Sweet in Passion – Chapter 6

Comments 5 Standard

asipSweet in Passion

Chapter 6

Febby keluar dari rumah sakit dengan tatapan anehnya terhadap Randy. Ia masih tidak habis pikir jika Randy mau datang ke tempat kerjanya hanya untuk mengajaknya makan malam. Pasti lelaki ini memiliki rencana lain di balik itu semua.

Dan astaga, Febby tidak akan pernah melupakan ekspresi para pegawai rumah sakit tadi ketika melihat Randy yang baru sekali itu menginjakkan kaki di rumah sakit tempatnya bekerja.

Ya, hampir seluruh pegawai rumah sakit memang mengidolakan Randy semenjak lelaki itu memainkan sebuah Film yang berjudul The Lady Killer, yang membuat namanya melambung tinggi. Randy benar-benar sukses menyihir para kaum hawa dengan aktingnya sebaga Dhanni Revaldi, si Lady Killer yang cinta mati dengan pasangannya.

Oh yang benar saja, bahkan saat itu Febby pun sangat mengidolakan sosok Randy. Hanya saja, gossip tentang lelaki itu selalu buruk. Dia selalu di kaitkan dengan model-model papan atas, bahakan tak sering foto-foto intimnya dengan beberapa kekasihnya bocor ke tangan wartawan.

Randy menjadi Aktor yang sangat di cari beritanya, karena dirinya memang sangat jarang tampil di depan umum jika bukan untuk keperluan kerjanya. Maka jangan heran, ketika kabar pernikahan mereka mencuat, banyak orang yang meragukan kebenarannya.

Randy Prasaja, seorang aktor papan atas menikah dengan seorang dokter biasa? Yang benar saja. Banyak sekali yang ingin mengetahui kisah cinta mereka hingga sampai di pelaminan, tapi tentu saja Randy maupun Febby tidak akan pernah buka suara jika pernikahan mereka terjadi hanya karena sebuah perjodohan konyol dari kedua orang tua mereka.

“Kenapa melihatku seperti itu? Apa kamu baru sadar kalau punya suami yang tampan?” tanya Randy penuh percaya diri tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari jalan di depannya.

“Huh, terlalu percaya diri itu tidak bagus.” Febby mendengus kesal karena sikap Randy yang telalu percaya diri. Ya, tidak di pungkiri, sebenarnya tadi Febby melamun sembari menatap ke arah Randy karena mengagumi lelaki di sebelahnya itu.

Randy terihat begitu tampan dengan T-shirt warna hitam, celana pendek santainya, lalu topi yang bertengger di kepalanya. Lelaki itu tampak begitu keren dan ya, wajar saja jika para pegawai rumah sakit tadi hampir menjerit karena kedatangannya.

“Lalu apa yang sedang kamu pikirkan sambil menatapku seperti itu? Jangan bilang kalau kamu lagi berfantasi liar terhadapku.” Randy berkata dengan wajah datar tanpa ekspresinya, padahal kini hatinya sedang terkikik geli membayangkan Febby yang mungkin saja sedang berfantasi liar seperti dirinya beberapa hari terakhir. Ahhh Febby benar-benar membuat Randy gila. Setelah ciuman panas mereka pagi itu, Randy sama sekali tidak bisa berpikir jernih, yang ia inginkan hanyalah memasuki diri Febby, Febby, dan Febby. Tidak ada yang lain selain wanita itu. Apa ini yang di sebut dengan rasa penasaran?

“Berfantasi liar? Dasar mesum!” seru Febby dengan sedikit meninju lengan Randy. “Aku hanya masih heran. Untuk apa kamu datang ke rumah sakit? Kamu tidak mungkin hanya datang untuk mengajakku makan malam, kan?”

“Aku hanya ingin melihat suasana tempat kerjamu. Rupanya membosankan sekali.”

“Hei, siapa bilang kerja di rumah sakit itu menyenangkan? Kami berurusan dengan nyawa, kami tidak bisa seenaknya melalaikan tugas, atau bahkan bermain-main dengan pekerjaan kami. Pekerjaan kami adalah pekerjaan yang mulia, jadi jaga ucapanmu tentang pekerjaan yang membosankan itu.” Jawab Febby dengan sedikit tersinggung.

“Baik Yang Muia.” Goda Randy.

“Bodoh!!” umpat Febby kesal.

Randy tertawa lebar. “Aku sedikit risih dengan tatapan pegawai rumah sakit tadi. Apa mereka tidak pernah melihat artis ke rumah sakit itu?”

“Tentu saja pernah, banyak artis yang berobat di rumah sakit kami. Hanya saja mungkin itu pertama kalinya untukmu menginjakkan kaki di sana, makanya mereka melihatmu dengan tatapan aneh mereka.”

“Tapi nggak segitunya juga kali, sampai tadi ada yang jatuh saat melihatku. Hahhahaha lucu sekali.”

“Lucu katamu? Mereka mengidolakanmu. Sedangkan kamu sendiri seakan tidak peduli dengan mereka.”

“Tidak peduli bagaimana? Aku tidak tahu kalau mereka mengidolakanku. Kalau aku tahu mungkin aku akan melakukan jumpa fans di sana, pasti menyenangkan sekali.”

“Huh, kamu akan membuat geger seluruh penjuru rumah sakit. Asal kamu tahu, mereka semua sangaat mengidolakanmu saat kamu memainkan peran sebagai Lady Killer.”

Randy tertawa lebar. “Oh ya? Film itu lagi? Membosankan sekali. Dhanni Revaldi tidak apa-apanya dengan sosokku yang sebenarnya.”

“Oh ya? Ingat bung, kalau tidak ada Dhanni Revaldi, namamu tidak akan setenar seperti saat ini.” Febby mengingatkan.

Randy masih saja tertawa lebar. “Jadi, apa aaku harus jumpa fans di rumah sakit itu?”

“Sepertinya tidak perlu, kamu sudah di cap sebagai artis sombong oleh mereka.”

“Bagaimana mungkin? Kenapa bisa seperti itu?”

“Ya, karena sepertinya mereka lebih menyukai sosok Renno Handoyo dari pada si Dhanni Revaldi.” Perkataan Febby menyiratkan arti tersendiri.

“Renno Handoyo? Maksudmu si Brian sialan itu?” geram Randy.

Ya, film The Lady Killer memang debut pertama dari Randy  saat itu yang memerankan peran sebagai Dhanni Revaldi, pemeran utama film tersebut. Sedangkan Brian yang saat itu sudah menjadi penyanyi juga menerima tawaran untuk menjadi pemain pendukung sebagai Renno Handoyo. Sudah menjadi rahasia umum jika keduanya menjadi rival berat setelah film tersebut. Gosip menyebutkan jika keduanya benar-benar terlibat cinta lokasi dengan si pemeran utama wanita hingga keduanya berakhir dengan saling memusuhi satu sama lain.

“Ya, Brian.”

“Apa yang membuatnya merebut posisiku?” Randy masih tidak berhenti menggeram.

“Karena dia sering ke rumah sakit, membawakan kami makan siang, menyapa seluruh pegawai rumah sakit yang di temuinya, dan bersikap ramah dengan kami.”

Secepat kilat Randy menginjak pedal remnya membuat Febby terbentur dashboard mobilnya.

“Hei, apa kamu nggak bisa nyetir dengan benar!” Febby berseru marah.

“Kenapa dia sering ke rumah sakit?”

“Hanya main dan makan siang, apa itu salah?”

“Apa dia ke sana untuk menemuimu?” kali ini Randy bertanya penuh penekanan sembari menatap tajam-tajam ke arah Febby.

“Hei, memangnya itu menjadi urusanmu? Ingat, kita tidak saling mencampuri urusan masing-masing, jadi walau dia sering datang menemuiku, itu bukan urusanmu.”

“Itu urusanku, Febby.”

“Bukan!”

“Haiss!! Kamu benar-benar.”

“Apa? Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan ucapanku?” tantang Febby.

“Jangan membuatku kesal Febby, atau aku akan melakukan itu lagi di sini.” Ancam Randy.

“Melakukan apa?” Febby masih tidak berhenti menantang Randy.

“Menciummu sampai kehabisan napas hingga kamu memohon padaku untuk memasukimu saat ini juga.”

Ancaman Randy tersebut ternyata bena-benar mengena pada Febby. Febby tercengang dengan ancaman vulgar yang di berikan Randy padanya. Seketika itu juga Febby memalingkan wwajahnya menatap ke jendela kaca mobil di sebelahnya untuk menghindari tatapan mengintimidasi dari Randy.

***

Febby dan Randy akhirnya makan malam dalam keheningan. Sejak ancaaman Randy di dalam mobil tadi, Febby sudah tidak berani berkata-kata lagi. Ia hanya takut jika Randy melakukan ancamannya kemudian ia tidak sanggup menolaknya seerti pagi itu.

“Apa hubungan kalian?” pertaanyaan Randy membuat Febby mengangkat wajahnya, menatap sepasang mata tajam milik Randy yang kini seakan sedang menelanjanginy.

“Maksudmu aku dan Brian? Kami hanya teman.” Jawab Febby sedikit malas.

“Ku pikir kamu terlihat menyukainya.”

“Tentu saja. Maksudku, Brian adalah penyanyi sekaligus aktor papan atas, siapapun pasti menyukainya.”

“Bodoh, bukan suka seperti itu maksudku.”

“Lalu?”

“Kamu cinta sama dia?” pancing Randy.

Febby sedikit tertawa mendengar pertanyaan Randy. “Cinta? Tidak! Cinta itu adalah kata terakhir dalam kamusku.”

Randy mengangkat sebelah alisnya. “kamu nggak pernah mencintai? Atau berpacaran?”

“Kamu pikir aku sebodoh dan sepolos itu? Tentu saja aku penah.” Jawab Febby cepat.

Randy diam sebentar sesekali mengawasi Febby yang sejak tadi tidak berhenti menundukkan kepalanya, seakan wanita itu sedang gugup ketika dirinya membahas tentang kehidupan wanita tersebut.

“Kenapa pagi itu kamu tidk menyuruhku berhenti?” pertanyaan Randy membuat Febby kembali mengangkat wajahnya seakan terkejut dengan apa yang di tanyakan oleh lelaki tersebut.

“Apa kamu pikir orang yang sudah pada tahap second base bisa mengakhirinya begitu saja?” tanya Febby dengan suara yang di buat sesantai mungkin.

Randy mengangkat sebelah alisnya. “Second base? Kamu… mengerti istilah-istilah seperti itu juga?”

“Kamu pikir aku perempuan bodoh?”

Randy tersenyum miring. “Bukan begitu, kupikir seorang dokter seperti kamu adalah orang yang kaku dan membosankan serta tidak tahu tentang istilah-istilah seks seperti itu.”

Febby mendengus kesal dengan sindiran yang di berikan oleh Randy.

“Apa, kamu pernah bercinta sebelumnya?” pertanyaan tersebut tentu membuat Febby membulatkan matanya seketika.

Bercinta? Yang benar saja.

“Ten.. tentu saja, aku adalah wanita dewasa dengan usia yaang sudah matang. Mana mungkin aku masih perwan, aku tidak semembosankan itu tuan.” Febby berkata penuh dengan keangkuhan. Astaga, jangankan bercinta, berciuman saja mungkin bisa di hitung berapa kali.

Dulu, Febby memang pernah berpacaran sebelumnya, tapi pacaran yang sehat. Bukan dengan mudah memberikan apa yang ia punya pada kekasihnya. Febby dari keluarga baik-baik, tentu kekasihnya dulu sangat menghormatinya. Tapi entah kenapa di hadapan Randy, Febby tidak ingin terlihat sebagai wanita kaku dan bodoh yang tidak pernah bercinta. Ada apa denganmu Febb? Harusnya kamu bangga kalau kamu sampai saat ini masih dapat mempertahankan keperawananmu. Rutuk Febby pada dirinya sendiri.

“Benarkah?” tanya Randy dengan senyuman menggoda.

“Apa kamu perlu bukti?” tantang Febby.

“Baiklah, nanti kita akan membuktikannya.” Jawab Randy dengan santai yang seketika itu juga membuat Febby menelan ludahnya dengan susah payah.

Sial!! Apa ia kini sedang terperangkap pada jebakannya sendiri? Pikir Febby.

“Biasanya… gaya apa yang kamu sukai?” tanya Randy dengan tatapan menggodanya.

Febby membulatkan matanya seketika. Pipinya kemudian memerah seketika saat membayangkan posisi-posisi berhubungan intim ketika dulu dirinya membaca buku-buku kedokteran saat masih di perguruan tinggi.

Misionaris? Doggie style? Atau… mungkin kamu lebih suka pegang kendali di atasku nanti?”

Cfebby merasakan suasana di sekitarnya menjadi panas karena ucaan-ucapan menggoda yang di lontarkan Randy yang entah kenapa mau tak mau membuat Febby berfantasi.

“Hei, apa kita sedang berdiskusi tentang seks sekarang? Di meja makan ini? Kamu benar-benar menjijikkan.” Gerutu Febby. “Asal kamu tahu, aku lebih liar daripada yang kamu pikirkan.” Pungkas Febby dengan nada yang di buatnya angkuh.

Ya, ia memang tidak boleh terlihat bodoh dan lemah di hadapan Randy, sebaliknya, Febby ingin dirinya terlihat liar hingga Randy tidak bisa mengejeknya atau mungkin melemparkan tatapan-tatapan mengintimidasi dari lelaki tersebut.

“Benarkah?” Randy maih melemparkan tatapan menggoda dengan tawa mengejeknya pada Febby. Ia terlihat tenang dan santai, padahal sebenarnya sejak tadi ia sedang menahan rasa sakit karena gairahnya yang seakan ingin meledak saat ini juga. Entah sejak kapan celananya sudah mengetat, menandakan jika ia tidak bisa main-main terlalu lama lagi.

“Aku ingin memasukimu malam ini juga.” Perkataan yang di lontarkan Randy benar-benar bukan godaan atau candaan belaka, sungguh, ia menginginkan Febby malam ini juga. Ia sudah tidak dapat menahannya lagi.

***

Pintu rumah itu tertutup dengan kerasnya, mengunci secara otomatis, seakan-akan tahu jika sang pemiliknya tidak akan sempat menguncinya. Entah sejak kapan kedua bibir itu saling melumat habis, saling mencecap kenikmatan, saling menggigit satu sama lain. Lidahpun saling menari merasakan rasa masing-masing. Deru napas yang terengah saling bersahutan menandakan bahwa mereka sudah cukup lama melakukan ciuman panas itu.

Tangan Febby sudah mengacak-acak tatanan rambut Randy, membuat Randy terlihat begitu panas dan seksi di mata Febby. Begitupun tangan Randy sudah mengangkat rok pensil yang di kenakan Febby hari itu sampai ke perut. Keduanya saling bergairah, memagut satu sama lain tanpa sedikitpun rasa canggung.

