelitik oleh sesuatu, perasaan seperti ada ribuan kupu-kupu dalam perutku? perasaan seperti ada sebuah Bom yang sedang berdetak di dadaku?

Apa ini tandanya Mas Rangga sudah mampu menyentuh hatiku? Sudah mampu membuatku melupakan sosok Edo?

****

Setelah membelikan Mas Rangga jam tangan, kami lantas berbelanja kebutuhan rumah. Setelah itu kami makan siang di luar. Dan kini kami sudah kembali pulang.

Aku membawa barang belanjaan ke dapur.  Sejak di toko jam tangan tadi, kami tak lagi bicara. Entahlah, aku bahkan sudah terbiasa dengan hal ini. Saling berdiam diri dengan Mas Rangga, tentu saja, dia pendiam.

Saat aku menata barang belanjaan di lemari pendingin. Tiba-tiba aku merasakan sebuah lengan melingkari perutku dari belakang.

Kaget?? Tentu saja, di rumah ini hanya ada aku dan Mas Rangga, jika ini lengan Mas Rangga tentu aku akan sangat kebingungan, sebenarnya apa yang terjadi dengannya hari ini? Apa juga yang terjadi denganku??

“Mas…” ucapku.

“Sebentar… sebentar saja, aku kangen kamu..” ucapnya kemudian yang membuat semua bulu-bulu  tipis di tengkukku berdiri meremang.

“Mas Rangga kenapa?”

“Aku kangen kamu.”

“Kita sudah bertemu setiap hari, masak masih kangen?”

“Kangen peluk kamu…” ucapnya dengan suara serak.

Dan setelah kalimat itu, aku tau jika mas Rangga menginginkan hak nya. Apa hanya itu? Lalu seperti biasa aku akan melayaninya? Berhubungan intim tanpa cinta? Jika iya, mungkin memang seperti inilah hidup yang harus ku jalani.

Lalu aku sedikit terkejut ketika tiba-tiba merasakan sesuatu yang basah menyentuh pundakku. Mas Rangga mencium pundakku. Astaga… jantungku kembali  berdebar keras  seperti tadi. Mas Rangga tak pernah melakukan ini sebelumnya, tapi kenapa ia melakukannya?

Cumbuannya naik ke leherku, dan seakan menggodaku di sana Mas Rangga meninggalkan jejak-jejak basah di sana.

“Mas…” erangku..

“Hemm..” hanya itu jawabannya.

Telapak tangannya kini bahkan sudah berada di balik baju yang ku kenakan, ia mengusap lembut payudaraku. Membuatku kembali memekik karena kelakuannya.

Mas Rangga membalik tubuhku hingga menghadap ke arahnya. Ia mengusap lembut pipiku, menyelipkan anak rambutku ke belakang telingaku. Sedangkan aku hanya bisa menunduk malu di buatnya.

Mas Rangga kemudian menangkup kedua pipiku, mengangkat wajahku hingga menatap tepat pada bola matanya. Dan aku… Aku terpesona melihat wajahnya yang entah kenapa kini terlihat begitu tampan di mataku. Matanya bahkan sudah berkabut karena gairah..

“Aku ingin melanjutkan tadi pagi….” ucapnya dengan suara serak.

“Lanjutkanlah.” Jawabku pasrah.

Aku melihat mas Rangga sedikit tersenyum. “Kali ini, aku akan melakukannya dengan cara berbeda.”

Aku mengernyit. Cara berbeda? Cara berbeda apa makasudnya?

Mas Rangga mendekatkan wajahnya ke telingaku lalu berbisik di sana.

“Kita akan bercinta.. Bukan sekedar berhubungan intim.”

Dan setelah kalimatnya tersebut, secepat kilat Mas Rangga menyambar bibirku yang masih ternganga karena ucapannya. Dia melumat habis bibirku penuh dengan hasrat, seakan menuntut sesuatu dariku.

Dan aku memberikannya, aku membalas ciumannya dengan lembut sambil mencengkeram erat kemeja yang menempel di dadanya.

Kami berdua sama-sama saling melumat penuh dengan hasrat.. penuh dengan dorongan saling memiliki satu sama lain tanpa menghiraukan lagi dinding-dinding kecanggungan yang biasanya berdiri kokoh di antara kami…

-TBC-

Missing Him – Bab 1

Comments 2 Standard

 

Bab 1

 

“Soto ayam satu Bu…” ucapku pada ibu kantin.

