Ugly Wife – Bab 2

Comments 3 Standard

Yeaaayyy aku seneng bgt dehhh karena ada yang nunggu cerita ini. hohoho, so, selamat membaca… muwaaahhhhhhh

 

Bab 2

 

Sore itu, Shafa merasa tubuhnya sangat lelah. Mungkin karena sepanjang hari ramai pengunjung toko bunga miliknya. Shafa duduk di sebuah kursi, dekat dengan salah satu pot besar tanaman palm. Sesekali ia memijit kakinya sendiri, dan hal itu tak luput dari perhatian Leo.

Leo datang menghampiri Shafa, dan bertanya “Ada yang sakit, Mbak?” tanyanya dengan sopan.

Shafa tersenyum dan menggeleng. Padahal, Shafa sudah berkata pada Leo bahwa lelaki itu hanya perlu memanggil nama saja tanpa perlu embel-embel yang lainnnya. Tapi lelaki ini sangat baik hingga ia menolaknya dengan alasan bahwa Shafa adalah bossnya.

“Aku baik-baik saja. Kamu belum pulang?” tanyanya. Padahal, Shafa melihat pegawainya yang lain sudah pulang. Tinggallah ia hanya berdua dengan Leo di tempat tersebut. Dan mungkin beberapa orang yang ada di bagian pembuatan pot.

Toko bunga milik Shafa memang bukan toko bunga biasa. Tempatnya besar, dan sangat luas. Terdapat sebuah rumah kaca kecil di sana, kemudian ada juga sebuah bangunan bersih yang menghadap ke jalan raya. Disana, Shafa biasanya menyambut para pelanggannya dengan berbagai bunga yang kebanyakan sudah dirangkai. Di belakang bangunan itu ada beberapa bangunan lagi, seperti bangunan untuk membuat pot-pot, beberapa kebun kecil, dan yang lainnya.

Shafa dan keluarganya memanglah bukan dari kalangan orang tak punya, mereka hanya hidup sederhana dengan apa yang mereka sukai. Ayah dan ibu Shafa lebih suka berkebun, karena itulah mereka menghabiskan waktu mereka di toko bunga ini. Bahkan, Ayah Shafa sengaja menjual rumahnya untuk memperlebar area toko bunga dan tanaman miliknya ini.

Letak toko bunganya memang bukan ditengah-tengah kota, tapi untuk pelangan, tak perlu diragukan lagi. Toko bunga keluarga Shafa memang sudah memiliki banyak pelangggan sejak dulu. Dan kebanyakan mereka adalah pelanggan setia.

“Belum. Beberapa tanaman palm akan datang sore ini, dan mungkin sedikit telat.”

Shafa mengangguk. Sudah hampir satu bulan Leo bekerja dengannya, dan selama itu, Shafa benar-benar merasa terbantu. Ia memang kekurangan tenaga kerja, apalagi dibagian belakang, untuk mengurus tanaman dan yang lainnya. Dan beruntung ia mendapatkan pegawai seperti Leo.

Seseorang datang saat Shafa dan Leo sedang bercakap-cakap. Seseorang dengan tatapan mata tajamnya. Siapa lagi jika bukan Elang.

Shafa berdiri seketika, ia bahkan megabaikan nyeri di kakinya yang sejak tadi ia rasakan. Baginya saat ini yang terpenting adalah, Elang tidak mengetahui bahwa Leo sedang bekerja dengannya. Shafa tak munafik, Elang memiliki segalanya, lelaki itu bisa melakukan apa saja keinginannya, dan Shafa takut, bahwa salah satunya adalah menyingkirkan Leo dari hadapannya.

“Kenapa dia masih di sini?” tak ada basa-basi, Elang bertanya langsung pada intinya.

Dengan spontan, Shafa menarik Leo ke belakang tubuhnya, hingga ia menghadap suaminya secara langsung. Ada ketakutan dalam diri Shafa, tapi ia tak akan pernah menunjukkan hal itu pada suaminya.

“Dia bekerja denganku.”

“Ohh, bagus sekali. Jadi setelah dipecat dari rumah, kamu memperkerjakan dia?”

“Dia orang baik dan rajin, aku membutuhkan tenaganya.”

Tampak, rahang elang mengetat, tatapannya menajam membuat siapa saja bergidik ngeri ketik melihatnya. Elang amat sangat tidak suka dengan kalimat yang terlontar dari bibir istrinya. Shafa membela lelaki lain di hadapannya dan itu membuat Elang murka.

Tanpa banyak bicara, Elang meraih pergelangan tangan Shafa, menyeretnya keluar dari tempat tersebut dengan kasar.

Leo yang berada di sana tak bisa melihat Shafa diperlakukan seperti itu. ia segera menyusul Shafa dan Elang, kemudian meraih tangan Shafa yang lainnya, membuat Elang menghentikan langkahnya, menatap cekalan tangan Leo lalu menatap lelaki itu dengan mata marahnya.

“Berani kamu menyentuhnya?” desisnya tajam.

“Anda sudah bersikap sangat kasar, Tuan.”

Tanpa banyak bicara, Elang segera melepaskan cekalannya pada tangan Shafa kemudian mendaratkan pukulan kerasnya pada Leo hingga lelaki itu tersungkur ke tanah.

“Elang!” Shafa berteriak histeris ketika melihat kejadian tersebut.

Beberapa pegawai Shafa yang masih di gudang belakang akhirnya keluar. Melihat kejadian tersebut membuat mereka maju, tapi dengan spontan Shafa menghadangnya karena tak ingin mereka berakhir memukuli suaminya.

“Bu, ada apa?” tanya salah satunya.

Shafa menggelengkan kepalanya. Ia akan membuka suaranya, tapi Elang seakan tidak mengizinkan hal itu terjadi. Secepat kilat dia kembali menyeret Shafa, menuju ke arah mobilnya, memaksa Shafa masuk dan dirinya juga ikut masuk sembari meninggalkan tatapan mata membunuhnya ke arah para pegawai Shafa.

Tanpa banyak bicara, Elang menginjak pedal gasnya, mobilnya melaju cepat meninggalkan area toko bunga milik Shafa.

***

“Bedebah!” Shafa tidak tahu apa yang terjadi, kenapa Elang tidak berhenti mengumpat kasar di dalam mobilnya. Padahal seharusnya, disini dialah yang marah. Elang dengan seenaknya menyeret Shafa, memukuli Leo yang jelas-jelas tidak memiliki kesalahan apapun.

Meski begitu, Shafa hanya diam. Ia tidak tahu apa yang sedang ingin dilakukan Elang. Mungkin lelaki itu memiliki masalah di kantornya dan berakhir dengan melampiaskan kemarahan padanya. Ya, bukankah selama ini memang seperti itu?

Tanpa diduga, tiba-tiba saja Elang menghentikan mobilnya, membuat Shafa terkejut dengan apa yang telah dilakukan suaminya itu.

“Katakan padaku. Apa yang sudah kamu lakukan sama dia?” desisnya tajam.

“Aku masih tidak mengerti arah dari pembicaraanmu?”

“Oh, apa kurang jelas? Sudah berapa jauh hubungan kalian? Ciuman? Bercinta?”

“Jangan samakan aku dengan kamu. Meski pernikahan kita hanya sebuah ikatan tanpa perasaan apapun, tapi aku tetap menjaga kesetiaanku dengan orang yang menjadi suamiku.”

“Setia katamu? Begitukah bentuk kesetiaanmu pada suamimu? Berduaan dengan pria yang jelas-jelas sudah dipecat dan di usir dari rumah suamimu?”

“Aku tidak tahu apa yang terjadi dengamu. Kenapa kamu jadi mengurus hal sepele ini?”

“Brengsek!” Elang mengumpat kasar. Ia marah karena sadar bahwa apa yang dipertanyakan Shafa memang benar. Kenapa dia jadi peduli dengan wanita cacat ini? “Cepat atau lambat, aku akan membuat toko bungamu ditutup.”

“Elang…”

“Aku nggak butuh rengekanmu.” Setelahnya, Elang kembali menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya kembali. Sedangkan Shafa, dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Elang memiliki segalanya, Shafa tahu bahwa ketika Elang menginginkan sesuatu, maka pria itu dapat dengan mudah mendapatkannya, termasuk membuat toko bunganya tutup selamanya.

***

Sampai di rumah, Elang masih menekuk wajahnya. Ia keluar dari dalam mobilnya dan berjalan begitu saja meninggalkan Shafa. Shafa hanya menatap kepergian suaminya itu penuh tanya.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan lelaki itu?

Shafa mengabaikan pertanyaannya, ia keluar dari dalam mobil, dan menyusul Elang masuk ke dalam rumah, tapi baru beberapa langkah, ia menghentikan langkahnya saat mendapati seorang gadis muda menghambur memeluk suaminya.

Shafa hanya ternganga melihat pemandangan itu. memang, bukan sekali ini saja ia melihat kedekatan Elang dengan wanita lain. Sudah beberapa kali. Bahkan suaminya itu mengenalkan dirinya dengan kekasihnya sejak hari pertama mereka menikah. Keterlaluan bukan?

Belum lagi kenyataan bahwa setiap kali pesta, Elang selalu pergi sendiri, berkata padanya dengan kalimat menyakitkan, bahwa ia tidak mungkin membawa Shafa ikut serta pesta bersamanya dengan keadaannya yang memiliki kekurangan.

Shafa juga cukup tahu diri, ia juga tidak ingin bergaul dengan teman-teman maupun keluarga Elang yang lain. Ibaratnya, mereka memiliki dunia yang berbeda. Shafa hanya tidak ingin berakhir di hina oleh salah satunya.

Selama ini, Shafa merasa baik-baik saja dengan hal itu, hubungannya dengan Elang yang seakan memiliki dinding pembatas. Elang enggan menariknya lebih jauh ke dunia lelaki itu, dan Shafa juga enggan masuk ke dalamnya. Semuanya baik-baik saja ketika mereka hanya melakukan kewajiban masing-masing tanpa ikut campur urusan pribadi masing-masig. Tapi kini, kenapa Elang mencampuri urusan pribadinya? Shafa hanya merasa bahwa semua itu tak adil untuknya.

Mengabaikan hal itu, Shafa kembali melangkahkan kakinya, menuju ke dalam rumah. Mau tidak mau ia melewati Elang dengan gadis muda yang masih setia memeluk suaminya tersebut.

Saat melihat kedatangan Shafa, gadis itu lantas segera melepaskan pelukannya pada Elang. Menatap Shafa dengan tatapan menilai. Mengamati dari ujung rambut hingga ujung kaki Shafa.

