Lovely Wife – Chapter 7 (Pengantin Baru)

Comments 4 Standard

Lovely Wife

 

Nadine menggigit bibir bawahnya. Entah bagaimana caranya membuktikan pada Dirga kalau kini hubungannya dengan Darren memang sudah selesai kemarin. Perasaannya memang masih ada untuk Darren, tapi tak sebesar dulu. Nadine juga tidak lagi berharap untuk bisa bersatu kembali dengan Darren, sungguh, ia tak lagi mengharapkan hal itu, tapi bagaimana cara dirinya meyakinkan Dirga tentang hal itu?

“Kamu menerima laranganku?”

Nadine tidak menjawab, tapi dia mengangguk dengan patuh. Dirga tersenyum, dengan lembut ia mengusap pipi Nadine, jemarinya lalu mengusap bibir bawah Nadine yang tampak menggoda untuknya. Warnanya merah seperti ceri, padahal Dirga yakin jika Nadine tidak sedang mengenakan lipstik saat ini.

“Bibirmu benar-benar menggodaku.” ucapnya masih dengan mengusap lembut bibir Nadine, lalu sedikit demi sedikit Dirga mendekatkan wajahnya dan mulai menempelkan bibirnya pada bibir ranum milik istrinya tersebut. Dirga mulai mencumbunya dengan lembut, sedangkan jemarinya sudah merayap ke arah tengkuk Nadine, menahannya supaya wanita itu tidak melepaskan tautan bibir mereka berdua.

Dan yang bisa di lakukan Nadine saat ini hanya pasrah, membalas apa yang sudah di lakukan Dirga padanya, mencari kenikmatan yang sejak dua hari terakhir tidak di berikan Dirga padanya. Akahkah ia mendapatkannya? Apakah kali ini Dirga hanya sekedar melakukan seks? Atau kembali bercinta padanya seperti malam pengantinya saat itu?

***

Chapter 7

-Pengantin baru-

 

Suara lumatan menggema di ruangan mungil tersebut, Dirga begitu menikmati bibir Nadine yang ternyata juga menyambutnya, lidahnya ikut menari dengan Dirga hingga membuat Dirga seakan tak dapat menahan dirinya lagi.

Dirga menarik tubuh Nadine supaya wanita itu ikut kaik ke atas ranjang, ketika Nadine sudah berada di atas tubuhnya, dengan sigap Dirga membalik posisi mereka hingga Nadine berada di bawahnya. Suara berisik  dari ranjang Nadine sempat menghentikan cumbuan keduanya.

“Ranjangmu, tidak akan roboh saat kita bermain sebentar di sini, kan?”

Nadine tersenyum mendengar pertanyaan Dirga yang entah kenapa terdengar lucu di telinganya. Dia tidak menjawab tapi hanya menggelengkan kepalanya pelan. Oh, Dirga benar-benar sudah kembali menjadi lembut seperti saat itu, saat malam pengantin mereka.

“Baiklah.” Dirga kembali mencumbu bibir Nadine sedangkan sebelah tangannya sudah masuk ke dalam pakaian yang di kenakan Nadine. Mencari-cari apa yang sudah menjadi miliknya, sedangkan lidahnya tak berhenti menari dengan Nadine.

Ketika keduanya tengah asyik mencumbu mesra, suara ketukan pintu membuat Dirga menghentikan aksinya.

“Nadine, makan malam sudah siap, Nak.”

Nadine dan Dirga saling pandang, mereka berdua tidak menyangka jika Ibu Nadine akan mengetuk pintu dan mengajak makan malam bersama.

Sial! Dirga mengumpat dalam hati, lagi pula ini jam berapa? Kenapa sudah tiba waktunya makan malam?

“Uum, sebentar, Bu.”

“Ayah sudah menunggu.”

Oh, itu kode jika mereka di minta segera keluar. “Baik, Bu.” Lalu tak ada suara lagi. Mungkin Ibunya sudah meninggalkan kamarnya.

“Jadi, kita makan malam?” tanya Dirga dengan suara yang sudah sedikit tertahan.

“Um, ya, sepertinya begitu.”

“Aku bisa melakukannya kurang dari dua menit.” tawar Dirga.

Nadine tersenyum. “Kita harus keluar, sekarang.”

Dirga menghela napas panjang. Sial! Apa yang terjadi dengannya? Bahkan menahan diri untuk tidak menyentuh Nadine sebentar saja ia tak sanggup. Apa yang terjadi dengnnya?

Dirga bangkit seketika, “Oke, kita selesaikan makan malam secepatnya.”

Nadine sempat ternganga dengan apa yang di katakan Dirga. Jadi lelaki itu benar-benar ingin bercinta dengannya?

***

Dirga sama sekali tidak canggung, meski ini pertama kalinya ia makan bersama dengan keluarga Nadine yang kini sudah berstatus sebagai mertuanya. Ia makan dengan lahap tanpa sungkan sedikitpun, sedangkan kedua orang tua Nadine hanya sesekali menatapnya dengan tatapan aneh masing-masing.

“Nak Dirga mau tambah?” tawar ibu Nadine.

“Boleh, Bu. Ini enak.” Dirga menjawab sambil menyodorkan piringnya.

“Biar aku saja.” Nadine meraih piring Dirga dan menambah nasi untuk suaminya. “Kak Dirga suka makanan rumahan?”

Dirga mengangguk dengan pasti. “Mama selalu nyempetin masak buat aku, dan tiga hari ini, aku nggak makan masakan rumah sama sekali.”

“Wah, sayang sekali, padahal Nadine nggak bisa masak.” Ibu Nadine yang berkata.

Dirga menatap ke arah Nadine, wanita itu tidak membantah, hanya menunduk dan tersenyum malu, pipinya memerah, dan itu membuat jantung Dirga berdebar. Dirga menelan ludahnya dengan susah payah.

Apa yang terjadi denganmu, sialan! Umpatnya pada dirinya sendiri.

“Mama akan mengajarimu masak nanti.” Meski di ucapkan dengan nada sedatar mungkin, tapi itu mampu membuat Nadine mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Dirga. Lelaki itu juga sedang menatap ke arahnya dengan ekspresi yang sulit di artikan oleh Nadine.

Secepat kilat Nadine kembali menunduk, ia tidak suka dengan tatapan itu, tatapan yang membuat jantungnya kembali berdegup kencang, membuat perutnya terasa melilit, serta membuat pipinya tak berhenti memanas. Oh, bagaimana mungkin Dirga dapat dengan mudah mempengaruhinya seperti itu?

***

Nadine masih terisak saat masuk ke dalam mobil yang menjemputnya, sedangkan Dirga tidak tahu harus berbuat apa di sebelahnya. Ia tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Meski ia sering sekali menyakiti wanita, tapi Dirga sangat malas melihat wanita menangis di hadapannya.

Tadi, setelah makan malam, mereka berdua segera berpamitan pergi dari rumah Nadine. Nadine tak dapat menahan tangisnya saat sang ibu memeluk tubuhnya lalu mengucapkan nasihat-nasihat supaya menjadi istri yang baik kedepannya. Pun dengan ayahnya yang juga sempat memeluknya erat-erat. Ini pertama kalinya Nadine meninggalkan kedua orang tuanya, meski rumah Dirga masih satu kota, tapi tetap saja, rasanya sesak untuk Nadine.

“Aku tidak pernah mengalami ini sebelumnya.” ucapan Dirga yang tiba-tiba itu membuat Nadine mengangkat wajahnya menatap ke arah Dirga. “Aku paling muak melihat perempuan menangis.” Lanjutnya lagi.

“Maaf.” Hanya itu yang dapat di ucapkan Nadine

“Nggak perlu, aku hanya bingung bagaimana caranya menenangkan orang yang sedang menangis.”

“Aku, aku nggak pernah meninggalkan mereka sebelumnya, rasanya sangat aneh, dadaku sesak, air mataku jatuh dengan sendirinya.”

“Kamu bisa mengunjungi mereka semaumu, aku tidak melarang.”

Nadine lagi-lagi menatap ke arah Dirga. Lelaki itu masih menampakkan ekspresi datarnya, tapi entah kenapa perkataannya mampu menyentuh hati Nadine. “Terimakasih.” Akhirnya Nadine mengucapkan kata tersebut.

“Untuk apa?” Dirga bertanya sambil menatap bingung ke arah Nadine.

“Untuk semuanya.” Jawab Nadine dengan tersenyum lembut. Pipinya kembali memanas hingga membuat Nadine memilih memalingkan wajahnya ke arah lain. Oh, ia tidak boleh terus-terusan salah tingkah di hadapan Dirga. Tapi tiba-tiba Dirga meraih dagunya untuk menghadap ke arah lelaki tersebut dan tanpa aba-aba, Dirga mengecup singkat bibir Nadine.

“Sama-sama.” jawabnya singkat.

Jangan di tanya bagaimana wajah Nadine saat ini. Yang bisa di lakukan Nadine hanya kembali  memalingkan wajahnya ke arah lain, agar Dirga tidak melihat bagaimana merah padamnya wajahnya saat ini.

Sisa perjalanan menuju ke rumah Dirga berakhir dengan saling diam. Dirga tidak berbicara lagi karena sibuk dengan pikirannya sendiri, sedangkan Nadine sendiri memilih mengatur debaran jantungnya yang semakin menggila karena sikap yang di tunjukkan Dirga padanya.

***

Sampai di rumah Dirga, Nadine di sambut dengan antusias oleh Mama Dirga. Mertuanya itu bahkan sudah memasak banyak sekali makanan untuk Nadine, tapi sayang, Nadine memang sudah makan malam di rumahnya sendiri tadi bersama dengan Dirga dan kedua orang tuanya.

“Tidak apa-apa tante, nanti Nadine akan makan lagi masakan tante.” Nadine mencoba menenangkan mertuanya yang sudah menampilkan ekspresi kecewanya.

“Tante? Panggil Mama, Sayang.”

Nadine tersenyum lalu melirik sebentar ke arah Dirga. “Ya, Ma.”

“Baik Ma. Kami akan ke atas dulu.” Dirga sudah tampak tidak sabar untuk segera menuju ke kamarnya.

“Oh ya, kalian pasti ingin segera istirahat. Baiklah.” Tanpa di duga Mama Dirga tiba-tiba memeluk erat tubuh Nadine. “Mama seneng kamu menjadi menantu di rumah ini. Selamat datang.” Sambut Mama Dirga dengan ramah hingga membuat Nadine berkaca-kaca karena terharu. Ia memang baru meninggalkan keluarganya, tapi baru satu menit di sini, membuat Nadine merasa memiliki keluarga baru. Ia bahagia, tentu saja.

Setelah meninggalkan Mama Dirga di ruang tengah, Nadine mengikuti Dirga menaiki tangga. Sampai di lantai dua, mereka terus saja berjalan hingga menuju pintu paling ujung. Dirga berhenti di depan pintu tersebut, lalu membukanya.

“Ini kamarku, kamar kita.” Ucapnya penuh arti.

Nadine masuk dan ternganga mendapati isinya. Ruangan itu sangat luas. Amat sangat luas. Mungkin seluas seluruh isi rumah orang tuanya, dan yang membuat Nadine tak juga menutup bibirnya adalah isi dalam ruangan tersebut yang benar-benar berantakan.

Dirga ikut masuk lalu mengunci pintu kamarnya, dan tanpa di duga, ia memeluk tubuh Nadine dari belakang. “Selamat datang di kamar kita.”

Nadine merinding mendengar kalimat Dirga yang diucapkan tepat di tengkuk leher bagian belakangnya.

“Uum, sudah berapa hari kamar ini tidak di rapikan?”

“Dua minggu.” Dirga menjawab dengan pasti.

“Apa?”

Dirga tertawa lebar. Ia berjalan menuju ke arah ranjang, membuka pakaiannya sendiri kemudian membuangnya sembarangan lalu melemparkan tubuhnya di atas ranjang yang ekstra besar itu.

“Kamar ini sudah seperti rumah pribadiku sendiri. Jika Davit memilih membeli apartemen pribadi, maka aku memilih menyatukan beberapa ruangan di dalam rumah ini untuk menjadi apartemen pribadiku. Aku tidak ingin jauh dari orang tua.” Meski di ucapkan dengan penuh kearoganan, tapi Nadine menghangat mendengarnya. Dirga memang sayang dengan keluarganya.

Nadine berjalan menyusuri seluruh penjuru ruangan. Kamar Dirga memang sangat lengkap dan bisa di sebut sebagai rumah pribadi. Di sana terdapat bar mini dengan sebuah lemari yang penuh dengan anggur. Apa Dirga meminum semua itu? ada juga beberapa alat kebugaran yang berada di ujung ruangan. Sekarang Nadine tahu kenapa Dirga bisa memiliki bentuk tubuh ideal seperti yang kemarin ia lihat. Lalu ada satu set drumb dengan beberapa gitar, apa Dirga suka bermain musik? Dan terakhir, di ujung ruangan satunya terdapat sebuah lemari besar yang menyatu dengan dinding. Dalam lemari tersebut terdapat sebuah Tv besar dengan layar datarnya. Di depannya terdapat sebuah karpet  tebal dengan banyak sekali kepingan DVD serta majalah-majalah berserahkan di sana.

Nadine menghampirinya, berjongkok di sana dan mencoba merapikan kepingan DVD dan juga majalah-majalah tersebut, tapi saat melihat lebih dekat, ia berteriak.

“Astaga..”

Dirga terduduk seketika menatap ke arah Nadine. “Ada apa?” tanyanya sedikit khawatir.

“Kak Dirga ngapain nonton film kayak gini?”

Nadine benar-benar tak habis pikir, bagaimana mungkin Dirga tanpa malu membiarkan koleksi DVD serta majalah dewasanya berserahkan seperti itu. Apa Karina melihat semua ini? Bagaimana reaksinya?

“Kamu berlebihan. Semua pria dewasa pasti memilikinya dan hobby nonton yang seperti itu.” Dirga menjawab dengan santai.

“Ya tapi nggak terang-terangan seperti ini juga. Kak Dirga nggak malu?”

Dirga tertawa lebar melihat reaksi Nadine. Ia lalu bangkit dan menuju ke arah Nadine, duduk berjongkok di hadapan wanita tersebut kemudian mengangkat dagu Nadine untuk menghadap ke arahnya.

“Kenapa juga aku harus malu? Ini kamarku, hanya aku yang tahu jika ada barang-barang seperti ini di kamarku. Jika kamu melihatnya, itu berarti aku membiarkanmu melihatnya, karena kamu milikku, istriku, jadi aku tidak perlu malu walau kamu juga melihat semua keburukanku.”

Oh, Nadine merasa jika kini dirinya meleleh seketika. bagaimana mungkin Dirga menunjukkan kepemilikannya dengan begitu tegas tanpa canggung sedikitpun?

“Ta, tapi..”

“Tapi apa? Ada waktunya nanti aku akan mengajakmu menonton film-film ini bersama.”

“Apa?” Nadine membulatkan matanya seketika.

“Kenapa?”

“Enggak, aku nggak mau.”

Dirga kembali tertawa. “Oh ya? Baiklah, kupikir kamu ingin menontonnya sekarang, aku akan memutarkannya untukmu.” Dirga berdiri dan menuju ke arah pemutar DVD miliknya. Memasukkan sebuah keping DVD panas ke dalamnya, kemudian memutarnya.

Nadine berdiri seketika, menjerit saat layar lebar di hadapannya mulai menampakkan gambarnya.

“Kak… Kak Dirga apaan sih??” Nadine mencoba merebut remote yang berada dalam genggaman tangan Dirga,  Dirga segera menjauhkannya dengan mengangkat tinggi-tinggi remote tersebut.

“Apaan apanya? Kita bisa nonton bareng.” Dirga menggoda.

“Aku nggak mau.” Nadine masih mencoba meraih remote tersebut tapi ia tidak cukup tinnggi untuk merebutnya. Akhirnya dengan cekatan, Dirga meraih tubuh Nadine dengan sebelah tangannya, menempelkan tubuh tersebut pada tubuhnya hingga membuat Nadine terpaku menatap ke arah Dirga.

Dirga juga menatap Nadine dengan tatapan intensnya, ia kemudian mengusap lembut  bibir Nadine, lalu menundukkan kepalanya dan mendaratkan bibirnya pada balutan lembut bibir Nadine. Oh, bibir yang benar-benar menggoda untuknya.

Nadine sendiri tidak menolak, ia juga menerima bahkan membalas cumbuan lembut dari Dirga. Lidahnya ikut menari dengan lidah suaminya, tubuhnya bereaksi sama dengan apa yang di inginkan Dirga hingga ia tak sadar jika kini jemari Dirga sudah mulai membuka kancing-kancing baju yang ia kenakan.

Nadine mendesah pelan saat tautan bibir mereka terputus, rupanya Dirga sibuk melucuti pakaiannya dengan sesekali menatap tubuhnya dengan tatapan nakalnya. Nadine membiarkan hal itu terjadi, toh, semuanya sudah menjadi milik Dirga, yang harus ia lakukan hanya membiasakan diri di tatap seperti itu oleh Dirga.

Ketika Dirga sudah selesai meloloskan pakaiannya hingga kini ia berdiridi hadapan lelaki itu tanpa sehelai benangpun, Dirga kembali menyambar bibirnya, jemari lelaki itu menggoda puncak payudaranya hingga membuat Nadine kewalahan dengan gairah yang di berikan oleh lelaki tersebut.

Jari-jari mungil Nadine mendarat pada tubuh lelaki yang sudah telanjang di hadapannya tersebut. Tubuh padatnya, otot kerasnya, membuat Nadine ingin segera di lingkupi oleh tubuh kekar di hadapannya tersebut.

Dirga mengerang di antara ciuman mereka. Jemari Nadine yang menyentuh dada bidangnya memberi efek luar biasa yang dapat meningkatkan gairahnya seketika. Sedangkan Nadine sendiri juga tak kuasa menahan erangannya saat jemari Dirga tak berhenti mengoda puncak payudaranya.

Suara berisik dari DVD yang masih terputar itupun menambah panas suasana di antara mereka. Sesekali Nadine melirik ke arah Tv di hadapan mereka. Penasaran? Tentu saja, ini adalah pertama kalinya ia melihat film vulgar tersebut, dan ia tidak menyangka jika dirinya melihat film tersebut sembari melakukan hubungan seintim ini dengan seorang lelaki.

Dirga meraih dagu Nadine, menghadapkan wajah wanita tersebut ke arahnya, lalu berkat serak di sana.

“Mau mencoba dengan gaya apa?”

Pipi Nadine memanas mendengar pertanyaan tersebut. Ia tidak menjawab karena rasa malu menyerbu begitu saja dalam pikirannya. Bagaimana mungkin Dirga bertanya tentang gaya yang akan mereka lakukan?

Dengan mata yang masih menatap tajam ke arah Nadine, Dirga membawa tubuh wanita tersebut untuk terbaring di atas karpet tebal yang di pijaknya, ia juga mengikuti Nadine untuk terbaring di sana.

Nadine menatap Dirga yang mulai menindihnya. Lelaki itu tampak menyunggingkan senyuman miringnya, sedangkan yang bisa di lakukan Nadine hanya membalas senyuman tersebut dengan senyuman lembutnya.

“Kamu suka sekali dengan gaya seperti ini?” Dirga bertanya ketika ia akan menyatukan diri.

Nadine menggeleng pelan. “Aku tidak tahu apa yang ku suka dan apa yang tidak ku sukai jika itu tentang seks.”

“Seks? Kita bercinta.” Dirga mengeram pelan.

Nadine ingin meraih pipi Dirga dengan jemarinya, mengusap lembut pipi tersebut, tapi secepat kilat Dirga meraih pergelangan tangannya kemudian memenkan tangannya di sisi kepalanya.

“Kita, kita tidak saling mencintai, bagaimana mungkin ini di sebut dengan bercinta?”

“Jika kamu merasakan kenikmatan yang sama dengan yang kurasakan, maka sebut saja itu dengan bercinta, tapi jika tidak, sebut itu sebagai hukuman dariku.” Dirga mengatakan kalimat tersebut dengan mata menyala-nyala.

“Kak Dirga tidak menyesal setelah menghukumku?”

“Tidak.” Dirga menjawab dengan cepat dan pasti. “Karena kamu pantas untuk di hukum.”

“Tapi jika nanti Kak Dirga yang berbuat salah, apa aku boleh memberi hukuman?”

Dirga tertawa mengejek. “Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang bisa memberiku hukuman kecuali orang tua atau saudara kandungku.”

“Apa, apa aku ada artinya di mata Kak Dirga?”

“Ya, untuk saat ini kamu sangat berarti.” Dirga menyatukan diri seketika hingga membuat Nadine mengeluarkan desahan panjangnya saat tubuh mereka sudah menyatu dengan begitu sempurna.

“Kamu sangat berarti karena kamu sudah seperti canduku.” Dirga bergerak menghujam lebih dalam lagi pada tubuh Nadine.

“Ha- hanya candu?” Nadine seakan tidak ingin mengakhiri percakapan mereka meski kini dirinya mulai di kuasai oleh gairah yang semakin meningkat.

“Ya, hanya itu.” jawaban Dirga membuat hati Nadine perih. Ia kini hanya di lihat sebagai cangkang yang mampu memuaskan lelaki di atasnya tersebut. Hanya itu, tidak lebih.

Mata Nadine memejam, seakan mencoba menahan butiran bening yang sudah hampir keluar dari pelupuk matanya. Ia ingin menangis, tapi untuk apa? Hatinya terasa perih, tapi kenapa? Satu-satunya hal yang menjadi alasannya karena ia ingin Dirga menganggapnya lebih.

