Missing Him – Bab 6

Comment 1 Standard

 

Klik untuk membaca Bab sebelumnya…..

 

Aku tercengang mendengar kalimat yang di ucapkannya. Dia meninggalkanku? Meninggalkanku hanya berdua dengan Tasya? Bagaimana mungkin? Kenapa dia tega melakukan ini padaku??

“Kenapa aku dan Tasya nggak ikut pindah saja Mas?”

Mas Rangga menundukkan kepalanya. “Maaf, nggak bisa..”

Dan meneteslah air mataku. Kenapa seperti ini? Kenapa tiba-tiba dia meninggalkanku saat aku mulai nyaman dengannya? Apa yang terjadi denganmu Mas?? Apa yang kamu sembunyikan dariku?

 

***

Chapter 6

 

Mas Rangga masih melanjutkan sarapannya, sedangkan aku masih sibuk menenangkan Tasya  yang entah kenapa sejak tadi tak berhenti menangis. Apa Tasya merasakan apa yang kurasakan saat ini? Karena jujur saja, setelah mendengar kenyataan tentang kepindahan Mas Rangga, saat ini yang ingin kulakukan hanya menangis.

“Ven, sini, biar Mas gendong Tasyanya.” Suara itu terdengar tepat di belakangku.

“Nggak usah Mas, Mas lanjutin aja makannya, nanti Tasya juga baikan setelah menyusu.” Jawabku dengan suara yang sudah serak.

“Aku… Aku minta maaf, Ven.”

“Untuk apa?” tanyaku pura-pura tak mengerti.

“Karena kepindahanku yang mendadak.” Jawabnya dengan nada lirih.

Seharusnya dia tak perlu meminta maaf. Maksudku, semua akan baik-baik saja jika dia mengajakku dan juga Tasya turut serta bersamanya. Tapi sepertinya Maas Rangga menolak gagasan itu.

“Tidak, kamu nggak perlu minta maaf, Mas. Toh itu kan untuk keperluan kerja. Untuk masa depan kita. Aku mengerti. Meski sebenarnya ini juga sangat berat untukku.” Ucapku sembari mencoba menyunggingkan sebuah senyuman.

Aku tahu, ada sesuatu yang disembunyikan Mas Rangga dariku. Tapi aku tak mengerti apa itu. kenapa dia bisa berubah sedrastis ini? Kenapa ia tampak sedang menghindariku?

***

Tiga hari kemudian, Mas Rangga benar-benar pergi. Aku mengantarnya hingga di bandara. Dia menciumi Tasya, matanya tampak berkaca-kaca. Kemudian, dia mengecup lembut puncak kepalaku. Berkata padaku jika aku harus menjaga diri dan juga menjaga Tasya. Mas Rangga juga berjanji akan sering-sering menelepon. Dan dia juga berjanji akan segera pulang.

Dia pergi, hingga pesawatnya terbang, aku masih tak percaya jika Mas Rangga benar-benar pergi meningalkanku.

Maksudku, aku merasa aneh. Dua tahun lamanya kami selalu hidup bersama. Selalu ada dia di sampingku. Dan kini, dia meninggalkanku sendiri. Aku tidak dapat menahan tangisku lagi. Aku menangis tersedu-sedu, tak peduli jika saat ini banyak mata yang menatap penuh tanya kearahku.

Aku merasa kehilangan dirinya…

Aku merasa sakit karena hal itu…

Ini sama seperti apa yang kurasakan dulu ketika aku memutuskan untuk berpisah selamanya dengan Edo…

Tuhan! Kenapa kau mempermainkanku hingga seperti ini?

Ketika aku tak berhenti menangis tersedu, aku merasakan seseorang duduk tepat di sebelahku. Aku menghentikan tangisku seketika dan menolehkan kepalaku ke arahnya. Itu Edo. Untuk apa dia berada di sini?

“Kamu butuh ini.” Ucapnya sembari memeberiku sebuah sapu tangan.

Tak segera mengambilnya, aku malah bertanya padanya. “Kamu, kenapa bisa di sini?”

Edo tersenyum. “Aku kembali untukmu.”

Sungguh. Aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Aku tidak tahu apa maksudnya. Tapi aku berpikir bahwa ini tidak baik. Mas Rangga, suamiku, baru saja pergi, dan aku tidak ingin ada seseorang yang akan memanfaatkan keadaan ini.

***

Aku masih tak berhenti menatap Edo dengan penuh curiga. Tadi, dia memaksaku untuk ke kafe terdekat. Masih di area bandara. Dan aku tidak bisa menolaknya. Maksudku, aku memang membutuhkan tempat yang lebih privat untuk menenangkan hatiku. Aku butuh minum, dan butuh duduk dengan tenang untuk menghilangkan emosiku karena sepeninggalan Mas Rangga. Dan kini, Edo memberikannya.

Lelaki itu masih  asyik mengaduk kopinya, sesekali menatap ke arah Tasya yang berada di atas kereta bayinya.

“Dia, mirip sekali denganmu.” Ucapnya masih dengan tatapan mata ke arah puteri mungilku.

“Mirip dengan ayahnya.” Ralatku. Dan aku melihat senyuman miris dari Edo.

Edo menatapku seketika kemudian ia bertanya. “Bagaimana kabarmu, Ven?”

Apa dia baru saja menanyakan kabarku? Astaga, apa dia tak bisa melihatnya? Aku baru saja berpisah dan akan hidup berjauhan dengan suamiku. Aku baru saja menangis, bukankah dia baru saja meminjamkan sapu tangannya untukku? Kenapa dia harus menanyakan kabarku disaat yang seperti ini?

“Edo, jangan basa-basi lagi. Aku tahu, kamu nggak tiba-tiba datang seperti ini jika tidak ada yang kamu rencanakan.”

“Kamu berpikiran buruk tentangku? Ayolah, kamu tentu tahu bagaimana perasaanku padamu, Ven. Aku tidak mungkin menyakitimu.”

Dan aku tidak percaya.

“Maaf, karena selama ini aku menghilang. Aku hanya mencoba melupakanmu. Tapi ternyata, aku nggak bisa.”

“Cukup, Do.” Aku memotong kalimatnya. “Tolong, jangan bahas apapun lagi tentang kita di masa lalu.”

“Kenapa Ven? Karena kamu sudah melupakanku? Akui saja, kalau selama ini kamu masih memikirkanku. Kamu belum bisa berpindah hati bahkan dengan suamimu sendiri.”

“Apa? Lancang sekali kamu mengatakan hal itu.”

“Kenapa? Bukankah itu kenyataan? Aku bisa melihat dengan jelas apa yang kamu rasakan padaku, Ven. Dan itu sangat berbeda dengan apa yang kamu rasakan pada Rangga.”

Aku berdiri seketika. Kesal? Tentu saja. Bahkan Mas Rangga saja tak pernah kuizinkan untuk membaca apa yang sedang kurasakan. Suamiku itu selama ini hanya diam ketika aku tak fokus dan tiba-tiba melamunkan Edo. Mas Rangga tak pernah menuntut, tapi kenapa Edo melakukannya? Astaga, kami sudah berpisah bertahun-tahun lamanya, seharusnya Edo mengerti itu.

“Kamu tahu, Ven. Aku merasa dihianati dengan pernikahanmu. Aku merasa sangat kecewa karena kamu menikah begitu saja dengan orang yang tak seberapa mengenalmu. Seputus asa itukah kamu, Ven?”

“Cukup! Kamu berkata seolah-olah kamu mengetahui semuanya! Padahal kamu tidak tahu apapun! Ingat, kamu yang pergi setelah aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya.”

“Aku memang mengetahui semuanya, Ven. Aku mengetahui semua detailnya. Dan tinggal menunggu waktu saja sampai kamu mengetahui semuanya dan berakhir menyesal karena menerima seorang bajingan seperti Rangga.”

Tidak! Tidak! Aku tak akan pernah menyesal karena sudah menerima Mas Rangga. Bagaimanapun juga, Mas Rangga adalah sosok malaikat dingin yang mampu menyentuh hatiku. Meski belum sepenuhnya Mas Rangga melepaskanku dari belenggu masa lalu, setidaknya dengan dia aku sudah berani mencoba melangkah kedepan.

Aku tak akan berhenti, apalagi mundur ke belakang, meninggalkan Mas Rangga dan kembali pada Edo. Itu tak akan pernah terjadi. Bagaimanapun juga, aku akan menjaga pernikahan kami. Edo bisa mengatakan apapun sesuka hatinya, tapi aku memiliki hak untuk tidak mempercayai setiap perkataannya lagi.

-TBC-

Advertisements

Ugly Wife – Prolog

Comment 1 Standard

 

Tittle : Ugly Wife

Penulis : Zenny Arieffka

Semoga kalian suka yaaa…. hahahahhaahaha

 

 

Prolog

 

Shafa mengangkat wajahnya ketika mendapati seorang lelaki masuk ke dalam toko bunga miliknya. Dengan ramah ia menyapa lelaki tersebut. Bertanya apa yang diinginkan lelaki itu.

Mendekati hari valentine seperti ini, memang akan banyak sekali pelanggan laki-laki datang ke tokonya. Biasanya mereka akan mencarikan bunga untuk kekasih atau istrinya. Sangat bahagia sekali jika Shafa menjadi salah satunya. Tapi sepertinya itu hanya akan menjadi mimpinya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan ramah.

Lelaki itu tampak sangat tampan. Rapih dengan kemeja yang melekat pas di tubuhnya. Sangat modis dengan rolex yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Lelaki ini bukan lelaki biasa, bahkan Shafa bisa melihat mobil mewahnya terparkir tepat di depan toko bunganya.

“Shafa Amanda?” tanyanya.

Suaranya terdengar berat, sikapnya begitu mengintimidasi. Tapi Shafa mencoba untuk tak terpengaruh. Ia sering sekali bertemu dengan banyak orang. Meski kebanyakan tak seperti lelaki ini. tapi Shafa mencoba tetap percaya diri ditengah kekuarangan yang ia miliki.

Tapi Shafa baru sadar jika lelaki ini mengetahui nama lengkapnya. Dari mana?

Shafa mengerutkan keningnya kemudian dia menjawab “Ya, saya.”

Lelaki itu tampak mengamati Shafa. Menatap diri Shafa dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Kemudian matanya berhenti pada kaki kiri Shafa. Di pergelangan kakinya masih tampak bekas jahitan di masa lalu. Luka itu tak akan pernah hilang, bahkan efeknya berbekas hingga saat ini. Shafa tak akan bisa berjalan dengan normal lagi. Meski begitu, hal itu tak akan mengurangi rasa percaya diri wanita itu.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Shafa lagi karena lelaki itu hanya fokus melihat pada bekas jahitan di kaki kiri Shafa, membuat Shafa tak nyaman dengan tatapan mata lelaki itu.

“Tutup toko kamu dan mari ikut saya.”

“Apa? Kenapa?” Shafa bingung. Memangnya siapa lelaki ini? kenapa lelaki ini memerintahnya dengan suka-suka hatinya?

“Ikut saja.”

“Tidak. Maaf, saya tidak akan kemanapun apalagi dengan orang yang tidak saya kenal.”

“Begitukah? Kamu tidak lihat ini.” lelaki itu mengeluarkan sebuah kalung putih dari sakunya. Tapi yang membuat Shafa terkejut adalah bandul dari kalung tersebut. Itu sebuah cincin yang sangat mirip dengan cincin yang menjadi bandul kalung yang ia kenakan. Dengan spontan Shafa memegang kalungnya sendiri. bagaimana mungkin? bagaimana bisa? Apakah lelaki ini adalah lelaki yang dikatakan mendiang ayahnya?

“Sekarang, ikut saya, kita akan membahas rencana pernikahan kita.” Ucapnya dengan dingin dan datar.

Pernikahan? Ya Tuhan, jadi apa yang dikatakan ayahnya dulu adalah kenyataan? Bahwa nanti saat ia dewasa, akan ada seorang pria yang datang padanya dengan membawa cincin itu untuk menikahinya secara sah? Shafa masih tak percaya. Benarkah ini sebuah kenyataan? Benarkah ia akan menikah dengan lelaki di hadapannya tesebut?

-TBC-

Behind The Scene – Hurt Love Series & MBA Series

Comments 5 Standard

untitled-1

 

Behind The Scene

 

Aku membuka mataku dan baru menyadari jika kini aku berada di sebuah tempat asing. Tempat yang sama sekali tak pernah ku datangi, tapi secara bersamaan aku juga merasa jika aku pernah melihat tempat ini.

Kuedarkan pandanganku ke segala penjuru, tapi aku tidak melihat apapun, yang kulihat hanyalah kabut putih di antara sebuah tangga yang terbuat dari kaca yang menjulang tinggi ke angkasa.

Aku mengerutkan kening. Bukankah ini tempat dimana Brandon bertemu dengan Alisha di dalam mimpinya? Pikirku. Apa kini aku juga sedang bermimpi? Oh yang benar saja. Jika aku benar-benar bermimpi maka aku ingin bertemu dengan semua pangeran yang ku ciptakan saat ini juga.

Mengingat hal itu, aku hanya bisa menggelengkan kepala dengan sesekali memukul kepalaku sendiri. Bodoh!!! Bagaimana bisa aku masih memiliki sebuah fantasi saat umurku sudah tak lagi muda?

Aku memutuskan untuk menaiki tangga-tangga itu dengan sesekali berdoa supaya tangga itu tidak pecah karena berat badanku yang berlebihan. Bicara tentang berat badan, aku menatap tubuhku sendiri, dan rasa shock seketika kurasakan.

Tubuhku benar-benar ramping, padahal aku tidak ingat jika aku pernah diet. Kulitku putih mulus, padahal seingatku aku sudah berhenti melakukan injek sejak Tiga tahun yang lalu dan ku pikir aku sudah kembali menghitam setelah itu. Gaunku berwarna putih bersih dengan beberapa aksesoris yang membuatnya terlihat mewah. Aku juga mengenakan sepatu berwarna putih yang menyatu dengan kulit kakiku. Ku rabakan jemariku ke arah kepalaku dan aku merasakan rambutku yang sudah tertata rapi, belum lagi beberapa aksesoris yang menempel di kepalaku.