Biasanya, jika yang melakukan itu adalah orang-orang terdekat Elang, seperti keluarga atau teman lelaki itu, Shafa harus mempersiapkan diri dengan ucapan sinis yang akan keluar dari bibir orang tersebut. Seperti, bahwa Shafa harus bersyukur karena sudah memiliki suami sempurna seperti Elang, yang dalam arti lain adalah bahwa Elang cukup sial karena sudah menikahinya. Biasanya juga, Shafa hanya tersenyum dan mengabaikannya. Toh, yang membuatnya cacat seperti ini adalah Elang, bukan? Jadi seharusnya, mereka berdua sama-sama impas, kan?

Shafa mencoba mengabaikan tatapan mata itu. Ia memilih tersenyum, mengangguk dan terus berjalan masuk ke dalam rumah. Saat ini, Shafa berada pada titik tak ingin mendengar komentar ataupun penghinaan untuk dirinya.

“Dia, Istri Kakak?” disisi lain, gadis itu bertanya pada Elang.

“Lupakan saja.” Elang menjawab enggan.

“Kok gitu. Kak El lagi marahan, ya?”

Elang memutar bola matanya jengah. “Jadi kamu pulang hanya untuk mengurus masalah kakak?” tanyanya dengan nada jengkel.

Gadis itu malah tertawa lebar. “Ternyata Kak El masih kayak dulu ya. Suka marah-marah. Awas cepat tua loh… Nanti kalau tua ditinggalin sama istrinya.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, gadis itu berlari masuk ke dalam rumah. Sedangkan Elang hanya bisa menyerukan nama gadis itu dengan nada kesal.

***

Setelah membersihkan diri, Shafa mengganti pakaiannya, lalu duduk di pinggiran ranjang. Sesekali ia memijit kakinya yang kembali terasa nyeri. Mungkin ia memang sedikit kelelahan, mungkin juga karena Elang yang tadi menyeretnya dengan kasar. Shafa tidak tahu, ia hanya merasa pegal hari ini.

Mencoba mengabaikan rasa pegalnya, Shafa bangkit, ia akan keluar dari dalam kamarnya dan menyambangi tanamannya yang ia tanam di kebun kecil tepat di samping rumah Elang. Memang, saat di rumah, hanya dengan tanaman-tanaman itulah Safa merasa lebih baik.

Dulu, saat pertama kali pindah ke rumah Elang dengan status seorang istri dan menantu di rumah ini, Shafa merasa tidak kerasan. Pertama, tentu karena perlakuan kurang bersahabat yang ia dapatkan dari keluarga Elang dan Elang sendiri, sisanya, karena Shafa tidak terbiasa jauh dari tanaman-tanamannya.

Karena itulah, saat Shafa melihat kebun kecil yang tak terawat di samping rumah Elang, di dekat area kola renang, Shafa berinisiatif membawa tanaman-tanaman bunga kesukaannya satu persatu ke sana.

Kini, kebun kecil itu menjadi tempat paling favorite di rumah ini untuk Shafa. Ya, hanya di kebun kecil itu Shafa bisa merasakan kebahagiaan di rumah ini.

Ketika Shafa membuka pintu kamarnya, pada saat bersamaan Elang masuk, hingga dengan spontan wajah Shafa membentur dada bidang suaminya tersebut.

Postur tinggi Elang mau tidak mau membuat Shafa mendongkakkan wajahnya, mendapati wajah Elang sedang menunduk menatapnya dengan begitu dekat. Secara sponta, Shafa kembali menundukkan kepalanya, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya yang tiba-tiba saja menyembul keluar tanpa tahu malu hanya karena tatapan mata dari Elang.

“Mau kemana?” Elang bertanya dengan nada dingin. Seperti biasa.

“Melihat tanamanku.”

“Berpikir untuk mencuri hati adikku?”

Shafa mengangkat wajahnya seketika menatap Elang penuh tanya. “Aku tidak mengerti apa maksud kamu.”

“Lagi-lagi kamu berpura-pura polos. Kamu pikir aku lupa dengan apa yang sudah kamu lakukan pada Ibuku?”

“Aku nggak ngerti.”

Elang melangkah mendekat, sedangkan Shafa dengan spontan ia mundur.

“Sikapmu yang sok baik, sok polos, sok ramah, seperti malaikat itu membuatku muak.” Elang mendekat lagi, sedangkan Shafa masih mundur karena terintimidasi dengan ulah suaminya.

“Aku selalu bersikap seperti itu pada siapapun, dan itu bukan suatu kepura-puraan.”

Elang tersenyum menyeringai. “Itu senjatamu untuk membuat banyak orang tertarik. Tapi tidak denganku.”

“Aku tidak bermaksud membuat orang tertarik denganku.”

“Kalau begitu berhenti bersikap sok polos dan sok ramah.”

“Kamu tidak bisa melarang orang bersikap baik. Sikapku sudah seperti ini sejak dulu, jadi bukan kapasitasmu untuk merubahku.”

Tampak sebuah kemarahan di mata Elang. Shafa tidak tahu kenapa Elang tampak sangat marah padanya. Apa ia salah? Shafa tidak merasa bersalah sama sekali, karena itulah Shafa mencoba memasang wajah tak gentar di hadapan suaminya tersebut.

Lalu, tanpa diduga, dengan gerakan secepat kilat, Elang sudah menangkup kedua pipi Shafa, mengangkat ke arahnya, kemudian menyambar bibir ranum Shafa yang entah kenapa sejak tadi sudah menggodanya.

Shafa terkejut, matanya membulat seketika, meski begitu ia belum sempat menghindar dari Elang. Ketika Elang mencumbu habis bibirnya, yang bisa Shafa lakukan hanya meronta.

Bukannya Shafa menolak, tidak. Meski ia belum memiliki perasaan apapun dengan Elang, tapi sebisa mungkin Shafa memposisikan dirinya sebagai istri lelaki itu. Shafa selalu memenuhi kebutuhan biologis suaminya, tidak pernah menolaknya, meski mereka melakukan hal tersebut tanpa cinta. Tapi saat ini, Shafa hanya ingin bahwa Elang melakukannya dengan baik, bukan dengan kasar seperti ini. Hal itu membuat Shafa tidak suka.

Sekuat tenaga Shafa meronta, mendorong-dorong tubuh suaminya yang lebih tinggi dan lebih besar dari tubuhnya. Hingga kemudian tautan bibir mereka terlepas. Napas keduanya memburu. Shafa mengusap bibirnya bekas dari cumbuan panas Elang, sedangkan Elang, ia menatap Shafa masih dengan tatapan marahnya.

“Kamu menatapku seolah-olah apa yang kulakukan adalah hal yang menjijikkan.” desis Elang dengan marah.

“Kamu melakukannya dengan kasar dan tanpa permisi.”

“Oh, apa kamu cukup pantas kuperlakukan dengan sopan?”

Shafa kesal dengan pertanyaan tersebut. Tak ada gunanya lagi ia beradu argumen dengan Elang. Sembari bersiap pergi, Shafa berkata “Sepertinya, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi.”

Baru beberapa langkah ia melewati Elang, dan lelaki itu segera menyambar pergelangan tangannya, menariknya, kemudian berkata “Kita belum selesai, aku sedang menginginkan hakku.” Setelah ucapannya yang penuh penekanan tersebut, Elang kembali mencumbu paksa bibir Shafa, melumatnya dengan panas, mencecap rasanya dengan penuh paksaan. Rasa marah dan gairah sedang bercampur aduk menjadi satu di dalam diri Elang, dan ketika hal itu terjadi, maka tak ada penolakan yang bisa diterima oleh lelaki itu.

-TBC-

Advertisements

My Pretty Girlfriend – Bab 2

Leave a comment Standard

 

Bab 2

 

Kesha kembali ke rumahnya saat waktu sudah menunjukkan pukul Enam sore. Saat dirinya baru saja mengganti pakaiannya, ponselnya berbunyi. Kesha melirik sekilas, dan terdapat nama Ken di sana.

Setelah mendesah panjang, Kesha akhirnya mengangkat panggilan tersebut.

“Dimana?” tanya Ken tanpa basa-basi lagi.

“Di rumah.” Kesha menjawab pendek.

“Temui aku.”

“Ken, aku…”

Aku tidak akan menidurimu.” Terdengar suara lelaki itu sedikit menahan kemarahan. “Temui aku di sebuah kafe. Akan kukirimkan alamatnya lewat pesan.”

“Tapi Ken…” panggilan ditutup. Kesha tahu bahwa Ken sedang tidak ingin ditolak. Setelah mendesah panjang lagi, Kesha bangkit, mengganti pakaiannya, kemudian bergegas setelah ia mendapati pesan Ken yang menunjukkan dimana letak tempat Ken menunggunya.

***

Restaurant itu sepi. Itulah kesan pertama yang ada dalam pikiran Kesha. Apa Ken sedang mengerjainya?

Seorang pelayan datang menghampiri Kesha, dan Kesha di bimbing menuju ke sebuah ruangan yang cukup Privat. Rupanya, Ken sudah menunggunya di sana.

Lelaki itu sudah duduk dengan gagah di sebuah kursi, sedangkan meja di hadapannya sudah penuh dengan bergabai macam menu makanan.

Apa Ken sedang mengadakan pesta?

Kesha akhirnya mendekat, dan ketika Ken memepersilahkan Kesha duduk, yang dapat Kesha lakukan adalah menuruti kemauan lelaki itu.

“Makanlah.”

Suara Ken terdengar begitu dingin, perintahnya seakan tak ingin dibantah, dan yang dapat Kesha lakukan adalah menuruti apapun kemaua lelaki itu.

Kesha duduk dengan tenang, tapi ia belum juga menyentuh makanannya. Hal ini sedkit aneh. Ken begitu membencinya tapi kenapa Ken melakukan hal ini padanya? Seakan memanjakan dirinya dengan banyak makanan enak bahkan di restaurant yang mewah dengan privat.

“Kenapa tidak makan?” tanya Ken dengan nada dinginnya.

“Apa yang kamu rencanakan?” Kesha bertanya dengan terang-terangan.

“Ckk, jadi kamu mencurigai niat baikku?” Ken mendesis sinis. “Makan dan habiskan semua makanan di hadapanmu. Aku tidak suka melihat tubuhmu yang semakin hari semakin kurus.”

Dalam diam, Kesha menuruti saja apapun yang diperintahkan Ken padanya. Tak ada gunanya melawan lelaki ini. Lebih baik ia menuruti kemauan Ken setelah itu ia bisa pergi dari hadapan lelaki ini secepatnya.

Disisi lain, Ken manatap Kesha dengan tatapan menyelidik. Jemarinya meraih wine di hadapannya, menggoyangkan gelasnya sebelum menyesap isinya,. Matanya masih mengamati Kesha yang tampak memakan hidangan dihadapan mereka tanpa selera.

