Rex Spencer – Bab 2

Comments 3 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 2

 

Malam semakin larut,  tapi Renne tak juga dapat memejamkan matanya. Sesekali ia menengok ke belakang, nyatanya, Rex belum juga naik ke atas peraduan mereka.

Setelah makan malam menegangkan tadi, Rex segera pergi tanpa sepatah katapun. Dan hal itu membuat Renne semakin yakin bahwa memang ada yang disembunyikan oleh suaminya tersebut.

Renne segera bangkit dari tempat tidurnya, ia berjalan mondar mandir kesana-kemari dengan sesekali berpikir keras. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi. Kenapa setelah percakapannya dengan perempuan yang berada di telepon Rex tadi siang, Renne merasa bahwa masih banyak sekali sesuatu yang tidak ia ketahui tentang diri Rex.

Ketika Renne masih dalam kebingungannya, suara pintu dibuka membuat Renne mengangkat wajahnya menatap ke arah pintu kamarnya tersebut. Rupanya, Rex sudah berdiri di sana, di ambang pintu dengan tatapan tak biasanya.

“Rex? Kau baru pulang?” tanya Renne sembari berjalan mendekat ke arah Rex, suaminya.

“Kenapa kau belum tidur?” pertanyaan Rex terdengar begitu dingin, hingga menghentikan langkah Renne yang mendekat ke arah lelaki itu.

“Aku, aku tidak bisa tidur.”

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Rex yang saat ini sudah berjalan mendekat ke arah Renne.

Entah kenapa dengan spontan Renne berjalan mundur menjauhi suaminya tersebut. Aurah Rex tampak suram, terasa mencekam, dan Renne dengan spontan ingin menjauhi suaminya tersebut saat ini.

“Tak ada.” Hanya itu Jawaban Renne. Kakinya terus saja mundur ketika Rex tak berhenti berjalan mendekat ke arahnya layaknya singa yang siap memangsa buruannya.

Jemari Rex terulur, berusaha meraih pipi Renne, tapi dengan spontan Renne menghindar. “Kau, menghindariku?” tanya Rex dengan mata yang sudah menajam ke arah Renne.

Satu hal yang selalu Renne ingat tentang diri Rex, bahwa lelaki itu tak pernah terima dengan sebuah penolakan.

“Ti-tidak. Kau, hanya tampak sedikit mengerikan saat ini.” Renne berkata jujur.

Rex tersenyum miring. “Kau takut bahwa aku adalah jelmaan hantu Lucas?”

“Maaf?” sungguh, Renne ingin bahwa ia sedang salah dengan.

“Kau melihatku seolah-olah aku ini adalah hantu.” Rex mengoreksi kalimat yang ia katakan sebelumnya.

“Kau tak terlihat seperti biasanya, Rex. Aku melihat ada yang lain dari dirimu.”

“Karena aku sedang memiliki banyak sekali masalah, Rheinata.” Oh, Renne tahu, ketika Rex sudah memanggil nama panjangnya, maka Rex sedang dalam mode marah. “Tak bisakah kau hanya diam dan menurut saja apa perkataanku? Aku tak menyembunyikan apapun darimu. Dan lupakan tentang telepon sialan dari Kara tadi siang. Dia tak akan mengganggumu lagi.” Jawab Rex kemudian.

“Apa yang kau lakukan dengannya?”

“Tak ada.” Rex menjawab sembari memalingkan wajahnya. Saat itu, Renne tahu bahwa suaminya itu sedang berbohong padanya.

Dengan spontan, Renne mencengkeram kemeja Rex tepat di dada lelaki itu. “Lihat aku, dan jawab. Apa yang sudah kau perbuat padanya, Rex?” Renne tentu tahu bahwa Rex adalah sosok yang tegas dan tak kenal ampun. Lelaki itu pernah memecat puluhan bawahannya sekaligus ketika mendapati pegawai-pegawainya itu merayakan pesta ulang tahun ketika jam kerja. Dan masih banyak lagi kengerian yang dilakukan oleh Rex padahal seharusnya Rex dapat mentolelirnya.

“Aku memecatnya. Apa kau puas?” jawab Rex penuh penekanan.

Cengkeraman Renne lepas sektika. “Apa? Kau tak perlu melakukan itu, Rex! Dia hanya mengangkat teleponmu. Kau…”

“Apa kau suka jika suamimu digoda oleh pelacur jalanan seperti dia?” tanya Rex dengan memotong kalimat Renne.

“A-apa maksudmu?”

“Kau tahu kenapa dia mengatakan yang tidak-tidak padamu? Semua itu karena dia menyukaiku.”

“Tidak mungkin.” Renne mundur dan menggelengkan kepalanya.

“Ayolah, Renne. Berpikirlah secara logis. Aku tentu sangat menarik bagi siapapun apalagi bawahanku sendiri. tak heran jika mereka berlomba-lomba untuk menarik perhatianku.”

Ya, tentu saja. Renne tahu bahwa Rex tentu sangat menggoda untuk siapa saja yang melihat lelaki itu. Parasnya tegas, tampan, dan menyiratkan kemaskulinan sejati. Tubuhnya tinggi tegap dan selalu dibalut dengan pakaian-pakaian mahal yang melekat pas. Belum lagi reputasi lelaki itu dalam bidang bisnisnya. Renne bahkan sudah sempat tertarik dengan Rex saat masih di perguruan tinggi. Namun, Renne memendam perasaannya tersebut karena ia merasa tidak pantas bersanding dengan Rex. Kini, Renne bahkan masih sesekali tak percaya jika dirinya sudah menjadi istri sah dari seorang Rex Spencer.

“Kau, percaya dengan apa yang kukatakan, bukan?” tanya Rex membuyarkan lamunan Renne.

Renne mengangguk pelan. Nada suara Rex sudah melembut, dan hal itu membuat Renne ketakutan Renne sedikit demi sedikit menghilang. “Ya, tapi kau tak perlu memecatnya, Rex.”

“Dia duri didalam daging. Dan pantas kusingkirkan sebelum merusak semuanya.”

Rex tampak takut, Rex tampak panik. Kenapa Rex harus takut jika lelaki itu tak melakukan apapun? Tapi Renne tak mengungkapkan apa yang dia pikirkan kepada Rex, karena ia tahu, Rex pasti akan marah saat ia curiga dengan apa yang sedang disembunyikan lelaki itu.

Tiba-tiba, jemari Rex kembali terulur, mengusap lembut pipi Renne, dan yang bisa Renne lakukan hanya diam, mencoba menikmati sentuhan lembut dari suaminya tersebut.

“Lupakan dia, Sayang. Yang terpenting saat ini adalah, bagaimana kelanjutan hubungan kita.” Bisik Rex dengan suara serak dan nada sensualnya. Renne tahu jika Rex mulai menggodanya.

“Kelanjutan? Maksudmu?” tanya Renne tak mengerti.

Rex tersenyum penuh arti. “Spencer kecil. Bukankah kita sudah sepakat untuk berusaha mendapartkannya secepat mungkin?”

Ahh ya, tentang itu. Renne dan Rex memang sepakat untuk tidak menunda lagi tentang bayi. Tapi tiga bulan berlalu setelah pernikahannya, Renne belum juga mendapati dirinya hamil. Jika dulu dengan Lucas Renne menggunakan kontrasepsi karena Lucas belum siap memiliki bayi, maka dengan Rex, Rex sendirilah yang menginginkan agar mereka segera memiliki bayi untuk menguatkan cinta dan juga hubungan mereka.

“Uuum, aku masih tak yakin. Aku takut jika kita terlalu berharap, maka pada akhirnya, kita akan kecewa.”

“Kau, tak akan mengecewakanku, Sayang. Kau adalah sosok yang tepat untuk mengandung dan melahirkan bayi-bayiku kelak.”

Renne hanya mengangguk. Ia bahagia dengan kepercayaan yang diberikan Rex padanya, tapi disisi lain, Renne takut jika dirinya akan mengecewakan lelaki itu.

Kemudian, Rex mendekat lagi, lelaki itu mengangkat dagu Renne kemudian menundukkan kepalanya, dan yang bisa Renne lakukan hanya memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut dari bibir lelaki yang begitu menggodanya. Lelaki yang kini menjadi suaminya. Renne bahkan membalas setiap cumbuan menggoda dari Rex, membuat Rex tak kuasa menahan diri untuk tidak mengerang diantara cumbuan mereka.

Malam yang menegangkan itu segera berubah menjadi malam yang panas. Renne tahu, bahwa Rex memang sangat pandai mengambil alih siatuasi, lelaki itu sangat pandai menggodanya, membangkitkan gairahnya, hingga Renne yakin, bahwa sampai kapanpun ia tak akan mampu menolak pesona seorang Rex Spencer.

***

Siang itu, Renne berakhir di sebuah kedai burger bersama dengan teman dekatnya, Lucy Bagwell. Lucy adalah satu-satunya teman dekat perempuan yang dimiliki oleh Renne. Perkenalannya dengan Lucy bermula ketika ia menghadiri sebuah pesta amal bersama dengan Lucas. Kemudian mereka saling berkenalan karena ternyata Lucy merupakan istri dari rekan kerja Lucas. Sejak saat itu keduanya sering bertemu hingga terjalinkah hubungan dekat mereka.

Bagi Renne, Lucy tak sekedar teman biasa. Ia merasa bisa menceritakan apapun dengan temannya itu karena Lucy merupakan tipe orang yang sangat pandai menjaga rahasia.

Hingga ketika suasana hati Renne yang sedang galau seperti saat ini, hanya Lucylah yang seakan mengerti tentang apa yang ia rasakan.

Sembari menggigit burger pesanannya, Lucy bertanya “Jadi, kau mulai curiga dengan Rex, begitu?” tanyanya setelah ia mendengar keluh kesah Renne.