Tapi kenapa?

“Buka matamu.” Itu perintah yang harus Nadine turuti, hingga Nadine akhirnya membuka mata karena perintah tersebut.

Bayangan Dirga tampak samar karena matanya yang sudah berkaca-kaca. Ia tidak suka Dirga memperlakukannya hanya sebagai tubuh yang dapat memuaskan lelaki itu. ia ingin lebih. Dirga menghentikan pergerakannya saat ia merasakan ada yang berbeda dengan Nadine.

“Kenapa menangis?” tanyanya dengan nada tajam. Oh, ia benar-benar muak melihat orang yang menangis di hadapannya.

“Aku nggak nangis.”

“Baguslah, kita bisa melanjutkan acara bersenang-senang kita.” Jawab Dirga sambil kembali menggerakkan tubuhnya tanpa menghiraukan Nadine yang tersakiti karena ucapannya.

Dirga bergerak lebih cepat, iramanya meningkat hingga membuat Nadine melupakan rasa sakit hatinya. Nadine ikut hanyut kembali dalam pusaran gairah yang di bangun oleh Dirga. Lelaki itu seakan menarik ulur perasaannya hingga membuat Nadine sadar, jika dirinya kini jatuh semakin jauh dalam pesona suaminya sendiri.

Oh, apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Bagaimana jika nanti lelaki ini mulai bosan terhadapnya?

“Ohhh, Sial! Kamu benar-benar nikmat.” Racauan Dirga mau tidak mau membuat Nadine tersenyum.

Nikmat? Sekarang. Bagaimana dengan nanti?

Nadine tak dapat melanjutkan pemikirannya saat tiba-tiba Dirga menarik dirinya lalu membalik tubuh Nadine hingga membelakanginya, Dirga kembali menyatukan diri sedangkan Nadine hanya memekik karena gerakan tiba-tiba tersebut.

“Oouuhh.” Nadine mengerang karena penyatuan kedua mereka. Dirga senang mendengar erangan Nadine.

Dirga kemudian membungkukkan tubuhnya lalu mengecupi area punggung Nadine, kecupan-kecuman lembut itu mempu membuatnya kembali merasakan sensasi aneh yang membuat gairahnya semakin membumbung tinggi. Hingga ketika Nadine berteriak menyebut namanya karena pelepasan, Dirga tak menahan diri lagi untuk bergerak lebih cepat dari sebelumnya, mencari kenikmatan untuk dirinya sendiri lalu berakhir dengan meneriakkan nama Nadine sekencang mungkin.

***

Setelah percintaan yang begitu panas, keduanya saling melingkupi tubuh telanjang masing-masing. Masih tergeletak lemah di atas karpet tebal di depan televisi yang bahkan masih menyala memutar film panas yang kembali menyulut sesuatu di dalam diri Dirga.

Dirga menegang kembali, tapi Nadine sudah menutup matanya karena terlalu lelah. Yang bisa Dirga lakukan hanya memeluk erat tubuh wanita di hadapannya tersebut.

Nadine Citra, hingga kini Dirga masih tidak menyangka jika dirinya sudah menikahi wanita ini. Oh, bukan hanya itu, Dirga bahkan tidak menyangka jika dirinya akan menikah. Selama ini ia tidak pernah memikirkan tentang pernikahan, yang ada dalam otaknya hanyalah bersenang-senang.

Pernikahan atau ikatan apapun pasti akan sangat menyulitkannya, membuatnya merasa di timpali oleh beban berat menjadi seorang suami atau bahkan seorang ayah.

Seorang ayah?

Oh, Dirga bahkan tidak pernah memikirkan akan memiliki seorang anak nantinya.

Tapi dengan Nadine, mau tak mau ia harus menjalani ikatan ini. Ikatan suci yang biasa di sebut dengan pernikahan. Kenapa? Karena tubuhnya?

Tentu saja, bodoh!

Tidak ada alasan lain untuk mempertahankan Nadine selain karena ia tertarik dengan tubuhnya, dan juga karena ia tidak ingin Nadine mengganggu hubungan Karina, adiknya dengan Darren.

Ya, itu adalah alasan utama ia menikahi Nadine, tapi bagaimana jika alasan itu nanti berubah? Oh, tidak mungkin! Dirga akan memagari dirinya dengan dinding setinggi mungkin hingga Nadine tak akan mampu untuk menggapainya.

Dan ketika saatnya nanti tiba, saat dimana Karina sudah benar-benar bahagia dengan Darren, saat dimana ia sudah mulai bosan dengan tubuh Nadine, ia akan melepaskan wanita ini dari cengkeramannya. Tapi, sebelum hal itu terjadi, ia akan memerankan perannya sebagai suami, menikmati permainan yang ia buat sebelum ia bosan dan mencari penggantinya.

Gerakan tubuh Nadine yang menggeliat dalam pelukannya benar-benar membuat Dirga frustasi. Ia mengerang pelan, menahan diri untuk tidak membangunkan Nadine, tapi gambar-gambar panas pada layar televisi di hadpannya memperburuk suasana. Membuat gairahnya menanjak seketika saat membayangkan jika yang berada di dalam gambar tersebut adalah ia dengan Nadine.

“Hei, bangun.” akhirnya Dirga tak sanggup menahan diri untuk tidak mengguncang tubuh Nadine, dan membangunkan wanita tersebut.

“Hemm.” Nadine membuka matanya sedikit demi sedikit. Ia lelah, tentu saja. Siang tadi ia baru pulang dari Bali, membereskan pakaiannya di rumahnya, lalu segera pindah ke rumah Dirga, dan sampai di rumah lelaki ini, ia di hajar lagi dengan kenikmatan yang di berikan oleh lelaki tersebut.

“Aku mau lagi.”

Nadine meleberkan matanya seketika saat mendengar pernyataan tersebut. oh, bagaimana mungkin Dirga memiliki gairah yang seakan tak pernah bisa di padamkan?

“A- aku capek.” Nadine mencoba menolak permintaan Dirga.

Dirga menghela napas panjang. “Baiklah, tapi kamu harus mandi sebelum tidur.” Saran Dirga.

Nadine berpikir sebentar. Ya, benar juga, ia tidak mungkin tidur dalam keadaan seperti ini, di atas karpet dengan tubuh lengketnya karena keringat. Akhirnya Nadine mencoba bangkit dan manuju ke arah kamar mandi, tapi ia sedikit bingung saat Dirga juga mengikutinya masuk ke dalam kamar mandi.

“Kak Dirga mau mandi juga?”

“Ya, kita mandi bareng.”

“Apa?” Nadine sempat terkejut dengan apa yang di katakan Dirga. Bukan tanpa alasan, karena Nadine yakin, jika mereka berada dalam ruangan yang sama dengan sama-sama tanpa busana, pasti yang akan mereka lakukan bukan hanya mandi. Apalagi saat melirik ke arah bukti gairah Dirga yang sudah menegang. Oh, lelaki ini menginginkannya, Nadine yakin sekali akan hal itu.

“Ha- hanya mandi, kan?” tanya Nadine terpatah-patah, karena ia belum juga mengalihkan pandangnnya dari pusat gairah Dirga.

Dirga tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Nadine. “Sayangnya bukan hanya itu.” Secepat kilat Dirga menghimpit tubuh Nadine di antara dinding, lalu dia menyalakan air pancuran hingga membasahi tubuh mereka berdua.

Nadine sempat memekik terkejut saat tubuhnya di guyur secara tiba-tiba oleh air shower, di tambah lagi tiba-tiba bibir Dirga yang mulai menyerang bibirnya dengan cumbuan panasnya. Walau terkejut, tapi Nadine masih sanggup membalas cumbuan panas tersebut. gairahnya terbangun seketika, ia yang tadi menolak saat Dirga meminta haknya, kini malah memohon supaya Dirga segera mengambil haknya.

Akhirnya Dirga tak menunggu lama lagi, ia mengangkat sebelah kaki Nadine lalu menenggelamkan diri dalam balutan lembut dari tubuh istrinya tersebut.

“Ohhh…” Nadine mendesah panjang. Pun dengan Dirga yang seakan tak dapat jauh-jauh dari racauannya berupa umpatan-umpatan khas yang keluar begitu saja dari bibirnya secara spontan.

Dirga meraih kedua tangan Nadine, memenjarakan kedua tangan itu ke atas kepala, sedangkan yang di bawah sana tak berhenti bergerak menghujam, mencari kenikmatan untuk diri mereka berdua. Bibir Dirga mencumbu sepanjang rahang Nadine, turun ke leher Nadine, sedangkan kedua tangannya seakan tak ingin melepaskan kedua tangan Nadine yang ia penjarakan di atas kepala wanita tersebut.

Dirga menggeram dalam cumbuannya, ia merasakan Nadine semakin rapat membungkusnya saat wanita itu berada pada puncak kenikmatan, hingga membuat Dirga tak mampu menahan diri lagi untuk mencapai pelepasannya.

Keduanya terengah karena sensasi orgasme yang baru saja melanda. Dirga menunduk, menempelkan keningnya pada kening Nadine, kemudian mencumbu singkat bibir istrinya tersebut yang masih terbuka, terengah karena ulahnya.

“Kamu, luar biasa.” Bisiknya sebelum meraih sabun dan membaluri tubuh Nadine dan juga tubuhnya sendiri dengan busa sabun tersebut.

“Apa- apa setelah ini, lagi?” tanya Nadine dengan wajah polosnya.

Dirga menatap Nadine sebentar, lalu tertawa lebar. “Aku bukan maniak seks, aku akan memberimu waktu istirahat, tenang saja.”

Nadine sedikit tersenyum. Bukan maniak seks? Sejauh ini yang ia kenal dari Dirga hanya bahwa Dirga tidak bisa jauh-jauh dari seks, apa namanya jika bukan maniak seks?

“Aku hanya capek, ingin cepat tidur.”

“Oke, aku akan membirkanmu tidur nyenyak malam ini, tenang saja.” Mendengar itu, Nadine kembali tersenyum. Dan mereka kemudiaan melanjutkan mandi bersamanya tanpa saling memancing gairah satu dengan yang lainnya.

***

Nadine bangun kesiangan, dan itu karena Dirga yan tadi pagi sempat membangunkannya untuk melakukan satu sesi kilat sebelum mereka kembali tertidur pulas lagi. Oh, Nadine benar-benar tak mengerti, sebesar itukah gairah seorang Dirga pada dirinya?

Saat Nadine menanyakan hal tersebut pada Dirga, dengan santai Dirga menjawab jika mereka adalah pengantin baru, jadi sangat wajar jika mereka melakukan hal tersebut kapanpun dimanapun tempatnya.

Oh, jawaban apa itu?

Nadine menggelengkan kepalanya, tersenyum saat melihat Dirga yang masih tertidur pulas dengan wajah polosnya. Lelaki itu tampak seperti bocah kecil dengan tampang polosnya saat sedang tidur seperti saat ini, dan itu membuat jantung Nadine kembali memacu lebih cepat lagi dari sebelumnya.

Nadine akhirnya memutuskan untuk segera meninggalkan Dirga, jika tidak, ia tak akan bisa menahan jemarinya untuk mengusap lembut wajah suaminya tersebut.

Nadine berjalan menuju ke arah dapur, semoga saja ada yang bisa di lakukan di sana, ia tidak mungkin hanya duduk-duduk santai sambil menunggu Dirga bangun, membersihkan kamar Dirga yang berantakanpun tidak mungkin di lakukan saat ini, karena ia tidak mau membangunkan Dirga dan membuat lelaki itu ingin menyentuhnya lagi. Akhirnya Nadine memilih menuju ke arah dapur dan berdoa jika ada pekerjaan yang dapat ia kerjakan di sana.

Sampai di dapur, Nadine di sambut dengan hangat oleh mama Dirga, orang yang kini sudah menjadi ibu mertuanya. Dan ia sedikit terkejut saat mendapati lelaki yang memiliki wajah kembar identik dengan Dirga sedang duduk di salah satu kursi di meja makan.

“Siang, Nadine, masih ingat aku?” sapa lelaki itu dengan lembut,

Ah ya, tentu saja ia ingat. Itu adalah Davit, saudara kembar Dirga yang sudah menikah dan tinggal di Bandung dengan keluarga kecilnya. Sejak kapan Davit berada di sini?

“Siang, Kak.” Nadine menjawab sapaan Davit sambil mengangguk dan dengan sedikit canggung. Entahlah, saat menatap Davit, ia juga merasa jika dirinya sedang menatap Dirga.

“Sayang, kemarilah, ini Nadine, istrinya Dirga.” Davit memanggil seseorang, dan datanglah seorang wanita cantik yang sedang menggendong seorang balita.

Itu pasti istri Davit. Pikir Nadine. Wanita itu datang menghampiri Nadine, menatap diri Nadine dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu tersenyum dan mengulurkan jemarinya.

“Sherly.” Ucap wanita tersebut dengan lembut.

Nadine menyambut uluran tangan tersebut. “Nadine.” Jawabnya dengan menyunggingkan senyuman lembutnya juga.

“Mereka akan tinggal di sini sampai acara resepsi kalian di laksanakan akhir minggu ini, Sayang, semoga kamu bisa berteman baik dengan kakak-kakak iparmu.” Ucap ibu Dirga pada Nadine. Nadine hanya tersenyum dan mengangguk lembut.

“Apa?! Kenapa lama sekali?!” seruan keras itu seketika membuat semua orang menatap ke arah sumber suara yang berada pada anak tangga paling atas. Ternyata itu Dirga, lelaki itu sudah berdiri di sana dengan ekspresi kesalnya. Kenapa?

-TBC-

Advertisements

Lovely Wife – Chapter 6 (Seks atau Bercinta?)

Comments 4 Standard

Lovely Wife

 

Chapter 6

-Seks atau bercinta?-

 

Dirga duduk di pinggiran ranjang dengan dengan jemari yang sudah mengepal. Ia memang marah karena Darren memukulnya, tapi ia lebih marah lagi saat melihat Darren mengajak Nadine pergi lalu mencium habis-habisan wanita itu.

Sial!

Tadi, setelah mengendalikan emosinya, ia menyusul kemana perginya Darren dan juga Nadine, lalu ia melihat Karina yang tampak mematung menatap sebuah pemandangan, dan pada saat itu pulalah ia juga melihat pemandangan tersebut.

Nadine dan Darren saling berciuman, seperti mereka berdua tengah melepas kerinduan, seperti mereka berdua terlihat tidak dapat terpisahkan dengan apapun. Sedalam itukah perasaan keduanya?

Lamunan Dirga buyar saat mendapati pintu kamarnya yang di buka kemudian di tutup kembali oleh seseorang. Itu Nadine yang baru kembali masuk ke dalam kamarnya. Dirga mengangkat wajahnya seketika dan mendapati Nadine yang sudah berdiri tak jauh dari pintu kamar mereka. Mata wanita itu masih basah, seperti orang yang baru saja menangis.

Menangisi Darren? Sial! Tentu saja.

Dirga berdiri seketika, sorot matanya menajam, seakan mampu membunuh siapapun yang tengah menatapnya. Dengan spontan Nadine menundukkan keplanya, meremas kedua belah telapak tangannya saat Dirga berjalan pelan menuju ke arahnya.

“Kak, aku minta maaf.” Entah kenapa Nadine tiba-tiba mengucapkan kalimat itu.

“Maaf? Untuk apa? Karena sudah berciuman dengan si berengsek Darren?”

Nadine mengangkat wajahnya seketika. Dirga berdiri tepat di hadapannya dengan ekspresi mengerikan, lelaki itu tampak sangat marah, secara spontan Nadine melangkah mundur, tapi hanya dua langkah, punggungnya sudah menempel pada pintu di belakangnya.

Tanpa di duga, Dirga malah melangkah mendekat, memenjarakan tubuh Nadine di antara kedua tangannya.

“Kak.”

“Kamu sudah membuat Karina menangis.” Dirga menggeram dalam ucapannya.

“Apa?” Nadine bingung dengan ucapan Dirga.

Dirga mencengkeram dagu Nadine, mendongakkan wajah wanita tersebut ke atas, lalu kembali menggeram di sana “Dengar, aku akan menghukummu setiap kali kamu membuat adikku tersakiti.”

“Aku nggak ngerti-”

Belum juga Nadine selesai dengan kalimatnya, kalimat tersebut di potong oleh bibir Dirga yang menyambar bibirnya dengan begitu kasar. Nadine mencoba mendorong Dirga, tapi tidak bisa, tubuh lelaki itu terlalu besar dan terlalu kuat untuk ia dorong, akhirnya dengan spontan, Nadine menginjak keras-keras kaki Dirga hingga membuat Dirga melepaskan pagutan bibir mereka seketika.

Dirga terpincang-pincang sambil mengaduh, mundur, menjauh dari Nadine. “Bangsat! Perempuan sialan!” Dirga benar-benar tampak marah. Matanya memerah seakan membara dengan kemarahan yang sudah menguasai dirinya, wajahnya mengeras, serta ekspresinya benar-benar tampak mengerikan untuk Nadine.

Dengan spontan, Nadine mencoba membuka pintu di belakangnya, tapi belum juga pintu tersebut di buka, Dirga sudah meraih pinggangnya, lalu ia merasakan tubuhnya melayang di udara. Dirga membanting keras-keras tubuh Nadine di atas ranjang, dan Nadine merasakan punggungnya yang terasa sakit karena bantingan keras dari Dirga.

“Mau bermain-main? Mari kutunjukkan bagaimana permainan yang kusukai.”                Secepat kilat Dirga menjatuhkan diri di atas tubuh Nadine lalu mencumbu bibir Nadine dengan begitu kasar. Nadine meronta dengan cumbuan yang di berikan oleh Dirga, tapi ia tak dapat berbuat banyak.

Dirga semakin menjadi, ia merobek paksa pakaian yang di kenakan Nadine hingga tampaklah kulit pundak Nadine yang putih mulus di hadapannya, tanpa banyak bicara lagi, Dirga mendaratkan bibirnya di sana. Bukannya mengecup lembut, atau mencumbu dengan penuh gairah, melainkan menggigit kasar di sana.

Nadine mengerang kesakitan, tidak suka dengan apa yang di lakukan Dirga, itu menyakitinya.

“Jangan.” Nadine meronta tapi Dirga seakan tidak mempedulikan kesakitan yang di rasakan oleh Nadine. Ia melanjutkan aksinya, melucuti pakaian Nadine dengan kasar, dan ketika tubuh mereka berdua sudah sama-sama polos, Dirga melakukan penyatuan sesuka hatinya tanpa mempedulikan Nadine yang belum siap menerimanya.

Nadine menangis, tapi Dirga tidak peduli. Sesekali jemarinya mencakar dada Dirga, mencoba melawan lelaki tersebut, tapi dengan cekatan Dirga meraih pergelangan tangan Nadine, memenjarakannya tanpa menghentikan pergerakannya.

Dirga akhirnya mencapai pelepasan pertamanya, tapi tak berhenti sampai di situ saja, ia kemudian meraih pakaian Nadine yang tadi di robeknya, membalik tubuh Nadine hingga memunggunginya, lalu mengikat pergelangan tangan Nadine di belakang tubuh wanita tersebut. Nadine sendiri sudah tidak mampu melawan lagi, Dirga begitu kuat dan kasar, yang bisa Nadine lakukan hanya pasrah.

Dirga kembali melakukan penyatuan dengan posisi Nadine yang membelakanginya hingga membuat Nadine kembali mengerang karena penyatuan yang tiba-tiba tersebut. Lelaki itu bergerak dengan cepat, dengan kasar, sedangkan tangannya tak berhenti menarik ikatan tangan yang mengikat kedua pergelangan tangan Nadine.

Nadine mengerang, meronta. Ia merasa tersiksa dengan apa yang di lakukan Dirga, ia merasa jika kini dirinya menjadi budak seks dari lelaki tersebut. Ini bukan bercinta, ini adalah sebuah seks, seks yang sama sekali tidak memberinya kenikmatan seperti yang kemarin ia rasakan. Bagaimana mungkin Dirga tega melakukan hal ini padanya? Memperlakukannya seperti seorang pelacur yang hanya berfungsi memuaskan hasrat leleki tersebut di atas ranjang?

***

Entah sudah berapa kali Dirga mengalami pelepasannya, entah berapa kali juga Nadine memohon pengampunan pada lelaki tersebut, hingga Dirga merasa sudah cukup lalu pergi begitu saja meninggalkan Nadine sendirian di kamarnya.

Kini, meski sudah hampir tengah malam, lelaki itu belum juga kembali ke kamar mereka, Nadine juga belum dapat memejamkan matanya karena masih sibuk menangisi apa yang terjadi dengannya.

Dirga sudah seperti memiliki dua sisi yang berbeda. Sisi yang begitu lembut seperti kemarin dan tadi pagi, tapi satu sisi lain, lelaki itu tampak begitu mengerikan hingga membuat Nadine takut. Tapi Nadine tidak ingin takut, jika ia takut, maka Dirga akan selalu menginjak-injak harga dirinya.

Akhirnya Nadine mencoba bangkit, tubuhnya benar-benar terasa remuk, dan bukan hanya tubuhnya, tapi entah kenapa hatinya juga, ia tidak suka dengan apa yang sudah di lakukan Dirga padanya tadi.

