Love Between Us – Part 11 (Calon Mertua?)

Comments 15 Standard

14222347_1441992722483939_834886626361997697_nLove Between Us

Part 11

-Calon mertua?-

Denny menatap Aira yang sudah duduk manis di pinggiran ranjangnya. Gadis itu tampak segar karena baru saja selesai mandi, tapi terlihat jelas jika gadis itu tidak nyaman dalam duduknya. Denny baru saja keluar dari dalam kamar mandi berjalan santai menuju lemari kecil yang berada tepat di hadapan Aira. Mengambil t-shirt lalu memakainya sesekali melirik ke arah Aira yang pipinya sudah merona merah. Aira tidak nyaman berada di dekatnya, Denny tahu itu. Tapi ia tidak ingin menyerah, bagaimana pun juga harus membuat Aira percaya lagi dengannya.

“Jadi, kenapa kamu mutusin aku saat itu?” tanya Denny tanpa basa-basi lagi sembari duduk tepat di sebelah Aira. Dengan handuk kecil yang masih melingkari lehernya. Sesekali Denny mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk tersebut.

Aira masih diam, ia masih kesal dengan Denny. Pastinya sekarang ia sedang gugup setengah mati karena berdekatan dengan pria yang tadi tidak berhenti mencumbunya. Ia merasakan jemari Denny meraih telapak tangannya, kemudian menggenggamnya erat-erat. Aira mengangkat wajahnya menatap wajah Denny yang terlihat sendu di matanya.

“Aku mohon, kasih tahu aku dimana letak kesalahanku. Aku akan memperbaikinya.”

Aira memalingkan wajahnya dengan berkata, “berapa banyak kekasihmu?” Denny mengerutkan kening karena tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Aira.

“Maksud kamu?”

“Aku sudah tahu semuanya, Den. Kamu hanyalah pria yang memanfaatkan kelebihanmu untuk mendapatkan gadis kaya dan mengeruk hartanya kan?”

“Aira, aku masih nggak mengerti apa yang kamu bicarakan?”

“Siapa wanita yang jalan sama kamu siang itu?” todong Aira marah.

“Jalan sama aku? Kapan? Aku nggak pernah jalan sama wanita manapun selain dengan kamu, dan..” Denny tampak berpikir sebentar. “Tunggu dulu, kamu melihatku?”

“Nggak, tapi ada yang melihatmu dan dia memberitahuku!” ucap Aira dengan ketus.

“Siapa?”

“Itu nggak penting Denny! Yang penting adalah kamu jalan dengan gadis lain lalu mengeruk hartanya. Mungkin itu juga nanti yang akan kamu lakukan denganku.”

“Kamu berpikir terlalu jauh,” ucap Denny seraya memaksa tubuh aira untuk menghadap ke arahnya.

“Dengar, aku nggak pernah main-main kalau sudah memiliki hubungan dengan seorang wanita. Kamu hanya salah paham, dan aku bisa menjelaskan semuanya. Aku nggak pernah keluar dengan gadis lain selain kamu dan adikku. Jadi bisa aku pastikan yang kamu lihat kemaren adalah Clarista, adikku.”

“Bagaimana aku percaya?. Sedangkan aku sendiri nggak tahu, apa kamu benar-benar punya adik atau hanya adik bohongan. Kamu terlalu misterius. Dan aku capek menebak-nebak sendiri tentang kamu Den.”

“Oke,” Denny kemudian mengusap sebelah pipi Aira sembari berkata, “besok, aku akan mengajakmu pulang ke rumah orang tuaku.” Aira membulatkan matanya seketika. Ia tidak menyangka jika Denny akan secepat itu mengenalkan dirinya pada kedua orang tua pria tersebut. Aira memang ingin tahu lebih tentang Denny, tapi bukan berarti langsung berkenalan dengan orang tuanya.

“Uumm, aku hanya ingin mengenal kamu lebih dekat lagi. Bukan berarti aku ingin kamu  mengenalkan aku secara langsung dengan orang tua kamu.”

“Kenapa? Kamu nggak mau? Aku hanya berusaha lebih serius denganmu Aira.” Denny menundukkan kepalanya sedikit malu. “Kita sudah melakukan ‘itu’, jadi aku pikir,” ucapnya tersendat, “aku ingin lebih serius lagi denganmu.”

“Denny, aku belum terlalu mengenalmu.” Aira memberikan pandangan ragu. Mereka baru mengenal satu sama lain. Apa yang ia harapkan jika Denny hanya memberikan harapan ilusi.

“Maka dari itu, besok aku akan menceritakan semuanya padamu.” Denny kemudian merengkuh tubuh Aira, memeluknya sesekali mengecup puncak kepalanya.

“Maafkan aku karena aku melakukan cara curang tadi.”

“Ayah akan membunuhku kalau dia tahu.”  Aira merasa bersalah.

“Dia nggak akan tahu, tidak sekarang, sebelum kamu menjadi istriku.” Aira terbelalak. Istri? Apa maksud Denny dengan istri?

***

Malam harinya, Denny benar-benar mengantarkan Aira ke rumah gadis tersebut. Di halaman rumah sudah ada Indra yang menundukkan kepalanya. Denny lantas keluar dari dalam mobil Aira lalu menuju ke arah Indra.

“Pak Rizky terlihat marah,” ucap Indra pada Denny sambil memberikan kunci motor Denny.

“Aku sudah membawanya pulang, Pak Rizky nggak akan marah lagi.” Jawab Denny dengan santai. Ia lalu berlari menuju ke arah Aira yang kini sudah menunggunya tepat di depan pintu rumah gadis itu.

“Aku takut ayah marah.” Aira terlihat gelisah. Ia meremas tangannya.

“Aku akan tanggung jawab.” Denny sambil mengusap lembut pipi Aira. Di lihatnya bibir ranum Aira yang entah kenapa kini membuat Denny seakan tidak bisa menahan dirinya. Ia mendekatkan wajahnya, berusaha untuk menggapai bibir ranum Aira. Sedangkan Aira sendiri hanya mampu memejamkan matanya, tapi ketika bibir mereka hampir saja bertautan. Pintu dihadapan mereka terbuka seketika menampilkan sosok sangar di baliknya.

Itu Rizky, ayah Aira.

Mereka saling menjauhkan diri dengan wajah merah masing-masing. Aira menundukkan kepalanya, sedangkan Denny terlihat tidak gentar menatap tatapan berapi dari ayah Aira.

“Baru pulang Aira?” ucap Rizky dengan nada dinginnya.

“Saya tadi sedikit ada perlu dengan Aira.” Denny yang menjawab. Aira ketakutan hingga tidak bisa bicara apapun. Ia merasa tertangkap basah.

“Ayah pikir hubungan kamu dengan anak saya sudah berakhir saat kamu membuatnya menangis beberapa hari yang lalu.”

“Itu hanya salah paham Om. Saya sudah memperbaikinya.”

“Benarkah begitu Aira?” tanya Rizky sambil menatap puterinya yang kini sudah bergelayut dilengan Denny.

“Ya, ayah.” Tak berani melihat mata sang ayah yang sekelam malam.

“Kalau begitu, masuklah. Dan kamu, cepat pulang. Ini sudah malam!” ucap Rizky dengan tegas lalu pergi meninggalkan Denny dan Aira yang masih mematung di depan pintu rumahnya.

“Uum, aku nggak bisa memikirkan bagaimana kalau ayah tahu apa yang kita lakukan tadi.”

“Mungkin dia akan membunuhku.” Jawab Denny dengan sedikit tersenyum.

“Jangan bercanda, ini nggak lucu tahu!” gerutu Aira.

Denny kembali membelai pipi Aira dengan lembut. Itu bagaikan candu baginya, pipi yang merona seakan ingin menggigitinya lembut. “Aku tahu, kamu belum memaafkanku. Tapi aku akan berusaha membuatmu memaafkanku dan menerimaku kembali. Aku benar-benar nggak mau kamu meninggalkan aku, Aira.”

Aira menunduk malu. Pipi memanas mendengar ucapan dari Denny.

“Sudahlah, aku mau masuk dulu,” ucap Aira sambil bergegas msuk. Sebenarnya ia hanya ingin sedikit menghindari Denny. Oh, Denny benar-benar membuatnya gugup setengah mati. Jantungnya tidak berhenti jumpalitan ketika mendengar kalimat-kalimat manis yang terucap dari bibir pria itu.

“Aira!” panggil Denny sambil meraih pergelangan tangan Aira. Secepat kilat Denny menariknya kemudian mengecup lembut kening Aira. “Besok aku akan menjemputmu. Aku akan mengenalkanmu dengan orang tuaku.” Denny sedikit berbisik.

Aira hanya mampu menganggukkan kepalanya. Ia sungguh tidak mengerti apa yang terjadi dengan Denny. Dulu, pria itu selalu bersikap dingin dan cuek terhadapnya, tapi kenapa kini Denny bersikap sangat manis padanya.

Apa Denny benar-benar mencintainya?

***

Aira menaiki tangga dengan hati yang ringan berbunga-bunga malah. Beban yang ada dihatinya kini telah berangsur pergi dan hampir hilang. Ia membayangkan betapa manisnya sikap Denny sampai tidak menyadari bahwa Rizky berdiri di ruang keluarga. Dengan mata menyalang ia memperhatikan leher Aira yang terdapat bercak kemerahan seperti kissmark. Ia mengetahui sejak di depan pintu.

“Aira?!” Aira cukup terkejut.

“A.. Ayah..” ucapnya tergagap.

“Ayah, ingin bicara sama kamu!” ucapnya penuh penegasan. Aira menatapnya ketakutan. Seperti ada yang disembunyikan, pikir Rizky.

“Aira, lelah yah. Bisa besok saja?” Dari kejauhan Zeeva melihat kejadian itu. Ia baru keluar dari kamar Bunga. Aira,  putrinya memang terlihat kelelahan. Ia berjalan mendekat.

“Rizky, besok saja ceritanya. Aira sepertinya memang kelelahan.” Zeeva membujuk suaminya. Aira yang berdiri tegang menatapnya memohon dengan wajah yang pucat pasj. Rizky menghela napas.

“Baiklah, besok ayah akan minta  penjelasanmu!” Aira mengangguk.

“Iya, ayah.” Aira mencium pipi Rizky dan Zeeva. “Selamat malam.” Leher Aira tak luput dari pengamatan Rizky. Ia tertegun cukup lama dengan tanda itu. Rizky memandangi punggung putrinya. Rahangnya mengetat memikirksn jika benar itu terjadi.

“Kita ke kamar, waktunya tidur.” Zeeva menggandeng lengannya.

Didalam kamar Aira bersandar dibalik pintu sambil menarik napas panjang. Hari ini ia selamat. Dalam dirinya ketakutan, ceroboh dengan memberikan sesuatu yang paling berharga. Aira telah mengecewakan orangtuanya jika tau ia telah memberikan mahkotanya. Bukan memberikan dalam artian sebenarnya melainkan Denny yang memaksanya sampai terlena dalam sentuhan dan belaian yang memabukan. Hingga tak sadar jika yang mereka lakukan adalah kesalahan fatal. Rizky akan mengusirnya jika dirinya, hamil.

Hamil?

Aira tersentak kaget. Bagaimana jika dirinya nanti hamil?. Anak Denny?. Ia menjadi kalut. Perasaannya bimbang saat masuk ke kamar mandi. Memikirkan apa yang terjadi kelak.

***

Keesokan harinya Denny benar-benar menjemput Aira di rumahnya. Untung saja ayah Aira sudah berangkat ke kantor sejak pagi. Sehingga ia tidak perlu lagi menyiapkan seribu alasan untuk mengajak Aira keluar. Hanya ada Zeeva, mama Aira, yang menyambutnya saat ia menjemput di rumahnya.

Setelah cukup lama menunggu Aira yang bersiap-siap. Akhirnya gadis itu keluar juga dengan penampilan yang sangat cantik di mata Denny. Ia menatap Aira dengan tatapan penuh cintanya. Ingin sekali jemarinya mengusap pipi merona milik Aira, tapi ditahannya, karena kini, Zeeva masih ada di sana.

“Kamu sudah siap?” Aira hanya menganggukkan kepalanya. Entah kenapa setelah kejadian tadi malam, ia selalu merasa gugup di hadapan Denny. Oh, pria itu sudah menyentuhnya? Aira masih belum percaya dengan kejadian semalam.

“Baiklah, ayo,” ajak Denny. Aira kemudian berpamitan dengan sang Mama. Kemudian mengikuti Denny menaiki motor pria tersebut. Ia sendiri akhirnya menjalankan motornya. Setelah cukup jauh berboncengan, Denny meraih pergelangan tangan Aira, melingkarkannya di perutnya sendiri. Sedangkan tangannya sendiri masih belum ingin melepaskan genggaman tangannya pada tangan Aira.

“Tetap seperti itu, biar nggak jatuh.” Denny dengar suara yang sedikit tidak terdengar karena terhalang helm yang dikenakannya.

“Kamu sendiri nggak takut jatuh? Menyetir dengan hanya satu tangan?”

“Aku sudah biasa.” Jawab Denny.

“Oh, tentu saja, kamu pasti sudah biasa membonceng cewek seperti ini” Gerutu Aira yang entah kenapa menjadi sedikit kesal.

“Nggak, Ai.”

“Ai?” Aira mengerutkan keningnya ketika Denny memanggilnya dengan sebutan itu.

Pria itu sedikit tersenyum dari balik helmnya. “Mulai sekarang, itu panggilan sayangku untuk kamu. Ai.” Ya ampun. Aira berterimakasih karena saat ini dirinya sedang berada di belakang Denny. Jika tidak, maka pria itu akan melihat wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus karena ucapan sederhana itu.

‘Ai… sangat manis.’ Pikir Aira dalam hati. Tapi secepat kilat ia menggelengkan kepalanya. Denny sedang menggodanya. Aira menyadari itu. Gadis itu tidak ingin tergoda sebelum ia mengetahui semua penjelasan Denny.

***

Denny mengentikan motornya di depan sebuah gerbang besar dan tinggi. Aira bahkan sampai menengadah ke atas melihat ujung gerbang. Terlihat seorang satpam berlari membukakan pintu pagar  saat mengetahui Denny yang datang.

Denny kembali menjalankan motornya masuk. Aira masih tidak mengerti apa yang sedang dilihatnya saat ini. Denny memarkirkan motornya di depan sebuah garasi, kemudian melepaskan helm yang di kenakannya.

Denny tersenyum menatap Aira yang masih tampak bingung dengan apa yang gadis itu lihat. Dengan lembut Denny membantu Aira melepaskan helm yang di kenakan gadis itu. Pipi Aira kembali merona dengan kelembutan yang di tunjukkan oleh Denny.

“Ayo masuk,” ucap Denny sambil menggenggam pergelangan tangan Aira.

“Tunggu dulu, ini rumah siapa?” tanya Aira yang masih sedikit bingung.

“Rumah mama dan papaku. Ayo masuk,” Denny dengan senyuman lembutnya. Aira sendiri benar-benar tercengang dengan jawaban yang di dengarnya dari mulut Denny.

Mereka masuk ke dalam rumah. Denny seketika menuju ke arah taman mini di area samping rumahnya. Ia tahu jika mamanya pasti berada di sana dengan berbagai macam tanaman bunga-bungaan yang di rawatnya.

“Mama,” Denny memanggil ketika berada di area taman dan melihat seorang wanita yang tengah sibuk dengan tanaman hiasnya. Wanita yang masih terlihat cantik diusianya itu menoleh, dan membulatkan matanya seketika ketika mendapati seorang yang sangat dirindukannya. Itu puteranya yang sudah lama tidak pulang.

“Denny!” ucap Clara senang. Mama Denny yang kini sudah berlari menghambur ke dalam pelukan puteranya.

“Astaga, akhirnya kamu pulang sayang. Mama kangen kamu, papa juga pasti kangen sama kamu. Tapi dia terlalu keras kepala untuk mengakuinya.” Denny tersenyum.

“Aku juga kangen Mama, Papa, Clarista, dan juga rumah ini,” sahutnya.

“Kalau begitu jangan pergi lagi.” Rajuk Clara yang masih memeluk erat tubuh puteranya. Cukup lama keduanya saling berpelukan melepas rindu, hingga kemudian Clara menyadari jika Denny tidak pulang sendiri. Dilepaskannya pelukan Denny kemudian Clara melirik ke arah sosok gadis yaang berdiri menundukkan kepalanya tepat di belakang puteranya.

“Kamu, kamu bawa teman?” tanya Clara yang sat ini sudah mengamati Aira dari ujung rambut hingga ujung kaki gadis tersebut.

“Iya, aku nggak pulang sendiri, Ma.” Jawab Denny.

Clara tersenyum menuju ke arah Aira. “Hei, siapa namamu?” tanya Clara mencoba mengakrabkan diri.

“Aira tante,” jawab Aira dengan malu-malu. Ini pertama kalinya bertemu orangtua kekasihnya. Kekasih?, entah apa hubungan mereka yang jelas Aira dan Denny sudah terlampau jauh mengenai hubungan mereka. Aira bingung harus bersikap bagaimana.

“Wah, nama yang cantik secantik orangnya,” puji Clara. Pipi Aira memerah.

“Aku membawanya kesini untuk mengenalkannya dengan mama, papa dan juga Cla.”

“Oh ya? Wah, kalian pasti sangat dekat sekali.” Clara terlihat bahagia.

“Bukan hanya dekat, Ma.” Jawab Denny yang kini sudah meraih telapak tangan Aira kemudian menggenggamnya erat-erat.

“Aku akan menikahinya.” Kalimat terakhir Denny membuat Clara ternganga tak dapat menutup mulutnya. Begitupun dengan Aira yang sudah melebarkan matanya  karena kalimat terakhir yang diucapkan oleh Denny. Bukannya Aira tidak mau, tapi masih terlalu bingung dengan kenyataan di sekitarnya.

Bahwa Denny bukanlah sosok yang selama ini ia kenal. Denny bukanlah pria biasa dengan penampilan sederhananya. Nyatanya Denny adalah pria kaya raya yang mungkin saja memiliki banyak sekali rahasia yang Aira tidak tahu. Pria itu pandai sekali menyembunyikan jati dirinya. Bisa jadi pria itu juga banyak menyembunyikan rahasia masa lalunya.

Menikah? Apa Denny sedang bercanda?.

-TBC-

Advertisements

Love Between Us – Chapter 10 (Kamu Milikku)

Comments 7 Standard

14222347_1441992722483939_834886626361997697_nLove Between Us

PART 10 – KAMU MILIKKU

Luka itu akhirnya mengangga kembali. Aira berusaha untuk menutupnya namun pada akhirnya merasakannya lagi. Kesakitan dikhianati dan dipermainkan oleh cinta. Dengan tubuh yang basah ia menangis seorang diri di dalam kamar. Hatinya sangat berharap pada Denny. Namun pada akhirnya kekecewaanlah yang didapatnya. Dibutakan oleh sikap pria itu yang berbeda namun nyatanya sama saja seperti Wisnu.

Air matanya tak bisa berhenti meskipun mencobanya. Duduk memeluk lutut ditepi ranjang. Derasnya hujan menyamarkan suara tangisannya. Zeeva dan Rizky yang ada dibalik pintu tidak bisa berbuat apa-apa. Istrinya meminta untuk memberi Aira ruang menenangkan diri. Dan Rizky menerima usulnya. Ia tidak mau Aira semakin sedih melihatnya dicampakkan oleh pria kembali.

“Apa tidak apa-apa, Aira sendirian?” Rizky sangat khawatir.

“Aira sudah dewasa, Rizky. Kita tidak tau pasti apa masalah mereka.” Zeeva merangkul lengannya.

“Aku tidak mau putriku tersakiti lagi. Aku akan..” telunjuk Zeeva menekan bibirnya.

“Jangan mengancam dan berbuat sesuatu kepada orang lain. Aku tidak suka kekerasan atau apa pun itu. Kita tunggu sampai Aira tenang dan menjelaskannya pada kita.” Rizky menghela napas gusar.

“Bagaimana kalau Aira tidak mau cerita?”

“Untuk apa kamu punya anak buah yang selalu mengikuti Denny?” mata Rizky melebar.

“Bagaimana kamu tau?” Zeeva malah mengedipkan matanya.

“Aku tau segalanya tentangmu,” bisiknya ditelinga Rizky. Suaminya mendesah panjang.

“Apa bisa kita lanjutkan dikamar?”