“Aku tidak tahu apa yang membuatku curiga. Hanya saja, aku merasa ada sesuatu yaang disembunyikan Rex dariku.”

“Well, mungkin kau terlalu terteka, Renne. Dan kuharap kau tidak memikirkan tentang apa yang dikatakan perempuan itu padamu.” Lucy menyinggung tentang percakapannya siang itu dengan Kara via telepon.

“Sejujurnya, masalah ini bermula karena percakapanku dengan Kara, siang itu.”

“Oh ayolah, kau bahkan tidak mengenalnya.”

“Ya, karena itulah aku berpikir bahwa dia mengatakan yang sebenarnya. Maksudku, kami tak saling mengenal, apa untungnya dia membuatku tak tenang dengan mengatakan hal-hal itu?”

“Renne, bukankah Rex sudah menjelaskan, bahwa perempuan itu hanya ingin hubunganmu dengan Rex renggang. Dia ingin kau berpikiran buruk tentang rex. Dan sepertinya, dia berhasil.”

“Lucy, bukan itu yang kumaksu.” Renne menghela napas panjang, ia tak tahu harus menjelaskan seperti apalagi dengan temannya itu. “Saat itu aku hanya bertanya pada Rex, lalu dia segera merubah ekspresi wajahnya. Dia tampak marah, mengerikan, dan aku benar-benar tak mengenalnya.”

“Jika aku jadi Rex, akupun melakukan hal yang sama. Ayolah, kau menuduhnya membunuh mantan suamimu yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. bagaiman mungkin dia tak marah atau tersinggung dengan ulamu?”

“Aku tidak menuduhnya, Lucy. Bahkan aku belum menjelaskan secara terperinci, apa saja yang dikatakan Kara padaku siang itu.”

“Ya, tapi secara garis besar kau sudah menuduhnya. Dan itu benar-benar bisa menyinggungnya.”

Renne mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh, ia ingin ada yang mengerti perasaannya dan juga kegelisahan hatinya.

Lucy kemudian menggenggam jemari Renne sembari berkata “Kau hanya terlalu tegang. Seharusnya kau bisa berpikir, bahwa Rex bukanlah lelaki biasa. Tentu banyak wanita yang menginginkannya. Tapi dia hanya memilihmu. Dan hal itu membuat para wanita lain ingin menjatuhkan hubungan kalian, bagaimanapun caranya.” Ucap Lucy dengan pelan penuh pengertian.

“Aku hanya takut. Dan aku tak mengerti, darimana asal mula ketakutan ini. akhir-akhir ini, aku memang sering mengalami hal-hal seperti ini. kepalaku sering pusing, dan itu membuatku tidak nyaman.”

“Astaga, apa kau sudah memeriksakan dirimu ke Dokter?” tanya Lucy secara tiba-tiba.

“Untuk apa? Maksudku, aku tidak sakit, Lucy.”

“Astaga, kau ini polos atau bodoh? Maksuku, bisa jadi semua perasaan tidak nyaman yang kau rasakan adalah efek dari hormonmu yang kacau.”

Renne mengerutkan keningnya.

“Maksudmu?”

“Ya. Bisa jadi kau sedang hamil.”

Oh, Tidak. Pasti tidak. Bukannya Renne menolak, tapi Renne tidak ingin kecewa karena terlalu berharap. Ia tidak akan ke dokter sebelum dirinya memastikan bahwa ia benar-benar hamil. Tapi, memikirkan kemungkinan itu membuat dada Renne berdesir. Ia dan Rex sangat menginginkan seorang bayi, dan membayangkan dirinya hamil benar-benar membuat Renne tak kuasa menahan rasa haru di dalam dirinya. Benarkah ia tengah hamil? Benarkah sebagian dari diri Rex kini tengah tumbuh di dalam dirinya?

-TBC-

Wakakakak perasaan ceritaku jadi Baby Love semua dehhh wakakkaka maap yaa… gak tau kenapa kok barengan pada hamil semua ini tokohnya wakakakkakak nikmatin aja yaakkk hahhahaha

 

Advertisements

My Beautiful Mistress – Bab 3

Comment 1 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 3

 

Setelah memastikan Marvin pergi dari rumahnya, Jiro kembali ke dapur dan mencari keberadaan istrinya. Tapi ternyata, Sang istri sudah tidak berada di sana. Jiro akhirnya bergegas menuju ke arah kamar, biasanya, Ellie akan berada di dalam kamar mereka, entah sekedar membaca buku atau menonton film kesukaannya. Dan benar saja, rupanya istrinya itu sedang berada di sana.

“Aku belum selesai. Masih banyak yang harus kita bahas.”

“Aku tidak ingin membahas apapun.”

Jiro tak tahu harus memulai darimana. Di satu sisi ia ingin menjelaskan pada Ellie tentang gosip yang beredar beberapa hari terakhir, tapi disisi lain, ia merasa Ellie tak perlu mengetahui penjelasannya. Masalahnya, Jiro tak yakin kemarahan Ellie atau perubahan sikap wanita itu berhubungan dengan gosip kedekatan dirinya dengan Vanesha atau tidak.

“Aku tahu, kamu marah karena gosip yang beredar, kan?”

“Aku sudah bilang bahwa aku tidak peduli.”

Jiro mendekat. “Maafkan aku, seharusnya aku tidak mendatanginya saat itu.” Terus saja Jiro menjelaskan apa yang terjadi.

Ellie menatap Jiro seketika. “Kamu pikir aku peduli? Bukankah aku tak memiliki hak apapun untuk mempermasalahkannya?” Ellie menatap Jiro dengan tatapan beraninya.

“Kamu sangat berbeda, Ellie. Apa yang terjadi?”

“Pulangkan aku ke inggris.” Ellie berkata cepat. Padahal ia tahu bahwa bukan itu yang ia inginkan.

“Tidak. Aku tahu bukan itu keinginanmu. Kamu bersikap seperti ini hanya untuk mencari perhatianku, kan? Jika ya, maka selamat, kamu berhasil.”

Ellie tertawa lebar. “Aku tidak butuh perhatian sialanmu.”

“Lalu apa yang kamu butuhkan?” tanya Jiro kemudian.

Pengakuan… kasih sayang… dan cinta.. itulah yang Ellie butuhkan. Jika dulu Ellie tak membutuhkan hal itu karena ia cukup menerima keadaannya yang menjadi istri Jiro, maka berbeda dengan sekarang. Sekarang ia sedang mengandung bayi lelaki itu, bayinya. Dan Ellie ingin Jiro mencintainya, mengakuinya di depan umum agar kelak bayi mereka merasakan kebahagiaan yang sempurna.

“Aku sudah memberimu semuanya, Ellie. Apa masih kurang?”

“Benarkah? Coba sebutkan apa saja yang sudah kamu berikan padaku?” Ellie menatap Jiro dengan mata menantangnya.

“Aku sudah memfasilitasimu.”

“Hanya itu! Aku tidak menginginkan fasilitas sialanmu!” ya, meskipun dengan apa yang sudah diberikan Jiro selama ini kepadanya, nyatanya Ellie memilih tak menerima semua itu jika dirinya harus hidup seperti seorang simpanan.

Jiro mendekat hingga jarak diantara mereka hanya beberapa senti. Jiro meraih dagu Ellie dan bertanya penuh dengan penekanan. “Lalu apa yang kamu inginkan?”

Dengan berani Ellie menjawab. “Pengakuan.”

Jiro tercengang dengan keberanian istrinya tersebut. Selama ini, Ellie yang ia kenal adalah Ellie yang lugu, penurut, pemalu. Ellie yang tak pernah menuntut apapun. Dan kini, istrinya ini berubah seratus delapan puluh derajat. Jiro tak tahu apa yang membuat Ellie menginginkan sebuah pengakuan. Pengakuan yang tak akan pernah bisa Jiro berikan selama ia berambisi di dunia musik.

Dengan spontan, Jiro mundur satu langkah. “Kamu tahu kan, kalau itu tidak akan bisa kuturuti.”

“Ya, aku tahu, Semua itu karena ambisis sialanmu.”

Jiro menarik ujung bibirnya. “Kamu sudah berkali-kali mengumpat, Ellie.”

“Aku tidak mengumpat. Semua yang kamu lakukan memang sialan.”

Jiro tersenyum, kemudian ia kembali mendekat. “Apa yang kulakukan kali ini juga sialan?” tanyanya disertai dengan meraih dagu Ellie kemudian mencumbu habis bibir wanita itu. Ellie sempat meronta, sekuat tenaga ia mendorong Jiro hingga tautan bibir mereka terputus.

“Jangan sentuh aku!” Ellie berseru keras.

Jiro kembali mendekat. “Aku ingin.” Ucapnya sebelum kembali mencumbu bibir ranum Sang istri. Kali ini lebih lembut dari yang pertama. Meski awalnya Ellie menolak, tapi hasrat tak dapat membohongi dirinya.

Ellie juga menginginkan Jiro dan mungkin ini berhubungan dengan kehamilannya. Ellie tahu bahwa hormonnya sedang kacau. Beberapa hari terakhir, Ellie bahkan sering menangis sendiri, merindukan kehadiran Jiro. Padahal Ellie tahu, kalaupun Jiro datang, lelaki itu hanya akan menyetubuhinya tanpa tidur bersama dan memeluknya.

Ya, Ellie tau bahwa dirinya hanya sekedar alat pemuas lelaki itu. Tapi bodohnya ia tetap mengagumi sosok Jiro. Ellie merasa bahwa ini semua tak adil untuknya. Bagaimana mungkin ia begitu memuja lelaki itu sedangkan dirinya hanya tampak seperti seorang simpanan yang hanya dimanfaatkan untuk memuaskan lelaki itu?