“Sialan!! aku tidak tahu kalau kamu senikmat ini.” Suara serak Randy keluar saat meremas bagian belakang tubuh Febby. Cumbuannya kini turun ke leher Febby, mengecapnya, menikmati rasanya, memberi tanda basah di sana.

Febby mengerang, mendesah dengan nikmat dan itu membuat Randy semakin mengetat.

“Jangan mengenakan pakaian membosankan seperti ini lagi di hadapanku.” kata Randy dengan membuka paksa blouse yang di kenakan Febby hingga robek.

“Aku akan berubah, Uugghhh…” jawab Febby sambil memejamkan mata dan mendesah saat tangan Randy sudah mendarat di dadanya.

“Aku suka melihatmu memakai lingerie..” Randy  terengah-engah mengucapkannya.

“Aku… Uugghh… aku akan membelinya..” Febby kesusahan menjawab saat Randy mulai mengecupi puncak payudaranya.

“Sialan! Tapi aku lebih suka melihatmu telanjang.” ucap   Randy sambil menyeringai, lalu mulai menggigit, menghisap dan menggoda puncak payudara Febby. Febbypun mendesah dengan kenikmatan yang baru di rasakannya saat ini.

“Oh, astaga, astaga..” Desah Febby saat jemari Randy mulai menggelitik titik sensitifnya. membelainya, mengusapnya dengan lembut. Membuat Febby tak sanggup berdiri sendiri dengan kedua kakinya.

“Oh Sialan!! kamu sudah sangat basah, sayang.” Ucap Randy sambil melumat kembali bibir Febby. “Aku suka sekali rasamu yang manis.” lanjutnya lagi.

Entah sejak kapan keduanya sudah saling menelanjangi satu sama lain, padahal mereka masih di depan pintu di ruang tamunya.

“Kaitkan kakimu di pinggangku, sayang.” Febby  membuka matanya dan mengernyit kearah Randy, menandakan jika dia tak mengerti.

“Kita akan pindah ke kamarku.” Febbypun akhirnya menuruti apa yang di perintahkan Randy.

Masih dengan mengecupi pundak Febby,  Randy akhirnya menggendong Febby menuju ke kamarnya.

Randy mulai membaringkan tubuh Febby, lalu menindihnya, dan mulai menyerang Febby dengan kecupan-kecupan kecil dari kening sampai ujung kaki Febby, membuat Febby merasakan gelenyar aneh yang tak pernah dia rasakan.

“Sial! Kamu benar-benar sangat indah.” Randy berkata saat melihat Febby yang sedang telanjang bulat dengan ekspresi kenikmatan saat berada di bawahnya.

Randy mengecup pusat diri Febby, dan sedikit memainkannya.

“Ohh, astaga… apa, apa yang kamu lakukan? Ohh astaga..” hanya itu yang mampu di katakan Febby saat dirinya mulai menuju puncak kenikmatan yang baru pertama kali ia rasakan.

Randy tersenyum saat melihat ekspresi kenikmatan Febby yang berasal darinya. Membuatnya semakin kesakitan menahan gairahnya,

“Jangan pernah memperlihatkan ekspresi seperti ini di hadapan lelaki lain.” Katanya penuh dengan nada posesif. Lalu diapun mengecupi leher Febby kembali.

“Uugghh.. uugghh..” Desahan demi desahan Febby semakin membuat Randy menggila.

“Apa kamu menggunakan kontrsepsi?” tanya Randy masih dengan mengecupi sepanjang leher jenjang milik Febby. Febby tak bisa menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya pasrah. “Apa kamu, ingin aku menggunakan, pengaman?” taanya Randy lagi dengan suara terpatah-patah.

“Tidak..” Suara Febby terdengaar sedikit kesal dan tertekan oleh kenikmatan yang sedang di rasakan wanita tersebut.

Randy mengangkat wajahnya seketika karena terkejut dengan jawaban Febby. “Tapi… kamu bisa..”

Febby membuka kedua matanya lalu menatap tajam ke arah Randy. “Randy, aku tidak peduli. Yang kuinginkan hanyalah seorang bayi, sekaarang ceepatlah memulainya, atau kamu tidak akan perna memulainya karena aku berubah pikiran.” Ucap Febby dengan nada sedikit kesal.

Randy tersenyum dengan apa yang di katakan Febby, wanita itu terlihat ingin sekali bercinta dengannya dan astaga, itu semakin membuat Randy menegang seakan ingin meledak.

“Baiklah jika itu keinginanmu, bersiaplah, aku akan memulainya, aku akan memasukimu saat ini juga sayang…”

Febby merasakan sesuatu yang keras namun lembut menyentuh pusat diriny. Sebagai dokter Febby  tau jika ini akan terasa sakit mengingat ini adalah pengalaman pertamanya. Astaga, apa Randy akan memperlakukannya dengan kasar? Semoga saja tidak. Batin Febby berbisik. Apa ia haruss mengatakan pad lelaki itu bahwa kini ia masih perawan? Oh yang benar saja, ia tidak akan mengatakannya sebelum Randy mengetahuinya sendiri.

Lalu Febby memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya dan meremas Bed cover yang ada di bawahnya. Astaga.. ini benar-benar menegangkan. Pikirnya lagi.

Randy berusaha sangat keras menyatukan dirinya, namun masih belum bisa. Keringatnya sudah jatuh bercucuran di wajahnya.

“Sialan! Kamu sempit sekali.” katanya kemudian. “Sudah berapa lama kamu tak bercinta?” geramnya.

Ketika Randy masih berusaha menyatuka dirinya, tiba-tiba Randy merasakan sebuah penghalang di antara mereka. Randy menatap tajam ke arah Febby dengan tatapan ngerinya.

“Sial!! Jangan bilang kalau kamu, kamu, masih perawan.” Febby tidak menjawab, dia masih memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya.

Randy mendekatkan wajahnya ke arah Febby.

“Buka matamu.” Ucapnya.

Lalu Febbypun membuka matanya. Menatap Randy seperti apa yang di perintahkan lelaki tersebut. Randy melihat ada ketakutan di dalam tatappan Febby.

“Maafkan aku, ini akan terasa sakit, tapi aku tidak bisa berhenti.” Lalu Randy mulai mencium kembali bibir Febby. Tanpa aba-aba lagi, Randy mulai mendorong kembali, mendesak masuk  dengan lebih keras, merobek penghalang dari penyatuan mereka.

Merekapun akhirnya menyatu dengan sempurna di iringi erangan kesakitan Febby yang sedikit terdengar di antara ciuman panas yang di berikan Randy. Bahkan Febbypun tidak sadar  jika dirinya sudah mencakar lengan Randy.

Randy berhenti mencium Febby, kini dia memeluk erat tubuh Febby sambil sesekali mengecup lehernya tanpa bergerak sedikitpun. Membiasakan Febby dengan dirinya yang kini sudah berada di dalam diri Febby.

Randy membuka matanya melihat Febby masih memejamkan mata karena menahan rasa sakit bercampur dengan gairah, terlihat ada air mata yang turun dari mata Febby. Di raihnya jemari tangan Febby, di tautkannya jari jemarinya dengan jemari Febby.

“Maafkan aku.” Ucap Randy sambil mencium jemari Febby yang masih dalam genggamannya. Febby membuka matanya, melihat ketulusan yang di tampakan oleh Randy, diapun tersenyum lembut dengan kelembutan yang di baru saja di berikan oleh lelaki tersebut..

“Apa aku sudah boleh bergerak?” Febby hanya menganggukkan kepalanya ketika Randy bertanya. “Aku ingin kamu menatapku saat aku melakukannya.” Ucap Randy sambil sedikit menggerakkan tubuhnya dengan lembut.

Pertama Febby merasa tidak nyaman, namun lama-lama gelombang kenikmatan itu muncul kembali, menghilangkan rasa sakit yang tadi menjalarinya. Febby mulai menikmati ritme permainan Randy.

“Sialan! Kamu benar-benar sempit, kamu akan membunuhku.  Oh Sial!!” Randy mulai meracau tak jelas karena kewalahan menghadapi gairah yang ia rasakan. “Sialan!!!” Dia hanya bisa mengumpat, mengumpat dan mengumpat karena kenikmatan tersebut. Febby benar-benar begitu sempit menghimpitnya, dan itu membuat Randy seakan tidak bisa menahan dirinya.

Jari jemari mereka masih bertautan satu sama lain. Randy mulai mempercepat ritmenya ketika merasakan Febby mencengkeramnya dengan erat.

“Ohh, Astaga, astaga…” dan puncak kenikmatan itupun kembali menghantam diri Febby.

Melihat Febby yang sudah mencapai kenikmatan, Randypun makin mempercepat lajunya. “Sialan!” Lagi-lagi Randy mengumpat karena tak dapat menahan gairahnya. Diciumnya kembali Bibir Febby dengan panas saat gelombang kenikmatan itu menghampirinya. Dan.. meledaklah dia di dalam tubuh Febby.

Randy ambruk di atas tubuh Febby saat keduanya masih menikmati pelepasan masing-masing. Deru napas mereka saling bersahutan, detak jantung merekapun menggema di antara sepinya ruangan.

“Brengsek!! Ini benar-benar ‘Wow’.” Randy kembali mengumpat sambil menghela napas panjang.

Febby  memalingkan wajahnya kesamping, ia merasa malu dan canggung dengan posisinya saat ini yang masih sangat intim.

“Kenapa?” Tanya Randy sedikit tersenyum karena melihat Febby yang memerah karena gugup.

Febby hanya menggelengkan kepalanya masih tak sanggup menatap wajah Randy. Randypun menarik dirinya dan berbaring di samping Febby.

“Tidurlah.” Perintahnya.

Febby akhirnya bangun, dan bersiap menuju ke kamarnya.

“Kamu mau kemana?” Tanya Randy sambil meraih pergelangan tangan Febby.

“Aku akan kembali ke kamar.” Jawab Febby yang masih memalingkan wajahnya tidak berani menatap Randy secara langsung.

“Tidurlah disini.” Lalu Randy menarik Febby ke dalam pelukannya. “Bersamaku.” Lanjutnya lagi.

Febbypun menurut walau ia tidak mengerti kenapa sekarang Randy selembut ini terhadapnya. Dan merekapun tidur bersama dengan berpelukan sepanjang malam .

-TBC-

Kyaaaa gimana Hot Partnya??? aku usahakan Fast update yaa…

Advertisements

Sweet in Passion – Chapte 5

Comments 6 Standard

asipSweet in passion

Randy menghela napas dengan kesal. “Baiklah, kalau itu maumu.” Ucap Randy yang kini sudah membuka piyama yang ia kenakan beserta celananya hingga meninggalkannya hanya dengan boxernya saja.

Astaga. Febby terperanjat dengan apa yang di lakukan Randy. Matanya membulat seketika ketika menatap bukti gairah Randy yang menegang di balik boxer yang di kenakan lelaki di hadapannya tersebut. Randy sedang bergairah, Febby tahu itu. Tapi untuk apa lelaki itu melepaskan pakaiannya sekarang ini? Jangan bilang kalau….

“A, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Febby yang kini sudah meringsut ke ujung ranjang dengan tatapan ngerinya.

Tiba-tiba Randy sudah melompat tengkurap tepat di sebelahnya. Dengan seringaian nakalnya, Randy berkata.

“Aku akan tidur.”

Chapter 5

 

Febby mulai panik engan apa yang di lakukan Randy. Di dorong-dorongnya tubuh Randy supaya menjauh dari tempat tidur yang kini mereka baringi.

“Hei, pergi sana, kenapa kamu tidur di sini?” Febby masih saja mendorong-dorong tubuh Randy.

“Aku merindukanmu ayang, aku merindukaanmu.” Goda Randy encoba membuat Febby takut dengan apa yaang ia lakukan. Randy berusaha memeluk Febby sedangkan Febby sendiri masih berusaha meronta dengan tatapan ngerinya.

“Pergi, pergi, apa yaang kamu lakukan?” kali ini Febby memukul-mukul Randy dengan bantal yang ada di dekatnya.

“Hei, Febby. Aku hanya bercanda. Kamu tidak perlu berlebihan seperti itu.” Gerutu Randy sembari mengusap lengannya sendiri yang sedikit sakit karena pukulan-pukulan yang di berikan oleh Febby.

Febby menghentikan aksiya. Napasnya sedikit terengah karena bergulat dengan tubuh Randy yang tentunya lebih besar dari pada tubuhnya.

“Baiklah, kita akan berbagi kamar, tapi aku tidak mau berbagi ranjang.” Ucap Febby kemudian.

“Apa maksudmu?”

Febby menunjuk sebuah ofa yaang lumayan panang  dan seketika itu juga Randy tahu apa yang di maksud oleh Febby. Tidur di sofa? Yang benar saja.

“Maksudmu aku harus tidur di sana? Yang benar saja. Aku tidak mau. Ini kan ranjangku.” Randy berkata dengan penuh keangkuhan.

“Lalu, apa kamu akan memaksa seorang perempuan tidur di atas sofa sedangkan kamu yang laki-laki tidur nyaman di atas ranjang? Huh, dasar, tidak jantan.” Gerutu Febby yang seketika itu juga membuat Randy membulatkan matanya seketika.

“Apa? Apa katamu? Tidak jantan? Apaa kamu ingin meihat bagaimana jantannya diriku?” tanya Randy dengan setengah marah.”

Febby bergidik ngeri ketika tahu apa yang di maksud dengan Randy.

“Dalam mimpimu tuan, lebih baik pergi sana, aku benar-benar tidak ingin satu ranjang denganmu.”

Randy menghela napas dengan kasar. Mau tidak mau ia harus mengalah. Lagi pula, ia tidak akan mungkin tidur berdua di atas ranjang dengan Febby malam ini. Oh yang benar saja. Kejantanannya seak tadi tidak berhenti berdenyut nyeri, mungkin jika Febby menggodanya, ia akan meledak saat itu juga. Lebih baik ia mengalah sebelum tubuhnya lepas kontrol.

“Baiklah. Nikmati tidur indahmu tuan puteri.” Ucap Randy setengah kesal dengan menarik sebuah bantal untuk di bawanya ke sofa yang tadi di tunjuk oleh Febby.

Febby sendiri hanya mampu tesenyum penuh dengan kemenangan. Ia sedikit tidk menyangka jika Randy aan mengalah dengannya.

Febby akhirnya memposisikan dirinya untuk tidur senyaman mungkin. Ia bahkan tidak mempedulikan Randy yang meringkuk dengan gelisah di atas sofa.