“Dalam kondisi seperti ini?” Zeeva terperangah.

“Kata mu Aira butuh waktu sendiri. Kita pun butuh waktu berdua, sayang,” ucapnya gemas.

“Baiklah,” Zeeva berpura-pura pasrah. Rizky mencium pipinya lembut sebelum menariknya ke kamar.

***

Dengan mata sembab ia berdiri dan berjalan mendekat ke jendela membuka sedikit gorden. Disana Denny masih berdiri dengan tatapan kosong. Deraian air mata Aira semakin deras seperti hujan yang turun dari langit. Melihat pria itu tak bergerak sedikit pun. Rasa sesak memenuhi dadanya.

Kenapa harus Denny yang menyakitinya?. Apa semua kesalahan berasal dari kekayaannya?.

Andai saja.. Andai saja ia gadis biasa mungkin Denny tak akan menyakitinya. Dinda memamerkan prianya sedang berbelanja ditemani gadis yang bergelayut mesra. Kejadian ini terulang lagi ketika ia bersama Wisnu dulu.

“Kenapa kamu sama seperti Wisnu, Denny. Harapanku terhadapmu sudah terlampau jauh tapi kenapa kamu sama saja dengan pria brengsek itu!” racaunya seraya menutup gorden itu kasar. Aira tidak mau melihat tampang Denny lagi!. Ia tidak mau mengenal pria itu lagi.

Aira melepaskan pakaiannya yang basah. Ia naik ke bathup yang terisi air hangat. Ia duduk menopang dagu dilututnya. Suhu tubuh yang tadinya dingin kini menghangat. Sesekali air matanya jatuh.

Aira mencintai pria itu..

Ia meraup air dengan kedua tangannya lalu mengusap ke wajah. Memejamkan mata berharap ini semua mimpi belaka. Mencoba menepis kerisauan yang menerpanya. Setengah jam berlalu, suhu air sudah berubah dingin. Aira mengambil di sisi pinggir bathup handuk dan berjalan ke walkin closet. Ia menarik gaun tidur sembarang sehingga gaun lainnya berhamburan dari dalam lemari. Aira tidak punya tenaga untuk merapihkannya, malah membiarkannya berantakan. Ia mengenakan gaun berwarna putih itu lalu naik ke atas ranjang. Merebahkan tubuhnya yang lemas. Rambutnya basah mengenai bantal. Dan ia menangis kembali, hatinya hancur berkeping-keping.

***

Denny pulang dengan langkah gontai. Aira memutuskan hubungan mereka? Kenapa bisa? Bukankah hubungan mereka baik-baik saja kemarin? Apa yang terjadi dengan gadis itu?. Pikirannya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar membuatnya pusing. Ia bahkan tak mempedulikan pakaiannya yang kini basah kuyub karena kehujanan.

Yang ia pikirkan kini hanyalah hatinya. Hatinya terasa berdenyut sakit. Bahkan lebih sakit saat ini daripada dulu ketika ia mendapati hubungannya dengan Adelia putus.

Aira… Apa yang terjadi denganmu? Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku begitu kesakitan saat kamu meninggalkanku?

***

Paginya Zeeva memeriksa keadaan Aira. Gadis yang dianggapnya masih kecil itu sedang bersedih. Aira menceritakan semuanya. Walaupun hati kecil Zeeva tidak percaya jika Denny sama dengan Wisnu. Ia tetap memberi pengertian dan membuat Aira tidak patah hati terlalu dalam.

“Mama tau bagaimana sakitnya perasaan kamu. Tidak ada penjelasankah dari Denny?” tangan mengusap kepala Aira yang ada dipangkuannya.

“Aku nggak mau mendengarnya lagi, ma!. Hatiku terlanjur sakit. Penjelasannya nanti nggak akan merubah apapun yang ada dia hanya akan membuat alasan dan alasan lagi.” Ia kesal mengingat foto-foto itu. “Ma, apa semua pria seperti itu?.”

“Apa ayahmu seperti itu?” kepalanya menggeleng. “Tidak semua seperti itu, sayang. Pria matre memang tidak wajar tapi ada. Kamu akan bertemu berbagai macam sifat pria yang berbeda-beda. Dan kamu akan merasakan sakit sebelum kamu bertemu dengan yang tepat.”

“Aku nggak mau bertemu dengan pria mana pun lagi!” bibirnya berdecak.

“Hush! Kalau bicara sembarangan!. Kalau begitu bagaimana mama mau punya cucu!” Zeeva pura-pura marah, Aira terkikik. Hatinya merasa lega Aira masih bisa tertawa.

“Aku cuma nggak mau kecewa lagi, ma,” Aira bangun lalu duduk menatap Zeeva.

“Banyak pria diluar sana yang baik, sayang.” Nasehat Zeeva sembari mengusap pipi putrinya.

“Aku ingin yang seperti ayah,” lirihnya pelan.

Zeeva tersenyum, “Mama doakan kamu mendapatkan jodoh yang seperti ayah. Baik, tampan dan yang paling utama setia.”

“Ayah setia?” tanyanya seperti meledek.

“Tentu saja!” tukas Zeeva. “Ayah mu dulu sebelum mengenal mama tidak kaya seperti sekarang.”

“Kenapa mama mau sama ayah yang nggak kaya?”

“Mama melihat hatinya,” Zeeva teringat untuk pertama kali berjumpa dengan Rizky disekolah sewaktu Aira kecil. Ia terpana akan kehidupan Rizky jalani. Kekurangan harta bukan berarti hidup akan berhenti. Rizky yang seorang duda dengan ekonomi yang minim berani melamarnya karena gosip yang beredar. Pria itu ingin melindunginya dari terpaan gosip yang miring.

“Mama sangat mencintai ayah ya,” celetuk Aira.

“Sangat,” Zeeva memeluk Aira. “Suatu hari nanti mama berharap kamu menemukan seseorang yang bisa membuat mu bahagia disetiap detiknya.” Dalam hati ia berdoa agar putrinya bisa mengecap bagaimana dicintai oleh pasangan hidupnya nanti.

“Terimakasih, ma.” Aira mengusap punggung Zeeva. “Aku menyayangi mama,”

“Mama juga, sayang.” Balasnya.

Rizky tidak menanyakan apapun pada Aira tentang semalam. Walaupun raut kesedihan itu masih tersisa Aira menutupinya dengan keceriaan. Ia tidak mau keluarganya mengkhawatirkannya. Bodoh jika ia membebani kepada orangtuanya. Rizky sudah memperingatkannya.

“Aira, nanti siang kamu bisa melihat tempat untuk cafe mu.” Rizky telah menyetujui Aira membuka sebuah cafe. Itu adalah cara agar Aira tidak terpuruk karena cinta.

“Iya, yah. Nanti siang aku akan melihat tempatnya.” Aira mengangguk patuh.

“Ya sudah lanjutkan sarapannya.” Zeeva berterimakasih kepada Rizky karena tidak memgungkit masalah Aira.

***

Ini sudah dua minggu setelah keadaan malam itu. Hubungan Denny dan Aira masih sama. Bukannya ia tidak mencari tahu. Denny tentu tak berhenti menghubungi Aira, meminta penjelasan pada gadis itu. Tapi Aira tak pernah sekalipun mengangkat telepon darinya atau membalas pesan-pesannya.

Ia juga beberapa kali menemui Aira secara langsung. Tapi gadis itu selalu memiliki alasan untuk menolak bertemu dengannya. Aira bahkan seakan menyibukkan diri dengan cafe baru miliknya. Jika sudah seperti itu, Denny tidak dapat memaksa.

Sore ini, Denny berencana untuk kembali menemui Aira. Tapi ketika sampai di rumah Aira, gadis itu malah pergi. Dan ia memutuskan untuk mengikuti kemanapun gadis itu pergi.

Mobil Aira ternyata masuk kedalam area sebuah gedung besar, mungkinkah itu kantor ayah Aira? Yang dapat Denny lakukan saat ini adalah menunggu.

Tak lama. Terlihat Aira keluar sendiri dari dalam mobil tersebut, kemudian masuk ke dalam gedung. Ia sedikit menyunggingkan senyuman miring yang hampir tak penah terukir di wajahnya ketika sebuah ide melintas di kepalanya.

Jika Aira tidak ingin bertemu dengannya, kenapa ia tak memaksanya saja?. Akhirnya Denny melakukan apa yang sedang berada dalam pikirannya.

Denny menghampiri mobil Aira. Benar saja, di sana ada Indra pengawal Aira yang setia menemani kemanapun gadis itu pergi. Denny mengetuk kaca jendela mobil Aira. Indra akhirnya menurunkan kaca mobilnya.

“Loh, Mas Denny kok di sini?”

“Iya, saya. Umm, begini mau ngasih kejutan sama Aira.”

“Kejutan apa Mas?”

“Kamu mau bantu nggak?”

Indra tampak mengerutkan keningnya, “bantu apa Mas?”

“Ngasih kejutan sama Aira.”

“Kejutan apa?”

“Begini, Aira kan nggak tahu kalau saya nyusul dia ke sini. Nah, saya akan gantiin posisi kamu buat nganterin kemanapun dia pergi hari ini. Kamu, tolong bawa kembali motor saya pulang ke rumah Aira.”

“Ah, nggak Mas, nanti pak Rizky marah.”

“Saya yang tanggung kalau pak Rizky marah.”

“Tapi mas, ini kan namanya melalaikan tugas. Saya bisa di pecat, mas.” Denny mendengus kesal. Sial!!! Si Indra benar-benar tidak bisa di ajak kompromi. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya kemudian memberikannya pada Indra.

“Itu kartu nama asli saya, kalau kamu di pecat, datang ke kantor ayah saya. Bilang saja saya yang menyuruh dan merekomendasikan kamu sebagai pengawal adik saya.”

Indra tampak terperangah menatap kartu nama tersebut. Denny Handoyo, CEO Handoyo Group? Indra tidak mengerti apa yang terjadi. Jika dilihat dari kartu namanya, Denny bukanlah orang biasa. Dapatkah ia mempercayainya?. Berulang kali ia menatap kartu nama itu dan Denny.

“Indra? Saya nggak punya banyak waktu!. Cepat keluar dan biarkan saya masuk menggantikan kamu. Kamu nggak perlu mengkhawatirkan Aira. Saya nggak akan menyakitinya. Lagi pula, kamu sudah tahu siapa saya yang sebenarnya. Jadi cepat keluar dan biarkan saya masuk sebelum Aira melihat saya.”

Indra yang memang tak tahu menahu tentang hubungan mereka yang sudah putus. Waktu Aira menyatakan putus Indra sedang libur. Akhirnya mengikuti apa yang dikatakan Denny. Secepat kilat Denny memasuki mobil Aira ketika Indra sudah keluar dari mobil tersebut. Ia mengeluarkan kunci motornya lalu memberikannya pada Indra.

“Bawa motorku pulang ke rumah Aira.” Dan Indra hanya menganggukkan kepalanya patuh.

Denny menghela napas lega, akhirnya dapat masuk ke dalam mobil Aira. Kini saatnya mencari cara untuk mengelabui gadis itu. Denny mencari-cari sesuatu di dalam dasboard mobil Aira dan hanya mendapatkan sebuah surat kabar harian. Ahh mungkin ini cukup untuk menutupi wajahnya sementara. Pikirnya.

Tak berapa lama gadis yang berada dalam pikirannya itu masuk begitu saja ke dalam mobil tersebut. Jantung Denny berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Ia melirik kearah kaca dihadapannya untuk melihat Aira dari bayangan kaca.

Gadis itu duduk di jok belakang dan tampak sibuk dengan tas yang di bawanya dengan sesekali menggerutu. Aira bahkan sama sekali tak memperhatikannya, dan itu membuat Denny senang. Tanpa aba-aba, ia menjalankan mobil begitu saja dan itu membuat Aira memekik karena terkejut.

“Indra, aku belum bilang kita mau…” Aira tak dapat melanjutkan kalimatnya ketika mengetahui siapa yang sedang mengemudikan mobilnya.

“Kamu? Kenapa kamu ada disini?!”

“Maaf Aira, tapi sepertinya kita harus bicara.”

“Nggak!! Berhenti!!!” teriak Aira.

“Aku nggak mau menghentikan mobilnya.”

“Denny, berhenti atau..”

“Atau apa?” tantang Denny. “Kumohon, sekali ini saja, ikutlah bersamaku. Setelah ini, aku janji nggak akan mengganggumu. Ada yang ingin aku sampaikan.”

“Apa? Kenapa nggak di sini saja?

“Nggak, aku nggak bisa mengatakannya di sini.” Aira hanya menghela napas dengan kesal. Ia kesal dengan Denny, ia kesal dengan dirinya sendiri yang nyatanya sampai saat ini tak dapat melupakan pria di depannya.

***

Sampai di tempat tujuan, Denny keluar dari dalam mobil Aira. Membukakan pintu untuk Aira lalu mengganggam pergelangan gadis itu dan mengajaknya masuk ke dalam sebuah gang.

Ternyata Denny sengaja mengajak Aira ke dalam rumah kontrakannya. Membicarakan semuanya dengan kepala dingin, begitulah yang direncanakan Denny.

“Lepaskan tanganku, lepaskan!!!” Aira meronta. Tapi Denny seakan menulikan telinganya. Ia harus meminta penjelasan pada Aira. Gadis itu tak boleh meninggalkannya begitu saja. Meninggalkannya setelah mencuri hatinya.

Sesampainya di dalam rumah kontrakan Denny, dengan sekuat tenaga Aira menghempaskan cekalan tangan Denny hingga terlepas dari pria tersebut.

“Apa yang kamu lakukan? Kenapa membawaku kemari?” tanya Aira dengan nada yang dibuatnya ketus.

“Aku hanya ingin meminta penjelasan darimu, Aira.” Lirih Denny sambil kembali menggenggam pergelangan tangan Aira.

“Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi. Kita sudah nggak memiliki hubungan apapun, Denny!” jawab Aira, kini sudah melepaskan paksa genggaman tangan Denny. Aira berbalik dan akan keluar dari rumah kontrakan Denny, tapi secepat kilat Denny kembali menarik tangannya. Memaksa Aira kembali menatap ke arahnya.

“Kamu nggak boleh pergi meninggalkanku, Aira. Nggak saat ini, ketika kamu membuatku nggak bisa berpaling darimu,” desis Denny dengan nada dinginnya.

Aira membuka bibirnya ingin menjawab perkataannya. Tapi secepat kilat Denny menyambar bibir mungil Aira, melumatnya dengan penuh rasa frustasi. Oh, Denny benar-benar frustasi terhadap Aira. Beberapa minggu ini gadis itu benar-benar membuatnya gila karena penolakannya dan menghindarinya. Itu benar-benar membuat Denny semakin menginginkan Aira.

Aira sendiri meronta ketika Denny menciumnya. Ia sebenarnya sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Denny. Aira dapat kembali menguasai dirinya dari rasa keterkejutannya. Sekuat tenaga ia mendorong dada Denny kuat-kuat, hingga pria itu menjauh dan melepaskan lumatannya.

“Apa yang kamu lakukan?!!” teriak Aira pada Denny.

Tapi bukannya menyesal dan meminta maaf. Denny malah kembali mendekat ke arah Aira, menangkup kedua pipi Aira dan kembali melumat kembali bibir ranum gadis tersebut.

Aira kembali memukul-mukul dada Denny, tapi kemudian pergelangan tangannya di cekal oleh Denny. Ia mendorong sedikit demi sedikit tubuh Aira ke belakang hingga membentur dinding. Sedangkan kedua tangannya masih mencekal dengan kuat kedua pergelangan tangan Aira.

Aira tak berdaya, yang bisa dilakukannya hanyalah pasrah. Denny, kenapa pria ini memperlakukannya seperti ini?. Denny seperti orang lain.

Ketika Aira sudah tak lagi melawan, Denny melonggarkan cekalan tangannya. Ia tentu tak ingin menyakiti Aira, tapi di sisi lain juga tak ingin gadis itu pergi darinya.

Denny melepaskan lumatannya ketika menyadari napas Aira sudah terputus-putus. Ia masih menunduk, menempelkan keningnya pada kening Aira. Bibirnya masih dekat dengan bibir Aira, sedangkan matanya tak berhenti menatap mata Aira yang sudah berkaca-kaca

“Jangan pergi,” ucap Denny dengan suara serak. Tanpa di duga, ia mengangkat tubuh Aira menggendongnya masuk ke dalam kamarnya.

“Kenapa kamu membawaku kemari?” tanya Aira dengan wajah bingung.

“Maaf, tapi aku harus melakukannya.” Denny sambil menurunkan Aira di atas ranjangnya.

“Melakukan apa?”

“Melakukan sesuatu supaya kamu nggak lagi pergi meninggalkanku.” Aira tak dapat menjawab lagi ketika tiba-tiba Denny mendorongnya hingga telentang di atas ranjang lalu menindihnya

“Denny, jangan lakukan ini!” ucap Aira dengan suara sedikit bergetar ketika bibir basah Denny mulai menyapu permukaan kulit lehernya.

Denny tak lagi menghiraukan Aira. Ia bahkan sudah memberanikan diri membuka pakaian gadis yang kini berada dibawahnya tersebut. Melucutinya tanpa meninggalkan cumbuannya pada permukaan kulit Aira. Aira sendiri hanya bisa pasrah. Otaknya menolak, tapi tidak dengan tubuhnya.

Aira bahkan tak menyadari jika dirinya sesekali mendesah saat Denny menyentuh titik-titik sensitifnya. Setelah dirasa cukup lama menggoda Aira hingga gadis itu tak berdaya dibawah tindihannya tanpa sehelai benangpun. Denny bangkit, lalu mulai melucuti dirinya sendiri hingga kini sama-sama polos.

Denny kembali menindih Aira. Jemarinya terulur mengusap bibir Aira yang sedikit merah karena lumatan panasnya tadi. Lalu merayap naik, mengusap sudut mata Aira yang sudah basah karena air mata.

“Jangan menangis,” ucap Denny dengan suara parau.

“Kumohon, jangan lakukan ini.” Aira benar-benar memohon. Ia tak bisa melakukan hal ini. dirinya bukanlah wanita yang dididik sembarangan. Ia tak ingin mahkotanya direnggut oleh seseorang yang bukan berstatus sebagai suaminya. Aira tak ingin itu terjadi. Tapi di sisi lain, tubuhnya tak dapat lagi menolak sentuhan Denny. Ia ingin pria itu memilikinya, mengikatkan diri menjadi miliknya. Bagaimana dengan kekasih Denny yang lainnya?.

“Maaf, aku nggak bisa berhenti di sini.” Denny sambil kembali melumat bibir Aira. Menggodanya hingga Aira tak mampu lagi menolaknya.

Masih dengan mencumbui Aira, Denny mencoba menyatukan diri dengan gadis di bawahnya. Sangat sulit, tentu saja, karena Denny yakin jika ini yang pertama kalinya untuk Aira. Denny akan bersikap selembut mungkin, memperlakukan Aira semanis mungkin, hingga gadis itu tak akan melupakan momen pertama mereka.

“Aku akan memulainya.” Denny dengan suaara yang sudah serak ketika hampir menyatu dengan Aira. Gadis itu menggelengkan kepalanya. Ia takut, tentu saja. Ini pertama kali untuknya, tapi lebih dari itu ketakutan Aira hanya satu, yaitu takut jika nanti Denny akan meninggalkannya setelah sudah mendaptkan apa yang pria itu mau.

“Aira, tatap aku,” ucapnya lagi.

Aira menuruti apa yang dikatakan Denny. Matanya menatap tepat pada manik mata Denny juga menggigit bibir bawahnya seakan menunjukkan ketidak nyamanannya.

“Setelah ini, kamu akan menjadi milikku. Jangan ragukan aku lagi. Aku melakukannya karena aku nggak mau kamu pergi meninggalkanku. Jangan tinggalkan aku Aira… jangan tinggalkan aku.” Denny memeluk tubuh Aira, menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher Aira, sedangkan yang dibawah sana sudah bergerak mendesak, menyatu dengan tubuh Aira.

***

Denny masih menatap dalam diam punggung telanjang Aira di hadapannya. Aira meringkuk memunggunginya. Gadis dihadapannya itu masih terisak karena ulahnya. Terlihat dengan jelas beberapa bekas gigitannya dipundak Aira yang memerah. Denny benar-benar merasa jika dirinya sudah gila. Bagaimana mungkin ia memaksa Aira bercinta dengannya.