Cukup!

Saat ini, Ellie tak ingin memikirkan hal itu, karena ia ingin menikmati ketika tubuh Jiro menyentuhnya. Dengan spontan Ellie mengeluarkan erangannya. Jemari Jiro meloloskan pakaiannya satu persatu hingga tanpa sadar saat ini Ellie hanya berdiri mengenakan pakaian dalamnya saja.

Jiro masih mencumbunya dengan intens, dan hal itu membuat Ellie tak mengerti, apa yang sedang terjadi dengan lelaki ini?

Ini memang bukan pertama kalinya Jiro menciumnya. Tapi lelaki itu tak pernah menciumnya dengan begitu bergairah seperti saat ini. biasanya Jiro hanya akan menciumnya sekilas, menyatukan diri, kemudian melakukan seks hanya untuk sebuah kewajiban dan kesenangannya. Tak jarang, hanya Jirolah yang mendapatkan kenikmatan tersebut, sedangkan tidak dengan Ellie.

Tapi kini, Ellie seakan sedang dipancing gairahnya, dan Ellie tak ingin mengakhirinya begitu saja hanya karena rasa sakit hatinya.

Dengan spontan, Ellie mengalungkan lengannya pada leher Jiro. Kakinya sedikit berjinjit karena tingginya yang tak sesuai dengan tinggi suaminya tersebut. Jemari Jiro merayap, menuruni perutnya, kemudian lelaki itu menghentikan aksinya.

Pada saat itu, Ellie merasa khawatir. Apa kehamilannya akan ketahuan?

Jiro melepaskan tautan bibir mereka kemudian matanya menatap Ellie penuh tanya. “Kamu…” ucapnya penuh tanya.

Dengan spontan Ellie kembali mengalungkan lengannya pada leher Jiro, kemudian mencumbu kembali bibir lelaki itu. Demi Tuhan! Ellie tak ingin membahas masalah itu saat ini, ketika gairahnya tumbuh dan menyala-nyala. Ia ingin Jiro berada di dalam dirinya, memuaskannya, bukan membahas tentang kehamilannya.

Dan ketika ia sudah sampai pada puncak kenikmatan nanti, Ellie berjanji akan mengatakan semuanya pada Jiro. Kini, ia hanya ingin melanjutkan apa yang sudah dimulai lelaki itu. Dan Ellie bersyukur karena ternyata Jiro kembali melanjutkan apa yang tadi dilakukan lelaki itu.

Jiro merapatkan tubuh Ellie pada tubuhnya, mencumbu Ellie kembali dengan panas dan menggoda. Oh, Ellie sangat yakin jika dirinya tak pernah dicumbu seperti ini. ia sangat yakin jika ia tak pernah sebergairah seperti saat ini. hingga akhirnya, Ellie tak kuasa menahan erangannya.

Jiro menyukainya, dalam cumbuannya ia tersenyum melihat istrinya begitu bergairah, sangat berbeda dengan biasanya yang hanya diam seperti boneka. Jika seperti ini, Jiro semakin merasa tergoda. Dan sial! Ia merasa tak ingin menunggu lebih lama lagi.

Jiro mengangkat tubuh Ellie, kemudian membaringkan wanita itu di atas ranjangnya. Sesekali ia melepaskan sisa-sisa pakaian yang membalut tubuh Ellie hingga wanita dibawahnya itu polos tanpa selehai benangpun. Jiro mencoba mengabaikan bentuh tubuh Ellie yang lebih berisi dari teakhir kali ia melihatnya. Tentu saja, kemarin, mereka bercinta dalam cahaya remang-remang. Jiro tak dapat melihat dengan jelas bagaimana tampilan tubuh Ellie. Dan kini, ia bisa melihatnya dengan jelas.

Ellie tampak lebih berisi, pinggangnya lebih lebar dari sebelumnya, dan perutnya, sedikit…. Tidak! Mungkin Jiro hanya salah melihat. Mencoba mengabaikan tubuh wanita dibawahnya tersebut yang tampak semakin menggoda, Jiro kembali menundukkan kepalanya. Kali ini ia menggapai sebelah payudara Ellie, mengodanya, hingga membuat istrinya tersebut menggelinjang nikmat.

Oh, Jiro sangat suka. Ia tak pernah melihat Ellie bereaksi seperti ini karena sentuhannya. Bagaiaman mungkin wanita ini bisa begitu berbeda?

Setelah cukup lama melakukan penetrasi, akhirnya Jiro tak dapat menunggu lebih lama lagi. Ia bangkit, melucuti pakaiannya sendiri satu demi satu hingga polos dan kembali menindih tubuh Sang istri. Jiro menatap tajam ke arah wanita di bawahnya tersebut kepalanya menunduk kemudian mencumbu bibir Ellie dengan nikmat sembari mencoba menyatukan diri.

Penyatuan yang begitu sempurna.

Jiro mendesah panjang ketika Ellie terasa begitu nikmat. Wanita itu membungkusnya dengan lembut, dan Jiro akan bersikap lembut pula agar tidak menyakiti wanita di bawahnya tersebut.

Jiro mulai bergerak, pelan tapi pasti. Menghujam lagi dan lagi, mencari kenikmatan untuk dirinya dan memberi kenikmatan untuk diri Ellie. Erangan Ellie membuat gairahnya semakin menanjak. Ia tak pernah melihat Ellie seperti ini. ia sangat menyukainya, tapi disisi lain, Jiro merasa bahwa pertahanannya mulai runtuh.

Sial! Ia tidak boleh membiarkannya.

Ellie memang istrinya tapi Jiro tahu bahwa dalam waktu dekat, ia tidak akan bisa menuruti kemauan Ellie tentang pengakuan didepan publik tersebut.

Jiro bergerak semakin cepat hingga Ellie tak kuasa menahan diri. Gelombang kenikmatan menghantam wanita itu, membuatnya mengerang, menyebutkan jama Jiro. Jiro sangat suka saat Ellie memangil nama aslinya. “James… James… Ohh…”

Panggilan-panggilan erotis tersebut membuat Jiro tak mampu bertahan lebih lama lagi. Dalam dua kali hentakan, ia kembali menumpahkan gairahnya ke dalam tubuh Ellie.

***

Ellie masih terbaring miring memunggunginya. Sedangkan Jiro tak tahu harus berbuat apa. Percintaan mereka tadi benar-benar sangat panas, bahkan mungkin palig panas diantara percintaan yang pernah mereka lakukan.

Sialnya, setelah mengingat bagaimana panasnya Ellie, Jiro kembali menginginkan wanita itu.

Brengsek!

Padahal Jiro tahu bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menambah ‘jatahnya’ lagi. Ada satu hal yang diembunyikan Ellie dan Jiro harus memaksa wanita itu untuk mengatakannya.

“James.” Suara Ellie terdengar lembut, seakan menggelitik telinganya, menggoda untuk membangkitkan gairahnya. “Ada yang ingin kukatakan.” Wanita itu melanjutkan kalimatnya.

“Katakan.” Jiro berharap jika apa yang ia pikirkan tidak benar, dan Ellie tak akan mengatakan apapun yang tadi sempat ia pikirkan.

“Aku hamil.”

Jiro membeku seketika. Ia salah dengar. Ya, ia pasti salah dengar.

Karena tak mendapatkan tanggapan apapun, Ellie membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Jiro. “Kamu dengar aku, kan? Aku hamil.” Ucapnya dengan jengkel karena tak mendapatkan reaksi apapun dari suaminya tersebut.

“Aku dengar.”

“Lalu?” Ellie masih menunggu reaksi Jiro.

“Kenapa bisa?” tanyanya dengan spontan.

“Kenapa bisa? Kamu meniduriku, tentu saja aku bisa hamil.”

“Kita sudah sepakat Ellie. Kita sudah sepakat untuk mencegahnya.”

Ellie duduk dan membenarkan letak selimutnya. “Sudah Empat tahun dan aku ingin berhenti. Aku ingin memiliki bayi. Persetan dengan apa yang kamu inginkan.”

Jiro ikut terduduk. “Kamu sudah mulai berani membantah.”

“Ya. Kenapa? Kamu ingin marah? Aku tidak peduli.” Ellie bersiap pergi, tapi secepat kilat Jiro meraih pergelangan tangannya.

“Kita belum selesai, Ellie.”

Ellie menghempaskan cekalan tangan Jiro. “Bagiku, tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau, Sekarang kamu boleh pergi.” Ucapnya dengan dingin.

Jiro benar-benar tak habis pikir dengan istrinya ini. bagaimana mungkin Ellie bisa berubah sebanyak ini? yang yang lebih menyebalkan lagi adalah, bagaimana mungkin perubahannya sangat berpengaruh terhadap diri Jiro?

***

Jiro benar-benar pergi setelah Ellie memintanya pergi. Meski begitu, ia tidak akan mengabaikan wanita itu begitu saja. Astaga, wanita itu sedang hamil, mengandung anaknya, dan Jiro tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya pada wanita itu.

Kini, ia melemparkan diri di atas sofa panjang apartmennya, kemudian mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.

“Halo.” Dalam deringan kedua, panggilan tersebut diangkat.

“Mei. Sial! Bagaimana mungkin kamu tidak memberitahuku tentang kehamilannya?”

“Kamu sudah tahu?”

“Tentu saja. Ellie sendiri yang memberitahuku.”

“Dia memintaku untuk tutup mulut. Aku bisa apa?” Mei tampak mendesah panjang. “Apa lagi yang kamu lakukan padanya? Dia tidak ingin membuka pintu kamarnya sepanjang sore.”

“Kamu yakin?” Jiro sedkit khawatir.