Please, aku membutuhkan kaca saat ini juga. Jika apa yang ku bayangkan benar-benar terjadi padaku saat ini, maka aku akan melakukan selfie cantik lalu ku sebarkan di akun instagramku, supaya dapat menampar beberapa kakak kelas yang dulu suka mengejek bahkan sok cantik di depanku.

Lupakan!!!

Lagi pula, bukannya ini hanya mimpi?

Oke, aku melanjutkan langkahku hingga aku berada di ujung tangga. Ku pikir, ujung tangga itu akan membawaku ke luar angkasa seperti impianku selama ini. Ya, satu-satunya hal yang sangan ku inginkan adalah berada di luar angkasa dan melihat bumi dari sana. Well, itu mustahil kecuali jika aku menikah dengan presiden Barack Obama atau Pangeran inggris mungkin. Hahahahha, abaikan.

Di ujung tanga itu aku mendapati sebuah taman, taman indah lengkap dengan kabut warna putihnya.

Tunggu! Aku merasakan De Javu, ku pikir aku pernah membayangkan tempat ini. Ahh ya, ini adalah tempat alam bawah sadar Revan saat dia koma dan bertemu dengan Lita. Jadi, apa aku sekarang sedang koma? Jangan ngelantur!!!

Aku melanjutkan langkahku menyusuri jalanan setapak, tamannya benar-benar sangat indah, dan tak lama, keindahan ini semakin sempurna ketika aku mendapati sesosok lelaki yang sedang berdiri menatapku dengan senyuman lembutnya. Lelaki itu hanya mengenakan celana panjang, tanpa atasan apapun, bisa di bayangkan bagaimana perutnya yang kotak-kotak yang biasa di sebut Roti Sobek oleh anak-anak di Grup Edan. Kakinya tidak beralaskan sandal maupun sepatu, ya, dia bertelanjang kaki. Dan dia sangat tinggi.

“Hai.” Sapanya sambil mengulurkan jemarinya padaku.

Kuraih jemari itu dan kurasakan jika dia begitu nyata. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa? Dia selama ini hanya ada dalam fantasiku, tapi bagaimana mungkin kini aku dapat menyentuhnya dengan sangat nyata?

“Mas Revan.” Kataku.

Ya, dia Revano Putera. Sosok yang kuciptakan dalam novel Please stay with me. Dia adalah sosok yang paling di benci oleh reader, aku tahu karena dia benar-benar menyebalkan, tapi entahlah, ku pikir aku selalu mencintainya ketika aku menulis tentangnya.

“Ya, aku.”

“Kok kamu di sini? Kenapa kita bisa bertemu?”

“Kenapa? Aku juga nggak tahu.”

Dia sedikit menyunggingkan sebuah senyuman dan itu membuatku ikut tersenyum. Jantungku berdegup kencang seketika. Apa ini yang di rasakan Dara ketika bertemu dengan lelaki ini? Ini benar-benar gila.

“Author…”

Aku memekik ketika sebuah lengan memelukku dari belakang. Ku tolehkan wajahku dan aku mendapati sepasang mata cokelat nan indah sedang menatapku dengan tatapan yang paling lembut.

“Mike?” ucapku tak percaya. Sedangkan Mike hanya mampu menganggukkan kepalanya.

Dengan spontan aku membalikkan tubuhku kemudian memeluk Mike erat-erat. Aku tidak peduli jika tiba-tiba Hana datang dan marah denganku, sungguh aku tidak peduli. Karena yang kupedulikan adalah memeluk erat sosok fantasiku ini selagi aku bisa.

Mike Handerson, seorang lelaki keturunan indo-Jerman yang memiliki mata cokelat nan indah. Dia sangat mencintai keluarganya, dan dia juga seorang pendendam, dendam yang membawanya pada cinta. Oh Mike, aku merindukan saat-saat menulismu sembari meneteskan air mata.

Lebay ya? Oke, lupakan.

“Kalian benar-benar nyata?” tanyaku lagi, karena nyatanya aku masih tak percaya.

“Ya, kami nyata.” Jawab Mike dengan pasti.

“Kami juga nyata.” Suara itu memaksaku menoleh dan menatap ke arah dua lelaki yang berjalan menuju ke arahku.

Tuhan!! Jika ini mimpi, aku tidak ingin bangun. Itu adalah Osvaldo Handerson, bersama dengan Araka Andriano. Keduanya berpenampilan sama dengan Mike dan juga mas Revan. Hanya mengenakan celana panjang, kaki yang telanjang dan juga dada sekaligus perut kotak-kotak yang seakan  sengaja di pamerkan.

Aku meraba area bawah hidungku, semoga saja saat ini aku tidak mimisan. Oh, ini benar-benar gila!

Kak Aldo menghambur ke arahku, memelukku erat-erat sesekali mengangkat tubuhku, sedangkan Kak Raka hanya mampu menatapku dengan ekspresi datarnya. Ya, ekspresi itu.

“Astaga, bagaimana mungkin kalian bisa berkumpul di sini?”

“Kami cuma mau pamit, Thor.” Kak Aldo menjawab.

“Pamit? Pamit ke mana?” tanyaku bingung.

Mike mencengkeram kedua bahuku, memutar tubuhku hingga tepat menatap ke arahnya.

“Terimakasih sudah membuatkan kisah indah untuk kami. Kami tahu, kami bukan yang terbaik, tapi kami senang ketika ada beberapa reader yang ikut menangis, tertawa atau bahkan kesal dengan tingkah kami.”

“Ya, aku tahu itu, tapi bukan berarti kalian harus pamit pergi kan?”

“Tidak Thor, kami tidak pergi, sampai kapanpun kami tetap ada di sini.” Mike menunjuk dada kiriku.

“Tapi author tetap harus Move on, membuat kisah-kisah baru yang lebih baik lagi dari kisah kami, kami tidak ingin membayangi Author, jadi kami memutuskan untuk pergi dari ingatan Author.” Kak Raka ikut menjelaskan.

“Tidak!!!” seruku lantang. “Sejelek apapun cerita kalian, aku tidak akan pernah melupakannya. Aku bahkan ingin selalu menghubungkan kalian dengan cerita-ceritaku yang lainnya.”

“Tapi Thor, itu akan sulit.” Kak Aldo memberi pendapat.

“Tidak akan sulit. Selama aku masih bisa menulis, aku ingin selalu mengenang kalian. Kak Aldo, bukannya kamu punya Axel dan Alexa? Apa kamu nggak mau mereka di tuliskan kisahnya? Kak Raka juga kan punya Rafe, apa nggak mau Rafe bertemu dengan Pincessnya?”

Well, semuanya terserah author, sih.”

“Maka dari itu, jangan tinggalkan aku, jangan pergi dari ingatanku. Mungkin semakin lama ingatanku tentang kalian akan sedikit mengabur, tapi aku akan mencoba membaca kisah kalian lagi, supaya aku dapat selalu mengingatnya.”

“Bener sepeti itu Thor?”

Aku mengangguk cepat. “Mas Revan aku ingat dengan sikap dinginnya, Mike, aku sangat ingat dengan mata cokelatmu dan juga sikapmu yang perayu, Kak Aldo adalah sosok yang kekanakan dan juga labil, sedangkan kak Raka adalah sosok datar tanpa ekspresi. Aku akan mengingat kalian semua meski aku menciptakan sosok baru lagi dan lagi, jadi jangan pernah pergi dari ingatanku. Jika aku lupa, maka muncullah dalam mimpiku. Aku akan kembali mengingatnya.”

Tiba-tiba aku merasakan Mike merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya.

Thanks, Thor. Tanpamu, kami nggak akan ada. Terimakasih sudah memberikan Hana yang begitu baik untuk menyadarkanku.” Aku tersenyum mendengar ucapan Mike. Mike melepaskan pelukannya kemudian tubuhku di raih oleh kak Aldo, dan lelaki itu memelukku erat-erat seperti yang di lakukan Mike padaku.

“Terimakasih sudah memberikan Sienna untukku. Terimakasih sudah menyayangiku.” Aku mengangguk dan membalas pelukan kak Aldo. Kak Aldo melepaskan pelukannya dan kini aku berhadapan dengan Kak Raka.

Kak Raka mengusap lembut puncak kepalaku. “Author membuat Felly sebagai satu-satunya wanita yang ku cintai ketika di dalam novel, apa author tidak ingin aku mencintai wanita lain?”

Aku tersenyum dan menggelengkan kepala.

“Kalau aku melenceng dan memilih mencintai Author, gimana?”

“Uum, mungkin suamiku akan membunuhmu.” Jawabku asal, dan itu membuat semua yang ada di sana menertawakanku.

Kak Raka merengkuhku ke dalam pelukannya. “Aku mencintaimu, Thor, sama seperti kamu mencintaiku ketika menulis tentang kisahku.”

Aku menghela napas panjang. Ya, tentu saja aku mencintai kalian semua. Lirihku dalam hati.

Kak Raka melepaskan pelukannya dan kini aku sudah berhadapan dengan Mas Revan. Sosok yang benar-benar… enthlah, aku sulit menggambarkannya.

Mas Revan mengulurkan jemarinya pada pipiku, mengusapnya lembut hingga aku yakin itu bisa membuat pipiku memerah karena gugup.

“Semua sudah di katakan yang lain, aku nggak tau harus bilang apa lagi. Hanya terimakasih, dan terimakasih yang bisa ku katakan.”

Mas Revan kemudian meundukkan kepalanya dan berbisik di telingaku.

“Aku pernah mencintai Lita, dan kini aku sangat mencintai Dara. Terlepas dari semua sekenario novel yang kamu buat, aku mencintaimu, Thor.” Kalimat itu di ikuti dengan kecupan lembut di pipiku.

Kyaaaaaa aku dicium Revano Putera???? Semoga aku tidak pingsan.

Keempatnya kemudian menatapku dengan tatapan khas masing-masing. Aku sendiri hanya mampu menatap mereka sepuasnya. Ku pikir hanya ini satu-ssatunya kesempatan aku bisa melihat mereka senyata ini.

“Kami harus pergi, kuharap, kamu benar-benar tidak melupakan kami, Thor.” Mas Revan kembali berkata. Aku tersenyum dan mengangguk dengan pasti.

“Salam sayang untuk semua readers yang sudah membaca kisah kami.” Kak Aldo berucap.

“Ya, aku akan menyalamkan ke mereka.” jawabku.

Keempatnya tersenyum, kemudian mereka mulai terlihat samar, sama, dan.. Hilang. Aku berdiri sendiri di sana, di tengah-tengah taman yang indah dengan kabut warna putihnya.

“Mama.. Mama bangun.. Mama, cucu Mama, Mama…” kurasakan tubuhk bergoncang-goncang bersamaan dengan suara lucu dari Bella, puteri kecilku.

“Mama, bangun, cucu Mama..”

Dan aku membuka mata.

Ya, aku cuma bermimpi ketika bertemu dengan mereka. Kulihat Bella yang sudah bangun sambil membawa botol susunya yang sudah kosong. Dan aku tersenyum.

Inilah kehidupan nyataku, kehidupanku sebagai seorang ibu rumah tangga, tapi semua ini tidak menghalangiku untuk mengenal mereka. Revan yang dingin, Mike si perayu, Aldo yang kekanakan, atau Raka yang datar. Aku mencintai mereka semua meski hanya di dalam mimpi, dan ku harap, kalian para readerspun sama, mencintai mereka ketika membaca kisah mereka.

Terimakasih….

ZennyArieffka

12-01-2017

My Brown Eye – Chapter 6

Comments 7 Standard

MBE1My Brown Eye

Chapter 6

-Bukankah Hati yang selalu mengenali mana yang seharusnya dicintai dan mana yang seharusnya di benci..???-

Hana masih saja tidak bisa menghentikan tangisnya, tangis tanpa suara. Hana tidak ingin Mike, lelaki brengsek itu mengetahui jika dirinya masih menangisi Mike.

Tadi malam, Hana kembali ke rumah kontrakannya bersama Dara. Berkali-kali Dara menanyakan apa yang terjadi, tapi Sekalipun Hana tidak menjawabnya. Hana masih sibuk menangisi nasibnya. Kenapa Mike tega melakukan Hal ini Padanya? Meninggalkannya disaat dirinya membutuhkan Sosok Mike sebagai ayah dari bayi yang dikandungnya. Bagaimana Hana menghadapi semua ini.? Menghadapi orang tuanya,? Menghadapi Revan Kakaknya.?

Akhirnya Hana bisa tertidur karena Lelah menangis. Paginya lagi-lagi Hana terbangun karena Mual Hebat. Hingga membangunkan Dara. Dara sempat mengajak Hana kerumah sakit tapi tentu saja Hana menolaknya. Hana belum ingin memberitahukan keadaannya pada siapapun juga termasuk Dara, sahabatnya sendiri.

Hari ini Niat Hana adalah kekantor pagi-pagi dan menenggelaman Diri dengan tumpukan berkas-berkas periklanannya. Namun Hana berakhir meruntuki dirinya sendiri karena ada sebuah Berkas yang tertinggal di Apartemen Mike. Akhir-akhir ini Hana memang sering membawa peekerjaannya kerumah Mike dan tadi malam dia melupakan sebuah Berkas yang ditaruhnya di laci meja sebelah Ranjang Mike.

Akhirnya dengan menguatkan Diri, Hana kembali ke Apartemen Mike. Ahh mungkin saja Mike sudah berangkat Kerja, bukankah ini sudah sedikit lebih siang. Dan Semoga saja Mike belum mengganti Pasword Kamar Apartemennya. Pikir Hana kala itu.

Sedikit terkejut saat memasuki Lift bersama dengan seorang wanita asing yang wajah dan tubuhnya mirip dengan Model papan atas. Wanita tersebut memencet tombol lantai paling atas gedung Apartemen ini. Hana menaikkan sebelah alisnya, setaunya Lantai paling atas adalah Lantai Eksklusif yang hanya ditempati Kamar Apartemen Mike seorang. Apa wanita ini teman Mike..?