“Aira…” panggil Denny sembari merengkuh tubuh Aira untuk masuk dalam pelukannya.

“Jangan sentuh aku!!!” teriak Aira dengan kembali menjauh dari rengkuhan lengan Denny.

“Maafkan aku. Aku melakukan semua ini supaya kamu nggak ragu dan meninggalkanku lagi.”

“Apa kamu tahu? Aku membencimu. Kamu salah, aku semakin ragu kalau kamu adalah pria baik-baik. Aku membencimu!!”

“Kumohon Aira, jangan seperti ini. Kita bisa bicara baik-baik.”

“Nggak!!! Aku nggak mau bicara dengan pria sepertimu. Pria yang memiliki banyak kekasih. Pria yang melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang kamu mau!”

Denny mengerutkan keningnya, dengan cepat ia membalikkan tubuh Aira hingga menghadap sepenuhnya ke arahnya.

“Aira, kamu ngomong apa? Aku nggak ngerti.”

“Nggak ngerti? Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu memang berniat mendekati gadis-gadis kaya untuk mengeruk hartanya?. Sudah berapa gadis yang menjadi mangsamu, huh?” Denny menajamkan matanya ke arah Aira ketika mendengar kalimat penghinaan dari wanita dihadapannya tersebut.

“Siapa yang memberimu informasi murahan itu?” desis Denny.

“Kamu nggak perlu tahu, yang pasti aku sudah tahu kebusukanmu.”

“Aira dengar, aku mendekatimu bukan karena kekayaanmu. Lagi pula bukannya saat itu kamu yang mendekatiku lebih dulu?”

Aira merona malu saat mengingat jika memang benar dirinyalah yang dulu menempel pada Denny. Padahal pria itu sudah bersikap dingin dan cuek terhadapnya.

“Aku nggak peduli!!. Pokoknya aku nggak mau berhubungan dengan pria sepertimu lagi.” Aira dengan nada merajuk manjanya.

“Aira, kamu hanya belum mengenalku. Aku akan menceritakan semuanya padamu, tapi kumohon percayalah. Kalau semua ini nggak ada hubungannya dengan kekayaan yang dimiliki keluargamu.” Ada jeda sebentar, Denny menelan ludahnya dengan susah payah.

“Aku…  Aku benar-benar mencintaimu. Dan itu bukan karena hartamu atau apapun itu. Yang membuatmu berpikiran buruk tentangku. Aku mencintaimu karena itu ‘kamu’.” Perkataan Denny membuat Aira tersipu-sipu seketika.

Kenapa Denny mengatakan kalimat semanis itu?.

Ya ampun, ingin rasanya Aira meneriakkan kalimat ‘JANGAN MERAYUKU’ pada Denny. Tapi sungguh, perkataan pria itu bukan terdengar sebagai rayuan di telinganya. Ucapan Denny terdengar seperti sebuah ungkapan seseorang yang benar-benar tulus.

 

Apakah Denny benar-benar tulus mencintainya?

-TBC-

Love Between Us – Part 9 (Putus)

Comments 5 Standard

14222347_1441992722483939_834886626361997697_nLove Between Us

Banyak typo.. mohon maklum…!!!

Chapter 9

-Putus-

Jam makan siang akhirnya tiba juga. Denny menghela napas panjang. Dengan cepat ia mencari-cari keberadaan ponselnya di meja kerja. Denny ingin menghubungi Aira, semalaman gadis itu tidak mengangkat telepon darinya. Bahkan tadi pagi pun sama. Apa yang terjadi dengan gadis itu??.

 

Denny mencoba menghubungi Aira kembali, tapi nyatanya gadis itu lagi-lagi tidak mengangkat telepon darinya. Dengan sedikit lemas ia berdiri kemudian keluar dari ruang kerjanya untuk makan siang.

 

Di dalam lift, Denny bertemu dengan Vita dan tiga orang teman wanitanya. Para wanita itu menampilkan senyuman aneh mereka pada Denny. Vita memang selalu di gosipkan dekat dengannya, maka tak heran jika teman-teman wanita Vita saat ini sesekali mendorong-dorong tubuh Vita supaya lebih dekat dengan Denny.

 

“Hai..” Hanya itu yang dapat di katakan Denny untuk menyapa Vita dan teman-temannya.

 

“Hai juga, mau makan siang?”

Denny hanya menganggukkan kepalanya.

 

“Cuma mau cari kopi.” tambahnya.

 

“Emmm, boleh ikut?” Tanya Vita yang secara tak langsung menawarkan dirinya untuk menemani Denny.

 

“Boleh, lebih ramai lebih bagus,” jawab Denny sambil melirik arah teman-teman Vita.

 

“Sorry, sepertinya kami nggak ikut, takut ganggu,” Ucap salah seorang teman Vita.

 

“Kalian nggak ganggu kok, malah enak kalau ramai-ramai.” Jawab Denny cepat. Jujur saja, sebenarnya ia merasa tak nyaman jika harus berdua dengan Vita. Entahlah, Denny hanya tidak ingin membuat wanita itu berharap lebih padanya.

 

Pintu lift akhirnya terbuka ketika sampai di lobi. Denny keluar bersama dengan Vita dan tiga orang teman wanitanya, mereka masih sedikit berdebat karena tidak ingin ikut makan siang bersama Denny dan Vita. Hingga kemudian, mata Denny menatap sosok gadis cantik yang sudah berdiri sambil menatapnya.

 

“Aira..” Ucap Denny spontan. Ia berjalan cepat menuju ke arah Aira. Denny benar-benar tidak menyangka jika Aira mengunjunginya lagi ke kantor tempatnya bekerja.

 

“Hai.. Kenapa kamu nggak mengangkat telepon dariku? Ada masalah??” Bukannya menjawab, Aira malah sibuk menatap beberapa wanita di belakang Denny yang kini juga ikut menuju ke arahnya.

 

“Siapa mereka?” Tanya Aira langsung.

 

Denny mengangkat sebelah alisnya saat mengamati ekspresi kesal yang tampak jelas di wajah Aira. Ia kemudian menoleh ke belakang dan mendapati Vita dengan tiga orang temannya tadi.

 

“Ohh… mereka teman kerjaku,” Aira hanya diam, tidak menanggapi jawaban darinya. Aira lebih memilih mengamati para wanita yang kini sudah berdiri tepat di sebelah kekasihnya itu.

 

“Denn, kita jadi makan siang bareng?” Tanya Vita yang tanpa canggung lagi menepuk bahu Denny.

 

“Emmm.. maaf Vit, sepertinya kita nggak jadi makan siang bareng.” Jawab Denny sambil melirik ke arah Aira.

 

“Ohh, kamu makan siang sama dia? Adik kamu?” tanya Vita lagi.

 

Denny tersenyum, kemudian tanpa ragu lagi ia menggenggam telapak tangan Aira. “Dia pacarku Vit,” jawab Denny. Untuk pertama kalinya pagi itu Aira dapat menyunggingkan senyuman bahagia.

 

Siang ini Aira memang sengaja menemui Denny. Setelah semalaman galau karena memikirkan suara siapakah yang ia dengar saat menelepon Denny. Semalam Denny mencoba menghubunginya, pagi inipun entah sudah berapa kali Denny mencoba meneleponnya, tapi Aira memutuskan untuk tidak mengangkatnya. Aira tidak ingin rasa kesalnya ditumpahkan pada Denny begitu saja. Padahal ia belum tahu masalahnya. Maka dari itu, siang ini juga Aira ingin meminta penjelasan secara langsung pada Denny.

 

Rasa kesal Aira semakin menjadi-jadi saat melihat Denny dekat dengan beberapa wanita teman kerjanya itu. Tapi kemudian, semua rasa kesal itu hilang begitu saja. Saat Aira mendengar pengakuan Denny pada teman-teman wanitanya jika ia adalah kekasih dari pria tersebut.

 

“Ohhh jadi, kamu sudah punya pacar?” tanya Vita dengan nada tidak percayanya.

Denny mengangguk dengan pasti.

 

“Ya, ini Aira, pacarku.” Ucap Denny sekali lagi penuh dengan penegasan. Ohh, jangan ditanya lagi betapa bahagianya hati Aira mendengar ucapan Denny. Ia tidak menyangka jika Denny bisa berbuat semanis ini terhadapnya.

 

“Emm.. baiklah kalau begitu kita makan diluar duluan.” Ucap Vita dengan cepat, lalu pergi begitu saja. Wajah memerahnya, di ikuti dengan tiga orang temannya tadi.

 

Setelah kepergian Vita dan teman-temannya, Denny kembali menatap Aira, masih menggenggam tangan Aira. Dengan canggung ia melepaskannya.

 

“Ada masalah? Kenapa kamu nggak mengangkat telepon dariku?”

 

“Aku mau minta penjelasan dari kamu.” Ucap Aira dengan nada yang dibuat merajuk.

 

“Penjelasan apa??”

 

“Kita bahas di luar saja,” jawab Aira. Denny hanya mampu menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan gadis manja di hadapaannya.

 

***

 

Di sebuah cafe yang tidak jauh mereka duduk berhadapan. Denny memesankan milkshake kesukaan Aira sedang dirinya secangkir espresso. Aira sudah tidak sabar mendengar penjelasan dari Denny. Hatinya menuntut Denny untuk jujur. Ia tidak mau dibohongi lagi oleh seorang pria. Ya, pria brengsek seperti Wisnu. Menyebutkan namanya saja Aira sudah muak.

 

“Siapa dia Denny? Siapa wanita itu?” pertanyaan Aira membuat Denny menatapnya sembari menyunggingkan senyumannya.

 

Aira cemburu, Denny tahu itu.

 

Denny sudah menduga pasti Aira akan berburuk sangka karena mendengar suara gadis lain di sambungan telepon kemarin. Ia menjelaskan permasalahannya, nyatanya Aira hanya salah paham saat tidak sengaja mendengar suara Clarista tadi sore. Denny tahu itulah sebabnya Aira tidak mau mengangkat telepon darinya.

 

“Kamu cemburu?” tanya Denny sedikit memancing reaksi Aira.

 

“Kamu belum menjawab pertanyaanku, siapa wanita yang tadi sore berbicara saat di telepon.”

 

“Namanya Clarista, dia adikku,” Aira menyipitkan matanya ke arah Denny.

 

“Kamu nggak lagi bohong kan? Kamu nggak pernah cerita kalau kamu punya adik!”

 

“Karena kamu nggak pernah tanya tentang keluargaku.” Aira mengerucutkan bibirnya.

 

“Aku masih nggak percaya sebelum ada buktinya.” Denny mencubit gemas pipi Aira.

 

“Aku akan mengenalkanmu dengan dia nanti,”

 

“Kamu janji?”

 

“Ya, aku janji. Tapi jangan marah lagi ya,” Aira menunduk malu, senyumnya terukir begitu saja. Pipinya merah merona karena perlakuan manis dari Denny. Sejak kapan pria dingin dan datar di hadapannya ini berubah menjadi pria yang manis seperti saat ini?.

 

“Oke, aku nggak marah. Tapi aku mau nanti malam kamu datang ke rumah. Kita akan makan malam bersama dengan Ayah dan Mamaku.”

 

“Kamu yakin? Ku pikir ayahmu masih nggak menyukaiku,”

 

“Dia bukannya nggak menyukaimu, tapi dia belum mengenalmu. Kamu mau kan makan malam bersama kedua orang tuaku?” Denny menganggukkan kepalanya.

 

“Ya, tentu aku mau.” Keduanya saling tersenyum satu sama lain, merasakan hati masing-masing yang sama-sama terasa berbunga-bunga.

 

***

Aira mampir ke salah satu butik mamanya, Zeeva. Ia ingin merayu Zeeva untuk memberikannya sebuah gaun malam yang bagus. Aira ingin tampil menawan di depan Denny nanti malam. Untuk kecantikan Aira tidak diragukan lagi. Gadis tinggi semampai itu sangat merawat dirinya.

 

“Mama ada?” Tanyanya pada karyawan Zeeva ketika hendak masuk ke ruangan Mamanya.

 

“Ibu Zeeva ada di dalam, mbak Aira.” Jawab karyawan itu. Aira membuka pintu Zeeva sedang menulis sesuatu di sebuah kertas.

 

“Ma,” sapa Aira menghampirinya. Ia mencium pipi Zeeva.

 

“Ada apa sayang?” Zeeva berdiri membawa Aira menuju sofa. Ia meninggalkan pekerjaannya sebentar.

 

“Ma, aku boleh meminjam salah satu gaun malam koleksi mama nggak?” Aira menggunakan kata ‘meminjam’ itu hanya sebuah alasan. Tidak mungkin kan Zeeva menjual gaun bekas pakai. Aira merayu sang mama untuk mendapatkan sebuah gaun. Rizky sudah mewanti-wanti untuk tidak menghamburkan uang. Ayahnya, bukan pelit tapi Aira harus belajar menghemat. Gayanya yang dulu selalu tampil modis membuat para pria hanya memanfaatkan kekayaannya saja. Rizky tidak mau itu terulang lagi. Siapapun yang menyakitkan putrinya akan berurusan dengannya.

 

“Ambilah gaun yang kamu inginkan. Mama tidak akan bilang ke ayah,” Zeeva mengusap pipi Aira.

 

“Janji?”

 

“Iya, mama janji. Sudah sana pilih gaun yang kamu suka, mama mau kerja lagi.” Zeeva mencium pipi Aira yang kegirangan.

“Nanti pulangnya kita bareng kan, ma?” Aira berdiri.

 

“Iya, mama tau ini hari bahagia kamu kan. Ayah mengajak Denny itu undangan yang sangat langka. Nanti kita persiapkan makan malamnya berdua ya,” anggukan Aira semangat sekali. Ia kembali mencium pipi Zeeva.

 

“Aku sayang mama,” ucapnya sebelum melangkah pergi. Aira bergegas mencari gaun yang pas untuk nanti malam. Di bantu karyawan Zeeva, Aira sibuk menjajal gaun satu persatu. Dari gaun yang sederhana sampai gaun yang menampilkan punggungnya. Aira meringis membayangkan jika ayahnya melihatnya. Rizky pasti tidak suka dan menceramahinya. Ayahnya terlalu over protektif kadang membuatnya sebal.

 

Pilihannya jatuh pada gaun biru laut tidak berlengan. Ia sangat menyukai gaun itu. Hatinya sedang bahagia sekali. Aira senyum-senyum sendiri sampai karyawan yang menemaninya melihatnya aneh. Aira sedang jatuh cinta. Rasa bahagianya meluap menimbulkan pancaran binar senang.

***

 

Pukul 15.30 WITA Aira dan Zeeva mempersiapkan menu untuk makan malam. Aira sangat tidak sabar menunggu malam. Zeeva sampai tertawa saat Aira membantunya memasak. Tak luput dari penglihatannya Aira bersin dan meneteskan air mata karena cabe yang ditumis. Ia membuat sambal balado kesukaan Denny.

 

Narendra yang lewat dapur menatap heran Zeeva. Ingin bertanya ‘tumben kakak rajin’. Zeeva menaikan bahunya sambil tertawa.

 

“Ma, ada acara apa?. Kak Aira sampai bela-belain masak?” Narendra duduk dikursi pantry.

 

“Pacarnya mau ikut makan malam, sayang,” sahut Zeeva.

 

“Ayah yang mengundangnya?”

 

“Iya, apa kamu tidak mendengarnya tadi malam?” kini Aira yang menyahut. Ia sibuk menuangkan sambal ke mangkuk. “Sudah sana jangan menganggu yang lagi masak!” Ia menyuruh pergi. Ada Narendra hanya akan memecahkan konsentrasinya saja.

 

“Yey, kakak tu yang memberantakin dapur mama,” ledeknya. Aira berbalik memelototinya.

 

“Ya ampun anak ini!” Aira bersiap untuk mengejarnya namun Narendra sudah kabur terlebih dahulu. Zeeva menertawakan Aira. Bibir Aira mengerucut namun ia melanjutkan sesi masaknya.

 

1 jam berlalu makanan sudah tersaji di meja makan. Aira segera ke kamarnya untuk mandi. Rizky baru saja pulang dari kantor. Ia menggendong Bunga yang bermain diluar membawanya masuk. Rizky mendengarkan celotehan-celotehan Bunga yang menceritakan kegiatannya seharian ini.

 

“Jadi Bunga belum mandi?” Tanya Rizky.

 

“Belum, Bunga mau baleng mama tapi mama sibuk masak sama kak Aila,” adunya. Rizky tertawa ringan.

 

“Ayah mandikan Bunga ya, kita buat busa yang banyak. Itu kesukaan Bunga kan?”

 

“Eum, Bunga suka busa yang banyak.” Ucapnya riang. Rizky menaiki tangga menuju kamarnya. Dibukanya pintu kamar pribadinya sembari menggendong Bunga.

 

“Ayah, sudah pulang?” Zeeva baru keluar dari walkin closet. Tak lupa ia mencium tangan Rizky dan pipi suaminya tersebut. Rizky menurunkan Bunga di atas ranjang.

 

“Iya, ma. Bunga belum mandi katanya,” ucap Rizky. Zeeva duduk ditepi ranjang. Bunga mendekatinya lalu duduk di pangkuan sang mama.

 

“Iya, tadi sibuk masak sama Aira. Bunga kita mandi dulu yuk,” Bunga menggelengkan kepalanya.

 

“Sama ayah,” serunya.

 

“Ayah, capek sayang. Sama mama saja ya,” bujuk Zeeva.

 

“Mau sama ayah,” kekehnya. Zeeva menghela napas panjang.

 

“Apa tidak capek, yah?” Suaminya baru saja pulang bekerja.

 

“Tidak, yuk Bunga,” gadis mungil itu berdiri lalu mengulurkan tangannya minta di gendong. Rizky membawanya seperti superman ke kamar mandi. Ia masih mengenakan kemeja kerjanya. Rizky memandikan putri bungsunya.

***

 

Dikamar Aira sudah mandi, ia duduk di meja rias. Aira sedang menyapukan bedak ke wajahnya. Lipstick berwarna pink menghiasi bibirnya. Binar matanya sangat bahagia. Ia memoleskan blush on sedikit kedua pipinya. Wajahnya sudah beres dirias. Rambutnya pun dibiarkan tergerai. Ia hanya tinggal mengganti bajunya saja.

***

 

Tepat 19.30 Denny sudah berada di depan rumah Aira. Ia menggunakan motor maticnya. Denny berpakaian rapih sekali. Kemeja dan jeans masih baru yang ia pakai. Pakaian itu yang dibelikan Clarista, adiknya.

 

Pembantu rumah yang membukakan pintu untuk Denny. Ia dipersilahkan untuk duduk di ruang tamu. Tak lama Rizky datang menemuinya. Aira belum selesai, ia masih sibuk memeriksa tampilannya. Rizky mencoba mengobrol dengan Denny. Sekaligus mencari tau kepribadian yang mengaku pacar Aira tersebut. Ia mengetahui jika Denny bekerja di perusahaan properti dan tinggal dikostan. Rizky cukup terkejut dari tampang Denny bukanlah pria biasa. Ia sedikit tidak percaya, apa yang dikatakan Denny. Namun dari orang suruhannya yang melapor memang itu kenyataannya. Dan sebuah fakta kemarin Denny pergi bersama seorang gadis lain tak luput diberitahukan.

 

Aira segera menemui Denny setelah ia merasa perfect. Dengan malu-malu Aira menyapa Denny. Kekasihnya pun terpesona akan penampilan Aira yang menggetarkan hatinya. Semakin hari perasan Denny semakin besar terhadap Aira. Rasa suka berubah menjadi cinta.

 

Acara makan malam tidak canggung dengan kehadiran Denny. Rizky berusaha menerimanya. Berusaha menekan kekhawatiran yang menyelimutinya. Ia tidak masalah jika kekasih Aira bukan dari kalangan orang kaya. Rizky menginginkan pendamping Aira yang bertanggung jawab dan memcintai putrinya tulus.

 

Aira menambahkan sambal baladonya ke piring Denny. Kali ini rasanya lumayan tidak seasin yang dulu melainkan kemanisan. Denny mengunyah seperti biasa. Padahal Rizky dan yang lainnya menatapnya curiga. Narendra sampai menahan tawanya. Syukurlah ia tidak mengambil sambal buatan Aira.

 

“Sambalnya enakan, Denny?” Tanya Aira yang disebelahnya.

 

“Iya, enak,” jawab Denny.