“Kalau kamu nggak suka sama makanannya, kamu bisa memesan yang lain.” Ken berkomentar, tapi Kesha tak menghiraukannya. Wanita itu hanya makan seperti yang diperintahkan Ken meski matanya tak tampak menikmati hidangan dihadapannya. Hal itu membuat Ken kesal.

Ken kembali bungkam dan memilih hanya menatap Kesha yang masih setia menyantap hidangan makanan di hadapan mereka.

Tak lama, Kesha menghabiskan makanan di hadapannya, dia meminum air putih yang tersedia di sebelah piringnya, mengelap ujung bibirnya dengan kain yang sudah disediakan. Kemudian wanita itu berdiri.

“Aku sudah selesai, terimakasih makan malamnya.” Kesha berharap dirinya bisa pergi meninggalkan Ken secepatnya, tapi ia salah.

“Duduklah kembali.”

“Apa yang kamu inginkan?”

“Aku belum selesai. Duduklah kembali.” Ken tidak meminta, kalimat itu lebih terdengar sebagai sebuah perintah.

Kesha menuruti saja apa yang diinginkan Ken.

Lalu lelaki itu mulai membuka suaranya kembali. “Aku butuh asisten pribadi.”

“Maaf, aku nggak bisa.” Kesha menjawab cepat. Jika Ken ingin ia bekerja lagi dengan lelaki itu, maka Kesha akan menolaknya. Bukan karena ia tidak menyukai pekerjaan tersebut, tapi karena ia memang tidak bisa melakukannya.

Sudah cukup Kesha merasa sesak saat harus bekerja dengan Ken di atas ranjang lelaki itu. Kesha tak ingin hari-harinya ia habiskan dengan Ken dan membuat hatinya pilu mengingat masa lalu mereka. Kesha tak ingin hal itu terjadi.

Well, sayangnya, aku sedang tidak memintamu untuk melakukannya.”

“Lalu?”

“Lebih tepatnya, aku memaksamu.”

“Aku sudah kerja, Ken. Aku tidak bisa menjadi asisten pribadimu lagi.”

“Sayangnya, besok aku akan membuatmu dipecat dari pekerjaanmu itu.”

“Tidak!” Kesha berseru keras. “Jangan lakukan itu. Aku menyukai pekerjaanku.” Lanjut Kesha lagi. Ya, dengan bekerja di salon, setidaknya ia memiliki sedikit penghasilan untuk kebutuhan hidupnya. Kesha juga bisa melupakan kehidupan kelamnya karena berinteraksi dengan orang baru setiap harinya, dan yang terpenting, Kesha memiliki Mr. X di sana. Seorang yang selalu mengirim minuman manis dan membuat harinya sedikit lebih manis.

“Dan aku sudah membayar di muka.”

Kesha mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?”

“Lima puluh juta sebulan pada ibumu, dan kamu akan tinggal bersamaku.”

“Tidak, Ken.”

“Ya. Dia sudah menandatangani kontraknya, dan jika kamu menolak, maka aku bisa menjebloskannya ke penjara.”

“Tidak, kamu tidak akan sekejam itu, Ken.”

“Jika Ken yang dulu kamu kenal memang ya, dia tak akan sekejam itu. Tapi Ken yang ada di hadapanmu adalah Ken yang berbeda. Ken yang sudah dicampakan oleh perempuan jalang hingga membuatnya nyaris gila.” ucapnya penuh arti.

“Kenapa Ken? Kenapa? Apa tujuanmu sebenarnya?” lirih Kesha.

Ken bangkit, ia mengitari menja dan berhenti tepat di belakang kursi yang diduduki Kesha. Ken lalu memenjarakan tubuh Kesha di hadapannya. Lengannya yang kokoh bertumpu pada meja di hadapannya. Tubuhnya sedikit membungkuk, membuat Kesha mau tidak mau terintimidasi dengan apa yang dilakukan lelaki itu padanya.

“Kamu tahu tujuanku, Kei.” Bisik Ken dengan serak, ia kembali memanggil Kesha dengan panggilan sayangnya dulu, hanya Ken dan ibunya yang memanggilnya dengan panggilan tersebut. “Aku ingin kamu merasakan apa yang kurasakan selama dua tahun terakhir. Rasanya sakit, dan sesak, seperti jiwaku dipaksa untuk meninggalkan ragaku. Aku nyaris gila saat kamu meninggalkanku demi pria lain. Dan aku akan membalaskan apa yang kurasakan saat itu padamu, Kei…”

Kesha bergidik ngeri dengan ucapan Ken yang pelan, penuh penekanan serta sarat akan sebuah ancaman mengerikan. Ken tampak begitu dendam dengannya. Sedalam itukah kebencian lelaki ini padanya?

Ken lalu menegakkan tubuhnya kembali, dengan dingin dia berkata “Sekarang, ambil barang-barangmu secukupnya, mulai malam ini, kamu akan tinggal di tempatku.”

Kesha menggelengkan kepalanya, meski sebenarnya ia tahu bahwa ia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan Ken. Ya, jika tidak, Ken benar-benar akan menjebloskan ibunya ke penjara, dan Kesha tidak ingin hal itu terjadi.

***

Ken memarkirkan mobilnya di halaman gedung apartmen tempat dimana Kesha dan ibunya tinggal. Meski Kesha tampak miskin dan menyedihkan, wanita itu memang tinggal di kawasan apartmen yang cukup mewah. Itu adalah gaya hidup ibunya sejak dulu. Sedikit banyak Ken tahu karena dulu, sejak sekolah, Kesha sering bercerita dengan Ken tentang hal ini.

Kedekatannya dengan Ken memang begitu intim, bahkan ketika mereka tidak pernah bercinta sekalipun saat masih berpacaran dulu, kedekatan mereka lebih intim dari pasangan lainnya. Ken tahu semua tentang Kesha begitupun sebaliknya. Hingga kemuidan, wanita itu berubah dan pergi meninggalkannya. Ken tidak akan pernah melupakan masa-masa itu.

“Ambil pakaian seperlunya saja.” Ucap Ken dengan dingin.

Kesha hanya diam dan ia hanya menurut saja apapun yang dikatakan Ken. Dengan sedikit lemas, Kesha keluar dari dalam mobil lelaki itu lalu memasuki gedung apartmen tersebut. Ken yang berada di dalam mobilnya hanya menatap punggung Kesha yang semakin jauh dari pandangannya.

Hatinya terasa sakit, bahkan ketika ia mencoba membalaskan kesakitan hatinya pada sosok Kesha, Ken tetap merasa sakit. Apa yang terjadi? Seharusnya Ken puas karena kini Kesha berada dalam genggaman tangannya. Tapi saat melihat wanita itu menurut seakan tak memiliki jiwa, Ken hancur.

Ken ingat dengan jelas, saat itu, dua tahun yang lalu, ia berada di parkiran ini. Malam itu mendung, tak ada satupun bintang yang menampakan sinarnya. Ken tidak tahu bahwa malam itu akan menjadi malam terakhir ia memiliki perasaan yang bernama cinta…..

Ken keluar dari mobilnya. Ia masih mencoba menghubungi Kesha, meminta agar wanita itu turun dan menemuinya, untuk menyelesaikan masalah mereka.

Masalahnya bermula saat kemarin siang, tiba-tiba Kesha mengundurkan diri dari team Ken. Kesha memang bekerja sebagai salah satu asisten pribadi Ken. Menyiapkan segala keperluan Ken ketika Ken akan manggung dan sejenisnya. Tapi tiba-tiba, wanita itu berkata bahwa dia ingin berhenti.

Ken mencoba berpikir positif, mungkin Kesha lelah, dan ia ingin memberi Kesha waktu untuk liburan. Tapi siapa sangka, bahwa sorenya, Kesha dengan dingin berkata bahwa ia tidak bisa lagi menjadi kekasih Ken. Hubungan yang mereka bangun sejak SMA Kesha putuskan begitu saja tanpa alasan yang jelas. Ken Shock, bahkan ia tidak sempat mengejar Kesha saat wanta itu pergi meninggalkannya.

Hingga kemudian, malam ini ia datang ke tempat wanita itu untuk membahas masalah mereka. Jika Kesha memutuskannya karena wanita itu lelah akibat teror-teror dari fans fanatiknya atau dari hatersnya yang curiga dengan kedekatan hubungan mereka, maka Ken akan mencarikan jalan terbaik untuk mengatasinya asalkan mereka tidak putus. Jika Kesha memutuskannya karena wanita itu tidak sanggup menjadi kekasih gelap sang gitaris populer, maka Ken akan mengumumkan pada dunia jika ia memiliki kekasih, dan kekasihnya itu adalah Kesha, Kesha tak akan menjadi kekasih gelap Ken lagi. Bahkan jika Kesha memutuskannya karena wanita itu lelah dengan hubungan mereka yang monoton karena kesibukannya sebagai seorang artis, maka Ken akan memilih berhenti dari dunia hiburan. Ken berada pada titik dimana ia tidak bisa berpisah dengan sosok Kesha. Ia akan melakukan apapun agar wanita itu tidak meninggalkannya.

Entah dalam deringan keberapa, panggilannya akhirnya diangkat oleh Kesha. Wanita itu terdengar terisak. Ada apa? Apa Kesha menangis? Apa wanita itu juga terpaksa berpisah dengannya? Jika iya, seharusnya wanita itu tidak perlu mengusulkan untuk berpisah.

“Sayang, aku ada di parkiran. Tolong, temui aku, kita bicara baik-baik. Oke?” ucap Ken dengan lembut.

“Maaf, Ken, aku nggak bisa.”

“Kei, Aku akan nunggu kamu di sini sampai kamu nemuin aku.”

“Tolong jangan.”

“Aku tetap menunggu, Kei.” Setelah itu Ken memutuskan sambungan teleponnya. Ken tahu pasti Kesha tidak akan tega membiarkannya berada sepanjang malam di parkiran apartmen. Wanita itu terlalu lembut hatinya untuk mengabaikan keberadaan dirinya. Ken tahu itu.

Ken masih setia menunggu, hingga tak lama, ia melihat sosok itu. Kesha datang menemuinya, dan wanita itu tidak sendiri.

Seorang pria mengikuti tepat di belakang Kesha, Kesha tampak meminta pria itu berhenti dengan jarak yang cukup jauh dari Ken dan mobilnya, lalu Kesha melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ken sendiri.

“Sayang…” Ken segera meraih kedua belah telapak tangan Kesha.

“Ken, jangan.” Kesha menampik genggaman tangan Ken. Ken mengerutkan keningnya, bingung dengan sikap aneh Kesha.