Dengan langkah tertatih, Nadine menuju ke arah kamar mandi, membersihkan diri, mengganti pakaiannya, lalu mencoba mencari Dirga. Ya, ia akan mencari lelaki tersebut, ia tidak akan membiarkan Dirga meninggalkannya dalam keadaan marah seperti tadi. Apa yang akan di lakukan lelaki itu di luar sana dalam keadaan marah?

Nadine takut jika Dirga melakukan hal nekat. Bagaimanapun juga, Nadine sudah mengenal Dirga sejak lama. Nadine ingat jika dulu Dirga dan beberapa temannya bahkan sempat di penjara karena melakukan pengeroyokan pada anak orang hingga babak belur karena anak tersebut mencoba menggoda pacar Dirga. Dan Nadine tidak ingin hal yang terjadi saat Dirga masih remaja itu terulang lagi saat ini.

Setelah mandi, mengganti pakaian, serta merapikan penampilannya, Nadine lantas keluar dari kamarnya. Ia mengesampingkan rasa sakit di tubuhnya, ia mencoba menghilangkan rasa sedih di hatinya, bagaimanapun juga, Nadine merasa bersalah karena tadi sempat berciuman dengan Darren padahal kini ia sudah bersuami.

Perasaannya pada Darren memang belum sepenuhnya menghilang, tapi Nadine akan berusaha melupakan lelaki itu. Darren harus bahagia bersama dengan Karina, begitupun dengan Karina. Mungkin ini memang menjadi jalan terbaik untuk mereka semua. Sedangkan dirinya kini akan berusaha menerima status barunya sebagai istri dari seorang Dirga Prasetya. Bisakah?

Tak terasa, kaki Nadine sudah berhenti pada lobi hotel. Ia bingung harus mencari Dirga kemana. Apa lelaki itu keluar? Atau masih berada dalah hotel ini? Akhirnya Nadine memilih mencari Dirga di dalam hotel, mungkin di restoran atau di kafe hotel. Jika masih tidak ketemu, Nadine akan mencarinya keluar.

Setelah mencari di dalam restoran, dan tidak mendapati Dirga di sana, Nadine melangkahkan kakinya menuju ke arah kafe hotel yang letaknya tepat di sebelah restoran tersebut. Kafe itu khusus untuk minum-minum, dan bersenang-senang. Suasananya lebih mirip seperti kelab malam, sedikit remang-remang, dan penuh dengan perempuan berpakaian minim. Hanya saja, kafe ini lebih tenang.

Nadine masuk ke dalam kafe tersebut, mengedarkan seluruh pandangannya, mana tahu dia bertemu dengan Dirga. Dan benar saja, tak lama, pandangannya tertuju pada seseorang yang tengah asik meminum minuman keras di bar dengan dua orang wanita di sisi kanan dan kirinya.

Itu Dirga, dan lelaki itu sesekali mencumbu wanita yang berada di sebelahnya. Nadine meraba dadanya yang tiba-tiba terasa sesak saat melihat pemandangan tersebut. Apa ia cemburu? Mungkin saja.

Dan astaga, apa ini tandanya jika Dirga sudah bosan terhadapnya hingga lelaki itu mencari wanita lain sebagai pelampiasannya? Secepat inikah Dirga bosan padanya? Dengan langkah pasti Nadine menghampiri Dirga dan kedua wanita tersebut.

Nadine sempat menghentikan langkahnya dan terpaku di belakang Dirga saat mendengar ocehan yang keluar dari suaminya tersebut.

“Aku akan membayar kalian berapapun, berapapun yang kalian inginkan jika kalian mampu membuatku tegang bergairah.”

“Apa? Lalu kenapa kamu memanggil kami ke sini jika kamu belum tegang dan bergairah?” tanya seorang wanita yang berada di sisi kanan Dirga.

“Sialan! Perempuan itu yang mematikan gairahku pada wanita lain selain dirinya!” Dirga berseru keras. Lelaki itu benar-benar tampak sangat mabuk dan tak dapat mengontrol dirinya sendiri. Oh, entah sudah berapa lama Dirga berada di sana, dan entah sudah berapa banyak botol minuman yang di habiskan lelaki tersebut.

“Perempuan? Perempuan siapa?” tanya wanita itu lagi.

“Perempuan sialan yang kunikahi kemarin. Bangsat!” Dirga kembali menegak minumannya. Meski Dirga tak berhenti mengumpat dan menyebutnya sialan, tapi Nadine sedikit tersenyum mendengar pernyataan Dirga tadi.

Nadine melanjutkan langkahnya dan kini berhenti tepat di sebelah Dirga, lalu mencoba menggeser wanita yang duduk di sebelah kanan Dirga.

“Hei, apa yang kamu lakukan? Kamu siapa?” si wanita itu tampak kesal dengan Nadine yang tiba-tiba mengeser tempat duduknya.

Nadine malah menyunggingkan senyumannya untuk wanita tersebut. “Saya istrinya, perempuan sialan yang baru saja dia ucapkan.” Mata si wanita itu membulat seketika. “Kita balik, Kak.” Nadine mencoba mengajak Dirga untuk kembali ke kamar mereka.

“Tidak bisa begitu, suami kamu sudah menghubungi kami untuk memuaskannya malam ini.”

Nadine tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Dadanya terasa sesak saat mendengar ucapan wanita tersebut. Dirga mencari kepuasan dari wanita lain, itu tandanya ia tidak mampu memuaskan suaminya tersebut. Oh, jika Nadine memiliki uang, maka saat ini juga ia akan membayar kedua wanita itu hingga keduanya mau angkat kaki dari hadapan mereka, tapi sayangnya…

Nadine akhirnya memberanikan diri morogoh saku belakang celana Dirga, mencari-cari dompet lelaki tersebut.

“Apa yang kamu lakukan?!” Dirga menggeram setengah sadar. Tapi Nadine tidak menjawab. Ia menemukan apa yang ia cari. Membuka dompet tersebut dan mengeluarkan semua uang tunai yang ada di dalamnya.

“Terima ini, suami saya tidak butuh kepuasan dari wanita lain.”

“Apa? Hei, kamu siapa berani bayar kami? Lagi pula bukan segini tarif kami semalam.” Si wanita di sebelah kanan tampak sangat tidak terima.

“Saya tidak punya uang tunai lagi, jika kalian ingin lebih, silahkan datang ke kamar kami besok pagi. Kamar 305.” Setelah mengucapkan kalimat yang di buatnya seketus mungkin itu, Nadine meraih lengan Dirga, mengajak lelaki itu berdiri dan memapahnya keluar dari dalam kafe tersebut.

Oh, Nadine bahkan mengenyahkan tubuhnya yang gemetaran. Ia tidak pernah melakukan hal seperti tadi. Dulu, ia pernah memergoki Garry, pacar pertamanya yang beselingkuh dengan gadis lain, tapi ia cukup meninggalkan lelaki itu, tidak perlu membahasnya atau bahkan bertatap muka secara langsung seperti tadi dengan wanita perebut kekasihnya itu. tapi tadi, entah kekuatan apa yang menguasai dirinya hingga memiliki keberanian seperti tadi, menampilkan kesombongannya yang bahkan tak pernah terpikirkan olehnya.

Sibuk dengan pikiran dan perasaannya sendiri, tanpa terasa sampailah mereka pada kamar hotel mereka. Nadine masih memapah tubuh Dirga yang terasa sangat berat. Lelaki itu sudah meracau tak karuan. Suaranya seperti sebuah geraman hingga membuat Nadine tidak mendengar dengan jelas apa yang di ucapkan lelaki tersebut.

Nadine merebahkan tubuh Dirga di atas ranjang, membuka sepatu lelaki tersebut, lalu membuka baju yang di kenakan Dirga, tapi ketika jemarinya baru menyentuh kancing baju Dirga, pergelangan tangannya di cekal erat oleh tangan Dirga.

“Apa yang kamu lakukan?” Dirga menggeram, matanya memerah seakan membara karena kemarahan yang sedang merayapi dirinya.

“Kamu harus ganti baju, aku nggak suka bau parfum wanita itu menempel di baju Kak Dirga.”

“Kenapa kamu mengusir mereka, Hah?!”

“Aku nggak suka.” Nadine menjawab dengan tenang dan  datar. Kemudian secepat kilat tubuhnya di tarik dirga hingga ia jatuh ke atas pelukan lelaki tersebut.

“Kalau kamu nggak suka, maka kamu harus menggantikan mereka untuk memuaskanku.”

Hanya kepuasan? “Aku akan menggantikan mereka.” Nadine masih menjawab dengan tenang tanpa Emosi. Dan secepat kilat Dirga menyambar bibir Nadine yang memang sudah berada sangat dekat dengan bibirnya. Ciuman yang sangat kasar, sama seperti apa yang di lakukan Dirga tadi sore padanya. Oh, apa Dirga akan menyakitinya lagi? Seperti tadi sore? Apa ia masih bisa bertahan setelahnya?

***

Dua hari kemudian, mereka kembali ke Jakarta. Setelah malam itu berakhir, semuanya kembali seperti semula, kecuali sikap Dirga yang semakin acuh tak acuh pada Nadine, seakan lelaki itu tak lagi memikirkan apa yang terjadi dengan Nadine. Nadine sempat berpikir jika Dirga masih marah padanya karena ia berciuman dengan Darren dan membuat Karina menangis, apa sedalam itukah rasa sayang Dirga pada adiknya? Padahal lebih dari itu, Nadine ingin Dirga marah karena memang tidak suka melihat hubungannya dengan Darren, bukan karena Karina.

Mereka tetap melakukan seks di hari-hari terakhir di Bali, tapi hanya seks, bukan bercinta seperti malam pengantin mereka saat itu. dan entah kenapa Nadine kecewa dengan hal itu. Dirga juga bersikap tidak menyenangkan padanya, lelaki itu tidak melemparinya dengan tatapan-tatapan menggoda seperti biasanya, seaka lelakin itu sudah bosan dengan hubungan mereka. Secepat itukah? Oh tidak! Nadine tidak akan membiarkan Dirga bosan secepat ini.

“Kak, apa aku boleh pulang dulu? Aku mau membereskan pakaianku.” Nadine bertanya saat setelah mereka keluar dari bandara dan masuk ke dalam mobil yang sudah menjemput keduanya.

Keluarga Nadine dan kedua orang tua Dirga sudah pulang lebih dulu sehari sebelumnya, hingga kini hanya menyisakan Dirga dan Nadine yang baru pulang dari Bali.

“Ya, aku akan mengantarmu pulang dulu.” Hanya itu jawaban Dirga.

Nadine tidak ingin mengakhiri percakapan mereka. “Uum, apa aku masih boleh bekerja di kantor?”

Dirga menolehkan kepalanya pada Nadine dan mengangkat sebelah alisnya. “Untuk apa? Aku akan memberimu uang belanja, jadi kamu tidak perlu lagi kerja di kantor.”

Oh, ternyata sikap arogan lelaki ini sudah kembali muncul, tapi Nadine suka, setidaknya Dirga tidak menanggapi perkataannya secuek tadi.

“Bukan tentang uang, tapi aku akan bosan di dalam rumah terus tanpa melakukan pekerjan apapun.”

Dirga sedikit menyunggingkan senyuman miringnya. “Kamu nggak akan bosan, lagi pula, akan banyak pekerjaan yang akan menantimu.” Nadine sedikit mengerutkan keningnya karena tidak mengerti apa yang di katakan Dirga, tapi di sisi lain ia senang melihat Dirga yang sepertinya sudah kembali seperti sebelumnya.

***

Sampai di rumah Nadine, Dirga masuk ke dalam rumah sederhana tersebut dan di sambut oleh keluarga barunya. Keluarga Nadine sederhana dan sangat ramah padanya. Ini adalah pertama kalinya ia bertandang ke rumah Nadine. Dulu meski keluarga mereka kenal dekat, tapi hanya Nadine yang sering bermain ke rumahnya untuk bertemu dengan Karina, sedangkan ia sama sekali tidak pernah berkunjung ke rumah Nadine. Bahkan saat melamar Nadine saja dan memberitahukan jika ia akan menikahi Nadine, Dirga menghubungi keluarga Nadine hanya lewat telepon saja.

Nadine mengajak Dirga masuk ke dalam kamarnya, kamar yang tidak seberapa besar, tapi cukup bersih dan rapi. Dirga menatap ke segala penjuru ruangan tersebut, dan untuk pertama kalinya ia merasa nyaman di tempat asing, padahal itu bukan kamarnya sendiri.

Dengan santai Dirga berjalan mendului Nadine dan melemparkan dirinya di atas ranjang Nadine. Nadine menatapnya dengan sedikit gugup karena ini pertama kalinya ia melihat lelaki yang melemparkan diri ke atas ranjangnya.

“Kamarmu nyaman.” Dirga berkomentar. Ya, tentu saja. Dirga mengingat kamarnya sendiri yang kini mungkin sudah menjadi sarang laba-laba. Ia adalah sosok yang pemalas, tidak pernah sekalipun mebersihkan kamarnya sendiri, dan suka seenaknya sendiri menaruh barang-barangnya. Ia juga tidak suka jika ada orang asing yang membereskan kamarnya, kecuali Karina, sedangkan kini, Karina sudah menikah dan tinggal dengan Darren selama lebih dari dua minggu terakhir, bisa di bayangkan bagaimana berantakannya kamar Dirga saat ini.

“Kalau kak Dirga mau, kak Dirga bisa istirahat di sini sebentar selama aku membereskan pakaianku.”

Dirga menghela napas panjang lalu mengangkat kakinya ke atas ranjang Nadine. “Oke, aku tidur sebentar.” Dirga melipat kedua tangannya di bawah kepalanya, lalu mulai memejamkan mata, sedangkan Nadine hanya bisa tersenyum menatap ke arah Dirga dan memilih membereskan barang-barang yang akan ia bawa ke rumah Dirga.

Cukup lama Nadine membereskan apa yang ia perlukan hingga semuanya sudah selesai dan siap, tak terasa hari juga sudah mulai sore, tapi Dirga seakan belum ingin bangun dari tidur nyenyaknya. Nadine akhirnya memilih menghamnpiri Dirga dan mencoba membangunkan lelaki itu, tapi saat ia menghampirinya, Nadine hanya mampu mengamati Dirga yang masih tampak pulas dan tak bergerak.

Jemari Nadine terulur begitu saja mengusap alis Dirga yang tampak sangat tebal dan membuat lelaki itu tampak begitu menawan, kemudian jemarinya turun, mengusap pipi Dirga yang sudah di tumbuhi bulu-bulu halus, apa lelaki ini lupa bercukur tadi pagi? Kemudian tanpa sadar jemarinya merayap menuju ke arah bibir Dirga, bibir yang malam itu tak berhenti mencumbunya dengan sangat mesra.

Pada saat bersamaan, Nadine merasakan pergelangan tangannya di cekal oleh Dirga, lalu mata lelaki itu membuka seketika.

“Uum, aku, aku sudah selesai.” Nadine berkata dengan gugup. Tak menyangka jika Dirga akan terbangun saat ia memandangi lelaki tersebut dengan tatapan kagumnya.

“Kenapa tidak membangunkanku?”

“Uum, aku, aku-”

Dirga sedikit tersenyum miring, “Terlalu sibuk memandangiku?”

Pipi Nadine merona seketika. Dirga benar-benar sangat terang-terangan dengan apa yang ia pikirkan, dan Nadine suka saat Dirga sudah kembali bersikap seperti ini padanya, bersikap menggoda, membuatnya memerah, bukan seperti dua hari terakhir yang hanya cuek dan acuh tak acuh padanya.

“Uum, ibu memasak makan malam untuk kita, jadi sebelum kita pergi, kuharap kita makan malam di sini bersama ibu dan ayah sebentar.” Nadine tidak menjawab pertanyaan Dirga malah berbicara tentang hal lain agar kegugupan segera menghilang darinya dan pipinya berhenti merona-rona.

Jemari Dirga terulur mengusap lembut pipi Nadine. “Pipimu merah, membuatku gemas ingin menggigitnya.” Dirga berkata dengan suara seraknya, dan Nadine tahu, jika lelaki itu sudah mengeluarkan suara seraknya, berarti lelaki itu menginginkan sesuatu darinya.

Apakah seks? Atau bercinta?

“Kita tidak bisa melakukannya di sini?”

“Kenapa?”

“Aku akan menjerit karena kekasaranmu.” Nadine berkata terang-terangan mengingat dua hari terakhir mereka hanya melakukan seks yang kasar hingga membuat Nadine menjerit kesakitan setiap kali Dirga melakukannya.

“Aku tidak akan kasar.”

Nadine tidak menjawab, matanya terpaku pada mata Dirga yang menatapnya dengan tatapan mendamba.

“Hukumanmu sudah berakhir, sekarang kita akan mulai lagi dari awal.” Lanjut Dirga lagi.

“Hukuman?” Nadine tidak mengerti apa yang di katakan Dirga.

“Ya, setiap kali kamu melakukan kesalahan, aku akan menghukummu seperti dua hari terakhir. Aku akan menampilkan sisi burukku padamu seperti kemarin.”

Nadine bergidik mendengar pernyataan Dirga. Oh, ia bahkan masih merasakan bagaimana kasarnya Dirga memperlakukannya, beberapa bagian tubuhnya bahkan mungkin masih membiru bekas dari gigitan-gigitan menyakitkan yang di tinggalkan oleh Dirga. Itukah yang di sebut Dirga sebagai hukuman?

“Bagaimana jika aku berhenti melakukan kesalahan?”

“Maka aku akan menyayangimu sebagai istriku. Bukan sekedar wanita yang memuaskanku di atas ranjang.”

Nadine menelan ludahnya dengan susah payah, entah kenapa janji Dirga membuatnya tergoda untuk tetap tidak melakukan kesalahan di depan lelaki tersebut. “Jadi, uum, menurut kak Dirga, apa yang membuatku terlihat salah? Apa yang terlarang untukku hingga aku bisa di hukum seperti kemarin?”

Wajah Dirga mengeras seketika. “Jauhi Darren.” geramnya. “Jika kamu menjauhinya, maka aku akan bersikap baik padamu.” Entah kenapa ucapan Dirga terdengar bukan seperti janji, tapi seperti sebuah ancaman.

Nadine menggigit bibir bawahnya. Entah bagaimana caranya membuktikan pada Dirga kalau kini hubungannya dengan Darren memang sudah selesai kemarin. Perasaannya memang masih ada untuk Darren, tapi tak sebesar dulu. Nadine juga tidak lagi berharap untuk bisa bersatu kembali dengan Darren, sungguh, ia tak lagi mengharapkan hal itu, tapi bagaimana cara dirinya meyakinkan Dirga tentang hal itu?

“Kamu menerima laranganku?”

Nadine tidak menjawab, tapi dia mengangguk dengan patuh. Dirga tersenyum, dengan lembut ia mengusap pipi Nadine, jemarinya lalu mengusap bibir bawah Nadine yang tampak menggoda untuknya. Warnanya merah seperti ceri, padahal Dirga yakin jika Nadine tidak sedang mengenakan lipstik saat ini.

“Bibirmu benar-benar menggodaku.” ucapnya masih dengan mengusap lembut bibir Nadine, lalu sedikit demi sedikit Dirga mendekatkan wajahnya dan mulai menempelkan bibirnya pada bibir ranum milik istrinya tersebut. Dirga mulai mencumbunya dengan lembut, sedangkan jemarinya sudah merayap ke arah tengkuk Nadine, menahannya supaya wanita itu tidak melepaskan tautan bibir mereka berdua.

Dan yang bisa di lakukan Nadine saat ini hanya pasrah, membalas apa yang sudah di lakukan Dirga padanya, mencari kenikmatan yang sejak dua hari terakhir tidak di berikan Dirga padanya. Akahkah ia mendapatkannya? Apakah kali ini Dirga hanya sekedar melakukan seks? Atau kembali bercinta padanya seperti malam pengantinya saat itu?

-TBC-

Lovely wife – Chapter 5 (Membunuhku dengan kenikmatan)

Comments 3 Standard

Lovely wife

 

Chapter 5

-Membunuhku dengan kenikmatan

 

Setelah seharian senam jantung, jantung Nadine tidak di biarkan beristirahat walau hanya sebentar saja, ia kembali berdebar-debar saat Dirga menunjukkan kamar hotel mereka. Oh, ia merasa sangat gugup karena berada dalam satu ruangan dengan lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya.

Nadine tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya, dan kenapa juga Dirga mengajaknya masuk ke dalam kamar mereka, bukankah ini masih sore? lagi pula, kalau malam memangnya kenapa? Apa mereka akan melakukan malam pengantin seperti kebanyakan orang pada umumnya? Sepertinya tidak.

Nadine mengalihkan pandangannya seketika saat Dirga dengan santainya membuka pakaian yang lelaki itu kenakan. Astaga, apa Dirga tidak merasa risih sedikitpun?

“Aku mandi dulu.” ucap lelaki itu pendek. Nadine masih mengalihkan pandangannya ke arah lain, hingga kemudian suara Dirga membuatnya mengangkat wajah.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Dirga sedikit heran saat melihat Nadine tidak berani menatap ke arahnya.

Nadine hanya diam, ia tidak berani menjawab.

“Malu?” Dirga lalu mendekat ke arah Nadine, kemudian mengangkat wajah wanita itu padanya “Tidak perlu malu, kamu pernah melihat lebih dari ini. Lagi pula, setelah ini kamu akan sering melihatku seperti ini, ‘telanjang di hadapanmu’. Ingat, aku sudah menjadi suamimu.”