“Porsi banyak seperti biasa.” Aku menoleh ke sampingku dan di sana sudah duduk sosok yang selama ini selalu menemani hariku, siapa lagi jika bukan Edo.

Ini sudah  sebulan sejak kepindahanku ke sekolah baruku ini, dan selama sebulan itu, hubunganku dengan Edo mengalami kemajuan pesat. Kami sangat dekat, amat sangat dekat. Bahkan tidak sedikit yang mengira jika kami sudah jadian.

“Do, lebih baik kamu pesan sendiri gih… nggak enak di lihatin anak-anak kalau kita makan sepiring berdua terus.” Ucapku mengingatkan.

“Enggak, aku suka makan sepiring denganmu.”

Dan aku hanya menghela napas panjang.

Ven, nanti malam temani aku futsal, ya”

“Enggak, aku sibuk.” Jawabku ketus.

“Ayolah… teman-temanku ngajak pacarnya, masa aku sendiri Ven. please…”

“Kalau gitu, ajaklah pacarmu.”

“Aku nggak punya pacar Ven,  kamu tau kan?”

Dan lagi-lagi aku menghela napas panjang. Astaga, aku juga tidak mengerti kenapa aku sama sekali tak dapat menolak permintaan Edo. Edo…. entah perasaan apa yang kurasakan saat ini…

****

Aku melihat sebuah amplop tepat di hadapanku.

“Apa ini mas?” Tanyaku pada Mas Rangga yang baru saja pulang dari kantor.

“Gajihku bulan ini, kamu simpan, ya.”

“Yang kemarin masih ada, lebih baik Mas saja yang menyimpan.”

“Jangan, aku percaya kamu, Sayang, kalau Mas yang bawa nanti pasti habis.”

Aku tersenyum melihat kelakuan suamiku tersebut. Namanya Rangga  Kurniawan. Orangnya sederhana, tidak banyak bicara dan dia pekerja  keras. Aku mengenalnya saat bekerja di sebuah perusahaan. Ya, Mas Rangga adalah rekan kerjaku.

Kami tidak pernah berpacaran, karena  saat itu tiba-tiba Mas Rangga datang melamarku. Orang tuaku tentu sangat setuju dan menerima Mas Rangga. Dan entah kenapa saat itu aku pun menerimanya. Mungkin karena aku tidak tega mengucap kata “Tidak” padanya.

Kami menikah sekitar Dua tahun yang lalu. Dan selama ini hubungan rumah tangga kami baik-baik saja.

Aku melihat ke arah suamiku tersebut yang masih mengenakan kemeja kerjanya. Ia sibuk menggendong Tasya dan bercengkrama dengan puteri pertama kami.

“Mas, besok minggu, kita belanja, Ya. Aku pengen membelikan sesuatu buat  Mas Rangga.”

“Membelikan apa? Aku nggak  perlu apa-apa kok..”

“Bukan sesuatu yang istimewa, tapi sesuatu yang semoga saja dapat membuat Mas Rangga selalu mengingat aku dan Tasya.”

“Baiklah, terserah kamu saja.”

Aku tersenyum lagi. Mas Rangga memang  tak  pernah menolak  keinginanku.

***

Pagi ini masih sama dengan kemarin hari. Aku masih terbangun di dalam pelukan seorang lelaki yang yang sangat menyayangiku. Siapa lagi jika bukan Mas Rangga, suamiku.

Aku bangkit tapi kemudian tubuhku kembali di tarik ke dalam pelukan lelaki yang tadi memelukku.

“Jangan bangun dulu, Ven”

“Aku harus bangun Mas, siapa yang masak sarapan kalau aku masih di sini?”

“Kita makan di luar saja nanti kita kan akan keluar.”

Aku tersenyum “Bukannya itu pemborosan?” Tanyaku sedikit menyindirnya.

Mas Rangga semakin mengeratkan pelukannya padaku sambil terkikik geli. “Veny sayang… sesekali boros tidak apa-apa kan?”

Aku kembali tersenyum meski sebenarnya tubuhku kaku dengan panggilan lembut yang di berikan Mas Rangga padaku.

Sejak menikah, kami memang tidak pernah bermesraan layaknya sepasang kekasih. Hubungan di ranjang? Astaga.. jangan di tanya, mungkin kami melakukan itu hanya untuk kewajiban semata.