 

“Mau tambah lagi?”

 

“Tidak usah!” ucapnya cepat. “Yang ini saja belum abis,” lanjutnya pelan, hatinya meringis melihat piringnya.

 

“Kalau begitu nanti bawa pulang saja ya,” ucap Aira sebelum menyuap.

 

“Iya, boleh.” Cicit Denny.

 

***

 

Di suatu tempat, seorang gadis menatap layar smartphonenya dengan bibir tersenyum miringnya. Itu adalah Dinda, yang sedang sibuk menyusun rencana untuk mengganggu hubungan Denny dan Aira.

 

Di kirimnya beberapa foto hasil jepretannya pada seorang teman akun sosial medianya. Siapa lagi jika bukan Aira.

 

Foto-foto tersebut adalah foto Denny bersama seorang gadis yang sedang bergelayut dengan manjanya pada lengannya. Aira pasti merasakan sakit hati saat melihat foto-foto tersebut. Jantungnya pasti berdenyut nyeri sama sepertinya kini. Denny benar-benar lelaki brengsek!!! Umpat Dinda dalam hati.

 

Dinda menambahkan keterangan jika Aira ingin tau lebih, maka Aira harus menemuinya di sebuah cafe. Ia yakin, jika Aira pasti akan menemuinya. Dinda kembali menyunggingkan senyuman misteriusnya.

 

‘Jika aku tak bisa mendapatkan Kak Denny, maka Aira pun tidak boleh mendpatkannya…’ gumamnya dalam hati.

 

***

 

Aira begitu bahagia, ia berguling ke sana kemari di atas ranjang besarnya. Makan malamnya berjalan sangat lancar. Ayahnya kini juga sudah terlihat nyaman dengan Denny. Sikap Denny sendiri kini semakin manis terhadapnya. Aira tersenyum sendiri, menertawakan kebodohannya. Denny, bagaimana mungkin lelaki itu bisa membuatnya berbunga-bunga seperti ini?.

 

Tak lama Aira mendengar ponselnya berbunyi. Sebuah inbox dari sosial medianya. Ia bergegas melihat siapa yang sedang mengirim inbox malam-malam begini. Dan setelah membukanya, mata Aira membulat seketika.

 

Itu sebuah foto, Aira mengamati foto tersebut dengan seksama. Benarkah apa yang ia lihat? Apa benar itu Denny??. Dengan seorang gadis?? Apa gadis itu adalah gadis yang kemarin hari ia dengar saat menelepon Denny?. Tapi bukankah Denny sudah mengatakan jika suara wanita kemarin hari adalah suara adiknya. Apa Denny berbohong padanya?. Ada kemungkinan Denny berbohong, karena Aira sendiripun tidak tahu. Apakah Denny memiliki seorang adik atau tidak.

Berbagai macam pertanyaan berputar-putar pada kepala Aira. Dan pada detik itu, Aira baru menyadari. Jika selama ini ia memang belum mengenal terlalu jauh siapa sosok Denny sebenarnya.

 

***

 

Keesokannya Aira memutuskan untuk menemui Dinda di dalam sebuah cafe. Sempat ragu karena Aira tau jika Dinda adalah orang yang tidak menyukainya. Tapi rasa penasaran dengan foto-foto tersebut membuat Aira tidak berpikir ulang. Tidak ada salahnya bukan menemui Dinda?. Bukankah Dinda juga mengenal Denny sebelumnya. Bisa jadi Dinda tau lebih banyak tentang Denny, pikirnya saat itu.

 

Aira menatap seluruh penjuru cafe, lalu ia mendapati seorang gadis sebaya dengannya sedang menunggu seseorang. Itu Dinda. Dinda sendiri terlihat melambaikan tangan ke arahnya.

 

“Akhirnya kamu datang juga,” ucap Dinda saat Aira duduk tepat di hadapannya.

 

“Langsung saja, kamu tau apa tentang Denny?” Dinda tersenyum miring.

 

“Semuanya aku tau. Aira.. Aira.. apa kamu nggak sadar kalau kamu sedang di manfaatkan oleh seorang cowok mata duitan?” Aira menyipitkan matanya ke arah Dinda.

 

“Apa maksud kamu?”

 

“Jangan sok polos, kamu nggak sadar kalau cowok yang jadi pacar kamu sekarang adalah cowok mata duitan?” Mata Aira melebar seketika. Ia tidak suka jika Dinda menghina Denny seperti itu. Lagi pula Denny tidak pernah meminta apapun terhadapnya seperti Wisnu dulu saat menjadi kekasihnya.

 

“Jaga mulut kamu Dinda, Denny bukan orang seperti itu.” Geram Aira yang sudah sangat kesal dengan apa yang di katakan Dinda.

 

“Lalu, apa kamu bisa menjelaskaan tentang ini?” Dinda menyodorkan banyak sekali foto-foto Denny yang sedang berada di sebuah toko mewah untuk perlengkapan laki-laki. Di sana banyak terlihat seorang gadis sedang membantu Denny memilihkan pakaian untuk lelaki tersebut. Bahkan ada sebuah foto yang menunjukkan jika gadis itulah yang membayar semua belanjaan mereka.

 

Aira tertegun cukup lama. Tidak Denny bukan orang seperti itu. Dirinya seakan ingin meyakinkan hatinya sendiri. Aira menggelengkan kepalanya. “Denny bukan orang yang seperti ini..” Lirih Aira dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

 

“Apa kamu nggak pernah mikir, bagaimana bisa Denny selalu terlihat tampil keren dan modis. Padahal dia hanya bekerja sebagai staf biasa di sebuah kantor yang bahkan tidak ada apa-apanya di bandingkan perusahaan ayahmu?. Bagaimana bisa dia seperti itu?”

 

“Tapi dia tidak pernah meminta apapun dariku.”

 

“Karena kamu adalah tangkapan yang sempurna untuk dia. Dia tidak perlu meminta apa-apa darimu, karena saat kamu sudah menjadi miliknya. Saat itu pula dia akan mimiliki seluruh kekayaan keluargamu.” Dada Aira terasa sesak mendengar penjelasan dari Dinda. Ya, kenapa semuanya jadi masuk akal?? Penampilan Denny, sikap miterius dari pria tersebut dan sikap-sikap manis Denny akhir-akhir ini. Apa itu semua hanyalah suatu jebakan untuk mendapatkan hatinya?. Apa Denny adalah orang yang sama seperti Wisnu?.

 

***

 

Tiga hari berlalu…

 

Denny benar-benar gelisah saat memikirkan hubungannya dengan Aira. Ini sudah empat hari setelah makan malam bersama keluarga Aira. Malam itu, mereka berdua benar-benar bahagia. Denny bahkan tak segan-segan untuk memberikan kecupan perpisahan pada kekasihnya tersebut.

 

Tapi ketika paginya Denny menghubungi Aira. Gadis itu tidak mengangkat telepon darinya. Ahh  mungkin Aira sedang sibuk, pikirnya saat itu tapi sorenya Denny menelepon lagi dan lagi. Aira tak kunjung mengangkat telepon darinya bahkan sampai saat ini. Apa yang terjadi dengan gadis itu?.

 

Denny memejamkan matanya karena frustasi. Ia ingin menemui Aira malam ini juga. Ya, ia harus menemui gadis itu malam ini juga apapun yang terjadi.

 

***

 

Akhirnya, malam itu juga Denny berkunjung ke rumah Aira. Ia tidak mempedulikan langit yang kini sedikit menitikan air hujan. Gerimis tidak bisa menghalangi niatnya untuk menemui gadis tersebut. Ia benar-benar ingin tahu apa yang terjadi dengan kekasihnya itu. Kenapa Aira seakan tak ingin mengangkat telepon darinya.

 

Setelah mengetuk pintu, Denny di sambut hangat oleh Zeeva. Mama Aira itu memang sangat baik, sikapnya selalu hangat terhadapnya.

 

“Denny, ayo masuk..” ajak Zeeva.

 

“Emm.. terimakasih tante, tapi saya menunggu di sini saja. Saya hanya ingin bertemu dengan Aira ”

 

“Kalian ada masalah?”

 

“Ahh tidak tante,” Denny tentu menolak untuk masuk karena jika nanti ia masuk ke dalam ruang tamu keluarga Aira. Maka mau tidak mau Denny bukan hanya berbicara berdua dengan Aira, tapi juga dengan Rizky, ayah Aira. Denny ingin menunggu Aira di halaman rumah gadis itu saja.

 

“Baiklah, tante akan memanggilkan Aira untuk kamu.” Denny menganggukkan kepalanya. Ia kemudian memilih menunggu Aira di sebuah ayunan yang letaknya di halaman depan rumah Aira. Tidak lama, sosok yang di tunggunya itu akhirnya keluar juga. Denny berdiri seketika saat melihat Aira berjalan menuju ke arahnya.

 

Ada yang berbeda dengan gadis itu. Gadis itu terlihat murung tidak ceria seperti biasanya. Tampak jelas raut kesal di wajah Aira, bukan raut manja seperti biasanya. Ada apa? Apa yang terjadi dengan Aira?. Hatinya bertanya-tanya.

 

“Hai, akhirnya kita ketemu juga,” ucap Denny sedikit basa-basi.

 

“Ada perlu apa?” tanya Aira dengan nada ketusnya.

 

Denny sendiri benar-benar tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Aira terdengar sangat ketus, seakan tidak suka dengan kedatangannya ke rumah gadis tersebut.

 

“Kamu ada masalah? Kenapa bersikap seperti ini padaku?” Aira memutar bola matanya jengah.

 

“Ya, aku ada masalah, dan masalahnya itu kamu.” ucapnya ketus.

 

“Aku? Ada apa denganku?” tanya Denny dengan wajah bingungnya.

 

“Kamu nggak usah sok polos, kamu pikir aku terlalu bodoh untuk tidak mengetahui apa rencanamu??”

 

“Aira…”

 

“Cukup!” Aira mengangkat tangannya mengisyaratkan Denny supaya tutup mulut. “Kita sudahi sampai di sini saja hubungan sialan ini. Aku nggak mau berhubungan sama kamu lagi dan aku nggak mau ketemu kamu lagi.” Ucap Aira dengan tegas lalu berbalik dan meninggalkan Denny di tengah gerimis hujan yang semakin deras.

 

Denny tidak tinggal diam. Dengan segera ia menyusul Aira, kemudian menarik pergelangan tangan Aira.

 

“Jika kamu ingin memutuskan hubungan dengan seseorang, maka kamu harus memberinya alasan, kenapa kamu memutuskan dia!” Desis Denny tajam. Ia bahkan tidak mempedulikan tubuhnya dan tubuh Aira kini yang basah karena hujan yang semakin deras mengguyur.

 

“Kamu nggak perlu alasan!”

 

“Aku memerlukannya!” Seru Denny. “Kalau kamu nggak memberikan alasan yang masuk akal, maka aku akan selalu mengganggumu.” Ancam Denny sembari mengeratkan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Aira.

 

“Oke, karena kamu brengsek!” ucapnya sarat akan kebencian.

 

“Brengsek??” Tanya Denny dengan wajah bingungnya.

 

“Ya, kamu brengsek dan aku membencimu. Aku sangat membencimu Denny!!!” Aira berteriak tepat ke arah Denny. Spontan, Denny melepaskan cekalan tangan Aira begitu saja. Ia membiarkan gadis itu pergi begitu saja meninggalkannya dengan serangkaian kemarahan yang Denny sendiri tidak tau karena apa. Denny membatu sendiri di tengah-tengah halaman rumah Aira dengan hujan yang semakin deras mengguyur tubuhnya.

 

Aira membencinya.. gadis itu membencinya…

 

kenapa saat ini?? Kenapa saat ia benar-benar yakin jika saat ini dirinya sangat mencintai gadis itu?

 

-Tbc-

Love Between Us – Part 8 (Curiga)

Comments 6 Standard

14222347_1441992722483939_834886626361997697_nLove Between Us

Denny dan Aira udah hadir Dear.. maaf baru sempat Update yaa..

Part 8

-Curiga-

Di rumah Denny lantas menghambur ke dalam kamar. Di carinya ponsel miliknya yang tadi memang tertinggal di kamar. Ia berakhir mendengus kesal karena ternyata banyak sekali missed call dari nomor Aira.

 

“Kakak kenapa sih? Aneh sekali.” Denny sama sekali tak menghiraukan Clarista yang kini sudah menyusulnya ke dalam kamar. Adiknya itu memang suka ingin tau semua tentangnya. Ia memang tidak risih karena itu. Denny bahkan berpikir untuk mengenalkan Aira kepada Clarista jika ada waktu yang tepat.

 

Di tekannya tombol panggilan pada nomor Aira. Denny mulai berdo’a supaya Aira tidak marah dan mau mengangkat telepon darinya. Tapi nyatanya, nomor gadis tersebut kini sedang sibuk.

 

Apa Aira sedang menelepon seseorang?? Siapa? Pikir Denny.

 

“Kakak..” rengek Clarista pada lengan Dennny.

 

“Apa lagi sih Cla? Kakak sudah menemanimu seharian ini, lalu apa lagi?”

 

“Ada yang kakak sembunyikan dariku?”

 

“Sembunyikan? Sembunyikan apa?” Clarista memicingkan matanya ke arah kakaknya tersebut, curiga.

 

“Kakak sudah punya pacar ya?”

 

“Bukan urusan kamu.” kilahnya.

 

“Ayolah, kakak tau kan kalau aku selalu dukung kakak apapun yang terjadi?. Kenapa sekarang kakak nggak mau cerita sama aku?”

 

Denny kemudian duduk, dan entah kenapa ia seakan ingin tersenyum. Hatinya terasa berbunga-bunga ketika mengingat sosok Aira. Perasaannya saat ini sama persis dengan apa yang ia rasakan dulu dengan Adelia, mantan kekasihnya.

 

“Namanya Aira,” ucap Denny sambil menyunggingkan senyumannya.

Clarista membulatkan matanya seketika.

 

“Jadi kakak benar-benar sudah punya pacar?” Denny menganggukkan kepalanya.

 

“Ya, bisa di bilang seperti itu,”

 

“Lalu dia seperti apa? Apa cantik sepertiku? Baik? Cerewet? Lebih muda? Lebih tua? Gendut? Ramping?” Tanya Clarista bertubi-tubi membuat telinga Denny mendengung.

 

“Kenapa kamu terlihat antusias sekali?”

 

“Tentu saja, kak Denny adalah kakakku, dan aku ingin kakakku mendapatkan wanita yang terbaik,”

 

“Dia baik, cantik, dan sedikit cerewet seperti kamu.” Akhirnya ia menjawab.

 

“Oh ya? Aku ingin ketemu!” sahut Clarisa antusias.

 

“Cla, kakak masih belum tahu pasti, apa status hubungan kami sebenarnya,” desahnya bingung. Selama ini status antara mereka tidak jelas atau bisa dikatakan berpacaran atau masih berpura-pura. Itu membingungkan, di dalam permainan ini. Aira dan Denny melibatkan perasaan mereka secara tidak langsung dan tanpa mereka sadari.

 

“Loh kok gitu sih?”

 

“Awalnya kami pacaran hanya pura-pura. Tapi semakin kesini, kakak merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang berbeda, yang membuat jantung kakak nggak bisa berhenti berdebar-debar saat ingat apapun tentang dia,”

 

“Kakak beneran suka sama dia?” Denny menganggukkan kepalanya lemah.

 

“Sepertinya begitu. Kakak nggak pernah main-main dengan wanita lain Cla,”

 

“Emmm… Apa dia juga suka sama kakak?”

Dennny mengangkat kedua bahunya.

 

“Kakak nggak yakin,” Lirih Denny kemudian. Clarista sejenak berpikir tidak mungkin kakaknya yang tampan ini tidak disukai seorang gadis.  Ini sesuatu yang langka baginya.

 

****

 

Di rumah Aira hanya berleha-leha.  Ia menikmati harta orangtuanya. Namun Aira mulai jenuh dengan kehidupannya yang monoton. Aira kini ingin kembali bekerja tetapi ia bingung harus bekerja apa?. Rizky, selaku ayahnya tidak mengharuskan Aira untuk bekerja. Ia masih mampu menghidupi Aira walaupun putri pertamanya itu tidak bekerja.

 

Aira pun langsung menaiki anak tangga dan menuju lantai dua dan melewati kamar Bunga. Aira dengan kesal menuju ke kamarnya. Ia ingin bersantai mengistirahatkan pikirannya. ketika sudah di kamarnya, ia tutup kembali pintu kamar. Aira menyalakan tv untuk menghibur diri yang sedang bosan. Ia putar – putar saluran tv dan mencari acara yang bagus tapi tetap saja tidak ada yang bagus. Denny sulit dihubungi itu yang membuatnya kesal sekali. Tidak ada kabar dari Denny rasa hampa menyelimuti dirinya.  Aira belum tau dimana tempat tinggal Denny. Andai saja ia tau mungkin akan meluncur ke sana saat itu juga.

 

“Denny, kamu kemana?. Apa kamu sudah melupakanku?” ucapnya sedih. Di sofa ia berbaring sembari memikirkan Denny. Pria itu sudah menyelam sangat dalam dihati Aira. Pria itu yang kini ada dihatinya, terukir jelas. Di saat Aira melamun tentang Denny. Ponselnya berdering nyaring menyadarkan Aira. Diambilnya di saku celana pendeknya. Nomor baru.

 

Aira mendiamkan cukup lama sebelum menjawabnya. Ia tidak mengenal nomor tersebut. Karena penasaran ia pun menjawabnya.

 

“Halo.. ”

 

“Syukurlah dijawab, Aira,” ucap seseorang yang ada disebrang sana.  Raut wajah Aira seketika berubah malas. Suara itu milik mantan kekasihnya yang matre. “Aira.. Aira.. Kamu mendengarkan aku kan?” ucapnya lagi karena Aira tidak segera menyahut.

 

Dasar pria tidak tau malu!! gerutu Aira dalam hati.

 

“Iya, ada apa?!” sahut Aira sinis. Ia memutar bola matanya.

 

“Aira, aku merindukanmu, ”

 

“Aku tidak!” jawab Aira ketus.

 

“Aira, please berikan aku satu kesempatan lagi. Aku ingin memperbaiki diri bersamamu.” Wisnu si pria brengsek itu memohon kepada Aira.

 

“Apa kamu tau, Wisnu. Vas bunga yang pecah nggak akan bisa kembali sama setelah disatukan dengan lem. Ada guratan-guratan halus yang masih jelas terlihat. Begitu pun hatiku, masih ada goresan yang nggak bisa aku hapus dengan apapun. Apa kamu nggak sadar diri? Itu karena ulahmu!” bentaknya.

 

“Aku sadar, mangkanya aku berusaha untuk menjadi lebih baik. Aku ingin menjalin hubungan denganmu lagi, Aira,” ucap Wisnu menyakinkan. Namun Aira tidak yakin. Yang namanya pendusta itu bermulut manis.

 

“Omong kosong! Aku nggak mau urusan sama kamu lagi!. Awas kalau kamu telepon aku lagi sampai pakai nomor baru. Wisnu, carilah gadis yang mau dibohongi oleh mu. Atau carilah mangsa yang baru, jangan aku!. Aku nggak mau urusan sama kamu lagi!. Kalau sampai kamu macam-macam akan aku adukan sama pacarku!” Aira sedikit mengancam. Berhubungan kembali dengan Wisnu itu menjijikan. Ia bukan keledai yang jatuh untuk ke dua kalinya di lubang yang sama.

 

“Aku nggak percaya itu pacarmu,” emosi Aira melonjak. Dalam hatinya ia ingin mencekik Wisnu.

 

“Terserah kamu saja! Dasar kepala batu!” sentak Aira menutup teleponnya dengan marah. Ia menarik napas panjang menetralisir kemarahannya. Percuma efeknya hanya sedikit.

 

Aira mendengus kesal. Wisnu, kenapa juga pria itu masih saja mengganggunya? Mengajaknya kembali menjalin kasih?. Yang benar saja, Aira tidak akan mau kembali lagi bersama pria mata duitan seperti Wisnu. Tapi tidak lama, ponsel Aira kembali berbunyi, Aira mengira jika itu pasti Wisnu yang memang tidak akan pernah berhenti mengganggunya. Dengan menggerutu Aira mengangkat telepon tersebut tanpa melihat siapa yang sedang meneleponnya.

 

“Ada apa lagi Wisnu? Aku sudah bilang berhenti menggangguku!” Ucap Aira setengah menggertak.