Berkali-kali Randy mengucapkan sumpah serapahnya karena kesakitan menahan gairahnya. Belum lagi sofa yang di tempatinya sama sekali tidak membantu karena panjangnya tidak lebih dari selutut Randy, hingga membuat Randy tidur meringkuk melipat lutunya. Randy yakin jika besok pagi ia akan bangun dalam keadaan pegal-pegal. Ahh sial!!!.

***

Paginya…

Febby merasakan sebuah lengan kekar melingkari pinggangnya. Ia merasa nyaman karena merasakn sesuatu yang hangat menempel tepat di elakang puggungnya, sesuatu yaang mirip dengan dada bidang seseorang. Rasanya nyaman, nyaman, dan hangat. Dengan spontan Febby menggeliat, seakan mencari-cari kehangatan dari sesuatu yang menempel tepat di belakangnya tersebut.

“Uugghh, jangan menggeliat terus, sayang. Kamu akan membangunkan sesuatu.” Febby mendengar suaraa parau nan seksi tepat di belakangnya, kemudian ia juga merasakan sesuatu yang basah menempel pada kulit lehernya, membuatnya sedikit merinding karena sentuhan tersebut.

Seketika utu juga, mataa Febby terbuka lebar-lebar. Ia sadar sepenuhnya jika kini ada seseorang yang sedang memeluknya dari belakang.

Febby akhirnya menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Randy yang masih tidur dengan memeluk pinggangnya.

“HEIII… APA YANG KAMU LAKUKAN??!!” Teriak Febby yang seketika itu juga membuat Randy terbangun dan menutup kedua telingannya.

“Apa kamu bisa berhenti berteriak? Ini masih pagi tahu!”  seru Randy sesekali mengusap teliganya yang tidak berhenti berdengung karena teriakan Febby.

“Kenapa kamu bisa tidur di sini, Huh?”

“Kenapa baagaimana? Kamu pikir aku bisa tidur di sofa kecil itu semalaman? Yang benar saja.”

“Jadi kamu pindah kesini sejak tadi malam?”

“Tentu saja.” Jawab Randy dengan cuek.

“HEII, DASAR!!!” Febby kembali berteriak tapi kemudian dengan spontan Randy membungkam mulut Febby lalu menerjang tubuh wanita tersebut hingga kini Febby berada tepat di bawah tindihan Randy. Febby ingin berteriak tapi tak bisa karena telapak tangan Randy membungkamnya.

“Aku akan melepaskan tanganku kalau kamu berhenti berteriak.” Ucap Randy. Febby akhirnya hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dan Randypun akhirnya melepaskan bungkaman tangannya.

“Kamu benar-benar gila! Apa yang kamu lakukan di atasku?” Febby mendesis tajam karen menahan amarahnya.

Randy hanya mengangkat sebelah alisnya dengan melemparkan tatapan penuh arti pada Febby. Tak lupa Randy juga menampilkan senyuman mengejeknya pada wanita tersebut.

Tiba-tiba Febby sadar jika dirinya merasakan sesuatu yang mengganjal dan berdenyut di bawah sana.

“Apa itu? Hei…. kamu benar-benar menijikkan!” seru Febby.

“Setiap pagi memang seperti itu.” Jawab Randy dengan tersenyum menyeringai.

“Heii, pergi dari sini, apa yang kamu lakukan di atasku, pergi…” gertak Febby dengan sesekali memukul-mukul dan mendorong dada bidang Randy. Secepat kilat tangan Randy menyambar pergelangan tangan Febby kemudian memenjarakannya di atas kepala Febby.

“A, apa yang akan kaamu lakukan?” Febby benar-benar gugup dengan kedekatannya bersama Randy.

“Apa kamu takut?” pertanyaan Randy di sertai dengan seringaian nakalnya.

“Tentu saja tidak!!” Seru Febby.

“Baiklah.”

“Baiklah ap…” Febby tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena Randy tiba-tiba saja sudah menyerang bibirnya. Pertama, yang Febb lakukan hanyalah menolak, menolak dan menolak, tapi kemudian ketika di rasakannya ciuman Randy semakin lembut dan menuntut, akhirnya Febby luluh juga. Ia mulai tergoda, kemudian sedikit demi sedikit membuka bibirnya serta membalas ciuman Randy.

Febby membuka sedikit bibirnya, membiarkan lidah Randy menelusuk masuk ke dalam kemudin bertautan dengan lidahnya. Oh, keduanya ssesekali mengerag satu sama lain karena terpancing oleh gaairaah yang tiba-tiba saja terbangun.

Posisi keduanya sangat intim, dengan randy yang berada tepat di atas tubuh Febby dan mencengkeram kedua pergelangan tangan Febby.

Randy kemudian melepaskan cengkeraman tangannya ketika ia merasakan Febby membalas ciumannya. Dengan spontan Febby mengalungkan lengannya pada leher Randy, jemarinya sesekali meremas-remas rambut coklat gelap milik suaminya tersebut. Sedangkan jemari Randy sendiri entah sejak kapan sudaah menelusup maasuk ke dalam lingerie yang di kenakan Febby.

Jemari Randy masih terus menjelajahi kulit halus milik istrinya tersebut, kemudian ia berhenti pada kedua gundukan yang terasa kenyal tepat pada dada Febby.

“Kamu sangat seksi.” Bisik Randy dengan suara paraunya. “Aku ingin, aku ingin memasukimu saat ini juga.” Perkataan erotiss Randy membuat bulu-bulu halus d tengkuk Febby meremang.

“Lakukanlah…” Desah Febby yang sudah tidak tahan dengan dengan rasa aneh yang ini ia rasakan.

Randy terkejut. Ia pikir Febby akan menolaknya mentah-mentah, tapi di luar dugaan, Febby malah mengijinkan dirinyaa untuk menyentuh wanita tersebut.

“Apa kamu yakin?” tanya Randy yang masih sedikit tidak  percaya.

“Tentu saja!! Cepat lakukanlah  sebelum aku berubah pikiran.” Mata Febby sesekali terpejm menhan kenikmatan yang seakan menjalar di sekuur tubuhnya.

Secepat kilat Randy meembuka lingerie yang di kenakan Febby. Dan tampaaklah Febby yang hanya mengenakaan pakaian dalamnya saja.

“Sangat indah.” Randy susah payah mengucapkan dua kata tersebut dengan sesekali menelan luahnya.

Randy akhirnya mulai menjalankan aksinya. Mula-mula ia mengecupi wajah Febby dengan kecupan-kecupan kecil menggoda, dari kening, mata, hidung, pipi, dan ketika sampai di bibir wanita terssebut, Randy menggodanya.

“Sialan!! Kamu sangat manis.” Bisik Randy parau di tengah-tengah cumbuannya pada bibir Febby. Randy kembali menjalankan aksinya. Cumbuannya turun ke area leher Febby, memberikan gigitan-gigitan kecil di sana, sesekali membuat tanda kepemilikan di sana.

Sebelum Randy turun kebawah lagi, Randy kembali mencumbu bibir Febby kemudian bertaanya sekali lagi dengan wanita tersebut.

“Apa kamu benar-benar yakin? Jik aku sudah turun, aku tidak bisa menghentikannya.”

“He’um.” Hanya itu jawaban dari Febby.

Randy kembali melumat bibir ranum Febby sebelum bersiap melanjutkan aaksinya untuk mencumbui sekujur tubuh istrinya tersebut. Tapi ketika ia akan bergerak turun, pintu kamar merekaa tiba-tiba terbuka dari luar.

“Om, tante.” Suara anak kecil itu memaksa keduanya menghentikan aksinya lalu menolehkan kepalanya masing-masing ke arah sura tersebut. Dan tampaklah Rocky, keponakannya yang nakal itu sedang berdiri ternganga di ambang pintu.

“Hei, apa yang kamu lakukan di sini jagoan? Kamu akan meng…nggang….nggu…” Andrew, sang aayah Rocky yang menyusul Rocky di belakang bocah tersebutpun ikut tercengang melihat Randy dan Febby yang saat ini masih pada posisi intim mereka. “Apa yang sedang kalian lakukan?” dengan spontan Andrew bertanya.

Randy yang masih mengenakan celana piyamanya akhirnya berdiri, sedangkan Febby, dengan wajah yang sudah meraah padam karen malu, ia menarik selimutnya untuk menutupi sekujur tubuhnya yang sudah setengah telanjang.

“Apa yang kalian lakukan? Harusnyaa aku yang bertanya, apa yang kalian lakukan di sini? Mengganggu saja.” Gerutu Randy yang kini sudah berdiri tepat di hadapan Andrew dan puteranya.

Andrew tertawa lebar. “Hahahaha, setidaknya pastikaan pintumu terkunci. Ingat, di rumah ini masih ada anak kecil.”

“Kalian saja yang terlalu usil.” Randy msih saja menggerutu kesal.

Randy baru ingat, tadi maalam ketika ia susah tidur karena gelisah, dirinya beranjaak ke dapur untuk mengambil air minum. Namun ketika kembali masuk ke dalam kamarnya, Randy lupa untuk mengunci pintunya, ia hanya berjalan dengan santai menuju ke arah ranjang dan tidur tepat di sebelah Febby. Ahh sialan, ini semua karena keteledorannya sendiri.

“Hei, apa lagi yang kalian tunggu, cepat pergi dari sini.” Perintah Randy.

“Lo bener-bener ngusir kami?” goda Andrew.

“Haish, benar-benar. Cepat pergi atau ku tendang pantatmu dari sini.”

“Ayah, apa yang di lakukan Om Randy dan tante tadi?” dengan polosnya Rocky bertanya pada sang ayah, daan itu membuat Randy sekaligus Andrew saling pandang sebentaar kemudian terkikik geli bersama.

“Rocky, Om akan memberikan kamu seorang adik kecil.” Andrew berkata tanpa menghilangkan tawa di wajahnya.

“Hei, hei, hei, apa yang Lo bilang sama dia? Cepat bawa iblis cilik ini pergi dari kamarku.” Ucap Randy sembari mengangkat tubuh mungil Rocky lalu menurunkannya sedikit lebih jauh dari pintu kamarnya.

“Hahahha Lo sudah sangat tegang?” goda Andrew.

“Gue nggak peduli, Lo sialan!” umpat Randy yang di sertai dengan menutup pintu kamarnya kemudian menguncinya.

Ketika Febby mendengar pintu kamarnya tertutup, seketika ia bangung kemudian meraih kimono tidu yang tadi malam ia kenakan. Febby bangkit lalu mengenakan kimono tersebut tanpa mmperhatikaan Randy yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan anehnya.

“Hei, kamu mau kemana?” tanya Randy ketika melihat Febby yang berjalan melewatinya.

“Mandi.” Jawab Febby dengan cuek.

“Mandi? Jadi kita tidak melanjutkan yang tadi?”

“Apa kamu gila? Tentu saja tidak.”

“Kalau begitu aku ikut mandi denganmu.”

“Tidak!” seru Febby. “Kamu benar-benar menjijikkan.” Dengan cepat Febby menutup pintu kamar mandi tepat di hadapan Randy.

“Menjijikka? HEIII…. PEREMPUAN SIALAN…CEPAT BUKA PINTUNYA..” Randy berteriak nyaring karena frustasi dengan tingkah Febby, belum lagi pangkal pahanya yang tidak berhenti bedenyut nyeri karena ingin di puaaskan.

Febby membuka pintu kamar mandi sedikit kemudian berkata dengan datar. “Apa kamu bissa berhenti berteriak? Ini masih pagi, tahu.” Febby mengulang kata-kata tadi yang di ucapkan Randy padanya lalu menutup kembaali pintu kamar mandi. dan meninggalkan Randy yang hanya ternganga dengan apa yang di lakukan istrinya tersebut.

“Apa dia bilang? Haisshh, benar-benar membuatku gila.” Gerutu Randy pada dirinya sendiri sembari mengacak-acak rambutnya.

***

Sudah hampir seminggu kejadian pagi itu berlalu. Febby tidak berhenti memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya paagi itu. Bagaimana mungkin ia hampir saja tergoda dengan seorang Randy? Pria dengan kemesuman tingkat tinggi. Febby tidak mengerti, tapi dia cukup sadar jika ada sesuatu di dalam diri Randy yang membuat lelaki itu mampu mempengaruhinyaa, membuatnya panas, hingga saat mengingatnya saja pipi Febby tidak bisa berhenti bersemu merah. Oh yang benar saja.

Kini, Febby semakin takut ketika harus berdua ssaja dengan Randy. Akhirnya ia memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit lebih pagi dari sebelumnya dan pulang lebih malam dari sebelumnya. Ia hanyaa ingin menghinari Randy, berkomunikasi sedikit mungkin dengan lelaki itu, karena Febby sadar, jika berada di dekat Randy kini membuat tubuhnya seakan terpancing oleh sesuatu yang ia sendiri tidak tahu itu apa.

Untung saja Randy juga sedang sibuk dengan pekerjaannyaa, jadi itu memudahkan Febby untuk menghindari lelaki terssebut.

Bunyi telepon di dalam ruangannya membuat Febby tersadar dari lamunannya. “Halo.” Sapa Febby.

“Ada seseorng yang ingin bertemu dengn anda, dokter.”

“Pasien kah?”

“Bukan Dok, Uum, itu..”

“Suruh saja masuk ke dalam ruanga saya.” Jawab Febby sedikit enggan lalu menutup teleponnya. Ah, siapa lagi yang akan menemuinya?

Setelah telepon di tutup, Febby kembali dalam pikirannya. Bagaimana jika yang datang itu Randy? Randy? Ah, mana mungkin. Lelaki itu tentu sangat sibuk. Lagi pula jika ia ke rumah sakit ini tentu akan timbul kehebohan karena hampir seluruh staf wanita di rumah sakit ini mengidolakan suaminya tersebut. Tapi bagaaimana jika itu benaar-benar Randy? Bagaimana cara dirinya untuk menghadapi suaminya tersebut?

Dan pada saat pikirannya panuh dengan berbagai macam pertanyaan, pintu ruangannya di ketuk.

Febby menghela napas panjang sembari berkata “Masuk.” Namun ketika pintu tersebut di buka, Febby kembali menegang ketika mendapati orang di balik pintu tersebut adalah orang yang baru saja melintasi pikirannya.

“Kamu?” Febby berkata dengan spontan tanpa menghilangkan ekspresi terkejut di wajahnya.

“Iya, ini aku. Kenapa? Kamu kaget kalau aku datang kemari?” tanya Randy dengan sedikit cuek.

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Aku hanya ingin mengajak istriku makan malam. Aku merindukannyaa.” Randy berkata sambil melemparkan tatapan mengejeknya dengan sedikit menggoda Febby.