“Sayang, apa yang terjadi? Tolong, jangan begini.”

Kesha berdiri dan hanya diam cukup lama, sebelum ia mulai membuka suaranya. “Kamu tahu pria di belakangku itu?” tanya Kesha kemudian. “Aku mencintainya. Maaf, aku sudah mengkhianati cinta kita.”

Bagaikan tersambar petir saat itu juga, Ken hanya ternganga, tak percaya dengan apa yang dikatakan Kesha. Ken mundur dan menggelengkan kepalanya.

“Tidak mungkin, kamu tidak mungkin melakukannya.”

“Ya, aku melakukannya. Aku sudah pacaran sama dia dibelakang kamu. Rasa cintaku kini semakin besar bahkan lebih besar lagi daripada kepadamu. Aku merasa bosan hidup menjadi kekasihmu. Kita tidak bisa berkencan, kita tidak bisa nonton bareng, dan sejenisnya. Aku tidak bisa lagi mendapatkan hal itu darimu, dan aku mendapatkan hal itu darinya.”

“Kamu nggak mungkin mutusin aku hanya harena hal sepele ini, Kei! Kamu mendukungku sejak awal, sejak kita masih sekolah dulu! Sejak aku bukan artis seperti sekarang ini. Tapi kenapa kamu berubah?!” Ken mulai berseru keras.

“Karena aku usah jenuh, Ken. Aku benci kehidupan selebritimu. Aku benci tidak bisa berkencan dengan normal, aku benci disembunyikan, dan aku paling benci dihujat sama ribuan fans-fans atau haters kamu yang sok tahu itu.”

“Kalau masalahnya hanya itu, aku akan berhenti, Kei. Aku akan berhenti demi kamu. Kembalilah padaku, kumohon.”

Kesha menggelengkan kepalanya. Mata wanita itu tampak berkaca-kaca, dan dengan reflek wanita itu mundur menjauhi Ken. “Nggak bisa. Aku sudah nggak bisa.”

“Kenapa?”

“Karena…” Kesha menggantung kalimatnya, tapi kemudan wanita itu melanjutkannya “Karena aku sudah terlanjur jatuh cinta dengan pria lain. Dia Dafa, pria yang sedang mengamati kita di belakangku.”

Ken menggelengkan kepalanya. “Jangan begini, Kei, tolong. Beri aku kesempatan lagi buat merebut cintamu. Pikirkan apa yang sudah kita miliki selama ini, Kei.”

Kesha menggelengkan kepalanya, air matanya tumpah dan dia mulai membalikkan tubuhnya. “Maaf.” Hanya itu yang diucapkan Kesha.

Tampa diduga, Ken bahkan sudah menekuk lututnya, membuang harga dirinya sebagai seorang lelaki demi cinta dan kasihnya pada seorang Kesha Kirana. “Demi Tuhan, Kei. Jangan lakukan ini. Aku sangat mencintaimu. Kamu, kamu boleh jatuh cinta pada pria lain, tapi jangan tinggalkan aku. Kumohon.”

Ken melihat Kesha tidak berbalik padanya, wanita itu hanya membatu dan tampak sesenggukan sebelum kemudian pergi begitu saja meninggalkannya, mengabaikan permintaannya, dan juga mencampakan cinta dan kasihnya. Ken tak percaya bahwa Keshanya akan melakukan hal ini padanya. Mencampakaannya hingga seperti ini.

Ken merasa hancur, jiwanya tersasa tercabut saat itu juga,. Dan seakan belum lengkap penderitaaannya, hujan tiba-tiba turun, mengguyur tubuh Ken, menyamarkan airmata lelaki itu. Ken tetap di sana, dalam posisi berlutut, dengan hujan mengguyurnya, mengikis semua perasaan cintanya, hingga pagi menjelang….

***  

Kesha memasukkan beberapa potong bajunya. Dari sudut matanya, Lira, Sang Ibu menatapnya sembari menyandarkan tubuhnya pada pintu, sesekali menyesap batang rokok sialannya.

“Dia pria baik, Mama tahu itu.”

“Dia adalah pria yang kejam.” Kesha meralat.

“Dia tampak mencintaimu, Kei. Kamu nggak bisa lihat matanya?”

“Yang kulihat dia begitu membenciku, Ma.” Kesha benar-benar merasa kesal dengan Ibunya. Bagaimana mungkin Ibunya melakukan hal ini padanya? Menjualnya dengan Ken?

“Mama butuh uang, Kei. Kamu harus mengerti.”

Kesha menghentikan aksinya, ia menatap ibunya dengan tatapan nanar. “Kita semua butuh uang, Ma. Tapi kita harus menyesuaikan kebutuhan kita dengan kemampuan kita. Mama nggak butuh uang sebanyak itu setiap bulannya.”

“Anggap saja ini sebagai bayaran buatku setelah aku melahirkan dan membesarkanmu.”

Oh, Kesha sudah kalah jika Ibunya sudah membahas hal itu. Kesha tahu karena Ibunya sering membahas masalah ini dengannya. Ibunya sering melimpahkan semua kesalahan padanya. Semuanya karena ibunya hamil, pacarnya pergi, ibunya sendirian melahirkan dan membesarkannya, dan setelahnya, Kesha tidak bisa menyalahkan ibunya. Selalu seperti itu jika ia dan ibunya bertengkar. Kesha selalu salah.

Lira mendekat “Dengar, Mama sudah menghabiskan separuh hidup mama untuk kamu. Tidak bisakah kamu membalasnya hanya dengan hal ini?”

“Hanya? Ini berat untukku, Ma.”

“Apa yang membuatnya berat? Dia melukaimu? Tidak bukan? Dia hanya membutuhkanmu, dan dia harus membayar karena kebutuhan itu.”

Mata Kesha berkaca-kaca. Jika sudah begini, apa bedanya ia dengan ibunya? Kesha menggelengkan kepalanya “Mama nggak ngerti, mama nggak akan ngerti apa yang pernah aku dan Ken miliki.”

“Yang mama tahu adalah bahwa apa yang kalian miliki sudah berakhir, sekarang, kamu bisa memilikinya lagi.”

Ibunya salah, Ya, ibunya salah besar. Kesha tak akan pernah memiliki cinta Ken lagi. Lelaki itu selalu menatapnya dengan tatapan kebencian, selalu memandangnya dengan tatapan merendahkan. Di mata Ken, tak ada lagi cinta untuknya. Hanya dendam dan kemarahan yang ada di mata lelaki itu. Dan Kesha tak sanggup melihat hal itu setiap harinya.

***

Kesha masuk lift saat seorang memanggil namanya. Tapi telat, lift sudah tertutup jadi orang tersebut tidak sempat mengejarnya. Orang tersebut memilih mengejar Kesha melalui tangga darurat. Ketika Kesha sudah sampai di lobi, orang tersebut memanggil-manggil nama Kesha hingga Kesha menolehkan kepalanya ke arah panggilan tersebut.

“Kesha.” Itu Dafa, lelaki itu berlari menghampirinya.

“Hai.” Hanya itu yang diucapkan Kesha. Kesha tidak menyangka akan bertemu Dafa pada saat seperti ini. “Kamu di rumah?” tanyanya.

“Ya, aku tadi baru pulang kerja dan melihatmu memasuki lift. Kamu kemana saja? Aku jarang ketemu sama kamu beberapa hari belakangan.”

Kesha tersenyum. “Aku ada sedikit kerjaan.”

Dafa lalu melirik tas besar yang sedang dibawa Kesha. “Kamu pindah? Pindah kemana? Dan ibumu?” tanyanya.

“Sementara aja, aku ada kerjaan.”

“Kerjaan apa?” Dafa mendesak.

Kesha tidak bisa menjawab. Pada saat bersamaan ponselnya berbunyi. Kesha merogoh ponselnya dan melihat si pemanggil. Rupanya itu dari Ken. “Aku harus pergi.” Hanya itu jawaban Kesha sebelum ia pergi meninggalkan Dafa.

Dafa tidak mau mengalah, ia menyusul Kesha hingga sampai di tempat parkiran. Dan rupanya, disana Kesha sudah ditunggu oleh seseorang yang Dafa tahu adalah mantan kekasih Kesha, Ken ex-The Batman. Untuk apa Kesha kembali lagi dengan pria itu?

Disisi lain, rahang Ken mengetat ketika tahu bahwa Kesha keluar dengan disusul oleh seseorang. Itu adalah bajingan yang sudah merebut Keshanya. Apa mereka masih berhubungan? Apa Kesha tinggal dengan bajingan itu?

“Maaf, aku lama.” ucap Kesha saat setelah masuk ke dalam mobil Ken.

“Aku ngerti, pasti berat mengucapkan kata selamat tinggal untuk pacarmu.” Ken berkata dengan nada dingin.

Kesha menatap Ken penuh tanya, kemudian ia menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk gedung apartmennya. Rupanya Dafa menyusulnya hingga keluar, pantas saja Ken mengucapkan kalimat seperti itu. Kesha memilih tidak membalas ucapan Ken, tapi Ken seakan tidak ingin mengakhiri penghinaannya.

“Benar-benar jalang, rupanya selama ini kamu tinggal sama dia.” gerutunya pelan, meski begitu Kesha mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Ken.

“Kupikir itu sudah bukan urusanmu lagi.” Kesha menjawab dengan tenang.

“Ya, bukan. Tapi sekarang, semua akan menjadi urusanku.” ucapnya penuh penekanan. “Ucapkan selamat datang di nerakamu, Kesha.” Lanjutnya sebelum ia menyalakan mesin mobilnya kemudian melesat meninggalkan parkiran.

-TBC-

Sedia Tissue yaa hahahhahaha

My Pretty Girlfriend – Bab 1

Leave a comment Standard

Masih ingat ini? ini kisahnya Ken. dan alhamdulillah aku sudah namatin kisah ini. tinggal di share aja di blog hehheheh ya sudah selamat membaca yaa…

kalo mau baca PROLOGnya, silahkan klik di sini….

 

Bab 1

 

Kesha membiarkan seluruh tubuhnya terguyur oleh air shower. Tubuhnya terasa sakit, begitupun dengan jiwanya. Ken benar-benar memperlakukan dirinya dengan sangat buruk. Kesha bahkan tak ingin mengingat bagaimana kasarnya lelaki itu saat menyentuhnya tadi malam.

Dulu, Ken yang dikenal oleh Kesha adalah Ken yang baik hati. Perhatian, pengertian, dan sangat menghargai yang namanya wanita. Tapi tadi malam, Kesha sama sekali tidak mengenal diri Ken. Apa karena dirinya? Apa ken masih sakit hati dengan putusnya hubungan mereka dua tahun yang lalu?