 

“Aira.. Ini aku..” Suara berat di seberang membuat Aira membulatkan matanya seketika. Secepat kilat Aira menjauhkan ponselnya dari telinganya, kemudian melihat di layar ponsel tersebut. Ternyata Denny yang sedang meneleponnya.

 

“Denny..” ucap Aira dengan sedikit menyesal karena tadi sudah sempat membentak Denny.

 

“Ya, ini aku,” Denny kembali tersenyum saat mendengar suara lembut Aira. Tadi ia sempat mengerutkan keningnya ketika Aira mengangkat teleponnya tapi langsung marah-marah terhadapnya.

 

“Maaf, ku pikir tadi orang lain,”

 

“Kenapa? Kamu ada masalah?” tanya Denny ingin tau.

 

“Ahh, nggak, tadi ada orang iseng menggangguku,”

 

“Sepertinya itu bukan orang iseng. Namanya Wisnu kan? Karena tadi aku mendengarmu memanggil nama Wisnu. Apa dia teman sekolah yang pernah kamu kenalin sama aku saat pesta reuni minggu lalu?” Denny masih mengingatnya.

 

“Emmm… itu…” Aira terdengar ragu.

 

“Aira… Berceritalah, aku nggak akan marah.”

 

Denny mendengar gadis di seberangnya menghela napas panjang. “Ya, Wisnu yang itu.”

 

“Kenapa? Dia mengganggumu?”

 

“Sedikit, dia ngajak balikan lagi.”

 

“Lalu, kamu menerimanya?” pancing Denny. Entahlah, kini yang di rasakannya adalah rasa tidak suka saat mengetahui bahwa Aira masih berhubungan dengan pria lain, apalagi pria itu adalah mantan kekasih Aira di masa lalu.

 

“Kamu mau aku menerimanya?” Aira berbalik bertanya.

 

“Tidak.” Jawab Denny dengan tegas.

Ia sedikit mendengar sebuah cekikikan di seberang. Aira pasti kini sedang tertawa mendengar jawabannya.

 

“Kenapa?” Tanya Aira yang kini sedikit memancing reaksi dari Denny.

 

“Dia bukan pria yang baik. Kamu pernah bercerita bukan, jika dia adalah pria mata duitan. Jadi ku harap kamu nggak akan kembali dengan dia, itu akan menyakitimu.”

 

“Apa kamu yakin hanya itu alasannya?” Aira mendesak perasaan Denny. Ia ingin tau apa Denny mempunyai perasaan yang sama.

 

“Ya.” jawab Denny datar.

 

“Ayolah, kamu terdengar kaku. Aku tahu bukan hanya itu alasanmu Denny,” Aira setengah merengek pada Denny dan itu membuat ia menyunggingkan senyumannya.

 

“Aku hanya nggak suka melihatmu dekat dengan dia.” Pria itu membuat Aira bingung, apa makna dari kata-katanya.

 

“Kenapa nggak suka?. Ayolah.. jangan berputar-putar, jawab aja dengan jujur!”

Denny kembali tersenyum saat tahu tingkah Aira yang sedikit kekanakan.

 

“Oke, aku nggak suka kamu dekat dengan pria lain karena kamu adalah kekasihku. Dan kekasihku hanya boleh dekat denganku, bukan dengan pria lain.” Denny benar-benar tidak menyangka jika ia akan mengucapkan kalimat menggelikan seperti itu pada Aira.

 

Apa Aira akan menertawakannya??

Dan benar saja, Denny mendengar sebuah cekikikan khas dari Aira. Gadis itu benar-benar menertawakannya.

 

“Hei! kenapa tertawa?” Denny sempat marah, Aira tidak tau jika didalam dada jantungnya berdegup kencang. Ia mati-matian untuk menahan segala gengsinya. Ia mengakui itu kepada Aira.

 

“Kamu cemburu?” Tanya Aira masih dengan cekikikannya.

 

“Apa salah kalau aku cemburu?” Denny balik bertanya.

 

“Nggak, aku suka melihatmu cemburu,”  Jawab Aira cepat. “Kamu kemana saja? Sejak tadi pagi aku meneleponmu.”

 

“Tadi aku keluar, ada urusan sedikit. Ponselku ketinggalan di rumah.”

 

“Ohhh..” Hanya itu jawaban dari Aira. Denny sendiri tidak tau harus menjawab apa lagi. Keheningan tiba-tiba saja membuat suasana menjadi sedikit canggung.

 

“Kak, airnya dingin sekali. Aku nggak mau mandi di sini lagi.” Suara manja tepat di belakang Denny membuatnya sedikit terkejut. Spontan ia membungkam speaker ponselnya dengan telapak tangannya.

 

“Cla! Apa kamu bisa berhenti berteriak?” Tanya Denny sedikit kesal dengan adiknya itu. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa Clarista masih saja berada di kontrakannya bahkan mandi di sana.

 

“Kenapa kakak lagi teleponan ama pacarnya ya? Sini aku mau ngomong,” Clarista mencoba merebut ponsel milik Denny tapi diangkat tinggi-tinggi ponselnya hingga Clarista tidak dapat meraihnya.

 

Lalu tanpa banyak bicara lagi, Denny memutuskan sambungan teleponnya dengan Aira begitu saja. Ia belum ingin jika Clarista ikut campur masalah asmaranya dengan Aira.

 

“Kakak nggak asik!” Denny mendengus kesal. “Lebih baik kamu pulang, mama akan mencarimu kalau kamu nggak cepat-cepat pulang.”

 

“Mama tau aku di sini.” jawab Clarista santai.

 

“Papa akan mencarimu.”

 

“Biar saja, papa terlalu kuno dan kaku. Aku kesal pada papa,” Denny mencubit gemas pipi Clarista.

 

“Kamu nggak boleh gitu. Papa sayang banget sama kamu. Sudah sana pulang.” usirnya secara halus.

 

“Kakak sendiri kapan pulang?. Air di kamar mandinya dingin, nggak ada air hangatnya. Rumah ini juga sangat kecil, aku nggak tega lihat kakak hidup di sini terus.”

 

Denny tersenyum melihat adiknya yang begitu perhatian padanya. “Aku pasti akan pulang, tapi nanti, bukan sekarang.”

 

“Kapan?? Setelah kakak mendapatkan pengganti kak Adel?” tanyanya polos.

 

“Mungkin,”

 

“Kak…” Rengek Clarista.

 

“Ya, kalau sudah waktunya pulang, kakak pasti akan pulang.”

 

“Janji ya.. Awas kalau bohong!” Clarista menunjuk Denny memperingatkan.

 

“Iya, kakak janji.”

 

“Tapi kak, aku benar-benar ingin bertemu dengan Aira.” Adiknya memulai kembali,  Denny menghela napas lelah menjawab pertanyaan adiknya yang cerewet.

 

“Nanti, aku akan mengenalkannya nanti denganmu dan juga dengan mama dan papa.” Ucap Denny penuh tekad dan keyakinan.

 

***

 

Aira tertegun mendengar suara seorang gadis. Ia menerka-nerka Denny sedang bersama gadis lain?. Tiba-tiba dadanya penuh dan sesak. Apa Denny hanya mempermainkannya saja?. Apa arti dari ucapannya tadi hanya kebohongan belaka?. Hatinya mendadak nyeri, matanya mulai berkaca-kaca. Cintanya tumbuh layu sebelum berkembang.

 

“Denny, kamu jahat,” isaknya.

 

Aira tidak bisa berpikir jernih. Selama dimeja makan ia hanya mengaduk-ngaduk makanannya. Zeeva, mamanya curiga jika Aira mempunyai masalah. Rizky dan Zeeva saling berpandangan seolah berbicara ada apa dengan Aira?. Zeeva mengendikkan bahunya tidak mengerti. Rizky terdiam pasti ada masalah dengan kekasihnya itu. Ia harus segera mencari tau tentang Denny agar Aira tidak termakan rayuannya seperti kekasihnya yang terdahulu.

 

“Aira,” panggil Rizky. Aira diam saja masih fokus dengan makanan yang di acak-acakan. “Aira,” panggilnya untuk kedua kalinya dengan suaranya meninggi.

 

“Eoh, iya yah?” jawab Aira linglung.

 

“Besok undang Denny untuk datang makan malam.” ucap Rizky berwibawa. Dahi Aira mengerut. “Dia pacarmu kan?”

 

“Iy.. Iya yah,” Aira tergagap.

 

“Besok itu makan malam terakhir kita bersama Narendra. Adikmu akan berangkat ke Paris untuk melanjutkan kuliahnya. Kamu tidak lupakan?” Aira menggelengkan kepalanya. “Ayah mau kamu mengundang Denny, biar dia mengenal keluarga kita lebih jauh lagi.”

 

“Apa ini artinya ayah merestui hubunganku dengan Denny?” tanya Aira hati-hati dengan wajah tidak percaya. Wisnu sekali pun tidak pernah diajak makan malam. Pernah dulu Aira mengajaknya tetapi Rizky tidak mau keluar dari kamar. Hanya Denny yang di undang, apa Rizky sudah merestui?.

 

“Ayah ingin mengenal Denny saja, sayang.” timpal Rizky lembut. Mata Aira berbinar namun seketika meredup saat ia sekelibat mendengar suara gadis itu ditelinganya. Ia menunduk, perasaannya sedang dilanda badai curiga. “Kamu bisa mengajaknya kan?”

 

“Iya, ayah. Denny pasti datang.” Aira menoleh pada Zeeva. Mamanya tersenyum memberi pengertian. Ia ingin sekali curhat mengenai Denny. Zeeva lah yang menjadi pelipur lara dikala ia sedang bersedih. Aira tidak mempunyai sahabat. Setelah ia mengalami bagaimana rasanya dikhianati sahabat dan pacarnya dulu, Dinda dan Wisnu. Zeeva lah yang memberi solusi dan memberi kepercayaan dirinya kembali.

 

Bagi Aira,  Zeeva adalah mama sekaligus sahabatnya.

 

“Yah, Aira ingin bekerja,” Rizky terdiam sejenak.

 

“Kerja apa?” kedua alis Rizky menukik tajam.

 

“Aira bosan dirumah,” jawab Aira lesu.

 

“Mau bekerja sesuai mata kuliahmu?”

 

“Tidak, yah. Aku ingin buka cafe kecil-kecilan saja. Apa ayah tidak berkeberatan?” Aira berhati-hati menanyakannya. Ia sudah tau jika Rizky tidak mengizinkannya bekerja.

 

“Ya sudah, buatlah konsepnya mau cafe apa?. Untuk dekorasi kamu buatlah sendiri, percuma kamu kuliah. Besok ayah akan mencarikan tempatnya.” Aira sangat senang permintaannya disetujui tanpa harus beradu mulut. Ia bangkit dari duduknya menghampiri, diciumnya pipi Rizky.

 

“Terimakasih, ayah. You’re the best!” seru Aira riang. Ia tidak lupa mencium Zeeva dan kedua adiknya.

 

“Mama, nanti ke kamar Aira ya,” bisiknya saat mencium pipi Zeeva.

 

“Iya, sayang,” Zeeva mengerti maksudnya.

 

Aku bahagia mempunyai keluarga ini. Aku menyayangi kalian, batin Aira.

 

Selesai makan malam Zeeva menidurkan Bunga terlebih dahulu sebelum ke kamar Aira.  Putrinya sudah menunggu. Ia pun tidak lupa meminta izin pada Rizky agar tidur lebih dulu. Jika menyangkut masalah wanita Zeeva dan Aira pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk mengobrol.

 

Tok..  Tok..  Tok..

 

“Aira?”

 

“Masuk, mama,” titah Aira dari dalam kamar.  Aira sedang menyiapkan sesuatu di meja riasnya. Zeeva tersenyum. “Aku lagi nyiapin masker, ma. Bentar ya,” Zeeva mengerti,  ia naik ke atas ranjang membaringkan tubuhnya. “Ayah,  mengomel nggak ma?”

 

“Ayah mu itu jangan ditanya, dia menggerutu tidak jelas waktu mama bilang mau ke kamar mu!” Aira tertawa kecil sembari mendekati mamanya. Ia mengolesi wajah Zeeva dengan masker alpukat di campur madu. Dengan telaten ia mengolesnya dengan kuas kecil khusus masker. Zeeva selesai dan Aira mengoles wajahnya sendiri. Lalu ia berbaring di sebelah Zeeva.

 

“Ma,”

 

“Eum?”

 

“Denny, ma,”

 

“Kenapa sama Denny?” tanya Zeeva sedang memejamkan matanya.

 

“Tadi dia telepon dan aku mendengar suara gadis lain,” terangnya sedih. Suasana berubah hening.

 

“Kamu sudah tanya itu siapa?”

 

“Nggak, malah dia menutup teleponnya.” lirihnya.

 

“Jangan berburuk sangka dulu, sayang. Mungkin itu temannya,”

 

“Masa teman bilang kalau ‘nggak mau mandi disini lagi karena airnya dingin’,” celetuk Aira dengan kesal.

 

“Mandi? Air dingin?!” Zeeva cukup terkejut lalu tertegun. Benar juga masa teman mandi segala. Hati Zeeva jadi serba salah. Ia pun turut curiga dengan Denny.

 

“Menurut mama bagaimana?” Tanya Aira ingin Zeeva memberikan solusinya.

 

“Menurut mama, kamu harus cari tau dulu. Tanyakan pada Denny yang sebenarnya terjadi. Daripada kamu curiga kan?”

 

“Tapi kalau benar bagaimana?”

 

“Ya, putuskan saja. Memangnya pria di dunia ini cuma Denny?!” sahutnya marah. “Tenanglah, sayang. Jodoh itu tidak kemana. Wanita baik dengan pria baik. Mama yakin itu. Anak mama inikan baik walaupun suka jahil,” Zeeva berbalik menatap Aira yang matanya menggenang air mata. Di usapnya rambut Aira lembut. “Ada mama, ayah dan adik-adikmu, sayang.”

 

“Ah, mama.. ” rengek Aira ingin menangis. Malam itu Aira curhat apa yang ia rasakan terhadap Denny. Zeeva hanya mendengarkan dan sesekali menimpali apa yang harus Aira lakukan.

 

Lelah bercerita Aira tertidur pulas, ia sampai lupa membasuh wajahnya. Besok pagi Zeeva akan mengganti sarung bantalnya. Ia tidak tega membangunkan Aira. Dengan mengendap-ngendap Zeeva keluar kamar Aira tidak lupa mematikan lampunya.

 

Zeeva kembali ke kamarnya. Rizky sudah tidur tapi ia berniat membangunkannya. Ada sesuatu yang harus dibicarakan.

 

“Ayah, ayah bangun.. ” Ia mengoyangkan bahu Rizky. “Ayah bangun, ada yang mau aku bicarakan,” Rizky mengerjapkan matanya. Matanya terbelalak terkejut apa yang terlihat dihadapannya.

 

“Astagfirullah, hantu!” teriaknya. Dengan cepat Zeeva membengkap mulut suaminya itu.

 

“Ini aku Zeeva, Rizky!!” desisnya. Bahu Rizky melemas. Ia mulai tenang perlahan Zeeva melepaskan tangannya.

 

“Zeeva? Istriku?” tanya Rizky bodoh.

 

“Memangnya kamu punya istri berapa,  hah!” bentak Zeeva.

 

“Ya, satu tapi istriku itu cantik bukan wajahnya hijau seperti hulk!.” Bela Rizky. Ia memandangi wajah Zeeva.

 

“Aku pakai masker alpukat, Rizky!” Zeeva mendengus. “Sebentar aku mau cuci muka dulu, jangan tidur lagi!. Aku mau bicara!”

 

“Baiklah,” Rizky menyenderkan punggungnya dikepala ranjang menunggu Zeeva. Ia melihat istrinya masuk ke kamar mandi. Gemerincik air terdengar. Zeeva membersihkan wajahnya dari masker. Tak lama sekitar lima menit Zeeva muncul dari kamar mandi.

 

“Aku ingin membicarakan masalah Denny,” Zeeva merangsek masuk ke dalam selimut.

 

“Kenapa? Apa dia menyakiti putri kecil kita?” Rizky mulai marah.

 

“Bukan, Aira hanya curiga saja. Tapi aku yakin Denny bukanlah pria seperti Wisnu.” Zeeva merasakan keyakinan itu dari pengamatannya bertemu Denny.

 

“Besok, aku akan mencari taunya. Aku tidak mau Aira terluka lagi.” Zeeva mengangguk. Rizky merubah posisinya.  Ia memeluk Zeeva dari belakang.

 

“Harus, Rizky!” Jawab Zeeva menggebu-gebu.

 

“Iya, sayang. Sekarang urusan kita berdua, aku tidak bisa tidur setelah kamu membangunkanku. Biar aku bisa tidur sebelumnya bisa kita olahraga malam dulu ya?” tanyanya sembari tangannya menyentuh bagian depan Zeeva.

 

“Hah! Dasar mesum!” Tanpa berkata-kata lagi Rizky melancarkan aksinya.

 

***

Dilain tempat, keluarga itu sedang menikmati acara di televisi. Keluarga kecil yang bahagia namun ada sesuatu yang kurang. Putra semata wayangnya meninggalkan rumah beberapa tahun yang lalu. Pertentangan antara ayah dan anak. Reynald yang mempunyai watak yang keras membuat Denny terkekang terlebih orangtuanya terlibat dalam masalah percintaannya.

 

“Apa kamu nggak salah dengar, sayang?” Tanya Clara pada Clarista yang kini sedang bermalas-malasan di atas sofa ruang keluarga sambil menonton acara Tv kesukaannya.

 

“Iya ma, kakak sendiri kok yang bilang kalau dia itu sekarang sudah punya pacar, namanya Aira. Dan dia janji akan mengenalkannya pada kita nanti,”

 

“Apa dia cantik? Baik? Atau gimana Cla??” Sang Mama dari Denny sangat penasaran bagaimana gadis yang bernama Aira tersebut.

 

“Ya ampun, ma. Aku juga nggak tau bagaimana wajah kekasih kakak itu.”

 

“Bisa jadi dia hanya membohongi kita.” Sahut Reynald yang memang sejak tadi sebenarnya mendengar percakapan Clara dan Clarista, hanya saja ia bersikap seolah-olah tak mendengar apapun dan lebih memilih diam sembari membaca koran yang berada dalam genggaman tangannya. Clara memutar bola matanya ke arah suaminya tersebut. Entah sampai kapan suaminya itu akan keras kepala dan tidak melupakan pertikaiannya dengan Denny, putera pertamanya tersebut.

 

“Cla balik ke kamar gih, mama mau ngomong sama papa kamu,”

 

“Pasti pama sama papa mau berantem gara-gara kak Denny kan??”

 

“Udah sana!” Dengan bibir mengerucut, akhirnya Clarista pergi meninggalkan kedua orang tuanya.

 

Setelah Clarista masuk ke dalam kamarnya. Clara datang menghampiri Reynald, suaminya itu tampak berwajah datar, seakan tak ingin diganggu.

 

“Rey, ayolah, kamu harus bisa melupakan semuanya. Denny juga putera kita Rey, masak kamu mau bersikap seperti ini terus sama dia??”

 

“Sayang, kamu tau sendiri bukan kalau dia sudah keluar dari rumah ini?. Itu tandanya dia memang sudah nggak mau hidup dengan kita lagi.”

 

“Bukan seperti itu Rey, ya ampun. Apa kamu nggak bisa sedikit mengalah dengan yang lebih muda?. Dia sudah melupakan Adelia, dan sudah memiliki pengganti gadis itu. Jadi ku mohon, turunkan sedikit ego kamu untuk putera kita.” Reynald mengangkat kedua bahunya.

 

“Aku nggak pernah marah terlalu lama dengan dia Cla. Bagaimanapun juga, Denny adalah putera yang sangat ku sayangi. Tapi kamu bisa lihat sendiri, kalau sebenarnya dia yang marah denganku,”

 

“Ya, dan semua itu hanya karena kesalahpahaman kecil. Mungkin saat ini Denny sudah nggak marah lagi. Jadi Please, jangan bersikap datar menyebalkan seperti tadi di hadapan Denny nanti saat dia pulang.” Clara memohon pada suaminya agar hati suaminya luluh.

 

“Kita lihat saja bagaimana sikapnya nanti,” balas Reynald tidak yakin.

 

“Rey,” rengek Clara.

 

“Berhenti merengek seperti itu, kita sudah nggak muda lagi.”