“Apa? Istri? Dan apa katamu? Merindukan? Jangaan sembarangan bicara, Randy.” Febby berusaha mengelak dengan memberi jawaban setegas mungkin, tapi nyatanya wajahnya tidak bisa berbohong kalau kini dirinya sedang malu-malu dengan rona merah di pipinya.

“Sembarangan bicara bagaimana? Kamu memang istriu, dan aku merindukanmu setelaah kemesraan panas kitaa pagi itu..” dan Febby semakin gugup di buatnya ketika Randy menyebut kaata ‘pagi itu.’

“Hei, jangan bahas itu lagi! Kamu benar-benar menyebalkan.”

“Terserah apa kataamu, yang penting sekarang ayo temani aku makan malam, cepat.” Perintah Randy sembari menarik lengan Febby.

“Aku tidak bisa, bagaimana nanti kalau aku ada pasien?”

“Jam kerjamu sudah selesai dua jam yang lalu. Jadi kamu jangan membohongiku lagi.”

“Aku tidak penah membohongimu.”

“Benarkah? Kamu pikir aku tidak tahu kalau beberapa hari terakhir kamu sengaja menjauhiku? Kenapa Febby? Apa karena kamu gugup berdekatan denganku? Karena pagi itu kita hampir bercinta?”

“Tidak!! Jaangaan baahas tentang pagi itu.”

“Aku tidak peduli. Pokoknya kamu harus ikut aku makan malam. Ada yang ingin ku rundingkan denganmu.” Pungkas Randy tanpa bisa di ganggu gugat.

***

“Uugghh.. uugghh..” Desahan demi desahan Febby semakin membuat Randy menggila.

“Apa kamu menggunakan kontrsepsi?” tanya Randy masih dengan mengecupi sepanjang leher jenjang milik Febby. Febby tak bisa menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya pasrah. “Apa kamu, ingin aku menggunakan, pengaman?” taanya Randy lagi dengan suara terpatah-patah.

“Tidak..” Suara Febby terdengaar sedikit kesal dan tertekan oleh kenikmatan yang sedang di rasakan wanita tersebut.

Randy mengangkat wajahnya seketika karena terkejut dengan jawaban Febby. “Tapi… kamu bisa..”

Febby membuka kedua matanya lalu menatap tajam ke arah Randy. “Randy, aku tidak peduli. Yang kuinginkan hanyalah seorang bayi, sekaarang ceepatlah memulainya, atau kamu tidak akan perna memulainya karena aku berubah pikiran.” Ucap Febby dengan nada sedikit kesal.

Randy tersenyum dengan apa yang di katakan Febby, wanita itu terlihat ingin sekali bercinta dengannya dan astaga, itu semakin membuat Randy menegang seakan ingin meledak.

“Baiklah jika itu keinginanmu, bersiaplah, aku akan memulainya, aku akan memasukimu saat ini juga sayang…”

TBC-

Sweet in Passion – Chapter 4

Comments 4 Standard

fh1-copySweet in Passion

Banyak Typo!!!

Sial!! Jika saat ini si Alvin yang kembali meneleponnya, maka Randy akan menyumpahi temannya itu impoten seumur hidup. Benar-benar merusak suasana.

Tapi kemudian Randy mengernyit ketika mendapati nomor rumah keluarganya yang sedang menghubunginya. Ah, ini pasti ibunya. Ada apa lagi??

“Halo, Ma?” Randy mengangkat telepon tersebut sesekali melirik ke arah Febby yang sedang sibuk membenarkan tatanan rambutnya. Ahh benar-benar sial, Febby terlihat nikmat untuk di santap. Pangkal pahanya kembali berdenyut saat membayangkan bayangan erotis bersama dengan Febby.

“Randy, cepat ke sini, ada kak Mira dan suaminya di sini, jangan lupa ajak Febby.”

“Iya, Randy segera ke sana Ma, kebetulan ini sedang bersama Febby di jalan.”

Kemudian telepon di tutup. Randy melirik ke arah Febby yang sudah menundukkan kepalanya dengan wajah yang sedikit terlihat bersemu merah.

“Ibu menyuruh kita ke sana sekarang juga.”

Walau tak ada yang bertanya, Randy berkata seakan memberikan jawaban untuk Febby. Dan Febby hanya bisa diam dan menganggukkan kepalanya. Ahh, entah kenapa suasanya di sekitar mereka terasa sedikit canggung saat ini. Dan kecanggungan tersebut benar-benar membunuh keduanya.

 

***  

Chapter 4

 

Randy mulai memparkirkan mobilnya di halaman sebuah rumah yang sangat mewah, itu adalah rumah keluarga besar Prasaja. Ketika turun dari mobil, ia sudah di sambut oleh pelukan seorang anak laki-laki yang usianya sekitar Lima tahun. Dia adalah Rocky, keponakannya, putera dari kakak perempuannya yang bernama Mira.

“Om Randy, Rocky kangen sama Om.” Celoteh bocah lima tahun tersebut.

“Hei, kamu ngapain di sini?” Ucap Randy yang kini sudah menggendong Rocky dalam gendongannya.

“Jadi seperti itu caramu menyambut keponakanmu?” Suara itu memaksa Randy mengangkat wajahnya dan mendapati kakak perempuannya sudah berdiri di ambang pintu dengan berkacak pinggang.

“Selamat siang kak.” Sapa Febby sopan dengan Mira.

“Siang Febb, ayo masuk.” Ajak Mira dengan ramah. Sedangkan Febby hanya menganggukkan kepalanya.

“Kakak ngapain sih kemari?”

“Ngapain? Aku ngunjungin mama lah, lagian kamu yang paling dekat nggak pernah kemari, apa nggak malu sama aku yang jauh datang ke sini?”

“Kak Mira tentu tahu kalau aku sangat sibuk.”

“Setidaknya luangkan sedikit waktumu, adik kecil.”

“Hei, kita sudah sepakat kalau kakak nggak akan manggil aku dengan panggilan sialan itu.” Gerutu Randy dengan nada kesalnya. Ya, ia memang tak suka di panggil dengan panggilan adik kecil. Sedangkan Febby hanya mampu tersenyum melihat tingkah kedua bersaudara tersebut.

Mereka masuk ke dalam rumah dan di sambut ramah oleh Nyonya Prasaja, ibu dari Randy dan juga Mira.

“Kalian sudah datang? Ayo, kita makan siang bersama.” Ajak Nyonya Prasaja.

Randy menuju ke arah meja makan, kemudian duduk tepat di sebelah seorang lelaki yang memang sejak tadi berada di sana. Itu Andrew, suami dari Mira.

“Apa kabar Kak.” Sapa Randy dengan nada yang di buatnya ramah.

“Baik, kamu sendiri?”

Randy mengangkat kedua bahunya. “Lebih dari baik, Kak.”

“Sialan!!!”

Kemudian keduanya tertawa lebar bersama sembari melakukan tos ala anak muda. Randy dan Andrew memang berteman baik dulunya. Dan Randy benar-benar tak menyangka, jika temannya itu kini menjadi kakak iparnya. Randy bahkan sering menggoda Andrew dengan memanggilnya ‘kakak’ dan bersikap seformal mungkin. Padahal Andrew tahu jika Randy hanya menggodanya seperti saat ini.

Andrew memiliki usia Tiga tahun lebih mudah daripada Mira. Keduanya sama-sama mejadi korban perjodohan kolot keluarga masing-masing. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, keduanya bisa menerima satu sama lain bahkan kini saling mencintai satu dengan yang lainnya.

“Febby, sini sayang.” Ucap Nyonya Prasaja. Dan Febby akhirnya mendekati ibu mertuanya tersebut. “Kamu suka makan apa? Mama belum tahu makanan kesuakaan kamu, jadi semoga kamu mau memakan masakan mama ini ya.”

Febby tersenyum dengan kelembutan yang di berikan oleh Ibu Randy.

“Saya suka memakan apa saja, Ma.”

“Ya, itu karena dia rakus Ma.” Randy ikut menyahut dan mendapat hadiah pelototan dari Febby.

Andrew menyikut siku Randy dan bertanya. “Hei, sejak kapan lo dekat sama dia?”

“Apa?” Randy bingung dengan pertanyaan Andrew.

“Jangan pura-pura, gue tahu kalau selama ini hubungan kalian tidak berjalan baik, jadi, sejak kapan kalian saling bertegur sapa bahkan saling ejek seperti saat ini?”

“Bukan urusan lo.” Jawab randy dengan cuek.

“Atau, jangan-jangan kalian sudah melakukannya.”

Meski di ucapkan dengan nada berbisik, perkataan Andrew benar-benar mengejutkan untuk Randy hingga membuat Randy tersedak bahkan terbatuk-batuk.

“Hahahhaha lo bener-bener sudah ngelakuin itu?” Andrew masih saja meledek Randy dan itu benar-benar membuat Randy kesal.

“Dasar kakak ipar mesum!!” Randy berkata pada Andrew dengan nada mengumpat, sedangkan Andrew sendiri tak berhenti tertawa melihat kelakuan Randy.

***

Malamnya…

Setelah makan malam bersama, mereka berkumpul di ruang keluarga. Andrew dan Mira sesekali bercerita tentang pekerjaannya yang dan tempat tinggalnya yang kini berada di Balikpapan. Begitupun dengan Nyonya Prasaja yang sesekali bercerita pengalamannya ketika mengunjungi beberapa saudaranya yang berada di Bali dan juga di Palembang.

Setelah puas bertukar cerita, Febby kemudian menyikut lengan Randy, ia ingin mengajak Randy pulang karena besok ia harus kerja, Randy akhirnya mengerti apa yang di maksud Febby dan mulai berpamitan dengan ibunya.

“Ma, sudah malam, Randy dan Febby mau pamit pulang dulu.”

“Tidak, lebih baik kalian menginap di sini malam ini.”

“Apa? Menginap?” Febby dan Randy tanpa sadar mengucapkan dua kata tersebut dengan bersamaan karena sama-sama terkejut.

“Iya, mumpung Mira dan suaminya menginap di sini, mama juga ingin kalian menginap di sini supaya besok kita bisa berkumpul bersama seperti keluarga besar.” Nyonya Prasaja mengatakan pendapatnya.

“Tidak bisa Ma, kami tidak bisa menginap di sini, memangnya kami akan tidur di mana?” Randy masih saja menolak, ia tentu tidak ingin sekamar dengan Febby mengingat ciuman panas mereka tadi siang.

“Tentu saja kalian berdua nanti akan tidur di kamarmu yang dulu, ibu selalu merapikannya meski kamu tidak pernah main ke sini lagi.”

“APA????” lagi-lagi tanpa sadar Febby dan Randy mengucapkan kata tersebut dengan bersamaan. Menginap bersama dan sekamar? Astaga, yang benar saja.

“Emm, Ma, besok saya akan berangkat kerja pagi, jadi saya tidak mungkin menginap di sini malam ini.” Ucap Febby cepat.

“Ya, Ma, Randy besok juga ada syuting pagi.” Sahut Randy ceepat. Ia ingin mendukung Febby. Tentu saja ia tak ingin hanya berduaan dengan Febby malam ini, mengingat ciuman panas mereka tadi siang akan membuat Randy kembali menginginkan Febby.

“Tidak bisa, kalian harus tetap menginap. Ibu akan menelepon semua orang yang akan menangani pekerjaan kalian hingga kalian bisa berangkat siang besok, atau bahkan cuti sehari.” Perintah Nyonya Prasaja benar-benar tak dapat di ganggu gugat. Randy maupun Febby tentu tak dapat lagi menolak permintaan wanita paruh baya tersebut.

“Febby, kamu tentu tidak membawa baju tidur kan? Kamu bisa minta tolong dengan kak Mira, Kak Mira pasti mau meminjamkan sebuah baju tidurnya untuk kamu.”

Mira tersenyum miring. “Tentu saja Ma, aku akan meminjamkan baju tidur terbagus untuk Febby.” Ucap Mira sambil melirik ke arah Randy.

Sedangkan Randy hanya bisa menggerutu dalam hati. Oh benar-benar sial, ini akan menjadi malam terpanjang untuknya. Semoga saja kejantanan sialannya tidak membuat ulah malam ini. Sial, benar-benar sial.

***

“Kak, aku nggak mungkin pakai baju ini.” Ucap Febby sembari menatap bayangannya yang seksi pada cermin di hadapannya. Saat ini Febby sedang mengenakan lingerie seksi milik Mira.

“Lalu, kamu tetap akan mengenakan jas doktermu itu untuk tidur? Ayolah, jangan menyebalkan. Ini tidak terlalu seksi dan sangat cocok untuk wanita dewasa yang sudah bersuami seperti kita.” Ucap Mira dengan sedikit terkikik.

“Tapi aku tidak terbiasa kak, apa Kak Mira tidak memiliki piyama biasa atau sejenisnya?”

“Apa? Piyama? Kamu masih menggunakan piyama saat tidur? Astaga, kapan-kapan kita harus belanja bersama. Aku akan mengajarimu berpakaian seksi di depan suami, aku yakin adikku yang bodoh itu akan meneteskan air liurnya saat melihatmu berpakaian seperti seleraku.”

Tiba-tiba sekelebat bayangan muncul dalam pikiran Febby saat Randy sangat ingin memilikinya ketika ia mengenakan baju seksi setengah telanjang. Dengan cepat Febby menggelengkan kepalanyaa.

“Tidak, tidak. Emm, cukup seperti ini saja kak, aku tidak ingin selalu memakai baju seksi.” Ucap Febby cepat dengan sedikit bergidik ketika membayangkan bayangan erotis dirinya dengan Randy.

“Baiklah, sekarang cepat pergilah ke tempat suamimu, dia pasti sudah menunggumu.” Ucap Mira dengan sedikit mengusir Febby.

“Tapi kak, ummm…” Febby sendiri masih terlihat enggan keluar dari kamar Mira dengan mengenakan pakaian yang sangat tipis, bahkan hampir mendekati transparan, dan membuat bagian tubuhnya sedikit terlihat lebih jelas.

Melihat Febby yang tak kunjung keluar, Mira hanya dapat menghela napas panjang. Febby pasti tak terbiasa mengenakan pakaian itu. Terlihat jelas jika wanita itu malu-malu bahkan pipinya sampai merona merah.

“Hei, mau sampai kapan kamu di kamarku? Aku juga mau tidur tau. Haisss, anak ini benar-benar.” Gerutu Mira. Mira kemudian mengambil sebuah kimono lalu memberikannya pada Febby. “Kalau kamu malu, pakai itu untuk keluar.” Kata Mira lagi.

“Terimakasih kak.” Ucap Febby yang di jawab dengan anggukan oleh Mira. Akhirnya Febby mengenakan kimono pemberian Mira lalu segera bergegas keluar dari kamar kakak iparnya tersebut.

***

Di dalam kamar.