Kesha memejamkan matanya frustasi. Bayangan masa lalunya bersama dengan Ken tiba-tiba menyeruak dalam ingatannya.

 

“Sayang, apa kamu tau? Kami dapat tawaran dari  suatu label musik.”

“Yang bener? Jangan ngada-ngada.” Kesha menjawab dengan cuek.

“Astaga, masa kamu nggak percaya sih? Kamu lihat aja, beberapa bulan kemudian, tampang kami akan keluar di Televisi.”

“Ahhh, biasa aja.” Kesha masih bersikap cuek. Hingga kemudian Ken memilih menggoda Kesha dengan mencubit gemas hidung Kesha. “Ken!! Sakit tau!” Kesha mengerang kesakitan.

“Abisnya, kamu cuekin aku.”

Kesha menghela napas panjang. “Iya, iya. Maaf, aku hanya takut kalau kamu sudah terkenal nanti, kamu akan lupa denganku.”

“Kamu bercanda? Itu nggak akan terjadi.” Ucap Ken dengan sungguh-sungguh.

“Janji?” Kesha mengulurkan jari kelingkingnya.

“Janji.” Ken menyambutnyaa dengan menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingkin Kesha. Keduanya terikat dengan janji manis saat itu.

 

Kesha menghela napas panjang. Ken memang menepati janjinya. Lelaki itu selalu setia dengannya meski lelaki itu sedang berada di puncak kepopulerannya. Hingga kemudian, masalah itu muncul. Mau tak mau Kesha memilih untuk melepaskan Ken.

Dan kini, Kesha benar-benar tidak menyangka jika akan berada di sisi Ken kembali. Meski Kesha tahu bahwa saat ini posisinya bukan sebagai kekasih Ken lagi, melainkan sebagai musuh lelaki itu untuk membalaskan dendam atas sakit hati yang pernah ia berikan pada lelaki itu.

***

Kesha menuju ke arah balkon, menikmati pagi yang begitu dingin. Ya, hari ini memang mendung, bahkan hujan semalaman mengguyur kota Jakarta. Tapi tentu itu tak membuat malamnya dingin, karena tadi malam, Ken menjamahnya dengan begitu panas.

Kepala Kesha menoleh sebentar ke arah Ken yang ternyata masih tidur telungkup. Kemudian ia mendesah panjang. Tadi malam, Ken begitu kasar dengannya. Apalagi saat lelaki itu menyadari jika ternyata dirinya sudah tak perawan lagi. Ken tampak sangat marah, sesekali lelaki itu bahkan menampar pinggulnya. Mungkin Ken akan berpikir bahwa dirinya adalah seorang perempuan murahan. Tapi apa pedulinya? Hubungan mereka sudah putus sejak dua tahun yang lalu. Kini, hubungan mereka tak lebih dari sekedar jual beli kepuasan.

Ken membayar ibunya Dua puluh juta sebulan, sebagai gantinya, ia harus ikut dengan lelaki itu dan menuruti apapun keinginannya.

Kesha tersenyum masam. Harga dirinya dihargai sangat murah. Dua puluh juta sebulan. Yang lebih menyedihkan lagi adalah, karena si pembeli itu merupakan mantan kekasih yang dulu begitu mencintainya. Sungguh, Kesha seakan tak dapat mengenyahkan rasa malunya di hadapan Ken.

Kesha tahu, bahwa sebenarnya, bisa saja ia menolak. Tapi Kesha sadar dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin kembali bersama dengan Ken, meski itu tandanya ia harus menjadi seorang pelacur di hadapan lelaki itu.

Kesha memejamkan matanya, menikmati hembusan angin pagi menerpa tubuhnya. Pada detik itu, ia merasakan sebuah lengan melingkari tubuhnya dari belakang. Mata Kesha membuka seketika saat mendapati bibir Ken sudah mendarat pada leher jenjangnya.

“Menikmati pagimu, sayang?” sapa Ken dengan nada menggoda.

“Ken.” Ucap Kesha sembari menolehkan kepalanya ke arah Ken.

“Aku masih nggak nyangka kalau kita akan kembali bersama.” Ken berkata dengan nada menggoda.

“Aku tak mengerti apa maksudmu melakukan ini, Ken. Kupikir, kamu sangat membenciku. Tapi kenapa kamu malah melakukan ini? menjadikan aku tawananmu?”

“Memang.” Ken menjawab cepat. “Sangat benci malah.” Kali ini perkataan ken penuh penekanan. “Dan aku berencana untuk membalasnya. Sekarang.” Lagi-lagi Ken mengucapkan kalimat tersebut penuh penekanan sebelum ia menggigit pundak Kesha hingga membuat wanita itu mengerang kesakitan.

“Kamu berbeda, Ken… kamu berbeda…” rintih Kesha sebelum Ken menolehkan kepalanya ke arah lelaki tersebut kemudian mencumbu habis bibirnya. Kesha pasrah dengan apa yang dilakukan Ken. Raganya menikmati sentuhan lelaki itu, meski hatinya tersakiti karenannya.

***

Kesha terbangun sendiri. setelah kembali melakukan hubungan intim, Kesha tertidur karena kelelahan. Ken begitu panas, dan lelaki itu seakan tak berhenti bergairah karenanya. Apa ini Ken yang sekarang?

Dulu, Ken bukan orang yang hanya memikirkan selangkangannya saja. Ken bahkan dengan gentle mengatakan bahwa ia tak akan menyentuh Kesha sebelum mereka menikah. Karena itulah dulu mereka tak pernah bercinta. Ken sangat baik, Ken menjaganya seperti menjaga sebuah permata. Dan kini, lelaki itu berbeda.

Apa yang dipikirkan Ken saat tahu bahwa ia sudah tidak perawan ketika Ken menyentuhnya untuk pertama kalinya kemarin? Mungkin, Ken sangat marah, sangat kecewa, sangat membencinya. Dan seharusnya, Kesha tak perlu ambil pusing. Bukankah lelaki itu sudah membencinya sejak dua tahun yang lalu? Apa bedanya dengan sekarang?

Hanya saja, sampai saat ini, perasaan Kesha kepada Ken masih sama. Ia masih begitu mencintai lelaki itu, hingga ketika Ken melecehkannya seperti kemarin dan tadi, rasa sakit menghantam diri Kesha.

Kesha tak ingin memikirkan hal itu lagi. Ia bangkit, duduk dipinggiran ranjang. Mengamati pakaiannya yang berserahkan. Ken seperti seekor hewan buas, bergairah, membara, keras, dan begitu menakutkan. Kesha tak pernah setakut ini dengan Ken sebelumnya, tapi ia tak bisa selalu menampilkan ketakutannya pada lelaki itu.

Kesha harus ingat, statusnya dengan Ken saat ini bukan lagi sepasang kekasih. Ia sudah seperti pelacur pribadi Ken yang hanya dibayar dua puluh juta setiap bulannya. Dan ia harus menerima itu.

Kesha memejamkan matanya, merasakan kesakitan yang amat sangat di dalam dadanya. Lagi-lagi ia berpikir, sebenarnya, bisa saja ia menolak, tapi jika menjadi pelacur Ken bisa membuatnya berada didekat lelaki itu, maka Kesha akan melakukannya.

Saat Kesha menikmati kesakitannya. Ponselnya berbunyi. Kesha meraihnya dan mengangkat panggilan tersebut.

“Tuan Puteri. Apa kamu sudah bosan kerja di sini?” sial! Itu Bossnya.

“Maaf, aku akan terlambat lagi.”

“Kesha, Kesha. Kamu pikir ini salon milik nenek moyang kamu? Cepat datang dalam Lima menit, jika tidak, kamu akan dipecat!” setelah itu telepon ditutup.

Kesha kembali memejamkan matanya frustasi. Seharusnya tidak begini, seharusnya bukan seperti ini….. Akhirnya, Kesha memilih bangkit, memunguti pakaiannya kemudian segera ia membersihkan diri dan berangkat ke tempat kerjanya.

Ia harus kerja, ia membutuhkan pekerjaan itu. Meski Ken sudah membayarnya sebanyak itu setiap bulan, nyatanya Kesha tak ingin menyentuh sedikitpun uang itu. Uang dari Ken hanya akan masuk ke rekening ibunya, dan Kesha bersumpah tak ingin menyentuh uang hasil melacur dengan mantan kekasihnya itu.

***

Sepanjang sore, Kesha sangat sibuk dengan pelanggan salon. Selama ini, Kesha memang bekerja di sebuah salon kecantikan. Dan pada malam harinya ia bekerja serabutan, kadang membantu tetangganya berjualan, kadang juga menggantikan ibunya bekerja sebagai pengantar minuman di salah satu kafe malam. Hidupnya sudah hancur sejak dua tahun yang lalu, cahaya positif yang dulu selalu bersinar diwajahnya dulu kini sudah pupus. Kesha seakan tak memiliki semangat untuk hidup lagi. Meski begitu, ia tak ingin mengakhiri hidupnya.

Denting dari pintu salon membuat Kesha mengangkat wajahnya. Ia berpikir itu adalah salah seorang pelanggannya, tapi ternyata, bukan. Itu adalah seorang pengantar minuman dingin yang entah sudah sejak berapa lama rutin mengantarkan minuman dingin kepadanya.

Kesha tersenyum dan si pelayan itu memberikan minuman dingin kepada Kesha.

“Mr. X sepertinya mengganti pesanannya. Hari ini, dia memesankanmu Cokelat Strawberry. Kamu suka?” tanya gadis cantik yang sebaya dengannya tersebut.

Kesha tersenyum dan menerimanya. “Terimakasih.”

“Ya, tentu saja.” Kemudian si pengantar minuman tersebut pergi.

Entah, ini sudah keberapa kalinya ia menerima pemberian berupa sebuah minuman dari si pengirim yang cukup misterius ini. Sejak ia bekerja di salon ini hampir dua tahun yang lalu, Kesha mendapatkan minuman ini hampir setiap hari.

Namanya Mr. X. Kesha tak ingin GR bahwa ia memiliki penggemar rahasia, tapi siapapun itu, Mr. X mampu membuat Kesha tersenyum sendiri saat membayangkan siapakah orang itu.

Awal-awal ia bekerja di salon ini, adalah awal yang sangat berat. Dulu, saat masih menjadi kekasih Ken, Kesha bekerja sebagai asisten pribadi lelaki itu. Saat itu, Ken sedang berada di puncak karirnya bersama dengan The Batman. Peraturan management yang melarang hubungan asmara di depan publik membuat Ken berpikir bagaimana caranya tetap berdekatan dengan Kesha tanpa ketahuan publik. Dan ide menjadikan Kesha sebagai asisten pribadinya membuat semuanya menjadi lebih muda.