Mas Rangga tidak pernah merayu atau meminta hak nya. Ia lebih suka langsung melakukannya tanpa banyak basa-basi. Dan aku menerima begitu saja. Ya, hubungan kami memang sangat kaku. Tapi aku tidak tau sejak kapan aku merasakan perasaan aneh seperti ini.

Perasaan aneh ketika mendengar Mas Rangga memanggilku dengan sebutan sayang. Perasaan Aneh saat tiba-tiba Mas Rangga menyentuhku penuh dengan perhatian.

Ada apa dengannya? Kenapa dia berubah? Atau… hatiku kah yang sudah berubah?

“Kamu kok diam?”

“Ah.. enggak..” jawabku dengan malu-malu.

“Ven.. apa aku boleh menciummu?”

Aku mendongak seketika ke arah Mas Rangga. Pertanyaannya itu seketika membuat jantungku jumpalitan. Kenapa dia meminta ijin padaku? Dan aku hanya dapat menjawab dengan memejamkan mata.

Kurasakan bibir Mas Rangga menyapu bibirku. Menggodanya, dan aku pun tergoda. Mas Rangga mulai melumat bibirku dengan segala kelembutan yang ia miliki, seakan menuntut sesuatu dariku sedangkan aku hanya mampu membalasnya.

Mas Rangga mulai membalik tubuhku kemudian menindihku tanpa melepaskan pangutannya di bibirku. Astaga, Apa yang terjadi dengannya? Kenapa ia melakukan ini padaku? Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya.

Dan ketika ciuman kami tak juga berakhir, kami mendengar suara  tangisan bayi yang sangat nyaring. Siapa lagi jika bukan Tasya. Tasya bangun.

Mas Rangga menghentikan aksinya seketika lalu bangkit dan duduk di pinggiran ranjang.

“Tasya bangun, Ven.” ucapnya sambil mempalingkan wajahnya ke arah lain.

“Ya, mungkin sudah lapar.” Jawabku yang kini juga ikut bangun dan langsung bergegas menuju ke boks bayi tepat di sebelah ranjang besar kami.

Aku menggendong Tasya, menimangnya dan memberinya Asi, Ya.. mungkin dia lapar karena saat aku menyusuinya, dia berhenti menangis.

Tasya puteri Kurniawan. Bayi mungil yang ku lahirkan Lima bulan  yang lalu. Sangat cantik dan entah kenapa selalu mengingatkanku pada ayahnya, Mas Rangga.

“Emm..Aku mandi dulu.” ucap Mas Rangga sambil berjalan menuju ke kamar mandi.

“Mas..” panggilku yang sontak menghentikan langkahnya. “Tasya sudah bobok lagi, emm… kita nggak melanjutkan yang tadi?”

Astaga.. Bagaimana mungkin aku mengucapkan pertanyaan tersebut? Apa aku sedang menjajakan diri pada suamiku sendiri? ini gila.

“Jangan, Sayang, nanti kesiangan.” Lalu Mas Rangga kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.

Aku menghela napas panjang, dengan wajah yang merah padam karena penolakan yang di berikan oleh Mas Rangga, aku menggerutu dalam hati. ‘Tuhan… tenggelamkan saja aku ke dasar laut..’

-TBC-

Missing Him (NEW Version) – Prolog

Comments 8 Standard

 

Note : Kisah ini Telah aku perbarui. beberapa nama aku rubah, dan ada beberapa konsep yang juga aku rubah. aku berharap kalian membacanya kembali dari awal jika berkenan hahhahahah. happy readingg….

 

Tittle : Missing Him 

Genre : Roman, Married life, Hurt.

Author : Zenny Arieffka

 

Prolog

 

“Nama saya Veny Febryanti.. saya pindahan dari salah satu SMA swasta di kota  surabaya. Semoga dapat menerima saya…” ucapku dengan sedikit bergetar.

Berdiri di hadapan dua puluh dua murid kelas XII IPA dan mengenalkan diri sebagai anak baru benar-benar membuatku gemetaran.

Veny, duduklah di sebelah Edo.” Ucap Bu Imah yang menjadi wali kelasku.

Edo? Astaga… Bagaimana mungkin aku duduk di sebelah murid laki-laki?

Akhirnya aku menuruti apa yang diperintahkan Bu Imah.  Murid laki-laki yang bernama Edo itupun akhirnya berdiri dan tersenyum padaku saat aku sudah sampai di sebelahnya. Dia mengulurkan tangan sambil berkata

“Edo.”