“Ya. Dia sedang merajuk. Aku tahu itu. Dan ketika Ellie sudah merajuk, tidak ada satu hal pun yang bisa kulakukan selain menunggumu kembali.”

“Brengsek, Mei! Aku bahkan baru istirahat di apartmenku. Masa iya aku harus balik lagi?” Jiro benar-benar tak habis pikir dengan Ellie. Tadi, setelah pergi dari rumahnya, Jiro memang sempat mampir ke studio musik Jason untuk menenangkan diri dari rasa shocknya. Setelah itu ia pulang ke apartmennya. Kini, Jiro hanya ingin istirahat. Tapi Ellie, ia tidak bisa mengabaikan wanita yang sedang merajuk itu.

“Lagi pula, ini kan rumahmu. Kenapa kamu nggak tinggal di sini sementara selama dia hamil.”

“Kamu tentu tahu aku nggak bisa ngelakuin itu. Media akan mengendusnya dan itu akan menjadi gosip.”

“Tapi kamu harus memikirkan Ellie dan bayi kalian. Dia membutuhkan kamu di sisinya. Lagi pula, aku tidak yakin dia mau membuka pintunya sampai besok. Dia sangat keras kepala, dan jangan lupakan kalau dia belum makan sejak tadi siang.”

“Sial! Brengsek!” Jiro bangkit seketika. Ia bahkan sudah mematikan sambungan teleponnya.

Jiro meraih jaket dan juga topinya. Kemudian segera bergegas keluar dari apartmennya. Ya, walau bagaimanapun, Jiro tidak bisa mengabaikan keadaan Ellie, apalagi setelah tahu bahwa wanita itu sedang mengandung anaknya.

Hari ini, Jiro merasa kalah. Ia merasa bahwa Ellie mampu memporak-porandakan perasaannya selama seharian penuh. Tapi Jiro bersumpah bahwa hanya hari ini harga dirinya jatuh pada seorang Ellisabeth Williams. Tidak akan ada hari-hari selanjutnya lagi. Karena setelah ini, Jiro akan membenahi hubungan mereka, ia akan menerapkan beberapa peraturan untuk dipatuhi bersama hingga tak akan ada yang merasa dirugikan lagi diantara mereka. Ya, demi bayi mereka, hubungan mereka, dan juga masa depan mereka kedepannya, Jiro akan berusaha untuk mengalah dan mencari jalan tengah untuk kebaikan bersama.

-TBC-

 

My Beautiful Mistress – Bab 2

Comment 1 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 2

 

“Aku benar-benar tidak menyangka jika kamu akan seberani itu dengan Jiro.” Ucap Mei ketika keduanya saat ini sudah berada di dalam sebuah supermarket untuk berbelanja kebutuhan mingguan Ellie.

“Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan sikapku?”

Mei tersenyum lembut. “Enggak, tapi, Jiro pasti sangat terkejut saat mendapati istrinya sekarang menjadi sedikit membangkang.”

Ellie berpikir sebentar. “Membangkang? Seperti tidak menurut?” tanya Ellie. Ia memang kadang masih suka lupa dengan bahasa indonesia.

“Ya. Seperti itu.”

Ellie menghela napas panjang. “Dulu aku tidak memiliki apapun untuk kuperjuangkan. Sekarang aku memiliki dia.” ucapnya sembari mengusap perutnya yang sudah mulai memiliki gundukan mungil.

“Jadi, apa rencanamu?”

“Aku akan membuat dia mengerti, bahwa dia tidak bisa seenaknya seperti dulu. James memang Artis, dia memang Bassis ternama di negeri ini. tapi di mataku, dia hanya lelaki biasa, dan dia adalah suamiku. Jadi aku akan berusaha merebut perhatiannya.”

“Bagus sekali, Ellie. Apa kamu tahu, dia benar-benar cengo saat kamu melawannya tadi pagi. Astaga, mukanya lucu sekali.” Mei tertawa lebar saat mengingat bagaimana wajah terkejut Jiro saat Ellie menyebut Jiro adalah salah satu orang yang paling buruk yang pernah wanita itu kenal.

Ellie ikut tertawa lebar, tapi kemudian ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari bertanya “Ngomong-ngomong, Cengo itu apa?”

Seketika itu juga, tawa Mei lenyap. Ia memutar bola matanya dengan kesal ke arah Ellie. Ya, bukan salah wanita itu, tapi terkadang, Mei merasa jengkel jika harus menjelaskan setiap kata yang tidak dimengerti oleh wanita itu.

***

Jiro bermain-main dengan gitar milik Ken. Selain memainkan Bass, Jiro memang pandai bermain gitar. Ketika dirinya sedang santai seperti ini, Jiro memilih memainkan gitar dengan sesekali bersenandung sendiri.

Hari ini, mereka tak ada latihan, Jason sedang sibuk dengan masalahnya sendiri, dan itu benar-benar membuat Jiro kesal. Sebentar lagi mereka akan tampil di sebuah konser yang akan di siarkan secara langsung di beberapa TV nasional. Jiro hanya tak ingin mereka melakukan sebuah kesalahan pada acara Live tersebut.

Meski begitu, Jiro menahan diri agar tidak terlalu memaksa Jason. Bagaimanapun juga, ia juga pernah merasakan apa yang di rasakan Jason. Ketika Jiro tak berada pada mood yang baik, ia juga tak dapat memainkan alat musik apapun. Dan sepertinya, hal itu pulalah yang terjadi dengan Jason.

“Woi, ngelamun aja lo.” Troy datang. Sendiri. sedangkan Ken tak ikut dengan temannya itu.

“Elo sendirian?”

“Ya. Kenapa? Kita kan lagi nggak ada jadwal latihan.”

Jiro hanya mengangguk. “Ken mana?” tanya Jiro kemudian.

“Nggak tau, mungkin lagi jalan sama ceweknya. Gue telpon dia dari pagi nggak diangkat.”

Troy menuju ke arah lemari pendingin yang berada di ujung studio musik tempat mereka latihan. Ia mengambil sekaleng minuman dingin dan kembali menuju ke arah Jiro.

“Elo sendiri ngapain di sini sendirian? Ngelamunin apa lo? Vanesha?” tanya Troy yang kini sudah duduk tepat di sebelah Jiro.

“Elo apaan sih.”

Well, gue sudah baca gosip tentang elo sejak kemaren. Gue pengen tanya tapi, gue tau kalau elo nggak pernah mau bahas masalah pribadi elo dengan kita-kita.”

“Kalau gitu, sekarang ngapain elo bahas masalah ini sama gue. Gue nggak akan mau cerita.”

“Ayolah. Gue bukan wartawan. Dan astaga, asal elo tahu, Vanesha pernah gue tidurin.”

Jiro menatap Troy seketika. “Berengsek lo.” Umpatnya.

Sebenarnya, Troy merasa tak memiliki hubungan apapun dengan Vanesha. Vanesha adalah seorang model. Mereka memang pernah beberapakali bertemu karena pekerjaan, kemudian keluar bersama beberapa kali. Jiro pernah mencium Vanesha saat mabuk, dan sialnya, The Danger (sekumpulan wanita gila yang mengaku fans fanatik mereka) mengetahui hal itu dan memotretnya. Memberi peringatan pada Jiro. Tapi Jiro tentu tak mengindahkannya. Kemudian, foto itu tersebar. Itulah awal mula gosip tentang dirinya dan Vanesha merebak.

Gosip tersebut semakin panas ketika sekitar tiga atau empat hari yang lalu, Jiro kembali kepergok keluar dari gedung apartmen Vanesha pagi-pagi buta. Jiro menghela napas panjang, ia benar-benar menyesali perbuatannya.

Apa karena itu Ellie bersikap berbeda kepadanya? Apa Ellie mengetahui tentang berita itu? Sejauh yang Jiro tahu, Ellie lebih suka menonton acara-acara luar atau memutar DVD. Tapi, mengingat sikap wanita itu yang tak biasa membuat Jiro khawatir. Jangan-jangan, Ellie benar-benar telah mengetahui gosip tentang skandalnya dengan Vanesha.

Mengingat itu, Jiro berdiri seketika. Ia ingin memastikan tentang hal itu. Apa benar, Ellie sudah mengetahui tentang semuanya?

Tanpa banyak bicara, Jiro melesat keluar. Hal itu benar-benar membuat Troy heran. Sambil menggelengkan kepalanya, dia bertanya pada dirinya sendiri. “Gue salah ya, karena sudah jujur tentang cinta semalam gue sama Vanesha?”

***

Waktu sudah menunjukkan pukul Empat sore. Tapi Jakarta hari ini benar-benar panas. Yang membuat kesal Ellie adalah, selain tadi sempat terjebak macet, kini mobil Mei tiba-tiba mogok di jalan, hal itu benar-benar membuat mood Ellie memburuk.

“Aku sudah menelepon Marvin. Dia akan jemput kamu.”

Ellie mengerutkan keningnya. “Marvin? Kenapa harus dia?” Ellie merasa tidak nyaman.

Marvin adalah adik sepupu Mei. Mereka memang pernah beberapa kali bertemu. Yang membuat Ellie tak nyaman adalah karena Marvin pernah secara terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Ellie. Ya, lelaki yang sebaya dengannya itu memiliki perasaan lebih padanya.

“Karena hanya dia orang yang kukenal dan bisa menjemputmu kapanpun.”

“Nggak perlu.” Ellie menjawab cepat. “Aku akan menunggu di sini denganmu.”

“Ayolah Ellie. Aku tahu kamu kepanasan. Dan menunggu mobil derek akan lama. Lagian, Marvin nggak jauh dari sini. Jadi sebentar lagi dia sampai.”

Ellie menghela napas panjang. Apapun itu, ia akan menerimanya. Ya, bukankah memang Mei yang selalu menjadi bossnya?