Kesha digajih dengan pekerjaannya saat itu, meski begitu, Kesha melakukan pekerjaannya dengan senang hati karena selalu dekat dengan Ken adalah kebahagiaan sejati untuknya.

Lalu semuanya berubah, saat Kesha memutuskan hubungan mereka. Kesha juga berhenti dari pekerjaannya tersebut. Beberapa bulan terpuruk, akhirnya Kesha memutuskan melamar pekerjaan di sebuah salon kecantikan. Dan beberapa bulan setelahnya, Mr. X datang dengan minuman-minuman manisnya.

Kehidupan Kesha saat itu benar-benar sedang buruk dan berantakan, tapi minuman-minuman manis dan dingin pemberian Mr. X benar-benar menghiburnya. Dulu sekali, Kesha sempat berpikir jika Mr. X adalah Ken. Tapi itu tidak mungkin, nyatanya, saat Ken sedang disibukkan dengan karir barunya, saat lelaki itu sibuk berlibur ke luar negeri dengan teman-teman kencannya, Kesha tetap mendapatkan minuman tersebut dari Mr. X. itu tandanya jika Mr. X dan Ken adalah orang yang berbeda.

Kadang Kesha ingin bertemu dengan sosok itu. Memaksa si pengantar minuman untuk mengatakan, siapa sebenarnya Mr. X. tapi rupanya ia tidak memiliki kemampuan untuk memaksa gadis itu untuk berterus terang.

Kesha menghela napas panjang. Ia mulai menikmati minuman dinginnya tersebut. Memejamkan matanya, merasakan sensasi kedamaian menerpa jiwanya. Setidaknya, ia memiliki orang yang perhatian dengannya, meski bagi Kesha orang itu malu menunjukkan batang hidungnya. Itulah yang dipikirkan Kesha saat ini hingga membuatnya spontan menyunggingkan senyuman lembutnya.

Ketika Kesha sibuk menikmati minuman tersebut, ia tak menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata tajam mengamatinya dari jauh. Mata itu menatap Kesha dari luar kaca transparan salon tempat Kesha bekerja. Mata itu menatapnya dengan marah, entah karena apa. Mata itu adalah milik Ken.

Astaga, apa yang akan dilakukan lelaki itu selanjutnya?

-TBC-

Missing Him – Bab 6

Comment 1 Standard

 

Klik untuk membaca Bab sebelumnya…..

 

Aku tercengang mendengar kalimat yang di ucapkannya. Dia meninggalkanku? Meninggalkanku hanya berdua dengan Tasya? Bagaimana mungkin? Kenapa dia tega melakukan ini padaku??

“Kenapa aku dan Tasya nggak ikut pindah saja Mas?”

Mas Rangga menundukkan kepalanya. “Maaf, nggak bisa..”

Dan meneteslah air mataku. Kenapa seperti ini? Kenapa tiba-tiba dia meninggalkanku saat aku mulai nyaman dengannya? Apa yang terjadi denganmu Mas?? Apa yang kamu sembunyikan dariku?

 

***

Chapter 6

 

Mas Rangga masih melanjutkan sarapannya, sedangkan aku masih sibuk menenangkan Tasya  yang entah kenapa sejak tadi tak berhenti menangis. Apa Tasya merasakan apa yang kurasakan saat ini? Karena jujur saja, setelah mendengar kenyataan tentang kepindahan Mas Rangga, saat ini yang ingin kulakukan hanya menangis.

“Ven, sini, biar Mas gendong Tasyanya.” Suara itu terdengar tepat di belakangku.

“Nggak usah Mas, Mas lanjutin aja makannya, nanti Tasya juga baikan setelah menyusu.” Jawabku dengan suara yang sudah serak.

“Aku… Aku minta maaf, Ven.”

“Untuk apa?” tanyaku pura-pura tak mengerti.

“Karena kepindahanku yang mendadak.” Jawabnya dengan nada lirih.

Seharusnya dia tak perlu meminta maaf. Maksudku, semua akan baik-baik saja jika dia mengajakku dan juga Tasya turut serta bersamanya. Tapi sepertinya Maas Rangga menolak gagasan itu.

“Tidak, kamu nggak perlu minta maaf, Mas. Toh itu kan untuk keperluan kerja. Untuk masa depan kita. Aku mengerti. Meski sebenarnya ini juga sangat berat untukku.” Ucapku sembari mencoba menyunggingkan sebuah senyuman.

Aku tahu, ada sesuatu yang disembunyikan Mas Rangga dariku. Tapi aku tak mengerti apa itu. kenapa dia bisa berubah sedrastis ini? Kenapa ia tampak sedang menghindariku?

***

Tiga hari kemudian, Mas Rangga benar-benar pergi. Aku mengantarnya hingga di bandara. Dia menciumi Tasya, matanya tampak berkaca-kaca. Kemudian, dia mengecup lembut puncak kepalaku. Berkata padaku jika aku harus menjaga diri dan juga menjaga Tasya. Mas Rangga juga berjanji akan sering-sering menelepon. Dan dia juga berjanji akan segera pulang.

Dia pergi, hingga pesawatnya terbang, aku masih tak percaya jika Mas Rangga benar-benar pergi meningalkanku.

Maksudku, aku merasa aneh. Dua tahun lamanya kami selalu hidup bersama. Selalu ada dia di sampingku. Dan kini, dia meninggalkanku sendiri. Aku tidak dapat menahan tangisku lagi. Aku menangis tersedu-sedu, tak peduli jika saat ini banyak mata yang menatap penuh tanya kearahku.

Aku merasa kehilangan dirinya…

Aku merasa sakit karena hal itu…

Ini sama seperti apa yang kurasakan dulu ketika aku memutuskan untuk berpisah selamanya dengan Edo…

Tuhan! Kenapa kau mempermainkanku hingga seperti ini?

Ketika aku tak berhenti menangis tersedu, aku merasakan seseorang duduk tepat di sebelahku. Aku menghentikan tangisku seketika dan menolehkan kepalaku ke arahnya. Itu Edo. Untuk apa dia berada di sini?

“Kamu butuh ini.” Ucapnya sembari memeberiku sebuah sapu tangan.

Tak segera mengambilnya, aku malah bertanya padanya. “Kamu, kenapa bisa di sini?”

Edo tersenyum. “Aku kembali untukmu.”

Sungguh. Aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Aku tidak tahu apa maksudnya. Tapi aku berpikir bahwa ini tidak baik. Mas Rangga, suamiku, baru saja pergi, dan aku tidak ingin ada seseorang yang akan memanfaatkan keadaan ini.

***

Aku masih tak berhenti menatap Edo dengan penuh curiga. Tadi, dia memaksaku untuk ke kafe terdekat. Masih di area bandara. Dan aku tidak bisa menolaknya. Maksudku, aku memang membutuhkan tempat yang lebih privat untuk menenangkan hatiku. Aku butuh minum, dan butuh duduk dengan tenang untuk menghilangkan emosiku karena sepeninggalan Mas Rangga. Dan kini, Edo memberikannya.

Lelaki itu masih  asyik mengaduk kopinya, sesekali menatap ke arah Tasya yang berada di atas kereta bayinya.

“Dia, mirip sekali denganmu.” Ucapnya masih dengan tatapan mata ke arah puteri mungilku.

“Mirip dengan ayahnya.” Ralatku. Dan aku melihat senyuman miris dari Edo.

Edo menatapku seketika kemudian ia bertanya. “Bagaimana kabarmu, Ven?”

Apa dia baru saja menanyakan kabarku? Astaga, apa dia tak bisa melihatnya? Aku baru saja berpisah dan akan hidup berjauhan dengan suamiku. Aku baru saja menangis, bukankah dia baru saja meminjamkan sapu tangannya untukku? Kenapa dia harus menanyakan kabarku disaat yang seperti ini?

“Edo, jangan basa-basi lagi. Aku tahu, kamu nggak tiba-tiba datang seperti ini jika tidak ada yang kamu rencanakan.”

“Kamu berpikiran buruk tentangku? Ayolah, kamu tentu tahu bagaimana perasaanku padamu, Ven. Aku tidak mungkin menyakitimu.”

Dan aku tidak percaya.

“Maaf, karena selama ini aku menghilang. Aku hanya mencoba melupakanmu. Tapi ternyata, aku nggak bisa.”

“Cukup, Do.” Aku memotong kalimatnya. “Tolong, jangan bahas apapun lagi tentang kita di masa lalu.”

“Kenapa Ven? Karena kamu sudah melupakanku? Akui saja, kalau selama ini kamu masih memikirkanku. Kamu belum bisa berpindah hati bahkan dengan suamimu sendiri.”

“Apa? Lancang sekali kamu mengatakan hal itu.”

“Kenapa? Bukankah itu kenyataan? Aku bisa melihat dengan jelas apa yang kamu rasakan padaku, Ven. Dan itu sangat berbeda dengan apa yang kamu rasakan pada Rangga.”

Aku berdiri seketika. Kesal? Tentu saja. Bahkan Mas Rangga saja tak pernah kuizinkan untuk membaca apa yang sedang kurasakan. Suamiku itu selama ini hanya diam ketika aku tak fokus dan tiba-tiba melamunkan Edo. Mas Rangga tak pernah menuntut, tapi kenapa Edo melakukannya? Astaga, kami sudah berpisah bertahun-tahun lamanya, seharusnya Edo mengerti itu.

“Kamu tahu, Ven. Aku merasa dihianati dengan pernikahanmu. Aku merasa sangat kecewa karena kamu menikah begitu saja dengan orang yang tak seberapa mengenalmu. Seputus asa itukah kamu, Ven?”

“Cukup! Kamu berkata seolah-olah kamu mengetahui semuanya! Padahal kamu tidak tahu apapun! Ingat, kamu yang pergi setelah aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya.”

“Aku memang mengetahui semuanya, Ven. Aku mengetahui semua detailnya. Dan tinggal menunggu waktu saja sampai kamu mengetahui semuanya dan berakhir menyesal karena menerima seorang bajingan seperti Rangga.”

Tidak! Tidak! Aku tak akan pernah menyesal karena sudah menerima Mas Rangga. Bagaimanapun juga, Mas Rangga adalah sosok malaikat dingin yang mampu menyentuh hatiku. Meski belum sepenuhnya Mas Rangga melepaskanku dari belenggu masa lalu, setidaknya dengan dia aku sudah berani mencoba melangkah kedepan.

Aku tak akan berhenti, apalagi mundur ke belakang, meninggalkan Mas Rangga dan kembali pada Edo. Itu tak akan pernah terjadi. Bagaimanapun juga, aku akan menjaga pernikahan kami. Edo bisa mengatakan apapun sesuka hatinya, tapi aku memiliki hak untuk tidak mempercayai setiap perkataannya lagi.