Aku membalas uluran tangan itu dan tersenyum padanya. “Veny.” ucapku.

“Kita akan jadi teman baik.” Dia berkata sambil tersenyum tulus.

“Ya… tentu saja.” Kataku lagi.

Edo kemudian mempersilahkanku duduk. Dan aku pun akhirnya duduk nyaman di sebelahnya..

****

Itulah awal mula aku bertemu dengannya. Bertemu dengan lelaki yang sampai saat ini masih berada di hatiku…

Aku merasakan sebuah tangan menepuk bahuku. Saat aku menoleh kebelakang ternyata sosok tinggi suamiku sudah berada di sana.

“Tasya sudah bobok, Sayang?” Tanya Mas Rangga yang sudah menikahiku sejak dua tahun yang lalu.

Aku kembali menatap sosok mungil yang berada di dalam gendonganku. Puteri kecilku.

“Sudah, Mas.” jawabku.

“Cepat tidurkan, dan ayo kutemani makan, kamu belum makan malam, kan?”

Aku tersenyum. Mas Rangga memang  sangat perhatian padaku. Dan aku sangat menyayanginya. Akhirnya aku bangkit dan menidurkan Tasya di boks bayinya. Lalu mengikuti Mas Rangga menuju ruang makan dan makan malam bersamanya.

Aku menatap punggung lebar mas Rangga sambil berkata dalam hati ‘Maafkan aku mas… Aku belum dapat memberikan semua hatiku untukmu… maaf…’

-TBC-

 

My Beautiful Mistress – Prolog

Comments 8 Standard

 

Tittle : Beautiful Mistress

Cast : James Drew Robbert (Jiro The Batman) & Ellisabeth William

Genre : Romance Adult

Seri : The Batman Area!

 

Prolog

 

Jiro mengerang saat mendapatkan sebuah kenikmatan yang ia dapatkan dari seorang wanita yang kini sedang berada dibawahnya. Wanita itu layaknya seorang boneka yang mau melakukan apapun seperti yang ia inginkan. Kadang, Jiro merasa kesal karena wanita itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya tanpa mengucapkan apapun. Kenapa? Apa karena wanita itu tidak suka dengan hubungan mereka?

Jiro mempercepat lajunya. Menghujam lagi dan lagi lebih cepat dari sebelumnya, lebih intens lagi, hingga tak malam, sampailah ia pada puncak kenikmatan yang entah sudah berapa kali ia dapatkan malam ini dari tubuh wanita tersebut.

Napas Jiro memburu, setelah itu, Jiro menarik diri, dan membiarkan tubuh wanita itu terkulai seperti biasa di atas ranjangnya.

“Apa nggak ada sepatah katapun yang mau kamu ucapkan sebelum aku pergi?” tanyanya sembari memunguti pakaiannya.

Wanita itu hanya menggeleng lemah.

Jiro mendengus sebal. Sungguh. Ia sangat kesal dengan sikap wanita itu yang selalu tampak dingin. Bahkan, kadang Jiro sangat sulit membaca apa yang diinginkan wanita itu sebenarnya.

“Apa aku buat kesalahan lagi?” tanya Jiro sekali lagi.

“Tidak.” Jawab wanita itu sembari menarik selimutnya menutupi tubuh telanjangnya, kemudian wanita itu memilih tidur memunggungi Jiro.

Jiro mendesah panjang. “Kamu pasti melihat berita itu, kan?” tanya Jiro kemudian.

Tak ada jawaban dari wanita itu, hingga Jiro berada pada batas kesabarannya.

“Dengar, Ellie. Aku tidak harus menjelaskan semuanya padamu. Aku memang mencium perempuan malam itu, tapi hanya itu saja. Aku tidak menidurinya, karena ada…”

“Aku yang siap melayanimu di rumah, kan?” wanita yang bernama Ellie itu melanjutkan kalimat Jiro.

“Sebenarnya, apa yang terjadi denganmu?” tanya Jiro dengan kesal.

Ellie membalikkan diri ke arah Jiro. Ia duduk dan mengabaikan ketelanjangannya karena nyatanya saat ini dirinya sudah siap meledakkan apa yang sudah bersarang di dalam kepalanya selama bertahun-tahun.

“Pulangkan aku ke Inggris!” serunya keras.