Tak lama, orang yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Lelaki tampan itu keluar dari dalam mobilnya dengan senyuman khasnya. Siapapun akan terpada dengan lelaki itu, tapi tidak dengan Ellie.

Bagi Ellie, lelaki yang paling tampan adalah suaminya, James Drew Robberth. Tak akan ada yang mampu membuatnya terpesona selain lelaki itu.

“Hai, aku senang dihubungi.” Marvin berbasa-basi.

“Nggak perlu berbasa-basi. Sekarang, angkut saja belanjaan kami, dan antar Ellie pulang.”

Dengan tawa lebar, Marvin menuju ke arah bagasi. “Oke, kebetulan aku sedang ingin minum kopi. Kuharap aku mendapatkan secangkir kopi di sana nanti.”

Ellie mendengus sebal. Ia tahu, bahwa tak akan mudah mengusir Marvin nantinya. Tapi, ya sudahlah. Toh ia sudah menolak lelaki itu secara terang-terangan. Marvin pasti tak akan berbuat macam-macam apalagi mengingat ada dua pengawal yang selalu berjaga di rumahnya.

***

“Oke, ini yang terakhir.” Ucap Marvin setelah menaruh bingkisan terakhir di meja dapur Ellie. Ellie sendiri sedang sibuk membuatkan kopi untuk lelaki itu. Meski sedikit tak nyaman tapi sangat tidak pantas kalau ia mengusir Marvin tanpa memberinya minum terlebih dahulu.

Ellie menyuguhkan kopi untuk Marvin. “Minumlah.” Ucapnya sembari bergegas membuka-buka barang belanjaannya.

“Kalian habis ngerampok supermarket, ya?” tanya Marvin dengan nada bercanda. Lelaki itu memang memiliki selera humor tinggi. Tentu sangat berbeda dengan Jiro, suaminya.

“Ya, selain supermarket, kami juga merampok toko perlengkapan rumah tangga.” Ucap Ellie sembari menunjukkan beberapa pisau dapur yang baru saja ia beli.

Marvin tertawa lebar. “Hahaha, lucu sekali.” Marvin menyesap kopi buatan Ellie. “Kopimu memang selalu yang terbaik.”

“Tentu saja. Karena kamu meminumnya gratis.” Ellie menjawab lagi-lagi dengan nada ketus.

Marvin tersenyum. Ia senang melihat sikap Ellie yang seperti ini. setidaknya, Ellie tidak dapat menyembunyikan rona merah di pipi wanita itu. Marvin lalu berdiri dan mendekat ke arah Ellie. “Ngomong-ngomong, aku suka dengan sikapmu yang sekarang.” Ucap Marvin dengan parau.

Ellie mengangkat wajahnya seketika menatap ke arah Marvin. “Apa maksudmu?”

Jemari Marvin terulur, mengusap lembut rona merah di pipi Ellie. Ellie ingin sekali menghindar, tapi ia tidak mau sikapnya yang menghindar membuat Marvin berpikir bahwa kehadiran lelaki itu berpengaruh terhadapnya.

“Keketusanmu, sangat kontras dengan rona merah di pipimu.” Bisiknya dengan nada parau. “Akui saja, kamu gugup berada di dekatku, sejak aku menyatakan perasaanku beberapa bulan yang lalu, kan?”

Ellie sangat kesal dengan sikap lelaki di hadapannya ini. Hampir saja ia membuka suara, sebelum suara keras yang lain datang menambah ketegangan diantara mereka.

“Singkirkan tangan sialanmu dari wajah istriku!”

Ellie dan Marvin menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut. Tampak Jiro berdiri menjulang di dekat meja makan dengan mata penuh dengan kemarahan.

“James. Kenapa kamu di sini?” tanya Ellie tak percaya.

Biasanya, setelah mendapatkan ‘jatahnya’, Jiro akan pergi, dan paling cepat akan mengunjungi Ellie Tiga hari setelahnya. Bahkan kemaren, lelaki itu tidak mengunjunginya sama sekali selama Tiga minggu terakhir. Lalu untuk apa lelaki itu datang kemari padahal baru tadi pagi dia keluar dari rumah ini?

“Kenapa aku di sini? Ini rumahku! Seharusnya pertanyaan itu kamu lemparkan pada dia.” Jiro menunjuk Marvin dengan marah.

Marvin mundur menjauh dan mengangkat kedua belah telapak tangannya. Well, sebelumnya, Marvin memang sudah mengetahui tentang Ellisabeth Williams yang merupakan istri dari seorang Bassis terkenal yang bernama Jiro The Batman. Tapi hal itu tak serta merta membuat Marvin mengundurkan diri atau memupus ketertarikannya dengan sosok Ellie. Kecantikan Ellie bahkan mampu membutakan mata Marvin bahwa wanita itu sudah menjadi istri orang. Yang membuat Marvin tak mengerti adalah, kenapa Jiro menyembunyikan istri secantik ini dari publik? Apa pria itu gila?

“Aku disini karena diminta.” Marvin menjawab dengan tenang.

“Diminta?” Jiro mendekat ke arah mereka berdua. Tatapan mata Jiro menajam ke arah Ellie. Jika dulu Ellie akan takut, maka tidak sekarang. “Kenapa kamu memintanya kemari?”

Ellie berusaha mengendalikan dirinya, bahkan ia bersikap seolah-olah tak mempedulikan kemarahan yang tampak jelas terlihat di wajah suaminya.

“Kamu nggak lihat semua ini, James?” ucap Ellie sembari menunjukkan barang-barang belanjaannya. “Mobil Mei mogok, dan Mei memintanya untuk menjemputku dan mengantarku pulang.” Ellie menjelaskan dengan nada malas.

“Kenapa harus dia?!” tanya Jiro lagi dengan nada yang masih meninggi.

“Kenapa harus dia?” Ellie mengulang lagi pertanyaan Jiro. “Karena suamiku lebih sibuk dengan karir sialannya dibandingkan denganku. Apa kau puas?” Ellie menjawab dengan marah.

Marvin yang berada di sana merasa sedang terjebak diantara dua gunung berapi yang sedang memuntahkan lava.

“Karirku tidak sialan, Ellie!”

“Ya, mungkin tidak. Tapi perempuan-perempuan itu yang membuatnya menjadi sialan dimataku.”

Pada detik itu, Jiro tahu bahwa Ellie ternyata mendengar gosip murahan tentang dirinya dan juga Vanesha. “Jadi kamu cemburu karena gosip-gosip itu?”

“Tidak. Cemburu adalah hal yang sangat kekanakan.”

“Jadi menurutmu aku kekanakan?” dengan spontan Jiro bertanya.

“Jika kamu merasa sedang cemburu, maka ya, kamu kekanakan.” Ellie menjawab dengan santai.

“Aku tidak kekanakan, aku cemburu karena istriku disentuh oleh lelaki lain! Apa itu salah?”

“Oh yang benar saja. Dia hanya menyentuh pipiku, sedangkan kamu. Kamu berciuman dengan perempuan itu!” Ellie berseru keras tak dapat menahan emosinya ketika mengingat gosip yang ia dengar sejak dua hari belakangan. Sungguh, Ellie sangat marah, apalagi kabar tentang Jiro yang keluar dari apartmen wanita itu pagi-pagi buta dan tertangkap oleh kamera wartawan. Untuk apa Jiro berada di sana?

Kali ini, Jiro mengerti kemarahan Ellie bersumber dari mana. Meski begitu, Jiro tahu bahwa hal itu tak membenarkan apa yang dilakukan Ellie tadi. Berduaan dengan lelaki lain di rumah mereka.

Jiro menatap Marvin dengan tatapan membunuhnya. “Gue pikir, mending elo keluar. Gue mau bahas sesuatu dengan istri gue, hanya berdua.” Ucap Jiro dengan penuh penekanan terhadap Marvin.

“Kenapa kamu mengusirnya?” Ellie bertanya.

“Aku ingin membahas sesuatu denganmu.”

“Tak ada yang perlu dibahas.” Ellie mengibaskan telapak tangannya seakan tak ingin mendengar apapun penjelasan dari suaminya.

Mata Jiro kembali menatap tajam ke arah Marvin, dan lelaki itu akhirnya mengalah. Ia megerti bahwa ini bukan saat yang baik untuk melanjutkan rencananya menggoda Ellie.

“Oke, aku pergi dulu. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, kamu bisa menghubungiku.” Ucap Marvin pada Ellie.

“Dia tidak akan membutuhkan apapun!” Jiro berseru dengan penuh penekanan.

Sungguh, Jiro tak suka dengan lelaki itu. Caranya menatap Ellie membuat Jiro marah. Dan reaksi yang ditampilkan istrinya itu membuat Jiro tak dapat menahan segala emosinya. Ellie hanya miliknya, dan Jiro tak akan membiarkan siapapun mendekati atau menyentuh tubuh istrinya tersebut.

-TBC-

Special Pict mereka berdua nihhh aku editin special buat kalian, hahhahaha

Missing Him – Bab 5

Comments 3 Standard

 

Bab 5 

 

“A, apa maksud Mas Rangga?” Tanyaku dengan cepat.

“Aku ingin menikah denganmu Ven..”

“Tapi Mas.. kita tidak pernah mengenal lebih dekat sebelumnya.”

Lelaki di hadapanku itu tampak menundukkan keplanya. Entah apa yang ia pikirkan aku sendiri tak tau.

Veny, nggak baik menolak lamaran seseorang sebelum kamu memikirkannya masak-masak.” Ucap Ibu.

“Tapi Bu..”

Pikirkanlah dulu, Nak.” pungkas ibuku.