“Kamu lama sekali. Apa yang kamu lakukan di kamar Kak Mira?” Randy bertanya setengah marah terhadap Febby karena ia tidak suka menunggu. Menunggu? Memangnya ia menunggu untuk apa?

Febby sendiri hanya masuk dan tidak menghiraukan seruan Randy.

“Kamarmu nyaman, dan terlihat seperti orangnya.” Febby malah berkomentar tentang kamar Randy ketika ia memperhatikan seluruh isi kamar tersebut.

Kamar tersebut di dominasi warna hitam dan coklat kayu, hingga membuatnya terlihat maskulin. Di dalamnya juga terdapat beberapa buku, di rak di ujung ruangan, penghargaan Awards yang di dapatkan Randy, serta barang-barang antik lainnya. Tanpa sadar kaki Febby menelusuri semua itu dengan tatapan kagumnya. Ia suka dengan nuansa di dalam kamar tersebut.

Randy mengikuti Febby tepat di belakang wanita tersebut. Ia mengerutkan keningnya.

“Seperti orangnya? Apa maksudmu?”

“Kamar ini terlihat sangat maskulin, dan sedikit seksi.” Tanpa sadar Febby mengucapkan kalimat tersebut.

“Apa? Seksi dan maskulin?”

Febby baru sadar jika sejak tadi Randy berjalan tepat di belakangnya. Ia terkejut ketika membalikkan badan dan mendapati Randy yang sudah berdiri sangat dekat di belakanynya.

“Kamu, kamu mau apa?” Febby tidak memungkiri jika dirinya sedikit gugup dengan kedekatannya bersama Randy. Dengan spontan ia merapatkan kimono yang di kenakannya dengan sedikit menundukkan kepalanya.

Randy yang melihat Febby sedikit salah tingkah akhirnya memiliki ide gila untuk menggoda wanita di hadapannya tersebut.

“Tidak, aku hanya ingin tahu apa yang kamu kenakan di balik kimono itu.” Dengan sedikit tersenyum, Randy menggoda Febby. Randy berjalan mendekati Febby, sedangkan Febby berjalan mundur menjauhinya. Akhirnya Randy berinisiatif untuk memegang kedua bahu Febby.

Febby sendiri merasa merinding dengan sentuhan tangan Randy. Ia lalu menampik tangan Randy dan berteriak pada lelaki tersebut.

“Apa yang akan kamu lakukan?!”

“Hahahah kamu tidak perlu marah-marah, aku juga tidak tertarik denganmu.” Ucap Randy dengan tawa mengejeknya.

“Apa? Benarkah? Baiklah, kita lihat saja nanti.” Febby benar-benar tersinggung dengan apa yang di ucapkan Randy akhirnya berkacak pinggang, lalu di bukannya kimono yang ia kenakan dengan gerakan menggoda layaknya perempuan nakal di film-film yang pernah ia tonton.

Mata Randy membulat seketika saat melihat apa yang di kenakan Febby dari balik kimononya. Febby mengenakan sebuiah Lingerie berenda yang amat sangat tipis. Bahkan saking tipisnya, bayangan pakaian dalam Febby yang berwarna hitam sangat terlihat jelas dari mata Randy. Bemum lagi potongan Lingerie tersebut yang benar-benar menggugah gairah siapa saja yang melihatnya. Lingerie itu memiliki dua tali tipis di pundak Febby, belahan dada yang sangat rendah, serta panjangnya yang jauh di atas lutut, membuat Febby terlihat begitu seksi di matanya.

Randy menelan ludahnya dengan susah payah. Yang di bawah sana sudah berdenyut minta untuk segera di bebaskan. Matanya seakan tak ingin berkedip melihat pemandangan di hadapannya. Randy lalu melihat Febby mulai berjalan menuju ke tempat tidur. Febby terlihat sengaja sedang menggodanya dengan berbaring miring menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya mirip sekali dengan wanita-wanita penggoda di dalam film-film dewasa.

Astaga, Randy bisa meledak saat ini ju8ga jika Febby tidak berhenti berpose layaknya wanita penggoda.

“A, apa yang kamu lakukan?” Tanya Randy dengan setengah tergagap karena menahan gairah yang seakan ingin meledak dari dalam dirinya.

“Aku mau tidur.” Jawab Febby dengan santai di sertai dengan senyuman menggodanya.

“Apa? Dalam keadaan genting seperti ini, kamu bisa memikirkan untuk tidur?”

“Genting? Genting kenapa? Lalu, memangnya aku harus apa?” Febby bertanya dengan mimik wajah yang di buatnya polos. Ia sungguh tak dapat menahan senyumannya. Ia tahu, jika dirinya sudah berhasil menggoda laki-laki bodoh yang hanya memikirkan kejantanannya itu.

Randy menghela napas dengan kesal. “Baiklah, kalau itu maumu.” Ucap Randy yang kini sudah membuka piyama yang ia kenakan beserta celananya hingga meninggalkannya hanya dengan boxernya saja.

Astaga. Febby terperanjat dengan apa yang di lakukan Randy. Matanya membulat seketika ketika menatap bukti gairah Randy yang menegang di balik boxer yang di kenakan lelaki di hadapannya tersebut. Randy sedang bergairah, Febby tahu itu. Tapi untuk apa lelaki itu melepaskan pakaiannya sekarang ini? Jangan bilang kalau….

“A, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Febby yang kini sudah meringsut ke ujung ranjang dengan tatapan ngerinya.

Tiba-tiba Randy sudah melompat tengkurap tepat di sebelahnya. Dengan seringaian nakalnya, Randy berkata.

“Aku akan tidur.”

-TBC-

Anggep aja Andrew di sini sama dengan Andrew di cerita Elena.. hahahhahaha hadehhh saya kekurangan nama. lain kali bantu saya cari nama yakkkk mhueehehheheh

Sweet in Passion – Chapter 3

Comments 10 Standard

fh1-copySweet in Passion

Im Sorry dear, kalo aku labil.. hahahhah Full House kini ganti judul menjadi Sweet in Passion. wakakkakakak gak tau lah, pengen ganti aja.. hahhahahah okay, happy reading..

Dengan cepat Randy mendorong tubuh Febby lalu menghimpitnya diantara dinding. Ia bahkan memenjarakan kedua tangan Febby dengan tangannya. Menempelkan seluruh tubuhnya pada tubuh Febby tak terkecuali tubuh bagian bawahnya yang kembali berdenyut saat melihat Febby.

“Itu menjadi urusanku, Kamu istriku.” Ucap Randy penuh penekanan.

Febby hanya mampu membulatkan matanya seketika. Ia tak menyangka jika Randy akan memperlakukannya seperti ini, berbicara seakan menunjukkan kepemilikan atas dirinya. Istri??? Yang benar saja.

***

Chapter 3

 

“Itu menjadi urusanku, kamu istriku.”

Mendengar itu, kekesalan Febby seakan sudah memuncak di kepalanya. Dengan spontan Febby menendang pangkal paha Randy dengan lututnya hingga membuat Randy berteriak sembari meringis kesakitan.

“Hei, apa yang kamu lakukan, sialan!!!”

“Istri? Sejak kapan kamu menganggapku sebagai istri? Dan ayolah, sejak kapan kamu peduli dengan apa yang sedang ku lakukan?”

“Jangan banyak bertanya, yang penting kita pulang sekarang juga.” Ucap Randy sambil kembali mencengkeram pergelangan tangan Febby.

“Aku tidak mau.” Febby menghempaskan cekalan tangan Randy, tapi Randy semakin mempererat cekalan tangannya.

“Dengar, apa kamu nggak takut kalau kamu kepergok wartawan saat jalan dengan pria lain?”

“Tidak, aku bukan artis jadi aku tidak perlu takut.”

“Tapi kamu istri seorang artis, kamu bisa membahayakan karirku.”

“Oh ya? Ku pikir karirmu memang sudah terancam hancur karena ulahmu sendiri.” Jawab Febby dengan nada menyindir.

“Sialan!! Pokoknya ayo ikut aku pulang.” Ucap Randy yang kali ini sudah menyeret paksa pergelangan tangan Febby. Sedangkan Febby hanya mampu mengikutinya, ia tak mungkin meronta-ronta dan di perhatikan banyak orang, sungguh memalukan.

***

Sampai di lobi, betapa terkejutnya Randy ketika mendapati seorang wartawan yang sibuk membenarkan kameranya. Ahh sial!! Itu pasti wartawan yang sudah sejak lama menguntitnya. Dan astaga, untung saja saat ini ia keluar bersama dengan Febby, Randy tak dapat membauyangkan jika saat ini ia keluar bersama dengan Marsela, mungkin itu akan menjadi berita skandal terpanas di negeri ini.

‘Seorang Aktor ternama yang sudah beristri keluar masuk hotel bersama selingkuhannya.’ Mungkin itu judul yang cocok untuk majalah-majalah jika saat ini ia kepergok sedang bersama dengan Marsela.

Randy kemudian tersenyum miring ketika sebuah ide terlintas di kepalanya. Tangannya yang tadi mencengkeram pergelangan tangan Febby kini berpindah merangkul pinggang Febby dan menggandengnya dengan mesra.

Febby sendiri yang menyadari perubahan tersebut dengan spontan menyikut perut Randy.

“Apa yang kamu lakukan?” Ucap Randy sambil kembali meringis kesakitan.

“Harusnya aku yang tanya, apa yang kamu lakukan?”

“Apa kamu nggak lihat di sana ada wartawan?” tanya Randy sambil menunjuk ke arah seorang yang sedang sibuk dengan kameranya.

“Aku nggak peduli.” Jawab Febby dengan ketus.

“Jangan kekanak-kanakan.”

“Apa tidak salah? Kamu lebih yang kekanakan.”

“Haishh perempuan ini, Diamlah!! Kita hanya akan melewatinya dengan tenang.”

Lalu Randy kembali menjalankan aksinya, menggandeng kembali pinggang Febby kemudian mengajaknya berjalan menuju ke arah wartawan tersebut.

Wartawan tersebut bernama Amar, Amar memang terkenal sebagai wartawan yang gigih. Dia selalu bisa membuktikan sebuah gosip menjadi Fakta dengan gambar-gambar yang di ambilnya. Dan Randy benar-benar membenci hal itu. Beberapa foto kebersamaannya dengan Marsela yang bocor ke publikpun kebanyakan dari wartawan sialan tersebut. Amar memang terlihat sedang mengincarnya dan juga Marsela.

“Halo, apa kabar?” sapa Randy dengan senyuman lebarnya.

Amar sendiri tampak terkejut dengan apa yang ada di hadapannya. Randy tampak ramah dari biasanya, dan lelaki itu kini sedang mengandeng mesra tubuh istrinya. Istrinya? Tunggu dulu, ada yang salah di sini.

“Ba.. Baik, bagaimana anda bisa…”

“Saya sedang makan siang bersama dengan istri saya yang cantik ini, anda sendiri sedang apa di sini?” tanya Randy memancing reaksi Amar.

“Loh, tapi bukannya tadi anda ke sini sendiri? Lalu tak lama Marsela juga masuk ke dalam hotel ini?”

“Hahahahha, jadi anda ke sini hanya untuk menguntit kemanapun saya berada? Ayolah, jangan bodoh. Hotel ini bukan hanya khusus buat saya atau Marsela, saya ke sini sendiri karena istri saya sudah menunggu saya makan siang di sini. Bukan begitu sayang?” kali ini Randy bertanya pada Febby.

Febby hanya menundukkan kepalanya, ia tak mungkin menjawab iya dan berbohong, tapi di sisi lain ia tak mungkin menjawab tidak.

“Lalu, bagaimana dengan Marsela?” tanya Amar yang masih berwajah bingung.

“Saya tidak tahu, kalau anda ingin tahu apa yang dia lakukan, silahkan menunggunya dan bertanya sendiri pada yang bersangkutan.” Jawab Randy dengan nada tajamnya. “Permisi, saya akan mengantar istri saya pulang dulu, dan sedikit pesan saya, jangan sekali-kali membuat gosip murahan dengan skandal-skandal yang jelas-jelas tak ada buktinya. Karena itu akan merusak keharmonisan keluarga kami, dan saya tidak akan tinggal diam karena masalah itu.” Lanjut Randy lagi dengan nada penuh penekanan.

Amar hanya menundukkan kepalanya. Wajahnya pucat pasi. Ia tak berani menatap ke arah Randy sedikitpun. Tapi dalam hati ia bersumpah jika dirinya akan membuktikan bahwa memang benar ada skandal antara Randy dan Marsela.

***

Di dalam mobil..

Randy melirik ke arah Febby yang sedikit tersenyum sinis padanya.

“Kenapa?” tanya Randy sembali mulai menjalankan mobil yang di kendarainya.

“Enggak, aku hanyaa berpikir bahwa tidak salah kalau kamu mendapatkan banyak penghargaan karena aktingmu. Yang tadi itu benar-benar meyakinkan.”

“Apa maksudmu?”

“Kamu pandai sekali bersandiwara.”

“Tentu saja, itu kan memang pekerjaanku. Aku menjadi yang teratas di negeri ini karena kepandaianku, tidak seperti selingkuhanmu itu yang selalu berada di bawahmu.” Ucap Randy dengan nada congkaknya.

“Apa maksudmu?” kali ini Febby yang tampak bingung dengan apa yang di katakan Randy.

“Brian, kamu sedang makan siang dengan laki-laki sialan itu kan?”

“Aku sudah bilang bukan, kalau itu bukan urusanmu.”

“Dan aku sudah bilang, Jelas itu urusanku.” Jawab Randy dengan suarta yang sedikit meninggi.

“Hei, kamu nggak perlu meledak-ledan dan kekanakan seperti itu.”

“Apa? Aku tidak kekanakan.”

“Aku tidak peduli. Lagian, aku ingatkan sekali lagi kalau kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing.”

“Benarkah? Ahaa, baiklah kalau begitu mulai besok aku akan mengajan Marsela berkencan bahakn menginap di rumah kita, aku tak akan peduli lagi denganmu.”

“Oh ya? Bukankah hampir setiap hari kamu selalu mengajaknya kerumah kita? Aku tidak pernah mengganggu bukan?”

“Kamu…” Randy seakan kehilangan kata-katanya untuk membalas perkataan Febby.

“Hei, seluruh orang di negeri inipun tahu skandalmu, itu sudah menjadi rahasia umum.” Ucap Febby yang kemudian mempalingkan wajahnya ke arah jendela, seakan ingin mengakhiri perdebatannya dengan Randy.

Tak lama, ponsel milik Febby berbunyi. Febby melirik si penelepon, ternyata itu Brian. Astaga, Febby bahkan belum sempat memberi kabar pada Brian jika dirinya kini sudah pulang bersama dengan laki-laki sialan di sebelahnya ini. Brian pasti sedang menunggunya dengan kebingungan.