Seruan Ellie sempat membuat Jiro ternganga tak percaya. Empat tahun lamanya ia menikahi wanita ini, empat tahun lamanya ia memaksa wanita ini untuk tinggal di negaranya. Dan selama itu, wanita ini tak pernah sekalipun melawannya, tak pernah menuntutnya. Dan kini, wanita itu ingin dipulangkan ke negaranya. Yang benar saja. Jiro tak akan melakukan hal sebodoh itu.

Jiro meraih dagu Ellie dan dia berkata “Dengar Ellie, kamu nggak akan kemanapun. Hanya di sini, di rumah ini. kamu nggak akan bisa pergi kemanapun.” Setelah itu, Jiro bergegas pergi meninggalkan Ellie memasuki kamar mandi.

Sedangkan wanita yang bernama Ellie tersebut hanya bisa menangis seperti biasanya. Ya, hanya itu yang bisa ia lakukan selama ini. saat Jiro mencampakannya, saat lelaki itu melecehkannya, hanya menangis yang dapat ia lakukan. Bagaimanapun juga, Jiro adalah suaminya, meski posisinya lebih mirip sebagai seorang simpanan ketimbang dengan seorang istri, nyataya Ellie menikmati perannya saat ini. ia harus bisa lebih sabar, ia harus bisa lebih menahan diri, demi dirinya sendiri, demi cinta terpendamnya pada lelaki itu, dan juga demi sebuah nyawa yang kini sedang menggantungkan hidup di dalam rahimnya. Ellie harus kuat, ia harus lebih sabar lagi untuk menghadapi suaminya. Karena ia yakin, suatu saat, Jiro akan melihat keberadaannya, dan dirinyalah yang akan keluar sebagai pemenangnya. Ellie yakin itu.

-TBC-

Baby, oh baby! – Chapter 7 (Ya, Aku mencintaimu!)

Comment 1 Standard

 

Chapter 7

-Ya, Aku mencintaimu!-

 

Empat tahun yang lalu…..

 

Pagi itu, Rosaline sedikit merajuk dengan Dimitri karena Dimitri baru saja mengatakan padanya jika lelaki itu besok akan ada perjalanan bisnis ke London. Ya, selama tinggal di rumah Dimitri, Rose memang sering kali ditinggal Dimitri pergi ke luar kota, atau bahkan luar negeri, namun itu tak lebih lama dari satu atau dua hari. Tapi besok, Dimitri akan berada di London selama mungkin dua minggu lamanya. Bisa dibayangkan bagaimana bosannya Rosaline berada di rumah besar tersebut.

Hubungannya dengan Katavia belum juga membaik, karena gadis itu seakan tidak memberi kesempatan padanya untuk sekedar menyapa. Padahal, Rosaline sudah berusaha belajar bahasa Rusia dengan ibu Dimitri.

Yang dapat Rosaline lakukan saat Dimitri tak berada di rumah nanti mungkin hanya membaca atau menghabiskan waktu di dalam kamar menonton film-film romantis komedi kesukaannya.

Dimitri yang tahu sikap Rosaline yang merajuk akhirnya mendekat ke arah Rosaline, mengusap lembut pipi istrinya itu sembari bertanya. “Kau marah?”

“Tidak, aku hanya kesal.”

“Apa yang membuatmu kesal?”

“Kau.”

“Aku? Ada apa denganku?”

“Kau pergi lama sekali.”Rosaline merajuk, astaga, sepertinya sudah cukup lama ia tidak merajuk dengan seseorang. Dan tidak salah bukan jika ia merajuk dengan suaminya sendiri?

“Aku kerja, Rose. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku.”

“Bagaimana jika terjadi sesiatu denganku?”

“Misalnya?”

“Melahirkan mungkin?”

Dimitri tertawa lebar. “Kau tidak hamil, mana mungkin kau melahirkan?”

“Itu perumpamaan, mungkin nanti. Apa kau akan tetap lebih mementingkan pekerjaanmu dibandingkan denganku?”

“Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku, tapi aku akan pulang secepat yang kubisa jika aku dalam keadaan seperti itu.”

Rosaline memainkan dasi Dimitri. “Artinya, kau akan tetap mengutamakan pekerjaanmu.”

“Kau juga.” Dimitri tak mau mengalah.

“Ckk, kau ini, aku hanya…”

“Dimitri, buka pintunya.” Suara panik dari luar disertai dengan ketukan pintu kamar mereka yang cukup keras membuat Dimitri dan Rosaline saling pandang.