Setelah kalimat yang di ucapkan dengan sedikit tersenyum tersebut, Dirga meninggalkan Nadine begitu saja yang masih ternganga karena ulahnya.

Oh, apa lelaki itu baru saja menggodanya? Nadine mengusap kedua pipinya sendiri yang entah kenapa terasa memanas. Sial! Dirga benar-benar mempengaruhinya.

***

Setelah mandi, Nadine sedikit terkejut ketika ia keluar dari kamar mandi dan mendapati Dirga yang sudah duduk di depan meja yang penuh dengan makan malam. Lelaki itu tampak santai dengan kemeja putihnya. Jemarinya sudah membawa segelas anggur, dan lelaki itu sesekali menyesapnya sambil menatap ke arah Nadine.

“Sudah selesai? Kita bisa makan malam dulu.”

Nadine mengangkat sebelah alisnya. “Makan malam di sini saja? Nggak bareng yang lainnya?”

“Tentu saja, mereka akan mengerti kalau ini malam pengantin kita.”

Nadine menelan ludah dengan susah payah saat mendengar jawaban Dirga. Malam pengantin? Jadi mereka berdua akan menjalani ritual malam pengantin seperti pasangan-pasangan lainnya? Entah kenapa kegugupan kembali melanda diri Nadine.

“Kenapa merah gitu? Kamu nggak mau melakukan malam pengantin bersamaku?”

Oh, apa Dirga bisa berhenti berkata terang-terangan padanya? Astaga, apa lelaki ini tidak memiliki sedikit saja kegugupan atau kecanggungan saat berada di dekatnya? Nadine benar-benar tak habis pikir dengan apa yang di rasakan Dirga saat ini.

“Bukan gitu.” Hanya itu jawaban Nadine. Please, santai saja. Lelaki di hadapanmu saja bisa bersikap sesantai itu, kenapa kamu yang jadi salah tingkah seperti saat ini? Nadine merutuki dirinya sendiri.

Mencoba santai, Nadine duduk di hadapan Dirga, kemudian meraih segelas anggur di hadapannya, kemudian menyesapnya sedikit.

“Jangan terlalu banyak, aku mau malam ini kita melakukannya saat kamu masih dalam keadaan sadar.”

Perkataan Dirga sontak membuat Nadine tersedak anggur yang di minumnya. Oh, kenapa juga Dirga lagi-lagi membahas tentang apa yang akan mereka lakukan malam ini.

Saat Nadine sibuk terbatuk-batuk, Dirga malah menertawakan Nadine. Apa kini ia tmpak lucu di hadapan lelaki itu? oh, bagus sekali Nadine, kamu sekarang jadi bahan tertawaan oleh lelaki itu.

Setelah puas tertawa, Nadine melihat Dirga berdiri , dengan santai lelaki itu menuju ke arah home teater yang di sediakan oleh hotel tersebut. Astaga, Nadine bahkan baru menyadari bagaimana megahnya kamar hotel yang ia tempati saat ini, sangat mewah, dan peralatannya begitu lengkap, bahkan ketika melirik ke arah ranjang di hadapannya, Nadine sempat terperangah mendapati ranjang tersebut yang begitu besar dan megah, lengkap dengan bunga mawar merah yang di bentuk seperti hati.

Saat Nadine sibuk dengan pikirannya dan juga keadaan di sekitarnya, ia mendengar suara musik yang di putar, musik yang terdengar lembut dan romantis di telinganya.

Ia menatap ke arah Dirga yang sudah berjalan menuju ke arahnya, lelaki itu sedikit menyunggingkan senyum miringnya, kemudian jemarinya terulur meminta jemari Nadine.

“Kupikir, dansa akan membuatmu sedikit rileks.” ucapnya lembut.

Rileks? Astaga, Nadine tidak yakin jika dirinya akan rileks saat berada di dekat Dirga. Tapi, hanya duduk membatu di sinipun tidak akan membantu. Akhirnya Nadine kembali menyesap anggurnya, berharap supaya anggur tersebut memberinya kekuatan untuk melupakan kegugupannya, kemudian diraihnya jemari Dirga, dan ia bangkit dari duduknya.

Dirga menarik tangan Nadine hingga membuat tubuh wanita itu mendekat, membentur dadanya. Lalu dengan penuh keahlian, Dirga mulai melangkahkan kakinya, mengikuti irama musik. Matanya tidak berhenti menatap ke arah Nadine, wanita yang kini menjadi wanita tercantik di dunia, setidaknya itu baginya saat ini.

Ya, Dirga akan melihat siapa saja menjadi wanita tercantik di dunia saat ia benar-benar menginginkan wanita itu di atas ranjangnya. Dan kini, ia benar-benar menginginkan Nadine di atas ranjangnya. Jangan tanya bagaimana frustasinya Dirga dua minggu terakhir. Astaga, setiap saat ia mengingat malam itu, malam dimana Nadine mendesah karena sentuhannya, malam dimana ia mendapatkan kepuasan luar biasa hingga ia menginginkannya lagi dan lagi, seakan tak ingin berhenti. Bagaimana bisa wanita ini membuatnya candu seperti sekarang ini?

“Apa kamu tahu, aku nggak pernah memikirkan hal ini terjadi.” Dirga berkata dengan suara seraknya. “Menikah sama sekali tidak ada dalam kamusku, terikat dengan satu wanita itu bukan diriku. Tapi kamu, kamu membuatku memilih jalan itu.”

Nadine mendongakkan kepalanya, menatap ke arah Dirga, lelaki itu tampak sungguh-sungguh dengan ucapannya. “Kenapa?”

“Karena aku menginginkanmu.” Dirga menjawab cepat.

“Hanya ingin? Bagaimana jika rasa inginmu hilang dan berganti rasa bosan?”

“Maka jangan sampai membuatku bosan.”

Jawban Dirga membuat Nadine ternganga. Nadine lalu menelan ludahnya dengan susah payah. “A- apa yang membuatmu tidak bosan?”

Dirga sedikit tersenyum lalu mengusap lembut pipi Nadine. “Banyak, aku akan menunjukkan padamu nanti.”

“Dan ketika kak Dirga tetap bosan?”

“Maka aku akan bermain-main di luar sebentar untuk menghilangkan kebosananku.”

Entah apa yang di rasakan Nadine saat ini. Dadanya terasa sesak mendengar jawaban lelaki itu. apa itu tandanya jika lelaki yang sudah menjadi suaminya ini akan mencari penggantinya di luar sana untuk menghilangkan kebosanannya? Bagaimana mungkin Dirga mengucapkannya dengan begitu santai seperti tidak terjadi apapun?

Dengan berani Nadine mengalungkan lengannya pada leher Dirga, kakinya sedikit berjinjit untuk menggapai bibir Dirga.

“Aku tidak akan membiarkan Kak Dirga bermain-main di luar sana dengan wanita lain walau hanya sebentar.” Nadine berkata antara sadar dan tidak sadar. Ia hanya menyuarakan isi hatinya. Oh, tentu saja ia tak akan membiarkan Dirga bermain-main dengan wanita murahan di luar sana, lelaki ini sudah menjadi miliknya, suaminya.

Dirga sedikit tersenyum dengan apa yang di lakukan Nadine. “Hmm, mau menjadi istri posesif, ehh?”

“Bukan, aku hanya melindungi apa yang menjadi milikku.”

“Berani menunjukkan kepemilikankmu?”

Nadine tidak menjawab, dia malah menyunggingkan senyuman manisnya.

Dirga menghentikan gerakannya, kemudian menangkup kedua pipi Nadine. “Dengar, bukan aku yang menjadi milikmu, tapi kamu yang menjadi milikku, dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh apa yang sudah menjadi milikku.” Setelah kalimatnya tersebut, Dirga mendekatkan wajahnya pada wajah Nadine kemudian menempelkan bibirnya pada bibir ranum wanita tersebut. Menciumnya dengan lembut hingga membuat gairah keduanya terbangun seketika.

Sedikit demi sedikit Dirga mendorong tubuh Nadine hingga menempel pada dinding terdekat tanpa melepaskan pagutan bibir mereka, jemari Dirga mulai berani membuka pakaian yang di kenakan Nadine, sedangkan Nadine sendiri seperti membiarkan apa yang di lakukan Dirga. Ya, mereka sudah suami istri, jadi apa lagi yang membuatnya menolak? Perasaan? Bahkan Nadine sendiri kini sudah bingung dengan perasaan yang ia raskan.

Nadine membalas setiap cumbuan yang di berikan oleh Dirga, ia masih setia melingkarkan lengannya pada leher lelaki tersebut, dengan sesekali meremas rambut Dirga ketika lelaki itu berhasil meloloskan pakaian yang ia kenakan.

Dalam sekejap, Nadine sudah berdiri tanpa sehelai benangpun, pakaiannya jatuh tepat di bawah kakinya, di lucuti oleh lelaki yang kini suidah berstatus sebagai suaminya, dengan berani, Nadine membuka kancing-kancing kemeja yang di kenakan Dirga, Dirga membiarkan apa yang di lakukan Nadine karena dia lebih sibuk menikmati pemandangan di hadapannya yang membuat gairahnya semakin memuncak.

“Sejak kapan kamu memiliki tubuh seindah ini?” Dirga bertanya dengan suara seraknya. Nadine tidak menghiraukan apa yang di tanyakan oleh Dirga, ia masih sibuk melucuti pakaian lelaki di hadapannya tersebut.

Tampak tubuh Dirga yang berdiri tegap dengan otot-otot yang tampak menyembul di lengannya, dada bidang serta perut kotak-kotak  seperti model pria dewasa asal luar negeri. Oh, Nadine bahkan sempat menahan napas ketika melihat bagaimana bergairahnya lelaki tersebut saat setelah ia melucuti celana yang di kenakan Dirga.

“Kenapa?” tanya Dirga pada Nadine saat Nadine tidak berhenti menatap bagian tubuhnya yang paling intim.

“Uum, aku, apa aku boleh menyentuhnya?” Nadine bertanya begitu saja, ia bahkan tidak sadar karena telah menanyakan kalimat tersebut. Apa ini efek anggur yang tadi ia minum? Atau, ini karena gairah dalam tubuhnya yang sudah mempengaruhi logikanya? Entahlah.

Dirga tersenyum, diraihnya jemari mungil Nadine, lalu di kecupnya lembut jemari-jemari tersebut sebelum kemudian membawanya pada bukti gairahnya.

“Sentuhlah, semaumu.”

Nadine tersenyum mendengar  penyerahan yang di lakukan Dirga. Ia kemudian berlutut di hadapan lelaki tersebut, memainkan jemarinya hingga membuat Dirga tak kuasa menahan erangannya. Lalu tanpa di duga, Nadine memberanikan diri menyentuhkan bibirnya pada bukti gairah lelaki tersebut.

“Kamu, kamu mau apa?” Dirga bertanya dengan sedikit menggeram.

Nadine hanya mengangkat wajahnya, matanya bertemu pandang dengan mata Dirga yang sudah berkabut, kemudian tanpa banyak bicara lagi, ia melanjutkan aksinya, menyiksa Dirga dengan kenikmatan yang ia berikan dari bibirnya. Oh, erangan lelaki itu membuat Nadine semakin berani, umpatan-umpatan khas yang keluar dari mulut Dirga membuat Nadine senang karena merasa bahwa ia dapat menyiksa suaminya tersebut dengan kenikmatan yang ia berikan.

Tak berapa lama, Dirga menarik tubuh Nadine untuk kembali berdiri di hadapannya, kemudian menghimpit tubuh Nadine di antara dinding, Dirga mengangkat sebelah kaki Nadine lalu tanpa banyak bicara lagi dia menyatukan diri di sertai dengan erangan panjangnya.

“Ooouhh.” Nadine melenguh panjang saat Dirga menyatu sepenuhnya dengan tubuhnya.

“Suka dengan ini?” tanya Dirga dengan senyuman mirinya. Ia menghujam lagi, dan lagi, membuat Nadine tak kuasa menahan erangannya. Bibir Nadine tak berhenti terbuka dan itu membuat Dirga tidak bisa menahan diri untuk menyambarnya.

Dirga memagut bibir tersebut dengan begitu panas, lidahnya menari, mencecap rasa dari bibir wanita yang kini sudah menjadi istrinya, miliknya seorang. Ah, mengingat hal itu membuat Dirga seakan tak ingin berhenti.

Bibir Dirga turun ke rahang Nadine, merambat ke sepanjang leher Nadine, mencecap rasa di sana hingga meninggalkan jejak-jejak panas yang membuat erangan Nadine semakin keras terdengar.

Pergerakan Dirga semakin cepat, sebelah tangannya sudah memenjarakan tangan Nadine di atas kepala wanita tersebut, bibirnya sudah kembali memagut bibir Nadine dengan sesekali mengerang karena puncak kenikmatan yang hampir ia dapatkan. Dirga menghujam lagi dan lagi, lebih cepat, lebih keras dari sebelumnya, mencari-cari kenikmatan untuknya dan juga untuk wanita yang tengah menyatu dengannya, hingga ketika puncak kenikmatan itu ia dapatkan, yang keluar dari bibirnya hanya umpatan-umpatan khas bukan kata-kata cinta pada umumnya.

Nadine berdiri dengan lemas, kakinya terasa tak dapat menyangga tubuhnya sendiri hingga ia memilih melingkarkan kembali lengannya pada leher Dirga. Keringatnya bercucuran, menyatu dengan keringat Dirga. Oh, bahkan ia sangat yakin jika kamar ini berAC, tapi AC saja tidak cukup menyejukkan pergerakan panas yang tadi baru saja mereka lakukan.

“Bagaimana?” dengan begitu menjengkelkannya, Dirga menanyakan hal itu pada Nadine.

“Apanya?” Nadine berbalik bertanya.

“Suka dengan posisi tadi?”

Nadine sedikit tersenyum. “Kakiku pegal.”

Tanpa di duga, Dirga mengangkat tubuh Nadine, lalu sedikit membantingnya di atas ranjang, tanpa banyak bicara lagi, Dirga kembali menindih tubuh Nadine.

“Kak, Kak Dirga mau- Ouuhhh” Nadine tak dapat melanjutkan kalimatnya saat Dirga kembali menyatukan diri dengan tubuhnya. Ohh, lelaki itu terasa penuh mengisinya, rasa sesak membuat gairahnya kembali naik seketika, padahal baru beberapa menit yang lalu ia merasakan indahnya surga dunia.

“Aku tidak ingin berhenti.” Dirga meraup kembali bibir Nadine dengan bergerak seirama, memuaskan hasrat primitifnya yang entah kenapa seakan tak dapat padam ketika ia berdekatan dengan Nadine.

 Oh, Nadine benar-benar sudah menjadi candu untuknya.

***

Saat pagi menjelang, Nadine membuka matanya ketika ia merasakan kecupan-kecupan basah merambat di sepanjang kulit punggungnya yang masih telanjang. Nadine tahu pasti siapa orang yang tengah menggodanya saat ini, itu Dirga, suami yang baru kemain menikah dengannya.

Oh, apa yang di inginkan lelaki ini? Apa lelaki ini ingin kembali menyentuhnya? Astaga, apa semalaman bercinta tidak membuat Dirga bosan? Lelaki itu bahkan tidak hanya sekali dua kali berteriak karena pelepasannya, Dirga menyentuhnya lagi dan lagi hingga mereka berdua kelelahan dan tertidur pulas, tapi apa yang di lakukan Dirga saat ini seakan menunjukkan jika lelaki itu menginginkannya lagi.

“Kak, apa yang kamu lakukan?” tanya Nadine dengan suarab serak khas orang bangun tidur.

Dirga yang tadi mengecupi sepanjang punggung telanjang Nadine akhirnya kini menuju pada tengkuk Nadine dan berbisik di sana.

“Aku menginginkanmu.”

“Apa?” Nadine membulatkan matanya seketika. Sebesar inikah gairah seorang Dirga Prasetya?

Dirga menempelkan bukti gairahnya yang sudah terasa membengkak pada belakang bagian tubuh Nadine, dan yang bisa di lakukan Nadine hanya menolehkan kepalanya ke arah Dirga.

“Kenapa? Kamu merasakannya, kan? Aku menginginkanmu hingga aku tidak bisa tidur.”

“Tapi tadi malam kita sudah-”

“Hanya tadi malam, dan itu belum membuatku puas.” Setelah kalimatnya tersebut, Dirga mengangkat sebelah kaki Nadine kemudian menyisipkan  bukti gairahnya untuk menyatu sepenuhnya dengan tubuh Nadine. “Oh, kamu bahkan sudah basah dan siap menerimaku, sayang.” Racau Dirga.

Nadine kembali mengerang. Ia tak menyangka jika akan di perlakukan Dirga seperti ini, bercinta lagi dan lagi seakan waktu hanya milik mereka berdua. Tidak ada yang aneh dengan perasaanya, ia menerima Dirga, menerima lelaki itu sepenuhnya, tak ada keterpaksaan sedikitpun, tak ada keraguan sedikitpun. Apa ini karena perasaanya juga yang sudah mulai berpaling pada Dirga, lelaki yang sudah berstatuskan sebagai suaminya sendiri?

Dirga bergerak pelan dan lembut, jemarinya memainkan kedua payudara Nadine yang terasa pas dalam genggamannya, sedangkan bibirnya tak berhenti menggingit-gigit sepanjang pundak Nadine. Oh, wanita ini hanya miliknya, dan hanya boleh di miliki olehnya.

“Kak…” Nadine mengerang dalam kenikmatan yang ia rasakan. Tak pernah ia merasakan rasa seperti saat ini. Di cumbu dengan begitu panas, di mainkan oleh sentuhan-sentuhan panas hingga membuat dirinya sendiri seakan candu oleh sentuhan tersebut.

Dirga benar-benar berbeda dengan lelaki yang dulu pernah mengisi hatinya. Dan entah kenapa ia menginginkan lelaki ini melebihi lelaki-lelaki yang pernah mengisi hatinya dulu. Apa perasaannya ini salah?

“Kamu benar-benar nikmat, kamu benar-benar membuatku candu. Sialan!” Dirga masih saja meracau dengan sesekli mengumpat keras. Yang bisa di lakukan Nadine hanya tersenyum mendengar racauan-racauan dan juga umpatan-umpatan khas yang keluar dari bibir Dirga.

“Kamu akan membunuhku dengan kenikmatan. Shit!”

Lagi-lagi yang di lakukan Nadine hanya tersenyum dengan sesekali mendesah menikmati apa yang di lakukan Dirga, tapi kemudian senyumnya itu hilang saat jemari Dirga ikut menyentuh pusat dirinya tanpa menghentikan pergerakannya.

“Ohh, apa yang kamu- Astaga…” Nadine tak dapat melanjutkan  kalimatnya lagi saat ia merasakan gairahnya menanjak seketika karena ulah jemari Dirga.

“Masih bisa tersenyum? Ini hukuman karena kamu menertawakan aku saat aku tersiksa dengan kenikmatan ini.”

“Astaga, Oohh.. kumohon.”

“Memohon ampun, sayang?”

“Tolong, tolong hentikan.” Nadine benar-benar berada di tepi kenikmatan yang seakan ingin membunuhnya. Oh, rasanya benar-benar luar biasa. Ia tidak menyangka jika Dirga akan meberikan sesuatu yang luar biasa padanya.

Dirga menarik dirinya, lalu memposisikan diri untuk menindih Nadine, kemudian menyatukan diri kembali sambil berkata “Aku tidak akan menghentikan permainan ini.” Ucapnya parau sebelum kemudian menyambar bibir Nadine dengan cumbuan panasnya. Jemarinya memenjarakan jemari Nadine, ritme pergerakannya meningkat hingga membuat Nadine mengerang dalam cumbuannya. Oh, Dirga benar-benar seakan tak ingin berhenti dengan permainan ini.

***

Siangnya…

Setelah mandi bersama dengan penuh kecanggungan dan di akhiri satu lagi sesi panbas di kamar mandi, akhirnya Nadine mampu menghela napas lega ketika Dirga membiarkannya menghias diri sebelum kembali berkumpul dengan keluarga mereka.

Oh, Dirga benar-benar panas dan menggoda. Nadine bahkan tidak menyangka jika dirinya akan begitu mudah jatuh pada pelukan lelaki tersebut. Kini, lelaki itu sedang sibuk menatapnya, dan kegugupan kembali dirasakan oleh Nadine.

“Uum, kita ke mana selanjutnya?”

“Kemana lagi? Kita akan bertemu dengan para orang tua, lalu bersenang-senang menikmati pantai.” Dirga menjawab dengan santai seakan kedekatan mereka tidak mengganggunya sama sekali.

“Aku suka pantai.” Tiba-tiba Nadine menyuarakan isi hatinya. Entahlah, tapi ia memang benar-benar menyukai pantai, dan ia tidak menyangka jika kemarin dirinya akan melakukan upacara pernilkahan di tepi pantai.

“Kita bisa bermain di sana seharian ini.” Dirga berkata dengan nada lembut, dan Nadine merasa jika Dirga begitu perhatian padanya. Apa memang seperti ini sikap asli Dirga? Lembut dan perhatian pada wanita? Mengingat itu Nadine kembali tersenyum.

“Sudah selesai?” Dirga bertanya lagi. Nadine hanya menganggukkan kepalanya dan bangkit dari tempat duduknya.

Dirga mengulurkan tangannya, Nadine menatap sebentar kemudian menyambut uluran tangan tersebut. Akhirnya mereka berdua keluar dari dalam kamar hotel mereka bersama-sama sembari bergandengan tangan.