 

“Biar saja! Kamu terlalu menyebalkan!” Gerutu Clara dengan nada ketusnya. Reynald tersenyum, kemudian tanpa di duga, ia melingkarkan lengannya pada pinggang Clara, lalu menarik istrinya itu semakin dekat denganya.

 

“Baiklah, aku akan berusaha bersikap baik dengan Putera kita nanti,” ia berusaha menurunkan egonya. Ya, semoga saja berhasil ketika bertemu Denny.

 

“Janji ya?” Ulang Clara.

 

“Iya sayang,” Reynald pun mengecup lembut kening istrinya.

 

Tidak terasa jika sudah dua puluh lima tahun lamanya ia berada di sisi wanita yang kini berstatus sebagai istrinya, wanita yang dulu menjadi wanita yang paling menyebalkan yang pernah ia kenal. Clara Adista.

 

-TBC-

 

Apapun akan ku lakukan untuk kamu dan putera puteri kita, Reynald bergumam dalam hati.

Love Between Us – Part 7 (Gadis Manja Yang Lain)

Comments 5 Standard

image

Part 7
-Gadis manja yang lain-

Hari minggu Denny tetap bangun pagi hari seperti biasanya. Tapi tidak untuk minggu ini. Ia dilanda rasa malas, setelah mengantar Aira pulang tadi malam. Sesampinya di rumah, Denny langsung menghubungi Aira kembali. Mengajak Gadis itu bicara semalaman. Denny bahkan sempat menyanyikan sebuah lagu untuk Aira.

FlashBack

“Kamu hari ini berbeda..” Ucap suara di seberang dengan nada manjanya.

“Apa yang membuatku berbeda??” tanya Denny kemudian.

“Kamu nggak dingin kayak biasanya, dan kamu. Eumm, lebih romantis.” Ucap Aira yang terdengar sedikit malu-malu di telinga lawan bicaranya. Denny sedikit menyunggingkan senyumannya.

“Kamu hanya belum mengenalku Aira.”

“Ya…  Dan aku ingin mengenalmu lebih jauh Den..”

“Kita punya banyak waktu untuk saling mengenal.” Ucap Denny kemudian. Keduanya sejenak sama-sama terdiam seakan kecanggungan menyelimuti diantara mereka. “Aira.” Panggil Denny kemudian.

“Iyaa..”

“Emm… Apa kamu mau mendengarku menyanyi??” Aira terdengar tertawa di seberang. “Kamu bisa nyanyi??”

“Sedikit.”

“Baiklah, aku ingin mendengar kamu beryanyi.” Denny pun mulai memainkan gitarnya.

What day is it?

And in what month?

This clock never seemed so alive

I can’t keep up and I can’t back down

I’ve been losing so much time

Cause it’s you and me and all of the people with

Nothing to do, nothing to lose

And it’s you and me and all of the people and

I don’t know why I can’t keep my eyes offer you

All of the things that I want to say

Just don’t coming out right

I’m tripping on words, you got my head spinning

I don’t know where to go from here

Cause it’s you and me and there all of the people

With nothing to do, nothing to prove

And it’s you and me and all of the people and

I don’t why I can’t keep my eyes offer you

Something about you now

I can’t quite figure out

Everything she does is beautiful

Everything she does is right

Cause it’s you and me and all of the people

With nothing to do, nothing to lose

And it’s you and me and all of the people and

I don’t know why I can’t keep my eyes offer you

You and me and all of the people

With nothing to do nothing to prove and

It’s you and me and all of the people and

I don’t why I can’t keep my eyes offer of you

What day is it?

And in what month?

This clock never seemed so alive

You And Me – Lifehouse  

Lama Denny menyanyikan lagu untuk Aira, hingga ia sadari jika diseberang sudah sepi. Tidak terdengar lagi suara cekikikan tawa Aira seperti pertama kali ia menyanyikan lagu tersebut. Apa Aira sudah tertidur??.

“Aira…Aira..” Panggil Denny, tapi ternyata tidak ada jawaban. Ia kemudian tersenyum sendiri, Aira pasti sudah ketiduran. Gadis itu benar-benar lucu. Di sini dirinya sedang berdegup tidak menentu tapi di sana Aira malah asyik tertidur. Denny akan mematikan teleponnya, tapi kemudian Ia mngingat sesuatu. “Mimpi indah Aira…” Denny menelan ludahnya dengan susah payah saat akan mengucakan kalimat selanjutnya. “Aku sayang kamu.”

Kemudian dengan cepat Denny menutup teleponnya. Shit!! Semoga saja Aira tidak mendengar ucapannya yang menggelikan tersebut. Ia merebahkan tubuh di ranjangnya sembari menatap langit-langit kamar. Sedangkan bibirnya tidak berhenti  tersenyum.

Airaa……

Flasback End

Denny kembali menggelengkan kepalanya ketika mengingat kejadian tadi malam. Aira benar-benar membuatnya gila. Di raihnya ponsel yang berada di meja kecil di sebelah ranjangnya. Saat di buka, ternyata banyak sekali missedcall dari nomor yang sama. Siapa lagi jika bukan Aira. Tapi ada beberapa juga yang dari nomor adiknya, Clarista.

Untuk apa Clarista meneleponnya pagi-pagi??. Denny mengembalikan ponselnya di atas meja dan memilih untuk mandi terlebih dahulu. Tapi saat keluar dari kamarnya, seorang Gadis menghambur dalam pelukannya begitu saja membuatnya memekik karena terkejut. Itu adalah Gadis manja lainnya. Clarista, Adik kandungnya.

“Kakak……” Ucap Gadis tersebut masih dengan memeluk tubuh Denny.

“Cla.. Kamu ngapain di sini??” Denny menjauhkn tubuh Clarista yang sedang memeluknya, adiknya itu benar-benar terlampau manja.

“Aku mau ngajak Kakak kencan.”

“Enggak, aku sibuk.”

“Ayolah… ini kan minggu..” Rengek Clarista.

Denny menggelengkan kepalanya. “Oke, tapi sebentar saja dan hanya jalan. Aku nggak mau ketemu sama teman-teman anehmu dan mengenalkan diri sebagai kekasihmu.”

“Oke bosss.. Kak Denny memang yang terbaik..” Ucap Clarista sambil mengecup pipi kakaknya tersebut. Denny memilih mengacak-ngacak poni milik Clarista.

***

Seketika mata Aira terbuka lebar. Mengingat semalam telinganya tidak salah menangkap suara. “Aku sayang kamu.” . Kata-kata itu terngiang-ngiang. Ia mencoba mengerjapkan matanya yang masih mengantuk pagi ini. Aira meyakinkan diri itu adalah sebuah mimpi. Bagaimana bisa Denny yang dingin mengucapkan kata-kata semanis itu.

“Itu hanya mimpikan Mimo??” Desahnya sembari memeluk boneka sapi miliknya. “Nggak mungkin Denny berkata seperti itu!” Bibirnya mengerucut.

“Kak Aila!!!” Pintu kamarnya diketuk dengan keras. Ia segera beranjak dari ranjangnya. Aira membukakan pintu dan tara… Bunga adik bungsunya tersenyum manis. “Bunga mau ketemu Mimo” Ucapnya lucu. Aira menepuk jidatnya, Mimo selalu direbut oleh Bunga. Mungkin ia akan mencari boneka percis sama dengan Mimo agar Mimo miliknya terselamatkan dari tangan Bunga. Bunga langsung berlari lalu naik ke ranjang mengambil Mimo kesayangannya. Dengan gemas ia memeluk boneka sapi itu.

“Bunga sudah mandi belum?” Aira berjalan mendekati Bunga. Ia duduk di pinggir ranjang. Bunga menggelengkan kepalanya. Aira melirik baju yang dikenakan adiknya masih piyama frozen, memang belum. “Kita mandi bareng yuk. Kita buat busa yang banyak”

“Mau!!” Teriak Bunga sambil loncat-loncat di atas ranjang. Aira menuntun Bunga ke kamar mandi sebelumnya ia menaruh Mimo. Tidak mungkin Mimo ikut mandikan?.

***

Denny dan Clarista akhirnya sampai di sebuah Mall yang letaknya tidak jauh dari kontrakan miliknya. Seperti biasa, mereka berjalan dengan mesranya layaknya sepasang kekasih. Clarista tidak berhenti bergelayut di lengannya. Denny sendiri pun merasa sangat nyaman dengan apa yang ia lakukan adiknya.

“Kak.. Ayoo sini.” Ajak Clarista.

Denny menatapnya dengan tatapan curiga.

“Ngapain kita ke sana?? Kamu mau belikan sesuatu buat pacar kamu??” Tanya Denny memincingkan matanya.

“Aku nggak punya pacar tau. Aku cuma mau belikan sesuatu buat Kakak.”

&Nggak, Kakak bisa beli sendiri.” Ucap Denny menghentikan langkahnya ketika mereka akan memasuki sebuah toko yang menjual berbagai macam kebutuhan Pria.

“Ayolah Kak.” Bujuk Clarista

“Pasti Mama kan yang menyuruh kamu??”

“Bukan Kak, ini aku sendiri yang mau belikan Kak Denny. Lihat kemeja Kakak udah jelek, terlihat nggak sekeren dulu lagi tau.” Gerutu Clarista.

Denny tersenyum. Ia sangat tau jika adiknya tersebut sangat menyayangi dan perhatian padanya.

“Dengar, ini sudah menjadi pilihan Kakak. Kakak hanya ingn menjadi orang yang mandiri dan sederhana seperti saat ini.”

“Tapi aku sedih dan nggak tega lihat Kakak seperti ini.” Rengek Clarista.

Denny menghela napas panjang.

“Baiklah, kamu boleh membelikan apapun yang kamu mau untuk Kakak.”

“Yeeyyy!!!”  Clarista bersorak bahagia.

Akhirnya mereka memasuki toko tersebut memilihkan banyak kemeja untuk Denny. Clarista juga tidak lupa membelikan beberapa dasi dan juga sepatu. Ia ingin Kakaknya selalu terlihat keren dan tampan di mata banyak orang.

“Ini berlebihan Cla..”

“Biarin.” Ucap Clarista sambil membayar barang belanjaannya pada kasir. “Kak, setelah ini temani aku makan siang ya.”

“Pasti dengan teman-teman kamu itu.”

Clarista terkikik geli.

“Iya, habisnya mereka menduga jika aku dan Kak Denny sudah putus karena kakak ninggalin aku. Aku nggak mau di remehkan seperti itu.”

Denny mencubit gemas hidung adiknya tersebut.

“Itu salah kamu sendiri, kenapa juga dulu kamu kenalin Kakak pada mereka sebagai pacar kamu.”

“Habisnya pacar mereka keren-keren Kak..”

“Kalau gitu carilah pacar yang lebih keren.”

“Huhh… Sebelum aku pergi cari pacar, mungkin papa sudah mengikat kaki dan tanganku dan mengurung di dalam kamar.” Gerutu Clarista. Denny tertawa lebar.

“Oke, ayo kita pergi menemui teman-temanmu itu.” Mereka pun pergi tanpa menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata yang selalu mengawasi mereka dari kejauhan.

Dinda mengusap dadanya yang terasa sesak. Bagaimana mungkin Denny seperti itu??. Pria yang disukainya ternyata tidak lebih dari seorang Pria brengsek pada umumnya. Dinda tidak sengaja bertemu dengan Denny saat ia ke sebuah pusat perbelanjaan.

Ia ingin menghampiri Denny, tapi diurungkan niatnya karena ternyata ada seorang Gadis bergelayut mesra di lengan Denny. Siapa Gadis tersebut??? Bukankah kemarin Denny mengakui jika sedang menjalin hubungan dengan Aira?? Kenapa sekarang Denny jalan dengan Gadis lain?? Pikirnya saat itu. Akhirnya Dinda memutuskan untuk mengikuti kemanapun Denny dan Gadis itu berjalan.

Mereka menuju ke sebuah toko perlengkapan Pria. Dan ternyata Gadis itu membelanjakan banyak sekali pakaian-pakaian mahal untuk Denny. Apa Denny selama ini hidup seperti itu??? Hidup dari uang wanita-wanita yang menyukainya?? Sial..!!! Jika seperti itu berarti selama ini ia tertipu dengan sikap pendiam dari Denny.

Dinda kemudian masih setia mengikuti kemanapun Denny dan Gadis tersebut pergi. Sesekali ia menggerutu dalam hati karena tidak bisa mendengar apa yang di bicarakan Denny dan Gadis itu. Hingga tibalah ia di sebuah restoran. Ternyata Denny bertemu dengan teman-teman Gadis itu. Mereka pasti benar-benar menjalin suatu hubungan. Lalu bagaaimaana dengan dirinya?? Dan Aira??. Dinda kemudian sedikit menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya. Setidaknya setelah ini Aira akan menyingkir dari sisi Denny. Pikirnya sambil kemudian mengeluarkan smartphone miliknya.

***

“Aira, dari tadi Mama perhatikan kamu selalu memegang handphone mu kenapa?” Tanya Zeeva yang hendak duduk di kursi taman. “Sedang menunggu telepon dari seseorang? Denny?.” Pipi Aira merona, pertanyaan Zeeva memang benar. Dari pagi Denny belum menghubunginya. Ada kekhawatiran kenapa Pria yang status kekasihnya itu tidak mengabarinya apapun padahal ini adalah hari minggu. Mereka sedang berada di taman dibelakang rumah. Dengan ditemani secangkir teh madu.

“Iya, Ma” Jawab Aira malu-malu.

“Dia pasti akan meneleponmu, sayang. Nanti malam Ayah mau kita makan diluar. Dan kamu harus ikut!” Baru saja Aira ingin memikirkan alasan untuk tidak ikut. “Naren naik kelas, kita harus merayakannya. Kamu tidak mau kan Naren marah?”

“Baiklah, Ma” Jawabnya pasrah. “Apa aku boleh mengajak Denny, Ma” Bola matanya seakan berbinar-binar. Ini kesempatan untuk Denny lebih dekat dengan keluarganya terutama Ayahnya. Ia ingin membuktikan Denny bukanlah seperti Wisnu yang matre.

“Ajaklah, sayang. Mama pikir akan lebih seru jika banyak yang datang. Dia sepertinya baik”

“Denny memang baik, Ma” Timpalnya dengan membayangkan bagaimana Denny memperlakukannya selama ini. Aira memaklumi jika Denny terlalu kaku jika berdekatan dengannya. Namun Aira bisa merasakan semua yang dilakukan Denny tulus. Zeeva tersenyum melihat putrinya sedang berbunga-bunga. “Ma”.

“Ya?”

“Apa Mama nggak mau menambah adik untukku??” Tanya Aira dengan cengiran. Mata Zeeva seketika terbelalak dan mulutnya menganga. Dasar putri yang usil. Jahilnya tidak pernah hilang walaupun sudah beranjak dewasa. Dengan kaki yang ancang-ancang Aira kabur berlari menuju ke dalam rumah.

“AIRA!!!” Teriaknya dengan berkacak pinggang. Di usianya seperti tidak memungkinkan untuk hamil lagi 2 anak sudah cukup yang lahir dari rahimnya. Ia ingin menggendong cucu saja dari Aira. Mempunyai anak lagi akan memulai kerepotan lagi baginya. Tubuh Zeeva tetap sama seperti dulu meskipun sudah melahirkan dan usia yang bertambah. Ia melakukan perawatan untuk menunjang penampilannya sebagai pendiri salah satu perusahaan mode.

Di dalam rumah Aira tertawa terbahak-bahak. Wajah lucu Zeeva terpampang jelas terrekam dibenaknya hingga ia terus menertawakan Mama Tirinya.

***

Denny masih duduk dengan gelisah. Adiknya ini benar-benar menyusahkan. Ini sudah lebih dari satu jam mereka makan siang dengan teman-teman Clarista. Bukannya apa-apa, teman-teman Clarista memandangnya dengan tatapan mengagumi, dan Denny tidak suka itu. Belum lagi kenyataan jika ia harus berakting sebagai kekasih dari adiknya sendiri. Ya ampun!!! Denny merogoh saku celananya. Dan betapa bodohnya ia baru menyadari lupa membawa ponselnya. Padahal ia sangat ingin menghubungi Aira. Gadis itu sekarang sedang apa ya, pikirnya.

“Sayang.. Kamu kenapa?? Kok kayaknya gelisah?” Tanya Clarista dengan mesranya. Denny sebenarnya geli dengaan panggilan Clarista tersebut. Adiknya itu benar-benar kelewatan.

Denny menatap jam tangannya seperti orang yang sedang sibuk pada umumnya. “Aku ada kerjaan jam satu nanti. Jadi mungkin aku bisa pulang lebih dulu.” Ucap Denny kemudian.

Clarista memainkan matanya padanya. Ia tidak menyangka jika kakaknya tersebut akan berbicara seperti itu. Padahal setelah makan siang, mereka berencana untuk belanja bersama dengan teman-temannya. Tapi kenapa kakaknya itu malah ingin pulang duluan??

“Ahh iya.. Aku lupa. Sore nanti kami akan ke suatu tempat. Iya kan sayang..” Ucap Clarista kemudian. Denny hanya mampu menganggukkan kepalanya. Clarista kemudian berpamitan dengan teman-temannya. Ia tidak mungkin melanjutkan acaranya tanpa Denny yang menemaninya karena dua temannya tersebut akan belanja dengan kekasihnya juga.

Denny dan Clarista pun keluar dari restoran. Denny keluar dengan wajah leganya sedangkan Clarista dengan wajah yang sudah di tekuk.

“Ayo kita pulang.” Ajak Denny dengan tangan menuntun Clarista.

“Kakak sebenarnya mau kemana sih?? Nggak asyik banget.”

“Aku nggak terlalu suka dengan keramaian Cla.”

“Aahhh selalu saja seperti itu, nggak asyik.” Denny tersenyum lalu mulai mengrangkul bahu Clarista.

“Sudah, jangan merajuk lagi. Ayo pulang, lain kali kita kencan lagi.” Ucap Denny yang kemudian membuat Clarista kembali senang. Di sisi lain, seorang Gadis masih memperhatikan mereka dengan tatapan tajam penuh emosinya. Bibir Gadis itu tidak berhenti menggerutu karena kesal bercampur dengan sakit hati.

Kak Denny, bagaimana mungkin kamu bisa sejahat ini??? pikir Gadis itu.

-Tbc-

Maaf bgt yaa telat post… alasannya masih sama… ini cerita di kerjakan 2 orang jadi pastinya waktu kamilah yg menjadi kendala… dan makasih juga buat yg udah mau nunggu dan baca sampek chapter 7 ini.. saya dan sahabat saya @cutelfishy akan berusala sebaik2nya mengerjakan cerita ini sampai ending… *kisshug.. ( ̄ε(# ̄)︴

Love Between Us – Part 6 (Kencan)

Comments 4 Standard

13393495_138956389842909_724156509_nLove Between Us

 

Hayy.. Met pagi.. pagi2 di temani dengan pasangan manis ini.. wkwkkwkwk ayooo enjoy reading ya… 🙂

 

PART 6

-Kencan-

 

Sore harinya, Denny pulang sedikit telat karena lagi-lagi pekerjaan yang menumpuk. Sesampainya di rumah kontrakan, direbahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. kemudian ia melihat sebuah bingkisan yang tadi siang diberi Aira. Penasaran Denny akhirnya membuka bingkisan tersebut. Ia membulatkan matanya ketika mendapati apa yang ada dalam bingkisan. Sebuah T-shirt yang bertuliskan kata-kata alay ala anak muda jaman sekarang. Denny mengangkat sebelah alisnya, tidak. Ia tidak mungkin menggunakan T-shirt itu malam minggu nanti. Akhirnya Denny merogoh ponsel dalam sakunya untuk menghubungi Aira.

 

“Halo sayang..” Suara lembut Aira benar-benar menyejukkan hatinya.

 

“Hai..” hanya itu yang bisa di ucapkan Denny. Memang ia sendiri tidak tau, kenapa setiap kali dekat dengan Aira tidak bisa berkata banyak. Bukan karena sikapnya yang memang pendiam, tapi entah seperti ada sesuatu yang menahan suaranya di tenggorokannya.

 

“Sudah pulang?? Sudah makan belum?? Kamu lagi apa?? Tumben telepon duluan.” Denny tersenyum ketika mendapati suara cerewet Aira yang sama sekali tidak menghilangkan sedikitpun nada manjanya.