“Ibu, apa yang terjadi?”tanya Dimitri pada Rosaline. Rosaline hanya mengangkat kedua bahunya, ia juga tak mengerti kenapa suara itu terdengar sedikit panik.

Akhirnya Dimitri membuka pintu kamarnya dan mendapati Ibunya yang sudah menangis. “Apa yang terjadi?” tanya Dimitri yang sedikit panik.

“Katavia. Astaga, dia pingsan di dalam kamarnya.” ucapnya dalam bahasa Rusia.

Dimitri segera berlari menuju ke arah kamar Katavia dengan panik, begitupun dengan Rosaline yang segera menyusul di belakangnya.

Sampai di sana, Rosaline melihat Dimitri sudah memeluk tubuh Katavia yang terkulai lemas di atas lantai. Dengan panik suaminya itu memanggil-manggil nama Katavia sembari menepuk-nepuk pipi gadis itu.

Lalu semuanya terjadi begitu cepat saat Rosaline melihat Dimitri menggendong Katavia melewati dirinya. Rose hanya ternganga, ia tidak tahu apa yang terjadi, ia seperti orang bodoh yang diacuhkan.

***  

Rosaline masuk ke dalam ruang inap Katavia dan melihat Dimitri masih setia menunggu Katavia di sana. Tadi, saat ibu Dimitri pulang untuk mengambil barang-barang Katavia, Rosaline meminta untuk diajak ke rumah sakit. Dan kini, ia cukup menyesal berada di sana.

Rosaline tahu jika Katavia adalah adik kandung Dimitri, tapi melihat Dimitri yang begitu perhatian pada gadis tersebut hingga mengacuhkannya benar-benar membuat Rose kesal. Cemburu, ya, itulah yang dirasakan Rosaline. Padahal tak seharusnya ia memiliki perasaan seperti itu terhadap Dimitri dan Katavia.

“Bagaimana? Apa dia sudah sadar?” pertanyaan Nyonya Armanzandrov membuat Dimitri menolehkan kepalanya ke arah sang Ibu yang berdiri tepat di sebelah Rosaline.

“Belum, tapi Dokter sudah memberikan penanganan.” Dimitri lalu menatap ke arah Rosaline. “Kau, kemari?”

“Ya, aku mau menggantikanmu.” Jawa Rosaline.

“Jangan, kau pulang saja.”

“Tapi kau besok harus ke London.”

“Aku menunda keberangkatanku.” Dimitri kembali menatap ke arah Katavia yang masih terbaring lemah. “Dia membutuhkanku.” lanjutnya dengan serius.

Sakit, itulah yang dirasakan Rosaline. Entah apa yang membuat hatinya sakit, mungkin karena penolakan Dimitri, atau mungkin karena perhatian yang diberikan lelaki itu pada adiknya hingga membuat Rosaline cemburu dan sakit hati. Entahlah…

“Rose, lebih baik kita keluar.” Nyonya Armanzandrov meminta Rosaline keluar bersamanya. Rosaline hanya menggelengkan kepalanya, “Rose, biarkan Dimitri di sana, kita keluar sebentar, ada yang ingin aku sampaikan.” Rosaline menatap wanita paruh baya itu, lalu menurut saja ketika tubuhnya di ajak keluar oleh wanita tersebut.

***  

Di taman rumah sakit.

Rosaline masih diam tak mengerti apa yang sedang terjadi. Hatinya semakin merasa gelisah saat tahu jika perhatian yang diberikan Dimitri begitu besar terhadap Katavia. Padahal, tadi pagi lelaki itu sudah mengatakan jika akan tetap mempeoritaskan pekerjaannya meski ia sedang dalam kondisi melahirkan, dan tadi, suaminya itu dengan mudah mengatakan jika ia menunda keberangkatannya hanya untuk menemani Katavia.

Sedalam itukah rasa sayang Dimitri terhadap adiknya?

Dan astaga, seharusnya ia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Katavia adalah adik kandung Dimitri, tak seharusnya ia merasa cemburu seperti ini.

“Rose, kau baik-baik saja?” tanya Nyonya Armanzandrov yang kini sudah duduk tepat di sebelah Rosaline.

“Apa, mereka memang sedekat itu?” tanya Rosaline yang wajahnya masih menatap jauh ke arah hamparan taman rumah sakit yang cukup luas tersebut.