Hana ingin bertanya tapi diurungkannya niatnya, Mungkin wanita ini hanya ingin mencari angin diatas atap Apartemen ini. mengingat atap apartemen, membuat Hana menundukkan kepalanya. Kenangan akan Mike menyeruak begitu saja. Saat Mike melamarnya dulu dan membuat Hana percaya bahkan berani memberikan segalanya untuk Diri Mike.

Nyatanyaa, Lelaki itu tak lebih dari seorang lelaki Brengsek. Lagi-lagi kebencian menyelimuti diri Hana. Kebenciaan, Kerindua, dan Cinta bercampur aduk menjadi satu, membuatnya menjjadi beban yaang sangat berat dipikul sendirian oleh seorang Hana.

Wanita asing tersebut akhirnya keluar dan berhenti tepat di depan kamar apartemen Mike. Ahh ternyata benar, itu adalah teman Mike. Pikir Hana yang sedang mengawati wanita tersebut dari jauh. Waita itu tampan Menelepon. Lalu tak lama Pintu Apartemen Mike terbuka. Dan yang membuat Hana Shock adalah wanita tersebut langsung menghambur dalam pelukan Mike.

Apa hubungan wanita itu dengan Mike..??

Mereka bicara sangat Akrab. Hana melihat wanita tersebut tampak begitu perhatian dengan Mike. Hana Bahkan Melihat Mike mengecup lembut bibir wanita tersebut. Ya tuhan… jadi selama ini seperti ini sisi lain dari seorang Mike Handrson.? Pantas saja dirinya sangat mudah sekali tergoda. Ternyata Mike tidak lebih dari seorang Berengsek yang memiliki banyak kekasih.

***

Saat ini Hana sudah berada didalam Kamar Mike, Hana kembali mengusap airmata yang tidak berhenti menetes dari pelupuk matanya. Sebenci apapun dirinya dengan Mike, Hana tidak bisa memungkiri jika dia sangat mencintai lelaki itu. Secepat kilat Hana mengemas berkas-berkas yang tertinggal di Laci meja kamar Mike.

Hana juga mencari beberapa barangnya yang mungkin saja masih tertinggal di ruangan ini. Hana tidak ingin kembali lagi keapartemen ini. Mungkin saat ini Hana baru meluhat Mike berciuman denga Wanita lain, Hana tidak ingin mengambil Resiko untuk melihat Mike melakukan hubungan intim dengan wanita lain.

Hana merasakan pintu kamar di belakanngnya dibuka oleh seseorang. “Apa sudah menemukan Berkas-berkas sialanmu itu.?” Tanya Mike dengan nada dingin.

Hana tidak menjawab. Dia masih berdiri membelakangi Mike. Mike lalu berjalan mendekat kearah Hana, tapi Hana secepat kilat menghindarinya. Hana melepaskan cincin pemberian Mike dan menaruhnya di nakas.
“Aku lupa mengembalikan Itu.” Kata Hana sedingin mungkin.
“Baguslah jika kau mengembalikannya.” Jawab Mike sedikit menahan kekesalannya. Bukan seperti ini yang diinginkannya terhadap Hana.

Bukan Hana yang berbalik bersikap dingin padanya. Dia ingin Hana menjadi rapuh, tak memiliki kekuatan, bukan seperti ini..
Lalu tanpa pamit, Hana melangkah keluar dari Kamar Mike. Hana berjalan dengan sedikit tergesah. Mengabaikan tatapan mata sang wanita cantik yang masih duduk manis di ruang tamu Mike.

Mike sendiri memejamkan Matanya. Kepalanya semakin Berdenyut memikirkan sikap Hana. Sial.. apa rencananya berantakan.? Jika begitu dia harus menyusun ulang Rencaananya.

Mike sedikit Berlari keluar Apartemennya, Dikejarnya Hana secepat mungkin. Untung Saja Hana masih berdiri menunggu lift terbuka. Mike kemudian meraih Tangan Hana dan memenjarakan Hana diantara Dinding.
“Kau mau apa Mike.?”
Mata Mike menajam, seakan-akan dengan tatapan matanya saja bisa membunuh siapapun yang menatapnya. “Aku mau Kau.” Kata Mike penuh dengan penekanan.
“Apa maksudmu, kita sudah berakhir.” Hana sedikit meronta.
“Kau membawa Barangku, dan kita tidak akan berakhir dengan mudah.”
“Barang.? Aku sudah mengembalikan semua milikmu Mike. Aku tidak membawa apapun.”

Mike lalu tersenyum mengejek “Kau lupa dengan ini.” kata Mike sambil mendaratkan telapak tangannya di perut datar Hana. Sejenak Mike merasaka sebuaah denyutan kecil yang mungkin hanya bisa dia rasakan sendiri, apa itu?? Apa mungkin itu Bayinya? Bagaimaana bisa? Mike membatu merasakan perasaan tak karuan yang sedang merayapi hatinya.

Begitupun dengan Hana. Ada sebuah kehangatan tersendiri saat tangan Mike mendarat di perutnya. Apa mungkin Bayinya merasa nyaman..? tapi Hana cepat-cepat menepis semua perasaan tersebut. Hana tidak boleh jatuh terbuai untuk kedua kalinya di hadapan Mike.

Secepat Kilat Hana menepis tangan Mike yang berada di perutnya. “Kau Gila Mike, Jangan anggap ini sebagai milikmu setelah apa yang sudah kau ucapkan Kemarin.” Kata Hana dengan tegas lalu mendorong tubuh Mike hingga dirinya bisa melewatinya dan masuk kedalam Lift yang kebetulan langsung terbuka ketika dirinya menekan Tombol Lift tersebut.

Mike masih ternganga dengan menatap tetapalak tangannya yang sedikit gemetar. Apa yang terjadi dengannya..? Mike lalu berlari kembali masuk kedalam Apartemennya. Masih tidak menghiraukan Carry yang menatapnya dengan tatapan penuh selidik. Mike mencari ponselnya lalu menghubungi seseorang.

“Ada apa Mike.?” Kata suara diseberang. Itu Robbert, Teman sekaligus Asisten pribadinya. Orang kepercayaan Mike.
“Robb, aku ingin Kau mengikuti seseorang Kemanapun dia pergi dan apapun yang dia lakukan, kabarkan secepatnya padaku.”
“Siapa orang itu Mike.?”
“Hana.”
Mike memejamkan matanya setelah mengucapkan nama tersebut. Ini sepertinya sudah keluar dari rencananya. Rencana yang hampir bisa dibilang gagal total dan berantakan.

***

“Kau Gila Mike.. Tidak.. aku tidak akan melakukan Hal itu.” Kata Carry dengan tegas.
Please Carry… Bantu aku sekali ini saja,.”
“Tidak Mike. Aku tidak mungkin menyakiti Hati wanita itu. Lagi pula aku akan kembali sebelum Billy menyusulku kemari.”
“Aku tidak akan melepaskanmu jika kau tidak mau membantuku.”
“Kau mengancamku.”
“Apapun Menurutmu aku tak peduli.”
Carry lalu mendekat kearah Mike. Menangkup kedua pipi Mike. “Mike, ini bukan dirimu, kau tidak pernah terobsesi seperti ini dengan sesuatu Mike. Kau selalu berjalan dengan datar dan seperti tidak memiliki masalah berarti apapun, tapi wanita itu..”
“Ini bukan karena wanita itu Carry… Ini karena Kakak sialannya.” Potong Mike kemudiaan.
“Tidak Mike, Kau menyakiti wanita itu, bukan Kakaknya.”
Mike lalu terdiam sebentar dan mulai berbicara lagi. “Jika Kau ingin aku memutuskan Pertunangan kita, Maka Kau Harus membantuku Carry.” Kata Mike tanpa di ganggu gugat.
“Mike, kau akan menyesal jika Kau melanjutkan semua ini.”
“Aku tidak peduli.” Jawab Mike dingin lalu meninggalkan Carry begitu saja.
Carry menatap punggung Mike dengan menggelengkan kepalanya. Haruskah dirinya ikut dalam pembalasan dendam konyol oleh sahabatnya tersebut.?

***

Hana masih saja tak berhenti menangis. Dara bahkan sudah membelikan Coklat ice cream dan lain sebagainya agar Hana lebih baik lagi, namun ternyata tidak ada gunanya. Hana masih saja menangis.
“Hana, Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu.” Sekali lagi dara membujuh Hana.
Hana hanya menggelengkan kepalanya. Tentu saja Hana belum beraani bercerita jika dirinya saat ini sedang putus hubungan dengan Mike dalam Keadaan hamil.
“Hana, Jika Kau tidak bercerita, aku akan pulang dan tidak mau lagi berteman denganmu. Please Hana.. Beri tau aku apa yang terjadi padamu.”
Hana lalu memeluk Dara dan tangisnya semakin pecah. “Aku dan Mike sudah berakhir Dara.. Kami sudah berakhir..” Akhirnya Hana buka suara.
“Apa.? Kenapa Bisa.?”
“Kupikir dia sudah memiliki wanita Lain Dara.”
“Apa Wanita itu orang Luar.? Maksudku dia orang asing.?”
Hana langsung melepaskan pelukannya terhadap Dara. Menatap Dara dengan tatapan terkejutnya. “Dari mana Kau tau Dara.?”
“Dengar, Aku sempat bertemu Mike dengan wanita tersebut beberapa hari yang Lalu, mereka bilang jika mereka hanya berteman, jadi jangan salah paham Hana.”
“Aku yakin aku tidak salah Paham. Mereka sangat Mesrah Dara, mereka Bahkan saling berpelukan dan berciuman.”
Dara menutup mulutnya tak percaya. Hana pasti sangat terpukul saat melihat Lelaki yang dcintainya memeluk bahkan mencium wanita lain.
“Dara… emm.. aku.. Aku..”
“Ada apa Hana.?”
“Aku Hamil.”
“Apa..??” Dara terlonjak karena terkejut dengan pengakuan Hana.

***

Mike akhirnya kembali menjalankan Rencana keduanya. Yaitu membuat Hana lebih sakit hati hingga putus asa. Membayangkan Hal itu Mike kembali tersenyum.
Pagi ini dirinya menuju kekantor sang paman yang merupakan Atasan Hana. Apalagi yang akan Mike lakukan saat ini jika tidak membuat Hana semakin sulit.
“Pagi Paman, Bagaimana dengan tawaranku tadi malam.?” Tanya Mike dengan menyunggingkan Senyuman Semeringahnya.
“Kau tau Mike, aku sedikit terkejut dengan tawaranmu tadi malam. Mana mungkin CEO besar sepertimu ingin turun tangan sendiri di perusahaan periklanan yang terbilang kecil di matamu ini.?”
“Paman tidak perlu terkejut atau berpikir Macam-macam.”
“Apa karena Wanita itu.?”
“Maksud paman Hana.? Ayolah Paman, Hana bukan siapa-siapa. Bukankah Paman tau jika aku sudah memiliki tunangan,?”
“Kupikir hubunganmu dan Hana Lebih dari sekedar teman Kencan.”
“Itu pikiran paman Saja. Sepertinya aku terlalu lama menunggu keputusan Paman.”
Paman Albert akhirnya tersenyum. “Baiklah Mike, Aku menerima Tawaranmu.”
“Terimakasih paman.” Kata Mike sambil berjabat tangan dengan pamannya. ‘Hana.. aku akan Mengejarmu, Tak ada tempat untukmu bersembunyi Hana’ Pikir Mike sambil menyunggingkan senyuman liciknya.

***

“Kau menginginkan sessuatu Hana.?” Tanya Dara yang sudah berada di depan Meja kerja Hana. Ini Jam Makan siang namun Dara tau jika Hana masih belum memiliki Mood untuk keluar atau makan siang.
Hana Hanya menggelengkan kepalanya.
“Aku akan tetap kembali membawakanmu Makanan. Dan jangan menolakku.” Kata Dara dengan tegas.
Hana tersenyum saat melihat kepergian Dara. Dara sahabatnya yang amat sangat baik. Setidaknya saat ini Beban Hana sedikit lebih terangkat karena sudah menceritakan permasalahannya pada Dara. Dara tadi malam bahkan sampai ikut menangisi kemalangan nasib Hana. Dara juga berubah menjadi sosok yang perhatian padanya.
Hana mengusap perut datarnya. “Kau tidak sendiri sayang..” Bisik Hana pelan.
Tidak lama Dara kembaali membawa beberapa makanan, tapi Hana sedikit Heran karena Dara kembali dengan wajah seriusnya.
“Apa ada Masalah.?” Tanya Hana yang masih sedikit bingung melihat ekspresi wajah Dara.
“Emm.. Mike.. Ya tuhan Hana, aku tidak tau apa yang dia rencanakan. Dia menggantikan Mr. Albert menjadi CEO perusahaan ini.”
“Apa ? Menggantikan ? Bagaimana bisa seperti itu.?”
“Aku sendiri juga tidak Tau Hana, Yang Pasti atasan Kita saat ini adalah Mike, Bukan Mr. Albert.”
Tubuh Hana sontak melemas, wajahnya memucat. Apa yang diinginkan Mike.? Kenapa lelaki itu seakan-akan mengejarnya dan tidak ingin melepaskannya begitu saja.?