***  

Dua hari berlalu setelah hari itu. Mas Rangga kembali ke rumahku. Dan astaga.. entah kenapa lidahku seakan kaku saat ingin mengatakan Tidak. Aku menerimanya, menerima lamaran lelaki yang aku sendiri tak seberapa mengenalnya.

Ini gila! Aku tau itu. Tapi mau bagaimana lagi.  Lagi pula sampai saat ini aku masih belum bisa melupakan sosok Edo. Sosok yang sudah menjadi cinta pertamaku, dan mungkin saja akan menjadi cinta terakhirku.

Ven..” Mas Rangga duduk mendekat di sebelahku.

“Aku masih bingung, kenapa tiba-tiba mas Rangga melamarku. Kita tidak pernah kenal dekat sebelumnya.”

“Aku tau. Tapi aku yakin, semua ini terbaik untukmu. Aku akan melindungimu Ven, Aku janji.”

Aku menurunkan kedua bahuku lemah. Ya, memangnya apa lagi yang bisa ku perbuat. Mungkin memang mas Rangga ditakdirkan untuk menemaniku. Lagi pula aku yakin jika tak dapat jatuh cinta lagi selain dengan Edo, maka tak salah jika aku menerima pinangan mas Rangga meski aku tak pernah mencintainya.

***

Kilasan masa lalu hubunganku dengan Mas Rangga tiba-tiba menari di kepalaku. Aku menggelengkan kepalaku.

Mas, apa yang terjadi denganmu hari ini? Pikirku dalam hati.

Setelah menidurkan Tasya, aku lantas menuju ke kamarku. Semoga saja setelah mandi sikap Mas Rangga sudah membaik padaku.Tapi nyatanya, saat aku sampai di dalam kamar, Suamiku itu malah tidur meringkuk di ujung ranjang.

Dadaku terasa sesak. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya hari ini? Apa aku melakukan suatu kesalahan?

Aku lantas memilih masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri kemudian mengistirahatkan hati dan pikiranku yang sudah sangat lelah…

***

“Kamu yakin mau melakukannya?” Aku hanya menunduk ketika Mas Rangga bertanya pertanyaan itu padaku.

Ini sudah hampir satu tahun lamanya aku menikah dengannya, tapi sekalipun kami tak pernah melakukan hubungan intim sama sekali. Mas Rangga sangat menghormatiku, pun denganku yang tentunya tak mungkin menggodanya atau menjajakan diriku padanya.

Setiap malam kami hanya menghabiskan waktu saling bertukar cerita, bertanya tentang aktifitas masing-masing hari ini. Lalu saling tertidur setelah sama-sama lelah. Ya, kami memang tidur satu ranjang, tapi kami tak pernah melakukan apapun. Tapi tadi, tak sengaja telapak tangan Mas Rangga menyentuh permukaan kulit tanganku, tatapan kamu beradu seketika, wajah Mas Rangga kemudian mendekat, dan aku tak sadar jika kami melakukan ciuman pertama kami.

Kini, lalaki itu sudah menindihku dengan pakaian yang sudah lolos dari tubuhnya. Pun denganku yang sudah polos tanpa sehelai benang pun.

Aku hanya menganggukan kepalaku setelah mendengar pertanyaan Mas Rangga tersebut.

“Aku baru pertama kali melakukannya,” Ucapnya dengan suara yang sudah serak.

“Aku juga baru pertama kali.” Astaga.. mungkin saat ini wajahku benar-benar sudah merah seperti tomat. Apa yang sedang kukatakan?

“Baiklah, boleh aku memulainya?” tanyanya lagi sedangkan aku hanya mampu menganggukkan kepala. Mas Rangga mulai mendaratkan kembali bibirnya pada bibirku, menciumku dengan lembut penuh gairah. Jemarinya sudah mulai bergerilya di sekujur tubuhku, dan itu benar-benar membuatku semakin menggila.

Kami saling mencumbu mesra, menyentuh satu sama lain dengan begitu intim. Ya, kupikir ini adalah hal yang paling intim yang pernah ku lakukan dengan seorang lelaki, dan entah kenapa aku merasa bahagia sekali karena lelaki itu adalah Mas Rangga, Suamiku sendiri.

Mas Rangga mulai menyatukan diri, dan aku benar-benar merasa tak nyaman. Rasanya aneh dan sakit, tentunya, tapi Mas Rangga membimbingku selembut mungkin, ia tak berhenti mencumbuku, seakan menenangkan kembali syaraf-syarafku yang kaku karena penyatuan pertama kami.

Dia tak mengucapkan apapun, tapi pergerakannya tak pernah berhenti. Bibirnya masih mengulum bibirku, sedangkan matanya sesekali menatap mataku dengan tatapan anehnya. Ya tuhan… aku benar-benar melakukannya, melakukan dengan Mas Rangga, suamiku, lelaki yaang sama sekali tak kucintai….

***  

Bayangan malam pertama kami menyeruak begitu saja dalam ingatanku, dan aku tersenyum ketika mengingat malam itu. Ku balikkan tubuhku yang tadi tidur miring dengan posisi membelakangi tubuh Mas Rangga. Dan kini, aku masih melihat tubuh suamiku itu masih miringku membelakangiku.

“Mas. Kamu kenapa?” lirihku.

Astaga, dia tak pernah bersikap seperti ini padaku, dan entah kenapa saat dia memperlakukanku seperti ini, rasanya dadaku terasa sesak, hatiku terasa sakit. Seakan ada sesuatu di dalam sana yang telah terkoyak saat melihat sikap dingin Mas Rangga.

“Kamu marah?” Aku memberanikan diri bertanya. Air mataku sudah jatuh begitu saja. Ya, dia marah, tapi aku tak tau karena apa. Apa ini ada hubungannya dengan Edo?? Tidak mungkin. Mas Rangga sama sekali tak mengetahui hubunganku di masa lalu dengan Edo.

“Mas…” panggilku lagi. Dan dia sama sekali tak menjawab panggilanku. Entah dia memang sedang marah, atau dia memang sudah tidur, aku sendiri tak tahu.

***

Panginya, seperti biasa, aku bangun lebih pagi dari Mas Rangga. Tentu saja aku harus menyiapkan sarapan untuk suamiku tersebut. Meski tak pernah mencintainya, tapi aku selalu mengabdi padanya layaknya seorang istri yang begitu mencintai suaminya.

Aku melirik ke arah Tasya yang berada di dalam boks bayinya. Puteriku itu memang sangat pandai, ia tahu jika kini ibunya sedang sibuk dan dia memilih bermain dengan mainannya sendiri ketimbang harus menangis rewel khas bayi seusianya.

Kemudian aku melirik ke pintu kamarku. Mas Rangga belum juga keluar. Ada apa? Tidak biasanya dia bangun siang. Apa dia masih marah? Apa suasana hatinya masih seburuk tadi malam?

Dan tak lama, sosok yang berada didalam kepalaku itupun menampakkan dirinya. Hampir saja aku terpekik ketika tiba-tiba saja dia keluar dari kamar kami dengan tatapan mata yang langsung menatap tepat pada manik mataku.

“Pagi Mas..” Sapaku.

“Pagi…” Hanya itu jawabannya.

Aku mengernyit saat melihatnya hanya mengenakan kaus oblongnya. Ia tidak mengenakan kemeja yang biasa di kenakannya ke kantor. Kenapa? Apa dia libur kerja?

“Mas Rangga nggaak kerja?”

“Aku libur.” Jawabnya singkat.

“Kok tumben ngambil cuti?”

“Bukan cuti, tapi aku memang di liburkan selama tiga hari ini.”

“Loh kenapa?” tanyaku sedikit terkejut.

“Aku dipindah tugaskan mulai minggu depan ke perusahaan yang bercabang di Palembang.” Jawabnya dengan ekspresi datar.

Aku membatu seketika. Pindah? Kenapa tiba-tiba?

“Kok aku nggak tau Mas?”

“Aku memang sengaja cari waktu yang tepat buat ngasih tau kamu. Tapi sepertinya memang nggak ada waktu yang tepat.”

“Lalu, kapan kita akan siap-siap?” tanyaku sembari menyuguhkan kopi untuk Mas Rangga.

“Nanti aku akan mulai belanja kebutuhanku, lalu mulai bersiap-siap.” Aku mengernyit ketika mendengar kalimat Mas Rangga. Apa maksudnya?

“Maksud Mas Rangga?”

Mas Rangga menatapku dengan tatapan anehnya. “Ven, aku akan pindah ke Palembang sendiri. Dan mungkin hanya seminggu sekali aku akan pulang ke sini.”

Aku tercengang mendengar kalimat yang di ucapkannya. Dia meninggalkanku? Meninggalkanku hanya berdua dengan Tasya? Bagaimana mungkin? Kenapa dia tega melakukan ini padaku??

“Kenapa aku dan Tasya nggak ikut pindah saja Mas?”

Mas Rangga menundukkan kepalanya. “Maaf, nggak bisa..”

Dan meneteslah air mataku. Kenapa seperti ini? Kenapa tiba-tiba dia meninggalkanku saat aku mulai nyaman dengannya? Apa yang terjadi denganmu Mas?? Apa yang kamu sembunyikan dariku?

-TBC-

Missing Him – Bab 2

Comments 2 Standard

 

Bab 2

 

“Do… kita ngapain ke sini? Katanya mau Futsal?”

“Kita nyari sepatu untukku dulu.” Ucap Edo masih dengan memilih-milih sepatu yang tertata di hadapannya.

Saat ini, kami memang sedang berada di sebuah toko perlengkapan olah raga yang tak jauh dari tempat futsal yang biasa di kunjungi Edo dan teman-temannya.

Setiap seminggu dua kali, Edo pasti mengajakku, atau lebih tepatnya memaksaku ikut menemaninya pergi bermain Futsal. Alasannya masih sama, semua teman-temannya ditemani oleh kekasih masing-masing, sedangkan Edo sendiri tidak memiliki kekasih.