“Halo, Brian.” Febby menjawab telepon tersebut tanpa menghiraukan lelaki yang sudah tegang yang sedang duduk mengemudi di sebelahnya.

“Kamu di mana? Ada masalah?”

“Tidak, maafkan aku, aku sudah di jalan menuju ke rumah sakit.”

“Kenapa mendadak? Ada yang salah?”

“Hanya ada telepon mendadak dari seorang orang tua pasienku.”

“Oh ya? Aku bisa mengantarmu.”

“Terimakasih, tapi aku tidak ingin merepotkanmu.”

“Baiklah, tapi kamu harus menebus kencan kita sing ini.”

“Apa? Kencan?” Febby sedikit terkejut dengan apa yang di ucapkan Brian, hingga ia tak menyadari jika kini Randy sedng memicingkan mata ke arahnya.

“Emm, baiklah, kita akan kencan di lain waktu dan…”

Belum sempat Febby melanjutkan kalimatnya tiba-tiba Randy sudah menginjak rem mobilnya secara mendadak hingga membuat Febby terhantup oleh dashboard mobil Randy.

“Hei, apa yang kamu lakukan?!” tanya Febby sembari mengusap keningnya yang sedikit sakit karena terhantup dashboard mobil Randy.

Bukannya menjawab, dengan santainya Randy malah merebut ponsel milik Febby, mematikannya lalu membuanya begitu saja ke jok belakang mobilnya.

“Heii.. Randy!!!” Teriak Febby sambil sesekali memukuli bahu Randy. Ia benar-benar tak mengerti apa masalah Randy pagi ini. Kenapa lelaki ini menjadi lelaki yang amat sangat mengesalkan untuknya.

Randy sendiri tak terpengaruh, ia malah dengan santainya melanjutkan mengemudi mobilnya dengan memasang wajah tanpa salah. Tak lama, kini giliran ponsel Randy yang berbunyi. Randy melirik ponselnya. Lalu mendapati nama Alvin yang sedang memanggilnya. Ahh sial, kenapa si Alvin menghubunginya pada saat seperti ini? Kenapa bukan Marsela? Randy kemudian sedikit menyunggingkan senyuman miringnya ketika sebuah ide melintas di kepalanya.

Di angkatnya telepon tersebut dengan suara mesranya.

“Halo sayang.”

“Sayang? Lo sinting?” teriak suara di seberang.

“Ah enggak sayang. Maaf kalau aku pulang lebih dulu.” Ucap Randy dengan sedikit melirik ke arah Febby.

“Sial, lo benar-benar kehabisan obat Ran? Jangan main-main, gue bener-bener ada urusan sama lo.” Suara Alvin benar-benar terdengar murka di telinga Randy, tapi Randy tak menghiraukannya. Ia masih saja bersikap mesra layaknya sedang berbicara dengan sang pujaan hatinya.

“Ah ya, nanti kamu bisa memesan sebuah kamar lagi untuk kencan kita selanjutnya, ngomong-ngomong, aku sangat puas dengan kencan kita siang ini.” Ucap randy lagi dengan nada yang benar-benar menggelikan.

Percakapan Randy benar-benar membuat telinga Febby terasa panas. Febby kemudian mengeluarkan ipod dari dalam tasnya, laalu memasang headset ke telinganya dan mendengarkan lagu-lagu di sana. Sungguh, ia tak tahan lagi dengan percakapan-percakapan Randy di dalam telepon yang entah kenapa membuatnya seakan mual. Kenapa? Apa ia cemburu? Yang benar saja.

Sedangkan Randy sendiri tak suka dengan respon cuek yang di tampilkan Febby. Randy lalu menutup telepon Alvin begitu saja, ia menghentikan mobilnya kembali kemudian mencabut headset yang sedang di kenakan Febby.

“Hei, sekartang apa lagi?” tanya Febby yang kini benar-benar sudah kesal dengan apa yang di lakukan Randy.

“Apa kamu tidak lihat kalau aku sedang berbicara, kenapa kamu malah pakai ini?”

“So what? Itu bukan urusanku, lagi pula aku tak ingin mendengarkan perckapan omong kosongmu yang menggelikan itu.”

“Apa?”

“Dengar ya, aku benar-benar tidak peduli dengan apa yang kamu bicarakan maupun apa yang kamu lakukan dengan wanita jalangmu itu. Uruslah urusanmu sendiri, dan jangan pernah mengganggu urusanku, mengerti?”

Randy menatap Febby dengan tatapan tak percayanya. Ia benar-benar tak menyangka jika Febby akan bereaksi seperti ini padanya. Sedangkan Febby sendiri kini sedikit gugup dengan tatapan mata Randy. Ahh laki-laki ini benar-benar mempengaruhinya.

“Apa? Apa ada yang salah dengan ucapan…” belum sempat Febby melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba kedua tangan Randy menangkup kedua pipinya, lalu tanpa banyak bicara lagi lelaki itu menyambar bibir ranum milik Febby. Febby membulatkan kedua bola matanya seketika. Ia benar-benar tak menyangka jika Randy akan melakukan hal ini padanya. Mencimunya? Oh yang benar saja.

Dengan sekuat tenaga Febby mendorong-dorong dada Randy, tapi Randy sama sekali tak bergeming. Ia tetap melanjutan lumatannya pada bibir ranum Febby, memaksa lidahnya muntuk masuk ke dalam mulut Febby. Ahh wanita ini harus di beri pelajaran karena kecerewetannya. Pikir Randy saat ini.

Akhirnya Febbypun pasrah dengan ciuman penuh dairah dan seakan menuntut dari Randy. Di bukanya mulutnya sedikit demi sedikit seakan membiarkan Randy memperdalam ciumannya.

Randy merasakan Febby ang sudah menghilangkan perlawanannya. Wanita itu kini bahkan membalas ciumannya. Membiarkan lidahnya bertautan dengan lidah wanita tersebut. Lengan Febby bahkan dengan santainya mengalung pada leher Randy.

Kini, telapak tangan Randy sudah berada pada tengkuk leher febby, menekan di sana seakan tak ingin membiarkan ciuman mereka terputus. Sedangkan sebelah tangan satunya sudah bergerilya pada dada Febby, mengusapnya lembut, menggodanya hingga membuat Febby sedikit mengerang karena ulahnya.

Oh sial!! Kejantanan Randy menegang seketika. Randy benar-benar menginginkan berada di dalam tubuh febby saat ini juga. Tapi kemudian Randy mendengar ponselnya kembali berbunyi.

Keduanya menghentikan ciuman panas tersebut seakan tersadarkan oleh sesuatu. Febby dan randy kemudian saling menjauhkan diri, lalu merapikan penampilan masing-masing.

Sial!! Jika saat ini si Alvin yang kembali meneleponnya, maka Randy akan menyumpahi temannya itu impoten seumur hidup. Benar-benar merusak suasana.

Tapi kemudian Randy mengernyit ketika mendapati nomor rumah keluarganya yang sedang menghubunginya. Ah, ini pasti ibunya. Ada apa lagi??

“Halo, Ma?” Randy mengangkat telepon tersebut sesekali melirik ke arah Febby yang sedang sibuk membenarkan tatanan rambutnya. Ahh benar-benar sial, Febby terlihat nikmat untuk di santap. Pangkal pahanya kembali berdenyut saat membayangkan bayangan erotis bersama dengan Febby.

“Randy, cepat ke sini, ada kak Mira dan Andrew di sini, jangan lupa ajak Febby.”

“Iya, Randy segera ke sana Ma, kebetulan ini sedang bersama Febby di jalan.”

Kemudian telepon di tutup. Randy melirik ke arah Febby yang sudah menundukkan kepalanya dengan wajah yang sedikit terlihat bersemu merah.

“Ibu menyuruh kita ke sana sekarang juga.”

Walau tak ada yang bertanya, Randy berkata seakan memberikan jawaban untuk Febby. Dan Febby hanya bisa diam dan menganggukkan kepalanya. Ahh, entah kenapa suasanya di sekitar mereka terasa sedikit canggung saat ini. Dan kecanggungan tersebut benar-benar membunuh keduanya.

***

“Apa? Menginap?” Febby dan Randy tanpa sadar mengucapkan dua kata tersebut dengan bersamaan karena sama-sama terkejut.

“Iya, mumpung Mira dan suaminya menginap di sini, mama juga ingin kalian menginap di sini supaya besok kita bisa berkumpul bersama seperti keluarga besar.” Nyonya Prasaja mengatakan pendapatnya.

“Tidak bisa Ma, kami tidak bisa menginap di sini, memangnya kami akan tidur di mana?” Randy masih saja menolak, ia tentu tidak ingin sekamar dengan Febby mengingat ciuman panas mereka tadi siang.

“Tentu saja kalian berdua nanti akan tidur di kamarmuy yang dulu, ibu selalu merapikannya meski kamu tidak pernah main ke sini lagi.”

“APA????” lagi-lagi tanpa sadar Febby dan Randy mengucapkan kata tersebut dengan bersamaan. Menginap bersama dan sekamar? Astaga, yang benar saja.

 

-TBC-

cetak miring adalah spoiler Next Chap.. hahhaha semoga ada yang mau nunggu..

Full House – Chapter 2

Comments 6 Standard

fh1Full house

Kali ini agak pendek yaa dear.. hahahha happy reading..

“Kami di jodohkan.” Jawab Febby dengan tubuh sedikit lemas.

Brian tercengang dengan perkataan Febby. “Kamu yakin? Kamu nggak bercanda kan?”

Febby menggelengkan kepalanya. “Ya, kami hanya di jodohkan, dan hubungan kami hanya sandiwara.”

Akhirnya Febby berani mengucapkan kebenaran tersebut pada orang lain. Ahh, persetan dengan karir Randy yang terancam, toh lelaki itu tak pernah mau tau tentang dirinya bukan??

***

Chapter 2

 

“Ya, kami hanya di jodohkan, dan hubungan kami hanya sandiwara.”

Brian benar-benar tercengang dengan apa yang di katakan Febby. Meski sebenarnya Brian yakin jika selama ini Randy dan Marsela menjalin sebuah hubungan, tapi Brian tak menyangka jika sebenarnya pernikahan Randy dan Febby hanyalah sebuah sandiwara. Brian berpikir jika Randy mengambil langkah terlalu jauh.

“Emm.. Aku ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian? Kenapa kamu mau di jodohkan dengan dia dan dia mau menerima begitu saja perjodohan kalian.”

Febby tersenyum. “Ada banyak hal yang tidak perlu kamu ketahui. Dan aku tak perlu mengatakannya pada siapapun.”

“Ayolah..”

Febby tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Maaf, tapi aku benar-benar tidak dapat mengatakannya.”

Brian menghela napas panjang. “Oke, sebagai gantinya kita akan makan siang bersama.”

“Hei, aku belum menyetujui makan siang bersamamu.”

“Karena kamu menolak bercerita tentang kehidupan rumah tanggamu, maka sebagai hukumannya kamu harus makan siang bersamaku.”

“Dan atas dasar apa aku harus menerima hukuman darimu?”

“Aku tidak ingin meladeni mulut cerewetmu, pokoknya ayo kita makan siang bersama.” Brian memksa kali ini dengan sedikit menyeret pergelangan tangan Febby.

“Brian..” Febby membuat Brian berhenti melangkah. “Bukannya aku nggak mau, tapi kamu publik figur, aku takut timbul gosip yang buruk tentangmu saat ada seseorang yang melihat kita.”

“Hei, ayolah, jangan berpikir terlalu jauh. Aku bisa memberi alasan jika kamu adalah dokter keponakanku, lagi pula kita akan ke sebuah restoran yang terkenal dengan privasinya.”

“Kamu yakin?”

“Ya, aku sering makan di sana, bahkan menginap di hotelnya.”

“Hotel?”

Brian tertawa lebar melihat ekspresi aneh yang di tampakkan Febby. “Ya, Restorannya ada di dalam sebuah hotel.” Dan febby hanya mampu menghela napas panjang, ia akhirnya pasrah dengan ajakan Brian.

***

Randy masih berada di ruangan Alvin siang itu. Hari ini ia tidak memiliki pekerjaan dan ia sangat bosan berada di rumah sendirian, apalagi jika mengingat tentang Febby pagi tadi. Randy menggelengkan kepalanya cepat.

Apa yang terjadi denganmu sialan? Kau tergoda dengan ukuran payudaranya? Yang benar saja, dasar idiot!!! Randy mengumpati dirinya sendiri dalam hati.

Tak lama, Alvin kembali ke ruangannya bersama dengan Chiko, teman seperjuangan Randy. Keduanya menatap Randy dengan tatapan mengejek. Sial, pasti Alvin cerita dengan Chiko tentang apa yang terjadi dengannya tadi pagi.

“Berhenti lihat gue seperti itu, kalian terlihat seperti orang idiot.” Ucap Randy pada Alvin dan juga Chiko, sedangkan Alvin dan Chiko malah tertawa lebar menertawakan kefrustasian Randy.

“Pergi dan cari wanita yang bisa ngasih pelepasan, muka lo lucu banget.”

“Sialan!!!” Randy kembali mengumpat setelah mendapat ejekan dari Chiko.

Tak lama ponsel Randy berbunyi. Dengan sedikit malas Randy mengangkat tele[pon tersebut tanpa melihat nama si penelepon.

“Halo?”

“Sayang.” Suara itu membuat Randy menegakkan tubuhnya seketika.

“Hai, kamu kok tumben bisa menghubungiku jam segini?”

“Aku lagi break pemotretan. Aku pengen ketemu.”

“Dimana?” tanya Randy dengan semangat.

“Di restoran biasa, hanya di sana yang benar-benar bisa menjaga privasi kita.”

Randy menyunggingkan senyuman lebarnya. “Baiklah sayang, em, kalau bisa, reservasi sebuah kamar sekalian. Aku kangen.” Ucap Randy sambil melirik ke arah Alvin dan Chiko dengan lirikan penuh kemenangan.

“Tentu sayang.” Jawab suara di seberang dengan nada manjanya.

Teleponpun akhirnya di tutup. Randy tertawa lebar seakan menunjukkan pada Alvin dan juga Chiko jika dirinya menang.

“Kalian lihat? Gue nggak perlu cari wanita, karena wanita itulah yang akan lari ke pelukan gue.” Ucap Randy sambil melompat berdiri dan bergegas meninggalkan ruangan Alvin.

Alvin dan Chiko hanya mampu saling pandang. Randy masih sama, teman mereka itu nyatanya masih mementingkan gairah sialannya yang seakan selalu menggebu-nggebu dari pada memikirkan masa depan karirnya.

***

“Makanan di sini benar-benar enak.” Ucap Febby sambil kembali melahap hidangan di hadapannya tanpa canggung lagi.