***

Sampai di lobi, Dirga menegang seketika saat menatap pemandangan di hadapannya. Itu Karina, dengan Darren suaminya, yang statusnya mungkin masih menjadi kekasih Nadine. Genggaman jari Dirga semakin ert pada jemari Nadine, seakan tidak ingin membiarkan Nadine berlari kepada lelaki tersebut.

Dirga memasang ekspresi sesantai mungkin, menunjukkan jika tak ada masalah apapun di antara mereka, padahal kini ketegangan sudah menguasai hatinya. Emosinya bergolak di dalam dadanya saat membayangkan jika mungkin saja Nadine akan pergi bersama Darren.

Tidak! Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Nadine hanya miliknya, dan hanya boleh di miliki oleh dirinya.

Dirga berjalan mendekat ke arah Karina dan juga Darren sambil menyapa dengan sesantai mungkin. “Kalian ke sini?”

Dan tanpa di duga, bukannya mendapat jawaban, Dirga merasakan sebuah pukulan keras melayang di wajahnya, tubuhnya di terjang begitu saja oleh tubh Darren, dan laki-laki sialan itu kembali memukulinya lagi-dan lagi.

Sial! Darren akan mendapatkan balasannya!

-TBC-

Lovely wife – Chapter 4 (Menikah)

Comments 3 Standard

Lovely wife

 

Chapter 4

-Menikah-

 

Hampir dua minggu berlalu setelah malam itu terjadi. Semuanya terasa sesak untuk Nadine, ia bahkan tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja. Dirga selalu menatapnya dengan tatapan-tatapan mengintimidasi. Setiap pergerakan dari lelaki itu membuat Nadine seakan susah bernapas karena menahan diri. Astaga, apa yang terjadi dengannya?

Saat ini Nadine sedang sibuk memperhatikan Dirga, lelaki itu tampak serius dengan berkas-berkas di hadapannya. Ya, meski Dirga yang ia kenal adalah lelaki yang brengsek dan suka sekali tidur dengan wanita manapun, namun di sisi lain, ia mengenal bahwa lelaki ini begitu serius dalam pekerjaannya. Dirga bahkan tidak pernah gagal dalam memenangkan tender-tender besar, maka tidak salah jika perusahaan keluarganya semakin maju karena kehadiran Dirga.

Belum lagi fakta jika lelaki ini begitu sayang dengan keluarganya. Nadine masih ingat, saat dulu ia sering bermain ke rumah Karina, ketika Dirga pulang dari jalan, lelaki itu basti membawakan Karina sekantong oleh-oleh seperti ice cream dan lain sebagainya. Dirga juga selalu menghajar siapa saja yang berani-beraninya mengganggu Karina, kadang, Nadine suka iri melihat hal itu, mengingat ia hanya anak tunggal yang tidak memiliki kakak seperti yang di miliki Karina.

“Bawa kembali.” Dirga mengembalikan berkas-berkas yang di bawa Nadine tadi. Nadine sedikit tersentak karena ia sempat melamunkan tentang Dirga tadi.

“Baik Pak.” Nadine akan bergegas pergi, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara Dirga.

“Ada yang aneh dari kamu.”

“Maaf, maksud Pak Dirga?”

“Kamu nggak hamil, kan?”

Nadine membulatkan matanya seketika, jika saat ini dirinya sedang makan, mungkin ia akan tersedak mengingat Dirga bertanya dengan terang-terangan dan begitu datar tanpa ekspresi.

“Enggak, saya nggak hamil.” Oh, Nadine bahkan tidak memikirkan hal itu. Ia masih tidak dapat mengingat apa yang terjadi malam itu, dan ia pikir, walau Dirga sudah melakukannya, tapi kemungkinan besar lelaki itu menggunakan pengaman. Ya, tentu saja, bukankah Dirga sudah seperti dewa seks yang selalu melakukan seks kapan saja ketika lelaki itu ingin? Kemungkinan besar lelaki itu sudah mengantongi alat pengaman kemanapun dia pergi, dan Nadine tidak perlu khawatir tentang hal tersebut, bukan?

“Kamu yakin?”

Nadine mengangguk cepat. Tentu saja ia yakin, ia tidak merasakan apapun yang aneh pada tubuhnya, lagi pula melakukan seks sekali dan kemungkinan Dirga melakukannya dengan pengaman, tidak akan membuat dirinya hamil.

“Baiklah, jangan lupa, lusa kita ke Bali.”

“Baik, Pak.”

“Uum, apa besok kamu ada waktu?” pertanyaan Dirga membuat Nadine sedikit mengerutkan keningnya.

“Ada apa, Pak? Besok minggu, apa ada kerjaan?”

“Enggak, saya cuma mau ngajak kamu jalan.” Dirga menjawab dengan begitu arogan.

Lagi-lagi mata Nadine membulat seketika. Jalan? Seperti kencan, gitu? Oh yang benar saja. Ia tidak akan mungkin jalan hanya berdua dengan Dirga, tidak akan ada kencan di antara mereka selain karena pekerjaan.

“Maaf Pak, saya ada janji dengan seseorang.”

“Siapa? Darren? Nadine, Darren sudah menikah, apa kamu mau merebut dia dari adik saya?”

“Saya tidak pernah berpikir seperti itu.”

“Tapi apa yang kamu lakukan menegaskan seperti itu!” Dirga berseru keras, sepertinya emosinya mulai tersulut. “Kamu pikir saya nggak tahu kalau selama ini kamu masih menemui dia secara diam-diam? Astaga, kamu benar-benar murahan!”

“Atas dasar apa pak Dirga menilai saya murahan?!” Nadine pun sedikit emosi mendengar pernyataan Dirga padanya.

Dirga sedikit tersenyum miring. “Apa ada yang salah dengan penilaian saya? Kamu sudah tidur dengan saya tapi di sisi lain kamu masih berniat merebut suami orang.” Dirga berkata dengan nada sinisnya pada Nadine.

“Saya tidak pernah berniat merebut siapapun!”

“Kalau begitu jauhi Darren!” Dirga berseru keras.

Nadine hanya menatap Dirga dengan tatapan marahnya. Astaga, kenapa lelaki ini berani sekali mengatur hidupnya? Lagi pula, ia tidak akan merebut Darren dari Karina, ia hanya mencoba bertahan di sisi Darren, meski sebenarnya hubungan mereka terlarang.

Merasa kesal dengan Dirga, Nadine bergegas pergi begitu saja meninggalkan ruang kerja Dirga. Oh, berada di sana membuat perasaan Nadine campur aduk, antara kesal, takut, canggung, gugup dan lain sebagainya. Dirtga benar-benar mempengaruhinya, tapi di sisi lain, lelaki itu juga membuatnya kesal.

***

Setelah Nadine keluar dari ruangannya dengan ekspresi kesalnya, Dirga segera menelepon seseorang. Orang tersebut adalah orang yang ia suruh untuk mengatur segala rencananya. Rencana untuk memiliki Nadine.

Ya, Dirga sudah memutuskannya. Ia akan menikahi Nadine dengan atau tanpa persetujuan dari wanita tersebut. selain ia akan mendapatkan diri Nadine seutuhnya, alasan lainnya tentu supaya dirinya memiliki kendali lebih atas diri Nadine. Nadine tidak akan berani mendekati Darren lagi saat ia sudah menikahi wanita tersebut, pun dengan Darren yang tidak akan berani mendekati Nadine lagi. Dengan begitu, semua akan mendapat keuntungan dari pernikahannya. Ia akan bisa mendapatkan kepuasan dari tubuh Nadine lagi, sedangkan Karina –adiknya, akan mendapatkan diri Darren seutuhnya tanpa takut di rebut oleh Nadine lagi.

“Ya pak?” panggilannya di jawab oleh suara di seberang.

“Sudah siap semuanya?” tanyanya dengan nada arogan.

“Ya pak, semua sudah hampir selesai.”

“Saya mau lusa sudah siap semua.”

“Baik, Pak.”

Dirga akhirnya menutup teleponnya. Ia mengangkat sebelah ujung bibirnya. “Nadine kamu tidak akan bisa lari dari genggaman tanganku.” gumamnya.

***

Hari itu akhirnya tiba juga, hari di mana Nadine akan berangkat ke Bali hanya berdua dengan Dirga. Saat ini, Nadine sedang menunggu Dirga di ruang tunggu bandara, dan kegugupan kembali menyelimutinya.

Kemarin, saat ia jalan berdua dengan Darren, dengan tidak sengaja mereka bertemu dengan Karina, Evan, dan juga Dirga. Oh jangan di tanya bagaimana tampang Dirga saat itu. Lelaki itu tampak sangat marah. Nadine tentu tahu kemarahan Dirga karena ia yang dekat dengan Darren, suami Karina, adiknya. Nadine tahu betul bagaimana sayangnya Dirga pada adiknya itu, jadi bisa di pastikan Dirga marah karena melihat adiknya tersakiti.

Sampai di rumah, Dirga segera meneleponnya, lelaki itu tidak marah, tapi nada bicaranya sangat dingin, hingga membuat Nadine takut. Astaga, bukankah seharusnya ia tidak perlu takut? Dirga bukan kekasihnya, kenapa juga ia harus takut dengan kemarahan lelaki itu?

Tak lama, sosok yang berada dalam pikirannya itu akhirnya datang juga. Nadine berdiri seketika dengan sesekali meremas kedua belah telapak tangannya. Kegugupan kembali menyelimutinya. Apalagi saat menatap ke arah Dirga yang entah kenapa tampak begitu menarik perhatiannya.

Lelaki itu tidak mengenakan setelan seperti biasanya, tapi tampak santai dengan celana jeansnya, jaket Armani, dan juga kaca mata hitamnya. Tubuhnya yang tinggi tegap itu tampak begitu sempurna berjalan dengan gagah menuju ke arahnya.

Oh, jika saja Nadine tidak mengetahui betapa bejatnya sikap lelaki itu, mungkin saat ini Nadine sudah tertarik bahkan jatuh hati dengan Dirga. Atau, apa ia memang sudah tertarik dengan lelaki itu walau ia sudah mengetahui sikap buruk lelaki itu?

“Kenapa bengong gitu?”

Pertanyaan dari Dirga tersebut sontak membuat Nadine mengatupkan bibirnya yang sejak tadi ternganga. Sial! Ternganga? Jadi ia ternganga karena terpesona dengan kehadiran penjahat kelamin di hadapannya tersebut?

“Enggak.” Hanya itu jawaban yang dapat di jawab oleh Nadine.

“Ayo masuk, sudah waktunya chek in. sepertinya kita telat.”

Nadine mendengus sebal. Ya, seperti itulah Dirga. Atasannya yang suka sekali memerintah, hingga ia tidak dapat berkutik sedikitpun. Kadang, Nadine ingin sekali membantah atau melakukan apa yang di larang oleh Dirga, hingga membuat lelaki itu kesal, tapi apa dayanya, ia hanya bawahan dari Dirga yang artinya apapun yang di perintahkan lelaki tersebut harus ia laksanakan.

***

Sampai di Bali, mereka segera menuju ke hotel pesanan Dirga. Sampai di hotel tersebut, alangkah terkejutnya Nadine saat mendapati keluarganya berada di sana menyambutnya. Astaga, apa yang terjadi?

“Ibu, Ayah, kok di sini?” Nadine benar-benar tampak bingung. Ia menatap ke belakang ayah dan ibunya, ternyata di sana juga ada beberapa sanak saudaranya. Kenapa mereka semua ada di sini? Astaga, bahkan tadi pagi, saat ia akan berangkat ke Bali, ayah dan ibunya masih berada di rumah dan mengantarkannya hingga halaman rumahnya. Lalu, kapan mereka berangkat kemari? apa saat ia pergi lalu ayah dan ibunya juga segera pergi? Ya mengingat tadi ia sempat ganti penerbangan karena ternyata ia dan Dirga ketinggalan pesawat di karenakan Dirga yang telat datang, jadi ia dan Dirga harus mengikuti penerbangan selanjutnya. Lalu kenapa mereka semua ada di sini?

“Nak Dirga yang memboyong kami semua ke sini. Kamu kok nggak bilang kalau selama ini menjalin hubungan dekat dengan Nak Dirga.”

“Apa?” Nadine membulatkan matanya seketika. Ia menatap ke arah Dirga, lelaki itu masih tampak santai dengan memasukkan kedua tangannya pada saku celananya.

“Aku nggak ngerti apa maksud Ibu, dan apa maksud dia memboyong keluarga kita ke sini.”

Sang ibu malah tersenyum. “Tentu dia ingin pernikahan kalian terasa lebih sakral dengan kehadiran keluarga kita.”

“Pe- pernikahan?” Nadine benar-benar shock dengan apa yang di katakan ibunya.

Tiba-tiba Nadine merasakan sebuah lengan melingkari pinggangnya dengan begitu posesif. “Aku menebak jika kamu belum memberitahu keluargamu tentang keadaanmu.”

Nadine menatap Dirga dengan tatapan bingungnya. “Keadaanku? Memangnya apa yang terjadi denganku?”

Dirga sedikit tersenyum miring. “Tentang kehamilanmu.”

“Apa?” Nadine.

“Hamil?” Ibunya.

“Siapa?” Ayahnya.

Ketiganya berkata secara bersamaan sambil menatap ke arah Dirga dengan mata membulat masing-masing.

“Kak Dirga ngomong apa sih? Aku nggak hamil.” Nadine berkata cepat.

“Jadi hubungan kalian sudah sejauh itu?” Ayah Nadine bertanya dengan tatapan menuduh ke arah Dirga dan Nadine.

“Ya Om.” Dirga menjawab dengan santai. “Maka dari itu, sore ini juga saya ingin menikahi Nadine sebelum semuanya terlambat.”

Nadine masih ternganga dengan apa yang di katakan Dirga. Astaga, apa sebenarnya yang di inginkan lelaki ini? Kenapa tiba-tiba lelaki ini akan menikahinya?

***

Semuanya terjadi begitu cepat. Nadine masih membatu saat jemari-jemari profesional itu dengan mahir mempoles wajahnya dengan Make up. Rambutnya di tata sedemikian rupa hingga membuatnya tampak begitu anggun dan menawan di hari pernikahannya.

Ya, hari ini, sore ini, ia benar-benar akan melaksanakan pernikahan dengan Dirga. Pernikahan kilat, karena nyatanya ia sendiri tidak tahu menahu jika Dirga sudah menyiapkan semuanya sendiri. Mereka hanya akan mengikat janji suci di depan penghulu, sedangkan resepsinya akan di laksanakan di Jakarta akhir minggu nanti.

Lalu, untuk apa Dirga jauh-jauh mengajaknya menikah di Bali? Apa lelaki itu takut jika Darren akan datang mengacaukan semuanya? Ya, mungkin saja.

Tentang Darren, ahh, Nadine bahkan bingung dengan kelanjutan hubungan mereka. Tadi, Darren sempat menghubunginya, dan bisa di tebak percakapan mereka di akhiri dengan cekcok Dirga dengan Darren.

Oh Nadine seakan frustasi. Bagaimana mungkin ia dapat menikah dalam suasana hati yang seperti ini? Belum lagi keluarganya yang tidak berhenti menatapnya dengan tatapan menuduh. Tentu saja, meski Dirga tadi berkata bahwa dirinya hamil dengan nada santai dan sedikit bercanda, tapi tanggapan keluarganya benar-benar serius. Ibunya bahkan tidak berhenti menanyakan keadaannya apakah baik-baik saja atau kelelahan, sedangkan sang ayah hanya memasang wajah sangarnya sejak tadi.

Oh, Nadine bahkan sangat yakin jika dirinya tidak hamil. Kenapa Dirga melakukan semua ini?

“Sudah siap? Mari kita menuju ke tempat akad nikah. Semua sudah menunggu di sana.” Seorang datang ke ruang make up, membuat Nadine tersadar dari lamunan.

Nadine berdiri seketika. Dipandangi pantulan pada cermin di hadapannya. Terlihat anggun, tapi tidak sedikitpun mengurangi ekspresi sendu di wajahnya. Haruskah ia melanjutkan pernikahan ini? Pernikahan yang sama sekali tidak ia inginkan?

Saat Nadine sibuk menatap pantulan dirinya sendiri, sebuah suara lagi-lagi membuatnya tersadar dari lamunan.

“Cantik sekali.” Nadine menolehkan kepalanya, dan mendapati Mama Dirga berada di sana. Wanita paruh baya itu datang menghampirinya, dan menatapnya dengan tatapan kagumnya.

“Pantas saja Dirga ngebet pengen nikahin kamu. Kamu benar-benar terlihat sempurna, sayang.” ucap wanita itu dengajn lembut penuh perhatian.

Ya, Mama Dirga memang orang yang sangat baik dan perhatian. Nadine mengenal wanita itu sejak ia kecil, saat ia sering main ke rumah Karina. Dan Nadine tidak pernah menyangka jika wanita itu akan menjadi ibu mertuanya dalam beberapa jam kedepan.

“Sudah siap? Dirga dan yang lainnya sudah menunggumu.”

Nadine hanya menunduk dan menganggukkan kepalanya. Astaga, apa yang harus ia lakukan? Apa ia harus membatalkan pernikahannya sebelum semuanya terlambat?

Nadine keluar dari ruang Make up dengan di gandeng oleh Mama Dirga. Mereka berjalan dengan pelan dan Nadine sama sekali tidak mempedulikan sekitarnya. Ia hanya bisa menunduk, menatap kaki-kakinya yang seakan melangkah menuju takdirnya.

Bagaimana mungkin kehidupan asmaranya berakhir seperti ini? Kekasihnya menikah dengan sahabatnya sendiri, sedangkan ia di paksa menikah dengan orang  yang baginya bersikap sangat buruk. Apa beginikah akhir dari semuanya? Inikah akhir dari petualangan cintanya?

Nadine sedikit mengerutkan keningnya saat mendapati kakinya menginjak pasir. Astaga, entah sudah berapa lama ia melamun sambil berjalan tadi, hingga ia tidak menyadari jika dirinya sudah berjalan di luar ruangan dan di atas pasir.

Nadine mengangkat wajahnya, mendapati Mama Dirga yang masih setia menggandeng lengannya, seakan wanita itu tidak ingin melepaskan dirinya, kemudian tatapan matanya teralih pada di sekitarnya. Benar saja, mereka berada di pinggir pantai, yang sudah di hias dengan tiang-tiang buatan dan juga bunga-bunga yang indah. Beberapa lampu kecil bersinar kuning keemasan membuat suasana terasa begitu romantis.

Romantis? Apa Dirga yang melakukannya? Mengingat itu jantung Nadine kembali berdebar kencang seakan membuat rongga dadanya terasa sakit.

Nadine lalu mengarahkan pandangannya untuk mencari-cari sosok tersebut, dan ia mendapatkan apa yang ia cari tepat di ujung jalan yang sedang ia tuju.

Dirga tampak duduk dengan tenang di hadapan ayahnya dan juga lelaki paruh baya lainnya yang di yakini Nadine sebagai penghulu. Lelaki itu mengenakan pakaian serba putihnya lengkap dengan kopiah putih yang ia kenakan. Entah kenapa Nadine melihat Dirga tampak begitu dewasa, berbeda dengan hari-hari biasa.

Lelaki itu tampak begitu tampan dan menawan, tidak ada tampang sangar maupun arogan seperti biasanya, dan Nadine terpana…

Ia melangkahkan kakinya dengan pasti ke arah lelaki tersebut, seakan tak ada keraguan sedikitpun. Pada saat bersamaan, lelaki itu menoleh ke arahnya hingga membuat Nadine terpaku sejenak, mencari-cari keraguan dalam mata lelaki tersebut, tapi yang ia dapatkan hanya tekat kuat. Apa Dirga benar-benar bertekat menikahinya? Tanpa ragu sedikitpun?

“Tunggu apa lagi, Nak?” suara Mama Dirga kembali membuat Nadine tersadar dari lamunannya. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah Dirga, dan duduk tepat di sebelah lelaki tersebut.

Rasa gugup tiba-tiba menyelimutinya. Berbagai macam pikiran mulai menari dalam kepala Nadine, bagaimana kelanjutan hubungan mereka nanti? Bagaimana rumah tangga mereka nanti?

“Mbak? Mbak Nadine mendengar saya, bukan?” itu suara lelaki paruh baya yang duduk di sebelah ayahnya, di hadapanya.

Nadine mengangkat wajahnya menatap lelaki paruh baya tersebut yang ia yakini sebagai penghulu. “Ya, Pak?” astaga, ia bahkan tidak mendengar apa yang di tanyakan penghulu padanya.

“Apa Mbak Nadine bersedia dengan suka rela menjalankan pernikahan ini?”

Nadine diam sebentar, di liriknya Dirga yang duduk di sebelahnya. Lelaki itu tampak tenang dan tegap menghadap ke arah penghulu, seperti sudah siap menghadapi apapun juga. Kemudian Nadine melirik ke arah ayahnya yang juga berekspresi tenang.

Ini adalah kesempatannya untuk menolak dan meninggalkan pernikahan tidak masuk akal ini, kemudian melanjutkan hidup tanpa ada Dirga di dalamnya. Tapi yang ia lakukan malah…

“Ya pak, saya bersedia dengan suka rela.” Nadine mengatakan kalimat tersebut tanpa ragu. Entah apa yang terjadi dengannya, apa yang ia pikirkan hingga mengucapkan kalimat tersebut tanpa ragu sedikitpun.