“Kau, mungkin sedikit risih.”

“Tidak, aku tidak risih, aku hanya merasa cemburu, padahal aku tidak seharusnya memiliki perasaan itu terhadap hubungan mereka berdua.”

“Rose, berjanjilah padaku jika kau akan berpikiran terbuka dengan semua ini.” Ucap ibu Dimitri sembari menggenggam erat telapak tangan Rosaline.

“Ada apa? Ada yang kalian sembunyikan?” tanya Rosaline penasaran.

“Sebenarnya, aku sendiri tidak yakin, bagaimana bisa Dimitri membawamu pulang, bahkan sudah menikahimu. Aku tidak yakin kenapa dia melakukan itu.”

“Karena dia mencintaiku.” Rosaline menjawab cepat. “Bukankah begitu?” tanyanya meyakinkan pendapatnya.

“Rose, aku ingin bercerita, tapi tolong cerna baik-baik apa yang kuceritakan. Ini hanya berdasarkan pemikiranku, berdasarkan sudut pandang yang kulihat, karena aku sendiri tidak mengerti apa yang dirasakan Dimitri.”

“Ibu, Kau jangan membuatku takut.” Ya, Rosaline merasa takut, takut jika apa yang akan diceritakan sang mertua adalah sesuatu yang membuatnya terluka.

Nyonya Armanzandrov menggelengkan kepalanya, lalu ia mulai bercerita. “Dulu, Dimitri pernah menyukai seseorang, namanya Ana. Dan dia adalah adik kandung Dimitri. Bukan puteriku, tapi puteri dari simpanan suamiku.”

Rosaline membungkam mulutnya sendiri. Tak percaya dengan apa yang sudah ia dengar.

“Dimitri hampir menikahinya, tapi suamiku melarangnya dan menggagalkan pernikahan Dimitri. Ana diusir dari rumah, dan entah sekarang di mana. Bertahun-tahun berlalu, Dimitri tak pernah sekalipun membawa wanita untuk berkencan dengannya. Entah memang tidak pernah atau kami tidak tahu. Tapi semuanya menjadi semakin jelas saat aku melihat kedekatan Dimitri dengan Katavia.”

Rosaline berdiri seketika. “Tidak, jangan diteruskan.”

“Rose, kupikir, Dimitri memang memiliki kecenderungan mencintai adiknya sendiri.”

“Tidak! Itu tidak mungkin!”

“Aku tidak memaksamu untuk percaya, karena aku juga berharap apa yang kupikirkan bukan suatu hal yang benar. Selama ini aku hanya menerka-nerka hal itu, dan berpura-pura tidak tahu apapun. Beruntung ayah mereka sangat jarang berada di rumah, jika ayah mereka tahu, Katavia mungkin bernasib sama dengan Ana. Lalu kedatanganmu sedikit menenangkanku. Kupikir aku berpikir terlalu jauh tentang hubungan mereka.” Ibu Dimitri menghela napas panjang. “Aku berharap banyak padamu, Rose. Jika Dimitri memang sakit, aku ingin kau menyembuhkannya. Tapi jika hanya Katavia yang sakit, maka aku akan berusaha menjauhkannya dari Dimitri.”

Tubuh Rosaline terasa lemas. Tidak. Dimitri tidak mungkin sakit. Lelaki itu adalah lelaki normal yang jatuh cinta padanya secara spontan. Lelaki itu tidak sakit, dan ia tidak perlu menyembuhkannya.

***  

Setelah mengetahui secuil rahasia dari suaminya, Rosaline semakin merasa tidak nyaman dengan hubungannya bersama Dimitri. Ia merasa dibodohi, ia merasa sedikit jauh dengan Dimitri, ia merasa jika ia belum sepenuhnya mengenal sosok Dimitri.

Apalagi, saat kini, ketika keadaan Katavia sudah membaik, dan Dimitri memutuskan untuk pergi berbisnis ke London. Ia merasa jika lelaki itu tengah menghindarinya dari pertanyaan-pertanyaan yang sudah menari-nari dalam kepalanya.