-TBC-

Ugly Wife – Prolog

Comment 1 Standard

 

Tittle : Ugly Wife

Penulis : Zenny Arieffka

Semoga kalian suka yaaa…. hahahahhaahaha

 

 

Prolog

 

Shafa mengangkat wajahnya ketika mendapati seorang lelaki masuk ke dalam toko bunga miliknya. Dengan ramah ia menyapa lelaki tersebut. Bertanya apa yang diinginkan lelaki itu.

Mendekati hari valentine seperti ini, memang akan banyak sekali pelanggan laki-laki datang ke tokonya. Biasanya mereka akan mencarikan bunga untuk kekasih atau istrinya. Sangat bahagia sekali jika Shafa menjadi salah satunya. Tapi sepertinya itu hanya akan menjadi mimpinya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan ramah.

Lelaki itu tampak sangat tampan. Rapih dengan kemeja yang melekat pas di tubuhnya. Sangat modis dengan rolex yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Lelaki ini bukan lelaki biasa, bahkan Shafa bisa melihat mobil mewahnya terparkir tepat di depan toko bunganya.

“Shafa Amanda?” tanyanya.

Suaranya terdengar berat, sikapnya begitu mengintimidasi. Tapi Shafa mencoba untuk tak terpengaruh. Ia sering sekali bertemu dengan banyak orang. Meski kebanyakan tak seperti lelaki ini. tapi Shafa mencoba tetap percaya diri ditengah kekuarangan yang ia miliki.

Tapi Shafa baru sadar jika lelaki ini mengetahui nama lengkapnya. Dari mana?

Shafa mengerutkan keningnya kemudian dia menjawab “Ya, saya.”

Lelaki itu tampak mengamati Shafa. Menatap diri Shafa dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Kemudian matanya berhenti pada kaki kiri Shafa. Di pergelangan kakinya masih tampak bekas jahitan di masa lalu. Luka itu tak akan pernah hilang, bahkan efeknya berbekas hingga saat ini. Shafa tak akan bisa berjalan dengan normal lagi. Meski begitu, hal itu tak akan mengurangi rasa percaya diri wanita itu.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Shafa lagi karena lelaki itu hanya fokus melihat pada bekas jahitan di kaki kiri Shafa, membuat Shafa tak nyaman dengan tatapan mata lelaki itu.

“Tutup toko kamu dan mari ikut saya.”

“Apa? Kenapa?” Shafa bingung. Memangnya siapa lelaki ini? kenapa lelaki ini memerintahnya dengan suka-suka hatinya?

“Ikut saja.”

“Tidak. Maaf, saya tidak akan kemanapun apalagi dengan orang yang tidak saya kenal.”

“Begitukah? Kamu tidak lihat ini.” lelaki itu mengeluarkan sebuah kalung putih dari sakunya. Tapi yang membuat Shafa terkejut adalah bandul dari kalung tersebut. Itu sebuah cincin yang sangat mirip dengan cincin yang menjadi bandul kalung yang ia kenakan. Dengan spontan Shafa memegang kalungnya sendiri. bagaimana mungkin? bagaimana bisa? Apakah lelaki ini adalah lelaki yang dikatakan mendiang ayahnya?

“Sekarang, ikut saya, kita akan membahas rencana pernikahan kita.” Ucapnya dengan dingin dan datar.

Pernikahan? Ya Tuhan, jadi apa yang dikatakan ayahnya dulu adalah kenyataan? Bahwa nanti saat ia dewasa, akan ada seorang pria yang datang padanya dengan membawa cincin itu untuk menikahinya secara sah? Shafa masih tak percaya. Benarkah ini sebuah kenyataan? Benarkah ia akan menikah dengan lelaki di hadapannya tesebut?

-TBC-

Missing Him – Bab 5

Comments 4 Standard

 

Bab 5 

 

“A, apa maksud Mas Rangga?” Tanyaku dengan cepat.

“Aku ingin menikah denganmu Ven..”

“Tapi Mas.. kita tidak pernah mengenal lebih dekat sebelumnya.”

Lelaki di hadapanku itu tampak menundukkan keplanya. Entah apa yang ia pikirkan aku sendiri tak tau.

Veny, nggak baik menolak lamaran seseorang sebelum kamu memikirkannya masak-masak.” Ucap Ibu.

“Tapi Bu..”

Pikirkanlah dulu, Nak.” pungkas ibuku.

***  

Dua hari berlalu setelah hari itu. Mas Rangga kembali ke rumahku. Dan astaga.. entah kenapa lidahku seakan kaku saat ingin mengatakan Tidak. Aku menerimanya, menerima lamaran lelaki yang aku sendiri tak seberapa mengenalnya.

Ini gila! Aku tau itu. Tapi mau bagaimana lagi.  Lagi pula sampai saat ini aku masih belum bisa melupakan sosok Edo. Sosok yang sudah menjadi cinta pertamaku, dan mungkin saja akan menjadi cinta terakhirku.

Ven..” Mas Rangga duduk mendekat di sebelahku.

“Aku masih bingung, kenapa tiba-tiba mas Rangga melamarku. Kita tidak pernah kenal dekat sebelumnya.”

“Aku tau. Tapi aku yakin, semua ini terbaik untukmu. Aku akan melindungimu Ven, Aku janji.”

Aku menurunkan kedua bahuku lemah. Ya, memangnya apa lagi yang bisa ku perbuat. Mungkin memang mas Rangga ditakdirkan untuk menemaniku. Lagi pula aku yakin jika tak dapat jatuh cinta lagi selain dengan Edo, maka tak salah jika aku menerima pinangan mas Rangga meski aku tak pernah mencintainya.

***

Kilasan masa lalu hubunganku dengan Mas Rangga tiba-tiba menari di kepalaku. Aku menggelengkan kepalaku.

Mas, apa yang terjadi denganmu hari ini? Pikirku dalam hati.

Setelah menidurkan Tasya, aku lantas menuju ke kamarku. Semoga saja setelah mandi sikap Mas Rangga sudah membaik padaku.Tapi nyatanya, saat aku sampai di dalam kamar, Suamiku itu malah tidur meringkuk di ujung ranjang.

Dadaku terasa sesak. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya hari ini? Apa aku melakukan suatu kesalahan?

Aku lantas memilih masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri kemudian mengistirahatkan hati dan pikiranku yang sudah sangat lelah…

***

“Kamu yakin mau melakukannya?” Aku hanya menunduk ketika Mas Rangga bertanya pertanyaan itu padaku.

Ini sudah hampir satu tahun lamanya aku menikah dengannya, tapi sekalipun kami tak pernah melakukan hubungan intim sama sekali. Mas Rangga sangat menghormatiku, pun denganku yang tentunya tak mungkin menggodanya atau menjajakan diriku padanya.

Setiap malam kami hanya menghabiskan waktu saling bertukar cerita, bertanya tentang aktifitas masing-masing hari ini. Lalu saling tertidur setelah sama-sama lelah. Ya, kami memang tidur satu ranjang, tapi kami tak pernah melakukan apapun. Tapi tadi, tak sengaja telapak tangan Mas Rangga menyentuh permukaan kulit tanganku, tatapan kamu beradu seketika, wajah Mas Rangga kemudian mendekat, dan aku tak sadar jika kami melakukan ciuman pertama kami.

Kini, lalaki itu sudah menindihku dengan pakaian yang sudah lolos dari tubuhnya. Pun denganku yang sudah polos tanpa sehelai benang pun.

Aku hanya menganggukan kepalaku setelah mendengar pertanyaan Mas Rangga tersebut.

“Aku baru pertama kali melakukannya,” Ucapnya dengan suara yang sudah serak.

“Aku juga baru pertama kali.” Astaga.. mungkin saat ini wajahku benar-benar sudah merah seperti tomat. Apa yang sedang kukatakan?

“Baiklah, boleh aku memulainya?” tanyanya lagi sedangkan aku hanya mampu menganggukkan kepala. Mas Rangga mulai mendaratkan kembali bibirnya pada bibirku, menciumku dengan lembut penuh gairah. Jemarinya sudah mulai bergerilya di sekujur tubuhku, dan itu benar-benar membuatku semakin menggila.

Kami saling mencumbu mesra, menyentuh satu sama lain dengan begitu intim. Ya, kupikir ini adalah hal yang paling intim yang pernah ku lakukan dengan seorang lelaki, dan entah kenapa aku merasa bahagia sekali karena lelaki itu adalah Mas Rangga, Suamiku sendiri.

Mas Rangga mulai menyatukan diri, dan aku benar-benar merasa tak nyaman. Rasanya aneh dan sakit, tentunya, tapi Mas Rangga membimbingku selembut mungkin, ia tak berhenti mencumbuku, seakan menenangkan kembali syaraf-syarafku yang kaku karena penyatuan pertama kami.

Dia tak mengucapkan apapun, tapi pergerakannya tak pernah berhenti. Bibirnya masih mengulum bibirku, sedangkan matanya sesekali menatap mataku dengan tatapan anehnya. Ya tuhan… aku benar-benar melakukannya, melakukan dengan Mas Rangga, suamiku, lelaki yaang sama sekali tak kucintai….

***  

Bayangan malam pertama kami menyeruak begitu saja dalam ingatanku, dan aku tersenyum ketika mengingat malam itu. Ku balikkan tubuhku yang tadi tidur miring dengan posisi membelakangi tubuh Mas Rangga. Dan kini, aku masih melihat tubuh suamiku itu masih miringku membelakangiku.

“Mas. Kamu kenapa?” lirihku.

Astaga, dia tak pernah bersikap seperti ini padaku, dan entah kenapa saat dia memperlakukanku seperti ini, rasanya dadaku terasa sesak, hatiku terasa sakit. Seakan ada sesuatu di dalam sana yang telah terkoyak saat melihat sikap dingin Mas Rangga.

“Kamu marah?” Aku memberanikan diri bertanya. Air mataku sudah jatuh begitu saja. Ya, dia marah, tapi aku tak tau karena apa. Apa ini ada hubungannya dengan Edo?? Tidak mungkin. Mas Rangga sama sekali tak mengetahui hubunganku di masa lalu dengan Edo.

“Mas…” panggilku lagi. Dan dia sama sekali tak menjawab panggilanku. Entah dia memang sedang marah, atau dia memang sudah tidur, aku sendiri tak tahu.

***

Panginya, seperti biasa, aku bangun lebih pagi dari Mas Rangga. Tentu saja aku harus menyiapkan sarapan untuk suamiku tersebut. Meski tak pernah mencintainya, tapi aku selalu mengabdi padanya layaknya seorang istri yang begitu mencintai suaminya.