“Kalau Mas Dirga bagaimana?” si penghulu bertanya pada Dirga. Nadine tahu, mungkin penghulu hanya ingin memastikan jika pernikahan mereka tanpa di dasari oleh paksaan sedikitpun, hingga penghulu menanyakan kerelaan masing-masing mempelai.

Dirga tersenyum dan menjawab dengan tegas. “Saya juga bersedia.”

“Baiklah, mari kita mulai upacara pernikahannya.”

Kemudian Nadine mulai larut, terbawa dengan suasana saat penghulu membacakan doa-doa untuk mereka. Jantung Nadine kembali berdebar kencang ketika ia mendengarkan Dirga yang mengucapkan janjinya di hadapan ayahnya, semua orang dan juga di hadapan tuhan.

Mata Nadine tiba-tiba berkaca-kaca. Ia tidak pernah berpikir jika pernikahannya akan di laksanakan pada hari ini, di tempat ini, tempat paling indah yang pernah ia bayangkan. Di saksikan oleh orang-orang terdekatnya, di tepi pantai, di atas pasir putih, dengan pemandangan mentari yang hampir tenggelam. Oh, ia benar-benar merasa menjadi wanita yang paling beruntung karena mendapatkan hari pernikahan yang menurutnya sangat indah.

Tidak ada rasa sesal sedikitpun, tak ada keraguan sedikitpun meski ia sadar jika lelaki yang menjadi suaminya kini bukanlah lelaki yang ia cintai, atau mungkin, ia sudah mulai mencintai lelaki ini?

Nadine menatap ke arah Dirga, ketika sang penghulu sudah mengesahkan status mereka sebagai suami istri. Tiba-tiba Dirga juga menatap ke arahnya, dan untuk pertama kalinya Nadine merasa tersipu-sipu dengan tatapan lelaki tersebut.

Dirga mengulurkan jemarinya, dan Nadine tahu, yang harus ia lakukan adalah meraihnya, kemudian mengecup punggung tangan lelaki tersebut menandakan jika dirinya kini menghormati lelaki itu sebagai suaminya.

Dan tanpa di duga, secepat kilat lelaki itu meraih wajahnya kemudian mengecup lembut keningnya.

Degg…

Deggg…

Degggg….

Jantung Nadine seakan melompat dari tempatnya. Entah berapa banyak lelaki yang pernah ia cintai, entah berapa banyak lelaki yang pernah mengisi hari-harinya, tapi Nadine tahu, jika hanya lelaki ini yang membuat jantungnya tak berhenti berdebar kencang, hanya lelaki ini yang mampu membuatnya tersipu-sipu malu hingga tak berani mengangkat wajahnya sendiri, dan hanya lelaki ini yang mampu membuatnya kebingungan tentang perasaan aneh apa yang kini sedang ia rasakan.

-TBC-

haii maaf bgt yaa aku telat post, padahal di wattpad udah aku post dari kemaren, ini karena aku pakek leptop satunya dan harus login ke wordpress dulu, jadi yaaa baru sempat update deh… hehehehe but, jangan sedih, aku update 2 part sekaligus plus cerita baru, jadiiiii happy reading.. semoga suka.. muacchhhh

Lovely Wife – Chapter 3 (Malam yang panjang)

Comments 3 Standard

Lovely wife

 

Chapter 3

-Malam yang panjang-

 

Sekarang…

Nadine menatap bayangan di hadapannya dengan lesu. Wajahnya memang terhias hingga terlihat begitu cantik, tapi ekspresinya sangat sendu, matanya bengkak karena terlalu banyak menangis, dan suasana hatinya, jangan di tanya lagi.

Hari ini adalah hari pernikahan Darren, tapi bukan ia yang menjadi pengantin wanitanya, melainkan sahabatnya yang bernama Karina. Bisa di bayangkan bagaimana hancurnya perasaan Nadine saat ini. Kekasihnya menikah dengan sahabatnya sendiri, sedangkan dirinya, mau tidak mau harus turut menghadiri pesta pernikahan tersebut.

Nadine tahu, meski dulu ia hanya iseng-iseng menerima cinta Darren karena tidak enak menolak cinta lelaki tersebut, tapi semakin kesini perasaannya pada Darren semakin nyata, ia benar-benar telah jatuh hati pada lelaki tersebut, bahkan ia sudah menerima lamaran Darren sebelum akhirnya lelaki itu di paksa menikah dengan Karina, sahabatnya sendiri. Kenapa takdir seakan mempermainkannya? Kenapa dulu ia harus dekat dengan Darren jika akhirnya mereka tidak berakhir bersama seperti saat ini?

Nadine kembali terisak, lalu cepat-cepat ia menghapus air matanya. Saat ini ia masih berada di dalam sebuah toilet di hotel tepat di mana acara pesta pernikahan Darren dan Karina di gelar. Meski hatinya terasa sakit, tapi Nadine tidak ingin terlihat sperti orang bodoh yang menangisi kekasihnya saat di pesta tersebut.

Setelah memperbaiki riasannya, Nadine kembali keluar dari dalam toilet. Batinnya akan kembali berperang ketika melihat Karina dan Darren yang berdiri di atas pelaminan. Ingin rasanya ia pulang, tapi tidak bisa, orang tuanya yang juga hadir di pesta tersebut pasti mencari dirinya.

Nadine masuk kembali dalam pesta dan berbaur dengan tamu lainnya seakan-akan tak terjadi sesuatu apapun padanya. Saat melihat beberapa pelayan berlalu lalang membawa beberapa minuman, dengan santai Nadine meraih minuman tersebut dan menegaknya hingga tandas.

Rasa membakar seketika terasa di tenggorokannya, itu minuman beralkohol, tapi Nadine tak peduli, meski ini pertama kalinya ia meminum-minuman seperti itu, nyatanya minuman tersebut dapat sedikit memperbaiki perasaannya yang sedang kacau balau. Dan Nadine memutuskan mengambil sebuah minuman lagi dan lagi. Ya, sepertinya banyak minum bukan masalah, mungkin akan bagus jika ia tiba-tiba teler dan tak ingat apapun termasuk Darren. Ya, ia ingin segera melupakan lelaki tersebut.

***

Dirga benar-benar sangat muak dengan acara-acara keluarga seperti saat ini. Di paksa berdiri dengan memasang senyuman manis hingga membuat banyak wanita yang ada di sana terpesona padanya. Oh yang benar saja, belum lagi beberapa teman orang tuanya yang secara terang-terangan menjajakan anak perempuan mereka pada dirinya.

Sesekali Dirga mengumpat dalam hati, dalam acara seperti ini, seharusnya ia datang dengan pasangannya, setidaknya pasangannya tersebut akan menjauhkan dirinya dari parasit bermuka dua seperti teman orang tuanya yang berniat menjodohkan dirinya dengan puteri mereka. Tapi, mau dengan siapa? Dirga sendiri sama sekali tidak pernah berniat mengajak wanita pulang ke rumahnya untuk di kenalkan kepada orang tuanya, ia hanya akan mengajak wanita tersebut pulang untuk di tidurinya ketika orang tuanya sedang ke luar kota.

Sesekali mata Dirga teralih pada saudara kembarnya, di sana ada Davit, yang berdiri dengan wajah bahagianya, bersama dengan Sherly, istri dari saudara kembarnya tersebut dengan bayi mereka. Melihat Davit yang tampak begitu bahagia dengan keluarga kecil mereka membuat Dirga dilanda rasa iri. Kenapa hanya Davit? Kenapa dirinya tidak merasakan kebahagiaan yang sama?

Kemudian mata Dirga teralih pada Karina, adiknya yang kini berada di atas pelaminan dengan suami barunya, Darren Pramudya. Lelaki yang katanya begitu di cintai oleh Karin, tapi Dirga cukup tahu jika lelaki itu tidak memiliki perasaan yang sama dengan adiknya karena lelaki itu nyatanya memiliki kekasih yang tak lain adalah Nadine, sekertaris pribadinya.

Bicara tentang Nadine, mata Dirga segera menelusuri segala penjuru ruangan, mencari-cari sosok itu. Di mana Nadine? Apa wanita itu tidak hadir dalam pesta pernikahan ini? Sepertinya tidak mungkin. Karena tadi Dirga juga sempat melihat bayangan kedua orang tua Nadine yang juga ikut hadir dalam pesta pernikahan Darren dan Karina, jadi kemungkinan besar Nadine juga hadir dalam pesta ini.

Pada saat bersamaan, tatapan mata Dirga jatuh pada sosok yang tengan menegak sebuah minuman yang telah di sediakan oleh pramusaji, Dirga mengerutkan keningnya saat menyadari jika Nadine saat itu tengah minum seperti orang gila. Apa wanita itu sudah terbiasa meminum minuman beralkohol? Mungkin saja, lagi pula apa urusannya?

Dirga kemudian melirik ke arah wanita di sebelahnya, wanita yang tampak modis dengan gaun malamnya, rambut yang di sanggul dengan begitu seksi serta make up tebal yang entah kenapa membuat Dirga tidak nafsu untuk mengajak wanita itu naik ke atas ranjangnya. Wanita itu mendesak ke arahnya, menempel seperti parasit, padahal Dirga tidak yakin jika dirinya mengingat nama wanita yang tadi baru saja di kenalkan oleh orang tuanya.

“Maaf, siapa nama kamu tadi?” tanya Dirga pada wanita tersebut.

“Astaga, masa iya kamu melupakan namaku? Padahal baru tadi kita berkenalan.”

Dirga tersenyum miring. “Maaf sayang, di dalam kepalaku terlalu banyak nama wanita, hingga mengingatnya satu persatu saja aku sulit.” Dengan begitu kurang ajarnya Dirga mengatakan kalimat tersebut.

Si wanita itu mendengus sebal, kesal dengan sikap dan juga perkataan yang terlontar dari bibir Dirga. “Marsha, namaku Marsha, teman kencan kamu malam ini.”

“Oh, maaf, Marsha, sepertinya tadi aku belum sempat mengatakan padamu jika aku sudah memiliki teman kencan malam ini.”

“Apa?” Marsha tampak merah padam, malu bercampur dengan kesal.

“Ya, itu, teman kencanku sedang berada di sana.” Dirga menunjuk ke arah Nadine, wanita itu tampak menghabiskan minumannya lagi, lalu meraih gelas lainnya yang berisi minuman yang sama.

“Apa? Wanita itu? Tampaknya dia  bukan selevel kita, lihat saja, gaunnya lusuh, dan dia terlihat bar bar dengan cara minumnya.” Wanita itu berujar sinis.

Ya, Nadine memang tampak sederhana dengan gaun malam sederhananya, tak ada yang special dengan wanita itu, tapi entah kenapa melihatnya saja membuat Dirga menegang.

Dirga tertawa lebar, bibirnya lalu mendekat ke arah telinga Marsha lalu berbisik pelan di sana. “Nyatanya, dia mampu membuatku bergairah dengan gaun lusuhnya.” Setelah membisikkan kalimat tersebut, Dirga lantas pergi begitu saja menuju ke arah Nadine, sedangkan Marsha hanya dapat berdiri di sana dengan ekspresi kesalnya.

***

“Apa yang kamu lakukan?” Dirga bertanya dengan suara yang ia buat setenang mungkin.

Nadine membalikkan tubuhnya, lalu ia mendapati sosok yang selama ini begitu menyebalkan untuknya, itu Dirga, atasannya.

“Oh, Pak Dirga di sini ternyata.”

Dirga mengerutkan keningnya. Sepertinya Nadine sudah mulai mabuk. Wanita itu tidak bisa berdiri tegak, cara bicaranya juga aneh, biasanya Nadine hanya akan memanggilnya dengan panggilan ‘Pak Dirga’ itu ketika di kantor saja, sedangkan saat di luar jam kerja, wanita itu akan memanggilnya ‘Kak Dirga’, dan sekarang, wanita itu juga sedang senyum-senyum tidak jelas.

Oke, dia memang mabuk.

“Kamu mabuk, ayo, ikut aku.”

“Aku nggak mau! Aku mau di sini, melihat pacarku nikah sama sahabatku.” Nadine menunjuk ke arah Karina dan Darren yang berdiri di atas pelaminan. “Mereka terlihat aneh, harusnya aku yang berada di sana. Lihat, Darren sudah memberiku ini, tapi kenapa Karin merebutnya?” Nadine menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.

“Mungkin dia bukan jodohmu.” Dirga menjawab dengan wajah datarnya.

“Bapak tahu apa tentang jodoh? Bukannya yang Pak Dirga tahu hanya tentang ukuran payudara wanita saja?”

Mata Dirga membulat seketika, sesekali ia memperhatikan orang-orang di sekitar mereka yang mungkin saja mendengar ucapan vulgar Nadine.

“Kamu ngomong apa sih?”

“Saya tahu semuanya, Pak, Bapak kerap kali bercinta bahkan dengan klien wanita, dan di ruang kerja Pak Dirga, saya juga tahu kalau-” Secepat kilat Dirga membungkam bibir Nadine, kemudian menarik tubuh wanita tersebut untuk menjauh dari keramaian pesta.

“Emmppptt.” Nadine meronta. Akhirnya Dirga melepaskan bungkaman tangannya ketika mereka berada di tempat yang lebih sepi. “Lepasin! Lepasin!” seru Nadine ketika Dirga tak juga melepaskan cekalannya pada lengan Nadine.

“Kamu mabuk, ayo, ku antar pulang.”

“Aku nggak mau pulang! Aku nggak mau pulang dan menangis sendiri di rumah! Aku nggak mau pulang!” Nadine berteriak dan mulai terisak. “Aku benci Karina, aku benci Darren, aku benci mereka semua! Mereka mengkhianatiku!”

Dirga melepaskan cekalannya pada lengan Nadine, kemudian terpaku melihat wanita itu. Dari luar, Nadine tampak begitu tegar, tapi ternyata wanita ini sangat rapuh.

“Aku benci ketika semua ini harus terjadi, aku ben-” Nadine tak dapat melanjutkan kalimatnya ketika ia merasakan bibirnya di bungkam dengan sesuatu yang lembut dan panas.

Itu bibir Dirga.

Tubuhnya kemudian di dorong hingga punggungnya menempel pada dinding, Dirga sedikit mengangkat tubuh Nadine supaya sejajar dengan tubuhnya yang lebih tinggi, hingga wanita itu sedikit melayang di udara sembari merasakan pagutan panas dari bibir Dirga.

Dirga tak bisa berhenti, ia melumat bibir Nadine dengan begitu panas, menuntut supaya ciuman tersebut tak berakhir, hingga kemudian, ia melepaskan tautan bibirnya saat merasakan napas Nadine sudah hampir habis.

“Demi Tuhan, aku menginginkanmu.” bisik Dirga parau ketika bibirnya hampir bersentuhan dengan bibir Nadine.

Nadine tak bereaksi, ia hanya menatap bibir Dirga yang begitu menggoda. Lengannya kini bahkan sudah melingkari leher Dirga, kemudian dengan begitu berani, Nadine menempelkan bibirnya pada bibir Dirga, melumatnya dengan lembut seakan menggoda Dirga untuk membalas ciumannya.

Dirga tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, diraupnya bibir Nadine, seakan itu adalah miliknya, haknya untuk di sentuh, lalu tanpa banyak bicara lagi, Dirga mengangkat tubuh Nadine menuju ke arah kamar hotelnya tanpa melepaskan tautan panas dari bibir mereka.

***

Di dalam kamar….

Dirga sudah melucuti satu persatu pakaian yang menempel pada tubuh Nadine hingga kini wanita tersebut sudah terbaring tanpa sehelai benangpun. Wajah wanita itu merah padam, mungkin karena efek anggur yang memabukkan, tatapan mata Nadine berkabut, entah karena gairah, atau lagi-lagi efek dari anggur. Dirga tidak peduli.

Setelah melucuti pakaian Nadine, Dirga lantas melucuti pakaiannya sendiri, kemudian kembali menindih tubuh Nadine yang kini sudah berada di bawahnya.

“Kamu sangat indah.”

Nadine tersenyum, entah wanita itu mengerti apa yang di katakan Dirga atau tidak. Jemari Nadine kemudian terulur meraba pipi Dirga hingga membuat Dirga membatu menatapnya.

“Aku mencintaimu, Darren, kamu mengajariku untuk mencintaimu, tapi ketika aku benar-benar mencintaimu, kenapa kamu meninggalkanku?”

Lagi-lagi, pernyataan Nadine membuat Dirga tercenung. Nadine mengingatkannya pada seseorang yang dulu pernah ia sia-siakan, yang dulu hanya ia mainkan, hingga kemudian yang ia dapatkan saat ini hanya sebuah penyesalan….

“Jadi kamu jalan bareng lagi sama Ana?” terdengar suara yang bernada marah dari seorang wanita, itu Sherly, kekasih yang di pacarinya sejak tiga bulan yang lalu.

“Ya, kenapa?” tanya Dirga dengan santai, ia bahkan tidak memperhatikan ke arah Sherly, malah dengan santai memainkan ponselnya.

“Dirga, aku tanya sama kamu! Kamu jalan lagi sama wanita itu?”

“Aku kan sudah jawab ‘Ya’.”

“Kamu selingkuhin aku?”

Dirga mengalihkan pandangannya ke arah Sherly. “Oke Sher, aku sudah capek. Kamu terlalu cerewet, terlalu banyak ngatur, dan terlalu posesif, aku nggak suka, aku merasa kamu mencekik leherku karena aku tidak bisa lagi bebas sejak berpacaran denganmu.”

“Lalu kamu mau apa? Kamu mau aku memberi kebebasan? Dirga, kita pacaran, dan kamu bersikap seolah-olah kamu masih sendiri, kamu kayak anak kecil!”

“Oke cukup! Aku paling muak jika ada yang bilang aku kayak anak kecil. Kamu hanya pacarku, bukan istriku, aku bebas melakukan apapun yang ku mau. Lagian, aku jalan sama dia karena mencari apa yang tidak bisa kamu berikan padaku.”

Mata wanita itu berkaca-kaca seketika. “Apa salah jika aku mepertahankan kehormatanku? apa salah jika aku menolak keinginanmu ketika status kita hanya sepasang kekasih bukan sepasang suami istri? Apa salah jika aku menuntut lebih? Aku hanya mencintaimu, aku tidak ingin kamu bersama wanita lain, aku cemburu melihatnya.”

“Dan aku tidak suka dengan wanita pencemburu atau wanita yang masih memegang teguh adat orang kuno! Sudahlah, lupakan saja, mending kita jalan sendiri-sendiri saja dulu, dan setelah kamu menyadari kesalahanmu, kamu bisa kembali lagi padaku.” Setelah itu Dirga bangkit dan meninggalkan Sherly begitu saja.

Enam bulan setelahnya, Sherly memang kembali padanya, tapi bukan sebagai kekasihnya, melainkan sebagai wanita yang akan di nikahi oleh Davit, kakak kembarnya. Oh jangan di tanya lagi bagaimana perasaan Dirga saat itu. Meski dulu ia tidak terlalu suka dengan Sherly, tapi tetap saja, Sherly adalah mantan kekasihnya, bagaimana mungkin Davit menikahi wanita itu? Hingga kemudian, Dirga baru merasa menyesal ketika melihat bagaimana keistimewaan Sherly ketika wanita itu resmi menjadi istri saudaraa kembarnya.

                                                  

Sial! Dirga mengumpat dalam hati saat mengingat penggalan-penggalan kenangan dari masa lalunya. Ia kemudian memfokuskan pandangannya pada Nadine, wanita ini pasti mabuk berat hingga menyangka jika dirinya adalah Darren, apa ia harus melanjutkan aksinya?

Oh sial! Tentu saja. Ia sudah menegang, rasanya begitu nyeri ketika harus menahannya, dan Dirga tidak ingin menahannya lagi.

Dirga mendaratkan bibirnya pada bibir Nadine, melumatnya kembali dengan begitu lembut hingga membuat Nadine mengerang dengan sesekali menggeliat di bawah tindihannya.

“Hemm, Darren benar-benar bodoh! Bisa-bisanya di lepasin kamu hanya karena saham sialan itu.” Dirga meracau sambil mengecupi permukaan leher Nadine. “Katakan padaku, sudah berapa kali bajingan itu menyentuhmu?” lagi-lagi Dirga meracau. “Setelah ini, tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh tubuhmu, kecuali aku.”

Dirga lalu menatap payudara ranum yang terpampang jelas di hadapannya, menggodanya sebentar lalu mendaratkan bibirnya di sana. Nadine mengerang dengan kenikmatan yang di ciptakan oleh bibir Dirga. Sedangkan Dirga seakan tidak ingin berhenti menggoda, jemarinya kini bahkan sudah turun, membelai pusat diri Nadine, hingga membuat Nadine semakin jauh dari kewarasannya.

“Oh, kamu benar-benar sangat nikmat.” bisik Dirga sebelum turun menatap pusat diri Nadine, lalu mendaratkan bibirnya di sana, membelai lembut, hingga membuat Nadine tak kuasa menjerit nikmat.

Setelah puas menggoda tubuh Nadine, Dirga kembali ke atas, menatap Nadine yang kini sudah berkabut karena badai gairah yang baru saja menghantamnya. Dirga tersenyum menatap pemandangan di bawahnya. Nadine tampak begitu cantik, amat sangat cantik ketika wanita itu terbaring tanpa sehelai benangpun dengan ekspresi berkabut seperti saat ini.

Oh sial! Sudah berapa kali Darren melihat ekspresi ini? Entah kenapa dalam hati Dirga tidak rela saat membayangkan jika Nadine mungkin saja sering melakukan hal intim seperti ini dengan kekasih-kekasihnya yang dulu.