***

Hana berjalan tergesah menuju Ruangan Mr. Albert yang saat ini sudah menjadi ruangan Mike. Hana ingin meminta penjelasan kepada Mike, Bagaimana mungkin Lelaki tersebut bisa memimpin perusahaan kecil ini dengan tangannya sendiri. Pasti Mike sedang merencanakan sesuatu.
Tidak ada sekertaris Pribadi sang CEO yang biasanya duduk manis di mejanya sebelah pintu masuk Ruangan CEO. Tanpa banyak berpikir lagi Hana masuk kedalam Ruangan tersebut dan mendapati Mike yang sedang bercumbu mesrah dengan Wanita asing yang di temuinya kemarin Hari.
Hana ternganga mndapati pemandangan tersebut. matanya memanas seakan-akan ingin mengeluarkan sesuatu. Hana mencoba menenangkan dirinya sendiri. Lalu berdehem menyadarkan dua orang tak tau malu yag berada dihadapannya tersebut.
“Miss Rihana, ada yang bisa saya bantu.?” Tanya Mike sambil membenarkan pakaiannya setelah mendengaar Deheman dari Hana.
Hana mengernyit. Mike bersikap sangat Formal kepadanya seakan-akan tidak terjadi apapun diantara mereka berdua. “Emm.. Maaf.. Tadi Saya.. saya.. ingin bertemu dengan Mr. Albert.” Akhirnya Hana berakhir dengan kebohongan.
Mike menyunggingkan senyumannya seraya berjalan mendekati Hana. “Mr. Albert sudah dipindah tugaskan kekantor Pusat. Saya yang menggantikannya disini, Ada yang bisa saya bantu.” Kali ini Jarak yang diciptakan Mike begitu dekat, bahkan Hana mampu merasakan nafas Mike di sela-sela lehernya.
Hana sedikit menjauh. “Maaf kalau begitu, saya permisi.” Kata Hana membungkukkan Badan lalu bergegas pergi. Tapi sebelum Hana membuka pintu, Mike kembali berkata-katapadanya.
“Kenapa terburu-buru Hana.. kita isa bersenang-senang disini bersama.” Kata Mike dengan senyuman mengejeknya.
Hana menatap Mike dengan tatapan tajamnya. “Maaf, Saya tidak tertarik.” Kata Hana ketus lalu keluar meninggalkan Pintu yang berdentum keras karena bantingannya.
Mike tertawa melihat apa yang dilakukan Hana. Setidaknya itu menunjukkan jika dirinya masih bisa menyakiti hati wanita itu.
“Apa Kau puas Mike.? Apa aku sudah tidak diperlukan.? Kumohon biarkan aku pergi.” Kata Carry yang sejak tadi masih didalam ruangan tersebut.
“Tidak Carry, belum saatnya Kau kembali.” Jawab Mike dengan nada dinginnya.
“Kau tau Mike, dengan seperti ini Kau menunjukkan jika Kau sebenarnya sangat menginginkan Wanita itu.”
“Sial.. Aku tidak menginginkannya. Aku hanay akan menyakitinya sampai dia Lelah untuk bertahan.”
“Lalu pergi seperti Adikmu.? Apa Kau yakin dia akan melakukan itu.? Dan apa Kau juga yakin Kau akan membiarkannya melakukan itu.?” Kata-kata Carry mampu membuat Mike diam membisu. Entah apa yang dipikirkan Mike saat ini.

***

Sore ini Hana memohon kepada Dara untuk bisa pulang sendiri. Dara sebenarnya menolak, tapi dengan alasan ingin sendiri akhirnya Dara mengalah dan membiarkan Hana pulang sendiri dan tidak bersamanya.
Entah kenapa Hana merindukan sosok Mike. Bukan sosok Mike yang ditemuinya tadi siang, melainkan Sosok Mike yag manis dan lembut seperti saat-saat pertama mereka menjalin hubungan dulu. Tanpa terasa kaki Hana sudahh berjalan menuju kesebuah Toko kaset kecil, tempat Hana bertemu dengan Mike untuk pertama kalinya.
Cukup lama hana mengamati Toko Kaset tersebut dari luar. Hana mengusap Perut datarnya seraaya berkata. “Kau tau, Ibu bertemu dengan ayahmu disana untuk pertama kalinya.” Hana tersenyum mengingat kejadian itu. Kejadiaan dimana mereka berdua sama-sama kikuk karena memilih Kaset yang sama secara bersamaan. Hana saat itu langsung terpesona dengan Mike, dengan wajah tampan dan mata Cokelatnya.
“Ibu merindukan ayahmu sayang…” Kata Hana lagi yang kali ini disertai dengan buliran airmata di pipinya.
Hana menghapus air matanya lalu kmbali melangkahkan kakinya. Dirinya harus segera pulang dan istirahat, jika Tidak, Dara mungkin akan Khawatir dan mencarinya. Hana berjalan dengan santai sambil sesekali tersenyum dan mengusap perutnya. Dia tidak memperhatikan jika sejak tadi ada sepasang mata yang sibuk mengamatinya.

Mike, Lelaki itu sejaak tadi sudah mengaamati gerak-gerik Hana. Tadi Robert, Asisten yang disuruhnya untuk mengawasi Hana memberi kabar jika Hana tidak langsung pulang kerumah, Akhirnya Mike memutuskan untuk menyusul dimana Hana berada.

Dan Mike berhasil Menemukan Hana di halaman sebuah toko kaset tempat mereka pertama kali bertemu dulu. Mike melihat wajah sendu Hana yang entah mengapa membuat Dadanya sesak. Mike memejamkan matanya, mengusap wajahnya dengan frustasi. Kenapa ini..? kenapa dirinya seperti ini.? bagaimanapun juga Rencananya harus tetap dilajutkan. Tak ada Rasa Kasihan.. dan tak ada juga Rasa Cinta.. semuanya harus terbalaskan. Hana harus merasakan apa yang dirasakan Lita, Dan Revan juga harus merasakan apa yang Dirinya rasakan saat itu. Kau harus tetap Fokus Mike.. harus fokus… Kau akan menang… Pikir Mike dengan mata yang berapi-api.

-TBC-

Maaf bgt kalo banyak Typo yaa… aku tinggal Copast aja nggak pakek edite.. soalnya badan lagi nggak enak, Flu melanda dan itu membuat Mood semakin buruk.. sekali lagi maaf kalo Mood ku mempengaruhi cerita hingga jadi jelek begini.. terimakasih…

My Brown Eye – Chapter 5

Comments 6 Standard

MBE1My Brown Eye

Chapter 5

-Dan ketika Cinta mulai Hadir… Tak ada yang mampu mengingkarinya…-

 

Dara meremas tangannya dengan Gelisah. Ini sudah jam setengah sepuluh Malam, tapi Revan masih saja menunggu kedatangan Hana dengan wajah santainya.
“Emm Maaf Mas, ini sudah malam, tidak enak dengan tetaangga.”
“Tidak enak kenapa.?”
Dara tidak bisa menawab, bagaimana mungkin dia bisa menjawab ketika dirinya gugup karena sorot mata tajam dari lelaki yang duduk dihadapannya itu..?
“Kita.. emm.. laki-laki dan perempuan.. emm.. tanpa status.. dan..”
“Bilang saja aku kakakmu.”
Entah kenapa setelah perkataan Revan yang terkesan santai itu, Dara menjadi sedikit Kesal. “Kau bukan Kakakku Mas, dan ini sudah jam sepuluh malam, silahkan pulang.” Kata Dara yang sudah tidak dapat membendung kekecewaannya lagi.
“Heii ada apa denganmu?”
“Aku tidak apa-apa, Pulanglah.” Kata Dara masih dengan sedikit keketusannya.
“Aku ingin menunggu Hana.”
“Hana akan pulang malam, jika mau menunggu, tunggulah di luar.” Dan Dara menyesali perkataannya yang terkesan kasar tersebut.
Revan menatap dara dengan tatapan menyelidik. “Kau takut kekasihmu berpikiran aneh tentang kita?”
Dara menatap Revan dengan mata mendelik. Kekasih..? Yang benar saja, bahkan sejak bertahun-tahun yang lalu dirinya tidak pernah memikirkan yang namanya pacaraan atau kekasih dikarenakan lelaki yang berada dihadapannya saat ini.
“Baiklah, aku akan pergi. Tapi nanti aku akan kembali lagi, entah besok atau kapan.” Kata Revan yang kini sudah berdiri membenarkan penampilannya. “Jaga diri kalian baik-baik, jangan lupa hubungi aku kalau ada masalah.” Pesan itu walau diucapkan dengan nada dingin Khas Revan, Namun eentah mengapa membuat Dara menghangat.
Dara menghea nafas lega karena Revan sudah pergi tanpa mengetahui keberadaan Hana, berpikir tentang nama itu, sebenarnya apa yang dilakukan Hana.? Kenapa Gadis itu tidak pulang..??

***

Lagi-lagi…
Hana Mual hebat pagi ini. Mike Bahkan sempat ikut khawatir dengan keadaan Hana. Apa Hana benar-benar sudah Hamil.? Lalu bagaimana jika Benar.?
“Sayang.. apa tidak sebaiknya kita kerumah sakit.? Kupikir.. kau.. emm..”
“Aku tidak apa-apa Mike.” Jawab Hana dengan nada lemah.
“Bagaimana jika Kau Hamil.?”
Hana tersenyum. “Bagaimana apanya? Bukankah itu yang kita inginkan.? Tapi sepertinya tidak Mike, Test mengatakan Negatif. Aku hanya berpikir jika aku sakit.”
“Sakit.? Sakit apa maksudmu.?”
Hana menggeleng. “Entahlah… mungkin penyakit mematikan seperti di drama-drama romantis,”
Mike tersenyum, lalu menyentil kening Hana dengan lembut. “Kau terlalu banyak menonton Drama Hana, mana mungkin ada kejadian seperti itu.?”
“Tentu Ada Mike, semua Drama di televisi pasti ada yang mengalaminya secara nyata.”
“Aku masih tidak pecaya.”
“Yaa… Karena Kau tidak pernah mengalaminya.”
Mike tersenyum, “Baiklah Sweety… sepertinya Kau sudah baikan, aku akaan membuatkanmu sarapan.” lalu tanpa Aba-aba Mike mengangkat tubuh Hana menggendongnya kearah Dapur untuk mengajaknya sarapan pagi.
Walau kepalanya masih berdenyut tapi Hana bahagia dengan perlakuan Mike pagi ini. Yaa…. Mike yang manis, Lelaki bermata Coklat yang pandai merayu dan meluluh lantakkan perasaannya.

***

Dara mengetuk-ngetukkan pulpennya di atas meja kantin. Pagi ini dia sengaja menunggu Hana, hana tadi malam benar-benar keterlaluan. Tidak pulang dan meninggalkannnya sendiri dengan kakak lelakinya yang super dingin itu.
Akhirnya sosok yaang ditunggu itupun datang dengan wajah pucat dan lesunya. Apa Hana sakit.? Sontak kekhawatiran menyelimuti pikiran Dara.
“Kau tidak apa-apa Hana.? Kau butuh sesuatu.?” Tanya Dara saat Hana sudah duduk di hadapannya. Tadinya Dara ingin menyembur Hana dengan berbagai macam umpatan khas mereka, tapi melihat Hana yang sepertinya tidak sehat, kekesalan Dara berubah menjadi kekhawatiran.
“Aku hanya lelah dan pusing.” Jawab Hana lemah.
“Kau sakit.?”
Hana menggeleng. “Dara aku takut memiliki masalah serius pada tubuhku.”
“Masalah serius apa maksudmu.?”
“Aku sering pusing, Mual dan ya tuhann… aku tidak pernah selemah ini sebelumnya.”
“Kau Hamil.? Hana jangan bilang kalau Kau Hamil. Kakakmu akan membunuhmu jika Kau Hamil dengan Lelaki yang tidak disukainya.”
Hana mendengus sebal. “Tidak mungkin Dara, aku sudah melakukan Test kemarin, Tiga Test pack menunjukkan Negatif.”
“Hanya Testpack bukan.? Kau belum kedokter untuk memastikannya.”
Perkataan Dara ada benarnya juga, siapa tau saja kehamilanya memang belum terdeteksi oleh alat sederhana tersebut. “Baiklah, nanti siang aku akan kedokter.”
“Kau perlu aku menemanimu.?”
Hana menggeleng. “Tidak. Tapi Dara, apa yang terjadi dengan Mas Revan tadi malam?” pertanyaan Hana membuat Mood Dara kembali memburuk.
“Kau gila, Kau tau itu. Aku tidak ingin berhadapan lagi dengan kakakmu.”
“Ada apa.? Apa terjadi sesuatu dengan kalian.?” Selidik Hana.
“Tidak ada, Aku hanya kesal kepadamu dan dia.” Jawab Dara dengan nada yang dibuat kesal.
Hana tersenyum melihat tingkah sahabatnya tersebut. Ahhh pasti menyenangkan sekali jika bisa menjodohkan sahabatnya ini dengan sang kakak.

***

“Apa..?? Saya Hamil?” Hana Membulatkan matanya Ketika Dokter memberitahukan keadannya.
“Iya Bu.. Kantung kehamilannya sudah terlihat, mungkin sekitar 3 minggu usianya” Jawab Dokter tersebut dengan tersenyum.
“Tapi Dok, saya sudah melakukan Test tapi test itu manyatakan Negatif.”
“Test Pack hanya akan mendeteksi kehamilan lewat kadar HCG dalam urin, pada beberapa kasus, sang ibu tidak menyadari dirinya Hamil hanya karena kadar HCG nya rendah dan setelaah di tets hasilnya negatif. Test yang paling akurat adalah USG seperti sekarang ini.”
“Jadi.. Saya.. benar-benar Hamil?”
Dokter tersebut menganggukkan kepalanya. “Iya Bu.. selamat yaa..”
Dan senyuman mengembangpun datang dari wajah Hana. Senyuman bahagia. Astaga.. dia harus secepatnya memberitaukan kabar bahagia ini terhadap Mike. Mike pasti sangat bahagia mendengarnya.

***

Hana keluar dari sebuah klinik dengan wajah bahagianya. Sesekali dia mengusap perut datarnya yang didalamnya kini sudah ada sang buah cintanya bersama lelaki yang amat sangat di cintainya. Mike. Dia tak sabar ingin memberitahukan kabar gembira tersebut kepada Mike. Akhirnya diambilnya ponsel yang berada di dalam tasnya. Di carinya Kontak telepon yang bernama ‘My Brown Eye’. Dan ditekannya tombol panggilan.
“Halo Sayang..?” suara berat di seberang membuat jantung Hana berpacu lebih cepat lagi dari semenit yang lalu.
“Emm.. Hai..” hanya itu yang dapat di katakannya.
“Ada apa sayang..? Tumben sekali Kau menghubungiku saat jam-jam seperti ini.”
“Apa Kau sedang sibuk..?”
“Aku selalu sibuk, tapi tidak jika itu tentangmu.”
Hana tersenyum bahagia, Mike memang orang yang selalu membuatnya berbunga-bunga. “Mike, Aku ingin makan siang bersamamu.. apa Kau ada waktu..?”
“Tentu saja Sayang, di tempat biasa ya..” dan Hanapun mengiyakan permintaan Mike.