Brian hanya diam menatap Febby dengan dagu yang bertumpu pada sebelah tangannya. Wanita di hadapannya itu benar-benar berbeda dengan wanita yang selama ini ia kenal. Wanita itu tak sedikitpun menjaga image nya, padahal selama ini banyak wanita yang di sekitarnya yang selau menjaga image manis supaya Brian tertarik. Tapi tidak dengan Febby. Febby juga seakan tak canggung ketika di hadapan Brian.

“Kenapa menatapku seperti itu? Kamu nggak makan?” tanya Febby saat menyadari jika Brian sedang mengamatinya.

“Ahh, aku sedang tidak lapar.”

Febby mengusap bibirnya dengan lap yang di sediakan. “Maaf, kalau cara makanku membuatmu tidak nafsu makan.”

Brian tertawa lebar. “Bukan seperti itu, kamu sama sekali tidak mengganggu selera makanku.”

“Lalu? Bukannya kamu tadi yang mengajakku makan siang? Kenapa sekarang kamu malah nggak makan?”

Brian mencondongkan wajahnya ke depan supaya lebih dekat dengan Febby.

“Karena kamu.”

“Aku?” Febby menunjuk dirinya sendiri dengan sedikit bingung.

“Aku lebih menikmati saat menatapmu dari pada makanan-makanan sialan ini.”

Febby yang masih mengunyah makanannya akhirnya tersedak dengan ucapan Brian. Astaga, bagaimana mungkin Brian mengucapkan kalimat yang terdengar seperti rayuan itu padanya?

“Kamu nggak apa-apa kan? Amakanya pelan-pelan makannya.” Ucap Brian yang kini sudah membantu menepuk-nepuk punggung Febby.

“Aku sudah hati-hatu tahu, kamu saja yang bicara lebbay hingga kau tersedak.”

Brian tertawa lebar. “Sepertinya kamu tidak pernah mendapatkan rayuan dari pria manapun.”

“Tentu saja, memangnya kamu pikir siapa yang mau merayu dokter kaku sepertiku?”

“Aku bisa merayumu setiap hari.”

“Ayolah Brian, kamu mau membuatku seperti kepiting rebus?”

Brian kembali tertawa lebar. “Oke, baiklah-baiklah… aku akan berhenti merayumu.”

Febby menegak minuman di hadapannya. “Tapi, aku penasaran, kenapa kamu nggak jalan dengan kekasihmu? Penyanyi papan atas sepertimu seharusnya memiliki banyak kekasih bukan?”

“Tidak semua begitu, Febby.”

“Oh ya? Ku pikir semua artis itu brengsek seperti Randy.” Gerutu Febby.

“Ohh, jadi hubunganmu benar-benar kacau dengan dia sampai-sampai kamu menganggapnya brengsek?”

“Bukannya begitu, tapi aku memang membencinya.”

Brian kembali duduk di hadapan Febby, kemudian menyanggah dagunya dengan sebelah tangannya.

“Oke, sekarang berceritalah.”

“Tidak akan.” Ucap Febby tak mau mengalah.

Brian hanya mampu tersenyum. “Baiklah, tidak sekarang, tapi aku akan memaksamu nanti.”

Febby hanya tersenyum kemudian ia berdiri, bersiap menuju ke toilet.

“Aku mau ke toilet sebentar.” Dan Brian hanya mampu menganggukkan kepalanya, mempersilahkan Febby.

***

“Aku benar-benar kangen sama kamu sayang.” Ucap Marsela yang kini sudah mengenakan pakaiannya kembali setelah seks kilat yang dilakukannya dengan Randy siang itu.

“Aku juga.” Hanya itu jawaban dari Randy. “Aku lapar, kita makan di restoran bawah seperti biasanya, oke?”

Marsela hanya menganggukkan kepalanya. Akhirnya keduanya menuju ke restoran yang berada di lantai dasar hotel tersebut.

“Ran, aku masih nggak ngerti sama perilaku kamu siang ini. Astaga, kamu benar-benar panas dan seperti kehilangan kendali.”

Randy masih memakan hidangan di hadapannya. “Apa kamu membahas tentang seks kita siang ini?”

Marsela menganggukkan kepalanya.

“Kamu mau lagi? Kita bisa kembali ke kamar tadi.”

“Randy, bukannya begitu, tapi kamu agak aneh.”

Aneh? Salahkan saja pada kejantananku yang sepagi ini tak berhenti menegang hanya karena wanita sialan itu. Gerutu Randy dalam hati.

“Perasaanmu saja.” Ucap Randy dengan datar karena dia tidak suka kembali mengingat Febby.

“Kamu ada masalah?”

“Nggak.”

“Randy.”

“Marsela, kepalaku sudah cukup pusing sepagi ini, aku hanya ingin bersenang-senang. Jadi Please, jangan bikin aku tambah pusing.”

“Aku nggak bikin kamu tambah pusing, aku hanya ingin tahu apa yang terjadi padamu.”

“Tidak terjadi apapun, kamu nggak perlu khawatir.” Marsela hanya mampu menghela napas kasar. Ia tahu jika kini Randy berada dalam mode datar menjengkelkannya, dan ia tidak ingin memperkeruh suasana dengan cerewet dan banyak tanya.

“Aku sudah selesai, aku ke toilet dulu.” Randy kemudian berdiri, dan bersiap menuju ke toilet. Sedangkan Marsela masih diam karena sedikit kesal dengan perlakuan Randy.

Randy akhirnya pergi ke arah lorong-lorong yang menuju ke toilet yang di sediakan restoran tersebut. Tapi saat ia berada di lorong tersebut, Randy membulatkan matanya saat mendapati seorang wanita yang sedang sibuk membersihkan pakaiannya sambil berjalan tanpa sedikitpun melirik ke arahnya.

Wanita itu adalah wanita yang sejak pagi tadi mengganggu pikirannya. Siapa lagi jika bukan istrinya yang selalu berpenampilan kaku tapi entah kenapa hari ini begitu menggoda untuknya? Itu Febby, kenapa dia di sini?

Randy menghentikan langkahnya kemudian kembali mengejar Febby lalu meraih pergelangan tangan wanita tersebut.

“Kamu ngapain di sini?” Tanya Randy dengan nada mendesisnya.

Febby tampak terkejut saat melihat Randy yang kini tepat berada di hadapannya.

“Kamu? Kamu sendiri ngapain ke sini?”

“Kamu belum jawab pertanyaanku. Ngapain kamu di sini? Dengan siapa?”

Febby menghempaskan cekalan tangan Randy seketika. “Aku lagi kencan, lagi pula ini bukan urusanmu.” Ucap Febby sambil mengangkat dagunya.

“Apa? Kencan? Sama siapa?”

“Bukan.Urusanmu.” Jawab Febby penuh penekanan.

Dengan cepat Randy mendorong tubuh Febby lalu menghimpitnya diantara dinding. Ia bahkan memenjarakan kedua tangan Febby dengan tangannya. Menempelkan seluruh tubuhnya pada tubuh Febby tak terkecuali tubuh bagian bawahnya yang kembali berdenyut saat melihat Febby.

“Itu menjadi urusanku, Kamu istriku.” Ucap Randy penuh penekanan.

Febby hanya mampu membulatkan matanya seketika. Ia tak menyangka jika Randy akan memperlakukannya seperti ini, berbicara seakan menunjukkan kepemilikan atas dirinya. Istri??? Yang benar saja.

 

-TBC-

Full House – Chapter 1

Comments 6 Standard

fh2Full House

Haiii balik lagi nihh ama ceritaku… kenalan dulu ama abang ganteng.. Eaaa.. meski aku yakin beberapa dari kalian pasti udah pernah baca cerita ini… Yuppss Full House ini Remake dari Fansfic koreaku yang berjudul My Wife.. aku memutuskan menjadikannya novel indo karena nyatanya responnya bagus bgt, huehhehehhe yang sudah baca, baca lagi yaa.. banyak banget perbedaannya kok.. dan ku harap kalian nggak nyesel udah baca..hahhahahah  Berhubung aku nggak ada Cast, maka Chastnya menurut aku yaa tetep suamiku TOP Bigbang sama kembaranku Yoon Eun Hye buahahahaha tapi terserah kalian mau bayangin sapa aja boleh. sedikit Note, bahwa di cerita ini nanti akan banyak sekali makian dan kata2 kurang sopan -Serta beberapa penggambaran adegan erotis khas Author mesum seperti biasanya hahhaha-, jadi, mohon di maklumi.. hahhahah okay, Happy reading aja dehh kalo gitu,,,

Typo Bertebaran, harap maklum !!!

Chapter 1

 

Randy membanting beberapa majalah ke meja di hadapannya sambil mengumpat keras-keras. “Sialan!!!” dari mana mereka mendapatkan gambar-gambar ini?” teriknya frustasi.

Randy benar-benar tak habis pikir dengan para wartawan yang kian hari kian pintar. Susah payah ia menutupi hubungannya dengan Marsela, kekasihnya, tapi para wartawan sialan itu masih saja bisa mengendus hubungan mereka. Kali ini Randy kembali tertangkap basah sedang setengah telanjang di dekat kolam renang yang Randy yakini adalah kolam renang di Vila miliknya yang berada di daerah puncak.

“Lo harusnya mulai menahan diri Ran, kalau gini terus, karir kalian akan terancam. Ingat, seluruh negeri ini tau kalau Lo udah punya istri dan itu bukan Marsela, tapi Febby.”

“Jangan sebut nama wanita sialan itu.” Pungkas Randy. “Gue ke sini mau hindari dia, tapi lo malah nyebut-nyebut namanya.”

Alvin yang merupakan manager sekaligus teman dekat Randy hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika penyakit Randy yang suka meledak-ledak akhirnya kambuh lagi.

“Memangnya kenapa lo sampek hindarin dia?”

Randy hanya terdiam. Bayangan antara dirinya dan Febby tadi pagipun terngiang begitu saja dalam ingatannya….

 

Randy membuka matanya ketika ia terganggu dengan suara berisik. Mau tak mau ia bangun karena tak tahan dengan suara berisik tersebut. Randy mendengus kesal, padahal ini adalah hari minggu, hari dimana dirinya bisa tidur dengan puas sampai siang, tapi nyatanya, suara berisik tersebut benar-benar mengganggunya.

Setelah membersihkan diri dari kamar mandi, Randy lantas keluar dari dalam kamarnya kemudian menuju ke arah suara berisik tersebut. Suara itu dari arah dapurnya, dan Randy membulatkan matanya seketika saat mendapati Febby, istrinya itu sedang sibuk dengan peralatan dapur sambil menyanyi dan sesekali menggoyangkan pinggulnya.

Wanita itu terlihat sibuk hingga tak menyadari jika kini Randy sedang mengawasinya dari jauh. Randy menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat Febby yang tampak begitu berbeda pagi ini. Wanita itu hanya mengenakan Hot pant yang penjangnya jauh di atas lutut, sedangkan atasannya hanya mengenakan Camisole yang entah kenapa membuat wanita itu terlihat begitu seksi.

Ohh demi apa Randy baru saja memuji istrinya itu seksi? Randy merutuki dirinya sendiri saat pikiran mesumnya mulai kambuh. Tidak!!! Ia tidak boleh berpikiran mesum dengan wanita Kaku seperti Febby.

Dengan memasang wajah datar, Randy menuju ke arah lemari pendingin untuk mengambil sebotol air mineral sambil sesekali berdehem pada Febby.

Febby membalikkan badannya dan memekik karena ia tak menyangka jika ada Randy tepat di belakangnya.

“Apa yang kamu lakukan di sini??” Teriak Febby sambil menutup paha dan dadanya yang sedikit terbuka karena bajunya yang memang lebih mirip dengan baju dalaman.

“Apa yang ku lakukan? Ini kan rumahku? Suka-suka ku mau ngapain aja.” Randy mencoba menjawab sedatar mungkin, padahal kini kejantanannya sudah sedikit berdenyut karena melihat Febby dari dekat. Sial!! Kulit wanita itu terlihat sangat mulus, belum lagi ukuran dadanya yang benar-benar tak pernah terpikirkan dalam benak Randy.

“Bukannya begitu, ini kan minggu, harusnya kamu nggak di rumah dan menginap di rumah pacarmu itu.”

“Hei, mau aku menginap di manapun itu bukan urusanmu, lagian untuk apa kamu menutupi tubuhmu seperti itu.” Randy melirik ke arah tangan Febby yang mencoba menutupi tubuhnya. “Aku tidak tertarik, semuanya terlihat rata dan itu membuatku tak berselera.”

“Oh ya?? Rata katamu?” Febby membusungkan dadanya dan itu membuat Randy tak kuasa membulatkan matanya.

Secepat kilat Randy membalikkan tubuhnya dengan sesekali menelan ludahnya susah payah. Sialan!!! Wanita di belakangnya itu mau tak mau memaksanya untuk mandi air dingin dua kali pada pagi ini.

“Hei.. kemana kamu? Aku belum selesai bicara!” teriak Febby kesal karena Randy pergi begitu saja meninggalkannya setelah mengatainya Rata.

Sedangkan Randy sendiri sibuk mengatur ketegangan sialan di pangkal pahanya. Ayolah, jangan sekarang!! Geram Randy dengan kesal. “Kau boleh berdiri kapanpun kau mau, tapi tidak sekarang, Tidak karena wanita kaku itu.!!” Bisik Randy pada dirinya sendiri.

***  

Cukup lama Randy menenangkan diri di dalam garasi rumahnya sambil menyibukkan diri mengecek mesin mobilnya. Ia mencoba melupakan bentuk tubuh Febby yang entah kenapa kembali terngiang di otak mesumnya. Sial!!! Mengingatnya saja membuat Randy kembali menegang.

Tak lama, wanita yang di pikirkannya itu masuk ke dalam garasi tempat dirinya kini sedang mengecek mesin mobilnya. Aroma Febby menguar di dalam ruangan, dan itu mu tak mau membuat Randy mengangkat wajah menatap ke arah Febby.

“Mau kemana?” pertanyaan itu spontan terlontar begitu saja dari mulut Randy saat melihat Febby sudah rapi. Wanita itu terlihat berbeda dari biasanya, pakaiannya memang masih rapi seperti biasanya, hanya saja pagi ini Febby tidak mengenakan jas dokternya, kaca mata besarnya, dan rambutnyapun tak di gulung dengan kaku seperti biasanya.

“Tentu saja kerja.” Jawab Febby dengan datar.

“Kupikir kamu tidak pernah mengenakan pakaian seperti itu saat kerja.”

Febby menatap Randy dengan tatapan anehnya. “Dan ku pikir kamu tidak pernah ikut campur urusanku.”