Ya, setelah dipikir-pikir, semuanya jadi lebih masuk akal. Katavia tidak mungkin semarah itu padanya saat setelah tahu bahwa ia sudah dinikahi Dimitri. Katavia tidak akan begitu membencinya jika mereka tidak memiliki hubungan apapun kecuali sebatas adik dan kakak. Seharusnya Rosaline sadar, seharusnya ia tahu bahwa ada yang tidak beres apalagi setelah ia tahu jika penyebab Katavia pingsan di kamarnya beberapa hari yang lalu adalah karena gadis itu menelan banyak obat penenang hingga overdosis.

Kini, Rosaline merasa kurang nyaman apalagi ketika hanya berdua dengan Katavia di dalam ruang inap gadis tersebut. Karena tadi ia memang diminta ibu Dimitri untuk menemani Katavia sementara wanita itu mengurus segala administrasi rumah sakit karena sore nanti Katavia sudah diperbolehkan pulang.

“Kau tahu, dia hanya mencintaiku.”Rosaline mengangkat wajahnya ketika tiba-tiba Katavia berbicara dengan menggunakan bahasa inggris. Ya, Rose tahu jika gadis itu sedang berbicara dengannya.

“Kau gila? Kau adalah adik kandungnya.” Emosi Rosaline tersulut begitu saja setelah perkataan terang-terangan yang terucap dari bibir Katavia.

“Ya, tapi kami saling mencintai.”

Rosaline berdiri seketika. “Tidak! Dimitri hanya mencintaiku, itu sebabnya dia menikahiku meski kami belum lama saling kenal.”

Katavia tertawa lebar. “Sadarlah, Rose. Kau hanya dijadikan alat untuk menutupi hubungan kami, kau hanya dijadikan alat untuk melahirkan penerus Armanzandrov. Itu saja, tidak lebih.”

Rosaline menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Dimitri sekejam itu. Lelaki itu mencintainya, ya, ia merasakan jika lelaki itu benar-benar mencintainya.

“Kau tahu bukan, yang kami miliki hanya cinta. Meski sebenarnya kami saling bergairah satu sama lain, tapi kami tahu jika kami tidak dapat melakukannya apa lagi membuat keturunan untuk keluarga kami. Maka dari itu, dia mencari seseorang yang dapat dibodohi dengan mudah, dan orang itu adalah Kau.”

“Tidak mungkin.”

“Ya, lihat saja, setelah kau hamil dan melahirkan bayimu nanti, kau akan ditendang dari rumah kami. Anak itu akan menjadi anakku bersama Dimitri, dan kau, kau akan dicampakan dan dilupakan.”

“Kau gila!” karena sudah tidak tahan lagi, Rosaline memilih segera pergi meninggalkan Katavia. Di luar ruang inap Katavia, Rosaline menumpahkan air matanya. Seharusnya ia tidak perlu mendengarkan apa yang dikatakan Katavia, karena mungkin saja itu adalah rencana gadis itu untuk membuatnya membenci Dimitri. Tapi mau memungkiri seperti apapun juga, perkataan Katavia tadi sudah terlanjur menjadi belati yang menyayat hatinya. Jika dipikir, semuanya menjadi lebih masuk akal sekarang.

Ya, Dimitri menginginkan seorang keturunan dan lelaki itu tidak dapat menciptakan seorang keturunan dari wanita yang dicintainya yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri, karena itulah lelaki itu memanfaatkan kehadirannya.

Rosaline segera merogoh ponselnya lalu menghubungi Dimitri saat itu juga. Setelah beberapa kali teleponnya tidak di angkat, akhirnya tak lama Dimitri mengangkat telepon darinya.

“Honey? Apa yang terjadi?”

“Kau, apa kau mencintaiku?” tanya Rosaline secara langsung dengan suara yang sudah terisak.

“Rose, apa yang terjadi?”

“Tolong, jawab saja. Apa kau mencintaiku?”

“Rose-”

“Demi Tuhan! Jawab saja, apa kau mencintaiku?”

“Ya, aku mencintaimu! apa yang terjadi?” Rosaline tidak menjawab, ia segera menutup teleponnya.

Dimitri berbohong. Ya, meski lelaki itu tadi menjawab dengan tegas, tapi hati Rosaline sudah tak percaya lagi dengan apa yang dikatakan lelaki itu. Dimitri tidak mencintainya, lelaki itu hanya memanfaatkannya. Benar-benar bodoh!

-TBC-

Yang penasaran ada hubungan apa antara Ana dan Dimitri, sabar yaa, nanti, akan ada ceritanya kok. setelah ini Chapter selanjutnya sudah bukan Flash back lagi yaa.. hehehhehe