Kadang aku bingung, dengan wajah tampan dan kekayaan yang di milikinya, kenapa Edo belum juga memiliki pacar?? Alasannya tentu bukan karena tidak ada yang mau, karena aku cukup tau betapa banyaknya peminat Edo di sekolahan. Tak jarang gadis-gadis itu salah paham padaku, mengira jika aku adalah kekasih Edo. Yang benar saja.

Ven, ini gimana??” Tanya Edo yang sudah berdiri di hadapanku dengan sepatu baru yang di cobanya.

Astaga.. Tak perlu bertanya Do.. Kamu pakai apapun pasti terlihat tampan di mata semua wanita, termasuk aku. Lirihku dalam hati.

“Bagus.” Hanya itu jawabanku…

Edo mendengus. “Sepuluh kali aku ganti sepatu, kamu pasti Sepuluh kali bilang jika itu bagus.”

“Yee… itu emang bagus Do..”

“Oke, aku ambil yang ini. Thank you Ven,  Sayang….” ucap Edo sambl mencubit gemas pipiku.

Veny sayang??? Sayang??? Apa coba maksud Edo.

***

“Kita mau apa ke sini?” Pertanyaan Mas Rangga membuatku menoleh ke arahnya.

Entah kenapa setiap kali aku melihat sosoknya, pikiranku sontak menenang, wajahnya tampan dan kalem, sikapnya lembut, dan penampilannya sederhana, mas Rangga, bagaimana mungkin selama ini aku tak pernah melihatmu? Lirihku dalam hati.

“Ven, kamu kok malah bengong?”

“Ah.. ya, maaf  Mas, ummm… Aku mau memberikan hadiah buat Mas Rangga.” Ucapku yang kini tanpa ragu lagi menarik pergelangan tangan Mas Rangga masuk ke dalam sebuah toko jam tangan.

Kami berdua kini sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan, aku ingin membelikan Mas Rangga sesuatu, sedangkan Tasya, tentu ku titipkan ke rumah ibuku yang letaknya tak jauh dari rumah kami.

Aku masih sibuk memilihkan jam tangan untuk Mas Rangga ketika kemudian Mas Rangga menepuk bahuku.

“Kamu mau belikan Mas jam tangan?” Tanyanya dengan nada lembut seperti biasanya.

Aku hanya mengangguk, entah kenapa Hari ini Mas Rangga begitu mempengaruhiku. Apa karena ciuman panas kami tadi pagi? Ohh ayolah,  lupakan itu.. rutukku dalam hati.

“Nggak perlu Sayang, uangnya di simpan saja, Mas masih punya yang bagus kok.”

Tapi aku tidak mendengarkan ucapannya. Aku malah menyuruh seorang penjaga toko untuk mengeluarkan sebuah jam tangan yang kurasa cocok di kenakan oleh Mas Rangga.

Dengan sedikit canggung, aku memakaikan jam tangan di pergelangan tangan kiri Mas Rangga.

“Aku hanya ingin memberikan sesuatu buat Mas Rangga, sesuatu yang selalu mengingatkan Mas Rangga denganku dan juga Tasya, sesuatu yang akan selalu mengingatkan Mas Rangga untuk pulang.” Ucapku masih dengan memakaikan jam tersebut di tangannya. “Sepertinya ini cocok.” Lanjutku lagi.

Aku menatap ke arah Mas Rannga. Dia menatapku dengan tatapan anehnya. Ada apa? Apa aku salah sudah memberinya hadiah?

“Ada yang salah?” Tanyaku masih dengan tatapan bingungku pada Mas Rangga.

“Kamu yang salah Ven.”

Aku semakin bingung dengan ucapan Mas Rangga, apa maksudnya coba?

“Aku? Memangnya aku salah apa?”

“Kamu sudah membuatku jatuh semakin dalam.”

Lagi-lagi aku masih tak mengerti apa yang di ucapkan Mas Rangga.

“Jatuh semakin dalam?” tanyaku lagi masih tak mengerti.

Mas Rangga mengusap lembut pipiku, “Jatuh semakin dalam untuk mencintaimu tanpa memikirkan logika.”

Aku membulatkan mataku seketika sambil menutup bibirku yang ternganga. Apa aku sedang bermimpi? Ya, tentu saja aku sedang bermimpi, mana mungkin Mas Rangga memgucapkan kalimat cinta padaku seperti itu di hadapan banyak orang?

Dan ketika aku tersadar, aku menatap sekelilingku, banyak orang yang sedang menatap kami sambil tersenyum. Si penjaga toko pun ikut memerah melihat kelakuanku dan juga mas Rangga yang seperti ABG yang sedang menyatakan cinta di depan umum.

Astaga… dia kah Rangga yang ku kena?? Rangga si pendiam, kaku dan sederhana? Rangga yang sama sekali tidak bisa menyentuh hatiku?

Lalu kenapa kini aku merasakan perasaan itu? Perasaan seperti digelitik oleh sesuatu, perasaan seperti ada ribuan kupu-kupu dalam perutku? perasaan seperti ada sebuah Bom yang sedang berdetak di dadaku?

Apa ini tandanya Mas Rangga sudah mampu menyentuh hatiku? Sudah mampu membuatku melupakan sosok Edo?

****

Setelah membelikan Mas Rangga jam tangan, kami lantas berbelanja kebutuhan rumah. Setelah itu kami makan siang di luar. Dan kini kami sudah kembali pulang.

Aku membawa barang belanjaan ke dapur.  Sejak di toko jam tangan tadi, kami tak lagi bicara. Entahlah, aku bahkan sudah terbiasa dengan hal ini. Saling berdiam diri dengan Mas Rangga, tentu saja, dia pendiam.

Saat aku menata barang belanjaan di lemari pendingin. Tiba-tiba aku merasakan sebuah lengan melingkari perutku dari belakang.

Kaget?? Tentu saja, di rumah ini hanya ada aku dan Mas Rangga, jika ini lengan Mas Rangga tentu aku akan sangat kebingungan, sebenarnya apa yang terjadi dengannya hari ini? Apa juga yang terjadi denganku??

“Mas…” ucapku.

“Sebentar… sebentar saja, aku kangen kamu..” ucapnya kemudian yang membuat semua bulu-bulu  tipis di tengkukku berdiri meremang.

“Mas Rangga kenapa?”

“Aku kangen kamu.”

“Kita sudah bertemu setiap hari, masak masih kangen?”

“Kangen peluk kamu…” ucapnya dengan suara serak.

Dan setelah kalimat itu, aku tau jika mas Rangga menginginkan hak nya. Apa hanya itu? Lalu seperti biasa aku akan melayaninya? Berhubungan intim tanpa cinta? Jika iya, mungkin memang seperti inilah hidup yang harus ku jalani.

Lalu aku sedikit terkejut ketika tiba-tiba merasakan sesuatu yang basah menyentuh pundakku. Mas Rangga mencium pundakku. Astaga… jantungku kembali  berdebar keras  seperti tadi. Mas Rangga tak pernah melakukan ini sebelumnya, tapi kenapa ia melakukannya?

Cumbuannya naik ke leherku, dan seakan menggodaku di sana Mas Rangga meninggalkan jejak-jejak basah di sana.

“Mas…” erangku..

“Hemm..” hanya itu jawabannya.

Telapak tangannya kini bahkan sudah berada di balik baju yang ku kenakan, ia mengusap lembut payudaraku. Membuatku kembali memekik karena kelakuannya.

Mas Rangga membalik tubuhku hingga menghadap ke arahnya. Ia mengusap lembut pipiku, menyelipkan anak rambutku ke belakang telingaku. Sedangkan aku hanya bisa menunduk malu di buatnya.

Mas Rangga kemudian menangkup kedua pipiku, mengangkat wajahku hingga menatap tepat pada bola matanya. Dan aku… Aku terpesona melihat wajahnya yang entah kenapa kini terlihat begitu tampan di mataku. Matanya bahkan sudah berkabut karena gairah..

“Aku ingin melanjutkan tadi pagi….” ucapnya dengan suara serak.

“Lanjutkanlah.” Jawabku pasrah.

Aku melihat mas Rangga sedikit tersenyum. “Kali ini, aku akan melakukannya dengan cara berbeda.”

Aku mengernyit. Cara berbeda? Cara berbeda apa makasudnya?

Mas Rangga mendekatkan wajahnya ke telingaku lalu berbisik di sana.

“Kita akan bercinta.. Bukan sekedar berhubungan intim.”

Dan setelah kalimatnya tersebut, secepat kilat Mas Rangga menyambar bibirku yang masih ternganga karena ucapannya. Dia melumat habis bibirku penuh dengan hasrat, seakan menuntut sesuatu dariku.

Dan aku memberikannya, aku membalas ciumannya dengan lembut sambil mencengkeram erat kemeja yang menempel di dadanya.

Kami berdua sama-sama saling melumat penuh dengan hasrat.. penuh dengan dorongan saling memiliki satu sama lain tanpa menghiraukan lagi dinding-dinding kecanggungan yang biasanya berdiri kokoh di antara kami…

-TBC-

Missing Him – Bab 1

Comments 2 Standard

 

Bab 1

 

“Soto ayam satu Bu…” ucapku pada ibu kantin.

“Porsi banyak seperti biasa.” Aku menoleh ke sampingku dan di sana sudah duduk sosok yang selama ini selalu menemani hariku, siapa lagi jika bukan Edo.

Ini sudah  sebulan sejak kepindahanku ke sekolah baruku ini, dan selama sebulan itu, hubunganku dengan Edo mengalami kemajuan pesat. Kami sangat dekat, amat sangat dekat. Bahkan tidak sedikit yang mengira jika kami sudah jadian.