“Aku akan memulainya.” Suara Dirga benar-benar sangat serak. Ia memposisikan dirinya untuk menyatu dengan tubuh Nadine. “Kamu beruntung karena kamu adalah wanita pertama yang akan kumasuki tanpa pengaman, bukan karena aku sengaja ingin menjebakmu dan membuatmu mengandung janinku, tapi karena alat pengamanku habis.” Dirga sedikit tersenyum mengingat hal itu.

Nadine tersenyum mendengar kalimat Dirga. Entah wanita itu mendengar apa yang di katakan Dirga atau tidak, nyatanya mata Nadine terlihat berkabut, seperti antara sadar dan tidak sadar.

Dirga tak ingin membuang-buang waktu lagi, ia mulai memasuki diri Nadine, mendesak dan berharap dapat menyatu sepenuhnya, tapi ketika ia menemukan suatu penghalang di sana, matanya membulat seketika ke arah Nadine.

“Ka –kamu perawan?” Dirga benar-benar terkejut dengan kenyataan itu.

Selama ini ia berpikir jika Nadine adalah wanita gampangan, bukan hanya Nadine, tapi semua wanita yang ia kenal –kecuali  Karina dan ibunya tentunya, apalagi yang ia tahu bahwa sejak SMA Nadine memang sering bergonta-ganti kekasih.

Nadine tidak menjawab, wanita itu malah menggeliat kesana kemari, menggoda tubuh Dirga yang setengah menyatu dengan tubuhnya, dan itu membuat Dirga tidak dapat lagi berpikir secara logis. Jemari Dirga kemudian terulur menuruni sepanjang pinggang Nadine, berhenti pada pinggul wanita tersebut dan menahannya di sana.

“Maaf, ini akan sedikit sakit dan akan terasa sedikit merobekmu. Tapi setelah ini, aku akan memberimu kenikmatan yang belum pernah di berikan laki-laki lain padamu.” Dirga berkata dengan senyum yang penuh dengan kebanggaan. Ya, ia bangga karena dirinya adalah laki-laki pertama untuk wanita ini, dan entahlah, itu mebuat Dirga semakin menginginkan diri Nadine.

Dirga mendaratkan bibirnya pada bibir Nadine, melumatnya dengan panas, pada saat bersamaan, ia menghentak dengan keras hingga menyatu sepenuhnya pada tubuh Nadine.

Wanita itu terlihat ingin berteriak kesakitan, tapi bibirnya telah di bungkam oleh bibir Dirga, hingga tak lama, Nadine kembali mengerang sesekali mendesah penuh dengan kenikmatan.

Dirga menghela napas panjang, menahan diri supaya tidak lepas kendali. Ini adalah pengalaman pertama untuk Nadine, meski wanita itu kini sedang mabuk dan Dirga sangat yakin jika Nadine tidak ingat hal ini besok pagi, namun Dirga tetap menginginkan jika percintaannya kali ini dengan Nadine adalah percintaan yang panas, intim, dan penuh dengan kelembutan.

Dirga mulai bergerak, pelan, amat sangat pelan, hingga dirinya sendiri mengerang dan meracau tidak jelas karena kenikmatan yang tercipta. Tubuh Nadine membalutnya begitu pas, mencengkeramnya begitu erat, seakan-akan tubuh wanita tersebut memang tercipta hanya untuknya.

“Brengsek! Kamu terlalu rapat, Sayang, Sialan!” racau Dirga, sedangkan Nadine sendiri sudah tidak sadar lagi dengan apa yang ia lakukan. Wanita itu hanya bisa mendesah, mengerang, sesekali meracau tak jelas ketika kenikmatan berbalut dengan gairah tanpa ampun menghantamnya lagi dan lagi.

Dirga lalu bergerak lebih cepat dari sebelumnya saat ritme permainan mereka mulai meningkat, hingga ketika gelombang kenikmatan itu datang menghantamnya, yang bisa Dirga lakukan hanyalah memeluk erat-erat tubuh yang berada di bawahnya itu.

Dirga tersungkur lemas saat setelah ledakan kenikmatan yang ia alami, dan Dirga merasa menjadi seorang bajingan ketika ia merasa menegang kembali hanya karena sentuhan dari kulit Nadine yang begitu lembut terhadap kulitnya.

“Sial!” umpat Dirga keras-keras. Ia menatap ke arah Nadine, wanita itu sudah menutup matanya, mungkin karena kelelahan, kesakitan, atau entahlah, yang jelas Dirga cukup tahu diri dan tidak akan membangunkan Nadine untuk meminta jatah kembali, atau dengan brengseknya ia memaksakan kehendaknya dan memperkosa wanita tersebut saat sedang tidak sadar seperti saat ini.

Sial! Itu benar-benar bukan dirinya.

Akhirnya Dirga bangkit, menyelimuti tubuh polos Nadine, lalu menatap wanita tersebut sebentar. Sial! Ini akan menjadi malam yang panjang untuknya, mengingat ia kembali menegang dan begitu mendamba tubuh wanita tersebut. Tapi ia harus mengalah, ia akan sabar, hingga tiba waktunya dirinya kembali memiliki tubuh Nadine. Ya, ia akan mendapatkannya kembali, bagaimanapun caranya.

Dirga lalu pergi, meninggalkan Nadine untuk masuk ke dalam kamar mandi. Ya, malam ini ia harus puas dengan satu sesi, dan di tutup dengan mandi air dingin, supaya dapat memadamkan gairahnya yang seakan membara di dalam tubuhnya.

-TBC-

Lovely Wife – Chapter 2 (Membawamu ke atas ranjangku)

Comments 3 Standard

Lovely Wife

 

Chapter 2

-Membawamu ke atas ranjangku-

 

Satu tahun setelahnya….

Dirga tidak berhenti menatap sepasang kaki jenjang yang mengenakan hak tinggi itu, melangkah ke sana kemari mencari-cari berkas di area lemari tinggi di ujung ruangannya. Oh, kaki itu tampak jenjang, dan menggoda tentunya. Sejak tadi Dirga bahkan tidak memungkiri jika dirinya sudah menegang karena kaki-kaki jenjang tersebut.

“Pak, dokumennya tidak ketemu.” Suara itu terdengar begitu lembut di telinganya. Suara Nadine, si pemilik kaki jenjang tersebut.

“Kamu.” Dirga berdehem sejenak karena merasakan suaranya tiba-tiba serak. “Kamu yakin tidak bisa menemukannya?” tanya Dirga yang kini sudah berdiri dan menuju ke tempat Nadine berdiri.

“Ya Pak, saya sudah mencari di-” Nadine tak dapat melanjutkan kalimatnya karena ia merasakan seseorang berdiri tepat di belakangnya, punggungnya menempel pada sebuah dada bidang yang ia yakini adalah milik dari atasannya. Oh, apa yang di lakukan Dirga di belakangnya? Astaga, Nadine bahkan tidak berani menggerakkan tubuhnya lagi karena kedekatan mereka yang benar-benar mempengaruhinya.

Sudah setahun lamanya ia menjadi sekertaris pribadi Dirga, dan dalam jangka waktu itu, banyak sekali yang terjadi di antara mereka. Mulai dari Nadine yang mengetahui semua sikap buruk dari atasannya tersebut.

Ya, jika dulu Nadine mengenal Dirga hanya sebatas kakak dari Karina sahabatnya yang sangat perhatian,maka kini semua sikap buruk lelaki itu seakan di umbar dengan begitu jelas di hadapannya.

Lelaki itu memiliki banyak kekasih, hobby menggoda wanita, suka sekali melakukan seks di manapun tempatnya,suka seenaknya sendiri, mengintimidasi, kasar, dan juga pemarah. Oh, jangan di tanya bagaimana frustasinya Nadine ketika berada di dekat Dirga.

Jemari Dirga terulur pada rak paling atas lemarinya, kemudian ia mengambil sebuah dokumen di sana.

“Ini dokumennya, bagaimana mungkin kamu tidak dapat menemukannya?”

“Uum, itu terlalu tinggi untuk saya gapai, Pak.”

“Oh ya? Lalu apa gunanya kamu mengenakan hak tinggi? Apa untuk menggoda lawan jenis.”

“Maaf?” Nadine tidak mengerti.

“Lupakan saja.” Dirga menjauh. “Kamu boleh keluar.”

“Baik, Pak.” Nadine akhirnya melangkahkan kakinya menuju pintu keluar ruangan Dirga, tapi kemudian langkahnya kembali terhenti saat Dirga kembali memanggil namanya.

“Nadine, kita akan makan siang bersama.”

“Uum, maaf pak, tapi saya ada janji.”

“Janji? Dengan siapa? Pacar kamu?”

Nadine tak mampu menjawab, ia hanya menundukkan kepalanya. Tentu saja ia tidak enak menolak permintaan atasannya tersebut, tapi di sisi lain, Nadine cukup hapal apa yang akan di lakukan Dirga jika mereka makan siang bersama. Biasanya lelaki itu juga akan mengajak salah satu kekasihnya, lalu berakhir dengan Nadine pulang sendirian dan Dirga entah kemana dengan kekasihnya tersebut. Nadine tentu tidak ingin hal itu terulang lagi dan lagi.

“Baiklah, kamu boleh keluar, tapi nanti tidak boleh menolak ajakanku lagi.”

Nadine mengangguk patuh, lalu dia pergi keluar dari ruang kerja Dirga. Sedikit kesal karena nyatanya Dirga selalu bersikap seenaknya sendiri. Lelaki itu melakukan apapun yang di inginkannya, dan Nadine mau tidak mau menuruti perintah dari lelaki tersebut.

***

Dirga mengepalkan kedua belah telapak tangannya saat melihat pemandangan di hadapannya. Tampak Nadine sedang di jemput oleh seseorang, dan Dirga cukup kenal dengan orang tersebut. Itu Darren, yang juga merupakan sahabat dari Karina, adiknya. Tampaknya Darren dan Nadine bukan hanya bersahabat, keduanya tampak sangat intim dengan tatapan mata masing-masing. Sial! Apa hubungan mereka?

Dirga menggeram dalam hati, sudah cukup lama ia tidak merasakan perasaan seperti ini. Perasaan seperti ada yang memukul-mukul rongga dadanya hingga terasa nyeri. Perasaan yang sudah bertahun-tahun lamanya ia lupakan.

Sial! Memangnya perasaan apa?

Dirga mengenyahkan pikiran-pikiran tersebut. Ia tidak ingin kembali jatuh dalam kubangan yang sama. Kubangan menyakitkan hingga membuat dirinya memungkas semua indera perasanya hingga ia tak mampu lagi merasakan perasaan-perasaan menggelikan seperti yang kini ia rasakan.

Brengsek!

Ia harus pergi, pergi mencari pengganti untuk menghilangkan sikap lembeknya yang seakan ingin tumbuh lagi dari dalam dirinya.

Dirga lalu merogoh ponselnya, menghubungi teman yang biasanya selalu setia menuruti permintaannya.

“Halo.” Panggilannya di jawab pada deringan pertama.

“Carikan gue perempuan, siang ini juga.”

“Lo gila?”

“Ya, gue sudah mulai gila.” Dan setelah jawabannya tersebut, Dirga memutus panggilan tersebut begitu saja tanpa mempedulikan suara di seberang yang tidak berhenti mengumpatinya. Sial! Ia butuh wanita, ia butuk seks, ia butuh pelepasan siang ini juga.

***

Nadine menatap Darren yang tampak lahap dengamn makan siangnya, ah, sengan sekali melihat lelaki di hadpannya ini lagi. Perasaannya pada Darren kini semakin tumbuh membesar. Meski dulu awalnya ia hanya terpaksa menerima Darren, namun kini cinta itu tumbuh karena terbiasa.

Ya, dirinya benar-benar mencintai Darren, dan semoga saja hubungan mereka tidak akan menghadapi cobaan yang serius.

“Ada apa?” suara Darren membuat Nadine tersadar, ternyata lelaki itu sudah menatapnya dengan tatapan bingungnya. “Ada yang salah dengan cara makanku?”

Nadine tersenyum dan meggelengkan kepalanya. “Enggak, nggak ada yang salah. Kamu hanya seperti orang goa yang kelaparan.”

Darren tertawa lebar. “Sejujurnya tadi pagi aku tidak sarapan, jadi siang ini aku makan dobel.”

“Kenapa nggak sarapan?”

“Aku kesiangan. Kamu lupa bangunin aku.”

“Ah ya, aku minta maaf, tadi pagi ada rapat mendadak. Jadi aku lupa membangunkanmu.”

“Rapat lagi? Aku bingung dengan bossmu itu, dia suka sekali mengadakan rapat, pagi-pagi, malam-malam, dan lain sebagainya.”

Nadine hanya diam. Ia ingin menjawab tapi tak yakin jika ia dapat menjelaskan perkataannya secara gamblang. Ya, Dirga memang suka seenaknya sendiri. Pagi-pagi buta, lelaki itu sudah meneleponnya, berkata jika mereka ada rapat mendadak, nyatanya, saat sampai di kantor, tak ada rapat apapun. Malampun demikian, tak jarang Dirga tiba-tib meneleponnya, meminta untuk menemui Dirga saat itu juga karena ada hal penting, tapi nyatanya, lelaki itu malah tengah asik di tempat hiburan dengan beberapa wanita di sebelahnya, ya, meskipun alasan kerja juga sedikit masuk akal karena ia berada di tempat tersebut bersama dengan beberapa kliennya.

“Nadine?”

Lagi-lagi nadine tersadar jika dirinya baru saja melamunkan lelaki lain saat bersama dengan Darren, kekasihnya. Ah, bagaimana mungkin ini bisa terjadi?

“Maaf.”

“Kamu terlihat banyak pikiran.”

“Ya, aku memang banyak kerjaan.”

Darren meminum jus di hadapannya. “Begini saja, keluar saja kamu dari tempat kerjamu, dan kamu bisa kerja di tempatku.”

Nadine mengerutkan keningnya. “Memangnya bisa seperti itu?”

“Bisa, beri saja dia alasan yang masuk akal, misalnya, kita mau nikah dan kamu memilih bekerja dengan calon suamimu.” Darren berkata dengan begitu santai.

Nadine tersenyum. “Kamu curang, kita nggak akan nikah.”

“Please, apa lagi yang kamu tunggu?”

“Aku belum siap Darren, dan kita sudah membahas masalah ini sebelum-sebelumnya, bahwa aku belum ingin menikah.”

Fine. Tapi aku mau kamu segera pindah ke kantorku.”

Nadine berpikir sebentar, “Aku akan memikirkannya nanti.”

“Ayolah.” Darren memohon.

“Darren, bagaimanapun juga aku tidak enak dengan keluarga Karina, dulu mereka mau menerimaku padahal aku belum memiliki pengalaman kerja apapun.”

“Oke.” Darren mengulurkan jemarinya mengusap lembut pipi Nadine. “kamu memang seperti malaikat.” Nadine tersenyum lembut.

“Kamu berlebihan.”

“Ya, terserah apa katamu. Sekarang, cepat habiskan makananmu sebelum boss sialanmu kembali menghubungimu sebelum jam makan siangmu habis.”

Nadine hanya mengangguk patuh tanpa menghilangkan senyumannya. Ia bahagia memiliki Darren, lelaki yang begitu pengertian dan perhatian padanya.

***

“Oh sia! Sial! Sial!.” Dirga tak berhenti mengumpat keras ketika ia mendapatkan pelepasannya. Ia menggeram, sesekali menepuk pinggul wanita yang kini masih berposisi membelakanginya. Wanita tersebut berteriak keras dan entah kenapa itu menggoda untuk Dirga.

Dirga menarik dirinya, lalu membuang alat pengaman ke sembarang tempat, dan memasangnya kembali yang baru ketika pangkal pahanya tak berhenti menegang. Ia menyatukan dirinya kembali dengan begitu panas hinga membuat wanita tersebut mengerang nikmat.

“Ohh, apa yang kamu lakukan?” Wanita itu menoleh ke belakang, ketika mendapati Dirga kembali menyatu dengan tubuhnya.

“Apa lagi? Tentu saja memasukimu.”

“Sial! Aku mau tarifku di tambah.”

“Kamu akan mendapatkannya, sayang.” Dirga lalu kembali bergerak, menarik untaian r4ambut wanita tersebut sambil bergerak seirama. Keduanya bahkan sama-sama mengerang, tak peduli jika mungkin saja suara mereka terdengar orang lain.

Saat Dirga masih tengah asik dengan pergerakannya, ponselnya berbunyi, ia tidak menghiraukan panggilan tersebut dan membiarkannya mati sendiri, tapi setelah bunyi panggilan itu mati, ternyata ponselnya kembali berbunyi. Sial! Siapa lagi yang sedang mengganggunya?

“Ambilkan ponselku.” Ucap Dirga tanpa menghentikan pergerakannya.

What? Kamu mau ngangkat telepon saat masih menyatu denganku?”

“Kamu keberatan?”

Wanita itu berpikir sejenak. “Tidak.”

Well, kalau begitu tolong ambilkan ponselku.”

Akhirnya  wanita tersebut menggapai ponsel Dirga yang memang terletak di meja kecil dekat dengan kepala ranjang. Setelah menerima ponselnya dari wanita di depannya, Dirga melirik sekilas, ternyata yang memanggilnya adalah nomor kantor. Siapa? Jangan bilang ayahnya.

“Halo.” Dirga mengangkat panggilan tersebut sambil sedikit menggeram.

***

Nadine menjauhkan gagang telepon tersebut dari telinganya saat mendengar sapaan dari seberang. Suara Dirga terdengar seperti sebuah geraman, kenapa? Apa karena ia sedang mengganggu waktu dari lelaki tersebut?

Setelah makan siang dengan Darren, Nadine sedikit kebingungan mencari keberadaan Dirga, karena jadwalnya nanti jam dua siang akan ada klien yang datang menemui lelaki tersebut, tapi hingga kini –jam setengah dua siang, lelaki itu belum juga menampakan batang hidungnya. Kemana dia? Atau jangan-jangan Dirga lupa dengan jadwalnya?

“Maaf, pak, ini saya.”

“Uuh, Nadine, ada apa? Shit!”

Nadine kembali menjauhkan gagang telepon tersebut sambil menatapnya. Sebenarnya Dirga sedang apa? Kenapa suaranya terdengar seperti orang yang sedang mendesah-desah?

“Uum, itu pak, ada jadwal bertemu klien jam dua siang nanti.”

“Bangsat!”

“Maaf?” Nadine benar-benar tak mengerti kenapa Dirga mengumpatinya.

“Sorry, bukan kamu. Oh sial! Apa kamu bisa berhenti bergoyang?”

Nadine mengerutkan keningnya. “Bergoyang?” tanyanya bingung.

“Oke, Nadine, aku akan segera-”

“Apa kamu tidak bisa lebih cepat? Oh, aku akan sampai, aku akan sampai.”

Nadine ternganga mendengar suara tersebut.Terdengar suara wanita yang tengah memotong kalimat Dirga, dan suaranyapun di iringi dengan napas yang sersenggal-senggal. Astaga, jangan bilang kalau mereka sedang…..

“Pak, Pak Dirga sedang-”

“Demi Tuhan, matikan telepon sialan itu! Oohh..” terdengar lagi seorang wanita berseru, sedangkan Dirga sendiri tidak berhenti mengeluarkan erangan-erangan yang entah kenapa membuat bulu kuduk Nadine meremang seketika.

Dengan spontan Nadine menutup sambungan telepon tersebut. Dadanya berdebar tak karuan, pipinya merah padam, entah kenapa ia merasa jika tadi ia baru saja melihat sepasang kekasih yang tengah memadu kasih dengan begitu panasnya. Nadine menggelengkan kepalanya seketika, astaga, apa yang sedang ia bayangkan??

***

Waktu sudah hampir menunjukkan pukul tiga sore, tapi Dirga belum juga sampai di kantornya. Ingin rasanya Nadine kembali menghubungi lelaki itu karena kini kliennnya sudah menunggu di ruangan lelaki tersebut, tapi nyatanya, Nadine masih takut, jika nanti dirinya mengganggu aktifitas bossnya tersebut.

Ketika Nadine gelisah dengan sesekali melirik ke arah jam tangannya, orang yang ia tunggu-tunggu tersebut akhirnya tiba juga.

Dirga masih mengenakan kemeja yang sama dengan tadi pagi, tatanan rambutnya sedikit berantakan, tak ada lagi dasi yang bertengger di lehernya, lengan panjangnya yang sudah di gulung, dan yang paling ia rasakan perbedaanya adalah aroma lelaki tersebut yang biasanya beraroma citrus kini berubah menjadi aroma yang di yakini Nadine seperti parfume wanita.

Dengan gugup Nadine berdiri menyambut kedatangan atasannya tersebut.

“Apa dia.” Dirga terlihat sedang mengendalikan sesuatu di dalam dirinya. “Maksud saya, apa ada tamu untuk saya?”

“Ya pak, sudah menunggu di dalam.”

“Oke.” Hanya itu. Dirga lalu masuk dan Nadine berakhir menghela napas panjang. Astaga, kenapa juga ia menjadi gugup saat berhadapan dengan Dirga? Apa ini tandanya jika dirinya memang sudah tidak bisa bekerja dengan lelaki itu lagi?

***

Pertemuan yang di lakukan Dirga dan kliennya bersangsung cukup lama, hingga jam lima sore, kliennya tersebut baru keluar dari dalam ruangan Dirga. Entah apa yang mereka bahas, Nadine sendiri tak tahu, nyatanya Dirga tidak memanggilnya untuk ikut masuk ke dalam ruangan lelaki tersebut.