 

“Aku sudah di rumah dan sudah makan di jalan tadi. Aku sudah membuka bingkisan yang kamu berikan tadi siang. Aku menelepon karena aku menolak memakainya.” Jawabnya kemudian. Jika di ingat-ingat, ini adalah kalimat terpanjang yang pernah di ucapkan oleh Denny sepanjang mereka menjalin hubungan.

 

“Kenapa nggak mau pakai??”

 

“Ini terlalu berlebihan Aira. Aku nggak mau terlihat seperti anak alay.”

 

“Itu bukan alay, Denny. Ya ampun, kamu jangan terlalu kaku. Itu adalah T-shirt couple, aku juga nanti akan memakai yang sama denganmu.”

 

“Aku tetap nggak mau.”

 

“Kalau kamu nggak mau, aku nggak akan ngasih hadiah yang spesial lagi buat kamu.”

 

“Hadiah spesial?? Memang hadiah apa lagi??” Denny tampak tertarik dan penasaran dengan apa yang di siapkan Aira untuknya.

 

“Ada saja, pokoknya kamu di wajibkan pakai T-shirt itu!. kalau nggak aku akan marah.” Omelnya. Denny lagi-lagi tersenyum ketika mendengar suara Aira yang di buat merajuk.

 

“Baiklah, aku akan memakainya.” Ucap Denny sambil menghela napas panjang. Astaga.. Aira benar-benar membuat hatinya luluh.

 

“Yeeyy…. Terimakasih sayang…” Sahutnya girang dan tidak lupa suara Aira yang manja benar-benar membuat Denny gemas sendiri.

 

“Aira…”

 

“Iya..”

 

“Aku….” Denny ingin mengucapkan sesuatu, tapi ia tampak ragu. “Aku mau mandi dulu sudah dulu yaa.” Akhirnya hanya itu yang dapat diucapkannya.

 

“Baiklah, nanti aku telepon lagi”

 

“Iyaa..” Mereka mengakhirinya telepon pun di tutup.

 

Denny kembali menyandarkan tubuhnya disandaran sofa ruang tamunya. Jantungnya berdegup kencang seakan ingin meledak. Ia ingin mengatakan kalimat itu pada Aira, tapi entah kenapa semuanya terasa tercekat di tenggorokan. Ia gugup setengah mati bahkan ketika berbicara di telepon dengan Aira. Kenapa bisa begini?? Dulu saat dengan Adelia, Denny tidak merasakan perasaan yang meletup-letup seperti saat ini. Kenapa dengan Aira berbeda?? Kenapa Gadis itu seakan sangat mempengaruhi dirinya??.

 

***

 

Aira melemparkan diri di atas ranjang besarnya. Senyumnya tidak pernah hilang dari wajah cantiknya. Denny, Pemuda itu benar-benar membuatnya merasakan perasaan yang dulu pernah Ia rasakan pada sosok Wisnu. Perasaaannya selalu berbunga-bunga hanya karena mendengar suara Pria itu.

 

Aira bangun dari ranjangnya lalu menuju ke lemari pakaiannya. Ia meraih sebuah T-Shirt yang baru di belinya kemarin. T-Shirt kembaran yang diberikan pada Denny tadi siang.

Aira memeluk T-shirt itu sambil tersenyum sendiri. Ia membayangkan Denny yang kaku mengenakan T-shirt tersebut. Ahh pasti sangat lucu dan menggemaskan. Aira bertekad, bagaimanapun juga ia harus mengubah Denny yang datar dan dingin seperti kutub itu menjadi Denny yang lebih hangat jika berhadapan dengannya.

 

Saat Aira sedang asik menghayalkan dirinya dengan Denny, Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Apa Denny meneleponnya lagi?? Sepertinya tidak mungkin. Pria itu sangat kaku, ia tidak akan menelepon jika tidak penting. Aira meraih ponselnya dan mengernyit saat melihat nomor baru sebagai pemanggil. Ia mengangkat telepon. Aira benar-benar menyesal telah mengangkatnya, karena ternyata si penelepon tersebut adalah orang yang sangat di bencinya.

 

“Aira..” Mendengar suara si penelepon saja, wajah Aira sudah berubah menjadi muak. Ya.. Ia benar-benar muak dengan Wisnu untuk apa lagi Pria sialan itu mengganggunya??.

 

“Wisnu?? Dari mana kamu dapat nomerku??” Tanya Aira dengan marah.

 

“Tidak penting, yang terpenting aku ingin bertemu denganmu Aira.”

 

“Maaf Wisnu, aku tidak bisa.” Ia malas menjawabnya.

 

“Aira.. Aku sayang sama kamu.”

 

“Kamu cuma sayang sama hartaku Wisnu!!.” Ucap Aira telak. Jika Wisnu tau diri, ia akan sakit hati dan tidak akan menelepon lagi. Pikirnya.

 

“Itu dulu Aira. Please.. kasih aku kesempatan kedua. Aku sudah kerja jadi aku tidak lagi mempermasalahkan tentang hartamu.” Aira ingin muntah mendengarnya. Menurutnya Wisnu dulu dan sekarang sama saja matre.

 

“Maaf Wisnu, aku sudah ada yang lain.” Dan setelah kalimat itu, Aira menutup teleponnya. Ia kembali meraba dadanya tepat pada jantungnya yang tidak berhenti berdegup kencang. Aira tidak dapat memungkirinya bagaimanapun juga ia pernah sangat mencintai Wisnu, menyayangi Pria itu dengan tulus. Meskipun kini rasa cintanya tersebut berubah menjadi rasa benci. Aira tidak bisa mengelak jika ia masih sedikit gugup saat berhadapan dengan Wisnu.

Ia hanya bisa meenghela napas panjang. Ah.. Semoga saja Wisnu tidak mengganggu hubungannya dengan Denny nanti.

 

***

 

Malam minggu itu pun akhirnya tiba juga. Denny menghadap bayangan didepannya. Seorang Pria dengan wajah tampan tapi mengenakan T-shirt berwarna putih dengan tulisan “Mr” yang diatasnya terdapat kuping seperti micky mouse. Baginya itu sangat menggelikan. Denny bahkan enggan menatap bayangan sendiri di cermin besar di kamarnya. Bagaimana mungkin seorang Aira bisa memaksanya mengenakan T-shirt seperti ini???. Sembari merutuki dirinya sendiri, Denny menyambar jaket miliknya dan mengenakannya setidaknya T-shirt itu akan tertutup dengan jaket yang kenakannya.

 

Setelah siap dan memastikan dirinya sudah rapi. Denny akhirnya meluncur menuju ke rumah Aira. Semoga saja Ayah Aira nanti tidak bertanya macam-macam terhadapnya. Tiba dirumah Aira seperti biasa Denny mendapat tatapan membunuh dari Rizky, Ayah Aira. Tentu ia tau kenapa Rizky selalu menatapnya seperti itu. Mungkin karena Rizky memang sangat perhatian ingin melindungi puteri manjanya.

 

“Haii…” keceriaan Aira seketika mencairkan suasana yang menegangkan di antara Denny dan Rizky.

 

“Hai…” hanya itu yang dapat di ucapkan Denny. Ia terlalu terpesona dengan apa yang dikenakan Aira. T-Shirt yang sama dengannya ditambah celana jeans ketat khas anak muda yang membuat Aira terlihat casual namun tetap cantik dan mempesona.

 

“Ada yang salah dengan apa yang aku kenakan??” Tanya Aira sambil menatap dirinya sendiri. Denny menggelengkan kepalanya.

 

“Kamu terlihat sangat cantik.” Tanpa sadar Denny mengucapkan kalimat tersebut hingga membuat Rizky membulatkan matanya.

 

Rizky benar-benar tidak suka dengan cara Denny memandang Aira. Seakan-akan dalam matanya tersirat sebuah keinginan dasar yang di miliki oleh setiap Pria ketika melihat Wanita yang di cintainya. Apa Denny mencintai Putri nya dengan tulus hingga ia dapat menunjukkan tatapan memuja pada diri Aira???

 

‘Ehhheemmm..’ Akhirnya berdehem adalah satu-satunya cara Rizky untuk membuat Denny berhenti menatap Aira seperti seekor singa yang sedang kelaparan.

 

“Ayah, kami berangkat dulu yaa.”

 

“Jangan lupa ajak Indra.”

 

“Nggak, Ayah gimana sih. Aku mau kencan masa iya Indra ikut.”

 

“Aira…” Rizky memelototi putrinya yang mulai membantah.

 

“Maaf Om.” Denny memotong kalimat Rizky. “Kali ini ijinkan saya yang menjaga Aira.”

 

“Kamu yakin bisa menjaganya??” Tanya Rizky dengan nada meremehkan.

 

“Saya yakin Om, Aira akan pulang tanpa satu kekurangan apapun.”

Rizky tampak berpikir sejenak. Sebenarnya ia masih tidak percaya dengan Denny. Terlepas dari sikap Denny selama ini yang selalu sopan, Rizky hanya takut jika puteri tersayangnya kembali di kecewakan oleh Pria seperti kejadian yang dulu sempat menimpa Aira.

 

“Ayah, bukannya Ayah janji mau Denny kesempatan??” Aira merengek.

 

“Baiklah” Hanya itu jawaban Rizky tapi mampu membuat Aira bersorak karena senang. Secepat kilat Aira menggandeng lengan Denny, lalu berpamitan dengan sang Ayah dan Mamanya. Setelah itu dengan cepat Aira mengajak Denny pergi. Ia takut jika sang Ayah berubah pikiran.

 

“Indra..” Rizky memanggil pengawal Aira yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari pintu ruang tengah.

 

“Iya Pak??”

 

“Ikuti mereka.” Ucap Rizky dengan datar. “Tapi jaga jarak, jangan sampai mereka tau kalau sedang di awasi.”

 

“Baik Pak.” Dan Indra pun mengikuti kemana Denny dan Aira pergi.

 

***

 

“Kenapa kita tidak menggunakan mobil??” tanya Aira sedikit lebih keras, takut jika Denny tidak mendengar suaranya.

 

“Pakai motor lebih enak,”

 

“Apa yang membuatnya enak??” Tanya Aira kemudian. Denny kemudian meraih sebelah tangan Aira dan menariknya kemudian membawanya tepat di perutnya sendiri. “Saat naik Motor kita bisa lebih dekat.”

Ucapan Denny benar-benar membuat wajah Aira merah padam. Ternyata Denny bisa bersikap romantis juga, mengingat itu iabtersenyum senang. Tanpa sungkan lagi Aira membawa satu tangannya yang lain untuk memeluk perut Denny dari belakang.

 

“Ku pikir hanya aku yang ingin kita supaya semakin dekat.” Ucap Aira kemudian. “Bagaimana nanti kalau hujan??”

 

“Kita bisa berteduh dipinggiran toko.”

Aira terkikik geli membayangkan hal tersebut. “Sepertinya itu romantis.” Kemudian Aira menatap pakaian yang dikenakan Denny. “Kenapa kamu pakai jaket?? Kan T-shirt nya jadi tidak terlihat.” Gerutu Aira.

 

“Malam ini dingin.” Denny mencoba memberi alasan.

 

“Bohong, bilang saja kalau kamu malu menggunakannya.” Denny tersenyum.

 

“Aira, ini sungguh menggelikan untukku.”

 

“Pokoknya aku nggak mau tau. Nanti harus dibuka jaketnya.” Kata Aira dengan manja. Denny menghela napas panjang. Sepertinya lagi-lagi ia tidak mampu menolak permintaan Gadis manja yang kini sedang memeluknya tersebut.

 

“Baiklah, aku akan melepas jaketku nanti.” Ucap Denny dengan pasrah. Sedangkan Aira yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya akhirnya memeluk tubuh kekasihnya semakin erat lagi.

 

***

 

Tujuan mereka adalah sebuah taman hiburan. Entah kenapa Aira ingin sekali mengajak Denny ke sana. Sedangkan Denny hanya bisa menuruti kemauan Aira, ia mengikuti kemanapun kaki mungil Aira melangkah.

 

“Aku mau main itu” tunjuk Aira pada sebuah wahana.

 

“Tidak, itu bahaya.”

 

“Aissh, kamu seperti ayahku saja. Pokoknya kita naik itu.” Aira benar-benar tidak ingin di larang. Denny hanya bisa mengikutinya. Akhirnya mau tidak mau ia pun ikut menaiki Wahana yang terbilang ekstrim tersebut.

 

Lama keduanya saling mencoba beberapa Wahana yang menurut mereka menarik. Aira terlihat begitu antusias sedangkan Denny biasa-biasa saja. Padahal sebenarnya sejak tadi jantungnya tidak bisa berhenti berdetak cepat karena kedekatannya dengan Gadis itu. Aira benar-benar tidak sungkan lagi merangkul Denny kesana kemari. Denny sendiri masih terlihat sedikit kaku dan menahan diri.

 

“Denn, Aku mau itu” Tunjuk Aira dengan manja sambil menuju ke penjual ice cream.

 

“Ayo kita beli.”

 

Duduk santai di sebuah bangku yang di sediakan taman hiburan tersebut dengan menikmati ice cream di tangan masing-masing di tengah-tengah hiruk pikuknya pengunjung taman hiburan.

 

“Kenapa kamu memilih taman hiburan sebagai kencan pertama kita??”

 

Aira tersenyum. “Taman hiburan seperti dunia impian, begitu pun dengan kamu. Kamu seperti dunia impian bagiku. Jadi aku pikir, membawamu kemari adalah hal yang sangat tepat. Aku seperti berada di dunia mimpi, sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.” Denny menatap lekat Aira dengan lembutnya. Gadis di hadapannya sungguh mempesona untuknya. Dengan wajah cantik bercampur dengan ekspresi manja yang khas. Ia menelan ludahnya dengan susah payah.

 

“Aira.” Panggil Denny dengan serak.

 

“Iya…”

 

“Bolehkah aku menciummu??” Aira terbelalak mendengar permintaan Denny. Pria itu meminta ijin?? Lalu bagaimana ia akan menjawabnya???.

 

***

 

Aira menelan ludahnya dengan susah payah, kini dirinya lah yang bingung harus menjawab apa. Apa harus memperbolehkan Denny?? Atau menolaknya?? Ahh kenapa juga sih Denny pakai minta ijin segala, kenapa tidak langsung cium saja seperti kemarin saat dansa?? Ini membuat Aira bingung.

 

Karena Aira diam tidak menjawab, Akhirnya Denny merangkul pundak Aira. “Kalau kamu nggak mengijinkan, nggak apa-apa kok. Masih ada lain kali.” Ucapnya yang membuat Aira semakin tersipu malu.

 

Denny, aku bukannya melarangmu, tapi sangat menggelikan jika aku menjawab ‘Ya.. Silahkan menciumku’ itu sangat memalukan bagiku Denny, gerutu Aira dalam hati.

 

“Baiklah, sudah malam kita pulang ya..” Denny menarik tangan Aira. Dan menuntunnya menuju ke tempat dimana motornya diparkirkan. Aira hanya mengikutinya. Ia merasa tidak enak karena menolak keinginan Denny.

 

Setelah sampai di dekat motor, tiba-tiba Denny melepaskan jaket yang sejak tadi dipakainya.

 

“Kenapa baru di lepas?? Kita kan sudah pulang.” Gerutu Aira. Ia sangat kesal karena Denny mengingkari janjinya. Ia sama sekali tidak melepaskaan jaket yang dikenakannya hingga mereka tidak seperti pasangan yang sedang mengenakan T-shirt couple seperti yang di inginkan Aira.

 

“Aku melepasnya untukmu.” Ucap Denny sambil memakaikan jaket itu pada tubuh Aira. Aira membatu seketika dengan perhatian yang di berikan oleh Denny. “Lain kali kalau keluar, bawalah baju hangat untuk berjaga-jaga. Udara malam nggak bagus buat kesehatan.” Ucap Denny sambil menresleting jaketnya di tubuh Aira. Ia benar-benar tersentuh dengan perhatian dan kelembutan yang di berikan oleh Denny. Secepat kilat ia meraih lengan Denny sambil memanggil nama Pria itu.

 

“Denny..”

 

“Yaa..”

 

Aira kemudian mengalungkan lengannya pada leher Denny, Ia kemudian berjinjit. Denny benar-benar terkejut dengaan apa yang di lakukan Aira, ia tidak menyangka Gadis itu hendak menciumnya ditempat parkir tepat banyak orang sedang melihat mereka. Dengan cepat Denny menahan pinggang Aira dengan kedua tangannya agar menjauh. Sebelum bibir kekasihnya ini mendarat ke bibirnya.

 

“Kamu mau apa?” Tanya Denny.

 

“Eoh, menciummu. Bukannya kamu tadi minta ijin untuk menciumku?”

 

“Nggak jadi” Mata Denny melirik ke sekililing banyak orang yang menatapnya. Aira mengikuti lirikan Denny menjadi malu dengan tingkahnya sendiri. Dengan canggung ia melepaskan tautan tangannya. Aira berdehem mengurangi rasa malunya.

“Ya benar, sebaiknya kita pulang saja.” Aira buru-Buru mengenakan helm untuk menutupi pipinya yang memerah.

 

“Aira” panggil Denny gemas.

 

“Ya?” Ia menoleh.

 

“Itu kan helmku” Ucap Denny sembari menahan tawanya.

 

“Eoh? Aku lupa, maaf” Bisik Aira malu. Ia memang tidak mengenakan helm saat pergi tadi.

 

Mereka menikmati jalan berdua dengan menggunakan Motor. Dengan pikiran masing-masing. Denny membayangkan bibir Aira terasa manis dan lembut itu membuatnya tidak bisa menahan diri dari nalurinya sebagai seorang Pria. Aira mengeratkan tangan hingga menempel sempurna pada tubuhnya. Denny menolak ciuman dari Aira karena ia tau jika ada seseorang yang mengawasi tingkahnya dari kejauhan. Denny menyadari jika ada orang yang mengikutinya. Ia bukanlah Pria bodoh jika tidak mengetahuinya ada sesuatu yang mencurigakan.

 

Mungkin aku akan mencium Aira dilain tempat, bisiknya dalam hati.

 

-TBC-

Bang Aaron mungkin nanti sore atau nnti malam yaa.. 🙂

Love Between Us – Part 5 (Jadian,,,)

Comments 4 Standard

1461672642101

 

Part 5 -Jadian-

 

Denny melepaskan pangutanya terhadap bibir Aira. Napasnya terputus-putus begitu pun dengan Gadis di hadapannya kini. Astaga.. Apa yang kamu lakukan Denn?? Bisa-bisanya kamu menciumnya di depan umum seperti ini??. Ia merutuki dirinya sendiri dalam hati.

 

Kecanggungan kembali menyeruak di antara mereka berdua. Padahal kini mereka masih berdiri di tengah-tengah lantai dansa. Tiba-tiba sebuah tangan menarik lengan Denny.

 

“Kak Denny..” Ia membalikkan badannya dan mendapati sosok manja lainnya. Itu Dinda, adik Arga.

 

“Dinda.. Kamu di sini??”

 

“Aku alumni sini. Kak Denny sendiri ngapain di sini??” Dinda menatap ke arah Aira dengan tatapan tidak suka nya. “Dan kenapa bisa sama dia?” Kemudin Denny merasakan lengannya di apit dengan mesra oleh Aira. Gadis itu seakan menunjukkan jika Denny adalah pasangannya malam ini.

 

“Dia pacarku.” Ucap Aira terang-terangan.

 

“Apa?? Mana mungkin?? Kak Denny itu nggak suka pacaran tau!.” Ucap Dinda dengan nada meninggi. Sedangkan Aira malah tersenyum mengejek. Ia masih sakit hati dengan Dinda yang dulu sering mencampuri urusannya ketika ia masih berpacaran dengan Wisnu.

 

“Nyatanya, saat ini kami pacaran. Bukan begitu sayang?” tanyanya pada Denny dengan nada yang di buat memanja.

 

Denny benar-benar tidak tau harus berkata apa. Ia sedikit tidak enak dengan Dinda. Dinda adalah gadis yang selalu menginginkannya, menuntutnya untuk memiliki perasaan lebih. Tapi Denny tidak pernah bisa merasakan perasaan tersebut, ia hanya menganggap Dinda sebagai adiknya sendiri. Ia menolak perasaan Dinda dengan alasan tidak ingin memiliki hubungan lebih dengan wanita mana pun dulu. Tapi kini…

 

Dinda mendengus sebal. Ia benar-benar sangat kesal terhadap sikap Aira dan Denny. Bagaimana bisa lelaki idamannya tersebut jatuh ke tangan musuhnya sendiri?? Dengan kesal Dinda berbalik dan meninggalkan Denny dan juga Aira. ia menghentak-hentakkan kakinya, kesal.