Oke, Randy kalah. Pagi ini ia memang benar-benar aneh, kenapa juga ia memikirkan wanita kaku di hadapannya tersebut? Karena ukuran dadanya? Ayolah Ran.. lupakan payudara sialan itu!!! Gerutu Randy pada dirinya sendiri.

Randy mencoba tidak menghiraukan Febby saat wanita itu masuk ke dalam mobilnya lalu menyalakan mesin mobilnya. Tapi nyatanya tak lama wanita itu kembali keluar dari dalam mobilnya.

“Sial!!!” sama-samar Randy mendengar umpatan yang di ucapkan Febby.

“Kenapa?”

“Aku tidak tau.”

Randy tersenyum mengejek. “Mogok ya?”

“Entahlah.” Jawab Febby dengan sedikit kesal.

“Ayo ku antar.”

Ajakan Randy itu membuat Febby membulatkan matanya seketika. Apa ia tak salah dengar? Sebenarnya apa yang terjadi dengan lelaki di hadpannya itu?

“Bengong lagi, Ayo masuk.” Randy yang sudah masuk ke dalam motor sportnya kembali menyadarkan Febby.

Ahh mau tak mau Febby juga ikut masuk ke dalam mobil Randy. Tentu ia tidak ingin telat hari ini karena hari ini adalah hari yang sedikit special untuknya.

Randypun menjalankan mobilnya saat Febby sudah masuk. Keduanya sama-sama terdiam tanpa sepatah katapun seakan sudah terbiasa dengan suasana seperti saat ini.

***  

Di dalam mobil…

Sesekali Randy memperhatikan Febby dari kaca spionnya. Ternyata, Febby tidak sekaku dan semembosankan seperti yang ia kira. Wanita di sebelahnya ini terlihat sedikit lebih santai, sesekali wanita itu bahkan tersenyum saat menatap ponselnya.

“Kenapa?” tanya Febby yang baru menyadari jika Randy sedang memperhatikannya dari kaca spion.

“Nggak apa-apa, kamu aneh, mana ada orang kerja di hari minggu.”

“Hei, aku dokter, pekerjaanku serius menyangkut nyawa seseorang, dan itu tidak kenal waktu. Tidak sepertimu yang hanya bisa membuat sensasi.”

“Apa?” Randy benar-benar tak menyangka jik Febby bisa berkata sepedas itu.

“Lagi pula tumben sekali kamu mau mengantarku.”

“Gosip akhir-akhir ini semakin menggila. Jadi tidak ada salahnya aku mengantarmu, semoga ada wartawan yang memotret kita saat sedang bersama.”

Febby tertawa nyaring. “Ran, kamu hanya perlu memborgol kejantananmu supaya tidak melulu ingin bertemu dengan pacarmu itu dan menciptakan gosip memuakkan di seluruh stasiun televisi.”

Randy membulatkan matanya seketika setelah mendengar cibiran dari Febby.

“Aku turun di depan, nanti ada yang menjemputku.” Ucap Febby kemudian sebelum Randy membalas cibirannya tadi.

Randy akhirnya menghentikan mobilnya di tempat yang di tunjuk Febby. Febby keluar dari mobilnya lalu menunduk di jendela pintu mobil Randy.

“Bagaimanapun juga, aku berterimakasih karena kamu sudah mau mengantarku.” Sedangkan Randy hanya mengangguk dengan wajah masamnya.

Sial!!! Febby kini sudah berani mengejeknya. Memborgol kejantananya? Yang benar saja. Perhatian Randy kemudian teralihkan pada sebuah mobil yang bertenti tepat di hadapan Febby. Seorang lelaki keluar dari dalam mobil tersebut, lelaki itu mengenakan topi dengan kacamata hitamnya. Randy memicingkan matanya mengamati lelaki tersebut. Dan Randy berakhir dengan membulatkan matanya saat menyadari siapa lelaki tersebut.

“Brian?” Ucapnya dengan spontan.

Ya, lelaki yang kini sedang menjemput istrinya tersebut adalah seorang Brian Winata, penyanyi sekaligus aktor papan atas yang merupakan Rival terberatnya. Untuk apa laki-laki sialan itu menjemput Febby?? Ada hubungan apa mereka?

Ingin rasanya Randy menyusul mengikuti mereka berdua, tapi sepertinya sangat beresiko, lagian ia membawa mobil sportnya yang pastinya bakal ketahuan kalau dirinya sedang mengikuti Febby dan Brian.

Dengan sesekali mengumpat kasar, Randy memutar balik mobilnya. Ia harus kembali menetralkan pikirannya dari bayang-bayang tubuh Febby dalam ingatannya.

 

“Sudahlah, jangan bahas dia lagi.” Jawab Randy datar. Padahal kini pikirannya masih sedikit penasaran, sebenarnya apa yang terjadi di antara Febby dan Brian.

Alvin sendiri memilih diam, ia tidak ingin kembali menyulut emosi Randy. Temannya itu memang suka sekali meledak-ledak, dan itu membuat Alvin harus menjaga sikap.

***

“Jadi.. kalian sudah baikan?” tanya Brian yang kini masih duduk santai di kursi yang di sediakan di ujung ruangan Febby.

“Baikan? Maksud kamu?”

“Kupikir tadi kamu di antar dengan Randy.”

Febby menganggukkan kepalanya. “Dia aneh pagi ini, dan karena mobilku mogok, maka tidak ada salahnya jika aku menerima tawarannya untuk mengantarku.”

Brian menganggukkan kepalanya. Brian mengenal Febby sekitar satu bulan yang lalu. Saat itu keponakannya yang bernama Cinta, jatuh dari tangga. Orang tua Cinta saat itu sedang memiliki tugas di luar kota, mau tak mau Brian sendirilah yang mengantar Cinta ke rumah sakit.

Betapa hebohnya saat itu di ruang IGD, karena ada seorang penyanyi papan atas yang datang ke rumah sakit tersebut. Saat itu Febbylah yang menangani keponakan Brian. Brian mengernyit saat menyadari jika yang menangani keponakannya adalah istri dari Randy, Rival terberatnya dalam dunia intertaiment, dan entah kenapa itu membuat Brian ingin mengenal Febby lebih jauh.

Beberapa kali bertemu saat Brian mengantar Cinta chek up, membuat hubungan keduanya semakin dekat layaknya teman biasa. Bahkan kini pegawai rumah sakit seakan sudah terbiasa dengan kedatangan Brian.

“Jadi, apa kita jadi makan siang hari ini?”

Febby tersenyum. “Boleh, asal kamu yang teraktir.”

“Ya, tentu saja aku akan meneraktirmu.” Brian berpikir sebentar kemudian bertanya lagi pada Febby. “Feb, sebenarnya aku sedikit penasaran, bagaimana awal mula kalian bisa bertemu dan menikah, kupikir Randy benar-benar menjalin kasih dengan Marsela, tapi aku terkejut saat ada kabar jika dia menikah.”

Febby menghela napas panjang. Ingin sekali ia bercerita tentang pernikahan paksanya dengan Randy, tapi tentu Febby tak bisa sembarangan berbicara mengingat sedikit saja hubungan mereka terbongkar, maka karir Randy yang jadi taruhannya.

Febby mengenal Randy beberapa bulan yang lalu, ketika mereka memang sengaja di jodohkan oleh kedua orang tua masing-masing. Kedua orang tua mereka berteman. Ayah Febby saat itu berkata jika Ayah Randy ingin menjodohkan Randy dengan Febby karena ayah Randy tidak suka dengan gosip kedekatan puteranya tersebut dengan salah seorang model papan atas. Sedangkan ayah Febby menerima perjodohan tersebut begitu saja karena selama ini ayah Febby khawatir dengan Febby yang tak kunjung membawa calon ke rumah mereka padahal usia Febby sudah hampir Dua puluh tujuh tahun.

Awal bertemu, Feby begitu gembira, karena nyatanya ia akan menikah dengan aktor papan atas yang menjadi salah satu idolanya. Tapi setelah menikah dan mengetahui seluk-beluk Randy, Febby benar-benar menyesal karena sudah menikah dengan lelaki tersebut.

Febby masih ingat, saat pertama kali masuk ke dalam kamar Randy di hari pertama mereka menikah…

“Kamu sedang apa?” tanya Randy yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi di dalam kamarnya. Randy tampak sedikit terkejut ketika mendapati Febby yang sudah berada di dalam kamarnya.

“Em. Aku mau membereskan pakaianku.” Jawab Febby dengan sedikit canggung.

“Hah?? Apa kamu sudah gila? Siapa yang menyuruhmu menginjakkan kaki di kamarku? Kamarmu ada di kamar sebelah!” Seru Randy dengan suara lantangnya.

“Jadi.. kita tidak sekamar?”

“Jangan bermimpi untuk tidur sekamar denganku. Apa kamu tau kalau pernikahan ini hanya sebagai kedok untuk menutupi hubunganku dengan kekasihku? Semua ini hanya sandiwara, jadi kamu seharusnya tau diri.”

“Hei, kamu kira aku menginginkanmu? Aku menikahimu juga karena terpaksa.” Febby mencoba melawan Randy sekuat tenaga, ia benar-benar sakit hati dengan apa yang dikatakan Randy.

Randy sendiri membulatkan matanya seketika, ia tidak menyangka jika Febby akan berbalik melawannya.

“Kalau begitu cepat keluar dari kamarku.” Perintahnya.

“Baik, Aku janji tidak akan pernah menginjakkan kaki di kamarmu lagi kecuali kamu yang menginginkannya.”

“Huh, jangan bermimpi.” Randy mendengus kesal.

 

Bayangan itu menari-nari dalam ingatan Febby dan entah kenapa membuat hati Febby terasa sakit. Harga dirinya sudah di injak-injak oleh seorang Randy Prasaja, lelaki menyebalkan yang kini menjadi suaminya. Febby menghela napas panjang, Ah, tidak ada salahnya bukan jika ia bercerita pada Brian? Toh Brian terlihat baik.

“Kami di jodohkan.” Jawab Febby dengan tubuh sedikit lemas.

Brian tercengang dengan perkataan Febby. “Kamu yakin? Kamu nggak bercanda kan?”

Febby menggelengkan kepalanya. “Ya, kami hanya di jodohkan, dan hubungan kami hanya sandiwara.”

Akhirnya Febby berani mengucapkan kebenaran tersebut pada orang lain. Ahh, persetan dengan karir Randy yang terancam, toh lelaki itu tak pernah mau tau tentang dirinya bukan??

 

-TBC-

Semoga masih ada yang mau nunggu hyaa,, huehehheh

Full House – Prolog

Comments 3 Standard

fh1

Full House

Tittle : Full House ( My Wife indo vers.)

Cast : Randy Prasaja  as Choi seung hyun

Febby Alista  as Yoon eun hye

Brian Winata  as Kim Hyun Joong

Marsela cantika  as Park Boom

Genre : Roman, Komedy, Erotis.

Note : Ini adalah Remake dari fansfic koreaku dengan judul “My Wife.” Genrenya Roman komedi Erotis, jadi mohon bijaksana yaa,… Seperti The Passionnate of love yang kini jadi sang kupu-kupu malam, maka My Wife ini ku ubah  menjadi Full House. Kok kayak judul Drama korea sih thor?? Yaa karena saat share cerita ini di grup FF, banyak yang bilang cerita ini mirip dengan drama korea Full House. So, inilah Full House versi aku. -Yang belom baca versi korea, di mohon jangan membaca yaaa.. karena lebih asik ini, ku jamin..  hahahhaha-

 

Prolog

 

-Febby-

 

Aku terkejut, saat beberapa bulan yang lalu tiba-tiba saja ibu dan ayahku mengatakan jika aku akan di jodohkan dengan seseorang. Terlebih lagi orang tersebut merupakan Aktor ternama di indonesia.

Namanya Randy Prasaja. Mendengarkan nama Prasaja jelas tak asing bagi kalangan pengusaha. Ya, ayah Randy memang seorang pengusaha sukses, tapi aku juga bingung, kenapa lelaki itu malah memilih berakhir menjadi seorang aktor.

Memang, wajah dan penampilannya lebih cocok menjadi seorang aktor, dia tampan, terlampau sangat tampan. Bahkan beberapa tahun terakhir dia di anugerahi sebagai aktor tertampan di negeri ini. Aku mengidolakannya, tentu saja. Selain aktingnya yang bagus, suaranya yang merdu, Randy juga terkenal misterius mengenai hubungan percintaannya, dan itu benar-benar membuat wanita –wanita semakin penasaran dan mengidoilakannya.

Tapi, setelah menikah dengannya dua bulan yang lalu, Aku benar-benar menyesal pernah mengidolakan lelaki aneh yang bagiku dingin seperti Iblis itu. Sikapnya kekanakan, suka seenaknya sendiri, datar, dan cuek terhadapku. Dan aku membencinya.

Sumpah demi apapun juga, jika bukan karena sesuatu yang mendesak, maka aku tak akan pernah mau di jodohkan dengan lelaki seperti Randy Prasaja. Lelaki menyebalkan yang hanya bisa membuat suasana hatiku kesal.

***

 

-Randy-

 

Namanya Febby Aliska. Dia istri yang sudah ku nikahi sejak dua bulan yang lalu. Dia seorang Dokter spesialis anak. Wajahnya datar dan dia selalu bersikap kaku. Dia wanita membosankan dan itu membuatku muak.

Astaga,.. bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan wanita seperti Febby?? Apa aku buta?? Apa aku bodoh?

Semua ini di akibatkan oleh seorang wartawan sialan yang mau tak mau membuatku memilih menerima pernikahan dengan seorang Febby.

Aku memiliki kekasih. Marsela namanya. Dia cantik dan seksi, ya, karena dia adalah seorang model papan atas. Kami tak bisa bersama karena dia terikat kontrak yang mengharuskan kami menjalani hubungan sembunyi-sembunyi.  Tapi nyatanya, hubungan kami terendus juga dan itu membuat karir Marsela sedikit terancam.

Semua itu di perparah oleh si tua bangka sialan. Siapa lagi jika bukan ayahku. Ayah benar-benar menginginkanku untuk melanjutkan bisnisnya.  Tapi tentu aku menolaknya. Berada di  balik sebuah meja  sepanjang hari dengan pakaian rapi dan bersikap kaku, itu benar-benar bukan aku. Yang benar saja.

Tapi kemudian ayah juga mengetahui kelemahanku. Apa lagi jika bukan Marsela, akhirnya dia menggunakan Marsela untuk mengancamku. Dan itu membuatku mau tak mau menikahi wanita kaku yang kini sudah berstatus sebagai istriku, Febby Aliska.

Bisakah aku bertahan dengannya?? Dengan istri kaku seperti Febby Aliska?? Semoga saja, karena ku pikir, semakin ke sini, sepertinya aku semakin tergoda dengan keberadaanya.

 

-to be continue-