***

Hana kini sudah berada didalam sebuah Restoran Itali biasa dia makan siang dengan Mike. Astagaa… wajahnya merona-rona bahagia saat membayangkan bagaimana Ekspresi Mike saat tau jika dirinya kini sedang hamil anaknya. Bayi ini akan menyatukan mereka, Dan Mike benar-benar sangat mengharapkan Bayi ini.. pikir Hana kemudian.
Tak lama, Hana melihat Sosok tinggi tegap itu datang menghampirinya, sosok yang amat sangat tampan dengan mata Coklatnya. Tanpa sungkan Mike langsung memeluk Hana yang sudah berdiri dan tanpa malu lagi dia mendaratkan ciumannya pada Bibir Hana.
Mike lalu duduk di hadapan Hana. “Emm.. Maaf, aku yang memesankanmu makan siang.” Kata Hana kemudian ketika seorang pelayang mengantarkan pesanan Hana.
“Tidak apa sayang, Kau tau seleraku.” Jawab Mike dengan lembut. “Lalu… sekarang ada apa..? Aku tau Kau tak hanya mengajakku makan siang saja Kan..??” tanya Mike sambil menyantap pasta yang berada di hadapannya setelah pelayan tersebut pergi.
Hana menelan Ludahnya dengan susah payah. Dia sudah menunggu momen ini. Momen dimana dia memberitahukan kehamilannya dan Mike akan segera menikahinya seperti yang mereka rencanakan sebelumnya.
“Aku hamil.”
Dua kata itu mampu membekukan tubuh Mike, Mike tanpa sadar telah menjatuhkan Garpunya. Mike menatap Hana dengan tatapan tak terbacanya.
“Mike, Apa Kau mendengarku..?? Aku Hamil. Kita berhasil, Kita akan…”
Hana Menghentikan kalimatnya ketika melihat perubahan ekspresi dari wajah Mike. Ekspresinya mengeraas, tatapan matanya menajam. Ada apa ini..?? pikir Hana kemudian.
“Kenapa Mike..? Kau terlihat tidak suka dengan kabar ini.” Kata Hana sedikit lirih.
Mike meminum air putih yang ada di hadapannya lalu menyeka bibirnya dengan tissue. Dan dengan arogannya dia berkata. “Maaf Hana, Sepertinya hubungan kita sampai disini saja.”
“A.. Apa maksudmu..?” Tanya Hana dengan terpatah-patah.
“Aku sudah berhasil membuatmu Hamil, dan aku tak tertarik untuk menikahimu. Kita sudahi saja hubungan ini. Aku tak pernah mencintaimu.” Kata Mike dengan dingin. Sangat berbeda dengan kelembutan yang selama ini Mike berikan.
Hana hanya diam membatu, hanya buliran airmatanya saja yang menetes dengan sendirinya. Benarkah Lelaki dihadapannya ini Mike..?? Lelaki yang dicintainya dengan tulus..??
Dan tanpa mengucapkan sepatah katapun Hana berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan Mike yang masih duduk tenang di tempat duduknya.
‘Kenapa Reaksimu seperti itu Hana..?? Kau tidak menamparku..?? Kau tidak mengguyurku dengan air..?? Kau tidak berkata kasar padaku..?? Apa aku masih kurang untuk meyakitimu..??’ Pikir Mike dalam hati….

***

Mike ternyata tak bisa mengabaikan Hana begitu saja. Entah kenapa Fikirannya tidak tenang setelah apa yang sudah dikatakannya terhadap Hana.
Dengan cepat Mike berdiri dari tempat duduknya dan berlari mengejar Hana. Mike bahakan meninggalakan Mobilnya di parkiran Restoran tersebut. Mike sedikit bingung, kemana Hana pergi. Tapi dari tempatnya berdiri Mike melihat seorang gadis yang sedang menangis sesenggukan di bangku sebuah Halte Bus.
Haruskah Ia menghampirinya..? Lalu apa yang akan dilakukannya setelah ia menghampiri wanita tersebut.? Akhirnya Mike memutuskan untuk berdiri ditempat dan mengawasi apa yang akan dilakukan Hana.
Lama Hana berada di dalam Halte tersebut. Hingga akhirnya Hana berdiri daan mulai berjalan kembali. Hana berjalan menuju ke Apartemen Mike, Mike dengan setia mengikuti Hana Di belakangnya dengan jarak yang cukup jauh, Tapi cukup untuk memperlihatkan punggung Hana yang tidak berhenti bergetar. Wanita itu menangis…..

***

Secepat mungkin Hana membereskan semua pakaiannya yang berada dalam Apartemen Mike. Hana memijit pelipisnya karena rasa pusing kembali menderanya. Ada apa dengan lelaki itu.? Apa dia memiliki Masalah.? Kenapa lelaki itu berbicara seperti itu padanya.? Peertanyaan-pertanyaan tersebut tidak berhenti berputar dalam pikiran Hana.
Ahhh… mungkin Mike ada masalah. Toh jika Mike benar-benar mencintainya, Mike akan kembali mencarinya bukan.? Tapi bagaimana jika tidak.? Bagaimana denga Bayi ini..? Hana kembali menitikan airmata sambil mengusap perut datarnya.
“Kau ingin kemana.?”
Hampir saja Hana terlonjak kaget karena mendengar suara tersebut, suara yang sangat dikenalnya tapi dengan Nada yang berbeda. Kata itu diucapkannya dengan Nada Dingin. Hana membalikkan badannya dan Mendapati Mike dengan wajah Kerasnya. Sangat berbeda dengan Mike yang penuh dengan senyuman atau rayuan manjanya.
Hana kembali membalikkan badannya seraya membereskan kopernya kembali. “Aku pergi, bukankah kita sudah selesai.?” Kata Hana sekuat mungkin. Hana bahkan membalas perkataan Mike dengan Nada yang sama dinginnya dengan Nada yang diucapkan Mike.
Jawaban Hana benar-benar diluar dugaan Mike. Mike berpikir jika Hana akan menangis dan merengek padanya, meminta penjelasan, namun ternyata Hana malah bersikap seperti ini padanya.
“Baguslah… cepat pergi dari sini jadi aku bisa membereskan semua tentangmu secepat mungkin.” Lagi-lagi Mike berkata sedingin mungkin. Ya tuhan… ini benar-benar bukan dirinya.
Hana menghela nafas panjang, Airmatanya kembali menetes saat mendengar perkataan Mike yang seperti Sembilu menyayat hatinya. Tak lama Hana mendengar pintu ditutup, Mike mungkin sudah keluar dari kamar mereka. Akhirnya Hana terduduk sambil menenggelamkan Wajahnya diantara lengannya. Menangis tersedu-sedu dan sebisa mungkin tak mengeluarkan suara. Kau harus kuat Hana.. Kau harus kuat.. jangan menagis disini.. Hana menguatkan dirinya sendiri.
Sementara itu di luar Kamar, Mike masih menyandarkan tubuhnya di tembok sebelah pintu. Apa yang terjadi? Kenapa seperti ini? Kenapa tidak ada kepuasan sedikitpun saat dirinya mencampakan Hana..? Apa ini masih kurang.? Yaahhh tentu saja, Hana bahkan belum bunuh diri seperti yang dilakukan adiknya bukan.? Kau harus kuat Mike.. tinggal selangkah lagi, Kau pasti menang… pikir Mike menguatkan dirinya sendiri.

***

Mike terbangun dengan kepala yang nyaris pecah karena denyutan yang tak ada hentinya. Melirik kearah jam dinding dan mendapati jarum jam yang sudah bertengger di angka sepuluh. Sial..!!! dirinya terlambat bangun pagi ini. Kenapa Hana tidak membangunkannya.?
Hana..???
Mike tersenyum kecut saat mengingat nama itu. Tentu saja, bukankah Hana sudah keluar dari Apartemennya tadi malam.? Dan bukaankah itu alasan kenapa Mike terbangun pagi ini dengan kepala berdenyut hebat karena mabuk semalaman.
Tadi malam Hana pergi tanpa sepatah katapun, entah kenapa itu membuat Mike Marah. Apa dirinya kurang berarti untuk Hana sehingga Hana tidak Depresi seperti adiknya..?? Ayolah.. Bahkan Mike melihat dengan jelas dari sorot mata Hana, betapa Hana sangat mencintai dirinya hingga rela memberikan segalanya untuk diri Mike.
Tapi kenapa Wanita itu bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa.? Dan kenapa pula jadi dirinya yang kini seakan terpuruk akan perpisahannya dengan Hana..?? Ahhh sial..!! Akhirnya Mike bergegas menuju kekamar mandi untuk membersihkan Diri.
Mike kembali dari kamar mandi dengaan keadaan lebih segar dari sebelumnya, meski tak mengurangi sedikitpun rasa sakit kepalanya. Mike mendapati Ponselnya berbunyi, dan Layar ponselnya mengatakan jika itu dari Carry. Ayolah, apa yang akan dilakukan wanita itu padanya pagi-pagi seperti ini.?
“Mike apa yang terjadi paadamu. Aku meneleponmu sejak semalam tapi Kau tidak mengangkatnya.” Sembur Carry setelah Mike mengangkat teleponnya.
“Apa ada masalah.?”
“Billy akan menyusulku kesini jika aku tidak segera menyelesaikan masalah kita.”
“Siapa Billy..?”
“Buka pintu Apartemenmu dulu setelah itu aku akan menjelaskan semuanya.”
“Kau dimana,?”
“Aku di depan Apartemenmu Bodoh, cepat Buka pintunya.”
Dan Mike segera bergegas membuka Pintu Apartemennya. Setelah Pintu di buka, Carry langsung menghambur kedalam pelukannya.
“Apa yang terjadi denganmu? Kau sedikit demam.” Tanya Carry sambil mengusap kening Mike yang terasa sedikit hangat.
“Aku hanya Mabuk.” Jawab Mike yang kini sudah mengecup singkat bibir Carry.
“Kau ada masalah.?” Tanya Carry kemudian.
Mike mengeleng, tapi Carry tau jika Mike berbohong. “Itu tidak penting Carry, sekarang Kau hanya perlu bercerita apa masalahmu.” Kata Mike meyakinkan.
Tapi belum sempat Carry membuka mulutnya untuk bercerita, Suara Pelan menyadarkan mereka jika ada orang di sekitar mereka.
“Mike..” suara Hana nyaris tidak terdengar. Bahakan Hana merasakan suaranya bergetar karena diriya sedang menahan sesuatu yang akan keluar dari pelupuk matanya.
Dengaan reflek Mike melepaskan rangkulannya terhadap Carry. “Hana.? Apa yang kau lakukan disini.?”
“Aku.. Aku…”
Hana seakan tak bisa menjawab pertanyaan Mike. Dirinya terlalu sakit saat mendapati pemandangan di hadapannya. Jadi karena ini Mike mencampakannya..? Meninggalkannya dan juga calon bayi mereka hanya karena wanita Lain..?? Mike benar-benar Brengsek..!!!

 

-TBC-

udah mulai masuk konflik yaa… karena PSWM udah End maka aku akan sering2 Post MBE ini yaa… semoga kalian nggak bosan bacanya.. hahhahaha

please Stay With Me – Chapter 15 (End)

Comments 8 Standard

pswm-1Please Sty With Me

NB: Maaf bgt kalo ending kurang greget dan nggak sesuai ama harapan kalian,, tapi aku bahagia bisa nyeleseikan kisah cinta sedih ini dengan sebaik-baiknya. makasih buat yang sudah mau baca dari awal hingga akhir, kasih dukunga berupa Like / Coment.. aku seneng bgt setidaknya kisah ini ada yang mau baca apalagi ada yang mau nangis gara-gara Baper.. hehheheeh ok langsung saja…

Chapter 15

-Author-

 

-jika mendapat akhir yang bahagia harus kehilangan banyak Air mata, Maka aku Rela melewati jalan tersebut..-

 