 

***

 

“Kamu kenal Dinda??” Tanya Aira ketika mereka sudah berada di dalam mobil menuju perjalanan pulang.

 

“Ya, dia adik temanku.”

 

“Sepertinya kalian cukup dekat.”

 

Denny tersenyum. “Dia selalu menempel kemanapun kakaknya pergi. Jadi kami memang sering bertemu.”

 

“Ohh..” Ucap Aira sambil menganggukan kepalanya.

 

“Kamu sendiri sepertinya juga kenal dekat dengan dia?.”

 

“Kami musuh.” Ucap Aira dengan ketus.

 

Denny tersenyum. “Kenapa bisa musuhan?? Jangan bilang karena Pria yang menghampirimu tadi.”

 

“Entah lah.. Aku tidak suka saja orang-orang bermuka dua seperti Wisnu dan Dinda.”

 

“Bermuka dua?? Maksud kamu??” Denny bertanya sedikit penasaran.

 

“Kamu nggak akan mengerti.” Kemudian keduanya sama-sama saling terdiam seakan menyelami perasaan masing-masing hingga kemudian Denny mulai membuka suara lagi.

 

“Aira..” Panggil Denny dengan suara beratnya.

 

“Iya…”

 

“Aku.. Aku minta maaf karena sudah lancang mencium mu.” Ucap Denny sepelan mungkin. Aira tentu saja sangat tertegun dengan apa yang di katakan Denny, bagaimana mungkin ada Pria yang meminta maaf setelah melakukan ciuman selembut tadi??.

 

“Nggak apa-apa, lupakan saja.”

 

Denny menggelengkan kepalanya. “Nggak, aku pikir itu sudah kelewatan. Kita hanya pura-pura tapi sepertinya aku terlalu mendalami peran dalam sandiwara ini.”

 

“Kalau begitu, lanjutkan.”

 

Denny terkejut dengan ucapan Aira. “Apa maksud kamu?”

 

“Kita lanjutkan saja apa yang sudah kita mulai. Gampang kan??” Ucap Aira dengan senyuman manjanya.

 

“Tapi… Bagaimana dengan pacar kamu yang sebenarnya??”

 

“Aku nggak punya pacar. Dan mulai saat ini, pacarku yang sebenarnya adalah kamu. Mengerti??” lagi-lagi Aira berkata dengan nada manja tidak ingin diganggu gugat. Sementara Denny hanya bisa membatu. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya di inginkan Gadis di sebelahnya tersebut. Di sisi lain, ia juga tidak akan mampu menolak permintaan Aira.

 

“Baiklah.. Aku mengerti.” Ucap Denny dengan kekakuannya.

 

“Jadi, mulai saat ini kita benar-benar jadian??” Tanya Aira dengan penuh harap.

 

“Ya, kita jadian.” Aira tersenyum bahagia. Walau Denny masih sangat kaku, bersikap datar-datar saja padanya. Ia cukup senang karena sudah bisa memiliki status yang jelas dengan Pria di sebelahnya ini.

 

‘Denny… Aku akan mendapatkanmu.. mendapatkan hatimu..’ bisik Aira dalam hati.

 

***

 

Bibir Aira tidak pernah lepas dari senyumnya. Sepulang dari reuni tadi ia hatinya berbunga-bunga. Seperti ada melodi indah mengiringi setiap langkahnya. Terbayang jelas ketika Denny menciumnya dengan penuh perasaan. Bibirnya terasa kebas dan ia menginginkan lagi.

 

“Apa susah selesai acaranya?” Tanya Rizky. Aira yang akan melangkah naik ke tangga berhenti. Ia tidak menyangka Ayahnya akan menunggu hingga larut malam seperti ini. Aira bersalah.

 

“Ayah, acaranya sudah selesai” Sahutnya takut.

 

“Kita bicara sebentar” Rizky berbalik menyuruh Aira mengikutinya ke ruang kerja miliknya. Ia duduk dikursi kerjanya sedangkan putrinya duduk di kursi yang di hadapannya terhalangi meja. “Apa benar kamu mempunyai hubungan khusus dengan Pria itu?”.

 

“Maksud Ayah, Denny?”

 

“Ya, siapa lagi yang diakui mu sebagai pacar?”

 

“Iya, Ayah” jawab Aira singkat.

 

“Ayah menentang hubungan kalian!”

 

“Apa? Denny bukan Pria seperti mereka” Elaknya tidak terima. Ayahnya mengira Denny seperti Wisnu dan pacar Aira lainnya.

 

“Dulu pun kamu bilang kalau Wisnu baik tapi kenyataannya?. Dia hanya memanfaatkan keluguanmu!” Sentak Rizky.

 

“Bisakah Ayah memberi kesempatan pada Denny?. Dia bukan orang yang sama dengan Wisnu. Aira yakin itu” Rizky menghela napas kasar.

 

“Jika itu mau kamu, Ayah akan memantau sejauh mana dia serius. Jika dia sama dengan mantanmu dulu tinggalkan!”

 

 

***

 

Denny melirik ke arah jam yang melingkar di tangan kirinya. Ternyata sudah waktunya makan siang. Ia menghitung dalam hati, sebentar lagi Gadis itu pasti meneleponnya. Siapa lagi jika bukan Aira. Dan benar saja, tidak lama ponselnya berbunyi dengan nama Aira yang menjadi pemanggilnya.

 

Denny tersenyum simpul lalu mulai mengangkat telepon tersebut.

 

“Halo..”

 

“Denny, aku sudah di Cafe seperti biasanya.”

 

“Baiklah, aku segera turun.”

 

“Cepat ya sayang..” Denny mendengar Aira mengucapkan kalimat tersebut sambil terkikik. Kemudian telepon tersebut dimatikan begitu saja oleh Aira. Ia hanya bisa menatap ponselnya sambil menggelengkan kepalanya. Gadis itu selalu saja membuat jantungnya tidak berhenti berdegup kencang hanya karena ucapan-ucapan konyolnya.

 

Ini sudah dua minggu sejak malam pesta reunian. Dan selama dua minggu tersebut, hubungan mereka semakin membaik layaknya sepasang kekasih pada umumnya. Meski Aira yang selalu tampak agresif tapi Denny juga seakan sudah membuka dirinya untuk Aira. Ia bahkan tidak malu-malu lagi menggandeng tangan Aira di depan umum saat jalan bersama.

 

Setiap siang Gadis itu selalu menunggunya di Cafe sebelah kantor tempat kerja Denny. Membawakannya makan siang layaknya seorang istri yang membawakan bekal pada suaminya. Awalnya Denny tentu sangat risih, mengingat ia sudah lama tidak dekat dengan Wanita. Tapi karena kegigihan Aira, ia mulai terbiasa. Denny kini bahkan merasa senang ketika melihat Aira yang sudah menunggunya di Cafe tersebut.

 

“Jadi.. Kamu beneran sedang menjalin hubungan dengan Gadis manja tersebut??” Pertanyaan tersebut menyadarkan Denny dari lamunan.

 

Denny menoleh ke samping dan mendapati Vita, teman sekantornya yang sedang asyik berjalan di sampingnya. Vita memang dekat dengan Denny bahkan di kantor tersebut. Beberapa kali ia digosipkan menjalin hubungan dengan Denny.

 

“Maksud kamu??” Tanya Denny tidak mengerti.

 

“Gadis manja dengan pengawalnya yang biasa kamu temui di Cafe sebelah setiap makan siang itu. Apa benar dia pacar kamu?”

 

Denny tersenyum simpul. “Gosip di kantor ini benar-benar mengerikan.”

 

“Untuk orang seperti mu, iya. Kamu terlalu pendiam dan misterius jadi mereka penasaran dan ingin tau tentang mu.” Jelas Vita.

 

“Ya.. Dia kekasihku.” Ucap Denny terang-terangan.

 

“Apa yang kamu cari dari dia, Den??. Dia masih terlihat seperti anak-anak.”

 

“Aku tidak mencari apa pun dari dia.”

 

Vita tersenyum miring. “Jangan bohong, apa karena dia kaya??” Sindir Vita. Sebenarnya Vita merasa sangat sakit hati. Berkali-kali ia berusaha menarik hati Denny tapi Pria itu seakan tidak pernah menoleh ke arahnya, sedangkan dengan gadis tersebut??. Menurut gosip yang beredar di kantor, Denny dan Gadis tersebut selalu terlihat mesra saat makan siang bersama.

 

“Terserah bagaimana penilaian orang, yang penting aku melihatnya bukan karena dia kaya, cantik atau menarik. Aku melihatnya karena menyukainya.” Ucap Denny dengan pasti lalu berjalan lebih cepat meninggalkan Vita yang hanya berdiri tercengang seakan mendapatkan tamparan telak dari dirinya.

 

***

Aira menatap rantang mungil di hadapannya. Di dalamnya sudah terdapat beberapa masakan hasihl buatannya sendiri untuk Denny, pria yang sudah dua minggu ini menjadi kekasihnya.

 

Dua minggu terakhir, aira memang selalu mengunjungi  Denny ketika makan siang tiba, Ia bahkan tidak sega-segan membawakan Denny masakan rumahan.

 

Beberapa hari yang lalu, Aira membawakan Denny Sambal balado. Dan ternyata Lelaki itu sangat menyukainya. Hingga Siang ini, Aira membawakan menu special tersebut untuk Denny, Special karena Ia sendirilah yang memasak untuk lelaki tersebut.

 

Aira tersenyum mengingat bagaimana Ributnya tadi pagi saat ia mencoba memasak sambal balado tersebut. Sang Mama bahkan sampai menghampirinya karena keributan yang ia buat di dapur.

 

*Flashback

 

 

Zeeva mendengar suara gaduh di dapur. Selesai sarapan siapa yang masak di dapur. Matanya terbelalak, keadaannya sungguh berantakan. Ia menggelengkan kepalanya tidak percaya. Seorang Aira berada di dapur sedang memasak?. Zeeva melirik meja pantry yang berceceran cabai dan sayuran lainnya.

 

“Aira??” Panggilnya menyentakan Aira yang bergelut dengan sambal baladonya. Ia terbatuk-batuk akibat bau cabai yang menyerang hidungnya.

 

“Mama!!”

 

“Apa yang kamu lakukan, sayang??” Zeeva berjalan menghampiri putri tirinya.

 

“Aira lagi buat sambal buat Denny, ma” Jawabnya senang binar matanya pun begitu terang.

 

“Sambal balado?” Aira mengangguk semangat. “Kamu bisa buatnya?”

 

“Aira lihat di internet ma” Zeeva mencoba membantu Aira, namun ditolaknya. Aira bilang ingin membuat makanan pertamanya dan itu spesial untuk Denny, kekasih barunya.

 

Aira kembali tersenyum mengingat bagaimana bodohnya dirinya karena seorang Denny. Ia bahkan menyempatkan diri memasak untuk pertama kalinya hanya buat seorang Denny handoyo. Ahhh Semoga saja Lelaki itu nanti menyukai hasil masakannya. Do’anya dalam hati.

 

 

***

 

Sesampainya  di Cafe..

 

Denny melihat Aira yang sudah duduk di ujung Cafe dengan posisi membelakangi dirinya. Denny merapikan kembali pakaiannya, entah kenapa kini saat berada di dekat Aira. Ia ingin tampil serapi dan setampan mungkin.

 

“Hai.. Sudah lama..” Sapa Denny ketika sudah sampai di dekat Aira.

 

“Haii…” Dengan Santai Aira langsung memeluk tubuh kaku Denny seperti biasanya. “Baru aja kok, ayo duduk. Aku bawakan makanan kesukaan kamu lho” Ucap Aira dengan penuh semangat.

 

Denny mengerutkan keningnya. “Memangnya kamu tau apa makanan kesukaan ku?”

 

“Tentu saja, kamu kemarin pernah berkata kalau kamu sangat suka sekali sambal balado yang aku bawakan. Jadi hari ini aku bawakan sambal balado special buat kamu.” Ucap Aira sambil membuka bekal rantang mungil yang di bawanya.

 

“Apa yang membuatnya special?”

 

Aira mendekatkan diri pada Denny dan berbisik pelan. “Aku sendiri yang memasaknya.”

 

“Benarkah??”

 

“Tentu saja, biar begini aku juga pandai masak tau. Ayo cepat di coba.” Ucap Aira dengan antusias sambil menyodorkan makanan bawaannya ke arah Denny.

 

Denny mencobanya sesuap dan ia langsung tersedak, terbatuk-batuk karena sesuatu. Tanpa banyak bicara lagi ia menyambar jus alpukat pesanan Aira dan meminumnya. Meredakan sesuatu yang seakan membakar indera perasanya.

 

“Kenapa?? Apa nggak enak?” tanya Aira dengan raut wajah penasarannya.

 

“Ini terlalu pedas. Dan ini asin sekali.” Ucap Denny masih dengan sesekali meminum jus alpukat milik Aira.

 

“Ahh yang benar??” Aira tampak tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Denny.

 

“Coba saja.” Benar saja, ketika Aira mencoba sesuap. Ia merasakan apa yang di rasakan Denny tadi, rasa pedasnya benar-benar sangat tajam hingga membuatnya tersedak. Rasa asinnya, Aira benar-benar menyesal kenapa tadi tidak mencobanya dulu di rumah.

 

Tadi, saat masakan tersebut selesai di buat Zeeva sang Mama memang sempat menyarankan Aira untuk mencobanya terlebih dahulu tapi karena terlalu percaya diri. Aira menjawab ‘Tenang saja Ma, Seperti apa pun makanannya, kalau Denny tau itu buatanku. Dia pasti akan menghabiskannya. Lagi pula aku ingin masakan pertamaku dia yang mencicipinya..’ Ucap Aira saat itu sambil terkikik geli. Dan kini ia menyesalinya.

 

Secepat kilat Aira merebut jus alpukat yang berada di tangan Denny dan menegaknya hingga tandas berharap rasa pedas di lidahnya segera hilang.

 

“Apa kamu tidak mencobanya dulu saat di rumah??” Aira menggelengkan kepalanya.

 

“Aku mau masakan pertamaku, kamu yang mencobanya.” Ucap Aira dengan polosnya. Denny menatap Aira dengan tatapan bersalahnya. Aira sudah berusaha, harusnya ia berterimakasih, bukan malah menuntutnya lebih. Dengan menghela napas panjang, Denny kembali meraih wadah yang berisi sambal balado tersebut.

 

“Mana nasinya.” Ucapnya dengan datar seperti biasanya.

 

“Buat apa?” tanya Aira yang masih tidak mengerti.

 

“Aku akan memakannya.”

 

“Nggak, di buang saja. Nanti perut mu bisa sakit.” Aira benar-benar terkejut dengan apa yang di lakukan Denny.

 

“Nggak akan sakit sudah sini nasinya.” Tanpa banyak bicara lagi ia meraih wadah satunya yang berisi nasi dan juga masakan lainnya yang di bawakan Aira.

 

“Kalau di makan dengan nasi tidak terlalu asin.” Ucap Denny sambil memakan makanan di hadapannya tersebut dengan lahap tanpa mempedulikan rasa pedas yang seakan membakar lidah dan tenggorokannya.

 

Aira menatap Denny dengan terharu. Walaupun masakannya tidak enak ia tetap memakannya. Matanya berkaca-kaca. Denny bukanlah seperti Wisnu, ia berbeda. Dilubuk hatinya yang paling dalam Aira merasakan sesuatu yang berbeda yaitu kenyamanan dan sangat dijaga. Di dekat Denny, ia tahu segala tindakannya tulus.

“Kamu kenapa??” Tanya Denny saat menatap Aira yang sudah berkaca-kaca.

“Ahh.. enggak,” Ucap Aira sambil menatap ke arah lain.

“Ada masalah?”

“Nggak ada.” Jawab Aira lagi. Tentu Ia tidak ingin mengucapkan rasa terharunya pada Denny. “Emm Aku ada sesuatu untuk Kamu.” Kata Aira sambil mengeluarkan sebuah kado dari dalam palstik yang di bawanya.

“Apa ini?” Tanya Denny penasaran.

Aira tersenyum. “Buka di rumah saja. Aku ingin Kamu menggunakan itu saat malam minggu nanti.”

Denny memicingkan matanya. “Malam minggu?? Kenapa dengan malam minggu??”

“Aku mau kita kencan.” Bisik Aira pelan sambil terkikik geli.

Denny menelan ludahnya dengan susah payah. Kencan?? Setelah jadian dengan Aira dua minggu yang lalu, mereka memang belum sempat kencan. Mereka hanya bertemu saat siang seperti sekarang ini. Dan jika Aira mengajaknya kencan malam minggu nanti, Apa yang harus Ia lakukan??

“Kencan kemana??”

“Kemana saja,” Ucap Aira dengan antusias. “Dan Kamu harus memakai itu.”

Denny mengerutkan keningnya. “Memangnya apa isinya?? Awas kalau macam-macam.”

“Nggak macam-macam kok.”

“Baiklah.” Sambil menghela napas panjang akhirnya Denny mengalah.

“Denny..” Panggil Aira pelan hingga membuat Denny mengangkat kepala ke arahnya. “Terimakasih sudah mau memakan masakanku yang rasanya aneh tersebut.”

Denny tersenyum tanpa ragu Ia mengacak poni Aira. “Ini tidak aneh, hanya sedikit Asin, dan terlalu pedas. Lain kali kurangi cabai dan garamnya.”

“Lain kali?? Jadi Kamu masih mau memakan masakanku??”

Denny menganggukkan kepalanya. “Ya, tentu saja..” dan Aira tidak dapat lagi menyembunyikan senyuman bahagia di wajahnya. Denny benar-benar sosok Pria yang baik, meski cenderung datar, tapi Dia lebih baik di bandingkan Wisnu, mantan kekasihnya yang Brengsek tersebut.

***

Tanpa canggung lagi, Aira bergelayut mesra di lengan kanan Denny saat lelaki itu mengantarnya sampai parkiran di halaman Kafe tersebut. Ia sangat menyukai Aroma dari tubuh Denny. Aroma maskulin yang membuatnya betah berada di dekat lelaki tersebut.

Sesampainya di dekat Mobil. Aira menengok ke dalam. Mobilnya, ternyata Indra masih di Dalam. Pengawalnya tersebut bahkan sedang Asik mendengarkan lagu-lagu yang sedang di putarnya.

“Aku sangat kesal sama Ayah, Kemana pun aku pergi, aku harus selalu mengajaknya.” Gerutu Aira.

Denny tau apa yang di maksud Aira. “Ayah Kamu perhatian sama Kamu.”

“Tapi aku kan Sudah besar.” Aira masih menggerutu kesal.

Denny kembali mengacak Poni milik Aira. Gadis di hadapannya ini sangat mirip dengan sang Adik. Manja dan sangat menggemaskan. Hanya saja.. Aira membuat sesuatu berdegup kencang dalam dadanya, Secara bersamaan Aira juga mampu membangunkan sesuatu dalam dirinya yang sudah lama tidak terbangunkan Oleh kehadiran seorang wanita.

“Kamu cantik kalau sedang merajuk.” Ucap Denny dengan parau.

Aira hanya menundukkan kepalanya ketika melihat perubahan Ekspresi dari Lelaki di hadapannya tersebut.  Lalu kemudia, ketika Ia menundukkan Kepalanya, ia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh Dahinya.

Denny mencium keningnya….

Aira hanya mampu memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan lembut dari Lelaki di hadapnnya tersebut. Jantungnya memacu lebih cepat Dan itu membuat  sesuatu dalam tubuhnya memerintahnya untuk memeluk lelaki di hadapannya tersebut.

Akhirnya Aira pun memeluk tubuh Denny dengan Erat. Menenggelamkan wajahnya pada Dada bidang lelaki tersebut. Dan entah karena dorongan apa Aira mengucapkan kalimat tersebut dengan tulus dari dalam hatinya..

“Aku sayang Kamu Denn..”

Ketulusan tersebut tentu menggugah hati Denny, membuat Denny membatu seketika. Sayang?? Aira benar-benar sayang padanya?? Lalu apa rasa sayang juga yang Ia rasakan pada Gadis yang sedang memeluknya kini??

 

-TBC-