Aku melirik ke arah Tasya yang berada di dalam boks bayinya. Puteriku itu memang sangat pandai, ia tahu jika kini ibunya sedang sibuk dan dia memilih bermain dengan mainannya sendiri ketimbang harus menangis rewel khas bayi seusianya.

Kemudian aku melirik ke pintu kamarku. Mas Rangga belum juga keluar. Ada apa? Tidak biasanya dia bangun siang. Apa dia masih marah? Apa suasana hatinya masih seburuk tadi malam?

Dan tak lama, sosok yang berada didalam kepalaku itupun menampakkan dirinya. Hampir saja aku terpekik ketika tiba-tiba saja dia keluar dari kamar kami dengan tatapan mata yang langsung menatap tepat pada manik mataku.

“Pagi Mas..” Sapaku.

“Pagi…” Hanya itu jawabannya.

Aku mengernyit saat melihatnya hanya mengenakan kaus oblongnya. Ia tidak mengenakan kemeja yang biasa di kenakannya ke kantor. Kenapa? Apa dia libur kerja?

“Mas Rangga nggaak kerja?”

“Aku libur.” Jawabnya singkat.

“Kok tumben ngambil cuti?”

“Bukan cuti, tapi aku memang di liburkan selama tiga hari ini.”

“Loh kenapa?” tanyaku sedikit terkejut.

“Aku dipindah tugaskan mulai minggu depan ke perusahaan yang bercabang di Palembang.” Jawabnya dengan ekspresi datar.

Aku membatu seketika. Pindah? Kenapa tiba-tiba?

“Kok aku nggak tau Mas?”

“Aku memang sengaja cari waktu yang tepat buat ngasih tau kamu. Tapi sepertinya memang nggak ada waktu yang tepat.”

“Lalu, kapan kita akan siap-siap?” tanyaku sembari menyuguhkan kopi untuk Mas Rangga.

“Nanti aku akan mulai belanja kebutuhanku, lalu mulai bersiap-siap.” Aku mengernyit ketika mendengar kalimat Mas Rangga. Apa maksudnya?

“Maksud Mas Rangga?”

Mas Rangga menatapku dengan tatapan anehnya. “Ven, aku akan pindah ke Palembang sendiri. Dan mungkin hanya seminggu sekali aku akan pulang ke sini.”

Aku tercengang mendengar kalimat yang di ucapkannya. Dia meninggalkanku? Meninggalkanku hanya berdua dengan Tasya? Bagaimana mungkin? Kenapa dia tega melakukan ini padaku??

“Kenapa aku dan Tasya nggak ikut pindah saja Mas?”

Mas Rangga menundukkan kepalanya. “Maaf, nggak bisa..”

Dan meneteslah air mataku. Kenapa seperti ini? Kenapa tiba-tiba dia meninggalkanku saat aku mulai nyaman dengannya? Apa yang terjadi denganmu Mas?? Apa yang kamu sembunyikan dariku?

-TBC-

Missing Him – Bab 4

Comments 2 Standard

 

Bab 4

 

Ven. Please. aku pengen ngomong sesuatu sama kamu.” Ucap Edo yang sudah menghadangku.

Ini sudah beberapa hari setelah pengakuannya padaku… Dan aku menghindarinya. Aku tidak ingin dia kembali membahas tentang hubungan kami.

“Lepasin Do. Aku mau pulang.”

“Biar aku yang antar.”

“Enggak, aku bisa pulang sendiri.” Jawabku dengan nada ketus.

“Please Ven,  jangan cuekin aku seperti ini. Jangan hindarin aku.” Lirihnya.

Aku menghela napas panjang. “Oke, tapi kamu harus janji kalau nggak akan bicara seperti itu lagi padaku.”

“Oke, aku janji.”  Dan akhirnya kami pun baikan.

Hubungan kami kembali seperti semula. Ibarat teman tapi mesra, ibarat sepasang kekasih tanpa status yang pasti. Gadis-gadis di sekolah kembali memusuhiku, dan gosip kami berpacaranpun kembali gencar di beritakan di kalangan anak-anak sekolah. Tapi aku tak ambil pusing. Yang terpenting adalah satu hal, Edo tak pernah lagi mengucapkan perasaan sukanya padaku. Dan itu membuatku tenang.

***

“Kenapa?” Tanya Mas Rangga padaku dengan sedikit berbisik.

“Ahh.. enggak.” Jawabku dengan sedikit tergagap.

“Wajahmu pucat. Kamu nggak enak badan?”

“Emmm kepalaku sedikit pusing, itu saja.” Jawabku cepat.

“Kamu mau kita pulang?” Tanya mas Rangga penuh perhatian.

Aku mengangguk cepat. “Ya, aku ingin pulang.” Bisikku padanya.

“Maaf Pak, sepertinya istri saya sedang tidak enak badan.” Ucap mas Rangga dengan sopan pada Edo. “Kami akan permisi pulang terlebih dahulu jika Pak Edo tidak keberatan.” Lanjutnya lagi dengan penuh hormat.

Edo menatapku dengan tatapan anehnya. Dan astaga,  Itu membuatku salah  tingkah.

“Kamu sakit?” Tanya Edo penuh perhatian.

“Umm, Maaf Pak, hanya sedikit pusing.”

“Mau saya antar pulang?”

Pertanyaan Edo membuat aku dan Mas Rangga saling menatap satu sama lain. Mengantar pulang? Yang benar saja. Dia adalah atasan  Mas Rangga, semoga saja Mas Rangga tidak curiga dengan sikap aneh Edo.

“Kami membawa mobil kantor, Pak.” Jawab mas Rangga cepat.

Edo akhirnya menganggukkan kepalanya. “Baiklah kalau begitu. Emm semoga kita bisa bertemu lagi.” Ucap Edo sambil menatap tajam ke arahku. Sedangkan aku hanya bisa menunduk.

***

Kami akhirnya keluar dari restoran tersebut. Mas Rangga berjalan cepat di hadapanku dengan ekspresi wajah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Ada apa dengannya?

“Mas, jangan terlalu cepat.” Ucapku sambil sedikit berlari menyusulnya. Tentu sangat susah mengingat saat ini aku sedang menggendong Tasya.

Tapi kemudian aku merasakan seseorang meraih sebelah tanganku. Saat aku menoleh ke belakang, aku mendapati tangan Edo yang sedang menggenggam pergelangan tanganku.

Please.  Jangan lakukan apa-apa, Do. Aku nggak mau Mas Rangga tau tentang hubungan kita dulu. Lirihku dalam hati.

“A.. ada apa Pak?” Tanyaku dengan suara tergagap.

Lalu aku merasakan Edo menyisipkan sesuatu di telapak tanganku, ia kemudian menggeggamkan tanganku.

“Hubungi aku.” Ucapnya.

Dengan spontan aku menoleh ke arah Mas Rangga. Mas rangga ternyata sudah berdiri tepat di sebelah pintu mobil dengan tatapan menuju ke arah kami.

“Edo..  Please..” lirihku hampir tak terdengar. Entah kenapa aku sangat takut, takut jika Mas Rangga tau semuanya kemudian dia membenciku.

“Kalau kamu ingin semua baik-baik saja, please, hubungi aku.” Ucap Edo lagi lalu dia pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih bingung.

***

Sampai di rumah, Mas Rangga tetap diam, dia seakan tidak acuh dengan  keberadaanku. Kenapa dia seperti itu? Apa dia tau hubunganku dengan Edo?

“Aku mandi dulu.” ucapnya datar sambil masuk ke dalam kamar mandi.

Dadaku terasa sesak melihat tingkahnya seperti itu, Mas Rangga tak pernah bersikap seperti itu padaku. Dia selau lemah lembut, perhatian, dan selalu menganggapku sebagai ratu, tapi entahlah, aku bingung dengan sikapnya sesore ini.

Akhirnya aku memilih berdiam diri di kamar bermain Tasya. menidurkan Tasya di boks bayi yang berada di ujung ruangan tersebut. Kemudian aku hanya bisa membatu di sana.

***

Aku membuka pintu rumah, dan mendapati sosok tinggi di hadapanku. Kenapa dia kemari? Pikirku saat itu.

“Mas Rangga, kenapa di sini?”

Veny, Boleh aku masuk?”

“Ya, silahkan.”

walau dengan wajah bingung aku tetap mempersilahkan mas Rangga masuk. Rangga Kurniawan adalah rekan kerjaku di sebuah perusahaan tempatku bekerja. Dia senior, tentu saja, karena sudah bertahun-tahun dia kerja di sana. Umurnya mungkin sekitar tiga sampai lima tahun lebih tua dari pada aku.

Kami tak pernah dekat, karena Rangga sendiri memang terkenal pendiam. Tapi dia bukan tipe  yang pendiam karena angkuh dan tak suka berteman. Tidak, dia bukan orang seperti itu. Dia ramah, banyak teman, tapi sikap pendiamnya mungkin karena memang dia tak ingin banyak bicara.

Aku mempersilahkan mas Rangga duduk di kursi tamu.

“Mau minum apa Mas?” Tanya ku sedikit canggung. Sungguh aku masih bingung dengan kehadiran Mas Rangga di rumahku.

“Tidak perlu Ven, aku hanya ingun bertemu kedua orang tuamu.”

Aku mengernyit, untuk apa mas Rangga ingin menemui mereka?

“Untuk apa mas mau menemui mereka?” Tanyaku sedikit bingung.

“Enggak apa-apa, ada yang mau ku bicarakan dengan mereka.”

Aku mengangguk, “Baiklah, aku panggil mereka dulu, ya,”

Akhirnya aku masuk, memanggil ibu dan ayahku. Merekapun tampak bingung dengan kehadiran sosok mas Rangga.

Mas Rangga sendiri langsung memperkenalkan diri pada kedua orang tuaku dengan sangat sopannya. Sedangkan orang tuaku menyambut hangat kedatangannya.

“Jadi, Nak Rangga, apa ada yang perlu di bicarakan dengan kami?” Ayah akhirnya bertanya secara langsung kepada Mas Rangga.

“Begini pak, kedatangan saya kemari adalah untuk melamar Veny menjadi istri saya.”

Mataku membulat seketika. Aku yang dalam posisi berdiri tak jauh dari tempat duduk ayah dan ibuku, tak dapat bergerak sedikitpun. Semuanya terasa kaku, mungkin aku terlalu terkejut dengan apa yang di katakan Mas Rangga.

Melamar? Astaga, Apa dia bercanda? Kami bahkan sangat jarang sekali berbicara satu sama lain, kenapa dia bisa-bisanya melamarku?

-TBC-