Revan benar-benar memucat dengan kata-kata yang diucapkan istrinya tersebut. Dara meminta untuk berpisah dengannya..? Apa wanita ini tak salah bicara..? Pikir Revan kemudian. Tangis pecah Dara membuat Revan bangkit lalu memeluk dara erat-erat.
“Dara.. Jangan bicara seperti itu..” Kata Revan yang kini sudah menarik Dara dalaam pelukannya.
“Aku tidak bisa lagi Mas… Aku lelah.. aku ingin mengakhiri semua ini selagi aku bisa.”
“Aku tidak ingin meninggalkanmu, Dan aku tak akan pernah meninggalkanmu..” Kata Revan dengan tegas.
“Aku ingin sembuh Dari Luka ini Mas.. Lepaskan Aku… Kumohon.” Dara Masih menangis dalam pelukan Revan. Dara bahkan merasakan punggung lelaki itu bergetar. Mungkinkah Revan juga menangis karenanya..?
Revan melepaskan pelukannya, menatap dara dengan Mata basahnya. “Kumohon Dara.. jangan paksa Aku… kita bisa memulainya dari awal, demi anak kita.” Revan memohon.
Dara hanya menggelengkan kepalanya. Tak ada kesempatan lagi untuk Revan. Dirinya selama ini sudah mencintai Revan sepenuh hati, tanpa menuntut balasan, namun entah kenapa Kehadiran bayi yang dikandungnya kini membuat semuanya berbeda. Dara merasa jika dirinya kini juga butuh di cintai, tak hanya tanggung jawab tapi benar-benar cinta yang tulus. Sedangkan Dara tau jika Revan mungkin saat ini tidak bisa memberikan Hal itu padanya.
“Dara..” Kata Revan sambil menangkup pipi Dara.
Lagi-lagi Dara menggeleng. “Aku tidak bisa Mas.. Aku terlalu lelah.” Lirih Dara.
Revan menyadari jika dirinya kini tak memiliki kesempatan lagi. Yahh… ini memang sudah salahnya, sudah sewajarnya Dara pergi meninggalkannya setelah apa yang sudah dia lakukan selama bertahun-tahun pada diri Dara. Tapi kenapa pada waktu seperti ini..? kenapa Pada saat dimana Revan benar-benar menyadari jika tak ada wanita lain selain Dara yang benar-benar dia inginkan dalam hidupnya..? Apa ini yang disebut dengan karma karena telah menyia-nyiakan orang yang mencintainya hingga orang itu pergi meninggalkannya..??
Revan menempelkan keningnya pada kening Dara, Menelusuri wajah itu, wajah yang mungkin saja sebentar lagi tak menjadi miliknya lagi. Nafas mereka saling bersahutan, Revan menyentuh bibir Dara dengan ibu jarinya.
“Aku ingin menciummu untuk terakhir kalinya.” Lirih Revan.
Dara hanya memejamkan matanya, mengisyaratkan jika dirinya mengijinkan Revan untuk menciumnya. Yah… setidaknya Ciuman ini nanti akan menjadi ciuman manis yang dapat mereka ingat nantinya.
Dengan perlahan Revan menyentuhkan bibirnya pada bibir Dara, lembut, sangat lembut. Mengigatkan Revan dengan ciuman pertama Mereka. Revan mulai memangutnya, melumatnya lembut penuh dengan dengan kasih sayang, Revan ingin Dara dapat merasakan Cintanya lewat Ciuman manis ini. Keduanya hanyut dalam suasana, hanyut dalam perasaan yang menyesakkan Dada, Hanyut dalam Cinta yang tak terucap.
Dara sudah tak kuat dengan semua ini, dia tak lagi menahan tangisnya. Isakannya membuat Ciuman Revan terhenti. Ternyata Revan juga ikut menangis bersamanya.
“Heii jangan menangis lagi.. Baiklah.. kita akan berpisah, asal Kau tidak menangis lagi. Jaga anak kita, Dan Kau Harus sembuh.” Kata Revan mengusap Air mata di pipi Dara. Ya… bahkan saking Cintanya dengan Dara, Revan Rela meninggalkan Dara demi kebahagiaan Dara sendiri. Revan Rela melepas Wanita yang entah sejak kapan menjadi Poros hidupnya tersebut. Entah Revan nanti dapat menjalani harinya dengan normal atau tidak Revan sendiri tak tau, Yang Revan tau Kini dirinya harus membahagiakan Dara walau itu dengan Cara meninggalkannya Dan membuat dirinya sendiri kesakitan seumur hidup karena tak bisa memiliki Dara.
Dara tertegun dengan Perkataan Revan. Kenapa lelaki ini sangat mudah sekali menyetujui permintaannya.?
“Kita akan berpisah secara baik-baik.” Tambah Revan lagi. Dan entah kenapa kata-kata itu tepat menusuk di jantung Dara. Dara merasa sakit saat Revan mengatakan kata ‘Berpisah’. Bukankah tadi dirinya yang menginginkan perpisahan ini..?
Revan lalu membenarkan letak rambut Dara yang sedikit berantakan. “Hiduplah dengan bahagia… Jadi aku tak menyesal melepaskanmu.” Kata Revan Lagi. Dara masih tak dapat berkata sepatah katapun.
Revan mengehembuskan Nafas panjang lalu belihat jam tangannya. “Sudah Terlalu sore. Aku akan kembali pulang. Aku akan mengunjungimu lagi nanti.” Kata Revan lalu mengecup kening Dara.
Entah saampai kapan Dara berdiri membatu seperti sekarang ini. Revan sudah tak berada lagi dalam kamarnya. Dan itu membuat Dara Hampa.. bukankah ini keinginanya untuk berpisah dengan Revan…???

***

Revan turun dari tangga menuju kedapur tempat Ibu Dara memasak.
“Lohh Nak Revan sudah turun.” Sapa Ibu Dara pada Revan.
“Emm iyaa bu.. Saya.. Saya ada urusan mendadak. Apa saya boleh menitipkan Dara beberapa Hari ini kepada Ibu.?”
Ibu Dara mengernyit heran. Bukankah tadi Revan berkata jika dirinya akan menemani dara disini.? Kenapa saat ini Revan malah akan meninggalkan Dara..?
“Tenang saja Nak Revan.. Dara akan baik-baaik saja dengan ibu Kok.”
Revan tersenyum lega. “Baiklah Bu.. saya pamit undur diri dulu.”
“Loh… Nak Revan tidak ikut makan Malam.? Ibu masak banyak Nak.”
Revan pura-pura melihat jam tangannya. “Emmm sepertinya tidak Bu.. takut Terlambat Bu..” Jawab Revan Berbohong.
“Baiklah… Hati-hati nak..” Kata Ibu Dara dengan lembut. Revan lalu bersalaman dengan mencium tangan ibu Dara seperti mencium tangan ibunya sendiri. Ibu Dara tau jika saat ini dara dan Revan ada masalah, terlihat jelas pada sorot mata sedih dari Revan.
“Nak Revan..” panggil ibu Dara ketika Revan akan masuk mobilnya. “Kalau ada masalah, bicarakan dengan kepala Dingin Nak.. Nak Revan tau kan keadan Dara saat ini belum stabil. Jadi sementara ini banyak-banyaklah mengalah.” Nasehat Ibu Dara.
“Iya Bu.. saya mengerti.” Kata Revan sambil tersenyum.
Revan lalu masuk kedalam mobilnya, tersenyum pada ibu Dara dan mulai menjalankan Mobilnya. Sedangkan Dara yang melihat pemandangan di luar jendelanya tersebut hanya mampu menangis dari dalam Kamarnya. Ohh Revan yang sangat dicintainya kini sudah lepas dari tangannya, bukan lepas karena pergi tapi karena dirinya sendirilah yang melepaskannya dengan suka rela. Apa nanti dirinya Mampu hidup tanpa Revan..?

***

Revan memijit pelipisnya karena rasa pusing yang menderanya beberapa hari ini. Yahh tentu saja, beberapa hari ini dirinya susah sekali tidur, susah makan dan susah semuanya. Semua itu karena pikirannya hanya tertuju pada satu orang. Dara.
Ini sudah Tiga bulan setelah Revan pergi dari rumah Dara, dan sejak saat itu Revan belum pernah mengunjungi Dara lagi Revan Hanya menghubungi Ibu Dara, untuk memastikan Keadaan Dara. . Apa yang dilakukan dara saat ini.? Apa dia juga merindukan Revan seperti Revan merindukannya.? Apa Dara Juga susah tidur seperti Revan yaang kurang tidur akhir-akhir ini.? Mengingat pertanyaan itu membuat Revan semakin pusing.
“Rev… Kau masih disini.?” Tanya Mike yang kini sudah maasuk kedalam Ruangan Revan.
Revan mengangguk. “Ada apa Mike.?”
“Kupikir Kau ketempat Dara. Rev… Dara membutuhkanmu seharusnya Kau disana Saja.”
Revan menggeleng. “Dia ingin berpisah.”
Mike terkejut dengan perkataan Revan. “Dan Kau menurutinya.?”
Revaan mengangguk.
“Bodoh. Apa hanya seperti ini Cintamu pada Dara.?”
“Kau pikir aku harus melakukan apa Mike.? Dia berjanji akan sembuh dan hidup bahagia jka aku meninggalkannya.”
“Dan Kau percaya perkataannya..?” enRevan Hanya menganguk. “Ayolah Rev.. Buka Matamu, Dara hanya perlu pembuktian darimu jika Kau benar-benar menyayanginya.”
“Aku membuktikan itu dengan meninggalkannya Mike, aku mencintainya hingga aku Rrela meninggalkannya demi dia bisa hidup bahagia.”
“Dan jika Dia tidak hidup bahagia, bukankah pengorbananmu ini sia-sia.? Rev… Yang aku percayai adalah jika aku mencintai orang maka aku harus mendapatkan orang itu bagaimanapun caranya, aku bahkan tak peduli jika aku harus menghianati janjiku di makam adikku sendiri demi bisa hidup bersama dengan Hana, karena aku mencintainya Rev…”
“Lalu aku harus berbuat apa, aku juga tak ingin berpisah dengannya.”
“Berusaha Rev.. yakinkan dia jika Kau Sudah berubah, jika Kau hanya mencintainya.”
“Kau yakin itu bisa berhasil.?”
“Hati Wanita sangat lemah,” Kata Mike dengan tersenyum. “Aku yakin kau bisa meluluhkan Hati Dara kembai seperti aku meluluhkan Hati Hana untuk kedua kalinya.”
Kali ini revan ikut tersenyum. “Itu Karena Kau lelaki perayu.”
“Setidaknya aku merayu Orang yang benar-benar kucintai.” Kata Mike Pasti.
Yaa… perkataan Mike benar juga. Cinta Tak harus memiliki..? Peribahasa apa itu. Jika Cinta kita harus berusaha memilikinya. Kenapa Harus menyerah saat masih bisa berusaha. Akhirnya dengan semangat Revan memutuskan untuk mengejar Dara kemmbali.

Dara… Selama ini kau yang selalu mengejarku, berusaha membuatku jatuh cinta padamu.. tapi kali ini, Biarkan aku yang mengejarmu.. biarkan aku membuatmu jatuh cinta padaku lagi hingga kita bisa bersatu kembali seperti dulu…