Setelah mengetahui hanya ada Dirga di ruangannya, Nadine memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan Dirga untuk membicarakan perihal dirinya yang ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya saat ini. Ah, semoga saja Dirga tidak mempersulitnya.

Nadine mengetuk pintu ruangan tersebut sedikit lebih keras, hingga kemudian iaa mendengar kata “Masuk” yang di ucapka oleh Dirga.

Nadine masuk dengan dada yang sudah berdebar tak karuan. Entah kenapa setiap kali berhadpan dengan Dirga, perasaannya selalu tidak enak. Lelaki itu seakan-akan selalu menatapnya dengan tatapan mengintimidasi, dan itu benar-benar membuat Nadine tidak nyaman.

Dirga menatap kedatangannya dengan mengangkat sebelah alisnya. “Ada apa?” tanyanya secara langsung.

Nadine menelan ludahnya dengan susah payah, “Begini pak.” Ia lalu duduk di kursi di depan meja Dirga, dan mulai menyuarakan isi hatinya. “Saya, saya mau mengundurkan diri dari perusahaan bapak.”

“Apa?” mata Dirga membulat seketika. Nadine sebenarnya sedikit terkejut dengan reaksi Dirga yang baginya sedikit berlebihan itu. Apa pengunduran dirinya ini bermasalah dengan Dirga? Sepertinya tidak, jadi seharusnya Dirga tidak menampilkan ekspresi seperti saat ini.

“Uum, saya mendapat pekerjaan baru.” Nadine berkata sambil menundukkan kepalanya.

“Pekerjaan baru?” ulang Dirga. Tampang lelaki itu menggelap seketika. “Pekerjaan baru apa? Apa kamu tidak tahu kalau kamu terikat kontrak dengan perusahaan ini?”

“Maaf pak, tapi nanti saya akan berusaha untuk mengganti rugi-”

“Dengan apa?” Dirga memotong kalimat Nadine. Lelaki itu kini bahkan sudah berdiri, mencondongkan tubuhnya tepat di hadapan Nadine hingga membuat Nadine hanya menunduk dan tak berani menghadap ke arahnya. “Dengar, kamu tidak bisa keluar begitu saja dari dalam perusahaan ini sebelum saya mampu membawamu ke atas ranjangku.”

Dengan spontan Nadine mendongakkan wajahnya ke arah Dirga, matanya bertemu tapat pada mata Dirga yang entah kenapa terlihat membara, apa lelaki ini sedang marah? Pikir Nadine, tapi kenapa marah? Bukankah seharusnya ia yang kesal karena ucapan Dirga barusan?

“Keluar dari ruangan saya.” Kalimat itu di ucapkan dengan nada begitu dingin hingga Nadine tak mampu membantahnya lagi.

Akhirnya Nadine memilih bangkit lalu keluar dari dalam ruangan tersebut meski dengan hati kecewanya. Ya, tentu saja ia sangat kecewa karena sikap Dirga yang di nilainya sedikit berlebihan, dan kurang ajar mengingat lelaki itu mengucapkan keinginannya untuk membawa dirinya ke atas ranjang lelaki tersebut, oh, yang benar saja.

-TBC-

Lovely Wife – Chapter 1 (Wanita menggoda)

Comments 7 Standard

Lovely Wife

 

Akhirnyaa rilis juga bang Dirganya yaa,,, wakakkaka semoga suka,…

 

Chapter 1

-Wanita yang menggoda-

 

Dua tahun yang lalu…

Pagi itu, nadine sedang sibuk membantu ibunya menyiapkan sarapan untuk keluarga kecil mereka. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, jika sebelum-sebelumnya Nadine sarapan dengan santai, maka hari ini ia sedikit terburu-buru.

Ya, hari ini adalah hari pertamanya kerja di salah satu perusahaan besar meilik keluarga dari sahabatnya sendiri. Meski si pemilik perusahaan sangat baik terhadap dirinya dan keluarganya, tapi tetap saja Nadine harus profesional. Ia tidak ingin di terima dalam perusahaan tersebut hanya karena kenal dan dekat dengan si pemiliknya, tapi karena potensinya berada di dalam perusahaan tersebut.

“Nadine, ini bekal untuk kamu, sayang.” Nadine melirik ke arah kotak bekal yang di siapkan sang ibu. Sederhana tapi Nadine suka.

“Terimakasih, Bu.”

“Apa Karin juga ikut kerja di perusahaan ayahnya?”

“Sepertinya tidak.”

Sang ibu hanya menganggukkan kepalanya. Nadine melirik ke arah jam tangannya, waktu menunjukkan jika hari sudah semakin siang, akhirnya ia menyambar tasnya dengan membawa sepotong roti tawar yang sudah di olesi dengan selai cokelat, lalu berpamitan dengan sang ibu untuk segera berangkat.

“Kamu yakin hanya sarapan itu?”

“Ya, Bu. Kan aku sudah bawa bekal.”

“Baiklah, hati-hati di jalan, sayang.” Nadine menganggukkan kepalanya dengan pesan sang ibu, ia mengecup lembut punggung tangan sang ibu tak lupa juga ia berpamitan dengan ayahnya lalu segera berangkat menuju ke tempat kerja barunya.

***

Saat Nadine sibuk menunggu Bus di sebuah halte tak jauh dari gang rumahnya, sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Nadine tersenyum saat mendapati siapa pemilik dari mobil tersebut. Itu Darren Pramudya, lelaki yang sudah resmi menjadi kekasihnya sejak beberapa minggu yang lalu.

Darren membuka kaca mobilnya lalu melonggokkan kepalanya ke arah Nadine. “Ayo masuk.”

“Uum, kamu mau ngantar aku? Kamu nggak sibuk?” tanya Nadine masih berdiri tepat di sebelah mobil Darrenh.

Ya, setahu Nadine, Darren adalah orang yang sibuk. Lelaki itu juga sibuk dengan perusahaan keluarganya, jadi Nadine tidak enak jika harus merepotkan Darren untuk mengantarnya kerja.

“Untuk kamu, aku nggak akan pernah sibuk. Ayo, masuklah.” Nadine tersenyum lembut. Ah, lelaki ini gampang sekali membuatnya berbunga-bunga.

Nadine akhirnya masuk ke dalam mobil Darren, setelah duduk di sebelah lelaki itu, Nadine sedikit mengerutkan keningnya saat mendapati ada yang berbeda dengan tampilan mobil Darren. Pada Dashboar mobil Darren, dulu terdapat sebuah bingkai mungil yang di dalamnya ada foto Darren, Karina dan dirinya, tapi kini bingkai tersebut hanya berisikan foto dirinya saja. Oh, jangan di tanya bagaimana terkejutnya Nadine saat ini. Pipinya bahkan sudah merona-rona.

“Kenapa?” Darren bertanya sambil mulai mengemudikan mobilnya.

“Fotonya, apa yang terjadi dengan fotonya? Kenapa ganti?”

Darren sedikit tersenyum. “Apa yang terjadi? aku hanya memasang foto wanita yang sedang menjadi kekasihku.”

“Aissh, aku nggak enak sama Karin kalau kamu hanya memasang fotoku di sini.”

“Karin? Kenapa dengan dia? Dia pasti mengerti. Dia adalah sahabat terbaik kita, jadi dia tidak akan mempermasalahkan foto ini.”

“Ya tapi dia belum tahu tentang hubungan kita.”

“Nanti aku yang akan memberi tahunya. Oke?” dan Nadine hanya mampu menghela napas panjang.

Ya, ia Karina dan Darren memang sahabatnya sejak kecil karena orang tua mereka memang bersahabat sejak remaja. Sebenarnya Nadine sedikit tidak enak, ketika tiba-tiba Darren mengungkapkan perasaan lelaki tersebut padanya. Baginya, Darren adalah seorang yang istimewa, sama dengan Karina, tapi hanya itu, tidak lebih. Nadine melihat Darren sebagai sahabat yang ia sayangi, hingga kemudian beberapa minggu yang lalu saat lelaki itu mengungkapkan perasaannya, Nadine jadi galau tak menentu.

Ia ingin menolak, tapi tidak enak, takut jika hubungannya dengan Darren akan merenggang, atau lelaki itu akan menghindarinya. Akhirnya, Nadine mencoba hubungan tersebut dengan Darren, meski sebenarnya tanpa cinta. Saat itu Nadine sedang sendiri karena ia baru putus dengan kekasihnya, dan dengan hadirnya Darren, ia mau mencoba menjalin kasih kembali dengan seorang pria. Setidaknya, ia mengenal Darren, lelaki itu adalah lelaki baik, jadi tidak ada salahnya mencoba dengan Darren.

“Jadi, apa nanti mau makan siang bersamaku?” Nadine menolehkan kepalanya pada Darren.

“Ah, maaf, aku bawa bekal.”

“Aku bisa ke tempat kerjamu dan makan di kantin kantormu nanti.” Darren menjawab lagi.

“Darren, itu nanti akan sangat merepotkan kamu. Lagian aku baru di sana, jadi aku harus banyak bergaul dengan pegawai lainnya-”

“Dari pada makan siang bersamaku?” potong Darren.

Nadine tersenyum. “Bukan begitu maksudku.”

“Oke Princess, aku mengerti. Kalau ada yang jahat sama kamu, lapor saja sama aku.”

Nadine terkikik geli. “Baik Boss.”  Keduanya lalu melanjutkan percakapan ringan mereka dengan sesekali bercanda gurau bersama.

***

“ASTAGAAAAAAAA!!!!”

Suara teriakan tersebut seketika menghentikan pergerakan Dirga, membuat Dirga dan Amel, wanita yang kini masih menyatu dengannya menolehkan kepalanya ke arah wanita yang berteriak tersebut.

“Ada apa?” seorang lelaki datang menghampiri wanita yang sedang berteriak tersebut, wanita itu menutup matanya karena melihat pemandangan yang menurutnya amat sangat vulgar. Dan lelaki itu segera menatap pemandangan di hadapannya.  Tampak seorang lelaki yang kembar identik dengannya sedang bersenggama dengan seorang wanita dalam posisi yang begitu panas dan berani.

“Brengsek lo Ga! Apa yang lo lakuin di sini?!” Seru lelaki itu lantang. Dia Davit, saudara kembar Dirga yang kini tinggal di Bandung.

Dirga mengumpat dalam hati. Bagaimana tidak, sebentar lagi ia akan mencapai klimaksnya, tapi di ganggu oleh Davit dan juga Sherly, istri dari kembarannya tersebut. Ah sial! Apa juga yang di lakukan Davit di sini? Bukankah mereka seharusnya berada di Bandung?

Dirga menarik dirinya dari penyatuan terhadap tubuh Amel, dan tanpa mempedulikan ketelanjangannya, ia bertanya balik pada Davit.

“Lo sendiri ngapain di sini?”

“Ini apartemen gue, jadi terserah gue mau ke sini atau enggak.”

Sial! Tentu saja. Harusnya Dirga sadar diri karena apartemen yang ia jadikan sebagai  basecamp untuk bercinta dengan para wanitanya adalah apartemen milik Davit.

“Setidaknya lo bisa ketuk pintu sebelum masuk.” gerutu Dirga sambil menyambar kimono tidurnya. Ia melirik ke arah Amel, wanita itu tampak sangat malu karena kini menutupi sekujur tubuh telanjangnya dengan selimut tebal mereka.

“Ketuk pintu? Ngapain gue ketuk pintu kalau kue punya kuncinya? Lo benar-benar sialan.”

Slow man, lo kayak nggak kenal gue, keluar dulu sana, lo mau seharian di situ dan lihat gue telanjang?”

Davit menggelengkan kepalanya. “Sinting lo!” lalu ia mengajak istrinya pergi meninggalkan kamar yang masih di tempati Dirga tersebut.

Dirga menyambar baju wanita teman kencannya yang berserahkan di lantai, dan melemparkannya begitu saja pada wanita itu. “Pakai bajumu, kita akan pergi dari sini.”

“Kita nggak lanjutin tadi?”

“Kamu bercanda? Aku sudah tidak bergairah. Cepat pakai.” Dirga lalu melirik ke arah jam tangannya dan mendapati jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang. “Sial! Kita ada rapat jam satu siang.”

“Kamu kan bisa batalin rapatnya.” Wanita itu berkata sambil mengenakan pakaiannya satu persatu.

“Membatalkan? Meski aku brengsek, aku tidak pernah mangkir dari pekerjaanku.” Dirga memakai kembali kemejanya. “Brengsek! Ngapain juga si Davit ke sini.”

Setelah memakai pakaiannya, Dirga keluar menghampiri kakak kembarnya. “Lo ngapain ke sini? Bukannya harusnya lo ada di Bandung?”

“Gue lagi ada kerjaan di sini. Sialan! Bukannya wanita itu sekertaris pribadi lo? Lo kencan sama dia?”

Dirga meraih sebotol air mineral di dalam lemari pendingin lalu meminumnya. “Dia suka godain gue di kantor, jadi gue kencani aja.” Jawab Dirga dengan datar.

“Bener-bener sinting lo. Lo nggak akan bisa profesional sama dia nantinya, Ga.”

Well, setelah gue selesai sama dia, gue akan pindah tugaskan dia ke bagian lain.”

“Dan lo akan cari sekertaris pribadi baru gitu? Seperti sebelum-sebelumnya?”

“Tepat sekali.”

“Lo benar-benar gila.”

“Jadi kamu mau memecatku?” terdengar suara Amel yang baru saja keluar dari kamar.

Dirga menghampiri wanita tersebut. “Oh, aku tidak sekejam itu sayang, kamu hanya akan di pindah tugaskan ke tempat lain.”

“Kenapa? Supaya kamu tidak ada yang menggoda?”

“Tepat sekali.” Dirga menjawab santai.

Wanita itu akan menjawab lagi, tapi suaranya tercekat di tenggorokan ketika seorang wanita lainnya menuju ke arah dapur melewati dirinya dan juga Dirga. Itu wanita tadi yang memergoki mereka saat sedang asik menyatu dan bergerak seirama, itu Sherly, istri Davit.

Dirga melirik sekilas ke arah istri Davit, lalu menyapanya dengan suara menggoda. “Pagi, Kak.”

Sherly  hanya melirik sekilas ke arah Dirga, lalu melanjutkan langkahnya mendekat ke arah suaminya tanpa menghiraukan Dirga. Dirga tampak kesal dengan istri dari kembarannya itu, ia hanya bisa berakhir dengan mendengus sebal.

“Gue cabut.” Dirga berkata dengan wajah yang sudah masam.

“Lo nggak mandi? Badan lo masih bau seks.”

“Nggak.” Hanya itu jawaban Dirga sambil bergegas pergi menuju pintu keluar apartemen Davit.

Sialan! Sherly benar-benar mampu membuat moodnya memburuk.

***

“Jadi kamu benar-benar memecatku?!” Amel, sekertaris pribadi Dirga akhirnya tak kuasa menahan amarahnya saat Dirga memberika surat pernyataan jika dirinya di pindah tugaskan ke bagian lain saat setelah mereka sampai di kantor. Astaga, padahal baru beberapa jam yang lalu Dirga bercinta dengannya, bagaimana mungkin lelaki ini melakukan hal sekejam ini padanya?

“Jangan berlebihan, aku tidak memecat, kamu hanya di pindah tugaskan ke tempat lain.”

“Ya, dan artinya aku nggak akan bisa berhubungan lagi denganmu.”

“Sayangnya, memang seperti itu tujuannya. Maaf.” Dengan begitu menjengkelkan, Dirga mengucapkan kalimat tersebut dengan senyuman miringnya.

“Kamu benar-benar keterlaluan, baru beberapa jam yang lalu kamu memasukiku, dan sekarang-”

“Sekali lagi, jangan berlebihan. Aku belum klimaks.” Dirga memotong kalimat Amel lagi-lagi dengan begitu menjengkelkan.

“Brengsek!” setelah mengumpat keras,  Amel keluar dari ruangan Dirga. Dan Dirga hanya menatapnya dengan tersenyum penuh kemenangan. Ia bahkan tidak menghiraukan Amel yang membanting keras-keras pintu ruangannya.

Dirga kembali duduk di kursi kebesarannya, tapi baru beberapa detik ia duduk, pintunya kembali di ketuk oleh seseorang. Siapa lagi ini? Pikirnya.

“Masuk.” Dengan malas Dirga mengucapkan perintah tersebut.

Pintu di buka, Dirga mengangkat wajahnya dan mendapati sosok cantik berdiri di ambang pintu ruang kerjanya. Sosok yang tidak asing baginya, karena dulu, ia sering sekali bertemu dengan sosok tersebut, tapi kini, entah apa yang membuat Dirga ternganga mendapati penampilan sosok tersebut yang baginya cukup berbeda.

Itu Nadine, sahabat dari Karina, adiknya.

Kenapa Nadine di sini?

Dirga mengangkat sebelah alisnya, menatap penampilan Nadine dari ujung rambut sampai ujung kaki wanita tersebut.

Rambutnya tergerai indah, dia mengenakan kemeja dan juga rok yang menurut Dirga terlihat begitu seksi saat di kenakannya, belum lagi sepatu hak yang membuat kaki jenjang wanita itu terlihat begitu menggoda untuk Dirga.

What the F*ck!

Sejak kapan Nadine menjadi wanita menggoda seperti saat ini? Sejak kapan ia menegang seutuhnya hanya karena melihat teman dari adiknya itu berdiri dengan pakaian lengkapnya?

Dirga menelan ludahnya susah payah. Ia mulai tidak nyaman dalam duduknya, dan entah mengapa dahinya mulai berkeringat.

Sial! Ia kepanasan.

“Siang Pak, saya di suruh megantar dokumen ini pada Pak Dirga.” Nadine berkata seformal mungkin. Meski sebelumnya ia sudah mengenal Dirga, tapi tetap saja saat ini Dirga adalah atasannya.

Dengan gerakan pelan tapi mengintimidasi, Dirga melangkah menuju ke arah Nadine. Jemarinya dengan spontan melonggarkan ikatan dasinya yang entah kenapa terasa mencekiknya.

“Nadine, kamu, kerja di sini?”

“Uum, iya pak, ini hari pertama saya kerja di sini.”

“Di bagian apa?” tanyanya lagi.

“Bagian administrasi.”

“Bereskan barang-barang kamu, mulai hari ini kamu jadi sekertaris pribadi saya.” Dengan arogan Dirga mengucapkan kalimat tersebut.

“Apa?” Nadine tampak shock dengan ucapan Dirga.

“Ya, saya lagi butuh seorang sekertaris, dan saya rasa, kamu orang yang paling cocok menggantikan sekertaris saya yang baru saja saya pecat.”

“Tapi pak-.”

“Bersikap biasa saja seperti sebelum-sebelumnya.”

“Maaf?”

“Sekarang, kembali ke ruanganmu, dan bereskan barang-barangmu. Sisanya, aku yang akan mengurus semuanya.” Nadine hanya mengangguk patuh lalu ia membalikkan badannya dan mulai pergi meninggalkan ruangan Dirga.

Dirga sendiri menghela napas panjang setelah Nadine keluar dari ruangannya. Sial! Bagaimana mungkin Nadine mampu menciptakan ketegangan seksual di dalam dirinya hanya karena melihat penampilan wanita itu?

***

Cukup lama Nadine membereskan meja kerjanya, meski ini hari pertamanya menempati ruangan mungilnya tersebut, tapi tetap saja banyak yang di bereskan, mengingat ia membawa banyak barang di atas mejanya.

Sedikit risih karena beberapa rekan kerjanya menatap ke arahnya dengan sesekali berbisik pada yang lainnya, seakan dirinya kini menjadi bahan gosip. Tentu saja, siapa yang tidak menggosipkan tentang dirinya dalam keadaan seperti ini? Sangat aneh jika ada seorang pegawai biasa baru yang langsung naik pangkat menjadi sekertaris pribadi wakil direktur utama perusahaan besar tersebut.

Seorang rekan kerja Nadine datang menghampirinya. “Jadi, kiamu benar-benar akan menjadi sekertaris pribadi pak Dirga?” tanya salah satu  rekan kerja wanita Nadine.

“Ya, sepertinya begitu.”

“Wahh, sepertinya Pak Dirga sedang membidik mangsa baru.”

Nadine mengerutkan keningnya. “Membidik mangsa baru?”

“Lihat saja, posisi kamu di sana tidak akan lama. Paling lama juga mungkin dua bulan. Pak Dirga selalu bergonta-ganti sekertaris pribadi setelah dia berhasil mendapatkannya.”

“Mendapatkannya? Maksud kamu, mendapatkan apa?” Nadine benar-benar tidak mengerti.

“Mendapatkannya di ranjang.”

“Apa?” dengan spontan Nadin membulatkan matanya seketika.

“Tenang, itu sudah menjadi rahasia umum, jika atasan kita yang satu itu memang seperti itu. meski begitu, banyak yang mengidamkan menjadi sekertaris pribadi pak Dirga meski nanti ia akan menjadi kekasih semalam pak Dirga dan berakhir di campakan.”

Nadine merasa mual dengan kenyataan tersebut. Tidak! Kak Dirga tidak akan memperlakukannya seperti itu, mereka sudah kenal lama, keluarga mereka sudah saling mengenal dengan baik, tidak mugkin lelaki itu akan memperlakukannya seperti memeperlakukan sekertarisnya yang dulu-dulu.

-TBC-