“Do, lebih baik kamu pesan sendiri gih… nggak enak di lihatin anak-anak kalau kita makan sepiring berdua terus.” Ucapku mengingatkan.

“Enggak, aku suka makan sepiring denganmu.”

Dan aku hanya menghela napas panjang.

Ven, nanti malam temani aku futsal, ya”

“Enggak, aku sibuk.” Jawabku ketus.

“Ayolah… teman-temanku ngajak pacarnya, masa aku sendiri Ven. please…”

“Kalau gitu, ajaklah pacarmu.”

“Aku nggak punya pacar Ven,  kamu tau kan?”

Dan lagi-lagi aku menghela napas panjang. Astaga, aku juga tidak mengerti kenapa aku sama sekali tak dapat menolak permintaan Edo. Edo…. entah perasaan apa yang kurasakan saat ini…

****

Aku melihat sebuah amplop tepat di hadapanku.

“Apa ini mas?” Tanyaku pada Mas Rangga yang baru saja pulang dari kantor.

“Gajihku bulan ini, kamu simpan, ya.”

“Yang kemarin masih ada, lebih baik Mas saja yang menyimpan.”

“Jangan, aku percaya kamu, Sayang, kalau Mas yang bawa nanti pasti habis.”

Aku tersenyum melihat kelakuan suamiku tersebut. Namanya Rangga  Kurniawan. Orangnya sederhana, tidak banyak bicara dan dia pekerja  keras. Aku mengenalnya saat bekerja di sebuah perusahaan. Ya, Mas Rangga adalah rekan kerjaku.

Kami tidak pernah berpacaran, karena  saat itu tiba-tiba Mas Rangga datang melamarku. Orang tuaku tentu sangat setuju dan menerima Mas Rangga. Dan entah kenapa saat itu aku pun menerimanya. Mungkin karena aku tidak tega mengucap kata “Tidak” padanya.

Kami menikah sekitar Dua tahun yang lalu. Dan selama ini hubungan rumah tangga kami baik-baik saja.

Aku melihat ke arah suamiku tersebut yang masih mengenakan kemeja kerjanya. Ia sibuk menggendong Tasya dan bercengkrama dengan puteri pertama kami.

“Mas, besok minggu, kita belanja, Ya. Aku pengen membelikan sesuatu buat  Mas Rangga.”

“Membelikan apa? Aku nggak  perlu apa-apa kok..”

“Bukan sesuatu yang istimewa, tapi sesuatu yang semoga saja dapat membuat Mas Rangga selalu mengingat aku dan Tasya.”

“Baiklah, terserah kamu saja.”

Aku tersenyum lagi. Mas Rangga memang  tak  pernah menolak  keinginanku.

***

Pagi ini masih sama dengan kemarin hari. Aku masih terbangun di dalam pelukan seorang lelaki yang yang sangat menyayangiku. Siapa lagi jika bukan Mas Rangga, suamiku.

Aku bangkit tapi kemudian tubuhku kembali di tarik ke dalam pelukan lelaki yang tadi memelukku.

“Jangan bangun dulu, Ven”

“Aku harus bangun Mas, siapa yang masak sarapan kalau aku masih di sini?”

“Kita makan di luar saja nanti kita kan akan keluar.”

Aku tersenyum “Bukannya itu pemborosan?” Tanyaku sedikit menyindirnya.

Mas Rangga semakin mengeratkan pelukannya padaku sambil terkikik geli. “Veny sayang… sesekali boros tidak apa-apa kan?”

Aku kembali tersenyum meski sebenarnya tubuhku kaku dengan panggilan lembut yang di berikan Mas Rangga padaku.

Sejak menikah, kami memang tidak pernah bermesraan layaknya sepasang kekasih. Hubungan di ranjang? Astaga.. jangan di tanya, mungkin kami melakukan itu hanya untuk kewajiban semata.

Mas Rangga tidak pernah merayu atau meminta hak nya. Ia lebih suka langsung melakukannya tanpa banyak basa-basi. Dan aku menerima begitu saja. Ya, hubungan kami memang sangat kaku. Tapi aku tidak tau sejak kapan aku merasakan perasaan aneh seperti ini.

Perasaan aneh ketika mendengar Mas Rangga memanggilku dengan sebutan sayang. Perasaan Aneh saat tiba-tiba Mas Rangga menyentuhku penuh dengan perhatian.

Ada apa dengannya? Kenapa dia berubah? Atau… hatiku kah yang sudah berubah?

“Kamu kok diam?”

“Ah.. enggak..” jawabku dengan malu-malu.

“Ven.. apa aku boleh menciummu?”

Aku mendongak seketika ke arah Mas Rangga. Pertanyaannya itu seketika membuat jantungku jumpalitan. Kenapa dia meminta ijin padaku? Dan aku hanya dapat menjawab dengan memejamkan mata.

Kurasakan bibir Mas Rangga menyapu bibirku. Menggodanya, dan aku pun tergoda. Mas Rangga mulai melumat bibirku dengan segala kelembutan yang ia miliki, seakan menuntut sesuatu dariku sedangkan aku hanya mampu membalasnya.

Mas Rangga mulai membalik tubuhku kemudian menindihku tanpa melepaskan pangutannya di bibirku. Astaga, Apa yang terjadi dengannya? Kenapa ia melakukan ini padaku? Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya.

Dan ketika ciuman kami tak juga berakhir, kami mendengar suara  tangisan bayi yang sangat nyaring. Siapa lagi jika bukan Tasya. Tasya bangun.

Mas Rangga menghentikan aksinya seketika lalu bangkit dan duduk di pinggiran ranjang.

“Tasya bangun, Ven.” ucapnya sambil mempalingkan wajahnya ke arah lain.

“Ya, mungkin sudah lapar.” Jawabku yang kini juga ikut bangun dan langsung bergegas menuju ke boks bayi tepat di sebelah ranjang besar kami.

Aku menggendong Tasya, menimangnya dan memberinya Asi, Ya.. mungkin dia lapar karena saat aku menyusuinya, dia berhenti menangis.

Tasya puteri Kurniawan. Bayi mungil yang ku lahirkan Lima bulan  yang lalu. Sangat cantik dan entah kenapa selalu mengingatkanku pada ayahnya, Mas Rangga.

“Emm..Aku mandi dulu.” ucap Mas Rangga sambil berjalan menuju ke kamar mandi.

“Mas..” panggilku yang sontak menghentikan langkahnya. “Tasya sudah bobok lagi, emm… kita nggak melanjutkan yang tadi?”

Astaga.. Bagaimana mungkin aku mengucapkan pertanyaan tersebut? Apa aku sedang menjajakan diri pada suamiku sendiri? ini gila.

“Jangan, Sayang, nanti kesiangan.” Lalu Mas Rangga kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.

Aku menghela napas panjang, dengan wajah yang merah padam karena penolakan yang di berikan oleh Mas Rangga, aku menggerutu dalam hati. ‘Tuhan… tenggelamkan saja aku ke dasar laut..’

-TBC-

Missing Him (NEW Version) – Prolog

Comments 7 Standard

 

Note : Kisah ini Telah aku perbarui. beberapa nama aku rubah, dan ada beberapa konsep yang juga aku rubah. aku berharap kalian membacanya kembali dari awal jika berkenan hahhahahah. happy readingg….

 

Tittle : Missing Him 

Genre : Roman, Married life, Hurt.

Author : Zenny Arieffka

 

Prolog

 

“Nama saya Veny Febryanti.. saya pindahan dari salah satu SMA swasta di kota  surabaya. Semoga dapat menerima saya…” ucapku dengan sedikit bergetar.

Berdiri di hadapan dua puluh dua murid kelas XII IPA dan mengenalkan diri sebagai anak baru benar-benar membuatku gemetaran.

Veny, duduklah di sebelah Edo.” Ucap Bu Imah yang menjadi wali kelasku.

Edo? Astaga… Bagaimana mungkin aku duduk di sebelah murid laki-laki?

Akhirnya aku menuruti apa yang diperintahkan Bu Imah.  Murid laki-laki yang bernama Edo itupun akhirnya berdiri dan tersenyum padaku saat aku sudah sampai di sebelahnya. Dia mengulurkan tangan sambil berkata

“Edo.”

Aku membalas uluran tangan itu dan tersenyum padanya. “Veny.” ucapku.

“Kita akan jadi teman baik.” Dia berkata sambil tersenyum tulus.

“Ya… tentu saja.” Kataku lagi.

Edo kemudian mempersilahkanku duduk. Dan aku pun akhirnya duduk nyaman di sebelahnya..

****

Itulah awal mula aku bertemu dengannya. Bertemu dengan lelaki yang sampai saat ini masih berada di hatiku…

Aku merasakan sebuah tangan menepuk bahuku. Saat aku menoleh kebelakang ternyata sosok tinggi suamiku sudah berada di sana.

“Tasya sudah bobok, Sayang?” Tanya Mas Rangga yang sudah menikahiku sejak dua tahun yang lalu.

Aku kembali menatap sosok mungil yang berada di dalam gendonganku. Puteri kecilku.

“Sudah, Mas.” jawabku.

“Cepat tidurkan, dan ayo kutemani makan, kamu belum makan malam, kan?”

Aku tersenyum. Mas Rangga memang  sangat perhatian padaku. Dan aku sangat menyayanginya. Akhirnya aku bangkit dan menidurkan Tasya di boks bayinya. Lalu mengikuti Mas Rangga menuju ruang makan dan makan malam bersamanya.

Aku menatap punggung lebar mas Rangga sambil berkata dalam hati ‘Maafkan aku mas… Aku belum dapat memberikan semua hatiku untukmu… maaf…’

-TBC-