***

Dara Duduk dengan wajah sendunya di depan jendela kamarnya. Menatap jauh pada hamparan perkebunan teh yang terlihat sejuk dan Rimbun dalam pandangannya. Entah ini sudah berapa bulan Dara berada di dalam Rumah ibunya, Tanpa Revan Disisinya..
Sesekali dara mengusap perutnya yang kini sudah sedikit berbentuk. Mungkin usianya sudah empat bulan atau mungkin lebih, Kenapa Mas Revan tidak pernah Kemari..? Kenapa dia tak mengunjungiku seperti janjinya..? Lagi-lagi Dara menangis saat mengingat semua tentang Revan. Ahh.. kenapa mencintai bisa sesakit ini..?
Sungguh, beberapa bulan hidup jauh dari Revan, Dara menyadari jika dirinya benar-benar tak bisa jauh dari lelaki tersebut. Lelaki yang sudah menjadi Gravitasinya untuk menahannya di bumi ini. Lelaki yang sudah seperti udara yang membuatnya bisa tetap hidup hanya dengan menghirupnya saja.
Tapi kini lelaki itu pergi karena dirinya yang meminta. Gravitasi itu menghilang seakan membuat Hidupnya kini terombang-ambing tak jelas arah, tak ada yang menahannya.. Udara itu pergi, seakan membuatnya sesak, tak mampu bertahan tanpa bernafas..
Dara menenggelamkan Wajahnya pada lengannya, menangis terisak disana. Ya tuhan… kenapa begini.? Jika ini hanya karena cemburu pada orang yang sudah meninggal seharusnya dirinya tak melepaskan Revan begitu saja. Tapi mengingat Revan selalu mengunjungi makam sang kekasih entah kenapa membuat Dara Sakit. Ini bukan hanya sekedar Cemburu…. ini terlalu rumit untuk di jelaskan…
Tiba-tiba Dara merasakan sebuah tangan besar mengusap permukaan Rambutnya. “Heii… kenapa Disini.? Kau bisa masuk angin jika terlalu lama disini.” Suara itu sontak membuat Dara mengangkat Wajahnya. Suara yaang sangat dia Rindukan.
“Mas Revan.”
“Yaa.. aku disini..” Kata Revan dengan tersenyum. Revan lalu duduk berjongkok dihadapan Dara. “Kenapa Menangis lagi, Bukankah Kau berjanji tak akan menangis lagi setelah aku meninggalkanmu.?” Tanya Revan dengan mengusap air mata Dara.
“Aku tidak menangis, Mataku hanya terkena Angin, makanya merah dan berair.” Kata Dara sambil memalingkan Wajahnya.
Revan tersenyum mendengar pernyataan Dara. “Bagaimana keadaannya.?” Kali ini Revan bertanya sambil mengusap perut dara yang terlihat lebih besar dari pada terakhir mereka bertemu. Revan lalu mengecup perut Dara dengan lembut. “Aku merindukan Kalian.” Kata Revan sedikit serak.
Dan Dara tak bisa menahan diri lagi. Dipeluknya Revan dengan Erat, Tangisnyapun kini pecah. “Aku juga merindukanmu Mas..” kata Dara di sela-sela tangisnya.
Mereka berpelukan cukup lama, sambil sesekali terisak. Revan lalu melepaskan pelukannya. “Jangan menangis lagi.” Kata Revan kemudian.
“Kau jahat.. Kau meninggalkanku.”
“Kau Yang memintaku untuk meninggalkanmu Dara.”
“Aku hanya meminta, bukan berarti Kau harus menurutinya.”
“Aku hanya ingin membuatmu Bahagia Dara, Maka dari itu aku melakukan apapun yang Kau minta meski itu sebenarnya Menyiksaku.” Kata Revan dengan Lirih.
Dara kembali memeluk Revan. “Jangan tinggalkan aku lagi.” Kata dengan sesenggukan.
“Kau ingin kita kembali bersama.? Melupakan perpisahan kita.?” Tanya Revan lagi.
Dara melepaskan pelukannya. Wajahnya kini menunduk, perasaannya tak menentu. Dia tak ingin Revan meninggalkannya tapi disisi lain Dia tau bahwa dirinya akan sakit jika selalu melihat lelaki yang dicintainya masih mencintai wanita lain.
“Aku.. aku hanya tidak ingin Kau meninggalkanku Mas.. Bukan berarti aku menerimamu lagi.” Kata Dara pelan.
“Laalu bagaimana caranya supaya Kau menerimaku lagi.?”
Dara menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tau.”
“Apa Kau masih mencintaiku.?” Tanya Revan penuh harap.
“Perasaanku tidak akan berubaah untukmu Mas.. Hanya saja…”
Revan menangkup pipi Dara. “Dara, aku tau Kau masih Ragu padaku. Tapi aku akan berusaha semampuku untuk membuatmu kembali dalam pelukanku lagi. Aku tidak akan bisa membuktikan bahwa aku mencintaimu karena bagiku tak ada pembuktian untuk Cinta, Aku hanya ingin Kau merasakannya, Merasakan bahwa aku benar-benar mencintaimu melebihi apapun yang ada didunia ini.”
“Kau serius dengan ucapanmu.?”
Revan mengangguk Pasti. “Mungkin tidak sekarang, tapi aku yakin suatu saat nanti Kau akan mengerti bagaimana Dalamnya cinta ini untukmu.”
Dara menelan ludahnya dengan susah payah, dirinya harus menanyakan pertayaaan ini sebelum dirinya memulai kembali dengan Revan.
“Mas… Bagaimana dengan Lita.?” Tanya Dara takut-takut.
“Lita..? Ada apa dengannya.?”
“Emm.. bukankah kau Mencintainya hingga kini.?”
Revan tersenyum pada Dara. Mengusap lembut pipi Dara. “Jadi karena Lita Kau seperti ini.? Kupikir semua ini Karena Manda.” Revan lalu menghela nafas panjang dan mulai bercerita.
“Aku mengenal Lita dan Manda beberapa tahun yang lalu. Mereka baik. Lita Gadis yang ceria tapi sedikit agresif, aku suka itu. Dia baik kepada semua orang dan tak jarang membuatku cemburu buta. Aku mencintainya, sungguh sangat mencintainya, tak ada yang lain selain dia. bahkan ketika aku mendapati foto-foto sialan itu, aku masih tetap mencintainya. Rasa Cintaku semakin besar karena bercampur dengan penyesalan saat aku mendapati jika Lita tidak bersalah. Semuanya bahkan semakin dalam Saat aku mengetahui bahwa Lita meninggal karena patah hati denganku.”
Revan memejamkan matanya lama, seakan mengungkit kembali luka lama yang sudah kering karena berjalannya waktu.
“Lalu Kau datang dengan segaa Cintamu untukku, aku memang tak pernah memandangmu ada, tapi aku tidak bisa memungkiri jika secara tidak langsung kau menarikku kembali dalam Dunia nyata ini, Kau mengobati sedikit demi sedikit lukaku hingga mengering, kau masuk secara perlahan-lahan kedalam hatiku tanpa aku mengetahuinya.”
“Mungkin dulu aku pernah bilang jika aku mencintai Lita, Cinta yang abadi hingga aku mati menyusulnya, tapi sekarang aku menarik kata-kata itu, Tidak ada Cinta abadi untuknya Dara. Cintaku padanya sudah terhenti ketika aku memutuskan untuk memulainya dari awal bersamamu.” Revan lalu membawa telapak tangan Dara pada dadanya. “Mungkin disini masih sedikit ada Lita, Tapi demi tuhan Jika Kaulah pemilih Hati ini Dara, hanya Kau yang memilikinya.”
Revan lalu berdiri mengambil seikat bunga mawar Merah dan sebuah kotak besar berpita yang dibawanya tadi dan di taruh sembarangan di atas ranjang Dara.
Revan kembali berlutut di hadapan Dara. “Apa Kau tau jika aku selalu memberikan Lita bunga Mawar Merah berjumlah delapan tangkai..? Dia pernah bilang bahwa angka Delapan adalah angka yang selalu bersambung dan tidak memiliki titik putus, Biasa disebut dengan angka keabadian. Bunga mawar Merah delapan tangkai bagi kami adalah simbol Cinta yang abadi dan tak pernah putus. Tapi mulai hari ini, aku akan memberikan bunga-bunga ini untukmu dengan harapan Cinta kita akan abadi selamanya. Apa kau mau menerimanya.?”
Dara menitikan air matanya kembali, tak menyangka jika Revan akan berkata semanis ini terhadapnya. Dara menganggukkan kepalanya, lalu menerima Bunga dari Revan tersebut.
“Jangan menangis lagi. Aku disini bersamamu.” Revan manghapus airmata Dara.
“Aku menangis bahagia Mas..” lalu dara memeluk Revan lagi. Ahh rasanya tak akan pernah bosan untuk memeluk lelaki ini. Lelaki yang sangat dicintainyaa, dirindukannya dan diinginkannya.
“Heii.. aku punya satu lagi hadiah untukmu.” Kata Revan smbil menyodorkan kotak besar berpita terssebut di tangannya.
“Apa ini.” Kata Dara menerimanya dan membuka kotak tersebut. Ternyata isinya adalah Coklat. Coklat kesukaan Dara. Dulu saat masih berteman Akrab, Ketika Dara menangis karena jatuh atau di ejek teman-temannya, atau saat Dara marah dan Merajuk, Hana dan Revan memberikan Dara Coklat seperti ini hingga Dara kembali tersenyum lagi seperti sedia kala. Dara menutup mulutnya tak percaya jika Revan masih mengingat cemilan kesukaannya ini. “Mas Revan masih ingat.?”
Revan Tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Sesungguhnya aku sudah Lupa, Hana Yang menyuruhku membawakan Coklat itu untukmu.” Kata Revan tersenyum menyeringai.
Ohhh lelaki ini benar-benar sangat manis. Pikir Dara. Walau ini Hana yang menyuruhnya tapi tetap saja perasaan Dara berbunga-bunga tiada Henti.
“Dara.. Kita pulang kerumah Yaa…” Ajak Revan kemudian.
Dara lalu mengangguk dengan pasti. Yah… setidaknya Dara kini mengerti bagaimana isi Hati Revan sesungguhnya. Bagaimana perasaan Revan padanya. Dara tau, melupakan masalalu bukanlah hal yang mudah, apalagi masalalu tersebut berhubungan dengan orang yang kita cintai. Dara hanya akan berusaha membantu Revan supaya bisa lepas dari bayang-bayang masalalu tersebut, dan mengukir Cerita indah untuk masa depan mereka nantinya.

***

Saat pulang kerumah, Revan membelokkan mobilnya kesebuah arah yang diyakini Dara adalah arah ke pemakaman Lita. Untuk apa mas Revan membawaku kemari..? Pikir Dara kala itu.
Revan yang melihat ekspresi Dara langsung menjelaskan kenapa mereka datang bekunjung kemakam Lita.
“Kau tentu mau menemaniku kesana bukan..? Kita temui dia bersama.” Kata Revan sambil mengecup punggung tagan dara. Dara hanya mengangguk meski hatinya sedikit tidak enak ketika harus kembali menginjakkan kaki di makam Lita.
Sebelumnya mereka pergi ke toko bunga yaang tak jauh dari kompleks pemakaman tersebut, tokoh bunga yang sama dengan pedagang yang sama.
“Bunga mawar atau bunga Lili pak..?” Tanya si penjaga Toko tersebut seakan tau apa yang akan dicari Revan.
“Lili putih.” Kata Revan kemudian sambil melirik kearah Dara.
Sang penjual bungapun menyiapkan pesanan Revan, lalu tak lama kembali dengan seikat Lili putih pesanan Revan. Setelah membayar Revan bergegas pergi dengan Dara menuju makam Lita.
“Penjual bunga itu rasanya akrab dengan Mas Revan, diaa tau Mas Revan ingin memesan apa.” Kata Dara sedikit heran.
“Dia langgananku ketika aku mengunjugi makam lita sejak beberapa tahun yang lalu. Aku selalu memesan mawar Merah untuk makam Lita. Dan sejak kau di Rawat di rumah sakit beberapa bulan yang lalu, Aku mengganti bunganya dengan lili putih.”
“Kenapa.?”
“Karena Mawar merah untuk dirimu.” Kata Revan yang masih tak dimengerti Dara. Daara ingin bertanya lagi tapi mereka sudah sampai di depan Makam Lita. Disana sudah ada Seikat Mawar juga. “Mungkin Mike dari sini.” Kata Revan sambil berjongkok dan menaruh Lili putihnya di sebelah Mawar tersebut.
“Hai Lita.. kita bertemu lagi..” Revan mulai berkata-kata. “Kali ini aku mengajak Istriku Dara, Wanita yang selalu kuceritakan denganmu.” Dara mengernyit mendengar perkataan Revan.
“Dara sedang hamil, Dan aku janji akan selalu menjaganya, aku tidak akan mengulangi kesalahan bodohku untuk kedua kalinya.”
Revan mengambil nafas panjang sambil memejamkan matanya lalu mulai berkata lagi. “Kau pasti heran kenapa akhir-akhir ini aku memberimu Lili putih. Maafkan aku Lita, karena kini aku sudah benar-benar berpaling Hati untuk wanita disebelahhku. Tidak akan ada mawar merah lagi untukmu, karena Cintaku benar-benar sudah berakhir untukmu. Lili putih simbol dari persahabatan, kuharaap Kau mau menjadi sahabat terbaik dihatiku.”
Mendengar pernyataan Revan, Dara langsung memeluk Revan, entah kenapa dara ingin menangis. Terharu bercampur aduk menjadi satu, ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan jika Revan benar-benar mencintainya, tak ada lagi wanita lain selain dirinya.
“Lita, aku juga minta Maaf..” Kata Revan lagi. “Mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya aku kemari. Aku harus mellangkah maju tanpa Bayang-bayangmu. Jadi maafkan aku..” Kata Revan lagi.
“Mas… kau tak perlu melakukan ini.” Kata Dara cepat.
“Tidak dara. Aku harus melakukannya. Aku tidak bisa selalu berputar pada pusaran masalalu yang kubuat sendiri. Aku harus mengakhirinya saat ini juga.” Kata Revan dengan Pasti.
Dara tidak bisa menjawab lagi perkataan Revan, karena apa yang dikatakan revan ternyata benar. Mereka tidak bisa selalu hidup dalam bayang bayang seorang Lita.
Setelah lama berbicara dimakam Lita, akhhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
Revan menatap Makam Lita untuk terakhir kalinya. ‘Terimakasih Lita… terimakasih karena pernah hadir dalam hidupku, terima kasih karena pernah menjadi kekasih hatiku… mungkin hati dan cintaku sudah berpaling darimu, tapi aku tidak akan pernah melupakanmu, Terimakasih…’ Kata Revan dalam hati sambil tersenyum.

Darapun demikian. Dara menatap Makam Lita untuk terakhir kalinya. ‘Aku mungkin tidak pernah mengenalmu Lita, tapi aku tau Kau wanita yang baik, Terimakasih karena sudah menjaga Hati Mas Revan selama ini hingga dia bisa menjatuhkan pilihannya untukku. Aku janji akan selalu menjaga dan membahagiakannya selama sisa hidupku hingga nanti saat kita bertemu kembali dialam lain, aku akan mengembalikannya padamu. Terimakasih atas kesempatan yang kau berikan padaku ini Lita…’ Kata Dara dalam Hati sambil sedikit menitikan air matanya.

Dara dan Revan lalu kembali pulang dengan bergandengan tangan bersama. Mereka tau jika hidup mereka yang sebenarnya baru dimulai, akan ada banyak masalah yang menanti untuk mereka. Tapi jika saling percaya dan dihadapi bersama maka masalah tersebut akan mudah untuk dilaluinya.

 

_END_

 

Yahh… udah END deh… BTW masih ada epilognya loh… tunggu sebenktar yaa… heheheh

My Brown Eye – Chapter 4

Comments 5 Standard

MBE1My Brown Eye

Chapter 4

-Tak Ada Rasa Cinta Tanpa Rasa Sakit yang menyertainya..-

Hana terbangun di pagi hari dengan perut yang mual seperti diaduk-aduk. Berlari kekamar mandi dan mencoba memuntahkan semuanyaa, tapi Nihil, dia hanya Mual dan tak bisa memuntaahkan apapun. Ahhh ada apa dengan dirinya..?
Mike yang mendengar suara Hana segara bangun dan bergegas kekamar Mandi, dimaana Hana berada saat ini.
“Kenapa Sayang..?”
“Aku hanya Mual.”
Mike menegang seutuhnya. “Apa Kau.. Kau hamil..?”
Kali ini giliran Hana yang menegang seutuhnya, Hamil..?? kenapa tak terfikirkan Hal tersebut dalam otaknya..? raut Wajahnya kini berubah menjadi Raut bahagia.
“Astaaga Mike… aku bahkan tak berpikir sampai situ.. Yaaa… mungkin saja aku hamil, ayoo kita membeli Test Kehamilan.” Kata Hana dengan semangat dan meninggalkan Mike yang saat ini masih diam membatu.
Hamil..? itu.. itu berarti Waktunya bersama Hana tak lama lagi. Tapi bukankah itu bagus.? Kenapa dirinya measa ada yang salah disini.?

***

Hana Dan Mike akhirnya kembali ke Apartemen Mike dengan beberapa alat Test kehamilan yang baru saja mereka beli di Apotek terdekat. Hana dengan Raut wajah bahagiia berserinya, sedangkan Mike masih memasang wajah Datar taanpa Ekspresinya.
Hana berlari kekamar mandi dan mencoba semua alat Test kehamilan tersebut, sedangkan Mike dengan gelisah menunggunya di luar. Bagaimana jika Hana benar-benar Hamil.? Bagaimana dia mengakhiri semuanya..?
Tak lama Hana keluar dengan airmata di pipinya. Mike sontak menghampirinya, ingin mengetahui apa yang terjadi
“Ada apa sayang..?”
Hana langsung memeluk tubuh Mike. “Aku tidak Hamil Mike, semua alatnya negatif.” Kata Hana yang entah kenapa sontak membuat Mike menghela Nafas lega.
“Tenang sayaang…Masih ada lain waktu.” Kata Mike menenangka Hana. Sedangkan Hana masih sedikit terisak dalam pelukan Mike.

***

Dara yang sedang bersiap-siap berangkat kekantor tiba-tiba terpaku saat mendapati sosok dihadapannya. Sosok yang berdiri tegak memandangnya dengan wajah datar seperti biasanya.
“Mas Revan..” tanpa sadar Dara menyebut nama lelaki tersebut.
“Pagi Dara.” Revan sedikit melempar sebuah senyuman kepada Dara, ahh senyuman itu, senyuman yang sedikit di rindukan oleh Dara.
“Mas Revan kenapa Kesini pagi-pagi seperti ini.?”
“Aku ingin menemui Hana, Apa dia ada.?”
Dan Dara Sontak memucat saat tiba-tiba Revan menanyakan keberadaan Adiknya tersebut.
“Emm.. itu.. Hana..”
Revan mendekatkan tubuh dan wajahnya kearah Dara, membuat Dara sedikit mundur karena kedekatan yang terjadi diantara mereka.
“Kau gugup, Ada yang Kau sebunyikan Dariku.?”
“Tidak… aku tak menyembunyikan apapun. Hana hanya sudah berangkat terlebih dahulu.”
“Benarkah.?”
“Iya.. aku tak mungkin berbohong padamu Mas.” Kata Dara masih pnuh dengan kegugupan.
“Baiklah kalau begitu aku pergi dulu.” Kata Revan yang saat ini sudah membalik badannya dan berjalan menuju Mobil yang terparkir di hadapannya.
Dara menghela nafas Panjang. Akhirnya dirinya bisa menghirup udara Segar setelah tadi sempat menahan nafas karena Gugup dengan kedekatannya bersama Revan, kakak dari sahabatnyaa, Hana.
“Heii… sedang apa Kau disitu.? Ayo.. aku akan mengantarmu kekantor.”
Teriak Revan yang saat ini sudah berada di balik kemudi Mobilnya. Membuat Dara ternganga. Benarkah Revan akan mengantarnya kekantor..?? Astaga… Lelaki itu memang berubah menjadi lelaki pendiam dan dingin sejak beberapa tahun terakhir, namun tentu saja perhatiannya masih sama seperti dulu, meski sedikit berkurang tapi tak mengurangi perasaan Dara terhadapnya. Perasaan..???
***
Dara turun dari Mobil Revan ketika mereka sudah sampai di halaman Kantor tempat Dara bekerja.
“Terimakasih Mas.. sudah mau mengantar.” Kata Dara sopan sambil menganggukkan kepala.
“Lain kali mintalah Kekasihmu menjemput, tak baik jika selalu naik kendaraan umum sendiri.” Kata Revan yang masih nampak dengan wajah datarnya.
Dara hanya mengangguk mengiyakan, padahal hatinya terasa diaduk-aduk tak karuan mendengar perkataan dari Revan tadi. Tak lama Revan pamit pergi, sedangkan Dara merasa seakan-akan kakinya sudah lemas karena terlalu lama dengan lelaki tersebut.

***

Hana heran saat mendapati Dara sedang duduk melamun didalam ruangan kecilnya. Ada apa dengan sahabatnya tersebut. Dara tersenyum-senyum sendiri dan wajahnya seakan merona merah.
“Kau menyembunyikan sesuatu dariku Dara?” pertanyaan Hana membuat Dara sedikit terkejut dan kelabakan.
“Heii.. sejak kapan Kau disitu.?” Tanya Dara sambil membenarkan rambutnya.
“Cukup lama utuk mengetahui bahwa pagi ini Kau sedang berbunga-bunga. Apa yang terjadi denganmu Dara.?”
Dara menggelengkan kepalanya. “Tak ada yang terjadi Hana. Aku hanya sedikit senang.”
“Apa yang membuatmu senang.?”
“Ayolah Hana.. ini hanya rasa senang biasa saja. Dan kenapa Kau keruanganku.? Kau membutuhkan sesuatu.?” Dara mencoba mengalihkan Topik.
“Kata Dini tadi Kau datang bersama dengan Lelaki yang mirip dengan kakaku, apa itu benar.?”
Sontak Dara kembali salah tingkah dengan pertnyaan Hana. Hana yang melihat gelagat Dara langsung menaikan sebelah alisnya sambil berfikir.
“Dara… jangan-jangan Yang membuatmu memerah sejak tadi adalah Mas Revan, Kakakku..?”
Dara sungguh terkejut dengan tabakan Hana yang ternyata tepat pada sasaran.

***

Mike dengan tampannya menunggu seseorang di bandara. Dia adalah Carry Wagner, Tunangannya yang tinggal di Jerman. Akhir-akhir ini Mike memang jarang sekali menghubungi Carry,entah itu karena sibuk atau karena Hana. Mike sendiripun tak tau.
Carry akan tinggal sementara di rumahnya bersama dengan ibunya, mungkin seminggu Carry akan berada disini. Carry dulunya adalah tetangga sekaligus teman kecil Mike saat tinggal di Jerman. Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat. Tapi kemudian ide untuk menikah datang ketika mereka duduk di bangku perguruan tinggi.
Sebenarnya walau status mereka sebagai tunangan, namun hubungan mereka tak lebih dari sekedar berteman. Mike sangat menghormati Carry, begitupun sebaliknya. Tak ada getar-getar aneh yang meliputi Diri Mike saat bertemu dengan Carry tak seperti saat dirinya bertemu dengan Hana.
Ahhh nama itu Lagi. Mengingat namanya saja bahkan membuat Mike sedikit tersenyum. Haruskah dirinya menceritakan tentang Hana kepada Carry..???
Akhirnya Wanita tinggi dan cantik bak model itupun datang dengan penampilan Modis seperti biasanya. Carry bahkan tak canggung lagi dan langsung memeluk Mike yang sudah menyongsongnya, begitupun dengan Mike yang tak canggung lagi langssung mengecup bibir Carry.
“Bagaimana Kabarmu.?” Tanya Mike seraya mengajak Carry keluar dari bandara.
“Baik, aku hanya merindukanmu.” Kata Carry sambil tersenyum.

“Aku juga,.” Kata Mike yang di ikuti dengan mengecup pelipis Carry.

***

Mike dan Carry kini sedang makan siang bersama di sebuah Restoran, bereka banyak bercerita tentang kehidupan masing-masing.
“Mike, Kau sedikit pendiam.” Kata Carry kemudian.
“Benarkah.? Hanya perasaanmu saja.”
“Tidak, Kau memang sedikit pendiam, kau tau.”
Mike tersenyum. “Aku hanya memiliki masa yang sulit.”
“Sesulit apa.?”
“Sesulit tak bisa tidur setiap malam.” Kata Mike dengan jujur.
“Kau merindukanku.?” Tanya Carry dengan nada mengejek yang dibalas dengan tawa lebaar dari Mike.
“Apa Kau bercanda.? Aku tak pernah merindukanmu Carry, Kau lah yang selalu merindukanku.” Dan akhirnya mereka sama-sama tertawa.
“Ada apa Mike, ceritalah. Aku tau Kau memiliki Masalah.” Kata Carry dengan serius.
Mike menghela nafas panjang. “Aku… Aku hanya bingung dengan perasaanku sendiri.”
“Apa maksudmu.?”
“Emm.. Aku.. Sebenarnya aku harus membenci seseorang, tapi sepertinya aku…”
“Kau malah menyukainya..?”
“Tidak.. aku tidak menyukainya, hanya saja aku kasihan terhadapnya.”
“Kalau Boleh aku tau siapa yang ingin Kau benci itu.?”
“Seseorang yang ada hubungannya dengan Lita.”
Carry membelalakkan matanya. “Kau masih saja mengurusi tentang balas dendam konyolmu itu..? Ayolah Mike.. berapa kali aku menasehatimu, Gadis yang ingin kau sakiti adalah gadis yang tak tau apa-apa tentang masalahmu, adikmu dan juga kakaknya.” Jelas Carry.
Carry memang sudah mengetahui semua Rencana Mike, dia hanya tak habis fikir jika Mike akan benar-benar melaksanakan aksi balas dendam konyol tersebut.
“Aku hanya ingin lelaki itu merasakan apa yang aku rasakan Carry.”
“Dan bagaimana jika Kau berhasil lalu Kau juga merasa kehilangan gadis terebut.?”
“Aku tak akan merasa kehilangan dia.”
“Jangan Bohong Mike.”
“Carry, Hubunganku dengan dia hanya murni balas dendam dan Seks, hanya itu.”
“Jangan pura-pura bodoh Mike, kita tau bahwa tak ada istilah Seks tanpa cinta, friends with benefit, atau apalah itu istilahnya, hubungan Seks yang dilakukan berkali-kali dengan orang yang sama tentu akan menimbulkan sedikit perasaan Mike, tak mungkin itu hanya sekedar dendam.”
“Aku tak percaya dengan fakta itu, buktinya aku bisa melakukan itu dengannya tanpa Cinta.”
“Benarkah..? Lalu kenapa Kau tak pernah mau mencobanya denganku..?” Tanya Carry memancing.
Mike membulatkan matanya kearah Carry. “Karena kita berteman Carry.”
“Ya.. Dan karena Kau takut akan timbul perasaan jka kita melakukan Seks. Dan tentunya akupun demikian, aku juga tak ingin tumbuh perasaan lebih terhadapmu makanya aku tak pernah menggodamu.” Kata Carry kali ini disetai dengan cekikikan khasnya.
Lama mereka terdiam lalu carry mulai berbiccara lagi. “Mike, Apa Kau tak pernah berfikir untuk mengakhiri hubungn konyol kita ini.?”
“Kenapa.? Kau sudah memiliki lelaki lain selain aku.?”
Carry tertawa. “Sejujurnya iya. Tapi alasan terpenting adalah aku tak ingin hubunga ini Merusak persahabatan kita nanti.”
“Carry, Aku akan melepasmu setelah Kau benar-benar menemukan lelaki baik melebihiku.”
“Kau bercanda.? Tak ada lelaki baik yang melebihi dirimu, Kau tau.” Dan mereka kembali tertawa bersama. Seperti itulah kebersamaan mereka, selalu disertai dengan tawa canda bersama karena yang mereka miliki hanya Komitmen, bukan cinta.

***

Mike menuju Parkiran, tapi ketika sampai di depan mobilnya, seorang menepuk bahunya sambil memanggil namanya.
“Mike..” itu suara Dara.
Mike dan Carry berbalik mendapati Dara yang memandaang Mike dengan tatapan Anehnya.
“Dara, Sedang apa Kau disini.?” Tanya Mike.
“Seharusnya aku yang bertanya sedang apa Kau disini Mike.?” Dara berbalik bertanya sembari menatap curiga tangan Mike yang sedari tadi bertengger mesrah di pinggang Carry.
Mike yang mendapatakan tatapan curiga langsung menarik tangannya dari pinggang Carry, sedangkan Carry masih tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
“Dara, Aku ssedang makan siang.”
“Dengan siapa Mike.?” Desak dara. Bagaimanapun juga Dara tak suka melihat Mike bergandengan mesrah dengan Wanita lain setelah apa yang sudah dilakukan Hana untuk Mike selama ini.
“Hallo, Aku hanya temannya. Jangan salah paham.” Kata Carry dengan sopan kepada Dara. “Carry Wagner.” Katanya lagi sambil mengulurkan tangan kepada Dara.
“Andhara.” Jawab Dara Singkat. Sesungguhnya Dara asih tak percaya jika mike dan Carry tak memiliki hubungan Khusus.
“Kami hanya teman Dara, jangaan berpikir macam-macam.” Kata Mike membenarkan perkataan Carry tadi.
“Baiklah, Kali ini aku percaya padamu. Mike, aku hanya tak ingin Kau menyakiti Hana.” Kata Dara sebelum bergegas pergi. Sungguh perasaan dara sudah tak enak saat melihat kedekatan Mike dan Carry tadi. Sedangkan Mike hanya bisa berdoa dalam hati supaya Dara tak bercerita macam-macam kepada Hana. Bagaimanapun juga rencananya untuk Hana belum selesai.

***

Hana sibuk didalam dapur apartemen Mike sore ini. Entah kenapa hari ini tak ada sebuah kabarpun dari lelaki tersebut, dan itu membuat hana semakin merindukannya. Ohh Mike.. lelaki itu bear-benar membuatnya jatuh dan tak bisa kembali lagi.
Sebenarnya Hana masih sedikit bingung dengan Keadaannya. Hari ini Kepalanya tak berhenti perputar karena sakit, belum juga indera enciumannya yang seakan menajam, tapi bukankah tadi pagi dirinya sudah melakukan Test kehamilan..? bahakan 3 alat test tersebut menunjukkan tanda Negatif. Apa jangan-jangan dirinya memiliki penyakit Serius..? Ahhh tidak, tidak boleh, Pikir Hana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Hana tersadar ketika mendapati Ponselnya berbunyi. Itu dari Dara. Hana mengangkatnya dan mendapati suara sahabatnya yang terdengar mengkhawatirkannya.
“Dimana Kau Hana.?
“aku di Apartemen Mike, ada apa.?”
“Ya tuhan, cepatlah kemari, Mas Revan akan kesini dalam beberapa menit.”
“Kau bercanda.?”
“Astaga Hana… Dia baru saja meneleponku.”
Hana mengernyit, sejak Kapan kakaknya tersebut memiliki Nomer telepon Dara. “Kalian sering berhubungan lewat telepon.?”
“Itu tidak penting, Cepat kesini atau semuanya akan berakhir. Ya tuhan, aku tak dapat lagi melawan mas Revan.”
“bailkah, Aku akan segera kesana.”
Setelah menutup telepon hana bergegas membersihkan dapur, lalu berganti pakaian. Ketika dia membuka pintu Apartemen Mike, tepat pada saat itu Mike sudah berdiri di balik pintu.
“Hai sayang.. Kau menyambutku.?” Tanya Mike penuh dengan senyuman.
“Maaf Mike, aku harus pulang, Mas Revan kesana.” Kata Hana menjelaskan.
Tapi bukannya mengijinkan Hana pulang, Mike Malah memeluk tubuh Hana dan menggendongnya masuk kedalam Kamar. “Heii.. apa yang Kau lakukan Mike, aku harus pulang.”
Mike membaringkan tubuh Hana diatas Ranjangnya, dengan tersenyum dia berkata. “Aku tak peduli dengan kakak sialanmu itu.” Kata Mike sesekali mengecup bibir Hana. “Aku merindukanmu Sweety..” kata Mike lagi lalu memangut bibir mungil milik Hana.
Dalam keadaan seperti ini Hana tak mampu menolak lagi.Mike sungguh sangat meabukkan untuknya, kerinduan pada Mike seharian ini terobati sudah dengan sentuhan-sentuhan mesrah yang diberikan Oleh Mike. Ohh Mike… Dia benar-benar menjadi lelaki yang paling Romantis dan penyayang untuk Hana saat ini…

__TBC__

Maaf terlalu pendek… hahahahah..